Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 31

 
Jilid 31

“Karena kamu butuh kekuatan untuk membuka nadi planangan yang tertutup, yang terbuntu, dan aku bisa mencoba, ada baiknya kita lakukan.

“Itulah inti katresnan.

“Putri Pulangsih tresna kepada Eyang Sepuh. Ia melakukan apa saja, yang bisa dinilai sebagai waras atau tidak. Masuk nalar atau sebaliknya.

“Itulah sebabnya ombak selalu berdebur di pantai. Kadang membawa ikan, melontarkan. Salahkah ombak, dan mendosai ikan?

“Itulah sebabnya ombak kembali ke tengah laut. Kadang membawa manusia, menyeret. Salahkah ombak, dan mencelakai manusia?

“Berbaringlah, Halayudha.

“Aku ingin tahu seberapa jauh kamu bisa melipatgandakan tenaga dalammu.” Halayudha berbaring.

Tubuhnya hanya ditutupi kain berwarna putih. Di ranjang yang dilapisi kain sutra, yang kiri-kanannya berjuntai kain sutra berwarna.

Berbaring dengan telapak kaki menghadap Dewa Maut. Dewa Maut mendekat.

Memegang tungkai dengan tangan kiri. Ujung jari tangan kanannya menyodok ke tengah. “Hmmmmm…”

Halayudha berkeringat.

“Tubuhmu sempurna, Halayudha. Anggota badanmu baik. Tenaga dalam, isi perutmu, bagus sekali. “Kemampuanmu menahan penderitaan lebih dari siapa pun yang pernah kujajal.

“Itu bagus.”

Telunjuk Dewa Maut menusuk sedikit di bawah mata kaki. Halayudha mengeluarkan pekikan keras.

“Ini buntu.

“Nadi planangan kamu tidak membuka. Kekuatan kejantanan kamu membeku, buntu.” Ketika Dewa Maut menusuk kembali, Halayudha mengertakkan giginya. Kedua tangannya yang memegang tepi ranjang mencengkeram keras.

Kayu yang perkasa dan kuat itu somplak. Kain sutra yang menutupi hancur!

“Akan kucoba membuka.”

Kali ini Dewa Maut menggunakan dua jarinya. Menusuk. Tidak segera ditarik, melainkan ditekankan lebih dalam. Tenaganya dikerahkan hingga keringatnya berbintik di dahi.

Halayudha merasakan rasa sakit yang luar biasa.

Daya tahannya yang baru saja dipuji Dewa Maut seakan rontok. Tubuhnya menggelinjang, berputar. Kepalan tangannya yang dipukulkan ke ranjang membuat ranjang itu somplak.

Kayu yang menjadi tiang penyangga sebesar kaki pecah. Ranjang itu amblas ke bawah.

Kepala Halayudha menghantam lantai. Tapi tekanan jari Dewa Maut bergeming. “Wuaduh!”

Teriakan Halayudha demikian keras dan menyayat, sehingga beberapa prajurit jaga berseru dan meloncat masuk. Bersiaga.

Halayudha berusaha duduk sambil menggeleng. Tangannya memberi tanda agar para prajurit segera keluar lagi.

Tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. “Lega?”

Napas Halayudha berangsur-angsur normal kembali. Tangannya masih gemetar.

“Mati rasanya.”

“Guratan di tangan adalah nasib, kodrat.

“Guratan di telapak kaki adalah pusat berkumpulnya semua nadi yang menghubungkan anggota tubuh. Tapi aku tak cukup kuat menekan. Kalau kamu bisa melatih sendiri, pasti bisa.”

“Dewa Maut, rasanya saya tidak tahan.”

“Aku bisa mengurangi rasa sakitmu, tapi jatuhnya aku yang terkena. “Kita coba.”

Dewa Maut kembali menusuk dengan jarinya. Menusuk dalam. Menekan. Memutar.

Halayudha kembali merasakan kenyerian yang mencabiki seluruh nadi tubuhnya. Memang tidak semenderita seperti pertama tadi. Akan tetapi baru berlangsung beberapa kejap, Dewa Maut mengeluarkan suara keras.

Tubuhnya melengkung! Tak bergerak lagi.

Halayudha benar-benar tak mengerti.

Tubuhnya sedikit sempoyongan. Tangannya gemetar, mengangkat tubuh Dewa Maut. Mengangkat dengan rasa hormat, membaringkan di ranjang kain sutra.

Wajah Dewa Maut seperti tertidur. Tenteram.

Bahagia. Menyunggingkan senyum. “Dewa Maut…”

Halayudha menunduk. Seolah tak percaya getar tangannya yang didekatkan ke hidung Dewa Maut. Seolah ingin meyakinkan bahwa kalau didengarkan, dengus napas itu masih ada.

Kedamaian Abadi

WAJAH Dewa Maut tak berubah sedikit pun. Tetap tenang. Tak ada beban sedikit pun.

Rambutnya putih bagai kapas. Beriapan di sekitar tubuhnya yang tampak kurus kering. Semakin pucat dengan kain putih yang melilit tubuh.

Keringat di dahi Dewa Maut terasa dingin ketika Halayudha mengusap hormat. “Dewa Maut…”

Bisikan tanpa gema. Tanpa rasa.

Tanpa jawaban.

Perlahan Halayudha merangkapkan tangan Dewa Maut di depan dada. Tangan yang lemas. Tubuh yang lemas, walau tak bisa bergerak lagi.

Perlahan Halayudha berjongkok. Bersujud.

Wajahnya menekur ke bawah. Rambutnya yang digelung rapi tergerai. “Dewa….”

Rintihan suara Halayudha lebih mengesankan sebagai pertanyaan kepada Dewa Yang Maha dewa dibandingkan menyebutkan nama.

Halayudha berlutut.

Tenggelam ke dalam gemuruh tubuh dan batinnya. Sungguh pengalaman yang maha luar biasa.

Belum pernah Halayudha tergetar seperti sekarang ini. Belum pernah kesadarannya terguncang hingga ke dasar-dasarnya.

Dewa Maut.

Dewa Maut mengempaskan perasaan Halayudha pada suatu tempat yang belum pernah dialami seumur hidupnya.

Ia tak mengenal orangtuanya secara sadar. Hanya masih diingatnya ketika ia diambil seorang lelaki, yang kemudian mendidiknya, mengajari ilmu silat, dan menindasnya dengan sangat kejam. Seorang guru yang sangat dihormati, tetapi sekaligus juga sangat dibenci, sehingga ia menjuluki Kiai Gajah Mahakrura.

Ada pertalian naluri, emosi yang tersambung antara dirinya dan gurunya. Akan tetapi semua itu tak membuat Halayudha mempunyai perasaan tertentu ketika harus berpisah. Bahkan sebelumnya ia berani memainkan ilmu andalan gurunya dengan menyabet bambu kurus untuk mengiris tubuh dengan sabetan melintang samping. Untuk mengarahkan dendam semua ksatria kepada gurunya.

Ia setengah mengenal kakak seperguruannya, Ugrawe, yang gagah perkasa dan malang-melintang di dunia persilatan. Akan tetapi juga tak meninggalkan kesan apa-apa. Baik kekejaman mencoba membunuh guru, atau sifat lain. Halayudha tidak menjadi dendam, juga tidak merasa berutang budi.

Biasa-biasa saja. Datar.

Tokoh lain yang sempat mengguncang jiwanya adalah Dewi Renuka. Satu-satunya wanita yang pernah diajak main daya asmara. Melampiaskan daya berahi.

Akan tetapi ketika kemudian berpisah, Halayudha tak merasa kehilangan, tak berusaha mencari. Meskipun juga tak sepenuhnya menghindar.

Perasaannya tetap datar.

Kalaupun ada gugatan keras, itu seperti letupan gemuruh yang tak mempunyai pijakan jelas. Tapi sekarang ini lain.

Mayat Dewa Maut, tokoh tua yang tak mempunyai tenaga dalam seperti biasanya para jago silat ini, justru mampu membuatnya tepekur.

Dewa Maut.

Dewa Maut.

Nama yang memberi makna begitu banyak. Membuka cakrawala batinnya yang selama ini tertutup rapat. Ia menghubungi Dewa Maut karena ingin melaksanakan niatnya mencegah pengobatan atas diri Praba Raga Karana. Lalu terjadilah pembicaraan yang lebih akrab, ketika Dewa Maut mencoba menjajal ilmu Ngrogoh Sukma Sejati. Yang mampu menyelam kepada pribadi orang lain.

Setelah itu disambung dengan pembicaraan mengenai berahi.

Disusul dengan usaha mencoba mengalihkan tenaga planangan. Halayudha masih tak sadar bahwa ketika mencoba memulihkan tenaga dalamnya yang tersumbat, Dewa Maut kemudian memakai tubuhnya sendiri sebagai korban.

Luar biasa.

Tanpa kata-kata penjelasan.

Selain sekilas mengenai katresnan. Seperti bicara sambil lalu. Akan tetapi itu berarti segalanya bagi Dewa Maut.

Napas Halayudha masih terengah-engah. Gerah.

Gelisah.

Secara nalar, Halayudha bisa menerangkan, bahwa Dewa Maut berusaha mengubah tenaga dalam yang selama ini terbuntu. Dengan membaca nadi telapak kaki, Dewa Maut menusuk. Ternyata kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Halayudha. Kemudian menyarankan Halayudha berlatih sendiri. Perubahan yang kemudian adalah karena Halayudha merasa tidak kuat menahan sakit, Dewa Maut mengalihkan rasa sakit itu ke dalam tubuhnya sendiri.

Ilmu seperti itu bukan tak dimengerti.

Dalam pengaturan tenaga dalam, orang bisa memakai tenaga dalamnya sendiri untuk membantu orang lain. Juga untuk menahan penderitaan. Halayudha mengenal dengan baik, karena salah satu inti ajaran Banjir Bandang Segara Asat tak jauh berbeda.

Akan tetapi karena tenaga Dewa Maut tidak kuat menahan beban, ajalnya datang. Pertanyaan Halayudha adalah: Kenapa Dewa Maut melakukan hal itu?

Mustahil Dewa Maut tak mengetahui kemungkinan datangnya maut. Dengan pengetahuan dan pengalamannya yang luas, Dewa Maut bisa membaca dengan baik. Bisa menghindar kalau mau. Sekurangnya tidak mengorbankan diri seperti yang dilakukan. Karena sudah menyarankan kepada Halayudha untuk menjajal sendiri.

Pertanyaan Halayudha adalah: Kenapa Dewa Maut tetap melakukan hal ini?

Pengorbanan sebagai ksatria? Rada mustahil, mengingat Dewa Maut dalam kesetengahwarasannya mengetahui Halayudha bukan ksatria. Dewa Maut sudah mengatakan bahwa Halayudha culas, jahat, dan licik.

Kenapa Dewa Maut harus melakukan pengorbanan ini? Inilah yang membuat Halayudha tepekur.

Pendekatan apa pun tak membuatnya lega dan terjawab. Bukan kawan, bahkan musuh. Bahwa Dewa Maut mau menunjukkan cara-cara untuk memperkuat tenaga dalam saja sudah luar biasa. Apalagi dengan mengorbankan diri.

Untuk pertama kalinya getaran itu menggema lama dalam sanubari Halayudha. Entah kenapa, ia tak bisa sekadar menganggapnya sebagai ketololan, kedunguan sikap yang dipilih Dewa Maut. Entah kenapa, ia tak bisa bersorak gembira saat itu, seperti sebelumnya.

Tubuh yang lemas, damai, tenteram. Wajah yang meninggalkan senyuman.

Seolah Dewa Maut rela, ikhlas, sadar sepenuhnya apa yang dilakukan. “Dewa Yang Maha dewa.

“Aku, Halayudha, tak pernah meminta padamu. Sekali ini, aku menyembah dan merendah padamu, untuk memberi kehidupan yang abadi bagi Dewa Maut.

“Aku tahu, tanpa permintaanku ini, Dewa Yang Maha dewa lebih tahu. “Terima kasih, Dewa Maut.”

Halayudha mengusap wajahnya.

Baru kemudian berdiri perlahan. Melangkah satu-satu, ke arah pintu. Melaluinya, melangkah ke luar tanpa menutup kembali.

Kebimbangan sesaat yang membuat perasaan aneh dalam dirinya. Sesaat.

Karena pada tarikan napas berikutnya, Halayudha sudah berhadapan dengan kemungkinan- kemungkinan dalam langkahnya. Dengan meninggalnya Dewa Maut, besar kemungkinannya Raja menaruh curiga. Atau paling kurang menilai dirinya tidak bisa memenuhi tanggung jawab yang dibebankan.

Berarti soal Praba Raga Karana tetap akan mengganjal.

Segera setelah upacara pernikahan dengan dua putri Permaisuri Rajapatni pertanyaan itu akan datang.

Itu yang pertama.

Akibat kedua yang bisa datang di kemudian hari sudah terbayang. Para ksatria, terutama yang berasal dari Perguruan Awan, akan muncul menuntut balas.

Itu akan merepotkan. Halayudha terus melangkah.

Mengikuti tembok bagian dalam dalem kepatihan. Beberapa kali tangannya mengelap tembok yang kukuh berdiri, yang selalu terjaga bersih. Dadanya mengembang-mengempis.

Rambutnya tetap terurai.

Menggelombang hingga ke pinggang ketika Halayudha mendongak ke arah langit. Dikesampingkannya wajah Dewa Maut yang senyumannya membuatnya tergetar. Di langit seperti ditemukan jawaban.

Kalau ia bisa menyembunyikan mayat Dewa Maut, pastilah tak banyak menimbulkan persoalan. Tak ada yang mengetahui kematian Dewa Maut. Dan tak akan ada yang percaya apa yang sesungguhnya terjadi.

Petirahan Pungkasan

HALAYUDHA merasakan perubahan dalam dirinya.

Langkahnya terasa sangat ringan. Telapak kakinya bahkan seakan tak menyentuh tanah ketika digerakkan lebih cepat dari biasanya. Dadanya terasa segar, rongganya seolah menjadi berkembang. Perutnya menyisakan rasa hangat.

Halayudha tak berani mengatakan pada dirinya, bahwa ini perubahan yang nyata dari usaha yang dilakukan Dewa Maut. Kini ada perubahan aliran kekuatan yang tadinya membuntu. Halayudha tak ingin berkesimpulan secepat itu.

Akan tetapi sesungguhnya, itulah yang dirasakan. Kesegaran dari ujung rambut hingga ulu hati.

Perubahan lain yang disadari adalah kini ada yang menahan keinginannya untuk menguburkan Dewa Maut di tempat dulu Upasara, seorang seperti Upasara, dikuburkan.

Bagian belakang kaputren itu tak akan menimbulkan kecurigaan siapa pun. Apalagi memang merupakan bekas kuburan.

Persembunyian yang paling aman.

Siapa yang akan menduga bahwa di bekas kuburan akan dimakamkan tubuh lain?

Hanya saja kali ini Halayudha tidak rela. Hati kecilnya ingin memberi penghormatan kepada Dewa Maut. Sesuatu yang tak pernah menyentuh dan berbunyi dalam jiwanya.

Kali ini Halayudha ingin memberi petirahan, peristirahatan, terakhir yang layak. Tak ada yang lebih tepat selain gua bawah Keraton. Tempat Dewa Maut menghabiskan waktu terakhir dan memperoleh pencerahan.

Halayudha melakukan sendiri.

Berjalan mengikuti jejak yang kira-kira ditempatkan Dewa Maut semasa masih hidup. Melalui lorong- lorong sempit, baik yang muncul di parit depan kaputren, ataupun di dekat perpustakaan. Halayudha mengikuti perjalanan Dewa Maut.

Merasakan apa yang kira-kira dirasakan Dewa Maut. Di perpustakaan Raja, Halayudha merenung lama. Di sini Dewa Maut leluasa membaca kitab apa saja. Mempelajari dengan tenang, membaca menekuni, menghayati, dan kemudian mengembalikan kitab ke tempat asalnya.

Tanpa niatan mencuri, tanpa keinginan memiliki. Membaca, mengembalikan.

Lalu kembali ke dalam terowongan kecil yang sangat pas untuk satu tubuh dengan memiringkan tubuh, menekuk pada beberapa lekukan.

Sampai di bawah tanah.

Melihat pohon mangga, pohon sawo, bunga-bunga yang ditanam, yang disemai dengan kasih sayang. Pohon yang bisa bercerita banyak, seperti juga ikan-ikan, kepiting di mata air yang mengalir di dasar.

Kehidupan alam.

Ketenteraman yang tidak mengganggu dan menyalahi siapa saja. Apa saja.

Betapa Dewa Maut melewati hari-hari dengan bahagia. Menanam buah-buahan, menunggu sampai berbuah. Menikmati sebagaimana kebutuhannya. Bukan hanya pohonan yang berguna seketika, tetapi sekaligus jenis rumput dan tanaman lain dirawat dengan ketekunan yang sama.

Bahkan ikan-ikan itu tidak berlarian ketika Halayudha mencemplungkan kakinya ke dalam air. Tangannya bisa menyentuh, menangkap tanpa menimbulkan kecipak air berlebihan.

Di sinilah Dewa Maut menemukan dirinya.

Menemukan penyatuan dengan alam. Bisa mendengar dan berbicara dengan lebah, tikus, ikan, air, daun, dan akar. Dengan alam.

Titik letikan yang dipakai menjadi sikap hidup Dewa Maut. Dengan ketenangan alami, hati Dewa Maut terbuka. Sehingga kitab-kitab yang dipelajari, kenyataan akan kehidupan, bisa diserap.

Bukan diserap, melainkan menyerap dengan sendirinya. Menyatu.

Dewa Maut adalah bagian alam.

Barangkali, pikir Halayudha dalam hati, inilah yang mendasari sikap Dewa Maut. Menemukan inti katresnan. Dirinya menjadi bagian buah mangga atau sawo. Yang bisa dipetik siapa saja. Yang tidak memperhitungkan untung-rugi siapa yang akan menelan.

Seperti air. Seperti angin.

Dengan kerelaan seperti ini, bisa dimengerti kalau Dewa Maut sebenarnya telah menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Bisa melepaskan dirinya, bisa ngrogoh sukma sejati.

Halayudha menemukan perjalanan masa lalu Dewa Maut.

Ia, kalau mau, bukan tidak mungkin akan menemukan pencerahan yang sama. Akan tetapi Halayudha merasa dirinya tak bisa melakukan hal yang sama.

Ada tarikan lain yang masih memesona.

Kekuatan, kekuasaan, pertarungan, kemenangan. Ia tak bisa membebaskan diri dari itu. Bahkan secara sadar terjun ke dalam pertarungan itu.

Yang berbeda hanyalah bahwa ia bisa mengagumi jalan hidup yang ditempuh Dewa Maut. Mengagumi, menghormati, dan menyebabkan kepalanya menunduk.

Itulah sebabnya Halayudha sendiri yang membopong mayat Dewa Maut, dan membawa ke gua bawah tanah. Menggali sendiri tanah sekitarnya hingga dalam.

Dan mengubur dengan penuh hormat.

“Dewa Maut, aku belum pernah melakukan hal seperti ini dalam hidupku. “Mungkin juga tak akan pernah.

“Aku sendiri tak tahu, apakah tubuhku besok ada yang mengubur atau dimakan burung. “Mudah-mudahan ini menenteramkanmu.

“Beristirahatlah dengan segala kedamaian yang kamu ajarkan.”

Halayudha menimbuni tanah dengan tangannya sendiri. Hati-hati dan perlahan. Lalu meratakan. Mencuci tangannya di air.

Mengaca ke air. Wajah yang tak pernah dilihat selama ini.

Karena ia jarang atau bahkan tak pernah berkaca. Tak pernah mempunyai waktu untuk mengamati dirinya sendiri.

Kini bisa melihat. Wajah yang mulai kisut, guratan-guratan tajam di sekitar hidung, di ujung mata. Kulit kering yang membalut, rambut yang kusut dan susah diluruskan dengan jari.

Halayudha menyeringai.

Bayangan di air itu seperti menakutkan bagi ikan-ikan yang serentak berlarian. “Bayangan wajahku saja begitu menakutkan.

“Sungguh berbeda dengan Dewa Maut.

“Mungkin pohon sawo itu akan menjauhkan tangkai buahnya jika kudekati. “Tak apa.

“Alam ini, yang seperti ini, memang bukan buat diriku. “Buat Dewa Maut.”

Halayudha mengikuti perjalanan dalam gua. Melalui semua lorong hingga bermuara ke tempat yang lapang, dipayungi langit. Mulut gua yang menganga ke atas.

Puluhan kali Halayudha keluar-masuk gua bawah tanah. Untuk mengubur lawan-lawannya, untuk menawan lawan-lawannya.

Baru sekarang ini masuk ke dalam, memperhatikan keadaan sekitar untuk menghormati Dewa Maut. “Dewa Maut.

“Biarlah tempat ini tetap seperti yang kamu inginkan. Inilah Perguruan Awan yang sesungguhnya. “Aku akan menjaganya.”

Halayudha berdoa.

Setelah mengusap wajahnya, ia bergegas kembali. Melalui lorong-lorong yang panjang dan menikung di sana-sini. Sejenak timbul kecemasan dirinya tak akan bisa keluar lagi!

Inilah gila kalau terjadi.

Bukan sekali-dua Halayudha menyelusup masuk, dan memerintahkan semua jalan keluar ditutup. Kalau sekarang dirinya terkubur hidup-hidup, Halayudha tak sanggup menertawakan dirinya sendiri. Tapi tidak.

Halayudha bisa keluar. Dan kemudian memerintahkan para prajurit untuk menutup semua jalan. Dengan timbunan batu besar, dan batu bata yang direkatkan dengan adonan putih telur. Di atasnya ditimbuni tanah lagi hingga membukit.

Tak cukup dengan itu, Halayudha memerintahkan agar tempat itu ditanami dengan pohon yang nantinya tumbuh tinggi.

Sekarang semua jalan memang tertutup kuat. Tak ada kemungkinan lagi untuk menerobos ke dalam.

Bahkan kemudian seratus prajurit ditugaskan untuk menutup bagian yang berada jauh di luar Keraton. Yang menganga bagai sumur. Dengan jalan membuat papan-papan serta kayu yang kemudian ditimbun dengan tanah.

Halayudha tak mau tahu berapa tenaga yang harus dikerahkan dan berapa biaya yang dikeluarkan. Pada awalnya Halayudha bahkan mengawasi sendiri dan memberikan petunjuk secara langsung. Ada perasaan lega dalam hati Halayudha.

Ada semacam kebahagiaan yang segar, yang menenteramkan. Seperti melakukan suatu bakti, penghormatan tulus kepada Dewa Maut. Sebagai balas jasanya.

Kelegaan yang kemudian membawa banyak arti dalam kemajuan melatih diri. Inilah loncatan yang membuat Halayudha sedikit heran.

Kekuatan Mahidhara Mageng

HALAYUDHA sedikit heran, karena ternyata hasilnya di luar perkiraannya!

Sewaktu Dewa Maut membuka nadi planangan yang buntu, Halayudha segera merasakan kesegaran yang berbeda dari sebelumnya. Langkahnya menjadi lebih ringan, dadanya seolah berkembang, dan tenaganya bisa lancar mengalir. Apalagi setelah melatih sendiri.

Halayudha memusatkan perhatiannya, dan menusuk tepat seperti yang dilakukan Dewa Maut. Semakin rasa nyeri menyerang, semakin nekat jarinya menekan dengan kekuatan penuh. Semakin menggelinjang tubuhnya, semakin tak mau melepaskan.

Hasilnya selalu membuat tubuhnya basah kuyup oleh cairan tubuhnya yang bagai disuntakkan. Semua urat tubuhnya menegang.

Akan tetapi setelah itu, terasa lebih segar. Benar juga.

Sewaktu berlatih ilmu silat, Halayudha menyadari bahwa tenaga dalamnya menjadi lebih kuat. Tiang utama di pendopo kadipaten yang tak cukup dipeluk dua orang bisa diguncang!

Satu pukulan keras membuat tiang itu tergetar. Kayu-kayu yang melintang di atasnya bergeser.

Ketika pukulan diarahkan ke atas, atap kayu sirap dan ijuk yang terikat tebal itu jebol. Menganga.

Halayudha bersorak dalam hati.

Makin memperoleh kemajuan, makin garang Halayudha melatih diri. Dan makin cepat kemajuan yang dirasakan. Kini bahkan tembok Keraton bisa diloncati empat kali bolak-balik tanpa menyentuh tanah. Tanpa mencari pijakan!

Tenaga dalam tubuhnya bisa mengalir begitu saja, dan dengan sangat leluasa bisa diubah. Seakan tak ada hambatan.

Inilah yang membuat Halayudha sedikit heran.

Tubuhnya seakan berisi tenaga dalam yang baru, yang tidak mengalami pergolakan dahsyat untuk bisa menyatu dengan alam pikirannya.

Seakan ada magma, ada kekuatan besar yang selama ini tersimpan, menemukan jalan keluar. Pengerahan tenaga bisa menerobos seluruh nadi tubuhnya.

Dewa Maut memang luar biasa.

Dengan jitu Dewa Maut melihat pengerahan kekuatan tenaga planangan yang ada pada Barisan Api. Meskipun Barisan Api hanya muncul selintas dan berhasil dipatahkan seketika oleh Upasara Wulung, akan tetapi bagi para jago silat mencerminkan banyak hal yang tidak diketahui.

Tetapi Dewa Maut bisa melihat. Mengetahui sumber kekuatan.

Upasara boleh berbangga hati bisa mengalahkan, akan tetapi belum tentu bisa melihat sumber kekuatannya yang bisa berlipat.

Dewa Maut menemukan kunci pengerahan kekuatan itu berasal dari nadi planangan, nadi kejantanan. Yang diubah menjadi tenaga. Hal itu yang kini terjadi dengan dirinya sendiri.

Kondisi tubuhnya sudah terbentuk sebagaimana persyaratan yang ada. Hanya saja, dulu Halayudha tidak pernah menyadari.

Itu yang membuat perbedaan menjadi sangat tajam.

Sekarang kekuatan yang selama ini terpendam bisa dicairkan, bisa dipergunakan. Seolah magma mahidhara, magma gunung yang mageng, yang besar dan terpendam, bisa tersalur sempurna seperti bisa diatur.

Tidak berledakan dan menghancurkan. Melainkan bisa diarahkan.

Kalau sebelumnya hanya empat batang tombak yang bisa dipatahkan sekaligus, kini Halayudha mampu menekuk patah delapan tombak sekaligus.

Bahkan bisa lebih andai genggamannya cukup.

Tanpa disadari, Halayudha menemukan kunci pembuka kekuatan yang sejati. Adalah suatu kebetulan bahwa Dewa Maut pernah hidup tanpa bersinggungan dengan kaum wanita, sehingga mengetahui kekuatan yang tersimpan itu.

Halayudha bisa memainkan sesuai keinginannya.

Dengan satu tudingan jari, tenaga dalamnya bisa menusuk cepat. Sehingga prajurit jaga di atas benteng bisa terkena. Menjerit keras dan terbanting ke bawah. Tanpa sempat tahu apa penyebabnya.

47

By admin • Oct 13th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II Tanpa sempat tahu apa penyebabnya.

Dari jarak empat tombak, Halayudha mampu menahan gerak laju pedati yang ditarik dua ekor sapi.

Dengan kepercayaan diri penuh inilah Halayudha merasa tak sangsi lagi menghadapi panggilan Raja, yang bertanya mengenai Praba Raga Karana.

“Kudengar ilmumu tambah maju pesat, Halayudha. “Tapi bagaimana dengan permaisuriku?”

“Hamba berhasil menyadap tusuk dlamakan yang dimiliki Dewa Maut. “Hanya saja, duh Raja, rasanya permaisuri Dalem terkena kutukan Dewa. “Rasanya tak banyak yang bisa hamba lakukan.”

“Berarti tak bisa menyembuhkan?” “Raja yang Dimuliakan.

“Kalau Raja berkenan mengetahui yang sesungguhnya….”

Tak terlalu sulit bagi Halayudha untuk melakukan apa yang direncanakan. Totokan dalam tubuh Praba Raga Karana diubah.

Kini tubuhnya bisa bergerak, bisa duduk, berjalan. Hanya nadi yang menyebabkan berbicara tetap ditutup.

Lebih dari itu, Halayudha menutup nadi wadon, nadi kewanitaan, yang ada. Sehingga Praba Raga Karana tak akan bisa merasakan getaran berahi!

Tak ada pancaran itu dari gerak tubuh, pandangan mata, ataupun tarikan napas. Menjadi dingin.

Tanpa getaran.

Raja mengelus rambutnya sambil menghela napas. “Kutukan Dewa?

“Kenapa, Halayudha?”

“Hamba tak mampu menerangkan.

“Barangkali saja Dewa melindungi Raja yang Mulia, dengan memperlihatkan bahwa tubuh Permaisuri tak bisa menerima Raja.

“Sesuatu yang hampir tak masuk akal, karena kodrat wanita adalah menerima.” “Apakah berarti Ingsun tak pernah perlu berhubungan asmara dengan permaisuriku?” “Lebih dari itu.

“Hamba kuatir jika daya asmara Raja terpengaruh karenanya.” Raja menggeleng.

“Tak masuk akal.

“Aku tak bisa percaya begitu saja.

“Di Keraton ini hanya ada satu tabib yang diakui Dewa. Panggil Tanca menghadap sekarang juga. Hari ini juga kamu menjemput ke Simping.”

“Sendika dawuh, Ingkang Sinuhun…”

Dharmaputra Tanca, senopati pilihan sejak zaman Baginda memang tetap merupakan tumpuan. Karena selama ini masih dianggap yang paling mumpuni, paling menguasai cara-cara penyembuhan. Lebih dari kemampuannya yang luar biasa, Senopati Tanca dianggap tak pernah berubah kesetiaannya.

Di saat Bagus Kala Gemet belum secara resmi memegang takhta kekuasaan, Senopati Tanca secara tulus mengabdi. Meskipun dirinya tetap mengikuti Baginda, namun kesetiaan kepada yang memerintah melebihi siapa pun.

Juga ketika huru-hara terjadi dengan kedatangan Pendeta Syangka, Senopati Tanca yang menunjukkan kesetiaan tanpa batas. Apa yang menjadi perintah resmi, itu yang dijalani. Tanpa bertanya, tanpa menunda. Dalam perhitungan Halayudha, Senopati Tanca tetap tak akan berubah. Kalau sekarang Raja memerintahkan menghadap, Senopati Tanca tak akan menunda barang sekejap. Kalau didawuhi menyembuhkan Praba Raga Karana, sepenuh kemampuannya akan dikerahkan.

Senopati Tanca adalah gunung lain yang kukuh dalam pengabdian. Ini yang perlu diperhitungkan Halayudha.

Karena bukan tidak mungkin Senopati Tanca bisa mengetahui apa yang sesungguhnya diderita Praba Raga Karana. Pemahamannya yang begitu mendalam mengenai jampi dan pengobatan selama ini belum ada tandingannya.

Mudah ditebak, apa yang dilihat dan diketahui, Senopati Tanca akan mengatakan secara terbuka. Tokoh yang satu ini memang aneh.

Sekurangnya dibandingkan tujuh dharmaputra yang lain. Tak setitik debu dibelah seribu pun bisa menggoyang kesetiaannya.

Ini yang menyulitkan Halayudha.

Akan tetapi dalam perjalanan menuju Simping, Halayudha sudah menemukan langkah-langkah untuk mengalihkan sasaran.

Yang pertama ditemui justru Nyai Makacaru, istri Senopati Tanca. Halayudha menuju ke tempat Nyai Makacaru memelihara segala jenis tanaman.

Itu pun tidak langsung menemui. Beristirahat di gubuk.

Sehingga Nyai Makacaru yang mempersilakan datang. “Saya tak berani masuk, Nyai.

“Takut tubuh saya akan mengotori tempat yang bersih, sajian yang suci….”

Dengan kalimat itu, Halayudha menyinggung tempat sajian, atau sesuatu yang bakal dijadikan sajian, yang sesungguhnya itulah arti nama yang dipakai, makacaru.

Rasa Kamanungsan

NYAI MAKACARU, wanita yang tetap tampak bersih, segar pada usianya yang melewati separuh abad, tetap tenang mendengarkan. Tak ada sunggingan senyum atau reaksi atas ucapan Halayudha.

Bahunya yang telanjang tetap tak bergerak sedikit pun. Kemben di dadanya juga tak memperlihatkan tarikan napas yang berbeda.

Keramahan yang terpancar dari seluruh tubuhnya yang terjaga sempurna adalah keramahan seorang nyonya rumah. Seorang istri yang bekti kepada suami.

Perjalanan waktu yang tidak pendek, pergolakan hidup yang memanjang, tak membuat penampilan Nyai Makacaru sedikit pun berubah. Tidak juga rambutnya yang tetap hitam berkilat, tanpa warna lain selembar pun.

“Saya menjalankan perintah Raja, meskipun sebenarnya saya lebih rela dihukum untuk tidak menyampaikannya.

“Itu sebabnya, Nyai, saya tak berani melangkah masuk.

“Rasanya berada di kebun pun hanya akan mengotori tempat yang suci ini.” “Senopati telah melangkah masuk, dan duduk dengan enak.

“Kalau saja ada sesuatu yang bisa saya bantu, walau mungkin hanya mendengarkan saja, rasanya tidak ada salahnya untuk diutarakan.”

Suara dengan nada merendah.

Entah berapa ratus sudah para prajurit, senopati, para keluarga bangsawan, dan masyarakat setempat yang mendapat pengobatan langsung dari Nyai Makacaru ataupun Senopati Tanca. Akan tetapi, penampilannya tetap seolah tak berbuat apa-apa.

“Barangkali Nyai telah bisa membaca….”

“Kalaupun begitu, adalah tidak layak saya mendahului.” Halayudha mengangguk.

“Sungguh bijak kata Nyai. “Ini menyangkut kebijakan, kelayakan. Bahkan lebih dari itu menyangkut rasa kamanungsan, rasa kemanusiaan. Itu yang memberati lidah saya untuk menyampaikan. Karena saya merasa Nyai tak pernah menolak permintaan orang yang datang meminta pertolongan.

“Itu yang membebani hati saya, Nyai.

“Sedemikian beratnya, sehingga tak kuasa saya panggul. Kalau beban itu barang, saya bisa meletakkan untuk satu saat dan mengangkatnya kembali. Akan tetapi ini lebih menyangkut rasa.

“Rasa kemanusiaan.

“Kemanusiaan yang membedakan manusia dengan binatang. “Nyai…

“Nyai, apakah harus saya sampaikan bahwa Raja berkenan meminta ramuan jamu dan bedak lulur untuk kedua calon pengantin wanita yang masih saudara satu ayah, putri-putri Baginda?”

Kali ini tangan Nyai Makacaru bergetar.

Daun sirih yang digenggam seperti lumat oleh jari-jarinya yang halus, yang berwarna hijau kekuningan karena selalu meramu jamu.

Halayudha mengetahui adanya reaksi Nyai Makacaru.

Dan memuji dirinya sendiri telah mengambil langkah yang tepat.

Pilihan untuk menemui Nyai Senopati Tanca, sambil mengisikkan rencana pernikahan Raja dengan kedua putri Permaisuri Rajapatni, lebih dari tepat.

Akan lain jika Halayudha menyampaikan seperti yang dikehendaki Raja.

Tepat, karena keluarga Senopati Tanca berbeda dari keluarga para senopati yang lain. Bahkan di antara tujuh dharmaputra, Senopati Tanca menunjukkan ketidaksamaan.

Di antara sekian banyak senopati, hanya Senopati Tanca yang selama ini dikenal selalu rukun dengan istrinya. Rukun lahir-batin, seperti yang bisa disaksikan semua orang.

Senopati Tanca tidak mengambil wanita lain untuk mendampingi, meskipun kalau itu dilakukan bukan sesuatu yang aib. Kedudukan dan pengaruh Nyai Senopati sangat besar.

Memang ada kabar burung yang mengatakan, bahwa Nyai Senopati mampu menguasai suaminya luar-dalam. Mampu menciptakan suasana atau jejamuan sehingga suaminya tak mungkin bisa berhubungan dengan wanita lain. Selain dengan Nyai.

Lepas dari kabar burung itu benar atau tidak, Halayudha melihat kenyataan bahwa selama ini Nyai Makacaru berhasil mendampingi Senopati Tanca.

Mereka berdua boleh disebutkan sebagai pasangan suami-istri yang patut menjadi panutan. Terutama bagi kaum wanita. Kemuliaan Nyai Senopati diakui secara luas.

Juga karena pada keluarga ini segala kesederhanaan itu tetap terjaga. Sejak masih menjadi prajurit, atau senopati, bahkan kemudian diangkat sebagai dharmaputra yang berarti mempunyai wewenang dan hak khusus, kehidupan sehari-hari Nyai Senopati tidak berubah.

Rumah pondoknya masih seperti yang dulu.

Kebun tanaman masih seperti dulu. Tanaman, bunga, daun, dibenihkan dengan tangannya sendiri. Kehidupan yang nyaris tanpa cela.

Godaan duniawi tak bisa menyentuh apalagi mempengaruhi.

Ada satu sikap kukuh yang selama ini terus dipertahankan. Satu nilai utama yang mendasari semua tindakannya. Pada saat seseorang bisa berbuat seperti itu, berarti ada satu kekuatan yang diyakini, yang membuatnya bertahan sampai mati.

Ini perhitungan Halayudha.

Yang berlanjut kepada, jika nilai dasar utama itu yang diganggu, kehidupan pula yang akan menjadi taruhannya. Itu sebabnya Halayudha langsung mengangkat persoalan rasa kemanusiaan.

Suatu yang paling peka dalam kehidupan Nyai. “Saya sudah mendengar hal itu, Senopati Halayudha.

“Tak ada yang memberati. Selama ini Raja selalu kami sembahi dengan persembahan, segala jejamuan dan rawatan tubuh.

“Senopati Halayudha tak perlu risau menyampaikan hal ini.” “Maaf, maaf yang besar, Nyai.

“Bukan saya membantah kehendak Raja. Sama sekali bukan. “Akan tetapi rasa risi, rikuh, malu, sungkan, dan hina menyatu dalam diri saya kalau mengingat pilihan Raja sekarang ini.

“Apakah tidak ada putri lain yang bisa dipersunting?” “Raja berhak apa saja.”

“Sangat benar, Nyai. “Sangat benar sekali.

“Hanya apa yang akan diceritakan anak-cucu kita di belakang hari? Apa yang akan dikatakan anak- cucu saya, jika mengetahui bahwa saat ini saya menjadi senopati dan menjabat sebagai mahapatih? Apa yang akan dikatakan anak-cucu Senopati Tanca yang selama ini mendapat nama harum, kalau mengetahui bahwa Senopati Tanca juga membantu?”

“Pengabdian tidak membutuhkan pertanyaan dan keraguan.”

“Sabda Raja adalah kebenaran,” sambung Halayudha cepat, sambil menghela napas berat. “Saya akan menyampaikan timbalan nDalem, panggilan Raja.”

“Seribu terima kasih, Nyai.

“Maafkan ketololan saya yang rendah ini.”

Seorang pelayan wanita menyuguhkan minuman aren dari kelapa. Berjalan berjongkok dan tak melirik.

“Senopati, minuman ini bisa mengurangi haus.” “Sangat terima kasih, Nyai….”

Hening.

Tak ada yang menyentuh.

“Senopati Halayudha yang memegang jabatan mahapatih, lebih didengar dari yang lain. Apakah saya keliru?”

Halayudha menggeleng. Hatinya mengangguk.

Menggeleng untuk membenarkan kalimat Nyai Senopati, mengangguk untuk kalimatnya sendiri, yang tadinya sempat cemas, karena Nyai Makacaru seperti tak tersentuh.

“Saya hanyalah abdi dalem, tidak mempunyai apa-apa, Nyai.

“Tidak juga kehormatan besar seperti yang dimiliki Senopati Tanca. Itu alasan yang lain lagi, sehingga saya tidak berani bertemu muka dengan Senopati Tanca.”

“Sekarang sedang menghadap Baginda….”

“Rasanya saya ingin menunggu, kalau Nyai tidak keberatan. Akan tetapi apa saya bisa menyampaikan dengan kata-kata kepada Senopati Tanca?”

Tak ada jawaban.

“Dengan bahasa apa saya bisa menyampaikan hal ini?” Halayudha menunduk.

“Silakan…” Halayudha meneguk. “Sebentar lagi…”

Suaranya tak perlu dilanjutkan.

Langkah kaki terdengar mendekat. Lelaki yang tetap bersemangat, dengan pandangan yang jernih. Suaranya tetap tenang, mengucapkan selamat datang, menanyakan kabar, dengan suara tetap sabar.

“Angin kebesaran apa yang mengiringi Mahapatih datang ke gubuk hina ini?” “Angin yang mematikan rasa kemanusiaan.

“Senopati Tanca, apakah saya diizinkan bermalam di sini barang dua malam?” Bagi Halayudha itu cara yang terbaik.

Dengan membiarkan Nyai Makacaru menyampaikan sendiri, dalam bahasa suami-istri, hasilnya akan lebih mencapai sasaran.

Dalam satu-dua malam, ia bisa melihat perkembangan. Sebenarnya Halayudha tak perlu menunggu terlalu lama. Senja itu pula, Nyai Makacaru telah memutuskan diri untuk berada di tengah kebunnya. Tak mau masuk rumah.

Untuk selamanya.

Rembetan Api

LANGKAH berikutnya, Halayudha sudah siap. Dan segera melakukan.

Para prajurit pengawalnya diperintahkan untuk menyamar sebagai penduduk biasa, dan berkumpul di depan sanggar pamujan. Kalau kemudian masyarakat sekitar ikut serta, makin kuat kesan bahwa di kalangan penduduk juga muncul kegelisahan.

Sebagaimana posisi mereka yang rakyat kecil, mereka hanya bisa mempertanyakan dengan cara berdiam diri, berjemur di depan sanggar pamujan.

Kalaupun jumlahnya tak seberapa, itu sudah akan menyebar sebagai kabar yang besar. Bahwa penduduk berani unjuk diri, mempertanyakan kepada Baginda.

Dengan demikian suasana panas mulai meletik.

Seperti halnya api, rembetan menjalar dengan cepat dan makin lama makin santer. Setitik api bisa diucapkan kembali sebagai bara, setitik bara bisa diungkapkan kembali sebagai kebakaran.

Dalam suasana yang panas, Halayudha memastikan langkah. Ia menyusun prajurit pilihan yang benar-benar tepercaya. Menyiagakan untuk sewaktu-waktu bisa bergerak cepat. Sasarannya hanya satu.

Melenyapkan Mahapatih Nambi di Lumajang.

Kepada Raja, Halayudha sama sekali tidak menyinggung mengenai Tabib Tanca. Halayudha melaporkan bahwa rakyat mulai dihasut oleh kaki tangan Mahapatih Nambi yang mendapat restu resmi dari ayahandanya.

“Baginda sendiri secara pribadi tidak menyalahkan atau melarang pernikahan. Berarti Baginda secara resmi telah melepaskan tanggung jawab, wewenang, sepenuhnya.

“Hanya Mahapatih Nambi yang tetap menunjukkan kepalanya yang mendongak.

“Dengan perintah Raja yang Mulia, hamba akan mengamankan. Sebelum merembet terlalu jauh. Sebab kalau dibiarkan, rakyat yang tidak mengerti duduk persoalan sebenarnya akan terpengaruh.”

“Halayudha.

“Ingsun percaya kamu sepenuhnya. Tapi kadang juga ragu. Kamu ini banyak sekali omongannya. “Tapi, tak ada salahnya kamu urus Mahapatih Nambi.”

“Sedia menjalankan perintah.”

“Jangan gegabah, jangan memancing pertumpahan darah. “Kalau perlu Nambi ditimbali kemari.”

“Sedia menjalankan perintah….”

Halayudha sudah tahu. Bahwa bukan timbalan atau perintah yang akan disampaikan. Melainkan… Halayudha segera menyiapkan pasukan yang terpilih. Menyusun menjadi tiga barisan.

Yang pertama berangkat bersamanya dalam jumlah yang tidak seberapa. Yang kedua akan mengepung seluruh wilayah Lumajang secara tersembunyi. Ini dilakukan dengan cara menyamar, dan sudah lebih dulu berada di tempat. Sedang barisan ketiga berjaga di Keraton. 

Yang ketiga ini bagi Halayudha sebagai upaya untuk menjaga diri. Ia tak ingin terpancing sepenuhnya keluar, dan Keraton secara mendadak dikuasai senopati lain. Sesuatu yang pernah terjadi.

Seorang Senopati Tantra saja pernah dan bisa melakukan.

Dalam barisan ketiga ini, sebagian menjadi penghubung. Begitu ada kejadian yang tak menjerat perhatian dan meminta ketegasan, Halayudha siap memilih prajurit agar bisa menyampaikan langsung kepada Raja.

Bahwa Keraton berada dalam keadaan gawat. Sehingga perlu diambil tindakan keras. Dalam perjalanan, Halayudha merinci seluruh kegiatan dengan cermat, sehingga kemungkinan kecil pun tak ada yang lolos dari perhitungannya. Setelah beberapa kali usahanya yang cermat gagal pada saat terakhir, Halayudha kini lebih berhati-hati.

Adalah di luar dugaan Halayudha, ketika rombongan tengah dalam perjalanan, rombongan dari Lumajang justru telah bersiap menunggu.

Yang begini adalah di luar dugaannya sama sekali.

Mahapatih Nambi telah mengendus adanya bahaya. Sehingga secara sengaja memasang barisan untuk pacak baris, bersiaga penuh. Ini sengaja dipertunjukkan. Sebagai peringatan bagi Halayudha.

Karena barisan yang menjemput dalam keadaan siap siaga. Lengkap dengan semua persenjataan.

“Senopati Halayudha diminta menghadap Mahapatih…,” tutur utusan yang langsung menghadap Halayudha.

“Tanpa diminta pun aku sebagai utusan Raja akan menemui.” Suara Halayudha mengguntur saking kerasnya.

“Sampaikan kepada Mahapatih….” “Kami akan menyertai Senopati.”

Halayudha mengeluarkan suara keras dari hidungnya. “Apakah aku perlu dikawal dan diawasi?”

“Hamba sekadar menjalankan perintah Mahapatih.” Halayudha mengangguk.

“Para prajurit Keraton Majapahit yang setia kepada kebenaran, sebagian dari kalian boleh kembali ke Keraton. Saya pribadi yang akan menghadapi ini.

“Saya memerintahkan kalian segera kembali.

“Tak perlu ada pertumpahan darah yang tak berarti.”

Dengan berangkat seorang  diri, Halayudha  menunjukkan keberanian.  Tapi sekaligus juga untuk mengelabui Mahapatih Nambi. Karena prajuritnya yang lain telah berada di Lumajang!

Itu perhitungannya.

Akan tetapi ternyata sebagian besar justru meleset.

Ketika melangkah masuk ke pendopo Lumajang, yang berada di halaman depan justru para prajuritnya yang diikat tangannya. Menunduk, seakan dipertontonkan untuk menyambut Halayudha.

Kali ini Halayudha bercekat.

Tak disangkanya Mahapatih Nambi begitu tajam penciumannya. Tak disangkanya bahwa Mpu Sina sedemikian mudah membaca gerakannya, dan menyiapkan perangkap.

Sekarang ini benar-benar gawat. Bagi dirinya.

Namun itu semua tidak membuat Halayudha melangkah surut. Dengan langkah gagah yang sama lebarnya, Halayudha masuk ke tengah pendopo.

Ruangan yang terbuka lebar, tanpa dinding, tanpa pintu. Mahapatih Nambi duduk di tengah.

Halayudha menyembah, duduk di depannya. Suasana hening.

“Sugeng rawuh di tanah Lumajang, Senopati Halayudha. Saya sudah lama menunggu.”

“Sambutan yang keliru, Mahapatih,” jawab Halayudha dengan suara tetap mengguntur keras. “Saya datang sebagai utusan Raja. Sambutan Mahapatih seperti ini pasti kurang berkenan di hati Raja.”

“Itu tanggung jawab kami,” jawab Mahapatih Nambi sambil mengangguk hormat kepada ayahandanya. “Saya telah memutuskan untuk mengamankan Keraton. Dan membersihkan pembuat onar.

“Pengakuan para prajuritmu, yang dengan mudah ditangkap, akan membuka kebenaran. “Halayudha, kita sesama lelaki.

“Kalau mengikuti darah panasku, aku tak akan menerimamu di sini, atau mengajak berbicara. Akan tetapi Rama menghendaki demikian.”

Halayudha tersenyum. “Apa sebab Senopati Sina masih mempertimbangkan saya? “Karena sangat dekat dengan Raja?”

“Karena Senopati bisa berbuat lebih baik untuk Keraton.” “Mahapatih, apakah selama ini saya telah berbuat kurang baik?” Mahapatih Nambi menepuk lututnya.

“Halayudha, semua telah cukup jelas.

“Selama ini para prajurit yang masih setia denganku, melaporkan segala sesuatu yang kamu lakukan. Termasuk rencana pernikahan Raja.

“Kamu tak akan bisa menyangkal lagi.

“Dalam tata keprajuritan, kamu tak ada artinya dibandingkan denganku, pemimpin prajurit telik sandi. Semua rencanamu terbaca dengan jelas seperti tangan yang membuka.

“Semua bukti kebusukanmu ada di tangan.”

Halayudha memandang sekeliling. Semua prajurit bersiaga. “Mahapatih, apa lagi yang ditunggu?

“Apa susahnya melawan saya seorang diri, sementara seluruh Lumajang telah siaga perang? Biarlah orang lain yang menilai, siapa yang ksatria dan siapa yang main keroyokan.”

“Aku sudah menduga kalimatmu, Halayudha. “Aku tak akan terpancing.

“Kamu terlalu yakin bisa mengelabui semua orang. Dalam tata keprajuritan kamu tak mengerti sendi- sendinya. Kamu salah besar dalam hal ini.”

Senopati Sina terbatuk.

Bahkan Senopati Sina sudah diatur tempatnya agak di belakang. Sehingga kalau terjadi keributan yang kasar, tidak berada dalam titik bahaya.

Mau tidak mau Halayudha mengakui bahwa dalam bidang keprajuritan, Mahapatih Nambi tetap unggul dua atau bahkan tiga tingkat di atasnya. Bagaimana tidak, jika walaupun tetap berada di Lumajang akan tetapi bisa mengetahui semua gerak-geriknya?

Alangkah tolol dirinya.

Sama sekali tak memperhitungkan hal ini. Sekarang sudah terlambat untuk menyesali.

Kesalahan dan Kekalahan

TAK ada yang perlu disesali.

“Mahapatih Nambi, rasanya saya tak perlu membantah apa yang Mahapatih katakan. Barangkali sebagian besar benar, sebagian kecil salah. Barangkali terbalik, sebagian kecil benar, sebagian besar sebenarnya masih samar.

“Tak ada untungnya mengadu kebenaran.

“Saya menerima sepenuhnya penilaian Mahapatih.” “Lidahmu memang luwes berbelit.

“Dalam keadaan tergigit atau terjepit, selalu tak mau menerima dan mengakui kesalahanmu.” “Saya menerima, Mahapatih.”

“Saya tahu itu tidak keluar dari hatimu yang tulus.” Halayudha mendongak.

“Apa yang Mahapatih kehendaki? “Apa lagi yang Mahapatih kehendaki?

“Semua prajurit saya telah ditawan. Diikat sebagai bandan, sebagai kayu ikatan dan dipertontonkan. Semua kebusukan saya telah diketahui.

“Tak ada lagi alasan untuk pembelaan. “Apa lagi yang Mahapatih kehendaki? “Saya bertelanjang di sini dan berteriak mengakui kesalahan? Membunuh diri? Melawan dan dicincang?

“Sejak di perjalanan saya telah dilucuti. Di sini diadakan pertemuan besar untuk menyaksikan pengadilan dan penjatuhan hukuman atas diri saya.

“Mahapatih, kalau sudah sedemikian yakin saya bersalah, mengapa harus membuang-buang waktu dengan mengadakan tanya-jawab?”

Mpu Sina yang memandang dari kejauhan tak bisa menahan rasa gusar dan sekaligus menganggap bahwa Halayudha memiliki kekuatan bertahan dan berkelit yang sangat licin.

Dalam posisi sudah sangat terdesak dan tak bisa mengelak, masih bisa menantang.

Yang bagi telinga biasa seperti masuk akal. Karena apa yang dikatakan Halayudha sangat sederhana nalarnya. Kalau dirinya bersalah, kenapa tak dihabisi saja?

Padahal Halayudha justru mempermainkan perasaan keraguan yang bersarang di dada para senopati atau para prajurit. Dengan kalimat itu, seakan ia ingin menunjukkan bahwa masih ada hal yang gelap. Masih ada celah yang membuat Mahapatih tak sepenuhnya yakin akan tuduhannya.

“Cukup, Halayudha.”

“Semua seperti titah Mahapatih.”

“Kamu tak akan pernah berhasil mempermainkan perasaan saya. Tidak mulai sekarang ini.” Halayudha malah mengangguk.

“Apa yang Mahapatih inginkan dari saya? “Apa masih ada?”

“Halayudha, dengarkan baik-baik.

“Saat ini Keraton sedang dalam keadaan kacau. Dari luar kelihatan aman sentosa, akan tetapi sesungguhnya terjadi kekeroposan yang bisa menghancurkan.

“Kamu sadar hal itu.

“Kamu penyebab utamanya.

“Akan tetapi sesungguhnya kamu masih bisa berbuat kebaikan untuk menebus kesalahan besar itu. Dengan cara apa saja, agar ketenteraman Keraton tetap terjaga.”

“Mahapatih menganggap saya masih ada artinya? Masih ada kesempatan untuk menebus kesalahan?

“Dosa saya masih bisa diampuni? “Maaf, barangkali kita bicara ngelantur.

“Dari satu sisi, saya adalah tokoh yang jahat yang meracuni Keraton, menebarkan kebusukan menular. Hingga tak ada setitik darah kebaikan dalam tubuh saya.

“Dari sisi yang lainnya, saya masih bisa menjadi penyelamat, karena hubungan yang dekat dengan Raja.

“Dua penilaian yang sama sekali tak bisa akur.

“Kalau saya sedemikian busuknya, apakah Raja mau mendengar kata-kata saya? “Apa yang Mahapatih harapkan?

“Mempengaruhi Raja agar mengurungkan niatan palakrama, menikahi putri-putri Permaisuri Rajapatni? Rasanya mustahil. Baginda sendiri tak tergerak menghalangi. Permaisuri Rajapatni juga tidak. Senopati Tanca dan Nyai Tanca bahkan sudah menyiapkan peralatan untuk jejamuan.

“Bukankah harapan Mahapatih berlebihan akan kemampuan saya?

“Saya, saya berani menyebut diri sebagai saya dan bukan hamba sekarang ini, bukanlah seorang mahapatih. Bukan senopati kinasih, yang terpilih dan disayang Raja.

“Saya tak berbeda dari prajurit yang lain, senopati yang lain. Yang menjalankan dawuh sejauh kemampuan dan pengabdian saya.

“Kalau Mahapatih murka ketika saya menyilakan kembali ke Lumajang, semata-mata demi keutuhan, demi kerukunan dan ketenteraman Keraton. Saat itu, hingga sekarang ini, Mahapatih masih dalam status palapa karya. Raja sendiri yang memberi restu. Itu sebabnya Raja kurang berkenan dengan tindakan Mahapatih. Karena semua prajurit bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Kalau Mahapatih masih mengingat, saat itu kita berangkat dari tempat ini. “Kalau sekadar mencari keuntungan pribadi, saya lebih suka membiarkan semuanya.

“Rasanya itu lebih baik. Daripada sekarang ini, prajurit Keraton dipertontonkan dan diperlakukan seperti pengkhianat. Sejauh saya tahu, utusan dari Tartar pun tidak melakukan penghinaan seperti ini.

“Mahapatih.

“Kalau Mahapatih menganggap semua kesalahan adalah tanggung jawab saya, hukumlah sekarang juga. Dengan kekalahan saya, lunaslah semua dosa-dosa terkutuk.

“Kesalahan dan kekalahan, semuanya bisa ditimbunkan dalam diri saya. “Sekarang.

“Sebenarnya tak ada lagi yang menghalangi.”

Suara Halayudha berapi-api, akan tetapi pengutaraannya dengan nada masih bisa menguasai diri. “Kemenangan berpihak kepada Mahapatih.

“Kebenaran yang mendasari itu.” “Apakah itu berarti kamu menantang?” “Saya mengatakan apa adanya.

“Sejarah Keraton yang gilang-gemilang menjadi demikian ruwet, penuh dengan belitan dendam, semuanya karena saya. Sayalah biang keladinya.

“Mahapatih ingat, bahwa sesungguhnya sejak Mahapatih Nambi yang memegang tata pemerintahan Keraton, sejak kendali di tangan Mahapatih, sejak itu pula keruwetan muncul.

“Pengangkatan yang menyebabkan Mahapatih dijauhi, ditakuti, dan dengan demikian menjadikan Mahapatih tak bisa mendengar mana yang benar dan mana yang asal berbunyi.

“Sejarah Keraton yang mengalirkan dendam, darah, dimulai justru saat Mahapatih memegang kepemimpinan.

“Saya tidak menyalahkan Mahapatih. Saya tidak mempertanyakan Baginda yang memilih dan menunjuk Mahapatih. Semuanya adalah suratan Dewa, yang sudah tertulis sebelum kita lahir ke jagat.

“Kita semua hanya menjalani. “Kadang ada nasib baik. “Kadang ada nasib buruk.

“Kadang nasib buruk dengan nasib baik datang bersamaan. Atau hanya berselisih beberapa kejap saja.

“Maaf, maaf semuanya.

“Saya harus mengatakan ini semua. Agar tak ada keraguan lagi, kalaupun ingin menjatuhkan hukuman ke tubuh saya.

“Apalah artinya seorang Halayudha?

“Kalaupun ia senopati yang unggul, yang dipercaya dan dekat dengan Raja, ia tetap seorang di antara sekian puluh senopati yang lain. Seorang yang bila dilenyapkan, tak ada yang menangisi, tak ada yang menahan.

“Halayudha seorang diri.

“Tanpa sanak kadang rowang. Tanpa saudara dekat atau jauh, tanpa teman. “Apakah dengan kata-kata ini diartikan menantang?”

Mahapatih mencabut kerisnya. Berdiri dengan gagah. “Semakin jelas sekarang.

“Bahwa memang kamulah sumber bencana.

“Semakin banyak yang kamu katakan, semakin menggambarkan keculasan dirimu. Kepintaranmu membalik yang hitam menjadi putih, yang putih menjadi kotor.

“Aku tidak ragu lagi, Halayudha.” “Saya akan melawan sebisa saya.” “Itu baik.

“Bersiaplah.”

“Saya telah bersiap, Mahapatih.” Benar-benar tantangan. Sekaligus tamparan.

Karena Halayudha mengatakan itu dengan menyembah, lalu bersidekap. Menyilangkan kedua tangan di depan dada, dengan mata terpejam.

Seakan pasrah.

Tapi mengatakan siap.

Sekokoh karang sekalipun, kemurkaan Mahapatih Nambi jadi terguncang keraguan. Apakah Halayudha akan menerima hukuman?

Ataukah menyiapkan serangan mendadak sebagai balasan?

Bader Bang Sisik Kencana

DUA pertanyaan yang membuat Mahapatih Nambi ragu-ragu sejenak, merambat kepada para prajurit yang berada di pendapa.

Kecuali Mpu Sina yang terbatuk. Memegangi dadanya.

“Bader bang…”

Suaranya terdengar tersengal.

Tapi Halayudha mendengar jelas. Karena dengan memejamkan mata sambil bersidekap, Halayudha sedang memusatkan pikiran dan kekuatannya.

Apa yang dibisikkan Mpu Sina sangat diketahui Halayudha maksud tujuannya. Perkataan bader bang, lebih lengkapnya berbunyi bader bang sisik kencana. Artinya kira-kira, badar merah bersisik emas.

Ungkapan yang lebih luas dari itu adalah menggambarkan bahwa Mpu Sina menilai Halayudha sedang memainkan siasat ikan badar. Ikan badar adalah ikan yang kecil tak berarti. Akan tetapi dengan warna merah dan bersisik emas, ikan teri yang tak berarti itu menjadi bermakna. Menjadi incaran yang sangat besar artinya.

Hal ini bisa diartikan bahwa Halayudha berusaha mengubah kedudukannya yang tanpa harapan menjadi peluang emas.

Sehingga bukan tidak mungkin sekarang ini Halayudha sudah menyiapkan satu serangan balik. Atau menyerah pasrah.

Keraguan. Keraguan menentukan yang mana.

Mpu Sina mengeluarkan kata bader bang, karena kata itu mengandung beberapa pengertian.

Pada telinga Mahapatih, peringatan itu diterima dalam pengertian yang berbeda. Bader bang sisik kencana, bisa diartikan sesuatu yang tiada berarti. Tak ada gunanya. Karena sesungguhnya ikan teri merah bersisik emas itu tak pernah ada. Sehingga semua usaha untuk memburu juga tidak akan memberi hasil apa-apa.

Berarti kesia-siaan.

Kalau dikaitkan dengan apa yang akan dilakukan, Mahapatih bisa menerimanya sebagai peringatan bahwa ia tak perlu melakukan tusukan atau hukuman.

Para senopati yang berada di dekat Mahapatih sebenarnya juga menjadi bercabang. Mendua pilihannya. Karena dua kata Mpu Sina bisa ditafsirkan berbeda.

Tafsir pertama seperti yang sementara ini berada dalam pengertian Mahapatih.

Tafsir kedua, bisa berarti kalau Mahapatih melakukan, itu tak ada apa-apanya. Tak ada dosa atau kesalahan. Sebab ikan teri merah bersisik emas itu tak pernah ada. Jadi ditiadakan pun tak apa-apa.

Inilah pertarungan yang sesungguhnya.

Pertarungan tanpa mengeluarkan tenaga. Tanpa mengadu ilmu silat. Tanpa bergerak. Tanpa menggerakkan tangan. Tidak juga satu tangan sekalipun.

Halayudha sangat memahami situasi yang tengah berlangsung.

Sangat menyadari bahwa situasi bisa mengubah nasibnya dalam seketika. Menerima tikaman dan terjangan, atau sekurangnya menjadi penundaan.

Pada saat yang genting itu justru Halayudha bisa merebut keunggulan. Tidak dengan mendahului bergerak. Sebab secepat apa pun gerakannya, sekuat apa pun tenaga yang dikerahkan, hasilnya tak bakal menyelamatkan dirinya. Taruh kata pukulannya bisa menyeret Mahapatih atau merobohkan. Itu tak menghalangi semua senopati dan prajurit yang akan menyerbu bersamaan. Dibakar oleh dendam kesumat, dan mendapat pijakan alasan menerjang yang gamblang. Itu risiko yang berat, karena Halayudha tak akan bisa melarikan diri dengan leluasa.

Tidak dengan pasrah menyerah.

Sebab sepasrah apa pun, tubuhnya akan bereaksi jika serangan datang. Halayudha tak akan membiarkan dirinya dicincang. Padahal saat dirinya bereaksi memberikan perlawanan, serangan tak akan terbendung lagi.

Pertarungan yang sesungguhnya berlangsung.

Halayudha yang mulai menarik ke tengah permasalahan. Antara kesalahan dan kekalahan. Perdebatan, kalau boleh dikatakan begitu, meskipun ini dilakukan oleh Halayudha sendiri, mengenai kalah dan salah bisa berarti sama, tapi bisa berarti lain. Yang kalah belum tentu berarti salah.

Dengan menyeret ke pembicaraan itu, Halayudha sengaja memaparkan kebusukannya sendiri. Semua rencananya ditelanjangi sendiri. Sedemikian pekatnya sehingga seolah ia tengah membual. Tengah menceritakan sesuatu secara berlebihan.

Dengan memecah perhatian dasar tindakan, Halayudha sebenarnya sedang menggempur bagian yang terdalam. Bagian yang lebih dalam dari tenaga dalam.

Kemampuan itu mewujud dalam diri Halayudha seperti tidak direncanakan. Sekurangnya tidak direncanakan secara sadar.

Meskipun sejak awal Halayudha mengetahui peluang untuk menggoyahkan pikiran lawan, akan tetapi tidak menduga bahwa hasilnya bisa begitu luar biasa.

Sekarang boleh dikata dirinya berada di atas angin.

Sebab keraguan tindakan Mahapatih yang sepersekian kejap ini menjalar dan menjadi tanda tanya. Dari seluruh isi pendapa yang segera menyadari bahwa Halayudha unggul adalah Mpu Sina.

Tokoh tua yang kenyang pengalaman dan kokoh dalam pendirian itu terguncang. Kekuatan batinnya saling membentur dalam dadanya. Tubuhnya bergetar. Tangannya gemetar. Yang terdengar adalah giginya berkerutukan.

Gempuran tenaga batin yang menusuk terlalu dalam.

Mpu Sina adalah senopati tangguh yang pendiriannya sangat luas dan keras. Dalam tata pemerintahan yang sedang menanjak, Mpu Sina lebih suka mengundurkan diri. Sama sekali tak mau berurusan. Ini saja sudah menandakan kekerasan yang tiada tandingannya, tiada duanya.

Kalau akhirnya keluar dari sarang, karena jiwa keprajuritan yang sejati masih berdegup dalam darahnya.

Itulah saat mengadu nyawa di perahu Siung Naga Bermahkota.

Dalam pertarungan itulah matanya yang tajam bisa melihat bahwa sesungguhnya Halayudha tidak melawan Barisan Api dengan sepenuh hati. Hanya asal bertarung untuk menjaga dirinya tidak cedera.

Kelicikan yang memuakkan.

Justru di saat yang lain tidak memperhitungkan mati atau hidup, Halayudha berpura-pura.

Kutukan yang tak akan pernah dikeluarkan dari mata batin Mpu Sina meluncur dengan tajam dalam hati.

Apalagi ketika pertarungan usai, Halayudha muncul seolah dialah yang menjadi pahlawan. Yang menyelesaikan persoalan. Berdiri dengan gagah dan memerintah.

Ditambah dengan perintahnya untuk menenggelamkan perahu, serta .,. kemudian mengusirnya kembali ke Lumajang. Dengan pongah dan melabrak semua tata cara.

Batu keras dalam hati Mpu Sina makin keras, makin keras.

Itu sebabnya tak ada pilihan lain. Menangkap Halayudha hidup-hidup, menyeretnya, dan tidak akan memedulikan apa yang dikatakan.

Karena dari tubuh yang busuk dan hina, tak mungkin mengalir bau sedap.

Itu sebabnya kalimat apa pun dari Halayudha dianggap omong kosong yang menjijikkan. Jauh sebelum Halayudha dibawa, Mpu Sina telah mengatakan kepada putranya.

Nyatanya begitu.

Sampai ketika bibirnya mengucap bader bang. Yang maksudnya merestui tindakan putranya. Tapi justru bisa diartikan lain. Mpu Sina merasa terpukul paling keras.

Karena dari kebenciannya yang memuncak, malahan bisa berakibat lain. Justru dari kebencian ini, putranya gagal menangkap maksud yang sebenarnya.

Mpu Sina merasa terpukul paling keras, karena merasa dirinya yang menyebabkan kegagalan itu. Kalau saja ada pilihan kata lain….

Tapi, semua sudah terjadi.

Walau hanya sepersekian kejap, situasinya berubah. Kekerasan yang bulat seperti mengendur. Mpu Sina makin merasa bersalah karena suara giginya yang berkelutukan membuat perhatian terserap ke arahnya.

“Pranajaya… “Pranajaya…

48

By admin • Oct 22nd, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II “Pra-na-ja-ya…

“…”

Suara tipis, mengembang antara terdengar dan tidak, menyambar kesadaran Mpu Sina. Ini yang membuatnya makin geram, makin gusar, makin mendidih darah dan segenap kesadarannya.

Karena Mpu Sina tahu yang membisikkan suara itu adalah Halayudha. Yang sengaja mengucapkan nama itu.