Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 28

Jilid 28

Gemuka merangkul Pangeran Hiang. Mereka berpelukan lama. Lama sekali. Ini untuk pertama kalinya Pangeran Hiang berpisah dengan Gemuka.

Selama ini selalu bersama.

Di hilir Kali Brantas, Gemuka meloncat ke tepi dan melanjutkan perjalanannya. Perahu Siung Naga Bermahkota terus melaju.

Sewaktu berhasil mendapatkan kabar di mana Baginda berada, rombongan segera menuju ke sasaran. Pertama yang didatangi adalah Gua Kencana, kemudian menuju ke Simping.

Dalam satu serangan mendadak, Barisan Api bisa menghancur-ratakan lawan tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan kemudian bisa menawan Baginda dengan para permaisuri.

Membawanya ke perahu. Menyimpan di tempat yang sempit.

Dan menunggu waktu saat angin laut berbalik. Pada waktu itulah pengejaran makin hebat, makin merapat. Akan tetapi sejauh itu Pangeran Hiang tak bergerak dari ruangan yang ditempati. Barisan Api bisa mematahkan semua perlawanan.

Hingga munculnya Upasara Wulung.

Sampai di sini Pangeran Hiang berhenti bercerita. Keringat yang menetes di jakunnya yang samar terlihat.

“Selebihnya Pangeran Upasara mengetahui apa yang terjadi. “Sungguh tidak terduga bahwa Barisan Api bisa dirontokkan seketika. “Ilmu yang luar biasa.

“Bolehkah saya mengetahui bagaimana pemecahannya?” Gendhuk Tri yang menyahut tidak sabar,

“Capek mendengarkan kisah Pangeran.

“Padahal Pangeran sama sekali tidak menyinggung penyakit Putri Koreyea.” Pangeran Hiang memandang sekeliling.

“Tanah yang becek, udara yang panas. “Apakah itu perlu diutarakan?”

“Apakah bagi Pangeran lebih penting mengetahui bagaimana mematahkan serangan Barisan Api? “Kenapa semua lelaki menganggap urusan wanita tidak penting dibandingkan ilmu silat?”

Banyak yang berubah dari Gendhuk Tri. Akan tetapi bukan nada bicaranya yang langsung bersuara dari bibirnya, tidak melalui indria yang lain.

“Bukan begitu, Adik Tri.

“Pembicaraan mengenai Barisan Api menarik. “Karena selama ini belum pernah ada yang bisa mengalahkan sekaligus seperti sekarang ini. Tidak juga di Jepun atau Koreyea. Satu, dua, atau sepuluh bisa dikalahkan, akan tetapi tidak semudah Upasara menghadapi.”

“Baru tahu kehebatan tanah becek dan lembap ini?” “Maaf, Adik Tri.

“Kalau saya menyebut tanah becek, karena dibandingkan dengan padang pasir tanah kelahiran saya, tanah di sini sangat lembek.

“Sekali lagi, maafkan.” “Baik, baik.

“Sekali ini saya maafkan. Akan tetapi sekali lagi Pangeran menyebut tanah becek, saya tak akan memaafkan lagi.”

Pangeran Hiang tersenyum lebar.

“Tanah yang menyenangkan, menenteramkan, dan membahagiakan.

“Hanya di tanah Jawa ini saya menemukan canda, menemukan senyuman, tetapi juga kekerasan ilmu yang sejati.”

Kisah Kitab-Kitab

UPASARA berdeham kecil.

“Pangeran Hiang, saya akan menceritakan apa yang menjadi latar belakang budaya tanah Jawa, sebelum menjawab pertanyaan Pangeran….”

Gendhuk Tri ikut duduk.

“Berbeda dengan Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara, raja sesembahan kami, Baginda Raja Sri Kertanegara, mempunyai darah keturunan yang berawal dari para raja di Jenggala dan Kediri, yang dulunya pernah bersatu dan berpisah.

“Baginda Raja Sri Kertanegara adalah raja yang mampu melihat gairah ombak samudra, mampu menangkap semilirnya angin gunung yang paling tinggi, akan tetapi tetap bisa menghargai derasnya bengawan.

“Adalah Sri Baginda Raja yang berkenan menyatukan seluruh aliran persilatan dalam kitab yang sama sebagai sumber. Babon kitab ilmu kanuragan. Kitab ini menjadi pijakan bagi perkembangan semua ilmu persilatan. Dengan begitu akan terhimpun cara-cara yang benar, yang berguna bagi pertumbuhan di kelak kemudian hari.

“Para ksatria yang waktu itu mengabdi kepada Sri Baginda Raja berupaya untuk menciptakan. Salah satunya yang kemudian kami sebut sebagai Paman Sepuh. Beliau berhasil menciptakan kitab yang disebut Kitab Bumi, yang memuat Dua Belas Jurus Nujum Bintang.

“Dasar-dasar semua aliran dan ajaran disatukan, disarikan, agar bisa menjadi pegangan.

“Oleh tokoh seangkatan Paman Sepuh, yaitu Eyang Sepuh, kitab itu disempurnakan dengan tambahan Delapan Jurus Penolak Bumi, Tumbal Bantala Parwa.

“Hingga semuanya ada dua puluh jurus, yang tetap dinamai Kitab Bumi. Karena penyempurnaan dilakukan oleh Eyang Sepuh, kitab itu dianggap maha karya Eyang Sepuh.

“Sejak saat itu boleh dikatakan hanya ada satu babon untuk pengembangan, yaitu Kitab Bumi.

“Dua Belas Jurus Nujum Bintang menyatukan unsur-unsur bintang, irama alam dalam pengerahan tenaga dalam. Tanpa mengenali tata alam di mana ia berada, tak mungkin bisa menyelami Dua Belas Jurus Nujum Bintang.

“Sedangkan Delapan Jurus Penolak Bumi merupakan penangkal jurus-jurus yang ada. Intinya adalah menjadikan diri sebagai tumbal, sebagai korban, sebagai penyerahan diri.

“Pada masa itu, Eyang Sepuh berani mengundang para jago silat di seluruh penjuru jagat. Untuk membuktikan ajaran ilmu silat mana yang sesungguhnya paling murni, paling unggul.

“Tantangan itu berlaku setiap lima puluh tahun sekali untuk menentukan ksatria mana yang pantas menyandang gelar ksatria lelananging jagat.

“Pergolakan yang terutama terjadi sebenarnya bukan hanya di dunia perguruan silat atau di medan pertarungan, tapi juga di dalam dinding Keraton. “Setelah Eyang Sepuh menciptakan atau menyempurnakan Kitab Bumi, Eyang Sepuh masih menurunkan satu kitab yang biasa dikidungkan, yang disebut Kidungan Paminggir.

“Inti sari ajaran Kidungan Paminggir tidak berkenan di hati Sri Baginda Raja. Sehingga Sri Baginda Raja menuliskan lanjutan kitab yang biasa ditulis para raja, yang bernama Kidungan Para Raja.

“Kalau dalam Kidungan Paminggir, Eyang Sepuh mengedepankan manusia yang bisa menjadi apa saja, Kidungan Para Raja menggariskan bahwa tidak semua manusia bisa menjadi raja. Sebab raja adalah pilihan Dewa Yang Maha dewa.

“Pada kurun waktu yang kurang-lebih sama, Mpu Raganata menyusun kitab yang diberi nama Kidung Pamungkas, kidung terakhir, yang menilik sifatnya merupakan penyatuan gagasan Eyang Sepuh maupun pandangan Sri Baginda Raja.

“Jadi selama ini di tanah Jawa ada kitab-kitab yang menjadi inti ajaran resmi. Yaitu Kitab Bumi, Kidung Paminggir, Kidungan Para Raja, serta Kidung Pamungkas.

“Pangeran Hiang, tentu saja banyak tokoh lain, banyak kitab lain, akan tetapi itulah yang kemudian menjadi induk segala kitab yang ada.

“Maaf, Pangeran Hiang, kalau saya menerangkan satu demi satu.

“Saya ingin menunjukkan bahwa Sri Baginda Raja bukan hanya Raja Ardanari, bukan hanya penyelenggara pesta pora, tetapi juga pilihan Dewa yang sangat tepat.

“Pada saat Kidungan Para Raja dituliskan, Sri Baginda Raja tidak melarang munculnya Kidungan Pamungkas, yang lebih menekankan peranan mahamanusia.”

Pangeran Hiang mengangguk-angguk. “Saya sangat mengerti.

“Di negeri saya banyak catatan mengenai tokoh sakti mandraguna yang bernama Mpu Raganata. Yang paling ditakuti dan perlu diperhitungkan.

“Sebab menurut catatan, Mpu Raganata mempunyai ilmu silat yang sakti, menduduki jabatan tertinggi di Keraton, dan satu-satunya yang berani menentang Sri Baginda Raja, meskipun untuk itu bisa digeser.”

“Tidak sepenuhnya tepat,” potong Gendhuk Tri. “Mpu Raganata adalah kakek guru saya. Beliau diperhitungkan berani, bukan karena menentang Sri Baginda Raja.

“Justru keberanian itu dimungkinkan oleh Sri Baginda Raja.

“Itu bedanya cara kami memandang dengan pandangan Pangeran Hiang.

“Sri Baginda Raja bisa menindak Mpu Raganata atau siapa saja, akan tetapi hal semacam itu tidak dilakukan. Bahkan mereka diberi kesempatan.

“Saya tak tahu apakah keraton lain mempunyai raja dengan jiwa seluas lautan dan sebijak Dewa seperti di tanah Jawa!”

“Saya makin mengerti, Adik Tri.

“Kalau saya mengatakan kekuatan gunung meletus yang tersimpan dalam senyuman, sekarang mendapatkan penjelasan dalam keterangan Pangeran Upasara.

“Benar perhitungan yang selama ini, bahwa im dan yang di tanah Jawa ini bukan pertentangan. Bahwa Kidungan Para Raja dengan Kidung Paminggir tidak bertentangan. Melainkan bagian yang sama.

“Demikian juga dengan Kidung Pamungkas bukan merupakan gabungan dari dua yang bertentangan, melainkan bagian yang sama.

“Itu sikap budaya yang tidak kami pahami.

42

By admin • Sep 10th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

“Itu yang menyebabkan kami gagal.

“Pada saat tiga senopati pertama datang ke tanah Jawa untuk menghukum Sri Baginda Raja, kalian menyambut dengan baik. Walaupun sekarang saya bisa mengerti sepenuhnya, ketika itu setiap pikiran dan lamunan yang merendahkan Sri Baginda Raja membuat siapa pun bersedia menjadi tumbal. “Inilah yang saya maksudkan dengan kekuatan gunung meletus dalam senyuman. “Saya mengetahui.

“Saya mempelajari. “Saya mengalami sendiri.

“Adik Tri, Pangeran Upasara, dan para ksatria yang lain menyerbu ke dalam perahu Siung Naga Bermahkota, tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri. Karena Baginda ada di dalamnya.

“Bahwa selama ini Baginda pernah mengecewakan, dan akan mengecewakan lagi, itu urusan belakangan. Pun kalau Baginda itu bukan Baginda yang diabdi dulu.

“Kalau tidak salah, itulah ajaran yang ada dalam Kidung Pamungkas?” “Pangeran telah membacanya?”

“Barangkali sebelum kalian berdua pernah mendengar namanya.” Kali ini Gendhuk Tri tak merasa tersinggung.

Cara berbicara Pangeran Hiang seolah menunjukkan sikap yang lebih tahu. Dan sebenarnya begitu. Tanpa merasa merendahkan orang lain.

“Rombongan tiga senopati membawa apa saja. Emas, permata, senjata, salinan kitab-kitab, contoh tanah, dan tumbuhan.

“Kami mempelajari, menyalin, dan menjajal.

“Adik Tri, sebelum rombongan pertama berangkat, pengertian kami mengenai tanah Jawa hanyalah bentuk berbeda dari keraton-keraton di Hindia. Tata krama, perundangan, jurus-jurus ilmu silat, tata pemerintahan, menunjukkan persamaan sebagian atau keseluruhan.

“Kalaupun ada yang berbeda, hanya sebagian kecil karena pengaruh dari tanah Syangka. “Sumber yang sama dari tanah Hindia juga merambah masuk ke daratan Cina.

“Sehingga tak terlalu sulit untuk memahami.

“Akan tetapi, begitu membaca kitab-kitab yang ada terasa benar keganjilan dan perubahan itu. Bukan hanya kembangan, tetapi bahkan menyentuh dasar-dasarnya.

“Bukan hanya gerakan tangan lurus menjadi berkelit, melainkan juga cara mengatur pernapasan. “Inilah aneh.

“Dan ketika saya menyaksikan bagaimana Upasara bisa mematahkan gerakan Barisan Api, saya merasa bahwa di balik yang diajarkan, yang ditulis lengkap dalam kitab-kitab itu, ada sesuatu yang tak bisa dituliskan, tak mampu dirumuskan.

“Apakah bukan begitu, Pangeran Upasara?” “Pangeran Hiang bisa melihatnya.

“Saya yang berada di dalamnya tak bisa melihat karena tak berjarak.” Pangeran Hiang menghela napas.

“Selama ini saya keliru menilai kalian berdua. “Keliru menilai diri saya.”

Pangeran Hiang membungkuk, kedua tangannya terayun ke depan, wajahnya menyentuh tanah.

Kemenangan Asmara

PANGERAN HIANG melakukan berulang-ulang.

Upasara menunggu sampai selesai kemudian merangkul. “Pangeran tak perlu melakukan hal itu.”

“Pangeran tak perlu melarang saya.”

Sejak itu kekakuan menjadi cair. Baik Pangeran Hiang, Upasara, maupun Gendhuk Tri tidak menyimpan kekuatiran atau pertanyaan yang mengganjal.

Sekurangnya untuk sementara keinginan untuk melanjutkan pertarungan tidak terlihat.

Bagi Gendhuk Tri sebenarnya tak soal benar. Kalaupun harus menghadapi Pangeran Hiang, dirinya tak merasa gentar. Kalaupun harus bertarung karena urusan yang tak jelas sebabnya pada masa lampau, juga tak memberati hatinya. Yang membuatnya mendadak gelisah adalah karena selalu bersama Upasara.

Kakang Upasara yang diakui secara mendalam sebagai lelaki yang dipuja dan dikagumi. Sejak masih kanak-kanak dulu.

Tak berubah.

Meskipun Upasara mempunyai pilihan hati yang lain, bersanding dengan wanita lain. Malah bertambah.

Meskipun bibirnya sendiri yang terbuka dan mengatakan bahwa hatinya telah memilih lelaki lain.

Tetapi tak bisa dipungkiri dentuman hatinya yang selalu bernyanyi, bersenandung bila berhadapan, berdekatan, ataupun saling pandang.

Gendhuk Tri tak mampu menguasai diri sepenuhnya.

Inilah saat-saat yang paling sulit bagi dirinya. Bermain sandiwara seolah hubungannya dengan Upasara adalah adik-kakak, dan untuk itu batinnya merintih.

Tak bisa disembunyikan.

Karena Gendhuk Tri bisa melamun, bengong, dan jalan pikiran dengan apa yang dikatakan atau dilakukan bisa lain sama sekali.

Yang membuat Gendhuk Tri lebih bingung adalah, Upasara sekarang ini bukannya tidak tahu apa yang dirasakan. Upasara mengetahui kegelisahan Gendhuk Tri.

Lebih menghebat lagi perasaan Gendhuk Tri, karena sikap Upasara justru seolah menerima kegelisahan Gendhuk Tri sebagai kegelisahan yang wajar.

Gendhuk Tri berusaha mengalihkan perhatian.

Dua malam ia meninggalkan tempat Putri Koreyea. Dengan alasan meneliti keadaan sekitar.

Memang Gendhuk Tri mencoba mengetahui di mana mereka berada. Berusaha mengikuti Kali Brantas secara terbalik. Dalam perhitungannya, dirinya hanyut selama satu malam. Kalau kini mengurut kembali selama semalam, pastilah akan kembali ke tempat semula. Namun perhitungan keliru.

Sungai ini mempunyai beberapa kelokan, pecah dan bercabang. Dan tidak mudah bagi Gendhuk Tri meniti di pinggir. Karena kadang hanya berisi pepohonan, atau tebing yang sangat terjal.

Setelah memutari terus, Gendhuk Tri makin sadar bahwa mereka berada di suatu pulau. Yang dikelilingi sungai.

Yang temu gelang ke tempat semula. “Ke mana saja, Adik Tri?”

Aih.

Suara itu bernada rindu.

“Kita berada di suatu pulau, Kakang.” “Pulau yang dikelilingi sungai.” “Kakang sudah tahu?”

“Saya mengiringi di belakang.” Wajah Gendhuk Tri memerah. Hidungnya berkembang.

“Kenapa Kakang bertanya saya dari mana?” Ganti kini Upasara yang merah wajahnya.

Tapi pandangannya tetap tenang.

“Adik Tri, kita sekarang ini bukan kanak-kanak lagi. Bukan remaja belia. Kita sudah tua. “Barangkali sama tuanya ketika kita bertemu dengan Dewa Maut dulu.”

“Kakang yang tambah tua. Saya tidak.” Upasara tersenyum.

“Saya baru sadar tua kalau melihat usia. Sewaktu Pangeran Hiang menanyakan umur, saya ragu dan menghitung sampai empat puluh, lalu saya hentikan sendiri.

“Adik Tri, selama ini kita belum saling bercerita. Bagaimana keadaan Adik Tri?” “Kakang ingin menanyakan Maha Singanada?” “Ya.

“Sejak melihat pertama bersama Adik Tri, saya bersyukur.” Gendhuk Tri tidak menjawab segera.

“Maha Singanada pantas sekali bersanding dengan Adik Tri. “Dibandingkan Pangeran Anom.”

“Kakang ini sekarang aneh.

“Duluuuu, hanya memperhatikan satu orang. Sekarang hal yang kecil diperhatikan.”

“Sejak bersama Dewa Maut, saya banyak berpikir kembali mengenai perjalanan hidup saya. “Kadang saya ingin menertawai.”

“Menyesali?” “Tidak.

“Tak ada alasan untuk itu, Adik Tri.

“Meskipun saya menyadari ada bagian yang berubah. Hubungan Pangeran Hiang dengan Putri Koreyea aneh sekali, tetapi juga sangat nyata.

“Kemenangan asmara antara Pangeran Hiang dan Putri Koreyea adalah kemenangan atas segala rintangan. Tetapi juga sekaligus seperti yang ditanyakan Pangeran Hiang: Apa artinya kemenangan asmara seperti ini?”

“Kakang makin lucu.”

“Dewa Maut juga mengatakan itu.” Gendhuk Tri menatap Upasara.

“Kakang, maukah Kakang menjawab jujur apa yang akan saya tanyakan?” “Ya.”

“Siapa yang paling Kakang cintai?” Upasara tak menjawab.

Lidahnya bergerak-gerak di balik bibirnya. “Permaisuri Rajapatni?”

“Saya tak begitu mengenalnya.” “Gayatri?”

“Saya memujanya. “Wanita yang sempurna.”

Ganti Gendhuk Tri yang merasa tercekik.

“Kenapa Kakang tak mau meraihnya, kalau Gayatri juga bersedia? “Apakah Kakang takut kutukan Dewa?

“Takut mengganggu garis keturunan Uma dengan Siwa?” “Tidak.”

“Kenapa?”

“Kakang belum siap menerima kebahagiaan yang begitu besar.” Inilah jawaban sebenarnya.

Gayatri adalah wanita satu-satunya, yang sempurna dalam  diri Upasara Wulung. Tak ada yang lainnya.

Tak ada sisa di hatinya. “Ratu Ayu Bawah Langit?”

“Apa maksud pertanyaan Adik?

“Bagaimana membandingkannya? Atau perasaan saya?” “Kakang mencintai Ratu Ayu?”

“Rasanya iya.” “Huh.

“Dasar lelaki. Gayatri mau, Ratu Ayu mau. Huh!” Upasara mencoba menggandeng Gendhuk Tri. Tangan Gendhuk Tri mengibas. “Kakang kena penyakit apa?”

Pertanyaan Gendhuk Tri kali ini memang karena merasa terkejut. Rasanya belum pernah Upasara bersikap aneh seperti sekarang ini.

“Dalam gua bawah tanah sewaktu bersama Dewa Maut, secara tidak beraturan saya mempelajari kitab-kitab yang diingat Dewa Maut.

“Ternyata apa yang dilakukan Dewa Maut merupakan kunci untuk memahami Kitab Bumi, Kidungan Para Raja, Kidung Pamungkas, maupun Kidung Paminggir.

“Tidak perlu dibedakan.

“Tidak perlu dipertentangkan siapa menulis kitab yang mana.” “Apa hubungannya dengan tindakan Kakang yang aneh?”

“Kitab Bumi, Kidungan Paminggir… apa lagi hubungannya kalau bukan Eyang Sepuh?” “Kenapa Eyang Sepuh?”

“Eyang Putri Pulangsih.

“Menurut cerita, inti Kitab Penolak Bumi adalah penolakan Eyang Sepuh akan daya asmara. Barangkali benar adanya. Akan tetapi, bukankah kemudian Eyang Sepuh bisa menerima Eyang Putri Pulangsih?

“Adik Tri,

“Saya merasa bagian dari Eyang Sepuh, begitu melihat Adik Tri berloncatan di pinggiran bengawan yang mengingatkan akan Eyang Putri.”

Gendhuk Tri menghela napas berat.

“Kakang sebaiknya kita mencoba membuat perahu. Tempat ini tidak terlalu baik untuk didiami lebih lama lagi.”

Raga Remuk

GENDHUK TRI melakukan apa yang dikatakan.

Mengumpulkan kayu-kayu, menyusun, menyatukan dengan akar-akar pohon yang dipintal. Kalaupun berhenti sebentar, untuk mencari buah-buahan sekenanya atau memakan yang diambilkan Upasara.

Hatinya makin gelisah.

Ingin berdekatan dengan Upasara.

Akan tetapi begitu niatan itu mendapat sambutan, malah menjauh sendiri. Upasara sendiri kemudian menjauh.

Hanya mengajak bercakap sekenanya. Lebih suka menunggui Pangeran Hiang yang kadang sehari- semalam menunggui Putri Koreyea yang tetap tak bergerak.

“Pangeran Upasara, katakanlah terus terang, di manakah dosa itu berada? “Di manakah hukuman dan karma itu?”

“Tergantung dari jalan mana yang kita lewati, Pangeran Hiang.” “Sebutkan jalan yang mana saja.

“Saya bertanya, menyalahkan, menggugat, mencaci kepada Dewa yang Maha dewa sebagai ganti doa. Akan tetapi hasilnya tak berbeda.

“Putri Koreyea tetap seperti sekarang ini. “Katakan, Pangeran Upasara.”

“Saya ragu untuk mengutarakan.

“Kalau benar keteg, getar kehidupan, tak teraba dalam tubuh Putri Koreyea, bagaimana mungkin bisa bertahan sampai kini?”

“Semua terjadi tiba-tiba.

“Saya tak mau menceritakan sebelumnya. Namun toh tak ada bedanya juga.

“Dalam perjalanan di laut, Putri Koreyea mendadak mengatakan tubuhnya kurang enak. Lalu berbaring. “Saya masih membayangkan kegembiraan. Bahwa rasa mual, kurang enak badan, selalu menyertai wanita yang sedang hamil. Tapi sejak itu saya tak berhasil membuatnya berjalan kembali.

“Ada saatnya terbuka matanya, meneteskan air mata, berbicara. “Akan tetapi makin lama makin lemah.”

“Apa keluhannya selama ini?” “Cahaya terlalu menyilaukan. “Angin terlalu menyakitkan hidung. “Suara terlalu bising.

“Bahkan tanpa gerakan di sampingnya pun, Putri tetap mengeluh. Itu sebabnya saya bertanya-tanya., Karma apa, kesalahan apa yang harus saya tebus?

“Pangeran Upasara, saya melakukan banyak kekeliruan dalam hidup. Banyak mengenal wanita, banyak mengalahkan lawan. Tapi yang melakukan saya.

“Bukan Putri.

“Kenapa harus terjadi padanya?”

Upasara berjalan di samping Pangeran Hiang menuju ke tempat Putri Koreyea. Duduk di sebelahnya.

“Gemuka mengatakan bahwa raga Putri remuk dari dalam. Tubuhnya tak mempunyai kekuatan lagi, sehingga udara pun menyakitkan gendang telinganya.

“Gesekan angin bisa menyakitkan gendang telinganya.” “Saya kira begitu, Pangeran.

“Saya melihat tubuhnya amat sangat lemah.” “Saya mengerti.

“Tapi apa sebabnya?”

“Pangeran Hiang bisa menebak nanti.

“Yang diperlukan adalah bagaimana mengobatinya.” Pangeran Hiang menggeleng keras.

“Pangeran Upasara,

“Di jagat ini saya mengerti segala jenis obat dan ramuan. Kotoran kuda pun bisa menjadi obat. Saya besar dan hidup dari tempat seperti itu.

“Jangan ajari saya tentang hal itu.”

“Ada satu ilmu yang secara tidak langsung dipelajari Dewa Maut. Ilmu mengenali seluruh kekuatan dari telapak kaki.

“Kalau Pangeran Hiang bisa mengingat, Dewa Maut melakukan itu untuk membebaskan Adik Tri, Paman Jaghana, dan Mpu Sina.

“Saya tidak tahu apakah Pangeran bersedia mencobanya.” “Sama saja.”

“Dengan izin Pangeran saya akan mencoba.” Pangeran Hiang mengangkat alisnya.

“Pangeran Upasara mau menunjukkan lebih hebat dari saya? Lebih menang dari saya?” Mata Upasara berkejap-kejap.

“Apa yang akan Pangeran lakukan?”

“Pertama kali mengetahui di mana yang tidak betul. Apakah betul raganya remuk?” “Bahkan melihat kulit telapak kakinya pun tidak akan kuizinkan.

“Kecuali, kecuali kalau Pangeran Upasara bisa mengatakan dengan jelas, dan saya bisa menerima kalimat-kalimat itu.”

“Saya hanya ingin menjajal.

“Pangeran Hiang masih ingat pertanyaan yang belum terjawab: Kenapa saya bisa mematahkan serangan Barisan Api?

“Jawabannya adalah menjajal. “Mencoba. “Itulah laku.”

Kepala Pangeran Hiang sedikit miring. Menunggu.

“Pangeran Hiang, ada suatu kekuatan yang kita tidak pernah bisa mengetahui seluruhnya. Baik itu kekuatan raga maupun kekuatan sukma.

“Saya bisa mengetahui bahwa Barisan Api dididik sejak kecil. Kemudian menjadi jelas ketika Pangeran menerangkan bahwa tubuh mereka sengaja ditusuk dengan jarum di bagian tertentu untuk menyuntikkan ramuan tertentu atau penambahan kekuatan. Ditambah dengan latihan keras, pengekangan hawa nafsu, pematian indria yang lain, jadilah kekuatan yang luar biasa.

“Nyatanya begitu.

“Semua itu adalah usaha yang wadag, yang kasat mata. Bisa dilihat, bisa ditiru, bisa dilakukan siapa saja.

“Seperti juga kita melatih gerakan dalam ilmu silat.

“Otot, urat, pergelangan menjadi luwes. Menyatu dengan tenaga dalam.

“Akan tetapi pertanyaan kita adalah: Dari mana asalnya tenaga dalam itu sendiri? Bukankah ia sudah ada sebelum dilatih?

“Maaf kalau saya menggurui.

“Dengan memberi nama apa saja, apakah chi, apakah keteg, apakah alamiah, kekuatan Dewa, tetap tak menerangkan kenyataan, dari mana asalnya tenaga?

“Bagaimana mungkin tenaga itu berubah?

“Saya mencoba menerangkan mulai saat saya menghadapi Barisan Api. Tak sedikit pun tersedia jawaban sebelumnya. Bahkan bagaimana Barisan Api saya tak mengetahui.

“Ketika bertarung, dalam gebrakan pertama yang saya ketahui hanyalah bahwa kekuatan Barisan Api di luar perhitungan. Tenaga luar dan tenaga dalamnya sangat luar biasa.

“Apalagi ketika membentuk barisan di ruang yang sempit, telapak tangan yang bersinggungan bisa menambah lipat tenaga yang ada.

“Pikiran yang membersit pertama ialah mengupayakan agar Barisan Api tidak bersenggolan, tidak saling menyulut kekuatan.

“Akan tetapi ruangan untuk bertarung sempit. “Kemungkinan untuk itu terlalu kecil ditiadakan.

“Saat itulah membersit dalam pikiran upaya untuk menangkap kekurangan. “Rasanya tak ada.

“Barisan Api terlalu digdaya. “Geraknya lugas, menyerang.

“Di sinilah bersitan itu menemukan bentuknya. Saya bisa segera menangkap bahwa gerakan Barisan Api sangat tertentu. Ada irama di mana yang satu mulai bergerak, yang lain menunggu. Sampai hitungan tertentu baru bergerak. Kalau perhitungan saya tidak salah, gerakan yang kedua sangat tergantung pada gerakan yang ada. Bisa gerakan Jalu pertama, bisa karena gerakan tubuh saya.

“Satu-satunya jalan bagi saya adalah mengupayakan gerakan saya seirama dengan gerakan Barisan Api. Yang mula-mula bergerak, menjadi bagian dari gerakan saya, untuk berada selangkah di depan. Sehingga yang pertama bergerak mengikuti saya.

“Dengan gerak berirama ini, kemungkinan mereka bersinggungan sangat kecil.

“Semakin saya berhati-hati dan tepat, semakin tak ada kemungkinan mereka bersinggungan.

“Kemudian dalam soal menggempur, saya memakai pukulan mematikan dan terkena. Dengan cara seperti itu, saya bisa sedikitnya mengurangi jumlah Barisan Api, sehingga kekuatan mereka tak bisa penuh.

“Saya tak mungkin menggebrak maju, karena tenaga saya hanya akan membangkitkan gerakan Barisan Api untuk bersinggungan dan berubah menjadi hebat.

“Saya juga tak akan menang melawan kesemuanya seketika. Karena kekuatan Barisan Api tak bisa ditandingi.

“Ternyata siasat itu berhasil.” “Kembali ke pertanyaan semula. Dari mana kekuatan yang menangkap bahwa gerakan Barisan Api ini searah?

“Kekuatan dari mana?”

“Karena bisa terbaca, Pangeran.

“Siapa saja bisa membaca, tapi belum tentu bisa menemukan. Saya kebetulan bisa dua-duanya. “Karena saya menjajal.”

Mangkara Kumuda

PANGERAN HIANG tetap menghalangi. “Saya tak memperbolehkan.

“Tak akan ada orang lain yang bisa menyentuh istri saya.” “Pangeran Hiang masih curiga?”

“Ini bukan soal curiga.

“Saya tak akan mengizinkan.”

“Bagaimana kalau Adik Tri yang menjajal?” Pangeran Hiang sejenak ragu.

“Tidak ada salahnya kita jajal, Pangeran.” “Baik.”

Ternyata yang tidak mudah justru mengajak Gendhuk Tri. Ketika Upasara mengutarakan keinginannya untuk mencoba mengobati Putri Koreyea melalui Gendhuk Tri, yang diajak malah menggeleng.

“Untuk apa kita meributkan masalah yang tidak diperlukan oleh yang bersangkutan? Kakang mengira bisa menjadi Dewa karenanya?

“Kalau Pangeran Hiang tidak ikhlas, sampai kapan pun juga tak akan sembuh.” “Adik…”

“Urusan saya sekarang adalah menyiapkan perahu untuk meninggalkan tempat ini.”

Gendhuk Tri bahkan tidak memedulikan Upasara maupun Pangeran Hiang. Ia lebih suka mengumpulkan kayu, menebas dengan kedua tangannya, mengikat dengan sulur-sulur pepohonan hingga merupakan rakit yang besar. Karung kulit bekas pembungkus tubuhnya dan Upasara sudah dijajal dan direntang-rentang.

Tidak mau meladeni pembicaraan Upasara. Malah terjun ke tengah bengawan. Berusaha menyeberang ke tepi yang lain. Dua-tiga kali mencoba, akan tetapi selalu kandas.

“Adik Tri, hati-hati sedikit.

Arus bengawan di bagian ini memutar deras. Itu sebabnya kita bisa terdampar di sini. Rasa-rasanya di sebelah selatan arah ini sudah dekat dengan Laut Kidul.”

Dengan gelagapan Gendhuk Tri mencoba kembali ke tepi. “Laut Kidul?”

“Campuran panas air menunjukkan hal itu.

“Saya kira Adik Tri sudah mengetahui ketika memutari pulau ini.” “Celaka.

“Kalau benar begitu kita bakal terkurung di sini seumur-umur.

“Pantas saja di sini tak ada penghuni dan bekas-bekas hunian sama sekali.” “Memang sepi.

“Tak ada perahu atau nelayan yang lewat.”

Mendadak Gendhuk Tri meloncat lagi ke dalam air. Menuju sedikit ke tengah. “Kakang, cepat loncat.”

“Kenapa?”

“Kita bisa menemukan mangkara kumuda di sini.”

Upasara meloncat ke tengah bengawan. Dan berendam, seperti juga Gendhuk Tri. Mangkara kumuda, atau udang teratai, adalah jenis udang yang berwarna seperti bunga seroja, putih. Mangkara atau udang jenis ini hanya bisa hidup di tempat yang arusnya berputar, terutama sekali sungai yang berada di mulut laut dengan ombak besar.

Gendhuk Tri mengetahui lebih dalam mengenai hal ini dari penuturan Dewa Maut. Tokoh yang pernah dalam satu masa hidupnya hanya berada dalam perahu sepanjang Brantas!

Hanya saja selama ini Dewa Maut belum pernah menemukan udang seroja. Gendhuk Tri sendiri belum pernah melihat. Hanya mendengar penuturan bahwa udang itu besarnya bisa mencapai paha. Warna putihnya cepat sekali menarik perhatian, dibandingkan dengan udang besar yang biasanya selalu terdiri atas enam warna.

Dengan mengeram dalam air, Gendhuk Tri berharap akan didatangi mangkara kumuda. Sebab begitulah cara yang pernah dikatakan Dewa Maut.

Tidak jauh berbeda dengan Gendhuk Tri, Upasara juga pernah mendengar tentang khasiat mangkara kumuda. Juga cara-cara menangkapnya.

Akan tetapi karena binatang langka itu susah diburu, seperti juga jenis binatang atau buah langka yang lain, Upasara tak terlalu peduli.

“Rasa-rasanya iya.

“Selama kita di sini tak ada seekor ikan pun. Menurut cerita, ikan lain sangat takut kepada udang seroja.”

“Itulah, Kakang.

“Siapa tahu dengan cara ini kita bisa menolong Putri Koreyea.” Upasara melengak.

“Kenapa Adik mau menolongnya?”

“Saya mau menolong, seperti juga Kakang.

“Seperti juga Pangeran Hiang, saya tak mau Kakang menyentuh Putri Koreyea.” Hampir saja terlontar pertanyaan kenapa.

Tetapi Upasara bisa menahan diri. Ada kearifan yang menahan rasa ingin tahu lebih jelas alasan yang dikemukakan Gendhuk Tri.

“Sampai kapan kita berendam seperti ini?” “Sampai udang itu datang.”

“Kalau ternyata tak ada.”

“Masih lebih baik daripada menunggui Putri tidur.” Upasara mendeham keras.

“Adik Tri, apakah Adik berpikir kakangmu ini sudah demikian buruk?” “Tidak.

“Sama sekali tidak.

“Tetapi Kakang tak pernah bisa mengelak kalau sudah berdekatan. Dengan Gayatri saja Kakang begitu terpesona. Bukan karena Gayatri hebat seperti bidadari. Hanya karena itulah wanita pertama yang begitu memperhatikan Kakang.

“Dengan Ratu Ayu, Kakang bahkan mengawini. Meskipun dalam sayembara murahan. “Sekarang ini apa lagi.

“Saya bisa mengerti kalau Pangeran Hiang tak rela Kakang memegang-megang tubuhnya.” “Adik Tri… Bagaimana bentuk udang itu?” Upasara mengalihkan pembicaraan.

“Ya seperti udang yang besar.”

“Apakah beracun, berbahaya, atau bagaimana?” “Mana saya tahu?

“Bagaimana kalau Kakang bertanya kepada Dewa Maut lebih dulu?”

Kerenyahan suara Gendhuk Tri menandai keakraban yang juga kemanjaan sekaligus. Hanya dalam satu tarikan napas, Gendhuk Tri bisa berubah terbalik.

“Kenapa Kakang diam?”

“Jangan-jangan udang itu takut mendengar suara.” “Atau sebaliknya. “Kakang tahu bagaimana cara memanggil udang?” “Memanggil udang?”

“Ya.

“Kalau kumbang bisa disuiti Dewa Maut, apa bedanya dengan binatang lain?” Pangeran Hiang yang mendengarkan dari kejauhan tergugah pikirannya.

Tentang kemungkinan mencari udang seroja.

Tentang hubungan Upasara dengan Gendhuk Tri yang dianggap aneh, padahal dirinya sendiri dianggap sama anehnya.

Inilah jagat yang tak akan pernah bisa dimengerti.

Jagat tanah Jawa. Jagat ksatria yang mampu menyimpan dendam gunung meletus dalam senyuman. Ksatria yang tak bisa diperhitungkan sebelumnya.

Seperti mencari kebetulan. Seperti bersandar kepada nasib.

Tapi itu suatu usaha. Suatu yang disebut laku.

Apa yang baru saja dilakukan Gendhuk Tri menunjukkan hal itu. Pada saat mencoba meninggalkan pulau, saat itu pula seluruh kemampuannya berkembang ke arah itu. Menjajal menuju tepi, memperhitungkan aliran sungai.

Dan tik.

Meletikkan pikiran mengenai udang seroja.

Pada saat sebelumnya tak pernah ada ingatan tentang udang seroja itu. Walaupun sudah lama berada di tempat ini, tak pernah menyebut sedikit pun.

Tapi tik.

Letikan yang bahkan, menurut Pangeran Upasara Wulung, tak disadari. Yang justru dipertanyakan. Kekuatan apa yang menyebabkan tik?

Tik

Cuma tik. itu yang menyebabkan Barisan Api bisa ditebak langkah dan geraknya serta sumber kekuatannya.

Tik yang berikutnya yang menemukan cara untuk mengungguli.

Inikah sumber kekuatan ksatria tanah Jawa? Pertanyaan itu menggoda Pangeran Hiang. Karena siapa pun dengan mudah akan menyadari bahwa Sri Baginda Raja berani menantang Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa.

Dari segi perhitungan prajurit, kesiagaan perang, Keraton Singasari tak ada apa-apanya. Dengan cara apa pun akan tetap kalah.

Akan tetapi toh Sri Baginda Raja tidak ragu sedikit pun menantang.

Mengangkat senjata kepada keraton yang telah menguasai jagat seluruhnya. Yang dikuasai dengan cara kekerasan!

Memancing Itu Laku

APA yang terlihat di depan mata Pangeran Hiang membuka kedalaman pandangan untuk memahami manusia tanah Jawa.

Manusia yang bisa tertawa, bisa bermain dalam hidupnya, tetapi ternyata mempunyai keuletan dan tak terkalahkan.

Seperti sekarang ini.

Upasara dan Gendhuk Tri yang berendam di pinggir bengawan sambil berbicara ke sana-kemari. Sesuatu yang dilakukan dengan wajah riang.

“Kakang tahu tidak bahwa Kakang itu sebenarnya sangat tolol?” “Tahu.”

“Dalam hal apa?”

“Kalau saya tahu tolol dalam hal apa, namanya bukan tolol.” “Kakang boleh mengaku menguasai Kitab Bumi. Boleh menjadi ksatria tanpa tanding. Boleh memecahkan rahasia Barisan Api.

“Tapi sekarang ini sangat dungu.

“Apa yang Kakang lakukan? Berada di bengawan dan menunggu udang….” “Di mana tololnya?”

“Apa mungkin udang seroja yang kita cari tiba-tiba mau mendatangi kita dan menyerahkan tubuhnya? “Udang saja pastilah tidak setolol Kakang!”

“Lalu?”

“Kita harus menjebak. Udang atau binatang apa pun, tak mungkin mau menyerahkan dirinya begitu saja.

“Dengan cara itu kemungkinan kita mendapatkan lebih besar.” “Dengan apa kita menjebak?”

“Kita tak punya apa-apa, tapi rasanya masih ada kulit beruang. Salah satu bisa kita pergunakan.”

Perhitungan Gendhuk Tri adalah: bau kulit itu bisa merangsang udang untuk datang. Pertanyaannya: selama ini tidak terpengaruh sama sekali.

Jawabannya: kulit itu dijadikan kulit kembali. Bagian-bagian yang telah digosok hingga mengilat dihilangkan. Atau sekurangnya dihilangkan.

Itu yang dilakukan kemudian.

Dan dengan kukunya Upasara menyobeki lembaran itu hingga menjadi tali yang panjang ketika disambung. Dengan cara itu lebih memancing kedatangan udang.

Itulah yang kemudian dilakukan.

Keduanya bukan hanya berendam setengah badan, akan tetapi berusaha lebih ke tengah. Bukan pekerjaan yang mudah, karena pusaran air sangat keras.

Beberapa kali Upasara mencoba berada di pusaran. Mencoba mengerahkan tenaga dalamnya melawan pusaran air. Tenaga dalamnya yang kuat membuat kuda-kudanya sangat kokoh.

Akan tetapi itu hanya sebatas kakinya bisa bertahan. Jika mencoba masuk ke bagian yang lebih dalam, pijakan itu tidak menemukan kekuatan sehebat kalau menginjak.

Dengan kaki menendang-nendang air, tubuh Upasara beberapa kali terseret putaran.

Ini berbeda dengan Gendhuk Tri yang agaknya bisa menyesuaikan diri dengan gerakan air. Tubuhnya kemudian bisa menyatu. Mengikuti arus, berputar kembali, tenggelam, untuk kemudian muncul.

Tali kulit selalu bergerak.

Upasara tak mau menyerah begitu saja.

Ia menuju ke tengah. Tubuhnya amblas ke bawah, ke  dasar bengawan. Dengan kaki berpijak, Upasara tak terseret arus. Akan tetapi dengan berbuat begitu ia tak bisa bernapas.

Hingga perlu sesekali muncul ke permukaan. Untuk menghirup udara segar.

Dan menenggelamkan tubuhnya lagi.

Setiap kali Upasara muncul, Gendhuk Tri menyambut dengan senyum ejekan. Karena Gendhuk Tri bisa bergerak leluasa.

Gendhuk Tri hanya menyelam sementara, untuk melihat sekelilingnya. Apakah udang seroja yang belum pernah dilihat itu ada di sekitarnya.

Usahanya mulai berhasil.

Beberapa jenis ikan tertentu mulai mendekat, karena bau kulit yang sangat merangsang. Beberapa kali muncul, Gendhuk Tri heran karena tidak melihat Upasara.

Jangan-jangan… “Kakang…”

Gendhuk Tri menyelam, berenang ke arah Upasara. Menyelam sampai dasar! Ternyata Upasara berdiri gagah di bawah.

Melawan arus dengan membuka kedua tangannya, kakinya melengkung. Samar-samar terlihat tali kulit digerak-gerakkan.

Gendhuk Tri bisa mengikuti akan tetapi tak bisa bertahan lama seperti Upasara. Kalau Gendhuk Tri sekali lagi memuji pengaturan napas Upasara, tidak terlalu berlebihan. Yang selalu dikagumi dari kakangnya ini adalah kemampuannya yang cepat untuk mengatasi masalah.

Begitu susah berenang, Upasara mengerahkan kemampuannya mengatur napas. Dengan tetap berada di dasar bengawan.

Itu pula yang sejak pertama diperhatikan Pangeran Hiang.

Gendhuk Tri yang melenggok, berenang ke sana-kemari, menyelam dan muncul lagi. Wajahnya kelihatan benar-benar bersemangat. Demikian juga Upasara. Sesekali muncul ke permukaan air, dengan mengembuskan napas keras, mengisap, dan kemudian tenggelam lagi.

Semangat.

Kegembiraan.

Permainan.

Tujuan.

Semuanya bisa menyatu. Antara memburu tujuan menangkap udang seroja, dan bermain di air yang menimbulkan kegembiraan serta semangat setelah sekian lama berada di pulau tanpa jelas apa yang dilakukan.

Inikah yang disebut laku?

Seperti yang disebut berulang kali dalam berbagai kitab. Inikah yang disebut menjajal?

Seperti yang dikatakan Upasara. Inilah usaha.

Seperti yang disimpulkan.

Laku itu usaha, tetapi sekaligus juga cara, yang sudah menyatu dalam perilaku.

Memancing udang adalah bagian dari laku. Berendam di dasar sungai adalah bagian dari laku. Bisa berarti melatih tenaga dalam, melatih kesabaran, membuka pikiran, menyatu dengan alam, mencari dirinya sendiri.

Selama bersama Gendhuk Tri dan Upasara beberapa hari, Pangeran Hiang menyaksikan sendiri bahwa keduanya tidak secara khusus berlatih ilmu silat atau mengatur pernapasan.

Tak pernah ditemui hal itu.

Akan tetapi, ternyata itu semua dilakukan bersama dalam kegiatan sehari-hari. Ketika Gendhuk Tri mengumpulkan kayu untuk rakit, ketika berkeliling, ketika Upasara menorehkan kukunya ke kulit beruang yang keras dan liat.

Barangkali inilah sumber tenaga ksatria tanah Jawa yang sesungguhnya.

Yang pada beberapa orang tertentu bisa mencapai puncak penguasaan diri. Sehingga mampu menghadapi serangan apa pun!

Pangeran Hiang bisa melihat lebih jelas, karena ia berasal dari tradisi yang berbeda.

Melihat bahwa pengaruh dari tanah Hindia dan Syangka, seperti yang kemudian dibuktikan sendiri, tak mengubah seluruhnya. Masih tetap ada sesuatu yang milik mereka sendiri.

Gerakan ilmu silat mereka, dasarnya sama dengan apa yang dipelajari di negerinya. Yang diajarkan dengan susah payah untuk mengambil tenaga dari sedotan hidung, dibawa ke atas ke tempurung kepala, dan diturunkan lewat rangkaian tulang belakang, sebelum akhirnya terkumpul di pusar. Sama semuanya.

Hanya saja hasilnya berbeda.

Karena tenaga yang kemudian bisa dimuntahkan, ternyata bisa berasal dari tenaga pusar yang dipusatkan, atau juga berasal dari sumber lain.

Yang agaknya ini merupakan bentuk perwujudan diri mereka dalam pencapaian. Pangeran Hiang seperti mengoreksi dirinya.

Semakin jauh dirinya tenggelam meneliti dan terlibat, semakin terseret pula. Terseret dan tenggelam dalam tata krama yang ada pada Gendhuk Tri maupun Upasara.

Kini makin disadari bahwa kalahnya Naga Nareswara, Raja Segala Naga, pada titik tertentu karena berusaha masuk dan memahami ilmu dari tanah Jawa. Pada saat itu, akan selalu bisa diungguli oleh mereka yang memang berada di situ, yang setiap saat dalam hidupnya memang begitu. Atau dengan kalimat yang sederhana, ketika Naga Nareswara berusaha memakai pendekatan yang digunakan Upasara, ia akan selalu bisa dikalahkan. Karena pendekatan Upasara memang sudah menyatu dengan hidupnya!

Titik pijak ini pula yang pada awalnya sudah menyesatkan Naga Nareswara yang mengubah kedatangannya sebagai pendeta menjadi sebagai jago silat. Hingga datang ke pertarungan yang menurut cerita diadakan setiap lima puluh tahun sekali.

Sehebat apa pun, kalau mengikuti gaya permainan yang menjadi sikap hidup bangsa lain, sulit menemukan keunggulan.

Hanya saja, Pangeran Hiang sepenuhnya sadar, sewaktu ia memakai pendekatan yang sama sekali berbeda, ternyata juga tak bisa merebut kemenangan.

Laku Itu Prasaja

DALAM hati, Pangeran Hiang mengagumi betapa Saudara Tua Gemuka jauh hari sudah melihat kemungkinan yang bisa muncul.

Adalah Gemuka yang pertama kali mengatakan ketidaksetujuan untuk berangkat. Gemuka berkeberatan Pangeran Hiang pergi ke tanah Jawa. Bukan karena dengan demikian kemungkinan menduduki takhta jadi jauh, akan tetapi pertama-tama karena ada yang tak bisa diperhitungkan, walaupun dengan saksama dicoba diteliti.

43

By admin • Sep 18th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Bukan karena dengan demikian kemungkinan menduduki takhta jadi jauh, akan tetapi pertama-tama karena ada yang tak bisa diperhitungkan, walaupun dengan saksama dicoba diteliti.

Kesan itu demikian kuat mendasar, sehingga akhirnya Gemuka memilih jalan yang berbeda. Pangeran Hiang memuji.

Tapi juga sangsi.

Apakah kalau Gemuka tetap berada dalam satu rombongan, Barisan Api bisa dengan mudah dipatahkan?

Apakah Upasara mampu menghadapi saat itu? Ini pertanyaan yang mengganggu.

Tapi tak banyak artinya. Karena nyatanya Gemuka memisahkan diri, dan nyatanya Barisan Api bisa dikalahkan.

“Bagaimana, Kakang?”

Teriakan Gendhuk Tri menyadarkan lamunan Pangeran Hiang. “Saya tidak melihat apa-apa, selain ikan biasa.”

“Barangkali sebentar lagi.” “Saya kita begitu.

“Di bengawan ini boleh dikatakan tak ada yang terseret arus. Kalau benar perahu itu meledak, kepingan kayu atau arang mestinya ada juga yang melewati arus ini. Nyatanya, sejak pertama kali sadar berada di sini, tak ada barang lain.

“Taruh kata sebagian ikut hanyut bersama karung kulit, mestinya ada yang lain…” Gendhuk Tri memekik.

Tubuhnya menyelam cepat sekali.

Upasara menggeliatkan perutnya. Tubuhnya menyelam, bergerak menuju Gendhuk Tri. Benar juga!

Ada bayangan putih bergerak, memburu ke antara kaki Gendhuk Tri.

Meskipun di dalam air Upasara tak bisa bergerak sempurna, akan tetapi tetap bisa lebih cepat dari Gendhuk Tri. Kedua tangannya yang memegang tali kulit menyentak. Pusaran air dipatahkan.

Sejenak udang putih itu seperti kehilangan irama arus.

Satu sabetan lagi Upasara berhasil melingkar tali ke tubuh udang. Bersamaan dengan tali yang disabetkan Gendhuk Tri.

Berada dalam air bengawan yang jernih, keduanya bisa saling mengetahui. Merasa tangkapannya mengena, Gendhuk Tri mengibaskan ke atas.

Udang putih itu melayang ke atas permukaan air.

Upasara menggenjot tubuhnya ke dasar bengawan. Mumbul ke permukaan air. Bersamaan dengan Gendhuk Tri.

“Kena!”

Kedua tali di tangan Gendhuk Tri bagai tali jerat. Melibat udang seroja. “Tangkap, Kakang.”

Gendhuk Tri mengayun ke arah tepi.

Udang seroja yang terikat itu terlempar lagi ke tengah udara. Ke arah tepi.

Upasara menyongsong cepat.

Menangkap ujung tali yang lepas, dan menyentakkan ke tepi. “Tangkap…”

Kini Gendhuk Tri yang meraup dan melemparkan pendek ke tepi. Satu kali lagi hal itu dilakukan, keduanya sudah berada di tepi.

Dengan udang seroja di tangan. Gendhuk Tri meleletkan lidahnya.

Udang seroja itu benar-benar sebesar pahanya. Seluruhnya berwarna putih. Tampaknya masih terengah-engah. Supitnya bergerak-gerak.

Gendhuk Tri merasa ada sesuatu yang aneh.

Barulah kemudian sadar bahwa di pepohonan sekitar sini dipenuhi oleh burung-burung yang luar biasa banyaknya.

Berkaokan.

Mata membelalak.

Dan terjun beramai-ramai. “Awas…!”

Upasara menarik tali, sementara tangan lainnya melancarkan pukulan dengan tenaga ringan. Karena Upasara tidak ingin membunuh burung-burung yang datang. Hanya mengusir.

Lima burung yang berwarna hitam mengeluarkan kaokan hebat, tubuhnya terdorong ke air, tapi jumlah yang lebih banyak terus menyambar ke arah udang!

Gendhuk Tri bersuit keras.

Dua tangannya  menyambar ke  atas.  Meraup sekenanya  beberapa  ekor burung yang mematuk, mencakar. Untuk dikedutkan dan saling ditabrakkan.

Burung-burung itu berkaokan. Suasana menjadi bising. Ribut.

Karena makin lama jumlah burung makin banyak dan makin beraneka. Semua mengincar udang seroja.

Upasara meloncat ke dalam hutan.

Baru beberapa saat berdiri, merasa bahwa hutan seakan digerakkan oleh gesekan tubuh. Gendhuk Tri mengedutkan tali kulit.

Plas.

Seekor ular menggelepar, hancur tubuhnya!

Tapi gesekan di antara daun-daun masih terdengar. Keduanya berpandangan. Bagi Gendhuk Tri jelas, bahwa udang seroja yang diambil memang merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan juga di antara binatang-binatang hutan.

Kalau tadinya tempat ini seperti hanya dihuni mereka berempat, kini rasanya jadi penuh sesak. Dari segala semak bisa bermunculan segala jenis binatang.

“Pangeran… berikan buat Putri.”

Di luar dugaan Upasara, Pangeran Hiang menggeleng. “Coba saja.”

“Tak ada gunanya.

“Saya tahu dan mengerti udang itu jenis yang dicari di mana pun. Seperti halnya cula badak atau tanduk rusa cabang tiga belas.

“Akan tetapi apa artinya? “Putri tak bisa memakan.

“Tak bisa menggerakkan bibir.” Benar juga!

Betapapun susahnya mencari udang seroja, betapapun hebat khasiatnya, kalau tak bisa dimakan, tak ada gunanya.

“Paksa saja. Jejalkan ke mulut,” teriak Gendhuk Tri kesal. “Tak ada gunanya.”

“Baik, kalau begitu,” kata Gendhuk Tri. “Saya akan bakar sendiri. Berkhasiat atau tidak, pastilah dagingnya lezat sekali. Kalau tidak, burung dan ular tidak ngiler dan nekat.”

Gendhuk Tri benar-benar gemas.

Tangannya meraup ke tali yang dipegang Upasara. “Sebaiknya kita coba.”

Upasara tidak secara sengaja menghindar. Melainkan bergerak ke arah lain. Menuju ke gua pepohonan tempat Putri Koreyea ditempatkan.

Gendhuk Tri dan Pangeran Hiang menyusul.

Bahkan dengan satu loncatan, Pangeran Hiang mampu mengungguli loncatan Upasara. Pertanda ilmu mengentengkan tubuh yang hebat.

Memang Upasara tidak terlalu unggul dalam soal meringankan tubuh. Akan tetapi apa yang dilakukannya jauh lebih cepat dan lebih lebar dibandingkan dengan loncatan Gendhuk Tri.

Toh Pangeran Hiang yang selama ini tak pernah kelihatan bergerak, bisa melakukan dengan luar biasa.

Hanya dengan tiga lompatan keduanya sampai ke dekat Putri Koreyea. Pangeran Hiang bisa menghalangi.

Namun kali ini berdiam, menunggu. Karena ada getaran aneh.

Getaran tubuh Putri Koreyea! Inilah luar biasa.

Tak bisa dipercaya.

Ketika Upasara mendekatkan udang seroja yang tangan dan kakinya masih terus bergerak, dengusan napas Putri Koreyea berubah. Ketika lebih mendekat lagi, cuping hidung Putri Koreyea bergerak. Bergerak.

Napas Gendhuk Tri masih terengah-engah. Enam atau tujuh loncatan yang dikerahkan dengan tenaga sepenuhnya benar-benar menguras tenaga dalamnya, setelah bermain-main di tengah bengawan.

“Baukan lagi, Kakang….”

Gendhuk Tri adalah wanita, yang dalam soal bau lebih tajam dibandingkan Upasara dan Pangeran Hiang. Sejak menangkap pertama, sudah mencium bau harum yang lembut, samar.

Bau yang menyebabkan burung-burung kini berada di mulut gua. Putri Koreyea bergerak.

Matanya yang selalu tertutup selama ini menunjukkan gerak biji matanya. Pangeran Hiang berlutut.

Begitu prasaja, begitu sederhana.

Kemenangan Tanpa Mengalahkan

KEDUA tangan Pangeran Hiang terkepal di atas kepala, ikut berayun bersama separuh tubuhnya bagian atas. Beberapa kali naik-turun. Disertai helaan napas panjang kemudian.

Disusul ucapan yang bisa dimengerti oleh Pangeran Hiang sendiri. Mungkin juga Putri Koreyea, andai sudah sadar sepenuhnya.

Sorot mata Pangeran Hiang penuh dengan rasa terima kasih, walau bibirnya tak mengucapkan sepatah kata pun.

Upasara mendekatkan udang seroja. Menggoyang sedikit di atas wajah Putri Koreyea.

Sebenarnya ada juga rasa kuatir Gendhuk Tri. Kalau-kalau udang itu lepas dan mengenai wajah Putri Koreyea yang putih mulus bagai kapas padat. Soalnya, Gendhuk Tri tidak tahu persis apakah udang itu tidak berbahaya. Jika sapitnya atau tanduknya atau apanya ternyata menyimpan bisa, bisa membahayakan.

Tapi tidak.

Meskipun udang seroja itu masih bisa menggerakkan kakinya yang banyak, akan tetapi tidak jatuh. Tidak juga meloncat.

Putri Koreyea terbuka matanya. Terbuka.

Mata yang bagai garis tipis itu bergerak perlahan.

Satu sorot mata yang sayu, sangat sayu, mencoba menatap sekitar. Mata yang hitam kelam. Kembali Pangeran Hiang mengucapkan sesuatu.

Putri Koreyea seperti mendengar. Ada reaksi dalam sorot mata itu, sebelum akhirnya menutup kembali.

Napasnya turun-naik dengan teratur.

“Saya sebenarnya masih bingung,” kata Gendhuk Tri lirih. “Udang seroja ini mau diapakan. Apakah cukup dibuat bauan begini saja, atau perlu dibakar, atau bagaimana.”

“Adik Tri…

“Untuk sementara ini cukup. Saya juga kurang mengetahui, akan tetapi jelas membawa berkah yang besar.

“Entah kebetulan entah tidak, akan tetapi ini pertama kalinya Putri Koreyea kembali sadar.

“Untuk ini, adalah sangat hina kalau saya tidak menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.”

“Saya bisa mengerti,” jawab Gendhuk Tri menirukan gaya bicara Pangeran Hiang. “Saya bisa mengerti sepenuhnya. Sementara kita belum mengetahui apa yang akan kita lakukan, bagaimana kalau udang seroja ini kita kembalikan ke bengawan?”

“Binatang itu sangat langka dan susah dicari. “Pun di negeri kami.

“Mencari udang sebesar ini, bukan sesuatu yang sulit. Akan tetapi menemukan yang berwarna putih bagai susu kambing, Khan yang Perkasa pun belum tentu bisa mendapatkan.

“Apakah tidak terlalu sia-sia jika kita kembalikan?” “Tidak.

“Kita masih bisa menangkap kembali. Rasanya yang seperti ini tidak hanya satu ekor. Soalnya saya mulai mendengar gerisik suara ular dan kaokan burung warna hitam di luar.”

“Ular-ular atau burung itu tak akan berani mendekat,” jawab Pangeran Hiang mantap. “Saya telah membuat garis di tanah.”

“Saya bisa mengerti.

“Bisa mengerti sepenuhnya bahwa Pangeran mempunyai ilmu tentang binatang berbisa, karena pernah mengumpulkan semut merah dan ular hijau. “Kalau begitu Kakang tak usah menenteng terus seperti itu.” Upasara tidak melayani perkataan Gendhuk Tri.

Ucapannya tertuju kepada Pangeran Hiang.

“Pangeran Hiang, kini kesempatan untuk memberikan tenaga dalam seperti sebelumnya. “Tubuh Putri Koreyea sudah bisa memberikan reaksi. Berarti ada keteg tubuhnya.”

Pangeran Hiang melorot ke bawah tubuh Putri Koreyea yang tetap terpejam, terdiam kaku. Telapak tangan Pangeran Hiang menyelusup ke bawah baju.

Perlahan asap putih keluar dari tubuhnya. Mengepul.

Upasara menjauhkan udang seroja dari kepulan asap yang panas. Gendhuk Tri menjauh beberapa langkah.

“Kakang, aku merasa lapar.”

Upasara merasa kadang-kadang Gendhuk Tri bersikap keterlaluan manja dan nakalnya. Sesuatu yang tampak dibuat-buat justru karena kini tubuhnya sudah dewasa sempurna.

“Mungkin ini saat terbaik merasakan daging.” “Adik Tri… udang ini…”

“Siapa bilang mau makan udang? Saya hanya bilang lapar dan ingin makan daging. Kalau di atas banyak burung, ular, dan entah apa lagi, bukankah itu juga daging?

“Kalau udang itu sudah bisa menolong, dan karena langka, biar saja dilepas kembali. Kita sudah memperoleh kemenangan tanpa mengorbankan udang.”

Meskipun jelas sasaran  ucapan  Gendhuk Tri tertuju  kepada  Pangeran  Hiang, akan  tetapi yang dimaksud tidak mendengar sama sekali.

Seluruh kemampuannya sedang dikerahkan untuk menerobos dan mengirimkan tenaga dalamnya lewat pusar Putri Koreyea.

Dan bisa. Berhasil.

Tenaga yang selama ini terbendung, membentur dan lenyap begitu saja, kini bisa mendorong maju. Hawa panas menyusup masuk ke tubuh Putri Koreyea.

Sampai kira-kira sepenanak nasi, Pangeran Hiang melepaskan diri. Menyusup dari bawah tubuh Putri Koreyea, duduk bersemadi untuk beberapa saat.

Wajahnya tampak sangat letih. “Bagaimana, Pangeran Hiang?”

“Ada perubahan. Untuk sementara saya bisa mengirimkan tenaga di sekitar pusar. Akan tetapi usaha selanjutnya saya masih ragu, karena seperti semula, tak ada jawaban.”

Upasara memandang lekat. Pangeran Hiang tersenyum.

“Tenaga dalam saya cukup untuk menerobos batu karang di sini. Akan tetapi nyatanya tak bisa. “Saya akan menjajalnya lagi.”

Namun setelah berusaha lagi, Pangeran Hiang menggeleng. “Sekarang justru tenaga dalam saya yang tak mampu menerobos.” “Saya bisa mengerti.

“Pangeran Hiang tak perlu putus asa. Meskipun hawa panas itu hanya berada di sekitar pusar, akan tetapi kini jelas bahwa Putri Koreyea untuk beberapa saat belum akan meninggal.

“Barangkali kalau bergantian dengan Kakang Upasara, hasilnya akan lebih nyata.” Jalan pikiran sederhana.

Jitu.

Karena dengan bergantian, Pangeran Hiang bisa beristirahat dan saat itu Upasara mengirimkan tenaga dalamnya, atau sebaliknya.

Dua tokoh yang bekerja sama, bisa memberi hasil lipat ganda. Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Pangeran Hiang tetap tak akan mengizinkan Upasara menyentuh tubuh Putri Koreyea.

Berarti memang hanya Pangeran Hiang yang bisa melakukan. Dengan kecemasan yang tersisa. Kalau tidak segera bisa menghimpun tenaga bukan tidak mungkin Pangeran Hiang yang akan kehabisan tenaga. Sementara Putri Koreyea bisa mendingin kembali tubuhnya.

Hal ini disadari baik oleh Upasara maupun Pangeran Hiang.

Dari ajaran yang mana pun, cara memberikan bantuan dengan mengirim tenaga dalam bersifat sementara. Lebih untuk membangkitkan kekuatan yang ada. Tenaga dalam kiriman hanyalah tenaga bantuan untuk menggugah. Selanjutnya tergantung bagaimana si penerima.

Kalau bisa memanfaatkan dengan baik, akan berhasil. Kalau tidak, paling hanya menunda apa yang akan terjadi.

“Sekarang ini kita berpacu.

“Antara menyelamatkan udang seroja ini, dengan hawa panas dalam tubuh Putri Koreyea.

“Menurut pendapat saya, udang seroja ini sudah cukup memberikan bauan yang menghidupkan kembali. Tinggal kita, bagaimana memanfaatkan kemungkinan yang ada.”

Kalimat Gendhuk Tri seperti mengulang-ulang pikiran sebelumnya. Merasa tidak bisa menemukan cara yang tepat, Gendhuk Tri mendesis sendiri.

“Ada cara yang lebih baik.” Suara Upasara terdengar mantap sekali. “Adik Tri yang menggantikan.” “Kakang, tenaga dalam saya tak cukup.”

“Saya akan mendampingi.” Gendhuk Tri berkejap matanya.

“Apa Pangeran masih tetap berkeberatan dengan cara ini?” Pangeran Hiang menggigit bibirnya.

Keras.

“Pangeran Upasara, mari kita jajal bersama.”