Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 27

Jilid 27

Air bengawan yang anehnya tetap terasa panas, membuat Gendhuk Tri bisa segera memilih arah untuk menepi.

Meskipun bukan jago berenang, Gendhuk Tri bisa menuju ke tepi tanpa kesulitan. Demikian juga Upasara Wulung.

Bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri melihat pemandangan yang aneh. Di bawah penerangan bulan yang samar atau bintang yang remang, terlihat tubuh Pangeran Hiang mengapung di sungai.

Masih memeluk Putri Koreyea.

Seolah ketika karung kulit lepas, tubuhnya tetap seperti semula. Mengikuti arus. Perlahan sekali, akan tetapi menuju ke arah tepi.

Tetap tak bergerak. Tanpa gerakan.

Hingga tubuhnya merapat ke tepi, ke daratan yang dangkal. Tapi juga tak segera bergerak untuk berdiri atau bangun.

Sebagian atau seluruh tubuhnya dan tubuh Putri Koreyea basah. Sesekali masih bergerak karena ombak bengawan.

“Sebentar lagi Pangeran bisa menepi dengan sendirinya.

“Sekarang mungkin belum, karena tenaga dan pikirannya masih terpusat pada Putri Koreyea.” Gendhuk Tri mengangguk.

Ia duduk bersila. Memanaskan tubuhnya untuk mengusir air yang membasahi kainnya, sehingga membuat lekukan tubuhnya makin tajam.

“Kenapa begitu, Kakang…?” “Saya tak mengetahui tepatnya.

“Hanya saja agaknya Putri Koreyea menderita penyakit yang berat, yang hanya bisa bertahan karena pengaruh tenaga dalam Pangeran Hiang.

“Kita tak bisa berbuat apa-apa, karena jika salah sedikit saja, barangkali bisa berakibat gawat.” “Kalau begitu kita menunggu saja.”

Suara Gendhuk Tri berubah lembut. “Terima kasih, Pangeran Hiang…

“Pangeran telah memberikan kulit yang menyelamatkan. Terima kasih.”

Tak ada jawaban. Tak ada gerakan.

“Inilah perjalanan kemenangan. “Dengan berada dalam karung kulit ini, Pangeran Hiang memilih jalan hidup….” “Adik Tri…”

Gendhuk Tri memandang Upasara dengan sorot mata kesal. Aih.

Itulah mata kanak-kanak yang polos, yang pernah cemburu, yang pernah panas membakar, yang tak bisa dilupakan Upasara. Upasara tersenyum.

Gendhuk Tri memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Rasa-rasanya sudah lewat tengah malam.” Suara Gendhuk Tri lirih, mengalihkan perhatian. “Ya, angin mulai bergerak ke arah sang surya….”

“Kalau benar begitu, timur berada di sana…. “Kakang, kira-kira kita ini ada di mana?” Upasara memandang sekeliling.

Lalu menggeleng.

“Apa saja yang terjadi selama ini, Adik Tri?” Gendhuk Tri berdiri.

Menepiskan tanah dan pasir yang mengering di kainnya. “Kakang ini sekarang aneh.

“Pakai tanya apa kabar dan apa yang terjadi. Bagaimana dengan Kakang sendiri?”

Upasara menceritakan secara singkat apa yang dialami. Bagaimana hidup bersama dengan Dewa Maut.

Gendhuk Tri juga menceritakan apa yang selama ini dialami. Terutama ketika bersama Nyai Demang, Ratu Ayu, dan Permaisuri Rajapatni berusaha memindahkan kerangka Upasara.

“Di mana Ratu Ayu berada?”

“Saya tak mengetahui,” jawab Gendhuk Tri datar. Terlihat sekali usaha untuk mengendalikan emosinya. “Kami berpisah begitu saja. Wajahnya kelihatan kurang bersemangat saat itu.

“Kakang belum bertemu lagi?” “Belum.”

“Sama sekali belum?” “Belum.”

“Kakang kangen?”

Upasara memandang ke arah bengawan. “Ya.”

Hati Gendhuk Tri seperti disodok. Nyeri.

Tapi bibirnya tersenyum, meskipun makin pedih perasaannya. “Ratu Ayu juga selalu kangen sama Kakang.”

Upasara menunduk.

“Selama bersama Dewa Maut, dalam waktu yang boleh dikatakan singkat, saya merasa banyak pertanyaan dalam diri saya. Antara lain bahwa selama ini saya sering mengecewakan banyak orang. Termasuk Ratu Ayu.”

“Terutama Ratu Ayu.

“Ia istri Kakang, dan selalu menyebut Kakang sebagai Raja Turkana.” Upasara mengangguk. Membenarkan. Bagi Upasara tak lebih dari membenarkan ucapan Gendhuk Tri. Bagi Gendhuk

Tri tak lebih dari rasa sakit untuk kesekian kalinya. “Juga Permaisuri Rajapatni.”

“Ya.”

“Sudahlah, Kakang.

“Sebentar lagi Ratu Ayu Bawah Langit akan datang. Begitu mendengar kabar Kakang muncul, ia pasti akan mencari. Dan pasti akan menemukan, walau kini kita sudah berada di Tartar sekalipun.”

Getir nadanya, pahit suaranya. Asmara Bersama, Asmara Penyatuan

UPASARA mengalihkan kepada kegiatan yang lain. Ia berjalan menuju ke pinggir, menerobos pohon- pohon.

Daerah yang dikenal, walau belum pernah diinjak. Tanah yang dihafal, walau belum pernah disentuh.

Tanah yang masih perawan, belum pernah tersentuh kaki dan tangan, belum pernah berbau keringat manusia. Pohon-pohon masih bergulat di atas dengan akrab, bergoyang seirama dengan alam.

Waktu seperti berhenti. Hari seperti tak berganti.

Upasara menemukan satu tempat yang teduh, semacam gua yang sedikit menjorok ke dalam. Kemudian kembali ke pantai. Kulit yang tadi menjadi karung, disorongkan ke bawah tubuh Pangeran Hiang. Dengan sangat perlahan diangkat. Tanpa membuat gerakan kecil yang bisa mengganggu Pangeran Hiang serta Putri Koreyea yang tetap membeku.

Gendhuk Tri ternyata telah menata gua dengan beberapa daun kering yang ditumpuk.

Bahkan kemudian ketika sinar matahari meraba pinggiran sungai dan dedaunan, Gendhuk Tri sudah menyediakan buah-buahan, menyediakan kayu kering untuk malam nanti. Sudah menjelajah ke sekitar.

Tak menemukan bayangan siapa-siapa. Tidak juga bekas-bekasnya.

Ketika kembali, Gendhuk Tri menemukan Pangeran Hiang masih berbaring sambil merangkul Putri Koreyea.

Gendhuk Tri duduk bersila di dekat Upasara.

Pangeran Hiang membuka matanya. Memandang sekilas dengan sorot mata terima kasih. “Apakah Pangeran Hiang harus selalu memindahkan tenaga dalam ke tubuh Putri Koreyea?” “Itu yang saya lakukan, Adik Tri.

“Tubuhnya bisa mendadak menjadi dingin, kaku, tak bereaksi sama sekali. Nadinya hilang, napasnya tak bisa dirasa.

“Saat-saat seperti itu, saya hanya bisa mendekapnya, sampai keadaannya kembali biasa.” “Penyakit apa yang diderita?”

Pangeran Hiang tidak segera menjawab. Memandang ke arah Upasara.

“Pangeran Upasara, apa yang Pangeran katakan benar. Biar bagaimanapun, kehidupan selalu lebih berarti. Saya mempertahankan kehidupan.

“Tetapi apakah ada artinya?

“Apa yang saya dekap selama ini?

“Adik Tri, apa yang Adik katakan benar. Biar bagaimanapun, bukan kemenangan yang paling berarti. Bukan itu satu-satunya. Itu sebabnya saya merasa memiliki Putri Koreyea. Saya memiliki daya asmara.

“Tetapi apa ada artinya?

“Asmara macam apa yang saya rasakan?

“Bahagialah kalian pasangan yang menemukan arti sesungguhnya dari kemenangan, dan arti sesungguhnya dari daya asmara.”

“Maaf, Pangeran Hiang.

“Mungkin Pangeran Hiang keliru. Saya bukan kekasih Kakang Upasara. Hubungan kami berdua adalah hubungan kakak-adik. Kakang Upasara telah mempunyai kekasih sebelumnya, dan telah beristri Ratu Ayu Bawah Langit, yang mungkin Pangeran kenal.

“Saya sendiri… saya sendiri telah mempunyai calon.” “Maaf, Adik Tri. “Sekilas kalian berdua merupakan pasangan yang membuat saya iri. Setelah saya amati, keyakinan itu makin besar. Maafkan.”

Upasara menunduk. Dadanya bergetar.

Ia merasa akrab dengan Pangeran Hiang. Akan tetapi Gendhuk Tri ternyata bisa lebih akrab lagi. Pada kalimat pertama sudah membuka masalah pribadi.

Jauh dari pikiran Upasara, bahwa sebenarnya Gendhuk Tri masih jengkel dengan sikap Upasara mengenai Ratu Ayu dan atau Permaisuri Rajapatni. Meskipun yang dikatakan mengenai dirinya sendiri adalah hal yang sesungguhnya.

Ya, sesungguhnya! teriak Gendhuk Tri dalam hati. “Pangeran Upasara…”

“Maaf lagi,” potong Gendhuk Tri, “Kakang Upasara bukan pangeran. Kakang adalah senopati, atau pernah menjadi senopati. Seperti saya, tak mempunyai darah biru….”

“Saya keliru lagi?

“Saya hanya merasakan bahwa kalian adalah pasangan yang bahagia. Andai…

“Saya hanya merasa bahwa Upasara adalah pangeran, putra Sri Baginda Raja Kertanegara.

Tak bisa lain. Darah biru, apalagi putra raja yang besar, tak bisa disembunyikan.

“Hal yang sangat mungkin sekali terjadi. Sri Baginda Raja Kertanegara adalah pemuja surga dunia. Bisa melakukan daya asmara bersama-sama dengan para prajurit, para senopati, para pendeta, bisa memakan apa saja yang lezat, bisa menggauli siapa saja, sebagai pertanda hubungan dengan Dewa.

“Penyatuan badani adalah penyatuan batin.

“Kalau dari sekian ratus olah asmara, kenapa tidak mungkin lahir seorang Upasara?” Tengkuk Upasara merinding.

Ini bukan pertama kali dirinya dikaitkan sebagai putra Sri Baginda Raja. Bukan itu yang menyebabkan tengkuknya dirambati kepekaan. Melainkan ucapan Pangeran Hiang yang dingin menyebut kebiasaan Sri Baginda Raja.

Selama ini selalu menjadi pocapan, menjadi bahan pergunjingan, mengenai kebiasaan Sri Baginda Raja mengadakan pesta-pesta upacara keagamaan yang diyakini. Upacara Tantrik yang biasa diadakan dengan menenggak minuman keras, mabuk-mabukan berat, serta melampiaskan daya asmara secara bersama-sama.

Upasara mendengar semua itu, karena masa kecilnya berada di lingkungan Keraton. Saat itu hanya gurunya, Ngabehi Pandu, yang berusaha menjauhi. Biasanya pada saat pesta besar semacam itu, Ngabehi Pandu mengajaknya pergi menjauh, keluar dari Keraton.

Selama itu Ngabehi Pandu tak pernah memberi komentar, dan Upasara juga tidak pernah menanyakan.

Meskipun itu menjadi pengertian umum, karena Sri Baginda Raja tak pernah berusaha menutupi, akan tetapi rasanya tak ada yang mengungkit masalah itu, sebagai suatu kekeliruan.

Tidak juga sekarang ini.

“Pangeran Hiang, saya kira pandangan Pangeran tidak sepenuhnya tepat.” “Saya keliru lagi menilai?

“Apakah tidak boleh saya mengatakan bahwa Sri Baginda Raja Kertanegara mengadakan pesta asmara beramai-ramai, bersama-sama sekian puluh wanita dan para senopatinya?

“Saya hanya mengatakan, tidak menyalahkan atau mengutuk.

“Karena Sri Baginda Raja adalah tangan kanan yang dikodratkan oleh Dewa Yang Maha dewa.” Upasara menggeleng. Wajahnya kaku.

Gendhuk Tri meremas kedua tangannya. “Bukan, Pangeran Hiang.

“Sri Baginda Raja melakukan itu karena keyakinan. Karena penyatuan dengan Dewa Yang Maha dewa bisa dicapai dengan laku asmara bersama dan makan enak….” Untuk pertama kalinya bibir Pangeran Hiang tertarik. Seperti tersenyum.

“Saya bisa mengerti. “Sepenuhnya.

“Saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa Pangeran Upasara menjadi kaku uratnya. Saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa Sri Baginda Raja melakukan itu, karena dalam alam pengertiannya zaman di mana Sri Baginda bertakhta adalah zaman Kaliyuga, zaman keempat, zaman terakhir yang penuh dengan penderitaan, kekacauan, penyelewengan, keedanan, kebubrahan.

“Pengertian itu bukan hanya milik Sri Baginda Raja.

“Milik siapa pun juga yang memperhitungkan sesuai dengan penalaran datangnya Kaliyuga. Yang akan berakhir jika Sri Baginda Raja mampu menguasai dan mengalahkan kodrat zaman serba bencana.

“Saya paham hal itu, Pangeran Upasara.

“Saya pribadi tidak mengenal dan menyalahkan tata krama yang diyakini. Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa tidak mempermasalahkan hal itu.

“Yang menjadi tantangan utama ialah karena Sri Baginda Raja tidak mau mengakui kebesaran takhta Tartar. Utusan perdamaian disingkirkan. Tantangan dinyalakan. Bendera perang dikelebatkan. Genderang perang ditabuh hingga memekakkan padang pasir.

“Lebih dari itu, Sri Baginda Raja malahan menyerang maju, menantang sampai ujung kaki Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Mata seluruh jagat membelalak, semua kepala mendongak ketika terang-terangan Sri Baginda Raja mengirimkan utusan ke Pamalayu, mengambil putri-putri, dan terutama ke tlatah Campa.

“Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa merasa dituding dengan tombak di jidatnya. Diludahi wajahnya.

“Semua senopati Tartar bersumpah akan menumpas Keraton Singasari hingga rata dengan tanah dan air.

“Karena Keraton Campa adalah keraton yang paling dekat dengan Tartar yang berbeda di sebelah timur, yang selama diciptakan belum pernah melawan Tartar.

“Sejak keraton itu diciptakan!

“Sejak sebelum adanya tanah dan bumi!

“Sri Baginda Raja menyalakan api di bawah kaki perkemahan Tartar, dan membakar panas siapa pun yang mengenal jiwa Tartar.”

Raja Ardanari

SUARA Pangeran Hiang sedikit menggelora.

Meskipun tubuhnya tetap berbaring. Meskipun tidak dibantu dengan gerakan anggota tubuh yang lain. Tapi tanpa itu pun Gendhuk Tri seperti di-selomot, disundut api, seluruh tubuhnya.

Secara langsung kaitan Gendhuk Tri dengan Keraton boleh dikatakan tipis, setidaknya dibandingkan dengan Upasara Wulung. Akan tetapi itu tidak menghalangi batin dan lahiriah memuja Sri Baginda Raja secara murni.

Bahkan riwayat hidupnya sendiri berada dalam kejadian itu.

Sewaktu masih sangat kecil, dirinya telah dipersiapkan untuk dijadikan penghibur di Keraton. Tak berbeda jauh dari gurunya, Jagaddhita, yang akan mengalami nasib yang sama andai tidak bertemu dengan Mpu Raganata, yang mengubah perjalanan hidupnya menjadi ksatria.

Jauh dalam dasar hati Gendhuk Tri, kalaupun ia kemudian menjadi bagian dari penghibur Keraton, ia tak akan pernah menyesali seumur hidupnya!

Tak akan pernah!

Karena semua itu demi Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang sekarang sedang digugat oleh Pangeran Hiang. “Saya sendiri tak percaya. “Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa sendiri tak pernah mengerti, bahwa Sri Baginda Raja Kertanegara memakai gelaran Raja Ardanari. Gelaran yang justru dipajang, diagungkan, dalam nawala, surat kepada Rama Prabu.”

Buku-buku jari tangan Upasara berderak.

Sebutan Raja Ardanari, raja yang arda, yang mempunyai nafsu asmara berlebihan, kepada nari, kaum wanita, adalah sebutan yang memanaskan darah keturunan Singasari. Karena diucapkan dengan nada mengejek oleh seorang pangeran dari Keraton Tartar. Yang menjadi musuh bebuyutan, musuh tujuh keturunan!

“Pangeran Upasara, “Adik Tri,

“Saya pun terhina. Murka, dendam, terbakar dengan penghinaan Sri Baginda Raja yang menggunduli rambut-yang bagi kami adalah kehormatan termulia-juga memotong telinga utusan resmi Khan yang Perkasa.

“Sejak itu menjadi sumpah semua keturunan Khan, semua pendekar, untuk menaklukkan Keraton Singasari.

“Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Utusan pertama, tiga senopati utama, bisa diusir kembali ke samudra. Datang kembali ke Keraton untuk mengabarkan kekalahan dan dihukum mati. Utusan terhormat Raja Segala Naga, ternyata juga tak ada kabar beritanya.

“Saya, Putra Mahkota, pewaris takhta yang sah, dengan Barisan Api dan perahu Siung Naga Bermahkota memutuskan untuk datang.

“Untuk menang. “Tapi ini hasilnya.”

Darah Upasara menurun.

Kini bisa lebih dimengerti kenapa Kubilai Khan yang Perkasa menganggap Baginda Raja sebagai musuh utama. Terutama karena Sri Baginda Raja berhasil mempengaruhi Keraton Campa untuk memberontak. Terutama karena menantang perang dengan cara yang menyinggung perasaan.

Tapi Gendhuk Tri justru masih menggelegak.

“Pangeran Hiang, apa anehnya jika Sri Baginda Raja memakai gelaran Raja Ardanari?” “Tak ada.

Tak ada anehnya.”

“Kenapa Pangeran seperti meremehkan?” “Karena kita berlawanan.

“Karena kita bertarung. Dalam saat gawat peperangan, kenapa justru gelaran Raja Ardanari yang dipakai?”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara keras dari hidungnya. “Maaf, Adik Tri.

“Saya mengatakan apa adanya. Kenyataannya. Karena saya, seperti semua ksatria Tartar, hanya mengenal kenyataan yang sesungguhnya. Kami tidak bicara dengan bahasa dan tata krama yang lain.

“Kemenangan adalah kemenangan. “Kekalahan berarti kekalahan. “Maaf, Adik Tri.”

“Kalau berpikir seperti itu, Pangeran tak perlu minta maaf.” Suara Gendhuk Tri masih tinggi nadanya, alot wajahnya. Matahari memang makin panas.

Tangan Pangeran Hiang kembali menyelusup ke bawah pakaian Putri Koreyea. Menyentuh pusar. Lalu diam agak lama.

“Pangeran Hiang…,” Upasara membuka pembicaraan dengan perlahan. “Adalah nasib kita berempat berada di tempat yang sementara ini. Kita dipertemukan di sini, karena nasib dan karena kita menghendakinya. “Di sini kita bisa melanjutkan pertarungan hingga titik napas penghabisan.

“Bisa bantah kawruh, menguji pengetahuan dan pengalaman, seperti yang kita lakukan sekarang ini.

“Manakah yang menurut Pangeran paling baik?” “Yang paling baik adalah kemenangan.” Gendhuk Tri menepuk tangannya.

“Kita bisa menentukan sekarang.” Pangeran Hiang mengangguk, Upasara menggeleng.

“Tidak sekarang ini, selama Putri Koreyea masih gering.

Gendhuk tri mengangguk. Upasara, dan juga dirinya, tak nanti mengambil keuntungan di saat lawan kurang bersiaga.

Sebaliknya, Pangeran Hiang malahan mengangguk. “Kemenangan adalah kemenangan.

“Apakah lawan bersiaga atau tidak, tak jadi urusan. Yang utama bagaimana meraih kemenangan.

“Pangeran Upasara dan Adik Tri, jangan bersikap lain. Saya tahu bahwa mundurnya tiga senopati Tartar, juga karena belum siap. Ketika prajurit Tartar baru saja menggempur Keraton Singasari untuk membinasakan Raja Jayakatwang, Baginda kalian memukul kami.

“Tak ada bedanya. “Itulah kemenangan.” Telinga Upasara merah.

Ucapan Pangeran Hiang seperti bergetah. Dada Gendhuk Tri gerah.

Pertarungan berdarah dengan senopati Tartar saat itu, Sih-pi, Kau Hsing, Ike Meese, adalah pertarungan secara ksatria. Di dinding benteng Keraton yang terbakar. Para senopati bertarung secara ksatria, termasuk Upasara Wulung yang menjadi Senopati Pamungkas, penyelesai.

Akan tetapi memang serangan ke arah itu boleh dikata sangat tiba-tiba. “Kalian berdua belum tentu merebut kemenangan dari saya.”

Ini tantangan. Upasara menggeleng. Lalu menunduk.

“Saya tergetar melihat penderitaan Putri Koreyea. Saya tak ingin memerangi hati saya sendiri. “Penderitaan yang belum pernah saya duga.

“Pangeran Hiang, apakah pada saat menyerang, detak darah Putri Koreyea tak teraba?” Pangeran Hiang memandang ke arah dinding gua.

“Memang tidak.

“Tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan. Sebelum kita saling berebut kemenangan, saya ingin menyampaikan rasa hormat yang tulus atas kekaguman saya.

“Kalian adalah bangsa yang unggul.

“Keraton yang menjulang ke langit, menyelusup ke bulan karena tak pernah terduga, bahkan oleh para Dewa.”

Gendhuk Tri mengerutkan keningnya.

Tak sepenuhnya memahami apa yang dikatakan Pangeran Hiang. Sewaktu melirik ke arah Upasara, tampaknya Upasara juga sama.

“Apa maksud Pangeran Hiang sebenarnya?”

“Maafkan tata ucapan saya yang tak mampu menemukan pilihan kata yang tepat.

“Kalian semua yang berada di tanah Jawa ini adalah bangsa yang mampu menyimpan kekuatan gunung meletus menjadi senyuman menunduk dan kesabaran. “Saya kembali membicarakan Sri Baginda Raja Kertanegara, yang mengandung arti Raja yang Menguasai Jagat, Raja yang Memerintah Jagat. Betapa gagah, betapa jantan, betapa perkasa. Tapi justru pada saat menantang perang, menyebut dirinya sebagai Raja yang Bernafsu Asmara Berlebihan pada Wanita.

“Inilah aneh.

“Dalam alam pikiran kami.

“Kalau rajanya mampu luwes, mampu menekuk kenyataan, mengubah kenyataan, mampu menjungkirbalikkan tata krama keunggulan di medan perang dengan nafsu asmara, bukankah itu mengandung pengertian yang berbeda tajam, tapi bisa berarti sama.

“Ada im, ada yang.

“Bisa im, bisa yang, pada saat yang sama.

“Itu sebabnya tiga senopati kami terkecoh, menyerang sasaran yang keliru, dan bisa didepak

ke laut.

“Demikian juga Naga Nareswara yang membawa mandat resmi, sampai di sini tergeser

perhatiannya hingga mendahulukan keinginannya menjadi ksatria lelananging jagat. Sehingga tujuan utama tidak berhasil.

“Saya mempelajari itu semua. Makanya sejak pertama kali perahu menyentuh tlatah Jawa, saya hanya mau membawa Baginda, dan bukan urusan yang lain. Saya tak mau memedulikan apa pun yang terjadi.”

Tartar itu Matahari, Lautan…

PANGERAN HIANG duduk bersila. “Tujuan saya hanya satu.

“Membawa Baginda ke Tartar. Sebagai tanda nyata kemenangan. Urusan-urusan yang lain tidak saya pedulikan, karena akan menghalangi dan bisa menggagalkan tugas ini.

“Karena saya sadar, semua godaan bisa terjadi di tanah Jawa yang tanahnya lembap bagai lumpur ini. Saya menghindari pertarungan ksatria, saya tak meladeni tantangan.

“Sekarang pun, ketika Pangeran Upasara menanyakan kesehatan Putri Koreyea, saya berhati- hati. Apakah ini bukan perwujudan siasat kalian yang tak bisa saya duga.

“Juga ketika di perahu.

Kalian menanyakan tentang hal yang sama. Ketika Pangeran Upasara mendebat masalah kemenangan. Ketika Adik Tri menanyakan asmara dalam kemenangan.

“Saya berjaga-jaga.”

“Begitu picikkah Pangeran Hiang?” “Ya, agar bisa menang.” “Hmmmmm.”

“Nyatanya saya terpengaruh. Kalau ini bagian dari siasat, saya telah masuk perangkap. Itu sebabnya saya mengatakan pujian, sebelum akhirnya entah bagaimana.”

41

“Pangeran Hiang, Pangeran keliru kalau mengartikan bahwa kami semua sama.” “Adik Tri benar.

“Tetapi tetap tak terduga. Jiwa dan sikap kalian serba tak terduga. Saya katakan tadi, bisa menyimpan gunung meletus dalam senyuman. Bisa menyimpan badai sambil menunduk dan menyembah.

“Itu yang tidak kami miliki.

“Kalian bisa panas, mendendam ketika saya menyebut Raja Ardanari. Karena kalian merasa bahwa Sri Baginda Raja adalah segalanya.

“Padahal apakah Keraton kalian yang sesungguhnya? “Sebuah bangunan tua, di tanah yang basah, di sungai yang airnya seperti air pancuran, bila dibandingkan dengan Keraton Tartar.

“Tartar adalah matahari, yang terbesar dan menerangi. “Dan satu-satunya.

“Tartar adalah lautan, yang terbesar dan menyebar ke segala penjuru. “Bukan sungai.

“Jagat dari ujung ke ujung takluk dan menyembah. Tartar adalah kemenangan. “Kemenangan demi kemenangan.”

Setiap kali mengucapkan kata kemenangan, setiap kali pula Pangeran Hiang seperti menampilkan dirinya. Seperti menjadi ada.

“Ini sejarah yang maha panjang. “Sejarah kemenangan.

“Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara memulai dari padang berdebu, mengalahkan 20.000 ksatria padang pasir. Tak ada satu pun yang berhasil menghalangi. Seluruh Mongolia, Tartar, serta tlatah yang berada di bawah kekuasaan Cina dikalahkan.

“Eyang Agung Khan yang Tiada Tara menguasai jagat dengan kemenangan. Sejak masih timur sebagai senopati padang pasir Temujin, Eyang Agung mengumpulkan kemenangan. Juga ketika harus menyingkir Paman Agung Jamuka, sahabat sesama senopati. Karena hanya satu nilai yang bisa diraih, yaitu kemenangan.

“Siapa yang menghalangi kemenangan akan tersingkir.

“Keraton Tawu, pusat pemerintahan Cina yang selama usia jagat menguasai sekitarnya, dilipat habis. “Kemenangan yang tiada tara. Eyang Agung Jengiz Khan adalah Penguasa Jagat Seisinya.

“Tlatah mana yang tak dikuasai, tak dikalahkan?

“Bahkan Samudra Adriatik, di luar tlatah tapel wates, batas dunia, dikuasai. Persia, Kwarem yang selalu ditutupi salju bisa dikuasai, ditaklukkan, dimenangi.

“Dari tanah yang kering di padang pasir hingga ke tanah yang ditutupi es. “Dari ujung dunia yang satu sampai ujung dunia yang lain.

“Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, sesungguhnyalah penguasa jagat. Tanpa tanding. Eyang Agung Khan yang Tiada Tara adalah matahari.

“Tradisi kemenangan yang mengalir dalam darah Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang mampu meneruskan kemenangan. Demi kemenangan itu sendiri.

“Tradisi darah kemenangan tidak menetes dalam tubuh Paman Agung Mongke, yang disingkirkan Rama Prabu. Untuk kemenangan, Mongke atau Jamuka tak akan bisa menghalangi. Akan tersingkir.

“Adalah Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa yang mengganti raja-raja Tang, yang turun-temurun menguasai Keraton Tawu.

“Adalah Rama Prabu yang meneruskan tradisi kemenangan itu yang ditantang raja tanah Jawa.” “Itulah hebat.

“Raja Kubilai Khan yang Perkasa ternyata tak mampu menundukkan Sri Baginda Raja. Lautan ternyata kalah oleh sungai.

“Mana sebenarnya yang hebat? “Matahari atau tanah becek?”

“Siapa pun yang menang berhak menentukan kebenaran.” Gendhuk Tri mengangguk-angguk.

Semakin Pangeran Hiang mengulang, semakin Gendhuk Tri menyadari kenapa Pangeran Hiang mendewakan kemenangan sebagai satu-satunya nilai utama. Tradisi itu menetes dari buyut, eyang, dari ayahandanya yang bergelar Khan yang Perkasa. Yang lahir dan dibesarkan dalam pertarungan antara hidup dan mati, dan memperoleh kemenangan akhir.

Betapa kagoknya, ketika di tanah becek yang disebutkan muncul penghalang ke arah kemenangan yang sempurna.

Sehingga perlu dikirim senopati demi senopati yang makin tak terkalahkan. Tapi, harus berakhir dengan keadaan sama.

Bukan kemenangan. Gendhuk Tri mengusap wajahnya.

“Cukup puas mengeluarkan semua unek-unek? Cukup lega karena segala ganjalan telah dikeluarkan?

“Pangeran Hiang, di antara kita banyak perbedaan, tetapi ada tali nasib  yang mempertemukan. Karena Pangeran Hiang memaksa mempertajam perbedaan, rasanya kami juga tak bisa menolak.”

“Tempat ini sangat layak.

“Tak ada siapa-siapa yang bakal menghentikan. Tak ada yang campur tangan. Pangeran Upasara dan Adik Tri mewakili Keraton Majapahit dan saya mewakili Keraton Yuan….”

“Baik.

“Tanpa harus diembel-embeli mewakili siapa.

“Tapi kalau Pangeran menganggap bisa mengalahkan kami berarti mengalahkan Keraton Majapahit, saya tak akan menghalangi.

“Agak susah dan tak ada gunanya mencoba mengajak bicara orang yang susah melihat dari tempat yang berbeda pijakannya.

“Silakan….”

Upasara gusar dalam hatinya melihat Gendhuk Tri menantang dan mempermainkan. Akan tetapi saat itu tak bisa berbuat suatu apa. Tidak bisa mencegah lagi.

Upasara mengakui bahwa Pangeran Hiang mempunyai ilmu yang sudah di atas ilmu yang selama ini pernah dihadapi. Dari kemampuannya berkonsentrasi tinggi ketika mengapung sambil merangkul Putri Koreyea, caranya mengatur pernapasan, menunjukkan kelasnya yang di atas.

Namun itu tidak membuatnya gentar.

Hanya memang terasa ada ganjalan dalam hal Putri Koreyea. Entah kenapa sejak mendengar desahan napas, apalagi melihat sendiri, Upasara tergetar hatinya. Tersayat.

Ada penderitaan yang tergema ke dalam hatinya. Seperti saat-saat dirinya kehilangan tenaga dalam dan kemauan untuk hidup.

Itu sebabnya dari tadi beberapa kali Upasara melirik ke arah Putri Koreyea.

Saat itu Pangeran Hiang juga melirik, dan mendadak tubuhnya terlipat, masuk ke bawah tubuh Putri Koreyea. Kedua tangannya menyelusup ke bawah pakaian.

Upasara bergerak cepat.

Tangan kanannya menebas udara.

Gendhuk Tri yang mengayunkan selendangnya jadi tersentak. Tidak mengira bakal disentak dengan tenaga memutar balik yang begitu kuat. Selendangnya mengeluarkan suara keretekan, dan sobek menjadi berbagai cabikan.

Sedangkan tangannya terputar ke belakang. Klak.

Upasara segera mendekat. “Maaf, Adik Tri….” Gendhuk Tri meringis.

Tangan kirinya yang bebas bergerak. Menyambar pipi. Plak.

Berbekas. Lima jari.

Gendhuk Tri yang kaget. Tak disangka bahwa Upasara akan membiarkan pipinya kena gampar begitu telak.

“Apa maksud Kakang?

“Pangeran Hiang telah menyatakan siap.” “Maaf, Adik Tri….”

“Maaf, maaf!

“Saya jadinya yang harus minta maaf.”

Gendhuk Tri kesal. Belakang telinganya digaruk-garuk. Tiba-tiba saja gerakannya terhenti. “Putri Koreyea meninggal…?”

Tanda tanya di belakang kalimatnya seperti tak kedengaran. Kandhat Kandhara

UPASARA paling kuatir, akan tetapi Gendhuk Tri yang lebih dulu bergerak. Tubuhnya mendekat. Tangannya menyentuh leher Putri Koreyea. Satu-satunya bagian yang membuka dan bisa disentuh, selain bagian wajah.

Ujung jari Gendhuk Tri tak menemukan reaksi. Tak ada tanda-tanda.

Ada sisa rasa dingin, akan tetapi bukan dingin sekali. Inilah yang membuatnya heran. Sentuhan yang dilakukan Gendhuk Tri adalah sentuhan yang dikenal dengan pijet kandhara, pijatan di bagian leher. Bukan sembarang pijatan, karena di bagian leher, persis di bawah daun telinga bagian belakang, merupakan tempat yang penting untuk mengetahui adanya kekuatan hidup.

Detak yang lemah, tak beraturan, cepat bisa dirasakan dengan sentuhan ujung jari. Kalau upaya ini gagal, biasanya ditekan dengan ujung ibu jari.

Itu pula yang dilakukan Gendhuk Tri. Tak ada reaksi.

Tubuh Putri Koreyea seperti tak memiliki kekuatan hidup sama sekali. Tak ada detak, tak ada getaran. “Mungkinkah kandhat kandhara?”

Upasara maju perlahan.

Ujung ibu jarinya menyentuh, memancarkan tenaga murni.

Apa yang dikatakan Gendhuk Tri sebenarnya bukan menyebutkan nama penyakit tertentu. Dengan mengatakan kandhat kandhara, Gendhuk Tri mengatakan bahwa nadi leher Putri Koreyea sedang dalam keadaan tidak bergerak, tidak bereaksi, tidak hidup. Sebutan ini dipakai untuk mengatakan, seseorang yang secara jasmaniahnya masih bisa disebut hidup, akan tetapi sebenarnya hanya menunda beberapa saat dari kematian yang sesungguhnya. Pada saat itu nadi di leher mulai beristirahat, sebelum akhirnya beristirahat seterusnya.

Upasara tak menyangkal perhitungan Gendhuk Tri.

Dengan kata lain, seseorang yang kandhat kandhara seluruh tubuhnya sedang dalam ambang kematian. Pada saat seperti itu, semua pertolongan tak ada gunanya. Bahkan pengiriman tenaga dalam yang paling murni sekalipun tak akan berarti. Apalagi jenis pengobatan dengan ramuan rebusan.

Karena tubuh penderita tidak menjawab apa-apa. Tidak menolak, tidak menerima. Sedang dalam keadaan kandhat.

Dengan perhitungan ini, sebenarnya Gendhuk Tri ingin mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pangeran Hiang sebenarnya upaya yang sia-sia. Terobosan tenaga dalam yang bagaimanapun tak bisa menembus masuk.

Meskipun demikian, baik Gendhuk Tri maupun Upasara menyadari betul usaha Pangeran Hiang. Sesuatu yang wajar, karena ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong.

Walau secara akal pikiran itu tidak mungkin, tetapi hubungan batin membuat Pangeran Hiang mengerahkan tenaga dalamnya.

Yang memang luar biasa.

Seketika itu juga sekeliling tubuh Pangeran Hiang mengepul asap. Bergulung seakan menguap dari air yang dididihkan dengan cepat.

Uap putih bergulung itu memang uap air. Hanya saja bukan berasal dari tubuh Pangeran Hiang. Melainkan dari sekeliling tubuh Pangeran Hiang yang terkena desakan hawa panas.

Itu pula sebabnya tanah di sekitar Pangeran Hiang berbaring menjadi kering. Terisap airnya dan menguap. Butir-butir air yang terkandung dalam tanah di sekitarnya habis terisap dan menguap. Dedaunan menjadi kering seketika. Bahkan pohon-pohon dalam jarak dua tombak mengering. Tenaga dalam yang melesak kuat.

Kalau keadaan sekitarnya saja bisa diisap zat airnya, bisa diperhitungkan bagaimana kekuatan yang sesungguhnya. Itu bisa terjadi untuk beberapa saat.

Sehingga seluruh pepohonan menjadi layu, kering, mulai dari daun hingga akar! Sampai akhirnya berhenti sendiri. Ketika matahari sudah mulai condong ke arah barat.

Pangeran Hiang tidak tampak lelah. Sebaliknya tetap segar seperti sebelumnya. Juga pakaiannya tidak menjadi kering.

Pengaturan tenaga dalam yang bisa mengikuti kehendaknya. “Apa yang saya lakukan sia-sia, Adik Tri?”

“Rasanya begitu, Pangeran.

“Tanpa pertolongan apa-apa, detak itu bisa kembali teraba. Karena kalau bisa diterobos, nadi di leher Putri Koreyea akan menimbulkan reaksi.

“Saya tak tahu apakah nadi kehidupan bangsa Tartar, Mongol, atau Koreyea berbeda dari manusia yang lain.”

“Apa yang kamu ketahui tentang kandhat kandhara, Adik Tri?” Gendhuk Tri menggeleng.

“Seperti yang Pangeran Hiang ketahui.

“Urat nadi di bawah telinga, di bagian leher, merupakan arus kehidupan yang terakhir. Detak ulu hati bisa berhenti, akan tetapi masih ada getaran di leher.

“Sejauh yang saya ketahui, detak di leher tidak terpengaruh oleh sesuatu di luar itu, tak mungkin bisa terkontrol. Seperti halnya detak jantung dan tarikan udara yang memompa rongga dada. Terjadi dengan sendirinya, pun kala kita lelap tertidur.

“Sejak kita bertemu, Pangeran Hiang selalu menghindar menjawab apakah Putri Koreyea terkena penyakit tertentu atau serangan tertentu.

“Kalau memang itu rahasia yang tak mau diungkapkan, ya pembicaraan pun tak banyak artinya.

“Kita menunggui kematian atau kehidupan kembali tanpa berbuat apa-apa. Seperti denyut leher itu. Akan tetapi kalau ada sebab-musababnya, barangkali kita bisa menemukan penangkalnya.”

“Saya mengerti maksud Adik Tri. “Sepenuhnya.”

Gendhuk Tri tak tersinggung, meskipun setiap kali Pangeran Hiang seolah mengisyaratkan telah mengetahui, lebih banyak dan lebih baik dari apa yang diutarakan Gendhuk Tri.

Gendhuk Tri menyadari bahwa kenyataan yang sesungguhnya memang begitu. Ditambah lagi pikiran Pangeran Hiang sedang gundah.

“Tubuh Putri Koreyea tak terkena racun, tak terkena serangan tenaga dalam. Tak ada apa-apanya. Masih segar bugar ketika bersama saya.

“Lalu tiba-tiba saja membeku kaku seperti sekarang ini. “Sebuah pertanyaan kecil, yang berarti banyak.”

Tanpa diminta tanpa memberi isyarat sebelumnya, Pangeran Hiang berubah sikapnya. Menjadi lebih lembut, dan kemudian bercerita:

Pada mulanya Pangeran Sang Hiang tak mengerti segala sesuatu, kecuali padang pasir, tahi kuda, angin ribut yang bisa menimbuni manusia, dan mengubah gunung yang ada. Sepanjang ingatan Pangeran Sang Hiang, ia berada dalam perkemahan dari kulit binatang, hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Setiap harinya dilalui dengan memanah burung, naik kuda, berlatih ilmu silat dan ilmu gulat, menyantap daging mentah di alam terbuka.

Sampai pada usia belasan, barulah disadari bahwa dirinya berbeda dari semua pengembara dan penunggang kuda. Dirinya mendapat perlakuan yang istimewa. Sangat istimewa. Yang justru membuat kikuk, karena kini didampingi para pelayan, para dayang, dan boleh berdiam di mana saja.

Saat itu Pangeran Hiang baru menyadari bahwa dirinya adalah putra mahkota, salah satu putra Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang sejak awal kelahirannya dididik dalam tradisi kehidupan bangsa Mongolia.

Seperti calon-calon putra mahkota lain yang disebar ke berbagai tempat di gurun.

Setengah percaya setengah tidak, ketika ada undangan ke Keraton Tawu, Pangeran Hiang berangkat. Diterima dengan segala upaya kebesaran, mendapatkan ruangan yang sangat lebar dengan makanan dan minuman serta perempuan berlimpah.

Saat itulah Pangeran Hiang untuk pertama kalinya berjumpa dengan ibunya. Seorang putri kaisar yang terakhir. Pangeran Hiang baru mengetahui kemudian. Tidak di saat pertemuan itu. Karena ibunya hanya memandang dari jauh, dan Pangeran Hiang diajari untuk ber-soja, memberi penghormatan.

“Beliau adalah salah satu permaisuri Kubilai Khan yang Perkasa, yang mendiami Puri Tawu, jauh sebelum kaisar lama menyerahkan takhta ke tangan Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara.”

Dari penuturan pengawalnya inilah Pangeran Hiang kemudian menyadari bahwa dalam tubuhnya mengalir darah keturunan dinasti Tang, bangsa Han yang halus lembut penuh tata krama. Dan juga mewarisi kekerasan dan nilai kemenangan dari tradisi Tartar.

Panggilan ke Keraton Tawu ini pula yang membuka matanya, bahwa para calon putra mahkota semua juga hadir. Untuk menunjukkan ketangkasan memanah burung yang berpasangan dan hanya mengenai seekor; menunggang kuda sambil melemparkan senjata, dengan berada di bawah perut kuda, menggelantung di antara kaki kuda; serta meremukkan tulang belakang lawan dalam bergulat.

Pangeran Hiang tak menemukan kesulitan sedikit pun.

Malah boleh dikatakan paling berhasil di antara puluhan putra Kubilai Khan yang Perkasa.

Yang lebih mencengangkan lagi ialah ketika menghadapi ujian ilmu surat, Pangeran Hiang memperlihatkan darah keturunan dari ibundanya. Dengan lancar Pangeran Hiang bisa membaca, menulis, dan hafal beberapa kitab utama.

Kodrat Keturunan

RAJA Kubilai Khan Yang Perkasa, yang menyaksikan semua ujian dari jauh, menyatakan kepuasannya. Dan memilih lima calon putra mahkota untuk dididik secara khusus di Keraton. Dengan guru-guru utama.

Sejak saat itu pula Pangeran Hiang berdiam di Keraton Tawu dengan segala kebesarannya. Akan tetapi didikan keras padang pasir tak bisa diubah. Justru sebaliknya, Pangeran Hiang berlatih lebih keras, dan lebih giat lagi.

Kemampuannya kini berkembang bukan hanya memanah burung, naik kuda, dan meremukkan tulang belakang lawan tandingnya, akan tetapi juga bagaimana menggunakan tombak, pedang, pukulan tangan kosong, senjata rahasia.

Terutama dari berbagai guru bangsa Han beserta para pendeta, Pangeran Hiang mendapat gemblengan secara khusus.

Sesuatu yang memuaskan dahaganya akan ilmu silat. Sesuatu yang membanggakan guru-gurunya.

Tapi juga sesuatu yang diam-diam mengundang bahaya. Pangeran Hiang tidak segera menyadari, akan tetapi kemudian sekali bisa merasakan bahwa persaingan para calon putra mahkota memanas dan mengganas. Terutama dari kalangan para pengikutnya.

Sampai saat itu, setelah berada di Keraton beberapa tahun, Pangeran Hiang belum pernah mendapat izin untuk menghadap Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Ia diperkenankan menyebut Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, akan tetapi tetap belum ada perkenan untuk sowan.

Kecuali kalau secara beramai-ramai, berada di tempat yang sangat jauh. Masalah yang dihadapi Pangeran Hiang cukup gawat.

Dalam tata cara pemilihan calon pewaris takhta, tak lebih hanya ada lima nama yang kuat. Pangeran Hiang merupakan pilihan yang terkuat. Yang memenuhi segala macam persyaratan.

Hanya saja darah Han yang mengalir dalam tubuhnya dari ibundanya bisa menjadi penghalang. Sebab Pangeran Hiang tidak murni merupakan keturunan langsung dari darah yang menetes di padang pasir.

Sebagian darahnya adalah darah dari dinasti Tang.

Yang bukan tidak mungkin suatu ketika nanti bisa menjadi lebih kuat dorongannya. Padahal dinasti Yuan yang akan ditegakkan oleh Raja Kubilai Khan yang Perkasa, menandai kebesaran darah Tartar.

Melalui guru-gurunya, baik dari bangsa Han maupun Mongol, Pangeran Hiang mencoba menemukan jawaban dari kegelisahan. Pertanyaan-pertanyaan yang berawal dari kecerdasannya mempelajari berbagai kitab mengenai kodrat, mengenai keturunan, mengenai asal-usul dirinya, tak pernah memperoleh jawaban yang memuaskan.

Inilah keruwetan pertama yang dihadapi. Dan satu-satunya. Di satu pihak dirinya diakui sebagai putra Tartar, akan tetapi di pihak lain juga tetap dianggap penerus dinasti Tang.

Masalah itu demikian berat membebani dirinya, sehingga Pangeran Hiang merasa tidak tahan. Dengan sepenuh keberanian yang tersisa, Pangeran Hiang memutuskan menghadap Raja Kubilai Khan yang Perkasa.

Ini saja sudah menyalahi tata krama.

Belum pernah ada putra yang berani mengajukan diri. Selama ini hanya menunggu kalau-kalau Raja berkenan menyebut namanya.

“Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, penguasa jagat seisinya dalam warisan kebesaran Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, hari ini hamba menghadap.

“Sebagai putra Rama Prabu Kubilai Khan Yang Perkasa, sebagai pengembara yang menghadap kepala suku.

“Perkenanlah hamba menyampaikan sembah….”

Pangeran Hiang menunduk, menyembah dengan menyentuhkan dahi ke lantai. Tak melihat dan mengetahui reaksi Raja Kubilai Khan yang Perkasa.

Hanya suaranya yang terdengar. “Aku tahu semuanya, Hiang putraku.

“Kamu tinggal membuktikan diri, untuk memperoleh pengakuan dari tradisi yang besar. Tradisi kemenangan. Sebab Tartar hanya mengenal itu.

“Buktikan itu.” Hanya itu.

Tak ada yang lain.

Sejak itu pula Pangeran Hiang berusaha keras membuktikan tradisi kemenangan yang menjadi bukti nyata keunggulan Tartar.

Itu pula sebabnya Pangeran Hiang memilih berangkat ke Jepun. Suatu tindakan yang dinilai sangat nekat.

Kelewat berbahaya.

Utusan Raja Kubilai Khan yang Perkasa, dengan puluhan perahu yang bersenjata lengkap, sudah tiga kali dikirim. Ketiga-tiganya gagal. Bahkan utusan terakhir dengan armada perang lengkap, kandas secara mengenaskan.

Di tengah laut.

Selama ini tak ada prajurit atau senopati Tartar yang bisa menginjak tanah Jepun. Tapi tekad Pangeran Hiang tak bergoyang.

Dirinya menyadari bahwa kelompok yang tidak menyukainya akan bersorak kegirangan dalam hati. Sebab pergi ke Jepun sama dengan bunuh diri. Berarti Pangeran Hiang akan lenyap dari pencalonan.

Dirinya menyadari bahwa kelompok yang berpihak padanya meneriakkan kesedihan dalam hati. Sebab dengan meninggalkan Keraton, kemungkinan untuk mengetahui keadaan sehari-hari makin berjarak. Sehingga kalau ada sesuatu yang perlu dan mendadak, Pangeran Hiang tidak masuk hitungan.

Apa pun perhitungannya, Pangeran Hiang tetap akan berangkat. Dengan restu Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa.

Yang memberikan tiga puluh prajurit utama, yang kemudian disebut Barisan Api. Ini adalah prajurit utama yang sejak awal kelahirannya dididik secara khusus, dilatih ilmu silat, dilatih mengetahui segala sesuatu tentang pelayaran dan perahu. Yang lebih istimewa lagi sejak kanak-kanak tubuh mereka telah ditusuki dengan jarum khusus untuk melipatgandakan tenaga yang dimiliki.

Di seluruh Keraton, jumlah Barisan Api tidak mencapai seratus orang, karena memang merupakan pilihan dari segala pilihan.

Mereka hanya mengenal satu perintah, dari Pangeran Hiang.

Mereka hanya hidup di atas perahu, yang agaknya memang merupakan rencana sejak semula untuk menaklukkan wilayah yang selama ini tak mungkin ditundukkan.

Dengan perlengkapan yang sangat sempurna. Pangeran Hiang berangkat menuju Jepun. Perahunya yang ramping, tidak terlalu mencolok, bisa selamat mendarat. Dan dengan keberanian yang luar biasa, Pangeran Hiang menyatroni lawan. Masuk ke salah satu keraton dan menguasai.

Menebas lawan yang ditantang maju. Melaju hingga ke keraton utama.

Pulang kembali membawa pedang panjang dan pendek, dan segala harta benda, kitab pusaka. Untuk dipersembahkan kepada Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa.

Yang menerima dalam upacara kebesaran, dan memuji keberhasilan Pangeran Hiang. Meskipun secara resmi Keraton Jepun tidak dikalahkan, akan tetapi pengakuan akan kebesaran Keraton Tartar sudah lebih dari cukup.

Nama Pangeran Hiang melambung ke langit.

Sejak saat itu Pangeran Sang Hiang diperkenankan memilih umbul-umbul sendiri sebagai tanda pengenalnya. Pangeran Hiang memilih simbol Siung Naga Bermahkota.

Pemakaian umbul-umbul tersendiri adalah pertanda yang luar biasa. Pertanda pengakuan yang secara resmi dilakukan oleh Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Secara tidak langsung memberikan isyarat bahwa sudah ada petunjuk kuat Pangeran Sang Hiang bakal menggantikan takhta.

Pada saat itulah sebenarnya Pangeran Hiang bisa merintis karier di Keraton. Mendampingi Rama Prabu Kubilai Khan.

Akan tetapi Pangeran Sang Hiang memilih pengembaraan ke tanah Koreyea. Suatu wilayah yang masih asing, yang ilmu silatnya mempunyai sumber yang sama dengan dataran Cina dan Jepun, akan tetapi juga memperlihatkan perbedaan.

Kembali perahu Siung Naga Bermahkota berlayar, dengan Barisan Api yang hanya berkurang empat orang.

Tanah Koreyea, di luar dugaan Pangeran Hiang sendiri, ternyata tak memberikan perlawanan yang berarti. Para pendekar Koreyea tidak setangguh yang diperkirakan.

Dengan leluasa Pangeran Sang Hiang bisa berada dalam Keraton.

Pada saat itu hatinya bagai disambar seratus geledek secara bersamaan, manakala melihat Putri Koreyea. Yang segera dipinang, dan dibawa ke Tartar.

Bukan semata-mata sebagai tanda menyerah, meskipun utusan Keraton Koreyea menyediakan dua puluh kapal untuk mengangkut segala harta benda.

Pangeran Hiang memilih tetap di perahu bersama Barisan Api.

Sambutan dari Rama Prabu Kubilai Khan juga tak dibayangkan. Kali ini bahkan diadakan upacara resmi, di mana Raja Kubilai Khan yang Perkasa merestui pilihan Pangeran Hiang.

Dan menyerahkan bagian utama dari Keraton Tawu untuk didiami. Berarti tinggal selangkah lagi.

Pengakuan para pembesar dan para pendeta Tartar mulai dirasakan. Pangeran Hiang menemukan dirinya sebagai penerus tradisi Tartar yang besar, sekaligus bisa berhubungan dengan bangsa Han tanpa membangkitkan permusuhan.

Tanah Becek yang Perkasa

KEMENANGAN, keberhasilan, sudah diperoleh. Pengakuan sudah diterima.

Akan tetapi masih ada yang mengganjal hati Pangeran Sang Hiang. Kisah lama mengenai Keraton Singasari yang menantang perang, yang mampu menghancurkan para utusan Tartar.

Walaupun rombongan pertama yang dikirimkan berhasil kembali dengan barang rampasan puluhan kapal, akan tetapi itu tidak berarti tanah Jawa menyatakan tunduk. Barang rampasan itu diperoleh dari merampas, bukan dari pemberian, sebagai upeti pengakuan kebesaran Keraton Tartar.

“Tanah lembap, becek, penuh dengan sungai kecil itu harus ditaklukkan. “Kita tak pernah gagal merebut kemenangan.

“Kalau tidak satu kali, dua atau tiga kali.”

Keputusan ini lebih banyak mengundang kekuatiran. Terutama dari Gemuka, salah seorang senopatinya yang selama ini menemani perjalanan ke tanah Jepun dan tanah Koreyea.

“Aku bisa mengerti perasaanmu, Saudara Muda. “Kalau kamu tidak berkeberatan, biarlah aku bersama Barisan Api yang berangkat.” “Terima kasih, Saudara Tua Gemuka.

“Aku bisa mengerti perasaanmu.”

“Saudara Muda, dengar dulu apa yang kukatakan.

“Selama ini aku selalu mendampingimu. Baik di padang pasir yang keras anginnya, ataupun di tanah yang bercampur es. Baik dalam kesengsaraan, maupun dalam kemewahan Keraton.

“Aku tak pernah menghalangimu.

“Aku yang pertama menyatakan kesediaan berangkat ke Jepun dan Koreyea.” “Saudara Tua, kita adalah anak-anak padang pasir yang sama.”

Bagi Pangeran Hiang, Gemuka adalah tetap Gemuka yang menemani masa kanak-kanaknya. Dalam tidur satu kemah, memburu kuda liar, atau terus-menerus berlatih ilmu silat.

Gemuka adalah turunan langsung ketiga dari Jamuka, tokoh utama yang ikut membangun kebesaran Eyang Agung Jengiz Khan Yang Tiada Tara. Pada tubuh Gemuka mengalir seluruh tradisi kebesaran, keberanian, kejujuran yang wungkul, yang apa adanya, dari bangsa pengembara.

Hanya karena Gemuka tidak dialiri darah Khan secara langsung, Gemuka tidak menjadi putra mahkota.

Akan tetapi selama ini diperlakukan sama. Apalagi Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa ingin menghapus permusuhan lama. Sehingga keturunan Jamuka mendapat tempat yang terhormat.

Yang diwujudkan dengan pemberian tempat yang sesuai pada diri Gemuka. Seorang lelaki yang sesungguhnya. Yang memandang persahabatan, persaudaraan, lebih dari segala apa pun.

Itu pula sebabnya mereka berdua masih memakai sebutan panggilan “Saudara Muda” dan “Saudara Tua”. Tanpa embel-embel Pangeran atau Senopati.

“Saudara Tua, apa keberatanmu kalau aku ke tanah Jawa?” “Tanah yang tak bisa diperkirakan.

“Sejak Raja Kubilai Khan yang Perkasa mengirimkan utusan pertama telah gagal. Kalau lebih dari satu dan gagal, pasti ada sesuatu yang luar biasa.

“Dalam soal ilmu silat, kita tak perlu ragu. Dalam perlengkapan perahu serta Barisan Api, kita tahu bahwa tak ada yang mampu mengungguli.

“Akan tetapi perhitungan itu saja tidak cukup.

“Itu sebabnya, Saudara Muda tak perlu ke sana. Terlalu banyak yang dikorbankan kalau terjadi apa- apa.”

“Aku percaya, Saudara Tua akan melakukan untuk diriku.” “Salah satu dari kita cukup, Saudara Muda.”

“Aku yang berangkat.

“Bagiku tanah becek itu menyimpan banyak pertanyaan. Semakin kupelajari sejarah yang terjadi, semakin tergugah hatiku.

“Di sana ada ksatria yang mengundang pendekar seluruh jagat untuk mengadu ilmu silat. Apakah sudah sedemikian damainya, sehingga diperlukan undangan pertarungan?

“Ajaran mana yang mampu berkembang di ujung sana?” “Kita melakukan kesalahan kalau berangkat bersama.” “Saudara Tua mau tinggal di Keraton?”

Jawabannya sudah diduga sebelumnya.

Gemuka akan tetap menyertai. Bahkan demikian juga Putri Koreyea. Karena baginya hidup bersama suaminya adalah berada di sampingnya.

Pangeran Hiang makin bertanya-tanya dalam hati, ketika menjelang keberangkatannya Ibunda mengunjunginya.

“Ibu ingin melihatmu, putraku Pangeran Sang Hiang.

“Barangkali ini perjumpaan yang terakhir. Karena perjalananmu kali ini adalah perjalanan yang jauh, dan usia Ibu sudah semakin tua.

“Putraku Pangeran Sang Hiang,

“Ibu tidak ingin memberati keberangkatanmu. Tetapi hati Ibu mengatakan bahwa kamu harus berhati- hati. Raja di tanah Jawa juga memiliki darah Han yang kamu miliki.” Pangeran Hiang baru ingat sekarang ini, ketika menceritakan kembali. Bahwa apa yang menjadi suara batin ibundanya, menemukan kenyataan. Kekuatiran yang tak terucapkan.

Kegelisahan batin wanita. Kegelisahan batin seorang ibu!

Pangeran Hiang dan Gemuka menyiapkan segala sesuatu yang dianggap perlu untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul. Laporan-laporan dari para senopati diteliti dengan cermat.

Tak ada satu pun rasanya yang terlewatkan. Pangeran Hiang merasa siap menghadapi. Tapi tidak demikian halnya dengan Gemuka. “Saudara Muda, kita harus berpisah.

“Satu perahu bisa kandas, tetapi masih ada yang tersisa.” “Saudara Tua akan memisahkan diri?”

“Itu sebaiknya.

“Kalau Saudara Muda gagal, masih ada saya.” “Hati-hati, Saudara Tua.”