--> -->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 22

Jilid 22

“Rasanya kalau Praba kembali seperti sediakala, kedudukan mahapatih pun masih terlalu rendah untukmu.”

“Hamba hanya bisa mencoba, duh Raja….

“Hanya karena kemampuan hamba terbatas, mungkin memerlukan waktu….” “Tak apa, Halayudha.

“Kamu rawat Praba. Tugas Keraton bisa dilakukan Nambi.” Inilah yang dinamakan jagat terbalik!

Halayudha tak akan pernah bermimpi bahwa Praba Raga Karana sedemikian berartinya sehingga bisa mengubah apa saja.

Namun sebagaimana biasanya, Halayudha tak memperlihatkan perubahan wajah sedikit pun yang menggambarkan isi hatinya.

“Kalau Raja mengizinkan, hamba akan mencari obat-obatan.” “Hari ini juga berangkat!”

Inilah yang dinamakan jagat telah kembali tegak.

Halayudha tak mau menunda waktu. Ia memerintah rombongan kecil dengan beberapa kuda pilihan, dan segera meninggalkan Keraton.

Tujuannya mencari obat. Obat untuk dirinya. Yaitu ke Lumajang.

Halayudha seperti tak sabar berkejaran dengan waktu. Rombongan yang mengikuti bisa tertinggal satu pandangan mata di padang luas.

Tetapi tak ada pilihan lain. Lumajang. Mahapatih Nambi!

Kalau ia berhasil mengamankan, rasanya tak ada lagi yang menghalangi. Tak ada lagi. Halayudha memacu kudanya makin cepat.

Tidak sampai pergantian matahari berikutnya, Halayudha telah sampai di Lumajang dan segera menggeprak kudanya menuju kediaman Mahapatih Nambi.

“Hamba menghaturkan sembah, Mahapatih….” “Saya sudah menduga Senopati akan datang….”

Suara Mahapatih Nambi tetap menunjukkan kewibawaan, kegagahan, yang membuat Halayudha bagai disiram air dingin. Karena biar bagaimanapun, dirinya adalah bawahan Mahapatih Nambi. Sehingga pengaruh itu terasakan.

Purus Puspa Lembong

YANG tak pernah diperhitungkan Halayudha adalah kehadiran Permaisuri Indreswari.

Cerdik, teliti, penuh perhitungan, akan tetapi justru Permaisuri Indreswari terlupakan. Padahal justru yang sepele ini bisa membuyarkan semua rencana

Sewaktu Keraton menjadi geger tak menentu, Permaisuri Indreswari mendapat laporan lengkap. Bahwa Praba Raga Karana menderita gering. Tubuhnya lemas tak mampu bergerak, sehingga untuk memalingkan wajah pun perlu dibantu. Pandangan matanya nanar, tetapi seperti tak melihat apa-apa.

Saat itu juga Permaisuri Indreswari memerlukan mengunjungi untuk melihat sendiri.

Raja Jayanegara tak melarang, meskipun juga tak memperlihatkan bisa menerima rasa iba.

Ada sesuatu yang menggerakkan Permaisuri Indreswari sehingga memerlukan datang sendiri. Yang pertama terlintas ialah bahwa Praba Raga Karana kena. Bahwa Praba kalah kuat sehingga bisa kesambet. Terkena serangan ilmu hitam.

Sesuatu yang sangat wajar. Sebagai permaisuri, Indreswari menyadari dan hidup di dalam pertikaian dan persaingan batin dengan wanita lain. Baik secara terang-terangan, apa-lagi secara diam-diam. Masing-masing wanita berusaha memuaskan, mengabdi Baginda, dengan segala macam cara.

Dengan merawat tubuh dari ujung kuku hingga ujung rambut, dengan melatih suara, cara bernapas maupun melirik, dengan segala macam ramuan obat-obatan, maupun dengan kekuatan lain.

Kekuatan lain itu berupa mantra, baik untuk menguatkan diri maupun untuk menyerang lawan.

Permaisuri Indreswari sadar akan lekuk-liku dunia perdukunan yang berkaitan dengan perebutan daya asmara untuk menarik sebesar mungkin perhatian Baginda.

Permaisuri Indreswari sadar karena dirinya larut dalam kehidupan semacam itu terus-menerus.

Makanya yang terpikir pertama adalah bahwa Praba Raga Karana terkena pengaruh itu. Karena tak mungkin tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga, telinganya tak bisa mendengar, dan mulutnya membisu.

Masalahnya adalah dukun mana dan ilmu apa yang menyebabkan, serta bagaimana cara mengatasinya.

“Semua usaha telah dikerahkan, Gusti Permaisuri. Semua dukun, orang tua, telah dipanggil.” Permaisuri mengangguk.

Ia meminta semua yang ada di dalam ruangan meninggalkan tempat. Kemudian secara perlahan Permaisuri Indreswari membuka selimut, meraba pusar dan sedikit bagian bawah perut Praba Raga Karana.

Kepalanya menggeleng.

Kemudian memerintahkan memanggil Senopati Tanca yang dikenal mempunyai ilmu dalam penyembuhan berbagai lelara, berbagai penyakit.

“Tanca, haturkan terus terang, apakah Praba kena pengaruh tenung asmara?” “Besar kemungkinannya demikian, Gusti Permaisuri.

“Hamba tak berani memastikan, karena caranya amat sangat halus. Beberapa kali hamba mencoba mengetahui dan masuk, akan tetapi pengaruhnya sangat samar.

“Besar kemungkinannya ilmu tenung yang selama ini tak dikenal.”

“Aku merasakan ada sesuatu yang kejang pada tempat antara pusar dan purus.” Senopati Tanca mengangguk dalam dan menyembah.

Dalam hatinya memuji kelebihan Permaisuri. Tanpa mempelajari secara khusus, Permaisuri Indreswari bisa segera mengetahui adanya kelainan pada bagian tubuh Praba Raga Karana.

Ia sendiri memang menemukan ada bagian yang mengejang, akan tetapi tak bisa memastikan sumbernya antara pusar dan purus- istilah yang sebenarnya untuk menyebutkan nama anggota tubuh yang paling laki-laki.

Dengan menyebutkan purus, Permaisuri Indreswari memakai bahasa lain yang halus, meskipun masih tak terhindarkan penunjukan yang langsung.

Senopati Tanca boleh heran, akan tetapi bagi Permaisuri Indreswari, itu semua bukan sesuatu yang luar biasa.

Karena memang sejak semula para permaisuri Keraton sadar bagaimana merawat bagian- bagian tubuh terus-menerus.

“Tanca, apakah Praba sering menggunakan jamu-jamu dan ramuan untuk memperhebat kewanitaannya?”

Wajah Tanca menjadi merah.

Tetap tak tersembunyikan meskipun menunduk. Hatinya terasa gerah.

“Aku harus membicarakan ini untuk mengetahui keadaannya sebenarnya. “Kalau benar ia diserang dengan ilmu tenung, rasanya kamu bisa mengetahui. “Kalau tidak, pasti karena ulahnya sendiri.

“Yang paling mungkin adalah cara merawat diri yang sangat keterlaluan sehingga menghancurkan tubuhnya sendiri. Itu sebabnya aku bertanya begitu.”

“Gusti Permaisuri sangat tepat.” “Apa karena itu?” “Hamba tak bisa matur.

“Sekarang ini tak bisa ditanyai. Para dayang yang dekat tak bisa memberi laporan yang tepat.” “Kamu sudah meneliti hal itu?”

“Sebisa mungkin, Gusti Permaisuri….” “Berarti titik tolak kita sama.

“Yang diarah adalah kewanitaan.

“Rasanya tak usah terlalu jauh. Kita bisa mencari Purus Puspa Lembong… Kalau ini tak bisa, berarti kita semua harus bersiaga. Ada musuh besar yang leluasa bergerak dalam Keraton.”

Dalam hati, Senopati Tanca kurang tulus menghormat Permaisuri Indreswari. Apalagi dengan beberapa kejadian terakhir yang menyangkut Baginda Kertarajasa ke Simping.

Akan tetapi sekali ini tak ada alasan untuk tidak memuji secara tulus.

Sebagai tabib Keraton, Tanca boleh dikatakan sangat menguasai segala jenis lelara bangsawan Keraton. Termasuk yang satu ini.

Purus Puspa Lembong adalah sejenis tanaman seperti keladi yang menempel pada tumbuh- tumbuhan tertentu. Jurus Puspa Lembong sangat banyak, akan tetapi yang memakai nama Purus sangat sulit ditemukan.

Sehingga akhirnya Baginda Raja Sri Kertanegara membangun hutan tersendiri untuk menyemai tanaman tersebut. Tanaman yang mempunyai kesaktian dalam pergulatan daya asmara.

Kalau Permaisuri Indreswari sampai kepada kesimpulan penggunaan Purus Puspa Lembong, ini berarti pengetahuan mengenai pengobatan sangat mendalam. Sekurangnya dengan cara itu Permaisuri Indreswari ingin menjajal kemungkinan terakhir. Yaitu menyembuhkan, atau memperparah keadaan Praba.

Kelebihan tanaman Purus Puspa Lembong adalah memperkuat kekuatan asmara yang biasanya digunakan kaum lelaki. Kini akan dicobakan ke tubuh Praba untuk menawarkan pengaruh. Semakin banyak dan terbiasa, semakin tidak mempunyai pengaruh apa pun.

Itu pengobatan yang juga dipakai sebagai jalan terakhir.

Dasar-dasarnya seperti yang selama ini dipelajari Senopati Tanca. Bahwa untuk melawan bisa, untuk melawan racun, adalah dengan membiasakan tubuh terkena racun. Sehingga menjadi kebal.

Suatu pemikiran yang mendalam.

Yang sudah dipikirkan oleh Tanca, akan tetapi tak berani mengutarakan. Terutama karena alasan tata susila.

Dan itu yang dikatakan oleh Permaisuri Indreswari.

Yang lebih luar biasa adalah kesimpulan yang kedua. Kalau pengobatan dengan Purus Puspa Lembong tidak berhasil, berarti ada cara lain yang dipakai untuk membuat Praba Raga Karana menderita gering seperti sekarang ini.

Dan itu hanya dimungkinkan oleh orang yang bisa leluasa keluar-masuk prameswaren, yang bisa menyusup tanpa dicurigai.

Di sinilah bahaya yang sesungguhnya.

Kalau kamar Praba yang dijaga sangat ketat bisa dimasuki orang yang berbuat kurang ajar, berarti kamar siapa pun bisa digerayangi.

Tak ada lagi yang tersembunyi di Keraton ini. “Apa lagi yang kamu tunggu, Tanca?” “Hamba menjalankan perintah Permaisuri….” “Apakah penilaianku keliru?”

“Tepat, Gusti….” “Sebentar…

“Sebelum kamu berangkat, apakah kamu melihat kira-kira siapa yang berbuat kurang ajar di Keraton?”

“Hamba tak mengetahui, Gusti.” “Atau tak berani?”

“Bagi hamba tak ada untungnya menyembunyikan musuh Keraton.” Permaisuri mengangguk. “Benar.

“Siapa menurutmu yang beruntung dengan sakitnya Praba?” Pertanyaan itu menggema.

Tanpa jawaban.

Karena Permaisuri Indreswari segera berlalu.

Persaingan Asmara

YANG juga tak diperhitungkan Halayudha adalah bahwa Mahapatih Nambi sangat dingin sikapnya. “Senopati Halayudha.

“Aku mendengar semuanya. “Semuanya.

“Juga kabar geringnya Praba Raga Karana.”

“Mahapatih mempunyai pendengaran seratus kali lebih tajam dari seratus ekor gajah.” “Pujian yang berlebihan biasanya tidak tulus.

“Sayang….”

Halayudha mengertakkan giginya.

Ia menahan kegusarannya yang bergolak. Pada saat sekarang ini, bahkan rasanya Halayudha berani memutuskan untuk menantang. Akan tetapi ditahannya desakan yang bisa mengeruhkan suasana. Meskipun Raja telah dekat dan menjanjikan, ia tak ingin meninggalkan kesan buruk yang bisa menimbulkan bibit-bibit permusuhan di belakang hari.

“Sayang…

“Tapi itu yang bisa terjadi.

“Geringnya Praba bisa membangkitkan dugaan yang berlebihan. Apalagi perubahan tubuhnya yang tak bisa bergerak, menyebabkan dugaan bahwa persaingan merebutkan asmara Raja yang menjadi alasannya.

“Dengan demikian, Putri Tunggadewi dan Putri Rajadewi bisa menjadi sasaran. Bisa lebih menderita, karena perlakuan yang hina. Segala kehinaan bisa terjadi.

Sayang….

Sayang bagi Mahapatih Nambi, tapi perasaan Halayudha justru melayang.

Ia tak menduga bahwa ini bisa mengakibatkan langkah yang lebih menyeluruh. Tunggadewi, dan terutama Tunggadewi, lebih daripada Rajadewi, adalah pujaan para abdi dan senopati Keraton. Karena masih turunan langsung Baginda dengan Permaisuri Rajapatni, yang sejak sebelum lahir sudah diramalkan bakal menjadi raja yang membawa kebesaran Keraton yang belum pernah terjadi selama ini!

Betapa hebat kebesaran dan kekaguman yang menyertai Tunggadewi! Bagi Mahapatih Nambi, ia merupakan junjungan yang sangat dihormati. Dan sekarang ikut tersudut, ikut terguncang.

33

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II Bukankah ini sekali langkah dua lawan perkasa bisa tumbang? “Sayang…

“Tetapi apa yang harus kukatakan kalau itu yang terpikirkan dan dianggap benar?

“Padahal hanya dengan memeriksa nadi adistara, bisa diketahui apakah betul karena ilmu hitam atau tangan yang kotor.”

Sekali ini Halayudha menjadi kecut. Dengan menyebutkan nadi atau jalan hidup adistara, sebenarnya Mahapatih Nambi sudah membongkar segala kebusukan Halayudha.

Sebab kalau benar totokan di adistara bisa dibuka, bukan tidak mungkin akan diteliti jalan hidup lain yang ada.

Berarti Praba Raga Karana bisa disembuhkan. Sekurangnya bisa berbicara.

Tamatlah riwayat Halayudha. Tak ada pilihan lain!

Tapi Dewa masih melindungiku, kata hati Halayudha. Justru dengan mengatakan ini, Mahapatih Nambi menjadi musuh utama. Bisa tak bisa harus dilenyapkan, sebelum mengatakan perkiraannya.

Makin tak terbantah keinginan untuk memusnahkan Mahapatih. Yang ternyata musuh dalam segala hal.

“Sayang…

“Memang seribu sayang, Mahapatih….

“Kalau saja Raja mau mendengar barang sepatah dari Mahapatih Nambi yang perkasa, kejadiannya tak akan berlarut-larut….”

“Apakah Raja tidak berkenan hatinya?” “Hamba berdosa kalau mengatakan hal ini.”

“Apa alasanmu mengatakan bahwa Raja kurang berkenan denganku? “Apakah pengabdianku selama ini dianggap kurang?”

“Sedikit pun tidak.”

“Apakah karena aku tidak segera menghaturkan semua perawan Lumajang ke Keraton?” “Rasanya juga bukan.”

“Bagiku mengundurkan diri pun bukan soal besar.

“Apakah kamu yang naik menjadi mahapatih atau cacing tanah, kalau itu kehendak Raja, tak ada yang menghalangi.

“Kenapa lagi? “Apa alasannya?

“Karena aku senopati yang berasal dari Baginda?” “Semua senopati juga begitu, Mahapatih….”

“Lalu apa dasar pemikiranmu sehingga mempunyai perkiraan Raja tak berkenan denganku?” Halayudha meneguk ludah.

Kelu.

Mahapatih menunggu. Gelisah.

“Raja pernah menyebut-nyebut Bapa Pranajaya….” Dahi Mahapatih berkerut.

Mendadak terasa ada yang menyodok di perut. Pandangannya seperti berkabut.

“Apa kamu tidak salah dengar?” “Mudah-mudahan demikian….” Sepi.

Tak ada bunyi.

“Hal… Halayudha, apa yang disabdakan Raja?”

“Pernah diucapkan bahwa Bapa Panji Panjarakan lebih mengagungkan batu di Desa Ganding….”

Mahapatih meringis. Bibirnya menjadi tipis.

Mendesiskan suara berdesakan dari dada. Ini memang merupakan bagian yang paling peka dalam kehidupan Mahapatih Nambi, yang bahkan tak mau diingat sedikit pun. Karena sangat menyakitkan.

Ayahnya Pranajaya, adalah prajurit Keraton yang selama hidupnya mengabdikan diri di Keraton. Sejak masih di Singasari, sampai kemudian mengikuti Raden Sanggrama Wijaya mendirikan Keraton Majapahit bersama dirinya, putranya.

Mahapatih Nambi merasakan getar ketulusan yang tumbuh dari sanubari yang dalam. Sampai ketika lahirnya Bagus Kala Gemet, dan prajurit tua yang selama itu patuh, mendadak mengajukan pengunduran diri dengan alasan sudah tak sanggup lagi mengabdi.

Padahal saat itu Baginda Kertarajasa mengangkatnya sebagai sesepuh di Daha untuk mengasuh Bagus Kala Gemet.

Geledek tengah hari tak membuat Senopati Nambi, saat itu, seterkejut mendengar penolakan ini. Tak disangsikan sedikit pun bahwa ayahandanya masih cukup kuat untuk mengabdi. Bahkan ilmu silat dan pengetahuan keprajuritannya makin menjadi.

Tapi itulah jalan yang dipilih. “Bapa tak bisa bicara, Nambi.

“Teruskan mengabdi sebab kamu prajurit. “Bapa sudah bukan prajurit.”

Hanya itu.

Dugaan yang berkembang menjadi kepastian adalah penolakan Senopati Pranajaya akan pengangkatan Bagus Kala Gemet sebagai putra mahkota pewaris takhta.

Senopati Nambi tak bisa melupakan peristiwa itu.

Tak bisa melupakan sedikit pun, meskipun perlahan-lahan berita tentang pembangkangan halus tak lagi dibicarakan.

Namun, kejadian yang sama terulang kembali.

Itu terjadi saat dirinya diangkat menjadi mahapatih.

Tata upacara yang gegap gempita itu tak dihadiri oleh senopati tua yang telah mengundurkan diri. Beberapa kali utusan ke Panjarakan tak mendapat jawaban.

Bahkan senopati tua itu memilih mengundurkan diri ke Desa Ganding, karena, seperti dikatakan, ingin menikmati pemandangan desa yang berbatu-batu indah.

Senopati, dan kemudian Mahapatih, Nambi menerima sebagai kenyataan yang tak mungkin diubah. Ayahnya tak pernah berkata dan bersikap lain dari isi hatinya.

Perlahan, diusirnya perasaan bersalah dalam hatinya. Karena merasa tak ada yang memedulikan dan menanyakan.

Sungguh tak nyana, bahwa Raja Jayanegara ternyata teringat. Seperti yang dikatakan Halayudha.

Halayudha!

Yang merasa beruntung selalu berada di Keraton sehingga mendengar segala kabar, dan bisa memanfaatkan!

Halayudha!

Orang yang bisa memuji dirinya karena merasa berhasil. “Maaf, Mahapatih….

“Saya pernah mengajukan nama Mahapatih untuk mengobati Praba Raga Karana….” “Dan Raja menggeleng?”

“Raja Jayanegara mengatakan, apakah orang yang tidak bisa menyembuhkan ayahnya bisa menyembuhkan orang lain?”

Tangan Mahapatih terkepal. Matanya memancarkan sinar kesal.

“Apakah Raja Jayanegara menganggap Bapa kurang waras? “Itu yang kamu katakan, Halayudha?”

Percakapan Rasa Istri PADA saat yang sama, di tempat yang berbeda, Senopati Tanca memasuki tempat tinggalnya.

Sebuah rumah di dekat dinding benteng. Tenang. Tenteram.

Seperti sediakala. Tak ada selembar daun di pelataran, tak ada rumput yang tumbuh sembarangan. Tak ada ranting yang menjulur lebih dari yang lain.

Juga di ruangan dalam.

Semua tertata apik, peni, asri, sejuk dalam pandangan.

Seperti biasanya pula, Nyai Tanca sudah duduk menunggu di ruangan dalam. Sudah berdandan, sudah membersihkan tubuhnya yang tampak makin gemuk singset dalam kemben yang menekan secara pas. Punggung dan setengah dadanya terbuka, memperlihatkan kulit yang teramat sempurna. Seperti juga sanggulan rambutnya.

Wajahnya menunduk, akan tetapi sekilas pun orang yang melihat pertama-tama akan memperoleh kesan kesabaran, kepasrahan. Sikap menerima segala sesuatu dengan tenang.

Nyai Tanca menyorongkan daun sirih. “Nyai.. .”

“Saya tahu Kakang akan segera berangkat, karena kewajiban. “Tidak ada salahnya Kakang nginang barang segagang daun sirih.” Senopati Tanca mengangguk pelan.

Mengenakkan duduknya, pelan.

Kalimat yang perlahan, yang diucapkan Nyai Tanca tanpa tekanan tertentu, bisa berbunyi di hati suaminya. Bukan karena kebiasaan saja, melainkan karena rasa yang tumbuh dan saling bisa menangkap.

Bahkan andai Nyai Tanca tidak menyodorkan tempat sirih, Senopati Tanca mengetahui bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

Sesuatu yang sangat mendesak.

Mata bulat Nyai Tanca, serta sorot pandangan yang seakan tidak memperlihatkan perubahan dari biasanya, memberikan arti lain.

“Saya hanya menjalankan kewajiban, Nyai….” “Saya mengerti, Kakang.

“Saya turut berdoa bersama langkah kaki Kakang.” “Bukan kewajiban yang menyenangkan.”

“Tidak semua kewajiban harus menyenangkan.

“Adakalanya menyenangkan, adakalanya kurang menyenangkan. Namanya saja kewajiban.” Tak ada nada menyesali.

Tak ada nada menghakimi dengan penilaian.

Justru sebaliknya, mendukung apa yang akan dilakukan Senopati Tanca. “Ya, Nyai….”

“Kakang akan berangkat sekarang juga?” “Ya, Nyai….”

“Berangkatlah segera, Kakang.” Senopati Tanca mengangguk.

“Sebelum gelap malam, saya bisa sampai di tujuan.” “Hati-hati, Kakang.”

Senopati Tanca menghela napas. Agak keras.

Dan mengembuskan. Perlahan.

“Saya prajurit yang menjalankan kewajiban dan pengabdian.

“Lebih mudah mengalami peperangan, lebih mudah dihitung kepahlawanan.” “Kakang…” “Saya tahu, Nyai tidak memberati pikiran saya.

“Ah, berapa lama sudah kita hidup bersama, Nyai? Berapa lama kita mengerti rasa hati masing- masing? Berapa lama saya menyadari suara hati wanita?

“Percakapan rasa wanita, terutama sebagai istri, bisa saya tangkap tanpa diucap.

“Ada sesuatu yang mengganggu dengan tugas semacam ini. Mencarikan jamu, mengobati gundhik yang…”

“Kakang, seorang tabib menemukan kemurahan Dewa untuk menolong sesama.

“Apa artinya Kakang menjadi tabib kalau tak mau menolong orang yang membutuhkan?” “Itu betul sekali.

“Akan tetapi saya menangkap suara hati Nyai….” “Saya tak…”

Saya menangkap suara hati yang mendengung dari rasa kewanitaanmu. “Apakah bukan kesalahan kalau saya mencari obat untuk Praba Raga Karana?

“Lebih tepat lagi, apakah tepat pengabdian kepada Raja untuk hal-hal semacam ini….” Hening, tapi udara terasa menghangat.

“Apakah ada gunanya menolong seorang lelaki, yang harusnya menjadi panutan, menjadi teladan, selalu mengumbar nafsu asmara? Praba Raga Karana, atau sepuluh Praba….”

“Kakang…” “Saya tahu.”

“Kakang… Raja adalah sesembahan, adalah segalanya. Dalam mimpi pun kita tak boleh meragukan kalau tak ingin dikutuk Dewa.”

“Apa yang tersisa dalam rasa batinmu, Nyai?” “Tak ada, Kakang….”

“Tak ada? “Tak ada.

“Kamu tidak berkeberatan saya mengobati Gusti Praba?” “Sama sekali tak ada rasa menahan….”

“Atau karena junjungan kita Putri Tunggadewi?” Nyai Tanca menghela udara dari dadanya.

Matanya berkaca-kaca. Pandangannya menderita. Tak ada suara.

“Saya merasa itu semua, Nyai.

“Inilah siksaan yang berat. Apalagi Nyai menunjukkan rasa yang sesungguhnya. “Ah!

“Hampir sepanjang usia, kita selalu bersama. Dan selama ini, Nyai tak pernah tidak mendoakan semua tindakan saya secara tulus, secara rela, secara ikhlas. Sejak pertarungan mengikuti Baginda, sampai yang terakhir ketika Senopati Tantra berusaha masuk ke Keraton.

“Dalam tawanan, dalam pengasingan, Nyai selalu menyertai dengan doa dan puji. “Tak pernah Nyai menahan bayang-bayang tubuh yang melangkah.

“Baru sekali ini.

“Tanpa diucapkan. Tapi saya menangkap getar rasa Nyai. “Nyai…”

Suara Senopati Tanca terdengar gemetar. “Putri Tunggadewi adalah junjungan kita semua.

“Lebih dari itu, putri junjungan kita adalah putri Baginda. Demikian juga Raja di mana saya mengabdi sekarang ini. Dewa segala Dewa akan mengutuk sampai turunan yang terakhir.

“Apa lagi yang akan terjadi jika manusia tak bisa dibedakan dari binatang?” Bibir Nyai Tanca gemetar. Ada kalimat yang tak sanggup diucapkan.

“Nyai kalau ada telinga lain yang menempel di lantai dan mendengarkan serta melaporkan, saya merasa bersyukur. Karena dengan demikian ada yang menyampaikan peringatan, sebelum kiamat kobra, kiamat habis-habisan datang.

“Kutukan itu terjadi tidak pada satu atau dua orang yang menjalani, akan tetapi seluruh Keraton.

Sampai ke keturunannya yang terakhir.

“Nyai, ini yang akan Nyai katakan dengan lidah.

“Tapi saya bisa mendengar sebelum menjadi kata-kata. “Nyai…”

“Kakang, semuanya belum tentu benar.

“Putri junjungan kita memang dikurung Raja. Beberapa perawan memang disowankan. Akan tetapi, rasa-rasanya…”

“Mudah-mudahan Nyai benar.

“Akan tetapi jika semua itu terbukti, Nyai, tangan saya sendiri yang akan menumpas petaka itu.” Nyai Tanca bergoyang tubuhnya.

Tersandar ke tiang tanpa tenaga. “Saya tak akan menarik kata-kata.

“Tangan saya sendiri yang akan basah oleh darah.” Air mata Nyai Tanca meleleh.

“Nyai…”

“Kakang, saya tidak pernah menyesali apa yang Kakang ucapkan. Ke mana Kakang melangkah, di mana Kakang berada, di situ saya menitipkan hidup saya.”

Senopati Tanca berdiri.

“Saya salah seorang dharmaputra, dan tak akan bergeser seujung rambut pun. Nyai Tanca tetap menunduk sampai suaminya lepas dari pandangan.

Agak lama baru berdiri, menuju ke bagian belakang. Mencuci tubuh, mencuci rambut, membersihkan kuku, dan mengenakan kemben warna putih dengan rambut terurai.

Hanya asap dupa yang menemani. Hanya puji dan doa yang menyertai.

Hanya persatuan rasa suami-istri yang berhubungan, mencoba menemukan satu arti.

Percakapan Rasa Ibu

PERMAISURI INDRESWARI sengaja berdiam lama di kamar Praba Raga Karana, sehingga Raja Jayanegara yang tak sabar menunggu terpaksa menemui.

Keduanya tidak berpandangan.

Raja Jayanegara berada di sisi pembaringan Praba Raga Karana, sementara Permaisuri Indreswari duduk di bawah.

Tak ada siapa-siapa selain mereka berdua. “Praba akan segera sembuh, Putraku Raja….” “Ibu mau menyebut namanya?”

“Kalau itu sudah menjadi kemauan Putraku Raja, siapa yang bisa menghalangi? “Kalau itu menjadi kebahagiaan putraku, apa seorang ibu tega membebani? “Seorang ibu tetap seorang ibu. Tak bisa berubah.”

Raja Jayanegara tak terpengaruh oleh kalimat yang digetarkan dengan perasaan penuh. Ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya.

“Praba akan kembali sehat?” “Ibu percaya kemurahan Dewa. “Sepenuhnya.”

“Cukup.

“Ibu mau kembali ke kamar?” “Ibu akan ke Simping.”

Raja Jayanegara hanya menggerakkan alisnya.

Permaisuri Indreswari merasa terpukul ulu hatinya. Merasa tercekik lehernya. Merasa terbanting ke tanah berlumpur.

Pilihan untuk mengikuti Baginda ke Simping adalah pilihan yang paling hina, paling menyakitkan hatinya.

Betapa tidak.

Di saat Baginda menyingkir, atau tersingkir ke Simping, saat itu ia memilih berada di Keraton.

Sehingga semua penilaian buruk tertuju ke arahnya.

Itu semua diterima dengan lapang dada. Demi putranya.

Demi terwujudnya impian dan kenyataan dari doa-doanya.

Tapi kemudian dirinya dicampakkan. Putranya yang dikasihi, tumpuan segala puji, tidak menghendaki.

Itu semua diterima dengan tabah. Demi putranya.

Demi kelangsungan kejayaan putranya.

Baginya, apa yang dilakukan putranya adalah sesuatu yang berada dalam batas-batas kewajaran. Batas-batas yang dimungkinkan bagi seorang raja.

Hatinya, hati seorang ibu, masih bisa menerima. Biarpun terluka.

Biarpun tersisihkan.

Akan tetapi kemudian merasa sia-sia. Merasa bahwa dirinya tak bisa berbuat apa-apa setitik

pun.

Itulah sebabnya diputuskan untuk menuju Simping. Menuju ke tempat di mana dirinya akan

menerima perlakuan yang tidak menyenangkan, di mana dirinya akan menerima kehinaan yang nista. Sebagai permaisuri yang tak bekti, tak setia, tak mempunyai harga.

Tapi barangkali itu masih lebih berarti daripada di Keraton.

Dan sungguh luar biasa! Pilihan yang begitu menyedihkan, tak membuat putranya bereaksi sedikit pun. Tak membuat putranya bertanya kenapa!

Batas kasih seorang ibu telah habis. Telas, tuntas.

“Putraku Raja, Ibu minta izin….” Raja Jayanegara mengangguk.

“Segala keperluan Ibu akan tersedia.” Rasa sakit yang makin tak tertahankan.

Kenapa justru soal keperluan, soal prajurit yang mengantar, emas-berlian sebagai bekal yang dipersoalkan?

“Putraku Raja.

“Ibu berangkat segera. Biarlah Tunggadewi dan Rajadewi menemani Ibu….” Raja Jayanegara terbatuk.

Tangannya masih mengelus Praba Raga Karana. “Saya tahu ke mana Ibu bersabda.

“Bagi saya Tunggadewi berada di mana pun tak ada gunanya.” “Putraku Raja.

“Jadi benar apa yang Ibu dengar?” “Apa yang Ibu dengar?”

“Bahwa Tunggadewi, saudaramu sendiri…” “Apa bedanya?”

Permaisuri Indreswari benar-benar merasa tercekik. Pandangannya membelalak, napasnya mengeluarkan bunyi sebelum tubuhnya jatuh.

Sesaat sebelum jatuh pingsan, serasa selaksa matahari bertabrakan di depan matanya.

Menyilaukan, membutakan, mematikan seluruh rasa.

Terutama sekali rasa seorang ibu.

Terobek, compang-camping, leleh, dan lebur berdebu! Tak tersisa.

Hatinya tak kuat menahan semua kenyataan yang paling dicemaskan. Kenyataan yang oleh putranya dikatakan “apa bedanya?”. Betapa ajaibnya. Bisa terjadi hal semacam itu.

Betapa telah terputusnya hubungan rasa ibu dengan putranya selama ini.

Segala apa bisa dan boleh terjadi. Beringin utama ditumbangkan, payung kebesaran dipasang di alun-alun, semua perawan dibawa ke Keraton.

Semua itu masih bisa diterima.

Akan tetapi, akan tetapi, akan tetapi, bukan Tunggadewi atau bahkan juga Rajadewi.

Karena dalam hubungan ini rasa yang bertahan dan hidup adalah rasa ibu. Rasa sayang yang tak terhingga, yang paling tulus. Tetapi ternyata, ternyata sia-sia.

Itu sebabnya tubuh Permaisuri Indreswari tak kuasa menahan beban hantaman kenyataan.

Tubuhnya digotong ke luar, dirawat dengan sangat teliti, ditunggui dengan doa yang masih ada.

Namun Permaisuri Indreswari seperti tak merasakan semua ini.

Di jagat ini, wanita yang paling hina dan sengsara, yang dikutuk semua Dewa, adalah tubuhku ini. Bukan Praba Raga Karana, bukan Rajapatni, bukan Nyai Demang, bukan Ratu Ayu, bukan Tunggadewi.

Tetapi aku. Aku.

Akulah wanita itu. Karena aku yang melahirkan putraku.

Dewa segala Dewa, masihkah tersisa pengampunan bagiku, bagi putraku? Dewa segala Dewa, apa yang masih bisa…

Suara batin Permaisuri Indreswari, suara batin seorang ibu, tak selesai. Tak ada lagi kekuatan untuk meneruskan.

Betul-betul habis gusis.

Bahkan kekuatan untuk menghentikan napasnya sendiri tak ada lagi.

Sementara Raja Jayanegara tak merasakan rasa yang dimiliki ibunya. Raja Jayanegara menunggui di samping Praba Raga Karana, mengelus dahi, memandang dengan dendam dan kecemasan.

“Praba, Praba…

“Apa keinginanmu? Apa maumu?

“Katakan sekarang ini juga. Isyaratkan. Ingsun bisa berbuat apa saja bagimu, Praba. “Tutupkan kelopak matamu, jika kamu mendengar apa yang kukatakan.

“Tutup sebentar, Praba, sebagai isyarat….” Tak ada reaksi.

Mata Praba Raga Karana terbuka dan kosong. “Kamu ingin aku pergi dari kamar ini?

“Tutup matamu sebentar jika ya jawabnya.” Tetap menatap, terbuka.

“Kamu ingin Keraton ini diratakan dengan tanah? “Kalau itu keinginanmu, isyaratkan.

“Kalau tidak, isyaratkan dengan menutup.” Tak ada reaksi.

“Jadi kamu ingin Keraton ini rata dengan tanah?” Mata tetap terbuka. Tanpa rasa.

Raja Jayanegara menyandarkan tubuhnya ke dinding. Memandang sekeliling. Mendadak bangkit.

Meninggalkan kamar Praba Raga Karana. Bergegas. Menuju kaputren.

Sampai di depan kamar Tunggadewi, Raja Jayanegara tidak memperlambat geraknya. Kedua tangannya membuka pintu dengan paksa.

Lalu melangkah ke dalam.

Pandangannya liar. Seluruh dendam membakar dan menjalar lewat gerakan tubuh dan urat-urat di wajahnya.

Para dayang menyembah rata dengan lantai.

Napas Raja Jayanegara menyulut sampai ke seluruh sudut. “Tunggadewi, ingsun datang, sambutlah….”

Tak ada jawaban.

Raja Jayanegara berpaling ke arah prajurit kawal pribadi yang selalu menyertai. “Gantung semua yang ada di dalam kamar ini!

“Sekarang!

“Ingsun akan melihat sendiri. “Sekarang!”

Percakapan Rasa Permaisuri

PADA saat yang bersamaan, di tengah perjalanan, Rajapatni mendadak menghentikan langkahnya.

Jari-jari tangannya bergerak perlahan ke arah Gendhuk Tri dan Ratu Ayu. “Saya keliru mengambil arah.

“Adik Tri, Ratu Ayu, maafkan… Arah perjalanan saya seharusnya ke Simping.” Gendhuk Tri mengelus rambutnya.

“Apakah Gusti Permaisuri lebih mementingkan mengabdi suami daripada menyelamatkan putri- putrinya?”

Rajapatni tersenyum tipis. “Itulah jawabannya, Adik Tri.

“Pertama-tama saya adalah permaisuri Baginda. Batin saya lelah mengalami pertarungan. Letih.

Tapi tidak kalah.

“Saya telah memenangkannya.

“Pilihan saya adalah mendampingi Baginda.”

“Di saat Baginda merelakan putrinya dari pengawasan, bukankah…” “Adik Tri, yang ayu manis merak ati.

“Berat, sangat berat pilihan ini. Akan tetapi inilah yang terbaik saat ini, saat selanjutnya.

“Saya dilahirkan dan dididik untuk menjadi permaisuri. Itulah ajaran yang pertama dan satu- satunya.

“Kalau Adik Tri mau meneruskan perjalanan ke Keraton, saya silakan. Saya bisa meneruskan perjalanan sendiri.”

“Itu lebih baik,” tutur Ratu Ayu dengan suara lembut. “Terima kasih atas bantuan kalian berdua selama ini.

“Saya lebih menemukan rasa persahabatan, kekeluargaan, kewanitaan yang sesungguhnya dalam perjalanan ini.

“Terima kasih, Adik Ayu…. “Terima kasih, Ratu Ayu…. “Terima kasih….”

Rajapatni merangkapkan kedua tangannya. Gendhuk Tri mengangguk.

“Kalau itu pilihan Gusti Permaisuri, saya tak bisa menghalangi. Barangkali tekad dan sikap kepala batu ini yang dulu membuat Kakang Upasara Wulung tak pernah bisa memalingkan wajah ke arah lain. “Tetapi saya tak bisa melepaskan begitu saja.

“Sekurangnya saya akan mengantarkan sampai Simping. Setelah itu, apa pun yang terjadi, bukan urusan saya.”

Gendhuk Tri memandang ke arah Ratu Ayu. “Silakan Ratu Ayu meneruskan perjalanan.” “Kalian ini wanita-wanita yang aneh.

“Sebentar ke timur, sebentar ke barat. Sebentar gusar, sebentar menerima. “Kita ini, kaum wanita, selalu aneh.

“Juga di mata kaum kita sendiri.

“Barangkali tak perlu kita persoalkan kenapa Rajapatni memilih ke Simping. Tak akan membuahkan pengertian, tak akan mengubah pemahaman.

“Kalau ada sesuatu yang menyamakan kita, kita semua ini terpesona dan bisa mengagungkan Raja Turkana.

“Itu saja.

“Selebihnya kita jalan sendiri-sendiri.

“Dengan keanehan dan keganjilan kita, dengan hati dan rasa wanita kita masing-masing. “Untuk apa mengikuti ke Simping, kalau ada yang lebih bisa diselamatkan?

“Tapi pertanyaan itu juga tak perlu.

“Saya, permaisuri yang sesungguhnya Raja Turkana, tak mempunyai dendam dan hubungan apa pun dengan Raja Jayanegara. Bahwa Putri Tunggadewi pernah disayangi Raja Turkana itu soal lain.

“Tapi selebihnya tak ada. “Baik.

“Baik.

“Kita berpisah di sini….”

Ratu Ayu Bawah Langit merangkapkan kedua tangannya di depan dada, lalu membungkuk dalam.

Gendhuk Tri dan Rajapatni membalas bersamaan.

Sebelum Rajapatni berdiri tegak, bayangan Ratu Ayu telah lenyap.

Tinggal mereka berdua. Yang kemudian meneruskan perjalanan tanpa saling berbicara. Meskipun banyak yang menggoda untuk saling dipercakapkan.

“Adik Ayu manis merak ati.

“Barangkali ini perjalanan bersama kita yang terakhir. Setelah saya masuk ke Simping, saya tak tahu di titisan mana kita bisa bertemu lagi.

“Akan tetapi, saya bersumpah di bawah langit, disaksikan semua penghuni bumi, disaksikan semua Dewa, saya rela, ikhlas, menerima sepenuhnya Adik Ayu, Adik Tri, bergandengan dengan Kakangmas Upasara Wulung…”

Wajah Gendhuk Tri berubah.

Tak bisa ditebak apa perasaan hatinya.

Rajapatni seperti mendesis, mengutarakan pilihan kata yang merobek hatinya. “Adik Ayu, Adik Tri yang manis merak ati.

“Maaf kalau saya katakan, selama ini sayalah yang merasa memiliki Kakangmas Upasara Wulung, karena merasa Kakangmas Upasara yang paling memenangkan asmara saya.

“Rasa itu tak pernah berkurang setitik pun.

“Juga saat Kakangmas Upasara bersama Nyai Demang untuk beberapa saat. Juga saat Kakangmas Upasara melangsungkan pernikahan dengan Ratu Ayu Bawah Langit. Saat Adik Ayu Tri memujanya.

“Di atas itu semua, saya merasa saya yang tetap memiliki asmara Kakangmas yang paling tulus dan murni.

“Maaf…

“Akan tetapi selama ini saya keliru. “Keliru besar. Salah arah.

“Daya asmara yang sengaja saya simpan, saya kenang, hanya memberati Kakangmas Upasara.

Hanya mengganggu perjalanannya sebagai ksatria utama, sebagai lelananging jagat.

“Adik Ayu Tri, kamulah wanita yang bisa mendampingi Kakangmas, menyertai dan mengangkat serta merasakan kebahagiaan tanpa beban.

“Lebih dari Ratu Ayu, lebih dari saya.

“Demi Dewa, saya rila lahir-batin, ikhlas tulus lahir-batin.” Bibir Gendhuk Tri rapat.

“Gusti Permaisuri…”

“Saya tak bisa bercerita sekarang.

“Tetapi kalau ada apa-apa, di kelak kemudian hari, maukah Adik Tri mendampingi Kakangmas Upasara…?”

“Saya tak pernah mengabulkan keinginan orang lain, apalagi sesama wanita, dalam soal asmara… Kecuali kalau itu sama dengan keinginan saya sendiri.”

“Ya.

“Maukah Adik Ayu membimbing Tunggadewi?”

“Itu yang pertama akan saya lakukan, sebelum kita berbalik ke Simping.” “Ya.

“Maukah Adik Ayu Tri memaafkan saya?” “Itu yang saya tidak tahu.

“Tergantung apa yang harus dimaafkan.” Rajapatni mengangguk. “Ya.

“Ya. “Ya.” Untuk selanjutnya Rajapatni memilih berdiam. Bersemadi. Juga ketika melanjutkan perjalanan. Justru pada saat itu sebenarnya hati Gendhuk Tri terusik. Apa tujuan Permaisuri Rajapatni menyinggung-nyinggung Upasara Wulung? Adakah yang disembunyikan selama ini?

Ada kecurigaan semacam itu sejak awal. Tapi tak tahu di mana, dan sejauh mana.

Akan tetapi keikhlasan dan sumpah Rajapatni menggetarkan batin Gendhuk Tri. Sumpah seorang permaisuri, sumpah seorang wanita yang selama ini berjanji pun sulit.

Pertanyaan dalam hati Gendhuk Tri tak terjawab saat itu.

Karena begitu memasuki Desa Simping, yang segera menyambut adalah pemandangan yang mengerikan.

Pedukuhan Simping seolah menjadi rata dengan tanah. Hancur bagai disapu dengan lidi logam yang perkasa.

Segera Gendhuk Tri meneliti apakah masih ada yang bisa ditolong. Sebagian prajurit telah mati mengenaskan. Anggota tubuhnya tercerai.

Bekas-bekas yang ditinggalkan menjadi bukti jelas bahwa para prajurit berusaha mempertahankan diri dengan mati-matian hingga pengabdian yang terakhir.

Gendhuk Tri mengeluarkan suara tertahan.

Di antara mayat-mayat yang terbaring kaku, matanya mengenali salah seorang yang membuatnya bergidik.

“Paman…”

Suaranya menggeletar ketika bersujud di samping mayat yang dadanya berbekas puluhan luka.

Sebagian luka telah mengering kental.

Yang membuat Gendhuk Tri tak mengerti ialah bahwa jumlah luka di dada berjumlah belasan.

Seakan korban ditusuk berulang kali secara kasar. “Paman… Paman Wilanda….” Siung Naga Bermahkota

TUBUH Gendhuk Tri menggigil. Bahunya bergerak-gerak menahan guncangan yang menggempur batinnya.

Kematian bukan sesuatu yang luar biasa ganjil dalam perjalanan kehidupannya. Hanya saja kali ini sukmanya tergetar hebat, terguncang keras Mayat Wilanda menumbuhkan pertanyaan besar, kekesalan berat yang menggemuruh secara tiba-tiba. Wilanda. Seorang paman yang baik hati yang tidak mempunyai polah macam-macam dalam hidupnya, tidak memusuhi dan memancing permusuhan.

Rasanya seumur hidup Wilanda, seperti juga Paman Jaghana, tidak akan berbuat jahat. Juga tidak secara sengaja turut campur urusan orang lain.

Hanya dalam keadaan sangat mendesak, yang mengguncang masalah mendasar, menyebabkan mereka terjun ke gelanggang.

Apa yang sesungguhnya telah terjadi?

Bahwa Wilanda bisa sampai ke Simping, akan bisa ditelusuri. Sekurangnya bisa diperkirakan, bahwa Wilanda berusaha menahan serangan yang datang untuk melindungi Baginda.

Dan dari bekas-bekasnya, kejadiannya belum lama berlalu.

Gendhuk Tri mengakui kepekaan batin yang dimiliki Permaisuri Rajapatni yang mendadak menuju ke Simping. Kalau saja mereka berdua lebih cepat, bukan tidak mungkin akan lain jalan ceritanya.

Atau menemui nasib yang sama?

Bekas-bekas pertempuran yang hebat tidak menunjukkan bahwa telah terjadi perlawanan dalam waktu lama.

Ini berarti lawan yang menyerbu cukup sakti. Sehingga bisa memusnahkan pasukan kawal dalam waktu singkat dan serentak. Yang lebih mengejutkan, semuanya meninggalkan luka yang sama dengan yang diderita Wilanda.

Gendhuk Tri memandang sekeliling. Tak ada siapa-siapa.

Bahkan bayangan Permaisuri Rajapatni pun tak ada.

Entah sejak kapan perginya. Pikiran Gendhuk Tri terserap oleh keterkejutan menemukan Wilanda yang sudah meninggal dunia.

Ketika memandang kiri-kanan tadi, pandangannya menemukan sepasang tombak yang sengaja didirikan. Gendhuk Tri mendekat, dan segera mengenali bukan tombak yang biasa dipergunakan prajurit kawal Keraton.

Yang lebih menarik, di ujung kayu ada ukiran kecil bergambar naga merah yang seolah siap menerkam. Yang menonjol adalah ukiran siung, atau taring.

Jelas bahwa tombak itu sengaja dipajang untuk menunjukkan siapa yang datang menyerbu. Naga yang diwarnai merah?

Apakah masih ada lagi pendekar dari Tartar yang datang? Gendhuk Tri mempunyai dugaan ke arah itu. Baik karena sedikit-banyak ia mengenal simbol naga ketika mengenal Raja Segala Naga, atau karena rasa-rasanya yang sekarang mungkin melakukan pembasmian hanyalah lawan dari Tartar, Syangka, maupun tanah Hindia. Sangat mungkin sekali karena sasarannya adalah Baginda.

Kalau benar begitu, perjalanan ke arah ketenteraman Keraton masih lama.

Sejauh ini, Gendhuk Tri hanya menemukan dua kejadian ganjil. Ini yang kedua. Yang pertama adalah hadirnya tokoh yang tak dikenali asal-usulnya, yang menuliskan “ucapan selamat datang” ketika rombongan memindahkan mayat Upasara Wulung.

Sampai sekarang tokoh itu belum bisa diraba asal-usulnya.

Kini, yang lebih jelas, tokoh yang memakai simbol siung naga, yang sebagian diukir dan diberi warna merah. Warna darah, kemarahan, dendam.

Gendhuk Tri meloncat, mengitari keadaan sekitar. Sepi.

Tak ada bayangan siapa-siapa. Tidak juga Permaisuri Rajapatni. Gendhuk Tri kembali ke tempat semula, menguburkan jenazah Wilanda dengan segala hormat dan puji. Setelah itu menyeka wajahnya, mengencangkan sanggul di rambutnya.

Tak ada pilihan lain. Menuju ke arah pertarungan.

Kini bukan soal apakah hatinya berpihak kepada Baginda atau tidak. Segala perselisihan batin, besar atau kecil, terhapus dengan sendirinya.

Seperti juga Wilanda, Gendhuk Tri merasa terpanggil untuk membela kehormatan Baginda.

Tak terlalu sulit menemukan jejak-jejak yang agaknya sengaja ditinggalkan. Gendhuk Tri mengikuti dengan hati-hati, karena mengetahui bahwa si siung naga, atau siapa pun, bukan lawan yang sembarangan. Apalagi kalau dilihat caranya yang ganas dan telengas dalam menewaskan siapa yang menghalangi.

Setengah perjalanan, Gendhuk Tri berhenti.

Ia sadar keliru mengikuti jejak. Karena jejak itu makin lama makin samar, bukannya makin jelas.

Dan arahnya menuju… Kedung Amba!

Apa hubungannya dengan Gua Kencana?

Gendhuk Tri ragu. Meneruskan perjalanan ke Gua Kencana atau kembali ke Simping dan mengurut kembali jejak yang ada.

Jalan pikirannya kembali ke asal. Bahwa yang lebih penting adalah menolong Baginda. Apa pun yang terjadi di Gua Kencana, tak akan terlalu berpengaruh. Lebih banyak membuang waktu karena makin jauh dari Baginda.

Tak ada kemungkinan lain kecuali mengikuti jejak ke arah Lodaya, di susuran Kali Brantas.

Dugaannya menguat ke arah sana.

Ternyata tak keliru terlalu jauh. Sepenanak nasi ia melakukan perjalanan, bukti-bukti yang ditemukan makin banyak. Dan itu berarti jajaran mayat yang meninggal karena luka yang sama. Seperti digigit siung naga yang jumlahnya banyak sekali sekaligus.

Darah gendhuk Tri berdesir lebih kuat ketika menyaksikan bahwa korban-korban ini sebagian terbesar adalah prajurit dan senopati Keraton. Sebagian lagi para ksatria.

“Yayi, Adik, Gendhuk Tri…”

34

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Gendhuk Tri menoleh ke arah datangnya suara.

Tak salah lihat. Yang berada di depannya memang Pangeran Anom! Di sebelahnya berdiri Senopati Pangsa dan Senopati Banyak, dua dari tujuh dharmaputra.

“Yayi, Adik Tri, kamu datang juga akhirnya….”

Nada suaranya mengandung harapan yang besar, akan tetapi sekaligus juga keputusasaan. Gendhuk Tri menenangkan hatinya. Ia maju selangkah, menunduk hormat.

“Ketiwasan, Adik Tri….

“Tak ada lagi yang tersisa….”

Pangeran Anom maju terhuyung-huyung. Tiga langkah tubuhnya jatuh terguling. Gendhuk Tri sigap meloncat maju, menyambar tubuh yang terasa mengalirkan hawa panas.

Senopati Pangsa membaringkannya di tempat yang teduh. “Biarkan saja, Pangeran Anom butuh istirahat….”

Sesungguhnya Senopati Pangsa sendiri butuh istirahat. Juga Senopati Banyak yang tubuhnya bergoyang-goyang.

Barulah kemudian Senopati Pangsa bisa menceritakan dengan sedikit runtut. Dugaan Gendhuk Tri tak terlalu keliru.

Desa Simping kedatangan dua pendekar dari negeri Tartar bersama dengan sekitar lima belas prajuritnya. Mereka menyerbu ke Gua Kencana, mengobrak-abrik isinya sebelum sampai ke Simping, langsung menjarah Baginda. Perlawanan yang diberikan tak imbang, karena dalam sekejap saja semua bisa ditewaskan tanpa kecuali. “Termasuk siapa pun yang mencoba menahan serangan tersebut.”

Dalam hati Gendhuk Tri sedikit dongkol, karena nama Wilanda tidak terang-terangan disebutkan. “Kami berusaha mempertahankan sekuat tenaga, tapi kalah.

“Rombongan Pangeran Anom yang menyusul dari Keraton juga berusaha mencegat, akan tetapi tak ada gunanya. Pasukan Tartar yang tidak seberapa jumlahnya bisa menawan Baginda, dan membawanya ke Brantas.

“Kentong titir telah dibunyikan di seluruh wilayah, sehingga tak ada gunung dan lembah yang tak mendengar adanya bahaya. Kini seluruh prajurit, seluruh senopati, seluruh ksatria sedang menuju Brantas untuk merebut Baginda.”

“Kecuali Raja.”

Senopati Pangsa mengangguk. “Kecuali Raja.

“Tapi semua sudah bergerak. Pasukan yang dipimpin Mahapatih Nambi bersama ayahandanya dan Senopati Halayudha juga menuju ke sana.

“Masih dalam perjalanan.

“Kami tak bisa melanjutkan karena tak mampu berjalan jauh. Akan tetapi sebisa kaki kami melangkah, selebar itulah kami menuju ke sana.

“Jangan hiraukan kami, berangkatlah segera!” Gendhuk Tri mengelus rambutnya.

Dadanya menyimpan udara yang tertahan.

“Sedemikian hebatnyakah ksatria Tartar sehingga semua tak ada yang mampu menahan?” “Kami malu, akan tetapi kenyataannya begitu.

“Barangkali hanya pasangan seperti kamu dengan Pangeran Anom, atau Maha Singanada, atau Upasara Wulung yang sanggup mengimbangi mereka.”

Gendhuk Tri berusaha menahan diri untuk tidak memberi komentar atau jawaban.

Kehormatan Tertambat di Perahu

BAGI Gendhuk Tri mengenang Upasara, Singanada, atau Pangeran Anom hanya meng-goreh-kan perasaannya. Tanpa menemukan pegangan yang menguatkan landasan gerak hatinya.

Karena kegelisahannya tak bisa diselesaikan dengan cepat. Semakin dipikir, semakin tenggelam, semakin terseret, tanpa tahu bagaimana menghentikannya.

Maka Gendhuk Tri segera menghapus pertimbangan batinnya. Segera memutuskan menuju ke pinggiran Brantas.

Perjalanan yang menggetarkan hati. Karena sepanjang jalan menemukan pemandangan yang memilukan. Wajah-wajah yang ditikam kecemasan, ketakutan tanpa bisa berbuat suatu apa dari beberapa prajurit dan sebagian besar masyarakat setempat yang menyempatkan diri untuk melihat langsung.

Bisa dimengerti, bisa dipahami.

Baginda tokoh pujaan, pemegang kekuasaan atas kehidupan Keraton. Kalaupun sekarang ini Baginda tidak memegang tata pemerintahan secara langsung, setitik pun tak mengurangi rasa hormat. Betapa menggetarkan, karena sekarang ini Baginda berada dalam tawanan lawan.

Lawan lama yang mempunyai dendam sejak Baginda Raja Kertanegara. Lawan yang selama ini kondang kasusra ing jagat, terkenal di seluruh jagat raya sebagai penakluk dunia. Pasukan Tartar yang pernah ditekuk habis kehormatan dan keperkasaannya oleh Sri Baginda Raja, dan yang kemudian bahkan bisa disingkirkan oleh Baginda kembali ke samudra. Lawan yang tetap ditakuti karena menimbulkan ancaman yang diakui kehebatannya.

Dan sekarang hal itu terjadi.

Sekarang kengerian itu menemukan bentuknya. Baginda, bersama para permaisuri dan beberapa pengikutnya, ditawan! Menjadi korban untuk dipersembahkan ke Keraton Tartar, di tlatah yang tanahnya menyatu dengan langit.

Kalau ini benar terjadi, apa lagi yang tersisa di Keraton ini? Kehormatan, kebanggaan, kejayaan yang didorong habis semasa Sri Baginda Raja, akan meninggalkan bekas kotor yang tak terhapus sepanjang keturunan. Maka sebelum itu terjadi, segala apa pun akan dilakukan untuk mencegahnya.

Dalam hal ini, ketakutan itu yang terasakan memadat. Justru karena usaha ke arah itu tampaknya tidak memberikan hasil sedikit pun.

jalan pikiran Gendhuk Tri tidak berbeda jauh dari apa yang berada dalam pikiran yang lain, ketika melihat jelas perahu bertiang tinggi tertambat di pinggir bengawan.

Bukan perahu yang besar sekali, akan tetapi tampak kukuh. Tiang utamanya menjulang tinggi, seakan memamerkan kemenangan yang menyentuh langit.

Di dalam perahu itulah segala kehormatan Keraton berada.

Di sekitar perahu itulah ratusan prajurit bersiap dengan senjata mengepung. Beberapa puluh yang lain berada di sungai, dengan batang kayu, rakit seadanya, bersiap menghadang kepergian perahu.

Sesuatu yang agak mustahil bisa dilakukan.

Karena dengan melihat sekilas saja terasakan, bahwa sekali perahu bertiang tinggi dengan ukiran naga di ujungnya bergerak, rakit-rakit itu akan tersapu dengan sendirinya.

Gendhuk Tri berdeham keras.

“Jangan bergerak tanpa perintah!” teriaknya keras mengatasi kebisingan suara-suara.

“Kita tidak boleh bertindak sembrono. Urus para prajurit yang terluka. Barisan yang siap berada di depan. Siapa yang menjadi pemimpin di sini?”

“Gendhuk Tri, kamu datang juga akhirnya.”

Nyai Demang bersuara keras. Tubuhnya melayang dari tengah rakit menuju ke bagian tepi.

Tubuhnya tetap molek, walau wajahnya tampak lebih pucat. “Mbakyu Demang…”

“Masih ada waktu untuk mengatur siasat. Kita pergunakan prajurit yang ada, kita harus membebaskan Baginda.”

“Begitu perahu berlalu, kita akan kehilangan buruan.” Nyai Demang mengangguk.

“Ya.”

“Aneh, kenapa mereka tak segera berangkat?”

“Aku juga berpikir demikian pada mulanya. Kalau tujuan mereka menawan dan membawa Baginda, sekarang saatnya membawa pergi. Prajurit kita masih tercerai-berai….”

“Ataukah mereka menunggu untuk mengadu ilmu?” Nyai Demang tersenyum tipis.

“Tidak, rombongan Tartar yang datang kali ini jauh berbeda dengan rombongan-rombongan sebelumnya. Berbeda, bahkan dengan rombongan Raja Segala Naga.

“Rombongan yang datang ini dipimpin langsung oleh Pangeran Hiang, salah satu putra mahkota calon pengantin Raja Tartar yang pernah menaklukkan Jepun dan tlatah Koreyea.

“Pangeran Hiang satu-satunya putra mahkota Kaisar Tartar yang berani memakai umbul-umbul, bendera tersendiri berlambang taring naga. Itu tanda kekuasaan yang akan datang, karena semua putra mahkota, semua pangeran mengikuti umbul-umbul utama. Dengan kata lain, urusannya di sini tidak tertarik untuk mengadu ilmu. Akan tetapi menjalankan tugas semata.

“Apalagi kalau belajar dari rombongan terdahulu, yang justru kalah dan gagal ketika mencoba mengadu ilmu.

“Pangeran Hiang tak akan menempuh risiko itu.” “Jadi apa lagi yang mereka tunggu?”

“Saat yang tepat.”

Gendhuk Tri mengernyitkan keningnya. “Angin.

“Sekarang belum saat yang baik. Karena kalau berangkat sekarang di samudra luas menuju Tartar, nanti badai akan menyambut.”

Gendhuk Tri mengangguk. Memuji dengan sorot matanya.

“Aku berusaha memahami dari aliran sungai sekarang ini.” “Mbakyu, berarti kita masih ada waktu untuk berusaha.” Kali ini wajah Nyai Demang berubah.

Sebagian rambut yang tergerai di kening dan pelipis tampak memberi kesan muram.

“Semua usaha telah dicoba, akan tetapi bahkan untuk mendekati perahu saja tak ada yang mampu.

“Para senopati, para dharmaputra, bahkan Pangeran Anom pun sudah mencoba. Akan tetapi semua terlempar ke sungai sebelum menyentuh dinding perahu.

“Semua prajurit di sini siap menyetor nyawa demi kehormatan Baginda. Akan tetapi agaknya hanya itu yang terjadi. Dan masih akan terjadi.”

Gendhuk Tri mengawasi sekitar.

Makin diamati, makin kuat bukti-bukti yang dikatakan Nyai Demang. “Apakah Pangeran Hiang begitu sempurna dan tak terkalahkan?” Nyai Demang berdeham.

Berjalan perlahan menuju tempat yang agak teduh. Lalu berusaha duduk. Disusul helaan napas yang panjang.

“Dalam ilmu silat, tak ada yang tak terkalahkan. Sakti bisa terbang seperti rajawali, sakti bisa berenang seperti ikan, beringas seperti kijang, akan bisa dikalahkan.

“Akan tetapi sekali ini lain.

“Adik Tri mengetahui sendiri. Kekuatan yang ada pada kita tidak seberapa.

Para prajurit pilihan yang utama justru tidak berada di tempat. Para ksatria sudah cerai-berai. “Di samping kita tak ada lagi…”

Nyai Demang tak melanjutkan.

Tangan Gendhuk Tri menggenggam tangan Nyai Demang.

Tanpa dilanjutkan pun, kalimat berikutnya pasti akan menyebut-nyebut nama Upasara Wulung. Keduanya sudah saling mengetahui dan merasakan. “Apakah rombongan Pangeran Hiang kali ini memang pasukan istimewa?” Gendhuk Tri mengalihkan pertanyaan.

“Kukira memang demikian.

“Sejauh yang aku ketahui-dan kamu pasti juga mendengar sedikit-banyak dari Naga Nareswara- nama besar Pangeran Hiang bukan nama kosong. Kalau Keraton Matahari di Jepun bisa ditaklukkan, bisa dikuasai, kita bisa mengukur kemampuannya. Ketika tlatah Koreyea juga dilindas, kita tak meragukan lagi.

“Selama ini Jepun dan Koreyea adalah wilayah yang kelewat angker bagi Tartar. Karena sumber ilmu silat kedua wilayah itu sama dengan di daratan Cina yang sekarang dikuasai Tartar.

“Kemenangan ilmu silat Tartar yang mendasarkan diri pada kekuatan dan kecerdikan menjadi sempurna. Karena setelah membuktikan mampu menguasai ilmu silat Cina yang tiada tandingannya itu, mampu pula mengalahkan permainan silat Jepun dan Koreyea. Berarti dasar-dasar ilmu silat Cina dan kembangan-nya bisa dikuasai dan dikalahkan.

“Lebih dari itu, sewaktu aku mencoba mengadakan pembicaraan, aku mengakui keunggulan mereka. Sekitar dua belas atau tiga belas pengikutnya merupakan pendekar-pendekar pilihan. Selain Pangeran Hiang dan istrinya yang berasal dari Koreyea, rombongan ini memang luar biasa hebat. Bahkan hanya dengan mengandalkan sedikit orang saja berani datang dengan tujuan besar, membuktikan kepecayaan diri yang mantap.

“Gambaran umum yang diketahui, di sana ada tiga lawan utama yang sangat sakti. Pangeran Hiang, Putri Koreyea, dan seorang yang masih belum kuketahui namanya.

“Selebihnya para prajurit atau pendekar biasa. Akan tetapi kemampuan mereka jauh di atas para senopati kita. Aku tidak tahu persis, apakah kalau melawan mereka kita berdua bisa unggul atau tidak.”

Prajurit Tua Sina

KALI ini Gendhuk Tri yang menghela napas.

“Aku tidak mengecilkan arti kita. Hanya sedikit gambaran bahwa kita berada dalam kondisi terburuk sementara lawan berada dalam kondisi puncak.”

Gendhuk Tri mengangguk. “Berapa lama kira-kira mereka menunggu angin?” “Sepekan.

“Lebih dari itu kita harus melihat arah angin dan arus sungai lagi.” “Apa yang Mbakyu rencanakan?”

Nyai Demang memandang Gendhuk Tri. “Berdoa.

“Tak ada jalan lain.”

“Apakah Baginda dan para permaisuri berada dalam keadaan baik-baik?” “Tak ada yang tahu.

“Belum ada yang bisa menyentuh perahu.” Gendhuk Tri menggenggam tangan Nyai Demang. “Sekarang kita coba.”

Gendhuk Tri langsung berdiri. Ia memberi perintah kepada prajurit agar bersiaga di pinggir dan tidak bergerak kalau tidak ada yang memerintah.

Secepat itu pula Gendhuk Tri meloncat ke tengah bengawan.

Tubuhnya melayang enteng sekali. Disusul bayangan tubuh Nyai Demang yang berkelebat. Lompatan Gendhuk Tri sampai sepertiga lebar sungai, dan dengan menotol rakit yang ada, tubuhnya mengapung kembali ke angkasa.

Menuju perahu Siung Naga! Yang sunyi.