--> -->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 21

Jilid 21

“Pusatkan tenaga di perut bawah pusar. “Yak.

“Dari situ tenaga mengalir.

“Ke mata, ke lidah, ke berahi, ke tangan, ke kuku, ke rambut. “Terasakan olehmu?”

“Ya, Eyang.”

“Tolol, jangan dengarkan dengan telinga.” “Ya….”

“Jangan jawab dengan lidah….” Kwowogen tampak mendelik.

Tubuhnya bergoyangan.

Demikian juga Mada, Senggek, dan Genter. “O-oo.

“Kalian masih terlalu hijau. “Mada, kamu dengar aku?” “Ya, Eyang.”

“Masih bisa melihatku?” “Ya, Eyang.”

“Kamu rasakan darahmu mengalir?” Tak ada jawaban.

“Mada…” “Tidak, Eyang.”

“Itulah ilmu. Itulah urip, itulah kehidupan yang sesungguhnya. Jelas?” “Belum, Eyang.”

“O-oo.”

“O-oo, Eyang.”

Jawaban terdengar bagai koor.

Halayudha yang tertelungkup merasa bahwa keempat pemuda itu mempunyai kepolosan, kejujuran yang luar biasa. Agaknya itu yang menyebabkan mereka bisa dengan cepat menerima ajaran Puspamurti atau Truwilun sepenuhnya.

Dasar-dasar yang kosong.

Kalau benar demikian, meskipun boleh dikata terlambat mempelajari ilmu, di kelak kemudian hari bisa menjadi bencana. Halayudha memaki dirinya sendiri.

Jangan kata di belakang hari, sekarang pun sudah membuat bencana! “Mada, kamu tak mendengar darahmu mengalir?”

“Tidak, Eyang.” “Senggek, kamu tidak merasa darahmu mengalir?” “Tidak, Eyang.”

“Genter, kamu tidak merasa rambutmu sedang tumbuh?” “Tidak, Eyang.”

“Itulah ajaran yang sesungguhnya.

“Ilmu penguasaan tenaga dalam perut itu harus menjadi sesuatu yang tak kamu rasakan, tak kamu dengar, tak kamu lihat, tak kamu sentuh.

“Darah mengalir, kuku dan rambut dan gigi tumbuh seolah dengan sendirinya. Itu karena daya urip. Tenaga pukulan, perlawanan, menangkis, menyerang, bertahan, semua harus menjadi seperti mengalirnya darah, tumbuhnya kuku.

“Mengerti?” “Sedikit, Eyang.”

“Berarti melatih pernapasan, melatih tenaga dalam itu tidak memerlukan waktu tertentu. Tetapi selalu begitu.

“Selalu.

“Sebagaimana kekuatan hidup itu sendiri.” “Ya, Eyang….”

“Bagus.

“Cobalah berlatih.”

Percakapan Impian

HALAYUDHA makin merasa dirinya sangat konyol.

Eyang Puspamurti sama sekali tak menghiraukannya lagi. Keempat pemuda juga langsung mengikuti petunjuk. Mengikuti cara melatih pernapasan, berulang kali.

Jangan kata memperhatikan dirinya, diri mereka sendiri tak digubris. Segala gerak dan jalan pikiran mengikuti semua kalimat Eyang Puspamurti.

“Senggek…” “Ya, Eyang….”

“Kenapa kamu masih mendengar?” “Masih, Eyang….”

“Salah. “Tolol.

“Kamu tidur?” “Ya, Eyang….”

“Tidur, ya?” “…Eyang….” “O-oo.

“Tidur yang lelap itu bermimpi. “Kamu bermimpi apa, Senggek?”

Senggek menggelepar seperti ikan yang dilemparkan ke darat. “Kamu harus tetap tidur, dan bermimpi.

“Apa mimpimu?” “…ada Eyang…” “Itu bagus. “Genter?”

“Ya, Eyang….”

“Kamu sudah mimpi…?” “Rasanya…” “Sudah?” “Sudah, Eyang.”

“Itu namanya mimpi. “Kamu sudah tidur?” “Belum, Eyang.”

“Itu ilmu.

“Bagus… bagus. Kalian semua bagus-bagus. Kwowogen bagus, Senggek bagus, Genter juga bagus.

“Mahamanusia itu menguasai hidup. “Mahamanusia itulah hidup.

“Tidur itu mengurangi hidup.

“Tadi kalian tak boleh tidur, karena akan mengurangi hidup. Bermimpilah, akan tetapi jangan biasakan dirimu tidur. Banyak perguruan mengajarkan untuk mencegah makan dan minum, banyak yang mengajarkan cegah dahar-nendra, atau mencegah atau mengurangi makan minum dan tidur.

“Yang pertama salah.

“Makan dan minum itu langkah. Seperti juga berahi. Pertanda hidup. Tak perlu dicegah. “Yang kedua setengah salah.

“Karena mengacaukan pengertian makan-minum dengan tidur. “Tahu di mana salahnya?”

“Ya, Eyang….”

“Kamu bersedia memperistrikan Halayudha?” ‘Bersedia, Eyang….”

“Aku tidak tanya kamu, Mada….” “Tetapi saya bersedia.”

“Kamu mau memperistrikan aku?” “Bersedia, Eyang….”

“O-oo.

“Kamu pikir aku mau?” “Tidak peduli, Eyang….”

Puspamurti berkejap-kejap matanya. Helaan napas terdengar keras.

“O-oo. Kamu perkasa, Mada. “Sangat ksatria.”

“Saya mengikuti petunjuk Eyang….” “Apa?”

“Saya mengikuti petunjuk Eyang.” “Itu baru betul.

“Tak boleh ragu.” “Ya, Eyang.”

“Masih ingin jadi prajurit, Mada?” “Masih, Eyang.”

“Prajurit mengabdi siapa?” “Raja.”

“Bukan aku?” “Raja.”

“Bukan Eyang?” “Raja.”

“Kamu bunuh Mahapatih kalau diperintah Raja?” “Raja.” “Bukan Keraton?” “Raja.”

“Bukan senjata?” “Raja.”

“Bukan ilmu silat?” “Raja.”

“Raja?”

“Raja.”

“Siapa rajamu?” “Raja.”

“Siapa membunuhmu?” “Raja.”

“Bukan Truwilun?” “Raja.”

Tubuh Puspamurti menggigil.

Perlahan seperti kehabisan tenaga, melemas, terduduk di antara keempat muridnya. Kepalanya menggeleng.

“Jaghana, kamu benar.

“Kidung Pamungkas adalah Kidung Paminggir yang mengakui raja di atas segalanya. Kidungan para prajurit sejati.

“Jaghana, Jaghana, apakah kebetulan kamu menemukan orang-orang seperti Mada, Senggek, Genter, dan Kwowogen ini?

“Kalau mereka menjadi prajurit, apakah bukan prajurit terbaik? “Kalau mereka prajurit terbaik, masihkah mereka manusia terbaik? “Kalau ya, apa sebenarnya mahamanusia itu ada?”

Puspamurti terbatuk keras sekali. Tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaga.

Inilah kesempatan yang ditunggu Halayudha. Jalan terbaik untuk meloloskan diri. Akan tetapi beberapa kali usahanya mengembalikan tenaga selalu sia-sia.

Halayudha menunggu. Tak ada suara.

Ia tak tahu apa yang terjadi karena tubuhnya menelungkup dan wajahnya menghadap ke tanah.

Akan tetapi mendengar napas yang teratur, bisa jadi Puspamurti tertidur kelelahan.

Sesuatu yang tak akan meragukan Halayudha andai saja Halayudha mengetahui bahwa Puspamurti baru saja dikuras tenaganya dalam pertemuan dengan Jaghana, selama beberapa hari berturut-turut.

“Eyang…” “Hmmm…” “Eyang…” “O-oo…”

Lejitan pikiran Halayudha memang selalu selangkah lebih dulu. Sewaktu usahanya mencoba membebaskan diri gagal, Halayudha menjajal dengan cara mengatur napas yang diajarkan Puspamurti kepada keempat muridnya. Akan tetapi ternyata tak juga berhasil. Karena dasar ajaran Kitab Bumi masih selalu memperhitungkan alam. Belum lepas bebas dan polos.

Kini, ketika Puspamurti membicarakan percakapan yang bisa dilakukan dalam mimpi, Halayudha menyabet kesempatan!

Menjajal.

Siapa tahu dalam keadaan setengah sadar seperti sekarang, ia bisa memperoleh cara membebaskan diri. Yang diajarkan oleh Puspamurti sendiri!

Makanya ia memanggil Eyang.

Dan menemukan jawaban. “Eyang… cahya, rasa saya terhalang.”

“Darahmu tidak mengalir seperti biasanya. Karena aku yang mengubahnya.” “Kenapa?”

“Biar saja.”

“Bukankah ajaran Eyang justru menjadikan naluri darah itu sebagai kekuatan? Kenapa Eyang justru merusakkan naluri?”

“Tidak merusak.” “Bagaimana membebaskan?” “Dicari sumbernya.

“Dari urip….”

“Jangan mau dipengaruhi, Eyang.” “Siapa kamu mengganggu mimpiku?” “Kwowogen, Eyang.”

“O-oo.”

“Eyang, jangan…”

“Terima kasih, Eyang…. Jadi tetap dimulai dengan tenaga bawah perut?” “Ya, mana lagi?”

“Eyang!”

Halayudha memusatkan perhatian dan pikiran sebisanya. Udara dihirup keras, disimpan dalam perutnya. Ditahan. Benar! Ada tenaga panas terasakan. Ada!

Laku Lindhu

SENGGEK coba mencegah agar Eyang Puspamurti tidak memberitahu Halayudha cara-cara membebaskan diri.

Akan tetapi ketika ia mencoba sadar, justru tak bisa lagi berteriak Dadanya menjadi sesak. Sebaliknya Halayudha menemukan pemecahan!

Dengan menghimpun tenaga di bawah perut, terasa ada yang bisa digerakkan. Yang pertama terasa getaran di tangan. Halayudha mencoba menyalurkan ke arah tangan dan kaki.

Mental.

Malah tubuhnya bergoyangan.

Halayudha menjajal kembali.

Rasa hangat di perutnya tak bisa digerakkan, meskipun tetap hangat. “Eyang…”

“O-oo…

“Bukan begitu caranya.”

“Semua sesuai petunjuk Eyang….” “Tidak mungkin.

“Aku tak memberi petunjuk. “Itu salah.”

Gigi Halayudha gemeretak menahan geram.

Benar-benar hebat kelewat-lewat ajaran Eyang Sepuh ini. Luar biasa. Setelah mampu menciptakan rangkaian jurus penolak Kitab Bumi, masih mampu menciptakan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Sesuatu yang dasar-dasarnya pun berlainan. Benarkah?

Pertanyaan ini menggoda Halayudha. Karena kalau benar tadi disebut-sebut Jaghana yang memberi dasar pelatihan, rasanya jelas berasal dari Kitab Bumi. Jadi kalau berbeda, di mana perbedaan itu?

Benar bahwa Puspamurti belum memberitahukan caranya. Kalau tidak begitu, berarti…

“Tenaga itu sudah ada di dasar perut, Eyang….” “Nah, itu sudah bisa.”

“Tapi tak bisa digerakkan.”

“Siapa yang menyuruh menggerakkan?” “Saya tak bisa bergerak.”

“Memang tidak.

“Biar saja bergerak sendiri.”

“Cahya, rasa tak mampu menggerakkan….” “Kamu keliru, Halayudha.

“Tanggalkan laku, pendekatan, cara, sistem, yang selama ini kamu pergunakan. Masing-masing mempunyai laku yang berbeda. Sama mengumpulkan tenaga, tetapi tak bisa sama menggunakan. Semakin kamu paksakan, akan semakin merusak cara yang telah kamu miliki.

“Tangan bisa memainkan keris, pedang, kantar, tombak, karena sebenarnya sama.

“Kaki bisa menendang, meloncat, menekuk, menyamping, menggunting, karena sebenarnya gerakan itu sama.

“Tangan bisa memainkan peranan kaki. Kaki bisa memainkan peranan tangan. Karena gerakan itu sama dan bisa dipelajari.

“Akan tetapi laku untuk memperoleh itu tidak sama. Kidungan mahamanusia memang berbeda.” “Saya mulai menangkap apa maksud Eyang.”

“Kalau Upasara Wulung bisa mengambil tenaga dalam simpanan, itu karena selama ini ia memakai laku yang diajarkan Kitab Bumi. Kalau ia memakai laku ajaran Kitab Air, mungkin hal itu tetap bisa terjadi. Meskipun barangkali cara pemanggilan kembali tenaga dalam itu sedikit berbeda, akan tetapi dasar-dasar laku-nya. sama.

“Sementara Kidung Paminggir atau Kidung Pamungkas jauh berbeda.” “Ada berapa macam laku, Eyang?”

“Mana aku tahu?

“Kamu kira aku tukang catat?” “Eyang mengalami zaman itu.” “Tapi tidak tahu.

“Yang kutahu, adalah laku yang kemudian dibakukan dalam ajaran Kitab Bumi. Baik Mpu Raganata, Kebo Berune, atau Pulangsih, semuanya mempunyai laku yang sama.

“Sampai kemudian lahir Kidung Paminggir.

“Segala macam bisa menjadi berbeda. Isinya menggegerkan karena menempatkan mahamanusia sebagai yang paling unggul. Cara mengidungkan juga lain. Sejak mengambil nada dan bersiap jauh berbeda.

“Yang menjembatani itu adalah Kidung Pamungkas. Yang bisa menerima laku dasar yang ada, dan laku yang dipakai dalam Kidung Paminggir?

“Saya tahu, Eyang. “Saya sadar.

“Bahwa ketika saya mencoba laku yang saya miliki, tak bisa dan tak berlaku. Semua gerak, pengaturan napas, tak bisa berjalan sebagaimana biasanya.

“Bumi, air, adalah bagian alam. Kodratnya adalah kodrat alam. “Sedangkan mahamanusia, kodratnya manusia.

“Sehingga ketika daya urip yang saya miliki untuk menembus cahya, rasa tak mempan.” “Memang.”

“Jadi bagaimana daya manusia itu, Eyang?” “Daya yang sama.”

“Sama dengan daya alam atau daya manusia?” “Dua-duanya, tolol. “Bukankah sudah ada Kidung Pamungkas yang menjembatani dua laku itu? “O-oo.

“Kamu belum mengerti juga?

“O-oo, ada gunanya menjadi orang yang menjadi tua.

“Halayudha, laku yang berada dalam ajaran Kitab Bumi bisa diumpamakan dengan penulisan di tanah Jawa ini. Bentuknya, gayanya, masing-masing bisa berbeda dari satu tangan dengan tangan yang lain. Tebal-tipisnya aksara tergantung tangan yang menorehkan.

“Akan tetapi selalu sama laku-nya. Dari kiri ke kanan, menggantung.

“Ini berbeda dengan laku, aksara dari tanah Tartar yang dari atas ke bawah. Atau dengan yang dari kanan ke kiri. Atau dari bawah ke atas.

“Sehingga kalau kamu membaca aksara Tartar dari kiri ke kanan, meskipun kamu mampu melahirkan kata-kata, aksara itu tak ada maknanya. Atau menjadi sangat berbeda.

“Itu sebabnya kamu bisa keok dalam seketika.

“Tapi kamu tak menduga karena merasa. Kamu merasa benar! “Tahu?

“Eyang Sepuh yang sakti itu mampu menciptakan laku yang pendekatannya jauh berbeda dari ajaran yang ada.”

“Kalau begitu, Eyang, bagaimana cara mengerahkan tenaga menurut Kidung Paminggir” “Aku sudah lupa.”

Hah!

Halayudha terguncang.

“Karena aku sudah masuk ke Kidung Pamungkas.” Nah!

Bukankah ini sama saja artinya, yang berarti dirinya bisa lolos? Kenapa hal kecil ini diributkan benar?

Meskipun berpikir begitu, Halayudha tidak mengutarakan. Bukan karena takut Eyang Puspamurti gusar-hal yang tak akan terjadi. Tapi kuatir kalau penjelasannya panjang-lebar. Yang berarti menunda kebebasannya.

“Bagaimana laku dalam Kidung Pamungkas?’ “Kamu sendiri pasti mengetahui.”

“Saya… saya… tak bisa melihat.” “Memang tidak.

“Karena Laku Lindhu tidak diterangkan secara gamblang. Harus bisa ditangkap dengan mata batin. Dengan cahya, dengan rasa, dengan berahi…”

Otak Halayudha bekerja keras.

Ia cukup banyak menyelami berbagai kitab dan ajaran, sehingga baginya tak terlalu sulit memahami jenis-jenis tertentu yang baru. Untuk hal ini, Halayudha bahkan berani memuji dirinya yang bisa cepat menangkap inti ajaran.

Seperti sekarang ini.

Dengan menyebutkan Laku Lindhu, berarti yang dipakai adalah pendekatan lindhu, atau gempa bumi. Kekuatan yang dipakai untuk menerobos adalah kekuatan gempa bumi.

Sesuatu yang wajar. Sangat dekat dengan ajaran dalam Kitab Bumi. Masih ada sangkut- pautnya, karena sama penciptanya!

Dalam memecahkan kunci membuka ajaran, Halayudha lebih cepat dari siapa pun. Dan bisa langsung menjelajahkan jalan pikiran.

“Lindhu yang mana, Eyang?” “Yang mana saja.”

“Maaf, Eyang. Ada Dua Belas Gempa Bumi yang disebut-sebut dalam Kidung Pamungkas.” “Makanya, kamu tinggal melepaskan rasa, agar tenaga gempa bumi yang sesuai yang masuk. “Salah kalau kamu memaksakan diri. “Salah kalau kamu mencoba satu demi satu. Itu semua cara yang dipakai untuk ajaran Kitab Bumi.

“Nah, sekarang makin jelas. “Atau malah bingung?”

Mendadak terdengar suara Kwowogen.

“Kenapa Eyang tidak menceritakan Dua Belas Gempa Bumi itu?”

Percakapan Gempa

DALAM keadaan bebas, Halayudha pastilah sudah menghajar Kwowogen hingga hancur lebur.

Tapi juga memuji.

Dalam penilaian Halayudha, Kwowogen jauh lebih cerdik dari Senggek. Kalau Senggek berusaha memotong pembicaraan, sehingga dirinya sendiri menjadi kacau pemusatan tenaganya, Kwowogen mengalihkan ke arah lain.

Padahal tujuannya sama. Agar Eyang Puspamurti tidak segera menceritakan rahasianya, dan Halayudha tidak segera bebas!

“O-oo.

“Baik juga itu.

“Aku merasa menjadi makin pintar dan lebih dari kalian.” “Eyang…”

“Tidak, Halayudha. Aku berbicara pada murid-muridku. “O-oo.

“Dalam jagat ini ada Dua Belas Gempa Bumi. Masing-masing berbeda kekuatan dan akibat yang ditimbulkan.

“Gempa pertama ialah gempa yang menyusahkan, yang menghancurkan persediaan makanan.

Akibatnya akan terjadi bahaya kelaparan.

“Gempa kedua ialah gempa yang menghancurkan rumah. Akibatnya akan terjadi perpindahan. “Gempa ketiga, gempa yang menggerakkan ombak samudra. Akibatnya banyak perahu

tenggelam….”

“Eyang…,” teriak Halayudha dengan menirukan nada Kwowogen, “apakah itu berarti bahwa dengan Gempa pertama, tenaga yang muncul berada dari kantong nasi, atau perut bagian bawah?”

“Ya, ya….”

“Dan Gempa kedua berarti tenaga dalam yang bisa dipindahkan dari sumbernya?” “Ya.”

“Dan Gempa ketiga berarti mempergunakan tenaga untuk melawan serangan yang datang?” “Ya.”

“Berarti Halayudha bisa memakai tenaga Gempa…”

“Tapi Eyang tak usah menyebutkan dulu,” Mada memotong di tengah. Suaranya mengguntur. “Bagaimana dengan Gempa keempat, Eyang?”

“O-oo.

“Mada, tak usah teriak. Kwowogen, tak usah kuatir.

“Aku bisa mengenali nada suara Halayudha, karena dengusan napasnya berbeda. Kalaupun kuterangkan, ia belum tentu bisa. Karena bukan seperti yang dibayangkan….

“Apa?

“Gempa keempat?

“Gempa keempat adalah gempa dengan kekuatan menumbuhkan segala sesuatu dari dalam tanah. Akibatnya bisa membuat tanah subur.

“Gempa kelima, gempa yang menggoyang semua buah, bunga, daun yang berada di atas. Akibatnya tak akan ada buah yang tumbuh. Atau tak nanti lawan bisa mempergunakan tenaganya, karena sudah dirontokkan lebih dulu. “Nah, dengan penjelasan lebih lengkap begitu, sekaligus bisa diketahui inti dan kekuatannya. “Puas kamu, Halayudha?

“O-oo.

“Kamu masih berkutat dengan tenaga dalammu. “O-oo.

“Gempa keenam, gempa yang mempunyai dua sisi. Kalau terjadi siang hari berarti tenaga membunuh, kalau malam hari berarti tenaga yang mempercepat tumbuhnya padi.

“Yang luar biasa adalah jika kamu bisa menggempakan dirimu dalam siang dan malam hari. Sekali menghancurkan lawan, tenaga dalammu sendiri tumbuh. Ketepatan menangkap isyarat dan menguasai saat yang tepat akan sangat menentukan.

“Gempa ketujuh, gempa yang menghancurkan semua binatang yang bergerak. Kalau saat itu lawan dengan bergerak, apalagi menggunakan tenaga mengentengkan tubuh atau berkelit, melarikan diri, maka terkerahkannya tenaga Gempa ketujuh akan menyelesaikannya.

“Gempa kedelapan, gempa yang mempunyai dua sisi seperti Gempa keenam. Yaitu gempa siang dan malam hari. Hanya saja akibatnya sama. Membunuh.

“Sisi mana pun, tenaga membunuh yang besar yang menyalur. Dua sisi berurutan akan sangat keras akibatnya.

“Gempa kesembilan, gempa yang membenturkan dua atau lebih tenaga yang ada. Akibatnya tenaga lawan akan bentrok. Tenaga gempa ini sangat menguntungkan kalau kita dikeroyok, sehingga lawan-lawan akan saling bunuh sendiri. Kalau menghadapi lawan yang menguasai banyak ilmu akan tetapi belum terkuasai sepenuhnya, hasilnya sama bagusnya.

“Kalian tahu kenapa Halayudha begitu mudah ditelikung.

“Gempa kesepuluh, gempa yang mengacaukan kekuatan dasar lawan. Akibatnya menggoyahkan kemampuan, merusakkan kepercayaan diri.

“Gempa kesebelas, gempa yang menguras tenaga. Akibatnya lawan akan kehabisan tenaga, sehingga jurus-jurus berikutnya tak ada kekuatannya lagi.

“Gempa kedua belas adalah gempa ke dalam, gempa yang dipakai untuk kekuatan. Akibatnya kekuatan kita bisa secara leluasa kita pergunakan….

“Eyang…

Teriakan kekuatiran Kwowogen bersamaan dengan teriakan Halayudha! Kwowogen kuatir karena berpikir inilah yang ditunggu Halayudha!

Memang begitu.

Jalan pikiran Halayudha pun sama.

Sampai ke penjelasan yang ditunggu, ia mengerahkan tenaga dalamnya seperti yang dituturkan Eyang Puspamurti. Menggertak dan mengerahkan tenaga yang terkumpul.

Berhasil.

Tubuhnya yang telanjang terlontar ke atas.

Senggek yang terkejut tak bisa menguasai dirinya, sehingga tubuhnya terjengkang. Maksud hatinya ingin menahan Halayudha, akan tetapi tubuhnya tak dikuasai. Karena masih dalam pengaruh “percakapan tidur” Eyang Puspamurti.

Tubuhnya berkelojotan, sebelum akhirnya membeku. Kaku.

Mada, Genter, dan Kwowogen masih tetap menutup matanya. Demikian juga Eyang Puspamurti.

Inilah yang dilihat sekilas oleh Halayudha ketika tubuhnya melayang di udara. Sekilas.

Sekilas karena setelah itu Halayudha tak bisa melihat lagi. Tubuhnya ambruk, kedua kakinya tak kuasa menahan tubuhnya.

Sekarang keadaannya lebih runyam lagi. Karena kali ini ia terjatuh menelentang. “O-oo.

“Mada?”

“Bagus. Kamu bagus. Kesetiaan itu bagus. “Genter?” “Ya, Eyang.”

“Ketahui apa yang terjadi tapi tak usah terpengaruh. “Kwowogen?”

“Ya, Eyang.”

32

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

“Penguasaanmu paling sempurna.

“Lebih dari Mada yang memang tak bergoyang, lebih dari Genter, tapi kamu bisa menguasai diri. “Bagus, bagus.

“Ketiganya bagus sekali. “O-oo.

“Senggek menyusul sahabatnya. “Sayang….”

Suaranya mengandung nada sedih. Sesuatu yang tak terdengar selama pembicaraan berlangsung.

“Tapi tak apa.

“Sampai kapan pun, Halayudha tetap terpenjara oleh kekuatannya sendiri. “Tahu kamu?”

“Bunuh saja saya, Eyang.” “Sekarang ini aku masih tidur. “O-oo.

“Apa yang akan kamu tanyakan, Mada?”

“Apakah Dua Belas Gempa Bumi itu bisa disamakan dengan Dua Belas Jurus Nujum Bintang yang kesohor itu?”

“Bisa.

“Tapi juga tidak.

Dua Belas Jurus Nujum Bintang, lebih menyandarkan kekuatannya kepada bintang di langit, kepada alam. Pengaturan tenaga dalam pada Lintang Sapi Gumarang berbeda dengan tenaga dalam pada Lintang Tagih, karena musim Kasa berbeda usianya dengan musim Karo.

“Begitu seterusnya.

“Sedangkan Dua Belas Gempa Bumi tidak mengenal musim, tidak terpengaruh karena kekuatannya pada manusia itu sendiri. Pada Urip. Pada Sejatining Urip, inti kehidupan yang paling sejati. Tanda-tanda itu sudah bisa dimengerti sejak awal, sehingga tak ada dan tak perlu penamaan jurus-jurusnya. Hanya dibedakan Gempa kesatu, Gempa kedua, dan seterusnya.

“Yang lebih penting…”

Mendadak suara Eyang Puspamurti terhenti.

Ajaran Kidung Pamungkas

SAAT itu Mada telah tersadar. Demikian juga Genter dan Kwowogen yang terputus “tidurnya” kala Eyang Puspamurti menghentikan hubungan batin.

Mada membelalak.

Karena sesaat ia sadar, ia melihat bahwa tubuh Halayudha bergerak, bangkit, dan bersiaga. Pada saat yang sama, Eyang Puspamurti sudah berdiri gagah.

Sekejap.

Karena kemudian Eyang Puspamurti terhuyung-huyung. Tangannya meraup kain Halayudha yang sejak tadi tergeletak. “Pergilah!

“Aku pantas membunuhmu karena kamu sudah membunuh dua muridku. “Tapi pergilah, Halayudha!

“Semoga Dewa bisa kamu hancurkan.” Wajah Halayudha tampak pias.

Kain dirangkupkan ke tubuhnya, dan dalam satu loncatan saja, tubuhnya menghilang. Eyang Puspamurti masih tertegun.

Menghela napas. “O-oo. “Ladlahom!

“Itulah semuanya….”

Lalu diulangi lagi menghela napas. Terdiam agak lama.

Baru kemudian melambaikan tangan, pelan. “Mari kita berlatih lagi.

“Jangan pikirkan yang lain.”

“Saya harus merawat dua sahabat saya, Eyang….” ‘Itu juga baik, Mada.”

“Kenapa Eyang membebaskan Halayudha?” “Itu yang terbaik.

“Kamu akan menemukan jawabannya nanti. Kalau nasibmu baik.” “Eyang…”

“Tak ada hubungannya dengan ajaran Kidung Pamungkas. “O-oo.

“Kita tak bicara itu lagi.

“Memang, Halayudha menemukan pemecahan dengan baik. Aku mengatakan bahwa kekuatan lindhu dalam tubuh tidaklah digerakkan, akan tetapi dibiarkan bergerak sendiri.

“Inilah inti ajaran Kidung Pamungkas. “Inilah bedanya dengan ajaran yang lain.

“Laku Lindhu yang dua belas macam, semuanya tak perlu dipilih dan digerakkan, seperti kita menggerakkan pedang atau tangan. Yang menggerakkan adalah sumber tenaga urip, yang menjalar ke cahya, rasa, berahi, atau mana saja.

“Semakin kalian mendalami dan hanyut, semakin kalian mengerti, merasai, dan menyatu. “Aku bisa membunuhnya.

“Tapi tak perlu. “Lebih dari cukup.”

Dengan tertatih-tatih, Eyang Puspamurti berjalan. Kwowogen menggandeng setengah memanggul.

“Berlatihlah.

“Aku akan menunggui, sambil berpacu dengan usiaku. “Kalian harus segera menjadi prajurit.”

Mereka menuju ke bawah pepohonan, dan kemudian beristirahat. Mada mencari buah-buahan, sementara Genter menjaga. Begitu seterusnya saling ganti, menjaga, dan berlatih.

Eyang Puspamurti terus melantunkan kidungan, mengajak berlatih tanpa mengenal lelah.

Sehingga sampai bulan purnama, Mada dan kedua temannya jatuh kelelahan tanpa pernah bangun hingga sore hari berikutnya.

Akan tetapi Eyang Puspamurti tak berhenti. Terus-menerus berkidung, terus memberikan wejangan.

“Tenaga untuk hidup itu awal dan akhirnya. “Dalam keadaan yang bagaimana pun, menghadapi apa pun. Lawan boleh perkasa, boleh hebat, tetapi tak perlu takut sebelum bertarung.

“Tenaga untuk hidup, namanya juga urip.

“Semakin banyak godaan, semakin banyak tantangan, semakin sempurna keberadaan daya hidup.

“Dalam ilmu silat, itu yang dinamai tenaga dalam. Tenaga yang berada di dalam tubuh. Yang tak kelihatan. Yang bisa dimuntahkan, ditahan, dipakai untuk kesehatan dan kedigdayaan.

“Jangan biarkan rasa yang menguasai dirimu. Jangan biarkan tanganmu bergerak karena ingin memukul. Biarkanlah ia bergerak sendiri untuk memukul atau menangkis.

“Sekali kamu bergerak, jangan pernah ditarik mundur.

“Sekali kamu mengambil keputusan, jangan ragu, jangan menyesal. Apa pun yang terjadi. “Karena kalah dan menang bukan perhitungan terakhir.

“Risiko itulah tanggung jawab. “Itulah sifat ksatria.

“Itulah mahamanusia.”

Didesaki ajaran yang begitu berat, ketiga pemuda itu mau tak mau terpaksa terus mengikuti.

Sedapat mungkin ditelan, diikuti tanpa pernah bertanya.

Kalaupun ada yang mengganjal dalam hati Kwowogen, itu adalah masalah dilepaskannya Halayudha. Begitu saja kesempatan pergi diberikan, ketika dendam sudah melampaui batas.

“Itu keberatanmu, Kwowogen?” “Ya, Eyang.”

“Nalarmu paling jalan.

“Beda dengan Mada yang bisa menyatukan pikiran dan menjadi ketegasan. Lain dengan Genter yang membungkam diam.

“Kenapa kamu tanyakan?” “Apakah itu bagian ajaran Eyang?” “Tidak.”

“Apakah tidak layak membunuh Halayudha?” “Tidak olehku.

“Kalian belum bisa memenangkan. Sekarang, atau seterusnya.” “Kalau tidak ada kaitan dengan ajaran, kenapa Eyang lepaskan?”

“Karena dosa yang ditanggung Halayudha sudah sedemikian besarnya. Dewa telah menghukum secara nista.”

“Saya tak mengerti, Eyang.”

“Kamu tak akan mengerti penderitaan Halayudha.

“Kalau kamu punya kaki, kamu masih bisa membayangkan penderitaan mereka yang buntung kakinya. Kalau kamu punya mata, kamu masih bisa merasakan penderitaan orang buta.

“Tapi kamu tak bisa membayangkan penderitaan orang yang tidak memiliki kejantanan. Yang tak memiliki kelelakian.

“O-oo.

“Itu penderitaan yang berat.

“Tak akan pernah kamu bayangkan.” Kwowogen menunduk.

“Aku baru menyadari ketika Halayudha berdiri. Aku menyadari ada yang hilang dari bagian tubuhnya. Hilang secara mengerikan kalau dilihat dari bekas-bekas luka yang ditinggalkan.

“Pernahkah kalian membayangkan itu?

“Apakah tak cukup rasa iba terhadap penderitaannya?”

“Apakah membunuhnya tak cukup untuk melenyapkan penderitaannya?” “Tidak.

“Daya hidupnya besar. “Dia berbakat mewarisi ajaran Pamungkas. Paling alami menerima ajaran luhur ini. “Ingatlah baik-baik.

“Suatu hari kelak, kalian akan menjadi prajurit. Dengan bekal kesetiaan dan pengabdian, kalian akan menduduki pangkat dan derajat yang terpandang. Aku bisa bercerita karena aku pernah menjadi senopati.

“Suatu hari kelak, kalian akan menemui banyak sekali tantangan yang menghancurkan. Baik karena pangkat dan derajat kalian melorot, baik karena kalian disalahkan untuk sesuatu yang tidak kalian lakukan.

“Apa pun juga, kalian harus tetap memiliki semangat hidup. “Kalian harus tetap hidup, tetap urip.

“Aku tetap hidup, sampai seterusnya.

“Apa pun penderitaan dan kebahagiaan yang kualami. “Tahu hal itu, Kwowogen?”

“Ya, Eyang.”

“Mada?”

“Ya, Eyang.”

“Genter?”

“Ya, Eyang.”

“Biarkan daya hidup kalian yang menjawab. “O-oo.

“Juga kalau raja kalian memutuskan hal lain. Kalau raja kalian memerintahkan kalian bertiga berbunuhan, kalian harus mempertahankan hidup. Juga kalau aku memerintahkan kalian berlatih sepenuhnya, itu yang kalian lakukan.

“O-oo.

“Jangan mati untuk alasan apa pun, baik kemuliaan atau tempat di sisi Dewa. “O-oo.

“Hiduplah selalu. “Seperti aku.”

Kembali Eyang Puspamurti seperti memaksakan diri melatih, menyempurnakan latihan pernapasan, pukulan, gerakan tangan dan kaki.

Perintah Panglong

PERJALANAN Halayudha kembali ke Keraton tidak sangat tergesa, bahkan terkadang berlambat- lambat. Di wajahnya tak tersimpan perasaan duka atau ada sesuatu yang memberati.

Dengan satu atau dua tarikan napas, Halayudha merasa kembali ke dunianya, jagatnya, sebagai senopati yang tenggelam dalam menjalankan baktinya.

Langkahnya tetap lebar ketika memasuki halaman Keraton. Beberapa prajurit menyembah hormat. Begitu juga ketika masuk ke Keraton.

Perasaan yang tajam membuatnya cepat sadar bahwa para prajurit kawal istana sedang membicarakan sesuatu dan mendadak terdiam ketika dirinya lewat.

Halayudha berhenti, memandang lima prajurit yang tetap menyembah dan menunduk. “Apa yang kalian bicarakan?”

“Maaf beribu maaf, Senopati yang mulia, hamba memang bermulut lancang….” “Kenapa kamu bicarakan segala macam payung Keraton?”

Salah seorang memberanikan diri berbicara dengan nada yang sangat menghormat.

“Hamba menjalankan perintah Raja, bahwa segala macam payung kebesaran Keraton agar dipajang di alun-alun….”

“Raja yang memerintahkan?” “Inggih, Senopati yang mulia….” “Hmmm, jadi kalian sudah berani lancang membicarakan perintah Raja? Kalian tahu bahwa hukuman mati pun masih terlalu ringan?”

“Hamba, hamba, hamba…” “Hamba apa?”

“Hamba kuatir, sebab perintah Raja sesembahan sekalian manusia adalah perintah panglong…” Jalan pikiran Halayudha menangkap dua pengertian sekaligus.

Yang pertama, adalah pengertian perintah panglong. Panglong adalah istilah untuk menyebut waktu pagi setelah matahari terbit, dan sebelum lingsir wetan, atau sebelum beranjak tinggi dari timur.

Saat-saat yang dianggap mempunyai arti kurang baik untuk memutuskan sesuatu. Selama ini memang jarang atau boleh dikatakan tidak pernah seorang raja menjatuhkan putusan pada saat panglong.

Bahwa keputusan seorang raja bisa terjadi saat sirep, lewat tengah malam menjelang dini hari, bukan sesuatu yang mustahil. Malah sebaliknya dianggap sangat tepat. Sampai dengan raina, atau matahari bersinar.

Tetapi tidak di antara matahari sudah sepenggalah namun belum tepat di atas.

Halayudha bisa mengerti, keraguan itu menjadi tebal karena merasa perintah itu tidak pada tempatnya.

Memasang payung kebesaran di alun-alun! Sesuatu yang bertolak belakang.

Payung kebesaran yang sesungguhnya tetap tertutup, dan selalu di samping Raja. Kalau Raja meninggalkan tempat, barulah payung itu menyertai.

Maka termasuk aneh, kalau payung itu dibuka di lapangan.

Yang kedua, Halayudha menemukan bahwa Raja masih tetap sama dengan ketika ditinggalkan.

Tak mampu menguasai dirinya.

Guncangan batinnya belum juga mereda. Kalau perlu, bangunan Keraton ini diratakan. “Di mana Praba Raga Karana?”

“Berada di kamar prameswaren, Senopati….” “Di kamar permaisuri?

“Apakah Raja masuk ke sana?” “Putri Praba mengunci dari dalam….” Halayudha mengangguk.

Tarikan napasnya menyebabkan udara tertahan di dadanya. Otaknya cepat berjalan.

“Aku ampuni kalian, sekali ini….”

Kelimanya menyembah seakan tak pernah bangkit lagi. “Cukup.

“Selain perintah membongkar pohon beringin, dan ingin menggelar payung kebesaran, apa lagi perintah Raja?”

“Menghancurkan taman di kaputren….” “Apa lagi?”

“Semua anak perawan harap dikumpulkan di kaputren….” “Itu saja?

“Bagaimana dengan tata keprajuritan? Apakah Raja menyebut namaku?” “Mohon beribu maaf, telinga hamba tidak mendengar….”

“Sama sekali?” Tak ada jawaban.

Itu artinya mengiya.

“Ada disebut-sebut nama Mahapatih Nambi?” “Maaf, Senopati yang mulia. “Raja meminta Mahapatih Nambi sowan ke Keraton dengan membawa semua anak perawan dari Lumajang….”

Tangan Halayudha terkepal.

Baginya, yang terakhir ini lebih bergema. Jika sampai Mahapatih Nambi ditarik kembali ke pusat, Keraton akan berada dalam pengawasannya lagi.

Berarti keinginannya menduduki jabatan yang sudah di depan mata bisa urung. Lebih buruk lagi, nasibnya bisa berbalik!

“Panglong…”

Halayudha mendesis, sambil melangkah ke dalam.

Kini tak ada alasan lain untuk menunda. Jalan pikirannya sudah menemukan jalan keluar. Ia harus melakukan secepatnya.

Langkah Halayudha berputar menuju gedung prameswaren, tempat para permaisuri-atau juga calon permaisuri.

Tak terlalu sulit baginya mengendap masuk, melewati barisan penjagaan. Bahkan di depan pintu yang dikawal ketat, Halayudha hanya memerlukan satu loncatan pendek sambil mengembangkan kedua tangannya.

Dua prajurit yang berjaga tak sadar apa yang menyebabkan mereka tertidur seketika.

Pintu yang tertutup dari dalam, bukan sesuatu yang sulit bagi Halayudha untuk mendobrak dan menarik, tanpa banyak menimbulkan suara.

Halayudha melangkah ke dalam. Ke dalam sumber permasalahan.

Unggul atau hancur. Hanya itu kemungkinannya sekarang ini.

Jika Raja mengetahui dirinya masuk ke kamar Praba Raga Karana, langit pun akan diruntuhkan dan bumi akan digali untuk menghukumnya. Dosa yang tak akan diampuni sampai turunan terakhir!

Halayudha sadar akan hal itu.

Akan tetapi otaknya cukup cerdik. Bahwa saat-saat di mana Raja masih murka, pastilah tak akan berkunjung ke kamar peraduan. Hatinya masih panas.

Sesuatu yang menurut Halayudha justru disebabkan oleh Praba Raga Karana. Yang mendadak membuat Raja bingung. Segala macam tindakannya yang serba aneh, serba berlawanan dengan akal dan rasa sehat, karena sedang kisruh, karena tak tahu harus berbuat apa terhadap Praba Raga Karana.

Kini saatnya!

Halayudha melangkah masuk. Seluruh kemampuan indrianya dikerahkan untuk mencari tahu di mana Praba Raga Karana berada, begitu ia masuk dan menutup pintu.

Begitu perasaannya mengatakan di mana Praba berada, tangan kanannya terulur. Langsung jakun Praba terjepit di antara jempol dan telunjuknya.

Praba Raga Karana tak mungkin melawan, pun andai tahu bahwa akan ada orang yang berani mendobrak masuk ke kamarnya. Kemampuannya jauh di bawah Halayudha yang sedang dalam siaga penuh.

Apalagi saat itu sebenarnya Praba sedang pati geni, tidak melakukan gerak, tidak makan, tidak minum, tidak melihat cahaya. Sedang bergumul dengan batinnya. Sedang melarutkan diri dalam pertanyaan yang paling dalam untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dirinya.

Sejak Raja mencampakkan dan meninggalkan dalam keadaan tanpa busana dan basah, Praba merasa tanah yang diinjak bagai mega yang melambungkan tubuh dan sukmanya.

Tak ada pegangan. Tak ada kekuatan.

Dalam saat terguncang itulah ia kembali ke akar keprihatinannya. Masuk ke kamar dan bertapa. Menanyakan kepada Dewa Yang Maha dewa.

Apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan dirinya.

Dan bukan Dewa yang memberi jawaban, melainkan Halayudha.

Mata Praba yang mendelik, hanya mendapat jawaban senyuman tipis, dingin, dari Halayudha. “Aku tahu kamu membenciku dan menghalangiku menjadi mahapatih. “Jempolku jijik menyentuh kulitmu.

“Praba, tahukah kamu bahwa aku merasa menang melihat wajahmu yang murka, batinmu yang mendidih, perutmu yang bergolak mau muntah?

“Sekarang kamu puaskan mencaci dalam hati, dalam batinmu. Sekarang dan seterusnya.”

Jari-jari tangan Halayudha bergerak bersama, kanan dan kiri. Sangat cepat. Di kepala, leher, dada, perut, dan di bagian belakang.

Halayudha tersenyum. Matanya bersinar.

Tujuh Sumbatan Hidup

HALAYUDHA meregangkan kedua tangannya. Melepaskan semua kekesalan, beban yang ada di seluruh pori-pori tubuhnya.

Sementara Praba Raga Karana masih bersimpuh di bawah. “Semestinya aku melakukan sejak dulu.

“Atau paling baik justru sekarang ini, Praba. Sehingga aku mengetahui bahwa kamu membenciku?

“Tidak, aku tidak menyalahkanmu kenapa kamu membenciku. Kamu harus menyalahkan dirimu sendiri karena aku bisa lebih sakti darimu.

“Kamu bisa mendengar, tapi kamu tak bisa komentar. Kamu bisa melihat, tapi untuk apa, kalau menggeliat saja tak mampu?

“Anggaplah ini nasib buruk.” Halayudha berbalik.

Tapi langkahnya terhenti. Berbalik lagi.

Mendekat ke Praba Raga Karana. Seakan bersikap lembut, ia duduk di dekatnya dan berbisik.

“Aku ingin pamer padamu, dan kamu bisa mengerti kenapa kamu tak bisa bergerak, tak bisa mengeluh, tak bisa merintih atau tersenyum.

“Tak ada yang mengetahui bahwa aku telah menyumbat tujuh jalan hidupmu.

“Tujuh jalan darahmu yang terutama, pusat kegiatan dan gerak hidupmu sudah kututup, dan tak ada yang mengetahui.

“Dengar baik-baik, Praba.

“Ketika aku menyentuh atas sanggulmu, aku mematikan aliran darah sahasraya, sehingga darah yang mengalir dalam otakmu tak memberikan kekuatan untuk berteriak. Untuk mematikan gerak mata seperti yang kamu kehendaki untuk memberikan sandi, kode untuk menceritakan keadaanmu, aku telah menotok jalan darah di antara alis, yaitu ayana.

“Jalan darah di tenggorokan pun telah kumatikan, wisudi tak mampu membuatmu menelan jampi dan obat-obatan. Jalur di pulung hati, anahata, serta di pusar, manipura, membuatmu tak akan bisa bergerak, bahkan jika ada kalajengking berjalan di tubuhmu.

“Aku tidak minta maaf kalau aku menotok jalan hidup adara, sedikit di atas lubang tubuhmu yang paling bawah, serta menotok jalan darah adistara, antara pusar dan kewanitaanmu.

“Maaf, aku tidak minta maaf.

“Karena ini untuk menjaga agar nanti kalau Raja memaksamu melakukan pergumulan asmara, tubuhmu tak akan memberi rasa apa-apa. Menjadi dingin beku, seumpama batang pisang yang terendam air.

“Praba, aku tahu kamu akan memakiku dengan kata-kata yang paling kotor. “Meskipun bibirmu tak bergerak, matamu tak bisa mendelik, kamu menistaiku.

“Itulah yang membuatku bahagia, menang, dan menikmati sampai puas setiap kali mengingatnya.

“Aku lebih puas bisa menceritakan padamu.

“Kamu bisa mendengar, bisa mengingat, tapi tak bisa apa-apa. “Di jagat ini hanya kita berdua yang tahu apa sebenarnya yang terjadi. Inilah lakon yang sempurna….”

Halayudha berdiri. Tersenyum.

“Tanca yang paling mumpuni tak akan bisa mengerti apa yang terjadi padamu. Kalau bukan aku yang melakukan, mungkin aku sendiri tak mengerti.

“Praba, kamu melicinkan kakiku yang kotor ini, membasuh segala nista yang menempel, sehingga aku bisa melangkah dengan gagah ksatria.”

Halayudha memuji dirinya.

Apa yang dikatakan memang pujian yang bisa diterima. Keunggulannya menyumbat jalan hidup, pada tujuh tempat yang berbeda untuk mematikan rasa dan kepekaan tertentu, tak bakal diimbangi oleh yang lain.

Apalagi kali ini perpaduan bagian yang disumbat tak akan diperhitungkan.

Menyumbat jalan hidup untuk membuat kaku sekujur tubuh bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi hanya bagian-bagian tertentu, itu memerlukan penguasaan dan latihan.

Itulah sebabnya Halayudha memuji dirinya sendiri.

Setelah puas menikmati keunggulannya, Halayudha melangkah ke luar dan menutup kembali pintu. Mengusap prajurit kawal, yang akan segera terbebas dari pengaruh sirep dalam beberapa saat mendatang. Tanpa mengetahui apa yang terjadi!

Barulah kemudian Halayudha memberanikan diri menghadap Raja. “Aku tak mau menerima,” jawab Raja kepada prajurit yang melapor.

“Senopati Halayudha ingin ngunjuk atur melapor dengan hormat, mengenai Gusti Ayu Praba Raga Karana….”

“Suruh segera menghadap….”

Halayudha menikmati kepuasan lanjutan. Seakan ia bisa melihat dirinya sendiri sedang melaporkan dengan fasih, dengan kalimat merendah, seakan semua gerakannya sudah dilatih sempurna sebelumnya.

Bahwa bukan tidak mungkin kekasih Raja yang mulia, Praba Raga Karana, sedang menderita sakit tertentu. Karena dari jauh Halayudha mendengar tarikan napas yang berbeda dari tarikan napas orang yang sedang bertapa, sedang mengkhusyukkan diri.

Halayudha menambahkan bahwa perhitungannya bisa keliru, akan tetapi ia memberanikan diri menghadap untuk menyampaikan hal ini.

“Aku tak peduli, Halayudha….”

“Hamba yang peduli, Raja sesembahan seluruh Keraton.

“Karena sakitnya Gusti Praba Raga Karana ingin membaktikan seluruh hidupnya bagi Raja.” “Aku tetap tak peduli.”

“Mohon ampun, Raja….

“Ilmu silat hamba masih permulaan. Akan tetapi hamba bisa merasakan bahwa jika seseorang berniat pati geni tanpa dibekali persiapan batin, perjalanan batinnya bisa tersesat.”

“Aku tak peduli.”

“Mohon Raja tidak menghalangi tabib Keraton menjenguknya.” “Halayudha, kamu ini aneh.

“Kamu dihalangi Praba, tapi kamu justru paling memikirkan keselamatannya.” “Mohon ampun.

“Semuanya berasal dari keinginan mengabdi secara tulus….” Halayudha seakan mampu menebak jalan berikutnya.

Raja Jayanegara memerintahkan para tabib masuk gedung prameswaren. Dan begitu mendengar laporan, Baginda segera menemui.

Dan seketika itu juga diumumkan agar dipanggil semua ahli yang ada. “Senopati Tanca panggil sekarang juga!”

Halayudha mulai menyiapkan langkah berikutnya. Setelah semuanya gagal, Halayudha mengajukan diri untuk menjajal. Dengan bersemadi, Halayudha mulai menyentuh jalan hidup wisudi, meskipun tidak sempurna membebaskan totokan. Sehingga Praba Raga Karana untuk sesaat bisa merintih.

“Dewa Jagat!