Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 17

Jilid 17

Wajah duka menggores dalam, tatapan mata yang kosong mengantarkan keberangkatan keempat wanita yang pernah ditalikan oleh daya yang sama.

Ratu Ayu sendiri memerintahkan agar Senopati Sariq tidak berada dalam perjalanan yang

sama.

Dua hari pertama perjalanan dilakukan dengan berdiam diri. Tak ada yang membuka

pembicaraan. Dua hari perjalanan yang tak bisa tergesa, karena Permaisuri memang tak bisa berjalan cepat.

Dua hari yang menyadarkan keempatnya secara bersamaan. Bahwa yang tiga mau menunggu kesanggupan salah satu.

Yang satu memaksakan diri, dan merasa diperhatikan oleh ketiga yang lain.

Permaisuri sendiri masih mendapat hormat, sungkem dari Gendhuk Tri maupun Nyai Demang, namun secara halus selalu menolak.

“Saya bisa membayangkan bahwa Kakangmas akan tersenyum bahagia bila melihat kita berempat jalan bersama.”

“Apa yang Permaisuri katakan sangat tepat. Saya tahu Adimas merasa berat hati dan tak bisa memberati orang lain karena mengutamakan salah seorang.”

“Raja Turkana bisa menyatukan kita, mempererat perasaan, tanpa pernah menghancurkan atau melukai perasaan kita.”

“Sudahlah, untuk apa kita selalu mengenang dan membicarakan Kakang? “Biarlah Kakang merasakan istirahat dengan tenang, dengan bahagia sepanjang zaman.

Sesuatu yang tidak Kakang rasakan sebelumnya….” Keempatnya terdiam.

Sesaat.

“Kenapa Mbakyu Demang tersenyum-senyum?” “Tidak. Tak ada apa-apa.”

“Apakah kita masih perlu saling menyembunyikan rasa?”

“Gendhuk Tri, barangkali kamu yang paling bahagia saat ini. Tak ada lagi beban penyesalan pada Adimas. Dan Adimas juga merestui hubunganmu dengan Singanada.”

Gendhuk Tri menarik sepasang alisnya. “Apa yang dikatakan Kakang?”

“Adimas menyetujui. Merasa bahwa itu pilihan terbaik. Mendoakan supaya bahagia.” “Ngawur.

“Dari mana Mbakyu tahu? Bukankah selama ini Mbakyu terkuasai Kakek Berune?” Nyai Demang tersenyum.

“Saya sempat beberapa saat bersama Adimas… “Ah, sudahlah itu.

“Aneh juga Maha Singanada itu. Kenapa ia begitu mendendam kepada Senopati Agung Brahma, hanya karena menanyakan sesuatu tentang ayahnya?

“Saya sendiri tak mengetahui. “Nanti kita tanyakan.” Permaisuri terhenti.

Menghapus sudut matanya yang basah. Ketiga yang lain tertegun.

“Kisah yang memilukan. “Sejauh saya mengetahui….”

Dengan suara masih diseling sedu sedan, Permaisuri menuturkan. Bahwa sesungguhnya Senopati Agung Brahma pada masa dulu menjalin hubungan asmara dengan Dyah Ayu Tapasi, putri Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang berarti masih saudara seayah dengan Permaisuri, meskipun perbedaan usianya sangat jauh.

Akan tetapi hubungan mereka terpisahkan, karena Senopati Agung Brahma menunaikan tugas ke negeri seberang. Itu sebabnya Dyah Ayu Tapasi memutuskan berangkat ke negeri seberang, menjadi putri yang diserahkan ke Keraton di tanah Campa.

“Mungkin bingung karena merasa putus asmara?” “Bisa juga begitu.

“Akan tetapi, sesungguhnya hati Dyah Ayu Tapasi sudah menyatu dengan Senopati Agung Brahma. Sehingga sebelum diserahkan ke Raja Campa, Dyah Ayu melakukan sesuatu yang sangat hina, yang bisa menyebabkan hancurnya semua kehormatan.

“Dyah Ayu menyerahkan kehormatannya kepada Senopati Mapanji Paksa yang menjadi pemimpin utusan….”

Terdengar suara “ah” bersamaan dari Gendhuk Tri, Nyai Demang, maupun Ratu Ayu. “Lalu?”

“Mapanji Paksa sendiri merasa bersalah….” “Apakah Singanada itu putra Mapanji?”

Permaisuri mengangguk. Kini sepenuhnya tubuhnya menggigil karena sedu sedan. Dada Gendhuk Tri serasa pepat.

Matanya dipandangkan ke langit. Merasa kurang enak diketahui bahwa air matanya menggenang.

Bisa dimengerti kalau Singanada merasa memanggul beban noda yang tak terpikul, setiap kali diingatkan sesuatu yang nista terjadi pada ayahandanya.

Dalam keadaan selalu tersudut, perangainya menjadi sangat aneh. “Singanada sesungguhnya cucu Sri Baginda Raja….” Nyai Demang menggigit bibirnya.

Ada kilas lain yang membetik dalam pikirannya. Kalau benar demikian, Maha Singanada adalah putra Dyah Ayu Tapasi. Kalau dilihat wajah dan perawakannya sangat mirip Upasara Wulung, bukan tidak mungkin Upasara Wulung pun… dengan kata lain, sebenarnya juga berhak untuk menyanding Permaisuri!

Apakah itu yang membuat Permaisuri sangat berduka?

Ratu Ayu paling tidak mengenal dengan baik, akan tetapi ikut larut dalam duka yang sama. Hanya karena ia merasa dirinya orang luar, sempat terucap olehnya,

“Permaisuri… Kalau Senopati Agung Brahma ksatria dari Keraton dan Tapasi putri Baginda Raja, kenapa harus terjadi perpisahan?”

“Ratu…”

“Apakah Baginda Raja tidak merestui?”

“Semua ini baru diketahui setelah peristiwa itu terjadi. Sebelumnya tak ada yang memahami dengan jelas, bahwa ada daya asmara yang bersemi di dada Dyah Ayu dan Senopati Agung.

“Daya asmara yang hanya dirasakan mereka berdua. “Dalam diam. Dengan diam.”

Rerasan Empat Wanita

SUARA Permaisuri Rajapatni perlahan. Sebagian malah tertelan keharuan.

Nyai Demang juga merasakan sepenuhnya apa yang terjadi di balik hubungan Dyah Tapasi dengan Senopati Brahma. Suatu perjalanan asmara yang tak pernah muncul ke permukaan, yang ditutupi.

Apakah bukan itu yang juga terjadi antara dirinya dan Upasara, yang dipanggil dengan sebutan Adimas? Bukankah sebutan itu untuk menjaga jarak, agar tak muncul daya asmara?

Nyai Demang sepenuhnya mengakui, seperti secara tidak langsung Upasara pun mengakui, bahwa wanita pertama yang menggetarkan hati kelelakian Upasara adalah dirinya. Dengan alasan apa pun, baik karena tertarik bentuk tubuhnya atau bentuk yang lain.

Ini termasuk istimewa karena sesungguhnya Upasara jarang sekali tertarik kepada wanita.

Tapi sejak awal, Nyai Demang menenggelamkan perasaan itu. Perasaan kemungkinan tumbuhnya daya asmara. Karena satu dan lain pertimbangan. Di antaranya ia merasa tak pantas mempermainkan anak muda yang begitu tulus, jujur, dan penuh sikap ksatria. Akan terasa janggal bila dibandingkan dengan dirinya yang telah mengenal asam-garamnya dunia asmara.

Hal lain, juga terasakan oleh Nyai Demang, berkembangnya perasaan yang sama pada diri Gendhuk Tri. Gadis kecil itu mulai tumbuh dewasa, dan menemukan getaran yang sesungguhnya pada diri Upasara. Akan tetapi, seperti dirinya, Gendhuk Tri juga menindas daya asmara itu jauh-jauh. Gendhuk Tri menempatkan dirinya sebagai adik.

Apakah ini semua juga bukan asmara diam? Asmara yang sengaja dipendam?

Bukankah Permaisuri sesungguhnya juga mengalami hal yang kurang-lebih sama?

Penjelasan Permaisuri mengenai lelakon asmara Dyah Tapasi-Senopati Brahma seperti menjelaskan lelakon asmara mereka sendiri.

“Bagaimana kabarnya Dyah Tapasi kemudian?” Suara Nyai Demang memecah kesunyian yang menenggelamkan jalan pikiran masing-masing.

“Raja Campa menerima dengan segala kehormatan. Raja Campa sangat mencintainya….” “Dan Mapanji Paksa?

“Hilang tak ada kabar beritanya.

“Sejak Singanada masih berada dalam kandungan, Senopati Paksa telah kembali dari tanah Campa. Keris pusakanya dikembalikan kepada Sri Baginda Raja, sebagai tanda menjadi manusia biasa, bukan prajurit Keraton lagi. Bukan ksatria lagi.”

“Saya bisa mengerti kemelut hati Senopati Paksa. “Ksatria yang hatinya terluka dua kali. Pertama, karena melukai keluarganya sendiri. Kedua, karena daya kasih sayang dan asmara yang dimiliki Dyah Tapasi ternyata daya asmara gadungan. Daya asmara yang sesungguhnya berada dalam diri Senopati Brahma….”

Gendhuk Tri yang sejak tadi terdiam, bersuara perlahan.

“Permaisuri, apakah selama ini Senopati Agung Brahma tak pernah bertemu lagi dengan Dyah Tapasi?”

“Rasanya tidak.

“Sejak berangkat sampai kembali, tak pernah bertemu lagi. Pertemuannya hanya dengan Singanada yang berakibat lain.”

“Itulah aneh.

“Sekian puluh tahun, ternyata tak bisa menghapus kenangan dan makna asmara. Tidak bagi Eyang Putri Pulangsih, tidak juga bagi Kebo Berune, atau Dyah Tapasi.

“Permaisuri, bolehkah saya menanyakan sesuatu?” “Saya tahu apa yang akan kamu tanyakan, gadis manis.

“Kamu ingin menanyakan bagaimana kenangan dan makna asmara itu bagiku?” “Ya….” Gendhuk Tri menunduk tersipu.

“Kamu bisa menjawab sendiri.” “Tidak. Saya tak tahu….”

“Kamu sudah bisa mengerti, gadis manis.

“Sejak pertemuan sebelum Kakangmas Upasara Wulung menjadi Senopati Pamungkas, kamu telah melihat sendiri. Kamu masih kecil, masih berlepotan ingus, tapi saat itu pun aku tahu pandangan matamu yang bersinar keras.

“Apa bedanya?”

“Kalau benar Permaisuri menyimpan daya asmara terhadap Kakang, kenapa Permaisuri bisa bersenang-senang dengan Baginda? Bisa meladeni Baginda, dan memberikan putri-putri mungil?”

Nyai Demang mengangkat tangannya, memberi tanda agar Gendhuk Tri tidak berbuat lancang. Akan tetapi Permaisuri Rajapatni juga menggerakkan tangan ke arah Nyai.

“Biar, Nyai….

“Sangat jarang, sangat langka, kesempatan kita kaum wanita membuka perasaan hati seperti sekarang ini. Betapa sesungguhnya selama ini kita selalu memendam rasa, menyembunyikan jauh- jauh di dalam mimpi.

“Pertanyaan gadis manis Gendhuk Tri adalah pertanyaanku juga. Wanita seperti apa aku ini sebenarnya? Yang meratapi Kakangmas Upasara akan tetapi bersanding dan melayani lelaki lain?

“Gadis manis…

“Adalah sangat gampang bagiku untuk menemukan alasan. Aku putri Keraton yang harus berbakti kepada Sri Baginda Raja. Aku permaisuri yang harus berbakti kepada Baginda. Aku harus menjaga kewibawaan Keraton, nilai, harga diri.

“Akan tetapi tetap saja pertanyaan itu terdengar.

“Sama dengan yang dialami Pamanda Senopati Agung Brahma. Seperti Mbakyu Ayu Tapasi yang kini berada di Campa.

“Kadang aku merasa lebih memiliki Kakangmas Upasara, kalau ia masih selalu sendirian. Tapi itu ketololan dan mau mencari menang sendiri.

“Tak ada bedanya apakah Kakangmas sendirian atau beristri….” Ratu Ayu menggeleng.

“Memang ganjil.

“Kalian membicarakan Raja Turkana yang telah memiliki dan dimiliki orang lain. “Aku.

“Aku yang paling berhak membicarakan.

“Aku sadar bahwa aku memiliki secara resmi. Tetapi aku tak pernah betul-betul mengenalnya.

Tak pernah melihat punggungnya, kakinya, secara utuh.

“Bahkan mungkin, aku… aku… tak percaya kalau Raja Turkana telah hafal dengan wajahku….” Suaranya menjadi parau.

“Tapi itu tak mengurangi kebahagiaanku….”

Ketiga wanita yang mendengarkan mengangguk bersamaan. Seakan membenarkan kata hatinya masing-masing, bahwa mereka pun tak berkurang rasa bahagianya.

“Karena sebentar lagi kita akan memasuki gerbang Keraton, ada baiknya kita bersiap-siap lebih dulu. Siapa tahu tenaga dan pikiran kita masih akan diperlukan….”

Gendhuk Tri memimpin ketiga wanita itu beristirahat dan mengumpulkan kembali tenaga dalam mereka. Ratu Ayu yang memang dasar-dasar ilmunya kuat, kini tanpa bantuan pun bisa mengerahkan kekuatannya untuk mengusir racun pagebluk dalam tubuhnya. Gendhuk Tri sendiri menemukan rasa lega yang lapang setiap kali selesai melakukan latihan.

Yang tampaknya masih belum menguasai sepenuhnya adalah Nyai Demang.

Beberapa kali mencoba, bisa dimulai dengan baik, akan tetapi di bagian tengah selalu menjadi tersengal-sengal. Sehingga terpaksa menghentikan latihan di tengah jalan.

”Aku tidak paham dengan kekuatan dingin yang ada dalam tubuh Nyai,” kata Ratu Ayu. “Sewaktu tenaga dalam tersalur ke arahku, bisa sepenuhnya aku mengerti. Tetapi ketika Nyai berlatih, tampaknya ada sesuatu yang tak bisa dikendalikan.”

“Apa mungkin memang latihan pernapasan itu sesat, seperti yang dikatakan Kakek Berune?” “Tak mungkin, Mbakyu.

“Bagaimanapun, rasanya Eyang Sepuh atau Mpu Raganata tidak secara sengaja memberi salinan Kitab Bumi yang dibuat keliru.”

“Mungkin aku sendiri yang tolol.”

“Itu bisa jadi,” kata Gendhuk Tri tersenyum lebar. “Mbakyu sejak dulu memang tolol. Ditaksir Baginda saja…”

“Jangan omong sembarangan….” Gendhuk Tri tertawa.

“Apakah itu termasuk rahasia?”

“Bagaimana mungkin kamu masih ngomong sembarangan, di saat kita begini sedih karena…” Gendhuk Tri berdiri.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan.

“Sedih atau tidak, apakah Kakang bisa hidup lagi? Apakah kalau hidup juga akan bisa lebih bahagia?

“Apa kita juga bisa rerasan seperti sekarang? Begitu nanti melihat tulang Kakang, barangkali kita akan saling berebut, saling merasa berhak.

“Bukankah itu semua hanya membuat Kakang lebih menderita?” Tetap pedas, agak sembrono.

Itulah Gendhuk Tri.

Yang sedikit membedakan hanyalah bahwa kini ia bisa memimpin, bisa menjadi orang pertama yang menentukan perjalanan dan pertama melangkah.

Kidung Pambagya

MENJELANG memasuki gerbang, Gendhuk Tri merasa heran karena ada serombongan lelaki yang menjemput. Yang segera menyembah, seolah rata dengan tanah.

“Silakan, Tuan Putri yang terhormat….”

Gendhuk Tri pasti sudah berteriak dan tertawa jika ini terjadi saat lalu. Kini ia hanya mengangguk, mengikuti ketua rombongan, dengan tetap waspada.

Ternyata mereka dibawa ke rumah yang agaknya telah dipersiapkan secara istimewa. Lengkap dengan dayang-dayang yang jumlahnya mencapai empat puluh orang. Siap melayani mandi, keramas, menyisir, menggunting kuku, sampai makan.

“Siapa yang menyuruh kalian?”

“Adalah kehormatan bagi kami bisa melayani Paduka Putri….” Nyai Demang menarik tangan Gendhuk Tri.

“Jangan paksa mereka, agaknya mereka sendiri tak tahu.” “Lalu, menurut perkiraan Mbakyu, siapa yang melakukan ini semua?”

“Rasa-rasanya orang yang tahu keinginan kita. Barangkali saja kalau kita melewati jalan utama, sudah sejak lama ada penyambutan seperti ini.

“Tapi dilihat selintas mereka bukan jago silat. Beberapa bahkan tak pernah belajar silat sama sekali.” “Apakah mungkin Wong Agung Galgendu yang menyiapkan ini semua?” “Rasa-rasanya begitu.

“Tetapi saya tak yakin ia berani melanggar permintaan Ratu Ayu. Bahkan Senopati Sariq saja sejak pertama kita tak melihat bayangannya.” “Bagaimana rencana kita, Mbakyu?

“Apakah kita langsung masuk ke kebun kaputren dan membongkar kuburan Kakang, atau minta restu Raja?”

“Sebaiknya kita menyelidiki lebih dulu.”

“Mbakyu tunggu saja di sini, menjaga Permaisuri. Saya akan menerobos masuk dengan Ratu Ayu.” Nyai Demang tersenyum tipis. “Aku tahu…”

“Hanya Mbakyu Demang yang bisa melayani Permaisuri dengan baik.”

Tanpa menunggu pertimbangan lebih jauh. Gendhuk Tri segera berangkat bersama Ratu Ayu. Tak terlalu sulit bagi keduanya untuk bisa menyusup masuk.

Gendhuk Tri sangat hafal dengan lekuk-liku Keraton dan bisa dengan mudah langsung menuju kaputren. Dengan ilmu yang tinggi, bagi Ratu Ayu tak ada persoalan yang berarti.

Hanya saja ketika mendekat ke arah tempat yang ditunjukkan Permaisuri, mereka menjadi tertegun.

Di salah satu pohon yang mengelilingi makam, ada guratan-guratan yang agaknya baru dibuat beberapa saat sebelumnya. Karena terlihat bahwa sebagian kulit pohon masih meneteskan getah.

Salam pambagya selamat datang

terima kasih atas perhatian

salam pambagya salam bahagia…

Ratu Ayu menyentuh pundak Gendhuk Tri. “Apa maksudnya?”

“Belum jelas ditujukan kepada siapa. Rasanya tak ada sesuatu yang luar biasa. Kata-kata itu sendiri tak menyembunyikan sesuatu selain semacam ucapan selamat datang.”

Keduanya berjongkok. Kemudian bersila.

Menyembah ke arah tanah di bawah pohon. Agak lama.

Kemudian secara bersamaan pula berdiri, saling pandang dan segera meloncat Ke luar. Tak ada siapa-siapa. Gendhuk Tri agak sangsi melihat bahwa suasana dalam Keraton tampak sangat lengang.

Baru di bagian depan kelihatan beberapa prajurit jaga hilir-mudik. Gendhuk Tri segera menyelinap dan kembali ke tempat beristirahat.

Ada bersitan rasa kuatir.

Jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa Nyai Demang atau Permaisuri. Perasaan waswas hilang dengan sendirinya ketika Nyai Demang menyambut dengan wajah tenang.

Gendhuk Tri menceritakan apa yang dilihatnya. “Kalau begitu, jelas itu ditujukan kepada kita. Lihat saja….” Nyai Demang menunjuk ke arah tiang utama.

Baru Gendhuk Tri sadar bahwa di tiang juga ada tulisan yang sama.

“Mbakyu Demang paling pintar mengenai tata bahasa. Apa maksud salam bahagia itu?”

“Tak ada arti apa-apa selain mengucapkan salam bahagia. Sejauh saya tahu seperti itu agak lumrah di zaman Sri Baginda Raja.”

“Mungkinkah seseorang yang menaruh simpati kepada kita?” “Kalau benar begitu, untuk apa menyembunyikan diri?”

Ratu Ayu memotong pembicaraan. “Sudah, biar saja.

“Maksud kita sejak semula ingin memindahkan kerangka Raja Turkana. Kalau memang maksudnya mengucapkan selamat datang, ya kita terima. Kalau nanti merepotkan, kita semua siap menghadapi.”

“Baik juga.

“Bagaimana rencana Ratu?”

“Kita langsung ke Keraton. Mengutarakan maksud kita dengan baik. Kalau ditolak, kita bisa memaksa.”

“Kalau itu sudah menjadi kesepakatan, mari kita kerjakan sekarang.”

Merasa bahwa semua persiapan telah dilakukan, segera Gendhuk Tri memimpin rombongan menuju Keraton. Di gerbang tak ada yang menyambut. Baru ketika di depan pintu utama, beberapa prajurit jaga menghadang.

“Sampaikan kepada yang berwenang mengatur, kami datang untuk mengambil Kakang Upasara….”

“Siapa kalian?”

“Buka mata yang lebar. Kalau melihat bayangan Permaisuri Rajapatni kalian tidak menyembah sampai dagu kalian menempel tanah, itu namanya keterlaluan.

“Mana Senopati Utama atau Mahapatih?” “Maaf, kami hanya menjalankan perintah….”

Agak lama mereka berunding. Lalu salah seorang pemimpin maju, memberi sembah hormat, dan dengan suara lembut menyilakan keempatnya masuk.

“Hati-hati…,” bisik Gendhuk Tri.

Tanpa pemberitahuan itu pun semua sudah berjaga-jaga. Di luar dugaan keempatnya bahwa mereka akan diizinkan dengan mudah. Dalam bayangan semula, pasti akan repot. Bahkan bisa-bisa harus menunggu dawuh dari Raja.

Atau ini jebakan?

Apa pun juga, Gendhuk Tri memang tak akan mundur lagi. Dalam pengawalan sederhana, keempatnya menuju kaputren.

Baru saja tiba di halaman bagian luar, tubuh Permaisuri Rajapatni terjatuh. Lunglai. Terpaksa Nyai Demang yang menggotong dan membawa ke pinggir.

“Paman prajurit, apakah benar di sini dikuburkan Kakang Upasara?” “Demikian adanya….”

Gendhuk Tri merasa bahwa jawaban yang didengar bukan keluar dari hati yang mantap yakin. “Silakan….”

“Apa Paman bersedia membantu kami membongkar?” “Kalau diperintahkan….”

Ratu Ayu tak sabar. Setelah memejamkan matanya sekejap, kedua tangannya terulur ke depan. Meraup tanah dan dengan gerakan sangat cepat, kedua tangannya mengeduk tanah. Bagai tikus yang sedang menggangsir. Cepat sekali. Sehingga para prajurit yang mengawal terbengong melihatnya.

Gendhuk Tri juga melakukan hal yang sama. Cepat kedua tangannya menggali dengan mempergunakan tombak yang dibawa para prajurit.

Dalam waktu singkat, keduanya sudah membuat lubang sedalam lutut.

Nyai Demang kemudian turun membantu. Sehingga pekerjaan menggali bisa berjalan lebih cepat. Apalagi Nyai Demang bisa mengarahkan ke bagian tanah yang lebih lunak dari biasanya.

Sepenanak nasi, sebuah lubang sebesar kolam telah tergali. Gundukan tanah sekitarnya meninggi. Gendhuk Tri terus bekerja bagai kesetanan, sementara sejak semula Ratu Ayu seakan memamerkan kemampuannya yang luar biasa. Kedua tangannya bergerak bagai baling-baling.

“Tahan…!”

26

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Suara Permaisuri terdengar bagai rintihan memelas.

Tubuhnya bergoyang, sambil berlutut terus berusaha maju ke arah lubang, dengan merangkak.

“Hati-hati… ada Kakangmas….”

Permaisuri melorot ke bawah. Tangannya mengibas, melepaskan lapisan kainnya bagian luar.

Tubuhnya tergetar keras. “Kakangmas….”

Selamat Beristirahat Selamanya

TANGISAN yang memilukan.

Gendhuk Tri mencium bau tak enak dan salah satu sudut yang didatangi Permaisuri. Benar saja.

Dengan satu sentuhan perlahan, tangannya menyentuh sesuatu yang lunak. Tubuh manusia! Gendhuk Tri tersentak.

Ia pernah terkubur hidup-hidup dalam Gua Lawang Sewu, alias Pintu Seribu. Pernah mengalami saat-saat bersama mayat yang telah membeku dan kemudian membusuk. Sekarang semua ingatan kembali menyeruak.

Nyai Demang menunduk lemas.

Ratu Ayu melepaskan kainnya bagian luar, juga selendangnya. Demikian juga Gendhuk Tri, yang akhirnya melakukan sendiri. Mengambil bagian-bagian tubuh yang sebagian masih ada sisa daging. Hanya di bagian tertentu telah berubah menjadi tulang. Dengan segala rasa hormat dan getaran hati, Gendhuk Tri mengumpulkan semuanya dalam kain, dan membungkusnya hati-hati.

Bersemadi sebentar. Menghela napas berat.

Lalu membawa kembali ke atas tanah dengan sekali lompat. Tangannya terulur ke bawah.

Nyai Demang menyusul sambil membopong tubuh Permaisuri, disusul oleh Ratu Ayu. “Paman prajurit, terima kasih atas semua bantuan Paman….”

“Kami hanya melakukan tugas.”

“Sekarang kami akan kembali ke Kedung Dawa untuk memberi tempat istirahat yang layak dan selamanya bagi Kakang….”

Gendhuk Tri bersiaga kalau-kalau terjadi sesuatu.

Ternyata bahkan sampai gerbang Keraton bagian luar, tak ada yang mengganggu, bahkan tak ada yang menegur sapa. Para prajurit yang mengawal juga berhenti dan segera meninggalkan.

Yang kemudian menyambut ialah mereka yang tadi melayani Gendhuk Tri. Yang malah lebih siap dengan peti dan kain putih, dan segera merukti, merawat, dengan sangat hormat. Dengan memberi wangi-wangian dari bunga serta dupa.

Bahkan kemudian menyediakan kereta sapi. “Kami siap mengantarkan sampai ke Kedung Dawa….” “Terima kasih.

“Sampaikan rasa terima kasih yang dalam dari kami, kepada siapa pun telah berbuat begitu baik. Karena kami tak mau menunggu lama, sebaiknya berangkat sekarang juga.”

“Sesuai dengan perintah Putri….”

Yang agak merepotkan hanyalah Permaisuri yang tidak pernah sadar sejak keluar dari Keraton. Berkali-kali dan berganti-ganti Nyai Demang dan Ratu Ayu berusaha menyadarkan, akan tetapi hasilnya sia-sia.

Gendhuk Tri lebih memusatkan perhatian di depan, untuk memimpin perjalanan.

Sampai matahari tenggelam, tak ada gangguan apa-apa. Ketika rombongan mengusulkan beristirahat, Gendhuk Tri mengatakan bahwa ia akan terus melanjutkan perjalanan.

“Saya tak mau menahan Kakang dalam perjalanan.

“Kalian cukup mengantar sampai di sini. Selanjutnya saya bisa mengawal sendiri….” “Kami berkewajiban mengantar sampai selesai….”

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan….”

Tekad Gendhuk Tri sudah tak terbantah oleh siapa pun. Ratu Ayu sendiri tak memberi reaksi apa-apa. Demikian juga Nyai Demang yang merasa bahwa Gendhuk Tri mampu memutuskan secara tegas dan jelas.

Hari kedua rombongan pengantar benar-benar tak mampu lagi melanjutkan perjalanan.

Namun Gendhuk Tri tetap berkeras melanjutkan perjalanan.

Ketika itulah rombongan lain datang dan siap membantu melanjutkan perjalanan. Gendhuk Tri tak mempertanyakan siapa yang menyuruh dan bagaimana urusan di belakang hari. Ia hanya mengangguk sebagai isyarat dilanjutkannya perjalanan ke Kedung Dawa.

Ternyata perjalanan yang terus-menerus tak mengubah kesadarannya sedikit pun. Gendhuk Tri tetap bersemangat, tetap berada di depan, dengan pandangan mata nyalang.

Hanya menjelang memasuki perkampungan Gua Kencana, Gendhuk Tri memerintahkan rombongan berhenti. Nyai Demang turun dari kereta.

“Kamu jaga di sini. Sekarang giliran saya menyelinap ke dalam. Agaknya ada yang tak beres.” “Hati-hati, Mbakyu….

“Saya, akan segera menyusul ke sana.”

“Hati-hati juga. Jaga dirimu, dan Adimas Upasara….” Gendhuk Tri mengangguk.

Nyai Demang menepuk pundak Gendhuk Tri, lalu segera bergegas pergi. Langkahnya tidak terlalu ringan, akan tetapi dengan mengerahkan tenaga terus-menerus, tak berapa lama bisa sampai di lapangan terbuka.

Benar dugaannya. Tempat yang ramai belum sepuluh hari lalu, kini tampak berubah sunyi. Hanya ada beberapa orang yang masih tinggal. Ketika Nyai Demang berusaha masuk ke rumah Wong Agung Galgendu hanya ada empat prajurit yang mengawal.

“Siapa yang datang?”

“Namaku Nyai Demang. Aku sahabat Wong Agung. Izinkan aku masuk dan menemui beliau….”

“Ada urusan apa?”

Tangan Nyai Demang terulur, mendorong keempat prajurit yang tidak siap. Dengan sekali menggertak, Nyai Demang melangkah masuk.

“Maaf, aku tergesa….”

Dengan sekali membalik, tangan dan kaki Nyai Demang bergerak bersamaan. Keempat prajurit, semuanya, menerima tendangan dan pukulan. Tanpa bisa mengelak.

Nyai Demang serasa terbang masuk ke rumah. Sepi.

Hatinya bercekat. Begitu masuk ke ruangan dalam, hatinya lebih bercekat lagi. Karena ruangan utama yang mewah itu sekarang porak-poranda. Hanya ada satu ranjang, dan di atasnya berbaring tubuh yang mengerang. Sementara beberapa orang yang mengelilingi memandang takut kepada Nyai Demang.

“Wong Agung…”

Nyai Demang segera mendekat. Tangannya memegang nadi Wong Agung yang terbujur tak bergerak. Terasakan bahwa Wong Agung sangat menderita. Segera Nyai Demang mematikan sementara saraf yang menyebabkan rasa sakit. Wong Agung mengerang satu kali, setelah itu terlelap.

Mereka yang mengelilingi memandang hormat. “Ceritakan apa yang terjadi….”

Baru kemudian keadaannya menjadi jelas. Bahwa setelah keberangkatan rombongan Ratu Ayu, Kedung Dawa kedatangan tamu lain, yang jumlahnya tak lebih dari lima orang. Para tamu ini memaksa masuk ke Gua Kencana. Terjadilah pertarungan yang tak seimbang. Semua prajurit kawal dibunuh tanpa kecuali. Bahkan seluruh isi rumah diobrak-abrik, semua barang yang ada dijungkirbalikkan.

“Apa yang mereka cari?”

“Kami kurang mengetahui. Hanya Wong Agung yang mulia yang mengetahui…. “Saat itu Wong Agung yang mulia sedang menyiapkan pencandian Ksatria Pa…” “Cukup.

“Kalian rawat baik-baik. Sampai esok, Wong Agung masih akan terlelap. Saya akan segera kembali kemari. Kalau ada apa-apa, hadapi sebisanya.”

Nyai Demang tidak membuang waktu.

Segera kembali ke tempat Gendhuk Tri, yang ternyata tak menunggu. Sehingga mereka bisa bertemu di separuh perjalanan.

Gendhuk Tri mendengarkan dengan pandangan tak berubah sedikit pun.

“Mbakyu Demang, rencana kita tak boleh berubah. Kita adakan upacara untuk Kakang….” “Rasa-rasanya harus dalam bentuk lain.

“Kini tak ada lagi pendeta, tak ada lagi…” “Dalam bentuk yang bagaimanapun. “Mbakyu melihat keanehan apa?”

“Sulit dikatakan sekarang. Rombongan yang datang mengacau, jelas dari kalangan yang mengerti ilmu silat dan bertindak bengis. Semua prajurit dibunuh tanpa peduli. Tak ada yang bersisa lagi.”

“Sasaran mereka adalah Gua Kencana, untuk merampok emas….” “Tidak juga.

“Kalau hanya itu, agaknya tak perlu menghancurleburkan. Dan agak susah juga, karena prajurit Keraton pun ada di situ. Pastilah bukan orang biasa.”

“Mbakyu, kita membagi tugas.

“Mulai sekarang ini agaknya hanya kita yang masih bisa waras. Kita mempersiapkan pencandian Kakang, dan melihat kemungkinan yang terjadi.

“Mulai sekarang ini, siapa pun yang menghalangi, akan kita hadapi bersama.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Gendhuk Tri, Nyai Demang merasa gentar. Kalimat Gendhuk Tri seakan membeset dari luka hati yang dalam. Tekad yang meniadakan kemungkinan lain.

Gendhuk Tri yang tadinya dianggap paling jernih, kini telah berubah. Gendhuk Tri saat ini memancarkan sorot mata ganas dan telengas.

Dalang Kurang Sesaji

APA yang dilakukan Gendhuk Tri seperti apa yang biasa dilakukan oleh lima orang sekaligus. Dengan wajah dingin ia memerintahkan persiapan upacara pencandian Upasara Wulung.

Pada saat yang sama ia ikut mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan dupa, mengatur letak pemasangan batu utama, dan mencari tujuh ekor sapi yang tanduknya gagah untuk dikorbankan. Rambutnya sengaja dibiarkan tergerai. Kain yang dipakai adalah kain yang digunakan untuk mengangkat tulang Upasara.

Nyai Demang merasa ngeri, akan tetapi tak bisa berbuat sesuatu untuk menahan. Juga tak ada alasan.

Hanya sekali Gendhuk Tri kembali ke ruang dalam, memeriksa nadi Wong Agung Galgendu. Lalu menggeleng.

“Tak ada harapan lagi. Bagian dalamnya luka parah, hancur….” Suara Ratu Ayu seperti bergema di ruang kosong.

“Siapa lagi yang tega berbuat seperti ini?

“Rasanya tak ada lagi tokoh yang bisa berkeliaran tanpa kita kenal. Mungkinkah Kiai Sambartaka muncul kembali?”

Gendhuk Tri tak menjawab. Meskipun dalam hatinya setengah membenarkan dugaan Ratu Ayu. Tokoh sakti yang bisa berbuat telengas sekarang ini boleh dikatakan tinggal Kiai Sambartaka. Yang bisa berbuat jahat menghabisi semua prajurit atau ksatria yang menghalangi jalannya.

Satu per satu dihabisi.

Dan dilihat dari rontoknya bagian dalam tubuh Wong Agung Galgendu, hanya mungkin dilakukan oleh tokoh setingkat Kiai Sambartaka. Apalagi bekas luka dalam yang diakibatkan jelas menunjukkan pengaruh itu.

“Agak aneh juga. Untuk apa ia menghancurkan ini semua?”

Pertanyaan yang sama bukannya tidak menggoda Gendhuk Tri. Hanya saja ia lebih suka memusatkan perhatian kepada hal lain. Karena siapa pun

Yang begitu ganas melakukan hal itu, tak akan mengubah kenyataan yang ada. Sehingga akan lebih baik memikirkan langkah apa yang akan dihadapi.

“Tunggui Wong Agung, Ratu….

“Biarkan di saat-saat terakhir dalam hidupnya Wong Agung merasa bahagia karena berada di dekat orang yang dicintainya.”

Tanpa terasa Ratu Ayu meneteskan air mata.

“Gendhuk manis, sekarang ini aku tahu bahwa Wong Agung lebih bahagia Raja Turkana. Yang di saat terakhir tak ada yang menunggui….”

Suara keharuan yang terulang.

Seakan setiap kali, setiap saat, setiap peristiwa bisa ditarik perbandingannya dengan Upasara.

Dan itu berarti membeset luka lama yang belum bisa pulih.

Sebenarnya baik Ratu Ayu, Gendhuk Tri, maupun Nyai Demang sadar bahwa usaha mendampingi Wong Agung sia-sia belaka. Mereka bertiga sadar bahwa keadaan Wong Agung lebih buruk dari yang diperkirakan. Kalau sekarang masih terbaring dan bernapas satu-satu, hanya jasmaninya saja yang bertahan. Selebihnya tak bisa merasakan apa-apa, tak bisa bereaksi. Pun kelopak matanya.

Namun Ratu Ayu melakukan apa yang dikatakan Gendhuk Tri. Bersila di samping Wong Agung, memanjatkan doa mengantarkan kepergian untuk selamanya.

Ketika itu dari ruang tengah terdengar jeritan ketakutan. Gendhuk Tri baru saja akan melangkah ketika dari pintu berhamburan beberapa orang yang tadi menjaga peti Upasara. Mereka menabrak begitu saja.

Apa yang terjadi di ruang tengah memang bisa membuat rasa takut setengah hidup.

Peti yang berada di tengah ruangan, mendadak bergerak sendiri. Bergoyang-goyang. Sesaat ada bersitan dalam pikiran Gendhuk Tri bahwa suatu keajaiban telah terjadi.

Tapi Gendhuk Tri bisa menenangkan diri pada bersitan pikiran berikutnya. Adalah tak mungkin sama sekali potongan tubuh yang sebagian sudah menjadi tulang, sebagian sudah membusuk, bisa utuh kembali.

Selendangnya bergerak, suaranya mengguntur. “Dalang gendheng, jangan main-main….”

Dari langit-langit rumah melayang turun tubuh yang sedikit bongkok, wajah yang keruh tapi keras. Ki Dalang Memeling! Hanya Ki Dalang yang mampu menggerakkan benda dari jarak jauh. Sebutan dalang gendheng, atau dalang kurang waras, merupakan tebakan yang sangat tepat.

Dengan sekali melihat Gendhuk Tri bisa mengetahui siapa yang membuat ulah.

“Bagaimana kamu tahu aku ini dalang gendheng? Aku adalah dalang paling hebat dari Desa Memeling yang tanpa tanding. Yang bisa memainkan wayang kulit sambil berbaring.”

“Hari ini aku tidak butuh ucapan kotor semacam itu.”

“Di jagat ini tak ada ucapan kotor, tak ada ungkapan kotor. Kalau ada yang bocor, itu memang kehendak alam.”

“Menyingkirlah dari sini….”

“Lho, kenapa kamu lebih galak dari enam ekor anjing yang sedang beranak? Tubuhmu tegak, matamu membelalak, tapi tak nanti aku bisa kamu gertak.

“Di jagat ini tak ada gertak.

“Kamu bilang aku harus menyingkir, justru aku mau berada di sini Mau terus hadir. Kamu larang aku mempermainkan peti, aku justru mau mengambil….”

Apa yang dikatakan benar-benar dilakukan.

Dari tubuhnya, Ki Dalang mengeluarkan tali kampar, tali yang dibuat dari sabut kelapa pilihan. Besarnya separuh kepalan, dan cukup panjang karena sekali disentakkan bisa langsung menggulung peti.

Gendhuk Tri tak membuang waktu sedikit pun. Begitu tali bergerak ujung selendangnya lebih dulu berkibar. Desiran angin menyampok keras, membelokkan ujung tali.

Akan tetapi ternyata Ki Dalang cukup lihai memainkan talinya. Bagai ular hidup, ujung tali satunya justru melenggok ke dalam, menyusup, dan menggulung peti. Sementara ujung yang tak tertolak sapuan selendang, kini dipegang.

Pada saat itu tubuh Gendhuk Tri sudah berada di sampingnya. Sehingga sebelum Ki Dalang sempat menarik, pinggangnya disodok dengan siku, bersamaan dengan guntingan dua kaki sekaligus.

“Lepas….”

Ki Dalang mengeluarkan seruan tertahan.

Serangan Gendhuk Tri mengguyur bagai siraman air hujan. Tak ada peluang sedikit pun untuk menghindar, kalau ingin tetap di tempat.

Bahwa Gendhuk Tri lebih mengisyaratkan “lepas”, karena tidak ingin petinya terganggu. Jalan yang terbaik memang melepaskan ujung tali.

Di luar dugaan Gendhuk Tri, Ki Dalang meloncat mundur sambil berjumpalitan, dengan tangan tetap memegang tali.

Ini berarti peti yang tadi tergulung bisa melayang bagai disentakkan! Nyatanya tidak.

Gulungan tali itu lepas dengan manis, tanpa membuat getaran. Sungguh kemampuan mengendalikan tenaga yang luar biasa. Kalau itu yang terjadi, bisa dibayangkan betapa murka Gendhuk Tri.

Kini sambil berdiri tegak, Ki Dalang memainkan tali di bagian tengah. Sehingga dua ujungnya bisa digunakan untuk menyerang. Mematuk, menyelinap, melibat tubuh Gendhuk Tri. Yang tidak membiarkan dirinya dilibat begitu saja. Rentetan serangan dari Kitab Air mengalir dalam tubuh Gendhuk Tri.

Kelihatan tetap tenang, gerakan Gendhuk Tri yang serba perlahan justru bisa mementahkan ikatan. Setiap kali ujung tali mematuk, setiap kali pula Gendhuk Tri bisa menerobos maju.

Dua kali mencoba menangkap bagian tengah tak, akan tetapi setiap kali bisa lolos. Ini termasuk mengherankan juga.

Tali kampar yang dipilin dari sabut kelapa bukan barang yang licin. Malah boleh dikatakan sangat kasar. Akan tetapi toh di tangan Ki Dalang bisa menjadi licin!

Lima jurus berlalu.

Gendhuk Tri mulai mengubah gerakannya. Kini tak lagi mengikuti arus sungai yang tenang, akan tetapi menambah getaran di tangan, dan terutama kaki. Pertarungan berkembang tajam, karena empat selendang Gendhuk Tri secara langsung mengarah ke wajah lawan, menyingkirkan tali, di samping guntingan kaki yang mau tak mau membuat Ki Dalang berloncatan, seakan menghindari rembesan air.

“Aku tahu jalan pikiranmu.

“Kamu heran kenapa aku ingin peti itu. Karena itu milikku. Akulah yang harus merawatnya dan memperlakukan seperti tubuhku. Kalian tak punya hak untuk mencampuriku.

“Aku tahu jalan pikiranmu.

“Kamu heran kenapa aku tak mau mengurusi Galgendu. Tubuhnya sudah mulai bau, sudah kaku, dan tak ada apa-apanya yang berharga, bahkan juga kukunya.”

Nyai Demang yang berada di pinggir, merasakan betapa tajam ungkapan Ki Dalang.

Bisa mengutarakan secara pas apa yang dipikirkan orang lain. Pertanyaan pertama tentunya: Kenapa Ki Dalang mau mengurusi peti Upasara, sementara Wong Agung Galgendu dibiarkan begitu saja? Bukankah sejauh ini hanya dua orang yang bebas keluar-masuk Gua Kencana, yaitu Ki Dalang dan Wong Agung? Bukankah itu pertanda hubungan yang sangat dekat dan istimewa?

“Aku tahu semuanya, meskipun dibilang dalang kurang sesaji, dalang kurang persembahan. “Aku lebih waras dari kalian.”

Tangisan Masa Lalu

SAMBIL terus mengoceh, Ki Dalang berusaha membebaskan diri dari serangan Gendhuk Tri.

Yang terakhir ini menjadi tidak sabar. Dengan mengertakkan gigi, Gendhuk Tri merangsek lebih dalam. Gerakannya menjadi makin tajam, menyuruk masuk. Bentrokan tenaga tak dihindari, sabetan dan gulungan tali yang jelas-jelas mengarah ke leher tak dipedulikan.

Gendhuk Tri terus mengurung dengan tebaran selendangnya. Ia memainkan bagian yang disebut ngelebi, menggenangi.

Sifat dasar permainan silat Gendhuk Tri ialah sifat air. Yang tenang, mengalir ke tempat rendah. Sekarang pun pola itu yang dipakai, hanya saja bukan ketenangan yang digunakan, melainkan tenaga keras. Sehingga bukan tenaga air mengalir ke tempat rendah, melainkan tenaga air yang ngelebi yang mengurung dan menggenangi, untuk membenamkan.

Tanpa memedulikan hambatan yang ada. Semua serangan yang datang disampok keras.

Kibaran selendangnya benar-benar mengurung habis, sehingga Ki Dalang tampak tak bisa menghindarkan diri. Satu gulungan tubuh disertai tebaran selendang, membuat Gendhuk Tri dua tindak maju. Tangan kirinya memapak serangan keras tangan kanan, kedua kakinya siap menjebol kuda-kuda Ki Dalang.

Kena!

Seruan dalam hati ini tertahan.

Karena meskipun selendang Gendhuk Tri berhasil menutup wajah Ki Dalang, kedua ujung tali Ki Dalang berhasil menggulung peti.

Sehingga kalau Gendhuk Tri berbuat sesuatu, peti itu yang rontok lebih dulu. “Aku yang menang.

“Aku yang bisa membaca dengan tenang. Saat kamu menguasaiku, sebetulnya aku yang menguasaimu.

“Masih akan kamu teruskan melumatkan wajahku?” Gendhuk Tri menarik selendangnya dengan kesal.

Ki Dalang juga melepaskan ikatan pada peti. Sekali lagi tanpa membuat peti itu bergoyang sedikit pun.

Hanya saja yang tidak diperhitungkan oleh Ki Dalang bisa terjadi! Begitu terlepas dari belitan peti, Gendhuk Tri menjatuhkan dirinya ke bawah merosot ke arah depan. Kedua kakinya terangkat ke atas, menggunting tubuh Ki Dalang.

“Apa ini?”

Seruan keras dibarengi dengan loncatan tubuh ke atas, melengkung dengan punggung ke dalam. Loncatan yang memesona, karena Ki Dalang mempergunakan tenaga yang berada di tulang belakang. Sehingga bisa jatuh secara jungkir balik dan menarik untuk ditonton.

Nyai Demang memuji cara Ki Dalang meloloskan diri dari serangan mendadak. Cara mempergunakan tenaga di bagian punggung adalah sesuatu yang luar biasa.

Tapi Gendhuk Tri jauh lebih siap.

Begitu kedua tangan Ki Dalang menyentuh tanah, langsung kena serimpung kedua kakinya. Tanpa bisa menghindar lagi, Ki Dalang terbanting.

“Apa hebatnya Siasat Sembilan Bintang yang sudah ketinggalan zaman?” Ki Dalang meringis.

“Siapa kamu?” “Namaku Gendhuk Tri.”

“Bagaimana mungkin kamu tahu apa yang aku tidak tahu?” Wajah Gendhuk Tri sedikit berubah.

Tak ada lagi perasaan gelisah. “Ilmu silatmu cukup bagus, Paman.

“Sejak Paman bisa memainkan wayang dari jarak jauh, saya sudah bisa menduga dari mana asal-usul ilmu silat yang merupakan tetiron ajaran Kitab Bumi.

“Begitu Paman membalikkan tubuh dengan tenaga bagian belakang, semua anak juga tahu itu jurus Nawagraha, sehingga sekali tebas, Paman akan meraung kesakitan.”

Dalam pendengaran Nyai Demang, gaya penyebutan Gendhuk Tri yang memanggil “Paman”, merupakan tanda hormat. Bisa dimengerti karena kemudian Gendhuk Tri menjelaskan dengan menyebut Siasat Sembilan Bintang. Rangkaian jurus pelipatan tenaga sembilan kali yang selama ini dimainkan oleh Maha Singanada!

Gendhuk Tri bukan hanya mengetahui, akan tetapi bahkan pernah memainkan.

Lebih dari itu semua, Gendhuk Tri pernah memainkan bersama-sama Maha Singanada.

Bisa dimengerti kalau ketika Ki Dalang memainkan jurus itu, sekali lihat langsung tahu titik lemahnya. Yaitu dengan menyerimpung tangan Ki Dalang.

Bukan sesuatu yang luar biasa.

Bukan sesuatu yang luar biasa kalau Gendhuk Tri bisa mematahkan serangan lawan seketika.

Yang luar biasa adalah bahwa bisa dengan cepat mengenali gerakan lawan, dan memastikan langkah penangkalnya. Bahkan ia mengenali ilmu silat Nawagraha, tidak berarti segera mengenali hanya dari satu jurus.

Dalam hal ini, Nyai Demang mengakui Gendhuk Tri bisa maju pesat ilmunya, karena memiliki naluri yang sangat tajam. Naluri mengenali lawan, dan dengan sama cepatnya berani mengambil keputusan.

Nyai Demang merasa, unsur inilah yang membuat Gendhuk Tri bisa melebihi sesama pendekar. Termasuk dirinya. Yang dalam situasi seperti yang dialami Gendhuk Tri, tak berani menghadapi risiko dengan memotong gerakan tangan lawan.

Gendhuk Tri memang berbeda dan Nyai Demang.

Kalau yang terakhir ini mempelajari dari berbagai kitab dan mengolah dalam pikiran, sebaliknya Gendhuk Tri terjun ke lapangan, jauh sebelum mengenal kitab. Semua yang dilakukan mengalir dengan sendirinya, sebagaimana orang yang melatih reaksi secara langsung.

“Paman Senopati Mapanji, tak perlu berpura-pura menjadi dalang gila…” Mendadak Ki Dalang meraung keras.

Tubuhnya berkelojotan.

Tangannya memukul lantai ruangan sehingga batunya retak. Tangannya sendiri berdarah. “Itu tidak betul.

“Senopati Mapanji Paksa sudah lama menyerahkan keris Keraton. Ia sudah tak ada lagi. Itu tidak betul. Kamu kena kibul.”

“Apa pun yang Paman katakan, Paman tak bisa menyembunyikan diri terus-menerus….” “Lihat, aku hampir menangis.

“Hatiku teriris, karena dituduh yang bukan-bukan. Apa yang kamu omongkan?” Gendhuk Tri mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian meluruskan rambutnya, dan menggelung dengan rapi.

Sorot matanya berubah iba.

“Baik, kalau begitu kemauan Paman.

“Sebagai Ki Dalang Memeling, apa yang Paman inginkan sekarang ini?”

Nyai Demang mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, disertai helaan napas yang dalam. Sangat dalam.

Sekali lagi tak bisa dipungkiri, ia memuji kemajuan Gendhuk Tri. Bukan hanya dalam ilmu silat, akan tetapi juga dalam kedewasaan berpikir dan bertindak.

Dalam sekejap bisa menduga jurus lawan, dan kemudian mematahkan. Dalam sekejap bisa menebak siapa lawan, dan kemudian membiarkan saja. Ini luar biasa.

Justru setelah Gendhuk Tri mengetahui bahwa Ki Dalang adalah Senopati Mapanji Paksa, pada saat yang sama Gendhuk Tri menyadari tak perlu mendesakkan kenyataan itu kepada yang bersangkutan. Karena Ki Dalang sudah menolak mengakui dirinya sebagai Senopati Mapanji Paksa, senopati utusan Keraton Singasari ke Negeri Campa. Menolak keras, karena peristiwa yang dialami dengan Dyah Ayu Tapasi.

Duka lama yang ditelan untuk dihancurluluhkan.

Berubah menjadi Ki Dalang yang dipaksakan, menjadi dirinya yang baru pribadinya yang baru, sehingga semua jalan pikiran benar ditolak.

Ada tepatnya sebutan dalang gendheng, karena secara total ingin mengubah sosoknya. Dan Gendhuk Tri cukup arif untuk tidak menelanjangi kenyataan yang sesungguhnya. “Aku mau peti itu. Karena yang berada di dalam itu milikku.”

Ki Dalang berdiri kembali. Suaranya lantang.

“Kamu bisa mengalahkanku satu kali. Tanganku keduanya sakit sekali. Tapi aku tetap akan merebut.”

“Ki Dalang keliru. Yang Ki Dalang inginkan adalah Sodagar Galgendu….” “Orang itu hanya gemuk tubuhnya.

“Tak lebih.

“Aku sedih. Karena selama ini Galgendu hanya mau membuat semua dari emas, menggali emas. Itu juga aku yang mengajari. Tidak, Galgendu tak pantas dirawat dan dicandikan. Orang dalam peti itu yang pantas.”

“Kita akan merawat bersama-sama, Paman.” “Tidak bisa. Jangan coba.”

Permaisuri Pengayom

KI DALANG MEMELING yang tak lain adalah Senopati Mapanji Paksa menggerakkan tali kamparnya. Seketika menjadi lurus mengarah ke peti.

Bahwa orang yang mempelajari tenaga dalam bisa menyalurkan lewat seutas tambang bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi bahwa Ki Dalang mampu menyalurkan secara penuh pada tambang yang panjangnya hampir dua setengah tombak secara lurus, boleh dikatakan termasuk luar biasa.

Kali ini Nyai Demang yang bergerak cepat. Begitu ujung tali hampir menyentuh peti, Nyai Demang mengibaskan keras. Akibatnya agak di luar dugaan Nyai Demang.

Ujung tali tambang mematuk tangan Nyai Demang. “Aduh!”

Teriakan yang mengagetkan.

Gendhuk Tri sendiri tidak menduga bahwa Nyai Demang bisa kena diserang dalam satu jurus yang dimainkan secara lurus. Lempeng saja gerakan tali mengeras itu. Nyatanya Nyai Demang tak sempat menghindar. Kibasan berikutnya, Ratu Ayu yang berada di tengah ruangan. Di tangannya tergenggam Kangkam Galih.

Tanpa memberi pembukaan, Ratu Ayu menebaskan pedangnya yang tipis hitam panjang. Ki Dalang menarik pulang tambangnya, mengganti dengan ujung yang lain untuk menyerang. Tapi Ratu Ayu sempat dengan mudah menggerakkan batang pedangnya untuk menangkis, mengusir, dan sekaligus balas menyerang. Satu lompatan panjang, Ratu Ayu sudah bisa berdiri dekat sekali. Ketika Ki Dalang melibatkan talinya, hanya dengan sekali sentak tali itu putus jadi beberapa potongan kecil.

“Ratu, kita tak perlu membuat permusuhan dan pertumpahan darah di depan Kakang….”

Suara Gendhuk Tri menghentikan pertarungan, untuk sesaat. Gendhuk Tri memang merasa kurang enak membiarkan Ratu Ayu melukai Ki Dalang. Baik karena Ki Dalang ayah kandung Maha Singanada maupun sebab yang diutarakan.

“Biar bagaimanapun, aku yang merawat peti. Aku yang memiliki. Suara hatiku mengatakan, persis yang kukatakan sekarang ini.”

“Kalau begitu kita rawat bersama, Paman.” “Begitu juga boleh.”

“Nah sekarang Paman mencari pendeta yang bijak untuk memimpin upacara.” “Bisa saja. Apa susahnya.

“Dengan emas segede kepala, apa saja bisa.”

Ratu Ayu menangkap maksud Gendhuk Tri. Yang memperlakukan Ki Dalang sebagai orang yang kurang waras. Agaknya itu jalan keluar yang lebih baik.

Untuk sesaat mereka semua malah bisa berbagi tugas. Dan ternyata Ki Dalang mempunyai wawasan yang luas. Pandangan yang selama ini tak dimengerti Gendhuk Tri.

Meskipun saat itu sebenarnya Gendhuk Tri tak mempunyai minat mendengarkan. “Kamu tahu apa, gadis manis?

“Kulit manusia itu tipis. Mudah tergores, apalagi oleh emas dan oleh keris.

“Emas dianggap sangat luar biasa berharga. Seakan jagat dan isinya bisa dibeli semua. Memang benar begitu. Aku dan Galgendu menemukan tempat penambangan emas di sini. Itu biasa-biasa.

“Sampai kemudian aku menemukan cara yang baik untuk mengelabui sesama mata.

“Aku bisa melapis. Aku bisa membuat tali tambang ini seakan seluruhnya dari emas. Padahal hanya dilapis saja. Semua orang percaya. Termasuk Raja, termasuk orang seberang.

“Jadilah kami berdua sangat kaya raya. “Mampu membangun pohon kelapa dari emas.

“Memang bisa. Tapi sebenarnya hanya lapisan luar. Hanya kulitnya yang bisa terbakar.

“Gadis manis, kapan-kapan kamu akan kuajari bagaimana membuat lapisan seperti itu. Peti itu kita lapis, dan semua orang mengira seluruhnya emas.

“Bukankah itu menarik?”

“Saya kurang mengerti, Paman.”