Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 12

Jilid 12

“Apa yang Pangeran ketahui mengenai Bandring cluring?” “Tak berbeda dari yang diketahui orang lain secara umum.

“Hanya saja… hanya saja… Sayang sekali kalau Upasara sampai tak bisa diselamatkan.” “Kenapa?”

“Ia ksatria sejati. Orang yang baik, gagah, dan besar jiwanya. Dalam jagat yang begini banyak orang jungkir balik, Upasara masih bisa menjadi pendekar sejati. Saya kira gelar lelananging jagat sangat pantas disandang.”

Suara Janaka Rajendra mendadak terhenti. “Adik sangat mengenal Upasara?”

“Kami pernah bersama-sama ketika Baginda mengutus memerangi pasukan Tartar… “Ketika itu…”

Gendhuk Tri tak jadi melanjutkan, karena menyadari saat itu Pangeran Anom belum lahir. Tapi agaknya Janaka Rajendra sedang memikirkan hal lain.

“Akan ke mana kita, Adik?” “Entahlah, asal jalan saja.”

“Atau kita cari Kakang Singanada?

“Rasanya kalaupun pergi tak terlalu jauh. Kakinya buntung dan butuh perawatan. Pastilah masih ada di sekitar Keraton.”

Gendhuk Tri menghela napas. “Percayalah, Adik. Apa yang baik bagi Adik, saya juga akan merasakan kebahagiaan itu.”

Sebenarnya Gendhuk Tri masih ingin mendengarkan pujian atau komentar Pangeran Anom mengenai Upasara Wulung. Kalimat yang bagaimanapun pendeknya, ternyata bisa membuat Gendhuk Tri lega.

Ah, kenapa pikirannya tak bisa lepas sedikit pun dari Upasara? Ataukah ada sesuatu yang gawat yang terjadi padanya?

Peramal Truwilun

BELUM sepenanak nasi berjalan, mereka berdua sampai ke tempat yang cukup ramai. Gendhuk Tri merasa agak heran. Karena tidak biasanya larut malam seperti sekarang ini masih banyak penduduk berada di luar rumah. Apalagi jumlahnya cukup banyak.

Tanpa sengaja, Gendhuk Tri menarik tangan Janaka Rajendra, karena takut dikenali. “Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak menyenangkan,” bisik Gendhuk Tri.

“Untuk apa kita mencurigai yang belum pasti?”

“Ssstttt. Pangeran tak banyak tahu keadaan di luar Keraton. Kalau begini banyak orang berkumpul…”

Dugaan Gendhuk Tri terbentur pada apa yang dilihatnya. Ternyata penduduk itu bergerombol di halaman sebuah rumah yang cukup besar, diterangi banyak sekali obor. Mereka yang datang dan berkumpul kebanyakan penduduk desa biasa. Bahkan beberapa orang datang bersama dengan keluarganya.

Tak sulit bagi Gendhuk Tri untuk berbaur dan mulai bertanya kiri-kanan. Janaka Rajendra lebih suka memuaskan pandangannya, seolah belum pernah melihat manusia yang begitu banyak berkumpul, dalam keadaan seperti sehari-hari. Baik pakaian yang dikenakan, maupun sikap mereka.

Sebagian besar malah tiduran di halaman yang terbuka.

“Kalian pasti datang dari jauh. Inilah rumah Kiai Dukun yang bisa memberikan ketenteraman itu.”

Gendhuk Tri mengangguk-angguk. Ia menganggap wajar jika ada dukun yang dianggap sakti dan masyarakat berbondong-bondong datang. Untuk situasi sekarang ini sangat mungkin sekali. Dalam tata pemerintahan yang mengalami perubahan, di mana pegangan lama terlepas sementara pegangan baru belum di tangan, dukun adalah pilihan utama.

“Apakah Kiai Dukun bisa menyembuhkan segala jenis penyakit?” “Tidak, kalau beliau tidak berkenan.

“Lebih suka memberikan jampi-jampi untuk ketenteraman.” “Kapan giliran kita bisa menemui?”

18

“Besok pagi atau lusa. Banyak sekali yang datang. Baru sore tadi rombongan dari Keraton datang, sehingga kita harus menunggu.”

“Rombongan dari Keraton? “Ya, utusan Permaisuri….”

Kali ini Gendhuk Tri mengerutkan keningnya agak lama. Bahwa seorang permaisuri memerlukan dukun, itu bukan hal yang aneh. Seratus dukun bisa didatangkan dan dimintai nasihatnya. Akan tetapi bahwa seorang permaisuri melakukan secara terang-terangan, pasti ada alasannya.

Kalau bukan karena kebutuhan yang mendesak, pasti karena kiai dukun ini tak mau diundang ke Keraton. Meskipun tidak begitu mendalami, Gendhuk Tri cukup tahu bahwa dukun sering mempunyai perilaku yang aneh

Dan ternyata jawaban yang kedua yang benar. Ini diketahui ketika Gendhuk Tri berdiam cukup lama dan mendengarkan pembicaraan. Bahwa Kiai Truwilun tidak mau dipaksa pergi ke Keraton..

Cara menamakan diri yang aneh. Truwilun bisa diartikan bodoh. Agak tidak lazim seseorang yang mencari nama justru menyebut dirinya bodoh.

“Ayo kita teruskan mencari Kakang Singanada….”

“Ssstttt, siapa tahu Pak Kiai ini bisa melihat dari kejauhan. Daripada kita susah mengaduk-aduk seluruh kampung, lebih baik bertanya ke dalam.

“Apa salahnya?”

“Kalau Adik menghendaki, apa salahnya?” Tetapi mereka berdua tak bisa masuk begitu saja. Antrean sangat panjang. Tak mungkin menerobos masuk. Lebih banyak yang menunggu giliran sambil berbaring. Baik yang kelihatannya sehat, maupun yang datang digotong sambil merintih.

Gendhuk Tri memutuskan segera meninggalkan tempat, ketika mendengar suara seseorang dari kejauhan.

“Siapa pun yang datang dan membutuhkan pertolongan Kiai Truwilun, silakan menunggu giliran. Kami tak peduli utusan dari mana saja datangnya. Kami tak membedakan pangkat dan derajat.”

Boleh juga, pikir Gendhuk Tri dalam hati. Sehingga langkahnya kembali tertahan. Sementara agaknya para prajurit yang menjadi utusan tampak jengkel, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

“Saya hanya menyampaikan pesan Kiai, jangan marah kepada saya….” Mendadak saja semua suara terdiam.

Terdengar langkah kaki mendekat. Gendhuk Tri berusaha mendekat agar bisa melihat lebih jelas.

Ternyata yang disebut Kiai Truwilun adalah lelaki yang rambutnya dibiarkan tumbuh secara liar. Pakaian yang dikenakan berlapis-lapis dari berbagai kain. Langkahnya lebar dan suara kayu sembarangan yang digunakan sebagai sandal terasa keras. Jenggot dan kumisnya sama seradakan- nya.

Hanya sekilas, Gendhuk Tri melihat sorot mata yang damai, menenteramkan, ramah.

“Saya tak bisa meninggalkan tempat ini, sebelum yang membutuhkan pertolongan saya temui. Senopati Halayudha, tolong sampaikan hal ini kepada yang menyuruh Senopati….”

Gendhuk Tri melengak.

Sejauh matanya memandang tak tampak bayangan Halayudha. Bagaimana mungkin Kiai Dukun itu menyebut nama senopati yang berkuasa begitu saja?

“Wajah dan tubuh bisa disembunyikan, akan tetapi niatan hati yang sebenarnya tak bisa ditutupi. “Terima kasih atas pengertian Senopati….”

Baru ketika mengikuti pandangan Kiai Truwilun, Gendhuk Tri menyadari bahwa di antara para prajurit terlihat bayangan Senopati Halayudha.

Inilah hebat!

Meskipun Gendhuk Tri sering melihat Halayudha, akan tetapi tak bisa mengenali dalam samaran. Begitu juga orang lain, demikian jalan pikiran Gendhuk Tri.

Bahwa Halayudha bisa dikenali, itu saja menunjukkan kejelian. Karena meskipun berkuasa dan sangat terkenal, tak begitu banyak yang melihat pemunculan Halayudha. Apalagi sewaktu menyamar.

Bukan tidak mungkin, Kiai Truwilun ini memang bisa menangkap suara hati-seperti yang dikatakan. “Baik, kalau memang begitu.

“Tapi karena kamu dikatakan orang yang bisa melihat apa yang orang lain tidak melihat, katakan apa yang dikehendaki oleh Paduka yang menyuruhku.”

“Maaf, Senopati Halayudha, saya tidak bisa mengatakan di sini. Kecuali kalau Senopati Halayudha tidak kuatir persoalan Paduka dibeberkan di sini.

“Saya tahu bahwa ada yang ingin menyembuhkan kakinya yang terluka, ada yang sedang gelap hatinya, ada yang mencari pujaannya, ada yang mencari orang yang terluka… Tapi saya tak ingin mengatakan secara terbuka.”

Kali ini ganti Janaka Rajendra yang menggenggam tangan Gendhuk Tri. “Apa yang dimaksudkan kita?”

“Siapa lagi?”

Kiai Truwilun mengangguk ke arah Gendhuk Tri, lalu berbalik ke dalam. Suara sandal kayunya terdengar berat, karena diseret seenaknya.

Halayudha segera menjauh. Meninggalkan kerumunan, diikuti para prajurit. Mendadak pembicara pertama yang tadi menuding ke arah Gendhuk Tri. “Silakan, kamu diperkenankan masuk lebih dulu….”

Gendhuk Tri mengangkat alisnya.

Janaka Rajendra ikut melangkah ke dalam rumah.

Sebuah ruangan yang lega, luas. Hanya Kiai Truwilun yang duduk di tengah ruangan, sendirian. “Kamu ragu, apakah saya bisa menebak jalan pikiran, dan apa yang bisa saya lakukan. Bukankah begitu?”

“Kecuali kalau satu patah kata saja membuat saya yakin. Apa betul saya mencari seseorang yang terluka?”

“Kamu sudah mengatakan sendiri.

“Kamu gadis yang baik hati, memikirkan kakang yang juga memikirkanmu. Ia terluka parah, keadaannya sulit diketahui. Sangat memerlukan pertolongan, dan harus berhati-hati. Jangan berbuat sembrono seperti biasanya.”

“Apa kakinya tidak membusuk?”

Kiai Truwilun menoleh ke arah Janaka Rajendra. “Yang kamu tanyakan orang lain.

“Bukankah kamu, Pangeran yang budiman, seharusnya tak berada di tanah ini lagi? Kenapa tidak mengikuti orangtua yang sedang membangun Keraton untukmu?”

Pandangan Janaka Rajendra memperlihatkan rasa kaget. Bibirnya setengah terbuka.

“Tak ada yang tahu siapa kamu. Kecuali kalau kamu memperlihatkan diri. Itu sebabnya aku memintamu masuk lebih dulu. Bersembunyilah di sini. Jangan perlihatkan dirimu.”

Lalu Kiai Truwilun menatap Gendhuk Tri. “Juga kamu.”

Gendhuk Tri setengah tak percaya apa yang didengarnya. Jelas bahwa Kiai Truwilun bisa menebak jitu bahwa yang dicari dan dikuatirkan adalah Upasara. Sementara Janaka Rajendra sendiri masih menduga Singanada. Atau suatu kebetulan?

Tamu dari Langit

TRUWILUN tak menunggu reaksi Gendhuk Tri maupun Janaka Rajendra. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju halaman, diikuti pengikutnya.

“Cantrik, kamu siapkan dirimu. Kita layani semua ini sebelum tamu dari langit datang….”

Suaranya ulem, lembut, dan menenteramkan. Truwilun segera berkeliling. Menemui pengunjungnya satu demi satu. Mengusap wajah bayi yang kesakitan, memijat lelaki tua yang mengerang tak bisa bergerak, mengurut, dan adakalanya menyuruh orang yang dipanggil Cantrik itu untuk meneruskan pengobatan. Truwilun sendiri berkeliling dan menyelesaikan dengan cepat.

Semua yang ada di halaman menunduk hormat.

“Bawalah kembali semua barang itu, Kisanak. Saya masih bisa makan dan kalian sendiri membutuhkan.”

Dalam waktu yang singkat separuh halaman yang luas sudah didatangi satu per satu, diobati. Gendhuk Tri mengawasi dari kejauhan. Bisa dimengerti kalau kiai yang satu ini sangat terkenal. Ia melakukan pertolongan tanpa pamrih sama sekali. Bahkan pemberian yang ikhlas seperti ayam, ketela, padi sayuran, ditolaknya.

“Tak perlu cemas, Ibu. Kalau sekarang anak Ibu tidak mau bekerja dan maunya termenung saja, itu tak akan berlangsung lama. Sebentar lagi ia akan menjadi prajurit Keraton. Asal mau tekun dan menghilangkan pikiran yang bukan-bukan.”

Pada wanita yang lain, Truwilun berbisik lirih,

“Saya sendiri lelaki. Saya bisa mengerti kalau lelaki yang sudah mempunyai istri melirik wanita lain dan tak mau pulang. Pada dasarnya suami Ibu baik. Sebentar lagi akan kembali. Legalah menerima ini sebagai kenyataan, atau kalau Ibu ingin berpisah, berpisahlah dengan cara yang baik.

“Tak ada gunanya membuka kesalahan suami. Suami Ibu telah mengetahui salahnya, hanya menunggu saat yang baik untuk menarik langkah itu.”

“Akan tetapi, Kiai…”

“Ibu perlu menenangkan diri. Itu saja. Jangan berpikir yang merugikan hati Ibu sendiri. Kalau tak pulang, bukan berarti bersenang-senang terus. Ketahuilah bahwa suami Ibu juga sama gelisahnya dengan Ibu. Kalau dijumlah bisa tak tertahankan.”

“Apakah saya diberi jampi tertentu atau suami saya…” “Tak perlu.

“Ibu pulang saja. Suami Ibu menunggu di rumah sekarang ini.” Separuh halaman sisanya diselesaikan secara cepat. Kadang hanya nasihat, kadang disertai pijitan atau urutan di bagian tubuh. Meskipun kelihatan hanya mengusap, akan tetapi karena jumlah yang ditolong sangat banyak sekali, Truwilun kelihatan berkeringat.

Baru kemudian melangkah kembali ke dalam, sementara Cantrik melanjutkan pengobatan. “Apa yang mengherankanmu?”

“Rasanya Kiai benar-benar bisa meramal dengan baik dan tepat.”

“Pertama, jangan panggil Kiai atau sebutan lain. Kedua, semua orang bisa melakukan jika mau. Yang penting adalah niat, kemauan yang sangat.

“Kamu sendiri bisa menyembuhkan penyakit patah tulang, keseleo, dengan mengirimkan tenaga dalam yang terlatih. Kamu bisa menolong kalau mempunyai niat.

“Dan kamu, Pangeran, bisa menolong sesama dengan harta kekayaan yang kamu miliki, bila mau. “Tak ada yang menghalangi.”

“Apakah Kiai… ngng… melakukan ini setiap hari?”

“Selama mereka masih datang dan membutuhkan pertolongan, membutuhkan jawaban, dan saya masih mempunyai niat, akan terus saya lakukan.”

Janaka Rajendra mengangguk.

“Saya akan melakukan, bila waktunya mengizinkan.”

“Setiap waktu adalah izin tetapi juga bukan izin. Untuk membantu orang tak perlu menunggu kapan datangnya kiriman atau kapan memegang harta. Apa yang kita miliki bisa kita serahkan.

“Tak ada yang perlu ditunggu, Pangeran.”

“Dari mana Kiai mengetahui saya Pangeran Anom?” “Tak ada rahasia bagi kemauan baik.”

“Apakah Adik Tri bakal menemukan Kakang Singanada?”

“Kalau memang akan bertemu, pasti akan terjadi. Kalau Pangeran mencemaskan itu, juga tak ada gunanya. Semua yang harus terjadi, akan terjadi dengan sendirinya. Daya asmara tak akan berhenti hanya karena Adik Tri bertemu Singanada atau tidak.

“Kecuali…”

Gendhuk Tri menggeleng.

“Lebih baik kita menunggu di belakang, Pangeran. Karena agaknya yang mengutus Halayudha sudah terdengar derap kakinya.”

Truwilun mengelap bibirnya.

Wajahnya penuh dengan sinar welas asih. “Siapa yang mengutus?”

“Permaisuri Indreswari.” Truwilun menggeleng pendek.

“Tamu yang sekarang ini tamu dari langit. Raja yang telah melayang ke langit, karena telah menyerahkan kekuasaan Keraton kepada putranya.

“Tak apa kalau kalian merasa tidak takut dikenali. Kalau tidak, menyingkirlah ke dalam….”

Gendhuk Tri melangkah ke dalam. Adalah di luar dugaannya bahwa sekali ini yang datang mengunjungi adalah Raja Kertarajasa yang diibaratkan tamu dari langit, karena kini tak lagi menginjak bumi.

Untuk urusan apa?

Berada di ruangan dalam, Gendhuk Tri memasang pendengarannya baik-baik. Sebaliknya Janaka Rajendra hanya berdiam diri, lebih banyak mengawasi apa yang dilakukan Gendhuk Tri.

Dari celah-celah papan kayu Gendhuk Tri masih bisa mengenali lelaki gagah yang dulu dikenali sebagai Raden Sanggrama Wijaya. Hanya saja sekarang ini tampak jauh lebih tua. Wajahnya lebih kelam, sebagian rambutnya dibiarkan memutih.

Caranya melangkah dan menatap tak berubah sedikit pun. “Jadi kamu ingin saya datang sendiri, Truwilun?”

Truwilun menyembah dengan hormat dan dalam. “Sebab hamba mengetahui jiwa besar Baginda….” “Apa masih tepat kamu menyebut Baginda? Aku bukan raja yang memerintah lagi.”

“Sebutan raja bukan hanya bagi yang tengah memerintah. Baginda Raja Sri Kertanegara telah lama berada di alam kebahagiaan tanpa batas, akan tetapi bagi sebagian kawula sebutan itu seolah Baginda Raja masih ada.”

“Aku mendengar nama besarmu, Truwilun. Setiap hari semua orang membicarakanmu. Apakah kamu tiba-tiba saja menjadi orang sakti?”

“Hamba sama sekali tidak sakti, Baginda. Dan tidak tiba-tiba. Kalau semasa Baginda memerintah, hamba tidak menjalankan darma bakti, karena hamba merasa bahwa tanpa itu, alam telah berjalan dengan damai dan sejahtera.”

“Dengan kata lain, kamu mau mengatakan sekarang ini zaman kemelut?” “Baginda yang menyabdakan itu. Bukan hamba.”

“Truwilun, katakan apa adanya. Di mana kelebihan Baginda Raja atas diriku, di mana kelebihan diriku atas putraku, dan di mana kelebihan putraku atas Baginda Raja?”

Sejenak Truwilun tepekur.

Dari balik bilik, Gendhuk Tri agak kecewa. Tadinya ia berharap bakal mendengar sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan di belakang hari. Akan lebih menarik kalau Baginda bertanya mengenai selir atau minta jampi memikat asmara atau sejenis itu. Ternyata yang dibicarakan masalah Keraton

“Baginda tak perlu risau mengenai hal itu. Sejarah dan para Dewa sudah menuliskan jasa besar Baginda. Segunung kebaikan telah Baginda tanamkan, curahkan untuk seluruh kawula. Tak ada yang bisa mengurangi.”

“Kamu tidak menjawab pertanyaanku, Truwilun. “Aku sengaja datang untuk mendengar jawabanmu.”

“Keunggulan Baginda Raja yang tak tertandingi ialah pandangannya seluas lautan tanpa tepi, sejauh angin bisa berembus. Baginda Raja Sri Kertanegara tidak melihat batas cakrawala. Jagat dan seluruh isinya bukanlah batas. Sepanjang sejarah para raja. Hanya Baginda Raja yang mampu melihat tanpa batas.

“Baginda Raja membuka jagat yang baru. Membuat batas-batas tanpa batas. Membuat gunung menjadi rendah dan bisa dilalui, membuat samudra bagai parit kecil yang bisa dilewati.”

“Aku tidak mempunyai pandangan sejauh itu?” “Kalaupun ada, Baginda Raja yang memulai.

“Baginda yang memulai tatanan di mana jagat yang diciptakan Baginda Raja masih perlu ditempatkan tata aturannya.

“Kelebihan raja yang masih sangat muda usia sekarang ini, dibandingkan dengan Baginda Raja, adalah kemampuan yang tak tertandingi. Di usia raja yang sekarang ini, Baginda sendiri masih bermain bunga, dan Baginda sendiri masih belajar menembang kidungan dasar. Raja Jayakatwang yang sekarang sudah memikul dan sanggup menjalankan tata pemerintahan Keraton.

“Apakah ini bukan kelebihan utama?”

“Apakah itu berarti aku terlalu pagi memberi kesempatan kepada putraku?”

“Cepat atau lambat, wahyu dari Dewa harus diteruskan. Baginda tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, karena waktu bukanlah kebenaran yang sejati.”

Percakapan Takhta

“APA maksudmu?”

“Waktu adalah kebenaran yang dibuat oleh manusia. Bukan oleh Dewa di atas semua Dewa. Cepat atau lambat, cepat atau lama adalah semata-mata perhitungan kita manusia yang tak bisa melepaskan putaran waktu. Yang menghitung kala rembulan muncul dan tenggelam.

“Hamba ingin menjawab sekaligus pertanyaan Baginda mengenai apakah Putra Baginda bakal memerintah lama atau sebentar.”

“Apakah itu berarti putraku hanya memerintah sementara?” “Hamba telah menjawab sebisa hamba, Baginda.”

“Aku ingin mendengar jawaban yang tidak harus ditafsirkan dua atau tiga kali. Kamu hanya harus menjawab: Apakah putraku bakal memerintah lama atau tidak?”

“Hamba telah menjawab. Dan itu tak perlu ditafsirkan. Lagi pula takhta dan kebijaksanaan tidak dihitung dari lama atau tidak lama. “Baginda telah mendengar jawabannya, sebelum hamba berbicara.” Baginda terbatuk agak keras.

“Truwilun, katakan apakah aku keliru memilih Kala Gemet menjadi pewarisku?”

“Seorang raja tak bisa disalahkan, kecuali kalau mencabut kata-katanya. Dan Baginda tidak mencabut kata-kata Baginda.

“Apa yang harus disalahkan?”

“Selama ini aku percaya ramalan dan perhitungan para pendeta di Keraton. Bahwa anak turunanku dari Gayatri akan melahirkan raja yang tiada taranya di tanah Jawa. Apakah perhitungan ramalan itu terlihat olehmu?”

“Dengan sangat jelas, Baginda.

“Puncak-puncak Keraton akan mewujud, atas perkenan Dewa dari segala Dewa.” “Apakah itu berarti pertarungan perebutan takhta?”

Truwilun menunduk. Pundaknya menggigil. Baginda menunggu.

“Hamba manusia yang sangat terbatas oleh kebodohan dan kepicikan…

“Kalau kamu bisa melihat dan tak mau mengatakan apa yang kamu lihat bukankah itu mengingkari dharma bekti-mu?”

“Hamba, Baginda, hamba…” “Katakan…”

“Sejauh yang bisa hamba lihat, perebutan takhta tak akan terjadi lagi. Raja Muda Gelang-Gelang adalah yang terakhir kali ingin membelokkan aliran darah biru.

“Itu tak bisa terjadi lagi. “Itulah takdir Dewa.”

Baginda menghela napas lega. Tetapi batuknya terdengar lagi.

“Ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hatiku. Kalau benar suatu hari nanti Keraton akan memuncak dan memayungi jagat seluruh isinya, kenapa harus melalui jalan yang rumit?

“Apakah kamu akan menjawab bahwa semuanya karena waktu? Dan waktu adalah kungkungan manusia?

“Aneh.

“Truwilun, kamu mengetahui bahwa Raja tak bisa menarik kata-katanya kembali, sabda pendita ratu. Tetapi, apakah tidak lebih baik kalau takhta saya tarik kembali?”

“Hamba tidak melihat itu, Baginda.

“Takhta adalah wahyu. Takhta adalah jelmaan kekuasaan Dewa di atas semua Dewa. Kekuasaan di atas semua kekuasaan di bumi. Adalah pegangan di atas semua pegangan.

“Kalau ini digoyahkan, tata krama atau tata aturan akan jungkir-balik, dan rakyat akan risau, kacau, bagai ditumpahkan dari sumbernya.

“Baginda adalah pilihan Dewa.” “Apa betul begitu?

“Apa bukan karena saat itu, putra keturunan Singasari yang berada di medan pertarungan yang bisa dilihat adalah aku?”

“Dewa memilih Baginda, dan memperlihatkan itu.” “Dewa yang mana?

“Sebelum aku menjatuhkan pilihan kepada putraku, aku berdoa siang-malam. Aku bersemadi secara khusyuk. Tak ada petunjuk, tak ada wangsit. Tak ada suara apa-apa.”

Suara Baginda tertahan lama. Tanpa getaran. Tanpa gema. “Apa itu artinya, Truwilun?”

“Artinya hanya kesangsian, Baginda….” “Kesangsian?” “Kalau benar Baginda tak mendengar isyarat apa pun, berarti selama ini tak pernah ada isyarat apa- apa. Berarti Dewa telah menyatu dalam diri Baginda.”

“Aha, kamu pun masih ingin menghiburku?

“Saat-saat terakhir sisa hidupku ini, aku tak mempunyai teman berbicara seperti ini. Aku terkurung, sendirian, bolak-balik tak menentu. Aku merasa kehilangan pegangan, kehilangan suara yang mendesis yang dulu kadang kudengar lamat-lamat dalam hatiku yang dalam.

Tetapi aku tak peduli.

Dulu, aku tak peduli. Sekarang aku mencoba mencari, akan tetapi seperti kamu katakan aku tamu dari langit yang tak menginjak bumi.”

“Raja yang besar adalah raja yang tak pernah menyesali dan mencabut apa yang dikatakan.”

“Tetapi, Truwilun, apa sesungguhnya yang telah kulakukan? Aku menduduki takhta, dan aku tak berbuat apa-apa.

“Aku menduduki takhta, karena takhta itu disorongkan kepadaku. Karena aku butuh tempat duduk setelah kelelahan yang panjang.

“Apa yang kulakukan sebelumnya?

“Tak ada. Para senopati yang menghalau prajurit Jayakatwang. Yang menggiring pasukan Tartar hingga ke laut. Yang membuat penjagaan ketika mereka kembali.

“Aku hanya menjadi umbul-umbul, menjadi bendera yang dikibarkan. Hanya karena aku manusia, aku memutuskan ini dan itu. Yang bisa saja malah tidak pada tempatnya. Sehingga soal mahapatih saja berlarut-larut.

“Hanya karena akulah Raja yang tak bisa menarik kembali apa yang kukatakan, semuanya terjadi dan dianggap semestinya terjadi.

“Bukankah itu sebenarnya yang terjadi?

“Bukankah begitu banyak nasib manusia yang lain yang sangat tergantung pada sepatah kataku yang tak bisa ditarik dan tak akan dibantah?”

“Maaf, Baginda, hamba…”

“Aku tidak menginginkan jawaban yang menghibur.

“Kalau kamu menjadi aku sekarang ini, apa yang kamu lakukan Truwilun?” “Hamba tak bisa diandaikan, Baginda.”

“Kenapa tidak?”

“Hamba bisa diandaikan mahapatih, senopati, bahkan permaisuri. Tetapi bukan raja.” “Kenapa?”

“Karena takhta hanya satu, dan tak bisa diandaikan.”

“Dengan kata lain, seharusnya aku menyadari itu sebelum aku mengatakan dan memutuskan sesuatu? Harusnya aku menyadari ini semua ketika aku masih memegang takhta dan bukan sekarang ini?

“Itukah yang akan kamu katakan?” Truwilun menyembah.

Dalam. Tepekur.

“Bukankah aku terlambat…”

“Tak ada yang terlambat untuk memulai berpikir sebagaimana seharusnya. Tak ada derajat atau pangkat yang membatasi untuk berbuat ke arah yang lebih baik.

“Banyak jalan ke arah itu.

“Jalan Buddha jumlahnya sembilan. “Juga jalan yang lain.”

“Apakah kalau aku berbuat baik bagi orang lain, bagi penduduk, bagi diriku sendiri, akan menghapus atau mengurangi kesalahanku?”

“Dewa yang memperhitungkan dengan maha adil, bukan sesama manusia.” “Tidak juga aku, walaupun aku Raja?”

“Raja hanya bisa memperhitungkan dirinya sendiri, bersama Dewa.” “Truwilun, kamu sudah mengatakan kejujuran yang luar biasa. Ini pertama kalinya aku mendengar suara yang jujur. Tapi sebenarnya aku berharap lebih dari ini.

“Terima kasih.

“Semoga Dewa memberkatimu.

“Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu, dan aku bisa melakukan, katakan sekarang juga.” Wajah Truwilun mendongak.

“Hamba tak pernah meminta sesuatu….”

“Kalau begitu aku yang meminta sesuatu padamu. Apa yang kamu minta?”

“Biarkanlah alam mengikuti iramanya. Angin tak bisa dikurung, rembulan tak bisa ditahan. Takhta akan tetap di tempatnya, tanpa perlu mengubah siang menjadi malam.”

Baginda tertunduk. Lama.

“Truwilun, bolehkah aku berguru padamu?”

“Seperti yang lainnya, hamba akan menerima. Seperti permintaan yang lain lagi, dari siapa pun, hamba akan menerima.”

Baginda mengangguk dalam.

“Dewa selalu mengasihi orang yang baik. Teruskan amal bekti-mu, Truwilun….”

Mengulangi Sejarah

RAJA KERTARAJASA menangguhkan langkahnya.

“Ada yang tersimpan dalam sorot matamu, Truwilun. Katakan, sebelum entah kapan malam titisan mana kita bisa bertemu.

“Tak perlu ragu.

“Seluruh tubuhmu murni, akan tetapi yang terutama ialah sorot matamu. Itu sebabnya sejak pertama kali melihatmu, aku tak menaruh prasangka sedikit pun.

“Apa yang ingin kausampaikan?” “Baginda lebih mengetahui.”

“Adakah kegelisahan yang kurasakan juga dirasakan Baginda Raja?”

“Ketika merasa menjadi manusia, hamba kira tak ada bedanya. Semua manusia mengalami kegelisahan yang sama.”

“Itu yang ingin kausampaikan, Truwilun?” “Sesungguhnyalah, Baginda….”

“Apa dosanya sehingga Baginda Raja yang perwira, sakti, yang menurut kamu membuat batas tanpa batas, yang menguak cakrawala, yang meluaskan lautan dan mengikuti angin, harus mangkat secara mengenaskan? Apakah itu juga takdir? Apakah karena itu aku naik takhta?

“Apakah jalannya harus seperti itu?

“Demikian juga yang terjadi dengan putraku, sebelum raja yang sebenarnya muncul? Apakah semua raja harus mengulangi sejarah yang kitabnya dituliskan Dewa?”

“Hamba tak berani dan tak kuasa menjawab.

“Baginda Raja yang kondang sampai ke Keraton para Dewa, yang diakui dan dihormati, bukannya tidak menyadari kemungkinan datangnya bencana yang mengenaskan.”

“Ah, kamu selalu memuji kebesarannya.” “Memang kenyataannya seperti itu, Baginda.”

“Aha, apakah Baginda Raja bercerita padamu sebelumnya?”

Nada suaranya menegaskan rasa gusar yang tak tertutupi. Karena dalam hal begini, emosi yang lebih dulu berbicara. Bahwa seorang raja bisa emosional, sesuatu yang wajar karena yang dibicarakan juga kelas raja.

“Juga bercerita kepada Baginda.” “Oh ya?”

“Dalam Kidung Pamungkas, kitab terakhir yang direstui, Baginda Raja menceritakan semuanya secara jelas, Baginda.” “Truwilun, kamu lebih mengerti. Tolong sebutkan di bagian mana, kidungan keberapa yang mengatakan itu.”

“Di semua lirik, dalam setiap kidungan.”

“Diceritakan bahwa akan ada pengkhianat yang akan menewaskan Baginda Raja?” “Lebih dari itu.”

“Aku tak pernah membaca….”

“Kidung Pamungkas adalah kitab terakhir yang direstui Baginda Raja yang secara resmi diwajibkan untuk menjadi bacaan utama. Setelah Kitab Bumi dan Kitab Air, inilah kitab yang berikutnya.

“Maaf kalau bicara hamba lancang….” “Teruskan…”

“Dalam Kidung Pamungkas, dari awal hingga akhir diceritakan mengenai manusia, yang akan bisa menjadi mahamanusia. Bahwa sesungguhnya manusia adalah sumber segala kehidupan, napas, dan juga tenaga dalam. Bahwa sesungguhnya manusia yang menguasai, yang bisa berubah menjadi apa saja. Diam bagai tanah, menggeliat bagai api, menyiram bagai air, terbang bagai burung, merayap bagai ular, menjilat bagai serigala…

“Manusia bisa berubah menjadi pendeta, ksatria, senopati, pangeran, bahkan raja, tapi juga bisa berubah menjadi cacing, kepinding, dan yang paling hina.

“Bahwa anak bisa menolak bapak, keponakan menyalahkan bibi, mertua bisa membunuh menantu, manusia melawan Dewa. Semua hanya bisa dilakukan oleh manusia.”

“Aku mendengar semua itu.”

“Bukankah secara gamblang telah diperkirakan bahwa seorang Jayakatwang bisa mengangkat senjata kepada Baginda Raja. Apa pun kebaikan yang telah ditanam sejak Jayakatwang belum lahir.”

“Oho, jadi itu yang kamu maksudkan telah mengatakan segalanya?

“Truwilun, apakah kamu lupa kisah mengenai Kidung Paminggir Bahwa kitab itu ditulis Eyang Sepuh dari Perguruan Awan, yang juga melahirkan Kitab Bumi! Bahwa Baginda Raja sedemikian murkanya, sehingga sejak saat itu Baginda Raja tak sudi melihat bayangannya sekalipun?

“Apakah kamu tak pernah mendengar, Truwilun?” “Sejauh yang hamba dengar, begitulah permulaannya.

“Baginda Raja sedemikian murka, seperti siapa saja yang mendengarkan.

Karena dari kitab itu, kidungan yang ada bisa diartikan jauh melenceng dari kehendak para Dewa. Bahwa orang-orang paminggir, orang-orang yang tidak diperhitungkan, orang-orang kesrakat, selama ia masih manusia, bisa naik ke jenjang yang tinggi.

“Bahwa bukan hanya keturunan raja yang bisa memegang takhta. Bahwa orang-orang pinggiran, suatu ketika akan memegang kekuasaan, baik secara resmi ataupun tidak.”

“Tunggu,” Baginda memotong dengan cepat. “Apakah itu yang mau kamu katakan dari sorot sinar matamu tadi? Apakah itu ada kaitannya dengan penerus setelah putraku Jayanegara memegang takhta untuk waktu yang tidak lama?

“Itukah yang ingin kamu katakan?”

“Hamba tak akan mengatakan apa yang samar dan tak terlihat. Kalau betul hamba bisa mengetahui, hamba tak akan berani berdusta.”

“Truwilun, rasa-rasanya kamu mengetahui apa yang telah terjadi di Keraton Singasari. Sejauh ini keterangan yang ada agak simpang-siur. Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga Baginda Raja tak mau menerima dan merestui Kidung Paminggir?”

“Kidungan itu diciptakan oleh Eyang Sepuh, karena perkenan dan permintaan Baginda Raja. Akan tetapi ketika kitab itu dijabarkan dan diuraikan, Baginda Raja merasa bahwa Eyang Sepuh menyiapkan kraman, pemberontakan besar-besaran seluruh rakyat. Bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk berada di kursi kekuasaan, di dampar kencana.

“Ajaran yang sangat kurang ajar. “Meniadakan tata krama.

“Menjungkir-balikkan sejarah. Mengubah kemauan para Dewa.” “Dan kemudian Baginda Raja merasa bahwa itu yang akan terjadi?”

“Baginda Raja menegaskan, bahwa keleluasaan manusia tak pernah jelas batasnya. Bahwa kesempurnaan manusia akan dicapai saat menjadi maha-manusia.” “Truwilun, jelaskan padaku, kenapa Baginda Raja melihat kemungkinan menjadi mahamanusia pada diri manusia?”

“Hamba baru saja mengatakan, bahwa Baginda Raja membuat batas tanpa tepi. Usaha yang dilakukan Baginda Raja tak pernah setengah-setengah. Itu sebabnya seluruh senopati yang ada dikirimkan ke tanah seberang. Itu sebabnya Ksatria Pingitan didirikan. Itu sebabnya semua penduduk diajari ilmu silat yang bersumber dari Kitab Bumi secara besar-besaran.

“Hamba hanya bisa menangkap seujung rambut dari gagasan Baginda Raja yang maha luas, yang melihat sesuatu tanpa batas-batas yang ada. Demikian juga halnya dalam melihat manusia.”

“Apakah ada pengaruhnya, dalam dunia persilatan dan keprajuritan?” “Masih harus dibuktikan, Baginda.

“Sewaktu Kitab Bumi diresmikan sebagai ajaran resmi ilmu kanuragan, terjadilah perubahan besar- besaran yang luar biasa. Semua penduduk, semua lelaki, tanpa kecuali, bisa bermain silat. Setiap saat ada prajurit yang berada di tengah sawah, di tengah laut, di pasar.

“Rencana berikutnya untuk meresmikan Kitab Air, agak sayang, tak bisa dilaksanakan karena sejarah berjalan berbeda dari yang diperkirakan Baginda Raja.

“Apalagi dengan Kidung Paminggir. “Adakah gemanya?”

“Kitab Bumi, Baginda bisa menemukan secara langsung. Sejak menghadapi prajurit dari Gelang- Gelang, hingga penggiringan pasukan Tartar yang kesohor, sampai sekarang ini.

“Pengaruh Kitab Air, sekarang mulai terasakan dengan munculnya Pendeta Manmathaba, Pangeran Anom, Gendhuk Tri, yang dalam beberapa waktu dekat ini akan meramaikan percaturan dunia persilatan.

“Kitab Paminggir… tak ada yang mampu meramaikan apa yang sesungguhnya bakal terjadi dengan gelombang perubahan dalam jagat ini. Sebab semua dibuka kemungkinannya.”

“Berbeda dari Kitab Bumi dan Kitab Air, Kitab Paminggir dalam kidungannya sama sekali tidak menyinggung cara berlatih ilmu silat atau mengatur pernapasan.”

“Justru karena itu agak mengerikan, Baginda. Dengan niat, niyatingsun menjadi mahamanusia, dengan bekal Kitab Bumi atau Kitab Air, segala apa bisa terjadi. Segala jalan bisa ditempuh dan diadakan.

“Tak ada lagi yang bisa dibedakan, mana jalan ksatria yang sesungguhnya dan mana jalan yang menjadikan pembenaran semata.”

“Apakah aku masih akan mengalaminya?” “Baginda sudah mengalami, sekarang ini….”

Baginda memejamkan matanya. Menghela napas berat. Tubuhnya seperti menggigil.

Bersamaan dengan masuknya Pendeta Manmathaba yang menyembah hormat, bersila, dan menunduk dengan dalam.

Sanggar Pamujan di Simping

BAGINDA mengelus dagunya sambil mengembuskan napas kesal. “Ada kabar apa, Manmathaba?”

“Duh, Baginda, semata-mata hanya karena menjalankan tugas dari Raja, sehingga hamba memberanikan diri menyeruak kemari. Segala dosa dan kehinaan sepenuhnya hamba tanggung.

“Berat menjadi senopati yang ngemban dawuh, menjalankan perintah Raja.” “Apa yang menjadi dawuh pada malam begini?”

“Raja telah membangun sanggar pamujan di wilayah Keraton yang paling tenteram, paling indah, di wilayah Simping. Sanggar pamujan yang lama telah diperbaharui, telah dijadikan lebih indah dari semua sanggar pamujan yang ada dalam wilayah kekuasaan Keraton. 

“Bila Baginda berkenan…” “Cukup!”

Baginda berdiri dengan gagah.

“Raja yang memberi titah itu anakku. Yang kujadikan raja karena kehendakku.” “Hamba hanya…”

“Tidak bisakah menunggu…

“Dewa Jagat Binatara, atas nama para Dewa yang kuasa, sedemikian inikah balas budi yang dilakukan putraku? Memberitahu ayahnya di tengah malam, agar segera berangkat ke Simping, agar tak berdiam lagi di Keraton?

“Mimpi pun tak pernah seperti ini.”

Lalu dalam tarikan napas yang berikutnya, menatap ke arah Truwilun. “Semua yang kamu katakan benar, Truwilun.

“Aku sudah mengalami masa itu. Sekarang ini. Mengulang apa yang dialami Baginda Raja. Hanya kali ini oleh putraku sendiri….”

Pendeta Manmathaba menyembah hormat. “Tidak ada maksud buruk Raja.

“Baginda bisa memilih di mana saja….” “Tanggalkan topengmu, Manmathaba.

“Aku mempunyai pengalaman lebih luas dari wilayah yang pernah kamu jelajahi. Apa pun kalimat yang dipakai, aku tak baik tinggal di Keraton.

“Karena kamu diminta menyampaikan malam ini juga. “Luar biasa.”

Tangan Baginda mengibas.

Pendeta Manmathaba masih menyembah.

“Apakah gerakan tanganku bahkan tak punya arti untuk memerintahkan kamu minggat dari hadapanku, Manmathaba?”

“Secepatnya, Baginda.

“Hanya saja Raja memerintahkan Truwilun menghadap….” Alis Baginda berkerut.

“Tahukah kamu bahwa Truwilun tak akan meninggalkan tempat ini?”

“Hamba diperintahkan untuk menghadapkan. Sebisa mungkin hamba menjalankan tugas.” Mendadak Baginda menepukkan kedua tangannya keras sekali.

Tawanya menggelegar.

Sehingga Gendhuk Tri merinding. “Ini hebat, kelewat-lewat.

“Aku tak mau mencampuri urusan siapa saja. Hanya ingin mendengar dari mulut Truwilun. Apakah kamu akan sowan kepada rajamu ataukah kamu menunggu di sini?”

Truwilun menyembah.

“Kalau batu tak bisa mendekat, manusia yang mendekati batu. Kalau gunung tak bisa mendatangi, manusia yang mendatangi.”

Baginda mengangguk. “Aku terluka, Truwilun. “Sakit dadaku.

“Tapi aku ingin menitipkan putra. Barangkali kamu masih bisa berbuat sesuatu….” Baginda menunduk, menepuk pundak Truwilun, mendekap. Sesaat.

Kemudian bergegas pergi, diiringkan prajurit yang mengawal.

Truwilun dan Manmathaba masih terus menyembah, sampai bau harum tubuh Baginda tak berbekas lagi.

“Kita berangkat sekarang, Senopati Manmathaba?” Pendeta Manmathaba menyunggingkan senyumnya.

“Tadinya aku mengira kamu ini peramal sakti mandraguna, yang ilmunya linuwih, bisa melihat ke masa depan. Tak tahunya melihat apa yang terjadi sekarang saja tak mampu.

“Ilmu anak-anak yang kamu pamerkan tak ada gunanya bagiku. “Bagaimana mungkin Raja tergugah memanggilmu? Apakah Halayudha itu yang ingin memancing di kericuhan?

“Truwilun, benarkah kamu bisa meramal? Benarkah kamu mempunyai ilmu nujum yang mengagumkan?

“Kenapa kamu tak bisa melihat siapa diriku yang sebenarnya? Kenapa kamu menyebutku Senopati Manmathaba?”

“Maaf, Senopati Manmathaba, rasanya Senopati tidak berharap disebut sebagai Pendeta, karena terlibat langsung dengan cara mengatur pemerintahan.

“Saya tak bisa menyebut sebagai Mahapatih, karena nyatanya masih ada Mahapatih Nambi, yang walaupun tidak berada di Keraton, masih memegang pangkat tersebut. Dan Raja belum berniat mengangkat dua mahapatih.”

“Raja dan Permaisuri telah mengatakan dan menjanjikan pangkat itu ”

“Kalau demikian halnya, kenapa Senopati Manmathaba kuatir dengan kebodohan saya?” Manmathaba berdiri.

Tangannya menepiskan pakaian yang dikenakan.

“Apa pun atau siapa pun, tak bisa bermain-main denganku. Tidak juga kamu atau Halayudha. Setiap saat aku bisa melumatkan tubuhmu.

“Truwilun, bersiaplah.

“Para pengawal akan menyertaimu.”

Truwilun menunduk hormat. Menghela napas. Lalu berjalan ke arah halaman. Menemui Cantrik yang masih mengikuti.

Para prajurit Keraton bersenjata lengkap mengawal dari segala penjuru. “Saya berangkat dulu, Cantrik….”

“Sumangga…”

Sampai di sini Gendhuk Tri tak melihat apa-apa. Karena bayangan Truwilun makin menjauh dan hilang dalam kegelapan.

Janaka Rajendra menghapus keringat di dahinya. “Pangeran Anom…”

“Apa, Adik Tri?”

“Rasa-rasanya akan banyak terjadi perubahan dalam Keraton. Untuk sementara pasti akan merepotkan Pangeran. Karena itu, bagaimana kalau kita berpisah di sini saja? Saya akan meneruskan perjalanan seorang diri, dan Pangeran tak perlu menerjang bahaya….”

“Adik Tri, kalau Adik tidak menghendaki saya temani, Adik bisa mengatakan langsung. Saya akan pergi dengan sendirinya. Tapi kalau memakai alasan yang lain, saya tak akan menerima. Tak ada sanggar pamujan di Simping bagi saya….”

Gendhuk Tri menggeleng cepat. “Bukan begitu masalahnya.”

“Kalau begitu, biar saja saya menemani Adik.” Kali ini Gendhuk Tri yang menyeka keningnya. “Baiklah, baiklah.

“Kita berdua tak perlu mempertengkarkan masalah ini. Hanya kelihatannya Keraton akan membara kembali….”

Yang namanya Keraton selalu membara, Adik. Saya hidup dan dibesarkan di Keraton. “Ya, ya, Pangeran benar.

“Akan tetapi sekali ini…” “Selalu begitu….”

19

“Ya sudah, selalu begitu! “Yang sekarang ini, raja sekarang ini, ternyata mulai mengasingkan Baginda. Dalam pengaruh Manmathaba yang sakti dan jahat, seluruh Keraton bisa porak-poranda. Agaknya yang bernama Halayudha juga masih berperan.

“Saya mempunyai dugaan kuat, bahwa Halayudha yang langsung melaporkan kepada Raja, bahwa Baginda datang ke Kiai Truwilun Dan mengusulkan sesuatu, agar Raja berada di tanah yang lapang, tak ada batu sandungan.

“Melihat ketelengasan hati Raja dan cara memutuskan perkara begitu cepat, bukan tidak mungkin sekarang ini semua telah terbasmi.

“Semua siapa saja?

Hampir saja Gendhuk Tri menyebutkan nama Upasara. Nama itu sudah bergantung di ujung lidahnya, akan tetapi ditelan kembali.

“Raja benar-benar sendirian..

“Senopati Agung Brahma dikirim ke seberang. Kemudian Baginda ditempatkan di sanggar pamujan, di Simping. Mahapatih Nambi diistirahatkan.

“Tak ada lagi yang tersisa.”

“Kalau semua yang menghalangi dihabisi, atau yang dianggap melawan dihabisi seketika, wah, akan banyak korban. Termasuk Upasara Wulung yang masih menjadi tawanan.”

“Kenapa Pangeran lebih memperhatikan Kakang Upasara?

“Tak ada yang tidak saya kagumi dalam diri Upasara Wulung. Ksatria yang begitu luhur budinya, tetapi begitu buruk nasibnya.

“Mudah-mudahan jasadnya dimakamkan dengan baik.”

“Ngawur!” Kali ini Gendhuk Tri berteriak keras, hingga seluruh isi rumah terkejut. “Siapa yang bilang Kakang Upasara sudah meninggal?

Tata Tentrem

JANAKA RAJENDRA terkejut melihat reaksi Gendhuk Tri. Lebih terkejut lagi karena serentak dengan itu puluhan prajurit menyerbu masuk.

Ruangan bagian dalam yang tadinya lengang, sepi, kini dipenuhi para prajurit yang berdiri dengan senjata terhunus. Gendhuk Tri dan Janaka Rajendra yang berada di balik ruang utama melihat bayangan Cantrik menyelinap masuk.

Wajahnya tampak kuyu, sedih, prihatin, menggeleng lembut.

“Barang siapa menyebut-nyebut nama Upasara Wulung, harap segera keluar,” terdengar perintah dari salah seorang pemimpin prajurit.

Gendhuk Tri ragu antara menampakkan diri atau bersembunyi.

“Kalian tak bisa menyembunyikan diri terus-menerus. Kalau tikus tak mau keluar, rumahnya yang dibakar.”

Ini yang tersirat dari wajah Cantrik.

Bahwa kesulitan yang utama, rumah yang didiami ini bisa diobrak-abrik atau bahkan dibakar. Dengan demikian akan terjadi keonaran, dan masyarakat yang sedianya datang berobat kepada Kiai Truwilun jadi tidak mempunyai tempat lagi.

“Maaf…,” kata Gendhuk Tri lirih.

Sekali menekuk lututnya, tubuhnya melayang dari bagian belakang. Sehingga memancing para prajurit agar ke bagian lain rumah.

Namun ternyata di sana sudah ada pasukan yang menunggu. “Mau lari ke mana, tikus kecil?”

Rasa dongkol Gendhuk Tri meninggi sampai sebatas leher.

“Aku di sini. Marilah mendekat, biar kalian mengetahui siapa aku. Jangan main sesongaran, membusungkan dada seperti anak kecil. Kalian boleh menjajal menangkapku, setelah kalian mengatakan apa salahku.”

“Sungguh tak kukira, anak gadis kemarin sore berani bermulut lebar. Masih berani bertanya apa salahnya?

“Sungguh berlebihan. “Ketahuilah bahwa kami semua ini para prajurit penjaga keamanan, menjaga tata tentrem, agar semua berjalan tertib dan damai. Kami berhak menahan dan mengetahui serta menanyakan hal-hal yang dianggap bisa mengganggu tata tentrem.

“Karena kamu meneriakkan nama Upasara, lebih baik kita bicara di tempatku bekerja.” Diam-diam Gendhuk Tri merasa heran.

Rasanya belum sepekan lalu ia malang-melintang di Keraton. Rasanya saat itu seluruh prajurit Keraton melihat ke arahnya. Meskipun sekarang penampilannya sedikit berbeda, akan tetapi bukan berarti tak bisa dikenali dengan gampang.

Namun nyatanya para prajurit yang mengepungnya ini sama sekali tak mengenali. Berarti mereka adalah para prajurit yang baru.

Yang agaknya dibentuk secara mendadak untuk menjadi prajurit yang menjaga tata tentrem, agar masyarakat menjadi tertib dan damai. Dilihat dari sisi ini benar dugaannya semula. Bahwa selalu banyak perubahan mendadak yang dilancarkan dari Keraton.

Bahkan membicarakan Upasara saja dinilai mengganggu tata tentrem sehingga harus berurusan dengan pihak prajurit Keraton.

“Memangnya apa salahnya menanyakan Kakang Upasara?”

“Tak perlu berpura-pura. Larangan pertama yang dikeluarkan adalah dilarang keras membicarakan siapa atau apa yang melakukan kraman di hari penobatan.

“Kalau mau sok gagah, akui kesalahanmu.”

Gendhuk Tri merasa sebal. Tangannya bergerak cepat. Memutar ke depan, sementara kakinya juga membuat gerakan memutar. Tubuhnya bergerak, dan seirama dengan itu, dua prajurit yang berada di depan terdorong dalam putaran. Hanya dengan sekali menyentak dan menarik tenaganya, dua prajurit itu bertubrukan. Jatuh berimpitan dan berteriak.

“Tidak berhenti di situ saja, Gendhuk Tri menerjang maju. Setiap gerakan, baik dengan siku, tinju, tendangan, sabetan, membuat para prajurit yang bersiaga gagah jadi tunggang-langgang. Buyar tak tentu tempatnya berdiri.

“Apalagi ketika Janaka Rajendra ikut bergabung.

“Belum tiga jurus dimainkan bersama, para prajurit yang mengepung terpontang-panting. Sebagian besar malah tergeletak di tanah sambil memegangi bagian tubuhnya yang benjol atau kesakitan.

“Adik, jangan kita buat onar di sini. Pasti sebentar lagi akan datang bantuan.”

“Sayang juga. Ini permainan menarik. Tetapi daripada Cantrik tertimpa bencana, kita lebih baik pergi.”

Gendhuk Tri menotol dan tubuhnya melayang ke angkasa dengan indah. Janaka Rajendra melakukan gerakan yang sama. Sehingga keduanya bagai pasangan penari yang sedang memamerkan kebolehannya. Apalagi ketika keduanya turun bersamaan, menotol tanah, dan kemudian dengan gerakan yang sama melayang kembali.

Bagai sepasang kupu-kupu yang menari.

Hanya karena Gendhuk Tri tak ingin melibatkan Truwilun dan Cantrik serta penduduk yang berobat, ia segera melarikan diri ke arah yang lebih jauh lagi.

“Pangeran, berapa lama sebenarnya kita berjalan?” “Kenapa, Adik?”

“Bukan kenapa-kenapa. Rasanya belum ada sepasar kita berada di Keraton kini keadaannya jauh berubah. Para prajurit yang siap mengamankan tata tentrem berkeliaran di sembarang tempat. Memata-matai setiap sudut, menangkap semua pembicaraan.”

“Mereka menjadi sangat hati-hati.”

Hal ini terbukti pada keesokan harinya. Ketika keduanya melintas di depan pasar yang biasanya ramai di pagi hari. Tempat yang menguntungkan karena di pinggiran jalan menuju ke arah Keraton. Beberapa waktu yang lalu, Gendhuk Tri selalu menemukan tempat yang menyenangkan untuk mengisi perut.

Sekali ini sangat sepi.

Masih ada satu atau dua warung yang berjualan. Akan tetapi selebihnya tutup, dan lebih banyak prajurit yang membawa tombak dan pedang, berjalan kian-kemari mengawasi keadaan secara mencolok.

“Saat pasukan Tartar menyerbu Keraton, tak dijaga seperti sekarang ini.” “Sssttt, jangan bicara keras-keras, Adik.”

“Ini benar-benar keterlaluan. Kalau menjaga tata tenteram dengan berlebihan, pasar pun menjadi sepi.”

Tetapi Gendhuk Tri menyadari bahwa cara pengamanan yang sekarang ini sangat membatasi gerak- geriknya. Jangan kata mendekat ke arah Keraton, di jalan pun diawasi dengan ketat. Lebih membuatnya kecut, karena hampir semua yang ditemui tak mau menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan beberapa orang segera memalingkan mukanya dan pergi meninggalkan begitu saja.

Kesadaran lain yang menyelinap dalam benaknya ialah bahwa rumah yang dipakai Truwilun bisa ditutup. Kalau dilihat sebagai sumber keonaran, Cantrik akan menemui kesulitan besar. Juga masyarakat yang datang ke tempat itu.

Gendhuk Tri sedikit menyesali apa yang diperbuat. “Kita masih bisa berbuat sesuatu, kalau mau….” “Apa?”

“Misalnya kita memberi laporan kepada pengawal Keraton, bahwa Cantrik dan Truwilun tak pernah berbuat jahat atau merencanakan gangguan….”

“Siapa yang bisa menjamin?

“Pangeran Anom? Dengan menyebut nama itu saja pasti sudah mengundang bahaya.” “Repot juga.

“Bagaimana sebaiknya, Adik?”

Pembicaraan mereka juga tidak bisa berjalan lancar. Karena sesekali harus berdiam, sewaktu ada iringan prajurit yang berbaris bersama.

“Saya tak tahu. Kalau  mau tahu  apa yang terjadi di  dalam Keraton, hanya  dengan satu  jalan. Mendaftarkan diri menjadi prajurit.”

“Mana mungkin? Saya akan segera dikenali.”

“Masa Pangeran tak mempunyai kenalan sedikit pun? Dulu kan berdiam di Keraton.” “Semua yang dekat hubungannya dengan saya ikut pindah.”

“Pasti bukan semuanya. Masih ada yang tersisa.”

Janaka Rajendra membenarkan gagasan Gendhuk Tri. Keduanya menyusup ke arah salah seorang kerabat Keraton. Dengan mengendap-endap, Janaka Rajendra bisa menemui, dan setelah meyakinkan bahwa dirinya sekadar mampir untuk pergi lagi, bisa memperoleh keterangan.

Yang intinya seperti yang telah diduga Gendhuk Tri.

Sejak penobatan Raja Jayanegara, wilayah sekitar Keraton dijaga oleh prajurit khusus. Tugas utamanya ialah menjaga agar tata tenteram bisa terlaksana. Siapa saja yang dicurigai berbuat onar, bisa ditangkap. Siapa saja dapat dikenai tuduhan seperti itu. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, beberapa orang lebih suka meninggalkan wilayah dekat Keraton secara diam-diam.

Karena yang terjadi semacam balas dendam. Para prajurit baru bisa menangkap siapa saja, dengan alasan mengganggu ketenteraman. Situasi sangat buruk karena para pedagang dan para saudagar tak bisa bergerak. Bahkan di pelabuhan tak ada kegiatan sama sekali. Kegiatan seolah berhenti.

Hanya mereka yang sakit, sudah tua, dan tak bisa menjadi prajurit yang berani bertahan. Janaka Rajendra menitikkan air matanya.

Di Langit, Mega Pun Tak Bersisa

GENDHUK TRI tak menduga keprihatinan Pangeran Anom sedalam itu. Selama ini dianggapnya hanya sekadar basa-basi kalau membicarakan Keraton atau rakyat kecil. Kalau ada sedikit perhatian, itu juga sebatas para pengikutnya.

Akan tetapi ternyata Pangeran Anom mempunyai perhatian yang mendarah daging. Tetesan air mata duka memperlihatkan hubungan batin selama ini.

“Kalau keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, entah apa jadinya nanti. “Adik Tri, saya akan sowan ke Raja.”

“Mana mungkin….”

“Saya sangat mengenal Raja. Kami dilahirkan dengan usia yang tak jauh berbeda. Kami dibesarkan dalam tradisi yang sama. Kami masih dipertalikan oleh darah yang berdekatan. “Rasanya segarang apa pun, Raja masih akan mendengarkan apa yang saya katakan. Seperempat bagian saja didengarkan, akan memperbaiki keadaan.”