-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 11

Jilid 11

Itu sebabnya hatinya bisa menjadi sakit, terluka sangat dalam. Karena dengan mudah, kepekaannya mengembang manakala melihat Gendhuk Tri yang dikasihi berduaan dengan Pangeran Anom. Alam berpikirnya akan kembali lagi: bahwa Dyah Ayu Tapasi, putri Keraton yang sangat dipuja bagai dewi surga, juga mau berbuat yang tercela dengan ayahnya. Apalagi seorang Gendhuk Tri. Dan kesimpulannya: semua wanita pada akhirnya sama, demikian juga Pangeran Anom, tak berbeda dari ayahnya.

Sifat-sifat culas yang ingin dilibas habis. Akan tetapi justru dialami sendiri.

Andai saja Singanada bisa mengutarakan isi hatinya mengenai masalah ini, persoalannya menjadi lain. Akan tetapi selama ini Singanada tak mengenai siapa yang bisa menjadi curahan hatinya. Selama ini, hatinya makin lama makin tertutup. Tak ada yang mengetahui apa yang dirasakan.

Ketertutupan yang berkembang, menjadi payung yang makin lama makin keras.

Tak bisa dipungkiri hati Singanada yang terobek ketika itu. Akan tetapi Singanada tak berbuat apa- apa. Ia malah membiarkan semuanya terjadi.

Tidak mengerang, tidak mendesis. Semua keperihan dan penderitaan ditanggung sendiri. Makin terasa betapa dirinya tak berharga ketika kaki kanannya dipotong oleh Pangeran Anom dan Gendhuk Tri.

Sewaktu keduanya tenggelam dalam keletihan yang panjang dan menyeretnya tertidur, Singanada menyeret tubuhnya keluar dari ruangan. Dengan mengeraskan hati dan kekuatan, Singanada merangkak keluar dari ruangan untuk kemudian menembus kegelapan malam.

Duka yang sarat membebani seluruh tubuhnya.

Duka yang terseret setiap langkah gontainya. Ia mengambil tombak yang dipatahkan seperti senjata andalannya, kantar, untuk menopang langkah kakinya.

Tak tahu mau pergi ke mana dan akan apa.

Apa yang dimiliki telah hancur. Apa yang ditakutkan telah terjadi Mengalami nasib yang sama. Mengagumi dan membenci wanita. Seperti pandangannya terhadap ibunya sendiri. Yang disalahkan begitu picik melarikan diri. Seperti pandangannya terhadap Dyah Ayu Tapasi. Yang dipuja akan tetapi melakukan perbuatan tercela.

Singanada mengerang. Tanpa suara.

Beberapa kali ia pingsan dan sadar kembali, beberapa kali disadari bahwa darah masih terus mengucur dari bagian kakinya yang terpotong, akan tetapi dipaksakan untuk terus berjalan. Untuk terus berloncatan.

Ada dorongan kekuatan yang luar biasa untuk melarikan diri. Melarikan diri dari bayangan Gendhuk Tri.

Singanada tak peduli dan sama sekali tak memperhatikan bahwa justru Gendhuk Tri yang merasa kelabakan dan tak mengerti sama sekali apa yang dipikirkan oleh Singanada. Setelah mengirim tenaga dalam dan membantu Janaka Rajendra, ia seperti tenggelam dalam kelelahan dan rasa mengantuk yang hebat.

Kalaupun ia terbangun, karena kepalanya berdenyut-denyut dan ada sesuatu yang diinginkan, yang menyebabkan tubuhnya basah kuyup oleh keringat.

Apakah ia ketagihan racun pagebluk?

Kembalinya Kiai Kiamat

GENDHUK TRI baru menyadari ada sesuatu yang tak di tempatnya semula. Yaitu Pangeran Anom, dan Singanada. Yang terpikir pertama ialah bahwa Singanada dirawat di ruang lain. Akan tetapi ketika Pangeran Anom muncul sambil membawa jamu dalam batok kelapa, Gendhuk Tri tak bisa menahan pertanyaan dengan suara tinggi.

“Kakang Singanada lebih memerlukan perawatan dari saya.” “Kakang Singanada telah pergi.”

“Pergi?

“Dan Pangeran membiarkan saja?”

“Kakang Singanada dalam keadaan terluka parah, akan tetapi memaksakan diri pergi. Pasti ada sesuatu yang besar yang akan dilakukan. Dan sebaiknya saya tidak menahannya.”

“Saya tak mengerti!” teriak Gendhuk Tri, kali ini malah lebih keras. “Bagaimana mungkin dibiarkan begitu saja?”

“Air hanya mengantarkan, tak pernah menahan. Kalau memang mau pergi, untuk apa ditahan? “Kakang Singanada mempunyai alasan untuk pergi.” “Tapi… tapi… kita tak tahu ke mana…”

“Kalau memang merasa perlu memberitahukan, pastilah sudah diberitahukan.” “Pangeran, apa yang sebenarnya Pangeran inginkan?”

“Yang saya inginkan saat ini Adik Tri meminum jamu yang saya buat. Agar kekuatan racun pagebluk tak mempengaruhi lagi.”

“Apa yang Pangeran inginkan, selain itu?”

“Tak ada. Air tak boleh memiliki keinginan sendiri. Keinginannya adalah keinginan alam. Air akan berdiam diri selamanya. Kalau alam membedakan tanah dan rendah, air akan mengalir ke tempat yang rendah. Sebab merendah itu sikap yang baik.

“Kalau angin bergerak, air akan mengikuti.

“Ia bergerak, digerakkan bersama alam. Atas kemauan alam.” “Susah dimengerti.

“Pangeran masih muda begini, tapi cara ngomongnya sudah seperti kakek-kakek. Kita membicarakan Kakang Singanada yang kehilangan kaki dan belum pulih kembali, akan tetapi malah dijawab dengan sifat air.

“Apakah memang semua orang sekarang menjadi linglung semacam ini?”

“Adik Tri, orang bisa linglung, bisa kehilangan sifatnya. Tapi air tidak pernah. Air adalah diam, tenang, adalah alam.

“Adik Tri, saya tahu bahwa Rama berangkat ke tanah seberang, karena perintah Raja. Saya sedang dicari-cari. Tetapi biar saja. Kalau Rama memang mau ke negeri seberang, kenapa harus ditahan? Kalau Raja memerintahkan begitu, untuk apa dibantah? Biarlah semua mengalir sebagaimana kodratnya.”

“Kalau semua dibiarkan begitu, untuk apa sejak semula Pangeran menolong saya? Kenapa mengobati saya, membuat jamu segala macam?

“Bukankah lebih mudah membiarkan saja?”

“Pertanyaan yang salah menemukan jawaban yang salah.

“Menolong atau tidak menolong, tak ada bedanya. Mengobati atau tidak mengobati, sama saja. Saya tidak menolong, tidak sengaja mengobati.”

“Tidak sengaja?”

“Tidak sengaja melakukan itu.

“Air memang selalu mengalir. Kalau ada tanah yang kering, ia akan merembes ke dalamnya, meresap, karena itu kodratnya. Ia tak akan lebih suka berkumpul dengan sesama air, meskipun masuk di tanah kering ia akan lenyap.

“Bagi air tak berarti ia menolong atau tidak menolong. Ia menjalani kodratnya sebagaimana alam menjalani kodratnya. Air yang terisap tanah tak menjadi hilang, karena ia akan tetap menjadi air, dan akan kembali menjadi air. Tak ada yang bisa menahan.

“Ia bisa menjadi air sungai, air laut, air hujan, atau banjir. Tapi ia tetap air.

“Ia bisa disebut kotor, bersih, dan suci. Padahal yang kotor dan bersih adalah yang lain. Air tetap air.”

Gendhuk Tri memiringkan bibirnya hingga mencong. Ia segera menenggak habis isi batok kelapa. Terasa sedikit lebih segar.

“Terima kasih, Pangeran….”

“Saya akan membuat minuman berikutnya….” “Setiap kali Pangeran akan melakukan itu.”

“Karena jamu itu hanya bisa menawarkan racun ketagihan selama setengah hari.” Gendhuk Tri mengusap matanya.

Lalu duduk. Menatap kosong.

Banyak sekali tokoh yang perangainya sangat aneh dan ganjil. Bahkan dilihat dari penampilan pertama saja bisa langsung diketahui. Dewa Maut, tokoh yang kurang aneh apanya. Dijuluki Dewa Maut karena kalau ketemu lawan tanding pasti membunuhnya. Hidup menyendiri di atas rakit dengan sesama lelaki. Ia juga mengenal Jaghana yang sedemikian lugunya sehingga namanya saja sama dengan bagian tubuh yang paling rendah dan terletak di belakang- Pakaian dan cara hidupnya sehari- hari serba seadanya. Tak memiliki apa-apa selama hidupnya.

Di pihak yang lain juga ada tokoh semacam Halayudha.

Dan kini dikenal satu jenis yang lain lagi. Pangeran Anom Janaka Rajendra. Yang penampilannya gagah menunjukkan asal-usulnya, yang merasa tidak tahu ilmu silat orang lain, dan merasa dirinya adalah air, air yang merupakan bagian dari alam.

Perlahan menyusup kesadaran lain dalam diri Gendhuk Tri. Bahwa Kitab Air ataupun Kitab Bumi, atau juga kitab pusaka yang lain, mempunyai pengaruh yang lebih dalam dari sekadar cara memainkan ilmu silat, atau cara melatih pernapasan. Secara langsung dan telak, pengaruh itu menjadi sikap hidup. Satu-satunya pandangan hidup.

Dalam hal ini, Gendhuk Tri melihat dirinya tumbuh dengan cara yang berbeda dari Upasara atau Pangeran Anom.

Dirinya tumbuh tidak dari kitab yang dipelajari lengkap dengan kidungan. Dirinya mempelajari ilmu silat dalam artian langsung berlatih, hanya kadang mendengar rangkaian-rangkaian yang melatar belakangi.

Lebih asing lagi, karena dirinya tidak mengetahui nama dasar ilmu silatnya dan induk kitab yang dipelajari. Belakangan baru diketahui ada hubungan langsung dengan Kitab Air yang diciptakan oleh Eyang Putri Pulangsih, yang ternyata juga menjadi sumber utama kitab-kitab dari negeri Syangka.

Betapa jauh bedanya bila dibandingkan dengan Pangeran Anom. Yang menekuni dari tembang- tembang yang ada, yang mendapatkan guru yang tepat seperti Senopati Agung Brahma.

“Apa yang Adik lamunkan?”

Yang dilamunkan Gendhuk Tri, sekilas lagi, ialah Upasara Wulung. Kakangnya yang satu ini, juga merupakan cerminan dari intisari Kitab Bum yang sesungguhnya. Sikap pasrah, manembah, yang menjadi sumber kekuatan. Sikap yang menyebabkan Upasara menjadi ragu untuk merebut Gayatri. Semangat dan daya asmaranya yang besar, dikalahkan oleh sikap pasrah dalam pengertian menerima perhitungan para pendeta bahwa Gayatri dan Raden Wijaya sudah dijodohkan oleh para Dewa.

Dibandingkan itu semua, di mana kakinya berdiri? Bagaimana dengan Nyai Demang?

“Siapa yang Pangeran ajak kemari?”

“Saya tidak mengajak. Sejak tadi ia bersembuyi di sini, Adik Tri….” Satu bayangan bergerak, menampakkan diri.

Ternyata sejak semula Pangeran Anom juga telah mengetahui bahwa ada seseorang yang berada dalam ruangan secara sembunyi-sembunyi.

Gendhuk Tri berusaha tetap tenang, walaupun hatinya bercekat luar biasa. Karena yang muncul di depannya adalah tokoh yang membuat debaran darah mengalir deras.

Kiai Sambartaka.

Yang secara telengas melukai Eyang Sepuh dan mencurangi Upasara Wulung.

Tokoh yang ikut memperebutkan gelar lelananging jagat, yang bisa lenyap dan muncul secara tiba- tiba.

“Aku sudah tahu siapa kalian dan apa keinginan kalian.

“Rasanya untuk sementara kita bisa bekerja sama demi tujuan yang berbeda. Gendhuk Tri, kamu sangat cerdik. Pasti bisa membaca kemauanku. Untuk ini aku tak akan menyembunyikan keinginanku yang sesungguhnya. Mengetahui inti ajaran Kitab Air dari kalian berdua. Sebagai imbalannya, aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Nada suaranya yang tenang, menunjukkan bahwa kini Kiai Sambartaka telah banyak berubah. Tak ada lagi terlihat kepongahan yang luar biasa. Kepercayaan diri yang menjurus pada meremehkan orang lain sama sekali tak terlihat.

Bahkan guratan yang bersinar dari matanya tak lagi tidak memandang sebelah mata lawan bicara.

Dari nada suaranya yang urut, Kiai Sambartaka memberi kesan bahwa ia mengetahui bagaimana harus menampilkan diri. Tanpa ditandai dengan basa-basi, melainkan mengatakan apa yang diinginkan dari situasi yang ada. Perubahan yang sulit dibayangkan pada diri Kiai Sambartaka. Dalam kedudukannya yang sekarang, Gendhuk Tri merasa dirinya dan Pangeran Anom tetap bukan tandingan Kiai Sambartaka, yang kalau mau bisa membekuk dan memaksakan kehendaknya.

Perlawanan Mahamanusia (1)

AGAKNYA itu yang tidak dilakukan Kiai Sambartaka.

Agaknya sekarang Kiai Sambartaka menjadi lebih cerdik dalam memperhitungkan suasana. Tidak hanya sekadar mengandalkan ilmu silatnya, yang ternyata juga bukan yang paling unggul.

Benak Gendhuk Tri juga melihat persoalan yang dihadapi Kiai Sambartaka.

Tokoh kelas utama yang menduduki peringkat paling atas dari tlatah Hindia ini khusus datang ke tanah Jawa untuk membuktikan sebagai yang paling hebat. Akan tetapi justru ketika menghadapi Upasara Wulung, ia bisa dikalahkan.

Berarti ambisinya menjadi ksatria utama yang tak terkalahkan gagal total.

Ambisinya yang kedua, menanamkan pengaruh ajarannya di tanah Jawa, seperti yang telah berjalan sekian lama, mendadak runtuh dengan naiknya Putra Mahkota Kala Gemet yang memakai gelar dari tanah Syangka. Negeri dengan siapa Kiai Sambartaka selalu bermusuhan hingga ke keturunan yang akan datang.

Pukulan kedua yang sangat menyakitkan. Yang menghancurkan seluruh kebanggaan dan harga dirinya. Baik sebagai jago silat maupun tetua keagamaan.

Jalan terbaik yang masih bisa dilakukan ialah mencoba menyusun kembali rencana untuk kembali. Mau tidak mau harus mengadakan pendekatan dari dalam. Pilihan jatuh ke Gendhuk Tri dan Pangeran Anom, yang secara jelas mempunyai banyak persamaan dengan ilmu silat dari Syangka.

Menurut dugaan Gendhuk Tri, pastilah Kiai Sambartaka sudah mengetahui semua yang terjadi belakangan ini. Pasti juga sudah berada di Keraton saat terjadi pertarungan. Hanya saja Kiai Sambartaka merasa perlu tetap menyembunyikan diri. Hanya mau muncul pada saat yang dianggap tepat.

Dilihat dari keadaan itu, Gendhuk Tri sadar bahwa kalau sejak semula Kiai Sambartaka ingin menurunkan tangan jahat, boleh dikata sangat gampang sekali.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Gendhuk Tri. Dan semuanya benar.

“Itu sebabnya aku mengajukan tawaran. Kalau kalian berdua bersedia memberi kesempatan padaku untuk bersama-sama mempelajari Kitab Air aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Gendhuk Tri tersenyum tipis.

Ia tak mau ditebak begitu saja bahwa Upasara sangat besar artinya bagi dirinya. Mendapat pikiran begitu, Gendhuk Tri membalik dengan bertanya,

“Kakang Upasara keadaannya tak memungkinkan lagi untuk diselamatkan. Pundak kirinya telah tertusuk keris pusaka. Urat nadi utamanya telah terkena sabetan tenaga Halayudha. Di samping itu, sebagai tawanan utama tak nanti bisa diambil begitu saja.

“Saya kira tawar-menawar yang berat sebelah, Kiai….” Kiai Sambartaka melirik ke arah Pangeran Anom.

“Kalau begitu, apa yang bisa saya tawarkan sebagai pengganti kesediaan kalian berdua?”

“Maaf,” suara Janaka Rajendra terdengar sangat sopan. “Kenapa Kiai ingin mempelajari ilmu silat kami? Bukankah Kiai sudah melihat dengan jelas, dan bisa mendapatkan kitabnya?”

“Maaf, Pangeran Anom yang tampan.

“Saya tak menemukan kesulitan sedikit pun untuk mempelajari Kitab Air. Seluruh kidungan yang ada sudah saya pelajari habis. Juga yang berasal dari Syangka, sejak Pendeta Sidateka.

“Akan tetapi bagi saya masih ada beberapa teka-teki, yang secara tidak langsung telah Pangeran jawab ketika memainkan gerakan secara bersamaan dengan Gendhuk Tri.

“Dari sekilas saja semua bisa menyaksikan bahwa ada kemungkinan besar yang selama ini tak terduga, bisa mencuat dari kekuatan air.

“Barangkali kalau kita mempelajari secara bersama, masih ada kemungkinan lain yang bisa kita keduk, kita rengkuh, kita kuras habis-habisan. Karena mungkin yang selama ini kita ketahui tentang kitab itu barulah kulit permukaannya saja.”

“Apa maksud Kiai mempelajari?” Pertanyaan yang kelewat polos.

Yang membuat Gendhuk Tri merasa geli.

Akan tetapi Kiai Sambartaka menjawab dengan bersungguh-sungguh,

“Saya mempunyai permusuhan dengan para pendeta Syangka yang susah diterangkan dalam kalimat yang singkat. Ketika Pendeta Sidateka datang, dan disusul kemunculan Barisan Padatala, saya masih menganggap mereka anak-anak yang bisa ditundukkan pada saat saya menghendaki.

“Akan tetapi dengan munculnya Pendeta Manmathaba yang merupakan pemimpin tertinggi di negerinya, saya merasa sudah seharusnya saya tampil sendiri juga.

“Hanya saja, rasanya sekarang ini belum saatnya bertanding sebagai sesama ksatria. Karena Manmathaba melibatkan banyak ksatria dan senopati, dalam kaitan dengan tata pemerintahan Keraton.

“Sambil menunggu saat tepat, saya ingin menyiapkan lebih dalam cara menghadapi.

“Pangeran, dendam dan permusuhan saya tertuju kepada Manmathaba. Tidak ada kaitannya dengan Keraton.”

Janaka Rajendra mengangguk. “Bisa dimengerti.

“Tetapi rasanya saya tak mungkin memberikan ilmu, kalau tujuannya untuk menghancurkan orang lain.”

“Saya ingin mempelajari bersama Pangeran dan Adik Tri…. Kalau memang saya tidak mampu, saya akan pulang ke negeri saya….”

Gendhuk Tri memainkan bibirnya.

Banyak lagi perubahan Kiai Sambartaka. Bukan hanya menjadi rendah hati tetapi mulai memperhatikan dengan siapa ia berbicara, dan bagaimana cara menyusun kata-kata.

Dari cara menyebutkan “mempelajari bersama, dan kalau merasa tak mampu akan mundur” jelas menunjukkan ingin memberi kesan tidak untuk menyerang lawan. Dengan menyebut “Adik Tri” secara tidak langsung ingin lebih akrab lagi.

“Kalau itu alasannya, saya bisa menerima.

“Tetapi terserah apakah Adik Tri bersedia atau tidak.” Gendhuk Tri mengedipkan matanya.

“Aha, sekarang kita bisa bicara lebih enak, Kiai.

“Begini saja. Saya dan Pangeran Anom menyetujui usul Kiai. Akan tetapi kalau selama kita berlatih atau bercakap-cakap saya menemukan satu dusta yang disengaja oleh Kiai, saya akan menghentikan ini semua.

“Dusta macam apa, Adik Tri? Kenapa kita mencurigai?”

“Biar saya yang memutuskan. Karena Pangeran telah menyerahkan kepada saya untuk memutuskan menerima atau tidak.”

“Maaf, Adik Tri….”

“Saya, Kiai Sambartaka, dengan ini mengatakan akan berkata apa adanya, sejujurnya, terhadap setiap pertanyaan atau percakapan, selama berlatih dan mempelajari bersama Kitab Air….”

Gendhuk Tri tertawa.

“Ya, hanya selama kita mempelajari. Setelah itu boleh berdusta dan mungkin kita akan berhadapan.

“Nah, Kiai, sekarang saya ingin mendengar beberapa jawaban Kiai. Karena selama ini Kiai sudah mendengar dan melihat sendiri kami berlatih, saya ingin mulai dengan pertanyaan. Ingat, setiap kali saya tahu Kiai sengaja berdusta, apa pun yang terjadi, persetujuan kita batal.”

Janaka Rajendra menunjukkan wajah kurang setuju. Karena Gendhuk Tri terlihat seperti ingin mencari menang sendiri. Gendhuk Tri bukannya tidak tahu apa yang dipikirkan Pangeran Anom, akan tetapi ia tak peduli.

Perlawanan Mahamanusia (2)

“MENURUT perhitungan Kiai, siapa yang paling hebat sekarang ini?”

Kiai Sambartaka sepenuhnya menyadari bahwa pertanyaan Gendhuk Tri bukan hanya didorong rasa ingin tahu, akan tetapi sekaligus juga menguji. Jika jawaban yang dikemukakan tidak semestinya, Gendhuk Tri mungkin bisa mengetahui. Jika ini terjadi, Gendhuk Tri akan membatalkan semua rencana. Kiai Sambartaka tahu betul mengenai hal ini. “Masih perlu dibuktikan secara terbuka.

“Secara ilmu silat murni, hanya beberapa nama. Eyang Sepuh, Eyang Putri Pulangsih, serta Upasara Wulung.

“Eyang Sepuh tak bisa diketahui bakal muncul lagi atau tidak sama sekali. Kemungkinan kedua lebih masuk akal. Tokoh kedua, pencipta Kitab Air kurang-lebihnya sama. Ataupun kalau muncul kembali, agaknya tidak berurusan dengan masalah ilmu silat atau tata pemerintahan Keraton.

“Secara murni, memang hanya Upasara. Tenaga dalamnya luar biasa, pengerahannya sempurna, dan penguasaannya istimewa.

“Akan tetapi, sekarang terbukti bahwa Upasara Wulung juga bisa dikalahkan. Dengan cara apa pun, betapapun tidak ksatrianya, nyatanya Upasara Wulung bisa ditaklukkan. Berarti memang memperhitungkan dari ilmu silat murni tidaklah tepat.

“Deretan tokoh yang ada segaris tipis di belakangnya, tak banyak. Hanya ada Kiai Sambartaka dan setingkat dengan itu Kakek Berune, yang masih hinggap di tubuh Nyai Demang. Yang ini agak susah diperhitungkan sejauh mana bisa hebat atau tidak.

“Deretan lain ialah Pendeta Manmathaba karena kemampuannya yang luar biasa memainkan bandring, ditambah ilmu kebal yang sangat sempurna. Lalu bisa diperhitungkan pula Halayudha. Senopati satu ini memang di luar perhitungan. Ia berhasil mempelajari semua dasar ilmu silat, mempunyai bakat hebat, dibesarkan dan dididik tokoh yang sakti, akan tetapi perhatiannya terpecah antara menjadi ksatria atau orang berpangkat. Di belakang hari, tokoh ini bisa menjadi manusia yang tak bisa dikalahkan telak.

“Mengerikan.

“Maaf kalau belum menjawab semuanya.” “Bagaimana dengan Ratu Ayu?”

“Ilmunya aneh, apalagi kalau dengan barisan lompat yang rumit. Akan tetapi, sulit diperhitungkan untuk menjadi yang paling hebat, mengingat keinginan yang lain.

“Semua tadi perhitungan yang bisa dibuat dengan melihat kenyataan yang ada. Dalam pertandingan, sering lain hasilnya. Saya tak perlu mengulang bahwa Upasara pun bisa kalah.”

“Kenapa Kiai tidak memperhitungkan Puspamurti?” Pandangan Kiai Sambartaka menjadi keras.

Matanya memancarkan kebencian.

“Banyak orang mengatakan bahwa ilmu negeri Hindia, terutama yang saya pelajari, adalah ilmu sesat. Ilmu hitam.

“Akan tetapi sesungguh-sungguhnyalah, ilmu yang dipelajari Puspamurti ilmu yang paling sesat di jagat.”

“Ilmu satu jurus itu ilmu sesat?”

“Ilmu yang mendasari jurus-jurus Puspamurti berawal pada sikap pengertian mahamanusia yang ada dalam Kidungan Pamungkas.

“Saya mungkin harus bercerita sedikit.

“Pada saat seluruh jagat terguncang dengan ilmu yang dinamai Jalan Buddha atau di sini dikenal dengan Kitab Bumi, terjadi pergolakan besar. Eyang Sepuh yang memprakarsai pertemuan setiap lima puluh tahun untuk saling menguji, siapa yang paling mewarisi ilmu jagat itu.

“Pada saat puncak pembicaraan mengenai Kitab Bumi, terdengar kabar santer mengenai Kidungan Pamungkas, yang di beberapa negeri mempunyai nama yang berbeda-beda, dengan dasar yang kurang-lebih sama.

“Kidungan ini pada dasarnya tidak mengajarkan ilmu silat atau latihan pernapasan sebagaimana kitab yang lain, melainkan mengajarkan bahwa manusia itu sebenarnya mahamanusia. Sehingga tak perlu mempelajari ilmu silat, mempelajari pernapasan, tak perlu mempelajari jurus-jurus.

“Kidungan Pamungkas tak percaya kekuatan bumi, kekuatan air, kekuatan alam, bahkan para Dewa. Mereka mempercayai bahwa sumber segala sumber adalah manusia.

“Tanpa manusia, tak ada artinya semua alam ini. “Sebutannya ialah mahamanusia. “Pemikiran yang ganjil sekali, dan lain daripada yang ada. Hampir semua perguruan mempunyai ilmu andalannya. Jenisnya bisa ratusan atau bahkan ribuan. Salah satu yang sangat menonjol adalah Perguruan Awan, di mana Eyang Sepuh berhasil menanamkan ajarannya.

“Demikian juga di negeri lain, selalu ada satu yang lebih menonjol dibandingkan perguruan yang lain.

“Akan tetapi baik Perguruan Awan atau yang lain, masih mempunyai sumber alam. Bahkan penamaan Awan, mempunyai simbol dan makna tertentu.

“Sementara ajaran Kidungan Pamungkas tak mengakui semua itu. Titik dasarnya berbeda sekali. Bukan kekuatan tangan, kaki, pancaindria, sembilan lubang tubuh, empat penjuru angin. Bukan semuanya.

“Sejauh yang saya tahu, tak ada perguruan resmi yang bisa berdiri. Mungkin juga tak akan ada.” “Kalau Kiai diadu dengan Puspamurti, siapa yang bakal menang?”

“Saat ini pasti saya.

“Akan tetapi saya tidak berani memastikan setelah satu perjalanan waktu tertentu. Bisa bulan depan atau lima puluh tahun yang akan datang.

“Mempelajari ilmu silat seperti mencari wahyu. Mencari pencerahan diri dengan cara penyerahan diri.

“Upasara Wulung bisa tiba-tiba mencuat dan mengalahkan lawan-lawannya karena pencerahan yang diperoleh dari mempelajari Kitab Bumi, yang dipelajari sekian banyak ksatria di tanah Jawa ini. Dan hanya Upasara yang agaknya sampai sekarang mampu menangkap intisari, dan memperoleh pencerahan itu.

“Hal yang sama sebenarnya bisa terjadi pada Adik Tri. Atau yang sudah diperoleh Pangeran Anom. Sekian banyak yang mempelajari Kitab Air, akan tetapi hanya Pangeran Anom yang mendapat pencerahan bahwa gabungan kembar dari jurus yang sama bisa menghasilkan sesuatu yang tak terduga.

“Kalau kita tanyai, barangkali Pangeran Anom akan susah menerangkan dari mana diperoleh pencerahan semacam itu. Seperti tiba-tiba, seperti tarikan yang tak dikuasai yang menyeret ke arah itu.

“Kalau tidak mempelajari secara bersungguh-sungguh, rasanya tak mungkin ada pencerahan semacam itu.

“Itulah yang ingin saya jajal bersama kalian berdua.” Kiai Sambartaka mengembuskan udara agak lama.

“Kenapa bukan Manmathaba yang memperoleh pencerahan memainkan bersama? Bukankah justru ia yang membentuk Barisan Padatala?

“Inilah pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan kata-kata, akan tetapi bisa dirasakan. “Karena Manmathaba mendapat pencerahan yang lain, yaitu ilmu kulit kentang yang kebal.

“Kalau kita menukik ke dalam, mempelajari dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin kita bisa mengetahui caranya. Karena tingkat pencerahan hanya terjadi sekali secara tak bisa dimengerti. Sesudah itu semua bisa mengikuti.

“Setelah melihat Pangeran Anom dan Adik Tri memainkan bersama, semua yang mempelajari Kitab Air bisa ikut memainkan dengan cara itu.”

“Saya bisa menerima keterangan Kiai.

“Baiklah, kalau mau berlatih kita bisa mulai sekarang.” Kiai Sambartaka mengangguk.

“Melatih adalah gampang. Mengikuti apa yang tertulis. Akan tetapi kalau hati kita tidak bersatu dengan rasa dan pikiran, agak susah.

“Adik Tri tak akan mencapai hasil yang sempurna, kalau masih ada perasaan bahwa Pangeran Anom bukan air yang sama. Yang bisa menyatu tanpa perasaan apa-apa.

“Tetes air di laut, bisa bercampur begitu saja dengan tetes air pegunungan atau keringat. “Semuanya air.

“Dan air itu satu.

“Rasanya saya tidak salah bicara….” “Saya mengerti.

“Tetapi dalam batas tertentu, saya tak bisa menjalani.” “Saya juga tidak berharap itu terjadi di depan mata saya. Akan tetapi kalau Adik Tri masih terbelenggu ganjalan-ganjalan tertentu, agak sulit bisa terbangun jalinan tetes air. Kecuali kalau Adik Tri mau menceritakan, dan kemudian Pangeran Anom bisa memahami.

“Air laut berbeda dari air gunung.

“Persatuan air laut dengan air gunung, berbeda dibandingkan persatuan antara air gunung dan air gunung. Akan tetapi karena mengetahui perbedaan, percampurannya juga menghasilkan yang berbeda.

“Namun di atas semua itu, menyatu.

“Air laut yang digabung dengan air gunung, bisa berkurang rasa asinnya. Akan tetapi begitu keduanya digabungkan, tak lagi bisa dipisahkan yang mana tadi air laut yang asin dan mana air gunung yang tawar.

“Kalau kondisi ini bisa diterima, kita sebenarnya sudah melangkah setengah jalan.”

Air Tak Bisa Ditandai

JANAKA RAJENDRA mengangguk, membenarkan. Gendhuk Tri mengikuti. Hanya bedanya ia menambahi,

“Kiai Sambartaka, katakan sejujurnya, apa yang membuat Kiai merasa sulit menangkap isi Kitab Air!” Sejenak Kiai Sambartaka mengurut dagunya.

“Sebenarnya tak ada. Kidungan lengkap, rinciannya jelas. Tak ada yang samar. Akan tetapi yang menjadi masalah ialah penyerapan hakikat. Saya bisa dengan mudah dan lancar menjelaskan sifat- sifat air, akan tetap saja tak bisa menangkap secara keseluruhan.

“Kemungkinan ilmu kebal yang dimainkan Manmathaba tetap saja tak terpikirkan sebelumnya, bahwa itu juga bersumber dari Kitab Air.

“Adik Tri punya gambaran yang lain?” “Entahlah, Kiai.

“Tapi karena kita sudah bertekad saling jujur, saya akan menceritakan sesuatu.

“Kiai masih ingat tokoh dari negeri Tartar yang bernama Naga Nareswara? Kami berdua pernah terkurung dalam gua bawah tanah. Rasanya tak mungkin ada jalan keluar, karena jalan keluar tertimbun. Waktu itu saya berusaha sendiri, mengeduk terus menerus, mencari jalan keluar asal- asalan. Sampai hampir habis tenaga saya. Naga Nareswara yang tadinya melihat saja atau sama sekali tidak menggubris, lalu ikut membantu. Hingga akhirnya kami bisa menemukan jalan keluar, yang membawa kami ke Trowulan.

“Dalam perjalanan itu, saya bertanya mengapa Naga Nareswara tiba-tiba mau membantu saya, padahal sebelumnya hanya memandang sebelah mata.

“Ia menjawab, ‘Yu Gong yi shan.’ Belakangan baru ia bercerita bahwa dulu kala ada orang tua bernama Yu Gong yang berdiam di desa yang dikelilingi gunung. Yu Gong ingin membuat jalan menerobos gunung. Ia terus-menerus bekerja, membongkar batu gunung. Suatu kerja keras tanpa harapan. Tapi Dewa kemudian menolongnya dan gunung yang menghalangi kampungnya sekarang mudah dicapai orang lain, dan penduduk desa itu bisa dengan mudah bepergian ke tempat lain. Apa yang saya lakukan tak ubahnya Yu Gong yang memahat gunung.”

“Adik Tri ingin menyamakan usaha kita seperti itu? Gendhuk Tri menggeleng. Pandangan meneropong jauh.

“Selama kami sama-sama terkurung dalam gua, saya banyak berlatih. Tidak jarang Naga Nareswara ikut berlatih, memberi petunjuk sedikit, bertanya banyak, dan manggut-manggut.

“Sekarang saya ingat kembali betapa ia sangat mengagumi ilmu Kitab Air yang dikenali dari sifat- sifatnya. Ia mengatakan bahwa ia tak gentar menghadapi jurus-jurus ilmu Kitab Bumi, namun akan berpikir dua kali kalau menghadapi orang yang mampu menguasai ilmu saya-yang bahkan saat itu saya belum menyadari sumbernya dari sifat air.

“Saya kira ia hanya sekadar memuji. Tapi melihat sifatnya yang tinggi hati seperti Kiai-atau seperti setiap tokoh yang merasa tak tertandingi- saya jadi bertanya-tanya: Di mana hebatnya ilmu saya, dibandingkan dengan Kitab Bumi?

“Jawabannya, lagi-lagi membuat saya tak mengerti. Ia mengatakan, ‘Ke zhou iu jian.’

Janaka Rajendra mengerutkan keningnya, akan tetapi Kiai Sambartaka mengangguk-angguk. “Apa yang dikatakan Naga Nareswara sangat tepat.” “Apa artinya, Adik Tri?”

Kiai Sambartaka yang menjawab perlahan, “Artinya kira-kira, menandai perahu untuk mencari pedang. Dengan kata lain, susah mengenali sifat air. Semakin kita yakin, sebenarnya kita semakin keliru. Air yang kita kenal itu bukan ditandai dengan benda lain, melainkan dengan air itu sendiri.

Kalau saya tidak salah, ada dongengan mengenai hal itu. Di zaman dulu, di Keraton Chu ada orang yang menyeberangi danau. Di tengah perjalanan, pedangnya terjatuh. Ia kemudian memberi tanda di perahunya, tempat di mana pedang itu jatuh.

Ketika sampai ke tepi, ia mencari-cari persis di bawah tanda yang dibuat di perahu.”

Janaka Rajendra tersenyum geli.

Akan tetapi  Gendhuk Tri yang  biasanya mengumbar tawa, malah tampak bersungguh-sungguh. Demikian juga Kiai Sambartaka.

“Kisah semacam ini banyak jumlahnya, banyak juga ragam dan artinya.

“Dengan sangat mudah kita mengatakan betapa tololnya orang yang kehilangan pedang itu. Mana mungkin dicari di pantai kalau jatuhnya di tengah.

“Akan tetapi sesungguhnya, kita sering melakukan kesalahan yang sama. Melakukan kekeliruan yang tidak kita sadari.

“Dalam kaitan dengan ilmu yang bersumber dari Kitab Air, kita semua merasa menguasai, akan tetapi ternyata yang kita kuasai belum yang Sesungguhnya.

“Kemunculan ilmu kebal, pelipatgandaan tenaga, hanya salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang bisa digali dari tenaga dan sifat air.

17

“Benar yang dikatakan Raja Segala Naga itu. Ia akan berpikir dua kali kalau menghadapi pencipta atau yang menguasai sifat air. Karena titik tolaknya berbeda dari ilmu Kitab Bumi.

“Seperti orang yang kehilangan pedang. Kalau ia memakai patokan kejadian di darat, pedang itu akan ditemukan kembali. Akan tetapi ia tak bisa menyamakan sifat air dengan sifat bumi.

“Air tak bisa ditandai.”

“Sekurangnya kalau kita mencoba menandai dengan cara di bumi,” kata Gendhuk Tri perlahan. “Ya. Dan untuk mengetahui, tak ada jalan lain selain menyelam ke dalamnya.”

“Selama ini saya mempelajari Kitab Air, akan tetapi tak pernah mengetahui yang seperti itu. Bahkan tak pernah terpikir ada jalan seperti itu.” “Tidak menjadi apa, Pangeran Anom.

“Justru jalan yang Pangeran tempuh bukan tidak mungkin jalan yang sebenarnya. Saya tidak bisa berbuat seperti Pangeran, karena tradisi yang membentuk saya berbeda. Karena dasar-dasar ilmu silat saya berbeda. “Itulah sebabnya saya berusaha menyelami.

“Itulah sebabnya kita bertiga harus menyatukan rasa dan pikir, dan menjadi air. Sebab ketika salah satu dari kita tak mempercayai yang lainnya, usaha kita bertiga tak ada artinya.

“Maaf, Pangeran Anom yang suci.

“Saya bukan manusia yang baik menurut ukuran ksatria tanah Jawa. Tata krama di tanah Jawa mempunyai aturan dan ukuran yang tidak bisa saya terima. Akan tetapi kalau saya ingin mendalami dan mengerti, saya harus mau menerima tata krama itu.

“Sama halnya dengan kalau saya ingin mendalami Kitab Air. Rasanya tak mungkin sama sekali tanpa menjadi air itu sendiri.”

Pengertian itu juga menyusup dalam kesadaran Gendhuk Tri. Itu pula sebabnya ia menerima kehadiran Kiai Sambartaka untuk mencoba berlatih bersama. Paling tidak, selama latihan, mereka tak ada yang berniat lain, tak mempunyai hati yang bercabang. Karena masing-masing mengetahui bahwa kalau itu terjadi, usaha selama ini sia-sia belaka.

Maka saat itu juga, Janaka Rajendra mulai menembangkan, menuliskan kidungan dalam Tirta Parwa, untuk perlahan-lahan dipelajari, dipraktekkan.

Kadang Janaka Rajendra bersama Gendhuk Tri, kadang bertiga bersama Kiai Sambartaka, kadang bergantian pasangan. Setiap gerak, setiap lekukan menjadi perhatian bersama. Dalam lima kali berlatih makin terlihat bahwa pasangan Gendhuk Tri dengan Janaka Rajendra kian menyatu. Hasil latihan bersama, memberikan tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan mereka berdua melatih bersama Kiai Sambartaka.

Ketiganya menyadari hal ini, akan tetapi terus juga berlatih. Tanpa mengenal pergantian siang dan malam. Bagi Gendhuk Tri tidak menjadi masalah, karena ia memang gemar belajar ilmu silat. Apalagi ini ilmunya sendiri, yang baru sekarang dibuka dengan pandangan yang lebih urut. Demikian juga Janaka Rajendra yang tampak bersemangat setiap kali berlatih bersama Gendhuk Tri.

Kiai Sambartaka lebih banyak membuat komentar dan penilaian setiap kali selesai melakukan latihan.

Satu demi satu kidungan yang ada dilalap, hingga dalam waktu sekejap mereka bertiga berlatih kembali dari awal.

“Sejauh ini rasanya tak ada yang menyebut mengenai ilmu kebal,” kata Janaka Rajendra. “Apakah kita tidak salah duga? Apakah tidak mungkin Pendeta Manmathaba mempelajari dari sumber yang lain?”

“Tidak mungkin, Pangeran Anom.

“Kita sama-sama melihat bahwa keluwesan pengaturan tenaga dalam itu berasal dari sumber yang sama. Jurus ilmu silatnya bisa saja dikembangkan dari sumber lain, akan tetapi jelas pengaturan tenaga dalamnya dari Kitab

“Kiai sudah menemukan bagian itu?” Gendhuk Tri menyeka tangannya.

Mendadak ia bersila di lantai. Kedua tangannya terkulai, rambutnya dibiarkan tergerai. Pundaknya bergetar.

“Coba serang.”

Yang Bukan Air, Memisah

JANAKA RAJENDRA tertegun.

Sebaliknya Kiai Sambartaka bergerak cepat. Tangannya meraih sebatang kayu yang dengan sangat cepat diruncingkan bagai ujung tombak. Perlahan tombak kayu yang runcing ditimpukkan ke arah Gendhuk Tri.

Janaka Rajendra tertegun.

Tombak itu mengenai lengan Gendhuk Tri! Tapi terjatuh ke lantai.

“Kita berhasil!”

Gendhuk Tri menghela napas. “Tidak.

“Kiai menyerang dengan ragu-ragu. Tanpa ilmu apa pun, tongkat ini tak akan melukai saya. Pangeran Anom, pinjam keris….”

Ragu Janaka Rajendra mengambil keris. Gendhuk Tri memberikan kepada Kiai Sambartaka. “Saya akan memainkan kidungan kedua, dan begitu selesai, Kiai menusuk saya.”

“Bagian mana?” tanya Janaka Rajendra cemas. “Mana saja yang dianggap bisa ditusuk, asal jangan bagian mata….”

Gendhuk Tri segera bersiap, kedua tangannya melengkung, kakinya yang lebih dulu bergerak. Bagai penari Keraton yang gemulai. Kiai Sambartaka masih menunggu sampai Gendhuk Tri menjentikkan jari ke arah jakunnya. Dengan sedikit mengelak, Kiai Sambartaka membalas. Ujung keris di tangan kanan menyabet ke arah Gendhuk Tri, tapi mendadak diubah letaknya di tangan kiri dan yang diarah adalah dada.

Gendhuk Tri menjatuhkan dirinya. Punggungnya rata dengan lantai.

Kedua kakinya menggunting kaki Kiai Sambartaka, yang tak membiarkan begitu saja. Dengan meloncat ke atas, tidak secara bersamaan, Kiai Sambartaka berhasil membebaskan diri. Akan tetapi begitu menginjak lantai tubuh Gendhuk Tri yang masih rata dengan lantai tiba-tiba meliuk dan kini ada di punggungnya. Siap memotes dua telinga Kiai Sambartaka.

Tidak menduga serangan semacam itu, Kiai Sambartaka menggerung

keras. Tubuhnya berputar membalik, dengan lima kuku siap ganti mencakar, sementara keris menikam di bagian paha. Gendhuk Tri justru mempertontonkan kelebihannya dengan membalik. Kakinya terangkat ke atas, dengan tubuh pada posisi yang sama.

Serangan lawan bisa dihindari, sementara serangannya sendiri tetap.

Yang dimainkan Gendhuk Tri adalah jurus-jurus yang diandalkan. Menjatuhkan diri kemudian berbalik terbang melayang adalah jurus pancingan untuk menjebak lawan. Jurus ini pula dulu yang bisa melukai Ugrawe!

Ditambah pengalamannya selama ini, dan kesadaran baru dalam mempelajari, hasilnya boleh dikata lebih berbahaya dari yang dulu.

Ini yang tak diduga Kiai Sambartaka.

Tokoh kelas utama ini justru seperti terdesak. Baik karena tidak bisa mengembangkan permainan keris, maupun karena tempat pertarungan kurang leluasa. Sekurangnya Kiai Sambartaka enggan menghancurkan.

Akan tetapi dua-tiga jurus berikutnya, Kiai Sambartaka menemukan kembali kekuatannya. Dengan menindih tenaga lawan, Gendhuk Tri dipaksa mundur. Satu sabetan di belakang, membuat tubuh Gendhuk Tri terputar ke arah lain.

Ke arah tiang. Tak bisa mundur.

Saat itu tusukan keris menyambar ke arah pipi. “Awas!”

Teriakan Janaka Rajendra terlambat.

Keris itu telah terlepas dan mengenai pipi Gendhuk Tri.

Satu pukulan dari Janaka Rajendra telak mengenai dada Kiai Sambartaka yang tidak menangkis, sehingga tubuhnya terdorong mundur, menghantam dinding.

Bibirnya meringis dan dari sela-selanya mengalirkan darah, akan tetapi pandangannya tak lepas dari Gendhuk Tri.

Yang juga berdiri melongo.

Karena tak menyangka bahwa ujung keris yang mengenai pipinya, yang terasa menusuk, terjatuh ke lantai.

“Adik Tri, kamu tidak apa-apa?” “Tidak… tidak….”

“Bagaimana rasanya?”

“Sakit sedikit, tapi tak apa. Tak terluka. Tak tergores.”

Kiai Sambartaka menghapus ujung bibirnya dengan punggung tangan. Langkahnya tertahan ketika melihat Gendhuk Tri berdiri garang. “Apa…”

“Maaf, Kiai, latihan tak perlu kita teruskan. Kita tidak sejiwa dalam hal ini. Tujuan kita menjadi berbeda.

“Air hanya berkumpul dengan air. Yang bukan air akan menyingkir dengan sendirinya.” Kiai Sambartaka mengangguk.

“Akhirnya akan begitu, Adik Tri….” “Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”

Kiai Sambartaka melipat tangannya di dada. Kedua kakinya mengangkang gagah.

“Kamu yang pertama mendapat pencerahan. Lebih cepat dari dugaanmu sendiri menerima itu. Apakah akan kamu kangkangi sendiri?”

“Apakah Kiai akan memaksaku?” “Bisa.

“Tapi tak ada gunanya.”

Gendhuk Tri menemukan tangannya.

“Baik. Aku tidak seserakah yang Kiai duga. Tapi aku juga tak mau sedermawan yang Kiai kehendaki. Kidungan mengenai itu ada di bagian kedua belas, dan bagian ketiga belas awal.

“Dengar baik-baik: Air berbeda dengan bumi yang bisa ditandai, dipisahkan air berbeda dengan api

yang bisa dipadamkan, dibasahi air berbeda dengan kayu

yang bisa dibakar, diabukan

air tak menyerap bumi yang berputar

air tak memakan api yang membakar

air tak merusak kayu yang tumbuh

setetes air menahan bumi api

kayu

air tak bisa menolak bumi api dan kayu

air menyentuh bumi api dan kayu

tanpa membasahi

tanpa terpanasi, tanpa mengairi….

Kiai Sambartaka mendongak ke arah langit-langit. Tanpa menoleh ke arah Gendhuk Tri, ia berbalik. “Terima kasih atas penjelasanmu.

“Karena kita tak berhubungan lagi, karena kita bukan sesama air, jangan sesalkan diri nanti….” Tubuh Kiai Sambartaka melenyap ke arah luar kamar.

Janaka Rajendra masih tertegun.

Ketika itu sayup-sayup mulai terdengar langkah mendekati. Gendhuk Tri menjilat bibirnya yang kering. “Adik Tri berhasil.”

“Kiai Sambartaka benar. Sebentar lagi ada rombongan yang datang, dan kita harus menghadapi sendiri.”

“Tidak, kita berdua menghadapi.”

“Apa bedanya kita berdua atau sendirian?” Janaka Rajendra mundur satu langkah.

“Adik Tri tidak percaya kita berdua lebih mampu menghadapi bahaya apa pun?”

“Tidak. Yang datang ini tak bisa dihadapi oleh Pangeran Anom, dengan ilmu silat apa pun….” “Memangnya siapa mereka?”

Gendhuk Tri tak menjawab.

“Tapi… tapi bagaimana penjelasannya sehingga Adik Tri bisa langsung menemukan pencerahan?” Langkah terdengar makin mendekat.

Janaka Rajendra maju lagi. Mengamati pipi Gendhuk Tri. Tanpa terasa tangannya mengusap. Ketika itulah langkah terdengar di dalam ruangan.

Panggilan Tanah Seberang GENDHUK TRI masih terdiam, sampai suara kaki yang menapak teratur mulai membentuk lingkaran, berjongkok menyembah.

“Yang Mulia sesembahan Permaisuri berkenan datang dan ingin bertemu dengan Pangeran Anom Janaka Marmadewa Pratapa Krama Rajendra. Mohon kesediaan Paduka….”

Janaka Rajendra kelihatan kikuk disebut dengan nama panggilan selengkap itu. Kikuk karena Gendhuk Tri kelihatan mengangkat alisnya sebelah, sementara bibirnya menyunggingkan senyuman. Ia merasa geli mendengar nama dan gelaran Janaka Rajendra yang sangat panjang.

“Ibu datang….”

“Silakan Pangeran Anom yang Mulia menemui….” “Adik Tri tahu, saya kurang suka….”

Gendhuk Tri malah menyembah dengan hormat.

“Duh, Pangeran Anom Udayadityawarman yang Mulia, adalah kewajiban seorang pangeran Anom untuk menerima ibu kandung, apalagi sesembahan dari Permaisuri Indreswari…

“Jangan bimbang dan ragu….”

Wajah Janaka Rajendra makin merah.

Tak bisa berbuat banyak karena kemudian terdengar langkah, dan semua prajurit menyembah hormat, menunduk, seiring dengan masuknya Dara Jingga, yang dengan sudut matanya mengawasi Gendhuk Tri.

“Putraku, Bagus Mantlorot….”

“Sembah sujud putra Ibu ke hadapan Yang Mulia….

“Rasanya segala kesalahan dan dosa tak terampuni telah saya lakukan, sehingga Kanjeng Ibu sampai datang kemari.”

“Saya bisa melupakan, memaafkan, dan mengerti.

“Ketahuilah, anakku lelaki yang bagus, Rama telah berangkat. Berkemaslah, Ibu akan segera menyusul bersamamu.” Janaka Rajendra menyembah.

Tetap menunduk memandang lantai.

“Biarlah saya menenteramkan hati di tempat ini…”

“Ini bukan lagi tempat bagimu. Sebentar lagi ada senopati lain yang kan’ menghuni. Panggilan dari tanah seberang telah terdengar, tanah asal-muasal ibumu.”

“Kalau tak ada tempat di Keraton, masih ada tempat yang lain….

Jelas dari jawaban Janaka ia lebih suka tetap tinggal. Kalau tak bisa berdiam di Keraton, ia akan berada di mana saja.

“Itu artinya menentang perintah Raja….” Tak ada jawaban segera.

Hanya terasakan bahwa para prajurit yang mengawal tadi seperti bersiap sedia. Terasakan dari getaran napas mereka semua.

“Ibu tak pernah memimpikan putranya menjadi pembangkang. Apa pun alasannya, engkau harus berangkat sekarang juga.

“Kalau tidak bersedia, biarlah Ibu dikeramatkan di sini. Sekarang juga.”

Gendhuk Tri tergetar hatinya. Dalam percakapan yang nadanya sangat halus lembut, ramah ini terkandung kekerasan, keliatan, dan sekaligus juga ancaman.

Kalau Pangeran Anom tetap tak mau mengikuti perintah, bisa terjadi pertumpahan darah dengan dingin. Entah dengan cara bagaimana.

Yang mengerikan ialah semua tadi diucapkan dengan nada yang seolah tidak mengandung sesuatu yang penting. Mengatakan tentang mati dan hidup, menurut perintah atau kraman, dalam nada yang sama.

“Bagaimana, anakku lelaki?”

Janaka Rajendra melirik ke arah Gendhuk Tri.

Nyata sekali bahwa yang membuatnya tak ingin segera meninggalkan Keraton adalah Gendhuk Tri. Yang membalas lirikan secara sembunyi sambil mengangguk.

Kali ini Janaka Rajendra mendongak.

“Bagaimana, Adik Tri? Adik Tri ingin saya pergi? Adik Tri tidak mau saya temani?” “Duh, Pangeran Anom junjungan kawula, sebagai abdi hamba akan mengikuti ke mana pun Pangeran Anom pergi, jika masih diperkenankan melayani.”

“Sungguh?”

Janaka Rajendra mendongak lebih tegak. Melihat secara jelas ke arah Gendhuk Tri. Suatu sikap yang tidak biasanya diperlihatkan. Apalagi di depan ibunya.

Gendhuk Tri mengangguk pelan.

“Sekarang juga saya mengikuti perintah Ibu….” Dara Jingga melirik tipis ke arah Gendhuk Tri.

“Gadis manis, siapa namamu? Kamu pelayan di bagian apa? Kenapa selama ini tak pernah kuketahui?”

Janaka Rajendra benar-benar merasa sangat kikuk dan serbasalah. Agak sulit baginya untuk menerangkan dalam sekejap. Akan tetapi Gendhuk Tri menyembah dengan khidmat.

“Hamba bernama Gendhuk Tri… abdi bagian… bagian… busana….” “Gendhuk Tri? Siapa namamu yang lengkap?”

Kali ini Gendhuk Tri tak mau menjawab. Ia bisa menjawab bahwa oleh gurunya ia dipanggil Jagattri. Akan tetapi sejak dipanggil dengan sebutan Gendhuk Tri oleh Upasara Wulung, ia lebih suka memakai sebutan itu Maka ia tak mau segera menjawab.

“Baiklah kalau kamu tidak mau menyebutkan namamu. Jaga dan rawat putraku….”

Tanpa menunggu sembah Gendhuk Tri, Dara Jingga segera meninggalkan ruangan. Diikuti oleh para prajurit yang mengawal. Tinggal Janaka Rajendra dan Gendhuk Tri yang saling pandang.

“Adik Tri… benar Adik mau pergi ke tanah seberang?” “Saya sudah mengatakan….”

“Kenapa Adik mau berangkat?”

“Tak ada alasan lain. Kalau saya tidak mengatakan itu, Pangeran tak mau berangkat. Dan bisa terjadi hal-hal yang luar biasa. Lagi pula sebagai abdi, sebagai pelayan, saya…”

Janaka Rajendra menepuk pahanya keras sekali.

“Saya tak mau mendengar omongan seperti itu. Kenapa Adik Tri tega mempermainkan perasaan saya?” Gendhuk Tri bercekat hatinya.

Tak menyangka bahwa Janaka Rajendra akan semurka itu. Diam-diam ia merasa bahwa apa yang diperbuat, barangkali saja agak keterlaluan. Ia tak bisa mempermainkan perasaan pangeran seperti Janaka Rajendra. Yang kelihatannya sangat tidak suka diperlakukan sebagai bangsawan yang sesungguhnya sesuai dengan derajatnya.

“Jadi hanya karena itu?” “Ya.”

Janaka Rajendra menghela napas penyesalan. “Apa pun alasannya, saya bersyukur. Meskipun saya akan lebih bersyukur jika Adik Tri memang ingin pergi bersama saya….”

Kali ini Gendhuk Tri terperanjat.

Kali ini perasaan bersalah menjalar ke seluruh tubuhnya. Aku tak bisa main-main, tak bisa berbuat secara sembrono. Ini bukan tempatnya. Suara hatinya mendesak Gendhuk Tri mengatakan bahwa ia tak bisa meninggalkan Keraton saat ini.

“Karena Kakang Singanada?”

“Karena Kakang Singanada, karena yang lainnya.” “Apa yang lain itu?”

“Urusan Keraton….”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Mengikuti perintah, kemudian diam-diam saya akan kembali.

“Maaf Pangeran Anom, saya tak ingin mengecewakan Pangeran di belakang hari. Saya tak ingin Pangeran berharap yang bukan-bukan. Saya tak tahu bagaimana harus mengatakan, akan tetapi rasanya hubungan kita selama waktu yang singkat ini tidak menjanjikan apa-apa di belakang hari.

“Saya mengucapkan beribu terima kasih atas kebaikan hati Pangeran selama ini yang telah menyelamatkan nyawa saya, akan tetapi begitulah sebenarnya yang terjadi. Tak lain. Tak lebih.

“Maaf, Pangeran… “Kata-kata saya kurang tata krama, tetapi saya tak bisa memilih kalimat yang lain.” “Saya bisa mengerti

“Saya juga tak ingin memaksakan kehendak saya. Jadinya tidak baik. Sesama air tak akan saling memaksa.

“Jangan merasa berutang budi karena saya menolong Adik Tri. Tak perlu beban pikiran seperti itu. Saya bersyukur dan berterima kasih Adik Tri mau menyertai ke kapal….”

Yang sedikit di luar dugaan Gendhuk Tri ternyata bahwa keberangkatan mereka diiringkan pasukan secara lengkap. Dengan upacara kenegaraan, di mana Permaisuri Indreswari sendiri menyusul ke arah rombongan yang akan berangkat.,

Gendhuk Tri bisa membayangkan bahwa kalau seorang pangeran bepergian pasti repot. Akan tetapi yang disaksikan sekarang ini lebih dan sekadar repot Puluhan kuda disiapkan hanya untuk mengangkut perlengkapan busana Puluhan yang lain disiapkan untuk persediaan makanan. Puluhan yang lain untuk keperluan yang Gendhuk Tri sendiri tak bisa memperkirakan.

“Gila. Rasa-rasanya seluruh Keraton ikut boyong….” “Apa, Adik Tri?”

“Tidak, tidak apa-apa….”

Yang membuat Gendhuk Tri luar biasa risi dan dongkol ialah bahwa semua mata seolah melihat ke arahnya. Semua prajurit memberi hormat yang dalam padanya. Ada lima belas pelayan yang siap di sekelilingnya.

Ini tak masuk akal.

Selamat Jalan, Kakangmbok…

GENDHUK TRI makin kecut hatinya, ketika lima belas pelayan itu menunduk di belakangnya, akan tetapi selalu siaga. Sewaktu akan naik ke joli, kelima belas pelayan bergerak semua melayani. Ada yang memegangi pijakan kaki membuka tirai, mengangkat ujung kain bagian belakang, ada yang dengan ragu menuntun tangannya ke arah pegangan.

Pengalaman yang ganjil bagi Gendhuk Tri yang dibesarkan di alam terbuka. Rasanya seumur-umur ia tak pernah dilayani. Apalagi sekaligus seperti sekarang ini. Belum terhitung yang tak terperhatikan seperti para prajurit yang mengangkat tandu.

Hanya karena risi dipandangi, Gendhuk Tri masuk ke joli yang berdupa harum. Yang ternyata dihias dengan pernik-pernik ukiran warna emas.

Joli bergerak.

Hampir tanpa bergoyang sedikit pun. Pastilah keempat prajurit yang memanggul tandu adalah prajurit yang terlatih. Sehingga jalan yang naik-turun tidak menyebabkan joli bergerak.

Lebih heran lagi ketika baru melangkah belum seratus langkah, joli telah berhenti, diturunkan perlahan. Kembali para pelayan membuka tirai, menuntun tangannya, mengambil tempat pijakan. Gendhuk Tri mengikuti saja. Sekilas terbayang hal yang akan dialami oleh Upasara andai menjadi suami Gayatri. Atau andai berangkat ke tanah Turkana.

Gendhuk Tri melangkah ke luar, dan ikut duduk di belakang Pangeran Anom, yang duduk bersila. Demikian juga prajurit yang lain.

Barulah Gendhuk Tri sadar bahwa mereka semua menunggu Permaisuri Indreswari yang melenggang lembut, sementara payung kebesaran menaungi wajah dan seluruh tubuhnya.

“Kakangmbok Ratu berangkat hari ini?”

Dara Jingga menyembah lembut sambil mengangguk.

“Saya hanya bisa mengantarkan sampai tempat ini. Semoga Kakangmbok Ratu selalu dilindungi Dewa Yang Maha Pelindung. Bisa mengembangkan kekuasaan dan kejayaan Keraton di tanah seberang….”

“Doa dan puji Yayi Permaisuri pasti didengar Dewa.

“Saya menyusul Senopati Agung yang telah lebih dulu berangkat….”

“Saya tak bisa mencegah kehendak Raja, Kakangmbok Ratu. Barangkali justru ini yang terbaik.

“Apalagi Janaka sudah bisa memilih pasangannya. Rasa-rasanya saya ingin datang saat pesta pernikahan nanti….”

Gendhuk Tri tak ingin usil melihat kesungguhan Pangeran Anom menunduk mendengarkan “Ada bagian yang selalu menyenangkan, Kakangmbok Ratu. “Putramu Bagus Mantlorot bisa memilih pasangan dengan mudah. Akan tetapi tidak demikian dengan anakku. Sebagai raja, tak bisa sembarangan. Sebab darahnya tak bisa diturunkan tanpa perhitungan. Itulah nasib yang ditentukan Dewa. Tak bisa ditolak. Berbahagialah Kakangmbok Ratu. Bisa merasakan hidup seperti ratu, tanpa beban ratu….”

Gendhuk Tri mendesis lirih karena jengkelnya.

Dalam benaknya, kata-kata Permaisuri Indreswari sangat merendahkan orang lain. Dengan suara ringan, seolah membuat telinga lain berbahagia, akan tetapi sekaligus menjatuhkan. Ya kalau Kala Gemet susah dan tak bisa sembarangan mencari jodohnya. Tidak asal ambil seperti Mantlorot.

Itu sama dengan menampar wajah Gendhuk Tri yang dianggap sembarangan. “Sungguh aneh hidup ini.

“Kita dilahirkan sama. Dibesarkan bersama. Diboyong dari seberang bersamaan. Akan tetapi pilihan Dewa berbeda. Saya menjadi permaisuri utama dan Kakangmbok Ratu bersuamikan senopati. Sehingga sebagai kakak, harus bersila di depan adiknya. Demikian juga seluruh keturunannya.

“Apakah ini bukan nasib? “Apakah ini bukan takdir?

“Dan kita hanya bisa menjalani. Menjalani sebagai yang tertulis oleh tangan Dewa yang tak bisa diubah lagi. Mungkin kehidupan kita sebelumnya yang membuat perbedaan ini.

“Maka kalau Kakangmbok Ratu bisa berbuat lebih baik, mengabdi atas nama Keraton lebih sujud, rasa-rasanya di kelak kemudian hari, di titisan yang kemudian, bisa berubah.

“Tidak pantas seorang adik memberi nasihat seperti ini. Akan tetapi hanya ini yang bisa saya antarkan kepada Kakangmbok Ratu.”

Dara Jingga hampir menjawab ketika Permaisuri melanjutkan.

“Jadilah penguasa di tanah seberang, atas nama Raja yang sekarang memegang takhta. Jagalah kebesaran, sebagai tanda bekti dan mengabdi. Jangan lupa kewajiban untuk mengirimkan upeti….”

Inilah yang makin membuat Gendhuk Tri jengkel.

Di saat perpisahan, tak ada kata yang menyenangkan, malah mengungkit-ungkit masa lalu. Malah menuntut pengabdian yang lebih tinggi, karena selama ini dinilai kurang berbakti.

Sungguh luar biasa, bahwa hal ini bisa terjadi pada sesama saudara. “Mantlorot anakku.

“Mulai sekarang kamu bisa belajar lebih baik, lebih tekun, lebih bisa menyadari bahwa semua yang kamu nikmati ini berasal dari kemurahan hati Raja….”

Gendhuk Tri bersiap menyentilkan sepotong tanah untuk menyambit kain Permaisuri, ketika terdengar bisikan lembut, “Jangan, Adik Tri. Kalau itu terjadi, semua pelayan Permaisuri akan dihukum gantung karena dianggap tidak becus mendandani….”

“Apa yang kamu katakan, Mantlorot?”

“Semua yang disabdakan Ibu Permaisuri Utama sangat tepat.” “Belajarlah bicara lebih jelas, Mantlorot.

“Kakangmbok Ratu, perahu sudah lama menunggu….” Hanya dengan satu anggukan kecil, Permaisuri Indreswari berbalik. Masuk ke joli yang lebih indah. Lalu lenyap dari kerumunan.

Baru kemudian Dara Jingga melangkah ke dalam tandu. Diikuti yang lain. Dalam pengawalan ketat, rombongan menuju ke dalam perahu besar. Ada tiga perahu yang siap menelusuri sungai, untuk kemudian melintasi samudra yang luas.

Pengawalan ini hanya untuk meyakinkan bahwa rombongan memang benar-benar berangkat ke dalam perahu.

Gendhuk Tri berdiam diri.

Begitu masuk ke perahu, ia segera bersemadi untuk memulihkan tenaga dalamnya. Begitu malam menjelang, Gendhuk Tri segera berindap ke luar, dan mencebur ke sungai.

Walau tidak begitu pandai berenang, tak terlalu sulit Gendhuk Tri menepi. Dengan badan yang basah kuyup hingga ke rambutnya, Gendhuk Tri bisa naik ke darat.

Wajahnya berubah ketika melihat bayangan mendekat ke arahnya. “Pakai yang sudah kering….”

“Pangeran…” “Saya tahu Adik Tri pasti akan kembali. Makanya saya mendahului, sambil membawa pakaian untuk ganti.”

“Kenapa Pangeran turun?” “Karena Adik Tri juga turun.” “Bukankah…”

“Lebih baik Adik Tri ganti pakaian lebih dulu.” Pangeran Anom segera pergi.

Membiarkan Gendhuk Tri sendirian, mengganti pakaiannya di balik pepohonan. Sebenarnya tak bersembunyi pun tak ada yang melihat karena malam sangat pekat.

Hati Gendhuk Tri bercekat karena hal lain. Pangeran Anom yang baru saja dikenal ini sudah menunjukkan perangai yang aneh. Di saat ia menjadi putra mahkota yang diberi janji tanah seberang, malah lebih suka memilih keluyuran.

Apakah betul ini semua karena daya asmara?

“Saya ingin mendengar jawaban yang jujur, Pangeran…,” kata Gendhuk Tri ketika keduanya berjalan bersama. “Saya tak ingin membuat Pangeran menyesal di belakang hari. Saya tidak menjanjikan apa- apa….”

“Adik Tri, saya tidak menuntut apa-apa. Tidak menuntut janji. Saya hanya merasa bahagia bersama Adik.

“Kalau Adik Tri merasa terganggu, saya akan pergi….” “Sama sekali tidak.

“Tapi apa yang Pangeran harapkan?” “Merasakan kebahagiaan ini. “Sekarang ini.

“Kalau bisa berlangsung terus, alangkah indahnya. Kalau tidak, ya tak apa-apa. Kalau suatu ketika nanti Adik Tri memutuskan berjalan bersama Kakang Singanada, saya mendoakan agar Adik Tri bahagia, selamanya.

“Saya tak meminta apa-apa.

“Saya mungkin bisa membantu sedikit-sedikit untuk mencari Kakang Singanada atau mengobatinya….”

Hati wanita Gendhuk Tri terharu.

Tergugah oleh ketulusan Pangeran Anom. Wajahnya yang polos, tekadnya yang membara, semua didasari pengertian, sekurangnya sekarang ini bisa bersama.

Alangkah murninya!

Apakah pikirannya akan berubah jika mengetahui bahwa yang dipikirkan Gendhuk Tri saat itu justru Upasara Wulung? Bukan Pangeran Anom dan bukan pula Singanada?

Apa yang melintas dalam ingatan Gendhuk Tri saat ini memang bayangan Upasara. Saat mereka berdua-dua di Perguruan Awan. Setelah kemelut Keraton Majapahit dulu, itu adalah waktu yang paling menyenangkan.

Saat itu Upasara mempunyai waktu paling banyak bersamanya.

Ilmu Berjalan di Atas Api

KENANGAN yang manis.

Saat di mana Upasara memilih berdiam diri di Perguruan Awan. Siang dan malam selalu bersama Gendhuk Tri. Ada saja yang mereka lakukan berdua. Mencari ikan, buah-buahan, berlatih silat, atau kadang mencari kutu.

Kadang kala Gendhuk Tri menerima tamu Nyai Demang serta Galih Kaliki. Suasana lebih ramai, akan tetapi tetap menyinarkan ketenteraman, kebahagiaan. Di luar hutan, kejadian berlangsung seperti sedia kala. Pertarungan, perebutan kekuasaan, saling mengganas. Tetapi alangkah menyenangkan berada dalam rimba ketenteraman.

Alangkah indahnya andai saat itu dunia berhenti. Tapi nyatanya tidak.

Upasara keluar dari sarang perdamaian. Getaran asmara yang mencuat tak bisa disembunyikan, menyeretnya kembali ke Keraton. Daya asmara terhadap Gayatri tak pernah selesai. Saat itulah mulai pergolakan yang menggelora. Menemukan musuh-musuh dari senopati Raja Jayakatwang, atau beberapa pasukan dari Tartar. Mereka bertarung habis-habisan.

Dan setelah selesai tugas utama, kembali ke Perguruan Awan. Menikmati hari-hari yang membahagiakan. Tak peduli dengan urusan pangkat dan derajat. Upasara menolak menjadi mahapatih.

Bahkan juga ketika utusan Baginda, Permaisuri Gayatri, datang secara khusus membujuknya.

Namun getaran yang sama pula menyeret kembalinya Upasara ke gelanggang. Dan sejak itu Gendhuk Tri tak pernah mendapat kesempatan berduaan secara khusus. Malah merasa tak terperhatikan. Upasara dengan segala kesibukannya dari matahari terbit hingga tenggelam.

Hingga sekarang ini.

“Adik Tri memikirkan apa?” “Tidak memikirkan apa-apa.”

“Rasanya seperti melamunkan sesuatu.” “Tidak.”

“Atau masih memikirkan bahwa sekarang Kiai Sambartaka bisa mengenali ilmu kebal?” Gendhuk Tri menggeleng.

“Pangeran, bagi Kiai Sambartaka sebenarnya tak ada masalah untuk mengenali ilmu kebal. Tradisi ilmu dari tlatah Hindia tak berbeda jauh dari tanah Syangka. Segala jenis ilmu kebal bisa dipelajari, dan sudah menjadi ajaran.”

“Kalaupun benar begitu, kenapa Kiai Sambartaka perlu berguru kepada Adik?” “Pangeran jangan membuat saya malu.

“Kita mempelajari bersama-sama.”

“Apa pun istilahnya. Nyatanya mengajak kita. Nyatanya juga Adik yang bisa memecahkan dengan cepat.”

Mungkin lebih baik membicarakan hal ini, kata hati Gendhuk Tri. Daripada melamunkan Upasara. Ya, Kakang Upasara yang waktu itu masih beringasan, suka bercanda, dan bisa jengkel. Bukan Upasara yang terlalu angker, yang sedikit bicaranya, dan seolah sama tuanya dengan Eyang Sepuh.

“Bagaimana Adik bisa memecahkan rahasia ilmu kebal Pendeta Manmathaba?” “Saya teringat ajaran Mbakyu Jagaddhita.

“Saat itu kami berlatih bersama. Mbakyu Jagaddhita menceritakan bahwa sebenarnya kunci ilmu silat yang kami mainkan berawal dari tarian. Tarian berawal dari gerak. Jadi gerak yang mula-mula adalah sumber utama.

“Kenapa justru gerak yang menjadi sumber kekuatan, dan bukannya diam?

“Saat itu Mbakyu Jagaddhita tak bisa menerangkan. Atau tak mau. Atau menganggap tak perlu. “Saya baru sadar ketika kita berlatih bersama….”

Sampai di sini Janaka Rajendra tak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Kekuatan kita berdasar pada gerak karena sifat air. Air yang bergerak karena mempunyai dan menemukan irama alam. Di samping itu air mempunyai sifat yang tersendiri, yaitu dingin, basah, mengalir.

“Entah bagaimana, pikiran saya membersit ke arah orang yang biasa berjalan di atas api membara. Suatu pameran ilmu yang sebenarnya tak pernah dipandang sebelah mata, karena dianggap permainan anak-anak.”

“Lalu…”

“Orang yang berjalan di atas api tanpa terbakar, sebenarnya memainkan sifat air. Sifat air yang ada dalam tubuh dipergunakan. Itu sebabnya orang yang akan berjalan di atas api, kakinya berkeringat. Telapak kaki yang berkeringat, yang mengandung air, tak akan terbakar.”

“Apa betul begitu?” “Ya.”

“Bagaimana mungkin…”

“Sangat mungkin, Pangeran… Ilmu berjalan di atas api sebenarnya bukan ilmu kebal. Bukan sesuatu yang luar biasa dilihat dari pengerahan tenaga dalam. Tak perlu setengah sadar untuk melakukan itu.

“Sebab yang utama karena dingin tubuh akan menolak api dengan sendirinya. “Sebab yang lain ialah karena orang itu berjalan di atas api. Bukan menginjak atau berdiri di atas api.” “Karena bergerak.”

“Ya.”

“Dengan bergerak, kekuatan panas akan mengalir. Tidak menusuk sepenuhnya. Demikian juga serangan lawan, dalam hal ini tusukan keris Kakang Upasara…” Gendhuk Tri mencoba berbicara dengan nada biasa. Karena kuatir Pangeran Anom merasakan adanya perubahan getaran hatinya.

“Tusukan itu bergerak. Dan Manmathaba sendiri bergerak. Pada saat itu sebenarnya yang terjadi adalah singgungan. Seperti ketika Kiai Sambartaka menyerang saya.

“Sebenarnya, kalau waktunya tidak tepat, saya pasti akan terluka. Hanya saja karena saat itu saya bisa mengerahkan tenaga dalam secara tepat dan mengalir, yang terjadi adalah singgungan. Seperti telapak kaki telanjang yang menginjak api.

“Semakin bisa dikuasai, semakin leluasa penggunaannya.

“Pada tingkat Manmathaba, penguasaan itu sudah nyaris sempurna. Hanya saja ia tak bisa terus mengulang dalam jangka yang panjang. Tak ubahnya mereka yang berjalan di atas bara. Hanya mungkin pada jarak tertentu.

“Kalau terus-menerus pasti akan terbakar, karena daya air dalam tubuh terganggu. Kecuali kalau dilatih.”

“Tunggu dulu, Adik.

“Dengan kata lain, kalau Pendeta Manmathaba diserang, misalnya dua kali berturut-turut, ia bisa terluka.”

“Tidak begitu persis.

“Tapi jika lawan telah mengenali rahasia ini, ia menjadi lebih tenang, dan tidak kaget karena serangan utama tiba-tiba saja kandas secara tidak masuk akal.

“Itu yang terjadi pada Kakang Upasara. Itu yang mengejutkan Manmathaba. Sekarang setelah mengetahui itu, besar kemungkinannya bisa menundukkan.

“Dengan satu perkecualian, kalau ternyata Manmathaba masih menyimpan kemungkinan yang lain. “Dan hal semacam ini sangat mungkin sekali.”

Janaka Rajendra mengangguk-angguk. “Benar sekali.

“Agaknya Pendeta Manmathaba mempunyai kelebihan ganda. Di samping memang peng-pengan atau sakti, mampu meramu dengan kekuatan-kekuatan tak terpikirkan lawan. Agak licik, tapi cukup bisa mengelabui.”