Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 07

Jilid 07

Umpan telah ditelan secara utuh.

Ditarik keras atau dibiarkan, umpan telah tenggelam dalam perut. Tak bisa dilepaskan kembali. “Hamba tidak berani mengatakan seperti itu.

“Akan tetapi sejarah mengajarkan apa yang terjadi. Sewaktu Putra Mahkota menghendaki Ratu Ayu Azeri Baijani, dan swargi Senopati Sora yang disuruh mendampingi gagal, akibatnya musnah.

“Hamba tidak menyalahkan Mahapatih yang mengemban tugas.

“Hamba lebih menyalahkan Senopati Sora yang secara terang-terangan membangkang sewaktu penobatan. Dan malah kraman membawa prajuritnya yang setia menghadap Baginda.

“Sekarang ini Putra Mahkota yang direstui menghadapi persoalan yang harus diselesaikan dengan munculnya Upasara Wulung. Sehingga Baginda secara cepat tanpa banyak pertimbangan mengatakan siapa yang menangkap Upasara diberi pangkat mahapatih.

“Sebagai raja yang berkuasa, Baginda—ampun segala Dewa—agak tergesa-gesa. Seolah tidak memandang wajah Mahapatih Nambi sama sekali.

“Jawabannya akan sama, jika Putra Mahkota merasa bahwa Barisan Padatala, yang kakinya bergelang itu, yang dianggap menyelesaikan tugas.

“Yang menjadi pertanyaan hamba, kenapa Putra Mahkota menitahkan Barisan Padatala bergerak lebih dulu.

“Dan bukan Mahapatih Nambi. “Atau senopati yang lain.

“Atau hamba. Misalnya saja….”

Dalam hati Halayudha berteriak kegirangan karena bisa menelanjangi Mahapatih Nambi yang nampak makin letih.

“Berarti Putra Mahkota tidak menyukai diriku?”

Halayudha membiarkan pertanyaan itu tergema sebagai jawaban. “Berarti pengabdianku tak diterima?” “Hamba tidak yakin seperti itu.

“Tetapi baik Baginda maupun Putra Mahkota nyatanya memberi kesempatan pada orang lain. Yang dinyatakan secara terbuka.”

Nadanya lebih lembut. Pengucapannya lebih pelan.

Akan tetapi apa yang dikatakan Halayudha justru lebih menancap dalam. Karena Halayudha mengaitkan Baginda dan Putra Mahkota sekaligus.

Bagi Mahapatih Nambi, kalimat itu sangat perih.

Apa artinya “tidak yakin disukai”, akan tetapi memberi kesempatan pada orang lain? Nyatanya begitu.

“Paman, aku sedih bukan karena melepaskan jabatan. Aku sedih karena pengabdianku selama ini tidak diterima.”

“Hamba sepenuhnya percaya.

“Mahapatih pun secara pribadi tidak menghendaki derajat mahapatih. Semua demi tugas, demi Utah Baginda.”

Mahapatih Nambi mengangguk-angguk. “Sekarang jelas.

“Keberadaanku tak diperhitungkan lagi. Bahkan dalam pembersihan mayat prajurit, dalam menawan lawan, aku sama sekali tak diajak bicara.

“Barisan Padatala yang mengurusi semua. “Yang membawa tawanan.

“Yang mengumumkan anugerah bagi keluarga prajurit yang menjadi korban. “Yang menyusun prajurit pengawal pribadi.”

“Duh, Mahapatih, hamba tak berani mengusulkan agar Mahapatih mengundurkan diri. Akan tetapi sebagai ksatria, ini jauh lebih gagah.

“Mahapatih jangan salah mengerti.

“Mengundurkan diri bukan berarti melepaskan jabatan dan derajat yang mulia. Biarlah nanti Baginda sendiri yang melakukan, jika Baginda menghendaki.

“Menyurutkan diri tanpa melepas jabatan, agar para prajurit tidak bertanya-tanya.

“Dalam tata krama tugas, disebutkan bahwa para prajurit dan senopati bisa mengundurkan diri untuk sementara. Seperti mereka yang kematian istrinya, bisa minta izin tidak melakukan tugas.”

Kali ini tombak berbisa yang ditusukkan. Setelah yakin ikan menelan umpan dan tak bisa menghindar.

Palapa Karya

HALAYUDHA terlonjak. Kaget, sewaktu Mahapatih Nambi menubruk. Hanya karena kedua kakinya tak bisa digerakkan untuk menghindar, tubuhnya masih tetap tertahan.

Kedua tangannya bersiaga.

Sekali tenaga Mahapatih mengenai, ia juga balas menghantam. Dugaannya ternyata keliru jauh.

Mahapatih Nambi menubruk untuk memeluk. “Terima kasih, Paman….”

Suara yang mengharukan.

Menyayat bagi siapa yang mendengar. Halayudha pun terharu.

Dalam arti yang lain.

Tadinya ia menyangka bahwa Mahapatih Nambi akan murka. Tersinggung karena dianjurkan mengundurkan diri tanpa kehilangan pangkat. Meskipun tata krama keprajuritan menyebutkan hal itu, akan tetapi biasanya hanya dilakukan para prajurit. Bagi para senopati, apalagi mahapatih, tak perlu secara khusus meminta izin untuk tidak mengikuti tugas.

Sudah dengan sendirinya bisa begitu.

Tadinya Halayudha menduga bahwa kemurkaan Mahapatih Nambi karena mengetahui strategi yang dipakai Halayudha. Bahwa dengan mengundurkan diri secara sementara, hubungan Mahapatih akan makin jauh. Tali kekuasaan yang saling menghubungkan akan terputus untuk sementara. Garis komando bisa berjalan tanpa kehadirannya.

Ini berarti secara resmi memberikan kesempatan munculnya senopati yang lain. Namun Mahapatih Nambi menanggapi dari sisi yang berbeda.

Bahwa dengan mengundurkan diri sementara, Mahapatih tidak akan kehilangan muka kalau terjadi sesuatu yang melangkahi kekuasaannya.

Halayudha sama sekali tidak menduga bahwa mempersoalkan kehormatan ternyata menjadi bagian penting taktiknya. Selama ini kepekaan dan rasa antara pengikut Sri Baginda Raja dan pengikut Baginda yang dipertentangkan.

Ternyata ada hal lain yang bisa menjadi sangat peka. Soal kehormatan!

Soal merasa terhormat dan tidak.

Soal tata krama, soal unggah-ungguh. Mahapatih Nambi tak ingin kehilangan muka sebagai mahapatih.

Ini hebat!

Setidaknya bagi Halayudha. Selama ini ia bisa menahan diri, merasakan kehormatan yang kurang atau justru menyembunyikan. Dan menganggap tidak perlu tata krama menyembah dan menghormat. Baginya tak berbeda terlalu banyak.

Tetapi ternyata mempunyai makna luar biasa bagi Mahapatih Nambi! “Paman Halayudha ternyata sangat bijaksana….”

Mahapatih Nambi merenggangkan rangkulannya.

“Dengan melakukan palapa ing karya, beristirahat dari tugas, tak akan menjadi masalah lagi bagi diriku.

“Juga merupakan gugatan kepada Baginda secara tidak langsung. “Sekali lagi terima kasih, Paman….”

“Sumangga, Mahapatih….”

“Paman sungguh luar biasa. Sama-sama mengerti tata krama keprajuritan, tetapi tak pernah terpikirkan apa yang Paman usulkan.”

“Kebetulan saja hamba teringat, Mahapatih.

“Dengan palapa ing karya, akan menjadi jelas. Apakah Baginda atau Putra Mahkota kemudian hari akan memanggil kembali secepatnya atau tidak.

“Jika secepatnya, berarti Baginda sangat membutuhkan Mahapatih.” “Bila tidak?”

“Bila tidak, berarti Baginda atau Putra Mahkota menghormati wewenang Mahapatih untuk beristirahat.”

“Aku akan memulai malam ini juga.”

“Barangkali saja Mahapatih perlu menunggu sampai Baginda selesai di sanggar pamujan. Masih ada waktu bagi Mahapatih merenung kembali.”

“Rasanya ini sudah merupakan jalan terbaik.”

“Merenung kembali dalam artian jika Mahapatih menganggap terbaik, senopati lain yang langsung di bawah Mahapatih bisa mengikuti jejak.”

Kening Mahapatih berkerut. “Senopati yang lain?

“Apakah ini bukan berarti pengunduran diri sementara secara besar-besaran?” “Begitulah, Mahapatih.

“Untuk lebih memberi keyakinan bahwa tindakan Mahapatih tidak sendirian.” “Apakah tidak ada tuduhan kraman?”

Halayudha mendesis. “Sama sekali tidak.

“Semuanya diatur dalam tata krama  tugas prajurit. Tata krama  resmi bagi keprajuritan  Keraton Majapahit yang disahkan oleh Baginda.

“Tidak menyalahi titik dan koma. “Maaf, Mahapatih, hamba sekadar mengingatkan kembali. Bahwa prajurit hanya mengenal tata krama keprajuritan. Bagi penduduk biasa, bisa menunjukkan ketidaksukaannya dengan berjemur diri di alun- alun.

“Bagi para pendeta, bisa menuliskan kidungan sindiran. “Bagi para gundik, bisa membunuh diri.

“Bagi para pemberontak, bisa mengangkat senjata.

“Prajurit menjadi sangat istimewa tugasnya, sehingga tak bisa menunjukkan perasaannya dengan cara-cara yang dipakai orang lain. Selain palapa ing karya.

“Kalau Mahapatih tidak keberatan, hamba yang pertama akan mengikuti langkah Mahapatih.” Mahapatih Nambi mengangguk.

“Karena izin untuk itu datang dari Mahapatih, dengan ini resmi hamba, Senopati Halayudha yang bertugas di dalem, memohon izin. Semoga Mahapatih Nambi berkenan mengabulkan keinginan hamba.”

Mahapatih Nambi mengangguk.

“Kululuskan permintaanmu, Senopati Halayudha. “Kembalilah bertugas jika aku memanggilmu.” “Sembah terima kasih atas kebaikan Mahapatih.” Halayudha merasa geli.

Juga ketika mengantarkan Mahapatih Nambi sambil digendong oleh prajuritnya. Begitu masuk kembali ke kamarnya, pikirannya cepat bekerja keras.

Dalam waktu singkat akan terjadi perubahan besar.

Para senopati yang setia pada Mahapatih akan mengambil istirahat. Yang kemudian disusul Mahapatih.

Biar bagaimanapun, akan menimbulkan keguncangan dalam Keraton. Pada situasi seperti itu, ia bisa masuk kembali.

Mengisiki Putra Mahkota bahwa Mahapatih menempuh jalan keras untuk tidak mengindahkan perintah Putra Mahkota. Bahwa dalam hatinya, Mahapatih tidak menyetujui penyerahan kekuasaan dari Baginda.

Dalam situasi seperti sekarang ini, gelitikan kecil ini akan mudah dipercaya.

Yang menjadi perhitungan Halayudha sekarang ini hanyalah bagaimana cara menyampaikan kepada Putra Mahkota.

Jaraknya menjadi jauh.

Karena kini ada Barisan Padatala yang secara langsung ke depan. Yang keculasannya sudah dibuktikan dengan bubuk pagebluk yang meminta banyak korban.

Secepat Halayudha mencari jalan keluar, secepat itu pula menemukan.

Jalan untuk bertemu dengan Barisan Padatala adalah dengan mengirimkan kitab yang dulu disalin dari Pendeta Syangka.

Seolah ia menemukan kitab pusaka para pendeta dari Syangka. Halayudha tersenyum sendiri dalam hati.

Dengan memberikan kitab pusaka, dirinya akan mudah diterima. Sambil lalu akan diceritakan bahwa ia setengah dipaksa Mahapatih Nambi untuk palapa ing karya. Seperti juga para senopati yang lain.

Berita ini akan segera sampai ke telinga Putra Mahkota. Atau Permaisuri Indreswari.

Alangkah gampangnya menguasai  jika Mahapatih Nambi dan pengikutnya yang  setia tersingkir. Sekarang ini tak ada yang menghalangi. Tak ada calon kuat untuk memegang jabatan mahapatih.

Selain dirinya.

Halayudha mengusap bibirnya.

Ketika ia berusaha keras, yang ditemui malah halangan dan hambatan. Ketika ia mengendurkan diri, justru kesempatan itu datang.

“Inilah nasib.

“Nasib baik hanyalah saat yang tepat memanfaatkan kesempatan. Itu bedanya dengan nasib buruk. “Hanya orang yang selalu bersiap mampu menangkap kesempatan.

“Sebelum bulan bersinar kembali esok malam, kesempatan itu di tanganku. Di tangan manusia kutung yang pincang!”

Telapak Siladri

MAHA SINGANADA tak sempat menyaksikan rembulan Palguna. Di tengah pertarungan tadi, mendadak saja ia merasa lemas. Pikirannya melayang, tak seirama dengan kemampuan tenaganya. Gerakannya menjadi kacau, dan sebelum mengetahui apa yang terjadi, tanah yang diinjak serasa lenyap.

Dalam keadaan antara sadar dan tidak, Singanada merasa dilepaskan dari puncak bukit. Melayang-layang, mengapung.

Setiap kali bibirnya ingin meneriakkan sesuatu, yang terjadi malah bertambah sesak.

Dibesarkan di tanah seberang, Singanada mengetahui bahwa dirinya berada dalam bahaya karena pengaruh racun tertentu. Ketika usaha melawan dirasakan sia-sia, dibiarkannya tubuhnya terseret arus.

Yang sedikit membuat Singanada heran ialah bahwa pancaindranya masih bekerja secara sempurna. Masih didengarnya suara orang jatuh, teriakan Gendhuk Tri. Masih dilihatnya bayangan yang datang dan pergi, yang menyeretnya, membawa ke suatu tempat.

Hanya saja bibirnya terasa tebal dan matanya mengantuk.

Singanada membiarkan tubuhnya diangkut dan diletakkan di suatu ruangan yang dijaga ketat. Baru kemudian perlahan mengatur pernapasannya.

Tak ada yang terganggu.

Hanya saja kembali rasa kantuk yang luar biasa menyeretnya ke arah kelelapan. Beberapa kali Singanada berusaha melawan, akan tetapi beberapa kali gagal.

Hanya pikirannya yang masih bisa berjalan.

Sambil menutup matanya, Singanada memperkirakan apa yang terjadi. Ketika muncul tiga tokoh yang kakinya bergelang, dalam pertempuran yang singkat, hidungnya mencium semacam bau apak. Bau yang berasal dari bubuk yang dilemparkan secara bersamaan oleh ketiga lelaki bergelang kaki.

Bubuk itulah penyebabnya.

Telinganya masih sempat mendengar disebutnya bubuk pagebluk. Yang diketahui oleh Singanada bukan dari namanya. Ada bau apak yang dikenali semasa masih di tanah seberang. Bau apak-manis racun putih halus yang menyebar ke udara.

Racun semacam itu juga dijumpai di Keraton Caban, di tanah Campa. Hanya kehebatannya tidak seperti yang dilihat sekarang ini. Bubuk putih di wilayah Caban membuat seseorang hilang ingatan dan limbung, akan tetapi tidak mematikan seketika.

Agaknya ketiga orang yang maju ke medan perang itu telah berhasil membuat ramuan yang luar biasa. Sehingga siapa pun yang menghirup bisa mati seketika. Atau paling tidak hilang seluruh tenaganya.

Beberapa saat kemudian, ada langkah mendatangi. Singanada tak bisa menggerakkan anggota badannya. Setiap kali menutup mata, tubuhnya kembali serasa berayun-ayun di awan.

Akan tetapi pendengarannya masih bisa berjalan sempurna.

“Ini bukan Upasara, walau wajahnya sama jeleknya,” terdengar suara di atasnya. Singanada mengenali sebagai suara Putra Mahkota.

“Kami yakin bahwa Upasara tak akan bisa lolos.”

“Bapa Pendeta, saya juga mau percaya setelah melihat tubuhnya.”

“Kalaupun bisa lolos, hidupnya akan sangat tergantung pada bubuk pagebluk ini. Setiap kali ia akan mencari bubuk dahsyat ini. Karena semua saraf dan darahnya telah teracuni. Hanya bisa dipuaskan dengan bubuk ini, sampai kemudian tak memerlukan lagi.” “Cerita itu aku sudah dengar.

“Bosan aku mendengarnya.

“Yang belum aku dengar, di mana mayat Upasara? Kalau ia bisa lolos, kira-kira ke mana? Seberapa daya tahannya?”

Terdengar jawaban dari salah seorang.

“Mayatnya akan ditemukan dalam lima hari. Hamba yakin, tubuhnya akan ditemukan sebentar lagi. Karena menghirup bubuk pagebluk, apalagi kami terang-terangan melemparkan ke arahnya, seluruh kemampuannya akan lenyap. Diperlukan waktu lama untuk bisa memulihkan kembali. Itu pun pasti sudah akan ketagihan.

“Dan pancaindranya akan menuntun ke kami bertiga, yang masih menyimpan bubuk lainnya.

“Sekali terkena bubuk ini, seumur hidup akan tergantung pada kami. Sampai sekarang belum ada yang bisa lolos dari cengkeraman neraka. “Sungguh tepat Paduka memberi nama bubuk pagebluk.”

Singanada mendelik.

Bubuk semacam itu, tak salah lagi berasal dari jenis tumbuhan tertentu yang sangat gawat. Pada ramuan yang hanya beberapa lembar dedaunan atau putiknya, bisa membuat nikmat. Akan tetapi memang makin lama makin membuat ketagihan dan tergantung.

Di tanah Campa bubuk semacam ini memang dikenal luas.

Menjadikan para sambiwara, para pedagang, lalu-lalang di seluruh jagat dengan keuntungan yang luar biasa.

Seperti dugaannya semula, tiga orang yang dipanggil sebagai bapa pendeta ini mampu menciptakan ramuan yang luar biasa pekat dan ganas.

Singanada menyadari bahwa keadaannya sekarang ini lebih parah dari yang diperkirakan. Karena, kalau benar yang diutarakan, dirinya terpengaruh oleh bubuk pagebluk sepanjang hidupnya.

Setelah pengaruh sekarang ini berkurang, seluruh tubuhnya bakal dijalari ingin merasakan kembali. Bubuk yang paling jahat yang pernah dikenalnya.

Sekarang justru dirinya yang terkena. “Bagaimana dengan perawan yang satunya?”

“Keadaannya lebih parah, Paduka. Karena aneh sekali, tenaga dalamnya justru membantu mencairkan bubuk pagebluk.” .

Singanada menduga pastilah yang dibicarakan itu Gendhuk Tri. Tak mungkin Permaisuri Rajapatni. “Paduka…

“Ini saat terbaik melatih ilmu silat tenaga dalam. Upasara atau Rajapatni hanya soal waktu. Hamba bertiga jauh-jauh datang dari Syangka untuk membawa bubuk pagebluk ini.

“Marilah, Paduka, kita tidak perlu memikirkan hal ini lebih lama.” “Baik.

“Sementara itu jalankan terus ramuan bubuk pagebluk yang tak terlalu ganas, agar semua menjadi tergantung kepada kita. Ingat, aku sendiri yang menentukan siapa yang menerima seberapa….”

“Sembah bagi Paduka….”

Lalu terdengar langkah kaki meninggalkan. Singanada terbaring.

Merasa kalah. Hancur.

Sia-sia.

Kenapa aku tidak mati seperti Cebol Jinalaya saja?

Bagaimana dengan Gendhuk Tri? Seberapa jauh ia lebih parah? Kenapa tubuhnya lebih memungkinkan bubuk itu bekerja sempurna?

Kembali rasa kantuk menyeretnya. Perasaan melayang dari puncak gunung mengganggunya. Bayangan demi bayangan yang serba aneh muncul dari angannya. Tangannya serasa berjalan sendiri, kepalanya lepas dan menertawakannya.

Antara igauan dan lamunan, Singanada melihat sesosok mendekat. Tangannya bergerak, entah cepat entah lambat, akan tetapi dua penjaga yang berada di depan mendelik dan tak bergerak.

Sosok tubuh itu mendekat ke arah Singanada.

Sebelum Singanada menyadari, pipinya telah dijepit. Sebutir buah yang sangat pahit dijejalkan hingga ke pangkal lidahnya. Ketika ia akan terbatuk, tangan yang keras menutup mulutnya.

“Jangan bergerak, jangan mengerahkan tenaga. Biarkan buah itu masuk ke dalam tubuh dan larut dalam darah.

“Dalam sepenanak nasi, tenagamu akan kembali untuk jangka waktu satu putaran terbit dan tenggelamnya matahari.

“Baik sekali bagimu kalau kau segera meninggalkan tempat ini.” Tubuh Singanada menggigil.

“Tanganmu sangat kasar, bagai batu gunung.” “Pergilah, Singanada! Selamatkan dirimu!

“Jangan memikirkan Gendhuk Tri atau orang lainnya. Yang penting kamu selamat. Keraton sedang dalam bahaya mengancam yang luar biasa.

“Pengaruh bubuk pagebluk sudah menyebar.” “Siapa kamu?”

“Karena kamu menyebut tanganku seperti batu, panggil aku Siladri. “Aku tak punya banyak waktu.”

“Tunggu!

“Kenapa kamu tolong aku?” “Sebab kamu ksatria.

“Keraton membutuhkan ksatria.

“Jaga diri baik-baik, Singanada. Jangan memikirkan orang lain lebih dulu.” Dengan gerakan lembut sosok itu bergerak.

Seorang prajurit yang menjenguk masuk, sekali kena pukulan langsung tertunduk, jatuh.

Kurungan Pagebluk

SINGANADA menggerung keras.

Akan tetapi suaranya setengah tertahan.

Ada beberapa keinginan yang akan diteriakkan. Ia seperti mengenal Siladri. Baik gerakan tangannya ketika memukul, atau bahkan caranya berjalan.

Ilmu itu sangat dikenalnya.

Melihat kemampuannya, jelas ilmu silatnya bukan dari golongan sembarangan. Malah kentara sekali dilatih dengan teratur.

Lalu kenapa menolongnya?

Seperti yang dikatakan tadi, dirinya “seorang ksatria dan Keraton membutuhkan ksatria”? Kalau demikian Siladri adalah tokoh dari Keraton. Tak bisa tidak.

Bahwa ia bisa masuk menerobos dengan leluasa menunjukkan tak mungkin dari kelompok di luar Keraton. Kalau benar begitu, kenapa kelihatannya tidak sependapat dengan Putra Mahkota atau bahkan Baginda?

Kenapa membantunya secara diam-diam? Kelompok mana lagi?

Apa hubungannya dengan Upasara Wulung? Kelihatannya juga cukup kenal. Bahkan Gendhuk Tri pun dikenalnya. Setidaknya kalau diingat bahwa tadi ia mengatakan agar tidak memikirkan orang lain lebih dulu. Yang penting bisa meloloskan diri.

Singanada makin kuatir.

Bagaimana keadaan Gendhuk Tri saat ini?

Apakah ia lebih parah lagi dan akan lebih tergantung kepada bubuk pagebluk yang kini telah menguasai Keraton? Yang telah disisipkan dalam jamuan Keraton?

Benar-benar gawat!

Hanya dengan bubuk yang tak seberapa, seluruh Keraton bisa dikuasai. Dan ini langsung diperintah oleh Putra Mahkota.

Celaka! Ah!

Singanada merasa bisa menggerakkan tangannya. Benar saja. Kini jari-jarinya bisa digerakkan. Bisa direnggangkan. Bahkan ketika coba diangkat, ternyata bisa.

Hanya kemudian jatuh kembali.

Singanada segera memusatkan perhatiannya. Kalimat petunjuk Siladri yang serba pendek dan tergesa diikuti dengan cermat.

Ia tak akan membuat gerakan apa-apa. Untuk memudahkan buah pahit yang dijejalkan ke dalam mulutnya larut di dalam darah.

Sejenak Singanada merasakan perbedaan. Pengaruh buruk yang menyeretnya ke dalam kantuk mulai surut. Kini matanya bisa dibuka dengan lebar, bisa melihat benda-benda lebih jelas. Tak ada lagi perasaan gamang atau seperti terayun-ayun dari puncak gunung. Tak ada lagi pikiran dan tubuh melambung seperti ketika di tengah samudra.

Menunggu sepenanak nasi, Singanada menjadi kuatir kalau-kalau ada penjaga yang datang. Namun sebisa mungkin ditenangkan hatinya.

Benar saja. Segera dirasakan kesegaran tubuhnya. Sewaktu tenaga dalamnya disalurkan, bisa berjalan leluasa.

Ini hebat!

Pengaruh bubuk pagebluk bisa dilawan! Bisa dimusnahkan.

Meskipun hanya dalam jangka waktu terbitnya matahari. Hanya dalam waktu sehari-semalam. Kalau ia tak bisa segera menemukan Siladri yang menjejalkan buah pahit, ia akan ketagihan lagi. Akan hilang seluruh kemampuannya.

Singanada tak berpikir panjang.

Segera ia pulihkan tenaganya, digerakkannya semua anggota tubuhnya. Begitu merasa menguasai tenaganya, Singanada segera melangkah ke luar. Keluar dari ruangan, mengendap-endap menuju bagian lain.

Tak terlalu sulit menemukan jalan keluar, karena Singanada sedikit banyak hafal mengenai keadaan Keraton.

Hanya saja langkahnya tertahan.

Apa gunanya meloloskan diri seorang diri?

Bagaimana mungkin meninggalkan Gendhuk Tri seorang diri?

“Kalau bisa menolongku, pastilah Siladri bisa juga menolong Gendhuk Tri. Pasti sekarang sudah diusahakan.

“Tapi rasanya aku tak bisa meninggalkan perawan suci itu sendirian. Lagi pula untuk apa aku melarikan diri? Meskipun hanya hidup sehari-semalam, untuk apa bersembunyi?

“Jalan yang terbaik adalah menemui pendeta-pendeta jahanam itu. Kalau bisa membunuh mereka atau memaksa mereka menyembuhkan Gendhuk Tri, barangkali ada gunanya sisa hidupku ini.”

Singanada memandang ke arah lain. “Siladri, aku menempuh jalanku sendiri.” Singanada berbalik.

Kembali ke dalam Keraton. Mengendap-endap mencari tempat persembunyian Gendhuk Tri. Akan tetapi geraknya terlalu terbatas, karena penjagaan sangat ketat.

Dua kali Singanada memaksa prajurit yang ditemui untuk mengatakan di Gendhuk Tri. Bukan jawaban yang diterima, akan tetapi pelototan mata yang segera dibungkam.

Tak ada jalan lain. Menelusuri satu demi satu.

Memasuki ruangan-ruangan satu demi satu.

Sekurangnya di mana banyak penjagaan, di situ Singanada mengendap-endap masuk. Empat ruangan ternyata tak ada apa-apanya.

Ketika mencoba ruangan yang kelima, Singanada menahan diri. Kali ini penjagaan sangat ketat. Sehingga Singanada, di luar kebiasaannya, melewati jalan berputar. Lalu memakai pakaian prajurit Keraton dan mengintip dari balik gerbang.

Darahnya berdesir lebih cepat.

Karena yang berada di dalam adalah orang-orang yang dicarinya. Semuanya berkumpul.

Putra Mahkota berada di tengah lingkaran dengan telanjang dada. Di sekelilingnya, agak jauh, duduk ketiga pendeta dengan telanjang dada pula.

Di lingkaran yang agak jauh, para prajurit siap siaga. “Paduka telah bersiap….” “Mulailah!”

Ketiga pendeta Syangka mengangguk, menyembah, lalu berdiri. Masing-masing telapak tangan bersentuhan.

“Ilmu yang kami turunkan ini adalah ilmu pusaka negeri Syangka. Ilmu yang dikenal dengan nama ilmu Kekal Abadi, atau ilmu Langgeng Bareng Jagat. Selama jagat masih tergelar, selama itu pula ilmu ini masih berlaku.

“Dasar-dasar ilmu ini adalah perubahan Sepuluh Wajah atau Dasamuka. “Sebelum kami bertiga memulai, kami ingin mengutarakan siapa Dasamuka.” “Itu aku sudah tahu.”

“Paduka tak boleh menyela.

“Sebab apa yang Paduka ketahui salah.”

Singanada merasa aneh bahwa ada cara mengajarkan ilmu dengan disaksikan begini banyak orang. Dalam pengawalan ketat. Tapi bukan itu yang dipikirkan. Singanada hanya memikirkan bagaimana bisa meloncat masuk dan menerjang ketiganya! Untuk meminta paksa obat penangkal atau memusnahkan ketiganya.

“Dasamuka dikenal sebagai roh jahat.

“Padahal beliau adalah tokoh yang kekal abadi. Hidup bersama jagat. Tanpa menitis seperti Wisnu, yang dipuja di tanah Hindia.

“Dasamuka adalah roh yang sejati.

“Ia membunuh gurunya, mengawini anaknya. Karena yang bisa kekal abadi tak terikat oleh pengaruh jagat yang sifatnya sementara.

“Paduka siap mendengarkan kidungan?” Putra Mahkota mengangguk.

Adalah roh kekal abadi hidup bersama jagat raja tak kenal ikatan sementara jiwanya melampaui zaman

orang bodoh menyebut durhaka padahal sesungguhnya durhaka dan berdharma

hanya sementara

orang sakit menyebut culas padahal sesungguhnya

tak ada bedanya untuk keabadian

Dasamuka bisa kalah, sementara Tapi tak bisa mati, ia abadi Segala bisa

Segala jadi

Tak ada yang menghalangi Tidak juga Dewa atau Dewi!

Pertarungan Syangka-Hindia

SINGANADA mengusap wajahnya. Sekuat mungkin menahan dirinya.

Kalau biasanya, mengikuti adatnya, ia pasti sudah menggebrak maju. Akan tetapi, sekali ini, justru ketika keselamatannya tinggal sehari-semalam, hatinya menjadi lebih tenang. Sebagai senopati yang lahir dan besar di tanah seberang, Singanada bisa melihat lebih jernih apa yang sekarang terjadi.

Kehadiran tiga pendeta dari tanah Syangka merupakan kelanjutan usaha tlatah Syangka menanamkan pengaruh dan kekuasaannya atas tanah Jawa. Tak jauh berbeda dengan ketika Sri Baginda Raja Kertanegara mengirimkan kedua orangtua nya ke tanah Campa. Bedanya hanyalah Sri Baginda Raja mengirimkan para senopati, sementara Syangka mengirimkan para pendeta.

Hal ini bisa terbaca jelas.

Sebab Pendeta Sidateka telah berhasil menanamkan pengaruhnya yang kuat kepada Putra Mahkota. Maka segera disusul pendeta-pendeta lain yang sangat mungkin tingkatannya lebih hebat. Bahkan kemudian memperlihatkan kehebatan bubuk pagebluk.

Salah satu yang diajarkan adalah ilmu Kekal Abadi yang bersumber dari Dasamuka. Bagi Singanada ilmu silat bukan soal yang dipertentangkan.

Akan tetapi bahwa para pendeta Syangka berdatangan dan diterima secara resmi, bisa membuka medan pertarungan baru. Karena selama ini, selama ratusan tahun, terjadi permusuhan yang luar biasa antara pendeta dari Syangka dan pendeta dari tlatah Hindia. Bahkan dalam babon ajaran, kitab antara keduanya bermusuhan.

Adalah sesuatu yang menyedihkan jika terjadi di tanah Jawa. Karena tanah Jawa akan menjadi ajang peperangan antara Syangka dan Hindia.

Dengan mudah Singanada bisa melihatnya sebagai kemunduran.

Justru karena selama ini ia dibesarkan dalam tradisi Keraton Singasari yang mengumbar gagasan ke tlatah seberang. Yang mengirimkan para senopati ke segala penjuru jagat.

Kelahiran dan kehadirannya di tanah Campa dalam mengirimkan Dyah Tapasi antara lain justru untuk mengikat tali persaudaraan dengan Keraton Caban. Yang menemukan hasilnya tatkala pasukan Tartar gelombang kedua mau menyerbu kembali.

Yang bisa ditahan di tanah Campa.

Dengan jalan perundingan ataupun peperangan.

Hal yang sama yang dilakukan oleh Maha Singa Marutma ke Keraton Mon di tlatah Burma. Atau Senopati Anabrang ke tlatah Melayu.

Suatu kebesaran yang tiada taranya.

Keunggulan prajurit Singasari atas pasukan Tartar yang mampu menaklukkan seluruh jagat, menjadi buah bibir dan kidungan yang agung di negara yang bernaung dalam kebesaran Sri Baginda Raja.

Sungguh menyedihkan justru sekarang ini pendeta dari Syangka meminjam tanah Jawa untuk medan pertarungan.

Sebab jika para pendeta Syangka mulai muncul, bisa dipastikan bahwa sebentar lagi para pendeta dari tanah Hindia juga akan berdatangan.

Paling tidak salah satu tokoh utama yang masih menyembunyikan diri, yaitu Kiai Sambartaka, akan muncul kembali. Dengan berbagai upaya, halus atau kasar, Kiai Sambartaka akan membendung dan menggempur pengaruh dari Syangka.

Bibit persemaian itu menjadi subur karena suasana dalam Keraton sedang berantakan. Perpecahan yang terjadi sekarang ini adalah perpecahan tingkat atas.

Antara Baginda dan Putra Mahkota.

Kalau perpecahan ini berhasil digunakan oleh para pendeta Syangka dan pendeta dari Hindia, habislah sudah keutuhan dan kejayaan Keraton.

Dalam memperhitungkan situasi semacam ini, Singanada boleh bertepuk dada karena merasa mengetahui lebih luas. Bukan sesuatu yang berlebihan. Ia dididik dalam tradisi memikirkan hubungan dengan tata pemerintahan seberang.

Dan yang tak habis membuatnya dongkol ialah ternyata Putra Mahkota menerima begitu saja ajaran dan kehadiran para pendeta Syangka.

Masalahnya kemudian ialah bagaimana mencoba memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Tanpa harus diterima dengan prasangka.

Sebersit gagasan mulia muncul di benak Singanada untuk mengorbankan diri memberitahukan hal ini. Namun juga sangat disadari bahwa sebelum usahanya berhasil, ia sudah menjadi korban. Bagi Dasamuka salah itu belakangan dosa itu perhitungan sementara sebab yang kekal dan abadi

bisa apa saja

norma dan tata krama itu belenggu ibarat kata bendungan

yang harus dipecahkan

bagi Dasamuka

kemenangan adalah segalanya sebab tak pernah bisa dikalahkan sepanjang segala zaman!

Putra Mahkota menirukan dengan cermat. Tubuhnya yang gemuk bergerak-gerak, mengikuti irama kidungan.

Singanada mendongak ke langit. Bulan mulai bergeser ke barat. “Paduka bisa mengerti?” “Sepenuhnya.”

“Tata krama hanyalah belenggu, hanyalah bendungan yang harus dimusnahkan. Kalau Paduka mempunyai keinginan, harus dilaksanakan. Pengerahan tenaga, melepaskan pukulan, tak boleh ditahan. Dalam latihan ataupun dalam pertarungan.

“Senjata bisa keris, pedang, tombak, kantar, atau bubuk pagebluk. “Tak ada beda.

“Paduka bisa mengerti?” “Sepenuhnya.”

“Sekarang latihan memukul dengan tenaga dasar.”

Tiga prajurit yang berdiri di pinggir lapangan ditarik maju. Putra Mahkota menggerakkan kedua tangan secara bersamaan. Diiringi teriakan keras bagai jeritan hewan, pukulan itu terarah ke prajurit yang berdiri tegap.

Seketika itu ambruk.

Muntah darah tak bangun lagi. Singanada meringis.

“Pukulan Dasamuka tak bisa dikerahkan dengan kedua kaki sebagai kuda-kuda. Paduka harus mempergunakan satu kaki.”

Latihan kedua dijajal.

Kembali dua prajurit menjadi korban.

“Dalam latihan dan pertarungan sejati tak dibedakan.” “Aku mengerti.”

Sampai di sini Singanada tak bisa menahan diri. Ia berkerumun di antara para prajurit yang mulai minggir ketakutan. Dengan harapan bisa dipanggil maju ke depan.

Hanya saja ketika ia mendekat terdengar suara berbisik di telinganya. “Bukan sekarang saatnya.”

“Siladri…”

“Jangan maju sekarang, Singanada.” Singanada menggeleng.

“Aku tak bisa menahan diri.” Mendadak terdengar teriakan keras. “Siapa berani berbisik? “Maju!”

Maha Singanada maju sambil berjongkok.

Duduk bersila di tempat yang agak gelap. Semua prajurit memandangi dengan cemas. “Tampangmu pengecut, wajahmu ketakutan.

“Sungguh tak pantas untuk latihanku.” Singanada menunduk.

Bukan takut dikenali, akan tetapi menenteramkan darahnya yang mendidih. “Pilih yang lain, aku masih mau berlatih.”

Dua prajurit diarak ke depan.

Gemetar di tengah perjalanan. Merunduk. Sehingga terpaksa diseret. Singanada menunggu kesempatan.

Sekali ini ia akan menyambar maju.

Tapi seorang prajurit yang lain menariknya. Singanada terkesiap, karena ternyata Siladri. “Pengecut macam kamu sebaiknya jadi makanan harimau.

“Pergi sana. Bandel.”

Hanya karena Siladri beberapa kali mengejapkan mata, Singanada mengikuti tarikan yang menyeretnya.

Sampai jauh di pinggir. “Pergilah, Singanada.

“Ada waktunya membalas rencana. Gendhuk Tri masih aman.”

11

Sengatan Berahi

TELAPAK tangan yang keras bagai batuan yang menggenggam Singanada masih tetap mencekal kencang.

“Apa maumu, Siladri?”

“Gendhuk Tri dalam keadaan aman untuk sementara,” ulang Siladri berbisik.

“Kita harus menemukan Upasara dan Permaisuri Rajapatni. Dengan bersatu kalian bisa melawan Barisan Padatala.”

Siladri melepaskan cekalan dan menjauh. Di luar kori, Singanada tertinggal sendiri. Banyak pertanyaan yang mengganjal.

“Hampir saja kamu kukira musuh terbesarku, Senopati Agung. Cara jalanmu sama.”

Dugaan itu terlontar begitu saja. Singanada tak yakin apakah itu dugaan yang tepat atau tidak.

Sejak ia kembali ke tanah Jawa, tak begitu banyak tokoh yang dikenal. Paling hanya beberapa nama. Makanya ia heran sekali kalau ada orang yang mirip dengan yang pernah dikenal. Mestinya ia bisa tahu.

Siladri tokoh utama dalam Keraton. Jelas.

Bisa keluar-masuk dan menyamar sebagai prajurit. Peta permasalahannya tahu persis. Bahwa Gendhuk Tri dalam keadaan aman, dan Upasara serta Permaisuri Rajapatni masih belum ditemukan. Agaknya juga cukup sakti, karena memiliki buah pahit yang untuk sementara bisa membuat tawar pengaruh bubuk pagebluk.

Singanada menduga bahwa Siladri tak mengetahui di mana Upasara berada. Apakah berada dalam tawanan, ataukah meloloskan diri. Itu sebabnya ia memberi saran agar segera meninggalkan tempat. Barangkali terpikir bahwa Upasara bisa meloloskan diri, dan berada entah di mana dalam keadaan ngengleng alias linglung. Saat itu Upasara memang bingung.

Gayatri yang tertidur nyenyak, mendadak menarik tubuh Upasara. Merangkul kencang. Mendekatkan kepala Upasara ke dada Gayatri. Seolah seorang ibu yang ingin menyusui anaknya yang sudah kehausan.

“Yayi…”

“Peluk aku, Kakang. Rengkuh aku sepuasmu, Kakang….” Upasara bergidik.

Dalam bayangannya, Gayatri adalah wanita yang suci, dengan sorot mata jernih dan senyum tersembunyi. Tak pernah memperlihatkan perasaan yang sesungguhnya secara wadak. Kalau tadi menggenggam tangan Upasara, diartikan sebagai luapan dari kerinduan yang tak bisa dibendung lagi.

Namun hanya sebatas itu. Tidak seperti sekarang ini.

Upasara tidak menduga buruk. Justru akal sehatnya bekerja cepat. Kini ia makin yakin bahwa Gayatri terkena pengaruh bubuk beracun, walau hanya sepersekian hirupan.

Pengaruh itu menyebabkan Gayatri berani mengutarakan apa yang terpendam dalam hatinya. Apa yang selama ini disembunyikan bisa muncul secara berlebihan.

Dan karena saat-saat terakhir perasaan Gayatri sedang hanyut dalam kerinduan, yang mendesak ke luar adalah nafsu berahi. Desakan berahi yang memanas.

Upasara tak menduga bahwa bubuk beracun itu mengandung bahaya ganda.

Dalam dosis kecil mampu membuka simpul-simpul perasaan. Menghilangkan rasa sungkan, rasa malu, rasa yang ditutup-tutupi. Dalam dosis besar keinginan itu sedemikian membesar sehingga bisa membunuh dirinya sendiri.

Anehnya bubuk ini secara langsung tidak menimbulkan luka dalam sebagaimana racun yang lain. Kalau racun atau bisa tertentu, bagian yang terkena dapat segera ditandai. Sehingga untuk mengobati dapat mengerahkan tenaga dalam ke bagian itu. Akan tetapi bubuk putih ini langsung terlarut ke dalam darah. Larut menjadi satu.

“Kakang…”

Upasara berusaha melepaskan pelukan Gayatri. “Kakang mengemohi aku?

“Apakah aku menjijikkan?”

Upasara pernah tahu ada semacam dedaunan yang tumbuh di Perguruan Awan, yang bisa membuat mabuk kepayang, bisa menghilangkan ingatan sementara dan membuat orang menjadi lebih berani. Tak jauh berbeda dengan minuman keras. Dedaunan semacam ini banyak digunakan oleh para

Petani agar giat menggarap sawah, atau prajurit yang menuju medan perang agar lebih berani, atau mereka yang biasa malu-malu kalau ingin bermain asmara.

Dalam soal mempengaruhi sama persis. Namun bubuk putih ini ternyata diramu lebih dahsyat lagi. Karena selain mengendurkan saraf, sekaligus juga mematikan. Sehingga mereka yang terkena pengaruhnya, mengetahui apa yang diperbuat tapi tidak sepenuhnya sadar. 

Perbedaan yang kedua ialah bahwa pengaruh dedaunan yang memabukkan itu hanya sebentar, sementara pengaruh bubuk dalam tubuh Gayatri seperti menyentak datang dan pergi berkali-kali.

Kini Upasara merasakan bahwa seluruh tubuh Gayatri basah oleh keringat. Basah dan membanjir, memberikan bau apak yang manis.

Bahkan keringat pun terkena pengaruh bubuk putih. Meresap ke seluruh tubuh.

Upasara bersila. Kedua tangannya cepat menempel di tengah dada dan perut Gayatri. Tanpa dipengaruhi pikiran-pikiran yang merangsang dirinya.

Perlahan tenaga dalamnya masuk, menerobos pori-pori, mencari hawa nadi yang bergetar. Ke arah itulah Upasara mendorong keras, mencarikan jalan keluar tenaganya.

Tujuannya hanya satu.

Kalau bubuk itu bisa larut sampai ke keringat, berarti sebagian terserap di situ. Dan bagian itulah yang didorong ke luar.

Dalam sekejap saja seluruh tubuh Gayatri benar-benar basah. Cairan dalam tubuh dipompa ke luar dengan dorongan tenaga murni. Bagi Upasara hal ini bukan pekerjaan yang sulit. Penguasaan tenaga dalamnya untuk dikerahkan dengan perlahan atau cepat, ke bagian mana, bisa dilakukan dengan enteng. Seperti menuntun jalan pikiran atau menggerakkan anggota tubuh. Dan dalam hal ini perlawanan dari tenaga dalam Gayatri boleh dikatakan tidak ada.

Tetapi juga tidak berarti bahwa penyembuhan bisa secepat yang dikehendaki. Sebab kalau cairan tubuh Gayatri didorong ke luar semua, tubuhnya akan mengering. Bisa mati bagian-bagian kulit dan sarafnya.

Kalau terus-menerus dilakukan, Gayatri bisa mati kehabisan cairan tubuh. Maka Upasara menempuh jalan aman.

Setiap kali mendorong semua keringat Gayatri berhasil, ia berhenti sejenak, mengelap dengan kain yang melekat pada tubuh Gayatri. Tak bisa lain karena tak ada barang lain. Tubuhnya sendiri telanjang dada, tanpa kain.

Setelah itu ia menimba air sumur dengan menggunakan setagen Gayatri. Lalu dengan setengah paksa dijejalkannya air ke bibir Gayatri. Baru kemudian air di dalam tubuh Gayatri didorong ke luar lagi.

Dua kali Upasara melakukan, ternyata ada hasilnya. Gayatri seolah mendusin dari kelelapan. “Kakang…”

“Ya. Yayi…”

“Kakang tidak kurang ajar padaku?” “Tidak, Yayi.

“Kakang hanya berusaha menyembuhkan Yayi….”

Kekuatiran Gayatri bisa dimengerti. Kini tubuhnya terbaring di bangku kayu. Setagennya telah lepas. Kain yang rangkap melibat tubuhnya sebagian telah lepas. Hanya ditutupkan begitu saja. Dalam keadaan antara sadar dan tidak, bisa saja muncul pikiran yang tidak-tidak.

“Yayi harus minum banyak sekali.

“Agar air tubuh Yayi bisa saya dorong ke luar.

“Ceritanya banyak dan panjang. Nanti akan Kakang ceritakan semua.” Gayatri mengangguk.

Rasa dingin karena keringat kini sepenuhnya terasa. Juga telapak tangan Upasara di belahan dada dan di bagian pusar. Ada hawa enak, nyaman, yang menerobos masuk, mengalir bersama darahnya dan menyebabkan keringatnya bagai disuntakkan ke luar.

“Kakang… Aku tak tahan.”

Upasara menarik kembali tenaganya. Dan mengelap tubuh Gayatri.

Mendadak Gayatri merebut kain yang masih menempel di tubuhnya. “Aku bisa melakukan sendiri.”

Upasara berpaling ke arah lain. Walau sebenarnya tidak perlu.

Karena ruangan sangat gelap tanpa cahaya. Tak bisa melihat ujung hidungnya sendiri. Hanya saja irama dan desiran darah yang bergolak serta udara panas dari sela-sela hidung bisa menjadi pertanda bahwa tanpa melihat langsung, gelora berahi itu tak bisa ditutupi secara sempurna.

Kidungan Pamungkas

AKAN tetapi karena batin Upasara bersih dari niatan yang nakal, demikian juga Gayatri, keduanya dengan cepat bisa menguasai diri kembali.

“Kita coba kembali, Yayi?” “Tubuhku sangat lemas.

“Tapi kalau Kakang anggap baik, silakan….”

Tangan Upasara bergerak. Kali ini tidak ke pusar atau belahan dada, melainkan menutup bibir Gayatri. Yang hampir saja berteriak karena kaget.

Baru kemudian Gayatri sadar bahwa ada langkah kaki menuju ruangan pustaka raja. Ini hebat! Ketika pintu terbuka, tampak bayangan tubuh seorang wanita memasuki ruangan pustaka raja sambil membawa obor penerangan.

Upasara mendelik.

Karena yang datang adalah Permaisuri Indreswari.

Berbagai pertanyaan serentak mengentak Upasara dan Gayatri.

Ruangan pustaka raja tidaklah luas. Lebih banyak untuk tempat penyimpanan kitab-kitab yang dituliskan pada kain sutra, kulit binatang, maupun dedaunan. Semuanya tersimpan dalam kotak yang dibuat dari kayu cendana. Semua disusun, menyita hampir sebagian besar ruangan.

Satu-satunya tempat yang luang hanyalah di bagian bangku kayu di mana Upasara dan Gayatri bersembunyi. Tempat yang biasanya digunakan Baginda untuk membaca atau menembang.

Jika Permaisuri Indreswari melangkah masuk, mereka berdua pasti segera ketahuan.

Karena tak mungkin mencari persembunyian lain. Kalaupun Upasara melayang dan menempel di langit-langit, jejak yang ditinggalkan sangat mudah terbaca. Apalagi ada bongkaran tanah dan bangku kayu yang basah oleh keringat.

Bagi Upasara dan Gayatri, bukan masalah utama kalau dianggap mencuri tahu mengenai kitab-kitab yang hanya diperuntukkan Baginda. Akan tetapi diketahui berada dalam ruangan dan berdua-dua, sementara Gayatri hanya mengenakan kain yang mirip selimut, bisa memorak-porandakan cerita yang ada.

Apalagi yang mengetahui adalah Permaisuri Indreswari!

Bahwa tanpa melihat langsung cerita yang berkembang di luaran sangat menyakitkan hati, Gayatri sejak awal sudah mengetahui. Apalagi ditangkap basah—dan benar-benar basah seperti sekarang ini.

Sebenarnya ada pertanyaan lain yang muncul.

Yaitu kenapa Permaisuri Indreswari di tengah malam seperti ini memasuki kamar pustaka raja. Bahkan para emban atau prajurit jaga yang baru masuk mengabdi sudah tahu adalah larangan utama bagi siapa saja untuk masuk ke pustaka raja atau sanggar pamujan.

Selain Baginda sendiri.

Barang siapa berani mendekati saja sudah bisa didakwa melanggar tata aturan Keraton. Tapi pertanyaan itu tenggelam dengan sendirinya.

Permaisuri Indreswari tak mungkin nantinya akan disalahkan memasuki kamar pustaka raja. Karena bisa saja beralasan mendengar suara di dalam, dan kemudian masuk. Permaisuri Indreswari dengan mudah mengatakan curiga dengan adanya suara di dalam karena saat itu Baginda sedang berada di sanggar pamujan. Berarti ada orang lain.

Para prajurit jaga akan membenarkan semua kalimat Permaisuri Indreswari. Upasara menarik tubuh Gayatri.

Menempel erat di tubuhnya. Tangan kanannya memeluk Gayatri, sementara tangan kirinya menggantung. Satu gerakan tangan kiri akan mampu menyeret Permaisuri Indreswari masuk atau terlontar ke luar melewati halaman.

Gayatri bersandar di punggung Upasara. Menunggu.

Bayangan tubuh Permaisuri Indreswari bergerak. Cahaya obor yang dibawa tergoyang oleh tubuhnya sendiri.

Berhenti.

Mengawasi tumpukan peti kayu cendana. Perlahan membuka salah satu peti, dan tangannya mengambil salah satu gulungan kitab yang ada.

Cepat menutup peti kembali. Dan berbalik.

Berbalik!

Gayatri menutup matanya. Napasnya mendengus lega.

Permaisuri Indreswari hanya berada di bagian ujung. Mengambil satu gulungan lalu melangkah ke luar.

“Aku sudah periksa. Di dalam tak ada apa-apa. “Lanjutkan penjagaan, karena banyak musuh.” “Sendika dawuh dalem, sang Prameswari Agung…”

Jawaban para prajurit jaga terdengar serempak dan hormat. Lalu terdengar langkah menjauh. Sunyi lagi.

“Mbakyu Ayu Indreswari sudah tahu keadaan di dalam ruangan ini. Sudah hafal di mana disimpan kitab apa. Sehingga hanya perlu melangkah masuk dan mengambil apa yang diinginkan.

“Sungguh kurang ajar.” “Tenang, Yayi….”

Gayatri melepaskan diri dari rangkulan Upasara. “Bagaimana aku bisa tenang?

“Sudah jelas Mbakyu Ayu Indreswari mengambil kitab pusaka yang tak boleh disentuh oleh siapa pun. Dengan cara sembunyi-sembunyi, seolah ingin memeriksa, sehingga prajurit jaga pun dikelabui.

“Ini benar-benar keterlaluan.

“Yang selama ini dianggap permaisuri paling berbakti, paling suci, diam-diam melakukan tindak dursila.”

Gayatri menuju ke arah depan. Ke tumpukan peti kayu cendana. “Yang diambil kitab yang berisi Kidungan Pamungkas.”

Upasara menunggu sampai Gayatri dekat. Dan berbisik.

“Bagaimana Yayi tahu?” “Saya tahu, Kakang.”

“Bukankah ini hanya untuk Baginda?” Gayatri menghela napas.

“Sekarang ini hanya untuk Baginda. Iya.

“Tapi sebelum ini, kitab-kitab itu milik Sri Baginda Raja. Dan kami semua putri-putrinya diberi izin untuk mempelajari. Aku sendiri yang mengatur kitab mana diletakkan di mana.

“Semua kitab ini peninggalan dari leluhur sebelum Sri Baginda Raja. Ditambah dengan yang ditulis Sri Baginda Raja.

“Aku tahu, bukan mencuri tahu, Kakang.” “Maaf, Yayi…

“Kalau tidak mengetahui, mana mungkin Yayi bisa mematahkan kidungan Senopati Halayudha….” Gayatri terdiam.

Lama. Lalu,

“Kakang, aku benar-benar takut, cemas.

“Selama ini ruang pustaka raja tak pernah dimasuki siapa pun. Akan tetapi secara diam-diam Halayudha bisa masuk kemari. Dan kini Mbakyu Ayu Indreswari juga leluasa mengambil begitu saja.

“Aku cemas sekali, Kakang. “Keraton kita tak tersisa lagi.” Upasara mengangguk.

“Pada zaman Ayahanda Sri Baginda Raja, banyak kitab yang diizinkan untuk diketahui para senopati. Bahkan Kitab Bumi disebarkan secara luas. Akan tetapi semua di bawah pengawasan yang ketat.

“Tidak main curi seperti sekarang ini.

“Kalau ini bukan pertanda kekacauan, apa lagi?” Upasara membiarkan Gayatri mengumbar emosinya. Sesaat.

“Maaf, Kakang.

“Aku tak bisa menahan diri. Betapapun aku putri Keraton dan permaisuri. Aku tak bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja.

“Maaf, Kakang. “Kakang jangan tersinggung kalau kukatakan aku permaisuri Baginda. “Adalah kewajibanku untuk menjaga kebesaran Baginda.

“Bukan karena beliau guru laki yang harus kusembah, tapi beliau adalah raja.” Suara Upasara serak.

“Tak apa, Yayi.

“Kalau Yayi menghendaki, sekarang ini juga kita ambil kembali.” Upasara memandang Gayatri.

“Yayi sudah baik?”

“Lebih baik dari tadi, Kakang.”

“Kalau begitu Yayi tunggu sebentar. Kakang akan merebut kembali.” “Tunggu dulu!

“Tunggu, Kakang! Kenapa Mbakyu Ayu Indreswari justru mengambil kitab Kidungan Pamungkas} Itu bukan kitab yang luar biasa.

“Kenapa bukan Kidungan Para Raja, kalau ia mengharapkan putranya segera memegang takhta?”

Enakkan Hatimu, Adimas

DALAM banyak hal Upasara mendalami berbagai kitab. Sejak kecil dididik dalam tradisi Keraton yang bukan hanya mempelajari kitab kanuragan, melainkan juga kitab-kitab yang berisi tata krama dan cara-cara mengatur

pemerintahan.

Akan tetapi sejauh ini, dirinya lebih mendalami kitab ilmu silat, terutama Kitab Bumi. Boleh dikatakan hafal setiap lekuk-liku cara mengidung. Maka tidak bisa segera menghayati kenapa Gayatri mempertanyakan Permaisuri Indreswari yang mengambil Kidungan Pamungkas dan bukan kitab Kidungan Para Raja.

“Pasti ada yang istimewa, Yayi.

“Kalau tidak, di tengah malam seperti ini Permaisuri Indreswari tak perlu datang kemari.” “Semua kitab yang ada di sini istimewa, Kakang.”

Upasara tersipu.

“Yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa justru Kidungan Pamungkas yang diambil.

“Kitab itu tak berisi sesuatu yang istimewa mengenai kekuasaan, mengenai asal-usul keturunan, mengenai tata cara menggempur musuh, ataupun mengenai berlatih tenaga dalam. Itulah sebabnya susunannya berada di luar.

“Kalau hanya datang untuk mengambil itu, sebenarnya bisa kapan saja tanpa diketahui.

“Ini aneh.”

Upasara merasakan betapa Gayatri tetap bagian dari Keraton yang utuh. Segala kecemasan dan kebanggaannya berhubungan dengan Keraton.

“Kakang…” “Ya, Yayi…”

“Kakang tidak marah kalau saya minta sesuatu?”

Upasara memberanikan diri menggenggam tangan Gayatri. Gayatri sengaja tak menghindar.

“Kakang tidak marah?” “Tidak.”

“Kakang, malam ini malam milik kita berdua. Ditakdirkan menjadi milik kita. “Hanya saja kita tak bisa berkurung di sini.

“Kakang tidak marah kalau kita pergi dari sini?” “Tidak.”

“Saya ingin kembali ke kamar prameswaren. “Kakang tidak marah?”

“Tidak.” Gayatri merapikan kainnya. Mengikat dengan setagen. Lalu berjalan.

Upasara mendampingi. Di sisi jendela, Upasara mendorong dengan telapak tangan tanpa menyentuh. Jendela merenggang, dan sesaat kemudian Upasara sudah berada di luar, sementara jendela tertutup kembali.

Hanya dengan satu totolan kaki, tubuh Upasara dan Gayatri melesat ke bangunan dalam. Melewati beberapa emban dan penjaga, keduanya menyusup ke dalam kamar.

Untuk pertama kalinya Upasara masuk ke kamar seorang wanita. Yang menampar hidungnya pertama kali adalah bau harum. Dan angin dingin yang masuk dari sela-sela jendela bagian atas.

Sebuah ranjang tidur yang indah. Sangat indah.

Ditata apik. Resik.

Kelambu sutra menutupi seluruhnya. “Ini kamarku, Kakang.

“Kamar yang menemani hari-hariku.” Upasara mengangguk.

Berdiri kikuk.

“Kakang tunggu sebentar di sini.

“Saya akan menjemput Mbakyu Ayu Tribhuana….”

“Barangkali sudah berada di dalam,” jawaban Upasara pendek dan menggeser kakinya ke depan. Siap melindungi Gayatri kalau terjadi segala sesuatu.

Gayatri melengak.

Kamarnya hanya satu ruangan. Bagaimana mungkin ada orang di dalamnya, selain mereka berdua?

Bagi Upasara terlalu mudah mengetahui ada orang lain. Dari dengus tarikan napas dengan mudah bisa diketahui asalnya dari ranjang peraduan yang tertutup tirai.

Benar dugaannya. Tirai terungkap.

Upasara menunduk, bersila, dan menghaturkan sembah.

Gayatri hampir tak percaya. Kakaknya yang sulung duduk bersila di ranjang. Pandangannya luruh, tenang, dan bahagia, sementara bibirnya sedikit sekali menyimpan senyuman.

“Baik-baik saja, Adimas Upasara?”

Siraman air suci yang segar seakan mengguyur seluruh badan Upasara. Sambutan yang dirasa begitu hangat, ramah, membuyarkan semua kekuatirannya.

Jauh dalam hatinya Upasara merasa sangat tidak enak. Datang ke kamar peraduan Gayatri. Lebih tidak enak lagi karena mengetahui ada Permaisuri Tribhuana di dalam.

Jalan pikiran Upasara ialah apa yang dikatakan Permaisuri Tribhuana mengenai hubungan mereka berdua selama ini? Tidak enak sekali, karena justru seakan tidak menghormati sedikit pun bahwa Gayatri masih mempunyai kakak tertua.

“Atas restu Permaisuri Tribhuana….” “Enakkan hatimu, enakkan dudukmu.

“Aku tahu bahwa kalian berdua akan datang kemari. Maka aku mendahului kemari. Supaya tidak banyak waktu terbuang.

“Nimas Ayu, dandanlah yang baik.

“Rasanya kurang menghormati Adimas Upasara….”

Permaisuri Tribhuana turun dari ranjang peraduan. Menutup tirai. “Maafkan adikmu ini, Mbakyu Ayu….”

Gayatri segera masuk ke balik tirai.

Sejenak Permaisuri Tribhuana memandang Upasara yang menunduk. Dari ujung rambut ke ujung kaki. Upasara merasa seperti telanjang di bawah sorot mata Permaisuri Tribhuana.

Yang terngiang di telinga Upasara adalah sebutan Adimas Upasara, cara penyebutan yang menerima kehadiran. Menyambut dengan baik. Sangat bersikap kekeluargaan, walaupun tidak berlebihan. “Aku mendengar begitu banyak berita sejak kemarin.

“Sejak kalian berdua hilang bersama, aku sudah tahu ke mana kalian akhirnya akan pergi. Menemuiku.

“Adimas Upasara, kamu kuanggap bukan orang lain.

“Adalah salah kalau aku memberikan kesempatan pada adik kandungku untuk berduaan denganmu. Sebagai sesama permaisuri, aku tak mengizinkan orang lain menggandeng bayangan tubuh Permaisuri Rajapatni.

“Tetapi sejauh ini, aku mengerti siapa diri Adimas. “Aku percaya penuh kepada Adimas Upasara.”

Upasara mengakui bahwa sebutan mahalalila bagi Permaisuri Tribhuana adalah sebutan yang sangat tepat. Apa yang diucapkan tepat, pas, tanpa basa-basi dan sanjungan atau merendahkan yang diajak bicara.

“Kenapa Rajapatni ingin mencariku?

“Ingin memperkenalkan ksatria yang telah dikenal jagat?”

Upasara menceritakan secara singkat kejadian terakhir, di mana Permaisuri Indreswari masuk ke pustaka raja dan mengambil kitab Kidungan Pamungkas.

“Memang ganjil.

“Kidungan Pamungkas tidak berisi sesuatu yang istimewa. Kalau dibaca selintas. Sewaktu Sri Baginda Raja masih memegang kebijakan, hanya Kidung Paminggir yang telah begitu direstui untuk dibaca kerabat Keraton.

“Adimas Upasara lebih mengetahui kenapa.” “Serba sedikit, Permaisuri Tribhuana….” “Serba sedikit?

“Semua memang serba sedikit. Tak ada yang mengetahui sedalam-dalamnya. Kidung Paminggir ditulis dan disusun oleh Eyang Sepuh, dan membuat Sri Baginda Raja Murka. Karena intinya mengisyaratkan munculnya seorang paminggir, seorang yang tidak mempunyai darah keturunan, bakal memegang kendali Keraton di masa yang akan datang.

“Itu yang terbaca.

“Perintah larangan Sri Baginda Raja diketahui secara luas. Namun dalam Kidungan Para Raja, Sri Baginda Raja justru menuliskan bahwa roh raja bisa bersemi dalam dada setiap prajurit dan ksatria.

“Bukankah sedikit membingungkan?

“Ah, kenapa kita bicara seperti ini, Adimas?”

Permaisuri Rajapatni membuka tirai. Kini muncul dengan dandanan yang anggun, ayu, membuat Upasara tak berani melirik.

“Karena Mbakyu Ayu paling bijaksana dan mengetahui.” “Itu anggapan yang keliru.

“Semakin membaca kidungan, semakin banyak yang tidak diketahui.” Permaisuri Rajapatni bersila di bawah.

Berseberangan dengan Upasara.

Permaisuri Tribhuana duduk di pinggir ranjang.

“Mudah-mudahan Baginda menangkap wangsit, menangkap ilham yang sejati di sanggar pamujan.” Akhir kalimatnya benar-benar menggambarkan pengharapan.

Kidung Mahamanusia

PERMASURI TRIBHUANA menunduk, bersama dengan Permaisuri Rajapatni. Lamat, samar, keduanya menembangkan kidungan secara bersamaan.

Atas nama Sri Baginda Raja yang menguasai tanah Singasari disusun Kidungan Pamungkas

atas perkenan pribadi Sri Baginda Raja dan kemurahan hati yang bijak semata-mata karena Sri Baginda Raja sebagai manusia

manusia ialah manusia

bukan Dewa, bukan penjelmaan Dewa manusia mempunyai raga

manusia mempunyai jiwa keduanya menjelma menjadi manusia

manusia menjadi mahamanusia jika mengagungkan manusia bukan Dewa

bukan gerhana bukan nirwana

manusia bukan hewan bukan tumbuhan bukan cairan

maha manusia bisa berkaca

melihat dirinya mahamanusia bisa berkata dan mendengarnya

menghadapi diri

melihat batin yang sejati dalam hidup sejati

mahamanusia

bertatap muka dengan Dewa yang sebenarnya entah di mana mahamanusia

menguasai jagat seisinya

mahamanusia

hidup di akhir peradaban di zaman pamungkas zaman yang telah selesai bagi kehidupan

ketika mahamanusia lahir

mengagungkan manusia adalah kodrat jagat menjadi maha manusia adalah kodrat jagat mengagungkan manusia bukan menyatu dengan Dewa mengagungkan manusia adalah menjadi maha manusia

atas perkenan Sri Baginda Raja yang menguasai Keraton seisinya Kidungan Pamungkas disusun untuk memuja manusia

bukan Dewa bukan raja bukan nirwana bukan gerhana bukan raga bukan jiwa

sebab maha manusia sudah segalanya….

Kedua permaisuri mengakhiri dengan menyembah. Upasara masih tak bergerak.

“Semoga Sri Baginda Raja mengampuni putrinya yang telah lancang membaca kidungan di depan orang lain.”

Kembali keduanya menyembah.

“Adimas Upasara, apa yang Adimas rasakan?”