Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 04

Jilid 04

“Sangat menyedihkan.

“Kebo, Kebooo… Kenapa Dewa begitu sampai hati menciptakan manusia sejenis kamu?” “Apa salahnya jika aku tolol dalam pandanganmu?”

Eyang Putri Pulangsih memalingkan wajah. Sambil meludah.

“Kamu membuat kesalahan sejak lahir ke dunia.

“Juga ketika merasa dirimu ksatria utama, sejajar dengan Raganata, Bejujag, atau Dodot Bintulu. Kamu terlalu memaksa diri dalam segala hal.

“Juga dalam mengharapkan asmara dariku.

“Kebo tolol, seujung kuku pun aku tak pernah memperhitungkanmu.” Suaranya terdengar sangat dingin.

Ada nada putus asa.

“Untuk apa kamu memaksa diri?

“Kamu tak pernah masuk hitungan sejak dulu kala. Akan tetapi kamu merasa sebagai ksatria utama. Ketika Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang diciptakan, tak ada sebaris kidungan pun yang berasal dari sumbanganmu.

“Ketika beramai-ramai memikirkan tumbal Kitab Bumi, kamu mengeluarkan Pukulan Pu-Ni. Sesat. Pemikiran yang sesat.

“Sekali lihat aku sudah tahu kamu masuk aliran sesat.

“Dodot Bintulu yang rakus dan jahat, tidak sesesat dan sehitam apa yang kamu lakukan. “Dengarkan baik-baik.

“Akan kutunjukkan semua kekeliruanmu.

“Dalam melatih pernapasan, kamu memulai dari titik henti. Bahwa semua tenaga berasal justru dari napas yang tertahan. Bahwa umur menjadi panjang, tenaga menjadi berlipat saat tidak bernapas.

“Barangkali itu pemikiran yang luhur, terobosan yang mencuat. Akan tetapi sesungguhnya itu pemikiran yang keliru. Asal lain daripada yang lain.

“Mau aneh saja.

“Kamu tidak tahu bahwa dasar-dasar ilmu silat adalah kasunyatan, yaitu bumi yang sebenarnya. Mempunyai akar, yaitu bumi yang dipakai Bejujag, air yang kupakai, dan bintang yang dipergunakan Dodot Bintulu kemudian.

“Yang begini saja kamu belum mengerti.

“Tapi dasar tolol, kamu justru berlatih makin keras. Tenaga dalam dari napas tertahan kamu latih terus, sehingga seluruh tubuhmu hancur, seluruh tenaga dalammu sungsang-sumbel tak keruan.

“Kamu jauh memasuki daerah hitam.

“Kamu kira kami tak mengetahui perkembangan ilmu yang kamu latih sehingga Bejujag pernah mengatakan bahwa ilmu kamu berkembang ke arah mati jroning urip, kematian di dalam kehidupan. Kamu merasa masih hidup, tetapi sebenarnya sudah mati. Kamu merasa melatih tenaga dalam, padahal sebenarnya membunuh tenaga dalam yang murni. “Bejujag mengatakan padamu, bahwa kumpuling kawula Gusti, bersatunya manusia dengan Dewa Pencipta, adalah mengagungkan kemanusiaan sebagai ciptaan Dewa.

“Tidak cukup jelaskah ketika dikatakan bahwa kamu keliru dengan menentang kematian?

“Pada tahap kamu mampu mematikan darah, daging, kulit, sumsum, jerohan, kamu mulai memutarbalikkan apa yang diwarisi dari ibu….”

Sampai di sini Baginda tertegun.

Apa yang dikatakan Eyang Putri Pulangsih bisa dimengerti. Bahwa memang ada aliran hitam yang mampu membunuh rasa dari darah, daging, kulit, sumsum, yang berada di tengah tulang, serta jerohan yaitu segala jenis anggota dalam tubuh seperti paru-paru, hati, limpa, dan lain sebagainya. Ilmu yang begini menjadikan pemiliknya orang yang kebal. Tidak mempan terkena pukulan atau senjata di bagian-bagian yang disebutkan.

Karena cara-cara melatihnya dengan menggunakan mayat, atau kalau perlu orang hidup yang dimayatkan, aliran ini dianggap sesat. Pemikiran kekebalan dengan mematikan rasa bagian-bagian itu disebut sebagai pengkhianatan, atau mbalela, atau menentang kodrat seorang ibu.

Ini memang istilah yang dipergunakan. Akan tetapi di balik istilah “menolak kodrat seorang ibu” tersembunyi kutukan yang luar biasa bagi mereka yang melatih ilmu tersebut.

Eyang Putri Pulangsih bisa bercerita dengan jelas, karena mengalami sendiri. Di saat Baginda Raja Sri Kertanegara ingin memasyarakatkan ilmu silat, ingin membuat babon semua kitab silat, banyak yang mengusulkan aliran-aliran sesat semacam ini. Yang memang selintas seperti lebih tangguh dan gampang dipamerkan.

Namun Sri Baginda Raja sejak awal memutuskan bahwa ajaran semacam itu dilarang keras. Bahkan harus dihapuskan. Karena pada akhirnya tidak mendidik akal budi yang baik. Padahal justru ini yang menjadi tujuan utama.

“Pada latihan kedua, ketika kamu mematikan barang keras seperti kuku, bulu, otot, urat, gigi, kamu makin jauh melenceng dan tak bisa kembali setelah langkah berikutnya kamu berusaha mematikan otak.”

Tanpa terasa Baginda menggaruk rambutnya.

Karena menyadari bahwa untuk melatih setiap tingkatan, seseorang harus mengumpulkan sekian banyak bagian tubuh mayat. Sekian banyak urat, sekian banyak nadi, sekian banyak tulang, sekian banyak gigi, dan sekian banyak otak.

Dilihat dari cara berlatih ini saja, pastilah sudah memerlukan sekian ratus mayat, yang terpaksa digali dari kubur.

Atau seperti dugaan semula, kalau tak begitu banyak mayat ditemukan, yang hidup dibunuh lebih dulu.

Ilmu mati jroning urip, untuk bisa mencapai tingkat Kakek Kebo Berune yang dipanggil sebagai Kebo tolol ini, pastilah melalui latihan yang memerlukan korban ratusan jiwa.

Bisa berarti seluruh pengikut ke tanah Berune dimusnahkan, di samping ksatria setempat. Benar-benar mengerikan!

“Jadi kamu pun menganggap aku tersesat?” “Cacing pun akan bilang yang sama.

“Kebo tolol, lihatlah! Apa dan siapa dirimu sekarang? Bejujag bisa moksa sebagai jiwa yang suci. Raganata pergi sebagai ksatria dan prajurit utama. Dodot Bintulu menghadap Dewa Pencipta dengan ikhlas.

“Kamu, apa yang kamu lakukan sekarang ini? “Membonceng seorang yang tak berdosa. “Untuk apa memaksa diri seperti itu?

“Keabadian, kelanggengan, bukanlah dalam mati jroning urip atau sebaliknya, urip jroning mati. Bukan mati di dalam hidup, atau hidup di dalam mati.

“Mati adalah mati. “Hidup adalah hidup.

“Tak bisa dicampur adukkan.

“Itu pengertian yang salah. Yang sampai sekarang ini pun tak bisa kamu pahami. “Tidakkah itu tolol? “Tidakkah itu perlu dikasihani?

“Ah, apakah aku perlu berkomentar panjang-lebar?”

Cebol Jinalaya mengangguk-angguk, seakan bisa mengerti. “Aku mencari kematian.

“Bukan mempertahankan. Nenek tua, kata-katamu ada benarnya.” Eyang Putri Pulangsih melirik Cebol Jinalaya.

“Manusia yang tingginya hanya separo, otaknya lebih berguna dari kamu. Rasa yang dimiliki lebih peka.”

Gendongan Nyai Demang bergoyang-goyang.

“Apa pun yang kamu katakan, itu tandanya ada daya asmara dalam dirimu yang tersambung dariku.” “Tidak.

“Aku sebenarnya tidak bicara denganmu. Tak ada maknanya.

“Aku bicara dengan diriku sendiri, bahwa sejak semula aku tidak salah menolakmu. Tidak keliru aku tidak memperhitungkanmu.”

“Nenek tua, kalau begitu tolonglah. Biar Nyai Demang atau siapa pun namanya, terbebas dari Kebo tolol itu.”

“Itu bukan urusanku.”

“Kalau kamu tidak mau, jangan halangi aku bertindak.” Cebol Jinalaya bersiap-siap dan maju mendekat.

“Tunggu!” teriak Gendhuk Tri keras. “Cebol, kamu tak tahu angin di atas tubuhmu. Lebih baik kamu berdiri di pinggir dan menyaksikan.”

“Kalau yang tahu tak mau menolong, biar saja yang tak tahu yang menolong.” Gendhuk Tri tak bisa membalas dengan kata-kata.

Walau tak keruan ujung-pangkalnya, kata-kata yang diucapkan Cebol Jinalaya ada benarnya. Setidaknya tak bisa dibantah.

Saat itu justru Halayudha yang memanfaatkan keadaan!

Merasa bahwa Upasara tak bisa dikalahkan dengan jurusnya, Halayudha mencari kesempatan lain. Genggaman pada tubuh Upasara diperlonggar, dan pada kejapan yang sama meloncat jauh. Meraih Permaisuri Rajapatni yang menggeletak.

Sekali raup tubuh itu berada dalam gendongannya. “Lepaskan!”

Pasangan Asmara

APA yang dilakukan Halayudha memang serba tak terduga.

Di saat semua perhatian tercurah dalam bantah kawruh, atau adu ilmu, antara Eyang Putri Pulangsih dan Kebo Berune mengenai ilmu sesat, di saat itu pula Halayudha menggasak Permaisuri Rajapatni yang tak sepenuhnya terjaga oleh para prajurit yang kikuk.

Kikuk karena tak bisa segera menolong.

Maka dengan satu gerakan, Halayudha mampu meraih Permaisuri Rajapatni dan bisa menggendong.

Merasa bahwa gempuran dalam tubuhnya berkurang, Upasara awas akan adanya perubahan dari Halayudha. Maka begitu Halayudha memindahkan serangan ke arah Permaisuri Rajapatni, saat itu pula Upasara meluncurkan telapak tangannya ke depan.

Telapak tangan yang tadinya terbuka ke atas, menyodok ke depan. Ganti meraih Permaisuri Rajapatni.

Justru ini yang diperhitungkan Halayudha.

Karena sangatlah mudah menebak bahwa Upasara akan bereaksi cepat mengetahui Permaisuri Rajapatni berada dalam bahaya.

Maka Halayudha menunggu sampai telapak tangan Upasara menyentuh tubuh Permaisuri Rajapatni dan berteriak “lepas”. Saat itu beban di pundaknya dilepaskan, dan sebagai gantinya dua tangan menjotos dada Upasara.

Dengan jotosan yang mampu melubangi dinding Keraton. Maha Singanada mencelos. Dialah yang pertama-tama mengeluarkan seruan tertahan. Karena melihat bahwa gerakan Halayudha sangat tepat sekali.

“Celaka!”

Bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri melapis dan menyerang. Sedikit-banyak akan membuat Halayudha terganggu pemusatan pikirannya. Kalaupun mengenai Upasara tak akan fatal.

Akan tetapi Upasara memang tidak memperhitungkan serangan Halayudha.

Begitu Permaisuri Rajapatni diambil dan disampirkan di pundaknya, pukulan Halayudha tak diperhitungkan lagi.

Akibatnya tubuhnya terbanting ke belakang. Darah segar menyembur.

Membasahi dadanya. Membasahi Permaisuri Rajapatni. Yang menjadi sadar. “Kakangmas…”

Suara Permaisuri Rajapatni, yang di telinga Upasara tetap seorang Gayatri, menyusup ke sukma. Membuat ubun-ubunnya berdenyut keras.

Untuk pertama kalinya kerinduan asmara yang meluap dan terbendung selama ini berhasil diwujudkan. Menggendong kekasihnya.

Bibir Upasara tersenyum. Darah segar masih menetes. “Kakangmas Upasara…” “Yayimas…”

Suara Upasara sama lembut.

Mengusap, meniup rasa di sekujur kulit Permaisuri Rajapatni. “Kakangmas terluka….”

Upasara menggeleng. “Yayi tidak apa-apa?”

Permaisuri Rajapatni menggeleng.

Sementara itu dengan dua gerakan pendek, Halayudha bisa mengusir serangan Gendhuk Tri. Gerakan ketiga, Halayudha meluncurkan tubuhnya. Satu tangan memapak tenaga Gendhuk Tri, yang justru dipakai sebagai loncatan untuk menggempur dada Upasara.

Dengan kakinya.

Pada saat tubuhnya meluncur, kakinya menjadi keras bagai logam. Di-tambah dengan gerakan meluncur cepat, dada Upasara adalah sasaran empuk. Karena tak sempat menghindar.

Dan tak mungkin menggunakan tubuh Permaisuri Rajapatni sebagai perisai. Baginda bersorak dalam hati.

Kini saatnya Upasara terkalahkan. Bagaimanapun caranya, itu soal nanti. “Awas, Kakang….”

Teriakan Gendhuk Tri pastilah sudah terlambat.

Karena ujung kaki Halayudha sudah menyentuh dada Upasara.

Upasara tersenyum ringan. Pandangan matanya masih menatap Permaisuri Rajapatni. Begitu juga sebaliknya. Saling pandang dalam jarak yang begitu dekat.

Tidak memedulikan bahwa mereka berdua disaksikan seluruh isi halaman Keraton. Yang sekarang memang penuh sesak.

Sejak para senopati berkumpul, sejak itu pula senopati yang lain siap gegaman, atau dalam keadaan siaga. Tanpa diperintah, kalau Keraton diperkirakan dalam bahaya semua akan berkumpul. Apalagi kini jelas-jelas, bahwa Baginda berada di tengah kerumunan.

Maka jadinya suatu pemandangan yang ganjil. Sangat ganjil. Di satu bagian seorang nenek tua yang bicara keras dan mengajari seorang wanita yang menggendong mayat hidup, di bagian lain ada Gendhuk Tri, yang berdampingan dengan Singanada, serta Halayudha yang perkasa dikepung seluruh prajurit Keraton.

Puncak keganjilan itu adalah Upasara yang mengeluarkan darah segar, membopong Permaisuri dan tetap saling pandang.

Bahkan kali ini pun, Eyang Putri Pulangsih memandang ke arah Upasara Wulung. Seakan menyetujui teriakan peringatan Gendhuk Tri.

Tubuh Halayudha terus meluncur.

Gendhuk Tri tak bisa melihat jelas. Apakah menembus dada Upasara atau setidaknya melukai. Yang jelas tubuh itu terus meluncur, sementara Upasara seperti bergeming.

Tetap membopong Permaisuri Rajapatni dengan kedua tangannya. Rambut Permaisuri terlepas dari sanggulnya, terurai menyentuh tanah.

Tubuh Halayudha meluncur terus, dan begitu menginjak tanah, berbalik seperti tombak dilepas. Seperti anak panah meluncur dari busur. Kembali berusaha menggunting Upasara.

Kali ini benar-benar menggunting.

Karena kedua kakinya bergerak sangat cepat sekali. Kalau Upasara tak berkelit, bisa dilipat habis.

Upasara memang tak berkelit.

Saat itu Gendhuk Tri sudah berseru keras, membebaskan semua selendang dari tubuhnya. Matanya mengisyaratkan Singanada yang juga sudah menggerung sambil memasang kuda-kuda.

Baik Gendhuk Tri maupun Singanada sama-sama menyadari bahwa gabungan kedua ilmu silat mereka mempunyai kelebihan dibandingkan hanya dua kekuatan yang dijumlahkan.

Tapi mereka tidak bergerak sendiri.

Mahapatih Nambi sudah mengibaskan tangannya. Semua senopati dan para prajurit pilihan juga sudah meloncat ke tengah pertarungan. Sehingga mau tidak mau Gendhuk Tri dan Singanada terkurung pagar betis dengan tombak, keris, pedang, dan anak panah.

Bagi Mahapatih Nambi tak ada pilihan lain.

Sejak Baginda menitahkan bahwa Upasara musuh Keraton, penjabarannya ialah menangkap Upasara. Dalam keadaan hidup atau mati atau terluka. Dengan sendiri-sendiri seperti yang dilakukan Halayudha atau dengan mengeroyok.

Alasan keamanan Baginda bisa membenarkan kenapa dirinya mengeroyok Upasara.

Dan berbeda dari saat-saat sebelumnya, kini tidak ada lagi kesangsian sedikit pun untuk menangkap Upasara.

Bahkan Senopati Agung yang sejak tadi hanya bersila di pinggir, ikut terjun ke gelanggang. Yang tidak ikut terlibat hanya Eyang Putri Pulangsih.

Dan Cebol Jinalaya yang kebingungan.

Guntingan kaki Halayudha seperti berhasil merontokkan iga Upasara Wulung. Terdengar suara tulang beradu keras.

Hanya saja, Upasara masih tetap berdiri tegak. Tetap membopong.

Sementara Halayudha terpincang-pincang. Tak masuk akal.

Sepersekian kedipan mata, Mahapatih Nambi menduga bahwa Halayudha berpura-pura. Menduga Halayudha memainkan tipu muslihat yang lain, yang belum diketahui apa rencana sebenarnya.

Bisa dimengerti.

Karena Halayudha sendiri seakan tidak percaya. Jelas-jelas guntingan kakinya tak bisa dihindari oleh Upasara. Akan tetapi yang ngilu justru kaki-nya sendiri.

Sangat ngilu hingga terpincang-pincang. Inilah yang ajaib.

Seorang jago utama, tokoh silat setingkat Halayudha bisa menjadi terpincang-pincang. Patah tangan atau kaki, tubuh hancur, adalah sesuatu yang bisa dimengerti kalau terlibat dalam pertarungan. Akan tetapi pasti bukan terpincang-pincang. Ini hanya dilakukan seorang pemula. Karena salah urat atau salah melakukan gerakan. Yang mustahil dilakukan Halayudha.

“Kakangmas…”

Tangan Permaisuri Rajapatni mengusap lembut tepi bibir Upasara, sementara sorot matanya tetap tertuju ke mata Upasara.

Satebah Lemah, Sanyari Bumi

MENGAGUMKAN! Itulah satu kata yang tepat menggambarkan keberadaan Upasara saat ini. Bahkan Baginda pun mengeluarkan pujian itu.

Di dalam hati.

Wajah dan sikap tubuhnya tetap dingin, tidak memancarkan perasaan apa-apa. Seakan mampu mengatasi gelombang keirian. Seakan justru memperlihatkan bahwa sikap Permaisuri Rajapatni yang mengelap darah di sudut bibir Upasara sama sekali tidak menjadi persoalan baginya.

Apa yang dilakukan permaisurinya tak cukup membuatnya melirik. Tindakan permaisurinya tak cukup berharga untuk diperhatikan.

Sesungguhnya memang begitu.

Bagi Baginda kehadiran Permaisuri Rajapatni hanyalah satu dari sekian banyak permaisuri yang tak resmi. Salah satu dari sedikitnya permaisuri yang resmi. Masih ada puluhan, bahkan ratusan wanita lain yang akan merasa bahagia bisa melayaninya. Dari sisi ini, Baginda tak bisa disalahkan.

Kalau ada sesuatu yang mengganggu kehormatannya dan menimbulkan rasa iri ialah kenyataan bahwa Permaisuri Rajapatni yang telah bersanding dengannya, masih menyimpan ksatria lain. Sesuatu yang seharusnya tak bisa terjadi.

Tak boleh terjadi!

Bisa bersanding dan melayani Baginda adalah kehormatan yang tinggi bagi semua wanita Keraton dan wilayah yang dikuasai Majapahit.

Kelelakian Baginda tak menghendaki ada lelaki lain yang mendekati atau menyamai.

Akan tetapi kenyataan bahwa permaisurinya, bahwa prameswari dalem, permaisuri raja, menunjukkan perhatian kepada orang lain, lebih dari tamparan terompah kotor ke wajah Baginda.

Padahal Permaisuri Rajapatni tidak secara sengaja menantang. Tidak secara sengaja memamerkan perasaannya.

Bahkan secara diam-diam, keinginan dan impian membayangkan Upasara ditenggelamkan ke dalam bawah sadarnya.

Apa yang dilakukan sekarang ini lebih merupakan juluran naluri seorang wanita. Yang ditolong oleh seorang lelaki, dan penolong itu menjadi terluka parah karenanya.

Usapan kemesraan itu adalah ungkapan perhatian, tanda terima kasih.

Akan tetapi karena sebelumnya ada perasaan asmara, jadinya bermakna lain.

Gendhuk Tri yang berdiri berjajar dengan Maha Singanada menyaksikan pemandangan yang menggetarkan hati.

Upasara Wulung membopong kekasihnya, di tengah kepungan para prajurit dan senopati yang kikuk. Mau menyerang takut keliru mengenai Permaisuri. Tidak menyerang, merasa tidak melakukan kewajiban.

Yang sedikit di luar perhitungan adalah Halayudha. Ternyata ia tidak sekadar terpincang-pincang dan minggir dari gelanggang pertarungan. Lebih dari itu, kakinya seakan tidak kuat menyangga tubuhnya. Sehingga mau tak mau terpaksa duduk!

Sambil mengurut kedua kakinya. Tepatnya di keempat mata kaki. Baginda mengembuskan napas ringan. “Ada apa Halayudha itu?”

Pertanyaan Baginda tak tertuju kepada siapa-siapa. Tak perlu mengetahui siapa yang diajak bicara. Mahapatih Nambi menyembah dengan penuh hormat.

“Menurut dugaan hamba, keempat mata kakinya terluka.” “Kenapa bisa begitu?”

“Hamba kurang tahu, Baginda. “Barangkali saja sewaktu berusaha menebas tubuh Upasara secara bersamaan, terjadi sesuatu yang keliru. Sehingga saling beradu sendiri.”

Baginda berdehem.

“Apa itu bisa terjadi pada seorang semacam Halayudha?” Tak ada jawaban.

Mahapatih Nambi sendiri tak begitu yakin. Tak begitu pasti apa yang sesungguhnya terjadi. Seperti juga para senopati yang lain.

Namun dalam satu hal, hati mereka sepakat mengakui keunggulan Upasara. Dalam pertarungan yang mengesankan, Upasara memantapkan dirinya sebagai ksatria yang tiada tandingannya. Dengan sebelah tangan mengungguli Halayudha sehingga pontang-panting. Dengan bantuan Gendhuk Tri, Halayudha bisa mendesak Upasara. Namun justru ketika sampai pada jurus yang menentukan, tubuh Upasara tak bisa digerakkan.

Sewaktu Halayudha mengubah taktiknya, berhasil keras. Akan tetapi segera disusul dengan terjongkok sendiri.

Berhasil keras karena membuat Upasara muntah darah.

Anehnya, justru setelah itu keempat mata kakinya perlu dipijat-pijat untuk mematikan rasa yang menyebabkan sakit. Berarti untuk sementara, Halayudha tak akan bisa bertarung.

Ini berarti rasa sakitnya kelewat batas.

Di luar kemampuan Halayudha untuk mengatasi, untuk menahan.

Halayudha sendiri merasa tak sanggup mengalihkan rasa sakit. Berbagai pertarungan telah dijalani. Baik yang membuat jari-jarinya putus, atau yang dijalani sendiri dengan menusukkan keris ke arah lambungnya.

6

Semua rasa sakit masih bisa ditahan. Masih bisa dikuasai.

Akan tetapi sekarang ini tidak.

Rasanya keempat mata kakinya hancur. Menjadi serpihan kecil-kecil, atau malah menjadi abu. Yang setiap ada aliran darah menuju tempat itu, membuatnya sangat ngilu.

Halayudha setengah menyalahkan dirinya sendiri.

Seharusnya, sewaktu serangan pertama dengan menendang lurus meleset, dirinya mulai memperhitungkan bahwa ada sesuatu yang luar biasa dari Upasara. Tapi ternyata itu tak membuatnya waspada, justru karena ia merasa hampir berhasil.

Malah mengulangi dan hasilnya luar biasa sakitnya. Kalau tidak malu, mau rasanya Halayudha menjerit! “Kakang tidak apa-apa?”

Permaisuri Rajapatni mengulangi pertanyaannya, dengan nada lembut yang sarat oleh rasa kuatir. Upasara menggeleng.

“Benar, Kakang?”

“Benar, Yayi Permaisuri….” “Bibirmu berdarah, Kakang….”

“Karena dada Kakang terkena tendangan Halayudha.” “Sakit?”

“Sedikit.”

“Darahnya banyak, Kakang….” “Tak apa.

“Darah memang ada di mana-mana, Yayi. Kalau kaki terantuk, juga mengeluarkan darah. Sakit sedikit. Tapi tak apa, karena tak mengganggu tenaga dalam.

“Tak apa, Yayi….” “Betul, Kakang?”

Upasara mengangguk lagi.

Meskipun diucapkan perlahan, karena suasana sangat sepi, percakapan itu terdengar jelas.

Angin pun berhenti, seakan sungkan mengganggu pertemuan sepasang kekasih yang menyimpan segunung kerinduan.

“Tapi Halayudha menendang lagi.” “Ya, tapi tidak mengenai.”

“Tidak.”

“Rasanya seperti mengenai.” Upasara menggeleng lembut. “Yayi Ratu tak apa-apa?”

“Tidak. Kakang jangan mencemaskan saya.

“Hanya ketika Eyang Putri berteriak tadi, saya merasa sangat sedih tak bisa menguasai diri. “Sedih sekali.”

Permaisuri Rajapatni menghela napas. “Bagaimana dengan putri-putri Yayi Ratu?” “Baik-baik semuanya… Kakang.

“Dewa memberkati mereka.” Sunyi sesaat.

“Kakang, benar Kakang tidak terluka parah? Atau Kakang menyembunyikan sesuatu? Atau Kakang sudah mati seperti Kebo Berune, Eyang yang membonceng Nyai Demang?”

Upasara merasa sudut matanya panas.

Kekuatiran Permaisuri Rajapatni bagai mencabut sukmanya. Keprihatinan kasih sayang yang mengalahkan semua bentuk perhatian.

“Tendangan Halayudha sangat sakti, memang.

“Tenaga yang dipakai adalah Suduk Gunting Tatu Loro, sekali menendang dengan dua luka seperti dua mata pisau.

“Kalau mengenai bisa menghancurkan. “Tapi tidak mengenai tubuh saya.” “Ilmu apa yang Kakang pergunakan?”

“Yang pernah kita baca bersama, Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi. Apakah Yayi Ratu masih ingat?”

Setebah Tanah, Sejari Bumi

PERMAISURI RAJAPATNI bagai ditarik ke masa lalu.

Ketika masih Gayatri, yang diajak menemani Upasara menyusup ke Keraton Singasari, di mana Raja Muda Jayakatwang berkuasa setelah menyingkirkan Baginda Raja Sri Kertanegara.

Dalam perjalanan sebagai duta Keraton, bibit-bibit asmara tumbuh di antara keduanya. Bersemi dan mekar dengan indah. Bagi Upasara Wulung dan Dyah Gayatri, itulah kenangan yang paling indah dalam hidup mereka berdua. Karena memang itu satu-satunya kesempatan bisa berdua, dalam waktu yang cukup lama.

Kalau saat itu masih ada ganjalan antara mereka berdua, itu semata-mata karena Upasara Wulung merasa dirinya sebagai orang kebanyakan, sebagai hamba, sementara Gayatri adalah putri Sri Baginda Raja yang agung binatara, raja besar yang dihormati. Kekakuan itu mencair, setelah Gayatri mengisyaratkan bahwa ia tak berkeberatan menerima Upasara.

Betapa indah. Betapa gagah. Betapa agung.

Betapa mekar semerbak, segalanya memancarkan bau harum.

Saat itu keduanya belum menduga, bahwa kemudian para pendeta Keraton mempunyai ramalan bahwa Gayatri dan Raden Sanggrama Wijaya harus dipersandingkan, harus menurunkan raja yang kelak kemudian hari akan membawa Keraton ke puncak kejayaan yang belum pernah dialami oleh seluruh raja di tanah Jawa.

Saat itu mereka berdua berbicara mengenai apa saja.

Mengenai langit, mengenai mata angin, mengenai kuda, laut, bunga-bunga yang tak dimengerti Upasara, mengenai jurus-jurus ilmu silat yang tak dimengerti oleh Gayatri.

“Kalau saya bisa silat, saya tak akan merepotkan dirimu, Kakang….” “Hamba tidak merasa direpoti….”

“Kenapa Kakang masih selalu menghamba? Tidakkah menyebut dengan Kakang lebih mudah tanpa harus menghamba?

“Apakah menyebut begitu lebih sulit, Kakang?” “Entahlah.

“Suatu hari nanti, hamba bisa menyebut diri secara kurang ajar. Akan tetapi memang hamba tak bisa dengan cepat menguasai kidungan dalam Kitab Bumi.”

“Kalau yang lainnya bisa, kenapa Kakang tidak?” “Sangat sulit.

“Ada bagian yang  tak bisa ditafsirkan  dengan baik. Kidungan  tentang  Satebah Lemah,  Sanyari Bumi… Rasanya setiap kali saya kidungkan, setiap kali hamba berusaha memahami…”

“Coba lagi, Kakang.

“Saya tak mengerti banyak tentang pengaturan napas atau menggerakkan jari. Tapi rasanya, para empu yang menuliskannya bukannya sekadar mengarang kata-kata….”

“Jangan ditertawakan, Putri….”

Upasara mencoba menembangkan kidungan itu.

Mencintai bumi, ialah mencintai diri sendiri sebab bumi adalah tubuh

bumi adalah kehormatan

bumi adalah kehidupan ksatria bumi adalah roh

bumi adalah jiwa pertahankan tanah walau setebah hingga rebah pertahankan bumi walau sejari hingga mati

bumi adalah ibu pertiwi di pusar menjalar

ke semua akar tanah itu bumi bumi itu tanah tanah bumi bumi

bumi…

Gayatri tertawa mengikik.

Untuk pertama kalinya berada di luar tata kesopanan Keraton, Gayatri bisa tertawa bebas. Wajah Upasara menjadi merah padam.

“Hamba tak bisa menembang. Maaf.”

“Aku tertawa karena matamu melirik kian-kemari.” Wajah Upasara makin merah-hitam.

“Kakang, bukankah segalanya telah jelas?

“Bumi adalah kehormatan yang tak bisa dikotori. Selama masih ada yang bisa dipertahankan, harus dipertahankan. Biarpun hanya satebah, hanya selebar tangan dengan jari yang rapat. Biarpun hanya sanyari, atau satu jari. “Harus tetap dipertahankan.

“Bukankah semua prajurit, semua ksatria, harus mempertahankan bumi kelahirannya, hingga sejengkal sekalipun?”

“Yang begitu saya… hamba… saya tidak sangsi. “Tapi rasanya bukan hanya itu.”

“Tenaga pusar?”

“Saya tahu, Putri… Tenaga yang dipergunakan adalah tenaga yang berasal dari pusar. Yang kita kumpulkan di bagian pusar, bukan di bagian lain.” “Tapi saya merasa tak bisa leluasa.

“Justru seperti tertahan.” “Kakang mau mencoba lagi?”

“Percuma, Yayi… eh, Tuan Putri….”

Memang bagian-bagian itulah yang lebih teringat oleh Permaisuri Rajapatni. Bagian-bagian yang mendekatkan dirinya dengan Upasara. Dan bukan pergulatan Upasara menemukan inti kekuatan lirik Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi.

“Yang bagi Halayudha kini mempunyai makna yang bisa ditelusuri. Seperti para senopati lain yang mempelajari Kitab Bumi.

Satebah adalah ukuran besar, yang sama dengan telapak tangan dari ibu jari ke kelingking dalam keadaan rapat.

Ini yang dirasakan Halayudha.

Samar-samar ia mengetahui bahwa tendangannya, guntingan kakinya, hampir menyentuh tubuh Upasara. Mungkin jaraknya tinggal satebah atau malah sanyari.

Tetapi tetap belum mengenai! Inilah hebatnya!

“Apa itu semacam kidungan ilmu hitam?” Baginda bertanya lirih, karena tak bisa menahan diri untuk mengetahui. Sebagai bekas ksatria yang mempelajari ilmu silat, perhatian Baginda pada perkembangan ilmu silat tak terusir begitu saja. Apalagi dengan menyaksikan sendiri kehebatan ilmu Upasara.

Mahapatih Nambi menggeleng setelah menyembah.

“Hamba kira bukan, atau hamba belum pernah mendengar ada ilmu hitam seperti itu.

“Memang tadi hamba dengar, kalau tak salah, Putri Pulangsih dan Kebo Berune menyebut tentang ilmu sesat yang bisa mematikan rasa pada kulit, daging, darah, ataupun kuku.

“Mohon ampun, Baginda sesembahan seluruh Keraton, hamba tak mengetahui….” “Aku tahu.

“Aku tahu ada latihan mengelak dan menangkis yang bisa disebut ilmu Sekilan. Seperti Sardula Sekilan atau juga Lembu Sekilan. Apakah ilmu Upasara bagian dari itu?”

“Baginda sungguh bijak dan mengetahui segalanya.” Pujian Mahapatih Nambi bukan pujian kosong.

Jauh dalam hatinya, begitu Upasara mengatakan Satebah Lemah, Sanyari Bumi, sudah terbayang akan ilmu yang jauh lebih kondang, yaitu Sardula Sekilan ataupun Lembu Sekilan.

Sekilan adalah ukuran lebar jika jari tangan direntangkan, antara ibu jari dengan kelingking. Jarak itulah yang diusahakan selalu terjaga pada serangan musuh.

Tambahan sebutan sardula yang artinya harimau, lebih menunjukkan penghormatan kepada Sri Baginda Raja yang memakai simbol harimau. Kembangan jurus itu disebut dengan Lembu Sekilan, atau Gerakan Seekor Lembu.

Meskipun diakui kelebihannya, jurus itu tidak terlalu digemari dan tidak menonjol. Karena jurus Sekilan lebih bersifat mempertahankan diri, dan bukan menyerang.

Jurus yang mematahkan pertahanan. Kurang cocok dalam suatu pertarungan.

Makanya, sungguh luar biasa Upasara mampu memainkan dengan hebat. Justru ketika kedua tangannya tak bisa menyerang atau menangkis karena sedang membopong seseorang! Pas sekali.

Yang lebih menganggumkan ialah Upasara mampu mengembangkan jarak serangan dari sekilan menjadi satebah. Atau bahkan hanya sanyari. Sejarak satu jari!

Menakjubkan. Gugatan Sejarah

SATU jari!

Siapa pun yang pernah melatih jurus Sekilan, menyadari betapa gawat dan rumitnya. Sebab harus disertai ketenangan yang sempurna. Membiarkan lawan memukul, menusuk, melukai, dan baru ketika jaraknya sekilan, tenaga lawan dimusnahkan.

Meleset sedikit saja, bisa ambruk.

Keliru perhitungan saat yang diambil, bisa hancur.

Dan Upasara ternyata mampu mendekatkan lagi jarak serangan lawan menjadi satebah dan akhirnya sanyari.

Baru sekarang Halayudha sadar sepenuhnya bahwa memang kedua kakinya yang saling beradu dengan keras. Karena merasa mengenai tubuh lawan, tenaganya ditumpahkan.

Tak tahunya mengenai kakinya sendiri. Saling gempur.

Bisa dimengerti kalau mata kakinya hancur luluh! “Tugasku selesai.

“Selamat tinggal, jagat dan isinya, aku yang tua tak ada gunanya lagi.” Eyang Putri Pulangsih melebarkan kedua tangannya.

“Tugasku belum selesai!” teriak Cebol Jinalaya. “Itu bukan urusanku.”

Nyai Demang yang sejak tadi tertegun kini bergerak-gerak. “Mau ke mana, Pulangsih?

“Aku akan mengikutimu selalu. Perjalanan asmara ini akan selalu bersama. Getaran asmaramu akan selalu menuntunku.”

Eyang Putri Pulangsih justru memalingkan wajahnya. Menatap ke arah Upasara.

Lalu ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

“Tergantung kalian yang muda, yang masih pantas menempati jagat yang ruwet ini.” Dengan satu kibasan, tubuh Eyang Putri Pulangsih lenyap.

Seketika.

Tak ada bekas.

Tak ada jejak yang ditinggalkan. Nyai Demang celingukan.

“Pulangsih… Pulangsih… Tunggu aku….” Gendhuk Tri mengentakkan kakinya. “Kakang Upasara.

“Hentikan Mbakyu Demang!”

Tapi perhatian Upasara tertuju penuh pada Permaisuri Rajapatni yang berada dalam rangkulannya. Sementara itu seluruh prajurit dan para senopati sudah sepenuhnya bersiaga total.

Mahapatih Nambi menggenggam dua senjata di kanan dan di kiri. Di bagian luar benteng, prajurit siap meluncurkan semua anak panah yang tersedia.

Untuk seletikan api, Baginda ragu.

Apakah memerintahkan penyerangan, atau menunda.

Memerintahkan penyerangan, berarti nyawa Permaisuri Rajapatni bisa cedera. Ratusan anak panah dan tusukan serta bacokan senjata tajam, tak mungkin hanya mengenai tubuh Upasara. Karena Permaisuri Rajapatni berada dalam dekapan.

Menunda serangan, berarti membiarkan Upasara pergi dengan leluasa. Sambil membawa permaisurinya.

Ini dilakukan secara terang-terangan.

Di depan hidungnya. Di hadapan semua kawula Keraton.

Gendhuk Tri seakan bisa menebak ke arah mana jalan pikiran Baginda. “Kakang, aku di depanmu. “Jangan ragu.

“Dulu Kakang menyelamatkan diri menyabung nyawa untuk membebaskanku, ketika pasukan Kediri menawanku.

“Sekarang bisa terulang lagi. “Jangan kuatir, Kakang.

“Singanada, ayo kemari. Kita rapatkan barisan.”

Tanpa segan-segan, Gendhuk Tri menarik tangan Maha Singanada ke dekatnya. “Apa kata kamu, Kanyasukla.”

Singanada mengambil sikap bersiaga, memasang kuda-kuda. Tinggal satu perintah.

Satu kedipan mata. Dari Baginda.

Tapi masih tertahan.

Hanya beberapa senopati utama yang mengetahui bahwa kata-kata

Gendhuk Tri mempunyai bisa yang dalam. Yang menggugat kembali ke jantung hati Baginda.

Karena kata-kata Gendhuk Tri merobek luka lama, mengingatkan bahwa pada suatu ketika dulu terjadi sesuatu.

Saat di mana prajurit Tarik menyerbu masuk ke Keraton yang diduduki Raja Muda Jayakatwang. Ketika itu Gendhuk Tri dan Gayatri ditawan. Diikat pada tiang di ujung benteng Keraton.

Dalam keadaan yang gawat dan menentukan, Baginda yang saat itu masih Raden Sanggrama Wijaya memilih untuk meneruskan pertempuran. Dengan mengabaikan keselamatan Gayatri dan Gendhuk Tri.

Hanya dengan kenekatan yang luar biasa, Upasara Wulung meloncat naik dan bertarung mengadu jiwa.

Kejadian yang begitu mengenaskan dan nyaris mengantar Gendhuk Tri ke Hang kubur karena tindakan Baginda, tak akan terlupakan seumur hidup.

Bahwa kemudian Gendhuk Tri tak mempersoalkan dan tidak menggugat, karena merasa tak ada urusan. Apalagi sejarah Keraton yang kemudian didengar lewat berbagai kidung pemujaan, justru menokohkan Baginda.

Bahwa serangan dan aba-aba yang diberikan dahulu, karena Baginda lebih mengutamakan kebenaran, lebih mendahulukan kepentingan Keraton, dibandingkan kepentingan pribadinya.

Bahwa kalau perlu keluarga atau dirinya sendiri dikorbankan demi kemenangan kebenaran, daripada surut karena memikirkan keselamatan satu orang keluarganya.

Dari peristiwa yang sama, bisa berbagai kidungan yang muncul. Yang menguasai Keraton dan diajarkan adalah kidungan perjuangan Baginda.

Keluhuran serta kebesaran jiwanya.

Gendhuk Tri memang tak merasa mempunyai kepentingan. Apakah pemujaan itu dituliskan dengan jujur atau dibuat untuk menokohkan Baginda. Juga tak ada senopati dan pendeta yang meragukan. Bahkan sebaliknya saling menyokong memberikan alasan yang membenarkan. 

Gendhuk Tri tak peduli.

Sampai merasa bahwa kini posisinya terulang kembali.

Sadar bahwa keadaannya yang sekarang ini lebih gawat. Karena menghadapi serbuan begitu banyak. Sakti seperti Dewa sekalipun, belum tentu Upasara bisa lolos dari kepungan. Apalagi tanpa membuat Permaisuri Rajapatni terluka atau cacat.

Kalau ini terjadi dalam pelukan Upasara Wulung, pertarungan habis-habisan bakal terjadi. Tak bersisa lagi.

Maka Gendhuk Tri menyentakkan kembali ingatan Baginda.

Satu-satunya harapan kecil yang membersit ialah, jika Baginda merasa yakin apa yang diputuskan dahulu murni untuk mendahulukan kepentingan Keraton, pasti tetap memerintahkan penyerangan.

Dan berarti ia bersiap diri.

Kalau tidak, Baginda akan tergugat. Dan ragu.

Itu yang lebih diharapkan. Dan nyatanya begitu.

Baginda masih termangu.

Tapi hanya sebentar. Karena kemudian terdengar kumandang nyaring suara seseorang.

“Kalau semua durjana dibiarkan keluar-masuk seenaknya, apa bedanya Keraton dengan pasar?

“Di mana kalian semua memuja Dewa yang menginjak tanah? Di mana darma bakti kalian ke hadapan duli Raja?”

Itu suara wanita.

Yang berada dalam joli, yang dikawal ketat sekali. Suara Permaisuri Indreswari.

“Kalau tak ada yang berani maju, biarlah hamba yang tak berarti ini maju pertama kali. “Membersihkan dan menjaga kesucian wanita adalah tugas utama kaum putri Keraton.” Gendhuk Tri melihat gelagat yang buruk.

Karena Permaisuri Indreswari mengaitkan dengan Keraton, kesucian, dan membersihkan wanita yang tidak suci, yang mengotori. Pastilah yang dimaksudkan Permaisuri Rajapatni, yang dianggap tidak pantas berada dalam bopongan Upasara Wulung.

Cara menyulut kebencian yang sangat tepat. Mahapatih Nambi mengangkat kedua tangannya.

Seluruh prajurit dan senopati merentang busur, menyiagakan pedang, keris, tombak, dan semua persenjataannya.

Begitu tangannya turun, atau aba-aba terdengar, tak ada kecualinya. Hujan senjata akan terjadi. Pertarungan habis-habisan dimulai.

Upasara Wulung seakan melayang ke dunianya sendiri. Tak peduli sama sekali. Pandangan tertuju langsung ke Permaisuri Rajapatni.

Pabaratan Asmara

PERMAISURI INDRESWARI menyibakkan joli.

Wajahnya masih geram ketika menyembah ke hadapan Baginda, lalu jarinya yang lentik menuding ke arah Upasara.

“Manusia tak berbudi, jangan kotori bumi pusaka ini.” Tudingannya menurun.

Serentak dengan itu dari arah dalam muncul rombongan baru. Gendhuk Tri menghela napas.

Rombongan yang baru masuk juga menggunakan songsong atau payung kebesaran. Benar dugaannya, bahwa Putra Mahkota Bagus Kala Gemet yang datang. Diiringi oleh senopati yang siap siaga.

Secara bersamaan menyembah ke hadapan Baginda. Putra Mahkota menyembah sampai menyentuh tanah. “Maaf, Yang Mulia Baginda, sesembahan Keraton.

“Izinkanlah hamba yang muda usia menyelesaikan bencana. “Adalah kehinaan yang sempuma.

“Mengubah halaman suci. “Menjadi pabaratan asmara…. “Mohon izin Baginda….”

Sejenak wajah Baginda menoleh perlahan. Dipandangnya Putra Mahkota yang masih menunduk.

Adalah sangat tepat sekali kemunculan Putra Mahkota sekarang ini. Pada saat yang menentukan, Putra Mahkota muncul untuk menyelesaikan. Cara penampilan yang sempuma.

Karena saat itu Baginda sedang kikuk untuk memutuskan. Apakah melepaskan atau menahan Upasara. Sabda seorang raja tak bisa ditarik kembali.

Lain masalahnya jika komando dipegang oleh Putra Mahkota. Bisa ditarik atau diubah kembali. Jika Baginda tidak menghendaki.

Akan tetapi sekarang ini masalahnya tidak segampang itu. Dalam soal menyerahkan kepemimpinan sehari-hari, Baginda merasa sejak awal telah menunjuk Bagus Kala Gemet sebagai putra mahkota. Bahkan merestui, secara tidak langsung, ketika Putra Mahkota mengangkat diri dan memakai gelar raja.

Baginda berpikir seperti itu karena tidak menginginkan adanya pertarungan di kelak kemudian hari. Siapa yang berhak atas takhta? Maka sejak dini hari sudah digariskan suatu keputusan. Diakui betapa akan ruwet andai tidak sejak dini disabdakan kehendaknya. Karena soal pengangkatan mahapatih saja boleh dikatakan selesai sepenuhnya dengan enak.

Yang membuat Baginda sedikit bimbang ialah kenyataan Putra Mahkota telah menyiapkan diri secara terencana.

Kemunculannya, caranya memaksa dengan halus dan menyebutkan pabaratan asmara, menunjukkan cara pemikiran yang sepenuhnya dipompakan oleh Permaisuri Indreswari.

Pabaratan bisa berarti medan perang atau peperangan. Apa yang terjadi sekarang ini boleh dikatakan mengubah halaman Keraton menjadi medan perang. Akan tetapi Putra Mahkota menekankan adanya pabaratan asmara, seakan menekankan masalah dasarnya hanyalah soal asmara. Hubungan antara Baginda dan Permaisuri Rajapatni hanya semata-mata urusan asmara. Yang dengan demikian menjadi lebih gampang mengatasinya. Di lain pihak dengan menyebutkan sebagai pabaratan asmara, Putra Mahkota menyodok pengertian bahwa urusan Permaisuri Rajapatni dan Upasara Wulung pun semata-mata urusan asmara. Asmara yang kotor.

Kalau sekarang ini Baginda memberi izin Putra Mahkota untuk memegang komando, berarti menyetujui sepenuhnya kekuasaan di tangan Putra Mahkota. Berarti melepaskan kekuasaannya.

Halayudha melihat gelagat.

Tangannya meraih seorang senopati, dan ia meloncat ke atas pundaknya. Bagian kakinya, terutama lutut ke bawah, memang dimatikan sehingga seperti lumpuh. Akan tetapi, bagian atas tetap sempurna.

Dengan begitu Halayudha bisa ikut ambil bagian dalam peristiwa yang menentukan.

Gelagat yang ditangkap Halayudha terutama sekali bukan dari kemungkinan Baginda mengiya atau tidak, melainkan bahwa pengiring Putra Mahkota boleh dikatakan lengkap.

Sekilas saja bisa terlihat adanya Maha Singa Marutma dan Pangeran Jenang dengan semua pengikutnya. Serta adanya beberapa tokoh yang sekilas bisa berjalan sangat ringan.

Lebih dari itu, Halayudha bisa mencium bahwa Permaisuri Indreswari pasti sudah membuat rencana yang matang.

Sejak ada huru-hara, Permaisuri Indreswari sudah menyusun kekuatan, dan masuk tepat pada saat yang menguntungkan.

Sekarang ini.

Kalau dirinya hanya duduk sebagai penonton, di kelak kemudian hari tak bisa memainkan perannya. Maka Halayudha naik ke punggung seorang senopati.

“Susun Saharsa Bala!”

Teriakan Halayudha segera diikuti oleh semua prajurit. Dari semua prajurit yang ada di halaman hingga di luar Keraton segera bersiap, membentuk barisan yang mengepung.

Rapat sesak di bagian depan.

Sakti seperti Dewa sekalipun, Upasara belum tentu lolos dari kepungan. Karena Halayudha sudah menyiapkan Barisan Saharsa Bala. Yaitu strategi perang dalam keadaan mendesak.

Saharsa berarti seribu. Akan tetapi juga bisa berarti dilakukan dengan paksa. Jadi Saharsa Bala berbeda dari Bala Sewu atau Bala Srewu, walau secara harfiah artinya sama. Seribu Prajurit.

Bedanya dari Bala Srewu ialah dalam taktik serangan Saharsa Bala, prajurit yang berada di depan tak akan minggir atau mundur, apa pun yang terjadi!

Mau atau tidak, harus tetap berada di depan.

Inilah maka kata saharsa mempunyai makna ganda. Makna terpaksa.

Dengan strategi ini Halayudha mengisyaratkan bahwa apa pun yang terjadi tak nanti Upasara dan Permaisuri ataupun Gendhuk Tri dan Singanada serta Cebol Jinalaya bisa lolos. Kecuali melalui seribu mayat.

Siasat Halayudha bersifat mengancam lawan, tetapi juga mendesakkan keinginan secara tersamar agar Baginda memilih jalan untuk tetap menahan Upasara.

Baginda mendongak ke langit. “Putraku…

“Usahakan jalan terbaik. Ini saat kamu tampil dengan baik.” Putra Mahkota mendongak, masih dengan sikap menyembah. “Segala kehormatan untuk kebesaran Baginda….”

Lalu dengan cepat berbalik. Berdiri gagah.

“Singanada, ini Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, dengan nama gelaran resmi Sri Sundarapandya Adiswara, mengeluarkan sabdanya.

“Dengar baik-baik!

“Jika kamu mengundurkan diri secara baik-baik, aku akan mengampuni semua kesalahanmu. Untuk kebesaranku, siapa yang mengikuti langkahmu akan mendapatkan pengampunan yang sama denganmu.

“Kamu dengar, Singanada?” “Dengan sangat jelas.”

“Aku yang memberi tempat perlindungan, memberi kehormatan ketika kamu kembali ke tanah Jawa. Seperti Singa Marutma, seperti Pangeran Jenang, seperti semua senopati sabrang.

“Kamu tak akan melupakan itu.” “Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu, minggirlah!” “Sebaiknya mungkin begitu.

“Tapi aku tak ada ikatan apa-apa dengan siapa-siapa. Aku sudah memutuskan kembali ke perantauan. Ke tanah sabrang, meneruskan tugas mengibarkan umbul-umbul kebesaran Keraton.”

“Bagus, minggirlah!”

“Aku akan minggir, kalau sudah bertemu dengan Senopati Agung untuk menentukan siapa yang berhak hidup.”

Gendhuk Tri tak menduga sama sekali, bahwa Maha Singanada memang hanya memikirkan kepentingan sendiri.

Benar-benar lugas, apa adanya. Kejujurannya yang tiada tandingannya.

“Urusan itu bisa diselesaikan di kemudian hari.”

“Tidak bisa,” sahut Singanada cepat. “Apa hak kamu mencampuri urusan pribadiku?” Keras, lantang, dan menantang.

Putra Mahkota terbatuk keras.

Kalau ia sengaja memberi pengampunan bagi Singanada, semata-mata bukan karena ingin mengurangi jumlah korban. Juga bukan gentar. Tapi hanya ingin memperlihatkan kebesarannya, keagungannya dalam memberi ampun.

Siapa sangka akan mendapat jawaban yang begitu kasar?

“Kalau itu yang kamu kehendaki, bersiaplah menerima hukuman!”

Putra Mahkota masih menunjukkan kelebihannya dengan membusungkan dada.

“Upasara, masih ada kesempatan terakhir bagimu untuk meminta maaf. Aku janjikan bukan hukuman mati sekarang ini juga.”

Tak ada jawaban.

Barisan Padatala

UPASARA masih kesengsem.

Apalagi saat itu, Permaisuri Rajapatni tersenyum lembut. “Kakangmas…” “Kenapa Yayi Ratu memanggil dengan sebutan Kakangmas?” “Kenapa?

“Apa ada bedanya Kakang dengan Kakangmas?” “Saya lebih suka dipanggil Kakang….”

Senyum Permaisuri Rajapatni terkembang.

“Saya pun lebih suka disebut Yayi, tanpa tambahan Ratu di belakangnya.” Dada Upasara mengembang.

“Kakang, kenapa saya tidak diturunkan saja? “Sejak tadi Kakang membopong….”

Kali ini Upasara menjadi kikuk. Hidungnya merah dan berkeringat. “Yayi… Yayi Ratu tak apa-apa?” “Sama sekali tidak.

“Sejak tadi juga tidak.”

Upasara menyadari ketololannya. Memang sejak tadi Permaisuri yang dibopong ini tidak terluka, tidak terganggu. Hanya karena rasa kuatirnya saja yang menyebabkan Upasara ingin melindungi seperti induk ayam.

Upasara menurunkan perlahan. Kini Permaisuri Rajapatni berdiri. Sejajar.

Berdampingan.

Di tengah kepungan rapat. “Kakang….”

Upasara memandang lembut.

“Saya tidak menyangka Kakang akan datang.

“Saya kira Kakang sama sekali tak mau menemui. Saya kira Kakang telah mati. “Tapi Dewa yang Maha Pencipta mengabulkan doa kita.

“Kakang datang. “Menjemput saya.

“Bukan membebaskan kala saya berada dalam bahaya. Bukan karena alasan lain yang menyertai. Bukan karena Keraton sedang diserbu musuh. Bukan karena putri-putriku dalam bahaya.

“Kali ini Kakang datang mligi untuk saya.” Upasara memalingkan wajahnya.

Sekarang ini kedatangannya memang khusus untuk Gayatri yang dirindukan. Bukan ditambahi alasan lain yang membenarkan tindakannya secara tersamar.

Kali ini Upasara datang khusus untuk menemui Gayatri.

Inilah yang membuat Gayatri yakin bahwa semua doa yang pernah diucapkan siang dan malam terkabul.

“Kakang, kalau ini pertemuan terakhir, saya merasa bahagia.” “Saya tak tahu, Yayi.”

“Kakang jangan ragu lagi. “Jangan mundur lagi. “Saya akan sedih sekali.” “Tidak, Yayi.

“Kakangmu datang kepadamu. Tanpa ragu.

“Eyang Putri Pulangsih muncul hanya untuk ini. Untuk pertemuan ini. Pastilah ini dikehendaki Dewa. “Kakang tak akan mundur lagi.”

Upasara melangkah gagah.

Pandangannya menyapu seluruh halaman Keraton. “Sobat Singanada, terima kasih atas simpati sobat.

“Akan tetapi biarlah saya menanggung sendiri. Ini urusan pribadi.” Lalu menatap Gendhuk Tri. Bibir Upasara tersenyum.

“Saya banyak mendengar tentang dirimu, kamu sungguh luar biasa. “Kakang bangga mempunyai adik manis seperti ini.”

“Kakang juga mau minta saya mundur?”

“Mati dan hidup bukanlah masalah besar bagi kita.

“Mari kita berjajar, agar merasakan panas dan dingin bersama-sama.” Gendhuk Tri berbunga-bunga hatinya.

Wajahnya cerah.

Langkahnya ringan mendekat ke arah Upasara.

Seumur hidupnya, inilah pertama kali Upasara bersikap begitu lembut, begitu mesra, dengan perhatian yang hangat.

Maha Singanada juga mengingsut langkahnya. Mereka berjajaran berempat.

“Beri tempat kepada Barisan Padatala.”

Perintah Putra Mahkota segera diikuti berkelebatnya beberapa bayangan menuju ke depan. Menjadi inti serangan.

Kalau Upasara tak terlalu memperhatikan, sebaliknya Halayudha berpikir keras. Apa yang disebut Barisan Padatala atau Barisan Telapak Kaki, bukan orang sembarangan. Kelihatan dari geraknya yang sangat ringan.

Walau jumlahnya hanya tiga orang, akan tetapi Putra Mahkota menyebut sebagai barisan.

Ketiganya bertelanjang kaki, hanya saja kelihatan jelas mengenakan gelang di kaki, yang biasa disebut padahatkala. Sejauh yang diketahui Halayudha, warna gelang kaki yang keemasan itu menunjukkan tingkatan mereka.

Dilihat dari gerak-geriknya, sangat dekat sekali dengan apa yang dilakukan Pendeta Syangka. Pendeta Sidateka!

Masuk akal.

Selama ini Putra Mahkota sangat mengagungkan pendeta dari tanah Syangka. Pendeta Sidateka yang berhasil menanamkan pengaruhnya, pastilah tidak sendirian setelah berhasil.

Beberapa tokoh lain diminta datang.

Sekarang ini, sedikitnya tiga tokoh yang muncul.

Kalau dilihat dari tingkat kaki, jelas ketiganya di atas Pendeta Syangka.

Dengan kesimpulan lain, Halayudha mencium bahwa Putra Mahkota, di bawah pengaruh Permaisuri Indreswari, menyiapkan diri secara sempurna.

Menggalang semua kekuatan yang ada. Secara tidak tanggung-tanggung.

Halayudha menganggap dirinya memperhatikan segala sesuatu yang terjadi dan merencanakan dengan cermat. Sekali ini mengakui bahwa Permaisuri Indreswari justru lebih teliti dan terarah.

Terarah pada puncak kekuasaan.

Bahwa pengaruh dan kekuasaannya sebagai permaisuri utama sangat memungkinkan untuk melakukan apa saja, bisa dimengerti. Tetapi bahwa cara-cara memilih orang yang dipercaya bisa tepat, ini membuat Halayudha kagum.

Dan tak bisa meremehkan seperti sebelumnya. “Kami datang bertiga.

“Sebenarnya tidak biasa dengan pertarungan keroyokan seperti ini. Akan tetapi keadaan menghendaki begini.

“Maafkan kami, ksatria besar.” Gendhuk Tri menyibakkan rambutnya.

“Aha, masih ada tata krama kecil-kecilan. Kalian tak perlu malu. Mengabdi seseorang memang berarti membunuh harga diri, berarti merendahkan diri dengan telanjang kaki.” Ketiganya berpandangan.

Lalu memandang lurus ke depan.

“Apa hubunganmu dengan Pendeta Sidateka?” “Aku pemilik Kitab Air yang dicuri Sidateka. “Kalian juga datang untuk melakukan pencurian?”

Gendhuk Tri melihat kesempatan untuk mengulur waktu. Ketiganya menggeleng bersamaan.

“Kami tidak mencuri apa-apa.

“Kami mempunyai ilmu silat sendiri. Hanya memang Sidateka mengirimkan kepada kami beberapa baris kidungan dari Kitab Air yang mempunyai banyak persamaan.

“Terima kasih atas penjelasan Kisanak.” Singanada bertepuk tangan.

“Masih ada ksatria, walau dari negara sabrang.

“Baik, perkenalkan! Namaku Maria Singanada, dan ini calon pasanganku, Gendhuk Tri. Itu yang namanya Upasara Wulung, ksatria lelananging jagat, dan pasangannya… saya tak tahu nama gelarannya.

“Cukup?”

“Kami bertiga disebut sebagai Resres, Wacak, dan Taletekan.” Tak ada yang istimewa dari nama yang disebutkan.

Resres berarti capung, wacak berarti belalang, sedangkan taletekan berarti daun-daunan. Tidak menunjukkan gelaran atau nama besar.

Bahkan boleh dikatakan nama yang sembarangan. Asal jumput nama saja.

Upasara justru mengerutkan keningnya.

Karena nama-nama yang biasa, justru mempunyai gema yang besar dalam tradisi Perguruan Awan. Seperti juga Paman Jaghana yang berarti pantat. Seperti Eyang Sepuh pun, hanya sebutan kehormatan belaka. Nama sebenarnya tak pernah diketahui, selain disebut-sebut sebagai Bejujag. Demikian juga Kebo Berune. Hanya Mpu Raganata yang berarti. Tapi pasti itu nama gelaran yang dimiliki karena mengabdi kepada Keraton.

Bukankah tokoh utama Eyang Putri juga disebut Pulangsih? Atau malah kenyung. Upasara maju setindak, melindungi Permaisuri Rajapatni.

Bubuk Pagebluk

HANYA Cebol Jinalaya yang tetap tenang.

“Ternyata begini banyak kesempatan untuk mati. Kenapa teman-teman di Jinalaya tak kemari?”

Gendhuk Tri menyadari bahwa bahaya bisa terjadi setiap saat, ketika melihat Upasara dengan cepat melepaskan bajunya dan sekaligus juga kain yang dikenakan.

Dengan bertelanjang dada, nampak kulitnya yang putih halus jarang terkena matahari.

7

Lirikan sekilas kepada Gendhuk Tri merupakan pertanda siaga. Sejak tadi Gendhuk Tri belum mengikatkan semua selendangnya. Tinggal memasang kuda-kuda di samping Singanada.

“Kakang….”

“Yayi, pegang sabuk Kakang baik-baik. Jangan dilepaskan, dalam keadaan apa pun.” Permaisuri Rajapatni mengangguk.

Tanpa segan-segan memegangi sabuk Upasara. Hanya karena kikuk, Permaisuri Rajapatni melepaskan setagen atau ikat pinggang yang biasa dikenakan kamu wanita. Dililitkan ke tubuh Upasara.

Serentak dengan itu terdengar teriakan keras. Aba-aba Putra Mahkota disusul dengan teriakan Mahapatih Nambi yang bersamaan dengan teriakan Halayudha.

Dalam sekejap kerumunan menggempur maju. Merangsek maju tanpa peduli. Hujan senjata dan tusukan menyatu. Saharsa Bala benar-benar barisan yang siap mati.

Upasara berseru keras.

Baju di tangan kirinya menggulung bagai payung yang melindungi tubuhnya dan tubuh Permaisuri Rajapatni. Semua senjata yang terarah ke dirinya disapu bersih sebelum menyentuh tubuh. Sementara kain yang dikembangkan di tangan kanan, menciptakan angin keras. Menyabet kiri kanan berkeliling. Prajurit yang terkena sapuan anginnya mengeluarkan pekikan tertahan. Terlempar dari gelanggang.

Upasara tidak mempunyai pilihan lain.

Dalam suasana terkepung oleh barisan siap mati bersama, dengan melindungi seseorang yang tak mengenal ilmu silat, mengenyahkan serangan dalam bentuk apa pun, merupakan pilihan utama. Tenaga dalam yang tersalur lewat tangan kanan dan kainnya yang mengembang, setiap kali bergerak seperti menyapu daun-daun kering. Tubuh-tubuh terpelanting, terbanting keras.

Akan tetapi lima prajurit terbanting, lima prajurit lain merangsek maju.

Gendhuk Tri merapatkan tubuhnya ke arah Singanada yang segera menggertak maju. Pasangan pendekar bagai sumber api yang menyebabkan serbuan yang datang terpisah. Baik Gendhuk Tri maupun Singanada tak menahan tenaganya. Tanpa sungkan-sungkan mengerahkan seluruh kemampuannya.

Apalagi karena Mahapatih Nambi dan para senopati lainnya ikut menerjang maju. Demikian juga pukulan Halayudha terasa sangat keras menerpa.

“Kita maju,” bisik Gendhuk Tri berani. “Ayo….”

Singanada menjawab tanggap.

Seolah mengerti bahwa tujuan utama Gendhuk Tri sekarang ini adalah maju ke arah Baginda atau setidaknya Putra Mahkota. Hanya dengan menawan tokoh paling berpengaruh ini, pertarungan bisa segera diakhiri.

Akan tetapi keliru kalau menyangka bisa dilakukan dengan mudah.

Karena sejak awal justru Baginda, Putra Mahkota, serta Permaisuri Indreswari dijaga sangat ketat.

Upasara menggeserkan kakinya, kebutan kainnya menyebabkan Cebol Jinalaya terpental ke atas, dan segera diamankan dengan tarikan kain. Seakan mengapung di atas permadani yang nyaman.

“Enak…! “Enak sekali.”

“Pegang setagen!”

Peringatan Upasara begitu cepat. Begitu Cebol Jinalaya memegangi setagen seperti halnya Permaisuri Rajapatni, tubuhnya kembali melayang. Ikut terbawa tubuh Upasara Wulung yang melayang ke atap Keraton.

Permaisuri Rajapatni menutup matanya, mengikuti arah angin yang membawanya.

Bagian atap juga bukan bagian yang kosong, karena serangan sudah menunggu di sana. Puluhan tombak menyambut Upasara yang menggerung keras sambil mengebutkan kainnya. Lima prajurit terpental jatuh ke bawah, yang lainnya tersingkir.

Sehingga Upasara bisa melayang turun. Menginjak atap dengan tenang.

Dengan gagah.

Begitu juga tubuh Permaisuri Rajapatni dan Cebol Jinalaya. Empuk, lembut.

Gerakan Upasara bukan sekadar memamerkan tenaga dalam yang diatur secara sempurna. Tersalur lembut sehingga Permaisuri Rajapatni dan Cebol Jinalaya tidak merasakan guncangan yang berarti, sementara tangan kiri memutar menahan serangan dan tangan kanan mengedut keras merampas serangan. Dengan menempatkan diri di atas, Upasara bisa melihat suasana sekitar lebih jelas. Dan makin yakin bahwa kepungan sudah temu gelang bagai sabuk tebal mengelilingi seluruh Keraton. Sampai ke alun- alun, prajurit siap siaga.

Itu tak terlalu merisaukan.

Yang menjadi pikirannya justru ketika Barisan Padatala bergerak bersama-an. Meluncur ke atas dan menyebabkan angin serangan berbeda arahnya. Resres, Wacak, Taletekan bergerak secara bersamaan, dengan gerak yang sama, akan tetapi hasil pukulannya berbeda satu dengan yang lainnya.

Sama-sama memukul ke depan, akan tetapi tenaga pukulan Resres, seperti namanya, mengapung, dan tenaga dalam Wacak menyentuh keras, sementara Taletekan mengisi sela-selanya.

Kedutan keras kain Upasara jadi terpatah-patah.

Tiga kali Upasara berusaha memapak serangan, hasilnya kainnya mulai menggelendong. Menjadi kaku di satu bagian, dan lembut di bagian lain.

Satu totolan keras, membuat Upasara melayang turun kembali. “Bagus, Kakang….”

“Pemandangan yang bagus,” tambah Singanada memberi komentar. Bukan hanya bagus dipandang.

Tapi juga mengagumkan.

Itulah yang terpikirkan oleh Halayudha yang lebih memusatkan perhatian kepada pertarungan Upasara daripada menggempur Gendhuk Tri-Singanada.

Karena justru di tengah jalan, Upasara memutar tubuhnya. Mengedut ke atas.

Kainnya terbuka lebar, menggulung Barisan Padatala yang melayang turun. Luar biasa hebat!

Di saat tubuhnya diganduli dua tubuh lain, yang satu putri jelita dan satunya manusia cebol hitam yang masih meluncur turun, Upasara bisa

membalikkan tubuh.