-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 01

Jilid 01
Tokoh-Tokoh

Berdasarkan Urutan Penyebutan

Sanggrama Wijaya, atau Naraya Sanggarama Wijaya, atau Raden Wijaya. Nama yang dikenal ketika mengalahkan Raja Jayakatwang, yang secara culas menguasai Keraton Singasari dan mendepak Baginda Raja Kertanegara. Bersama dengan prajurit dan senopati yang setia, Wijaya berhasil menggempur balik pasukan Tartar dari negeri Cina. Menurut catatan sejarah, dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tanggal 15 bulan Kartika atau sekitar bulan Oktober-November 1298. Nama kebesarannya adalah Kertarajasa Jayawardhana. Nama ini menunjukkan rasa hormat terhadap leluhurnya, raja-raja Singasari.

Upasara Wulung, salah seorang ksatria hasil godokan Ksatria Pingitan.

Ksatria Pingitan adalah semacam perguruan yang berusaha melahirkan ksatria sejati yang dilatih ilmu surat dan ilmu silat, atau kanuragan. Para ksatria yang terpilih, dilatih sejak lahir di Ksatria Pingitan. Menurut cerita mi, Ksatria Pingitan didirikan atas dasar gagasan Baginda Raja Sri Kertanegara, Raja Singasari yang terakhir, dengan tujuan menciptakan manusia yang selain jago silat juga mempunyai watak luhur, yang kelak diharapkan menjadi senopati utama yang melanjutkan kebesaran Keraton dan melindungi penduduk. Selama dua puluh tahun Upasara Wulung berada dalam Ksatria Pingitan, dilatih oleh Ngabehi Pandu, sebelum terjun ke medan persilatan. Ilmu dasarnya adalah Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka. Akan tetapi mengalami perubahan besar sejak mempelajari Bantala Parwa atau Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang serta Delapan Jurus Penolak Bumi. Bantala Parwa dianggap babon segala kitab kanuragan. Merupakan puncak berbagai sumber ilmu silat yang ada di tanah Jawa.

Gayatri, atau Permaisuri Rajapatni, salah satu dari empat putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raja Majapahit. Menjelang penyerbuan ke Daha untuk menaklukan Jayakatwang Gayatri pergi bersama

Upasara Wulung untuk mengetahui kekuatan lawan. Di sinilah bibit-bibit daya asmara tumbuh. Dan berpuncak saat Gayatri ditawan di atas benteng dan Upasara maju menggempur tanpa memedulikan keselamatan dirinya. Akan tetapi menurut perhitungan dan ramalan para pendeta, Gayatri harus menikah dengan Sanggrama Wijaya, karena inilah pasangan Dewi Uma dan Dewa Siwa, yang kelak kemudian hari akan menurunkan raja terbesar. Hubungan masa lalu ini ternyata banyak membebani tapi sekaligus juga mewarnai perjalanan hidupnya.

Mpu Renteng, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bujangga Andrawina, atau Ular Naga Berpesta Pora, dengan menggunakan ujung kain yang tersampir di pundaknya.

Mpu Sora, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bramara Bekasakan, atau Lebah Hantu. Tokoh yang tangguh ini banyak mendapat dukungan untuk menjabat sebagai mahapatih. Mahapatih ialah jabatan tertinggi di Keraton, orang kedua sesudah raja. Namun ia sendiri merasa tidak berhak. Pangkat yang disandang adalah adipati, semacam penguasa daerah, di Dahanapura. Tempat Kala Gemet, putra mahkota, berada.

Mpu Elam, salah seorang senopati Majapahit, yang menjadi prajurit telik sandi. Prajurit yang terpilih dalam pasukan telik sandi, atau pasukan rahasia, adalah prajurit pilihan yang tugasnya mengumpulkan semua laporan yang menyangkut keamanan. Dalam jajaran pemerintahan ditangani secara langsung oleh Mahapatih.

Dyah Palasir, salah seorang senopati muda Majapahit. Anak buah langsung Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja. Bersama Dyah Pamasi, mereka merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti.

Klikamuka, tokoh yang selalu menutupi wajahnya dengan klika atau kulit kayu. Kelihatannya mempunyai hubungan dekat dengan Keraton.

Toikromo, penduduk biasa yang ingin mengangkat Upasara Wulung sebagai menantu.

Gendhuk Tri, calon penari Keraton Singasari yang menjadi anak murid Mpu Raganata sebentar, lalu dilatih Jagaddhita. Ilmu andalannya menggunakan selendang seperti penari. Karena satu dan lain hal, seluruh darahnya teraliri racun sangat ganas. Dalam usianya yang masih belasan tahun, dan hidup di tengah pergolakan jago silat, adatnya memang aneh. Diam diam sangat mengagumi Upasara Wulung, dan mencemburui setiap wanita yang mendekati Upasara.

Jaghana, salah seorang murid Perguruan Awan, perguruan yang dianggap sumber segala ilmu kanuragan di tanah Jawa. Kepalanya gundul pelontos, pakaian yang dikenakan asal menutup tubuh. Sabar dan welas asih. Namanya bisa diartikan sebagai “pantat”. Ini cara merendahkan diri sebagai “bukan apa-apa, bukan siapa-siapa”, salah satu ciri ajaran Perguruan Awan.

Eyang Sepuh, lebih dikenal sebagai nama seorang empu yang mahasakti yang mendiami Perguruan Awan. Dari Eyang Sepuh-lah terdengar gema ajaran Kitab Bumi dengan jurus yang ampuh, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ajaran yang sejajar dengan ajaran Buddha, baik di negeri Hindia, Cina, maupun Jepun. Atau bahkan sampai ke negeri Turkana. Eyang Sepuh pula yang membuat para jago seluruh penjuru jagat datang ke Trowulan, untuk membuktikan siapa yang mewarisi ilmu sejati. Namun sejak semula, Eyang Sepuh tak pernah menampakkan diri. Hanya beberapa orang, Gayatri dan Upasara, yang pernah mendengar suaranya. Penguasaan ilmu Eyang Sepuh lelah sampai ke tingkat moksa, lenyap bersama raga dan jiwanya.

Adipati Lawe, atau Ranggalawe, salah seorang senopati Majapahit yang besar jasanya. Putra Aria Wiraraja ini nama kecilnya seperti juga ayahnya, Aria Adikara. Ranggalawe, nama pemberian Raden Sanggrama Wijaya yang mungkin menjadi petunjuk kepangkatannya ketika itu. Rangga adalah jabatan yang sama dengan camat sekarang ini. Kuda hitam dan umbul-umbul bergambar kuda, menunjukkan kegagahannya ketika menjadi adipati, semacam patih penguasa suatu wilayah, di daerah Tuban. Sebutan yang lain ialah patih amancanegara, yaitu semacam kepala di daerah wilayah di luar Keraton. Patih amancanegara menunjukkan penguasaan di luar wilayah kekuasaan Keraton. Yang terbagi di daerah barat, timur, utara, maupun selatan letak Keraton.

Galih Kaliki, tokoh yang asal-usul ilmu silat dan perguruannya tidak gampang dimengerti. Senjata andalannya sebuah tongkat galih asam, bagian tengah atau hati pohon asam. Baru kemudian diketahui bahwa gaya permainannya mirip dengan ksatria pedang panjang dari Jepun. Orangnya keras, jujur, apa adanya. Dan sepanjang hidupnya kesengsem atau tergila-gila pada Nyai Demang.

Senopati Anabrang, atau Mahisa Anabrang. Salah seorang senopati zaman Kerajaan Singasari yang menjelajah sampai ke tlatah Melayu dan baru kembali dua puluh tahun kemudian. Melanjutkan pengabdian kepada Raja Majapahit, dengan membawa dua putri ayu yang salah satunya dipermaisurikan Baginda Raja.

Senopati Nambi, atau Mpu Nambi, salah seorang senopati Majapahit, pimpinan prajurit telik sandi, atau pasukan rahasia. Diangkat sebagai mahapatih, suatu jabatan tertinggi sesudah raja. Mahapatih menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, adipati, ataupun patih. Pengangkatannya sebagai mahapatih banyak mengundang pertentangan. Terutama dari Adipati Lawe, yang mengharapkan dirinya atau Mpu Sora yang memangku jabatan tersebut.

Wilanda, salah seorang murid Perguruan Awan yang kemudian melepaskan diri dan menjadi prajurit andalan Keraton Singasari, dan kemudian kembali lagi ke Perguruan awan. Budinya luhur, dan menjadi pendamping Upasara sejak kecil. Ilmunya yang sulit ditandingi ialah cara mengentengkan tubuh seperti capung hinggap di ujung daun.

Kiai Sumelang Gandring, atau Mpu Sumelang Gandring, turunan seorang ahli pembuat keris yang mengembara sampai ke ujung barat tanah Jawa. Di sana meneruskan ilmunya. Seluruh muridnya berjumlah dua belas, dan semua memakai sebutan Gandring. Istimewanya ialah kedua belas Gandring ini bisa menyusun barisan yang luwes dan ampuh. Di antaranya gaya serangan Jiwandana Jiwana, atau Tembang Kehidupan.

Nyai Demang, satu-satunya tokoh wanita yang sering dinilai hanya karena mengobral asmara, serta bentuk tubuhnya yang montok. Menurut cerita, dulu istri seorang demang, pangkat setingkat kepala desa. Banyak para ksatria menjadi korban senyuman dan bentuk tubuhnya. Akan tetapi di balik segala daya tarik lahiriahnya, Nyai Demang selama ini tak tertandingi dalam soal kemampuannya mempelajari bahasa mancanegara. Dialah yang menjadi penyalin bahasa sewaktu pasukan Tartar mendarat.

Halayuda, salah seorang senopati Majapahit yang tak terlalu menonjol dalam peperangan. Gerak- geriknya penuh teka-teki, karena hubungannya yang sangat dekat dengan Raja Majapahit, dan kemampuannya untuk merendah dalam rangka mengelabui ambisinya yang sangat tinggi. Strategi, taktik yang dijalankan sangat culas, bergetah, tapi berhasil. Ilmu silatnya termasuk sangat tinggi karena ia murid langsung Paman Sepuh, ditambah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri.

Tribhuana, putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raden Wijaya. Sebagai putri Keraton, Tribhuana dikenal memiliki pengetahuan yang luas dan cara berbicara yang ulung dalam menangkap suasana, sehingga digelari Mahalalila. Sebagai permaisuri pertama, sebenarnya Tribhuana berhak melahirkan putra mahkota. Akan tetapi nyatanya tidak, karena Raja Majapahit memilih permaisuri yang lain.

Mahadewi, adik Tribhuana yang juga dipermaisuri oleh Raja. Mahadewi dikenal sebagai putri landasan daya asmara Baginda.

Jayendradewi, atau Permaisuri Pradnyaparamita, adik Mahadewi yang juga dipermasurikan Baginda. Tidak secantik adiknya, Gayatri, namun kesetiaan dan keluhuran budinya menjadi contoh teladan.

Dara Jingga, putri boyongan dari Melayu yang dipersembahkan Senopati Anabrang kepada Baginda. Namun kemudian menikah dengan salah seorang bangsawan Keraton yang melanjutkan pemerintahan di tlatah Melayu.

Dara Petak, adik Dara Jingga, yang dipermaisurikan Baginda dengan gelar Permaisuri Indreswari. Disebut sebagai stri tinuheng pura atau permaisuri yang dituakan. Menggeser kedudukan Tribhuana dan dengan demikian berarti anak keturunannya yang bakal mewarisi takhta Baginda Kertarajasa.

Dewa Maut, tadinya menjadi tokoh yang ganas, setiap kali berperang hams mencabut nyawa lawan karena daya asmara kepada gadis pujaannya bertepuk sebelah tangan. Hidup menyendiri hanya dengan sesama kaum pria, di atas perahu yang selalu berada di Kali Brantas. Dalam salah satu pertarungan ilmunya lenyap, dan gayanya seperti kehilangan ingatan. Seluruh rambutnya putih. Gendhuk Tri dianggap “kekasihnya” yang hilang dan selalu dipanggil Tole, panggilan untuk anak lelaki. Dewa Maut hanya mau mengikuti perintah Gendhuk Tri.

Kama Kalacakra, salah seorang ksatria Jepun yang mahir memainkan pedang panjang.

Kama Kalandara, saudara seperguruan Kama Kalacakra. Dua nama yang berbeda akan tetapi artinya sama, yaitu “benih matahari”. Bila bergabung, keduanya menjadi disegani, karena bisa memindah serangan sambil berputar kencang.

Kama Kangkam, guru Kama Kalacakra maupun Kama Kalandara. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu kekuatan dengan Eyang Sepuh, memperebutkan gelar sebagai ksatria lelananging jagat, atau ksatria yang paling lelaki, yang paling tak terkalahkan.

Senopati Semi, salah seorang senopati Majapahit. Salah seorang dari tujuh dharmaputra, putra istana yang mendapat perlakuan istimewa dari Baginda. Senopati lain yang termasuk dharmaputra ialah Senopati Kuti, Senopati Pangsa, Senopati Wedeng, Senopati Yuyu, Senopati Tanca, serta Senopati Banyak.

Kala Gemet, putra mahkota Keraton Majapahit, putra Permaisuri Indreswari. Sejak muda telah diangkat menjadi calon pewaris takhta dengan mengambil tempat latihan kekuasaan di Dahanapura. Ketakutan disaingi saudaranya, ia melarang saudara lain ibu menikah.

Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang, yang terbakar oleh dendam sejak kematian ayahnya di tangan Senopati Sora. Merasa pengabdian ayahnya kepada Keraton disia-siakan, Mahisa Taruna mudah dipermainkan orang lain.

Aria Wiraraja, tokoh yang dihormati dari Sumenep, Madura, inilah yang pertama kali mengulurkan tangan kepada Sanggrama Wijaya. Taktik dan strateginya jitu. Dengan kematian Lawe, putra kesayangannya, Aria Wiraraja sangat kecewa. Kemudian meninggalkan Keraton dan berdiam di Lumajang, yang membawahkan wilayah Majapahit sebelah timur.

Naga Nareswara, atau Raja Segala Naga, merupakan utusan tertinggi dari Tartar, yang masih menyimpan dendam, karena pasukannya yang mampu menaklukkan dunia dikalahkan oleh senopati- senopati Majapahit. Akan tetapi kedatangannya yang terutama untuk bertarung dengan Eyang Sepuh, dalam memperebutkan gelar ksatria lelananging jagat. Untuk membuktikan siapa pewaris suci dari ajaran yang sama sumbernya.

Kiai Sambartaka, atau Kiai Kiamat, seorang pendeta dari tanah Hindia. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu ilmu sejati dengan Kama Kangkam, Naga Nareswara, serta Eyang Sepuh. Agaknya, lima puluh tahun lalu, para tokoh itu sudah berjanji untuk mengadakan pertempuran habis-habisan.

Paman Sepuh Dodot Bintulu, atau menyebut dirinya Bik Suka Bintulu karena menyamakan dirinya sebagai pendeta peminta-minta. Dodot Bintulu adalah nama untuk menunjukkan kesederhanaan sebagai rakyat jelata. Panggilan Paman Sepuh karena tokoh sakti ini saudara seperguruan Eyang Sepuh maupun Mpu Raganata, dan yang sesungguhnya menuliskan Kitab Bumi atau Bantala Parwa bagian pertama, yaitu yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Wajahnya hancur karena dikhianati dua muridnya yang durhaka, yaitu Ugrawe dan Halayudha. Kemunculannya kembali ke dalam dunia persilatan untuk memenuhi undangan yang disebarkan Eyang Sepuh lima puluh tahun yang lalu. Di mana akan berkumpul seluruh jago silat, jawara dari jawara seluruh jagat. Salah satu gubahan ilmunya yang terkenal, selain Banjir Bandang Segara Asat yang disempurnakan Ugrawe, adalah jurus-jurus Timinggila Kurda, atau jurus-jurus Ikan Gajah Murka. Ikan gajah adalah sebutan untuk ikan paus pada masa lalu.

Kiai Gajah Mahakrura, nama lain Paman Sepuh yang dipakai oleh Halayudha, yang menggambarkan gurunya yang dianggap sebagai gajah mahabengis.

Ratu Ayu Bawah Langit, menunjukkan sebutan bahwa di seluruh kolong langit ini, dialah yang paling ayu tanpa tanding. Nama sesungguhnya Ratu Ayu Azeri Baijani, datang dari negeri Turkana. Suatu negeri yang disebut sebagai tlatah tapel mates, karena merupakan tapal batas dengan wilayah yang tak dikenal. Ratu Ayu berkelana ke tanah Jawa karena mendengar bakal ada pertemuan seluruh jago silat. Bersama para senopatinya, Ratu Ayu ingin mencari jodoh, yaitu yang bisa mengalahkannya. Karena ia percaya bahwa bersama lelaki yang mampu mengalahkannya, ia bisa membebaskan negerinya dari jajahan Raja Tartar. Repotnya, justru dalam pengelanaannya, tak ada yang mampu mematahkan ilmunya, yaitu Tathagati, atau ilmu Buddha Wanita, yang dianggap sesat karena menyamakan sang Buddha dengan wanita. Gerak langkah ilmu ini disebut Tathagata Pratiwimba atau gerakan Area Buddha yang Kaku, serupa dengan cara bergerak boneka.

Sariq, senopati utama Ratu Ayu Bawah Langit. Sariq berarti kuning, karena ketika memainkan ilmunya seakan tubuhnya berwarna kuning seluruhnya. Senopati lainnya ialah Uighur, Karaim, Wide, Chagatai, dan Kazakh. Bersama-sama mereka mampu memainkan barisan yang disebut Lompat Turkana, atau 64 Langkah Jong. Jong bisa berarti payung, bisa berarti tertutup. Barisan Lompat Turkana ini disusun sedemikian rupa, sehingga langkah ke belakang tertutup. Mereka selalu bergerak maju ke depan, ke samping kanan, atau ke samping kiri. Konon ini merupakan permainan yang lazim di negeri Turkana.

Gajah Biru, senopati yang setia kepada Mpu Sora, baik di saat jaya maupun ketika tersisih, seperti juga:

Juru Demung

Maha Singanada, gagah perkasa, wajah dan penampilannya sangat mirip dengan Upasara Wulung. Hanya rambutnya dibiarkan tergerai dan sikapnya jauh lebih urakan, tak mengenal tata krama. Senopati ini termasuk dalam rombongan yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara dari Keraton Singasari (itu sebabnya masih memakai nama Singa) ke tlatah Campa, ke Keraton Caban. Untuk mengantarkan Dyah Ayu Tapasi, putri Baginda Raja, untuk dipermaisurikan Raja Campa. Senjata utamanya adalah kantar, atau tombak pendek. Ilmunya bersumber pada Kitab Bumi, akan tetapi cara mengatur pernapasannya disebut Nawawidha, atau Mengatur Tenaga Dalam Lipat Sembilan. Jurus- jurusnya dikenal sebagai Nawagraha, atau Siasat Sembilan Bintang, yang kesemuanya berintikan kepada angka sembilan. 

Pendeta Syangka, atau Pendeta Sidateka, berasal dari tanah Syangka atau Sri Langka. Merupakan pendeta kesayangan Putra Mahkota Bagus Kala

Gemet, sehingga kelak kemudian hari sang putra mahkota ini memakai gelar kebesaran sebagai Sri Sundarapandya Adiswara. Sebutan pandya berarti mengakui kebesaran dinasti Pandya yang memerintah di Sri Langka. Sejak tata pemerintahan Keraton Sriwijaya, pendeta-pendeta dari Syangka mencoba menanamkan pengaruhnya, akan tetapi selalu gagal. Sekali ini, Pendeta Sidateka yang menguasai Pukulan Dingin, berhasil.

Maha Singa Marutma, salah seorang senopati yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara ke Keraton Mon, di delta Sungai Saluen, di tlatah Burma. Keraton Mon menjadi rebutan kekuasaan antara Keraton Burma dan Keraton Sukothai, dari bangsa Thai. Maha Singa Marutma kembali ke tanah Jawa mencari bantuan untuk membebaskan Keraton Mon dari serbuan Burma maupun Sukothai.

Pangeran Jenang, nama yang dimudahkan untuk menyebutkan Pangeran Che Nam, yang terdesak oleh bangsa Vietnam. Karena Keraton Campa merupakan wilayah yang dikuasai Singasari, Pangeran Jenang minta bantuan ke tanah Jawa. Hanya saja ketika ia datang, yang memerintah bukan lagi Baginda Raja Sri Kertanegara. Oleh Bagus Kala Gemet, ditarik sebagai salah seorang pendukungnya.

Kebo Berune, oleh Upasara dipanggil dengan sebutan hormat Eyang Kebo Berune, sedangkan Nyai Demang memanggil dengan Kakek Kebo Berune. Salah seorang tokoh sakti yang hidup sezaman dan seangkatan dengan Paman Sepuh, Eyang Sepuh, maupun Mpu Raganata. Bahkan sama-sama merumuskan lahirnya Kitab Bumi. Kebo Berune hanyalah nama sebutan, karena tokoh ini mengembara sampai ke tlatah Berune atau Brunei, dan baru kembali untuk bertanding menguji ilmu siapa yang paling unggul. Suatu pertemuan setiap lima puluh tahun sekali. Sayangnya, karena cara berlatih tenaga dalam yang keliru, Kebo Berune selalu dibayangi maut, dan tak bisa bergerak. Salah satu ajiannya yang sejajar dengan ilmu Weruh Sadurunging Winarah Mpu Raganata, sejajar dengan ajian Tepukan Satu Tangan Eyang Sepuh, sejajar dengan Banjir Bandang Segara Asat Paman Sepuh, adalah Pukulan Pu-Ni yang diciptakannya. Pu-Ni sekadar untuk mengingatkan bahwa ilmu itu diciptakan di tanah Pu-Ni atau Berune atau Brunei. Konon ilmu-ilmu itu diciptakan untuk menjadi penangkal ilmu Dua Belas Jurus Nujum Bintang.

Pulangsih, atau Putri Pulangsih dalam sebutan Nyai Demang. Menurut cerita yang dituturkan Kebo Berune, Pulangsih adalah gadis yang diperebutkan oleh Mpu Raganata, Eyang Sepuh, Paman Sepuh, maupun Kebo Berune. Tokoh wanita yang masih serba samar ini memilih Eyang Sepuh yang disebut Bejujag atau si kurang ajar, namun justru pada saat itu Eyang Sepuh mencampakkannya. Penolakan itulah yang mengilhami lahirnya bagian terakhir Kitab Bumi, yang disebut Kitab Penolak Bumi, atau Tumbal Bantala Parwa. Pulangsih pastilah sebutan di antara keempat ksatria muda pada zamannya, karena arti pulangsih sesungguhnya adalah bersatunya daya asmara secara jasmani.

Cebol Jinalaya, si cebol berkulit hitam. Mewakili pemuja yang tetap mengagungkan Sri Kertanegara, sehingga menganggap bahwa bila mereka mati, bisa terus menjadi abdi Baginda Raja. Jinalaya sendiri nama yang dipakai untuk menunjukkan tempat untuk mati.

Senopati Agung Brahma, bangsawan tua yang dihormati oleh kalangan keraton, tetapi juga jauh dari kekuasaan karena lebih suka menyepi. Kepedihan hatinya tetap tak terhibur dengan menikahi Dyah Dara Jingga, yang dengan demikian ia adalah kakak ipar Baginda. Termasuk salah seorang senopati yang dikirimkan ke seberang oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya satu yang menyebabkan ia keluar dari “persembunyiannya”, yaitu terutama karena mendengar berita datangnya utusan dari Keraton Caban di Campa, di samping keruwetan yang menimpa Keraton.

Bagus Janaka Marmadewa atau Janaka Rajendra atau biasa dipanggil dengan Pangeran Anom, putra Senopati Agung Brahma. Ketekunannya mempelajari Kitab Air menyebabkan ia menemukan rahasia permainan ganda. Sifatnya yang polos, jujur, sering dibandingkan dengan saudara sepupunya yang menduduki takhta. Oleh sebab itu dianggap saingan di belakang hari. Dalam kepolosannya, ia menaruh hati kepada Gendhuk Tri.

Barisan Padatala, sebutan untuk ketiga pendeta dari Syangka yang memakai gelang kaki. Sebenarnya padatala lebih tepat diartikan sebagai telapak kaki. Mereka ini terdiri atas Pendeta Resres, Wacak, serta Taletekan.

Puspamurti, tokoh yang ganjil, bukan karena selalu memakai pakaian perempuan atau bersenjata kipas gede, melainkan karena selalu memainkan ilmu silatnya yang hanya satu jurus. Dikenal sebagai pemuja Kidungan Paminggir, yang biasa disebut sebagai Kitab Maha manusia.

Manmathaba, pendeta yang menjadi pemimpin tertinggi dari tanah Syangka. Agak ganjil bahwa dasar-dasar ilmu silatnya sama dengan ajaran dalam Tirta Parwa atau Kitab Air. Yang mengerikan adalah senjata rahasia berupa bubuk pagebluk yang bisa membunuh dan atau membuat korbannya ketagihan terus-menerus. Di samping itu juga memiliki senjata bandring cluring, yang talinya konon dibuat dari otot manusia. Ilmu kebalnya juga belum ada tandingannya.

Truwilun, muncul sebagai peramal atau dukun yang membela rakyat kecil dengan memberi pengobatan dan penyuluhan. Rambut, jenggot, dibiarkan tumbuh secara liar, akan tetapi pandangan matanya menyorotkan kasih dan kedamaian. Potongan kayu digunakan sebagai alas kaki.

Cantrik, pengikut setia Kiai Truwilun.

Pengasihan, sebutan untuk sejumlah senopati yang diangkat ketika Manmathaba berkuasa. Di antaranya, Senopati Jaran Pengasihan, Senopati Kebo Pengasihan. Mereka sengaja diberi kekuasaan pada saat terjadi perebutan kekuasaan dan pengaruh di kalangan senopati.

Tantra, senopati yang sangat dekat hubungannya dengan tujuh senopati utama, atau pada dharmaputra, yaitu senopati yang dianggap berjasa besar oleh Baginda Kertarajasa ketika mendirikan Keraton Majapahit.

Praba Raga Karana, sebutan untuk kekasih Raja Jayanegara. Sebutan ini agak berlebihan, karena praba berarti sinar yang memancar dari orang suci, sedangkan raga karana sebutan untuk tubuh yang mengimbau berahi. Dulunya juru pijat yang diangkat dan dipersiapkan menjadi permaisuri.

Sodagar Galgendu, saudagar yang mempunyai tambang emas Gua Kencana, di Desa Kedung Dawa. Karena jasa dan sumbangannya kepada Keraton, ia diberi gelar Wong Agung. Tubuhnya yang gemuk dan kelembutan sikapnya tertutupi berita bahwa dirinya bisa membuat pohon kelapa yang seluruhnya terdiri atas emas. Ia sangat mengagumi dan mengharapkan bisa mempersunting Ratu Ayu.

Ki Dalang Memeling, tokoh dalang dari Desa Memeling yang mampu memainkan wayang kulit tanpa menyentuh. Ia termasuk pemilik Gua Kencana, namun belum suka mendalang. Meskipun digemari rakyat, Ki Dalang kurang disukai kalangan Keraton. Mada, pemuda desa yang mempunyai cita-cita menjadi prajurit Keraton sebagai pembebas derita hidup dan pengakuan pribadinya. Mada bisa diartikan air berahi, atau air asmara. Sebuah nama yang agaknya sengaja dipakai untuk memperlihatkan latar belakangnya yang berasal dari rakyat kebanyakan, seperti petani dan tukang perahu, seperti juga keempat sahabatnya berikut ini:

Madana, yang bisa berarti dewa asmara.

Senggek dan Genter, yang arti harfiahnya galah, akan tetapi juga simbol kejantanan.

Kwowogen, yang berarti rasa puas yang berlebihan dalam kenikmatan badani, seperti makan terlalu banyak. Kelimanya menemukan persamaan tujuan, dan berguru langsung untuk memahami Kidung Pamungkas. Ini berbeda dari generasi sebelumnya yang mulai mempelajari Kitab Bumi, sehingga melahirkan sikap yang juga berbeda.

Pangeran Hiang, satu-satunya putra mahkota Kaisar Tartar yang berani memakai umbul-umbul atau bendera dengan simbol Siung Naga Bermahkota. Ini menunjukkan bahwa pangeran yang pernah menyusup masuk dan menaklukkan Jepun serta Koreyea itu merupakan calon pewaris takhta di Keraton yang menguasai jagat.

Putri Koreyea, istri Pangeran Hiang yang berasal dari tlatah Koreyea, yang berdiam di perahu yang memiliki perlengkapan serba sempurna untuk menghalau siapa pun yang mencoba mendekat.

Barisan Api, atau Pendekar Api, sebutan untuk para pengawal utama pasangan Pangeran Sang Hiang dengan Putri Koreyea. Terdiri atas tiga belas prajurit pilihan, yang tenaganya luar biasa besar. Lebih menakjubkan lagi, tenaga dalam mereka ini bisa berlipat jika telapak tangannya bersentuhan. Nama-nama mereka semua berarti sama, yaitu berarti taji api. Seperti Jalugeni, Jalulatu, Jaluapi, Jaluapyu, Jaluagni, Jalubahni, Jaludahana, Jalubtama, Jaluguna, Jaluanala, Jalusiking, Jalupawaka, Jalupuja yang agaknya tidak pernah dipergunakan karena tidak berhubungan dengan orang luar.

Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara, kakek buyut Pangeran Hiang yang menyatukan seluruh bangsa Mongol, Tartar yang gagah perkasa. Gelaran sebagai Penguasa Jagat diberikan setelah berhasil mengakhiri dinasti Keraton Tang yang menguasai tanah Cina.

Senopati Temujin nama yang dipakai ketika menyatukan suku bangsa yang hidup liar di gurun pasir terbuka.

Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, ayah Pangeran Hiang, cucu Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara, berhasil mengembangkan tradisi kemenangan, setelah menggantikan kakaknya. Keraton Tawu dibangkitkan kembali dengan mengambil nama dinasti Yuan.

Gemuka, saudara tua Pangeran Hiang, keturunan ketiga Jamuka, senopati Tartar yang bersama Temujin berhasil menguasai seluruh dataran Cina, hingga ke Persia dan Samudra Adriatik. Tradisi kemenangan dan darah Tartar yang murni mengalir dalam tubuhnya, sehingga mengikuti Pangeran Hiang ke Jepun dan Koreyea. Sewaktu rombongan ke tanah Jawa, Gemuka sebenarnya merasa keberatan.

Dyah Palasir, salah seorang senopati muda Majapahit. Anak buah langsung Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja. Bersama Dyah Pamasi, mereka merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan menjadi pengganti.

Dewi Renuka, nama yang dikenakan kepada wanita yang kurang jelas asal-usulnya, yang ditemui Halayudha ketika masih berguru kepada Paman Sepuh. Sebutan ini mengambil nama tokoh dalam dunia pewayangan yang melakukan penyelewengan asmara dan kemudian hari dibunuh putranya. Dewi Renuka ini yang mengakibatkan Halayudha buntu tenaga planangan atau tenaga kelelakiannya.

Nyai Makacaru, atau Nyai Sesajian, istri Senopati Tanca yang lebih dikenal sebagai tabib Keraton. Keunggulannya dalam meracik jamu dan jejampian dikabarkan membuat suaminya tidak melirik wanita lain. Nurani kewanitaan Nyai Makacaru terobek ketika mengetahui niatan Raja Jayanegara mengawini Tunggadewi dan Rajadewi, saudara seayah.

Senopati Gandhing, pengikut setia Mahapatih Nambi yang menguasai Benteng Gandhing. Senjata andalannya kalawai, tombak bermata tiga.

Senopati Bango Tontong, semula adalah pengikut setia Mahapatih Nambi yang diangkat Halayudha sebagai pemimpin Barisan Kosala, barisan untuk menjaga ketenteraman, ketertiban, dan kesejahteraan. Akan tetapi julukan yang beredar di masyarakat ialah Barisan Kopina atau Barisan Cawat. Sebutan Bango Tontong, karena kakinya panjang, kurus, hitam seperti burung bangau tontong.

Tenggala Seta, diduga putra Dewi Renuka. Sekurangnya menurut pendekatan merogoh sukma yang dilakukan Eyang Puspamurti. Tenggala berarti luku atau bajak, atau dalam bahasa lain juga hala, yang juga mengandung arti yang berdosa, hina, celaka, dan kalah. Arti lahiriahnya bajak atau luku putih.

Jabung Krewes, senopati yang diunggulkan dan diberi jabatan kuat dalam tata pemerintahan Keraton. Oleh Halayudha dimaksudkan untuk mengimbangi pengaruh Senopati Bango Tontong yang bisa meluas. Dengan mengadu dua kekuatan, kedudukan Halayudha sebagai tempat bergantung semakin kokoh.

Baginda Koryo, raja yang memerintah Keraton Koreyea, yang berhasil menyatukan bangsa yang selama ini terjajah oleh bangsa Cina. Merupakan leluhur atau nenek moyang Putri Koreyea.

Si Bawuk, sebutan yang diduga keras untuk Jagaddhita, guru sekaligus pengasuh Gendhuk Tri.

Angon Kertawardhana, pangeran muda yang berasal dari Cakradaran, yang mendiami keraton petilasan Singasari. Putra Cakradara yang merupakan pewaris takhta dari wilayah yang dulunya menjadi pusat kekuasaan.

Pangeran Muda Wengker, pangeran muda yang mendiami Keraton Tua, sebutan untuk Keraton Daha, cikal bakal sebelum berdirinya Singasari.

Jurang Grawah, prajurit yang diangkat sebagai senopati oleh Senopati Kuti. Sebagaimana biasanya, setiap pergantian pimpinan, terjadi pula pergeseran di lapisan bawahnya.

Patih Arya Tilam, patih Daha yang sakti. Jabatan utamanya adalah penasihat rohani Pangeran Muda Wengker. Kemampuannya meramal masa depan agaknya justru merepotkan hidup yang dijalani sekarang.

Patih Arya Wangkong, patih wilayah Singasari yang kasar dan terbuka. Pengabdi setia Pangeran Muda Angon Kertawardhana.

Ngwang, sebutan untuk pendeta yang mempunyai hubungan erat dan ganjil dengan Pangeran Sang Hiang. Ilmu andalannya berdasarkan kekuatan angin, yang diciptakan khusus untuk mengalahkan Kitab Bum. Ngwang sebenarnya sebutan untuk orang yang belum diketahui asal-usulnya.

Cubluk, gadis kecil yang ditemukan di tempat mangkatnya Jaghana. Sangat cerdas, lembut, dan tidak menyukai ajaran silat.

Klobot, bocah kecil yang ditemukan bersama Cubluk. Kedua anak ini dinamai demikian karena ketika pertama ditemukan hanya kata itulah yang diucapkan. Berbeda dari Cubluk, Klobot sangat bernafsu mempelajari ilmu silat.

Nala, salah seorang prajurit pratama, atau prajurit kelas satu, dari Daha. Seperti juga Naka

Ayang-Ayang Raja

MESKIPUN dalam keadaan limbung dan menggabruk ke lantai, ternyata serangan yang serentak menyerbu ke arahnya tak menimbulkan gangguan sedikit pun.

Halayudha tetap berdiri tegak sementara puluhan tombak menusuk ke arahnya. Dengan menyalurkan tenaga dalam ke seluruh lubang kulitnya, arah tombak seakan melenceng.

Seperti mengenai baja yang licin.

Tusukan pedang berikutnya malah menimbulkan rasa takjub.

Dua pedang bahkan bisa dikempit di bawah ketiak Halayudha. Penusuknya tak bisa bergerak. Ketika Halayudha melonggarkan kempitannya, tubuh penyerang justru tergelosor di lantai.

Tanpa bisa bangun lagi.

Pameran yang luar biasa dari penguasaan tenaga dalam yang sempurna. Kalau Halayudha berniat membalas, puluhan prajurit kawal tak bakal bisa menghirup udara lagi. Tanpa mengerti apa kekeliruan yang dilakukan.

Baginda menyadari bahwa ilmu Halayudha jauh di atas prajurit kawal pribadinya. Akan tetapi bahwa tanpa membuat gerakan membalas sedikit pun mampu mengenyahkan seluruh serangan, tetap menimbulkan kekaguman.

Semua itu dilakukan tanpa membalas serangan. “Kidung Ayang-Ayang Raja!”

Perintah Baginda bukan menyebutkan nama jurus ilmu silat. Mengatakan ayang-ayang berarti mengatakan bayang-bayang raja, atau bayangan tubuh raja.

Kembali tubuh Halayudha menggeletar. Bibirnya tipis dan alunan tembangnya terasa ringan.

Seorang raja ialah seorang yang mempunyai bayang-bayang tubuh sepanjang tanah, sepanjang air, sepanjang udara itulah bedanya dengan pohon paling tinggi dan burung yang bisa terbang, dan angin yang tak berbentuk tak berwujud seorang raja perkasa tanpa jejak tanpa tapak ia menciptakan bayangan tubuh masa depan, di mana anak-cucu berlindung dan meneruskan hingga ke keturunan yang kemudian bayangan tubuh seorang raja ialah sarang angin bayangan tubuh seorang raja ialah tempat terangingatlah semua keturunan darah Singasari, ingatlah semuanya agar Dewa menjadi iri, sakit hati, tapi tak bisa apa-apa itulah bayangan tubuh seorang raja, itu hanya bayangannya…

“Lalu apa maumu?” “Jadilah seorang raja.” “Apa yang kamu lihat?”

“Seorang raja tanpa ayang-ayang!”

“Kembalikan semua kepada ingsun, sebab kamu tak berhak mengidungkan. Itu kidungan raja, dan kamu tak berhak meminjam, Halayudha!”

Suara Baginda mengguntur keras sekali.

Saat itu Mahapatih Nambi dan para senopati yang lain sudah mengurung. Mereka melakukan sembah dan berjongkok menunggu gerakan napas yang berbeda.

Sementara Halayudha berdiri tegak.

Kembali terjadi perubahan pada tubuhnya. Yang perlahan terangkat ke atas, ke atas hingga setengah tombak.

“Tak ada gunanya matahari diciptakan kalau tak mampu membuat bayangan tubuh.”

Didengar dari nadanya jelas itu ucapan Halayudha. Akan tetapi sekilas terlihat bahwa tak ada bagian tubuh Halayudha yang bergerak.

Juga ketika turun kembali dan kakinya menginjak tanah.

Mahapatih Nambi menjadi tidak sabar. Tangannya mencabut keris dari pinggang, dan dengan menotol keras tubuhnya melesat dari samping. Lambung Halayudha yang ditusuk langsung. Di dalam pergelangan tangannya tersalur tenaga tusukan yang luar biasa ganasnya.

Sret, sret, pakaian Halayudha terobek.

Sewaktu Nambi membalik kerisnya, kali ini kain Halayudha yang robek. Tersayat-sayat. Dalam satu gerakan tangannya telah bergerak naik-turun tujuh kali. Ada tujuh sayatan.

Akan tetapi tetap saja.

Tubuh Halayudha berdiri tegak. Tak terluka sedikit pun.

Kali ini Mahapatih Nambi terkesiap. Sungguh luar biasa! Tusukan kerisnya seakan menikam dan merobek kulit. Akan tetapi ternyata hanya mengenai kain.

Dua kali Mahapatih mengulangi gerakannya, hanya sobekan kain yang makin banyak. Seakan rumput panjang yang digantungkan.

Tetapi sedikit pun tak ada kulit yang terluka. Luar biasa!

Setebal apa pun kulit, sekebal ilmu apa pun, sulit dipercaya bahwa kain yang menempel di kulit bisa hancur tersayat, akan tetapi tak melukai kulit ari sekalipun.

Rasanya seumur hidup Mahapatih Nambi tak pernah membayangkan ada ilmu yang begitu hebat. Bahkan kalau tidak mengalami sendiri, tidak menusuk sendiri, agak sulit mempercayai.

Halayudha diakui mempunyai seribu satu akal. Baik yang benar-benar licik maupun yang penuh akal- akalan. Kabar mengenai hal ini sudah menyebar.

Bukan tidak mungkin di balik kain yang dipakai, Halayudha memakai pelapis yang tak mempan disentuh senjata.

Bisa terjadi hal semacam itu. Akan tetapi tidak sekarang ini.

Jelas terlihat kulit Halayudha melalui kain yang tersobek. Tidak mengenakan sesuatu. Tidak memakai pelindung apa-apa.

“Kembalikan, Halayudha!” Perintah Baginda kembali mengguntur. “Kembalikan ke mana, siapa yang punya? “Lihatlah ke tanah. Adakah bayangan tubuhmu?”

Mahapatih Nambi kembali menggebrak. Kali ini dengan pukulan kosong. Mencoba menangkap tubuh Halayudha yang tak bergerak. Merenggut paksa dan membanting ke lantai.

Akan tetapi lagi-lagi hanya sobekan pakaian yang tertarik.

Sementara ayunan senjata yang lain juga tak mempunyai pengaruh apa-apa. Seakan melesat di kiri dan di kanan, di samping, di atas tubuh Halayudha.

Kalau seratus tusukan bisa dihindari tanpa menggerakkan tubuh, tanpa diperintahkan para penyerang melangkah surut.

Halayudha maju setapak. Mendekati Baginda.

Yang mundur setindak. Keadaan menjadi sunyi.

“Kidungan Para Raja bagian mana lagi yang diperlukan?” Tak ada jawaban.

Halayudha maju lagi dua tindak.

“Kidung pambuka…” terdengar suara halus merdu. Baginda melirik kaget.

Permaisuri Rajapatni duduk bersimpuh di kejauhan belakang, akan tetapi suaranya mendenging lemah.

Halayudha menghirup napas dalam-dalam. Suaranya mengalun perlahan, seolah berbisik.

Bacalah Kidungan Para Raja sebab ini wejangan Kertanegara yang perkasa

yang dikasihi Dewa yang dipuja

bacalah jika rohmu roh raja….

Halayudha masih akan melanjutkan, karena nada kidungan itu belum selesai, ketika Permaisuri Rajapatni berseru lirih,

“Tutuplah, sebab kamu tak memiliki roh raja….”

Tubuh Halayudha tergetar, dan mendadak lututnya seperti terkena pukulan keras. Tertekuk. Tubuhnya ambruk.

Baginda mendongak ke atas. Matanya menyipit.

Apa yang diucapkan permaisurinya sangat tepat. Memotong kidungan yang ditembangkan Halayudha.

Seharusnya lanjutan kidungan tadi ialah:

Bacalah jika rohmu roh raja roh rajamu, Raja Singasari….

Dan selanjutnya. Namun dengan memutus hubungan dengan lirik berikutnya, Permaisuri Rajapatni mampu menghentikan kekuatan roh kidungan.

Halayudha seperti dibanting kembali ke alam kenyataan, bahwa ia bukan raja. Bahwa ia tak berhak membaca kidungan yang khusus ditulis untuk para raja.

Baginda mengetahui dengan pasti. Hafal segala lekuk-liku cara menembangkan. Hanya tidak menyadari bahwa dengan mencegat di tengah, artinya bisa lain sama sekali.

Asmara Dayinta

KIDUNGAN PARA RAJA menurut cerita selalu ditulis sendiri oleh raja yang sedang berkuasa. Ditulis sendiri dalam artian didiktekan secara langsung lalu dicatat abdi kepercayaannya maupun ditulis sendiri dalam artian sebenarnya. Inti kidungan itu ialah isi pemikiran yang ingin ditularkan kepada raja penerus. Ajaran-ajaran suci ataupun mengenai pembagian kekuasaan.

Semacam kitab wasiat terakhir yang hanya boleh dibaca setelah raja yang bersangkutan kembali ke alam para Dewa.

Menurut kisah yang didengar ketika Baginda masih berada di Singasari, Kidungan Para Raja ditulis sendiri oleh Sri Baginda Raja Kertanegara. Juga sampai saat-saat terakhir ketika prajurit Jayakatwang menyerbu.

Kalau sampai Permaisuri Rajapatni bisa menghafal, bukan sesuatu yang luar biasa. Karena Sri Baginda Raja memang raja yang lain dari raja-raja sebelumnya. Tata aturan itu tidak berlaku. Masih di saat memegang tampuk pemerintahan, Sri Baginda Raja mengizinkan putri-putrinya membaca segala apa yang ada di ruang pustaka raja atau perpustakaan bagi keluarga raja.

Jadi bisa dimengerti kalau Rajapatni, atau kakak-kakaknya, turut membaca dan dengan sendirinya bisa hafal.

Sri Baginda Raja bertindak nerak angger-angger, atau melabrak aturan dalam soal semacam ini. Keinginannya yang besar untuk menghimpun satu kitab silat saja sudah menunjukkan sesuatu yang tak sama dengan raja sebelumnya.

Hasilnya memang tidak mengecewakan.

Sekian banyak senopati dikirimkan ke tlatah seberang. Beberapa putrinya mampu menguasai banyak ilmu. Seperti Permaisuri Tribhuana yang mahir dalam tata pemerintahan.

Dan seperti yang baru saja terbukti.

Permaisuri Rajapatni mampu mencegat kidungan yang ditembangkan Halayudha. Hal ini menandakan bahwa Permaisuri bukan hanya hafal kidungan itu, akan tetapi juga mampu menguasai dengan sempurna. Tahu di mana titik, tahu di mana ketika menembangkan si penembang menarik napas. Karena kidungan seperti itu adalah kidungan yang perlu dipahami dengan kecerdasan pikir dan sekaligus ketulusan hati. Karena kidungan seperti itu adalah kidungan yang penuh nasihat, penuh perlambang, di mana kalimat-kalimat yang diucapkan mempunyai makna serba ganda.

Kidungan Para Raja pada bait yang ditembangkan Halayudha menunjukkan bahwa hanya boleh dibaca oleh yang mempunyai roh raja, bacalah jika rohmu roh raja. Dalam hal ini Rajapatni masuk secara jitu dengan mengatakan bahwa Halayudha tidak mempunyai darah raja.

Padahal kalau dibaca lengkap sampai bait terakhir, bukan tidak mungkin justru Sri Baginda Raja memberi makna yang berbeda. Karena di ujung kalimat berbunyi roh rajamu, Raja Singasari. Yang berarti ada perbedaan antara roh raja dan roh rajamu, Raja Singasari.

Perbedaan yang sangat besar antara keturunan dan calon raja, dengan yang memiliki jiwa seorang raja!

Apa pun juga, Rajapatni bisa mempergunakan dengan tepat. Pada saat yang menentukan.

Baginda tak habis pikir. Permaisurinya yang selama ini mampu duduk bersila tanpa mengubah tempat duduk sekian lama, yang membiarkan air mata menetes tanpa diusap, pada saat tertentu mampu tampil dengan perkasa.

Nyatanya hanya dengan kidungan itu seluruh tenaga gaib yang menguasai Halayudha bisa buyar.

Padahal sebelumnya, tenaga gaib itu yang demikian besar pengaruhnya sehingga seorang Halayudha berani berdiri sama tinggi dengan Baginda, berani berbicara sambil memandang mata.

Suasana lengang. Geraham Baginda beradu.

Semua yang hadir menunggu. Kelu.

Membisu.

Miliki roh raja

meskipun kamu paminggir kembalilah ke pinggir dengan roh rajamu kembali ke kembali kembali ke asalnya

seperti keris jadi besi kembali bertani

di sawah atau di laut sebab di situ tempat pengabdian

kembali ke kembali kembali

ke roh pengabdian….

Dengan tarikan napas lega, Rajapatni mengakhiri kidungannya dan menyembah secara hormat sekali.

Baginda menarik napas dan mengibaskan tangannya. “Bagus, Yayi.

“Kini kembalilah ke tempatmu. Sebab wanita punya tempat sendiri.” Permaisuri kembali menyembah hormat.

“Apa benar begitu?

“Rasanya tak ada yang menyalahkan kalau wanita berada di antara lelaki. Sri Baginda Raja tak pernah melarang saya berada di mana saja untuk menembangkan Kidung Asmara Dayinta?

Tanpa terasa Halayudha maupun Mahapatih Nambi menoleh ke arah datangnya suara.

Sesuatu yang tak akan dilakukan secara sadar di depan Baginda. Di depan dan tengah menghadap rajanya!

Langit boleh runtuh dan bumi boleh terangkat ke atas, akan tetapi tetap tak akan menggugah pemusatan pikiran untuk hanya mendengar kalimat dari Raja.

Dan untuk sejenak Halayudha merasa dadanya bergolak.

Karena mengenali sekilas Putri Pulangsih yang berdiri tegap sambil menyilangkan kedua tangannya, sedakep, di depan dada.

Yang membuat darah Halayudha berdesir kencang, juga Mahapatih Nambi, ialah karena sosok tubuh lelaki yang bersila di dekat kaki Putri Pulangsih.

Sekelebatan seperti Maha Singanada.

Akan tetapi Mahapatih sadar bahwa Maha Singanada masih bertarung di halaman dengan Senopati Agung.

Tak salah lagi.

Itulah Upasara Wulung. Upasara Wulung! “Kakang…”

Terdengar suara seakan rintihan hewan yang terluka. Suara wanita. Suara siapa?

Suara Permaisuri Rajapatni?

Dugaan Mahapatih memang begitu karena sejak tadi tak ada suara wanita, sampai dengan pemunculan Putri Pulangsih yang tak dikenalnya, selain Permaisuri.

Namun Halayudha yang lebih tajam pendengarannya mengetahui bahwa asal suara itu jauh di belakangnya.

Siapa lagi yang berani keluyuran dan menerobos masuk selain Gendhuk Tri?

Kalaupun Baginda mendengar suara itu, hatinya seperti ditoreh sesuatu yang menyakitkan ulu hatinya. Seperti tertusuk belahan bambu tipis yang menimbulkan luka tanpa mengalirkan darah. Pun setelah mengetahui bahwa bukan permaisurinya yang meneriakkan “Kakang”….

Torehan yang memilukan itu karena suara Putri Pulangsih yang menyebutkan Kidungan Asmara Dayinta. Yang artinya kira-kira adalah Tembang Asmara Permaisuri, puisi cinta permaisuri. Sebutan itu tak berarti apa-apa bila saat itu tak ada Upasara Wulung dan Permaisuri Rajapatni alias Gayatri.

Sebutan itu tak ada artinya apabila tidak dikaitkan dengan kidungan yang diciptakan Sri Baginda Raja. Bagi Baginda, kata-kata itu menusuk tajam sampai dasar.

Karena, seperti hampir semua kerabat Keraton mengetahui atau setidaknya pernah mendengar, Sri Baginda Raja dikenal memanjakan daya asmara secara terbuka. Pesta-pesta Keraton hampir tak pernah sepi dari tata asmara.

Sehingga kidungan yang diciptakan pun, bisa dihubungkan dengan daya asmara. Atau hubungan asmara, yang menjadi inti utama kehidupan.

Baginda bisa mengetahui secara tepat karena sudah membaca dari bait pertama hingga bait terakhir. Rasanya saat itu bayang-bayang tubuh Baginda mengecil.

“Nenek tua, apa maksudmu sowan tanpa tinimbalan ngarsaningsun?”

Sebutan ngarsaningsun menunjukkan bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi atas karsa, atau kehendak, Baginda.

Putri Mulanguni

BERAGAM tanda tanya muncul seketika di banyak benak. Gendhuk Tri sendiri bertanya-tanya bagaimana Upasara Wulung bisa mendadak muncul bersama Putri Pulangsih. Mahapatih dan para senopati bertanya-tanya apa yang harus dilakukan untuk melindungi Baginda. Akan tetapi yang terdengar suara lembut dan dingin nadanya.

“Kalau saya mau pergi ke mana, itu atas kemauan sendiri. Tak ada yang harus menentukan. Dulu, sekarang, atau kapan saja. Apakah saya sudah menjadi nenek-nenek atau tidak, apa hubungannya dengan kamu?

“Siapa kamu sebenarnya, berani berdiri dan membuka kaki?”

“Ingsun Kertarajasa Jayawardhana yang memerintah merah atau birunya Keraton Majapahit.” “O, rupanya kamu raja.

“Rasanya terlalu lembut seperti bayi….”

Mahapatih Nambi mengentak, kedua tangannya terulur ke depan. Satu lontaran tenaga meluncur. Akan tetapi kali ini, Mahapatih justru tersungkur ke depan. Rata dengan lantai tak bisa bergerak lagi.

“Siapa namamu dan apa kemauanmu?”

“Nama saya sudah dilupakan, kecuali oleh beberapa orang yang sudah mati. Apa kemauan saya, hanya ingin mendengarkan Kidung Asmara Permaisuri ditembangkan untuk ksatria yang nasibnya sebaik gurunya yang kurang ajar.”

Jelas yang dimaksudkan adalah Upasara Wulung dan Gayatri!

Putri Pulangsih tetap berdiri tegak. Tangannya tetap bersilangan, hanya dadanya sedikit bergerak naik-turun.

“Kenapa bersila dan menunduk? Katanya mau bertemu kekasih dan menembangkan daya asmara. Apa lagi yang kamu tunggu?”

Upasara Wulung diam tak bergerak. “Upasara!”

Teriakan Baginda terdengar mengguntur.

“Sembah dalem, Gusti yang dipuja seluruh Keraton.

“Apa pun keinginanmu datang kemari, ingsun tidak suka tindakanmu. Sebelum lebih marah lagi, lebih baik kamu meninggalkan Keraton dan tak usah menginjakkan kaki lagi.”

Upasara menyembah. “Tunggu dulu!

“Kenapa kamu begitu bodoh? Kenapa kamu tak mewarisi sedikit pun keberanian si Bejujag, yang bisa menaklukkan putri kesayangan Sri Baginda Raja?

“Lihat baik-baik.

“Buka mata lebar-lebar.

“Rasakan getaran asmara yang sama dari kekasihmu, Putri Mulanguni yang tak bisa menahan berahi….”

Bahkan Gendhuk Tri pun merasa wajahnya merah. Rasa malu dan jijik menjadi satu.

Selama ini wanita yang dikenalnya yang bisa mengeluarkan kata-kata tidak senonoh adalah Nyai Demang. Tak tahunya ada yang lain. Yang dianggap suci karena masih eyang gurunya. Yang tidak seharusnya berbuat seperti itu.

Alangkah sempurnanya bayangan Gendhuk Tri jika saja Eyang Putri Pulangsih moksa begitu saja, seperti Eyang Sepuh. Lebih meninggalkan kesan suci.

Dan bukannya malah muncul dengan cara seperti ini.

Selama ini gambaran yang ada di benak Gendhuk Tri sudah membentuk sempurna. Rasa hormat hingga menyerupai pemujaan yang luar biasa dalam terhadap Mpu Raganata serta Eyang Sepuh. Hal yang sama yang dirasakan secara tulus terhadap Eyang Putri Pulangsih. Karena hidup sezaman dan memperlihatkan kebijakan serta kearifan yang sama.

Tak tahunya membuatnya sangat jengah. Kikuk.

Rendah.

Apalagi menyebut Permaisuri Rajapatni dengan sebutan Putri Mulanguni. Sebagai putri yang membangkitkan berahi.

Dewa segala Dewa, apakah serendah itu omongan eyang gurunya? Yang usianya lebih pantas untuk disembah dan dipuja?

Sebenarnya yang paling rikuh, paling malu, dan tidak enak hati, adalah Upasara Wulung.

Sama sekali tak menyangka akan menghadapi kenyataan yang dalam mimpi pun tak berani dihadapi. Selama ini betapapun rindunya bergolak, Upasara selalu berusaha menenggelamkan. Berusaha mengubur ke bawah sadarnya.

Pun di puncak kerinduannya yang tak tertahankan, Upasara memilih tidak menemui Gayatri. Akan tetapi sekarang justru terjebak dalam keadaan yang sama sekali tak terbayangkan.

Tak bisa dihindari.

Ini memang perjalanan yang panjang. Sangat panjang.

Upasara tidak membayangkan bisa bangkit lagi. Saat ia tergeletak beku merayap dari kedua kaki, Upasara tak mempunyai niatan untuk bangkit lagi.

Ia membiarkan tubuhnya terseret oleh arus pukulan yang membekukan, menyesakkan, dan membuatnya tidak sadar. Beberapa kali Upasara tersadar, akan tetapi untuk kesekian kalinya pula tak sadar lagi.

Sampai akhirnya ia menyadari berada di bawah lindungan pohon di tengah malam saat bulan sangat pucat.

Ada bayangan lelaki tua di sebelahnya sedang bersemadi, dengan janggut panjang putih seperti menyentuh tanah.

Upasara hampir saja berseru kegirangan dan memeluk bayangan kakek yang dikiranya Eyang Sepuh. “Masih mau mencari mati, anak muda?”

Antara sadar dan tidak, Upasara mengenali nada suara itu. “Eyang…”

“Apa aku masih pantas dipanggil eyang kalau hanya seorang kakek tua tak berguna, yang berjalan menyelusuri bayangan pohon kala rembulan mau bersinar.

“Upasara, kamu tidak pantas menjadi ksatria. Tidak pantas menjadi senopati Singasari. Putraku lebih pantas menjadi ksatria lelananging jagat daripada kalian semua.”

Upasara memaksa diri duduk dan menyembah. “Eyang Wiraraja…”

“Oho, kamu masih mengenaliku dan mengenali putraku yang gagah?” ” Sembah pangabekti buat Eyang Wiraraja.

“Mana mungkin saya bisa melupakan Kakang Senopati Lawe yang gagah dan digdaya?” Eyang Wiraraja mengangguk-angguk.

Kini jelas jenggotnya yang putih bagai kapas menyentuh tanah berkali-kali.

“Jadi kamu menganggap putraku lelaki gagah, digdaya, perkasa, dan berjiwa ksatria? “Tidak sia-sia aku mendidiknya. “Tidak sia-sia….”

Upasara bisa merasakan nada getir yang mengalir. Lebih dari itu, Upasara Wulung mengenal tokoh tua yang menolongnya untuk sementara.

Ketika prajurit di bawah pimpinan Raden Sanggrama Wijaya menyiapkan benteng pertahanan di desa Tarik, Eyang Wiraraja inilah yang berjasa besar. Bukan hanya melatih para prajurit, mendirikan benteng, dan melindungi dari ancaman masuknya prajurit telik sandi Raja Jayakatwang, melainkan juga yang mengatur siasat sejak semula.

Jauh dalam hatinya, Upasara sangat menghormati tokoh tua yang dianggap sakti serta bijak ini. Apalagi sejak lama Eyang Wiraraja mengabdi kepada Sri Baginda Raja Kertanegara.

Hanya saja ketika itu Upasara tak pernah berhubungan langsung. Karena dirinya hanyalah prajurit biasa, sementara Eyang Wiraraja adalah penasihat utama Raden Sanggrama Wijaya. Yang ketika naik takhta pun masih memandang hormat padanya. Jarak pangkat dan derajat yang jauh berbeda.

Meskipun demikian, Upasara cukup mengerti apa yang terjadi pada Eyang Wiraraja. Yang akhirnya memilih menyingkir dari Keraton dan meminta bagiannya di seberang timur.

Setelah kecewa atas terbunuhnya putra kesayangannya yang mempunyai nama sama dengannya. Yang lebih dikenal sebagai Senopati Lawe.

Sebaliknya, Upasara juga merasa dikenal. Sekurangnya ketika menyebut ksatria lelananging jagat, menunjukkan bahwa Eyang Wiraraja mendengar dan mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia persilatan.

Di atas persoalan itu, Upasara juga bertanya-tanya dalam hati. Kalau tokoh yang begitu dihormati dan pernah mengasingkan diri ke tanah timur, kemudian berniat kembali ke Keraton, pasti ada sesuatu yang luar biasa.

Selama mengasingkan diri dan mendirikan keraton pemerintahan di tlatah Madura, boleh dikatakan mengibarkan umbul-umbul, mengibarkan bendera sendiri.

Akan malu hati untuk datang ke Keraton Majapahit.

Upasara tak melanjutkan jalan pikirannya, karena kebekuan yang menusuk-nusuk membuat tubuhnya kejang dan ngilu. Hawa dingin yang tadinya di ujung kaki, kini telah menjalar sampai perut.

Perlahan tetapi pasti, perutnya terasa keras dan tidak memungkinkan bernapas dengan leluasa.

Ada Ketika Tiada

EYANG WIRARAJA ternyata tidak peduli sama sekali dengan penderitaan Upasara. Tetap duduk, tenang. Malah membuka bekalnya yang berupa daun-daun dan mengunyah perlahan.

“Putraku Lawe, lanang yang sesungguhnya. Lelaki sejati. Dan Dewa tak menciptakan lelaki semacam itu dua orang.

“Cukup seorang.

“Ketika Tarik masih tinggi dengan ilalang dan binatang buas, dialah yang pertama kali membersihkan. Ketika pertarungan dengan Raja Muda Jayakatwang, dialah yang pertama kali mengangkat pedang, membunyikan genderang perang. Ketika pasukan Tartar digempur, dialah yang maju paling depan tanpa gentar, tanpa menunggu orang lain ikut campur.

“Dia selalu berani.

“Berani berbuat apa yang terbaik menurut suara hatinya. “Itulah darah lelaki.

“Yang kuturunkan padanya.

“Itu sebabnya ia berteriak gusar tatkala Nambi diangkat menjadi mahapatih. Ia tak menghendaki untuk dirinya sendiri. Ia menghendaki yang lebih berhak. Yaitu Sora.

“Semua mengetahui bahwa yang dikatakan putraku yang benar.

“Orang yang buta, tuli, lumpuh pun mengetahui dan membenarkan. Akan tetapi, ia bicara seperti itu di depan seorang raja. Raja yang baru. Yang dulunya bersama-sama menebas ilalang dan mengangkat pedang.

“Putraku salah. “Putraku disalahkan.

“Karena tak mengenal tata krama, tak mengenal unggah-ungguh, tak membedakan bicara dengan siapa. Padahal apa sebenarnya tata krama itu? “Bagi kami dari tlatah Madura, mengatakan kebenaran itulah tata krama. Itulah budi pekerti. Itulah jiwa mulia.

“Kalau putraku dianggap mursal, dianggap kurang ajar, barangkali ada benarnya karena dilihat dari tata krama di tanah Jawa. Tapi kenapa mereka yang di tanah Jawa ini tak sedikit pun mau melihat tata krama Madura?

“Apakah Madura bukan tanah? “Apakah Madura tak punya tata krama?

“Kalau tak punya, kenapa bisa membangun Tarik? Kenapa bisa merebut Singasari?” Upasara hanya mendengar sebagian.

Hawa dingin yang menusuk makin tak tertahankan. Giginya gemeretak, keringat dinginnya mengucur. Sedemikian hebat rasa sakit sehingga Upasara menggelinding. Tubuhnya terbanting dan melengkung kaku.

“Setua ini, aku menelusuri jalanan. Mencari jawaban. Apa sebenarnya tata krama itu? Apa yang membedakan seorang bekas teman perjuangan untuk mendengar nasihat yang benar?

“Kutelusuri jalanan. “Kutelusuri pinggir sungai.

“Kudengar Sora, paman putraku yang juga gagah berani, mati karena kraman. “Wahai, Dewa, apa yang sebenarnya terjadi?

“Apakah perbedaan tata krama harus diartikan kraman. Kenapa bukan Lawe putraku yang memakai takhta sehingga manusia di tanah Jawa ini mengenal tata krama, unggah-ungguh kami? Dan kami yang ganti menghukum mereka?

“Dewa tak menjawab apa-apa. “Hingga kakiku pegal.

“Hingga kutemukan kamu. Ksatria lelananging jagat bagai anjing, menggeletak tak bergerak. “Hanya seperti inikah ksatria hebat tanah Jawa itu?”

Merasa makin sesak napas Upasara, secara tidak sadar tenaga penolakan muncul. Melawan, dalam penyerahan. Pasrah sebagai bentuk perlawanan.

Dibiarkannya rasa sakit yang terus menusuk-nusuk, dinikmatinya rasa sakit dengan pemusatan pikiran sepenuhnya. Gigitan rasa sakit makin meninggi.

Makin menusuk.

Sampai akhirnya Upasara merasa tak sadar. Tak merasakan apa-apa. Tetapi dengan begitu pikirannya menjadi jernih. Tubuhnya yang lemas bisa digerakkan seperti apa maunya. Bungkahan dingin yang membeset seluruh sarafnya yang begitu peka mencair bagai udara.

Eyang Wiraraja melihat perubahan.

Dari sekujur tubuh Upasara seperti mengeluarkan asap, bau, yang jernih. Tidak wangi. Tidak busuk. Bersih, jernih, segar. Kesejukan yang menyentuh.

“Apa yang kamu lakukan?”

Upasara mengikuti arah pikirannya. Melambung, lepas, seperti berada dalam lamunan. Jalan pikirannya bisa digerakkan ke mana ia mengerahkan. Tangan dan tubuhnya menjadi sangat ringan.

Belum sepenanak nasi, Upasara merasa tubuhnya menjadi segar bugar. Dadanya longgar, “Kukira kamu Bejujag….”

Terdengar suara halus.

Eyang Wiraraja menggeleng. Karena seperti melihat seorang wanita, akan tetapi pada saat betul-betul diperhatikan bayangan itu lenyap. Samar.

Upasara kembali duduk.

Bibirnya menyunggingkan senyuman. Tangan kanannya tergeletak di paha, sementara tangan kirinya terangkat perlahan. Bergerak ke depan.

“Kiranya memang kamu.”

Upasara kali ini benar-benar tersenyum. “Kiranya benar-benar kamu, Bejujag….”

“Hamba yang rendah bernama Upasara Wulung. Sama sekali bukan bayangan, dan bukan apa-apa dibandingkan dengan Eyang Sepuh. Memang bagian pernapasan ini diajarkan oleh Eyang Sepuh dalam Tumbal Bantala Parwa, akan tetapi hamba tak becus mempelajari. Mohon petunjuk Eyang Putri….”

Karena tidak mengenal siapa tokoh yang dihadapi, Upasara menyebut dengan panggilan Eyang Putri. Suatu tanda memberi hormat yang dalam.

Karena Upasara yakin hanya tokoh yang mengenal Eyang Sepuh secara pribadi yang berani memanggil dengan sebutan Bejujag.

“Saya yang menjadikan ilmu itu sempurna.

“Saya tahu kamu Upasara Wulung atau celeng nggoteng yang lain. Tetapi kamu sesungguhnya Bejujag. Bejujag menjadi ada ketika ia tiada.

“Pantas ia terus moksa, karena telah menemukan kamu. “Bejujag, sungguh beruntung nasibmu dari kita semua.”

Eyang Putri yang tiada lain Putri Pulangsih memandang tajam ke arah Upasara. “Kepasrahanmu sungguh luar biasa, anak muda.

“Penderitaan batin apa yang membuat kamu begitu rumangsuk, begitu meresapi?” Dua kalimat yang membuat Upasara bergidik karenanya.

Pertama, meskipun ia disebut sebagai celeng atau babi hutan dan bukan banteng, tapi sangat jelas dikatakan sebagai pewaris ilmu Eyang Sepuh.

Memang Upasara sendiri merasakan mukjizat.