Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 40 (Tamat)

Jilid 40 (Tamat)

Gabungan antara gerakan Gendhuk Tri, yang secara jelas mewarisi ilmu Putri Pulangsih, dan gerakan dasar Maha Singanada, menunjukkan bukti hubungan daya asmara di belakang penciptaan.

Begitu kedua ilmu digabung, yang menyembul ke luar adalah kekuatan baru yang menakjubkan. Kekuatan yang mampu mengalahkan segala mara bahaya.

Mampu mengungguli ilmu yang selama ini secara mati-matian memaksa Halayudha berlatih.

Kenyataan inilah yang menjungkirbalikkan Halayudha. Jalan pikirannya menjadi kacau.

Justru pada saat itulah tiba-tiba ia teringat Guru. Teringat Paman Sepuh yang hidupnya begitu menderita. Yang dikhianati murid-muridnya sendiri, yang dicelakakan, yang membuatnya menderita dan pedih sepanjang hidup.

Loncatan pikiran ke arah penderitaan gurunya, selama ini tak mempunyai arti apa-apa bagi Halayudha.

Sebelumnya.

Tapi tidak setelah menyaksikan perpaduan gerakan Gendhuk Tri dan Maha Singanada. Apa yang ditemui adalah suatu kenyataan baru. Yang walaupun sudah terpikirkan, tetap membuatnya sangat terkejut. Keberhasilan perpaduan antara bumi dan air.

Sekarang ini, Halayudha masih bisa mengalahkan Gendhuk Tri maupun Singanada. Halayudha masih percaya diri mampu menundukkan mereka berdua, walau tidak semudah sebelumnya.

Baik karena penguasaan ilmu Gendhuk Tri-Singanada belum menyatu benar, maupun karena Halayudha percaya diri mempunyai siasat untuk merontokkan perpaduan itu.

Akan tetapi ini semua tak membantah kekuatan baru. Kekuatan yang bisa menundukkannya, suatu ketika. Kekuatan yang bisa meletup, berbenih dari perpaduan daya asmara.

Sesungguhnya, inilah yang menampar kesadaran Halayudha. Yang merasa akar pijakannya lepas.

Pada saat itu, sebersit pikiran ingat gurunya.

Pada saat itu pula, Kakek Berune yang kini memakai tubuh Nyai Demang sebagai perantara, menemukan jawaban yang sama.

Kakek Berune, Paman Sepuh, Eyang Sepuh, Mpu Raganata, maupun Putri Pulangsih adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup sezaman seperti mereka sekarang ini. Lebih dari itu mereka ditalikan oleh hubungan yang erat. Baik sebagai sesama prajurit Keraton Singasari dan pemuja Sri Baginda Raja Kertanegara, maupun sebagai sesama ksatria.

Ikatan batin yang lebih kuat terjalin karena sama-sama berharap kepada Putri Pulangsih.

Maka kemunculan Kakek Berune bisa langsung menyambung pembicaraan. “Kakek Berune, kalau mau mati, mati saja dengan tenang.”

Duka Itu Masih Menetes

SUARANYA lantang keras, akan tetapi menyentuh. “Apa kamu bilang?

“Aku baru mau mati setelah kalian semua melihat bahwa Pukulan Pu-Ni yang terbaik, dan Pulangsih mengakui itu.”

“Apa ada gunanya lagi?

“Bumi dan Air sudah bersatu. Bukan Pu-Ni dan Air, bukan yang lainnya.

Masihkah penasaran dan tak mau menerima?

“Bukankah Guru yang lebih penasaran karena Bumi yang diciptakan diakui sebagai milik orang lain?”

Sampai di sini Gendhuk Tri mengentakkan kakinya. “Jangan asal bicara, Halayudha.

“Tak nanti Eyang Sepuh mengakui ilmu orang lain.” Halayudha menggeleng.

Berulang.

“Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini.” “Ngawur!

“Sudah jelas kamu yang mencuri kitab pusaka warisanku.” Halayudha tersenyum.

Bagai seringai kesakitan.

Seakan duka abadi masih menetes dari napasnya.

“Gendhuk Tri, ambillah Kitab Air yang dibawa Sidateka. Entah kenapa bisa disalin oleh pendeta dari Syangka yang sembrono itu. Bawalah semuanya. Kamu berhak mendapatkannya.

“Tak ada gunanya lagi bagiku.” Bahkan Singanada yang biasa berterus terang merasa aneh dengan perubahan sikap Halayudha yang berbalik.

Gendhuk Tri sempat bertanya-tanya apakah Halayudha sedang menyusun siasat kotor.

“Ambil kembali. Selama ini kusimpan di tempat pakaian kotor, yang tak bisa diendus Sidateka.

“Gabungkan agar kalian meneruskan keinginan yang tak terlaksana. “Meskipun itu membuat Guru sakit hati selamanya.

“Juga di tempat Guru bertemu para Dewa.” Halayudha berbalik setelah mengangguk. “Tunggu!”

Nyai Demang maju setindak.

“Bintulu, kamu sudah menyerah kalah?

“Kamu sudah mengundurkan diri? Baik, baik. Kini giliranku.”

“Bapa Guru jauh lebih tenang dan bahagia daripada Kakek yang masih penasaran.”

Tangan Halayudha mengedut dan dua tombak prajurit di sampingnya bisa diraup sempurna untuk dilontarkan ke arah Nyai Demang.

Yang dengan dingin menangkap. Tombak itu retak.

Berkeping-keping.

Jatuh ke samping.

Dua kali Halayudha menjajal, hasilnya sama saja. Halayudha menoleh ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

“Itu adalah tugas kalian berdua, kalau ingin memulihkan Kakek Berune. Aku tak ada urusan lagi.”

Halayudha mengibaskan tangannya.

Tubuhnya melesat ke arah luar Keraton. Sedemikian cepatnya sehingga Singanada menggerung keras, dan kantar-nya terlontar. Karena menduga Halayudha melakukan gerakan menyerang.

Tombak pendek itu meluncur tepat.

Halayudha hanya menggerakkan tangannya pendek, dan kantar itu terlontar kembali.

Amblas ke kori butulan. Sehingga mengunci.

Tenaga kibasan yang luar biasa hebatnya. Tenaga yang sama yang ditujukan kepada Nyai Demang. Yang berhasil dipatahkan dengan gampang.

Singanada memandang ragu ke arah Gendhuk Tri. Keduanya berpandangan.

Menghela napas bersamaan.

Apa yang baru saja terjadi menyingkap banyak persoalan dalam hati masing- masing.

Gendhuk Tri membenarkan semua kalimat Halayudha. Termasuk bagian di mana perpaduan antara jurusnya dan jurus Singanada yang menjadi sakti.

Ketika masih menyerang sendiri-sendiri, Halayudha seakan bisa mempermainkan. Bisa membuat seolah latihan di mana Halayudha memberi petunjuk.

Namun begitu berubah perasaan hati mereka berdua, serta-merta Halayudha bisa terjerat.

Terkena lilitan selendang. Padahal kalau dilihat dari kemampuannya, tak mungkin Halayudha bisa tersudutkan dalam pertarungan.

Yang membuat Gendhuk Tri menjadi risau dan gamang ialah kenyataan bahwa ia menyadari perasaannya ketika harus sama-sama menggempur tadi. Perasaan kepada Singanada, seperti rasa kuatir, rasa membela, dan rela mengorbankan diri.

Hal yang kurang-lebih juga dirasakan oleh Singanada.

Hanya pada dirinya hal itu tidak begitu masalah. Karena merasa sejak sebelumnya ia menyukai Gendhuk Tri dan Gendhuk Tri menyukainya.

Tak ada pikiran lain.

Tak ada kerisauan seperti yang dirasakan Gendhuk Tri.

“Mari kita ambil kitab pusaka itu, dan kita menyingkir dari tempat ini.” Gendhuk Tri masih berdiri terpaku.

Nyai Demang memandang kiri-kanan. “Di mana kamu, Dodot Bintulu?”

Perlahan-lahan tubuhnya bergerak, melaju ke depan, seakan gerakan yang limbung. Seolah beban di tubuh Nyai Demang begitu berat, atau kakinya tak begitu kuat.

“Kenapa tidak ditolong?”

Suara Cebol Jinalaya menjebol perhatian Gendhuk Tri. “Tidak sekarang ini.

“Lebih mungkin membahayakan kami dan Nyai….” Cebol Jinalaya mengangguk-angguk.

“Kalau begitu saya saja. Saya biasa mengantarkan orang menjelang ajal….” Dua langkah kaki Cebol Jinalaya bergerak, Gendhuk Tri menarik kembali dengan selendangnya. Lalu bersama dengan Singanada melangkah ke bagian samping, menuju ke tempat kediaman Halayudha.

“Maaf, Senopati Campa, bolehkah aku yang tua ini mengenalmu?” Singanada berbalik.

“Bukankah sekarang sudah mengenal?”

“Namaku Brahma. Aku dulu utusan Baginda Raja yang sama-sama dengan Senopati Muda ke tanah Campa….”

“Itu kedua orangtua ku.

“Aku tak mau membicarakan itu. Maaf.”

“Apakah orangtua Senopati bernama Mapanji Wipaksa?” Jari-jari Singanada saling beradu.

Gerahamnya beradu, menimbulkan suara keras. Pandangan matanya tajam menusuk.

Gendhuk Tri bergidik karenanya.

Tak pernah ia mengetahui bahwa Singanada bisa berubah sama sekali.

Selama ini ia bertanya-tanya dalam hati, dari mana asal-usul Maha Singanada. Yang diketahui hanyalah sepotong kecil: ia salah seorang putra senopati yang diutus ke tanah Campa untuk mengantarkan putri Keraton yang bernama Dyah Ayu Tapasi.

“Jangan paksa aku bertindak kasar.”

Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. “Rasanya aku mengenali.

“Tapi kalau Senopati Muda tak mau membicarakan, aku minta maaf. “Maaf….”

Suara Senopati Agung Brahma menjadi sangat berat. Wajahnya menunduk.

Kedua bahunya menggunduk.

Beberapa kali kepalanya menggeleng lemah. Seakan mengusir bayangan yang ganjil dan tak bisa dilepaskan seketika.

Maha Singanada sendiri berubah sikapnya.

Pandangan matanya menatap kosong. Gerahamnya beradu. Tangannya kaku.

Langkahnya tak menentu.

“Kenapa kamu begitu kasar kepada orang yang lebih tua?” “Aku tak mau kamu campur tangan urusanku.”

Gendhuk Tri mundur setindak. Singanada menatap tajam.

Mendadak berbalik.

“Senopati Brahma, aku datang untuk membunuhmu. “Bersiaplah.”

Singanada ternyata tidak main-main. Ia mengambil sikap sempurna. Kedua tangannya bersiaga, membentuk sembah, lalu berubah dalam keadaan siap menyerang.

Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. Disertai helaan napas berat.

“Sudah lama aku mengubur semua yang berlalu. “Kalau hari ini aku melangkah kemari, aku tak menduga bakal menemukan begitu banyak yang telah kulupakan.

“Ah, ada sesuatu yang tak bisa mati dan dikubur.”

Melihat gelagat, Mahapatih Nambi memberi isyarat dan semua prajurit serta para senopati bersiaga membela Senopati Agung.

Kidungan Masa Silam

GENDHUK TRI tegak, tak segera bereaksi.

Justru pada saat Singanada bersiap menghadapi Senopati Agung yang dikelilingi semua senopati Keraton yang ada, Gendhuk Tri termenung.

Beberapa bayangan berkelebat dalam angannya secara tak teratur.

Dalam waktu yang singkat beberapa hal terjadi dan berubah dari yang telah dikenalnya.

Yang paling mencolok ialah perubahan Halayudha. Senopati licik yang dimusuhi Upasara—lagi-lagi Upasara, yang tak pernah merasa dendam pada seseorang, tiba-tiba saja kelihatan ganjil perangainya.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Apa pun penyebabnya, perubahan itu kelewat mengejutkan. Yang juga membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hatinya ialah seolah Halayudha sendiri tak menyadari sepenuhnya. Seakan ada kekuatan lain yang membuatnya berbuat berbeda dari biasanya.

Keadaan yang sekarang dialami oleh Singanada.

Selama hari-hari terakhir ia mengenalnya, Singanada adalah ksatria yang terbuka, lelaki yang bicara terus terang dan agak sembrono, tidak begitu memedulikan tata krama. Akan tetapi, dengan satu pertanyaan dari Senopati Agung saja, seakan menjadi pribadi yang lain.

Ada apa sebenarnya di balik ini semua? Jawabannya adalah masa lampau. Kidungan yang terdengar sebelumnya, yang masing-masing mengalami sebagai sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain.

Sekurangnya begitulah jalan pikiran Gendhuk Tri mengenai diri Singanada. Dibandingkan dengan dirinya sendiri, Gendhuk Tri tak pernah merasa bahwa

Singanada mempunyai alasan untuk gusar besar. Apalah artinya disebutkan siapa

nama orangtuanya. Yang bahkan Gendhuk Tri pun tetap tak mengenalnya. Selain nama yang disebutkan sebagai senopati sabrang yang dikirim ke negeri Campa. Seperti juga senopati  sabrang lainnya.

Dengan duka dan derita yang pasti dialami. Kalaupun sesuatu yang mengerikan, Gendhuk Tri kurang yakin hal ini, tak perlu membuat kalap.

Gendhuk Tri tak pernah merasa risau dengan dirinya, ia bahkan tak mengetahui siapa kedua orangtuanya. Yang diketahui hanyalah sejak kecil ia diselamatkan seseorang—bisa saja Jagaddhita, bisa pula Empu Raganata— dari kemungkinan menjadi selir kesekian ratus Sri Baginda Raja. Ia bahkan belajar ilmu silat tanpa mengenai nama ilmu silat yang dipelajari, sebelumnya.

Upasara—tidak adakah contoh lain, Gendhuk Tri?—juga tidak mengenai siapa kedua orangtuanya. Selain sedikit petunjuk bahwa ia berasal dari Ksatria Pingitan. Yang sangat mungkin sekali masih mempunyai darah Keraton.

Kalaupun tidak, kalaupun mereka ini dilahirkan sebagai kelompok paminggir, kelompok yang asal-usulnya tak diperhitungkan dalam tata masyarakat, apa salahnya?

Gendhuk Tri masih berdiri mematung. Pergelutan pikirannya masih belum selesai.

Selain masalah masa lampau, pikiran Gendhuk Tri juga dipenuhi dengan berbagai kemungkinan dari pengaruh ilmu silat. Selama ini ia asal mempelajari saja, dan langsung terjun ke medan pertarungan yang ada. Tanpa peduli apa-apa. Di masa lalu ia pernah memutuskan telinga Mpu Ugrawe yang kesohor, pernah berhadapan dengan saudara seperguruannya yang bernama Halayudha. Pernah kerasukan darah yang sangat beracun.

Semua dijalani dengan menggelinding saja. Akan tetapi kenyataan demi kenyataan baru memaksanya berpikir. Sejak kemunculan Putri Pulangsih yang “antara ada dan tiada” yang bisa manjing ajur ajer dalam pengertian yang tinggi, Gendhuk Tri tergugah hatinya.

Bahwa sesungguhnya ilmu silat yang dipelajari bukan hanya membentuk dirinya menjadi bisa berjumpalitan atau mengerahkan tenaga dalam. Akibatnya yang lebih langsung justru lebih hebat dari itu.

Yaitu perubahan dalam diri seseorang. Pembentukan watak.

Bukan sesuatu yang sama sekali baru. Namun baru pertama kali Gendhuk Tri menyadari secara dalam.

Pengaruh dalam watak inilah yang dulu menyebabkan Upasara Wulung— aaaah!—memusnahkan ilmu silatnya. Pengaruh Kitab Bumi yang tak akan terpahami sepenuhnya. Hal yang sama, yang mungkin sekali terjadi pada diri Halayudha!

Pada satu tingkat tertentu, jalan pikirannya menjadi berbalik.

Mendadak saja Halayudha mengetahui kesengsaraan gurunya. Merasakan kepedihannya.

Pada satu tingkat tertentu, Kakek Berune masih menitipkan keinginan pada tubuh Nyai Demang. Sementara tubuhnya sendiri sudah tidak memungkinkan.

Dilihat dari hal ini, Gendhuk Tri bisa menangkap dengan jelas perbedaan apa yang dicapai para pendekar sejati. Eyang Sepuh, seperti juga Putri Pulangsih, telah berada pada tingkat moksa, bisa lenyap seluruh raganya. Meskipun masih tergoda untuk muncul kembali.

Sementara Kakek Berune, yang dikatakan melalui jalan agak sesat, menghadirkan dirinya kembali melalui raga orang lain.

Lalu kalau benar ini pengaruh ilmu silat, apa yang tengah terjadi dengan Singanada?

Lelaki gagah yang membuka mata hatinya sebagai wanita. Gendhuk Tri tak mampu meneruskan pertanyaan karena mendengar suara Senopati Sepuh yang berat. “Saya minta para senopati yang lain mundur.

“Ini tantangan seorang ksatria kepada ksatria yang lain. Tak ada hubungannya dengan Keraton atau takhta.

“Saya minta semua saja mundur….” Mahapatih Nambi mundur selangkah. Diikuti para senopati yang lain.

Senopati Agung menunggu sesaat.

Mahapatih Nambi mundur lagi. Lima langkah. Diikuti oleh yang lainnya.

“Aku sudah bersiap, Singanada.”

“Bagus. Aku sudah bersumpah, siapa pun yang menyebut nama orangtua ku harus mati di tanganku.”

“Aku sudah menyebutnya. “Bunuhlah kalau bisa.

“Hanya perlu kamu ketahui, anak muda, aku menyebut bahwa aku mengenalnya. Karena kami sama-sama berangkat pada hari yang sama ketika rembulan masih tersisa. Melalui lautan yang sama, menghirup angin yang sama.”

“Aku tak peduli itu.”

Senopati Agung mengentakkan kakinya.

“Aku tahu, bapakmu keras kepala seperti kamu. “Tak salah lagi.

“Aku iri dengan keberaniannya.” Tubuh Singanada tergetar. Diiringi oleh jeritan mengaum, tubuhnya meloncat ke depan. Kelebatan bayangannya menuju arah depan, tapi seketika berubah di delapan arah yang berbeda, sebelum akhirnya menerjang maju.

Senopati Agung memperdengarkan suara nyaring yang sama.

Kakinya menjejak tanah, dan meloncat ke arah bayangan Singanada. Mengikuti gerakan tubuh Singanada. Seakan wilayah udara yang dikuasai dengan cepat direbut kembali. Ke arah mana Singanada berkelebat, ke arah itu pula Senopati Agung memburu.

Dalam sekejap keduanya seperti main kejar-kejaran.

Diseling dengan berbenturan di tengah, saling mengadu telapak tangan, kaki, yang cukup keras.

“Nawawidha.”

Gendhuk Tri menarik kepalanya sedikit. Teriakan Nawawidha kali ini justru diucapkan oleh Senopati Agung! Bukan oleh Singanada yang sejak pertama dikenal mempunyai cara bernapas melipat gandakan sembilan kali.

Singanada menggerung keras.

Tubuhnya menggeliat, memutar, dan menerkam Senopati Agung. Yang terpaksa meloncat ke samping, untuk kemudian membuang diri ke arah dinding.

Singanada mengejar. Hinggap di dinding.

Keduanya terlempar ke dalam.

Kembali ke dalam halaman prameswaren.

Seperti diketahui tadi mereka sudah berada di halaman depan, melewati pintu kecil. Karena pintu itu ditutup paksa, sekarang keduanya melewati bagian atas.

Mahapatih Nambi tidak berdiam diri begitu saja. Tubuhnya melayang ke atas, melompat dinding pembatas. Meskipun ia dilarang Senopati Agung turun tangan, tak mungkin berpangku tangan kalau keadaan membahayakan.

Gendhuk Tri mendongak ke atas.

Sekejap ia ragu. Menyusul ke balik dinding atau menunggu.

Sekejap berikutnya, ia melihat satu bayangan berkelebat datang dari halaman, disusul bayangan berikutnya.

Singanada dan Senopati Agung sudah kembali ke tempat semula. Dan melanjutkan pertarungan.

Tubuh Mahapatih Nambi pun melompat kembali. Justru pada saat itu Singanada dan Senopati Agung melompat secara bersamaan ke balik dinding.

Raja Tanpa Takhta

TUBUH Mahapatih berada di halaman prameswaren, ketika Singanada dan Senopati Agung di luar. Begitu juga sebaliknya. Sehingga sekilas seperti permainan petak umpet yang menggelikan.

Namun para senopati yang lain menyadari bahwa yang sedang terjadi bukan hanya permainan yang menggelikan. Bukan hanya Mahapatih yang ternyata tak bisa menebak arah pertarungan. Melainkan pertarungan dua ilmu yang senada. Dua ilmu yang sejak lama tak bisa disaksikan.

Senopati Agung selama ini tenggelam dalam kebesaran para senopati yang lain. Kedudukannya tidak memungkinkan dirinya tampil sebagai ksatria yang memainkan ilmu silatnya.

Baru sekarang ini muncul.

Itu pun bukan awal yang menguntungkan.

Karena sudah langsung menghadapi Pendeta Sidateka, dan kemudian munculnya Halayudha secara meyakinkan. Sehingga tokoh terhormat yang tersembunyi seakan makin tenggelam. Dengan pemunculan Singanada, baru ketahuan bahwa Senopati Agung tetap ksatria yang berilmu tinggi. Karena para senopati sudah pernah menyaksikan kelebihan Singanada. Dan kini Senopati Agung mampu mengimbangi dengan baik. Malahan beberapa kali mendiktekan jurus-jurus yang dimainkan.

Pada usia setinggi itu, kemampuan Senopati Agung menimbulkan kekaguman. Apalagi kalau dilihat bahwa selama ini seperti tak pernah berlatih atau memunculkan ilmunya.

Sementara di halaman terjadi pertarungan, di dalam Keraton terjadi sesuatu yang tak diduga-duga.

Halayudha ternyata melesat masuk ke dalam Keraton. Dengan gagah dan bertolak pinggang, tubuhnya melangkah lebar. Prajurit kawal pribadi Raja disingkirkan dengan sekali menggerakkan telapak tangannya.

Dengan tetap berdiri gagah, Halayudha berdiri di depan kamar peraduan Baginda.

“Sanggrama Wijaya, raja tanpa takhta, raja tanpa kebesaran matahari, apakah masih melanjutkan mimpi yang indah dalam dekapan wanita-wanita ayu?

Suaranya betul-betul mengejutkan siapa pun yang mendengarkan. Nada suaranya begitu tinggi.

“Apa yang kamu lakukan, Sanggrama Wijaya? Memerintahkan para istri memijati kakimu yang tak digunakan melangkah? Memerintah dupa wangi mengasapi rambutmu?”

Semua prajurit kawal pribadi Raja berdiri siap. Dengan senjata dan keinginan untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan udara yang diisap oleh Halayudha.

Sebagian sudah melarikan diri ke depan, untuk melaporkan kepada Mahapatih Nambi dan para senopati yang lain.

Akan tetapi Halayudha seakan tak peduli.

“Ingsun masih tetap raja, memegang tampuk pemerintahan tertinggi. Ingsun masih matahari yang tertinggi. “Siapa bermulut lancang membusuk di depan pintu?” Suara Baginda tetap mengguntur.

Nada dan wibawanya mengalahkan apa saja yang berada dalam ruangan sekitar.

“Benarkah kamu masih memiliki takhta?

“Benarkah kamu masih setinggi matahari? Jangan-jangan itu hanya mimpimu yang terindah saat ini.

“Sanggrama, kamu bukan raja.

“Kamu tak memiliki takhta kewibawaan. Tak memegang matahari. Kamu tak berbeda dari Nambi, menjadi mahapatih telanjang. Tak beda dari Kala Gemet, putra mahkota yang mengejar gadis lajang. Apa yang akan kamu persembahkan kepada Dewa?

“Apa yang membuatmu merasa sama gagah dengan takhta yang dikenakan Baginda Raja Sri Kertanegara?”

Mendadak pintu kamar peraduan membuka keras. Dibanting dengan tenaga dalam yang besar.

Baginda menapak maju dua tindak. “Ingsun di sini….”

Kegagahan dan kewibawaan masih terserap dengan jelas. Bukan hanya dari penyebutan diri sebagai ingsun, akan tetapi juga memancar dari semua lubang kulit.

“Kamu di situ, Sanggrama. “Semua tahu.

“Kamu menjadi raja. “Semua tahu. “Tapi apa yang kamu lakukan selama ini? Sibuk dengan permaisurimu yang banyak, membiarkan senopati bertarung tak mematuhi perintahmu.

“Itukah perbuatan seorang raja, wakil para Dewa?”

Dengan satu tarikan napas atau satu kedipan mata, Baginda bisa membuat seluruh prajurit dan senopati yang ada bergerak serentak. Sakti seperti apa pun, Halayudha akan dibuat repot karenanya. Apalagi para prajurit dan senopati ini, seluruhnya, akan menyerang tanpa memperhitungkan keselamatan dirinya.

Sepuluh prajurit terbunuh tapi bisa melukai Halayudha sudah lebih dari

cukup.

Karena tugas utama mengawal dan mengamankan Baginda.

“Begitu banyak kitab bagus, tapi kamu bercengkerama. Begitu banyak ilmu sakti mandraguna, tapi kamu membuatnya tak bermakna. Begitu banyak kawicaksanan bisa kamu lakukan, tapi kamu bekukan?”

“Apakah masih berani kamu melihat leluhurmu?” Wajah Baginda merah seketika.

Gerahamnya beradu. Giginya bersentuhan. Pandangannya menyala.

“Setan busuk mana yang menelan rohmu, hai, kawula alit?” Halayudha mendongak.

“Setan busuk mana lagi kalau bukan tetesan kawicaksanan, kebijakan, Baginda Raja yang tanpa tanding di seluruh jagat ini?

“Baginda Raja yang menguasai takhta. Yang mengarungi semua samudra, mendaki semua gunung, mengurung semua lembah yang diciptakan Dewa?

“Raja segala raja yang pernah ada. “Takhta terbesar dari semua takhta yang ada.

“Wijaya, mimpi apa kamu selama ini? Bertakhta dan menikmati kehidupan seperti prajurit kecil yang memenangkan pertarungan. Mendapat kenaikan pangkat dan hidup bersenang-senang.

“Alangkah menyedihkan. “Alangkah kerdilnya.

“Bagaimana mungkin yang begini ini mengaku turunan Singasari?”

Dalam telinga semua prajurit, dentuman halilintar di siang hari tak lebih mengerikan dibandingkan apa yang diucapkan Halayudha sekarang ini.

Setan paling busuk yang sedang mabuk pun tak akan mengucapkan kalimat sekasar dan sehina ini.

Bahwa berdiri di depan Raja saja, merupakan dosa yang tak bisa terampuni selama tujuh turunan. Apalagi dilakukan seorang senopati!

Langit dan bumi serta seluruh isinya tak bisa untuk menebus kesalahan ini. Apalagi bertolak pinggang dan mengeluarkan kata-kata lancang.

Dunia seperti dibalik-balik, dengan matahari muncul dari arah barat menuju

utara.

Yang lebih aneh lagi, Baginda justru terdiam.

Jelas terasakan kegusaran yang tinggi, akan tetapi tarikan napas dan suaranya masih tetap menunjukkan kelebihan yang utama.

“Apa yang kamu inginkan, Halayudha?”

“Saya ingin mengabdi raja yang raja. Raja yang menguasai jagat.

“Raja yang duduk sejajar dengan para Dewa, yang memegang matahari di tangannya tanpa merasa panas.”

“Apa yang dilakukan raja seperti itu?” “Membuang abu dupa.

“Mengangkat senjata, membunyikan terompet, mengarungi seluruh jagat.

Menaklukkan jagat.”

“Apa itu semuanya?”

“Raja yang dari tarikan napasnya lahir karya-karya terbesar yang pernah ada. Yang mengumpulkan semua kitab yang pernah ditulis manusia. Yang mengajarkan ilmu kanuragan seluruh jagat. Yang melihat ada gunung dan sungai seberang yang bisa dikuasai. Yang tidak memberikan tempat bagi anak-cucu dan keturunannya mengalahkan semua. Yang membuat perahu besar agar cucunya berlayar. Yang membuat gunung tinggi agar cucunya menggenggam matahari.”

“Apa itu pernah dilakukan?”

“Itu yang dipersembahkan kepada para Dewa.

“Semua tanah, air, batu, rumput, semut menjadi saksi. Kebesaran yang tiada tara di kelak kemudian hari, dibangkitkan mulai hari ini.

“Itulah takhta yang sesungguhnya. “Itulah ajaran hidup.”

“Semua sudah lewat.” “Tak ada yang lewat!” “Waktu berubah.”

“Kebesaran tidak berubah bersama waktu.” “Keadaan hari ini tidak sama dengan kemarin.”

“Kebesaran, keluhuran, kawikcasanan selalu abadi, sampai saat para Dewa menyatu dengan manusia.”

Kidungan Para Raja BAGINDA menggerakkan jari kanan mengelus alis.

Halayudha masih memandang secara langsung. “Tembangkan kidungan itu.

“Seberapa jauh kamu mengetahui?”

Halayudha menjulurkan lidahnya. Suara dari hidungnya mendesis.

“Ingsun lebih mengetahui dari kamu yang mencuri baca kitab pusaka, Halayudha. Kamu tak akan pernah memahami.”

“Itu tandanya tak pernah dibaca dengan hati. “Itu tandanya tak ada rasa tuntas.”

Tubuh Halayudha tergetar hebat. Seolah kedinginan, menggigil. Bergoyang beberapa saat, lalu menunduk. Lututnya tertekuk. Ambruk.

Kepalanya condong ke depan. Perlahan dahinya menyentuh lantai.

Seiring dengan itu terdengar kidungan yang lembut, perlahan, seperti desiran angin menggoyang ujung daun yang menguning tanpa merontokkan.

Aku raja dengan takhta

yang mencipta kidungan Dewa untuk para raja

sebab aku Kertanegara

hanya bisa bicara dengan sesama raja walau tanpa mahkota Raganata menyembah ujung kakiku melaporkan Kitab Bumi sudah selesai ia sudah tua, mau mati

tapi matanya tertutup hatinya redup

aku berkata padanya

untuk apa itu semua

kalau dibawa ke alam baka

Raganata menyembah ujung kakiku melaporkan Kidung Paminggir sudah selesai aku katakan, aku sudah membaca

sebelum kidungan itu ditulis sebab akulah raja

sebab akulah Dewa kalau aku murka karena kidungan itu

tak bisa ditembangkan sembarangan hanya darah raja yang bisa sebab hanya Dewa yang punya matahari

ada banyak raja

juga yang tak punya takhta aku raja, punya takhta punya semuanya

jagat ini bakal kukuasai sebelum Dewa menyadari Singasari ini kayangan Tempat Dewa

Sebab di sini dituliskan Kidungan Para Raja

Yang menguasai jagat seluruhnya raja harus punya selaksa wanita untuk melayani siang dan malam raja harus punya lautan

untuk membasuh kakinya, siang dan malam raja harus punya keris

untuk menggaris

raja harus punya selaksa hutan untuk memelihara singa aduan raja harus memiliki matahari untuk mengalahkan Dewa

raja harus memiliki anak raja jumlahnya selaksa

kau mengerti apa, Raganata? kau tak berdarah raja

kau bicara apa, Raganata? kalau Dewa tak memilihmu

inilah Kidungan Para Raja raja segala raja

lahir dari Singasari ke seluruh jagat

tulislah kidungan apa saja tak akan mengimbangiku sebab aku raja

dengan takhta seperti Dewa yang melahirkan raja yang mengalahkan Dewa….

Suara Halayudha lembut mengalun, akan tetapi dada Baginda naik-turun karenanya. Setiap ujung suara beralun, setiap kali pula Baginda merasa perasaannya diremas-remas.

Kidungan Para Raja adalah kitab pusaka Keraton Singasari yang ditulis sendiri oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Menurut cerita yang didengarnya, Baginda Raja masih menuliskan di saat-saat terakhir, ketika prajurit Gelang-Gelang di bawah pimpinan Jayakatwang dan Senopati Ugrawe menyerbu masuk Keraton.

Sudah barang tentu Baginda mengerti dan pernah mendengar serta membaca sendiri kidungan itu. Karena merupakan kitab pusaka Keraton yang tiada tandingannya. Yang dikumpulkan bersama kitab-kitab utama yang ditulis oleh para raja.

Dari sekian ratus segala jenis kitab, kumpulan Kidungan Para Raja menempati tempat yang sangat terhormat. Boleh dikatakan tak ada angin yang bisa menjamah selain seorang raja.

Maka termasuk langka kalau Halayudha bisa membacanya.

Meskipun kalau dirunut, bukan sesuatu yang mustahil. Sewaktu Baginda belum menduduki takhta, keadaan tidak menentu. Terusirnya prajurit Kediri dan kemudian pertarungan terakhir dengan prajurit dari Tartar serta pemindahan pusat Keraton, sangat memungkinkan tangan lain memegang atau membuka.

Akan tetapi barangkali hanya Halayudha yang dengan jail mengintip baca. Dan kemudian menembangkan!

Bahwa kitab ilmu silat .saja dirahasiakan begitu rupa, dan masing-masing menganggap suci, bisa dimengerti betapa kaget Baginda mendengar Halayudha membaca Kidungan Para Raja.

Aku telah mengirimkan selaksa perahu menghitung jumlah air di laut biru aku telah mengirim selaksa senopati

menikam keris seluruh negeri

aku telah mengirimkan putri-putri meneruskan keturunan Singasari

aku telah menuliskan Kidungan Para Raja mengalahkan para Dewa

sebut negeri mana seberang macam apa

yang tak kudirikan panji kebesaranku jawabannya: tak ada

aku telah mengalahkan Dewa sebab aku telah menjadi Dewa aku telah mengalahkan semua raja sebab aku melahirkan selaksa raja

akulah raja, akulah takhta akulah Dewa akulah bumi dan air dan matahari dan semuanya

menyatu dalam Singasari

menyatu dari Sri Baginda Raja Kertanegara yang bersama

semesta

menciptakan semesta!

Di akhir kalimatnya, tubuh Halayudha seperti terangkat dari lantai. Melayang ke atas secara perlahan, hingga tinggal dahinya yang menyentuh lantai.

Dengan napas Baginda mengiringi gerakan perlahan, dan kini sempurnalah Halayudha melayang ke angkasa.

Tubuhnya, seluruhnya, tak menyentuh tanah. Menggantung di tengah udara.

Beberapa saat.

Sebelum akhirnya terbanting kembali. Dengan suara keras. Secepat itu pula, Halayudha meloncat bangkit. Bersamaan dengan itu pula para prajurit kawal pribadi menyerbu karena menduga Halayudha melakukan serangan.

Tamat Bagian I

Buku Selanjutnya : Senopati Pamungkas II