-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 32

Jilid 32

“Sebelum tengah malam, saya sudah harus tidak ada di dalam Keraton ini. Maka maafkan kalau saya tak bisa menemani lebih lama. Titip segala yang bisa Nyai lakukan untuk tanah tumpah darah ini.

“Untuk ini, saya yang tua tak berguna mengucapkan terima kasih yang dalam.” Nyai Demang terpana ketika Senopati Sora menyembah ke arahnya.

Maha Singa Marutma

SAMPAI Senopati Sora selesai memberi hormat, Nyai Demang masih tetap terbengong.

Siapa mengira dirinya akan menerima penghormatan seperti ini?

Sampai Senopati Sora membalikkan tubuh, baru sadar bahwa tak seharusnya dirinya bersikap kaku. Karena bingungnya, Nyai Demang berkata tergesa,

“Tidak… maaf… bukan… tapi, tapi saya… tunggu…” Senopati kembali membalikkan tubuhnya.

“Maaf, Senopati Sora. Kalau benar malam ini ada upacara pemberian gelar sebagai Pandya oleh pendeta dari Syangka, apakah berarti pendeta dari tanah Jawa kalah dan tak terpakai?”

“Kemauan dan kekuasaan seorang putra mahkota lebih penting daripada kesaktian.”

“Apakah ini tidak memancing pertengkaran di belakang hari?” “Atau sudah dimulai, Nyai?” Senopati Sora menunduk.

Nampak sekali penyesalan di wajahnya.

“Tidak seharusnya saya mengatakan seperti ini.” “Biar saya yang menanggung dosa.

“Saya tetap tak mengerti. Kenapa Bagus Kala Gemet begitu tergesa untuk menyiapkan diri, sementara Baginda masih memegang kekuasaan? Apakah karena ada Pendeta Syangka, dan mempunyai Senopati Maha Singanada yang diunggulkan?”

“Dan satu lagi yang sangat diunggulkan. Senopati Maha Singa Marutma yang perkasa. Yang seperti Pendeta Syangka, masih disimpan.”

“Marutma?” “Ya, Nyai.”

“Marutma… Martaban…?” “Nyai tahu hal itu.”

“Apa tidak salah dengar?”

“Itulah yang saya dengar. Dan saya lihat.” “Kalau benar begitu…”

Tanpa terasa Nyai Demang menggaruk-garuk rambutnya yang disanggul sempurna. Pandangannya nyalang.

Marutma atau biasa disebut dengan Martaban adalah suatu wilayah subur di tepi Sungai Saluen. Di sanalah berdiri Keraton Mon. Keraton yang aman dan damai, yang menjadi salah satu wilayah di mana Baginda Raja Sri Kertanegara mengibarkan panji-panji kekuasaan pemerintahannya.

Nyai Demang tahu persis bahwa banyak senopati unggul yang dikirimkan dari Keraton Singasari ke Keraton Mon. Seperti juga utusan yang dikirim ke tlatah Melayu. Bahkan boleh dikatakan rombongan senopati yang berangkat ke Keraton Mon lebih besar. Karena Keraton Mon sedang dikepung dua musuh yang berusaha menaklukkannya. Yaitu Keraton Sukothai atau Keraton Thai, serta Keraton Burma yang dikenal dengan barisan gajah putih.

Selama ini yang diketahui Nyai Demang hanya utusan ke tlatah Melayu yang pulang kembali membawa dua putri. Yang lainnya tidak diketahui sama sekali.

Baru dengan kemunculan Maha Singanada, Nyai Demang kemudian mengetahui adanya rombongan yang lain. Yaitu yang kembali dari Keraton Campa. Rombongan Maha Singanada-lah yang membawa putri Singasari bernama Putri Tapasi yang dipermaisurikan oleh Raja Jaya Singawarman Katelu, atau Ketiga.

Dan di luar itu ternyata masih ada lagi Maha Singa Marutma, utusan yang kembali dari Keraton Mon!

Bedanya dari utusan yang lain, kedua senopati ini langsung ditarik ke dalam rangkulan kekuasaan Putra Mahkota Kala Gemet. Ini yang agak aneh.

Karena rombongan Senopati Anabrang menyerahkan putri bawaannya kepada Baginda. Kalaupun kedatangan Senopati Maha Singanada dan Senopati Maha Singa Marutma berselisih waktu yang cukup lama, jelas bukan sowan, atau menghadap kepada Putra Mahkota.

Mereka tetap harus melapor, menyerahkan semua hasil yang dibawa kepada Baginda. Yang merupakan lanjutan pemerintahan Keraton Singasari semasa Baginda Raja Sri Kertanegara.

Tapi nyatanya lain.

Ini berarti ada satu usaha yang diam-diam dilakukan, tapi cukup kuat pengaruhnya dan berhasil.

Siapa lagi kalau bukan dari Pendeta Syangka, yang bahkan mempengaruhi Putra Mahkota untuk memakai gelaran Pandya?

Jelas dalam benak Nyai Demang, akan tetapi menggelisahkan di dalam hati. Keruwetan Keraton Majapahit  selama ini,  karena adanya seorang  bernama

Halayudha. Senopati Keraton yang sangat dipercaya oleh Baginda. Kalau kini Putra Mahkota juga didalangi oleh seorang pendeta, bisa dua kali bahaya.

Dalam belitan keruwetan yang luar biasa ini, secara kebetulan pula para jawara penjuru dunia datang untuk mengadu kesaktian. Bahkan juga ikut muncul Ratu Ayu dari negeri Turkana!

Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Mengibaskan jalan pikiran yang simpang-siur. “Apakah Baginda tidak mengetahui hal ini?” “Saya tidak tahu, Nyai.”

“Paman Senopati wajib memberitahukan.” “Permaisuri Indreswari telah menerima laporan.” “Oh!”

Ini berarti Putra Mahkota mempunyai kekuatan rangkap. Di satu pihak ia berhasil mengumpulkan para jago silat yang diangkat menjadi senopati, di lain pihak ia mendapatkan perlindungan dari Permaisuri Indreswari.

Yang bisa mempengaruhi Baginda.

Nyai Demang tak pernah lupa, bahwa Baginda sangat tunduk dan selalu mengiyakan apa yang menjadi permintaan Permaisuri yang datang dari Melayu. Kalau tidak begitu, pasti bukan Kala Gemet yang sejak kecil sudah ditunjuk sebagai ahli waris satu-satunya!

Dan ahli waris satu-satunya, sang putra mahkota ini, ingin mempercepat

proses!

Sungguh menyedihkan kedudukan Baginda.

Di satu pihak sangat disibukkan oleh senopati yang berebut dan menginginkan kedudukan mahapatih, sehingga terjadi saling pertikaian, di pihak lain, putra kandungnya sendiri mempersiapkan sesuatu yang bisa menjungkirbalikkan kedudukannya. Nyai Demang juga-bisa memperhitungkan, atau sedikitnya memperkirakan, bahwa jalan yang akan ditempuh Putra Mahkota pastilah bukan jalan yang berdarah.

Seperti Baginda dulu merebut kekuasaan dari tangan Raja Jayakatwang.

Seperti Raja Jayakatwang dulu merebut kekuasaan dari tangan Baginda Raja Sri Kertanegara.

Akan tetapi akibat yang ditimbulkan bisa lebih menghamburkan darah. Karena persiapan yang ditempuh Putra Mahkota bisa menjurus ke arah itu. Senopati, punggawa, prajurit yang tak disukai bisa disingkirkan begitu saja.

Seperti halnya Senopati Sora, yang tak mempunyai ambisi apa-apa. Seperti Rajadewi dan Tunggadewi yang masih kanak-kanak.

Semua jalan akan dilicin ratakan. Yang menghalangi akan disikat habis. “Senopati Sora… Paman…”

Suara Nyai Demang tertahan. Tak ada lagi bayangan orang lain.

Ia sendirian. Entah sejak kapan Senopati Sora meninggalkannya. Terbayang wajah duka seorang senopati utama, seorang prajurit sejati yang kecewa lahir dan batin.

Adalah Senopati Sora yang berjuang sejak awal. Sejak penyerbuan pertama ke Keraton Singasari (Daha) yang masih diduduki Raja Jayakatwang. Yang ikut menyabung nyawa mengusir pasukan Tartar. Adalah Senopati Sora yang dianggap sesepuh dan pantas menduduki jabatan mahapatih.

Justru dalam puncak pengabdiannya, Senopati Sora tetap merendah dan merasa tidak pantas dengan keunggulan jabatan itu. Ia menolak secara halus. Sehingga keponakannya, Adipati Lawe, menjadi geram, dan sesuai dengan darah panasnya, mengatakan secara terbuka.

Yang berlarut menjadi perang tanding dengan Senopati Anabrang. Dan tewas di tangan senopati itu. Yang kemudian tewas di tangannya.

Sebagai ksatria, Senopati Sora bersedia menanggung semua akibat yang diperbuatnya-walaupun itu bukan pembunuhan yang disengaja.

Hatinya lebih hancur lagi ketika Baginda tidak memberi hukuman dengan mencopot jabatannya atau menghukum mati. Senopati Sora hanya “dibuang” ke Keraton Dahanapura.

Mendampingi Putra Mahkota. Tetap berusaha mengabdi sebagai senopati utama yang menyerahkan dan mengerahkan seluruh pengabdiannya.

Yang justru ditendang dengan semena-mena oleh Putra Mahkota. Betapa hancur harga dirinya.

Betapa remuk batinnya tertimpa duka.

Inikah akhir seorang prajurit yang jujur, setia, yang memberikan seluruh pengabdiannya dengan jiwa dan raganya?

Nyai Demang merasa bahwa kehancuran jiwa Senopati Sora jauh lebih mengerikan daripada penderitaan yang disandangnya selama ini.

Jari Lentik Permaisuri Indreswari

NYAI DEMANG memberontak dalam hati.

Walau luas pandangannya yang jauh dalam mempertimbangkan, akan tetapi hati kecilnya terusik. Perlakuan terhadap Senopati Sora sangat menyedihkan.

Karena tak mungkin mengejar Senopati Sora, Nyai Demang berniat menerobos ke dalam kediaman Putra Mahkota. Untuk menjelaskan bahwa ada beberapa perkiraan yang keliru. Ada sesuatu yang tak pantas dilakukan terhadap Senopati Sora.

Memang terbersit juga pikiran untuk menghadap langsung Baginda Kertarajasa, akan tetapi itu pasti akan lebih sulit.

Dan ternyata tak begitu sulit untuk masuk ke dalam kediaman Putra Mahkota. Karena boleh dikatakan itu adalah pertemuan terbuka. Bahkan boleh dikatakan semua pembesar Keraton hadir. Mulai Mahapatih Nambi hingga para prajurit pengawal utama.

Untuk pertama kalinya Nyai Demang melihat Permaisuri Indreswari hadir dalam pertemuan. Malah bertindak sebagai penyelenggara.

“Kedatangan para senopati membesarkan hati kami. Ini membuktikan kesetiaan kepada Keraton, sampai turunan yang kemudian. Untuk ini semua, saya secara pribadi tak akan pernah melupakan.”

Suara Permaisuri Indreswari terdengar sedikit lebih lantang.

“Malam ini, secara resmi, Putra Mahkota Bagus Kala Gemet penerus utama dan satu-satunya, akan resmi memakai sebutan Sri Sundarapandya Adiswara.

“Mulai malam ini hanya itulah sebutan yang berlaku.” Semua yang hadir menghaturkan sembah.

Hormat dan khidmat.

Putra Mahkota yang duduk di kursi berukiran warna emas nampak mengangguk. Gerakan tangannya sama lembutnya dengan gerakan tangan ibundanya, ketika memberi aba-aba agar penghormatan dihentikan.

“Malam ini akan lebih sempurna kalau Putri Ayu Turkana menjadi salah seorang pendampingnya. Akan tetapi ternyata derajat dan pangkat putri mancanegara itu tak cukup bagus. Sehingga harus mendampingi seseorang yang tak jelas asal- usulnya.

“Tapi itu semua soal kecil, selama kalian semua, para senopati yang dipercaya oleh Keraton, hadir di sini.”

Suasana lengang.

Nyai Demang mencari-cari di mana Pendeta Syangka berada. Karena kini sampai kepada tata upacara memberi penghormatan kepada Sri Sundarapandya Adiswara. Satu demi satu para senopati maju ke depan. Diawali oleh Mahapatih Nambi, yang berjalan jongkok. Dari jarak beberapa meter, Mahapatih menunduk hormat ke arah telapak kaki Putra Mahkota.

Upacara berjalan cukup lama dan melelahkan bagi Nyai Demang yang berada di kejauhan.

Sementara itu, Permaisuri Indreswari memperhatikan satu demi satu. Seolah menghitung siapa yang datang dan siapa yang tidak. Siapa yang menunjukkan kesetiaan dan siapa yang menjadi pembangkang.

“Sora memang tidak mau datang.”

“Hamba sudah berusaha membujuknya, akan tetapi maaf, Gusti Permaisuri yang paling dicintai Baginda, senopati tua itu berkeras tak mau datang menghadap.”

Itulah suara Halayudha!

Satu-satunya manusia di jagat yang membuat Upasara bisa menaruh dendam. Bahkan terhadap Ugrawe yang jahat kelewat-lewat, Upasara sampai mengutarakan secara terbuka.

Bagaimana mungkin Halayudha bisa mengatakan bahwa Senopati Sora tidak mau menghadap kalau memang ia tidak diundang?

Dusta macam apa lagi ini?

Tangan Permaisuri Indreswari yang lentik menggapai ke arah Mahapatih Nambi. Yang segera mendekat dan menghaturkan sembah.

“Benar, Sora tidak mau datang?”

“Hamba tidak melihatnya, Gusti Permaisuri.” “Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?”

“Apa pun yang diperintahkan Baginda, hamba akan melaksanakan dengan seluruh jiwa dan raga hamba.”

“Apakah perlu menunggu perintah langsung?” Mahapatih menunduk, menyembah. Seluruh ruangan menjadi sunyi dan tegang.

Suara Permaisuri Indreswari maupun Mahapatih Nambi terdengar jelas.

“Kalau memang perlu titah langsung dari Baginda, kamu akan mendengar sebelum matahari terbit esok hari.

“Bisa dimengerti keraguanmu, Mahapatih, karena Baginda tak menghendaki adanya pertentangan di dalam. Akan tetapi pembangkangan secara terang-terangan ini tak bisa diampuni. Tak bisa dibiarkan tanpa penjelasan.”

Lalu Permaisuri Indreswari menoleh ke arah Halayudha. “Senopati mana lagi yang tidak hadir?”

“Semua hadir, Gusti Permaisuri.

“Kecuali Senopati Sora dan Senopati Muda Gajah Biru.” “Ini akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka.”

Nyai Demang tak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang permaisuri utama bisa begitu cepat mengambil keputusan. Dan merasa bahwa ia bisa menentukan kesetiaan seseorang. Kalaupun tidak baru saja bertemu, Nyai Demang tetap percaya bahwa Senopati Sora bukan pembangkang.

Darah Nyai Demang mendidih. Giginya gemeretuk.

Perutnya terasa mual setiap kali Permaisuri Indreswari bernapas. Mendadak ada tangan mencekal tangan Nyai Demang. Ketika Nyai Demang menoleh, hampir saja berseru kaget.

Karena dikiranya yang memegang tangannya adalah Upasara! Memang wajahnya mirip.

“Maha Singanada.” “Kita bertemu lagi, Nyai.

“Nyai tak usah terpengaruh. Saya juga baru bertemu dengan Senopati Sora.” “Lalu?”

“Ini bukan urusan kita.”

Nyai Demang menahan kedongkolan dalam hati.

Baru kini bisa jelas perbedaan antara Maha Singanada dan Upasara Wulung.

Kalau Upasara ada, tak akan mengatakan hal semacam itu.

Upasara lebih mulia. Lebih ksatria.

“Omonganku kasar, Nyai?” Nyai Demang berdiam.

“Aku bukan Upasara yang sedang menikmati malam pengantinnya.” Kasar, sembrono, tetapi ada benarnya!

Upasara masih menikmati wewangian pengantin. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Gendhuk Tri… Astaga, apakah ia masih beku di Kamandungan?

Suara Maha Singanada cukup keras, sehingga Permaisuri Indreswari menengok ke arahnya.

Nyai Demang bergidik. Ngeri.

Sebaliknya, Maha Singanada nampak tenang sekali. Tak terpengaruh sama

sekali.

“Siapa yang berani begitu kurang ajar berbicara sendiri?” “Saya.”

Sukma Nyai Demang benar-benar terbang. Sama sekali tak disangka bahwa Maha Singanada akan berbuat selancang dan sengawur itu.

“Kalau begitu, enyahlah kamu dari hadapanku.”

Suasana menjadi berubah seketika. Semua pandangan tertuju ke arah Maha Singanada.

“Mulai sekarang dan untuk selama-lamanya, aku tak sudi melihat bayanganmu.”

Maha Singanada berdiri. Tanpa menghaturkan sembah. Berjalan begitu saja, ketika tiba-tiba satu bayangan memaksanya berkelit menghindar.

“Siapa menyuruhmu berbuat begitu kurang ajar dan tak tahu aturan?” “Tak ada.”

“Kita selesaikan di luar.”

Maha Singanada mengangguk. Keduanya berkelebat pergi. Nyai Demang merasa kepalanya pening mendadak. Berturut-turut terjadi peristiwa yang berada di luar jangkauan pikirannya.

Mana mungkin pertarungan bisa terjadi hanya karena sikap yang begitu ugal- ugalan?

“Sidateka, selesaikan urusan di luar tanpa ribut-ribut.”

Yang disebut namanya segera menunduk, memberi hormat, dan melompat pergi. Sebat sekali gerakannya, meninggalkan kesiuran angin dingin.

Nyai Demang sadar bahwa yang disebut Sidateka adalah Pendeta Syangka!

Jadi pendeta dari Syangka itu sudah mempunyai nama sebuah desa di Keraton.

Desa Sidateka!

Berarti sudah cukup lama berada di dalam wilayah Keraton. Jalan pikiran Nyai Demang terputus ketika mendengar suara halus. “Lebih baik kamu menyerah. Hukumanmu bisa diperingan atas ampunan Gusti Permaisuri.”

Pangeran Jenang dari Campa

NYAI DEMANG menatap ke arah pembicara yang memberi peringatan padanya. Sosok tubuh yang sedikit kurus, dengan dagu mendongak. Tak bisa dibedakan dari senopati lain. Hanya saja gelang lengan yang dikenakan menunjukkan tingkat kebangsawanan yang tinggi.

Demikian juga kalung bersusun yang gemerlap.

Dengan bentuk sayap burung, besar dan bersusun makin lama makin kecil. Sesaat Nyai Demang merasa heran.

Tokoh dari mana lagi ini?

“Gusti Permaisuri, saya mohon ampunan atas kelakuan kasar wanita ini. Rasa- rasanya…”

Nyai Demang mendengus keras.

Langsung berdiri dengan gagah. Tatapan matanya menyorot tajam.

“Untuk apa minta ampunan kalau tidak melakukan kesalahan. Gusti Permaisuri, ampunan tak bisa saya terima.”

Suara lantang Nyai Demang lebih dikarenakan kegeraman atas sikap Permaisuri Indreswari dan Putra Mahkota. Ia bukannya tidak mengetahui bahwa bangsawan yang memamerkan kekayaannya ini berusaha melindunginya.

Namun Nyai Demang menangkap gelagat sinar yang tak senonoh dari pancaran mata lelaki bangsawan yang berusaha melindungi. Bagi wanita seperti Nyai Demang sangat mudah untuk menebak arti sorot mata lelaki.

Itu yang membuatnya lebih gondok.

“Siapa kamu, berani kurang ajar kepada Pangeran Jenang?” Suara Putra Mahkota terdengar mengguntur.

Pangeran Jenang mendongakkan wajahnya. Seakan mendapat kehormatan yang lebih tinggi.

“Kurang ajar atau tidak, apa urusannya?

“Di jagat ini begitu banyak pangeran, begitu banyak ratu berkeliaran, tak menentu apa maunya. Kalau semua pelarian masih menganggap harus tetap dihormati sebagai sesembahan, sampai bungkuk tubuh saya tak akan selesai penghormatan ini.”

Permaisuri Indreswari menuding murka.

Empat senopati utama langsung mengurung Nyai Demang.

Menunggu aba-aba. Satu gerakan lembut dari Permaisuri Indreswari, cukup untuk membuat Nyai Demang jadi cincangan.

Nyai Demang berdiri tegak. Tak membiarkan dirinya diringkus begitu saja. Hatinya cukup sadar bahwa kata-kata yang dilontarkan mampu membuat Permaisuri Indreswari mencincang sampai lumat!

Memang begitulah sesungguhnya!

Apa yang dikatakan Nyai Demang seolah melempar kotoran busuk ke wajah yang terhormat. Nyai Demang tahu bahwa tetamu kehormatan yang juga muncul malam ini adalah Pangeran Jenang, atau Pangeran Che Nam. Penguasa dari Keraton Tran-Minh-tong di tlatah Vietnam. Sudah sejak lama Nyai Demang mendengar bahwa penguasa utama dari Vietnam menyembunyikan diri di tanah Jawa.

Pangeran Jenang adalah penguasa yang terusir setelah gagal merebut kembali keratonnya dari penguasaan bangsa Vietnam.

Ke mana lagi larinya kalau tidak minta bantuan Keraton Singasari yang memang mempunyai kekuasaan di wilayah itu?

Kedatangan Pangeran Jenang diterima dengan baik oleh Permaisuri Indreswari dan dimanfaatkan sebagai bagian upacara kebesarannya.

Pangeran Jenang diterima sebagai tamu kehormatan. Dan diperlakukan sebagai penguasa tertinggi. Sebutan pangeran, menunjukkan sedikit di bawah raja. Bisa dimengerti bahwa ucapan Nyai Demang bagai melempar noda yang busuk. Dengan enteng Nyai Demang mengatakan sebagai raja yang berkeliaran.

Tak berbeda dari Ratu Ayu!

Yang dianggap ratu keluyuran dan hanya mencari jodoh.

Telinga Putra Mahkota pun terasa seperti terbakar. Karena kehadiran Pangeran Jenang secara politis sangat berarti sekali. Seakan peresmian dihadiri oleh beberapa utusan berbagai negara dari tanah seberang.

Namun dengan beberapa patah kata, Nyai Demang telah memorak- porandakan tata upacara kenegaraan.

Kalau istilah itu ditujukan kepada Ratu Ayu Bawah Langit, mungkin tak akan membakar gusar seperti sekarang ini. Bukan karena Ratu Ayu gagal dipersunting Putra Mahkota, akan tetapi karena selama ini tak ada hubungan langsung dengan negeri Turkana yang jauh di ujung jagat.

Sementara hubungan dengan Pangeran Jenang sudah terjalin dengan baik sejak Baginda Raja Sri Kertanegara.

Sama-sama tamu negara, kedudukan Pangeran Jenang jauh berbeda dari Ratu

Ayu.

Putra Mahkota berdehem, mengeluarkan suara di tenggorokan karena geramnya.

“Tujuh turunan di atasmu pastilah manusia yang tak mengenal tata krama. Tujuh turunan di bawahmu akan tetap seliar binatang. Dihukum cincang pun rasanya masih kurang.

“Wanita biadab.”

“Enak saja bisa memaki orang lain.

“Percuma saja menjadi calon sesembahan seluruh masyarakat jika bisanya hanya memamerkan kekuasaan. Putra Mahkota Keraton yang begini besar dan jaya, tak tahunya hanyalah…” Empat senopati sudah langsung mengepung. Dengan sangat bernafsu menubruk dan berusaha membungkam Nyai Demang.

Nyai Demang hanya mengeluarkan suara pendek, menggeliatkan tubuhnya, dan serta-merta meloncat ke atas. Satu tangan bergerak menangkis, didahului dengan gerakan kaki.

Sangat cepat.

Dan mengena.

Namun yang terkena tak peduli, apalagi yang lainnya. Tetap saja menubruk.

Ingin meringkus secepatnya.

“Biar aku yang menjajal dan memberi pelajaran. Mohon perkenan Gusti Permaisuri.”

Pangeran Jenang menyembah hormat kepada Permaisuri Indreswari dan Putra Mahkota, lalu dengan sebat meloncat ke arah Nyai Demang.

“Wanita ayu, tubuhmu indah, gerakanmu memesona. Lidahmu tajam. Aku tak bisa menahan diri untuk menangkapmu secara istimewa. Aku masih memerlukan beberapa dayang.”

“Coba saja kalau mampu.

“Kalau berdiri di negeri sendiri tidak mampu, jangan mencoba bertolak pinggang di negeri orang.”

“Sangat luar biasa. Kamu mengenaliku. Siapa namamu, wanita ayu?” Nyai Demang mengeluarkan senyuman mengejek.

“Kalau pemimpin keraton hanya memperhatikan wanita ayu dan gerakan tubuh, bagaimana memimpin negeri? Soal nama, apa pedulimu?”

Dengan menyebut mu, Nyai Demang betul-betul menunjukkan kekurangajaran nya. Walau sebenarnya karena kemuakan melihat gaya dan tingkah laku Pangeran Jenang.

“Aku suka kuda liar seperti ini. “Lebih menarik untuk ditaklukkan dan dikendarai.”

Kali ini justru Nyai Demang yang menggebrak langsung. Bagian dari Dua Belas Jurus Nujum Bintang dimainkan dengan sepenuh hati yang terbakar dendam. Langsung menyodok ke arah ulu hati, dibarengi sapuan kaku yang ganas, Mengarah ke selangkangan Pangeran Jenang, yang dengan cepat mencoba menangkis dengan kedua tangan sekaligus! Gerakan patah, tapi kentara menyimpan tenaga dalam yang terlatih.

Pangeran Jenang memang bukan sembarang pangeran!

Walau mata keranjang dan suka main-main, ilmunya cukup tinggi. Tak terlena dengan segala kemewahan dan kelebihan yang dimiliki.

Menangkis gerakan dengan dua tangan ke bawah, tubuh Pangeran Jenang berputar maju. Memapak ke arah Nyai Demang, dan dua sikunya menusuk ke arah dada.

Gerakan dua tangan yang seolah satu sodokan. Kaku, akan tetapi jitu.

Menusuk langsung.

Akan tetapi Nyai Demang justru menyambut keras lawan keras. Dadanya yang terbuka serangan hanya ditarik mundur, sementara kakinya menebas dengan keras.

Menebas sedikit di bawah lutut, yang segera ditarik ke atas. Lagi-lagi selangkangan lawan yang diincar.

Sebat, seolah kain yang dipakai Nyai Demang bukan merupakan penghalang. Bahkan sebaliknya, seakan menyatukan dengan tendangan berturut turut.

Agaknya Pangeran Jenang tak menduga sedikit pun bahwa Nyai Demang begitu nekat.

Adalah di luar perhitungannya, bahwa kata-katanya telah membakar harga diri Nyai Demang. Menyentuh bagian rasa kewanitaannya yang paling peka.

Bagi Nyai Demang adalah pantangan untuk hanya dianggap sebagai wanita pemuas dahaga asmara. Sikap dan kata-kata Pangeran Jenang justru menjurus ke arah itu.

Tak bisa ditafsirkan lain. Rasanya Nyai Demang rela mati untuk membela harga dirinya. Itulah sebabnya tak mengubah serangannya.

Lulur Pengantin

PANGERAN JENANG menurunkan tangannya, ganti dipakai untuk menebas kaki Nyai Demang.

Karena Nyai Demang tak menarik mundur, bentrokan tenaga tak bisa dicegah. Keras lawan keras.

Tenaga lawan tenaga.

Benturan itu membuat kaki kiri Nyai Demang terasa sedikit ngilu. Akan tetapi kaki kanannya terus menghajar ke atas. Ke arah wajah Pangeran Jenang, saat Nyai Demang membalikkan tubuh.

Mengetahui datangnya serangan nekat, Pangeran Jenang tak bertindak ayal. Dengan serta-merta, kepalanya ditarik ke arah belakang bersamaan dengan tubuhnya.

Mau tak mau harus meloncat mundur!

Nyai Demang justru menyusuli dengan tendangan kedua. Ketiga. Sambil terus berputar bagai gasing.

Pangeran Jenang tak bisa tidak juga mundur. Dua langkah. Tiga langkah.

Bukan pemandangan yang menyenangkan bagi Pangeran Jenang. Karena seolah ia dipaksa mundur, didesak dalam gebrakan pertama. Dipaksa bertahan kembali ke bagian awal.

Tidak persis seperti ini, akan tetapi inilah yang terlihat.

Tidak persis, karena justru dalam soal adu tenaga, terlihat betapa sesungguhnya tenaga dalam Pangeran Jenang lebih unggul. Dalam sekejap, Pangeran Jenang mengetahui bahwa tenaga dalamnya jauh lebih besar daripada yang dimiliki Nyai Demang. Akan tetapi kini justru nampak terdesak. Inilah yang tidak enak.

Namun untuk membalikkan arah serangan, juga tak bisa begitu saja.

Kedua kaki Nyai Demang berturut-turut menyambar, dan arah yang dituju selalu wajah. Dua kali diseling sambaran ke arah ulu hati.

Nyai Demang memang memainkan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Rangkaian gerakan dalam Kitab Bumi yang sudah dihafal hampir semua pendekar silat. Akan tetapi tidak berarti bisa terbaca jelas gerakan-gerakannya. Karena Kitab Bumi justru hanya mengajarkan tentang pengaturan tenaga, cara memperoleh, dan menyalurkannya. Gerakannya sendiri bisa mempunyai banyak kembangan, atau perubahan. Apalagi Nyai Demang sedang didorong oleh dendam yang membakar.

Ini salah satu sebab kenapa Nyai Demang sedikit unggul pada gebrakan awal. Kelebihan Nyai Demang justru dalam hal mengerti nama-nama jurus dan bisa di luar kepala semua kidungan dan atau lirik-lirik dalam Kitab Bumi. Lebih dari itu, Nyai Demang juga mengetahui berbagai kembangan seperti yang terjadi pada Kiai Sambartaka ataupun pada Naga Nareswara. Semua ini mempunyai pengaruh akan keluasan pandangan Nyai Demang.

Dalam keadaan menyerang Nyai Demang bisa mengeluarkan semua kemampuannya. Tidak sebaliknya.

Nyai Demang tak akan cukup mampu bertahan. Karena memang kekuatan tenaganya sangat terbatas dibandingkan para pendekar yang sudah mencapai tingkatan tertentu.

Hal ini sangat disadari oleh Nyai Demang.

Tak ada yang mampu menilai diri sendiri seperti Nyai Demang. Dalam keadaan terdesak, semua ilmu yang beragam yang dimiliki akan hilang dan terpusat pada pembelaan diri. Kelemahan utama ini bisa dimanfaatkan oleh lawan secepatnya.

Itu pula sebabnya Nyai Demang terkadang begitu mudah ditumbangkan. Dan dianggap kelasnya masih jauh di bawah.

Namun ini semua tidak berlaku di saat ia bisa menguasai lawan dan menyerang. Sadar di mana kelebihan dan kekurangannya, Nyai Demang terus menghajar Pangeran Jenang. Dua belas jurus berturut-turut, ia memaksa Pangeran Jenang mundur ke segala penjuru. Dan bertahan dengan ketat dan geram.

Sebenarnya Nyai Demang bisa memancing lawan ganti menyerang, dan saat itu ia memainkan jurus-jurus dalam Kitab Penolak Bumi. Ibarat kata tinggal menjebak lawan.

Hanya saja Nyai Demang tidak yakin bahwa pada saat lawan ganti menyerang, ia mampu menjebak dengan baik. Justru karena mengetahui kekuatannya tak mampu mengimbangi.

Maka selesai dua belas jurus, Nyai Demang menyambung dengan jurus ketujuh, kedelapan, dan kemudian menyentak lagi dari awal.

Dua kali tendangannya hampir mengenai wajah lawan, sehingga Pangeran Jenang terpaksa menyambar tombak trisula. Ujung tombak yang terkena sentakan kaki Nyai Demang sampai tergetar. Pada saat itu tangan kiri Nyai Demang terulur maju, seakan dengan satu tangan siap menggotong mayit, atau menggotong mayat. Pangeran Jenang mengeluarkan suara tertahan.

Tombaknya bisa direbut Nyai Demang.

Tiga ujung tombaknya berbalik ke arah lambungnya sendiri. Bahaya!

Pangeran Jenang tak menyangka bahwa dalam dua puluh jurus ia terdesak terus dan kini betul-betul repot menyelamatkan diri. Risiko paling buruk bagi pesilat. Karena dengan membiarkan dirinya terdesak satu langkah, rangkaian langkah berikutnya makin kuat dan tak terduga.

Bahaya!

Tiga ujung tombak sudah mendekat.

Tangan Pangeran Jenang turun dengan cepat. Mau atau tidak ia akan beradu tenaga. Merampas ujung tombak dan mengerahkan tenaga dalam untuk membetotnya. Berarti adu tenaga. Yang dalam perhitungan Pangeran Jenang akan bisa dimenangkan. Walau memang mengandung sedikit risiko. Karena satu torehan sedikit saja akan menyebabkan kantong nasinya terobek. Pada saat yang kritis tak terlalu banyak pilihan.

Pangeran Jenang memusatkan konsentrasi pikiran, mengerahkan tenaga ke arah dua tangannya. Satu jari di bawah ujung yang runcing digenggam dengan cepat, dan disentakkan. Berhasil.

Tapi kecele.

Karena Nyai Demang tidak mengerahkan tenaga di situ.

Malah sebaliknya. Kaki kiri Nyai Demang-lah yang melayang bersamaan dengan tubuhnya bergerak ke atas.

Bahaya!

Terlambat Pangeran Jenang menyadari bahaya yang sesungguhnya. Tak masuk dalam perhitungannya bahwa Nyai Demang tetap mampu melancarkan serangan kaki berupa tendangan, justru pada saat menusuk. Tak masuk dalam perhitungan Pangeran Jenang, justru karena tak mengetahui bahwa Nyai Demang tidak begitu mampu menguasai permainan tombak.

Kalau saja Pangeran Jenang sedikit cerdik, bisa mengetahui bahwa serangan Nyai Demang yang terutama adalah permainan kaki, seperti pada awal yang telah dipertunjukkan. Gerakan yang lain sekadar perubahan untuk membingungkan lawan, dan bukan merupakan serangan utama.

Plak!

Bahaya!

Kepala Pangeran Jenang terdongak ke atas, tombak trisula terlepas dari genggamannya, dan tubuhnya terbanting di lantai.

Kemenangan Nyai Demang yang gilang-gemilang. Keunggulan mutlak.

Akan tetapi, bersamaan dengan ambruknya tubuh Pangeran Jenang serentak itu pula kepungan dan serangan mendadak muncul. Nyai Demang yang tengah melayang di angkasa, mengerahkan sepenuh tenaganya untuk mencari pijakan. Tidak mudah.

Karena begitu tubuhnya melayang turun, hampir semua senjata digerakkan untuk memotongnya. Sehingga Nyai Demang meminjam tenaga dari salah satu senjata yang ada, untuk mumbul, naik ke atas lagi.

Akan tetapi tiga kali melambung, tenaga perlawanan Nyai Demang sudah merosot jauh.

Bahaya!

Pertarungan di tengah udara bukan keunggulan Nyai Demang. Pun andai di atas tanah, tetap tak akan mengimbangi serbuan para senopati yang tak terhitung banyaknya.

Kini ia benar-benar dalam bahaya. Satu sabetan pedang saja bisa membuat kakinya kutung atau tubuhnya putus. Satu tusukan saja bisa membuat Nyai Demang bagai terpanggang. Nyai Demang tak mungkin memenangkan pertarungan secara keroyokan begini.

Pada saat loncatan kelima, Nyai Demang merasa bahwa akhir hidupnya tak tertolong lagi. Karena kekuatannya sudah makin merosot, dan ia tak bisa sepenuhnya menguasai gerakan tubuhnya.

Pada saat itulah, mendadak di bawah terjadi perubahan. Serbuan para senopati seperti terobek.

Menguak.

Sehingga Nyai Demang bisa turun dan berdiri tegap. Pinggangnya didekap seseorang.

Upasara Wulung! “Adimas.”

“Mbakyu Demang… Mari kita menyingkir.”

“Astaga, tubuhmu masih bau lulur pengantin. Bedak pengantin Turkana ini…” Upasara Wulung membalikkan telapak tangannya. Tiga ujung senjata yang menusuk ke arahnya diraup dengan satu tangan. Dibanting ke tanah. Lalu dengan menggandeng Nyai Demang, meloncat pergi.

“Bagaimana nasib dua putri Permaisuri Rajapatni?” Raja Turkana

BAIK Nyai Demang maupun Upasara menanyakan isi hati masing-masing.

Dalam benak Nyai Demang kemunculan Upasara adalah sesuatu yang sama sekali di luar dugaannya. Karena seharusnya saat itu Upasara sedang menikmati malam pengantin bersama Ratu Ayu Bawah Langit. Kesempatan yang begitu diimpikan oleh banyak lelaki.

Sebaliknya Upasara justru lebih memikirkan keselamatan Rajadewi dan Tunggadewi. Aneh atau tidak aneh, itulah kenyataannya.

Sesaat setelah pertarungan yang berhasil dimenangkan, Upasara diboyong oleh Ratu Ayu dan para senopatinya. Saat itu Upasara tak sadar sepenuhnya apa yang terjadi. Ia tak bisa menolak dan tak bisa menerangkan apa-apa ketika digiring masuk ke dalam kediaman Ratu Ayu.

Juga ketika masuk ke dalam ruangan, Upasara makin kikuk, karena Ratu Ayu bersujud di ujung kakinya. Disusul oleh para Senopati Turkana.

“Paman Senopati, maaf… Juga Ratu Ayu… Saya kira ada yang perlu dijelaskan,” suaranya menjadi gugup tak menentu. Bau wangi dupa di dalam ruangan membuat Upasara makin gelapan.

“Raja Turkana yang gagah perwira, Baginda sekarang memegang kekuasaan tertinggi.” “Saya tak bisa. Tak bisa.

“Pokoknya tak bisa saja.”

Ratu Ayu memandang dengan sorot mata memohon. “Sampai hamba membunuh diri di depan kaki Raja Turkana sesembahan kami, kenyataan ini tak bisa berubah.”

Upasara menggelengkan kepalanya.

“Bukan saya menolak kehormatan yang demikian besarnya, Ratu. Bukan untuk membunuh diri siapa pun. Hanya saja, rasanya masih ada sesuatu yang belum selesai. Saya masih harus mengembalikan dua putri yang saya jaga, masih ada berbagai urusan yang harus saya selesaikan.”

Ratu Ayu menyembah. Diikuti para senopati.

Upasara makin merasa tak betah duduk di kursi.

“Sebagai Raja Turkana, Baginda bebas melakukan apa saja. Menyelesaikan urusan, memilih istri kedua atau kesepuluh. Tetap tinggal di tanah Jawa, atau memilih kembali ke singgasana di Turkana.

“Sebagai Raja Turkana, Baginda bisa melakukan apa saja. Kami tak akan pernah mungkin menghalangi atau menawar perintah.

“Sebab Baginda yang paling menentukan.” Upasara melengak tak habis pikir.

Asap wewangian membuatnya setengah sadar setengah tidak. Pikirannya yang jernih seperti teraduk. Ia tak membayangkan dirinya akan menjadi raja. Benar-benar dipanggil dengan sebutan Baginda dan disembah. Raja sebuah negeri!

Lebih dari itu semua, ialah kenyataan bahwa itu semua tak mengurangi apa yang bisa dilakukan. Sebagai raja, ia bisa melakukan dan memutuskan apa saja. Ratu Ayu yang kesohor itu akan mengikuti jejaknya.

Ini yang justru sangat merepotkan.

Kalau ia bisa melepaskan takhta, atau keluar begitu saja, masalahnya akan selesai. Batinnya tidak mempunyai beban apa-apa. Akan tetapi sekarang justru lain. Ia tetap bisa berbuat apa saja, hanya saja anggapan sebagai Baginda Raja Turkana tak pernah bisa ditanggalkan. “Saya akan mengembalikan kedua putri dan…”

“Hamba bisa melakukan, Baginda,” sembah Senopati Uighur. “Tidak, tidak. Nanti akan merepotkan.”

“Tidak bagi hamba, Baginda.” “Saya akan melakukan sendiri.”

“Kalau itu kehendak Baginda, hamba akan mengikuti titah.”

Upasara merasa punggungnya menjadi gatal tak menentu. Digaruk susah, tidak digaruk membuat gelisah.

“Ratu Ayu.”

“Siap menerima perintah Baginda.”

“Saya tak tahu harus bersikap bagaimana. Kejadian ini di luar pengertian saya. Karena masih ada beberapa urusan, saya akan menyelesaikan sendiri.

“Barangkali ini akan lebih baik. Sementara saya pergi, Ratu Ayu tetap menjadi pemimpin seperti sebelumnya.”

Akhirnya Upasara mampu juga mengutarakan gagasannya.

“Hamba akan menjalankan semua perintah Baginda. Apa pun sabda Baginda itu yang berlaku bagi kami semua. Hanya saja hamba tak mungkin mewakili Baginda.

“Tidak dalam pengertian apa pun.

“Hamba sama dengan semua senopati di sini.” Upasara menggeleng sedih.

“Begini… begini… “Masalah negeri Turkana atau pengembaraan kalian di sini, kalian bebas melakukan apa saja, selama saya menyelesaikan urusan. Setelah itu kita akan membicarakannya lagi.”

“Ke mana Baginda melangkah, ke tempat itulah kami semua mengikuti.

“Kalau tidak begitu kami, hamba sahaya ini, tak akan mengikuti Ratu Ayu sampai ke tanah Jawa.”

Suara Senopati Uighur menyadarkan Upasara bahwa ia tak bisa berkelit lagi. Secara resmi ia adalah Raja Turkana.

Tak ada gunanya mendebat atau mempertanyakan kembali. “Kalau begitu, kalian semua menjaga diri baik-baik.

“Akan saya tinggalkan Galih Kangkam sebagai pengganti saya di tempat ini. Malam ini saya akan kembali ke Keraton untuk menyelesaikan tugas yang ada. Kalian semua, termasuk Ratu Ayu, tak perlu campur tangan agar tidak terjadi permusuhan.”

“Kami jalankan titah Baginda.”

Semua melakukan sembah. Lalu delapan senopati menyembah dan dengan berjongkok setengah merangkak ke luar.

Tinggal Upasara dan Ratu Ayu. “Berdirilah, Ratu.”

Ratu Ayu Bawah Langit berdiri, mengambil tempat duduk di sebelah Upasara. “Baginda akan berangkat malam ini juga?”

“Ya, Ratu.”

“Doa dan pujian kami semua menyertai perjalanan Baginda.”

“Ratu Ayu, kalau terjadi apa-apa dengan saya di Keraton, itu sepenuhnya tanggung jawab saya. Ratu tak usah menuntut balas atau memperhitungkan di kelak kemudian hari.” “Sebagai hamba, saya tak bisa menolak perintah.

“Akan tetapi sebagai istri, sebagai permaisuri, saya berhak membalas dendam kalau ada kulit Baginda yang lecet karenanya. Sebagai permaisuri, saya berhak memuji dan menyerang kawan atau lawan Baginda.

“Baginda adalah kehormatan dan pujaan seluruh tanah Turkana.”

Upasara memang tak terlalu pandai menyusun kalimat, sehingga hanya bisa menggerakkan kepala tanpa jelas maksudnya.

“Baginda…”

“Ini membingungkan.” “Maaf, Baginda.

“Kami semua hanya pengikut dan pengabdi Baginda. Tak ada bedanya dengan semua senopati Keraton kepada Baginda di Majapahit ini. Atau di belahan mana pun.

“Kalau Baginda tidak puas dengan pelayanan kami, Baginda bisa memecat, mengganti, atau menambah permaisuri dan senopati.

“Akan tetapi sampai mati pun, kami hanya mengabdi kepada satu orang sesembahan.” “Baik, baik, Ratu.

“Saya akan mencoba memahami perlahan-lahan. Karena pedang hitam tipis ini merupakan pusaka utama Keraton Turkana, untuk sementara saya titipkan kepada Ratu.

“Dengan menggenggam Galih Kangkam, Ratu bisa berbuat apa saja pada saat yang diperlukan. Saya akan kembali ke dalam Keraton menyelesaikan dua urusan.

“Setelah itu kita bicarakan lagi.” Ratu Ayu menunduk.

“Apa pun sabda Baginda. “Saya terlalu rendah untuk mengingatkan bahwa ini adalah malam pengantin Baginda.”

Wajah Upasara menjadi merah karena jengah.

Meskipun hanya berdua, Upasara tak bisa menyembunyikan rasa kikuk yang mencapai puncaknya. Ia tak pernah berdua-dua seperti ini, apalagi sekarang ini dalam pengertian sebagai baginda dan permaisuri.

“Kalau Baginda tak menghendaki saya, Baginda bisa mengambil permaisuri yang mana saja.”

“Bukan begitu masalahnya, Ratu.

“Saya tak tahu apakah saya cukup berharga atau tidak mendampingi Ratu Ayu. Saya tak mempunyai pikiran apa-apa. Jangan terlalu membayangkan dan menilai diri terlalu rendah.

“Ah, apakah omongan saya ini urut? “Hmmmmm….”

Upasara segera berdiri.

“Baginda, kami semua menunggu Baginda.”

Ratu Ayu menyembah dengan dalam. Turun ke bawah, kedua tangannya menyentuh kaki Upasara.

Membersihkan Ilalang

BAHWA Ratu Ayu melakukan itu semua dengan hati yang tulus, dengan kecintaan dan pemujaan yang muncul dari lubuk hati, membuat Upasara makin canggung.

Kalau ia segera keluar dan menuju Keraton, karena ingin melepaskan diri dari suasana yang membuatnya serbasalah.

Bagi Upasara, suasana yang dihadapi sama sekali tidak siap diterima. Sebagai raja. Sebagai suami.

Maka begitu melesat ke luar, Upasara segera merasakan udara segar. Ia bergegas masuk ke dalam Keraton. Untuk mencari tahu apakah Rajadewi dan Tunggadewi sudah selamat sampai ke kaputren. Sesudah itu, ia tak tahu lagi harus bagaimana.

Apakah kembali ke dalam rangkulan kehormatan atau kembali ke Perguruan Awan. Atau meneruskan berkelana.

Mengambil jalan berputar, Upasara menuju ke kaputren. Kali ini hatinya berkebat- kebit lebih keras.

Darahnya berdesir lebih cepat.

Kaputren dalam keadaan kosong. Ruangan yang biasa ditempati Permaisuri Rajapatni hanya ditunggui dua dayang yang mematung. Tak ada suara napas Permaisuri Rajapatni maupun suara Rajadewi dan Tunggadewi.

Sewaktu Upasara nekat menyusup ke dalam pun, kamar yang ditemui kosong.

Tak ada yang bisa dilakukan selain mencari di ruangan lain. Ketiga permaisuri yang lain tetap berada dalam kamarnya masing-masing.

Pikir Upasara, pasti sedang terjadi sesuatu. Dan kalau terjadi sesuatu terhadap Rajadewi dan Tunggadewi, itu berhubungan dengan Putra Mahkota.

Maka Upasara menuju ke dalem pangeranan, kediaman Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, yang sedang memaklumkan dirinya dengan gelar yang baru.

Upasara terlambat sampai di tempat itu.

Yang dilihatnya saat itu hanyalah terancamnya jiwa Nyai Demang yang tadinya dipasrahi menjaga dua putri. Tanpa berpikir dua kali, Upasara segera bergerak.

Dan lawan-lawan bisa tersingkir.

Itu pula sebabnya pertanyaan pertama adalah mengenai keselamatan dua putri yang menjadi tanggungannya. Digandeng oleh Upasara, Nyai Demang merasakan getaran yang lain. Semacam getaran asmara yang menyengat ketika untuk pertama kalinya Upasara memegang pinggang Nyai Demang.

Apalagi sekarang ini digandeng untuk meloloskan diri. “Bagaimana keadaannya, Nyai?”

“Aman.”

Nyai Demang memilih jawaban yang menenteramkan, meskipun sadar bahwa keadaan yang sebenarnya bisa berarti lain. Tapi Nyai Demang merasa itulah jawaban yang paling baik.

Ia tidak merasa mendustai Upasara. Karena memang, boleh dipastikan, keadaan Rajadewi dan Tunggadewi aman tak kurang suatu apa. Hanya saja kini sepenuhnya dalam kekuasaan Putra Mahkota. Yang dikuasai oleh Permaisuri Indreswari di satu pihak dan Sidateka, Pendeta Syangka, di lain pihak. Dua unsur antara kekuasaan dan kekuatan.

Pilihan jawaban ini menenangkan hati Nyai Demang. Karena ia merasa mengetahui isi hati Upasara Wulung.

Lelaki perkasa yang dikenalnya dengan baik. Sejak masih menyorotkan pandangan tertarik dulu, sampai dengan ketika seluruh daya asmara Upasara tersedot ke dalam diri Gayatri. Nyai Demang bisa memahami sepenuhnya.

Walau kadang juga timbul pikiran yang aneh. Aneh bagi dirinya sendiri.

Ada semacam desiran darah dan guncangan hati yang tak mampu dikuasai setiap kali bersama Upasara Wulung. Adalah benar pandangan Gendhuk Tri yang sering mencemburuinya.

Karena diam-diam Nyai Demang juga menaruh hati kepada Upasara!

Sesuatu yang diakui oleh Upasara dan pernah diutarakan pada permulaan perjumpaan. Namun jauh di dalam lubuk hati Nyai Demang, ada kesadaran lain yang mengerem tindakannya. Secara sadar Nyai Demang bersikap sebagai mbakyu, kakak perempuan, pada Upasara.

Ia mencintai Upasara, kalau mau dikatakan dengan jujur.

Ia mengharapkan Upasara menemukan yang terbaik. Dan Nyai Demang merasa dirinya bukan yang terbaik untuk Upasara. Jalan hidup Upasara terlalu bersih, lurus. Upasara mempunyai masa depan yang lebih elok. Ditambah berbagai alasan lain, Nyai Demang merasa bahagia bisa mendampingi Upasara. Tidak sebagai kekasih, tidak karena daya asmara semata. Karena persahabatan, kekaguman, dan kebersamaan.

Ia merasa memiliki Upasara tanpa merusaknya.

Itulah daya asmara yang paling murni. Yang akhirnya terasakan oleh Nyai Demang dan kemudian membuatnya bahagia.

Akan tetapi pada saat tertentu, seperti sekarang ini, Nyai Demang tak bisa menyembunyikan isi hatinya. Tangannya menjadi dingin. Sementara tangan Upasara terasa panas.

Kalau jalan pikiran Nyai Demang berliku, jalan pikiran Upasara lebih sederhana.

Ia menangkap tubuh Nyai Demang, dan kemudian menggandengnya melewati pasukan yang mengejarnya, karena memang itulah jalan yang terbaik. Menyelamatkan Nyai Demang.

Sejak terbetot perhatiannya kepada Gayatri, Upasara boleh dikatakan tak pernah dilintasi pikiran adanya wanita lain. Apalagi Nyai Demang yang telah dianggap sebagai kakak kandung, yang banyak melalui pengalaman hidup getir bersama-sama. Termasuk usaha keras Nyai Demang untuk mengembalikan kesadaran Upasara, di saat jiwanya blong, kosong, setelah semua ilmunya dimusnahkan.

Dengan mencekal keras, Upasara menarik tubuh Nyai Demang melayang ke atas, melompati dinding Keraton.

Lenyap ke dalam kegelapan.

Sementara itu Permaisuri Indreswari menggigit bibirnya dengan keras. Sejak kemunculan Nyai Demang dan kemudian datangnya Upasara, hatinya menjadi sangat gusar. Sebagian jalannya upacara jadi berantakan. “Inilah saatnya membersihkan ilalang, agar padi bisa tumbuh sempurna.” Suara Senopati Halayudha terdengar berbisik.

“Apa maksudnya, Halayudha?”

“Sebagai permaisuri utama dan satu-satunya, tidak seharusnya melarutkan diri dalam soal-soal yang remeh tak berharga. Kehadiran Nyai Demang atau juga penyusupan Upasara Wulung, malah bisa melapangkan jalan.

“Ibarat kata mereka ini adalah ilalang yang sedang tumbuh. Sebelum besar, tangan Permaisuri Indreswari bisa menudingnya, dan dengan senang hati Mahapatih akan mencabutnya.”

Permaisuri Indreswari tersenyum.

Apa yang dikatakan oleh Halayudha bisa tertangkap maksudnya. Halayudha memakai perumpamaan “membersihkan ilalang”.

Kemunculan Nyai Demang, Upasara, serta ketidakhadiran Senopati Sora dan Gajah Biru boleh dikatakan ilalang. Ilalang yang bisa mengganggu pertumbuhan padi.

Kalau padi ingin tumbuh subur, ilalang harus dibersihkan. Dicabut sampai ke akar- akarnya.

Bagian yang tersulit ialah menentukan mana yang ilalang, mana tumbuhan lain yang membantu pertumbuhan padi.

Sekarang justru menjadi jelas.

Perlawanan Nyai Demang dengan mudah bisa dikatakan sebagai ilalang. Semua orang bisa mengerti. Lebih penting lagi, Baginda pun akan menyetujui.

Sekarang saatnya membasmi.

Bagi Halayudha, ini juga kesempatan terakhir. Dengan memihak sepenuhnya kepada Permaisuri Indreswari, Halayudha memainkan kartunya dengan cerdik. Menjadi orang kepercayaan Baginda saja tidak cukup. Harus bisa mendapatkan dukungan juga dari Permaisuri Indreswari. Sebab sering terjadi, justru kebijaksanaan dan keputusan yang besar datang dari usulan Permaisuri Indreswari.

Dalam perhitungan Halayudha, lawan terbesar dalam urutan keperwiraan dan kepangkatan di Keraton kini adalah Senopati Sora. Kalau sekarang ini ia menjatuhkan Mahapatih Nambi, pilihan sebagai pemegang jabatan utama kedua, akan jatuh ke tangan Senopati Sora. 

Karena dibandingkan dengan senopati yang lain, Senopati Sora tetap yang lebih unggul.

Kalau Senopati Sora yang tampil menggantikan Nambi sebagai mahapatih, ia tak bisa berkutik. Senopati Sora jauh lebih keras sikapnya, tak mudah termakan oleh hasutan.

Maka jalan satu-satunya adalah melenyapkan Senopati Sora. Dengan demikian tak ada yang menduga apa yang dilakukan. Tidak juga Mahapatih Nambi, yang dalam pikiran Halayudha tak terlalu berbahaya.

Dengan tudingan jari Permaisuri Indreswari, Mahapatih Nambi bisa pindah tempat dan jabatan.

Dan tak akan menimbulkan banyak pergolakan. Karena Mahapatih Nambi tidak mempunyai pendukung kuat seperti Senopati Sora!

Duka Ibu Tak Bisa Dibagi

PERMAISURI INDRESWARI memerintahkan agar pesta dan kemeriahan terus berlangsung. Ia sendiri kemudian mengajak Senopati Halayudha langsung menghadap Baginda.

“Maaf, Gusti Permaisuri, di tengah malam seperti ini?”

“Baginda juga membangunkan saya di tengah malam seperti ini.” “Apakah hamba patut menyertai?”

“Halayudha, kamu menjadi saksi, bila Baginda menanyakan sesuatu. Kalau kamu kubawa serta, besok pagi semua perintah telah dikeluarkan. “Jangan menunggu sampai matahari meninggi.” “Gusti Permaisuri sungguh bijak bestari.”

“Satu lagi, Halayudha, apakah betul yang muncul tadi Upasara Wulung yang perkasa?”

“Begitulah, Gusti.”

“Apakah di belakang hari tidak akan menimbulkan masalah mengingat ilmunya begitu tinggi?”

“Seorang yang mengaku ksatria tak akan membuat gangguan selama tidak diganggu bersilat. Upasara tak ada maksud untuk turut berebut pangkat dan derajat.

“Lagi pula sebagai suami Ratu Ayu, kita bisa mempergunakan titik lemah ini untuk mengusirnya.”

“Kalau ia tak mau pergi?”

“Banyak jalan untuk membuat Upasara bertarung dengan para ksatria karena Ratu Ayu dizinahi lelaki lain.”

“Hmmm, jalan pikiranmu panjang, Halayudha.

“Aku rada bimbang, apakah di belakang hari kamu tidak akan berpaling dariku.” Halayudha menyembah.

“Kalau ada setitik kebusukan dalam diri hamba mengenai Putra Mahkota atau Permaisuri, biarlah sekarang juga hamba…”

“Tak perlu kuragukan kesetiaanmu sampai saat ini.” Dalam hati, Halayudha tertawa puas.

Permaisuri boleh merasa unggul dan berkuasa. Boleh merasa mampu mengawasi semua orang dan mengatur, akan tetapi tidak diriku ini. Satu kaki membalik, Permaisuri Indreswari tak akan menyadari.

Sampai akhirnya ia sendiri terjerembap keluar. Bagi Halayudha, Permaisuri Indreswari adalah tokoh yang menggelikan. Yang puas atas kemenangannya di antara semua permaisuri dan wanita Keraton. Yang merasa mampu memaksakan kehendaknya pada Baginda. Yang menjadi satu-satunya pendamping Baginda.

Itulah kekuatan utama dan sekaligus juga kelemahannya.

Karena Permaisuri Indreswari dalam soal taktik dan strategi masih terlalu hijau.

Halayudha mengiringi Permaisuri menuju ke kediaman Baginda. Menyusuri lantai yang megah dan sepi.

Di depan kamar Baginda, nampak Permaisuri Rajapatni bersujud. Semua rambutnya diurai, wajahnya menunduk, tak bergerak sedikit pun.

Permaisuri Indreswari memalingkan mukanya, seakan tak melihat sama sekali. Dan melangkah masuk ke dalam.

Berjongkok, melakukan sembah. Halayudha mengiringkan.

Bersujud di tempat yang agak jauh di belakang.

Baginda hanya melirik, lalu menghela napas. Sebelum akhirnya kembali ke tempat peraduannya.

“Pintu itu selalu terbuka. Ada yang berani langsung masuk, ada yang lebih suka menangis di luar.

“Apa lagi?”

“Mohon ampun, Baginda.

“Keberanian abdi Baginda menerobos masuk karena merasa tak tahan lagi dengan tingkah laku Senopati Sora yang justru mengadakan kraman saat-saat upacara berlangsung.”

“Sora?” “Demikian, Baginda junjungan hamba.”

“Sora memang pemberani. Sedikit keras kepala. Itu aku suka. Tapi karena tidak pada tempatnya… perlu diperingatkan pula. Besok diminta menghadap kemari.”

Sunyi.