-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 31

Jilid 31

Upasara memberikan hormatnya. "Maaf, Gusti Ratu.

"Hamba bukan senopati, bukan prajurit, tidak mempunyai gelaran apa-apa.

Nama hamba Upasara Wulung, bekas prajurit Ksatria Pingitan." Suasana menjadi senyap.

Ratu Ayu mendongak.

"Hmmm, kiranya ini yang berhasil menjadi lelananging jagat, yang telah mengalahkan semua jago jagat. Tidak percuma nama besarmu.

"Sungguh kurang pantas, ksatria besar seperti ini harus menyembunyikan diri." Wajah Upasara menjadi merah. Kata-kata Ratu Ayu bisa juga berarti sindiran yang tajam dan menampar. Dengan mengatakan "menyembunyikan diri" seolah Upasara sengaja mengintip pertarungan yang terjadi. Ini bukan sifat ksatria yang mengambil keuntungan dengan cara curang.

Upasara memang tidak begitu tajam lidahnya, tak bisa merangkai kata-kata pembelaan.

Kalaupun ada, juga tak mungkin menerangkan bahwa ia sedang mengawal Tunggadewi dan Rajadewi.

"Maaf, Ratu Ayu."

"Karena kamu sudah masuk ke dalam gelanggang serta membawa pedang terhunus, sungguh tidak enak kalau aku tidak menyambutmu. Aku sudah lama menunggu dan ingin mengetahui apakah sebutan lelananging jagat benar-benar pantas kamu sandang atau tidak."

Upasara menggelengkan kepalanya.

"Sama sekali tidak pantas, Gusti Ratu Ayu."

"Kalau tidak pantas, kamu harus menyerahkan kepadaku." Upasara mengangguk.

"Kalau saya yang rendah memiliki tanda seperti yang Gusti Ratu Ayu maksudkan, saya akan menyerahkan saat ini juga. Tetapi, sesungguhnya tak pernah ada sebutan untuk itu."

Mendadak Maha Singanada tertawa.

"Aneh. Sungguh aneh ksatria tanah Jawa ini. Serba melenggok seperti perempuan saja.

"Sudah lama dan sering kudengar nama Upasara. Tak tahunya mulutnya terlalu kecil untuk menerima tantangan. Kalah atau menang, apa ruginya?

"Kalau kamu mengaku ksatria Pingitan, jangan membuat cemar nama Baginda Raja Sri Kertanegara!" Suara geram Maha Singanada membuat darah Upasara berdesir. Tapi wajah dan suaranya tetap dengan irama yang sama.

"Maaf, segala nama besar itu sesungguhnya tidak ada.

“Bukan maksud saya membuat cemar. Saya hanya mengatakan pernah dididik dan dihidupi di Ksatria Pingitan, karena kebaikan beberapa senopati yang kasihan pada saya.

“Rasanya, saya tak pantas mengaku seperti ini.” Ratu Ayu mendecakkan lidahnya.

“Aku tak suka tata bicara yang tidak jelas apa maunya.

“Upasara, kalau kamu menyerah sebelum bertanding, berikan Pedang Nglanglang sebagai upeti bagi Ratu Turkana. Karena telah ikut campur dalam pertarungan ini.”

Upasara mengangsurkan pedangnya. Mendadak Gendhuk Tri berteriak keras. “Jangan berikan, Kakang!

“Jangan!”

Upasara menggeleng lagi. “Biar!”

“Tidak bisa! Tidak bisa!

“Itu bukan pedang Kakang. Itu milik Paman Galih Kaliki. Apa hak Kakang memberikan kepada orang lain?”

Serampangan kata-kata yang diucapkan Gendhuk Tri. Tapi Nyai Demang memuji dalam hati. Dengan cara seperti ini, Gendhuk Tri bisa mematahkan keinginan Upasara Wulung. Karena, nyatanya itu pedang milik Galih Kaliki yang tersimpan dalam tongkatnya!

Upasara menarik mundur pedangnya.

Tangan Ratu Ayu terulur, dan seketika itu kedelapan pedang yang berserakan, teraup ke dalam genggamannya.

Dan dengan sekali sentak, menyerbu ke semua yang ada di medan pertarungan. Sebat sekali!

Bahkan yang menancap di pundak Senopati Sora bisa tertarik kembali seketika. Seakan semua pedang lengkung itu diberi tali di belakangnya.

Singanada yang berada dalam jarak tusukan lemparan mengegos dengan mudah. Akan tetapi pasti tak bisa dilakukan Kala Gemet maupun Senopati Sora!

Mau atau tidak, Upasara terpaksa menggerakkan Galih Kangkam! Ini memang yang dikehendaki Ratu Ayu!

Memancing Upasara.

Yang dengan sekali entak, tujuh pedang lengkung bisa tersapu. Bisa tertangkis dengan tangan kiri, tanpa bergerak dari tempatnya!

Dengan gerakan berikutnya, semua pedang lengkung dilemparkan ke langit-

langit.

Kalau Maha Singanada atau yang lainnya pasti memakainya untuk menusuk balik. Tapi Upasara lebih membuang ke atas.

Ke arah langit-langit.

Ratu Ayu menggertak pendek. Warna hijau berkilau memancar dari tubuhnya yang secara cepat melayang ke atas. Disusul oleh Sariq, Uighur, dan Karaim yang juga berloncatan mengambil pedangnya. Dengan gerakan siku menyentuh, sebagian pedang itu menusuk langsung ke arah Upasara. Tangan kiri Upasara terangkat ke atas. Pedang hitam kurus mengeluarkan bunyi bergetar menahan jatuhnya pedang-pedang yang begitu menyentuh seakan menjadi lengket!

Dan begitu Upasara menarik pedangnya, pedang lengkung terjatuh ke lantai mengeluarkan bunyi nyaring.

Berdentingan.

Ratu Ayu memuji dengan suara lantang.

Dalam setiap gebrakan, Upasara memperlihatkan penguasaan tenaga dalam yang sempurna. Mengalir ke seluruh kulit tubuhnya. Sehingga bisa diatur sempurna untuk menahan, mengentak balik, dan mengendor.

“Aku mau lihat seberapa jauh Tepukan Satu Tangan yang kesohor itu.”

Ratu Ayu beringsut maju, dengan gerak kaku. Warna hijau telah berubah menjadi merah, dan Senopati Sariq pun telah berubah seolah menjadi warna kuning. Senopati Uighur menjadi ungu, dan Senopati Karaim menjadi bersemu hitam gelap.

Ratu Ayu menerjang maju dengan gerakan patah, akan tetapi cepat sekali.

Menghantam dada Upasara. Kiri-kanan secara beruntun. Upasara hanya memiringkan tubuhnya dua kali.

Tenaga dahsyat berbau harum seakan hanya menyentuh tubuhnya. Akibat lontaran tenaga itu, tiang sitinggil seperti tergetar karenanya. Atap sitinggil mengeluarkan suara berderak-derak.

Mahapatih Nambi menyembah lalu menuntun Kala Gemet ke arah samping, dan turun dari sitinggil. Sementara Senopati Sora dipapah Senopati Pangsa.

Melihat dua lontaran pukulan bertenaga dihindari dengan mudah, Ratu Ayu mengubah serangannya. Satu tangan memerintahkan Sariq mundur, tangan yang lain menarik kembali pedang lengkung dan kembali secara beruntun menembus dalam satu tukikan ke arah Upasara. 

Wajah Upasara menjadi beringas. Galih Kangkam berkelebat dengan keras. Tubuhnya meloncat ke atas, dan dengan entakan keras, pedang lengkung itu menjadi kutung.

Gelang Gelung Dewi Kiblat

UPASARA memperlihatkan kelas yang sesungguhnya.

Dengan sekali entak, pedang hitamnya mampu memapas hingga kutung. Satu pedang lengkung menjadi dua bagian, yang kemudian masing-masing terbagi dua.

Siapa pun yang menyaksikan berdecak kagum.

Karena serangan yang sama tadi mampu membuyarkan serangan Maha Singanada.

Yang disebut terakhir ini mengawasi dengan sorot mata tajam, dan berseru

keras,

“Awas!”

Seruan meluncur begitu saja. Bukan karena sengaja memberitahu Upasara akan datangnya bahaya. Itu tak pernah terpikirkan. Seruan ini lebih merupakan peringatan bagi dirinya sendiri.

Karena serangan pedang beruntun ini yang sangat berbahaya.

Arah pedang lengkung sama, datang secara bersamaan, tapi tetap ada yang tersembunyikan. Yaitu pedang yang terakhir.

Karena datangnya lebih lambat! Dan tak terduga.

Karena dirasa semuanya sudah terbasmi.

Dan inilah tadi yang menjadi kemenangan Ratu Ayu. Yang sekarang diulangi

lagi.

Sewaktu tubuh Upasara melayang turun, dengan pedang yang merendah tapi terarah ke depan, pedang terakhir yang disambitkan Ratu Ayu datang. Menusuk ke arah kanan.

Bagian tubuh Upasara yang paling lemah. Yang bisa segera terbaca oleh Ratu Ayu! Tangan kanan Upasara tak mungkin menangkis atau menyampok, karena tak bisa digerakkan secara leluasa sejak bentrok dengan tenaga dalam Halayudha.

Itu yang mendasari Singanada berteriak awas. Itu yang juga tak diduga oleh Upasara.

Karena saat itu tak mungkin menarik mundur pedangnya untuk menangkis.

Juga tak mungkin menghindar, bersamaan dengan datangnya pedang.

Kalau Singanada, pada situasi yang sama bisa meloloskan diri, karena tubuhnya bisa menggeliat bagai geliatan singa murka disertai auman keras.

Jelas, kelenturan tubuh semacam itu tak dimiliki Upasara. Berarti pedang lengkung itu terus amblas.

Ratu Ayu berdesis pelan.

Namun bukan Upasara kalau menghadapi saat-saat maut menjadi gugup. Dengan penguasaan ilmu Tepukan Satu Tangan, boleh dikatakan kekayaan batinnya lebih luas.

Pedang yang menusuk ke arah lengan kanan digoyang dengan pundak, memakai tenaga simpanan karena hanya satu bagian yang disalurkan ke tangan kiri. Inilah keistimewaan Tepukan Satu Tangan. Cukup menyerang satu tangan, sementara tangan lain bisa berjaga. Atau dengan kata lain, masih mempunyai tenaga yang tersisa yang bisa digunakan saat diperlukan.

Sekarang ini.

Goyangan pundak Upasara membuat arah pedang lengkung bergeser. Naik, menuju ke arah dagu.

Upasara menarik kepalanya ke belakang.

Bibirnya seperti menyunggingkan senyuman. Dan pedang lengkung itu berhasil ditangkap dengan giginya. Digigit. Digigit!

Pada saat yang sama, ujung lidah Upasara menyentil kembali dengan empasan tenaga dalam.

Pedang lengkung itu jadi berbalik menusuk ke arah Ratu Ayu. Gendhuk Tri bersorak.

Singanada mengeluarkan seruan pujian.

Akan tetapi Ratu Ayu justru mengeluarkan suara dingin. Tangan kanan bergerak cepat, meraup pedang yang menusuk ke arahnya dan dengan satu gerakan yang sama membalikkan kembali ke arah Upasara.

Yang telah bersiaga. Galih Kangkam seolah mengukir udara, dan pedang lengkung itu berubah menjadi delapan potongan yang sama panjangnya.

Seolah menebas batang pisang.

Ini berarti, serangan balik yang dilancarkan oleh Ratu Ayu seperti telah terbaca dengan mudah.

Ganti Senopati Sariq yang mengeluarkan suara dingin di hidung. Ia merasa bahwa kini Upasara betul-betul masuk ke dalam perangkap.

Jebakan yang dilancarkan oleh Ratu Ayu. Karena setelah melemparkan pedang lengkung, Ratu Ayu menyambung dengan putaran tubuh dan kedua tangan terulur ke arah depan.

Gelang di tangannya melayang, bagai senjata rahasia. Menerjang ke arah

Upasara! Cepat dan bergelombang. Empat gelang, dua dari tangan kiri dan dua dari tangan kanan.

Gelang ini membuat gerakan berputar yang sangat cepat. Yang pertama berputar sebelum membentur. Yang kedua memakai tenaga putaran gelang pertama sehingga menjadi lebih keras. Begitu juga yang ketiga dan keempat.

Bahkan dalam melemparkan gelang pun, dasar-dasar Lompat Turkana dipraktekkan. Sehingga keempat gelang itu seperti saling menyusul yang lain. Yang paling ujung pasti lebih deras dan ganas. Datangnya secara beruntun.

Dan ternyata itu belum semuanya.

Selepas melontarkan keempat gelang, tangan Ratu Ayu tertekuk ke arah kaki, dan dari kedua kaki ini pula terlempar empat gelang!

Berarti ada delapan gelang.

Bergerak dalam satu putaran dan arus yang sama, menuju ke wajah Upasara.

Kalau penonton di sitinggil masih terpesona melihat dan mendengar dering delapan potongan pedang yang terbabat, kedelapan gelang dari tangan dan kaki Ratu Ayu sudah menyambar.

Putaran tenaga yang makin bertambah kencang dan menghunjam. Satu gelang tersingkir, masih ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga kedelapan.

Salah satu saja menyambar atau berhasil menyerempet, tulang pun bisa terbeset.

Inilah bagian Tarian Penjemput Maut yang dikatakan Maha Singanada. Jurus yang dimainkan Ratu Ayu sekarang ini bisa dikatakan jurus Gelang Gelung Dewi Kiblat. Atau dalam Kitab Bumi dikidungkan sebagai kembanging surastrysoka kadyapus gelunging asta.

Asta adalah sebutan Dewi Kiblat.

Kembang adalah bunga. Jadi ibarat kata rangkaian bunga sulastri dan angsoka pengikat sanggul atau gelung Dewi Kiblat!

Gendhuk Tri sadar sesadar-sadarnya bahwa dasar-dasar tarian bisa dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi tarian maut. Kalau pada dirinya baru terbatas pada olah gerak yang berbeda dari tarian biasa, Ratu Ayu sudah mengembangkan lebih jauh. Semua anggota badan dan piranti yang melekat dalam tubuh bisa menjadi senjata.

Bukan hanya selendang akan tetapi juga gelang. Singanada sadar bahwa kalau ia hanya mempergunakan bagian tubuh yang tumbuh di kepala sebagai andalan, Ratu Ayu sudah melangkah jauh lebih maju.

Apa yang dipikirkan Gendhuk Tri memang tak berbeda jauh dengan Singanada.

Barangkali juga Senopati Sora, yang biasa menggunakan ujung kain yang disampirkan di pundaknya.

Barangkali juga senopati yang lain. Atau para prajurit dan ksatria yang kebetulan bisa menyaksikan pertarungan.

Bahwa penguasaan tubuh bisa berarti luas sekali. Dan kalau dilatih secara sempurna, hasilnya bisa luar biasa. Tak terduga. Kalau selama ini perluasan penguasaan tubuh biasanya terbatas kepada otot, urat, dan pernapasan, serta anggota tubuh seperti tangan, kaki, semburan tenaga dari bibir. Dan mempergunakan senjata sebagai kelanjutan dari bagian tubuh.

Kalaupun ada, adalah mengandalkan senjata rahasia. Yang dipakai secara tersembunyi pada saat mendesak. Hanya saja perkembangan penggunaan senjata rahasia tak menjadi besar peranannya, karena para ksatria tanah Jawa menganggap bukan sebagai perbuatan seorang pendekar.

Seorang pendekar sejati tak mau mengalahkan lawan dengan cara “licik” seperti itu.

Apalagi bagi pendekar yang telah diakui kedudukannya dalam dunia persilatan, hal itu boleh dikatakan tak pernah terjadi.

Hebatnya, Ratu Ayu tidak mempergunakan senjata rahasia. Ia mempergunakan gelang terbang yang bergelung!

Yang bukan rahasia sejak pertama tadi telah dikenakan. Inilah yang luar biasa dan mengatasi cara berpikir yang selama ini dikenal.

Desingan suara gelang membuat Upasara waspada. Tubuhnya miring ke kanan, menyembunyikan tangan kanan. Dua kaki yang membentuk kuda-kuda tetap berada di tempatnya, dan hanya pedang hitam panjang yang menebas ke arah gelang yang menghantam dadanya. Benturan keras terdengar.

Satu gelang terpukul, melenceng arahnya. Pedang Upasara tergetar, tangan Upasara menjadi kesemutan karenanya.

Kekuatan Utama di Titik Terlemah UPASARA terus menyabet.

Gelang kedua disampok, gelang ketiga dipukul dengan gagang pedang, sedikit di bawah bagian yang menjadi pegangan.

Bertindak maju selangkah, Upasara memutar pedangnya, dan menangkis secara keseluruhan.

Tangannya tergetar hebat.

Tanda bahwa tenaga dalam Ratu Ayu memang cukup tersalur kuat. Dan yang sesungguhnya berada di luar dugaan Upasara ialah daya luncur dan daya serang gelang terbang itu tidak sama. Baik karena pengaturan tenaga dalam Ratu Ayu, maupun bahan yang dipakai membuat gelang.

Berbeda antara emas, perak, perunggu, maupun dari jenis logam yang lain. Beratnya juga berbeda. Gelang tangan jauh lebih tipis, tapi lebih kencang, seolah anak panah. Sedang gelang kaki, lebih berat seolah ujung tombak.

Kalau tadi dalam meluncurkan pedang lengkung Ratu Ayu memakai daya pegas yang berbeda sehingga daya dorongnya berbeda-beda, hal ini juga digunakan dalam memainkan gelang terbang membentuk konde.

Dengan lebih sempurna.

Karena perbedaan logam yang dipakai untuk membuat gelang.

Keistimewaan yang lain ialah bahwa Ratu Ayu mampu memainkan sebagai satu rangkaian serangan, tanpa ada gelang yang mental atau jatuh.

Kalau Upasara bisa membuat arah salah satu gelang terbang melenceng, tidak berarti lepas dari rangkaian serangan. Karena Ratu Ayu dengan mudah bisa menariknya kembali, dan mengertakkan dalam satu lemparan. Dua Belas Jurus Nujum Bintang dipamerkan oleh Upasara dengan sangat cepat dan bertenaga. Sebentar tubuhnya menghindar, melayang, dan memapak maju.

Akan tetapi, ke arah mana pun Upasara bergerak, gelang terbang itu mengejar, mengurung, dan mengisyaratkan sabetan maut.

Sungguh lawan yang perkasa.

Tangguh dan jauh di atas kelas yang diduga.

Tidak percuma Ratu Ayu Turkana disejajarkan dengan Naga Nareswara, Kiai Sambartaka, serta Kama Kangkam. Memang di situlah tempatnya.

Pujian ini berasal dari Halayudha yang berada di tempat jauh. Halayudha mengakui bahwa ia salah memperhitungkan lawan.

Rangkaian gelang terbang bergelung, sejak jurus pertama sudah langsung mematikan.

Kalau dirinya yang terjerat dalam pertarungan, Halayudha akan mempergunakan tipu muslihat lain. Dengan mempergunakan ajian atau cara-cara licik. Hanya itulah jalan yang dianggap paling selamat untuk menghindar.

Tapi Halayudha tahu bahwa Upasara tak akan melakukan hal semacam itu. Bagi Upasara lebih baik kalah atau binasa.

Kalau ini yang terjadi, jangan harap ada yang mampu menandingi Ratu Ayu satu lawan satu. Maka Halayudha memberikan kisikan agar semua senopati, tanpa kecuali, mengadakan persiapan. Terutama menjaga Baginda.

Dan juga mempersiapkan jalan menghindar ke dalam Keraton yang aman. Cepat atau lambat situasi akan berubah.

Upasara tak bisa bertahan dengan cara seperti itu. Tenaga benturan pedangnya akan melemah, sementara putaran gelang terbang justru tetap bisa berlipat.

Dan tetap gencar. Mengetahui bahwa Dua Belas Jurus Nujum Bintang tak mampu menerobos, Upasara mengganti dengan dasar-dasar penyerangan Banteng Ketaton atau Banteng Terluka, ilmu silat yang mendasari ilmunya.

Dibuka dengan tangan kiri tertarik ke arah kanan, kaki menendang bumi, Upasara menebas dari arah samping. Serangan gencar dari arah samping sebagai pancingan, dan kemudian menyeruak maju bagai banteng yang terluka.

Pedangnya berubah gerakannya, mencongkel dari bawah, seakan sodokan tanduk banteng.

Akan tetapi dengan begitu, Upasara seperti terjebak dalam bahaya. Karena delapan gelang terbang Ratu Ayu mendadak pecah menjadi dua bagian!

Satu lingkaran menyerang atas, satu rangkaian lingkaran yang lain menyerang dari bawah.

Betapapun kuat kuda-kuda ilmu Banteng Ketaton, tak akan kuat tulang kaki digenjot dengan gelang!

Dalam sekejap, tubuh Upasara dilibat dalam putaran. Kini bahkan untuk menerobos pun rasanya sulit.

Sepersekian kejap Upasara menjadi bimbang untuk memainkan ilmu Penolak Bumi. Delapan Jurus Penolak Bumi adalah jurus andalan yang sangat ampuh untuk menolak serangan, untuk mementahkan serbuan.

Akan tetapi Delapan Jurus Penolak Bumi berdasarkan perhitungan di mana ada kedudukan yang berbahaya.

Posisi bahaya di selatan, bisa dimentahkan dengan gerak dan arah tertentu. Sulitnya, yang dihadapi sekarang ini adalah bahaya dari semua jurusan.

Mementahkan satu arah mata angin, akan berakibat tersambar gelang terbang pada

mata angin yang lain.

Sepersekian kejap sangsi, Upasara benar-benar terdesak. Sehingga gerakannya berubah makin cepat dengan geliatan yang gagap untuk menghindar. Dalam keadaan terdesak, Upasara surut. Pedangnya ditarik, merapat ke tubuhnya. Tangan kiri yang menggenggam pedang merapat ke dada sebelah kanan.

Ratu Ayu berseru dingin tapi keras terdengar.

Dua tangannya melontarkan tenaga dengan perkasa.

Kini delapan gelang menyerbu bersama. Desingan udara seperti terbelah karenanya.

Sepersekian kejap Upasara seperti menunggu.

Maha Singanada mengeluarkan teriakan kecemasan. Berdiri dari duduknya. Nyai Demang merangkul Tunggadewi dan Rajadewi.

Bibir Gendhuk Tri bergerak-gerak tak jelas.

Halayudha menggenggam hulu kerisnya. Matanya memandang ke arah Mahapatih dan memberi tanda.

Upasara menggerakkan pedang hitam lurus ke depan. Membentur salah satu rangkaian gelang, tanpa memperhitungkan gempuran gelang yang lain.

Perlahan gerakan tangannya. Didorong oleh tenaga sepenuhnya.

Pandangannya lurus ke depan. Tak hirau.

Terdengar gemerincing keras. Gelang yang ditebas Upasara terlingkar, masuk ke dalam pedang, masih berputar, sebelum akhirnya melorot ke dasar pedang. Dan masih berputar kencang. Sehingga tangan Upasara seperti digigiti seratus semut, dan sengatan binatang berbisa.

Namun Upasara tetap bertahan.

Ajaib. Gelang kedua juga masuk ke dalam lingkaran, tetap berputar, dan akhirnya melorot turun ke dalam pedang. Disusul gelang ketiga, keempat, kelima…

Seluruh gelang akhirnya masuk ke dalam pedang Upasara. Yang tetap berdiri gagah.

Seluruh gelang bertumpuk bagai hiasan. Bagai daging sate.

Upasara berdiri gagah.

Ratu Ayu memandang ke arah langit-langit. Wajahnya nampak pucat, keringatnya membasahi wajahnya. Napasnya sedikit tersengal.

“Ilmu siluman apa yang kamu mainkan, Upasara?”

“Bodo amat. Begitu saja dibilang ilmu siluman,” Gendhuk Tri melampiaskan ketegangannya dengan suara kasar. “Itulah ilmu yang paling ringan dari Kitab Penolak Bumi. Semua hidung yang belajar silat juga tahu.

“Kakang Upasara telah memainkan dengan sepersepuluh tenaganya untuk mematahkan rangkaian bunga gelung Dewi Kiblat. Semua orang juga bisa melakukan.

“Apa istimewanya rangkaian itu?

“Dalam setiap rangkaian untaian bunga, titik kekuatan yang utama adalah yang terlemah. Dalam rantai yang bercantolan, kekuatan sebenarnya dari mata rantai itu adalah pada kaitan yang terlemah.

“Kalau itu putus, semua rangkaian juga putus.”

Dengan tertawa keras, Gendhuk Tri meloncat ke tengah arena. Secara teori, apa yang dikatakan oleh Gendhuk Tri sangat tepat Kalau terkesan Gendhuk Tri luar biasa pengetahuannya, itu hanya karena kebetulan Upasara telah memainkan dengan sempurna. Gendhuk Tri sekadar mengatakan kata-kata yang terdapat dalam kidungan Kitab Bumi di bagian Delapan Jurus Penolak Bumi.

Yang memang menjelaskan hal semacam mi.

“Jangan melompong seperti itu. Masih belum mau mengaku kalah? Apakah perlu gelang-gelang itu dimasukkan kembali ke dalam tangan, kaki, atau leher sekalian?” Ucapan Gendhuk Tri lebih tajam dan lebih menyakitkan.

Pedang Kelana, Pedang Takhta Turkana GENDHUK TRI paling bahagia.

Bibirnya menyunggingkan tawa. Tangannya bertolak pinggang. Melihat Ratu Ayu kelimpungan, nafsunya untuk mempermainkan makin menjadi-jadi.

Bibirnya sudah terbuka untuk menyemprot sindiran. Tapi tak bisa digerakkan.

Jadinya malah melongo.

Satu jentikan kecil jari Ratu Ayu telah membuat urat rahang Gendhuk Tri membeku. Bisa dibayangkan kalau ditambahi sedikit tenaga, napas Gendhuk Tri sudah terhenti!

Upasara melepaskan rangkaian gelang. Lalu dengan penuh hormat mengembalikan sambil menyembah.

“Maafkan, Ratu Ayu.”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Ksatria Upasara.”

“Hamba hanya menjajal menetak rangkaian gelang terbang yang terlemah. Karena delapan gelang dengan kekuatan saling berkait menjadi sangat kuat berlipat, akan tetapi juga saling bergantung.”

“Dari Kitab Bumi kamu pelajari jurus ini?” “Ya dan tidak.

“Ya, karena ada beberapa gagasan dasar yang dikidungkan mengenai kekuatan berangkai. Tidak, karena secara jelas tidak disebutkan bahwa ada jurus Gelang Gelung Dewi Kiblat.”

“Sebelum mengaku kalah, katakan, apakah ilmu Turkana masih belum sempurna?” Upasara menyembah dengan hormat.

“Semua ilmu sempurna dan juga tidak sempurna. Kesempurnaan ilmu, menurut yang hamba ketahui, ialah pada saat tidak perlu dipergunakan lagi.”

“Ah, omonganmu seperti kakek pikun!

“Dari mana kamu mengetahui kekuatan rangkaian ialah pada titik terlemah?” “Di negeri ini ada berbagai barisan penyerang. Salah satu di antaranya ialah

dari dua belas murid Kiai Sumelang Gandring. Kekuatannya hebat, akan tetapi satu rangkaian patah, seluruhnya putus.

“Ibarat kata sebuah tali tambang yang sanggup menarik perahu sampai ke pantai, titik kekuatannya pada serat yang terlemah. Kalau itu yang putus, semua kekuatan bisa putus. Kalau itu terlindungi, kekuatannya berlipat.

“Kecuali kalau rangkaian kekuatan itu berasal dari tenaga tunggal seperti yang dilakukan dengan sangat luar biasa oleh Ksatria Utama Maha Singanada. Pelipatan tenaga sembilan singa, tidak secara wadag, tidak secara lahiriah dengan sembilan singa atau sembilan orang.”

“Aku suka pujian seperti ini,” kata Singanada keras.

“Upasara, katakan terus terang, di mana kelemahan ilmu Lompat Turkana?” Upasara menunduk.

Lalu bersila.

Menyembah.

“Sesungguhnya ilmu itu tak tercela, Gusti Ratu.” “Ah… tata krama kamu membuat aku risi.

“Upasara, aku ingin mendengar kamu membaca Lompat Turkana, dan mengatakan pendapatmu.”

Upasara merasa risi didesak dengan cara begitu. Hanya bisa menggeleng. “Hamba tak cukup mengerti.

“Hanya secara selintas, apa yang dimainkan delapan senopati utama, dengan meloncati lawan dan atau kawan, sungguh hebat. Kalau Gusti Ratu ikut memainkan, barangkali di seluruh jagat ini tak ada yang mampu menandingi.

“Karena Lompat Turkana, atau apa pun namanya, bersumber dari delapan tenaga. Sedangkan inti tenaga yang sesungguhnya berasal dari sembilan. Delapan penjuru, dan satu titik di tengah.

“Untuk sementara, hamba hanya bisa mengutarakan sampai di sini. Karena bukan tidak mungkin, dengan delapan tenaga, juga bisa lebih terarah dan tepat.

“Maha Singanada beranggapan sembilan. “Berkeyakinan sembilan sebagai pusat tenaga.

“Hamba sendiri hanya melihat satu pusat tenaga. Satu tangan. “Entah mana yang lebih tepat. Karena sesungguhnya, dasarnya bukanlah pembagian, tetapi juga kepasrahan kita mengikuti petunjuk yang ada.”

Ratu Ayu menunduk. Ikut bersila.

“Upasara, sesungguhnya kamulah yang kucari di seluruh pelosok jagat ini. Sejak aku melihat pedang yang kamu genggam, aku yakin itu adalah Pedang Nglanglang yang selama ini hilang.”

Upasara mengangsurkan pedang hitam panjang dengan satu tangan.

Meletakkan di depan Ratu Ayu.

“Kalau Gusti Ratu Ayu menghendaki, hamba akan menyerahkan. Sesungguhnya ini bukan milik hamba. Milik seorang sahabat sejati, Kakang Galih Kaliki.”

Ratu Ayu menunduk. Air matanya menitik. Kedua tangannya menggenggam pedang hitam.

Mendadak delapan senopati Turkana bersujud, menyembah ke kaki Upasara sambil menyanyikan kidungan yang tak dimengerti oleh Upasara. Dan tetap menunduk terus.

Demikian juga Ratu Ayu. Menyembah kaki Upasara Wulung.

Upasara berkelojotan tak mengerti. Kalau hanya soal pedang, walau itu pedang pusaka, rasanya tak pantas seorang ratu menyembah! Dalam upacara terbuka yang dilihat masyarakat.

Dalam bengongnya, Gendhuk Tri masih bisa berpikir jernih. Ia mendengar sebutan Pedang Nglanglang, atau Pedang Kelana. Ini untuk pertama kalinya ada sebutan bagi pedang hitam tipis panjang yang selama ini hanya disebut dengan Galih Kangkam, atau Kangkam Galih. Sebutan yang tidak menunjukkan hal yang sebenarnya selain pernah dimiliki oleh Galih Kaliki. Atau berasal dari tongkat galih.

Meskipun sebutan Pedang Nglanglang juga belum menunjukkan hal yang sebenarnya terkandung dalam pedang itu, akan tetapi paling tidak menunjukkan asal- usulnya.

Yaitu dari suatu pengembaraan yang jauh.

Jalan pikiran Gendhuk Tri tak berbeda banyak dari Upasara. Yang berbeda ialah jalan pikiran Nyai Demang. Yang tak bisa menahan diri untuk ikut berkata.

“Apakah Adimas benar menerima lamaran Ratu Ayu Azeri Baijani?” Disambar sembilan petir pun Upasara tak sekaget ini.

“Mbakyu Demang… ini bagaimana… aduh… saya…”

“Adimas, Ratu Ayu berkelana mencari jodohnya. Barang siapa bisa melengkapi ilmunya, akan diangkat menjadi suaminya, dan berhak atas takhta Turkana.

“Barangkali sangat kebetulan simbol utama yang dicari adalah pedang itu.

Kalau Adimas menyerahkan, berarti Adimas menerima pinangan Ratu Ayu.” Upasara beringsut dua tindak ke belakang. Delapan senopati Turkana menyuruk maju. Juga Ratu Ayu.

Kalau Gendhuk Tri tidak beku rahangnya, segala cemoohan sudah terlontar secara berurutan tanpa henti.

Nyai Demang bisa mengerti bahwa dengan demikian Upasara menjadi sangat kikuk. Tak berbeda dulu ketika secara tidak sengaja menerima tawaran menjadi pimpinan Perguruan Awan.

Bedanya, saat diangkat menjadi pemimpin Perguruan Awan, Upasara memang sedang mencari tempat untuk menenangkan diri. Dan pengangkatan itu tidak membawa akibat besar. Karena di Perguruan Awan, menjadi pemimpin atau penghuni tak jauh berbeda.

Sedangkan menjadi Raja Turkana, tak akan pernah terbayangkan. Bisa berarti pergi ke negeri Turkana!

“Mbakyu Demang, tolong jelaskan… saya ini tak pantas menerima penghormatan semacam ini. Bagaimana mungkin saya… saya…”

Ratu Ayu tetap menunduk, menyembah ketika berkata,

“Junjungan hamba, junjungan negeri Turkana yang agung, kalau memang hamba tak pantas mendampingi Baginda, biarlah hamba dikubur di sini.”

“Demikian juga hamba.” Suara delapan senopati terdengar serempak. Upasara menggaruk belakang rambutnya.

Seluruh tubuhnya menjadi sangat pegal.

Tak tahu harus berbuat bagaimana. Kalau ia tetap menolak, bukan tidak mungkin Ratu Ayu Bawah Langit akan membunuh diri. Bersama dengan delapan senopati Turkana.

Melihat kecemasan di wajah Nyai Demang, hal itu bisa terjadi. Sebaliknya, kalau ia menerima pinangan Ratu Ayu, ia tak tahu apa yang akan diperbuatnya.

Lebih dari itu semua, Upasara tak bisa menyusun kata-kata. Baik untuk menerima atau menolak. Seumur hidupnya tak pernah mengalami peristiwa semacam ini. Bahkan membayangkan pun tidak.

Disembah, disebut sebagai Baginda. Dan memiliki permaisuri.

Demi Dewa yang Maha dewa, bagaimana semua ini bisa terjadi?

Sempurnalah Keraton Singasari KEADAAN jadi senyap.

Terlelap dalam jalan pikiran sendiri-sendiri. Gendhuk Tri jelas tak bisa ikut bicara serampangan karena bibirnya terkunci. Para senopati Keraton juga terdiam.

Di kejauhan dari sitinggil, Baginda merasa punggungnya seakan kaku.

Sementara wajah Permaisuri Indreswari berubah menjadi kaku seperti topeng kayu.

Halayudha sendiri tak pernah memperhitungkan, bahwa Upasara yang akan muncul sebagai pilihan Ratu Ayu. Sekaligus pujaan semua penduduk yang menyaksikan secara langsung.

Dan Upasara sendiri masih tak mengerti apa yang harus dilakukan. Nyai Demang yang biasanya cepat mengambil keputusan pun, kali ini terdiam. Nyai Demang tahu bahwa nasihatnya bakal didengar oleh Upasara.

Akan tetapi hatinya sulit menentukan. Apakah Upasara Wulung harus menerima atau menolak.

Semua membawa akibat yang sangat jauh pengaruhnya.

Pada saat itu, justru Maha Singanada yang berdiri dengan gagah perkasa. Wajahnya mendongak ke arah langit, rambutnya yang tergerai bergerak-gerak oleh angin. Suaranya mengandung kebanggaan dan sekaligus pujian. “Dewa yang Maha agung dan Maha bijak.

“Akhirnya, inilah perkenanMu yang mulia. Tanpa sabda langsung dari Baginda Raja Sri Kertanegara, Keraton Singasari tak akan berkumandang ke tlatah tapel wates, memerintah sampai ke Keraton Turkana.

“Auman singa di seluruh penjuru jagat.

“Selamat, Upasara, terimalah hormat dan sembahku!”

Belum Upasara bereaksi, Maha Singanada sudah menunduk hormat. Saat itulah terdengar sorak-sorai bergemuruh yang luar biasa. Semua yang hadir mengelu- elukan Upasara.

Maha Singanada bahkan memanggul Upasara dengan gagah! Gong terdengar bertalu-talu.

Malam itu juga, dengan upacara kebesaran, Upasara diiringkan menuju ke dalam Keraton, untuk beristirahat di rumah yang disediakan khusus bagi Ratu Ayu Bawah Langit.

“Inilah kebesaran utama Keraton Singasari. Inilah tanda kejayaan Baginda Raja Sri Kertanegara. Abu dan arwahnya akan bahagia selamanya.”

Nyai Demang menghela napas. “Nyai tidak kelihatan gembira?”

Nyai Demang tersenyum. Dirangkul Tunggadewi dan Rajadewi dengan kencang.

“Saya masih mempunyai satu tugas untuk mengembalikan dua putri Keraton ke dalam.”

“Marilah, biar aku yang mengantar. Malam ini kita pesta sampai tak ingat apa- apa. Nyai bersedia?”

Nyai Demang meminta Maha Singanada membebaskan totokan Gendhuk Tri. Beberapa kali Maha Singanada mencoba, akan tetapi hanya membuat Gendhuk Tri mendelik dan air matanya mengucur. “Kalau begitu kita terpaksa mengganggu pengantin baru.” Suara Maha Singanada tetap berada dalam suasana riang gembira.

“Betapa agungnya Baginda Raja Sri Kertanegara. Dengan segala kebesarannya, semua penjuru jagat yang bisa diinjak kaki dijelajahi.

“Sungguh tak nyana, bahwa hari ini salah seorang ksatria didikannya bisa menaklukkan hati Ratu Ayu Turkana. Bukankah ini luar biasa, Nyai?

“Aku berlayar ke negeri Campa, untuk mengantar Tuan Putri Tapasi, akan tetapi hasilnya tetap tak mengungguli apa yang dilakukan Upasara. Kalau satu dari seratus ksatria seperti Upasara, seluruh jagat menyatu di bawah panji kebesaran Keraton Singasari.”

Nyai Demang menjadi bisa menebak asal-usul Maha Singanada. Setidaknya dari yang dikatakan, Maha Singanada termasuk salah seorang ksatria utama atau senopati yang mengemban tugas dari Baginda Raja Kertanegara ke negeri seberang.

Kalau Senopati Anabrang ke negeri Melayu dan kembali membawa dua putri utama, apa yang dilakukan Maha Singanada sedikit berbeda.

Dengan disebut-sebut Putri Tapasi, Nyai Demang jadi ingat. Bahwa putri Baginda Raja Sri Kertanegara, Dyah Ayu Tapasi, adalah utusan Baginda Raja ke negeri Campa. Ke Keraton Caban, yang diperintah oleh Raja Che Nang yang kesohor.

“Agaknya saya berhadapan dengan Senopati Agung yang telah menjelajah negeri Campa. Maafkan, kalau selama ini saya tak bisa mengetahui kebesaran Senopati Maha Singanada.”

Singanada tertawa.

“Akhirnya semua akan mengetahui kebesaran Singasari yang perkasa. Tak menyesal aku dilahirkan di perjalanan dan menjadi besar di negeri orang. Sungguh luar biasa. Hari ini kusaksikan sendiri kebesaran itu.”

Singanada seperti tengah tenggelam dalam arus pikiran kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara. Sesuatu yang bisa dimengerti oleh Nyai Demang.

Karena, seperti pengakuannya, Maha Singanada berangkat sewaktu masih kecil, atau malah dalam kandungan ibunya yang menyertai utusan ke negeri Campa. “Bagaimana kabarnya Putri Dyah Ayu Tapasi?”

“Sesuai dengan rencana. Permaisuri Tapasi berdiam di Keraton Wijaya atau Caban, dan secara resmi menjadi Permaisuri Utama Raja Jaya Singawarman Turunan Ketiga. Cucu utama Raja yang memerintah Wijaya.

“Tahukah, Nyai, bahkan Raja Caban pun memakai gelar singa sebagai tanda mengakui kebesaran Baginda Raja?”

“Kenapa Senopati Singanada kembali ke tanah Jawa?” “Panjang ceritanya, Nyai.

“Aku tak ingin bercerita pada malam yang bahagia ini, yang bisa untuk memabukkan diri hingga pekan depan.”

Nyai Demang sendiri memang tidak begitu berminat mendengarkan cerita yang panjang saat ini. Karena diam-diam muncul kerisauan yang tak bisa ditutupi.

Sejak sorak-sorai dan gong bertalu tadi, Raja Kertarajasa telah meninggalkan pasamuan. Sesuatu yang sangat luar biasa, karena meninggalkan begitu saja. Tanpa merestui atau mengucapkan sepatah kata pun mengenai Upasara atau Ratu Ayu.

Dari segi tata krama Keraton yang sangat penuh perhitungan rumit, ini pertanda kemurkaan yang besar.

Yang juga bisa berakibat sangat besar.

Kemenangan Upasara tidak diakui oleh Raja. Tidak diakui sebagai kehormatan besar Keraton Majapahit, yang salah seorang senopatinya dipersunting Ratu Ayu dari negeri Turkana!

Sangat boleh jadi ini akan mengubah perjalanan hidup Upasara atau hubungan dengan negeri Turkana. Baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek.

Jelas bahwa berpihaknya Upasara kepada Ratu Ayu Azeri Baijani dianggap petaka besar. Karena, ini semua di luar rencana Keraton.

Nyai Demang tak terlalu sulit menangkap rencana yang tersembunyi dengan munculnya Putra Mahkota Kala Gemet dalam pertarungan. Bisa dipastikan Putra Mahkota juga menghendaki Ratu Ayu. Dengan alasan karena tertarik, ataupun alasan kenegaraan. Seperti yang dilakukan Senopati Anabrang ke tanah Melayu, maupun Maha Singanada sampai ke negeri Campa.

Serta senopati-senopati yang lainnya.

Kalau perhitungan ini benar, Nyai Demang menjadi lebih kuatir karenanya.

Jauh lebih kuatir dari membayangkan apa yang terjadi terhadap Upasara saat ini.

Celakanya, Nyai Demang merasa tak mempunyai teman yang bisa diajak membicarakan isi pikirannya yang penuh.

Maha Singanada sudah mabuk kemenangan dan keunggulan Keraton Singasari.

Sementara Gendhuk Tri tak bisa mengeluarkan suara.

Hanya dua wanita yang masih kecil. “Bibi… Paman Demit dibawa ke mana?” Nyai Demang menyembah.

Walau merasa kurang enak dipanggil Bibi-panggilan untuk inang pengasuh, namun perasaan itu hanya mengusik sementara.

“Paman Demit akan menjadi pengantin, Gusti Ajeng.” “Kawin dengan Ratu Ayu?”

“Begitulah yang kita lihat, Gusti Ajeng.”

“Pastilah Paman Demit akan mengundang kita berdua. Kanjeng Ibu akan mengizinkan kita berdua datang.”

Sampai di sini, Nyai Demang merasa dirinya sangat tolol. Bagaimana mungkin ia bercerita begitu saja kepada Tunggadewi, yang nantinya akan bercerita kepada Permaisuri Rajapatni?

Bahwa nantinya toh Permaisuri Rajapatni akan mendengar juga, itu soal nanti.

Tapi tidak sekarang ini. Dari putrinya. Nyai Demang jadi merasa kurang enak.

Entah kenapa hatinya merasakan beban hubungan antara Upasara dan Gayatri. Daya asmara yang tetap terasakan pengaruhnya, kalau tidak malah makin kuat, meskipun keduanya sudah berpisah lama.

Meskipun Gayatri telah menjadi permaisuri, dan berputri. “Mari Bibi antarkan pulang ke kaputren, Gusti Ajeng.”

Tanpa menyembah sebagaimana lazimnya seorang emban pengasuh, Nyai Demang langsung menggandeng Tunggadewi dan Rajadewi. Membawa masuk ke kaputren.

Pendeta Tlatah Syangka

MELEWATI pintu utama Keraton, Nyai Demang mulai merasa ada sesuatu yang menguntitnya. Ada udara dingin yang kadang terasa kadang tidak.

Nyai Demang dengan cepat bisa membedakan antara dinginnya tiupan angin malam dan pengaruh tenaga yang lain. Walaupun sangat samar Nyai Demang bisa menebak bahwa di sekelilingnya ada tokoh yang cukup tinggi ilmunya. Karena gerakan angin yang ditimbulkan sangat lembut. Akan tetapi terasa pengaruhnya.

Yang membuat Nyai Demang menjadi lebih hati-hati ialah arah tiupan angin dingin itu kadang dari sebelah belakang, kadang dari sebelah depan, kadang berubah dari samping. Seakan sedang mengamatinya dari semua sudut pandang.

Beberapa langkah Nyai Demang sengaja memperlambat jalannya atau menoleh dengan cepat, akan tetapi tak ada bayangan manusia atau desiran angin yang lebih keras.

Melewati pelataran Keraton, Nyai Demang lebih berhati-hati. Ia merasa bahwa bila terjadi sesuatu pada diri Rajadewi serta Tunggadewi, tak tahu lagi harus bagaimana mempertanggungjawabkan.

Ternyata apa yang menjadi kekuatirannya terjadi. Hanya saja ia sedikit terlambat. Begitu ada tiupan angin dingin dari arah belakang, Nyai Demang segera melindungi dua putri Keraton, sambil membalikkan tubuh dengan kedua tangan terentang.

Akan tetapi bayangan itu muncul di arah belakang.

Begitu Nyai Demang berbalik, Rajadewi dan Tunggadewi sudah berada dalam dekapan orang yang wajahnya nampak samar-samar dalam kegelapan malam.

Hati Nyai Demang bercekat.

Sungguh digdaya pendekar yang satu ini. Kesiuran angin yang dikeluarkan bisa menjebak lawan. Gerakannya amat sangat cepat sekali.

Namun Nyai Demang tak mau berpikir panjang. Begitu melihat bayangan yang menarik Tunggadewi dan Rajadewi, kedua tangan yang sudah terentang menepuk ke depan. Dibarengi dengan goyangan tubuhnya yang menjadi sangat lemas.

Tanpa menghindar atau membalas, bayangan samar itu menggelengkan kepalanya perlahan. Ketika dua tangan Nyai Demang menyentuh dada orang itu, tanpa sengaja dengan cepat ditarik kembali.

Tangannya seperti menyentuh bongkahan marmer yang sangat dingin. “Lepaskan!”

“Sssttt!”

Kaki kanan Nyai Demang menendang. Tepat mengenai sasaran, yaitu paha lawan. Akan tetapi lagi-lagi justru angin dingin yang mendesir masuk ke ulu hatinya.

Tanpa terasa tubuh Nyai Demang bergoyang karena kedinginan. “Kau…”

“Sssttt!”

Kini Nyai Demang baru bisa melihat sedikit lebih jelas. Manusia bertubuh dingin itu memang nampak samar karena tubuhnya berada dalam gelap. Kedua pipinya turun. Matanya berkilau dan menusuk. Bibirnya, barangkali saja membentuk senyuman. Akan tetapi tertutup oleh pipinya yang tembam. “Aku yang mengantar ke dalam.” “Tunggu…”

“Sssttt!”

Cepat jalan pikiran Nyai Demang bekerja. Bahwa yang dihadapi ini bukan sembarang tokoh. Jelas-jelas ilmunya di atas dirinya. Akan tetapi caranya ber-Sssttt, menunjukkan bahwa kehadirannya juga tak ingin diketahui orang lain.

Nyai Demang bisa menebak lebih jauh. Tubuh yang dingin bagai air es di puncak pegunungan, menandai bahwa pemiliknya mempunyai tenaga dalam yang bersumber dari tenaga dingin. Latihan dan penguasaannya cukup hebat.

Selama ini, hanya beberapa tokoh saja yang mempelajari secara khusus tenaga dalam semacam itu. Yang diketahui oleh Nyai Demang adalah Kiai Sambartaka. Dengan Pukulan Beku atau Mandeg Mangu. Sama menggunakan tenaga dalam yang berhawa dingin. Hanya saja Kiai Sambartaka menggunakan untuk membekukan darah lawan yang berhasil dipegang. Sementara tokoh yang dihadapi ini justru sebaliknya. Membekukan darah dan tubuhnya sendiri.

Di seluruh jagat ini tak begitu banyak yang secara khusus mempelajari ilmu pengerahan tenaga dingin. Biasanya mempelajari dua-duanya. Yaitu tenaga panas dan sekaligus juga tenaga dingin. Karena untuk mempelajari salah satu saja, bisa terganggu keseimbangannya. Apalagi kalau yang diambil sebagai latihan utama adalah pengerahan dan pengaturan tenaga dingin.

Salah-salah dari awal tubuhnya sendiri yang beku jadi mayat.

Dan kalau Kiai Sambartaka yang berasal dari tlatah Hindia pun tidak mengkhususkan diri, tak bisa lain tokoh yang dihadapi ini adalah…

“Rupanya saya berhadapan dengan Pendeta dari tlatah Syangka. Sungguh suatu kehormatan besar bisa berkenalan.”

Kedua pipi tembam bergerak-gerak. Suaranya perlahan sekali.

“Marilah kita bicara sambil berjalan, agar tak menarik perhatian. “Nyai Demang sungguh tajam dan luar biasa sekali. Barangkali di seluruh tanah Jawa ini hanya Nyai yang bisa mengenali asal-usul saya tanpa diberitahu.

“Sungguh karunia Budi Luhur Tanpa Batas.

“Nyai, atas nama hamba Budi Luhur, saya meminta maaf kalau mengganggu Nyai. Percayalah, dua putri ini akan selamat sampai di kaputren. Nyai tak perlu bersusah payah…”

Satu kesiuran angin dingin menyelinap, dan bersamaan dengan itu bayangan Pendeta Syangka sudah lenyap dari pandangan mata. Bersama dengan Rajadewi dan Tunggadewi.

Nyai Demang bukannya tak mengetahui arah gerakan Pendeta Syangka, akan tetapi kalau ia mengejar sambil mengeluarkan tenaga sepenuhnya, seluruh prajurit Keraton akan mengetahui keberadaannya.

Bisa-bisa lebih runyam.

Karena arahnya menuju kaputren, Nyai Demang merasa sedikit lebih tenang.

Untuk lebih meyakinkan, ia berusaha meneruskan langkahnya. “Kita pasti bertemu lagi, Nyai.”

Angin dingin itu seolah bertiup di pinggir daun telinga Nyai Demang. Hingga langkahnya menjadi urung.

Ini benar-benar luar biasa. Dalam sekejap saja, seluruh jago utama dari semua pelosok jagat bermunculan. Nyai Demang hanya bisa menduga-duga saja kehadiran Pendeta Syangka. Bukan tidak mungkin dengan tujuan memperebutkan siapa yang paling menguasai Kitab Bumi. Atau apa pun namanya.

Sejauh yang Nyai Demang ketahui, tlatah Syangka lebih jauh dari tlatah Hindia. Masih harus menyeberangi lautan lagi. Tlatah Syangka, dalam kitab-kitab yang dibacanya, dulu juga disebut tlatah Sri Langka. Suatu wilayah luas dengan pendeta-pendeta Budha yang sakti. Hanya saja selama ini kebesarannya tertutup oleh pendeta-pendeta Hindu dari tlatah Hindia. Bukan mustahil kalau nama Kiai Sambartaka lebih dikenal daripada Pendeta Syangka, yang ia sendiri tak mengenali nama dan gelarannya. Walau jelas, ilmu yang dimiliki belum tentu kalah dengan tokoh-tokoh utama.

Nyai Demang makin mengakui kehebatan Eyang Sepuh, yang nyatanya bisa mengundang perhatian sampai ujung jagat.

Di bawah kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara, semua hubungan ke tepi laut seberang mana pun bisa terjajaki.

Kalau benar Pendeta Syangka berniat menjajal keunggulan dan merebut gelar lelananging jagat, kenapa tidak berada di Trowulan? Sungguh tidak masuk akal kalau tidak tahu.

Akan tetapi kalau bukan mencari kemenangan, apa hubungannya muncul di Keraton?

Kenapa bisa begitu leluasa masuk ke dalam kaputren? Ataukah utusan khusus Baginda?

Agak masuk akal, meskipun Nyai Demang akhirnya meragukan sendiri. Agak masuk akal, karena sebagai raja, Baginda selalu dikelilingi oleh beberapa pendeta, tokoh sakti, dari berbagai tlatah. Boleh dikatakan semua raja dikelilingi tokoh sakti. ”

Yang membuat Nyai Demang ragu adalah Baginda tak begitu mengenal hubungan dengan tlatah Syangka.

Apalagi, selama ini memang tak pernah ada hubungan baik. Berbeda dari tlatah yang lain, tlatah Syangka mempunyai ciri dan warna tersendiri dalam hubungan dengan raja-raja di tanah Jawa atau tanah Sriwijaya.

Keraton Agung Sriwijaya pernah menaklukkan tanah Syangka. Prajurit dan para senopati bahari dari Keraton Sriwijaya berhasil menguasai tanah Syangka.

Sejak itu boleh dikatakan ksatria dan pendekar dari Syangka, termasuk para pendeta, ingin melepaskan diri dari pengakuan atas Keraton Sriwijaya. Itu sebabnya hubungan kedua keraton yang berbatasan lautan luas tak pernah bisa tenteram. Meskipun di permukaan, setiap saat tertentu utusan dari Syangka datang dan menyerahkan tanda pengakuan kekuasan Keraton Sriwijaya.

Tradisi Syangka pada Putra Mahkota

MESKIPUN kejadiannya sudah lama sekali, sekitar seratus tahun lebih, akan tetapi Nyai Demang masih bisa membenarkan apa yang dituliskan dalam kitab-kitab yang pernah dibacanya.

Sekarang yang membuatnya bimbang dan ingin tahu: apa arti kehadiran Pendeta Syangka?

Mengabdi pada Baginda, jelas sangat tipis kemungkinannya.

Mengabdi kepada Mahapatih, rasanya kurang tepat juga. Sebagai pendeta, mereka hanya mengabdi kepada yang tertinggi. Yaitu Raja.

Kalau bukan Baginda, hanya ada satu kemungkinan. Yaitu Putra Mahkota Bagus Kala Gemet.

Siapa lagi, mengingat keleluasaan yang berlaku padanya. Dan kalau benar begitu, ceritanya bisa panjang sekali. Karena Nyai Demang tetap dipenuhi tanda tanya: kenapa Putra Mahkota begitu bersemangat mengumpulkan tokoh-tokoh sakti?

Ataukah diam-diam sedang menyusun kekuatan untuk mempersiapkan diri kalau nanti dinobatkan sebagai raja?

Dipenuhi pikiran semacam itu, Nyai Demang jadi maju. Ia mengambil langkah memutar. Menuju ke bagian yang didiami Putra Mahkota.

Untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setidaknya dari Senopati Sora bisa diketahui terjadinya sesuatu yang luar biasa.

Menyebut nama Senopati Sora, dalam hati Nyai Demang makin bercabang pertanyaan. Selama ini Baginda sudah memutuskan Senopati Sora untuk mendampingi Putra Mahkota. Bahkan sudah menyediakan Dahanapura sebagai tempat mesu budi, atau latihan pengendalian nafsu. Sebagai tempat latihan memerintah.

Agaknya Putra Mahkota tak merasa cukup puas dengan Senopati Sora. Merasa perlu mengumpulkan yang lainnya.

Kalau tidak salah duga, termasuk Maha Singanada!

Yang kelihatannya juga menerima perintah langsung dari Putra Mahkota. Ini yang diketahui.

Bukan tidak mungkin masih ada yang tersembunyi.

Yang akan muncul ke atas permukaan pada saat diperlukan nanti. Suatu intrik yang membuat bulu kuduk Nyai Demang berdiri. Secara langsung ia mengalami sendiri saat-saat Raja Muda Gelang-Gelang, Jayakatwang, menyusun taktik yang sama hinanya dalam menghancurkan Keraton Singasari.

Kemudian dibalas oleh Raden Sanggrama Wijaya serta pasukan dari Tartar. Yang pada gilirannya diusir ke tengah laut.

Dan kemudian juga munculnya Halayudha, senopati Keraton yang dekat dengan Baginda dan mampu mengeruhkan yang jernih, mengaburkan yang samar.

Terbersit juga pertanyaan dalam hati Nyai Demang. Apakah semua ini tak diketahui oleh Baginda?

Ataukah sudah diketahui dan sengaja dibiarkan? Agar ada yang muncul ke permukaan, mengadakan perlawanan, untuk kemudian ditumpas habis?

Nyai Demang tak begitu paham dengan tata budaya mencari kekuasaan. Ia jauh dari semua keinginan itu. Semua yang diketahui mengenai liku-liku dan tata pemerintahan hanya dari kegemarannya membaca buku semata.

Tanpa pernah terlibat langsung.

Kalaupun terjadi pada dirinya, itu hanya tingkat demang, yang sungguh jauh dari menggapai Keraton. Jauh sekali jenjangnya. Toh begitu, Nyai Demang merasakan kepahitan hidup yang tak akan pernah terlupakan!

Kematian suami dan anak-anaknya yang mengenaskan! Pengorbanan kehormatannya!

Nyai Demang mengenyahkan pikiran yang menyangkut dirinya. Dengan cepat tubuhnya bergerak. Masuk menuju bagian perumahan yang didiami Senopati Sora.

Dengan harapan bisa mendengar sesuatu. Yang berhubungan dengan Pendeta Syangka.

Ketika Nyai Demang menemukan tempat kediaman yang sepi, ia merasa salah langkah. Adalah di luar dugaannya ketika ia sedang merunduk di bawah jendela, mendadak jendela itu dibuka perlahan.

“Marilah kita bicara di dalam, Nyai.” Suara Senopati Sora!

“Kamar sederhana ini terbuka bagi jiwa ksatria sejati. Masuklah, Nyai, sebelum pintu tertutup bagi persahabatan.”

Nyai Demang segera bergegas, masuk melalui pintu depan yang ternyata tak terkunci. Dengan menunduk, Nyai Demang menghaturkan sembah, lalu jalan-duduk ke arah dalam.

Senopati Sora duduk di ruangan tengah, bersila, tanpa membuat gerakan. Nyai Demang kaget juga karena seluruh ruangan kosong.

“Maafkan kelancangan saya, Senopati.”

Ucapan Nyai Demang bukanlah sekadar basa-basi. Perbuatan mengintai kediaman seseorang adalah kesalahan yang tercela. Dan Nyai Demang benar-benar merasa bersalah. Akan tetapi Senopati Sora hanya menghela napas. “Selama masih bisa memberi dan menerima maaf, selama itu pula kita seharusnya merasa bersyukur. Pupung ada waktu sebentar, pupung masih ada perjumpaan, kenapa tidak kita manfaatkan sisa waktu yang sekejap ini?”

Nyai Demang merasa kalimat Senopati Sora tidak keruan ujung-pangkalnya. Hanya karena suaranya menyayat serta diucapkan dengan nada berat, Nyai Demang tak berani mempertanyakan.

Dan memang tak perlu.

Karena Senopati Sora melanjutkan.

“Nyai, saya juga minta maaf karena tak bisa menyambut tetamu yang berjiwa ksatria dengan baik.

“Saya akan segera kembali ke tanah asal. Malam ini juga saya harus segera berangkat. Titip, jaga kebesaran Keraton.”

Di telinga Nyai Demang, kata-kata itu terdengar sangat aneh. “Nyai akan segera mengetahui.

“Oleh Baginda Putra Mahkota, saya dititahkan kembali ke Dahana, menjaga di sana. Sebagai prajurit yang gagal berkali-kali, saya merasa semuanya telah cukup.

“Saya orang tua yang tak berguna.

“Hanya karena saya dididik dalam keprajuritan, saya tak ingin membunuh diri saya untuk menebus dosa.

“Ah, sedikit lega dada ini bisa mengatakan sesuatu. Apakah Nyai ingin menyaksikan pemakaian gelar Pandya? Beruntunglah Nyai diundang dalam perjamuan kebesaran tradisi Syangka ini.”

Bagi Nyai Demang, semuanya menjadi jelas!

Senopati Sora dianggap gagal. Untuk itu ia dipulangkan ke Dahanapura, tempat kediaman resmi Putra Mahkota Bagus Kala Gemet. Sedangkan Putra Mahkota tetap tinggal di Keraton. Lebih dari itu, Putra Mahkota sedang mengadakan perjamuan besar. Peristiwa yang mengandung makna sangat dalam, karena Senopati Sora menyebutkan sebagai pemakaian gelar Pandya!

Gelar itu adalah gelar yang biasa dipakai oleh mereka yang naik takhta secara resmi. Nama Pandya, menunjukkan tradisi tanah Syangka.

Ini berarti, Putra Mahkota Bagus Kala Gemet diam-diam sudah mengangkat dirinya sebagai raja! Untuk tidak terlalu menarik perhatian dan pertentangan, diberi gelar Pandya di belakang nama yang dipilih.

Dengan itu pula sekaligus menunjukkan, bahwa Bagus Kala Gemet telah memilih cara tata kenegaraan yang terjadi di tanah Syangka!

Kalau dulu Raden Sanggrama Wijaya memakai gelar yang menunjukkan dirinya berasal dari keturunan Keraton Singasari, kini justru Putra Mahkota Keraton Majapahit memakai gelar dari nama raja-raja di Syangka.

Sungguh tak masuk di akalnya.

Lebih tak masuk akal lagi kalau ia menduga bahwa Senopati Sora sedang menceritakan lelucon.

Nyai Demang merasa batinnya perih.

“Duh, Senopati Sora, apakah telinga saya tidak salah dengar?” “Saya akan segera kembali ke tanah asal, Nyai.

“Rasanya masih ada waktu untuk mengatakan segalanya dengan jujur.” Nyai Demang menyembah dengan hormat.

“Senopati perkasa, jangan salah tampa. Saya tidak bermaksud…” “Saya tahu, Nyai.”

“Apakah ini semua karena ulah Pendeta Syangka?” Tak ada jawaban. Helaan napas dalam.

“Karena saya tak tahu pasti jawabannya, saya tidak berani menjawab apa-apa. “Nyai-lah yang akan menemukan jawaban itu.”

“Senopati…” Senopati Sora berdiri.