-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 21

Jilid 21

Gempuran Kalacakra membuat Mahapatih merasa ubun-ubunnya didesiri angin dingin, Segenap tenaganya hanya bisa dipakai untuk menangkis, Kelewangnya tergetar, dan terlempar jauh. Dengan mengegos sedikit, Mahapatih merasa pundaknya perih. Irisan angin sanggup membuat luka yang langsung membuat pundaknya berwarna kemerah-merahan.

Hal yang sama dialami oleh Senopati Anabrang.

Begitu Kalandara menyerang dengan gerakan kilat, Senopati Anabrang mengangkat kedua pedangnya. Satu dipakai untuk menangkis keras, satunya dipakai untuk mencuri serangan,

Celakanya justru yang dipakai untuk menangkis terseret arus tenaga lawan dan terpental ke tengah udara, Persis seperti kelewang Mahapatih, Bedanya sekarang tak ada yang menyambar

Sementara tusukan ke dada lawan seperti mengenai karung berisi angin. Tanpa merasa sungkan lagi, Senopati Anabrang menjatuhkan diri dan melindungi seluruh tubuhnya dengan satu pedang. Pada saat yang sama, Senopati Kuti sudah meloncat ke angkasa sambil melemparkan senjata andalannya, yaitu tameng, atau perisai, Berbentuk seperti ceping, perisai ini terlontar tiga buah berturut-turut mengeluarkan desingan suara.

Semua prajurit juga bersiap.

Tanpa memperlihatkan kecemasan dan juga rasa menang, Kalacakra dan Kalandara saling merapatkan punggung Dengan pedang panjang di tangan masing- masing, keduanya siap menghadapi keroyokan.

“Bagus ya, Kakang.”

“Bagus sekali, Nyai, Mereka bisa main bersama, Selama ini aku tak pernah menjajal Nyai mau melatihku?”

“Sekarang pun bisa.” “Betul? Nyai mau?”

Pertanyaan Galih Kaliki sebenarnya lebih merupakan keheranan karena selama ini Nyai Demang tak pernah mau bersamanya. Makanya ia mengeluarkan seruan heran. Sedangkan bagi Mpu Sora yang mendengarkan, menyadari bahwa keheranan Galih Kaliki disebabkan karena Nyai Demang mau terjun ke gelanggang pertempuran untuk membela Keraton.

Memang Nyai Demang mempunyai dendam kepada Keraton. Mpu Sora hanya mempunyai dugaan bahwa hancurnya Perguruan Awan dan cacatnya Upasara Wulung cepat atau lambat akan membangkitkan balas dendam. Makanya cukup mengherankan bahwa Nyai Demang sekarang ini mau membela.

Bagi Nyai Demang masalahnya sederhana. Ia menyimpan dendam yang membuat dadanya yang montok menjadi sesek. Akan tetapi karena kini ada ancaman dari luar, ia tak bisa berpangku tangan, Biar bagaimanapun, ini soal kehormatan dan keluhuran tanah air.

Maka Nyai Demang berniat maju.

Dendam urusan pribadi bisa dikesampingkan,

“Bagus, Nyai, Kita maju bersama. Kamu pilih yang mana dan aku yang mana?” “Kakang bisa menghadapi sendirian.” “Aku?”

Nyai Demang berdesis.

Suaranya sengaja dikeraskan, agar bisa terdengar telinga lain selain Galih

Kaliki

“Kedua Kama ini hebat kelihatannya, akan tetapi sebenarnya biasa-biasa saja ilmunya.

“Kelihatan hebat karena dalam sekejap bisa membuat senopati agung Majapahit yang sombong jadi panas-dingin keringatan. Mahapatih Nambi, Mpu Sora, Senopati Anabrang, Senopati Semi, bahkan tameng Senopati Kuti tak berbuat banyak. Besar atau kecil perhitungannya, mereka bisa dikalahkan.

“Dan kalau sekarang akan diadakan pengeroyokan hebat, hanya akan memperbanyak korban berjatuhan.

“Padahal hanya kelihatannya saja hebat,

Ilmu yang mereka mainkan biasa-biasa saja, Mereka mulai dengan kidungan Kitab Penolak Bumi yang kita miliki, Dalam kidungan itu selalu dimulai dengan penolakan, dengan pengingkaran. itu tadi yang dimainkan Kalacakra dan Kalandara, Sehingga lawan yang dihadapi bukanlah lawannya. Dengan cara begini saja, para senopati perkasa jadi kelabakan.

“Kakang, maju saja sendiri.” Galih Kaliki maju ke tengah.

“Dengan cara yang sama Kakang hadapi mereka. Yang menyerang berarti bertahan, yang bertahan berarti tidak menyerang. Gunakan satu tangan mengedepankan tongkat. Tak perlu diayun.”

Kalacakra dan Kalandara yang beradu punggung memutar begitu Galih Kaliki mendekat. Satu pedang terayun. Galih Kaliki mengedepankan tongkatnya. Kalacakra mendadak menghindar ke arah lain, sehingga Kalandara yang berhadapan.

Galih Kaliki tertawa. “Bagus, Nyai. Mereka berputar bagai gasing.”

“Yang berputar itu ditentukan oleh yang diam. Gasing hanya berputar di bagian pinggir. Kakang jangan pedulikan. Jangan bicara. Gerakan tongkat untuk menjawab. Jangan pedulikan yang kiri atau yang kanan, yang bergerak atau yang diam, berarti ia sendiri tak bergerak. Sementara yang diam tidak diam, karena ia bisa bergerak bisa diam.”

Senopati Anabrang memuji keunggulan Nyai Demang. Ketika serangan datang, lagi-lagi Galih Kaliki mengedepankan tongkat. Sambil terus maju. Mengetok, menyodorkan, silih berganti.

Justru akibatnya kedua Kama jadi terdesak.

Senopati Anabrang melihat bahwa Galih Kaliki lebih banyak menunggu serangan. Dengan cara menggerakkan jurus yang sama dan berulang!

Senopati Anabrang jadi ingat ketika berhasil mematahkan barisan sembilan Gandring! Saat itu ia juga dalam keadaan sangat terdesak, dan mendadak tenaga dalam yang disalurkan oleh Upasara yang tersarang dalam tubuhnya bagai magma melonjak ke luar laksana lahar. Memancar begitu saja!

Sekarang ini kurang-lebih sama!

Meskipun kelihatan sekali perbedaan cara mengatur serangan. Kalau sembilan Gandring mempersatukan tenaga dan kekuatan yang ada, kedua Kama ini menyatukan diri tanpa masing-masing kehilangan kemampuannya. Seperti ditunjukkan dengan serangan berlainan arah tadi.

Mahapatih memandang dengan mata menyipit.

Kalau tadi ia merasa pamornya bakal hilang kalau Nyai Demang yang bisa menyelesaikan persoalan, sekarang pilihannya jadi lain. Ia tak merasa rendah kalau Nyai Demang dan Galih Kaliki yang bisa mengenyahkan atau membuyarkan kedua Kama itu. Setidaknya ini jauh lebih baik, daripada Keraton diobrak-abrik tanpa perlawanan berarti.

“Jangan mendahului, Kakang, tetapi jangan menunggu. Pedang panjang sebenarnya pendek seperti tangan. Pedang pendek tak pernah digunakan. Satukan pikiran, jangan melihat lawan. Dengarkan kata-kata saja. Karena lawan di depan atau di belakang, sebenarnya tak bisa menjauh.”

Galih Kaliki memapaki serangan, mengimbangi dengan kecepatan yang sama. Kalacakra dan Kalandara makin terdesak. Berputar-putar, dan menjauh dari

Galih Kaliki yang dengan sangat mudah menyatukan pemusatan pikiran. Tanpa

diminta tanpa disuruh, Galih Kaliki sudah dengan sendirinya hanya memikirkan Nyai Demang.

Mendadak terdengar suara pelan, tidak terlalu berat nadanya, namun cukup jelas terdengar. Bukan semata-mata karena alun-alun sunyi dan hanya suara Nyai Demang yang terdengar, akan tetapi karena suara itu dikeluarkan dari tenaga dalam yang terlatih sempurna.

“Jangan bertanya kanan atau kiri, atas atau bawah, depan atau belakang, kalau jawabannya akan selalu sama.

“Jangan mendengarkan yang bicara, karena lawan yang tidak berbicara lebih berbahaya. Seekor burung bisa dilatih berbicara, akan tetapi tak bisa mengerti artinya.

“Jangan memaksa diri. Kalau kalah, kenapa tak mau mengakui?

Kedua Kama mengeluarkan teriakan keras, lalu keduanya duduk bersila di tanah. Kedua pedang yang pendek yang tadi selalu tersembunyi, kami siap untuk melakukan bunuh diri.

“Guru, kalau Guru tak mau tangan Guru kotor, biarlah murid yang melakukan sendiri. Kami mohon petunjuk.”

Yang dipanggil Guru adalah seorang lelaki gagah, usianya lebih tua dan kedua Kama. Alisnya lebat dan bola matanya sangat galak. Dialah yang memerintah kedua Kama, yang membahasakan diri sebagai murid, untuk menyerah.

.       .

“Kalau hidup pantas dinikmati, untuk apa menuju nirwana? Belum tentu di sana ada pedang dan lumpur.”

Suara Nyai Demang membuat kedua Kama menunduk. Baru tegak setelah Guru juga memberi hormat kepada Nyai Demang. “Sungguh mulia hati wanita sejati. Aku Kama Kangkam atau disebut Benih Pedang, guru kedua murid yang tidak becus ini berutang budi pada wanita berhati mulia.”

Nyai Demang tergetar. Kalau muridnya saja begini hebat, apalagi gurunya.

Namanya saja sudah menggetarkan, Benih Pedang! Pertarungan Garingan

KAMA KANGKAM membungkukkan badannya sekali lagi.

Nyai Demang balas membungkuk sedikit, dengan tangan kanan tertekuk. “Kenapa begitu sungkan memberi gelaran wanita mulia segala? Di negeri ini

wanita tidak hanya bisa membasuh kaki seperti wanita Jepun.” “Bolehkah saya mengetahui nama besar Putri?”

“Nama saya tidak memiliki. Hanya sebutan saja, yaitu Nyai. Karena saya sudah mempunyai suami. Dan karena pangkat suami saya demang, maka saya terbiasa dipanggil Nyai Demang.

“Kama Kangkam, bahasa yang kamu gunakan sangat bagus.”

“Agak lama berdiam di tanah Jawa, datang bersama pasukan Tartar. Akan tetapi kemampuan saya sangat terbatas, Nyai. Apalagi ada huruf-huruf yang tak bisa saya ucapkan dengan betul.

“Maaf, apakah Nyai masih ada hubungan dengan Perguruan Awan?”

“Ada atau tidak, tak ada gunanya ditanyakan. Karena kalaupun bukan dari Perguruan Awan, saya tak akan membiarkan Keraton diobrak-abrik secara begini.”

“Dua kali maaf, Nyai.

“Kami datang untuk melacak kitab pusaka negeri kami yang hilang musnah.” Nyai Demang mengibaskan tangannya. “Kama Kangkam, kamu adalah seorang guru yang berilmu tinggi. Di negerimu sendiri tingkatanmu bukan hanya ksatria, akan tetapi sejajar dengan pendeta. Untuk apa berbasa-basi seperti itu?

“Aku tahu kamu datang ke tanah Jawa untuk menunjukkan bahwa kamulah satu-satunya ksatria tanpa tanding. Di setiap tempat, pedang matahari ingin kamu tegakkan. Kenapa beralasan Kitab Bumi segala macam?”

Kama Kangkam tegak berdiri.

“Kalau sudah tahu maksud kami sebenarnya, silakan bersiap. Kita akan berhadapan.

“Silakan siapa yang akan maju.”

Senopati Kuti memberi aba peringatan. Tiga perisainya meluncur dengan desingan tinggi, saling beruntun. Kama Kangkam mengeluarkan suara ejekan. Tanpa menggeser kaki dan tubuhnya, tangannya justru menangkap perisai berbentuk caping itu. Sedikit di bawah caping, dan dengan satu sentakan perisai itu terbang balik.

Tiga perisai terbang balik! Seperti membalik tangan saja.

Yang luar biasa adalah perisai itu menghantam tiang sitinggil dan amblas ke dalam bangunan bata. Yang pertama masuk ke dalam tiang, disusul yang kedua dan ketiga. Semua masuk secara persis, berurutan, mengenai tempat yang sama. Akan tetapi caping itu tidak sampai jatuh ke luar tiang.

Senopati Kuti mengeluarkan suara kagum.

Mahapatih pun menduga bahwa yang dihadapi memang tidak sembarangan.

Setidaknya satu atau dua tingkat di atas rata-rata mereka. “Masih ada yang ingin menjajal?”

Galih Kaliki menjadi terbakar.

“Bagaimana, Nyai? Apakah saya maju sekarang ini?” Nyai Demang tersenyum. “Dalam Kitab Jalan Budha milik bangsa Jepun, dibenarkan memotong pohon untuk membuat sawah. Dibenarkan menebas yang atas untuk membuktikan siapa yang unggul.

“Di negeri ini bisa kita pakai membuka sawah tanpa menebang pohon.” “Nyai Demang, katakan, aku Kama Kangkam ingin mengetahui.”

“Kita bisa bertanding garingan, tanpa ada yang perlu terluka atau mati. Sawah siapa yang subur bisa diketahui tanpa harus ada pohon yang rebah.”

“Pengetahuan Nyai mungkin disamai oleh yang luhur.

“Baik, baik. Baru saja Kalacakra dan Kalandara terdesak ayunan tongkat. Boleh saya tahu apa nama jurus itu dan bagaimana mungkin bisa terjadi?”

Nyai Demang memandang ke arah langit.

“Kama Kangkam, kenapa kamu begitu suka berpura-pura?

“Bukankah itu yang dikenal sebagai pengerahan tenaga ilmu Tepukan Satu Tangan yang ada dalam Kitab Penolak Bumi} Yang juga kamu kenali dengan baik?

“Intinya adalah laku, pengertian bahwa tepukan satu tangan menjadi lebih nyaring dari dua tangan. Bagian itu ada dalam Kitab Penolak Bumi. Kidungan yang menceritakan itu adalah:

Ke mana air mengalir jawabnya: tepukan satu tangan ke mana angin bertiup jawabnya: tepukan satu tangan kalau hujan dari tanah ke langit tepukan satu tangan kalau sirna, tepukan satu tangan ke depan…

“Galih Kaliki tak memedulikan apakah serangan itu dari Kalacakra atau Kalandara. Tak peduli ‘angin bertiup ke mana’, tak peduli ‘air mengalir ke mana’, karena jawabannya sama. Juga lawan tak mengubah ‘hujan dari tanah ke langit’, atau juga tak ada serangan.

“Kama Kangkam, dengan jitu kamu bisa membaca jurus itu dan segera menarik dua muridmu.

“Bukankah sebenarnya kamu yang unggul?” Kama Kangkam menggelengkan kepalanya. “Kami yang mundur, berarti kami yang kalah.

“Yang menjadi pertanyaan, kenapa Nyai gunakan jurus itu?”

“Gerakan Kalacakra dan Kalandara mengingatkan saya akan jurus dalam kidungan yang bernama Sigar Penjalin.

“Sigar Penjalin adalah letak tanah yang dikepung dua air, baik keduanya mengalirkan air ataupun salah satu. Kelihatannya Kalandara dan Kalacakra menyerang bergantian, akan tetapi sebenarnya berarti menyerang keduanya. Dalam Kitab Penolak Bumi, jelas-jelas diberikan untuk tumbal itu, yaitu kekuatan diambil dari bumi, hanya dengan tenaga satu. Maka saya meminta Kakang Galih membuat gerakan dengan sebelah tangan. Dengan demikian satu tangan bisa menyedot tenaga dari dalam bumi. Sebenarnya kalau Kakang Galih menggunakan pedang, hasilnya akan lebih bagus lagi. Karena sifat yang lebih tepat adalah mempergunakan tenaga atau benda yang sifatnya tajam.”

Wajah Kama Kangkam sebentar-sebentar berubah antara putih dan pucat. “Ada benarnya yang Nyai katakan. Tapi kenapa kamu tak melihat jurus

Pedang Matahari Menutup Awan?” “Saya tak berhak memberitahukan kepada para senopati yang lebih hebat daripada saya.”

Dengan kata-kata itu sekaligus Nyai Demang menampar para senopati yang

ada.

Kama Kangkam berteriak dalam bahasanya, dan dengan cepat Kalacakra dan Kalandara bergerak seperti tadi. Masing-masing bergulung dan berpindah tempat dengan sangat cekatan.

Nyai Demang mendehem.

Galih Kaliki berdiri di tempat yang agak jauh.

“Kakang, mainkan Sekar Sinom. Gabungkan dengan pembukaan yang serba menolak.”

Galih Kaliki bergerak lambat, tongkatnya tegak berdiri di tengah, sementara kedua tangannya membentuk seperti daun, dan mengarah ke selatan.

Kalau tongkatnya kukuh, tangannya membara!

“Hebat,” puji Kama Kangkam. “Apakah itu yang dinamakan Sekar Sinom?” “Itulah jurus ketiga dalam Kitab Penolak Bumi. Jurus-jurus yang ada

diciptakan sedemikian rupa untuk memerintahkan, untuk menolak serangan, dengan

kerelaan menjadi tumbal andai keliru.

“Kangkam, jurus Sekar Sinom adalah jurus yang seharusnya dimainkan dari awal, yaitu jurus-jurus sebelumnya. Sehingga kalau langsung dimainkan agak berkurang tenaganya.”

“Apa artinya Sekar Sinom?”

“Aha, hitung-hitung kamu belajar dariku.

“Semua nama jurus—atau lebih tepat kidungan—yang ada dalam Tumbal Bantala Parwa, sebenarnya menggambarkan keadaan tanah. Tanah yang kita injak ini mempunyai watak. Mempunyai tenaga, mempunyai perasaan memiliki kekuatan.

“Letak tanah yang berbeda memberikan kekuatan yang berbeda pula. “Melihat jurus Pedang Matahari Menutup Awan, sebenarnya serangan dari dua arah yang berbeda. Lawan akan dijepit di tengah. Serangan ini sangat menguntungkan secara tak terduga, akan tetapi ada kekurangannya, yaitu bahwa pekerjaan yang dilakukan tak bisa sempurna.

“Dalam kidungan mengenai tanah yang disebut Sekar Sinom adalah tanah di mana ada mata air di sebelah selatan, tanah itu dikepung oleh kampung.”

“Kalau tanah dalam keadaan seperti itu, apa yang menjadi tumbal, penangkalnya?”

“Tenaga pohon asam di tengah sebagai pusat, dan bentuk pohon delima di sebelah selatan.”

“Selatan, kenapa selatan?”

Nyai Demang tertawa bergelak.

“Kangkam, orang sebodoh kamu bagaimana bisa mengangkat diri sebagai guru?

Apakah tidak malu?” Laku Itu Menerima

KAMA KANGKAM menjublak.

Matanya terbuka, wajahnya kosong.

“Kakang, rupanya mereka datang untuk berguru padaku. Bukan untuk tanding garingan. Percuma saja.

“Mari kita tinggalkan mereka.” Galih Kaliki mendekati.

“Apa kata Nyai.”

“Mohon Nyai Demang jangan meninggalkan tempat ini.

“Aku memang belum pantas menjadi guru. Sudilah menerangkan sebelum aku benar-benar menjadi penasaran.” “Kangkam, kamu bisa memakai kekuatan pedangmu untuk menghancurkan, tetapi kamu tak akan pernah mengerti apa yang disebut Jalan Budha.”

Kama Kangkam berlutut.

Kepalanya menyentuh tanah berulang-ulang. “Mohon Nyai Demang memberi petunjuk.” “Kami hanya mengajarkan kepada anak murid.”

Di luar dugaan, Kama Kangkam mengangguk lagi dalam-dalam. Diikuti oleh Kalacakra dan Kalandara.

“Terimalah kami sebagai murid.” Sungguh luar biasa.

Galih Kaliki pun tak menyangka.

“Jika Guru bisa menerangkan, saya akan mengabdi seumur hidup. Jika tak bisa, hari ini saya akan membunuh Guru.”

Siapa pun yang mendengarkan ancaman Kama Kangkam menyadari bahwa sikapnya bukan hanya main-main. Dan boleh dikatakan tak terlalu sulit bagi Kama Kangkam untuk membunuh Nyai Demang. Karena jelas lebih unggul Kama Kangkam.

Kalaupun beberapa ilmu Kama Kangkam bisa dipecahkan dengan jitu oleh Nyai Demang, itu hanya secara teori.

Karena di dalam praktek, tenaga dalam dan cara memainkan pedang panjang ketiga Kama guru dan murid ini jauh lebih tinggi.

“Kalau kamu berharap aku bisa memberi jawaban, kamu keliru memberikan pertanyaan.

“Di bagian depan ilmu Jalan Budha negeri Jepun sudah jelas, seperti di bagian pembuka Kitab Penolak Bumi. “Aku tak biasa menerangkan kenapa justru tenaga adalah di selatan. Yang bisa kujawab, karena kidungan berbunyi seperti itu.”

Kama Kangkam meloncat berdiri.

Bersama dengan itu pedang panjangnya lolos dari sarungnya, menebas sekitar.

Empat tombak putus seketika waktu turun ke tanah.

Memegang pedang di depan wajahnya, Kama Kangkam siap menghancurkan Nyai Demang.

Galih Kaliki berdiri di depan Nyai Demang. “Temyata kamu wanita pendusta!”

Nyai Demang meminggirkan Galih Kaliki. Walaupun berat hati, Galih Kaliki menyingkir.

“Aku bisa jadi pendusta. Siapa yang percaya? Aku bisa mengatakan Kitab Penolak Bumi adalah pendusta. Siapa yang percaya?

“Selama kita masih curiga, selama itu pula tak ada jawaban yang terdengar. Karena sewaktu curiga, telinga kita penuh isinya. Kita tak bisa mengisi cangkir yang tengah penuh airnya.

“Kangkam, kalau aku berdusta, kenapa kamu ragu-ragu?” “Katakan padaku, kenapa harus di selatan?”

“Karena itulah yang ditulis di kitab!

“Karena kita harus menerima. Itulah laku, itulah penerimaan, tanpa harus mempergunakan akal, ilmu, dan perasaan. Inilah koan dalam Kitab Jalan Budha.

“Kenapa ketika Mahaguru ditanya, ia hanya menjawab dengan mengangkat satu tangan? Kenapa tidak dua tangan? Kenapa tidak satu kaki atau dua kaki?

“Kenapa bunga teratai yang dipetik untuk memberi jawaban? Kenapa kita menganggap itu sebagai jawaban?” Mendadak suasana menjadi sangat sunyi.

“Kamu berharap aku bisa menerangkan ‘kenapa selatan’. Padahal apa bedanya selatan atau utara, barat atau timur? Itu hanya mata angin, tapi itulah jawabannya. Dengan tenaga kanan dan kiri akan terdengar lebih luwes. Akan tetapi nyatanya ditulis selatan.

“Selama kamu tak bisa menerima selatan, selama itu kamu akan bertanya.

Selama itu pula…”

Nyai Demang terbatuk. Kama guru menunduk.

Kedua muridnya menunggu. Tersipu. Galih Kaliki menghela napas.

“Ada ratusan Jalan Budha yang setiap kalimatnya mengandung pengertian ’selatan’. Kamu lebih tahu dariku, Kangkam.”

“Ada 248 Jalan Budha.”

“Seratus atau 248, apa bedanya? Lain guru lain jalannya.

“Dua Belas Jurus Nujum Bintang juga disebut Dwi Dasa Nujum Kartika. Padahal harusnya dua puluh. Barangkali saja sisanya yang delapan jurus itu yang disebut Tumbal Bantala Parwa. Sehingga secara keseluruhannya menjadi Dua Puluh Jurus Bumi.

“Itukah Kitab Bumi atau Bantala Parwa yang utuh? “Itukah?

“Itu bukan tidak mungkin kesalahan berat. “Pandangan yang sesat.

“Kenapa tidak bisa kita terima bahwa Dwi Dasa Nujum Kartika itu Dua Belas Jurus Nujum Bintang sebagaimana adanya dalam kitab itu? “Kangkam, kamu menjadi murid pun tak pantas.” Nyai Demang segera berlalu meninggalkan tempat itu. Diiringi oleh Galih Kaliki.

Sepeninggal mereka berdua, Kama Kangkam masih menunduk. Baru kemudian berdiri.

Mendadak meloncat ke angkasa, sambil mengeluarkan pedang panjang yang disabetkan keras.

Pedang itu mengenai tiang di mana perisai Mpu Kuti tersimpan. Yang segera terlontar ke luar. Kama Kangkam menyambar pedangnya yang panjang. Ketiga perisai itu disabet dengan satu gerakan.

Ketiganya terbelah.

Persis di tengah!

Pameran kekuatan dan kegesitan yang luar biasa.

Tak pernah ada yang mampu menunjukkan kemampuan begitu luar biasa, hanya dengan satu sabetan.

Bisa dibayangkan kalau disabetkan kepada manusia!

Semua senopati yang menyaksikan nggragap dan tergetar. Karena ternyata tiang di sitinggil itu perlahan-lahan rontok. Batu bata dan olesan putih telur yang dipakai merekatkan bersama madu seperti berubah menjadi bubur kering.

Dengan Kalacakra dan Kalandara berdiri di belakangnya, mereka bertiga seakan siap untuk menaklukkan seluruh senopati Majapahit.

Ketika itulah Halayudha masuk ke tengah ruangan. Diiringi dua prajurit yang membawa peti kayu.

“Kisanak ksatria dari Jepun, terimalah Kitab Bumi sebagai tanda persahabatan Majapahit dan Keraton Matahari.”

Mpu Nambi, sebagai mahapatih, mendesis! Kemurkaan sudah sampai di tenggorokan.

Dengan menyerahkan Kitab Bumi, berarti Keraton tunduk kepada Kama Kangkam! Itu tak boleh terjadi. Ini soal kehormatan Keraton. Soal tanah air. Tak boleh begitu saja menyerah.

Darah boleh membasah jadi sungai, nyawa boleh melayang, akan tetapi untuk menyerah, itu soal lain!

Bagi para senopati, tindakan Halayudha seperti juga tanda takluk. Tanda bertekuk lutut!

Mpu Sora merasa terbakar wajahnya.

Senopati Anabrang bahkan segera meninggalkan ruangan. Halayudha seperti tak terpengaruh sama sekali.

“Kisanak, terimalah persembahan kami.”

Halayudha memberi isyarat kepada prajurit yang membawa peti untuk menurunkan dan membukanya.

Kama Kangkam menengok ke dalam peti. Dua muridnya maju ke depan, mengambil klika yang berisi Dwi Dasa Nujum Kartika serta Tumbal Bantala Parwa. Membaca sekilas, lalu menyerahkan kepada Kama Kangkam. Kama Kangkam meneliti, untuk memastikan kitab itu asli atau hanya salinan.

“Sebenarnya kitab ini tak ada artinya. Ada yang lebih berharga dari kitab ini, yaitu Nyai Demang. Akan tetapi sebagai tanda pengakuan kalian, aku terima.”

Kama Kangkam mengembalikan kitab itu kepada muridnya yang segera memasukkan ke dalam peti.

Halayudha tersenyum.

Dengan mengibaskan tangannya, dua prajurit bergerak cepat. Tali yang tadi digunakan untuk mengangkut peti sekarang digunakan untuk mengikat Kama Kangkam, Kalacakra, dan Kalandara sekaligus!

Mata Kama Kangkam mendelik. “Ksatria Jepun, kamu kira kami menyerah begitu saja. Sekarang ini tangan kalian akan lemas dan tak bisa digerakkan. Maka terserah Dewa Matahari, apakah ia bermurah hati padamu atau tidak. Sebelum tenagamu pulih, kami akan mendengar suara Dewa Matahari-mu. Apakah kamu dibiarkan terikat tali seumur hidup atau dibuat cacat.”

Mahapatih tak menduga bahwa Halayudha berlaku curang! Kitab Penolak Bumi telah ditaburi racun sebelumnya.

Bantala Rengka

TINDAKAN Halayudha mengejutkan.

“Ksatria Jepun, terimalah nasibmu. Begitulah kalau merasa paling sakti di atas bumi. Pohon bisa dikalahkan tingginya, gunung bisa diatasi, bahkan langit. Akan tetapi manusia tak bisa dihina.”

Dengan memberi isyarat kibasan tangan, ketiga Kama digotong ke luar sitinggil dengan tubuh terikat tampar, atau tali yang tebalnya sebesar jari.

Suasana masih senyap.

Setelah prajurit yang membawa lenyap dari pandangan, Halayudha mendekat ke arah Mahapatih. Bersila dan menghaturkan sembah.

Semua yang hadir bertanya-tanya dalam hati. Apa sebenarnya maksud Halayudha?

Baru saja dengan cara yang licik menjebak ketiga Kama yang beringas. Kini seakan seluruh kegagahannya lenyap menguap.

Dan menyembah kepada Mahapatih Nambi.

Yang disembah pun tak menduga bakal menerima penghormatan seperti ini. Meskipun Nambi adalah Mahapatih yang diangkat secara resmi oleh Baginda

Raja, tetapi tak menyangka akan menerima penghormatan semacam ini. Di depan begitu banyak senopati dan prajurit, Halayudha begitu merendahkan dirinya. Sebagai pemegang jabatan mahapatih, Nambi ibarat kata raja yang melaksanakan perintah harian. Memegang kemudi pemerintahan sehari-hari. Sehingga senopati dan para empu seangkatannya tunduk dan melapor kepadanya tanpa kecuali. Dan itu memang dilaksanakan. Akan tetapi, karena riyawat dan perjalanannya hampir sama, boleh dikatakan sembah-menyembah tak terjadi.

Bahkan Mpu Sora pun tak perlu menyembah seperti yang dilakukan Halayudha.

Dalam posisi ini, Halayudha tak berbeda dari para senopati yang lain.

Pangkat hala sejajar dengan patih, ataupun patih amancanegara yang dijabat Adipati Lawe.

Halayudha sedikit lebih istimewa karena dialah patih yang sehari-hari berhubungan langsung dengan Baginda. Bahkan Mahapatih pun tak sesering Halayudha menghadap Baginda Raja.

“Berdirilah, Paman Halayudha.”

“Duh, Mahapatih,” kata Halayudha tanpa menggeser duduknya. “Saya telah melakukan kehinaan yang melukai kehormatan semua jiwa agung. Seumpama bumi saya adalah bumi yang terbelah. Sayalah bantala rengka. Seumpama telur dalam eraman, sayalah telur yang busuk.

“Saya telah melakukan kehinaan yang paling memalukan. Tak sepantasnya saya meracuni kitab pusaka, sehingga yang memegang akan kehilangan rasa dan kekuatan pada tangan dan tubuhnya.

“Saya melakukan semata-mata demi kehormatan kita semua, agar tak diinjak- injak ksatria berkucir dari Jepun.

“Akan tetapi apa pun alasan saya, sepenuhnya saya bersalah. Hukuman apa pun, saya siap menerima untuk meringankan dosa yang tak terampuni ini.

“Mohon Mahapatih menyebutkan hukuman apa.”

Cara berbicara Halayudha menunjukkan penyesalan yang dalam, sekaligus mengakui kekuasaan Mahapatih untuk menjatuhkan hukuman. Sebagai tangan kanan Baginda, Mahapatih Nambi memang berhak menjatuhkan hukuman. Memang dalam hal ini Keraton Majapahit mempunyai beberapa perkecualian. Karena sejarah berdirinya dan diangkatnya para senopati juga berbeda. Yaitu melalui peperangan bersenjata dalam mengusir lawan-lawannya. Baik Raja Muda Jayakatwang ataupun pasukan dari Tartar.

Sehingga ada beberapa senopati yang juga mendapatkan sebutan dharmaputra, putra yang berbakti atau berjasa. Dengan demikian selain jabatan serta pangkat pangalasan wineh suka atau prajurit yang mendapat hak-hak istimewa. Senopati Kuti, Sora, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, dan Halayudha termasuk dalam sebutan dharmaputra. Sehingga walaupun berhak, Mahapatih juga memandang kekuasaan Baginda.

Tak nanti sembrono main menghukum saja.

Ini tak mengurangi arti bahwa Halayudha memang bersalah! Berbuat hina!

Akan tetapi pertimbangan lain adalah bahwa Halayudha berbuat sesuatu yang licik untuk menyelamatkan Keraton. Hanya dengan cara meracuni secara diam-diam, Halayudha bisa menjebak Kama guru dan dua muridnya. Rasanya kalau bertempur biasa, belum tentu bisa memenangkan, tanpa banyak korban. Bahkan bisa-bisa jatuh korban dan tetap kalah.

Dilihat dari sisi lain, Mahapatih jadi ragu. Menghukum tidak sepenuhnya benar.

Memberi ampunan begitu saja, juga tak bisa dibenarkan.

Sebab yang terutama sekali, kalau cara-cara Halayudha dibenarkan, nilai-nilai kejujuran, nilai-nilai jiwa ksatria yang luhur yang ingin ditegakkan menjadi mencong adanya.

Mahapatih menyadari bahwa di antara para senopati sendiri terjadi semacam kebimbangan dalam hal ini. Terutama karena sikap ini menyangkut sikap Baginda! Raja yang menjadi satu-satunya pusat kekuatan dan kekuasaan untuk dianut.

Para senopati ada yang tidak sepenuhnya setuju sewaktu Baginda masih menjadi senopati dan menggempur pasukan Tartar. Cara-cara yang digunakan tidak sepenuhnya menumbuhkan jiwa ksatria. Bagi Mpu Sora hal itu diperjelas lagi sewaktu Baginda menitahkan Permaisuri Rajapatni ke Perguruan Awan. Bahkan semua manusia mungkin sekali-dua melakukan kesalahan, hal itu wajar dan bisa diterima.

Akan tetapi tidak berlaku untuk seorang raja!

Baginda Raja tak boleh kelihatan salah atau meragukan sifat ksatria! Akibatnya bisa hancur-hancuran seluruh tatanan yang ingin ditegakkan.

Kekeliruan Baginda ibarat kata bisa meruntuhkan langit dan membuat bantala rengka.

Keraguan Mahapatih membuat suasana lengang agak lama. Halayudha menyembah lagi.

Lalu mendadak mencabut keris dari pinggangnya dan dengan gerakan kilat ditusukkan ke lambungnya sendiri.

Mpu Renteng yang melihat kemungkinan ini, menjulurkan ujung kainnya. Sementara Senopati Pangsa yang berbeda tak begitu jauh, menyambar pergelangan tangan Halayudha.

Keris itu hanya menyerempet perut bagian luar. Mahapatih menghela napas.

Pikirannya berjalan cepat. Tindakan Mpu Renteng dan Senopati Pangsa ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka berdua tidak menyetujui hukuman bunuh diri yang dilakukan Halayudha.

“Sudahlah, Paman Halayudha.

“Baginda Raja yang berhak menentukan hukuman atau pujian. Masih ada waktu untuk sowan, menghadap Baginda.”

Mahapatih segera meninggalkan tempat.

Kembali ke tempat istirahatnya dengan pikiran yang penuh. Santapan yang disediakan tak disentuh, istri utama dan para selir tak berani mendekat kalau Mahapatih seperti beradu alisnya. Rasanya setiap hari beban sebagai mahapatih bertambah berat di pundaknya.

Mpu Nambi masih belum begitu percaya, ketika suatu saat Halayudha datang kepadanya dan menceritakan bahwa Baginda sangat terkesan akan pengabdiannya. Terkesan akan cara-cara memimpin prajurit telik sandi.

Secara tidak langsung, saat itu Halayudha membisikkan bahwa kemungkinan Nambi diangkat mahapatih sangat besar. Hanya saja mungkin banyak yang iri.

“Tetapi Baginda percaya, Senopati Nambi akan bisa mengatasi. Kalau perlu dengan segenap ilmu yang ada.”

Bahkan saat itu pun, Nambi masih menduga-duga Halayudha seperti menyimpan dan juga menyebarkan benih-benih permusuhan. Membangkitkan kecurigaan dan permusuhan.

Namun nyatanya benar!

Dalam pasewakan agung, Baginda Raja mengangkat sebagai mahapatih. Mahapatih Nambi, tangan kanan Baginda Raja. Saat itu pun telah terlihat bibit permusuhan. Adipati Lawe segera meninggalkan pasewakan agung!

Tindakan yang secara terang-terangan menantang Baginda!

Bagi Mahapatih, bantala rengka bukan berarti perbuatan yang licik saja. Kata- kata itu juga bisa berarti bahwa kini tanah telah terbelah. Ada lubang menganga. Ada keretakan besar!

Persatuan yang utuh saat-saat merebut Singasari tak ada lagi! Sesuatu yang sangat disayangkan.

Saat itu, selesai pelantikan, Halayudha datang lagi kepadanya. “Mahapatih Nambi, kenapa Mahapatih justru berwajah sedih?” “Paman Halayudha, rasanya banyak dharmaputra yang lebih pantas.”

“Mahapatih, hal yang paling tercela dalam hidup ini, kalau saya boleh lancang, adalah meragukan kehormatan yang diberikan oleh Baginda.” “Adipati Lawe meninggalkan pertemuan.”

“Adipati Lawe adalah putra Aria Wiraraja yang perkasa dan dihormati. Keponakan Senopati Sora yang perkasa. Akan tetapi Adipati Lawe tetap seorang adipati. Dan adipati di bawah perintah mahapatih. Banyak adipati, akan tetapi hanya ada satu mahapatih! Tak pernah ada dua mahapatih, tak pernah ada dua pimpinan.”

Windu Kuntara

KALAU sudah tenggelam dalam pikiran yang tak bisa segera diatasi, Mahapatih tak bisa segera tidur, walaupun mata sudah berat. Tak ada nafsu makan, walaupun perut sudah kosong. Bahkan untuk menenggak minuman pun tak ada niatan, walau semuanya telah tersedia.

Sejak resmi diangkat sebagai mahapatih, merasakan banyak perbedaan. Sahabat eratnya menjadi menjauh, baik karena perbedaan kekuasaan atau sebab lain. Selama ini dirinya masih bisa berbicara dengan Mpu Sora, Mpu Renteng, dan yang lainnya. Akan tetapi sejak diwisuda menjadi patih amangkubumi, segalanya berubah.

“Menurut perhitungan setiap delapan tahun, saat ini disebut Windu Kuntara, Mahapatih,” kata Halayudha. “Sejauh yang saya tahu, perhitungan setiap saat bakal berulang dalam jangka waktu delapan tahun atau sewindu. Satu windu berarti delapan tahun.

“Dan setiap satu windu mempunyai arti sendiri-sendiri. Windu Adi mempunyai sifat berlebih. Itu adalah saat-saat banyak bangunan baru. Sedangkan Windu Kuntara mempunyai sifat serba baru, serba mengada, baik gerak-gerik, maupun sikap yang lebih mendasar. Windu Sangara membawa sifat berlebihan segala yang cair. Saat hujan lebat, saat banjir besar, dan saat munculnya kelompok-kelompok baru. Windu berikutnya ialah Windu Sancaya yaitu saat tumbuhnya persahabatan, memitran sejati. Yang tadinya lawan jadi kawan, yang tadinya kawan jadi saudara.

“Begitulah yang saya ketahui, Mahapatih.

“Ini menurut perhitungan zaman yang bisa meleset dan bisa diabaikan saja. Hanya kalau kita melihat kenyataannya, saat ini banyak hal yang baru, yang aneh, yang sebelumnya tak pernah diketahui.”

Selama ini Mahapatih selalu mencoba menahan diri. Karena justru Mahapatih mulai memperkirakan, di mana sesungguhnya posisi Halayudha.

Selama ini kelihatannya serba remang. Itulah keuntungan Halayudha dibandingkan dengan dirinya. Sebagai mahapatih, sebagai pemimpin prajurit telik sandi, dirinya ibarat kata berada di tempat yang terang. Segala tindak-tanduk dan gerak-geriknya bisa dilihat.

Kekuatan dan kelemahannya bisa diukur.

Dalam tata pemerintahan dan intrik-intrik yang masih mengusik, posisi berada “di tempat terang” lebih banyak merugikan.

Mahapatih Nambi mencoret nama Mpu Sora sebagai lawan yang harus diperhitungkan. Sebelum ini memang terasa persaingan yang kuat antara dirinya dan Mpu Sora.

Akan tetapi Mahapatih mendengar sendiri bahwa Mpu Sora lebih setuju tidak dipilih karena merasa tak pantas. Mpu Sora justru mengucapkan rasa syukur ketika tahu Mpu Nambi yang terpilih.

Sebagai sahabat lama yang mengenal sifat Mpu Sora, Mpu Nambi mengetahui kejujuran jago tua dari tlatah Madura ini. Di depan Baginda Raja, ketika dimintai pertimbangan secara perorangan, hal-hal yang diinginkan tak akan disembunyikan. Mpu Sora bahkan menyebut-nyebut kegagalannya sebagai pengawal Permaisuri Rajapatni sebagai salah satu sebab ia merasa tak pantas.

Padahal jelas Mpu Sora akan mendapat dukungan lebih banyak dari kalangan senopati. Mpu Renteng jelas. Adipati Lawe malah secara terang-terangan mengatakan bahwa tak ada calon lain selain Mpu Sora.

Mpu Sora atau tak usah ada!

Cara berbicara dan sikap lugas Adipati Lawe membuat ia meninggalkan pertemuan tanpa pamit.

Bagi Mahapatih sikap Adipati Lawe jelas.

Justru sikap yang tersamar seperti Halayudha ini yang membuatnya berpikir beberapa kali. Jauh sebelum pengangkatan dirinya, Halayudha sudah mengetahui. Berarti sudah diajak bicara secara pribadi oleh Baginda Raja. Berarti hubungannya sangat dekat dengan Baginda, dan kata-katanya didengar.

Sewaktu badai mengancam dengan munculnya ketiga Kama dari Jepun, ternyata Halayudha yang bisa menyelesaikan. Dengan caranya sendiri!

Lepas dari caranya yang licik, Halayudha bisa melepaskan diri dari ancaman lawan secara licin.

Bahwa ia bisa membawa keluar Kitab Bumi secara lengkap yang disimpan dalam kamar Baginda, membuktikan keleluasaan bergeraknya.

Ini bisa menjadi bahaya, karena kalau dilihat caranya, Halayudha tega untuk melakukan apa saja.

Hanya saja Mahapatih tak melihat adanya bukti-bukti kuat untuk mencurigai Halayudha.

Sebaliknya Halayudha justru memberi banyak keterangan yang terbukti kebenarannya.

Jauh sebelumnya, Halayudha sudah memberi kisikan bahwa Mpu Sora akan diangkat sebagai rakian patih di Daha. Sebagai penguasa di Dahanapura, yang secara tata pemerintahan bertanggung jawab atas wilayah itu, akan tetapi tetap di bawah Mahapatih.

Pengangkatan ini ternyata terbukti kemudian.

Dan karena Mpu Renteng masih tetap bertugas di Keraton, persekutuan keduanya boleh dikatakan terpisahkan.

Satu demi satu para dharmaputra yang mendapat hak-hak istimewa akan diberi wilayah yang dikuasai Keraton. Ini juga berarti bahwa mereka akan berada di tempat yang jauh dari pusat kekuasaan.

Berarti juga, penguasaan atas Keraton lebih terpusat di tangannya.

“Kapan Senopati Sora diberangkatkan ke Daha, Mahapatih bisa menentukan tanggalnya. Siang atau sore.” Sesuatu yang luar biasa, karena kemudian apa yang disarankan Mahapatih disampaikan ke Baginda Raja. Dan Baginda sendiri yang menentukan saat keberangkatan.

Yang menyiksa Mahapatih ialah ia merasa curiga akan kehadiran dan posisi Halayudha, namun setiap waktu justru Halayudha membantunya.

Seperti serbuan ketiga Kama!

Di depannya, Halayudha bahkan siap melakukan bunuh diri!

Prajurit telik sandi yang ditempatkan di kalahan, atau tempat tinggal Halayudha, tak pernah menemukan bukti-bukti yang mencurigakan. Bahkan sebaliknya, selalu memberi laporan yang baik. Bahwa Halayudha, di mana pun berada, selalu mengatakan tugas utamanya adalah mengabdi. Mengabdi adalah melayani secara total kepada yang berkuasa. Dalam hal ini Baginda dan Mahapatih. Kalaupun saat ini diminta nyawanya, ia akan memberikan tanpa bertanya.

Yang lebih membuat Mahapatih merasa tersisih dan rumit adalah kenyataan bahwa ia tak bisa membagi perasaan hatinya dengan para senopati yang lain. Bahkan dengan Senopati Anabrang yang agaknya tak terlalu gembira dengan pengangkatan Nambi sebagai mahapatih pun juga tak bisa. Akan tetapi Senopati Anabrang juga kelihatan kesal.

Mahapatih berusaha menemui Mpu Sora sebelum berangkat ke Daha. Akan tetapi pertemuan itu menjadi sangat kaku dan tak banyak pembicaraan yang berarti.

“Saya meminta maaf atas kelancangan keponakan saya, Mahapatih.” “Kakang, jangan terlalu dipikirkan hal itu.”

“Kelancangan tetap kelancangan. Apalagi sebagai prajurit, tindakan Keponakan Lawe tak bisa dibenarkan. Kalau Mahapatih menghendaki, saya bisa memberi pelajaran.”

“Kakang Sora, saya kira saya mengerti perasaan Lawe. Sejauh ini tak menjadi gangguan bagi saya. Selama ia menjalankan tugas Keraton dengan baik, selama itu pula semua berjalan sebagaimana biasanya. Gaya masing-masing orang berbeda, Kakang. Dan rasanya kita telah saling mengenal pada masa-masa dahulu.”

“Pandangan Mahapatih sungguh luas.” Ucapan-ucapan tulus semacam itulah yang membuat Mahapatih justru merasakan ada jarak.

Pada saat-saat seperti itu, Mahapatih lebih banyak mendengar dan Halayudha.

Yang meskipun sambil lalu, memberi kabar yang lebih menentukan.

“Baginda mengangkat Permaisuri Indreswari sebagai permaisuri utama, Mahapatih.”

“Ya, aku mendengarnya, Paman.”

“Berarti putranya kelak yang akan mewarisi takhta.” “Sudah dengan sendirinya.”

“Maaf, Mahapatih.

“Ini juga berarti keturunan langsung Baginda Raja Sri Kertanegara tidak menitis ke putra mahkota.”

“Ya, padahal selama ini masih banyak sekali pendukung Baginda Raja Sri Kertanegara. Terutama dari kalangan para ksatria yang malang melintang di persilatan.”

“Begitulah, Mahapatih.

“Bahkan sebagian terbesar merasakan penghormatan yang tulus kepada Baginda Raja, karena Baginda Raja mempermaisurikan keempat putri Singasari terakhir.”

Dengan nada merendah, Halayudha melanjutkan,

“Sudah barang tentu Mahapatih telah melihat kemungkinan-kemungkinan yang muncul dari kekecewaan yang bisa mencari tempat penyaluran.”

“Adakah kamu melihat jalan keluarnya, Paman?”

“Saya tak cukup mengetahui situasi sebenarnya, Mahapatih. “Akan tetapi kalau Mahapatih bisa matur Baginda, mungkin akan lebih baik jika putra Permaisuri Indreswari kelak langsung diangkat anak oleh Permaisuri Tribhuana. Sehingga lebih aman.”

Hanya Halayudha yang bisa bersiasat begitu cemerlang!

Sora, Mahapatih Masa Datang

APA yang dirasakan Mahapatih Nambi, juga dirasakan oleh Mpu Sora!

Kebimbangan Mpu Sora mengenai kedudukan Halayudha yang sesungguhnya, juga memberati pikiran. Ada kecurigaan yang muncul ke permukaan, akan tetapi rasanya tak ada bukti nyata bahwa Halayudha sengaja berbuat jahat kepadanya.

Justru sebaliknya.

Secara hati-hati sekali Halayudha mengemukakan pendapatnya. Seperti ketika Mpu Nambi akan diangkat sebagai mahapatih.

“Iya, yang saya dengar dari bisikan Baginda, Senopati Agung Sora yang bijaksana. Pertimbangan Baginda semata-mata karena Senopati Agung Sora tidak bersedia menjabat.”

“Saya tidak pernah bermimpi mendapat anugerah pangkat setinggi itu.”

“Maaf kalau saya boleh mengatakan bahwa kepala dan mata orang lain yang bisa melihat diri kita lebih atau kurang. Kita sendiri hanya bisa melihat sebagian kala berkaca. Tapi tetap tak bisa melihat punggung sendiri.

“Maafkan saya, Senopati Agung.” “Pendapat Senopati ada benarnya.” “Hanya kebetulan saja.

“Akan tetapi pasti bukan secara kebetulan kalau Senopati Agung, yang adalah salah satu dari tujuh dharmaputra, sekarang ditunjuk menjadi patih di Daha.”

“Di mana pun saya ditempatkan, itulah bumi Majapahit.” “Saya percaya sepenuhnya. “Akan tetapi rasa-rasanya Baginda Raja mempunyai alasan tertentu, kenapa Senopati Agung Sora yang ditempatkan di Daha. Dan bukan senopati atau patih yang lain. Dan atau bukan di tempat yang lain. Begitu banyak tempat yang lain, begitu banyak senopati yang ada, akan tetapi hanya Senopati Agung Sora yang dipilihkan tempat di Daha!”

Mpu Sora menunduk.

“Saya tak mengerti maksud Senopati.” Ganti Halayudha menunduk.

“Saya tidak berhak bicara lancang.”

“Katakan saja, jangan sungkan-sungkan.” Halayudha tetap menunduk. Suaranya tetap merendah.

“Saya ini kadang merasa besar kepala. Hanya karena selalu berada di dekat Baginda. Padahal saya ini tak lebih dari keset, alas kaki untuk membersihkan kotoran di telapak Baginda.

“Maafkan saya, Senopati Agung Sora.

“Sesungguhnya ini kelancangan saya yang menduga bahwa Baginda mempersiapkan jabatan yang sesungguhnya kepada Senopati Agung. Baginda tidak ingin melepaskan pilihannya untuk kedua kalinya.”

“Alasannya?”

“Di Dahanapura sekarang ini berdiam Tarunaraja, raja muda dan juga putra mahkota, Gusti Kala Gemet. Putra Permaisuri Indreswari dipondokkan di Dahanapura. Sejak lahir ke bumi, sudah ditunjuk Baginda Raja sebagai putra mahkota.

“Sekarang ini, Senopati Agung diminta Baginda Raja mendampingi, mendidik, melatih. Sejak masih bayi. Jauh sebelum bisa tengkurap, Senopati Agung telah mendampingi.

“Apa lagi kalau bukan persiapan takhta yang akan datang dengan mahapatihnya? “Maafkan, ini perkiraan saya yang picik. Akan tetapi sesungguhnya, bukan hanya saya yang bersyukur jika kenyataannya begitu.”

Mpu Sora menahan napas.

Dadanya membusung, tapi tetap menunduk.

“Saya sadari perkiraan Senopati Halayudha terlalu berlebihan.” .

“Saya sadari kepicikan saya. Akan tetapi, seperti saya haturkan, bukan hanya saya yang akan merasa bahagia jika kehendak Baginda Raja seperti ini.

“Maaf, pastilah Baginda tidak sembarangan menunjuk pendamping Putra Mahkota.

“Karena kalau berkenan, Baginda bisa menempatkan Putra Mahkota tetap berada di Keraton dan langsung diasuh oleh Mahapatih Nambi.”

Mpu Sora tergetar dadanya.

Bisa saja Halayudha sengaja mengatakan hal itu sekadar untuk menyenangkan hati yang mendengarkan.

Akan tetapi Mpu Sora juga mengakui, bahwa yang dikatakan Halayudha mengandung kebenaran!

“Mudah-mudahan bukan itu yang direncanakan Baginda.”

“Waktu yang akan menentukan dan membuktikan kehendak Baginda yang tak mungkin diutarakan terbuka. Baginda sangat tidak menginginkan kemungkinan perpecahan. Saya percaya hati suci dan luhur Senopati Agung. Akan tetapi saya juga sadar bahwa semua orang tidak mempunyai hati yang sama.”

“Ah, lupakan semua itu, Senopati.”

“Saya berusaha melupakan, akan tetapi dalam tidur mengiang di telinga.” “Tutuplah lubang telinga.”

“Akan saya usahakan, Senopati Agung. “Namun kalau saya boleh mengutarakan sesuatu—saya ini sudah telanjur banyak omong—sesungguhnyalah apa yang diutarakan Adipati Lawe tepat sekali.”

“Ah!”

“Maaf.”

“Lawe keliru. Sangat keliru.” “Saya sependapat.

“Saya kira semua sependapat bahwa Adipati Lawe keliru. Akan tetapi barangkali alasan yang dikemukakan berbeda-beda.”

“Bagaimana pandangan Senopati Halayudha?”

“Saya menganggap keliru tindakan Adipati Lawe bukan sewaktu meninggalkan pasewakan agung. Saya bisa menyadari darah panas dan sikap Adipati Lawe yang berterus terang.

“Saya menganggap keliru karena sebenarnya Adipati Lawe tak perlu mengutarakan hal itu!”

Mpu Sora menelan ludahnya. Seakan menyangkut di tenggorokan.

“Tanpa diutarakan, semua senopati lain sudah merasa bahwa Senopati Agung Sora-lah yang berhak menyandang pangkat agung itu.”

“Saya tidak percaya.”

“Maafkan sekali lagi, Senopati Agung.

“Saya mendampingi Baginda selama masa pemilihan. Satu per satu para senopati dharmaputra dipanggil menghadap dan ditanyai pendapatnya.

“Jawaban yang saya dengar selama ini, memang Senopati Agung yang berhak.” Mpu Sora menggeleng. Gerahamnya menggertak. Tangannya mengepal.

Dalam berbagai situasi Mpu Sora selalu bisa menguasai perasaan hatinya.

Namun sekali ini perasaannya bisa terlihat.

Mpu Sora menjilat bibirnya yang terasa kering.

“Saya berjanji tidak akan mengutarakan ini. Tetapi saya tak bisa menahan diri.

Saya sadar bahwa ini akan membuat Senopati Agung bersedih.” Tangan Mpu Sora terkepal makin kencang.

Dadanya terguncang.

“Senopati Agung bukan sedih karena menolak penunjukan Baginda. Bukan sedih karena kepercayaan yang diberikan para senopati yang lain.

“Melainkan karena secara tidak langsung menyadari bahwa bumi rengka ada di Keraton. Bahwa sesungguhnya garis pemisah itu ada dengan diangkatnya Senopati Nambi sebagai mahapatih.

“Bahwa selama ini bumi yang terbelah itu belum kelihatan benar, karena kesetiaan dan pengabdian kepada Baginda Raja. Akan tetapi bisa berubah banyak di waktu mendatang.

“Kalau Mahapatih Nambi tidak bisa menjalankan kewajibannya dengan adil dan menyelesaikan perkara-perkara yang timbul, tanah yang terbelah itu akan muncul.

“Bukankah ini yang menyebabkan Senopati Agung bersedih?”

Mpu Sora mengakui bahwa Halayudha bisa menebak jalan pikirannya!

Jauh-jauh dalam batinnya tak ada keinginan untuk mengiri kepada jabatan yang begitu terhormat. Baginya mengalir darah seorang prajurit yang berdasarkan pengabdian tunggal. Baginya mengalir darah ksatria yang bersikap jujur secara tulus.

Untuk dua hal ini Mpu Sora tak pernah bimbang serambut pun! Itulah sebabnya Mpu Sora sama sekali tidak bisa membenarkan tindakan Adipati Lawe yang meninggalkan pertemuan! Ini tindakan sangat tercela sebagai seorang prajurit sejati!

“Saya mohon beribu maaf kalau kata-kata saya yang lancang ini menambah beban pikiran Senopati Agung.”

Mpu Sora menggeleng lembut.

“Tidak, sama sekali tidak, Senopati Halayudha. Saya berterima kasih atas pandangan yang dikemukakan secara terbuka. Saya tak akan pernah melupakan.”

“Ucapan saya tak ada artinya.

“Kalau ada, pasti Mahapatih tidak menunda-nunda keberangkatan Senopati Agung ke Daha. Akan tetapi nyatanya sampai hari ini Mahapatih seperti sengaja menahan agar Senopati Agung tidak segera mendampingi sang Putra Mahkota.

“Biarlah lidah saya kaku, kalau saya tidak mengatakan apa yang tidak berada dalam hati saya yang paling dalam.”

Dwidasa di Samudra

HALAYUDHA juga mendatangi Senopati Anabrang.

Begitu datang langsung berlutut di depan Senopati Anabrang.

“Saya tak pantas bahkan untuk mencium kaki Senopati yang selama dwidasa warsa menguasai samudra. Dua puluh tahun menguasai lautan, sungguh tak terbandingkan dengan seorang yang hina seperti saya.

“Kedatangan saya yang pertama-tama untuk meminta hukuman karena telah membuat malu seluruh senopati. Terutama telah melukai Senopati Mahisa Anabrang yang kondang keperwiraannya.”

Senopati Anabrang tersentak.

Ia tak menyangka bahwa akhirnya Senopati Halayudha yang begitu dekat dengan Baginda Raja datang kepadanya, mengakui kesalahannya. Kekukuhan hatinya keras bagai baja. Akan tetapi seperti juga baja, justru mudah patah.

Agaknya ini yang menjadi perhitungan Halayudha!

Dengan mendatangi, merendahkan diri, justru Halayudha bisa menempatkan diri pada tempat yang tinggi, yaitu kemenangan. Tak ubahnya ketika menyikat ketiga Kama!

Apalagi Halayudha sengaja membangkitkan kemenangan Senopati Anabrang. Kemenangan sebagai senopati yang selama dua puluh tahun— meskipun kurang dua tahun—mengarungi samudra luas. Menjalankan tugas dengan gemilang di tlatah Melayu.

Halayudha bukan sekadar mengingatkan kebesaran itu, akan tetapi juga menggunakan sebutan Senopati Mahisa Anabrang!

Ada kata Mahisa yang diucapkan secara mendasar. Diberi tekanan lebih dalam ketika mengutarakan.

Cara yang sangat jitu!

Halayudha mengetahui dengan persis, bahwa pada kelompok tertentu masih terbayangi kekuasaan besar Keraton Singasari. Hak yang tak akan bisa terhapus begitu saja. Keraton Singasari memang pantas dibanggakan karena kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara dalam memperluas cakrawala jagat raya. Di tangan kekuasaan Sri Kertanegara-lah lautan mulai dikuasai, sampai ke negeri seberang. Dengan kata-kata yang membakar semangat: “Di mana ada gunung berdiri, di mana ada sungai mengalir, di situlah panji-panji Singasari akan berkibar.”

Semangat dan jiwa besar itu masih hidup dalam darah dan mimpi semua senopati yang pernah mengenal atau mendengar kisah-kisah Baginda Raja Sri Kertanegara.

Dengan menyebutkan nama Mahisa, Halayudha mengembalikan semua gagasan Senopati Anabrang kepada masa Keraton Singasari. Di mana nama-nama Mahisa masih banyak dipergunakan.

Sebagai senopati yang berpandangan luas, Senopati Anabrang tidak gampang termakan pujian. Walaupun kata-kata Halayudha bisa masuk dan meresap. Pertimbangan utama Senopati Anabrang adalah bahwa sifat licik Halayudha pada akhirnya tertuju pada penyelamatan Keraton. Berarti suatu bentuk pengabdian.

Berbeda dari para senopati yang lain, Senopati Anabrang boleh dikatakan hidupnya murni dihabiskan sebagai prajurit. Didikan sifat-sifat keprajuritan dihirup bersama tarikan napas yang pertama. Dan dalam perjalanan hidupnya, Senopati Anabrang hanya mengenal satu kata: pengabdian total kepada Keraton.

Senopati Anabrang tak begitu banyak bergerak dalam kehidupan para ksatria atau para pendekar silat. Dunia persilatan cukup diketahui, akan tetapi tak digeluti seperti senopati lain. Di saat dirinya tumbuh sebagai prajurit yang dipercaya menjadi senopati, sudah langsung dikirim ke negeri seberang.

Praktis agak buta mengenai situasi dunia persilatan.

Karena ketika ia kembali lagi, pertarungan para ksatria sudah selesai. Bahkan pasukan Tartar sudah berhasil diusir ke tengah laut.

Dan kemudian ia sendiri lebih banyak berdiam di sekitar Keraton. Hanya muncul sebentar ke Perguruan Awan.

Perbedaan latar belakang inilah yang membuat Senopati Anabrang sedikit canggung bergaul dalam dunia para ksatria. Baginya ada satu tugas yang terus dijalani: mengabdi sepenuhnya kepada Keraton. Tanpa dibebani intrik-intrik, atau keinginan menjajal ilmu silatnya.

Itu pula yang menyebabkan begitu kembali, Senopati Anabrang mempersembahkan kepada Baginda Raja dua putri yang dibawanya sebagai tanda pengakuan kekuasaan Keraton.

Baginya tak menjadi masalah kalau dulunya masih Singasari dan sekarang Majapahit.

Toh ini sama artinya: Keraton!

Maka hati Senopati Anabrang menjadi berang dan terbakar kalau mendengar sindiran bahwa dirinya hanyalah prajurit yang membawa pulang perempuan! Seperti yang diteriakkan Adipati Lawe.

Sungguh tak masuk akal, telinganya mendengar cacian yang mungkin agak terbiasa di kalangan persilatan. Bagi Senopati Anabrang, hal itu diterima dengan perasaan terluka yang dalam.

Tak bakal dilupakan seumur hidup.

“Maafkan tindakan saya yang lebih rendah daripada anjing tanah busuk, Senopati Mahisa Anabrang.”

Senopati Anabrang menunduk, mengangkat Halayudha.

“Kita masing-masing mempunyai cara untuk mengabdi kepada Keraton, jangan terlalu dipikirkan hal itu.”

“Terima kasih atas penjelasan Senopati Mahisa Anabrang. Namun rasanya berat bagi saya menghadapi Senopati. Setiap kali saya teringat kembali, saya merasa bersalah dan sangat hina.

“Duh, Senopati, rasanya kalau saya mendapat hukuman dari Senopati, hati saya akan terasa lebih ringan. Walaupun hukuman itu berupa kematian atau cacat anggota badan.”

“Kita masing-masing bisa berbuat salah.

“Kalau kita menyadari kesalahan itu dan tak akan mengulang lagi, rasa tobat itu lebih bermakna dari sekadar hukuman.”

Halayudha menunduk.

“Saya sadar bahwa saya sama hinanya dengan Adipati Lawe, akan tetapi sungguh berat beban yang saya tanggung.”

Senopati Anabrang termakan kalimat yang menyebut-nyebut Adipati Lawe! Darah samudra yang mengalir dalam dirinya adalah darah panas yang tak bisa bersandiwara.

“Senopati Halayudha keliru kalau mempersamakan diri dengan Lawe!

“Lawe terlalu kurang ajar. Itu yang bisa dikatakan: perbuatan terkutuk dan hina! Bukan yang Senopati lakukan.”

“Bukankah jatuhnya sama saja? Membuat malu semua Senopati? “Duh, Senopati Mahisa Anabrang yang telah menaklukkan samudra, janganlah hati saya diperingan oleh hiburan kosong.”

“Tidak,” Senopati Anabrang menggertak. “Tetap ada bedanya. Apa yang dilakukan Lawe bisa merusak pengabdian murni kepada Keraton. Lawe bisa dikatakan mbalela, membangkang perintah Raja. Itu sama saja dengan pembangkangan atau pemberontakan!”

Halayudha membelalak.

Sama sekali tak menduga bahwa Senopati Anabrang menjadi galak. Beringas pandangannya. Buas wajahnya.

“Seorang prajurit sejati adalah pengabdi tanpa ragu.

“Makin jauh saya mengembara, makin yakin akan bukti-bukti besar itu. Tak ada keraton yang mencapai kebesaran tanpa pengabdian.

“Apa yang dilakukan Lawe bisa merontokkan citra prajurit sejati jika dibiarkan.

“Baginda harus tegas.

Kalau tidak, saya sendiri yang akan bertindak.” Halayudha terperangah.

Tubuhnya gemetar.

“Untuk pertama kalinya saya masih diberi anugerah Dewa yang Maha bijak untuk mendengarkan suara lelaki sejati.

“Selama ini saya hanya mendengarkan tenggang rasa, timbang rasa untuk tidak melukai hati yang lain.”

Senopati Anabrang tidak sadar bahwa ia masuk perangkap. Perangkap gelap yang menyeret kemarahannya. “Saya tidak dibesarkan dalam tradisi tenggang rasa yang akan meruntuhkan ketegaran batin kita. Saya dibesarkan dalam tradisi kehidupan laut yang mengatakan apa adanya.

“Saya tidak buta, bahwa Lawe adalah putra kandung Senopati Agung Aria Wiraraja yang banyak jasanya dan besar wibawanya. Saya tidak buta, bahwa Lawe adalah keponakan Senopati Sora yang perkasa dan bijaksana.

“Saya tahu itu.

“Tapi saya juga tahu, bahwa kewajiban prajurit sejati adalah mengatakan yang benar dan berani pula mengatakan yang salah.

“Hanya Baginda Raja yang bebas dari penilaian. Tetapi, bahkan Mahapatih pun harus diberitahu secara terus terang apabila keliru. Inilah jalan samudra! Inilah hukum lautan yang perkasa, yang ksatria!”

Halayudha merunduk dalam.

“Perasaan semacam ini tentulah dirasakan senopati-senopati yang lain. Hanya Senopati Mahisa yang berani mengemukakan secara terbuka. Sungguh luar biasa tradisi Keraton Singasari.

“Sayang saya tak mengalami secara langsung.

“Ah, kalaupun saya mengalami, apakah saya yang pada dasarnya telah hina bisa lebih baik?

“Maafkan saya.

“Beribu maaf saya minta dari Senopati Mahisa.

“Saya tahu di mana Lawe berada, akan tetapi satu kata pun saya tak berani menghaturkan kepada Baginda. Duh, betapa nista.”

Pedang Panjang bagi Mahisa Taruna

HALAYUDHA tak menduga bahwa tangisnya, kekecutan wajahnya, bisa membuat Senopati Anabrang meluap.

Dan kalap. “Sejahat-jahatnya Senopati Halayudha, masih bisa meminta maaf. Akan tetapi perbuatan Lawe sudah sangat keterlaluan. Hal ini tak bisa dibiarkan.”

“Duh, Senopati Anabrang, janganlah berbuat sembrono. “Maksud baik belum tentu mendatangkan angin segar.” “Saya tak peduli.”

“Akan lebih baik jika maksud Senopati Mahisa direstui Baginda Raja. Sehingga kalau ada suara-suara sumbang, akan terbungkam karenanya.”

“Itu lebih baik.”

“Kalau Senopati Mahisa berkenan, saya akan sowan kepada Baginda dan mengutarakan bahwa Senopati Anabrang ingin menghadap.”

Senopati Anabrang ragu.

Apakah orang laut seperti dirinya pantas meminta waktu khusus kepada Raja? Halayudha bisa menebak jalan pikiran Senopati Anabrang.

“Saya hanya sekadar menghaturkan. Kalau Baginda menerima, itu bukan karena saya. Karena Baginda melihat jasa besar Senopati Mahisa yang perkasa.”

“Jasa?

“Apa yang bisa dikatakan jasa? Semua prajurit mengabdi. Bukan memperhitungkan jasa!”

“Saya tahu jiwa luhur Senopati Anabrang.

“Akan tetapi sesungguhnya jasa terbesar dari semua senopati yang mengabdi diri, Senopati Anabrang-lah yang paling terpandang.

“Maaf ini bukan pendapat saya yang picik.

“Inilah yang hamba dengar dari para senopati lainnya. Inilah yang hamba dengar dari Baginda.” “Saya tak merasa melakukan jasa yang istimewa.” “Inilah tanda jiwa besar.

“Tangan kanan berjasa, tangan kiri tak diberitahu. Bahkan kalau tangan kiri bertanya, tangan kanan tetap tak menjawab.

“Tapi semua mencatat bahwa Senopati Mahisa-lah yang menjadi penerus Keraton. Wibawa dan kebesaran Keraton akan berlanjut atas jasa besar Senopati Mahisa.”

“Itu berlebihan.”

“Senopati Mahisa-lah yang membawa Permaisuri Indreswari. Dan Permaisuri Indreswari-lah yang dipilih Baginda menjadi permaisuri utama, sehingga putranya sekarang menjadi putra mahkota.”

Senopati Anabrang terbatuk.

Ia tidak biasa dengan pujian seperti ini. “Saya hanya mengatakan apa adanya.

“Sehingga kalaupun Baginda berkenan, itu karena pribadi Senopati Mahisa.”

Senopati Anabrang tak menduga bahwa Baginda, melalui Halayudha, akhirnya betul-betul memanggilnya.

Saat menyampaikan panggilan dari Baginda, Halayudha menyerahkan tiga pedang panjang kepada Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang.

“Saya tidak pantas menyerahkan ini pada Anakmas Taruna. Sebab pedang panjang ini bukan milik saya. Akan tetapi karena saya melihat Anakmas Taruna sangat giat berlatih, barangkali pedang dari Jepun ini bisa dipakai untuk latihan.”

Mahisa Taruna menyembah sebagai tanda hormat dan terima kasih.

Siapa yang tidak berharap mendapat pedang panjang pusaka Kama Kangkam, Kama Kalacakra, dan Kama Kalandara? Pemberian Halayudha juga sangat tepat. Karena Mahisa Taruna memang berlatih mempergunakan pedang, seperti juga ayahnya.

“Terima kasih, Paman Halayudha.”

“Anggap ini hadiah Senopati Mahisa Anabrang dari tanah seberang, yang tak sempat memikirkan untuk kepentingan sendiri.”

Setiap kata-kata Halayudha mengandung sayap-sayap pengertian yang menyeret ke arah pemikiran tertentu.