Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 13

Jilid 13

GENDHUK TRI bisa mudah mengenal Toikromo walau Pamasi hanya menyebutkan satu kali.

Sepanjang hidupnya, Gendhuk Tri tak banyak mengenal nama orang. Boleh dikatakan ia hanya berhubungan dengan sedikit nama dan sedikit orang. Sejak kecil, bahkan sebelum ingat benar siapa orangtuanya, ia sudah dititipkan di dalam Keraton. Untuk dilatih menjadi penari Keraton. Ia diculik dari Keraton oleh seseorang yang sama sekali tak dikenalnya, dan baru kemudian menjadi gurunya. Yang baru belakangan diketahuinya sedikit adalah asal-usul gurunya, yaitu Jagaddhita, salah seorang penari Keraton Singasari, kekasih Baginda Raja Sri Kertanegara. Demikian juga hubungannya dengan Mpu Raganata yang perkasa, yang ternyata juga gurunya.

Sejak itu Gendhuk Tri berkelana atau belajar ilmu silat. Sampai akhirnya merasa mempunyai seorang kakak, seorang lelaki yang dikagumi, yaitu Upasara Wulung.

Apa yang menjadi perhatian Upasara Wulung, dengan sendirinya menjadi perhatian Gendhuk Tri. Hanya karena adatnya sejak kecil tak banyak mengenal tata krama, sikapnya berbeda dari kebanyakan orang pada usianya.

"Anak Tri," kata Mpu Sora perlahan. "Kita bisa membicarakan dengan tenang. Saya menjamin bahwa Pak Toikromo tak akan menderita sedikit pun tanpa sepengetahuanmu."

"Aku tak peduli. Aku mau ia dilepaskan sekarang juga." "Sebentar lagi pagi datang. Kita bisa saling bicara dengan tenang." "Oho, kok enak ya?

"Bukankah komplotan kalian ini yang bikin perkara malam hari?" Mpu Renteng pun merasa Gendhuk Tri sangat kurang ajar!

Mpu Sora sudah merendahkan diri dan bicara dengan bahasa halus. Akan tetapi ditanggapi dengan sikap seadanya, tanpa sopan santun sedikit juga, nada bicaranya tetap sengit.

Kalau Mpu Sora menahan diri, bukan karena semata-mata jiwanya lebih dewasa. Mpu Sora mengetahui bahwa Toikromo adalah umpan yang tak boleh dilepaskan begitu saja. Tetapi menahan dengan membabi buta bisa menimbulkan persoalan baru, yang memperkeruh suasana yang ada.

Kalau tidak hati-hati menangani, bisa bubrah semuanya.

Sejak menginjak Perguruan Awan, terjadi berbagai peristiwa saling susul. Serangan dua pendekar yang menutupi wajahnya karena takut dikenali. Yang ternyata mengetahui situasi dengan baik. Sehingga bisa menculik Permaisuri. Siapa mereka, dan apa maksud mereka, masih tetap gelap.

Hal ini juga bisa dikaitkan dengan munculnya Dyah Pamasi dan tawanannya yang bernama Toikromo. Pasti bukan kebetulan kalau Dyah Pamasi menemukan Toikromo yang akan meracuni prajurit. Alasan yang kurang masuk akal anak kecil sekalipun! Yang menjadi persoalan, siapa yang mengirim mereka? Kalau tadinya Mpu Sora menduga ini semua dari Mpu Nambi, bisa diragukan sendiri. Kenapa bukan menyuruh senopati yang lebih tangguh? Kenapa Dyah Pamasi? Bukankah Dyah Palasir bisa ditugaskan khusus untuk ini daripada sekadar menemaninya? Makin diurai, makin banyak tanda tanya.

"Di jagat ini ada begitu banyak nama Toikromo. Apakah ini benar-benar Toikromo yang ingin Anak Tri bebaskan?"

Cerdik sekali Mpu Sora membuat Gendhuk Tri ragu. "Mana aku tahu?"

"Kalau begitu..."

"Kalau begitu bebaskan dia lebih dulu." Gendhuk Tri bertolak pinggang. "Kalau ternyata keliru, ya ikat lagi."

Tangan kiri Gendhuk Tri bergerak. Selendangnya mengibas. Dyah Pamasi berdiri

menghadang. Kibasan selendang ditangkis, dan ia mencabut keris dalam waktu yang bersamaan.

Ujung selendang memang tertangkis, arahnya berubah. Akan tetapi, kembali bergerak maju. Menutupi keris Pamasi. Dengan satu sentakan, Gendhuk Tri berusaha membetot. Tubuhnya melayang ke atas, berputar di udara.

Pamasi tersedot, sehingga tubuhnya ikut melayang ke atas. Karena enggan melepaskan pegangan kerisnya, sambil melayang tangan kirinya menyodok pinggang Gendhuk Tri. Hanya saja karena tubuh Gendhuk Tri berbeda dari wanita dewasa, jadinya tonjokan ke arah dada.

Gendhuk Tri menangkis dengan berusaha menggenggam tangan Pamasi.

Semua terjadi di tengah udara.

Mpu Renteng menahan napas. Ia secara khusus mempelajari memainkan ujung kain dengan penyaluran tenaga. Tak jauh berbeda dari Gendhuk Tri. Untuk ini memerlukan latihan yang cukup lama. Maka cukup mengherankan bahwa Gendhuk Tri yang masih bocah ini bisa memainkan tenaga yang disalurkan lewat selendang.

Kalau Mpu Renteng mengetahui Gendhuk Tri termasuk murid Mpu Raganata, barangkali rasa kagumnya bisa berkurang. Enteng Gendhuk Tri melayang turun, dengan ujung selendang masih melibat keris Pamasi. Seorang prajurit yang mencoba maju terpelanting kena sabetan tangan Gendhuk Tri.

Wajahnya tergores luka.

Sebelum matanya bisa membelalak sempurna, ajalnya sudah sampai! Racun dari segala racun!

Seakan merambat lebih cepat daripada aliran darah.

Pamasi nggragap juga. Ia mengetahui bahwa Gendhuk Tri menyimpan racun dalam tubuhnya, akan tetapi di luar dugaannya bahwa racunnya begitu ganas.

Sudah barang tentu kalau yang terkena goresan Dyah Pamasi, racun itu tak akan menjalar begitu cepat. Pamasi mempunyai daya tolak dari dalam yang lebih kuat.

Tapi ini membuat Pamasi sempat goyah.

Mengetahui kekuatan di tangan Pamasi maju-mundur, Gendhuk Tri mengentak sekali lagi.

"Lepas!"

Gendhuk Tri menyendal lagi, dan kali ini ketika tubuhnya mencelat ke atas, keris itu benar-benar terlepas dari tangan Pamasi. Pamasi mengikuti tarikan dan sekali lagi ikut melambung. Keris memang terlepas, akan tetapi ketika turun bisa disambar kembali dengan sentuhan sikunya.

Begitu turun di tanah, Pamasi berdiri di depan Toikromo.

"Kamu punya racun sehingga aku tak berani menyentuh. Tapi kamu juga tak berani menyentuhku."

"Kamu kira aku takut maju?" Mpu Sora menahan napas. Kalau sama-sama nekat, pertumpahan darah tak bisa dicegah. Tapi terlambat untuk bertindak.

"Gendhuk, ke mana saja kamu main?"

Terdengar suara yang lembut, dingin, dan enak di telinga. Gendhuk Tri tertawa.

"Ini ada permainan menarik, Pak Gundul. "Ayolah kemari, daripada mengeram terus."

Yang dipanggil Pak Gundul memang benar-benar gundul, bertubuh gemuk bulat. Tak sehelai rambut pun tumbuh. Pakaian yang dikenakan juga asal menempel saja.

Mpu Sora dan Mpu Renteng memberi hormat dengan membungkukkan badannya.

"Maaf, Kisanak Jaghana. "

"Saya yang seharusnya minta maaf. Maaf, saya tidak tahu kalau ada tamu begini banyak. Gendhuk Tri, kemarilah sebentar."

"Tidak mau."

"Kalau aku yang meminta juga tidak mau?"

Sesosok bayangan tinggi besar datang. Gagah dengan rambut yang diikat kain secara serampangan. Di tangannya tergenggam tongkat yang mengilat.

Mpu Sora mengangguk hormat.

Berarti dugaannya benar. Toikromo adalah umpan yang tepat untuk menjebak keluarnya harimau. Kini boleh dikatakan sudah kelihatan ekor

dan kakinya.

Yang baru muncul adalah Galih Kaliki. Dan jika Galih Kaliki, Jaghana, serta Gendhuk Tri sudah keluar, berarti semua tokoh penting yang mengeram di dalam Perguruan Awan sudah terpancing. Tinggal Upasara Wulung! Yang pasti akan muncul juga kalau suasana makin panas.

Meskipun tidak setuju cara Pamasi, diam-diam Mpu Sora mengakui bahwa cara menekan Toikromo menyebabkan isi hutan keluar.

Mpu Renteng menghitung sendiri. Dari yang diketahui, mereka yang masih berada di dalam adalah Wilanda, yang mempunyai ilmu terbang capung. Namun beberapa saat lalu tenaga dalamnya terluka, sehingga tidak terlalu berbahaya. Juga Dewa Maut, yang untuk sementara muncul atau tidak, tak akan mengubah situasi. Juga Nyai Demang yang konon banyak membuat lelaki tergila-gila padanya.

"Di mana Kakang?"

"Sebentar lagi," jawab Jaghana.

"Masih ingin nembang sambil melihat matahari?" "Gendhuk Tri, jangan bicara sembarangan."

"Sembarangan apanya? Bagi kalian Kakang adalah guru. Tapi bagiku Kakang adalah Kakang.

"Kalian mau apa?"

Mpu Sora dan Mpu Renteng saling pandang secara tak sengaja. Benar! Upasara Wulung bakal muncul bersama fajar.

Angin Asing, Angin Pesisir

UNTUK sementara keadaan menjadi lega.

Mpu Sora menduga bahwa jika fajar datang dan Upasara Wulung muncul, segala persoalan bisa selesai.

Namun di saat embun masih mengental, yang muncul bukan Upasara Wulung.

Melainkan bayangan yang bergerak sangat cepat. Berupa rombongan berkuda. Yang berada di depan seorang lelaki gagah, berdiri di atas punggung kuda. Dengan umbul-umbul atau panji-panji berupa bendera kecil hitam bergambar kepala kuda. Siapa lagi kalau bukan Adipati Lawe?

Mpu Sora mengenali panji pengenal keponakannya. Apalagi caranya menunggang kuda hitam legam dengan berdiri tegak di atas punggung. Begitu mendekat ke lapangan, tubuh gagah di atas pelana kuda itu melayang ke atas, dan turun di tanah tidak menimbulkan suara. Tangannya yang kukuh dilingkari gelang hitam diukir kepala kuda bergerak sangat lugas. Menyentak tali pengikat tangan dan kaki Toikromo. Dan kaki kirinya bergerak seperti mengatur langkah, akan tetapi sambil menendang tiang di mana Toikromo terikat.

Kayu yang berasal dari pohon itu mencelat ke atas, dan turun tepat di atas kepala Adipati Lawe. Yang justru mengangkat tangannya. Tidak meninju atau melemparkan ke atas, akan tetapi menyambut bagian di bawah siku. Kayu itu mengeluarkan suara detakan, seakan ranting kering yang terinjak.

Mpu Sora sedikit berubah wajahnya.

Adipati Lawe tak pernah berubah. Atau malah bertambah. Sikapnya selalu menggebrak pada pemunculannya pertama. Dibandingkan dengan setengah tahun lalu, Adipati Lawe memperlihatkan kemajuan dalam mengolah tenaga. Batang pohon menjadi retak hanya dengan diterima sebelah tangan. Keretakan batang pohon itu disebabkan oleh derasnya jatuh ke bawah dan membentur benda keras. Bukan karena Adipati Lawe sengaja memecahkan.

"Bagus. Bagus. Ini tontonan yang menarik."

Galih Kaliki berteriak nyaring. Tongkat galih asem dipegang erat-erat, sementara kepalanya mengangguk-angguk. Tangannya menjadi gatal ingin menjajal.

Bisa dimengerti kalau Galih Kaliki yang bereaksi pertama.

Dalam banyak hal Galih Kaliki mempunyai persamaan. Ia juga berbadan tinggi besar, kukuh, adatnya keras, kurang bisa basa-basi. Lebih dari itu, dasar-dasar ilmu silatnya juga mengandalkan tenaga luar. Makanya seperti menemukan teman yang sangat cocok dan diharapkan.

"Sungguh bukan lelaki jantan kalau berlindung di balik sifat perempuan. Kalau ingin memaksa Upasara keluar dari balik semak, untuk apa menyiksa lelaki tua?" Tandas bicaranya, keras nadanya. Adipati Lawe tak pernah mengatakan merah kalau yang dimaksudkan merah muda. Tak akan menyebut ular sebagai cacing besar. Juga tak akan memedulikan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tidak memberi sembah hormat lebih dulu kepada pamannya atau kepada Mpu Renteng.

Langsung ke pokok persoalan.

"He, orang pesisir yang keringatnya bau asin, jangan buka mulut sembarangan. Sejak kapan kamu meremehkan wanita? Kamu pikir kamu dilahirkan dari kuda jantan?"

Gendhuk Tri yang tersinggung dengan perumpamaan sifat perempuan itu.

Adipati Lawe memandang ke arah Gendhuk Tri. Tangan kanannya teracung ke angkasa.

"Tongkring!”

Pengikut yang datang bersama kaget. Ucapan tongkring dari Adipati Lawe tidak mempunyai arti apa-apa, pun andai dicari dalam kamus yang paling kuno. Ucapan ini menjadi pertanda bahwa sang adipati dari pesisir sedang meluapkan segala emosinya. Dalam keadaan murka besar, kata itu pula yang terucapkan.

Kalau para pengikutnya menduga junjungannya murka besar, juga masuk akal. Senopati perang yang garang, bagaimana mungkin dicerca oleh seorang bocah dengan sindiran keringatnya bau asin, dan lahir dari seekor kuda jantan.

"Aku tidak bermaksud mengatai kamu, Gendhuk Tri. Maaf."

Mpu Renteng tak menduga bahwa Adipati Lawe bisa mengucapkan maaf secara terbuka.

Tapi Gendhuk Tri melengos.

"Mana mungkin kamu berani mengatai aku? Kamu mengatai perempuan, bukan aku. Kalau kamu berani mengatai diriku, aku paksa kamu menggendong kudamu."

"Aha, rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara galak. Kamu baik-baik saja selama ini?" "Aku baik atau buruk, apa hubungannya dengan kamu?

"Jangan kira dengan membebaskan Toikromo kamu bisa sesongaran seenak perutmu."

Dikatakan sesongaran atau mengobral kesombongan, Adipati Lawe malah tertawa lebih keras. Wajahnya berseri menunjukkan rasa puas.

"Kalau begitu, aku ingin bertanya bagaimana kabarnya kakangmu?"

Gendhuk Tri terhibur dan merasa senang karena Upasara Wulung disebut sebagai "kakangmu". Berarti dirinya dianggap sangat dekat. Kakangmu, bisa berarti kakakmu, tetapi juga bisa berarti kakak istimewamu!

"Jauh-jauh dari pesisir kamu datang hanya untuk menanyakan kabar Kakang?"

Pertanyaan itu sebenarnya juga terucapkan Mpu Sora dalam hati. Kenapa keponakannya ini mendadak menyusul ke Perguruan Awan? Angin apa yang mendorongnya?

Meskipun Mpu Sora tahu keponakannya ini sering kali bertindak tanpa berpikir panjang, akan tetapi pasti bukannya tanpa alasan kuat kalau sampai ia muncul.

Karena ini berarti ia meninggalkan Kadipaten Tuban. Wilayah pesisir utara yang penguasaannya diserahkan ke dalam tangannya. Adipati Lawe, yang sebenarnya tetap lebih suka menyebut dirinya Ranggalawe, adalah patih amancanegara. Patih yang mewakili Keraton Majapahit untuk satu daerah tertentu.

Kalau sampai menyempatkan diri muncul, ini berarti kabar mengenai Baginda Raja akan mengangkat Upasara Wulung sebagai mahapatih sudah sejak lama menyebar. Karena diperlukan waktu untuk datang ke Perguruan Awan. Diperlukan waktu yang lebih lama daripada kalau berangkat dari Majapahit.

Apa sebenarnya maksud kedatangannya?

Mpu Sora sempat agak was was. Putra Aria Wiraraja yang satu ini secara lugas dialiri darah Madura. Kalau ia tidak setuju dengan pengangkatan Upasara, ia akan menyuarakan secara terbuka. Walau itu berarti menentang Baginda Raja.

Sungguh suatu sikap yang sangat berbahaya. "Aku sengaja datang dari pesisir yang anginnya asin untuk menemui kakangmu. Aku bukan datang untuk pelesir.

"Kalau aku datang untuk menemui kakangmu, aku tidak suka memaksa lewat orang lain. Suruh kakangmu itu keluar atau hutan ini kuratakan jadi sawah."

"Bagus.

"Tapi bagaimana kalau kita bermain sebentar, Lawe? Rasanya sudah lama juga aku tidak melatih tongkat bobrok ini. Sejak pertempuran dengan orang Tartar itu kita tak pernah bertempur betulan. Selama ini hanya main-main saja."

"Aku terima tantanganmu, Galih." "Bagus, di mana kamu pilih tempatnya?"

"Di sini juga pantas." Jaghana membungkuk.

"Masih banyak waktu untuk gebuk-gebukan. Kita ini jelek-jelek tuan rumah." Wajah Galih Kaliki berubah kesal.

"Jaghana, kamu ini bagaimana. Aku kan tuan rumah yang baik. Ada ksatria datang, aku suguhi ilmu.

"Lawe, kita cari tempat lain saja."

Kalau Galih Kaliki memanggil Jaghana dengan sebutan nama langsung, itu berbeda dengan ketika memanggil Adipati Lawe. Dengan Adipati Lawe, Galih Kaliki kira-kira seumur. Dengan Jaghana jelas kalah tua. Akan tetapi ini tidak menunjukkan kekurangajaran. Ini lebih menunjukkan kesejajaran tingkat.

Bagi Mpu Sora, yang sedikit-banyak mendengar keanehan tata cara Perguruan Awan, hal ini tidak aneh.

"Lawe, anakku," kata Mpu Sora lembut. "Kalau Kisanak Jaghana ingin menerima kita, kenapa kita ribut-ribut?"

Adipati Lawe mengangguk hormat. Mundur dua tindak.

"Maafkan kekurangajaran anak saya dan seluruh pengiringnya." Jaghana ganti membalas membungkuk tubuhnya.

"Kisanak Mpu Sora, jangan membuat kami merasa makin sungkan. Kamilah sesungguhnya yang lebih pantas meminta maaf."

Gendhuk Tri tertawa mengikik.

"Wah ini baru tata cara orang tua. Soal siapa yang bersalah saja rebutan." Lalu membalik ke arah Adipati Lawe.

"He, Adipati Pesisir, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu mencari Kakang?"

"Aku mau bilang agar kakangmu mau menjadi mahapatih." Mpu Sora bernapas lega.

Temyata Adipati Lawe justru mempunyai jalan pikiran yang sama. Tapi Gendhuk Tri malah membanting kakinya ke tanah.

"Kamu tak pantas meminta Kakang mau menerima atau tidak." Senopati Pamalayu

GANTI Adipati Lawe yang membanting kakinya ke tanah.

Telapak kakinya amblas ke dalam sebatas kemiri. Meskipun tanah di bawahnya bukan tanah keras, akan tetapi membuat kaki amblas hingga tungkai memperlihatkan keunggulannya.

"Aku tak mau berdebat dengan perempuan. "Mau atau tidak, aku tetap akan memaksanya." Gendhuk Tri memandang ke langit. Menganggap enteng tantangan Adipati Lawe. "Dasar perempuan, cerewetnya tak bisa hilang."

Kedua tangan Gendhuk Tri mendekat ke arah selendang. "Mungkin benar aku cerewet.

"Tetapi aku tetap lebih jantan daripada kamu. Aku tidak membawa rombongan begitu banyak sehingga Keraton menjadi kosong. Kalianlah yang tak pernah berubah. Prajurit Majapahit ternyata dari dulu suka main keroyokan.

"Kamu kira kami semua ini gentar?

"Kalau ingin merasakan cakaranku, silakan maju secara keroyokan."

Mpu Sora sadar bahwa kata-kata Gendhuk Tri ditujukan kepada rombongan yang baru datang. Berbaris secara teratur dan langsung mengambil tempat yang kosong, mengurung pertemuan.

Dalam cahaya yang mulai terang oleh alam, Mpu Sora tidak segera mengenali bahwa ternyata rombongan prajurit yang baru datang memang prajurit dari Majapahit. Yang dipimpin langsung oleh Senopati Anabrang!

Mpu Renteng yang mengenali pertama tak bisa menahan rasa herannya.

Bibirnya mengeluarkan desis perlahan. Ini benar-benar ganjil.

Begitu banyak rombongan dari Keraton. Pertama rombongannya sendiri dengan Permaisuri Gayatri. Kedua rombongan Dyah Pamasi dengan tawanan Toikromo. Kemudian disusul Adipati Lawe dengan prajurit yang datang dari pesisir. Dan kini rombongan yang dipimpin Senopati Anabrang.

Jelas bahwa dirinya, Dyah Pamasi, maupun Senopati Anabrang tak mungkin bergerak tanpa perintah yang datang dari atas. Ini berarti ada tugas.

Yang menjadi pertanyaan: Siapa yang menitahkan ini semua? Apakah juga Baginda Raja? Kalau benar begitu, kenapa tidak menyatu sejak semula?

Dugaan Mpu Renteng membuat perasaannya menjadi kebat-kebit. Baru sekarang ini begitu banyak tugas yang sama, akan tetapi ternyata tidak saling mengetahui. Mpu Renteng bisa melihat wajah Senopati Anabrang yang heran dan bertanya-tanya. Berarti ia juga tidak menduga.

Senopati Anabrang bukan sembarang senopati. Begitu banyak senopati pilihan, akan tetapi Senopati Anabrang tetap mempunyai tempat tersendiri. Ia termasuk panglima yang terhormat, dan disegani oleh Baginda Raja.

Senopati Anabrang dengan para prajurit pilihan pada masa Baginda Raja Sri Kertanegara sudah menaklukkan tlatah Melayu. Bahkan ketika kembali membawa dua putri ayu sebagai tanda kemenangan.

Senopati Anabrang pula yang kemudian menghaturkan dua putri ayu ke hadapan Baginda Raja Kertanegara, sebagai tanda pengabdiannya. Sekaligus pengakuan bahwa Baginda Raja Kertanegara adalah penerus tradisi besar dari Keraton Singasari.

Pengakuan ini membuat kemenangan tersendiri bagi Baginda Raja. Hingga Senopati Anabrang dan para prajuritnya mempunyai beberapa keistimewaan. Senopati Anabrang tidak di bawah senopati atau juga adipati yang lain. Pangkatnya sama dengan para adipati yang lain. Sama seperti patih yang lain. Hierarki kekuasaannya di bawah garis langsung Baginda.

Akan tetapi, rasanya tidak mungkin kalau Baginda Raja mengirim beberapa senopati secara sendiri-sendiri. Namun sebenarnya, lebih tidak mungkin lagi Senopati Anabrang bergerak sendiri.

Kalau begini bisa berarti rombongan yang lain pun akan muncul. Rombongan lain dari Keraton!

Dalam hati Mpu Renteng mulai curiga. Bibit kecurigaan yang ditepis oleh kebijakan Mpu Sora ternyata tak hilang tuntas. Masih menyelinap dugaan bahwa Mpu Nambi-lah yang mengatur semua ini. Karena hanya Mpu Nambi-lah yang bisa berhubungan langsung dengan Baginda. Karena Mpu Nambi yang mengepalai prajurit telik sandi, sehingga tahu tentang segala liku-liku keamanan dan ketertiban Keraton.

Andai benar Mpu Nambi yang mengatur, apa maksudnya? Apa maksud-nya membiarkan Keraton kosong tak terjaga? Mpu Renteng melirik Mpu Sora yang tegak bergeming. "Saya utusan dari Keraton Majapahit, Mahisa Anabrang minta izin pemilik Perguruan Awan untuk beristirahat. "Sungkem dan segala puji bagi para sesepuh."

Mpu Sora, Mpu Renteng, Adipati Lawe menjawab dengan membungkukkan

tubuh.

Cara Senopati Anabrang membawakan diri sangat tepat. Ia meminta izin kepada Perguruan Awan, akan tetapi juga tidak menanggalkan rasa hormat kepada adipati yang lain, yang secara kepangkatan sejajar dengan dirinya.

"Aku berikan izin membuat pondokan di sini, asal kamu serahkan perempuan yang ayu, yang kulitnya putih, pada Galih Kaliki."

Jelas Gendhuk Tri berolok-olok.

Senopati Anabrang sama sekali tidak mengenal Gendhuk Tri. Sewaktu ia berangkat ke Melayu, Gendhuk Tri barangkali masih calon penari. Maka kalimat Gendhuk Tri membuatnya mengertakkan geraham.

Gendhuk Tri malah mendesis. Mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya.

Mana mungkin Gendhuk Tri mempertimbangkan bahwa sebagai senopati yang pernah menjelajah ke tanah seberang, adat Senopati Anabrang menjadi lebih keras karena hantaman ombak dan badai.

"Tunggu. Aku tidak mau menerima. Bagiku hanya ada satu wanita. Dan aku sudah, hampir, memiliki."

Senopati Anabrang yang tak mengerti duduk perkaranya jadi merasa menghadapi manusia-manusia yang tak keruan jalan pikirannya. Tak terlalu lama meninggalkan dusun kelahirannya, ternyata terjadi perubahan yang tak terbayangkan!

Bukan hanya Keraton yang pindah ke Kediri, pindah lagi ke Singasari, dan kini pindah lagi ke Majapahit. Akan tetapi juga manusia-manusia yang ditemui. Perasaan asing ini wajar mengingat Senopati Anabrang banyak menghabiskan waktunya di tlatah seberang yang jauh berbeda adat budayanya. Mpu Renteng sendiri merasa bahwa ada dua arah yang bertentangan.

Satu pihak adalah pihaknya sendiri. Yang mengemban tugas Keraton sehingga nampak tegang dengan satu urusan utama.

Di pihak lain, penghuni Perguruan Awan yang membicarakan masalah pribadi. Ribut tak menentu, atau berdiam diri seperti Jaghana.

"Tak kunyana, Perguruan Awan yang mulia dan agung kini dihuni makhluk yang rendah akal budinya."

"Cocok!" teriak Gendhuk Tri. "Termasuk kamu yang sekarang menjadi penghuninya."

Sret.

Senopati Anabrang mencabut pedang panjang dari pinggang kiri dan kanan. Kilatan yang terpantul membuktikan bahwa itu bukan sembarang pedang, dan terawat dengan sempurna.

Bret.

Gendhuk Tri meloloskan selendangnya. Matanya mengeluarkan sorot tantangan.

"Aku mau tahu, prajurit macam apa yang membawa panji Singasari ini."

Berkelebat bayangan selendang Gendhuk Tri, langsung menggulung kedua pedang Senopati Anabrang. Yang dengan tenang dan dingin membiarkan begitu saja. Baru ketika Gendhuk Tri mengerahkan tenaga, Senopati Anabrang menyentak keras. Kedua pedangnya terlepas dari genggamannya. Akan tetapi arahnya lurus ke arah dada Gendhuk Tri.

Suara serangan yang tiada duanya.

Dalam gebrakan pertama sudah menunjukkan kelasnya bahwa Baginda Raja Sri Kertanegara tidak keliru memilihnya sebagai utusan.

Galih Kaliki mendecak. Gendhuk Tri memakai cara lama dengan menjatuhkan tubuhnya. Akan tetapi dengan demikian selendangnya terseret ke belakang karena terdorong oleh ayunan pedang. Dan ketika Gendhuk Tri berusaha menarik, pedang itu membalik. Menusuk dari arah belakang.

Semua terjadi dalam kecepatan tarikan selendang.

Gendhuk Tri menyadari bahaya dari bagian belakang. Karena tubuhnya berada di tanah, gerakannya menjadi leluasa.

Saat itu Galih Kaliki, kalaupun ingin menolong telah terlambat. Jaghana yang sejak tadi mengawasi, menghela napas berat.

Gendhuk Tri menggulung tubuhnya ke arah depan. Mengeluarkan semua kemampuannya untuk menjadikan tubuhnya bagai kapas didera angin. Sehingga bergerak bersama dengan pedang lawan.

Akan tetapi dengan demikian tubuhnya mengarah kepada Senopati Anabrang. Yang dengan mudah bisa menghajar. Dengan pukulan tangan kosong pun, Gendhuk Tri bisa menderita. Tusukan dua pedang dari belakang, dan pukulan dari depan.

Gendhuk Tri mengeluarkan tangannya, memeluk. Gawat!

Darah Telah Tumpah

APA yang dilakukan Gendhuk Tri seakan tindakan nekat.

Tetapi siapa pun yang menyadari posisinya, tak bisa berbuat lain. Gawat dijawab dengan gawat. Maut dijawab dengan maut.

Dengan memeluk lawan, Gendhuk Tri hanya mempunyai satu pilihan. Luka berat bersama atau bahkan mati bersama!

Karena tusukan pedang yang terayun kencang dari belakang tak mungkin dihindari. Pun dengan memeluk kencang Senopati Anabrang, tidak berarti serangan pedang itu buyar. Hanya ia bisa balas menghancurkan. Ilmu silat Gendhuk Tri tergolong ilmu silat berbahaya. Walaupun kelihatan lembut elok bagai gerakan penari, namun jurus-jurusnya mengandung keampuhan yang dalam. Bisa dimengerti karena jurus-jurus itu diciptakan langsung oleh Mpu Raganata almarhum. Jawara kelas dunia.

Di tangan Gendhuk Tri yang miskin pertimbangan, ilmu itu menjadi sangat telengas.

Ini bisa dimengerti, karena Gendhuk Tri tumbuh langsung dalam berbagai pertempuran yang sama ganasnya. Gendhuk Tri menyaksikan betapa Dewa Maut menjadi kehilangan seluruh tenaga dalamnya dan hidup bagai orang linglung. Gendhuk Tri melihat bagaimana gurunya, Jagaddhita, terkubur hidup-hidup di dalam Gua Lawang Sewu. Dan banyak pertempuran berdarah yang pada saat gebrakan sudah melangkah ke titik antara mati dan hidup.

Ditambah lagi keadaan tubuh Gendhuk Tri yang lain dari para pendekar lainnya. Gendhuk Tri secara tidak sengaja telah mengisap berbagai jenis racun nomor satu. Baik racun dari Dewa Maut, maupun asap tubuh Pu'un dari Banten yang terkubur di bawah tanah Gua Lawang Sewu. Dalam keadaan seperti ini, memang setiap gerakannya berarti maut.

Ditambah dalam keadaan yang terdesak, Gendhuk Tri benar-benar mengesankan serangan ganas untuk mati bersama tanpa penyesalan! Inilah yang gawat!

Senopati Anabrang, yang kenyang pengalaman menghadapi saat-saat genting, menyadari bahwa jiwanya terancam. Ibarat kata, nyawanya sudah bertengger di ujung bibir. Satu langkah pendek berarti lenyap dari tubuhnya.

Adalah di luar dugaannya bahwa Gendhuk Tri akan menubruknya. Sebab pada saat selendang terdorong ke belakang oleh sepasang pedang, Gendhuk Tri bisa melepaskan saja selendangnya. Atau menahan dengan akibat selendangnya tertembus dan sobek. Bukan menyendal balik.

Tapi itulah justru sifat Gendhuk Tri.

Sembrono kata-kata yang keluar dari bibirnya, ganas apa yang digerakkan tangannya, maut tak membuatnya bertekuk lutut. Bagi Gendhuk Tri, lebih baik punggungnya ditembus dua pedang daripada melepaskan selendangnya Atau membiarkan selendangnya tersobek! Itu pantang. Gendhuk Tri tak mengenal istilah kalah atau menyerah. Mati lebih bermakna baginya.

Maka begitu keadaan mendesak, Gendhuk Tri menubruk Senopati Anabrang dengan kedua tangan siap mencengkeram.

"Tongkring!”

Teriakan Adipati Lawe menunjukkan bahwa ia pun tak menduga akan berakhir dengan serangan yang langsung meminta korban. Bagi Adipati Lawe soal serangan maut bukan hal yang baru. Tetapi walau ia suka mengumbar tenaga, tetap bukan begini caranya.

Dua gebrakan pertama sudah merupakan serangan akhir.

Yang namanya Gendhuk Tri benar-benar keras kepala luar-dalam, pikirnya bingung.

Yang segera menggeser kakinya adalah Mpu Sora dan Jaghana. Keduanya siaga untuk bergerak pertama jika ada sesuatu yang masih bisa ditolong keluar dari kemelut.

Senopati Anabrang menggerung keras. Tonjokan tenaga ke depan diubah ke samping. Sekuatnya dan sekenanya. Tubuh Gendhuk Tri oleng sedikit, namun cengkeramannya sempat menggores leher dan dada.

Darah menetes.

Sekejap sudah menjadi berwarna biru kehitam-hitaman!

Gendhuk Tri sendiri tak terbebas begitu saja. Olengan tubuhnya membuat satu pedang hanya menggores rambut dan daun telinganya. Yang satu lagi menyobek pundaknya.

Tanah mulai terang.

Bekisar, ayam hutan, sudah berkokok, terbang dari pohon ke pohon. Jaghana meloncat menyambut tubuh Gendhuk Tri. Dalam keadaan biasa, Gendhuk Tri akan mengibaskan tubuh Jaghana. Sekarang ini pun berusaha begitu. Akan tetapi tenaganya seperti tak bisa diatur. Saraf-saraf bagian tubuhnya sebelah kiri menimbulkan rasa ngilu. Dengan mengertakkan gigi pun, Gendhuk Tri tetap tak bisa menahan rasa sakit.

Luka itu cukup dalam, memutus beberapa urat dan bisa jadi mengenai tulang pundak. Tulang yang menentukan seorang jago silat menggerakkan tangannya. Jika tulang itu sampai patah atau tergores, akibatnya bisa cacat seumur hidup. Paling ringan, Gendhuk Tri tak akan bisa memainkan tangannya sebelah kiri.

Ganas dan mengenaskan.

Senopati Anabrang sendiri merasa nyeri yang menggigit pada leher dan pundaknya yang menjadi kaku. Bahwa dalam sekejap darahnya sendiri berubah menjadi racun yang menghanguskan kulit dan daging, membuat semangatnya lepas.

Mpu Sora segera menjilat beberapa bagian tubuh Senopati Anabrang. Sebagai seorang yang juga menggunakan jenis pukulan sengatan mengandung racun, Mpu Sora tak segera berani memberikan obat penawar. Ia sendiri mampu menciptakan pukulan yang mengandung sengatan lebah. Akan tetapi racun yang dihadapi ini dari jenis yang lain sama sekali. Salah-salah bisa berakibat lebih gawat.

Tindakan Mpu Sora tepat sekali.

Andai Mpu Sora membubuhkan atau mengoleskan obat penawar seperti yang dilakukan kepada Dyah Palasir, barangkali Senopati Anabrang tak tertolong lagi.

Senopati Anabrang sendiri langsung duduk. Memusatkan konsentrasi untuk menghimpun tenaga batinnya. Untuk membendung menjalarnya rasa sakit dan ambrolnya pemusatan pikiran.

Yang terakhir itu justru paling sulit dilakukan.

Karena secara tiba-tiba menyadari bahwa begitu mudah dikalahkan oleh seorang bocah yang bahkan tak bisa menggelung rambutnya!

Ia adalah senopati utama. Panglima yang dipercaya Baginda Raja Singosari yang gagah perkasa. Ia adalah panglima yang menaklukkan ombak laut dengan gagah, yang masuk ke Melayu tanpa tergores kulit kehormatannya. Betapa nista kalau hari ini harus ambruk di tangan Gendhuk Tri!

Gendhuk Tri tidak mempunyai beban bahwa ia seorang senopati atau tokoh yang terhormat. Akan tetapi tetap masih merasa gondok karena pundaknya bisa disobek, sebagian rambutnya terpotong.

Suasana berubah.

Mpu Sora dan Jaghana tidak terjun ke medan pertempuran dan menolong yang terluka, akan tetapi Galih Kaliki mencekal tongkatnya dan mengayunkan ke udara.

Ini berarti tantangan.

Dan Galih Kaliki, walau bertubuh kasar dan geraknya tak terkendalikan, masih tetap menunjukkan seorang ksatria. Jiwa ksatria itu yang menyebabkan ia memutar tongkat galih asam di tengah udara. Sebagai pembuka. Dan tidak langsung menyerang.

Adipati Lawe meraup dua tombak di kiri dan di kanan. "Aku di sini, Galih."

"Bagus."

Tongkat Galih Kaliki mengincar Adipati Lawe. Keras gerakannya, mantap pukulannya mengarah ke batok kepala. Adipati Lawe menyabetkan kedua tombaknya untuk menyongsong.

Traak!

Dua tombak patah dan somplak menjadi beberapa bagian. Adipati Lawe tetap maju mendesak. Empat pukulan dilepaskan secara berturut-turut, sementara kakinya menyapu Galih Kaliki.

"Ini juga bagus!"

Galih Kaliki memutar tongkatnya turun. Ia mengadu benturan kaki, sambil mematahkan serangan di atas dengan tongkatnya. Diam-diam Adipati Lawe memuji kekuatan lawan. Tulang gares-nya, tulang lututnya, seperti membentur pelat baja. Seakan membentur punggung pedang yang sangat tebal. Ia yang mengandalkan ilmu keras, merasa menemukan lawan yang seimbang. Namun karena tongkat lawan selalu mengarah ubun-ubunnya, Adipati Lawe tak bisa menjajal kerasnya tulang kaki. Ia meloncat mundur, dan mulutnya bersuit keras. Kuda hitam kesayangannya mendekat dan Adipati Lawe mengambil rantai yang ujungnya dibanduli bola besi bulat.

Ini baru seimbang! "Bagus."

Bertarung jarak dekat kurang menguntungkan Adipati Lawe yang bertangan kosong, sementara Galih Kaliki membawa tongkat. Dengan senjata rantai yang panjang dan bisa ditarik mundur atau terulur, Adipati Lawe menemukan dirinya. Kalau ia mundur tadi, juga berarti kalah setindak.

Memegang rantai, Adipati Lawe kembali menggertak maju. Ini memang senjata andalannya. Rantai ini disebut sendiri sebagai benang atau kata lain dari lawe. Dan inilah asal nama sebutannya.

"Darah telah tumpah. Prajurit Majapahit, bersiaplah." Itu aba-aba dari Mpu Nambi!

Berarti ia datang sendiri!

Memindah Gunung, Mewarnai Langit

KEHADIRAN Mpu Nambi mengubah kesiagaan seluruh prajurit Majapahit. Kalau tadinya serba ragu karena tak ada yang memberi perintah, sekarang jelas.

Tadinya memang sempat bingung. Prajurit yang dibawa Dyah Pamasi pun ikut terombang-ambing. Karena Dyah Pamasi tidak meneriakkan aba-aba. Dyah Pamasi sendiri merasa kurang sreg, kalau ia berbuat lancang, karena di situ ada Mpu Sora dan Mpu Renteng yang lebih tinggi jabatannya.

Maka dengan kalimat pendek, seluruh prajurit Majapahit bersiaga tanpa kecuali. Satu aba-aba tambahan, mereka akan menggempur maju. Lautan api tak bakal membuat mereka ngeri.

Prajurit Majapahit adalah prajurit pilihan. Prajurit yang lahir dari perjuangan dan dibesarkan dalam medan pertempuran. Hampir semua yang berada di alun-alun sekarang ini pernah mengalami pertumpahan darah. Kebersamaan, setia kawan, terjelma dari perjalanan hidup dan nasib yang sama. Prajurit Majapahit tergembleng dalam tradisi senasib-sepenanggungan.

"Darah telah tumpah. Prajurit Majapahit, bersiaplah," adalah komando yang dulu sering diteriakkan.

Apa pun persoalan yang ada di antara mereka, kalau panggilan membela nama baik Majapahit, hanya satu yang berada dalam batin. Membela kehormatan. Mati sebagai prajurit sejati akan dijalani dengan semangat tinggi.

Mpu Sora menunduk.

Kembali kecemasan meremas-remas di sekujur pembuluh darahnya. Belum lama ia menduga bahwa Mpu Nambi-lah yang mengatur berbagai rombongan. Sebagai pemimpin bagian telik sandi, hal itu tentu memungkinkan.

Akan tetapi ternyata perkiraannya meleset! Bukan Mpu Nambi yang mengatur semua ini. Kalau ia yang mengatur, tak perlu muncul sendiri.

Mpu Sora cukup mengenal cara kerja telik sandi. Kalau ia menggunakan tangan lain, jangan sampai tangan sendiri bergerak. Makin tidak dikenali tindakannya, makin berhasil. Itu kunci gerak bagian telik sandi.

Akan tetapi sekarang ini justru secara terang-terangan Mpu Nambi tampil sendiri.

Berarti keadaan memang memaksa ia keluar.

Seekor macan hanya akan keluar dari sarangnya pada pagi hari kalau hutan terbakar.

Ini arti kehadiran Mpu Nambi saat ini.

"Membela nama dan kehormatan Keraton adalah cara berbakti yang terbaik. Hari ini aku, Mpu Nambi, utusan resmi Baginda Raja, ingin menemui Upasara Wulung. "Aku datang dengan persiapan perang.

"Kalau tak bisa diajak bicara baik-baik, jangan salahkan kenapa rumput berwarna merah."

Pongah sikapnya, jemawa kata-katanya.

Walau bibirnya memperlihatkan senyum, akan tetapi Mpu Nambi menarik bibirnya ke bawah. Penuh kepercayaan diri dengan cara merendahkan lawan.

Adipati Lawe, yang tengah bertempur dengan Galih Kaliki, menarik mundur "benangnya".

Hatinya boleh panas mendengar Mpu Nambi yang ternyata lebih sesongaran darinya, nafsu bertempurnya boleh meninggi melawan Galih Kaliki, akan tetapi ternyata Adipati Lawe tetap berjiwa prajurit. Begitu Mpu Nambi mengambil kepemimpinan pada saat genting, serta-merta Adipati Lawe tunduk.

Jaghana menggendong Gendhuk Tri, melangkah tenang.

"Matahari telah datang. Segala telah terang. Mana yang pohon, mana yang manusia."

"Aku tidak mengenal bahasa langit. Katakan apa maksud Paman Jaghana." "Matahari telah datang. Segalanya telah terang. Senopati Majapahit bisa

melihat sendiri apakah kami menyembunyikan sesuatu."

"Kalau Paman Jaghana memilih jalan kekerasan, kami dibesarkan dengan cara itu. Paman mengalami sendiri sewaktu bersama kami."

"Pun, andai bisa memilih, kami tak akan memilih apa-apa.

"Kalau hidup hanya sementara, kenapa merasa berat melepaskan yang ada dalam genggaman?"

Sikap Jaghana jelas.

Tantangan Mpu Nambi tak akan ditolak! Kepungan prajurit pilihan tak membuat Jaghana gentar. Tak membuatnya lebih bersiap diri, atau berusaha meletakkan Gendhuk Tri di tempat yang lebih aman. Tidak memberi aba-aba kepada Galih Kaliki untuk bersiaga.

Mpu Renteng tahu bahwa tindakan Jaghana sama sekali bukan didasarkan pada kesombongan, atau menganggap enteng lawan. Juga bukan sikap takut tidak melihat jalan keluar yang lain.

Apa yang ditunjukkan oleh Jaghana merupakan sikap dasar Perguruan Awan. Mereka tak akan berdebat soal siapa benar siapa salah, siapa menang siapa bakal kalah. Mereka tak akan menghindari bahaya yang datang, walau tidak mencari.

Kalau saat itu Mpu Nambi memerintahkan penyerangan, Jaghana masih akan tetap menggendong Gendhuk Tri. Dan berusaha mempertahankan diri.

Mendadak Gendhuk Tri bergerak. Kepalanya miring. Sayup-sayup terdengar tembang kidungan:

Kenapa harus memindah gunung,

kalau hanya mencari tempat bermenung kenapa harus mewarnai langit

kalau hati lagi pahit kenapa mengaduk tanah kalau perasaan lagi gundah

biar saja air mengalir ke muara karena ia tahu sumbernya

biar saja asap menemui awan mereka dilahirkan berdampingan....

Semua yang berada di lapangan mendengar kidungan yang lirih. Bukan hanya Gendhuk Tri. Akan tetapi bagi Gendhuk Tri, itu kidungan yang biasa ditembangkan oleh Upasara pada saat fajar. Kalau sekarang terdengar, rasanya tidak sesuai lagi. Karena sinar matahari sudah terasakan.

Dan yang membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya ialah karena nada suara kidungan itu berbeda. Gendhuk Tri tahu persis bahwa itu bukan kidungan Upasara Wulung.

Akan tetapi siapa yang bisa begitu fasih mengucapkan?

Kalau tidak dalam keadaan terluka dan susah bergerak, Gendhuk Tri sudah akan mencaci habis.

Tapi Gendhuk Tri juga merasa bahwa Jaghana yang menggendongnya bergetar.

"Akhirnya kamu datang juga!" teriak Mpu Nambi.

Namun sekejap kemudian teriakan kesombongannya berubah. Yang mendekat ternyata sesosok tubuh yang wajahnya tertutup oleh klika.

"Klikamuka," terdengar Dyah Palasir mendesis.

Mpu Renteng melirik Mpu Sora. Benar, yang muncul ini adalah Klikamuka yang menculik Permaisuri Gayatri.

Hanya kini muncul sendirian.

Mpu Sora mengenali sebagai penyerang yang muncul dari sebelah kanan. Mpu Sora membalas lirikan Mpu Renteng. Bukan karena kini mengenali penculik Permaisuri, melainkan karena desisan Dyah Palasir.

Ini berarti Dyah Palasir pernah mendengar, mengenal, atau mengetahui Klikamuka. Sesuatu yang sama sekali tak terucapkan. Mpu Sora jadi ingat sewaktu akan mengejar Klikamuka, tubuhnya bertabrakan dengan Dyah Palasir.

Kalau tadinya menduga ini terjadi tanpa sengaja, sekarang pikirannya berubah. Bukan tidak mungkin Dyah Palasir sengaja memberi kesempatan kepada Klikamuka.

Namun tetap ruwet. Kalau benar begitu, apa hubungan Klikamuka dengan Dyah Palasir? Atau lebih jauh lagi dengan Keraton? Bukankah Mpu Nambi yang merupakan pimpinan telik sandi pun masih menduga-duga siapa yang muncul?

Klikamuka muncul dari arah matahari terbit. Wajahnya tertutup oleh sinar dari belakang.

"Aku mendengar Keraton baru dibangkitkan. Tembok bata disusun. Aku mendengar para ksatria berbagi pangkat dan kemewahan.

"Aku mendengar di tanah itu tumbuh pohon kelapa berjajar dari pantai ke

pantai.

"Tapi apa yang kulihat hanyalah klendo."

Dengan tajam Klikamuka mengumpamakan yang hadir bukan buah kelapa, melainkan hanya ampas kelapa yang telah diperas minyaknya!

Mpu Nambi boleh membanggakan diri karena bisa mempermainkan kalimat, akan tetapi Klikamuka ternyata lebih cerdik.

"Kalian datang jauh-jauh dari Keraton hanya membuang keringat yang mengotori langit. Jadi air pun membuat rumput tak berwarna hijau. Untuk apa mencari Upasara dengan cara seperti ini?

"Untuk apa kalian merepotkan diri dengan anak muda yang merasa sakti ketika bersembunyi? Yang merasa menjadi kura-kura ketika melindungi kepalanya? Ini titipan dari Rajapatni."

APA yang dilakukan Klikamuka benar-benar telengas.

Dengan mengayunkan tangannya, dua buah cundhuk atau hiasan rambut Permaisuri Rajapatni menancap di jidat salah seorang prajurit yang tak

sempat menjerit.

"Itu milik Permaisuri Rajapatni. Bagaimana bisa dibuang sembarangan?”

Belum habis kalimatnya, Klikamuka menarik tangannya. Tanpa menyentuh prajurit yang rubuh ke tanah, cundhuk itu kembali ke tangannya. Bagian yang kena darah merah dan titik-titik putih dibersihkan dengan telapak tangan.

Suatu pertunjukan yang gila-gilaan. Tetapi juga mencengangkan.

Mpu Sora dan Mpu Renteng sudah menjajal kelihaian Klikamuka. Walau Mpu Sora dan Mpu Renteng berbeda dalam menilai lawan, akan tetapi kesan yang bisa sama ialah bahwa Klikamuka memang sangat luar biasa. Mpu Renteng bisa digebrak satu kali dan tengkuknya kena. Mpu Sora kena terpancing dan dikenali jurus andalannya.

Kini mendemonstrasikan tenaga dalam yang hebat. Kalau hanya melemparkan cundhuk hingga menancap di jidat, bukanlah sesuatu yang istimewa. Akan tetapi bisa menarik kembali tanpa menyentuh, itu baru pengendalian yang luar biasa. Menurut cerita, ilmu yang mempergunakan udara serta angin sebagai tenaga penarik hanya dimiliki mereka yang sudah mumpuni, yang sudah betul-betul menguasai secara sempurna. Hingga berjalan di atas air pun bukan persoalan berarti.

Itu yang baru dipamerkan oleh Klikamuka.

Bagi Jaghana, apa yang lebih mengejutkan lagi ialah bahwa Klikamuka bisa menghafal kidungan Tumbal Bantala Parwa, atau Kitab Penolak Bumi. Sejauh ini tak ada yang benar-benar bisa memiliki atau mendapatkan kitab tersebut.

Upasara Wulung dulu secara tidak langsung mendapatkan dari Kawung Sen yang mencuri dari Ugrawe. Kini keduanya sudah tidak ada, sehingga tak bisa dilacak siapa saja yang pernah mengenal atau mempelajari kitab rahasia tersebut.

Maka cukup mengherankan bahwa Klikamuka, yang selama ini tak dikenal, begitu muncul sudah menunjukkan bagian-bagian yang penting. Dari gaya bicara mengenai "bukan kelapa melainkan ampas", jelas menunjukkan bahwa Klikamuka pernah mempelajari.

Jaghana sedikit-banyak mengetahui, karena kitab itu sebetulnya merupakan kitab babon. Atau induk segala kitab yang sekarang dipakai sebagai pedoman untuk perkembangan ilmu silat.

Memang Tumbal Bantala Parwa bukan satu-satunya. Bahkan dari namanya bisa diketahui bahwa sebenarnya telah ada Kitab Bumi, atau Bantala Parwa. Karena Tumbal Bantala Parwa diciptakan secara khusus untuk melawan ajaran di dalam Kitab Bumi yang dianggap sangat berbahaya. Kitab ketiga adalah yang paling dikenal luas, yaitu Dwidasa Nujum Kartika atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Kitab ini paling dikenal karena secara jelas menggambarkan cara-cara menyerang, memukul, dan menjatuhkan lawan, berdasarkan gerakan-gerakan bintang di langit. Dwidasa Nujum Kartika lebih menarik bagi para ksatria, terutama karena berisi petunjuk-petunjuk yang langsung bisa dilatih.

Ini berbeda dari Tumbal Bantala Parwa yang isinya justru hanya kidungan, tembang yang tidak secara langsung berhubungan dengan gerakan atau jurus tertentu. Tidak ada petunjuk bagaimana menggerakkan atau menahan kaki, tangan, otot, atau mempergunakan senjata. Tidak juga cara bagaimana mengatur pernapasan, sesuatu yang selalu ada pada semua kitab silat!

Namun Tumbal Bantala Parwa banyak dicari para ksatria dari segala penjuru kiblat. Justru karena kitab ini konon mempunyai persamaan dengan kitab-kitab yang ada di belahan dunia lain. Bagian-bagian tertentu dari kitab ini banyak persamaannya dengan yang berasal dari India, yang dikenal dengan ilmu Tepukan Satu Tangan, sementara di belahan negeri Tartar dikenal dengan ilmu Jalan Budha.

Bagaimana sebuah kitab yang berisi tembang bisa menunjukkan persamaan dari berbagai penjuru budaya yang saling berbeda, Hindu, Budha, tak bisa diterangkan oleh mereka yang pernah mendengar. Hanya saja ada persamaan pendapat, barangkali pada masa yang lalu, berasal dari sebuah kitab yang sama sebagai sumber utama. Sehingga sekalipun sudah menyebar jauh dan muncul dengan nama yang berbeda bagai langit dengan bumi, intinya tetap sama.

Sebagai pengikut setia dan lama Perguruan Awan, Jaghana secara langsung mendengar sendiri dari Eyang Sepuh. Ia mendengar bahwa oleh Eyang Sepuh beberapa ilmu dari Tumbal Bantala Parwa dinamakan ilmu Tepukan Satu Tangan, yang menghasilkan gema suara lebih keras, lebih merdu, dari tepukan dua tangan. Hanya saja di masa masih mengajar secara langsung, Eyang Sepuh sendiri tidak berminat untuk menurunkan apa yang dipelajari.

"Ini bukan ilmu yang bisa dipelajari setengah-setengah, atau sepertiga, atau bahkan kurang dari satu kalimat pun. Tetapi begitu kita mempelajari sampai akhir, kita akan menjadi tumbal. Kita harus rela mengorbankan segalanya untuk bukan apa- apa.

"Tepukan Satu Tangan bisa terdengar tanpa suara, bagai cahaya tanpa dilihat, bagai rasa tanpa dikecap, tanpa disentuh, bagai ada walau sebenarnya tak ada, tapi ketika diadakan, menjadi dusta. Aku tidak berharap kalian semua melatihnya, karena cukup aku sendiri yang menjadi tumbal bumi?

Itu kalimat terakhir Eyang Sepuh sebelum akhirnya lenyap tanpa bekas. Dan sejak itu tak ada seorang pun yang berani mengaku bertemu Eyang Sepuh.

Maka aneh kalau sekarang Klikamuka bisa menghafal dengan enteng. "Kamu kira kami takut padamu?

"Aku tahu kamu Upasara Wulung yang sedang menyembunyikan diri." Klikamuka mengeluarkan tawa pendek.

Andai tanpa penutup wajah, barangkali tawa itu nadanya seperti Upasara Wulung.

Kini Gendhuk Tri pun bimbang. Kalau tadi kidungan terdengar sumbang, bukan karena Klikamuka tak bisa menembang dengan baik. Melainkan karena getaran suaranya tertahan oleh kulit kayu.

"Apa yang dikatakan seseorang, selalu mengenai dirinya. Karena kamu biasa bersembunyi, maka kamu juga menuduh orang lain menyembunyikan sesuatu.

"Apa untungnya mencurigai telik sandi" Mpu Nambi maju selangkah.

Tubuhnya berdiri gagah.

"Klikamuka, sungguh aku tak mengenalmu. Dan kamu mengenaliku dengan baik. Katakan terus terang apa maumu."

"Hmm, kalian semua tak berterus terang.

"Bagaimana memaksa aku berterus terang? Aku berdiri di tempat terang, kalian semua bisa melihatku."

"Bagus, bagus. Aku mulai menyukai permainan ini," kata Galih Kaliki. "Kamu tak akan mengerti. "Karena kamu hanya mengerti satu permainan. Yaitu menyanjung Nyai Demang. Yang memang wanita luar biasa. Banyak lelaki membuktikan kehebatan Nyai Demang."

Cara menghina yang membuat Galih Kaliki menyambar tongkatnya.

"Berputar ke atas tidak mengarah pundak, pastilah ubun-ubun. Menyerang ubun-ubun dengan berputar, pastilah ubun-ubun. Tongkat berat, ubun-ubun lunak. Tenaga di ujung, pastilah ubun-ubun. Itulah cara mengolah Sekar Sinom."

Galih Kaliki melengak. "Dewa jagat.

"Aku sendiri tak tahu bahwa ini harus begini dan bernama begini. Dari mana kamu bisa mengetahuinya?"

Apa yang dikatakan Galih Kaliki memang senyatanya. Ia selalu jujur dalam menghadapi orang.

"Sekar Sinom tak banyak berguna pada saat jurus pertama kamu mainkan. Inti tenaga jurus ini adalah tenaga seperti yang dimiliki biji asam yang lepas dari kulit buahnya. Berarti itu tenaga yang dipaksa. Kalau kamu mempergunakan pada jurus ketiga, tenaga akan luar biasa. Kalau tidak, dan aku akan menghancurkan ubun- ubunmu, tinggal membalik arah tongkatmu.

"Seharusnya justru tidak mempergunakan tongkat, karena kemampuannya masih cethek, masih dangkal. Kamu belum bisa mempergunakan tongkat sebagai bagian dari tangan."

Klikamuka berdehem kecil.

"Bagus, bagus. Aku perlu belajar apa lagi?" Klikamuka menggeleng.

Tubuhnya berbalik.

"Belajar menjadi pengabdi yang baik. Tongkat atau lawe bukan tangan yang

baik." "Tongkring?"

Adipati Lawe menjerit keras.

Ia yang merasa tersindir. Bukan karena sebutan lawe, akan tetapi dikaitkan dengan "pengabdian yang baik". Bukankah itu sama dengan menabok mukanya dan mengatakan ia bukan pengabdi Keraton yang baik? Yang meninggalkan kadipaten tanpa izin untuk datang ke Perguruan Awan?

Siapa gerangan Klikamuka sebenarnya? Yang tahu seluk-beluk jurus ilmu silat, mengenai Keraton, seperti mengenali kakinya?

Kidung Pamungkas

KLIKAMUKA menjauh, tidak memedulikan Adipati Lawe sedikit pun. "Aku tak bisa melayani kalian satu per satu.

"Hanya ketahuilah bahwa sebentar lagi matahari tambah tinggi. Bumi Majapahit akan makin panas karena ternyata kesetiaan kalian semua adalah kesetiaan pamrih, kesetiaan karena mengharapkan sesuatu yang rendah.

"Untuk apa kalian semua, para senopati yang tadinya prajurit biasa, sekarang meributkan siapa yang akan menjadi mahapatih? Kenapa lalu menjadi masalah hidup dan mati? Sehingga kalian semua merasa bisa tegak berdiri kalau Upasara yang diangkat? Kalian semua tak ada yang merasa dikalahkan?

"Betapa piciknya kalian semua, para senopati terkemuka.

"Betapa kelirunya kalian menganggap Upasara Wulung sebagai senopati yang hebat. Upasara tak lebih dari sebuah upa, setitik nasi.

"Ia merasa jago dan tak tergoyahkan, meskipun seorang Toikromo yang pernah menyelamatkan hampir saja mati terbunuh sia-sia. Meskipun seorang permaisuri yang dicintai hilang tanpa bekas.

"Upasara Wulung tepat sekali disebut Senopati Pamungkas. Bukan senopati yang menyelesaikan perkara, akan tetapi seorang senopati yang telah berakhir. "Ia tak akan peduli bumi yang diinjak dan didiami menjadi bara atau lumpur, asal ilmunya tegak menjulang langit.

"Nah, apakah kalian tidak melihat ini?"

Klikamuka berjalan. Tangannya mengambil sebatang tombak yang patah.

Dengan gerakan lunak, patahan tombak itu disambitkan ke arah pohon besar.

Amblas tak terlihat ujungnya.

Di mata Mpu Renteng, segala apa yang dilakukan oleh Klikamuka serba luar biasa. Segala apa yang dikatakan Klikamuka serba tak terduga. Akan tetapi ia tak membiarkan pergi begitu saja.

"Kisanak Klikamuka, antara kita berdua masih ada urusan yang belum diselesaikan."

"Lupakan saja, kalau yang dimaksudkan Permaisuri Rajapatni. Tak ada yang akan menangisinya. Baginda Raja juga tidak, karena masih ada tiga saudara perempuan Rajapatni yang tak kalah ayunya. Masih ada dua permaisuri baru dari tlatah Melayu.

"Kenapa kamu yang repot?"

"Tugas adalah tugas. Berbakti adalah bertanggung jawab." Klikamuka tertawa.

"Tak dinyana, di antara sekian banyak kadal yang melata, ada yang masih memiliki jiwa ksatria."

"Kembalikan Permaisuri!"

"Apa ada gunanya? Ilmu Lebah Bingung temanmu itu telah menyengsarakan." Mpu Sora bergerak maju.

"Dosaku tak bisa dihapus. Aku telah berbuat salah. Akan tetapi kalau Kisanak mau berbaik hati..."

"Kalau tidak, mau apa?" Klikamuka meloncat mengambil tongkat Dyah Palasir. Dengan mengertakkan geraham, bagian depan diremas. Bagai adonan lumpur di tangan Klikamuka.

Tanpa terasa semua prajurit mundur satu tindak.

Klikamuka membuang potongan tombak ke dekat Mpu Sora.

"Kalau tidak bisa menemukan Permaisuri Rajapatni, kamu mau bunuh diri?

Pakai kayu, jangan pakai besi."

Kini Mpu Nambi-lah yang nggragap.

Kalau tadi ia menduga Klikamuka adalah Upasara Wulung, kini dugaannya diakui keliru jauh. Karena Klikamuka mengetahui perihal intrik-intrik Keraton. Secara gamblang diteriakkan mengenai persaingan di antara para adipati, di antara para patih.

Mpu Nambi merasa malu.

Justru sebagai pimpinan prajurit telik sandi, ia sama sekali tak mengetahui sedikit pun tentang Klikamuka. Tak pernah mengetahui bahwa di dalam wilayahnya ada seorang tokoh yang benar-benar luar biasa.

Mendadak Klikamuka berhenti. Tubuhnya berbalik.

Gendhuk Tri berusaha lepas dari Jaghana.

Dari tengah hutan muncul dua bayangan yang segera bisa dikenali. Yang satu, dengan cara meloncat enteng adalah Wilanda. Sedang yang di sebelahnya berjalan mendampingi tenang, walau tidak kelihatan menggerakkan kakinya.

"Kakang!"

Gendhuk Tri tak bisa menahan dirinya. Memang yang muncul adalah Upasara Wulung. Mpu Nambi menggigit bibirnya. Tak lebih dari setahun, atau malah setengah tahun, ia tak berjumpa dengan Upasara Wulung. Baru sekarang ini bisa melihat lebih jelas.

Masih tetap biasa.

Seorang lelaki, memperlihatkan usia muda, dengan dada yang bidang tapi kulitnya sangat lembut. Pandangan matanya tajam. Hanya rambut yang disanggul tanpa ikat kepala memberi kesan lebih tua.

Itulah Upasara Wulung!

Tidak nampak aneh dan luar biasa. Tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa kini ia tengah menguasai ilmu yang paling dicari-cari. Sikapnya sangat sederhana, tidak seperti Adipati Lawe yang meloncat turun dari kuda, tidak seperti Klikamuka yang menutupi wajahnya.

Upasara Wulung tak beda dengan Dyah Pamasi atau Dyah Palasir atau bahkan para prajurit!

"Ke mana saja kamu ini?"

Teguran Galih Kaliki lebih memperlihatkan hubungan seorang kakak dengan adiknya. Walau secara umum diketahui Upasara Wulung menjadi pemimpin Perguruan Awan, namun tata cara guru-murid tidak mengikat sama sekali.

"Menunggu matahari, Kakang Galih," jawab Upasara sambil memandang sekeliling.

Lalu menunduk memberi hormat yang dalam, menyembah.

"Kehormatan besar bagi pohon dan isinya, hari ini para pembesar Majapahit yang agung berkenan menginjakkan kakinya kemari.

"Maafkan, kami tak biasa menerima tetamu. Dan mungkin juga tak akan terbiasa."

Diam-diam Adipati Lawe terkesan oleh sikap Upasara yang biasa-biasa. Jauh dari bayangannya bahwa yang ditemui adalah Upasara yang menjadi aneh, menjadi serba rahasia. Ternyata biasa-biasa.

"Anakmas Upasara," kata Mpu Sora lembut. "Sejak kita bertemu pertama kali, kami selalu membuatmu repot. Sungguh ini bukan cara persahabatan yang baik.

"Tetapi agaknya memang Anakmas yang ditakdirkan Dewa untuk berkorban bagi kami semua.

"Rasanya kami tak perlu mengulang, bahwa kami secara sendiri-sendiri dan bersama-sama mengemban dawuh Baginda Raja. Mengiringkan Anakmas menghadap Baginda Raja."

Upasara mendongak. "Maafkan, para senopati agung.

"Baru saja saya bersama Paman Wilanda menyaksikan matahari terbit. Anugerah Dewa Mahaagung yang menciptakan keindahan abadi tanpa merusak yang disinari.

"Saya tak bisa sowan.”

Mpu Nambi mengangkat tangan kanannya. Bersama dengan kibasan tangan, mendadak semua prajurit kembali mengambil posisi mengurung. Tak ada yang ketinggalan.

"Saya tahu saya bersalah.

"Akan tetapi saya tak ingin merusak ketenteraman yang ada. Tak ingin mengotori kursi Keraton.

"Tadi saya berbincang dengan Paman Wilanda, bekas senopati Singasari yang kini berdiam di tempat yang sangat membahagiakan ini.

"Paman Wilanda tak diganggu untuk kembali bertugas di Keraton, karena kini tak mempunyai tenaga dalam dan kemampuan bersilat. Hanya bisa berlari-lari kecil.

"Saya sudah memutuskan akan mengikuti jejak Paman Wilanda." Seluruh lapangan menjadi sunyi. Klikamuka nampak menahan dadanya yang naik-turun. Mpu Nambi nampak sangat tegang.

Jaghana menunduk lesu.

Agaknya kearifannya yang membuat paling cepat menangkap maksud Upasara. Wilanda berjongkok, seperti tak kuasa menahan guncangan hatinya.

"Apa yang diharapkan dari saya selama ini adalah anggapan bahwa saya mempunyai dan menguasai ilmu Tepukan Satu Tangan. Ada benarnya. Maka dengan ini saya akan kembalikan semua yang ada dalam diri saya.

"Sebagian dari kitab-kitab itu ada di sini."