Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 12

Jilid 12

Gerakan ini seperti diketahui, dipelajari oleh Upasara Wulung sambil lalu, ketika Kawung Sen mencuri kitab itu dari perbendaharaan Ugrawe. Upasara tidak tertarik mempelajari, karena ketika itu sadar bahwa Kitab Penolak Bumi atau Tumbal Bantala Parwa adalah buku yang mengajarkan cara-cara menolak serangan bumi. Apa artinya kalau jurus mengenai bumi tak diketahui? Upasara bersama Kawung Sen lebih suka mempelajari Kartika Parwa atau Buku Bintang.

Hanya saja, Upasara baru sadar apa yang dipelajari ketika melihat Galih Kaliki mencoba membunuh dirinya. Gerakan Galih Kaliki mengingatkan kepada sesuatu yang bisa untuk menangkis. Dan ternyata gerakan itu kena! Bahkan ketika itu Upasara Wulung menyadari bahwa gerakan-gerakan Galih Kaliki dengan tongkat galih pohon asam sama dengan pukulan tangan kosong Ugrawe. Maka dalam gebrakan awal bisa mengalahkan Ugrawe. Hanya ketika pikirannya bercabang, ketika mau memainkan gerakan Banteng Ketaton, bisa dilukai.

Demikian juga ketika melawan Naga Murka. Jurus-jurus dalam Banteng Ketaton yang cukup sempurna bisa cepat dikalahkan Naga Murka.

Bahwa Naga Murka menduga Kiai Sangga Langit mengajari Upasara bukannya tanpa alasan. Kiai Sangga Langit sendiri bukan tak pernah mengatakan jurus-jurus atau cara latihan napas itu. Setidaknya pernah menurunkan lewat Nyai Demang!

Yang tak disadari oleh siapa pun adalah bahwa sebenarnya Kiai Sangga Langit sendiri belum melihat pemecahannya bagaimana cara memainkan jurus Jalan Budha. Ia hanya tahu teorinya! Itu bukan semata-mata hadiah. Akan tetapi siapa tahu Upasara bisa memecahkan rahasianya. Seperti diketahui, Upasara bisa memecahkan cara main congklak yang merupakan inti ilmu tersebut.

Upasara, di luar dugaan, bisa menguasai itu semua. Karena memang ilmu itu pada dasarnya mengandalkan pikiran kosong. Suwung, sunya, sepi. Dalam keadaan pasrah tadilah tenaga itu muncul.

"Budha maha welas-asih. Hari ini, aku melihat cahaya dan petunjukmu." Kiai Sangga Langit menunduk berusaha memberi hormat. Akan tetapi tubuhnya jatuh ke bawah. Tak bergerak.

Ngabehi Pandu tertawa pendek. Akan tetapi sebelum tawanya selesai, tubuhnya jatuh ke bawah juga! Dalam duel yang berjalan sekian lama, kedua-duanya telah terluka dalam.

Upasara Wulung menjadi getir hatinya melihat gurunya jatuh. Konsentrasinya

buyar.

"Kakang, sikat mereka semua," teriak Gendhuk Tri. Naga Murka meloncat turun sambil berteriak mengguntur, "Semua kembali ke

kapal!"

Naga Wolak-Walik mengikuti turun, disusul Naga Kembar. Dan semua prajurit Tartar mundur secara teratur. Pertempuran di bawah kembali bergolak. Hanya kali ini prajurit Tartar terus didepak mundur.

Perlahan-lahan mereka terus terdesak.

Di atas benteng, Upasara membebaskan ikatan Gayatri, lalu bersamaan dengan Gendhuk Tri, Dewa Maut, Jaghana, Ranggalawe melayang turun.

Medan pertempuran telah bergeser ke utara. Prajurit Tartar makin terdesak ke arah pelabuhan.

Upasara Wulung berlari kencang, mengangkat Ngabehi Pandu. Lalu membawa ke tempat sepi. Menunduk. Sendirian.

Air matanya membeku.

Pundaknya berguncangan menahan duka.

"Sudah, Kakang. " Suara Gendhuk Tri seperti tak terdengar.

"Betul, Tole, Kakang tak usah berduka. Toh Ngabehi Pandu mati dalam senyum. Sudah melihat kamu menang. Kamu memang jagoan."

Itu tak menghibur Upasara Wulung. Juga pesta kemenangan yang dirayakan secara besar-besaran. Kini seluruh Keraton telah dikuasai secara mutlak. Pasukan Tartar telah dibuang ke laut. Didesak hingga ke kapal-kapalnya yang segera dilarikan ke laut. Kembali ke negeri asalnya.

Sungguh suatu akhir yang tak menggembirakan. Para prajurit kelas satu yang berhasil menaklukkan separuh belahan bumi, yang tak terhalangi lajunya selama ini, justru bisa dipecundangi oleh prajurit-prajurit yang tadinya tidak diperhitungkan sama sekali. Utusan pertama untuk menaklukkan dibuat tak bermuka oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Kemudian tiga jenderal perang yang paling tangguh, dengan armada yang paling tangguh, kembali pulang dengan tangan hampa dan kekalahan. Walaupun kepulangan kali ini dengan harta karun dari Keraton yang bisa dirampas, akan tetapi tetap tak menghapus aib yang begitu besar. Untuk pertama kalinya Kaisar Langit dan Dewa-Dewa Naga dibuat tak berdaya. Luapan kegembiraan tak membuat Upasara tersenyum sedikit pun. Kembali wajah duka membebani. Seakan kematian Ngabehi Pandu membuatnya putus harapan. Upasara mulai mengenal kasih sayang, mulai mengenal dunia dari Ngabehi Pandu. Akan tetapi kini, ia kehilangan. Satu demi satu orang yang dihormati, yang menjadi bagian dari keluarga, gugur di medan pertempuran. Sejak Kawung Sen, Jagaddhita, Mpu Raganata, dan Ngabehi Pandu.

Penghargaan resmi dari Sanggrama Wijaya berupa gelar resmi sebagai senopati pamungkas—tidak berarti senopati terakhir, melainkan senopati yang bisa menyelesaikan tugas dengan tuntas, tak menggoyahkan hatinya. Juga hadiah berupa tanah luas.

Pada suatu malam Raden Wijaya memanggilnya sendirian.

Ketika itu Keraton Majapahit mulai dibangun kembali. Sebagian besar pusaka- pusaka Keraton Daha yang dipindahkan telah diberi tempat tersendiri. Di tempat seperti itulah Upasara Wulung dipanggil menghadap.

"Senopati Wulung, jasamu sangat besar. Terutama di hari-hari terakhir.

Di ruang ini ada segala pusaka yang bisa kamu ambil, kamu pilih. Apakah semua ini masih kurang?"

"Terima kasih, Raden. Hamba merasa senjata pusaka ini akan lebih berarti di tempat ini."

"Aku bukannya tidak tahu apa yang kauharapkan. Gayatri, putri Baginda Raja Sri Kertanegara. Aku bukannya tidak mau memberikan, Senopati Wulung.

"Namun kamu tak bisa melawan kodrat. Menurut perhitungan para resi, para pendeta, Gayatri dan diriku ditakdirkan seperti Dewa Uma dengan Syiwa.

"Dari Gayatri-lah kelak akan diturunkan raja-raja besar, yang tak ada bandingannya selama beberapa keturunan.

"Begitulah perhitungan para pendeta yang bijak.

"Jika menjadi jodohmu, itu menghalangi kodrat. Mengubah sejarah kegemilangan masa yang akan datang. "Senopati Wulung, pilihlah putri yang lain. Gayatri tidak seorang diri. Ia mempunyai tiga saudari. Kamu bisa memilih salah satu."

Upasara menunduk, tidak menjawab.

"Aku mendengar laporan, bahwa utusan dari Pamalayu sebentar lagi akan tiba.

Mereka membawa putri ayu, berkulit putih, memancarkan cahaya surga. "Kamu bisa memilih salah satu, senopatiku, pahlawan perangku." Upasara menghaturkan sembah.

"Hamba tak cukup berharga untuk itu semua, Raden. "

"Hari ini kamu masih bisa memanggilku Raden. Sebentar lagi kamu akan memanggilku Baginda Raja. Namun, Senopati, dengarlah. Apa yang kukatakan tak pernah kutarik pulang. Siapa pun yang kamu minta, akan kuberikan. Asal bukan Gayatri, karena kita semua akan menyalahi kodrat!"

Apakah banyak artinya janji itu? Upasara Wulung tak tahu. Bahkan Kiai Sangga Langit pun dulu masih mempunyai satu janji dengan dirinya. Tapi belum sempat dipenuhi, Kiai Sangga Langit sudah meninggal dunia.

Dalam kehampaan hati, Upasara Wulung secara diam-diam meninggalkan Keraton Majapahit. Menelusuri hutan, melalui rawa dan sungai, hingga akhirnya kembali ke Perguruan Awan.

Melihat semua bekas yang masih bisa menggetarkan hatinya—walaupun secara nyata seolah tak ada yang berubah.

"Eyang Sepuh yang menuntunmu ke tempat ini," kata Jaghana perlahan sambil menyembah. Demikian juga Wilanda. Upasara Wulung menjadi jengah.

"Eyang Sepuh yang membisiki Anakmas agar berada di tempat ini. Untuk membangun kembali perguruan ini. Di sini tinggal kami berdua."

"Paman Jaghana dan Paman Wilanda, saya memang ingin beristirahat di sini.

Akan tetapi soal membangun perguruan. "

Wilanda menghaturkan sembah. "Anakmas, kalau bukan Anakmas yang secara langsung mendapat bisikan Eyang Sepuh, siapa lagi yang pantas memimpin Perguruan Awan ini?"

"Jangan menyembah seperti itu, Paman."

Mendadak Jaghana dan Wilanda berdiri dan tertawa terbahak-bahak. Keras membahana.

Lalu keduanya bersujud.

"Eyang Sepuh, sungkem pangabekti. Eyang masih selalu bersama kami."

Upasara baru sadar. Bahwa dengan meminta tidak saling menyembah berarti dirinya masuk ke dalam peraturan Perguruan Awan. Di mana di sini memang tidak ada aturan untuk saling menghormati secara formal.

Upasara tak bisa menerangkan lebih jauh. Tetapi juga tak bisa menolak. Karena memang hanya di tempat inilah hatinya merasa tenteram. Tak timbul keinginan melihat Keraton Majapahit dan mendatangi upacara besar-besaran, tak ingin melihat keraton lama di mana di dindingnya pernah dipahatkan kalimat janji dengan Gayatri.

Sejak saat itu Upasara Wulung berdiam di Perguruan Awan. Mulai menghabiskan waktu dengan Jaghana dan Wilanda. Hidup dari buah-buahan, dari menanam dan merawat tumbuhan yang ada. Kadang kala melatih pernapasan secara bersama-sama.

Selama ini yang sering datang adalah Gendhuk Tri serta Dewa Maut— malah kadang berdiam lama. Juga Galih Kaliki dan Nyai Demang. Biasanya mereka berkumpul bersama, berbicara lama sekali. Dari sore hingga sore hari lagi. Berlatih bersama.

Namun dari luar, hutan itu seperti tak tersentuh manusia. Mereka terlalu kecil dibandingkan dengan alam yang gagah perkasa. Di mana ujung dedaunan mencapai langit, dan akarnya terhunjam dalam ke tanah.

Satu-satunya tanda bahwa hutan itu berpenghuni manusia ialah bila suatu ketika ada angin lirih, seperti terdengar tembang, senandung tanpa kata-kata, memberi gambaran ombak yang bergulung ke pantai berlumut....

Utusan Asmara LANGIT di Keraton Majapahit membersitkan campuran warna merah kekuning- kuningan.

Saat menjelang terbenamnya matahari, suasana sangat sepi. Mereka yang bekerja sepenuh hari beristirahat. Tak ada anak-anak yang bermain, baik di perumahan penduduk maupun di dalam Keraton.

Sore hari saat candikala, saat matahari membiaskan sinar merah-kuning, adalah saat untuk hening. Saat pergantian siang dengan malam yang ditandai dengan firasat alam. Berbeda dengan pergantian hari yang biasa, candikala dianggap mempunyai makna bisa mendatangkan bahaya. Karena, menurut kepercayaan itu adalah saat Batara Kala, dewa yang bertubuh raksasa, sedang mencari mangsa. Siapa saja yang masih berada di luar rumah akan ditelan.

Tapi suasana yang tengah dirasakan Baginda Raja Sanggrama Wijaya bukan hanya karena cahaya surya yang sebenarnya sangat indah itu.

Yang membuat Baginda Raja gundah adalah masih adanya batu-batu yang terasa mengganggu kesempurnaan kekuasaannya. Batu kecil, karena batu-batu besar telah berhasil disingkirkan. Dengan prajuritnya yang setia, Baginda Raja berhasil membebaskan kekuasaan dari Baginda Jayakatwang. Batu besar yang lebih perkasa, yaitu pasukan Tartar yang pernah dan masih menguasai seluruh jagat raya, berhasil disingkirkan. Bersama dengan para senopati yang pilihan, pendekar-pendekar Tartar bisa dibubarkan, didesak ke pinggir laut dan pulang ke kandangnya.

Sejak itu, desa Tarik diubah menjadi pusat kegiatan. Keraton Majapahit mulai didirikan. Benteng yang kuat, gapura yang indah dan kokoh bisa didirikan. Pembagian kekuasaan untuk para pembantu utama sudah dipersiapkan. Sebagai raja yang baru, Baginda Raja sudah menyusun sejumlah pangkat dan kebesaran yang siap untuk dianugerahkan.

Sampai di sini tak ada masalah yang berarti.

Kecuali tentang satu orang. Yaitu Upasara Wulung, ksatria Pingitan didikan zaman Baginda Raja Kertanegara, yang diangkat menjadi senopati. Diangkat sebagai salah satu panglimanya ketika mengusir lawan dalam pertempuran antara mati dan hidup. Itulah sebabnya Baginda Raja memberi sebutan sebagai senopati pamungkas, senopati terakhir. Tetapi bisa juga berarti senopati yang menyelesaikan tugas.

Sebagai seorang yang berdarah ksatria dan berasal dari lapisan tengah sebelum naik takhta, Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengenal balas budi. Semua senopati, prajurit yang berjasa, diberi ganjaran atau hadiah yang sesuai dengan jasa pengabdiannya. Bahkan prajurit dalam pangkat yang paling rendah pun menerima.

Kecuali satu orang.

Yaitu Upasara Wulung. Yang setelah pertempuran besar-besaran lebih suka kembali ke Perguruan Awan. Dan sejak masuk kembali ke daerah hutan itu, tak pernah muncul lagi. Dua kali Baginda Raja mengirimkan utusan resmi. Akan tetapi jangan kata mendengar jawaban, bertemu dengan orangnya atau bayangannya saja tak bisa.

"Tak mungkin bocah itu tak tahu datangnya utusan resmi," kata Baginda Raja pelan kepada Gayatri, salah seorang permaisurinya.

"Ia tahu, dan ia menunjukkan sikap menolak kepada utusanku. Bocah Pingitan itu lupa bahwa yang ditentang sekarang ini adalah perintah seorang raja yang bisa membalik dunia seperti membalik telapak tangan.

"Aku memanggilmu karena kamu tahu bocah itu." Gayatri menunduk, memandang lantai Keraton.

Hatinya masih berdesir. Masih tersisa kenangan ketika bersama dengan Upasara Wulung menyelinap ke dalam Keraton Daha. Dan saat Upasara Wulung bertarung antara mati dan hidup untuk membebaskannya. Lebih dari itu, diketahuinya bahwa ksatria itu menaruh hati padanya. Hanya karena menurut perhitungan para pendeta dirinya adalah pasangan Baginda Raja, seperti pasangan Dewa Wisnu dan Dewi Sri, Upasara Wulung mengundurkan diri.

Sebagai permaisuri seorang raja, Gayatri sudah sejak semula menutup semua kenangan dan ingatan pada diri Upasara Wulung. Tak ada keinginan sedikit pun untuk membuka hari lampau, karena setiap kali tanpa sengaja nama itu disebut, darahnya masih tetap mengalir lebih kencang.

"Bocah Pingitan itu," suara Baginda Raja sedikit meninggi ketika menyebut sebagai bocah, dan bukan ksatria, "masih menyimpan dendam kekanak-kanakan karena kamu.

"Aku sudah berjanji memberikan apa saja padanya, kecuali kamu. Akan tetapi ia tetap bocah yang tak tahu bagaimana menikmati hasil perjuangannya sendiri. Ia memilih berada di hutan seolah mau menjadi dewa. "Ia boleh mengaku berjasa. Nyatanya memang demikian. Akan tetapi sekali ini aku tak bisa membiarkan ia menolak panggilanku. Itu berarti menentang panggilan seorang raja. Tak ada ampunan bagi seorang yang berani menentang raja."

Gayatri tetap menunduk.

Lurus pandangannya ke bawah. Desir darahnya masih menggetar.

"Aku memanggilmu karena aku ingin kamu datang ke Perguruan Awan dan mengatakan bahwa aku memanggilnya, memerintahkan ia sowan, menghadap padaku. Bahwa aku akan memberikan pangkat tertinggi padanya sebagai mahapatih.

"Bersiaplah.

"Besok pagi-pagi sekali kamu berangkat."

Gayatri menghaturkan sembah dengan menunduk hormat.

"Aku telah mengangkat para mantri, para bupati, para senopati. Akan tetapi tetap terbuka kemungkinan untuk menjadi mahapatih, menjadi tangan kananku.

"Akan kulihat apakah kepalanya masih keras menerima tawaranku, menerima kedatanganmu.

"Sebelum matahari terbit besok, kamu sudah berada dalam perjalanan." "Sendika dawuh, Gusti."

Gayatri menghaturkan sembah. Walau ia termasuk permaisuri, akan tetapi seorang raja tetap seorang raja yang harus dihormati sebagai raja, bukan hanya sebagai suami. Gayatri tetap menghaturkan sembah, dan menyebut sebagai Gusti, kependekan dari Gusti Prabu.

Gayatri menunggu sampai Baginda Raja meninggalkan tempat. Baru kemudian bergerak perlahan. Menyadari bahwa sesuatu yang besar akan terjadi dalam beberapa hari ini. Sesuatu yang lebih menggetarkan hatinya dibandingkan ketika pertama kali menyusup ke dalam Keraton Daha bersama Upasara Wulung. Padahal waktu itu jelas memang menguatirkan, karena soal mati dan hidup. Sekarang ini seharusnya ia merasa sedikit terhibur. Bukankah ia akan bertemu dengan seorang lelaki, benar-benar seorang lelaki yang pernah mengguncangkan jiwanya? Upasara Wulung seorang lelaki biasa, bukan seorang raja. Bukan seorang pangeran. Bukan juga seorang bupati. Gelar kehormatan yang disandang hanyalah senopati. Suatu gelar kehormatan yang bisa diperoleh setiap prajurit.

Akan tetapi Upasara Wulung memang sepenuhnya seorang lelaki. Gagah, mempunyai jiwa ksatria, seorang prajurit sejati yang hanya tahu satu hal: berbakti kepada Baginda Raja, yang berarti mencintai Keraton, yang juga berarti mencintai tanah tumpah darahnya. Upasara begitu lugu, begitu jujur mengabdi, begitu tulus menjalankan darma baktinya.

Ini semua yang membuatnya makin gelisah ketika akhirnya selepas tengah malam Gayatri masuk ke dalam tandu, dipanggil para prajurit yang telah siap. Saat itulah Gayatri mendengar sendiri dari Mpu Renteng dan Mpu Sora yang mengawal.

Bagi Gayatri, Mpu Sora dan Mpu Renteng mempunyai hubungan yang lebih erat. Bukan karena kebetulan kedua tokoh itu adalah dua di antara sekian orang kepercayaan Baginda Raja, akan tetapi karena Mpu Renteng dan Mpu Sora sering mengatakan sesuatu secara berterus terang.

"Paman, katakan padaku, apa sebenarnya maksud Baginda Raja memanggil Kangmas Upasara?"

Mpu Renteng dan Mpu Sora menyembah dengan hormat. Keduanya naik kuda di sebelah kanan dan kiri tandu.

"Seperti yang diperintahkan Baginda." "Apakah itu yang sesungguhnya, Paman?" "Itulah yang sesungguhnya, Permaisuri.

"Baginda Raja saat ini kesulitan memilih siapa sesungguhnya yang berhak menjadi mahapatih. Hamba melihat kelebihan Baginda melihat ke depan. Sekarang ini kalau di antara kami yang diangkat, bisa menjadi bobot pertengkaran. Hamba, Tambi, Renteng, Sasi, Nambi, tumbuh secara bersama. Agak sulit menerima tiba-tiba salah seorang dari kami menjadi mahapatih. Kami terlalu tahu kurang dan juga lebihnya." "Apakah Paman akan menerima jika Kangmas Upasara yang diangkat Baginda?"

"Kami akan menerima, karena itulah titah Baginda Raja. Akan tetapi lebih dari itu, Upasara pantas menyandang kehormatan itu. Walau masih muda, jasanya besar sekali. Kami semua mengakui, dan menerima."

Terdengar helaan napas dari dalam tandu.

"Kalau Baginda berkehendak memberi anugerah pangkat yang begitu tinggi, mengapa disertai ancaman? Mengapa Baginda bisa menjadi murka?"

Kali ini ganti Mpu Sora dan Mpu Renteng menghela napas bersamaan.

Kekuatiran Baginda Raja

HELAAN napas yang bersamaan menunjukkan kecemasan yang sama. Mpu Renteng juga berusaha menenteramkan kegelisahan batinnya. Apa yang diutarakan Mpu Sora sepenuhnya benar. Masalah pengangkatan mahapatih Majapahit sekarang ini masalah yang paling pelik. Upasara Wulung bisa menjadi jalan tengah yang menyelamatkan.

Akan tetapi kekuatiran yang diutarakan Permaisuri Gayatri juga ada benarnya.

Mpu Renteng dan Mpu Sora dalam hati was was karena tak bisa sepenuhnya memperkirakan cara bertindak Baginda Raja. Pengalaman masa lampau bersama-sama sejak melarikan diri dari Keraton Singasari ketika Raja Muda Jayakatwang menyerbu, membuat mereka sepenuhnya hormat dan menyatu. Dalam keadaan terlunta-lunta, berjalan sampai ke tlatah Madura, selalu bisa seperasaan. Begitu juga ketika mulai menggempur Raja Jayakatwang di Daha.

Akan tetapi sedikit timbul keraguan ketika dalam saat-saat yang menentukan Baginda Raja tega membiarkan beberapa prajurit yang masih menjadi tawanan. Baginda Raja tetap memerintahkan penyerbuan. Juga ketika prajurit Tartar kemudian digempurnya. Mpu Renteng menganggap ada sesuatu yang tak bisa diduga dalam tindakan Baginda Raja. Biar bagaimanapun, jiwa ksatria Mpu Renteng dan Mpu Sora tak bisa menerima begitu saja cara menyingkirkan pasukan Tartar.

"Mereka musuh kita. Harus kita musnahkan. Dengan siasat. Ini bukan kelicikan atau sifat ksatria. Kita harus memenangkan pertempuran yang paling menentukan ini. Kalian adalah prajurit, dan aku yang memikirkan strategi. Aku yang bertanggung jawab kepada Dewa yang Menguasai Langit dan Bumi. "Busuk atau tidak kulakukan, aku yang bertanggung jawab. Kalian tidak akan pernah mengerti. Ini urusan pemerintahan. Ini urusan seorang raja!"

Itulah yang dulu didengar langsung dari Baginda Raja.

Penjelasan yang diterima saat itu. Akan tetapi setelah beberapa saat dipertimbangkan, setelah Keraton Majapahit mulai dibangun, dan segala hasil dinikmati, kecemasan baru mulai merambat.

Kalau hal ini dihubungkan dengan pemanggilan Upasara Wulung, Mpu Renteng juga melihat sesuatu yang selama ini agaknya disembunyikan oleh Baginda Raja.

Atau paling tidak, tidak diungkapkan oleh Baginda.

Yaitu tersiarnya berita di luaran bahwa selama ini Upasara Wulung dilupakan oleh Baginda Raja. Bahwa berita pembicaraan di masyarakat itu tidak benar, Mpu Renteng dan Mpu Sora tahu secara pasti. Bukan Baginda Raja yang melupakan, akan tetapi Upasara sendiri yang menolak.

Namun ada juga yang dirasakan, bisa benar dan bisa tidak. Yaitu bahwa di belakang hari Upasara Wulung bisa menjadi ganjalan yang berbahaya. Sejak pertempuran penghabisan dulu, Upasara mengasingkan diri di Perguruan Awan. Sepenuh waktunya dipakai untuk merenung, untuk bersemadi.

Inilah yang berbahaya. Saat ini Upasara telah mulai memperdalam ilmu yang sangat luar biasa, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ilmu yang masih tetap dianggap gaib, karena selama ini tidak ada yang mengetahui secara persis. Bahkan ilmu itu yang oleh para pendeta Tartar, para pendekar Mongolia, dianggap sebagai Jalan Budha.

Ilmu yang baru sebagian saja dilihat oleh Mpu Renteng dan Mpu Sora sewaktu Upasara Wulung melabrak habis Naga dari Tartar yang saat itu tak tertandingi.

Ilmu yang luar biasa, karena mereka semua para jago silat seperti mengenali, akan tetapi juga seperti tidak. Dan kalau benar saat ini Upasara Wulung sedang memperdalam ilmunya Tepukan Satu Tangan yang bisa terdengar lebih nyaring dan lebih bertenaga dari dua tangan, bisa dibayangkan bagaimana jika Upasara benar- benar telah menguasai ilmu tersebut. Upasara akan menjadi tokoh yang tak bisa diramalkan, dan sulit dicari tandingannya. Di zaman dahulu masih ada Mpu Raganata yang perkasa, masih ada Eyang Sepuh yang kini tak diketahui tempat dan bayangannya, akan tetapi sekarang ini Upasara betul-betul tak menemukan lawan yang setanding.

Dalam perkiraan Mpu Renteng, kalau Baginda kuatir, itu cukup beralasan. Karena memang sejak mendiang Baginda Raja Kertanegara, kedigdayaan adalah sesuatu yang mempunyai makna mendalam. Baginda Raja Sri Kertanegara-lah yang secara resmi menentukan bahwa nilai-nilai kedigdayaan, kesaktian, adalah nilai seorang lelaki yang sesungguhnya. Hanya yang kuat dan sakti yang akan memerintah seluruh jagat dan isinya.

Kehadiran Upasara Wulung bisa menjadi ganjalan di belakang hari. Maka, menurut perkiraan Mpu Renteng dan Mpu Sora serta beberapa senopati, Baginda Raja berusaha menarik Upasara Wulung ke pihak Keraton. Dengan anugerah pangkat mahapatih, Upasara tak akan melawan di kemudian hari. Upasara Wulung, sebaliknya, akan berbakti sepenuhnya.

Kalau ternyata Upasara Wulung menolak, bukan tidak mungkin Baginda akan mengangkat tangan untuk melenyapkan. Sekarang adalah saat yang tepat, sebelum Upasara Wulung tumbuh menjadi besar dan berakar.

Pastilah Baginda Raja mempunyai telik sandi atau pasukan rahasia yang mengetahui apa yang tengah terjadi sekarang ini. Dugaan Mpu Renteng ialah prajurit telik sandi di bawah pimpinan Mpu Nambi yang mampu menyusupkan anak buahnya ke Perguruan Awan. Mpu Renteng bisa mengetahui sedikit-sedikit dan mendengar bahwa sesungguhnya Upasara Wulung saat ini tengah berada dalam situasi yang menentukan. Upasara berada dalam situasi yang sangat menentukan dalam mempelajari Tepukan Satu Tangan. Bagian yang menentukan apakah ia bakal berhasil menguasai ilmu tersebut atau gagal sama sekali.

Mpu Nambi mendapat laporan dari prajuritnya yang menurut cerita mendapat kabar tersebut dari Dewa Maut. Salah seorang tokoh yang semasa jayanya jago dalam bidang racun yang tiada tandingannya. Hanya saja kemudian seluruh tenaga dalamnya musnah serta terganggu jiwanya.

Dewa Maut termasuk yang bisa keluar-masuk ke dalam Perguruan Awan bersama dengan Gendhuk Tri—gadis remaja yang seluruh tubuhnya dipenuhi dengan racun. Mereka inilah, di samping beberapa murid Perguruan Awan, yang masih tetap mengadakan pertemuan secara tertentu.

Sesungguhnya, ini yang dikuatirkan Baginda.

Kalau sampai Upasara berhasil menghimpun para ksatria pilihan dan kemudian mbalela, atau memberontak kepada Baginda. Upasara bagai harimau yang tumbuh sayap.

Bahwa Upasara akan sangat membahayakan seluruh ketenteraman Keraton, Mpu Renteng bisa mengerti dan bisa menerima. Akan tetapi nalarnya mengatakan bahwa sangat tidak masuk akal bahwa Upasara Wulung akan mbalela.

Akan tetapi Mpu Renteng dan Mpu Sora tak bisa mengutarakan pendapatnya, karena Baginda tak pernah menanyai. Sungguh tak masuk akal kalau tiba-tiba saja mereka mengutarakan pendapatnya. Ini suatu sikap kurang ajar yang tak bisa dimaafkan, tak ada ampunan sama sekali.

Yang mencemaskan adalah bahwa Baginda lebih mempercayai Mpu Nambi untuk memecahkan masalah di Perguruan Awan. Dan kemudian menjatuhkan putusannya.

Seperti sekarang ini.

Mengirim utusan untuk menjemput Upasara.

Mpu Renteng bisa mengerti kalau misalnya saja Baginda memerintahkan para senopati pilihan untuk memaksa Upasara. Lepas dari pertimbangan benar atau tidak— akan tetapi bukankah yang diperintahkan Baginda Raja selalu benar?—ini menunjukkan sifat ksatria.

Akan tetapi Baginda justru mengutus Permaisuri Gayatri. Seorang wanita yang sama sekali tidak terlibat dalam percaturan Keraton. Bahkan mungkin sama sekali tidak tahu, seperti pertanyaan yang baru saja didengar.

Hanya karena Permaisuri Gayatri dulu pernah mempunyai perasaan tertentu terhadap Upasara, maka kini hal itu yang dipakai sebagai senjata untuk memaksa Upasara Wulung.

Mpu Renteng sempat bertanya-tanya dalam hati ketika menerima titah dari Baginda. "Kawal Permaisuri."

"Sendika dawuh," jawabnya sambil menyembah bersamaan dengan Mpu Sora. "Kupercayakan ini kepada kalian berdua. Bertindak atas namaku untuk

berbuat apa saja demi perintahku." "Sendika dawuh, Gusti."

"Ingat. Apa pun yang terjadi, kalian berdua hanya memberikan laporan kepadaku."

Baginda juga memerintahkan untuk membawa prajurit-prajurit pilihan. Bahkan Dyah Palasir dan Dyah Singlar yang selama ini diandalkan untuk menjadi pemimpin prajurit pribadi diikutsertakan.

Dyah Palasir termasuk senopati muda yang mendapat kepercayaan langsung dari Baginda. Dari angkatan muda, Dyah Palasir-lah satu-satunya yang mendapat pangkat sejajar dengan bupati.

Mpu Sora pun yakin bahwa tugas yang dijalankan kali ini bukan tugas sembarangan. Ada cara halus dengan membawa Permaisuri Gayatri. Tetapi juga ada cara tertentu yang bisa serta-merta diambil jika ada sesuatu yang dianggap perlu.

Dyah Palasir pasti telah memilih prajurit-prajurit pilihan yang paling tangguh dan paling setia kepadanya. Ini berarti perjalanan ke Perguruan Awan bisa mengubah sejarah Keraton.

Prajurit Telik Sandi

PERGURUAN AWAN masih seperti ketika diciptakan.

Awan dan angin masih terasa purba. Bahkan tanahnya masih selalu terkesan basah. Tak ada yang berubah.

Perguruan Awan, atau juga disebut Nirada Manggala, sebenarnya tak jauh berbeda dari hutan-hutan yang lain. Gerombolan pepohonan yang membentuk pagar alam. Tak terlalu istimewa, karena di sini juga tak ada tanda-tanda yang menjadi batas wilayahnya. Satu-satunya pertanda memasuki daerah Perguruan Awan hanyalah sebuah alun-alun yang luas. Sebuah lapangan yang tak ditumbuhi pohon-pohon besar. Tanah kosong itu dianggap masyarakat sekitar sebagai batas wilayah yang dikeramatkan. Yang membuat penduduk sekitar enggan untuk memasuki, apalagi mengusik tanaman yang ada. Sepotong daun yang mengering akan dibiarkan membusuk dan menjadi pupuk. Irama alam sepenuhnya terjaga sempurna.

Rombongan yang dipimpin Mpu Sora dan Mpu Renteng sampai di pinggir alun-alun. Dyah Palasir segera memerintahkan membuat pondokan sederhana yang dibangun dari kayu-kayu yang sudah disiapkan, dengan atap ilalang yang dibawa dari Keraton.

Tak ada pepohonan yang diusik. Tak ada tetumbuhan dan Cengkerik yang diubah letaknya. Bahkan bentuk bangunan pondokan itu dibuat sedemikian rupa sehingga menyatu dengan alam sekitar. Seakan bagian dari belukar menjalar.

Di pondok itu Permaisuri Gayatri bertempat tinggal. Pada jarak sepuluh tombak, para prajurit berjaga-jaga. Ada yang khusus memasak, memasak air untuk Permaisuri. Selebihnya menunggu.

Hanya Mpu Sora dan Mpu Renteng yang berada di sekitar pondok, dan tetap berdiam diri. Hanya mengeluarkan jawaban kalau ditanya secara langsung.

Permaisuri tak bisa menahan diri ketika malam tiba, dan suara binatang hutan mulai terdengar.

"Paman Sora dan Paman Renteng." "Sembah dalem, Gusti."

"Sampai kapan kita menunggu?"

"Sampai hamba mendengar titah Permaisuri. Kalau Permaisuri menitahkan untuk masuk ke dalam, kita semua akan masuk ke dalam hutan."

"Kalau saya meminta kita kembali ke Keraton?" Mpu Sora dan Mpu Renteng menyembah hormat.

"Hamba menerima titah Baginda Raja untuk mengantarkan Permaisuri menemui Senopati Pamungkas." Jawaban yang tetap menghormat. Menempatkan diri sebagai orang bawahan. Akan tetapi juga sekaligus suatu ketegasan bahwa mereka harus bisa menjalankan tugas. Menemui Senopati Pamungkas.

Ini berarti berpantang pulang sebelum tugas dijalankan. "Saya mengerti, Paman.

"Hanya saya tidak mengerti apakah Kangmas Upasara mengetahui saya berada di sini."

"Mestinya begitu, Permaisuri."

"Kalau begitu, kenapa Kangmas tak mau menemui?"

Mpu Renteng tak bisa menjawab. Juga Mpu Sora. Bahkan kalaupun mempunyai jawaban, barangkali sulit sekali diutarakan. Karena tugas ke Perguruan Awan ini masih mengandung misteri yang belum terungkapkan.

Adalah sangat mungkin sekali Upasara Wulung tak mau menemui. Bukan tidak mungkin menolak muncul, justru karena Baginda Raja mengutus Permaisuri Gayatri untuk menemui.

Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng sedikit-banyak mengenal Upasara Wulung. Senopati muda yang diangkat sebagai senopati perang dalam saat yang menentukan. Yang kemudian memilih kembali ke tengah hutan di saat kemenangan dirayakan. Hanya yang mempunyai hati batu alam mampu menyatukan keinginan, mampu mendengarkan suara hatinya sendiri.

Mpu Sora tidak melihat bahwa tindakan Upasara suatu tindakan yang benar, namun jelas menunjukkan suatu keyakinan yang utuh.

"Bagaimana kalau Kangmas Upasara tidak mau menemui saya?" "Pasti menemui, Permaisuri. Begitulah perkiraan Baginda."

"Perkiraan Baginda," Permaisuri Gayatri meninggikan suaranya. "Apa perkiraan Paman berdua?"

"Apa yang diperkirakan Baginda adalah perkiraan hambanya juga." "Ya, selalu begitu jawaban Paman.

"Akan tetapi, apakah Paman yakin Kangmas Upasara berada di hutan ini?

Bagaimana kalau ia sedang pergi? Bagaimana kalau sedang sakit?"

"Kalau sedang pergi, hamba tak tahu harus mencari ke mana. Kalau sedang sakit, hamba juga tak tahu harus mencari obat ke mana. Hamba hanya menjalankan perintah."

"Paman, saya pun hanya menjalankan perintah. Titah Baginda Raja, penguasa tunggal atas mati dan hidup kita sekalian. Tetapi saya ini orang bodoh, Paman.

"Bodoh sekali dan tak mengerti sedikit pun masalah Keraton. Mbakyu Tribhuana, yang digelari mahalalila karena keunggulannya bisa mengetahui maksud Baginda, jauh sebelum diperintah sudah mengetahui maksudnya. Mbakyu Mahadewi yang paling dikasihi Baginda, juga bisa mengetahui. Mbakyu Jayendradewi yang paling setia, bisa mengerti. Tetapi saya ini sama sekali tidak mengetahui apa-apa.

"Paman, katakanlah sejujurnya. Apakah maksud Baginda memanggil Kangmas Upasara?"

"Sejauh hamba yang bodoh ini mengetahui, tak lain dan tak bukan seperti yang disabdakan. Ingin mengangkat Senopati Pamungkas menjadi mahapatih Majapahit. Menjadi tangan kanan Baginda.

"Semua pengikut Baginda telah mendapatkan kehormatan dan anugerah, akan tetapi..."

"Apakah tidak ada maksud lain?" "Tidak, Permaisuri."

"Mengapa mendadak sekali?" Mpu Sora menggeleng lemah.

Namun hatinya sempat oleng. Hanya karena penguasaan perasaannya sudah sampai tingkat tinggi, perubahan perasaan itu bisa disembunyikan. Mpu Sora dan juga Mpu Renteng bukan tidak mendengar kabar dari prajurit telik sandi, atau prajurit rahasia yang pekerjaannya menyusup dan mencari kabar dari wilayah yang tak terduga.

Mpu Sora mendengar bahwa Upasara Wulung saat ini sedang mempelajari bagian yang paling menentukan dari ilmu Tepukan Satu Tangan. Bagian yang konon akan menentukan apakah si pelatih bisa menguasai ilmu tersebut, atau justru sebaliknya. Ia bakal dihancurkan oleh ilmu tersebut, dan akan menjadi cacat seumur hidup.

Prajurit telik sandi yang dipimpin Senopati Nambi mendapat kabar ini dari salah seorang penghuni Perguruan Awan yang bernama Dewa Maut. Tokoh tua yang seluruh rambutnya putih ini yang paling bisa dihubungi. Menurut cerita, dulunya Dewa Maut adalah tokoh sakti dengan penguasaan atas semua racun Kali Brantas. Hanya saja kemudian kehilangan ingatan, sehingga kelakuannya seperti anak kecil. Dari Dewa Maut inilah tercium bahwa Upasara Wulung kini sampai ke tingkat yang menentukan.

Dan justru pada saat seperti inilah, Baginda Raja memerintahkan untuk menemui Upasara. Dengan perhitungan bahwa dalam keadaan yang genting ini, Upasara akan terdesak. Kalau ia memilih untuk meneruskan latihannya dan tak ingin terganggu, ia akan menerima jabatan tersebut.

Kalaupun menolak, berarti Upasara telah ditawari. Ini berarti ia akan turut menjaga Keraton. Dan janji seorang ksatria, akan dibela sampai mati.

Kalau dihubungkan dengan titah Baginda Raja untuk mengambil tindakan yang diperlukan, hal ini sangat masuk akal. Mpu Sora dan Mpu Renteng diberi wewenang penuh untuk mengambil tindakan apa pun. Hal ini juga diperkuat dengan kehadiran Dyah Palasir.

Berarti pula Upasara akan digempur saat itu juga. Sebelum kekuatan menggalang persatuan dan ilmunya makin sulit ditandingi. Baginda tak ingin melihat ganjalan menjadi besar. Sekarang ini memang saat yang paling menentukan.

"Paman..." "Sembah dalem."

"Apakah benar saat ini tidak ada yang pantas mendapat anugerah pangkat menjadi mahapatih?" "Senopati Pamungkas yang paling pantas menerima kebesaran ini, Tuanku Permaisuri."

Jawaban Mpu Renteng mempunyai dua arti.

Pertama, seperti yang diutarakan bahwa Upasara Wulung memang pantas menerima jabatan agung ini. Meskipun masih sangat muda, akan tetapi telah membuktikan diri sebagai pengabdi yang kesetiaannya tak perlu diragukan. Di samping itu juga yang ilmu silatnya paling tinggi. Setidaknya dengan satu atau dua jurus Tepukan Satu Tangan bisa membuyarkan lawan.

Kedua, karena sesungguhnya Upasara merupakan jalan keluar yang terbaik. Pengangkatan Upasara akan diterima oleh berbagai pihak. Oleh semua senopati, semua patih yang ada.

Mpu Renteng sadar bahwa Baginda Raja sekarang ini menghadapi situasi yang barangkali lebih sulit dari ketika merebut Singasari, dari ketika mengusir pasukan Tartar, lebih sulit dari ketika memutuskan untuk mengawini keempat putri Sri Baginda Raja Kertanegara.

Justru karena kini menghadapi tangan dan kakinya sendiri.

Serangan Tengah Malam

BAGINDA RAJA harus memilih yang terkuat untuk menduduki kursi sebagai mahapatih, menjadi amangkubumi. Yang berarti jabatan yang lebih tinggi dari semua patih atau senopati terkemuka. Yang berarti juga bahwa salah seorang dari senopatinya akan berada di atas yang lainnya. Padahal justru ketika berjuang dulu, semuanya sama pangkat dan kedudukannya.

Untuk jabatan patih, atau juga adipati amancanegara, hal ini tidak menjadi masalah. Keraton Majapahit dibagi atas lima wilayah, yaitu sebelah barat, timur, selatan, utara, serta tengah. Masing-masing akan dipimpin oleh seorang patih atau adipati amancanegara. Seperti juga wilayah utara yang kini diserahkan kepada Ranggalawe, putra Aria Wiraraja yang gagah berani. Bahkan setelah menjadi adipati pun tetap memakai nama Ranggalawe, nama yang disandang ketika masih berpangkat rangga dalam keprajuritan.

Memang setelah semua mendapat jabatan dan pangkat, timbul pertanyaan yang tak terucapkan. Siapa yang bakal diangkat Baginda sebagai mahapatih? Yang berarti membawahkan semua adipati dan atau para patih ini? Mpu Renteng sadar diri dan sama sekali tidak bermimpi akan menduduki jabatan sebagai pelaksana Keraton.

Ada tiga nama yang bisa dipilih Baginda Raja. Ini menurut perhitungannya sendiri, yang barangkali tak berbeda jauh dengan senopati atau adipati yang lain.

Pertama, pastilah Ranggalawe, yang sekarang sebetulnya lebih tepat disebut Adipati Lawe. Senopati yang gagah berani dan mempunyai ilmu yang cukup tinggi. Perlawanan merebut Singasari dibuktikan dengan luka dan pengorbanan yang tinggi. Dan lagi Adipati Lawe adalah putra Aria Wiraraja dari Madura. Yang sejak lama menunjukkan kesetiaan tanpa tanding. Yang sejak semula berpihak kepada Baginda Raja. Bahkan prajurit dari Madura yang dikirim Aria Wiraraja-lah yang pertama kali membuka hutan, membakar belukar. Para prajurit itulah yang pertama kali membuat rumah dan membangun sawah. Adalah wajar jika Baginda mengangkat Adipati Lawe sebagai mahapatih.

Kelemahan Adipati Lawe hanyalah kurang bisa mengekang perasaan. Apa yang ingin dikemukakan langsung dikatakan. Adipati Lawe seolah masih hidup di saat perjuangan merebut Singasari dahulu. Seakan masih hidup di medan perang, yang menuntut penyelesaian seperti hukum-hukum perang. Namun halangan yang terutama adalah karena adanya Mpu Sora.

Pilihan kedua, Mpu Sora. Tokoh yang bijak, mampu mengekang perasaan, dan secara sempurna menguasai ilmu Bramara Bramana, atau ilmu Sengatan Lebah Seorang Pendeta. Gabungan antara tenaga keras dan kearifan seorang pendeta. Ilmu dari tlatah Madura ini hanya Mpu Sora yang mumpuni, menguasai luar dalam. Dan Mpu Sora masih terhitung paman Adipati Lawe. Sehingga kalau mengikuti tata cara, Mpu Sora-lah yang lebih pantas dibandingkan keponakannya.

Pilihan ketiga, Mpu Nambi. Dalam banyak hal sama seperti juga Mpu Sora. Akan tetapi jabatan utama Mpu Nambi adalah pemimpin utama para prajurit telik sandi. Prajurit rahasia yang mendapat tugas utama dari Baginda Raja. Sebagai pemimpin telik sandi, tentu Mpu Nambi paling mengetahui segala rahasia Keraton, dan paling sering serta dekat berhubungan dengan Baginda. Senopati telik sandi, yang karena tugasnya bisa mengetahui segala hal yang terjadi di dalam dan di luar Keraton. Bahkan diikutsertakannya Dyah Palasir menunjukkan kekuasaan ini. Dyah Palasir dari prajurit pengawal pribadi yang garis komandonya di bawah pimpinan telik sandi. Mpu Renteng bisa mengerti kalau untuk permasalahan ini, Permaisuri Gayatri tak merasakan perlunya menemui Upasara Wulung. Yang bagi Baginda Raja hanya ada dua kemungkinannya. Bergabung ke Keraton atau ditumpas.

"Paman Sora, mengapa Kangmas Upasara memilih berdiam di hutan ini?" "Maafkan hamba, Permaisuri. Maafkan kalau hamba yang bodoh ini mencoba

lancang bercerita."

"Paman Sora, janganlah terlalu sungkan."

"Maaf, Permaisuri, bukan hamba sungkan. Akan tetapi sesungguhnya hamba hanya tahu sedikit.

"Hutan di depan ini dinamakan Perguruan Awan. Dahulunya tempat bertemunya para ksatria dari seluruh penjuru jagat. Di sini pada waktu tertentu yang telah ditetapkan, para ksatria datang untuk saling menguji kesaktiannya. Menentukan siapa yang paling sakti mandraguna, siapa yang ilmunya paling unggul."

"Kalau tidak salah, Perguruan Awan ini sendiri juga mempunyai guru dan murid, Paman."

"Sesungguhnya, Permaisuri lebih mengetahui dari hamba.

"Perguruan Awan ini memang sebuah nama perguruan silat. Hanya saja berbeda dari perguruan silat yang lain, di sini tak ada sebutan guru atau siswa, semua belajar bersama. Bagi mereka yang masuk perguruan ini, hidup sebagaimana tetumbuhan dan hewan yang ada. Hanya mengambil yang dibutuhkan."

Permaisuri Gayatri mengeluarkan seruan tertahan.

Sekelebatan pikirannya melayang ke arah Upasara. Apakah pemuda tampan dan lugu itu juga hidup dengan cara seperti itu?

"Kalau hanya tempat berkumpul para ksatria untuk berperang tanding, kenapa Baginda sangat memperhatikan?"

"Permaisuri lebih mengetahui dari hamba yang bodoh.

"Dulu kala ada dongengan, raja-raja baru akan didengar kabarnya dari Nirada Manggala. Mulai zaman Ken Arok, leluhur Keraton Singasari yang mulia. Ketika itu menurut cerita nenek moyang, ada seorang pendeta muncul dan mengatakan bahwa akan lahir raja. Ini berarti, garis keturunan penguasa yang sekarang akan terputus oleh penguasa yang baru. Seperti kemudian terbukti, Tuanku Permaisuri, pakuwon yang diperintah oleh Tunggul Ametung diganti oleh keturunan Ken Arok.

"Pada saat Baginda Raja Sri Kertanegara yang bijaksana-luhur-gagah-perwira berkuasa, ada kabar akan datang lagi Tamu dari Seberang yang akan mewartakan lahirnya penguasa baru. Dan kenyataannya memang Raja Muda Jayakatwang memutuskan garis keturunan Baginda Raja Sri Kertanegara yang mulia."

"Paman, bukankah Baginda Raja sekarang ini juga keturunan yang sama?

Bukankah saya ini putri Sri Baginda Kertanegara?"

"Dewa dari segala Dewa berkenan mengembalikan takhta kepada yang berhak, Tuanku Permaisuri. Hanya selingan Raja Muda Jayakatwang menjadi pertanda bukti apa yang dikatakan Tamu dari Seberang."

"Ah, Paman sungguh luas pengalamannya." "Hamba tak pantas menerima sanjungan."

"Paman, guru dari Perguruan Awan yang dijuluki Eyang Sepuh tak pernah kelihatan. Saya pernah dibisiki oleh Eyang Sepuh mengenai Tamu dari Seberang itu adalah pasukan Tartar. Sehingga kemudian pasukan inilah yang dipakai menyerang Keraton Singasari.

"Tapi saya sendiri tak pernah melihat beliau."

"Rasanya sampai sekarang ini belum ada yang berani mengaku bertemu Eyang Sepuh."

"Paman, apakah kalau Kangmas Upasara menjadi guru di Perguruan Awan ini, akhirnya juga seperti Eyang Sepuh? Kita hanya mengenai namanya? Apakah itu termasuk ilmu sakti yang Paman katakan?"

Jawabannya adalah gerakan seketika secara bersamaan.

Mpu Sora meloncat ke belakang, melindungi Permaisuri Gayatri, sementara Mpu Renteng meloncat ke depan. Ujung kainnya, yang disampirkan di pundak, berubah menjadi seekor ular yang mendesis. Kelebatan warna putih di tengah kelamnya malam. Sungguh suatu gerakan yang indah memesona, dan sekaligus juga berbahaya. Dalam satu tarikan napas, Mpu Renteng mengeluarkan jurus andalan dari ilmu Bujangga Andrawina, atau Ular Naga Berpesta Pora.

Dari keadaan bersila, menunduk, tiba-tiba berubah menjadi loncatan, dan juga menyerang. Hal yang sama dilakukan Mpu Sora yang menyadari keadaan cukup gawat.

Gawat karena tiba-tiba saja kedua empu sakti ini menyadari tekanan angin yang berada dalam jarak sepuluh tombak. Dan dalam seketika sudah ada dua bayangan yang menyerang langsung.

Ini luar biasa.

Pondok mereka agak terpencil di antara para prajurit yang mengawal, akan tetapi boleh dikatakan di tengah lapangan. Dan tanpa tanda-tanda yang mencurigakan, ada serangan mendadak. Ini berarti para prajurit di bawah Dyah Palasir bisa ditaklukkan, tanpa menimbulkan kecurigaan.

Berarti penyerangnya yang kini muncul dalam dua bayangan betul-betul menguasai ilmu yang tidak sembarangan.

Mpu Sora nggragap, atau terkesiap.

Apalagi ketika mendengar Mpu Renteng mengaduh.

Nggragap-nya. Mpu Sora bukan karena Mpu Renteng bisa dikalahkan. Meskipun termasuk senopati pilihan, akan tetapi dalam dunia persilatan, selalu ada ilmu yang lebih sakti. Yang membuat Mpu Sora nggragap adalah karena dalam gebrakan pertama Mpu Renteng sudah bisa ditaklukkan.

Bujangga Andrawina bukan ilmu sembarang ilmu. Tingkat Dyah Palasir pun tak akan bisa memahami andai diajari selama satu tahun. Mpu Renteng mampu menguasai dengan baik. Sabetan ujung kain yang disampirkan di pundak adalah gerakan menyapu semua serangan lawan. Mementahkan gempuran. Sementara serangan yang sesungguhnya adalah jari-jari tangan yang memagut, menggigit kuat. Sepuluh jari Mpu Renteng akan berubah seakan menjadi lima kepala ular yang memagut secara bersamaan.

Tapi ternyata bisa dirubuhkan dalam satu gebrakan. Belum satu jurus.

Penghuni Perguruan Awan

MPU SORA makin menyadari bahwa dua penyerang yang menutupi wajahnya dengan klika, atau kulit kayu, bergerak sangat cepat. Tanpa menunggu tarikan napas berikutnya, Mpu Sora menarik kaki sedikit ke belakang, dengan dua tangan bersilang di depan dada. Tubuhnya berputar.

Kedua penyerang seperti menunggu serangan.

Akan tetapi justru Mpu Sora tidak langsung menyerang.

Karena menyadari bahwa tugas utamanya ialah menjaga Permaisuri Gayatri. Bagi seorang yang menjunjung tinggi pengabdian, tugas adalah nomor pertama dan sekaligus nomor terakhir. Rasa gusar bisa diatasi dengan tetap mencoba bertahan, bukan menggempur. Memang ini agak bertentangan dengan ilmu yang dikembangkan dari tlatah Madura, yang mengandalkan gebrakan pertama sebagai gempuran.

Apalagi Mpu Sora mengeluarkan jurus Bramara Bramantya atau Lebah Marah. Sekumpulan lebah yang marah selalu berusaha mengejar lawannya sampai ke sudut yang tak memungkinkan lagi.

Akan tetapi kali ini, Mpu Sora berputar di tempat. Dua penyerang bergerak bersamaan. Dari sisi kiri dan sisi kanan. Mpu Sora membuka kedua tangannya dengan sangat cepat, dan dengan sangat cepat pula menarik kembali, menutup di depan dada.

Terdengar dua benturan keras.

Mpu Sora bisa membandingkan bahwa penyerang di sebelah kiri tak sekuat di sebelah kanan. Sengatan lima kanan dan lima kiri bisa dimentalkan, akan tetapi dengan demikian bisa mengukur tenaga lawan. Sesuatu yang sangat penting untuk membuat serangan berikutnya.

"Hmm. Percuma saja kita hanya disuguhi Bramara Bramantya."

Mpu Sora berusaha menahan darah yang mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Pada usia yang bukan muda lagi, Mpu Sora masih tetap memperlihatkan asal-usulnya. Lahir dan dibesarkan di daerah yang keras adat- istiadatnya. Daerah di mana sapi biasa dipacu, bukan digerakkan perlahan untuk menyeret gerobak.

Hinaan itu sangat kena, kalau maksudnya membuat gusar.

Jurus Lebah Marah diganti seenaknya menjadi Lebah Bingung. Meskipun dalam ucapan hampir mirip, antara bramantya dengan Bramantya, akan tetapi artinya berbeda.

Bingung lebih bisa diartikan sebagai tak bisa menguasai diri.

Akan tetapi Mpu Sora justru merasa makin berhati-hati. Lawan yang dihadapi bukan hanya serba tak terduga, akan tetapi juga sekaligus menunjukkan pengetahuan yang luas. Bisa langsung menduga asal-usul ilmu silatnya. Bahkan bisa mengetahui sampai ke nama jurusnya.

Mpu Sora menunggu kesempatan. Begitu penyerang di kanan menarik napas ketika mengucapkan kata-kata hinaan, seketika itu Mpu Sora membuka kedua tangannya. Cepat. Bayangan di samping kanan menghindar dengan gerakan ke arah samping, seperti bergoyang. Akan tetapi sasaran utama Mpu Sora justru kepada penyerang dari kiri. Yang meskipun kelihatannya lebih lemah, akan tetapi posisinya lebih berbahaya. Lebih dekat meraih ke arah Permaisuri!

Tubuh condong ke kanan, akan tetapi kaki menggaet yang kiri. Dan begitu mengenai sasaran, Mpu Sora menarik sekerasnya. Tenaganya dipakai untuk memantulkan tubuhnya ke atas. Sambil mengeluarkan desis nada

tinggi.

Lawan di sebelah kiri terseret, tertarik, akan tetapi dengan menggelundungkan diri bisa segera berdiri kembali. Mpu Sora memang tidak bermaksud terus menyerang. Ia lebih mementingkan penjagaan Permaisuri. Serangan yang dilancarkan ialah dengan mendesis mengeluarkan suara seribu lebah secara bersamaan. Kalau ada lebah di sekitar hutan, pasti akan segera berdatangan. Mpu Sora bisa memakai mereka sebagai pembantu untuk menggebrak lawan. Yang kedua, desisan yang berasal dari jurus Bramara Bekasakan atau Lebah Hantu ini bisa mengganggu konsentrasi lawan. Bagi yang tidak biasa, suara berdesis seolah di pinggir telinga bisa menyesatkan pemusatan pikiran.

Yang tak diduga oleh Mpu Sora ialah justru Permaisuri Gayatri yang pertama kali terkena! Permaisuri Gayatri yang tadi mundur, berdiri limbung. Tubuhnya bergoyang.

Kedua tangannya berusaha menutupi daun telinga, akan tetapi tubuhnya lebih dulu jatuh ke tanah.

Bagi Mpu Sora memang tak ada pilihan lain. Kalau ia ragu, lawan yang begitu tangguh bisa menjatuhkan dalam waktu sekejap. Dengan mendesiskan Bramara Bekasakan ia melukai Permaisuri Gayatri. Akan tetapi Mpu Sora bisa memperhitungkan bahwa nanti ia dapat menyembuhkan.

Lebih baik lawan diselesaikan lebih dulu.

Daripada tak ada yang bisa dirampungkan. Lawan tetap tak bisa dikuasai, dan Permaisuri Gayatri malah bisa dikuasai.

Dua penyerang mengeluarkan suara dingin. Kemudian maju menerjang. "Ambil Permaisuri Rajapatni."

Perintah dari penyerang di sisi kanan dituruti oleh penyerang sebelah kiri. Akan tetapi, mana mungkin Mpu Sora melepaskan begitu saja. Justru desisannya meninggi, dibarengi dengan kedua tangan ke arah penyerang kiri. Kaki kiri mengencang ke belakang.

Inilah jurus Bramara Braja atau Lebah Topan.

Dalam sekejap Mpu Sora mengeluarkan semua jurus andalannya. Termasuk Lebah Topan yang selama ini jarang diperlihatkan. Karena jurus ini meminta pengerahan tenaga sangat besar. Terutama dari daerah pulung ati, bagian antara perut dan dada. Memang pengerahan kekuatan dalam dari daerah itu sangat memeras, akan tetapi Mpu Sora tak bisa berbuat lain.

Mpu Sora berharap bahwa Mpu Renteng bisa kembali membantu. Atau setidaknya salah satu dari prajurit Dyah Palasir.

Mpu Sora mencelos.

Sama sekali tak menduga justru penyerang dari sebelah kanan yang menerobos masuk dan langsung membopong Permaisuri Gayatri! Penyerang sebelah kiri meloncat untuk menghindar. Penutup wajahnya teraup dan hancur. Bisa dibayangkan kalau sengatan Mpu Sora sempat menyentuh kulit atau tulang.

"Lain kali kita bertemu lagi. Untuk melihat ilmu Bramara Brakithi."

Mpu Sora sama sekali tak peduli dicaci ilmunya sebagai jurus Lebah Semut. Akan tetapi keselamatan Permaisuri lebih penting. Mpu Sora membalik gerakan tubuhnya dan langsung menerjang ke arah penyerang yang tadi di sebelah kanan. Serangan terbuka yang tak memedulikan kalau-kalau dibokong dari penyerang sebelah kiri yang kini berada di bokongnya, di belakangnya.

Penyerang kanan yang kini membopong Permaisuri Gayatri malah mengangsurkan tubuh yang digendongnya. Mpu Sora menarik serangannya dan saat itu penyerangnya menghilang dalam gelap. Begitu tubuh Mpu Sora melayang, satu bayangan lagi menyerbu ke arahnya. Mpu Sora menangkis dan bayangan itu jatuh ke tanah dengan suara mengaduh yang berat.

Dyah Palasir!

Ternyata Dyah Palasir yang muncul dan terkena pukulan Mpu Sora. Ambruk ke tanah dan dalam sekejap bagian yang terkena pukulan melepuh seperti kena sengatan ratusan lebah di satu tempat.

Mpu Sora tak mau membuang waktu. Satu tutulan berikutnya, kakinya sudah melayang. Akan tetapi tak ada bayangan di depannya. Hanya daun-daun yang bergerak perlahan. Mpu Sora mencoba menajamkan pendengarannya, akan tetapi tetap tak bisa menangkap suara yang lain.

Lenyap seketika. Seperti ketika datang.

Mpu Sora menghela napas. Lalu dengan dua kali menutul tanah, kembali ke pondokan. Mengeluarkan ramuan bunga untuk mengobati Dyah Palasir. Mpu Sora sendiri langsung menemui Mpu Renteng yang masih menggeletak.

Mpu Sora menunduk. "Permaisuri..."

"Kita kejar bersama." Mpu Sora mengurut bagian leher. Tepat sekali serangan lawan. Ke arah bagian yang paling lemah dan tak terlindungi dalam jurus Bujangga Andrawina. Bagian yang juga sukar ditembus karena saat itu justru Mpu Renteng sedang menerjang.

Setelah diurut, Mpu Renteng mengembalikan tenaganya. Mpu Sora memandang ke arah kegelapan.

"Kakang Sora, mari kita jemput Permaisuri ke dalam." "Saya kira begitu lebih baik daripada kita menunggu."

"Kedua penyerang itu sungguh luar biasa. Saya bisa ditekuk seketika dalam gebrakan pertama. Tapi kalaupun masih bisa memberikan nyawa yang tak berharga ini, saya akan menyertai Kakang."

Dyah Palasir setengah merangkak mendekati. "Hamba bersalah.  "

Mpu Sora menggeleng lemah.

"Upasara Wulung sudah menguasai ilmu iblis. Semua prajurit seperti kena tenung."

Mpu Renteng memandang Dyah Palasir. Yang dipandang darahnya berdesir. "Upasara?"

"Kalau bukan Upasara yang menguasai ilmu Jalan Iblis, siapa lagi?" Utusan Tanpa Tuan

MPU SORA kembali menggeleng lembut.

Tangannya bergerak perlahan.

"Palasir, siagakan semua prajuritmu. Saya akan mencari Permaisuri ke dalam." Tanpa menunggu jawaban, Mpu Sora melesat ke dalam hutan. Diikuti oleh Mpu Renteng. Sekejap keduanya sudah menyusup sampai ke tengah. Seakan ingin menjelajah, ingin membalik setiap daun, mencabut akar pepohonan.

"Kakang Sora..."

Mpu Sora memperlambat langkahnya. "Benarkah Upasara yang menculik Permaisuri?"

"Maaf, saya tak sependapat dengan ksatria yang bermulut kotor."

Mpu Renteng bisa menangkap maksud ucapan Mpu Sora. Yang menilai Dyah Palasir bermulut kotor dengan menyebutkan ilmu Jalan Iblis. Karena selama ini yang dikenal sedang dipelajari Upasara Wulung adalah Jalan Budha. Bisa dimengerti kalau Mpu Sora menjadi tersinggung. Akan tetapi tadi tetap bisa menahan diri untuk tidak memarahi atau menunjukkan sikap kurang senang.

"Kakang Sora, saya sependapat dengan Kakang.

"Kalau Upasara, ia tak perlu memakai topeng klika. Kalau ingin bertemu Permaisuri, tak perlu menculik."

"Itulah yang saya pikirkan. "Rasanya bukan Upasara Wulung."

"Akan tetapi ilmunya sungguh luar biasa. Seakan bisa membaca tepat serangan saya. Dan menyerang bagian yang terlemah. Seakan benar-benar ilmu yang bisa menangkis segala serangan."

"Teka-teki yang sulit.

"Dari mana datangnya dan dengan cara apa masih sulit ditebak. Caranya mengetahui serangan kita—bahkan bisa mengetahui jurus saya—itu pertanyaan yang lain lagi.

"Teka-teki karena seperti bukan ilmu yang sama sekali tidak kita kenali. "Apalagi tadi menyebut nama Permaisuri Rajapatni." "Kalau begitu berarti orang dalam?" "Entahlah."

"Kalau orang dalam, apa maksudnya, Kakang? Ingin menjatuhkan nama kita di depan Baginda Raja?"

Mpu Sora mendongak.

Memandang daun-daun yang menutupi langit.

"Saat ini saat yang subur untuk mencurigai satu sama lain. Saya berharap kita tidak masuk ke dalam perangkap pikiran yang nista, yang menjijikkan."

"Maafkan adikmu yang picik, Kakang." "Jangan salah terima.

"Saya hanya tak ingin kita terseret arus pertikaian yang sekarang muncul. Saya percaya sepenuhnya padamu. Kalau tidak, saya akan bertanya-tanya, apakah mungkin seorang Mpu Renteng bisa dikalahkan dalam satu gebrakan? Sungguh tak masuk akal, bukan? Sebaliknya, saya pun bisa dicurigai mengapa sampai gagal menjaga Permaisuri."

"Kakang Sora sungguh bijak."

Mereka berdua meneruskan perjalanan dengan berdiam. Akan tetapi setelah sekian lama berputar-putar, tak menemukan satu bayangan pun.

Akhirnya mereka berdua berhenti di tengah. Mpu Sora bersila.

Mpu Renteng bersila di sebelahnya.

"Malam ini, kami berdua, Sora dan Renteng, datang mengganggu Perguruan Awan. Kami menyadari kekeliruan ini, tetapi kami tak bisa berbuat lain. Mohon penghuni bersedia meluangkan waktu menerima kami."

Perlahan suaranya, namun menggeletar. Diam-diam Mpu Renteng memuji penguasaan tenaga dalam yang sempurna. Lama menunggu.

Mpu Renteng memuji tata cara Mpu Sora yang tidak mengulangi sapaannya.

Sekali saja sudah cukup.

Hanya binatang malam yang menyambut gema. Selebihnya sepi.

Baru kemudian terlihat sebuah bayangan mendekat.

Mpu Renteng sedikit bercekat, karena melihat bayangan yang aneh. Baru setelah agak dekat, Mpu Renteng mengetahui bahwa yang tadi kelihatan aneh adalah bayangan seorang yang masih kecil, masih pendek tubuhnya, hanya rambutnya yang terurai beriap-riap.

Bayangan itu berhenti pada jarak lima tombak. "Maafkan kami, Putri Ayu Tri."

Bayangan itu memang bayangan Gendhuk Tri. Yang tak banyak berubah semenjak Mpu Sora mengenal dulu. Seorang gadis yang baru tumbuh. Dengan rambut yang kini diurai.

"Huh, siapa menyuruh Paman memanggilku dengan sebutan Putri Ayu Tri?

Aku bukan putri, dan aku tidak ayu."

Mpu Sora mendongakkan wajahnya.

Tersenyum sebagai seorang bapak kepada anaknya.

"Syukur kamu bermurah hati mau datang dan masih mengenali kami."

"Siapa bilang aku bermurah hati? Kebetulan aku lewat dan kalian berteriak seenak perut sendiri, seolah ini bukan rumah orang.

"Siapa bilang aku mengenali kalian? Bagiku semua orang Majapahit sama saja bentuk wajahnya." Mpu Sora berdiri.

"Sampaikan salamku, salam kami, kepada Anakmas Upasara." "Baik. Sudah?"

Mpu Renteng tak begitu mengenal Gendhuk Tri. Dalam hati menebak-nebak bagaimana mungkin anak gadis yang masih begini bocah—meskipun barangkali usianya sudah dua belas atau tiga belas tahun—bisa begitu kurang ajar sikapnya.

Akan tetapi Mpu Renteng cukup kenyang pengalaman bahwa dalam dunia silat akan lebih banyak lagi ditemui sifat-sifat yang tidak biasa.

"Yang kedua, kami ingin minta tolong mencari tahu di mana Permaisuri Gayatri berada."

Gendhuk Tri membuang wajah.

Sedikit-banyak Mpu Sora tahu bahwa kalimat itu membuat Gendhuk Tri tidak suka. Mpu Sora mengetahui bahwa hubungan Gendhuk Tri dan Upasara Wulung sangat dekat sekali. Selalu bersama-sama. Hanya tertunda sementara sewaktu Upasara bertemu dengan Gayatri. Sejak itu Gendhuk Tri tak pernah mau melirik sedikit pun. Mpu Sora mengetahui bahwa ini semua seperti kecemburuan kecil-kecilan, yang biasa terjadi pada gadis seusia Gendhuk Tri. Namun Mpu Sora tak bisa menemukan kata lain.

"Cari saja sendiri.

"Masa senopati dari Majapahit yang kondang tak bisa?"

"Karena penculiknya lari ke dalam hutan, kami ingin minta izin."

"Tak perlu izin. Karena kalian juga ikut memiliki hutan ini. Aku cuma numpang tidur, bukan memiliki."

Mpu Sora mengangguk.

"Terima kasih kami diizinkan. "

"Siapa bilang mengizinkan. Aku bilang tidak perlu izin." Mpu Renteng mendehem kecil.

"Mau bicara, bicara saja langsung. Tidak usah pakai dehem kecil-kecilan." "Namaku Mpu Renteng."

"Aku tidak peduli kamu empu atau bukan."

"Aku datang menjalankan tugas Baginda untuk mengantarkan Permaisuri Gayatri menemui Upasara Wulung."

Gendhuk Tri tertawa. Keras.

"Lalu, kalian berdua menuduh aku menculik Gayatri? Karena aku tak suka padanya? Kalian jelas keliru. Kalau aku tak suka pada orang, aku sungguh tak peduli. Mau nungging mau jumpalitan, tak ada urusannya denganku.

"Cukup puas?"

"Cukup," jawab Mpu Sora. "Bagaimana kalau aku menemui Anakmas Upasara?" "Boleh saja. Cari sendiri. Aku masih banyak urusan."

Gendhuk Tri baru mau membalikkan tubuh ketika terdengar suara-suara di kejauhan. Mpu Sora dan Mpu Renteng memiringkan kepala ke arah datangnya suara.

"Binatang kampungan mana yang bikin ribut ini semua? Ini saat buat tidur.

Bukan bikin perkara."

Belum habis suaranya, Gendhuk Tri sudah melesat masuk ke dalam hutan.

Selendangnya berkibaran, dan meninggalkan bau yang sangat amis.

"Racun yang mengeram dalam tubuh anak itu betul-betul ganas. Pada jarak yang begini jauh, saya hampir tak tahan."

"Kita tengok ke sana."

Mpu Sora dan Mpu Renteng menuju ke arah datangnya suara. Ke bagian yang dekat alun-alun.

Ternyata suara-suara itu berasal dari beberapa prajurit yang mengelilingi seorang lelaki sudah berumur. Berada di tengah lingkaran, lelaki setengah umur itu diikat kedua tangannya.

"Bunuh saja sekarang."

Mpu Sora lebih kaget lagi karena ternyata mengenali Dyah Pamasi ada di antara para prajurit. Ini berarti ada utusan resmi dari Keraton. Karena Dyah Pamasi, seperti juga Dyah Palasir, resminya bertugas di Keraton. Pasti tidak begitu saja meninggalkan Keraton. Tapi siapa yang mengutus dan apa yang terjadi?

Taktik Menjebak Harimau

APA yang disaksikan Mpu Renteng dan Mpu Sora membuat mereka bertanya-tanya dalam hati.

Kalau sampai para prajurit pilihan yang merupakan prajurit kawal Baginda keluar dari Keraton, dan ini tanpa diketahui Mpu Sora yang juga ditugaskan ke Perguruan Awan, pasti termasuk tugas yang wigati, sangat penting.

Lagi pula prajurit yang dipimpin Dyah Pamasi bergerak secara terang- terangan. Mereka bahkan menyalakan obor dan membuat suara gaduh.

Lelaki yang setengah umur itu dalam pandangan Mpu Renteng adalah penduduk biasa. Bukan seorang ksatria atau jago silat. Cara bergerak ataupun mengatur napas tanpa pengendalian.

Akan tetapi, meskipun penduduk biasa, Dyah Pamasi merasa perlu mengawasi dan memberi komando secara langsung.

"Kakang Sora, apakah tidak lebih baik kita meneruskan mencari Permaisuri?" "Agaknya ada perkembangan lain yang memaksa kita menyaksikan sebentar." "Saya tidak mengerti, Kakang."

"Saya pun belum mengerti. Tetapi kalau rombongan Pamasi sekarang muncul, pasti sejak lama berada di sekitar tempat ini. Nyatanya mereka sama sekali tidak begitu peduli dengan hilangnya Permaisuri. Tak mungkin Palasir tidak bercerita. Tetapi Pamasi lebih suka mengurusi orang tua yang bisa diselesaikan oleh satu prajurit."

Mpu Renteng mengangguk dalam. Kakinya bergerak maju. "Pamasi..."

Dyah Pamasi memberi sembah hormat.

"Siapa nama lelaki tua ini, dan apa salahnya sehingga seluruh prajuritmu menangkap?"

"Kami sedang melakukan perjalanan keliling melihat suasana keamanan."

Mpu Renteng mengernyitkan alisnya. Tugas pengamanan tentunya tidak sejauh ini meninggalkan Keraton.

"Di desa Karang Asem kami diracuni oleh seorang ini yang mengaku bernama Toikromo. Hukuman bagi pembunuh seorang prajurit adalah..."

Mendadak terdengar pekikan nyaring. "Apa benar orang itu bernama Toikromo?" Itu suara Gendhuk Tri.

Tubuhnya tetap kecil. Rambutnya terurai, kain kemben sebatas dada nampak lebih jelas dalam cahaya obor. Selendang berkibar, seperti mengisyaratkan bisa disabetkan setiap saat.

Pamasi menggerakkan tangannya, dan seketika itu juga semua prajurit membentuk lingkaran Supit Urang, atau Sepit Udang.

Mpu Renteng mundur dua tindak.

Ternyata semua prajurit dalam keadaan siap tempur. "Aku tanya apakah benar ia bernama Toikromo? Apa kalian semua tuli dan bisu sekaligus?"

Dyah Pamasi memberi hormat kepada Mpu Renteng sekilas, lalu berbalik menghadapi Gendhuk Tri.

"Siapa kamu dan apa urusanmu campur tangan?"

Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya, bagai seorang penari melakukan seblakan. Kibasan yang lembut, enteng. Namun Dyah Pamasi merasakan getaran yang kuat menerpanya. Dan juga bau amis busuk yang menyengat.

"Kamu sudah datang kemari, pasti sudah tahu siapa aku. Prajurit sebodoh kamu untuk apa dipekerjakan?"

Gendhuk Tri tersenyum mengejek sambil melangkah maju. Dua prajurit yang berada di depan berusaha menahan dengan tombaknya. Gendhuk Tri sama sekali tak memperhatikan. Selendangnya mengibas ke arah dua ujung tombak, melibat, dan dengan sentakan lewat pinggang, dua tombak itu melayang. Dua prajurit itu tersungkur.

Dyah Pamasi mencabut kerisnya.

"Aku peringatkan kamu, jangan sampai menyentuh kulitku, atau tersentuh kulitku. Malaikat dan segala hantu pun tak bisa menolongmu."

"Jangan memaksa aku bertindak kasar." Mpu Sora meloncat maju.

Tangannya mengibas ke arah Dyah Pamasi.

Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng mengetahui bahwa Gendhuk Tri tidak main-main. Apa yang dikatakan bisa terjadi. Menyentuh kulit Gendhuk Tri, apalagi sampai melukai, bisa berarti maut. Karena saat itu pasti Gendhuk Tri sudah bisa melukai. Dan dengan tubuh yang menyimpan segala jenis racun, Pamasi tak akan tertolong jiwanya.

Mpu Sora tahu bahwa Gendhuk Tri memiliki racun dalam tubuhnya. Sedemikian kuat racun itu sehingga sampai sekarang belum ada yang bisa menyembuhkan. Konon racun itu terserap sendiri ke dalam tubuhnya, dari beberapa tokoh silat yang tadinya menggunakan senjata racun. Termasuk dari Dewa Maut, yang sekarang jadi tidak mempunyai tenaga lagi.

"Pamasi, di hutan ini tak boleh berbuat gegabah.

"Ini bukan tempat yang baik untuk melaksanakan hukuman. Lebih baik kita mencari tempat lain."

Meskipun dongkol, Pamasi menghaturkan sembah sambil mengangguk. "Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku.

"Jawab dulu, apakah benar lelaki itu Toikromo?" "Kalau iya, kamu mau apa?"

"Aku mau kamu minta maaf padanya, melepaskan sekarang juga, meminta maaf lagi sambil menjilat kakinya. Kalau Pak Toikromo memberimu ampunan, aku cuma mau potong telingamu. Kalau tidak, kamu tinggal pilih. Mati perlahan, atau yang thek-sek, langsung."

"Kamu apanya Toikromo?" "Aku baru mengenal sekarang." "Kamu tahu kesalahannya?"

"Apa pun kesalahannya, lepaskan sekarang."

Mpu Sora jadi merasa serbasalah. Ia menyuruh Pamasi menahan diri, akan tetapi ternyata Gendhuk Tri merangsek maju.

Kalau ia membiarkan saja, berarti membiarkan Pamasi menanggung malu. Biar bagaimanapun, itu tak boleh terjadi. Pamasi adalah prajurit Keraton, sama dengan dirinya.

Kalau ia melarang Gendhuk Tri, masalahnya akan berkembang ke arah pertarungan. Gendhuk Tri pasti tak akan mundur.

Mpu Sora sama sekali tidak gentar menghadapi Gendhuk Tri. Walau tubuhnya dipenuhi racun yang bisa menular, mana mungkin Mpu Sora menjadi jeri? Mendadak terbersit sesuatu dalam pikirannya.

Dyah Pamasi agaknya sengaja memamerkan cara menghukum Toikromo. Justru untuk mengundang perhatian penghuni Perguruan Awan. Agar mereka muncul.

Jadi ini seperti taktik memasang "jebakan harimau". Seperti kebiasaan para raja jika ingin berburu harimau. Yang menjadi umpan adalah manusia yang dimasukkan ke dalam sangkar jebakan. Harimau akan datang mendekat, dan saat itulah ditikam beramai-ramai. Memang dengan demikian mengorbankan nyawa manusia—bila terlambat, akan tetapi memang diperlukan umpan yang berarti untuk tangkapan yang lebih berarti.

Nah, kalau Toikromo ini sebagai umpan jebakan, tak sulit menduga siapa yang dianggap "harimau". Pasti Upasara Wulung!

Taktik ini sesuai kalau diingat bahwa yang sekarang dikerahkan adalah prajurit pilihan dari Keraton. Dan memang saat ini Baginda Raja ingin memancing Upasara Wulung keluar dari sarangnya!

Kalau ini benar, Mpu Sora masih tetap bertanya-tanya. Siapa yang memasang perangkap ini? Bukankah Baginda sudah memerintahkan pendekatan melalui Permaisuri Gayatri?

Apakah Baginda menitahkan dua perintah sekaligus, agar terjamin pelaksanaannya?

Masuk akal, walau bisa dipertanyakan.

Yang lebih pelik lagi jika rombongan Dyah Pamasi ini tidak mendapat perintah langsung dari Baginda. Akan tetapi dari seseorang yang pastilah mempunyai pengaruh besar terhadap Baginda. Seseorang yang dekat itu sangat mungkin sekali Mpu Nambi, pemimpin prajurit telik sandi. Kalau benar begitu, Mpu Nambi memang luar biasa.

Taktiknya memasang umpan Toikromo sangat berhasil! Nyatanya Gendhuk Tri menjadi begitu geram. Mpu Sora sejauh ini tidak mengetahui apa hubungan lelaki penduduk desa biasa dengan Upasara Wulung. Dan nyatanya Mpu Nambi—kalau benar dia— mempunyai perhitungan yang matang. Mampu memilih umpan yang terbaik.

Yang tak diketahui oleh Mpu Sora ialah bahwa sesungguhnya Gendhuk Tri juga tak pernah mengenal Toikromo! Makanya tadi bertanya lebih dulu.

Meskipun tak mengenal, Gendhuk Tri mendengar hubungan antara Toikromo dan Upasara Wulung. Dulu sewaktu Upasara Wulung menyusup ke Keraton Singasari, yang baru saja dikuasai Raja Muda Jayakatwang, ditolong oleh penarik pedati bernama Toikromo. Penduduk desa yang lugu ini tertarik kepada Upasara Wulung, dan berniat mengambil menantu. Toikromo sama sekali tak mengetahui siapa sesungguhnya pemuda yang ikut membonceng pedatinya.

Gendhuk Tri mendengar perkawinan putri Toikromo dengan Upasara Wulung. Malah ketika Upasara Wulung menghilang, Gendhuk Tri menduga jadi menikah.

Maka dengan disebutnya nama Toikromo cukup mempunyai arti bagi Gendhuk Tri. Apalagi kini dalam keadaan bahaya.

Tembang Dini Hari