-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 10

Jilid 10

"Cara menyambut tetamu yang penuh sopan santun manusia belahan timur. Kami dua manusia dari ujung barat tanah Jawa bernama Pu'un Pamor dan Pu'un Wahana, khusus datang kemari untuk membalas dendam kematian saudara kami. Siapa yang merasa membunuhnya, hari ini kami akan melunaskan."

Bisa dimengerti kalau bicaranya begitu tegas dan apa adanya, karena mereka datang dari daerah masyarakat di ujung barat. Gendhuk Tri bisa mengenali dari pakaiannya, dan caranya yang mirip-mirip dengan Pu'un yang telah tewas. Agaknya mereka rekan sesama perguruan, walau mengatakan saudara—karena semua dianggap bersaudara—yang datang untuk menuntut balas.

"Pu'un dan Pu'un," teriak Gendhuk Tri. "Kedatangan kalian berdua sungguh tepat sekali. Dewa yang di langit memberi petunjuk. Orang yang kalian cari ada di sini. Pu'un yang kalian cari memang sudah mati dikubur hidup-hidup." Pu'un Pamor dan Pu'un Wahana menghadap ke arah Gendhuk Tri. Kedua kakinya membuka bersamaan, dengan tubuh condong ke depan.

"Siapa yang melakukan itu?"

"Orangnya ada di sini. Entah dia berani mengakui atau tidak." Ugrawe meringis.

Gendhuk Tri memang merupakan lawan yang selalu bisa memojokkan. Kini ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Memang dulu Pu'un meninggal dalam penyerbuan habis-habisan di Perguruan Awan. Langsung atau tidak, dialah yang bertanggung jawab. Untuk menghadapi Ngabehi Pandu saja harus konsentrasi penuh, kini sudah muncul dua Pu'un yang mestinya ilmunya tak bisa dibilang sembarangan. Dengan satu kalimat saja, mereka berdua sudah ditarik ke dalam kelompok yang harus dihadapi!

"Yang mana?"

"Pu'un, di dunia ini ada lelaki, dan ada binatang. Kalau berani menjawab dialah lelaki, kalau tidak ia memang binatang."

"Kamu bicara tidak jelas. Katakan atau kubunuh."

Aneh adatnya, akan tetapi Pamor dan Wahana sudah langsung menubruk dengan gerakan harimau. Dua tangan terulur bersamaan, mencakar, dan tubuhnya meluncur dari enjotan kaki. Persis dua ekor harimau yang menerkam secara bersamaan. Gendhuk Tri sama sekali tak menduga bakal diserang seperti itu. Mengegos pun tak sempat. Dalam sekejap kedua tangan dan kakinya sudah terpegang oleh lawan.

"Katakan lelaki mana yang membunuh saudaraku. Kalau tidak kamu yang akan menemani saudaraku."

Bukan ancaman kosong kalau dilihat gaya dan sikap hidup mereka berdua selalu langsung apa adanya.

"Kalian pikir bisa memaksa aku? Mau bunuh bunuhlah. Kalian sendiri yang membunuh saudara kalian untuk kedua kalinya!" Pu'un Pamor bercekat.

Mengawasi Gendhuk Tri dengan terheran-heran. Secara aneh terasa bahwa aliran darah Gendhuk Tri agak ganjil. Juga bau tubuhnya, mengingatkan bau tubuh mereka sendiri.

Memang. Gendhuk Tri pernah kena aji sirep Pu'un sebelumnya. Juga ilmu tenaga dalam Pu'un telah tertukar dan masuk ke dalam tubuhnya.

"Jadi kamu jelmaan Pu'un Elam?"

Pu'un Wahana melepaskan secara bersamaan dengan Pu'un Pamor. Berganti dengan merangkul Gendhuk Tri sambil tertawa riang.

Gendhuk Tri berdiri tegak.

Kalau tadi bisa mempermainkan Dewa Maut, sekarang dua Pu'un, dua jagoan yang datang dari jauh, juga kena kibul.

"Pu'un Elam telah memberikan jiwanya padaku. Rohnya ada dalam diriku. Untung kalian berdua cepat menyadari tidak keliru lawan. Aku sendiri akan menuntut balas atas kematian Pu'un Elam. Akan tetapi lawan itu terlalu licik. Sekarang kalian berdua datang membantuku. Ayo tunggu apa lagi?"

"Yang mana?"

"Dari wajahnya sudah ketahuan. Yang normal telinganya dua. Ini cuma satu. Aku baru bisa memotes telinganya untuk membalas dendam. Membalaskan dendam Pu'un Elam. Tapi satu telinga ditukar nyawa, belum lunas.

"Masih tanya mana yang telinganya cuma satu?" Pamor dan Wahana mendongak ke atas.

Kedua tangannya terangkap di dada.

"Dewa Langit, tenanglah arwah saudaraku. Kami berdua akan menyusul ke sana kalau gagal. Kalau berhasil, akan menyusulkan arwah si pembunuh, agar saudara kami Elam tenang adanya." Selesai bicara, tanpa mengambil napas tambahan, langsung menubruk ke arah Ugrawe. Ugrawe telah bersiap. Begitu kedua tubuh menerkam ke arahnya, Ugrawe memutar tubuhnya. Dua kakinya melayang ke depan sementara tangannya menyangga tubuh. Dengan mengerahkan tenaga tendangan, terkaman harimau dihadapi. Pamor mengeluarkan erangan tinggi. Merangkul kaki yang datang. Wahana juga melakukan hal yang sama. Dalam saat yang gawat itu, Gendhuk Tri melayang dekat. Kedua kakinya menyapu tangan Ugrawe yang menjadi penyangga tubuhnya. Ugrawe tetap berusaha bertahan. Dua kaki dibetot paksa masih ditahan. Adu kekuatan masih berimbang. Satu tangan dipakai menyangga juga masih bisa. Kini satu tangan untuk memapaki tendangan Gendhuk Tri.

Gendhuk Tri tertawa mengejek.

Kaki yang mau ditangkap Ugrawe ditarik ke atas, ganti kaki lain menginjak leher. Suara ejekannya seakan yakin bahwa kali ini Ugrawe akan terkecoh. Karena Gendhuk Tri mengubah gerakan yang elok dalam sekejap. Dengan dasar penari, gerakan kaki Gendhuk Tri memang hidup sekali.

Posisi Ugrawe memang serbasalah. Dengan disangga satu tangan dan dua kaki dipeluk Pu'un yang nekat, kekuatannya terbatas. Tapi ia adalah jagonya jago yang menggelari dirinya dengan berbagai sebutan luar biasa. Dan ini bukan sebutan omong kosong.

Ugrawe mengerahkan kekuatan lewat satu tangan yang menyangga. Seluruh tenaga dientakkan, kedua kakinya mengayunkan keras. Tubuhnya melayang secara terbalik. Dengan Pu'un Pamor dan Pu'un Wahana turut melayang ke atas, karena tak mau melepaskan pegangannya. Sementara tenaga tolakan dari tangan Ugrawe mendesak Gendhuk Tri hingga terlempar.

Empat tubuh melayang di angkasa.

Ngabehi Pandu berdehem kecil sambil mengeluarkan teriakan pendek. "Awas, Gendhuk."

Pendek suaranya, tubuhnya melayang dan menempel rapat ke arah tubuh Ugrawe. Tangan Ngabehi Pandu menangkap Gendhuk Tri yang terlempar, akan tetapi kedua sikunya sempat menghajar Ugrawe. Telak di ulu hati. Gendhuk Tri sendiri, begitu merasa aman dalam pegangan Ngabehi Pandu, langsung mencakar wajah Ugrawe. Goresan kuku membuat tubuh Ugrawe menggigil. Begitu jatuh di tanah, Pamor dan "Wahana langsung bisa meringkusnya.

"Kalau Ugrawe tak mau melepaskan siksaan para ksatria yang dilukai, biar aku bereskan sekarang juga!" teriak Gendhuk Tri.

Ugrawe paling merasa ngeri dengan Gendhuk Tri, sumber dari segala sumber racun yang ganas dan sulit dikendalikan.

Kini melihat Gendhuk Tri bersiap menerjang ia hanya pasrah menunggu nasib. "Tunggu. Tak baik kalau menyerang lawan yang terbelenggu. Itu bukan sifat

seorang ksatria." Ngabehi Pandu menggerakkan tangannya.

"Kalau ingin menyelesaikan pertempuran, biarlah aku yang akan menghadapi sendirian."

Ugrawe sendiri merasa kagok. Karena di dunia ini ternyata masih ada seorang yang bersikap ksatria. Tetap ksatria walau dicurangi.

Dari balik gerombolan pohon, terdengar helaan napas panjang. Dua bayangan masuk ke dalam lapangan.

Satu orang bisa segera dikenali sebagai Kiai Sangga Langit yang perkasa. Satu orang lagi tak bisa diduga siapa. Karena gerak-geriknya masih asing. Hanya kalau dilihat dari segi pakaian yang dikenakan, tak berbeda dari Kiai Sangga Langit. Malah lebih lengkap dengan pakaian panglima perang.

Kiai Sangga Langit mengeluarkan kalimat pendek.

Ngabehi Pandu berbalik, memberi hormat kepada Kiai Sangga Langit, dan di luar dugaan bisa menjawab apa yang dikatakan Kiai Sangga Langit.

"Ini bukan ksatria atau tidak ksatria. Terima kasih untuk sebutan orang gagah.

Saya tak berhak gelar terhormat dari keraton kalian."

"Sungguh berbudi. Bahkan bisa berbicara dalam bahasa kami."

"Dengan banyak salah, karena selama ini saya hanya mempelajari dari buku.

Perkenalkan, saya Ngabehi Pandu." "Nama besar itu sudah lama kami dengar. Saya Bok Mo Jin atau Sangga Langit, dan ini saudaraku, Panglima Sih Pi yang bergelar Naga Wolak-Walik."

Naga Wolak-Walik membungkukkan tubuh sambil merangkapkan kedua tangannya. Ngabehi Pandu balas menghormat dengan jempolnya, dan badan ditekuk. Naga Wolak-Walik adalah gelar yang luar biasa di negeri Cina. Di mana seorang pendekar biasanya mempunyai gelar tertentu yang menggambarkan kelebihannya. Dengan sebutan Naga Wolak-Walik bisa diartikan naga yang mempunyai dua kepala. Di ekornya pun ada kepalanya. Untuk menggambarkan betapa dahsyatnya. Satu kepala saja sudah dahsyat, apalagi kembar dan bolak-balik. Apalagi diperkenalkan sebagai panglima perang.

"Saya merasa dapat kehormatan besar dengan keterusterangan Naga Wolak- Walik. Akan tetapi kenapa Kiai Sangga Langit menyembunyikan kemampuan untuk bisa memahami bahasa kami? Apakah bahasa kami sedemikian rendahnya sehingga tak berhak untuk dibicarakan?"

Kiai Sangga Langit menarik keningnya. Berkerut. Alisnya yang tebal seakan bersatu.

"Sebagai seorang imam agung yang banyak mempelajari buku dan berpengetahuan luas, sangat muskil sekali tak bisa mempelajari. Kenapa Kiai harus selalu berlindung di balik Nyai Demang?"

Kiai Sangga Langit tertawa lebar.

"Sungguh cerdik sekali," suaranya menurun, lalu berganti dengan bahasa yang dimengerti seisi lapangan, kecuali Naga Wolak-Walik.

"Sekali bertemu, Ngabehi Pandu bisa menelanjangiku. Sungguh di tanah Jawa ini begitu banyak orang cerdik pandai. Maka Kaisar Mulia yang menguasai atap dunia di daratan Cina sulit sekali mengalahkan.

"Benar-benar luar biasa.

"Aku hargai kejujuran dan keterusterangan Ngabehi Pandu. Di negeri kami, kamu pantas mendapat sebutan orang gagah."

"Terima kasih atas gelar kehormatan ini. Kini para pemuka sudah muncul di Perguruan Awan. Entah apa pula maunya. Kalau memang ada yang bisa saya lakukan, akan saya lakukan." Di balik kata-kata Ngabehi Pandu tersirat suatu tantangan besar. Kiai Sangga Langit berdecak kagum. Kini boleh dikata semua kartu telah dibuka. Semua batu telah disingkirkan, hingga udangnya kelihatan. Apa yang dikatakan Ngabehi Pandu merupakan tantangan terbuka: Kalau memang masih ada urusan, itu bisa diselesaikan. Dan Ngabehi Pandu siap untuk menghadapinya! Itu bisa berarti perang tanding.

Kiai Sangga Langit mendongak ke arah langit.

"Aku selalu merasa diriku seorang ksatria, seorang pendekar yang berkelana ke ujung penjuru dunia untuk mengetahui luasnya langit. Puncak-puncak gunung dingin, padang kembara yang panas, telah aku jalani. Kini, di tanah yang subur aku menemukan sarang ilmu silat yang sesungguhnya. Sehingga ketika semua rombongan datang dan dihina rajamu, aku masih bertahan di sini.

"Tetapi aku tetap seorang imam negara. Aku diperintah oleh kaisar kami yang menguasai jagat. Hari ini aku menjadi prajurit yang menjalankan tugas untuk membalas dendam kepada raja yang telah menghina kaisar kami. Naga Wolak-Walik dan rombongannya sudah tiba untuk membalaskan penghinaan ini."

"Sudah sepantasnya saya mewakili untuk menyambutnya. Sebab yang meremehkan kaisar kamu adalah raja saya. Kita harus berbahagia, karena kita masing- masing masih mempunyai sesuatu yang harus dipertahankan, yaitu kehormatan.

"Kiai Sangga Langit, saya telah siap."

Ngabehi Pandu menggeser kakinya. Memilih tempat agak di tengah. Ke tempat yang lebih lapang. Berdiri dengan gagah. Kiai Sangga Langit meloncat pendek, mengambil kuda-kuda.

Naga Wolak-Walik bersiap.

"Karena ini pertempuran antara utusan kaisar dan prajurit raja, saya tak bisa berdiam diri," kata Naga Wolak-Walik. "Kalian yang ada di sini, bersiaplah."

Ngabehi Pandu menerjemahkan kalimat Naga Wolak-Walik.

Gendhuk Tri meringis. "Kaisar-kaisar macam apa yang kalian sebut itu aku tak tahu. Tetapi kalau kalian berdua mau sesumbar, boleh menjajal dulu kami. Pamor, Wahana, ayo, ini ada tugas menarik." Sementara semua bersiaga, Ugrawe berusaha mengumpulkan tenaga dalam untuk menghentikan menjalarnya racun di wajahnya. Dirasakan bahwa pelan-pelan bagian dari wajahnya yang kena cakar Gendhuk Tri mulai membeku. Mulai kehilangan rasa.

Tapi ada yang lebih bercekat dalam hatinya. Belum ada setahun yang lalu, ia datang ke Perguruan Awan ini untuk membasmi semua ksatria. Tidak tahunya justru sekarang barisan kaisar Mongol datang untuk melakukan hal yang sama. Kalau panglima perangnya sudah turun ke daratan, bisa dipastikan bahwa sekitar tempat ini telah dikepung rapat.

Betul-betul pahit.

Sejarah berulang, dengan dirinya kini menjadi korban.

Perguruan Awan bakal menjadi saksi kembali. Pertumpahan darah yang tak ada habisnya. Pertumpahan darah dan pembasmian yang habis-habisan.

Kekuatiran Ugrawe memang menurut perhitungan. Karena sayup-sayup terdengar suara ringkikan kuda dan pasukan yang bergerak. Tak bisa tidak inilah prajurit pilihan yang datang dari Mongolia dan daratan Cina yang dibawa Naga Wolak-Walik.

Melihat kemungkinan buruk, Ugrawe mulai menggeser tubuhnya. Surut ke belakang, dan berusaha perlahan menghilang. Karena kedatangan pasukan Tartar ini akan menyulitkan kedudukannya.

Kiai Sangga Langit meloncat maju dengan kedua tangan kukuh siap merangkul dan meremukkan punggung Ngabehi Pandu. Gaya serangan gulat Mongol yang paling diandalkan. Dalam satu loncatan, Sangga Langit telah menutup semua ruang gerak menghindar. Memang hebat. Dua kemungkinan yang bisa diambil oleh Ngabehi Pandu. Satu, meloncat ke belakang. Kedua, menghindar dengan meloncat ke atas. Kalau yang pertama dilakukan ia sudah kalah satu tindak dan tercecer. Kalau meloncat akibatnya bisa fatal. Sangga Langit siap untuk meraup kaki atau tubuh dan menekuk bagai melipat kain.

Ngabehi Pandu bukan tokoh sembarangan. Ia justru memasang kuda-kuda. Dua tangan bergerak sekaligus memapak. Bukan memapaki jotosan, akan tetapi menekuk siku. Secara berturut-turut menyodok dada, perut, lambung, dada, ulu hati. Lima gerakan secara berurutan dengan kedua tangan. Sangga Langit menangkis kelimanya. Benturan tenaga tak terhindarkan. Duk-duk-duk-plak-plak, sementara kedua kaki masing-masing juga saling menyepak, menendang, dan menangkis. Berkutat dalam jarak pendek, keduanya tak bisa melemparkan jurus-jurus maut. Tapi benturan dan empasan tenaga dalam cukup menyita dan menguras.

Satu hal yang bisa dilihat adalah kenyataan bahwa Sangga Langit sampai sekian jurus belum juga merangkul lawan untuk dilibas habis. Sementara Ngabehi Pandu juga tak bisa meloloskan pukulan dengan mulus. Selalu bisa ditangkis.

Naga Wolak-Walik yang dikeroyok oleh Pu'un Wahana dan Pu'un Pamor melayani dengan tenang. Bahkan seperti setengah mengambil hati. Hanya yang membuatnya bercekat ialah serbuan mendadak dari Gendhuk Tri. Sebagai panglima perang yang berpengalaman luas, Naga Wolak-Walik merasa jeri dengan bau tubuh yang keluar dari badan Gendhuk Tri. Penciuman Naga Wolak-Walik menjadi risi karena mengendus sesuatu yang sangat berat.

Sewaktu pertempuran makin meningkat, suara rombongan mendekat makin

jelas.

Yang tak diduga oleh Ugrawe, justru rombongan ini adalah rombongan dari Keraton. Secara resmi dipimpin oleh Sagara Winotan dan Jangkung Angilo. Dua pejabat tinggi Keraton yang membawa pengawalan lengkap. Lebih dahsyat lagi dalam rombongan ini juga dikibarkan umbul-umbul, atau bendera Keraton. Ini berarti kedua menteri ini merupakan utusan resmi Raja Jayakatwang.

Jangkung Angilo, yang memang bertubuh jangkung itu, meloncat tinggi dari kudanya. Melihat sekeliling. Sebagian besar tergeletak tak berdaya, sebagian justru sedang bertempur. Melihat bahwa salah seorang korban adalah Rawikara, Jangkung Angilo segera menyiapkan pasukannya.

"Orang asing, kalau kalian datang sekadar mengumbar nafsu besar, hari ini kami akan menutup mulutmu."

Naga Wolak-Walik meloncat tinggi ke angkasa dengan gagah. Melepaskan kerubutan.

Sangga Langit berusaha berkelit menghindar dari sergapan Ngabehi Pandu, akan tetapi setiap kali kena libatan.

"Para menteri yang terhormat, kami terpaksa membereskan manusia-manusia pengacau," teriak Sangga Langit. "Raja Jayakatwang telah memberikan pengampunan. Kalau Kiai Sangga Langit mematuhi perintah Raja, harap minggir!

"Bagi kami persoalannya jelas. Siapa yang membantah adalah musuh yang harus dimusnahkan."

Naga Wolak-Walik, sebaliknya malah meloncat maju. Empat lapis prajurit yang berdiri di depan Jangkung Angilo dilewati dengan enteng. Sebagai panglima perang, ia bisa menghadapi barisan prajurit dengan tenang karena tahu cara-caranya. Naga Wolak-Walik hafal bagaimana mengatasi kerumunan atau barisan prajurit. Jangkung Angilo tak menduga bakal diserbu secara mendadak. Segera mencabut kerisnya. Tanpa berkelit, Naga Wolak-Walik maju merampas. Pergelangan tangan Jangkung Angilo langsung kena tekuk, tubuhnya bisa tertarik maju. Masuk ke dalam dekapan Naga Wolak-Walik yang dengan cepat membanting ke tanah. Naga Wolak- Walik sendiri kemudian melesat lagi dan menyerbu ke arah Sagara Winotan. Sagara Winotan menyambar dua tombak sekaligus dan memapaki. Dua tusukan ke arah lambung. Terdengar bunyi "trang" yang keras. Ternyata Naga Wolak-Walik mengenakan pakaian lapis yang mampu menahan tusukan benda tajam. Dua tangannya keras mencengkeram ke arah tenggorokan lawan. Tapi Sagara Winotan bukan sembarang menteri. Melihat tusukan andalannya seperti menyentuh benda keras, kedua tangan siap menangkis serangan ke arah tenggorokan. Dua tangan membuka kuat, sekaligus tubuhnya melayang ke atas. Naga Wolak-Walik seperti menangkap angin. Akan tetapi mungkin benar juga gelarnya—naga berkepala dua, bisa melihat dari bagian belakang. Naga Wolak-Walik juga segera memutar dan tubuhnya melayang di angkasa. Melewati barisan prajurit. Lagi-lagi siap untuk merangkul.

Ilmu andalan Sagara Winotan bukanlah ilmu bertempur di udara. Justru julukan Sagara yang berarti laut, lebih mengandalkan pertempuran di bawah. Karena kekuatannya terletak pada gerakan kaki, yang bisa berputar bagai gelombang.

Padahal justru sekarang ini terjadi duel di udara!

Sagara Winotan kena dirangkul, dan tubuhnya dibawa amblas ke bawah. Saat itu tak ada prajurit yang bisa melakukan gerak menolong karena tak tahu mana kawan mana lawan. Bahkan sebagian besar seperti terpesona. Akan tetapi di saat yang begitu kritis, mendadak sebilah keris meluncur deras dari bawah. Seperti membelah dua tubuh yang lengket.

Perhitungan pelempar keris cukup luar biasa. Dari desis keris terasakan hawa dingin yang menandai bukan keris sembarangan. Dari arah bidikan sangat jelas sekali bahwa pembidiknya adalah seorang yang lihai dan pintar. Karena bidikan itu tak bisa diterima dengan pakaian lapis anti senjata yang melindungi. Karena sasarannya bukan dipaser dari depan, melainkan dari bawah.

Tak ada jalan bagi Naga Wolak-Walik selain melepaskan rangkulannya. Daripada dimakan keris. Dengan sendirinya Sagara Winotan lepas dari cengkeraman juga. Keris yang meluncur ke atas tiba-tiba membelok, dan meluncur turun. Bersamaan suatu bayangan meloncat untuk menangkap kembali.

"Kakang Upasara..."

Teriakan Gendhuk Tri yang nyaring dan tinggi sekali.

Bayangan yang menahan keris tadi memang Upasara Wulung. Yang berdiri di tanah dengan gagah. Dadanya terbuka. Hanya mengenakan kain di bawah, tak ubahnya seperti prajurit yang lain.

"Kakang jadi kawin atau tidak?" Itulah Gendhuk Tri!

Dalam suasana yang begitu gawat, yang dipersoalkan pertama kali adalah soal apakah Upasara Wulung jadi kawin atau tidak. Bukan soal keselamatan orang lain, termasuk Sagara Winotan atau Jangkung Angilo. Bukan soal Keraton, dan kenapa Upasara ikut dalam barisan Keraton.

"Tentu saja belum. Masakan ada pengantin baru keluyuran. Kemarilah, Gendhuk. "

Gendhuk Tri tertawa ngikik sambil meloncat maju, bagai terbang.

Selendangnya berkembang. Dan hinggap di sisi Upasara sambil memegangi tangan dengan manja.

"Saya kira Kakang sudah kawin dengan anak Pak Toikromo itu." "Tidak. Sebelum kawin kan harus bekerja dulu."

"Ya, tapi kenapa pilih jadi prajurit Jayakatwang? Kan dulu kita berada dalam kelompok Baginda Raja Kertanegara." Nyeplos seenak isi hatinya sendiri. Bagi yang mendengar bisa tersinggung. Masakan begitu enak bicara sembarangan tentang Jayakatwang, padahal menyebut Toikromo saja pakai Pak? Tapi mana Gendhuk Tri peduli soal itu?

"Nanti akan aku ceritakan. Sekarang ini, masih ada soal lain. Gendhuk Tri, adik kecil, kamu tambah ayu.  "

"Ya, tapi aku bukan anak kecil lagi." "Ya, kamu tambah gede."

"Kakang, Ngabehi Pandu juga ada di sini. Itu... lagi bermain-main dengan Sangga Langit yang jelek."

Wajah Upasara berubah. Rona merah, riang, mewarnai.

Bisa dibayangkan, bahwa selama dua puluh tahun Upasara diasuh secara telaten oleh Ngabehi Pandu. Dan dalam suatu pertempuran mereka tercerai tanpa tahu mati-hidupnya. Maka kini Upasara langsung menunduk dan menyembah.

Lalu berdiri kembali dengan gagah.

Naga Wolak-Walik sejak tadi berdiri kukuh memperhatikan. Kini ia berada dalam kepungan yang siaga.

Satu komando dari Sagara Winotan atau Jangkung Angilo, maka para prajurit akan menjadi barisan penyerang yang ganas.

"Terima kasih, anak muda," kata Sagara Winotan perlahan. "Pertolongan-mu sangat berarti sekali. Telah menyelamatkan jiwaku."

"Kebetulan hamba berada di dekat Paduka Menteri." Upasara menghormat perlahan.

"Siapa namamu, dan apa maumu datang-datang langsung menyerang?" Ditanya begitu Naga Wolak-Walik hanya celingukan saja.

Berteriak dalam bahasa yang tak dimengerti. "Saya datang...," teriak Kiai Sangga Langit mumbul ke atas, bersamaan dengan tubuh Ngabehi Pandu.

Begitu sampai jarak dekat dengan Sagara Winotan, Kiai Sangga Langit segera membungkuk.

"Maaf kalau kami mengganggu perjalanan pejabat tinggi Keraton sebagai utusan resmi Baginda Raja. Kami tak bermaksud menghalangi perjalanan pejabat resmi."

"Bahasamu fasih sekali, Kiai. Saya hanya mengemban tugas Baginda Raja untuk menyebarkan perdamaian. Tak ada gunanya pertumpahan darah."

"Maafkan saya. Juga teman saya yang menyusul saya kemari untuk kembali ke negeri asal."

Sagara Winotan menghela napas.

"Atas perkenan dan kemurahan Baginda Raja, silakan mundur." Kiai Sangga Langit membungkuk hormat.

Lalu memandang ke arah Upasara.

"Anak muda, sejak pertemuan terakhir ilmumu maju pesat. Terimalah hormatku." Lalu balik ke arah Ngabehi Pandu. "Orang gagah nomor satu, sayang kita tak bisa melanjutkan permainan anak-anak ini. Di lain waktu, kita pasti bertemu lagi."

Ngabehi Pandu berdiri teguh. Tak menjawab tak bereaksi.

Hanya wajahnya sedikit berubah ketika Gendhuk Tri menyeret Upasara Wulung datang mendekat ke arahnya.

"Sujud dan hormat saya. "

"Sejak kapan kamu menjadi prajurit pemberontak?" "Sejak membaca tembang di dinding benteng Keraton." Ngabehi Pandu maju, mengusap rambut Upasara Wulung.

Dalam percakapan pendek itu, terbukalah semuanya. Bahwa sebenarnya Ngabehi Pandu-lah yang mencoretkan tulisan di dinding benteng Keraton. Pantas bisa leluasa masuk ke dalam benteng Keraton, dan menulis terbalik. Kalau bukan tokoh yang ilmunya tinggi dan tahu seluk-beluk Keraton, memang tak mungkin.

Ngabehi Pandu, biar bagaimanapun, adalah orang Keraton Singasari. Baginya kebesaran Singasari dengan Baginda Raja Sri Kertanegara adalah satu-satunya. Maka ia cukup berang melihat Upasara Wulung bergabung dengan dan sebagai prajurit Gelang-Gelang yang kini menduduki Keraton. Akan tetapi jawaban Upasara melegakan Ngabehi Pandu, karena ternyata Upasara menyadari hal ini.

Dalam satu-dua patah kata, keduanya sudah mengerti posisi masing-masing.

Meskipun dalam sikap jelas berbeda. Ngabehi Pandu sama sekali tak memandang sebelah mata kepada utusan resmi Raja Jayakatwang. Ia tak menunduk, tak memberi hormat, tak menyapa. Selesai mengusap rambut Upasara Wulung, langsung berlalu begitu saja. Kalau tadi membela mati-hidup soal Keraton dalam menghadapi orang luar, kini masalah ke dalam jadi berbeda sekali.

Sagara Winotan tak terlalu memedulikan. Ia memerintahkan agar diberikan prioritas pengobatan bagi Rawikara dan Jangkung Angilo, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan. Tiga Pengelana Gunung Semeru, Dewa Maut, Wilanda juga mendapat perawatan. Akan tetapi, kondisi Wilanda dan Dewa Maut sangat payah sekali.

Sore hari rombongan berangkat lagi.

Gendhuk Tri tak pernah lepas dari lengketnya bergayut di tubuh Upasara Wulung.

"Bagaimana Kakang bisa urung kawin?" "Ya, itu memang seharusnya begitu." "Kakang menyukai anak Pak Toikromo?"

"Entahlah. Aku sendiri tak terlalu memedulikan." "Kenapa dulu Kakang lari meninggalkanku?" "Aku hormat kepada orang lugu yang baik, yang pernah menyelamatkan diriku. Pak Toikromo begitu ingin bermenantukan aku. Aku sendiri tak mempunyai sanak keluarga, jauh atau dekat. Tawaran itu tak bisa kutolak. Daripada terus mengembara tak tentu, hanya akan menyengsarakanmu.

"Tetapi ketika ke rumah Pak Toikromo, terjadi perubahan besar. Aku ditemui Raden Sanggrama Wijaya. Salah seorang kerabat utama Keraton Singasari, yang akan melarikan diri ke tanah Madura. Aku diminta ikut menemui Adipati Wiraraja. Maka kami pun berangkat cepat-cepat."

"Siapa Raden Sanggrama Wijaya?"

"Dulu juga pernah masuk latihan di Ksatria Pingitan. Nama kebesaran beliau adalah Naraya Sanggrama Wijaya. Ketika Ksatria Pingitan dibubarkan, Raden Wijaya kembali menjadi putra bangsawan. Sedang aku kembali menjadi anak asuh Ngabehi Pandu."

"Urusan apa ke tanah Madura?" Upasara mendongak mengawasi langit. "Kakang tak mau cerita padaku?"

"Ini persoalan yang rumit dan aneh. Adipati Wiraraja menyarankan kita semua mengakui kebesaran Raja Jayakatwang. Dengan demikian penyerbuan, pemburuan pengikut Baginda Raja Kertanegara tak akan dilanjutkan lagi. Pertumpahan darah bisa dihindarkan.

"Kalau Raden Wijaya mau mengakui kebesaran Raja Jayakatwang, ia akan menjadi simbol penyerahan kita semua. Sebab Raden Wijaya-lah yang masih dekat hubungannya dengan Baginda Kertanegara. Yang paling dekat.

"Untuk menghindarkan pertumpahan darah, untuk mengurangi korban, dan demi masyarakat semua, persyaratan itu diterima. Hari ini, utusan Raja Jayakatwang akan menjemput Raden Wijaya sebagai penunjuk jalan."

"Kakang, aku tak mau tahu urusan negara. Keraton mana, rajanya siapa, apa peduliku? Jangan gusar dulu, Kakang. Bagiku Baginda Kertanegara memang hebat, tetapi kalau ia benar-benar hebat, bukankah tak akan ada pemberontakan? Bukankah tak akan begini jadinya? "Semua ini omong kosong belaka. Yang namanya pembesar, yang namanya pendekar, yang katanya membela Keraton, yang mendapatkan pangkat dan kehormatan, juga bertindak semaunya.

"Aku cukup kenyang dengan itu. "Tak ada yang benar!"

"Rama Guru juga tidak benar?"

"Ya," teriak Gendhuk Tri mengejutkan. "Aku mau mengabdi ke Keraton dengan baik. Sebagaimana seorang anak desa yang dipanggil. Siapa sangka aku malah diculik, diajari ilmu silat, dan dibiarkan terombang-ambing seperti sekarang ini?

"Kini seluruh tubuhku penuh dengan racun. Tak ada yang mau mendekati.

Semuanya ngeri dan tak mau kusentuh.

"Bukankah aku akan lebih bahagia kalau tetap tinggal di Keraton? Menjadi selir kesekian ratus Baginda Raja, dan tak tahu-menahu balas dendam semacam ini?"

"Pun, seandainya Keraton diratakan Raja Jayakatwang?"

"Pun andai lebih dari itu. Kakang pikir mereka akan membunuhku? Menyiksaku? Paling akan menjadikan aku selir. Aku tak punya urusan balas dendam."

"Gendhuk, adik kecil... kalau semua hanya mengurusi dirinya sendiri, apa jadinya kita ini?

"Kalau Baginda Raja Kertanegara hanya mengurusi dirinya sendiri, beliau tak akan mengirim utusan ke luar. Tak akan menggeser para pimpinan yang dianggap merintangi. Tak akan mencapai kebesaran sebagai manusia."

"Tapi kan juga tak akan tumpah darah seperti ini. Kakang, seorang raja bisa mati sekali setelah hidup bersenang-senang lama sekali. Tetapi yang seperti aku ini, seperti Pak Toikromo itu, berkali-kali sengsara sampai ke anak-cucu tanpa mengerti."

Upasara memandang lekat Gendhuk Tri.

Seakan tak percaya bahwa kalimat itu bisa diucapkan seorang anak kecil. Sebagai murid langsung Mpu Raganata, memang tak mungkin Gendhuk Tri mendengar banyak hal.

"Masih selalu lebih baik berbuat sesuatu untuk tanah air daripada tidak berbuat sama sekali. Aku dibesarkan dalam tradisi ini. Dan begitulah yang terbawa sampai sekarang."

"Untuk apa, Kakang?"

"Untuk kesempurnaan pengabdian pada Raja, pada Keraton, pada Dewa yang menciptakan kita semua.

"Inilah arti hidup."

"Kakang kira semua orang seperti Kakang? Lihatlah sekitar Kakang. Aku mendengar nama besar Eyang Sepuh dari Perguruan Awan yang dahsyat. Semua tokoh silat memujinya. Tetapi kenapa dalam soal begini besar, begini menentukan soal runtuh dan jayanya Keraton, beliau tetap tak muncul?

"Tokoh macam apa pula itu?" Upasara terdiam.

Menghela napas.

"Kita tak berhak menilai dengan cara kurang ajar seperti itu. Eyang Sepuh adalah tokoh luhur yang dihormati semua orang."

"Ah. Itu sudah kuno. Buktinya tidak ada. Kalau Kakang tetap mau membela dia, terserah. Tetapi aku tidak. Aku, Gendhuk Tri ini, lebih hebat dari Eyang Sepuh. Aku melawan Ugrawe yang jahat. Nah, mana lebih hebat?"

Tuduhan dan pernyataan Gendhuk Tri, kalau dirasakan ada benarnya. Tetapi juga terasa sangat kasar sekali. Hanya bagi Gendhuk Tri, omongan seperti ini tak menjadi beban.

Latar belakang dan kekecewaannya begitu besar. Terpisahkan dari Jagaddhita, seluruh tubuhnya terkena racun yang menyebabkan disingkiri semua orang, satu- satunya yang bisa dekat dengannya hanya Upasara Wulung—itu pun memperhatikan kepentingan yang lain. Hari kedua perjalanan mereka sampai di Jung Biru. Suatu daerah di sisi timur Perguruan Awan.

Gendhuk Tri sebenarnya kesal dengan upacara tetamuan yang baginya penuh basa-basi membosankan. Akan tetapi karena Upasara Wulung ada di sana, malah agak berperanan, maka ia pun mencoba mengikutinya.

Hanya saja ketika pandangannya menyapu keliling, sinar matanya bentrok dengan pandangan seorang gadis yang sangat ayu sekali. Gadis itu sedang mencuri pandang ke arah Upasara.

Bagi Gendhuk Tri, sepasang sorot mata ayu gadis yang berpakaian kebesaran itu jauh lebih menarik perhatian daripada omongan basa-basi yang terlalu banyak bunga kata dan tangan menyembah.

Hanya saja, untuk sementara Gendhuk Tri tak bisa berkutik. Ia berada di dalam ruang pertemuan, yang begitu banyak orang tak bergerak. Semua pusat perhatian tertuju kepada tiga orang yang duduk di kursi utama. Naraya Sanggrama Wijaya, yang elok rupawan dengan rambut panjang melengkung berombak. Pandangan matanya tajam, akan tetapi nampak lembut sekaligus. Dadanya bidang, terbuka, memperlihatkan kulit yang sangat halus.

Di depannya berdiri Sagara Winotan serta Jangkung Angilo. Suara Sagara Winotan terdengar keras dan lantang, ketika memegang bendera yang dibawa dari Keraton Daha. Semua hadirin duduk di lantai dan melakukan sembah.

"Atas nama Baginda Raja Jayakatwang, atas kemurahan hati Raja di Keraton Daha, Naraya Sanggrama Wijaya diterima pasuwitannya.. Diterima pengabdiannya. Dan diampuni segala kesalahan, ada ataupun tidak. Dasar pertimbangan Baginda Raja adalah untuk memberi ampunan kepada mereka yang bisa berbakti kepada Keraton.

"Naraya Sanggrama Wijaya diterima, karena masih mempunyai darah murni Keraton Singasari yang benar. Sanggrama Wijaya diterima karena keturunan langsung Dyah Lembu Tal, dan adalah cucu Narasingamurti.

"Semoga pengampunan ini diterima. "

Seluruh isi ruangan melakukan sembah. "Anugerah kedua, Nayara Sanggrama Wijaya dikabulkan permintaannya untuk membuka hutan Tarik, sebagai tempat perburuan Baginda Raja Jayakatwang. Sebagai tanda kesetiaan, tanah Tarik hanya diizinkan untuk daerah perburuan, jika Baginda Raja Jayakatwang sewaktu-waktu ingin pesiar. Untuk itu semua, pengawasan hutan Tarik diserahkan kepada Sagara Winotan, yang berhak menentukan penggunaannya atas nama Baginda Raja Jayakatwang.

"Mengenai tenaga untuk membuka, Adipati Aria Wiraraja dari tanah Madura akan membantu.

"Demikian sabda Baginda Raja. "

"Sembah nuwun. " seru sekalian punggawa sebagai ucapan terima kasih.

Gendhuk Tri makin tak tahan saja.

Perlahan ia mulai meninggalkan ruang pertemuan ketika acara jamuan makan.

Langsung ke bagian di mana barisan putri-putri berkumpul. Namun ia dihalangi oleh tiga prajurit yang menjaga.

"Sekali kucakar kamu bakal mampus tujuh turunan," kata Gendhuk Tri. "Kenapa kamu menghalangi aku?"

"Kami semua ditugaskan menjaga putri kedaton."

Gendhuk Tri menarik suara di hidung. Putri kedaton adalah sebutan bunga Keraton. Dan ini artinya putri seorang raja. Kalau begitu yang melirik Upasara Wulung ini pasti putri-putri Raja.

Gendhuk Tri jadi sadar. Dulu di Keraton Singasari, ia rasanya bahkan pernah menjadi pelayan keempat putri itu. Tak pelak lagi, mereka berempat adalah putri Baginda Raja Sri Kertanegara.

"O, jadi mereka ini Tribhuana, Mahadewi, Jayendradewi, serta Gayatri?" "Maaf, kami tak biasa mendengar sebutan lancang seperti itu."

Gendhuk Tri justru senyum meledek. Sebelum prajurit mengambil tindakan, Gayatri yang paling ayu dan sayu pandangannya datang mendekat.

"Adik manis, silakan... kamu mau bertemu siapa?" Suaranya lembut, mendayu, penuh keakraban.

"Aha, jadi kamu yang bernama Gayatri atau dikenal sebagai Dewi Rajapatni, putri kesayangan Baginda Raja Sri Kertanegara?"

Wajah Gayatri berubah sepersekian kejap, menjadi sangat sedih. Helaan napasnya pun membuat Gendhuk Tri harus memuji bahwa Gayatri merupakan jelmaan yang sempurna dari seorang wanita.

"Soal Ramanda, tidak usah kita bicarakan. Adik manis, mari kita makan bersama-sama, di bagian belakang."

Gendhuk Tri menggeleng.

Walau sikap mencibirnya berkurang.

"Aku cuma mau tahu kenapa kau melirik Kakang Upasara." "O, jadi dia yang bernama Upasara Wulung?"

Gendhuk Tri merasa menyesal mengatakan nama lelaki yang dikaguminya. "Kamu baru tahu sekarang. Aku sudah tahu sejak dulu."

"Ya, aku mendengar kabar bahwa seorang lelaki, asal didikan dari Ksatria Pingitan, bernama Upasara Wulung, mempunyai adik manis. Jadi kamu yang bernama Jagattri? Yang ikut perang tanding ketika Keraton diserbu?"

"Ya, akulah orangnya." Gayatri merangkul manis. Lembut.

"Terima kasih, adik manis. Baru sekarang aku sempat mengucapkan rasa terima kasih kepada penolong yang terhormat. Ketika adik manis dan Kakang Upasara membela Baginda Raja, pada saat itulah kami mempunyai waktu untuk meloloskan diri. Sungguh tak nyana, hari ini bisa berjumpa. Adik manis, tolong sampaikan terima kasih kami berempat kepada kakangmu."

Gendhuk Tri melengos.

"Tak bakal aku menyampaikan ucapan itu." "Kenapa? Apa salahku?"

"Kakang Upasara adalah kakangku sendiri. Orang lain tak boleh ikut melirik.

Apalagi bicara padanya."

Gayatri tersenyum. Tetap lembut.

"Maafkan kalau begitu. Aku mencabut kembali ucapan itu." Gendhuk Tri merasa amblas ke dalam jurang yang dalam.

Karena justru Gayatri seperti menerima seluruh sikap bengal yang dilakukan. Kalau Gayatri melawan dalam kata-kata, Gendhuk Tri siap untuk berteriak. Tak peduli dengan keadaan sekitar. Akan tetapi ternyata sikap mengalah Gayatri melembekkan semua kekerasan hatinya.

"Hari ini, saya secara pribadi juga menyampaikan terima kasih kepada utusan Naraya Saggrama Wijaya, yang bernama Upasara Wulung. Karena ia telah menyelamatkan diri saya. Dan terutama menyelamatkan kebesaran nama Baginda Raja Jayakatwang," suara Jangkung Angilo terdengar ke seluruh ruangan.

Upasara Wulung menghaturkan sembah.

"Berbahagialah Raden mempunyai pembantu ksatria seperti dia. Saya ingin membawanya ke Keraton kalau Raden Wijaya relakan."

"Apa yang Paduka Menteri katakan dan kehendaki, selama bisa kami laksanakan, akan kami laksanakan. Hanya saja Upasara masih terlalu muda untuk mengerti sopan santun Keraton."

Jelas sekali dari kalimat ini, Raden Wijaya menyatakan penolakan dengan sangat halus. "Kelak kalau sudah sedikit mengerti adat-istiadat Keraton, kami akan menyowankan, membawa, ke Keraton Daha."

Yang membuat Gendhuk Tri makin kesal ialah bahwa meskipun melirik sedikit, akan tetapi Gayatri ternyata mempunyai perhatian ketika nama Upasara Wulung disebut-sebut.

Untuk memperlihatkan bahwa dirinya lebih dekat, Gendhuk Tri maju mendekati Upasara Wulung. Langsung duduk di sebelahnya.

Tindakan Gendhuk Tri ini secara tidak langsung mendukung apa yang dikatakan Raden Wijaya.

Pertemuan di Jung Biru berakhir larut malam, setelah disajikan beberapa tarian. Upasara sendiri kemudian menuju tempat peristirahatan. Menemui Wilanda yang masih terbaring, Tiga Pengelana Gunung Semeru, Jaghana, serta Dewa Maut.

Dengan bantuan para tabib yang dipilih, rasa sakit memang berkurang banyak, akan tetapi tak membuat tokoh-tokoh silat ini pulih kembali.

"Satu-satunya yang bisa membuka kunci tenaga dalam ini adalah Ugrawe sendiri," kata Jaghana lembut. "Anakmas tak perlu bersusah payah. Kami semua dikalahkan dalam pertempuran secara ksatria."

"Pukulannya sangat jahat sekali, Paman."

"Pukulan itu sendiri tak ada jahat dan tak ada baik." Dewa Maut terbatuk keras.

"Apa benar jenis ilmu pukulan seperti itu tak ada duanya di jagat ini? Sehingga hanya Ugrawe sendiri yang menguasai?"

"Ada, muridnya, Rawikara. Tetapi ia pun kini terluka oleh pukulan yang

sama."

"Aku tak percaya," teriak Dewa Maut. "Aku tak percaya di jagat ini ada ilmu yang begitu khusus dan tak dimengerti orang lain. Aku tak percaya. Ya, Tole, apa yang kukatakan benar atau tidak?" "Rasanya benar. Tetapi entahlah, aku tak mau mikir soal itu," jawab Gendhuk

Tri.

"Bagus, bagus sekali. Aku juga tak mau mikir soal itu."

Gendhuk Tri mulai sadar bahwa Upasara Wulung mulai sibuk dengan urusan Keraton. Urusan negara! Yang lebih membuat jengkel lagi bagi Gendhuk Tri adalah bahwa itu semua membuat Upasara Wulung berada dalam Keraton, dan ini berarti bakal ketemu Gayatri!

Sebagian yang dikuatirkan Gendhuk Tri ada benarnya.

Dini hari Raden Wijaya sudah mulai dengan pertemuan khusus para pembantunya. Ada sekitar dua puluh prajurit yang mengelilingi. Mulai dari Dyah Pamasi, Dyah Singlar, Dyah Palasir sampai dengan yang digelari empu, yaitu Mpu Tambi, Mpu Sora, Mpu Renteng, Mpu Elam, Mpu Sasi. Bersama dengan Upasara Wulung mereka semua duduk di lantai.

"Ada prajurit baru, yang kalian semua sudah mengenal. Aku mempercayai karena ia dulunya di Ksatria Pingitan. Namanya Upasara Wulung. Murid langsung yang terhormat Ngabehi Pandu.

"Kalian semua yang berkumpul di sini adalah diriku sendiri. Mati, jaya, dan runtuhnya semua kemungkinan yang akan datang di tangan kalian. Jika Dewa yang menguasai jagat merestui, aku tak akan melupakan kalian semua.

"Tapi perjalanan kita masih panjang sekali. Selama ini Tarik telah kita buka. Akan tetapi masih ada klilip, ada kotoran di pelupuk mata. Pengawasan dari Menteri Sagara Winotan. Kita akan berusaha agar bagian-bagian dalam dari tlatah Tarik tak diketahui oleh beliau.

"Masalah kedua yang sampai kini masih merupakan ganjalan terbesar adalah bahwa sekarang ini di sekitar Tuban sudah datang prajurit Tartar yang jaya. Ini bukan klilip di pelupuk mata, akan tetapi ini masalah yang besar. Sejauh keterangan yang kita peroleh, mereka membawa tiga panglima perang. Naga Wolak-Walik, Naga Kembar atau Ike Meese, dan Naga Murka atau Kau Hsing. Ilmu perang mereka sangat hebat. Ditambah dengan Kiai Sangga Langit, mereka betul-betul luar biasa. Hanya kelas Ngabehi Pandu saja yang secara perorangan bisa menghadapinya. Sementara kita ini semua masih harus belajar banyak. Kalau saja Eyang Sepuh dan Mpu Raganata masih ada, rasanya tak bakal jadi masalah utama."

Suasana hening. "Sesembahan kami tinggal Paduka Raden Wijaya," sembah Mpu Ranggalawe. "Kami semua hanya bisa membaktikan diri dengan nyawa, karena itu satu-satunya milik kami yang bisa dipertahankan saat ini. Dan itulah yang akan kami berikan, Raden."

Semua yang hadir menghaturkan sembah.

"Aku sama sekali tak meragukan kesetiaan kalian. Justru aku mempercayai secara luar-dalam.

"Tetapi pengorbanan kita terlalu besar. Bisa jadi kita akan rontok sebelum bertarung. Sebelum pertempuran yang sesungguhnya dengan prajurit sesat yang kini di Keraton Daha. Mpu Ugrawe sendiri masih merajalela dengan pukulan yang menurut kabar bernama Banjir Bandang Segara Asat.

"Tanpa satu siasat, rasanya kita akan runtuh sebelum bisa berdiri.

"Hmmmmm, sebagai panutan aku seharusnya tak mengatakan hal ini, tetapi kita memang memerlukan seorang seperti Mpu Raganata."

"Maaf, Sesembahan, bagaimana dengan Pamanda Aria Wiraraja?"

"Selama ini posisinya sulit. Sebelum perang terbuka dengan genderang, Pamanda Wiraraja harus tetap berdiam diri."

Raden Wijaya menghela napas.

"Upasara, kamu berjaga di Tarik. Sore nanti saya bersama Paman Ranggalawe dan Paman Sora akan mencoba melihat suasana di perkemahan Tartar. Sudah lama aku tidak menggunakan trisula."

Trisula Muka adalah tombak berujung tiga yang menjadi senjata andalan Raden Wijaya. Dengan ilmu andalan Kerta Rajasa Jaya Wardhana, yang merupakan ilmu meniru pancaran sinar matahari yang dahsyat. Yang mengubah gelap menjadi terang, kekacauan menjadi kemakmuran dan ketenteraman dengan kejayaan.

Ilmu yang diperdalam dengan berbagai unsur berdasarkan kepada apa yang diajarkan oleh Mpu Raganata, yaitu bagian dari Weruh Sadurunging Winarah. Ilmu yang mengandalkan kekuatan tenaga dalam, kekuatan batin yang bersih. Unsur-unsur yang muncul seperti kerta, berarti mengembalikan segala kejahatan menjadi kebaikan. Mengubah serangan lawan yang jahat menjadi tawar. Unsur rajasa, mengubah gelap menjadi terang dengan cara menggempur, seperti juga sifat matahari. Unsur jaya, mencapai kemenangan dengan tombak Trisula Muka. Sedangkan unsur wardhana adalah unsur kekuatan dalam, yang intinya disarikan dari berbagai aliran tenaga dalam dari berbagai agama dan kepercayaan. Kekuatan yang lahir adalah kekuatan seperti lahirnya butir padi dari berbagai unsur tanah.

Secara langsung, Upasara Wulung belum pernah melihat kehebatan penggunaan Trisula Muka. Akan tetapi mengingat kemelut yang meruntuhkan Keraton Singasari lalu, bisa diduga bahwa Raden Wijaya cukup mempunyai ilmu tinggi. Ditambah pengawal pribadi yang begitu tegar, rasanya memang tak bisa dipandang biasa.

"Upasara, tugasmu yang utama menjaga seluruh padepokan ini. Pertama dari gangguan kenakalan, kedua dari pengawasan Jangkung Angilo dan Sagara Winotan. Seluruh wewenang selama aku tinggalkan ada di tanganmu."

"Saya akan mencoba sebisanya."

Menjelang dini hari, rombongan Raden Wijaya berangkat.

Tinggal Upasara Wulung yang mendiami gedung utama. Bersama para dyah dan empu yang menjaga di bagian luar.

Bagi Upasara Wulung, soal menjaga dan berjaga adalah soal yang biasa. Meskipun terasa bahwa penunjukan wewenang yang diberikan padanya termasuk sangat istimewa. Mengingat ia seorang yang belum cukup lama dikenal langsung. Akan tetapi kepercayaan besar yang diberikan justru menumbuhkan kepercayaan dalam diri Upasara.

Yang membuatnya sedikit kikuk adalah karena ia juga harus menjaga bagian kaputren. Yang lebih menggelisahkan lagi ialah karena keempat sekar kedaton mengundang untuk makan siang bersama.

Bahwa hal itu biasa dilakukan oleh Naraya Sanggrama Wijaya bukan sesuatu yang mengejutkan. Bahwa para pengawal pribadi juga turut makan bersama, tidak menjadi soal. Bahwa yang menyediakan makanan adalah para dayang, juga memang keharusannya begitu.

Akan tetapi Upasara Wulung jadi merasa serbasalah. Wajahnya merah seluruhnya.

Ujung hidungnya seperti buah merekah.

"Kakang Upasara," sapa Tribhuana, "kami menghaturkan selamat datang di dusun Tarik ini. Kami tak bisa melayani lebih dari yang bisa kami sediakan."

"Ini sudah lebih dari cukup, Gusti Ayu. "

"Kenapa masih memakai sebutan itu?"

"Sulit bagi hamba mengubah sebutan itu. Hamba adalah rakyat biasa yang dulu bisa bernasib baik ditolong bergabung dalam Pingitan."

"Ah, memang tak ada yang bisa melupakan kebesaran Kanjeng Rama Prabu. Selama ini kekuatan kita masih lemah. Para ksatria dan pendekar justru masih sakit. Apa mungkin, sebelum seribu hari nanti, Kanjeng Rama Prabu melihat Keraton yang kembali tenang?"

Sejak itu, setiap siang hari merupakan siksaan tersendiri bagi Upasara Wulung. Kalau menghadapi Tribhuana, justru Upasara banyak belajar mengenai liku-liku Keraton. Dalam hati Upasara memuji bahwa putri Keraton yang satu ini jauh lebih istimewa dari semuanya. Mempunyai keinginan yang kuat sekali untuk mengetahui masalah-masalah politik.

Yang benar-benar membuat Upasara mati kutu ialah kalau harus menghadapi Gayatri. Entah kenapa dadanya jadi berdebar, jantungnya berguncang, dan makannya jadi serbasalah. Rasanya menelan buah sawo pun tak bisa.

Walau hampir selalu keempat putri menyertai, disertai dayang-dayang yang meladeni, tapi juga ada saat khusus Gayatri begitu dekat dalam pembicaraan.

"Kakang Upasara, bagaimana kabarnya Gendhuk Tri?" "Ia selalu baik, Gusti Putri. Hanya nakal."

"Gendhuk Tri sangat mengharapkan Kakang." "Rasanya begitu."

"Kakang juga merasa begitu?" Guncangan darah di pembuluh tubuh seperti tak terkendalikan. Upasara membuang jauh-jauh pikirannya sendiri.

"Gendhuk Tri sangat manis sekali. Ayu. Dan bisa main silat. Betul-betul wanita yang sempurna.

"Saya ingin bisa seperti itu, akan tetapi tak mungkin." "Gusti Ayu bisa kalau mau."

"Kakang Upasara mau melatih?"

"Saya tidak berhak... tidak berani. Empu-empu yang lain lebih bisa." "Kakang Prabu Wijaya mempercayai Kakang Upasara. "

"Ya, tapi bukan soal berlatih."

"Maafkan saya, Kakang. Kalau Kakang sudah terikat dengan Gendhuk Tri." Upasara merasa menjadi sangat kikuk.

Tak bisa berucap. Gayatri menghela napas.

"Saya makin iri saja kepada Gendhuk Tri."

"Maaf, Gusti Putri. hamba tak bisa melatih. Bukan soal Gendhuk Tri. Ia adik

hamba. begitulah kira-kiranya."

Gayatri menghela napas kedua kalinya.

"Kalau ada yang harus saya sesali karena saya ini putri Baginda Raja, adalah karena dengan demikian apa yang bisa saya lakukan menjadi terbatas. Semua menganggap seolah masih selalu putri raja yang berkuasa, putri yang harus disanjung dan tak boleh membersihkan sebutir debu pun.

"Tapi inilah takdir yang harus saya terima. "Dan ini tak akan berubah, kalau tak ada yang berani mengubah." Upasara menunduk.

Tak berani memandang.

Sejak itu lebih suka tidak makan siang. Tidak makan malam. Bahkan juga tidak melatih diri. Pikirannya hanya terganggu bayangan Gayatri. Yang dalam bayangannya terlalu sempurna sebagai dewi, sebagai bidadari. Alangkah tolol diriku ini, Upasara menyalahkan dirinya. Sejak kapan aku begini kurang ajar mengharapkan yang mustahil?

Upasara merasa dirinya menjadi manusia yang tak berguna.

Kenapa justru ia memikirkan Gayatri? Kenapa justru ia memikirkan kata-kata yang bersayap yang bisa diartikan memberi harapan?

Upasara mulai memusatkan diri untuk bergabung dengan para pendekar yang masih menderita kesakitan.

Di antara mereka hanya Jaghana yang masih kelihatan tetap tenang. Selalu berusaha memulihkan tenaga dalamnya dengan jalan bersemadi, mengatur napas. Walau di akhirnya selalu menggelengkan kepala.

"Benar-benar ganas luar biasa. Ilmu Ugrawe mempunyai perkembangan yang makin menunjukkan titik-titik tanpa akhir. Makin berbahaya. Jika ini terus dikembangkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, barangkali tak akan pernah ada lagi yang mampu mengimbanginya."

"Pak Gundul, kamu ini begitu sengsara. Selama ini ia jeri kepadaku, buat apa gegetun?" teriak Gendhuk Tri lantang.

"Benar, Tole, kita berdua akan mencincangnya," kata Dewa Maut tanpa peduli keadaan dirinya sendiri.

"Banjir Bandang Segara Asat adalah satu tahapan akhir dari semua jurus yang dikenal Sindhung Aliwawar yang luar biasa. Akan tetapi jurus ini juga membuka tahap lain, yang bisa mencapai puncaknya lagi.

"Dengan kekuasaan dan kelicikan yang dimiliki, Ugrawe akan terus melaju." "Bukankah Mpu Ugrawe sedang terluka?" Jaghana memandang Upasara.

"Ya, tetapi ia bisa dengan cepat memulihkan tenaganya. Bahkan Rawikara pun bisa segera dipulihkan. Asalkan ada korban yang dipindahkan tenaga dalamnya.

"Dengan mengatur seberapa tenaga dalam yang diisap, Rawikara akan bisa disembuhkan. Sekarang ini masih lemah, jadi bisa dipakai tenaga dalam pada tingkat permulaan untuk memukulnya. Dengan demikian tenaganya berpindah. Rawikara mempunyai modal. Begitu seterusnya, makin lama makin meningkat. Ini berarti akan segera pulih dan berlipat ganda.

"Aku bilang dengan akal liciknya, dengan kekuasaan yang dimiliki, ia bisa melakukan itu."

Mendadak Upasara menghaturkan sembah. Bersujud.

"Saya yang rendah tak bisa melihat cahaya ini. Kalau Mpu Ugrawe bisa melakukan, kenapa kita tidak?

"Banjir Bandang Segara Asat intinya adalah memindahkan tenaga lain ke dalam diri kita. Bisa juga memindahkan tenaga kita ke dalam diri orang lain. Seumpama kata membuat banjir di daratan dengan mengeringkan laut.

"Paman Jaghana, bersiaplah. "

Jaghana melengak. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Upasara akan melakukan itu. Akan mengirimkan tenaganya sendiri untuk diserap orang lain. Memberikan tenaga dalamnya sendiri.

Bagi Upasara tak terlalu sulit karena bisa memperkirakan tenaga Jaghana.

Sehingga pemindahan tenaga itu tak akan melukainya. "Jangan gegabah. "

"Saya tahu. Paman Jaghana akan menolak. Paman Pembarep akan menolak.

Akan tetapi ini satu-satunya cara untuk memulihkan tenaga Paman semua. "Paman semua adalah ksatria sejati, pembela kebenaran. Saat ini Keraton sedang dalam bahaya besar. Baik dari rencana Baginda Jayakatwang maupun dari negeri Tartar. Paman semua jauh lebih berguna dari saya. Maaf, maafkan saya... kalau memaksa. "

"Anakmas. ," Wilanda bersuara lemah. "Sampai mati pun saya akan menyesali

tindakan ini. Sudah jelas sekarang Anakmas Upasara jauh lebih diperlukan."

"Tidak ada artinya satu Upasara dibandingkan dengan Paman semua, para ksatria sejati. Seperempat tenaga dalam pulih, Paman akan bisa terus mengembangkan. Dan dalam waktu singkat kita mempunyai banyak ksatria."

"Tidak bisa. Saya akan menolak." "Maaf, saya akan memaksa."

Bagi Upasara bukan sesuatu yang sulit untuk memaksakan tenaga dalam. Yang ditolong sekarang ini tak mungkin bisa menolak.

"Tidak bisa. Tetap tidak bisa," kata Pembarep. "Jangan lakukan itu, Upasara. Kamu sekarang dipercaya Sanggrama Wijaya. Mana mungkin orang yang dipercaya jadi loyo?

"Tugas Keraton masih besar bagimu." "Paman akan segera menggantikan." Wilanda menggelengkan kepalanya.

"Anakmas, sesembahan saya sejak kecil. Kalau Anakmas memaksakan itu, Anakmas akan menyesal. Karena begitu saya mempunyai tenaga, saya akan membunuh diri."

"Saya juga," kata Pembarep.

"Kami semua akan membunuh diri di depanmu."

Sejenak Upasara menahan napas. Tak menyangka sama sekali bahwa niatnya menolong ditolak dengan cara seperti itu. Bisa-bisa malah hancur semuanya.

"Saya percaya, itu tak akan pernah terjadi. Saya mempercayai sikap jiwa besar para ksatria. Tak nanti akan menyia-nyiakan nyawa begitu saja."

Dengan keputusan mantap, Upasara mulai bersila. Memusatkan konsentrasi.

Mendadak terdengar suara lembut.

"Saya tak pernah menyangka ada manusia di dunia ini yang begitu jahat dan kejamnya."

Upasara bergeming, kalau saja suara itu bukan suara yang mampu mengusik jiwanya. Benar juga! Ketika matanya terbuka dan helaan napas terdengar, ia melihat wajah Gendhuk Tri yang berubah dongkol. Siapa lagi yang mampu mencemberutkan wajah Gendhuk Tri secara seketika selain Gayatri?

"Kejam apanya?" teriak Gendhuk Tri. "Di seluruh kolong langit ini, biar ayahmu yang raja atau kamu sendiri, tak ada sekuku hitam dibanding Kakang Upasara. Kakang Upasara adalah yang paling mulia. Mengorbankan tenaga dalamnya sendiri untuk orang lain.

"Nah, yang begini masih kamu sebut kejam?"

"Ugrawe kejam karena sifatnya seperti itu. Akan tetapi Upasara jauh lebih kejam, karena ia mengembangkan ilmu jahat itu."

"Cuh. Kamu ngerti apa? Bedak-pupur kamu tahu. Tapi soal ilmu silat, menggerakkan tangan lebih tinggi dari bahu saja kamu belum pernah. Melangkah lebih besar dari kainmu saja tak mungkin."

"Tetapi aku tak sekejam Kakang Upasara. Dengan memberikan tenaga dalam kepada Paman Jaghana, Paman Dewa Maut, Paman Wilanda, Paman Pembarep, dan yang lainnya, di kemudian hari paman ini semua akan terus-menerus mencari korban.

"Terus-menerus mencari korban baru. "Sampai akhirnya harus bertarung di antara mereka sendiri. Apakah ini tidak kejam dan jahat? Apakah ini tidak menanamkan benih kejahatan dan kekejaman di esok hari?"

Lembut nadanya, perlahan iramanya, akan tetapi terasa masuk dan mengena.

Untuk sesaat Upasara tak bisa mengatakan satu patah kata pun.

"Pada saat sekarang ini tak ada yang menghalangi Kakang. Tak ada yang bisa. Saya sendiri tak bisa menghentikan kemauan jahat dan kejam yang dianggap mulia ini.

"Semua terserah Kakang sendiri." Jaghana memuji kepandaian Gayatri. Pembarep menghela napas.

"Ilmu Banjir Bandang Segara Asat memang ilmu yang luar biasa ganasnya. Tapi bukan berarti tanpa kelemahan. Semua ilmu silat, makin kuat, makin tangguh, makin kuat makin tangguh pula kelemahannya. Banjir Bandang hanya mengembangkan salah satu bagian dari sifat-sifat ilmu silat yang sesungguhnya. Dengan demikian, ada bagian lain yang tak bisa dikembangkan. Karena terlalu menyerang, pertahanannya pasti berkurang. Udara yang dilontarkan terlalu banyak. Dalam titik itu, sebelum tenaga mengisap bekerja, kita bisa mencuri ketika itu.

"Itulah salah satu kelemahan Banjir Bandang. "

Mendadak Jaghana menghaturkan sembah.

"Gusti Putri... saya tidak menyangka akan bertemu Gusti Putri...." Suaranya memelas, penuh rasa hormat yang tulus. Demikian juga Wilanda.

Bahwa Gayatri bisa menguraikan dengan jelas mengenai jurus Banjir Bandang, bisa mengundang heran. Karena tak ada yang menyangka ia akan bisa berbicara sefasih itu. Tetapi bahwa Jaghana dan Wilanda menyembah dengan sangat hormat, lebih mengherankan lagi.

"Sungguh tak nyana, hamba masih mendapat berkah untuk mendengarkan.

Sungguh tak nyana. "

Jaghana menyembah lagi. "Apakah ada titah lain, Gusti Putri?" Gayatri menghela napas.

"Awan di langit bergerak dengan sendirinya, tak usah dipaksa-paksa. Angin dini hari akan menggerakkan sendiri."

Jaghana dan Wilanda menyembah secara bersamaan. Gendhuk Tri pun menjadi terkesima.

"Kami akan berusaha. "

Itu saja jawabnya. Dan sejak memberi jawaban itu Jaghana lalu bersila, bersemadi bersama dengan Wilanda. Sampai Gayatri meninggalkan tempat, tetap bergeming.

Sampai akhirnya Upasara pun turut meninggalkan tempat.

Dengan beberapa pertanyaan dalam hati. Apa arti kata-kata Gayatri yang begitu besar pengaruhnya bagi Wilanda dan Jaghana? Apa hubungannya dengan jawaban Gayatri dan sikap mereka terus bersemadi mati raga?

"Saatnya akan datang untuk saya ceritakan semuanya, Kakang. Saya berjanji untuk tidak mengatakan sesuatu."

"Gusti berjanji kepada siapa?"

"Kalau saya katakan, berarti saya melanggar janji." "Kakang Prabu?"

"Kenapa selalu itu yang Kakang bicarakan?" "Saya tak mempunyai dugaan lain."

"Semua merasa bahwa kami berempat adalah calon istri Kakang Prabu Wijaya. Tak meleset sedikit pun. Memang begitulah seharusnya menurut aturan. Akan tetapi bukankah belum terlambat? Sebelum ada janur kuning tanda peresmian, semua bisa terjadi. "Kakang Upasara. " Suara Gayatri menjadi perlahan sekali, tertutup oleh suara

tarikan napas yang menggemuruh. "Apakah layak seorang wanita menawarkan kesempatan kepada seorang pria? Apakah tidak membuat wanita itu menjadi sangat rendah di mata pria tersebut?"

Upasara bergeming.

"Jawablah, Kakang. Bila ada wanita mengatakan seperti itu, apakah wanita itu lebih rendah dari seekor cacing?"

"Hamba tak berani mengatakan... Hamba tak mengerti harus bagaimana...

Semuanya begitu tiba-tiba dan tak pernah hamba bayangkan. Kehormatan besar ini, entah dengan cara bagaimana hamba bisa menyadari."

"Tentang cacing yang rendah?"

"Hamba yang lebih jahat dan lebih kejam dari cacing, tak bisa memberi-kan penilaian, Gusti. "

Upasara menyembah hormat.

"Kalau semua nanti bisa terjadi. hamba tak tahu dengan cara apa mensyukuri

anugerah Dewa Yang Mahaagung. "

Ketika akhirnya Raden Sanggrama Wijaya datang kembali, Upasara mendapat tepukan di pundak.

"Tak sia-sia kupercayakan Tarik padamu, Upasara. "

"Hamba menjalankan tugas sebisanya. Selebihnya para prajurit sendiri yang menjalankan tugas dengan baik."

"Ya, akan tetapi kita tetap berada dalam bahaya. Karena kita berlomba dengan waktu. Cepat atau lambat senopati Daha, Sagara Winotan dan Jangkung Angilo, akan mengetahui apa yang kita persiapkan. Jika ini diketahui, habislah riwayat kita.

"Sementara pasukan negeri Tartar sungguh luar biasa. Prajurit yang benar- benar tangguh, tersusun rapi, dan bukan nama kosong belaka bahwa mereka telah menaklukkan banyak negeri seberang. "Aku tak tahu mana yang harus kupilih. Menggempur Keraton Daha secepatnya ataukah menyingkirkan pasukan Tartar.

"Dua-duanya sangat berat.

"Tapi aku memilih yang kedua. Dengan bantuan prajurit Keraton Daha, prajurit Tartar akan kusingkirkan. Dengan begitu kepercayaan Baginda Jayakatwang akan membesar. Dan itulah saat terbaik untuk merebut takhta. Bagaimana pendapatmu, Upasara? Hanya kamu yang belum kudengar."

Upasara menghaturkan sembah.

"Hamba tak begitu tahu mengenai strategi. Gusti Putri Gayatri barangkali bisa lebih memberikan penjelasan.  "

Raden Sanggrama Wijaya mengerutkan alisnya. Beberapa detik cuma. "Itu aku bisa menanyai sendiri. Aku ingin mendengarkan pendapatmu."

"Maafkan, Raden. Menurut saya lebih mudah menggempur Keraton Daha dibandingkan prajurit Tartar. Para senopati di Keraton Daha telah kita ketahui kekuatannya. Dan lebih banyak rakyat yang mendukung kita."

Sanggrama Wijaya tersenyum. Upasara menjadi kecil.

"Perhitunganmu ada benarnya. Keraton lebih lemah. Akan tetapi perhitunganku lain. Kita harus menggempur Tartar dulu. Dengan cara ini, kita membangkitkan perlawanan seluruh masyarakat. Para ksatria, para pendekar yang selama ini bersembunyi—seperti Ngabehi Pandu, akan keluar dari sarangnya. Mereka akan bangkit membela tanah airnya.

"Lalu kita belokkan untuk menggempur Keraton. Aku sedang menunggu persetujuan Paman Wiraraja. Perhitunganku sederhana: kita bermusuhan dengan Keraton. Akan tetapi dibandingkan dengan Tartar, kita jelas harus lebih memusuhi Tartar.

"Nah, bagaimana dengan keteranganku ini? "Cukup jelas?" Upasara menyembah.

"Tadi kamu menyebut Gayatri... Kenapa kautunjuk dia untuk melihat strategi? Kurasa agak salah alamat. Bukan Gayatri yang selama ini ingin mengetahui masalah strategi.

"Tetapi kenapa kau usulkan, Upasara?" "Hamba salah bicara. Maaf, Raden." "Katakan, jangan takut-takut."

"Gusti Putri Gayatri ternyata diam-diam mempunyai pengetahuan yang luas. Juga dalam ilmu silat. Setidaknya Paman Jaghana dan Paman Wilanda kini sedang berusaha menawarkan pengaruh pukulan Banjir Bandang atas petunjuk Gusti Putri.

"Barangkali pengetahuannya..."

Raden Sanggrama Wijaya menggeleng.

"Aku tidak percaya. Gayatri tidak mengetahui masalah itu. Tak mungkin. Karena aku mengenalnya. Tetapi sifatku adalah selalu memberi kesempatan. Upasara, kuangkat kamu menjadi senopati hari ini secara resmi. Kalau selesai persoalan ini, kamu bisa menagih padaku. Dan tugasmu yang pertama adalah kembali ke Keraton Daha. Melalui Kiai Sangga Langit, kamu bisa melihat kelemahan prajurit Tartar. Kudengar namamu disebut dengan hormat oleh Kiai Sangga Langit.

"Kalau kamu menganggap Gayatri bisa memberimu petunjuk, kuizinkan ia ikut serta denganmu. Dan seluruh tanggung jawab ada di pundakmu."

Geledek besar pun tak akan mengguncangkan Upasara seperti sekarang ini!

Berangkat ke Keraton Daha dengan putri yang mengguncangkan saraf-saraf yang paling peka?

Sesaat Upasara lupa untuk menghaturkan sembah. Menunduk bergeming. Raden Wijaya segera menyusun kekuatan. Para prajurit dari tlatah Madura yang mulai berdatangan, menyamar sebagai petani, menjadi nelayan di sepanjang Kali Brantas sambil memata-matai. Bagi Raden Wijaya agaknya tidak perlu memusingkan dengan pikiran kenapa kemudian Aria Wiraraja berbalik membantunya. Pada masa Baginda Raja Kertanegara, Aria Wiraraja merasa disingkirkan. Ia berpihak kepada Raja Muda Gelang-Gelang, Jayakatwang. Akan tetapi agaknya kehancuran Keraton Singasari serta cara-cara Jayakatwang menghancurkan, membuatnya sadar. Bahwa pilihannya keliru. Apalagi ketika Raden Wijaya dan rombongannya melarikan diri dari Keraton dan terlunta-lunta.

Aria Wiraraja adalah ahli strategi yang ulung. Bermain di belakang layar. Seketika itu pula jatuh keputusannya untuk membela Raden Wijaya, yang dianggap akan bisa mengembalikan citra Keraton. Ia mudah dan bisa diterima oleh Raja Jayakatwang ketika mengusulkan untuk memberi pengampunan kepada Raden Wijaya, asal yang terakhir ini membuat tanda penyerahan. Dan Aria Wiraraja mengatur semua ini.

Kini setelah merasa tiba saatnya, Aria Wiraraja mengirim prajuritnya untuk bergabung. Sungguh suatu liku-liku yang Ugrawe pun tak mampu mengendusnya.

Raden Wijaya merasa mendapat bantuan sepenuhnya.

Maka, dibuat dua rencana sekaligus. Pertama mengadakan persiapan, dan yang kedua mengirim telik sandi, atau tugas rahasia ke Keraton. Tugas inilah yang diberikan kepada Upasara Wulung.

Upasara meminta pamit kepada para pendekar yang masih menderita. Sejak pertama Wilanda dan Jaghana tetap bergeming. Seakan mati raga. Kepada Pembarep, Panengah, Wuragil, Dewa Maut, kedua Pu'un, Upasara menceritakan tugasnya. Hanya ketika tiba giliran Gendhuk Tri, Upasara menjadi bingung. Karena tidak berhasil menemukan.

Dalam perjalanan, Gayatri mengingatkan hal ini.

"Pasti ada apa-apanya dengan adik manis yang bandel ini," kata Gayatri yang memakai pakaian lelaki.

"Entahlah, Gusti "

"Selama Kakang masih memanggil dengan sebutan itu, sama juga membuka rahasia." "Maaf, Gay. "

"Adik manis Gendhuk Tri kelihatannya kurang suka kita jalan bersama.

Sebetulnya tak ada salahnya ia diajak." "Kita harus berangkat segera."

Dalam perjalanan, mereka berdua menukar dua kuda pada tempat-tempat tertentu. Ternyata pengaturan pasukan di sepanjang Kali Brantas sangat rapi dan teliti. Boleh dikatakan mereka berdua tak menemukan kesulitan sedikit pun. Di setiap tempat yang ditentukan telah disediakan dua ekor kuda segar, berikut makanan sekadarnya. Mereka yang mengganti kuda melakukan tanpa bertanya satu patah kata pun.

"Raden Wijaya memang hebat."

"Dalam hal mengatur seperti ini Kakang Prabu memang luar biasa. Tapi kenapa kamu mengajakku?"

Upasara merah wajahnya.

"Kalau yang ada di jagat ini hanya kita berdua, akankah kamu selalu malu-

malu?"

"Hmmmmm." Upasara menghela napas panjang. "Saya tak menyangka bahwa Raden Sanggrama Wijaya akan memberikan izin begitu cepat. Bahkan hanya kita berdua yang disuruh berangkat."

"Kamu menyesal, Kakang?"

"Tidak, Gus... tidak, Gay. Saya merasa bahagia sekali."

"Tahukah kamu kenapa Kakang Prabu memberi izin aku berangkat bersamamu?"

"Karena Kakang... Karena Raden Wijaya mengetahui saya mengharapkan itu?" "Ada benarnya. Akan tetapi hanya separuh. Kakang Prabu sangat

mengharapkan kembalinya takhta. Apa pun akan diberikan untuk merebut kembali

Keraton Daha. Jangan kata cuma aku—bersama tiga saudariku, akan diberikan. "Kakang Upasara, itulah yang kadang membuatku bimbang. Aku sudah ditakdirkan menjadi putri seorang raja. Dan sekarang ini, lelaki yang paling pantas mendampingiku adalah Kakang Prabu.

"Akan tetapi, sesungguhnya Kakang Prabu mengawiniku sebagai bagian dari kebesaran seorang calon raja. Sebagai yang paling berkuasa. Yang paling tinggi. Kakang, itulah nasib yang selalu kukatakan."

"Apa ruginya mendampingi seorang seperti Raden Wijaya?"

"Tak ada, Kakang. Kakang Prabu jauh lebih tampan darimu, darah birunya murni. Kekuasaan besar dengan persiapan dan masa depan yang disinari bulan kebesaran.

"Akan tetapi aku merasa, aku hanya sebagian dari kebesarannya itu. Seperti juga tombak pusakanya, seperti para senopatinya, seperti kuda-kuda kesayangannya."

"Juga ketiga saudarimu?"

"Bahkan kalau putri-putri yang melarikan diri sepuluh, semuanya akan diambil oleh Kakang Prabu. Sebagai pertanda kebesarannya. Tidakkah kamu merasakan yang kurasakan, Kakang?"

"Rasanya bisa. Tetapi apakah itu mungkin? Saya tak mempunyai darah biru. Saya hanya bagian yang kecil dari sekian banyak prajuritnya, yang merasa dendam kepada Raja Jayakatwang."

"Kalau kamu berani, kamu bisa, Kakang. Aku tak pantas mengatakan ini, akan tetapi aku akan mengangguk bila Kakang menarikku. Seperti juga ajakan perjalanan ini."

Upasara memandang wajah Gayatri.

Ketika Gayatri balik memandang, Upasara menunduk. Bibirnya bergetar. "Setelah semua urusan ini selesai, saya akan mengatakan langsung kepada

Raden Wijaya."

Upasara mengempit perut kudanya dan melarikan lebih kencang. Gayatri tersenyum, lalu menyusul. Sebagai putri Keraton, soal menunggang kuda bukan hal yang istimewa. Apalagi putri Baginda Raja Kertanegara yang mempunyai keleluasaan dan pandangan jauh ke depan.