-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 08

Jilid 08

Patih Angragani kaget. Sebelum ia sempat menghindar, tubuh Kawung Sen sudah menggelundung ke depannya. Benar-benar menggelundung. Bagi Kawung Sen yang mempunyai sifat angin-anginan, tak begitu peduli. Harus menyerang dengan cara ksatria atau cara semaunya. Menggelundung, mengencingi, menggigit tak jadi bahan pertimbangan. Kini pun demikian.

Dalam sekejap, Patih Angragani telah sibuk dengan usaha mempertahankan diri. Menyerang sekenanya. Justru di saat seperti itulah tenaganya berbalik ke arahnya. Kawung Sen bisa menangkis tikaman keris, dan memegang tangan Patih Angragani. Sekali kena pelintir, para prajurit yang mengepung pun undur ketakutan. Takut kalau-kalau melukai junjungannya.

"Aha, masih mau menyembunyikan Kakang Upasara?"

Luar biasa. Tokoh nomor dua di Keraton Singasari dipencet oleh seorang seperti Kawung Sen!

"Panggil Kakang Upasara atau kupatahkan tangan ini jadi tangkai daun singkong."

Biarpun dalam cengkeraman bahaya, walaupun dalam keadaan yang tak menguntungkan, Patih Angragani bukan seorang pengecut.

"Aku sudah bilang bahwa Upasara Wulung telah mati. Atas perintahku. Mau patahkan tangan silakan, mau bunuh lakukan saja." "Baik kalau itu yang kamu kehendaki." Kawung Sen mendongak. Menghimpun

tenaga.

"Kakang Upasara, aku tak bisa membalas budi baikmu. Di surga sana, biarlah orang ini menjadi pelayanmu, menjadi kuda tungganganmu."

Arya Bangkong secara tiba-tiba meloncat maju. Gerakannya memang tidak terlalu cepat, tetapi dengan memusatkan seluruh tenaga dalam mampu membuat Kawung Sen harus memperhitungkan juga. Sejak tadi Kawung Sen tidak menduga bahwa di antara para prajurit pilihan terdapat seorang yang kepandaiannya di atas rata-rata. Arya Bangkong yang berdiam diri sejak tadi melihat bahwa kini saatnya bertindak. Tanpa menghiraukan keselamatan pribadi, Arya Bangkong menyerang habis-habisan. Kawung Sen memang bisa mematahkan tangan Patih Angragani, namun harus secepatnya menangkis serangan. Dan menurut perhitungan lumrah, Kawung Sen akan menangkis serangan lebih dulu. Dan itu memang yang dilakukan. Kedua tangan Arya Bangkong yang maju bersamaan ditangkis dengan tangan kiri. Dua benturan tenaga yang kelihatan sekilas tidak imbang. Kawung Sen seperti terdesak. Padahal memang sengaja menarik tubuh lawan ke depan. Serampangan kaki yang kuat membuat tubuh Arya Bangkong mencelat ke udara. Disusul dengan satu pukulan keras, tubuh Arya Bangkong terlempar ke arah tiang utama.

Langsung ambruk dan tidak bangun lagi.

"Percuma kalian semua melawan. Tak bakal berumur panjang. Hanya dengan membawa kemari Kakang Upasara kalian akan selamat. Kalau tidak, Keraton ini akan kubakar sempurna!"

Dalam keadaan terluka, Arya Genggong menunjukkan kesetiaan yang tinggi. Tubuhnya menggelinding maju. Akan tetapi sekali kena sepak, tubuh itu mental. Terguling jauh.

Keadaan sungguh gawat.

Patih Angragani berada dalam bahaya.

Mendadak muncul bayangan yang berkelebat datang. "Tahan, Dimas."

Semua yang hadir terperanjat. Juga Patih Angragani. Karena sama sekali tak menyangka bahwa yang muncul adalah Upasara Wulung! "Kakang!"

"Lepaskan Mahapatih, Dimas. "

Kawung Sen melepaskan cekalannya. Wajahnya nampak beringas karena sangat gembira. Dengan mata terbuka dan mulut memamerkan tawa lebar, Kawung Sen memburu ke arah Upasara Wulung.

Saat itu di luar perhitungan siapa pun, Patih Angragani mencabut kerisnya dan langsung menusuk lambung Kawung Sen. Darah muncrat. Tubuh Kawung Sen menjadi limbung karenanya.

"Kau. "

Tusukan keris kedua kalinya terayun.

Upasara Wulung berdiri, akan tetapi terlambat!

Kawung Sen memegangi perutnya. Dua tusukan dari arah belakang kena sangat tepat. Dan sementara itu para prajurit pilihan sudah langsung menyerbu. Upasara mengembangkan tangannya untuk menangkis serangan yang datang sambil melindungi Kawung Sen.

"Tahan," teriak Upasara gusar. Kawung Sen rebah ke tanah. Upasara merangkul.

Perasaan gusar, amarah, dendam, bergejolak membanjir dan membuntu. Sulit dibayangkan kemurkaan yang telah sampai puncaknya. Adalah di luar pikirannya bahwa Patih Angragani akan menusuk dari belakang. Padahal sebelumnya begitu terancam jiwanya.

"Dimas..." Suara Upasara Wulung terdengar serak menyayat. Air matanya kering sebelum keluar. Bibirnya gemetar. Seluruh wajahnya keruh.

"...Dimas. " Berada dalam pangkuan Upasara Wulung, Kawung Sen merasa tenteram.

Wajahnya berusaha menyembunyikan keperihan.

"Kakang... ada surat... Kakang bisa baca... saya bodoh... Kakang..." Upasara merangkul erat.

Waktu berjalan begitu singkat untuk saling mengenal. Saling mengangkat saudara, dan kini harus berpisah dalam pelukan. Upasara mengheningkan cipta. Menutup mata Kawung Sen. Lalu meletakkan kepala Kawung Sen ke lantai pendopo. Ketika kemudian mendongak, wajahnya tetap muram.

Patih Angragani tetap berdiri teguh.

"Umurmu panjang... Ksatria Pingitan. Siapa yang menolongmu?"

"Mahapatih yang mulia... hamba menyayangkan kematian Dimas Kawung Sen. hamba menyayangkan Mahapatih yang mulia tidak melaporkan kepada Baginda

Raja... semuanya sia-sia. "

Upasara Wulung berdiri. Mengambil jala Kawung Sen. Membuka di bagian simpul, membuka surat. Sekelebatan saja. Lalu mendongak ke langit.

"Dewa Yang Menguasai Jagat... hari ini adikku Kawung Sen sowan kepadamu.... Dewa memanggil dengan cara yang mulia. " Upasara Wulung menoleh

ke Patih Angragani. "Dimas Kawung Sen menyampaikan berita. Berita dari Mpu Ugrawe kepada Raja Muda Gelang-Gelang dan para senopatinya. Perencanaan penyerangan ke Keraton.

"Entahlah, Mahapatih mau mendengar atau tidak."

Upasara membungkuk. Menggendong mayat Kawung Sen. Di bagian wajah ditutupi dengan kainnya sendiri. Lalu berjalan ke luar.

"Akan pergi ke mana kamu?"

"Mengubur Dimas Kawung Sen sebagaimana layaknya seorang ksatria. Menghadang kedatangan prajurit Gelang-Gelang. Keraton harus tetap dipertahankan dari keangkaramurkaan."

Patih Angragani berdecak. "Tak begitu gampang datang dan pergi.

"Upasara, aku adalah pemegang perintah mewakili Baginda Raja. Kalau kamu ingin pergi, silakan. Kamu masih hidup, itulah takdir. Akan tetapi katakan siapa yang menolongmu. "

"Mahapatih yang mulia... percuma semua gelar itu kalau tak bisa melihat kenyataan. Dalam Keraton ini bukankah Baginda Raja yang paling berkuasa? Siapa lagi yang bisa menolong hamba kalau bukan Baginda Raja sendiri?"

Jawaban Upasara membuat Patih Angragani melengak. Para prajurit yang mengepungnya mundur.

Lima tindak Upasara Wulung melangkah, Patih Angragani berteriak.

"Anak kecil bisa kamu dustai, tapi pasti bukan aku. Kamu datang dan kulemparkan ke kandang harimau, Baginda Raja saja tak tahu. Bagaimana bisa menolongmu?

"Para prajurit. tangkap! Mati atau hidup."

Upasara menjejakkan kakinya. Melayang ke atas. Sambil membopong mayat Kawung Sen, kaki Upasara hinggap di dinding bagian atas.

"Para prajurit, Keraton sedang diancam kehancuran. Benar atau tidak yang kukatakan, biar Baginda Raja yang mengambil keputusan."

Tubuh Upasara memantul lagi. Meloncat ke balik dinding. "Kejar!"

Sehabis memberikan perintah, Patih Angragani kembali ke dalem kepatihan. Semua prajurit utama dikerahkan. Semua prajurit disiagakan. Yang berada di rumah panggil.

"Usut! Siapa yang menyelamatkan Upasara. Tangkap Senamata Karmuka. Penjarakan dia.

"Kalau sampai besok belum ketemu siapa bangsatnya, semua akan dihukum

pecat." UPASARA menguburkan Kawung Sen di luar dinding Keraton.

Di tempat yang sepi. Lalu berdoa. Berlutut agak lama.

Sampai bulan purnama muncul. Baru Upasara Wulung sadar sejak tadi ada bayangan yang mengawasi.

"Maafkan hamba... Eyang Raganata. "

"Inilah takdir dewata.

"Semua bisa diperhitungkan, tapi semua bisa terjadi. Itulah yang namanya takdir." Mpu Raganata berdiri tegak. Seolah berbicara dengan rembulan di langit.

"Sewaktu kamu ditangkap, aku sudah menduga bahwa akhirnya kamu akan dimasukkan ke dalam sarang Sardula. Maka aku lebih dulu ke sana, dan mengambil gigi harimau itu. Dan bisa menyelamatkanmu.

"Aku berusaha menyembunyikanmu. Tetapi Kawung Sen datang dan akhirnya kamu harus keluar juga. Semua ini, kalau bukan takdir, apa namanya?

"Baginda Raja terlalu mulia. Terlalu tinggi angan-angannya. Angan-angan seorang raja gung binathara, raja besar, seharusnya begitu. Raja besar bagai rembulan. Tinggi, agung, dan menyinari.

"Tetapi di bawah ada karang, ada pohon-pohon yang begitu bodoh menutup sinar rembulan.

"Segala peringatan tak ada gunanya." Upasara menunduk.

"Sayang, kamu masih terlalu muda, Wulung... dan kamu terlalu berbakat. Hidup ini akan makin susah bagi yang muda, berbakat, dan mempunyai pengabdian."

"Maafkan hamba, Eyang. Bukankah Eyang masih bisa menyampaikan hal ini

kepada Baginda Raja?" Mpu Raganata tidak mengangguk, tidak menggeleng.

"Aku bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Saat ini pun kalau Baginda Raja mempercayaiku, sudah terlambat. Di dalam Keraton sendiri terpecah belah tak menentu. Aku sudah bisa memperhitungkan. Bahwa Ugrawe akan mempercepat serbuannya, begitu melihat ada sesuatu yang tak beres. Begitu ada yang bocor— seperti dibawa Kawung Sen, Ugrawe akan mengerahkan pasukannya.

"Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan apa-apa.

"Tetapi aku adalah bagian dari Keraton. Apa pun yang terjadi aku akan kembali ke Keraton. Angragani bisa menangkap aku. Bisa apa saja. Tetapi itulah bagianku.

"Wulung, kamu menyingkirlah.

"Sebelum fajar besok, sebelum kita beranjak dari sini, barangkali pasukan Jayakatwang sudah menyerbu. Menyingkirlah, cucuku. Hari depan masih bisa kauraih."

Mendadak Mpu Raganata membanting kakinya dengan geram. "Wulung, kamu tuli apa bisu.

"Kalau masih mempunyai rasa hormat sedikit kepada orang tua ini, pergilah.

Berangkatlah sekarang juga. Makin jauh makin baik." Upasara Wulung menghaturkan sembah.

"Eyang yang dihormati secara tulus oleh para kawula... apakah ada perbedaan antara seorang yang tak berkepandaian apa-apa dengan seorang empu dalam membela Keraton?

"Bukankah semua mempunyai kewajiban yang sama?"

Mpu Raganata makin berjingkrakan. Memang aneh. Di satu saat berdiam diri. Di saat yang lain berbicara dengan lembut, seakan berbisik kepada yang rahasia. Di saat lain marah dengan membanting kakinya. Di saat berikutnya malah berloncatan. "Kamu itu masih ingusan, Wulung. Kamu tahu apa tentang kewajiban? Ngabehi Pandu itu sama tololnya dengan kerbau dungu. Nasihatnya tak usah kamu hiraukan.

"Jangan merasa bisa menolong Keraton. Negara ini terlalu besar. Dan kamu ini bukan siapa-siapa. Lebih buruk dari apa-apa. Jangan ngomong ngawur. Negara tak tertolong olehmu. Segera minggat. Tolong jiwamu sendiri."

"Kalau hamba bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa dalam pengertian yang lebih tak berarti, untuk apa pergi jauh? Toh tak akan ada gunanya."

Mpu Raganata menggelengkan kepalanya.

"Seumur hidupku ini, baru sekarang aku menjumpai orang yang isi kepalanya lumpur. Lumpur keras. Tak bisa berpikir sedikit pun.

"Wulung, kalau kamu mau menyelamatkan diri, masih ada sedikit kesempatan. Prajurit-prajurit Keraton pasti mencarimu. Dan sebentar lagi pun pasukan Gelang- Gelang akan mencarimu.

"Kalau aku bisa bertemu Ngabehi Pandu, ia akan kukuliti. Karena dialah yang berdosa membuat kamu seperti ini.

"Jangan salahkan aku yang tua ini tak memberi nasihat padamu." Selesai berkata Mpu Raganata menghilang.

Tinggal Upasara sendiri. Menghadapi gundukan tanah. Tanah yang masih mengeluarkan bau tubuh Kawung Sen.

Inilah perjalanan panjang yang diperoleh. Dari serbuan gencar Perguruan Awan, terlunta-lunta di Banyu Urip, tapi tak ada hasilnya. Bahkan sambutan yang menyenangkan pun tidak. Dan bahkan, kini saudara angkatnya Kawung Sen turut menjadi korban.

Bukan soal meloloskan diri. Kalau itu yang ingin dilakukan, ia sejak lama bisa meloloskan diri. Tak perlu bersusah payah ke Keraton!

Kalau sekarang meloloskan diri, apa artinya? Bagi Upasara ini bukan pertanyaan yang mengada-ada. Sebagai seorang yang sejak kecil tak mengenal siapa orangtuanya, Upasara hanya mengenal Keraton. Mengenal negara sebagai orangtuanya, tanah airnya, sekaligus bagian utama dari dirinya. Bagi Upasara Wulung, inilah nilai satu-satunya. Kalau sekarang harus meninggalkan dengan cara melarikan diri, siapa yang bisa memaafkan kepengecutannya?

Sedikit atau banyak, apa-apa atau bukan apa-apa, masih ada yang bisa didarmabaktikan kepada Keraton.

Mendapat ketetapan itu, Upasara menjadi tenang. Ia beristirahat sejenak.

Berdoa lagi di makam Kawung Sen. Sampai fajar.

Kemudian Upasara menyamar dan kembali ke jurusan Keraton. Ia tak berani muncul di tempat yang banyak dikunjungi orang. Karena memang dirinya dicari-cari. Ia tak mempunyai teman siapa-siapa.

Upasara menangkap pembicaraan yang didengar secara selintas. Bahwa Baginda Raja akan mengadakan pesta keagamaan. Bahwa Senamata Karmuka kini ditahan. Bahwa Patih Angragani mengadakan sapu bersih bagi prajurit yang dicurigai tidak setia. Mereka yang diperkirakan mempunyai hubungan dengan lolosnya Upasara langsung mendapat hukuman.

Sementara itu Bagus Respati dengan nekat mengadakan pesta perkawinan secara besar-besaran.

Pada saat itulah prajurit Gelang-Gelang datang ke Keraton.

Raja Muda Jayakatwang sendiri berada di depan. Diapit oleh Ugrawe dan Kiai Sangga Langit! Dengan seluruh pasukannya lengkap bersenjata.

Benar dugaan Mpu Raganata! Ugrawe akan menyerang lebih cepat dari dugaan siapa pun. Di depan gerbang Keraton, Raja Muda Gelang-Gelang memerintahkan para prajuritnya mengibarkan panji-panji. Disusul oleh terompet dan genderang. Ugrawe memimpin prajurit langsung mengepung.

"Kalau Baginda Raja bersedia datang menghaturkan sembah kepada aku, Raja Muda Gelang-Gelang, aku akan mengampuninya. Jika tidak, takhta yang bukan haknya harus kembali kepadaku!

"Patih Angragani, sampaikan hal ini kepada Baginda Raja. "Kalau tidak, akan kubuka gerbang sekarang juga."

Sewaktu ancaman itu disampaikan, Patih Angragani sangat murka. Seluruh prajuritnya yang pilihan disiapkan. Dalam sekejap semua telah bersiap.

Patih Angragani keluar menyambut.

"Kamu keliru. Jayakatwang, kamu anak bawang. Anak ayam tak bisa melawan garuda. Anjing kecil yang dipelihara tak akan kuat melawan harimau.

"Akulah panglima   perang.   Akulah   senopati   utama   Keraton   Singasari.

Hadapilah aku lebih dulu."

"Hahaha. " Ugrawe tertawa bergelak. "Sungguh tolol manusia satu ini. Kamu

tak punya apa-apa lagi. Prajuritmu cuma beberapa gelintir. Para ksatria sudah kubasmi di Perguruan Awan. Bantuan dari raja muda di sekitar tak akan datang, karena semua jalan keluar sudah ditutup. Pasukanmu yang terbesar sedang mengadakan pesta di kediaman kami. Bagus Respati sedang berfoya-foya, bermimpi menjadi pengantin. Pengantin yang celaka.

"Angragani, kamu tak punya kesempatan. Bahkan untuk meminta ampun telah terlambat. Panggil dukunmu, dan aku akan menyuruhmu menjilati pantat kuda."

"Kamu terlalu omong besar!"

"Kupuji sedikit kegagahanmu. Tapi itu terlambat. Dalam penyerbuan ke Perguruan Awan, kami sedikit keliru. Ada yang lolos. Sekarang ini tak mungkin lagi."

Ugrawe menyembah ke arah Raja Muda Gelang-Gelang. "Izinkanlah hamba mengembalikan takhta, Raja Muda. " Jayakatwang mengangguk.

Dan penyerbuan besar-besaran pun terjadilah. Prajurit pilihan dari Keraton Singasari mencoba mengadakan perlawanan. Akan tetapi gelombang pasukan yang dipimpin oleh Ugrawe bagaikan gelombang menyapu pasir pantai. Ugrawe sendiri memimpin langsung pertempuran di tengah. Dari sayap kiri muncul Rawikara memimpin penyerbuan. Dari sayap kanan, Kiai Sangga Langit melabrak siapa saja.

Patih Angragani sendiri tak sempat masuk ke dalam ketika dengan geram Ugrawe, dengan pukulan Sindhung Aliwawar, membuatnya rubuh. Di tengah berkecamuknya pertempuran, Upasara Wulung menerjang masuk dari belakang. Lewat bawah tanah tempat kandang harimau, Upasara masuk ke dalam Keraton.

Masuk ke dalam bagian utama Keraton. Di depan pintu, Mpu Raganata berdiri.

Seorang raja adalah penguasa Mati dan hidup, itu biasa...

Seorang raja adalah penguasa yang bijaksana Tak seharusnya meninggal di dalam pesta...

Upasara baru mengerti bahwa Mpu Raganata mencoba menyadarkan Baginda Raja yang masih berada di ruangan dalam.

Seorang raja, seharusnya bijaksana dalam perang dalam ranjang Seorang raja, seharusnya

tidak meninggal dalam pakaian pesta... Pintu terbuka.

Baginda Raja keluar. Langkahnya tetap gagah berwibawa. Pandangannya tetap tajam, keras, dan menguasai. "Paman tak usah bernyanyi dua kali.

"Aku raja yang tahu di mana harus beristirahat. Aku tahu bahwa pengkhianat yang paling busuk, manusia yang paling hina di dunia, adalah seorang yang membalas budi kebaikan dengan pengkhianatan.

"Jayakatwang, temuilah aku. Tataplah aku kalau berani."

Di ruangan dalam Keraton, pertempuran tak seimbang pun terjadi. Ugrawe menyerbu masuk, bersama dengan Kiai Sangga Langit, dan Rawikara serta para pendekar. Baginda Raja mempertahankan diri bersama dengan Mpu Raganata yang terus-menerus melindungi. Upasara berusaha untuk merangsek maju, akan tetapi setiap kali terdesak mundur.

Ugrawe telah merencanakan penyerbuan dengan jitu. Dengan memancing para ksatria berkumpul di Perguruan Awan. Lalu menyikat habis. Dengan Sayembara Mantu, para bangsawan pun disikat habis. Keraton Singasari diisolir dari bantuan sekitarnya. Situasi dalam Keraton dibikin keruh. Saat itu kemudian ia menyerbu. Dalam penyerbuan itu pun Ugrawe telah memakai perhitungan. Begitu mendobrak masuk—dengan membawa Raja Muda Gelang-Gelang, pintu gerbang akan dibuka— langsung mengadakan bumi hangus. Segala benda dirusak, dibakar, dihancurkan. Terus melabrak hingga ke ruang dalam.

Pada suasana pesta, persiapan tak akan sepenuhnya. Dengan keperkasaan ilmunya, ditambah kelicikan yang luar biasa, kini tinggal mengambil langkah terakhir.

Mpu Raganata bertarung dengan gagah berani. Sendirian, tokoh tua ini melindas siapa pun yang berusaha mendekat. Namun serbuan makin lama makin kuat. Kiai Sangga Langit sendiri langsung terjun ke medan pertempuran. Ugrawe juga menggunting dari sisi lain.

Menghadapi dua keroyokan, Mpu Raganata makin keteter. Apalagi Mpu Raganata berusaha mati-matian untuk melindungi Baginda Raja. Sehingga perhatiannya terpecah. Bertarung habis-habisan Mpu Raganata akhirnya terdesak mundur.

Upasara mencoba bergabung. Dengan Banteng Ketaton ia menyerbu masuk.

Kiai Sangga Langit langsung memapaki. Satu demi satu prajurit Keraton jatuh berguguran. Hujan anak panah makin mengganas. Ugrawe sendiri kemudian melontarkan bubuk racun sehingga tanpa peduli prajuritnya sendiri atau prajurit lawan bisa disapu bersih. Ia sendiri dengan Kiai Sangga Langit dan Rawikara telah membekali diri dengan obat pemunah. Sehingga terbebas dari pengaruh racun!

Upasara merasa dadanya tertekan keras. Rasa sakit yang dulu menyerang ulu hatinya makin membuatnya sesak. Mpu Raganata pun terdesak. Tinggal waktu saja.

Dan memang itulah yang terjadi.

Baginda Raja terluka, tersungkur. Raja diraja Keraton Singasari, raja yang berpandangan luas, gugur di keratonnya sendiri. Mpu Raganata mulai sempoyongan karena tubuhnya dipenuhi dengan anak panah.

Upasara sendiri sudah sempoyongan. Ugrawe tak bisa melupakan Upasara.

"Ini bagianku," teriaknya lantang. Kedua tangan berputar di atas kepala.

Langsung menyerang.

Dalam keadaan biasa pun, Upasara bukan tandingan Ugrawe. Maka kali ini hanya bisa memasrahkan diri. Tapi sedetik itu, Mpu Raganata meloncat tinggi dan menahan gempuran. Akibatnya, tubuh Mpu Raganata terpental jauh. Ugrawe sendiri terlempar tiga tombak. Hingga punggungnya menghantam dinding yang langsung jebol!

Benturan tenaga maha dahsyat!

Hanya saja Ugrawe bisa bangkit kembali. Sementara Mpu Raganata tetap

rebah.

"Empu..."

"Eyang..."

"Sudah saya bilang, kamu lebih baik lari. Di belakang hari masih bisa melawan." Ugrawe berdiri di depannya. Kiai Sangga Langit bersiap. Rawikara menghunus pedangnya.

"Upasara... hari ini kamu akan mati di tanganku. Selesailah sudah seluruh kisahmu."

Upasara Wulung berdiri tegap. "Majulah bersama. Keroyoklah."

"Kami tak peduli keroyokan atau tidak. Kalau bisa merebut takhta Keraton, orang lain yang puas. Tapi membunuhmu, aku yang paling puas. Akulah orang paling sakti di jagat raya. "

"Siapa berani begitu sombong? Bukankah aku sudah memotong telinganya?" Suara siapa lagi kalau bukan suara Gendhuk Tri?

Bocah yang masih memakai kemben dengan rambut terurai itu berjalan masuk. Dalam kepungan dua pendekar besar dan seorang seperti Rawikara, Gendhuk Tri ternyata tak gentar. Berjalan di antara mayat-mayat yang berserakan, di antara simbahan darah, ternyata tak membuat kalimatnya berubah.

"Dewa mengirimmu kemari untuk mati bersama."

"Memang aku sengaja kemari. Cuma susah masuk tadi. Di luar terlalu banyak orang." Suara kenesnya tetap menggema.

Gendhuk Tri melihat sekeliling. Melihat ke Upasara.

Dan kepada Mpu Raganata.

"Rama Guru, kenapa kamu di situ?"

Baru sekarang Upasara sadar bahwa Rama Guru yang disebut-sebut itu adalah Mpu Raganata! Jadi Jagaddhita dan Gendhuk Tri termasuk murid langsung Mpu Raganata! Pantas saja Mpu Raganata tahu banyak hal! Pantas saja Rama Guru begitu membenci raja tetapi sekaligus juga memuja! "Kamu luka, Rama Guru. "

Mpu Raganata berusaha duduk. "Aku ngantuk, anak manis."

"Mbakyu mati karena dikubur hidup-hidup orang-orang ini... aku disuruh kemari. Rama Guru, orang-orang ini akan kuhabisi. Yang satu itu pernah kupotong telinganya."

"Bagus. Bagus. Tak percuma jadi muridku...." Suara Mpu Raganata makin

lemah.

Rawikara merasa paling panas. Resi Ugrawe adalah guru yang sangat dikagumi. Mana mungkin dihina begitu saja? Mana mungkin seorang bocah awut-awutan mengatakan telah memotong telinga mahagurunya? Ini kesempatan buat membalas dendam!

Pedang Rawikara bergerak cepat. Gendhuk Tri mengegos pendek, pergelangan tangannya bergerak cepat. Mencengkeram tangan Rawikara. Kalaupun tangan itu bisa ditarik kembali, mata Rawikara membelalak. Tubuhnya menjadi hitam seketika. Dua tindak saja, langsung tubuhnya tersungkur!

Meninggal seketika.

Ugrawe melangkah mundur.

Kiai Sangga Langit mengerutkan keningnya.

Ilmu hitam apa pula ini? Sekali sentuh langsung menyebarkan racun?

Bahkan Rama Guru pun takkan bisa menerangkan dengan cepat. Hanya Upasara yang tahu. Karena ia bersama Gendhuk Tri di dalam gua. Ia mendengar cerita bahwa mayat Padmamuka dan Pu'un dimasukkan ke dalam gua! Dua tubuh yang sangat beracun! Dan racun itulah yang berpindah ke tubuh Gendhuk Tri. Gendhuk Tri sendiri tak mungkin keracunan karena sebelumnya telah kena ilmu sirep Pu'un!

Boleh dikatakan semua kejadian luar biasa ini terjadi secara kebetulan. Semua memang ulah Gendhuk Tri sendiri. Sejak ia muncul dan memamerkan diri dengan omongan Tamu dari Seberang, ia diincar. Salah satu yang mengincarnya adalah Pu'un yang menggunakan ilmu sirep. Bahkan Jagaddhita sendiri tak berhasil membebaskan ilmu yang aneh ini.

Ketika Gendhuk Tri dan Jagaddhita terkubur dalam lubang gua, keadaannya sangat menyedihkan. Sepeninggal Upasara Wulung, mereka berdua cuma bisa pasrah. Jagaddhita dalam keadaan terluka parah, Gendhuk Tri masih terkena pengaruh sirep Pu'un. Kejadian menjadi lebih buruk lagi ketika mayat Pu'un dan Padmamuka dimasukkan ke dalam gua.

Hal ini didengar oleh Upasara. Bisa diduga ini semua memang rencana Ugrawe. Agar mereka yang masih tersisa, bisa bertahan dalam gua yang ditimbun kalaupun bisa bertahan, akan mati terkena racun dahsyat Padmamuka.

Memang itulah yang terjadi. Mayat Padmamuka dan Pu'un menggembung, membusuk. Dan mengeluarkan gas beracun kuat ketika tubuh yang menggembung itu pecah. Kejadian ini terjadi pada setiap mayat. Hanya bedanya, gas yang keluar sekarang ini adalah gas maha racun. Bisa dibayangkan kalau sekujur tubuh Padmamuka sendiri sebenarnya gumpalan dari racun sepenuhnya. Upasara mengetahui secara langsung bagaimana hebatnya racun dalam tubuh Padmamuka yang mengalir dalam setiap tetes darahnya. Bahkan obat pun menjadi racun bagi tubuhnya yang penuh racun! Dan mengenai Pu'un dengan ilmu yang misterius, dalam banyak hal sama gawatnya.

Gumpalan asap dari tubuh kedua tokoh beracun inilah yang diisap oleh Gendhuk Tri dan Jagaddhita. Gendhuk Tri bisa bertahan karena telah mempunyai dasar yang diberikan oleh Pu'un. Sedangkan Jagaddhita tak bisa bertahan. Begitu asap racun terisap ia merasa kesadarannya hilang dalam waktu cepat. Sebelum meninggal Jagaddhita berpesan agar Gendhuk Tri menyusul ke Keraton.

Dan Gendhuk Tri masuk ke dalam Keraton di saat yang genting. Bahwa ia bisa leluasa masuk, itu karena memang kepandaiannya cukup tinggi. Bahwa racun dalam ruangan tak mempengaruhi dirinya, karena dalam tubuhnya sendiri sudah mengalir berbagai racun.

Makanya ketika Rawikara kena tergores pergelangan tangannya, usianya tak bisa dipertahankan lagi.

Kiai Sangga Langit menggeram pendek. Tubuhnya yang perkasa meloncat ke depan. Gendhuk Tri meloncat menghindar. Tetapi tenaga dorongan lawan sangat kuat. Beberapa kali Gendhuk Tri berusaha maju, akan tetapi seperti berhadapan dengan tembok kuat. Kiai Sangga Langit sendiri agaknya tak mau menjamah tubuh Gendhuk Tri. Ia bertempur menjaga jarak. Pukulan jarak jauh.

Upasara bangkit kembali.

"Ini bagianku, Gendhuk," seru Upasara sambil memapak maju. "Kamu selesaikan si tua itu."

Upasara masih berpikir untuk menghadapi dengan strategi kilat. Dalam beberapa hal, Upasara mengerti gerakan Kiai Sangga Langit. Pernah mengenal. Juga secara teori mempelajari apa yang dilisankan oleh Nyai Demang. Jadi untuk sementara bisa mengimbangi. Sementara Ugrawe akan dibikin repot oleh Gendhuk Tri.

Akan tetapi bukan Ugrawe kalau menyerah begitu saja. Sekali lagi Ugrawe mengibaskan tangannya ke atas. "Ratakan seluruh Keraton."

Perintahnya segera disambut dengan teriakan dan gemuruh keras. Puluhan prajurit menyerbu masuk. Mengeroyok dengan membabi buta. Anak panah, api, tombak, pedang bagai hujan yang dituang dari langit-langit.

Tak ada pilihan lain. Upasara meloncat mundur. Bersama dengan Gendhuk Tri melarikan diri lewat bagian bawah Keraton.

Pekik kemenangan terdengar di mana-mana.

Raja Muda Gelang-Gelang telah berhasil mengalahkan Baginda Raja dengan gilang-gemilang. Tak ada lagi sisa perlawanan.

Berakhirlah pula sebutan Keraton Singasari. Raja Jayakatwang yang menaklukkan Keraton Singasari memang masih menyebutnya Keraton. Akan tetapi sebagai keraton bawahan, yang diperintah langsung dari Daha, Kediri.

Untuk selanjutnya, keraton yang sama pun disebut Keraton Daha, karena dianggap oleh Raja Jayakatwang sebagai bagian dari kebesaran Daha. Kebesarannya. Berakhirnya Keraton Singasari bukan hanya ditandai dengan berakhirnya nama dan diucapkan dengan nama baru, akan tetapi juga membawa perubahan yang lain.

SEMENTARA itu, Upasara Wulung bersama dengan Gendhuk Tri melanjutkan perjalanan. Menghindari usaha pencarian besar-besaran. Keduanya berjalan bersama, menempuh perjalanan dari satu desa ke desa yang lain.

"Selama Kakang tidak ada luka, racun saya tidak akan masuk ke tubuh Kakang."

"Gendhuk... entah kapan kita bisa selalu bersama-sama. Makin lama kita makin tersudut. Satu-satunya harapan adalah mencari Bagus Respati. Putra Patih Angragani ini bisa diharapkan tampil.

"Ayolah kita cari dia."

Perhitungan Upasara adalah bahwa dengan Bagus Respati perlawanan bisa lebih diorganisir. Apalagi Bagus Respati sendiri adalah menantu Kiai Sangga Langit. Hubungan darah secara langsung ini akan membuat gerakan yang dilakukan terlindungi.

Namun justru perhitungan Upasara meleset besar!

Ketika mengetahui di mana Bagus Respati berada, Upasara mengendap mendatangi tempat tersebut. Bersama Gendhuk Tri mereka masuk ke dalem kepatihan yang berada di luar dinding Keraton.

Yang menyambut kedatangan mereka adalah penjagaan yang luar biasa rapatnya. Malam hari Upasara meloncati dinding dan masuk ke dalam ruangan. Akan tetapi begitu tubuhnya melayang masuk, dalam sekejap saja telah dikepung rapat.

"Cocok semua perhitungan, kamu akan datang kemari," terdengar suara merdu mendayu. Hati Upasara guncang. Ia pernah mendengar suara yang sangat merdu itu.

Siapa?

Seorang lelaki, tampan, putih wajahnya, menatap ke arahnya.

"Kamu pasti datang kemari, Upasara. Senang bertemu kembali denganmu." Upasara menggelengkan kepalanya.

"Kamu Dyah Muning... suaramu tetap merdu."

"Ya, akulah mempelai wanita yang diperebutkan. Aku sengaja menyamar sebagai wanita untuk memancing kalian para bangsawan berbunuhan. Sayang kamu tak mau menjadi 'suamiku'. Kalau kamu bersedia, masalahmu sudah selesai."

"Kalian memang busuk."

"Kami ingin balas dendam. Kebetulan Ugrawe memberi kesempatan ini.

Apakah kamu masih mau menanyakan nasib Bagus Respati?"

Upasara tak bisa membayangkan bagaimana kejadian yang dialami Bagus Respati. Pada saat masuk pelaminan sebagai pengantin, mengetahui bahwa yang ditemui adalah seorang lelaki! Yang sengaja menjebaknya.

"Hanya ada satu perintah dari Ugrawe yang belum terselesaikan. Yaitu membunuh atau menangkapmu hidup-hidup. Terserah kamu mau menyerahkan diri atau aku memaksamu."

Gendhuk Tri langsung beraksi. Dengan berjumpalitan ia menyerbu maju. Agaknya berita bahwa Gendhuk Tri menyimpan racun telah terdengar luas. Sehingga para penyerang melakukan serangan jarak jauh. Upasara sendiri bisa memaksa lawan mundur, akan tetapi tak bisa mendesakkan kemenangan.

Mengingat lawan terus mendesak tanpa peduli, Upasara dan Gendhuk Tri terpaksa melakukan penyerangan mati-matian. Korban terus berjatuhan, akan tetapi lawan juga terus bertambah.

Sampai fajar pertempuran terus terjadi.

Sampai "si suara merdu" memerintahkan prajuritnya untuk mundur dan meminta bantuan. Saat itulah Upasara dan Gendhuk Tri meninggalkan pergi.

Bergandengan.

Selama itu pula pencarian terus-menerus dilakukan. Suasana Keraton yang kini dipenuhi pesta pora kemenangan tak pernah mengendurkan usaha pencarian atas Upasara dan Gendhuk Tri. Tak ada bayangan mereka berdua.

Beberapa anggota sandi melaporkan mereka muncul di satu tempat, tapi ketika diserbu tak ketahuan rimbanya.

Sebagian kecil mengatakan mereka sering melihat sepasang manusia— satu lelaki muda dan satu bocah perempuan—di Perguruan Awan. Tetapi tak ada yang memastikan apakah mereka Upasara dan Gendhuk Tri atau bukan. Tak ada yang memastikan apakah mereka itu bayangan saja atau benar-benar manusia.

Tak ada. Sampai waktu yang agak lama. di lautan asmara

gelombang rindu menyapu pada batu karang kesetiaan tersisa pasir penantian

di pantai kemesraan membadai kenangan menjilati bersama pasang laut mencumbu lumut birahi meniti buih

saat purnama kau tiba

karena begitulah aku garam putih tak mungkin pisah dari laut birumu TULISAN itu terpahat di dinding benteng Keraton.

Yang luar biasa adalah pahatan itu pada bagian dinding yang paling tinggi. Dan cara menuliskannya terbalik. Jadi saat penulis memahatkan dengan tubuh menghadap ke tanah!

Ini sungguh luar biasa. Dinding Keraton yang didiami Raja Jayakatwang berada dalam pengawalan yang ketat. Tak sembarang hewan terbang bisa melintas di sekitarnya. Dinding benteng Keraton itu sendiri tegak berdiri sekitar empat meter dari tanah. Susunan batu bata direkat erat dengan tanah liat yang telah mengeras, karena untuk menyatukan diperlukan perasan buah aren. Pengorbanan yang besar karena biasanya dipakai untuk gula, sebagai pemanis. Makanya bukan hanya lengket, tapi juga mengilat.

Ternyata, tanpa diketahui sebelumnya, tulisan itu sudah ada di situ. Lolos dari pengamatan.

Mula pertama diketahui oleh penjaga pintu gerbang yang melihat ada sesuatu yang salah dalam pandangannya. Ada sesuatu yang rusak di bagian atas dinding benteng Keraton. Barulah-kemudian diketahui bahwa itu suatu coretan. Lebih mengejutkan lagi bahwa ternyata tulisan yang bisa dibaca.

Untuk bisa membacanya, orang harus memanjat dinding, berada di atasnya, dengan bertiarap menghadap ke tanah, sejajar dengan dinding.

Lebih keheranan lagi, ternyata si pemahat dinding agaknya mempunyai perhitungan yang matang. Tulisan itu akhirnya akan terbaca oleh masyarakat ramai. Karena persis di depan dinding benteng Keraton ada kubangan air hujan. Di musim penghujan seperti ini, air penuh. Air itulah yang menelan bayangan tulisan di dinding. Meskipun si pembaca harus mengeja dari kanan ke kiri. Sebenarnya ini pula yang menyebabkan seluruh masyarakat ramai memperbincangkan!

Pembicaraan berkembang ke arah tak menentu. Semuanya ditambahi bumbu.

Sebagian mengartikan bahwa itu sekadar perbuatan orang gila. Menuliskan sajak percintaan di dinding benteng Keraton. Sebagian lagi—secara diam-diam, mengartikan sebagai akan munculnya pembalasan.

Tak bisa dipungkiri. Bahwa sejak Jayakatwang, Raja Muda Gelang-Gelang, naik takhta di Singasari dengan menyingkirkan Baginda Raja Kertanegara, banyak sekali perubahan yang terjadi. Sebagai senopati utama yang menjadi tangan kanan Raja Jayakatwang, Ugrawe melakukan pembersihan umum. Sisa-sisa bangsawan yang menjadi pengikut Kertanegara disikat habis. Atau mereka yang dicurigai akan membangkitkan kekuasaan lama, disingkirkan. Beberapa pejabat memenuhi tempat penahanan. Selebihnya diselesaikan dengan hukuman mati di alun-alun utama. Ugrawe yang naik pamor, bersama dengan Kiai Sangga Langit bagai sepasang tangan dan kaki yang jauh lebih kejam dan lebih berkuasa dari Raja Jayakatwang. Apalagi Ugrawe memegang komando secara langsung.

Dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari Ugrawe-lah yang memerintahkan ini dan itu. Mulai dari pemilihan prajurit utama sampai dengan menunjuk siapa yang harus dihukum mati hari ini.

Pemerintahan Jayakatwang sedang menanamkan fondasi kekuasaan baru. Dengan cara yang keras. Dalam keadaan memegang semua posisi yang menentukan, Ugrawe bisa mematahkan setiap usaha untuk mengacaukan pemerintahan. Walaupun gangguan masih muncul, akan tetapi dianggap tak mengganggu roda pemerintahan.

Ugrawe telah merencanakan dengan dahsyat sebelum merebut takhta Keraton Singasari. Beberapa ksatria telah dikumpulkan ke Perguruan Awan untuk dilenyapkan—dengan cara apa saja. Para bangsawan yang ada di sekitar Keraton telah dipancing untuk mengikuti Sayembara Mantu, dengan memperebutkan Dyah Miming Maduwani, yang ternyata adalah seorang lelaki, putra dan sekaligus murid Kiai Sangga Langit. Sebagian lain dipaksa untuk berpihak dengannya. Sebagian yang lain lagi malah sudah mengikuti jejak, untuk langsung berpihak.

Dalam perhitungan Ugrawe, tak mungkin ada lagi yang pantas diperhitungkan.

Artinya yang setakar dengan kemampuannya.

Dalam kamus Ugrawe, semua lawan utama sudah dilenyapkannya.

Maka tak urung kerutnya bertambah ketika menyaksikan sendiri pahatan di dinding benteng Keraton.

"Sungguh hebat. Di saat seperti ini masih ada yang berani mati berbuat onar.

Nyawa siapa yang telah begitu gerah?

"Aha, sekian lama istirahat ada juga permainan baru."

Walaupun kelihatan tetap tenang, senopati yang tinggi dan misalnya yang bergerak karena tiupan angin ini tak urung berpikir keras juga. "Selama ini semua jago, semua pendekar, semua ksatria telah berhasil kukalahkan. Meskipun apa yang dicoretkan di dinding lebih merupakan demonstrasi kepandaian yang sesungguhnya, akan tetapi jelas bukan orang sembarangan.

"Di saat lalu, hanya tokoh sejajar dengan Mpu Raganata yang bisa melakukan itu dengan enteng tanpa mungkin diketahui orang lain. Akan tetapi dalam penyerbuan ke Keraton, empu tua itu telah terbunuh.

"Memang ia dikenal juga sebagai Rama Guru yang mempunyai sekian banyak siswi di dunia—dan salah satu yang berhasil melukai telingaku— namun rasanya selama ini tak ada yang begitu tinggi ilmunya. Kecuali Jagaddhita yang telah terkubur. Gendhuk Tri, kalaupun maju pesat, tak mungkin bisa melakukan itu. Tulisannya sangat bagus, dan huruf-hurufnya juga bagus. Pastilah seorang yang cukup terpelajar. Ada satu tokoh lagi. Yang bernama Upasara Wulung. Ia sangat cerdas, penuh bakat, elok, dan bersifat ksatria. Mempunyai pendidikan Keraton yang baik. Namun, kalaupun ia bisa menulis seperti itu, masih juga harus diperhitungkan bahwa caranya mengentengkan tubuh tak semudah itu. Ini menunjukkan kelasnya yang sudah prima.

"Kalau tak salah, dulu di Keraton Singasari ada seorang prajurit yang paling tinggi ilmu meringankan tubuhnya. Ia digelari sebagai capung dan bernama Wilanda. Ia satu-satunya orang yang bisa melayang di angkasa. Akan tetapi bahkan sejak pertempuran di Perguruan Awan, ia sudah terluka parah. Hanya malaikat penyembuh yang mampu mengembalikan kekuatannya. Dan malaikat itu tak pernah ada.

"Satu-satunya kemungkinan adalah munculnya seorang ksatria baru. Tak bisa tidak. Dalam dunia persilatan yang begini luas, sangat mungkin sekali lahir keajaiban. Boleh jadi ini pertanda bakal ramai lagi.

"Merebut Keraton, menggulingkan raja, lebih mudah dibandingkan mengurusi para ksatria. Hmmmmm, ilmu silat ada yang tinggi, ada yang tertinggi. Tapi para ksatria semua merasa tinggi tak bisa dikalahkan.

"Kejadian ini sendiri tak seharusnya merampas perhatianku. Aku harus lebih keras berlatih. Agar suatu hari, kalau Kiai Sangga Langit ingin berbuat yang tidak- tidak, aku bisa mengatasi."

Sebagai seorang panglima perang, Ugrawe tak begitu kuatir. Ia merasa kekuasaannya cukup besar dan bisa menguasai keadaan dengan baik. Akan tetapi sebagai seorang jago silat, perhitungannya agak sedikit berbeda. Sebagai jago silat kesohor yang merasa dirinya nomor satu, Ugrawe tak mau melihat tumbuhnya jago lain yang bisa menjadi saingannya di belakang hari.

Meskipun puncak kekuasaan bagi dirinya telah tercapai, akan tetapi pada dasarnya Ugrawe adalah seorang jago silat. Kebanggaan yang memenuhi rongga dadanya bukan pangkat dan kekuasaan, melainkan keunggulan silatnya.

Itulah sebabnya, ia memperhitungkan kehadiran Kiai Sangga Langit.

Bagi Ugrawe kehadiran Kiai Sangga Langit masih menyimpan teka-teki. Ia yang aslinya bernama Bok Mo Jin adalah seorang pendeta yang termasuk kelas tinggi di daratan Cina. Ilmunya bukan hanya berbeda, tetapi juga menunjukkan kelebihan yang luar biasa. Bahwa Kiai Sangga Langit tak mau pulang kembali, itu juga karena ambisi darahnya sebagai pesilat. Untuk sementara urusan negara bisa ditunda. Karena ingin mengeduk lebih banyak lagi. Bersama dengan Bok Mo Ing yang menyamar sebagai Dyah Muning Maduwani. Mo Ing cukup jago. Belum pernah bertemu secara langsung, akan tetapi dengan Pangeran Muda Rawikara kelihatan seimbang. Bagi Ugrawe ini perlu diperhitungkan. Rawikara adalah muridnya secara langsung dan adalah putra Raja Jayakatwang. Mempunyai keleluasaan luar biasa dan digembleng sendiri secara keras. Akan tetapi kenyataannya belum tentu bisa mengungguli Mo Ing dengan mutlak. Ini saja menjadi pertanda bahwa Kiai Sangga Langit bukan sembarangan.

Apalagi bagi mereka berdua lebih banyak waktu untuk terus-menerus berlatih ilmu silat, mempertajam indriawi, dan memperdalam tenaga dalam. Sementara Ugrawe harus disibukkan dengan urusan pemerintahan.

Tadinya Ugrawe menduga bahwa tulisan di dinding Keraton ini ulah Kiai Sangga Langit, kalau mengingat ilmunya yang tinggi. Akan tetapi agak mustahil, karena Kiai Sangga Langit tidak begitu paham huruf serta bahasa setempat. Yang lebih mungkin adalah Mo Ing. Anak muda ini dengan cepat dan fasih menguasai bahasa sehari-hari, dan bisa lebih cepat lagi mempelajari dari berbagai kitab. Sangat mungkin sekali adalah Mo Ing, mengingat ia bisa leluasa berada dalam Keraton, atau keluyuran di sekitarnya. Dan kehadirannya tak mencurigakan jika pun suatu ketika berada di dinding Keraton atau bahkan berada di dalam Keraton sekalipun.

Kesimpulan terakhir ini membuat Ugrawe merasa lebih senang. Jika benar Mo Ing yang melakukan, ini berarti intrik dari dalam. Bukannya tidak membahayakan, akan tetapi bisa dengan cepat dikuasai. Ugrawe memanggil Rawikara untuk menemuinya di depan senopaten utama.

Tempat kediaman resmi senopati utama, panglima angkatan perang Keraton.

"Ada persoalan mendadak apa yang menyebabkan Pujangga Terakhir memanggil hamba?" sembah Rawikara dengan hormat.

"Pangeran Anom yang akan menguasai jagat di kemudian hari, saya ingin menghaturkan sesuatu. Harap Pangeran Anom tak tersinggung. "

Ugrawe walaupun resminya adalah guru Rawikara, akan tetapi secara kebangsawanan masih tetap di bawah Rawikara. Biar bagaimanapun, Rawikara adalah putra mahkota raja yang sedang berkuasa. Sedang Ugrawe hanyalah panglima perang, yang statusnya tetap sebagai abdi.

Maka dalam pembicaraan sehari-hari, keduanya nampak saling menghormat. Ugrawe menempatkan diri sebagai seorang prajurit yang siap menerima perintah, sedangkan Rawikara menempatkan dirinya sebagai seorang murid. Hubungan semacam ini mungkin membuat Kiai Sangga Langit heran dan sulit mengerti. Akan tetapi memang tatanan dan adat-istiadat kebudayaan Jawa mencerminkan sikap merendah untuk posisi dirinya.

"Silakan, Bapa Guru, hamba menunggu. "

"Pangeran Anom telah melihat apa yang menjadi pokok persoalan sekarang ini. Yaitu ada tulisan di dinding benteng Keraton. Apakah Pangeran Anom mempunyai dugaan siapa yang melakukan ini?"

"Hamba tak cukup pengetahuan, Bapa Guru. Tetapi kalau dilihat dari kemampuan yang diperlihatkan, jelas bukan sembarangan. Pemahatnya mempunyai pengetahuan sastra yang tinggi, kemampuan mengentengkan tubuh yang luar biasa, dan mengenal seluk-beluk Keraton dengan baik.

"Hamba ingin menebak Mo Ing, akan tetapi ini hanya dugaan bodoh yang bisa keliru."

"Pangeran Anom mempunyai wawasan yang luas dan tajam. Itu sangat diperlukan sebagai calon pemegang kekuasaan tinggi di belakang hari.

"Saya mempunyai dugaan yang sama. Akan tetapi agak sulit untuk menjebaknya. Raja tidak berkenan untuk melakukan tindakan ke dalam." Raja Jayakatwang semenjak naik takhta, memang lebih banyak kelihatan berdiam diri. Menahan emosi, dan menghabiskan waktunya buat bermenung. Sungguh berbeda dari ketika merebut Keraton. Walau dulu ada warna kebimbangan, akan tetapi pada saat mengambil keputusan, Raja Muda Gelang-Gelang ini tak bimbang dan ragu. Akan tetapi justru setelah berhasil merebut takhta dan menyingkirkan Baginda Raja Kertanegara, Raja Jayakatwang seperti merasa bersalah. Pembantaian besar-besaran, banjir darah di Keraton, korban yang berjatuhan, agaknya di luar perhitungannya. Rasa bersalah ini demikian keras menghantui dan menekan pikirannya. Sehingga usaha pembersihan lawan-lawan politik pun tak sekeras yang diusulkan Ugrawe.

Juga mengenai tulisan di dinding benteng Keraton, Raja Jayakatwang tidak ingin mempersoalkan lebih panjang.

"Kita mesti berhati-hati, Paman.... Kekuatan kita sudah berkurang banyak. Banyak senopati kita yang hilang. Kalau kita harus mengurangi lagi kekuatan yang ada, apakah ini tidak akan memperlemah?"

"Sabda Raja adalah hukum," sembah Ugrawe. "Kami semua akan menjalankan sepenuh hati."

"Lakukan pengusutan, dan laporkan hasilnya. Jangan bertindak terlebih dahulu. "

Ketentuan ini membuat Ugrawe tak bisa menjalankan aksinya untuk mendatangi rumah Kiai Sangga Langit dan mengobrak-abrik isinya. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu hasil pengusutan. Ini bertentangan dengan cara kerja Ugrawe yang biasanya. Ia akan mengatur rapi seteliti mungkin untuk suatu rencana besar—seperti juga penyerbuan ke Keraton. Akan tetapi untuk hal-hal yang praktis, Ugrawe akan mengesampingkan tata cara yang merepotkan: Ugrawe bisa bertindak tanpa perlu menghiraukan perasaan orang lain.

Pada saat menunggu itulah terjadi peristiwa baru.

Tulisan yang sama dipahat di dinding benteng Keraton, terukir kembali. Kali ini bukan pada tempat yang keras dan tinggi, akan tetapi pada tempat yang empuk dan rendah.

Keempat sapi putih kebanggaan Raja Jayakatwang, tubuhnya penuh dengan tulisan yang sama! Rawikara langsung menuju tempat penyimpanan sapi-sapi Keraton.

Ini adalah sapi kebanggaan yang dipelihara dengan kelewat hati-hati. Yang dijaga ekstra hati-hati oleh pengawal pribadi Raja. Karena sapi-sapi ini selain pengangkut kereta kebesaran juga merupakan klangenan Raja. Binatang yang sangat disayang dan dibanggakan.

Ternyata di punggung binatang itu ditoreh dengan senjata. Keempat-empatnya.

Punggung dan perut yang putih berleleran darah—sebagian sudah mengering.

Dan tulisannya bisa dibaca jelas. Di lautan asmara, gelombang rindu menyapu...

Rawikara mengertakkan gerahamnya.

"Hukum pancung semua penjaga yang bertugas semalam. Tak ada ampunan bagi yang lalai. Mustahil mereka tak mendengar teriakan, tak mendengar sapi melenguh atau apa-apa.

"Seekor nyamuk pun bisa membuat gusar sapi klangenan Raja. Apalagi seluruh tubuhnya dicacah seperti ini."

Pemeriksaan kepada para penjaga memang tidak memberikan hasil. Mereka berjaga, tidak mengantuk, dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Meskipun tidak berada dalam satu bangunan dengan Keraton Utama, akan tetapi kandang sapi-sapi itu berada di dalam kompleks Keraton. Yang cukup jauh dari dinding sebelah luar. Kalau orang luar bisa leluasa gentayangan ke dalam, ini berarti bisa berbuat sesuatu yang lain lagi. Yang lebih berbahaya.

"Tindakan onar ini memancing perhatian. Untuk memberi kesan bahwa kita lemah," kata Rawikara setengah berteriak di antara prajurit-prajurit pilihan. "Kalau kalian semua memang lemah, katakan mulai sekarang. Tak akan menjadi prajurit lagi.

"Saya sendiri bisa menghukum pancung kalian semua. Mulai saat ini, tak ada lagi kejadian seperti ini."

Rawikara begitu beringas dan meluap kalimatnya.

Akan tetapi justru ia menjadi sasaran. Keesokan harinya pintu gerbang bangunan yang didiami mendapat coretan yang sama bunyinya. Lebih kurang ajar lagi karena coretan itu dibuat dengan tongkat kasar yang bagian ujungnya dileleti kotoran manusia.

"Memang aku yang membuat," terdengar teriakan keras, gagah, dan menggemuruh. "Kalian semua mengepung aku untuk apa? Aku datang kemari, mencoret, untuk menunjukkan bahwa aku menyimpan laut yang berisi asmara, gelombang rindu, batu karang penantian, dan lumut birahi yang sedang tumbuh.

"Kalau kamu katakan di mana Nyai Demang, masalah sudah selesai. Selama kamu sembunyikan kekasihku, pakaian Raja Jayakatwang pun akan kuolesi dengan kotoranku."

Lelaki yang berpakaian serampangan, memegang tongkat besar dari galih pohon asam itu tertawa. Melihat dengan sorot mata remeh kepada mengepungnya.

"Ayo tangkap aku. Kalian diperintahkan untuk menangkap aku hidup-hidup, kan? Coba saja. Bisa apa tidak.

"Telah seratus hari aku mencari Nyai Demang. Katakan sekarang juga, Galih Kaliki menunggu di sini. Tidak menunggu bulan purnama, tidak menunggu buih melambung."

Galih Kaliki memutar tubuhnya. Langkahnya lebar sekali.

"Nyai Demang, di mana kamu? Jangan sembunyi. Aku tak sabar lagi, Nyai. "

Disertai tawa ngakak, Galih Kaliki meloncat maju ke depan. Tujuh prajurit pilihan dengan cepat menghadang. Tongkat hati pohon asam terayun dari bawah ke atas. Menyampok senjata yang ditujukan padanya. Galih Kaliki memang tak kenal kompromi, atau memakai taktik. Tenaga yang dipakai sedemikian kerasnya sehingga bentrokan tenaga menimbulkan bunyi keras. Dari sisi kiri-kanan, dua ujung tombak menyerang ke arah lambungnya. Galih Kaliki memindahkan tongkat ke tangan kiri langsung mengemplang kepala. Tanpa memedulikan sodokan dari kanan. Cepat dan keras. Terdengar bunyi keras. Pergelangan tangan dua prajurit patah, luluh terkulai. Galih Kaliki menghindar tusukan dari kanan, dengan memutar tubuhnya. Kedua kakinya menendang senjata lawan. Bertumpu pada sabetan tangan kiri, tubuhnya meloncat ke depan. Berdiri dalam jarak dua tombak dari Rawikara.

Rawikara mengeluarkan suara dingin dari hidungnya. Walaupun Galih Kaliki cukup kuat, akan tetapi dilihat selintasan saja ilmu mengentengkan tubuhnya bukan yang prima. Sehingga, kecil kemungkinannya ia yang menulis di dinding benteng Keraton atau yang mencacah punggung sapi.

"Kamu pangeran hidung belang itu? Kembalikan Nyai Demang "

Ujung tongkat yang bau, bercampur lelehan darah, menuding langsung ke wajah Rawikara!

Rawikara tak bisa dipandang enteng. Meskipun sebutannya masih pangeran Anom, ia adalah pangeran pati, putra mahkota. Yang kelak menggantikan takhta. Di depan para prajurit, dituding dengan tongkat kotor semacam itu, darahnya naik melewati ubun-ubun. Lebih membuatnya jengkel lagi karena ia disebut sebagai hidung belang. Ini jelas tak masuk akalnya. Ia merasa jauh dari perbuatan itu. Meskipun tidak semurni yang diharapkan, Rawikara bukan tipe pengejar wanita seperti Bagus Respati.

Tetapi memang yang paling menusuk perasaannya adalah cara Galih Kaliki meremehkannya. Selama ini Rawikara merasa dirinya agak tersisih. Dalam penyerbuan ke Keraton Singasari boleh dikata ia dianggap masih hijau. Bahkan oleh Ugrawe sendiri ia tak dipercaya ke garis depan. Dalam pembunuhan habis-habisan di Perguruan Awan, ia tak disertakan. Disuruh mengurusi bagian pertahanan. Bukannya tidak penting, akan tetapi toh tetap bukan di barisan depan.

Sedikit-banyak ini mengurangi kebanggaannya. Kurang membuat hormat para prajurit. Bahwa mereka menghormati, jelas tak terbantah. Akan tetapi apakah mereka betul menghormati tulus karena kelebihannya, itu masih perlu dibuktikan. Maka Rawikara melihat kesempatan yang baik untuk membuktikan diri.

"Mundur semua. Biar aku yang menghadapi sendiri." Kedua tangan Rawikara mengibas.

"Galih Kaliki, sebelum menjadi terlambat, katakan apa maumu membuat onar di Keraton?"

"Sudah kubilang sejak pertama. Aku mencari Nyai Demang." "Kalau cuma itu urusanmu, kenapa harus berbuat seperti pencuri?"

"Ah, yang di dinding itu bukan urusanku. Soal sapi juga bukan urusanku. Aku ini manusia kasar. Bisaku cuma main kotoran. Serahkan Nyai Demang, atau kubikin rata batok kepalamu."

"Banyak tempat bisa dicari, kenapa harus masuk ke dalam Keraton?"

"Ke mana lagi kalau bukan kemari. Putri sundal yang mengaku jadi lelaki... aduh, sampai terbalik... Lelaki sundal yang mengaku sebagai putri itulah yang bikin gara-gara. Kalau ia ada di sini, masa Nyai Demang ada di tempat lain. Nah, kita sudah bicara banyak. Mau bertempur atau tidak?"

Mendadak terdengar jawaban dengan suara yang tinggi.

"Enak saja memaki orang. Apa hak kamu merendahkan diriku?"

Masih terdengar nada merdu. Memang itulah Mo Ing yang tubuhnya putih, sehingga kelihatan jelas.

"Nah, Pangeran... aku tak ada urusan sama kamu. Kecoak putih ini urusanku."

Galih Kaliki menggeser tongkatnya. Berpindah ke tangan kanan. Dipegang erat. Kaki kiri maju ke depan. Kaki kanan terangkat di ujung telapak. Berat badan condong ke depan. Pandangan matanya menyiratkan kegeraman.

"Awas."

Bersamaan dengan itu, tongkat Galih Kaliki mengayun ke depan, seperti menebas. Gerakannya memang kaku dan lurus. Mo Ing tetap berdiri. Hanya mengangkat kedua kakinya dengan gerakan meloncat pendek. Kentara sekali bahwa Mo Ing menganggap serangan Galih Kaliki sebagai serangan enteng. Kedua tangan Mo Ing masih tetap bersidekap di depan dada.

Dilihat sepintas Galih Kaliki memang kelihatan bukan tokoh yang disegani. Apa yang ditunjukkan, baik gerakan maupun tenaga yang diatur, sangat sederhana. Tidak terlalu banyak kembangan, tidak banyak variasi. Seolah hanya mengikuti gerak yang sudah pakem. Akan tetapi justru di sinilah sebenarnya kekuatan Galih Kaliki. Sampai saat ini, belum diketahui asal-usul Galih Kaliki. Baik nama perguruan, maupun siapa yang mengajari. Lebih menambah baur lagi karena pemunculannya selalu ada kaitannya dengan Nyai Demang. Selalu mengejar-ngejar Nyai Demang. Maklum saja kalau Mo Ing menganggap enteng.

Dalam satu gebrakan, Galih Kaliki menekuk pergelangan tangan. Tongkat yang menyapu tiba-tiba arahnya berbelok menjadi tegak lurus ke atas. Tidak memerlukan lengkungan. Kaku tertekuk ke atas dan menyodok! Inilah kekuatan utama gerakan patah dan kaku.

Mo Ing tak memberikan tubuhnya disodok dari bawah begitu saja. Berat badannya jatuh ke satu sisi. Cepat sekali. Untuk menjaga kalau Galih Kaliki mengubah serangan, tangan kanannya menyampok keras. Mengembuskan tenaga panas.

Galih Kaliki ternyata tidak mengubah arah tongkatnya. Sehingga Mo Ing dengan mudah bisa menangkap.

Galih Kaliki tertawa ngakak.

"Bagus... bagus... kamu wong bagus, punya gerakan bagus. Enak baunya?"

Tanpa disadari Mo Ing memegang ujung tongkat. Yang diolesi kotoran. Keruan saja wajah yang putih berubah menjadi merah padam. Tongkat disentakkan keras. Kalau tadi merasa bisa mengatasi lawan dengan satu gerakan saja, kini justru merasa bisa dikerjain.

Mo Ing meraih dua pedang di pinggangnya.

Matanya menyipit. Dua kakinya bergeseran dengan cepat, merangsek maju. Galih Kaliki tetap tak bergerak. Begitu dua pedang secara langsung menusuk ke arahnya, Galih Kaliki menangkis keras. Lagi-lagi tenaga keras.

Terdengar suara berdengung, benturan senjata. Galih Kaliki menggenggam kembali, memutar di tengah, dan maju merangsek. Mo Ing memundurkan kakinya, dan dengan kuda-kuda yang cepat kakinya melangkah mengisi kekosongan. Kuda-kudanya memang rapi, kuat, dan kukuh. Galih Kaliki terpaksa memundurkan kakinya. Tongkat yang dipegang di tengah kadang berganti ke ujung, dan terus-menerus menyambar. Dari sekian sambaran yang paling berbahaya ternyata kemplangan dari atas. Karena pada saat ujung tongkat mengarah ke batok kepala, rasanya seperti takkan berubah arah. Tak peduli dengan tusukan pedang lawan. Seakan percaya bahwa tongkatnya akan lebih dulu menghantam batok kepala, sebelum pedang lawan bisa menggores kulitnya. Ini yang merepotkan Mo Ing, dan sekaligus menjadi pertempuran yang menarik. Mo Ing bisa mendesak Galih Kaliki dengan serangan kaki yang kuat, akan tetapi setiap kali memapak maju, harus mundur lagi untuk menjaga kepalanya.

Dalam sekejap keduanya terlibat dalam pertempuran yang panjang.

Bagi Mo Ing sebenarnya penggunaan tenaga kuat tak menjadi masalah. Ia masih mempunyai darah Mongol, di mana tenaga sebagai andalan juga menjadi ciri khasnya. Hanya saja dalam perjalanan hidupnya di negeri Cina, variasi silat dengan gerakan tangan lebih banyak mempengaruhi. Sebenarnya ini merupakan kelebihan untuk mengacaukan perhatian lawan. Kalau yang dihadapi bukan Galih Kaliki. Karena justru tipe permainan Galih Kaliki tak mengenal kompromi. Lawan main bagus atau tidak, ia akan terus mengemplang saja. Lawan menunjukkan permainan menarik atau tidak, sodok terus.

Sepuluh jurus telah berlalu. Rawikara menggelengkan kepalanya.

"Mo Ing, mundur saja. Kalau tak bisa menangkap seorang penggali kotoran, lebih bagus pulang saja. Di rumah bisa kau bersihkan tanganmu."

Kentara sekali bahwa Rawikara tidak menganggap Mo Ing terlalu tinggi. Dari kalimatnya terlihat jelas justru Rawikara seperti merendahkan.

Mo Ing terpancing panasnya.

"Kalau takut, aku dari tadi ada di pinggir."

Mo Ing balas menyindir Rawikara. Dengan begitu Rawikara seperti dikatakan penakut, karena dari tadi tidak langsung turun ke gelanggang.

Dalam keadaan seperti ini Galih Kaliki jelas memperoleh keuntungan.

Menghadapi tokoh yang rada aneh satu ini, tak bisa memecah konsentrasi seenaknya. Galih Kaliki tak bisa dipandang dengan sebelah mata. Ayunan tongkatnya makin berat, makin memberat dengan kesiuran angin yang mantap. Tongkat di tangannya berubah menjadi senjata pemukul yang dahsyat. Gerakan maju Mo Ing jadi tertahan. Dua pedang yang berkelebat dari arah kanan dan kiri seperti mau menggunting, dipatahkan dengan keras. Galih Kaliki maju terus. Tongkatnya menyambar dari atas ke bawah. Lagi-lagi Mo Ing berusaha menghadang. Kali ini Mo Ing lebih taktis. Satu pedang kanan diangkat sedikit ke atas. Untuk menangkis. Sedang pedang di tangan kiri digerakkan cepat untuk mencuri tusukan.

Kalau ini terjadi, Galih Kaliki boleh memegang dadanya yang tertusuk dalam.

Soalnya, walaupun pedang kanan tak bisa menahan sepenuhnya kemplangan tongkat, namun tetap tak membuat Mo Ing remuk kepalanya. Ia juga sudah mengambil ancang-ancang dengan memiringkan kepalanya. Paling sial hanya pundaknyalah yang masih mungkin kena kemplang. Tapi pedang kirinya sudah akan menghentikan gerakan lawan.

Mo Ing memang ingin menghentikan serangan secepatnya.

Agar bisa membuktikan bahwa ia bisa menguasai lawan lebih cepat dari perkiraan Rawikara. Agar membungkam komentar Rawikara.

Perhitungan ini banyak benarnya. Tapi satu hal yang tak pernah diperkirakan oleh Mo Ing ialah bahwa tipe permainan silat Galih Kaliki lain daripada yang lain. Selama main gebrakan mencapai lima belas jurus, Mo Ing unggul dengan kuda-kuda yang mantap. Geseran kaki secara teratur bisa mengukuhkan posisinya. Hampir semua lawan Galih Kaliki selalu menemukan peluang terbaik untuk menyerang dari bagian bawah. Dulu Bagus Respati, putra Patih Mahisa Anengah Panji Angragani pun melihat lubang pertahanan yang lemah di bagian bawah. Padahal justru inilah yang agaknya dirasa menjadi soal bagi Galih Kaliki.

Justru pada saat lawan merasa sangat aman dan kuat di bagian bawah, kaki Galih Kaliki menggempur mantap kuat. Kaki kanan mengentak lurus dengan gerakan menyelentak, gerakan merupakan sepakan kaki kuda. Tenaganya sangat besar. Yang diarah adalah tempurung kaki. Mo Ing tak akan bisa sekadar menggeser, karena justru slentakan jaran, tendangan kuda, ini jauh dari jangkauannya. Satu-satunya jalan adalah membuang diri jauh ke belakang. Atau memilih kemungkinan lain. Tetap menangkis tongkat di atas, menusuk dengan pedang yang lain, dan menggeser kaki sebisanya.

Dalam pertempuran semacam ini, Mo Ing belum tentu menderita lebih berat daripada Galih Kaliki. Kerugian fatal bisa berada di kedua belah pihak.

Mo Ing pernah menyaksikan pertempuran antara Galih Kaliki dan Bagus Respati. Sehingga mengetahui bahwa serangan Galih Kaliki memang maut. Bukan hanya serangannya yang membahayakan lawan, tetapi juga seperti tak memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Dalam pertempuran waktu lalu, Galih Kaliki dan Bagus Respati sama-sama nekat. Hanya kebetulan karena ada tokoh lain melerai secara jitu, keduanya terhindar dari kematian. Meskipun mengakibatkan keduanya terluka parah.

Mengetahui cara lawan, Mo Ing mengubah permainannya dengan cepat. Dalam sepersekian detik, tusukan dan tangkisan diubah menjadi sodetan ke arah wajah. Gerakan pedang menjadi lebih cepat dari datangnya kemplangan tongkat. Mo Ing sadar ini sekadar memecah sedikit perhatian, karena yang penting adalah meloloskan diri dari slentakan jaran. Mo Ing tak mau sekadar membuang tubuhnya ke belakang, ia mengayun, menjatuhkan tubuh di lantai dengan punggungnya dan kedua pedangnya menebas dari kiri dan kanan dengan gerakan miring.

Galih Kaliki telanjur dalam posisi seperti terjun. Memerlukan waktu untuk mengubah gerakannya dalam seketika. Tapi bukan itu yang dipilih. Tongkat andalan yang berwarna cokelat kehitaman terus menyapu ke bawah. Berhenti dengan suara keras menghantam lantai. Dalam perjalanan menghunjam ke lantai, berhasil menyapu dua pedang sekaligus. Tubuh Galih Kaliki berputar bagai kitiran, tertarik oleh gaya luncur kedua kakinya yang menendang ke arah luar.

Jadilah pemandangan menarik. Mo Ing berputar dengan punggung menempel lantai, sementara Galih Kaliki berputar di atasnya dengan tangan memegang tongkat sebagai sumbu. Keduanya berputar dalam arah yang berlawanan.

Mo Ing terpancing dengan serangan berikut. Begitu putaran punggung makin cepat, kedua pedang menyodet ke atas. Akan sulit bagi Galih Kaliki mengelak. Akan tetapi saat itu Galih Kaliki sudah meluncur turun. Dahsyat sekali. Tongkat menyampok satu pedang hingga terpental jauh. Sementara pedang yang satu terlepas karena tangan Mo Ing kena diinjak. Persis di pergelangan tangan!

Sekali getok, Galih Kaliki bisa menjebloskan ujung tongkat ke kepala Mo Ing.

Atau menggempur dada.

Rawikara tak pernah menduga bahwa pertempuran bisa berakhir begitu cepat!

Ia tak menganggap Galih Kaliki terlalu rendah. Akan tetapi juga sama sekali tak menduga bisa menyelesaikan pertempuran dengan begitu singkat dan mendadak!

Ini semua terjadi dalam gerakan turun tubuh Galih Kaliki yang tepat!

Menyampok pedang, menginjak pergelangan, dan menguasai keadaan secara penuh. Mo Ing dikalahkan secara sempurna. "Ayo katakan, di mana Nyai Demang?"

Tergeletak di lantai, wajah Mo Ing berubah pias.

"Kamu boleh bunuh aku. Aku sudah kalah. Untuk apa memaksa mengatakan yang sudah kau ketahui?"

Galih Kaliki mendongak sedih.

"Pergilah kalau kamu memang tidak tahu."

Lembut, tenang, Galih Kaliki berjalan minggir. Meninggalkan Mo Ing yang tergeletak di lantai. Mo Ing menyambar pedang dan dengan cepat sekali menusukkan pedang. Ke arah tubuhnya!

Dengan mengeluarkan jeritan tertahan, Mo Ing rebah ke lantai. Kejadian berlangsung sangat singkat.

Bersamaan dengan itu, satu bayangan melayang, dan mengangkat tubuh Mo Ing ke dalam panggulan, sekaligus melepaskan pedang dari tubuh Mo Ing, menotok jalan darah. Semua dilakukan dalam seketika.

Kiai Sangga Langit berdiri gagah.

Mengangguk ke arah Galih Kaliki, lalu menoleh kepada Rawikara dengan sudut mata. Lalu menjejakkan kakinya, memancal lantai, dan melayang melewati kerumunan.

Kiai Sangga Langit seperti menyalahkan Rawikara. Karena Rawikara-lah yang berdiri paling dekat dengan Mo Ing. Sebenarnya kalau mau, bisa menahan tusukan pedang. Pun andai tusukan itu ditujukan ke arah Galih Kaliki. Akan tetapi Rawikara sengaja membiarkan saja. Tidak peduli siapa yang akan kena tusuk. Bagi Rawikara tidak penting benar siapa yang bakal tertusuk!

Tapi yang membuat Rawikara merasa gusar adalah pandangan mata Kiai Sangga Langit. Sorot mata yang tak terucapkan itu bukan sekadar menuduh bahwa. Rawikara tak ambil peduli. Bukan sekadar membiarkan, akan tetapi justru sengaja memperlakukan dengan cara yang hina. Kiai Sangga Langit melihat, dalam sekelebatan saja, bahwa gerakan yang didemonstrasikan untuk menjebak tadi adalah gerakan yang sering diperagakan oleh Ugrawe. Bagian dari ilmu andalannya!

Rawikara sendiri setengah tak percaya.

Mana mungkin dari gerakan dasar Sindhung Aliwawar yang memakai tenaga putaran sebagai angin puting beliung diperagakan orang lain. Selama ini Ugrawe sendiri mempraktekkan dengan gerakan tangan. Satu tangan bergerak di atas kepala, menggebah, dan satu putaran tangan lagi menarik dengan sedotan! Dengan demikian lawan akan terhantam di bagian atas tubuhnya, dan diseret di bagian bawah tubuhnya!

Galih Kaliki justru mempraktekkan dengan gerakan kaki.

Yang dikombinasikan dengan tangan. Tangan menyampok ke arah luar kaki menekan ke bawah. Cara mengatur tenaga dalam seperti ini—dengan cara yang bertentangan—boleh dikatakan menjadi ciri khas ilmu andalan Ugrawe. Selama ini tak ada orang ketiga yang mempelajari. Karena cara pernapasan yang luar biasa sulit untuk mengendalikan tenaga yang berlawanan arah dan pemakaiannya. Hanya Ugrawe, melatih sendiri, dan Rawikara sebagai murid.

"Bagus sekali. Satu gerakan yang luar biasa. Boleh saya mengetahui nama gerakan tadi dan dari perguruan mana?

"Barangkali kita bisa berbicara lebih leluasa."

"Aku tidak butuh urusan seperti itu, Pangeran. Kalau kamu berikan Nyai Demang, baru itu namanya menjawab keperluanku kemari."

Rawikara mendongak ke atas langit.

"Kalau hanya itu urusannya, mari kita jemput Nyai Demang." "Tunggu!" teriak Galih Kaliki gusar.

"Ada apa lagi? Katanya mau ketemu Nyai Demang, tetapi sekarang pakai alot- alotan segala." "Siapa suruh kamu bilang hanya itu. Soal Nyai Demang bukan soal hanya itu.

Soal yang besar. Cabut kembali kata-kata itu!" Rawikara mengangguk.

"Maafkan kalau ini menyinggung perasaan. Saya mengira sesuatu yang tak bisa saya lakukan. Tetapi mungkin saya bisa menolong. Selama ini Nyai Demang ada di sini. Dalam keadaan aman. Nyai Demang menjadi penerjemah Kiai Sangga Langit yang baru saja mengangkat Mo Ing. Kita bisa ke sana bersama-sama."

Rawikara merenggangkan kedua tangannya. Menyilakan Galih Kaliki berjalan bersamanya.

Ini adalah salah satu strategi Rawikara. Baginya Galih Kaliki seperti sengaja diciptakan untuk menjelaskan masalah yang ingin diketahui. Pertama kali tentang tulisan asmara di dinding. Kedua tentang asal-usul perguruan Galih Kaliki. Ketiga bisa menjadi kunci untuk membuka rahasia yang ada di dalam kediaman Kiai Sangga Langit. Maka Rawikara membalik penampilannya. Kalau tadi merasa perlu menghadapi keras sama keras, kini harus menghadapi dengan kelembutan.

Sebagai murid langsung Ugrawe, Rawikara juga menuruni sifat-sifat Ugrawe. Malah sedikit lebih cerdik, atau licik. Dalam hati Rawikara mulai curiga kepada Ugrawe. Gurunya ini memang luar biasa saktinya. Ilmunya tak ada yang melawan. Dengan kekuasaan besar di tangannya, boleh dikatakan setiap saat bisa mengubah jalannya sejarah Keraton. Apalagi kalau ternyata telah menyiapkan bibit baru sebagai muridnya. Sebelum semua berkembang tak terkendalikan, ia bisa mengambil alih inisiatif. Agar tak bisa didikte oleh Ugrawe.

Maka jalan yang diambil adalah berdamai dengan Galih Kaliki. Untuk mengorek keterangan lebih banyak. Rawikara tahu bahwa Galih Kaliki memang ugal- ugalan dan kasar penampilannya. Akan tetapi sifatnya jujur dan tak mempunyai prasangka yang aneh-aneh. Dari keinginannya yang mengabaikan kepentingan lain, hanya sekadar mencari tahu Nyai Demang, hal ini sudah memberikan bukti kuat.

Maka rombongan pun menuju ke kediaman Kiai Sangga Langit.

"Nyai Demang, ini aku, Pangeran Anom Rawikara... membawa seorang sahabat yang ingin menemuimu. Maukah kamu keluar barang sebentar?"

Tak ada jawaban. "Nyai Demang, kalau Nyai tak mau keluar, biarlah aku yang masuk ke dalam. Maaf kalau kurang menghormati Kiai Sangga Langit, si pemilik rumah. Aku sudah minta izin baik-baik."

Pintu terbuka.

Kiai Sangga Langit berdiri di tengah pintu. Kukuh, bergeming.

"Kiai Sangga Langit..."

Tangan Kiai Sangga Langit mengibas.

Terdengar suara nyaring dari dalam. "Hari ini Kiai Sangga Langit tak mau menerima tamu. Ia akan mengobati Mo Ing. Harap datang lain waktu."

"Nyai Demang... itu suaramu. Akulah garam yang tak bisa dipisahkan dari laut birumu."

Galih Kaliki meloncat, menerobos masuk. Kiai Sangga Langit mengangkat sebelah tangan. Dalam meloncat Galih Kaliki mengayunkan tongkat dengan keras sekali.

"Minggir kamu, hantu sawah. "

Kiai Sangga Langit tak menggeser tangannya. Sebat sekali mengangkat tongkat yang terayun ke arahnya. Dengan memusatkan tenaga, tongkat itu bisa digenggam dan dipelintir keras. Tubuh Galih Kaliki jadi ikut berputar. Ngilu menyerang seluruh saraf tangannya. Tak bisa ditahan lagi, terpaksa Galih Kaliki melepaskan pegangannya. Sebagai gantinya, kaki Galih Kaliki menyepak keras, jurus slentakan jaran yang perkasa. Kiai Sangga Langit tetap tak menggeser kakinya, hanya mengubah tangannya yang kini memegang tongkat untuk menangkis. Galih Kaliki, seperti diduga, tak menarik kakinya. Tapi mencungkil ujung tongkat. Tongkat berputar ke arah wajah Kiai Sangga Langit, yang mengeluarkan suara dingin dari bibirnya, menangkis ke luar. Tongkat terayun, dan dengan berjumpalitan Galih Kaliki bisa menangkapnya. Berdiri di tempatnya semula.

Satu gebrakan yang luar biasa. Galih Kaliki tidak kehilangan muka dalam serangan ini. Meskipun ia harus jungkir-balik tidak kepalang tanggung. Kedudukan masih sama, akan tetapi jelas bahwa Galih Kaliki setidaknya berada tiga tingkat di bawah Kiai Sangga Langit.

Rawikara sejenak ragu bertindak.

Saat itu mendadak terdengar gong kecil dipukul ringan. Semua kegiatan terhenti mendadak. Seorang prajurit menghaturkan sembah sambil berjongkok.

"Maaf. Baginda Raja berkenan memanggil Pangeran Anom."

Panggilan dari Raja, tak bisa ditawar sedikit pun. Rawikara mengangguk.

"Saya akan menghadap sekarang juga," katanya lembut kepada prajurit. Lalu menoleh ke arah Galih Kaliki.

"Saya merasa bahagia kalau setelah menerima dawuh Raja kita masih bertemu lagi. Soal Nyai Demang..." Suara Rawikara berubah agak tinggi. "Nyai, saya meminta Nyai menemui... saya meminta dengan segala kerendahan hati. Di belakang hari utang budi ini akan selalu saya ingat."

Terdengar jawaban dari dalam rumah.

"Saya mau menerima saat bulan purnama, seperti yang dijanjikan."

"Baik kalau begitu," teriak Galih Kaliki manggut-manggut. Lalu duduk di depan pintu. "Pangeran, kamu masuk ke dalam Keraton karena ada urusan. Aku akan menunggu di sini sampai bulan purnama.

"Kalau hantu sawah itu mau bikin gara-gara, aku masih bisa menghadapi." Rawikara tak mempunyai pilihan lain. Ia mengangguk dan segera berlalu.

Masuk ke dalam Keraton. Menyembah, berjongkok, dan kemudian mengambil tempat agak di sudut. Ugrawe ternyata telah duduk di situ pula. Yang agak mengherankan Rawikara ialah, bahwa ada suatu bayangan tubuh yang duduk khidmat di dekat singgasana Raja Jayakatwang. Seorang lelaki tua, yang menunduk dan tangannya tak pernah berhenti memegang biji-biji tasbih. Dia adalah Waisesa Sagara. Rawikara tidak terlalu mengenal siapa Waisesa Sagara. Yang diketahui hanyalah: Ia satu-satunya pejabat Keraton semasa pemerintahan Baginda Raja Kertanegara yang sekarang masih mempunyai posisi tinggi dan jabatan utama. Malah boleh dikatakan naik pangkat. Kalau dulu menjadi penasihat rohani dan sekaligus dukun peramal Mahapatih Panji Angragani, orang kedua di Keraton Singasari, sekarang malah penasihat rohani orang nomor satu di Keraton!