Sarang Perjudian Bagian 4 : Dewa Laut (Tamat)

Bagian 4 : Dewa Laut

Peristiwa yang terjadi dalam dunia persilatan banyak tak terhitung, hampir boleh dibilang dalam waktu yang teramat singkat bisa terjadi suatu peristiwa yang begitu romantis dan penuh dengan luapan emosi, bisa pula terjadi peristiwa yang begitu menegangkan dan penuh dengan ancaman bahaya.

Dalam berapa bulan terakhir, bahan pembicaraan yang paling menarik perhatian bagi umat persilatan lagi-lagi menyangkut soal Pok Ing.

Untuk kesekian kalinya Pok Ing terlibat dalam sebuah pertaruhan akbar.

Selama ini Pok Ing merupakan tokoh yang paling tersohor dalam dunia persilatan, semua gerak-geriknya, sepak terjangnya selalu memancing perhatian orang banyak, setiap kejadian yang melibatkan dirinya selalu menjadi bahan pembicaraan paling hangat dalam dunia persilatan.

Kejadian semacam ini sesungguhnya bukan satu kejadian yang aneh, ketika Pok Ing sekali lagi terkbat dalam suatu pertaruhan, peristiwa ini pun tidak aneh.

Dia memang seorang penjudi, setiap saat setiap waktu siap menerima tantangan dari manusia macam apa pun dan perjudian macam apapun.

Pertaruhan yang diterimanya kak ini, bukan saja karena jumlah taruhannya yang sangat besar, yang lebih menarik lagi adalah karena lawan tarukannya kak ini adalah Liong toa-tau-cu atau yang lebih dikenal orang kebanyakan sebagai toa tauke dan Dewa Rejeki, Liong lo-thayya.

Yang membuat orang menaruh perhatian atas pertaruhannya kak ini adalah karena dia telah memasukkan diri sendiri sebagai salah satu barang taruhan.

Dalam pertaruhannya kak ini, bukan saja dia bertindak sebagai bandar, bahkan barang taruhan dan benda yang dipertaruhkan adalah diri sendiri.

Di dalam rumak yang gelap, hampir setiap daun jendela yang ada di situ dilapisi dengan kain tenunan yang khusus didatangkan dan Persia, selain tidak tembus angin, pun tidak tembus cahaya.

Di sudut ruangan yang gelap, di atas sebuah bangku berlapis kulit yang lebar dan besar duduk seorang kakek yang kurus lagi lemah.

Sebuah meja baca yang berada di hadapannya dipenuhi dengan tumpukan buku dan gulungan tulisan, nyaris membuat tubuhnya terhadang sama sekali, bagaikan terlorrung di sebuak dinding pekarangan yang tinggi.

Orang itu pun seakan sepanjang tahun hidup di balik kepungan dinding, tidak bertemu orang, tidak melihat sinar matahari.

Kini, dalam ruangan terdapat dua orang tamu.

Yang satu bertubuh tinggi besar tapi kurusnya tinggal kulit pembungkus tulang, dia tak lain adalah Kwanji, Kwan Giok-bun dari wilayah Kwan-say yang termasyhur namanya di kolong langit, memiliki tenaga alam yang luar biasa saktinya dan mampu merobek tubuh harimau dengan tangan kosong, bicara tentang ilmu gwakang, dia merupakan jago yang tiada duanya.

Waktu itu cahaya mukanya tidak terlalu bagus, sebab sudah hampir dua jam lamanya tidak makan apa-apa. Dia harus setiap saat setiap waktu makan tiada hentinya, dengan begitu kondisi badan dan tenaganya baru bisa terpelikara dengan baik dan stabil.

Akan tetapi berapa banyak pun yang dia makan, barang apa pun yang dia makan, tubuhnya tetap kurus kering bagaikan kulit pembungkus tulang.

Inilah penyakitnya.

Hampir setiap orang tahu kalau Kwan Ji sianseng mengidap penyakit semacam itu, tapi tak seorang pun yang tahu penyakit apakah yang dideritanya itu.

Seorang yang lain justru gemuknya luar biasa sehingga tak sekerai tulang pun yang kelihatan, dia pun salah satu pentolan Dewa Rejeki, bermarga Thio dan menempati urutan kelima, merupakan salak satu dari dua bersaudara Toa Tee-gong dan Toa Jay-cu yang tersohor karena sama gendutnya di wilayah Kwan-say, kendatipun belakangan mereka menderita kekalahan yang amat besar secara beruntun, namun tubuh mereka tetap gemuknya setengah mati.

Konon ini pun merupakan sebuah penyakit.

Menurut cerita, ilmu kepandaian yang mereka yakini mudah membuat orang jadi gemuk, apa pun yang mereka makan pasti akan tumbuh jadi daging, sekalipun hanya satu kati jerami yang mereka santap, santapan tersebut akan menyebabkan badan mereka bertambah gemuk satu kati.

Orang tua itu punya kebiasaan jelek, orang tua itu pun punya penyakit, setiap hari dia hanya bisa makan setetes cairan untuk mempertahankan hidupnya, oleh sebab itu selama banyak tahun tak satu macam makanan pun yang pernah mampir di dalam rumah ini.

Tak heran kalau Kwan Ji dan Thio Ngo harus menahan rasa lapar.

Mungkinkah kakek tua yang penyakitan dan napasnya tinggal satu dua itu adalah toa tauke dari Dewa Rejeki?

Saking parahnya penyakit yang diderita membuat suaranya nyaris ikut lenyap, dia mesti mengatur napas cukup lama sebelum mampu berbicara, tapi nada ucapannya membawa wibawa dan pengaruh yang luar biasa, seakan-akan apa yang dia katakan adalah sebuah perintah

Saat itu dia sedang bertanya kepada Thio Ngo:

"Apakah kau telah melaksanakan apa yang kumaksud dan melakukan pertaruhan dengan Pok Ing?"

"Benar."

"Pok Ing sudah menerima tantangan bertaruh dan kita?"

"Ya, sudah menerima," kata Thio Ngo, "aku telah memberi penjelasan secara detil, dia harus siapkan perahu dan segala peralatan yang dibutuhkan dan segera berlayar menuju ke negeri Hu- siang (Jepang), asal dalam tigapuluh hari ia dapat balik kembali ke Amoy dalam keadaan selamat, dialah yang akan menjadi pemenang dalam taruhan ini."

"Bila dia kalah?" mendadak Kwanji menyela. "Kalau kalah berarti habis sudah."

"Apanya yang habis sudah?"

"Semuanya habis sudah, termasuk orangnya pun habis sudah," nada suara kakek itu lemah tapi hangat, "balikan kita boleh bilang asal dia kalah, maka di kolong langit seakan tak pernah ada manusia yang bernama Pok Ing, tak pernah ada manusia bernama Pok Ing yang pemah lahir di dunia ini, segala sesuatu yang menyangkut dirinya akan segera lenyap tak berbekas."

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Oleh sebab itu yang dia pertaruhkan kak ini boleh dibilang merupakan seluruh masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang yang dia miliki."

"Kenapa dia harus bertaruh dengan cara begini?"

"Karena dia memang seorang penjudi sejati." Jawaban kakek itu singkat tapi jelas. Sementara Kwanji masih termenung, kembali kakek itu berkata dengan suara perlahan: "Aku pun tahu, bila di dunia ini kehilangan seorang manusia macam dia maka kau pasti akan

merasa sangat kesepian, sebab selama ini dialah musuhmu yang paling tangguh. Aku pun tahu untuk mencari seorang musuh yang tangguh, akan jauh lebih sukt ketimbang mencan seorang pembantu yang tangguh."

Tiba-tiba ia tertawa, kerutan senyuman yang muncul di wajahnya ibarat riak ombak yang bergerak terhembus angin.

"Tapi aku rasa dalam pertaruhan ini pun dia tidak seharusnya kalah" Suara kakek itu kedengaran jauh lebih lembut:

"Balikan kita boleh bilang, berada dalam situasi yang normal, semestinya pertaruhan ini pasti dimenangkan olehnya."

Dalam hal ini, banyak orang persilatan yang mempunyai perasaan dan pandangan yang sama. Menurut perjanjian yang berlaku dalam taruhan ini, perahu disiapkan sendiri oleh Pok Ing,

maka dia pun memilih keluarga Tan dari pulau Kim-bun-to untuk membuatkan perahu yang akan dikemudikan dia seorang diri dengan nama Thian-eng (Elang Langit).

Keluarga Tan memang merupakan keluarga yang tersohor karena kemampuannya membuat perahu, konon perahu yang mereka bangun belum pernab ada yang tenggelam karena diterpa angin topan atau gulungan ombak samudra.

Menurut penuturan putra pertama dari keluarga Tan, Tan Thian-hau, Tan lo sianseng, Pok Ing memberi order kepada mereka untuk membuatkan sebuah perahu yang bahan kayunya, paku, layar, jangkar, pembangunan, pemasangan sampai kerangka, hampir setiap bagian dari perahu itu dirancang dan melalui pemilihan yang sangat ketat.

Kata Tan lo sianseng:

"Meskipun peraku itu kecil, tapi kekar dan kuat bagai seekor kerbau kecil, bila perakunya sampai tenggelam dihajar angin dan ombak, aku si orang tua pun tak akan punya muka lagi untuk mencari sesuap nasi dengan melakukan pekerjaan ini."

Biasanya, ucapan yang dikatakan Tan lo sianseng sama kuat dan kokohnya seperti peraku yang dibuat.

Ui A-keng adalah seorang nelayan tua yang punya pengalaman menangkap ikan di samudra luas selama tigapuluh satu tahun, menurut penurutannya saat ini musim Huang-bwee-ki baru lewat, sementara musim topan belum tiba, ombak di seputar tempat itu sangat kecil, apalagi pada akhir bulan empat kingga akhir bulan lima, nyaris tak pernah tercatat ada perahu yang tenggelam pada saat itu.

Pengalaman seorang nelayan tua terhadap ramalan cuaca, biasanya jauh lebih tepat ketimbang perhitungan dengan menggunakan peralatan modern.

Oleh sebab itu kakek yang selalu bersandar di bangku kulitnya itu berkata begini:

"Dalam situasi normal, dialah yang seharusnya muncul sebagai pemenang dalam pertaruhan ini."

Sayang perubahan cuaca sukar ckperlritungkan, selamat atau bencana yang akan menimpa manusia pun sukar diramalkan, dalam persoalan apa pun tak mungkin situasi akan selalu stabil dan normal, terkadang bencana di luar dugaan pun bisa terjadi setiap waktu setiap saat.

"Kecuali angin topan dan hujan badai, perompak dan rampok orang kerdil pun merupakan momok yang pakng menakutkan di tengah samudra bebas."

"Perompak tak cukup menakutkan," ucap kakek itu, "mereka pun tak akan turun tangan terhadap seorang pelancong yang pergi sendirian, apalagi pergaulan Pok Ing sangat luas, tidak sedikit kenalan lamanya berkekaran di tengah samudra."

"Lantas kejadian apa yang mungkin akan dia jumpai?" tanya Kwan Ji penuh rasa kuatir. "Kejadian macam apa pun bisa terjadi, bahkan terkadang gara-gara sebatang paku pun bisa

menenggelamkan perahu, hanya saja "

Suara kakek itu semakin rendak, setelah lama sekali menatap kegelapan di sudut ruang dia bam berkata lagi:

"Tapi bencana yang paling menakutkan adalah bila Dewa Laut sedang gusar." "Dewa Laut?"

"Benar, Dewa Laut," suara kakek itu semakin lirih, demikian lirih bagai sedang berbisik, "menurut cerita kuno, konon di tengah samudra hidup seorang dewa raksasa yang berwatak berangasan, kasar dan gampang naik darah, biasanya dia akan bersembunyi di balik ombak, tapi bila ada orang menyalahinya secara tidak sengaja, ia bisa teramat gusar dan langsung mengayunkan tinju bajanya untuk menghajar orang itu bersama perahunya hingga hancur berantakan."

Sesudah menghela napas panjang, terusnya:

"Menurut apa yang kutaku, kelihatannya Pok Ing termasuk orang yang gampang menyalahi orang lain, baik terhadap manusia maupun dewa, dia selalu berani menyalahinya." Kwanji mulai berkerut kening, tapi kakek itu kembali berkata sambil tertawa:

"Oleh sebab itu kami hanya bisa berharap, semoga pada waktu itu Dewa Laut sedang tertidur."

Dewa Laut tidak sedang tidur, pada saat itu bangkai peraku "Elang Langit" telah muncul di seputar lautan bebas dan ditemukan nelayan yang sedang menangkap ikan di situ, balikan setelah melalui pemeriksaan yang ketat dari keluarga Tan di pulau Kim-bun-to, terbukti perahu itu memang perahu milik Pok Ing.

Pok Ing sudah tertimpa musibah di tengah samudra.

Tak sampai lima hari, berita ini sudah tersebar luas di Seantero persilatan, bahkan ada orang yang mulai mempersiapkan upacara sembahyangan untuk mendoakan arwahnya.

Akan tetapi pihak Sarang Perjudian belum mau menyerahkan uang taruhan itu kepada pihak pemenang, sebab mereka masih belum mau mengakui kekalahan ini.

Mereka tidak percaya kalau Pok Ing bisa dijatuhkan dengan begitu mudah oleh siapa pun termasuk Dewa Laut, mereka masih akan menunggu selama setengah bulan lagi.

Mungkinkah dalam jangka waktu setengah bulan akan muncul suatu kemukjizatan?

Bab 1 : Bukan Kemukjizatan

Ini memang bukan kemukjizatan, kemukjizatan memang jarang sekali terjadi, apa yang terjadi sebetulnya tak lebih hanya merupakan sebuah pandangan yang sederhana.

Bila kau jumpai kerangka perahu yang ditumpangi seseorang, bukan berarti orang itu pasti sudah mati, penemuan itu pun tak bisa membuktikan kejadian apa pun.

Tenggelam tidaknya sebuah perahu memang sama sekali tak ada hubungannya dengan mati hidupnya seseorang.

Pok Ing masih hidup.

Memang ada sementara orang di dunia ini yang kelihatannya tak pernah bisa mati untuk selamanya, ketika banyak di antara mereka yang hidup jauh lebih lama sudah pada mati, terkadang orang macam begini masih tetap hidup segar bugar.

Tak disangkal, Pok Ing adalah manusia semacam ini. Kini ia sudah sadar.

Cahaya matahari tampak begitu terik, tampak begitu indah, tampak begitu cemerlang bagaikan arak wangi berwarna kuning emas, cahaya yang hangat persis menyinari di atas tubuhnya.

Di bawah cahaya sang surya, kelihatan ada bukit nan hijau, pohon yang hijau pupus, samudra berwarna biru dan riak ombak yang berwarna putih.

Apakah ia sedang bermimpi?

Membayangkan kembali semua peristiwa yang barusan terjadi, dia merasa bagaikan sedang benriimpi, sebuah impian yang sangat buruk.

Di tengah lapisan awan gelap yang hitam pekat, di tengah udara yang lembab panas, tiba-tiba muncul hembusan angin topan dari kejauhan sana, kemudian muncul gulungan ombak raksasa yang menghantam perahunya seperti ayunan tinju baja manusia raksasa, hantaman yang persis menghujam ke atas dadanya, kemudian dia seakan mendengar suara lambung perahunya yang pecah dan hancur berantakan.

Konon di saat ajal seseorang menjelang tiba, dia akan selalu terbayang orang-orang yang paling dicintai atau peristiwa yang paling membekas dalam benaknya. Lantas siapa yang dibayangkan Pok Ing saat itu? Peristiwa apa yang terbayang kembali olehnya?

Apa pun tak ada terpikir, apa pun tak ada yang dibayangkan.

Pada detik tersebut di dalam dadanya serasa rianya kekosongan dan kehampaan, seluruh tubuhnya seolah hampa, tak punya apa-apa dan tak berwujud apa-apa.

Begiriikah rasanya menjelang maut?

Kejadian yang dialaminya saat ini rasanya persis sama seperti kejadian yang dirasakan waktu itu, padahal dia sendiri pun tak tahu berapa lama waktu sudah berlalu.

Di tengah gulungan ombak berbuih putih yang masih saling mengejar, lamat-lamat dia seperti melihat ada sisa bangkai Elang Langit yang sedang terombang-ambing. Kini Pok Ing berbaring terlentang di atas tanah, di atasnya adalah langit nan hijau dengan awan berwarna putih, sementara bagian bawahnya adalah pasir pantai yang lembut.

Tiba-tiba ia terbayang kembali wajah Oh Kim-siu, terbayang putri mestika, bahkan terbayang pula wajah Pek Ti, Thia Siau-kim serta Kwan Ji, membayangkan kembali wajah orang-orang itu dalam keadaan demikian memang merupakan satu kejadian yang sangat aneh.

Saat ini, apakah mereka sudah mendengar berita duka tentang dirinya? Apakah mereka mengira dirinya sudah tewas? Apakah mereka sudah mulai mempersiapkan upacara penguburan bagi dirinya?

Tiba-tiba Pok Ing tertawa.

Mendadak ia berpikir, andaikata seseorang datang menghadiri sendiri upacara penguburan bagi dirinya, bukankah hal tersebut merupakan satu kejadian yang sangat menarik?

Dalam suasana duka ia dapat melihat dengan mata kepala sendiri rekan-rekannya yang melelehkan airmata karena sedih, pun dapat melihat mereka yang berpura-pura menjadi temannya tapi secara diam-diam sedang tersenyum gembira menyaksikan kematiannya.

Semasa masik hidup, mereka semua adalah teman-temannya, tapi berapa banyak di antara mereka adalah sahabat sejati?

Ketika mereka mengetahui ternyata dia belum mati, perubahan macam apa yang akan terjadi di wajah orang-orang itu?

Semakin berpikir Pok Ing merasa semakin tertarik, hampir saja ia lupa kalau dirinya masik berada dalam keadaan susah dan berbahaya, lupa kalau besar kemungkinan untuk selamanya dia tak akan bisa pulang lagi ke kampung halaman, tak bisa berjumpa lagi dengan teman-teman dekatnya.

Bahkan dia seperti lupa untuk melakukan pemeriksaan, berada di manakah dia sekarang? Di tepi daratan? Atau di sebuah pulau terpencil? Rahasia apa yang tersimpan di balik pemandangan alam yang begitu indah? Apakah tersembunyi ancaman bahaya maut? Ada apa di bawah tanah perbukitan dengan pepokonan yang rindang itu? Mungkinkah tersembunyi hewan buas yang siap menerkamnya dan mencabik-cabik tubuhnya?

Ia tidak berpikir lebih lanjut karena pikirannya mendadak terhenti, bahkan napas dan detak jantungnya seakan ikut terhenti.

Sekonyong-konyong ia menyaksikan seseorang, seseorang yang tak pernah terbayang akan dijumpai dalam keadaan seperti ini dan di tempat seperti ini.

Seseorang yang tak pernah terbayang bisa dijumpai dalam kehidupannya kini. Orang tersebut muncul dari dalam air.

Di bawah langit biru dan air laut yang bersih, orang itu dengan gaya yang sangat kuno tapi penuh seni, perlahan-lahan berjalan keluar dari dalam lautan, seperti seseorang yang baru muncul dari bakk cerita dongeng yang paling kuno.

Cahaya matahari yang berwarna kuning emas menyinari seluruh tubuhnya (wanita), kulit tubuhnya nampak halus lembut dan manis bagai madu, rambutnya yang dikepang memancarkan kilauan sinar yang cemerlang.

Dia memiliki sebaris gigi yang putih bersih, biji mata yang bulai hitam, pinggangnya ramping bagai lekukan gitar, payudaranya besar, kenyal dan kencang, bagaikan dua gundukan tanah perbukitan.

Gadis muda yang berjalan keluar dari dalam lautan dengan telanjang bulat itu seperti dewi yang baru berjalan keluar dan balik cerita dongeng.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Pok Ing berhasil mengendalikan perasaan hatinya, detak jantung dan dengus napasnya dapat berjalan normal kembali.

Tapi dia tetap kebingungan, tak bisa menerima kenyataan yang terpampang di depan mata.

Dia seolah sudah dibuat tertegun, dibuat bodoh oleh kemunculan gadis bugil itu, sampai lama kemudian perasaan tersebut belum juga dapat dilupakan.

Pok Ing yang sekarang sudah bukan Pok Ing yang dulu lagi.

Lelaki yang selalu percaya diri, yang selalu tampil dingin memabukkan, pandai mengendalikan diri, kini seakan telah berubah menjadi seorang pemuda berusia tujuhbelas tahunan. Apakah ini disebabkan tubuhnya pun nyaris berada dalam keadaan telanjang bulat? Sementara sepasang mata si nona yang indah dan cantik justru sedang mengawasi bagian tubuhnya yang tidak seharus-nya dilihat orang, tanpa berkedip?

Tiada sinar cabul atau napsu birahi yang terpancar dari balik mata gadis cantik itu, yang muncul adalah pandangan terkejut, keheranan dan rasa ingin tahu, seakan-akan seorang bocah wanita yang secara tiba-tiba menyaksikan sebuah benda menarik yang belum pernah dijumpai dan dilikat sebelumnya.

Apakah gadis ini belum pernah melibat orang pria?

Melihat mirnik mukanya, Pok Ing sendiri pun merasa keheranan, pelbagai macam pertanyaan dengan cepat muncul dan dalam benaknya

Tapi belum lagi dia mulai berpikir, gadis itu sudah bertanya kepadanya- "Kau itu apa?"

Suaranya merdu, lembut dan nyaring, setiap patah kata diucapkan dengan lambat, dengan amat jelas, seolah-olah kuatir kalau pihak lawan tidak memahami pertanyaannya, tapi seperti juga caranya berbicara memang kaku.

"Kau itu apa?"

Kalau orang pada umumnya mengajukan pertanyaan, mereka tak akan menggunakan kalimat pertanyaan yang begitu aneh.

Bila orang awam yang berjumpa dengan seorang asing, biasanya mereka akan bertanya "siapakah kau" atau "siapa kamu."

Tapi pertanyaan yang diajukan gadis itu sangat diplomatis, seakan yang diajak berbicara belum tentu seorang manusia, bisa jadi sebuah benda atau sesosok makhluk aneh.

"Aku ini apa?" Pok Ing menjawab sambil tertawa getir, "sepertinya aku ini manusia."

"Kau seperti seorang manusia?" kembali gadis itu bertanya, "lalu kau ini sebenarnya apa?"

Ia bertanya dengan wajah sungguh-sungguh, sama sekali tidak mengandung nada ejekan atau godaan.

Terpaksa Pok Ing menjawab:

"Aku betul-betul seorang manusia, seratus persen manusia, aku memang manusia." "Kau manusia? Benar-benar manusia?"

"Tentu saja manusia beneran."

"Lalu manusia macam apakah clirimu?" "Aku adalah manusia biasa."

"Manusia biasa? Manusia biasa yang mana?"

Pertanyaannya makin lama semakin aneh, pertanyaan yang diajukan boleh dibilang seperti pertanyaan yang diajukan orang idiot, tak heran kalau Pok Ing jadi kelabakan sendiri dan tak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaannya.

Gadis itu menatapnya, dia seakan menganggap Pok Ing pun seorang idiot pertanyaan yang

begitu sederhana pun tak mampu dijawab, kalau bukan orang idiot, lalu apa namanya?

Maka dengan sabar terpaksa ia memberi penjelasan, ujarnya:

"Di dunia sebenarnya hanya ada dua jenis manusia, yang satu adalah lelaki dan yang lain adalah wanita, benar bukan?"

"Benar," gadis itu menjawab cepat, tapi setelah berhenti sejenak tanyanya lagi, "lantas kau termasuk jenis manusia yang mana?"

Pok Ing melengak.

Ternyata pertanyaan yang benar-benar ditunggu jawabannya adalah persoalan ini, sudah sekian lama gadis itu mengamati tubuhnya, masa dia masih belum bisa membedakan kalau dirinya adalah seorang pria?

Pada hakekatnya Pok Ing benar-benar dibuat menangis tak bisa tertawa pun tak sanggup, terpaksa dia menjawab lagi dengan wajah bersungguh-sungguh:

"Tentu saja aku adalah seorang pria."

"Kau adalah seorang pria?" mendadak gadis itu menjerit lagi, "mana mungkin kau adalah seorang pria? Mana mungkin seorang pria macam kau? Memangnya kau sangka aku belum pernah bertemu dengan pria?"

Sekali lagi Pok Ing terperangah. "Kalau aku bukan pria, lantas apakah aku?"

"Aku sendiri pun tak tahu apakah kau? Pokoknya kau bukan pria, pria bukan berbentuk macam dirimu."

Gadis itu pun menjawab dengan serius, seakan bukan sedang berbohong, apalagi seperti lagi bergurau.

"Menurut kau, seharusnya pria itu macam apa?" "Tentu saja seperti Popo."

"Popo? Siapa Popo?" tanya Pok Ing.

"Popo adalah Popo-ku, dia adalah majikanku, juga suamiku." "Dia seorang pria?."

"Tentu saja dia seorang pria," sinar matanya penuh keangkuhan dan kepolosan, "dia adalah pria paling pintar, paling kuat, paling berbakat dan paling menarik di dunia ini."

Menyaksikan senyuman si nona yang begitu cerah bagai cahaya sang surya, walaupun dalam hati kecilnya Pok Ing tak ingin bertanya lagi, tak tahan dia pun bertanya juga:

"Berapa orang pria yang pernah kau jumpai?" ”Tiga orang!”

"Tiga orang? Dalam hidupmu hanya pernah bertemu tiga orang pria?”

Gadis itu manggut-manggut, senyumannya masih kelihatan cerah: "Pria di dunia ini memang tak banyak jumlahnya, aku telah bertemu tiga orang, itu sudah merupakan jumlah yang luar biasa!" Kemudian tanyanya pula kepada Pok Ing:

"Bagaimana dengan kau? Kau datang dari mana? Kalau memang kau seorang pria, kenapa tampang dan bentuknya berbeda dengan mereka?"

Pok Ing sudah tak sanggup berbicara lagi, tapi sedikit banyak ia sudah memahami keadaan di sekeliling tempat itu.

Jelas tempat itu merupakan sebuak pulau terpencil, sejak kecil bocah gadis itu tumbuh dewasa di atas pulau itu, karena itu sepanjang hidupnya dia hanya pernah bertemu dengan tiga orang pria, tiga orang pria yang bentuknya jauh berbeda dengan bentuk Pok Ing.

Sebetulnya Pok Ing merupakan seorang pria normal, sekalipun tidak terbitung menarik dan ganteng, namun tidak pula kelewat jelek hingga tak sedap dipandang, lantas macam apakah wajah ketiga orang pria yang konon beda sekali bentuknya dengan dirinya itu?

Pelbagai pertanyaan sekali lagi muncul dalam benak Pok Ing, satu-satunya persoalan yang bisa diyakini adalah gadis itu betul-betul seorang gadis tulen, dia bukan roh, bukan dewi, bukan pula sukun gentayangan atau setan.

Setelah meyakini akan hal ini, persoalan lain membuatnya jauh lebih lega, lebih tak perlu dikuatirkan lagi.

Pok Ing menghembuskan napas panjang, kemudian ujarnya:

"Mungkin aku bukan seorang pria, mungkin sebangsa makhluk aneh, terus terang hingga sekarang aku pun tidak tahu makhluk macam apakah diriku ini, sekarang aku hanya tahu akan satu hal"

"Soal apa?"

"Perutku benar-benar sangat lapar." Gadis itu segera tertawa cekikikan.

"Waah, rupanya makhluk aneh pun bisa kelaparan," serunya, "hey makhluk aneh, biasanya kau makan apa?"

"Makan daging."

"Makhluk aneh juga makan daging?"

"Ya, selain pandai makan daging, malah pandai pula minum arak," lalu Pok Ing pun bertanya, "kau tahu arak itu benda apa?"

"Tentu saja tahu, Popo-ku juga minum arak." "Terima kasih langit, terima kasih bumi."

"Hey makhluk aneh, apakah kau pun punya nama?" "Tentu saja."

"Siapa namamu?" "Pok Ing!" "Aku bernama Hay Ling," gadis itu memperkenalkan diri, "Hay yang bernama samudra, Ling yang berarti Sian-ling, roh dewi." Ternyata gadis ini pun mengenali tulisan.

Bab 2 : Dongeng

Sewaktu Pok Ing bertemu dengan gadis yang bernama Hay Ling itu, waktu menunjukkan pagi hari, di saat fajar baru menyingsing. Ketika matahari mulai terbenam, kembali Pok Ing menjumpai satu kejadian di luar dugaan yang membuatnya amat terkejut, amat keheranan.

Bila dibilang pulau terpencil ini adalah sebuah dunia, maka di dalam dunia ini terdapat banyak sekali kejadian aneh yang membuat orang tercengang, membuat orang terperangah.

Persoalan pertama yang membuat Pok Ing terperangah adalah masalah wanita.

Berada di bagian mana pun di dunia ini, hal yang selalu membuat orang terperangah rasanya memang soal wanita.

Lelaki yang berada di sini mungkin benar-benar banya ada tiga orang, tapi jumlah wanitanya sangat banyak bahkan semuanya sama seperti Hay Ling, cantik, sehat, lincah dan pakaian yang dikenakan di tubuh mereka tidak lebih banyak daripada apa yang dikenakan Hay Ling.

Beruntung saat itu Pok Ing sudah pulih kembali dalam ketenangannya, untung dia pun bukan seorang pria yang belum pernah melihat wanita.

Dalam kenyataan, perempuan cantik yang pernah dijumpainya mungkin jauh lebih banyak, lebih banyak daripada kebanyakan pria mana pun di dunia ini.

Berbeda dengan kawanan perempuan itu, sama seperti Hay Ling, mereka teramat jarang, teramat langka bertemu dengan kaum lelaki.

Sewaktu menjumpai Pok Ing, mereka pun menunjukkan sikap terperangah, heran, kaget dan ingin tahu, bahkan ada di antara mereka yang menunjukkan rasa takut, ngeri, seolah-olah baru saja bertemu dengan makhluk aneh.

Lantas dalam pandangan mereka, semestinya lelaki yang sesungguhnya itu berbentuk seperti apa?

Pok Ing tidak habis mengerti, betul-betul tidak habis mengerti.

Persoalan kedua yang membuat Pok Ing keheranan adalah segala sesuatu kenikmatan yang tersedia dalam pulau terpencil itu ternyata jauh lebih banyak, jauh lebih bagus daripada apa yang semula dibayangkan.

Dalam perkiraannya semula, paling banter kawanan gadis muda itu hanya bertempat tinggal di dalam gua, peralatan yang berada dalam gua mereka pun paling banter hanya perabot yang sederhana, hiasan sederhana, dan bisa diduga hidangan yang mereka miliki pun pasti hidangan ala kadarnya.

Bagaimanapun pulau terpencil itu terletak jauh dari peradaban, jauh dari kenikmatan, kemewahan dan kemegahan umat manusia pada umumnya, mereka tak lebih hanya hidup dalam dongeng, dalam impian dan khayalan.

Yang membuat orang sama sekali tak menyangka adalah apa yang dilihat dan dinikmati Pok Ing pada saat itu justru merupakan sebuah dongeng yang sukar dipercaya orang.

Ternyata di tengah pulau terpencil itu terdapat sebuah bangunan istana yang begitu besar dan megah, istana yang begitu indah, istana yang cuma ada dalam dongeng, biarpun Pok Ing sudah berkelana di Seantero jagad, belum pernah ia jumpai bangunan istana yang begitu indah dan megah seperti bangunan istana di situ.

Dalam ruang utama yang luas tersedia aneka jenis benda yang indah dan aneh, semua lentera terbuat dari kaca kristal yang unik dan indah dilapisi emas murni di sekelilingnya.

Di atas sebuah meja bulat yang besar dan lebar, yang terbuat dari kayu pohon raksasa yang utuh dan penuh ukiran, tersedia aneka arak wangi dan hidangan lezat. Cukup berbicara dari jenis arak pun sudah ada limapuluhan jenis banyaknya, di antaranya ada arak anggur yang khusus didatangkan dari negeri Persia serta arak madu, ada juga arak ji-ok-tau dan yau-tocu dari utara yang panas menyengat. Di antara hidangan lezat yang tersedia dalam piring emas dan mangkuk emas, meliputi aneka hidangan lezat dari Seantero jagad, kecuali bibir gorilla, belalai gajah dan punuk unta, nyaris hidangan jenis apa pun tersedia di situ.

Tapi yang membuat wajah Pok Ing sedikit berubah adalah sebilah golok yang ada di situ, sebilah golok berbentuk antik yang lebar lagi pendek.

Sarung golok terbuat dari sejenis emas berwarna kuning gelap, di atasnya bertaburkan tujuh butir batu zamrud yang memancarkan cahaya kemilauan, hanya pedagang Persia yang mengerti soal kualitas baru bisa menentukan nilai sesungguhnya dari batu-batu mestika itu.

Golok itu diletakkan mendatar di sebuah rak golok yang entah terbuat dari bahan kayu apa, Pok Ing ingin sekali mencabut golok tersebut.

Tapi Hay Ling segera mencegahnya.

"Popo bilang, golok itu tak boleh disentuh!" katanya. "Kenapa?"

"Karena golok itu adalah golok bencana, bila disentuh maka dia akan bertemu darah," Hay Ling menjelaskan, "aku paling takut melihat darah."

Perlahan-lahan Pok Ing mengambil tempat duduk, lewat lama, lama kemudian ia baru berkata: "Aku kenal dengan golok ini."

"Kau kenal?"

"Golok ini disebut Thian (langit), Tee (bumi), Sin (dewa), Hud (Buddha), Jin (manusia), Kui (setan), dan Siu (hewan)-Jit-sat-to (Golok Tujuh Pembunuh), bertemu dewa menghormati dewa, bertemu setan membantai setan."

"Buas benar nama golok itu."

"Semua golok mestika maupun pedang mestika yang ada di dunia ini adalah alat pembunuh, golok tersebut masih belum terhitung golok paling buas."

"Lantas golok apa yang merupakan golok paling buas?"

"Golok Siau-lo-it-ya-teng-cun-yu (Semalam Mendengar Hujan Musim Semi di Loteng Kecil)!" "Siau-lo-it-ya-ieng-cun-yu? Itu nama sebilah golok?"

"Benar."

Setelah berhenti sejenak, kembali Pok Ing melanjutkan: "Konon menurut cerita, kedua bilah golok ini pernah saling bertarung sebanyak tujuh kah dan secara beruntun Siau-lo-it-ya-teng-cun- yu berhasil mengungguli tujuh kak, tapi tidak pernah berhasil memaksa golok itu lepas dari genggaman."

"Kemudian?"

"Kemudian pemilik golok Siau-lo-it-ya-teng-cun-yu dan pemilik golok ini merubah sikap permusuhan mereka menjadi sahabat dan berjanji selama hidup tak akan pernah saling bertarung lagi, tapi golok ini beserta pemiliknya tiba-tiba hilang lenyap tak ada beritanya, tak disangka ternyata berada di sini."

"Golok ini selalu berada di sini."

"Tahukah kau dari mana datangnya golok ini?"

"Popo pernah bercerita, setelah ia berhasil mengalahkan pemilik golok itu, dia pun membawa pulang golok ini dan diletakkan di sini," sahut Hay Ling, "kalau tidak salah, peristiwa ini sudah terjadi pada tujuh-delapanbelas tahun berselang."

Ia melukiskan kejadian tersebut secara santai dan ringan, seakan akan peristiwa itu tak lebih hanya sebuah kejadian kecil yang amat biasa dan tak aneh, tapi berbeda bagi Pok Ing yang mendengarnya, bukan saja paras mukanya berubah hebat, tubuhnya sampai gemetar lantaran kagetnya.

Tentu saja dia mengerti bahwa peristiwa itu merupakan sebuah peristiwa besar yang amat menggetarkan sukma, yang lebih membuat nya tak menyangka adalah kemampuan dari "Popo", tak nyana kemampuannya begitu dahsyat hingga sanggup mengalahkan bintang pamungkas yang sudah lama malang melintang di kolong langit, Mo Jit-seng.

Yang membuatnya lebih terkejut adalah aneka jenis senjata milik jago kenamaan persilatan yang berjajar di atas rak kayu di tempat itu, ternyata senjata ampuh yang dipamerkan bukan hanya Jit-sat-to saja. Dengan cepat dia menjumpai tombak andalan dari keluarga Yo di Soat-say, jangkar cakar ayam milik keluarga Ong dari Hway-lam, cambuk milik keluarga Tu dari Keng-ciu, senjata martil terbang milik keluarga Tio dari Kam-siok, balikan pedang milik keluarga Ku dari bukit Pa-san.

Semua senjata kenamaan itu biasanya selalu tergembol di tubuh para pemiliknya dan tak pernah terlepas barang seinci pun.

Malah di atas pedang dari Pa-san terbaca berapa ukiran tulisan yang berbunyi:

Pedang ada, manusia hidup. Pedang lenyap, manusia mati.

Mungkinkah kawanan jago yang pernah malang melintang tak terkalahkan dalam dunia persilatan itu sudah keok di tangan Popo? Siapa pula Popo itu?

Pok Ing mulai bersantap, bersantap dalam jumlah banyak, dia butuh banyak protein untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya, karena secara tiba-tiba ia menyadari bahwa dirinya segera akan bertemu dengan seorang tokoh maha sakti yang begitu misterius, begitu aneh dan begitu menakutkan.

Sikap dan tindakan macam apa yang akan dilakukan orang itu terhadapnya? Hingga detik ini jangan lagi tahu, sedikit bayangan pun tidak dimiliki.

Tapi ia sudah memperoleh sebuah firasat jelek, semacam firasat yang dipenuhi bencana, musibah dan mara bahaya.

la sadar, dirinya harus ekstra hati-hati, ekstra waspada, dia yakin mara bahaya yang segera akan dihadapinya adalah sebuah mara bahaya yang belum pernah dijumpai sebelumnya, besar kemungkinan selembar nyawanya akan tetap tertinggal di situ, seperti aneka jenis senjata mestika yang terpampang dalam ruang utama.

Yang lebih tragis lagi, selama ini firasatnya tak pernah meleset, apa yang diduga biasanya selalu benar.

Menurut cerita para pedagang yang sudah terbiasa menjelajahi samudra, arak merah yang dibuat dari anggur selain amat lezat, bukan saja bisa tambah darah bahkan menguatkan badan.

Secara beruntun Pok Ing meneguk habis tiga cawan arak, kemudian baru tanyanya kepada Hay Ling:

"Kau bilang dalam hidupmu pernah bertemu dengan tiga orang pria, kecuali Popo-mu, siapakah dua orang lainnya?"

"Yang seorang adalah empek-ku, dia bernama Bu-beng-siu, sejak banyak tahun berselang pergi ke luar samudra, hingga kini belum juga kembali," Hay Ling menerangkan, "sedangkan yang satu lagi adalah pamanku, dia sudah lama hidup mengasingkan diri."

"Dia mengasingkan diri di mana?" "Di pulau dewa lautan kami ini."

"Bersediakah kau mengajakku menemuinya?" tanya Pok Ing. "Tidak bisa."

"Kenapa?"

"Sebab tempat tinggalnya adalah sebuah rumah kecil di bawah tanah yang tak ada pintu dan tak ada jendela, siapa pun dilarang masuk ke sana."

Hay Ling menatap wajah Pok Ing, sorot matanya berkilat bagai kilauan batu mestika, setiap kali ia sedang memandang Pok Ing, sinar semacam itulah yang segera terpancar keluar.

Kembali dia melanjutkan:

"Tapi bila kau hanya ingin menengok dari luar, aku bisa membawamu ke sana,"

"Sebenarnya aku memang hanya ingin menengok dan luar," sahut Pok Ing sambil tertawa getir, "soal rumahnya, sementara waktu aku masih belum ingin ke situ."

Tak disangkal ia sudah bisa menduga rumah macam apakah yang berada di bawah tanah, tanpa pintu dan tanpa jendela.

Sebuah peti mati yang terkubur di dalam tanah.

Bila seorang mati berbaring di dalam peti mati, dia memang tak berbeda jauh dengan seorang manusia hidup yang berbaring di dalam sebuah rumah.

Sebuah batu bongpay yang berdiri di depan kuburan, apa bedanya pula dengan sebuah pintu gerbang yang tak bisa dimasuki?

Yang lebih berbeda lagi tak lebih hanya soal hitungan waktu, apa bedanya dulu, kini dan belasan tahun mendatang? Sebentar lagi semuanya akan lewat, semuanya akan berlalu. Di sini bersemayan Siau Tan-ci!

Di atas batu nisan hanya tertera lima huruf yang sederhana, Siau Tan-ci tak lebih hanya nama seseorang.

Hingga kini, ada berapa orang persilatan yang masih teringat dengan nama orang ini?

Bila sudah tak berapa orang yang teringat akan nama tersebut, lalu apa bedanya dengan beribu nama, berjuta nama lainnya?

Sambil mengawasi nama yang tertera di batu bongpay, Pok Ing menghela napas panjang:

" Aaai, tak nyana It-tan-ci-kiu-sip-shia (Satu Sentilan Jari Sembilan-puluh Kota) Siau sianseng sudah beristirahat di tempat ini!"

"Jadi kau pun kenal dia?"

"Aku kenal dia?" Pok Ing mulai bertanya kepada diri sendiri, "kenalkah aku dengan dia?" Seharusnya dia kenal dengan orang ku, Siau Tan-ci pernah menggemparkan sembilan propinsi,

orang persilatan mana yang tidak mengenalnya?

Tapi orang yang benar-benar kenal dengannya, benar-benar pernah bertemu dengannya, rasanya tidak kbih dari beberapa orang, balikan hanya berapa gelintir manusia dalam persilatan yang mengetahui bagaimana bentuk wajahnya, perawakan tubuhnya tinggi atau pendek, berapa usianya dan tua atau muda dirinya.

Dalam ingatan Pok Ing, ternyata tak sedikit pun terlintas bahan dan data yang menyangkut Siau sianseng ini.

Satu-satunya yang dia yakini adalah orang itu masih mempunyai tampilan yang mirip dengan "Popo", oleh sebab itu Hay Ling baru menganggap mereka adalah sama-sama "pria" nya, sementara Pok Ing tak lebih hanya makhluk aneh.

Kalau Pok Ing adalah makhluk aneh, lantas bagaimanakah bentuk sebenarnya dan pria dalam pandangan gadis itu?

Tiba-tiba terdengar bunyi terompet berkumandang dari tengah lautan, Hay Ling segera bersorak-sorai, berteriak dengan riang gembira"

"Popo telah pulang, Popo telah pulang!"

Bab 3 : Cerita tentang Dewa Laut

Seekor domba utuh yang semula masih dipanggang di atas api sambil menimbulkan suara mendesis, kini sudah disuguhkan di atas sebuah piring emas bertaburkan intan permata dan batu zamrud oleh seorang budak perempuan Persia yang berambut pirang.

Tuan rumah segera bangkit berdin, menggunakan tangannya menusuk ke kelopak mata domba yang masih panas itu dan mencongkel keluar sebutir biji mata domba yang masih panas, lalu menyodorkan ke dalam baki kemala putih yang berada di hadapan tamunya. Tamunya adalah Pok Ing.

Biji mata domba yang melotot menyeramkan itu sudah tersaji di atas baki, jangan lagi orang lain, bahkan Cukat Thay-peng yang doyan makan pun akan muak setelah menyaksikan benda itu.

Tapi Pok Ing segera melahapnya dengan santai.

Dia tahu inilah prosesi yang paling sakral bagi suatu agama misterius di Timur Jauh dalam menghormati tetamunya. Tanpa ragu tanpa sangsi ia segera melahap biji mata domba itu hingga habis, bukan saja paras mukanya tidak berubah bahkan melahapnya dengan penuh kenikmatan.

Tuan rumah segera tertawa terbahak-bahak.

Suara tertawanya tajam lagi nyaring, seperti sebuah gurdi yang sedang mengebor gendang telingamu.

Selama hidup belum pernah Pok Ing menjumpai manusia semacam ini, kurus kering, lemah, cebol, bongkok, berdada ayam, berwajah penuh kerutan, memiliki empat anggota tubuh yang sudah keriput dan kisut, bahkan perawakan tubuhnya sudah melengkung dan tiada hentinya mengejang.

Tapi manusia semacam ini justru memiliki sifat penyerang yang jauh lebih menakutkan dari siapa pun, memiliki sifat agresif yang begitu berbahaya, wajahnya memancarkan kewibawaan yang menakutkan, seolah-olah dialah manusia paling kuasa yang menentukan nasib dan hidup mati orang lain.

Tentu saja orang inilah tuan rumah dari pulau Dewa Lautan.

Orang ini besar kemungkinan memang bukan seorang manusia — melainkan dewa laut.

Budak wanita dan Persia yang bertugas menyuguhkan arak tinggi besar tapi kuat, seluruh tubuhnya dipenuhi dengan kekenyalan dan tenaga hidup, kalau bukan ujung matanya mulai berkeriput, dia kekuatan seperti seorang gadis yang baru berusia delapan-sembilanbelas tahunan.

"Dia bernama Isami," tuan rumah memperkenalkan, "dia adalah congkoan dari semua wanita yang ada di sini, sejak kecil sudah melatih mereka. Ia datang dari Persia, konon merupakan seorang bibi suci dari sebuah organisasi keagamaan Persia yang amat misterius, disebut Perkumpulan Penyembah Api, Pay-hwee-kau."

Kemudian setelah tertawa, kembali tuan rumah berkata-

"Kepandaian yang dilatih adalah sebuah kungfu misterius yang aneh tapi sakti, aku berani bertaruh dia tak bakal kalah di tangan jago wanita mana pun yang ada di kolong langit, bila tuan Pok berminat, tak ada salahnya untuk mencoba?"

Pok Ing segera tertawa.

"Untung saja minatku terhadap wanita cantik bukan terletak pada bagian yang itu," sahutnya.

Hingga kini dia masih belum dapat menebak latar belakang dari tuan rumah, tapi ia sudah mengetahui kalau budak wanita dari Persia yang bernama Isami ini betul-betul seorang lawan tangguh yang menakutkan, kemungkinan besar kemampuannya untuk bertarung mencapai tiga jam lebih, jelas tak seorang jago wanita pun dari daratan Tionggoan yang memiliki daya tahan sehebat dia.

Dalam sebuah pertarungan, tak bisa disangkal daya tahan memang merupakan salah satu kunci untuk memperoleh kemenangan.

Kawanan bocah perempuan yang dilatih Isami pun jelas memiliki kekuatan tempur yang menakutkan, mungkin hanya Hay Ling seorang yang terkecuali.

Dia hanya seorang gadis yang lembut dan halus, terutama sewaktu dia berada di sisi majikannya, kelihatan sekali kalau dia merasa sangat bahagia dan puas.

Ketika tuan rumah memandang ke arahnya, sorot mata itu dipenuhi dengan perasaan bangga dan angkuh, tapi begitu memandang ke arah Pok Ing, sorot mata itu seketika memudar bahkan berubah jadi amat gusar dan jengkel, mendadak dia memberi tanda, memerintahkan semua gadis itu untuk mengundurkan diri, termasuk juga Hay Ling diminta untuk keluar.

Ketika dalam ruang gedung yang luas itu tinggal dia bersama Pok Ing berdua, perlahan-lahan mimik mukanya pulih kembali dalam ketenangan, keangkuhan dan rasa percaya diri. Jika kau perhatikan lagi dengan lebih seksama, maka dapat kau temukan juga keangkuhan dan kewibawaan seorang bangsawan muncul dan balik wajahnya.

Tentu saja hal im terbentuk dari kebiasaannya memerintah orang selama banyak tahun, sekalipun sedang berhadapan dengan Pok Ing, penampilannya tetap angkuh dan jumawa, seakan- akan setiap saat ia bisa memutuskan nasib hidup orang ini.

"Jadi kau bernama Pok Ing?" "Betul"

"Aku pernah mendengar tentang dirimu, belakangan namamu semakin tersohor dalam dunia persilatan," ia tertawa hambar, "tapi sayang sudah lama aku mengundurkan din dari keramaian dunia kangouw."

Kemudian tanyanya lagi kepada Pok Ing:

"Aku rasa kau pasti merasa sangat heran tentang diriku bukan?" Tanpa tedeng aling-aling Pok Ing segera mengangguk. "Tepat sekali!"

"Kalau begitu sekarang kau boleh bertanya, sudah kuputuskan akan kubeberkan semua perihal tentang diriku."

Tentu saja yang paling menarik perhatian Pok Ing adalah dirinya, tak disangka tuan rumah yang misterius itu ternyata menyanggupi permintaannya dengan cepat.

"Akulah Mo Jit-seng, kami mempunyai sembilan orang saudara seperguruan dan tergabung dalam sebuah aliran rahasia. Usia maupun asal-usul kesembilan orang itu hampir seimbang, ada yang sudah muncul di dalam dunia persilatan sejak limapuluh tahun berselang, ada pula yang hingga sekarang masih berupa seorang bocah cilik."

"Berarti Mo Ngo-seng, seorang pendekar aneh yang pernah menyapu dunia persilatan bagaikan sambaran bintang kejora pada empatpuluh tahun berselang adalah saudara seperguruanmu?"

"Benar," sahut Mo Jit-seng, "hanya saja kepandaian silat yang kami latih dan senjata andalan kami berbeda satu dengan lainnya."

"Yang kau latih adalah ilmu golok? Golok Jit-sat-to yang bertemu dewa membunuh dewa, bertemu setan membunuh setan itu?"

Mo Jit-seng tetap bersihap tenang, jawabnya:

"Sayang golok mestikaku yang bertemu dewa membunuh dewa, bertemu setan membunuh setan itu tak mampu menandingi kehebatan ilmu golok Siau-lo-it-ya-teng-cun-yu, perkumpulan Mokau yang ia dirikan kian hari pengaruhnya makin membesar dan luas, maka aku pun terpaksa mengungsi ke luar lautan dan menjadi raja di pulau terpencil. Oleh karena orang-orang dari laut selatan bila bertemu aku pada takut serta menganggapku sebagai dewa langit, maka aku pun menyebut diriku sebagai "

"Dewa Laut?"

"Benar, Dewa Laut," ucap Mo Jit-seng, "sejak itu aku malang melintang di tujuh samudra dan menjadi dewa di lautan, semua harta kekayaan yang ada di negeri laut selatan termasuk putri mereka diserahkan kepadaku sesuai dengan apa yang kuminta, boleh dibilang penghidupanku selanjutnya pun bukan kehidupan yang sia-sia."

Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, terusnya:

"Tapi dalam hatiku selalu muncul perasaan menyesal, perasaan masgul yang sulit untuk diatasi."

"Apa yang kau sesalkan? Apa yang membuat kau masgul?" "Perempuan."

"Perempuan?" sebetulnya Pok Ing tidak mengerti, tapi dengan cepat ia jadi paham, "aah betul, tentu saja soal perempuan."

Sorot mata Mo Jit-seng dialihkan ke atas golok mestihanya yang berada di kejauhan sana, lewat lama kemudian ia baru berkata perlahan:

"Selama hidup aku malang melintang di kolong langit, tak seorang pun mampu menandingi kehebatanku, setiap pria yang bertemu aku segera takluk dan turut perintah, setiap wanita yang bertemu aku pun tak ada yang berani membangkang atau membantah, tapi sayangnya "

Paras mukanya berubah jadi redup, jadi amat sedih. Pok Ing segera mewakilinya untuk menjawab:

"Sayangnya kau tak pernah tahu apakah di dunia ini benar-benar ada seorang wanita yang sungguh-sungguh mencintaimu."

Paras muka Mo Jit-seng berubah, sinar matanya yang membara bagai api segera memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Paras muka Pok Ing sama sekali tak berubah, lanjutnya dengan perlahan:

"Oleh karena sejak lahir kau sudah berbadan bungkuk, maka sedikit banyak timbul juga perasaan rendah diri, perasaan tak percaya dengan penampilan sendiri, tapi bila seorang wanita yang selama hidupnya belum pernah bertemu dengan lelaki lain, otomatis dia pun tak akan menganggap perawakan badanmu itu aneh."

Jika seorang wanita belum pernah berjumpa dengan lelaki lain sepanjang hidupnya, mungkin dia akan mengira semua lelaki di dunia ini memang berbentuk begitu.

"Ketika kau berpikir akan hal itu, tentu saja dengan cepat kau ciptakan kondisi seperti itu," kata Pok Ing lebih jauh, "maka muncullah pulau Dewa Laut di dunia ini, dan muncul pula seorang gadis macam Hay Ling."

Akkirnya Mo Jit-seng menghela napas panjang.

"Benar, memang begitulah kejadiannya," dia berkata, "aku memang tidak berharap Hay Ling berjumpa dengan lelaki mana pun, aku berharap dia selalu beranggapan bahwa semua lelaki yang ada di dunia ini sama bungkuk, sama buruknya dengan wajahku, Bu-beng-siu maupun Siau Tan-ci tak lain adalah nama samaranku ketika berkelana dalam dunia persilatan."

Pok Ing ikut menghela napas. "Kau seorang din muncul dengan tiga identitas, dan ketiga-tiganya menggemparkan dunia persilatan, tak disangkal kau memang seorang manusia berbakat aneh, membuat orang merasa kagum."

"Tapi sayang, rencanaku yang sebenarnya sempurna dan luar biasa itu kini rusak akibat kehadiranmu," kata Mo Jit-seng keniudian," kini Hay Ling sudah melihatmu, sudah berjumpa denganmu, biar kubunuh dirimu pun sama sekali tak bermanfaat bagi persoalan ini."

Walaupun dia berusaha mengendalikan diri, namun dari balik matanya terpancar juga garis- garis darah lantaran amarah yang memuncak

Ketika seseorang menyaksikan usahanya yang telah dibangun bertahun tahun dengan cucuran keringat dan darah akhirnya hancur berantakan, sehebat apa pun imannya, sedahsyat apa pun kemampuannya mengendalikan diri, tak urung sulit juga untuk menguasai rasa sedih, kecewa serta gusarnya.

Dalam hal ini Pok Ing sangat memahaminya.

"Aku tidak menyalahkan dirimu, biar kau akan membunuh aku pun tak bakalan aku menyesal," ucap Pok Ing, "dengan kepandaian silat yang kau miliki, meski tidak sukt untuk membunuhku, ttu pun tak bisa kau peroleh secara gampang. Siapa tahu dari kejadian ini mungkin kau masih bisa memperoleh sedikit kegembiraan, bahkan mungkin bisa menutup sedikit kerugian yang kau derita."

"Sempurna amat jalan pikiranmu," seru Mo Jit-seng, "tak keran kalau orang persilatan mengatakan bahwa jalan pikiran Pok Ing meski agak aneh, tapi amat cermat dan sempurna, sulit ditandingi siapa pun."

Setelah menghela napas panjang, tambahnya: "Tapi sayang, saat ini aku sudah tidak lagi membunuh orang untuk mencari kesenangan."

"Lalu biasanya apa yang kau lakukan untuk mencari kesenangan?" "Berburu."

Pok Ing sangat setuju dengan pendapat itu, katanya:

"Memanah rajawali di padang rumput, mengejar kelinci, berburu kijang, anjing pemburu berlarian mendahului kuda, debu beterbangan di belakang kuda, berburu memang sebuah permainan kaum bangsawan, sudah pasti sangat menarik dan asyik."

Mimik muka Mo Jit-seng perlahan-lahan pulih kembali dalam ketenangan dan kehambaran. "Permainan itu bukan saja sebuah permainan yang penuh wibawa bahkan sangat mengandung

seni, malah di saat kau menggunakan tenaga kekerasan pun semuanya dilakukan dengan seni yang tinggi."

"Tenaga kekerasan yang anggun dan penuh seni?" "Benar."

Pok Ing segera tertawa.

"Sayangnya hewan tak bakal mengerti keanggunan dan karya seni seperti itu." "Tentu saja hewan tidak mengerti, tapi manusia paham."

"Manusia?" "Benar, manusia."

"Sekarang kau berburu manusia?" "Benar."

Pok Ing tertegun, berdiri terperangah.

Dengan nada hambar Mo Jit-seng berkata lebih jauh:

"Manusia merupakan makhluk yang paling cerdik, mau beradu kecerdasan, mau beradu tenaga, manusia adalah lawan yang paling bagus, apalagi. "

Sambil tertawa dia mengalihkan sorot matanya yang tajam bagai gurdi ke wajah Pok Ing, kemudian melanjutkan:

"Apalagi manusia macam dirimu itu." Pok Ing ikut tertawa, tertawa getir.

"Bukan satu pekerjaan yang mudah untuk menemukan seorang manusia macam kau," kata Mo Jit-seng lagi, "rasanya aku masih ingat kau pernah berkata akan memberi sedikit ganti rugi kepadaku, kalau memang begitu, aku berharap sekarang kau bersedia menyanggupi sebuah permintaanku yang kecil." "Apakah kau minta aku menjadi binatang buruan, agar kau bisa berburu dengan riang dan puas?"

"Jika aku berkata begitu, jelas sikapku ini kurang sopan terhadap seorang tamu macam kau." "Lalu apa yang hendak kau katakan?"

"Sebenarnya aku hanya mengajakmu untuk berlomba, lomba ini sangat adil," Mo Jit-seng menjelaskan, "sekalipun orangku mungkin sedikit lebih banyak, namun tubuhku cacad, badanku bongkok, jauh berbeda dengan anggota badanmu yang lincah lagi kuat, di dalam hal ini aku sama sekali tidak mencari keuntungan sepihak."

"Ehmm, masuk di akal."

"Walaupun di atas pulau ini banyak tersebar jebakan dan perangkap, namun aku yakin semua alat jebakan itu tak akan mampu mencelakai seorang ahli macam kau."

"Sebelum tiba di sini, aku sudah pernah menyaksikan jebakan harimau yang dipasang orang pribumi di kepulauan Melanesia di laut selatan, aku pun pernah melikat katapel yang digunakan pribumi di atas gunung Barat-daya untuk menjatuhkan hewan, buatan mereka amat sempurna dan ganas."

"Ternyata kau memang seorang ahli beneran."

"Sayangnya seorang ahlipun sama seperti orang biasa, asal bertemu dengan salah satu jebakan itu, dapat dipastikan nyawanya pasti akan melayang."

"Aku akan mempersilahkan kau untuk berangkat satu jam lebih awal." "Pergi ke mana?" tanya Pok Ing, "aku harus pergi sampai mana?"

"Di tepi pantai sebelah timur berlabuh sebuah perahu, di atas perahu sudah tersedia lengkap rangsum dan air bersih, perahu tersebut dijamin bisa mengangkutmu sampai di daratan besar dengan selamat," ujar Mo Jit-seng, "asal kau bisa mencapai tempat tersebut maka silakan saja berlayar menjauh dari sini dan jangan balik lagi kemari."

"Ehm, kedengarannya transaksi ini sangat adil." "Jadi kau bersedia untuk menerimanya?"

Pok Ing tersenyum.

"Aku rasa kau sama sekali tidak memberi pilihan lain kepadaku," katanya.

Waktu itu para sahabat Pok Ing sedang mempersiapkan upacara penguburan bagi dirinya.

Bab 4 : Sebelum Upacara Penguburan

Tirai jendela yang terbuat dan kain permadani masih tergantung rendah, suasana di dalam rumah pun masih remang-remang, kakek tua itu pun masih duduk di sudut dinding, seakan akan tak ingin orang lain menyaksikan raut mukanya.

Kwan Ji duduk di hadapannya jauh di depan sana, wajahnya yang kurus kering nampak amat murung, mimik mukanya menampilkan keseriusan.

Thio Ngo berdiri dekat pintu, dia sedang memberikan laporannya secara ringkas, mimik mukanya juga kelihatan amat serius.

"Selama tujuh hari, kami telah mengirim tujuhpuluh delapan buah perahu nelayan untuk melakukan pencarian di seputar samudra bebas, tapi mereka hanya berhasil menemukan sisa kerangka perahu Elang Langit yang tenggelam, sementara kabar berita Pok Ing hingga saat ini masih belum jelas."

"Hasil laporan yang diberikan rombongan perahu yang dikirim Ok Kim-siu pun memberikan hasil yang sama."

"Setelah melalui perundingan yang berulang-ulang ahirrnya mereka semua sepakat dengan satu kesimpulan, Pok Ing sudah tertimpa musibah."

Tak tahan akhirnya sekulum senyuman tersungging di ujung bibir Thio Ngo, katanya: "Ini berarti kitalah yang telah memenangkan pertaruhan ini."

Setelah berulang kali dikalahkan Pok Ing secara mengenaskan, akhirnya mereka berhasil memenangkan pertaruhan ini, bukan saja telah memenangkan kembali semua uang taruhan bahkan mereka pun berhasil memenangkan nyawa Pok Ing, tak heran kalau Thio Ngo tak kuasa menyembunyikan rasa girangnya. Kwanji sama sekali tidak tertawa, sewaktu mengawasi Thio Ngo, sorot matanya bahkan memancarkan sinar kegusaran, sementara orang tua itu pun tidak menunjukkan sikap gembira.

Kembali Thio Ngo berkata:

"Menurut pengamatan dan penyelidikan yang kami lakukan ke pelbagai pikak, harta pribadi Pok Ing sudah mencapai sekian milyar tahil, kekayaannya sudah berada dalam urutan lima orang manusia terkaya di dunia. Ini pun berdasarkan penyekdikan orang lain, dalam kenyataannya tak ada yang tahu "

Mendadak kakek itu menukas perkataannya, dengan hambar dia bertanya: "Seberapa banyak harta kekayaan yang dia miliki, apa sangkut pautnya dengan kita?" "Tidak ada."

"Jadi kau beranggapan aku sangat ingin memenangkan pertaruhan ini?" "Bila bertaruh dengan orang lain, tak ada yang ingin dirinya kalah."

"Kau keliru besar," kata kakek itu, "dalam pertaruhan ini, aku lebih rela diriku yang kalah." Thio Ngo tertegun, akhirnya tak tahan ia bertanya:

"Kenapa?"

"Karena Dewa Laut."

"Dewa Laut?" paras muka Kwan Ji berubah, tak tahan serunya, "apa hubungan persoalan ini dengan Dewa laut?"

"Wilayah perairan di seputar sana merupakan tempat singgah Dewa Laut, sebenarnya aku berharap kali ini dia bisa berjumpa dengannya."

"Setelah bertemu lantas kenapa?"

"Bila kedua orang itu bertemu maka kedua belah pihak pasti sama-sama tak akan mengalah, sebab pertemuan di antara mereka berdua pasti akan diakhiri dengan pertarungan," kata kakek itu, "Dewa Laut tak pernah membiarkan korbannya tetap hidup, andaikata Pok Ing bisa kembali tepat waktu, itu berarti kalau bukan karena dia tak bersua dengan Dewa Laut, tentunya Dewa Laut sudah diakhiri riwayat hidupnya."

"Bila dia tidak kembali, berarti kemungkinan besar dia sudah tewas di tangan Dewa Laut?" "Bukan mungkin lagi, tapi pasti," sahut kakek itu, "asal dia sudah bertemu dengan Dewa Laut,

tak nanti Dewa Laut akan membiarkan dia pulang dalam keadaan selamat." "Sekalipun Pok Ing tak ingin membunuh Dewa Laut pun, Dewa Laut pasti akan

membunuhnya?" "Benar."

Perlahan-lahan kakek itu berkata lebih lanjut:

"Bila dia sudah menginjakkan kakinya di pulau Dewa Laut, dalam keadaan dan situasi seperti apa pun jangan harap bisa meninggalkan pulau itu lagi dalam keadaan hidup."

"Sekalipun tidak mati di atas pulau, pasti akan terkubur di dasar lautan?" "Benar."

Dengan nada serius dan bersungguh-sungguh kakek itu melanjutkan: "Aku berani jamin, dalam hal ini dia sama sekali tak punya pilihan lain!"

Bab 5 : Penguburan di Laut

Fajar telah menyingsing.

Sewaktu mendusin dari tidurnya, Mo Jit-seng bukan saja merasa semangatnya segar bahkan perasaan hatinya luar biasa gembiranya.

Bukan saja lantaran dia tahu hari ini pasti merupakan hari yang penuh dengan kegembiraan dan luapan ketegangan, dia pun merasa seluruh tubuhnya seakan dipenuhi dengan napsu birahi dan keinginan, napsu birahi yang jauh lebih ganas daripada anak muda.

Sekalipun perawakan tubuhnya cacad namun dalam tubuhnya penuh dengan tenaga hidup, terkadang napsu birahinya jauh lebih ganas ketimbang anak muda, sampai perempuan macam Isami yang begitu kekar dan berpengalaman pun kadangkala harus takluk di bawah serbuan napsunya. Tapi sekarang, untuk sementara waktu dia harus mampu mengendalikan diri, dalam keadaan dan situasi seperti apa pun musuh setangguh Pok Ing bukanlah musuh yang gampang dihadapi, dia butuh kondisi badan yang fit, butuh kekuatan tubuh yang prima untuk menghadapinya

Bahkan ketika sedang sarapan, di saat dia minta Soatcu dan Jian-tay masuk ke ruangannya pun dia berusaha mengendalikan diri, ia hanya bertanya kepada mereka:

"Apakah Pok Ing sudah berangkat?"

Soatcu dan Jian-tay adalah dua orang ahli waris dusun Gi-ho-cun di negeri Hu-siang (Jepang), ilmu yang mereka pelajari adalah ilmu ninja, ilmu Ngo-bun yang dulu sering dipelajari kaum persilatan di daratan Tionggoan, di antaranya meliputi ilmu mengubah wajah, ilmu mengubah bentuk badan, ilmu senjata rahasia, ilmu menyusup kc tanah, ilmu hipnotis dan ilmu meringankan tubuh.

Usia mereka paling banter baru duapuluh tahunan, tapi dikarenakan jerih payahnya berlatih diri secara tekun selama banyak tahun, seluruh otot badannya selain kuat bertenaga dan kenyal, bahkan mereka sanggup menyusutkan seluruh bagian tubuh mereka menurut kehendak hati, dengan mudah mereka sanggup menghancurkan milik kaum pria yang paling berharga sewaktu bersenggama dengan mereka.

Seorang pria yang bernapsu besar ternyata masih mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan perempuan macam begini, jelas hal ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan.

Terhadap kemampuan yang satu ini Mo Jit-seng merasa sangat bangga dan puas. Kini Pok Ing sudah berangkat.

"Dia berangkat menjelang fajar, kira-kira sudah setengah jam lebih melakukan perjalanannya," lapor Soatcu.

"Apakah dia membawa serta barang-barang yang telah kuper-siapkan baginya?" "Dia hanya memilih berapa macam barang di antaranya."

"Barang apa saja?"

"Barang pertama yang dipilih adalah golok pembunuh harimau yang pernah digunakan kepala suku pribumi yang hidup di wilayah Tin-lam san."

"Ehmm, tajam amat matanya."

"Selain itu dia pun memilik seperangkat tali otot kerbau, setabung mercon api buatan Po-koa- tong di kotaraja, sebatang korek api Jit-po serta sebatang sekop yang seringkali digembol kaum ninja."

"Ternyata orang ini benar-benar seorang ahli yang berpengalaman," Mo Jit-seng kelihatan semakin bersemangat.

Hewan buruan macam Pok Ing memang tidak sering bisa dijumpai Sambil tertawa kembali ujarnya:

"Bila aku menjadi kalian, semalam aku pasti tak akan lepaskan dia, dalam bidang ini dia pun merupakan seorang jagoan yang sangat ahli dan berpengalaman."

"Kami pun dapat melihatnya, hanya sayang tidak berani." "Tidak ingin? Atau tidak berani?"

"Tidak berani."

"Apa yang kalian takuti?"

"Takut dengan kau," jawab Soatcu, "kami semua takut denganmu, takutnya setengah mati." "Takut kepadaku? Kenapa harus takut kepadaku?"

"Karena kami semua tak tahan menghadapi dirimu," jawab Soatcu sambil mengerling genit ke arahnya.

Mo Jit-seng kontan tertawa terbahak-bahak. "Mana Isami?" tanyanya kemudian.

"Ia sudah melakukan pengejaran," jawab Soatcu, "sudah berangkat sejak setengah jam berselang."

"Kenapa dia mesti terburu-buru melakukan pengejaran? Memangnya ingin 'menggunakannya' sebelum menjelang kematiannya?"

"Mungkin saja begitu," Soatcu tertawa cekikikan, "dapat kulihat, selama berapa hari ini dia inginnya setengah mati." Mendadak dan balik mata Mo Jit-seng memancarkan cahaya merah yang menggidikkan, mendadak ia menarik tangan perempuan itu dan menidurkannya ke atas ranjang.

"Kau sendiri yang mencari penyakit, aku pun dapat melihat kalau selama dua hari terakhir kau pun inginnya setengah mati."

Soatcu menggigit bibirnya kencang-kencang, menggigit hingga berdarah, sementara sorot matanya memancarkan sinar kepuasan karena berhasil membalas dendam.

Jian-tay hanya mengawasi rekannya dengan dingin, perlahan-lahan dia melepaskan kancing bajunya yang pertama.

Takaran makan Mo Jit-seng di hari biasa selalu amat sedikit, tapi makanan yang dilahap selalu merupakan hidangan berprotein tinggi, lezat tidaknya suatu hidangan tak pernah dia gubris.

Asal benda itu bisa membuat kelakiannya bertambah "perkasa" dan "kuat", dia selalu akan melahapnya tanpa berpikir panjang, terkadang bahkan katak atau tikus pun akan ditangkap dan ditelannya hidup-hidup.

Untuk menambah energi yang hilang pagi ini, dia menangkap seekor katak besar dan menelannya hidup-hidup.

Pagi ini selera makannya memang kurang begitu baik, sebab dia sudah mendengar berita yang semuanya bukan berita baik.

Pok Ing telah berhasil melampaui garis pertahanan lapisan pertama yang terdiri dari duapuluh tiga tempat jebakan dan perangkap, kini dia sudah berada pada lapisan paling luar dari garis pertahanan di luar pulau Dewa Laut, kecepatan geraknya memang sangat mengagumkan dan di luar perkiraan.

Kini sudah tiba saatnya bagi Mo Jit-seng untuk turun tangan sendiri.

Meskipun dia sudah kehilangan banyak tenaga dan energi untuk melayani napsu Soatcu dan Jian-tay, namun sekarang dia sama sekali tidak merasa terlampau lelah.

Dalam hal ini, dia pun merasa amat puas dan bangga.

Yang membuatnya paling gembira adalah begitu ia turun tangan, segera terdengar berita tentang terperangkapnya binatang buruan pada alat perangkapnya yang berada di lingkar lapisan kedua garis pertahanannya.

Perangkap itu dia bangun meniru cara yang dipergunakan kaum pribumi di wilayah Lam-hay bahkan telah dilakukan penyempurnaan di sana-sini, bukan saja liang perangkap itu bertambah dalam balikan jauk lebih luas, selain itu keempat dindingnya telah dilumuri dengan minyak sehingga amat licin di tangan, jangankan manusia, harimau atau monyet yang terjebak di situ pun jangan harap mampu merangkak keluar dengan selamat.

Satu-satunya kejadian yang membuatnya amat menyesal adalah hewan buruan yang terjebak dalam perangkap itu ternyata bukan Pok Ing, melainkan Isami.

Paras muka Mo Jit-seng berubah hebat.

Setiap jengkal tanah, setiap pepohonan dan rumput yang berada di pulau tersebut, kecuali Mo Jit-seng pribadi, tak seorangpun yang, jauh lebih hapal dan menguasai ketimbang Isami.

"Aku telah memperhitungkan secara tepat kemampuan ilmu meringankan tubuh serta kebiasaan sepak terjang Pok Ing, perngkap ini khusus kusiapkan untuk menjebaknya, kenapa justru kau yang terperangkap?" tegur Mo Jit-seng marah.

"Yang terperangkap sebetulnya memang dia!"

"Kalau memang dia yang terperangkap, kenapa bisa berubah jadi kau?"

"Sebab ketika aku menghampirinya untuk menengok, tiba-tiba dia melompat keluar dari perangkap itu dan memelukku erat-erat, ternyata terjebaknya dia dalam liang perangkap itu memang khusus dilakukan untuk memancing aku agar tertipu."

"Dia memeluk bagian manamu?" tiba-tiba hawa amarah Mo Jit-seng seolah lenyap tak berbekas, dia berubak jadi sangat tertarik dan gembira, dalam hal yang satu ini tampaknya setiap ucapan yang merangsang gampang membangkitkan birahi syahwatnya.

"Dia melompat dari bawah, dengan tangannya memeluk pinggang ku kemudian dengan kedua sikutnya menindik di atas payudara ku," tak disangkal Isami pun mengetahui dengan jelas kegemaran Mo Jit-seng dalam hal ini, maka dia sengaja menerangkan secara detil sementara mulutnya entah disengaja atau tidak, ternyata menggigit bibirku."

"Bagaimana reaksimu?" "Aku? Tentu saja aku tak kuasa menahan diri."

Tiba-tiba Mo Jit-seng menjambak rambutnya, menyeret tubuhnya keluar dari liang perangkap, kemudian setelah secara beruntun menamparnya tujuh-delapanbelas kali, dia mulai merobek pakaiannya, merobek gaunnya dan menelanjangi perempuan itu.

Darah mulai meleleh keluar dari tubuh Isami, lelehan darah mengalir keluar melewati bibirnya yang sedang tertawa, tampangnya waktu itu kelihatan aneh, penuh misteri dan menakutkan.

Kini, wajahnya yang cantik sudah tidak mirip lagi dengan selembar wajah manusia!

Garis senyuman yang terukir dari lelehan darah telah membuat selembar wajahnya berubah bagaikan sebuah topeng muka yang aneh dan menakutkan.

Mungkin saja di atas wajahnya selama ini memang selalu mengenakan topeng kulit manusia. Di antara rintihan serta dengusan napas yang memburu, tiba-tiba ia berkata lagi:

"Kau tak perlu memeriksa lagi semua perangkap dan jebakan yang berada di depan sana, Pok Ing pasti telah berhasil meloloskan diri."

"Kenapa?"

"Sebab aku telah melihat Hay Ling, dia sudah menyusul ke depan sana, tak nanti dia akan biarkan orang itu tewas di sini."

Bibir Mo Jit-seng pun berdarah, bukan darah miliknya tapi darah Isami. Dengan menggunakan sepasang matanya yang penuh garis berdarah dia awasi perempuan itu sambil menyeringai tawa.

"Sayangnya, dia toh tetap harus mati," katanya.

Benar saja, ternyata Hay Ling telah melepaskan Pok Ing untuk kabur dari situ, perahu telah angkat jangkar dan kembangkan layar, kini sedang melaju menuju ke tengah samudra.

Dengan mata melotot Mo Jit-seng mengawasi Hay Ling, tiada rasa gusar atau sedih yang melintas di wajahnya, dia hanya bertanya kepada gadis itu:

"Kenapa kau tidak mengikutinya pergi dari sini?"

"Karena kau," jawab Hay Ling, "kau adalah ayahku, juga suamiku, tentu saja aku harus tetap tinggal di sini menemanimu."

"Terlepas lelaki macam apakah diriku ini?" "Benar."

Mo Jit-seng tersenyum, sambil membelai wajahnya ia berkata: "Kau memang seorang gadis yang baik hati, orang macam kau pasti akan hidup lama, lama sekali."

"Bagaimana dengan dia?"

"Tentu saja dia pun pasti akan mati," jawab Mo Jit-seng sambil memandang bayangan perahu yang sudah beradu di kejauhan sana, "bukankah sejak awal telah kukatakan, berada dalam kondisi dan waktu seperti apa pun, dia sudah ditakdirkan untuk mati."

Dia lepaskan Hay Ling dan berjalan menuju ke atas batu karang yang paling tinggi di tepi pantai, mengeluarkan sebuah alat yang di peroleh dari seorang tianglo penyebar agama dari barat dan mulai meneropong ke tengah lautan sana, tampaknya dia ingin menyaksikan sendiri Pok Ing mampus di tengah samudra.

Sekonyong-konyong... "Blaaaam!!" baru saja dia melangkah naik ke atas batu karang, suara ledakan yang disertai kobaran api dan kepulan asap hitam telah meletup ke tengah udara, lamat lamat letupan itu masih bisa dikenali sebagai letupan mercon buatan Po-hoa-tong di Kotaraja.

Seketika itu juga tubuh Mo Jit-seng yang sedang melangkah naik ke batu cadas jatuh terjungkal ke bawah, sekalipun ia sudah berusaha empat kali bersalto di tengah udara namun pada akhirnya karena tenaga tidak memadai sementara dia mulai kehilangan keseimbangan badan, maka tubuhnya pun terjatuh ke bawah, persis menghantam di atas batu-batu karang yang runcing bergerigi.

Dia termasuk seorang yang sensitif, walau hanya sekejap namun dapat diperkirakan bahwa paling tidak di tubuhnya telah menderita delapan buah luka robek dan memar.

Namun hal itu sudah tidak penting lagi.

Sebab ketika dia meneropong ke tengah lautan dengan alat barunya itu telah disaksikan perahu yang ditumpangi Pok Ing sedang tenggelam ke dalam samudra di kejauhan sana, tenggelam secara perlahan-lahan. Walaupun perahu itu sudah dia persiapkan bagi Pok Ing secara khusus, namun sambungan kayu pada lambung perahu telah dilakukan sedikit perubahan, sambungan yang semula menggunakan paku, kini pakunya sudah dicabuti dan diganti dengan lelehan lilin.

Akhirnya dengan mata kepala sendiri Mo Jit-seng menyaksikan upacara penguburan Pok Ing di tengah samudra.

Mengapa Hay Ling menolong Pok Ing? Apakah Soatcu dan Jian-tay secara diam-diam telah bersekongkol pula dengan gadis itu?

Tentang persoalan itu, Mo Jit-seng sudah tak berminat untuk menelusuri dan menyelidikinya.

Sekarang dia hanya ingin segera kembali ke kamar tidurnya yang empik dan nyaman, tidur siang sepuas-puasnya sambil merawat luka yang dideritanya. Baginya, kesehatan pribadi merupakan hal yang terpenting, sementara urusan lain bisa disingkirkan dulu untuk sementara waktu.

Tapi, ketika dia melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya itulah ia sadar, ternyata selama ini dirinya keliru besar.

Ada sementara persoalan ternyata tak mungkin bisa disingkirkan walau untuk sementara pun, sama seperti sementara orang, tampaknya mereka selalu bisa muncul di hadapanmu di saat kau paling tak ingin berjumpa dengan mereka.

Ketika Mo Jit-seng melangkak ke dalam kamar tidurnya, dia pun bertemu dengan Pok Ing!

Ternyata Pok Ing belum tenggelam ke dasar laut, dia justru selangkah lebih awal tiba di dalam kamar tidurnya dan berbaring lebih dulu di atas ranjangnya, bahkan sepasang kakinya diangkat tinggi-tinggi dan sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum.

Dalam pandangan sementara orang, senyuman Pok Ing benar-benar merupakan senyuman yang paling memuakkan.

Bab 6 : Penutup

Toko milik Tong suhu dibuka dalam sebuah lorong yang sempit, kecil lagi gelap, sudah puluhan tahun ia membuka usahanya di situu, setiap kali ada orang membujuknya pindah rumah, dia selalu menanggapi dengan marah.

Tong suhu adalah seorang berpandangan kuno, dia suka memegang prinsip lama, segalanya dilakukan menurut aturan, bahkan ketika sedang duduk pun dia segan untuk bangkit berdiri, biarpun orang yang datang berkunjung adalah orang paling kaya di kotaraja atau bangsawan paling berpengaruh pun, jarang sekali dia mau bangkit berdiri.

Orang lain pun tidak takut kepadanya, sebab semua orang tahu Tong suhu adalah penjahit nomor wahid di wilayah selatan, sekalipun lagaknya agak sok, ongkos jahitnya sangat mahal, bagi mereka hal semacam ini adalah wajar.

Namun ketika menyaksikan kehadiran kedua orang ini, ternyata Tong suhu melanggar kebiasaannya, dia bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.

Kedua orang ini, yang satu adalah seorang lelaki berperawakan tinggi besar, berkepala botak seperti paruh elang, walaupun jubah hitam yang dikenakan terbuat dari bahan berkwalitas tinggi, namun karena sudah lama kehujanan dan tertimpa terik matahari, kini nampak kuno, jelek dan kusut.

Orang yang datang bersamanya adalah seorang gadis, usianya masih muda, wajahnya amat cantik bahkan kecantikannya melebihi kecantikan manusia pada umumnya, pakaian yang dikenakan gadis itu lebih aneh lagi, dia seolah seseorang yang tak begitu memerhatikan soal pakaian.

Biasanya terkadap manusia semacam ini Tong suhu tak pernah mau peduli, acuh pun tidak.

Tapi hari ini dia telah melanggar kebiasaannya.

Bagaimanapun Tong suhu bukan seorang penjahit yang hanya tahu soal kualitas pakaian dan tidak mengerti menghargai manusia, dalam sekilas pandang saja ia sudah mengetahui kalau dua orang ini memiliki asal-usul yang luar biasa.

Yang lelaki gagah penuh wibawa, yang wanita cantik bak bidadari yang baru turun dan kahyangan, kemungkinan besar adalah seorang putri raja. Kedatangan mereka ke tempat itu tentu saja hendak membuat pakaian

"Aku minta beberapa stel pakaian berduka, sedikit kembangan pun tidak mau, masalah ongkos bukan persoalan, tapi harus segera jadi."

"Seberapa cepat?"

"Paling lambat tak boleh lewat dua hari."

Tong suhu pun mengajukan ongkos yang luar biasa menakutkan, namun mereka terima dengan santai, jangan lagi mengeluh, mengernyitkan dahi pun tidak.

"Tapi kau harus membuatnya cepat, makin cepat makin baik," kata lelaki bermata elang itu tegas, "karena aku harus segera menghadiri upacara penguburan."

"Orang itu pasti seorang sahabat karibmu?"

"Sesungguhnya dia bukan seorang sakabat karibku," kata lelaki itu sambil tertawa, "hanya saja aku tak boleh lewatkan upacara penguburan itu, bahkan sama sekali tak boleh terlewatkan!"

"Kenapa?"

"Sebab tanpa aku, upacara penguburan itu sama sekali tak bisa disebut upacara penguburan."

Muncul perasaan ingin tahu Tong suhu, tak tahan tanyanya: "Sebenarnya upacara penguburan siapakah itu?"

"Upacara penguburanku!"

TAMAT