-->

Sampul Maut Jilid 13 (Tamat)

Jilid 13 (Tamat)

Ouw Lo Si meremas-remas kipas bajanya dan sudah siap menyerang pada tiap saat.

„Hai, anjing betina!” bentak Pek Tiong Thian. „Kau tadi mengatakan bahwa si anjing she Wei telah ditolong oleh orang sakti dari Sit-bie- keng?”

„Aku tidak berdusta!” sahut To Siok Keng.

Pek Tiong Thian menatap gadis itu. Ia mendadak teringat akan ucapan Kiu It dulu, ketika ia masih rebah dalam gubuk dengan kaki yang sudah lumpuh.

„Pek heng, kita berkawan sudah puluhan tahun lamanya, urusan kau seperti juga urusanku sendiri. Setelah Ciam-hua-giok-siu berada dalam tanganku, aku akan segera pergi ke goa Long-ya untuk mencari orang sakti yang kau bilang, dan dengan mustika itu, aku akan minta obat yang mustajab untuk menyembuhkan kedua betismu yang cacad itu!”

Demikianlah, suara Kiu It yang tetap dibunuhnya, mendengung dalam telinganya.

„Apa yang kalian berikan kepada orang sakti itu sehingga ia mau menolong juga?” tanyanya. „Apakah kau kira semua orang berwatak sepertimu? Tidak semua orang mengharapkan hadiah-hadiah jika menolong!” ejek To Siok Keng.

„Kau tidak memberikan apapun kepada orang itu?”

„Tidak! Mengapa kau menganggap demikian rendah kepada orang sakti itu?”

„Tidak bisa! Tidak bisa jadi!”

„Kau tidak percaya??”

„Tidak! Orang itu pasti bukan dari Sit-bie-keng!”

„Beranikah kau bertaruh? Aku berani memastikan bahwa orang itu datang dari Sit-bie-keng!”

„Ha, ha, ha! Kalian sudah hampir masuk liang kubur, apa gunanya kita bertaruh?”

To Siok Keng jadi melotot melihat kecongkakan Pek Tiong Thian itu.

„Aku mengajak kau bertaruh justru untuk membikin kau yang akan masuk ke dalam lubang kubur!” bentaknya, „Ayohlah katakan, beranikah kau bertaruh?”

Pek Tiong Thian menggertak giginya.

„Bagaimana ingin kau bertaruh?” tanya sengit. „Kau tidak percaya bahwa orang sakti dari Sit-bie-keng sudi menolong orang, tapi ternyata orang sakti itu telah menolong suko ku.”

„Lalu bagaimana?”

„Kita akan bertaruh dengan cara ini. Kau harus memberikan cukup waktu kepada Suko ku, yalah kira-kira satu minggu dan setelah lewat jangka waktu itu, kau pasti mati digempur oleh Thay-yang- sin-jiauw! Jika perlu kita pun akan memanggil orang sakti itu untuk datang di sini dan menjumpaimu!”

Tigapuluh Enam

Pek Tiong Thian tertawa berkakakan,

„Hei. anjing betina!” katanya mengejek. „Harus aku akui bahwa kau memang sangat pintar, tetapi jangan kau menganggap aku sebagai orang yang tolol! Mungkin setelah lewat satu minggu, anjing laki-laki akan menghilang dari dunia persilatan!”

„Suko ku adalah seorang yang luhur, dia pasti tidak berani mengingkari janjinya!” sahut To Siok Keng.

„Tetapi, mengapa harus menunggu hingga satu minggu? Bukankah dia sekarang dapat menyerang aku dengan ilmu yang disanjung-sanjung itu?”

To Siok Keng berpikir sebentar. Ia tidak berani memberitahukan hal yang sebenarnya telah terjadi atas diri Wei Beng Yan, karena ia khawatir Pek Tiong Thian akan segera menggempur mereka jika jahanam itu mengetahui bahwa suko nya kini sudah kehilangan tenaga dalamnya.

„Aku belum dapat memberitahukan itu    ,” sahutnya.

„Sudahlah, jika kau tidak mau memberitahukan! Tetapi, bukankah anjing kecil itu pernah menggempur aku dengan Thay-yang-sin- jiauw di puncak Cie-sin-hong? Coba kau lihat, aku masih segar bugar, ilmu yang disanjung-sanjung itu ternyata tidak mampu membuktikan kelihayannya atas diriku!”

„Beranikah kau menerima tantanganku tadi?”

„Tentu saja aku berani! Di kolong langit ini tidak ada suatu ilmu atau seorang pun yang mampu menewaskan aku! Ketahuilah, aku adalah si jago sapu jagad yang tidak mungkin dipecundangi oleh siapapun!”

„Pegang janjimu, jahanam! Satu minggu lagi kita akan berjumpa lagi di tempat dan pada jam yang sama pula!”

„Ha, ha, ha! Aku pasti akan datang di sini, tetapi jika kalian sendiri tidak muncul nanti, ke langitpun kalian melarikan diri aku akan mengejarnya!”

Setelah berkata demikian, Pek Tiong Thian betul-betul membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.

„Susiok,” kata To Siok Keng kepada Ouw Lo Si, „Jika kau mempunyai lain urusan, pergilah bereskan urusan itu dan biarlah kita berdua saja yang menghadapi si jahanam she Pek itu!” „Anak mengapa kau berkata demikian?” sahut Ouw Lo Si, „Apakah kau menganggap aku akan melarikan diri begitu saja? Aku kini sudah merasa menyesal sekali atas perbuatanku meracuni Wei siohiap. Aku kini bertekad membantu kalian meskipun aku mengetahui bahwa si jahanam she Pek itu sangat lihay!”

Wei Beng Yan yang semula sudah merasa sengit sekali kepada kakek pincang itu, jadi berbalik merasa kasihan melihat ketobatan Ouw Lo Si itu.

„Ouw Locianpwee,” katanya, „Biarlah yang sudah tinggal sudah. Mengapa perbuatan itu harus disesalkan terus menerus?”

„Wei siohiap, apakah kaupun tidak sudi menerima aku sebagai kawan?” tanya Ouw Lo-si. „Apakah aku tidak berhak membantu kalian membasmi seorang jahanam?”

„Tapi ”

„Wei siohiap! Aku minta dengan sangat agar kau tidak menganggap aku sebagai musuh ayahmu. Aku telah memberikan kau racun dan kini aku mengharap membantumu dengan segenap jiwa ragaku!”

To Siok Keng terharu sekali melihat sikap Ouw Lo Si itu, maka lekas-lekas ia berkata kepada Wei Beng Yan.

„Suko, berilah kesempatan agar Ouw locianpwee dapat merasakan ketenteraman jiwa, lagi pula dengan membantu kita ia pun dapat membalaskan sakit hati saudara angkatnya, Khouw Kong Hu dan Kiu It, ayahku!” Sebagai seorang yang berhati luhur, Wei Beng Yan tidak bisa merasa dendam terus menerus kepada seseorang yang telah mengakui akan kesalahan atau dosanya. Meskipun si kakek pincang pernah bermaksud mengambil jiwanya dengan menjerumuskannya dengan mengendus racun yang sifatnya sangat keji.

„Baiklah,” sahutnya, „Kita akan menggempur si jahanam she Pek bersama-sama!”

Ouw Lo Si tertawa terkekeh girang seraya berkata.

„Untuk menantikan kedatangan si jahanam, aku mengusulkan kita mengambil saja rumah gedung Lee tay-hiap sebagai tempat beristirahat.”

„Begitupun baik,” sahut To Siok Keng, „kita memang harus mengubur ketiga susiok suko ku di sana!”

Begitulah mereka lalu menuju ke gedung yang dimaksud itu. Setibanya di sana, rasa menyesal Ouw Lo Si meracuni Wei Beng Yan jadi bertambah-tambah saja.

„Jika aku tidak berbuat sekeji apa yang telah aku perbuat,” katanya dalam hati, „mungkin Khouw Kong Hu, Lim Ceng Yao, Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan seorang pelayan setia mereka ini tidak akan menemukan ajalnya demikian menyedihkan. Bahkan Pek Tiong Thian mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini ” Setelah itu, ia lalu membantu muda mudi itu mengubur jenazah- jenazah ke empat orang dan memisahkan mayat Hua Ceng Kin yang sudah tidak berkepala di suatu tempat.

„Ouw Locianpwee,” kata Wei Beng Yan, „Apa yang ingin kau lakukan terhadap mayat jahanam itu?”

Ouw Lo Si bersenyum getir.

„Aku akan menggantungnya,” sahutnya sambil menatap mayatnya Hua Ceng Kin. „Untuk kemudian memuaskan arwah Khouw Kong Hu di alam baka!”

„Apakah perbuatan itu tidak terlalu kejam, biadab?”

„Wei siohiap, jika semua orang di dunia ini berpikiran sepertimu, kalangan Kang-ouw niscaya akan aman tenteram! Jahanam she Hua ini adalah salah seorang yang membunuh ayahmu, di samping itu, iapun telah membunuh Khouw Kong Hu dan entah siapa lagi. Dia harus menerima hukuman-hukuman meskipun telah menjadi mayat!”

Wei Beng Yan menoleh kepada To Siok Keng seolah-olah ingin menanyakan apakah gadis itu setuju akan perbuatan kakek pincang itu.

„Biarlah Ouw Locianpwee berbuat apa saja terhadap mayat itu,” kata To Siok Keng. „Aku tidak merasa keberatan ”

Begitulah, setelah melihat Wei Beng Yan tidak mengatakan apa- apa, Ouw Lo Si segera menggantung mayat Hua Ceng Kin di atas sebuah pohon. Ia lalu mencari minyak di dalam gedung Lee Beng Yan, tidak lama kemudian, suatu adegan seram terjadi, mayat Hua Ceng Kin yang digantung terbalik, yang sudah tidak berkepala lagi, terbakar sambil mengeluarkan suara yang memilukan hati!

Wei Beng Yan lekas-lekas mengajak To Siok Keng masuk ke dalam gedung, karena ia tidak tahan melihat dan membaui apa yang tengah dilakukan oleh Ouw Lo Si itu.

Setelah menunggu lama juga dalam gedung itu, baru tampak Ouw Lo Si berjalan masuk dengan wajah putus asa sekali. Begitu berada di hadapan kedua muda mudi itu, ia lalu berkata.

„Wei siohiap, kau telah diobati oleh orang sakti dari Sit-bi-keng, dan aku kira tidak jeleknya jika akupun membantu kau memulihkan tenaga dalammu dengan memberikan kau obat pemunah racun buatan aku sendiri ”

Wei Beng Yan dan To Siok Keng tidak menyahut. Mereka merasa agak sangsi akan kemustajaban obat yang dimaksud oleh kakek pincang itu.

„Aku mengetahui obatku itu baru bisa menyembuhkanmu dalam waktu 14 hari, dan pijatan orang sakti dari Sit-bie-keng bisa memulihkan semangatmu dalam waktu 7 hari, tapi jika kedua

pengobatan itu dipadu menjadi satu, bukankah akan jadi terlebih baik lagi?” kata Ouw Lo Si lagi.

Wei Beng Yan bersenyum seraya menyahut. „Apakah obat Ouw Locianpwee itu tidak akan mengganggu pijatan orang sakti dari Sit-bie-keng?”

Ouw Lo Si agaknya merasa tersinggung juga mendengar ucapan itu, tapi iapun bersenyum dan berkata lagi.

„Aku bukan seorang ahli pengobatan atau sin-she, tapi apa yang aku ketahui bahwa pijatan tidak ada sangkut pautnya dengan obat buatanku itu ”

To Siok Keng mengedipkan matanya kepada Wei Beng Yan sebagai isyarat agar pemuda itu mau juga menerima obat kakek pincang itu.

„Susiok,” katanya, „suko ku bukan mencurigakan ketulusan hatimu, yah, jika kau menganggap obat buatanmu itu tidak akan mengganggu, aku kira memang tidak salahnya jika kau berikan saja obat itu ”

Wajah Ouw Lo Si berubah gembira, ia merogo sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisikan beberapa butir pil yang berwarna hijau.

„Aku menamakan obatku ini pil Nagasari,” katanya. „Pil tidak tampak luar biasa, namun khasiatnya terhadap racun tidak dapat diragukan lagi!”

Ia menyodorkan dua butir pil kepada Wei Beng Yan seraya melanjutkan. „Wei siohiap, kau telanlah pil ini, dan jangan sangsi akan kelurusan hatiku!”

Wei Beng Yan menerima pil itu yang segera dan tanpa sangsi lagi, dimasukkan ke dalam mulutnya.

Dalam tanya jawab selanjutnya, Ouw Lo Si berkesempatan juga menanyakan bagaimana To Siok Keng bisa meloloskan diri dari keganasan ketika seluruh anggota keluarganya dibunuh habis oleh Pek Tiong Thian.

„Aku bahkan merasa heran sekali kau bisa jadi murid satu-satunya Thian-hiang-sian-cu!” kata si kakek pincang akhirnya.

„Mungkin Tuhan masih belum mau menerima aku dalam usiaku yang semuda ini!” sahut To Siok Keng. „Dan oleh karena itu pula aku jadi beruntung menemui kitab catatan ilmu-ilmu Thian-hiang- sian-cu, sehingga aku diakui sebagai murid Gui Su Nio!”

Ouw Lo Si mengangguk-anggukkan kepalanya dan merasa terharu sekali akan nasib gadis itu.

„Ouw Locianpwee.” kata Wei Beng Yan, „tadi si jahanam mengatakan kau pernah menipunya, soal apakah itu?”

Ouw Lo Si melirik tajam ditanyakan demikian. Ia merasa agak ragu- ragu untuk memberitahukan maksud yang sesungguhnya daripada kunjungannya ke kuil Cit-po-sie, yalah untuk menanyakan kepada Bak Kiam Taysu bagaimana menggunakan Tok-beng-oey-hong! Ia bermaksud tidak memberitahukan bahwa Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan, pada saat itu juga berada dalam sepatunya.

„Pek Tiong Thian pernah menanyakan padaku tentang Tok-beng- oey-hong dan Cu-gan-tan, dan aku dengan sembarangan saja menggatakan bahwa kedua benda mujizat itu disembunyikan di dekat mulut lembah Yu-leng kok.......” sahut Ouw Lo Si berdusta,

„mungkin jahanam itu telah pergi ke lembah itu dan tidak berhasil menemukan apa yang memang sedang dicari-carinya itu, sehingga ia menganggap aku telah menipunya!”

To Siok Keng mengerutkan keningnya, begitupun Wei Beng Yan mendengar disebutnya kedua benda mujizat yang juga sedang mereka cari-cari itu.

„Dari siapa Susiok mengetahui Tok-beng-oey-hong disembunyikan di depan mulut lembah Yu-leng-kok?” tanya To Siok Keng heran.

„O...... aku hanya menebak-nebak saja secara sembarangan......

mengapa kalian pun agaknya keranjingan pada benda itu?”

„Susiok, aku khawatir jika dalam waktu satu minggu ini suko ku tidak berhasil memulihkan tenaganya. Bagaimana jika tenaganya baru kembali seluruhnya setelah waktu yang telah dijanjikan kepada Pek Tiong Thian lewat? Bukankah itu berarti kita semua akan mati konyol di sini?”

„Tapi, apa hubungannya itu semua dengan Tok-beng-oey-hong?” „Karena jika benda mujizat itu berada dalam tanganku, meskipun suko ku tidak berhasil memulihkan tenaganya dalam satu minggu, Pek Tiong Thian pasti tewas!”

„Maksudmu, kau mengetahui cara menggunakan benda mujizat itu?”

„Betul!”

„Bisakah kau melukiskan bentuk benda itu?”

„Benda itu merupakan selubung kuningan!”

„Tahukah kan cara menggunakan benda itu?”

„Susiok, aku adalah murid Thian-hiang-sian-cu melalui kitab Kok- cit-po-lek, bukan saja aku telah mewarisi ilmu-ilmu guruku, tapi aku mengetahui juga cara menggunakan senjata rahasianya! Mengapa susiok menanyakan demikian?”

„Aku...... aku harap dapat memberitahukan dimana tersimpannya benda mujizat itu. Aku aku pun khawatir jika tenaga dalam Wei

siohiap gagal pulih kembali dalam waktu tujuh hari yang akan datang ini ”

Sementara ketiga orang itu sedang bercakap-cakap, di luar gedung itu tampak seorang tengah berdiri di dekat jendela sambil memasang kupingnya.

Dialah Pek Tiong Thian yang ternyata tidak segera berlalu dari tempat itu. Matanya mendadak melotot ketika mendengar Tok- beng-oey-hong disebut-sebut, ia belum mau berlalu dan mendengari terus, namun tidak terdengar ketiga orang itu bercakap-cakap lagi. Karena Wei Beng Yan, To Siok Keng dan Ouw Lo Si sudah mengundurkan diri untuk beristirahat.

Begitulah karena kecewanya ia lalu berjalan pergi.

Di dalam kamarnya, Ouw Lo Si merebahkan diri sambil otaknya bekerja keras. Setelah meneliti seluruh ruangan kamarnya dan tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan, ia lalu mengeluarkan Tok-beng-oey-hong dari dalam sepatunya.

Dengan hati-hati sekali ia lalu memeriksa benda yang senantiasa dibuat perebutan oleh orang-orang di kalangan Kang-ouw itu.

„Betulkah benda ini demikian dahsyatnya sehingga mampu menewaskan orang yang berkepandaian seperti Pek Tiong Thian?” tanyanya dalam hati. „Apakah aku akan menyerahkan benda ini kepada puteri Kiu It, agar dia dapat membantu Wei Beng Yan menggempur si jahanam itu?”

Demikianlah, pikirannya bekerja terus. Untuk menyerahkan selubung kuningan yang tampaknya biasa saja itu, ia merasa sayang juga, mengingat untuk memiliki benda itu, ia hampir saja kehilangan jiwanya sendiri di dekat mulut lembah Yu-leng-kok.

Jika ia tidak menyerah, apakah Wei Beng Yan dapat melancarkan lagi ilmu Thay-yang-sin-jiauw dalam waktu satu minggu itu?

Satu hari, dua hari, empat hari dan lima hari lewat tanpa terasa. Namun Ouw Lo Si belum juga berhasil mengambil keputusan. Pada hari yang kelima itulah, ia dapat melihat Wei Beng Yan dan To Siok Keng mengadakan latihan hersama. Si pemuda menggerakkan kaki dan kedua tinju sambil meloncat-loncat mengelakkan serangan si gadis, dan apa yang dilihatnya itu membuat hatinya jadi cemas.

Karena ternyata Wei Beng Yan tampaknya belum mampu melancarkan tenaga dalamnya dengan sempurna!

„Terpaksa!” katanya dalam hati, „aku terpaksa harus menyerahkan juga Tok-beng-oey-hong kepada To Siok Keng. Jika tidak pasti kedua muda mudi itu termasuk aku sendiri pasti akan tewas diganyang oleh Pek Tiong Thian!”

Ia mengawasi dari kejauhan dan menunggu dengan sabar selesainya latihan bersama itu.

Tapi, mendadak terdengar Wei Beng Yan memanggilnya.

„Ouw Locianpwee, marilah kita berlatih bersama!” serunya,

„mungkin besok aku sudah bisa melancarkan lagi ilmu Thay-yang- sin-jiauw!”

Ouw Lo Si berjalan menghampiri dan berkata.

„Wei siohiap, aku bukan ingin mengecilkan hatimu, tapi, dari apa yang telah aku lihat tadi, aku merasa tenagamu belum bisa pulih seluruhnya pada esok hari!”

Wei Beng Yan maupun To Siok Keng jadi melongo mendengar pendapat kakek pincang itu. „Untuk mengetahui, apakah pendapat itu keliru, sudikah kau mencoba tenagamu kepada pohon itu?” tanya lagi Ouw Lo Si sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang tidak terlalu besar dahannya.

„Ya...... itulah jalan yang terbaik untuk mengetahui apakah tenagamu sudah kembali lagi......” sahut To Siok Keng. „Ayohlah, gempur pohon itu!”

Dengan hati berdebar-debar Wei Beng Yan berjalan menghampiri pohon yang ditunjuk oleh Ouw Lo Si tadi, ia baru berhenti berjalan ketika sudah berada kira-kira lima meter di hadapan pohon itu.

„Jangan ragu-ragu, Wei siauhiap, seranglah!” seru Ouw Lo Si.

Wei Beng Yan mendadak jadi agak sengit mendengar anjuran yang seolah-olah suatu ejekan itu. Ia mengangkat sebelah tangannya sambil perlahan-lahan mengerahkan tenaganya. Tiba- tiba ia memekik lantang dan ”

„Brrr. ”

Apa yang terjadi?

Pohon yang diterjang hembusan angin Thay-yang-sin-jiauw itu hanya tergoncang dan tidak tumbang sebagaimana lazimnya pernah terjadi dulu ketika si pemuda she Wei belum mengendus racun Poa-gwat-tan!

Wei Beng Yan memejamkan kedua matanya karena ia merasa kecewa sekali. Ouw Lo Si segera mengeluarkan dari sepatunya sebuah selubung kuningan seraya berkata kepada To Siok Keng.

„Anak Keng, apakah benda ini yang dipanggil Tok-beng-oey- hong?”

Mata si gadis jadi terbelalak mengawasi benda yang terletak di atas telapak tangan kakek pincang itu.

„Dari mana susiok memperoleh benda itu?” tanyanya sambil mengulur tangannya dan mengambil selubung kuningan itu untuk diteliti dengan cermat.

„Aku memperoleh benda itu dari ketiga jahanam Tong-coan-sam- ok!” sahut Ouw Lo Si. „Tulenkah benda itu?”

„Tulen!”

Baru saja selesai sahutan gadis itu, ketika tiba-tiba terdngar suara orang tertawa berkakakan seram, bersamaan dengan itu tampak Pek Tiong Thian sudah berdiri di hadapan ketiga lawannya itu.

Ternyata ia sudah tidak sabaran dan telah datang satu hari terlebih cepat!

„Hei, jahanam!” bentak Ouw Lo Si, „mengapa kau sudah datang hari ini? Bukankah kau sudah berjanji untuk datang pada hari yang ketujuh?” „Aku datang kapan saja aku kehendaki! Ha, ha, ha!” sahut Pek Tiong Thian. Lalu ia melanjutkan kepada Wei Beng Yan. „Hei, anjing! Mana itu orang sakti dari Sit-bie-keng?”

„Hei, jahanam!” bentak To Siok Keng. „Tahukah kau benda apa yang berada dalam tanganku ini?”

„Ha, ha, ha! Kau pernah mengingusi aku di atas puncak Cie-sin- hong, dan kali ini kau akan mampus!” seru Pek Tiong Thian sambil mengeluarkan Ciam-hua-giok-siu dari balik bajunya.

Sementara itu, Wei Beng Yan diam-diam sudah mengerahkan tenaganya. Sebagai isyarat agar To Siok Keng menyerang berbareng ia segera berkata.

„Hei, jahanam! Hari ini kau akan mati oleh Thay-yang-sin-jiauw!”

Berbareng dengan berakhirnya kata-kata itu, tampak tangan kanannya diangkat ke atas. Tiba-tiba kelima jarinya membentang dan......

„Sssaaatt!!”

Serunya lantang sambil menyerang ke arah dadanya lawannya.

Pek Tiong Thian tidak menjadi kaget mendengar seruan yang seram itu, tetapi tampak ia terdorong mundur ke belakang sehingga tidak dapat melancarkan serangan dengan tangan yang memegang sarung tangan ajaib itu. Justru pada saat ia mundur itulah, To Siok Keng dengan cepat sekali telah meloncat sambil melontarkan selubung kuningan ke arah kepala jahanam itu.

Pek Tiong Thian yang menganggap bahwa si gadis tengah menjalankan tipu muslihat seperti di puncak Cie-sin-hong, acuh tak acuh menggeprak benda yang sedang meluncur di sebelah atas kepalanya itu.

„Cring!!”

Demikianlah terdengar suara yang nyaring sekali. Serentak dengan itu terdengar suara jeritan seram, tampak tubuh Pek Tiong Thian terhuyung untuk kemudian roboh di tanah! Sekujur tubuhnya telah tertancap dengan jarum halus yang sangat beracun, jarum Tok-beng-oey-hong!

Demikianlah, dengan matinya Pek Tiong Thian ini, Ouw Lo Si lalu berpamitan untuk balik lagi ke tempatnya semula, yalah dengan menjadi si penjual arak di kaki gunung dekat lembah Yu-leng-kok.

Dan setelah semangat serta tenaga Wei Beng Yan pulih seluruhnya, iapun mengajak To Siok Keng berangkat ke pegunungan Oey-san, dimana mereka menetap sebagai suami isteri yang rukun.

T A M A T