-->

Sampul Maut Jilid 08

Jilid 08

Si Lam Tojin sudah mengetahui bahwa Pek Tiong Thian dulunya adalah seorang yang jahat, kejam serta licik, tetapi ia tidak mengetahui bahwa Pek Tiong Thian telah berubah demikian liciknya sehingga ia berhasil menyamar sebagai Ji Cu Lok.

Mendengar jawaban si pemabuk itu, segera terlintas suatu muslihat di otak Ouw Lo Si yang cerdik itu.

„Inilah ketika yang baik untuk aku meloloskan diri!” pikirnya kemudian sambil nyengir penuh arti ia berkata.

„Si Lam, kau mungkin sudah mengenal siapa kawanku ini, tetapi mungkin kau tidak mengetahui dia sekarang sudah  ”

Belum lagi selesai kata-kata itu, Ouw Lo Si tiba-tiba jadi merandek ketika merasa tulang punggungnya tersentuh oleh jari tangan Pek Tiong Thian. Ia sebetulnya ingin membongkar rahasia penyamaran Pek Tiong Thian. Jika ia meneruskan mungkin jari yang sudah mengancam itu akan menewaskan jiwanya! Maka lekas-lekas ia mengalihkan ucapannya itu.

„Si Lam, apakah kau berada sendirian saja dalam warungku ini?”

Si Lam bukan seorang anak kecil, persambungan kata-kata yang tidak berjuntrungan dan perubahan wajah Ouw Lo Si yang mendadak itu, telah membuatnya menduga bahwa tentu ada apa- apa yang kurang beres dengan kedua orang yang baru datang itu.

Tetapi dengan wajah dan sikap seolah-olah ia tidak mengetahui hal itu ia menyahut.

„Aku sedang menantikan beberapa orang sahabatku di sini!”

„Bagus!” seru Ouw Lo Si dalam hati, „Lebih banyak orang yang datang lebih besar lagi kesempatanku untuk meloloskan diri!”

Setelah menoleh kepada Pek Tiong Thian ia lalu berkata kepada si pemabuk.

„Siapakah gerangan yang kau nantikan itu?”

Acuh tak acuh Si Lam menenggak araknya dari dalam guci, kemudian menghela napas dan berkata.

„Semua orang yang bakal datang di sini, aku rasa tidak asing lagi bagimu!”

„Bolehkah aku mengetahui?” Ouw Lo Si mendesak. „O...... tentu saja, tentu saja boleh! Mereka adalah Kong-ya Coat alias si Dewa sakti, Siauw Cu Gie alias si Raja naga dari lima telaga, Liong Kie Thian alias si Naga sakti dan isterinya, Leng Cui alias si Burung cenderawasih dari propinsi Kwi-ciu! Coba bayangkan betapa ramainya jika mereka semua sudah berkumpul di sini!”

Ouw Lo Si girang bukan main mendengar disebutnya nama-nama itu, karena orang-orang yang bakal datang itu adalah jago-jago silat kelas wahid, yang tidak dapat diragukan lagi akan keistimewaan ilmu mereka masing-masing!

Dengan hati berdebar-debar ia lalu menanya lagi.

„Apa maksud kedatangan mereka di sini?”

„Masuk kedalam lembah Yu-leng-kok dan membikin penyelidikan!”

„Penyelidikan?! Bukankah lembah itu sudah tertutup? Dan barang siapa yang berani masuk akan dibunuh?!”

Belum lagi Si Lam Tojin menjawab pertanyaan itu, ketika terdengar bunyinya senjata dikeluarkan dari serangkanya dibarengi dengan suara bentakan.

„Yang takut mati tidak dipaksa untuk masuk ke dalam lembah!”

Ouw Lo Si dan Pek Tiong Thian berbalik dan dapat melihat seorang yang berusia setengah abad bertubuh tegap dan berwajah tampan, sudah berdiri di dalam warung arak itu sambil memegang sebilah pedang di tangan kanannya. Di sampingnya tampak seorang wanita yang herusia kira-kira tigapuluh tahun dan berparas cantik. Mereka yang sudah lama berkecimpungan di kalangan Kang-ouw pasti sudah mengenal siapa mereka itu. Mereka adalah Liong Kie Thian dan isterinya dari propinsi Kwi-ciu!

Melihat kedatangan kedua orang itu Ouw Lo Si segera berbisik, seolah-olah ia bertindak untuk kebaikan Pek Tiong Thian yang ingin ia jerumuskan itu!

„Saudara Pek, lebih baik kita menunggu dulu sebelum mengambil kedua benda pusaka Thian-hiang-sian-cu itu, bagaimana kau pikir?”

„Betul!’“ sahut Pek Tiong Thian dengan suara rendah, „kita akan menanti kedatangan mereka semua, setelah itu aku akan membasminya!”

Ouw Lo Si merasa lega mendengar jawaban itu, karena jika Pek Tiong Thian mendesaknya untuk mengambil juga benda pusaka yang dimaksud itu, siasatnya tentu akan kandas!

„Saudara Pek,” bisiknya lagi, “angkatlah ancaman jari tanganmu di punggungku, atau mereka akan merasa curiga ”

Ucapan yang beralasan itu dituruti saja oleh Pek Tiong Thian, maka Ouw Lo Si lalu berjalan untuk mencari tempat duduk, diikuti oleh Pek Tiong Thian sendiri. Si Lam Tojin yang sudah mengetahui bahwa Ouw Lo Si berada di bawah pengawasan Pek Tiong Thian yang ia tidak sukai itu, segera menanya kepada Liong Kie Thian.

„Apakah kau tidak menjumpai Kong-ya Coat dan Siauw Cu Gie di jalan?”

Liong Kie Thian menghampiri meja, setelah meletakkan pedangnya di atas meja itu ia menyahut.

„Tidak, aku kira mereka sudah tiba di sini.”

Apakah sebenarnya yang hendak diselidiki oleh Si Lam Tojin, Kong-ya Coat, Liong Kie Thian beserta isteri dan Siauw Cu Gie?

Maksud kedatangan ke lima tokoh persilatan itu bukan lain daripada untuk menyelidiki Yu Leng! Yu Leng yang dulunya terkenal sebagai seorang gagah yang belum pernah mengingkari janji, apa lagi sumpahnya!

Bukankah Yu Leng telah bersumpah untuk membunuh diri setelah berhasil mewariskan ilmunya yang dahsyat?

Mengapa sekarang dia bukan saja telah menginjak-injak sumpahnya sendiri, bahkan perbuatan-perbuatannya jadi seperti seorang yang otaknya miring!

Perbuatan-perbuatan yang gila inilah yang telah membangkitkan rasa curiga ke lima tokoh persilatan yang telah disebutkan di atas, tentang keaslian Yu Leng alias Ji Cu Lok, sehingga mereka bergabung untuk membikin penyelidikan ke dalam lembah Yu- leng-kok.

Kemudian terdengar Si Lam Tojin berkata.

„Saudara Liong apakah dalam perjalananmu ke sini kau tidak melihat bekas-bekas keganasan Yu Leng?”

„Tidak,” sahut Liong Kie Thian.

„Ketika aku lewat di pegunungan Ngo-tay-san beberapa hari yang lalu, di kaki jurang Beng-keng-ya aku telah melihat banyak lentera- lentera merah. Mungkin sekali Yu Leng telah berkunjung ke kuil Cit-po-sie di atas jurang itu!”

„Betul!” terdengar suara orang dari luar warung arak, „si pemabuk telah menduga tepat Bak Kiam Taysu pun sudah tewas!”

Berbareng dengan itu, tampak seorang yang bertubuh kurus jangkung, berjenggot panjang, sudah masuk ke dalam warung arak itu.

Orang itu bukan lain dari pada Kong-ya Coat dari Tan-kwi-san- cong.

„Saudara Kong-ya,” kata Si Lam Tojin dengan paras kaget, „dari mana kau ketahui bahwa Bak Kiam Taysu telah tewas?”

Kong-ya Coat terkejut dapat melihat Ouw Lo Si dan Pek Tiong Thian juga berada dalam warung arak itu, tetapi ia segera menyahut. „Rupanya ada orang yang naik ke atas jurang Beng-keng-ya dan masuk ke dalam kuil Cit-po-sie, aku tidak dapat naik dari tangga tali, karena tangga itu telah terbakar putus. Aku naik dengan mengambil jalan lain dan jadi terkejut sekali ketika melihat Bak Kiam Taysu dan beberapa puluh pendeta sudah menjadi mayat!”

Dengan tiba-tiba saja wajah Ouw Lo Si berubah mendengar keterangan itu, ia merasa sangat khawatir akan keselamatan Khouw Kong Hu.

„Kong-ya tay-hiap,” katanya gelisah. „di samping Bak Kiam Taysu dan muridnya, apakah kau melihat juga mayat orang lain?”

Kong-ya Coat berpikir sejenak, kemudian ia menyahut.

„Ada!”

„Mayat siapakah itu?” Ouw Lo Si menanya lagi dengan cepat.

„Seorang pendeta tua! Aku tidak kenal siapa pendeta yang sudah sangat tua itu.”

Barulah mereda ketegangan paras Ouw Lo Si ketika mendengar jawaban itu, ia merasa yakin Khouw Kong Hu sudah dapat berlalu dari kuil Cit-po-sie.

Kong-ya Coat lalu berjalan menghampiri satu kursi yang berada di hadapan Pek Tiong Thian.

„Saudara Pek,” katanya sambil menatap beringas, “kaupun berada di sini?” „E.    kau masih ingat kepadaku?” sahut Pek Tiong Thian.

Kong-ya Coat tidak mengetahui bahwa ilmu silat Pek Tiong Thian kini sudah banyak lebih lihay daripada beberapa tahun yang lalu. Dengan nada mengejek ia berkata lagi.

„Saudara Pek, kau sudah lama tinggal di pegunungan Tiang-pek- san, apakah maksud kedatanganmu di sini?”

„Urusan pribadiku tidak perlu orang lain usil-usil!” sahut Pek Tiong Thian dengan angkuh, „apakah betul kau dan kawanmu itu menyelidiki tentang keaslian Yu Leng!“

„Ya, apakah kau pun ingin turut serta?”

„Orang dapat menggunakan nama Yu Leng, tetapi apakah orang dapat memalsukan ilma silatnya? Ha, ha, ha, aku kira kalian semua akan menjadi mayat di dalam lembah keramat itu!”

Liong Kie Thian jadi mendongkol mendengar jawaban itu, yang seolah-olah mengecilkan semangat mereka berlima.

„Kong-ya tay-hiap,” katanya sambil mengawasi Pek Tiong Thian

„apa gunanya kau bicara dengan orang yang pernah dibikin lumpuh kakinya? Dulu, jika dia tidak meminta ampun sambil berlutut, mungkin dia sudah tiada lagi di dunia ini!! Tidak perlu kita memandang orang semacam dia itu!”

„Liong Kie Thian!” bentak Pek Tiong Thian yang merasa sangat tersinggung karena peristiwa  kakinya dibikin lumpuh  di sebut- sebut. „Isterimu, Leng Cui sangat cantik, apakah kau ingin dia menjadi janda?”

Bukan main gusarnya Liong Kie Thian, ia mengambil pedangnya yang tergeletak di atas meja, kemudian setelah menyuruh Kong-ya Coat mundur ia berjalan menghampiri Pek Tiong Thian.

Si Lam Tojin menepuk meja dan berkata sambil tertawa.

„Ouw Lo Si,” katanya. „Aku telah mengatakan tadi bahwa warung arakmu ini akan menjadi ramai! Sekarang sudah mulai terbukti!”

Pek Tiong Thian berbangkit dari tempat duduknya, lalu sambil menepuk pundak Ouw Lo Si ia berkata.

„Tunggu sebentar di sini, dan jangan coba lari!”

Setelah itu ia lalu menatap Liong Kie Thian dan berkata.

„Kau keliru jika merasa dapat mengalahkan orang lumpuh!”

„Ha, ha, ha! Aku justru ingin memberikan ketika kepadamu untuk menyerangku tiga kali. Ayohlah hunus senjatamu, aku tidak akan balas menyerang!”

Pek Tiong Thian tertawa berkakakan sambil mengambil tempat duduk lagi.

„Aku akan melawanmu sambil duduk,” katanya congkak, „Jika dalam tiga jurus aku tidak mampu mengambil jiwamu, kau panggil saja aku anjing!” Semua orang yang berada di situ menjadi terkejut melihat kesombongan orang she Pek itu, kecuali Ouw Lo Si yang sudah mengetahui tentang Ji Cu Lok gadungan itu.

„Si Naga sakti menjadi mayat dalam tiga jurus?! tanya Si Lam Tojin sambil membelalakan matanya. „Pek Tiong Thian! Kau betul-betul terlalu sombong!”

Liong Kie Thian tidak lagi dapat menahan hawa amarahnya. Seperti seekor harimau terluka ia meloncat dan menusuk dada Pek Tiong Thian yang baru saja duduk dengan jurus Kiun-liong-hie-cui (Seratus naga bermain di air).

Pek Tiong Thian tidak gentar, ia tetap duduk dengan sikap yang tenang sekali sambil menanti serangan itu. Tetapi tiba-tiba saja Liong Kie Thian sendiri yang jadi terhuyung sambil melepaskan pedangnya!

Mengapa dapat kejadian demikian?

Harus diketahui bahwa jurus Kian-liong-hie-cui sangat menakjubkan. Tampak pedang Liong Kie Thian berputar-putar sambil mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata, dan dengan tiba-tiba ujung pedang yang tengah mendesing-desing itu menusuk ke arah dada!

Tetapi satu sentilan dengan jari tengah tangan kiri Pek Tiong Thian yang dilancarkan secepat kilat dan pada saat yang tepat pula, telah mengelakkan tusukan maut itu. Liong Kie Thian terjerumus ke depan, dan pada saat itu pula ia merasa pundaknya digedor keras sehingga ia terhuyung ke samping. Tanpa terasa lagi ia sudah melepaskan pedangnya karena merasa tangan kanannya menjadi lumpuh dan kepalanya pusing .

Ia lekas-lekas berbalik dan dengan tangan kirinya menyerang ke arah pinggang lawannya!

Pek Tiong Thian dengan tenang sekali mengulur tangannya untuk menjambret tinju yang tengah meluncur ke arah pinggangnya itu.

Mendadak terdengar Liong Kie Thian menjerit seram, karena tangannya patah-patah!

Hanya dalam dua jurus saja, orang-orang yang menonton segera dapat melihat bahwa Pek Tiong Thian betul-betul telah membuktikan kata-katanya tadi!

Leng Cui tidak dapat melihat suaminya dianiaya demikian rupa, sambil berseru keras ia menyerang dengan sepasang goloknya. Pek Tiong Thian tiba-tiba melepaskan pegangannya dan mendorong tubuh Liong Kie Thian ke arah turunnya sepasang golok, sehingga Leng Cui terkejut dan tidak keburu menarik pulang goloknya itu yang tanpa dapat ditahan lagi sudah membela pundak suaminya sendiri!

„A a a h h......!” Liong Kie Thian menjerit seram, darah segera mengucur membasahi tubuhnya.

„Ha, ha, ha! Burung cenderawasih dari propinsi Kwi-ciu dan si Naga sakti sebetulnya merupakan pasangan yang sempurna!” kata Pek Tiong Thian, „Sebelum aku mengirim kalian ke neraka, mengapa tidak berpelukan dulu di sini?! Ha, ha, ha!” Setelah itu cepat laksana kilat ia telah mengambil pedang Liong Kie Thian yang kemudian dipatahkan dan dilontarkan ke arah sepasang suami isteri itu.

Pada saat itu, Leng Cui yang gelisah karena goloknya sudah melukai pundak suaminya sendiri, dan Liong Kie Thian yang sudah pusing kepalanya dan lumpuh tangan kanannya, tak dapat melihat sambitan maut itu. Kedua potong pedang yang sudah patah itu tepat nancap ditenggorokan kedua orang suami isteri itu, yang lalu roboh tidak berkutik lagi!

Lagi-lagi Yu Leng gadungan telah mengambil dua korban jiwa, dalam pertempuran hanya dua atau tiga jurus itu!

duapuLuh satu

Melihat cara Pek Tiong Thian melontarkan pedang yang telah dipatahkannya itu, Kong-ya Coat yang pernah mendengar keterangan Ouw Lo Si tentang pembunuhan di tempat Kiu It, segera dapat memastikan bahwa Pek Tiong Thian adalah Yu Leng atau Ji Cu Lok gadungan!

„Ah!!” serunya, „kalau begitu kau?”

„Ha, ha, ha! Memang aku!” kata Pek Tiong Thian.

Pada saat itu Siauw Cu Gie juga sudah tiba Ia terperanjat melihat mayat Liong Kie Thian dan isterinya yang menggeletak di lantai berlumuran darah. Ia meneliti keadaan di situ dan ketika dapat melihat sinar mata Pek Tiong Thian, jantungnya berhenti berdenyut, karena sinar mata  yang kejam itu tidak asing  lagi baginya. Ia jadi teringat akan peristiwa di dekat markas Kong-ya Coat ketika ia sedang berjalan-jalan dan menjumpai orang yang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam, yang telah menotoknya dengan sentilan batu kecil!

„Kau!!” serunya dengan suara menggetar.

„Ha, ha, ha! Kalian telah mengenali aku,” kata Pek Tiong Thian,

„maka kalian tidak usah pergi ke dalam lembah Yu-leng-kok lagi!”

„Jahanam!” kata Kong-ya Coat sambil mundur beberapa langkah.

„Aku tidak menduga jika ilmu silatmu kini sudah banyak maju! Dimanakah Ji Cu Lok sekarang?”

„Ha, ha, ha! Ji Cu Lok sudah berada di akhirat!”

„Apakah dia mati di tanganmu?”

„Ji Cu Lok mati di tanganku! Dan kalianpun akan mati, karena ingin membongkar rahasia Ji Cu Lok!”

Setelah menyaksikan Liong Kie Thian dan Leng Cui dibunuh, Si Lam Tojin dan Kong-ya Coat sudah bersiap sedia untuk menggempur Yu Leng gadungan itu, dan semangat mereka jadi bertambah ketika melihat Siauw Cu Gie pun sudah tiba di situ.

Mereka hanya merasa sangsi, apakah mereka dapat mengalahkan Pek Tiong Thian yang kini berilmu demikian dahsyatnya. Selagi memikiri siasat untuk mengeroyok, Pek Tiong Thian sudah mengangkat meja untuk kemudian dilemparkan ke arah mereka sambil sekaligus menerkam! Terkaman yang dilakukan sambil menggerak-gerakkan kedua tangan itu adalah jurus yang Pek Tiong Thian dapat pelajari dari kitab Jit-gwat-po-lek ketika ia bersembunyi di dekat markas partai Tiang-pek. Sebelum ia meloncat menerkam, hembusan angin yang diterbitkan oleh gerak itu saja sudah membuat Siauw Cu Gie terpental keluar dari dalam warung arak!

Pek Tiong Thian mengejar dan berhasil menghajar pundak lawannya, kesempatan yang baik itu telah dipergunakan oleh Kong-ya Coat untuk menotok jalan darah di punggung Pek Tiong Thian, dibarengi dengan meluncurnya tinju Si Lam Tojin yang mengarah batang leher.

Tetapi dengan satu gaya yang menakjubkan sekali, Pek Tiong Thian telah mengegosi kedua serangan yang tidak kelihatan itu.

Dalam sekejapan saja mereka kini sudah berada di luar warung arak. Pek Tiong Thian jadi kaget sekali ketika melihat Ouw Lo Si tidak kelihatan mata hidungnya.

„Pincang!” serunya seram, „ke manapun kau akan mabur, kau takkan luput dari tanganku! Awas!”

Setelah itu ia lalu mengeluarkan sarung tangan ajaibnya dan menyerang Siauw Cu Gie.

Siauw Cu Gie yang telah terkena hembusan angin pukulan tadi mengegos, meloncat dan berbareng berusaha menangkis, tetapi entah bagaimana, serangan yang tadinya diarahkan ke dada itu, sekonyong-konyong berubah jadi suatu cengkeraman yang menyerang muka. „Aduh!”

Hanya suara itu saja yang masih dapat keluar dari mulut Siauw Cu Gie, setelah itu kepalanya terkulai dan roboh di tanah tidak berkutik lagi, karena Ciam-hua-giok-siu telah menghancurkan batok kepalanya!

Melihat kejadian yang mengkirikkan bulu roma itu, Kong-ya Coat dan Si Lam Tojin tidak berhenti menyerang. Bahkan mereka agaknya menjadi tambah sengit.

Kong-ya Coat tiba-tiba berseru.

„Ai!”

Tampak pedangnya berputar sejenak, untuk kemudian meluncur ke arah pinggang Pek Tiong Thian.

Bersamaan dengan itu, guci arak Si Lam yang dipergunakan sebagai senjata, juga berputar-putar kian kemari untuk akhirnya menumbuk kepala Yu Leng gadungan.

Serangan serentak kedua jago silat kelas wahid itu, yang seolah- olah gelombang raksasa mendampar bibir pantai sambil menerbitkan suara angin menderu itu, ternyata tidak berhasil mengenai sasarannya!

Tampak Pek Tiong Thian meloncat ke samping seraya membungkukkan tubuhnya untuk mengelakan tusukan pedang, kemudian sambil tertawa berkakakan seram, ia lagi-lagi meloncat dan berhasil mengelakan tumbukan guci arak, tetapi setelah itu, seperti seekor macan tutul ia berbalik dan mencengkeram tangan yang memegang pedang.

Gerak berbalik dan mencengkeram pedang lawan, dilakukan dengan aneh sekali. Misalnya jurus itu dilancarkan oleh orang lain maka sudah dapat dipastikan bahwa tangan orang itu akan tertabas putus. Betapa tidak, karena Kong-ya Coat adalah seorang ahli pedang yang begitu jauh belum pernah menjumpai seseorang yang dapat mengimbangi keahliannya mempergunakan senjata tersebut.

Melesetnya tusukan itu telah membuat Kong-ya Coat menjadi kehilangan akan kepercayaan atas dirinya sendiri!

Begitupun telah terjadi dengan Pek Tiong Thian, ia juga merasakan suatu perasaan yang boleh dikatakan sama! Karena semenjak keluar dan tempat bersembunyinya, jurus mencengkeramnya itu belum pernah gagal mengambil korban, misalnya waktu melawan Bak Kiam Taysu dan Susiok pendeta itu sendiri, dan Siauw Cu Gie, ketiga lawannya itu telah ditewaskan oleh jurus maut yang dahsyat itu!

„Hei Dewa sakti!” bentak Pek Tiong Thian, „tidak kunyana ilmu silatmu telah menampakkan banyak kemajuan!”

Baru saja selesai mengatakan begitu, tiba-tiba ia merasa suatu hembusan angin di atas kepalanya dan melihat juga berkelebatnya pedang ke arah betisnya. Lekas-lekas ia menangkis ke atas, sehingga Si Lam Tojin yang menyerang dengan guci arak terdampar mundur beberapa langkah ke belakang, tetapi Pek Tiong Thian tidak menghiraukan sama sekali akan tusukan pedang ke arah betisnya, karena ia menganggap si penyerang akan terkejut sendiri melihat tusukannya tidak membawa akibat yang mengerikan.

Ternyata Pek Tiong Thian salah hitung!

Begitu mengetahui tusukannya tidak membuat Pek Tiong Thian menjerit kesakitan, Kong-ya Coat tidak menunggu sedetikpun, ia segara merubah jurusnya dengan apa yang dinamakan Hek-liong- cui-cu (Naga hitam mengejar mustika), cepat laksana kilat pedangnya telah meluncur untuk menusuk ke arah pinggang!

Serangan yang cepat itu betul-betul di luar dugaan Pek Tiong Thian yang baru saja memukul Si Lam Tojin, sehingga ia tidak mempunyai kesempatan apa-apa lagi untuk mengelak, ia hanya merasa ujung pedang lawannya menyelusup dalam ke dalam ginjalnya!

Mungkin jika Pek Tiong Thian menyaksikan cara bagaimana Kong- ya Coat telah pertunjukkan kemahirannya mempermainkan pedang di markas partai Tiang-pek dulu, ia tentu akan membereskan si ahli pedang she Kong-ya ini terlebih dulu daripada si pemabuk yang bersenjata guci arak!

„Kong-ya Coat!” serunya menggetar, „baik sekali gerakanmu barusan!”

Bukan main terkejutnya Kong-ya Coat melihat lawannya tidak tewas terkena tusukan pedangnya, karena ia telah mengeluarkan apa saja yang dimilikinya untuk membasmi jahanam itu, namun ternyata si jahanam sangat kuat, sehingga tidak menjadi lumpuh meskipun telah ditusuk pinggangnya, suatu anggota tubuh yang cukup mematikan.

Pek Tiong Thian pelahan-lahan mengeluarkan Ciam-hua-giok-siu sambil memperlihatkan senyum iblisnya.

„Si Lam!” Kong-ya Coat berseru nyaring sambil melangkah mundur. „kau gempur jahanam ini dari belakang!”

Setelah itu tampak ia meloncat dan menusuk sehebat-hebatnya ke arah jantung Pek Tiong Thian tanpa menghiraukan Ciam-hua-giok- siu yang menerjang kepalanya!

Serangan yang nekad itu belum pernah dilakukan oleh Kong-ya Coat, karena biasanya dengan jurus Naga hitam mengejar mustika saja, ia sudah dapat merobohkan lawan. Disamping itu Kong-ya Coat sudah mampunyai suatu firasat bahwa ia bakal mati di tangan jahanam she Pek itu, maka sebelum ditewaskan, ia bertekad memberikan “hadiah” dengan tusukannya ke arah jantung itu.

Mandadak terdengar Pek Tiong Thian maupun Kong-ya Coat menjerit seram!

Pek Tiong Thian terdorong mundur sambil menutupi dadanya yang sudah mengeluarkan darah!

Sedangkan Kong-ya Coat terjerumus ke depan dengan batok kepala hancur, otaknya berserakan di tanah tercampur dengan darah yang merah segar! Maksud Kong-ya Coat untuk mati bersama-sama tidak terkabulkan!

Ia pernah menjagoi di kalangan Bu-lim sehingga berhasil merebut Ciam-hua-giok-siu, tetapi sungguh di luar dugaan semua orang bahwa ia harus mati dicakar oleh sarung tangan ajaib itu sendiri!

Pek Tiong Thian berdiri terpaku sambil mengawasi Kong-ya Coat yang roboh tengkurap tepat di depan kedua kakinya. Ia baru terkejut ketika mendengar Si Lam Tojin berkata dengan suara parau.

„Jahanam! Ajalmu sudah tiba!” sambil menumbuk kepala lawannya dengan guci arak.

Pek Tiong Thian yang selalu memandang rendah kepandaian siapapun, acuh tak acuh bertindak ke depan, dan guci arak lewat di belakang kepalanya.

„Hai pemabuk!” bentaknya gusar, „apakah kau kira aku telah terluka parah? Kau keliru, ha, ha, ha! Kau keliru!”

„Kau masih harus melakukan satu pertempuran lagi!! Bersiaplah!”

Mendadak kedua mata Pek Tiong Thian menyala ditantang secara demikian angkuhnya. Kedua tangannya bergerak untuk menotok dada dan menepuk pinggangnya sendiri untuk sekedar menahan mengucurnya darah dari kedua luka tusukan pedang Kong-ya Coat, lalu ia melangkah maju dan membentak. „Anjing! Aku ingin melihat sampai dimana kelihayanmu itu,” Si Lam Tojin      mengangkat      guci      araknya      sambil      berkata.

„Hari  ini  ada   arak, Maka hari  ini  aku  mabuk, Aku      beriang-gembira,

Dan persetan dengan hari esok!”

Setelah itu ia lalu menuang arak dari dalam guci ke mulutnya. Justru pada saat ia mendongak itu Pek Tiong Thian telah menerkam!

Si Lam Tojin memang sengaja bersikap begitu untuk mengejek Pek Tiong Thian, dan ketika merasa lawannya sudah menerkam, lekas- lekas ia menyemburkan arak yang sudah berada di dalam mulutnya, sambil berseru.

„Awas! Arak beracun!”

Pek Tiong Thian dapat melihat semburan arak, ia menarik napas dalam-dalam untuk kemudian meniup dengan penuh tenaga dan berhasil membuyarkan serangan arak itu tetapi tiba-tiba ia meringis sambil menekap dadanya yang masih mengeluarkan darah.

„Jika si pincang masih berada di sini, celakalah aku sekarang!” pikirnya.

Apa yang dikhawatirkan oleh Pek Tiong Thian itu tidak mungkin terwujutkan, karena Ouw Lo Si yang tidak menduga pertarungan akan berkesudahan demikian rupa, telah melarikan diri demi kepentingan dirinya sendiri. Sungguh sayang Ouw Lo Si telah bertindak terburu napsu, kalau saja ia menunggu beberapa saat lagi, maka sakit hati Kiu It sekeluarga pasti dapat ia balaskan di depan warung araknya itu.

Betapapun dahsyatnya tenaga dalam Pek Tiong Thian, tetapi oleh karena bekas tusukan pedang Kong-ya Coat di dua bagian tubuhnya telah mengeluarkan banyak darah, maka ia menjadi letih juga. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan, ia lekas-lekas mengerahkan seluruh tenaganya untuk disalurkan ke satu bagian tertentu saja, yalah tangan kanannya yang memegang Ciam-hua-giok-siu, ia berdiri tegak sambil menanti serangan selanjutnya.

Si Lam Tojin yang tidak mengetahui hal ini, hanya dapat melihat bahwa sekujur tubuh lawannya sudah basah dengan darah, ia merasa yakin lawannya itu telah terluka parah dan hanya menanti mati.

Ia melangkah mundur untuk kemudian melancarkan suatu pukulan yang menentukan, tetapi........ tiba-tiba ia tergelincir dan roboh tertelentang, meskipun ia masih sempat juga melontarkan guci arak ke arah lawannya.

Kesempatan yang baik itu, telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Pek Tiong Thian. Setelah sarung tangannya menghajar guci arak, ia langsung menerkam sambil mencakar dada Si Lam Tojin yang sudah terlentang di tanah.

Pada saat yang gawat itu, tampak Si Lam Tojin menggerakkan tubuhnya untuk duduk dengan nekad melepaskan tinjunya dan...... „Kraakkkk!!!”

Tinju Si Lam Tojin hancur bertabrakan dengan Ciam-hua-giok-siu yang tanpa berhenti pula telah menghajar dadanya!

„Ha, ha, haaaaa ”

Pek Tiong Thian tertawa berkakakan kalap karena merasa terharu akan kemenangannya yang terakhir! Namun setelah itu ia tersungkur ke depan dengan tindakan terhuyung sambil menekap dadanya, lalu pelahan-lahan ia bertekuk lutut dan roboh di tanah!

Ia merasa bangga sekali telah berhasil sekaligus menewaskan ke lima lawannya yang mempunyai kedudukan kelas tertinggi di kalangan Bu-lim, ia hanya merasa kecewa lembaran-lembaran yang berisikan ilmu Thay-yang-sin-jiauw dalam kitab Jit-gwat-po- lek telah dirampas oleh Ji Cu Lok, kalau tidak, mungkin Kong-ya Coat tidak akan mampu melukainya.

Setelah beristirahat entah berapa lama, tiba-tiba tampak ia berbangkit dan membeset pakaian Kong-ya Coat untuk membalut lukanya, kemudian dengan tindakan limbung ia berjalan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke pegunungan Oey-san, memenuhi janjinya kepada Wei Beng Yan yang sedang mencari buah yang berwarna kuning.

Marilah kita tengok Wei Beng Yan dan Siauw Bie di pegunungan Oey-san di sebelah selatan propinsi An-hwei. Pemandangan di sekitar pegunungan tersebut sangat indah, dihiasi dengan pohon-pohon cemara, dan puncak-puncak yang senantiasa diliputi oleh awan.

Rembulan bersinar terang di angkasa raya. Di bawah sebuah pohon cemara di atas puncak Ci-sin-hong, tampak seorang pemuda dan pemudi tengah duduk berdampingan di atas satu batu gunung yang besar.

Si pemuda dengan paras gelisah mendongak ke atas sambil memeluk dengkulnya, sedangkan si pemudi tengah menundukkan kepalanya dan termenung.

Sejenak kemudian terdengar suara si pemuda yang bukan lain daripada Wei Beng Yan.

„Bie moay, setengah bulan lagi guruku akan datang di sini, sedangkan kita belum berhasil menemukan buah yang herwarna kuning. Aku khawatir dia akan marah nanti.”

Siauw Bie mengangkat kepalanya dan menyahut sambil bersenyum manis.

„Yan koko, jangan gelisah tidak keruan, dalam waktu setengah bulan ini aku yakin kita akan berhasil mencari buah tersebut.”

Wei Beng Yan berbangkit sambil mengusap-usap pedang pusaka ayahnya yang tergantung pada tali pinggangnya. Kemudian cepat bukan main ia menghunus pedang itu dan menghajar batu gunung yang berada di hadapannya. „Jika aku tidak berhasil membalas dendam, aku tidak ingin hidup lagi dalam dunia ini!” bentaknya keras. „Pedang ini belum dinodai darah musuh-musuh ayahku, mengapa aku harus menahan malu dan ingin hidup terus?”

Suara keluhan itu bergema ke seluruh pegunungan itu.

Siauw Bie lekas-lekas berbangkit dan menghampiri kekasihnya sambil menghibur.

„Yan koko, kau selalu memikiri urusan membalas dendam, sehingga kau selalu bermuram durja saja dibuatnya.”

Siauw Bie melangkah maju lagi, kemudian sambil menaruh tangannya di pundak Wei Beng Yan, ia melanjutkan,

„Yan koko, kita masih muda, kesempatan untuk menunaikan sumpah itu masih banyak. Kau berteriak-teriak di malam hari begini, bukankah suaramu yang keras itu akan mengejutkan orang?”

„Setelah aku mempertimbangkan dengan teliti, mau tak mau kini harus percaya juga peringatan kakek Ouw. Aku telah membahayakan diri dengan masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, tetapi setelah aku berhasil memperoleh ilmu-ilmu yang dahsyat

DIA melarang aku membunuh kedua jahanam Soat-hay-siang- hiong! Orang yang sekarang menutupi mukanya dan melarang aku menuntut balas mungkin bukan guruku, Ji Cu Lok!”

duapuLuh dua Paras Siauw Bie yang manis menggiurkan tiba-tiba berubah jadi gelisah tatkala mendengar ucapan itu. Menurut kehendaknya, tidak perduli apakah Yu Leng palsu atau tulen, yang penting yalah Yu Leng dan Wei Beng Yan jangan sampai bertarung!

Baru saja ia ingin menghibur, tiba-tiba terdengar suara orang mengulangi kata-kata Wei Beng Yan tadi.

„Pedang belum dinodai darah musuh, mengapa ingin hidup menahan malu ?”

„Yan koko, apakah itu gema suaramu?”

„Tidak mungkin!” sahut Wei Beng Yan kaget. „Aku mengucapkan kata-kata itu sudah agak lama.”

Setelah celingukan kanan kiri, ia lalu berseru.

„Hei! Siapa yang telah mengulangi ucapanku tadi?”

Tetapi yang terdengar hanya gema suara teriakannya sendiri setelah itu suasana menjadi sunyi.

Baru saja Wei Beng Yan ingin berteriak lagi, ketika terdengar suara seruling mengalun tinggi membawakan suatu irama yang sedih serta menyayatkan hati, sehingga Wei Beng Yan jadi teringat akan sumpahnya yang belum terlaksanakan. Mendadak ia memukul dadanya sendiri bahna kecewa.

„Bie moay! Ayoh kita cari orang yang berseruling itu!” „Yan koko, jangan !”

„Bie moay, bukankah kau pernah bilang bahwa kau takkan mau berpisah dari aku? Ayohlah ”

„Ya! Bukankah jika kau tidak pergi berarti aku senantiasa berada didampingnya?!”

„Bie moay, lebih banyak kita mengenal orang di kalangan Bulim, lebih baik lagi untuk kita sendiri ayohlah ikut aku.”

„Tidak! Aku tidak mau mengenal orang itu! Yang pasti takkan membawa kebaikan ”

„Mengapa kau berprasangka demikian?”

„Ai! Itulah suara seorang wanita! Apa faedahnya berkenalan dengan seorang wanita?”

„Ha ! Kau rupanya sudah mulai cemburu ya? Tetapi percayalah,

aku hanya seorang tawananmu seorang tawanan asmara!”

Siauw Bie girang bukan main mendengar pernyataan yang memang ia tunggu-tunggu itu, karena begitu jauh Wei Beng Yan belum pernah menumpahkan isi hatinya, meskipun gerak-geriknya tidak dapat diragukan lagi bahwa pemuda itu sangat mencintai dirinya. Sekonyong-konyong ia berbalik dan melarikan diri.

Wei Beng Yan mengejar dan berhasil menangkap serta memeluk tubuh Siauw Bie yang tiba-tiba merasa seolah-olah suatu aliran listrik mengalir ke seluruh jantungnya! „Bie moay, jika kau tidak memperdulikan aku, siapakah yang akan berbuat demikian?”

Siauw Bie bersenyum sambil mendongak, kemudian pelahan- lahan meletakan kepalanya di dada Wei Beng Yan, dada yang tergetar keras seperti bedug dipalu tatkala malam takbiran!

Suara alunan seruling yang menyayatkan hati terdengar lagi, membuat kedua muda mudi itu tersadar dari impian mesra.

„Bie moay, ayohlah kita tengok orang yang berseruling itu!”

„Ayohlah   ” Siauw Bie akhirnya meluluskan juga.

Mereka lalu mendengarkan lagi dengan teliti suara seruling itu, yang rupanya bergema dari puncak gunung di seberang. Wei Beng Yan menarik tangan Siauw Bie untuk turun dari puncak Ci-sin- hong, kemudian sambil mendengarkan lagi ia berteriak dengan suara yang lantang.

„Siapakah gerangan yang berseruling di malam terang bulan yang indah ini?”

Suara seruling mendadak mereda sejenak, tetapi tidak lama kemudian mengalun lagi.

Wei Beng Yan agaknya mendongkol tegurannya tidak dihiraukan, segera ia mengajak Siauw Bie mengejar ke arah suara itu, setelah membelok di suatu lereng gunung, di atas tanah yang rata di kaki sebuah puncak, tampak tiga rumah gubuk yang dilingkar oleh pagar bambu. Sinar pelita yang berkelap kelip menerangi ruangan dalam rumah-rumah gubuk itu.

„Heran,” kata Wei Beng Yan dengan suara rendah, „di tempat yang terpencil ini masih ada manusia yang tinggal.”

„Maaf jika aku tidak dapat menyambut sebagaimana mestinya!” terdengar lagi suara dari rumah gubuk itu.

„Yan Koko, itulah suara yang telah mengulangi ucapanmu tadi,” bisik Siauw Bie sambil mengikuti Wei Beng Yan yang sudah berjalan menghampiri gubuk itu.

„Jika kedua Siohiap sudi berkunjung ke dalam gubukku ini, silahkan masuk,” suara itu mengundang.

Wei Beng Yan segera mendorong pintu dan melangkah ke dalam, tiba-tiba ia menjadi terkejut ketika melihat sesuatu dalam rumah itu.

„Yan koko. mengapa kau?” tanya Siauw Bie.

Wei Beng Yan tidak menyahut, ia berdiri terpaku mengawasi dua patung sebesar dan setinggi manusia biasa, yang dibuat dari tanah liat. Wajah kedua patung itu bukan saja mirip benar dengan wajah manusia hidup, bahkan pakaian yang dikenakannya pun agaknya sering diganti.

Sebuah patung merupakan seorang laki-laki yang berusia setengah abad, sedangkan patung yang satunya lagi, adalah patung seorang wanita yang juga menunjukkan usia setengah abad. Kedua patung tersebut berdiri berhadap-hadapan di satu sisi ruangan seolah-olah sedang pandang memandang dengan rasa penuh kasih sayang.

„Bie moay,” bisik Wei Beng Yan, „apakah kau ketahui patung siapa ini?”

„Tidak,”

„Patung yang pria, adalah patung guruku, Ji Cu Lok!”

„Ji Cu Lok?! Yu Leng?!” Siauw Bie menanya dengan suara rendah.

„Kalian tidak usah khawatir, kedua patung itu aku sendiri yang buat!” kata suara dari dalam, yang agaknya sudah menduga akan keheranan kedua tamunya.

„Aku merasa kagum sekali akan kemahiran Siocia membuat kedua patung ini, yang demikian hidup tampaknya!” Wei Beng Yan memuji sambil melangkah masuk.

Di dalam tampak seorang gadis tengah duduk bersila di atas tapang. Paras muka dan bentuk tubuhnya membuat Siauw Bie terperanjat, karena penghuni rumah itu betul-betul seorang wanita muda cantik serta menggiurkan sekali.

Wei Beng Yan pun tidak kalah terperanjatnya, tetapi ketika dapat firasat Siauw Bie senantiasa menatapnya, ia lekas-lekas berkata.

„Aku Wei Beng Yan,” sambil membungkukkan tubuhnya, lalu ia menunjuk kepada Siauw Bie dan melanjutkan. „Dan siocia ini bernama Siauw Bie. Aku harap kunjungan kita yang tiba-tiba ini tidak mengganggu siocia.”

„Tidak sama sekali,” sahut si gadis sambil bersenyum lembut.

„tetapi untuk menyambut kedua Siohiap pada malam yang sejuk ini, aku hanya dapat menyuguhkan air teh hangat saja, karena aku tidak mempunyai arak.”

Wei Beng Yan masih terpesona melihat kecantikan gadis itu, yang menurut taksirannya baru berusia kira-kira sembilanbelas tahun.

Di bawah sinar lampu pelita yang cukup terang, tampak gadis itu mengenakan pakaian serba putih dengan tali pinggang berwarna perak. Rambutnya yang tebal hitam diikat dengan pita hijau, parasnya putih segar.

Kecantikan, kesederhanaan serta keluwesannya telah membuat Wei Beng Yan seolah-olah melihat seorang puteri dari kahyangan!

Siauw Bie juga seorang gadis cantik jelita, dan jika ingin diperbandingkan bolehlah dikatakan bahwa kecantikan kedua gadis itu semua sama dengan setali tiga uang! Hanya kecantikan Siauw Bie agak kurang menonjol.

Pada detik itu juga rasa cemburu Siauw Bie sudah mulai berkembang. Sebelumnya ia memang selalu merasa khawatir dan sungkan mengikuti Wei Beng Yan mencari orang yang meniup seruling, maka begitu melihat si penghuni rumah gubuk itu merupakan saingan berat baginya, suatu rasa khawatir akan kehilangan kekasihnya segera terbayang dalam otaknya. Wei Beng Yan bukan seorang pemuda hidung belang, tetapi manusia atau pria manakah yang demikian santri sehingga tidak tergiur atau sedikitnya merasa tertarik tatkala melihat seorang gadis cantik?!

Wei Beng Yan masih terpesona memandangi gadis yang berada di hadapannya itu, wajahnya jadi memerah ketika mendengar teguran.

„Yan koko, mengapa kau tidak menanyakan nama siocia itu?”

„Kita telah memperkenalkan diri, siapakah nama siocia jika aku

boleh menanya?” katanya tersipu-sipu.

Gadis itu rupanya sudah dapat melihat perasaan cemburu Siauw Bie, tetapi sambil bersenyum ia lalu menyahut.

„Aku bernama To Siok Keng.”

Setelah itu ia melonjorkan kedua kakinya untuk turun dari tapang sambil menyilahkan kedua tamunya duduk.

Semua perabotan dalam rumah gubuk itu terbuat daripada bambu yang sederhana, tampak sebuah seruling yang berwarna hitam mengkilap tergantung di dinding.

„Kedua Siohiap rupanya tengah menikmati suasana sunyi tenteram di malam terang bulan ini,” To Siok Keng berkata lagi setelah mereka bertiga sudah mengambil tempat duduk. „Bolehkah aku mengetahui kalian dari partai mana?” Siauw Bie yang selalu dimanjakan oleh kakaknya, Siauw Cu Gie, merasa tersinggung mendengar pertanyaan itu, meskipun To Siok Keng tidak bermaksud lain daripada ingin mengetahui. Tetapi memang menurut peraturan yang lazimnya berlaku di kalangan Bu-lim, pertanyaannya yang paling belakang merupakan suatu tantangan untuk mengadu silat.

Wei Beng Yan yang dapat melihat perubahan paras Siauw Bie. Lekas-lekas berkata untuk membelokkan pertanyaan To Siok Keng.

„Siocia,” katanya sambil melirik Siauw Bie untuk kemudian menatap si gadis she To. „ada hubungan apakah antara siocia dengan kedua orang yang patungnya kini berdiri di depan?”

„O...... aku membuat kedua patung itu untuk menunjukkan rasa hormatku terhadap kedua orang itu. Apakah Wei siohiap juga mengenal wajah patung-patung itu??” kata To Siok Keng.

Wei Beng Yan menanya dengan maksud mengorek keterangan sebanyak-banyaknya tentang patung yang merupakan gurunya -- Yu Leng yang sudah mulai ia curigakan keasliannya, tetapi mendengar pertanyaan gadis itu yang diucapkan dengan nada lemah lembut itu terpaksa menjawab pertanyaan itu, meskipun pertanyaannya sendiri belum dijawab.

„Wajah patung yang pria mirip betul dengan wajah Ji Cu Lok Tay- hiap,” sahutnya „tetapi siapakah patung yang satunya lagi?”

„Bila Wei siohiap menjumpai Ji tay-hiap dan dimana?” Baru saja Wei Beng Yan ingin menjawab, Siauw Bie sudah mendahului berkata dengan paras masam.

„To siocia, rupanya kau dilahirkan untuk menjadi seorang hakim, sehingga Yan koko ku menjadi gugup menghadapi pertanyaan- pertanyaanmu yang tidak keruan juntrungannya itu!”

Paras To Siok Keng menjadi merah sekali ditegur demikian pedas, tetapi ia tidak menjadi gusar.

„Siauw siocia,” katanya sambil tetap bersenyum, „maksud dari pada pertanyaanku tadi yalah, jika Wei siohiap mengenal Ji tay- hiap sebelum dia itu tinggal di dalam lembah, Wei siohiap pasti mengenal juga wajah patung yang wanita. Aku tidak mempunyai lain maksud!”

„Hm! Tidak mempunyai maksud lain!” Siauw Bie berkata sambil menyindir.

„To siocia,” Wei Beng Yan menyelakkan kata-katanya untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan, „aku adalah murid Ji tay-hiap!”

Wajah To Siok Keng yang senantiasa berseri-seri tadi, berubah sedih setelah mengetahui bahwa Wei Beng Yan adalah ahliwaris Yu Leng.

„Tentu Ji tay-hiap telah membunuh diri    ” katanya parau. „Ada hubungan apakah gadis ini dengan guruku,” tanya Wei Beng Yan dalam hati setelah melihat kesedihan gadis itu, „apakah gadis ini masih pernah kemenakan dengan guruku atau ”

Wei Beng Yan menjadi bingung, pertama gadis itu telah membuat patung gurunya, kemudian menjadi sedih dengan keyakinan gurunya telah membunuh diri. Untuk membongkar teka-teki ini ia sengaja berkata.

„Guruku belum membunuh diri, dia bilang masih ingin hidup sepuluh tahun lagi!”

To Siok Keng jadi terbelalak mendengar keterangan itu.

„Belum membunuh diri?” tanyanya heran.

„Belum!”

„Tetapi ”

„Tetapi mengapa?” Siauw Bie mendahului menanya.

„Bie moay, tenang sedikit!”

„Apakah aku masih kurang tenang?”

„Bie moay, dalam hal ini bukan To siocia saja yang menjadi ragu- ragu mungkin perasaan yang sama meliputi semua orang yang mendengar keteranganku itu.” „Wei siohiap, aku bukan meragukan keteranganmu, tetapi aku merasa heran mengapa Ji tay-hiap mengingkari sumpahnya sendiri?”

Tergerak hati Wei Beng Yan mengetahui gadis itupun merasa heran akan batalnya Yu Leng membunuh diri. Tiba-tiba saja peringatan Ouw Lo Si bergema dalam telinganya.

„Wei siohiap, jika Yu Leng betul-betul bukan gurumu yang asli, berhati-hatilah terhadap dia itu, karena dapat dipastikan bahwa ilmu silatnya lihay sekali ”

„To siocia,” ia lalu berkata. “Ada hubungan apakah antara guruku dengan kau sendiri?”

„Patung yang kau tidak kenal itu, adalah patung guruku! Subo-mu!”

„Thian-hiang sian-cu?!”

„Betul!”

„Kita telah lama berkecimpungan dalam dunia Kang-ouw,” kata Siauw Bie, „tetapi kita belum pernah mendengar Thian-hiang-sian- cu mempunyai seorang ahliwaris! Sekarang kau mengaku sebagai muridnya, kau yang tinggal terpencil di daerah pegunungan Oey¬san ini. Gegabah benar kau menggertak-gertak orang!”

„Siauw siocia, apakah kau mengira aku berdusta?” kata To Siok Keng dengan suara lemah lembut, namun Wei Beng Yan segera dapat melihat bahwa gadis itu merasa sangat tersinggung dengan ucapan Siauw Bie yang ketus itu. Wei Beng Yan jadi serba salah, ia mengetahui bahwa Siauw Bie sangat cemburu, dan jika To Siok Keng yang tadinya tenang telah tersinggung, bukankah suasana kelak akan menjadi gawat?

Ia memutar otaknya untuk mencari jalan keluar, tetapi tiba-tiba Siauw Bie memukul meja dan membentak.

„Mengapa kau jadi demikian kolokan?”

„Bie moay, tenang sedikit. Kita datang di sini sebagai tamu, dan sebagai tamu kita harus. ”

„Yan koko! Jika dia sebagai nona rumah bersikap kasar, apakah kita sebagai tamu yang harus dihormati dilarang bersikap sama?!”

„Bie......” belum lagi Wei Beng Yan menyelesaikan ucapannya itu ketika......

„Siauw siocia, jika aku telah bersikap kasar, aku yang rendah minta diberi maaf. Karena aku tidak pernah bermaksud demikian, aku selalu menganggapmu sebagai seorang sahabat!”

„Seorang sahabat yang akan kau gait kakinya dari belakang!”

Ucapan tanpa tedeng aling-aling itu membuat Wei Beng Yan merasa malu sekali, ia berbangkit dengan maksud mengajak Siauw Bie berlalu dari situ, tetapi lagi-lagi Siauw Bie yang sudah sangat cemburu itu berkata. „Jika kau benar-benar murid Thian-hiang-sian-cu, ilmu silatmu tentu lihay, tetapi aku masih ingin juga belajar kenal dengan ilmu silatmu itu!”

„Bie moay, kita sebagai tamu, jika merasa tidak cocok dengan keadaan di sini, harus lekas-lekas berlalu, mengapa sebaliknya kau mencari setori?”

„Wei siohiap memang benar, suasana di sini sudah terlampau panas, sehingga kita tidak lagi dapat pasang omong dengan gembira!”

„Kau mengusir aku?”

„Bie moay. To siocia tidak pernah mengusir kita,” kata Wei Beng Yan sambil menarik tangan Siauw Bie dan berjalan keluar.

Di depan pintu, To Siok Keng mengangguk sambil bersenyum kepada Wei Beng Yan sebagai tanda perpisahan. Tetapi senyum selamat jalan itu dapat dilihat dan disalah artikan oleh Siauw Bie yang sudah dicengkeram rasa cemburu, sehingga tanpa dapat ditahan lagi amarahnya meluap dan meledak.

„Perempuan tidak tahu malu, apa yang kau tertawakan?”

„Selamat tinggal Siauw siocia, aku senantiasa mengharap kita dapat jadi sahabat di kemudian hari!”

„Pfui! Aku merasa jijik bersahabat dangan wanita murah sebagaimu! Aku tidak mau berlalu sebelum menjajal ilmu silatmu!” „To siocia, sampai jumpa lagi!” kata Wei Beng Yan sambil mengajak Siauw Bie berlalu.

Tetapi tiba-tiba Siauw Bie meronta dan berhasil melepaskan pegangan tangan Wei Beng Yan. Kemudian gesit seperti seekor rusa ia menyerang To Siok Keng dengan jurus Sin-liong-pa-bie (Naga sakti menggoyang ekornya).

To Siok Keng terkejut sekali melihat ketelengasan gadis berangasan itu, dengan gaya yang mempesonakan ia menyelinap ke samping dan......

„Brakkk!!”

Dinding pintu rumah gubuknya hancur berantakan diterjang serangan tinju Siauw Bie yang menyerang sekuat tenaganya!

“Bie moay! Kau telah merusak rumah orang!” kata Wei Beng Yan sambil lagi-lagi menarik tangan kekasihnya, tetapi Siauw Bie menggetak sambil membentak.

„Yan koko! Apakah kau tidak senang dengan perbuatanku ini?!”

Wei Beng Yan menghela napas panjang, kemudian ia merangkap kedua tinjunya memberi hormat kepada To Siok Keng, seraya berkata.

„Aku sangat menyesal sekali, aku ”

„Wei siohiap tidak usah minta maaf, aku mengerti......” To Siok Keng memotong sambil bersenyum. „Hei perempuan tidak tahu malu, jika kau benar-benar pandai silat, seranglah aku! Ayolah serang!”

„Siauw siocia, aku tidak ingin bermusuhan denganmu,” sahut To Siok Keng sambil membalikkan tubuh dan berjalan masuk.

Perasaan Siauw Bie yang telah ditunggangi oleh cemburu hebat, tidak dapat dikendalikan lagi, begitu melihat To Siok Keng berbalik, ia melangkah maju dan mengirim jotosan ke punggung lawannya dengan jurus Sin-liong-kian-su (Naga sakti mengincar mangsanya). 

Mendadak tampak To Siok Keng melangkah ke samping, dan serangan Siauw Bie yang sangat berbahaya dan diandalkan itu telah menyerang tempat kosong. Namun Siauw Bie lekas-lekas berbalik dan secepat kilat telah menyerang dada lawannya yang masih juga tidak ingin balas menyerang.

Siauw Bie menjadi girang sekali melihat lawannya tidak berusaha mengelak atau menangkis, dan ketika tinjunya sudah hampir mengenai sasaran, tiba-tiba ia menjadi terkejut lengannya telah didorong ke samping oleh Wei Beng Yan sambil mengeluarkan bentakan.

„Bie moay, berhenti!”

Siauw Bie melihat bahwa To Siok Keng hanya terhuyung sedikit, lalu berdiri jejak lagi dengan wajah pucat. Ia merasa heran sekali hembusan angin serangannya yang dahsyat itu, meskipun telah diselewengkan oleh dorongan Wei Beng Yan, tidak berhasil melukai dada lawannya. Karena menurut perhitungannya dada adalah bagian yang paling lemah dari tubuh manusia terutama bagi seorang wanita.

Wei Beng Yan kaget sekali menyaksikan keluhuran serta kebesaran jiwa si gadis she To, yang meskipun telah diejek, ditantang dan akhirnya diserang pergi datang, bahkan hembusan angin serangan Siauw Bie barusan telah melukainya, ia masih tidak mau melawan.

Siauw Bie merasa penasaran sekali menyaksikan Wei Beng Yan memihak kepada lawannya itu, maka begitu melihat satu lowongan ia sudah menyerang lagi dengan jurus Siang-liong-cian-cu (Sepasang naga merebutkan mustika) ke arah pelipis lawannya. Tetapi lagi-lagi Wei Beng Yan telah menyampok serangannya itu, sehingga ia sendiri yang terjerumus ke samping!

„Bie moay! Mengapa kau jadi seperti orang kalap!” tanya Wei Beng Yan, setelah itu ia menoleh kepada To Siok Keng dan melanjutkan.

„To siocia, aku menghaturkan beribu-ribu maaf, apakah kau terluka parah?”

„Tidak, aku tidak terluka parah,” sahut To Siok Keng. „terima kasih atas perlindunganmu tadi!”

„Hm! Terima kasih!” Siauw Bie mengejek sambil maju satu langkah dan melanjutkan.

„Yan Koko, aku minta kau minggir!” „Bie moay! Apakah kau bermaksud membunuh orang yang tidak bersalah?” tanya Wei Beng Yan agak gusar.

„Ya! Sedikitnya aku ingin mengajar adat kepada perempuan tidak tahu malu ini!”

„To siocia adalah murid Thian-hiang-sian-cu, maka dengan sendirinya ia jadi pernah Sumoay (saudara seperguruan) denganku.”

„O     dia jadinya masih pernah Sumoay denganmu?”

„Ya! Kau sudah memukul dan melukainya, apakah, itu masih belum cukup? Ayohlah minta maaf. Nanti jika guruku datang kita akan dimaki!”

„Kalau begitu mengapa kau tidak saling berpelukan?! Bukankah pertemuan, yang tidak disangka-sangka antara Suheng dan Sumoay ini sangat mengesankan?! -- Kau memerintahkan aku minta maaf? Pfui! Tunggu saja sampai matahari terbit di sebelah barat!”

Setelah berkata demikian Siauw Bie segera meloncat meninggalkan Wei Beng Yan dan To Siok Keng.

Wei Beng Yan merasa malu sekali melihat tingkah laku kekasihnya yang kurang ajar itu.

„To siocia,” katanya, „aku akan menyeret gadis itu untuk minta maaf kepadamu!” „Tidak usah Wei siohiap memaksanya, aku malah ingin minta agar kau yang minta maaf kepada kekasihmu itu! Wei siohiap, kau kejarlah padanya!”

„Baiklah jika demikian. Sampai kita jumpa lagi!” kata Wei Beng Yan sambil mengejar ke arah larinya Siauw Bie.

Siauw Bie berlari terus tanpa tujuan di semak belukar yang penuh dengan batu-batu gunung, goa-goa dan pengkolan-pengkolan dalam suasana gelap di malam hari.

duapuLuh tiga

Wei Beng Yan menyusul dari belakang, namun ia tidak berhasil menjumpai kekasihnya itu. Ia mencari terus dan akhirnya sampai di kaki suatu jurang yang curam, tanpa banyak pikir lagi ia segera meloncat ke atas jurang itu dengan ilmu pik-houw-pa-ciong (Cecak merayap di atas tembok), dan dalam waktu yang pandek saja ia sudah berada di atas jurang itu sambil mengawasi keadaan di sekitarnya,

„Bie moay! Bie moay!” serunya keras.

Seruan itu diulangi berturut-turut hingga delapan kali, namun yang terdengar hanya gema suaranya sendiri saja.

„Anjing! Apakah kau sudah bosan hidup berteriak-teriak tidak keruan di tengah malam buta?!”

Demikianlah terdengar suara bentakan seseorang yang entah dari mana datangnya. Wei Beng Yan terkejut sekali, ia meneliti untuk melihat orang yang membentak tadi.

„Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya. „Aku sedang mencari seorang sahabat yang tersesat di pegunungan ini.”

„Ha, ha, ha.! Memang pandai sekali kau mementang bacot!” kata lagi suara itu.

Wei Beng Yan mandongkol sekali lagi-lagi dimaki demikian kasar. Suara itu rupanya datang dari atas jurang di hadapannya, yang kira-kira enam atau tujuh meter tiggginya. Ia segera meloncat dan setelah tiba di atas, ia mendadak ingat bahwa ia sedang mencari kekasihnya.

„Mencari Siauw Bie adalah lebih penting daripada meladeni orang yang usil mulut ini.” pikirnya. Baru ia ingin meloncat turun lagi. ketika terdengar suara peringatan.

„Jaga baik-baik jalan darahmu     ”

Secepat kilat karena kagetnya, Wei Beng Yan berbalik dan mengembangkan kedua lengannya untuk menjaga serta berbareng menyerang ke depan, tetapi ternyata ia hanya menyerang angin!

„Ha, ha, ha! Wei Tan Wi!” terdengar suara orang yang belum menampakkan diri, „bukankah kau mempunyai nama julukan Hui- hoan-tie-kiam-ceng-tiong-cou? Mengapa kau tidak balas menyerang?!” Selesainya ucapan itu dibarengi dengan suara beradunya tinju dengan sesuatu yang keras.

Wei Beng Yan jadi heran sekali mendengar nama ayahnya yang sudah meninggal dunia disebut-sebut seolah-olah ayahnya itu masih hidup!

„Siapakah gerangan orang ini?” tanyanya dalam hati yang sudah mulai melupakan tugasnya mencari Siauw Bie.

„Hei Wei Tan Wi!” bentak lagi suara orang itu, „dengan jurus ini kau pasti binasa!”

Suara itu diteruskan dengan suara pukulan-pukulan dan tertawa berkakakan, kemudian dilanjutkan dengan suara bentakan lagi.

„Wei Tan Wi! Sekarang kau rasailah hajaranku!”

Wei Beng Yan jadi gusar mendengar ayahnya yang sudah berada di alam baka masih mau diejek.

„Hei kau yang memaki ayahku! Perlihatkanlah dirimu!” bentaknya.

„Ha, ha, ha! Sungguh besar nyalimu berani mengganggu aku!” orang itu balas membentak. „Siapa kau?!”

„Aku putera tunggal Wei Tan Wi!”

„Ha, ha, ha! Ha, ha, ha!”

„Hei! Apa yang demikian lucu?” „Aku telah mendengar bahwa Wei Tan Wi sudah mati, dan aku mendengar juga bahwa dia mempunyai seorang anak laki-laki ”

„Akulah anak laki-lakinya itu!”

„Ha, ha, ha ”

Berbareng dengan terdengarnya suara tertawa itu, tampak satu batu gunung yang besar di hadapan Wei Beng Yan melonjak dan terdorong ke samping sambil menerbitkan suara gaduh!

„Tentu orang yang memaki ayahku tadilah yang menggerakkan batu gunung itu,” pikir Wei Beng Yan. „mungkin ia ingin memamerkan tenaga dalamnya!”

Dari tempat dimana batu gunung itu melonjak ke atas tampak satu lobang yang merupakan sebuah goa. Sejenak kemudian dari dalam goa itu terdengar lagi suara orang itu.

„Bocah kemarin dulu! Mengapa kau tidak segera masuk?”

Wei Beng Yan ragu-ragu untuk memenuhi undangan itu, karena dari ucapan orang itu, ia dapat menduga bahwa orang yang berada goa itu pasti bukan kawan ayahnya, dan merasa ragu kalau-kalau goa itu merupakan perangkap.

„Ha, ha, ha! Ternyata putera Wei Tan Wi seorang yang bernyali kecil!” suara dari dalam goa mengejek.

Sambil mengerutkan dahinya, Wei Beng Yan mendengari suara itu, ia merasa suara orang itu tidak asing baginya. „Siapakah sebenarnya orang ini?” pikirnya. „Rasanya aku pernah mendengar logat suaranya itu.”

Setelah berpikir sekian lama, ia lalu bertekad menerima undangan orang itu. Ia membetulkan tali pinggangnya dan bertindak masuk ke mulut goa yang gelap sambil berkata dengan suara yang lantang.

„Hei kau! Aku Wei Beng Yan ingin menengok cecongormu!”

Ia berjalan dengan langkah yang enteng sekali dengan maksud dapat segera mengelakkan tiap serangan gelap yang mungkin dilancarkan oleh orang yang belum memperlihatkan diri itu.

Ketika sudah melewati beberapa puluh meter, tiba-tiba hidungnya dapat mengendus bau harum semerbak yang ganjil, ia merandek sambil menahan napasnya.

„Di tempat terpencil semacam ini, ada goa yang harum semerbak,” pikirnya kaget, „dan biasanya tempat yang harum di tempat terpencil, adalah tempat-tempat keramat atau tempat bersemayamnya setan-setan!”

Tetapi ketika mengingat orang yang berada dalam goa memaki- maki ayahnya, dengan tiba-tiba saja napsu membalas dendamnya jadi berkobar, dan tanpa menghiraukan bau harum semerbak yang disangkanya hawa racun itu, ia menjotos ke depan beberapa puluh kali sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyumbat lobang hidung, mulut, dan semua pori-porinya agar hawa racun tidak dapat menerobos ke dalam tubuhnya. Lalu dengan penuh kewaspadaan, ia berjalan lagi tanpa menjumpai rintangan apapun. Ketika sudah mencapai kira-kira tigapuluh meter, dalam goa itu, ia berhenti dan berkata dengan suara keras.

„Hei kau! Aku sudah masuk ke dalam goamu ini, mengapa kau sendiri yang takut menjumpai aku! Ayohlah perlihatkan dirimu!”

Ketika membentak tadi, Wei Beng Yan harus membuka mulutnya, dan pada waktu mulutnya terbuka itulah, hawa yang harum semerbak lagi-lagi telah merangsang paru-parunya.

Ia jadi kelabakan karena rasa khawatirnya bahwa hawa yang disedotnya itu beracun!

„Hee, hee, hee! Jangan khawatir aku nanti membokongmu di dalam lorong goa yang gelap atau melepaskan hawa beracun! Jalanlah lagi sedikit, kau akan melihat rumah tinggalku!” terdengar suara dari dalam lorong, yang agaknya dekat sekali.

„Suaranya! Aku rasa pernah mendengar suara itu,” pikir Wei Beng Yan. „Tetapi aku harus senantiasa bersiap sedia serta waspada!

Ia lalu bertindak lagi, tatkala sudah maju sepuluh meter. Ia kini berada di luar goa, tampak di hadapannya, di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang, satu lembah gunung yang agak rata. Satu sungai kecil mengalir melalui lembah itu. Di kedua tepi sungai kecil itu, tampak pohon-pohon bunga yang beraneka warna tumbuh dengan suburnya. Harum semerbak bunga-bunga itulah yang tertiup angin ke lorong goa, yang telah merangsang hidungnya hebat sekali. Melihat keindahan pemandangan di situ, yang bermandikan sinar si puteri malam, Wei Beng Yan untuk sementara waktu jadi lupa akan segala kesulitannya.

„Apakah ini betul-betul tempatnya setan-setan?” pikirnya.

Ia memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, kedua matanya tiba-tiba ditujukan ke ujung lembah, dimana tampak beberapa rumah gubuk yang berukuran mungil-mungil. Di depan salah satu gubuk itu, tampak seorang kakek yang bertubuh kurus jangkung sedang memukuli satu patung batu.

Si kakek agaknya tidak menghiraukan kedatangan Wei Beng Yan, ia tetap memukuli patung batunya.

Wei Beng Yan menghampiri sambil melancarkan ilmu Leng-po-hui- pu untuk berjalan di atas permukaan sungai bunga yang harum semerbak itu dan jadi terkejut ketika dapat melihat di bagian dada patung batu itu tertulis tiga huruf .

,,Wei Tan Wi”

„Hei apa maksudmu memukuli patung yang kau mungkin menganggap sebagai ayahku itu?”

Si kakek tiba-tiba berbalik dan mereka jadi berdiri berhadapan kedua pasang mata saling menatap tajam. Sejenak kemudian terdengar Wei Beng Yan berseru kaget.

„Kau!?” Si kakek pun agaknya tercengang ketika dapat mengenali putera Wei Tan Wi itu.

Karena mereka sudah pernah berjumpah ketika dilangsungkannya pertandingan untuk memilih seorang pemimpin partai silat perairan di atas telaga Tong-teng.

Kakek itu bukan lain daripada Tang Ceng Hong yang mengaku sebagai pertapa dari sungai bunga. Si kakek hanya mengetahui bahwa Wei Beng Yan adalah si pemuda baju hijau yang berada di atas kapal bersama-sama Siauw Bie.

Kedatangan Tang Ceng Hong di pertemuan di atas telaga Tong- teng dulu, sebetulnya hanya bermaksud untuk mengacau saja, tetapi ia telah dirobohkan oleh Thian-ji-san-jin alias Suto Eng Lok. Ketika dilemparkan ke dalam telaga, ia dapat melihat Suto Eng Lok sedang beriempur dengan si pemuda baju hijau (Wei Beng Yan) yang akhirnya dapat mengalahkan Suto Eng Lok.

„O jika tidak salah kau ini yang mengaku sebagai Hua-kee-yun-

hiap, bukankah?” tanya Wei Beng Yan.

„ Betul!” sahut Tang Ceng Hong tenang.

„Mengapa kau membenci ayahku?”

„Hm! Mengapa aku membenci Wei Tan Wi? Ayahmu telah menewaskan semua anggota keluarga serta keenampuluh orang muridku! Itulah mengapa!”

„Aku tidak mengerti!” „Hee, hee, hee! Wei Tan Wi sudah berada di akhirat, dosa-dosanya itu kaulah yang harus menanggung!”

Mendengar tuduhan yang diucapkan dengan gusar itu, Wei Beng Yan dengan cepat meloncat mundur jauh ke belakang, khawatir si kakek menyerang.

Ia tidak percaya tuduhan kakek itu, yang seolah-olah menganggap ayahnya sebagai seorang yang telengas, sedangkan ia mengetahui betul bahwa ayahnya seorang pendekar yang luhur dan budiman.

„Tang Tay-hiap,” katanya. „mungkin kau keliru menuduh. Ayahku tidak pernah bersikap begitu kejam sebagaimana kau duga ”