Sampul Maut Jilid 07

Jilid 07

„Karena dia merasa perintah gurunya itu tidak adil dan kejam!” sahut Siauw Bie yang senantiasa berada di samping Wei Beng Yan.

„Ee! Siauw Siocia kiranya mengetahui juga alasannya?” kata Khouw Kong Hu

„Sudahlah, Khouw Tay-hiap jangan terlalu, menekan kepada Yan koko!”

tujuhBeLAs

Khouw Kong Hu berlagak tidak mengerti kata-kata Siauw Bie itu.

„Wei siohiap telah berhasil mewarisi kepandaian Yu Leng,” katanya, „sebagai ahli warisnya kau tentu harus disayang oleh gurumu itu, tetapi mengapa dia justru menjerumuskan Wei siohiap ke jurang dosa?”

Wei Beng Yan dan Siauw Bie tidak menyahut.

„Yu Leng sendiri telah membunuh Kiu It beserta keluarganya, setelah itu ia membunuh kedua saudara Kim yang terkenal budiman dan yang paling ganjil yalah, Yu Leng telah mengganyang Ceng Sim Lo-ni, biarawati yang suci! Sekarang dia memerintahkan kepada Wei siohiap untuk membunuh aku! Apakah kesalahanku? Apakah oleh karena aku telah memadamkan lentera kertas merah, lalu aku harus dibunuh?”

„Cukup!” teriak Wei Beng Yan. „Khouw Tay-hiap jangan sebut- sebut lagi soal itu!”

Setelah berdiam sejenak ia berkata lagi.

„Tadi Khouw Tay-hiap mengatakan guruku melakukan pembunuhan atas diri Kiu Locianpwee, apakah dugaan Tay-hiap itu tidak keliru?”

„Aku telah menyelidiki dengan seksama, dan ternyata memang guru Siohiap itulah yang telah membunuh saudara angkatku, Kiu It!”

„Tidak mungkin!”

Khouw Kong Hu menjadi terperanjat mendengar demikian.

„Tidak mungkin??!!” tanyanya heran.

„Karena semenjak aku masuk ke dalam lembah dua tahun yang lalu, Suhu belum pernah meninggalkan lembah Yu-leng-kok!”

Khouw Kong Hu tidak menduga bahwa kedatangannya di situ memberikan kepadanya suatu keterangan yang sangat penuh arti itu di dalam usahanya mencari jejak pembunuh Kiu It. Ouw Lo Si yang sembunyi di semak belukar tidak jauh dari tempat itu, juga telah mendengar semua percakapan mereka, terutama keterangan terakhir Wei Beng Yan yang sangat menarik sekali. Keterangan itu cocok benar dengan perhitungan serta pertimbangannya!

Siapakah pembunuh Kiu It?

Tidak ada yang mengetahui karena semua orang yang berada di tempat itu telah mati dibunuh! Hanya anak perempuan Kiu It yang sudah berusia sembilanbelas tahun tidak dapat diketemukan mayatnya, apakah anak perempuan itupun masih hidup?

Jika “ya”! Di mana ia sekarang?

Ouw Lo Si yakin bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh Yu Leng, karena menurut pahamnya, Yu Leng sajalah yang kiranya mampu melakukan pembunuhan itu, mengingat ilmunya yang sangat tinggi. Tetapi ia belum memperoleh bukti-bukti yang nyata!

Di waktu pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee, di markas Kong-ya Coat, yang telah membunuh ke tiga saudara Tie adalah Yu Leng. Jika Wei Beng Yan mengatakan selama dua tahun gurunya tidak pernah keluar dari lembah Yu-leng-kok, maka siapakah yang telah datang di markas Kong-ya Coat ketika itu, yang telah mengaku sebagai suami Thian-hiang-sian-cu???

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, Ouw Lo Si jadi berkesimpulan bahwa kunci daripada soal yang rumit itu adalah. Apakah keterangan-keterangan Wei Beng Yan tadi itu tulen, bukan dusta? Jika Wei Beng Yan tidak berdusta, maka Yu Leng yang sekarang berbuat sewenang-wenang adalah Yu Leng palsu!

Tetapi jika keterangan Wei Beng Yan itu palsu, maka segala sesuatu harus diselidiki lagi dari pangkalnya!!

Berpikir sampai di situ, Ouw Lo Si tidak lagi dapat menahan untuk tidak ikut bicara, ia segera keluar dari tempat sembunyinya seraya berkata.

„Wei siohiap! Jika Suhumu tidak pernah meninggalkan lembah Yu- leng-kok, dari manakah ia memperoleh Ciam-hua-giok-siu?”

Wei Beng Yan dan Siauw Bie menjadi terkejut sekali tatkala melihat si kakek pincang tiba-tiba muncul di situ. Wei Beng Yan sendiri tidak mengetahui riwayat petualangan kakek pincang yang pernah menolongnya itu, baru belakangan ia mengetahui bahwa si kakek adalah yang dulunya terkenal sebagai si Ahli nujum kipas baja!

„Ouw Locianpwee! Aku sungguh tidak menduga bahwa kau adalah yang terkenal sebagai Tie-san-sai-cu-kat!” katanya sambil memberi hormat.

„Wei siohiap, kau sangat rendah hati? Aku sudah berusia lanjut, dan tidak terlalu memikiri julukan yang jelek itu!”

Setelah itu Ouw Lo Si lalu menghampiri si pemuda dan berkata lagi. „Wei siohiap, pada dewasa ini di kalangan Bu-lim telah terbit suatu rahasia yang besar serta penting, apakah kau mengetahui hal ini?”

„Tidak! Rahasia besar dan penting apakah?”

„Justru orang yang memegang kunci untuk membuka tabir rahasia ini, adalah Wei siohiap sendiri!”

„Aku?!”

„Ya! Tetapi coba kau ceritakan dulu, darimana gurumu memperoleh sarung tangan ajaib itu?”

„Sangat menyesal sekali aku tidak dapat menjawab pertanyaan Ouw Locianpwee itu, karena aku tidak mengetahui dari mana Suhu memperoleh benda pusaka itu.”

„Aku percaya keterangan Wei siohiap itu, tetapi apakah Siohiap bersedia menjawab dengan sejujurnya pertanyaan-pertanyaan yang aku akan tanyakan selanjutnya?”

„Tentu! Mengapa tidak!”

„Baiklah kalau begitu! Nah! Berada dimanakah gurumu sekarang ini?”

„Kita berpisah di kota Bo-ouw setelah Suhu memerintahkan kita berdua mencari semacam buah di pegunungan Oey-san ini, aku tidak tahu dia berada dimana sekarang.” Dengan demikian Ouw Lo Si mengetahui bahwa Yu Leng tidak berada di situ, maka dengan perasaan lega ia berkata lagi.

„Agar Wei siohiap dan Siauw Siocia dapat mengetahui rahasia besar yang tadi telah aku katakan, dengarlah baik-baik keteranganku ini.”

Maka setelah berkata begitu Ouw Lo Si lain bercerita dari awal sehingga akhir tentang apa saja yang telah terjadi di markas Kong- ya Coat.

„O......” Siauw Bie berseru kaget setelah mendengar kisah itu seluruhnya. „Kakakku Siauw Cu Gie juga telah turut dalam pertemuan itu, tetapi ia sungkan menceritakan apa yang telah terjadi di sana!”

Siauw Bie tidak mengetahui bahwa Siauw Cu Gie sesungguhnya tidak mengetahui apa yang telah terjadi, karena tatkala pertemuan berlangsung ia sedang rebah di suatu lereng gunung sambil mengerahkan tenaganya untuk membebaskan diri dari totokan seseorang yang berkulit tangan merah!

„Betul, semua orang yang hadir di situ telah diancam agar jangan menceritakan apa yang mereka telah lihat!” kata Ouw Lo Si.

,,Siapa yang telah mengancam, sehingga semua orang menuruti saja ancamannya itu?” tanya Wei Beng Yan.

„Yu Leng! Guru Wei siohiap!”

„Ha, ha, ha! Guruku?!” „Mengapa Wei siohiap tertawa?” tanya Ouw Lo Si heran.

„Ketika pertemuan itu berlangsung dua tahun yang lalu,” sahut Wei Beng Yan, „guruku tengah mengawasi rembulan sambil menangis sedih di dalam lembah Yu-leng-kok! Bila Ouw Tay-hiap mengatakan guruku telah hadir di sana, bukankah itu suatu omong kosong besar?”

„Tetapi orang itu sendirilah yang telah mengaku bahwa dia adalah suami Thian-hiang-sian-cu!”

„Tidak mungkin! Aku belum pernah mendengar ada orang yang mampu hadir di dua tempat yang berlainan dalam waktu yang bersamaan!”

Ouw Lo Si segera dapat melihat bahwa Wei Beng Yan sudah sangat tertarik oleh kisahnya itu, maka dengan bernapsu ia berkata lagi.

„Wei siohiap, dulu gurumu terkenal sebagai si Naga Sakti Ji Cu Lok, dia tidak pernah mengingkari janji, kesatria dan sakti. Ia pernah berjanji bahwa jika ia sudah mewariskan ilmu silatnya kepada seseorang, ia akan membunuh diri menyusul isterinya di alam baka. Tetapi sekarang ternyata ia telah mengingkari janjinya itu! Malah ia telah mengganas dengan membunuh-bunuhi orang yang tidak bermusuhan terhadapnya!”

Wei Beng Yan menundukkan kepalanya bingung. „Aku harus menyelidiki benar tidaknya hal ini,” katanya, „guruku berjanji menjumpai aku di atas puncak Ci-sin-hong satu bulan lagi, pada waktu itulah aku akan menanyakannya tentang hal ini!”

„Wei siohiap,” kata Ouw Lo Si, „jika Yu Leng betul bukan gurumu yang asli, berhati-hatilah terhadap dia itu, karena dapat dipastikan bahwa ilmu silatnya lihay sekali. Nah, sampai di sini sajalah. Aku selalu berdoa agar kau berhasil dalam usahamu menuntut balas!” sambil memberi hormat kepada Wei Beng Yan.

„Terima kasih, akupun tidak akan lupa kepada ketiga sampul surat Ouw Tay-hiap!” kata Wei Beng Yan sambil membalas memberi hormat.

Setelah Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu berlalu, Siauw Bie lalu berkata.

„Yan koko, apakah kau percaya omongan si kakek tadi?”

„Aku harus percaya, meskipun aku tidak dapat percaya seluruhnya!”

„Aku tidak percaya sama sekali obrolan kakek pincang itu!”

„Tetapi Bie moay, apa yang telah dituturkannya itu telah banyak bukti kebenarannya!”

„Yan koko, kau seorang yang jujur serta luhur, sehingga kau menganggap semua orang sama jujur serta luhurnya seperti kau! Padahal kau tidak mengetahui bahwa si Ahli nujum kipas baja itu di kalangan rimba persilatan terkenal sebagai seorang jago silat yang licik!”

„Bie moay, Ouw Tay-hiap telah berlaku baik terhadapku, ia tentu tidak mau melihat aku dipermainkan oleh satu penipu!”

„Jadi kau percaya kepada si pincang itu dan mencurigai keaslian gurumu sendiri?”

„Aku tidak dapat melupakan budi guruku, tetapi mengapa dia kini demikian berubah? Mengapa ?!

Sebetulnya Siauw Bie pun percaya omongan Ouw Lo Si, meskipun tidak seluruhnya. Tetapi karena khawatir Wei Beng Yan nanti bentrok dengan Yu Leng, maka ia telah menganjurkan agar si pemuda tidak mempercayai keterangan si kakek.

„Ouw Tay-hiap telah membantu banyak sehingga aku berhasil masuk dan keluar lagi dari lembah Yu-leng-kok dalam keadaan hidup. Ia adalah seorang sahabat kita!” kata Wei Beng Yan.

„Meskipun demikian, Yan koko harus berhati-hati menghadapi segala sesuatu demi keselamatan kita berdua ”

„Jangan gelisah, aku akan bertindak demikian rupa sehingga keretakan antara guru dan murid tidak terjadi!”

Kemudian karena cuaca sudah mulai gelap, dan merasa letih sekali, mereka lalu mencari tempat yang agak tinggi untuk beristirahat dan melewati sang malam di situ. ◄Y►

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu setelah berlalu dari pegunungan Oey-san itu, segera melanjutkan perjalanan mereka ke kota Ceng- yo.

„Ouw Si-ko,” kata Khouw Kong Hu sambil berlari di samping si kakek pincang, „aku betul-betul mengagumi otakmu yang lihay itu. Yu Leng mungkin akan mati tanpa kita turun tangan sendiri!”

Tetapi Ouw Lo Si tidak menjadi girang dengan pujian itu, ia menghela napas dan berkata.

„Hiantee, mungkin siasatku itu tidak akan berhasil seluruhnya!”

„Mengapa tidak?”

„Aku telah memperhatikan wajah Siauw Bie bahwa ia tidak percaya akan omonganku, aku khawatir ia membujuk Wei Beng Yan sehingga siasatku itu kandas sama sekali!”

„Jika sampai kejadian demikian bagaimana?”

„Kita tidak akan menunggu sampai kejadian demikian! Kita harus bertindak menurut rencanaku yang kesatu atau yang kedua, yalah pergi ke kuil Cit-po-sie dan menanyakan Bak Kiam Taysu cara menggunakan Tok-beng-oey-hong! Lalu, jika tidak berhasil mendapat keterangan, kita akan mencari Pek Tiong Thian untuk menanyakan dimana letaknya goa Long-ya!” Setelah itu, meskipun merasa khawatir nanti Bak Kiam Taysu jadi curiga dan menuduh mereka telah mencuri kedua benda mukjizat itu, Khouw Kong Hu menurut juga kehendak saudara angkatnya itu.

Delapan hari mereka telah mengadakan perjalanan tanpa menjumpai rintangan, maka pada hari kesepuluh mereka sudah melewati tapal batas propinsi Ho-peh, lalu mereka mengambil jalan ke jurusan barat untuk menuju ke pegunungan Ngo-tay-san yang terletak di propinsi San-si.

Malam harinya, ketika mereka sudah berada di tepi hutan yang lebat dengan pohon-pohon yang besar dan rindang, tiba-tiba mereka melihat beberapa puluh cahaya lampu merah.

„Apa itu?” tanya Khouw Kong Hu sambil menunjuk ke arah cahaya itu.

Ouw Lo Si menegasi keadaan hutan pohon cemara, dari mana cahaya merah tadi memancarkan sinarnya, tiba-tiba parasnya berubah kaget dan berseru.

„Lentera kertas merah!”

„Apakah ?”

„Sstt! Jangan bicara terlalu keras, ikutilah jejakku!” sahut Ouw Lo Si sambil berjalan ke arah cahaya tadi.

Di hadapan mereka hanya tampak satu jalan yang sempit dan agaknya jarang ditempuh orang. Akhirnya setelah dengan susah- payah dan berjalanan lebih kurang satu lie, mereka melihat satu batu gunung yang besar menghadang di pinggir jalan gunung yang sempit itu. Mereka jadi terkejut sekali waktu dapat melihat delapan huruf tertulis di atas batu gunung itu!

Adapun huruf-huruf yang tertera di situ adalah;

„Jalan ini sudah tertutup! Yang lancang masuk. MATI!”

Lagi-lagi Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu jadi terbengong mengawasi huruf-huruf itu, yang juga bergaya tulisan sama benar dengan tulisan yang mereka lihat di markas Kiu It dan di tepi sungai Tiang-kang!

Meskipun si kakek terkenal cerdik sekali, namun dalam keadaan demikian ia tampaknya mati akal.

„Apakah Yu Leng pun sudah berada di sini?!” tanyanya di dalam hati, „Jika dia betul-betul sudah datang dia tentu ingin menjumpai Bak Kiam Taysu untuk menuntut Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan- tan, kedua benda mujizat isterinya!”

„Si-ko,” Khouw Kong Hu berbisik, “si penghuni lembah Yu-leng-kok pun sudah berada di sini rupanya!”

Ouw Lo Si menatap saudara angkatnya dan menyahut dengan suara rendah.

„Dia tentu datang untuk menuntut kedua mustika isterinya dari Bak Kiam Taysu. Kita justru datang untuk menanyakan cara menggunakannya Tok-beng-oey-hong yang kini berada di dalam kantongku!”

Setelah berpikir dan mempertimbangkan masak-masak, si kakek lalu berkata lagi.

„Hiantee, kita harus meneruskan perjalanan kita ini, kita harus masuk ke dalam kuil Cit ”

„Tang!! Tang!! Tang!!”

Demikianlah suara genta yang gaduh dan gencar itu telah memotong ucapan si kakek, suara itu adalah suatu pemberitahuan tentang datangnya bahaya, yang terdengar datang dari atas puncak Beng-keng-ya di mana kuil Cit-po-sie terletak!

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu segera mengetahui di kuil tersebut telah terbit peristiwa yang gawat!

Tatkala itu suasana di sekitar jalan gunung sudah menjadi gelap sekali, ditambah dengan terdengarnya suara genta yang gaduh itu, maka suasana yang memang sudah gelap itu menjadi kian menyeramkan saja!

„Hiantee,” kata Ouw Lo Si dengan suara rendah, „tadi kita melihat lentera kertas merah, sekarang terdengar suara tanda bahaya aku merasa pasti Yu Leng sudah mengamuk di dalam kuil Cit-po-sie! Menurut pendapatku, ini justru saat yang paling baik untuk kita bersembunyi di sekitar kuil agar dapat melihat segala sesuatu, mungkin saja kita akan mendapat keterangan yang kita perlukan? Tetapi maksud kita ini mungkin akan membawa malapetaka kepada kita sendiri! Bagaimana pendapatmu?”

„Aku selalu menurut saja pendapat Si-ko!”

„Baiklah, kita harus lebih berhati-hati lagi, karena di sini lebih berbahaya daripada di gedung ke tiga saudara Tie!”

Setelah itu si kakek segera meloncat mendahului saudara angkatnya, kemudian setelah melalui beberapa tikungan, mereka sudah tiba di bawah kaki jurang yang curam. Itulah jurang Beng- keng-ya.

Mereka menoleh ke atas, dan melihat sinar lampu yang bercahaya terang berbareng dan mendengar lagi suara genta yang gaduh sekali.

Di suatu bagian jurang itu ia melihat tangga tali, yang aneh yalah di tiap dua meter sepanjang tangga tali itu telah digantungi lentera kertas merah, yang menerangi jurang tersebut.

Tanpa ragu lagi si kakek telah meloncat dan menyambret tangga tali itu, lalu lincah seperti seekor kera ia sudah mulai mendaki ke atas diikuti oleh Khouw Kong Hu yang pun sudah berhasil menyambret tangga tali itu.

Ketika sudah berada di tengah-tengah, tanpa disengaja Ouw Lo Si telah keliru menginjak anak tangga, sebelah kakinya yang pincang terjeblos dan membikin tangga itu tergoncang keras dan membentur jurang itu sendiri, sehingga salah satu lentera kertas tergencat pecah dan apinya berkobar lalu menyambar bagian atas tangga tali yang sedang mereka injak itu.

Perlu dijelaskan di sini bahwa tangga itu memang sengaja dipasang di situ untuk dipergunakan sebagai pintu keluar atau masuk ke kuil Cit-po-sie, dan baru ditukar setiap lima tahun sekali, maka api dengan mudah saja menjalar di atas tali yang sudah kering itu.

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu. jadi kelabakan, meskipun mereka pandai menggunakan ilmu meringankan tubuh, tetapi jika tangga terbakar putus, mereka pasti mati terbanting dari tempat setinggi itu!

Khouw Kong Hu yang berada di bawah saudara angkatnya, segera mengerahkan tenaga dalamnya dan tiba-tiba tampak tubuhnya melonjak ke atas untuk menyambret tali di sebelah atasan tangan Ouw Lo Si, yang juga segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melonjak dan menjambret kedua kaki Khouw Kong Hu. Berbareng dengan itu, tangga yang barusan mereka injak itu putus dan jatuh ke bawah sambil terbakar terus!

„Aii,” seru Ouw Lo Si, „baiknya Hiantee bertindak cepat jika tidak ”

Lalu sambil menahan desiran angin santar yang mendampar tubuh, mereka mengerahkan seluruh tenaga dan cepat sekali mereka sudah tiba di atas jurang. Kemudian tanpa berkata-kata Ouw Lo Si segera menyelidiki lebih jauh keadaan di sekitar tempat itu, sebelum menghampiri kuil yang terletak tidak jauh dari tempat di mana mereka kini tengah berdiri.

Genta di dalam kuil masih berbunyi dengan gencar sekali, seolah- olah suara isak tangis minta tolong yang menyayatkan hati. Di suatu tempat tampak sebuah patung dewa yang sudah roboh, dan dapat dilihat dengan jelas bahwa patung itu telah dirobohkan oleh suatu pukulan tenaga dalam yang dahsyat sekali!

Lama juga mereka meneliti keadaan sekitar tembok kelenteng itu dalam suasana yang gelap dan gaduh oleh suara genta.

Setelah merasa cukup aman, mereka lalu menghampiri pintu kuil, setibanya di sana mereka dapat melihat sehelai papan mereka yang bertulisan.

Cit-po-sie.

Pintu kuil yang besar dan kokoh tertutup rapat.

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu jadi berdiri menjublek ketika mengingat bahwa mereka kini tak dapat mundur lagi. Bukankah bagian bawah tangga tali yang tadi mereka gunakan sudah terbakar putus dan jatuh ke bawah jurang?

Jika Yu Leng pada saat itu mendadak muncul dan mengetahui maksud kedatangan mereka di situ, tentu mereka akan menjadi mangsanya yang empuk tanpa dapat melarikan diri! Ouw Lo Si segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dan tiba-tiba dengan tinjunya ia memukul tembok di dekat pintu itu. Pukulannya itu demikian cepat dan keras, sehingga tembok itu toblos, dan satu lobang besar lebih kurang tigapuluh centimeter tampak di tembok yang melingkari kuil itu!

Ouw Lo Si yang cerdik tidak memukul pintu kuil, karena ia merasa yakin akan membikin orang-orang yang berada di dalam kuil menjadi kaget jika daun pintu yang besar itu berhasil ia gempur roboh dengan tinjunya, suara ambruknya papan jati yang besar itu pasti akan menerbitkan kegaduhan lebih hebat dari pada robohnya batu-batu bata dari tembok yang barusan ia gempur itu, sehingga perbuatannya itu kepergok.

delapanBeLAs

Dengan hati-hati sekali, Ouw Lo Si lalu menengok melalui lobang itu, jantungnya berdebar keras, karena ia telah membayangkan bahwa ia akan melihat banyak mayat di pekarangan kuil tersebut.

Tetapi dugaannya itu ternyata tidak benar, keadaan di dalam pekarangan kuil yang luas itu sepi, tidak tampak seorang manusia pun, lampu-lampu di dalam kuil masih menyala terang benderang, di tengah-tengah ruangan, di atas meja yang tinggi tampak tiga patung Hud-co (Dewa), tengah berdiri dengan sikap yang angker sekali!

„Hiantee,” Ouw Lo Si berbisik, „Cit-po-sie telah diserang!”

„Tetapi kita tidak melihat mayat-mayat!” sahut Khouw Kong Hu. „Ayoh kita masuk ke dalam kuil!”

Ouw Lo Si yang selalu bertindak dengan hati-hati tidak menyahut. Ia hanya mencabut pohon kecil untuk dibuat tedeng agar kehadiran mereka di situ tidak mudah dilihat orang.

Kemudian tampak pintu ruangan dalam kuil mendadak terjeblak, seolah-olah diterjang angin santar, diikuti dengan keluarnya banyak pendeta yang berbaris dalam dua barisan, jumlah mereka lebih kurang duapuluh orang, mereka rata-rata berusia setengah abad, mengenakan jubah warna abu-abu dan berwajah kecut masam!

Mereka berbaris rapih sekali menuju ke ruang depan, untuk kemudian duduk bersila di hadapan meja sembahyang.

Sejenak kemudian tampak seorang pendeta yang berusia sudah lanjut berjalan menuju ke meja sembahyang dan herdiri di hadapan pendeta-pendeta tadi sambil mengepal kedua tinjunya dan berkata.

„Kita telah memperoleh kabar bahwa seorang tamu telah datang ke kuil kita ini, tetapi mengapa dia belum mengunjukkan dirinya?”

„Hiantee,” kata Ouw Lo Si dengan suara rendah, „pendeta itu adalah Bak Kiam Taysu!”

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu mengira Yu Leng dan Bak Kiam Taysu, telah bertempur di dalam kuil Cit-po-sie, tetapi setelah mendengar ucapan pendeta itu, mereka segera mengetahui bahwa meskipun Yu Leng sudah berada di dalam kuil, namun ia belum memperlihatkan dirinya, dan pertempuran hebat belum terjadi!

Setelah lewat lagi beberapa saat lamanya, mereka menjadi heran melihat Yu Leng belum juga muncul di situ, dan akhirnya mereka jadi khawatir kalau-kalau gerak gerik mereka telah diketahui oleh Yu Leng yang entah dimana bersembunyinya!

„Hei kau yang sudah datang di kuil ini,” terdengar Bak Kiam Taysu berkata, „Mengapa masih juga bersembunyi! Apakah kau ini dari golongan bajingan atau pencoleng sehingga takut memperlihatkan dirimu?”

Baru saja selesai ucapan itu, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa berkakakan yang datangnya dari ruangan dalam kuil!

Bak Kiam Taysu dengan kaget menoleh ke arah suara tertawa tadi, ia jadi terkejut ketika melihat orang yang tertawa tadi. Disalah satu dari empat tiang kayu yang besar sekali, yang menahan atap ruangan tengah kuil itu, tampak seorang yang tengah menjepitkan kedua kakinya di atas tiang itu.

Orang itu mengenakan pakaian warna abu-abu, tiang-tiang tersebut juga dicat abu-abu sehingga dalam suasana malam ia sukar dilihat.

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu juga terkejut mendengar suara tertawa orang itu, karena dia itu bukan lain daripada Yu Leng yang menutupi wajahnya dengan selembar kain hitam. Sambil tertawa berkakakan Yu Leng melompat turun dengan lincah sekali, sejenak kemudian ia sudah berdiri beberapa puluh tombak saja di hadapan Bak Kiam Taysu.

„Kita dapat mendengar tentang kedatangan seorang tamu yang bernama Yu Leng ke kuil kita ini!” kata Bak Kiam Taysu sambil membelalakkan matanya. „Tetapi sepanjang pengetahuanku Yu Leng belum pernah menutupi wajahnya, dan bersikap demikian konyol dengan merusak patung dewa kita!”

„Aku datang di sini dengan maksud menanyakan Tok-beng-oey- hong dan Cu-gan-tan!” sahut Yu Leng sambil tertawa mengejek.

Bak Kiam Taysu heran mendengar Yu Leng ingin menanyakan kedua benda mujizat yang telah dicuri orang itu.

„Apakah kau tidak mengetahui bahwa pusaka isterimu itu telah dicuri orang dari dalam kuilku ini?!” tanyanya.

„Hm! Memang cerdik sekali siasatmu itu, tetapi jangan coba menipu aku!”

„Aku tidak pernah bermaksud menipu!”

„Mengapa kau menyiarkan kabar bohong!”

„Kabar bohong tentang apa?!”

„Tentang tercurinya kedua benda pusaka isteriku dari kuilmu ini!”

„Jadi kau tidak percaya bahwa kedua benda itu telah dicuri orang?” „Ha, ha, ha,! Tentu    tentu aku tidak percaya!”

Bak Kam Taysu menjadi gusar sekali mendengar ucapan yang sangat mengejek itu, tetapi ia berusaha menahan hawa amarahnya dan berkata dengan tenang.

„Kuil Cit-po-sie telah kehilangan kedua benda mujizat itu, dan kehilangan itu telah mencemarkan nama baik kita! Apakah kau kira kita demikian gegabahnya menyiarkan kabar bohong yang justru merugikan kita sendiri!”

„Untuk membuktikan kebenaran kata-katamu itu, aku terpaksa harus menggeledah tempat menyimpan benda-benda berharga kuil ini!”

Bak Kiam Taysu jadi berjingkrak mendengar permintaan yang melampaui batas itu.

„Kau sudah gila barangkali!” bentaknya gusar, „kuil Cit-po-sie senantiasa berbuat kebaikan, dan tidak memperkenankan sembarang orang datang, apalagi untuk menggeledah!”

„Hei hwesio! Apakah kau tidak kenal aku ini siapa? Aku sudah datang dan aku tidak suka dilarang untuk berbuat kehendak hatiku!”

„Namamu sudah terkenal di kalangan Bu-lim dan mungkin aku bukan tandinganmu! Tetapi aku tidak bersedia dihina orang! Aku melarangmu atau siapapun untuk bertindak sewenang-wenang di daerah kekuasaanku ini!” „Hei hwesio! Apakah kau tidak sayang kuilmu yang sudah seratus tahun usianya ini?”

Bak Kiam Taysu memejamkan kedua matanya seraya mendoa,

„O-mi-to-hud! O-mi-to-hud!”

Setelah itu ia membuka lagi matanya dan berkata.

„Aku tetap melarang segala penggeledahan!”

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menyaksikan pemandangan itu dengan hati berdebar-debar, mereka yakin bahwa pertarungan antara Bak Kiam Taysu dan Yu Leng tidak dapat dielakkan lagi.

Mereka merasa sangat menyesal tidak dapat membantu, mengingat kepandaian mereka masih sangat ‘terbatas’ terhadap si penghuni lembah yang sangat lihay itu. Mereka hanya dapat menonton seperti apa yang mereka pernah lakukan ketika berada di dekat gedung ke tiga keluarga Tie.

„Mungkin kita akan menyaksikan pembunuhan kejam lagi!” Ouw Lo Si berbisik kepada saudara angkatnya.

Tetapi tiba-tiba terdengar tindakan kaki yang enteng sekali, yang datangnya tepat dari belakang mereka. Belum lagi keburu berbalik, mereka sudah mendengar suara orang menegur.

„Kedua tay-hiap sudah datang ke kuil Cit-po-sie ini, tetapi mengapa masih berdiam di luar?” Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang tengah mengalami ketegangan jiwa, mendadak berbalik dan melepaskan jotosan keras ke arah orang yang menegur tadi! Dan terdengarlah suara.

„Phess. ”

Mereka jadi terperanjat ketika merasa seolah-olah telah menjotos segumpalan kapas yang empuk sekali!

Orang yang diserangpun agaknya kaget sekali dengan serangan yang tiba-tiba itu, sehingga ia tidak keburu berkelit, maka lekas ia mengerahkan ilmu tenaga dalamnya untuk menerima serangan tinju kedua orang itu!

Ouw Lo Si dan Kouw Kong Hu segera dapat melihat dengan samar-samar, seorang pendeta yang sudah lanjut usianya, bertubuh tinggi besar, mukanya merah dan mengenakan jubah warna abu-abu, tengah berdiri tepat di belakang mereka sambil bersenyum simpul!

Ouw Lo Si jadi tidak mengerti jotosannya yang barusan dilancarkan, yang sanggup menghancurkan batu, telah kandas di perut pendeta itu, tanpa membikin si pendeta sendiri tergoyah atau menderita luka! Iapun melihat satu wajah yang angker serta gagah, yang menunjukkan watak yang luhur, penuh kasih sayang dan jiwa yang besar!

„Di dalam kuil sudah datang seorang tamu,” kata pendeta tua itu dengan tenang sekali, „jika kedua tay-hiap juga turut masuk, maka kita dapat berkumpul bersama-sama!” Lalu ia mempersilahkan Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu mengikutinya masuk ke dalam.

Entah mengapa, ucapan yang ramah itu telah membikin Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menurut saja mengikuti pendeta itu.

Setibanya di dalam, tampak Bak Kiam Taysu dan Yu Leng sudah berdiri berhadap-hadapan, dan saling mengawasi tajam. Suasana sudah genting sekali!

Namun, begitu si pendeta tua bertindak masuk bersama-sama Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu ketegangan menjadi agak reda juga, sejenak kemudian terdengar Bak Kiam Taysu berkata.

“Susiok (paman guru)! Mengapa kaupun turut datang?”

„Aku telah mendengar suara genta, dan diberitahukan juga tentang kedatangan Ji Cu Lok, si Naga Sakti!” sahut si pendeta tua. „Aku mempunyai hubungan sangat baik dengan tamu kita ini, maka aku ingin mengetahui juga urusan apakah yang begitu penting sehingga telah memaksa dia berkunjung ke kuil kita ini?”

Setelah berkata begitu, si pendeta lalu bertindak lagi dengan sikap ramah-tamah dan tenang seperti orang yang ingin menyambut kedatangan seorang kawan lama!

„Ah! Kalau begitu dia ini susiok Bak Kiam Taysu?” pikir Ouw Lo Si,

„mungkin juga kedua pendeta ini dapat mengimbangi Thay-yang- sin-jiauw!” Kemudian tampak si pendeta kebut lengan bajunya sebagai isyarat agar Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu berdiri di pinggir tembok dekat tiang besar, lalu ia menghampiri Yu Leng dan berkata.

„Ji Cu Lok, limapuluh tahun yang lalu kita pernah bertemu dan berhubungan baik. Semenjak itu kita tidak pernah berjumpa lagi, apakah kau masih ingat namaku?”

Yu Leng tidak menyahut.

„Meskipun aku telah menyimpan diri di atas jurang Beng-keng-ya yang terpencil ini,” kata lagi si pendeta tua, „namun aku senantiasa mengikuti perkembangan di kalangan Bu-lim dengan seksama. Aku mengetahui juga bahwa semenjak isterimu meninggal dunia kau -- Ji Cu Lok tidak ingin hidup lagi. Tetapi sekarang ternyata kau masih juga bergentayangan dan mengingkari janjimu sendiri dengan berkedok sehelai kain hitam!”

„Ha, ha, ha! Aku datang di sini dengan maksud mengambil kedua benda pusaka isteriku yang tidak ada gunanya bagi kalian. Jika kalian tidak sudi mengembalikan, akupun tidak dapat banyak bicara!”

„Sudah berpuluh-puluh tahun aku tidak pernah bermusuhan kepada siapapun, sekarang akupun tidak sudi bermusuhan terhadap Ji Cu Lok!”

„Kalau begitu, mengapa kau masih ingin mengangkangi kedua benda pusaka itu?”

„Kita tidak pernah bermaksud demikian!” „Kembalikanlah, sekarang!”

„Ji Cu Lok! Bukankah tadi Bak Kiam telah mengatakan bahwa kedua benda itu telah dicuri orang?!”

„Ternyata kau sama gilanya seperti si Bak Kiam itu! Apakah kau ingin aku mempercayai keteranganmu itu!”

„Kenyataannya memang demikian!”

Setelah mendengar keterangan itu, sambil tertawa Yu Leng lalu bergerak-gerak dengan aneh, dan dengan tiba-tiba ia mengirim jotosannya menyerang Bak Kiam Taysu.

Jotosan itu dahsyat sekali dan pasti dapat merobohkan tembok, tetapi itu bukan jurus Thay-yang-sin-jiauw!

Bak Kiam Taysu sudah siap, dengan gesit ia melompat mundur satu meter mengelakkan jotosan maut itu, dan setelah itu ia pun balas menyerang dengan mengirim tinjunya ke arah dada lawan.

Tetapi untuk kagetnya semua orang, dengan tiba-tiba tampak Bak Kiam Taysu terdampar mundur beberapa langkah ke belakang dengan paras kaget dan pucat!

Si pendeta tua jadi kaget sekali melihat kenyataan demikian.

„Hei Ji Cu Lok!” katanya. „kau tidak pernah belajar ilmu silat tenaga luar, apakah ilmu silat yang kau lancarkan tadi, ilmu silatmu yang baru??” Ouw Lo Si yang ingin membalas dendam terhadap Yu Leng, dengan berani lalu berkata.

„Taysu! Meskipun ia mengaku bahwa dia suami Thian-hiang-sian- cu, tetapi sebenarnya dia bukan Ji Cu Lok!”

Si pendeta menjadi heran sekali mendengar keterangan itu.

„Kalau begitu, siapakah dia ini sebenarnya?” tanyanya. „Aku.....

aku tidak tahu ”

„Hei pendeta!” kata Yu Leng sambil tertawa. „Apakah kau percaya omongan si pincang itu?”

„Aku percaya atau tidak itu terserah kepadaku sendiri!” sahut si pendeta, „Sekarang aku hanya minta kau enyah dari sini!”

„Jika Yu Leng tidak diberi hajaran di sini,” pikir Ouw Lo Si, „Maka kesempatan sebaik ini sukar didapat lagi, lagi pula aku takkan luput dikejar-kejar olehnya!”

Setelah itu ia lalu berkata lagi.

„Taysu! Dia pasti bukan Yu Leng asli! Jangan lepaskan dia begitu saja!”

„Ji Cu Lok! Aku minta kau enyah dari sini!”

„Aku akan berlalu dari sini,” kata Yu Leng, lalu sambil menunjuk Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu ia melanjutkan, „Setelah melihat mayat kedua jahanam itu!” „Hei anjing!” bentak Khouw Kong Hu yang sudah tidak dapat menahan sabar. Bentakan itu dibarengi dengan meluncurnya tiga batang jarum Yan-bie-tin ke arah Yu Leng yang sangat ia benci.

Tetapi dengan tiba-tiba saja jarum yang ampuh itu berserakkan di lantai kuil digeprak lengan jubah si pendeta tua!

Justru pada saat itu, Yu Leng yang licik dan kejam meloncat secepat kilat menerkam si pendeta tua, yang mendadak mundur mengelakan terkaman lawannya sambil berseru kaget.

„Ciam-hua-giok-siu!”

Ouw Lo Si tidak menunggu lagi, dengan kipas bajanya ia menyerang Yu Leng dengan jurus Ceng-hong-ci-lay (Angin topan menyapu dorna), dengan maksud menotok jalan darah di bagian lambung dan jidat musuhnya!

Khouw Kong Hu pun sudah menyerang dengan gaitan bajanya, bersamaan dengan itu Bak Kiam Taysu juga sudah menerjang, hanya sikapnya menyerang agak ganjil, kedua tinjunya dipasang di depan dada, lalu ia menerjang tepat seperti seekor banteng menubruk mangsanya!

Ketiga orang yang terkenal lihay ilmu silatnya telah menyerang, dan dapat digambarkan betapa hebat serangan serentak mereka itu!

Tetapi Yu Leng dengan mudah saja sudah mencelat di udara untuk turun di belakang Bak Kiam Taysu, sambil mencakar dengan sarung tangan ajaibnya! „Awas!” seru Ouw Lo Si yang melihat serangan itu.

Bak Kiam Taysu yang sedang menunduk tidak keburu mengelak, meskipun ia sudah memutar tubuhnya sedikit, tetapi cakaran Yu Leng kena juga menjambret bahunya sehingga ia terhuyung dengan tindakan berat!

Serangan Yu Leng yang aneh itu ternyata belum mau sudah sampai di situ, setelah melukai Bak Kiam Taysu, sarung tangan mautnya telah sekaligus menyapu Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu!

Si kakek yang lebih tinggi sedikit kepandaiannya, dengan susah payah dapat juga mengelakkan diri, tetapi tiba-tiba terdengar Khouw Kong Hu menjerit dan tubuhnya terlempar menubruk tembok kelenteng!

Setelah itu, Yu Leng lalu menyerang si pendeta tua, yang masih belum mau melawan, hanya terdengar ia berseru.

„O-mi-to-hud!”

Sambil mengebat langan bajunya menangkis serangan lawannya itu.

„Hei pendeta!” Yu Leng membentak, „Apakah kau takut melawan aku?”

„Aku minta kau dengan hormat meninggalkan kelentengku ini!” kata si pendeta tenang.

„Aku akan membikin kau mau juga melawan aku! Lihatlah!” Setelah berkata begitu, Yu Leng segera meloncat ke arah ke duapuluh pendeta yang sedang berdiri menonton pertarungan itu. Tampak ia mengangkat tangannya dan menyerang!

Dalam waktu yang singkat saja ke duapuluh orang itu sudah roboh menjadi mayat!

Tetapi si pendeta tua masih tidak mengubris perbuatan Yu Leng yang gila itu, sehingga Ouw Lo Si agak mendongkol.

„Jika Taysu masih tidak mau turun tangan, “ katanya, „semua orang di dalam kuil ini akan binasa!”

Si pendeta masih berdiri tenang, hanya matanya mengawasi Yu Leng, seolah-olah ia ingin mengintip hati Yu Leng, kawannya dulu, yang kini sudah berubah banyak sekali.

„Apakah gunanya ilmu silat yang lihay dan memelihara rohani berpuluh-puluh tahun!” Ouw Lo Si berkata lagi, „jika Tay-su masih tidak mau turun tangan, Cit-po-sie yang telah Taysu bina dengan susah payah ini akan musnah!”

Tiba-tiba si pendeta menoleh ke arah si kakek pincang dan berkata. „Tay-hiap, aku minta kau berlalu saja dari sini!”

Ouw Lo Si jadi girang sekali, ia menduga si pendeta akan melawan juga akhirnya. Ia merasa pasti Yu Leng akan hancur, meskipun si pendeta sendiri tidak akan luput daripada ancaman cakaran sarung tangan ajaib itu. Maka lekas-lekas ia menyeret Khouw Kong Hu yang terluka parah dan membujuk Bak Kiam Taysu, yang juga sudah menderita luka cukup parah, ke suatu sudut ruangan yang besar itu.

„Hai pendeta bangkotan!” kata Yu Leng sambil tertawa mengejek.

„Kau sudah berusia sangat lanjut dan mungkin kau sudah lebih dari seratus tahun mengecap kesenangan di dunia ini, maka tibalah waktunya kini untuk kau naik ke sorga!”

„Kau dapat membunuh aku, tetapi aku yakin kaupun takkan hidup lama!” sahut si pendeta tua.

Yu Leng tertawa berkakakan, tetapi tiba-tiba ia mengangkat sarung tangannya dan menerjang si pendeta tua yang pada waktu itu hanya terpisah kira-kira empat meter.

Loncatan dan serangan Yu Leng itu meskipun hebat dan ganas, tetapi tanpa sarung tangan ajaib di tangannya, terjangan itu tidak akan berarti sama sekali bagi si pendeta tua yang memang sangat tangguh itu.

Ouw Lo Si yang menyaksikan gerak serta gaya loncatan itu, tiba- tiba jadi terkejut sekali, ia mendadak jadi teringat akan suatu peristiwa, yalah peristiwa yang pernah terjadi di tempat Kong-ya Coat yang pernah memperlihatkan kelihayan sarung tangan tersebut, maka ia merasa pasti serangan Yu Leng akan berhasil memusnahkan tenaga dalam si pendeta tua itu.

Jika kekhawatirannya betul-betul terjadi, maka iapun hanya menanti giliran untuk dibunuh oleh Yu Leng yang telengas itu. Si pendeta tua tiba-tiba melangkah mundur beberapa langkah, tampak tubuh Yu Leng terapung di udara sejenak, ketika turun ternyata ia telah menyerang tempat kosong!

„Hei!” si pendeta berseru kaget, „apakah benar-benar kau ingin membunuh aku?”

Yu Leng tertawa berkakakan, kemudian ia membentak karena merasa heran serangannya tadi tidak membawa hasil.

„Siapa kau sebenarnya?” tanyanya.

„Aku sudah tua dan linglung, sehingga aku sendiri lupa siapa namaku!” sahut si pendeta yang diam-diam merasa kaget mengetahui Yu Leng tidak kenal kepadanya.

„Kau sudah mau mati berani mengejek aku begitu!”

„Tidak salah jika kau dikatakan menyamar sebagai Ji Cu Lok! Kau telah berhasil meniru nada suara, gerak gerik dan bentuk tubuhmu kebetulan sekali mirip Ji Cu Lok, tetapi kau tidak mampu meniru satu hal yang membuat aku dapat mengenali bahwa kau bukan Ji Cu Lok!”

Ucapan itu membikin Yu Leng terkejut sekali, matanya yang menyala-nyala menatap si pendeta tua untuk kemudian disapukan ke arah Ouw Lo Si, Khouw Kong Hu dan Bak Kiam Taysu

„Hiantee,” bisik Ouw Lo Si dalam suasana yang tegang itu,

„bagaimana luka di dalam tubuhmu, apakah kau dapat menggerakkan tubuhmu untuk melarikan diri?” „Aku...... aku kira tidak ” sahut Khouw Kong Hu sambil meringis

menahan sakit.

Ouw Lo Si menghela napas mendengar jawaban yang mengecilkan hatinya itu, iapun dapat melihat bahwa Bak Kiam Taysu juga sudah terluka parah dalam pertempuran satu gebrakan saja tadi.

„Pendeta tua!” terdengar Yu Leng membentak lagi, „Matamu lihay, tetapi belum begitu lihay untuk mengenali bahwa aku sebetulnya Ji Cu Lok yang asli!”

„Hei anjing!” bentak Khouw Kong Hu yang sudah menganggap jiwanya tidak dapat tertolong lagi, „Jika kau betul Ji Cu Lok, lucutilah topengmu itu!”

„Akupun ingin melihat wajah Ji Cu Lok yang telah menghilang lama sekali,” kata si pendeta tua.

„Aku hanya dapat mengatakan bahwa aku Ji Cu Lok, mau percaya atau tidak itu terserah!” sahut Yu Leng.

„Caramu yang congkak itu memang mirip Ji Cu Lok, tetapi ada satu yang kau tidak dapat menirunya!” kata si pendeta tua.

„Aku tidak perlu meniru-niru!”

„Mungkin kau tidak mengetahui bahwa Ji Cu Lok seorang yang berterus terang, dia tidak pernah menutup mukanya dengan kain hitam seperti seorang perampok pengecut!” kata si pendeta tua sambil mengebat lengan bajunya ke arah muka Yu Leng. Hembusan angin kebatan lengan baju itu dahsyat sekali, dan......

berhasil menyingkap kain hitam yang menutupi muka Yu Leng yang lekas-lekas menjaga mukanya dengan sarung tangan ajaib.

Sewaktu kain hitam tersingkap ke atas Ouw Lo Si dapat melihat dengan samar-samar sesuatu yang luar biasa, yalah muka yang mirip dengan muka kuda dan pucat pasi.

„Aku merasa pernah melihat muka yang menjijikan itu!” katanya dalam hati.

„Pendeta jahanam!” Yu Leng membentak lagi, „aku bersedia mengampuni selembar jiwamu jika kau mengabulkan pemintaanku!”

Dangan tiba-tiba saja, si pendeta yang dari tadi berwajah masam, jadi tertawa berkakakan mendengar ucapan itu.

„Mati atau hidup, bagiku tidak ada bedanya!” sahutnya, tetapi aku ingin juga mendengar permintaanmu itu, katakanlah!”

„Aku akan berlalu dari sini, jika kau mengembalikan kedua benda pusaka isteriku, Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan!”

„Kau mungkin tidak mengerti ucapan Bak Kiam, baiklah aku yang mengulangi, ke dua benda pusaka telah dicuri orang!”

„Jika begitu aku terpaksa harus memusnahkan kelenteng ini!”

„Pengacau! Bandit!” si pendeta berseru kalap. Kata-kata yang kasar itu sebetulnya tidak atau belum pernah dipergunakan oleh si pendeta tua itu, kalau sampai ia mengucapkan juga kata-kata yang kasar itu, dapat dibayangkan betapa gusar dia itu.

„Jika kedua benda pusaka itu masih ada di sini,” kata lagi si pendeta tua, „aku sudah dari tadi mempergunakan atas dirimu!”

Mendengar begitu, Yu Leng jadi berpikir sebentar, kemudian sambil menuding si pendeta ia berkata lagi.

„Siapa pencurinya?”

„Tong-coan-sam-ok!”

„Ha, ha, ha! Apakah kau menganggap aku seorang bocah ingusan yang percaya saja keteranganmu itu? Tong-coan-sam-ok mana mampu berbuat demikian!”

Tiba-tiba tampak si pendeta tua melangkah maju, dan agaknya ia sudah ingin menyerang Yu Leng ketika terdengar Khouw Kong Hu berkata.

„Taysu! Bagaimana mempergunakan Tok-beng-oey-hong?”

Pertanyaan itu bukan saja memhuat Ouw Lo Si terkejut tetapi Yu Leng pun mendadak merandek.

„Hai bajingan!” bentaknya, „kalian agaknya sangat tertarik kepada benda pusaka isteriku itu, apakah kalian yang telah mencurinya?” „Celaka!” pikir Ouw Lo Si, tetapi lekas-lekas ia menyahut.

„Jika kedua benda pusaka itu berada di tanganku, kau takkan dapat bertindak sewenang-wenang di markas Kiu It!”

„Aku bertindak sewenang-wenang di markas Kiu It?”

„Bukan saja itu, kaupun telah membunuh Ceng Sim Lo-ni dan kedua Saudara Kim di tepi sungai Tiang-kang!”

„Bajingan! Jangan kau sembarang menuduh orang!”

„Apakah kau masih ingat dengan tulisan yang tergores di tanah. Kematian bagi yang menganiaya?!”

„Kematian akan menimpa atas dirimu, jika kau tidak mengembalikan kedua benda pusaka isteriku itu!”

„Mengapa kau jadi berbalik menuntut dari kita?”

„Karena kau sudah bersekongkol dengan pendeta bangkotan itu!”

„Hee, hee, hee! Betul-betul lucu kau ini, karena merasa tidak sanggup melawan Taysu itu, kau jadi mengalihkan perhatianmu kepadaku!”

Baru saja selesai ucapan Ouw Lo Si itu Yu Leng sudah meloncat ke arah si pendeta tua sambil mengayunkan tangannya yang memegang sarung tangan ajaib. Si pendeta tidak jadi gugup menghadapi serangan itu dengan tenang-tenang saja tampak ia mengangkat tangannya untuk menyodok dada lawannya.

Yu Leng menangkis serangan yang mengandung tenaga tidak kurang daripada limaratus kati itu, dan dengan tiba-tiba saja ruangan di situ menjadi tergoncang, seolah-olah gempa bumi sedang mengamuk. Semua alat perabotan di dalam ruangan, berikut tiga patung Hud-co jadi tergoyah untuk kemudian roboh! Bahkan Ouw Lo Si, Khouw Kong Hu dan Bak Kiam Taysu tidak dapat berdiri tegak, mayat-mayat ke duapuluh pendeta yang tewas ditampar Yu Leng tadi, bergerak-gerak seolah-olah mereka mulai hidup kembali!

Si pendeta tua yang melihat serangannya tidak membawa hasil, segera merubah taktik berkelahinya. Mendadak tampak ia membentang kedua lengannya ke atas dan ke bawah, silih berganti tangannya yang kiri dan kanan yang sebentar-sebentar menyodok atau mencengkeram, tetapi Yu Leng dengan lincah dapat mengelakkan serangan-serangan itu.

Justru pada saat kedua lengan si pendeta dirapatkan kembali itulah, ia menyerang dada si pendeta dengan sarung tangannya.

Si pendeta rupanya sudah mengetahui akan datangnya serangan. Ia lekas-lekas melancarkan jurus Thian-tee-hap-it (Langit dan bumi bersatu padu), untuk menjepit sodokan maut itu.

Jepitan itu hebat sekali, seolah-olah sepasang cing-kong kepiting raksasa saja tampaknya, namun dalam waktu yang pendek jepitan itu berubah lagi, terbentang lebar untuk kemudian menerjang sambil mendobrak jenggot dan menggebuk pinggang Yu Leng!!

„Ai!” Yu Leng berseru kaget sambil menyerang dengan jurus Sian- jin-cit-to (Dewa menunjukkan jalan), tetapi ternyata jurusnya itu tidak berhasil mengenakan si pendeta tua, bahkan jika ia tidak lekas-lekas mundur, janggut dan pinggangnya pasti hancur meskipun si pendeta sendiri tidak akan luput dari kematian!

Diam-diam Yu Leng bergidik berbareng memuji lawannya yang tidak salah telah disohori kelihayan ilmu silatnya.

sembilanBeLAs

Setelah lompat mundur dan semangatnya pulih kembali, Yu Leng dengan cepat sudah menyerang lagi, tinju kirinya meluncur untuk menyerang dada lawannya, dan waktu si pendeta mengelak sekonyong-konyong ia mengepret dengan Ciam-hua-giok-siu.

Si pendeta melompat mundur ke belakang sambil mengangkat tangan untuk melindungi mukanya, namun tiba-tiba ia terhuyung dan tubuhnya mendampar tiang kelenteng. Belum lagi ia keburu memperbaiki posisinya, sekonyong-konyong sarung tangan ajaib telah mencengkeram tenggorokannya.

„Jahanam......” si pendeta menggeram, lalu tubuhnya yang tinggi besar itu roboh terbanting di lantai!

„Ha, ha, ha! Sekarang tiba giliranmu, bangsat!” bentak Yu Leng sambil menoleh ke arah Ouw Lo Si. Ouw Lo Si sebetulnya sudah ingin berlalu dari situ, ketika pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya, tetapi ia tidak tega meninggalkan saudara angkatnya yang sudah terluka parah.

„Hei pincang!” Yu Leng membentak lagi, „Ayoh, keluarkan kedua benda pusaka isteriku!”

„Mengapa kau tidak segera mengambil sendiri, jika kau sudah merasa yakin aku yang memegang kedua benda pusaka itu?” tanya Ouw Lo Si dengan berani.

Aku akan mengambil setelah kau menjadi mayat! Tetapi      agar

kau tidak jadi setan penasaran, aku ingin menjelaskan mengapa kau harus mati!”

„Aku tidak mengerti!” tanya Ouw Lo Si yang sudah mengetahui bahwa Yu Leng suka dipuji-puji. Maksud daripada pertanyaan itu hanya untuk mengulur waktu saja, sambil memikiri jalan keluar dari kematian yang sudah di ambang pintu itu.

„Mula-mula aku tidak percaya bahwa Tong-coan-sam-ok dapat mencuri kedua benda pusaka itu, tetapi kini aku percaya,” sahut Yu Leng.

„Mengapa kau masih mencurigai aku?”

„Ha, ha, ha! Pincang, aku mengetahui siapa kau sebenarnya, kau sudah lama tinggal di dekat lembah Yu-leng-kok, kau pun tentu mengetahui bahwa Tong-coan-sam-ok ingin mengembalikan kedua benda pusaka isteriku dengan maksud menjilat, tetapi aku tidak menjumpai kedua benda itu di tubuh mereka, tentu kau yang telah mengambilnya!”

„Untuk menjilat siapa?”

„Aku! Yu Leng ”

„Hee, hee, hee! Untuk menjilat Yu Leng alias Ju Cu Lok, bukan kau!”

Meskipun berkata demikian sebetulnya Ouw Lo Si merasa heran juga Yu Leng mengetahui semua itu. Ia tidak rela menyerahkan kedua benda yang kini berada disakunya, ia bertekad memiliki kedua benda yang mujijat itu. Tetapi waktu melihat bahwa Yu Leng yang kini mengancamnya memiliki kepandaian demikian dahsyatnya, ia merasa ragu juga untuk menuduh Yu Leng ini Ji Cu Lok yang palsu!

„Jadi kau berkesimpulan bahwa aku mengambil kedua benda itu, lalu pergi ke dalam lembah dan menyerahkan kedua benda itu kepadamu?” tanyanya untuk memancing keterangan.

„Seharusnya memang demikian, tetapi kau yang tamak tidak berbuat begitu, aku tidak pernah menjumpaimu di dalam lembah?”

Ouw Lo Si menjadi bingung mendengar keterangan itu.

„Mengapa dia mengetahui semua ini,” pikirnya. „Apakah dia betul Ji Cu Lok yang asli?” Ketika itu Khouw Kong Hu sudah dapat memulihkan kembali tenaganya, ia berbangkit dan dengan satu kedipan mata ia memberi isyarat kepada saudara angkatnya untuk menyerang Yu Leng. Melihat isyarat itu tanpa ragu-ragu lagi Ouw Lo Si segera menerjang dengan kipas bajanya dibarengi dengan kerkelebatnya gaitan baja Khouw Kong Hu.

Yu Leng menjadi gusar sekali melihat kedua orang itu masih berani menyerangnya, ia mengegos sambil balas menyerang dengan ke dua jari tangannya, sehingga Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang memang bukan tandingannya roboh tertotok dadanya.

Setelah itu, Yu Leng lalu menghampiri kedua lawannya yang sudah tidak berdaya, kemudian tangannya merogo saku, dan menggeledah seluruh tubuh Khouw Kong Hu. tetapi ia tidak dapati apa pun kecuali beberapa jarum Yan-bie-tin.

„Aha! Jarum Yan-bie-tin!” katanya dengan suara mengejek.

„Anjing! Jika kau ingin membunuh, bunuhlah!” bentak Khouw Kong Hu.

„Ha, ha, ha! tidak usah kau khawatir, pintu akhirat sudah terbentang lebar menantikan kedatanganmu!” kata Yu Leng sambil memukul punggung Khouw Kong Hu yang jadi tersungkur di lantai.

Yu Leng lalu berjongkok dan membuka kedua sepatu Khouw Kong Hu.

„Jika aku tidak berhasil mencari di dalam kedua sepatumu ini,” katanya, „aku akan memeriksa di dalam batok kepalamu!” Dengan tiba-tiba saja keringat dingin Ouw Lo Si mengucur deras, karena ia memang menyembunyikan kedua benda pusaka Thian- hiang-sian-cu itu di dalam sepatunya!

Yu Leng memeriksa terus, ia bahkan membeset kulit sol sepatu Khouw Kong Hu.

„Ha, ha, ha!” Khouw Kong Hu mengejek, „kau betul-betul seekor anjing gelandangan sehingga sepatuku kau serbu juga. Ha, ha, ha!”

Ejekan itu membikin Yu Leng murka sekali, ia menepuk punggung Khouw Kong Hu dan membebaskan totokannya sendiri.

„Hei anjing!” bentak Yu Leng setelah melihat Khoaw Kong Hu dapat berdiri. „Kau dijuluki si Gaitan baja tinju besi, jika kau dapat lari, kau aku bebaskan!”

Mengapa Yu Leng memerintahkan Khouw Kong Hu melarikan diri?! Bukankah ia dapat dengan mudah saja membunuh selagi korbannya tidak berdaya?!

Itulah kebiasaan Yu Leng yang kejam serta keji, ia selalu ingin mempermainkan korbannya, seperti kucing mempermainkan tikus sebelum kucing itu sendiri membunuh sang tikus!

„Hanya seorang pengecut yang melarikan diri!”sahut Khouw Kong Hu dengan berani.

„Nah! Kau jagalah seranganku ini!” kata Yu Leng sambil mengebat sarung tangan ajaibnya. Khouw Kong Hu melompat ke samping, tetapi hembusan angin sarung tangan itu demikian dahsyatnya, sehingga ia roboh terbanting di lantai setelah tubuhnya yang tinggi besar itu terapung di udara. Ia sudah nekad sekali, begitu mencapai lantai, meskipun masih merasa pusing, sambil bergulingan ia melepaskan satu tendangan ke arah kaki Yu Leng.

Apa yang terjadi kemudian?

Begitu kaki Khouw Kong Hu beradu, ia merasa tulang kakinya itu retak, patah!

Ouw Lo Si terkejut sekali, karena ia mengetahui bahwa tendangan saudara angkatnya itu dapat menendang mati seekor kerbau namun sekarang ternyata kaki saudara angkatnya sendiri yang patah.

Karena rasa herannya, ia lalu memperhatikan. Ilmu silat Yu Leng tidak dapat diragukan lagi memang sangat lihay, tetapi tiap-tiap kali Yu Leng meloncat ia selalu mendengar suara logam berbunyi! Mendadak ia jadi teringat akan peristiwa di tepi sungai Tiang-kang bahwa kaki Yu Leng tidak mempan digores oleh pedang kedua sandara Kim.

„Apakah dia ini demikian sakti, sehingga kakinya berubah menjadi semacam logam!” pikirnya dalam hati, tetapi ketika ia mengingat bahwa yang mengetahui kebiasaannya menyimpan barang-barang berharga di sepatu hanya Khouw Kong Hu, dan Kiu It saja, ia menjadi kaget sekali. Kiu It sudah lama mati, dan Pek Tiong Thian yang selalu erat hubungannya dengan Kiu It, telah terluka urat kedua kakinya sehingga ia menjadi lumpuh dan tidak muncul lagi di kalangan Bulim.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa Kiu It juga pernah memberitahukan segala rahasia kepada Pek Tiong Thian, termasuk kebiasaannya menyimpan barang berharga di dalam sepatu.

„Apakah dia ini Pek Tiong Thian?” pikir Ouw Lo Si.

Baru saja berpikir begitu, Yu Leng sudah membentak lagi.

„Sekarang tiba gilirannya si pincang!”

„Hei jahanam!” Ouw Lo Si balas membentak. „Apakah kau pun bersedia bertempur dengan aku sekali lagi?”

Yu Leng merandek mendengar ucapan itu.

„Tentu!” sahutnya.

„Bebaskanlah totokanmu di tubuhku ini!”

Tanpa menunggu lagi Yu Leng segera menepuk punggung Ouw Lo Si yang segera bergerak dan menyerang dengan dua jari tangannya ke arah kain penutup muka Yu Leng dan ia berhasil!

Ouw Lo Si jadi berdiri menjublek sambil memegangi kain hitam yang berhasil dijambretnya tadi, dihadapannya tampak satu wajah yang pucat seperti mayat, dengan hidung bengkok seperti patok burung garuda, dan kedua mata bersinar seperti burung kokok beluk.

„Pek Tiong Thian!” seru Khouw Kong Hu karena kagetnya.

Memang orang itu ternyata bukan Yu Leng alias Ji Cu Lok, dia itu bukan lain daripada adik seperguruan Cia It Hok, Pek Tiong Thian!

„Jahanam!” Khouw Kong Hu membentak „Tidak heran jika kedua saudara Kim dari partai Kong-tong telah kau bunuh dengan kejam!”

„Ketiga saudara Kim dan Kiu It sudah berada di akherat, mereka tengah menantikan kedatangan kalian berdua di sana!” kata Pek Tiong Thian sambil tertawa seram.

Disebutnya nama Kiu It membuat Khouw Kong Hu dan Ouw Lo Si murka sekali, namun mereka merasa jeri dan tidak berdaya menghadapi musuh Kiu It itu. Si Ahli nujum kipas baja harus menggunakan otaknya untuk lolos dari iblis itu.

„Jika kenalan   lama   saling   bertemu,”   katanya   kemudian,

„seharusnya mereka beriang hati. Sebagai seorang sahabat, sebelum kau membunuh kita berdua, aku hanya minta kau menjelaskan sesuatu.

„Pincang! tidak percuma kau diberi nama julukan si Ahli nujum kipas baja, kau barusan telah mengingusi aku sehingga topengku terbuka. bagus, bagus! Atas kelicikanmu itu, aku akan memberikan ketika untuk kau menanyakan sesuatu.” „Si-ko!” kata Khouw Kong Hu, „Apa gunanya kita banyak cing-cong kepada bajingan ini?”

„Sabar Hiantee,” sahut Ouw Lo Si tenang, „kita memang akan mati tetapi kita harus mati secara tidak penasaran! Aku hanya ingin saudara Pek menjelaskan sesuatu.”

Melihat wajah Ouw Lo Si yang bergerak-gerak tidak wajar itu, Khouw Kong Hu segera mengetahui bahwa saudara angkatnya itu ingin melaksanakan suatu tipu muslihat.

Sepanjang pengetahuannya, saudara angkatnya itu sangat cerdik, mungkin lebih cerdik daripada musuh besar yang mereka tengah hadapi itu.

„Bagaimanakah Ouw Si-ko ingin meloloskan diri?” tanyanya dalam hati. ‘“Bukankah disamping ilmunya lihay, si bangsat she Pek ini memiliki Ciam-hua-giok-siu?”

Namun, si kakek pincang masih bersikap tenang luar biasa, sejenak kemudian terdengar berkata.

„Saudara Pek, setelah Kiu It berpisah dengan kita, ia lalu bergabung dengan kau, dan di kalangan Bu-lim kalian berdua terkenal sebagai “Sepasang Garuda”, tetapi mengapa kau begitu tega membunuh kawanmu yang terakrab itu? Bahkan kau membunuh juga orang-orang yang datang untuk memberi hormat kepada puterinya yang sedang merayakan hari ulang tahun!” „Pertanyaan yang telah kuduga!” sahut Pek Tiong Thian sambil bersenyum getir, “Kiu It telah menghianati aku di waktu aku sangat perlu dengan pertolongannya!”

„Mengapa kau menuduh Kiu It sebagai pengkhianat?”

„Apakah kau mengetahui bahwa beberapa tahun yang lalu, tiga partai silat telah bergabung untuk menggempur partai Tiang-pek?”

Ouw Lo Si mengangguk.

„Ketika itu, karena aku masih lumpuh dan harus berjalan dengan bantuan tongkat ketiak. Aku tinggal di suatu rumah gubuk yang terpencil sedikit jauh dari markas partaiku. Pada suatu hari karena merasa sangat putus asa, aku telah menghajar satu batu gunung sehingga batu tersebut terpental, ternyata di bawah batu itu terdapat sebuah kitab yang berjudul Jit-gwat-po-lek (Kitab catatan ilmu sakti)!”

„Kitab itu adalah ciptaan Tiang-pek Sang-jin, guru besar partai Tiang-pek, yang sudah lenyap selama seratus delapanpuluh tahun lebih!” kata Ouw Lo Si dengan paras kaget. “Tidak heran kau dengan mudah saja dapat menyamar sebagai Ji Cu Lok!”

„Hm! sebetulnya ilmu Thay-yang-sin-jiauw pun berasal dari kitab itu, tetapi ternyata Ji Cu Lok telah lebih dulu menyobek lembaran- lembaran catatan ilmu yang dahsyat itu!” kata Pek Tiong Thian penasaran. „Namun, aku merasa yakin betul bahwa apa yang aku telah pelajari dari kitab itu pasti dapat mengimbangi keampuhan Thay-yang-sin-jiauw!” „Ada hubungan apa antara kitab itu dengan Kiu It, sehingga kau mengatakan kawan karibmu itu mengkhianatimu?”

„Meskipun aku telah berhasil mempelajari isi kitab Jit-gwat-po-lek, tetapi aku tidak dapat mempergunakan ilmu-ilmu yang dahsyat itu, karena kedua kakiku masih lumpuh. Aku mengetahui bahwa di suatu puncak pegunungan Kun-lun-san, di daerah Long-ya, ada seorang sakti yang dapat membuat obat yang disebut Cai-cau- leng-cou dan katanya obat itu dapat menyembuhkan kedua kakiku. Aku telah meminta pertolongan Kiu It untuk menukar Ciam-hua- giok-siu dengan obat itu, tetapi ia telah berkhianat dan memberikan benda pusaka itu kepada Kong-ya Coat!”

Mendengar penuturan itu, Ouw Lo Si segera mengetahui bahwa Kiu It telah dibunuh karena dianggap telah mengkhianati Pek Tiong Thian. Tidak terduga karena telah diingusi oleh Kong-ya Coat, orang she Kiu itu harus memikul segala akibat ketololannya!

„Kiu Ji-tee!” Ouw Lo Si berseru dalam hati, „kau berkawan sembarangan saja sehingga seorang jahanam kau anggap sebagai nabi!”

Setelah itu ia mengawasi Pek Tiong Thian dan berkata.

„Hei orang she Pek! sebenarnya yang harus kau bunuh bukan Kiu It!”

„Siapa lagi kalau bukan dia?”

„Kong-ya Coat!” „Mengapa kau dapat mengatakan demikian?”

„Karena Kiu It telah ditipu oleh orang she Kong-ya yang licik itu!”

Pek Tiong Thian jadi menjublek sejenak, namun setelah berpikir sebentar ia lalu berkata lagi.

„Aku tidak mengerti!”

„Ketika Kong-ya Coat mengetahui bahwa kau telah bersekongkol dengan Kiu It, ia lalu menukar tanda-tanda yang melekat di ketiga kotak sehingga ia berhasil membawa lari Ciam-hua-giok-siu yang tulen!”

Pek Tiong Thian terkejut juga mendengar keterangan itu, tetapi ia tiba-tiba tertawa berkakakan dan berkata lagi.

„Hai pincang! Kau memang terkenal cerdik tetapi aku tak dapat kau tipu!”

„Meski kau percaya pun, Kiu It tidak akan hidup lagi! Tetapi kau sekarang sudah tidak lumpuh, apakah kau sendiri telah berhasil memperoleh obat dari orang sakti yang kau maksud itu? “

„Ha, ha, ha.! Tidak! Aku tidak pernah bertemu dengan orang sakti itu!”

„Tetapi mengapa ?”

„Aku telah membuntungkan kedua betisku dan...... aku sekarang berbetis besi!” Ouw Lo Si maupun Khouw Kong Hu jadi terbelalak mendengar keterangan itu.

„Pantas salah satu dari kedua saudara Kim tidak berhasil menggores betismu!” pikir Khouw Kong Hu.

„Hei pincang!” Pek Tiong Thian membentak lagi, „sekarang sudah tiba giliranmu untuk digeledah!”

„Apakah betul, kau sebagai seorang yang memiliki kepandaian demikian tinggi masih mau memeriksa sepatuku juga?” tanya Ouw Lo Si dengan paras tidak berubah.

„Jika perlu, isi perutmu pun aku akan geledah!”

„Yah, jika demikian, periksalah!” Ouw Lo Si berlagak menantang dengan hati berdebar-debar. „Tetapi ingat, namamu sebagai seorang yang berkepandaian tinggi akan tercemar, bahwa kau, Pek Tiong Thian yang memiliki kepandaian setaraf dengan Yu Leng, masih sudi menggeledah sepatuku!”

Pek Tiong Thian jadi ragu-ragu juga mendengar ucapan si kakek pincang yang lihay itu, karena memang memeriksa sepatu seseorang adalah suatu perbuatan yang dipandang hina oleh orang-orang yang berkecimpungan di kalangan Kang-ouw!

„Disamping resiko itu,” Ouw Lo Si melanjutkan, „kau tidak akan menemui apapun dalam sepatuku. Kecuali...... hee, hee, hee, kecuali hawa ‘harum semerbak’ kakiku yang pincang!” „Jadi memang benar kau yang telah mengambil kedua benda itu?” tanya Pek Tiong Thian yang sudah mulai terkena siasat si kakek pincang.

„Ya!”

„Dimana kau sembunyikan kedua pusaka isteriku itu?”

„Di suatu tempat yang tenteram dan aman, di mulut lembah Yu- leng-kok!” sahut Ouw Lo Si mendusta. Dengan jawaban ini si kakek pincang telah mempunyai suatu rencana untuk meloloskan diri dari cengkeraman Pek Tiong Thian.

„Baiklah, jika kau bersedia menghantar aku ke tempat itu, aku akan membebaskan jiwamu berdua. Bagaimana?”

„Aku akan menghantar kau kesana!” sahut Ouw Lo Si sambil melirik kepada saudara angkatnya. „Tetapi, jika kau sudah memperoleh kedua benda itu, kau jangan coba-coba menahan aku lagi karena aku sudah siap sedia menghadapi kemungkinan itu!”

Si kakek berkata begitu hanya untuk menggertak sambel saja, karena menurut pengalamannya, bahwa betapapun jahat serta kejamnya seseorang, dia pasti mempunyai kelemahan, yalah takut mati!!

„Apakah, kita berangkat sekarang?”

„Hee, hee, hee! Rupanya kau sudah sangat keranjingan kepada kedua benda pusaka itu! Apa kau kira aku dapat bergerak dalam keadaan ditotok begini?” Tanpa menunggu lagi, Pek Tiong Thian segera menepuk pinggang si kakek pincang, yang segera dapat berjalan untuk menghampiri Khouw Kong Hu sambil berkata.

„Hiantee, apakah kau dapat berjalan?”

Ouw Lo Si mengatakan itu sambil memberi isyarat dengan gerak gerik tangannya.

Melihat isyarat itu, Khouw Kong Hu segera mengetahui bahwa saudara angkatnya tidak menghendaki ia mengikut, tetapi ketika mengingat lukanya, ia berpendapat lebih baik lekas-lekas berlalu saja dari kuil Cit-po-sie itu. Di samping itu ia tidak mau saudara angkatnya menghadapi bahaya seorang diri saja, jika mesti mati, ia lebih suka mati bersama-sama.

„Tentu saja aku dapat berjalan!” sahutnya sambil menahan sakit.

„Kalau begitu, ayolah kita berangkat sekarang!” kata Ouw Lo Si.

„Tidak!” bentak Pek Tiong Thian yang jadi merasa curiga dirinya akan ditipu oleh kedua lawannya itu, „lebih baik dia yang sudah terluka parah tinggal di sini saja!”

Ouw Lo Si memang tidak menghendaki saudara angkatnya itu turut serta, ia telah berdusta kepada Pek Tiong Thian dengan mengatakan bahwa kedua benda pusaka Thian-hiang-sian-cu berada di dekat mulut lembah Yu-leng-kok, dengan perhitungan bahwa dalam perjalanan ke lembah yang seribu lie lebih jauhnya itu, ia mungkin dapat kesempatan untuk meloloskan diri. Jika Khouw Kong Hu yang terluka ikut serta, bukankah ia jadi tidak dapat bergerak lebih leluasa?

Maka ia merasa girang sekali mendengar ucapan Pek Thong Thian itu. Tetapi Khouw Kong Hu yang kurang cerdik jadi gusar.

„Hei Ji Cu Lok gadungan!” bentaknya, „apakah kau tidak takut akan pembalasanku di kemudian hari?”

Pek Tiong Thian mengetahui bahwa Khouw Kong Hu terkenal sebagai si Tinju besi gaitan baja, ditambah dengan senjata Yan- bie-tin nya, dia itu sangat ditakuti oleh banyak orang di kalangan Kang-ouw, tetapi dia yang telah memiliki ilmu-ilmu dahsyat dari kitab Jit-gwat-po-lek, memandang remeh akan kepandaian orang yang berkaliber seperti Khouw Kong Hu itu.

„Ha, ha, ha! Membikin pembalasan? Ha, ha, ha!” katanya sambil mengejek. „Sembuhkan saja tulang kakimu yang patah itu!”

„Hiantee, kau tunggu saja di sini. Aku akan lekas kembali!” kata Ouw Lo Si sambil berjalan diikuti oleh Pek Tiong Thian.

Ketika sudah tiba di dekat tangga tali untuk turun dari jurang Beng- keng-ya, Pek Tiong Thian segera memeriksa keadaan di sekitarnya, kemudian ia berkata.

„Hei pincang! Apakah perlu aku gendong kau untuk turun dari jurang ini?”

„Kau betul-betul sangat memandang rendah kepadaku! Aku dapat turun sendiri! Ayohlah!” „Ha, ha, ha! Jika kau telah menghantar aku ke tempat sembunyinya kedua benda pusaka isteriku, kau mau matipun aku tidak keheratan, tetapi jangan sekarang, jangan sekarang. Ha, ha, ha!”

Pek Tiong Thian lalu mencari jalan lain. Jalan itu juga sangat curam serta berliku-liku, namun lebih mudah ditempuhnya. Setelah lewat dua jam, barulah mereka tiba di kaki gunung untuk segera meneruskan perjalanan mereka ke lembah Yu-leng-kok.

Pada hari keenam berkat ilmu meringankan tubuh jung baik, mereka sudah tiba di luar lembah yang dimaksud itu.

Warung arak di mana Ouw Lo Si telah tinggal terpencil banyak tahun masih berdiri. Mereka segera menghampiri warung itu, sebelum masuk Pek Tiong Thian tiba-tiba berkata.

„Pincang! ajalmu sudah hampir tiba, hati-hati jika kau mendusta!”

Ouw Lo Si jadi berdebar-debar mendengar ancaman itu, karena memang kedua benda pusaka yang diingini Yu Leng tetiron itu berada dalam sepatunya! Namun ia masih dapat bersikap tenang, bahkan sambil bersenyum ia berkata.

„O..... suasana di sini membuat aku teringat akan peristiwa- peristiwa yang lalu! Aku sudah tinggal di sini sepuluh tahun lebih sambil membuka warung arak, justru dalam warung inilah aku telah menyimpan kedua benda pusaka Thian-hiang-sian-cu! Mari. kita masuk!”

duapuLuh Ouw Lo Si membuka pintu bekas warung araknya, mereka melangkah masuk dan dapat menyaksikan keadaan di dalam warung itu agak kacau, selain itu mereka dapat melihat juga satu orang sedang tidur nyenyak di pinggir satu meja. Begitu mendengar kedatangan Ouw Lo Si dan Pek Tiong Thian, orang itu jadi tersadar, dan sekonyong-konyong ia lalu menyanyi.

„Arak     yang     harum      tersedia      di      dalam      guci. Dan hanya diminum untuk melupakan kepedihan hati, Pakaian    dan    tubuh    yang    kotor    dapat     dicuci, Namun perbuatan yang terkutuk dibawa mati!”

Setelah bernyanyi, orang itu lalu berkata.

„Ouw Lo Si, arak yang kau simpan disini betul sangat lezat rasanya?!”

Sambil memegang guci arak orang itu berbangkit dan berkata lagi.

„O kau datang ke sini sambil mengajak lain orang, siapa dia itu?”

Ouw Lo Si mengawasi orang itu yang sudah setengah mabuk, yang mengenakan pakaian compang-camping, yang bukan lain dari pada Si Lam Tojin si pemabuk dari partai Kiong-ka-pang!

„Si Lam,” kata Ouw Lo Si. „Jika kau suka minum arak, kau dipersilahkan minum sekenyangnya. Mari aku perkenalkan kepada seorang sahabat!” Dengan satu lirikan tajam Si Lam Tojin sudah dapat mengenali orang yang dikatakan seorang sahabat itu. Kemudian sambil bersenyum dingin ia berkata.

„Meskipun aku seorang miskin, tetapi aku tidak sembarangan berkawan. Aku tidak sudi diperkenalkan kepada orang yang tidak jujur!”

Ucapan itu sangat menyinggung perasaan Pek Tiong Thian yang sudah tidak memakai kain hitam untuk menutupi mukanya.