-->

Sampul Maut Jilid 06

Jilid 06

Ouw Lo Si yang masih bersembunyi di luar jendela pun menjadi terkejut mendengar nama itu disebut-sebut!

Siapakah sebenarnya Ji Cu Lok itu?

Beberapa puluh tahun yang lalu Ji Cu Lok dan isterinya Goei Su Nio pernah menggetarkan kalangan Bu-lim dan tiada seorangpun mampu menggempur mereka. Mereka adalah Yu Leng dan isterinya, Thian-hiang-sian-cu!

Dan si Nikouw adalah Ceng-sim Lo-ni yang bertapa di pegunungan Go-bi-san, mungkin kedatangannya di situ adalah atas permintaan ke tiga saudara Tie, agar si Nikouw membalaskan sakit hati mereka terhadap Yu Leng!

„Sicu, mengapa kau diam saja, apakah Ji Cu Lok tidak ada di sini?” Ceng Sim Lo-ni menanya lagi.

Baru saja si Nikouw bertanya, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa berkakakan, bersamaan dengan itu seorang yang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam sudah menerjang masuk ke dalam ruangan itu dengan gerakan yang lincah bukan main!

„Siapa kau!” tanya Ceng Sim Lo-ni, ketika melihat orang itu tengah menatapnya dengan angkuh.

„Barusan kau menanyakan aku setelah melihat ketujuh lentera kertas merah tergantung di sini,” sahut orang itu, yang bukan lain daripada Yu Leng. „Mengapa setelah aku datang kau masih menanyakan aku siapa?”

Setelah sadar dari perasaan heran tentang sikap Yu Leng itu, si Nikouw lalu berkata.

„Ji Cu Lok, lama juga aku tidak menjumpaimu, apakah kau sekarang menjadi takut wajahmu dilihat orang?”

„Tidak perlu kau mengetahui maksudku, kau juga tidak perlu mengajukan pertanyaan yang tolol itu!” „Semenjak isterimu meninggal dunia, kau telah berubah banyak sekali! Bagaimana dengan usulku agar kau menjadi seorang paderi daripada membunuh diri mengikuti isterimu itu?”

„Apakah kau kira otakku sudah miring sehingga aku menuruti saja usulmu yang memang sinting itu! Menjadi paderi, ha, ha, ha!”

Ceng Sim Lo-ni jadi terperanjat dikatakan sebagai seorang sinting, tetapi ia sebagai seorang yang selalu menyebar kebaikan kepada semua orang dan berjiwa besar tidak ingin menggubris ejekan itu lalu ia berseru keras sambil menoleh ke lain jurusan.

„Hei! Apakah pemilik rumah ini tidak ada di rumah?”

Tentu saja panggilannya itu tidak ada sahutan, lalu ia menoleh ke arah Yu Leng dan berkata.

„Ji Cu Lok, apakah kau ketahui ke mana perginya ke tiga saudara Tie?”

,,Ha, ha, ha ”

„Mengapa kau tertawa?”

„Karena ke tiga saudara Tie telah pergi jauh. Ya, jauh sekali!”

Ceng Sim Lo-ni menjadi heran, karena ke tiga saudara Tie selalu menantikan kedatangannya yang tiga tahun sekali itu.

“Aku menanyakan apakah kau ketahui ke mana mereka telah pergi?” „Tentu saja aku mengetahui. Mereka sudah pergi ke akhirat dan tengah menantikan kedatanganmu di sana!”

„Mengapa mereka tewas? Siapa yang telah membunuh mereka?”

„Hm! Nikouw sinting! Jangan kau berlagak tidak tahu! Bukankah ketiga saudara bedebah itu telah pergi ke markas Kong-ya Coat untuk merebut Ciam-hua-giok-siu dua tahun lebih yang lalu? Mereka ingin merampas benda pusaka isteriku maka aku telah memberi sedikit pelajaran kepada mereka! Kau masih berlagak menanya-nanya, bukankah kedatanganmu di sini untuk membalaskan sakit hati mereka?”

Ejekan itu telah didengar juga oleh Wei Beng Yan, Siauw Bie dan Ouw Lo Si bersama Khouw Kong Hu yang tengah bersembunyi di luar jendela,

Wei Beng Yan menjadi gelisah ketika mengetahui sikap gurunya demikian rendahnya karena iapun mengetahui bahwa Ceng Sim Lo-ni adalah seorang biarawati yang selalu melakukan kebajikan, yang dulunya pernah juga berkecimpungan di kalangan Kang¬ouw dan terkenal sebagai Jin Sim Li-hiap (pendekar wanita yang baik hati).

„Apakah guruku sebagai seorang jago silat dari golongan durhaka?” tanyanya di dalam hati.

Ceng Sim Lo-ni tampaknya berusaha keras mengendalikan kemarahannya, ia mengetok kayu tok-tokannya tiga kali. Suara ketokannya itu luar biasa nyaringnya, sehingga mendenging- denging di tiap kuping orang yang berada di situ. „Ji Cu Lok,” katanya sungguh-sungguh, ,,jika kau betul-betul memandang kepadaku, tidak seharusnya kau berbuat demikian kejam kepada ketiga keponakanku itu!”

Yu Leng bersikap congkak sekali.

„Aku bukan saja sudah bersikap kejam terhadap kemanakan bedebahmu itu,” sahutnya, „yang ingin merebut benda pusaka isteriku, tetapi aku akan bertindak kejam pula terhadapmu yang ingin turut campur urusan orang lain!”

Dengan tiba-tiba tampak tubuh Ceng Sim Lo-ni menggigil saking marahnya, tetapi ia masih tetap berusaha menahan amarahnya itu.

„Ha, ha, ha! Aku sudah lama mengetahui bahwa kau -- Ceng Sim Lo-ni, memiliki ilmu Cap-sa-ciang-bu-ciang (ilmu silat tinju yang dapat menaklukkan setan), dan kayu tok-tokan itu adalah senjatamu yang ampuh. Disamping itu kau masih mempunyai suatu ilmu menotok jalan darah yang disebut Im-yang-peng-si- tiam-hiat-go-hoat (ilmu menotok jalan darah dengan tenaga dalam maupun luar dengan mempergunakan kelima jari tangan yang dapat diubah-ubah), tidak ada taranya di kolong langit!”

„Mengapa kau menyebut-nyebut itu semua?”

„Karena aku ingin sekali mencoba kesemua ilmumu itu, ayoh keluarkan semua kepandaianmu untuk dinilai dengan ilmuku sendiri!”

limaBeLAs Bukan main marahnya Ceng Sim Lo-ni ditantang demikian kasarnya. Sambil melangkah mundur satu tindak ia menyahut.

„Ilmu-ilmu yang telah kau sebutkan di atas tidak dapat diperbandingkan dengan ilmumu sendiri Thay-yang-sin-jiauw! Tetapi aku tidak gentar bertempur denganmu!”

„Hm! Untuk bertempur denganmu aku tidak perlu turun tangan sendiri. -- Beng Yan!”

Wei Beng Yan jadi kaget sekali mendadak mendengar namanya dipanggil oleh Yu Leng, tetapi ia lekas-lekas menyahut.

„Suhu, To-ji berada di sini      ”

Yu Leng menoleh kepada muridnya dan berkata.

„Kau telah berhasil mewarisi ilmu silatku, aku belum merasa puas sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, kau mempergunakan ilmu-ilmu tersebut. Sekarang Ceng Sim Lo-ni, yang menurut hematku, merupakan lawanmu yang sepadan, berada di sini, maka kesempatan yang terbaik ini tidak boleh dilewatkan begitu saja! -- Pergunakanlah ilmu Thay-yang-sin-jiauw terhadap Nikouw ini!”

Untuk ketiga kalinya Wei Beng Yan jadi terkejut tatkala mendengar perintah gurunya yang betul-betul aneh itu. Pertama ia diperintah membunuh si pemilik jarum Yan-bie-tin, kedua ia diperintah jangan membunuh Soat-hay-siang-hiong, musuh besarnya. Dan sekarang ia diperintahkan menggempur seorang biarawati yang selalu menjalankan kebajikan kepada semua orang! Ia tentu saja segan melawan, karena mengetahui bahwa ilmu Thay-yang-sin-jiauw dahsyat sekali, barang siapa kena diserang oleh jurus cakaran maut itu, pasti tewas! Atau jika si korban masih beruntung tidak mati seketika, maka setelah lewat tujuh hari tujuh malam, korban itu pasti mati!

Wei Beng Yan telah dilatih dan digembleng oleh ayahnya almarhum Wei Tan Wi, agar ia menjadi seorang yang luhur serta budiman, maka waktu mendengar gurunya memerintahnya melakukan perbuatan yang durhaka itu, ia sudah berniat melanggar sumpahnya sendiri. Membangkang!

„Suhu,” katanya, „aku ”

„Kau mengapa? Apakah kau merasa gentar terhadap Nikouw ini?”

„Suhu! Aku tidak dapat menuruti perintah Suhu itu! Mengapa kita harus bermusuhan terhadap seorang suci seperti Ceng Sim Lo-ni ini?”

„Ngaco! Apakah kau sudah lupa akan sumpahmu? “

Wei Beng Yan merasa seolah-olah sebilah pisau yang tajam sekali membeset dadanya. Lalu sambil menatap gurunya ia menyahut.

„Suhu! Aku pandang Suhu sebagai ayahku sendiri, mengapa ”

„Berhenti! Jika kau takut aku akan turun tangan sendiri!”

Wei Beng Yan menginsyafi bahwa semenjak gurunya tidak jadi membunuh diri, watak serta tabiat gurunya itu telah berubah banyak sekali. Iapun mengetahui bahwa jika Yu Leng sendiri yang turun tangan, maka dapat dipastikan di muka bahwa Ceng Sim Lo- ni akan hancur lebur diganyang Thay-yang-sin-jiauw! Bukankah jika ia sendiri yang bertempur, ia dapat mencegah agar biarawati itu tidak tewas? Bahkan ia dapat membikin Ceng Sim Lo-ni tidak menderita luka apapun!

Oleh karena itu ia lekas-lekas menyahut.

„Baiklah! Aku akan menuruti perintah Suhu itu!”

„Bagus! Tetapi pertama-tama kau harus mempergunalan pedang Ku-tie-kiam mu dahulu,” kata Yu Leng sambil memperhatikan gerak-gerik muridnya itu. “Baru kau pergunakan jurus Thay-yang- sin-jiauw jika kau merasa kewalahan!”

Wei Beng Yan perlahan-lahan menghunus pedang pusaka ayahnya, tidak lama kemudian tampak ujung pedangnya tergetar dan berputar beberapa lingkaran, dengan gerak-gerakan itu ia sudah siap melancarkan serangan-serangan yang cepat serta dahsyat!

Setelah melihat Wei Beng Yan merasa sungkan menempurnya, Ceng Sim Lo-ni jadi sangat bersimpati terhadap pemuda yang sudah berada di hadapannya itu. Iapun mengetahui bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang lihay sekali, tetapi jika pemuda itu harus bertempur mempergunakan pedang, ia merasa yakin betul bahwa pemuda itu bukan tandingnya yang setimpal! Iapun merasa sungkan melukakan pemuda itu. „Ji Cu Lok!” katanya, „mengapa kau menganggap aku demikian rendahnya? Mengapa kau tidak turun tangan sendiri? Apakah kau merasa takut?!”

Yu Leng kelihatannya hanya menyengir dan tidak menyahut.

Wei Beng Yan yang telah mempunyai suatu maksud lekas melancarkan serangan dengan jurus-jurus yang telah dapat dipelajarinya dari mendiang ayahnya. Ia khawatir tantangan biarawati itu betul-betul membikin Yu Leng gusar dan turun tangan sendiri!

Segera tampak sinar pedang menyambar-nyambar laksana kilat, yang sebentar-sebentar lewat di atas kepala Ceng Sim Lo-ni!

Serangan-serangan itu membikin Ceng Sim Lo-ni teringat akan Wei Tan Wi yang pernah menggemparkan kalangan kang-ouw. Ia dapat mengenali jurus-jurus yang dilancarkan oleh Wei Beng Yan itu, yalah jurus Liu-seng-kiam-hoat (Bintang sapu mencari mangsa). Ia merasa kagum sekali, karena pemuda itu dapat melancarkan jurus lebih dahsyat lagi daripada yang pernah dilancarkan oleh Wei Tan Wi dahulu!

Lalu iapun mulai membuka serangan, digentak tok-tokan kayunya ke atas dan tampak kayu itu menyebarkan sinar yang berkilau-kilau laksana kilat!

Setelah bertarung dua jurus, tiba-tiba terdengar Ceng Sim Lo-ni berseru. „Berhenti! Anak muda, kau pernah apa dengan Wei Tan Wi tay- hiap?”

Bukan main terharunya Wei Beng Yan mendengar nama ayahnya disebut, lalu sambil melangkah mundur dan menurunkan ujung pedangnya ke bawah ia menyahut.

„Beliau adalah ayahku!”

„O      Aku telah dengar bahwa ayahmu telah dianiaya oleh Soat-

hay-siang-hiong dan Eu-yong Lo-koay! Tetapi dengan ilmu silatmu yang lihay itu, aku merasa yakin kau dapat membalas dendam dengan mudah!”

Ucapan itu membikin Wei Beng Yan penasaran sekali, karena ia teringat akan peristiwa di telaga Tong-teng, ketika kesempatan untuk membunuh musuh-musuh besarnya sudah di depan mata ia dicegah oleh Yu Leng.

„Tetapi aku belum dapat melaksanakan maksudku itu,” sahutnya sedih.

„Ai! Kau tidak boleh menunda-nunda lagi maksudmu itu!”

„Beng Yan!” Yu Leng membentak gusar melihat tingkah laku muridnya itu. „Kau boleh bawa Ciam-hua-giok-siu dan ajak Siauw Bie berlalu dari sini! Tetapi awas! Di lain waktu kita berjumpa lagi, kita akan berhadapan sebagai musuh!”

Wei Beng Yan agaknya menjadi gusar juga mendengar kata-kata gurunya yang kasar itu, kalau saja ia mengetahui watak dan tabiat Yu Leng akan berubah demikian rupa, ia tentu akan berpikir seribu kali sebelum mengucapkan sumpahnya. Tetapi, waktu mengingat gurunya telah dengan susah payah dan rela mengajarinya ilmu Thay-yang-sin-jiauw dan Thay-yang-sin-kang, hatinya yang luhur menjadi lunak lagi!

„Suhu! Aku akan menurut perintahmu!” sahutnya serba salah.

„Apa benar kau masih patuh kepada perintahku!”

„ Y...... a ”

„Serang si Nikouw bedebah itu!”

Dengan terpaksa Wei Beng Yan mengangkat pedangnya dan menyerang dengan jurus Seng-wa-thian-kong (Bintang sapu terbang di angkasa), pedangnya menyabet ke arah lambung Nikouw itu.

Ceng Sim Lo-ni hanya menangkis dengan pukulan kayu tok- tokannya sambil meloncat mundur beberapa langkah.

„T i n g!!” terdengar beradunya kedua senjata itu.

Wei Beng Yan segera meloncat mundur; lalu maju lagi sambil mengirim tusukan tiga kali berturut-turut. Tampak pedangnya menyodok secepat kilat, seolah-olah ular kobra menyambar mangsanya, itulah jurus yang disebut Gan-keng-coa-pun-tok (Ular kobra menyemburkan bisa). „Ai! Dahsyat dan bagus sekali jurus itu!” seru Ceng Sim Lo-ni, sambil mengegos dari tusukan yang bertubi-tubi itu.

Lalu ia mulai lagi dengan serangannya. Ia bergerak maju sambil memukul kepala Wei Beng Yan dengan jurus Sam-hud-sin-thian (Tiga dewa terbang ke langit).

Ujung daripada pukulan kayunya itu berwarna ungu dan selebihnya berwarna hijau. Jurus yang telah dilancarkannya itu menyambar laksana kilat dan memancarkan warna yang menyilaukan mata sehingga lawannya menjadi kelabakan karena tidak mengetahui dari mana datangnya serangan.

Wei Beng Yan agaknya sudah mulai terdesak, tampak ia mengegos dan meloncat ke samping. Justru pada saat itu, terdengar Yu Leng membentak.

„Beng Yan! Lancarkan Thay-yang-sin-jiauw!”

Dengan tiba-tiba Wei Beng Yan mencelat mundur lagi ke belakang ketika mendengar perintah gurunya itu, ia merasa sangat serba salah, memang dalam pertempuran itu ia sudah sangat terdesak dan jika bertempur tentu ia pasti akan dipecundangi oleh biarawati itu yang ilmu silatnya mungkin setaraf dengan gurunya, tetapi ia merasa kejam sekali jika harus melancarkan ilmu Thay-yang-sin- jiauw.

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu juga menjadi berdebar-debar mendengar disebutnya nama Thay-yang-sin-jiauw yang senantiasa tidak pernah gagal membawa maut kepada lawan! „Ouw Si-ko,” Khouw Kong Hu berbisik, „rupanya malam ini kita tak akan memperoleh keterangan yang penting apapun. Jika kita masih terus berada di sini, aku khawatir kita akan terjebak ”

„Sst! Tunggu sampai si pemuda melancarkan ilmu Thay-yang-sin- jiauw!”

„Tidak mungkin si pemuda melancarkan ilmu yang dahsyat itu    ”

„Hiantee berpendapat serupa dengan aku, tetapi Wei Beng Yan telah didesak oleh Yu Leng!”

Tiba-tiba tampak Yu Leng mengangkat tangannya lalu dengan tiba-tiba pula ia menggeprak meja kecil yang berada dekat tembok sehingga meja itu hancur berantakan!

„Hei murid murtad!” bentaknya mengguntur. „apakah barangkali kau sudah lupa akan ilmu-ilmu yang telah kau pelajari dariku?”

Wajah Wei Beng Yan menjadi merah padam dimaki sebagai murid murtad, ia melirik ke arah gurunya dan dapat melihat kedua mata Yu Leng seolah-olah menyala saking gusarnya.

„Suhu....... aku tidak dapat....... aku betul-betul tidak dapat melancarkah Thay-yang-sin-jiauw!” sahutnya.

Yu Leng tertawa berkakakan seperti orang tidak waras, sehingga seluruh ruangan rumah gedung itu jadi tergetar oleh suara tertawanya yang bergema tak henti-hentinya! Suara tertawa belum berhenti ketika tampak Yu Leng meloncat ke arah Siauw Bie dan meletakkan sebelah tangannya di atas pundak nona itu. Siauw Bie yang dari tadi tidak berkata-kata dan sedang asyik menonton pertempuran, jadi terkejut sekali waktu pundaknya kena dijambret, karena tangan Yu Leng telah menekan berat sekali, ia merasa seolah-olah sekarung beras menindih tubuhnya! Ia berusaha melepaskan dirinya, tetapi betapapun kerasnya ia meronta, tangan yang berwarna merah itu tetap melekat. Dengan tiba-tiba keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya yang padat serta langsing itu!

„Apakah akibatnya jika Yu Leng menumpahkan kegusarannya atas diriku?” pikirnya cemas.

„Suhu! Siauw Bie tidak bersalah!” teriak Wei Beng Yan dengan suara gemetar. „Mengapa Suhu ingin menyiksa seorang gadis?”

„Ha, ha, ha! Aku hanya sekedar ingin memberi contoh bagaimana harus melancarkan Thay-yang-sin-jiauw!”

Kata-kata yang dingin itu membikin tubuh Wei Beng Yan menggigil, ia sudah jatuh hati terhadap gadis itu, jika Yu Leng betul-betul membuktikan ancamannya itu......

Ouw Lo Si pun menjadi terkejut sekali melihat ancaman yang keji itu. Ji Cu Lok yang dulunya seorang jago silat yang tangguh, memang kadang-kadang melakukan juga perbuatan yang tidak pantas. Tetapi perbuatan yang sekarang hendak dilakukannya terhadap Siauw Bie, betul-betul merupakan suatu perbuatan yang paling kotor, sehingga membikin ia, Ouw Lo Si, bekas perampok yang sangat ditakuti dan pernah menyaksikan banyak perbuatan- perbuatan keji dan kejam, tidak dapat mengerti akan niat yang gila itu! „Sekarang!” bentak Yu Leng kepada muridnya, „aku bersedia memberi dua pilihan kepadamu. Pilihlah satu di antara kedua wanita itu, yang muda atau yang sudah hampir masuk lobang kubur, yang harus pergi dari dunia ini?!”

Pada saat yang gawat itu terdengar Ceng Sim Lo-ni berkata.

„Aku mengetahui bahwa Thay-yang-sin-jiauw hebat sekali, tetapi mengapa kau ingin mencelakai seorang gadis yang tidak bersalah, bahkan ia mungkin tidak mengetahui sama sekali apa yang menjadi persoalan? Mengapa kau tidak mencoba ilmu yang dahsyat itu terhadap aku?”

„Beng Yan!” Yu Leng membentak lagi, “aku menanti jawabanmu!”

Wei Beng Yan berbalik dan menghadap kepada Ceng Sim Lo-ni yang tengah menjaga dadanya dengan kayu tok-tokannya.

„Suthay, aku terpaksa ” katanya.

„Aku mengetahui hatimu yang luhur sungkan melanggar sumpah,” kata Ceng Sim Lo-ni.

„Aku harap Suthay dapat mengerti, aku...... terpaksa!” sahut Wei Beng Yan.

„Pendekar muda! Aku mengerti ayohlah lancarkan Thay-yang-

sin-jiauw!”

Wei Beng Yan masuki lagi pedang Ku-tie-kiam nya, lalu pelahan- lahan ia mengangkat sebelah tangannya yang sudah mengepal keras, sehingga merata dengan dada, tiba-tiba tangan itu menjurus ke depan lalu pelahan-lahan kelima jari yang menegang itu bergerak terbuka dan memancarkan cahaya ajaib yang menyilaukan mata!

Ketika Wei Beng Yan bertindak maju dengan ke lima jarinya yang sudah mengembang itu, Ouw Lo Si yang kebetulan sedang melongok ke dalam, jadi kaget bukan main, karena ia tidak dapat melihat apapun, kecuali cahaya yang sangat menyilaukan mata!

Makin lama makin dekat Wei Beng Yan menghampiri Ceng Sim Lo- ni. Tampak sinar mata Yu Leng yang menyala-nyala senantiasa mengikuti tiap gerakan muridnya itu. Tidak lama kemudian terdengar Wei Beng Yan berseru.

„Suthay! Berhati-hatilah     serangan akan segera datang!”

Ceng Sim Lo-ni memejamkan matanya sambil mulutnya berkemak-kemik memanjatkan doa agar Wei Beng Yan tidak menanggung dosa Yu Leng yang keji serta kejam itu! Kayu tok- tokan di tangan kirinya disodokkan keluar dan hembusan angin yang hebat sekali menerjang ke depan!

Justru pada saat itulah, Wei Beng Yan mengangkat tangannya, yang seperti gaetan baja itu, untuk mencengkram batok kepala si Nikouw! Dan terdengarlah suara keras laksana guntur meledak yang menggoncangkan seluruh ruangan dan mengejutkan semua orang yang berada di situ, bahkan Yu Leng sendiri tampaknya terkejut bukan main, seolah-olah ia tidak menyangka Thay-yang- sin-jiauw dapat menerbitkan suara yang demikian dahsyatnya! Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang sedang mengalihkan pandangan mereka karena silau menjadi demikian kagetnya sehingga mereka lekas-lekas bertiarap di atas tanah!

Kedua orang yang tengah bertempur itu saling bentur, lalu terpisah lagi, tiba-tiba tampak satu sinar ungu melonjak ke atas, menembusi atap rumah dan melayang ke udara bebas, berbareng dengan itu tampak sesosok tubuh manusia terlempar keluar dari ruangan itu dan mendampar tembok yang mengelilingi pekarangan gedung itu sehingga toblos!

Dari puing-puing yang berserakan di situ, tampak Ceng Sim Lo-ni merayap bangun dengan susah payah, mukanya pucat dan tubuhnya menggigil keras, kayu alat mengetok di tangan kirinya sudah patah, sedangkan sepotong kayu yang berada di tangan kanannya sudah lenyap entah ke mana! Sejenak kemudian ia berkata dengan suara parau.

„Ji Cu Lok! Thay-yang-sin-jiauw betul-betul dahsyat, aku mengaku kalah! Sampai kita jumpa lagi “

Setelah itu ia berbalik dan berjalan dengan langkah berat serta limbung!

„Nikouw sinting! Kau akan mampus dalam waktu tujuh hari tujuh malam!” Yu Leng berteriak kalap bahna girang.

Tetapi rupanya ia tidak mau bertindak kepalang tanggung, karena setelah berteriak, tampak tubuhnya sudah mencelat mengejar biarawati itu. Wei Beng Yan tidak menghiraukan gurunya mengejar Ceng Sim Lo-ni, ia hanya berkata dengan suara putus asa.

„Aku tidak menduga bahwa ilmu yang telah aku yakinkan dengan susah payah telah dipergunakan secara tidak layak, sedangkan musuh-musuh besarku masih bergentayangan dengan bebas di kalangan Bu-lim! Untuk apakah sebetulnya ilmu-ilmu yang dahsyat ini?!”

Setelah berkata begitu, mendadak ia mengangkat tangan yang jari- jarinya masih mengembang dan menyerang ke arah tembok dekat pintu dan „B r a k k!!” Tembok rumah gedung itu roboh diterjang hembusan angin tinjunya!

„Ai! Yan koko, kau telah merusak rumah gedung orang!” kata Siauw Bie sambil memegang tangan Wei Beng Yan dengan erat.

„Bie moay, kau telah menyaksikan sendiri aku telah melukakan seorang biarawati yang tidak berdosa!”

„Tetapi kau tidak boleh terlalu mempersalahkan dirimu sendiri! Bukankah jika kau tidak turun tangan, Ceng Sim Lo-ni pun tidak akan luput dari serangan gurumu?”

Wei Beng Yan hanya menghela napas dan tidak menyahut.

Mendengar sampai di situ, Ouw Lo Si segera berbisik kepada Khouw Kong Hu.

„Kita pergi sekarang!” „Pergi ke mana?”

„Mengejar ORANG yang mengejar Ceng Sim Lo-ni!”

„Orang yang menutupi mukanya dengan kain hitam?!!”

„Ya!”

Khouw Kong Hu merasa heran sekali mengapa Ouw Lo Si tidak menyebut Yu Leng saja daripada mengatakan ‘orang yang mengejar’ Ceng Sim Lo-ni?? Tetapi ia tidak menanya apapun kepada saudara angkatnya itu.

„Mari!” sahutnya sambil mendahului merangkak menjauhkan diri dari bawah jendela.

Setelah berada di luar rumah gedung itu, mereka segera mengejar ke arah jalan yang ditempuh Ceng Sim Lo-ni dan Yu Leng tadi. Sambil berlari-lari Ouw Lo Si berkata.

„Hiantee, apakah tadi kau melihat Yu Leng menggeprak meja?”

„Ya, mengapa memang?”

„Dua tahun yang lalu Yu Leng pun menggeprak meja di markas Kong-ya Coat! Dengan melihat akibat daripada pukulan itu, kita dapat meraba betapa hebat ilmu Thay-yang-sin-jiauw Yu Leng itu! Kehebatan itu telah membikin aku menarik kesimpulan. apakah Yu Leng pun ikut campur dalam pembunuhan besar-besaran di markas Kiu It?!” „Mengapa Si-ko dapat menarik kesimpulan begitu?”

„Untuk menjawab pertanyaan Hiantee itu, aku masih memerlukan beberapa bukti! Tunggulah sampai kita telah mengejar Ceng Sim Lo-ni!”

Mereka berlari terus untuk kemudian menikung ke arah jalan di tepi sungai, dalam sekejapan saja mereka telah menempuh jarak sepuluh lie lebih. Di bawah sinar bulan yang cukup terang, tampak air sungai bergelombang kecil tertiup angin malam yang dingin.

Tiba-tiba mereka melihat dua bayangan tidak beberapa jauh di depan mereka, satu di depan, sedang yang satunya lagi di belakang, saling berusaha mempercepat langkah mereka masing- masing.

Itulah bayangan Ceng Sim Lo-ni dan Yu Leng!

„Ayoh! Kita harus berlari lebih cepat, rupanya si Nikouw akan segera dapat dikejar oleh ORANG itu!” kata Ouw Lo Si.

Lagi-lagi Khouw Kong Hu telah dibikin heran oleh kata-kata saudara angkatnya yang terakhir. ORANG itu! Tetapi ia masih tidak menanyakan, ia hanya mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk mempercepat langkahnya.

Tidak lama kemudian mereka tiba di suatu hutan pohon bambu yang terletak tidak jauh dari tepi sungai itu. Tiba-tiba mereka mendengar Ceng Sim Lo-ni berkata.

„Ji Cu Lok! Apakah betul-betul kau ingin membunuh aku?” Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu cepat-cepat mencari tempat yang agak gelap, lalu mereka mengintip.melalui celah-celah pohon bambu, dan dapat melihat si Nikouw menjaga dadanya dengan lengan kirinya, lengan kanannya tampak terkulai ke bawah. Rupanya serangan Wei Beng Yan bukan saja telah melemparkan tubuhnya keluar dari gedung ke tiga saudara Tie, tetapi Thay-yang- sin-jiauw juga telah melukai serta melumpuhkan sebelah lengan Nikouw yang malang itu!

Tampak Yu Leng tengah berdiri dengan sikap yang angkuh sekali beberapa meter di depan Nikouw itu. Setelah tertawa berkakakan seram terdengar ia berkata.

„Kau sebagai orang yang sudah lama berkecimpungan di kalangan rimba persilatan, seharusnya sudah mengetahui bahwa Thay- yang-sin-jiauw hebat sekali!”

„Aku hanya mengetahui bahwa jika seorang jago silat memiliki ilmu yang begitu sakti,” sahut si Nikouw, „ilmu tersebut harus dipergunakan untuk membasmi iblis-iblis serta jahanam-jahanam. Aku tidak menduga bahwa kau telah memaksa muridmu yang luhur itu menyerang aku! Aku telah mempasrahkan jiwaku kepada Tuhan, aku tidak akan menyesal meskipun aku harus mati sekarang. Aku hanya merasa kasihan terhadapmu, kau yang akan terkutuk sehingga akhir jaman!”

„Ha, ha, ha! Aku tidak memerlukan nasehat ataupun khotbah! Tetapi oleh karena kau telah memberikan juga nasehat serta khotbahmu itu, maka sebagai tanda terima kasihku, kauterimalah ini ” Setelah selesai bicara, Yu Leng dengan sekonyong-konyong telah menyerang Ceng Sim Lo-ni dengan jotoson-jotosan maut!

Ternyata Ceng Sim Lo-ni masih dapat melawan, meskipun tangan kanannya sudah lumpuh dan hanya mempergunakan sebelah lengan kirinya saja. Maka pertarungan tanpa senjata sudah lantas berlangsung lagi. Sepuluh jurus telah lewat dan makin lama makin jelas kelihatan bahwa si Nikouw sudah tidak dapat mengimbangi lagi serangan-serangan Yu Leng yang ganas itu.

Si Gaitan baja tinju besi Khouw Kong Hu yang berwatak kesatria tak dapat membiarkan saja si biarawati didesak demikian kerasnya, berkali-kali ia ingin menyerbu keluar dan membantu, tetapi ditahan oleh Ouw Lo Si.

Tiga jurus lagi telah lewat, dan tiba-tiba terdengar suara.

„P a n g!!” tampak tubuh si biarawati terpental ke belakang beberapa langkah sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya!

Yu Leng tertawa berkakakan, tampaknya ia girang sekali melihat cairan yang merah itu yang keluar dari mulut lawannya mendadak suara tertawanya berhenti dan tampak ia bergerak untuk menerkam sambil mengangkat kedua tangannya yang berwarna merah. Pada saat yang menentukan itu Ceng Sim Lo-ni mengerahkan tenaganya, dan dengan satu enjotan tenaga terakhir ia meloncat dan masuk ke dalam sungai!

Disebabkan rasa takutnya yang demikian besar, sehingga waktu meloncat Ceng Sim Lo-ni tidak memperhatikan lagi keadaan sungai, ia baru terkejut ketika merasa tubuhnya ditangkap orang yang segera membawanya kembali ke atas darat.

Setibanya di atas dan dapat mengenali orang itupun menjadi kaget.

„Ah.....! Ceng Sim Suthay?! Siapa yang telah menganiaya Suthay demikian kejamnya?!”

Di bawah sinar bulan tampak kedua orang itu bertubuh tinggi besar, berusia lebih kurang empatpuluh tahun.

Ceng Sim  Lo-ni menghela napas dan berkata dengan lemah.

„Kalian berdua jangan turut campur urusanku! Ayoh lekas-lekas pergi!”

Kedua orang itu bersenyum, salah seorang lalu berkata.

„Suthay telah terluka parah, aku tidak dapat membiarkan begitu saja. Siapakah yang telah menganiaya Suthay?”

Tetapi tiba-tiba kedua orang itu dapat melihat satu bayangan hitam berpeta di atas tanah, dengan hati berdebar-debar mereka lekas- lekas menoleh ke arah orang yang tengah berdiri beberapa tindak saja di depan mereka, lalu sambil menghunus pedang, mereka maju setindak dan berkata.

„Kita Cit-kiat-kiam (si ahli pedang dengan tujuh keistimewaan) dan Cit-siu-kiam (si ahli pedang dengan tujuh keahlian). Perkenalkanlah nama saudara!” Ternyata kedua orang itu adalah Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam dari partai Kong-tong yang termashur!

Setelah mengalami kegagalan dalam usaha mereka menuntut balas terhadap Pek Tiong Thian yang telah membunuh saudara mereka yang tertua, kedua saudara Kim ini lalu kembali ke pegunungan Kong-tong dengan tekad memperdalam ilmu silat pedang mereka. Dengan tekun dan rajin mereka menyelidiki segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan ilmu silat pedang partai Kong-tong, dan akhirnya di atas puncak Lek-kie- hong mereka beruntung menemukan satu batu gunung yang besar, yang terukir dengan penjelasan-penjelasan ilmu silat pedang Ciok Cui Eng, pemimpin pertama partai Kong-tong.

Ilmu silat pedang yang disusun oleh pemimpin itu adalah yang terkenal sebagai Thian-seng-kiam-hoat, tetapi Ciok Cui Eng sendiri telah menghilang entah ke mana, sehingga hanya beberapa muridnya saja yang mengenal ilmu tersebut.

Bukan main girangnya kedua saudara Kim itu, mereka segera mengambil ketetapan untuk tinggal terpencil di atas puncak Lek- kie-hong dan mempelajari ilmu pedang yang memang mereka sedang cari itu. Maka setelah lewat dua tahun, kemahiran mereka melancarkan jurus-jurus Thian-seng-kiam-hoat sudah tidak lagi dapat diragukan kelihayannya!

Setelah itu mereka lalu pergi ke Tan-kwi-san-cong untuk mencari Kong-ya Coat yang pernah mempecundangi mereka di markas partai Thian-pek-kiam, tetapi mereka tidak berhasil menjumpai Kong-ya Coat di sana, maka mereka lalu menyewa perahu untuk menikmati malam terang bulan di atas sungai. Mereka jadi terkejut sekali ketika melihat satu bayangan dengan tiba-tiba menerkam dari atas, mereka segera menangkap bayangan itu yang disangka mereka orang yang ingin membunuh diri, dan mereka jadi tambah terkejut ketika mengetahui bahwa bayangan itu adalah Ceng Sim Lo-ni yang sudah terluka parah.

Yu Leng pun tampaknya kaget bukan main ketika dapat mengenali siapa kedua orang itu, tetapi setelah itu ia segera tertawa berkakakan.

„Hei! Siapa saudara?!” bentak Kim Cin Lam.

Tetapi sebelum Yu Leng menyahut si Nikouw sudah mendahului.

„Dia adalah yang dulunya termashur sebagai Ji Cu Lok alias Naga Sakti, yang gemar sekali kepada lentera-lentera kertas merah dan tinggal di lembah Yu-leng-kok!”

Mendengar penjelasan itu kedua saudara Kim segera menyadi pucat mukanya, karena mereka percaya bahwa Ceng Sim Lo-ni seorang yang jujur dan tidak mungkin memberikan keterangan palsu.

„Nikouw gadungan itu telah memperkenalkan siapa aku ini!” kata Yu Leng dengan sikap yang mengejek. „Nah, sekarang kalian mau apa?!”

Kedua saudara Kim tidak menyahut, mereka hanya saling pandang. Sebetulnya mereka ingin menjadi terkenal dengan ilmu yang baru saja mereka pelajari itu, yalah ilmu silat pedang Thian- seng-kiam-hoat, tetapi apa celaka mereka telah menjumpai Ji Cu Lok yang terkenal ilmu Thay-yang-sin-jiauw nya! Mereka menjadi jerih, sehingga tanpa terasa mereka sudah melangkah mundur beberapa langkah sambil berkata.

„Kita tidak mengetahui bahwa kita sedang berhadapan dengan Ji tay-hiap, harap Tayhiap suka memaafkan ”

„Ha, ha, ha! Jika kalian tidak puas akan perbuatanku terhadap Nikouw gadungan itu, aku persilahkan kalian membikin perhitungan!”

„Kita tidak dapat mengenali karena Ji tayhiap menutupi muka, jika kita telah berbuat sesuatu yang kurang sopan, harap Tay-hiap sudi memberi maaf ”

Setelah berkata begitu, mereka segera masuki lagi pedang mereka ke dalam serangkanya dan ingin berlalu.

„Apakah begitu saja kalian hendak menyudahi persoalan ini?” tanya Yu Leng, „Tanpa meninggalkan sesuatu sebagai kenang- kenangan!”

„Ji tay-hiap ingin kita meninggalkan barang apa sebagai kenang- kenangan?”

„Kedua pasang kaki kalian! Ha, ha, ha!!”

Kedua saudara Kim tidak pernah bermusuhan terhadap Yu Leng, menganggap bahwa Yu Leng tengah berguyon dengan kata- katanya itu, maka Kim Cin Jie lalu menyahut. “Aku tidak menyangka jika Ji tay-hiap seorang yang suka berkelakar, ha, ha ”

„Buntungi kedua pasang kaki kalian!” Yu Leng membentak lagi deugan suara mengguntur.

Mendengar suara Yu Leng yang sungguh-sungguh itu, kedua saudara Kim jadi saling lirik.

„Bukankah barusan kita telah mohon maaf sebelum berlalu,” sahut Kim Cin Lam, „aku harap Tay-hiap tidak terlalu mendesak!”

„Jika aku mau mendesak, juga kalian mau apa?”

„Ji tay-hiap! Kita dari partai Kong-tong tidak pernah bermusuhan terhadapmu, mengapa tay-hiap minta barang yang bukan-bukan?!” kata Kim Cin Lam dengan agak gusar.

„Tidak pernah bermusuhan terhadapku? Ha, ha, ha! Kalian telah ikut campur urusanku terhadap Nikouw gadungan ini, bukankah dengan demikian kalian telah bersikap bermusuhan terhadapku! Untuk dosa itu, aku bersedia memberi dua pilihan, buntungi sendiri kedua pasang kaki kalian itu, atau aku akan turun tangan sendiri!”

Dari merasa jerih, kedua saudara Kim menjadi gusar dan nekad, lalu sambil menghunus pedang lagi, Kim Cin Jie balas membentak.

„Jika demikian, kita lebih suka memilih aturan kita sendiri!”

Baru saja kata-kata itu selesai diucap, Yu Leng sudah menerkam ke arah kedua lawannya itu. Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam yang sudah siap segera menangkis terkaman itu dengan pedang mereka.

Yu Leng yang kejam dun licik ternyata tidak menerkam dengan tangan kosong, ia telah menerkam dengan dua potong senjata rahasia di tangannya yang segera dilontarkan ke arah kedua saudara Kim dengan cepat sekali.

enamBeLAs

Kedua saudara Kim melihat datangnya kedua benda berkilat itu menerjang ke arah mereka, tanpa banyak pikir lagi mereka menangkis dan menjadi kaget sekali merasakan tubuh mereka mendadak jadi panas setelah menangkis benda itu berbareng dengan itu terdengar suara.

„T i n g!!” yang nyaring sekali, dan tampak Yu Leng secepat kilat sudah berada dekat mereka sambil mengulur tangannya untuk menotok pundak Kim Cin Lam dan Kim Cin Jie!

Senjata rahasia itu telah dipergunakan Yu Leng untuk menangkis serangan pedang, dan begitu lekas sudah melontarkan senjatanya itu, secepat kilat ia menyerang lawannya!

Kim Cin Lam dan Kim Cin Jie merasa bahwa pedang mereka seolah-olah digempur oleh suatu tenaga yang gaib sekali, ketika melihat Yu Leng mendekati, mereka lekas-lekas memutar pedang mereka dengan jurus Thian-ji-ie-hua (Hujan lebat menyiram bumi). Yu Leng menjadi cemas melihat terkamannya yang pertama itu meleset. Ia meraung keras dan meloncat ke kiri, ke kanan mencari lowongan untuk menerkam dan menotok lawannya lagi.

Tiba-tiba tampak ia dengan nekad meloncat dan menerobos masuk di antara kedua saudara itu dengan tangan kanannya menotok jalan darah di pundak Kim Cin Jie dan kaki kirinya menendang ke arah lambung Kim Cin Lam!

Dua serangan yang pesat itu -- satu ke atas dan satu lagi kebawah

-- yang telah dilancarkan dengan jurus-jurus yang luar biasa anehnya, telah membikin Kim Cin Jie sibuk sekali, ia hanya dapat menangkis berbareng menabas lengan Yu Leng dengan pedangnya. Tetapi tangan Yu Leng telah lebih cepat lagi menemui sasarannya dan.......

„P a n g!!” Pedang yang telah menabas angin itu digeprak jatuh!

Pada waktu yang bersamaan Kim Cin Lam telah menabas kaki kiri Yu Leng yang hendak menendang lambungnya.

Tabasan itu adalah salah satu jurus dari ilmu silat pedang Thian- seng-kiam-hoat yang khas dari partai Kong-tong! Yu Leng pada waktu itu tengah berdiri atas satu kaki, karena ia tidak keburu menarik kembali tendangan maut kaki kirinya, dan agaknya tidak keburu menarik kakinya itu!

Dan betul saja, tabasan pedang yang dilancarkan secepat kilat itu telah berhasil menggores betis Yu Leng, tetapi untuk kagetnya pihak yang menyerang, ujung pedang itu seolah-olah telah menggores baja! Pedang Kim Cin Lam maupun pedang Kim Cin Jie, meskipun tidak setajam senjata yang dapat memotong logam, namun dapat memotong kulit kerbau yang tebal dan pasti dapat memotong kulit manusia yang tidak setebal kulit kerbau!

Tetapi ternyata tabasan yang dikerahkan dengan sekuat tenaga itu tidak berhasil melukai betis Yu Leng sedikitpun!

Kim Cin Lam jadi melongo melihat kenyataan yang betul-betul tidak masuk diakalnya itu, dan justru pada waktu ia terlongong-longong itulah tendangan Yu Leng mendarat tepat di lambungnya!

Tampak Kim Cin Lam terpental ke belakang sambil menekan perutnya, sejenak kemudian ia roboh terlentang di tanah!

Yu Leng merampas pedang lawannya yang sudah tidak berdaya itu untuk menempur Kim Cin Jie, yang tadi digeprak tangannya, dan terdengarlah suara dahsyat dari beradunya kedua senjata orang-orang yang sedang berbaku hantam itu, sebentar-sebentar tampak lelatu api herhamburan dan menyilaukan mata. Tetapi ketika pada suatu waktu senjata mereka beradu lagi, pedang Kim Cin Jie patah!

Sebetulnya pedang yang dipergunakan oleh kedua orang itu, sama mutu serta kekuatannya, tetapi Yu Leng telah menyerang dengan tenaga dalam yang ajaib dan berhasil mematahkan pedang lawannya, sehingga Kim Cin Jie jadi terperanjat tercampur cemas justru pada saat itulah, Yu Leng yang pandai mempergunakan kesempatan terlowong telah menusuk langsung ke tenggorokan lawan. Kim Cin Jie tidak berdaya mengegosi tusukan itu, ia hanya merasa suatu barang dingin lagi tajam menjurus ke dalam tenggorokannya dan roboh tanpa mengeluarkan suara apapun!

Kim Cin Lam yang sudah terluka parah masih dapat melihat cara bagaimana kakaknya telah tewas di tangan Yu Leng sehingga dalam kesedihan dan sakarat maut, ia muntahkan darah dari mulutnya dan setelah menjerit seram iapun menyusul kakaknya di alam baka!

Begitulah nasib ketiga saudara Kim dari partai Kong-tong. Yang tertua telah tewas di tangan Pek Tiong Thian, sedangkan Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam yang telah mewarisi ilmu silat pedang Thian- seng-kiam-hoat yang termashur dan berhasrat menjagoi lagi di kalangan Kang-ouw, tidak terduga harus mati di tepi sungai Tiang- kang dalam tangan Ji Cu Lok alias Yu Leng!

Yu Leng lalu menyeret kedua mayat itu ke dekat sungai. Lalu ia menghampiri Ceng Sim Lo-ni. Muka biarawati itu pucat sekali dan kedua matanya terbelalak ke langit, karena ia sudah menjadi mayat.

Dengan satu tendangan, Yu Leng mendepak mayat itu ke dalam sungai, sehingga air sungai itu menjadi merah dinodai darah!

Semua kejadian di tepi sungai Tiang-kang itu telah disaksikan oleh Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang bersembunyi di hutan pohon bambu. Mereka jadi bergidik mengingat keganasan Yu Leng, yang telah dengan mudah saja membunuh ketiga orang itu. Tiba-tiba mereka mendengar Yu Leng meraung dan tertawa berkakakan seperti orang yang kerasukan setan sambil berkata dengan suara keras.

„Tidak diduga bahwa dendamku yang sepuluh tahun lebih lamanya dapat kubalas di sini sekaligus!”

Kemudian setelah tertawa berkakakan lagi sekian lamanya, tampak Yu Leng mengacungkan pedang rampasannya dan menatap pedang itu, lalu perlahan-lahan kepalanya dialihkan ke arah kedua mayat saudara Kim, dan dengan tiba-tiba ia mendongak ke langit sambil melepaskan suara tertawanya yang mengguntur.

Setelah itu ia membungkukkan tubuhnya dan mendadak ia menusuk serta mendodet perut kedua mayat itu. Tusukan atau dodetan pedang itu dilakukan demikian ganasnya, sehingga tampak orang yang.melakukan perbuatan itu, betul-betul sudah lupa kepada dirinya sendiri!

Setelah itu ia berjalan mengitari mayat-mayat itu yang sudah tidak keruan macam dan meraung sambil mematahkan pedang rampasannya yang lalu dilemparkan ke tanah, dan sesaat kemudian ia memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu!

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menunggu sampai Yu Leng sudah lari jauh, baru mereka dapat bernapas lega.

„Ai......! Kejam!” kata Khouw Kong Hu sambil menggeleng-geleng kepalanya melihat kekejaman semacam tadi. „Aku hampir tidak dapat melihat kekejaman Yu Leng itu!” „Akupun tidak menyangka jika Ji Cu Lok demikian ganasnya!” sahut Ouw Lo Si.

„Kita telah melihat bagaimana Ceng Sim Lo-ni dan kedua saudara Kim dibunuh dengan kejam sekali, dan selama itu kita berdua hanya menonton! Bukankah sikap kita itu memalukan sekali?!”

„Hiantee, kita terpaksa harus bersikap demikian demi keselamatan kita sendiri serta untuk mengungkap tabir suatu rahasia besar di kalangan Bu-lim!”

„Rahasia apa?!”

„Rahasia orang edan yang barusan lari pergi itu!”

„Apakah Ouw Si-ko merasa curiga terhadap Yu Leng? Bahwa dia itu bukan Ji Cu Lok yang tulen, suami Thian-hiang-sian-cu?!”

„Ya! Tetapi untuk sementara waktu aku belum dapat memastikan seratus persen!”

„Ouw Si-ko! Makin lama tindakan Ouw Si-ko makin tambah gegabah saja! Bukankah untuk menyelidiki kecurigaan Ouw Si-ko itu kita harus berjudi dengan nyawa kita?!”

„Hiantee, jangan kau gelisah! Si-ko mu ini setelah matanya picak sebelah dan kakinya pincang satu, menjadi lebih hati-hati lagi dalam segala urusan. Jangan gelisah tidak keruan, aku akan mengatur sedemikian rupa sehingga usaha kita ini tidak membahayakan sama sekali!” „Dengan dasar apa Ouw Si-ko mencurigakan keaslian Yu Leng?”

Ouw Lo Si jadi tertawa ditanya demikian, lalu sambil bersenyum ia balik bertanya.

„Hm! Aku ingin menanya sekarang. Sepuluh tahun yang lalu, Ji Cu Lok, si Naga Sakti berada dimana?”

„Semua orang mengetahui bahwa sepuluh tahun yang lalu Ji Cu Lok tinggal di dalam lembah Yu-leng-kok di pegunungan Tay-piet- san!”

„Cocok! Tetapi barusan, seperti hiantee dapat lihat sendiri, bahwa sebelum Yu Leng berlalu, ia menuding mayat-mayat kedua saudara Kim sambil berkata bahwa ia tidak menduga bahwa dendamnya dari sepuluh tahun yang lalu dapat ia balas sekaligus sekarang! Coba pikir, siapakah yang bernyali demikian besar untuk bermusuhan terhadap Ji Cu Lok? -- Jika umpama kata ada juga orang, yang karena satu atau lain hal, jadi bermusuhan terhadap Ji Cu Lok, apakah orang itu masih dapat hidup sampai sepuluh tahun lamanya?!”

Khouw Kong Hu manggut-manggut sambil matanya berkesip-kesip mendengar keterangan itu.

„Kedua,” Ouw Lo Si melanjutkan, „ketika berada di dalam ruangan rumah gedung ke tiga saudara Tie di kota Bo-ouw, Yu Leng, atau siapa saja orang itu sebenarnya, telah menyuruh Wei Beng Yan melancarkan Thay-yang-sin-jiauw untuk menggempur Ceng Sim Lo-ni, oleh karena ia sudah mengetahui bahwa biarawati itu sangat lihay, dan hanya dengan Thay-yang-sin-jiauw sajalah Nikouw itu dapat dikalahkan!”

„Jika Yu Leng menyuruh Wei Beng Yan bertempur dengan biarawati itu, menurut hematku, itu wajar dan tidak mengherankan, karena si pemuda adalah muridnya!” kata Khouw Kong Hu.

„Apakah kau tidak dapat melihat bahwa Yu Leng tidak pernah menggunakan ilmu yang dahsyat itu, ketika bertempur melawan kedua saudara Kim? Ia hanya menerkam dan berusaha menotok jalan darah lawannya. Berdasarkan kenyataan-kenyataan ini, aku jadi condong kepada kesimpulan bahwa Yu Leng tidak mengerti sama sekali apa itu Thay-yang-sin-jiauw!!”

„Hah     mengapa aku tidak berpikir sampai ke situ?”

Ouw Lo Si berhenti sebentar, kelihatannya ia sedang berusaha mengingat-ingat segala sesuatu sambil mendongak dan menyapukan matanya yang tinggal satu itu ke kanan dan ke kiri, kemudian berkata lagi.

„Ceng Sim Lo-ni seharusnya sudah mati ketika diserang oleh Thay- yang-sin-jiauw, tetapi kenyataan membuktikan bahwa ia hanya terluka parah dan baru mati setelah diganyang Yu Leng. Mengingat bahwa ilmu yang dahsyat itu BELUM atau TIDAK pernah gagal mengambil korban setelah dilancarkan, dengan demikian berani aku katakan bahwa Wei Beng Yan belum dapat melancarkan jurus itu dengan tenaga serta kemahiran seratus persen penuh?

Tetapi akibatnya? Hanya melihat cahaya yang dipancarkan oleh tangan yang sudah siap menyerang itu, mata kita bisa menjadi buta!

Hembusan anginnya dapat merobohkan tembok! Dan cakarannya membakar nyawa!

Jika ilmu-ilmu.yang kita miliki diperbandingkah dengan ilmu itu, rasanya percuma saja kita telah bersusah payah!”

„Huh! Aku tidak setuju dengan kata-kata Si-ko yang terakhir itu! Apakah tanpa mempelajari ilmu silat Si-ko bisa jadi terkenal sebagai si Ahli nujum kipas baja?!”

„Dan menjadi pincang serta picek sebelah mataku     Ha, ha, ha!

Hiantee, sudahlah, tidak usah kita bertengkar.   ”

Khouw Kong Hu ternyata telah kena di ‘set’ satu nol oleh saudara angkatnya yang memang lincah lidah serta otaknya itu.

„Ya, sudahlah, tidak usah kita perbincangkan itu! Mari kita lanjutkan percakapan kita tadi ” sahutnya.

Ouw Lo Si menjadi geli sekali melihat sikap saudara angkatnya ini, lalu ia berkata.

„Ayohlah Hiantee mulai dengan pertanyaan-pertanyaan Hiantee! Aku senantiasa bersedia menjawab!”

„Jika orang itu bukan Yu Leng, siapakah dia yang memiliki ilmu silat demikian lihay?” tanya Khouw Kong Hu. „Inilah justru yang aku sedang berusaha mengetahui. Siapakah telah menyamar sebagai Yu Leng? Ilmu silatnya demikian lihay dan menurut penglihatanku, kepandaiannya hampir setaraf dengan Yu Leng yang asli! Mengapa pedang Kim Cin Jie tidak mempan menabas betis orang itu? Apakah dia juga memiliki ilmu membikin tubuh menjadi kebal terhadap segala senjata tajam? Hm, Betul- betul aneh! Ayoh, kita lihat pedang yang sudah dipatahkan!”

Tanpa menanti lagi Ouw Lo Si sudah bertindak keluar dari pohon bambu untuk menuju ke pinggir sungai.

Tetapi baru saja mereka tiba di dekat mayat-mayat Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam, dan hendak memungut pedang yang sudah patah itu, mereka jadi terperanjat berbareng merasa sedih sekali!

„Kiu Ji-tee!” Ouw Lo Si berseru terharu.

Ketika itu, di tepi sungai Tiang-kang yang panjang itu, tidak tampak manusia lain kecuali Ouw Lo Si, Khouw Kong Hu dan ke dua mayat saudara Kim, mengapa si kakek pincang menyebut-nyebut nama Kiu It?

Karena di dekat mayat kedua saudara Kim, di atas permukaan tanah yang agak basah, tampak empat huruf besar yang berbunyi.

„Kematian bagi orang yang menganiaya!!”

Gaya tulisan keempat huruf tersebut serupa benar dengan gaya tulisan yang juga tertera di atas permukaan tanah dekat batu gunung di tempat Kiu It dua tahun yang lalu. Hanya arti daripada tulisan itu berlainan sedikit. „Kematian bagi orang yang menipu!!”

Semenjak Kiu It dibunuh orang, Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu senantiasa mencari jejak si pembunuh saudara angkat mereka itu, namun usaha mereka selama dua tahun itu tidak memberikan petunjuk-petunjuk atau bukti-bukti yang meyakinkan.

Mereka telah menyelidiki Soat-hay-siang-hiong, Eu-yong Lo-koay, Kong-ya Coat dan banyak lagi orang-orang dari kalangan rimba persilatan, tetapi ternyata mereka itu semua bukan si pembunuh Kiu It.

Mereka pun sudah bersumpah untuk terus menyelidiki selama mereka masih hidup, dan sungguh di luar dugaan mereka bahwa mereka akhirnya menemui juga petunjuk tentang si pembunuh yang justru mereka sedang cari itu, di tepi sungai Tiang-kang!

„Ouw Si-ko!” tiba-tiba terdengar Khouw Kong Hu berseru sambil memukul tanah dengan gaitan bajanya. „Jika sekarang kita tidak mengejar jahanam itu di kota Bo-ouw, kapan lagi kita akan menemui kesempatan sebaik ini?”

„Hiantee! Dalam urusan ini kita harus bertindak hati-hati. Bukankah kau sendiri telah menasehatkan aku bahwa untuk menyelidiki Yu Leng kita berarti harus berjudi dengan nyawa kita?! Jangan keburu napsu, atau kitapun akan mengalami nasib serupa!”

„Aku senantiasa bertindak menuruti Ouw Si-ko, tetapi kali ini, aku tidak dapat bersabar lagi!” Setelah berkata demikian Khouw Kong Hu betul-betul telah meloncat meninggalkan saudara angkatnya, untuk mengejar Yu Leng di kota Bo-ouw.

Si kakek menjadi kaget sekali melihat kenekatan saudaranya itu, dengan gerak yang gesit sekali ia menerkam Khouw Kong Hu yang sudah berlari cepat, sehingga mereka jadi bergumulan di tanah.

„Hiantee!!” si kakek membentak, „jika kau sekarang pergi ke kota Bo-ouw, kau hanya mengantarkan jiwamu saja!”

„Tetapi musuh kita sudah terang, yalah orang yang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam! Jika kita tidak mengejarnya sekarang mungkin kita tidak akan menjumpainya lagi!”

Ouw Lo Si menggeleng-geleng kepalanya dan menyahut.

„Misalnya kau berhasil mengejar orang itu di kota Bo-ouw, apakah kau dapat melawannya?!”

Khouw Kong Hu agaknya menjadi lunak juga mendengar keterangan itu.

„Dan...... jika sampai kita berdua mati di kota Bo-ouw, siapakah yang akan membalaskan dendam Kiu Ji-tee itu?”

Ouw Lo Si berkata lagi.

„Apakah kita harus melepaskan musuh kita itu begitu saja?” „Hiantee, kita bertiga telah bersama-sama bersumpah untuk sehidup semati. Tekadku untuk membalas dendam tidak lebih kecil daripada tekadmu! Jika kita bertindak semberono, pasti kita menjumpai kegagalan. Aku sudah merencanakan Tiga jalan untuk membalas dendam ini!”

„Tiga jalan?”

„Ya!” sahut Ouw Lo Si sambil menaruh sebelah tangannya di atas pundak Khouw Kong Hu, “mari Hiantee, kita balik lagi ke tepi sungai!”

Di sana Ouw Lo Si memeriksa lagi dengan teliti empat huruf-huruf itu, lalu ia memungut pedang yang sudah patah, setelah ditelitinya sesaat, dilontarkannya pedang buntung itu yang lalu nancap dalam di batang pohon.

„Ouw Si-ko. jelaskanlah ketiga rencanamu itu!” kata Khouw Kong Hu tidak sabaran.

Ouw Lo Si berbalik dan kebetulan dapat melihat cahaya terang seperti bintang yang bersudut tujuh, cahaya itu bergerak cepat menuju ke arah dimana mereka sedang berdiri!

„Hiantee!” bisiknya dengan paras terkejut, „ada orang mendatangi ke sini!” sambil membetot tangan Khouw Kong Hu untuk meninggalkan tempat itu. Dalam waktu sekejapan saja mereka sudah berada lagi di dalam hutan pohon bambu tadi.

Cahaya terang yang seperti bintang itu makin mendekat, dan ternyata cahaya itu bukan lain daripada cahaya lentera kertas merah yang ditenteng oleh orang yang tengah berlari-lari ke tepi sungai.

Jantung mereka jadi berdebar keras, ketika melihat orang itu menghampiri ke arah mereka sedang bersembunyi. Tiba-tiba Khouw Kong Hu jadi terbetalak, tangannya meraba gaitan bajanya ketika dapat mengenali orang itu. Tetapi tiba-tiba ada tangan yang menekap mulutnya dan menahan tangannya yang sudah siap menghunus senjatanya, bersamaan dengan itu terdengar suara bisikan.

„Diam! Jangan bikin gagal rencanaku!”

Itulah suara Ouw Lo Si yang juga sudah dapat mengenali orang itu, yalah yang bukan lain daripada Yu Leng sendiri!

Tampak Yu Leng menggantung satu lenteranya di ranting pohon bambu, lalu ia berjalan ke tepi sungai dan mengitari kedua mayat saudara Kim sambil tertawa berkakakan dan membungkukkan tubuhnya untuk memungut pedang yang sudah patah.

„Celaka!” kata Ouw Lo Si di dalam hati, ,,Jika Yu Leng mengetahui patahan pedang yang sebelah lagi telah kulontarkan ke pohon, pasti ia akan merasa curiga dan mengetahui bahwa telah ada orang yang datang di tempat ini! Ia tentu akan mencari orang yang usil itu dan ”

Maka setelah berpikir demikian, segera mengeluarkan kipas bajanya, dan memberi isyarat kepada Khouw Kong Hu agar saudara angkatnya itupun menghunus gaitan baja serta mengeluarkan jarum Yan-bie-tin nya! Tetapi Yu Leng ternyata tidak menyadari hal itu, ia hanya berjongkok dan menggores-gores tanah dengan pedang buntung itu, lalu setelah memandangi goresan-goresan itu, ia mengkeremus lentera yang sedang ditentengnya sambil tertawa seperti orang gila dan meninggalkan lagi tempat itu.

„Dengan bukti-bukti ini, sudah dapat dipastikan bahwa yang melakukan pembunuhan di tempat Kiu Ji-ko adalah Yu Leng!” kata Khouw Kong Hu, setelah Yu Leng pergi.

„Ya! Sudah dapat dipastikan dialah si pembunuh yang kejam itu!” sahut si kakek.

„Tadi si-ko mengatakan, untuk menutut balas kau mempunyai tiga rencana, rencana apakah itu?”

„Aku pernah mengatakan bahwa ketika iblis Tong-coan-sam-ok pernah mencuri tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan dari kuil Cit- po-sie di atas puncak Beng-keng-ya, yang letaknya di pegunungan Ngo-thay-san. Kuil itu dipimpin oleh Bak Kiam Taysu yang sangat lihay ilmu silatnya. Rencanaku yang kesatu yalah kita harus pergi ke pegunungan itu dan menanyakan Bak Kiam Taysu, karena sebagai orang yang pernah menyimpan benda-benda mujizat itu, aku yakin Bak Kiam Taysu mengetahui cara menggunakannya kedua benda mujizat itu.”

„Tetapi perbuatan kita itu akan mengakibatkan kecurigaan pemimpin kuil itu. Dengan demikian kita hanya mendapat tambahan satu musuh lagi saja!” Ouw Lo Si manggut-manggut menyetujui pikiran saudara angkatnya seraya berkata.

„Betul! Aku sependapat dengan Hiantee!”

„Dan rencana kedua bagaimana?” Khouw Kong Hu menanya lagi.

„Rencana kedua masih samar-samar! Kita harus pergi ke goa Long-ya untuk menemukan orang sakti yang pernah disebut-sebut oleh Kiu Ji-tee kepada Pek Tiong Thian. Aku rela memberikan kepadanya kedua benda mujizat yang kini berada di tanganku, asal saja iapun rela membantu kita membalaskan dendam Kiu Ji-tee!”

„Tetapi dimanakah letaknya goa Long-ya di daerah Bi-keng itu?”

„Kita harus menanyakan kepada Pek Tiong Thian! Aku hanya khawatir orang sakti itu sendiri tidak sudi membantu kita!”

Khouw Kong Hu menghela napas panjang seraya menanya.

„Bagaimana rencana Si-ko yang ketiga? “

Ouw Lo Si bersenyum getir, lalu sambil menggeleng-geleng kepalanya ia menyahut.

„Inilah yang tersukar, karena kita harus berusaha membikin Wei Beng Yan percaya bahwa Yu Leng yang sekarang bukan gurunya yang asli!”

„Mengapa Si-ko dapat berpikir sampai di situ?” „Karena aku sudah mempunyai rencana satu lagi! -- Menurut penglihatanku, begitu bertemu dengan Ceng Sim Lo-ni, Yu Leng sudah tidak berani turun tangan sendiri untuk menggempur biarawati itu. Betul ia memiliki kepandaian sangat tinggi, tetapi untuk melawan Ceng Sim Lo-ni, ia harus berpikir-pikir dulu!

Aku juga yakin bahwa Yu Leng sangat iri hati terhadap Wei Beng Yan yang telah berhasil mewarisi ilmu Thay-yang-sin-jiauw dan Thay-yang-sin-kang, maka jika kita dapat meyakinkan Wei Beng Yan bahwa Yu Leng yang sekarang bukan gurunya, kita tentu dapat membujuknya untuk membunuh musuh Kiu Ji-tee itu!”

„Bagus, bagus!” kata Khouw Kong Hu sambil tertawa girang. „tetapi bagaimana kita harus meyakinkan Wei Beng Yan agar ia mau juga percaya bahwa Yu Leng bukan gurunya?”

„Soal ini aku terpaksa harus minta Hiantee sendiri yang melaksanakannya!”

„Aku???!”

Ouw Lo Si mengangguk-sambil bersenyum.

„Ya! Kaulah yang akan melaksanakan siasat ini!”

Setelah berkata begitu, lalu Ouw Lo Si berbisik di telinga Khouw Kong Hu......

„Apakah aku dapat mengandal kepada Hiantee dalam hal ini?” tanya si kakek. „Si-ko tak usah khawatir. Si Gaitan baja tinju besi akan melaksanakan siasatmu yang licin itu!” sahut Khouw Kong Hu tegas.

Lalu sambil menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka segera meninggalkan tepi sungai yang sunyi dan seram itu untuk menuju ke kota Bo-ouw.

Keesokan harinya, mayat-mayat kedua saudara Kim telah diketemui orang, dan dengan cepat tersiarlah kabar di kalangan Bu-lim bahwa pembunuhan itu erat sekali hubungannya dengan pembunuhan di Hui-ing-san-cong, markas Kiu It dua tahun yang lampau!

Hanya semua orang bertanya-tanya siapakah si pembunuh yang kejam itu?

Petunjuk-petunjuk yang dapat dikenal adalah lentera kertas merah telah dirusak, di permukaan tanah tertera beberapa tulisan, sehingga hampir semua orang menduga bahwa peristiwa-peristiwa yang sangat ganjil itu ada juga hubungannya dengan Yu Leng dari lembah Yu-leng-kok!

Harus diketahui bahwa kedua saudara Kim dari partai Kong-tong, Kiu It, si garuda terbang dan Yo Tie ko si lengan delapan, semasa hidupnya, terkenal sebagai tokoh-tokoh yang sangat disegani di kalangan Kang-ouw. Pembunuhan tersebut telah membikin orang- orang dari kalangan tersebut merasa benci berbareng gentar terhadap Yu Leng! Terutama Eu-yong Lo-koay, Siauw Cu Gie dan Si Lam Tojin yang pernah mendengar kisah di pertemuan Tan-kwi- piauw-hiang-song-ta-hwee dari mulut Kong-ya Coat! Demikianlah ancaman-ancaman Yu Leng telah berkecamuk dan merupakan teka-teki dalam dunia rimba persilatan. Mereka semua bertanya-tanya, apakah betul orang yang telah melakukan pembunuhan keji di tepi sungai Tiang-kang itu Yu Leng palsu?

Jika ‘ya’.

Mengapa Yu Leng asli tinggal diam saja terhadap perbuatan- perbuatan orang itu yang mencemarkan nama harumnya??!

Pertanyaan-pertanyaan itu tinggal tetap suatu pertanyaan yang tidak terjawabkan!

◄Y►

Pada suatu hari Yu Leng memerintahkan Wei Beng Yan pergi mencari semacam buah yang kulitnya berwarna kuning, tanpa memberitahukan apa nama buah tersebut dan apa gunanya. Yu Leng hanya mengatakan buah tersebut terdapat di daerah pegunungan Oey-san. Wei Beng Yan pun tidak menanyakan apa khasiatnya buah tersebut, ia hanya menuruti saja perintah gurunya itu.

Ketika ia bersama-sama Siauw Bie tiba di pegunungan itu, ia menjadi sedih sekali mendapat kabar bahwa Ceng Sim Lo-ni telah meninggal dunia. Tanpa terasa tangannya telah menyentuh ketiga sampul surat Ouw Lo Si, yang baru boleh dibukanya setelah ia berhasil membunuh salah satu musuh besarnya!

„Mungkin sampul nomor satu dapat aku buka setelah membunuh Eu-yong Lo-koay, tetapi kapan aku dapat membunuh kedua iblis Soat-hay-siang-hiong!” pikirnya cemas. Ia menghela napas panjang, lalu berkata kepada Siauw Bie.

„Bie moay, orang hidup hanya untuk menderita! Aku tidak lagi dapat berbuat menurut kehendak hatiku, tugasku untuk menuntut balas belum dapat dilaksanakan, sebenarnya untuk apakah ilmu- ilmu yang sekarang aku miliki ini?”

„Yan koko,” sahut Siauw Bie, „aku mengetahui bahwa kau selalu memikiri nasibmu yang malang, kau merasa cemas belum dapat menuntut balas karena gurumu melarang kau membunuh Soat- hay-siang-hiong. Tetapi bukankah gurumu akan membunuh diri sepuluh tahun lagi? Jangka waktu sepuluh tahun akan lewat dengan pesat, setelah itu kau dapat bertindak menurut kehendak hatimu! Kau harus bersabar!”

„Bie moay, soalnya bukan terbatas kepada pembalasan dendam ayahku saja, aku khawatir selama sepuluh tahun ini aku akan diperintahkan lagi melakukan perbuatan yang kejam dan keji. Misalnya membunuh Ceng Sim Lo-ni, bukankah itu suatu perbuatan yang terkutuk! Aku betul-betul tidak dapat mengerti akan perubahan-perubahan watak guruku itu!”

„Yan koko, kau telah menerima budi gurumu, dan kau terpaksa harus mentaati segala perintahnya. Bukankah ia telah memberikan sarung tangan ajaib sebagai tanda cintanya kepadamu? Hanya tabiatnya kini memang agak ganjil!”

Wei Beng Yan tidak menyahut, ia hanya menatap lereng gunung entah memikiri apa. „Yan koko, kita harus memberi maaf kepada tindak-tanduknya itu,” Siauw Bie berkata pula, „misalnya salah satu dari kita yang sudah saling mencinta harus meninggal dunia, bukankah yang masih hidup akan mengalami goncangan jiwa yang hebat? Begitu pun dengan gurumu, ia telah kehilangan isterinya yang tercinta, sehingga tidak heran jika kini otaknya jadi terganggu sedikit dan tindak tanduknya seperti orang gila!”

„Bie moay,” sahut Wei Beng Yan sambil memegang tangan Siauw Bie, „janganlah menyebut-nyebut salah satu dari kita akan meninggal dunia, karena aku tidak dapat hidup tanpa kau berada di dampingku! Aku hanya merasa cemas memikiri cara memecahkan persoalanku yang betul-betul rumit.”

Wei Beng Yan yang telah digembleng oleh ayahnya agar kelak menjadi seorang yang kesatria, merasa muak sekali dengan perbuatan Yu Leng itu. Kekejaman Yu Leng terhadap Ceng Sim Lo-ni telah menggores dalam sekali di hatinya yang luhur itu.

Setelah itu mereka lalu berjalan untuk mencari buah yang berkulit kuning. Pemandangan di pegunungan itu indah permai dengan rumput hijau, bunga beraneka warna yang harum semerbak dan pohon-pohon yang tumbuh dengan subur di sekitarnya.

Tiap-tiap bidang tanah merupakan tempat untuk orang beristirahat dengan tenang. Setelah berjalan setengah harian, mereka merasa letih dan ingin beristirahat sebentar. Tetapi tiba-tiba mereka dibikin terkejut oleh suara “Cit!”

Dan tampak dari semak belukar seekor kelinci melarikan diri. Pada waktu yang bersamaan terdengar bentakan. „Hei binatang! Kau hendak lari ke mana?”

Setelah mengeluarkan suara “Cit!” sekali lagi, kelinci itu jadi terguling dan mati seketika!

Wei Beng Yan dan Siauw Bie yang merasa kasihan, segera menghampiri binatang itu, ternyata di atas punggung kelinci itu telah tertancap sebatang jarum. Setelah meneliti jarum itu Siauw Bie menjadi kaget dan herseru.

„Yan koko! Coba kau lihat benda yang nancap di punggung kelinci ini!”

„Yan-bie-tin!” Wei Beng Yan berseru kaget ketika dapat mengenali senjata rahasia itu. Sejenak kemudian dari semak belukar berlari keluar seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar. Orang itu pun agaknya terkejut ketika dapat melihat mereka berdua.

Wei Beng Yan menatap orang itu dan segera mengenali sebagai orang yang telah diperkenalkan kepadanya oleh si kakek pincang Ouw Lo Si, Yo Go!

„E! Yo Locianpwee! Mengapa Locianpwee pun berada di sini?” tanyanya heran.

„Aku kira siapa, tidak tahunya Wei siohiap dan Siauw Sio-cia?” kata orang itu yang ternyata bukan lain daripada Khouw Kong Hu.

„Apakah yang membunuh kelinci itu senjata rahasia Lo-cianpwee?” tanya Wei Beng Yan. „Betul Wei siohiap!”

„Apakah senjata ini yang terkenal sebagai Yan-bie-tin?”

„Senjata rahasia ini bernama Bo-hong-yan-bie-tin! Tetapi jika menghadapi Wei siohiap, aku kira senjata itu tidak berarti apa-apa!”

„Apakah Lo-cianpwee bernama Khouw Kong Hu, yang terkenal sebagai si Gaitan baja tinju besi?”

„Betul! Tetapi ”

„Apakah Lo-cianpwee yang memadamkan tiga lentera kertas merah dalam Lembah Yu-leng-kok dua tahun yang lalu?!”

Khouw Kong Hu menjadi bingung juga tampaknya, menghadapi serentetan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi itu.

„Aku tidak menduga Wei siohiap mengetahui juga peristiwa itu,” sahutnya sambil bersenyum. „Betul! Dua tahun yang lalu aku pernah memadamkan tiga lentera kertas dengan jarum Yan-bie-tin ku itu!”

Tiba-tiba Wei Beng Yan menatap Khouw Kong Hu, tetapi sejenak kemudian sambil menggeleng-geleng kepalanya ia berkata.

„Apakah Khouw Tay-hiap mengetahui bahwa perbuatan Tay-hiap itu dapat menyebabkan kematian bagi tay-hiap?”

„Hah! Perbuatanku itu dapat membahayakan diriku sendiri?” „Ya!”

„Mengapa memang? Apa salahnya jika aku perbuat demikian?”

„Aku tidak mengetahui apa salahnya! Hanya guruku Yu Leng, telah berpesan agar aku mengambil jiwa pemilik ketiga jarum tersebut!”

„Jika begitu, aku sebagai orang yang hendak dicabut nyawanya, harus melawan! Meskipun aku sudah mengetahui bahwa aku bukan tandingan Wei siohiap!” sahut Khouw Kong Hu sambil melangkah mundur dan menghunus gaitan bajanya.

Beberapa waktu yang lalu, Wei Beng Yan pernah menyelidiki bahwa Khouw Kong Hu adalah seorang jago silat yang budiman. Semenjak waktu itu ia sebetulnya sudah tidak lagi mau menuruti saja perintah gurunya untuk membunuh si Gaitan baja.

Kini ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Khouw Kong Hu adalah seorang yang berterus terang, polos dan berani, sehingga ia menjadi bingung.

Kehadiran Khouw Kong Hu di situ sebetulnya bukan semata-mata kebetulan saja, itulah siasat Ouw Lo Si yang telah dirancangkan pada setengah bulan yang lalu ketika mereka berada di tepi sungai Tiang-kang.

Siasat itu sangat berbahaya, sebab jika begitu berhadapan Wei Beng Yan menuruti saja perintah Yu Leng itu, maka Khouw Kong Hu sudah pasti tewas diterjang Thay-yang-sin-jiauw! Tetapi Ouw Lo Si yang berpengalaman sudah yakin betul bahwa Wei Beng Yan adalah seorang yang berjiwa besar dan pasti sungkan melakukan perintah gurunya yang gila itu, maka ia sudah mempertaruhkan jiwa Khouw Kong Hu untuk menjalankan siasatnya itu dengan perasaan lega.

„Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan, „aku harap Tay-hiap pergi saja dari sini!”

Khouw Kong Hu menatap Wei Beng Yan, lalu sambil bersandiwara ia menyahut.

„Wei siohiap, aku berterima kasih atas kemurahan hatimu itu, tetapi aku sungguh tidak mengerti mengapa gurumu sekarang demikian telengas wataknya?”

Itulah ucapan yang telah diatur dengan cermat oleh Ouw Lo Si si ahli nujum yang licik, untuk menyerang hati nurani Wei Beng Yan yang luhur. Karena ucapan itu telah membikin kekejaman serta kekejian Yu Leng lebih menonjol lagi.

Khouw Kong Hu sudah melihat bahwa siasat saudara angkatnya sudah mulai berhasil, tetapi ia masih belum mau meninggalkan tempat itu.

„Jika Yu Leng mengetahui bahwa Wei siohiap membangkang akan perintahnya, apakah ia tidak akan menjadi gusar?” katanya.

„Khouw Tay-hiap pergilah dan jangan terlalu mendesak aku!” sahut Wei Beng Yan. „Aku bukan ingin mendesak, aku hanya merasa heran mengapa Yu Leng kini jadi berubah demikian ganas wataknya?”

„Aku tidak tahu!’

„Mengapa Wei siohiap sungkan membunuh aku?”