-->

Sampul Maut Jilid 04

Jilid 04

„Apakah orang yang mandi tiap-tiap hari harus dianggap sebagai penduduk daerah perairan juga?” tanya Siauw Bie saking mendongkolnya.

Thian-hi-sang-jin berbalik dan menatap si gadis seraya membentak.

„Hei kau    ”

„Cianpwee! Nanti dulu......!” kata Siauw Cu Gie sambil mencegah adiknya berlaku kasar terhadap tamunya itu ia telah membahasakan si tamu baju hijau dengan sebutan Cianpwee atau paman. „Karena Cianpwee telah datang di sini dan mengaku tergolong sebagai jago silat perairan juga, maka kitapun tak dapat menolak. Tentu Cianpwee telah mengetahui bahwa untuk terpilih menjadi seorang pemimpin, Cianpwee harus bertarung melawan jago-jago silat lainnya dan membuktikan bahwa Cianpwee memiliki kepandaian lebih tinggi dari kita semua!”

Thian-ji-sang-jin tertawa gelak-gelak dan melirik tajam ke arah To Leng, Tong-kwee-sin-hi, Tang Ceng Hong dan Hee-tok-cui-kee.

„Sudah tentu aku rela bertempur melawan siapapun!” sahutnya pendek.

Ketika itu ia tengah berdiri di tengah-tengah Lui-tay, setelah memberikan jawabannya itu, tampak tubuhnya segera bergerak. Semua orang hanya melihat tubuhnya seolah-olah menjadi gumpalan asap hijau, yang bergerak berputar-putar dari tengah ke sepanjang empat pinggiran Lui-tay dengan pesat sekali, sesaat kemudian terdengar suara „Blung! Bluung!” empat kali berturut- turut!

Selama kejadian itu berlangsung, semua orang hanya melihat bergeraknya suatu benda hijau yang mengurung ke empat manusia ganjil tadi. Setelah beberapa saat saja di atas Lui-tay hanya tampak Thian-ji-sang-jin seorang. Sedang To Leng, Tong- kwee-sin-hi, Tan Ceng Hong dan Hee-tok-cui-kee, sudah terapung-apung di atas permukaan air telaga! Mereka semua setelah menaiki perahu masing-masing, segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sesuatu apapun!

Siauw Cu Gie menghela napas panjang dan berpikir. Keempat manusia ganjil itu memiliki kepandaian yang lihay terutama To Leng yang telah menggemparkan dunia Kang-ouw. Tetapi mereka telah dibikin keok dalam satu gebrakan saja, tanpa dapat kesempatan untuk melakukan perlawanan sama sekali. Bagaimana nasib kita jika ia akhirnya terpilih menjadi pemimpin kita?

„Aku sudah mengetahui,” kata Thian-ji-sang-jin,” bahwa menurut peraturan yang telah ditetapkan, barang siapa telah memenangkan sepuluh pertarungan akan diberi sepuluh angka dan dengan mutlak terpilih menjadi pemimpin. Tadi aku telah memperoleh empat angka, dan aku yakin bahwa aku akan berhasil memperoleh enam angka lagi terlebih dulu daripada kalian!”

Sebelum ke lima manusia ganjil hadir di situ, Siauw Cu Gie sudah merasa yakin betul bahwa partainya akan menggondol piala kemenangan. Kini dengan munculnya Thian-ji-sang-jin di situ ia menjadi gelisah dan tak mempunyai pegangan lagi. Apakah adik perempuannya Siauw Bie atau dia sendiri dapat merobohkan Thian-ji-sang-jin? Ia berbalik dan melihat ke arah Siauw Bie yang tengah berdiri dengan tenang dan tetap beriang gembira.

Lalu terdengar Siauw Bie berkata.

„Jago-jago silat di kolong langit banyak jumlahnya dan tiap-tiap jago silat ingin merebut kedudukan serta nama harum. Apakah kau kira, setelah memperoleh empat angka, kau tentu akan memperoleh lagi enam angka dengan sama mudahnya?”

„Siocia tentu dari partai silat Tong-teng, bukankah? Apakah kau tertidur waktu aku bertempur tadi sehingga kau berani pentang bacot demikian besar?”

„Aku Siauw Bie, adik perempuan Siauw Cu Gie dari partai silat Tong-teng! Dan aku tidak tertidur waktu kau bertempur barusan, aku telah melihat dengan jelas tiap gerakanmu. Apakah kau menantang aku bertempur......? Hei bung! Jangan kau menghina kepada kaum hawa, karena belum tentu kau dapat mengalahkanku!”

Thian-ji-sang-jin kelihatannya gusar sekali diejek oleh gadis itu, dengan tiba-tiba ia mengebat lengan bajunya dan memukul ke arah air telaga, dan dengan tiba-tiba pula tampak air di sekitar Liu-tay terdampar keras, lalu melonjak ke atas untuk kemudian jatuh kembali seperti turunnya air hujan dari langit!

Ilmu tenaga dalam yang demikian dahsyatnya itu membikin semua orang menahan napas.

„Celaka!” pikir Siauw Cu Gie. „Adikku pasti menjadi lawan yang ringan bagi dia itu!”

Siauw Bie pun terkejut melihat ilmu tenaga dalam yang luar biasa itu, tetapi ia tetap bersikap tenang. Baru saja ia ingin meloncat ke atas Lui-tay, ketika si pemuda baju hijau yang berada di sampingnya menahan.

„Siauw siocia, kau seorang gadis yang cantik jelita dengan kulit putih seperti batu pualam. Janganlah pergi ke Lui-tay dan bertarung melawan dia yang lihay itu, aku merasa sayang jika sampai kulit tubuhmu itu dilukai olehnya ”

Beberapa ratus pasang mata senantiasa mengikuti tiap gerak gerik Siauw Bie yang telah menyatakan ingin melawan Thian-ji-sang-jin. Gadis-gadis cantik, pelayan-pelayan Siauw Bie berbisik-bisik berdoa agar datang atau terjadi suatu kemujizatan yang dapat mencegah gadis majikan mereka itu pergi ke Lui-tay, karena mereka khawatir air telaga kelak dibikin noda oleh merahnya darah gadis itu!

„Kau diundang untuk menonton bukan? Dari itu kau harus duduk diam dan menonton saja!”

„Siauw siocia, perkenankanlah aku yang pergi ke atas Lui-tay untuk bicara dengan dia, aku harap dapat membujuknya agar dia jangan bertarung melawan Siauw-siocia.”

Melihat cara dan sikapnya, orang akan mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu seolah-olah tidak mengerti peraturan Bu-lim. Ketika itu ia sedang berhadapan dekat sekali dengan si gadis, maka empat mata beradu sehingga dua jantung remaja jadi berdebar-debar. Wajah Siauw Bie berubah merah ditatap demikian, ia lekas-lekas tundukkan kepalanya dan berpikir.

„Ai! Aneh betul, dia ini. Ia tak gentar sedikitpun menyaksikan pertempuran yang dahsyat!”

„Baiklah!” akhirnya si gadis menyahut. „Mungkin dia akan mendengar dan menuruti nasehatmu!”

Siauw Cu Gie tidak mengerti akan tindakan adiknya itu, yang telah meluluskan permintaan si pemuda, meskipun ia mengetahui resiko besar yang harus dipikul oleh Siauw Bie yang seharusnya pergi ke Lui-tay dan bertempur melawan Thian-ji-sang-jin. Tetapi ia sendiri harus mentaati peraturan Bu-lim, ia ingin Siauw Bie yang pergi ke Lui-tay! „Dik, kau harus mempertimbangkan perbuatanmu itu!” tegurnya,

„kau sudah menantang, maka kaulah yang harus bertempur!”

„Koko,” sahut Siauw Bie yang sudah menaruh simpati kepada si pemuda yang berada di sampingnya itu. „Dia telah dengan baik hati ingin membantu kita, masakah harus kita tolak?”

„Betul, betul, Siocia berpikiran luas!” kata si pemuda, lalu ia berjalan di atas geladak haluan kapal sungai itu dengan kedua tangannya digendong di belakang untuk turun ke dalam perahu lalu pergi ke Lui-tay. Tetapi tiba-tiba tampak ia tergelincir dan jatuh ke bawah!

Meskipun suasana pada saat itu sangat tegang, tetapi semua orang tertawa geli melihat lagak pemuda yang canggung itu!

Jarak dari atas haluan kapal sungai ke permukaan air telaga kira- kira empat mater jauhnya. Suara tertawa belum lenyap, dan ketika tubuh si pemuda hampir menyentuh permukaan air telaga, sekonyong-konyong tampak dia meronta dan lekas-lekas berbalik untuk kemudian berdiri tegak di atas permukaan air!

Suara gelak tertawa dengan tiba-tiba jadi terhenti. Barusan setelah menyaksikan Thian-ji-sang-jin dapat berlari-lari di atas permukaan air, mereka sudah sangat terpesona menyaksikan ilmu yang luar biasa itu. Tetapi Thian-ji-sang-jin melakukan itu sambil berlari-lari dengan mempergunakan ilmu Leng-po-hui-pu (Langkah sakti menginjak ombak), yang terhitung sebagai ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Sedangkan si pemuda dapat berdiri tegak di atas air telaga! Ilmu apakah yang telah dipergunakan oleh pemuda itu?? Pemuda itu sama sekali tidak mirip orang yang mengerti ilmu silat. Gerak-geriknya lemah-lembut, air mukanya putih bersih, nada suaranya mendebarkan hati yang mendengarnya dan sikapnya sopan santun. Dengan sifat-sifat yang tersebut di atas ditambah dengan kepandaiannya yang mengagumkan itu, ia telah berhasil merebut simpati para hadirin.

Siauw Bie yang pintar dan cerdik, baru saja mengenal pemuda itu beberapa jam yang lalu, namun ia sudah dapat menduga bahwa pemuda itu mengerti ilmu silat, hanya ia tidak mengetahui jika pemuda itu memiliki ilmu yang demikian saktinya!

Keadaan di sekitar telaga itu sunyi senyap, semua perhatian dicurahkan kepada pemuda itu. Thian-ji-sang-jin yang tadinya congkak bukan main, kini jadi berdiri terpekur dengan mulut ternganga!

Kemudian, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dengan ilmu meringankan tubuh yang sakti, si pemuda lalu berjalan di atas permukaan air menuju ke Lui-tay sambil bernyanyi.

„Rumput  hijau menutupi lembah, Sinar matahari  menerangi  dunia, Aku akan   menyesal   jika   tak   menunaikan   sumpah. Untuk membalas dendam ibu dan ayah!”

Dan ketika hampir tiba di Lui-tay, sambil mengangkat kedua tangan ke atas, tampak tubuhnya mencelat seperti seekor rajawali menerjang ke angkasa, sesaat kemudian ia sudah berdiri berhadapan dengan Thian-ji-sang-jin. Tak dapat disangkal lagi bahwa Thian-ji-sang-jin adalah seorang yang berkepandaian sangat tinggi. Karena ia menyelubungi mukanya dengan kain jarang yang hijau, maka orang tak dapat melihat mukanya dan mengenal dia itu sebenarnya siapa, menurut pengakuannya sendiri bahwa dia adalah Thian-ji-sang-jin dari pegunungan Kun-lun-san.

Ia telah bertapa di tempat yang terpencil dan telah berlatih silat beberapa puluh tahun lamanya untuk menyempurnakan ilmu meringankan tubuh yang telah ia pamerkan tadi, yalah ilmu Leng- po-hui-pu. Mungkin juga ilmu tersebut hanya ia saja yang dapat lancarkannya.

Tetapi setelah melihat pemuda yang usianya baru kira-kira duapuluh tahun dapat mempertunjukkan ilmu meringankan tubuh yang jauh lebih hebat daripada ilmunya sendiri, ia menjadi cemas sekali!

Menurut pendapatnya ilmu meringankan tubuh yang lebih lihay daripada ilmu Leng-po-hui-pu nya, baru dapat dimiliki oleh seseorang setelah berlatih dengan tekun serta ulet selama empatpuluh tahun. Tetapi ternyata pemuda itu baru berusia paling banyak duapuluh tahun ia betul-betul tidak mengerti!

Ia terkenang akan suatu urusan pada masa yang lampau.

Tiga benda mujizat yang diwariskan oleh Thian-hiang-sian-cu. Ketiga benda mujizat itu telah menjadi teka-teki di kalangan Bu-lim selama dua tahun yang terakhir. Siapakah pemilik ketiga benda mujizat tersebut?? Pemuda itu memiliki ilmu silat yang harus dipelajari selama paling sedikit empatpuluh tahun. Apakah ia telah makan pil Cu-gan-tan? Sehingga ia tetap muda belia! Tersiar kabar bahwa orang hanya memerlukan makan tiga butir Cu-gan-tan, maka orang itu akan selalu muda!

Jika pemuda itu telah beruntung memperoleh pil mujizat itu, siapakah dia itu sebenarnya? Apakah ia juga mengetahui di mana tersimpannya kedua benda mujizat yang lainnya? Demikianlah tanya jawab yang berlangsung di dalam hati Thian-ji-sang-jin.

Kini ia menjadi cemas menghadapi si pemuda, ia sudah siap menyerang dan membunuh lawannya itu.

Si pemuda mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat. Tetapi gerak itu disalah artikan oleh Thian-ji-sang.jin yang mengira si pemuda melancarkan suatu serangan, maka lekas-lekas ia melangkah mundur beberapa tombak jauhnya.

Si pemuda hanya bersenyum melihat kegelisahan lawannya, lalu dengan tenang ia berkata.

„Saudara telah mengatakan bahwa saudara datang dari atas puncak Thian-ji-hong di pegunungan Kun-lun-san. Aku yakin tiada satu orangpun di sini yang mengenal dimana letaknya puncak tersebut yang pasti merupakan suatu sorga di dunia ini!!”

Perkataan itu diucapkan dengan lantang sekali dan telah membuka mata para hadirin bahwa mereka tengah menghadapi suatu iblis telengas! „Tetapi......” terdengar si pemuda melanjutkan kata-katanya.

„Tetapi mengapa saudara berlaku begitu tolol untuk datang di sini dan bermaksud dipilih menjadi pemimpin para jago silat perairan?

— Misalnya saudara bukan dari Thian-ji-hong, itu akan lain soalnya!”

Siauw Cu Gie yang merasa telah ‘mendapat angin’ lalu nambahkan.

„Rupanya saudara datang ke sini dengan nama palsu dan telah memberikan keterangan-keterangan palsu pula!” ia tidak lagi membahasakan Thian-ji-sang-jin dengan Cianpwee!

Pemimpin partai silat Kao-yu pun turut berkata.

„Aku yakin saudara datang ke sini dengan maksud yang keji.! Jika perlu, kita semua akan mengempurmu!”

Thian-ji-sang-jin tidak memprotes tuduhan-tuduhan itu, ia berbalik dan menatap si pemuda.

„Aku juga ingin mengetahui saudara sebetulnya siapa?” tanyanya.

Dengan pertanyaan itu jelaslah terbukti bahwa Thian-ji-sang-jin bukan seperti apa yang telah ia terangkan tentang dirinya. Dalam dunia Kang-ouw tiap-tiap perbuatan yang nyeleweng di suatu pertemuan harus diberi hukuman yang setimpal.

Maka Siauw Cu Gie segera memberi isyarat kepada orang- orangnya dan dalam sekejapan saja, empatpuluh perahu telah datang mengurung Lui-tay itu! Si pemuda bersikap tenang sekali, seolah-olah tidak menghiraukan segala kejadian di sekitarnya. Ia hanya menjawab pertanyaan lawan.

„Aku ini adalah seorang yang bebas berkelana ke mana-mana. Aku tidak mempunyai nama dan tidak punya tempat tinggal yang tetap. Saudara, jika kau sudi mendengar nasehatku, lebih baik kau segera tinggalkan tempat ini dan kita dapat tetap menjadi sahabat! Jika tidak akupun tidak bisa memaksa bukan?”

Si pemuda telah mengusir Thian-ji-sang-jin dengan cara yang lunak, tetapi cara itu tidak dapat diterima oleh orang yang bersangkutan.

„Kau berani mengusir aku dari telaga Tong-teng ini?” bentaknya gusar. „Aku ingin melihat apakah benar kau mampu berbuat demikian?!”

“Jika kau masih juga ingin membangkang, aku terpaksa    ”

Belum lagi selesai ucapan pemuda itu, sekonyong-konyong Thian- jisang-jin yang sudah tidak dapat menahan amarahnya, telah menyerang dengan kedua tinjunya.

Tetapi aneh Thian-ji-sang-jin tidak menyerang langsung kepada si pemuda, ia menyerang ke arah telaga dan hembusan angin serangan kedua tinjunya itu membikin air di sekitar Lui-tay bergolak dahsyat dan melonjak ke atas lalu tumpah di atas lantai Lui-tay berbareng menyerang si pemuda! Tiba-tiba tampak air yang tengah menggulung-gulung itu terdampar oleh suatu tenaga ajaib dan berbalik menyerang Thian- ji-sang-jin!

Thian-ji-san-jin mengegos ke samping sambil menyerang ke arah telaga dan hembusan angin tinju yang dikerahkan dengan tenaga dalam itu, lagi-lagi membikin air telaga melonjak lalu menyerang si pemuda. Namun seperti terjadi tadi, air tersebut terdampar balik untuk menggempur si penyerang!

Si pemuda pun tidak bersedia diserang terus menerus, ia bergerak sambil melancarkan serangan dengan jurus Cin-thian-cian-jin-sin- lit (Tenaga sakti menggetarkan bumi).

„Celaka!” kata Thian-ji-sang-jin di dalam hati sambil mengegos dari hembusan angin tinju lawannya.

Tadinya, Thian-ji-sang-jin sudah merasa yakin betul bahwa ia dapat mempecundangi semua jago-jago silat yang hadir di situ, tetapi setelah menyaksikan ilmu meringankan tubuh dan sekarang jurus Cin-thian-cian-jin-sin-lit yang baru dilancarkan oleh si pemuda, ia merasa jalan yang terbaik untuk dirinya yalah, kabur!

„Hei! Aku tidak menduga bahwa jurus Tenaga sakti menggetarkan bumi, yang pernah menggetarkan dunia Kang-ouw di jaman lampau dapat aku saksikan lagi hari ini!” katanya sambil mundur beberapa langkah. „Kau sebetulnya siapa? Pernah apakah kau dengan orang yang dapat melancarkan jurus yang terkenal itu?”

Si pemuda yang senantiasa bersikap tenang dan acuh tak acuh, menjadi gusar tatkala ditanya demikian. „Bagus jika kau masih dapat mengenal jurusku itu. Sekarang perkenalkanlah dirimu, karena akupun sependapat dengan pemimpin Siauw bahwa kau telah memberikan keterangan palsu kepada kita!”

Para hadirin mengikuti jalannya pertempuran dengan hati berdebar-debar, mereka telah menyaksikan pertempuran dua jurus yang betul-betul mempesonakan mereka.

„Orang yang mengetahui jurus Cin-thian-cian-jin-sin-lit tidak banyak jumlahnya,” pikir Thian-ji-sang-jin. Tetapi karena didesak ia lalu menyahut.

„Apakah kau kenal Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja?” Ditanya demikian si pemuda jadi berpikir.

„Mungkin aku kenal siapa sebetulnya dia ini. Orang yang dapat menahan atau mengegosi jurusku tadi hanya tiga orang saja, yalah Ouw Lo Si, tetapi dia ini pasti bukan kakek itu, dan dua orang lainnya adalah orang-orang yang membunuh ayahku!”

„Kaki yang pincang mungkin dapat disembuhkan oleh seorang tabib yang pandai,” sahutnya, „tetapi tiada satupun tabib yang dapat menyembuhkan mata yang picek!”

„Darimana kau kenal si pincang itu?”

„Itu bukan urusanmu!”

„Tetapi aku harus mengetahui!”. „Jika aku tidak bersedia memberitahukan bagaimana?!”

„Kau harus menanggung sendiri akibat daripada keangkuhanmu itu!”

„Ha, ha, ha! Akibat diripada keangkuhanku! Sebetulnya kau harus mengatakan akibat daripada ketololanmu sendiri!”

Tiba-tiba Thian-ji-sang-jin maju dua langkah sambil mengirim satu jotosan dan segera tampak benda-benda kecil yang berkilau-kilau menyemprot dari tinjunya yang menyerang kepala si pemuda!

„Celaka!” teriak Siauw Bie. „Iblis itu menggunakan senjata rahasia, mungkin juga racun hebat!”

„Aai!” teriak para hadirin. „Itulah senjata beracun Hian-peng-tok- bong Suto Eng Lok!”

Perlu dijelaskan di sini bahwa kedua iblis Soat-hay-siang-hiong (yang pernah menggabungkan diri dengan Eu-yong Lo-koay dan membunuh Wei Tan Wi) -- yang tua bernama Suto Eng Lok, dan yang lebih muda bernama Hua Ceng Kin. Mereka memiliki kepandaian sangat tinggi, tetapi berwatak sangat kejam, ganas serta keji. Banyak korban telah mereka ganyang dan banyak pula bencana yang mereka terbitkan, namun mereka masih mujur belum menjumpai lawan yang setimpal sehingga mereka jadi besar kepala dan mengganas terus!

Tatkala mengetahui bahwa Suto Eng Lok telah muncul di daerahnya itu, sekonyong-konyong Siauw Cu Gie jadi gemetar dan merasakan kedua lututnya lemas! Untuk sesaat lamanya si pemuda pun agaknya terkejut mendengar nama Suto Eng Lok disebut-sebut. Benda-benda kecil itu meluncur pesat sekali. Para hadirin menahan napas menantikan akibatnya, tetapi si pemuda tampak tenang-tenang saja bahkan sambil mengulur tangannya ia lalu meraup benda-benda kecil yang berbahaya itu lalu melemparkan ke dalam telaga!

Serangan Suto Eng Lok yang menyamar sebagai Thian-ji-sang-jin telah digagalkan oleh si pemuda dengan mempergunakan sarung tangan yang putih laksana salju. Para hadirin menjadi terperanjat melihat sarung tangan tersebut dan berbareng girang melihat si pemuda berhasil memunahkan senjata yang sangat beracun iblis itu yang telah sengaja datang dari pegunungan Pek-thian hanya untuk mengacau-balaukan pertemuan itu! Siauw Cu Gie menjadi heran sarung tangan itu berada di tangan si pemuda baju hijau.

„Tidak salah lagi, itulah Ciam-hua-giok-siu yang dapat menghalau api dan memunahkan senjata beracun!” katanya di dalam hati.

Waktu Kong-ya Coat mengadakan pertemuan Tan-kwi-piauw- hiang-song-gwat-in-hwee, dua tahun yang lalu, Siauw Cu Gie pun turut serta, tetapi kesudahan daripada pertemuan itu ia tidak mengetahui sama sekali. Pertemuan telah menjadi suatu teka teki atau suatu tanda tanya yang besar di kalangan Bu-lim. Tiada satu orangpun yang mengetahui siapakah yang telah beruntung memperoleh Ciam-hua-giok-siu pada waktu itu?

Tetapi...... sekarang sarung tangan ajaib itu berada di tangan seorang pemuda tampan yang gerak-geriknya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia itu mengerti ilmu silat! Dalam suasana yang gaduh itu, tampak Suto Eng Lok berdiri menjublek dengan muka pucat saking terkejutnya menyaksikan senjata rahasianya yang sangat diandalkannya itu dapat dipunahkan demikian mudah.

„Aku tidak menduga,” katanya. „bahwa pusaka Thian-hiang-sian- cu telah jatuh ke dalam tanganmu!”

Setelah berkata begitu, seperti seekor kucing hutan yang terdesak, ia meloncat menerkam lawannya yang masih sangat muda itu, dengan lima jari tangannya kuku yang tajam seperti pisau baja.

Si pemuda sudah siap ketika lima jari si iblis hampir merampas Ciam-hua-giok-siu yang berada di tangan kanannya, dengan tiba- tiba ia menggentak tangannya itu ke atas!

Suto Eng Lok lekas-lekas menarik kembali cengkeraman lima jarinya dan sebagai gantinya ia mengirim tinju kirinya ke arah dada si pemuda dengan jurus Tui-san-to-hay (Mendorong gunung menterbalikkan lautan)!

Si pemuda melangkah mundur satu tindak mengelakan jotosan maut itu seraya menggait serta membuka kain hijau yang menyelubungi muka lawannya dengan cakaran sarung tangan ajaibnya..... dan apa yang terlihat ?!

Dua baris alis yang tebal dan hitam, muka yang panjang dan tidak normal yang seperti muka kuda dengan kedua mata yang juling. Ia terkejut bukan main, karena itulah ciri-ciri yang dimiliki oleh musuh- musuh besarnya, yang pernah didengarnya dari mendiang ayahnya. „Jahanam!” bentaknya. „Tidak diduga bahwa aku tak usah pergi ke pegunungan Pek-thian untuk mencabut nyawa iblismu!”

“Hah! Jangan bergirang dulu, kau telah kena tinju Hian-peng-sin- ciang ku atau Tinju maut! Kau pasti akan merasai akibatnya kelak!”

Ucapan itu membikin Siauw Bie terkejut, meskipun si pemuda tidak menderita apapun setelah menerima serangan maut itu, namun ia khawatir si pemuda dilukai juga oleh hembusan angin tinju jurus Tinju maut yang termashur itu! Hatinya berdebar-debar memikiri keselamatan si pemuda. Di kalangan Bu-lim telah lama tersiar kabar bahwa barang siapa terkena hembusan angin Tinju Maut tersebut hanya dapat bertahan hidup sampai duabelas jam saja!

Kemudian tampak si pemuda mengeluarkan dari dalam sakunya sebuah cincin seraya berkata.

„Hei jahanam! Apakah kau masih mengenali benda pusaka ini?”

„Hah! Apakah kau     ”

„Betul! Memang aku! Saatnya sudah tiba untuk kau bersenang- senang di neraka!”

Lalu dari tangan kirinya si pemuda mengacungkan sebilah pedang baja yang tua sekali yang berwarna hitam.

Suto Eng Lok meloncat ke belakang tanpa menunggu diserang dan berkata. “Hei anak kemarin dulu! Lihat siapa yang berada di belakangmu kini!”

„Soat-hay-siang-hiong selalu berada berdua,” pikir si pemuda.

„Apakah iblis yang lebih muda sudah berada di belakangku!”

Ia berbalik dengan cepat atas peringatan lawannya itu dan menyabetkan Ciam-hua-giok-siu berbareng menusuk dengan pedangnya ke depan!

Segera terdengar suara tertawa yang ganjil dan tampak seorang wanita yang terurai rambutnya tengah memegang sebatang toya yang telah dipergunakannya untuk menangkis sabetan si pemuda tadi.

„Hei kamu yang tak mengenal malu!” bentak Siauw Bie seraya menghampiri ke Lui-tay dengan perahu kecil. „Masa dua orang mengerubuti seorang?!”

Tetapi dengan tiba-tiba sebelum Siauw Bie tiba di Lui-tay, awan hitam menggulung dan menutupi awan. Dan dengan tiba-tiba pula lampu-lampu dan obor-obor menjadi padam seketika, sehingga keadaan di telaga menjadi gelap gulita!

Kejadian tersebut sungguh aneh sekali. Jika awan hitam menutupi bulan, itu wajar dan tidak mengherankan. Tetapi jika lampu-lampu dan obor-obor mendadak padam, itu sungguh suatu kemujizatan yang belum pernah terjadi! Orang-orang yang memegang lampu dan obor hanya merasakan suatu hembusan angin santar, setelah itu keadaan di sekitar telaga menjadi gelap gulita! Suasana menjadi gaduh dan kacau, terdengar Siauw Cu Gie berteriak-teriak memerintahkan orang-orangnya memasang lampu-lampu dan obor-obor lagi

Beberapa menit telah lewat cepat sekali, kegaduhan mulai lenyap ketika lampu-lampu dan obor-obor sudah dipasang lagi, awan hitampun sudah berlalu dan suasana sudah pulih seperti sediakala.

Tetapi     apakah yang telah terjadi selama dalam keadaan gelap

gulita itu??

Lui-tay yang dibuat dengan mengikat erat-erat lima buah kapal sungai telah lenyap entah ke mana! Di tempat bekas Lui-tay tadi terapung tampak beberapa papan serta balok mengambang. Dan tidak tampak si pemuda, Siauw Bie dan kedua iblis Soat-hay-siang- hiong berada di situ!

Dengan melihat papan-papan dan balok-balok yang mengambang di sekitar tempat bekas Lui-tay tadi terapung, dapat diambil kesimpulan bahwa Lui-tay yang kokoh kuat itu telah dirombak orang! Yang membikin semua orang tidak mengerti yalah usaha perombakan itu telah dilakukan demikian cepatnya!

Siauw Cu Gie menggeleng-geleng kepalanya memikiri kejadian tersebut, karena dialah orangnya yang telah mengawasi pekerjaan pembuatan Lui-tay terapung itu, mana dapat ia percaya perombakan itu dapat dilakukan dalam jangka waktu yang demikian singkatnya. Ia menjadi tambah gelisah ketika mengingat adik perempuannya, Siauw Bie telah menghilang tanpa meninggalkan bekas! „Lekas siapkan limapuluh perahu dan kerahkan seratus orang untuk menyelam! Cari adik perempuanku dan jangan berhenti mencari sebelum kalian berhasil!” serunya dengan wajah putus asa.

Perintah itu segera ditaati oleh orang-orang dari partai Tong-teng yang sangat berdisiplin. Limapuluh perahu kecil dan seratus ahli menyelam segera siap melakukan tugas masing-masing.

Mereka mencari...... mencari..... dan mencari sehingga keesokan paginya, tetapi mereka tidak berhasil menemukan apa yang mereka cari itu!

Mereka mencari juga di daratan sekitar telaga Tong-teng yang sangat luas, di suatu tepi telaga mereka hanya menjumpai Hee- tok-cui-kee yang sedang tidur tertiarap dengan nyenyaknya.

Ketika Siauw Cu Gie diberitahukan hal ini, ia hanya dapat menghela napas panjang menyatakan kekecewaan atas kegagalan usahanya menyelenggarakan pertemuan tersebut. Sungguh sayang maksudnya yang mulia itu telah menarik banyak orang yang terkenal jahat dan kejam di kalangan Kang-ouw.

Ketika mengingat si pemuda baju hijau, ia tampaknya kagum sekali.

„Tetapi,” katanya kepada dirinya sendiri, „Darimana ia memperoleh sarung tangan ajaib itu? Apakah dia yang telah berhasil merebut pusaka itu dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat dua tahun yang lalu?” Peristiwa seram dan berbelit-belit itu, sekejappun tak dapat dilupakan oleh para jago silat yang telah turut serta dalam pertemuan di telaga Tong-teng itu.

SEMBILAN

Beberapa hari kemudian setelah terjadinya peristiwa di atas, ketika matahari baru muncul di sebelah timur dan memancarkan sinarnya kepermukaan bumi ini, di telaga Tong-teng yang luas itu tampak sebuah kapal sungai yang besar. Seorang yang mengenakan pakaian indah dan berusia setengah abad, tengah duduk di buritan kapal sambil menundukkan kepalanya.

Dialah Siauw Cu Gie, si Raja naga dari lima telaga, yang bermaksud melaksanakan suatu perjalanan jauh. Karena kehilangan adik perempuannya dan setelah menunggu lama tidak juga dapat berita tentang adiknya itu, ia jadi terkenang akan peristiwa di pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat. Justru perjalanannya itu adalah untuk menanyakan si orang she Kong-ya tentang kesudahannya pertemuan itu.

„Meskipun bagaimana aku akan berusaha mengorek keterangan dari Kong-ya Coat,” terdengar ia berkata kepada dirinya sendiri.

„Karena adikku sendiri tidak percaya jika aku, sebagai orang yang turut serta dalam pertemuan itu, tidak mengetahui apa yang telah terjadi dalam pertemuan itu!”

Demikianlah Siauw Cu Gie telah mengambil keputusan sambil berdiri di atas haluan kapal sungainya dan menggendong kedua tangannya ke belakang. Bagaimana mungkin sebagai orang yang telah turut serta dalam pertemuan Kong-ya Coat, Siauw Cu Gie tidak mengetahui apa yang terjadi dalam pertemuan itu??

Marilah kita ikuti pengalamannya, yang akan diceritakan di bawah ini.

Hari itu adalah tanggal limabelas bulan delapan -- pertengahan musim gugur.

Orang-orang yang diundang dari berbagai tempat telah datang ke Tan-kwi-san-cong -- markas Kong-ya Coat di pegunungan Hoa- san, sehingga suasana di tempat tersebut jadi Ramai sekali. Bahkan Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja pun sudah berada di situ.

Dari luar, mereka semua tampak lemah lembut, tetapi masing- masing telah datang di situ dengan suatu maksud yang hina dan keji! Dan untuk menjagoi dalam pertemuan adu silat itu tidaklah mudah, karena tiap-tiap orang harus bertempur melawan saingan- saingan yang berkaliber berat!

Namun daya tarik Ciam-hua-giok-siu sangat besar, meskipun mengetahui Resiko akan kehilangan nama serta kedudukan di kalangan Kang-ouw besar sekali, sedangkan harapan untuk dapat merebut pusaka tersebut sangat kecil, tetapi tokh tidak kurang dari pada beberapa ratus orang telah rela hadir di situ!

Mereka hanya merasa heran mengapa Kong-ya Coat mau memusingkan diri menyelenggarakan pertemuan itu dan rela melepaskan sarung tangan ajaib itu? Apakah Kong-ya Coat mempunyai maksud lain?

Tamu-tamu yang telah datang ditampung di Ruangan besar yang khusus untuk menerima para tamu. Pertemuan akan dimulai pada waktu bulan purnama mulai naik di sebelah timur kaki langit – yalah kira-kira pada jam delapan malam. Tempatnya di atas lapangan rumput yang luas, yang dilingkari oleh pohon-pohon Tan-kwi. Lentera-lentera kertas yang beraneka warna menghias pohon- pohon tersebut dan memeriahkan suasana pertemuan itu.

Karena masih jauh malam, maka Siauw Cu Gie lalu keluar dari Ruangan tamu dan berjalan-jalan seorang diri di pegunungan Hoa- san.

Pemandangan ketika itu sangat indah, karena asyiknya, Siauw Cu Gie telah berjalan turun dari Pit-ka-hong dan tak terasa lagi ia sudah berjalan di lereng gunung jauh dari Tan-kwi-san-cong.

Matahari yang sedang terbenam memancarkan sinar merah kemerahan ke seluruh angkasa raya dan beberapa gumpalan awan hitam melayang-layang tertiup angin senja.

Karena suasana makin lama makin gelap, maka Siauw Cu Gie lekas-lekas berbalik dan mulai mendaki lereng gunung untuk balik ke puncak Pit-ka-hong.

Baru saja ia bertindak beberapa langkah, ketika dengan tiba-tiba mendengar suara orang bersenandung, suara itu keluar dari hutan pohon-pohon yang berdekatan. „Awan hitam terapung-apung di langit, Angin gunung meniup santar dan gaduh,

Jika    saudara     menghadapi     soal     yang     sulit, Tindakan apakah yang akan ditempuh?

Hujan lebat turun deras ke bumi, Membasahi permukaan dunia yang luas,

Hutang benda mudah dihadapi, Hutang budi sukar dibalas!”

Siauw Cu Gie bukan saja seorang jago silat tetapi ternyata ia juga seorang terpelajar tinggi tentang sastra kuno, ia mendengari dengan penuh perhatian dan menanti sampai nyanyian itu selesai seluruhnya. Lalu ia menoleh ke arah celah pohon-pohon yang gelap dan berkata.

„Kawan dari manakah yang bernyanyi di tempat yang terpencil ini? Apakah aku, Siauw Cu Gie, dapat belajar kenal?”

Tidak ada suara jawaban apapun dari dalam hutan itu, hanya terdengar berkereseknya ranting-ranting pohon yang menunjukkan bahwa orang yang ditanya itu terkejut dan berusaha lari menjauhkan diri.

„Hei kawan! Apakah kau tidak ingin berkenalan dengan aku?” Siauw Cu Gie menanya lagi sambil loncat masuk ke dalam hutan dan mengejar ke arah suara berkereseknya ranting pohon tadi. Keadaan di dalam hutan itu sunyi dan gelap, ia tidak melihat ada orang di situ. Ia jadi merandek ketika dengan samar-samar dapat melihat di batang dua pohon cemara tertera tanda telapak tangan manusia!

Tiba-tiba suara berkeresek ranting pohon terdengar lagi, ia menengadah dan dapat melihat satu bayangan berkelebat melarikan diri!

„Kawan berhenti dulu!” ia berseru dengan hati berdebar-debar. Bayangan itu melayang dan turun di luar hutan.

„Kawan tunggu sebentar, aku ingin sekali berkenalan denganmu!” Siauw Cu Gie berkata lagi sambil mengejar. Bayangan itu lari terus dan agaknya bukan ingin menggelakkan diri dari kejaran si Raja naga dari lima telaga, tetapi untuk suatu maksud tertentu!

Siauw Cu Gie jadi penasaran dan mempercepat larinya. Ia berhasil mendekati bayangan itu dan berkata sambil tertawa.

„Kawan! Aku telah beberapa kali memanggil, mengapa tidak     ”

Belum lagi selesai kata-kata itu diucapkan, ketika dengan tiba-tiba bayangan itu berbalik dan menerkam!

Di suasana senja itu Siauw Cu Gie tidak dapat melihat tegas wajah orang itu, meskipun ia hanya terpisah lebih kurang delapan meter saja jauhnya. Ia hanya melihat orang itu tiba-tiba berbalik dan mendorong kedua tinjunya. Seketika itu juga ia merasakan suatu hembusan angin santer mendampar tubuhnya sehingga terdorong ke belakang dan jatuh terlentang! Meskipun ia berusaha menangkis hembusan angin itu dengan kedua tinjunya, namun ternyata tangkisan yang dikerahkan dengan tenaga dalam itu tiada artinya sedikitpun!

„Aai!” pikirnya. „hebat betul tenaga dalam orang itu! Jika aku tidak keburu menangkis, mungkin tulang di dalam tubuhku akan remuk!”

Orang itu lari terus lalu membelok di suatu batu gunung yang besar.

Siauw Cu Gie tidak berani mengejar lebih jauh, ia berbangkit dan mengawasi gerak-gerik orang itu dari kejauhan.

Tiba-tiba tampak orang itu melonjak ke atas batu gunung yang besar tadi, lalu dengan kuku jarinya yang runcing ia menggores batu tersebut. Tangan yang tengah menggores itu berwarna merah, kuku kelima jari tangan itu kira-kira sepuluh centimeter panjangnya dan runcing sekali. Bentuk keseluruhan tangan itu mirip benar dengan bekas tanda telapak tangan yang tertera di atas batang dua pohon cemara di dalam hutan.

„Sret! Sret! Sret!”

Begitulah terdengar orang itu menggores-gores batu gunung! Tetapi berbareng dengan terdengarnya suara „Sret!” yang keempat kali, Siauw Cu Gie menjadi terkejut sekali, karena dengan tiba-tiba sebuah batu kecil pecahan batu gunung yang digores itu telah meluncur ke arah jalan darah di pundaknya! Baru saja ia berbangkit dari damparan angin tinju orang itu dan pulih semangatnya, lagi-lagi ia telah diserang! Dan serangan batu kecil itu demikian pesatnya sehingga ia tidak keburu mengelak, ia hanya merasa dengan tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi panas sekali!

Siauw Cu Gie mengetahui bahwa ilmu silat orang itu lihay sekali -- jauh lebih lihay daripada ilmu silatnya sendiri, tetapi ia tak pernah menduga bahwa ia dapat ditotok demikian mudah dan cepatnya oleh sambitan batu sekecil itu!

„Apakah aku akan mati konyol di lereng pegunungan Hoa-san ini?” tanyanya yang sudah rebah terlentang dekat batu gunung.

Orang itu tampaknya yakin betul bahwa totokannya itu akan mengambil korban, karena ia sama sekali tidak pergi memeriksa akibat dari perbuatannya itu, malah secepat kilat ia meloncat turun dari atas batu gunung dan meninggalkan tempat itu!

Tidaklah cuma-cuma Siauw Cu Gie memperoleh nama julukan si Raja naga dari lima telaga, karena di samping memiliki ilmu silat yang tinggi, iapun mengerti juga cara untuk membebaskan diri dari totokan maut tadi. Sambil menahan napas dan memejamkan matanya, ia mengerahkan tenaga dalamnya dengan maksud mempercepat peredaran darah di seluruh tubuhnya. Namun jalan darahnya yang tersumbat oleh totokan tadi baru bebas setelah ia berusaha keras menolong jiwanya selama dua jam!

Setelah dapat berdiri lagi, dengan tindakan terhuyung ia mengamati batu gunung bekas orang yang menotoknya tadi berdiri. Di situ tampak empat lobang bekas congkelan jari orang itu, dan dengan tiba-tiba bulu romanya berdiri tegak ketika menggambarkan nasibnya barusan, jika orang itu menotok jantungnya! Karena betapapun lihaynya seseorang, jika jantungnya kena ditotok, orang itu pasti tak dapat ditolong oleh orang sakti manapun!

Rembulan yang besar dan bundar sudah berada di tengah-tengah langit ketika ia herhasil memunahkan totokan maut itu dan memulihkan tenaga serta semangatnya. Ia masih terpisah jauh sekali dari Tan-kwi-san-cong.

„Mungkin aku akan terlambat tiba di tempat pertemuan,” pikirnya. Maka dengan susah payah lekas-lekas menuju ke markas Kong- ya Coat dengan perasaan gelisah.

Benar saja, kegelisahannya itu beralasan! Ketika tiba di Tan-kwi- san-cong, Siauw Cu Gie dibikin tercengang oleh pemandangan yang dilihatnya!

Lentera-lentera kertas yang tergantung di ranting-ranting pohon Tan-kwi sudah dirusak orang. Meja yang berbentuk delapan persegi yang diletakkan di tengah-tengah lapangan rumput telah bolong bagian tengahnya, seolah-olah terpukul oleh palu yang berat sekali! Semua orang yang berada di situ tengah berdiri tegak dengan mata tidak berkesip! Diantara mereka itu tampak Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja, yang pun tengah berdiri terlongong- longong sambil memegangi obor yang hampir padam apinya! Mereka semua lebih mirip patung-patung batu dari pada orang yang berkepandaian tinggi! Siauw Cu Gie mengetahui bahwa suatu bencana besar telah menimpa pertemuan itu, tetapi bencana apakah? Ia sendiri berdiri terpaku menyaksikan akibat bencana itu!

Obor kecil di tangan Ouw Lo Si akhirnya padam juga. Maka hanya sinar rembulan sajalah yang masih menerangi lapangan rumput, lentera-lentera kertas yang sudah rusak dan wajah para jago silat yang pucat pasi!

Suasana di sekitarnya sepi, sepi sekali, sepi seperti juga dunia ini telah berhenti berputar dan mati......

Orang pertama yang memecahkan kesunyian itu adalah ketua pertemuan itu sendiri, Kong-ya Coat.

„Ciam-hua-giok-siu sudah lenyap! Maka pertemuan Tan-kwi- piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee inipun berakhirlah sudah! Para tamu yang terhormat diminta kembali ke kamar masing-masing untuk bermalam. Besok pagi aku akan mengantar kalian meninggalkan tempat yang telah membikin kalian penasaran ini!”

Siauw Cu Gie jadi makin bingung, karena hanya dia sendirilah yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi di pertemuan itu.

Tiba-tiba ia dibikin terkejut oleh suara nyanyian yang pernah didengarnya di hutan. Suara itu hanya terdengar sayup-sayup dan agaknya datang dari tempat yang jauh, namun ia bergidik dan lekas-lekas berjalan ke ruang tamu. Ia menghampiri Kong-ya Coat dan berniat menanyakan apa yang telah terjadi, tetapi baru saja ia bertindak, Kong-ya Coat sudah berbalik dan berjalan dengan cepat ke tempat kediamannya. Semua orang juga berturut-turut meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa, sehingga akhirnya tertinggal dia seorang!

Keesokan harinya Siauw Cu Gie bangun terlambat, semua tamu- tamu lain telah meninggalkan Tan-kwi-san-cong sejak pagi-pagi sekali. Ia ingin minta diri sebelum berlalu, tetapi Kong-ya Coat tidak keluar menjumpainya dengan alasan sakit!

Demikianlah peristiwa yang telah terjadi di Tan-kwi-san-cong pada dua tahun yang lampau, sehingga Siauw Cu Gie tidak mengetahui apa yang telah terjadi di pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat itu, meskipun ia telah turut serta dalam pertemuan tersebut!

◄Y►

Siauw Cu Gie berdiri di atas geladak haluan kapal sungainya sampai matahari hampir berada di tengah angkasa sambil mengenangkan peristiwa itu.

„Aku harus menemui Kong-ya Coat,” pikirnya. „Karena pertemuan di telaga Tong-teng juga telah menjadi berantakan, serupa benar dengan pertemuan yang diselenggarakan olehnya itu. Apakah kedua peristiwa ini ada hubungannya satu sama lain? Lagi pula aku harus mencari adikku, aku yakin Kong-ya Coat dapat membantu aku memecahkan teka-teki ini!”

Kapal sungainya berlayar dengan laju di sepanjang sungai Tiang- kang, setelah lewat empat hari, pegunungan Hoa-san sudah mulai kelihatan. Penyair Li Pek yang termashur pernah menulis sajak tentang sungai yang panjang itu.

„Sepanjang sungai yang panjangnya tigaribu lie (1=lie kira-kira setengah kilometer) ini, dari hulu menjulur sampai ke muara, banyak pemandangan indah yang dapat dinikmati!”

Namun pemandangan yang memang indah itu, tidak dihiraukan sama sekali oleh Siauw Cu Gie yang sedang kalut pikirannya.

Berselang beberapa saat lamanya, dari kejauhan tampak sebuah perahu kecil meluncur dan mengejar kapal sungai Siauw Cu Gie. Di atas perahu kecil itu tampak seorang Tojin (pendeta) yang tengah duduk di haluan perahu sambil memegangi satu guci arak. Perahu Tojin itu berlayar pesat sekali, dalam waktu yang pendek saja perahunya sudah melewati kapal sungai Siauw Cu Gie.

Si Tojin menoleh ke belakang seraya bernyanyi.

„Dengan dua  tinju yang   kuat, kita  dapat   berkuasa. Namun     lambat-laun,

kita pun akan menderita.

Karena   Tuhan  berkuasa, dan manusia  hanya dapat berusaha, Maka  sungguh   bodoh, jika kita senantiasa bergelisah!” Mendengar sjair yang bagus itu orang dapat mengambil kesimpulan bahwa Tojin itu adalah seorang yang selalu beriang gembira dan nyanyiannya itu merayu sekali.

Siauw Cu Gie bersenyum mendengar nyanyian itu dan memerintahkan anak buahnya untuk mengejar perahu si Tojin yang telah meninggalkan kapal sungainya sejauh lebih kurang empatpuluh meter. Ketika baru saja beberapa menit saling kejar mengejar itu berlangsung, tiba-tiba di bagian depan tampak sebuah kapal sungai lain, yang meluncur cepat sekali ke arah perahu si Tojin. Di atas kapal itu berdiri seorang yang mengenakan baju ungu, setelah berada cukup dekat terdengar ia berkata.

„Kong-ya Tay-hiap masih belum bersedia menerima tamu! Si Locianpwee diminta dengan hormat agar kembali saja dari tempat ini!”

Nama depan yang disebut orang itu membikin Siauw Cu Gie mengingat sesuatu.

„Ai! Aku hampir lupa. Tojin itu adalah si pemabok Si Lam. Ia ingin menjumpai Kong-ya Coat dengan maksud apa?” pikirnya.

Ketika itu kapal sungainya pun sudah mendekati perahu Si Lam Tojin.

„Sun Jie-ya, jangan khawatir,” kata si pemabok sambil tertawa.

„Aku ini hanya memperhatikan arak, lain tidak. Jika tiap-tiap hari aku dapat arak, aku sudah merasa puas sekali. Persetan dengan ketiga benda ajaib Thian-hiang-sian-cu! Aku datang di sini bukan ingin menjumpai Kong-ya Tay-hiap, kau salah duga! Ha, ha, ha!” Setelah berkata ia menoleh ke belakang, seolah-olah jawabannya itu dimaksudkan juga untuk Siauw Cu Gie.

Kini ketiga kendaraan air itu sudah berendengan. Siauw Cu Gie mengenali bahwa orang yang mengenakan baju ungu itu adalah Sun Ceng, yang pada dua tahun yang lampau ditugaskan menyambut para tamu ke pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang- song.gwat-ta-hwee.

„Saudara Sun! Apakah Kong-ya Tay-hiap berada di Tan-kwi-san- cong?” tanyanya.

Sun Ceng yang sedang sibuk melayani Si Lam Tojin bicara jadi terkejut mendengar suara teguran itu, ia menoleh dan membungkukkan tubuhnya setelah mengenali, seraya berkata.

„Siauw Tay-hiap pun sudah datang di sini? -- Tetapi sayang sekali guruku belum bersedia menerima tamu!”

Siauw Cu Gie jadi melotot mendengar jawaban itu, karena ia sudah mengambil ketetapan, walaupun bagaimana ia harus menjumpai Kong-ya Coat! Maka jawaban tersebut tak dapat diterimanya begitu saja.

„Kong-ya Tay-hiap mungkin sungkan menerima tamu lain, tetapi pasti ia sudi menerima aku, Siauw Cu Gie!” katanya dengan suara keras.

„Tetapi...... tetapi...... Kong-ya Tay-hiap bilang bahwa dia takkan menerima siapapun!” „Ha, ha, ha! Tidak sekalipun orang yang akan memberitahukan kepadanya tentang Ciam-hua-giok-siu?!”

„Harap Siauw Tay-hiap sudi memberi maaf kepadaku, aku hanya mentaati perintah guruku!”

„Saudara Sun! Apakah Kong-ya Tay-hiap sudi menerima aku atau tidak, itu tidak penting dan bukan urusanmu! Tugasmu sekarang yalah pergi melaporkan bahwa aku, Siauw Cu Gie dari telaga Tong-teng, telah datang untuk menemui Kong-ya Tay-hiap, dan tak bisa kau banyak rewel lagi!”

„Tetapi ”

„Masih bilang ‘tetapi’. Ha, ha, ha!”

„Tetapi Kong-ya Tay-hiap telah bilang siapa saja yang berani mengajak tamu menemui dia, akan dihukum mati! Maka aku harap Siauw Tay-hiap tidak terlalu mendesak.

„Jika kau takut menanggung segala akibat kedatanganku di sana, aku akan menjumpainya sendiri!”

„Jika demikian halnya...... adalah kewajibanku untuk mencegah dan menahan!!”

„Cobalah! Cobalah tahan aku!”

Dengan cepat Sun Ceng telah menerkam, tetapi ia menjadi kaget dan penasaran sekali, karena ia telah menerkam angin berbareng merasakan tengkuknya ditepuk orang! Ia lekas-lekas berbalik dan hendak menyerang lagi, tetapi Siauw Cu Gie telah mengirim jotosan ke arah dadanya. Sodokan itu ditangkis dengan lengan kiri dan tampak jelas sekali bahwa Sun Ceng bukan tandingan Siauw Cu Gie yang sepadan, karena tangkisannya itu membikin dia sendiri terpental ke belakang dan ketika Siauw Cu Gie mengirim tinju kiri ke atas pundaknya, tanpa ampun lagi ia jadi terlempar dan jatuh di atas geladak kapalnya!

Demikian sengit perasaan Siauw Cu Gie sehingga ia ingin menerkam lawannya itu, tetapi tiba-tiba ia terhuyung karena terdampar oleh suatu hembusan angin pukulan yang entah dari mana datangnya!

Melihat lawannya terhuyung-huyung, Sun Ceng lekas-lekas berbangkit dan menoleh ke arah dalam kapal sungainya.

„Hei orang yang berada di dalam kapal!” bentak Siauw Cu Gie.

„Mengapa begitu lancang mencegah aku pergi menjumpai Kong- ya Tayhiap?”

„Saudara Siauw!” terdengar sahutan dari dalam. „Saudara telah datang dari tempat yang jauh, aku sebetulnya harus keluar menyambut. Tetapi sayang sekali aku sudah mengambil keputusan untuk tidak menjumpai siapapun juga! Oleh karena itu, aku minta agar saudara Siauw pulang saja ”

Suara itu tidak salah lagi adalah suara Kong-ya Coat!

SEPULUH „Kong-ya Tay-hiap!” kata Siauw Cu Gie. „Aku datang untuk memberitahukan tentang Ciam-hua-giok-siu kepadamu!”

Ucapan itu tidak lantas dijawab, rupanya Kong-ya Coat tengah mempertimbangkan. Beberapa saat kemudian terdengar ia menyahut.

„Aku sudah tidak lagi mau memusingkan urusan Bu-lim, saudara Siauw tidak perlu banyak bicara!”

Siauw Cu Gie jadi heran dengan sikap Kong-ya Coat itu yang mendadak berubah demikian kasarnya, disamping itu ia tidak dapat menerima alasan yang demikian sederhananya. Tiba-tiba ia mencelat melalui kepala Sun Ceng dan menerobos masuk ke dalam kapal. Ia menyingkap kere bambu yang menutupi satu ruangan kecil di dalam kapal itu dan alangkah terkejutnya ketika melihat wajah maupun bentuk tubuh Kong-ya Coat yang sudah banyak berubah, meskipun di saat itu Kong-ya Coat mengenakan jubah dari kain yang tebal dan membungkus kepalanya dengan kain sutera biru.

Wajahnya pucat pasi, kedua matanya tidak lagi bersinar sebagaimana biasa. Dia kelihatannya jauh lebih tua dari pada umurnya yang sejati! Di belakang kursi di mana ia duduk, tampak seorang yang ganjil rupa dan bentuknya, yang mengenakan jubah kuning, bertubuh jangkung kurus dengan rambut yang panjang menutupi kedua bahunya, mukanya beringas dan sinar matanya yang tajam senantiasa di arahkan kepada Siauw Cu Gie!

Untuk beberapa saat lamanya Siauw Cu Gie jadi terbengong, melihat keadaan Kong-ya Coat yang tidak keruan dan orang ganjil yang sedang berdiri di belakangnya itu. Ia jadi terkejut bukan main ketika melihat bahwa orang ganjil itu memegang satu gaitan baja yang ditempelkan di leher Kong-ya Coat.

„Tidak heran jika Kong-ya Coat bersikap demikian kasarnya terhadapku tadi!” pikir Siauw Cu Gie. „Karena jika ia membangkang terhadap perintah orang ganjil itu, gaitan baja itu akan pasti membikin batok kepalanya tergelincir meninggalkan lehernya!”

Siauw Cu Gie tidak mengerti mengapa Kong-ya Coat yang berkepandaian sangat tinggi itu dapat dibikin tidak berkutik demikian mudahnya. Iapun segera mengeluarkan senjata yang agak aneh kelihatannya, karena senjata itu terdiri dari sembilan potong baja -- empat potong panjang dan lima potong lainnya pendek-pendek -- tersambung menjadi satu dengan rantai baja. Panjang keseluruhannya kira-kira tujuh kaki (lebih kurang dua meter), di kedua ujung rantai tersebut terdapat potongan baja yang tajam sekali.

Senjata itulah yang bernama Kauw-ciat-kun, yang telah membikin Siauw Cu Gie terkenal sebagai si Raja naga dari lima telaga, yang dapat dipergunakan sebagai pecut, tali lasso, pentungan, pedang, belati dan lain sebagainya.

Tanpa banyak bicara pula Siauw Cu Gie secepat kilat telah menyerang orang itu dengan maksud menusuk jalan darah di bagian leher!

„Hee, hee, hee!” orang itu tertawa sambil mengulur tangannya untuk merampas ujung rantai yang tajam itu, yang telah dilancarkan dengan jurus Sam-kuk-hoan-ciu (Tiga totokan maut). Siauw Cu Gie kaget sekali melihat senjatanya yang sangat diandalkan dan selalu berhasil mengambil korban itu, berani ‘dijumput’ oleh orang itu. Jurus silat yang diperlihatkan oleh lawannya membikin ia teringat akan satu iblis yang ilmu silatnya hebat sekali, dan tanpa terasa ia berseru.

„Eu-yong Lo-koay    !”

„Hee, hee, hee! Kau masih kenal kepadaku? Aku merasa girang dan bangga sekali!”

„Kenapa dia berada di sini?” tanya Siauw Cu Gie di dalam hati.

„Aku datang untuk memberitahukan Kong-ya Coat tentang Ciam- hua-giok-siu dan menanyakan apa yang telah terjadi di pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee. Iblis ini tidak boleh turut campur urusanku itu!” Ia segera hendak berlalu dari ruangan itu, ketika Eu-yong Lo-koay berkata.

„Duduk dulu saudara Siauw! Mengapa ingin lekas-lekas berlalu setelah kau berhasil menjumpai saudara Kong-ya!”

„Jika aku sekarang berlalu bagaimana?”

„Kau akan menjumpai ajalmu di telaga Tong-teng!”

„Apa perlunya kau menahan aku, aku yang tidak berurusan denganmu?”

„Hee, hee, hee! Mungkin kau sudah linglung saudara Siauw! Bukankah barusan kau sendiri yang mengatakan bahwa kau ingin memberitahukan saudara Kong-ya tentang Ciam-hua-giok-siu?” „Apakah dengan kata-kataku itu aku harus berurusan denganmu?”

„Betul! Seperti dapat kau lihat sekarang ini bahwa saudara Kong- ya telah menjadi orang tawananku, maka jika kau ingin memberikan keterangan kepada saudara Kong-ya, pertama-tama kau harus memberikan keterangan itu kepadaku!”

Siauw Cu Gie tidak dapat berbuat lain dari pada menuruti perintah Eu-yong Lo-koay. Ia jadi teringat akan pembunuhan besar-besaran di markas Kiu It, yang menurut kabar menyatakan bahwa Eu-yong Lo-koay pun turut campur tangan dalam pembunuhan itu.

“Mungkin iblis ini akan menunaikan ancamannya jika aku membangkang perintahnya itu!” pikirnya.

Maka ia segera selipkan kembali senjata Kauw-ciat-kun pinggangnya, lalu mengambil tempat duduk yang terpisah kira-kira empat meter dari Eu-yong Lo-koay.

„Saudara Kong-ya,” kata si iblis. „Kita telah bicara sampai dimana tadi?”

Kong-ya Coat agaknya penasaran sekali, tetapi di bawah ancaman gaitan Kauw-tok-kou yang jika menggores kulit lehernya sedikit saja, maka dalam jangka waktu tiga jam, jika tidak makan daun obat Cian-soat-som, ia pasti akan menjadi mayat!

„Kita tengah membicarakan soal pertemuan yang aku telah selenggarakan,” sahutnya.

„Hee, hee, hee! Betul! Teruskanlah kisah itu!” „Ketika bulan purnama bersembul di angkasa tinggi, para jago silat sudah berkumpul di sekitar lapangan rumput, tetapi tidak nampak Ngo-ouw-liong-ong (si Raja naga dari lima telaga) Siauw Cu Gie berada di situ!”

Eu-yong Lo-koay menoleh kepada Siauw Cu Gie dan bersenyum.

„Saudara Siauw, apakah betul pada waktu itu kau tidak berada di tempat pertemuan?” tanyanya.

„...................”

„Saudara Kong-ya, persilahkan kau lanjutkan kisah yang sangat menarik itu!”

„Ketika itu tiada satu orangpun mengusulkan untuk menantikan saudara Siauw, maka aku segera keluarkan Ciam-hua-giok-siu dan taruh benda itu di atas meja delapan persegi yang diletakkan di tengah-tengah lapangan rumput. Tetapi para hadirin terus menerus memuji-muji kelihayan sarung tangan ajaib itu, maka selama lebih kurang satu jam tiada satupun jago silat yang tampil ke muka untuk mulai mengadu ilmu silat!”

„Apakah para jago silat ingin menahan harga?” tanya Eu-yong Lo- koay.

„Tidak!”

„Apakah mereka merasa takut?” „Betul! Mereka telah dapat menduga bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi dalam pertemuan itu! Jika kau berada di situ pada waktu itu, aku yakin kau pun pasti tidak dapat tampil ke muka untuk mulai mengadu silat!”

„Ha, ha, ha! Aku tidak berani mulai? Apakah kau baru mengenal aku? Dengan senjata Kauw-tok-kou ini, aku pasti dapat mengalahkan semua jago-jago silat yang hadir di lapangan rumput itu dan merebut Ciam-hua-giok-siu!”

„Hm! Aku betul-betul merasa ragu jika pada waktu itu kau dapat merebut benda mujizat itu!”

„Hah! Apakah dalam pertemuan itu di samping kau sendiri masih jago silat lain yang terlatih lihay?”

„Betul! Jika kau pun hadir pada waktu itu, belum tentu kau dapat mengalahkan semua orang yang hadir, tetapi sekalipun kau berhasil mengalahkan mereka semua, kau pun pasti tidak dapat merebut Ciam-hua-giok-siu!”

„O...... kalau begitu kau menyelenggarakan pertemuan itu hanya untuk menipu dan mempermainkan orang-orang gagah yang telah kau undang itu, kau mempunyai maksud tertentu maksud yang keji!”

Tiba-tiba dari luar ruangan kapal sungai itu terdengar orang ketiga turut berkata.

„Apakah yang tengah dirundingkan dengan demikian gaduh? Aku ingin mendengar juga!” „Apakah itu bukan suara seorang Tojin yang terkenal sebagai si pemabuk?” tanya Eu-yong Lo-koay.

„Betul,” sahut orang itu sambil menyingkap kere bambu dan melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Kong-ya Coat dan dua tamunya mengawasi orang yang baru datang itu, yang menyebarkan bau arak.

.„Aha!” seru orang itu yang ternyata memang Si Lam Tojin adanya, “Eu-yong Lo-koay yang termashur dari pegunungan Kun-lun-san kiranya sudah mengganti pekerjaan sebagai pembegal?”

„Hei pemabuk yang tidak tahu diri! Jangan sembarangan kau menfitnah orang!”

„Menurut pahamku, tiap-tiap pembegal mengancam dengan senjata ditempelkan di leher korbannya, tepat sebagaimana tengah kau lakukan sekarang! Bukankah perbuatanmu itu serupa benar dengan perbuatan satu pembegal ulung?”

“Aku telah minta saudara Kong-ya menceritakan peristiwa di pertemuannya pada tahun yang lampau, tetapi dia menolak, maka aku terpaksa mengancamnya dengan cara ini!”

„Akupun ingin mengetahui kesudahan pertemuan itu! Karena......

meskipun aku turut serta dalam pertemuan itu, aku tidak mengetahui apa yang telah terjadi!”

„Kau tentunya telah minum terlalu banyak arak sehingga menjadi mabuk dan tidak mengetahui apa yang terjadi?” “Ya! -- Tetapi ayolah simpan senjatamu itu, aku tidak sudi melihat kau mengancam korbanmu terus menerus!”

“Oho! Tanpa senjata ini berada dekat leher saudara Kong-ya kau tidak akan mendengar kisah pertemuan itu.”

„Hari ini ada arak, hari ini kita minum sampai mabuk! Persetan dengan hari esok!”

Setelah berkata begitu, Si Lam Tojin lalu mengangkat guci arak dan menenggak isinya, tetapi dengan tiba-tiba ia menyemprotkan arak yang berada di mulutnya ke arah muka Eu-yong Lo-koay.

Eu-yong Lo-koay mundur dua langkah sambil menyerang dengan tinjunya dan terdengarlah suatu ledakan hebat akibat daripada pertemuan kedua serangan tenaga dalam itu, dan tampak arak itu terdampar kembali dan muncrat di ruangan dalam kapal itu.

Dengan serangannya Si Lam Tojin hendak membebaskan Kong- ya Coat berbareng membikin buta kedua mata Eu-yong Lo-koay. Dua orang yang berkepandaian tinggi telah bertemu, yang satu ingin membasmi seorang iblis, sedangkan yang lainnya memang terkenal kejam dan keji!

Dengan mundurnya Eu-yong Lo-koay menggelakkan serangan Si Lam Tojin, maka terbebaslah Kong-ya Coat dari ancaman iblis dari pegunungan Kun-lun-san itu.

Mengapa Kong-ya Coat dapat demikian mudah dibikin tidak berkutik oleh Eu-yong Lo-koay? Eu-yong Lo-koay yang keranjingan ketiga mustika Thian-hiang- sian-cu, telah dengar bahwa Ciam-hua-giok-siu berada di tangan Kong-ya Coat. Maka dengan tekad bulat merampas mustika itu ia telah berangkat dari pegunungan Kun-lun-san dengan perahu.

Pada suatu hari ketika perahunya hampir tiba di tempat Kong-ya Coat, ia telah menjumpai sebuah kapal sungai yang menarik perhatiannya, maka dengan ilmu Ceng-teng-tok-cui (Capung menotok air), ia telah berhasil naik ke atas buritan kapal itu tanpa menarik perhatian orang. Kebetulan sekali di atas kapal itu ia telah mendengar orang menarik napas di dalam kamar, ia terkejut dan akhirnya bergirang ketika mengenali bahwa suara itu adalah helaan napas Kong-ya Coat yang memang sedang ia cari.

Dengan tindakan enteng ia segera menghampiri pintu kamar tersebut, lalu sambil menghunus gaitan beracunnya dengan tiba- tiba ia menolak daun pintu yang ternyata tidak dikunci. Di dalam Kong-ya Coat yang sedang rebahan jadi terkejut bukan main dan segera hendak berbangkit, tetapi Eu-yong Lo-koay sudah berada di belakang sambil mengancam lehernya dengan gaitan beracun Kauw-tok-kou!

Sebetulnya, Eu-yong Lo-koay sudah datang di tempat Kong-ya Coat beberapa waktu yang lalu, bahkan ia telah datang sehingga tujuh kali berturut-turut, tetapi ia tidak menjumpai orang yang dicarinya itu. Karena semenjak kegagalannya menyelenggarakan pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee, Kong-ya Coat menjadi masgul sekali senantiasa didatangi banyak orang yang ingin menanyakan kesudahan pertemuan itu, maka ia telah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat kediamannya, dan hidup lebih tenteram di dalam sebuah kapal sungai. Oleh karena itu tidak heran Eu-yong Lo-koay selalu gagal menjumpainya. Tetapi dengan sangat kebetulan si iblis dari pegunungan Kun-lun-san telah membuka rahasianya!

“Hei Lo-koay! Jika kau menganggap di dalam kamar kapal sungaiku ini tidak cukup luas tempatnya, bagaimana jika kita keluar dan bertarung di atas geladak?” tanya Kong-ya Coat.

„Silahkan!” sahut Eu-yong Lo-koay sambil mendahului melangkah keluar dari ruangan itu.

Kong-ya Coat sudah siap dengan pedangnya, setelah berada di atas geladak, ia segera putar-putar pedang itu sehingga seluruh tubuhnya diselubungi oleh sinar pedang yang berkilau-kilau.

„Ai! llmu silat pedang yang dahsyat sekali!” Eu-yong Lo-koay diam- diam memuji dalam hati, tetapi tanpa banyak bicara lagi ia segera menyerang dengan gaitan bajanya!

Kedua orang ini adalah jago-jago silat berkaliber berat, maka begitu mereka bergebrak segera tampak keluar biasaan ilmu silat masing-masing, sinar pedang dan gaitan berseliweran hebat sekali! Setelah pertempuran berlangsung lebih kurang sepuluh jurus lamanya, tiba-tiba tampak kedua orang itu mundur beberapa langkah!

Kong-ya Coat telah melancarkan jurus Tai-soat-hun-hui (Salju turun berhamburan), yalah jurus yang ia telah pertunjukkan di pegunungan Tiang-pek-san dengan membabat empat lilin menjadi 4 x 7 atau sama dengan duapuluh delapan potong. Tetapi ia tidak berhasil melukai lawannya!

Sedangkan Eu-yong Lo-koay telah melawan jurus yang dahsyat itu dengan melancarkan jurus Thian-yao-tee-tong (Menggoyahkan langit menggoncangkan bumi), tetapi iapun tidak berhasil melepaskan pedang yang dipegang oleh lawannya!

Selama pertempuran sepuluh jurus itu berlangsung, Siauw Cu Gie dan Si Lam Tojin jadi terpaku menyaksikan jurus-jurus yang dilancarkan oleh kedua orang itu. Mendesingnya senjata-senjata itu yang diiringi oleh suara ‘Ting Tang Ting Tang’ dan beradunya senjata-senjata tersebut telah menciptakan suatu irama musik yang pasti tidak merdu bagi telinga!

Untuk sekian lamanya kedua orang yang sedang bertempur itu mengawasi masing-masing harus waspada dan pandai mencari kesempatan terbaik untuk melancarkan suatu pukulan yang menentukan!

„Hei saudara Kong-ya! Semua ini adalah salahmu sendiri!” tiba-tiba terdengar Si Lam Tojin berkata dengan suara lantang.

„Kesalahanku? Mengapa Tay-su mengatakan demikian?”

„Tadi gaitan beracun mengancam lehermu, aku telah membantu sehingga kau terbebas dari ancaman tersebut! Tetapi     maksud

daripada perbuatanku tadi adalah agar kau dapat lebih leluasa menceritakan kesudahan pertemuan yang kau selenggarakan dua tahun yang lalu dan aku tidak bermaksud agar kamu berdua bertempur di atas geladak ini. Jika maksudku tidak kau hiraukan, maka aku terpaksa harus minta saudara Eu-yong menempelkan lagi gaitan beracunnya di lehermu!”

„Hei pemabuk! Kehadiranmu di sini telah membikin saudara Kong- ya berhenti bercerita. Umpama tadi kau mendengarkan saja dari luar, bukankah kisah itu telah selesai diceritakan?!” kata Eu-yong Lo-koay.

„Hei iblis! Jika kau tidak senang dengan kehadiranku di sini, akupun sudah siap melayanimu!”

„Saudara-saudara sabar dulu!” kata Kong-ya Coat. „Jika kalian ingin juga mendengar kisah itu, aku akan menceritakan! Tetapi sebelumnya aku berpesan wanti-wanti agar setelah mengetahui kisah itu kalian tidak menyesali aku ”

„Lanjutkanlah kisahmu itu,” sahut Si Lam Tojin. „Dan setelah kau selesai menceritakan, “Kau dapat menyerang lagi saudara Eu- yong, aku tentu akan memuji yang menang! Ha, ha, ha!”

Meskipun si pemabuk bertepuk-tepuk tangan dan tertawa, tetapi sebetulnya ia sedang bermain sandiwara. Karena Kong-ya Coat maupun Eu-yong Lo-koay adalah saingan-saingan beratnya di kalangan Bu-lim maka dengan ucapannya itu ia bermaksud mengadu dombakan kedua orang itu dengan harapan kedua orang itu saling bunuh.

Kong-ya Coat dan Eu-yong Lo-koay pun telah mengetahui akan akal bulus si pemabuk, tetapi mereka tak dapat berbuat lain dari pada bertempur dan berusaha mengalahkan lawan. Setelah semua pihak setuju, maka ketiga orang itu lalu mengambil tempat duduk untuk mendengari kisah Kong-ya Coat lebih lanjut.

Lalu dengan wajah yang seram Kong-ya Coat melanjutkan seperti dikisahkan di bawah ini.

Pada waktu melihat tiada satu orangpun bersedia tampil ke muka untuk mulai bertarung, Kong-ya Coat lalu berkata.

„Ciam-hua-giok-siu adalah benda mujizat Thian-hiang-sian-cu almarhum, isteri kesayangan Yu Leng yang kini tinggal di lembah Yu-leng-kok di pegunungan Tay-piet-san. Aku telah memperoleh benda mujizat itu dari partai Tiang-pek-kiam, tetapi setelah mempertimbangkan dalam-dalam, aku berpendapat bahwa benda itu harus dan pantas dimiliki oleh seorang yang betul-betul sakti kepandaiannya. Untuk mewujudkan cita-citaku itu, maka aku telah mengundang kalian ke tempatku ini. Tetapi kalian rupanya saling mengalah sehingga maksud semula daripada pertemuan ini sukar terpenuhi..... maka aku ter. ”

Penjelasan itu belum selesai, ketika tiba-tiba terdengar suara meraung.

„Ooooooogh.....! Ooooooohhhh    !”

Sekejapan saja suara yang menegakkan bulu roma itu sudah dekat sekali terdengarnya. Berbareng dengan terdengarnya suara itu, segumulan awan hitam di langit yang tinggi, mendadak menutupi bulan. Sejenak kemudian tampak sesosok bayangan hitam berlari- lari mengitari lapangan rumput di mana para jago silat berkumpul. Dan aneh sekali semua lampu yang menerangi lapangan tersebut menjadi padam dengan mendadak!

Siauw Cu Gie bergidik mendengar penjelasan itu, karena mengingat suara yang dilukiskan oleh Kong-ya Coat itu sama benar dengan suara yang didengarnya di lereng gunung Hoa-san, ketika ia berjalan-jalan di pegunungan tersebut dua tahun yang lalu!

Kong-ya Coat menatap ketiga tamunya dengan tajam. Kemudia ia melanjutkan.

Setelah lampu-lampu padam, bayangan itu tertawa berkakakan seperti orang yang kurang waras ingatannya. Lalu tampak ia menghampiri meja dimana Ciam-hua-giok-siu diletakkan. Dalam suasana yang remang-remang masih dapat dilihat bahwa orang itu bertubuh kurus jangkung, rambutnya panjang menutupi bahunya dan jari-jari kedua tangannya panjang sekali. Dengan tiba-tiba tampak ia menjambret Ciam-hua-giok-siu berbareng dengan itu tampak tiga atau empat bayangan lain menerkam orang itu. Tetapi dengan tiba-tiba pula tampak ketiga bayangan itu terpental balik sejauh empat meter!

„Aku kira yang menerkam hanya tiga orang,” kata Si Lam Tojin.

„Karena mereka itu adalah tiga saudara Tie, jago-jago silat kenamaan dari daerah sebelah selatan sungai Tiang-kang! Mereka semua tewas setelah kembali dari pertemuan itu. Kemungkinan besar bahwa mereka telah kena serangan tenaga sakti Lui-ka- kong-kie (Tenaga sakti) orang itu!” „Betul! Itulah ketiga saudara Tie yang telah menerkam, mereka semua tewas setelah kembali dari Tan-kwi-san-cong! Mereka mengira dengan ilmu silat tangan kosong yang disebut Thian-tee- jin (Menggempur langit, bumi dan manusia), mereka pasti berhasil merebut Ciam-hua-giok-siu dari tangan orang itu, tetapi ternyata ”

„Saudara Kong-ya, siapakah gerangan orang yang memiliki ilmu Lui-ka-kong-kie itu?” tanya Eu-yong Lo-koay.

„Lui-ka-kong-kie bukan saja telah menewaskan ketiga saudara Tie,” kata Kong-ya Coat tanpa menghiraukan pertanyaan Eu-yong Lo-koay. „Tetapi kita semua pun merasakan hembusan angin pukulan yang dahsyat itu, meskipun kita telah berpegangan kepada meja atau kursi, tidak urung kita semua terdorong ke belakang dan jatuh di tanah!”

„Ai!” seru Si Lam Tojin, „ilmu silat yang begitu tidak ada taranya di dunia!”

„Orang itu tentunya suami Thian-hiang-sian-cu, bukankah?” tanya Siauw Cu Gie.

„Betul! Dialah Yu Leng dari lembah Yu-leng-kok!” sahut Kong-ya Coat. „Tetapi mengapa dia yang sudah lama bertapa dalam lembah, tiba-tiba muncul di Tan-kwi-san-cong?”

Setelah menyatakan keheranannya Kong-ya Coat lalu melanjutkan.

Dengan suara lantang orang itu berkata seram. „Ciam-hua-giok-siu adalah mustika warisan. Apakah kalian kira mustika ini dapat dibuat perebutan?”

„Aku tidak bermaksud merebut mustika itu,” sahut Kong-ya Coat.

„Sekarang Tay-hiap sudah datang, aku rela mengembalikannya.”

„Masih ada dua mustika lagi, Cu-gan-tan dan Tok-beng-oey-hong, dimana mustika-mustika itu sekarang?” tanya Yu Leng.

Meskipun suasana agak gelap, namun semua orang bergidik melihat sinar mata Yu Leng yang seolah-olah menyala! Mereka berdiri ketakutan dan tidak berani menyahut. Tiba-tiba tampak Yu Leng mengangkat tangannya, sejenak kemudian terdengar satu suara yang keras sekali dan meja di mana Ciam-hua-giok-siu tadi diletakkan telah bolong di bagian tengahnya!

„Hari ini!” tiba-tiba Yu Leng berkata dengan suara keras, „hari ini aku baru memperoleh kembali satu, di antara tiga mustika isteriku, oleh karena kedua mustika yang lainnya tidak berada di sini, maka aku akan meninggalkan tempat ini tanpa mengganggu kalian pula. Tetapi , barang siapa berani menceritakan atau mendengar apa

yang yang telah terjadi di tempat ini...... akan mati dari cakaran Tay-yang-sin-jiauw ku!”

Bercerita sampai di sini, Kong-ya Coat berhenti dan bersenyum seram kepada ketiga tamunya itu.

Eu-yong Lo-koay, Si Lam Tojin dan Siauw Cu Gie, meskipun mereka bertiga berkepandaian tinggi, tetapi setelah ‘mendengar’ kisah Kong-ya Coat yang seram itu, mereka jadi bergidik memikiri nasib mereka, karena mereka tidak menduga sama sekali bahwa hanya dengan mendengari kisah pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang- song-gwat-ta-tee, mereka kini sudah menjadi musuh-musuh besar Yu Leng!

Bagaimana dengan nasib Kong-ya Coat sendiri yang telah dipaksa untuk menceritakan kisahnya itu?

„Setelah Yu Leng mengancam,” katanya lagi. „Dengan satu gerak yang mempesonakan sekali ia telah menghilang entah ke mana!”

„Kalau saja aku tidak datang ke sini ” kata Siauw Cu Gie sambil

bersenyum getir.

„Saudara Siauw!!” kata Kong-ya Coat. „Aku telah berpesan wanti- wanti barusan ”

„Kita akan menanggung sendiri akibat itu......” sahut Eu-yong Lo- koay.

„Aku sudah melanggar perintahnya, maka kita berempat kini bernasib serupa, yalah akan mati dari cakaran Tay-yang-sin- jiauw!”

„Saudara Kong-ya, mungkin ada kesalahan paham dalam soal ini!”

„Kesalahan paham?! -- Kesalahan paham apakah? Aku persilahkan saudara Siauw menjelaskan!!

„Aku telah mendengar kabar bahwa semenjak isteri yang sangat dicintainya meninggal dunia, Yu Leng lalu hidup terpencil di pegunungan Tay-piet-san. Jika ia pada suatu hari berhasil mewariskan ilmu silatnya yang maha tinggi itu, ia akan menyusul isterinya di alam baka. Ia telah berjanji takkan keluar lagi dari lembah Yu-leng-kok. Jika kau katakan ia telah datang di Tan-kwi- san-cong, aku betul-betul tidak mengerti ”

„Jadi saudara Siauw menganggap orang yang datang itu bukan Yu Leng sendiri?”

„Ya!”

„Tetapi siapakah di kolong langit ini yang memiliki ilmu Tay-yang- sin-jiauw?”

Pertanyaan itu membikin Siauw Cu Gie membungkam. Apalagi waktu mengingat akan peristiwa totokan di pundaknya oleh sambitan batu pada dua tahun yang lalu, tangan yang merah, telapak tangan yang tertera di atas batang pohon cemara, ia jadi bergidik.

„Aku tidak tahu!” sahutnya pendek.

Kong-ya Coat tertawa melihat ketiga pendengarnya menjadi pucat seolah-olah dikejar hantu jahat

„Hei Lo-koay!” katanya sambil mengejek. „Apakah kau masih ingin merebut Ciam-hua-giok-siu?”

Eu-yong Lo-koay hanya menundukan kepalanya dan menggeram.

„Hm !” „Saudara Siauw, bukankah kau ingin menceritakan tentang Ciam- hua-giok-siu?” tanya Kong-ya Coat.

„Ya,” sahut Si Lam Tojin. „akupun ingin mendengar cerita itu.”

„Kesudahan dari pertemuan yang aku selenggarakan itu,” sahut Siauw Cu Gie. „Sama benar dengan kesudahan dari pertemuan di Tan-kwi-san-cong!”

„Bagaimana? Aku tidak mengerti!” kata Kong-ya Coat.

„Awan hitam tiba-tiba menggulung dan menutupi Rembulan!” sahut Siauw Cu Gie. „Dan dengan tiba-tiba pula lampu-lampu dan obor- obor padam!”

„Apakah kau mendengar ada orang mengatakan sesuatu?” tanya Kong-ya Coat.

“Tidak! Tetapi sebelum itu, aku dibikin terkejut oleh munculnya seorang pemuda yang membawa-bawa Ciam-hua-giok-siu!” kata lagi Siauw Cu Gie.

„Tentu pemuda itu murid Yu Leng,” Si Lam Tojin ikut bicara.