Sampul Maut Jilid 02

Jilid 02

Khouw Kong Hu lalu mengerutkan keningnya seraya menanya.

„Setelah Kong-ya Coat memiliki mustika itu, ia merencanakan segala sesuatu untuk menyelenggarakan pertemuan Tan-kwi- piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee. Soal ini ada hubungannya apa dengan Kiu Ji-ko??

Ouw Lo Si berpikir sejenak.

Tiba-tiba ia mengangkat kedua alisnya dan berkata. „Bukankah Cia It Hok mempunyai sutee (saudara seperguruan) dan terkenal sebagai si garuda putih yang bernama Pek Tiong Thian?”

Seperti orang yang baru sadar, Khouw Kong Hu menyahut.

„Betul! pada limabelas tahun yang lalu Pek Tiong Thian telah dibikin pincang oleh ketiga saudara dari partai Kong-tong-sa-kiam, dan setelah kejadian itu, namanya pelahan-lahan lenyap dari kalangan Kang-ouw, namun aku yakin ia belum meninggal dan kini tinggal bernaung di bawah perlindungan saudara seperguruannya Cia It Hok. Akupun yakin ia mengetahui seluk beluknya Ciam-hua- giok-siu.”

„Dan Pek Tiong Thian sebelum dia menjadi cacad, sangat erat hubungannya dengan Kiu Ji-tee,” kata Ouw Lo Si. “Lagi pula di kalangan Kang-ouw mereka berdua terkenal sebagai sepasang garuda dari utara dan selatan. Mungkin Kiu Ji-tee mengetahui kesulitan partai Tiang-pek-kiam dari Pek Tiong Thian karena ia sendiri tak dapat membantu maka ia minta bantuan Kong-ya Coat, yang mau juga datang membantu karena mengingat hadiahnya saja. Setelah itu mungkin timbul salah mengerti, Kong-ya Coat jadi gusar karena merasa tertipu ”

Si kakek menarik napas, lalu meratap.

„Kiu Ji-tee...... Kiu Ji-tee..... jika kau ingin sekali mustika itu, mengapa tidak berunding dulu dengan aku? Sekarang kau sudah menjadi mayat dan tak dapat berunding lagi ” Cara si kakek menarik kesimpulan dari peristiwa-peristiwa yang telah lampau sangat dikagumi oleh saudaranya itu, memuji.

„Ouw Si-ko, kau betul-betul Cu-kat Kong Beng, Akupun kira peristiwa ini demikian jalannya, hanya ”

„Hanya apa, Khouw Hiantee?” tanya Ouw Lo Si.

„Hanya tidak terduga jalannya peristiwa begitu rumit dan akibatnya menyedihkan sekali. Disamping Eu-yong Lo-koay, aku yakin masih banyak jago-jago silat yang akan datang ke tempat Kong-ya Coat untuk memperebutkan Ciam-hua-giak-siu. Maka kitapun tak mudah memperolehnya!” kata Khouw Kong Hu.

Si kakek tampak bersenyum dan menghibur saudaranya,

„Hiantee, kau salah dalam hal ini,” katanya „Tugas kita sekarang yalah mengubur Kiu Ji-tee dulu dengan layak, lalu kita harus pergi ke pegunungan Hoa-san sebelum pertengahan bulan depan. Asal tidak terbit perubahan, maka Ciam-hua-giok-siu sudah berada di dalam kantong kita dalam waktu satu bulan ini!”

Khouw Kong Hu menjadi terbengong menyaksikan sikap kakak angkatnya itu.

Soal yang rumit serta sulit itu telah dianggapnya remeh sekali, seolah-olah usaha merebut Ciam-hua-giok-siu nanti di pegunungan Hoa-san sangat mudahnya!

Setelah mayat Kiu It itu dikubur, pada esok harinya di waktu fajar, mereka memperhatikan bahwa di antara kepala-kepala dari mayat- mayat itu tidak satupun dapat dikenali sebagai puteri kesayangan Kiu It. Tetapi mereka tak terlalu menghiraukan akan hal ini.

◄Y►

Satu bulan lewat dengan pesatnya, tatkala itu Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu sudah berada di atas suatu perahu menuju ke tempat Kong-ya Coat.

Di atas dek di haluan perahu, terdengar Ouw Lo Si berkata kepada saudaranya.

„Pada waktu matahari baru terbit pemandangan di kedua tepi sungai ini lebih permai kelihatannya. Hiantee untuk sementara ini kau tak usah memikiri sesuatu, kau harus membuka kedua matamu menikmati pemandangan yang indah ini!”

Selama satu bulan itu Khouw Kong Hu! Senantiasa memikiri kawan-kawannya yang telah mati dibunuh di tempat kediaman Kiu It, dan ia menjadi gelisah menghadapi pertemuan yang diselenggarakan oleh Kong-ya Coat

Tetapi waktu mengingat si kakek sudah membikin persiapan untuk menghadapi segala sesuatu, maka ia sebagai saudara angkatnya harus juga ikut semua dengan hati tabah.

Mendengar permintaan si kakek, mau tak mau ia harus menghampiri dan turut menikmati pemandangan di sekitar sungai itu yang memang indah dan permai. Si kakek bersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Khouw Kong Hu.

„Sebetulnya pegunungan Hoa-san ini tidak terkenal,” katanya.

„Tetapi semenjak pelajar Li Pek membuat sajak memuji-muji, maka Hoa-san menjadi termasyur. Selama sepuluh tahun ini aku telah tinggal terpencil di pegunungan Tay-piet-san. dan banyak waktu aku lewatkan dengan membaca buku-buku sastra dan syair-syair kuno, dan banyak pula petunjuk-petunjuk yang aku peroleh dari buku-buku itu. Tetapi aku ini adalah seorang dari dunia Kang-ouw dan aku yakin akupun harus mati sebagai seorang Kang-ouw juga!”

Khouw Kong Hu menjadi bermuram durja tatkala mendengar ucapan terakhir itu, karena kata-kata Ouw Lo Si itu seolah-olah menentukan juga nasibnya sendiri sebagai orang yang berkecimpungan di dunia Kang-ouw.

Ouw Lo Si tertawa geli menyaksikan sikap saudaranya itu.

„Hiantee, jangan khawatir, kita masih akan lama hidup di dunia ini!” katanya.

„Dan selama kita masih hidup, yang terpenting yalah kita harus melaksanakan idam-idaman kita. Jika mungkin harus dapat membuat sesuatu yang dapat kita wariskan , bukankah pepatah

kuno mengatakan.

„Macan mati meninggalkan kulit, manusia mati meninggalkan nama?”

Tetapi Khouw Kong Hu masih tetap membisu. Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi dari kejauhan.

„Secangkir arak ini tak dapat ditolak,

Karena hari ini adalah hari libur,

Jika merasa penghidupan akan menjadi rusak,

Mungkin secangkir arak ini dapat menghibur ”

Ouw Lo Si merandek mendengar nyanyian itu, dan menatap Khouw Kong Hu.

Di hadapannya berlayar satu perahu nelayan, di atas perahu itu tampak satu orang duduk di haluan perahu sambil minum arak dan memegangi satu guci.

Meskipun kedua perahu tersebut terpisah agak jauh, namun Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu dapat melihat tegas bahwa yang tengah duduk di haluan perahu itu adalah seorang Tojin (pendeta).

Tidak lama kemudian, tampak satu perahu lain yang bertiang layar dua, yang agaknya tengah mengejar perahu si tojin, dan ketika perahu tersebut sudah berendeng dengan perahu nelayan, tampak seorang laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna ungu meloncat ke atas perahu nelayan itu.

Setelah berada di atas perahu yang dikejarnya, orang itu segera menghampiri si tojin dan membungkukkan tubuhnya menghaturkan hormat.

Karena jaraknya cukup dekat maka Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu dapat mendengar si tojin yang mendahului berkata sambil tertawa. „Sun ji-ya, kau salah. Aku hanya sedang menikmati pemandangan di sepanjang sungai ini. Jago-jago silat yang kamu nantikan berada di atas perahu di depan kita ”

Orang yang berpakaian ungu itu mengalihkan pandangannya dan menatap Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu, dan kemudian terdengar ia berseru.

„Ouw Locianpwee! Khouw Tay-hiap!”

Segera ia meloncat dengan gesit ke perahunya sendiri, dan segera mengejar perahu si kakek.

„Kedua Locianpwee mungkin masih ingat kepadaku,” katanya nyaring.

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu merasa heran bahwa orang itu yang berpengawakan tinggi besar, hidung dan mulutnya lebar, besar kedua matanya, mengenal dan bersikap sangat hormat terhadap mereka.

„Aku Sun Ceng menghaturkan hormat dan selamat datang serta menyambut kedatangan kedua Locianpwee,” kata lagi orang itu.

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu membalas memberikan hormat, tetapi masih juga tidak ingat akan orang itu.

Sun Ceng dapat melihat keraguan kedua tamunya itu, maka ia lekas berkata. „Beberapa belas tahun berselang, aku mengikuti guruku pergi ke Gak-yo, dan pernah menjumpai kedua Locianpwee. Hari ini aku merasa beruntung sekali dapat menjumpai lagi!”

Ouw Lo Si terharu dan mulai ingat akan peristiwa di Gak-yo itu.

„Apakah gurumu bukan Yen Tay-hiap?” tanyanya. „Sudah lama kita tak bertemu, apakah beliau baik-baik saja?”

Sun Ceng menundukkan kepalanya, dan menyahut dengan suara sedih.

„Guruku sudah tujuh tahun meninggal dunia!” Ouw Lo Si menjadi terkejut.

„Aku ini sudah sepuluh tahun tidak berkelana di kalangan Kang- ouw, maka aku tidak mengetahui jika Yen Tay-hiap telah meninggal dunia. Ketika di Gak-yo, kau masih kecil, tetapi sekarang kau sudah menjadi besar dan gagah lagi!”

Khouw Kong Hu juga mulai ingat akan peristiwa di Gak-yo dan ia mengetahui bahwa Sun Ceng ini adalah murid satu-satunya yang dapat mewariskan ilmu silat Yen Tay-hiap.

Dari percakapan mereka yang dilanjutkan kemudian, diketahui bahwa setelah Yen Tay-hiap meninggal dunia, Sun Ceng telah diterima oleh Kong-ya Coat sebagai muridnya, dan pada waktu itu ia ditugaskan untuk menyambut para tamu yang akan menghadiri pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee. Khouw Kong Hu dan Ouw Lo Si memang sedang menuju ke pertemuan tersebut, maka mereka telah menerima tawaran Sun Ceng untuk naik ke perahunya yang bertiang layar dua itu.

Dari Sun Ceng mereka mengetahui bahwa Tojin yang doyan arak itu, yang baru saja berjumpa, bernama Si Lam, si pemabok.

Kong-ya Coat telah menyiapkan tempat-tempat untuk menyambut para tamu berkenaan dengan pertemuan Tan-kwi-piauw-hiang- song-gwat-ta-hwee nya. Siapa saja yang telah mencatat nama di tempat tersebut tentu akan disambut dengan selayaknya.

Si pemabok Si Lam, meskipun tidak mencatat nama, namun ia kebetulan tiba di tempat pencatatan itu.

Sun Ceng yang ketika itu kebetulan ditugasi menerima tamu, dan melihat bahwa Si Lam itu juga seorang jago silat, telah mengundangnya.

Undangan itu tidak ditolak oleh si pemabok, ia masuk dan dijamu dengan hidangan yang lezat dan arak yang telah disimpan lama, sehingga mabok dan tertidur di tempat tersebut. Dan sikap demikian dianggap biasa oleh Sun Ceng.

Tetapi pada esok harinya Si Lam telah berlalu tanpa pamit lagi, maka Sun Ceng yang merasa heran telah mengejarnya di sungai itu, sebagaimana telah dituturkan di atas, di mana si pemabok telah menjumpai Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu yang sedang menuju ke tempat pertemuan. Perahu yang bertiang layar dua itu meluncur pesat sekali, sesaat kemudian tibalah mereka di satu pinggiran.

Sun Ceng dengan hormat menyilahkan kedua tamunya turun untuk kemudian dipimpinnya mendaki perjalanan pegunungan yang menuju ke markas Kong-ya Coat.

Sam-kiat-sian-seng (si dewa sakti) Kong-ya Coat adalah seorang terpelajar berbareng menjadi seorang ahli pedang yang lihay di ibu kota Kauw-seng semasa mudanya.

Kemudian ia membangun markas besarnya di puncak Pit-ka-hong di pegunungan Hoa-san, yang diberi nama Tan-kwi-san-cong.

Dengan Sun Ceng sebagai pemimpin jalan, maka perjalanan itu dapat ditempuh dengan lancar.

Sun Ceng yang melihat si kakek Ouw dapat meneruskan perjalanan di pegunungan itu dengan mudah meskipun kakinya pincang sebelah, merasa kagum sekali akan ilmu meringankan tubuh kakek itu.

Setelah menempuh banyak jalan-jalan yang sempit, jurang dan tebing yang melalui lobang-lobang yang dalam, akhirnya tibalah mereka di puncak Pit-ka-hong.

Dari jauh sudah terlihat punjung-punjung dan bangunan-bangunan yang indah di atas tanah datar puncak tersebut. Dan itulah Tan- kwi-san-cong, markas besar Kong-ya Coat. Melihat bangunan-bangunan yang indah dengan pemandangan yang permai sebagai latar belakangnya, Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menjadi kagum sekali akan ketekunan dan perhatian Kong-ya Coat membangun markasnya itu.

Ketika hampir tiba di depan markas tersebut, mereka melihat beberapa puluh batu gunung yang besar-besar berserakan. Dan batu-batu terebut merupakan jebakan-jebakan bagi orang-orang yang hendak masuk tanpa idzin.

Betul saja ketika sudah dekat pintu masuk, terdengar Sun Ceng berseru.

„Aku Sun Ceng melaporkan kepada pemimpin markas muda, bahwa Ouw Locianpwee dan Khouw Tay-hiap sudah tiba!”

Sejenak kemudian terdengar dari dalam gedung itu, suara gembreng berbunyi gaduh sekali.

Sambil bersenyum Sun Ceng berkata kepada kedua tamunya.

„Pemimpin markas kita akan segera keluar menyambut kedua Locianpwee!”

Belum selesai pemberitahuannya, ketika terdengar suara orang tertawa berkakakan dari dalam gedung itu.

Lalu pintu tembok yang melingkari bangunan-bangunan itu terbuka, dan seorang yang berperawakan kurus jangkung, berparas pucat pasi, berjenggot panjang dan berjubah kain sutra yang indah berjalan pelahan-lahan melalui batu-batu gunung yang besar-besar dan berserakan di depan markas itu. „Ouw Tay-hiap,” kata orang itu. „Sudah lama kita tidak berjumpa di kalangan Kang-ouw, selama sepuluh tahun ini tay-hiap tentu sudah menikmati penghidupan yang tenang. Aku Kong-ya Coat merasa beruntung sekali memperoleh kesempatan menjumpaimu lagi!”

Sambutan yang diucapkan dengan suara yang nyaring dan susunan kata-kata yang rapi itu membikin Ouw Lo Si, si ahli nujum kipas baja, terperanjat.

„Aku Ouw Lo Si telah bersembunyi karena banyak dosaku!” kata si kakek. „Aku tak dapat dipersamakan dengan saudara Kong-ya yang sangat beruntung dapat tinggal di-istana serupa ini, dan menikmati penghidupan dengan tenang!”

Setelah membungkukkan tubuhnya memberi hormat, lalu Kong-ya Coat mempersilahkan kedua tamunya masuk ke dalam markasnya yang kokoh dan indah itu.

Meskipun ruangan depan itu besar sekali, tetapi perabotannya seperti kursi, meja dan sebagainya sangat terbatas.

Suasana di dalam ruangan itu seperti suasana di dalam suatu hall saja tampaknya!

Ouw Lo Si mengenal Kong-ya Coat cukup lama, tetapi markas besarnya, Tan-kwi-san-cong, adalah untuk pertama kali inilah dikunjunginya, dan kekagumannya tak terhingga setelah menyaksikan kemegahan tempat tersebut!

EMPAT Tanpa ditanya Kong-ya Coat sudah mulai menjelaskan dan berbareng mengajukan pertanyaan.

„Pertemuan Tan-kwi-piauw-song-gwat-ta-hwee masih ada delapan hari lagi dilangsungkannya. Kedua saudara sudah datang lebih dulu dari yang lain-lain, apakah ada urusan yang harus kita rundingkan dulu?”

„Ada!” suhut Khouw Kong Hu yang berwatak berangasan.

„Ha, ha, ha!” tertawa Kong-ya Coat. „Aku kira kedua saudara ini datang ke sini, jika bukannya ingin turut serta dalam pertemuan mengadu silat, tentu karena tertarik oleh Ciam-hua-giok-siu!”

Ouw Lo Si bersenyum getir dan menyahut.

„Aku sudah lama mendengar tentang Ciam-hua-giok-siu. Oleh karena tertarik dengan mustika yang dikatakan sangat mujizat maka kita telah datang ke sini lebih dulu dari yang lain-lain.”

Ia berhenti sejenak untuk kemudian melanjutkan dengan nada lemah lembut.

„Apakah saudara Kong-ya tidak berkeberatan untuk memperlihatkan mustika itu kepada kita berdua?”

„Ha, ha, ha!” Kong-ya Coat tertawa lagi. „Jika orang lain yang mengajukan permintaan demikian, aku harus berpikir-pikir dulu, tetapi sekarang Ouw Tay-hiap yang minta...... Ha, ha, ha!

......Tentu, tentu boleh    ” Lalu ia menoleh ke belakang, menepuk kedua tangannya seraya berkata dengan keras.

„Lekas-lekas beritahukan pemimpin markas muda untuk lekas- lekas keluarkan Ciam-hua-giok-siu!”

Perintah itu segera dilaksanakan oleh seorang muridnya.

Sejenak komudian, dari belakang ruangan itu berjalan keluar seorang pemuda yang berpakaian sutra halus. berparas putih bersih, kedua alisnya hitam dan tebal, matanya bersinar tajam, dan kedua tangannya memegang satu kotak yang dibuat dari batu giok, lebih kurang duapuluh lima sentimeter pesegi.

Khouw Kong Hu segera dapat mengenali bahwa pemuda itu adalah jago silat yang belum lama membikin nama di kalangan Kang-ouw, putera angkat Kong-ya Coat yang bernama Kong-ya Kim alias si burung walet perak penghalau roh!

Begitu berdiri di hadapan kedua tamu ayah angkatnya, Kong-ya Kim segera membungkukkan tubuhnya menghaturkan hormat.

Lalu Kong-ya Coat berkata.

„Banyak orang di kalangan Kang-ouw telah mengetahui kemujizatan Ciam-hua-giok-siu, Ouw Tay-hiap yang terkenal sekali di kalangan tersebut tentu juga sudah mengetahuinya!”

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu menatap kotak itu dengan hati berdebar-debar. Jika kita memiliki suatu mustika yang dapat menghalau air dan api, memunahkan racun binatang, ular atau serangga yang berbisa dan mengelakan senjata rahasia, maka kita dapat manjagoi di kalangan Bu-lim!” kata Ouw Lo Si.

Sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang, Kong-ya Coat berkata.

„Tay-hiap betul berpengetahuan luas!”

Lalu ia mengambil kotak batu giok itu dari tangan Kong-ya Kim, yang segera berlalu dari ruangan itu.

Dengan tenang Kong-ya Coat membuka kotak itu, dan mengulur tangannya yang lain untuk merogoh ke dalam kotak itu.

Sejenak kemudian tangannya yang dipakai merogoh itu telah memegang satu sarung tangan yang putihnya laksana batu pualam.

Adapun jempol dan telunjuk sarung tangan itu membengkok, sedangkan keempat jari yang lain lurus.

Bagus sekali sarung tangan itu, entah dari bahan apa dibuatnya. Itulah Ciam-hua-giok-siu yang dibuat rebutan oleh orang-orang di kalangan Bu-lim!

Pada saat yang sama Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu dapat mengendus suatu harum yang ganjil, yang keluar dari kotak itu! Berselang beberapa saat lamanya, tampak Kong-ya Kim masuk lagi ke ruangan itu sambil membawa satu kantong yang dibuat dari pada kulit macan tutul dan di belakangnya tampak empat orang laki-laki yang berpengawakan tegap dan berpakaian serba hitam.

Kedua pengikut itu menggotong satu anglo dengan api yang menyala-nyala dan kedua yang lain membawa satu tahang air bening. Anglo dan tahang air tersebut diletakkan di tengah-tengah ruangan.

„Saudara Ouw dan saudara Khouw yang terhormat,” kata Kong-ya Coat sambil bersenyum, „Saksikanlah kemujizatan Ciam-hua-giok- siu ini!”

Lalu dengan sarung tangan ajaib itu di tangannya, ia bertindak pelahan-lahan menghampiri anglo yang apinya berkobar dan menjilat-jilat.

Yang aneh yalah, tiap-tiap tindak ia mendekati anglo itu, api dalam anglo agaknya berkurang berkobar dan panasnya!

Ketika ia melonjorkan sarung tangan itu ke atas anglo tersebut, maka api yang sedang menyala-nyala itu terpisah menjadi dua bagian, seolah-olah sebilah pisau tajam membelah agar-agar saja tampaknya dan sejenak kemudian api itupun padam sama sekali!

Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu jadi terpesona menyaksikan adegan yang hebat itu.

Kong-ya Coat tampak sudah berjalan lagi, kali ini ia menghampiri tahang air. Air di dalam tahang tampak tenang-tenang saja, tetapi setelah Kong-ya Coat menyemplungkan sarung tangannya ke dalam tahang air yang tadinya tenang itu menjadi bergolak-golak untuk kemudian meluap dari tahang, namun tangan atau pakaian Kong- ya Coat tidak basah atau terkena setetes airpun!

“Mujizat! Mujizat sekali!” teriak si kakek. „Selama hidupku belum pernah aku menyaksikan benda mujizat serupa itu!”

Kong-ya Coat tampak puas sekali, ia lalu berkata dengan tenang.

„Memadamkan api dan menghalau air adalah hasil yang menakjubkan, namun di samping itu semua Ciam-hua-giok-siu masih memiliki sifat kemujizatan lain! Yalah merampas senjata rahasia yang biasa atau yang sangat beracun sama mudahnya seperti kita membalikan telapak tangan!”

Dan sambil menoleh kepada Kong-ya Kim ia berkata lagi.

„Kim-ji, Ouw Locianpwee, si kipas baja, dan Khouw Locianpwee, si gaetan baja, adalah ahli-ahli melepaskan senjata-senjata rahasia. Misalnya ilmu To-sai-ban-thian-sing (Menyebar bintang di angkasa) dari Ouw Locianpwee dan senjata rahasia Bo-hong-yan- bie-tin (Jarum sakti) dari Khouw Locianpwee. Ilmu-ilmu tersebut telah menggetarkan kalangan Kang-ouw pada waktu-waktu yang lampau. Kau dapat mempertunjukkan semua senjata rahasiamu, lalu minta kedua Locianpwee ini memberikan petunjuk-petunjuk yang berharga kepadamu ”

Setelah berkata demikian, Kong-ya Coat lalu memegang Ciam- hua-giok-siu di depan dadanya, Kong-ya Kim membungkukkan tubuhnya memberi hormat sambil berkata.

„Kedua Loijianpwee yang terhormat, harap Locianpwee suka memberi petunjuk-petunjuk, aku akan segera mempertunjukkan kepandaian melontarkan senjata rahasiaku yang tidak seberapa ini!”

Setelah itu, dari kantong kulit macan tutul ia mengambil sesuatu dan secepat kilat tampak kembang api seperti bintang-bintang menyemprot keluar dari telapak tangannya.

Lontaran ini disertai dengan gerak-gerik kedua tangan dan langkah ke kiri dan ke kanan.

Bintang-bintang perak itu menyerang seluruh tubuh Kong-ya Coat, yang tampak hanya berdiri tenang-tenang bahkan sambil bersenyum, dan semua bintang-bintang perak itu tertarik ke arah telapak sarung tangan ajaibnya, setelah itu dengan satu kebatan saja semua senjata rahasia yang dilontarkan oleh Kong-ya Kim jatuh berarakan di lantai.

Cara Kong-ya Kim melepaskan senjata-senjata rahasia cepat dan dahsyat sekali tetapi sarung tangan ajaib itu dapat menarik semua senjata-senjata itu dengan lebih cepat lagi!

Bukan main terperanjatnya Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu setelah menyaksikan kemujizatan itu!

Kong-ya Coat menaruh kembali sarung tangan ajaibnya ke dalam kotak. „Ciam-hua-giok-siu adalah mustika yang sukar diperoleh,” katanya.

„Tetapi siapa saja yang dapat menjagoi di pertemuan Tan-kwi- piauw-hiang-song-gwat-ta-hwee nanti, akan kupersembahkan Ciam-hua-giok-siu sebagai hadiah!”

„Perbuatan demikian harus dipuji,” kata Ouw Lo Si. „Tetapi......

bukankah mustika itu telah kau peroleh dengan susah payah dan mungkin juga setelah membunuh banyak jiwa?! Jika kau rela menghadiahkan mustika itu kepada pemenang dari pertemuan adu silat yang kau selenggarakan itu, aku betul-betul tidak dapat mengerti sikapmu ini!”

„Akupun tak dapat mengerti ucapanmu itu!” kata Kong-ya Coat dengan gusar.

Khouw Kong Hu yang berangasan tiba-tiba berdiri tegak dari tempat duduknya dan membentak.

„Maksud kedatanganku di sini bukan untuk menghadiri pertemuan adu silat seperti mungkin yang kau duga! Dan juga bukan untuk merebut Ciam-hua-giok-siu! Kita telah datang untuk menanyakan tentang dibunuhnya saudara angkat kita, Kiu It beserta keluarga dan beberapa puluh jiwa lain di tempat kediamannya, Hui-ing-san- cong!!”

Kong-ya Coat jadi merandek mendengar kata-kata itu, yang seolah-olah menuduhnya telah melakukan pembunuhan.

„Kouw Tay-hiap! Kau telah datang dari tempat yang jauh, dan aku telah menyambut dengan hormat. Tetapi jika Khouw Tay-hiap menyebut-nyebut urusan yang aku sendiri tidak mengetahui sama sekali, dan seolah-olah menuduh aku yang melakukan pembunuhan itu, aku terpaksa harus mengusirmu keluar dari sini!” bentaknya dengan gusar.

Belum lagi Khouw Kong Hu menyahut, Kong-ya Coat telah berkata lagi.

„Aku Kong-ya Coat sudah beberapa bulan TIDAK keluar dari Tan- kwi-san-cong ku ini, dan aku tak mengetahui sama sekali tentang pembunuhan di markasnya saudara Kiu It. Maka jika Khouw Tay- hiap tanpa menyelidiki terlebih dulu dan tanpa bukti-bukti yang nyata menuduh aku, akupun minta penjelasan!”

„Aku Khouw Kong Hu takkan menuduh orang dengan membabi- buta!” bentak si gaitan baja. „Sebagai seorang kesatria, kau harus mengakui perbuatanmu itu. Kau tak dapat menyangkal begitu saja!”

„Hah! Menyangkal?!! Perbuatanku?!!” tanya Kong-ya Coat dengan gugup. „Khouw Tay-hiap! Aku minta penjelasan, atau kau takkan keluar dari ruang ini dalam keadaan hidup!”

Dengan sikap siap sedia dan geregetan, Khouw Kong Hu ingin menuturkan pembunuhan di tempat Kiu It, tetapi Ouw Lo Si meredakan suasana dengan berkata.

„Banyak orang telah mengetahui bahwa Kong-ya Tay-hiap tidak pernah berbuat keji semenjak berkecimpungan di kalangan rimba persilatan. Tetapi hari ini aku sungguh merasa kecewa sekali karena mengira Kiu It telah menipumu berkenan dengan Ciam- hua-giok-siu, kau telah membunuhnya beserta semua anggota keluarganya!

„Kau juga telah membunuh Yo Tie ko, Tong To Tit, Ciam Bun, dan Lo-san Song Kiam. Mereka itu tak ada sangkut-pautnya dengan Ciam-hua-giok-siu, tetapi kau telah juga membunuh mati mereka! Apakah kau tidak takut jika kawan-kawan atau saudara- saudaranya nanti datang untuk membikin pembalasan terhadapmu?! Kong-ya Coat! Kau mungkin kuat dan berpengaruh sekali, tetapi aku yakin kau tak dapat melawan banyak orang!”

Tetapi Kong-ya Coat mendengari tuduhan-tuduhan itu dengan agak tenang, bahkan kemudian sambil bersenyum ia menyahut.

„Kedua Tay-hiap kira aku ini telah tertipu oleh Kiu It sehingga aku membunuhnya dan semua anggota keluarganya? Mengingat akan tali persahabatan kita di kalangan Rimba persilatan dan agar tidak menerbitkan salah paham di antara kita, aku mohon kedua Tay- hiap bersabar sedikit untuk mendengari penjelasanku.

„Aku sudah berusia limapuluh tahun lebih, dan selama jangka waktu yang agak lama itu, aku yakin aku pernah juga menolong orang. Aku belum pernah menipu orang, tetapi jika orang ingin juga menipu aku, akupun takkan tinggal diam perbuatannya itu!” berbareng dengan selesainya kata-katanya itu ia menabas udara kosong dengan telapak tangannya menunjukan rasa gusarnya.

„Mustika yang aku bawa dari pegunungan Tiang-pek-san adalah Ciam-hua-giok-siu yang tulen!” ia melanjutkan. “Tetapi yang dibawa oleh Kiu It ke tempatnya adalah mustika yang palsu! Tentang membantu partai silat Cia It Hok, aku mengetahui bahwa Kiu It memang bermaksud menipu aku, tetapi aku tak menghiraukan itu. Barusan kedua Tay-hiap mengatakan bahwa Kiu It telah mati terbunuh. Aku merasa sangat sedih hati mendengar berita itu.

„Percayalah pembunuhan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Aku mengira orang yang membunuh itu menganggap bahwa Kiu It betul-betul telah memiliki Ciam-hua-giok-siu, dan orang itu telah pergi ke tempatnya dengan maksud merampas mustika itu. Akupun yakin orang itulah si pembunuh saudara angkat kalian!

„Di kalangan Rimba persilatan, ia dapat melakukan pembunuhan sekejam itu terbatas sekali jumlahnya. Jika kedua Tayhiap berhasrat membikin pembalasan atas kematian Kiu It, maka kalian harus menyelidiki dengan teliti dan cermat. Tadi kalian telah menuduh serta mencaci maki aku habis-habisan tanpa mempunyai bukti-bukti yang kuat.

Tetapi karena yakin kalian salah paham, akupun tidak mengambil pusing. Hanya sayang sekali kalian telah bertindak terlampau ceroboh ”

Peringatan itu merupakan juga suatu ejekan pedas terhadap Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu, namun penjelasan itu telah membuat mereka jadi sadar, bingung dan tak lagi berani menebak-nebak sembarangan siapa adanya pembunuh Kiu It itu!

Untuk sementara waktu suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara orang bernapas saja. Kong-ya Coat segera mengambil tempat duduk setelah memberi penjelasannya, sambil mengawasi kedua tamunya.

Tiba-tiba terdengar Ouw Lo Si tertawa berkakakan dan berkata.

„Orang-orang di kalangan Rimba persilatan telah menyatakan bahwa Kong-ya Tay-hiap sangat bijaksana, dan sekarang terbukti memang demikian! Kiu It hanya seorang jago silat dan aku yakin dia tak dapat menipu orang apalagi Kong-ya Tay-hiap yang cerdik pandai! Aku minta maaf atas kecerobohanku tadi. Namun aku masih juga belum dapat memecahkan teka-teki pembunuhan besar-besaran itu.”

Kong-ya Coat bersenyum lebar mendengar ucapan itu,

„Kedua Tay-hiap telah datang dari tempat yang jauh,” katanya.

„Aku harus menjamu kalian,” sambil meneriakkan orang-orangnya menyiapkan hidangan dan arak.

„Barusan Kong-ya Tay-hiap telah menceritakan peristiwa partai Tiang-pek-kiam,” kata Ouw Lo Si, „dan cara bagaimana pemimpin partai tersebut memperoleh mustika mujizat itu? Apakah kita dapat mengetahui seluk beluknya?”

Sambil bersenyum dan mempersilahkan tamu-tamunya makan dan minum, Kong-ya Coat berkata.

„Cerita ini agak panjang, tetapi jika kalian ingin mengetahui aku rela menceritakan segala sesuatu. Sebagaimana kalian telah mengetahui, partai silat Tiang-pek-kiam dulunya tergolong sebagai salah satu partai silat yang sangat dimalui. Namun dalam beberapa tahun ini, partai itu telah mengalami kemerosotan hebat sekali dan aku rasa kalianpun tentu sudah mengetahui juga akan hal ini bukan?”

Dengan hampir berbareng Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu mengangguk.

Maka mulailah Kong-ya Coat dengan kisahnya.

Semasa mudanya Kong-ya Coat tak pernah mempunyai hubungan dengan partai Tiang-pek-kiam. Baru pada tahun yang lalu Kiu It datang ke tempatnya dan memberitahukan bahwa partai Tiang- pek-kiam tengah menghadapi krisis dan memintanya datang membantu.

Semula Kong-ya Coat menolak permintaan itu, karena sungkan mencampuri urusan orang lain, tetapi Kiu It memberitahukan bahwa partai Tiang-pek-kiam akan memberikan hadiah yang tak ternilai harganya, yalah Ciam-hua-giok-siu kepada siapa saja yang dapat membantu mengatasi kesulitan partai tersabut.

Setelah mempertimbangkan masak-masak, Kong-ya Coat jadi sangat tertarik oleh benda ajaib yang akan diberikan sebagai hadiah itu. Maka segera ia menanyakan kesulitan-kesulitan partai itu.

Dari Kiu It ia mengetahui bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh partai silat itu rumit sekali.

Kesulitan kesatu. Saudara seperguruan Cia It Hok, Pek Tiong Thian, telah bermusuhan dengan ketiga jago silat pedang dari partay Kong- tong-sa-kiam, dan ketika Pek Tiong Thian bertarung melawan ketiga jago silat pedang itu, ia telah terluka di kakinya, tetapi Kim Cin Hu, salah satu ketiga jago silat pedang itu, juga kena jotosannya.

Mula-mula jotosan tersebut tidak mengakibatkan apa-apa. Tetapi kemudian setelah Kim Cin Hu menikah dan istrinya melahirkan anak, luka bekas jotosan Pek Tiong Thian itu merupakan luka di dalam tubuh yang tak dapat disembuhkan lagi! Oleh karena itu, partai silat Kong-tong-sa-kiam ingin membalas dendam dan segera mengumpulkan orang-orangnya dan menantang partai silat Tiang- pek-kiam bertarung pada tanggal satu bulan tiga!

Kesulitan kedua.

Belum selang beberapa lama ini partai silat Ang-si-pang yang senantiasa bermusuhan terhadap partai Tiang-pek-kiam, setelah mengetahui kemerosotan partai lawannya lalu mendesak supaya partai tersebut pindah dari pegunungan Tiang-pek dalam jangka waktu dua bulan, dan jika tidak mereka akan disapu bersih oleh partai silat Ang-si-pang!

Kesulitan ketiga.

Kuil Cit-po-si di pegunungan Ngo-tay-san telah kehilangan suatu mustika, dan pencurinya telah meninggalkan sajak yang berbunyi.

Angin meniup LAMA (Tiang) sekali,

Ombak PUTIH (Pek) bergolak-golak dan menari, Yang MENGAMBIL mustika ini. Telah MELARIKAN DIRI! (Ki)

Pemimpin kuil Cit-po-si itu, Bak Kiam Taysu, telah memetik tiap- tiap huruf kepala dari sajak dan menggabungkannya menjadi satu.

TIANG PEK MENGAMBIL DAN MELARIKAN DIRI!!!

Bak Kiam Taysu mengambil kesimpulan bahwa partai Tiang-pek- kiam lah yang mencuri mustika itu!

Maka ia menulis surat kepada partai itu, menuntut agar mustika tersebut dikembalikan dalam jangka waktu satu bulan.

Demikianlah tiga soal yang sulit sekaligus telah menimpa partai Tiang-pek-kiam, dan Cia It Hok tidak berdaya!

Kiu It yang mengetahui kesulitan-kesulitan itu tetapi karena tak mampu membantu, ia lalu minta bantuan Kong-ya Coat dengan maksud memancing di air keruh! Disamping itu karena ia mengetahui bahwa Kong-ya Coat mengenal baik partai Ang-si- pang dan juga Bak Kiam Taysu dari Ngo-tay-san, maka menurut anggapannya si orang she Kong-ya itulah orang yang paling tepat untuk diminta pertolongannya.

Maka setelah meninggalkan pesan kepada orang-orangnya, berangkatlah Kong-ya Coat bersama-sama Kiu It, putera angkatnya Kong-ya Kim dan dua orang muridnya ke pegunungan Tiang-pek. Pada pertengahan bulan dua itu suasana sebelah selatan sungai Tiang-kang sudah menunjukkan musim semi, tetapi di sebelah utara masih terlihat salju menutupi jalan.

Kong-ya Coat tampaknya sedih melihat keadaan alam yang tidak adil itu, tetapi tidak demikian halnya dengan Kiu It, yang ingin lekas- lekas sampai di pegunungan tersebut.

Mereka semua memiliki ilmu silat yang tinggi, maka betapapun sukarnya perjalanan itu dapat mereka tempuh dalam waktu yang singkat sekali, dan mungkin juga kedatangan mereka yang cepat itu telah berhasil menolong partai yang tengah ditimpa bahaya keruntuhan itu.

Ketika hampir tiba di markas besar partai itu, yang terletak di¬ lereng pegunungan Tiang-pek yang bernama Leng-tiang-koan, mereka dibikin kaget oleh jeritan yang menyayatkan hati!

Kong-ya Coat mendongak dan menatap keadaan sekitar pegunungan itu.

„Kiu Tay-hiap! Mungkin telah terjadi sesuatu yang tidak beres!” kata Kong-ya Coat sambil menyuruh putera angkatnya memimpin dua orang muridnya masuk ke markas itu dari pintu belakang ia sendiri bersama-sama Kiu It segera memburu ke muka.

Cahaya lampu masih bersinar dari Leng-tiang-koan, tetapi suara jeritan sudah tidak terdengar lagi. Kiu It jadi tidak sabaran dan berseru keras. „Hei kalian yang berada di Leng-tiang-koan, Sam-kiat-sian-seng dari Tan-kwi-san-cong sudah berada di sini!”

Lalu dari dalam markas itu tampak loncat keluar seorang yang berjubah warna abu-abu dan bersenjata pedang panjang sambil berseru.

„Kong-ya dan Kiu Tay-hiap berada dimana? Kong-tong-sa-kiam ingin membunuh pemimpin. kami, Cia It Hok!”

Tatkala itu betul saja keadaan di partai Tiang-pek-kiam sudah kacau tiga orang murid dari empat yang dapat diandeli sudah terluka. Yang berlari dan berseru tadi adalah seorang murid partai Tiang-pek-kiam yang telah dilukai oleh Tong Peng, seorang jago silat sewaan yang istimewa diundang oleh partai Kong-tong-sa- kiam!

Cia It Hok melihat murid kesayangannya dibunuh mati, dan penolong yang diharap-harap belum juga tiba, maka ia terpaksa melawan dengan nekad, dan ketika ia melawan Kim Cin Jie, salah satu dari pemimpin partai Kong-tong-sa-kiam, ia merasa bahwa ia masih dapat bertahan.

Dalam kegelisahannya, ia menjadi sangat gembira ketika mendengar seruan Kiu It, dan segera meloncat menghampiri Kong-ya Coat seraya berkata.

„Aku girang sekali Kong-ya Tay-hiap telah tiba!”

Sementara itu pertempuran pun dengan tiba-tiba jadi terhenti. Kong-ya Coat memperhatikan bahwa di pekarangan depan Leng- liang-koan telah ditancapkan banyak obor, beberapa Tojin (pendeta) berdiri di sebelah kanan, dan di bawah atap gedung tampak duduk di atas bangku panjang, empat jago silat yang berusia lebih kurang setengah abad. Kong-ya Coat segera yakin bahwa mereka itu adalah tampuk pimpinan dari partai Kong-tong- sam-kiam yang telah datang hendak membikin perhitungan terhadap partai Tiang-pek-kiam. Karena belum pernah ada hubungan dengan partai itu, maka sambil mengangkat kedua tangannya Kong-ya Coat memberi hormat seraya berkata dengan nada keras.

„Aku Kong-ya Coat malam ini    ”

Belum selesai ucapannya itu ketika Kim Cin Jie, salah satu pemimpin partai Kong-tong-sam-kiam mengejek.

„Sam-kiat-sian-seng sudah terkenal di kolong langit, dan kita juga sangat menghormatinya!”

Betul nada ucapan itu sangat hormat, namun Kong-ya Coat harus menghadapi musuh-musuh partai Tiang-pek-kiam itu. Dengan sikap yang tenang ia menyahut.

„Aku Kong-ya Coat hanya seorang Bu-beng-siauw-cu (orang yang tak terkenal) dan tak dapat dipersamakan dengan para Tay-hiap dari partai Kong-tong-sam-kiam!”

Ketika itu sambil menatap Kim Cin Jie, Kiu It berkata. „Kong-ya Tay-hiap, yang bicara itu adalah Kim Cin Jie tay-hiap, si tujuh keistimewaan!”

Kiu It sengaja menyebut ‘si tujuh keistimewaan’ itu keras-keras untuk membangkitkan amarah Kong-ya Coat, tetapi ia menjadi kecele, karena ternyata si dewa sakti tak dapat ‘dibakar’! Tampak ia berdiri tenang sambil menatap Kim Cin Jie yang terdengar berkata.

„Betul aku mempunyai julukan tujuh keistimewaan, namun aku tak dapat melawan Kong-ya Tay-hiap yang memiliki ilmu silat maha tinggi ”

LIMA

Kong-ya Coat masih berdiri tenang, hanya matanya menatap tajam bakal lawannya itu.

Kemudian terdengar Kim Cin Jie berkata lagi.

„Apakah Kong-ya Tay-hiap datang ke sini pada malam ini dengan maksud pesiar atau ingin membantu partai Tiang-pek-kiam?!”

„Akupun ingin bertanya, apakah Kim Tay-hiap beramai-ramai datang ke sini pada malam ini dengan maksud pesiar atau memang sengaja ingin mencari musuh?!” kata si dewa sakti sambil mengelus-elus jenggotnya.

Kim Cin Jie tercengang melihat ketabahan lawannya itu, namun ia tertawa gelak-gelak seraya menyahut. „Pertanyaan jitu! Pertanyaan jitu! Tetapi Kong-ya Tay-hiap tak usah menanya mengapa aku Kim bersaudara telah datang ke sini, karena tentu kau telah mengetahui bahwa kita datang untuk membalas dendam. Membalas dendam adik kita yang tewas! Apakah langkah kita ini salah?!”

Dalam Rimba persilatan, budi dan dendam jelas sekali perbedaannya. Yang pertama harus dibalas, sedangkan yang kedua harus dibikin perhitungan!

Pertanyaan Kim Cin Jien sangat jitu, namun Kong-ya Coat yang telah mengetahui jelas duduknya perkara menyahut.

„Aku betul-betul seperti kodok di dalam sumur, tidak mengetahui bahwa adikmu telah tewas. Aku mohon menanya. Cara bagaimanakah tewasnya adikmu di tangan Cia Tay-hiap? Menurut pengetahuanku, selama sepuluh tahun belakangan ini dia belum pernah menginjak daerahmu, malah sebaliknya kalian ketiga saudara dari partai Kong-tong-sa-kiam yang sering mundar mandir di daerah pertengahan, bahkan di daerah pegunungan Tiang-pek- san ini. Apa maksudnya ini?!”

Kim Cin Jie menjadi gusar ditanya begitu, sambil menahan amarahnya ia menyahut.

„Adikku bukan tewas di tangan Cia It Hok, tetapi dia mati akibat totokan Pek Tiong Thian yang menjadi saudara angkatnya orang she Cia itu! Kita mengetahui bahwa Pek Tiong Thian bersembunyi di sini, jika kita datang ke sini untuk membikin perhitungan, apakah tindakan kita ini harus disesalkan dan salah?!” „Hm...... tidak mungkin!” kata Kong-ya Coat. „Menurut pengetahuanku, Pek Tiong Thian telah lumpuh kedua kakinya dan telah menjadi orang cacad, sedangkan ketiga sandara Kim terkenal lihay ilmu silatnya. Jika kau bilang adikmu tewas di tangan Pek Tiong Thian, aku betul-betul tak dapat mengerti kata-katamu itu!”

Bukan main gusarnya Kim Cin Jie, tampaknya ia sudah hilang sabar.

„Aku sudah lama menaruh hormat kepadamu yang senantiasa bertindak bijaksana. Tetapi sekarang kau telah mempermainkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang ganjil. Apa maksudmu?!!” bentaknya.

„Hah    ! Aku mempermainkanmu?” Kong-ya Coat balik menanya.

„Dengan cara apakah aku mempermainkanmu? Aku hanya ajukan pertanyaan-pertanyaan yang berdasarkan kenyataan atau kejadian!”

Kim Cin Jie yang memang kurang pandai bicara itu jadi menggigil dadanya saking gusar.

„Adikku telah ditotok oleh Pek Tiong Thian banyak tahun yang lalu, dan luka di dalam tubuhnya itu tak dapat disembuhkan sehingga ia meninggal dunia. Sekarang kita datang ke sini dengan maksud mengambil batok kepala orang she Pek itu, agar dapat aku taruh kepalanya di depan kuburan adikku. Dan siapapun tak dapat merintangi tindakan kita ini!” Demikianlah tanya jawab itu berlangsung dengan sengit, sehingga orang lain tak berkesempatan bicara.

Ketika itu empat orang yang duduk di bangku panjang, di bawah atap rumah, sudah siap sedia untuk menyerang Kong-ya Coat. Suasana yang semula gaduh dengan perdebatan itu menjadi sunyi dan tegang! Angin sepoi-sepoi meniup api obor yang menerangi tempat itu, dan tampak tiap-tiap orang yang berada di situ bersikap waspada sambil bersiap-siap menghadapi segala sesuatu!

Tetapi si dewa sakti Kong-ya Coat tetap mengelus-elus jenggotnya dan dengan sikap serta nada yang tenang berkata.

„Kim Tayhiap, kau sudah lama berkecimpungan di kalangan Rimba persilatan, mengapa kau bicara demikian kasarnya?”

Kim Cin Jie menghunus pedangnya dan membentak.

„Apa yang aku katakan tadi bukan isapan jempol! Apakah aku telah bicara salah?!”

„Aku yakin, kau seperti juga aku, telah bertempur melawan musuh beratus kali! Kita tidak mengetahui apakah di dalam tubuh kita ada luka-luka, dan jika ada kitapun tak dapat mengetahui luka-luka itu siapa yang buat!” si Dewa sakti memberi pembelaan kepada saudara seperguruan Cia It Hok, Pek Tiong Thian.

„Tetapi dalam hal ini aku mengetahui bahwa luka adikku itu akibat totokan Pek Tiong Thian!” sahut Kim Cin Jie. „Aku sudah periksa dan yakin. Kita takkan bertindak jika tidak mengetahui betul!” „Dengan cara apakah Kim Tay-hiap menentukan bahwa luka tersebut dibuat oleh Pek Tiong Thian?” Kong-ya Coat menekani terus lawannya.

Perdebatan yang makin lama makin sengit itu agaknya akan habis sampai di situ, karena tampak Kim Cin Jie sudah tak lagi dapat menahan amarahnya, sambil mengacung-acungkan pedangnya ia membentak.

„Hei, Kong-ya Tay-hiap, aku sudah banyak mengalah, jika kau tetap ingin turut campur dalam urusan ini, aku terpaksa ”

Belum selesai bentakan itu diucapkan, seketika dari samping berkelebat satu bayangan yang segera mencekal pergelangan tangan Kim Cin Jie, yang sudah siap menyerang, seraya berkata.

„Twako! Tahan dulu. Tidak salahnya jika kita menjelaskan dan membuktikan bahwa luka adik kita dibuat oleh Pek Tiong Thian. Dengan demikian kita dapat membuktikan bahwa kita bertindak berdasarkan bukti-bukti yang nyata!”

Lalu sambil menghadap kepada Kong-ya Coat orang itu berkata lagi.

„Kong-ya Tayhiap, aku Kim Cin Lam akan menjelaskan bahwa adikku mati karena totokan Pek Tiong Thian!”

Kemudian dengan nada yang agak keras agar dapat didengar jelas, Kim Cin Lam mulai. „Delapan tahun yang lalu, adikku telah memberi kesempatan untuk Pek Tiong Thian membebaskan diri dari pedangnya, tetapi di waktu adikku kurang waspada, ia telah menotok jalan darah di bagian ginjalnya. Oleh karena itu adikku terpaksa menabas urat kedua kakinya. Betul ketika itu adikku tidak merasai akibat totokan maut itu, namun akhirnya ternyata adikku tewas juga karenanya! Aku yakin betul, karena luka itu adalah akibat daripada totokan Soat- leng-ciang (totokan ajaib) dari partai silat Tiang-pek-kiam!”

Kong-ya Coat mengangguk-angguk seolah-olah setuju dan sependapat dengan Kim Cin Lam, kemudian ia berkata.

„Aku jarang keluar, dari itu aku tak mengetahui kematian adik kalian. Aku menyatakan turut duka cita ”

Kedua saudara Kim yang meskipun sudah banyak pengalamannya, tak dapat mentafsirkan tipu muslihat lawannya yang licin itu.

„Delapan tahun yang lalu!” kata si dewa sakti. „Sebetulnya luka yang terjadi pada delapan tahun berselang tak mungkin mengakibatkan matinya seseorang! Maka mau tak mau aku terpaksa harus turut campur dalam urusan ini!”

Kim Cin Lam yang senantiasa bersikap sabar selama pertengkaran tadi berlangsung, kini diapun tak lagi dapat menahan kesabarannya, sambil tertawa berkakakan ia berseru.

„Di kalangan Kang-ouw, yang ilmu silatnya tinggi, dialah yang kuat! Dan omongannya selalu dibenarkan. Kau mengapa bicara panjang lebar, jika berhasrat menggempur kita, kau boleh segera mulai, kita sudah siap!”

„Aku sebetulnya tidak ingin melihat pengucuran darah,” sahut Kong-ya Coat dengan tenang, „maka aku akan berusaha membujuk kalian agar pertarungan atau saling bunuh ini dapat dielakkan. Tetapi kini ternyata usahaku ini hampa saja! Aku telah berlatih beberapa jurus ilmu silat, jika kedua saudara Kim dan ketiga kawan-kawan kalian itu dapat melayani jurus-jurusku, aku segera angkat kaki dari sini!”

„Ha, ha, ha!” Kim Cin Lam tertawa, „kita sudah lama mendengar nama Sam-kiat-sian-seng yang sangat tenar itu. Jika kau dapat mengajari kita jurus-jurus meringankan tubuh, mengerahkan tenaga dalam dan ilmu silat pedang, maka kitapun takkan tinggal lama-lama di sini!”

Pada saat itu Kim Cin Jie sudah mulai melangkah mundur satu tumbak.

Tampak Cia It Hok menghampiri Kong-ya Coat dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Kiu It pun menghampiri dan berbisik di telinganya Kong-ya Coat.

„Kong-ya Tay-hiap, jatuh bangunnya partai silat Tiang-pek-kiam ini terletak dalam tangan Tay-hiap ”

Kong-ya Coat bersenyum dan menyahut dengan suara rendah.

„Jangan khawatir! Kiu Tay-hiap harus menaruh kepercayaan kepadaku ” Lalu sambil mengepal keras tinjunya ia berseru.

„Aku Kong-ya Coat akan segera mulai mempertunjukkan ilmu silatku!”

Belum lagi suaranya lenyap segera tampak tubuhnya mencelat ke udara untuk kemudian turun di dalam ruangan depan gedung dengan ilmu Giok-li-tok-so (Gadis cantik melemparkan anak torak).

Orang-orang yang berada di situ jadi terperanjat menyaksikan gerak-gerik secepat kilat itu!

Selagi orang-orang terbengong, Kong-ya Coat sudah keluar dari gedung itu sambil memegang empat lilin yang menyala, dengan satu teriakan „Hai!” ia melempar empat lilin-lilin itu ke atas atap gedung.

Keempat lilin tersebut tertancap tegak dan berbaris di atas atap gedung itu.

Lawan maupun kawan setelah menyaksikan kelihayan ilmu silat Kong-ya Coat itu, menjadi kagum tak terhingga. Belum habis keheranan mereka ketika Kong-ya Coat mengebatkan lengan jubahnya dan hembusan angin lengan jubahnya itu telah meniup padam tiga lilin. Kini hanya tertinggal satu lilin saja yang masih menyala.

Kemudian dengan tiba-tiba Kong-ya Coat menjotos dengan tinju kirinya. “Bek!” lilin kedua menyala lagi, setelah itu berturut-turut ia telah menjotos dua kali lagi dan keempat lilin tampak menyala lagi seperti semula. Demikianlah dengan mempergunakan api lilin yang masih menyala itu Kong-ya Coat telah berhasil membuat api lilin meloncat dan menyulut lilin-lilin yang lain!

Pertunjukan itu belum habis sampai di situ. Cepat sekali ia telah mengambil pedang dari tangan Cia It Hok dan meloncat melalui lilin-lilin yang menyala di atas atap gedung untuk turun lagi di tanah dengan tak menerbitkan suara apapun, disertai dengan jatuhnya empat lilin-lilin yang menyala itu, yang kini telah terpotong menjadi 4 X 7 = 28 potongan! Entah bagaimana ia menabasnya hanya terlihat ia loncat dan keempat lilin itu telah menjadi potong- potongan!

Kiu It yang terkenal karena ilmu silat pedangnya pun terpesona menyaksikan ilmu silat Kong-ya Coat itu.

Ternyata Kong-ya Coat tidak berhenti hingga di situ. Ia menjumput duapuluh delapan potongan-potongan lilin tadi, lalu melemparkannya di pekarangan. „Sst......! sst !”

Tampak lilin-lilin itu tetap menyala dan menyala dan menancap di tanah merupakan satu lingkaran! Dalam hal ini Kong-ya Coat bukan saja telah mampertunjukkan tiga rupa ilmu silat, yalah ilmu meringankan tubuh, mengerahkan tenaga dalam dan ilmu silat pedang, tetapi iapun telah mempertunjukkan juga ilmu melontarkan senjata rahasia!

Kim Cin Jie dan Kim Cin Lam, begitu juga tiga jago-jago silat yang mereka ajak datang, setelah melihat kelihayan itu, segera mengangkat kaki keluar dari pekarangan tanpa menggerutu atau mengucapkan apapun! Sejenak kemudian terdengar sayup-sayup Kim Cin Lam berseru.

„Ilmu silat Kong-ya Tay-hiap memang tiada taranya    ”

„Kita masih dapat berjumpa lagi,” sahut Kong-ya Coat, „Karena jika kalian tak berhalangan, aku ingin mengundang kalian ke tempatku, Tan-kwi-san-cong ”

Di jalan pegunungan yang gelap gulita itu tidak terdengar suara sahutan, hanya terdengar tindakan kaki rombongan Kim bersaudara yang meninggalkan tempat tersebut dengan tergesa- gesa.

Kong-ya Coat telah berhasil membereskan pertikaian itu bahkan tanpa pengucuran darah setetespun!

Cia It Hok, yang tidak kawin seumur hidupnya, pemimpin partai Tiang-pek-kiam, merasa malu tak dapat memecahkan soalnya sendiri, maka setelah musuh-musuhnya berlalu ia segera menghampiri penolongnya itu, memberikan hormatnya dan berkata.

„Kong-ya Tay-hiap telah datang pada waktu yang tepat, dan bukan saja telah menolong jiwa Sutee ku, Pek Tiong Thian, tetapi juga beberapa puluh jiwa orang-orang dari partai kami, Tiang-pek-kiam. Budi yang maha besar ini, aku takkan lupakan!”

Kong-ya Coat merasa jengah menerima pujian itu, tetapi Kiu It tertawa sambil berkata.

„Mereka dari Kong-tong-sa-kiam sebetulnya berjanji datang pada tanggal satu bulan tiga, tetapi mereka telah datang setengah bulan lebih cepat. Aku yakin mereka khawatir Cia Heng mendatangi pembantu-pembantu!”

„Akupun takkan lupakan Kiu Heng yang sudah sangat perlu datang dan menolong kawan di dalam susah!” kata lagi Cia It Hok.

Baru saja ia berkata begitu, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh suara di atas atap gedung.

„Siapa?!” tegurnya.

Kong-ya Coat menyahut sambil bersenyum. „Itulah murid-muridku yang sedang menjaga-jaga di atas atap gedung ini.”

Betul saja sejenak kemudian dari atas atap gedung loncat turun Kong-ya Kim dan dua orang murid dari Tan-kwi-san-cong.

Setelah mereka berkumpul lagi, Kiu It lalu berkata.

„Orang-orang dari Kong-tong-sa-kiam sudah pergi, dan musuh- musuh dari dua tempat lain adalah berkawan sangat akrab dengan Kong-ya Tay-hiap. Kini aku kira bahaya bagi partai Tiang-pek-kiam sudah lewat. Saudara Cia sekarang tentunya harus menjamu Kong-ya Tay-hiap bukan ? Ha, ha, ha!”

Demikianlah Kong-ya Coat telah mengisahkan kepergiannya ke tempat Cia It Hok untuk menolong partai Tiang-pek-kiam dari keruntuhan.

Kemudian sambil menjamu kedua tamunya ia meneruskan. „Perlu kiranya aku jelaskan kepada Tay-hiap bahwa kedua Kim bersaudara dari partai Kong-tong-sa-kiam telah memegang janji, dan dapat dikatakan mereka adalah jago-jago silat yang luhur juga wataknya. Tetapi tidak demikian dengan Cia It Hok dan Pek Tiong Thian, aku lihat mereka berwatak palsu! Sebab musabab perselisihan Pek Tiong Thian dengan partai Kong-tong-sa-kiam sampai sekarang aku masih belum mengetahui jelas, dan aku merasa sedikit menyesal telah menolong partai tersebut, meskipun Cia It Hok telah memberikan Ciam-hua-giok-siu kepadaku sebagai hadiah!”

Ouw Lo Si yang mendengari dengan penuh perhatian kisah Kong- ya Coat itu, berkata dalam hatinya. Hm! Berlagak menyesal! Yang kau pentingkan yalah memperoleh Ciam-hua-giok-siu!

Tetapi sambil bersenyum ia lalu berkata.

„Menurut pandanganku, hanya Kong-ya Tay-hiap seorang saja yang dapat menolong partai silat Tiang-pek-kiam dan mengusir orang-orang dari partai Kong-tong-sa-kiam yang congkak itu dengan mudah!”

Kong-ya Coat bersenyum dipuji demikian. Setelah menghirup araknya ia lalu melanjutkan kisahnya.

Maka perjamuan disediakan, dan setelah selesai bersantap, Cia It Hok mengambil dari dalam kamarnya sebuah kotak yang tersulam indah.

Dengan kedua tangannya ia mempersembahkan kotak itu seraya berkata. „Dari tempat yang jauh Kong-ya Tay-hiap telah datang untuk menolong kita semua dari kemusnahan. Perbuatan yang luhur itu pasti akan dipuji oleh orang-orang dari kalangan Rimba persilatan. Seperti telah kujanjikan, aku akan memberikan Ciam-hua-giok-siu sebagai hadiah kepada orang yang dapat menolong kesulitan- kesulitan partaiku. Tetapi ketika aku memperoleh mustika ini, aku memperoleh tiga benda dua yang palsu dan satu yang tulen, dan ditaruh di dalam kotak yang indah bentuknya. Aku yang bodoh tak dapat membedakan yang tulen dari yang palsu! Oleh karena itu, aku mohon Kong-ya Tay-hiap memilih sendiri satu, dan setelah ketiga kesulitan partai kita di atasi tay-hiap dapat mengambilnya semua ”

Kong-ya Coat bersenyum dan yakin bahwa Cia It Hok khawatir sebelum ketiga kesulitan partainya itu di atasi, ia sudah berlalu.

Iapun memperhatikan perubahan wajah Kiu It yang mendadak itu. Lalu ia berkata dengan tenang.

„Aku datang ke sini dengan perjanjian yang layaknya dibuat di kalangan Rimba persilatan untuk membantu partai Tiang-pek- kiam. Cara Cia Tay-hiap membalas budi yang tidak berarti ini, aku tentu pasrahkan kepada Cia Tay-hiap!”

Meskipun perkataannya itu demikian merendah dan manisnya, tetapi dalam hati Kong-ya Coat berkata. Jangan coba menipu aku !

Pada malam itu mereka menginap di tempat partai Tiang-pek-kiam, tetapi Kong-ya Coat dan Kiu It diberi kamar-kamar yang terpisah. Sebelum masuk tidur Kong-ya Coat berkata kepada Kiu It. „Kali ini dengan mengeluarkan sedikit tenaga aku berhasil memperoleh Ciam-hua-giok-siu. Aku mengetahui bahwa Cia Tay- hiap sangat murah hati. Jasa Kiu Tay-hiap pun aku tak bisa lupakan, karena Kiu Tay-hiap telah memberitahukan juga semua ini kepada aku meskipun kau harus menempuh perjalanan yang jauh. Jika Kiu Tay-hiap ada sesuatu yang aku dapat menolong, sebutkanlah dan jangan sungkan-sungkan !”

Tampak Kiu It menjadi girang sekali mendengar tawaran itu,

„Sebetulnya aku memang ingin meminta sesuatu dari Kong-ya

Tay-hiap ” katanya sambil menyengir paksaan.

„Sebutkanlah, jika aku dapat menolong, aku pasti akan menolong!” kata Kong-ya Coat.

„Permintaanku ini jika diajukan kepada orang lain mungkin tak layak,” kata Kiu It. „Tetapi diajukan kepada Kong-ya Tay-hiap yang luhur dan budiman, aku yakin tidak janggal! Cia Tay-hiap telah menaruh tiga Ciam-hua-giok-siu, dua yang palsu dan satu lagi yang tulen. Orang lain tak dapat melihat perbedaannya, tetapi bagi Kong-ya Tay-hiap aku yakin tentu tidak sukar untuk memilih satu yang tulen!” ia berhenti sejenak dan berpikir, lalu sambil bersenyum ia melanjutkan.

„Aku minta setelah terlebih dulu Kong-ya Tay-hiap memilih satu, yang dua lagi harap Tay-hiap suka berikan kepadaku sebagai kenang-kenangan.” Kong-ya Coat terperanjat mendengar permintaan itu, karena ia sudah merasa bahwa dengan permintaannya itu, Kiu It bermaksud menipunya!

Namun ia tetap bersikap tenang bahkan sambil tertawa ia menyahut.

„Kiu Tay-hiap telah berusaha menolong partai Tiang-pek-kiam dari kemusnahan, jasa itu besar sekali, seratus kali lebih besar dari pada jasaku sendiri! Misalnya Cia Tay-hiap menghadiahkan Kiu Tayhiap Ciam-hua-giok-siu, akupun anggap itu pantas dan wajar. Tetapi atas permintaan Kiu Tay-hiap agar aku mengambil satu lebih dulu, aku merasa lebih baik jika Kiu Tay-hiap saja yang berbuat demikian terlebih dulu!”

Kiu It berlagak menolak, padahal itulah yang ditunggu-tunggu olehnya.

„Selama hidupku,” Kong-ya Coat mendesak, „apa yang aku telah ucapkan, aku takkan menarik kembali. Aku harap Kiu Tay-hiap tidak menolak permintaanku ini!” Lalu dengan berlagak ngantuk Kong-ya Coat meneruskan.

„Kita telah menempuh perjalanan satu hari penuh dan aku merasa letih sekali, harap Kiu Tay-hiap suka memaafkan, aku harus pergi tidur. ”

„Silahkan!” kata Kiu It dengan wajah gembira. „Aku mengucap banyak-banyak terima kasih atas kerelaan Kong-ya Tay-hiap!” lalu ia pun berlalu untuk beristirahat. Demikianlah penuturan Kong-ya Coat kepada Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu, bagaimana ia ingin ditipu oleh Kiu It.

Setelah minum satu cangkir arak lagi, ia berkata seolah-olah berada seorang diri saja di ruangan itu.

„Hm! Kiu It menganggap aku sebagai anak kecil yang dapat ia permainkan dengan mudah. Ia sudah sengaja membuat dua lagi Ciam-hua-giok-siu yang ditaruhnya di dalam kotak. Akupun sengaja menyuruh dia mengambil satu terlebih dulu, dan ia tentu akan mengambil yang tulen, meninggalkan dua yang palsu untuk aku. Tetapi ”

„Kiu It tidak dapat menipu Kong-ya Tay-hiap bukan?” Ouw Lo Si meneruskan kata-kata Kong-ya Coat itu.

„Ha, ha, ha!” Kong-ya Coat tertawa keras, „ketika aku menyuruhnya mengambil satu lebih dulu, akupun sudah memasang perangkap. Aku memperhatikan tiap-tiap geraknya, tampak ia keluar dari kamarnya untuk kemudian balik kembali dengan wajah gembira sekali. Kemudian tampak ia keluar lagi melalui jendela, aku tetap menguntit tanpa diketahui olehnya ”

Kemudian Kong-ya Coat masih dapat melihat Kiu It meloncat ke atas atap rumah, dari atas ia meloncat lagi melalui tembok yang melingkari pekarangan depan rumah itu.

Kong-ya Coat tetap membayangi dengan cermat.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang mahir tampak Kiu It berhati- hati ke suatu rumah gubuk kecil yang terletak tidak jauh dari jalan yang gelap di situ, lalu terdengar ia mengetok pintu rumah tersebut, dan tak lama kemudian terdengar suara dari dalam rumah.

„Siapa?”

Sebelum menyahut Kiu It menoleh ke kanan ke kiri khawatir ada yang menguntitnya.

„Aku Kiu It!” sahutnya dengan suara rendah.

Pintu tampak terbuka, dan ia segera masuk ke dalam rumah gubuk itu.

Tempat itu telah ditelantarkan, rumput liar tumbuh di sana-sini dan keadaan di sekitarnya gelap serta menjijikan. Kong-ya Coat menjadi heran, siapakah gerangan yang tinggal dalam rumah reyot itu?

Dari belakang satu pohon besar, tidak jauh dari rumah itu, Kong- ya Coat dapat melihat melalui jendela yang kebetulan terbuka. Tampak Kiu It sedang menghadapi seorang laki-laki yang terbaring di tempat tidur. Disamping tempat tidur itu tampak sepasang tongkat ketiak. Kong-ya Coat jadi terkejut sekali tatkala dapat mengenali wajah orang yang sedang rebah itu, karena dia itu bukan lain daripada Pek Tiong Thian, si garuda putih yang pernah menggemparkan dunia Kang-ouw!

Agar dapat melihat lebih jelas, Kong-ya Coat segera mencelat ke atas sebuah dahan satu pohon yang lebat daunnya, tak lama kemudian ia mendengar orang di dalam kamar itu berkata. „Kiu Heng, apakah kau yakin tiada orang yang menguntitmu datang di sini?”

„Harap Pek Heng tidak menjadi khawatir, urusan itu aku tentu dapat melaksanakan dengan baik.”

„Hai......, Kiu Heng jika kau terpaksa berbaring di tempat tidur ini, dan harus senantiasa dibantu dalam segala hal, kau juga tentu akan menjadi mudah gelisah seperti aku!”

„Pek Heng, aku yakin kedua kakimu itu masih dapat disembuhkan!”

Pek Tiong Thian menarik napas lagi, lalu ia menatap Kiu It seraya berkata.

„Urusan kemarin malam aku sudah mengetahui. Tetapi apakah Kiu Heng sudah ajukan usul kepada Kong-ya Coat agar dia menyerahkan hadiah itu setelah dia sendiri lebih dulu memilih satu hadiah?”

„Urusan itu telah berjalan dengan lancar dan baik. Kong-ya Coat bukan saja setuju akan usul-usul yang kuajukan, bahkan dia rela memberikan kepadaku satu Ciam-hua-giok-siu!”

Pek Tiong Thian pun tampaknya gembira sekali dengan jawaban itu.

„Bagus, bagus! Jika tidak, mungkin jiwaku tak dapat dipertahankan lagi! Di bawah tempat tidurku ini aku telah siapkan kotak berikut Ciam-hua-giok-siu yang palsu. Kau dapat segera membawa dan menukarnya dengan yang tulen. Kemudian ” „Tak usah aku berbuat demikian,” Kiu It memotong perkataan Pek Tiong Thian sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya,

„kita telah menjadi beruntung sekali, dan tak usah menukar-nukar lagi. Kong-ya Coat sangat bermurah hati, dan dia telah minta aku mengambil satu lebih dulu sebagai hadiahku. Dan jika ia pulang ketempatnya lalu mengetahui bahwa yang dibawanya pulang itu adalah Ciam-hua-giok-siu yang palsu, paling banyak ia akan menarik napas mengeluh!” ia berhenti sejenak untuk menuang arak, setelah diminumnya ia lalu melanjutkan.

„Aku yakin Kong-ya Coat takkan menyalahkan kau dari partai Tiang-pek-kiam ataupun aku, lagipula ia takkan menarik kembali apa yang telah dikatakannya itu. Jika aku telah mengambil Ciam- hua-giok-siu yang tulen, itulah salahnya sendiri, yang telah menyuruh aku memilih satu lebih dulu, dan pasti ia malu untuk meminta kembali di kemudian hari. Tipu muslihat yang kau telah rencanakan itu betul-betul hebat!”

Mereka jadi tertawa terbahak-bahak karena girangnya.

„Misalnya dikemudian hari Kong-ya Coat berhasrat minta juga yang tulen,” Kiu It melanjutkan, „mustika itu telah tidak di tanganku lagi! Pek Heng, bagaimana pendapatmu tentang rencanaku ini?”

„Aku telah menjadi seorang cacad selama delapan tahun, makan di sini, tidur di sini, aku sebetulnya hanya menanti mati! Tetapi jika aku masih panjang umur dan dapat membalas dendam, itu semua aku pasrahkan kepada Kiu Heng!”

„Pek Heng, kita berkawan sudah puluhan tahun lamanya, urusan kau seperti juga urusanku sendiri. Setelah Ciam-hua-giok-siu berada dalam tanganku, aku akan segera pergi ke goa Long-ya untuk mencari orang sakti yang kau bilang, dan dengan mustika itu, aku akan minta obat yang mustajab untuk menyembuhkan kedua betismu yang cacad itu!”

„Jika aku dapat menggunakan lagi kedua betisku ini, aku rela berbuat segala apa untuk membalas budi Kiu Heng itu, dan akan kuberikan kepada Kiu Heng sebagian benda yang mujizat!”

Kiu It tertawa, lalu menceritakan kejadian kemarin malam ketika Kong-tong-sa-kiam datang untuk membalas dendam.

Setelah mendengar sampai di situ, Kong-ya Coat segera lari kembali ke gedung Leng-tiang-koan, dan merubah pita sutera yang mengikat ketiga kotak Ciam-hua-giok-siu sebelum ia pergi tidur.

Kejadian tersebut lewat dengan tenang saja, karena Kiu It dan Pek Tiong Thian tidak sadar bahwa mereka telah ‘diingusi’ oleh Kong- ya Coat, mereka telah memperoleh mustika yang palsu!

Kong-ya Coat harus tinggal lagi beberapa waktu lamanya untuk menanti kedatangan dua musuh lain dari partai Tiang-pek-kiam.

Dan...... belum lewat sepuluh hari musuh kedua partai itu telah datang. Adapun pemimpin rombongan itu adalah seorang anak piatu yang justru pernah ditolong oleh Kong-ya Coat di propinsi Ki- rin dahulu. Bahkan namanya Ji Hee adalah Kong-ya Coat sendiri yang telah memberikannya.

Maka begitu Ji Hee melihat Kong-ya Coat, ia segera angkat kaki dari markas partai Tiang-pek-kiam tanpa menimbulkan sesuatu kerusuhan. Bahkan Jie Hee mohon sungguh-sungguh agar Kong- ya Coat menginap di markasnya sendiri, setelah membereskan uruan partai itu.

ENAM

Kong-ya Coat masih harus menunggu lagi datangnya pihak kuil Cit- po-sie dari pegunungan Ngo-tay-san yang dikepalai oleh Bak Kiam Taysu.

Seperti halnya dengan partai Ang-si-pang, Bak Kiam Taysu pun meninggalkan markas partai Tiang-pek-kiam tanpa berkelahi karena Kong-ya Coat telah herhasil meyakinkan pemimpin kuil tersebut yang ia kenal baik, bahwa pihak kuil Cit-po-sie telah salah paham atau salah menterjemahkan jejak yang tertera di tembok kuil Cit-po-sie itu.

Demikianlah Kong-ya Coat telah menceritakan kepada Ouw Lo Si dan Khouw Kong Hu.

Ouw Lo Si menatap Khouw Kong Hu, kemudian ia menoleh kepada Kong-ya Coat seraya bertanya.

„Kong-ya Tay-hiap, apakah dua mustika yang lainnya bukan Tok- beng-oey-hong dan Cu-gan-tan adanya?”

„Betul! Kedua mustika itu sangat mujizat, maka Bak Kiam Taysu telah perlu datang dari tempat yang jauh untuk mencari pencurinya. Sebelum berlalu dari markas partai Tiang-pek-kiam, Bak Kiam Taysu pernah berkata bahwa jika ia berhasil membekuk pencuri mustikanya, ia akan menyeret pencuri itu kehadapan Cia It Hok untuk menebus kesalahan terkanya!”

„Pencuri itu mungkin tak dapat dibekuk,” kata Ouw Lo Si dalam hati.

Tapi setelah itu ia menoleh kepada Kong-ya Coat dan berkata.

„Aku sudah lama dengar tentang kelihayan Bak Kiam Taysu. Meskipun pencuri itu mempunyai tiga kepala dan enam tangan sekalipun, niscaya ia takkan luput dari bekukan orang suci itu!”

„Aku pun berpendapat demikian,” kata Kong-ya Coat. „aku mendoakan agar Bak Kiam Taysu berhasil membekuk pencuri itu ”

„Kong-ya Tay-hiap waktu kau meninggalkan markas partai Tiang- pek-kiam, apakah ada sesuatu yang mencurigakan?” tanya Khouw Kong Hu.

Kong-ya Coat bersenyum sambil mengurut-urut jenggotnya.

„Ada baiknya jika Khouw Tay-hiap mengambil kesimpulan sendiri dari cerita yang akan kututurkan di bawah ini,” sahutnya.

„Pada keesokan harinya, karena ketiga kesulitan dari partai Tiang- pek-kiam sudah beres, maka aku lalu minta diri. Cia It Hok mengadakan pesta makan-makan untuk menghormati aku. Akupun merasa yakin bahwa Cia It Hok tidak bermaksud menipu. Kiu It segera mengambil satu Ciam-hua-giok-siu dari kotak sutera tersulam, tentu setelah itu ia terus pergi mencari orang tua yang sakti di goa Long-ya, melihat sikapnya yang tergesa-gesa itu, akupun menjadi geli di dalam hati!”

Berkata sampai di situ, dengan tiba-tiba Kong-ya Coat menepuk kedua tangannya seraya berseru. „Kematian bagi yang menipu! Apakah pembunuhan yang kejam di markas Kiu It itu dilakukan oleh orang tua yang sakti dari goa Long-ya itu?”

„Tidak salah lagi!” kata Ouw Lo Si. „Mungkin karena merasa bahwa obatnya yang mustajab telah ditukar dengan Ciam-hua-giok-siu yang palsu maka orang sakti itu merasa telah ditipu oleh Kiu It, lalu ”

„Ia membunuh Kiu Ji-ko dan menulis „Kematian bagi yang menipu!” kata Khouw Kong Hu.

Tetapi siapakah orang sakti dari goa Long-ya di daerah Sit-mi itu?” tanya Ouw Lo Si. „Aku belum pernah dengar namanya.”