Raja Silat Jilid 46

 
Jilid 46

"Bangsat! Kau sangat kejam!" teriaknya ngeri.

Sepasang matanya melolot bulat-bulat, darah segar muncrat dari mulutnya dengan amat deras sehingga memancar sejauh satu kaki lebih diikuti tubuhnya gemetar dan berkerut.

"Bangsat, kau amat kejam," teriaknya kembali, tetapi suaranya semakin kecil.

Tubuhnya tak kuasa menahan diri lagi, diiringi suara benturan yang amat keras badannya segera rubuh ke atas tanah dari ujung bibirnya darah segar masih mengucur keluar tiada hentinya.

Liem Tou tertawa dingin, mendadak ia membentak dengan suara lantang:

"Bajingan kawanan perkumpulan Sin Beng Kauw. Ayo cepat sipat kuping menggelinding pergi dari sini, kalau tidak jangan salahkan aku Liem Tou akan turun tangan telengas terhadap siapa pun yang masih tertinggal di sini?"

Baru saja perkataannya diutarakan keluar, mendadak terdengarlah suara seseorang yang amat kasar bertenaga menyambung kata-katanya:

"Dengan begitu bernyali mereka dari pihak perkumpulan Sin Beng Kauw berani mencari keonaran dan gara-gara di pantai pasir emas kami, ini hari kita pun tak boleh melepaskan mereka hidup-hidup, kita harus hancurkan mereka sehingga tak tersisa seorangpan. Liem Tou! Kenapa kau malah suruh mereka secara gegabah pergi dari sini?" Perlahan Liem Tou menoleh ke belakang terlihatlah Auw Hay Ong dengan membawa serta ketiga orang anak muridnya sudah munculkan dirinya di tempat tersebut. Liem Tou segera menggerakkan badannya berkelebat ke hadapan keempat orang siang cu yang menghadang di depan pintu.

"Hmmm... Baiklah!" serunya kemudian setelah mendengus dingin, "Kini Enci Ie sudah terjatuh kembali ke tanganku, akan kupenuhi seluruh permintaanmu itu!"

Selesai berkata dengan tangan kiri masih mengempit tubuh Lie Siauw Ie, tampak sepasang pundaknya sedikit bergerak, tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas dari pandangan mata.

Tetapi di dalam waktu yang amat singkat itu juga anggota anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang ada di luar istana Hay Kiem Tien maupun yang masih berada di dalam ruangan sudah kena tertotok jalan darahnya sehingga mereka berdiri mematung di tempat semula tak berkutik.

Kembali terlihat bayangan hijau berkelebat lewat, dengan gerakan yang amat ringan Liem Tou sudah muncul kembali di tempat semula, sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap ke arah orang-orang itu.

Suatu bayangan kembali berkelebat di dalam benak pemuda tersebut, ia ber maksud segera berlalu dari sana

Siapa tahu belum sempat dia orang menggerakkan kakinya, mendadak dari tengah udara berkumandang datang suara pekikan nyaring dari tiga ekor burung elang raksasa.

"Aduuuh celaka!" teriak Liem Tou agak tertahan.

Belum sempat ia mengambil suatu tindakan, ketiga ekor titik hitam yang ada di tengah udara laksana sambaran kilat cepatnya sudah menyambar ke arah bawah.

Kembali suara pekikan nyaring bergema memenuhi angkasa, kini ketiga titik hitam tersebut sudah menyambar lewat di luar pintu ruangan Auw Hay Kiem Tien tersebut. Liem Tou yang memiliki ketajaman mata melebihi pandangan mata siapa pun, di dalam sekali pandang saja ia dapat melihat.

sewaktu ketiga ekor burung elang raksasa itu menyambar lewat secara ganas dan kejam sudah mematuk sekalian sepasang mata dari anggota-anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang tertotok sebagai santapan yang lezat.

Melihat kejadian ini diam-diam pemuda tersebut merasa agak berdesir juga hatinya, perasaan iba muncul dari dasar lubuk hatinya.

"Jikalau sampai terjadi perisiiwa semacam ini bukankah sama halnya aku Liem Tou sudah menerjunkan diri kembali ke dalam kancah pembunuhan yang keji??" diam-diam pikirnya.

Perasaan iba begitu muncul dari dasar lubuk hatinya, pikiranpun ikut berubah, dengan cepat ia memungut tiga buah remukan batu kemudian disambitkan ke tengah udara.

"Binatang! Kau berani unjuk gigi di hadapanku??" bentaknya gusar.

Di dalam bangga burung terutama burung elang, sepasang matanya merupakan bagian badan yang paling tajam, apalagi ketiga ekor burung elang itu pun merupakan bekas binatang kesayangan Thian Pian Siauwcu, sudah tentu kedahsyatannya luar biasa.

Ketika Liem Tou mengayunkan ketiga butir kerikil tersebut ke arah tengah udara agaknya mereka sudah merasakan keadaan sangat berbahaya sambil berpekik nyaring sepasang sayapnya segera dikebaskan semakin kencang lagi untuk buru-buru melarikan diri ke tengah udara.

Ketika itulah diiringi suara gerakan kaki yang sangat keras Giok jie dengan menunggang di atas punggung sang kerbau dengan cepat sudah berlari mendekat. "Giok djie!" bentak Liem Tou dengan cepat. "Mengapa kau perintahkan binatang berbulu itu untuk melakukan pekerjaan yang demikian kejinya???"

Giok jie yang datang rada terlambat tidak mengetahui kejadian apa yang baru saja berlangsung, mendengar teguran tersebut ia jadi melengak dibuatnya.

"Ada urusan apa yang membuat kau bersikap begitu cemas?" tanyanya keheran-heranan. "Apakah tak bisa kau jelaskan perlahan-lahan??"

"Coba kau lihat sendiri!" teriak Liem Tou sambil menuding ke arah anggota-anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang telah kehilangan sepasang matanya. "Ke tiga ekor binatang berbulumu itu sudah memakan habis sepasang mata mereka!"

Giok jie memandang sekejap ke arah orang-orang itu, akhirnya ia tak dapat menahan rasa gelinya lagi sehingga tertawa cekikikan.

"Ketiga ekor burung elang itu sudah datang membantu kau bertempur, bukankah hal ini malah sangat kebetulan sekali??"

"Siapa yang ingin dibantu oleh mereka?" teriak pemuda tersebut sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah. "Mereka sudah melakukan suatu pekerjaan yang sangat bagus buat diriku!"

"Tapi orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw sudah sering melakukan kejahatan di manapun juga, sekalipun mati juga tidak perlu kita sayangkan!" teriak Giok jie pula dengan mendongkol.

"Giok jie ! Kaupun dapat mengucapkan kata kata semacam ini??" teriak Liem Tou semakin keras. "Walaupun orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw sudah sering melakukan kejahatan sehingga nama jeleknya terkenal di seluruh kolong langit, tetapi apakah kau kira di antara mereka tak ada seorang pun merupakan orang baik-baik?? Apalagi Wan moay masih berada di tangan mereka jikalau sampai pihak mereka mengetahui kejadian ini hari sehingga menggandeng erat diri Wan moay, bukankah hal ini sama halnya aku sudah turun tangan membinasakan diri Wan moay ...?"

Sebenarnya perkataan tersebut diutarakan keluar tanpa ia sadari sendiri, dan selama ini tak berpikir olehnya sampai persoalan tersebut, tetapi setelah diucapkan keluar mendadak ia merasakan hatinya seperti digodam dengan martil besar, kepalanya terasa pening matanya berkunang-kunang, hampir hampir ia jadi semaput saking cemasnya.

"Aduuuuh celaka, aduuuuh celaka ..." teriaknya kalang kabut.

"Adik Tou! Kau sudah mendatangkan bencana buat si gadis cantik pengangon kambing," ketika itulah Pouw Jien Coei yang baru saja tiba di pantai pasir emas sudah berteriak kaget setelah melihat kejadian tersebut.

"Lalu sekarang bagaimana seharusnya aku berbuat??" Keringat dingin mulai mengucur membasahi seluruh tubuh pemuda tersebut, nada ucapannya pun kedengaran nada gemetar."

Mendadak suatu pikiran bagus berkelebat di dalam benaknya, tak tertahan lagi ia berteriak keras:

"Bajingan-bajingan perkumpulan Sin Beng Kauw sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, jangan sekali kali melepaskan seorangpun di antara mereka sehingga berhasil meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup-hidup, seluruhnya tangkap hidup mereka!"

Selesai berkata ia lantas serahkan badan Lie Siauw Ie yang berada di kempitan tangan kirinya ke tangan Pouw Jien Coei sang gadis berbaju hitam ini.

"Enci Jien Coei!" katanya halus. "Cepat ajak Giok jie dan bawa enci Ie menuju ke kota Peng Tzuan, tetapi jangan berdiam lagi di rumah penginapan semula. Aku akan pergi membersihkan dulu perahu-perahu orang perkumpulan Sin Beng Kauw yang masih bergerak di tengah telaga Auw Hay!"

Selesai berkata laksana terbang saja ia melayang menuju telaga Auw Hay, kemudian dengan ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna melayang di atas permukaan air untuk melakukan pemeriksaan.

Setiap bertemu dengan perahu ia tanyai jelas dulu asal- usulnya, bilamana mereka berasal dari perkumpulan Sin Beng Kauw maka sekali hantam perahu tersebut ditenggelamkan ke dasar telaga dan sedikit pun tidak meninggalkan jejak yang mencurigakan.

Auw Hay walaupun mengunakan nama Samudra tetapi luasnya tidak lebih hanya mirip dengan sebuah telaga.

Kurang lebih dua jam kemudian Liem Tou sudah mengitari seluruh telaga Auw Hay untuk melakukan pembersihan, boleh dikata pada saat ini sudah tak terdapat sebuah perahu milik perkumpulan Sin Beng Kauw pun yang lolos dari pemeriksaannya.

Sewaktu ia kembali lagi ke pantai pasir emas, seluruh anggota dari perkumpulan Sin beng Kauw telah diikat kencang-kencang, tak seorang pun yang terkecuali.

Auw Hay Ong yang melihat munculnya Liem Tou di tempat itu segera pentang mulut lebar-lebar tertawa terbahak-bahak.

"Haaa. . haaa. . haa. . pada mulanya aku anggap pihak perkumpulan Sin Beng Kauw benar-benar memiliki kekuatan untuk mendobrak sungai menumpahkan air samudra, tidak disangka mereka semua tidak lebih hanya manusia gentong nasi belaka, di tanganmu boleh dikata mereka mirip rumput- rumput liar yang tumbuh di atas permukaan tanah." Dalam hati Liem Tou pada saat ini hanya terus menerus menguatirkan bila perkumpulan Sin Beng Kauw menerima kabar bahwa pecundangnya orang-orang mereka di pantai pasir emas kali ini adalah tercipta karena tangannya, mendengar perkataan tersebut ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Heee.. heee ..si tua she Ciang, untuk sementara waktu lebih baik kau orang jangan bicara besar dulu," tegurnya dengan nada yang amat dingin. "Perkumpulan Sin Beng Kauw bisa merajai seluruh dunia Kang ouw bahkan menguasai pula hampir seluruh daerah yang ada di daratan Tionggoan, sudah tentu dari pihak mereka memiliki suatu senjata yarg sangat lihay, cukup dengan peristiwa yang baru saja terjadi, sudah cukup dianggap suatu kejadian besar, anak buah dari partai Kiem Tien paymu pun sudah banyak yang menemui ajalnya maupun terluka, jika lain kali mereka melancarkan serangan kembali, aku takut kau si tua she Ciang tak bakal sanggup menahan datangnya serangan mereka itu!"

Pada hari biasa Auw Hay Ong memang terlalu mementingkan mencari kesenangan diri sendiri daripada memperhatikan mutu serta kelihayan dari ilmu silat para anak buahnya.

Mendengar perkataan tersebut, air mukanya kontan saja berubah jadi merah padam kemudian perlahan-lahan berubah jadi pucat pasi. Untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

"Hey orang tua she Ciang, aku ingin bertanya kepadamu," sambung Liem Tou lebih lanjut. "Pernahkah kau orang merasakan kelihayan dari ilmu pedang hitam yang berada di tangan Boe Beng Tok-su itu Kauwcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw?? Bukannya aku Liem Tou terlalu meniup/besarkan urusan orang lain, terus terang saja aku beritahu kepadamu, dari pihak Partai pasir Emas kecuali kau seorang yang mungkin berhasil menahan serangannya selama beberapa waktu, aku rasa tak seorang pun di antara anak buahmu yang bisa menandingi dirinya."

Padahal apa yang dikatakan Liem Tou barusan bahwa Auw Hay Ong bisa bertahan beberapa waktu pun tidak lain dikarenakan ia ingin meninggalkan sedikit muka buat si orang tua tersebut, sehingga sengaja ia mengucapkan kata-kata begitu.

Perkataan tersebut dasarnya memang bukan omong kosong belaka, dalam hati Auw Hay Ong sendiri pun sudah paham.

Perlahan-lahan paras muka Auw Hay Ong yang sudah berubah jadi pucat kini berubah jadi hijau membesi.

"Liem Tou!" teriaknya gusar. "Apa kau kira pihak Sah Kiem Than kami tak sanggup untuk menahan suatu penyerbuan mereka??"

Tetapi, walaupun wajahnya menunjukkan dalam hati lagi gusar dan wajah dikerutkan kencang-kencang, tetapi dari keningnya keringat mengucur terus dengan amat derasnya. Sekali pandang saja Liem Tou lantas tahu bila orang tua itu sengaja hendak memperlihatkan kekerasan hatinya, karena itu sambil tertawa tawar ia melirik sekejap ke arahnya. Mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

"Apa kau sungguh-sungguh mengira dari pihak pantai Sah Kiem Than kami benar-benar tak ada manusia yang becus??" kembali Auw Hay Ong berseru ketika dilihatnya Liem Tou sama sekali tidak menjawab.

Melihat sikap si orang tua yang tak mau tahu kekuatan sendiri akhirnya Liem Tou sendiri pun tak dapat menahan sabar lagi.

"Jikalau di dalam pantai Sah Kiem Than kalian benar-benar bersembunyi macan dan memelihara naga, kenapa kalian bisa membiarkan orang-orang dari perkumpulan Sin Beng Kauw menyerbu masuk hingga ke dalam istana Kiem Tien kalian??" ejeknya dingin.

Beberapa patah perkataan dari Liem Tou barusan ini benar- benar mirip sebilah pedang tajam yang langsung menusuk ke ulu hati Auw Hay Ong, seluruh badannya kelihatan gemetar sangat keras.

"Liem Tou!" mendadak bentaknya marah. "Tidak malu kau disebut seorang lelaki sejati, perkataanmu benar-benar sangat tajam !"

Sambil putar badan telapak tangannya laksana sambaran kilat mengirim satu pukulan dahsyat menghajar tubuh seorang anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang berdiri di dekatnya sehingga terpental sejauh tiga kaki lebih dan menemui ajalnya seketika itu juga.

Diikuti telapak kirinya segera diputar lalu diayunkan ke depan siap membabat mati lagi orang kedua.

Mendadak Liem Tou menerjang maju satu langkah ke depan, kelima jarinya dengan kencang mencengkeram pergelangan tangan Kirinya.

"Hey si tua she Ciang, melakukan pembunuhan terhadap seorang manusia yang sama sekali tak bertenaga untuk melawan apakah merupakan suatu tindakan dari seorang lelaki sejati??" tegurnya ketus.

Sembari berkata tangannya diayun ke belakang sehingga membuat tubuh Auw Hay Ong tak kuasa bardiri tegak lagi dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.

"Liem Tou! kau ingin berbuat apa??" teriaknya gusar. "Melarang kau berbuat tindakan pengecut yang sangat

memalukan ini, kalau tidak..." teriak pemuda itu pula dengan nada marah. "Kalau tidak, kau ingin berbuat apa???" Potong Auw Hay Ong tidak menanti perkataannya selesai.

Dari sepasang mata Liem Tou memancar cahaya berkilat, ia menyapu sekejap ke arahnya.

"Kalau tidak. . Hmm!l Enci Ie sudah lolos dari cengkeramanmu, aku pun tidak perlu ikut serta mencampuri urusanmu. Kematian orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw di atas pantai Sah Kiem Than kalian. Apakah itu merupakan dendam maupun sakit hati aku rasa Boe Beng Tok Su bisa datang sendiri kemari untuk membikin perhitungan dengan kau Ouw Hay Ong Ciang Cau yang namanya sudah terkenal di seluruh kolong langit!"

Mendengar ejekan tersebut saking khekinya sepasang mata Auw Hay Ong membalik ia jadi mendongkol dan tak dapat mengucapkau sepatah kat apun, tetapi salah satu dari keempat orang anak muridnya yang berdiri di samping sudah menyambung:

"Kematian serta terlukanya orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw di atas Pantai Sah Kiem Than semuanya tidak lain adalah hasil ciptaan kau orang, bagaimana mungkin sekarang kau ingin melepaskan diri dari tanggung jawab ini? Jangan dikata kami semua melihat kejadian ini dengan mata kepala sendiri sekalipun anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang belum menemui ajalnyapun bisa mendengar bahwa perbuatan ini tidak lain dilakukan oleh kau Liem Tou sebagai seorang jagoan Bu lim yang paling terkenal di kolong langit pada saat ini. Apalagi dari pihak kami partai Kiem Tien Pay pun tidak memiliki bukti-bukti yang tak bisa dipungkiri ?"

Perkataan ini terang-terangan sedang menjatuhkan seluruh tanggung jawab dari pihak partai Kiem Tien Pay ke atas tubuh Liem Tou, tindakan ini benar-benar sangat telengas.

Liem Tou rada melengak juga dibuatnya, setelah termenung beberapa saat lamanya akhirnya ia tertawa dingin, tetapi paras muka pun perlahan-lahan berubah rada halus dan ramah.

"Ehmmm . tidak malu kau disebut anak murid kesayangan dari partai Kiem Tien Pay," katanya perlahan. "Maaf ... maaf

... ! Tetapi aku ingin menanyakan satu hal kepadamu. coba kau nilai kepandaian silat siapa yang jauh lebih tinggi antara Boe Beng Tok su dengan cayhe...??"

Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan air mukanya mendadak berubah jadi dingin kaku membuat setiap orang merasa rada jeri.

Seluruh anggota Kiem Tien Pay dari Auw Hay Ong sampai tingkat yang tertawa setelah mendengar perkataan itu pada merasakan hatinya tergetar keras, air muka mereka pun pada saat yang bersamaan berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

Liem Tou mendengus dingin, kembali ujarnya dengan nada yang sangat dingin:

"Kau berani!?"

"Heee . . . heee . . . heee ... di dalam pandangan kalian mungkin akan menganggap partai Sah Kiem Than sebagai sarang naga gua harimau tetapi di mataku sama sekali tidak berharga. Terus terang aku beritahu kepada kalian kecuali aku Liem Tou seorang tak akan ada orang yang bisa menguasahi diri Boe Beng Tok su lagi. Jika demikian kalian tidak ingin orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw menguasai daerah sekitar tempat kekuasaan kalian, maka kamu semua harus mendengarkan syaratku."

"Pertama seluruh anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang tertawan ini hari dilarang dilepaskan barang seorang pun, tetapi dilarang pula melukai mereka. Kedua, cepat- cepatlah menutup seluruh hubungan antara daerah ini dengan daerah-daerah lain di seluruh daratan Tionggoan sehingga berita ini tidak sampai bocor. Ketiga, seluruh anggota Partai Kiem Tien Pay harus dikerahkan untuk menggeledah dan menangkapi seluruh anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang masih tersisa di sekitar daerah Cian Tian ini. Keempat, seluruh perbuatan dari aku Liem Tou pada ini hari di pantai Sah Kiem Than bilamana sampai terbocor di tempat luaran maka aku akan mencari kalian orang-orang dari partai Kiem Tien Pay untuk ambil alih tanggung jawab ini."

Selesai berkata ia lantas enjotkan badannya mencelat setinggi sepuluh kaki tengah udara, sembari bersalto pemuda itu menjura dari tengah udara.

"Ciang Loo Tauw Ci, lakukanlah seluruh perintahku! Kalau tidak maka kalian tak tertolong lagi," teriaknya.

Ketika kakinya menginjak permukaan tanah kembali ia lantas berkelebat ke depan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna.

Tampaklah bayangan hijau berkelebat, tahu-tahu Liem Tou sudah berada sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian lenyap tak berbekas di balik pepohonan yang lebat.

Lama sekali Auw Hay Ong berdiri termangu-mangu, akhirnya ia menghela napas panjang dan melakukan seluruh pekerjaan sesuai dengan apa yang diperintahkan Liem Tou.

Sepeninggalnya Liem Tou dari pantai Sah Kiem Than, karena selalu teringat akan keselamatan Lie Siauw Ie buru- buru ia berkelebat menuju ke kota Peng Cho.

Ia tahu Pouw Jien Coei adalah seorang yang cermat dan sangat hati-hati di dalam setiap tindakannya, ia pasti mendengarkan seluruh nasehatnya untuk berpindah ke rumah penginapan yang lain.

Ia mengambil keputusan ini pada mulanya tidak lain ingin menghindarkan diri dari pengamatan orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw, tetapi ketika teringat bahwa Giok jie membawa serta kerbaunya hal ini bagaimanapun masih sangat menyolok, maka dalam hati ia mulai merasa bila tindakannya ini hanya membuang waktu dan tenaga saja.

Teringat akan persoalan tersebut, hatinya terasa semakin cemas, tidak perduli lagi pada waktu itu masih siang hari dengan cepat pemuda tersebut berkelebat dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menuju ke kota Peng cho.

Setiapkali ia bertemu dengan orang tentu tanyanya: "Apakah kau sudah melihat seorang gadis penunggang

kerbau besar lewati tempat ini?"

Akhirnya ada seseorang yang memberi petunjuk kepadanya bahwa gadis semacam itu sudah berdiam di sebuah rumah penginapan yang terbesar di kota Peng Cho.

Tanpa buang waktu lagi pemuda tersebut segera berkelebat menuju ke rumah penginapan yang ditunjuk, tetapi belum sempat ia tiba di tempat tujuan mendadak tampaklah tiga orang pengemis tua sudah menghadang di depan pintu masuk.

Di atas tanah menggeletaknya dua orang pelayan rumah penginapan yang sedang menjerit seperti babi hendak disembelih.

Sedang di samping kalangan berdiri pula tujuh, delapan orang pelayan yang sedang berteriak-teriak sambil menggosok-gosok kepalannya, di samping itu sang Ciangkwee dengan tiada hentinya menjura dan membongkok memberi hormat kepada ketiga orang pengemis tua itu.

Suasana di sekitar sana amat ramai, banyak orang jalan yang sudah berhenti untuk melihat keramaian.

Diam-diam Liem Tou berjalan mendekati tempat tersebut kemudian menyelinap ke belakang tubuh ketiga orang pengemis tua itu, selama ini ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Terdengarlah pada waktu itu sang Ciangkwee sambil membungkuk menjura ujarnya dengan wajah penuh senyuman paksa:

"Di rumah menggantungkan diri dengan orang tua, di luar bergantung kawan, siapa yang ingin selalu miskin? Jikalau kalian bertiga menginginkan uang, rumah penginapan kami akan memberikan ala kadarnya jika ingin makan toko kami pun akan mengundang kalian bertiga untuk bersantap dengan segala hormat, tetapi kalian tidak suka uang tidak mau bersantap, lalu apa yang kalian inginkan?? Hal ini benar-benar membuat orang jadi kebingungan setengah mati. Ya.. ya... sekalian sebenarnya ingin apa?? Asalkan toko kami sanggup untuk melaksanakan tentu akan kami kerjakan secepatnya".

Ketiga orang pengemis tua itu mendengus dingin, sepatah kata pun tidak menjawab.

"Hajar...ayo kita hajar saja mereka?" para pelayan rumah penginapan yang berjumlah tujuh, delapan orang itu kembali berteriak dan gembar-gembor keras. "Pengemis pengemis yang tidak tahu malu bangsat busuk berani benar kalian bertindak kasar, ayoh kita hajar mereka, kita gebah mereka pergi. Kita hajar anjing-anjing terkutuk ini..."

Tujuh, delapan orang pelayan rumah penginapan itu mendadak bersama-sama merubung ke depan lalu menghantam secara serabutan ke atas tubuh ketiga orang pengemis tua tersebut.

Liem Tou yang melihat kejadian ini dalam sekali pandangan saja sudah mengerti bila ketiga orang pengemis tua itu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, ketujuh, delapan orang pelayan tersebut tentu akan menderita rugi yang amat besar.

Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, sewaktu gerombolan pelayan tersebut hampir mendekati tubuh ketiga orang pengemis tua itu, entah mereka telah menggunakan cara bagaimana, tahu-tahu dua orang pelayan di antara rombongan tersebut sudah menjerit keras lalu jatuh terjengkang ke atas tanah.

Agaknya sang Ciangkwee sudah merasa bila kedatangan ketiga orang pengemis tua itu mengandung maksud tidak baik, buru-buru ia membentak keras:

"Hey... kalian cepat mundur, jangan berlaku kurang ajar!"

Sisanya lima, enam orang pelayan yang melihat kelihayan dari ketiga orang pengemis tersebut, saat ini nyalinya boleh dikata sudah pecah. Buru-buru mereka mereka mengundurkan diri ke dalam rumah.

Pada saat itulah dari dalam rumah penginapan berkumandang keluar suara dengusan kerbau yang sangat berat.

Mendengar suara itu mendadak ketiga orang pengemis tua itu memisahkan diri ke samping, badan yang semula berdiri berbareng mendadak sudah berpencar dengan mengambil posisi segi tiga, masing-masing terjarak lima langkah dari kawannya.

Dua orang berkelebat ke samping pintu rumah penginapan sedang yang satu tetap berdiri di tempat semula, air muka mereka mendadak berubah jadi sangat tegang, sepasang mata molotot lebar-lebar diarahkan ke dalam rumah dengan terbelalak dan tanpa berkedip sedikit pun.

Melihat sikap serta perubahan sikap dari ketiga orang pengemis tua itu. Liem Tou lantas mengerti bila kedatangan mereka justeru hendak mencari dirinya.

Hal ini membuktikan pila jika mereka bertiga bukan lain adalah""5 anggota per kumpulan Sin Beng Kauw " i

Selama ini Liem Tou beradaa diantara orang orang lain yang sedang menonton keramaian, oleh karena itu ketiga, orang p"e ngemis tua tersebut sama sekali tidak nam pak dirinya ada disana.

Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benak pemuda tersebut ia merasa ke tiga orang pengemis tua ini rasariya sangat dikenal olehnya hanya saja un/tuk "beberapa saat tak teringat dimanakah iai pernah ber temu . .

Tetapi seperminum teh kemudian ia sudah tersadar kembali.

Aaakh . ! kiranya lagi lagi ketiga manusia busuk itu" pikirnya dalam hati. Tem po dulu aku sudah memberikan, satu jalan hidup buat mereka dan melepaskan mereka pergi, siapa sangka ini hari mereka bertiga tidak tahu baik buruk dan datang lagi cari satroni de gan aku orang , Hmmm ! Ka li ini aku tak akan bersikap sungkan sung kau lagi teihadap dirinya"

Baru saja ia berpikir sampai disitu men dadak tambaklah kerbaunya perlahan lahan sedang berjalan keluar dari dalam rumah peng napajj tersebut

Kembali Liem Tou berpikir dalam hatinya:

"Kalau memang mereka ada maksud jahat terhadap kerbauku, biarlah aku suruh mereka merasakan bagaimanakah kelihayan dari kerbauku ini!"

Tetapi baru saja pikiran ini berkelebat mendadak terdengarlah si pengemis tua yang ada di tengah pintu sudah menggapai memberi tanda.

"Kalau memang ia ada disini, mari kita cepat pergi dari sini," buru-buru serunya keras.

Mendengar perkataan itu, Liem Tou tak bisa menahan sabar lagi, ia lantas meloncat menampakkan diri.

"Tamu-tamu terhormat sudah pada berkunjung datang kenapa sebelum masuk pintu sudah ingin pergi??" sapanya sambil tertawa. Sewaktu melihat munculnya Liem Tou di sana, ketiga orang pengemis tua itu tak bisa membendung rasa kaget di hatinya lagi, mereka menjerit tertahan.

Si pengemis tua yang berdiri di depan pintu tanpa banyak cakap lagi, tergesa-gesa segera putar badan lalu melarikan diri terbirit-birit dari sana.

Melihat kejadian itu Liem Tou tertawa terbahak-bahak: "Haaa haaa. . haaa. . kalau sudah datang kenapa tidak

masuk sebaliknya malah ingin pergi??" jengeknya keras.

Air mukanya mendadak berubah jadi sangat dingin, jari tangannya laksana sambaran kilat menotok ke arah sang pengemis yang ada di tengah pintu rumah penginapan itu kemudian tubuhnya berkelebat cepat ke arah depan mengejar sang pengemis yang ada di sebelah kanan, setelah itu bergantian ia mengejar pengemis yang ada di sebelah kiri.

Tiga orang pengemis tua tersebut tak seorangpun yang berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya.

Setelah menotok tubuh mereka bertiga bagaikan burung elang yang mengangkat anak ayam saja dengan sangat ringan ia membawa mereka ke depan rumah penginapan kemudian membantingnya ke atas tanah.

"Tempo dulu aku sudah ampuni satu kali diri kalian, tetapi kamu semua masih juga tidak tahu malu. Ini hari untuk kedua kalinya terjatuh kembali ke tanganku. Kali ini aku tidak akan mengijinkan kalian berlalu lagi dari sini!"

Sembari berkata masing-masing ia menginjak-injak dua kali di atas tubuh ketiga orang itu, terdengar suara gemeretak yang nyaring bergema memenuhi angkasa, suara tersekat mirip tulang-tulang yang retak. Seketika itu juga membuat ketiga orang itu harus meringis-ringis menahan rasa sakit di dalam badannya. Kembali Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya kali ini ia menginjak ketiga orang itu semakin keras lagi.

Ketiga orang pengemis tua itu tak terasa berteriak walaupun rasa sakit di badan tak tertahan, akhirnya hanya tubuh mereka gemetar sangat keras dan tak berkutik lagi di atas tanah.

Liem Tou selama ini tidak memandang sebelah mata pun terhadap mereka, kepada sang kerbau yang baru saja berjalan ke luar bentaknya keras:

"Kenapa kau ikut keluar?? Ayo-cepat kembali!"

Tidak banyak membuang waktu lagi, tubuhnya segera berkelebat masuk ke dalam ruangan rumah penginapan tersebut.

"Enci Jien Coei, kau dimana??" teriaknya lirih.

"Adik Tou, kau sudah kembali?? Cepat ke mari aku berada di sini!" teriak Pouw Jien Coei dari dalam sebuah kamar. "Adik Ie entah sudah ditotok orang dengan cara menotok jalan darah macam apa, seluruh jalan darah pentingnya dikuasahi, kesadaran pun belum juga pulih, adik Tou, kedatanganmu sangat kebetulan sekali, ayoh cepat masuk!"

Mendengar perkataan itu Liem Tou segera merasakan hatinya jadi tegang, dengan langkah yang cepat ia langsung menerobos masak ke dalam kamar berasalnya suara tersebut.

Di dalam sebuah kamar yang tenang di atas sebuah pembaringan kayu yang besar berbaringlah Lie Siauw Ie. Pouw Jien Coei serta Giok jie duduk termenung di samping pembaringan.

Setelah masuk ke dalam kamar terburu-buru Liem Tou menerjang ke sisi tubuh Lie Siauw Ie untuk mengadakan pemeriksaan. Tampaklah napasnya teratur, tetapi kesadaran belum juga mau pulih seperti sedia kala.

"Enci Jien Coei!" seru Liem Tou kemudian setelah termenung beberapa saat lamanya. "Menurut pendapatmu apa yang telah menyebabkan enci Ie jadi begini?"

"Ada orang berkata orang orang perkumpulan Sin Beng Kauw paling pandai menggunakan obat beracun, mungkinkah enci Ie sudah keracunan??..." kata Pouw Jien Coei setelah melirik sekejap ke arah pemuda tersebut.

"Aku rasa hal ini tak mungkin terjadi!" perlahan-lahan Liem Tou menggeleng. "Jikalau perkumpulan Sin Beng Kauw ada maksud membinasakan enci Ie rasanya mereka tak akan membiarkan dirinya hidup sampai ini hari. Menurut pendapatku mereka hanya ingin melarikan enci Ie saja."

Berbicara sampai disini, mendadak ia teringat akan sesuatu, buru-buru tolehnya ke arah Giok jie. "Kau pergilah mengambil sebaskom air dingin!"

Giok jie mengiakan, dengan cepat ia berlalu.

Liem Tou lantas menghisap semulut air kemudian disemprotkan ke atas wajah Lie Siauw Ie sebanyak tiga kali.

"Adik Tou!" Pouw Jien Coei yang ada di sisinya segera menegur dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat, "Kau kira Ie moay-moay sudah terbius oleh obat pemabuk yang disebabkan orang-orang perkumpulan Sin Beng Kauw??..."

Liem Tou mengangguk perlahan sepasang matanya memandang wajah Lie Siauw Ie tajam-tajam sedang mulutnya tetap membungkam.

Pouw Jien Coei mengerti pemuda ini lagi cemas menantikan kesadaran dari Lie Siauw Ie, oleh sebab itu iapun tidak bertanya kembali. Beberapa saat kemudian ternyata Lie Siauw Ie benar-benar sudah membuka matanya kembali.

Melihat kejadian itu Liem Tou jadi kegirangan setengah mati, dengan cepat ia memeluk tubuhnya kencang-kencang.

"Enci Ie! Enci Ie!" teriaknya berulang kali.

Sepasang biji mata Lie Siauw Ie tampak bergerak-gerak, mendadak dengan perasaan tak percaya ia memejamkan kembali matanya.

"Aku sudah mati... atau mungkin sedang bermimpi??? aku benar-benar sudah mati??" gumamnya seorang diri.

"Enci Ie, kau tidak mati, kau masih hidup," teriak Liem Tou dengan suara yang keras.

"Adik Ie ! Kau sungguh-sungguh belum mati?" sela Pouw Jien Coei pula dari samping. "Kau tidak lebih hanya dibuat mabok oleh obat bius kaum bajingan! Sekarang adik Tou sudah menolong kau lolos dari cengkeraman musuh, orang yang memeluk dirimu itu bukankah adik Tou??"

Mendengar perkataan tersebut Lie Siauw Ie belum juga mau membuka sepasang matanya tetapi sepasang tangannya yang ramping putih serta halus itu perlahan-lahan meraba ke atas wajah pemuda tangannya rada gemetar.

"Kau adalah adik Tou??" tanyanya perlahan. "Ooouw . . . adik Tou."

Perkataan selanjutnya belum sempat diutarakan, Liem Tou sudah menyambung dengan cepat:

"Benar Enci Ie. Aku adalah Liem Tou! Aaakh . . .! Aku sudah mencelakai dirimu sehingga harus dipenjara selama satu tahun lamanya, semua ini akulah yang salah, harap enci Ie suka memaafkan kesalahanku ini." Perlahan-lahan dari kelopak mata Lie Siauw Ie mengucur keluar titik-titik air mata, tetapi sepasang matanya belum juga dibuka.

"Kau tidak usah mengungkap kembali persoalan ini, demi kau aku rela mati cuma harus menderita sedikit siksaan karena terkurung, apa yang perlu dikasihani??? Hanya saja suhu dia orang tua..."

Sampai kata-kata yang terakhir ia tak sanggup untuk melanjutkan kembali, air mata mengucur semakin deras.

Liem Tou yang mendengar kekasihnya mengungkap kembali tentang Sie Loojie. hatipun ikut terasa kecut, air mata mengucur keluar membasahi pipinya.

"Enci Ie! Kau jangan bersedih hati lagi," serunya tersengguk-sengguk."Asalkan aku Liem Tou masih bernyawa tentu akan kubalaskan dendam sakit hati dari dia orang tua sehingga arwahnya bisa beristirahat dengan tenang di alam baka. Kau cepatlah membuka matamu, coba kau lihat Enci Coei serta Giok jie pun ada di sini semua!"

Setelah mendengar perkataan tersebut perlahan-lahan Lie Siauw Ie baru membuka sepasang nyatanya dan memandang ke arah Pouw Jin Cui serta Giok jie sambil tertawa. Bekas air mata masih belum mengering di atas pipinya, senyumannya masih disertai dengan air mata ini membuat setiap orang yang melihatnya merasa tertarik.

"Ih Moay-mopy, aku tidak bohongi dirimu bukan?" kata Pouw Jien Coei sambil tertawa. "Bukankah aku bilang adik Tou pasti datang dan kini ia benar benar sudah datang ?"

Kembali Lie Siauw Ie tertawa, tetapi mendadak air mukanya berubah memberat.

"Walaupun adik Tou sudah kembali tetapi ia sudah bersumpah tidak akan turun tangan melukai orang lagi," katanya sedih. "Bagaimana kita bisa menuntut balas buat sakit hati suhu yang sedalam lautan itu ?"

Buru-buru Liem Tou menceritakan kisahnya dan memberi penjelasan sekitar pengalamannya selama ini, sehabis mendengar psnjelasan tersebut dari rasa murung dan sedih kini Lie Siauw Ie jadi girang.

"Ih Moay moay!" mengambil kesempatan yang sangat baik inilah Pouw Jien Coei ia menggoda sambil tertawa, "kenapa kau orang terus menerus bersandar di dalam pe1ukan adik Tou dan tidak juga mau turun? Apakah merasa terlalu enak dan nyaman???"

Mendengar godaan tersebut kontan saja paras muka Lie Siauw Ie berubah jadi merah padam,dengan cepat ia meloncat bangun.

"Enci Coei, kau sungguh pandai menggoda," teriaknya manja.

Dengan cepat badannya menerobos masuk dan bersembunyi di balik selimut di atas pembaringannya.

Dengan geli, Pouw Jien Coei serta Giok jie tertawa cekikikan tiada hentinya. Sedang Liem Tou mau tertawa sungkan tidak tertawa pun merasa tidak enak.

Mendadak satu akal cerdik berkelebat di dalam benaknya. "Eeei. . kalian jangan bergurau terus menerus," tegurnya

dengan suara yang keras, saat ini urusan besar sudah berada di ambang pintu, Wan moay serta Hong Susiok pun belum tertolong semua, bagaimana kalian bisa begitu girang untuk bergurau dan tertawa cekikikan dengan demikian gembiranya???"

Perkataannya ini ternyata benar-benar merupakan sebuah obat yang sangat manjur. Begitu ia ucapkan perkataan tersebut mereka bertiga segera menarik kembali senyuman di ujung bibirnya dan mendengarkan seluruh perkataan Liem Tou dengan serius.

"Perkampungan Ie Hee San Cung di atas gunung Ha Mo San sudah dibakar orang sehingga tinggal puing-puing belaka. Kini kita tak punya rumah lagi untuk didiami," sambung Liem Tou lebih lanjut. Sebenarnya kita bisa berangkat bersama- sama untuk pergi menolong adik Wan serta Hong Susiok tetapi aku pikir, jika jumlah kita terlalu banyak malah akan mendatangkan kerepotan saja karena itu aku pikir jauh lebih baik jika diriku berangkat seorang diri..."

Mendengar perkataan dari pemuda ini air muka mereka bertiga segera berubah hebat, tetapi belum sempat mereka mengucapkan sesuatu Liem Tou sudah menyambung kembali kata-katanya.

"Kalian jangan keburu murung untuk kalian semua pun selama ini bukannya harus menganggur, banyak urusan penting masih kalian harus laksanakan. Perkampungan Ie Hee San Cung pasti akan aku bangkitkan kembali sepuluh kali lipat lebih megah dari keadaannya tempo dulu, bagaimana kalau menurut pendapat kalian bertiga ??"

Pouw Jien Coei serta Lie Siauw Ie tetap bungkam tidak memberi konentar sebaliknya Giok jie sudah mencibirnya sambil menyindir tajam.

"Kau ingin mengandalkan kita orang tiga kepala enam lengan untuk membangun sebuah perkampungan Ie Hee San Cung yang jauh lebih megah sepuluh kali lipat dari keadaan tempo dulu ??"

"Sudah tentu tidak, jika hanya mengandalkan tenaga kalian bertiga saja tak bakal berhasil membangun suatu perkampungan yang begitu megah, jangan dikata cuma kalian bertiga, sekalipun tiga puluh orangpun jangan harap bisa jadi. Tetapi aku pikir kalian kan bisa mencari seratus atau seribu orang untuk bantu membangun perkampungan tersebut, bukan begitu??"

"Ehmmm . . hal ini sudah tentu," kata Giok jie mengangguk. "Tetapi dari mana kah kita bisa mempersiapkan seratus sampai seribu orang membantu?"

"Ada uang untuk berbuat apa saja bisa, apalagi hanya mencari manusia untuk bekerja, apa kau takut tak berhasil memperoleh orang?" Liem Tou tertawa. "Di dalam sebuah sumur kuno di belakang rumah raksasa yang tak berpenghuni dilembah sempit gunung Wu san, aku mempunyai sejumlah harta yang tak bernilai banyaknya, kalian bertiga boleh pergi kesana untuk mengambilnya sebagai biaya pembangunan perkampungan Ie Hee San Cung. Tetapi kalian harus bersiap- siap dan waspada terhadap gangguan-gangguan anggota perkumpulan Sin Beng Kauw."

Berbicara sampai disitu mendadak Lim-Tou bangun berdiri, kemudian dengan nada serius tambahnya :

"Anggota perkumpulan Sin Beng Kauw yang berada di pantai Sah Kiem Than boleh sudah hancur seluruhnya, pukulan yang sangat berat ini, mungkin akan mendatangkan bencana bagi adik Wan, keadaan pada saat ini sangat mendesak, aku harus buru-buru berangkat!"

Lim Siauw Ie yang baru saja berkumpul dengan Liem Tou, kini secara mendadak dia orang pergi kembali tak terasa lagi ditundukkan kepalanya rendah-rendah, jelas hatinya merasa amat sedih sekali.

Sudah tentu Pouw Jien Coei yang ada di samping mereka bisa melihat jelas seluruh kejadian ini, mendadak kepada Liem Tou serunya:

"SETAHUN SUDAH LEWAT, apakah tak bisa berdiam sehari saja di sini??? Apalagi kau dengan Ie moay pun sudah merupakan sepasang suami istri!"

Maksud dari perkataan ini sangat mendalam, Liem Tou serta Lie Siauw Ie yang merupakan manusia manusia cerdik sudah tentu mengerti juga akan maksud dari perkataan itu, saking malunya paras muka mereka berdua berubah jadi merah padam, kepalanya ditundukkan rendah-rendah sedang Lie Siauw Ie lebih malu lagi, boleh dikata untuk beberapa waktu ia tak berani mendongakkan kepalanya.

Bagaimanapun juga Liem Ton adalah seorang lelaki, dengan cepat ia berhasil mengatasi perasaan malu tersebut.

"Menolong orang bagaikan menolong api," serunya kemudian dengan suara yang rendah. "Dalam keadaan seperti ini kita tak boleh membuang banyak waktu lagi. Aku pergi dulu! Enci Ie, aku pergi dulu!"

Setelah mengambil keputusan dalam hatinya, tanpa ragu- ragu lagi tubuhnya segera berkelebat keluar.

Memang sejak tadi sang kerbau sudah ada di pintu luar, hal ini membuat gerakan pemuda tersebut jadi jauh lebih cepat lagi, dengan sebat ia meloncat naik ke atas punggungnya lalu berseru:

"Gouw koko, ayoh cepat lari!"

Sang kerbau menggoyangkan ekornya, di tengah suara dengusan berat dengan cepat ia berlari ke depan menerjang keluar dari dalam rumah penginapan tersebut.

Sepeninggalannya dari rumah penginapan, pemuda tersebut langsung menuju ke pantai Sah Kiem Than.

Orang orang Kiem Tien pay yang melihat Liem Tou muncul kembali di sana rata-rata pada memandang kearahnya dengan perasaan terperanjat sedang dalam hati mulai menduga peristiwa apa gerangan yang telah terjadi. Sesampainya di pantai Sah Kiem Than, Liem Toa sama sekali tidak turun dari atas punggung kerbaunya, ia langsung menerjang masuk ke dalam ruangan besar.

Auw Hay Ong yang menerima laporan buru-buru mengejar datang, tetapi sewaktu melihat Liem Tou masih juga duduk di atas punggung kerbaunya walaupun dalam hati merasa agak tidak puas atas sikapnya yang begitu sombong dan tidak memandang sebelah mata pun terhadap dirinya, tetapi ia tak berani berbuat apa-apa.

"Tayhiap kembali lagi kemari, entah ada urusan penting apa yang hendak disampaikan??" buru-buru tanyanya.

"Ehmmm . . .! Keempat orang siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw sudah berhasil kita tawan. Entah dapatkah kau siorang tua she Ciang mengeluarkan orang itu untuk aku periksa sebentar??"

"Sudah tentu ... sudah tentu . keempat orang Siangcu itu adalah Tayhiap yang tangkap tentu saja kau berhak untuk periksa diri mereka. Tayhiap, harap kau tunggu sebentar, biarlah aku perintahkan orang untuk seret mereka datang berempat. Cuma. selama ini Tayhiap terus menerus

memanggil aku dengan sebutan si orang tua she Ciang, bukankah hal ini terlalu memandang asing diriku? Bila Loohu memanggil Tayhiap dengan sebutan Loote rasanya tidak mengapa bukan?"

"Haaa... haaa haaa usia Ciang-heng jauh lebih besar

puluhan tahun dari diriku, kini kau ingin menyamakan tingkatan di antara kita . . bilamana aku ngotot menolak permintaan dari Ciang heng ini, rasanya diriku akan dicap tidak pandang sebelah mata kepada orang lain. Baiklah! Dari pada menolak lebih baik aku menurut saja."

Mendengar perkataan dari pemuda tersebut Auw Hay Ong jadi kegirangan setengah mati, buru-buru ia memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan meja perjamuan. Tetapi dengan cepat Liem Tou sudah menampik maksud baiknya ini.

"Ciang heng! Buat apa kau repot repot?" katanya sambil tersenyum ramah. "Setelah siauwte berhasil mengetahui alamat dari markas besar perkumpulan Sin Beng Kauw segera akan berangkat mencari Kauwcu mereka Boe Beng Tok su untuk bikin perhitungan. Oleh karena itu, aku harap kau suka cepat-cepat seret keluar keempat orang siangcu tersebut."

"Aaakh ..." Aku mengira Loote ada keperluan penting yang hendak ditanyai kepada keempat orang siangcu tersebut, tidak nyana cuma suatu persoalan yang demikian kecil."

Setelah mendengar perkataan dari pemuda tersebut, Ciang Cau lantas tersenyum. "Buat apa kau harus repot-repot menanyakan persoalan itu kepada keempat orang Siangcu tersebut?? Markas besar dari perkumpulan Sin Beng Kauw terletak di dalam lembah Boe Beng Kok gunung Ciong Lay San. Menurut berita yang aku dengar pada setahun yang lalu sewaktu perkumpulan Sin Beng Kauw didirikan untuk pertama kalinya, kekuatan mereka masih belum apa apa, tetapi kini setelah mereka mendapatkan bantuan dari bekas-bekas komplotan hweesio tujuh jari Chiet Cie Tauw Tou", pengaruhnya semakin luas lagi. Menurut apa yang aku dengar, penjagaan di sekitar markas besar mereka sangat ketat, alat-alat rahasia pun tersebar di mana-mana, di antara kesemuanya itu, "Liong Leng Hok Lie" atau Naga berpekik Bangau Berteriak serta "Hauw Siauw Yen Tie" atau Harimau mengaum Monyet menjerit merupakan alat rahasia yang terlihay. Loote, kau harus berhati-hati ter hadap perangkap mereka."

"Apa itu Naga Berpekik Bangau berteriak, serta Harimau Mengaum Monyet Menjerit?" diam-diam pikir Liem Tou dalam hatinya. Sekalipun sarang naga gua macan pun kenapa harus aku takuti???" "Terima kasih atas petunjuk Ciang heng," di luaran dengan hormat ia menjura memberi hormat. "Jikalau Ciang heng tidak pikirkan lagi dendam tempo dulu, ada suatu hari tentu akan siauwte balas budi ini".

"Bagus sekali perkataan Loote!" Auw Hay Ong tertawa sedih. "Dendam sakit hati siauw li sudah berlalu lama.

Sewaktu loote sedang mengunci tangan tempo dulu aku sudah menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari balas ke gunung Ching Shia, hal ini sudah aku rasa merupakan suatu kesalahan yang besar, tentang peristiwa ini aku tak berani banyak bicara lagi. Tetapi kerbaumu yang sudah menginjak mati istriku, peristiwa ini masih belum juga aku lupakan walau sampai saat ini pun. Jikalau Loote suka memberi kebijaksanaan kepada ku dengan membiarkan Kerbau tersebut menerima satu pukulanku, sekali pun mati aku pun puas!" 

Liem Tou yang mendengar Auw Hay Ong masih juga mengingat dendam sakit hati tersebut, tak terasa ia sudah tertawa sedih.

"Hal ini tak bisa salahkan kau masih teringat terus. Silahkan Ciang heng segera turun tangan," katanya kemudian.

Selesai berkata ia masih tetap duduk di atas punggung kerbaunya.

"Kalau begitu silahkan Loote menyingkir dulu," katanya sambil melirik sekejap ke arah pemuda tersebut. "Semisalnya kau tidak suka menyingkir dan pukulanku sampai melukai dirimu, bukankah aku yang jadi tidak enak??"

"Terima kasih atas peringatan dari Loo heng, tetapi aku rasa soal ini tidak perlu. Ciang heng boleh mulai turun tangan!"

Auw Hay Ong mengerutkan alisnya rapat-rapat, tetapi ia tidak banyak berbicara lagi. Tubuhnya segera maju dua langkah ke depan, kuda kudanya diperkuat, hawa murni disalurkan ke sepasang telapak, perlahan-lahan ia menekan perut kerbau tersebut keras-keras.

Di dalam anggapannya, pukulan yang telah menggunakan tenaga dalam hampir mendekati tujuh, delapan bagian ini pasti akan melukai atau membinasakan sang kerbau itu kendati binatang tersebut memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Siapa sangka kerbau tersebut masih tetap berdiri tenang ditempat semula, agaknya ia sama sekali tidak merasa dengan datangnya pukulan itu.

Didalam keadaan gusar, seluruh rambutnya pada berdiri, telapak kirinya laksana sambaran kilat segera dibabat kembali ke arah depan, Liem Tou dengan cepat mengempit sepasang kakinya, kerbau tersebut dengan sebatnya meloncat dua langkah ke depan menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut.

"Ciang heng! Sebelum mengirim pukulan tadi kau sudah berjanji akan memukul satu kali saja," seru pemuda tersebut sambil tertawa. "Sekarang pukulanmu sudah lewat, mana boleh kau orang mengirim pukulan yang kedua ?"

Mendengar teguran tersebut wajah Auw Hay Ong kontan saja berubah memerah saking jengahnya ia bungkam tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

"Ciang heng kau baik-baiklah berjaga diri, siauwte hendak berangkat dulu," sambung Liem Tou lebih lanjut.

Siapa sangka baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan, dari dalam istana meloncat keluar Toa Kongcu dari Auw Hay Ong, Ciang Beng Ing adanya.

"Liem Tou! Kau jangan pergi dulu," teriaknya nyaring. "Ibuku menemui ajalnya di bawah injakan kaki kerbaumu, aku pun ingin mengirim satu pukulan ke atas tubuhnya, kau rela bukan!?"

"Haha ... haaa... baik... baiklah... kalau memang itulah keinginanmu, pukullah kerbauku satu kali," Liem Tou tertawa terbahak-bahak. "Kini kerbauku sudah aku kuasai, bagaimanapun kau bertindak ia tak bakal memberikan perlawanan terhadap dirimu!"

Sembari berkata ia melirik sekejap ke arah Auw Hay Ong.

Auw Hay Ong yang diliriki pemuda tersebut dalam hati sedikit banyak rada tidak enak juga.

"Ing jie, kau jangan bertindak gegabah," tegurnya.

Sebetulnya Ciang Beng Ing jauh lebih penurut dari pada adiknya Ciang Beng Hu. Tidak nyana kali ini ia sudah membantah perkataan ayahnya.

"Tia! Kau jangan mencegah kemauan putrimu, apakah hanya Tia saja yang boleh membalaskan dendam istrimu dan aku sebagai seorang putrinya tak boleh membalaskan dendam ibuku?? Apa yang bakal terjadi ini hari aku harus membalas dendam ini."

Mendadak Liem Tou tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.. haaa...tidak kusangka dari pihak partai Kiem Tien Pay masih ada juga seorang gadis yang demikian berbaktinya terhadap orang tua mereka. Toa Kongcu! Si lahkan kau orang turun tangan!" katanya.

"Beng jie!" air muka Auw Hay Ong membesi kemudian berubah jadi kehijau-hijauan."Jika kau tidak suka mendengarkan perkataan Tia, maka kau jangan salahkan lagi ka!au Tia tak akan sayang legi terhadap dirimu, cepat kembali ke ruang belakang!" Ketika itu Ciang Beng Ing tak dapat membendung rasa sedih dalam hatinya lagi, ia menangis tersedu-sedu lalu meloncat ke pintu luar dan lari dari tempat itu.

Walaupun dalam hati Auw Hay Ong merasa jadi cemas juga melihat sikap putrinya tetapi di hadapan Liem Tou ia tidak ingin menunjukkan perasaan tersebut. Kepada diri pemuda itu lantas ujarnya:

"Ikatan dendam antara pihak partai Kiem Tien Pay dengan Loote sudah hapus sejak ini hari, semoga saja Loote bisa mendapatkan kemenangan di dalam usahamu kali ini!"

Setelah mendengar perkataan itu Liem Tou baru meloncat turun dari atas punggung kerbaunya kemudian menjura dengan sangat hormat.

"Keadaan di daerah sekitar pantai Sah Kiem Than amat berbahaya, apalagi setelah kepergian Siauw te kali ini rasanya sedikit kurang leluasa untuk mengadakan hubungan lagi dengan dirimu. Baiknya siauwte tinggalkan saja kerbauku ini di sini. Walau pun ia cuma seekor binatang tetapi di dalam keadaan kepepet dan bahaya kemungkinan sekali ia bisa membantu diri Ciang heng. Harap Ciang heng suka menerimanya dan jangan menampik lagi!"

Dalam hati Auw Hay Ong pun mengerti bagaimana lihaynya kerbau tersebut, dimana hanya dalam satu jurus saja telah menginjak mati Auw Hay Ong Bo yang namanya telah terkenal di seluruh dunia kang ouw. Thian Pian Siauwcu yang namanya telah terkenal di empat penjuru sebagai pentolan iblis pun tak bisa mengapa-apakan dirinya, jika ditinggal di pantai Sah Kiem Than dan bisa membantu dirinya hal ini memang merupakan suatu kejadian yang amat menguntungkan.

Karena ia merasa dengan kekuatan seekor kerbau itu berarti bisa melebihi kekuatan sepuluh orang murid kebanggaannya. Oleh sebab itu sesudah mendengar perkataan tersebut dengan cepat ia mengucapkan terima kasihnya berulang kali.

"Kecintaan dari Loote tak akan Ih heng lupakan untuk selamanya, terimalah hormatku ini!"

Liem Tou yang mendengar ia sudah setuju, dengan cepat lantas berjalan ke sisi tubuh kerbaunya.

"Gouw koko," ujarnya halus. "Untuk sementara waktu aku akan tinggalkan dirimu di sini, harap kau suka memandang diri Ciang heng seperti memandang diriku sendiri bantulah Ciang heng menjaga pantai Sah Kiem Thannya ini dari gangguan gangguan kaum penjahat yang bermaksud tidak baik, kau sudah dengar bukan?"

Kerbau tersebut mendengus berat kemudian mengangguk- angguk, tetapi sikapnya memperlihatkan rada berduka.

"Eeei... kenapa kau harus merasa sedih?" hibur pemuda itu buru-buru sambil menepuk-nepuk punggung kerbaunya. "Bagaimanapun akhirnya aku akan kembali lagi ke sini!"

Kerbau itu mendadak berpekik panjang, suaranya mirip dengan jeritan naga. Setelah itu ia berjalan mendekati tubuh Auw Hay Ong dan menundukkan kepalanya dengan wajah sedih.

Liem Tou kembali memandang sekejap kearahnya, setelah itu baru menoleh ke arah Auw Hay Ong.

"Siauwte akan pergi dulu, paling lambat tiga bulan kemudian tentu akan balik lagi ke mari," katanya.

Selesai berkata ia lantas enjotkan badannya. Di tengah berkelebatnya bayangan hijau ia sudah berada di depan pintu ruangan, kemudian di dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan.

Gerakan tubuhnya pada saat ini sudah mencapai kecepatan yang tiada taranya, hanya di dalam waktu yang amat singkat ia sudah melawati beberapa buah hutan lebat dan tiba di pantai telaga Auw Hay.

Mendadak sepasang matanya dapat menangkap seorang dara berbaju hijau sedang berdiri termangu-mangu di pinggir telaga.

Sekali pandang saja Liem Toa lantas tahu kalau gadis tersebut bukan lain adalah Toa Kuncu dari partai Kiem Tien Pay, Ciang Beng Ing adanya.

"Eeei . .. kenapa ia berdiri di sana?" tak terasa lagi pikirnya di dalam hati.

Tetapi setelah dipikirnya sebentar mendadak dalam hati merasa rada terperanjat.

"Apakah karena mendapat teguran dari Auw Hay Ong, dia lantas punya niat untuk bunuh diri ke dalam telaga ?" pikirnya.

Teringat akan persoalan itu tak terasa lagi gerakan badanpun jadi berhenti, ia bersembunyi di balik sebuah pohon yang pendek untuk melihat jelas peristiwa apa yang bakal terjadi.

Beberapa saat kemudian mendadak Ciang Beng Ing putar badannya dan berlutut di atas tanah kemudian mulai menjalankan penghormatan sebanyak empat kali, setelah itu ia bangun membereskan ranbut dan melayang satu kaki lebih ke tengah daratan.

"Jika ingin mati seharusnya terjun ke dalam telaga kenapa ia malah meloncat ke daratan ?" diam-diam pikir Liem Tou lagi dalam hatinya ia merasa sangat keheranan.

Selagi ia berpikir demikian, Ciang Beng Ing sudah bungkukkan badannya memungut sebuah batu besar yang beratnya kurang lebih ada sepuluh kati lebih.

Ketika itulah Liem Tou baru merasakan hatinya sangat terperanjat, kiranya gadis tersebut hendak menenggelamkan dirinya, dengan membebankan baru tersebut di atas badannya jika ia benar benar melakukan tindakan ini maka boleh dikata mayatnya tak bakal ditemukan kembali.

"Aaah ..aku rasa perempuan ini rada sedikit goblok!" diam- diam Liem Tou tertawa geli. "Lebih baik aku melakukan suatu permainan dengan dirinya sehingga ia merasa ketakutan!"

Perlahan-lahan Ciang Beng Ing dengan membopong batu besar tersebut tanpa menoleh lagi berjalan menuju ke tengah telaga yang sangat dalam, ketika air sudah berada setinggi pinggang kembali ia berhenti untuk menengok sekejap ke arah belakang, agaknya ia masih rada gegetun. Tetapi setelah lewat beberapa saat dengan bulatkan tekad ia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah bagian telaga yang jauh lebih dalam.

Liem Tou merasa sangat terkejut, tubuhnya laksana sambaran kilat cepatnya segera menghajar dari belakang.

Kelihatannya air telaga mulai menggelamkan bagian leher dari Toa Kongcu tersebut, saat itulah ia membongkokan badannya sehingga seluruh tubuhnya lenyap dari permukaan air.

Liem Tou tidak memperdulikan badannnya basah lagi dengan menggunakan gerakan "Mei Yen Liang Poo" atau burung walet menyambar ombak langsung menyelam ke dalam permukaan air telaga.

Bagaikan seekor ikan saja dengan sebat dan gesit pemuda tersebut telah tiba di sisi tubuh Toa KunCu, tampaklah ketika itu Toa KunCu tersebut kembali menongolkan kepalanya ke atas permukaan air untuk beristirahat, hal ini membuat Liem Tou semakin geli lagi.

"Eeei. . apa-apaan gadis ini? Kalau memang betul-betul berniat bunuh diri, kenapa harus nongol kembali ke atas permukaan air untuk ganti napas?" pikir pemuda itu diam- diam. Satu ingatan bagus mendadak berkelebat di dalam benaknya, sambil menyalurkan hawa lweekangnya mendadak ia berseru dengan ilmu menyampaikan suara:

"Kuncu, kau jangan takut, cepatlah ke mari! Aku adalah putra ketiga dari Hay Liong Ong atau si raja naga laut, aku memang punya jodoh dengan dirimu untuk kawin dan mengikat diri sebagai suami istri, aku sudah lama sekali menanti kedatanganmu..."

Ciang Beng Ing yang mendengar perkataan tersebut kontan saja paras mukanya berubah jadi pucat pasi saking terkejutnya.

"Aku tidak mau...! Aku tidak mau! Naga terkutuk, kau jargan bersikap kurangajar," teriaknya ketakutan.

Sambil putar badan ia terburu-buru lari ke arah pantai.

Dasarnya Liem Tou memang punya maksud hendak menakut-nakuti dirinya, melihat gadis tersebut melarikan diri sudah tentu ia tak mau melepaskan dirinya begitu saja.

Kakinya yang masih berada di dasar telaga denran cepat ditarik ke belakang, hal ini membuat badan Ciang Beng Ing seketika itu juga tenggelam seluruhnya ke dalam air. Tetapi sebentar kemudian kembali Liem Tou mendorong badannya ke tengah permukaan sehingga kepala Ciang Beng Ing sama sekali menongol dari dalam air.

"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" teriaknya sekeras- kerasnya.

"Aku ingin mengawini dirimu... aku ingin mengawinimu." kembali Liem Tou mengirim suaranya. "Istana Swie Cing Tien jauh lebih besar dan jauh lebih megah sepuluh kali lipat daripada istana ayahmu, kenapa kau tidak mau??"

Sembari menjerit-jerit, Ciang Beng Ing meronta sekuat tenaga. Tetapi Liem Tou menyeret badannya semakin lama semakin ke tengah dan membawa dirinya ke bagian telaga yang paling dalam. Ciang Beng Ing benar-benar ketakutan setengah mati, air mukanya sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat

Pada saat itulah dari tempat kejauhan muncul sebuah perahu yang bergerak mendekat. Dengan menggunakan seluruh tenaga yang dimiliki sekali lagi Ciang Beng Ing menjerit-jerit minta tolong.

Agaknya orang-orang yang berada di dalam perahu tersebut telah mendengar suara jeritan gadis itu, layar segera dikembangkan dan putar kemudi mendekati berasalnya suara tersebut.

"Setelah mengalami kejadian kali ini, aku rasa lain kali dia orang tak bakal punya pikiran untuk mengambil keputusan pendek lagi," diam-diam pikir Liem Tou di dalam hati. "Bahkan kemungkinan sekali setiap kali teringat peristiwa bunuh diri ia pasti akan teringat kembali dengan peristiwa yang sangat menakutkan ini!"

Liem Tou yang berada di bawah permukaan air sewaktu melihat perahu tersebut sudah bergerak semakin dekat, sekali lagi sengaja ia menarik gadis itu sehingga tenggelam Kembali ke bawah permukaan air.

Walaupun Ciang Beng Hu dilahirkan di tengah sebuah pulau di tengah telaga, teta pi ia tidak mengerti akan ilmu berenang di dalam air, kembali perutnya terisi dengan air telaga sebanyak dua tiga tegukan, menanti gadis tersebut sudah jatuh pingsan, Liem Tou baru lepas tangan dan membiarkan orang-orang di atas kapal turun tangan menolong gadis tersebut.

Sebelum meninggalkan tempat itu, sekali lagi Liem Tou menunjukkan kelihaiannya. Ia melancarkan satu pukulan dahsyat dari dalam permukaan air dengan mengerahkan hawa murninya yang dahsyat dan sudah mencapai pada puncak yang paling tinggi.

Tampaklah segulung semprotan air yang maha dahsyat memancur ke tengah udara di ikuti gulungan ombak yang sangat besar setinggi gunung, kejadian ini sudah tentu membuat orang orang yang ada di dalam kapal saking kagetnya pada berdiri melongo-longo, mereka tidak mengerti binatang aneh apakah yang berada di dalam air.

Kebetulan sekali terjangan air yang sangat dahsyat itu tepat menghajar di atas tubuh perahu itu sehingga membuat tubuh perahu jadi oleng.

Suara jeritan kaget bergema memenuhi angkasa orang orang yang ada di atas perahu pada berlutut dan menyembah- nyembah minta perlindungan dari Thian agar nyawa mereka diselamatkan.

Liem Tou yang melihat tindak-tanduk orang-orang itu dari bawah air diam-diam merasa kegelian, setelah puas mempermainkan orang-orang itu, ia berenang menjauhi tempat tersebut.

Permukaan air kembali jadi tenang, sinar sang surya memancarkan cahaya menyoroti permukaan air telaga sehingga memantulkan beribu-ribu buah sinar keemas- emasan, suasana yang begitu tenang membuat setiap orang mulai melupakan kejadian aneh yang baru saja mereka alami. Bagi Ciang Beng Ing. sejak mengalami kejadian itu ia sudah kapok untuk mendekati air telaga lagi bahkan untuk naik perahu pun tak berani.

Liem Tou yang berada di dalam air, setelah dirasakan jauh berada dari perahu tersebut segera munculkan dirinya ke permukaan dan melanjutkan kembali perjalanannya. Tidak lama kemudian hari sudah mulai gelap, ia melakukan perjalanan pada malam itu juga menuju ke kota Liong Chuan dan langsung berangkat ke daerah Tzuan ching.

Kendati malam itu ia melewati Kota Peng Cho, tetapi ia tidak kembali lagi ke rumah penginapan tersebut. Karena ia tak ingin bertemu lagi dengan gadis-gadis pujaannya, sehingga nantinya untuk berpisah akan dirasakan berat.

Walaupun perjalanan yang dilewati selama ini merupakan jalan-jalan gunung yang berbahaya, tetapi bagi Liem Tou jalan datar atau jalan gunung yang berliku-liku itu adalah sama saja.

Selama satu malaman melakukan perjalanan entah sudah berapa ratus lie telah dilalui.

Keesokan, harinya sewaktu sang surya memancarkan kembali cahaya ia sudah berada di sebuah kota kecil dekat perbatasan dengan daerah Tzuan Ching.

Kota tersebut tidak begitu besar tetapi juga tidak begitu kecil, pemuda itu lantas menarik kembali ilmu meringankan tubuhnya untuk berjalan masuk ke dalam kota tersebut dengan langkah lambat.

Mendadak dari hadapannya muncul kakek tua yang rambutnya pada memutih semua, di tangannya mencekal sebuah tongkat kayu sebesar lengan bayi.

Selangkah demi selangkah kakek tua itu berjalan mendekat, langkahnya kelihatan begitu berat sehingga meninggalkan suara yang amat keras.

Sewaktu ia tiba kurang lebih satu kaki dari diri Liem Tou, mendadak kakek itu menoleh dan memandangi pemuda tersebut dengan sinar mata tajam.

Liem Tou yang kebetulan sedang menengok pula ke arahnya diam diam dalam hatinya merasa sangat terperanjat. "Wooouw. . tenaga dalam si orang tua ini benar-benar amat sempurna, entah berasal dari perguruan manakah diri orang ini??" diam-diam pikirnya dalam hati.

Tampaklah si orang tua itu sewaktu melihat Liem Tou sedang memandang kearahnya dengan alis yang dikerutkan, mendadak menundukkan kepalanya rendah-rendah dan melanjutkan kembali perjalanan dengan langkah cepat dan langsung menumbuk diri Liem Tou.

Suatu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benak pemuda tersebut, ia mengerti kalau siorang tua itu tentu sedang mencari gara-gara dengan dirinya.

Diam-diam ia tertawa dingin tiada hentinya. Hawa sakti kontan disalurkan melindungi seluruh badan kemudian tanpa menghindar lagi ia langsung menyambut datangnya tubrukan tersebut.

Sedikitpun tidak salah, ketika si orang tua itu tiba di depan pemuda kita mendadak si orang tua itu menjerit tertahan, agaknya ia bermaksud hendak mengerem badannya yang hampir saja menumbuk di atas tubuh Liem Tou, sedang tangannya mengambil kesempatan sewaktu badannya jntuh sempoyongan itu lah menyambar jalan darah "Cian Cing Hiat" pada pundak sang pemuda.

Belum, sampai jari tangannya menempel badan, Liem Tou telah merasakan segulung tenaga lunak yang tiada berwujud menerjang lewat

Dengan cepat hawa murninya disalurkan semakin tebal sehingga seluruh jalan darah nya tertutp, bersamaan itu pula lengan kanannya diangkat sedang kelima jarinya menyambar urat nadi dari si orang tua itu.

"Eeei ... matamu sudah buta? bentaknya keras.

Gerakan mereka berdua sama-sama dilakukan cepat bagaikan sambaran kilat, sewaktu si orang tua itu melihat Liem Tou telah berhasil mengetahui rahasianya ia segera bertindak lebih waspada.

Kakinya kembali bergerak sempoyongan, tangannya miring ke samping menyingkir dari badan Liem Tou.

"Aaakh . . . semakin tua aku semakin tidak becus. "

gumamnya seorang diri.

Tanpa menoleh lagi buru buru ia melan jutkan kembali perjalanannya ke arah depan.

Liem Tou menoleh dan memandang tajam bayangan punggung si orang tua itu. Walau pun terhadap datangnya serangan borongan yang ia lancarkan merasa keheranan tetapi setelah melakukan perjalanan semalaman dan setetes airpun belum masuk ke dalam perut ia tidak ingin mencari gara-gara dengan orang lain. Pertama-tama yang akan dilakukan olehnya pada saat ini adalah bersantap kemudian beristirahat. Oleh sebab itu terhadap kejadian tersebut ia sama sekali tidak memikirkannya di dalam hati.

Ketika ia memasuki sebuah rumah makan sang pelayan mengabarkan bahwa waktu masih terlalu pagi, makanan belum dipersiapkan.

"Kalau begitu biar aku tunggu disini saja !" jawab Liem Tou perlahan.

Ia memilih suatu tempat dekat pojokan ruangan sambil menghadap dinding perlahan-lahan ia mulai pejamkan matanya mengatur pernapasan.

Hawa murninya perlahan-lahan berputar mengitari seluruh badan sebanyak tiga kali, rasa lelah karena melakukan perjalanan selama satu malaman hanya di dalam waktu yang amat singkat inilah telah pulih kembali seperti sedia kala, tetapi ia masih tetap duduk tak bergerak di tempat semula.

Pada saat itulah telinganya yang tajam mendadak mendengar suara derapan kuda yang amat ramai berkumandang datang rumah makan tersebut, menurut perhitungan Liem Tou ia menduga bila jumlah kuda tersebut ada delapan ekor banyaknya.

Tetapi bersamaan waktu ia mendengar datangnya suara derapan kaki kuda itulah dari arah yang berlawanan berkumandang datang pula suara langkah kaki yang luar biasa beratnya

Diam diam Liem Tou merasakan hatinya keheranan, belum sempat pikirannya berputar mendadak terdengarlah suara bentakan seorang berkumandang masuk ke dalam telinga nya.

"Anjing tua itulah yang turun tangan, Ngo Lian It Kwan serta dua belas orang saudara dari Kiem Tien sudah menemui ajalnya di tangan dia orang."

"Siapa yang sudah melukai kedua belas orang bersaudara dari Kiem Tien Pay???" mendengar kata kata tersebut Liem Tou merasa sangat terperanjat. Jika orang itu bisa melukai orang-orang tersebut hal ini berarti pula bila kepandaian ilmu silatnya sangat luar biasa, jika ditinjau dari lawannya yaitu partai Kiem Tien Pay, maka orang yang sudah turun tangan membinasakan orang orang tersebut tentu merupakan anggota dari perkumpulan Sin Beng Kauw atau sedikit-dikitnya ada hubungannya dengan perkumpulan tersebut!"

Berpikir akan hal itu. Liem Tou lantas bangun berdiri dan berjalan ke samping jendela untuk melongok keluar.

Sedikitpun tidak salah tampaklah delapan orang lelaki kasar dengan menunggang delapan ekor kuda jempolan sedang melakukan perjalanan cepat dari arah Utara menuju ke arah Selatan, sedang dari sebelah Selatan muncullah siorang tua yang ditemui Liem Tou barusan.

"Apakah orang yang sudah membinasakan kedua belas orang bersaudara dari partai Kiem Tien Pay adalah orang tua ini?" melihat kejadian tersebut dalam hati Liem Tou merasa semakin keheranan. Hanya di dalam sekejap mata ke delapan orang lelaki kasar itu sudah pada mencabut keluar senjata tajamnya, kemudian hampir secara serentak menerjang ke arah siorang tua itu.

Agaknya siorang tua itupun mengerti keadaan sangat tidak menguntungkan bagi dirinya. Tidak jelas ia sudah menggunakan gerakan apa tahu-tahu di dalam sekali kelebatan saja ia sudah berada di depan pintu rumah makan tersebut kemudian berbelok dan langsung masuk ke dalam ruangan rumah makan.

Liem Tou yang melihat si orang tua tersebut naik ke atas loteng, buru buru balik ke tempat duduknya semula dan tak bergerak lagi.

Walaupun begitu sepasang telinganya dipentangkan lebar- lebar memperhatikan setiap gerak gerik dari si orang tua itu.

Orang ketika itu naik ke atas loteng. mulutnya kembali bergumam tiada hentinya.

"Anak kura kura, jikalau bukannya Loohu ada urusan penting yang harus buru-buru diselesaikan, sewaktu ada di mulut gunung Ngo Lian san, kalian tak bakal lolos seorang pun!"

Mendadak...

Agaknya ia menemukan Liem Tou pun duduk di pojokan ruangan tersebut, ia ber seru tertahan kemudian langsung berjalan menuju, kearah pemuda tersebut.

Walaupun selama ini Liem Tou duduk membelakangi si orang tua itu tetapi ia tidak mengendorkan kewaspadaannya, selama ini telinganya terus menerus mengawasi gerak gerik orang tua itu dengan ketat.

Si orang rua itu setelah berjalan beberapa langkah ke depan, mendadak menghentikan kembali langkahnya kemudian berbelok mencari sebiah tempat dekat jendela "Eeei kau orang tua sudah lama benar tidak pernah

datang kemari !" tegur seorang pelayan sambil menghampiri si orang tua tersebut.

"Heei.:. tidak disangka aku siorang tua setelah hidup setua ini selalu saja dirundung kesialan," mendadak Siorang itu melototkan sepasang matanya. "Kemarin bertemu dengan Setan ini haripun harus ribut kembali dengan setan setan kurcaci, sudah. sudah jangan..cerewet lagi cepat hidangkan arak!"

Dengan gugup si pelayan itu menyahut kemudian berlalu dari sana dengan langkah tergesa-gesa.

Pada waktu itu kedelapan orang lelaki kasar dari partai Kiem Tien Pay pun sudah ikut mengejar ke atas loteng.

"Anak anak-kura yang buta matanya. Hmm! aku akan membuat kalian tak akan bisa menuruni tempat ini lagi!" gumam si orang tua itu kembali.

Sebelum kedelapan orang lelaki kasar dari partai Kiem Tien Pay itu mengambil suatu tindakan, si orang tua itulah pertama tama yang telah berseru terlebih dulu dengan nada dingin.

"Eeei   kedatangan kalian semua apakah bertujuan

hendak mencari gara-gara dengan aku siorang tua??? kenapa kalian tidak pergi mencari berita dulu kalau aku Tong Koay Shu atau sikakek tongkat tembaga yang pernah menggetarkan seluruh dunia kangouw karena pernah membantu si Chiet Ci Tauw Toa tempo dulu adalah seorang manusia yang tak bisa diganggu oleh siapapun???".

Kedelapan orang lelaki kasar dari partai Kiem Tien Pay itu rata-rata merupakan orang yang baru berusia pertengahan, sudah tentu mereka tak bakal mengetahui kejadian mengenai si hweesio tujuh jari atau Chiet Ci Tauw Toa pada empat puluh tahun yang silam. Sedang Liem Tou sendiri yang mendengar disebutkannya nama "Tong Koay hu" pun dibuat kebingungan juga. Ia tidak mengerti siapakah jagoan tersebut.

"Di dalam kota ini suasana sangat ramai, bila sampai terjadi pertempuran rasanya kurang sedap dipandang," sambung siorang tua itu lebih lanjut. "Pokoknya bagaimana pun bila hanya ingin mengandalkan kekuatan kalian., kura-kura kecil saja tak akan bakal bisa menghalangi perjalananku meninggalkan daerah Tien Cien.. Bukannya aku si orang tua berbicara besar, sekalipun Loo Ciang datang sendiripun tak bakal bisa mengapa apakan diriku. Kalian mau percaya atau tidak itu terserah pada pendapat kalian sendiri!"

Selesai berkata tongkat bajanya lantas dicukil kemudian didorong ke arah depan, dengan kecepatan laksana sambaran petir tongkat tembaga tersebut kontan saja menancap di atas tembok tangga loteng sehingga membentuk sebuah tiang besi yang menghalangi jalan pergi ke delapan orang itu. Apalagi tongkat tersebut menembusi tembok sedalam beberapa depa hal ini menunjukkan bagaimana dahsyatnya tenaga dalam yang ia miliki. Tidak heran kedelapan orang itu kontan dibuat tertegun dan berdiri melongo-longo di sana tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun selama setengah harian.

Liem Tou yang melihat sikap orang-orang partai Kiem Tien Pay mulai memperlihatkan rasa jeri, buru-buru meloncat bangun.

"Eeeei toako sekalian kenapa baru tiba pada saat ini ?"

tegurnya sambil ter tawa. ""Siauw te sudah lama sekali menantikan kedatangan toako sekalian."

Sembari berkata ia lantas berjalan mendekati kedelapan orang lelaki itu.

"Toako sekalian mari silahkan duduk di sini !" sambungnya lebih lanjut sambil men jura. "Pada beberapa hari yang lalu siauwte berhasil mendapat sedikit rejeki. Sengaja ini hari aku akan mengundang Toako sekalian untuk minum arak sampai puas!"

Kedelapan orang lelaki kasar tersebut tidak lain adalah saudara-saudara yang dikirim Partai Kiem Tien pay untuk melaksanakan tugas rahasia yang telah disampaikan mereka dari pantai Sah Kiem Than.

Terhadap lalu lintas serta pintu masuk keluar disekitar daerah Tian Cuan boleh dikata sudah dijaganya sangat rapat, barang siapapun yang lewat disana tentu ditanyai hingga terang.

Siapa sangka sewaktu kemarin hari berada di gunung Ngo Lian san mereka telah bertemu dengan siorang tua ini.

Beberapa patah kata-kata pembicaraan tidak terasa cocok lantas terjadilah pertempuran yang sengit.

Kepandaian silat yang dimiliki si orang tua itu ternyata sangat luar biasa lihaynya, di dalam sekejap mata ia sudah berhasil membinasakan dua belas orang anggota Kiem Tian pay, kemudian ditinggal pergi.

Saudara-saudara dari partay Kiem Tien-pay yang melihat kejadian ini sambil buru-buru mengirim berita ke pantai Sah Kiem Than, mereka lantas mengirim kembali delapan orang untuk melakukan pengejaran. Akhirnya setelah melakukan perjalanan siang malam, pada pagi hari itu mereka berhasil menjumpai kembali si orang tua itu di kota Swie Kiang Tien. Tetapi mereka kena dibikin pecah nyalinya oleh kelihayan tenaga dalam dari si orang tua itu. Selagi mereka berada dalam keadaan serba salah itulah secara tidak disangka telah muncui Liem Tou yang mengucapkan beberapa patah kata yang tidak dimengerti oleh mereka.

Sudah tentu saja kedelapan orang ltu dibuat semakin kebingungan dan gelagapan.

Liem Tou yang melihat sikap kedelapan orang itu menunjukkan keragu-raguan kembali dia orang tertawa : "Apakah Toako sekalian merasa tidak leluasa karena di sini masih ada orang lain?? Ooouw. .! Soal ini sih sangat gampang!" katanya lantang.