Raja Silat Jilid 25

 
Jilid 25

Dengan cepat dari dalam sakunya dia mengambil keluar lagi sebuah intan berwarna merah darah dan diberikan kepada bocah cilik itu.

Mari kesini, serunya. Ini aku kasih mainan buatmu, kau suka bukan?

Petani tua itu segera mewakili sang bocah itu untuk mengucapkan terima kasihnya, setelah itu Liem Tou baru menuntun kerbaunya meninggalkan rumah petani itu, tidak jauh dia berjalan ketika teringat akan diri perempuan tunggal yang ada di perahu seorang diri dengan cepat dia meloncat naik ke punggung kerbaunya.

Hoa, bentaknya dengan keras.

Sang kerbau segera menggerakkan kakinya mulai berlari ke depan, mungkin dikarenakan sudah ada berapa lama tidak bertemu dengan majikannya begitu melihat dia orang naik ke atas punggungnya dengan amat riangnya dia berlari dengan cepatnya ke depan membuat pasir serta debu pada beterbangan memenuhi angkasa.

Hanya di dalam sepertanak nasi kemudian Liem Tou serta kerbau itu sudah tiba di samping bukit di selat Sie Leng Shia tersebut.

Liem Tou segera meloncat turun dari atas tunggangannya dan menepuk nepuk leher sang kerbau.

Kau turunlah sendiri, serunya. Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas perahu, teriaknya keras begitu kakinya mencapai permukaan perahu.

Susiok aku sudah kembali.

Tetapi tidak terdengar suara sahutan dari dalam perahu ini ruangan perahu kosong melo pong tidak tampak sesosok bayangan manusia-pun.

baru saja dia merasa keheranan mendadak terdengarlah suara dari si perempuan tunggal berkumandang datang.

"Sutit aku ada disini . . . kau pergi ke mata?" kenapa begitu lama baru pulang?? Huuu seorang diri disini aku benar

benar merasa kesepian.

Sambil berkata tubuhnya meloncat naik ke atas peruhu dan tampak pada tangannya membawa buah buahan yang amat banyak sekali.

Waktu itu sang kerbaupun dengan perlahan lahan berenang mendatangi, melihat hal itu si perempuan tunggal segera berkata kembali.

"Sutit, kerbau itu apa masih ada?"

Baru saja dia selesai berkata tampaklah kerbau itu sudah meloncat naik ke atas perahu membuat perahu itu segera bergetar sehingga miring ke arah samping.

Mendadak terdengarlah suara dengusan yang sangat rendah dan berat kerbau itu secara tiba tiba saja dengan ganasnya menerjang ke arah si perempuan tunggal.

"Hey kenapa?' si perempuan tunggal sambil menyingkir kesamping.

"Hey kau sudah gila?" bentak Liem Tou dengan gugup. "Terhadap keluarga sendiri kenapa kau mengumbar nafsu binatangmu?" Sang kerbau tidak berani bergerak lagi, cuma saja sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si perempuan tunggal Touw Hong.

Saat itulah secara mendadak Liem Tou teringat akan sesuatu, tentunya sewaktu berada di rumah penginapan di kota Tay Yang di mana si perempuan tunggal serta si gadis berbaju hijau Ciang Beng Hu mengeroyok diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat diketahui oleb sang kerbau, karena itu membuat dia sudah salah menganggap dirinya sebagai musuh, oleh sebab itulah begitu bertemu dengan dirinya dia lalu mengumbar nafsu binatangnya.

Berpikir sampai disitu dengan cepat Liem Tou segera memberi penjelasan kepada kerbaunya.

Dia bukan musuh kita, lain kali bilamana kau bertemu dengan dirinya kau harus bersikap hormat seperti sewaktu bertemu dengan aku, kau tidak diperkenankan bertindak begitu kurang ajar lagi.

Sang kerbau cuma mendengus rendah saja tanda dia sudah tahu.

Setelah itulah Liem Tou baru menoleh ke arah perempuan tunggal dan kirim satu senyuman manis kepadanya.

"Kerbau ini tentunya susiok pernah menemui bukan? Dia bukan saja merupakan kawan karib dari sutitmu bahkan ada kalanya menjadi pengganti dari sutitmu !" serunya.

Si perempuan tugggal pun ikut tertawa.

"Ada majikan sudah tentu ada budaknya," sahutnya. "Pada beberapa bulan ini kerbaumu benar benar sudah terkenal sekali di dalam dunia kangouw "

"Untung saja tidak sampai dipukul mati oleh orang-orang dari Kiem Thien Pay. seru Liem Tou secara tiba tiba sambil kirim satu kerlingan mata ke arah susioknya. Waktu itu apabila bukannya aku cepat cepat kembali ke rumah penginapan bilamana ada sedikit tidak beres saja maka orang orang dari Kiem Thien Pay bakal menanggung akibatnya.

Si perempuan tunggal tidak dapat mengucapkan apa apa dia cuma tertawa saja.

Sutit mendadak tanyanya lagi, kerbaumu itu sudah terkenal akan keganasannya, dapatkah kau bentahukan kepadaku bagaimana caranya memberi pendidikan kepandanya? sekalipun harus bertempur dengan seorang jagoan kelas satu dari Bu lim pun dia sanggup, sebenarnya dikarenakan apa??

Liem Tou cuma tersenyum tidak menjawab, setelah lewat beberapa saat kemudian dia baru menjawab dengan perlahan.

Liin kali sudah tentu susiok dapat melihatnya sendiri. Si perempuan tunggalpun tidak banyak berta nya lagi.

Liem Tou segera berlari menuju ke ujung perahu, lantas teriaknya dengan keras

Susiok, coba kau lepaskan tali itu dan angkatlah jangkarnya ke atas.aku mau menjalankan perahu ini.

Si perempuan tunggal menurut dan mengerjakan perintahnya itu, Liem Tou lantas kirim satu pukulan ke arah tengah sungai, sesuai dengan cara dari si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san dia menggunakan tenaga pukulan tersebut sebagai pengganti dayung menjalankan perahunya ke arah depan.

Besar ombak di selat Sam Shia dari sungai Yang Ci Kiang ini sudah amat terkenal sekali d iseluruh kolong langit, tetapi tenaga dalam yang dihasilkan oleh pukulan Liem Tou ini maha dahsyat sekali, sekalipun di atas permukaan air sama sekali tidak kelihatan beriak tetapi di dasar sungai itu sudah terjadi satu gelombang sangat dahsyat sekali. Saat ini perahu tersebut bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melampaui berpuluh puluh perahu yang sedang berlayar dengan bantuan tarikan di tepi selat.

Orang orang dari perahu lainnya yang melihat perahu dari Lism Tou ini bisa bergenk dengan amat cepatnya segera merasa keheranan, karena keadaan seperti ini boleh dikata mereka belum pernah menemuinya.

Liem Tou takut dengan adanya kejadian ini akan mmimbulkan rasa keheran heranan dari orang orang lain, terpaksa dia ssdikit memperlambat gerakan perahunya, bersamaan pula dia pun duduk di atas geladak, lagaknya separti orang yang sedang menikmati keindahan pemandangan, padahal sepasang tangannya dengan tidak ada hentinya diayunkan kebelakang.

Tidak sampai seperminum teh kemudian dia telah melewati selat Sie Leng Shia dan memasuki selat Wu Shia.

"Sutit kau beristirahatlah sebentar, kali ini biarlah aku yang mencoba" ujar si perempuan tunggal sambil berjalan keluar dari dalam ruangan.

"Tidak perlu sudah hampir sampai!" Sahut Liem Tou sambil tertawa.

"Oooh . . kiranya sutit mau pergi ke selat Wu Shia ini, hal ini ada sedikit yang membuat aku kebingungan" ujar si perempuan tunggal lagi dengan heran.

"Apanya yang tidak dapat kau pahami?? Cukup kita simpan beberapa peti emas itu ke sana lalu kita jalankan perahu lagi menuju ke atas Cing Jan untuk mengikuti perjanjian pada tanggal lima bulan lima, bukankah susiok juga melihat keramaian?" "Bukankah sejak dulu sutit sudah mengada kan janji dengan aku? Sungguh cepat kau melupakan hal ini"

Liem Tou lalu tertawa.

Waktu itu dengan saat ini keadaannya sudah berbeda, apakah sesampainya di atas Cing Jan susiok juga mau bertanding dengan diriku lagi?

Aaah.. tidak, cuma saja bilamana sutit ada bahaya akupun bisa turun tangan memberi bantuan.

Di tengah percakapan itulah, mereka sudah tiba di tempat tujuan.

Liem Tou segera menepikan perahunya lalu kepada Si perempuan tunggal ujarnya.

Susiok apakah mau pergi dengan sutit??

Baiklah, sahut si perempuan tunggal mengangguk. Cuma saja kau harus beritahukan kepadaku, kau hendak pergi kemana.??

Liem Tou tidak mau mengelabui siperempuan tunggal lagi dia lantas menceritakan bagaimana dia mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Lok di dalam sumur kering tersebut.

Saat itulah si permpusn tunggal baru tahu kalau kepandaian silat dari Liem Tou ini diperoleh dari kitab puiaka To Kong Pit Liok. di dalam hati diam diam dia merasa amat kagum sekal.

Dia segera putar badan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu dan menggotong keluar sebuah peti hitam.

Peti yang penuh berisikan uang perak itu sudah tentu terasa amat berat sekali, di tambah si perempuan tunggal baru saja sembuh dari luka nya, baru saja berjalan beberapa langkah napas nya sudah ngos-ngosan.

Dengan gugup Liem Tou lalu menggantikan dirinya. "Susiok lukamu belum sembuh, kau tidak usah banyak keluar tenaga! Biarlah sutit yang menggolong !"

Mendadak matanya terbentur dengan sang kerbau yang ada disisinya, satu pikiran segera berberkelebat di dalam benaknya.

"Begini saja !" ujarnya lagi. "Kekuatan dari kerbau ini amat luar biasa sekali, kita biarkan dirinya membawa tiga buah peti cukup susiok menjaga dari sampingnya sehingga jangan sampai jatuh, bukankah sudah beres?? Sisanya aku bisa membawanya sendiri, dengan demikian bukankah hanya di dalam satu kali kerja saja sudah beres??"

Si perempuan tunggal tidak terlalu memaksa. dia segera mengangguk.

Demikianlah mereka berdua dengan menggunakan cara tersebut segera menggotong keenam buah peti itu ke atas tepi itu kemudian dengan perlahan lahan naik ke punggung gunung.

Tiba tiba ....

Sreeet! Sreet ! Sreet ! Tampak lima orang lelaki kasar dengan cepatnya berkelebat keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri di tengah jalan.

"Siapa yang sudah datang dari bawah, cepat sebutkan namamu" bentak mereka berbareng.

Liem Tou yang melihat oraug orang itu walaupun mempunyai perawakan kekar dan kuat tetapi agaknya tidak mempunyai kepaadaian yang tinggi, dalam hati Liem Tou merasa lega.

kepada si perempuan tunggal dia segera kirim satu senyuman.

"Aku lihat sebetulnya kalian semua manusia manusia tolol yang benar benar goblok" sahutnya kepada orang orang itu. "Jika kalian kepingin mengahalangi perjalanan orang dan merampas barang bawaannya seharusnya pergi ke jalan raya saja, buat apa kalian pilih gunung Wu-san yang sama sekali sunyi tak kelihatan manusia ini untuk mencari mangsa??

Sungguh menggelikan sungguh menggelikan sekali kalian

tidak mirip pembegal jalan."

Selesai berkata dia tertawa terbahak bahak.

Mendengar perkataan tersebut keenam orang lelaki kasar itu seketika itu juga jadi amat gusar sekali, mendadak mereka bersama sama mengerubut maju kedepan.

Liem Tou sekali lagi tertawa.

"Tunggu dulu !" bentaknya dengan keras. Sungguh besar sekali nyali kalian pembegat-pembegal cilik, terus terang saja aku beri tahu pada kalian, isi dari keenam buah petiku ini adalah emas intan yang mempunyai nilai sangat berharga sekali, bila kalian bisa mengangkat sebuah peti diantara peti peti ini aku akan segera menghadiahkan benda tersebut kepada kalian.

Sambil berkata dia meletakan ketiga buah peti itu ke atas tanah, ujarnya lagi.

Bilamana tidak percaya kalian boleh coba-coba.

Diantara keenam lelaki kasar itu segera terlihatlah salah seorang meloncat keluar.

Kami cuma tanya namamu lalu kalian mengaggap kami sebagai pembegal jalan. Hmm. Hmm, kau bangsat cilik

jangan memandang begitu rendah terhadap diri kami, bentaknya dengan gusar. Kau bilang aku orang tua tidak bisa angkat salah satu dari peti ini..he..aku tidak percaya. Aku mau lihat betul tidak omonganmu itu.

Sembari berkata dia berjalan mendekati peti itu kemudian tangannya mulai mencekal salah satu peti untuk diangkat. Perkataan dari Liem Tou ini sedikitpun tidak sombong cukup sebuah peti saja sudah ratusan kati beratnya, walaupun kekuatan dari lelaku itu ada tua tiga ratus kati tetapi keadannya masih terpaut amat jauh, mana dia orang bisa berhasil mengangkatnya.

Walaupun dia sudah mengerah seluruh kekuatannya sehingga wajahnya berubah memerah, peti itu tetap tak terangkat juga.

Melihat kejadian itu Liem Tou segera tertawa ringan.

.heee. .bukanlah aku sudah bilang, kalian tidak mungkin bisa.

Dengan demikian keenam orang lelaki itu segera dibuat melongo dan amat terbelalak lebar lebar. Mereka saling berpandangan tanpa ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Beberapa saat kemudian baru terdengar salah satu diataranya berseru dengan keras.

epat pergi mengundang Piauw cu datang. Orang itu segera menyahut dan lari meninggalkan tempat tersebut.

Liem Tou tidak mau ambil gubris lagi terhadap diri mereka, segera bentaknya keras.

"hayoh pada menyingkir"

Sekali lagi dia menggotong peti peti itu dan menoleh ke arah si perempuan tunggal untuk kirim satu senyuman.

"manusia manusia itu sungguh tidak tahu kekuatannya sendiri, mari kita pergi saja" ujarnya.

Dua orang manusia seeker kerbau kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan perlahan lahan naik ke atas gunung, para lelaki kasar itu mana berani menghalangi perjalanan mereka lagi, dengan sepasang mata yang melotot lebar lebar setindak demi setindak mereka mengikuti terus naik ke atas gunung.

Pada saat itulah tampak dari atas gunung dengan tergesa gesa berlari turun dua orang, yang satu adalah lelaki yang pergi melapor tadi sedang yang seorang lagi adalah seorang kakek tua yang memelihara jenggot pada janggutnya.

Liem Tou yang melihat gerakan kaki dari kakek itu amat mantap dengan cepat dia memperhatikaw lebih teliti lagi, segera dia bisa kenal kalau orang iru bukan lain adalah Piauw cu dari Cing Ling Piauw kok Sie Ie adanya.

Liem Tou yang kenal dengan kakek tua itu dengan cepat meletakkan peti tersebut ke atas tanah lalu menoleh ke arah diri Si perempuan tunggal.

"Orang yang baru datang itu adalah Sie Piauw tauw dari Cing Liong Piauw kiok, aku dengan dirinya ada satu kali pernah bertemu dan sama sama berada di dalam keadaan bahaya, orang ini adalah seorang jujur yang patut dipuji, mari aku kenalkan kepada diri Susiok".

Si perempuan tunggal yang melihat perubahan sikap dari Liem Tou tetapi secara diam diam sudah menduga kalau Liem Tou sangat menghormati orang ini, karenanya dengan ter gesa gesa dia meletakkan pula peti hitam itu.

Pada saat itulah Liem Tou sudah maju ke depan menyambut kedatangan orang tua itu.

"Sie Loo Piauw tauw! bagaimana keadaanmu selama perpisahan ini" serunya sambil menjura memberi hormat. "Boanpwee tidak tahu kalau enghiong enghong ini adalah anak buah dari Loo Piauw tauw, tadi sudah salah bertindak harap suka memaafkan!"

Sie Piauw tauw yang melihat munculnya diri Liem Tou yang secara tiba tiba itu semula agak melengak tapi kemudian dia tertawa terbabak bahak dengan amat kerasnya. "Orang budiman tentu dilindungi Thian, ternyata Liem Loo te benar benar berhasil meloloskan diri dari bahaya, bagus . . bagus sekeli.

Berbicara sampai di situ mendadak sinar matanya berkelebat dengan amat tajamnya memperhatikan diri Liem Tou dan selanjutnya dia tertawa terbahak babak.

Haa , . haaa . . bilamana bukannya loohu sudah mslamur, selama setahun ini kepandaian silat dari Liem Loo te sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali, jauh berbeda dengan keadaan sewaktu dahulu kita bertemu.

Aaa . . Sie Loa Piauw tauw terlalu memuji, seru Liem Tou sambil tertawa. Walaupun selama satu tahun ini ada sedikit kemajuan tetapi belum mencapai seperti apa yang diucapkan oleh Loa piauw tauw, aku sebetulnya masih mengharapkan banyak petunjuk dari Piauw-tauw.

Ketika berbicara sampai disitu Si perempuan tunggal pun sudah sampai di sana, Liem Tou segera memperkenalkan dirinya dengan Sie Piauw tauw.

Sie Piauw tauw yang mendengar gadis berbaju hitam yang ada dihadapannya saat ini ternyata adalah susiok dari Liem Tou dia mana berani berlaku ayal, dengan cepat dia merangkap tangannya memberi hormat.

Waktu itu berkat baniuia dari keponakan murid Li hiap, loohu berhasil meloloskan diri dari kekejaman An In Sin Pian kali ini sekali lagi Loohu ucapkan banyak terima kasih kepada kalian berdua.

Sie Piau tauw kau jangan begitu terlaku sungkan, cegah Liem Tou dengan cepat. Waktu itu pun boanpwee sedang ada urusan yang kebetulan bersamaan kita berada di satu golongan, buat apa kau berlaku begitu hormatnya. Liem Tou yang kukuh tidak mau menerima hormatnya yang membuat Sie Piauw tauw tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa diapun membatalkan niatnya itu.

Liem Tou segera berganti dengan bahan pembicaraan yang lain.

Entah kali ini Sie Piauw tauw ada makdud apa ke gunung Wu san ini? kenapa tidak melihat murid kesayanganmu?.

Sie Piauw tauw yang mendengar Liem Tou bertanya demikian dia segera menghela nafas panjang.

Mendadak dia menuding ke arah sisinya, Liem Tou mengikuti apa yang ditunjuk segera menoleh kesana.

Terlihatlah di tengah batu batuan cadas yang pada tersebar di seluruh permukaan tanah terdapatlah sebuah kayu yang tinggal separuh serta sebuah batu besar.

Melihat barang tersebut Liem Tou jadi keheranan. Sie Piauw tauw apa maksudmu? tanyanya.

"Lenyapnya barang kawalan kita di sungai Yang Ci Kiang tentunya Liem Loo te mengetahui dengan jelas bukan? dikarenakan hilang nya barang kawalan itu maka untuk mengganti rugi seluruh harta kekayaanku jadi ludas sama sekali, perusahaan Cing Liong Piauw kiok pun terpaksa tutup pintu, sebaliknya Ang In Piauw kiok mulai meluaskan usahanya. Loohu semakin berpikir semakin kheki sehingga di dalam setahun ini antara pihak kami dengan pihak keledai tua itu sudah terjadi dua kali pertempuran yang makan banyak korban.

"Kemarin kami dapat mendengar kalau ini hari dari pibak Ang In Piauw kiok mendapatkan kawalan satu barang berharga yang di dalam beberapa hari ini akan lewat tempat ini menuju ke daerah Kang Lam, karenanya kami sengaja tunggu disini untuk membalas dendam yang sudah lalu " Mendengar diucapkannya perkataan tersebut Liem Tou jadi terperanjat sekali.

"Apakah Sie Piauw tauw hendak menggunakan gelindingan batu serta kayu untuk menenggelamkan perahunya sewaktu melewati selat ini?"tanyanya lagi.

Air muka Sie Piauw tauw segera berubah jadi memberat.

Teringat peristiwa setahun yang lalu dimana dia merampok barang kawalan kami seharga tiga laksa tahil petak bahkan membunuh Hu Hiauw tauw serta anak muridku, apakah kami berbuat demikian dikatakan terlalu kejam??" ujarnya.

Pikiran Liem Tou dengan cepat berkelebat memikirkan sesuatu, akhirnya ujarnya lagi.

"Dendam sakit bati tidak ada habis habisnya lebih baik Sie Piauw tauw berpikir tiga kali sebelum bekerja.

"Usaha yang sudah aku orang she Sie pupuk selama puluhan tahun lamanya kini sudah dihancurkan oleh bajingan she Pouw itu hanya di dalam sehari saja. kau suruh berbuat bagaimana sehingga bisa menghilangkan rasa mengkel di dalam hatiku?" seru Sie Piauw tauw dengan gemasnya.

Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, pada saat ini bukaanya dia bermaksud untuk menolong si Ang In Sin Pian, Pouw Sak San untuk meloloskan diri dari bencana ini melainkan dia ingin melenyapkan dendam sakit hati yang saling ikat mengikat di dalam Bu lim ini, mendadak di dalam benaknya berkelebat satu ingatan.

Baru saja dia hendak mengutarakan sesatu tiba tiba tampaklah Sie Piau tauw sudah melanjutkan lagi kata katanya.

Muridku sudah balik kemari, kemungkinan sekali sebentar lagi mereka bakal melewati selat ini.

Sambil berkata dia menuding kearah sungai. Dengan mengikuti arah yang ditunjuk Liem Tou segera melongok ke bawah,di bawah terlihatlah sebuah sampan dengan layar yang lebar dengan lajunya sedang bergerak mendatangi, sedang orang yang berdiri di belakang kemudi adalah seorang lelaki dengan dandanan nelayan.

Di tengah mengalirnya air Sungai yang amat deras sekali di selat Wu shia ini dengan menunggang sampan kecil dengan mengikuti arus sungai merupakan suatu pekerjaan yang sangat berhahaya sekali, Sie Piauw tauw dengan tergeda gesa segera memerintahkan beberapa lelaki kasar untuk turun kebawah menyambut kedatangannya.

Lelaki itu segera menyambut dan bersama sama turun ke bawah gunung.

Tidak lama kemudian sampan kecil sudah barada dekat dengan tempat itu, tiba tiba terlihatlah nelayan itu melemparkan seutas tali ke arah tepian. dengan cepat lelaki kasar tersebut menarik perahu itu dan mendekati tepi sungai.

Nelayan itu meloncat turun dari perahunya dan berlari naik ke atas bukit, sekali pandang saja Liem Tou segera mengenal kembali kalau arang itu adalah Piauw su yang pernah ditolong pada waktu yang lalu.

Dengan tergesa gesa piauw su muda itu lari ke atas punggung bukit jatuhkan diri berlutut di depan Sie Piauw tauw.

Tecu Oei Poh sudah kembali, serunya

Sudah sudahlah, urusan apakah sudah di bikin beres? ?

tanya Sie Piaw tauw sambil ulapkan tangannya.

Piauw su muda itu segera bangkit berdiri sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah Liem Tou berdua, sewaktu dilihatnya dia orang ada disana dia segera mengangguk. LlEM TOU pun lantai tersenyum tetapi Oei Poh yang tidak kenal dengan si perempuan tunggal tidak berani berlaku gegabah dengan melongo dia memandangi diri si perempuan tunggal tidak berani berbicara.

Agaknya Sie Piauw Tauw mengetahui maksud hatinya, dia segera tertawa.

'Oei Poh, kau katakan saja".

"Di dalam satu jam kemudian mereka bakal lewat di selat ini" ujar Oei poh kemudian." Perahu yang memuat barang kawalan semuanya ada tiga buah, dua buah perahu yang memakai bendera Ang In Piauw kiok dan berjalan paling depan merupakan perahu perahu kosong belaka, sebaliknya sebuah perahu yang jauh membuntuti di belakang kedua perahu kosong itu barulah merupakan perahu yang betul betul ada barang kawalannya, kali ini Ang In Sin Pian sendiri yang turun tangan mengawal barang kawalan tersebut."

Mendengar perkataan itu Sie Piauw tauw mengerutkan alisnya.

"Sungguh licik sekali Si Pouw Sak San. Hmm, ini hari aku mau suruh kelicikannya itu hancur ditangan Loohu" serunya.

Sehabis berkata dia segera menggape beberapa anak buahnya dan memberi pesannya.

"Kalian masing masing harus berada di tempatnya sendiri sendiri, siapkan batu dan kayu itu baik baik. bila mana

melihat adanya dua buah perahu dengan tertancapnya bendera Ang In Piauw kiok lewat jangan sekali kali kalian ganggu, biarkan saja dia berlalu ! Tetapi perahu yang ada dibelakangnya dimana tidak tertancap bendera kalian harus berusaha menghancurkan sehingga tenggelam ke dalam sungai " Begitu perintah tersebut diucapkan, para lelaki kasar itu segera pada menyebar dan menyembunyikan dirinya baik baik untuk bersiap sedia.

Liem Tou yang melihat suasana sudah benar benar tegang dia tidak berani berlaku ayal lagi. dengan cepat tubuhnya maju ke depan Sie Piauw tauw dan memberi hormat

"Sie Piauw tauw apa benar benar sudah mengambil keputusan untuk menenggelamkan perahu ini?" tanyanya. Jika kau berbuat begitu bukankah ikatan permusuhan di antara kalian malah semakin bertambah mendalam???

Si goiok naga hijau Sie Piauw tauw lantas memperlihatkan tertawa pahitnya.

"Hmmm, harta rumah musnah dulu manusia dan keluarga binasa terakhir, buat apa aku merasa sayang untuk berbuat nekad?? Liem Loote mempunyai cara berpikir apa lagi?"

"Perkataan dari Loo Piauw tauw sudah salah besar, seru Liem Tou setelah mendengar perkataan itu. "Aku tidak percaya kalau di dalam kolong langit yang demikian luasnya tidak ditemui jalan keluar yang lain."

Si golok naga hijau yang mendengar nada suara dari Liem Tou mengandung maksud tidak setuju di dalam hati dia segera merasa kurang senang, air mukanya berubah sedikit keren lalu memperdengarkan suara dengusan yang amat dingin.

Liem Tou yang melihat dia merasa tidak senang di dalam hati dia segera memikirkan satu akal.

"Loo Piauw tauw jangan marah dulu, ujarnya sambil tertawa"

"Boanpwee cuma bermaksud baik saja." jika dari pihak Ang In Piauw kiok sanggup untuk mengembalikan ketiga laksa tahil perak itu Sie Piauw tauw bermaksud bagaimana?" Mendengar ucapan tersebut si golok naga hijau Sie Piauw tauw segera tertawa terbahak bahak dia menepuk nepuk pundak Liem Tou.

"Liem loo te," ujarnya. "Pikiranmu sungguh lucu sekali," aku yang sudah beberapa kali bentrok dengan si bajingan tua ini untuk minta kembali uang rampokannya tidak berhasil apalagi dirimu.

Sekalipun kepandaian silat dari Liem loo te betul ada kemajuan tetapi jikalau ingin memperoleh kembali uang rampokan itu aku rasa hal itu cuma satu impian belaka, tujuan haik dari Liem Loo te ini aku si golok naga hijau terima di dalam bati saja.

"Sie Piauw tauw, sambung Liem Tou lagi. Boanpwee hanya bertanya, bilamana aku yang membayar uang tersebut, Loo Piaaw tauw bermaksud bagaimana?"

"Baiklah demikian saja," seru si golok naga hijau kemudian. "Bilamana kau berhasil minta kembali uang perak itu maka sejak ini hari aku tidak akan mencari si bajingan tua itu lagi untuk membalas dendam, tetapi entah maukah dia orang membayar kembali uang tersebut?"

"Baiklah kita putuskan demikian saja," seru Liem Tou kemudian dengan serius "Uang itu biar aku Liem Tou yang tanggung"

Sehabis berkata dia putar badannya menggotong kembali peti hitamnya lalu bersama sama dengan si perempuan tunggal serta sang kerbau yang menggotong tiga buah peti mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke depan.

Tidak sampai beberapa kaki mereka berjalan mendadak Liem Tou berhenti kembali.

"Sie Piauw tauw," serunya. "Di daerah sekitar sini adakah kota yang agak besar?" "Di atas ada Hong Kiat di bawah ada zie Cang" sahut Sie Piauw tauw dengan cepat.

"Baiklah, malam ini pada kentongan ketiga kau boleh menunggu aku dirumah penginapan di kota Hong Kiat untuk terima kembali uang tiga laksa perak itu, kalau tidak maka aku mau membawa batok kepalanya dari Pouw Sak San untuk diberikan pada kau orang."

Mendengar ucapan itu si golok naga hijau Sie Piauw tauw jadi agak ragu ragu, tetapi ketika teringat akan peraturan Bu lim yang mengatakan satu ya satu, dengan perasaan yang tidak enak untuk menarik kembali kata katanya itu, terpaksa dengan mata melongo dia memperhatikan Liem Tou serta si perempuan tunggal meninggalkan tempat tersebut. Liem Tou tanpa menoleh lagi dengan mengajak si perempuan tunggal berjalan menuju ke rumah bangunan batu itu, mendadak di dalam benaknya dia teringat kembali kalau didalam rumah batu itu masih terdapat kerangka dari encinya si perempuan tunggal, tanpa terasa hatinya jadi sedikit bergerak, pikirnya.

Baiknya aku beri tahu tidak kepadanya akan hal ini?? jikalau sekarang aku tidak memberitahukan kepadanya, lain kali kalau dia tahu apa yang bakal dia pikir"?.

Susiok, ujarnya kemudian kepada diri si perempuan tunggal tersebut pernahkah kau berpikir tempat manakah ini??.

Buat apa aku terka lagi?? seru si perempuan tunggal sambil tertawa. Bukankah tempat ini adalah tempat dimana kau berlatih ilmu silat yang tarmuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok??,

Tetapi mendadak dia teringat sesuatu sepasang matanya terbelalak lebar lebar lantas tanpa terasa lagi sudah berteriak.

Liem Tou, ciciku ada dimana?? cepat kau bawa aku kesana. Liem Tou sama sekali tidak menduga kalau sebelum dia memberi tahu dia sudah merasakan sendiri, tidak terasa hatinya jadi merasa sedikit bergidik.

Celaka urusan yang merepotkan sudah datang.

Dengan cepat air mukanya berubah jadi amat keras sekali.

Susiok, ujarnya dengan serius. Aku tahu hatimu pada saat ini amat cemas sekali, tetapi manusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali aku berkata dulu sebelumnya, nanti susiok tidak boleh terlalu bersedih hati, susiok bisa menyanggupi tidak??

Air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajah dari si perempuan tunggal dengan kencang dia menggigit bibirnya sendiri, akhirnya setelah kirim satu kerlingan yang mengandung rasa cinta terhadap diri Liem Tou dia mengangguk.

Liem Tou yang melihat Si perempuan tunggal sudah menyetujui hatinya baru merasa sedikit lega.

Mari sekarang kita simpan dahulu uang perak ini, kemudian aku baru ajak Sasiok pergi ke sana.

Sehabis berkata dia melanjutkan perjalanan nya kembali menuju ke bagian belakang dari bangunan itu dan tiba disamping sumur kering tersebut.

Setelah peti peti hitam itu dimasukkan semua nya ke dalam ruangan rahasia di dasar sumur dia baru mengajak si perempuan tunggal menuju ke dalam bangunan rumah itu untuk melihat kerangka manusia tersebut.

Si perempuan tunggal yang kini bisa melihat kerangka dari cicinya malah setetes air matapun tidak kelihatan mengalir keluar, dengan pandangan termangu mangu dia menundukkan kepalanya memandangi kerangka tersebut tapi jelas air mukanya kelihatan sangat berduka. Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa, diapun berdiri disana tak bergerak

.

Lama sekali baru terdengar dengan suara yang amat sedih ujar Si perempuan tunggal itu.

Liem Tou. ciciku bilang siapakah musuh besarnya??. Kioe Long Wan Kauw.

Si perempuan tunggal segera mengangguk. Tahukah kau mereka tinggal dimana?? tanyanya lagi setelah berpikir sebentar.

Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat dengan perlahan dia menoleh dan memandang sekejap kearabnya.

Aku dengar dia tinggal di atas gunung Im san, apakah Susiok bermaksud hendak pergi ke sana??.

Si perempuan tunggal tidak menjawab, mendadak sambil membopong kerangka dari encinya dia berjalan keluar dari ruangan tarsebut.

Liem Tou tanpa mengucapkan kata lagi mengikuti dari belakang, tidak lama kemudian si perempuan tunggal sudah berjalan ke samping sebuah pohon lantas menggali liang dan mengubur kerangka manusia tersebut.

Liem Tou pun menemaninya duduk disana tidak mengucapkan apa2 saat ini siang hari sudah tiba sedang sang suryapua dengan terang memancarkan sinarnya tepat di atas kepala mereka membuat suasana agak hangat.

Setelah semuanya sciesai dia baru duduk di samping kuburan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiba2 dia teringat akan peristiwa dari si Ang In Sin Pian yang merampok uang kawalan itn, baru saja dia hendak mengucapkan suatu mendadak terdengarlah si perempuan tunggal sudah berkata.

Liem Tou kalau kau ada urusan pergilah dulu, dengan perlahan Liem Tou menengok ke arahnya, tampak Si perempuan tunggal sudah membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya, dia segera tahu kalau hatinya sedang merasa sedih sekali, karenanya dia tidak mau mengganggu.

"Baiklah," sahutnya kemudian. "Susiok tunggulah di sini dulu, nanti kita pergi bersama-sama."

Selesai berkata dia bangkit berdiri ujung kakinya menutul permukaan tanah tubuhnya bagaikan kilat yang menyambar sudah berkelebat sejauh puluhan kaki jauhnya, hanya di dalam beberapa kali tutulan saja dia sudah keluar dari daerah tersebut.

Ketika angkat kepalanya memandang ke bawah, terlihatlah dua buah perahu yang terpancang dengan bendera Ang In Piauw kiok dengan tenangnya sedang bergerak maju ke depan, dia tahu kedua perahu itu adalah palsu maka sinar matanya segera dialihkan kebelakang. 

Ternyata tedikitpun tidak salah, di belakang kedua perahu itu terlihat kembali sebuah perahu besar yang bergerak melaju dari kejauhan.

Bagaikan kilat cepatnya Lie m Tou segera menuruni bukit tersebut kemudiia dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh nya yang paling dahsyat bagaikan bertiupnya angin berlalu dia berkelebat ke arah perahu yang ada di depan untuk mencabut terlebih dulu ke dua buah bendera Piauw kiok itu, setelah melayang ke perahu yang ada dibelakang dan berdiri di atas tiang layar dengan gagahnya.

Saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui di atas tiang layar ada seseorang yang sedang berdiri di sana. Untuk memancing orang orang tersebut Liem Tou lalu menyanyi dengan suara yang sangat nyaring.

Air sungai mengalir deras ke Timur . . Menempuh ribuan li dengan hati yang murung . .

Berdiri seorang diri diatas tiang perahu. Tak seorang

manusia pun yang sadarkan diri .

Ooooh - . . , mega, kapan kau berhenti berlalu . ,. . .

Setiap patah kata dari bait bait syair itu di ucapkan dengan amat jelasnya membuat orang orang yang ada di atas perahu itu bersama sama angkat kepalanya memandang ke atas.

Ketika dilahatnya di atas tiang layar berdiri dengan gagahnya seorang pemuda tampan mereka semua merasa amat terkejut sekali.

"Hey siapa yang berdiri di atas tiang perahu itu?" bentak salah seorang diantara mereka dengan keras.

Liem Tou segera tersenyum ringan.

"Beritahu kepada Ang In Piauw-cu," katakan Liem Tou mohon menghadap.

"Ada urusan apa kau mencari Piauw-cu?" bentak orang itu lagi dengan keras. "Perahu dari Piauw-cu ada di depan, sekarang sudah melewati selat.

Liem Tou segera mengibarkan bendera yang ada ditangannya.

"Kau orang berani bicara bohong dengan diriku, apa kau kepingin diberi dikit hajaran?" serunya keras.

Baru saja dia selesai berkata bendera yang ada di tangannya mendadak meluncur ke bawah dengan kerasnya, hanya di dalam sekejap saja sudah menancap pada pundak kiri orang itu se hingga saking kesakitan dia orang berkaok kaok keras. Mendadak dari dalam ruangan perahu itu meloncat keluar seseorang.

"Siapa yang berkaok kaok tidak keruan disini," bentaknya dengan keras. "Sebentar lagi kita akan melewati selat tersebut, ayoh kita cepat pegang kemudi ! Kalau sampai terjadi hal hal yang tidak beres, hati hati saja kalian akan menerima satu hukuman yang berat."

Liem Tou yang melihat orang itu ternyata Pouw Siauw Ling adanya, dari atas tiang layar dia segera merangkap tanganaya memberi hormat.

Pouw Siauw Ling dengan cepat angkat kepalanya memandang ke atas, terlihatlah olehnya seorang kongcu tampan yang memakai baju barwarna hijau dengan gagahnya berdiri disana, di dalam hati dia merasa amat terkejut.

Mana dia orang mengenal kembali diri Liem Tou? Di dalam anggapannya Liem Tou sudah menemui ajalnya terjatuh ke dalam jurang jembatan pencabut nyawa itu, setelah termangu mangu beberapa saat lamanya dia baru buka mulut bertanya.

"Entah siapakah nama besar dari saudara ini, ada arusan apa kau datang kemari? ? Bilamana tidak merasa perahu ini jelek silakan turun dan mampir sebentar."

Liem Tou segera menutupi ujung kayu dan melayang turun ke bawah, bersamaan pula bendera yang ada ditangannya dengan disertai desiran angin yang amat keras berkelebat menuju ke belakang. Ternyata dengan amat tepat sekali bendera itu menancap di tiang layar yang sangat besar itu sehingga menembus pada baliknya.

Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyangka kalau bendera yang terbuat dari bambu itu cukup sedikit digerakkan oleh Liem Tou dengan begitu ringannya sudah menembusi tiang tersebut hal ini membuat hatinya benar benar merasa amat terkejut. Sejak pertama kali Pouw Siauw Ling teruskan dirinya ke dalam Bu lim dia belum pernah menemui orang yang memiliki kepandaian yang demikian lihaynya, sekalipun di dalam hati dia merasa terperanjat tetapi pada wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.

Kepandaian dari Heng thay ini sungguh dahsyat sekali, pujinya dengan cepat.

Dengan perlahan Liem Tou menoleh dan tertawa keras. "Haa . . ha .. apakah Siauw Ling heng betul, tidak kenal lagi

dengan Siauw te?" tanyanya.

Sepasang mata Pouw Siauw Ling memandang wajah Liem Tou lebih tajam lagi, mendadak air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya gemetar dengan amat kerasnya sedangkan kakinya perlahan lahan mulai bergeser masuk ke dalam ruangan perahu tersebut.

Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya itu mana mau membiarkan dia mengundurkan diri ke dalam ruangan perahu, tangannya dengan cepat direntangkan menghalangi perjalanannya.

Siauw Ling heng jangan pergi, serunya sambil tertawa. Kita sudah lama sekali tidak bertemu, ini hari bisa mendapatkan kesempatan untuk berkumpul seharusnya kita sedikit barmesra mesraan.

Pouw Siauw Ling yang jalan mundurnya terhalang oleh diri Liem Tou pikirannya merasa semakin gugup lagi, hatinya benar benar tergetar dengan amat kerasnya.

Air mukanya dari pucat kini berubah menjadi kehijau hijauan, dengan perasaan amat tegang bentaknya.

Kau . .. kau .., kau . . . manusia aa . . . atau - . . atau .. setan?" Liem Tou pada saat ini baru tahu kalau dia menganggap dirinya telah mati di dalam jurang Jembatan pencabut nyawa waktu itu dan kini menganggap dirinya sebagai setan, dia segera tertawa.

Siauw Ling heng kau jangan begitu merasa tegang ejeknya, di bawah sorotan sang surya mana mungkin ada setan?"

Mendadak dia teringat kembali terhadap siksaan dan penderitaan yang dirasakan olehnya dari Pouw Siauw Ling ini. rasa dendam serta bencinya segera muncul dari lubuk hatinya.

Pouw Siauw Ling, serunya di dalam hati Ini hari aku mau suruh kau merasakan kepandaian dan kelihayan dari Liem Tou.

Mendadak tangannya diayunkan kedepan .. . Plaaak . . piaaak. disertai suara yang amat nyaring pipi dari Pouw Siauw Ling sudah kena digaplok oleh Liem Tou dengan amat kerasnya sehingga jadi memerah dan bengkak.

Saking sakitnya sehingga sukar ditahan tidak kuasa lagi dia menjerit jerit dan berkaok kaok seperti babi mau disembelih.

"Siauw Ling heng!" ujar Liem Tou lagi sambil tersenyum. "Sekarang tentunya kau tahu bukan kalau aku adalah manusia bukan setan? kalau setan mana mungkin siang hari bolong bisa unjuk kelihayannya!"

Pouw Siauw Ling yang mengira kedatangan Liem Tou kali ini mau membalas dendam terhadap dirinya mana dia mau mengurusi hal itu lagi, cepat cepat dia berusaha untuk masuk ke dalam ruangan memberi laporan.

"Liem Tou kau berani pukul aku?" bentaknya dengan keras. "Siauw Ling heng, Liem Tou sekarang bukanlah seperti

Liem Tou yang dahulu, aku sudan pukul kau lalu kau orang mau apa?" seru Liem Tou sambil bergendong tangan. Pouw Siauw Ling segera mendepakkan kakinya ke atas permukaan perahu, dengan menahan rasa sakit pada pipinya dia melepaskan cambuk baja yang ada dipinggangnya siap akan melancarkan serangan.

Pada saat yang bersamaan pula dari dalam raangan perahu tampak berkelebat keluar tiga orang yaitu Si Liong Ciang, Hauw jiauw serta Si Ang In Sin Pian.

Mereka yang melihat Liem Tou dengan wajah penuh senyuman berdiri segera mengetahui kalau kedatangannya tidak bermaksud baik. Tanpa mengucapkan kata kata lagi mereka bertiga bersama sama mencabut keluar senjata tajamnya masing masing siap bertempur.

Melihat sikap mereka itu tidak terasa Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat, dia segera tertawa dingin.

Buat apa kalian begitu galak?" serunya.

Tubuhnya mendadak berkelebat dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja senjata tajam yang ada di tangan Liong Ciang, Hauw Jiauw. Ang in Sim Pian serta Po Siauw Ling sudah berhasil direbut lepas, mereka berempat ternyata sama sekali tidak bisa melibat jelas gerakan apa yang sudah digunakan oleh Liem Tou itu.

Kali ini aku Liem Tou datang kemari bukannya sengaja mau mencari balas! serunya. "Juga tidak aku punya maksud untuk mencari kemenangan di bawah serangan senjata tajam cuma saja aku punya satu urusan yang minta Pouw Cungcu suka mengabulkan asalkan Cung cu mau mengabulkan maka aku Liem Tou segera akan berlalu dari sini.

Ang In Sin Pian serta Pouw Sak san benar benar dibuat tergetar oleh kelihayan ilmu silat Liem Tou yang baru saja diperlihatkan ini, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Liem Tou pada saat ini tidak mungkin berhasil dilawan dengan mengandalkan kekuatan mereka berempat, berpikir keras akan hal ini air mukanya segera berubah jadi ramah. Tadi mendengar suara jeritan Leag jie aku masih kira siapakah, tidak tahunya adalah putra dari temanku Liem Hian tit serunya sambil tertawa. Kesalah pahaman itu harap kau orang suka memaafkan.

Mendengar perkataan yang tengik itu air muka Liem Tou segera berubah jadi keren.

Pouw Cungcu juga tidak usah begitu menghormati diriku sehingga membuat hatiku merasa mual, serunya dengan nada yang amat dingin. Malam ini sebelum kentongan ketiga harap Cungcu suka mengembalikan uang perak sebesar tiga laksa tahil perak yang Cungcu rampok setahun yang lalu dari tangan Cing Lioag Piauw kiok, dan kirim ke rumah psnginapan terbesar dalam kota Heng Kiat, disana tentu ada orang yang menerimanya, entah bagaimana pendapat dari Cungcu.

Air muka si Ang In Sin Pian, Pouw Sak san seketika itu juga berubah sangat hebat mendadak tubuhnya mundur satu langkah kebelakang

Liem Hian tit!! serunya cepat. Lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kok ada sangkut paut apa dengan diriku.

Sepasang mata Liem Tou segera melotot keluar bulat bulat dua rentet sinar yang amat tajam sekali mendadak memperhatikan diri si Ang In Sin Pian Pouw Sak San tanpa berkedip membuat dia orang yang dipandang seperti itu merasakan hatinya bergidik.

Lenyapnya barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok aku Liem Tou melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, seru Liem Tou dengan dingin, "Anak murid dari si golok naga hijau Sie piauw tauw, Oei poh pun aku yang tolong, Pouw Cung cu sekali lagi aku mau tanya kepadamu, apakah lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kiok tidak ada hubungannya dengan dirimu?? Si Ang In Sin Pian yang mendengar rahasia nya dipecahkan olehnya, air mukanya seketika itu juga berubah menjadi merah padam dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Liem Tou, tiba tiba si Hauw Jiauw, Pouw Toa Tong menimbrung dari samping. Dendam satu pukulan darimu aku Pouw Toa Tong masih selalu ingat di dalam hati, kau bilang lenyapnya barang kawalan Cing Liong piauw kiok adalah hasil perbuatan dari Cung cu kami, apa kah Cung cu seorang diri bisa merampok dua buah perahu Cing Liong piauw kiok sekaligus?

Liem Tou segera tertawa dingin tak henti-hentinya.

Toa Tong siok, ujarnya kera». Kau jangan memaksa orang keterlaluan aku bisa pukul kau sampai terluka parah cuma didalam satu pukulan saja. Hmmm . . . hmmm . . . bukankah Toa Tong siok pun termasuk salah seorang perampok barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok itu?.

Baru saja si Houw Jiauw, Pouw Toa Tong mau berbicara lagi mendadak Liem Tou sudah menoleh kearah si Ang In Sin pian.

Pouw Cung cu, serunya, perkataan sudah saya ucapkan dengan sangat jelas, Tiga laksa tahil perak macam ini sebelum kentongan ketiga harus diserahkan.

coba saja kalau kalian berani kurang satu tahil perak saja. Selesai berkata mendadak jari tangannya laksana angin yang menyambar menotok jalan darah Khie ay Hiat pada tubuh Pouw Siang Ling.

Mendenguspun belam sempat tubuh Siauw Ling rubuh ke atas tanah dengan mata yang terpejam rapat rapat.

Liem Tou yang sudah punya perhitungan di dalam hatinya mendadak maju ke depan dan menerima tubuh Pouw Siauw Ling itu kemudian dikempit di bawah ketiaknya. Kakinya sedikit mengerahkan tenaga tubuhnya secara tiba- tiba melayang ke tengah udara kemudian turun meluncur ke atas permukaan sungai dan melayang ke arah tepian dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.

Liong Ciang. Hauw Jiauw serta Ang In Sin pian segera bersama sama membentak keras, di dalam sekejap saja tiga gulung angin pukulan yang amat dahsyat bersama sama menggulung ke depsn laksana mengalirnya air sungai Tiang Kiang.

Melihat datangnya serangan itu Liem Tou sama sekali tidak jadi gugup, empat buah senjata tajam yang ada di tangan kanannya mendadak di ayun ke belakang

Seketika itu juga keempat senjata tajam itu berubah jadi empat macam senjata rahasia yang berbeda bagaikan kilat cepatnya menghajar tubuh Hauw Jiauw Liong Ciang serta Ang In Sim pian.

Mereka berempat tidak berani langsung menangkap datangnya senjata rahasia tersebut, dengan tergesa gesa tubuhnya menyingkir ke samping serta kemudian baru menyambut datangnya serangan tersebut.

Tetapi begitu senjata itu terbentur dengan tangannya mereka, segera merasakan satu tenaga yang amat dahsyat menghajar pecah telapak tangan mereka dengan perasaan terperanjat mereka terburu buru mundur ke belakang.

Sewaktu menoleh lagi ke samping saat itu Liem Tou sudah jauh meninggalkan tempat itu.

Ilmu meringankan tubuh mereka bertiga belum sampai mencapai pada taraf berjalan di atas permukaan air, karenanya saking khekinya mereka bisa memaki dengan gusarnya dari atas perahu.

Tetapi walaupun begitu mereka tidak dapat berbuat apa, terpaksa dengan hati mendongkol mereka menyuruh orang segera mempersiapkan uang untuk menebus kembali diri Pouw Siauw Ling.

Kita balik pada Liem Tou yang mengempit tubuh pouw Siauw Ling dan balik kembali ke perahu milik Sun Ci Sie itu, setelah meletakkan tubuh pouw Siauw Ling ke dalam perahu diam diam segera pikirnya.

Lebih baik aku letakkan dirinya di sini saja dari pada harus dibawa kemana mana hingga tidak leluasa, sekalipun dia berhasil ditolong oleh Ang In Sin pian akupun tidak takut dia melarikan diri.

berpikir sampai disini dia tidak mengurusi dirinya lagi, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas tepian untuk kembali ke bangunan besar itu dan mencari si perempuan tunggal.

Terlihatlah ssng kerbau dengan tenangnya sedang makan rumput di sana tetapi jejak dari si perempuan tunggal tidak tampak.

Dengan cepat Liem Tou menuju ke samping kuburan enciknya itu, terlihatlah disamping kuburan terukir beberapa patah tulisan "Susiok pergi dulu."

Tetapi dia tidak menulis entah sudah pergi ke mana, dengan termangu mangu lama sekali Liem Tou memperhatikan beberapa patah tulisan itu, dia tidak memahami mengapa secara mendadak si perempuan tunggal pergi dari tempat situ.

Mendadak di samping kuburan enciknya itu Liem Tou menemukan pula beberapa litik darah segar, batinya jadi tergetar amat keras, dengan tergesa gesa dia memeerikss darah yang sudah bercampur dengan tanah itu, dia melibat darah itu belum mengering jelas baru saja keluar dari badan.

Di dalam sekejap saja hatinya terbayang berbagai pikiran yang tidak keruan, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas lalu berteriak dengan suara yang amat keras. "Susiok, susiok !"

Suara teriakannya seketika itu juga berkumandang sampai berpuluh puluh lie jauhnya sehingga membuat seluruh pegunungan itu mendengung tak henti hentinya, tetapi suara sahutan dari si perampuan tunggal sama sekali tak kedengaran.

Di dalam keadaan yang amat cemas sekali Liem Tou segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat di sekeliling tempat itu sembari tidak henti hentinya berteriak memanggil, namun jejak dari Si perempuan tunggal sama sekali tidak ditemui.

Dengan termagu mangu Liem Tou berdiri di atas puncak gunung, akhirnya gumamnya seorang diri.

Heei .. .sudahlah, semoga saja susiok bisa berhasil mencapai apa yang diinginkan dengan sukses.

Dengan perlahan dia berjalan balik lagi ke lembah tersebut lalu dengan menuntun kerbau nya menuruni gunung Wu san itu dengan tergesa gesa.

Sesampainya di atas perahu dia melihat tubuh Pouw Siauw Ling dipojokan tak bergerak.

"Dia yang sudah tertotok jalan darah Khei Hay Hiatnya sekalipun hal ini membuat Pouw Siauw Ling tidak dapat bergerak maupun berbicara tetapi sepasang matanya bisa memandang keadaan disana, ketika dilihatnya Liem Tou kembali ke atas perahu tersebut dengan pandangan yang berapi api dia melototkan matanya.

Liem Tou segera kirim senyuman kepadanya.

Siauw Ling heng tentunya kau masih ingat sewaktu tempo hari aku Liem Tou kau hina dan siksa bukan? ujarnya dengan psrlahan. Asalkan kau masih ingat maka penderitaanmu ini hari harap kau orang suka jangan pikirkan di dalam hati.

Selesai berkata dia memandang lagi ke arah diri Pouw Siauw Ling, tampaklah sepasang matanya melotot bulat bulat sedang dari ujung bibirnya menetes keluar bintik darah segar.

Liem Tou tahu saking kheki dan mendongkolnya dia sudah menggigit lidahnya sendiri, sekali lagi dia tertawa mengejek.

Siauw Ling heng, aku lihat lebih baik kau sedikit tenang, buat apa menyiksa diri sendiri ??

Dia segera bangkit berdiri dan mengambil keluar makanan dari gudang di bawah perahu lantas seorang diri dia melahap santapan itu sampai habis, selama ini melirik sekejap kearah Pouw Siauw Lingpun tidak.

Selesai bersantap dia duduk bersemedhi sebentar untuk menanti magrib datang, setelah itu baru menjalankan perahunya menuju ke kota Hong Kiat.

Saat itulah dia melihat air muka Pouw Siauw Ling sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, mulutnya penuh dengan darah segar.

Dia orang yang memangnya sama sekali tak menaruh rasa kasihan terhadap dirinya segera mendengus dengan amat dinginnya.

Tetapi mendadak pikiran berkelebat dalam benaknya. "Mungkin dia mau mengucapkan sesuatu kata biarlah aku

dengar apa yang hendak diucapkan olehnya, jikalau tidak enak

didengar totok lagi bukankah beres"

Dengan perlahan dia bangkit berdiri dan berjalan ke samping badan Pouw Siauw Ling untuk kemudian dengan menggunakan kakinya membebaskan dirinya dari totokan.

"Siauw Ling heng!" ujarnya kemudian. "Kau harus ingat kalau aku Liem Tou saat ini sudah tak ada yang dipikirkan maupun ditakuti, sekalipun kalian ayah beranak kau mencelakai aku dengan cara apapun tidak akan bakal merugikan diriku, tetapi hari ini kau sudah terjatuh ke tanganku, ada omongan cepat katakanlah, tetapi kau harus sedikit pintar, sedikit saja salah ngonaong. , . Hmm .. . Hmm .

. '

Pouw Siauw Ling yang jalan darahnya sudah dibebaskan oleh Liem Tou diapun tahu kalau dirinya tidak mungkin bakal berhasil meloloskan diri dari sana, karena itu dengan perlahan dia bangkit berdiri untuk melancarkan jalan darahnya setelah itu dengan menggunakan ujung bajunya menyeka bekas darah yang mengotori ujung bibirnya.

Saat itu Liem Tou sekali lagi duduk bersila untuk bersemedi, air mukanya kelihatan amat keren sekali.

Pouw Siauw Ling yang sudah ada satu tahun lamanya berkelana di dalam dunia kangouw saat ini pengalamannya sudah amat luas sekali karena Itu hatinya tidak begitu bergolak seperti keadaan semula, setelah menghela napas panjang akhirnya dia duduk kembali ke atas permukaan perahu.

Liem Tou, ujarnya dengan benci. Hitung hitung ini hari Pouw Siauw Ling jatuh kecundang ditanganmu, tetapi kau harus ingat sikap kami ayah beranak berdua sewaktu di perkampungan Ie Hee Cung tidaklah terlalu jelek.

Didengar dari ucapannya jelas sekali dia sedang merengek minta diampuni.

Saat ini Liem Tou biarpun sedang bersemedi, seluruh gerak gerik dari Pouw Siauw Ling itu dia bisa melihatnya dengan amat jelas, kini secara tiba tiba dia mendengar Pouw-Siauw Ling menyebut kembali ayahnya tidak terasa tubuhnya kelihatan sedikit tergetar, air mukanyapun sedikit berubah tetapi mulutnya tetap bungkam di dalam seribu bahasa. Pouw Siauw Ling yang selama satu tahun ini mengikuti diri Ang In Sim Pian berkelana di dalam Bu lim sudah memperoleh pelajaran yang amat banyak sekali dari pada ayahnya, kini melihat air muka dari Liem Tou sedikit berubah dengan cepat ujarnya lagi.

Liem heng, bukankah kau masih ingat sebelum empek Liem meninggal, dia dengan ayah ku sangat baik sekali, coba kau bayangkan sewaktu ayahmu sakit keras, bukankah setiap kali ayahku yang pergi menjenguk dirinya? bahkan sewaktu mendapat perintah dari Lie Cung Cu pada waktu itu malam malam dia turun gunung Ha Mo Leng juga untuk mengundang tabib guna mengobati ayahmu? apakah kau masih ingat semua kejadian ini?"

Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut tidak dapat menahan sabar lagi, hatinya benar benar bergolak dengan amat kerasnya.

Pouw Siauw Ling kau jangan bicara lagi' bentaknya aecara tiba'. Kenapa kau tidak katakan di tengah malam kau mengundang aku keluar dari kamar lantas pukuli aku dengan kejam? kenapa kau tidak menceritakan pula di mana ayahmu, tanpa mengucapkan sepatab kata pun sudah mengusir aku turun gunung? jika didengar dari omongan itu aku curiga tentang kematian ayahku tentu sedikit tidak beres"

Sebetulnya perkataan itu diucapkan keluar secara tidak sadar, tetapi setelah didengarnya sendiri mendadak badannya merasa sedikit bergidik.