Raja Silat Jilid 12

 
Jilid 12

Angin serangan dari Au Hay Ong Bo itu datangnya memang sangat aneh sekali, baru saja sepasang tangan Liem Tou separuh di dorong kedepan segera sudah terbentur dengan angin pukulan pihak lawannya, terasa suatu hawa yang amat dingin tinggi menusuk kedalam tulang menyerang dirinya hamper-hampir dia sukar untuk menahan hawa yang amat dingin itu.

Walaupun telapak tangannya didorong dengan cara bagaimanapun tetap tangannya tidak bisa maju satu coen pun, saat itulah Liem Tou baru merasa terkejut pikirnya cemas.

"Aduh - - - habis sudah kali ini.”

Sekonyong konyong - . . tenaga tekanan pihak lawannya semakin memberat, segera Liem Tou hanya merasakan kepalanya pening, matanya berkunang kunang dan dadanya terasa sangat mual.

Dalam hati dia tahu saat inilah saat yang paling kritis,bagi jiwanya, bagaimanapun juga dia harus mempertahankan dirinya.

Berpikir sampai disini semangatnya bangkit kembali, dengan sekuat tenaga dia menarik hawa murninya kemudian dengan paksakan diri menerjang kedepan.

Mendadak terdengar gadis cantik pengangon kambing itu membentak nyaring.

"Siluman tua, kau berani.”

Liem Tou hanya merasakan sepasang telapak tangannya sedikit tergetar, tenaga tekanan pihak lawannya sedikit kendor membuat tubuh Liem Tou tidak tertahan lagi mundur dua tiga langkah kebelakang dengan semponyongan, untung saja tidak sampai jatuh terduduk diatas tanah.

Ketika dia menoleh memandang terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sudah bertempur dengan amat serunya melawan Au Hay Ong Bo. Terlihat ujung baju gadis cantik pengangon kambing yang berwarna putih itu berkibar tertiup angin, seruling pualam ditangannya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan.

Didalam sekecap mata dia sudah melancarkan tujuh kali serangn dahsyat bahkan setiap serangan yang digunakan terdapat perubahan gerakan yang sangat ruwet sekali, ketika dipandang dari depan hanya terlihat segulung bayangan seruling yang berputar dengan sangat rapatnya melindungi seluruh tubuh.

Sebaliknya Au Hay Ong Bo pun sudah mengeluarkan jurus- jurus serangan andalannya sebentar dia berkelebat kekiri sabentar lagi menahan serangan apa saja hanya terlihat ujung bajunya berkelebat dan menari dengan kencangnya.

Walaupun gadis cantik pengangon kambing itu sudah melancarkan berpuluh puluh serangan dengan menggunakan jurus seragnan yang berbeda, jangan dikata memukul hanya menyenggol saja sukar untuk tercapai.

Waktu itu Liem Tou punya niat untuk melihat jalannya pertempuran yang amat seru itu, dengam cepat dia berlari kesampingnya. Terlihatlah air muka Lie Siauw Ie sudab be rubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnys yang kecil mungil gemetar terus menerus. Waktu itu Pouw Jien Coei sedang membimbing tubuhnya berdiri sedang dari kelopak matanya air mata mulai mengucur keluar dengan derasnya.

Dengan setengah berlutut Liem Tou berjongkok didepan tubuh Lie Siauw Ie tanyanya dengan cemas.

"Ie cici, kau terluka parah??"

"Adik Tou" seru Lie Siauw Ie begitu melihat Liam Tou berjalan mendekati tubuhnya. “Kau tidak usah ikut, tempat ini tidak bisa ditahan lebih lama lagi cepat kau lari.”

"Tapi luka cici sangat parah, bagaimana aku bisa pergi?" Mendengar perkataan itu Lie Siauw le segera bangkit berdiri dari bimbingan Pouw Jien Coei makinya.

"Adik Tou, aku hanya terkena jarum Kioe Cu tok cianku sendiri, asalkan makan obat penawar segera akan sembuh kembali, jika kau tidak mau dengar omonganku lain kali jangan datang cari aku lagi."

Sehabis berkata dia paling kearah lain kemudian dengan terhuyung huyung lari keluar dari ruangan itu.

Dengan cepat Pouw Jien Coei lari membimbing lengannya dan bersama-sama meninggalkan ruangan tersebut, sesampainya diluar ruangan, sekali lagi dia menoleh mendelik kearah Liem Tou, agaknya ada perkataan yang hendak disampaikan, hanya saja karena Ang in sin pian sekarang masih berada disana akhirnya dia tidak jadi bicara dan lari keluar dengan cepat.

Sesudah Lie Siauw Ie meninggalkan ruangan itu dalam hati Liem Tou hanya merasakan hatinva yang hampa dengan termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun berdiri disana.

Kiranya Lie Siauw Ie memang betul terluka oleh senjata rahasia Kioe Cu gin Ciam-nya sendiri, ketika dia melihat Au Hay Ong Bo mendesak kearah Liem Tou terus menerus karena takut Liem Tou cedera oleh serangannya maka sengaja dia melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasianya.

Siapa tahu Au Hay Ong Bo yang merupakan seorang jago yang berkepandaian tinggi serta tenaga dalamnya sudah mencapai kesempurnaan panca indranya yang terlatih amat tajam sekali. Begitu didengarnya ada sambaran senjata rahasia mengancam tubuhnya dengan cepat dia berkelebat balikkan tubuhnya sambil mengebut dengan menggunakan ujung bajunya, begitulah jarum jarum perak itu terpukul balik segera menghajar badan Lie Siauw Ie tanpa ampun lagi. Untung saja waktu itu Liem Tou sempat menubruk kedepan sehingga bisa terhindar dari mara bahaya, jika waktu itu Au Hay Ong Bo menambah dengan satu serangan lagi begitu badan Lie Siauw Ie terkena pukulan Kioe Im thiat Siu-nya - - entah bagaimana jadinya.

Sedang Liem Tou berdiri termangu mangu mendadak terdengar Au Hay Ong Bo sudah membentak dengan amat keras.

"Siapa kau ??"

Liem Tou menjadi amat terkejut sekali, baru saja dia mau putar tubuhnya mendadak segulung angin pukulan yang amat tajam menyambar dari belakang tubuhnya tanpa menoleh lagi ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan tergesa-gesa3 meloncat beberapa langkah kedepan kemudian baru menoleh ke belakang.

Kiranya orang yang baru melancarkan serangan bokongan itu tidak lain adalah Hek Loo jie itu manusia yang paling pengecut didunia saat itu

Liem Tou menjadi amat gusar, kuda kudanya sedikit diperkuat, badannya sedikit merendah siap melancarkan balasannya. Baru saja dia mengerahkan tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya seluruh tubuhnya gemetar amat keras, hawa murni yang dikerahkan keseluruh badan tiba tiba buyar ditengah jalan, sampai saat itulah dia baru tahu dirinya sedang dalam terluka sedang saat itu Hek Loo jie semakin lama semakin mendekati badannya.

Ketika matanya melirik kesamping terlihat para jago yang berada didalam ruangan itu sudah meninggalkan tempatnya masing masing dan bergeser mendekati dirinya. Siang hui hok Pouw Beng serta Pouw Liang dengan melototkan matanya memandang dirinya mereka berdiri tegak menjaga pintu keluar ruangan tersebut. Liem Tou yang dikurung ditengah kepungan musuh yang berada di empat penjuru sedang dirinyapun terluka, teringat kembali Lie Siauw Ie yang ikut terluka karena dirinya tidak tertahan lagi batinnya sangat sedih sekali, jika dibadannya membawa senjata tajam kemungkinan waktu itu dia sudah cabut pisaunya untuk bunuhdiri.

Sesaat Liem Tou sedang merasa sangat sedih dan putus asa itulah mendadak terdengar Au- Hay Ong Bo membentak dengan amat gusarnya.

“Hay budak liar, Lie Loo jie itu apamu cepat bilang?”

Mungkin waktu itu gadis cantik pengangon kambing sudah melihat keadaan Liem Tou yang amat barbahaya itu, sambungnya.

“Liem koko kau masih tak pergi, kau mau tunggu kapan lagi ??"

"Enmm..." pikir Liem Tou diam diam.

“Jika aku bisa melarikan diri buat apa tunggu kau bilangi aku dulu. . ."

Terdengarlah Au Hay Ong Bo tertawa terbahak bahak dengan sangat seramnya.

"He he he.., Loo nio atur jebakan seluruh penjuru tempat ini. Bangsat anjing kau mau melarikan diri kemana ??"

"Hey siluman tua kau jangan sombong dulu” Seru gadis cantik pengangon kambing dengan amat gusarnya. "Aku sengaja mau suruh Liem koko melarikan diri dari sini, aku mau lihat kamu orang bisa berbuat apa".

Kemudian gapenya kepada Lem Tou.

Waktu itu Liem Ton tidak tahu sudah terjadi urusan apa, baru saja dia menoleh mendadak di depan matanya berkelebat sebuah sinar yang amat menyilaukan mata sebilah pisau belati yang amat tajam sudah melayang kehadapannya dengan cepat dia ulur tangan menyambutnya.

Ujar gadis cantik pangangon kambing itu "Liem koko, siapa yang berani ganggu kamu orang bunuh terlebih dulu, cepat pergi."

Liem Tou yang didalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati yang amat tajam perasaan sedih serta putus asa yang menghiasi air mukanya tadi kini secara mendadak hilang lenyap tanpa bekas, semangat kejantanannya muncul kembali didalam hatinya, bagaikan meeyambarkan segulung angin taufan dengan sebilah pisau belati yang kecil tapi memancarkan sinar yang amat tajam ini dia melancarkan serangan kedepan, sambil bentaknya dengan keras.

"Siapa yang berani menghalangi perjalanan aku Liem Tou

?”

Tubuhnnya dengan cepat menyusup dan lari dengan

cepatnya keluar ruangan.

Sejak tadi Hek Loojie sudah buat persiapan sudah tentu dia tidak akan membiarkan dia pergi dengan begitu mudahnya, sambil mendengus dengan amat dingin dia melancarkan satu serangan dahsyat dari samping tubuh Liem Tou, ujarnya.

“Hey Liem Tou kalau kamu orang seorang lelaki sejati jangan pergi".

Padahal didalam hati Liem Tou sudah punya rencana yang sangat teguh, gerakannya menyusup keluar dari ruangan tadi, tidak lain hanya siasatnya, suara di timur menyerang ke barat.

Baru saja Hek Loo jie selesai berbicara mendadak dia menjatuhkan diri ke arah belakang, serangan yang dilancarkan Hek Loo jie tepat lewat dari atas kepalanya. Sungguh ilmu Thiat Pian Ciauw yang sangat bagus" teriak Hek Loo jie ketika serangannya mancapai pada sasaran yang kosong.

Serangan kedua segera menyusul lagi, Liem Tou sudah tentu tidak membiarkan dia berlaga kuasa mendadak dia membalikkan badannya, pisau belati di tangannya sedikit digetarkan kemudian didorong kedepan, tubuhnya dengan mengikuti gerakan tersebut bagaikan kilat cepatnya menerobos kedepan badan Hek Loo jie dan menusuk tubuhnya

Jurus ini merupakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun atau Setan lapar menubruk sukma, salah satu jurus serangan yang dahsyat dari Hek Loo toa khusus unruk menghadapi Hek Loo jie menjadi amat terperanjat, teriaknya.

"Sungguh hebat”

Bagaimanapun juga dia merupakan salah soorang dari Siok To Siang Mo yang mempunyai nama sangat terkezal didalam Bu lim sehingga gerakan untuk meloloskan diripun sudah dilatihnya amat sempurna. Ditambah lagi serangan dari Liem Tou ini dilancarkan terialu jauh dari sasarannya.

"Sekalipun dia merasa terkejut oleh serangan ini tapi didalam keadaan yang amat tergesa-gesa itu serangan kedua yang dilancarkan secara mendadak diubah menjadi cengkeraman maut.

Tangannya dibalik dengan cepat mencekal pergelangan tangan Liem Tou yang menggenggam pisau belati itu, gerakannya dilakukan amat cepat ketepatan mencengkeram urat nadipun sangat hebat.

Liem Tou pernah berhasil menggunakan jurus ini untuk melawan Ciang Beng Hu yang waktu itu sedang menyamar sebagai pengemis cilik serta hweesio mayat hidup siapa tahu ini hari telah mencapai sasaran kosong ketika melawan Hek Loo jie sendiri tanpa terasa hatinya merasa terheran heran juga.

Di dalam keadaan yang amat tergesa-gesa dia menutul permukaan tanah meloncat ketengah udara, pisau belati di tangannya diputar kemudian bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus-jurus Pek In Jut Siuw atau mega putih muncul dari bukit, Toan In Jan Gwat atau mega terputus putus menutupi hutan, serta jurus cong In Pau Huang atau mega merah didelapan penjuru.

"Sreet...sreet...- sreet...” sinar keperak perakan memenuhi angkasa sebingga mengacaukan pandangan setiap orang, tanpa dipikir lebih panjang lagi dia melanjutkan serangannya dengan menggunakan ilmu pedang dari Kun lun Pay Hong In Chiat Kiam atau ilmu pedang angin dan mega dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh Hek Loo jte.

Terhadap jurus jurus serangan yang aneh dari pisau belati itu selama ini Hek Loo jie belum pernah menemuinya sudah tentu dia tidak sanggup untuk melawannya, terpaksa berturut turut dia mundur beberapa langkah kebelakang. Melinat kesempatan yang sangat bagus Liem Tou tidak mau membuangnya dengan percuma, tubuhnya berputar ditengah udara pisau belatinya dengan memancarkan sinar keperak- perakan menerjang keluar dari ruangan itu.

Siang Hui hok begitu melihat Liem Tou menerjang kearah mereka, satu dari kanan yang lain dari kiri bersama sama menubruk kedepan menghalangi perjalanan Liem Tou selanjutnya.

Secara tiba tiba Pouw Beng serta Pouw Liang merasakan pisau belati ditangan Liem Tou di dalam satu kali tebasan itulah sudah berubah menjadi tiga bilah pilau yang secara bersama- sama menyerang kearah mereka, hal ini memaksa mereka berdua terpaksa menyingkir kesamping dan pada saat yang bersamaan pula Liem Tou sudah menerjang keluar. Dia tidak berani berhenti terlalu lama, untuk berpikir panjang pun tidak akan berani lagi dengan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya dia melarikan diri dengan cepat ke arah belakang perkampungan.

Baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat semula tiba-tiba dirasanya keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat dia angkat kepalanva memandang ternyata yang mengepung sekitar tempat itu, saat itu secara serempak mereka sedang berteriak teriak.

“Liem Tou. Kau tidak malu, tidak punya kemampuan untuk mengunjungi gunung secara terang terangan sekarang berani menyelundup secara sembunyi sembunyi,”

"Liem Ton, kau manusia goblok juga mau sebut dirimu sebagai seorang enghiong"

“Liam Tou. Kau mencemarkan nama baik ayahmu."

Liem Tou benar semua orang itu adalah para pemuda perkampungan yang sebaya usianya dengan dia, sedang mereka pun merupakan kawan-kawan karib dari Pouw Siauw Ling yang sering mengejek dan menganiaya dirinya.

Kini melihat orang-orang itu menghalangi perjalanannya dengan gusar bentaknya keras.

"Cepat menyingkir Kalian mau cari mati yaa?”

Segera dia menerjang kedepan, orang itu ketika melihat keganasan dan kehebatannya di tambah lagi dengan berita yang tersiar mengatakan Pouw Siauw Ling serta Pouw Toa Tong sudah terluka ditangannya dengan tanpa berani mengganggu lagi pada menyingkir ke samping memberi jalan.

Mendadak terlihatlah seorang pemuda yang tak tahu,diri sudah tunjukkan diri menghalangi perjalanannya, dia menganggap Liem Tou masih seperti Liem Tou yang dahulu mudah untuk dianiaya, dengan mengandalkan ilmu silat yang dilatihnya dia menyambut kedatangan Liem Tou. Bagaimana pun juga Liem Tou bukanlah seorang yang bodoh, ketika melihat orang itu begitu nekat hendak mengadu tenaga dengan dirinya dengan cepat dia mengerem gerakannya.

"Cepat menyingkir " teriaknya keras. "Apakah kau betul betul mau cari mati?”

“Liem Tou kau jangan membual terlalu besar" bentak orang itu sembari menuding kearah Liem Tou dengan menggunakan pedangnya. "Hanya didalam satu tahun saja kau sudah melatih kepandaianmu seberapa tinggi

Liem Tou tak mau gubris orang itu dengan cepat dia menoleh kebelakang, terlibatlah dengan dipimpin Pou Liang serta Pouw Beng semua tamu serta hadirin termaauk juga Hek Loojie sudah pada mengejar lebih dekat, apalagi itu Pouw Liang yang mendapatkan julukan sebagai Siang hui houw, ilmu meringankan tubuhnya sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan hanya didalam satu kali loncatan saja mereka sudah hampir mencapai belakang tubuhnya.

Melihat keadaan yang begitu bahaya Liem Tou segera membentak

"Kau cari mati sendiri."

Pisau belatinya dibabat kedepan menyambar dada orang itu, dengan cepat pemuda tersebut angkat pedangnya menangkis.

"Peletak.." seketika itu juga pedang ditangannya berhasil dibabat putus menjadi dua bagian, asalkan pisau belati Liem Tou didorong satu coen lagi kedepan maka pemuda itu tanpa ampun segera binasa seketika itu juga.

Tapi bagaimana pun juga Liem Tou tak tega untuk turun tangan jahat terhadap orang itu, telapak kirinya segera melancarkan satu serangan memukul mundur tubuhnya sejauh tujuh delapan langkah kebelakang. Pada saat dia sedikit berayal itulah Pouw Liang serta Pouw Beng sudah berada dibelakang tubuhnya.

"Breeet. . ." Liem Ton hanya merasakan punggungnya menjadi dingin kemudian disusul dengan panas, perih, sakit dan amat linu dia tahu pundaknya sudah terluka oleh goresan pedang pihak lawannya, tanpa terasa dia menagembor dengan keras, pisau belatinya dibalik menyambar kebelakang segera terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari Pouw Liang tubuhnya menggeletak keatas tanah tidak berkutik lagi.

"Pouw Liang," Suara teriakan dari Pouw Beng memecahkan kesunyian disekeliling tempat "Pouw Liang, oh .. adikku”

Liem Tou tidak mau ambil perduli lagi, dengan cepat dia melarikan dirinya kedepan. Baru saja lari beberapa ratus kaki dari tempat semula terasalah olehnya pundak yang terluka terasa sakit luar biasa, darah didepan dadanya terasa bergolak dengan amat kerasnya membuat terasa amat pening.

Dia tahu pukulan dari Au Hay Ong Bo tadi sudah membuat badannya terluka amat parah, kini terasalah olehnya seluruh badan lemas tak bertenaga, rasa mual yang sukar ditahan menyerang dadanya membuat dia hamper-hampir jatuh tak sadarkan diri.

Pada waktu itulah dia mendengar suara teriakan serta bentakan dari orang yang mangejar dirinya semakin mandekat, dia mana mau begitu saja tnenyerah kepada mereka, hatinya mendadak menjadi agak mantap dengan menggigit kencang bibirnya dan melarikan diri kearah sebelah belakang perkampungan.

Dalam hati diam-diam pikirnya lagi.

"Asalkan aku berhasil melarikan diri ke dalam lorong yang menghubungkan tempat ini dengan sungai tanpa berhasil ditangkap oleh mereka, waktu itu aku tidak usah takut pada mereka lagi.” Tak selang berapa lamanya sampailah dia di dalam hutan di belakang perkampungan tersebut, hatinya saat ini semakin mantap lagi.

Mendadak . kuburan dari ayahnya Liem Han San muncul di hadapannya, bagaimana pun juga hubungan ayah beranak jauh lebih erat sehingga walaupun kini berada di saat-saat yang amat kritis hatinya terasa sedih juga, apalagi sejak ditinggal oleh ayahnya dan selalu menemui penderitaan yang amat hebat, tidak punya tempat tinggal yang tetap, ditambah lagi kini dalam keadaan terluka dalam yang amat parah masih dikejar kejar orang sehingga tidak ada jalan lain lagi.

Penderitaan serta perih getir yang terlintas didalam pikiran kini mernbuat lututnya terasa amat lemas. Mendadak dia jatuhkan diri berlutut di hadapan kuburan ayahnya, tidak bisa ditahan lagi dia menangis amat sedihnya.

Saat itu dia sudah lupa akan keadaannya yang amat bahaya. Terdengar disamping badannya berkumandang suara pujian kepada Buddha yang amat nyaring.

"Omitohud"

Bersamaan pula terdengar suara yang bargema memenuhi seluruh angkasa.

"Buliang sohud".

Ada pula yang sudah membentak dengan amat keras. “Liem Tou, saat ajalmu sudah diambang pintu, menangis

apa gunanya ?"

Mendengar bentakan yang amat keras itulah Liem Tou baru sadar kembali dari sedihnya, ketika mengangkat kepalanya memandang terlihatlah lima enam orang sudah mengepung dirinya rapat- rapat diantara mereka ada Hwesio, tosu, pengemis termasuk juga Tok Ci Kiem Ciam atau si jari beracun jarum emas Song Beng Lan beserta Hek Loo jie. Kepungan berlapis disekelilingnya itu mengenal semuanya adalah orang orang penjaga Au Hay Ong Bo sewaktu masih ada didalam gua besar di atas puncak Ngo Lian Hong, ketika dia memandang keluar kembali terlihatlah diluar orang-orang itu masih ada para pemuda dari perkampungan sudah mengepung rapat-rapat tempat itu.

Didalam keadaan yang amat berbahaya seperti ini seharusnya Liem Tou merasa terkejut tapi dia yang baru saja menangis dengan amat sedihnya kini malah berubah semakin tenang.

Sambil berpikir didalam hati dengan perlaban dia bangkit berdiri.

“Kenapa kau tidak mau pukul aku sampai binasa ??”

Dia menyapu sekejap kearah orang orang itu kemudian menggerutu.

“Liem Tou kali ini sudah berada disini kalian mau berbuat apa lakukanlah sekehendak kalian”

Perkataannya ini membuat semua orang yang mengepung dirinya menjadi melengak dibuatnya, terlihat Song Beng Lan, Si Hwesio gundul, tosu serta pengemis itu saling bertukar pandangan kemudian baru ujarnya.

“Sejak partai Kiem Thian pay diresmikan selamanya belum pernah terjadi suatu sakit hati seperti kematian Kuncu kami. Hmmm, kau bangsat licik banyak akal aku linat lebih baik kita tidak usah tunggu kedatangan Ong Bo lagi, rubuhkan dia terlebih dulu baru bicara kemudian bagaimana pendapat kalian bertiga ??"

Perkataan dari Song heng sudah salah besar" timbrung tosu itu. "Ong Bo sudah ada perintah demikian, janganlah kau menyalahi, kau kan sudah tahu bagaimana sifat dari Ong Bo kita." Liem Tou yang mendengar tanya jawab antara Song Beng Lan serta tosu itu segera menjadi radar kembali, kiranya selama ini mereka ragu-ragu tidak mau turun tangan membinasakan dirinya dikarenakan Au Hay Ong Bo sendiri yang mau balaskan dendam bagi putrinya, tetapi ketika teringat akan luka yang diderita oleh Lie Siauw Ie kemudian teringat pula kalau Au-Hay Ong Bo sudah tertahan oleh sigadis cantik pengangon kambing tanpa terasa keinginan untuk hidup muncul kembali didalam hatinya, semangat jantannya berkobar kembali, pikirnya kemudian.

"Bagaimana aku bisa setolol begini, kenapa aku harus serahkan nyawaku kepada orang-orang semacam begitu?"

Seketika itu juga dalam hatinya mulai memikirkan cara untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut, walaupun bekas luka goresan pedang pada punggungnya kini tcrasa begitu sakitnya tapi dengan keteguhan hati yang sudah dilatih sejak dia masih kecil, dengan paksakan diri itu dia menahan perasaan sakit hati itu, sepasang matanya dengan cepat segera berputar memandang sekeliling tempat tersebut.

“Hati-hati anjing kecil ini mau melarikan diri.”

Tiba tiba Song Beng Lan berteriak memberi peringatan ketika melihat keadaan dari Liem Tou itu.

Tangan kanannya dengan cepat didorong kedepan siap siap melancarkan serangan sedang matanya dengan melotot lebar lebar memperlihatkan seluruh gerak gerik dari Liem Tou ini.

Liem Tou tertawa dingin tak henti-hentinya, pisau belati di tangannya diperkencang kakinya dengan cepat berputar kemudian secara tiba tiba melancarkan satu tusukan kearah manusia berpakaian pengemis itu.

Pengemis itu sama sekali tak mau mambalas serangan itu, dia mengundurken dirinya satu langkah ke samping untuk menghalangi kembali perjalanan Liem Tou. Sebaliknya Song Beng Lan, si Hwesio gundul serta tosu itu tidak bersabar lagi, tiga orang bersama-sama membentak, lalu sepasang tangannya bersama-sama menyerang kedepan secara berbareng.

Siapa tahu jurus serangan dari Liem Tou ini merupakan salah satu dari ilmu pedang Thian San Hwe Sian Kiam, serangan yang menusuk ke arah si pengemis tadi hanya merupakan satu serangan kosong belaka, tujuan yang sebetulnya dari jurus itu tidak bukan adalah Song Beng-Lan

Terlihatlah serangan pukulan atau jari Sakti dari Song Beng Lan serta Hwesio dan Tosu itu hampir mengenai badannya, mendadak Liem Tou membentak keras, tubuhnya secara tiba- tiba berubah arah bagaikan kilat cepatpya berputar kcsamping sedang pisau belati di tangannya dengan mengeluarkan sinar bagaikan busur membuat perhalangan tangan dari si Hwesio, Toosu serta Song Beng Lan.

Ketiga orang itu menjadi amat terperanjat, dengat cepat mereka mengundurkan dirinya ke belakang kemudian dengan pandangan terpesona memandang ke arah Liem Tou.

“Hey bangsat cilik” teriak Song Beng Lan dengan perasaan geram dan ragu-ragu.

"Jurus-jurus serangan yang begitu aneh ini kau dapatkan dari mana?”

“Hey Mou heng” serunya kemudian sembari menoleh kea rah manusia berdandan tosu, “Apa kau juga mau menunggu sampai Ong Bo datang kemari?”

Tosu itu melirik sekejap kea rah hwesio-hwesio itu, kelihatan sekali kalau dalam hati dia merasa sangat ragu-ragu.

Sedangkan hwesio itu dengan pandangan penuh arti memandang kea rah Liem Tou, lama sekali baru tanyanya. “Hey bangsat cilik, kau bisa menggunakan jurus-jurus sakti dari Thian San Hwee Sian Kiam tentunya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan partai Thian San?”

Liem Tou yang mempelajari semua jurus serangan itu dari kitab pusaka "Too Loo-Cin Keng" sudah tentu tidak tahu jurus- jurus serangan tersebut berasal dari partai mana, kini ditanyai begitu dia hanya membungkam dalam seribu bahasa, sedangkan di dalam hati dia terus menerus memikirkan cara untuk melarikan diri dari sana.

“Hey bangsat cilik” tiba-tiba hwesio gundul itu membentak lagi dengan suara seperti geledek. “Kalau kau adalah anak murid Thian san pay sudah tentu mengenal juga Soat Hu Li atau si Rase salju Jien Hui, bukan?”

Selesai berkata dia menoleh kepada ketiga orang temannya, kemudian sambungnya lagi.

“Kalian bertiga hengthay silahkan turun tangan, jika nanti Ong Bo menyalahkan kalian biarlah aku yang menanggung semua”

Tidak menanti ketiga orang kawannya memberikan jawaban dia sudah melancarkan satu serangan dahsyat ke arah Liem Tou.

Liem Tou menjadi amat terkejut, baru saja dia mau menghindarkan diri dari serangan dahsyat tersehut, Hek Lao jie yang sampai saat itu terus menerus menanti saat-saat yang baik untuk turun tangan secara tiba-tiba bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan suatu serangan dahsyat menahan angin pukulan dari Soat Hu Li itu.

"Jien-heng tahan dulu." Teriaknya dengan keras. “Sewaktu bangsat cilik Liem Tou ini melawan cayhe tadi jurus-jurus serangan yang digunakan semuanya merupakan jurus serangan dari ilmu pedang Hong In Kiam nya partai Kunlun, kini dia menggunakan juga ilmu pedang Hwee Sian Kiam dari aliran Thian San Pay, menurut pendapatku dia bukanlah anak murid dari partai mana pun, tapi agaknya sedikit punya hubungan dengan Lie Loojie."

Mandengar omongan dari Hek-loojie ini air muka Soat hu li segera berubah amat hebat.

"Hek loojie." Teriaknya gusar.

"Kami dengan kalian Siok to Siang Mo selamanya tak punya ganjalan sakit hati apapun, lebih baik kau berdiri disamping.

Bangsat cilik ini punya dendam sakit hati dengan kami dari partai Kiem Thian Pay, jika kau adalah kawan kami maka harap berdiri di samping jangan turut campur, tapi jika musuh…Hmm..hmmm..”

Hek Loojie tertawa licik, sambil memandang ke arahnya dia berkata lagi.

"Aku Hek Loojiee bukan kawan juga bukan lawan kalian partai Kiem Thian Pay, hanya saja aku mau peringatkan kepadamu saja kalau ia punya hubungan dengan Lie Loojie, Siapa yang tidak tahu kalau kau Soat Hu Li kenapa mau meuggabungkan diri dengan partai Kiem Thian.Hmm, kau mau mempelajari ilmu jari sakti Yan Wi Toan Hok Ci Kong nya Au Hay Ong Bo kemudian hendak kau gabungkan dengan ilmu telapak Toa Su Log Cing hoat yang kamu pelajari dari hweesio Tibet kemudian bendak kau gunakan balas sakit hati atas diusirnya kau dari perguruan Thian San Pay.”

“Hmmmm, apa kau tidak tahu kalau Liem Tou memiliki juga kitab pusaka To Kong Pit Liok-nya Cio Coesu ? Jika kau berhasil memiliki kitab pusaka tersebut maka kepandaianmu akan jauh lebih tinggi sepuluh kali lipat dari pada mempelajari ilmu jari Yan Wei Toan Hun Ci”

Hek Loojie bisa berbicara begitu telah tentu punya rencana hendak menculik pergi Liem Tou untuk memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut, makanya dia berusaha keras untuk mencegah Soat Hu Li ini turun tangan jahat terhadap Liem Tou sehingga dia jadi binasa. Setelah mendengar omongan dari Hek Loojie ini agaknya Soat Hu Li tertarik juga, dengan cepat dia menarik serangannya dan berpikir keras.

"Jien-heng " Teriak Song beng Lan dengan cepat. "Kau jangan mau dengar omongannya, siapa yang tahu hatinya sedang merencanakan apa ? Lebih baik kita kuasai dulu bangsat cilik ini."

Sambil berkata dia maju dua langkab ke depan, jarinya dengan cepat melancarkan suatu serangan kilat mengarah jalan darah di pundak Liem Tou.

Gerakan dari Song Beng Lan ini dilakukan dengan amat cepat tapi gerakan dari Soat Hu Li jauh lebih cepat lagi, tetapi begitu dia meiihat Song Berg Lan melancarkan serangan dahsyat

dengan cepat dia mengibaskan ujung bajunya.

"Saudara Song tahan dulu" serunya,”Biarlah aku pikir pikir dulu baru kita bicarakan lagi."

Waktu itulah Hek Loo jie merasa waktunya sudah tiba, dengan meminjam kesempatan sewaktu Soat Hu Li mengibaskan ujung bajunya itulah secara tiba tiba dia membentak keres, telapak kirinya melancarkan satu serangan dahsyat membabat ketiga orang itu sedang tangan kanannya dengan cepat bagaikan kilat mencengkeram pundak dari Liem Tou.

Orang orang dari partal Kiem Thian Pay ini walaupun berjumlah banyak sekali tetapi berada di dalam keadaan tidak bersiap sedia ketika itu juga mereka berhasil memukul mundur lima enam langkah oleh angin pukulan itu hahkan Liem Tou pun terserang secara mendadak itu membuat dia menjadi kalang kabut, untuk menyerang dengan menggunakan pisau belatinya, guna meuolong diri tidak sempat lagi dengan cepat dia melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu "Hwe In Su" yang pernah diingatnya dari Heng San Ji Yu sewaktu masih berada di dalam lembah Cupu-cupu, telapak kirinya tiba-tiba menerobos diantara ketiak, dengan cepat menyambut datangnya serangan maut dari Hek Lao Jie itu.

Walaupun dengan gerakan ini Liem Tou berhasil menghindarkan diri dari serangan serangan yang menuju punggungnya tapi kepandaian Hek Loo Jie didalam ilmu cengkeraman mautnya ini berada diatas dugaannya, begitu dia melihat Liem Tou melihat datangnya serangan itu menjadi amat girang di dalam hatinya memang dia tidak punya minat untuk mencelakai nyawanya, pergelangan tangannya dengan cepat ditekan kebawah kemudian mencengkeram pergelangan tangan Liem Tou.

Ketika itu juga Liem Tou merasakan pergelangan tangannya seperti dijepit dengan jepitan besi, sakitnya sampai terasa diulu hatinya.

Mendadak dia membentak keras pisau belati ditangan kanannya dengan seluruh tenaga dibacok kearah pergelangan tangan Hek Loo jie.

Dengan dinginnya Hek Loo ji mendengus, tangannya sedikit ditarik kebelakang membuat badan Liem Tou menjadi sempoyongan, biar bagaimanapun juga dia menusuk membabat dan membacok dengan sekuat tenaga hanya cukup Hek Loo ji menarik lengannya membuat dia tidak sanggup untuk mendekati badannya.

Hek Loo ji yang melihat Liem Tou mencak mencak terus menerus membuat kegusarannya memuncak, dia membentak keras cengkeramannya diperkencang lagi membuat Liem Tou yang sebelumnya sudah menderita luka dalam kini merasa tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. Saking sakitnya air muka Liem Ton sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan, giginya menggerutuk menahan perasaan sakit yang luar biasa, dari perubahan wajahnya yang begitu ngeri sudah cukup diketahui bagaimana perasaan sakit yang dideritanya pada saat itu.

Waktu ini si Soat Hu Li, Lie Hui, si jari beracun jarum emas Song Beng Lan, Toosu, serta pengemis sekalian menjadi amat gusar kali, mereka sama sekali tak menyangka hanya didalam satu pukulan saja Hek Loo ji berhasil pukul mundur mereka semua bahkan berhasil menguasai Liem Tou untuk dipaksa nunjukkan tempat penyimpanan Kitab pusaka To Kong Pit Liok bersama sama mereka melancarkan serangan dahsyat mengancam seluruh tubuhnya.

Didalam hati Hek Loo ji tahu dengan jelas jika dirinya berani melawan jago jago berkepandaian tinggi yang mengepung dirinya saat ini maka tidak ampun dia akan menderita kerugian, didalam keadaan seperti itu segera dia menarik badan Liem Tou sehingga bergeser kekanan menutupi seluruh badan sendiri, kiranya dia hendak menggunakan badan Liem Tou untuk dipergunakan sebagai perisai dirinya.

Liem Tou yang berturut turut menderita luka sejak tadi sudah kehilangan tenaganya untuk melawan, untuk meloloskan diripun tak ada cara terpaksa dengan hati yang cemas dia memandang sekelilingnya.

Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh badannya apa lagi kini di hadapannya terdapat empat orang jago berkepandaian tinggi dari Kiem Thian Pay yang selalu melancarkan serangan dahsyat ke arah Hek Loo ji setiap serangan mereka besar kemungkinan bisa mampir dan bersarang dibadan sendiri membuat dia merasa sangat terkejut sekali hanya cukup satu serangan saja dari mereka mungkin sudah cukup mencabut nyawanya sendiri. Siapa tahu entah disebabkan oleh apa, mereka empat orang yang semula hendak membinasakan diri Liem Tou kini malah menganggap dia sebagai penghalang saja setiap serangan yang mereka lancarkan asalkan sudah mendekati dengan badan Liem Tou dengan cepat ditarik kembali, sepertinya mereka sangat takut sampai melukai dirinya.

Dengan kejadian ini kegusaran keempat orang jago dari Kiem Thian Pay ini semakin memuncak lagi.

Kurang lebih lewat seperminum teh lagi waktu itu Liem Tou yang dibawa berputar sudah mulai merasakan kepalanya sangat pening, pandangannya mu1ai menjadi kabur sedang perasaan mual didalam dadanya sukar ditahan lagi, napasnya ngos-ngosan sedang keringat yang mengalir keluar seperti air bah yang mengalir deras.

Tita .tiba. , . "Krooook. . " dari pusarnya mengeluarkan suatu suara yang ringan tapi nyaring, hawa murninya dengan cepat menerjang keatas kemudian mengitari seluruh tubuhnya.

Dalam hati Liem Tou menjadi bergerak dengan cepat dia tarik napas panjang membuat seluruh badannya terasa amat nyaman tenaga dalamnya pulih kembali seperti sedia kala membuat hatinya betul betul merasa teramat girang bercampur heran, dengan cepat dia pejamkan matanya mengatur pernapasan.

Saat ini keempat jago dari Kiem Thian Pay yang sedang bertarung melawan Hek Loo ji semakin bertempur semakin seru sedang pergelangan tangan kiri dari Liem Tou yang di cengkeram oleh Hek Loo ji pun ikut bergoncang semakin keras membuat pisau belati ditangan sebelah kanannya ikut manari dan berputar dengan amat santarnya.

Kini racun pukulan dingin Kiem Im Han Tok Ciang dari Au Hay Ong Bo sudah berhasil di paksa keluar oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya itu sehingga luka dalamnya sudah dia sembuhkan tanpa dia sadari ditambah lagi dengan pengaturan napas beberapa lamanya membuat tenaga dalam dari Liem Tou jadi pulih kembali. Saat ini dia tidak mau bergerak banyak banyak, dia ingin menunggu kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan dengan menggunakan pisau belatinya membuat Hek Loo Ji menemui ajalnya.

Mendadak, "Berhenti" Suatu suara yarg memekikkan telinga bergema disekeliling tempat itu.

Terlihat sesasok bayangan manusia berkelebat, Au Hay Ong Bo sudah memunculkan dirinya disana. Ujung bajunya yang seperti baja dengan manimbulkan angin pukulan yang amat dingin menggulung kearah Hek Loo ji, serangan ini dilakukan begitu cepatnya sehingga sukar diketabui oleh pandangan mata.

Walaupun kepandaian silat dari Hek Looji tidak begitu liehay tapi jaraknya berdiri dengan diri Au Hay Ong Bo masih agak jauhan, melihat dia melancarkan satu serangan kearahnya dengan cepat dia lepaskan cengkeramannya pada Liem Tou lalu melayang mundur beberapa kaki kearah belakang.

Melihat hal ini Soat Hu Li sekalian berempat dengan gusarnya membentak keras, dengan cepat mereka melancarkan satu serangan dahsyat kearahnya membuat Hek Looji saking takutnya cepat-cepat melarikan diri terbirit birit.

Baru saja Liem Tou merasa lega karena lolos dari cengkeraman Hek Looji kini musuh tangguh muncul kembali dihadapan matanya didalam keadaan ketakutan dan terkejut pisau belati ditangan kanannya bersamaan dengan pukulan dengan menggunakan telapak kirinya bersama sama melancarkan serangan ke arah Au Hay Ong Bo, dia tahu dirinya bukanlah tandingan dari Ay Hay Ong Bo tapi dia sadar siapa yang cepat dialah yang menang, karena itulah tanpa pikir-pikir panjang lagi dia sudah melancarkan suatu serangan kearahnya.

"Heey..“ Pikirnya pula didalam hati. “Kenapa siluman tua ini bisa kesimi? apa mungkin gadis cantik pengangon kambing nona Lie sudah dikalahkan olehnya?”

Tidak perduli si gadis cantik pengangon kambing itu menang atau kalah terbukti dia tidak muncul ditengah kalangan pada saat ini sama artinya Au Hay Ong Bo tidak ada yang bisa menandingi lagi.

Karenanya segera dia melancarkan serangan gencar kearahnya dengan menggunakan berbagai macam jurus yang tidak menentu membuat Au Hay Ong Bo seketika itu juga dibuat tertegun.

Dengan menggunakan kesempatan Au Hay Ong Bo sedang tertegun itulah dengan cepat Liem Tou meloncat beberapa kaki dari sana kemudian melarikan diri dengan cepatnya kedepan.

Menanti Au Hay Ong Bo sadar kembali dia sudah berada kurang lebih dua tiga kaki dari tempatnya berdiri, dengan cepat dia membentak keras kemudian mengejar dari belakang.

Kali ini Liem Tou sudah sadar bahwa dirinya tidak mungkin berhasil mencapai gua rahasia yang menghubungkan puncak gurung dengan tepi sungai itu, karenanya dia berbalik melarikan diri kearah dalam perkampungan, untung saja jarak antara sana kearah perkampungan tidak jauh, tidak lama kemudian dia sudah sampai sedangkan waktu itu Au Hay Ong Bo sudah berada satu dua langkah dari dirinya.

Didalam keadaan amat terkejut bercampur terperanjat Liem Tou tanpa pikir panjang lagi sudah menerjang masuk kedalam rumah rakyat perkampungan yang berada dihadapannya. Tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat menerobos kedalam pintu rumah itu sedang Au Hay Ong Bo dengan kencangnya menguntit terus dari belakangnya memaksa Liem Tou melarikan diri lebih cepat lagi sesudah berputar putar beberapa tikungan begitu dilihatnya ada jendela di depannya tanpa pikir panjang lagi dia sudah menerobos keluar dari jendela tersebut.

Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah Au Hay Ong Bo masih berada didalam ruangan rumah itu, dengan cepat dan gugup dia menerobos kembali ke rumah yang lain, untung saja rakyat di dalam perkampungan itu rata rata sudah kenal dengan diri Liem Tou, begitu melihat dia muncul didalam rumah mereka sakalipun merasa kedatangannya itu secara tiba tiba tapi tidaklah terlalu merasa heran dan aneh bahkan di antara mereka ada yang berusaha membantu Liem Tou untuk menyembunyikan dirinya.

Tetapi saat ini Liem Tou yang merasa musuh musuh yang mengejar dirinya terlalu tangguh tidak mau menyusahkan orang orang yang berbaik hati itu, apalagi didalam pikirannya sudah punya maksud untuk melarikan diri kerumah kediaman Lie Siauw Ie guna melihat keadaan lukanya, karena itu dia tidak mau menerima kebaikan hati orang orang itu dengan meminjam kesempatan untuk secepat cepatnya dia menerobos keluar kemudian meloncat keatas tiang-tiang untuk melanjutkan melarikan dirinya kedepan.

Sesudah mengalami berbagai kesusahan dan rintangan akhirnya Liem Tou berhasil tiba di depan rumah Lie Siaue Ie tanpa pikir lagi dia sudah menerobos kedalam rumah.

Dengan terlihatnya Lie Siauw Ie sedarg berbaring di atas pembaringannya, melihat hal itu di daiam hatinya menjadi amat terkejut bercampur girang segera dia maju menubruk sambil teriaknya,

"Ie Cici." Air matanya tidak bisa ditahan sudah meleleh keluar dengan derasnya, bersamaan pula secara tiba tiba dia merasakan kepalanya amat pening, tanpa bisa ditahan lagi dia rubuh keatas tanah jatuh tidak sadarkan diri.

Kiranya sekalipun luka dalamnya sebagian besar sudah hampir sembuh, hal ini dikarenakan sewaktu tadi manahan serangan telapak tangan dari Au Hay Ong Bo dia mendapatkan pukulan Kioe Im Han Tok Ciang tidak terlalu parah, sesudah mengeluarkan keringat boleh dikata racun tersebut sudah dipaksa keluar dari badannya, tapi bekas luka goresan pada punggungnya tetap terus mengalir darah segar tak henti-hentinya tadi waktu dia melarikan diri karena suasana tegang membuat dia tak begitu terasa, tapi sekarang sesudah keadaan tenang kembali membuat dia seketika itu juga merasakan keperihannya sehingga tanpa terasa lagi dia jatuhkan diri dengan tidak sadar.

Lie siauw Ie yang melihat dia jatuh pingsan menjadi amat terkejut, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringannya sambil berteriak dengan nada yang amat cemas.

"Adik Tou kau kenapa ?"

Saking cemasnya air matanya meleleh dengan amat derasnya, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringan kemudian membopong tubub Liem Tou ke atas pembaringannya.

Baru saja tangannya mulai bergerak menepuk seluruh tubuhnya guna menyadarkan dirinya dari pingsan mendadak dari luar kamar terdengar suara terikan yang amat ramai sekali mulai mendekati tempat tersebut, mendengar akan suara itu Lie Siauw Ie segera sadar kalau orang orang perkampungan sudah mengejar hingga kemari.

Dalam hati Lie Siauw Ie tahu bahwa orang tidak akan melepaskan rumahnya dengan begitu saja, mereka tentu akan mengadakan pemeriksaan yang amat teliti disekeliling rumahnya, karena itu kepada ibunya dia berkata.

"Ibu, jika mereka mencari sampai disini berusahalah mencegah gerakan mereka selanjutnya, jangan sekali-kali melepaskan mereka masuk ke dalam kamar, mereka mempunyai niat yang tidak baik terhadap adik Tou"

Sambil berkata dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh dari Liem Tou, sedang dirinyapun ikut berbaring di sampingnya.

Tidak selang lama kemudian segerombolan suara tindakan kaki yang amat ramai sudah berhenti didepan pintu rumah, bahkan diantara mereka sudah ada beberapa orang yang mulai berteriak.

"Liem Pek Bo. bangsat cilik Liem Tou sudah datang mengacau perkampungan, bukan saja sudah melukai Siauw Ling ko serta Toa Tong- siok bahkan sudah bunuh mati Pouw Liang Jiesiok, aptkah bangsat cilik itu sudah bersembunyi didalam rumah Pek Bo?”

Lie Siauw Ie berbaring didalam kamar ketika mendengar berita itu didalam hatinya diam diam merasa terkejut, dia tak menyangka sama sekadi Liem Tou bisa menimbulkan bencana begitu besarnya.

"Oooh bukan, bukan…" sahut seorang pemuda diantara orang orang kampung itu, "apakah dia betul betul tidak kemari

? ? Anjing kecil itu sudah menderita luka yang amat parah dia bisa lari ke mana lagi ??"

Gerombolan pemuda itu akhirnya tanpa mengucapkan terima kasih sudah meninggalkan tempat itu uutuk mencari jejak ditempat yang lain.

Lie Siauw Ie yang mendengar mereka sudah pada meninggalkan tempat ini hatinya menjadi amat lega, dia putar tubuhnya memandang ke arah Liem Tou yang terbaring dibalik selimut, terlihatlah dia tertidur di sampingnya dengan sangat pulasnya.

Dalam hati Lie Siauw Ie hanya merasakan hatinya amat kecut dan sedih, gumamnya seorang diri.

"Ooh adik Tou, selama beberapa waktu ini tentu menderita siksaan serta penderitaan sangat hebat, kau tidurlah dengan tenang, cicimu bisa melindungi dirimu dengan mempertaruhkan nyawa cici, sejak saat ini kita berdua tidak akan berpisah kembali"

Sudah bergumam beberapa saat lamanya sekali lagi memandang ke arah Liem Tou yang jatuh pulas dengan nyenyaknya itu. Mendadak terlihatlah olehnya diujung kelopak mata Liem Ton mengucur keluar titik-titik air mata, melihat hal itu tanpa terasa lagi dari kelopak matanya sendiri mengucur keluar juga air mata dengan derasnya.

Lewat dua tiga jam kemudian suasana didalam ruangan itu semakin lama semakin redup dan mulai menggelap, saat itu merupakan permulaan musim salju pada bulan ke sepuluh tidak selang lama magrib pun sudah menjelang tiba. Saat itu Liem Tou masih tidur dengan sangat pulasnya. Lie Siauw Ie yang lukanya sudah sembuh dengan perlahan lahan turun dari pembaringan dan berjalan menuju ke dapur untuk mempersiapkan makanan malam.

Pada saat itulah gerombolan pemuda yang tadi mencari jejak Liem Tou kini mendatangi kembali tempat itu bahkan kali ini dipimpin langsung Ang ing-sin pian Pouw Sak San itu Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung.

Sesampainya didepan pintu rumah dia tak terus menggedor pintu, sebaliknya dengan amat teliti dia memeriksa keadaan di sekeliling rumah tersebut.

Begitu melihat munculnya gerombolan orang itu perasaan tegang mulai meliputi kembali di hati Lie Siauw Ie beserta ibunya diam diam keringat dingin mulai mengucur keluar dengan sangat derasnya.

Perlahan lahan Lie Siauw Ie mendekati pintu rumah itu, dengan meminjam sinar yang ada dia mulai mengintip dari celah-celah lubang. Terlihatlah, Si Ang in sin pian Pouw Sak San Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung dengan air muka penuh diliputi dengan napsu membunuh memimpin diri Liong ciang Lie Kian Poo, Pouw Beng serta pemuda perkampungan berdiri di depan rumah dengan angkernya.

Ketika melihat lagi ke arah lain terlihatlah ditempat kejauhan si Au Hay Ong Bo dengan memimpin Soat Hu Lie beserta anak buahnya dan seluruh jago yang menghadiri parjamuan sudah berdiri menyebar sekeliling tempat itu.

Dalam hati segera tahu tentunya orang orang itu sedang mengincar diri Liem Tou tanpa terasa lagi perasaan cemas dia sudah menoleh ke arah ibunya lagi.

"Ibu" teriaknya dengan sedih, "Bigaimana? "Bagaimana dengan baiknya ?"

Orang tua itu agaknya juga dibuat cemas untuk beberapa saat lamanya, tapi sebentar kemudian sudah bisa menenangkan pikirannya lagi.

"Aku sendiri juga tak tahu harus berbuat bagaimana" Sahutnya dengan menghela napas panjang. "Ie-jie, aku pikir perlahan lahan tentu kita mendapatkan cara juga untuk meloloskan diri, untuk sementara kau janganlah kuatir dulu."

"Ibu”seru Lie Siauw Ie kembali, "Jika mereka ngotot mau masuk rumah untuk mengadakan pemeriksaan bagaimana kita harus berbuat? Jika Liem Tou sampai ditawan mereka nyawanya sukar untuk ditahan lagi"

Semakin berkata Lie Siauw Ie semakin cemas dan semakin sedih lagi sehingga air mata mengucur keluar lebih deras lagi, melihat hal itu ibu Lie Siauw Ie dengan gugup memberi hiburan.

"Kau janganlah murung dulu," ujarnya. "Urusan sekarang belum terjadi buat apa kau murung??? Mungkin juga sebentar lagi mereka akan pergi"

Baru saja perkataan itu diucapkan terdengarlah diluar rumah berkumandang suara teriakan seseorang secara tiba tiba.

"Lapor Cungcu, Cepat kemarilah. Darah darah Liem Tou bangsat cilik itu pasti berada didalam rumah ini!”

Mendengar teriakan itu air muka Lie Siauw Ie segera berubah menjadi pucat pasi, dengan cepat dia menubruk ke dalam rangkulan ibunya.

"Oooh ibu!" Serunya setelah gemetar. "Bagaimana baiknya?

Sebentar lagi pasti mereka masuk kemari."

Seperti orang gila Lie Siauw Ie segera melepaskan dirinya dari rangkulan ibunya kemudian lari masuk ke dalam kamarnya, dengan amat gugup sekali dia menggoyangaan tubuh Liem Tou yang masih pulas.

"Adik Tou!" teriaknya dengan amat cemas, "Cepat bangun.Bencana sudah berada diambang pintu, kau cepatlah bangun”

Saat itulah dengan suara yang amat kasar dan keras Si Ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah mulai menggedor pintu sembari berteriak.

"Liem Tou bangsat cilik, cepat mengelinding keluar!" Dengan perlahan Liem Tou membuka matanya kembali,

tapi begitu mendengar suara bentakan dari Pouw Sak San

dengan pandangan tertegun dia memandang Lie Siauw Ie yang sedang berdiri disampingnya. "Adik Tou, kau cepat bangun." teriak Lie Siauw Ie dengan amat cemas, "Mereka sudah mencari sampai disini, kita harus mencari cara untuk menghadapi mereka. Oooh bagaimana baiknya sekarang?”

Dengan cepat Liem Tou meloncat bangun, sesudah tertidur dengan amat nyenyaknya beberapa saat lamanya semangatnya kini sudah pulih kembali.

"Cici" tanyanya dengan cemas. "Siapa? Siapa yang datang cari aku?"

"Cungcu" Sahut Lie Siauw Ie singkat tapi cukup menimbulkan getaran yang amat kuat.

Mendadak sinar mata Liem Tou meemancarkan sinar yang amat tajam, dengan cepat bagaikan kilat tubuhnya bergerak lari keluar.

Melihat gerak gerik Liem Tou ini Lie Siauw Ie menjadi amat terperanjat, dengan cepat dia menyambar menahan diri Liem Tou sembari bertanya.

"Adik Tou." Kau mau pergi kernana?"

“Bangsat anjing itu harus kubunuh sekarang juga " Teriaknya dengan amat gusar sedang air mukanya berubah membesi. "Aku.. aku tidak akan takut padanya"

"Adik Tou, kau tidak boleh pergi"

Lie Siauw Ie dengan suara yang amat lirih. "Selain Cungcu sendiri beserta siluman perempuan beserta seluruh tamu yang diundang Cungcu sudah berada di sekeliling ternpat ini, jika kau keluar bukankah hanya mengantar diri ke mulut macan?"

Mendengar omongan dari Lie Siauw Ie ini hati Liem Tou seketika itu juga menjadi dingin separuh, lama sekali dia tidak meagucapkan sepatah katapun. Tapi beberapa saat kemudian secara tiba-tiba teringat akan sesuatu hal, ujarnya kemudian. "Kalau begitu apakah cici melihat nona pengangon kambing nona Lie itu? Dia sekarang pergi kemana? Apa dia sudah turun gunung terlebih dulu?"

Air muka Lie Siauw Ie segera berubah hebat, sepasang matanya yang jeli dan bening menarik itu dengan tajamnya memandang wajah Liem Tou, lama kemudian barulah tanyanya secara

Tiba-tiba.

"Siapa dia? Apa hanya dia seorang yang bisa menolong kau?"

Sejak kecil Liem Tou sudah terbiasa dipandang rendah orang dan diejek kanan kiri sehinaga tanpa terasa dia sudah paham sekali terhadap perubahan wajah serta perasaan seseorang begitu melihat sikap serta perubahan Lie Siauw Ie tanpa terasa hatinya sudah berdesir.

"Cici, kau jangan salah paham,” Sahutnya dengan nada yang sangat berhati hati. "Dia hanyalah gadis pengangon kambing yang sedang mengangon kambingnya, aku baru saja mangenal dia ketika bertemu ditengah jalan, Tapi kepandaian silat yang dimilikinya amat tinggi sekali, bukankah ketika masih berada didalam ruangan Cie Ie Tong kau sudah melihat sendiri bagaimana tingginya kepandaian silat yang dimilikinya?”

Dengan perasaan amat tidak puas Lie Siauw Ie mendengus, kemudian tidak mengucapkan kata kata lagi.

Waktu itu Si ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah gembar gembor dan menggedor pintu semakin keras lagi. Ibu Siauw Ie segera berteriak memberi sahutan.

"Sejak tadi aku sudah bilang Liem Tou tidak berada disini, Siauw Ie masih terluka dan berbaring diatas pembaringan, baru saja dia tertidur dengan pulas, buat apa kalian gembar gembor tidak karuan di luaran sana?"

"Lie Toa so!" Teriak Pouw Sak San pula tidak mau kalah "Kami betul betul karena terpaksa harus menemui dia barulah memeriksa ditempat ini, sedang itu Au Hay Ong Bo pun harus mau temui dia terlebih dahulu baru meninggalkan tempat ini. Toa so, bukankah kau sudah tahu kalau Au Hay Ong Bo itu merupakan jagoan yang paling telengas didalam Bu lim saat ini? jika sampai dia marah didalam perkampungan ini tidak ada orang yang sanggup menahan dirinya. Liem Tou ada atau tidak asalkan aku melihat sebentar saja segera akan tahu. Toa so harap kau buka pintumu."

Liem Tou serta Lie Siauw Ie segara berjalan mendekati samping badan Ibu dari Siauw Ie itu.

"Pouw Sak San!" Teriak ibu Siauw Ie pura-pura marah sesudah mendengar omongan dari Ang in sin pian Pouw Sak San itu.

"Kau bertindak sebagai seorang Cungcu perkampungan yang sangat terhormat apakah demikian perbuatannya? aku sejak tadi sudah bilang kalau Liem Tou tidak berada disini, apa kau kira aku biasa ngomong bohong? Apa kau mau menganiaya aku ibu beranak yang sudah lama ditinggal mati oleh suamiku? Hmmm .. Hmmm. jikalau memangnya mau berbuat begitu silahkan hajar pintu depan, kami ibu beranak akan menyerahkan diri kepada kalian tanpa melawan.”

Beberapa patah katapun dari ibunya Siauw Ie betul betul amat lihay sekali, seketika itu juga membuatnya si Pouw Sak San itu hanya membungkam dalam seribu bahasa, agaknya dia sudah dibuat tidak berkutik oleh omongan-omongan tersebut.

"Toaso" Lama sekali barulah terdengar seseorang yang lain membuka mu!ut secara tiba-tiba. "Aku adalah Lie Kian Poo, kalau memangnya Liem Tou tidak berada didalam kamar bukan kah tidak ada halangannya Toaso buka pintu agar Cungcu bisa melihat dengan mata kepala sendiri?"

Begitu Lie Kian Poo mulai angkat bicara seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie menjadi tertegun, karena Lie Kian Poo jadi orang paling jujur dan paling pegang peraturan.

Semua orang di dalam perkampungan rata-rata pada menghormati dirinya sebagai pemimpin, karena itulah seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie tidak bisa memaki lagi.

"Ooh . . . Kian Poo siok juga ikut datang " Serunya terpaksa dengan nada mendatar "Kalau memangnya tak percaya lagi dengan omonganku apa kini Kian Poo Siok tidak mau percaya lagi terhadap omonganku ?"

"Toaso kau tak tahu keadaan yang sebenarnya." bantah Lie Kian Poo dengan cepat. "Kini bukanlah Cungcu berlaku sebagai pemimpin, tentunya dari dalam rumah Toaso juga bisa

lihat itu Au Hay Ong Bo berdiri mengawasi gerak gerik kita dari tempat kejauhan, karena itulah harap Toaso jangan salah artikan bila Cungcu kita sudah tak mau percaya dengan omongan Toaso, hal ini kami lakukan karena terpaksa."

Beberapa perkataan dari Lie Kian Poo ini sangat pakai aturan dan merupakan kejadian yang terbukti, ibunya Siauw Ie yang juga merupakan seorang yang pegang teguh aturan dalam hatinya diam-diam merasa camas, dengan perlahan dia menoleh memandang kearah Liem Tou serta Lie Siauw Ie.

Terlihatlah kedua orang itu yang satu berwajah tampan menarik sedang yang lain cantik menggiurkan dengan mesranya sedang bersandar dipelukan Liem Ton apalagi sepasang matanya yang bulat menarik itu sedang memandang dirinya dengan perasaan penuh kasihan. Teringat akan kedua orang itulah membuat ibunya Siauw Ie terpaksa dengan gigit kencang bibirnya sendiri memberi sahutan.

“Kian Poo-siok, pintu ini aku tidak akan membukanya, jikalau Cungcu sudah tidak menyukai berdua ibu beranak, sekarang juga meninggalkan kampung ini untuk selamanya, kalau tidak silahkan menghancurkan pintu ini kemudian cabut sekalian nyawa kami berdua."

Perkataan yang penuh perasaan pedih dan sedih membuat keadaan diluar pintu sunyi senyap, agaknya Lie Kian Poo sedang berunding dengan Cungcu bagaimana caranya untuk manghadapi keadaan salanjutnya.

Mendadak.. salah satu dari Siang hui hok itu yang bernama Pouw Beng dengan amat gusarnya sudah berteriak keras.

"Hey Cung cu, kamu orang tidak bisa berbuat begini, dengan terang-terangan Liem Tou berada didalam rumah kenapa kau tidak langsung masuk ke dalam untuk tawan dia keluar?? Apa kau kira nyawa saudara bisa dibuang dengan sia- sia saja ? ? Haaa ? Jika kamu tak mau turun tangan biar aku yang kerjakan sendiri,”

"Pouw Beng," teriak ibunya Siauw Ie dengan amat gusar sedang dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat. "Menghormati yang tua membantu yang muda, melindungi yang tua melindungi kaum pelajar itulah peraturan dari perkampungan kita, kau berani."

"Kau jadi orang tidak pakai aturan perkampungan dengan kamu ?" Bentak Pouw Berg yang berada diluar rumah dengan amat gusarnya.

"Braaak . . " terdengar suara yang amat keras bergema memenuhi sekeliling tempat itu, pintu rumah dari Lie Siauw Ie sudah terhajar oleh bogem mentahnya Pouw Bang, seketika itu juga debu serta pasir memenuhi angkasa sedang pintunya sendiri hanya berbunyi dengan sangat keras, pintu yang terbuat dari kayu keras itu tetap utuh tak sampai terhajar bobol oleh pukulan tersebut.

Keahlian pertama dari Pouw Beng terletak pada ilmu meringankan tubuh saja sedangkan tenaga pukulannya tidak begitu hebat, karena itu biar pun dia sudah melayangkan bogem mentahnya pada atas pintu tapi tidak sampai berhasil menghancurkan pintu tersebut.

Tetapi dengan terjadinya peristiwa ini membuat suatu perasaan yang ngeri meliputi tiga orang yang terkurung dalam rumah itu, suatu perasaan aneh muncul di dasar lubuk hati mereka, di dalam keadaan yang amat terperanjat serta cemas itulah tanpa terasa, mereka bertiga sudah diikuti oleh ketegangan yang sukar dikatakan, air muka mereka dengan sendirinya juga ikut berubah menjadi amat keren.

Tangan kiri Liem Tou dengan kencang memegang pisau belati sedang tangan kanannya melindungi dadanya, sebaliknya Lie Siauw Ie melintangkan pedangnya di depan siap menghadapi serangan musuh bersamaan pula meraup senjata rahasia Kioe Cu Kien Ciam siap disambitkan keluar.