Raja Gendeng Eps 29 : Kanjeng Empu Basula

 
Eps 29 : Kanjeng Empu Basula


Berkat bantuan yang diberikan Raja dan Anjarsari, gadis berpakaian warna-warni bersenjata kipas yang tak lain adalah Dewi Kipas Pelangi dapat meloloskan diri dari serbuan ribuan kalajengking.

Dia kemudian segera bergegas mencari kuda hitamnya yang bernama Angin Puyuh.

Sebagaimana diketahui si gadis telah menyuruh pergi kudanya, agar dapat lolos dari serangan mahluk-mahluk kalajengking itu. Di suatu tempat ketika melihat kudanya sedang merumput, si gadis merasa lega.

Dia lalu menghampiri kudanya.

Sesampainya di sana diusapnya kepala binatang yang dapat berlari cepat itu. "Kuda cerdik, kuda yang sangat pintar!"

Puji Dewi Kipas Pelangi sambil tersenyum.

Angin puyuh manggut-manggut, namun segera merumput kembali. Angin senja berhembus semilir.

Saat itu matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat.

Sambil memperhatikan kuda yang berada didepannya tiba-tiba ingatan gadis ini tertuju kembali kepada ribuan kalajengking yang menemui ajal ditangannya bersama-sama Raja dan Anjarsari.

Mahluk-mahluk berbisa itu muncul tak terduga seperti iring-iringan prajurit perang. Jumlah mereka luar biasa banyaknya. Mahluk-mahluk itu dikendalikan dari jarak jauh.

Tapi herannya mengapa ketika dia, Raja dan Anjarsari menghabisi makluk-makluk itu tidak ada satupun orang yang membalas kematian mereka.

"Raja.....dan gadis sahabatnya masih tertinggal di atas pohon. Apakah mereka tidak mau menyusulku kesini? Padahal aku ingin sekali bicara dengan mereka. Ada sesuatu yang sangat penting ingin kutanyakan!"

Setelah berkata demikian Dewi Kipas Pelangi layangkan pandang ke arah jurusan jauh di mana pohon besar yang dia jadikan tempat menghindari serangan kalajengking

"Orang-orang aneh...seharusnya aku tidak meninggalkan mereka. Tapi aku khawatir dengan keselamatan kudaku!"

Kata si gadis seorang diri. Dewi Kipas Pelangi terdiam. Dalam diam dia terus berpikir. "Andaikan iring-iringan mahluk itu tidak berpapasan dengan dirinya. Kemana sebenarnya

kalajengking itu akan pergi?"

"Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Firasatku mengatakan bakal terjadi sesuatu yang sangat mengerikan di rimba persilatan."

Gumam Dewi Kipas Pelangi resah. Gadis ini terdiam lagi.

Pikirannya menerawang jauh mengingat sahabatnya Pranajiwa. Dia tidak tahu bagaimana nasib orang tua itu.

Yang dia tahu Pranajiwa sudah dibawa pergi oleh si Jenggot panjang dalam keadaan seperti hilang ingatan.

Tapi ketika si Jenagot panjang muncul kembali di tengah tengah ribuan kalajengking, sang Dewi tidak melihat Pranajiwa bersama kakek itu.

Selagi Dewi Kipas Pelangi terombang ambing dalam kebimbangan, tiba-tiba dia mendengar suara gemeletak suara ranting kering yang terinjak sesuatu.

Secepat kilat gadis ini balikkan badan, menatap kearah datangnya suara. Dewi Kipas Pelangi menarik nafas lega.

Yang muncul di tempat itu ternyata gadis berpakaian kuning gading yang di dada pakaiannya terdapat gambar sulaman berbentuk hati yang retak.

Berjalan di samping gadis itu adalah pemuda berambut gondrong berpakaian kelabu bersenjata pedang.

"Mengapa kalian lama sekali?"

Tanya Dewi Kipas Pelangi ditujukan pada kedua orang yang baru datang yang bukan lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 bersama Anjarsari.

Anjasari hanya menggeleng. Sedangkan Raja tersenyum sambil menjawab. "Kami sempat kesasar. Aku dan dia kehilangan jejakmu ditikungan sungai itu. Melihat sungai membuatku berpikir mengapa tidak mandi sekalian? Apalagi mengingat aku sudah tidak mandi selama satu purnama."

Raja lalu tertawa tergelak-gelak. Mata Dewi Kipas Pelangi yang bening indah terbelalak lebar. "Jad... jadi kalian mandi bersama sama?!"

Melihat Sang Dewi menatap curiga, Anjarsari cepat menjawab.

"Enak saja, mana mungkin aku mandi barengan dengan orang yang kurang waras seperti dia, bisa jadi dia ngiler melihat tubuh indahku!"

"Iya... kami tidak mandi bersama. Sayang sekali, padahal sungai itu terlindung dari pandangan mata jahil. Dia cuma cuci muka disebelah atas sungai. Mungkin juga dia kencing di sungai itu. Masih bagus tidak buang hajat sekalian. Kalau tidak, aku bisa apes. Ha ha ha!"

Gurau sang pendekar.

Mendengar ucapan Raja, Anjasari mendamprat.

"Pemuda tolol bermulut lancang. Siapa bilang aku kencing di sungai tempat mandimu.

Memangnya kau melihat aku sedang...!"

Belum sempat Anjarsari menyelesaikan ucapan. Sang Pendekar sudah memotong.

"Aku tidak melihat. Tapi aku bisa tahu karena aku mencium air sungai berbau pesing. Ha ha ha!" "Dasar edan! Pantas saja kau dijuluki si Raja Gendeng!"

Gerutu Anjarsari. Dia angkat tangannya segera hendak menampar.

Namun Raja yang tahu gelagat segera menghindar dengan menjauhi Anjarsari.

Melihat dua orang yang bertingkah selayaknya anak kecil, Dewi Kipas Pelangi segera menengahi dengan berkata.

"Kalian dengar! Harap berhenti bersenda gurau...!"

Mendengar ucapan Dewi Kipas Pelangi, Anjarsari segera turunkan tangannya. Dia menatap sang Dewi dengan wajah kesal.

"Kau mau bicara apa?!"

"Ya,kau mau bicara apa? Kudamu sudah ditemukan. Sebentar lagi malam tiba. Aku dan dia siap pergi. !"

Kata Raja pula.

"Kumohon kalian jangan pergi. Ada sesuatu yang sangat penting ingin kubicarakan dengan kalian berdua!"

Kata Dewi Kipas Pelangi.

Sang pendekar tatap gadis berambut panjang itu. Anjarsari juga ikut memperhatikan. "Kau ingin kami tidak pergi?"

Tanya Anjarsari ragu-ragu. Dewi Kipas Pelangi mengangguk "Kalau begitu kau harus mengumpulkan kayu bakar. Selain itu kau juga harus mencari pohon yang banyak cabangnya.Aku tidak mau menghabiskan malam dengan tidur di bawah pohon.Setelah melihat kalajengking yang menyerangmu, aku yakin tempat ini tidak aman." kata Anjarsari ketus.

"Aku akan menyediakan apa yang kau minta. Aku akan kumpulkan kayu bakar dan mencari pohon yang bisa kita jadikan untuk tidur."

Jawab Dewi Kipas Pelangi menyanggupi. Dalam hati dia berkata.

"Gadis sahabat Raja itu, mengapa perangai dan sifatnya berubah-ubah? Dia terkesan angkuh dan congkak. Berbeda dengan Raja yang suka bergurau?"

"Eeh, jangan pernah mengatakan kita. Kita berarti, aku, kau dan dia. Aku tidak mau tidur berkumpul di satu tempat. Apalagi bila harus berdesak-desakan denganmu dan dia. Dia yang keenakan sedangkan aku merasa tidak nyaman!"

Tukas Anjarsari sambil menunjuk kearah Raja.

"Ah, bukankah bila kita tidur berdesakan dan bersempit-sempit sama-sama enaknya." celetuk Raja "Diam!Aku bukan gadis murahan.!" Bentak Anjarsari.

Anehnya dibentak begitu Raja tidak menanggapi. Dia cuma senyum-senyum sambil menggaruk kepala. Dalam hati Raja membatin,

"Kalau semua ucapannya aku timpali. Bukan mustahil dia membenci aku. Jika dia benci, bagaimana mungkin aku bisa selalu dekat padanya? Padahal aku selalu memikirkannya."

Sementara itu Dewi Kipas Pelangi rupanya merasa tidak suka mendengar perdebatan yang terjadi di antara mereka. Sambil melangkah menghampiri sang Dewi membuka mulut berujar,

"Sahabat berdua. Mengapa kalian suka berselisih. Kita harus membicarakan semua ini dengan kepala dingin. Mungkin kalian lelah, sebaiknya istirahat. Sementara aku akan mengumpulkan kayu-kayu kering untuk membuat api unggun."

Sang Dewi lalu balikkan badan.

Tanpa memberi kesempatan lagi pada Raja dan Anjarsari untuk bicara dia telah melangkah pergi.

Seperginya Dewi Kipas Pelangl, Anjarsari memilih duduk dengan bersandar di batu besar. Sedangkan Raja segera rebahkan tubuhnya di bawah pohon.

Dengan kaki kanan ditumpangkan ke kaki kiri dan dua tangan dipergunakan sebagai bantalan kepala.

Sekejab saja pemuda itu sudah terlelap.

Melihat Raja sepertinya tertidur, Anjarsari diam diam berkata,

"Pemuda gendeng itu seperti kerbau.Dimana tergeletak disitu dia tidur.Tapi... sebenarrnya hatinya baik. Sejak meninggalkan kawasan tua dan berpisah dengan kakek Gembala Api dia memperlakukan aku dengan sebaik-baiknya. Dia juga menjaga aku dan sepertinya menaruh rasa sayang terhadapku.Sebaliknya aku selalu bicara ketus dan kasar kepadanya. Sejauh itu dia tidak pernah membalas sikapku dengan sikap yang sama."

Anjarsari lalu menatap kearah pohon.

"Dia memang sangat baik, wajah cukup tampan, ilmu kesaktian sangat tinggi. Namun aku tidak mempunyai pikiran atau perasaan tertentu terhadapnya. Lagi pula aku tidak bakal jatuh cinta kepadanya. Gadis cantik sepertiku mana pantas mencintai pemuda aneh seperti dia!"

Batin Anjarsari yang merasa harga dirinya lebih tinggi dari Raja. "Emm...!"

Tiba-tiba terdengar suara menggumam dibelakangnya disertai suara langkah kaki. Anjarsari cepat menoleh. Dia tersipu ketika melihat Dewi Kipas Pelangi tahu-tahu telah muncul dibelakangnya sambil memanggul seikat besar kayu dan ranting kering.

"Sedang melamun rupanya?"

Kata sang Dewi sambil meletakkan kayu yang diturunkan dari bahu kanannya "Eeh,tidak!"

Sahut Anjarsari lalu cepat-cepat palingkan wajah ke jurusan lain. Dewi Kipas Pelangi tersenyum.

Sekilas dia melirik kearah Raja yang tergeletak di bawah pohon.

"Kayu bakar telah dapat. Aku juga sudah menemukan tempat yang aman untuk melewatkan malam. Ada sebuah pohon besar tak jauh dari sini. Pohonnya melengkung seperti orang bongkok, cabangnya juga banyak. Kau, aku dan dia bisa tidur dicabang berlainan namun dalam satu pohon. Bagaimana pendapatmu?"

Anjarsari terdiam. Setelah sempat ragu diapun lalu menyetujuinya "Bagus."

Dewi Kipas Pelangi merasa lega.

"Kau sudah setuju, tapi bagaimana dengan dia?" tanya sang Dewi sambil memandang ke arah Raja.

Anjarsari menyeringai. Dengan ketus gadis angin-anginan ini menjawab.

"Kalau dia tidur dimana saja jadi. Tidur dicomberanpun dianggapnya sudah tidur di atas kasur surga!"

"Ah sahabat Anjarsari, jangan menganggap teman sendiri serendah itu!" Ujar sang Dewi tanpa maksud mencampuri. Anjarsari malah mendengus "Biar saja. Walau aku tahu dia baik tapi kadang tingkahnya menyebalkan!"

Dewi Kipas Pelangi lebih memilih diam tak ingin memperpanjang perbedaan pendapat di antara mereka. "Ya sudah. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Kau tunggu saja di sini. Begitu selesai aku segera menemuimu!"

Rupanya Anjarsari merasa tidak enak hati melihat Dewi Kipas Pelangi melakukan pekerjaannya seorang diri. Dia segera bangkit. Sambil memandang gadis itu dia bertanya,

"pohon itu dimana?" "Disebelah sana!"

Dewi Kipas Pelangi lalu menunjuk ke arah satu pohon besar terlindung pohon yang berada di depan si gadis Anjarsari memperhatikan. Dia memang melihat pohon bungkuk di sebelah belakang pohon didepannya.

"Aku akan membantu. Kayu-kayu ini sekalian saja kita bawa ke sana!"

Merasa senang dibantu sang Dewi segera dekati seikat besar kayu yang dibawanya. Keduanya kemudian membawa kayu itu dengan menggotongnya.

******

Hari berganti malam.

Kegelapan menyelimuti alam disekitarnya.

Si Jenggot Panjang yang berpakaian putih telah sampai di bukit merah.

Dia yang sedang berjalan bersama sang Kuasa Agung memutuskan untuk melepas lelah.

Gadis cantik yang memiliki tiga pasang kaki aneh berbentuk kaki kalajengking dan juga mempunyai sepasang tangan mirip capit pandangi kakek kerdil sahabatnya.

Tanpa bicara dia dongakkan kepala, hidung mengendus mencoba membaui sesuatu. "Aku membaui sesuatu."

Sang Kuasa Agung membuka mulut. "Bau apa Sang Kuasa Agung?"

Tanya si kakek yang saat itu sudah duduk di atas batu pipih. "Mungkin kau mencium aroma tembakau yang keluar dari pipaku ini!" Kata si kakek sambil menghembuskan asap pipanya dalam-dalam.

Sang Kuasa Agung gelengkan kepala.

Tidak disangka-sangka gadis ini tiba-tiba keluarkan suara raungan dahsyat. Dia menjerit dan terus menjerit.

Si Jenggot Panjang terkejut.

Tidak mengerti dengan apa yang dialami oleh Sang Kuasa Agung dia hanya bisa menatap dengan mata terbelalak terpana. "Tidak. tidak..!"  

Tubuh Sang Kuasa Agung terguncang. Tiga pasang kaki kalajengkingnya yang bertumpu pada tanah bergetar.

"Sang Kuasa Agung! Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah sesedih ini?" bertanya si kakek dengan suara lirih. Sang Kuasa Agung menangis sesunggukkan. Setelah dapat menenangkan diri dan mengusap air mata dengan lengan tangannya yang berbentuk aneh dia pun menggeram.

"Semua ini salahmu!"

"Salahku? Memang aku telah melakukan kesalahan apa, Sang Kuasa Agung?" tanya si Jenggot Panjang kaget juga tidak mengerti.

"Tua bangka tolol! Bukankah tadinya kita jalan di antara ribuan kalajengking itu. Kau tahu mereka adalah pengikut dan kaki tanganku. Lalu kau tiba tiba meminta padaku agar kita memisahkan diri dari mereka?"

"Oh cuma persoalan itu. Mengapa dia sampai berteriak dan menangis."

Kata si Jenggot Panjang dalam hati. Si kakek lalu tersenyum, namun segera menjawab.

"Sang Kuasa Agung, aku lupa memberitahu. Aku meminta kita meninggalkan mahluk mahluk kaki tanganmu itu karena aku melihat ada orang yang memperhatikan dan mengawasi gerak gerik kita.

Orang itu tidak bisa melihat dirimu berjalan beriringan denganku karena kau melindungi diri dengan tabir gaib."

"Mengapa kau tidak mengatakannya? Memangnya siapa dia?" Tanya si gadis ketus.

"Dia adalah gadis sahabatnya Pranajiwa, orang tua yang telah kau sedot darah dan saripati kehidupannya di dalam Ruang Penyempunaan Diri."

"Puah! Cuma seorang perempuan mengapa kau takut?" Dengus Sang Kuasa Agung kesal.

"Aku tidak takut sahabatku. Tapi kedatangan gadis itu adalah untuk mencari dan menemukan sahabatnya. Aku sendiri waktu itu hampir menghabisinya. Tapi tiba-tiba pemburu dari Neraka datang menolongnya!"

"Puah! Lagi-lagi manusia yang satu itu yang mencoba mengacaukan semua rencanaku. Pemuda jahanam itu juga bisa meloloskan diri dari serangan apiku. Mudah-mudahan dia bisa dihabisi oleh Kalima Bara sang penjaga kepercayaanku!"

Geram Sang Kuasa Agung. Si Jenggot Panjang terdiam.

Walau dia tahu mahluk berkepala singa itu mempunyai ilmu kesaktian yang sangat tinggi, namun si kakek tidak yakin Kalima Bara bisa membunuh Pemburu Dari Neraka.

Pemuda yang matanya terlindung dari batok itu bukanlah manusia biasa. Dia adalah Iblis Putih yang dikenal sebagai Pemburu Dari Neraka. Dia adalah mahluk aneh yang memiliki nyawa rangkap.

"Mengapa kau diam!"

"Eeh, tidak apa-apa sahabatku. Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar kau bisa bertemu dengan kekasihmu itu secepatnya!"

Ucap si Jenggot Panjang berdusta. Sang Kuasa Agung menyeringai. Wajahnya berseri-seri, matanya yang sering berubah-ubah warna berbinar-binar.

"Kekasihku Iblis Kolot. Setelah berada di alam bebas dunia persilatan ini sekarang aku merasa dia masih hidup. Kalau memang dia sudah mati tentu arwahnya masih berkeliaran bebas di alam fana. Kita harus menemukan orang yang kucintai itu secepatnya.!"

Ujar Sang Kuasa Agung tidak sabar. "Aku juga berpikir demikian, sahabatku!" Timpal Si Jenggot Panjang.

"Tapi tunggu...!"

Gadis itu keluarkan seruan. Mata jelalatan liar, kepala menengadah dan hidung kembali mengendus udara.

"Ada apa Sang Kuasa Agung?"

"Aku..aku kembali membaui sesuatu. Bau yang tercium olehku kali ini lebih santar dan lebih tajam. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan pasukan kalajengkingku? Padahal aku memberi perintah pada mereka untuk membantu menemukan kekasihku!"

Wajah cantik berdagu runcing itu menjadi gelisah.

"Sang Kuasa Agung. Apakah kau merasa para pengikutmu itu sekarang berada dalam bahaya besar? Kalau pun benar siapa yang sanggup membunuh ribuan kalajengking?"

"Jenggot Panjang. Dunia ini sangat luas, dipenuhi oleh banyak orang bodoh dan sedikit manusia sakti. Tapi jumlah yang sedikit itu bisa saja melakukan tindakan besar yang tidak dapat dijangkau akal biasa. Aku tidak merasa prajuritku sedang berada dalam ancaman bahaya, tetapi saat ini justru aku mendengar jerit kematian mereka. Aku mencium bau daging dan darah mahluk mahluk itu...!"

Jelas Sang Kuasa Agung dengan suara parau.

Diam-diam Si Jenggot Panjang merasa semua kejadian ini adalah kesalahannya. Dia menyesal dan juga takut.

Dia takut Sang Kuasa Agung menjadi murka karena kehilangan ribuan pengikutnya.

Tidak ingin berlarut-larut dalam praduga yang belum pasti kebenarannya, si kakek cepat-cepat berkata.

"Sang Kuasa Agung, jika aku telah melakukan kesalahan karena mengajakmu meninggalkan mereka. Izinkan aku untuk melihat keadaan mereka!" "Terima kasih atas kesetiaanmu, Jenggot Panjang. Tapi kau tidak perlu melakukannya. Kita dapat segera mengetahui bagaimana keadaan mereka melalui cermin sakti Kala Merah!"

Sambil berkata demikian Sang Kuasa Agung lambaikan tangan capitnya ke udara.

Begitu tangan diayunkan ke bawah, tahu-tahu sebuah cermin berbingkai merah berbentuk bulat dengan bagian tepi dipenuhi ukiran bergambar kalajengking merah telah tergenggam di tangannya yang aneh itu.

Si Jenggot Panjang perhatikan cermin di tangan sahabatnya dengan pandangan tajam menusuk.

Permukaan cermin berwarna putih, tembus pandang di kedua sisinya.

Rebawa aneh memancar dari cermin itu.

Ada getaran yang aneh yang dirasakan si Jenggot Panjang.

Getaran aneh itu keluar dari cermin sakti di tangan Sang Kuasa Agung.

Cermin sakti itu juga bisa berfungsi sebagai senjata yang luar biasa. Tanpa menghiraukan Si Jenggot Panjang, si gadis segera mengucapkan mantra-mantra.

Selesai membaca mantra sakti lalu dia meniup permukaan cermin sebanyak tujuh kali.

Selanjutnya cermin di tangan di goyang goyangkan ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba saja dari seluruh bulatan cermin mengepul asap tipis berwarna putih.

Kepulan asap bergulung berputar-putar menutupi bagian cermin yang bening. Gerakan menggoyang cermin terhenti, Kepulan asap lenyap.

Sang Kuasa Agung memusatkan perhatiannya ke permukaan cermin. Gadis ini berjingkrak saking kagetnya ketika melihat ke dalam cermin. Matanya mendelik.

Mulutnya berteriak histeris.

"Astaga! Para penguasa kesesatan. Raja diraja kesesatan yang melindungi hidupku. Apa yang terjadi dengan ribuan kalajengking itu!"

"Sahabatku ada apa?!"

Si Jenggot Panjang menjadi ikut kaget melihat reaksi orang yang sangat dihormatinya.

Dia segera melompat dari batu yang didudukinya, Secepat dirinya bangkit secepat itu pula dia menghampiri Sang Kuasa Agung.

Sesampainya disamping sahabatnya tanpa bicara dia ikut menatap ke permukaan cermin.

Mata belok Si Jenggot Panjang terbelalak saat melihat ribuan kalajengking pengikut Sang Kuasa Agung berkaparan tewas.

Tubuh mereka hancur tercerai berai.

Sebagian diantara mahluk-mahluk itu dalam keadaan hangus mengepulkan asap. "Siapa yang melakukan semua ini, sahabatku!"

Tanya si Jenggot Panjang dengan suara bergetar. Sang Kuasa Agung tidak menjawab.

Dari bibirnya yang merah terdengar suara menggeram.

Kemarahan gadis ini memang tidak terperikan, namun walau jiwanya sempat terguncang tapi dia masih bisa menguasai diri.

"Kita akan segera tahu siapa yang telah melakukannya!" Cermin kemudian digoyang ke atas satu kali.

Jika tadi pemandangan dalam cermin adalah ribuan kalajengking yang menemui ajal.

Kini pemandangan dicermin berganti dengan munculnya sebuah pohon dan seorang gadis bersenjata kipas berpakaian warna warni.

Merasa mengenali siapa adanya gadis yang muncul dalam cermin tanpa sadar si kakek berseru. "Aku mengenalnya. Gadis itu adalah sahabatnya Pranajiwa. Namanya Dewi Kipas Pelangi!"

Sang Kuasa Agung menyeringai dingin. Dia tidak menanggapi ucapan si kakek namun nama yang disebutkannya dicatatnya di dalam hati.

"Aku tidak yakin gadis dengan ilmu kepandaian seperti dia sanggup membantai ribuan kalajengkingku!"

"Jika kau tidak yakin, sebaiknya kita cari tahu lebih banyak lagi!" sahut Sang Kuasa Agung. Cermin kini digoyang dua kali. Sekali si gadis arahkan perhatiannya ke permukaan cermin sakti.

Diikuti pandangan Si Janggut Panjang tampaknya pemandangan dalam cermin kembali berubah. Kini yang terlihat dalam cermin itu adalah bagian pucuk sebatang pohon. Pohon yang sama tempat dimana Dewi Kipas Pelangi berada. Di pucuk pohon ternyata masih ada dua orang lagi.

Satu seorang pemuda gondrong berpakaian kelabu sedangkan satunya lagi adalah seorang gadis cantik berpakaian kuning gading.

"Kau mengenal kedua orang dalam cermin ini?!"

Bertanya Sang Kuasa Agung tanpa alihkan perhatiannya dari cermin sakti. Si Jenggot Panjang menggeleng.

"Aku tidak mengenal pemuda gondrong bersenjata pedang itu! Aku juga tidak mengenal gadis yang duduk disebelahnya. Apakah mereka yang telah membantai mahluk-mahluk itu?"

"Ya. Aku sangat yakin sekali. Dari rebawa yang terasa dalam gambar yang ditampilkan oleh cermin saktiku, gadis berpakaian kuning ilmu kesaktiannya sangat tinggi. Tapi kesaktian yang dimiliki oleh pemuda gondrong ini jauh lebih tinggi. Tidak hanya itu, pedang yang berada dipunggung pemuda itu juga bukan pedang biasa. Selain mengandung kekuatan luar biasa, aku juga bisa merasakan ada dua mahluk diam di dalam pedang itu. Siapa dia?"

Kata Sang Kuasa Agung penasaran. Si kakek diam saja karena tidak tahu harus berkata apa. Dia memang tidak pernah berjumpa dengan kedua orang itu.

Selagi Si Jenggot Panjang tenggelam dalam pikirannya sendiri, Sang Kuasa Agung tiba-tiba ayunkan tangannya yang memegang cermin sakti ke atas. Begitu tangan capitnya berada di atas kepala, cermin sakti lenyap dari pandangan mata.

"Apakah pemuda itu yang telah membantai kaki tanganmu, Sang Kuasa Agung?" tanya si kakek setelah si gadis mengembalikan cermin saktinya ke alam gaib.

"Ya, dia yang paling bertanggung jawab atas kematian para pengikutku. Pemuda itu kelak akan mendapat balasan yang sangat menyakitkan dariku!"

Geram Sang Kuasa Agung dengan wajah merah diliputi kemarahan dan dendam membara. "Sahabatku mengapa menunggu nanti, mengapa kita tidak cari saja pemuda dan kedua gadis itu

sekarang?"

"Jenggot Panjang! Mungkin kau tidak tahu bahwa saat ini tujuanku bukan hanya mencari kekasihku! Aku juga sedang menyusun rencana yang sangat besar. Setelah mengetahui dimana musuhku dan musuh kekasihku itu berada. Begitu bertemu dengan kekasihku itu maka aku akan membangkitkan sebuah pasukan besar. Pasukan yang lebih hebat dibandingkan kalajengking hitam. Aku dan kekasihku akan menghabisi semua musuh musuh kami termasuk juga pemuda gondrong dan dua sahabat gadisnya."

"Oh, itu adalah rencana besar yang hebat. Aku siap mendukung sepenuhnya rencanamu itu, sahabatku!"

Ujar Si Jenggot Panjang kagum. Sang Kuasa Agung tersenyum "Aku tahu, kau pasti selalu mendukungku."

"Lalu pasukanmu itu ada di mana? Apakah mereka terdiri dari manusia ataukah mahluk buas?!" "Hi hi hi! Pasukanku ada di tempat rahasia bernama Bukit Batu Berlumut!"

Terang si gadis dengan suara lirih seolah takut ucapannya didengar oleh orang lain.

"Sekarang kita sudah berasa di bukit merah. Bukit Batu Berlumut letaknya tidak jauh dari sini!" Kata Si Jenggot Panjang.

"Ya, aku tahu. Tapi tanpa kehadiran kekasihku Iblis Kolot percuma saja kita datang ke bukit itu?" "Mengapa?"

"Untuk membangkitkan pasukanku yang bukan berasal dari manusia ataupun dari jenis hewan itu tidak bisa dilakukan oleh diriku sendiri. Harus ada dua orang yang saling mengasihi!"

Terang si gadis disertai senyum dan tatapan penuh arti. "Aku tidak mengerti maksudmu?!"

"Nanti juga kau akan tahu, Jenggot Panjang.!"

"Hmm, jika pasukanmu bukan manusia bukan pula dari jenis binatang, lalu apa?" Tanya si kakek sambil mengelus-elus jenggotnya yang selutut.

"Hi hi hi! Pasukan itu adalah pasukan kuno, Jenggot Panjang, Usianya hampir ribuan tahun.

Nenek moyangku yang membuat mereka semua. Mereka akan menjadi pasukan yang tidak terkalahkan."

"Sang Kuasa Agung mohon dimaafkan bila aku lancang bicara. Aku ingin tahu apakah kau bermaksud ingin menjadi raja diraja dunia persilatan?"

"Tidak! Aku hanya ingin menghabisi semua musuh kekasihku juga musuhku sendiri."

"Keinginanmu adalah sesuatu yang wajar. Tapi menurutku hidup tanpa cita-cita sama saja dengan hidup yang tidak mempunyai makna!"

"Terserah kau mau bicara apa. Menurutku sebaiknya kau tidur Jenggot Panjang. Waktumu sangat sedikit, tidurmu juga tidak boleh terlalu lama. Selepas tengah malam nanti kita harus bergerak melanjutkan perjalanan."

Tegas Sang Kuasa Agung.

Sungguhpun masih banyak yang ingin diketahui oleh kakek itu, namun si kakek tidak berani membantah. Apalagi dia juga merisaukan keselamatannya dari ancaman Pemburu Dari Neraka.

Tidaklah heran setelah berpamitan pada gadis itu si kakek segera baringkan tubuhnya di atas tumpukan daun yang dia letakkan di rerumputan kering.

******

Raja yang sedang tidur nyenyak menjadi terusik ketika samar-samar telinganya mendengar suara prat-pret...bertalu-talu.

Terkejut mendengar suara aneh dikeheningan malam Raja terlonjak bangkit. Sambil mengusap kedua matanya yang masih terasa sepat, dia celingukan ke kiri dan ke kanan selayaknya monyet hutan yang tersesat.

Sunyi sekali.

Di dalam kegelapan yang menyelimuti alam sekitarnya, Raja tidak melihat Anjarsari dan Dewi Kipas pelangi. Namun kemudian dia melihat cahaya dari nyala api unggun.

Raja tersenyum. Dia yakin kedua gadis itu yang membuat api di balik belakang pohon besar. "Mereka di sana, aku di sini. Lalu yang mengeluarkan suara pret tadi siapa?"

Raja Membatin. Dia lalu menatap lurus kearah kuda yang tertambat di pohon seukuran lengan orang dewasa.

Kuda itu masih merumput. Agaknya binatang Dewi Kipas Pelangi kelaparan setelah terus dipacu lari oleh pemiliknya dengan kecepatan laksana setan kalang kabut.

Raja menatap kuda lebih lama. Tiba-tiba dia mendengar suara pret lagi!

Raja menggerutu, mulutnya seketika berubah cemberut. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah kuda pemuda ini mengomeli binatang itu.

"Dasar binatang tidak diajar santun, tak tahu malu. Ternyata kau yang kentut, rupanya perutmu yang di sebelah belakang yang keluarkan suara. Kau pasti mulas, mungkin juga lagi mencret. Makanya makan jangan kebanyakan. Kupikir tadi suara kampret tak tahunya suara Kuda mencret. Kurang ajar!"

Sambil bersungut-sungut pemuda itu berdiri. Tanpa menghiraukan kuda yang terus merumput dikegelapan, Raja segera menuju api unggun. Setelah melewati pohon besar sampailah dia di depan api unggun.

Terdengar suara gemertak kayu yang terbakar. Tapi sang pendekar tidak melihat kedua gadis itu.

Jelalatan matanya mencari-cari.

Orang yang dicari tidak ditemukan. Raja menjadi gelisah. Dia takut terjadi sesuatu pada mereka. "Anjarsari...Dewi Kipas Pelangi, kalian ada dimana?!"

Bertanya pemuda dengan suara keras.

Karena malam dipenuhi dengan keheningan, tanpa suara serangga malam ataupun kicau burung hantu.

Suara sekecil apapun pasti akan menjadi nyaring. Apalagi Raja memanggil dengan suara keras.

Raja menunggu!

Tangan sibuk menggaruk punggungnya yang terasa gatal.

Tiba-tiba ada suara menyahuti dengan ketus

"Orang tolol! Kami bukan orang tuli.Mengapa harus berteriak memanggil kami!" Jelas suara itu adalah suara perempuan. Raja mengenali pemilik suara. "Anjarsari!"

Desis Raja sambil menatap ke atas pohon bungkuk dipenuhi cabang. Samar-samar dalam kegelapan dia melihat ada dua sosok duduk di atas pohon itu.

Raja menarik nafas lega.

"Api unggun ada di sini, mengapa kalian malah duduk di atas pohon. Apa yang kalian lakukan di situ?"

"Yang jelas kami tidak sedang bercinta!" Yang menjawab adalah Dewi Kipas Pelangi.

Mendengar gurawan sang Dewi, Raja tertawa terkekeh.

Tidak seperti yang diduga oleh kedua gadis itu, Raja ternyata tidak menyusul naik ke atas pohon.

Dia sengaja malah memilih duduk di depan api ungun untuk menghangatkan badan. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"

Kata Dewi Kipas Pelangi dari atas ketinggian.

Sebelumnya, ketika Raja terbuai mimpi gadis ini sebenarnya sudah menceritakan masalah yang dia hadapi pada Anjarsari. Tapi Anjarsari malah menyarankan agar dia membicarakan masalahnya pada sang pendekar. "Aku juga bukan orang tuli. Kalau kau bicara dari situ aku pasti juga mendengarnya."

Sahut Raja acuh. Merasa disindir Anjarsari malah tersenyum mencibir, namun dia tidak bicara apa-apa.

"Baiklah! Ketika ribuan kalajengking itu datang menyerang sebenarnya aku sedang dalam perjalanan untuk mencari sahabatku yang bernama Pranajiwa!"

Kata Sang Dewi. Dia pun lalu menceritakan apa yang terjadi dengan sahabatnya Pranajiwa.

Setelah selesai mendengar cerita Dewi Kipas Pelangi maka sambil menatap lurus ke arah api yang mulai membara, sang pendekar berkata.

"Jadi sahabatmu diculik oleh seorang kakek berjenggot panjang. Dan kakek itu telah mencuci otak paman Pranajiwa sehingga dia tidak mengenal dirimu lagi?"

"Lalu kau melihat Si Jenggot Panjang muncul di depanmu bersama iring-iringan kalajengking hitam?"

"Yang kulihat memang begitu. Jika benar yang kau lihat adalah Si Jenggot Panjang. Apakah ribuan kalajengking itu adalah mahluk-mahluk peliharaannya?"

Anjarsari yang tadinya diam ikut bertanya. "aku tidak bisa memastikannya!" "Mungkin saja"

Jawab Dewi Kipas Pelangi.

Raja tersenyum

"Aku telah menjajaki ketinggian ilmu kesaktian Pemburu Dari Neraka yang kau sebut-sebut sebagai orang yang telah menolongmu dari Si Jenggot Panjang. Jika kakek itu ilmu kesaktiannya masih berada di bawah Pemburu Dari Neraka. Mustahil dia mampu mengendalikan kalajengking sebanyak itu!"

"Lalu menurutmu siapa yang mengendalikan kalajengking itu?" Tanya Dewi Kipas Pelangi tidak mengerti.

"Menurutku, Si Jenggot Panjang hanya orang suruhan. Dia membawa sahabatmu itu atas perintah orang. Seseorang yang memiliki ilmu luar biasa tinggi ada di balik peristiwa penculikan dan ribuan kalejengking itu."

Setelah berkata demikian. Raja pun kemudian menceritakan tentang munculnya bola api yang menyerang mereka.

"Tempat kediaman penculik itu mungkin berada di sekitar sini. Seperti yang kau katakan aku juga tidak mengerti maksud Si Jenggot Panjang menculik paman Pranajiwa. Orang yang menjadi sasaran penculik biasanya kalau tidak perempuan cantik pasti anak-anak. Lelaki, apalagi orang yang sudah sepuh buat apa diculik. Darahnya pasti sudah hitam dagingnya juga pasti alot!" Mendengar ucapan Raja, baik Sang Dewi maupun Anjarsari tersenyum. Setelah itu Sang Dewi lalu bertanya,

"Jika sahabatku paman Pranajiwa dianggap tidak berguna, mengapa dia diculik?"

"Mengenai hal itu aku tidak bisa memastikannya. Mungkin saja sahabatmu menyimpan atau memliki sesuatu yang sangat istimewa. Dan siapapun yang bersembunyi di balik peristiwa penculikan, dia memang memiliki rencana besar untuk melakukan sesuatu..."

"Sesuatu apa?"

"Wah aku belum tahu."

"Apakah mungkin hilangnya paman Pranajiwa berhubungan erat dengan peristiwa yang kami lakukan sepuluh purnama yang lalu."

Gumam Sang Dewi. Walau suaranya begitu lirih mengandung kecemasan, tetapi baik Anjarsari maupun Raja dapat mendengarnya dengan jelas

"Apa maksudmu?"

Anjarsari bertanya dengan sepasang matanya yang bening indah menatap tajam gadis yang duduk disebelahnya.

"Gadis tukang kipas! Rupanya ada banyak cerita menarik yang tidak kami ketahui. Andai kau memang ingin bantuan, harap kau suka berbagi cerita dengan kami!"

Ucap Raja.

Dewi Kipas Pelangi luruskan kedua kaki.

Gadis ini menatap ke langit dimana terlihat bulan timbul tenggelam dipermainkan mendung, lalu berkata,

"sekitar sepuluh purnama yang lalu, aku, paman Pranajiwa dengan dibantu oleh para sahabat dan juga tujuh tokoh Dari Puncak Akherat melakukan penyerbuan besar-besaran ke tempat kediaman Pendekar Sesat..."

Sang Dewi kemudian menceritakan siapa Pendekar Sesat serta semua yang terjadi di sana, juga termasuk nasib putra Pendekar Sesat yang bernama Pura Saketi.

Mengenai peristiwa penyerbuan itu dapat pembaca ikuti dalam serial Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 dalam episode "Putera Pendekar Sesat".

Setelah menuturkan semua peristiwa yang berhubungan dengan kejadian itu. Dewi Kipas Pelangi lalu menambahkan.

"Sepuluh purnama setelah peristiwa penyerbuan itu, aku mendapat kabar bahwa salah satu tokoh yang dulu pernah ikut terlibat dalam melumpuhkan seorang tokoh sesat bernama Iblis Kolot menemul ajal dengan tubuh tercabik cabik! Kemudian beberapa hari lalu aku juga mendengar tiga sahabatku yang bernama Giring Sabanaya, Si Kedip Mata dan seorang ahli panah bernama Ariamaja tewas mengenaskan di sebuah jalan di tengah persawahan!" "Kau yakin peristiwa itu ada kaitannya dengan orang yang bernama Iblis Kolot?" Tanya Raja.

"Aku tidak dapat memastikannya, namun aku hanya menduga kemungkinan Iblis Kolot yang telah di lempar ke Jurang Watu Remuk Raga oleh para tokoh persilatan, kini masih hidup. Dan Pura Saketi yang menceburkan diri ke dalam jurang yang sama telah diselamatkan oleh iblis itu."

"Kemudian setelah menjadi murid Iblis Kolot. Pura Saketi kembali ke dunia persilatan untuk menuntut balas kepada orang-orang yang tertibat pembunuhan ayahnya?"

"Siapa yang tahu ciri-ciri ilmu pukulan sakti yang dimiliki oleh Iblis Kolot?" Tanya Raja.

"Mengapa kau bertanya begitu?" Tanya Dewi Kipas Pelangi.

"Karena hanya dengan mengetahui pukulan saktinya, kita bisa tahu siapa yang telah membunuh sahabat-sahabatmu itu!"

Menerangkan Raja.

Sang Dewi terdiam karena merasa tidak tahu bagaimana ilmu kesaktian Iblis Kolot dan sejauh apa akibatnya bila dipergunakan untuk menyerang lawannya. Suasana menjadi hening.

Keheningan yang membuat ketiganya menjadi gelisah tidak berselang lama. Karena tak lama kemudian ada semilir angin berhembus.

Hembusan yang dirasakan Raja kali ini tiga kali lebih dingin dari sebelumnya. Raja yang duduk memunggungi api unggun menggigil dan cepat alirkan hawa sakti ke sekujur tubuhnya.

Hawa hangat mengalir mengikuti aliran darah di tubuh sang pendekar. Raja merasa lebih nyaman.

Di atas pohon kejadian yang sama juga dirasakan oleh dua gadis. Anjarsari lebih memilih susupkan jari-jari tangannya dibalik ketiak kanan kiri.

Sedangkan Dewi Kipas Pelangi sambil senyum senyum malah susupkan kedua tangan pada pakaian tepat dibagian belahan dadanya.

"Dasar gadis edan. Aku baru tahu ternyata kau ikut ketularan penyakitnya si gendeng itu." Mengomel si Anjarsari sambil cepat palingkan wajah ke arah Raja.

Sang Dewi menanggapi ucapan si gadis disebelahnya dengan senyuman.

Hembusan angin lenyap, sebagai gantinya di tempat itu tercium santar aroma harum melati. Kening Raja mengernyit.

Dua gadis di atas pohon ketakutan.

Mengira ada kuntilanak gentayangan di sekitar pohon, keduanya berlompatan turun lalu dekap bahu Raja.

Anjarsari tanpa sadar memeluk bahu di sebelah kiri sedangkan Sang Dewi merangkul bahu di sebelah kanan.  

Tak menyangka tiba-tiba dipeluk dan di dekap oleh dua gadis cantik.

Apalagi dada mereka menekan bahu Raja membuat sang pendekar senyum-senyum kegirangan. "Asyik! Tiada ada angin tiada hujan dipeluk seperti ini tubuhku yang hangat malah jadi meriang,

jantung berdegup darah terasa panas berdesir. Kalau kalian mau memelukku seperti ini biar aku duduk sampai setahun sampai pantatku keluar akar juga tidak mengapa. Ha ha ha!"

Kata Raja sambil tertawa senang.

Seakan baru menyadari apa yang mereka lakukan.

Anjarsari mendengus sambil mendamprat. Dia segera melepaskan pelukannya, menjauh dari Raja sambil kibas-kibaskan kedua tangan yang dipergunakan untuk memeluk seolah-olah merasa jijik.

Dewi Kipas Pelangi juga segera menjauh.

Tapi dia tidak menunjukkan sikap antipati kepada raja. Hanya wajahnya saja yang memerah.

"Jangan merasa senang dulu. Kami memelukmu karena kami tidak sengaja!" Buru-buru Sang Dewi menerangkan.

"Walau kalian tidak sengaja tetapi yang pasti aku sudah merasa mendapatkan rejeki besar. He he he!" "Diam! Apakah kau tidak mengendus aroma sesuatu? Mungkin saja tempat ini ada hantunya!" Kata Anjarsari.

Dia jadi bingung karena tidak tahu pada siapa dia harus berlindung.

Ditempatnya Raja lalu duduk bersila, hatinya bertanya-tanya tentang aroma melati yang tercium. Namun dia bersikap tenang.

Malah sambil julurkan kakinya dia menjawab.

"Bau aneh kembang melati. Aku merasakan aroma melati setelah berlalunya hembusan angin dingin. Mungkin saja kita kedatangan tamu.Biarkan saja yang penting tamunya tidak datang dari liang kubur!"

Gurau sang pendekar.

Baru saja Raja selesai dengan ucapannya, tiba-tiba Anjarsari menunjuk sesuatu yang berada didepannya.

"Lihat!" Serunya kaget.

Raja dan Dewi Kipas Pelangi menatap ke arah yang dimaksud.

Kedua orang ini sama tertegun ketika melihat di antara semak belukar entah sejak kapan telah muncul sosok berupa seorang kakek tua renta, berpakaian putih, berambut dan berjanggut putih. Orang tua itu memakai celana hitam, telapak kaki dilapisi sepasang terompah butut. Orang tua itu berdiri tegak mengapung di atas pucuk dedaunan.

Dilehernya tergantung seuntai tasbih berukuran sedang berwarna putih.

Bila diperhatikan wajah si kakek dan matanya yang cekung, sepertinya orang itu tidak pernah tidur.

Anjarsari yang semasa kecilnya mengalami berbagai macam cobaan hidup yang menakutkan memilih mengatubkan bibirnya.

Sebaliknya Dewi Kipas Pelangi setelah menguasai diri segera ajukan pertanyaan. "Orang tua siapa dirimu adanya?"

Si kakek tersenyum.

Orang tua yang sejak muncul lebih banyak menatap ke arah Raja kemudian menjawab

"Aku bernama Kanjeng Empu Basula. Aku berasal dari suatu tempat yang sangat jauh bernama Alam Kelanggengan.Manusia sepertimu menyebut tempat asalku itu sebagai Alam Roh."

"Astaga! Ternyata kau sudah mati kek? Jangan ganggu kami, kami masih ingin hidup!" Kata Raja. Kakek berwajah pucat lagi-lagi tersenyum.

"Kedatanganku bukan bermaksud jahil apalagi mengganggu. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting pada kalian bertiga terutama padamu anak muda. Oh ya siapa namamu?"

Tanya Kanjeng Empu Basula ditujukan pada Raja. Sambil tersenyum pemuda itu menjawab. "Namaku Raja kek...!"

Sepasang alis mata Kanjeng Empu Basula yang memutih mengernyit.

"Apakah kau orangnya yang disebut Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 atau Pendekar 313?" "Benul kek, eeh maksud saya benar kek!"

Jawab Raja gugup. Anjarsari yang memang sudah tahu siapa adanya Raja, tidak menjadi kaget begitu mendengar Kanjeng Empu Basula menyebutkan nama sebutan pemuda itu.

Sebaliknya Dewi Kipas Pelangi yang selama ini hanya mendengar sepak terjang sang pendekar tentu saja dibuat kaget.

Sama sekali dia tidak menyangka bahwa pemuda konyol yang telah membantunya dari serangan ribuan kalajengking ternyata adalah pendekar besar yang sangat ternama itu.

"Rasanya aku beruntung bertemu dengan pendekar ini. Orangnya gagah, tampan berilmu sangat tinggi pula."

"Aku telah bertemu dengan orang yang tepat." Kata Si Kakek.

"Aku selalu yakin pemilik alam semesta selalu bersikap pemurah. Doa harapanku dikabulkannya." "Kakek, apa maksudmu. Memangnya apa yang sedang terjadi dengan dirimu?" Tanya Raja.

"Pertanyaannya bukan apa yang terjadi dengan diriku, tapi bagaimana dengan nasib rimba persilatan jika orang muda sepertimu dan separti sahabat-sahabatmu itu tidak segera mengambil tindakan!"

Terang Kanjeng Empu Besula dengan tenang berwibawa.

"Kek, dapatkah kakek jelaskan kepadaku juga kedua sahabatku ini gerangan apa kiranya yang bisa kami lakukan?"

"Anak muda yang bernama Raja. Sebelum aku datang dan munculkan diri di tempat ini. Bukankah sahabatmu gadis cantik bersenjata kipas itu sedang menceritakan seorang iblis sesat. Orang yang kumaksudkan adalah Iblis Kolot dan aku juga menyebutnya Iblis Gila!"

"Benar kek. Saya memang bercerita tentang riwayat Iblis Kolot. Apakah kakek tahu tentang manusia satu itu?"

Tanya Dewi Kipas Pelangi.

Kanjeng Empu Basula menganggukkan kepala. "Aku sangat-sangat mengenal Iblis Kolot."

Si kakek mengakui.

"Jika demikian apakah Iblis Kolot masih hidup hingga saat ini?"

"Dewi Kipas Pelangi mengatakan kepada kami kabarnya dulu beberapa tokoh sakt aliran putih menghabisi Iblis Kolot lalu melemparkan tubuhnya ke dalam Jurang Watu Remuk Raga"

Kata Anjarsari pula.

"Di jurang yang sama pula ada seorang pemuda remaja menceburkan diri setelah terkena anak panah dan diburu oleh beberapa tokoh gabungan yang salah satu diantaranya adalah gadis bersenjata kipas itu."

Terang Kanjeng Empu Basula sambil tatap sang Dewi. Tidak menyangka si kakek mengetahui apa yang telah dia perbuat bersama para sahabatnya.

Dewi Kipas Pelangi tiba-tiba rangkapkan kedua tangan, lalu menjura kearah Kanjeng Empu Basula sambil berucap.

"Kek...jika apa yang aku lakukan bersama sahabat yang lain dianggap sebagai suatu kesalahan aku mohon maaf."

"Aku tidak mengatakan tindakanmu keliru. Hanya saja jika setiap orang beranggapan bahwa dosa orang tua harus ditanggung pula oleh anak anaknya kuanggap sebagai sebuah pandangan keliru yang harus diperbaiki."

"Kek, saya ingin tahu apakah orang yang bernama Iblis Kolot masih hidup sampai sekarang dan apakah anak Pendekar Sesat selamat setelah masuk ke jurang itu?"

Tanya Raja ingin kepastian. "Pemuda yang bernama Pura Saketi selamat karena ditolong oleh Iblis Kolot. Iblis Kolot lalu mengangkatnya sebagai murid. Pemuda itu tidak hanya diwarisi semua ilmu yang dimiliki Iblis Kolot tapi juga diracuni dengan sifat-sifat yang tercela."

Jelas Kanjeng Empu Basula.

"Jadi Iblis Kolot masih hidup kek? Kemudian apakah dia yang sekarang melakukan pembalasan bersama muridnya?"

Tanya Anjarsari. Si kakek menggeleng pelan. Sebelum menjawab pertanyaan Anjarsari kakek ini menatap ke arah tiga orang yang berada didepannya dengan sorot matanya yang tajam.

"Aku tidak memungkiri tentang pembunuhan yang menimpa tokoh aliran putih juga beberapa sahabatmu Dewi Kipas Pelangi. Tapi ketahuilah sesungguhnya Iblis Kolot telah mati..."

"Hah, apa dia telah mati?" Menyahuti Kanjeng Empu Basula "Lalu siapa yang membunuhnya?" Tanya Anjarsari penasaran.

"Yang membunuh Iblis Kolot adalah muridnya sendiri!" "hah...!"

"Edan sekali...! Seorang murid tega-teganya membunuh gurunya. Ini kejadian yang luar biasa!" Sentak Raja tercengang. Dewi Kipas Pelangi juga terbelalak tidak percaya.

"Murid durhaka!"

Desis Dewi Kipas Pelangi merasa miris. Kanjeng Empu Basula tersenyum sambil usap usap janggut putihnya. Kemudian dengan sikap berwibawa si kakek berujar.

"Dunia memang aneh, sifat watak manusia kadang melebihi binatang. Ada orang tua membunuh anak atau anak membunuh orang tua. Semua itu adalah pelanggaran-pelanggaran yang melampaui batas. Tapi ketahuilah Pura Saketi menghabisi Iblis Kolot bukan atas kemauan pemuda itu sendiri melainkan karena keinginan Iblis Kolot. Kakek itu agaknya telah lama merencanakan ingin mati di tangan muridnya."

"Seorang guru mendidik murid dengan berbagai bekal ilmu sakti. Lalu dia sendiri menghendaki kematiannya di tangan sang murid. Sungguh semua yang kakek ceritakan membuat saya tidak mengerti!"

Kata Raja sambil tatap wajah orang tua itu.

"Kalau Iblis Kolot memang sudah bosan hidup, mengapa dia tidak bunuh diri saja!" Timpal Anjarsari pula.

"Ketahuilah sesungguhnya Iblis Kolot manusia cerdik yang licik. Dia mendambakan kematian itu dan kematian di tangan muridnya sendiri itu ada maksud dan tujuan..."

"Apa maksud kakek?" Tanya Dewi Kipas Pelangi "Ketahuilah..."

Ucap Kanjeng Empu Basula sambil menghela nafas dalam-dalam.

"Iblis Kolot mempunyai rencana, bila dia terbunuh di tangan Pura Saketi, dia berharap arwahnya bisa merasuk, menumpang tinggal dalam raga sang murid..."

"Jika memang itu yang menjadi keinginannya apakah mungkin dia tidak menyukai raga tuanya yang mungkin jelek dan rapuh?!"

Kata Raja.

"Bukan...bukan raga tua lapuk yang menjadi alasan Iblis Kolot Iblis Kolot sengaja memilih tubuh muridnya untuk dijadikan tumpangan karena sang murid masih muda. Yang kedua sang murid kelak dia ramalkan bakal menguasai ilmu langka, ilmu ganas keji bernama Aksara Iblis. Dugaannya ternyata memang benar. Setelah terbunuh lalu arwahnya menyusup memasuki raga muridnya. Tak lama kemudian Pura Saketi ternyata berhasil menemukan dan menguasai ilmu yang didapatnya dari Kitab Batu Aksara Iblis. Dengan demikian, sewaktu-waktu bila arwah Iblis Kolot membutuhkan ilmu itu untuk menghabisi lawan-lawannya, dia cuma tinggal mempergunakan dan mengendalikan raga muridnya yang telah mewarisi ilmu hebat itu..!"

Mendengar penjelasan Kanjeng Empu Basula.Anjarsari dan sang Dewi bergidik ngeri.

"Dalam satu raga terdapat dua jiwa. Bagaimana mungkin dua jiwa mengendalikan satu raga.

Apakah tidak terjadi kekacauan dan membuat Pura Saketi menjadi gila?" Tanya Raja.

Si kakek tersenyum.

"Keadaannya tidak seperti yang kau bayangkan.Arwah Iblis Kolot hanya mengambil alih raga sang murid bila dia bertemu dengan musuh musuh besarnya. Arwah Iblis Kolot juga akan memanfaatkan raga muridnya bila dia bertemu dengan kekasihnya. Dan perlu kiranya diingat, selama dalam pengendalian dan kekuasaan arwah sesat itu. Segala tindakan yang dilakukan oleh tubuh Pura Saketi terjadi bukan atas kehendak pemuda itu, melainkan atas keinginan arwah kakek itu. Jadi dengan menggunakan raga muridnya Iblis Kolot berbuat juga bertindak atas keinginannya sendiri bukan kemauan sang murid!"

"Yang membuat aku tidak mengerti. Mengapa dia menggunakan tubuh muridnya sebagai tempat berlindung dan menuntut balas?"

Tanya Dewi Kipas Pelangi.

"Alasannya tidak lain karena sang murid memiliki ilmu sakti Aksara Iblis yang semasa hidupnya tak pernah dapat dimiliki oleh Iblis Kolot."

Terang Kanjeng Empu Basula.

Raja manggut-manggut, dua gadis yang duduk tak berjauhan darinya terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Dewi Kipas Pelangi membuka mulut,

"Kakek..... Jika arwah Iblis itu saat ini terus mendekam dalam diri muridnya. Apakah mungkin dialah yang telah membunuh ke tiga sahabatku?"

"Seandainya tiga sahabatmu yang terbunuh memang musuh ayah pemuda itu, maka kematian sahabat-sahabatmu pembunuhnya pastilah Pura Saketi."

"Bagaimana dengan kakek yang bernama Randu Wulih?"

Tanya sang Dewi lagi

"Aku mengenal Randu Wulih. Dia termasuk orang yang terlibat dalam pertikaian dengan Iblis Kolot. Jadi menurutku pembunuhnya adalah arwah mahluk yang satu itu."

"Sunguh sulit dipercaya ada dua mahluk berlainan menetap tinggal dalam satu raga. Yang pertama adalah jiwa Pura Saketi dan yang kedua arwah Iblis Kolot."

Gumam Raja bingung tidak mengerti.

"Yang terjadi adalah sesuatu yang tidak wajar. Tapi perlu untuk kalian ingat. Seandainya jiwa murid dan arwah gurunya bersatu padu menggabungkan kekuatannya untuk menghadapi musuh musuh mereka. Mereka menjadi sangat ganas, berbahaya dan juga keji !"

"Apakah semua itu bisa terjadi?" Tanya Anjarsari.

"Itu bisa terjadi."

Jawab Kanjeng Empu Basula. Raja, sang Dewi dan Anjarsari sama berpandangan. Wajah mereka nampak tegang. Tapi sang pendekar tidak bisa menunggu lebih lama. Diapun lalu bertanya.

"Kek, kau telah menceritakan semuanya, Lalu apa yang harus kami lakukan?" Kanjeng Empu Basula tidak segera menjawab.

Sebaliknya dia pejamkan matanya.

Setelah berusaha mengingat mana yang perlu untuk disampaikan dan mana yang harus dikerjakan sendiri, Kanjeng Empu Basula selanjutnya memutuskan untuk tidak menceritakan pertemuannya dengan Pura Saketi juga arwah Iblis Kolot yang merasukinya.

"Walau telah menjadi arwah, perlu kalian ketahui, Iblis Kolot adalah mahluk yang jauh lebih berbahaya dibandingkan semasa hidupnya. Ketahuilah saat ini arwah Iblis Kolot ingin menuntut balas pada orang-orang yang sangat dibencinya. Pura Saketi juga punya kepentingan sendiri yaitu ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah membunuh ayahnya..."

"Orang yang menjadi incaran pemuda itu salah satunya adalah aku!" Menyahuti Dewi Kipas Pelangi tanpa ragu. Si kakek mengangguk. "Dalam satu tubuh terdapat dua kepentingan yang berbeda!" Gumam Anjarsari pula.

Kanjeng Empu Basula lagi-lagi anggukan pula. "Selain membalas dendam apalagi kek?!" Tanya Raja Gendeng 313 tidak sabaran.

"Selain membalas dendam, arwah Iblis Kolot punya rencana yang sangat besar. Tapi rencana itu tidak bisa dijalankannya sendiri. Dia akan melakukan rencana tersebut bersama kekasihnya."

"Kekasih? Jadi orang yang gentayangan menjadi arwah sesat itu punya kekasih? Hebat sekali?

Aku saja tidak punya!"

Gumam Raja sambil tersenyum dan garuk-garuk kepala.

Bila Dewi Kipas Pelangi matanya sempat berbinar-binar menaruh harapan setelah mendengar pengakuan Raja, sebaliknya Anjarsari malah palingkan wajah ke jurusan lain.

Si kakek menanggapi gurawan Raja dengan tersenyum.

"Dia memang punya kekasih, untuk alasan itulah dia memilih muridnya sebagai tempat bernaung bagi arwahnya. Dan untuk alasan yang jauh lebih besar dia memilih mati di tangan muridnya!"

Terang Kanjeng Empu Basula membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi lebih mengerti "Memang apa yang direncanakan oleh arwah Iblis Sesat dan kekasihnya, kek?"

Tanya Dewi Kipas Pelangi

"Mereka ingin membangkitkan pasukan kuno, membentuk sebuah pasukan yang sangat tangguh. Dan itu sangat mungkin dilakukan bila keduanya saling bertemu lalu menyatu diri dalam cinta yang membara!"

"Jika demikian aku dan dua sahabatku ini harus mencari Pura Saketi dan arwah yang bersemayam dalam tubuhnya?"

"Kau benar Raja.Kalian harus bisa menghentikan Pura Saketi dan arwah gurunya. Aku hanya berpesan sebaiknya kalian harus berhati-hati, bila kalian terlibat perkelahian dengannya. Satu yang harus diwaspadai adalah munculnya aksara-aksara aneh di tubuh pemuda itu.Bila aksara melesat menyerang kalian dalam rupa cahaya sebaiknya kalian mempergunakan segala ilmu kesaktian yang kalian miliki."

"Aksara.. apakah yang kakek maksudkan adalah aksara Iblis?" Tanya Dewi Kipas Pelangi.

"Ya benar sekali.!"

Jawab Kanjeng Empu Basula.

"Terima kasih atas semua petunjuk yang kakek berikan. Kalau boleh kami tahu, kemana kakek akan pergi?"

Tanya Sang Pendekar.

"Aku akan menuju kesuatu tempat yang harus dimusnahkan sebelum dimaanfaatkan oleh pewarisnya. Kalian semua berhati-hatilah, aku pergi dulu!"

Setelah berkata demikian, Kanjeng Empu Basula balikkan badan. Kemudian sosoknya lenyap meninggalkan hamparan kabut tipis yang menguap dihempas angin. "Pesan telah kita terima, apakah kita harus pergi sekarang?" Tanya Raja seperginya Kanjeng Empu Basula.

"Semuanya terserah kalian berdua," Ujar Dewi Kipas Pelangi.

"Jika malam ini kita pergi aku pasti ikut bersama kalian!"

"Tidak! Malam ini kita harus tidur. Aku lelah, sebaiknya perjalanan dilanjutkan setelah matahari terbit!"

Tukas Anjarsari tidak setuju.

Gadis itu lalu bangkit. Tanpa bicara lagi dia melompat ke atas pohon bungkuk. "Gadis keras kepala!"

Batin sang pendekar sambil geleng kepala. Kemudian pada Dewi Kipas Pelangi dia berkata, "Ikuti saja kemauannya. Daripada dia marah, nanti kepalaku jadi benjol atau pipiku yang kena

ditamparnya."

"Kau jangan bersikap lemah kepadanya. Mengapa kau selalu mengalah?"

Tanya Dewi Kipas Pelangi. Entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa kesal melihat sikap Raja yang tidak tegas pada Anjarsari.

"Kau mau aku berbuat apa?" tanya Raja. Sementara dalam hati dia berkata.

"Dara cantik kau tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku menyukainya. Aku merasa senang berada disampingnya. Walau pipiku kerap kena tampar tapi hatiku merasa berdebar dan sangat berbahagia bersamanya. Mungkin bila dia memukul kepalaku sampai pecah hatiku tetap bahag ­a. Tapi, eh aku ini sedang melantur. Aku sedang berpikir apa ya..? Kalau kepalaku dibuatnya pecah, kepalanya juga harus kubuat remuk. Enak saja, gadis tolol mana yang mau pada laki-laki yang sudah jadi bangkai?"

Raja lalu senyum-senyum sendiri. Melihat Raja tersenyum sendiri selayaknya orang sinting, Dewi Kipas Pelangi merasa heran

"Lihat! Kewarasanmu memang meragukan.Disarankan bersikap tegas eh... Malahan kau bertingkah aneh!"

"Jadi apa yang harus kulakukan!"

Gerutu Raja kesal

"Bersikaplah jantan, tunjukkan bahwa kau seorang laki-laki yang berwibawa."

"Memangnya aku kuda jantan. Atau kau ingin aku menunjukkan kejantananku padanya sehingga dia jadi mengerti bahwa aku memang lelaki sejati!"

Sang Dewi tersenyum geli. Sambil menahan tawa dia berucap,

"Sudah gendeng rupanya kau tolol pula. Maksudku bukan seperti itu. Kau harus bersikap tegas, itu saja."  

Raja menyeringai. Dengan lagak selayaknya orang bodoh dia menanggapi.

"Oh, kukira kau ingin aku menunjukkan kejantananku. Kalau itu yang kau maksudkan mengapa harus susah-susah naik ke pohon. Lebih baik kau sendiri saja yang melihatnya."

Ujar Raja sambil pura-pura mau lepas celananya. "Dasar edan!"

Dengus Kipas Pelangi sambil menahan tawa dan wajah menjadi merah. Diatas pohon Anjarsari yang tidak mendengar dengan jelas pembicaraan mereka yang perlahan seperti berbisik, jadi menggerutu sendiri.

"Dua manusia edan. Entah apa yang mereka bicarakan? Mereka ketawa ketiwi seperti setan kuburan. Jangan-jangan mereka membicarakan aku. Tapi siapa yang perduli. Aku sudah mengantuk!"

Kata gadis itu sambil merebahkan tubuhnya diatas batang pohon yang dilapisi jerami dan dedaunan.

*****

Setelah merasa gagal menemukan jejak orang yang dicarinya, Pemburu Dari Neraka memutuskan untuk kembali menemui Raja Gendeng 313 ditempat mereka mendapat serangan jarak jauh yang dilakukan oleh Sang Kuasa Agung.

Sesampainya ditempat yang dituju, pemuda ini merasa kecewa karena Raja dan gadis yang bersamanya tidak berada disana lagi.

Dia mencoba mencari sang pendekar disekeliling kawasan itu. Namun usahanya tidak membuahkan hasil.

"Aku ingin sekali membicarakan kejadian dikawasan Gerbang Pintu Selatan pada pemuda itu. Si Jenggot Panjang harus kutemukan secepatnya. Jika aku bisa meringkus kakek itu dalam keadaan hidup atau pun mati maka Sang Kuasa Agung akan kehilangan kaki tangannya yang sehebat Si Jenggot Panjang. Sehingga sulit baginya menjalankan semua rencananya. Tetapi aku tidak bisa melakukan ini sendirian tanpa bantuan Raja, karena aku kurang mengenal kawasan tanah Dwipa.

Disini aku hanyalah pendatang asing yang sudah terlalu jauh meninggalkan negeri sendiri!" Kata Pemburu Dari Neraka.

Pemuda bercelana biru berkuda coklat in terdiam sejenak. Mata yang terlindung dua batok menatap kesegenap penjuru.

Tidak terlihat dan terasa adanya tanda-tanda kehidupan disekitar daerah itu.

"Walau pemuda itu tidak berada disini, tapi aku harus tetap menemukan Si Jenggot Panjang!" Setelah berkata demikian Pemburu Dari Neraka segera menggebah kudanya. Kuda buta meringkik panjang menggidikkan bulu kuduk. Secepat kilat menyambar secepat itu pula kuda melesat.

Menjelang tengah malam Pemburu Dari Nerake sampai disebuah kawasan hutan lebat disebelah selatan gunung Cemoro.

Saat itu langit bersih tanpa awan. Langit dipenuhi kerlip cahaya bintang. Bulan bersinar indah.

Angin malam bercampur embun berhembus semilir. Sang Pemburu tiba-tiba hentikan laju kudanya.

"Aku membaui sesuatu... bau keringat dan tubuh yang sudah tidak asing lagi bagiku!"

Membatin si pemuda dalam hati. Dia tengadahkan wajah, matanya menatap ke arah pucuk-pucuk pohon yang tinggi, hidung kembang kempis mengendus

"Hmm, ternyata dia berada disekitar tempat ini!"

Pemburu Dari Neraka tersenyum dingin. Lalu dia menatap ke arah jurusan depan. Dari arah sanalah bau yang terendus berasal.

"Sekali ini kau tidak akan lolos. Kau harus kembali ke penjara neraka untuk mempertanggung jawabkan semua dosa-dosamu, Jenggot Panjang!"

Geram sang Pemburu.

Sekali lagi kuda digebah, mahluk hebat yang kecepatannya berlari tiada duanya itu melesat ke depan.

Sampai disebuah bukit berwarna merah seperti darah Pemburu Dari Neraka kembali hentikan kuda.

Dia melengak kaget ketika mendapati bukit yang sunyi, kosong. Tidak terlihat seorang pun berada disana.

Penasaran Pemburu Dari Neraka melompat turun dari kudanya.

Mata yang tertutup kedua batok kelapa hitam belingsatan mencari-cari.

Dia lalu melihat ada jejak-jejak kaki, pucuk rumput yang patah serta tumpukkan dedaunan seperti bekas dijadikan alas tidur.

Pemuda ini berjongkok, tangan meraba jejak kaki, jerami yang menyentuh diangkat, lalu didekatkan ke hidung.

Begitu mengendus seketika wajah sang Pemburu berubah berseri-seri.

"Tidak diragukan lagi ini adalah jejak kaki mahluk licik bernama Si Jenggot Panjang!"

Dia lalu alihkan perhatian ke arah jejak lain berbentuk aneh seperti tusukkan tombak yang runcing ditanah.

Kening Pemburu Dari Neraka mengernyit. Tetapi tangan segera dijulur lalu usapkan ke bekas jejak aneh dan kembali tangan didekatkan ke hidung

"Aroma aneh, aku mengendus bau tubuh manusia setengah siluman juga binatang berbisa berkaki tiga pasang."

Baru saja mulut menyebut tidak terasa terbayang didepan mata dan benak Pemburu Dari Neraka berkelebatan beberapa jenis binatang aneh.

"Bukan laba-laba,"

Pikir sang Pemburu saat dimatanya muncul sosok bayangan laba-laba berperut buncit. Dia gelengkan kepala. Satu bayangan berkelebat lagi, bentuk dan wujudnya demikian jelas.

"Kalajengking. "

Serunya.

"Mahluk siluman itu memiliki kaki dan tangan seperti kalajengking. Kaki berbentuk binatang melata namun tubuh seperti manusia. Jadi Si Jenggot Panjang bersama mahluk itu. Apakah mungkin mahluk ini yang oleh Kalima Bara disebut Sang Kuasa Agung?!"

Pikir Pemburu Dari Neraka. Dia ingat dengan manusia berkepala singa. Mahluk yang telah dibunuhnya.

"Harusnya aku bertanya kepada Kalima Bara sebelum menemui ajalnya. Siapakah Sang Kuasa Agung itu? Dia itu lelaki atau wanita? Jika wanita apakah dibokongnya tumbuh alat penyengat sebagaimana yang dimiliki oleh kalajengking.?"

Sambil bertanya-tanya dalam hati Sang Pemburu bangkit berdiri.

"Jenggot Panjang belum lama meninggalkan tempat ini. Dia malahan sempat tidur ditempat ini.

Kali ini dia tidak mungkin bisa lolos lagi. Penciumanku tidak dapat ditipu. Aku tahu sekarang dia pergi ke arah mana?"

Kata sang Pemburu sambil menatap ke satu jurusan. "Dia pasti belum jauh, aku akan menyusulnya!"

Belum lagi dia sempat beranjak dari tempatnya berdiri, tiba-tiba kuda tunggangan yang berdiri tegak tidak jauh dibelakangnya meringkik keras kaki diangkat tinggi, bulu disekujur tubuh tegak berjingkrak seperti ada sesuatu yang membuatnya gelisah

"Apa yang kau lihat, kudaku?" Tanya Pemburu Dari Neraka. Pemuda itu segera hampiri kuda.

Namun baru saja tangannya terjulur siap menyentuh pelana kudanya.

Tiba-tiba saja terdengar suara lengkingan menggelegar merobek kesunyian. Pemburu Dari Neraka tercekat, bukan karena takut tapi karena terkejut.

Secepat kilat dia menatap ke arah datangnya suara.

Suara lengkingan lenyap, sebagai gantinya kini terdengar suara bergemuruh seperti suara mahluk besar mengepakkan sayapnya.

Ditengah gemuruh kepakan sayap, sang Pemburu tiba-tiba melihat mahluk aneh seukuran kerbau dewasa, berwarna merah terang.

Wujud mahluk itu berupa kalajengking, memiliki tiga pasang kaki dengan dua pencapit besar menggantikan fungsi tangan.

Selain besarnya yang melewati ukuran biasa, mahluk yang kini berada diatas ketinggian ternyata mempunyai sepasang sayap.

"Kalajengking merah bersayap! Di tempat paling terkutuk sekalipun aku belum pernah melihat mahluk yang seperti ini!"

Batin Pemburu Dari Neraka.

Mahluk itu tidak sendiri, jumlahnya ada dua. Satu jantan satu betina.

Yang betina ukurannya lebih besar dari yang jantan.

Dengan rentangan sayapnya yang lebar seperti sisik ular bergelombang kedua mahluk itu terbang berputar-putar diatas pepohonan.

"Dua mahluk aneh ini jangan jangan mereka mahluk yang dikirimkan oleh Sang Kuasa Agung untuk mencelakai diriku!"

Kata sang Pemburu.

Baru saja dia berpikir demikian.

Tanpa keluarkan suara apapun kedua mahluk merah itu tiba-tiba miringkan sayapnya ke arah pepohonan yang menghalangi jalan mereka.

Sing! Cras! Cras!

Sayap dua mahluk sama menebas, membuat pucuk pepohonan sampai ke batang putus bergugusan laksana dihantam empat mata pedang raksasa yang luar biasa tajam.

Kutungan-kutungan kayu hebatnya lagi berlesatan ke arah Pemburu Dari Neraka yang sudah naik ke punggung kuda.

Kuda digebah.

Tali kendali kuda dibiarkan lepas tanpa dipegang.

Secepat kilat sang Pemburu hantamkan kedua tangan kesegenap penjuru arah.

Serangkum cahaya merah menyilaukan menebar panas luar biasa menderu secara berurutan menghantam potongan puluhan batang kayu yang siap menghantam tubuhnya juga kuda yang menjadi tunggangannya.

Kuda meringkik, lalu berlari menghindar sesuai dengan keinginan penunggangnya. Batang-batang kayu berukuran kecil dan besar berpelantingan dalam keadaan dikobari api. Lolos dari serangan, Pemburu Dari Neraka langsung melesat tinggalkan kudanya.

Sambil berkelebat ke arah dua mahluk yang menyerang dengan capit-capit raksasanya, pemuda ini sekali lagi menghantam dengan ilmu pukulan sakti Neraka Membara.

Lidah api luar biasa besar menderu menghantam dua kalajengking merah yang menyambar ke arahnya.

Melihat lidah api ber-gulung gulung menyambar siap memberangus tubuh mereka. Kedua mahluk itu memekik kaget.

Yang betina segera selamatkan diri dengan membelok ke samping menjauh dari sambaran api, namun kalajengking bersayap yang berada dibagian paling depan tak sanggup menyelamatkan diri.

Wuuues! Byar!

Begitu lidah api raksasa menggulung tubuhnya, kalajengking besar itu keluarkan suara pekikan aneh.

Seketika tubuhnya dikobari api.

Walau tubuh dan sayap terbakar, namun mahluk ini masih berusaha terbang tinggi mencari selamat. Melihat ini Pemburu Dari Neraka kembali menghantam dengan pukulan Neraka Membara.

Selarik cahaya merah terang yang sangat panas luar biasa kembali melesat dari kedua tangan sang Pemburu.

Secepat kilat cahaya yang panasnya tiga kali lipat dari panas serangan sebelumnya menghantam mahluk itu.

Byar!

Ledakan keras mengguncang kawasan itu.

Sang mahluk hancur menjadi kepingan dikobari api. Cairan berbau busuk bermuncratan membuat sang Pemburu merasa dirinya seperti berada ditengah lautan bangkai.

Mengetahui pasangannya tewas mengerikan ditangan lawan.

Kalajengking betina yang terbang diketinggian keluarkan suara pekikan aneh. Nampaknya sang betina menjadi sangat marah.

Diawaili dengan gerakan berputar rendah, mahluk ini tiba-tiba menukik tajam ke bawah. Secepat tubuhnya menukik, secepat itu pula sayapnya yang tajam dihantamkan ke arah Pemburu

Dari Neraka.

Gemuruh angin dingin luar biasa disertai menebarnya bau amis menghantam tubuh pemuda itu, membuatnya terhuyung, namun dia masih sempat jatuhkan diri bergulingan hindari tebasan sayap.

Lolos dari kibasan sayap tak disangka-sangka ekor kalajengking yang runcing tajam laksana mata tombak berkelebat menyambar siap menembus batok belakang kepalanya. "Mahluk keparat!" Teriak sang Pemburu.

Sambil berjumpalitan kebelakang tangan diayunkan ke udara dengan gerakan seperti orang yang menyambar sesuatu.

Entah dari mana datangnya tahu-tahu ditangan pemuda itu telah tergenggam sebilah pedang aneh bergerigi seperti gergaji namun memiliki ketajaman yang sangat luar biasa.

Ketika ujung ekor sang mahluk raksasa siap menembus kepalanya, Pemburu Dari Neraka jatuhkan diri hingga kedua lutut menyentuh tanah.

Serangan ekor yang siap menyengat luput satu jengkal diatas kepala. Melihat ekor melesat didepannya.

Sebelum mahluk itu berbalik siap menyerang dengan menggunakan capitnya yang besar. Laksana kilat pedangnya diayunkan ke arah ekor runcing mahluk itu.

Cahaya putih berkilau menderu menyertai berkelebatnya pedang di tangan. Craas!

Tanpa ampun lagi ekor tajam berbisa terbabat putus, lalu jatuh ke tanah tepat didepan pemuda itu. Putusnya ekor yang dipenuhi bisa mematikan membuat kalajengking bersayap itu menggelepar. Tidak disangka-sangka ternyata titik kelemahan mahluk itu memang terletak pada bagian ekornya.

Terbukti ketika ekor terbabat buntung mahluk ini meledak hancur berubah menjadi asap. "Lagi-lagi mahluk siluman!"

Geram Pemburu Dari Neraka sambil mengusap hulu pedang ditangannya. Dua kali tangan mengusap hulu pedang lalu senjata itupun raib dari pandangan mata.

"Sang Kuasa Agung.... Aku semakin bertambah yakin semua ini memang ulahnya. Aku bersumpah bakal menyeretmu untuk menerima hukuman di neraka!"

Dengus pemuda itu.

Dengan hati masih diliputi rasa penasaran, sang Pemburu kemudian menghampiri kudanya. Setelah itu tanpa membuang waktu dia menggebrak kudanya

*****

Setelah peristiwa tewasnya Randu Wulih yang kemudian disusul dengan diculiknya Pranajiwa oleh Si Jenggot Panjang.

Sebenarnya kabar itu telah sampai ditelinga Tujuh Tokoh di Puncak Akherat.

Untuk membuktikan kebenaran kabar tentang orang-orang yang terbunuh maka atas kesepakatan bersama, Tujuh Tokoh penting dijamannya ini akhirnya mengutus tokoh paling muda yaitu tokoh ke tujuh yang bernama Ari Prahmana atau yang juga dikenal dengan julukan Seruling Naga.

Pagi itu sebelum matahari terbit, Ariprahmana sudah meninggalkan tempat pertapaannya.

Dengan berkuda laki-laki yang usianya sekitar tujuh puluh tahun itu mengitari kaki gunung Bismo disebelah barat.

Untuk diketahui diantara Tujuh Tokoh sakti Penghuni Puncak Akherat. Yang paling tua usianya ada yang mencapai dua ratus tahun.

Jadi tidaklah mengherankan, walau Ariprahmana saat itu umurnya sudah mencapai tujuh puluh tahun dia termasuk yang paling muda dibandingkan enam tokoh lainnya.

Setelah meninggalkan kaki Gunung Bismo, orang tua itu terus memacu kudanya ke arah matahari terbit. Sejauh itu selama dalam perjalanan dia tidak mengalami rintangan atau hambatan yang berarti.

Sampai kemudian si orang tua tiba disebuah padepokan disebuah desa bernama Lohbener.

Ariprahmana pun memutuskan untuk istirahat di desa itu sambil berusaha menyirap kabar tentang keadaan dunia persilatan saat ini.

Ketika Ariprahmana sampai dihalaman padepokan.

Seorang laki-laki tua yang memang pernah dikenalnya datang menyambut kedatangan orang tua

ini.

Si kakek yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Ariprahmana kembangkan senyum lebar

begitu mengenali wajah tamunya.

"Ah, tidak disangka hari ini seorang tamu agung datang menyambangi padepokanku yang butut ini." Kata orang tua itu yang ternyata adalah pemilik padepokan bernama Dua Gunung Kramat. "Kakang Carik Wiyoso. Tidak kusangka kau masih mengingat dengan baik siapa diriku ini. Tapi harap jangan bersikap berlebihan karena kita sesama manusia memiliki kedudukan yang sama!" Kata Ariprahmana sambil rangkapkan dua tangan lalu menjura hormat pada pemilik rumah. "Ah, sejak dulu aku selalu merasa kagum pada orang dari Puncak Akherat. Walau memiliki ilmu

kesaktian tinggi, namun tetap berbudi luhur rendah hati. Kunjunganmu ini bagiku menjadi suatu kehormatan yang tidak ternilai!"

"Sudahlah kakang, jangan berlebihan. Aku tidak bisa berlama-lama ditempatmu ini. Ada sesuatu yang sangat penting ingin kutanyakan pada kakang!"

Ujar Ariprahmana langsung ke titik tujuan.

Carik Wiyoso anggukkan kepala tanda mengerti, Dia pun lalu mempersilahkan Ariprahmana turun dari kudanya.

Setelah itu tokoh ke Tujuh dari Puncak Akherat itu turun meninggalkan kudanya. Dia segera mengiringi Carik Wiyoso menuju pendopo depan. Suasana pendopo sunyi dan lengang.

Tidak terlihat murid-murid padepokan ada disekitar halaman.

Seakan mengerti apa yang dipikirkan Ariprahmana, sambil menyuguhkan teh gula kelapa Carik Wiyoso berkata.

"Murid-muridku sekarang memang sedang tidak berada disini. Aku mengutus mereka untuk membantu penduduk berjaga-jaga diperbatasan desa Lohbener. Akhir-akhir ini kejahatan merajalela dimana-mana."

"Hmm,begitu?" Gumam Ariprahmana.

"Oh ya apakah boleh kuminum hidangan suguhan kakang ini. Gula kelapa bila dicampur teh diminum selagi hangat rasanya pasti nikmat"

Carik Wiyoso tersenyum tersipu. Begitu asyiknya dia bicara sampai lupa mempersilahkan tamunya menikmati teh gula kelapa yang dia suguhkan.

"Oh silahkan...maafkan aku sampai kelupaan."

Ariprahmana tersenyum. Dia mengambil cangkir tanah berwarna kecoklatan yang masih mengepul. Setelah meniup air dalam cangkir itu dia meneguknya tiga kali lalu meletakkan cangkir diatas nampan bambu.

"Nikmat sekali. Terima kasih atas kemurahan hatimu, kakang!" Ucap Ariprahmana tulus.

Carik Wiyoso tersenyum. Tapi kemudian dia bertanya.

"Ariprahmana, Jauh-jauh meninggalkan puncak Akherat. Aku rasa kedatanganmu pasti membekal maksud penting. Apakah ini berhubungan erat dengan sesuatu yang hendak kau tanyakan?"

Ariprahmana tidak segera menjawab. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah sawah yang mulai menguning dikejauhan. Sambil menghela nafas pendek dia berkata.

"Semua yang kau katakan memang benar kakang Carik. Tapi sebelum aku menanyakan sesuatu, apakah aku boleh tahu kejahatan apa yang telah terjadi hingga kau menyuruh murid-muridmu menjaga perbatasan desa?"

"Hm.... Aku tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Yang kuketahui telah terjadi pembunuhan dimana-mana. Siapa pelakunya tidak ada yang tahu."

"Lalu untuk apa perbatasan dijaga kalau desa ini sebenarnya dalam keadaan aman-aman saja?" Tanya Ariprahmana tidak mengerti.

"Sebenarnya desa ini sudah tidak aman. Beberapa hari yang lalu kepala desa dan istrinya dibunuh. Sedangkan dua putranya dibantai. Seorang anak gadisnya hilang lenyap. Penduduk ada yang sempat melihat kejadian itu. Kabarnya pembunuh kepala desa dan yang membawa pergi anak gadisnya adalah seorang pemuda remaja berusia sekitar tujuh belas tahun. Pemuda itu berpakaian biru, rambut panjang kaku."

"Kau mengenal pemuda dengan diri-ciri seperti itu, kakang Carik?"

Tanya Ariprahmana sambil tatap wajah orang tua didepannya. Carik Wiyoso gelengkan kepala. "Dia bukan orang desa ini. Aku mengenal semua penduduk mulai dari anak-anak hingga orang

tua!"

Jawab Carik Wiyoso tanpa ragu "Jadi pemuda itu dari luar desa?" Gumam Ariprahmana.

"Ya.Memang demikian. Pemuda itu memiliki ilmu kesaktian luar biasa tinggi." Menerangkan Carik Wiyoso.

"Bagaimana kakang bisa tahu dia berilmu sangat tinggi, sedangkan kakang sendiri belum pernah berhadapan dengannya?"

"Seseorang yang bisa mengalahkan kepala desa, bahkan membunuhnya hanya dalam beberapa gebrakan bukan manusia biasa, karena kepala desa memiliki kesaktian yang tinggi. Dimasa mudanya dia adalah seorang pendekar yang sangat disegani di kawasan selatan."

"Bagaimana kepala desa itu dibunuh?" Tanya Ariprahmana penuh rasa ingin tahu.

"Ditubuhnya terdapat tiga buah luka menganga. Luka-luka itu bukan karena tusukan senjata tapi bersumber dari pukulan sakti yang luar biasa ganas. Aku ikut memandikan jenazahnya. Dan saat itu aku menyadari sang pembunuh adalah iblis berhati keji.

"Kakang, penjelasanmu cukup jelas dan bagaimana ciri-ciri puteri kepala desa?"

Carik Wiyoso diam tercenung. Nampaknya dia berusaha mengingat-ingat. Kemudian dia berkata, "Gadis itu bernama Windari, bertubuh tinggi. Rambutnya panjang sepinggang. Wajahnya cantik

serta berkulit kuning bersih. Dia memiliki tanda khusus berupa tahi lalat di dagu."

"Baiklah. Aku akan mengingat semua yang kakang sebutkan. Siapa tahu aku bisa menemukannya di dalam perjalanan nanti. Terima kasih atas perhatianmu. Sekarang kau ingin kemana?"

Ariprahmana terdiam. Wajahnya menyimpan keraguan, membuat Carik Wiyoso merasa tidak enak hati hingga cepat-cepat berujar.

"Jika pertanyaanku tidak berkenan dihatimu, sebaiknya kau jangan menjawabnya!" "Oh bukan demikian Kakang!"

Sela Ariprahmana.

"Aku sebenarnya sedang melakukan tugas yang diberikan oleh enam sahabat yaitu enam tokoh puncak yang lebih tua dariku...!"

Terang orang tua itu. Ariprahmana kemudian menceritakan tentang kabar menggegerkan yang telah menimpa beberapa sahabat.

Sampai kemudian enam tokoh mengutusnya melakukan penyelidikan secara langsung. Selesai mendengarkan cerita Ariprahmana, Carik Wiyoso berkata.

"Ariprahmana semua yang kau dengar memang benar adanya. Apakah kau belum mendengar bahwa Giring Sabanaya, Si Kedip Mata dan seorang pemuda bernama Ariamaja juga tewas mengenaskan beberapa hari yang lalu? Menurut petani yang menyaksikan kejadian itu. Ketiga orang yang kabarnya ikut bergabung dalam penyerbuan ke gedung tempat kediaman Pendekar Sesat itu dibunuh oleh seorang pemuda yang ciri-cirinya sama persis dengan pemuda yang membunuh kepala desa dan menculik anaknya."

"Apa?!"

Sentak Ariprahmana kaget bukan kepalang. "Begitulah yang telah kudengar!"

Ucap Carik Wiyoso prihatin.

"Apakah ada yang tahu siapa nama pemuda itu?"

Tanya si orang tua sambil tatap pemilik padepokan dalam-dalam. "Namanya... kalau tidak salah adalah Pura Saketi...!"

Mendengar ledakan halilintar disiang bolong Ariprahmana tidak akan sekaget itu.

"Pura Saketi adalah Putra Pendekar Sesat. Dia lolos dari penyerbuan dan sempat terkena panah namun kemudian menceburkan diri kedalam Jurang Watu Remuk Raga. Astaga! Jika Pura Saketi yang melakukan semua kejahatan ini, berarti kehadirannya di rimba persilatan adalah untuk membalas dendam!"

Carik Wiyoso terdiam sambil usap-usap jenggotnya yang putih meranggas. Wajah orang tua itu sangat tegang. Walau dia menyadari tidak pernah berurusan dengan putra Pendekar Sesat, namun dia mencemaskan keselamatan Tujuh Tokoh dari Puncak Akherat.

"Apa yang akan kau lakukan? Sebaiknya kembalilah ke Puncak Akherat. Kabar ini harus disampaikan pada enam tokoh lainnya agar mereka tahu tindakan apa yang sebaiknya harus dilakukan?"

"Puncak Akherat sangat jauh dari sini. Aku harus melanjutkan perjalanan mencari pemuda itu sebelum dia melakukan pembunuhan lebih banyak lagi!"

"Tapi pemuda itu sangat berbahaya. Jika dia mampu membunuh Randu Wullih bukan mustahil dia akan menghabisimu juga!"

Kata Carik Wiyoso dengan wajah membayangkan kekhawatiran mendalam. Ariprahmana tersenyum.

"Hidup mati yang menyangkut takdir manusia ada ditangan yang maha kuasa, kakang. Demi membela kebenaran aku tidak akan menyesal walau harus mati ditangan pemuda ingusan. Satu saja pintaku, jika dalam waktu tiga hari kedepan aku tidak muncul atau kembali ke padepokanmu ini.

Harap kau pergilah ke Puncak Akherat. Sampaikan kepada enam Tokoh bahwa mungkin telah terjadi sesuatu denganku!"

Mendengar pesan yang diucapkan Ariprahmana, Carik Wiyoso merasa sedih.

Dia menyadari bagaimanapun juga Ariprahmana adalah orang yang telah ikut serta menjaga ketentraman di dunia persilatan khususnya di kawasan tengah.

Jika bukan karena jasa kakek ini bersama enam tokoh lainnya mungkin Iblis Kolot masih gentayangan menyebar maut dimana-mana.

"Ariprahmana... entah mengapa hatiku merasa risau dengan kepergianmu kali ini. Ingin rasanya aku menyertaimu. Tapi dipadepokan ini aku juga punya tanggung jawab terhadap murid-muridku."

Ariprahmana tersenyum sambil tepuk-tepuk bahu orang tua didepannya.

"Kakang tidak perlu menyertaiku. Cukup sampaikan saja pesanku bila aku tidak kembali lagi dalam tiga hari ke depan."

"Apakah kau akan pergi sekarang?!"

Tanya Carik Wiyoso begitu dilihatnya Ariprahmana bangkit berdiri "Ya...!"

"Bb.. baiklah. Aku akan mengantarmu sampai ke halaman depan."

Carik Wiyoso pun kemudian berdiri, lalu berjalan mengiringi sang tamu hingga sampai di depan kuda.

"Aku pergi dulu, kakang!"

Ariprahmana berpamitan yang dijawab oleh Carik Wlyoso dengan anggukkan kepala. Ariprahmana tersenyum dan memutar arah kuda, selanjutnya tanpa menoleh lagi orang tua itu meninggalkan Carik Wiyoso yang berdiri tertegun menatap kepergiannya.

"Jagad dewa bathara yang maha kasih. Lindungilah sahabatku Ariprahmana dari kejahatan manusia Iblis!"

Desis si orang tua dengan wajah tertunduk mata berkaca-kaca.

*****

Bukit Batu Lumut terdapat di tengah hamparan sawah luas. Sejak puluhan tahun yang lalu sawah itu dibiarkan tidak terurus.

Para penggarap yang menempati desa-desa kecil yang terdapat disekeliling sawah meninggalkan tempat itu akibat diserang wabah penyakit menular.

Tidak sedikit korban tewas akibat wabah ganas itu. Bahkan saking banyaknya korban yang berjatuhan membuat para penggali kubur yang jumlahnya terbatas tidak sempat lagi menguburkan mayat-mayat bergelimpangan setiap harinya.

Mayat dari belasan desa lalu dikumpulkan ditengah sawah.

Diantaranya ada yang dibakar namun banyak pula yang dibiarkan busuk begitu saja. Malam menjelang pagi.

Ketika Kanjeng Empu Basula sampai ditempat itu terasa suasananya sunyi mencekam.

Dari tempatnya berdiri terlihat sebuah bukit berwarna hijau tegak dalam kebisuan dikejauhan.

Sang Kanjeng yang banyak mengetahu tentang riwayat bukit itu segera mengayunkan langkahnya ke sana.

Semak belukar, rerumputan liar menjulang tinggi tidak menjadi penghalang bagi sang Kanjeng karena saat itu dia berjalan dengan kedua kaki mengambang satu tombak dari atas tanah.

Walau kelihatannya Kanjeng Empu Basula berjalan seperti biasa-biasa saja namun kecepatannya melangkah melebihi orang biasa yang sedang berlari sekencang-kencangnya.

Ini tidak mengherankan karena si kakek menggunakan ilmu Lampah Angin yang membuatnya bisa bergerak secepat angin berhembus.

Tak lama melangkahkan kaki Kanjeng Empu Basula pun sampai didepan bukit itu. Malam bertambah dingin seiring dengan turunnya embun.

Di langit cahaya bulan mulai memudar.

Kanjeng Empu Basula tampak diam dengan dua tangan dilipat di depan dada. Kemudian si kakek pejamkan matanya.

Sayup sayup terdengar suara rintihan tangis.

"Suara-suara itu pasti suara arwah yang meninggal karena terserang wabah aneh."

Membatin sang Kanjeng dalam hati. Tanpa memperhatikan suara mahluk-mahluk halus itu, sang Kanjeng kembali buka matanya. Sekarang perhatian sang Kanjeng tertuju lurus ke arah bukit batu yang berada didepannya.

"Ada pintu ada jalan keluar. Bila terbuka maka tersingkaplah semua rahasia yang tersembunyi di dalam!"

Ucap sang Kanjeng.

Selanjutnya mulut yang terlindung kumis tipis rapih berkemak-kemik.

Perlahan namun pasti telunjuk tangan kanan diacungkan ke depan tepat ke arah lereng bukit.

Sekonyong-konyong dari ujung jemari telunjuk sang Kanjeng membersit cahaya putih terang yang ukurannya tidak lebih besar dari ujung lidi.

Cahaya melesat tanpa suara, lalu menghantam ke arah bukit yang menjadi sasaran. Cees!

Dess! Cahaya menghantam lereng bukit batu, namun kemudian cahaya terpental ke atas, dan pecah diketinggian berubah menjadi taburan bunga api.

Kanjeng Empu Basula menghela nafas kecewa sekaligus gelengkan kepala. "Ternyata letak pintu tidak disini!"

Berkata demikian Kanjeng Empu Basula kembali ayunkan langkah. Kali ini dia bergerak menuju ke sebelah selatan lereng bukit.

Sama seperti sebelumnya saat berjalan kedua kakinya tetap mengambang diatas rumput dan semak belukar.

Tepat diselatan bukit Batu Lumut orang tua ini hentikan langkahnya. Sambil menatap ke lereng bukit mulutnya kembali berkemak-kemik. Setelah itu dia berucap.

"Ada pintu ada jalan keluar. Setelah terbuka maka tersingkaplah semua rahasia yang tersembunyi di dalam!"

Setelah mengulang ucapan yang sama Kanjeng Empu Basula menunggu. Lalu ada sambaran angin halus menerpa tubuhnya.

Si kakek tersenyum.

"Pintu yang dicari telah ditemukan, karena keberadaan pintu ditandai dengan adanya desiran angin lembut itu."

Tanpa ragu Kanjeng Empu Basula kambali ulurkan tangan. Jari telunjuk dipentang lurus di acungkan ke lereng bukit. Ujung jari tiba-tiba bergetar.

Cahaya putih berkilau melesat dari ujung jari. Tak ada suara, tidak juga terdengar suara menderu ketika cahaya putih itu berkiblat.

Lalu... Byar!

Ketika cahaya putih menghantam lereng bukit batu Lumut terjadi pijaran aneh. Cahaya membelah menjadi dua.

Satu bergerak kesebelah kiri sepanjang lengan tangan lalu berbelok ke bawah, sedangkan satu cahaya lagi bergerak ke kanan sepanjang lengan, kemudian berbelok ke bawah pula.

Greek!

Cahaya putih lenyap, meninggalkan jejak berupa garis berbentuk pintu. Bersamaan dengan itu terdengar suara derit panjang.

Pintu batu membuka.

Dibalik pintu tebal dan berat keadaannya gelap gulita. Sementara hawa panas menyembur dari balik pintu tersebut. Si kakek bergerak kesamping.

Dengan menggunakan ujung lengan baju dia menghalau hawa panas yang menyambar tubuhnya. Terdengar suara letupan disertai kepulan asap.

Kanjeng Empu Basula segera menutup jalan nafas dengan mengalirkan tenaga dalam kebagian tenggorokannya.

Kepulan asap lenyap.

Orang tua itu menatap ke depan ke arah pintu yang menghubungkan bagian dalam bukit.

Dia menduga tidak mungkin Sang Kuasa Agung meninggalkan bukit Batu Lumut yang didiaminya selama puluhan tahun tanpa penjagaan dan pengamanan.

Sang Kuasa Agung pasti telah memasang perangkap rahasia.

Untuk membuktikan kecurigaannya itu, Kanjeng Empu Basula mengambil sebuah benda bulat seukuran jari telunjuk, lalu melemparkannya ke balik pintu.

Benda bulat yang ternyata adalah alat yang bisa meledak ini berkelebat membeset udara, meluncur sambil berputar sedemikian rupa lalu amblas kedalam pintu.

Byar!

Terjadi letupan keras.

Guncangan ringan melanda sekeliling bukit.

Bersamaan bertebarannya debu yang mengepul keluar dari dalam bukit, melesat pula sedikitnya lima tombak, lima anak panah ke arah si kakek.

Karena sebelumnya sudah menduga, Kanjeng Empu Basula dengan mudah dapat menghindari senjata rahasia itu.

Semua senjata akhirnya berjatuhan. Sang Kanjeng menunggu.

Tiba-tiba saja dia mendengar suara lolongan anjing sayup-sayup dikejauhan. "Lolongan anjing dimalam hari biasanya merupakan pertanda tidak baik," Gumam orang tua itu.

Sambil tatap pintu yang sunyi, orang tua ini mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya. Benda itu berukuran dua jengkal dan berwarna hitam.

Benda yang dinamakan Batu Api sepanjang dua jengkal ditiup. Tiupan yang dilakukan sang Kanjeng tentulah bukan tiupan biasa karena dalam tiupannya mengandung tenaga dalam berhawa panas.

Begitu ditiup ujung sebelah atas menyala memancarkan cahaya putih benderang menerangi segenap penjuru seluas lima tombak. Dengan menggunakan penerangan ditangan orang tua ini melangkah dekati pintu.

Sesampai didepan pintu dia mengendus udara dari dalam yang pengab. Si kakek kembali membaca sesuatu sebelum ayunkan langkah ke dalam.

Selesai membaca kini dia melangkah masuk sambil menahan nafas dan dada berdebar.

Baru saja orang tua ini ayunkan langkah beberapa tindak, pintu dibelakangnya bergeser menutup.

Walau terkejut tak menyangka pintu gaib dilereng bukit itu bisa menutup sendiri Kanjeng Empu Basula berkata,

"Ada pintu ada jalan keluar. Setelah terbuka maka tersingkaplah semua rahasia yang tersembunyi didalam!"

Dan kata-kata itu adalah kata-kata keramat yang hanya diketahui oleh pemilik tempat dan Kanjeng sendiri.

Tidaklah mengherankan walau pintu menutup dia tidak menjadi risau karena dia tahu bagaimana nantinya akan keluar.

Tanpa menoleh kebelakang lagi Kanjeng Empu Basula segera memperhatikan segenap penjuru ruangan yang kini menjadi terang benderang.

Orang tua itu tertegun, langkahnya terhenti sedang mulutnya berdecak kagum.

"Benda-benda tidak berjiwa ini usianya mencapai ribuan tahun. Saat ini benda-benda itu seperti barang yang tidak berguna. Namun bila diberi jiwa, dibangkitkan oleh orang yang mengetahui rahasianya. Mereka bisa menjadi alat pembunuh yang sulit ditemukan tandingannya."

Batin Kanjeng Empu Basula.

Dengan penuh perhatian dia menatap ke depan, ke arah perajurit perang yang terdiri dari ratusan patung yang terbuat dari batu yang dipahat.Patung-patung batu dibuat sedemikian rupa laksana perajurit perang.

Tangan memegang pedang, ada pula yang memegang rantai dibanduli bola berduri, tidak sedikit yang dipersenjatai golok dan tombak batu.

Sebagian patung juga dilengkapi dengan perisai.

Kemudian agak disebelah belakang terdapat pula perajurit patung berkuda, berpenampilan gagah berwajah sangar dan garang. Dibelakang perajurit berkuda masih terdapat deretan patung lainnya dibariskan berderet rapi lengkap dengan panah dan busur.

Memperhatikan ratusan patung perajurit perang agak lebih lama membuat tengkuk Kanjeng Empu Basula jadi merinding.

"Semua masalah memang tidak bermula dari tempat ini. Tapi yang jelas aku harus menyelesaikan salah satu pemicu persoalan dari sini. Jika tidak kuhancurkan semua patung-patung ini maka dalam waktu tidak lama lagi mereka bakal berubah menjadi pasukan pembunuh yang paling kejam dan tiada tandingannya di dunia ini!"

Kata sang Kanjeng. Orang tua itu lalu melangkah mundur kebelakang sejauh tiga tindak.

Batu api yang digenggam ditangan kiri lalu diangkat tinggi melewati bagian atas kepala.

Kemudian tanpa bicara apa-apa, tangan Kanjeng Empu Basula yang menggenggam alat penerangan satu-satunya yang menerangi ruangan itu digerakkan ke bawah tepat kebagian ubun-ubun.

Ujung Batu Api disebelah bawah keluarkan suara menderu seiring dengan gerakan tangan yang menggenggamnya.

Satu pemandangan mengerikan kemudian terjadi ditempat itu.

Ujung batu api yang tumpul amblas masuk menembus batok kepala sang Kanjeng. Blees!

Tidak terdengar suara tulang tengkorak berderak, tidak terlihat pula darah yang memancar dari kepala yang ditancapi Batu Api.

Ujung batu seakan menembus bantalan kasur yang empuk. Anehnya begitu menancap dibatok kepala Kanjeng Empu Basula, nyala Batu api tiga kali lebih terang dari sebelumnya.

si kakek turunkan tangan yang kini tak lagi memegangi Batu Api. Tangan lalu disilangkan di depan dada.

Sambil menghirup udara dalam-dalam perlahan-lahan namun pasti orang tua ini segera salurkan tenaga sakti ke bagian tangan juga kedua kakinya.

Hawa dingin sejuk mengalir deras mengalir deras ke kaki dan tangannya. Dua kaki yang berterompah kemudian memancarkan cahaya putih berkilau. Demikian juga dengan kedua tangan sang Kanjeng.

Dua tangan mulai dari ujung jari hingga kebagian pangkal lengan yang terlindung lengan baju juga memancarkan cahaya yang sama.

Tidak menunggu lama, si kakek gerakkan tangannya ke atas, diputar sedemikian rupa diatas kepala.

Ketika tangan bergerak turun ke bawah. Kanjeng Empu Basula tarik tangannya ke belakang kemudian dengan kecepatan yang sangat luar biasa tangan itu dia hantamkan ke arah deretan patung patung yang berada dibarisan paling depan.

Wuuut! Wuus!

Cahaya putih menyilaukan mata berkiblat empat kali berturut-turut disertai suara menggemuruh mengerikan.

Saat itu sang Kanjeng berpikir.

Sekali pukulan saktinya menghantam ke arah sasaran.

Sedikitnya patung-patung batu yang berjejer pada barisan terdepan sampai barisan ke empat yang jumlahnya tidak kurang dari empat puluh patung bakal hancur menjadi kepingan.

Apalagi dia sengaja menghantam dengan menggunakan pukulan Roh Suci Menyapa Bumi. Pukulan itu adalah salah satu dari beberapa pukulan sakti yang dimiliki sang Kanjeng.

Reeet! Bees!

Dengan telak empat pukulan yang dilepaskannya menghantam deretan patung-patung itu. Patung terguncang keras, dinding dan langit-langit didalam ruangan besar perut bukit Batu

Lumut terguncang.

Tetapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat Kanjeng Empu Basula terpengarah, mata mendelik mulut ternganga.

Tidak satupun dari empat pukulan sakti yang dilepaskannya sanggup menghancurkan patung batu.

Semua serangan yang dilancarkan sang Kanjeng seolah tersedot amblas lalu terserap ke badan patung.

"Tidak mungkin! Bagaimana mereka bisa menyedot amblas seranganku. Apakah mungkin ada sesuatu yang salah?!"

Kata Kanjeng Empu Basula seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Merasa penasaran, si kakek kembali alirkan tenaga sakti kebagian tangannya dengan kekuatan berlipat ganda.

Dua tangan kembali memancarkan cahaya putih yang jauh lebih terang dari sebelumnya. Udara didalam ruangan semakin bertambah dingin.

Kanjeng Empu Basula tarik nafas dalam-dalam. Kali ini mulutnya terlihat berkemak-kemik.

Rupanya terdorong oleh rasa penasaran, Kanjeng Empu Basula melambari pukulannya dengan mantra yang bisa menghancurkan rintangan gaib yang mungkin melindungi patung patung dari kehancuran.

"Hiyaaa.."

Dua tangan kembali menghantam ke depan. Cahaya putih benderang menderu sebat meluncur cepat laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Tanpa ampun serangan kakek itu menghantam dengan telak lima barisan patung yang berjejer didepannya.

Buum!

Satu dentuman menggelegar mengguncang ruang perut bukit hingga kebagian puncaknya yang berada disebelah luar. Kali ini patung jatuh bertumbangan tumpang tindih tak karuan. Walau patung tidak lagi menyedot pukulan sang Kanjeng. Namun patung-patung yang berpelantingan itu tidak satupun yang mengalami kerusakan. Patung tetap utuh dan dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu. "Tidak! Tidak mungkin! Pukulan saktiku sanggup menghancurkan gunung tinggi. Bagaimana mungkin kini tak bisa membuat patung-patung itu hancur menjadi puing berserakan!"

Seru Kanjeng Empu Basula penasaran. Dia memandang ke depan.

Terlihat ada kepulan debu dan asap membubung ke langit langit.

Bersamaan dengan itu dibagian paling belakang deretan patung, disudut yang gelap dia melihat muncul cahaya merah berpijar.

Cahaya itu melesat diatas kepala patung patung menuju ke arahnya. Melihat munculnya cahaya. Kanjeng Empu Basula segera bersikap waspada. Diam-diam dia alirkan tenaga dalam ke bagian tangannya.

Seiring dengan melesatnya cahaya tiba-tiba saja terdengar suara tawa menggeledek. Tawa perempuan.

Suara nyaring bergema itu terdengar menyeramkan ditelinga sang Kanjeng.

Suara tawa lenyap dan cahaya merah yang telah sampai di depan orang tua itu tiba-tiba saja berpendar lalu pecah menjadi kepingan. Kepulan asap tebal mengepul diudara, bergulung-gulung sedemikian rupa.

Ketika kepulan asap lenyap didepan Kanjeng Empu Basula telah berdiri tegak seorang kakek bertubuh pendek, berkumis, berambut dan berpakaian putih.

Di bibir orang tua itu terselip sebuah pipa dalam keadaan tidak menyala.

Sang Kanjeng tidak mengenali siapa adanya kakek itu namun dia menduga orang tua itu adalah orang yang bernama Si Jenggot Panjang sebagaimana yang disebutkan oleh Dewi Kipas Pelangi. Tidak jauh disebelah si kakek berdiri sosok yang sudah tidak asing lagi, Dia mengenal gadis cantik yang tangan dan kakinya berbentuk aneh berupa kaki kalajengking besar berwarna merah.

"Kanjeng Empu Basula! Beraninya kau masuk ke dalam ruangan rahasia tempat penyimpanan benda-benda yang bakal menjadi kaki tanganku ini? Kau mungkin mengira patung patung itu tidak berada dalam perlindunganku!"

Hardik sang dara cantik yang tidak lain adalah Sang Kuasa Agung. Dan bagi gadis itu Kanjeng Empu Basula tidak asing lagi. Dia sudah mengenal sang kanjeng sejak lama.

"Sang Kuasa Agung,"

Kata sang Kanjeng sambil tatap gadis didepannya dan kakek yang berada disamping si gadis. "Aku telah mengetahui semua rencana busukmu. Aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi!" Tegas orang tua itu.

Mendengar ucapan Kanjeng Empu Basula, gadis didepannya tertawa dingin menyeramkan. "Kanjeng.... Kau telah berada di alam roh. Mengapa gentayangan mencampuri urusan orang yang

masih hidup? Kau tidak suka melihat kebahagiaan orang lain, merasa iri karena aku sedang berusaha mencapai puncak kejayaan?"

"Aku tidak iri melihat manusia berhasil dalam hidupnya, Silahkan menggapai semua impianmu.

Tapi jika kau membunuh manusia lain untuk mendapatkan kejayaan hidup, maka aku tidak bisa menerimanya?"

Jawab sang Kanjeng.

"Apa maksudmu, orang tua?"

Si Jenggot Panjang yang sedari tadi hanya diam mendengarkan tiba-tiba bertanya. Kanjeng Empu Basula tatap kakek pendek itu.

"Kaukah orangnya yang bernama Si Jenggot Panjang?"

Tanya sang Kanjeng. Walau terkejut tak menyangka orang mengetahui siapa dirinya, namun Si Jenggot Panjang tersenyum.

"Benar."

"Kau orangnya yang telah menculik seorang laki-laki bernama Pranajiwa?" Tanya Kanjeng Empu Basula.

Belum sempat Si Jenggot Panjang menjawab. Sang Kuasa Agung buru-buru menyahuti.

"Kalau benar kau mau apa, Kanjeng? Pranajiwa sudah berubah menjadi jerangkong tanpa jantung.

Dia telah kehilangan darah juga saripati kehidupannya. Aku yang merampas sisa hidupnya," "Kau memang sungguh iblis yang sangat keji.!"

Geram sang Kanjeng

"Kau sudah lama mengetahuinya, mengapa baru mengatakannya sekarang?!" Dengus Sang Kuasa Agung sinis.

"Aku tidak akan berpangku tangan. Jika aku tidak dapat membunuhmu malam ini akan datang seseorang yang bakal menghabisimu!"

"Kau hanya bisa membual, Kanjeng. Apakah kau lupa, aku adalah mahluk siluman yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun.!"

Tegas Sang Kuasa Agung begitu percaya diri.

"Mulutmu terlalu sombong. Kesombongan adalah awal kehancuran setiap insan." Ucap sang Kanjeng.

Gadis dan kakek didepannya tersenyum sinis. Kanjeng Empu Basula bersikap tidak perduli. Malah orang tua ini lanjutkan ucapannya.

"Aku tahu siapa dirimu, gadis berkaki kalajengking merah. Tapi aku tidak mengerti bagaimana orang sepertimu sangat ingin membangkitkan perajurit patung itu?"

"Hik hik hik! Aku memang tidak pernah menginginkan kekuasaan, aku tidak pernah ingin menjadi ratu rimba persilatan. Pasukan batu ini kubutuhkan untuk menghabisi manusia-manusia yang selalu merasa suci seperti dirimu. Kelak aku akan membuat lebih banyak lagi perajurit dari patung batu. Semua manusia akan kujadikan budak dan mereka harus menyembah padaku sabagaimana manusia lain yang suka menyembah pohon dan batu!"

"Cita-citamu keji dan dan menyesatkan, Sang Kuasa Agung. Sayang kau tidak bisa mewujudkan implanmu seorang diri. Kau bahkan tidak kuasa menghidupkan patung-patung itu tanpa bantuan Iblis Kolot! "

Kata Kanjeng Empu Basula sambil tersenyum mengejek. Sang Kuasa Agung diam-diam terkejut tidak menyangka kakek itu mengetahui apa yang dirahasiakannya.

"Jahanam ini bagaimana dia bisa tahu aku membutuhkan Iblis Kolot untuk membangkitkan patung-patung ini?"

Batin Kuasa Agung.

"Tapi apa perduliku. Kalaupun dia tahu semua rahasiaku memangnya dia bisa berbuat apa?" "Bukankah semua yang kukatakan ini benar adanya gadis kalajengking?"

Kata Kanjeng Empu Basula lagi.

"Mungkin benar itu tetapi bisa juga salah!"

"Sang kuasa Agung sahabatku. Mengapa banyak bicara. Lebih baik kita hancurkan saja mahluk kesasar satu ini!"

Teriak Si Jenggot Panjang tidak sabar.

"Kanjeng kau sudah mendengar sendiri bagaimana keinginan Jenggot Panjang. Tapi aku masih berbaik hati dengan memberimu kesempatan hidup lebih lama lagi. Jika tidak mau tubuhmu tercerai berai, sebaiknya kau segera angkat kaki dari tempat ini!"

"Hmm, sebenarnya aku benci mengatakannya. Tapi aku lebih suka memilih untuk menghadapi dirimu dan sahabatmu itu. Aku menantangmu, Sang Kuasa Agung."

Sambil berkata demikian sang Kanjeng tiba-tiba kibaskan tangannya ke arah pintu batu yang terdapat dibelakangnya.

Angin menderu menerpa pintu tersebut. Terdengar suara bergemuruh disertai bergesernya pintu batu yang berat.

Pintu terbuka, tidak menunggu lebih lama Kanjeng Empu Basula berkelebat keluar.

Bagi Kanjeng sendiri keluarnya dia dari ruangan adalah untuk menghindari adanya jebakan yang mungkin saja telah dipasang oleh gadis itu. Dia tidak mau termakan tipuan Sang Kuasa Agung.

Sebaliknya keluarrnya orang tua itu dari dalam ruangan perut bukit memberikan keuntungan tersendiri, Sang Kuasa Agung tidak khawatir patung-patungnya menjadi rusak bila terjadi perkelahian.

Begitu melihat sang Kanjeng tinggalkan ruangan maka dengan diikuti oleh Si Jenggot Panjang dia segera berkelebat mengejar.

Di tengah sawah yang luas Kanjeng Empu Basula tegak berdiri dengan dua kaki dipentang. Tangan disilangkan di depan dada, sedangkan sepasang matanya yang mencorong tajam menatap ke arah si gadis dan si Jenggot Panjang silih berganti.

Tanpa bicara lagi Si Jenggot Panjang melompat ke depan siap melakukan serangan ganas. Namun sebelum dia sempat melakukan serangan, Sang Kuasa Agung tiba-tiba berteriak. "Jenggot Panjang sahabatku! Sebaiknya kau segera mundur! Kau tidak perlu ikut campur. Semua

ini hanya masalah antara aku dan dia. Terkecuali aku mampus ditangannya. Kau boleh bertindak sesuka hati...!"

"Tapi apakah kau lupa bahwa aku telah bersumpah akan membantu dirimu dengan sepenuh jiwa ragaku. Kesulitan yang kau hadapi saat ini adalah kesulitanku juga!"

Sahut Si Jenggot Panjang.

Sang Kuasa Agung menyeringai. Wajahnya yang cantik berubah menjadi bengis. Mata yang teduh indah kini menjadi merah menyeramkan.

"Jangan membantah ucapanku! Sekarang aku tidak sedang dalam kesulitan. Kanjeng Empu Basula keparat adalah lawan yang sangat mudah! Cepat menyingkir, atau kau ingin dihajar juga?!"

Hardik gadis itu dengan suara lantang menggeledek.

Walau merasa kesal, namun Si Jenggot Panjang terpaksa patuhi perintah sahabatnya. Dia melompat mundur.

Selesai orang tua ini jejakkan kedua kakinya diatas rerumputan maka secepat kilat si gadis melesat ke arah sang Kanjeng.

Tidak sampai sekedipan mata tahu-tahu Sang Kuasa Agung telah berada didepan Kanjeng Empu Basula.

Kemudian dengan menggunakan sepasang tangannya yang berbentuk capit berwarna merah dia menghantam wajah kakek itu.

Dua capit yang terbuka laksana penjepit besi menderu, mencari sasaran dibagian tenggorokan juga menghantam dibahu sebelah kiri.

Sementara dengan bertumpu pada sepasang kaki belakang, dua pasang kaki lainnya yang runcing tajam laksana mata tombak melesat ke bagian perut juga kaki Kanjeng Empu Basula.

Tiga serangan ganas, satu dari tangan berbentuk capit dan dua pasang kaki menghantam secara bersamaan.

Kanjeng Empu Basula geser kaki kirinya ke belakang, dua tangan yang teraliri tenaga dalam diangkat ke atas melewati kepala, lalu dengan gerakan seperti orang berenang diayunkannya kedua tangan itu ke bawah.

Trak! Trak!

Tangan si kakek beradu keras dengan tangan dan kaki lawan. Tangkisan yang dilakukannya membuat serangan itu dapat dipatahkan. Sang Kuasa Agung menggerung, tubuhnya terhuyung kebelakang.

Namun dengan gerakan yang sangat cepat sekali dia sudah merangsak maju lagi.

Sementara itu Kanjeng Empu Basula sendiri sebenarnya merasakan kedua tangannya yang beradu keras dengan dua tangan dan dua pasang kaki lawan terasa sakit luar biasa.

Lengannya bahkan menggembung bengkak. Tapi ketika melihat Sang Kuasa Agung telah bergerak menyusulkan dua kaki ke arah jantungnya maka orang tua ini lambungkan tubuhnya ke atas.

Serangan itu hanya mengenai tempat kosong.

Si gadis menggeram, tangan sebelah kiri berkelebat menyambar. Sreet!

Serangan kilat yang dilancarkan Sang Kuasa Agung berhasil merobek baju putih sang Kanjeng dari bahu hingga ke dada.

Dibalik pakaian yang robek menganga terlihat sebuah alur luka memanjang. Luka itu tidak berbahaya dan hanya sedikit mengeluarkan darah.

Tapi Kanjeng Empu Basula merasakan ada hawa panas menjalar disekitar luka.

Hanya dengan sekali mengusap bagian tubuh yang luka, maka luka dan hawa panas yang dirasakannya langsung lenyap.

Melihat lawan kena dilukai, Sang Kuasa Agung tambah bersemangat. Dia pun lambungkan tubuhnya ke udara.

Sepasang tangan dan tiga pasang kaki bergerak sekaligus, menghantam, membabat dan menusuk bagian-bagian tubuh lawan yang tidak terlindung.

Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Kanjeng Empu Basula.

Begitu kaki dan tangan berkelebat siap menghujani tubuhnya yang mengapung diudara, Tanpa menunggu lebih lama, Kanjeng Empu Basula segera menghantam dengan pukulan sakti Roh Suci Menyapa Bumi!

Wuus! Srat! Byaar!

Cahaya putih berkiblat, lalu menderu bergulung-gulung menyambar tubuh Sang Kuasa Agung, Ketika cahaya itu menerpa tubuhnya dia segera tarik kaki dan tangan lalu didorong ke depan menangkis serangan ganas lawannya. Tiga pasang kaki runcing terpental, sepasang tangan yang jari-jarinya berbentuk penjepit terguncang.

Satu ledakan keras mengguncang tempat itu. Sang Kuasa Agung keluarkan suara raungan menggeledek.

Tubuhnya jatuh terlentang. Walau tidak mengalami cidera parah, namun punggung dan tangannya yang membentur lereng bukit Batu Lumut terasa sakit bukan kepalang.

Bentrok pukulan yang terjadi juga membuat tubuh Kanjeng Empu Basula melambung ke atas, dua tangan seperti kesemutan.

Namun setelah jungkir balik dia jejakkan kakinya diatas rerumputan.

Melihat apa yang dialami oleh Sang Kuasa Agung, sebenarnya Si Jenggot Panjang sudah tidak sabar lagi ingin melibatkan diri dalam perkelahian itu.

Tapi dia tidak berani melakukannya karena Sang Kuasa Agung belum memberi perintah. Selagi Sang Kuasa Agung balikkan badan dan kembali bangkit berdiri.

Dan ketika Si Jenggot Panjang terombang ambing dalam kebimbangan.

Didepan si gadis, Kanjeng Empu Basula tiba-tiba saja mencabut tiga helai rambut putihnya.

Tiga helai rambut masing-masing sepanjang dua jengkal ditangan tiba-tiba diputar diatas kepala.

Tiga kali rambut berkelebat, seketika itu juga berubah menjadi tiga buah jarum yang ukurannya sebesar lengan tangan orang dewasa.

Sambil acungkan tiga jarum putih berkilau sang Kanjeng berteriak,

"Sang Kuasa Agung! Aku perintahkan untuk menyerah sekarang juga! Kalau tidak aku akan menghukummu dengan Tiga Raja Jarum Akherat!"

Perintah si kakek sama sekali tidak digubris oleh gadis itu. Sebaliknya sambil mengumbar tawa dingin, Sang Kuasa Agung menjawab sinis.

"Kanjeng, rupanya kau sudah gila! Aku sama sekali belum kalah, aku juga tidak mengalami cidera.

Bagaimana mungkin semudah itu kau menyuruhku menyerah? Hik hik hik" "Baiklah, jangan menyesal jika aku terpaksa mengambil tindakan keras!" Geram sang Kanjeng.

Berkata demikian salah satu jarum besar itu lalu dipindahkan ke tangan kiri.

Disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, jarum itu lalu disambitkan ke arah lawan tepat di tengah keningnya.

Sang Kuasa Agung terkesima sama sekali tidak menyangka lawan menyerang tepat dibagian tubuh yang paling mematikan.

Sambil menggerung, tiga pasang kaki ditekuk, tubuhnya sengaja dibuat amblas ke bawah hingga sama rata dengan tanah.

Jarum besar menderu, namun hanya menyambar sejengkal diatas kepala gadis itu.

Belum sempat gadis ini bangkit diluar dugaan Jarum Akherat sekonyong-konyong berbalik dan kini mengarah tepat dipunggung gadis itu.

"Keparat jahanam! Dia mengendalikan jarum sialan itu dari Jauh. Tua bangka Ini benar-benar menguji kesabaranku!"

Geram Sang Kuasa Agung dalam hati.

Secepat kilat dia kembali jatuhkan diri, begitu bokongnya menyentuh tanah dia memutar tubuh. Dua tangan digerakkan dengan kecepatan luar biasa.

Ketika tangan itu telah berubah merah membara, si gadis segera mendorong tangannya menyambuti sambaran jarum.

Jeeest!

Dihantam cahaya merah gerakan jarum jadi tertahan, mengapung diudara.

Si kakek sentakkan tangan kiri yang mengendalikan jarum, tapi senjata sakti itu tidak bergerak.

Tidak punya pilihan lain, Kanjeng Empu Basula kembali hantamkan dua jarum maut yang tergenggam ditangan kanannya.

Karena serangan dua jarum datang dari arah belakang.

Walau sempat merasakan adanya desir angin mendahului gerakan dua jarum itu, Sang Kuasa Agung yang perhatiannya terus tertuju pada satu jarum yang menyerang dari sebelah depan rasanya tidak dapat selamatkan diri dari terjangan dua jarum maut itu.

Melihat sahabatnya berada dalam ancaman bahaya besar, si Jenggot Panjang tidak mau berdiam diri. Dia pun lalu menghantam kedua senjata lawan dengan pukulan Telapak Iblis Menebar Bala. Cahaya hitam pekat berkiblat, membentuk dua buah alur panjang, menebar hawa dingin luar biasa.

Tapi sebelum hawa alur cahaya menggidikkan menghantam dua jarum yang siap menghujam dipunggung si gadis.

Tidak disangka-sangka bagian ekor Sang Kuasa Agung yang mencuat panjang dengan ujung runcing berbentuk sengatan tajam dan dapat menyemburkan bisa menghantam kedua senjata berwarna putih berkilawan itu.

Traak! Trak!

Benturan keras terjadi dua kali berturut-turut. Dua batang jarum terpental. Sang Kuasa Agung tiba-tiba berseru.

"Berbalik, hantam tua bangka itu dengan senjatanya sendiri!" Teriakan itu segera diikuti dengan kejadian yang sangat luar biasa. Bahkan Kanjeng Empu Basula sendiri sempat dibuatnya tercengang.

Sesuai dengan perintah si gadis, tiba-tiba dua batang jarum berbalik arah. Lalu menderu siap menghantam tubuh si kakek. Walau Kanjeng telah berusaha mengendalikan jarum melalui pengerahan tenaga dalam jarak jauh.

Kedua jarum tetap saja tak bisa dia hentikan.

Tidak ada pilihan lain sang Kanjeng terpaksa hantamkan kedua tangan ke arah senjatanya sendiri.

Dua jarum rontok jatuh menjadi kepingan.

Si kakek leletkan lidah basahi bibirnya yang kering.

Tindakan penyelamatan diri yang dilakukan oleh Kanjeng Empu Basula tentu saja membuat perhatian si kakek terpecah menjadi dua.

Dengan demikian serangan jarum yang ditahan lawan tak dapat lagi dipertahankannya.

Tanpa dapat dicegah, jarum itupun akhirnya meledak hancur menjadi kepingan yang dikobari api.

Tanpa menghiraukan bagian ekornya terasa sakit bukan kepalang akibat bentrok dengan dua batang jarum yang menyerang dari belakang tadi.

Sang Kuasa Agung mengumbar tawa bergelak. Sambil tertawa dia bangkit berdiri.

Kemudian tanpa menghiraukan Si Jenggot Panjang yang tadinya berusaha menolongnya, Sang Kuasa Agung berseru.

"Kanjeng kini aku benar-benar marah. Sekarang tiba giliranmu untuk menerima hadiah dariku!

Heaaa...!"

Secepat kilat si gadis melakukan tiga lompatan ke depan. Dua tangan menyambar ke bagian leher sang Kanjeng sedangkan tiga pasang kaki menghujam ke tubuh kakek itu sekaligus.

Kanjeng Empu Basula yang masih terkesima melihat tiga senjatanya musnah terkesiap namun masih sempat selamatkan diri dengan melompat ke kiri sementara dua tangan dihantamkan ke dada gadis itu

Bek! Buk!

Dua tangan sang Kanjeng bergedebukan menghantam dada Sang Kuasa Agung.

Tapi ternyata gadis ini telah melindungi tubuhnya dengan ilmu kebal. Pukulan yang dilakukan Kanjeng seperti menghantam timbunan karet tebal. Jangankan membuat remuk dada lawan, membuatnya terguncang pun tidak sanggup.

"Kau memang sudah selayaknya mampus ditanganku!" Teriak Sang Kuasa Agung disertai seringai kemenangan. Dua tangan berbentuk capit mencengkeram leher.

Sedangkan tiga pasang kaki lebih dulu menghujani perut kanjeng.

Ujung tiga pasang kaki yang runcing seperti tombak tanpa ampun amblas menghujani dada, perut dan kaki orang tua itu.

Darah menyembur dari seluruh luka ditubuhnya. Sang Kuasa Agung menyeringai.

Dua tangan yang menjepit leher ditekan sedemikian rupa hingga terdengar suara tulang putus berderak.

Krek! Blug!

Kepala itu menggelinding direrumputan.

Si gadis angkat kaki-kakinya yang terbenam diperut lawan. Begitu kaki tercabut, tubuh Kanjeng Empu Basula pun ambruk. Sang Kuasa Agung mengumbar tawa kemenangan.

Dengan kaki dan tangan masih berlumuran darah dia tinggalkan mayat lawannya.

Melihat sahabatnya selamat bahkan sanggup menghabisi kakek yang menjadi lawannya, dengan perasaan girang Si Jenggot Panjang berlari mendatangi.

"Sang Kuasa Agung, aku sudah menduga kau bisa mengalahkan orang tua itu. Kau memang hebat! Aku sangat bangga mempunyai sahabat seperti dirimu!"

Kata kakek itu sambil tatap gadis disebelahnya dengan pandangan kagum. "Dia bukan lawan sepadan buatku! " dengus Sang Kuasa Agung.

Gadis ini lalu memandang ke langit. Bulan hampir lenyap dari pandangan. Sebentar lagi pasti malam digantikan datangnya pagi.

Sang Kuasa Agung paling tidak suka berada dialam terbuka disiang hari. Itulah sebabnya dia segera berkata.

"Sebaiknya kita masuk ke dalam bukit. Sambil memikirkan langkah selanjutnya. Kita bisa menunggu kedatangan kekasihku Iblis Kolot!"

"Baiklah sahabatku." Sahut Si Jenggot Panjang.

Kemudian tanpa bicara lagi keduanya bergegas menuju ke pintu bukit.

Mereka tidak pernah tahu, pada saat mereka masuk ke dalam ruangan besar dalam perut bukit, disaat pintu batu bergerak menutup.

Satu kejadian yang sangat sulit dipercaya berlangsung di tempat itu. Tubuh Kanjeng Empu Basula yang dipenuhi lubang luka tiba-tiba bangkit. Kemudian kepala yang menggelinding terpenggal menyatu kembali.

Orang tua ini lalu duduk.

Dua tangan dipergunakan mengusap lehernya.

Luka mengerikan dileher yang sempat terpisah dengan kepala lenyap tanpa bekas. Mata yang mengatup terpejam kemudian membuka, Menatap ke arah tubuh disebelah bawah dia menggeleng.

Tanpa bicara Kanjeng Empu Basula mengusap luka-luka didada, perut juga kedua kakinya.

Sebagaimana yang terjadi pada lehernya, luka itupun lenyap, Hanya pakaian yang dipenuhi lubang bekas tancapan kaki yang tidak dapat bertaut. Kanjeng Empu Basula kembali dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apa.

"Dia tidak pernah menyadari, bahwa mahluk sepertiku tidak dapat dibunuh oleh satu kekuatan apapun yang dimiliki manusia ataupun siluman. Aku hanya bisa mati oleh diriku sendiri."

Sang Kanjeng kemudian menatap ke arah bukit. Dia melhat pintu bukit yang menutup.

"Sang Kuasa Agung berada di dalam bukit. Aku tahu kau pasti menunggu kedatangan Iblis Kolot.

Kau boleh menyusun rencana, namun aku juga punya rencana sendiri. Kekalahanku bukanlah kekalahan sesungguhnya, aku hanya sengaja mengalah untuk mengatur siasat. Kau boleh punya seribu muslihat namun aku selalu punya penangkalnya!"

Sambil berkata demikian, Kanjeng Empu Basula segera memutar tubuh, siap hendak tinggalkan tempat itu.

Namun sebelum orang tua ini sempat bergerak dari tempatnya berdiri tiba-tiba saja terdengar suara menderu dikejauhan.

Kanjeng Empu Basula menoleh ke belakang.

Kening mengeryit, sepasang mata menyipit begitu melihat seekor kuda dan penunggang kuda berpenampilan aneh datang ke arahnya.

Sekali lagi sang Kanjeng balikkan badan.

Didepannya terlihat seekor kuda berbulu coklat bermata buta tertutup dua batok hitam berdiri tegak dengan nafas berdengus.

Dari hembusan nafas sang kuda yang panas sekali, orang tua ini sadar binatang itu bukanlah kuda yang biasa dipergunakan oleh manusia.

Dari kuda perhatiannya tertuju ke arah penunggangnya.

Pemuda bertelanjang dada bercelana biru yang matanya terlindung dua batok ternyata juga sedang menatap ke arahnya.

"Orang tua aneh, dua kaki mengambang diatas rerumputan. Siapakah dirimu? Kelihatannya telah terjadi perkelahian hebat ditempat ini."

Si kakek tersenyum. Dia tahu pemuda diatas kuda itu bukan manusia tapi mahluk asing yang datang dari alam roh

"Aku Kanjeng Empu Basula. Kau siapa? Kau seperti seorang petinggi yang datang dari tempat mahluk-mahluk yang sedang menjalani hukuman siksa."

"Orang tua. Kau hebat bisa mengetahui siapa diriku. Dan kau juga bukan berasal dari alam fana ini.Aku biasa disebut Pemburu Dari Neraka. Aku sedang mencari seorang pelarian. Dia bernama Si Jenggot Panjang.Penciumanku mengendus dia baru saja berada ditempat ini!"

Pemburu Dari Neraka selanjutnya menerangkan ciri-ciri orang yang dicarinya. Begitu Pemburu Dari Neraka selesai bercerita tentang orang yang dicarinya. Kanjeng Empu Basula pun kemudian berkata.

"Orang itu memang berada ditempat ini. Tapi sekarang dia telah masuk kedalam perut bukit Batu Lumut bersama sahabatnya yang dikenal dengan sebutan Sang Kuasa Agung!"

Si kakek lalu menunjuk ke arah bukit yang terdapat dibelakang pemuda itu.

Pemburu Dari Neraka menatap ke Arah bukit yang ditunjuk oleh Kanjeng

"Kurang ajar! Sang Kuasa Agung adalah orang yang menyerangku dengan ratusan bola api. Jadi dia yang menjadi pelindung mahluk pelarian Si Jenggot Panjang.?"

"Menjadi pelindungnya atau bukan! Aku tidak tahu! Yang jelas Sang Kuasa Agung memang sahabatnya!"

Kata sang Kanjeng.

"Jadi Si Jenggot Panjang itu tawananmu!"

"Benar! Jenggot Panjang adalah mahluk pelarian dari neraka lapis tiga! Masa hukumannya masih lama. Dia seharusnya masih mendekam di neraka selama seribu tahun lagi!"

Terang Pemburu Dari Neraka membuat Kanjeng Empu Basula belalakkan mata, seluruh tubuhnya merinding wajah membayangkan ketegangan.

"Kalau demikian adanya. Kau harus bisa menghancurkan bukit Batu berlumut yang ada dibelakangmu. Setelah bukit hancur lebur kau seret Si Jenggot Panjang dan sahabatnya Sang Kuasa Agung. Mahluk siluman berkaki kalajengking itu sudah sepatutnya dibawa serta ke neraka!"

"Dan kau sendiri hendak kemana? Apakah kau tidak punya keinginan untuk membantu meringkus kedua orang tua itu?!"

Tanya Pemburu Dari Neraka ketika melihat Kanjeng Empu Basula sepertinya siap hendak tinggalkan tempat itu.

Si kakek tersenyum

"Sebelum kau datang aku telah melakukannya sendiri, anak muda! Sang Kuasa Agung adaiah orang yang sangat luar biasa. Namun tiba-tiba aku berubah pikiran. Aku pura-pura mengalah dengan terbunuh ditangannya...!"

"Apa? Kau sudah terbunuh tapi kini hidup lagi? Ucapanmu itu sungguh sulit untuk dipercaya?" Potong Pemburu Dari Neraka heran.

"Aku tidak pernah mengharap kau mempercayai ucapanku. Pemilik alam semesta penuh kuasa.

Manusia punya ilmu punya kepandaian. Pandangan mata kadangkala suka menipu. Dengan ilmu kesaktianku, aku telah menipu mahluk itu. Dia merasa senang karena mengira aku sudah mati. Dia tidak tahu kematianku berada ditanganku sendiri." "Orang tua, aku sungguh kagum padamu."

"Segala pujian hendaknya dipanjatkan pada Yang Maha Kuasa. Aku hanya mahluk yang memiliki banyak keterbatasan. Dan kau tidak usah menyanjungku."

Setelah berkata begitu si kakek segera ayunkan langkah tinggalkan Pemburu Dari Neraka seorang diri.

Sebelum orang tua itu lenyap dari pandangan, Sang Pemburu tiba-tiba berseru.

"Orang tua, apakah kau pergi untuk menjalankan rencana sebagaimana yang kau sebutkan?!" Tanpa menoleh lagi Kanjeng Empu Basula menjawab,

"Jika Sang Kuasa Agung pandai bermuslihat, tentu saja aku juga punya rencana yang jauh lebih baik dari pada tipu muslihatnya. Yang jelas aku harus pergi dari sini secepatnya sebelum malam menjadi siang!"

"Orang tua aneh!"

Membatin sang Pemburu dalam hati. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

Cepat dia menatap ke arah perginya sang Kanjeng.

Namun belum sempat pemuda ini membuka mulut. Kanjeng Empu Basula telah lenyap dari pandangan mata.

Seperginya si kakek renta, Pemburu Dari Neraka melompat turun dari kudanya.

Begitu kaki menyentuh rerumputan tebal dia segera melangkah menghampiri bukit Batu Berlumut.

Namun baru sampai ditengah jalan, langkahnya terhenti. Tiba-tiba saja terdengar suara menderu dari atas ketinggian.

Kaget bercampur heran, sang Pemburu dongakkan kepala menatap ke atas.

Kening pemuda ini berkerut ketika diatas ketinggian sana seolah jatuh dari langit terlihat satu sosok tubuh melayang-layang ke arahnya.

Cepat sekali sosok tubuh yang melayang itu jatuh tiga tombak di depannya. Bruuk!

Terdengar suara bergedebukan disertai derak tulang belulang yang berpatahan. Pemburu Dari Neraka tatap ke depan dengan dada berdebar darah berdesir.

Penasaran pemuda ini datang menghampiri ke arah jatuhnya sosok tubuh itu.

Pemuda ini terkesima, sepasang mata yang terlindung dua batok hitam terbelalak lebar.

Dia melihat sosok yang jatuh dari langit ternyata sosok seorang gadis berwajah cantik dipenuhi bercak darah.

Gadis itu berambut panjang, berkulit putih berdada bagus berpinggul indah.

Sosok itu diam tidak bergerak. Dan yang membuat Sang pemburu merasa miris, tubuh mulus si gadis malang tidak terlindung selembar kain pun. "Mayat gadis telanjang!"

Desis Pemburu Dari Neraka dengan suara tercekat dan darah seperti disirap. "Siapa iblisnya yang telah memperlakukan gadis yang tidak berdosa seperti ini?" Teriak sang Pemburu dengan suara meraung mirip lolongan anjing dimalam buta. Pemburu Dari Neraka terus berteriak selayaknya orang gila.

Semakin lama suara teriakannya tambah melengking menembus langit. Pemuda ini kemudian jatuhkan diri.

Sambil dekap kedua matanya Pemburu Dari Neraka menangis sejadi-jadinya. 

TAMAT