Raja Gendeng Eps 18 : Mutiara Tujuh Setan

 
Eps 18 : Mutiara Tujuh Setan


Sehari sebelum datangnya sang tamu Agung.

Puncak gunung Papandayan yang selama sepekan sebelumnya diguyur hujan terlihat cerah. Langit biru tanpa awan.

Sedangkan matahari bersinar terang.

Di tengah suasana alam yang cukup bersahabat tepat diujung sebelah selatan puncak gunung, seorang kakek tua renta berpakaian serba merah bertubuh kurus tinggi duduk diam di depan pondok buruk miliknya.

Si kakek berambut panjang menjela, berkumis dan berjanggut itu terlihat murung, seakan ada satu beban berat yang menjadi ganjalan dihatinya.

Berulangkali dia menghela nafas dalam-dalam. Setelah lama si orang tua duduk mencangkung diatas balai bambu, kini tatap matanya tertuju ke arah tujuh telaga warna yang terdapat di depan pondok. Tujuh telaga itu masing-masing memiliki air berwarna-warni seperti pelangi.

Tiba-tiba dari mulut si orang tua yang terlindung kumis putih menjela terdengar ucapan. "Langit tetap biru seperti dulu. Matahari selalu muncul dari timur. Siang malam datang silih

berganti. Kehidupan setiap insan pasti ada batas akhirnya. Seratus tahun sudah usia si tua ini. Menjadi juru kunci sekaligus penjaga telaga bukanlah impianku. Tapi kegembiraan dan duka terkadang datang laksana sejuknya semilir angin. Dan ketika seorang tamu agung menyatakan hasrat ingin datang menyambangi. Kelegaan dihati menjadi risau menunggu datangnya sang malam yang masih terlalu pagi. Aku bosan menunggu, tapi kesabaran juga yang membuatku memilih untuk tetap bertahan seperti ini."

Selesai berucap si kakek mengusap kumis dan janggutnya. Di rimba persilatan dia dikenal dengan nama Raga Sontang dan sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan karena memiliki ilmu pukulan sakti Tapak Guntur.

Tak lama kemudian dia bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah terseok-seok dan tubuh terbungkuk-bungkuk Raga Sontang melangkah memasuki pondok bututnya. Sekejab sosok si orang tua renta itu lenyap di balik pintu.

Belum lama si kakek masuk ke dalam pondoknya tiba-tiba saja terdengar suara gelegar gelak tawa merobek kesunyian.

Puncak gunung Papandayan terguncang keras tidak ubahnya seperti dilanda gempa besar.

Bebatuan yang terdapat di sekeliling lereng gunung luruh berguguran. Sebagian diantaranya bahkan terpental menyebar keseluruh penjuru dan jatuh di kaki gunung disertai suara gemuruh laksana curah hujan.

Pengaruh hebat yang ditimbulkan oleh suara tawa itu ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Di bagian puncak di mana telaga tujuh warna berada, air yang terdapat di dalam ke tujuh telaga itu bahkan terlihat menggelegak bergetar seperti mendidih. Sedangkan pada bagian permukaan terus menerus bergolak. Raga Sontang yang berada di dalam pondok nampak tercekat.

Dia yang bermaksud mengambil tujuh kendi berisi air mantra penolak bala segera meraih sebilah keris pusaka dan tombak hitam.

Keris yang dikenal dengan nama Naga Penidur dan tombak hitam bermama Nyi Pleret itu bukan senjata sembarangan.

Kedua senjata itu adalah senjata sakti yang telah tersohor diseluruh penjuru tanah Pasundan.

Setelah selipkan keris di pinggang sebelah kiri dan menggenggam tombak di tangan kanan.

Raga Sontang segera balikkan badan. Tapi belum sempat orang tua ini membuka pintu, terdengar suara ucapan dari luar.

"Kuncen tua penjaga Tujuh Telaga. Aku datang berkunjung ingin mengutarakan satu maksud satu keinginan. Bila keinginanku terlaksana maka kuanggap kau telah berlaku bijaksana. Aku bersumpah tidak akan mengusik selembar pun dari rambutmu. Setelah itu aku akan pergi dari tempat ini dan kau bisa melanjutkan sisa hidupmu dengan damai. Kelak kau bisa mati dengan tenang, lalu arwahmu dapat menghadap para dewa di Swarga loka. Mudah-mudahan dewa bermurah hati untuk memberimu sebuah tempat di sorga walau cuma diemperannya saja. Ha ha ha!"

Dibelakang pintu pondok Raga Sontang dibuat tercekat. Dia terdiam otak berpikir hati menduga duga.

"Suara dan caranya tertawa sungguh berbeda dengan suara orang yang ku tunggu. Siapa pun dia kedatangannya tentu membekal maksud dan keinginan yang tidak baik. Apa yang harus kulakukan? Menghadapinya? Orang ini jelas bukan manusia biasa. Tenaga dalam yang dia miliki pasti sangat tinggi dan itu telah terbukti lewat gelegar suara tawanya."

Batin Raga Sontang. Selagi orang tua ini diliputi kebimbangan.

Sekali lagi terdengar teriakan manggeledek

"Raga Sontang! Apakah matamu buta dan telingamu tuli.Kau tidak melihat tingginya langit dalamnya lautan? Aku tahu kau berada di dalam pondok butut itu. Kau sengaja bersembunyi disana apakah karena ketakutan ataukah sedang mengatur tipu muslihat? Kau tidak akan kubiarkan lolos kecuali kau mau serahkan satu benda berharga yang telah kau tunggu dan jaga selama puluhan tahun di tempat ini!"

Raga Sontang yang semula hanya diam menahan diri akhirnya mengambil satu keputusan. Dia akan menghadapi setiap rintangan sebesar apapun yang datang menghadang.

"Siapa yang bicara? Kunyuk gila atau iblis? Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu. Kau menyebut tentang benda, benda itu ada padaku. Benda apa itu? Aku hanya punya satu benda butut yang hingga setua ini belum pernah kupakai. Atau kau menginginkan benda yang lain, Kalau begitu lekas katakan, benda apa yang kau mau...!"

"Mutiara .bukankah selama puluhan tahun kau diberi tugas menjaga benda sakti bertuah itu.

Dimana Mutiara Tujuh Setan kau simpan. Kau harus menyerahkannya padaku sekarang juga!?"

Teriak satu suara dari jauh sebagai jawaban. Lalu terdengar lagi suara melengking disertai dengan munculnya satu sosok bayangan dari arah sebelah utara puncak gunung.

Sosok bayangan itu berpakain serba biru dan melesat dengan kecepatan luar biasa. Mulutnya menggembung melakukan satu tiupan ke arah pondok dimana Raga Sontang berada

"Penuh...!"

Dari mulut sosok serba biru yang berkelebat menderu segulung angin laksana topan berhembus Wous!

Lalu Brak!

Pondok buruk di seberang tujuh telaga laksana alang kering tersapu mental, puing-puing pondok hancur berterbangan sedangkan sebagian lagi jatuh melayang ke arah kaki gunung.

Raga Sontang yang saat itu belum sempat keluar dari dalam pondok tampak tergontai. Rambut panjangnya berkibar-kibar.

Kancing pakaian bertanggalan membuat dada hingga ke perut orang tua itu terbuka. Orang tua ini masih beruntung karena dia tidak sampai ikut tersapu terpelanting.

Tapi akibat serangan ganas itu membuat wajahnya pucat, dada berdenyut sakit, sedangkan sekujur tubuhnya yang ikut terhantam hembusan angin serasa laksana ditancapi ribuan jarum beku.

"Manusia kurang ajar. Beraninya kau membuat kekacauan di tempat tinggalku." Geram Raga Sontang sambil melompat tinggalkan tempat dimana tadinya pondok berdiri. Sekejab kemudian begitu jejakkan kaki, si kakek segera pandang ke depan.

Dia terkesiap ketika melihat di depan sana sejarak dua tombak dari tempatnya berada berdiri tegak seorang laki-laki sekitar enam puluh tahun.

Orang tua itu memakai pakaian warna biru, rambut panjang menjela ditumbuhi lumut.

Di atas kepala yang ditumbuhi lumut melingkar seekor ular berwarna biru. Selain itu pula ada seekor ular warna biru juga seukuran lengan orang dewasa bergelayut bergelung di bagian lehernya.

Setelah memperhatikan orang tua di depannya dari mulut Raga Sontang terdengar suara desis ucapannya.

"Iblis Momok Laut Biru."

"Bagus ternyata kau mengenali siapa diriku,"

Dengus si kakek yang dijuluki Iblis Momok Laut Biru itu disertai dengan senyuman angker. "Siapa yang tidak mengenal Aki Gde Samudra, bukankah begitu nama aslimu. Kau terlahir besar

dan menghabiskan banyak waktu dilautan, seperti kodok, Kehidupanmu tidak pernah jauh dari air. Aku merasa aneh sekaligus heran karena kau mengembara jauh hingga ke gunung ini. Dan celakanya kau telah membuat kekacauan disini. Sungguh tindakanmu sangat tidak terpuji dan membuatku merasa heran."

Berkata Raga Sontang penuh teguran. Bukannya merasa sungkan karena sang pemilik tempat sudah tidak berkenan menyambut kehadirannya.

Tetapi sebaliknya Iblis Momok Laut Biru yang aslinya bernama Aki Gde Samudra itu malah berkacak pinggang, dongakkan kepala lalu tertawa tergelak-gelak.

Puas mengumbar tawa Iblis Momok Laut Biru berkata.

"Terserah aku mau berada di mana. Itu bukan urusanmu, kakek penjaga tujuh telaga. Yang jelas kedatanganku di sini tidak mau berpanjang kata, tetapi dengan tujuan ingin meminta mutiara Tujuh Setan darimu."

Mendengar permintaan orang tua di depannya, wajah Raga Sontang nampak merah mengelam.

Sambil menghela nafas dengan tatapan dingin dia menjawab.

"Setelah berbuat keonaran, kini kau malahan mengemis minta sebuah benda keramat yang mana seumur hidup pun aku tak pernah melihatnya? Aku tidak bisa membayangkan malapetaka apa yang bakal terjadi bila Mutiara Tujuh Setan sampai terjatuh di tanganmu!"

Mendengar jawaban Raga Sontang yang bernada menghina itu. Iblis Momok Laut Biru seperti orang yang ditusuk besi pada liang telinganya.

Orang tua itu berjingkrak kaget.

Sepasang matanya mendelik, kedua alisnya yang ditumbuhi misai menjuntai bertaut. Dengan suara menggembor lantang Iblis Momok Laut Biru membentak. "Tua bangka tidak tahu diuntung. Aku minta baik-baik, kau menganggapku sebagai seorang pengemis. Ketahuilah Sontang, jika aku berniat jahat ingin membunuhmu semua dapat kulakukan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi aku masih menaruh belaskasihan pada dirimu. Mutiara Tujuh Setan bukan benda sakti milikmu.Tugasmu hanya menjadi anjing penjaga keutuhan dan keselamatan benda itu. Karenanya kuharap kau suka membuka mata untuk memberikan benda yang menjadi keinginanku. Kau hanya mengatakan dimana Mutiara Tujuh Setan kau simpan atau kau serahkan saja Mutiara itu padaku, aku pasti segera angkat kaki tinggalkan tempat ini. hai Raga!"

Raga Sontang diam membisu. Dia sadar Iblis Momok Laut Biru bukanlah manusia sembarangan.

Selain dikenal karena keganasan dan kekejamannya, dia juga memiliki ilmu kesaktian yang sulit dijajaki.

Di lautan dia mahluk paling ditakuti. Sudah ratusan nelayan menjadi korbannya. Di daratan dia tidak ubahnya seperti hantu gentayangan penebar kematian pengumbar darah. Dengan segala kekejaman dan keangkerannya tidaklah mengherankan bila dia dijuluki Iblis Momok Laut Biru.

"Tamu agung yang kuhomati belum juga munculkan diri hingga saat ini. Aku yakin dia bukanlah orang, yang suka mengingkari janji. Waktu kedatangannya belum tiba. Menurut pesan yang kuterima beliau bakal muncul sore nanti. Tapi bagaimana dengan Iblis Momok Laut Biru? Aku harus memperdayai manusia satu ini. Mudah- mudahan dia menemui ajalnya di salah satu telaga itu."

Batin Raga Sontang sambil melirik ke arah telaga, Iblis Momok Laut Biru tersenyum, Dalam hati dia menduga pastilah Raga Sontang menyimpan benda sakti yang dia cari di dalam satu telaga itu.

Tidak ingin berlama-lama, sebelum kesabaran nya benar-benar habis si kakek berkata. "Raga Sontang. Aku melihat gelagat, aku dapat membaca gerak-gerikmu. Sekarang sebaiknya

katakan apakah benar kau menyimpan Mutiara Tujuh Setan di salah satu telaga itu?" Raga Sontang tersenyum.

"Mengingat nama besarmu, aku berpikir tidak ada gunanya melawanmu. Aku tidak ingin mencari perkara denganmu. Dalam usia yang setua ini, aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan tenang."

Ucap si kakek.

Dan tentu saja apa yang diucapkannya hanya sebuah muslihat karena sebenarnya dia tidak takut kepada Iblis Momok Laut Biru.

"Bagus. Menyadari kelemahan diri sendiri bisa membuatmu terhindar dari kematian." Menyahuti si kakek disertai seringai dingin.

Setelah memperhatikan orang tua di depannya, sang Iblis Momok Laut Biru lanjutkan ucapan. "Jadi kau mau menyrahkan Mutiara itu kepadaku?"

Raga Sontang tanpa ragu anggukkan kepala.

"Sekarang katakan dimana Mutiara Tujuh Setan tersimpan?"

"Tepatnya aku tidak tahu, Iblis Momok Laut Biru. Aku sendiri menjaga benda keramat selama puluhan tahun. Namun aku tidak pernah tahu di mana tersimpannya. Benda yang kau cari mungkin tersimpan di salah satu telaga. Kalau kau ingin mengambil benda itu sebaiknya periksalah semua telaga itu. Nanti kau pasti bisa menemukannya"

Mendengar penjelasan Raga Sontang, Iblis Momok Laut Biru kertakkan rahang. Dengan tangan terkepal, pipi menggembung dia membentak.

"Tua bangka keparat, apakah kau bermaksud mencelakai diriku. Sebagai penjaga telaga selama puluhan tahun bagaimana mungkin kau tidak tahu di telaga mana Mutiara itu disimpan.?"

Dengan pura-pura tunjukkan wajah ketakutan dan tubuh menggigil. Raga Sontang buru-buru menjawab.

"Iblis Momok Laut Biru. Aku tidak berdusta." Tetapi dalam hatinya dia berucap lain.

"Hm, rasakan kau tertipu."

"Apa kau tidak berdusta? Hm bagaimana bila kau saja yang menyelam dan aku menunggu di tepi telaga?"

Dengus Iblis Momok Laut Biru disertai seringai penuh arti.

"Tidak mungkin sebab masuk dan menyelam ke dalam telaga adalah pantangan besar bagi kuncen sepertiku. Aku bisa dikutuk. Dewa dikayangan akan marah melihatku melanggar sumpah. Memberi petunjuk tempat penyimpanan Mutiara Tujuh Setan saja sudah menjadi satu kesalahan besar. Aku tidak mau melakukannya. Jika kau tetap memaksa lebih baik kau bunuh aku saja!"

Berkata Raga Sontang dengan sikap seakan pasrah menerima nasib buruk.

Iblis Momok Laut Biru tercenung. Sepasang mata menatap lurus pada Raga Sontang.

"Aku telah memberi petunjuk. Kuharap kau mau berbaik hati dengan memberi kelonggaran pada tua bangka ini. Lagi pula kau adalah orang yang sudah terbiasa berada di air, Lautan luas menjadi daerah kekuasaanmu. Apa salahnya kau selami telaga-telaga itu?"

Ucap si kakek sengaja memanasi.

"Hm, baiklah. Sekarang kau boleh mengantar aku ke sana."

Raga Sontang anggukkan kepala tanda setuju. Tanpa keraguan namun dengan sikap waspada, Raga Sontang melangkah menuju telaga yang berada di bagian ujung paling utara.

Sementara di belakangnya Iblis Momok Laut Biru mengikuti. Sambil berjalan orang tua ini memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tujuh telaga warna yang menghampar dari selatan ke utara itu sebenarnya tidak seberapa luas, terletak berdampingan. Dan air pada masing- masing telaga berwarma merah, biru, kuning, hijau hitam, putih laksana susu dan juga ungu.

Sesampainya di ujung telaga ungu Raga Sontang hentikan langkah.

"Kau bisa mulai menyelam dari telaga yang paling ujung yang airnya berwarna ungu ini." Saran Raga Sontang. Iblis Momok Laut Biru terdiam.

Sepasang matanya menatap tajam pada orang di depannya. Ada rasa curiga di dalam hati.

Rupanya dia khawatir Raga Sontang bermaksud menipu dan mencelakai. Tidaklah heran bila sang Iblis pun akhirnya berkata.

"Seandainya aku mulai menyelam di telaga yang airnya hitam bagaimana?"

Mendengar ucapan Iblis Momok Laut Biru, Raga Sontang tak kuasa menahan gelak tawanya. Di tengah gelak tawanya dia menjawab,

"Iblis Momok Laut Biru. Telaga manapun yang hendak kau masuki. Bagiku tidak masalah. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Namun jangan pernah punya prasangka buruk bahwa aku akan mencelakaimu. Semua kembali pada dirimu.Kau ingin mengambil Mutiara Tujuh Setan? Harap kau mencarinya sendiri. Aku telah memberi kemudahan dengan tidak merintangi keinginanmu itu"

"Ha ha ha. Kau benar juga. Ternyata hatimu polos. Tapi ingat jangan sekalipun kau berpikir untuk membuatku celaka.Jika ada musibah sekecil apapun yang aku alami. Aku tak akan mengampuni selembar nyawa busukmu!"

Setelah melontarkan ancaman, Iblis Momok Laut Biru segera balikkan badan menuju ke telaga ke tiga yang airnya berwarna hitam.

Raga Sontang yang seumur hidupnya belum pernah sekalipun menjajaki kedalaman telaga diam-diam menjadi resah.

Si kakek tidak pernah lupa bahwa setahun setelah mendapat tugas sebagai juru kunci penjaga Mutiara Tujuh Setan, di suatu malam dia bermimpi.

Dalam mimpi itu ada tujuh mahluk aneh tiba-tiba muncul mendatanginya ditengah tebaran kabut.

Kemudian masing-masing mahluk yang menemuinya itu berpesan agar dia jangan mencoba-coba memasuki ke tujuh telaga itu.

"Tujuh telaga warna adalah tujuh telaga setan. Semua telaga itu bisa menjadi tempat kematian bagi setiap orang yang masuk ke dalamnya. Kami sekedar memberi ingat padamu Raga Sontang. Dan peringatan kami demi kebaikan dirimu sendiri."

Selanjutnya setelah sempat memberi beberapa petunjuk penting mahluk berpenampilan aneh itu lenyap.

Raga Sontang terjaga dari tidurnya.

Ketika orang tua ini bangkit dari tempat tidurnya.

Dia mendapati di atas balai bambu berlapis jerami yang menjadi tempat ketidurannya tergeletak sebuah benda warna warni memancarkan cahaya redup seukuran tidak lebih besar dari ibu jari kaki.

Benda itulah yang disebut-sebut sebagai mutiara pelangi atau yang lebih dikenal dengan nama Mutiara Tujuh Setan.  

"Rasanya aku telah siap untuk mencari Mutiara itu." Kata Iblis Momok Laut Biru.

Suaranya lirih namun membuat Raga Sontang tersadar dari lamunannya.

"Aku tidak akan menghalangi. Tak banyak yang bisa kulakukan terkecuali menunggu engkau muncul kembali dari dalam telaga dengan membawa benda yang kau inginkan."

Iblis Momok Laut Biru sunggingkan senyum mengejek.

Dia tidak menanggapi melainkan segera rangkapkan kedua tangan di atas kepala.

Seiring dengan itu mulut yang terlindung kumis berselaput lumut hijau berkemak-kemik membaca sesuatu.

Satu pemandangan yang belum pernah dilihat Raga Sontang kemudian terjadi di depan matanya. Sekujur tubuh Iblis Momok Laut Biru tiba-tiba memancarkan cairan minyak disertai kepulan asap.

Rupanya sang iblis sengaja memakai minyak pelapis pelindung tubuh penangkal dari segala bahaya yang tidak diinginkan selama di dalam air.

"Manusia keparat satu ini ternyata cukup cerdik juga. Dia telah memikirkan segala akibat dari setiap tindakan yang dia tempuh. Aku sendiri tidak pernah tahu apakah air telaga hitam ini bisa menjadi ancaman baginya."

Membatin Raga Sontang.

Si kakek menunggu, berdiri diam ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Sementara tidak jauh di depan sana Iblis Momok Laut Biru tiba-tiba keluarkan seruan.

"Mutiara Tujuh Setan. Kuharap aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukanmu!" Byurr!

Seruan Iblis Momok Laut Biru serta merta lenyap seiring dengan lenyap tubuhnya yang masuk ke dalam telaga.

Tidak lama setelah orang tua itu mengamblaskan diri masuk ke dalam telaga, tiba- tiba saja terdengar suara menderu disertai raungan menggelegar dari enam penjuru arah.

Raga Sontang terkesima.

Menatap kesekelilingnya si kakek tidak melihat apa-apa.

Namun ketika dia melihat ke atas langit yang cerah tiba-tiba mendadak berubah mendung.

Hembusan angin bertambah kencang, seiring dengan berubahnya cuaca yang berlangsung dengan cepat sekali.

Tujuh telaga warna menggelegak seolah-olah mendidih.

Air permukaan telaga kemudian bermuncratan setinggi dua tombak. Raga Sontang tambah tercekat. Wajahnya pucat, hati diliputi ketegangan.

Rasa takut yang dibalut dengan perasaan bersalah karena telah mengizinkan seseorang memasuki salah satu telaga pantangan membuat orang tua ini melangkah mundur.

Dua tangan dirangkap dan ditempelkan ke depan dada.

Sementara sambil terus bergerak menjauh dari telaga hitam mulutnya berucap,

"Para dewa maafkan hamba yang tidak pandai menjaga amanat. Saya hanya menginginkan agar Mutiara Tujuh Setan selamat dan bisa berada di tangan orang yang berhak menerimanya. Namun bila niat yang tulus itu masih dianggap sebagai suatu kesalahan. Dengan rela hati saya siap menerima hukuman."

Baru saja Raga Sontang selesai berucap, tiba-tiba terlihat kilat disertai gelegar suara petir yang menggemuruh.

Puncak gunung Papandayan terguncang hebat seolah hendak runtuh. Raga Sontang jatuh berlutut. Deru angin tambah menghebat.

Kabut pekat muncul di mana-mana.

Air pada masing-masing Tujuh telaga terus menggelegak.

Bersamaan dengan itu ada kilauan cahaya memancar dari setiap telaga. Masing-masing sesuai dengan warna airnya.

Kilau cahaya tujuh warna yang berasal dari ketujuh telaga bergerak lurus ke atas lalu mengapung di ketinggian.

Melihat kejadian itu Raga Sontang keluarkan ucapan dengan suara tercekat.

"Aku mohon berkah pengampunan dari para dewa pencinta berbagai keajaiban dunia. Apakah yang saya saksikan saat ini adalah berkah ataukah tujuh bahala. Tujuh telaga mengeluarkan cahayanya masing-masing. Bila ketujuh cahaya menyatu berarti akan banyak manusia yang ditimpa azab mala petaka... Oh! Dewa Agung, Jagad Agung. Janganlah sampai segala yang menjadi kehawatiranku ini menjelma menjadi sebuah kenyataan!"

Rintih Raga Sontang sambil linangkan air mata. Traat!

"Gleger...!"

Sekali lagi kilat menyambar disertai dentuman petir menggelegar.

Kemudian seolah datang dari tahta langit. Raga Sontang tiba-tiba mendengar ada satu suara berkata.

"Raga Sontang. Tugasmu menjaga cukup sampai disini saja. Muslihatmu yang ingin mengulur waktu memperdaya Iblis Momok Laut Biru menjadi akhir pengabdian suci ini. Pantangan memasuki salah satu telaga telah dilanggar.Telaga tujuh warna membiaskan cahayanya. Bila cahaya itu menyatu seperti yang kau lihat saat ini, artinya tujuh telaga lenyap. Tujuh perbuatan buruk akan dilakukan manusia atas kehendak setan yang selalu menipu dan memperdaya manusia, mulai saat ini hingga dunia ini berakhir sebagian orang akan tersesat jalan hidupnya.Manusia menjadi rusak budi pekerti. Alam tidak lagi bersahabat dengan mahluk-mahluk di dalamnya. Dari segala yang disampaikan ini dalam waktu sekejab orang-orang di rimba persilatan akan saling bunuh. Tidak dapat lagi bisa dibedakan mana manusia waras dan mana yang gila. Adapun menyangkut dirimu. Sebagai hukuman atas kecerobohan yang telah kau lakukan, kau akan dibawa menuju ke suatu tempat terasing. Tempat itu jauh dari kehidupan manusia. Di sana para penghuninya tidak bersahabat. Mereka saling memangsa satu sama lain. Dan kau akan dijaga oleh tujuh ular berbisa yang bisa bicara selayaknya manusia, namun mereka bukan tujuh mahluk penyabar. Mereka sama sekali tidak bersahabat. Kau kekal berada di tempat itu selama-lamanya. Terkecuali pada suatu saat nanti para dewa mempunyai kehendak lain. Tidak tertutup kemungkinan dewa akan mengampuni dan kau dikembalikan ke alam kehidupan manusia."

"Siapa pun yang bicara. Saya mohon maafkan. Saya ingin sebuah pengampunan!"

Kata Raga Sontang dengan suara memelas. "Keputusan telah berlaku. Tujuh cahaya akan membawamu dari tempat ini. Selamat tinggal Raga Sontang. Semoga tabah dalam menghadapi setiap cobaan."

Suara tanpa ujud itu pun raib. Kilat menyambar.

Bersamaan dengan letupan dan ledakan yang terjadi pada tujuh telaga tujuh cahaya warna-warni yang mengapung di ketinggian melesat ke arah Raga Sontang, menyambar tubuh renta orang tua itu yang membuat si kakek tidak sempat menyelamatkan diri.

Ketika tujuh cahaya menyentuhnya, sosok Raga Sontang bergetar hebat lalu melayang di- ketinggian mengikuti melesatnya tujuh cahaya itu.

Raga Sontang menjerit ketakutan.

Baru saja cahaya yang membawa si kakek lenyap tujuh telaga yang menggelegak tiba-tiba meledak hancur disertai dentuman yang membuat sebagian puncak gunung Papandayan musnah menjadi kepingan.

Di balik ledakan dan bertaburnya reruntuhan puing dan batu-batu sebesar kerbau dari telaga berair hitam yang ikut meledak terlempar satu sosok tubuh.

Sosok yang terlempar itu terus menjerit dan meraung kesakitan.

Selanjutnya setelah sempat melayang-layang di bagian lereng gunung akhirnya sosok yang tak lain adalah Iblis Momok Laut Biru jatuh terkapar di sebelah utara kaki gunung.

******* Mengambil keputusan sekaligus menyelamatkan Mutiara Tujuh Setan, bagi Ki Ageng Sadayana menjadi sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi.

Tidaklah mengherankan sesuai dengan janji dengan pesan yang dia titipkan buat Raga Sontang, kakek berbadan kurus berpakaian serba hitam memakai ikat kepala juga berwarna hitam ini rela meninggalkan murid serta padepokannya yang berada dipantai Pangandaran.

Sejak pagi buta si kakek sudah berangkat. Dia menggunakan ilmu ajian Sapu Angin.

Ilmu kesaktian yang dapat membuat si kakek dapat berlari secepat topan berhembus.

Menjelang matahari terbenam kakek berambut putih panjang menjela sampai di kawasan kaki gunung yang dituju.

Di satu tempat tak jauh dari aliran sebuah sungai bening, Ki Ageng Sadayana memperlambat lari sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tidak terlihat tanda-tanda mencurigakan.

Dia pun yakin perjalanan rahasia yang dilakukannya tak ada yang mengikuti.

Setelah melewati bebatuan yang banyak bersembulan di permukaan sungai, sampailah Ki Ageng Sadayana di seberang sungai, setibanya dibantaran sungai dia menatap ke depan.

Di depan sana ada sebuah jalan setapak yaitu jalan satu-satunya dapat membawa si kakek ke puncak gunung.

Namun baru saja Ki Ageng hendak lanjutkan perjalanan dengan berjalan biasa sekonyong-konyong dia merasakan ada getaran hebat datang dari bagian puncak gunung.

Curiga bercampur rasa khawatir yang membuat si kakek dongakkan kepala menatap ke atas.

Sepasang matanya terbelalak kening berkerut ketika melihat di atas langit matahari yang bersinar terang kini lenyap tenggelam disaput mendung hitam tebal.

Kawasan di puncak gunung gelap gulita sedangkan kabut muncul di mana-mana. "Mengapa alam tiba-tiba tidak bersahabat? Apa yang terjadi?"

Membatin si kakek di dalam hati.

Ingat dengan orang yang hendak dia kunjungi. Ki Ageng Sadayana semakin bertambah cemas.

Tidak ingin sesuatu yang tak diharapkan menimpa orang yang sangat dia percaya orang tua ini segera berlari mendaki lereng gunung itu.

Sambil berlari dia terus berusaha mencari tahu tentang perubahan yang terjadi mengejutkan itu. "Raga Sontang! Apa yang kau lakukan? Kau pasti telah melakukan pelanggaran. Kau melanggar

pantangan dengan masuk ke telaga itu. Oh, betapa cerobohnya dirimu. Bukankah aku sudah berpesan jangan sampai sekali pun kau memberanikan diri memasuki telaga?"

Kata Ki Ageng Sadayana marah. Dalam kemarahannya dia terus berlari.

Namun baru sampai setengah jalan langkahnya untuk mencapai puncak yang dituju tiba-tiba saja ledakan dahsyat mengguncang bagian puncak gunung.

Terkejut sekaligus terdorong rasa ingin tahu orang tua ini sentakkan kepala menatap ke atas. Mata orang tua ini terbelalak lebar.

"Dewa agung. Maafmu meliputi segala. Ampuni dosa kesalahan Raga Sontang jika semua yang terjadi ini akibat kekeliruan yang dilakukannya."

Desis Ki Agung Sadayana.

Tidak ada waktu baginya untuk berpikir.

Terlebih ketika melihat bagian puncak gunung yang runtuh hancur luruh bergugusan bertebaran ke segenap penjuru.

Sedangkan sebagian diantara reruntuhan itu siap mengubur dirinya.

Tidak menunggu lebih lama dengan menggunakan ilmu mengentengi tubuh serta kecepatan gerak yang sangat luar biasa. Ki Ageng Sadayana melesat mencari tempat yang aman lalu jejakkan kaki di bagian agak ke hulu seberang sungai.

Suara bergemuruh dan benturan-benturan batu yang bertubrukan di kaki gunung akhirnya mereda.

Kepulan asap dan debu yang semula menutup pandangan mata lenyap. Ki Ageng Sadayana menatap ke atas.

Terlihat bagian puncak gunung yang sudak tidak utuh lagi. Di saat itulah dia melihat satu sosok bayangan serba biru melayang diketinggian dalam keadaan jungkir balik tak karuan rupa lalu jatuh di atas timbunan reruntuhan batu dan tanah.

"Raga Sontang..apakah mungkin yang kulihat... terlempar jatuh diketinggian itu dia orangnya.

Bukankah Raga Sontang biasanya berpakai merah? Tapi mengapa yang kulihat berpakaian warna lain? Mungkin... mungkin saja dia telah menceburkan diri ke telaga warna biru. Warna air di telaga itu tidak hanya bisa merubah warna pakaian tapi juga sanggup merubah warma kulit. Aku harus bertindak cepat, aku harus menolongnya. "

Setelah berkata demikian akhirnya dia bergegas hampiri sosok yang jatuh.

Ketika Ki Ageng Sadayana sampai di depan orang yang jatuh dari ketinggian, dia mendapati sosok itu dalam keadaan terkapar tidak sadarkan diri, Sekujur tubuh melepuh sebagian rambut yang panjang ditumbuhi lumut biru rontok seperti baru dicelupkan dalam air mendidih.

Kedua kaki remuk bahu miring mata terpejam sedangkan dari mulut serta hidungnya berlumuran darah beku. Melihat sosok yang mengalami luka parah itu ternyata bukanlah orang yang sangat dia kenal.

Ki Ageng Sadayana urungkan niat untuk menolong. Sambil memperhatikan si kakek diam-diam berkata.

"Siapapun dia pasti dia bukan Raga Sontang. Aku melihat kulit di sekujur tubuhnya yang melepuh berwarna hitam. Ini berarti dia telah memasuki telaga yang berair hitam. Dia pasti mencari Mutiara Tujuh Setan di dasar telaga. Aku kira kemungkinan besar Raga Sontang telah menipunya. Padahal dia tahu letak penyimpanan benda itu. Aku tidak perduli. Orang ini datang dengan membuat kekacauan. Kalau sekarang dia menemui ajal, itu sebagai imbalan setimpal atas segala perbuatan nekatnya. Satu yang merisaukan hatiku. Aku tidak melihat Raga Sontang. Apa yang terjadi dengannya? Aku harus menemukan orang tua itu sebelum matahari tenggelam. Tapi...!"

"Kemana aku harus mencari kuncen yang satu itu?!"

Si kakek tahu bahwa selama ini sang kuncen belum pernah meninggalkan puncak Papandayan.

Sepanjang waktu hampir separuh hidupnya dia habiskan di puncak gunung itu.

"Sebagian puncak gunung hancur rontok menjadi kepingan. Aku tidak yakin Raga Sontang selamat. Mungkin saja dia tewas terjatuh disisi gunung yang lain."

Pikir Ki Ageng Sadayana dalam kebimbangan sambil menghela nafas.

Tiba-tiba saja dia ingat dengan benda keramat yang selama ini selalu dijaga oleh Raga Sontang. "Benda itu, aku harus mencari sekaligus menyelamatkannya. Aku tidak mau sang pemilik benda

datang menagih dan menjadi murka saat mengetahui benda yang menjadi titipan tidak ada lagi di tangan penjaganya."

Setelah berkata demikian Ki Ageng Sadayana balikkan badan dan melangkah tinggalkan tempat itu. Dan untuk memastikan apakah Raga Sontang benar-benar mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, si kakek pun akhirnya menyisir keliling kaki gunung dan lembah, Tapi hingga matahari terbenam dan hari berganti malam. Ki Ageng ternyata tidak menemukan orang yang dicari.

"Mungkinkah dia tewas tertimbun reruntuhan. Wahai para dewa, aku yang bodoh dan lemah ini mohon petunjukmu."

Berkata si kakek di dalam hati sambil tetap berdiri tegak. orang tua ini pejamkan mata. Dalam hati dia terus memanjatkan doa mohon petunjuk.

Sampai akhirnya si kakek buka kedua matanya kembali.

Lalu dengan perlahan dia dongakkan kepala menatap ke langit. Ki Ageng Sadayana melihat langit bertabur bintang gemintang.

Dan diantara taburan bintang yang berkelip indah terlihat ada satu cahaya putih kebiruan bergerak ke bawah tepat dimana si kakek berada.

Ki Ageng Sadayana terkejut namun dia tidak bergeser dari tempatnya berdiri.

Sampai akhirnya cahaya putih bertepi biru yang seolah jatuh dari langit berhenti bergerak dan mengambang di ketinggian.

Melihat cahaya itu Ki Ageng Sadayana segera menyadari ada utusan yang datang. Orang tua ini segera rangkapkan dua tangan di depan dada.

Sambil tundukkan kepala dalam-dalam dia berkata. "Salam sejahtera buat para dewa juga semua mahluk putih yang turun dari kayangan. Saya Ki Ageng Sadayana menghaturkan maaf bila kejadian di Papandayan menimbulkan keresahan di kayangan."

"Sejahtera pula untukmu dan untuk setiap mahluk yang ada di dunia," Kata satu suara dari balik cahaya.

"Anak manusia terlahir dengan nama Ageng Pasopati atau juga dikenal dengan Ageng Sadayana atau Besar Segalanya. Ketahuilah... kau tidak perlu berlama-lama membuang waktu percuma di kaki gunung."

"Maafkan saya. Para dewa di kayangan pasti tahu apa yang saya cari."

Ujar si kakek sambil turunkan ke dua tangan. Lalu dia menatap ke atas memandang ke arah cahaya diketinggian sambil lanjutkan ucapan.

"Saya ingin memastikan bagai mana nasib Raga Sontang. Saya merasa khawatir sesuatu yang tidak dinginkan terjadi padanya."

"Mengenai keselamatan kakek itu tak perlu kau risaukan. Saat ini dia telah dibawa kesuatu tempat yang sangat jauh dari sini. Dia harus mengalami hukuman akibat kelalaiannya."

Jawab suara dari balik cahaya putih bertepi biru. Ki Ageng Sadayana diam-diam terperanjat.

Sepasang alis yang ditumbuhi misal putih menjulai panjang berkerut. Tidak sabar diapun ajukan pertanyaan.

"Kesalahan apa yang telah dilakukannya? Yang saya tahu dia adalah orang yang patuh dalam menjalankan amanat."

"Kau tidak perlu mengatakan tentang kepatuhan. Dalam keadaan tertentu ada kalanya manusia mengambil keputusan yang keliru. Dia telah mengizinkan Iblis Momok Laut Biru masuk dan mencebur diri ke dalam telaga hitam. Itu adalah sebuah pantangan besar yang dia langgar. Kesalahan itu yang membuatnya terbuang di tempat pengasingan."

"Dia melakukan semua itu pasti ada alasannya. Dia tidak ingin Iblis momok mengetahui juga menemukan Mutiara Tujuh Setan."

Terang Si kakek

"Tapi tidak seharusnya dia menganjurkan penguasa di lautan itu masuk ke dalam telaga karena bila pantangan dilanggar puncak gunung pasti meledak jadi kepingan. Di samping itu Mutiara Tujuh Setan sebenarnya telah dia titipkan pada seseorang yang sangat dipercaya.Mulai saat ini kau harus mencari dan menemukan orang yang dipercaya oleh Raga Sontang untuk membawa benda itu menuju ke satu tempat di gunung Wilis."

"Aku tidak tahu bagaimana ciri-ciri orang kepercayaan Raga Sontang itu. Harap saya diberi petunjuk," Pinta Ki Ageng Sadayana.

"Aku tidak dapat menjelaskan ciri-cirinya. Yang jelas dia mempunyai senjata hebat.Senjata itu berupa seruling, Maka... aku hanya bisa beri petunjuk sebelum kau berangkat menuju ke gunung Wilis singgahlah ke sebuah dusun Bambu. Di desa itu tempat berkumpulnya orang-orang berkepandaian tinggi. Tanyakan pada mereka tentang orang yang kumaksudkan. Pasti bakal menemukan orang yang aku maksudkan."

Terang suara dari balik cahaya.

"Baiklah. Kalau sudah begitu saya hanya bisa mengucapkan terima atas semua petunjuk yang diberikan. Wahai suara putih, penyampai kebenaran dan kemuliaan. Saya mohon diri."

"Kuucapkan selamat jalan padamu. Semoga keselamatan selalu menyertaimu!" Ki Ageng Sadayana anggukkan kepala.

Setelah menjura dalam dia bungkukkan badan.

Tinju kanan sekonyong-konyong dia hentakkan ke tanah. Dees!

Seketika itu juga sosok Ki Ageng Sadayana lenyap hilang dari pandangan. Setelah si kakek tidak berada lagi di tempat itu.

Cahaya putih kebiruan berada di atas ketinggian segera melesat ke atas kembali ke langit dan menghilang diantara ribuan bintang.

Sementara sepeninggalnya Ki Ageng Sadayana.

Iblis Momok Laut Biru yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka mengerikan akibat terjatuh dari bagian puncak gunung ternyata tidak menemui ajal sebagaimana yang disangka oleh Ki Ageng Sadayana.

Hanya beberapa saat setelah orang tua itu berlalu.

Iblis Momok Laut Biru yang semula diam tidak bergerak tiba-tiba saja menggeram.

Seiring dengan terdengarnya suara mengorok dan dengus dari mulutnya, jemari tangan Iblis Momok Laut Biru bergerak-gerak. Si kakek pun lalu membuka matanya.

Dengan tatapan nyalang dia berusaha memperhatikan keadaan di sekelilingnya. "Hmm,ternyata aku telah berada di kaki gunung. Terbaring diatas reruntuhan bebatuan. Uakh...

sungguh keparat. Kemana perginya tua bangka bernama Raga Sontang itu? Dia telah menipu ku. Tidak tahunya begitu ceburkan diri aku merasa seperti masuk ke dalam kawah mendidih. Aku tidak akan membiarkan penghinaan ini. Mutiara Tujuh Setan belum kudapatkan. Dan kini aku tidak yakin benda itu tersimpan di salah satu dari tujuh telaga." geram Iblis Momok Laut Biru.

Dengan mata menerawang dia terus berpikir. Terlintas dalam ingatannya tiba-tiba saja telaga bergolak hebat lalu meledak hancur menjadi kepingan.

Si kakek dongakkan kepala. Tapi kegelapan yang menghampar di kawasan gunung membuatnya tidak dapat memastikan apakah semua telaga di puncak gunung ikut meledak

"Bila semua telaga meledak, pasti Mutiara Tujuh Setan tidak berada di tujuh telaga itu. Seseorang kemungkinan menyembunyikannya di tempat lain. Tapi siapa?!"

Tidak menyadari keadaan tubuhnya yang mengalami cidera. Orang tua itu tiba-tiba berusaha bangkit. Tapi rasa sakit yang mendera dikedua kaki juga bahu bahu kirinya membuatnya menjerit meraung kesakitan.

"Kurang ajar! Ternyata kedua kakiku patah, bahuku miring dan pasti ada tulang yang hancur.

Hmm, aku harus memulihkan tubuhku dulu."

Setelah berkata begitu dalam keadaan rebah menelentang Iblis Momok Laut Biru segera membaca mantra- mantra saktinya.

Selesai membaca mantra sakti yang dikenal dengan ilmu Hantu Pemulih Segala, tiba-tiba saja dari dalam tanah tempat di mana Iblis Momok Laut Biru terkapar mencuat keluar cahaya redup berbentuk lidah berwarna kemerahan menebar bau busuk luar biasa.

Cahaya merah selebar telapak tangan itu kemudian menyebar ke bagian kedua kaki si kakek dan juga bahu kirinya disertai suara berkeretekan bersambungnya tulang-belulang.

"Arkhh... suakiit..!"

Iblis Momok Laut Biru menjerit setinggi langit.

Tapi teriakannya yang keras menyayat tidak berlangsung lama.

Setelah semua tulang-tulang yang hancur pada setiap bagian yang terluka bersambung kembali pulih sebagaimana semula suara jeritannya lenyap pula.

Bersamaan dengan kesembuhan yang dialami orang tua itu, cahaya merah panjang berbentuk lidah lenyap kembali mengamblaskan diri ke dalam tanah.

Iblis Momok Laut Biru menyeringai. Dia pun segera duduk.

Setelah memeriksa bekas luka dikedua lutut hingga ke telapak kaki, si kakek menggerakkan bahu kirinya beberapa kali.

"IImu hebat. Tanpa ilmu Hantu Pemulih Segala, aku pasti bakal menderita cacat cidera seumur hidup."

Kata si kakek pada dirinya sendiri.

Merasa puas dengan kehebatan ilmu yang dimilikinya dia pun segera bangkit berdiri.

Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi, Iblis Momok Laut Biru melesat tinggalkan tempat itu.

******

Kitab batu bersurat bertuliskan hurup Palawa.

Di dalamnya pada baris ketujuh halaman sembilan terdapat ujar-ujar berbunyi: Kebaikan dan Berkah dilimpahkan Para dewa bersama dengan kebaikan yang dilakukan penghuni dunia.

Dalam kegelapan 7 sekutu setan putih pernah menyelamatkan sebuah benda mustika kebaikan dari singgasana abadi kegelapan yang sedang menuju kehancuran.

Tujuh setan putih berusaha menyelamatkan Mutiara itu dengan membawanya ke tanah Dwipa.

Perjalanan tujuh setan tidak berlangsung mulus.Mereka dikejar, diburu dan dihadang oleh bala pasukan dan musuh penghancur.

Empat setan penyelamat Mutiara terbunuh. Tiga lainnya hanyalah setan-setan lugu berhati penuh kejujuran.

Di dalam kehidupan para setan sepanjang langit dan bumi berkembang hanya tujuh setan yang berhati lurus baik budi dan berjiwa luhur.

Tiga setan yang tersisa itu tiga mahluk yang dianggap paling baik. Selanjutnya tiga setan yang selamat membawa mutiara kramat ke tempat satu-satunya paling aman.

Di puncak Papandayan Mutiara 7 Setan disemayamkan, dijaga dan dilindungi.

Bila mutiara tidak berada lagi di puncak Papandayan. Maka kejahatan yang disebabkan oleh mutiara itu akan melanda kehidupan manusia.

Lenyapnya mutiara dari tempat penyimpanan juga menjadi penyebab bangkitnya satu mahluk paling jahat dari belenggu rantai bumi.

Bangkitnya mahluk yang satu ini kelak bakal membuat kekacauan di mana-mana. Dewa selalu memberi perlindungan dan petunjuk penting buat insan suci berhati putih. Kejahatan harus dihadapi dengan kebenaran.

Muslihat boleh disiasat dengan akal.

Sihir bisa ditangkal dengan yang gaib. Sedangkan kegilaan harus dihadapi juga dengan cara-cara yang gila.

Lalu siapa yang sanggup melakukannya. Ujar-ujar berakhir sampai disitu.

Sungguh isi kitab batu itu sangat sederhana namun sangat penting artinya bagi seorang pertapa bermama Lisang Geni.

Selama puluhan tahun kakek berkepala botak sulah berpakaian kuning mendiami gua Tapa Insan tempat dimana batu bersurat tersimpan.

Selama itu pula tidak ada kejadian penting yang dialaminya. Tetapi malam itu ketika gerimis mengguyur kawasan sepanjang kali Serayu, kakek berjanggut putih yang tengah melakukan semedi ini sekonyong konyong dikejutkan oleh terdengarnya suara gemeretak seperti benda keras terbakar.

Terdengarnya suara itu disusul menebarnya bau tulang belulang terbakar.

Merasa terusik, si kakek membuka kedua matanya. Mula-mula dia melihat pelita kecil yang menyala disudut ruangan gua.

Tapi ketika Lisang Geni menatap ke arah suara gemeretak dan tebaran hawa menyengat, orang tua ini terlonjak kaget melihat kitab batu bertulis terbakar.

"Dewa agung jagad agung," Desisnya.

Dia segera bangkit lalu melompat hampiri kitab yang tergeletak di atas batu bundar. Niatnya ingin mengambil kitab tersebut.

Namun baru saja tangannya terjulur hendak meraih kitab tiba-tiba saja ada satu kekuatan besar tidak terlihat menghantam sekaligus mendorong tubuhnya.

Sadar ada sesuatu kekuatan yang merintangi Lisang Geni kerahkan tenaga dalam dan segera dia alirkan ke kedua tangannya.

Namun semakin keras usahanya meraih kitab itu justru dorongan yang dia rasakan makin berlipat ganda!

"Wuargkh..."

Sang pertapa keluarkan pekikan panjang.

Tubuhnya terlempar ke belakang sedangkan punggungnya membentur dinding gua yang terdapat di sebelah belakang.

Secepat kilat dia berusaha bangkit.

Baru saja si kakek dapat berdiri dia melihat kobaran api yang membakar kitab batu bertulis makin membesar

Dhes! Dhess!

Kitab meledak hancur jadi kepingan, Lisang Geni hanya bisa tercengang belalakkan mata. Tanpa sadar mulutnya berucap.

"Tidak dapat dibantah. Aku bisa memastikan Mutiara Tujuh Setan sekarang ini sudah tidak berada lagi di puncak Papandayan. Seseorang telah membawanya pergi tapi siapa, apa tujuannya?"

Batin si kakek dengan rasa heran dan juga rasa khawatir.

Belum sempat Lisang Geni beranjak dari tempatnya berdiri. Tiba-tiba terdengar suara seruan dan teriakan yang datang dari luar gua.

"Kakek... guru. Apa kau mendengar? Jangan bertapa terus nanti bisa pikun. Keluarlah kemari aku butuh bantuanmu. Kita kedatangan tamu. Tamunya tidak diundang tapi beringas sekali!"

"Yang berteriak itu bukankah muridku Nilam Suri! Apa lagi yang dilakukan gadis itu? Hhh, ada apa yah," gerutu Lisang Geni.

Walau mulut berucap demikian namun si kakek tidak mau membuang-buang waktu. Tanpa menunggu lama setelah melihat kitab yang hancur terbakar mustahil dapat diselamatkan. Lisang Geni segera berkelebat keluar gua. Sesampainya di depan halaman mulut gua yang teduh menghijau dia hentikan langkah. Sepasang mata dipentang menatap ke arah depan.

Kening Lisang Geni berkerut ketika melihat gadis berpakaian putih berambut panjang tergerai yang tak lain adalah muridnya sedang terlibat perkelahian sengit dengan satu sosok laki-laki berpakaian hitam berwajah hitam angker.

Saat itu sang murid yang bersenjata tombak bergerigi berhulu hitam tengah berusaha keras mendesak lawannya.

Dengan menggunakan jurus-jurus Awan Menutup Rembulan kedua tangan sang dara bergerak menyapu ke delapan penjuruh arah, Sementara kaki kanan menghantam melakukan serbuan ke bagian tubuh lawan sebelah kanan.

Dua tangan menyapu ke bagian wajah dan dada lawan. Serangan yang dilakukan Nilam Suri ini sebenarnya berlangsung cepat dan ganas.

Bahkan tombak bergerigi dalam genggaman tangan gadis itu berhasil membuat sobek baju lawan di bagian dada. Sayangnya sejauh itu Nilam Suri belum dapat merobohkan lawannya.

Malah ketika orang berpakaian hitam melakukan serangan balik gadis ini nampak mulai terdesak

"Guru! Mengapa kau hanya berdiri diam berpangku tangan? Lihatlah orang ini hendak membunuhku."

Seru Nilam Suri dengan wajah tegang namun cemberut.

"Telah kuwariskan ilmu serta jurus kesaktian yang pantas untukmu. Kalau kau tidak bisa mengatasi orang itu mengapa tidak angkat kaki saja dari situ,"

Sahut Lisang Geni diring gelak tawa terkekeh

"Guru terlalu memandang rendah diriku, Semua laki-laki juga bersikap sepertimu menganggap remeh perempuan.Baiklah, nampaknya aku harus membunuh semua laki-laki yang ada di dunia ini termasuk juga orang jelek satu Ini."

"Aku juga laki-laki. Apakah kau berniat menghabisiku juga? Ha ha ha!" kata si kakek sambil mengumbar tawa untuk yang kedua kalinya.

Nilam Suri tidak menjawab. Dia malah katubkan biibirnya. Lalu dengan tangan kiri dia cabut pedang pendek yang tersellp di pinggangnya.

Kemudian dengan menggunakan tombak di tangan kanan dan pedeng di tangan kiri Nilam Suri merangsak maju.

Melihat lawan menggunakan dua senjata sekaligus lakd-laki berpakaian hitam ganda tertawa. Sambil menghindar dari tebasan pedang dan tusukan tombak, laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun ini berkata.

"Bagus. Aku senang menghadapi perempuan liar dan galak. Bila kau masih punya senjata yang lain lebih baik pergunakan sekarang juga."

Sambil berkata demikian orang berpakaian hitam melompat kebelakang.

Tubuh dimiringkan ke kiri sedemikian rupa sehingga babatan pedang dan tusukan tombak yang seharusnya mengenai jantung malah membabat rambut laki-laki ini.

Sedangkan babatan pedang yang mengarah kebagian perut hanya mengenai bahu pakaian. Bret!

"Ah hebat sekali.Hampir saja bahuku kau buat putus. Tapi sekarang terimalah ganjaran yang setimpal dariku."

Kata laki-laki itu.

Dengan gerakan terhuyung tiba-tiba saja orang berpakaian hitam ini memutar tubuh.

Bersamaan dengan itu kakinya berkelebat melakukan serangan ke arah Nilam Suri. Melihat serangan berlangsung secepat itu Nilam Suri segera menyambutnya dengan kibaskan pedang di tangan kiri.

Namun gerakan sang dara ternyata kalah cepat dengan gerakan kaki lawan nya. Wuus!

Desss!

Satu tendangan keras berhasil menembus pertahanan Nilam Suri membuat gadis itu jatuh terpelanting.

Tombak di tangan terlepas sedangkan pedang di tangan kiri bergetar hebat. Gadis itu meringis kesakitan.

Dia berusaha bangkit, namun perutnya yang kena ditendang lawan terasa mual seolah remuk di bagian dalam.

Dalam keadaan mengalami cidera dibagian dalam. Lawannya segera mempergunakan kesempatan ini untuk menghabisinya.

"Sekarang terimalah ajalmu!" Teriak laki-laki berpakaian hitam.

Secepat kilat menyambar dia melompat ke arah Nilam Suri.

Melihat ini tanpa memperdulikan sakit yang di deritanya, Nilam Suri segera sambar tombak dan langsung babatkan senjata itu ke depan sambuti datangnya serangan. Tapi gerakan lawan sekonyong-konyong jadi tertahan ketika Lisang Geni dari arah samping hantamkan dua pukulan ganas, mengandung tenaga sakti ke bagian rusuk laki-laki itu.

Tidak ingin celaka, dia segera jatuhkan diri ke tanah lalu bergulingan selamatkan diri. Deru angin dan kilatan cahaya hitam kemerahan menyambar sejengkal diatas tubuhnya.

Hawa panas menghampar dan suara dentuman menggelegar mengguncang kawasan di sekitar halaman gua. Semak belukar hancur berguguran dikobari api. Laki-laki berpakaian hitam segera bangkit, namun belum sempat dirinya berdiri tegak. Lisang Geni kibaskan lima jemari tangannya ke arah orang itu.

Dari kelima ujung jemari itu terdengar suara berdesir disusul dengan mencuatnya lima kuku hitam panjang.

Lima kuku jari laksana lima mata pisau mengancam siap menghunjam ditenggorokan laki- laki itu. "Siapa kau? Apakah sudah bosan hidup dengan membuat kekacawan di tempat ini?" Tanya Lisang Geni dengan sikap mengancam.

"Orang tua. Namaku Sora Magandala. Aku datang dari kawasan Dieng. Kedatanganku ke tempat ini adalah untuk mencari tahu apakah kau masih menyimpan Kitab Batu Bertulis?"

"Orang jelek berkulit hitam. Jika kedatanganmu hanya ingin menanyakan tentang kitab mengapa kau menyerang muridku?"

Hardik Lisang Geni sambil delikkan matanya.

Melihat pemilik tempat unjukkan wajah tak senang, Sora Magandala dari Dieng terlihat gelisah.

Buru-buru dia melirik ke arah Nilam Suri. Merasa diperhatikan si gadis yang telah bangkit berdiri cepat palingkan wajah ke arah lain.

"Dia pasti mengatakan aku yang menyerangnya terlebih dulu,"

Dengus Nilam Suri "Benarkah begitu?"

Tanya Lisang Geni sambil menatap ke arah Sora Magandala dan muridnya silih berganti. Belum sempat orang tua ini menjawab, Nilam Suri buru-buru menjawab.

"Memang seperti itu guru. Aku curiga melihat kedatangannya. Dia mengendap endap seperti pencuri. Dia bahkan sempat mendekam di balik pondok ketiduranku. Bagusnya aku tidak sedang telanjang. Hik hik hik!"

"Murid bengal. Aku sudah bosan menyuruhmu selalu berpakaian lengkap di malam hari. Tapi kau tidak pernah mengindahkannya. Bagaimana jadinya jika ada laki-laki jahat menyelinap ke dalam pondokmu?"

Kata Lisang Geni sambil geleng-geleng.

"Laki-laki mana yang berani melakukannya? Jika ada yang berlaku nekat pasti kubuat buntung pusaka keramatnya. Terkecuali laki-laki itu muda gagah dan tampan. Kalau yang seperti itu aku mana berani menolak. Hik... hik"

Sahut Nilam Suri sambil tertawa tertahan. "Murid gila. Jaga perangaimu."

Hardik Lisang Geni dengan wajah tegang berusaha sembunyikan kemarahannya. Sementara melihat murid dan guru bersitegang.

Sora Magandala terbatuk-batuk beberapa kali.

Entah sungguhan atau hanya batuk dibuat- buat. Yang jelas setelah Lisang Geni kembali menatap ke arahnya, Sora Magandala segera membuka mulut.

"Orang tua waktuku untuk berada di sini tidaklah lama. Mohon jelaskan padaku apakah benar kitab batu bertulis masih ada padamu?"

"Sora Magandala. Untuk menjawab pertanyaanmu itu bukanlah perkara sulit. Tapi aku ingin tahu apa hubunganmu dengan kitab itu?"

Tanya Lisang Geni disertai tatapan mata curiga.

Tidak mau berlama-lama Sora Magandala segera menjawab,

"Aku adalah penjaga tempat penahanan mahluk langit bernama Bethala Karma. Mengingat dirimu orang yang mengetahui isi kitab batu bertulis, pasti kau tahu siapa orangnya yang aku maksudkan."

"Bethala Karma mahluk sakti paling celaka yang tidak mengenal kata mati. Hidup dipendam dalam kerangkeng Delapan Paku Bumi. Dia tak lain adalah pembunuh empat setan dari tujuh setan penyelamat Mutiara kramat. Ternyata kau datang dari Dieng?"

Kata Lisang Geni terkejut. "Aku telah menjelaskan." Sahut Sora Magandala.

"Aku telah merasakan tanda-tanda bahaya Bethala Karma mungkin telah meloloskan diri dari ruang penahanan di gunung Dieng. Bagaimana kau bisa berkata begitu?"

Tanya Nilam Suri yang telah mengetahui tentang orang yang sedang dibicarakan gurunya.

Sora Magandala terdiam. Diam-diam dia menatap ke arah si gadis. Dengan mengurai senyum sang dara.

"Tanah di sekitar tempat hari terakhir selalu dilanda gempa. Burung-burung yang menetap di sekitar tempat itu berpindah tempat. Pepohonan kering layu. Orang-orang menjadi bisu dan tuli. Sedangkan bayi-bayi dalam kandungan berguguran dan ada pula yang lahir sebelum waktunya,"

Jelas laki-laki tua itu.

"Kalau memang demikian keadaannya tidak ada yang bisa dipungkiri lagi mahluk laknat pemburu Mutiara keramat itu memang telah terlepas dari penjara tempat dimana dia dipantek selama puluhan tahun."

Kata Lisang Geni cemas.

"Mengapa guru berkata seperti itu?"

Potong Nilam Suri dengan tercengang tak percaya.

Merasa diperhatikan oleh murid dan tamunya. Lisang Geni pun tanpa ragu segera menjelaskan apa yang terjadi pada kitab batu bertulis. Setelah mendengar penjelasan si kakek, baik Sora Magandala maupun Nilam Suri menjadi tercekat. Seperti tidak percaya Sora Magandala akhirnya membuka mulut

"Jadi kitab itu telah mengalami kehancuran. Apakah ini berarti segala kebaikan akan lenyap lalu berganti dengan kejahatan? Empat setan putih telah binasa. Yang tertinggal hanya tiga setan jenaka.Mereka tidak akan bisa menghentikan Bethala Karma. Cepat atau lambat mahluk itu pasti bakal mendapatkan Mutiara kramat,"

Kata Sora Magandala gelisah.

"Kita harus melakukan sesuatu guru,"

Kata Nilam Suri berusaha bersikap tenang.

"Kita memang harus membantu tiga setan putih menyelamatkan mutiara yang sangat berharga itu. Tapi ada perkara yang harus kita sadari."

Tegas si kakek

"Perkara? Perkara apakah?"

Tanya Nilam Suri sambil memandang dengan tatapan tidak mengerti "Andai saja ada yang dapat kau jelaskan padaku, orang tua?!"

Ujar Magandala.

"Kurasa tidak ada lagi yang perlu kuterangkan karena kau sudah tahu apa yang akan terjadi. Kitab batu bertulis telah terbakar. Kitab itu berhubungan erat dengan mutiara kramat dan juga mahluk tawanan di kaki gunung Dieng. Mutiara Kramat kini telah berpindah tempat, benda itu telah dibawa oleh seseorang turun gunung,"

"Seandainya semua dugaanmu itu memang benar, berarti Ki Ageng Sadayana dari Pangandaraan yang selama ini ketitipan benda dan dipercaya menjaga benda itu harus bertanggung jawab."

"Kau benar, namun kita tidak bisa melimpahkan semua tanggung jawab pada Ki Ageng Sadayana, karena ada seorang penjaga mutiara yang puluhan tahun dipercaya untuk mengawasi mutiara itu."

"Siapa orang yang guru maksudkan itu?"

Tanya Nilam Suri

"Orang yang kumaksudkan tak lain adalah seorang kakek bernama Raga Sontang. Hanya dia satu-satunya orang yang mengetahui dengan pasti kemana mutiara dibawa pergi dan siapa pula yang membawanya."

Terang si kakek. Sora Magandala terdiam. Sedangkan Nilam Suri garuk-garuk kepala. Setelah sempat berpikir lama gadis itu akhirnya berucap.

"Apa yang terjadi di puncak Papandayan tidak seorangpun diantara kita yang mengetahuinya." Setelah berkata begitu Nilam Suri lalu menatap Sora Magandala.

"Bagaimana keadaan terakhir di Dieng sebelum kakek meninggalkan tempat itu?"

"Sepertinya beberapa hari terakhir ada kejadian ganjil melanda kawasan Dieng. Jauh sebelum Tiga Setan Putih membelenggu dan menjebloskan Bethala Karma dalam ruang pemasungan, mereka sempat menjelaskan padaku tentang segala kemungkinan mahluk itu dapat meloloskan diri dan kembali mencari mutiara kramat. Mereka menjelaskan tanda-t ¤nda kebebasannya. Semua tanda-tanda yang terjadi saat ini ciri-cirinya sama benar dengan apa yang mereka terangkan padaku. Berdasarkan semua itu maka aku datang kesini. Ternyata diluar dugaan kitab batu bertulis juga mengalami kehancuran,"

Ujar Sora Magandala sambil memandang ke arah murid dan guru dengan tatapan resah. "Apa yang akan kita lakukan guru?"

Tanya Nilam Suri

"Menurutku karena semua tanda-tanda mengarah pada lenyapnya mutiara dari puncak gunung Papandayan, alangkah baiknya kita berbagi tugas."

"Sora Magandala sebaiknya pergi ke Gerobokan menemui Tiga Setan Putih, sedang aku dan muridku berusaha mencari dimana keberadaan Mutiara Kramat"

"Bagaimana kakek berkulit hitam, apakah kau setuju dengan usul guruku?" Tanya Nilam Suri ketika melihat Sora Magandala hanya diam tertegun.

Si kakek kemudian tersenyum.

"Baiklah. Apa yang dikatakan oleh gurumu menjadi sebuah keputusan yang terbaik. Dan rasanya aku tidak mungkin bisa berlama-lama lagi berada di tempat ini."

Sahut Sora Magandala. Kemudian setelah menjura pada Lisang Geni. Si orang tua segera balikkan badan tinggalkan tempat itu.

Sepeninggainya Sora Magandala, Nilam Suri menatap gurunya lalu bertanya. "Apakah kita hendak pergi malam-malam begini?"

"Tentu! Memangnya kenapa? Kita tidak bisa menunda sampai besok. Sekarang sebaiknya kau berkemas siapkan bekal untuk keperluan dalam perjalanan."

"Ah guru. Seharusnya guru saja yang pergi. Aku tidak mau terlibat segala urusan gila itu," Kata Nilam Suri bersungut-sungut.

"Selama gurumu ini jalan pikiran dan tindak tanduknya masih lempang sebagai murid kau tidak pantas membantah keputusanku."

"Siapa yang membantah. Aku cuma hendak mengatakan tidak suka bepergian di malam hari. Aku kan manusia bukan kalong. Hik hik hik!"

Ucap sang dara sambil melangkah gontai tinggalkan gurunya. Lisang Geni hanya bisa gelengkan kepala melihat kelakuan muridnya yang sering membuatnya kesal.

****

Seperti hantu yang berlari dikegelapan malam buta, dua sosok bayangan berlari memasuki sebuah dusun bambu di sebelah timur Gerobokan. Disatu tempat sosok yang berada paling depan yang bertubuh paling pendek berpakaian hijau dan menutupi sebagian wajahnya dengan caping lebar hentikan langkah.

Melihat orang yang di depan hentikan larinya, sosok yang mengikuti tak jauh di belakangnya ikut berhenti.

"Mengapa berhenti? Dusun bambu masih jauh di depan. Kita baru sampai di hutan bambunya saja, adikku!"

Kata laki-laki berpakaian kelabu bertopi caping juga bertubuh pendek. "Kakangku!"

Menyahuti perempuan yang dipanggil adik.

"Kita tidak harus menginap atau bermalam di dusun yang banyak bambunya itu. Orang dengan keadaan seperti kita mana mungkin bisa menumpang tidur dipenginapan atau masuk ke kedai makanan membaur dengan orang-orang biasa. Kita ini tidak sempurna. Lihat tubuh kita ini. Sudah pendek seperti kodok, berbulu seperti monyet berbuntut lagi."

"Kau benar adikku. Kita tidak mirip monyet, juga tidak mirip seperti manusia. Aku seharusnya tidak punya buntut. Biasanya yang punya buntutkan laki- laki ya kakang?!"

Kata sang adik lalu tertawa mengikik

"Ya. Laki-laki buntutnya didepan. Monyet buntutnya selalu dibelakang. He he he." "Ah kakang! kita sedang dalam kesulitan, kakang masih sempatnya bercanda,"

Kata sang adik risau

"Aku tahu. Sejak kita meninggalkan puncak Papandayan dan menjalankan amanat yang diberikan oleh kakek Raga Sontang, rasanya kita jadi tidak dapat berkeliaran dengan leluasa. Setiap saat bahaya besar bisa saja datang menghadang. Dan menurutku kita tidak harus singgah di dusun Bambu"

"Mengapa kau berkata begitu kakang Durgandala?"

Tanya perempuan bertubuh pendek menyebut nama sang kakak.

"Aku tidak yakin orang yang kita cari ada di Dusun Bambu. Yang kudengar orang yang harus kita temui itu berada disuatu tempat di kawasan Gerobokan. Mereka tengah melakukan tapa brata dan tapa itu telah berlangsung selama puluhan tahun."

"Tapi perutku lapar sekali. Sejak Meninggalkan puncak Papandayan kita belum pernah beristirahat sedikitpun"

"Durganini, ingat. Apapun yang terjadi kita harus menyampaikan amanat yang dibebankan pada kita pada yang berhak atas benda itu. Kau tahu apa jadinya bila benda titipan itu sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab?"

Kata Durgandala.

Sang adik yang bernama Durganini langsung terdiam begitu mendengar ucapan Durgandala. Dalam diam dia berpikir.

Apa yang dikhawatirkan Durgandala rasanya sangat beralasan.

Apalagi dia sudah tahu sejak benda keramat dibawa dari puncak Papandayan. Keselamatan benda bertuah itu tidak ada lagi yang menjamin.

Sebaliknya bila Mutiara kramat tetap dipertahankan keberadaannya di puncak gunung.

Sebagaimana yang dikatakan Raga Sontang cepat atau lambat akan bermunculan tamu-tamu tak diundang yang berniat mengambil atau merampas mutiara langka itu.

"Aku lebih percaya pada kalian berdua dibanding seribu manusia yang pernah kukenal. Mutiara Tujuh Setan harus segera dikembalikan pada orang orang yang dulu bersusah payah menyelamatkannya dari Istana Kuno. Kalian tidak perlu takut apalagi sampai merisaukan keselamatanku. Pergilah kalian ke dusun Bambu. Sesampainya di sana temuilah seorang laki-laki setengah baya tidak bernama. Dia biasa disebut sebagai Seruling Halilintar. Hanya laki-laki itu yang bisa membantu kalian sampai ke tempat pertapaan Tiga Setan putih. Tapi bila di dusun bambu kalian tidak bertemu dengan Seruling Halilintar, sebaiknya kalian segera menuju ke timur. Sesampainya di Gerobokan carilah sebuah patung. Patung itu berupa seekor monyet putih. Tangan patung melambai ke atas seakan hendak menggapai langit. Kalian juga harus melihat kemana arah tangan lainnya patung itu menunjuk, kesitulah kalian harus pergi, Apakah kalian mengerti apa yang kukatakan ini?"

Kata Raga Sontang beberapa saat sebelum menyerahkan Mutiara Tujuh Setan pada salah seorang diantara mereka.

"Kami mengerti. Aku selalu berdoa untuk keselamatanmu, Raga Sontang sahabatku," Kata Durganini waktu itu.

Dan lamunan perempuan muda bertubuh pendek dengan sekujur tubuh ditumbuhi bulu dan Juga ekor itu buyar seketika begitu Durgandala menggamit bahunya.

"Jangan melamun? Apa yang kau pikirkan? Kuharap kau tidak salah mengerti tentang tujuan dari semua ucapanku,"

Kata Durgandala.

Durganini tersenyum sambil gelengkan kepala.

"Malam belum terlalu larut. Entah mengapa tiba-tiba saja aku teringat dengan sahabat Raga Sontang. Firasatku mengatakan sesuatu telah terjadi atas dirinya,"

"Kau jangan merisaukannya. Bukankah dia telah berpesan agar kita tidak perlu memikirkan nasibnya. Kita harus secepatnya sampai ke tempat tujuan. Patung tanda sebaiknya bisa kita temukan sebelum malam berganti pagi."

"Apakah kakang lupa. Sahabat Raga Sontang telah berpesan agar kita menemui seorang laki-laki setengah baya di dusun Bambu. Hanya laki-laki itu yang dapat mengantar kita ke tempat tujuan dengan aman," Berucap Durganini seakan mengingatkan

"Kau benar. Aku tidak mungkin lupa dengan pesannya. Namun apakah dusun Bambu adalah tempat yang aman untuk kita kunjungi?"

Tanya Durgandala ragu-ragu.

"Mengenai aman tidaknya aku mana tahu kakang. Tapi menjalankan pesan yang diamanatkan orang sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk melakukannya."

Durgandala terdiam. Rupanya laki-laki muda ini masih juga diliputi keraguan.

"Ayolah. Kau seorang laki-laki. Orang sepertimu tak perlu ragu dalam mengambil keputusan," Karena terus didesak oleh adiknya Durgandala merasa tidak punya pilihan.

"Baiklah, karena kau mendesak aku penuhi permintaanmu ini. Tapi ingat kita harus selalu waspada terthadap setiap kemungkinan yang tidak terduga."

"Jangan takut. Aku telah siap menghadapi kemungkinan yang paling buruk. Mari kita masuk dusun itu" jawab Durganini dengan perasaan lega. Dia merasa senang karena membayangkan sebentar lagi mereka dapat melepas lelah sambil mencari makanan lezat yang mungkin banyak tersedia pada tiap kedai di dusun itu.

Kedua bersaudara berujud dan berpenampilan aneh ini lalu lanjutkan perjalanan.

Agar tidak menarik perhatian orang lain, mereka sengaja berjalan dengan melompat berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain.

Gerakan mereka sangat gesit bahkan tidak menimbulkan suara. Ini merupakan sebuah pertanda betapa mereka sangat lihai dan memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.

Setibanya Durgandala dan adiknya di ujung mulut dusun Bambu, segala kegembiraan yang sempat muncul dilubuk hati mendadak lenyap.

Di atas ketinggian pohon yang terlindung dedaunan lebat keduanya saling pandang. Durganini bahkan tidak mampu berkata-kata,lidah mendadak terasa kelu. Tenggorokan kering tercekat, sepasang mata yang terfindung topi caping lebar menatap dengan terbelalak ke arah dusun yang terlihat luluh lantak dikobari api.

"Dusun ini hancur. Tidak satu pun rumah yang tersisa. Siapa yang datang mengamuk, siapa yang telah melakukan pembakaran?!"

Desis Durgandala.

Durganini menghela nafas, lalu mengusapi lehernya yang terasa kaku. Baru kemudian membuka mulut menyahuti.

"Tempat ini seperti baru saja mendapat serbuan bala pasukan besar."

"Kita sama- sama tahu, tidak ada kerajaan disekitar sini. Lalu kekuatan apa yang membuat seluruh dusun menjadi porak poranda."

"Adikku. Kurasa tempat ini sudah tidak aman lagi bagi kita. Tidak ada makanan tidak ada tempat untuk melepas lelah. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan ini, Kita tak perlu mencari orang sakti yang dijuluki Seruling Halilintar itu."

Durganini tahu kegelisahan yang dialami sang kakak.

Walau tidak pernah tahu siapa yang telah menyerbu dusun bambu dan apa tujuan pembakaran dusun itu, namun pilihan untuk segera angkat kaki dari tempat itu rasanya memang keputusan tepat.

Apalagi tugas yang diembannya sangat penting

"Aku setuju. Kita tidak perlu turun ke bawah untuk melihat bagaimana nasib penduduk. Tapi dari sini kita dapat melihat sendiri banyak sekali mayat mayat bergelimpangan. Diantaranya ada yang masih hidup. Tidak sedikit yang menderita cidera berat."

"Apa mungkin kita tega membiarkan mereka tanpa memberi pertolongan sedikitpun juga?" Ucap Durganini iba.

"Aku tidak mau mencari masalah. Tidak ada yang bisa menjamin dusun ini sudah aman dari tangan para pembunuh yang haus darah."

"Kau benar. Aku juga sebenarnya khawatir tempat ini masih dalam pengawasan sang pembunuh.

Aku dapat merasakan ada beberapa pasang mata di balik semak kegelapan yang terus mengawasi dusun. Mungkin ada yang mereka cari dan tidak tertutup kemungkinan ada yang mereka tunggu."

"Bagaimana kalau yang mereka tunggu itu adalah kita orangnya?" Sahut Durgandala dengan suara lirih.

Durganini terdiam.

Hanya matanya saja yang berkedap kedip menatap ke arah sang kakak dan dusun yang hancur dilumat api silih berganti

"Kita pergi sekarang!" desah gadis itu dengan suara lebih perlahan. Durgandala anggukkan kepala.

Dengan mengendap-endap keduanya pun berkelebat tinggalkan tempat itu. Selagi dua bersaudara pembawa Mutiara Tujuh Setan berada di pucuk pepohonan.

Tepat di bawah pohon dimana keduanya mendekam sebenarnya ada beberapa orang berpakaian gelap bersenjata lengkap telah mengetahui kehadiran kedua bersaudara ini.

Salah seorang anggota dari mereka berbisik pada sosok bertubuh gemuk yang agaknya menjadi pimpinan rombongan itu.

"Pohon di sebelah atas, tidak bergoyang tidak bergerak. Tapi mengapa tiba-tiba aku mendengar seperti ada orang yang bicara?"

"Betul. Saya juga mendengar seperti ada yang bicara," menimpali orang yang mendekam dibelakang si gemuk.

Tiga kepala sama bergerak, tengadahkan wajah menatap ke atas. Tiga hidung mengembang dan menguncup sambil mengendus

"Ada aroma, ada bau aneh tercium dari atas. Bau apek seperti kambing."

"Jelas! Siapapun yang telah hadir diatas sana selain tak pernah mandi orang itu pastilah memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna."

"Kita harus mencari tahu siapa orang yang mendekam diatas pohon itu. Aku curiga jangan- jangan dialah orang yang kita tunggu kedatangannya. Kuharap kalian segera mengikuti begitu aku bergerak kesana,"

Tegas si gemuk.

Sambil berkata begitu diam-diam dia alirkan tenaga dalam ke bagian kakinya. Namun belum sempat si gemuk lakukan niatnya.

Tiba-tiba saja terdengar suara deru angin datang dari ujung sebelah utara dusun Bambu.

Munculnya deru angin itu disusul dengan terdengarnya gelak tawa yang membuat sakit gendang telinga orang yang mendengarnya.

Si gemuk dan teman-temannya yang mendekam dibawah pohon terkesima.

Beberapa teman pengikutnya langsung tekab telinga untuk menghindari pengaruh tawa yang menyakitkan.

Si gemuk yang memiliki tenaga dalam serta kesaktian tinggi menggeram sambil meludah. Ketika ludahnya menghantam dedaunan.

Daun-daun tampak mengepulkan asap disertai gemeretak daun yang hangus. "Setan alas. Iblis mana yang berani mengumbar tawa dimalam buta?!" Geram laki-laki itu sambil kepalkan tinjunya.

Dengan mata mendelik nyalang si gendut menatap ke dusun yang telah berubah menjadi puing-puing yang dikobari api.

Suara tawa lenyap, namun hembusan angin yang datang bersama tawa membuat kobaran api yang berasal dari reruntuhan rumah makin bertambah besar.

Lalu terdengar suara orang berkata dalam kekagetan yang luar biasa.

"Jagad Dewa Bathara.Dosa kesalahan apa yang telah dilakukan penduduk di dusun ini? Mengapa ketenteraman berubah menjadi murka, mengapa damai menjadi amarah.Haruskah ada darah yang tertumpah dan nyawa yang melayang sia-sia?!"

Deru angin mendadak terhenti.

Dari balik kegelapan melesat satu bayangan berpakaian kelabu berambut gondrong dengan sebuah pedang tergantung dipunggungnya.

Begitu jejakkan kaki, sosok muda yang tak lain adalah Raja Gendeng murid dua tokoh sakti Ki Panaraan Jagad Biru dan Nini Balang Kudu adanya ini geleng-gelengkan kepala.

"Banyak sekali yang terbunuh? Siapa yang melakukannya?" Teriak Sang Maha Sakti Raja Gendeng sambil mengelus dada.

Kemudian sambil menangis sesunggukan seolah yang bergeletakan tewas adalah saudaranya sendiri, pemuda ini segera memeriksa mayat-mayat itu.

Yang tewas mengenaskan terdiri dari laki-laki dan perempuan, tua muda bahkan anak-anak. Tapi yang terluka parah juga cukup banyak.

Mereka yang terluka segera dikumpulkan ke tempat yang aman.

Sedangkan yang tewas dikumpulkan lalu dibaringkan di sudut yang aman dan jauh dari kobaran api. Setelah yang tewas dikumpulkan secara rapi. Raja berdiri tegak diantara mayat-mayat itu. Dua tangan direntang.

Sementara mulut keluarkan ucapan.

"Wahai tubuh-tubuh yang mati sebelum waktunya. Aku Raja Gendeng maklum kalian tidak akan tenang dialam sana. Sebagai sesama manusia aku hanya bisa membantu menguburkan jasad kalian juga berjanji akan mencari siapa orangnya yang telah memperlakukan kalian seperti ini. Sekarang dengan kekuatanku yang diberkahi para dewa penguburan akan kulakukan!"

Sambil berkata demikian Raja tengadahkan wajah, mata memandang ke arah kegelapan langit sedangkan kedua tangan nampak bergetar dan mulai memancarkan cahaya berwarna biru terang.

"Wahai sang pemberi hidup.Terimalah mereka di sisimu dengan kedamaian."

Suara sendu penuh haru sang pendekar lenyap. Secepat kilat tubuhnya berputar sementara dua tangan dikibaskan ke arah mayat-mayat itu.

Wuus! Wuus!

Pijaran cahaya biru melesat, menderu sekaligus menyelimuti puluhan mayat yang terkapar di sekelilingnya.

Beberapa saat dari kedua tangan dan sekujur tubuh Raja terus menerus memancarkan cahaya menyilaukan. Dan ketika sang pendekar berhenti bergerak, kilauan cahaya dari tubuhnya lenyap. Bersamaan dengan cahaya menerpa mayat- mayat itu maka dalam waktu sekedipan mata saja semua mayat menjadi lenyap. Semua pemandangan menakjubkan yang terjadi di tempat itu jelas tidak terlepas dari perhatian berpasang-pasang mata yang berada di balik tempat-tempat yang gelap.

Si gemuk bahkan sempat belalakkan mata melihat kemampuan pemuda yang tidak di kenal menguburkan mayat penduduk dusun.

"Siapa dia? Ketika datang mengumbar tawa seperti orang gila, Lalu melihat mayat bergelimpangan menangis tersendu seolah yang mati adalah kekasih yang dia cintai. Lalu dia kuburkan orang- orang itu dengan cara yang aneh." desis si gemuk.

Beberapa pengikutnya yang diajak bicara hanya bisa saling pandang. Seorang diantaranya memberanikan diri angkat bicara.

"Saudaraku tidak tertutup kemungkinan dia adalah seorang dewa yang turun ke bumi. Dia mempunyai ilmu kesaktian yang sangat luar biasa."

Ucap orang itu dengan suara tercekat.

"Kau terlalu berlebihan memuji. Mungkin saja dia itu seorang dewa, tapi dewa kesasar yang hendak mencari mati!"

Dengus si gemuk.

"Jelas bukan dia orang yang kita cari. Sia-sia saja kita menunggu di tempat ini." kata laki-laki yang di belakang tidak sabar.

Selagi mereka sedang menduga-duga siapa gerangan yang mengaku bernama Raja Gendeng itu, tiba-tiba laki-laki yang mendekam di bagian paling depan berseru perlahan.

"Lihat... dia menghampiri orang-orang yang terluka. Apa yang hendak dilakukannya?"

Tanpa bicara si gendut dan yang lainnya segera layangkan pandang ke arah di mana Raja berjalan.

"Nampaknya dia ingin mengobati para penduduk dusun yang terluka. Akan kulihat bagaimana caranya menyembuhkan sekian banyak orang yang terluka itu!"

Dengus si gendut disertai senyum mencibir. Tidak ada yang menjawab.

Semua pengikut si gendut sama menahan nafas sambil pusatkan perhatian ke arah Raja. Dihadapan para penduduk yang mengerang kesakitan.

Dengan sikap tenang namun berwibawa Sang Maha Sakti berdiri tegak dengan dua tangan disilangkan ke depan.

"Saudaraku sekalian."

Kata Raja membuka ucapan.

"Kalian dengarkan baik-baik. Aku bukanlah tabib juga bukan juru obat delapan penjuru. Tapi karena penderitaan yang kalian alami, aku merasa terpanggil untuk memberikan sekedar bantuan. Kesembuhan itu datangnya dari pemilik kehidupan. Sedangkan aku hanya seorang manusia dan gendeng pula. Tapi aku akan mencoba dengan segala kemampuan yang kumiliki. Kuharap kalian bisa sembuh dalam waktu secepatnya. Pejamkanlah mata kalian. Jika kalian tidak mau menurut atau mendengar permintaanku, jangan salahkan aku bila mata kalian bakal diselimuti belek seumur hidup."

Raja lalu tersenyum memperhatikan orang-orang yang ada di depannya. Pada kesempatan itu seseorang yang terluka di bagian dada dan wajahnya melangkah maju. Setelah menjura hormat laki-laki berusia lima puluh itupun berkata.

"Kisanak. Budi baikmu yang mulia tidak mungkin bisa kami lupakan. Saya Ki Ladung Pangga Burita mewakili semua penduduk dusun ini mengucapkan banyak terima kasih." Mendengar ucapan kepala dusun Raja hanya menyeringai sambil garuk kepala.

"Budi baik dan kemuliaan apa, aku telah datang terlambat. Banyak orang terbunuh, lainnya terluka kau malah berterima kasih,"

Kata pemuda itu.

Sang pendekar kemudian memberi isyarat pada kepala dusun untuk kembali ke tempatnya.

Setelah orang tua itu duduk kembali dibarisan belakang, kini dengan diliputi ketegangan mereka menunggu tindakan yang hendak dilakukan Raja.

Dengan sikap tenang di tempatnya berdiri Raja tampak memejamkan mata. Mulut berkemak-kemik membaca mantra.

Selesai mantra dibaca dia masih melanjutkan dengan membaca mantra yang lain Ajian Petit Gembala Gaib.

"Sang Hyang kesembuhan penghilang segala penyakit segala derita luka.Sembuhkan mereka yang terluka, lenyapkan segala derita sakit.Penyakit datang tidak diundang, kesembuhan mendekat tanpa terlihat Malakatam... Ram-Ram buku bertau..."

Selesai dengan ucapannya Raja kibaskan dua tangannya yang terkepal ke arah orang-orang berada di sekelilingnya.

Dari telapak tangan pemuda itu tiba-tiba bertaburan cahaya berkilauan berwarna hijau dan kuning keemasan.

Cahaya itu laksana butiran intan berjatuhan menimpa setiap orang yang ada di sekitarnya.

Ketika butiran cahaya mirip intan menyentuh setiap tubuh yang terluka, satu pemandangan luar biasa sulit dipercaya terjadi.

Luka robek bekas sabetan dan berbagai luka lain yang diderita penduduk dusun itu serta merta lenyap tidak meninggalkan bekas sedikitpun.

Orang-orang itu sama berpandangan dengan keheranan namun penuh rasa syukur.

Dan mereka merasa mendapat berkah baru di balik petaka yang mereka alami ketika sadar taburan cahaya kuning yang jatuh diatas tanah ternyata berubah menjadi kepingan uang emas

"Luar biasa. Pemuda gagah itu agaknya betul betul dewa yang menyaru jadi manusia. Buktinya dia bisa melakukan penyembuhan dan menghadiahi penduduk dusun dengan kepingan emas,"

Seru pengikut si gemuk takjub.

"Dia mempunyai ilmu sihir. Jangan percaya dengan tipuan murahan. Kepung dia dan tanyakan padanya apa keperluannya datang kesini!"

Geram si gemuk.

Walau kagum pada pemuda gondrong bersenjata pedang itu, namun tidak seorangpun pengikut si gemuk yang berani membantah.

Satu orang bangkit berdiri dikuti dengan suitan panjang. Bersamaan dengan terdengarnya suara suitan itu, dari segala penjuru arah bermunculan sedikitnya dua puluh laki-laki berpakaian hitam bersenjata golok dan pedang besar dalam keadaan terhunus. Melihat kehadiran orang-orang itu penduduk yang baru disembuhkan oleh Raja jadi ketakutan. Sang pendekar tidak tinggal diam.

Kepada kepala dusun dia ajukan pertanyaan.

"Merekakah yang telah menghancurkan dan membunuh penduduk di dusun ini?" Sang kepala dusun Ki Ladung Pangga Burita gelengkan kepala.

"Kami tidak mengenal mereka. Yang telah menghancurkan dan memporak porandakan desa kami adalah seseorang yang mengaku berjuluk Seruling Halilintar."

Jelas kepala desa.

"Hanya seorang saja, tapi sudah membuat kekacawan yang begini besar? Siapa Seruling Halilintar? Mengapa dia tega berbuat keji terhadap penduduk yang tidak berdosa."

Pikir sang pendekar.

"Mungkinkah ada sesuatu yang dia cari ataukah penduduk di sini menyembunyikan satu rahasia penting?"

Belum sempat Raja menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri, seorang laki-laki gemuk berkumis tebal berwajah angker ditumbuhi cambang bawuk lebat melompat maju sambil membentak

"Setan gondrong yang baru saja pamer kebolehan sembuhkan orang-orang tolol penghuni dusun ini. Siapa kau? "

Dipanggil setan oleh laki-laki tidak dikenal. Raja menoleh lalu menatap orang itu. Sambil melongo selayaknya orang yang tolol pemuda ini balik bertanya.

"Kau sendiri siapa? Pakaianmu dan pakaian kambrat kambratmu hitam seperti lutung. Ada kepentingan apa datang kemari?"

"Bangsat kurang ajar. Orang bertanya kau malah balas bertanya." Geram si gemuk gempal.

"Tapi baiklah, kami datang kesini untuk satu maksud kepentingan yang tidak dapat ditunda.

Terus terang kami sedang menunggu seseorang yang baru saja turun dari puncak gunung Papandayan. Orang itu telah membawa sebuah benda kramat bernama Mutiara Tujuh Setan untuk diserahkan pada Tiga Setan Putih yang berada di Gerobokan."

"Hmm, jadi kau mengira aku si kunyuk yang dipercaya membawa mutiara itu?" Gumam sang pendekar lalu tersenyum mencibir.

"Aku tidak bisa memastikan. Tapi aku, Lohpati dari Krendeng telah bersumpah untuk menggeledah siapapun yang muncul di dusun ini!"

Tegas si gemuk yang ternyata bernama Lohpati itu. "Sungguh keterlaluan." Gerutu Raja.

"Aku tahu kalian sudah lama berada disini. Kalian melihat penderitaan penduduk itu, tapi kalian malah hanya mendekam saja seperti tikus buduk di kegelapan sana. Lebih celaka lagi kau hendak menggeledah aku. Kau pikir aku menyimpan mutiara yang kau cari itu di dalam celanaku?"

"Kalau kau tidak merasa menyimpan benda yang kami cari, mengapa harus takut? Kami hanya ingin memastikan. Bila Mutiara itu memang tidak ada padamu, kami pasti mengijinkanmu untuk angkat kaki dari sini!"

Raja tertawa sambil pencongkan mulutnya.

"Enak saja kau bicara. Aku tak akan membiarkan seorangpun dari kalian menyentuh' apalagi menggeledah tubuhku. Siapa pun yang berani mendekat akan kubuat dia malu seumur hidupnya. Ha ha ha!"

Ancam Raja disertai gelak tawa.

Sambil tertawa dia lalu berkata ditujukan pada kepala dusun.

"Bapak kepala desa lekas tinggalkan tempat ini. Siapapun yang berani menghalangi kalian, dia akan kubuat sengsara!"

"Terima kasih kisanak."

Jawab kepala desa takut-takut.

Tanpa menunggu lama dia segera memberi isyarat pada teman-temannya yang lain untuk segera pergi.

Melihat para penduduk berlarian hendak tinggalkan tempat itu beberapa kaki tangan Lohpati mencoba mencegahnya sambil kibaskan pedang ditangan ke arah kepala dusun yang memimpin di depan.

Tapi tiga laki-laki itu menjerit keras, pedang terlepas dari genggaman sedangkan tubuh mereka terbanting sambil dekap tangan masing-masing yang mengucurkan darah.

Ditempatnya berdiri Lohpati yang menjadi pimpinan sempat dibuat terkejut melihat tiga pengikutnya berjatuhan sambil pegangi tangannya.

Dia tahu kepala dusun tidak melakukan perlawanan yang bisa membuat pengikutnya cidera. Merasa curiga Lohpati layangkan perhatiannya kepada Raja.

Kening berkerut mata pun mendelik ketika menyaksikan pemuda itu dengan sikap yang acuh sedang mengggelitik telinganya sendiri dengan selembar bulu.

Sambil meringis kegelian sang pendekar sesekali keluarkan suara seperti bersin.

"Anak-anak. Apa yang terjadi dengan kalian? Mengapa tangan kalian mengucurkan darah?" Sambil berkata begitu Lohpati melangkah menghampiri anak buahnya.

Tiga pengikutnya segera bangkit.

Sambil mendengus Lohpati sentakkan tangan yang terluka dan sekaligus memeriksanya. Mata laki-laki gemuk ini terbelalak lebar ketika melihat benda yang menancap hingga tembus ke punggung telapak tangan mereka ternyata adalah sehelai bulu.

"Sulit dipercaya, bagaimana mungkin selembar bulu bisa menjadi senjata rahasia yang sangat berbahaya."

Desis Lohpati murka namun juga penasaran. Mendengar ucapan Lohpati. Raja segera membuang bulu yang dipergunakan untuk menggelitik telinganya. Sambil memandang ke depan dia berkata.

"Orang gemuk berkumis tebal. Semua benda mempunyai kegunaan. Tidak hanya bulu burung hantu. Upil gajah sekalipun kalau ada bisa kugunakan sebagai senjata rahasia.Sekarang kau masih bersikeras ingin menggeledah aku?"

Tanya sang pendekar sambil cibirkan mulut. Sadar pemuda gondrong yang mengaku bernama Raja Gendeng itu meremehkannya maka Lohpati segera berteriak memerintahkan kepada puluhan pengikutnya untuk menghabisi Raja.

Walau merasa jerih setelah melihat berbagai kehebatan yang diperlihatkan Raja saat menolong mengubur dan menyembuhkan penduduk yang terluka.

Namun kaki tangan Lohpati itu sendiri sebenarnya merasa geram melihat tingkah Raja.

Tidak mengherankan perintah pimpinan mereka pun disambut dengan bergeraknya belasan orang serentak mengepung Raja.

Mereka menyerang pendekar dengan pedang, golok dan tombak terhunus.

Kilatan golok dan pedang menyilaukan mata menyambar membabat sekaligus menusuk ke bagian-bagian tubuh yang mematikan.

Melihat deru senjata serta tendangan kaki datang dari segala penjuru, Raja tetap bersikap tenang.

Dia segera menggeser kaki kiri ke belakang, sedangkan kaki kanan melakukan sapuan ke depan. Dua tangan yang bersilangan di depan dada segera dia putar untuk menangkis serangan.

Selanjutnya dengan menggunakan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung, pemuda ini sekonyong- konyong lambungkan tubuhnya ke atas.

Ketika tubuh melambung di udara dua tangan segera dihantamkan ke delapan penjuru arah sekaligus

Wuut! Wuut!

Deru suara angin disertai berkiblatnya cahaya biru menyambar lalu menghantam lima pengikut Lohpati hingga membuat mereka terjungkal terhempas dan tidak bergerak lagi.

Melihat ini teman-temannya yang berhasil meloloskan diri menjadi marah. Mereka segera merangsak maju.

Namun Raja yang saat itu dalam keadaan mengapung diketinggian segera sentakkan kaki dan menghantamkannya ke wajah mereka.

Sedikitnya ada enam pengikat Lohpati berusaha menghindari serangan dengan kibaskan pedang yang berada dalam genggaman.

Namun dengan mudah serangan itu dapat dimentahkan oleh Raja.

Sebaliknya ujung kaki Raja terus menderu melabrak wajah dan kening mereka. Terdengar suara seperti batu-batu yang menimpa benda keras.

Enam kaki tangan Lohpati menjerit keras sambil dekap kening dan wajah masing-masing.

Dengan langkah sempoyongan mereka berlompatan ke belakang saling memperhatikan.

Lalu sama berseru.

"Lihat keningmu benjut bengkak seperti telur ayam. Ha ha ha!"

Tidak mau kalah sang teman juga menimpali sambil menunjuk ke wajah dan pipi temannya. "Pipimu, wajahnya dan leher dia juga penuh benjolan. Besarnya seperti telur kuda. Ha ha ha!" Lalu di tengah derai tawa. Temannya yang lain tiba-tiba menimpali.

"Memangnya kuda bertelur? Hik hik! "

Seperti teman-temannya orang ini pun lalu ikutan tertawa terpingkal-pingkal.

Segala keanehan yang dialami oleh pengikut- pengikutnya tentu saja menimbulkan keheranan di hati Lohpati.

"Apa yang dilakukan pemuda gondrong itu. Mungkinkah dia telah menyerang urat tawa para pengikutku? Tapi seingatku di rimba persilatan hanya beberapa orang saja yang mempunyai ilmu kepandaian seperti itu."

Pikirnya Lohpati.

Segala yang dikhawatirkan Lohpati sebenarnya tidaklah berlebihan.

Ketika Raja menyerang mereka, pemuda ini dengan sengaja menendang atau memukul bagian syaraf tawa lawan.

Begitu syaraf tawa mengalami gangguan karuan saja mereka tertawa-tawa tak karuan kejuntrungannya.

Lebih celaka lagi berkat sihir putih yang dikuasai Raja, seperti wabah penyakit menular saja pengaruh tawa menyebar hingga beberapa pengikut Lohpati yang lain walau tidak sempat disentuh juga ikutan tertawa. Ketika getaran hebat itu mengenai Lohpati lalu merambat ke batang leher dan tenggorokannya, laki-laki gemuk ini cepat kerahkan tenaga dan alirkan hawa sakti untuk menangkal pengaruh getaran aneh yang bisa membuatnya bisa ikutan tertawa.

"Hmu tipuan sihir keparat!"

Teriak Lohpati dengan suara menggeledek.

Teriakan yang disertai tenaga dalam itu membuat Raja yang tengah mengerahkan kekuatan sihirnya sempat terhuyung. Namun dengan cepat dia sudah dapat menguasai diri.

Sambil tersenyum dan tubuh keluarkan keringat, pemuda ini menatap ke depan. Dia melihat wajah Lohpati yang pucat, bibir terkatub, pipi menggembung.

Kemarahan luar biasa jelas terpancar di mata laki-laki itu.

"Pemuda gondrong bersenjata pedang, mengaku bernama Raja Gendeng. Siapa dirimu ini? Dari mana usulmu?"

Tanya Lohpati berapi-api.

Sementara itu dia juga menjadi khawatir ketika melihat semua pengikutnya masih terus terpingkal- pingkal.

Diantara mereka ada yang memegangi perutnya yang terasa sakit akibat banyak tertawa, ada juga yang terkencing di celana namun sebagian diantaranya mulai berjatuhan tidak sadarkan diri akibat tawa yang berlebihan.

Sang pendekar tersenyum, lalu mengusap wajahnya yang basah berkeringat. "Mengenai diriku perlu apa kau tanyakan. Aku masih berasal dari sini juga." jawab Raja

asal-asalan saja.

Kening Lohpati berkerut, kepala digeleng sebagai rasa tidak percaya.

"Kau penduduk dusun ini. Kulihat pakaianmu cukup bagus dan bukan dari bukan bahan biasa." "Ho ho ho. Tentu saja. Pakaian ini hadiah dari seorang raja jin,"

Sahut Raja berdusta.

"Aku tahu kau tidak bicara jujur padaku."

"Buat apa harus bersikap jujur pada orang sepertimu?"

Walau merasa kesal melihat sikap dan jawaban yang diberikan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es, namun Lohpati membuka mulut lanjutkan ucapan.

"Aku sepertinya mengenal ilmu yang kau pergunakan. Kau baru saja menggunakan ilmu sirapan bernama Rasa Gembira Membuat Lupa Daratan. Yang kutahu ilmu aneh seperti itu hanya dimiliki oleh seorang nenek aneh penghuni dasar laut selatan. Dan nenek itu bernama Nini Balang Kudu. Apa hubunganmu dengan penghuni Naga Laut Selatan itu?"

Tanya Lohpati.

Kali ini dia menatap Raja dalam-dalam.

Tidak menyangka lawan mengenali nama ilmu yang dia pergunakan untuk menjahili pengikut orang tua berkumis tebal itu.

Raja diam-diam terkejut.

Namun dia lebih terkejut lagi ketika Lohpati ternyata juga mengenal si nenek yang mewariskan ilmu itu

"Orang jelek, hidung pesek kumis tebal.Tak kusangka ternyata kau punya mata yang awas, pandangan luas dan mengenali ilmu yang aku pergunakan. Terus terang aku adalah murid Nini Balang Kudu nenek bawel satu itu. Kau sendiri apanya? Bagaimana kau bisa mengenal guruku?"

Tanya Raja curiga.

Baru saja sang pendekar menyebut nama gurunya, tanpa disangka-sangka Lohpati jatuhkan diri, berlutut di hadapan Raja.

Dua tangan dirangkapkan ke depan dada. Sambil tundukkan kepala Lohpati dengan suara meratap tiba-tiba berkata.

"Maafkan saya Sang Maha Sakti Raja Gendeng pendekar gagah. Sedikitpun aku tidak menduga engkau murid Nini Balang Kudu, Dulu Nini Balang Kudu pernah mengatakan mengangkat seorang murid. Itu sebabnya dia tidak bersedia mengambil aku sebagai muridnya. Walau demikian berkali-kali beliau telah menyelamatkan diriku saat perahuku terombang-ambing lalu tenggelam di laut selatan. Tidak hanya itu saja beliau dengan segala kerendahan hatinya telah membantu penduduk gunung Kidul dalam mendatangkan hujan."

"Hmm, jadi kau orang gunung Kidul daerah kawasan tandus itu!" Berkata Raja sambil kernyitkan keningnya.

Lalu mengingat betapa jauhnya Lohpati meninggalkan daerah asalnya maka muncul satu tanda tanya gerangan apa yang membuat orang jauh-jauh datang ke dusun bambu.

Ketika Raja menanyakannya kepada Lohpati dengan malu-malu dia menjawab,

"maafkan saya sekali lagi pendekar. Dari jauh-jauh saya datang kemari sebenarnya memang ingin mencari tahu keberadaan Mutiara Tujuh Setan."

"Kau mencari Mutiara Tujuh Setan?" Sang pendekar terperanjat. "Apakah benda itu milikmu?"

Tanya Raja sambil menatap orang tua di depannya lekat-lekat. Lohpati gelengkan kepala. "Bukan, Mutiara Tujuh Setan bukan milik saya,"

Jawab laki-laki itu gelisah.

"Saya mencari mutiara itu bukan untuk diri saya tapi atas pesanan seseorang...!"

Terang Lohpati ragu. Dan tiba-tiba pula Raja melihat kegelisahan merayapi diri orang tua itu "Andai saja kau dapat mengatakan siapa yang telah memesan benda itu padamu?"

Gumam sang pendekar

Pertanyaan itu membuat Lohpati tambah gelisah.

Beberapa kali dia melirik kesekelilingnya seakan takut ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka.

Tapi suara gelak tawa para pengikutnya setidaknya mengusik perhatian Lohpati sehingga dia berucap. "Andai saja kau mau membebaskan mereka dari Pengaruh ilmu Rasa Gembira Membuat Lupa daratan yang mengganggu urat tawa mereka, aku akan mengatakan padamu siapa yang telah memesan Mutiara itu padaku."

"Permintaanmu tidak sulit untuk kukabulkan."

Berkata demikian Raja segera silangkan dua tangan diatas kepala mulut berkemak-kemik namun mata terpejam, Kemudian sambil memutar tubuh tiga kali dari mulutnya menyembur ludah ke arah belasan pengikut Lohpati.

Saat semburan ludah menyentuh tubuh atau wajah mereka. Serta merta belasan pengikut Lohpati terdiam sediam-diamnya.

Pengaruh tawa lenyap, demikian juga mereka yang sempat terkena totokan pada urat tawanya.

Walau demikian tidak urung ada saja diantara mereka yang mengomel. "Uuh, sialan. Semburan ludahnya bau jengkol!"

Mendengar ucapan itu Raja pun tak kuasa menahan gelak tawanya.

"Ha ha ha! Masih bagus cuma bau jengkol, bagaimana kalau bau bangkai? Ha ha ha." Lohpati merasa tidak enak hati pada Raja cepat-cepat dia berkata.

"Hai jangan ribut."

Para pengikutnya jadi terdiam. Raja melangkah maju. Tidak sabar dia berkata.

"Aku telah mengabulkan permintaanmu. Sekarang katakan siapa yang telah memesan Mutiara Tujuh Setan padamu."

Lohpati anggukkan kepala. Kemudian dengan suara lirih namun jelas dia menjawab. "Yang memesan adalah...!"

Belum sempat laki-laki gemuk itu menyebut nama.

Dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara desir aneh disusul melesatnya tujuh benda sepanjang tidak lebih dari setengah jengkal.

Melihat ini Raja segera berteriak pada Lohpati sekaligus melompat ke depan menghantam serangan gelap itu dengan pukulan Cakar Sakti Rajawali. Empat cahaya putih terang berkiblat dari dua telapak tangan Raja menderu ke arah senjata rahasia yang menghantam ke arah Lohpati.

Sedang orang tua itu cepat jatuhkan diri bergulingan di tanah.

Tujuh serangan gelap sanggup dibuat rontok oleh pukulan yang dilancarkan Raja.

Lohpati sendiri balikkan badan dalam keadaan terduduk dia mencoba mencari tahu arah datangnya serangan.

Tapi tindakan yang dilakukannya itu berakibat fatal. Serangan gelap datang untuk yang kedua kalinya.

Raja yang berada di belakang Lohpati hanya bisa memapas habis serangan yang menderu diatas kepala Lohpati. Sedangkan serangan yang mengarah ke tubuh disebelah bawah Lohpati tak dapat dia singkirkan karena khawatir pukulan yang dia lakukan justru akan mengenai tubuh laki-laki itu.

"Menyingkir."

Teriak Raja. Sambil melompat kesamping Lohpati masih sempat ayunkan golok besar yang baru diambilnya dari punggung. Namun tangkisan golok itu kalah cepat dibandingkan datangnya serangan,

Cep! "Ugkh..."

Lohpati menjerit.

Golok ditangan terpental jatuh disertai suara bergemerincing. Laki-laki itu terkulai sambil dekap dadanya yang berlumur darah ditembus serangan rahasia.

Melihat ini pengikutnya menjadi geger.

Sebagian berlarian berusaha menolong pimpinannya.

Sedangkan sebagian lagi segera melakukan pengejaran ke arah datangnya serangan senjata rahasia.

"Pembokong pengecut. Jangan lari!" Teriak mereka.

Namun yang terdengar kemudian adalah suara jerit mengerikan para pengejar itu.

Belasan orang berjatuhan dengan tubuh ditancapi senjata rahasia yang disambitkan orang. Sang pendekar yang menyusul di belakang pengikut Lohpati kertakkan rahang.

Sekali membuat gerakan dia sudah melewati pengikut-pengikut Lohpati yang berkaparan diatas semak belukar.

Memandang ke arah kegelapan pemuda itu melihat satu bayangan melesat pergi sambil sambitkan senjata mautnya ke arah Raja.

"Kau menginginkan nyawaku juga? Eeh...lebih baik kujemput nyawamu lebih dulu!"

Berkata demikian Sang Maha Sakti Raja Gendeng segera hantamkan kedua tangan ke arah bayangan yang melesat di depannya.

Wuut! Brees! Buum!

Satu dentuman keras menggelegar mengguncang kegelapan malam. Terdengar suara mengaduh disertai umpatan sumpah serapah.

Setelah itu segalanya menjadi sunyi.

Raja tidak mau menunggu lebih lama karena takut kehilangan pembokong gelap. Dia segera mengejar ke tempat di mana ledakan terjadi. Tapi dia hanya menemukan puing-puing yang berserakan dikobari api. Sosok yang punggungnya terkena pukulan raib entah kemana. 

"Heran, kemana perginya setan gelap tadi. Dia tidak jatuh walau aku telah menghantamnya dengan pukulan Kepakan Sayap Rajawali?"

Pikir pemuda itu.

Sang pendekar geleng kepala takjub atas kekuatan yang dimiliki sang penyerang namun hatinya penasaran.

Setelah tidak menemukan orang yang dicari. Raja kembali ingat dengan Lohpati dan pengikutnya.

Dia segera balikkan badan lalu berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Lohpati. Saat itu Lohpati telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sekujur tubuh terutama di bagian wajah nampak membiru.

Sementara para pengikutnya duduk bersimpuh mengelilinginya. Ketika orang-orang melihat kedatangan Raja, beberapa diantaranya segera memberi jalan.

Raja segera mengambil tempat disamping Lohpati.

Sambil duduk menjelepok di tanah yang dingin Sang Maha Sakti perhatikan tubuh Lohpati. Dia melihat ada sebuah senjata berwarna hitam seukuran tidak lebih besar dari batang lidi. Ketika senjata yang telah menewaskan Lohpati itu dicabut.

Sang pendekar segera memeriksanya. "Jarum Nibung Hitam!"

Desis sang pendekar begitu mengenali senjata yang memiliki panjang tidak lebih dari setengah jengkal tersebut.

Lalu didekatkannya senjata maut itu ke hidung. Tercium bau amis menyengat. "Senjata ini mengandung racun sangat ganas,"

Desis Raja kaget.

Pengikut Lohpati hanya bisa tercengang.

Namun mereka tidak bisa menjawab ketika Raja bertanya apakah mereka mengenal siapa pemilik senjata itu

"Kami tidak tahu apa-apa, pendekar. Kami hanya pengikut yang harus mematuhi perintah dari Lohpati sebagai pimpinan."

Kata salah seorang diantaranya yang memiliki rambut kaku macam ijuk

"Pimpinan kalian sudah mati. Orang yang membunuhnya tak ingin Lohpati mengatakan si pemesan Mutiara Tujuh Setan,"

"Kami juga berkeyakinan begitu."

Sahut orang-orang yang bersimpuh di sekeliling jenazah. "Apakah kalian juga mengenal siapa yang memesan mutiara?" Tanya sang pendekar sambil menatap tujuh laki-laki disekelilingnya.

Dipandang dengan sorot mata menyelidik mereka cepat gelengkan kepala. Walau merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

Namun Raja tidak mau mendesak sisa pengikut Lohpati. Sebaliknya dia bangkit berdiri.

Setelah masukkan senjata rahasia yang dicabut dari dada Lohpati ke dalam kantong perbekalan dia berkata ditujukan pada orang-orang itu.

"Pimpinan kalian telah menemui ajal. Kuharap kalian membawanya kembali ke tempat asalnya di gunung Kidul. Rawat dan kuburkan mayatnya secara layak. Setelah itu kalian kembalilah ke masyarakat. Aku tidak ingin kelak bertemu kalian sedang petantang petenteng membekal golok atau pedang. Terkecuali diantara kalian sedang sakit bisul diketiak. Jangan lagi pernah bertolak pinggang di depan orang lain. Hiduplah menjadi orang baik baik. Kalian mengerti?!" tanya sang pendekar.

"Kami mengerti pendekar."

Sahut yang berambut kaku disertai anggukan kepala yang lainnya. Hampir bersamaan mereka tundukkan kepala, rangkapkan dua tangan di depan sebagai tanda penghormatan.

"Kami menyatakan hormat kepadamu."

Selesai berucap demikian mereka kembali menatap ke arah di mana Raja berdiri. Namun mereka sama melengak kaget ketika mendapati ternyata Sang Maha Sakti Raja Gendeng telah raib dari hadapan mereka.

"Pemuda aneh, tapi luar biasa,"

Gumam si rambut kaku terkagum-kagum.

*****

Lima hari berturut-turut tanda akan terlepasnya Bethala Karma dari tempat penyekapan yang dikenal dengan nama Penjara Delapan Paku Bumi telah dirasakan oleh para penjaganya yang terdiri dari Sora Magandala dan seorang gadis urakan bernama Sakantili atau juga lebih dikenal dengan sebutan Peri Halilintar,

Tidak mengherankan. Ketika semua binatang liar yang menghuni kawasan Dieng berpindah tempat yang kemudian disusul dengan munculnya semburan awan panas.

Gadis berpakaian biru ringkas itu kemudian memerintahkan setiap orang yang mendiami kaki dan lembah Dieng untuk segera mengungsi ke tempat yang aman.

Hari berikutnya, ketika guncangan-guncangan seperti gempa menerpa kaki gunung di sebelah timur tempat di mana Bethala Karma terperangkap dan dijebloskan di dalam kawah api oleh lawan- lawannya yang terdiri dari Tiga Setan Putih.

Atas izin Peri Halilintar, Sora Magandala berangkat menemui Lisang Geni seorang pertapa di Gua Tapa Insan yang menetap dikawasan kali Serayu.

Sebagaimana telah diketahui sesampainya di tempat tinggal sang pertapa dan muridnya ternyata kitab batu bersurat sebagai kitab satu-satunya petunjuk yang mempunyai hubungan antara Mutiara Tujuh Setan dan mahluk dari luar jagat itu telah hangus terbakar dengan sendirinya,

Atas kesepakatan kedua belah pihak Sora Magandala pergi menemui Tiga Setan Putih di Gerobokan.

Sedangkan Lisang Geni dan muridnya kemudian memutuskan untuk mencari Ki Ageng Sadayana dari Pangandaran.

Satu-satunya orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan mutiara keramat itu.

Sementara seperginya Sora Magandala keadaan di sebelah timur kaki gunung Dieng keadaannya semakin runyam menghawatirkan.

Gempa hebat yang disusul dengan semburan awan panas makin sering terjadi. Kejadian ini membuat Peri Halilintar tambah cemas dan tidak lagi bisa berdiam diri.

*****

Malam menjelang pagi.

Seorang gadis berpakaian biru berambut panjang riap-riapan segera meninggalkan tempat penjagaan.

Dengan menunggang seekor kuda hitam kesayangan yang bernama Lesus Sukmo, si gadis menelusuri lembah tempat dimana Bethala Karma dikurung dalam kerangkeng besi raksasa.

Tidak lama kemudian Peri Halilintar sampai di tepi sebuah jurang berbentuk empat persegi yang dilapisi kerangkeng besi menyala.

Gadis pemberani ini segera melompat turun dari atas kudanya.

Kepada kuda kesayangan itu dia berbisik

"Segala janji yang maha kuasa nampaknya akan menjadi kenyataan dihari ini.Semoga para dewa melindungi kita.Namun apapun yang terjadi atas diriku.Kuharap kau segera tinggalkan tempat ini.

Pergilah yang jauh tunggu aku di jalan setapak dekat pohon Randu Beradu.Kalau aku tidak muncul hingga tengah hari nanti maka carilah Sora Magandala,"

Pesan Peri Halilintar sambil sibakkan rambut panjangnya yang riap-riapan yang menutupi wajahnya.

Sang kuda meringkik keras. Kaki depan di- angkat, kepala digeleng seakan tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh majikannya.

"Kau harus pergi. Gempa dan semburan awan panas makin menjadi. Gunung ini sewaktu-waktu bisa saja meledak jadi kepingan! Segera lakukan perintah ku! Tidak ada waktu bagiku berdebat denganmu!"  

Teriak Peri Halilintar.

Sebagaimana kebiasaannya untuk menghalau kuda yang keras kepala namun sangat sayang kepadanya. Peri Halilintar angkat tangan tinggi-tinggi.

Gerakan hendak menampar yang disertai munculnya kilatan-kilatan cahaya yang mengawali munculnya halilintar membuat Lesus Sukmo jadi jerih Sambil keluarkan suara ringkikan panjang akhirnya kuda itupun terpaksa tinggalkan Peri Halilintar seorang diri.

Si gadis tidak pernah tahu sambil berlari pergi tinggalkan si gadis sepasang mata kuda terus menitikkan air mata.

Sepeninggalnya kuda hitam, Peri Halilintar dengan leluasa dekati tepi jurang menganga tempat dimana sebuah kerangkeng besi raksasa yang selalu menyala berada.

Dari balik kerangkeng yang dijilati api. Peri Halilintar dapat melihat betapa dibawah sana satu sosok tinggi besar berujud aneh yang memiliki dua kepala, dua pasang tangan dan dua pasang kaki.

Mahluk itu kini tidak lagi dalam keadaan rebah dengan tangan, kaki serta kepala terpantek pada pendataran batu membara.

Mahluk yang dikenal dengan nama Bethala Karma ini konon menurut Tiga Setan Putih di tempat asalnya dikenal sebagai panglima perang pasukan pembunuh yang kejam.

Saat ini dia sudah dalam keadaan duduk.

Tangan,kaki dan kepala yang sebelumnya terbelenggu dan terpaku oleh delapan paku bumi kini sudah terlepas dari ikatannya.

Dalam keadaan bebas dua kepala sang mahluk mata yang terus bergerak, setiap pasang mata yang terdapat pada setiap wajah memperhatikan jeruji besi yang dikobari api.

Tapi semua gerakan meneliti untuk mencari celah meloloskan diri tiba-tiba jadi terhenti begitu dia mendengar suara ringkik kuda datang dari luar jurang kerangkeng besi menyala.

Karena telah puluhan tahun dalam keadaan terkurung dan mengenal siapa penjaganya, maka mendengar suara kuda itu membuatnya menjadi beringas. Dua kepala berleher panjang yang menyatu dengan satu badan yang dipenuhi sisik dan bulu bulu kaku sama diputar, lalu dua wajah mendongak ke atas.

Dua pasang mata merah hanya memiliki titik hitam kecil di tengah, masing-masing mata menerawang. Ketika melihat Peri Halilintar berdiri tegak diketinggian tebing jurang ditutupi rintangan rintangan besi berpijar, salah satu mulut Bethala Karma berseru.

"Gadis penjaga berambut panjang riap-riapan. Aku mencium aroma kebebasan di balik kehadiranmu. Ketahuilah jika aku terlepas dari kerangkeng penjara jahanam ini maka kaulah orang yang pertama yang akan kubunuh. Aku sebenarnya suka dan rindu padamu tapi mengingat tubuhmu sangat kecil mana mungkin kau dapat kujadikan seorang istri. Kau hanya bisa kujadikan santapan. Ha ha ha!"  

Kata Bethala Karma diiringi gelak tawa yang membuat guncangan-guncangan di sekitar jurang itu makin menjadi-jadi.

Belum lagi suara tawa dari mulut yang satu lenyap, dari mulut kepala yang kedua menyusul ucapan.

"Aku rindu perang. Keinginanku hanya satu yaitu menghancurkan setiap orang yang mencoba menghalangiku untuk memperluas daerah kekuasaanku."

"Mahluk terkutuk yang mempunyai satu tubuh dua kepala dengan dua pikiran berbeda. Jahanam seperti apa dirimu itu? Kau berada di satu tubuh tapi mempunyai bagian-bagian tubuh lain seolah diri kalian adalah dua. Satu kepala sering merindukan makanan yang enak dan lezat, sedangkan kepala yang lainnya rindu pada peperangan. Memangnya apakah kau tidak sadar saat ini berada dimana?

Kau telah jauh terpesat keluar dari negeri edan tempat asalmu. Disini, kau berada dalam kehidupan dan satu dunia lain yang bernama dunia manusia. Apakah kau tidak menyadarinya?"

Teriak Peri Halilintar dengan suara menggeledek. Andai ucapan keras Peri Halilintar ini didengar oleh manusia biasa yang tidak mempunyai tenaga dalam dan ilmu kesaktian tinggi, dapat dipastikan orang yang mendengarnya jatuh pingsan, pikiran menjadi linglung akibat otak mengalami guncangan hebat.

Tapi bagi Bethala Karma yang bertubuh satu namun mempunyai anggota tubuh serba dua, teriakan lantang sang dara urakan hanya membuat telinganya menjadi gatal seperti kemasukan kutu.

Setelah mengusap empat daun telinga yang lebar seperti telinga gajah, dua wajah sama menoleh dan dua pasang mata sama berpandangan.

"Apa yang dikatakannya?"

Berkata mulut di kepala sebelah kiri. Mulut yang berada di kepala sebelah kanan cepat menyahuti.

"Gadis penjaga itu mengatakan kita tidak berada di negeri kita. Kita tidak berada di kerajaan kuno negeri penuh gejolak perang. Artinya pasukan besar yang berada dalam pimpinan kita tidak bersama dengan kita saat ini. Sebagai mahluk kembar yang memiliki dua jiwa dalam satu raga, kita hanya berdua saja saat terpesat di dunia kehidupan manusia."

"Ya... aku ingat sekarang."

Kata mulut dikepala yang kiri dengan mata terpejam.

"Bukankah kita sampai kesasar di dunia manusia gara-gara tujuh perwira yang tidak setia itu." "Tujuh perwira, tujuh setan putih, Para pengkhianat busuk yang melarikan mutiara keramat dari

istana kuno."

Menyahuti mulut di kepala yang bertengger di bahu sebelah kanan. "Gara-gara mutiara itu kita kesasar di sini terpisah dari pasukan besar yang mustahil dapat dikalahkan oleh tokoh-tokoh hebat di rimba persilatan."

"Tapi kita telah berhasil membunuh empat perwira." Ujar mulut dikepala sebelah kiri sambil buka matanya. Mulut dikepala yang kanan menyeringai.

"Empat perwira penghianat dapat kita binasakan. Tapi tiga perwira lain berhasil memperdaya kita dan menjebloskan kita di tempat terkutuk seperti ini. Masih bagus tubuh kita berasal dari api neraka. Kalau tubuh kita terdiri dari kulit,darah dan daging. Mungkin saat ini kita hanya tinggal nama saja," ujar mulut di kepala yang kanan.

"Tidak perlu dipikirkan lagi. Kita bisa tertipu namun sekali saja. Tiga perwira yang dikenal manusia sebagai Tiga Setan Putih dan mutiara kramat harus kita temukan. Kita telah berhasil meloloskan diri dari belenggu rantai delapan Paku Bumi. Tunggu apa lagi?"

"Mari kita hancurkan tempat terkutuk ini dan tangkap gadis itu bersama sahabat laki-lakinya yang bernama Sora Magandala!"

Geram mulut dikepala sebelah kiri

"Satu rintangan satu batu sandungan. Untuk menjebol kerangkeng besi itu kita membutuhkan tenaga yang luar biasa besar. Aku tahu tiga perwira penghianat atau Tiga Setan Putih telah melindungi kerangkeng besi membara dengan mantra sakti."

"Karena itu sebaiknya kita menghimpun tenaga dan alirkan hawa sakti ke tangan dan kaki kita!"

"Aku setuju dengan usulmu. Biarkan saja gadis itu menyangka kita masih lemah dan tak dapat berbuat apa-apa." ujar mulut dikepala yang kiri.

Kepala disebelah kanan mengangguk setuju. Keduanya kemudian sama pejamkan mata. Dua kaki yang tumpang tindih dilipat, dua pasang tangan diletakkan diatas lutut. Kemudian dibalik suara gemuruh luapan lahar mendidih dan deru awan panas dari hidung Bethala Karma terdengar hela nafas menebar panas dan suara mengorok.

*****

Malam hari suasana di kawasan candi Kreso sunyi senyap, Kepekatan malam di sekitar dibalut oleh hawa dingin yang menusuk.

Langit terang, bintang-bintang bertabur. Di langit timur bulan sabit memantulkan cahaya yang tak mampu menerangi seluruh penjuru kegelapan di bumi. Di satu tempat dipendataran altar. Tepat di halaman candi yang miring tidak terawat duduk diam tidak ubahnya patung tiga sosok tubuh berkepala botak plontos. Tiga sosok berpakaian putih lusuh dalam satu lingkaran dengan dua mata terpejam. Mereka saling berhadap-hadapan membentuk sebuah garis segi tiga sama lurus sama panjang.

Sementara di atas kening ketiga sosok diam tidak bergerak itu masing-masing mempunyai tanda berupa sebuah titik bulat berwarna hitam mirip rajah atau tatto.

Rajah dikening setiap sosok satu sama lain berbeda-beda sesuai dengan tingkatan pangkat atau jabatan di tempat asal mereka yaitu istana kuno.

Semakin banyak jumlah rajah dikening, semakin tinggi pula jabatan di sandang. Dan rajah atau tanda kepangkatan itu tidak akan terhapus seumur hidup.

Malam semakin larut angin berhembus menebarkan embun yang sejuk. Tiga sosok yang duduk berhadap-hadapan tidak bergeming di tempatnya masing-masing,

Hembusan angin tambah menghebat. Seiring dengan itu sayup-sayup dikejauhan seolah-olah datang dari langit tiba-tiba saja terdengar orang berkata.

"Sudahi tapa! Keadaan berkembang tidak sesuai dengan yang kalian harapkan. Lekas bangun!

Berbuatlah sesuatu sebelum terlambat!"

Suara gaib itu kemudian lenyap, Lalu dari ketinggian tiba-tiba muncul cahaya terang menyilaukan.

Cahaya itu menderu deras ke arah tiga sosok berkepala gundul yang tengah bertapa. Setelah cahaya menyentuh bagian ubun-ubun ketiga pertapa botak itu kemudian cahaya itu melambung ke atas kembali menuju ketinggian langit.

Seiring dengan lenyapnya cahaya, tiba-tiba saja dikening mereka yang tertera masing-masing satu dua dan tiga tanda kepangkatan itu memancarkan cahaya putih benderang.

Tiga pertapa bergetar bahu bergoyang dan kepala menggeleng ke kiri dan ke kanan.

Tak lama setelah itu dalam waktu yang bersamaan ketiga pertapa saling membuka mata.

Mereka saling pandang lalu sama terkejut dan masing-masing menunjuk ke bagian kening orang yang berada di depannya.

"Perwira Satu lihat tanda dikeningmu memancarkan cahaya terang," Berkata laki-laki yang di kepalanya terdapat tiga tanda.

"Aku juga melihat tiga tanda dikeningmu memancarkan cahaya," Jawab si botak yang disebut perwira Satu.

"Dikening perwira Dua juga ada cahayanya," Kata perwira dengan tiga tanda di keningnya.

Si botak yang dikeningnya terdapat dua tanda berjingkrak kaget, lalu usap dan raba keningnya. "Rasanya sejuk,"

Kata perwira dengan dua tanda sambil menyeringai lalu dia lanjutkan ucapan.

"Ini tanda tingkatan jabatanku semasa berada di kerajaan Kuno. Tap.... mengapa bisa memancarkan cahaya?"

Katanya lagi dengan tercengang.

Tiga perwira yang biasa disebut Tiga Setan Putih kembali berpandangan. Lalu tanpa perintah ketiganya berlompatan berdiri.

"Tanda dikening tiba-tiba menyala. Semua ini belum pernah terjadi seumur hidup kita," Kata perwira tiga.

"Ada yang memberi tahu, ada yang membangunkan kita dari tapa. Apakah kalian mendengar?" Berkata perwira Tiga pula.

"Mutiara Keramat, Mutiara Tujuh Setan, Seseorang pasti telah membawanya pergi meninggalkan puncak Papandayan. Benda itu kini berada di tempat yang tidak aman. Astaga...!"

Desis Perwira Satu.

"Apa yang terjadi. Apakah manusia bernama Ki Ageng Sadayana sudah berubah pikiran dan menjadi orang yang tidak bisa lagi dipercaya?"

Perwira Satu dan Perwira tertinggi yaitu perwira Tiga saling pandang.

"Bila Mutiara Kramat dibawa pergi dari tempat penyimpanan yang aman. kita semua berada dalam masalah besar. Panglima jahanam yang kita pendam dalam jurang berkerangkeng besi itu pasti bakal sanggup meloloskan diri dari balik penjara yang kita buat."

Ujar Perwira Dua mengingatkan.

"Aku khawatir semua kekuatannya pulih setelah puluhan tahun tidak berdaya."

Desis Perwira Tiga cemas

"Dia pasti segera mencari Mutiara itu. Bila Mutiara dia dapatkan dan dibawanya kembali ke kerajaan Kuno negeri itu bakal dilanda masalah besar.Peperangan tidak akan pernah padam, kejahatan semakin merajalela." kata Perwira Satu.

"Kita harus melakukan sesuatu bila Bethala Karma terbebas dari pasungan Delapan Paku Bumi, manusia juga akan menjadi korbannya. Dia bakal membuat kekacawan di dunia persilatan."

Ujar perwira Dua.

"Tidak apa-apa bila kekacauan itu terjadi di dunia kehidupan manusia asalkan tidak di negeri kita," menyahuti Perwira Satu.

"Tidak!"

Sentak Perwira Tiga tidak sependapat

"Kita yang membawa masalah itu ke sini karena kita telah membawa Mutiara Kramat dan melarikannya ke sini. Manusia sejak lama memang kerap bermusuhan terhadap sesamanya. Tapi segala kekacauan ini disebabkan oleh kita! aku tidak ingin manusia menuai susah." 

Perwira Satu menyeringai.

"Aha, tak disangka kiranya sahabat kita yang satu ini kini mulai berpihak pada manusia. Padahal semua tahu kita adalah musuh utama manusia?"

Kata perwira satu sambil mengusapi kepala botaknya yang plontos.

"Kita ini tiga setan yang berbeda dengan setan-setan lainnya. Itulah sebabnya mengapa manusia menyebut kita sebagai Tiga Setan Putih. Kita tidak bermusuhan dengan manusia malah aku cenderung menganggap manusia sebagai sahabat,"

Kata perwira Dua.

"Lagi pula harus diingat, selama berada di kehidupan manusia telah banyak bantuan yang diberikan oleh mereka. Mereka membantu menyelamatkan Mutiara itu dari tangan Bethala Karma. Orang seperti Ki Ageng Sadayana dan Raga Sontang, juga Manusia seperti Peri Halilintar dan sahabatnya Sora Magandala. Tanpa mereka mustahil kita bisa melakukan tapa di sini."

Mendengar ucapan perwira Dua membuat perwira Satu terdiam.

Dia berpikir apa yang dikatakan sahabatnya itu memang ada benarnya. "Siapa yang menjaga Mutiara Kramat di puncak gunung Papandayan."

"Siapa pula yang menjaga penjara di kaki gunung Dieng? Semuanya dilakukan oleh manusia bukan mahluk-mahluk seperti mereka."

Seakan sadar dirinya telah salah bicara Perwira Satu tiba-tiba membuka mulut.

"Maafkan aku. Aku terlalu tergesa-gesa dalam menilai sesuatu. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

Tanya perwira Satu tidak sabar. "Menurutku"

Ucap perwira Tiga.

"Lebih baik kita ambil saja mutiara itu. Kemudian kita pergi ke tempat yang lain."

"Kau ini bagaimana. Lihat pada diri kita sendiri. Menyalanya tanda dikening kita menjadi sebuah Pertanda benda itu telah dibawa pergi dari tempat penyimpanannya. Mungkin saja mutiara kramat dirampas orang walau tidak tertutup kemungkinan dibawa pergi oleh Raga Sontang."

"Artinya seandainya kita pergi menjemput mutiara di puncak Papandayan kita tak akan menemukannya."

"Ya.terkecuali kita bisa menemukan orang yang telah mengambil." "Kalau begitu,"

Ujar perwira Tiga.

"Sebaiknya kita harus membantu penjaga penjara Bethala Karma, karena Bethala Karma menjadi ancaman satu-satunya yang paling berbahaya. Sebelum terlambat dan kalau panglima gila itu masih terkurung dalam penjara kita habisi dia,"

Usul perwira satu.

Dua sahabatnya saling pandang. Perwira Tiga melangkah maju. Dengan tatapan tajam dia membuka mulut mengingatkan. "Kini kita hanya bertiga, puluhan tahun yang lalu kita bertujuh. Bethala Karma bukan mahluk

sembarangan. Dengan muslihat kita bisa mengalahkannya. Tapi harus diingat kita sendiri telah kehilangan empat sahabat baik. Dahulu bertujuh kita masih kewalahan apalagi kini kita bertiga. Aku khawatir seluruh kekuatan panglima perang itu telah pulih. Walaupun ilmu kesaktian kita mengalami kemajuan yang hebat, tapi sehebat apapun diri kita bantuan dari manusia tetap kita butuhkan."

"Siapa diantara sekian banyak manusia berilmu dan berkepandaian tinggi yang bisa kita harapkan bantuannya?" tanya perwira Dua ragu-ragu.

Perwira Tiga terdiam. Sedangkan perwira Satu tiba-tiba membuka mulut.

"Bethala Karma sesungguhnya dua mahluk kembar dua jiwa yang berada dalam satu tubuh. Dia mempunyai dua pikiran. Masing-masing jiwa yang berada dalam satu tubuh itu mempunyai kekuatan istimewa. Kekuatan ini yang kuanggap sulit dicari tandingannya."

Jelas Sang perwira. Dia terdiam sejenak, setelah dua sahabatnya diam mendengarkan. Perwira ini melanjutkan,

"Dalam tapa aku selalu memohon petunjuk pada para dewa agar diberi jalan keluar dari segala kesulitan yang kita alami.Sampai pada suatu saat yang tak bisa kuingat kapan waktunya, aku melihat seolah-olah seorang pemuda gondrong bertingkah aneh datang menemuiku."

"Bagaimana ciri-ciri pemuda itu?" Tanya perwira Tiga.

"Orangnya gagah, selain gondrong dia masih muda. Aku melihat dia memakai pakaian kelabu, Pakaian itu mengandung getaran aneh dan kurasa bukan pakaian biasa. Dia juga membekal sebuah senjata berupa sebilah pedang berwarna keemasan. Dia memperkenalkan diri. Namanya Raja dan disebut Sang Maha Sakti Raja Gendeng." jelas perwira Satu bersungguh-sungguh.

Walau terlihat sungguhan namun kedua sahabatnya tak kuasa menahan tawa mendengar julukan yang disebutkan perwira Satu.

"Ha ha ha! Sang Maha Sakti Raja Gendeng, Bagaimana mungkin di dunia ini ada seorang raja sakti dan gendeng pula. Aku rasa petunjuk yang kau dapat bukan datang dari dewa tapi datang dari setan edan gentayangan,"

Kata perwira Tiga disertai gelak tawa.

"Aku kurang percaya dengan petunjuk yang kau dapatkan itu." Perwira Dua ikutan mencibir.

Walau sadar kedua sahabat tidak mempercayai Ucapannya namun perwira Satu tidak merasa tersinggung. Malah dengan tenang sekali lagi dia berucap.

"Terserah sahabat berdua mau berkata apa yang jelas jika petunjuk yang kudapatkan datang dari setan edan gentayangan mana mungkin pemuda itu datang berulangkali. Di samping itu aku punya bukti lain yang memperkuat kebenaran petunjuk." "Bukti apa?"

Tanya Perwira Dua tidak mengerti "Katakan pada kami cepat,"

Timpal perwira Tiga tidak sabaran

"Bukti itu berupa memancarnya cahaya pada tanda yang terdapat dikening kita

masing-masing.Dalam wangsit kudapatkan petunjuk begitu kita sadar di kening kita akan muncul cahaya. Cahaya putih itu bukannya sembarangan.Cahaya itu bila disatukan akan menuntun pendekar yang kumaksudkan datang pada kita."

Terang sang perwira Satu apa adanya.

Perwira Dua dan perwira Tiga sama berpandangan.

Tidak terduga keduanya tiba-tiba tertawa tergelak-gelak.

"Pewira Satu, Kau dan kami sama-sama setan. Apakah mungkin ada setan lain yang telah memasuki tubuhmu hingga membuatmu bicara ngaco tidak karuan begini?"

Dengus perwira Tiga sesaat setelah gelak tawanya terhenti.

"Semakin banyak bersemedi tidak hanya ilmu dan kesaktianmu saja yang bertambah.Tapi kegilaanmu makin menjadi-jadi." cibir perwira Dua sambil pencongkan mulutnya.

Diejek dan dicaci sedemikian rupa bukannya membuat perwira Satu tersinggung. Dia malah bersikap acuh tenang dan dengan penuh keyakinan dia berkata.

"Aku juga mendapat petunjuk yang lain." "Hah, petunjuk lagi?"

"Memangnya ada berapa petunjuk yang kau dapatkan?"

Kata perwira Dua dengan mata terbelalak

"Nampaknya para dewa lebih berpihak padamu. Kami cuma mendapatkan tambahan ilmu sakti sedangkan kau dapat segalanya."

Ejek Perwira Tiga.

Perwira Satu tersenyum namun tatap matanya yang tegar nampak bersungguh-sungguh. Dengan tenang dia berkata.

"Banyak petunjuk yang kudapat, tapi buat apa semuanya kuberitahukan kalian. Biarlah petunjuk lain yang diberikan dewa padaku cukup kusimpan dalam hati. Aku tidak akan membicarakan karena itu bisa membuat malu salah satu diantara kita!"

"Heh, sejak kapan kau merahasiakan sesuatu dari kami?"

Tukas perwira Satu "Aku tidak perduli."

Kata perwira Tiga ikut penasaran. "Disini tidak ada orang, cuma ada tiga setan mengapa harus malu." Karena terus didesak sambil senyum-senyum perwira Satu berujar.

"Kumulai dari perwira tertinggi diantara kita yaitu perwira Tiga. Katakanlah dan akui suatu saat dimasa yang lalu, dulu bahkan dulu sekali kau pernah mempunyai mempunyai aurat ganda. Kemudian kau datang pada seorang dukun Setan Delapan Penjuru dan meminta juru obat itu untuk menghilangkan salah-satu aurat yang tidak lempang. Ha ha ha!"

Kejut dihati perwira Tiga bukan alang kepalang mendengar ucapan perwira Satu.

Perwira Tiga hanya bisa tercengang, mata terbelalak lalu dekap wajahnya. Dengan malu-malu dia menyahuti.

"Itu adalah kejadian paling memalukan. Pasti ada setan usil yang memberi tahu dirimu." Perwira Satu gelengkan kepala.

"Itu merupakan sebuah petunjuk juga. Kau tidak perlu malu mengakuinya. Dan tidaklah ini sebuah kebenaran,"

Ucap perwira Satu tenang.

Selanjutnya sambil menghela nafas dia melirik pada perwira Dua. "Apakah kau juga ingin tahu petunjuk yang kudapat tentang dirimu?"

Takut rahasia besarnya dibongkar perwira Satu maka Perwira Dua buru-buru menyahuti. "Tidak! Kau tidak perlu mengatakannya. Aku sudah percaya segala petunjuk yang kau dapat

sekarang."

"Curang! Harusnya kau mengatakan petunjuk gila yang kau dapatkan tentang dia!" sentak perwira Tiga merasa mendapat perlakuan tidak adil.

"Jangan! Kalau kau mengatakan rahasiaku aku akan memindahkan mulutmu ke pohon itu!" Ancam perwira Dua.

"Baiklah. Aku merasa tidak ada gunanya membicarakan kekurangan diantara kita. Tadi aku terpaksa mengatakan salah satu bukti karena kalian tidak percaya dengan petunjuk yang kudapatkan."

Ujar perwira Satu.

Perwira Tiga yang merasa tidak puas hanya bisa bersungut-sungut. Sedangkan perwira Dua menghela nafas lega sementara dalam hati dia berkata.

"Bagusnya perwira Satu tidak menceritakan rahasia besarku. Seandainya perwira Tiga tahu, aku bisa malu pada dunia."

"Begini. Cahaya yang muncul pada tanda yang terdapat pada kening kita masing-masing sebagaimana yang kukatakan dapat kita pergunakan untuk menghadirkan pemuda yang bernama Raja Gendeng itu."

Terang sang perwira Satu. "Caranya?"  

Tanya perwira Dua.

"Caranya tidak sulit. Kita bertiga saling bergandengan tangan satu sama lain. Cahaya yang terdapat dikeningku dan di kening perwira Dua harus diarahkan lurus ke arah tiga cahaya yang terdapat dikening perwira Tiga. Aku punya satu tanda berarti aku punya satu cahaya. Sedangkan perwira dua punya dua tanda berarti punya dua cahaya. Bila disatukan jumlahnya ada tiga. Dikening perwira Tiga sesuai dengan jabatan di negeri asal ada tiga. Nah kita hanya menyatukan tiga cahaya ke kening perwira tiga. Setelah tiga pasang cahaya saling bertemu apa pun yang terjadi harap jangan dihiraukan," terang perwira Satu.

"Hmm, aku tahu maksudnya. Aku sudah siap," sahut perwira Dua. "Bagaimana denganmu perwira Tiga?"

Tanya perwira Satu

"He he he. Karena aku yang paling banyak punya tanda kepangkatan, tentu aku siap-siap saja.

Ya sudah, kalian menghadaplah kearahku!" Ucap perwira Tiga.

Perwira Satu dan Dua melangkah lebih mendekat.

Dua tangan masing-masing diulur, Ketika semua tangan bertaut satu sama lain, Perwira Satu dan perwira Dua tatap ke depan.

Mata saling beradu pandang.

Setiap tanda yang pancarkan cahaya putih sejuk beradu.

Dan apa yang terjadi kemudian menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh mengejutkan bagi ketiga perwira itu.

Tubuh mereka mula-mula bergetar.

Dari bagian ubun-ubun mengepulkan uap berupa kabut tipis menebarkan bau aneh menyengat.

Bersamaan dengan itu dari dada, perut serta wajah mereka memancarkan cahaya terang menyilaukan,

Di atas langit bersambung, petir menggelegar, hembusan angin menerpa dari segenap penjuru arah.

Tiga perwira setan terguncang hebat, Otak mereka serasa mendidih.

Kemudian seiring dengan semakin bertambah terangnya pancaran yang terdapat dikening mereka sayup-sayup dikejauhan terdengar teriakan dan gerutuan.

"Setan alas! Kekuatan gila apa yang menarik tubuhku begini rupa? Mengapa aku seperti tidak kuasa menolaknya. Kalau dibetot begini semua perabotan di tubuhku bisa copot. Oalaa...!"

Satu ledakan luar biasa dahsyat mengguncang tempat di mana tiga perwira saling berpegangan tangan. Ketiga mahluk dari luar jagad jatuh berpelantingan. Sedangkan setiap cahaya yang memancar dari masing-masing tanda sekonyong konyong menjadi padam.

Lalu selagi tiga perwira setan berusaha bangkit berdiri, mereka melihat di kegelapan malam satu sosok bayangan berpakaian kelabu jungkir tak karuan rupa seolah jatuh dari langit.

Dengan gerakan kalang kabut tak karuan rupa sosok yang jatuh dari ketinggian akhirnya dapat jatuhkan diri dalam keadaan setengah berlutut.

Begitu menyentuh tanah mata jelalatan memperhatikan keadaan di sekitarnya. Dari mulut terdengar ucapan.

"Edan! Tempat seperti apa ini? Mengapa sunyi mirip kuburan."

Kata pemuda itu yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng.

Dengan mulut termonyong-monyong dia bangkit berdiri. Tangan menggaruk kepala tiada henti mengomel.

"Selagi kaki enak dipakai berjalan.Tiba tiba ada angin aneh menyeret tubuhku kesini.Memangnya aku orang lumpuh atau apa harus ditarik diseret-seret. Pasti itu bukan angin biasa. Ada seseorang yang sengaja mengerjaiku. Gila betul, apa dia tidak tahu aku ini seorang raja, seorang paduka Raja walau cuma Raja Gendeng. Ha ha ha!"

Kata sang pendekar.

Walau jengkel dan marah mulut tetap mengumbar gelak tawa. Tiga perwira setan saling pandang.

Dalam kebimbangan yang dibalut perasaan cemas kalau tidak dapat dikatakan takut Tiga Setan Putih melangkah mendekati.

******

Setelah meninggalkan dusun Bambu. Raja memutuskan untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membunuh Lohpati serta belasan pengikutnya dengan senjata rahasia beracun Jarum Nibung Hitam.

Seperti diketahui Lohpati jauh-jauh datang dari Gunung Kidul untuk memenuhi permintaan seseorang agar Lohpati bersama pengikutnya mencari dan menemukan Mutiara Tujuh Setan.

Mengingat Lohpati bukanlah orang dari golongan hitam namun juga bukan dari golongan putih maka mungkin saja laki-laki itu melakukan tugas karena mendapatkan imbalan tertentu.

Yang menjadi pertanyaan.

Siapa sebenarnya pemesan Mutiara Tujuh Setan?

Mengapa Sang pemesan tidak mau mencari sendiri Mutiara yang diinginkan.

Selagi sang pendekar bertanya-tanya dalam hati, pada saat itu tiba-tiba terdengar deru angin datang dari delapan penjuru arah.

Deru angin muncul disertai dengan kilauan cahaya yang datang mendahului. Kemudian selagi sang pendekar dibuat terkesima melihat perubahan yang datang saat itulah cahaya putih bersama deru angin menyambar-tubuhnya.

Belum sempat Raja menyadari segala keanehan yang terjadi pada diriya tahu-tahu tubuhnya telah dibawa melambung ke atas lalu selayaknya orang yang terseret arus air bah, pemuda ini ditarik ke satu arah menuju ke timur.

Dalam kegelapan Raja tidak tahu ke mana- dirinya dibawa.

Setelah berkali-kali berusaha untuk meloloskan diri tak mendapatkan hasil maka akhirnya dia pasrah.

Hanya mulutnya saja yang terus menerus melontarkan kata-kata.

"Hmm, aku melihat seperti ada candi tua diujung kegelapan itu," gumam sang pendekar. "Aku dibawa ke tempat yang keadaannya tidak menyenangkan. Begitu dingin. Tidak ada satu

manusiapun di tempat ini. Kurasa cuma setan gundul saja yang mau menetap di tempat ini." Gerutu pemuda itu dengan wajah kesal.

Namun tidak disangka-sangka tiba-tiba ada satu suara menyahuti.

"Sejak puluhan tahun yang lalu Candi kuno ini memang didiami oleh tiga setan yang kebetulan berkepala gundul. Anak muda apakah kau orangnya yang bernama Raja dan biasa disebut Sang Maha Sakti Raja Gendeng?"

Terkejut tidak menyangka ada orang lain di tempat itu bahkan mengenal nama dan julukannya Sang pendekar cepat menoleh dan memandang ke arah datangnya suara.

Dalam keremangan yang diterangi cahaya bintang pemuda itu melihat seorang laki-laki beralis tebal mencuat ke atas.

Pakaiannya serba putih dan berkepala botak licin. Dia memiliki satu tanda di tengah keningnya.

Laki-laki itulah yang tadi keluarkan ucapan sambil menyeringai.

"Pakaian serba putih, kepala botak siapa kau? Sungguhkah kau penghuni kuil kuno ini ataukah kau manusia yang hanya mengaku-ngaku sebagai setan gundul,"

Tanya pemuda itu dengan sikap waspada. Diam-diam dia alirkan tenaga dalam kebagian tangannya.

Perwira Satu menyeringai memperlihatkan gigi- giginya yang besar jarang seperti kapak. Dia tidak menjawab melainkan melirik ke arah sebelah kiri juga ke arah belakang sang pendekar.

Heran namun curiga Raja ikutan menoleh menatap ke arah yang sama. Melihat disamping dan di belakangnya masih ada dua laki-laki lain berpenampilan sama sang pendekar menjadi tercengang.

"Astaga! Masih ada dua setan gundul yang lain." desisnya. Dua laki yang disebut paling belakang yang tak lain adalah perwira Dua dan Tiga malah menyeringai sambil usap-usap kepala botaknya.

"Kami memang setan, tapi kami Tiga Setan Putih yang baik dan kebetulan berkepala gundul, anak muda kau tak usah takut kami tidak menggigit." kata perwira Tiga. "Kami tidak menyakiti apalagi bermaksud membuatmu takut."

Tidak mau ketinggalan perwira Dua juga ikutan bicara. Raja menyeringai.

"Siapa yang takut pada kisanak berdua. Biarpun kalian mengaku setan aku tak perduli," Sahut Raja acuh.

"Bagus, aku suka dengan orang sepertimu. Tapi apakah benar kau orangnya yang bernama Raja berjuluk Sang Maha Sakti Raja Gendeng?"

Bertanya perwira Tiga tidak sabaran. Sang pendekar terdiam,

Dia berpikir apakah ketiga laki-laki berkepala botak itu bisa dipercaya?

Tapi melihat wajah dan tampang yang lucu-lucu polos itu membuat Raja merasa bahwa mereka bukanlah orang yang patut dicurigai.

"Kalau benar, lalu kalian bertiga ini siapa?"

Tiga Setan Putih saling pandang sesamanya. Kemudian setelah mempersilahkan sang pendekar duduk dipendataran batu yang dingin tiga perwira ikutan duduk di depan pemuda itu

"Aku perwira Tiga."

Terang si botak yang bertubuh paling tinggi.

Selanjutnya secara berurutan dia memperkenalkan dua temannya yang lain.

Dengan dibantu perwira Satu perwira Tiga menjelaskan asal usul serta duduk persoalan yang sebenarnya.

Tidak lama setelah kedua perwira itu menceritakan masalah yang dihadapi, sang pendekar tiba-tiba berkata.

"Hmm jadi kalian yang telah membimbingku kesini? Semula aku mengira aku terseret angin aneh dari surga, tidak tahunya aku dibawa kesini untuk menemui tiga setan gila. Kalian mengaku perwira, namun penampilan kalian seperti pemuka agama."

"Menurutku penampilan tidak penting. Yang paling utamakan isi hati," Ujar perwira Dua.

Perwira ini lalu melirik ke arah dua perwira lainnya. Perwira Tiga menghela nafas. Sambil menatap Raja dia membuka mulut.

"Menurut sahabat kami perwira Satu. Dalam petunjuk yang didapatnya dari tapa. Hanya kau orangnya yang mampu membantu kami dalam melindungi Mutiara Kramat atau Mutiara Tujuh Setan"

"Lagi-lagi tentang Mutiara Tujuh Setan. Semula aku mengira kalian membawaku kemari untuk di- pertemukan dengan seorang puteri yang cantik."

Gerutu Raja pura-pura tunjukkan wajah kecewa. Tiga perwira tercengang.

"Ah, tidak mengapa. Bila kau memang ingin bertemu dengan seorang puteri yang cantik. Semua itu bisa diatur. Kelak bila semua urusan ini telah selesai kami bisa menghadirkan seorang puteri yang paling cantik bukankah begitu sahabat perwira Satu dan Tiga,"

Ujar perwira Dua.

"Oh tentu. Puteri di negeri kami cantik-cantik. Saking cantiknya bila manusia melihatnya bisa jatuh pingsan."

Sahut perwira Tiga disertai tawa dua perwira lainnya.

"Setan mana ada yang cantik. Baru melihat saja orang sudah jatuh pingsan berarti wajah setan sungguh menyeramkan. Tapi sekali lagi kukatakan aku tidak perduli,"

Dengus Raja sambil pencongkan mulutnya.

"Ucapanmu itu apakah berarti kau setuju dengan permintaan kami?"

"Permintaan apa? Mencari dan melindungi Mutiara Tujuh Setan? Memangnya mutiara itu ada dimana? Mengapa harus dilindungi?" tanya sang pendekar tidak mengerti.

"Perwira Satu, kau adalah orang yang paling banyak bicara. Sekarang jelaskan segala sesuatunya tentang Mutiara itu pada sahabat kita Raja," pinta perwira Tiga.

"Eit, tunggu. Aku belum tentu mau menjadi sahabat tiga mahluk gundul seperti kalian.

Menerangkan sesuatu yang tidak kuketahui boleh-boleh saja, namun untuk menjadi sahabat nanti dulu." tukas Raja membuat tiga Setan Putih melongo.

Perwira Satu tidak mau larut dalam keheranan. Sambil mengulum senyum dia berucap.

"Tak mau menjadi sahabat tidak mengapa yang terpenting kau mau membantu dan menolong kami tiga mahluk yang sedang dalam kesulitan besar."

Sang perwira kemudian menceritakan apa yang dulu pernah mereka lakukan dan alami.

Dia juga tak lupa menceritakan ancaman besar yang kemungkinan datang dari musuh utama mereka.

Di depannya Raja mendengar dengan seksama walau terkadang dia mengorek-ngorek telinganya dengan jari tangan.

Selesai mendengar semua penuturan perwira Satu, Raja manggut-manggut. Lalu dengan polos dari mulutnya meluncur ucapan.

"Sungguh kisah yang bagus namun menyedihkan." "Eeh, mengapa kau berkata begitu?"

Tanya perwira Dua terheran-heran.

"Apakah ada yang aneh dalam ucapanku? Ketahuilah dalam kehidupan manusia. Mahluk seperti kalian adalah mahluk yang jahat, rupa buruk mengerikan dan kalian adalah musuh kami. Sekarang setelah mendengar penjelasan perwira Satu ternyata ada juga setan yang baik." "Jadi apakah kau bersedia membantu dan menolong kami?" tanya perwira Tiga.

"Apa yang harus dilindungi? Mutiara Tujuh Setan tidak ada pada kalian. Perwira Satu hanya mengatakan seseorang kemungkinan akan membawa mutiara kemari. Tapi semuanya belum pasti. Sementara di dunia persilatan terjadi kegegeran karena banyak yang menginginkan mutiara itu. Lalu tentang Bethala Karma panglima perang kerajaan kuno yang dimaksud perwira Satu aku sendiri ingin memastikan apakah dia dari istana kuno di negerinya para setan ataukah istana kuno di tanah Dwipa? Sebab yang kuketahui istana paling kuno di dun ­a persilatan adalah Istana Es."

"Tentu saja istana kuno di negeri setan."

Tegas perwira Satu

"Aku percaya, sering kudengar di negeri setan banyak terdapat istana megah berdiri. Segala sesuatunya bagiku menjadi tambah jelas, namun yang membuatku tidak mengerti, bukankah menurut perwira Satu, Bethala Karma sesungguhnya tengah berada dalam sebuah penjara yang kalian buat sendiri? Bagaimana mungkin dia bisa meloloskan diri setelah puluhan tahun dipasung dengan Delapan Paku Bumi?"

Kata pemuda itu lalu menatap tiga perwira di depannya. "Pendekar,"

Ucap perwira Dua.

"Mutiara Tujuh Setan bukanlah mutiara sembarangan."

"Benda itu punya daya tarik luar biasa hebat bagi orang yang menginginkannya. Bethala Karma termasuk salah satu mahluk yang ingin memilikinya sejak dia berada di tempat asal kami. Kami terpaksa menyimpannya di puncak gunung bukan tanpa maksud, Mutiara kramat kekuatannya tidak akan bersinggungan langsung dengan Bethala Karma bila berada jauh dari atas tanah. Seandainya mutiara dibawa seseorang turun dari gunung, maka Bethala Karma segera dapat merasakannya. Dan itu telah terjadi. Walau tidak melihat bagaimana keadaan mahluk ganas yang satu itu ditempat penjara dikawasan kaki gunung Dieng namun kami yakin dia telah mnghimpun kekuatannya kembali. Dia berusaha keluar dari tempat pemasungan dan mulai melakukan pengejaran pada mutiara itu."

"Kalau demikian kita harus menemukan orang yang telah dipercaya membawa Mutiara Tujuh Setan tersebut."

Ujar Raja.

"Memang benar. Tapi sejauh ini kita tidak pernah tahu siapa yang dipercaya oleh Raga Sontang untuk mengembalikan mutiara kramat pada kami,"

Sahut perwira Satu.

"Bukankah dulu kalian bertiga mempercayakan mutiara pada Ki Ageng Sadayana?"

Tanya Raja

"Itu betul. Tapi yang dipercaya oleh Ki Ageng Sadayana untuk menjagai benda yang kami titipkan adalah seorang pertapa yang bernama Raga Sontang." jawab perwira Tiga.

"Apakah tidak seorangpun salah satu dari mereka yang pernah muncul ke tempat ini?" "Belum. Baru kau seorang."

"Aku tidak mungkin membantu kalian dan melakukan dua tugas sekaligus. Aku bukan burung yang dapat terbang kesana kemari. Menurutku lebih baik kalian yang menyusul orang yang dipercaya untuk mengembalikan mutiara. Sedangkan aku bisa pergi ke Dieng. "

"Tidak. Kau tidak harus ke sana. Kami yakin Bethala Karma akan mencari kami. Karena itu alangkah baiknya bila kita tetap bersama-sama. Cepat atau lambat mahluk itu pasti akan menemukan kami."

Potong perwira Dua.

"Hh, aku sebenarnya bukan orang yang suka diatur-atur. Tapi kalau kalian sudah memutuskan begitu. Aku akan mengikuti permintaan kalian."

"Pendekar. Atas nama kebaikan kami mengucapkan terima kasih padamu." kata ketiga perwira itu lalu menjura sebagai tanda penghormatan.

Melihat cara perwira yang menjura sambil songgengkan pantatnya. Sang pendekar pun tak kuasa menahan gelak tawa.

******

Semburan awan panas disertai guncangan di tepi jurang tempat di mana Bethala Karma sang mahluk luar jagat yang mempunyai anggota tubuh serba dua menjadi tambah menggila.

Peri Halilintar yang berdiri dimulut jurang kerangkeng besi membara sebenarnya makin bertambah curiga. Dia lalu julurkan kepala menatap ke bagian bawah. Dia melihat mahluk berkepala dua itu ternyata masih tetap duduk di tempatnya.

Sang Bethala duduk diam seakan tidak berbuat sesuatu atau merencanakan sesuatu.

"Tanda-tanda bahaya semakin hebat. Kepulan awan panas dan guncangan pada tanah lebih sering terjadi.Dan. "

Gadis berpakaian biru riap-riapan tidak lanjutkan ucapan melainkan dongakkan kepala ke atas. Dia melihat ratusan kelelawar yang biasa berdiam di bagian lembah terlihat terbang berputar-putar diatas ketinggian langit

"Kawanan kelelawar saja tidak mau mendekat." kata Peri Halilintar.

Dia kemudian layangkan pandang ke bawah Sekali lagi dalam hati dia berucap. "Aku sangat yakin dia sedang merencanakan sesuatu!"

Berpikir sampai kesitu, Peri Halilintar tiba-tiba saja keluarkan seruan.

"Hei, mahluk pembawa petaka. Rencana apa yang tengah kau susun dalam otak dikedua kepalamu? Apakah kau berpikir untuk meloloskan diri? Ketahuilah kau tidak bakal lolos dari situ selama- lamanya. Hik hik hik!" Bethala Karma menyeringai.

Tiba-tiba saja dari mulut yang terdapat di dua kepala keluarkan suara raungan dahsyat laksana raungan serigala di malam buta.

Dengan gerakan tidak terduga Bethala Karma melompat bangkit. Gerakan ini disusul dengan gerakan lanjutan.

Dua pasang tangan tiba-tiba disapukan ke arah kerangkeng besi yang panas membara dikobari api. Dua puluh jemari tangan berkelebat disertai menyemburnya cairan putih dari setiap ujung jemari. Cairan putih menebar bau busuk menyengat yang dikenal dengan nama Susu Gembala Neraka itu menyembur dan menghantam pilar-pilar besi kerangkeng mengeluarkan suara letupan dan suara besi panas yang dicelupkan dalam air dingin.

Satu kejadian luar biasa disaksikan oleh Peri Halilintar.

Kerangkeng besi yang selama puluhan tahun mengurung Bethala Karma tiba-tiba menjadi leleh. Api yang membakar kerangkeng serta merta menjadi padam.

Bethala Karma menyeringai lalu umbar suara gelak tawa.

"Kekuatan yang kumiliki telah pulih sepenuhnya. Kini tidak ada lagi yang menghalangiku menuju kebebasan. Hreaah..."

Sambil tertawa sang mahluk berkepala ganda hantamkan dua tangan ke atas berusaha singkirkan sisa sisa kerangkeng besi yang membuatnya tak dapat bergerak leluasa.

Deru angin panas disertai berkiblatnya cahaya merah kehitaman bergulung melabrak apa saja yang dilaluinya dan terus bergerak menuju ke mulut tebing.

Melihat ini Peri Halilintar segera selamatkan diri dengan berjumpalitan kebelakang. Sedangkan dari mulutnya terlontar ucapan,

"Panas Menggila Api Neraka!"

Teriak sang dara yang rupanya mengenali nama pukulan yang dilepaskan Bethala Karma. Wous!

Blaam!

Sang dara melihat betapa gumpalan api merah kehitaman tidak hanya memberangus mulut tebing tapi juga membubung ke udara setinggi sepuluh tombak dari tanah lalu mengeluarkan suara letupan.

Peri Halilintar bergidik ngeri.

Sambil leletkan lidah dan usap tengkuknya yang mendadak jadi dingin dia pun segera bangkit "Mahluk ini.Sebagaimana pesan yang tertera dalam kitab batu bertulis agaknya benar-benar

dapat membebaskan diri. Aku harus melakukan tindakan untuk mencegahnya!" Memikir demikian sebelum semburan api yang dilepaskan Bethala Karma benar-benar padam. Gadis ini menyambar sebuah benda hitam yang terselip di pinggangnya.

Sret!

Begitu benda disentakkan, benda itu langsung mengembang laksana kipas disertai suara deru dan tebaran angin dingin.

"Kipas Mustika Penutup Liang Lahat!"

Seru Peri Halilintar menyebut senjata di tangannya.

Secepat kilat kipas dia lontarkan ke mulut jurang, Kipas berputar dengan kecepatan laksana titiran.

Dalam perjalanan menuju mulut jurang kipas itu tiba-tiba berubah membesar sekaligus mengembang ketika kipas jatuh dimulut jurang yang luas seluruh kipas sanggup menutup jurang itu

"Gadis gila! Kau hendak mengurungku dengan senjata aneh rongsokan ini?!" Teriak Bethala Karma.

Peri Halilintar menyeringai.

Namun belum sempat dia menyahuti ucapan mahluk itu tiba-tiba saja... Braak!

Kipas hancur berlubang besar di bagian tengah.

Dari balik lubang yang hancur menyembul sepasang tangan.

Melihat ini Peri Halilintar tidak tinggal diam. Sadar sang mahluk kiranya merangsak keluar dari dasar jurang sang dara segera menghantamnya dengan satu pukulan sakti yang dikenal dengan nama Panah Langit Mendera Bumi.

Tangan kanan dikibaskan ke arah sepasang tangan yang mencuat ke atas.

Dari telapak tangan Peri Halilintar melesat tiga cahaya biru berbentuk seperti anak panah dengan ukuran besar.

Ketika cahaya berbentuk anak panah melabrak sepasang tangan lawan yang mencuat menggapai bibir tebing tidak terduga muncul sepasang tangan yang lain.

Seakan dapat melihat apa yang dilakukan Peri Halilintar sepasang tangan muncul belakangan tiba-tiba melakukan gerakan menangkis melindungi tangan yang menggapai tebing

Bumm!

Tiga cahaya biru berbentuk anak panah menghantam sepasang tangan berkulit hitam berjari tangan panjang dengan kuku-kuku mencuat berlubang di bagian tengah, mengepulkan asap dan tebaran bau daging busuk terbakar.

Dari balik mulut jurang terdengar suara raungan bercampur gelak tawa. Lalu....

Wuut! Braak!  

Tangan yang berkubang lenyap.

Kipas yang menutup mulut jurang berderak hancur berubah menjadi kepingan bertebaran.

Satu sosok melesat keluar lalu jungkir balik menjauh dari lubang, kemudian jejakkan diri tak jauh dari hadapan Peri Halilintar,

Bethala Karma, sang pemimpin perang.

Mahluk luar jagad yang memiliki dua pasang tangan, dua pasang kaki, dua pasang mata, kepala dan telinga lebar itu menyeringai.

Seumur hidup Peri Halilintar dan Sora Magandala yang mengemban tugas, sebagai penjaga penjara kurungan sang mahluk, baru malam ini dia dapat menyaksikan bagaimana ujud sang mahluk sesungguhnya.

Bethala Karma selain berkulit hitam ditumbuhi bulu-bulu kasar berjingkrak, juga memiliki ukuran tubuh dan tinggi tiga kali lebih besar dari ukuran tubuh manusia normal.

Dalam satu tubuh namun dengan anggota badan serba ganda penampilan Bethala Karma jauh lebih angker dibandingkan saat dirinya terkurung di balik kerangkeng membara.

"Aku tidak melihat temanmu yang bermama Sora Magandala.Kemana perginya monyet lanang yang satu itu,"

Geram Bethala Karma setelah melihat Peri Halilintar hanya seorang diri. Walau sempat dicekam rasa gentar namun sekejab saja dara cantik berambut riap-riapan sudah dapat menguasai diri.

Sambil tersenyum dia menjawab.

"Temanku Sora Magandala dalam keadaan baik-baik saja!"

"Mengapa kau menanyakannya. Bukankah ada aku di sini yang bisa menemanimu?"

Berkata demikian Peri Halilintar julurkan lidah basahi bibir liukkan pinggangnya yang besar bagus sambil kembang kempiskan dadanya.

Gerakan-gerakan konyol yang diperlihatkan Peri Halilintar sempat membuat setiap mata yang terdapat dikedua kepala Bethala Karma yang hanya mempunyai titik hitam kecil di bagian tengah mata jadi belingsatan.

Dua mulut ternganga sambil menelan ludah.

Walau bukan manusia namun sebagai mahluk yang juga memiliki nafsu. Sekian lama berada dalam penjara.

Dia tidak pernah melihat atau menyentuh wanita. Sang mahluk sempat terpancing.

Tapi ketika dia menyadari ada urusan yang harus diutamakan. Bethala Karma segera menyingkirkan jauh-jauh segala keinginan nistanya itu.

Sayang kesadarannya cukup terlambat. Peri Halilintar yang melakukan gerakan itu hanya untuk mencari kelengahan sang mahluk tiba-tiba berteriak.

"Tidak setan tidak manusia. Pantang melihat bibir bagus, pinggul indah. Matamu.. matamu! Aku ingin menghancurkan empat biji matamu itu!"

Teriakan Peri Halilintar dilanjutkan dengan satu lompatan tinggi. Selagi melompat dua tangan menggapai udara.

Walau tangan terlihat seperti meraih udara kosong. Namun ketika jemari tangan bergerak mengatub tahu-tahu dikedua tangan sang dara telah tergenggam dua buah senjata aneh berbentuk tombak dimana ujung-ujungnya berputar seperti mata bor.

Dua senjata yang diambil secara gaib itu kemudian dia tusukkan ke mata yang terdapat di kepala sebelah kiri dan kepala yang di sebelah kanan.

Bethala Karma hanya sempat melihat berkelebatnya cahaya putih disertai tebaran hawa panas menggidikkan menusuk kebagian matanya.

"Gadis tolol!" Teriak mahluk itu.

Kemudian sambil melangkah mundur tangan kanan menepis dua senjata yang ditusukkan lawan, sementara dengan menggunakan sepasang tangan yang berada d sebelah belakang dia menghantam.

Gerakan menangkis yang dilakukan dua tangan didepan yang disusul oleh serangan dua tangan yang berada disebelah belakang menimbulkan suara bergemuruh hebat.

Padahal saat itu Bethala Karma baru menggunakan setengah dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

Peri Halilintar yang badannya hanya sepertiga dari besar badan Bethala Karma seketika itu merasakan tubuhnya seperti dilabrak angin puting-beliung.

Tak sempat hindari serangan dia hanya mampu lanjutkan tusukan tombak aneh ke mata lawan Brak!

Sekali menggebrak dua senjata yang seharusnya menusuk mata hancur menjadi kepingan. Sementara dua tinju menderu.

Peri Halilintar hanya sanggup menghindari salah satu jotosan itu. Tanpa ampun tinju kiri lawan melabrak perutnya.

Bhees! "Tugkh..!"

Tidak ubahnya seperti dihantam Palu raksasa sang dara jatuh terpelanting.

Sebelum terhempas punggungnya menghantam pohon besar, pohon ambruk berderak disertai suara bergemuruh dan jatuh ke arah Bethala Karma. Tak menyangka menjadi sasaran jatuhnya pohon. Sambil menggeram mahluk itu gerakkan dua tangan ke arah pohon. Empat tinju menderu melabrak pohon besar itu sekaligus.

Braak!

Pohon besar hancur menjadi kepingan.

Setelah hancurkan pohon, dua kepala berputar empat mata mencari-cari ke arah dimana Peri Halilintar terjatuh.

Dua mulut sunggingkan seringai buruk ketika melihat gadis yang menjadi lawannya berdiri dengan terbungkuk-bungkuk, sedangkan dua tangannya disilangkan di atas kepala.

"Apa yang hendak kau lakukan? Lebih baik kau menyerah. Dengan demikian aku akan mempermudah kematianmu dengan mencabik tubuhmu menjadi dua bagian.Hak hak hak!"

Kata Bethala Karma disertai gelak tawa aneh namun membuat telinga Peri Halilintar seperti dipantek paku membara.

"Mahluk jahanam. Di negerimu kau boleh saja menjadi panglima perang yang paling ditakuti. Tapi disini... dinegeri kehidupan manusia. Aku membuatmu berpikir beribu kali untuk bicara sombong mengagulkan diri!"

Dengus Peri Halilintar.

Diam-diam, gadis itu kerahkan tenaga dalam yang disertai pengerahan tenaga sakti. Setelah rasa sakit di bagian perut berangsur lenyap.

Tangan yang bersilangan di atas kepala meliuk ke kiri, lalu bergerak ke kanan yang dilanjutkan dengan gerakan meraih.

Selagi tangan Peri Halilintar menggapai sesuatu. Bethala Karma berkata.

"Gunakan semua ilmu semua senjata hebat yang kau miliki. Jika tujuh perwira tinggi dari negeri asalku empat diantaranya dapat kubuat mampus percuma apa susahnya menghabisi dirimu!"

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Peri Halilintar.

Seluruh rambutnya yang panjang awut- awutan berjingkrak tegak.

Kepulan asap putih dan kilatan cahaya membersit dari setiap ujung rambut. Nampaknya sang dara telah siap mengadu jiwa menyerang lawan dengan ilmu kesaktian yang dahsyat itu.

"Hiaa...!"

Teriak sang dara.

Teriakan itu disertai dengan gerakan berlari ke depan. Melihat lawan seperti hendak menubrukkan diri ke arahnya.

Walau tubuhnya besar tinggi namun dengan gerakan enteng Bethala Karma geser kaki kesamping. Sambil menyeringai sepasang tangan yang paling depan dijulur jemari terbuka siap menjambak sekaligus mencengkeram rambut kaku dipenuhi kilatan cahaya.

Sedangkan dua tangan yang lain dia angkat tinggi-tinggi siap mengepruk bahu kiri kanan gadis itu. Tapi yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan Bethala Karma. Ketika sepuluh jari menyentuh rambut lawan.

Tiba-tiba seribu kilatan cahaya memancar dari rambut Peri Halilintar, Selagi ribuan kilat melabrak tubuhnya sedikitnya sepuluh kali dentuman yang bersumber dari ledakan halilintar menghantam sekujur tubuhnya.

Walau Bethala Karma dikenal sangat kuat terhadap sengatan api membara namun dihantam halilintar yang berasal dari ilmu kesaktian gadis urakan itu membuatnya menjerit setinggi langit.

Jambakan terlepas, tangan yang siap mengepruk bahu terkulai.

Mahluk itu terhuyung, kulit mengepulkan asap dan wajahnya semakin menghitam.

Selagi Bethala Karma limbung Peri Halilintar pergunakan kesempatan ini, menghantam dada lawannya dengan tendangan Guntur.

Dess! Bruk!

Bethala Karma jatuh terduduk.

Namun bila manusia yang terkena dua serangan si gadis dapat meregang ajal seketika dengan tubuh hancur menjadi kepingan.

Sebaliknya Bethala Karma ternyata memiliki daya tahan yang sangat luar biasa. Sambil menggerung dan mengusap dadanya dia bangkit kembali.

Melihat ini Peri Halitintar segera menyadari dia tak mungkin sanggup membunuh Bethala Karma seorang diri walaupun dia menggunakan senjata andalan Cambuk Gembolo Geni.

Tidak ingin celaka.

Selagi lawan berusaha mengembalikan keseimbangannya gadis itu segera menghantam wajah Bethala Karma dengan senjata rahasia yang dia ambil dari balik pakaiannya

Buum!

Sambitan yang berlangsung cepat tak sempat dihindari oleh mahluk itu. Senjata rahasia meledak menebarkan asap tebal kehitaman.

Bethala Karma jadi gelagapan.

Dia melihat semuanya menjadi gelap.

Sambil meraung dia kibaskan dua pasang tangan, sementara dua mulut ikut menghalau tebaran asap yang membuat nafasnya sesak.

Ketika tebaran asap hitam berangsur lenyap. Bethala Karma hanya bisa lontarkan caci maki dan

sumpah serapah.

Lawan lenyap entah kemana.

"Perempuan keparat! Pengecut hina! Urusan diantara kita belum selesai. Mengapa kau melarikan diri?!!"

Gumamnya dengan suara menggelegar.

Peri Halilintar yang sudah berlari jauh menuju ke arah kudanya sama sekali tidak menanggapi.

Sambil berlari dia menutupi kedua telinganya yang berdenyut sakit akibat teriakan-teriakan mahluk itu

"Aku tidak sanggup melawan panglima setan itu sendirian.Dari pada mati sendirian lebih baik mencari bantuan,"

Kata sang dara menggerutu 

Tamat