Raja Gendeng Eps 12 : Kisah Raja Pedang

 
Eps 12 : Kisah Raja Pedang


Siang itu.

Suasana di kaki gunung Sumbing terasa sunyi.

Panas terik luar biasa seolah membuat rengat batok kepala.

Di sebuah pondok sederhana berdinding beratap ilalang keadaannya lebih lengang dibandingkan hari sebelumnya.

Tak ada lagi terdengar suara denting palu penempa senjata karena sang ahli pembuat pedang yang dikenal dengan nama Empu Balawa sejak pagi buta sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.

Entah masih di dalam rumah atau sudah pergi.

Di tengah suasana sunyi di mana panas mentari memanggang seluruh kawasan lembah dan gunung di atas sebuah jalan setapak yang menghubungkan kaki gunung dengan kehidupan di dunia luar terlihat seekor kuda berlari kencang melewati jalan itu.

Di sepanjang jalan yang dilewati kuda debu mengepul berterbangan membubung di udara! Sementara itu!

Di atas punggung kuda yang berlari laksana terbang duduk bersila seorang kakek berpakaian batik sutera berkilau dan memakai blangkon dengan warna yang sama.

Sambil menggebah kudanya orang tua yang punya kebiasaan mengunyah sirih itu sesekali meludah.

Ketika semburan air ludahnya menghantam dedaun semak belukar kering, semak pun langsung mengepulkan asap dan kobaran api. Jelas si kakek bukan orang sembarangan. Kuda terus berlari.

Dan tak lama kemudian setelah melewati jalan berliku bebatuan meranggas tajam, dia pun sampai di halaman sebuah pondok.

Halaman itu tidak luas, namun dengan adanya beberapa pohon yang tumbuh di sekitarnya membuat halaman menjadi teduh .Dengan gerakan enteng si kakek melompat turun dari atas kuda.

Kuda lalu dia tambatkan pada sebuah pohon. Setelah menambatkan kuda dia berkata.

"Orang tua itu harus diberi peringatan. Segala tindakannya membuat senjata pemusnah tak dapat dimaafkan"

Sambil bersungut-sungut dia memutar badan selanjutnya berjalan cepat menuju pintu pondok. Ternyata pintu dalam keadaan tertutup rapat. Sejarak dua tombak di depan pintu langkah orang tua ini berhenti. Sekilas melirik ke arah bangunan kecil yang menyatu dengan pondok utama. Karena pintu bangunan bilik bambu itu terbuka maka dengan jelas dia dapat melihat berbagai jenis senjata berupa pedang, tombak dan golok besar yang terpajang di tempat itu. Si kakek menyeringai. Kini perhatiannya tertuju sepenuhnya ke pintu pondok utama.

Tak sabar dia berseru.

"Empu Balawa. Aku Empu Saladipa datang berkunjung ingin menemuimu. Aku tahu kau berada di dalam. Cepat keluar! Ada masalah penting yang harus kita bicarakan!"

Jelas sudah dari nada ucapannya yang keras si kakek yang bernama Empu Saladipa ahli pembuat keris dari Banyuwangi datang dengan membekal rasa tidak berkenan di hati.

Suasana sunyi mencekam menyelimuti.

Si kakek tampak tidak dapat menahan diri. Sekali lagi dia keluarkan seruan yang sama.

Setelah seruan ke dua Empu Saladipa tak perlu menunggu lama.

Dari pondok terdengar Suara seseorang menyahuti dengan suara ramah yang mengesankan penghuni pondok adalah orang yang sangat bersahabat.

"Empu Saladipa ahli pembuat keris sakti dari Banyuwangi. Aku si tua Balawa merasa mendapatkan kehormatan besar karena kau berkenan datang mengunjungi pondok burukku ini. Angin apa gerangan yang membuatmu datang ke tempat ini?"

Empu Saladipa keluarkan suara mendengus.

Dengan Lantang kakek kesayangan juragan paling kaya di tanah Dwipa itu menjawab

"Kau berbasa-basi bermanis mulut dengan bertanya angin apa yang membuatku datang kemari. Ketahuilah angin keparat yang memaksaku datang ke pondokmu yang butut ini. Angin celaka, malah bisa juga berubah menjadi angin kematian bagimu!" Sebagai jawaban terdengar suara tawa bersahabat .Pintu pondok yang tertutup rapat tibatiba terbuka dengan sendirinya.

Empu Saladipa dengan alis memutih pentang matanya yang keriput lebar-lebar.

Dia melihat dari dalam pondok melesat keluar seorang laki-laki tua berusia sekitar seratus dua puluh lima tahun berpakaian serba hitam berambut putih disebelah kanan dan hitam di sebelah kiri.

Rambut panjang dua warna digelung ke atas ditancapi tiga gading putih runcing seukuran lidi.

Dengan gerakan ringan tanpa suara Empu ahli membuat pedang berwajah bersih ini jejakan kaki sejarak dua tombak di depan Empu Saladipa.

Begitu tegak berdiri tanpa mengacuhkan wajah orang, Empu Balawa rangkapkan dua tangan di depan dada.

Kepala menunduk sebagai tanda penghormatan.

Setelah itu dia turunkan dua tangannya lalu berdiri lurus menatap Empu Saladipa.

"Maafkan saya empu. Saya datang terlambat menyambut kedatangan empu. Saya sedang tidak enak badan. Itu sebabnya segala pesanan senjata yang dibutuhkan para petani tak dapat saya kerjakan,"

Ujar kakek itu santun.

"Jangan membuang-buang waktuku empu Balawa. Semua orang tahu membuat senjata dan alat untuk bertani yang dipesan oleh penduduk di sekitar sini sebenarnya cuma kedokmu belaka. Kau seorang ahli membuat pedang sakti. Mengapa mau merendahkan diri dengan membuat alat-alat tidak berguna?"

Kata empu Saladipa. Ucapan empu Saladipa yang disertai sindiran tanpa sebab itu disambut sang empu dengan senyum dingin.

"Empu Saladipa,"

Berkata empu Balawa dengan suara lembut. Setelah memperhatikan kakek didepannya sang empu melanjutkan ucapannya.

"Menolong dan membantu petani miskin sudah menjadi kewajibanku. Aku bisa membuat pedang sakti dan senjata lain. Namun untuk membuat pedang kemampuanku jauh berada di bawah kemampuanmu dalam membuat keris hebat. Empu... aku tidak mengerti mengapa kau datang disertai amarah. Aku heran, walau hubungan kita tak dapat dikatakan selayaknya dua sahabat. Namun diantara kita selama ini rasanya tidak ada silang sengketa apalagi perselisihan!"

Mendengar ucapan empu Balawa, sepasang alis mata empu Saladipa naik tegak. Tatap matanya menjorok angker sedangkan wajahnya memerah. Sambil dongakkan kepala empu Saladipa membuka mulut.

"Tidak ada badai tidak ada silang sengketa, tak ada rasa benci apalagi permusuhan. Aku mengakui semua yang kau katakan itu. Baiklah, tapi sekarang aku ingin bertanya siapa yang telah membuat pedang sakti 'Penggebah Nyawa?' Siapa? Katakan padaku apakah empu setan!" Hardik empu Saladipa.

Disindir dirinya setan. Empu Balawa yang usianya terpaut jauh dari empu Saladipa yang baru berumur sembilan puluh tahun itu mulai tak dapat lagi menahan diri.

"Apa maksudmu empu? Kau membuat keris dan aku membuat pedang. Apakah ada yang salah?" Kata empu Balawa tak sabar lagi.

"Ha ha ha. Memang ada yang salah. Jika tidak mustahil aku datang ke sini. Ketahuilah, pedang Sakti Penggebah Nyawa yang kau buat nampaknya telah bertemu jodohnya. Sayang yang berjodoh dengan pedang itu adalah manusia jahanam yang dijuluki Si Raja Pedang," kata empu Saladipa sambil tertawa.

Namun mata mendelik garang. "Raja Pedang?"

"Jangan berpura-pura empu. Kau mengenal Raja Pedang. Katakan padaku punya hubungan apa kau dengannya?"

"Aku tidak punya hubungan apa-apa," Sahut empu Balawa berterus terang. "Kau pasti mengenalnya?"

Kata si kakek sambil tatap empu Balawa dengan mata menyelidik

"Aku mengenal banyak orang. Tapi bukan orang kaya. Mereka kaum miskin."

"Apapun alasanmu aku tidak perduli. Katakan padaku siapakah Si Raja Pedang itu empu!" Desak empu Saladipa. Si kakek tersenyum. Dia lalu gelengkan kepala.

"Aku tidak tahu namanya empu Saladipa. Yang kutahu dia menunggang kuda Kroya. Satu satunya kuda terbaik yang pernah ada. Tapi kuda itu adalah kuda yang sakit. Kuda yang sakit berjodoh dengan orang yang sakit. Dia datang membawa kematian. Di belakangnya neraka mengikuti. Dan begitu dia pergi duka cita mengiringinya. Empu, terus terang aku tak mengenalnya. Dia datang begitu saja, pergi seperti angin. Dan wajahnya. Dia melindungi wajahnya dengan topeng Hitam Selaksa Maut. Topeng itu sangat menyeramkan. Topeng itu sering berubah-ubah."

"Ucapanmu itu dapat membuat takut setan-setan di neraka. Tapi ketakutan tidak berlaku untukku. Sekarang lebih baik kau katakan mengapa kau membuat pedang untuknya?"

Tanya empu Saladipa curiga. Sesungging senyum tipis menghias di wajah empu Balawa. Dengan mata menerawang kakek bermata bening itu berucap.

"Aku hidup sesuai kehendak takdir. Setiap senjata kubuat dengan tujuan agar berjodoh dengan orang yang berhati luhur, berjiwa bersih dan berpikiran jernih. Setelah kubuat dengan segala ketulusan hati puluhan tahun pedang itu kusimpan. Aku tidak tahu mengapa pedang yang kusimpan itu tiba-tiba meninggalkan tempat penyimpanannya lalu datang menghampiri Raja Pedang. Aku bahkan tak menyangka dia si Raja Pedang. Aku hanya mengenalnya sebagai Topeng Hitam Selaksa Maut,"

Terang Empu Balawa. "Cuah!"

Ternyata kau empu tolol tidak berguna. Karena kelalaianmu membiarkan pedang jatuh ke tangan orang yang salah. Kini junjunganku juragan Gagak Anabrang marah besar."

"Astaga! Bukankah Gagak Anabrang adalah orang yang kaya raya. Kudengar kunci gudang hartanya saja tidak kuat dipikul empat kuda gemuk. Apakah Raja Pedang punya silang sengketa dengan sang raja harta itu empu?"

Tanya si kakek kaget.

"Ha ha ha! Kau betul empu Balawa. Raja Pedang telah melakukan kesalahan besar dengan menghalang-halangi junjunganku Gagak Anabrang mendapatkan sesuatu yang penting."

"Sesuatu yang kau katakan penting itu apakah boleh aku mengetahuinya empu Saladipa?"

Tanya empu Balawa penasaran. Sambil meludah empu Saladipa menggeleng keras "Kau tidak layak mengetahui sebuah rahasia penting,"

Dengus empu Saladipa.

"Kalau begitu kenapa kau datang kemari?" Tanya empu Balawa.

"Mengapa aku datang?"

"Apakah kau tidak tahu bahwa kedatanganku untuk membawamu menghadap junjunganku Gagak Anabrang?!"

Merasa geram Empu Saladipa malah balik bertanya.

"Hmm, manusia culas penjilat. Aku tahu segala kejahatanmu dan segala kelicikanmu. Aku juga tahu segala kejahatan Gagak Anabrang. Dia memang manusia paling kaya di kolong langit tapi semua kekayaannya dia dapatkan dari hasil memeras darah dan keringat rakyat yang tidak berdosa. Aku bukan cecunguk apalagi kacung Gagak Anabrang. Buat apa kupatuhi perintah resi jahat satu ini?"

Batin si kakek.

"Kau diam berarti kau sudah siap untuk pergi bersamaku ke Temanggung dan menghadap junjunganku?"

Tanya resi Saladipa. Tanpa ragu si kakek gelengkan.

"Sayang aku tak dapat memenuhi permintaanmu empu. Aku lebih suka berada di sini!"

Sepasang alis mata empu Saladipa yang putih mengernyit. Dua bola mata mendelik. Seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, sang empu menegaskan.

"Apa maksudmu? Apakah itu berarti kau tak mau ikut pergi bersamaku?" Tanya empu Saladipa setengah membentak.

"Kau tidak tuli, kau tidak salah mendengar, empu. Jangan memaksa karena aku juga tidak mau bersikap kasar pada orang yang usianya jauh lebih muda dariku!"

Tegas empu Balawa.

Rasa Marah bercampur geram menumpuk di hati empu Saladipa.

Dia tidak menduga bahwa empu Balawa bakal bersikap keras menantang seperti itu.

Tapi empu Saladipa yang merasa memiliki ilmu kesaktian jauh lebih tinggi dari empu Balawa sama sekali tidak mengenal rasa takut. Dengan segenap rasa kesal dihati kakek ini berteriak keras.

"Empu! Jangan salahkan aku bila harus mengambil tindakan tegas. Sikapmu yang terkesan memandang sebelah mata benar-benar membuat aku muak. Sekali lagi aku bertanya padamu, apakah kau bersedia ikut secara baik baik ataukah aku harus membawamu dengan jalan kekerasan?!"

Empu Balawa tersenyum dingin. Sambil memandang pada empu Saladipa dengan tatapan lebih dingin dia membuka mulut.

"Aku lebih memilih cara ke dua. Aku adalah orang yang tidak suka dipaksa dan mencintai kebebasan. Lagi pula aku ingin tahu dibalik sikapmu yang angkuh itu apakah memang layak atau tidak bicara seenakmu sendiri di depanku. !"

"Kurang ajar! Nampaknya kau sengaja hendak mencari mati. Aku tidak mau banyak bicara, lihat serangan. !"

Teriak empu Saladipa murka.

Belum lagi gema teriakan sang empu lenyap.

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya tahu-tahu si kakek telah berada di depan empu Balawa.

Tinju kirinya menderu siap menghantam dada.

Sedangkan tangan yang tadinya terkepal mencari sasaran di bagian leher tiba-tiba membuka.

Disertai kepulan asap berwarna biru jari-jemari itu siap mencengkeram sekaligus menghancurkan wajah lawannya.

Mendapat serangan ganas yang dilakukan empu Saladipa, terlebih setelah melihat jemari yang terbuka menebarkan asap biru berbau busuk.

Empu Balawa sadar serangan lawan mengandung racun jahat mematikan. Si orang tua tidak mau membuang waktu.

Dia melompat ke samping dan nenutup jalan nafasnya sementara begitu kedua kakinya menjejak tanah dua jari terpentang.tangan bergerak sekaligus.

Satu menghantam jemari yang nyaris merobek wajahnya sedangkan tangan lainnya menangkis tinju yang menderu ke dada.

Plak! Duk...!

Ugk...!"

Empu Saladipa terdorong mundur dengan kening mengernyit dan tangan terasa sakit berdenyut. Dia menatap ke depan. Tak jauh di depannya sejarak lima tombak empu Balawa menyeringai sambil tersenyum. Dalam hati empu Saladipa membatin.

"Hmm, kesaktian serta tenaga dalam yang dia miliki ternyata tidak berada jauh dariku. Benturan itu membuat kedua lenganku seperti remuk. Tapi rasanya dia lebih parah dibandingkan dengan sakit yang kurasakan."

Sementara itu di depan sana empu Balawa diam-diam berucap,

"Nama besar empu sesat satu ini ternyata bukan nama kosong. Aku tahu apa yang akan terjadi bila sampai ikut bersamanya.Aku tidak akan tunduk kepadanya walau nyawa sebagai taruhanku."

Empu Balawa menatap ke depan.

Saat itu dia melihat lawan berdiri dengan kaki depan di tekuk.

Mulut empu Saladipa menyeringai aneh, sedangkan kedua tangannya hingga ke bagian siku telah berubah menjadi hitam mengepulkan asap menebar bau busuk menyengat.

Sebagai orang tua yang rendah hati namun berpengalaman luas sang empu Balawa melihat lawan siap menggunakan ilmu pukulan sakti mengandung racun jahat.

Jelas empu Saladipa memang berniat hendak mencelakainya.

Tidaklah mengherankan bila sang empu diam-diam alirkan tenaga dalam mengandung kesaktian tinggi ke bagian tangan juga kakinya.

Baru saja hawa sakti mengalir deras ke empat bagian tubuh empu Balawa, dengan gerakan seperti kilat menyambar empu Saladipa kembali melakukan serangan ganas ke lima bagian mematikan di tubuh lawan.

Melihat sepuluh jari tangan menyambar bagian bahu jantung, perut, dada kanan dan pinggang, Empu Balawa cepat menggeser langkahnya ke kiri.

Dua tangan diputar ke kiri dan ke sebelah kanan lalu dia dorong ke depan. Sedangkan kaki kiri lancarkan tendangan ke bagian kaki empu Saladipa.

Angin dingin luar biasa menyambar berkesiuran menyambut lima serangan ganas yang datang. Tapi empu Saladipa ternyata berlaku cerdik.

Ketika kaki lawan membabat ganas ke bagian kaki.

Dengan cepat dia lambungkan tubuh ke atas, kaki diangkat tinggi sementara lima serangan tetap mengancam jiwa empu Balawa.

Sang empu menggeram untuk menghindar dan selamatkan bagian tubuh sebelah atas dari serangan jari-jari lawan rasanya tidak mungkin.

Dia menjadi nekat. Sambil miringkan kepala ke samping.

Tangan dengan gerakan yang aneh menangkis sekaligus menghantam. Plak!

Plak! Duuk! Breet Ugk. !

Empu Balawa keluarkan keluhan pendek.

Benturan keras yang terjadi membuat tubuhnya terjajar.

Si kakek ternyata hanya bisa menghindari empat serangan yang datang.

Sedangkan sambaran kuku yang mengincar bagian jantung justru mengenai bahu sang empu. Pakaian di bagian bahu robek besar mengepulkan asap.

Sementara di balik pakaian terdapat luka memanjang. Luka itu mengucurkan darah.

Walau tidak dalam namun karena mengandung racun ganas empu Balawa tidak mau membuang waktu dia segera salurkan hawa sakti ke bagian bahu yang terluka.

Selain itu dia juga mengambil sebuah benda berupa pel pemunah racun yang tersimpan di balik saku celana sebelah kiri.

Begitu obat pemunah racun amblas masuk ke dalam perutnya, Empu Balawa merasakan bagian tubuh yang terluka terasa panas seperti terbakar. Melihat ini empu Saladipa dengan suara lantang mengejek berujar.

"Tak ada obat yang bisa menangkal racun 'Dadung Kala Biru. Kau akan segera mampus empu.

Terkecuali kau mau menuruti perintahku, aku masih bermurah hati memberikan penangkalnya!"

Di depannya empu Balawa menanggapi ucapan lawan dengan senyum dingin. Malah tanpa ragu sang empu menjawab.

"Racun Dadung Kala Biru sangat ditakuti di delapan penjuru angin, Tapi ketahuilah penawar racun yang baru saja kutelan dikenal dengan nama Serat Darah Pembangkit Nyawa. Satu butir aku menelannya hingga sepuluh tahun ke depan segala jenis racun seganas apapun tak akan bisa membuatku celaka!"

Kejut di hati empu Saladipa bukan kepalang. Sama sekali dia tidak menyangka empu pembuat pedang itu ternyata mempunyai obat penawar racun yang paling hebat di rimba persilatan.

"Dia tak mungkin bisa kubunuh dengan racunku lagi, untuk menghabisinya akan kubuat lumat tubuhnya!"

Pikir empu Saladipa. Setelah itu sang empu sentakkan kepala ke depan. Mata mendelik, pipi menggembung dan rahangnya pun keluarkan suara bergemeletukan. Tiba-tiba saja dia berteriak. "Masih ada seribu cara untuk menghabisi nyawa busukmu, empu Balawa. Heaaah...!" Setelah berteriak lantang tubuh empu Saladipa mendadak lenyap.

Walau dia terkejut melihat gerakan lawan secepat setan berlari, namun empu Balawa tetap bersikap tenang.

Tiba-tiba saja dia merasakan sambaran angin menghantam dari sebelah atas bagian punggung juga kaki sebelah kanan.

Wuus! Wuust!

Menghadapi tiga serangan yang seakan datang dalam waktu bersamaan, empu Balawa jatuhkan diri bergulingan menjauh.

Tapi dia melihat lawan bergerak seperti bayang-bayang itu terus mengejar. Sang empu berjumpalitan ke belakang.

Selanjutnya ketika kedua tangan bertumpu pada tanah, dua kaki yang di tekuk serentak menendang ke belakang.

Gerakan kaki sang empu karuan saja membuat lawan menjadi gugup.

Empu Saladipa yang tidak pernah menyangka lawan dapat melakukan serangan balik selagi selamatkan diri dari hantaman tinjunya berusaha menghindar.

Hebatnya secepat apapun gerakan menyelamatkan diri yang dilakukan oleh empu Saladipa tak urung salah satu kaki empu Balawa masih kena menghantam perutnya.

Karuan saja kakek itu meraung kesakitan.

Tubuh jatuh terpelanting tak ubahnya seperti baru saja terkena tendangan kaki belakang kuda. Setelah gagal jejakkan kaki orang tua ini jatuh jungkir balik tak karuan.

Empu Saladipa akhirnya tergeletak setelah kepalanya membentur pohon. Megap-megap dengan kepala benjut benjol, orang tua ini berusaha bangkit. Tubuhnya masih terhuyung namun kemudian sang empu dapat berdiri tegak.

Dia menggelengkan kepala untuk mengusir rasa pening yang menggelayuti kepalanya, mata berkunang kunang sehingga membuat semua yang dilihatnya menjadi kembar.

"Kurang ajar! Apakah rengat batok kepalaku ini?" Maki sang empu kalap.

Namun dia berusaha meredam kemarahannya dengan tetap berpikir jernih. Maka dihirupnya nafas dalam-dalam.

Tindakan yang dilakukannya ini membuat kepalanya menjadi ringan, penglihatan semakin bertambah terang.

Namun empu Saladipa berubah menjadi kaget ketika menyadari lawan yang dihadapinya hilang raib entah kemana. Penasaran dengan mata nanar dia memutar tubuh sambil memperhatikan sekelilingnya. Empu Balawa tetap tak ditemukan.

Suasana di sekitar pondok begitu sepi namun mencekam

"Kemana perginya bangsat tua itu? Mengapa dia lari seperti banci?" geram si kakek sambil kepalkan tinjunya.

Tidak hanya penasaran empu Saladipa ternyata sangat kecewa sekali.

Impiannya untuk mendapatkan imbalan besar dari sang junjungan bila berhasil membawa empu Balawa mendadak pudar.

Seperti telah dijanjikan Gagak Anabrang sebelum meninggalkan Tretes.

Empu Saladipa yang termasuk salah satu orang kepercayaan Gagak Anabrang bakal diberi hadiah besar berupa emas dan perak juga sebuah gedung mewah di ujung sebelah barat Tretes bila dapat membawa empu Balawa kehadapannya baik dalam keadaan hidup ataupun mati.

Tapi dengan lenyapnya empu Balawa dan kegagalannya dalam meringkus empu ahli pembuat pedang itu membuat segala yang diharapkannya menjadi pudar.

"Engkau bukan setan atau dedemit yang bisa menghilang empu. Kau pasti masih berada di sekitar tempat ini. Kau takut padaku ya...? Ayo keluar, jangan sembunyi!"

Teriak empu Saladipa dengan suara menggeledek. Selagi suara teriakan si kakek bergaung di seantero penjuru kaki gunung tiba-tiba saja terdengar suara bentakan jauh lebih keras bergema di tempat itu.

"Tamu gila tak tahu diri. Datang tidak diundang membekal maksud licik dan jahat demi kepentingan diri sendiri. Lebih baik kau angkat kaki dari tempat kediaman empu Balawa atau nyawamu akan minggat dari tubuhmu."

"Keparat! Siapa kau berani bicara seperti itu pada empu Saladipa?!" Kata si kakek tambah sengit. Tak ada jawaban.

Kemudian empu Saladipa mendengar ara derap langkah kuda dipacu cepat sayup sayup dikejauhan.

Terkejut si kakek segera memutar tubuh lalu menatap ke arah datangnya suara.

Orang tua ini tertegun, namun diam-diam merasa heran begitu melihat seekor kuda berbulu merah seperti darah tahu-tahu telah berdiri tegak di depannya.

Walau hanya sekilas memperhatikan kuda itu si kakek tahu kuda berbulu merah dengan bulu-bulu panjang lebar di belakang leher dan bermata merah namun terlindung penutup mata jelas bukan kuda sembarangan.

Dia tahu pula itulah kuda Kroya.

Kuda paling langka yang sangat cerdik dimana kuku kukunya dapat mencetuskan api. Setelah memperhatikan kuda dengan seksama empu Saladipa kemudian alihkan perhatiannya kepada sang penunggang yang duduk diatas punggung kuda tersebut.

Dia melihat seorang laki-laki berambut panjang riap-riapan berpakaian serba hitam berkasut aneh terbuat dari kulit kayu yang dilunakkan.

Wajah laki-laki itu sama sekali tidak terlihat.

Wajah itu terlindung semacam topeng tipis juga berwarna hitam. Terkecuali bagian mata hidung dan mulut yang diberi sedikit lubang.

Seluruh wajah sang penunggang kuda Kroya sama sekali tak dapat dilihat oleh sang empu. Sang empu alihkan perhatian.

Tatap matanya kini tertuju ke arah senjata yang tergantung di punggung laki-laki itu.

Senjata di punggung penunggang kuda merah ternyata berupa sebilah pedang berhulu hitam gelap.

Sebagai ahli pembuat keris, empu Saladipa segera maklum kalau senjata dipunggung orang bukan senjata sembarangan.

Seumur hidup sang empu belum pernah sekalipun bertemu dengan Raja Pedang.

Namun dari ciri ciri serta penampilannya yang hampir sama dengan yang disebutkan oleh empu Balawa, kakek ini merasa yakin saat itu d ­a memang tengah berhadapan dengan si Raja Pedang.

"Engkau telah membuat kekacauan di tempat kediaman orang yang sangat kuhormati, empu pembuat keris,"

Hardik orang di atas kuda dengan suara dingin penuh teguran. Empu Saladipa diam-diam tak menyangka orang itu mengetahui dirinya adalah seorang pembuat keris sakti.

"Manusia bertopeng."

Kata si kakek disertai senyum mencibir.

"Apa hubunganmu dengan empu Balawa, tua bangka tengik tidak tahu diri itu?" Tanya empu Saladipa.

"Empu Balawa bukan manusia tengik. Dia orang yang sangat terhormat. Orang tua itu berada dalam perlindunganku. Siapapun yang mengusiknya apa lagi sampai ada yang berani menyakitinya, maka dia akan berhadapan dengan aku!"

Jawab orang di atas kuda tegas .Mendengar ucapan si penunggang kuda Empu Saladipa tak kuasa menahan tawanya. Setelah puas mengumbar gelak tawa dia membuka mulut dan ajukan pertanyaan.

"Manusia pengecutlah yang suka menyembunyikan wajah di balik topeng. Memangnya siapa kau

ini?"

Belum sempat si penunggang kuda menjawab pertanyaan empu Saladipa, tiba-tiba saja kuda

berbulu merah keluarkan suara ringkikkan keras.

Dua kaki depan diangkat tinggi.

Dan ketika kaki itu dihentakkan di atas tanah terlihat adanya pijaran bunga api dan suara menderu aneh.  

Hawa panas akibat benturan kaki dengan tanah menyambar wajah empu Saladipa membuat kakek itu terpaksa melompat ke samping mencari tempat yang aman dari terpaan angin panas.

Belum sempat sang empu mengucapkan sesuatu, di depannya si penunggang kuda tiba tiba berkata.

"Kuda Kroya yang sakit datang dan pergi bersama penunggangnya yang sakit. Aku hadir bersama kematian. Di belakangku neraka selalu mengikuti. Aku berjalan melewati kegelapan, di langit gelap gulita. Halilintar bersambung tanpa hujan, maut menyertaiku bersama kesedihan dan rasa takut yang tak kunjung padam, Wahai empu sesat dan terlaknat. Segala kejahatanmu tersimpan dalam lembaran ingatanku yang hitam. Jika kau bertanya siapa diriku ini. Maka ketahuilah bahwa aku adalah si Raja Pedang...!"

Walau sudah menduga.

Tak urung tengkuk si kakek mendadak berubah menjadi dingin mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut si penunggang yang ternyata memang si Raja Pedang.

Hanya sekejab rasa jerih sempat merayapi diri sang empu.

Lalu d ­a berpikir bila tak dapat meringkus empu Balawa lebih baik menangkap Raja Pedang baik dalam keadaan hidup maupun mati.

Bukankah Raja Pedang adalah orang yang paling dicari dan merupakan musuh Gagak Anabrang. Tidak mengherankan Empu Saladipa akhirnya berkata.

"Sebelumnya aku tidak pernah menduga bakal bertemu denganmu di tempat ini. Pertemuan ini menjadi awal keberuntungan besarku. Raja Pedang! Sebaiknya lekas menyerah, sehingga kau tak bakal mendapat kesulitan!"

"Hmm, lagak bicaramu sungguh luar biasa. Sayangnya kau tidak menyadari bahwa kesulitan justru akan menimpa dirimu sendiri. Dengan kesaktian yang kau miliki apa kau mampu menghadapiku, empu?"

Tanya Raja Pedang sinis. Empu Saladipa menggeram. Merasa dirinya dipandang sebelah mata oleh si Raja Pedang si kakek tak dapat lagi mengendalikan segala kemarahannya.

"Manusia tidak tahu diri. Terimalah kematianmu!"

Sambil berteriak empu Saladipa melompat ke arah Raja Pedang.

Begitu tubuhnya melesat dan dalam keadaan mengambang dua jengkal di atas tanah, si kakek hantamkan dua pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi ke arah lawannya.

Dua cahaya hitam menggebubu disertai sambaran hawa panas menderu ke udara.

Kedua cahaya itu bergerak cepat secara bersilangan tak ubahnya seperti sebuah gunting raksasa yang siap menjadikan tubuh Raja Pedang berubah menjadi kutungan.

Melihat serangan ganas lawan Raja Pedang langsung sentakan tali kekang kuda. Kuda Kroya meringkik keras lalu jatuhkan diri sama rata dengan tanah sehingga dua cahaya hitam yang seharusnya membabat putus pinggang hanya menyambar dua jengkal di atas tanah.

Serangan itu terus meluncur dan melabrak pondok tempat menempa senjata milik empu Balawa. Pondok hancur menjadi kepingan.

Puluhan senjata tersimpan di tempat itu berpelantingan di udara dalam keadaan menyala bertebaran.

Puluhan senjata yang terpental akhirnya berjatuhan di tanah disertai denting menggidikkan. Sang kuda segera bangkit.

Mahluk bertenaga besar itu nampaknya marah sekali.

Tapi Empu Saladipa yang merasa serangannya belum mencapai sasaran kini malah melepaskan lagi tendangan kebagian wajah Raja Pedang.

Mendapat serangan kedua kalinya, Raja Pedang tiba-tiba keluarkan ucapan. "Engkau terlalu lambat dan terlalu tua untuk bisa menghabisi Raja Pedang," Setelah berkata begitu Raja Pedang tiba-tiba menggoyangkan tubuhnya.

Wuut!

Begitu tubuh digoyang mendadak tubuhnya lenyap.

Kuda yang menjadi tunggangan lalu menghambur ke depan. Kuda kemudian berbalik.

Dengan tidak terduga binatang itu mengangkat kaki depannya.

Kedua kaki lalu dihentakkan ke depan siap beradu dengan kaki empu Saladipa. Kejut di hati si kakek bukan kepalang.

Sama sekali dia tidak menduga sang kuda mampu menyerang dengan cepat tak ubahnya orang berkepandaian tinggi yang menyerang dengan jurus silatnya.

Dia tidak mau mengambil resiko.

Beradu keras dengan kaki kuda kemungkinan bisa membuat kedua kakinya sendiri mengalami cidera walau kakinya itu sebenarnya telah dialiri tenaga dalam tinggi.

Segera dia urungkan serangan melalui kaki, namun kembali hantamkan tangan kanannya kebagian kepala kuda.

Sekali kena dihantam, kepala kuda pasti remuk. Sayangnya sekali lagi sang kuda berlaku cerdik.

Seolah sadar dirinya berada dalam bahaya besar yang mengancam keselamatannya binatang itu berlari menghambur di bawah kaki empu Saladipa yang mengambang diketinggian

Buum!

Deru pukulan yang dilepaskan empu Saladipa lagi-lagi hanya menghantam di halaman pondok hingga menimbulkan suara ledakan serta guncangan begitu hebat. Si kakek menggeram.

Dia jejakkan kaki sekaligus memperhatikan sekelilingnya. "Raja Pedang."

Dengusnya begitu melihat lawan berdiri tak jauh di sampingnya.

"Apakah kau hanya bisa menghindar saja lalu melarikan diri seperti yang dilakukan oleh empu Balawa."

Ucapan si kakek disambut senyum dingin oleh Raja Pedang.

"Apakah kau tidak sadar sesungguhnya aku telah memberimu kesempatan untuk menghirup nafas kebebasan selagi tubuhmu dalam keadaan utuh. Lalu tunggu apa lagi. Mengapa kau tidak angkat kaki dari sini selagi ada kesempatan? Dan jangan lupa aku akan datang menemui Gagak Anabrang menagih hutang nyawa dan darah!"

"Hutang Nyawa dan Darah? Lebih baik kau serahkan saja nyawamu kepadaku! Hea...!" Empu Saladipa mengakhiri ucapannya dangan teriakan keras.

Secepat kilat dia hentakkan kaki lalu melesat ke arah Raja Pedang sambil babatkan jemari tangannya yang berkuku hitam ke leher lawan.

Melihat serangan ganas yang dibarengi dengan tendangan menggeledek. Raja Pedang tetap bersikap tenang.

"Benar-benar mencari mampus!"

Teriak empu sambil mempercepat gerakannya. Tapi apa yang terjadi sungguh diluar dugaan.

Tak sampai setengah jengkal lagi jemari tangan si kakek membabat putus lehernya, Raja Pedang tiba tiba menggerakkan tangannya ke belakang.

Serta merta cahaya putih berkilau berkelebat Crees!

Terdengar suara senjata yang sangat tajam luar biasa membabat putus lengan si kakek.

Orang tua itu meraung, menjerit setinggi langit lalu jatuh terhempas begitu tangan kiri lawan mendorong dadanya.

Pluk!

Potongan tangan si kakek yang terbabat putus jatuh ke tanah dalam keadaaan menggelepar lalu diam tak berkutik .Tak jauh disampingnya empu Saladipa terus meraung sambil menotok untuk menghentikan semburan darah dari bagian lengannya yang terpotong.

Sementara di depannya Raja Pedang dengan sikap tenang segera masukkan kembali senjata di tangan ke dalam rangkanya.

"Kau bukan lawanku."

Kata si Raja Pedang sambil menatap tajam ke arah si kakek. Empu Saladipa menggerung. Walau dia berhasil menghentikan aliran yang memancar di bagian lengan yang terluka, namun kehilangan tangan benar-benar membuatnya marah.

Tapi untuk melanjutkan perkelahian dia merasa jerih karena Raja Pedang tidak hanya sangat tangguh juga begitu cepat.

Tidak punya pilihan lain dia segera hampiri kudanya.

Setelah melepas tali kekang kuda si kakek segera melompat ke atas punggung kuda. Sebelum berlalu empu Saladipa berkata mengancam.

"Kau bakal menebus semua kesalahan yang kau lakukan hari ini padaku. Dan aku tak akan pernah melupakannya."

"Aku selalu menunggu hari pembalasanmu, empu. Dan jangan lupa sampaikan juga pada majikanmu Gagak Anabrang bahwa aku akan segera menghancurkannya!"

Jawab Raja Pedang tak kalah garang. Empu Saladipa tidak menanggapi.

Tanpa menoleh-noleh lagi dia segera memacu kudanya tinggalkan tempat itu.

Sepeninggal empu Saladipa. Raja Pedang balikkan tubuhnya lalu melangkah lebar menuju bagian halaman belakang pondok itu.

****

Matahari senja hampir tenggelam di ufuk sebelah barat.

Di kaki langit sang surya tinggal berupa bola merah bundar. Angin berhembus menebar hawa panas dan bau tak sedap.

Ketika memasuki sebuah desa tandus di daerah Tretes seorang Pemuda berpakaian kelabu berambut panjang sebahu disambut pemandangan pilu menyedihkan.

Dia melihat rumah-rumah penduduk yang kumuh beratap ilalang dan ijuk bocor dan sudah tidak layak huni.

Sementara penduduk di desa itu juga sangat menyedihkan.

Banyak anak-anak dan para orang tua tewas akibat kelaparan dan menderita berbagai penyakit.

Yang membuat pemuda ini heran setiap orang yang dia temui di sepanjang jalan semuanya menghindar.

Para penduduk desa itu sepertinya ketakutan melihat kehadiran si pemuda yang bukan lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng adanya.

Tidak sedikit penduduk desa berlarian menjauh menghindar dari Raja.

Ada yang berlari ke rumah masing-masing, mengunci pintu atau mengintai mengawasi gerak-gerik sang Maha Sakti dari balik dinding rumah yang kebanyakan terbuat dari anyaman bambu.  

"Gerangan apa yang terjadi di desa ini? Mengapa orang berlari menjauh. Apa yang mereka takutkan. Padahal aku bukanlah hantu atau mahluk menjijikkan penebar penyakit menular."

Pikir Raja.

Penasaran pemuda ini kemudian memacu kuda hitam yang dia telah tunggangi selama berhari-hari.

Seperti diketahui kuda itu adalah pemberian Kabut Hitam.

Mahluk berujud anjing hitam besar yang aslinya adalah seorang gadis cantik jelita yang dikutuk dewa akibat kelancangannya mencari tahu kabar dari kayangan.

Tak berselang lama pemuda ini sampai di tengah desa.

Sang Maha Sakti yang pernah menetap lama di sebuah tempat rahasia bernama Goa Mayat Es itu hentikan kudanya.

Beberapa saat dia layangkan pandang ke segenap penjuru sudut. Dia melihat sebuah kedai.

Tapi kedai dalam keadaan tutup.

Raja menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.

Sekarang pupus sudah harapannya untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan sejak siang hari.

"Kemana aku harus mendapat makan. Dusun ini seperti desa yapg mati. Aku merasakan kehidupan penduduk yang sekarat. Dan setiap pasang mata yang mengawasi di balik dinding rumahnya adalah mata yang cemas, memendam rasa ketakutan juga curiga,"

Batin Raja. Merasa terus diawasi namun tidak seorang pun yang berani menemui atau bicara dengannya membuat Raja kehilangan kesabaran. Dia pun kemudian berteriak.

"Hei siapapun yang mendengar suaraku. Apa yang terjadi dengan desa ini? Mengapa kalian begitu takut melihat kehadiran orang asing memasuki desa? Aku bukan orang jahat bukan pembunuh keji juga bukan pembawa wabah penyebab terjadinya mala petaka. Kalian keluarlah, tak ada yang perlu ditakuti!"

Suara teriakan Sang Maha Sakti lenyap. Suasana sepi menyelimuti. Raja melihat tidak ada pintu yang terbuka bahkan tak seorang penduduk desa yang muncul datang menemuinya, Tambah penasaran Raja sekali lagi berseru.

"Kalian tidak tuli. Tapi aku tahu kalian sangat menderita. Kemana perginya kepala desa? Apakah desa ini tidak punya pemimpin?"

Sebuah pintu di sebelah kanan jalan terbuka.

Dari bangunan berbentuk rumah kebaya namun sangat sederhana sekali muncul seorang laki-laki berambut putih berjanggut dan berkumis lebat juga sudah memutih. Laki laki itu berpakaian hitam lusuh, berbelangkon butut sama dengan warna pakaiannya dan bertubuh kurus seperti orang yang sering kekurangan makan.

"Orang tua, siapa dirimu. Datanglah kemari. Jangan takut karena aku tidak memakan sesama manusia,"

Ucap Raja sambil lambaikan tangan pada si orang tua di depan pintu dengan sikap bersahabat.

Lelaki berpakaian hitam yang semula terlihat ragu kini datang melangkah terseok seok, mata memandang jelalatan seolah ada sesuatu yang merisaukan hatinya.

"Siapa dirimu?"

Raja mengulang pertanyaan begitu si orang tua telah berdiri tegak di hadapannya. "Kisanak. Saya adalah kepala desa Tretes. Nama saya Kartadilaga. Kisanak siapa? Datang

memasuki desa seolah tak takut mati dan sambil berteriak pula?" Tanya si orang tua yang ternyata memang kepala desa itu.

Raja tersenyum, namun sepasang alisnya mengernyit.

"Bapak kepala desa. Namamu mengingatkan aku kepada orang yang suka berkelahi, bertempur atau berperang. Nama saya Raja, orang-orang biasa memanggilku Raja Gendeng,"

Sahut pemuda itu.

"Oh ya tadi bapak mengatakan saya memasuki desa ini seolah tidak takut mati. Kematian bisa terjadi kepala desa. Lagi pula apa yang harus ditakuti?"

Tanya Sang Maha Sakti sambil menatap tajam pada kepala desa. Raja melihat rasa cemas dan takut membayangi wajah kepala desa itu. Mata jelalatan menatap ke arah kedua ujung jalan yang membelah desa.

"Katakan saja. Kau tidak perlu takut pada apa pun bapak kepaia desa. Saya akan membantu bila ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi."

Setelah terus didesak akhirnya dengan takut-takut Kartadilaga membuka mulut.

"Gagak Anabrang... raja harta itu telah menimbulkan kesengsaraan bagi kehidupan penduduk di desa ini. Dia merampas hasil pertanian kami, setiap penduduk diharuskan membayar upeti. Siapa yang menolak pasti bakal mendapat hukuman berat."

"Siapa Gagak Anabrang?" tanya Raja tak mengerti.

Kartadilaga menelan ludah basahi tenggorokannya yang mendadak kering .Dengan suara lirih dia menjawab,

"Gagak Anabrang setiap orang mengenalnya. Dia adalah orang paling kaya diseluruh tanah Dwipa. Tapi dia bukan manusia baik. Gagak Anabrang adalah manusia keji sedangkan kaki tangannya lebih jahat lagi. Mereka datang di malam hari seperti setan gentayangan merampas apa saja yang dimiliki penduduk. Hasil bumi, hewan piaraan, buah dan terkadang anak istri orang yang dianggap cantik turut menjadi korban." "Keji dan biadab." Desis raja.

"Selama itu apa tidak ada orang yang berani menentang mereka?" Tanya Sang Maha Sakti. Kartadilaga gelengkan kepala.

"Anak muda. Bukan penduduk dari desa ini saja yang sudah menjadi korban. Puluhan bahkan ratusan penduduk desa lain juga mengalami nasib yang sama. Kami hidup dalam kekurangan. Setiap hari selalu saja ada anak anak atau orang tua yang mati kelaparan."

"Hmm! mengenaskan sekali nasib kalian," Gumam Raja. Pemuda ini diam sejurus lamanya.

"Aku punya bekal mudah-mudahan aku bisa membantu. Saya berharap bapak kepala desa dapat membagikan bekal yang akan saya berikan kepada semua penduduk dengan seadil adilnya."

"Anak muda. Hatimu begitu mulia. Kami sangat berterima kasih bila dapat meringankan penderitaan kami,"

Kata Kartadilaga.

Laki-laki itu membungkukkan badannya, menjura ke arah Raja.

Raja tersenyum namun cepat meraih kantong perbekalan yang bertengger di bagian belakang pelana kuda.

Dari balik kantong perbekalan, pemuda ini mengeluarkan sebuah kantong hitam berukuran lumayan besar.

Raja melompat turun dari punggung kuda.

Simpul tali pengikat kantong dibuka, kemudian isinya diperlihatkan pada bapak kepala desa. Mata orang tua itu terbelalak seakan tidak percaya.

Dia melihat isi kantong yang diberikan Raja ternyata terdiri dari kepingan uang emas.

Dengan tubuh menggigil karena memang tidak pernah melihat mata uang apalagi uang emas sebanyak itu Kartadilaga akhirrnya jatuh berlutut. Dengan penuh haru dan rasa terima kasih Kartadilaga kembali menjura hingga keningnya menyentuh tanah.

Melihat sikap kepala desa buru-buru Raja menghampiri lalu menarik bahu si orang tua hingga berdiri.

"Aku ini cuma manusia biasa yang kesasar. Kau tak usah berlutut seperti ini seolah diriku dewa.

Sekarang kumpulkan semua penduduk .Bagikan kepingan emas itu masing-masing satu keping tiap-tiap kepala keluarga."

"Terima kasih. Kami tak bisa membalas kebaikanmu. Semoga Hyang Widi membalas semua kebaikanmu ini."

Ujar Kartadilaga dengan hati bergetar terharu. Semua penduduk desa dikumpulkan. Sama seperti kepala desa, mereka semua hidup dalam penderitaan.

Kelaparan membuat tubuh mereka kurus kering bahkan setiap bayi dalam gendongan ibunya keadaannya lebih mengenaskan lagi.

Tubuh tinggal berupa kulit pembalut tulang, kepala sangat besar mata cekung memiriskan mengundang iba.

"Orang desa,"

Berkata Kartadilaga setelah selesai membagikan kepingan emas pada penduduknya. "Hari ini seorang pemuda bernama Raja telah dikirim oleh para dewa ke desa kita. Maka

berterima kasihlah pada Hyang Pemberi kemurahan dan pada tamu kita."

"Kami semua berterima kasih padamu wahai penolong. Semoga kau dikarunia usia panjang, enteng jodoh berkah melimpah dan panjang semuanya,"

Seru penduduk hampir bersamaan.

"Hust. Jangan bicara tak karuan. Kalau semuanya menjadi panjang aku jadi repot. Tak usah berlebihan. Kalian kembalilah lari ke rumah masing-masing. Dan jangan lupa urus aroma tak sedap yang sangat mengganggu ini!"

Kata raja sambil kibaskan jemari tangannya di depan hidung.

"Maaf. Ada pun aroma tidak sedap yang tercium olehmu berasal dari penyakit berupa koreng dan gatal-gatal yang membusuk. Hampir setiap penduduk mengalami penyakit itu."

"Sungguh keterlaluan. Tapi kalian semua tak usah takut lagi aku tidak akan berdiam diri membiarkan tindakan Gagak Anabrang dan kaki tangannya."

Tegas pemuda itu. Mendengar perkataan Raja, Kartadilaga justru merasa khawatir. "Saudara! kami sudah senang engkau datang membantu. Tapi saya khawatir terjadi sesuatu

dengan diri saudara. Hari sudah hampir malam, kalau saudara berkenan boleh menginap di rumah saya"

"Apakah di sini tidak ada kedai dan tidak ada tempat untuk bermalam," Tanya pemuda itu. Kartadilaga gelengkan kepala.

"Tempat menginap para pengelana yang kemalaman sudah lama dimusnahkan. Orang tidak berani membuka kedai karena pengikut Gagak Anabrang kerap membuat kekacawan. Sebaiknya saudara. "

Belum salesai Kartadilaga berucap Raja cepat memotong.

"Bapak kepala desa panggil saja namaku. Jangan memakai segala peradatan." "Eh... maaf... saya... namamu Raja atau kah kau memang raja sungguhan." "Anggap saja keduanya benar."

"Oh sungguh tak saya sangka engkau seorang Raja, Harusnya saya menghormatimu dengan memberikan jamuan yang layak. Tapi di rumah saya tidak ada sesuatu yang layak dipersembahkan. Walau begitu bukan berarti sebagai pemilik rumah kami tak bisa menjamu tamu. Mari silakan ikuti saya saja"  

Raja terdiam. Dia berpikir apakah harus mengikuti kepala desa ke rumahnya ataukah melanjutkan perjalanan. Belum lagi sempat mengambil keputusan tiba-tiba Raja dikejutkan oleh suara derap langkah kaki kuda. Mendengar suara kuda dipacu cepat memasuki desa itu Kartadilaga terkesiap.

Wajahnya pucat tubuh menggigil. Cepat orang tua ini menoleh memandang ke arah jalan di sebelah timur.

Dia melihat rombongan berkuda bergerak cepat menuju ke arahnya.

"Cepat menyingkir dari jalan. Cari perlindungan yang aman di belakang. Ayo ikuti saya sebelum rombongan berkuda itu melihat kehadiranmu,"

Kata Kartadilaga gugup.

Orang tua itu segera bergegas tinggalkan jalan. Tapi Kartadilaga jadi tambah tercengang begitu sadar Raja ternyata tetap berada di tempatnya.

"Jangan hiraukan aku orang tua. Kau carilah tempat perlindungan. Siapapun rombongan berkuda itu bila datang dengan membawa niat jahat sudah saatnya untuk diberi pelajaran"

"Tapi..."

Kartadilaga jadi bingung. Nampaknya dia bimbang dengan keselamatan pemuda itu. "Mereka itu ganas. Mereka yang sering membuat kekacauan di desa ini."

Terang kepala desa.

"Kalau begitu kalian lindungi keluarga kalian sendiri. Biarkan aku di sini. Siapa tahu ada pesta meriah yang bakal mereka persembahkan padaku."

Sahut Raja sambil tersenyum.

Mengingat pengalaman Kartadilaga yang pernah mendapat perlakuan keji dari rombongan penunggang kuda itu maka kini dia tak mau mendapat perlakuan keji untuk yang kedua kalinya.

Walau melihat tamunya yang dermawan itu tak bergeming dari tempatnya berdiri namun si orang tua segera angkat kaki tinggalkan tempat itu.

Sementara penunggang kuda yang jumlahnya tidak lebih dari lima orang itu semakin mendekat.

Begitu mereka melihat ada seorang pemuda tak dikenal berdiri tegak di tengah jalan sambil silangkan tangan di dada penunggang kuda itu menarik tali kekang kuda hingga lima kuda hentikan langkah.

"Monyet gondrong berpakaian kelabu. Beraninya kau mencari perkara dengan kami!"

Hardik salah satu penunggang kuda berpakaian biru yang berada di sebelah kiri depan. Raja tersenyum sedikitpun dia tidak merasa marah dihardik monyet gondrong. Sebaliknya dia menatap tajam ke arah dua penunggang kuda yang berada dipaling depan.

"Dua lelaki sama berpakaian biru. Tubuh sama tinggi badan sama gemuk. Yang di sebelah kiri wajahnya bundar, mata dan hidung mirip burung hantu. Satunya lagi wajahnya bundar juga namun berbintik-bintik seperti macan tutul. Walau tampang keduanya ada perbedaan tapi aku berani menduga mereka kembar."

Pikir Raja. Dia kemudian layangkan pandang pada tiga penunggang kuda yang berada di deretan belakang. Raja melihat tiga laki-laki berwajah sangar. Ketiganya berpakaian hitam, alis tebal, kumis dan cambang bawuk meranggas lebat.

"Tiga laki-laki bertampang angker itu walau keadaannya seperti setan kuburan, tapi rasanya mereka hanya kaki tangan dua orang aneh ini."

Batin Raja pula.

Sementara itu melihat Raja hanya menatap mereka sambil menyeringai, lelaki yang wajahnya dipenuhi bercak mirip macan tutul jadi tak sabar.

Dengan angkuh dia menghardik.

"Pemuda gila tak tahu tingginya gunung di hadapanmu.Kau tuli, ataukah tidak mendengar.Rupanya kau belum tahu siapa kami hah!"

Raja pura-pura unjukkan rasa kaget Jelalatan dia menatap orang-orang di depannya. Kemudian seperti orang yang kecewa dia berujar.

"Tak ada gunung tinggi dihadapanku. Tapi kau mengatakan aku tak melihat gunung yang tinggi.

Yang kulihat ada gunung bopeng di depanku!"

Ucapan Raja yang terkesan tak memandang sebelah mata membuat kedua orang ini juga tiga pengikutnya menjadi tambah gusar.

"Kunyuk keparat. Apakah kau belum mengenal kami? Kami adalah dua manusia kembar. Namaku Ayudra Tirta sedangkan saudara kembaranku ini bernama Ayudra Bayu. Kami adalah orang kepercayaan yang mulia junjungan Gagak Anabrang orang yang paling kaya di seluruh tanah Dwipa."

"Sedangkan kami bertiga adalah pengawal Ayudra."

Timpal salah seorang penunggang kuda yang di belakang. Mula-mula Raja melongo. Kemudian manggut-manggut. Setelah itu baru mengumbar tawa bergelak. Sambil mengumbar tawa enak saja Raja menanggapi.

"Walah cuma dua beruk kepercayaan dan tiga lutung penjaga. Kukira kalian yang mulia agung dari mana. Perlu apa aku harus menghormati perampok dan pencuri tengik seperti kalian? Bukankah seharusnya kalian menghormat padaku, bersikap santun karena aku ini adalah seorang raja sungguhan Ha ha ha...!"

Si kembar diatas kuda sama melengak, namun mereka kemudian saling pandang. Tiga pengawalnya yang berada di belakang menjadi geram.

Tak tahan mendengar ucapan Raja yang terkesan meremehkan junjungan mereka. Ketiganya membuat gerakan maju menyerang.

Tiga sosok tubuh berkelebat, melesat ke udara lalu jejakkan kaki sejarak tiga langkah di depan Raja.  

Melihat tiga penjaga siap menyerang, Sang Maha Sakti tenang-tenang saja. Segera dia berujar.

"Kalian cuma cecunguk tak berguna. Yang dijaga hanya manusia hina, Menurut kabar yang kudengar kehadiran kalian justru membuat sengsara banyak orang. Apa perlu hidung kalian kubuat keluar air merah ya. "

"Ha ha ha."

"Pemuda gila! Beraninya kau bermulut lancang bicara sembarangan pada kami!"

Hardik si kembar berwajah burung hantu. Kemudian pada ketiga pengikutnya dia berseru, "Penjagal Iblis Teluk Santuang! Bunuh dan kuliti bangsat tak tahu diri itu. Aku menginginkan

rambut panjangnya untuk kujadikan pajangan pengusir memedi di sawah!" "Aku menginginkan pedang bagus di punggungnya!"

Kembar wajah mirip macan tutul ikutan berseru sekaligus menyatakan keinginannya.

Tiga laki-laki berwajah sangar yang dikenal dengan julukan Penjagal Dari Teluk Santuang bergerak ke depan.

Tidak membuang waktu ketiga laki-laki tak bernama yang konon dimasa kecilnya di asuh Gondoruwo membuat gerakan aneh.

Begitu tangan dan tubuh bergerak tahu-tahu mereka telah berada di depan Raja. Dua tangan menyambar ke bagian wajah Sang Maha Sakti.

Dari sebelah kiri dan sebelah kanan Raja menderu masing-masing satu jotosan satu pukulan.

Mereka memiliki tenaga yang sangat besar dan saat menyerang ketiganya menyertakan tenaga dalam yang cukup tinggi.

Tidaklah mengherankan begitu tangan dan kaki menderu, Raja segera dapat merasakan sambaran hawa dingin yang luar biasa menerpa tubuhnya.

Walau demikian Raja tetap berlaku tenang.

Dengan menggunakan jurus Kepakan Sayap Rajawali. Raja menggeser kakinya ke belakang. Bersamaan dengan itu tubuh diputar, jemari dikembang, dua lutut ditekuk.

Dengan gerakan burung yang mengepakkan sayapnya dua tangan Raja sekaligus dikibaskan dari atas ke bawah.

Wuuut!

Terdengar suara bergemuruh mengerikan. Dua tangan yang menderu deras ke bawah menghantam tiga serangan ganas yang dilakukan lawan sekaligus

Dess! Blak! Blak! Blak!  

Terdengar suara seruan kaget.

Penjagal Iblis Teluk Santuang sama terjajar.

Dua tangan berubah menjadi merah,sedangkan kaki yang digunakan untuk menendang menggembung bengkak. Di atas kuda kembaran Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta delikkan mata.

Menatap dengan penuh rasa tidak percaya pada Raja. "Bagaimana dia bisa melakukan semua itu?"

Desis Ayudra Bayu yang tak menyangka lawan dapat menghalau kaki tangannya dalam satu gebrakan saja.

"Dia memiliki jurus aneh dan tenaga sakti. Pantas monyet gondrong itu berani jual lagak di depan kita,"

Menyahuti Ayudra Tirta. Belum sempat saudara kembarnya membuka mulut Ayudra Tirta berseru ditujukan pada pengikutnya.

"Aku tahu kalian bertiga bukan manusia lemah. Habisi dia sekarang juga!"

Seruan itu segera ditanggapi oleh tiga Penjagal Iblis Teluk Santuang. Tanpa banyak bicara lagi Penjagal Iblis yang bertubuh gemuk pendek mencabut golok besar yang tergantung dipinggangya. Sedangkan dua sahabatnya yang lain masing-masing mencabut pedang berukuran besar dan sebuah tombak bergagang pendek. Baik tombak, golok maupun pedang besar semuanya berwarna putih berkilawan pertanda masing-masing senjata itu memiliki ketajaman yang sangat luar biasa.

"Pemuda aneh berpakaian kelabu. Sebelum mampus kuharap kau sudi memperkenalkan diri supaya aku dapat menguburkanmu secara layak lengkap dengan namamu yang akan kutorehkan di batu tanda!"

Hardik si gemuk bergolok besar. Raja menyeringai.

Dengan telunjuk kirinya dia menekan tepi hidung seperti orang yang hendak membuang ingus dia mendengus.

Tindakan yang dilakukan Raja ini semata adalah untuk memancing kemarahan lawannya. Begitu lawan terpancing dan menyilangkan senjata di bagian dada Raja berucap.

"Tiga pengacau tidak tahu diri. Mengapa tidak kalian katakan saja siapa nama kalian. Karena aku merasa kalian bertiga yang bakal berangkat ke liang kubur terlebih dahulu. Ha ha ha!"

"Kurang ajar! Diberi kesempatan menyebutkan nama tak mau menjawab. Kau kira kami tidak dapat membunuh kamu! Terimalah kematianmu!"

Teriak si gemuk pendek kalap.

Dengan kecepatan luar biasa disertai gerakan enteng si gemuk bergolok besar langsung menerjang. Selagi tubuhnya mengambang di udara, golok besar dia kibaskan ke depan membabat dan melakukan tusukan ke tubuh Raja. Tak menyangka si gemuk ini memiliki jurus-jurus golok yang hebat. Raja segera hentakan kaki kirinya

Wuus!

Sambaran dan tusukan golok luput.

Namun si gemuk cepat memutar tubuh lalu kembali babatkan golok ke bagian kepala Raja. Serangan yang dilakukannya tidak berhenti sampai disitu saja.

Begitu golok berkelebat.

Dengan mempergunakan tangan kiri yang telah berubah merah seperti bara api, dia juga melepaskan pukulan tangan kosong dua kali berturut-turut.

Dua larik cahaya berkiblat menebar hawa panas luar biasa. Di tengah jalan kedua cahaya pukulan berpencar.

Satu mengarah ke bagian kaki dan satunya lagi mencari sasaran di bagian leher Raja.

Melihat golok terus meluncur ke kepala ditambah dua larik cahaya pukulan lawan mengincar leher dan kaki, Raja tidak mau bertindak ayal. Pemuda ini sentakkan kepala kebelakang hindari sabetan golok. Sementara kaki digenjot hingga membuat tubuhnya membal ke atas. Dua serangan cahaya luput dan menghantam sebuah rumah di seberang jalan. Lolos dari serangan, pemuda itu berkelebat ke depan, kaki di ayun dalam jurus Langkah Gaib Dewa. Si gemuk pendek terkejut. Dia yang sudah bacokkan golok kebagian pinggang terperangah melihat lawan tahu-tahu telah berada di atas kepala. Secepat setan berkelebat dia berusaha selamatkan wajah dari tendangan.

Sementara itu senjata ditangan diayunkan menyambar lurus menyambut serangan kaki. Sekali lagi si gemuk pendek dibuat terkejut. Sergapan senjata ke kaki lawan tidak berhasil. Sebaliknya satu tendangan keras mendarat tepat di bukit hidung dan mulutnya.

Blak!

Si gemuk pendek menjerit kesaktian .Tubuhnya jatuh terpelanting. Megap dengan mulut dan hidung menyembur darah dia meraih golok dan segera bangkit berdiri.

Tapi sebelum menyerang kembali laki-laki itu raba hidung dan mulutnya yang mengucurkan darah. Si gemuk menggerung.

"Howalah... hidungku... hidungku remuk. Dia juga membuat gigiku tanggal dan bibirku. Bibirku menjadi jontor menggelembung bengkak begini!"

"Ha ha. Kau harus bersyukur. Mulutmu kelihatan lebih bagus mirip ikan cupang. Bibir sebagus itu sangat cocok dipergunakan untuk mencium!"

Sahut Raja.

"Kau menyingkirlah. Biarkan kami berdua yang meringkusnya!" Teriak si tinggi yang bersenjata pedang. Tanpa bicara lagi dengan dibantu oleh temannya yang bersenjata tombak, dua dari tiga Penjagal Iblis Teluk Santuang bergerak maju.

Pedang ditangan si tinggi besar menderu ganas mengincar sasaran di bagian perut dan wajah lawan.

Sedangkan dari arah samping sambil melancarkan pukulan bertubi-tubi si gemuk sedang mengarahkan tombak mengincar bagian punggung Raja.

Dua orang berkepandaian cukup tinggi menyerang secara berbarengan disertai kecepatan yang luar biasa pula membuat Raja terpaksa mengandalkan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak..

Masih dengan gerakan jurus Langkah Gaib Dewa pemuda ini meliukkan tubuhnya. Dengan tangan kiri dia menangkis pukulan si gemuk sedang yang bersenjata tombak. Benturan keras terjadi.

Si gemuk bersenjata tombak terjajar sedangkan tangan yang berbenturan dengan tangan lawan terasa panas luar biasa seperti digarang di atas bara api.

Melihat temannya dapat dipukul mundur si tinggi besar bersenjata melompat ke atas. Selagi tubuhnya mengapung di ketinggian.

Dia membacokkan pedang di tangan ke kepala Raja. "Sial! Mengapa yang diincar kepalaku melulu?" Gerutu Raja.

Namun dia segera menghindar ke samping. Wuust!

Serangan pedang luput.

Namun diluar dugaan arah pedang kini berbalik, membelok mengejar pemuda itu. Tak ingin konyol kena serangan. Raja berjumpalitan ke belakang.

Begitu jejakkan kaki dia langsung menekuk ke dua lututnya.

Selanjutnya menyalurkan tenaga sakti ke bagian tangan dan segera menghantam si tinggi besar dengan pukulan sakti Badai Serat Jiwa. Segulung cahaya hitam kebiruan menderu, bergemuruh laksana badai disertai tebaran hawa panas luar biasa.

Si tinggi besar yang jaraknya begitu dekat Raja tak mungkin menghindar selamatkan diri.

Satu satunya yang dapat dia lakukan adalah memutar pedang yang tadinya untuk menyerang dipergunakan melindungi diri.

Ketika pedang diputar sekuat tenaga cahaya putih seperti perisai berkiblat tak ubahnya seperti tameng raksasa.

"Aku harus menolongnya!"

Teriak si gemuk sedang bersenjata tombak. "Jangan kau lakukan!" Seru Ayudra Tirta.

Dia sendiri hendak membantu pengawalnya.

Namun mengingat jarak antara dirinya dengan si tinggi terlalu jauh.

Dan walau seandainya dia dapat melepas pukulan untuk mematahkan serangan lawan tetap saja tak banyak membantu.

Seruan bernada peringatan yang dilakukan Ayudra Tirta terlambat sudah.

Si gemuk sedang yang sedang berusaha membantu temannya telah terlanjur menusukkan senjatanya ke mata Raja.

Padahal saat itu Raja melepas pukulan ke dua ke arah orang ini. Buum!

Bres! Bres! "Akhg...!"

Terdengar suara dentuman menggelegar dua kali berturut-turut disusul dengan jerit menyayat hati.

Semua orang melihat kepulan asap tebal dan pijaran bunga api menggebubu di udara. Sebuah pedang terpental tinggi dalam keadaan merah membara.

Sedangkan tombak di tangan penjagal iblis ke dua hancur menjadi kepingan. Bruuk!

Dua sosok tubuh jatuh bergedebukan dalam keadaan pakaian dan tubuh hangus wajah gosong, mulut ternganga mata mendelik.

Melihat dua temannya menemui ajal mengenaskan.

Leleh sudah nyali si gemuk pendek yang mulut dan hidungnya mengalami cidera berat.

"Dua sahabatku! Oh kalian berdua mengapa harus menemul ajal di tangan gondrong bertingkah seperti orang kurang waras itu?"

Desis si gemuk pendek.

Dengan langkah gontai sambil menyeret golok ditangan dia menghampiri kedua sahabatnya.

Seakan tidak perduli lagi dengan majikan kembarnya juga pada Raja, dia duduk bersimpuh lalu menangis dan meratapi kedua temannya yang sudah tidak bernyawa.

Berbeda dengan Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta.

Mereka sama sekali tak pernah menduga lawan ternyata memitiki tingkat kesaktian yang demikian tinggi.

Melihat kematian dua pengawal yang berkepandaian tidak rendah itu tentu saja membuat keduanya gusar. Setelah keduanya sama berpandangan.

Ayudra Tirta memberi isyarat dengan anggukkan kepala pada saudaranya. "Jahanam ini memang harus dihabisi!" geram Ayudra Bayu .

Sekali dua bersaudara kembar gerakan pinggul, Secepat kilat mereka melesat ke udara. Kemudian dengan gerakan ringan dan tidak menimbulkan suara keduanya jejakkan kaki satu tombak di depan Raja.

******

Di belakang, pondok yang menjadi tempat tinggal empu Balawa terdapat sebuah tempat rahasia bernama ruang Peristirahatan dan Ketenteraman. Ketika sang empu berhasil membuat lawannya terjungkal. orang tua yang usianya genap seratus dua puluh tahun itu merasa perkelahian sengit yang terjadi antara dirinya dengan empu Saladipa tidak perlu dilanjutkan lagi. Dia yakin ajalnya sudah semakin bertambah dekat. Tapi yang membuatnya merasa kematiannya sudah dekat bukan akibat serangan kuku beracun yang mencidrai bahunya.

Racun yang mendekam pada bahunya telah musnah setelah meminum pel pemunah racun. Dia ingat dengan batas waktu hidup dan matinya yang ditetapkan dewa lewat mimpi.

Empu Balawa sadar segala persoalan apapun yang menyangkut kepentingan dunia harus ditinggalkannya. Dia kemudian berlari saat mendengar derap langkah kuda ke pondoknya.

Sesampainya di belakang rumah sang empu segera mendekati dinding tebing yang tak lain adalah bagian kaki gunung Sumbing. Karena dinding pondok berdekatan dengan dinding tebing maka di belakang pondok empu Balawa terpaksa berjalan dengan memiringkan tubuhnya. Langkah orang tua itu pun terhenti begitu sampai di depan dinding batu empat persegi yang seukuran pintu. Setelah menghela nafas, perhatian orang tua ini pun tertuju pada sebuah tonjolan batu yang ternyata merupakan alat rahasia untuk menggerakkan pintu. Tonjolan batu hitam dipermukaan tebing yang ukurannya tidak lebih dari ibu jari kaki di tekan.

Lalu terdengar suara bergemuruh dan bergesernya benda berat yang tak lain adalah pintu rahasia. Pintu batu membuka ke samping. Bagian dalam ruangan yang gelap terbentang di depan mata empu Balawa.

Kemudian dari dalam ruangan yang gelap ada angin sejuk berhembus. Angin yang menebarkan aroma bau harum semerbak seakan di dalam ruangan rahasia itu memang terdapat sebuah taman luas yang ditumbuhi beraneka jenis tanaman bunga. Tanpa keraguan empu Balawa langkahkan kaki memasuki ruangan Peristirahatan dan Ketenteraman itu. Begitu kaki kanan menginjak lantai dimulut pintu terdengar suara klik....

Byar! Ruangan yang gelap gulita berubah menjadi terang benderang. Empu melihat empat batu putih yang terdapat di empat penjuru dinding ruangan menyala. Si kakek melangkah lebih ke dalam.

Langkahnya terhenti begitu kedua kakinya menyentuh batu bundar yang terdapat di tengah ruangan itu.

Sambil menghela nafas dalam-dalam orang tua ini selanjutnya duduk di atas batu bundar berwarna putih perak. Dan duduk bersila dengan dua tangan diletakkan di atas lutut selayaknya seseorang yang hendak melakukan tapa. Dia menyempatkan diri memperhatikan setiap sudut penjuru ruangan yang luas itu. Di sebelah kanan dinding ruangan Empu Balawa melihat ratusan gambar orang yang memeragakan jurus silat. Sang empu menggelengkan kepala. Sementara mulut berucap.

"Aku sudah tak membutuhkan semua itu. Mungkin bocah malang yang baru datang diluar sana yang masih membutuhkannya."

Setelah berkata demikian empu Balawa palingkan kepala ke bagian dinding sebelah kiri.

Pada dinding itu dia melihat gambar sebuah benda bulat benda yang tak lain adalah ujud dari dunia itu sebagian berwarna putih sebagian berwarna hitam dan sebagian lagi berwarna abu-abu.

Sekali lagi empu Balawa gelengkan kepala

"Gambar dunia.Dengan simbol tiga warna memiliki tiga arti. Yang putih melambangkan kehidupan di jalan yang lurus. Yang hitam melambangkan banyak yang hidup di jalan yang sesat, jalan keliru dan membolehkan segala cara. Sedangkan yang kelabu kuyakin melambangkan kehidupan antara hitam dan putih dan keduanya dijalani tanpa rasa bersalah.Untuk apa semua itu diperlihatkan kepadaku. Aku adalah orang yang hendak mati. Aku tidak pernah berbuat jahat apalagi melakukan tindakan tersesat.Lalu dimanakah taman impian yang pernah dijanjikan para dewa kepadaku?"

Tanya si kakek.

Orang tua ini kemudian menoleh ke belakang.

Tidak ada apa-apa yang terlihat di sana terkecuali gambaran kehidupan di masa lalu. Dan ketika empu Balawa menatap ke depan.

Dia melihat kuda.

Melihat gambar kuda terpampang di dinding sang empu pun berucap.

"Kuda simbol dari kerja keras, tak menyia-nyiakan waktu, pandai memanfaatkan keadaan, sabar dan tekun. Siapa saja yang bisa memanfaatkan lima syarat itu, tidak dapat dipungkiri dunia berada dalam genggamannya. Ah, mengapa itu yang terlihat dan diperlihatkan padaku. Di manakah Kayangan, dimanakah Swargaloka yang menjadi impianku!"

Batin si kakek.

Lelah orang tua ini mencari.

Segala impian hidupnya untuk mencapai Swargaloka mungkin hanya tinggal angan-angan belaka. Padahal seumur hidup hingga menjelang akhir hayatnya sang empu merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa.

Seluruh hidupnya dia baktikan untuk menebar kebajikan. Apakah semua yang dilakukannya selama ini sia-sia?

Empu Balawa menjadi pasrah. Perlahan matanya terpejam. Baru saja mata dipejamkan.

Sayup-sayup empu mendengar suara mengiang ditelinganya.

Suara mengiang yang sama sebagaimana yang pernah dia dengar ketika berada di dalam pondoknya.

"Empu Balawa. Hidupmu seharusnya berakhir hari ini. Tapi berkat kemurahan dewa dan kebijaksanaan dewa-dewa dikayangan, usiamu diperpanjang hingga dua tahun ke depan. Selama dua tahun itu kau tak lagi diizinkan keluar dari dalam ruang Peristirahatan & Ketenteraman. Kau diharuskan bertapa, kau boleh mengucapkan doa-doa atau memuji kebesaran Pemilik Langit Bumi sebanyak banyaknya. Dengan begitu diakhir hidupmu nanti dewa berkenan mengangkat harkat dan martabat hidupmu setelah dirimu berada di alam keabadian." 

Tak menyangka kesempatan hidupnya bertambah dua tahun, Empu Balawa yang sudah siap menghadapi kematian tentu saja terkejut. Perpanjangan usia itu kiranya tidak membuat sang empu merasa senang. Dengan masih tetap terpejam dia berkata.

"Seratus dua puluh tahun usiaku sudah cukup panjang. Mengapa harus ditambah lagi. Aku sudah merasa lelah menjalani hidup ini. Aku ingin menghadap gusti Pangeran yang telah menciptakan aku! Bagaimana menurutmu wahai Suara Kebenaran Yang Suci?"

Bertanya sang empu karena hatinya merasa tidak puas.

"Kau sudah melangkah sejauh ini. Semua kebaikanmu dicatat dalam kitab kebaikan pula.

Sekarang kau harus menjalani tapa brata. Manusia harus menerima segala pemberian yang diatas dengan rela. Yang menjadi hak setiap manusia adalah berusaha. Hubunganmu dengan dunia luar sudah terputus. Tapi ingat satu hal. Sebelum pintu rahasia ruang Peristirahatan dan Ketentraman

benar-benar tertutup dan sebelum hak bicaramu dengan manusia tertutup. Apakah kau pernah berpikir, mengingat atau merasakan beban batin penderitaan yang dialami oleh orang malang yang berjodoh dengan pedang saktimu?"

Empu Balawa terdiam. Dalam diamnya dia terus berpikir dan mengingat-ingat. Tanpa sadar air mata kemudian bergulir menuruni pipinya yang keriput.

"Topeng Hitam Selaksa Maut Raja Pedang?" Desis empu Balawa tanpa sadar.

"Bencana hebat telah menimpa dirinya. Dia bahkan tak ingat namanya sendiri. Hidupnya penuh kesengsaraan dan penderitaan. Keluarganya lenyap, kekasihnya terbunuh. Harta kekayaan dirampas. Penderitaan kesengsaraan dan perlakuan keji yang dilakukan Gagak Anabrang itu yang membuatnya bertahan-hidup. Dia manusia yang malang. Dalam segala kemalangannya adalah aneh pedang sakti Penggebah Nyawa yang kubuat bisa berjodoh dengannya. Apakah berarti aku telah melakukan satu kekeliruan karena membuat pedang itu?"

Kata empu Balawa bertanya. Sebagai jawaban si kakek mendengar suara ngiang di telinganya. "Tidak ada yang salah dengan tindakanmu membuat pedang itu. Mungkin memang sudah

demikian jalan hidup yang harus dilalui Raja Pedang. Dia hidup dengan segala dendam kesumat yang menggunung di dalam hati. Dan hendaknya engkau ingat empu sebelum hak bicaramu dengan manusia terputus apakah kau tidak ingin mengatakan barang sepatah kata pada pemuda itu?"

"Bukankah aku sudah tidak diizinkan keluar lagi dari tempat ini." "Memang."

"Lalu bagaimana aku bisa menemuinya?"

"Dia yang akan datang menemuimu. Saat ini dia menuju ke sini!" Kata suara kebenaran.

Apa yang dikatakan suara kebenaran ternyata tidak berlebihan.

Tidak berselang lama di depan pintu rahasia muncul seorang laki-laki berpakaian hitam membekal sebilah pedang berangka hitam sedangkan wajahnya terlindung sebuah topeng yang juga berwarna hitam. Walau empu dalam keadaan memejamkan mata namun dia tahu di depan pintu batu duduk bersimpuh Topeng Hitam Selaksa Maut atau yang lebih dikenal dengan julukan Raja Pedang.

Dan Raja Pedang merasa lega begitu melihat empu Balawa tidak mengalami cidera setelah sempat bentrok dengan empu Saladipa.

"Orang tua yang sangat aku hormati. Maafkan diriku yang terlambat datang memberi bantuan." Kata Raja Pedang dengan kepala tertunduk dan dua tangan merangkap ke depan dada. Empu

Balawa tersenyum. Namun dia tetap memejamkan mata. Dengan mata terpejam pula dia menjawab. "Aku tidak apa-apa wahai orang yang menyembunyikan wajah di balik topeng. Bagaimana nasib

empu tua congkak dan rakus itu?"

Tanya si kakek. Suaranya datar tanpa dendam juga tidak menunjukkan rasa permusuhan.

"Aku hanya meminta sebelah tangannya. Tapi bila dia berani datang kemari mengganggu empu.

Maka aku akan memenggal kepalanya," Jawab Raja tanpa keraguan.

"Dia tak mungkin datang lagi. Kurasa dia akan mencarimu karena pedang ditanganmu untuk diberikan pada Gagak Anabrang yang menjadi majikannya,"

Terang empu Balawa. Wajah yang tersembunyi dibalik topeng menyeringai .

"Majikan empu gila harta itu tak akan pernah mendapatkan pedang. Aku akan datang menghabisi Gagak Anabrang dan juga semua orang yang menjadi kaki tangannya. Mereka semua harus mati." "Aku tahu bagaimana perasaanmu, pemuda malang. Aku tidak menganjurkan kau berbuat salah

sepanjang hidupmu. Tapi aku juga tidak melarang kau untuk menuntut balas atas segala apa yang dilakukan oleh Gagak Anabrang padamu dan keluargamu. Sebelum kau pergi meninggalkan tempat ini. Satu hal ingin aku ketahui. Apa sebenarnya yang dicari Gagak Anabrang selain pedang Penggebah Nyawa?"

Kening di balik topeng berkerut. Sepasang mata menatap tajam pada empu Balawa. Walau tidak melihat empu Balawa sadar dirinya ditatap dengan pandangan penuh curiga. Tidaklah heran, buru-buru empu Balawa membuka mulut.

"Kau jangan salah sangka. Aku bertanya seperti ini karena ketika datang empu Saladipa ada mengatakan. Ada sebuah benda sangat berharga yang menjadi incaran Gagak Anabrang. Dia mengatakan benda itu ada padamu!"

"Hmm, soal benda itu saya tak dapat menceritakannya pada empu. Maafkan saya. Bukannya saya tidak mempercayai empu. Tapi biarlah sebuah rahasia saya simpan sampai akhir hayatku empu. Aku juga menjamin Gagak tak akan mendapatkan benda itu."

Empu Balawa manggut-manggut. Walau kecewa namun dia tak memaksa Raja Pedang menceritakan yang ingin diketahuinya. Kemudian tappa pernah menceritakan tentang tapa yang hendak dijalaninya. Empu Balawa berujar.

"Raja Pedang atau siapapun dirimu ini. Aku mengucapkan terima kasih atas kehadiranmu. Sekarang kau boleh pergi. Lakukanlah apa saja yang ingin kau lakukan. Aku berharap sekaligus memohon padamu jangan pernah datang lagi ke pondokku di gunung Sumbing ini." 

"Eeh, apa maksudmu empu. Dan lagi pula mengapa kau berada di dalam ruangan ini. Apakah benar seperti yang empu katakan dulu. Empu benar-benar hendak pergi jauh?"

Tanya Raja Pedang kaget sekaligus merasa sedih. Sedih karena sebagai orang yang mewarisi pedang dia belum dapat membalas budi baik empu Balawa.

"Jangan katakan bahwa empu akan berpulang. Saya telah banyak kehilangan orang-orang yang begitu baik dan perhatian pada saya empu."

Kata Raja Pedang dengan suara bergetar mata berkaca-kaca menahan sedih.Empu Balawa tersenyum arif.

"Tak perlu risau. Banyak yang datang banyak pula yang pergi meninggalkan dunia ini. Yang Kuasa memberiku tambahan waktu membersihkan diri. Aku tidak jadi mati hari ini, Satu hal pesanku padamu, tidak semua manusia itu jahat. Pasti ada yang baik dan punya niat membantu, memberi dengan tulus. Kepada manusia seperti itu kau harus bersikap baik."

"Terima kasih empu. Aku merasa lega kau tidak pergi hari ini. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi!" "Pergilah! Aku selalu berdoa untuk keselamatanmu wahai manusia yang tak dapat mengingat nama sendiri."

Raja Pedang anggukkan. Setelah jatuhkan diri berlutut memberi penghormatan pada empu Balawa, Raja Pedang pun bangkit berdiri lalu tinggalkan sang empu. Si kakek tersenyum. Tak lama setelah senyumnya lenyap dia berujar.

"Suara Suci suara Kebenaran. Hakku untuk bicara telah kupergunakan. Sekarang hubungan telah kuputus. Semua urusan lainnya kuserahkan kepada para dewa dikayangan."

"Ucapanmu didengar. Permintaanmu dikabulkan!" Terdengar ngiang ditelinga Empu Balawa.

Setelah suara mengiang lenyap.

Di depan pintu terdengar suara bergemuruh. Pintu bergeser menutup.

Selanjutnya sunyi tak terdengar apa-apa lagi.

******

Halaman rumah gedung megah yang dinding dan lantainya berlapis emas nampak sunyi di malam hari.

Walau sepi namun beberapa penjaga yang kebanyakan adalah orang bayaran berkepandaian tinggi sedang berjaga di setiap penjuru sudut.

Tidak sembarang orang bisa mendekat apalagi memasuki gedung, terkecuali mereka yang sudah dikenal atau punya hubungan dekat dengan penghuninya yaitu Gagak Anabrang.

Ketika empu Saladipa memasuki pintu gerbang utama beberapa penjaga berada di tempat itu segera membuka pintu.

"Apakah junjungan ada di dalam gedung?"

Bertanya si kakek yang kehilangan tangan kirinya sambil meringis menahan sakit. Sang penjaga menatap ke arah kakek di atas punggung kuda dengan kening mengernyit heran.

Dia melihat tangan empu Saladipa yang berlumuran darah. Penjaga ini ingin bertanya, namun dia tidak berani.

Karena itu sang penjaga segera menjawab. "Yang mulia junjungan ada di dalam."

"Hm, tolong urus kudaku."

Lalu kakek berusia tidak kurang dari seratus tahun ini segera melompat turun dari kuda. Setelah membungkuk sebagai tanda penghormatan, penjaga itu menarik tali kekang kuda lalu menuntunnya ke tempat yang teduh tak jauh dari pekarangan yang terdapat di sebelah kiri gedung.

Setelah itu empu Saladipa bergegas menuju pintu depan. Sementara itu sepeninggalnya empu ahli pembuat keris ini, penjaga yang duduk di gardu berbisik kepada sesamanya. "Pergi dengan tubuh utuh tak kekurangan sesuatu apa. Kini dia kembali dengan tangan kiri buntung. Apa yang terjadi dengan empu tengik itu?"

Kata penjaga yang bertubuh kurus. Sang temannya yang duduk didepannya tidak segera menjawab. Mata menatap ke arah empu yang melangkah menjauh dari gardu. Kemudian dengan hati-hati dia berucap.

"Mungkin sesuatu yang sangat hebat telah terjadi dengannya. Kita semua tahu empu Saladipa adalah tokoh sakti. Bukan cuma pandai membuat keris tapi juga memiliki jurus serta pukulan hebat. Orang sehebat dia jika sampai mendapat cidera berat apalagi kehilangan tangan sudah pasti mendapat lawan yang benar-benar tangguh."

"Sekarang dia kena batunya!" Gumam penjaga ketiga.

"Heh, jangan sembarangan bicara. Kalau dia mendengar kita bisa mendapat masalah besar," Kata pengurus kuda empu Saladipa.

Rupanya dia sudah terbiasa mengurus kuda sehingga tak lama telah kembali lagi bergabung dengan teman-temannya

"Dia benar! Kita urus saja semua yang menjadi tugas kita," seru yang duduk di ujung gardu. Semua parjaga di dalam gardu akhirnya saling diam.

Tidak berani lagi membicarakan sang empu.

Sementara Empu Saladipa setelah sampai di depan pintu segera mengetuk pintu.

Tak lama setelah pintu diketuk dari dalam ruangan terdengar suara jawaban berat tersendat. "Siapa?"

"Ampun junjungan. Saya empu Saladipa ingin datang menghadap junjungan."

Jawab empu Saladipa sambil bungkukkan badan seolah sudah berhadapan dengan majikannya. Dari sikap yang ditunjukkan empu Saladipa untuk menemui orang yang berada di ruang dalam,

maka jelaslah bahwa empu Saladipa sangat menghormati dan takut pada Gagak Anabrang.

"Oh, monyetku ahli pembuat keris. Ternyata kau sudah kembali! Pintu tidak terkunci!" kata orang di dalam. Si kakek mendorong pintu. Begitu pintu terbuka dia pun jatuhkan diri berlutut di depan seorang laki-laki berpakaian serba hijau berkumis tipis, dengan wajah selalu tersenyum selayaknya seorang bocah polos tanpa dosa. Laki-laki itu duduk diatas sebuah kursi. Karena kursi yang didudukinya berukuran lumayan besar sedangkan tubuhnya kecil pendek membuat dirinya terbenam tenggelam ke dalam sandaran kursi kebesarannya.

"Maafkan saya junjungan. Saya telah melakukan tugas seperti yang junjungan Gagak Anabrang perintahkan pada saya."

Kata empu Saladipa tanpa berani mengangkat wajah apalagi bertemu memandang kepada laki-laki bertubuh kecil yang tak lain Gagak Anabrang adanya. "Kau telah kembali wahai monyet sahabatku."

Potong Gagak Anabrang sambil tersenyum. Belum sempat empu Saladipa anggukkan kepala, Gagak Anabrang lanjutkan ucapan.

"Pesanku telah kau sampaikan pada empu Balawa?" "Benar junjungan."

"Lalu kau kembali tanpa membawa serta empu itu. Malah kulihat kau kehilangan sebelah tanganmu. Apa yang terjadi? Kau kalah hebat dengan empu tengik itu? Apa jawabmu monyet sahabatku?"

Kata Gagak Anabrang.

Kemudian selayaknya bocah yang polos dia pun tertawa.

Berkali-kali dirinya disebut 'monyet sebenarnya empu Saladipa risih juga.

Walau di lubuk hati dia merasa tidak bisa menerima, namun dia harus maklum dengan kebiasaan Gagak Anabrang yang selalu menyebut 'anjing atau monyet' pada orang-orang kepercayaannya.

Sebutan aneh seperti itu bagi Gagak Anabrang merupakan cara menyapa yang paling sopan.

Disamping itu empu Saladipa juga menyadari, Gagak Anabrang memang dikenal sebagai orang yang paling kaya di seluruh tanah Dwipa.

Selain mempunyai kekayaan yang luar biasa.

Dia juga mempunyai kaki tangan dan pengikut setia yang semuanya berkepandaian tinggi.

Tidak hanya sampai disitu Gagak Anabrang mempunyai seorang istri yang konon berasal dari kerajaan siluman kera Putih.

Sedangkan sembilan istrinya yang lain berasal dari manusia biasa.

Laki-laki itu justru banyak mendapat dukungan dari istrinya yang siluman.

Dengan segala kekayaan serta dukungan yang dimiliki Gagak Anabrang maka manusia hebat berilmu tinggi sekalipun akan berpikir dua kali untuk menentangnya.

Karena selalu mendambakan kehidupan mewah serba berkecukupan maka satu-satunya jalan bagi empu Saladipa untuk mendapatkan kesenangan dan benda-benda berharga dari Gagak Anabrang adalah dengan cara mengikuti apa saja yang diperintahkan padanya walau setiap ucapannya kadang menyakitkan.

"Junjungan yang saya hormati. Saya sebenarnya hampir dapat membawa empu Balawa kehadapan junjungan. Tapi tiba-tiba saja Raja Pedang manusia laknat itu muncul menolong empu Balawa. Kami terlibat perkelahian sengit. Empu pembuat pedang melarikan diri. Sedangkan saya cedera oleh Raja Pedang,"

Jawab empu Saladipa setelah sempat terdiam beberapa jurus lamanya. Dan tentu saja penjelasan empu Saladipa sebagian besar hanyalah dusta belaka.

Karena untuk menutupi rasa malu. Jauh sebelum berangkat ke gunung Sumbing, Empu ini sesumbar dapat membawa empu Balawa secara paksa karena ilmu kesaktian yang dia miliki jauh lebih tinggi dari empu pembuat pedang.

Mendengar empu Saladipa menyebut nama Raja Pedang, Sepasang mata Gagak Anabrang yang bundar polos membulat besar.

"Raja Pedang! Dia adalah seonggok duri di dalam hidupku. Selama dia masih hidup tidurku tak pernah nyenyak, makan pun tak terasa enak," gumam laki-laki itu dengan mata menerawang, kemudian layangkan pandang ke arah si kakek.

"Empu...!"

"Saya junjungan!"

Empu Saladipa buru buru menyahuti.

"Aku berharap selagi aku bicara kau menatapku empu. Kalau kau terus menerus menunduk itu berarti adanya rasa takut ataukah ada suatu rahasia yang kau sembunyikan?"

Empu Saladipa diam-diam merasa kaget.

Namun dia cepat mengangkat wajah dan memandang laki-laki bertubuh kecil yang kini duduk diatas pangkuan istrinya yang baru.

Sekedar diketahui istri ke sepuluh Gagak Anabrang usianya terpaut lima puluh tahun dari suaminya.

"Junjungan. Tidak ada yang saya rahasiakan. Saya hanya merasa takut bertatap pandang dengan junjungan. Saya takut nanti junjungan menganggap diri saya tidak bersikap sopan."

"Ha ha ha! Untuk rasa kesopananmu itu kau pantas mendapatkan hadiah lima puluh keping emas!"

Berkata Gagak Anabrang disertai gelak tawa.

Dia merogoh saku celana hijaunya yang gombrang kedodoran seperti sarung.

Dari balik kantong dia keluarkan lima puluh keping emas dan langsung dilemparkan pada empu Saladipa.

Mendapat hadiah begitu banyak, dengan tangan kanan si kakek memunguti emas yang bertaburan di depannya.

Kepingan emas lalu dia masukkan ke balik kantong perbekalan. Melihat sikap tamak sang empu, Gagak Anabrang malah tersenyum.

"Bagaimana monyetku. Kau bisa buktikan sendiri, betapa aku adalah orang yang paling pemurah di muka bumi. Sayang kau gagal membawa empu pembuat pedang itu kehadapanku. Padahal aku telah berjanji akan memberimu hadiah yang sangat besar bila kau berhasil melakukan tugasmu."

"Maafkan saya junjungan. Raja Pedang terlalu cepat dan terlalu tangguh bagi saya. Kalau saja dia tidak muncul disana, saya pasti dapat membawa kepala empu Balawa kehadapan junjunganmu,"

Jawab si kakek membela diri. "Begitu?"  

Gumam Gagak Anabrang sambil manggut-manggut. Setelah sempat menatap tangan si kakek yang buntung sebatas pangkal lengan Gagak Anabrang melanjutkan ucapannya!

"Empu, untuk tanganmu yang lenyap dipenggal Raja Pedang sudah jelas aku tak dapat menggantinya. Lalu apa permintaanmu sebagai imbalan atas tanganmu yang buntung itu? Kau tinggal menyebutkan nanti aku akan mengabulkannya."

Empu Saladipa terdiam sejurus lamanya.

Dia pun ingat dengan kebiasaan Gagak Anabrang. Diam-diam berkata dalam hati.

"Aku tidak akan bersikap tolol mengulangi kesalahan orang terdahulu yang pernah dekat dengannya. Aku tak mungkin minta imbalan atau hadiah sebagai pengganti tanganku. Apalagi aku tahu tugas yang diberikan padaku mengalami kegagalan. Aku mengenal kebiasaan jahat lakilaki satu ini. Dia suka membunuh orang yang gagal melakukan tugas namun minta imbalan."

Maka buru-buru si kakek menjawab.

"Junjungan sekaligus sahabat kuhormati. Sebagai orang yang tak mampu melakukan tugas dengan baik. Saya sama sekali tidak mengharap imbalan apaapa. Cukup bagi saya persahabatan diantara kita tetap berjalan sebagaimana sebelumnya."

"Tapi kau telah kehilangan sebelah tanganmu. Apakah kau merasa tidak rugi?"

Potong Gagak Anabrang dengan sikap menunjukkan rasa simpati. Empu Saladipa menggeleng, Dia bahkan tersenyum.

"Tidak junjungan. Mungkin tangan kiri saya memang tidak berguna tak dapat melaksanakan tugas yang junjungan berikan. Tapi kehilangan tangan bagi saya tidak berarti apaapa dibandingkan harus kehilangan sahabat sebaik junjungan."

Jawaban empu Saladipa ternyata sangat melegakan Gagak Anabrang. Dalam hati dia berucap. "Empu monyet pembuat keris yang satu ini ternyata cukup cerdik. Dia tak termakan ucapan dan

jebakanku. Kalau saja dia berani menuntut meminta imbalan sebagai pengganti tangannya yang tak berguna, malam nanti aku pasti perintahkan Rai Nini istriku untuk menyeret sekaligus mempersembahkannya pada raja Kera."

Walau hati berkata begitu, namun mulut tetap berkata manis.

"Empu Saladipa. Hatimu mulia. Kau tidak tergiur tidak pula silau melihat kekayaanku yang menggunung. Aku suka bersahabat dengan orang sepertimu. Sekarang kau boleh istirahat. Aku akan memanggil beberapa tabib hebat untuk mengobatimu."

"Terima kasih junjungan. Budi baik dan kemuliaan hati junjungan tak akan saya lupakan Tapi bagaimana dengan Raja Pedang?!"

Tanya si kakek sebelum berlalu tinggalkan ruangan mewah itu. "Hmm... Raja Pedang. Aku ingin dia tertangkap dalam keadaan hidup."

"Mengapa tidak dibunuh saja. Dia sangat berbahaya sekali. Lagi pula dia mengancam akan menghancurkan tempat ini."

"Dia berkata begitu padamu?" Desis Gagak Anabrang tenang. "Ya."

"Dia sengaja membiarkan kau hidup agar dapat menyampaikan pesan itu padaku?" Dengan malu-malu empu Saladipa anggukkan kepala.

"Tidak mengapa. Bagus seandainya dia benar-benar berani datang ke tempat ini. Walau begitu aku tetap harus menunda kematiannya karena ada yang dibutuhkan oleh putriku darinya, rahasianya ada padanya. Aku menyayangi anakku Arum Dalu. Andai saja ada gadis lain yang mau menggantikannya..."

Gumam Gagak Anabrang. "Maksud junjungan?1" Tanya si kakek.

"Eeh, tidak! Lupakanlah. Sebaiknya sekarang tinggalkan ruangan ini. Para tabibku pasti akan membantu menyembuhkan lukamu!"

"Baiklah junjungan," Ujar si kakek.

Sekali lagi dia bungkukkan badan.

Setelah bungkukkan badan tiga kali, Empu Saladipa beringsut tinggalkan ruangan.

Dalam perjalanan menuju tempat penginapan yang tersedia diluar gedung empu ini terus saja memikirkan ucapan Gagak Anabrang.

"Gerangan apa yang dirahasiakan Gagak Anabrang. Dia mengatakan ada yang penting dalam diri Raja Pedang. Dan rahasia itu sangat dibutuhkan putrinya Arum Dalu. Apa yang terjadi dengan Arum Dalu. Gadis cantik jelita yang hanya memunculkan diri di tengah keluarganya di malam hari? Gagak Anabrang menyembunyikan sebuah rahasia penting menyangkut anaknya? Dia tidak mau mengatakannya padaku, mengapa? Padahal aku ini termasuk salah seorang sahabatnya,"

Pikir empu Saladipa. Dia terus berpikir sampai otaknya terasa panas dan rambutnya yang putih tambah gatal.

"Ah persetan. Rahasia apa pun yang disembunyikan jahanam kecil itu aku tak perduli lagi. Yang penting bagiku bisa hidup senang dan enak tanpa harus bekerja keras. Kalau aku pandai mengambil hati dan menyenangkan perasaannya, maka kehidupanku dimasa yang akan datang pasti jauh lebih baik,"

Gumam empu Saladipa sambil terus melangkah. Sementara itu seperginya empu Saladipa. Gagak Anabrang yang pembawaannya selalu tenang dan bersikap ramah bersahabat ternyata tak dapat lagi berlama-lama duduk dipangkuan istrinya yang muda dan cantik.

Dia bergegas tinggalkan gedungnya yang megah lalu berjalan menuju ke arah selatan. Dalam kegelapan laki-laki itu tidak jalan sendiri.

Saat menelusuri jalan berliku dipenuhi batu-batu licin dia ditemani oleh pengawalnya yang paling setia bernama Lor Gading Renggana.

Berkat manusia setengah mahluk bertubuh raksasa namun bodoh dan bisu itu pula setiap bepergian Gagak Anabrang tak perlu berjalan kaki, berlari ataupun menunggang kuda.

Dia cukup duduk diatas bahu Lor Gading....

Setelah itu manusia setengah mahluk itu akan mengantarkan Gagak Anabrang kemanapun yang diinginkan.

"Malam ini kau harus membawaku ke tempat rahasia di kali Boyo. Aku ingin membicarakan urusan yang sangat penting dengan sahabat dan kaki tanganku!"

Kata Gagak Anabrang sambil mengusap menepuk kepala Lor Gading yang diselubungi kain hitam.

Tidak ada jawaban terkecuali suara lenguh seperti suara sapi.

Tapi begitu suara melenguh lenyap Gagak Anabrang segera dibawa berlari dengan kecepatan laksana terbang.

*****

Kedua laki-laki bersaudara kembar itu untuk sejenak lamanya sama berpandangan.

Setelah memandang tajam pada Raja dengan sorot mata penuh rasa benci kemudian mereka berpaling pada si gemuk berpakaian hitam bertubuh pendek.

Satu-satunya dari tiga Penjagal Iblis Teluk Santuang yang selamat.

Kepada laki-laki yang terus menangis sambil menggerung meratapi kepergian kedua sahabatnya itu. Ayudra Bayu si wajah burung hantu berkata.

"Rakatiri! buat apa kau memanggil orang yang sudah mampus dan gosong begitu. Apakah tidak ada keinginan dalam hatimu membalas dengan menghabisi pemuda gondrong yang telah membunuh mereka?!"

"Kau harus menebas leher pemuda aneh sialan itu dengan golok besarmu pengganti nyawa dua sahabatmu!"

Kata Ayudra Tirta memanasi.

Tetapi kemudian si gemuk pendek mengambil keputusan yang sungguh berada diluar dugaan Ayudra Bayu dan adiknya. Rakatiri bangkit, namun cepat gelengkan kepala. Kemudian dengan suara tersendat dia membuka mulut.

"Semua ini salahku. Aku tidak mendengar kata emak. Jika aku tidak bergabung dengan kalian, kedua temanku tidak akan menjadi korban?"

"Hah...!"

Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta sama terkejut tak menyangka pengikut sekaligus pengawalnya bakal bicara seperti itu.

"Kau sadar dengan ucapanmu itu?" Hardik Ayudra Tirta.

"Au bukan orang yang suka mabok, bagaimana mungkin aku tidak sadar dengan apa yang aku ucapkan!"

"Bangsat jahanam! Kami memberimu kehidupan yang layak kau malah tak tahu diri tak mengenal rasa terima kasih. Mampuslah..." teriak Ayudra Tirta. Sekonyong-konyong dia hantamkan tangan kanannya yang teraliri tenaga sakti ke depan. Karena Ayudra Tirta tepat berada di belakang Rakatiri. Tentu saja serangan itu dapat mengenai punggungnya.

Tapi Rakatiri yang memegang golok tidak tinggal diam. Sambil memutar tubuh.dia kibaskan golok ke belakang berniat menghancurkan pukulan maut yang dilancarkan oleh Ayudra Tirta. Cahaya putih menyilaukan mata berkiblat saat golok melabrak deru pukulan ganas bekas majikannya itu. Tapi tebasan golok yang dilancarkan itu ternyata tak mampu menembus serangan Ayudra Tirta. Golok terpental hancur menjadi kepingan. Rakatiri keluarkan seruan kaget. Dia melompat kesamping lalu secepat kilat jatuhkan diri hindari kepingan golok yang berbalik menghantam dirinya.

Rakatiri selamat. Serpihan golok berdesing di atas kepala. Sebagian di batang pohon. Sebagian lainya terus berpentalan dalam kegelapan. Rakatiri segera bangkit, namun belum sempat dirinya tegak berdiri. Ayudra Tirta kembali lepaskan pukulan saktinya. Kali ini dari telapak tangan laki-laki berwajah mirip macan tutul itu menderu butiran putih bening tak ubahnya kepingan kaca. Puluhan kepingan berbentuk runcing seperti jarum itu sesungguhnya adalah butiran air membeku. Berkat kesaktian yang dimiliki dan semuanya bersumber dari kekuatan air, bekuan air itu kini berubah menjadi senjata yang sangat dahsyat. Rakatiri yang sudah mengenal kehebatan ilmu pukulan yang dilancarkan Ayudra Tirta terbelalak sekaligus keluarkan seruan kaget

"Jarum Tirta Pembunuh!"

Sadar dengan ganasnya pukulan yang dilakukan bekas majikannya. Tidak ada waktu lama bagi Rakatiri untuk berpikir.

Dia bertindak nekat siap mengadu jiwa. Sambil melompat mundur satu tindak.

Dua tangan yang telah dialiri tenaga dalam segera dia dorong ke depan. Wuus! Wuus!

Dua larik cahaya ungu berkiblat menderu sedemikian rupa layaknya kipas raksasa.

Ketika dua cahaya ungu berbentuk kipas menyapu puluhan batangan putih tak ubahnya jarum, terdengar suara.

Tess!

Beberapa butiran air berbentuk jarum hancur tapi sisanya yang dapat menerobos menjebol cahaya berbentuk kipas ternyata jauh lebih banyak lagi.

Rakatiri terkesima.

Dia melepaskan pukulan susulan.

Namun pukulan yang dilepaskannya kalah cepat dengan serbuan bekuan air berbentuk jarum. Brees!

Tep! Tep!

"Wuargkh...!

Rakatiri menjerit keras, tubuhnya terjengkang ketika sedikitnya tujuh butiran air berbentuk jarum menghujam di sekujur tubuhnya.

Butiran air itu menembus tubuh dari bagian depan hingga ke belakang.

Ayudra mendengus disertai seringal mengejek

"Kadal gemuk tidak tahu diri.Ilmu baru seujung pucuk bambu hendak melawan diriku." geram Ayudra Tirta.

Kembarannya Ayudra Bayu ikut pula menimpali.

"Bangsat tak tahu diri itu memang sudah sepantasnya mampus"

Kemudian mereka berdua dengan sikap tak perduli lagi segera melangkah maju. Empat langkah di depan Raja keduanya tegak berdiri. Sikapnya begitu congkak terkesan memandang enteng. Tapi Sang Maha Sakti Raja Gendeng sendiri nampak tenang dan acuh saja.

Malah pemuda itu menatap Rakatiri yang baru saja meregang ajal dengan mata mendelik.

"Tiga orang yang malang. Dua diantaranya sudah mati konyol, satunya lagi menemui ajal setelah sempat sadar diri dan ingin bertobat Sayang niat baik malah ditanggapi dengan kebencian dan kemurkaan hati. Ah... orang pendek bernama Rakatiri. Aku berdoa diakhir hayatmu. Semoga penguasa langit dan bumi memberi maaf mengulurkan pengampunan. Dan aku juga berdoa semoga kau bisa masuk surga dan bertemu dengan bidadari yang cantik cantik."kata pemuda itu dengan bibir tersenyum namun mata menunjukkan kesungguhan hati.

Perkataan Raja yang lirih itu ternyata terdengar juga oleh kedua Ayudra bersaudara kembar itu.

Mereka menjadi tidak senang. Geregetan bercampur geram Ayudra Bayu berteriak. "Apa maksud ucapanmu itu pemuda aneh bertingkah gila?"

Raja geleng kepala. Wajah tengadah, mata menatap ke langit yang biru dipenuhi taburan bintang. Kemudian sambil memandang langit, seakan ditujukan pada diri sendiri Raja membuka mulut.

"Malam indah di langit, begitu kelihatannya. Pasti banyak bidadari dan gadis gadis cantik merindukan pelukanku."

Sampai disini bibir Sang Maha Sakti lagi-lagi mengurai senyum.

"Di bumi manusia merusak keindahan dengan menghitamkan hari dan memerahkan tanah dengan darah, amarah dan kebencian. Sedikit manusia berhati putih polos, seperti bayi. Kesombongan dan keangkuhan manusia menjadikan hidup porak poranda diwarnai kekacawan. Setiap orang tentunya bebas bicara. Yang tidak bebas tentunya buang angin atau buang hajat sembarangan. Setiap langkah harus memiliki tujuan. Tanpa tujuan manusia seperti daun tua yang gugur lalu ditiup angin dan terbang entah kemana. Ucapanku sudah jelas Kalian seharusnya mengikuti langkah si gemuk pendek. Jelas dia menyadari kesalahannya. Tapi mengapa kalian malah membunuhnya?"

"Ah bicaramu indah sekali. Perlu apa kau mencampuri urusan kami. Apakah kau tidak menyadari bahwa kehadiranmulah yang membuat mereka terbunuh!"

Teriak Ayudra Tirta marah.

"Kau harus mempertanggung jawabkan semua ini!" Kata sengit.

"Lalu?"

"Aku harus menghabisimu!"

Dengus Ayudara Bayu. Raja menyeringai dengan mulut terpencong. "Aku ragu, apakah kalian mampu melakukannya!"

Sahut pemuda itu mengejek

"Bangsat! Kau terlalu meremehkan kami!"

"Dia harus dihabisi secepatnya! Setelah itu kita bisa kembali ke Kutoarjo!" Timpal Ayudra Tirta pula.

Dua kembaran ini serentak bergerak .Tapi belum lagi mereka sempat gebrakan.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara raungan yang disusul dengan lolongan dahsyat. Tidak hanya Raja yang dibuat terkejut.

Kedua kembaran itu juga terkesima.

Sudah sering mereka keluar masuk desa Tretes.

Selama itu belum pernah mereka mendengar suara aneh. Ayudra Tirta dan Ayudra Bayu saling pandang.

Sedangkan Raja diam-diam alirkan tenaga dalam ke bagian tangan. Tapi ketegangan yang menyelimuti diri Raja perlahan berangsur mereda ketika diluar dugaan terdengar ucapan yang ditujukan padanya.

"Sang Maha Sakti Raja Gendeng. Mengingat kedudukanmu sebagai seorang Pangeran pewaris tahta istana langka. Sebaiknya kau tak usah mengotori tangan dengan mengurus dua setan kembar di hadapanmu. Serahkan tugas Itu padaku! Aku akan mencabik-cabik tubuh mereka!"

Kata satu suara.

Belum lagi suara itu lenyap.

Dari dalam gelap diantara deretan rumah-rumah di kanan jalan berkelebat satu sosok hitam besar.

Demikian cepat gerakan sosok itu.

Tahutahu diantara Raja dan dua lawannya telĂ„…h berdiri tegak satu mahluk besar berbulu hitam bermata merah dengan mulutnya yang terbuka dipenuhi gigi-gigi runcing tajam.

Raja yang mengenali mahluk besar berujud anjing itupun berseru.

"Kabut Hitam .Bagaimana kau bisa berada disini? Kau mengikuti aku? Maafkan waktu itu aku pergi belum sempat mengucapkan terimah kasih padamu untuk yang kedua kalinya."

Ujar Raja sambil nyengir.

Kabut Hitam, seperti diketahui ujud yang sebenarnya adalah seorang gadis cantik jelita yang mendapat kutukan dewa karena dengan segala kesaktiannya mencoba mencuri dengar kabar di kayangan, menyeringai.

"Lupakanlah semua budi dan kebaikan hai pewaris istana Pulau Es!"

Ucap Kabut Hitam selayaknya manusia saja. Melihat anjing besar seukuran anak kuda itu bisa bicara Ayudra Bayu dan adiknya tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya.

"Bagaimana anjing itu bisa bicara!"

Desisnya berbisik

"Aku juga heran. Tapi yang cukup mengejutkan benarkah pemuda aneh itu pangeran pewaris sebuah kerajaan?"

Ucap Ayudra Tirta pula.

"Dibalik tingkahnya yang seperti orang gendeng dia memang ada tampang keturunan raja, tapi perduli apa? Kita harus menjalankan tugas. Kita juga telah disumpah hanya patuh pada junjungan Gagak Anabrang."

"Kalau begitu. Kau bunuh pemuda itu, sementara aku sendiri akan berusaha menghabisi anjing jejadian satu ini,"

Bisik Ayudra Tirta. Sang kakak anggukkan kepala. Sementara itu demi melihat dua bersaudara kembar siap melakukan serangan. Kabut Hitam cepat melompat menghadang.

"Apa yang hendak kau lakukan Kabut Hitam?" Bertanya Raja sambil melangkah maju.

"Mereka hendak menyerangmu, Raja. Tapi biarlah aku yang akan melawan mereka! Tugasmu kuambil alih dan kau boleh duduk di tempat yang aman sambil bengong juga boleh,"

Kata Kabut Hitam.

"Aku tidak bisa diam saja. Kedua cecunguk kaki tangan Gagak Anabrang itu telah menimbulkan kesengsaraan dimana-mana. Desa ini adalah salah satunya. Mereka merampas membunuh dan menodai anak istri orang yang mereka anggap cantik. Karena itu sudah selayaknya mereka dapat ganjaran."

"Siapa Gagak Anabrang?"

Tanya Kabut Hitam sambil melirik ke arah Raja yang berada di sampingnya.

"Gagak Anabrang adalah majikan mereka. Dia orang paling kaya di seluruh tanah Dwipa. Tapi kekayaannya didapat karena memeras dan merampas harta benda yang dimiliki penduduk desa yang ada diseluruh tanah Dwipa ini."

Terang Raja.

"Hm, aku baru mendengarnya. Kalau begitu biarkan aku yang akan menghadapi mereka!" "Jangan serakah. Sisakan satu untukku. Aku ingin menjajal sampai dimana kesaktian yang

mereka miliki!"

"Baiklah. Aku ingin bermain-main dulu dengan bangsat berwajah mirip macan tutul itu." "Aku yang mana saja. Yang berwajah mirip burung hantu itu boleh juga."

Sambut Raja.

"Saudaraku. Mari kita habisi dua kecoak kesasar ini bersama-sama !"

Seru Ayudra Tirta. Ayudra Bayu tidak menjawab. Namun sekali berkelebat tahu-tahu dia telah berada di hadapan Raja menyerang pemuda itu dengan satu jotosan diwajah disertai tendangan menggeledek.

"Wwwh! Ganas juga serangannya!"

Kata Raja pura-pura keluarkan seruan kaget namun cepat kibaskan tangan kiri ke atas menangkis serangan sambil menggeser kedua kaki kebelakang hindari tendangan.

Tendangan luput namun jotosan lawan berbenturan keras dengan lengannya. Ayudra Bayu terhuyung sekaligus kibaskan jemari tangannya yang menjadi bengkak,

mengembung.

Sambil menatap lawan diamdiam dia menjadi kaget.

Sedikitpun tak menyangka ternyata tenaga dalam lawan jauh lebih tinggi berada di atasnya. Karena masih yakin dengan kemampuannya tanpa menghiraukan tenaga dan kesaktian lawannya

Ayudra Bayu melompat ke depan.

Dua tangan dipentang, jemari terkembang. Dia merangsak mencecar lawannya dengan menggunakan serangan ganas yang dikenal dengan nama jurus Deru Hujan Melabrak Segala.

Beberapa kejab kemudian saat Raja berada dalam jangkawannya Ayudra Bayu hunjamkan sepuluh jemari tangan ke dada lawan.

Begitu tersentuh dua tangan secepat kilat disentakkan kesamping dengan gerakan merobek.

Sang Maha Sakti yang ingin mengetahui kehebatan ilmu yang dipergunakan lawan melompat ke belakang.

Namun begitu kaki menjejak tanah sepuluh jari yang tetap melekat di dada menghentak Stret!

"Hah..!"

Ayudra Bayu kali ini keluarkan seruan kaget.

Sedikitpun dia tak menyangka serangan ganasnya tak mampu mencabik sekaligus menjebol dada lawan.

Bahkan menembus baju di bagian dadapun tidak.

Sebaliknya dari dalam pakaian itu terlihat ada cahaya kelabu membersit keluar dan menyambar jemari tangan Ayudra Bayu dengan ganas sekali.

"Kurang ajar...! Pakaiannya terbuat dari apa? Mengapa aku tak sanggup merobeknya. Bahkan baju itu mempunyai kekuatan yang dapat menyerangku! Edan..."

Rutuk Ayudra Tirta.

Tidak ada waktu baginya berpikir lebih lama.

Untuk menyelamatkan jemari tangan dari sambaran cahaya kelabu, Ayudra Tirta terpaksa melompat tinggi.

Sambaran cahaya melesat di bawah kakinya lalu menghantam sebuah pagar dinding menjadi kepingan.

Raja menyeringai.

Dia mengusap bajunya sambil menggumam.

"Baju bagus, mempunyai banyak kegunaan. Terima kasih baju terima kasih dewa. Kalian baik semua telah sudi memberi berkah pada baju!"

Dees!

Selagi Raja memuji pakaian saktinya, rupanya Sang Maha Sakti ini berlaku lengah. Melihat kesempatan ini Ayudra Bayu tidak menyia-nyiakannya.

Setelah berjumpalitan di udara, tiba-tiba dia memutar tubuh sekaligus menghantamkan kaki ke wajah Raja.

Terkejut tak menyangka mendapat serangan seperti itu Raja berkelit dari tendangan. Namun gerakan menghindar yang dilakukannya terlambat. Dengan keras tendangan menghantam bahu kirinya. Raja terhuyung.

Dia nyaris jatuh terjengkang.

Namun dengan cepat dia dapat menguasai diri. Baru saja sempat berdiri tegak lawan telah kembali menerjang ke arahnya sambil dua tangan melepas pukulan ganas bertubi-tubi ke tubuh Raja.

Diserang dengan cara begitu rupa Raja segera gerakkan kaki, Kaki bergerak lincah tangan dan tubuh meliuk tak ubahnya ular menari.

Anehnya walau gerakan yang dilakukan pemuda itu terkesan asal-asalan, namun tak satu serangan lawan yang mengenai tubuhnya.

Sebaliknya ketika Raja balas menyerang sambil mengumbar pukulan sakti Badai Serat Jiwa.

Dari kedua tangan pemuda itu menderu segulung cahaya menebar aroma harum disertai berkiblatnya cahaya kuning menyilaukan.

Melihat serangan cahaya yang bersumber dari pukulan Raja, Ayudra Bayu yang telah mengetahui tenaga sakti lawannya sangat tinggi tidak mau mengambil resiko.

Sambil berdiri tegak dua tangan lalu diputar di udara. Sekejab kemudian tangan yang diputar ditarik ke belakang. Setelah itu didorongnya ke depan lalu disilangkan ke dada.

Begitu dua tangan saling bersilangan Ayudra Bayu mengangkat tangan ke atas. Dua tangan kemudian diputar.

Wuuus!

Dari dua tangan yang diputar diudara tibatiba muncul satu cahaya redup hitam berbentuk seperti induk badai lengkap dengan kepala disebelah atas dan ekor di bagian bawah.

"Bunuh.."

Teriak Ayudra Ayu ditujukan pada induk badai yang diciptakan. Tidak menungga lama....

Wuuus!

Induk badai melesat meninggalkan pemiliknya lalu bergulung-gulung dengan ukuran makin bertambah besar.

Badai buatan itu kemudian menyapu sekaligus melabrak ke arah tempat dimana Raja berdiri. "Nah, kalau yang satu ini benar-benar hebat!"

Desis Raja takjub.

Tanpa bergeser dari tempatnya berdiri pemuda ini menekuk kedua lututnya.

Sambil kerahkan tenaga dalam ke bagian tangan dan kaki. Raja melompat ke depan menyongsong datangnya badai.

Sementara tangan didorong melepas ilmu pukulan Cakra Halilintar. Melihat tindakan nekat yang dilakukan lawannya. Ayudra Bayu yang yakin akan kesaktiannya menyeringai.

"Manusia tolol. Sekejab lagi tubuhmu akan hancur seperti daging dicacah."dengus laki-laki itu.

Tapi matanya kemudian mengernyit ketika melihat dari telapak tangan Raja tiba-tiba saja membersit cahaya merah membara berbentuk lingkaran dimana disetiap bagian sisinya dipenuhi gerigi.

"Heaaa...!"

Untuk yang kedua kalinya Raja melepaskan serangan susulan.

Dua cahaya seperti cakra kembali muncul sehingga kini ada empat cahaya cakra yang melabrak ke depan.

Tak dapat dihindari dua pukulan sakti bertemu, beradu di udara menimbulkan suara ledakan berdentum. Badai ciptaan Ayudra Bayu hancur menjadi kepingan dan tebaran asap.

Lelaki itu menjerit keras.

Tubuhnya terguncang, dada sesak seperti remuk.

Namun celakanya dua cakra yang tidak hancur bersama ledakan terus melibas tubuhnya dengan kecepatan sulit dikuti mata.

Untuk menyelamatkan selembar nyawanya, Ayudra Bayu terpaksa jatuhkan diri dalam keadaan terlentang sama rata dengan tanah.

Namun gerakan yang dilakukannya walau cepat namun masih kalah cepat dibandingkan dua cakra cahaya.

Akibatnya cahaya merah menghantam wajah dan juga lehernya. Ayudra Bayu meraung, namun jeritannya terputus.

Darah menyembur dari wajah yang hancur dan tenggorokannya menganga hitam. Ayudra Bayu berkelonjotan tak ubahnya seperti kerbau yang disembelih.

Namun akhirnya tubuh laki-laki ini diam tidak bergerak. Dia tewas saat itu juga.

Ketika mengetahui saudara kembarnya terkapar menemui ajal. Ayudra Tirta menjadi sangat marah.

Karena itu dia merasa sangat benci pada Sang Maha Sakti Raja Gendeng dan ingin rasanya membalaskan segala rasa sakit hati pada pemuda itu secepat yang dapat dia lakukan.

Namun untuk mewujudkan itu ternyata memang tidak mungkin.

Perkelahiannya dengan anjing besar yang semula dia anggap menjadi lawan yang lebih lemah berlangsung seru dan sengit.

Ternyata anjing yang dikenal dengan nama Kabut Hitam itu sangat tangguh dan dapat membaca setiap gerakan serangan yang dilancarkannya. Beberapa kali pukulan yang dilancarkan Ayudra Tirta dapat dielakkan oleh lawan. Dua gebukan yang mengenai tengkuk tidak membuat sang anjing roboh.

Padahal pukulan saktinya dapat menghancurkan bukit karang.

Dan satu tendangan kaki Ayudra Tirta membuat Kabut Hitam terjajar. Kabut Hitam keluarkan suara lolongan disertai suara mengeluh kesakitan.

Sebaliknya ketika Kabut Hitam balas menyerang dengan cakaran kuku dan sergapan taring-taringnya.

Leher dan perut Ayudra Tirta nyaris menjadi korban, Tak punya pilihan lain Ayudra Tirta melompat mundur ke belakang, Begitu jejakkan kaki dia menarik nafas panjang.

Sementara sepasang mata menatap nyalang silih berganti ke arah Raja dan Kabut Hitam "Anjing terkutuk jahanam dan kau pemuda gondrong bernama Raja sialan! Aku muak melihat

kalian. Kau dan anjing betina keparat ini sudah selayaknya mampus di tanganku!"

"Oh, aku menjadi takut mendengar ancamanmu itu. Tapi apakah kau mampu membunuh kami berdua sekaligus?"

Kata Raja yang berdiri tak jauh dari tempat terjadinya perkelahian.

"Kau jangan bergurau. Si kembar satu ini nampaknya akan menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk menghancurkan kita!"

Kata Kabut Hitam. Raja tertawa.

Tapi belum lagi dia sempat menanggapi peringatan mahluk kutukan dewa itu .Tiba-tiba Ayudra Tirta melakukan sesuatu yang tak pernah di duga oleh lawannya.

Diawali dengan teriakan melengking, lakilaki itu lambungkan tubuh ke udara. Begitu melambung tinggi dan mengapung diketinggian.

Orang ini segera rebahkan diri, mulut berkomat kamit, tubuh terus mengambang dan tidak terlihat tanda-tanda akan jatuh.

Bersamaan dengan itu tangan dikibaskan ke bawah disertai teriakan lantang "Inti Hujan Melanda Bumi! Bumi Tenggelam Lautan Meluap!"

Ayudra Tirta berseru menyebut dua serangan ilmu sakti yang dipergunakannya. Teriakan lenyap.

Tubuh laki-laki itu masih berputar di udara tapi kini dalam keadaan menelungkup Wuust!

Weer!

Seperti sebuah roda raksasa yang berputar tangan dan kedua kaki Ayudra Tirta membabat dan menghantam apa saja yang terdapat dibawah dan sekelilingnya.

Anehnya tubuh yang terus berputar itu dapat bergerak naik turun. Sementara dari ujung jemari tangan dan jemari kaki tampak memancarkan air yang segera membeku berubah menjadi batangan jarum saat bersentuhan dengan udara.

Puluhan bekuan air ini laksana anak panah melesat menghantam ke arah Raja dan Kabut Hitam dengan kecepatan luar biasa.

Tak ingin celaka ditambus batangan bekuan air seperti jarum, Raja segera memutar tubuh lalu kibaskan kedua tangan menghalau serangan itu.

Puluhan cairan beku hancur berguguran begitu terhantam deru angin yang berasal dari kibasan tangan Raja.

Sementara tidak jauh dari tempat dimana Sang Maha Sakti berada, Kabut Hitam terus berjibaku hindari terjangan puluhan senjata yang menjadi andalan lawan.

Kabut Hitam akhirnya berhasil menerobos pertahanan lawan.

Sambil melesat diketinggian, mahluk itu gerakan kaki depannya ke wajah Ayudra Tirta. Tapi serangan kuku-kuku yang tajam itu luput.

Kabut Hitam menggeram.

Dia memutar tubuh lalu lancarkan satu serangan berupa terkaman. Wuus!

Grreek!

Terdengar suara kulit dan daging terenggut gigi-gigi yang tajam. Ayudra Tirta sama sekali tidak menjerit atau keluarkan suara sedikitpun. Tapi gerakan tubuhnya yang berputar sedikit oleng.

Laki-laki itu menggeram.

Bahu disentakkan, kaki melambung ke atas sekaligus menyambar bagian perut sang anjing. Kabut Hitam jatuh terpelanting.

Setelah menggerung beberapa kali dia bangkit.

Namun Kabut Hitam dan Raja dibuat terkejut ketika mereka melihat di atas sana lawan tiba-tiba mendorong kedua tangannya ke bawah.

Seketika itu juga terjadi sesuatu yang sulit dipercaya.

Dari kedua tangan laki-laki itu memancar air yang sangat panas luar biasa. Pancaran air menebar kesegala penjuru arah laksana curah hujan.

"Celaka! Lindungi dirimu. Dia hendak memandikan kita dengan air mendidih!" Teriak Raja. Tak punya pilihan lain Raja segera menghunus pedangnya.

Begitu Pedang dalam genggaman.

Senjata itu segera diputar diatas kepala cahaya kuning berkilau bertaburan diudara berkelebat mengerikan disertai suara deru aneh.

Butiran air yang menghantam ke bawah laksana anak panah berpentalan kesegenap arah menghantam apa saja yang terdapat disekeliling mereka.

Kabut Hitam sendiri terpaksa lindungi diri dengan mengerahkan tenaga sakti ke sekujur tubuh. Sejauh itu dia juga berusaha melesat ke atas dengan maksud menyerang bagian perut lawan. Belum lagi segala keinginannya terlaksana.

Diluar dugaan Raja telah melambungkan tubuhnya.

Menggunakan pedang yang terus diputar membentuk perisai yang melindungi diri dari curahan air yang memancar dari tangan lawan. Dengan kecepatan seperti kilat pedang ditusukkan ke dada Ayudra Tirta.

Melihat cahaya kuning berkelebat menyambar dada .Ayudra Tirta mencoba selamatkan diri dengan menyentakkan kaki ke bawah.

Gerakan kaki ini membuat kepalanya tersentak ke atas.

Namun sebelum tubuh yang mengapung itu sempat berdiri tegak sepenuhnya, ujung pedang yang seharusnya menembus jantung justru menghujam di bagian lambungnya.

Ayudra Tirta menjerit tertahan.

Tubuh yang mengapung itu menjadi limbung dan curahan air panas yang memancar dari kedua telapak tangannya terhenti seketika.

Raja menyentakkan pedang dari perut lawan.

Pedang Gila berkelebat di udara kemudian kembali masuk ke dalam rangkanya. Begitu pedang terenggut. Ayudra Tirta jatuh bergedebukan di tanah.

Sungguh hebat daya tahan laki-laki yang satu ini.

Walau terluka parah dan bagian yang terluka banyak menyemburkan darah, namun dia masih berusaha bangkit.

Bersusah payah dia akhirnya dapat berdiri tegak.

Mata jelalatan nyalang menatap ke arah Raja dan Kabut Hitam. Raja bersikap waspada dari segala kemungkinan terburuk.

Hal sebaliknya juga dilakukan Kabut Hitam.

Dan selagi mereka menduga duga gerakan apa kiranya yang hendak dilakukan lawan.

Tiba-tiba Ayudra Tirta berteriak

"Bumi Tenggelam Lautan Meluap! Maka celakalah kalian semua yang berada di sini!" Teriakan Ayudra Tirta itu disusul dengan gerakan tangan yang mengacung ke langit Trat!

Glar!

Kilat menyambar petir menggelegar.

Tubuh Ayudra Tirta yang terkena sambaran kilat bergetar hebat. Tapi dia masih sempat menghampiri saudaranya. "Apa yang akan dilakukannya?"

Teriak Raja "Aku tak tahu."

Sahut Kabut Hitam tercengang. Dia menatap sekeliling tempat itu. Dia melihat penduduk desa berbondong bondong berlarian keluar dari rumah menyelamatkan diri. Mereka begitu ketakutan.

"Lihat! Langit menjadi gelap gulita. Dari berbagai arah terdengar suara aneh seperti gemuruh air!" Seru Sang Maha Sakti. Cepat dia menatap ke depan.

Dia melihat Ayudra Tirta yang tengah menggenggam jemari tangan saudara kembarnya tampak bergetar hebat.

Selain itu tubuh laki-laki itu kini sudah menggelembung besar.

Dalam keadaan aneh dan mengerikan Ayudra Tirta tiba-tiba berteriak.

"Musnahkan semuanya. Penuhi semua daratan dengan luapan air yang datang dari laut dan turun dari langit. Ha ha ha!"

Bum! Bum!

Tubuh Ayudra Tirta meledak di tengah gelak tawanya. Begitu meledak sosoknya berubah menjadi kepingan asap. Raja dan Kabut Hitam tercengang.

Terlebih ketika melihat tubuh Ayudra Bayu juga ikut lenyap.

Sejurus kemudian yang terjadi adalah jerit ketakutan dimana-mana. "Air... air.... Air meluap dan datang dari segala penjuru!"

Teriak kepala desa Kartadilaga yang tergopoh-gopoh keluar dari rumah sambil menggiring anak dan istrinya.

Tidak hanya air yang meluap dan bermunculan dari segenap penjuru.

Di tengah teriakan-teriakan para penduduk yang berusaha selamatkan diri dan keluarganya, hujan pun tiba-tiba turun dengan lebatnya.

Tak dapat dihindari lagi suasana pun semakin tambah kacau.

Melihat kejadian yang aneh. Raja segera berseru ditujukan pada penduduk desa itu.

"Lari cari tempat yang tinggi. Boleh naik ke bukit di ujung jalan ini. Yang lainnya sebaiknya, naik ke atap rumah atau memanjat pohon yang tinggi!"

Kemudian pada Kabut Hitam dia juga berseru.

"Entah keanehan apa yang terjadi. Tapi padamu aku minta tolong bantu anak-anak yang tidak berdaya. Bawa mereka naik mereka ke tempat-tempat yang aman!" "Kau tak usah khawatir. Aku pasti membantu mereka!"

Jawab Kabut Hitam segera berkelebat dalam kegelapan membantu siapa saja yang ditemuinya. Raja sendiri tidak membuang waktu.

Dengan kecepatan luar biasa dia segera menebang batang pohon yang kering. Setiap batang yang ditebang lalu segera diberikan kepada orang-orang di sekelilingnya yang tenggelam akibat tingginya air yang meluap.

"Naik dan bertahan di atas batang pohon itu. Kalian pasti akan akan selamat."

Teriak Sang Maha Sakti yang tidak mengerti bagaimana air bisa naik tinggi dan hampir menenggelamkan seluruh desa Tretes dalam waktu demikian singkat.

Bagaimana nasib Raja dan Kabut Hitam serta seluruh penduduk desa Tretes? Darimanakah asal luapan air yang datang melanda?

Padahal puluhan tahun desa itu selalu dilanda kekeringan? Apakah semua itu ada hubungannya dengan ucapan Ayudra Tirta? Bencana apa yang terjadi selanjutnya?

Siapa Ayudra Tirta dan saudara kembarannya itu? Ikuti Kelanjutannya.

Tamat