Rahasia Si Baju Perak Jilid 02

Jilid 02

Thio Thian-ih menggeleng kepala!

“So Gun-gu punya seorang putera dan seorang puteri," To Yung bercerita lagi. “Sifat kakak beradik ini sangat berlawanan, kalau So Tiong telengas kejam dan licik menyerupai ayahnya, adalah adiknya itu sangat alim cendekia dan tahu menjunjung tata-krama. Selalu dia menentang sepak terjang ayah dan engkohnya   " berkata sampai disini diam-diam To Yung

perhatikan mimik wajah Thian-ih, melihat sikap orang tetap merengut tanpa ambil perhatian akan ceritanya, terpaksa ia alihkan pembicaraan: “Ji-chengcu, tentang pertentanganmu dengan pihak So-keh-pang ini aku yang rendah ada sedikit nasehat, apakah kau suka dengar?"

Cepat-cepat Thian-ih menanyakan soal apakah itu?

Kata To Yung: “Ketahuilah sebelum pembunuhan itu terjadi So Hoan siang-siang telah memprotes rencana engkohnya, maka dia tidak turut campur dalam urusan ini. Maka nanti kalau Ji-chengcu turun tangan carilah saja algojonya, jangan kau melukai atau membunuh mereka yang tidak berdosa.''

Sambil membusungkan dada Thian-ih menyahut: “Soal ini harap To-heng jangan kuatir. Sejak kecil Thian-ih dididik oleh Toako dan Suhu, bajik dan jahat dapat kubedakan, tentu aku tidak akan berbuat sesuatu yang melanggar perikemanusiaan. Terhadap So Hoan aku akan berlaku baik."

To Yung unjuk rasa girang dan puas, katanya: “So Hoan seorang putri yang ayu jelita berusia sembilan belas, pandai sastra dan ilmu silat, sifatnya lemah lembut. Dalam ilmu silat terutama Ginkangnya sudah mencapai kesempurnaannya maka orang memberi julukan Giok-ou-tiap (kupu-kupu kemala)." lalu dia pura-pura termenung sekian lama lantas gumamnya: “Kalau Ji-chengcu dapat mengikat jodoh dengan So Hoan melenyapkan dendam dan sakit hati, bukankah hal ini sangat menggembirakan?”

Dalam hati Thian-ih tertawa geli. “Orang ini menunjuk jalan mencarikan jejak musuh supaya sakit hatinya terbalas, namun membujuk juga secara halus supaya aku mempersuntingkan adik kandung musuh besarku. Haha, dalam kolong langit ini rasanya belum pernah terjadi urusan yang janggal dan aneh ini. Bukankah sangat goblok dan menggelikan.” Namun bagaimana juga hakikatnya orang bermaksud baik, terpaksa ia harus melayani dengan sopan: “Terima kasih akan maksud dan perhatian To-heng, sebelum dendam ini terbalas maaf aku tak dapat memenuhi harapanmu."

To Yung menjadi kurang senang, katanya uring-uringan, “Baiklah soal ini jangan dibicarakan lagi. Ji-chengcu sudah larut malam engkau perlu istirahat. Maaf aku tidak dapat mengiringi kau ke Ci-bong, biar kita berpisah saja disini, kalau ada jodoh pasti kelak kita bertemu lagi. Kupujikan Ji-chengcu berhasil menuntut balas." lalu dia memutar tubuh hendak berlalu.

Cepat-cepat Thian-ih menahannya: “To-heng, tunggu sebentar. Numpang tanya dimanakah tempat tinggalmu? Aku Thio Thian-ih kalau beruntung masih hidup, budi To-heng yang besar ini tentu kubalas."

To Yung tersenyum ewa, ujarnya: “Ah, itukan urusan kecil. Bagi kalangan Hiap-gi (pendekar) sudah sepantasnya saling bantu. Kuharap urusan ini tidak menjanggal dihati Ji-chengcu, tentang membalas budi apa segala aku tidak berani terima. Empat lautan adalah rumahku, jejakku tak menentu, jikalau ada jodoh pasti kelak bertemu lagi, tak perlu kau capekan diri mencari aku." lantas dengan langkah lebar ia bertindak keluar. Kebetulan angin malam menghembus agak kencang sehingga jubah panjangnya sedikit tersingkap, sekilas terlihat oleh Thian-ih pedang panjang orang tersoreng dipinggangnya. Tergerak hati Thian-ih sesaat ia melongo waktu ditegasi lagi bayangan To Yung sudah menghilang tanpa bekas. Tersipu-sipu Thian-ih memburu keluar, diluar gelap gulita bintang bertaburan diatas langit laksana jamrut, angin menghembus sepoi-sepoi hawa rada dingin. Ilmu ringan tubuh To Yung ini sungguh harus dipuji, dalam sekejap mata tahu-tahu bayangannya sudah menghilang entah kemana.

Esok harinya waktu bersantap pagi, Thian-ih ceritakan apa yang didengarnya kepada Siu Kheng-in bertiga. Mendengar jejak musuh besar telah diketahui sungguh girang Siu Kheng-in bertiga bukan buatan, maka bergegas mereka melanjutkan perjalanan dengan semangat yang menyala-nyala.

Lima hari kemudian mereka sampai disebuah kota yang bernama Bong-im, kota kecil ini sudah masuk dalam wilayah pegunungan Ci-bong. Semakin dekat tempat tujuan, mereka berlaku semakin hati-hati dan waspada.

Hari itu mereka beranjak ditengah jalan pegunungan, terik matahari panas luar biasa. Siu Kheng-in dan Kiau-si Hengte tidak kuat lagi menahan dahaga. Beberapa li kemudian jauh-jauh terlihat dipinggir jalan didepan sana terdapat sebuah gardu, mereka menduga tentu dalam gardu itu tersedia air untuk minum, maka cepat-cepat Siu Keng-in bertiga mengeprak kuda membedal maju.

Memang didalam gardu ini tersedia segentong air, namun tidak kelihatan bayangan seorang jua, ini sangat mengherankan dan membuat Thian-ih yang cermat menaruh curiga. Karena tertinggal agak jauh maka ia berteriak: “Siu-toako dan Kiau-toako, jangan kau minum dulu air itu !”

Dasar Siu Kheng-in memang seorang ceroboh dan berangasan, karena tidak kuat lagi menahan dahaga serta dilihatnya gentong berisi penuh air jernih, kian menambah seleranya, tanpa peduli seruan Thian-ih langsung ia menciduk segayung air terus diminumnya.

Saat mana Kiau-si Hengte juga sudah ambil cawan menunggu giliran mengambil air, serta mendengar peringatan Thian-ih mereka melengak dan merasakan adanya firasat jelek.

Belum lagi mereka bergerak mendadak terdengar cawan jatuh hancur berantakan, waktu mereka menoleh tampak kedua mata Siu Kheng-in melotot besar, keringat bertetes-tetes, mulutnya dipentang megap-megap tanpa dapat mengeluarkan suara lagi, kedua tangan mencekik leher sendiri maka dilain saat tubuh besar yang kekar itu roboh terkapar tanpa berkutik lagi.

Waktu Thian-ih memburu tiba keadaan Siu Kheng-in sudah sangat payah, wajahnya sudah hitam legam, tujuh lobang indranya mengalirkan darah hitam, keadaan ini mirip benar dengan kematian adiknya tempo hari. Keruan bukan kepalang kejut dan duka hati Thian-ih. 

Lucu adalah keadaan Kiau-si Hengte, mereka berdiri termangu ditempatnya sambil menyekal cawan airnya, ciut dan mendelu hati mereka.

Lama kelamaan tubuh Siu Kheng-in semakin kaku dan semakin dingin, tak lama kemudian lantas menghembuskan napas untuk selama-lamanya.

Kedatangan Hek-san-siang-ing adalah untuk menyatakan turut belasungkawa atas kematian Thio Thian-ki, kini hendak membantu pula mencari musuh besarnya. Siapa kira akhirnya mereka juga berkorban menyusul arwah engkohnya karena mati keracunan. Sungguh perih dan pedih rasa hati Thian-ih, airmata meleleh deras.

“Ji-chengcu ! Lihatlah apakah ini?" mendadak Hek-hong-piau Kiau Keng berteriak kaget sambil mencabut sebatang anak panah yang tertancap diatas tiang gardu. Dibuntut anak panah ini terikat sebuah bambu kecil.

Kuatir anak panah ini juga beracun, Thian-ih kenakan sarung tangan yang terbuat dari kulit kijang, lalu dengan cermat ia periksa anak panah itu. Anak panah ini dibuat sedemikian halus dan indah, diatas batang anak panah ini terukir seekor kelabang terbang berwarna merah darah.

“Hm, jadi Kelabang terbang So Tiong yang telah berbuat sekeji ini," Kiau Keng menggeram gusar.

Dengan hati-hati Thian-ih cabut bambu kecil itu lalu dari dalamnya ia lolos keluar secarik kertas yang penuh berisi tulisan, beramai mereka membaca: “Disekitar pegunungan Ci-bong, Keluarga So menjagoi. Kelabang sakti bersayap, Bagai naga dilangit, air racun meluluh tulang, Dipersembahkan untuk tamu-tamu terhormat."

Seketika berubah air muka mereka. Memang air dalam gentong itu berwarna semu hijau dan berbau wangi. Disini juga terdapat tiga cawan saja, air yang tercecer itu membuat lantai berwarna hitam hangus.

Setelah berunding akhirnya mereka ambil putusan untuk mengubur jenazah Siu Kheng-in ditempat itu juga, sebatang pohon sebagai tanda pengenal.

Kiau-si Hengte semakin getol dan tak kuat menahan sabar, ingin rasanya dapat segera terbang sampai di So-keh-pang untuk membuat perhitungan dengan So Tiong.

Ditengah perjalanan Thian-ih berpikir keras diatas kuda. Bukti sudah menunjukkan bahwa memang So Tionglah yang mengatur semua tipu daya ini untuk menjebak mereka. Tapi masih ada sedikit kesangsian yang membingungkan yaitu bahwa mereka berempat mengapa disana hanya tersedia tiga cawan? Karena maklum akan sifat-sifat Kiau-si Hengte yang berangasan dan berotak bebal susah diajak berunding, maka ia telan saja rasa curiga ini dalam hati.

Setelah melewati sebuah celah gunung secepatnya mereka sudah akan tiba dipesanggrahan So-keh-pang. Justru waktu melalui celah-celah gunung itulah terjadi pula kejadian yang diluar sangka. Jalanan dalam celah gunung ini berbatu dan sangat sukar dilalui, banyak batu-batu runcing yang membahayakan. Perlahan-lahan Thian-ih kendorkan lari kudanya. Tidak demikian halnya Kiau-si Hengte, mereka terburu nafsu ingin segera tiba ditempat tujuan, tanpa hiraukan jeleknya jalan pegunungan mereka terus membedal kuda tunggangan dengan kencang.

Belum jauh mereka berlalu mendadak terdengar suara ringkik kuda yang agak ganjil. Thian-ih terkejut dan segera memburu maju. Masih sempat terlihat olehnya Kiau Keng terjungkal dari atas kudanya terkena sebatang anak panah. Dilain kejap Kiau Sim memutar kencang senjatanya melesat keatas batu gunung mencari jejak musuh yang telah membokong dengan anak panah tadi.

Lekas-lekas Thian-ih memburu tiba didekat Kiau Keng yang terkapar ditanah, sebatang anak panah menancap dalam diatas pundaknya, darah yang mengalir keluar berwarna hitam, terang panah itu beracun. Keruan Thian-ih kelabakan, cepat ia keluarkan obat berusaha menolong, anak panah itu menancap sangat dalam, setelah susah payah baru dapat dicabut keluar. Namun Kiau Keng sudah tak ingat diri, napasnya kempas kempis badan mulai kaku.

Tak lama kemudian Kiau Sim kembali tanpa hasil, gusar dan duka mengaduk hatinya. Saat mana cuaca sudah mulai petang, kuatir musuh datang membokong lagi, mereka menjaga bergantian. Sementara itu Kiau Sim tengah bekerja keras mengorek dan memotong daging disekitar luka dipundak Kiau Keng untuk mencegah hawa racun menjalar. Tapi agaknya usahanya sia-sia belaka, karena racun sudah meresap kedalam tulang dan mengalir mengikuti aliran darah terus menerjang jantung. Badan Kiau Keng semakin hitam, keadaan ini seperti kematian Hek-san-siang-ing yang telah mendahului menghadap Giam-lo-ong.

Selang tak berapa lama napas Kiau Keng mulai sesak, tubuhnya kejang dan dingin. Thian-ih berdua hanya mendelong saja tanpa dapat berbuat banyak. Tatkala itu sang malam telah mendatang, keadaan dalam lembah pegunungan sangat gelap menakutkan, angin malam menghembus keras menderu-deru. Thian-ih berdua tak berani gegabah, sampai tengah malam mereka masih bersitegang leher, akhirnya Kiau Keng menghembuskan napas juga. Kiau Sim jatuh pingsan mengantar keberangkatan arwah engkohnya.

Anak panah yang menancap dipundak Kiau Keng mirip benar dengan panah yang menancap ditiang gardu tempo hari, diatas batang panah itu terukir seekor kelabang terbang pertanda julukan So Tiong.

Tak lama kemudian selesai mereka mengubur Kiau Keng, haripun terang tanah, Thian-ih berdua melanjutkan perjalanan. Waktu berangkat mereka berempat, kini tinggal berdua saja, didepan masih banyak rintangan yang diatur So Tiong untuk menjebak dan mencelakai jiwa mereka. Setiap tindak mereka maju semakin tertekan perasaan hatinya, was-was dan takut.

Pada tengah hari itu baru mereka sampai di ambang pintu besar markas besar So-keh-pang yang tertutup rapat, sedemikian indah dan megahnya bangunan So-keh-pang ini dikelilingi pagar tembok yang tinggi, diluar tembok dilingkari pula sungai yang lebar dan dalam, jembatan gantung terkerek tinggi, naga-naganya mereka sudah bersiap menanti kedatangan mereka. Kalau menurut adat Kiau Sim yang berangasan ingin segera ia menyerbu masuk. Tapi Thian-ih mencegah katanya: “Kita belum tahu seluk beluk mereka, lebih baik kita bertindak secara hormat bertandang."

Tiba di ujung jembatan gantung Thian-ih dan Kiau Sim hentikan kudanya, segera Kiau Sim berteriak memperkenalkan diri dan minta bertemu dengan pihak tuan rumah.

Tidak berapa lama pintu besar perlahan-lahan dibuka, jembatan gantung juga diturunkan. Disusul pasukan berkuda yang dipimpin dua muda mudi berjalan keluar. Pakaian mereka mewah menyolok, dari gerak gerik mereka dapat diketahui bahwa mereka tidak membekal senjata.

Begitu angkat senjata Kiau Sim hendak menerjang maju, untung Thian-ih keburu mencegah serta bujuknya: “Sim-heng, jangan berlaku sembrono dan kurang adat. Kita sudah berhadapan masa kuatir mereka bisa terbang kelangit? Berlaku hati-hati dan bertindak melihat gelagat, sebelum terang duduk perkaranya janganlah turun tangan."

Sementara itu, So Tiong dan So Hoan sudah mendatangi. Waktu ditegasi ternyata So Tiong adalah seorang pemuda yang gagah berusia 20-an, setelah dekat segera ia angkat tangan memberi salam dan katanya berseri: “Ji-chengcu dan Kiau-toako datang dari jauh, kita berdua tidak keburu menyambut lebih pagi harap dimaafkan.'' tingkah lakunya sangat hormat dan kenal sopan santun, nada perkataannya juga lemah lembut. Entah tersembunyi muslihat apalagi dibelakang mulutnya yang manis merdu itu.

Thian-ih masih dapat menahan perasaan, lain halnya dengan Kiau Sim yang kasar, karena geram air mukanya merah padam, napasnya tersengal-sengal menahan gusar.

So Tiong heran melihat sikap tamunya yang ganjil ini, namun lahirnya ia berlaku tenang, katanya: “Tuan-tuan tentu capek melakukan perjalanan jauh, silakan beristirahat di-dalam sambil bercakap-cakap !" lalu ia pimpin Thian-ih berdua memasuki markas besar So-keh-pang.

Diam-diam Thian-ih waspada dan bersiaga. Kiau Sim juga tidak kalah tegang, senjatanya dicekal kencang. Beramai-ramai mereka memasuki sebuah ruangan besar, dimana biasanya partai keluarga So sering mengadakan sidang atau rapat ditempat ini.

Begitu melangkah kedalam ruangan besar ini Kiau Sim semakin bersitegang leher, matanya mendelik jalang, sikapnya kasar dan garang.

Sekilas So Tiong melirik kearah So Hoan sambil mengerutkan alis, berbagai pertanyaan mengaduk dalam benaknya. Segera ia perintahkan bawahannya untuk menyediakan meja perjamuan, dengan sikap manis dan sabar So Tiong terus layani tamu-tamu aneh yang tak diundang ini. Kiau Sim sudah berulang kali hendak mengumbar wataknya, tapi Thian-ih berlagak pikun dan menggeleng kepala tanda tak setuju.

Selesai mereka mandi dan ganti pakaian, sementara itu meja perjamuan juga sudah siap sedia. Dengan hormat So Tiong dan adiknya menyilakan para tamunya duduk. Lantas So Tiong angkat sebuah cawan arak seraya berkata: “Atas kunjungan Ji-chengcu dan Kiau-toako ini bila kami menyambut kurang sempurna harap kalian suka memberi maaf. Dengan secawan arak ini kami berdua sampaikan salam hangat dan kami ucapkan selamat datang !”

“So Tiong!" tiba-tiba Kiau Sim membentak keras sambil menggebrak meja. “Ditengah jalan kau sudah meracuni engkohku sampai mati, apa sekarang kau hendak mencelakai jiwaku pula."

So Tiong berjingkrak kaget, serunya: “Kiau Toako, apa-apaan omonganmu ini, mana aku ada maksud mencelakai kalian?"

Kiau Sim semakin beringas, teriaknya: “Arak beracun dalam cawan ini apa kau berani minum?"

“Sungguh lucu dan menggelikan," seru So Tiong agak dongkol karena dituduh semena-mena, “Mengapa aku harus takut?" dengan langkah lebar ia memutar menghampiri tempat Kiau Sim lalu sekali tenggak ia kosongkan cawan arak orang.

Setelah sekian lama dinati-nantikan tiada tampak reaksi apa-apa keruan Kiau Sim tercengang dan malu. Sebaliknya So Tiong tertawa gelak, ujarnya: “Aku So Tiong selama hidup meng- hadapi sobat secara jujur. Kiau-toako agaknya terlalu banyak curiga, biarlah semua hidangan disini kita coba dulu, apakah ada tercampur racun atau tidak."

Seorang pelayan segera maju menuang arak dalam dua cawan besar. Tanpa sungkan-sungkan So Tiong dan So Hoan mendahului meneguk arak dalam cawan itu, lalu So Tiong angsurkan cawannya kepada Kiau Sim. Sedang So Hoan dengan wajar tanpa rikuh-rikuh membawa cawannya kehadapan Thian-ih, dengan laku sangat manis ia haturkan secawan arak itu sambil berkata: “Ji-chengcu silakan kau juga minum."

Keruan kejadian ini membuat Thian-ih berdua merasa canggung dan tak enak hati, akhirnya terpaksa Thian-ih buka suara coba memancing: “Pertama-tama sukalah kalian memaafkan kedatangan kita yang lancang dan merepotkan ini. Soalnya engkohku Thio Thian-ki kedapatan meninggal dalam wilayah ini, berkat bantuan kalian baru jenazahnya dapat dihantar pulang. Maka dengan kesempatan ini aku Thio Thian-ih menghaturkan beribu-ribu terima kasih!"

“Kalau dikata memang sangat disesalkan," demikian sahut So Tiong, “Engkohmu memang teraniaya dan meninggal secara mengenaskan didalam gedung bobrok bekas markas kita dulu, tapi hakikatnya kita tidak tahu menahu tentang kejadian itu sebelumnya, ini harus dibuat malu, jejak musuh pula belum kita ketemukan, ini merupakan noda hitam bagi kaum kita." waktu berkata wajahnya mengunjuk rasa cemas dan menyesal tak terhingga.

Sebaliknya Thian-ih membatin: “Bangsat ini pintar pura-pura dan main sandiwara untuk mengingkari dosanya.” Ia mendengus lalu desaknya lagi: “Kudengar bahwa Sutitku Hi Si-ing berada disini, harap sukalah dibawa keluar untuk menemui aku."

So Tiong terkejut, tanyanya: “Siapa bilang Hi Si-ing berada disini. Jangan toh melihat kenalpun tidak pada Hi Si-ing apa segala. Memang dari Ciu-toako kita dengar bahwa Hi Si-ing itu jatuh pingsan disamping jenazah Suhunya waktu ditemukan oleh Ciu Hou. Tapi waktu Ciu Hou mem- bawa kita kembali kesana ternyata Hi Si-ing itu telah lenyap entah kemana perginya?”

Sudah tentu Thian-ih tidak akan mau percaya pada keterangan ini, karena menurut hematnya kenyataan sudah membuktikan bahwa So Tiong inilah biang keladi pembunuhan itu, tapi masih berani mungkir, agaknya perlu ditelanjangi dengan bukti-bukti muslihatnya baru nanti membuat perhitungan, maka sambil menahan gusar segera ia hendak membuka mulut, tapi keburu didahului oleh Kiau Sim, terdengar ia bicara dengan suara sember: “So Tiong, dengan alasan apa kau meracuni Hek-san-siang-ing, ditengah jalan telah membokong engkoh pula sehingga tewas. Kau kau masih berani mungkir?" habis berkata segera ia memburu maju

sambil mengulur tangan mencengkeram dada So Tiong. Sigap sekali So Tiong lompat menyingkir sambil serunya kejut: “Kiau-toako, tahan! Ada omongan baiklah dirundingkan mengapa main kekerasan! Kau menuduh aku meracuni Hek-san-siang-ing dan engkohmu, apakah artinya ini?"

“Apa artinya?" hardik Kiau Sim beringas, “Hatimu lebih tahu. Hari ini kau harus menebus jiwa mereka bertiga." Kala ini ia menggerakkan senjata hendak menyerang pula.

Tapi dari samping So Hoan menyela: “Kiau Tayhiap, mengapa kau bolehnya menuduh engkohku. Sebetulnya apa alasan kita untuk membunuh orang yang tidak bermusuhan dengan kita. Apakah tuduhanmu ini tidak semena-mena, kau berani menuduh pasti mempunyai bukti-bukti, jangan sok mau menangnya sendiri!"

Tanpa banyak bicara lagi Kiau Sim merogoh keluar bungkusan kulit kijangnya terus dibeber diatas meja. Serta melihat isi dalam buntalan itu tanpa merasa So Tiong berdua tercengang dan saling pandang.

Tegur Kiau Sim: “Panah beracun ini kucabut dari pundak engkohku, apa kau berani mungkir lagi?"

Seketika wajah So Tiong pucat pasi. Melihat perobahan sikap orang tanpa ragu-ragu lagi Kiau Sim menggerung keras hendak melabrak musuhnya.

“Nanti dulu!" suara So Hoan terdengar kereng berwibawa. Dengan sepasang Sumpit So Hoan mengangkat anak panah itu dan memeriksa dengan teliti. Mendadak ia timpukan anak panah itu keatas meja sehingga menancap berdiri. Lalu katanya: “Ji-chengcu, Kiau-toako, agaknya kalian telah salah paham! Ketahuilah bahwa panah ini bukan milik engkohku."

Sebetulnya Thian-ih dan Kiau Sim sudah bersiap untuk turun tangan, serta mendengar ucapan So Hoan ini serta merta mereka merandek dan terkejut.

Sementara itu, So Tiong juga tengah memeriksa anak panah itu, lalu katanya: “Tidak salah lagi, panah berbulu ini memang bukan milikku. Satu hal harus kutekankan dulu bahwa panahku tidak dipolesi racun, apalagi ukiran kelabang di batang panah ini juga tidak bersayap. Memang bentuknya saja panah ini mirip dengan kepunyaanku. Sungguh keji pembuat panah ini, jiwa orang lain dijadikan korban untuk melaksanakan niat jahatnya."

“Aku tidak percaya," bentak Kiau Sim dengan garang.

“Kalau Kiau-heng tidak percaya, biarlah adikku mengambil panahku untuk dibanding dengan panah ini. Panahku semua berjumlah 13 batang, sudah lama tidak kugunakan, nanti bisa kita periksa dan bandingkan bersama.”

Tanpa diminta lagi segera So Hoan berlari masuk, sebelum pergi sekilas ia melirik kearah So Tiong, agaknya ia kuatir akan keselamatan engkohnya.

Semua ini tidak lepas dari perhatian Thian-ih, segera terbayang olehnya ucapan To Yung yang mengatakan bahwa kakak beradik ini katanya selalu berselisih. Tapi dari apa yang sekarang disaksikan sendiri, naga-naganya keterangan To Yung itu perlu disangsikan kebenarannya.

Begitu So Hoan berlalu, So Tiong menuang arak untuk Thian-ih dan Kiau Sim, katanya: “Agaknya ini hanya salah paham saja, silakan kalian menanti sebentar, duduk perkara sebenarnya pasti dapat kita bikin terang bersama."

Ketika ia maju kedepan Kiau Sim hendak menuang arak, sekonyong-konyong berkelebat secarik sinar perak, disusul Kiau Sim menggerung kesakitan berbareng melancarkan pukulan menyampok poci dan cawan arak. Pukulan ini menggunakan sisa tenaganya, keruan So Tiong seketika merasa kedua tangannya linu pegal badan juga sempoyongan mundur.

Sigap sekali Thian-ih memburu maju, namun Kiau Sim sudah meringkuk lemas di lantai, senjatanya masih erat dipegangnya, mulutnya megap-megap tanpa bersuara. Keadaan ini seperti juga kematian Kiau Keng tempo hari, terang bahwa diapun terserang senjata rahasia yang beracun jahat itu.

Dengan bukti nyata didepan mata ini, tak dapat Thian-ih berlaku sungkan lagi, bentaknya mendelik: "So Tiong, keluarkan obat penawarnya!"

Sepasang tangan So Tiong terluka dan membengkak besar, tapi ia berusaha mengelakkan diri: “Ji-chengcu, jangan terburu nafsu, bukan aku yang membokong Kiau-toako!"

“Sret," saking sengit Thian-ih melolos pedang, semprotnya: "Bukti sudah didepan mata kau masih berani menyangkal. Kalau bukan kau lalu siapa yang berbuat. Memangnya kalian orang So-keh-pang adalah bangsat kurcaci yang pandai menggunakan akal licik membokong orang. Biar hari ini aku belajar kenal dengan kalian sampai titik darah penghabisan."

Keruan So Tiong semakin gugup dan mencak-mencak, kedua tangannya sudah tak dapat bergerak, tapi ia berusaha memberi penjelasan: "Ji-chengcu, sabarlah dulu, kejadian ini memang agak ganjil, pasti bukan aku "

“So Tiong tutup mulutmu," Thian-ih menghardik bengis. “Keluarkan senjatamu mari kita selesaikan urusan ini dengan senjata, tak mungkin kau lari dari tanggung jawab ini."

Habis berkata ia melangkah ketengah ruangan lalu bercekak pinggang dengan gagahnya. Waktu ia melirik ke arah Kiau Sim, tampak kepalanya sudah terkulai, mungkin racun bekerja terlalu cepat hingga jiwanya susah ditolong lagi.

Sementara itu karena ribut-ribut ini, beberapa tokoh-tokoh lihay atau tertua dari So-keh-pang telah memburu tiba, melihat Pangcu mereka terluka banyak yang maju melindungi dan ada pula yang berpencar mengurung Thian-ih.

“So Tiong, kau pengecut! Hayo maju lawanlah secara jantan." demikian tantang Thian-ih dengan marahnya. “Seorang laki-laki harus berani bertanggung jawab akan perbuatannya. Mana itu keenam algojo berkedok hitam suruh mereka keluar terima kematian !"

Wajah So Tiong pucat membesi, belum sempat ia membuka mulut, mendadak Thian-ih sudah memutar pedangnya dengan jurus Yan-bwe-lian-poh (burung kepinis melintas gelombang) tahu-tahu sinar pedang berkeredep menyamber sehingga berpetakan sekuntum bunga yang indah sekali. Seketika para anak buah So-keh-pang yang mengepung disekitarnya tersurut mundur terdesak oleh angin kekuatan samberan pedang yang menyilaukan mata. Menggunakan peluang ini, segesit belut tiba-tiba tubuh Thian-ih berkelebat merangsang maju kearah So Tiong.

Sebenarnya kedua tangan So Tiong membengkak besar dan tak bisa digerakkan, serta melihat dirinya diserang, untuk membela diri terpaksa dia angkat tangan untuk menangkis sambil menahan sakit. Untung sebelum ujung pedang Thian-ih sampai, dua anggota So-keh-pang yang menjaga disampingnya sudah mendahului mencegat didepannya. Kedua orang ini bertubuh tinggi besar, satu diantaranya menggunakan senjata tongkat pendek, sedang yang lain bersenjatakan golok. Serentak mereka menangkis sambil balas menyerang.

Terpaksa Thian-ih berkelit mundur, darah semakin bergolak bahna marahnya, bentaknya: “Kamu minggir atau kalian ini juga termasuk algojo-algojo yang berkedok itu?"

Orang yang bersenjata golok tertawa dingin, jengeknya: “Bukan. Keluarga So selamanya berlaku lurus dan jujur, belum pernah ia melukai orang secara menggelap. Ji-chengcu sebaliknya kau keterlaluan, bukan saja kau memaki dan menghina partai kami malah kau melukai Pangcu kita. Mengingat kau seorang gagah seorang tamu yang terhormat sebisa mungkin kita menahan sabar, tapi sabar ada batasnya. Bila masih berani melukai Pangcu lagi, lihatlah seluruh kaum So-keh-pang bersiap untuk gugur sampai titik darah penghabisan!"

Ancaman ini bukannya meredakan amarah Thian-ih malah seperti api disiram minyak. Soalnya ia tidak percaya lagi pada obrolan orang-orang keluarga So, memang sudah jamak bagi seorang pembunuh tidak gampang mau mengakui perbuatan jahatnya. Bahna gusar pikirannya menjadi keruh dan semakin tenggelam dalam nafsu angkara murka.

Secara tak terduga tiba-tiba pedangnya berkelebat secepat kilat menggunakan jurus Liu-cwan-beng-sia (aliran deras bergelombang keras) menyampok tongkat dan golok musuh, begitu senjata dan tubuh musuh terpental dan terhuyung mundur sebat luar biasa ia menerobos lewat terus melesat kearah So Tiong.

Agaknya kedua orang So-keh-pang ini sudah bertekad untuk mengadu jiwa demi keselamatan sang Pangcu. Dengan beringas segera mereka mengudak balik sambil mencercah dengan berbagai serangan yang mematikan. Malah siorang bergolok masih sempat berteriak: “Pangcu, menyingkirlah agak jauh, biar kita yang membereskan kurcaci ini !"

“Tidak, jangan," seru So Tiong lantang. "Ini hanya salah paham saja, kita harus bikin terang secara damai. Lekas kalian berhenti, jangan melukai Ji-chengcu."

Karena cegahan ini perhatian sipemegang golok agak terpencar dan sedikit lena, tahu-tahu telapak tangan Thian-ih sudah menyelonong tiba dengan gerak tipu Pek-ya-jwe-gim (Pek-ya memetik harpa), tanpa ampun pundak kirinya kena digablok keras, seketika ia melolong kesakitan terus roboh terkulai ditanah.

Perobahan yang tak terduga ini membuat orang-orang So-keh pang semakin ribut dan getol, ingin rasanya mereka mampuskan orang kurangajar ini, namun terkendali oleh perintah sang Pangcu jadi mereka hanya mengerubut secara serabutan dan tak turun tangan secara sesungguhnya, tapi karena kepandaian mereka tinggi, jumlahnya banyak pula, seketika Thian-ih dibikin gopoh dan mengamuk seperti banteng ketaton. Keadaan yang gawat ini semakin menegangkan sehingga So Tiong terus berteriak-teriak: “Jangan, hentikan, kalian mundur, jangan melukai Ji-chengcu!"

Tapi berkat kepandaian yang tinggi didikan guru besar yang kenamaan Thian-ih masih dapat bergerak bebas diantara kepungan musuh. Begitu tenaga dikerahkan sinar pedang mencorong tambah terang berkelebatan kian kemari semakin gencar. Begitu juga tangan kiri yang tidak membekal senjata saban-saban turut bergerak bebas, menyampok atau memukul senjata dan raga musuh yang terdekat.

Sekonyong-konyong Thian-ih bersuit panjang, tubuhnya berputar melingkar segesit belut, pedangnya ikut diayun berputar membabat sehingga para pengepungnya terdesak mundur. Kesempatan mana digunakan secara kilat oleh Thian-ih dengan jurus Kian-niau-lui-lun (burung manyar menyusup rimba), tubuhnya melejit tinggi terus menukik menerjang kearah So Tiong. Dimana sinar pedangnya menusuk dan menyontek, tahu-tahu pundak So Tiong sudah tergores luka agak parah. Kalau dalam keadaan sehat pasti So Tiong mampu menyingkirkan diri, sayang kedua tangannya susah digerakkan sehingga mempengaruhi gerak geriknya, ditambah perhatiannya tercurah untuk mengendalikan anak buahnya yang sudah mulai kalap maka dengan mudah ia kena terluka oleh senjata Thian-ih. Sambil mengeluh panjang ia terhuyung mundur, darah membanjir bagai air mancur membasahi tubuhnya.

Melihat Pangcu mereka kena dilukai, tanpa komando lagi serentak mereka menerjang dengan membabi buta, sebagian berusaha menyelamatkan sang Pangcu dan yang lain ada yang menyerang kearah Thian-ih. Memang waktu itu pedang Thian-ih telah meluncur lagi hendak menamatkan jiwa So Tiong, sedetik sebelum ujung pedangnya mengenai sasarannya tiba-tiba So Tiong berteriak: “Ji-chengcu, aku tidak salahkan kau, ini benar-benar salah paham.” Tergerak hati Thian-ih pedangnya menjadi ragu-ragu untuk diteruskan.

Sedetik saja karena keraguannya anak buah So Tiong sudah mencegat dihadapannya sambil angkat senjata lempang kedepan terus mendesak maju serempak. Diancam tusukan pedang sekian banyak ini terpaksa Thian-ih harus jumpalitan kebelakang untuk selamatkan diri, dan karena mundurnya ini ia terdesak pula sampai ditengah ruangan. Terdengar suatu komando yang memberi aba-aba maka berbondonglah keluar serombongan anak buah yang membekal anak panah lengkap dengan busurnya terus mengincar kearah Thian-ih tinggal tunggu perintah untuk mengerjakan senjatanya.

Thian-ih insaf bahwa jiwanya terancam maut, kalau tidak berusaha membobol kepungan dan melarikan diri pasti dirinya bisa mati konyol.

Benar juga terdengar siorang bersenjata golok sudah berseru memberi aba-aba: “Perintah Pangcu, panah!" Seketika anak panah bersuitan bagai hujan lebat meluncur kearah Thian-ih. Sudah tentu Thian-ih tidak rela mati konyol, pedang diputar laksana kitiran seumpama air hujan juga susah menembus masuk.

Beruntung So Tiong keburu berteriak mencegah: “Berhenti! Jangan memanah lagi!"

Serentak para juru panah menghentikan serangannya. Keruan Thian-ih berdiri tertegun ditengah kalangan, hatinya bertanya, “apa gerangan maksud So Tiong sebenarnya?”

Sambil menahan sakit berkatalah So Tiong: “Ji-chengcu, ketahuilah bahwa kejadian ini benar-benar salah paham belaka. Entah siapa yang mengadu biru dalam hal ini. Tapi yang terang bukan akulah yang berbuat sekeji itu. Gunakanlah pikiran sehat jangan sampai kau masuk perangkap musuh.”

Betapapun bila teringat kematian kawan-kawannya yang mengiring datang itu, timbul kegusaran Thian-ih, semprotnya sambil mendelik: “So Tiong, jangan kau jual lagak. Pendeknya aku tidak percaya akan obrolanmu. Kau pandai bermain muka dua, bagaimana juga aku bertekad untuk mengambil jiwamu." Thian-ih lampiaskan amarahnya sambil bolang-balingkan pedang panjangnya. Melihat aksi Thian-ih ini, para kerabat So-keh-pang juga sudah siap hendak menyerbu lagi. Tepat sebelum Thian-ih bertindak, tiba-tiba terdengar bentakan halus yang nyaring: “Semua berhenti !” Belum suaranya lenyap sebuah bayangan orang tahu-tahu sudah melayang tiba dengan ringannya laksana burung kepinis dihadapan Thian-ih. Waktu Thian-ih menegas kiranya So Hoan telah kembali, kini orang telah berganti pakaian ringkas dan membekal senjata, sikapnya kaku dan dingin membesi.

Sejenak ia menatap kearah Thian-ih, sinar matanya mengunjuk rasa gusar dan menyesal. Lalu berlari menghampiri kearah So Tiong dan berkata sedih: “Koko, bagaimana lukamu, apakah berat?”

Luka So Tiong masih mengalirkan darah, namun sekuatnya ia bertahan, sahutnya: “Tak usah kuatir, luka ini tidak berat. Adik Hoan, mengapa sampai sekarang kau baru tiba? Terjadi perobahan diluar dugaan. Mendadak Kiau-toako terbokong sehingga menemui ajalnya, Ji-chengcu kurang periksa, dia menyangka aku "

So Hoan menarik muka, katanya kepada Thian-ih: “Ji-chengcu apa kau sudah periksa Kiau-toako terkena senjata rahasia macam apa? Kebetulan masih sempat kupergoki orang itu, karena mengejar pembokong gelap itulah maka aku terlambat datang."

Melihat sikap orang yang serius, Thian-ih menjadi ragu-ragu, mau tak mau ia harus percaya dan bersabar lagi sementara waktu.

“Adik Hoan, siapakah keparat itu? apa kau melihat tegas rupanya?" So Tiong beringsut menahan sakit dan bertanya.

“Ilmu ringan tubuh orang itu lihay luar biasa," demikian So Hoan menerangkan, “Aku telah mengerahkan setaker tenagaku mengejar tapi malah tertinggal semakin jauh! Samar-samar dapat kulihat orang itu mengenakan jubah warna putih perak bersinar kemilau."

Terguncang jantung Thio Thian-ih serta mendengar keterangan So Hoan ini. Bukankah engkohnya Thio Thian-ki almarhum semasa masih hidup suka mengenakan pakaian putih perak semacam itu?

“Siapakah dia?" So Tiong menggumam sambil membanting kaki. “Tiada hujan tiada angin dia mencelakai jiwa orang lantas menimpahkan segala dosa ini keatas pundakku. Adik Hoan, kau harus " Saking banyak mengeluarkan darah, tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga dan

kini tak kuat lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri.

Cepat-cepat So Hoan maju memayang sambil perintahkan anak buahnya mengusung engkohnya kedalam untuk istirahat. Setelah itu ia berpaling dan berkata kepada Thian-ih: “Mari kita kejar jejak orang itu ! Dia lari menuju ke-puncak Gun-u-leng. Disana, hanya ada sebuah jalan buntu, tentu dia takkan dapat menghilangkan jejaknya."

Keadaan Gun-u-leng menjelang petang sangatlah indah permai, sang surya memancarkan beribu sinar kuning keemas-emasan membuat alam sekitar Gun-u-leng seolah-olah berlapis- kan permadani emas berkilau-kilau.

Sambil berlincahan So Hoan membuka jalan didepan diikuti Thian-ih. Sebetulnya ia mengenakan jubah panjang, karena berloncatan lama-lama dia merasa gerah dan kurang leluasa, mendadak ia tanggalkan jubahnya itu terus dilempar ketengah udara. Kejadian ini sangat mendadak keruan membuat Thian-ih melonjak kaget. So Hoan geli melihat tingkah orang, namun ia tidak ambil peduli. Pakaian dalamnya ringkas ketat berwarna hijau mulus, tubuhnya terlihat ramping padat lemah gemulai. Ditimpah sinar sang surya wajahnya tampak semakin cantik molek, lebih-lebih kedua matanya yang bersinar bening menambah kelincahannya.

Saban-saban pedang ditangannya diobat-abitkan untuk membabat tumbuh-tumbuhan liar yang merintang didepan jalan, kadang kalanya pula dibuat sebagal tongkat untuk berloncatan. Meskipun jalan pegunungan sangat jelek tapi ini tidak menjadikan suatu halangan atau rintangan yang berarti, sikapnya wajar dan riang gembira tiada tampak kuatir atau kesal.

Thian-ih mengintil terus dibelakangnya, diam-diam ia membatin: “Aku seorang laki-laki, mengapa aku harus mengandal tenaga seorang perempuan untuk mencari jejak musuh? Bu- kan mustahil sekarang ini dirinya juga telah masuk kedalam perangkap pihak So-keh-pang untuk mencelakai diriku pula? Seorang kesatria mengapa harus mempercayai sepatah kata ucapan perempuan lincah ini, melepas So Tiong malah masuk kedalam perangkap So Hoan, mengapa? Entah dia tak kuasa menjawab pertanyaan ini!

Tiba-tiba terbayang olehnya akan keadaan jenazah engkohnya serta cara kematian Hek-san-siang-ing dan Kiau-si Hengte, tanpa merasa darah mendidih dirongga dadanya. Semakin dipikir ia semakin ragu-ragu untuk melanjutkan pengejaran ini. Tidaklah lebih baik dirinya terang-terangan putar balik menghadapi So Tiong dan minta orang mengeluarkan atau menunjuk keenam orang berkedok itu untuk membereskan pertikaian yang berlarut-larut ini? Seumpama So Hoan merintangi biarlah sekali tusuk saja kubunuh dara ini habis perkara.

Pertentangan batin ini bergejolak dalam benaknya, sesaat ia susah mengambil keputusan, pandangannya termenung ke-depan sana dimana bayangan So Hoan tengah berlincahan, dua kupu-kupu kemala diatas sanggul kepalanya berkilau-kilau. Entah mengapa tangan Thian-ih yang sudah meraba gagang pedang itu tak kuasa melolosnya keluar.

“Hei, Ji-chengcu !” tiba-tiba seruan So Hoan menyentakkan lamunan Thian-ih. “Kau ingin melihat panah milik engkohku tidak? Ini kubawa serta dalam kantongku."

Hati Thian-ih masih mendelu, mendengar seruan itu ia hanya mendengus tanpa bergerak.

Pelan-pelan So Hoan berpaling dan balik kembali menghampiri, sepasang mata yang bening itu dengan tajam menatap wajah Thian-ih, suaranya terdengar halus lembut: “Seharusnya sudah sejak tadi kuperlihatkan kepada kau. Ketahuilah panah engkohku ini sangat istimewa lain dari pada yang lain. Cobalah kau periksa sendiri supaya kau sadar akan kesalahan dan kecerobohanmu......ini, sambutlah!" tiba-tiba tangannya yang putih bagai salju itu mengangsurkan anak panah.

Sebetulnya Thian-ih hendak mengulur tangan untuk menyambut, tiba-tiba. dilihatnya tangan So Hoan bergerak seolah-olah hendak menyambitkan anak panah itu. Kontan Thian-ih berjingkrak kaget dan melompat mundur sambil bersitegang leher.

Terdengar So Hoan mengikik geli, ujarnya: “Hei, kau terkejut tak keruan paran. Kau kira aku hendak membokong? Hm, Ji-chengcu, keterlaluan benar kau. Ketahuilah bahwa pihak So-keh-pang sejak kakek moyangnya turun temurun belum pernah melukai musuh secara gelap main bokong apa segala. Tadi aku hanya berkelakar saja, tapi kau bersitegang leher sedemikian rupa sampai wajahmu pucat ketakutan!” habis berkata ia sambitkan anak panah di-tangannya itu kebatang sebuah pohon dipinggirnya terus berlari tinggal pergi langsung menuju ke puncak sambil tertawa cekikikan.

Thian-ih mencabut anak panah itu dan memeriksanya. Ternyata memang panah itu berbeda dengan panah yang telah membunuh Kiau Keng itu, ukiran kelabang diatas batang panah ini tidak bersayap dan diujung panah ini terukir pula sebuah huruf 'Tiong' tanda dari pemiliknya.

Sesaat Thian-ih terlongong-longong, hatinya risau dan bingung menghadapi kenyataan ini!

Kuatir orang menunggu terlalu lama bergegas Thian-ih menyusul keatas gunung. Tak lama kemudian tampak olehnya sebuah bangunan gedung bobrok yang besar angker tegak berdiri didepannya sana. So Hoan tampak berdiri disebelah samping sana sambil menyoreng pedang ditangan, entah apa yang tengah direnungkan.

Cepat-cepat Thian ih maju menegur: “Adakah yang kau ketemukan ?"

“Tidak,” sahut So Hoan, "Tapi aku berani pastikan bahwa tadi tentu ada orang telah datang kemari.''

Dengan cermat Thian-ih periksa keadaan sekitarnya, sedikitpun tiada menunjukkan sesuatu yang mencurigakan, maka ia bertanya: “Darimana kau tahu kalau tadi ada orang pernah datang kemari?"

“Sejak berumur tujuh tahun aku sering bermain digedung ini," demikian tutur So Hoan, sikapnya sungguh-sungguh. “Keadaan sekitar sini aku sangat apal, sedikit perobahan apapun tentu dapat kuketahui.”

“Menurut apa yang kau ketahui, dimana kiranya orang itu sekarang berada ?'' “Kukira, dia masih belum pergi, mungkin bersembunyi dalam gedung bobrok ini."

Segera Thian-ih lolos pedangnya serta ujarnya: “Biar kumasuk mencari dia. Urusan ini harus segera dapat kubereskan !" sambil menenteng pedang ia beranjak memasuki gedung itu.

Tersipu-sipu So Hoan merintangi serunya: “Ji-chengcu, nanti dulu biar aku yang berjalan dimuka, sebagai tuan rumah aku wajib melindungi tamuku, seumpama kau sampai terbokong pula dan terjadi di Gun-u-leng lagi bukankah dosa So-keh-pang akan lebih besar dan bertambah sukar untuk dicuci bersih?" beberapa kata tajam ini membuat Thian-ih sukar untuk menjawab.

Sebelum bertindak terlebih dulu So Hoan sambitkan beberapa anak panah kearah tempat-tempat gelap didalam sana, tapi tiada menunjukkan suatu reaksi apa-apa.

Selang sejenak baru So Hoan berkata lagi: “Mari kita masuk !" Beriring mereka beranjak masuk kedalam ruangan besar. Dikeremangan malam samar-samar terlihat empat buah peti mati tersebar diempat penjuru. Ternyata diruang besar inilah Thio Thian-ki telah menemui ajalnya. Suasana sunyi senyap seram dan mencekam hati.

Menunjuk keempat buah peti mati itu mulailah So Hoan buka bicara: “Empat diantara keenam orang berkedok itu bersembunyi didalam peti mati itu. Waktu datang engkohmu memanggul sebuah buntalan besar, sekonyong-konyong keempat musuh yang sembunyi dalam peti mati itu hamburkan senjata rahasia hendak merobohkan engkohmu ''

“Jadi waktu peristiwa itu terjadi kau juga berada disini?" tiba-tiba Thian-ih menyela dengan nada menyindir. “Di peti yang mana kau bersembunyi?"

Mendapat tegoran yang pedas ini, sekonyong-konyong So Hoan membanting kaki, agaknya ia marah. Mereka saling membisu beberapa saat dalam kegelapan, akhirnya Thian-ih merasa menyesal akan keteledoran perkataan yang terlalu kurang sopan tadi.

Sesaat kemudian So Hoan membuka suara pula: “Mengapa sedemikian besar curigamu terhadap kami? Bersikaplah sedikit manis. Aku tahu kejadian itu dari penuturan Ciu Hou, sedang Ciu Hou katanya diberitahu oleh Hi Si-ing. Sebenarnya kita tidak bermusuhan dengan engkohmu, dengan alasan apa kau menuduh kita telah mencelakakan jiwanya?"

“Apa benar kalian tidak bermusuhan dengan engkohku ?” tiba-tiba Thian-ih menjengek dengan ketus dan kaku. “Bukankah Gun-u-kong atau ayahmu itu sebelum ajal pernah ber- pesan pada kalian untuk mencari engkohku dan menuntut balas bagi beliau?"

Tampak bayangan So Hoan tergetar mundur, agaknya ia sangat terkejut oleh tuduhan Thian-ih yang semena-mena ini. “Ji-chengcu, siapa yang mengatakan hal itu kepada kau?"

“Ah, mana aku berani mengatakan," sahut Thian-ih sinis. “Jika kukatakan bukankah malah menambah kerepotan saja bagi kalian?"

“Kerepotan apa?" So Hoan bertanya heran.

“Pasti kalian harus berdaya upaya lagi untuk menutup mulut orang itu. Bukankah ini menambah suatu kerepotan?" demikian ejek Thian-ih.

So Hoan tak bersuara, namun terdengar nafasnya agak memburu, agaknya ia tengah menahan gejolak hatinya yang dongkol dan gusar.

Tanpa hiraukan sikap orang, Thian-ih angkat langkah terus maju kedalam. “Apa lagi yang hendak kau lakukan?" segera So Hoan bertanya.

“Aku ingin memeriksa sebelah dalam."

Buru-buru So Hoan berlari kedepannya, beruntun ia sambitkan dulu beberapa anak panah, setelah tiada menunjukkan reaksi apa-apa baru ia berkata: “Bangunan gedung ini sangat ru- mit, waktu ayah masih hidup kita tinggal disini, setelah beliau wafat baru kita pindah kebawah gunung.”

Begitulah sambil bercakap-cakap mereka menggeremet semakin dalam, terdengar So Hoan menyambung ceritanya: “Entah apa sebabnya waktu aku berumur enam tahun gedung jni tiba-tiba terbakar, keadaannya menjadi seperti sekarang ini tak terurus lagi. Semua seluk beluk gedung ini aku apal diluar kepala. Jikalau ada orang sembunyi dipojok mana saja pasti takkan luput dari sambitan anak panahku ini." lalu sambil menimang-nimang anak panah kepunyaan So Tiong, ia berkata lagi: “Meskipun anak panah ini milik koko, tapi dia kalah tangkas dari aku." Thian-ih diam saja mendengar ocehan orang dalam kegelapan.

Keadaan sebelah dalam sini juga tidak kalah gelap dan heningnya, sebenarnya Thian-ih ingin mengajak mencari ketempat lain, tapi entah mengapa tak kuasa ia membuka mulut. Ditengah kegelapan mereka berdiri berendeng dekat satu sama lain, suaranya terdengar lemah lembut laksana kicauan burung dapat melegakan pendengarnya.

Terdengar pakaian So Hoan gemerisik, tiba-tiba ia berjongkok dan duduk diatas sebuah batu. Suaranya riang berkata: “Duduklah. Berdiri terus sangat melelahkan!" ia menepuk sebuah batu disampingnya dan berkata lagi: “Marilah duduk, disini sangat silir dan nyaman."

Sebenarnya Thian-ih segan, tapi rasanya tak enak menolak kebaikan orang, terpaksa ia duduk juga disebelahnya tanpa bersuara. Namun begitu otaknya tengah bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang tengah kuperbuat ini? Bukan aku membereskan urusanku malah berindehoy ditengah malam buta rata. Bukan mustahil memang engkohnya adalah musuh besarku?"

Sudah tentu So Hoan tidak tahu apa yang terkandung dalam benak Thian-ih, terdengar ia masih asyik bercerita: “Waktu aku masih kecil setiap hari kami bermain disini. Cobalah bandingkan kedua batu yang kita duduki ini, satu tinggi besar dan yang lain kecil rendah. Biasa kami bermain berebut Tahta, dari luar pintu depan aku dan koko berlari sekencangnya untuk merebut menduduki batu besar ini. Bagi yang mendapatkan batu besar ini dia menjadi raja, lalu yang lain menjadi Thaykam (dorna). Sang raja boleh memerintah apa saja yang dikehendaki kepada punggawanya ”

Begitulah So Hoan bercerita tentang riwayat semasa kecilnya dengan suara lirih penuh kenangan. Hidup sampai 20-an tahun baru pertama kali inilah Thian-ih mendengar tutur kata orang yang sedemikian lembut mengasyikkan pendengaran. Waktu ia melirik memang tempat duduk So Hoan itu agak besar dan tinggi, ini berarti bahwa dirinya kini menjadi Thaykam yang harus menerima perintah dari junjungannya. Diam-diam Thian-ih geli dan lucu.

Terdengar So Hoan meneruskan: “Kala itu aku berumur 7 tahun, koko lebih besar dua tahun dari aku, sering aku kalah cepat berlari dan selalu menjadi Thaykam. Tapi koko sangat sayang dan baik sekali terhadap aku, saban-saban ia mengalah dengan pura-pura jatuh atau keseleo sehingga aku menang merebut batu besar ini dan menjadi raja. Tanpa sungkan dan mengenal kasihan aku lantas perintahkan dia melakukan sesuatu yang rumit dan sukar untuk menyiksanya. Pernah satu kali aku suruh koko memanjat lereng gunung karang diluar sana untuk memetik sekuntum bunga. Karena kurang hati-hati ia terpeleset jatuh dan luka babak belur, karena takut dia tak berani pulang dan sembunyi digedung ini sampai beberapa hari ”

Sampai disini ia berdiam sebentar, dllihatnya Thian-ih duduk mematung membisu, tiba-tiba ia bertanya: “Thio-toako…eh, Ji-chengcu kau suka dengar ceritaku?”

“Oh, tidak, eeh, ya ya, aku suka mendengar    " Thian-ih menjadi gelagapan.

Sejenak So Hoan berdiam diri lalu berkata lagi lirih: “Apa kau rela aku menjadi rajamu dan memerintah kepada kau?''

Tanpa merasa Thian-ih mengangguk, tapi ini cukup dimengerti oleh So Hoan. Sekilas Thian-ih melihat sinar matanya seakan-akan memancarkan rasa girang. “Tegasnya kau rela menjadi Thaykam?" sambung So Hoan. “Sebagai punggawa kau harus tunduk akan segala perintahku ?"

“Baiklah!" sahut Thian-ih tanpa ragu-ragu lagi. “Tugas apa yang harus hamba lakukan?"

Tapi setelah dinati-nanti sekian lama So Hoan tetap membungkam, samar-samar dilihatnya orang tengah menunduk seakan mengusap air mata, kiranya diam-diam ia telah menangis...

Thian-ih tak enak hati, katanya: “Hoan...... nona Hoan, apa yang kau kehendaki? Apa kau minta sekuntum bunga pula ?''

Perlahan-lahan So Hoan angkat kepala, dalam kegelapan tampak sorot matanya bersinar terang menatap kearah Thian-ih, ujarnya: “Aku tidak akan minta apa-apa padamu. Aku hanya ingin bertanya, mengapa sedemikian kukuh dan keras kepala kau menuduh tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk menerangkan? Kami merasa tidak pernah berbuat dosa terhadap siapapun juga, sungguh kami tidak habis mengerti, berdasarkan apakah tuduhanmu itu?”

Thian-ih tunduk dan bungkam seribu basa.

“Coba kau terangkan," sambung So Hoan, “kau sungkan mengatakan siapakah orang yang mengadu biru itu, tapi cobalah terangkan apa yang orang itu telah katakan kepadamu tentang kejelekan kita. Aku berani pastikan tentu hanya obrolan dan hasutan belaka, berilah aku kesempatan untuk membela diri supaya urusan ini dapat dibikin terang."

Sesudah terdesak sedemikian rupa, terpaksa Thian-ih harus membuka suara, ia ceritakan semua apa yang telah didengarnya dari To Yung, ditambahkan juga cara kematian para sahabat engkohnya ditengah perjalanan itu. Sambil bercerita senantiasa ia awasi gerak-gerik So Hoan, agaknya ia heran dan gusar serta gegetun sekali.

Setelah Thian-ih habis bercerita, mulailah So Hoan memberikan tanggapannya: “Terang kau telah masuk perangkap orang itu diluar sadar. Satu hal dapat dipastikan bahwa obrolan orang itu adalah bohong belaka. Hakikatnya pihak So-keh-pang kami tidak atau belum pernah bermusuhan dengan engkohmu, lalu darimana bisa dikatakan bahwa sebelum ajal ayahku meninggalkan pesan supaya mencelakai jiwa engkohmu untuk menuntut balas. Disinilah ketidak beresannya ucapan orang itu. Ketahuilah bahwa ayahku meninggal pada tujuh belas tahun yang lalu, waktu itu aku baru berumur dua tahun, bayi yang baru pandai bicara, sedang koko juga baru bersekolah. Dapatkah dua anak kecil yang masih ingusan menerima pesan apa segala ? Setelah ayah meninggal kami diasuh dan dibesarkan oleh bibi Bok-leng Suthay. Beliau masih hidup dan sekarang mengasingkan diri di Lam hay. Kau dapat mencari keterangan kepada beliau disana.”

Nada So Hoan semakin keras dan sengit, saking gemas akhirnya ia benar-benar marah dan penasaran, akhirnya semakin serak dan sesenggukan.

Thian-ih menjadi serba salah, mimpi juga ia tidak menduga bahwa urusan sedemikian larut dan berbelit-belit, agaknya salah paham ini timbul karena dirinya kurang periksa. Memang tidak gampang dan seketika ia dapat menghilangkan curiganya, tapi bagaimana juga ia harus menyesal akan sepak terjangnya waktu siang tadi, sedemikian kasar dan berangasan kelakuannya itu. Kini menghadapi sang jelita yang gusar dan menangis, ia menjadi serba runyam, katanya tergagap: “Hoan nona Hoan, apa kau marah kepadaku?" Sebenarnya memang So Hoan sangat jengkel dan dongkol, serta mendengar pertanyaan lembut ini ludaslah kemarahannya. Dasar seorang dara yang aleman ia bungkam tak menjawab pertanyaan Thian-ih.

Sungguh sesal Thian-ih bukan main karena telah melukai So Tiong tadi siang. Bahkan menurut cerita So Hoan tadi bahwa So Tiong adalah seorang bajik dan budiman, sejak kecil sudah tahu menyayang dan melindungi adiknya. Inilah suatu pambek seorang jantan yang harus dipuji. Tapi dirinya membalas kebaikan orang dengan sebuah tusukan pedang dipundaknya. Saking gegetun ia termangu dan menggumam: “Siapakah orang itu? Untuk apa dia menghasut diriku?"

“Aku juga belum jelas,” tiba-tiba So Hoan menimbrung. “Tapi berani kupastikan bahwa orang itu ada sangkut-pautnya dengan engkohmu. Kematian Hek-san-siang-ing dan Kiau-si Hengte adalah perbuatannya atau kaki tangannya. Hanya aku masih heran mengapa ia tumplekkan dosa-dosa ini ke pihak So-keh-pang kita? Apa mungkin ia bermusuhan dengan kita?"

Agaknya kedua muda-mudi ini sudah mulai ada kata sepakat untuk menyelami persoalan itu bersama.

Maka tak segan-segan lagi Thian-ih tuturkan kejadian di ruang layon tempo hari dimana engkohnya pernah muncul mengambil pedang dan menggertak dirinya terus menghilang lagi entah kemana. Tapi waktu peti mati diperiksa terang dan gamblang bahwa engkohnya memang sudah mati dan masih berbaring dengan tenang. Lalu diceritakan pula pertemuannya dengan orang bernama To Yung itu, cara bagaimana orang memberi petunjuk pada dirinya untuk menuntut balas serta memberi advis supaya dirinya mempersunting adik musuhnya yaitu So Hoan sebagai istri.........

Bercerita sampai disitu Thian-ih merandek sejenak, melihat So Hoan tidak mengunjuk sesuatu reaksi akan ceritanya itu baru ia lanjutkan kisah perjalanannya. Dimana dalam gardu itu telah tersedia air minum dengan tiga buah cawan, padahal mereka berempat. Semua ini merupakan persoalan yang tak terpecahkan oleh otak Thian-ih.

Dengan cermat So Hoan ikuti cerita orang, sejenak ia berpikir lalu katanya: “Hal ini aku belum berani mengambil kesimpulan yang pasti dan menyeluruh. Tapi yang terang orang misterius itu tak mengandung maksud jahat terhadap kau. Malah berani kukatakan bukan saja tidak akan mencelakai kau mungkin juga melindungi keselamatanmu seumpama kau menghadapi bahaya. Dari tiga cawan dalam gardu itu dapatlah dipastikan, sebagai orang yang berke- pentingan dalam perjalanan itu tentu kau berlaku sungkan dan menyilahkan mereka minum lebih dulu, begitu mereka keracunan maka selamatlah jiwamu. Besar dugaanku pada waktu mana pasti orang itu sembunyi disekitar gardu itu, seumpama secara ceroboh kau menggayung air hendak mendahului minum, pastilah dia akan menyambitkan senjata rahasia untuk menolong jiwamu Tentang pujiannya terhadapku dan tentang hubungan kita itu,

kukira.........itu hanya maksud baiknya saja........." sebagai seorang gadis remaja ia malu memperbincangkan persoalan jodoh.

Sampai detik itu mereka masih tenggelam dalam pertanyaan yang belum terpecahkan, siapakah orang misterius itu? Dan apa maksud tujuannya? Yang jelas harapan dan tujuan orang itu sudah terkabul, bukankah saat mana So Hoan dan Thian-ih sudah rujuk dan sudah ada persesuaian hati, begitu wajar dan simpatik mereka bercakap-cakap seumpama kawan kental. Angin malam menghembus dingin, karena jubahnya sudah dibuang So Hoan merasa kedinginan, cepat-cepat Thian-¡h melepas jubahnya lalu didekapkan kebahu orang sambil katanya: “Sudah larut malam, mari kita pulang besok kita lanjutkan penyelidikan ini."

So Hoan mengiakan sambil bangkit berdiri, mereka beriring melangkah keluar. Waktu tiba dilamping gunung, tampak sekelompok orang tengah naik keatas sambil membawa obor. Kiranya So Tiong menjadi kuatir melihat adiknya belum kembali sampai tengah malam itu, maka ia mengutus anak buahnya untuk mencari. Begitu bertemu ditengah jalan legalah hati orang-orang itu.

Begitu sampai dan berhadapan dengan engkohnya So Hoan segera bercerita dengan muka berseri kepada engkohnya, bahwa kesalah pahaman ini sudah dibikin terang.

Sementara itu, Thian-ih juga maju mengunjuk salam hormatnya, begitu melihat balut dipundak So Tiong masih merembes darah, hatinya menjadi tak enak, cepat-cepat ia minta maaf dan nyatakan penyesalannya dengan kikuk dan risi.

So Tiong benar-benar seorang bijaksana yang berhati lapang, katanya tertawa riang: "Tidak apa, tidak apa, luka kecil ini tak menjadi soal. Kami juga tidak bisa salahkan Ji-chengcu, semisal aku sendiri kalau mendengar hasutan manis itu juga akan percaya penuh. Maka untuk selanjutnya Ji-chengcu marilah kita bekerja sama memecahkan persoalan rumit ini. Tadi siang pihak kita telah berlaku kasar dan kurang hormat terhadap kau, harap kau suka memaafkan dan jangan ditaruh dalam hati.”

Secara jujur polos dan rendah hati So Tiong melayani tamunya, hal ini semakin membuat Thian-ih tidak enak.

Dalam percakapan itu So Tiong memberitahukan bahwa jenazah Kiau Sim telah dimasukkan dalam peti dan semua telah diatur beres. Sekalian ia bertanya tentang kisah pengejaran jejak musuh diatas gunung tadi. Secara ringkas So Hoan menuturkan bahwa jejak musuh telah menghilang dan susah dicari lagi, tapi kemungkinan besar masih sembunyi di puncak sana, tentang pengalamannya bersama Thian-ih didalam gedung bobrok itu tidak ia ceritakan.

Menginsyafi pentingnya persoalan ini, segera So Tiong perintahkan puluhan anak buahnya naik gunung untuk memeriksa dan berjaga supaya pelarian itu tidak sempat meloloskan diri, supaya besok pagi lebih mudah untuk serempak menggeledahnya. Karena malam sudah larut So Tiong silakan Thian-ih untuk beristirahat.

Hari kedua, luka So Tiong masih belum sembuh hingga tidak leluasa untuk bergerak, terpaksa Thian-ih bersama So Hoan serta puluhan anak buah So-keh-pang yang naik ke atas gunung. Menurut laporan anak buah yang berjaga semalam suntuk diatas itu mengatakan bahwa mereka tidak melihat atau menemukan orang atau bayangan yang meninggalkan tempat itu. Besar harapan mereka untuk dapat menemukan jejak si pembokong gelap itu diatas gunung.

Sesampai di puncak anak buah So-keh-pang disebar keempat penjuru berjaga rapat disekeliling gedung bobrok itu. Sementara itu, Thian-ih bersama So Hoan serta lima orang anak buahnya menggeledah seluruh pelosok gedung besar itu tanpa membawa hasil yang memuaskan.

“Mungkin orang itu telah meninggalkan gedung ini," demikian ujar So Hoan lesu. Tapi Thian-ih belum patah semangat, sedemikian luas alam pegunungan ini, bukan mustahil orang itu sembunyi di belakang gedung dalam rimba sana. Tapi So Hoan menerangkan bahwa belakang gedung sana adalah tebing yang curam, jangan kata manusia binatang atau burung juga susah terbang keatas sana. Kalau So Hoan bersikap keras akan pendapatnya bahwa tak mungkin orang itu sembunyi kesana, namun Thian-ih membujuk untuk sekedar melihat-lihat saja.

Akhirnya mereka tiba dibawah tebing tinggi itu. Segera So Hoan berseru heran dan menemukan apa-apa yang mencurigakan, katanya berbisik: “Memang diatas tebing agaknya ada orang!"

Tebing curam dan tinggi ini ternyata ditumbuhi pohon-pohon jalar yang lebat. Memang tebing ini sedemikian tinggi, agaknya binatang sebangsa kera dan burung saja yang dapat mencapai puncaknya sana. Adalah yang mengherankan di kaki tebing terdapat bekas-bekas tapak kaki manusia, ini membuat Thian-ih dan So Hoan heran dan curiga, terpaksa mereka juga harus manjat atau merambat keatas, kelima orang anak buahnya disuruh menunggu dibawah.

Begitulah setelah sekian lama mereka bersusah payah merambat keatas sampai kedua tangan terasa pedas dan berdarah terkena duri mereka tiba diatas puncak yang merupakan sebidang tanah datar yang tak begitu luas. Pelan-pelan dan hati-hati mereka beranjak maju kedepan, setelah membelok dan melewati segundukan tanah tinggi yang lebat penuh pepohonan, langkah mereka menjadi semakin perlahan-lahan dan waspada.

Agaknya daerah hutan sekitar sini belum pernah diinjak kaki manusia. Diatas pohon banyak sekali kera-kera, besar kecil yang berjingkrak-jingkrak sambil cecowetan melihat manusia asing. Berjalan maju lagi berapa langkah, mendadak So Hoan menarik lengan Thian-ih dan berkata lirih: "Berhenti dulu ! Coba lihat apakah itu?"

Thian-ih memandang kearah yang ditunjuk, seketika ia berjingkrak kaget. Dilihatnya ditengah-tengah diantara tiga pohon besar tergantung jala yang terbuat dari akar pohon tengah bergoyang-goyang, dalam jala itu rebah seorang yang sangat aneh, rambutnya sangat panjang dan terurai awut-awutan, tubuhnya dibungkus kulit binatang dan dedaonan seperti manusia liar. Agaknya orang aneh ini tengah istirahat diatas ayunan itu, kepalanya dikerumuni beberapa ekor kera yg tengah mencari kutu diatas kepalanya, malah ada pula yang tengah menggerogoti buah-buahan untuk dijejalkan kemulut orang aneh itu.

Kera adalah binatang cerdik dan paling perasa, begitu Thian-ih dan So Hoan maju mendekat kera-kera itu menjadi ribut terus berloncatan keatas pohon. Gerak-gerik orang aneh itu sangat lamban, begitu kera-kera itu ribut dan berlarian perlahan-lahan ia bangun berduduk dan berpaling, begitu melihat orang asing dihadapannya kedua matanya terbelalak liar terheran-heran. Mendadak orang aneh ini bersuit panjang suara terdengar sedih memilukan, tahu-tahu tangannya diulur untuk mencengkeram kearah So Hoan. Keruan So Hoan berjingkat kaget dan belum sempat ia mencabut keluar pedangnya, Thian-ih keburu mencegah: “Jangan! Biar aku layani dia !"

Thian-ih maju dua langkah, kedua kepelan tangan diacungkan kedepan satu memakai cengkraman tangan sedang tangan yang lain menjojoh perut orang aneh itu. Agaknya si orang aneh merasa terancam bahaya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat miring terus sedikit membungkuk kedepan sambil merangkap kedua tangan didepan dada, inilah jurus yang dinamakan Tong-cu-pai-hud (anak kecil menyembah sang Budha). Melihat gerak atau jurus tipu yang sangat dikenalnya ini Thian-ih berseru girang dan mundur kesamping. Tahulah dia sekarang bahwa orang aneh yang tengah dihadapinya ini pasti bukan lain adalah Sutitnya sendiri yang dikatakan hilang dan menjadi gila itu.

Memang pikiran Hi Si-ing tidak waras dan linglung. Setelah melancarkan jurus Tong-cu-pay-hud dan gagal merobohkan musuhnya, sekonyong-konyong kedua pergelangan tangan membalik keatas terus dirobah dengan jurus Hun-ho-ciong yan (burung bangau menembus awan) sasaran kali ini adalah dada musuh, cara turun tangan dan serangan ini sangat keji dan agak telengas. Justru inilah memang jurus-jurus khas ajaran Thio Thian-ki yang paling dibanggakan itu.

Sekali berkelebat dengan mudah Thian-ih hindarkan diri. Kini hatinya semakin mantep dan tidak ragu-ragu lagi bahwa yang dihadapi ini memang Sutitnya, serunya: "Hi-sutit, berhenti dulu, aku ini Thian-ih!"

Hi Si-ing seakan-akan tidak mendengar, jurus serangannya masih gencar dan hebat, agaknya ia bernafsu benar untuk merobohkan lawannya sehingga mengerahkan setaker tenaganya sampai pukulannya membawa samberan angin yang menderu. Sudah tentu Thian-ih tidak bakal melukai atau balas menyerang, sedemikian jauh ia cuma main kelit dan menghindar sambil memberi peringatan: "Hi Si-ing, berhenti! Hi Si-ing! Akulah Thian-ih, akulah Susiokmu!"

Baru sekarang Hi Si-ing tersentak kaget dan menghentikan serangannya terus berdiri melongo. Nama 'Hi Si-ing, Thio Thian-ih' seolah-olah sangat dikenal dan mengetuk sanubarinya, sekian lama ia berdiam diri tenggelam dalam pikirannya.

Thian-ih berkata lagi: “Si-ing, aku adalah Thian-ih. Mengapa keadaanmu menjadi demikian, marilah ikut aku pulang."

Sekonyong-konyong Hi Si-ing bergelak tawa kegila-gilaan, seperti orang menangis dengan nada yang menggetirkan hati. Keruan Thian-ih dan So Hoan tertegun beberapa saat. Tiba-tiba Hi Si-ing memutar tubuh terus berlari kencang kedalam hutan. Maka lekas-lekas Thian-ih berdua ikut mengejar. Tampak Hi Si-ing berlari ke pinggir sebuah jurang terus menyelusup ke dalam sebuah gua, terlihat gua itu sangat cetek, mungkin di tempat itulah selama ini dia menetap karena gua itu sangat kecil dan sempit, hanya bisa cukup untuk berdiri satu orang maka Thian-ih berdua berdiri diluar gua.

Tidak lama kemudian Hi Si-ing berlari keluar pula, tangannya mencekal seutas rantai yang mengkilap, mulutnya komat-kamit mengeluarkan suara yang tidak dimengerti, kaki tangannya mencak-mencak dan menari-nari diatas rumput.

Thian-ih mengenali bahwa rantai yang dipegang Si-ing itu adalah benda milik engkohnya karena selalu tergantung diatas leher engkohnya dan belum pernah ditanggalkan. Teringat oleh Thian-ih, dulu secara kelakar ia menggoda engkohnya mengapa mengenakan perhiasan seorang wanita. Karena godaannya itu engkohnya segera menjadi marah dan berobah air mukanya, namun hanya menggeleng kepala saja tanpa memberi penjelasan. Menurut dugaan Thian-ih mungkin rantai ini mempunyai riwayat tersendiri yang sangat rahasia. Sekarang dia telah meninggal, rahasia kalung berantai ini mungkin akan terpendam pula untuk selama-lamanya.

Setelah sekian lama berjingkrak dan menari-nari, mungkin karena kelelahan tiba-tiba Hi Si-ing merebahkan diri terus nangis menggerung-gerung. Thian-ih memberi tanda kepada So Hoan, berbareng mereka maju memayang bangun Hi Si-ing. Seketika Hi Si-ing mengunjuk rasa ketakutan dan seram, sekuat tenaga ia coba berontak dan meronta-ronta. Terpaksa Thian-ih mesti menutuk jalan darah pelemasnya sehingga pingsan terus dipanggulnya dan dibawa turun ke bawah tebing.

Sebelum berlalu ia minta So Hoan masuk kedalam gua untuk mencari benda-benda apa lagi yang dapat diketemukan, tapi So Hoan keluar lagi dengan tangan hampa.

Setelah sampai dimarkas besar So-keh-pang badan Hi Si-ing dibikin bersih, rambut dan jenggotnya dicukur, maka tampak wajahnya yang gagah ganteng. Karena hidup bercampur kera-kera dengan makanan yang tidak menentu sehingga badannya tampak kurus karena tidak terawat, semangatnya juga sangat lesu. Berbagai pertanyaan sudah diajukan, jawabannya mengelantur dan kacau balau. Makannya juga sangat lahap tiada ubahnya binatang yang sudah lama kelaparan.

Malam itu Thian-ih coba mengurut dan berusaha mengobati penyakit hilang ingatan Sutitnya dengan kemampuan apa yang pernah dipelajarinya dari gurunya dulu, memang usahanya ini tidak tersia-sia, akhirnya Hi Si-ing bisa membuka suara menjawab pertanyaan yang diajukan secara lemah-lembut, tapi juga masih samar-samar: “Baju perak. Hahaha, satu orang

dikeroyok enam, setan hitam yang berkedok. "

“Siapakah mereka itu?" tanya Thian-ih.

Hi Si-ing menggeleng kepala, jawabnya terputus-putus: “Tidak mungkin, aku tidak percaya....... tapi surat peringatan itu...............oh Tuhan..................bagaimana aku ini?" sekonyong-konyong ia berjingkrak bangun terus meraba-aba seluruh tubuh sendiri sambil mengoceh: “Mana suratku itu......mana suratku itu?......... Siapa yang berani mengambil.....jangan, jangan ambil...... lekas kembalikan kepadaku......lekas kembalikan kepadaku "

“Si-ing ! Apa yang tertulis diatas surat itu?"

Cepat-cepat Si-ing goyang-goyang tangan dengan kepala juga ikut menggeleng, serunya: “Tidak, tidak boleh kukatakan. Kau bunuh aku juga tidak kukatakan !"

Thian-ih menjadi serba susah, pikirnya tentu surat itu sangat penting isinya. Sementara itu setelah menggeledah seluruh tubuh sendiri tanpa menemukan apa-apa, mungkin karena kelelahan Hi Si-ing rebah lagi di atas pembaringan terus mendengkur.

Begitulah dengan berbagai usaha Thian-ih terus berusaha coba mengorek keterangan dari mulut Hi Si-ing. Beberapa tabib kenamaan sudah diundang untuk mengobati penyakitnya itu, tapi mereka tidak kuasa menyembuhkan penyakit hilang ingatan lantaran ketakutan dan kecewa itu. Setiap hari yang diocehkan pasti tentang baju perak, setan hitam, buntalan besar, tidak mungkin dan mengapa suratku hilang........terpaksa Thian-ih harus bersabar sehingga tanpa terasa setengah bulan sudah lewat sejak ia tinggal di So-keh-pang.

Dalam pada itu atas bantuan So Tiong, Thian-ih sudah mengirim para jenazah dari Siu Keng-in dan Kiau-si Heng-te ke masing-masing rumah dan keluarganya disertai surat keterangan dari Thian-ih sendiri. Setelah dirundingkan Thian-ih dan So Tiong sependapat untuk memecahkan duduk perkara sebenarnya terpaksa mereka harus mencari tahu kepada Ciu Hou, mungkin dari mana dapat dikorek sedikit keterangan. Tapi entah dimana sekarang Ciu Hou berada, kemana pula mereka harus mencari. Dalam melewatkan hari-hari yang senggang itu hubungan Thian-ih dengan So Hoan semakin erat dan mesra, selalu mereka tampak berduaan.

Selama itu luka dipundak So Tiong juga mulai sembuh, diam-diam ia bergirang dalam hati melihat hubungan intim adiknya dengan Thian-ih, sesekali tersimpul senyum gembira pada wajahnya.

Sang waktu berjalan dengan cepatnya, pada suatu hari seorang centeng berlari masuk memberi laporan bahwa diluar ada serombongan orang yang mohon bertemu. Bergegas So Tiong pimpin anak buahnya keluar menyambut. Adalah saat ini Thian-ih dan So Hoan tengah indehoy dibelakang kebun, tengah asyiknya mereka bermesraan, seorang pelayan datang melaporkan permintaan So Tiong supaya mereka keluar ikut menyambut kedatangan tamu-tamu terhormat dari kota raja.

Meja perjamuan sudah tersedia diruang tengah, para tamu berjumlah sepuluh orang, semua berseragam sebagai petugas hukum. Melihat kedatangan Thian-ih berdua semua bangkit sambil angkat tangan dan basa-basi sekadarnya. Lalu So Tiong perkenalkan Thian-ih dan So Hoan satu persatu. Tamu-tamu dari kota raja yang tak lain adalah petugas hukum dari istana raja, dipimpin oleh seorang gagah bertubuh kekar berusia 40-an. Dia bukan lain adalah Komandan Bayangkari istana yang terkenal dengan julukan Kiang-siang-yan Lim Han atau siwalet terbang. Kali ini mereka tengah menjalani tugas berat sekalian mampir ke So-keh-pang.

Sifat Lim Han ternyata peramah dan bebas polos, dalam pembicaraan selanjutnya baru diketahui bahwa ternyata Thian-ih sudah berada di So-keh-pang selama sebulan tanpa mendapat hasil menyelidiki jejak musuh besarnya, keruan kecewa dan luluhlah semangat Lim Han, ujarnya: “Ji-chengcu, bicara terus terang kami juga menemui jalan buntu seperti kau. Kita kejar pelarian itu sampai dipegunungan Ci-bong ini lantas jejak pencuri besar itu menghilang tanpa bekas. Mungkin diatas Gun-u-leng itu masih ada sesuatu tempat rahasia yang belum kita ketahui !"

So Tiong menyela ikut bicara: “Entah sudah berapa kali kita geledah dan obrak-abrik Gun-u-leng itu ? Benar-benar memang tiada apa-apa yang mencurigakan.”

Tersipu-sipu Lim Han berkata: "So-kongcu. Aku seorang kasar bicara kurang hati-hati, bukan aku mau mencurigai pihak So-keh-pang kalian, akan tetapi kupikir, pencuri yang kukejar

itu pasti ada hubungan erat dengan orang yang sedang Ji-chengcu cari itu." Lantas ia ketengahkan tugas apa yg tengah melibatkan dirinya dalam usahanya ini.

Kiranya pada 3 bulan yg lalu, gudang harta istana besar dikota raja kebobolan maling terbang, entah berapa banyak jumlah harta yang tak ternilai telah dicuri oleh maling terbang itu. Bermula penanggung jawab gudang harta itu tak berani memberi laporan pada sang junjungan. Tapi apa celaka secara kebetulan beberapa hari kemudian sang raja ingin melihat salah sebuah pusaka kerajaan yang ikut tercuri. Saking ketakutan penjaga dan penanggung jawab gudang bunuh diri. Keruan peristiwa ini menimbulkan kemarahan sang raja, segera ia memberi perintah pada komisaris negara untuk mengadakan pemeriksaan dengan teliti, ternyata bahwa banyak sekali barang-barang berharga yang tak ternilai juga ikut hilang tercuri. Selidik punya selidik akhirnya diketahui bahwa sipencuri ternyata adalah seorang tokoh silat dari kalangan Kangouw yang pandai terbang diatas genteng. Segera perintah penangkapan dikeluarkan dan justru tugas berat ini menimpa pada Lim Han serta kesatuannya.

Dari Pakkhia (kota raja) Lim Han mengejar jejak si pencuri sampai ke Shoatang, sudah beberapa kali mereka bentrok dengan simaling terbang itu sepanjang jalan, tapi karena Ginkang simaling terbang itu teramat lihay, selalu ia dapat meloloskan diri, begitulah akhirnya mereka mengejar sampai di Ci-bong-san ini, dan ternyata jejak pencuri itu telah menghilang disekitar markas besar So-keh-pang.

So Tiong bertiga merasa kalau urusan ini agak sulit juga untuk dipecahkan, naga-naganya memang sipencuri ini ada sangkut-pautnya dengan peristiwa yang menimpa Thian-ih tempo hari. Maka terpaksa Thian-ih juga ceritakan pengalamannya beberapa waktu yang lalu.

Begitulah tengah mereka makan minum sambil memperbincangkan soal yang rumit ini, seorang centeng masuk melapor, katanya ada seorang utusan dari Ki-lam-hu mohon bertemu dengan Lim Han dkk. sambil membekal sepucuk surat kilat. Sehabis membaca surat itu air muka Lim Han berubah hebat, lalu katanya kepada pengirim surat itu: “Segera kau kembali dan beritahukan kepada Li-tayjin, katakan bahwa segera aku akan tiba disana, harap dia jangan kuatir dan takut."

Kata Lim Han kepada Thian-ih dan So Tiong kakak beradik: “Malam kemarin maling terbang itu sudah muncul lagi di Ki-lam-hu, Li-tayjin yaitu Tihu dari Ki-lam-hu sengaja mengutus orang minta kita segera kembali kesana.”

Mendengar adanya sumber penyelidikan ini Thian-ih tidak tinggal diam, segera ia menyatakan ingin ikut menyerapi. Demikian juga So Hoan tidak mau ketinggalan. Sudah tentu dengan senang hati Lim Han menerima bantuan tenaga yang sangat berharga ini, bergegas mereka bersiap terus beramai-ramai berangkat menuju ke Kota Ki-lam.

Dalam perjalanan itu Lim Han bercerita kepada Thian-ih bahwa sebetulnya dirinya mengemban dua tugas yang amat menyusahkan, selain mengejar sipencuri itu dia juga tengah menyelidiki urusan pribadi keluarga Li-tayjin sendiri. Menurut cerita selanjutnya bahwa ternyata Li-tayjin ini mempunyai seorang anak gadis yang belum dinikahkan, wajahnya ayu rupawan bak bidadari, bernama Li Hong-gi. Pada tiga bulan yang lalu gadis rupawan ini pernah hilang secara misterius digondol pergi seorang yang berkedok.

Li-tayjin sudah berusia lanjut dan hanya mempunyai seorang anak perempuan saja, maka anaknya ini dipandang sebagai mestika, entah mengapa mendadak anak gadisnya menghilang, keruan sedih dan dukanya bukan main, hampir dia membunuh diri saking putus asa. Betapa sukar dan repot para hamba telah mencari kemana-mana tanpa hasil, siapa kira pada suatu malam tahu-tahu Li Hong-gi sudah kedapatan tidur dalam kamarnya sendiri, seolah-olah menghilangnya ini seperti digondol genderuwo saja.

Sudah tentu Li-tayjin berjingkrak kegirangan, secara lemah lembut ia menanyakan pengalaman anaknya selama ini, tapi Li Hong-gi bersumpah sampai matipun dia tidak mau membuka mulut. Tubuhnya agak sedikit kurus tanpa kekurangan suatu apa.

Sekarang mendadak pencuri berkedok itu tiba-tiba muncul lagi di Kim-lam-hu, teringat akan pengalaman yang dulu Li-tayjin ketakutan setengah mati, cepat-cepat ia kirim surat kilat memanggil pulang dirinya untuk berjaga dan menghadapi simaling.

Siang hari itu rombongan Lim Han sudah memasuki kota Ki-lam dan langsung menghadap kepada Li-tayjin, segera diadakan perjamuan untuk menyambut kedatangan mereka. Dan pembicaraan diketahui bahwa sipencuri yang tengah mengacau kota Ki-lam itu ternyata seorang yg berilmu tinggi mengenakan jubah perak bersenjata pedang kuning emas. Mendengar keterangan ini Thian-ih melonjak kaget dan berubah air mukanya. Sibaju perak dan Loh-kim-kiam bukankah itu pertanda khas milik engkohnya yang sudah meninggal dunia itu. Keruan Thian-ih menjadi bingung dan curiga.

Perjamuan berjalan dengan meriah, tak lupa Li-tayjin mengundang anak gadisnya yang pernah hilang itu keluar untuk diperkenalkan pada para hadirin. Sebelum ini semua orang sudah dengar tentang kejelitaan Li-siocia yang mashur itu, kini bakal berhadapan langsung dengan putri rupawan itu seketika terbangkit semangat mereka. Tak ketinggalan So Hoan sendiri sebagai kaum Hawa juga ikut tertarik dan ingin berkenalan. Hanya Thian-ih yang tengah dirundung berbagai pertanyaan dan keanehan duduk tepekur dengan tidak tenang.

Tidak lama kemudian tampak Li Hong-gi Siocia telah berjalan keluar dibimbing dayangnya, terasa kehadirannya ini seolah-olah menambah cerah dan gilang gemilang keadaan ruang perjamuan ini. Sekilas melirik saja So Hoan lantas mengakui dalam hati bahwa memang kecantikan diri sendiri masih kalah jauh dibanding orang. Kalau So Hoan sendiri sampai mengagumi tidaklah heran kalau Lim Han dkk. lebih-lebih terpesona dan terlongong-longong memandangi wajah yang ayu jelita ini. Sekian lama suasana menjadi hening lelap, baru akhirnya terdengar helaan napas panjang dan berat, semua bagai tersadar dari lamunannya.

Demikian juga waktu Thian-ih angkat kepala memandangi wajah nan ayu bak bidadari ini ia merasa Li-siocia ini sedemikian agung rupawan, secantik dewi kahyangan sampai menimbulkan suatu macam hawa keangkeran. Sekian lama Thian-ih kesengsem memandangi tubuh yang ramping berisi serta air muka yang bulat telor dengan sepasang mata yang bening cerah, pendek kata Li-siocia ini adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya selama hidup ini.

Sementara itu, sambil malu-malu kucing Li Hong-gi membungkuk tubuh memberi hormat pada para hadirin, saking kesengsem sehingga semua orang lupa membalas hormatnya.

Li-tihu menjadi geli dan tertawa riang, ujarnya: “Hong-ji, mengapa tanpa ganti pakaian kau lantas keluar, apa tidak takut ditertawai oleh para tamu kita?"

Sahut Li-siocia: “Bukankah ayah pesan supaya lekas keluar, karena terburu-buru mana sempat anak berganti pakaian apa segala " suaranya merdu bagai musik dari malaikat dewata.

Dengan langkah gemulai Li Hong-gi menghampiri ketempat duduk disamping ayahnya, setelah ia duduk baru semua orang menghela napas lega.

Segera Lim Han mendahului buka suara: “Menurut hematku kecantikan Li-siocia tiada bandingannya dikolong langit ini. Selama dikota raja entah berapa banyak putri-putri bangsawan dan dayang-dayang kraton yang pernah kulihat, rasanya tiada satupun yang sebanding dengan kecantikan Li-siocia.”

Dan pertanyaan Lim Han selanjutnya diketahui bahwa pada musim semi tahun depan, Li Hong-gi akan melangsungkan pernikahannya dengan anak kedua Nyo-tayjin penjabat Sekretaris militer yang bernama Nyo Hway-giok.

“O, ternyata adalah Nyo-jikongcu yang mempersunting Li-siocia. Nyo-kongcu seorang