Rahasia Dewi Purbosari

Pengarang : Aryani W
Bab 1

“CK-CK-CK……. ahh, cantiknya!”

“Uaaahh, elok sekali! Bagaikan bidadari turun ke bumi!” “Mau gajiku dipotong! Asal dapat tidur dengannya!”

“Hemmm, ck-ck-ck-ck!”

Iringan itu tetap berjalan maju, tidak mempedulikan omongan laki-laki di pinggir jalan. Pembicaran itu seakan hanyalah angin lalu yang lewat di telinga. Apalagi kata-kata yang kurang sopan untuk didengar telinga dan membayangkan si pembicara yang berbatin rendah itu. Mereka tetap berjalan maju, bagaikan patung-patung dewi yang cantik jelita dan hidup!

“Sayang sekali tirai itu menutup joli! Andai kata tidak? Ahh, pasti orang yang duduk di dalam terlebih hebat daripada para pengiringnya!” seorang laki-laki yang berpakaian hitam dan mengenakan golok   besar   di pinggang itu berkata. “Hemmm, aku berani bertaruh! Pasti orang yang di dalam joli cantik sekali!”

“Benar, kang Kromo. Aku juga menduga demikian.” temannya ikut menimbrung.

Kromoleo pandang matanya tidak dapat lepas dari tirai hitam yang menutupi joli. Melotot, seakan ingin menjenguk ke dalam dan melihat orang yang di dalam joli!

“Adi Jodi! Coba kita singkap tirai hitam itu, aku kok makin penasaran saja!” Kromoleo mengusulkan kepada Jodi, ingin menyingkap tirai hitam. Akan tetapi Jodi menggeleng kepala beberapa kali. “Jangan kang. Jangan membuat ribut di sini!”

“Kau takut? Aku yang bertanggung jawab kalau ada yang marah!” Kromoleo membesarkan hati temannya, Jodi. Maka tepat ketika joli yang dipanggul itu berada di depannya, tangan Kromoleo mendorong ke depan! Akan tetapi apa yang terjadi? Belum sampai tangan Kromoleo mencapai tirai joli, tiba-tiba dia telah terpental ke belakang. Bagaikan sebuah bola yang ditendang pergi! Mencelat ke atas melewati kepala orang yang menonton di belakang dan jatuh tepat di tengah parit sawah! Orang yang berdiri di dekat Kromoleo pun, terdorong ke belakang sehingga tanpa mereka sadari kakinya telah menginjak tepi parit tanpa ampun lagi mereka menyusul jatuh te-lentang di air parit persawahan itu! Mereka semua mengawasi iringan joli itu dengan mata mendelong!

“Gila…….! Apa yang mendorong kita tadi? Mengapa kita tahu-tahu melangkah mundur dan mandi di kali!” Jodi tidak kuasa untuk tak bicara, dia merasa heran sekali. Mengapa ketika tangan temannya Kromoleo mendorong tirai, tahu-tahu mereka mundur dan kecebur ke kali!

“Untung kita tidak dibunuh! Biasanya siapa yang berani kurang ajar pasti binasa!” kata pula orang yang paling kanan.

Semua berusaha untuk naik ke tepi, lain Kromoleo tidak kuasa lagi menahan hatinya, bertanya kepada orang tadi. “Sebetulnya siapakah adanya para bidadari dan orang yang duduk di dalam joli itu, paman?”

“Amit-amit, semoga hamba jangan kena kualatnya!” Sebelum bercerita orang itu mohon ampun. “Agaknya kisanak bukan orang daerah sini. Maka tidak tahu! Iring- iringan tadi adalah iringan Dewi Purbosari, seorang dewi yang dianut oleh banyak penduduk di daerah Ungaran! Dia adalah seorang yang sakti sekali dan katanya dapat memberikan semua apa yang diminta para pemeluknya.” “Lho, kalau begitu dia adalah sesembahan para penduduk sini, paman?” Jodi bertanya sambil memandang orang tua itu.

“Dapat dibilang begitu, kisanak. Apalagi setelah Lurah Martosulaya menjadi muridnya, hampir semua penduduk dusun Manyaran telah menjadi pengikutnya!”

“Terima kasih atas keterangan ini, paman.” Kromoleo berkata, lalu mengangguk kepada orang tua itu dan memohon diri. Mengikuti ke mana tadi rombongan itu pergi ke timur. Jodi pun mengangguk dan mengikuti temannya pergi!

“Kita harus berhati-hati, kang. Kurasa tugas kita sekarang menjadi semakin berat.”

“Lihat saja nanti perkembangannya. Kita dapat menyesuaikan dengan keadaan di sana.”

Baru berjalan beberapa langkah, Kromoleo memegang perutnya dan mengeluh pendek. Jatuh terguling pingsan! Jodi kaget sekali melihat keadaan ini, berusaha menolong kawannya dan menggotong ke pinggir jalan. Mencari tempat teduh, berusaha untuk menyadarkan Kromoleo dari pingsannya, akan tetapi ketika dia membuka baju……. Jodi kaget sekali!

Perut Kromoleo telah menjadi menghitam, bagaikan terkena tinta gambar saja. Jodi kebingungan bukan main melihat ini, diapun memandang ke kanan kiri. Mencari orang yang dapat untuk dimintai bantuan. Orang-orang yang melihat kejadian itu, tidak berani mendekati Kromoleo dan Jodi. Takut nanti mendapat kutukan Dewi Purbosari, seorang dewi yang menjadi sesembahan banyak orang di daerah Ungaran. Karena sudah menjadi kenyataan bahwa siapa yang mencoba untuk menentang atau membangkang perintah dari Dewi Purbosari. Tahu-tahu pada pagi harinya kedapatan mati tanpa luka sedikitpun di badannya!

Dari jauh tampak seorang pemuda berjalan dengan membawa tongkat kehitaman, berjalan sambil memandang ke kanan kiri. Memutar-mutarkan tongkatnya dan sesekali bersiul kecil, tidak dilanjutkan. Ketika melihat Jodi yang kebingungan, pemuda itu maju mendekat. Tanpa diminta melihat luka di perut yang menghitam itu dan memeriksanya.

“Ck-ck-ck…… sungguh ganas! Mengapa orang tega menggunakan racun kelabang untuk melukai sesama, hemmm…..” bisiknya pelan. Seakan berkata kepada diri sendiri!

“Tolong……. tolonglah……. teman kami, kisanak.” Jodi memohon kepada si pemuda. “Entah bagaimana dia dapat terserang seperti ini?”

“Tenang, paman. Aku akan berusaha untuk mengobati, dan apabila belum tiba saatnya teman paman akan dapat sembuh kembali,” kata si pemuda dengan senyum masih tersungging di bibirnya. “Bagaimana dia dapat terkena racun seperti ini, paman?”

Jodi lalu menceritakan tentang kejadian yang dialaminya tadi. Akan tetapi, dia tidak tahu bagaimana temannya, Kromoleo itu sampai mendapat serangan   yang mengandung racun kelabang itu. “Agaknya itulah kutukan dari Dewi Purbosari!” katanya sebagai penutup penuturannya.

Si pemuda mendengarkan, sambil tangan kirinya menyalurkan tenaga dalamnya, dari telapak tangan kiri yang memegang perut, keluarlah sinar putih yang mendorong noda hitam di perut Kromoleo! Tidak berapa lama kemudian, perut itu telah bersih dari noda hitam dan pernapasan Kromoleo menjadi normal kembali.

“Selamat! Teman paman telah tertolong.”

“Terima kasih, kisanak. Kakang Kromoleo dapat tertolong jiwanya. Bolehkah saya mengetahui nama kisanak?” Jodi bertanya dengan hormat kepada si pemuda itu.

“Hemmm, tidak perlu ini diingat-ingat, paman. Aku pergi!” Baru habis kata itu terdengar, pemuda itu telah lenyap dari depan Jodi. Membuat kaget hati Jodi, tanpa terasa tubuhnya gemetaran dan diapun terduduk sambil mengucap mantra penolak bala.

Kromoleo tersadar, heran melihat dirinya telentang di tepi jalan di bawah pohon yang rindang. Matahari telah naik tinggi, sinarnya menimpa muka membuat sepasang matanya silau. “Mengapa aku terbaring di sini, Adi Jodi?” tanyanya kepada Jodi.

“Ahh, kakang telah membuat hatiku kaget. Kenapa kakang nekat saja untuk menjenguk orang yang duduk di dalam joli. Sekarang bagaimana hasilnya?” jawab Jodi.

“Sudah, sudah, aku terima salah. Sekarang bagaimana baiknya, Adi Jodi?” Kromoleo menyesali tindakannya yang ceroboh tadi.

”Kita batalkan saja, kakang. Untung tadi ada seorang pemuda berpakaian putih yang datang menolong kakang. Kalau tidak, entah bagaimana aku harus melapor kepada guru.”

Kromoleo hanya mengangguk dan bersama Jodi lalu meninggalkan tempat itu. Kembali ke tempat gurunya di Padepokan Bulu Kuning di Rawa Pening, melaporkan apa yang telah terjadi dan yang menimpa mereka di dusun Manyaran!

Iring-iringan yang terdiri dari dua belas dara cantik dan empat orang pemikul joli yang tertutup tirai hitam berjalan pelan. Seakan-akan tidak pernah terjadi apapun di jalan yang dilalui mereka! Peristiwa tadi hanya dianggap oleh mereka sebagai angin yang berhembus lalu saja. Ketika iring-iringan ini memasuki jembatan, dari arah yang berlawanan berjalan tiga orang yang bertubuh tinggi besar, wajah mereka nampak garang dengan kumis yang hitam tebal di bawah hidung. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, baju di dada tergambar lukisan seekor harimau berwarna putih. Nampak gagang golok menyembul di punggung mereka.

“Ha-ha-ha…… akhirnya dapat juga kita bertemu! Siluman betina hayo keluar dari tempatmu sembunyi. Ha- ha-ha……!” Orang tertua yang berusia empat puluh lima tahun berkata. “Hari ini tibalah saatnya kau menyusul keponakanku!” orang di samping kanan menyambung. ”Hutang jiwa bayar jiwa!”

Ketiga orang itu berdiri di tengah jalan, menghadang iring-iringan itu. Anehnya, perempuan yang berjalan di depan sebanyak enam dara jelita berpakaian tipis tembus pandang itu, tidak peduli akan tantangan tiga orang itu! Mereka tetap berjalan maju dengan tenangnya, seolah ketiga orang itu hanyalah anak kecil saja. “Rati, berhenti!” Tiba-tiba terdengar suara mengalun merdu menyuruh gadis bernama Rati untuk berhenti. Kiranya Rati adalah pemimpin barisan depan, seorang dara yang berpakaian kuning dan memakai mantel yang tembus pandang berwarna merah jambu. Rati memberi isarat dan barisan enam orang yang tadinya berderet dua-dua, sekarang membentuk kipas! Pemikul joli melangkah maju ke depan. “Ibu Dewi, mereka adalah Tiga Harimau Putih dari Gunung Ungaran sebelah timur.” Rati melapor. Melihat gambar di dada, dara itu segera mengenal ketiga orang itu. Memang mudah mengenali ketiganya, karena gambar harimau putih menjadi tanda siapa adanya mereka!

“Aku tahu! Kauhadapi mereka, bunuh semua! Aku muak melihat muka mereka!” Suara yang merdu dan lembut itu memerintah. Sungguh tegas dan langsung perintah bunuh! Orang macam apa sebetulnya Dewi Purbosari ini?

“Rati melaksanakan perintah, Ibu Dewi.” Setelah berkata, Rati tubuhnya telah melayang ke arah depan. Menghadapi Tiga Harimau Putih, katanya menyindir.

“Tua bangka mau  mampus, cepat menyingkir kalau ingin hidup!”

Merah muka Ketiga Harimau Putih dari Ungaran mendengar kata-kata anak perempuan di depannya itu. Sungguh menghina sekali kata-kata itu! Mereka adalah tiga gembong perampok yang telah malang melintang di daerah Ungaran. Jarang menemukan lawan yang   dapat menghadapi barisan tiga golok mereka. Ketika pulang dari pengembaraan mereka, setiba di rumah anak tunggal Simopetak, orang tertua telah terbunuh oleh Dewi Purbosari! Demikian menurut penuturan anak buahnya, maka bersicepat Simopetak mengajak kedua orang sau- daranya untuk mengejar Dewi Purbosari. Kebetulan mereka dapat bertemu di jembatan itu.

“Mundurlah bocah! Aku ingin menemui Dewi Purbosari si keparat!” Simopetak membentak.

“Hi-hi-hik, tampangmu seperti itu mau  ketemu Ibu Dewi. Tak usah yaaa!” Rati menjawab genit. “Kalau belum dihajar, kau tidak tahu siapa kami. Terimalah  ini!” Simopetak mendorongkan tangan kanannya. Dari dorongan tangan kanan itu keluarlah angin yang kuat sekali mendorong tubuh Rati, Merasakan ini, Rati mengelak ke atas dan dari atas tangannya bergerak bergantian sambil membentak.”Mampus kau! Tua bangka!”

Sinar hitam meluncur dari tangan kanan kiri Rati. Menyambar ke arah dada dan kepala Simopetak dan kedua temannya. Ternyata enam senjata   rahasia   telah diluncurkan! Ketiga lawannya yang melihat serangan dari udara ini cepat menangkis, tangan kanan bergerak kebelakang dan…… sinar putih tiga batang golok menangkis sinar hitam!

“Ting-tang! Ting-tangg! Ting-tangg!!” Hampir berbareng enam senjata rahasia yang dilepas Rati dapat dipunahkan. Berkelebat sinar putih menyambut tubuh Rati yang melayang turun!

“Ihhhh,” Rati menjerit kecil, membuat putaran di udara dan tahu-tahu tubuhnya telah melayang naik kembali. “Sambutlah yang ini!” kembali Rati membentak.

Begitu lenyap katanya, nampak kembali dua belas sinar kehitaman meluruk datang. Mengarah dada dan   kaki lawan! Ketiga Harimau Putih kaget mendapat serangan balasan ini, sungguh tidak disangka dara yang masih remaja itu akan memiliki kepandaian yang   demikian mentakjubkan! Hampir berbareng. ketiganya menangkis senjata rahasia yang mengarah dada, sambil melompat ke atas untuk menghindarkan serangan yang mengarah kaki! “Mampus kau keparat!” Dari tirai hitam yang terbuka nampak tiga sinar meluncur cepat. Tanpa ampun lagi mengenai dada ketiga orang itu, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa akan diserang oleh orang yang berada di dalam joli. ”Depp! Depp! Depp!” Rati turun kembali ke jembatan, melangkah kembali ke arah joli membungkuk dan berkata.

“Maafkan hamba, Ibunda Dewi.”

“Hemm, cepat berangkat!” Perintahnya. Rati kembali menyembah lalu memberi isarat dan rombongan kembali berjalan. Ketika melewati mayat Ketiga Harimau Putih dari Ungaran, kaki mereka bergerak menyontek dan…. mayat ketiga orang itu terlempar ke dalam sungai!

“Cepat! jangan sampai dia menanti terlalu lama!” terdengar perintah halus dari dalam joli.

Rati yang menjadi pemimpin barisan lalu melangkah cepat, kakinya seakan tidak menginjak tanah. Semua orang mengikuti dengan cepat, bagaikan terbang saja rombongan ini meluncur di jalan yang menuju ke dusun Manyaran! Dalam sekejab saja rombongan itu telah hilang di kelokan jalan di depan.Begitu rombongan Dewi Purbosari berlalu, tidak berapa lama kemudian tampak seorang pemuda berjalan pelan, tangan kirinya memegang tongkat berbau harum   kayu   cendana.   Wajah tampan itu berseri dan senyum manisnya sungguh mempesona. Ketika mendekati jembatan  sepasang     matanya  terbelalak melihat pemandangan yang terpampang di depannya! Tiga sosok mayat mengambang di atas air sungai yang dangkai, membuatnya    berhenti   melangkah. “Huppp!” Bagaikan seekor burung seriti menyambar air, tubuhnya melayang ke dalam sungai dan mengambil tiga mayat dalam sekali lompatan. Sungguh hebat sekali ilmu  meringan  kan tubuhnya, walaupun membawa beban tiga tubuh   orang yang tinggi besar, seakan pemuda itu hanya membawa benda yang  ringan  saja! Tahu-tahu tubuhnya  telah mendarat di atas tebing yang cukup jauh dari tempat itu. “Sungguh heran? Mengapa di sini terdapat tiga mayat lagi? Terang ketiganya tewas oleh racun kelabang! Hemmm, tadi ada orang yang terkena racunnya, sekarang malah tiga orang telah menjadi mayat oleh racunnya!” Suryo berkata-kata sendiri. Heran dia melihat keadaan ini, tanpa ragu dia lalu menggunakan golok yang masih dipegang oleh sang pemilik. Melepasnya dari pegangan dan membuat lubang yang cukup dalam untuk mengubur ketiga jenazah.

“Hemmm……. ada apalagi yang menanti didepan? Kenapa ada kejadian yang berurutan?” Tanyanya dalam hati. Suryo mengangkat pundaknya dan   menggeleng kepala. Lalu melangkah seenaknya menyusuri jalan, entah ke mana jalan itu menuju!

“Paman, bolehkah saya mengganggu sebentar.” Ketika berjumpa dengan seorang petani yang sedang menggarap sawah, Suryo menegur ramah.

“Ehh, apa yang dapat kubantu, anak muda?” Petani setengah umur itu menunda cangkulnya dan berjalan menuju ke pematang, di mana Suryo berdiri menanti. Naik, lalu mengajak Suryo untuk berteduh dari teriknya mentari. ”Jalan ini menuju ke mana, paman?”

“Jalan ini nanti akan melewati dusun   Manyaran. Apakah anak akan menghadiri perayaan pesta pernikahan anak Pak Lurah?”

“Ohh, tidak paman! Saya hanya sekedar mau  lewat saja.” Suryo menjawab. “Paman, apakah di sini banyak rombongan orang lewat?”

“He-he, aneh pertanyaanmu ini. Tentu saja banyak! Lha yang punya kerja, Pak Lurah. Tentu saja banyak yang datang menghadirinya.” “Maaf, paman. Pertanyaanku tadi keliru, yang saya maksudkan adalah rombongan atau orang yang berpakaian serta bertampang aneh.”

“Terang saja! Lhaa semestinya begitu. Pak Lurah kan orang yang terkenal di seluruh ka-wasan sini, malah terkenal di Ungaran sebagai jago pilih tanding! Tentu saja yang datang banyak yang aneh-aneh. Berbeda dengan kami rakyat kecil. He-he-he…….”

“’Terima kasih, paman. Dan maafkan saya yang telah mengganggu waktu paman.”

“Ahh, tidak mengapa. Marilah mampir saja ke rumahku, nanti malam kita nonton wayang kulit bersama!” ajaknya.

”Terima kasih, paman. Apa tidak mengganggu paman?” “He-he-he…… aku hidup seorang diri. Mana bisa

mengganggu!” jawabnya. “Hayo mampir ke rumahku.”

Suryo mengangguk lalu mengikuti orang tua ini. Berjalan beriringan di pematang sawah. Tak berapa lama kemudian mereka berdua telah tiba di tepi hutan, di mana nampak sebuah gubuk sederhana sekali dan kelihatan reyot.

“Aku bernama Wage.” Orang tua ini mengenalkan dirinya.

“Saya Suryo, paman.”

“Suryo….. hemmm…. Suryo….!” Seakan menghapalkan nama anak muda yang menjadi tamunya. Pak Wage duduk di emper rumah di depan bambu bersama dengan Suryo. Keduanya menikmati ubi bakar dari kebun di belakang rumah. Dua cangkir teh dengan gula aren terhidang di depan mereka. Keduanya lalu terlibat dalam pembicaraan yang akrab. Pak Wage pun lalu menceritakan siapa adanya Lurah Manyaran yang sekarang sedang merayakan pernikahan anak keponakannya.

Suryo hanya menjadi pendengar yang baik. Hanya sesekali ikut menimpali pembicaraan Pak Wage. Agaknya Pak Wage ini orangnya suka bercerita, sehingga Suryo mendapat keterangan banyak sekali mengenai keadaan di dusun Manyaran dan sekitarnya.”Kalau nak Suryo lelah, silakan mengaso di dalam.” „ , . .

“Terima kasih, paman.” Suryo lalu mohon diri dan masuk ke dalam bilik!

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 2

RUMAH Pak   Lurah Martosulaya terang benderang dengan adanya banyak lampu yang dipasang. Di depan pelataran yang dipenuhi   tamu, nampaklah orang-orang yang mengenakan pakaian ringkas serta membawa senjata bermacam-macam. Jauh di luar pagar juga telah penuh penonton berjubel untuk dapat melihat wayang kulit. Ki Dalang   Sabdo Taruno    memainkan wayangnya dengan gapah sekali, seakan-akan wayang kulit itu hidup dengan caranya membawakan pembicaraan para tokoh. Berubah- ubah cepat serta selaras  dengan  wayang   yang dibawakannya.   Apalagi    dalam hal memilih gending pengiring, sungguh hebat! Ketika Suryo Lelono dan Pak Wage datang di tempat itu, kebetulan sudah tengah malam. Ki Dalang Sabdo Taruno sedang memainkan adegan Raden Harjuna yang diiringkan  para  punakawan.  Istilah populernya GARA-GARA !

Para penonton terpingkal-pingkal oleh ulah sang punakawan yang lucu. Suryo juga tidak dapat menahan geli, banyolan-banyolan segar keluar mengocok perut!

“Neetttt…..!!! Joneetttt…..!!” Teriakan melengking seorang perempuan memecah perhatian.

“Neettt…..! Ayo pulang!!” Teriakan ini membuyarkan perhatian Suryo dan Pak Wage.

“Ada apa tho Si, di mana anak mu tadi? Kenapa kau berteriak-teriak tidak karuan!” Pak Wage mendekati perempuan itu.

“Anu, anu….. anakku si Jonet! Tahu-tahu   dia telah tiada di dekatku!” jawabnya. Lalu Darsi pun memanggil- manggil anaknya. “Neett …..!! Joonneeetttt……!” “Tenang, tenanglah Si. Nanti kau membuat kacau perayaan Pak Lurah!” Pak Wage menenangkan Darsi supaya dapat menahan diri. Dia berjanji akan membantu untuk mencari anak itu. Mendengar ini, Darsi menjadi agak tenang.

“Mannn…..! Ayo pulang nak.   Kau ada dimana?” Tiba- tiba terdengar teriakan lain.

“Anakku di mana? Diii….! Nardii, kau di mana nak?” Ternyata enam orang telah kehilangan anak. Anak yang berumur sekitar delapan tahun sampai sepuluh tahunan, entah terselip di mana? Ketika orang tua mereka memanggil-mang gil mengapa tiada yang menyahut.

“Pasti ini perbuatan iblis itu!” seorang laki-laki gemuk bulat berkata dengan serius.

“Kita telah menemukan jejaknya sekarang!”

“Hisshhh! Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan dulu!”

“Pasti! Aku merasa pasti dia! Melihat kejadian anak- anak yang hilang, terang ini perbuatan iblis itu!” Gombloh mempertahankan pendiriannya.

Melihat kenekatan Gombloh, Sukirna lalu   berkata. “Mari kita periksa lebih teliti! Mungkin pendapatmu benar!” Sukirna mendahului berjalan keluar dari tempat keramaian. Gombloh juga mengikuti temannya, pandang matanya mengawasi sekeliiing. Tajam mencari-cari!

Tidak berapa lama kemudian sampailah mereka berdua di belakang rumah. Gombloh dan Sukirna mengawasi dari kejauhan, melihat kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan di rumah itu. Tiba-tiba dari pintu belakang rumah pak lurah keluar seorang laki-laki sambil membawa keranjang yang cukup besar. Ketika sampai di pagar belakang, tidak kuat, lalu di-panggulnya keranjang itu dan berjalan cepat menembus kegelapan untuk menuju ke sungai!

“Tukkk!” Dengan cepat Gombloh menahan tubuh orang itu. Dengan sekali totok saja telah membuatnya lemas dan keranjang yang akan jatuh terus disambar Sukirna!

“Kau sedang membuang apa? Hayo mengaku!”

“Aku tidak tahu. Aku hanya disuruh untuk membuang keranjang ini di sungai!” kata orang itu dengan tubuh gemetaran.

Gombloh yang bertubuh gendut membentak lagi. “Bohong! Kau pasti membuang tulang anak-anak!”

“Be….. be….. tul. Aku, aku….. ammpunnn. Aku

tidak…… ampuunnn!”

“Plakkk!!” Gombloh menempeleng kepala orang itu, jengkel melihat omongannya yang tidak karuan. “Kalau bicara yang benar! Goo-bloookkkk!!”

“Mangaap….. mangaaap…., ma maaf, den. Aku betul…. ti… dakkk!!”

“Mangap gundulmu! Mangap-mangap apa, heh, jawab!” “Begini, anu, saya…. saya disuruh membuang ini! Kata

Raden Wirangrong, benda ini harus dibuang di tengah kali. Untuk tumbal!!” Akhirnya dapat juga orang itu menjawab serta memberi keterangan yang agak jelas.

“Desss!” Sebuah pukulan mengenai tengkuk. Tanpa ampun orang itupun menjadi pingsan! Sukirna dan Gombloh lalu memeriksa isi keranjang! Apakah yang didapatkan kedua orang itu? Tulang-tulang putih yang telah hancur! Seakan memang sengaja dihancurkan untuk menjaga kerahasiaannya. “Raden Wirangrong? Siapa itu Raden Wirangrong ya Bloh?” tanya Sukirna. Gombloh hanya menggeleng kepala serta mengangkat pundak. Lalu iapun menjawab.

“Lebih baik kita selidiki besok pagi!”

“Mari kita kembali ke tempat pesta!” Sukirna lalu berjalan kembali ke tempat keramaian, begitu tiba di sana ternyata Jonet anaknya Bu Darsi telah dapat ditemukan! Ternyata anak itu tertidur dekat dengan si pemukul gong! Pak Wage memondong anak itu untuk dibawa keluar, diserahkan kepada orang tuanya. Darsi menerima anaknya dengan mata berlinang air mata kegirangan!

Sebetulnya apa yang terjadi? Siapakah Raden Wirangrong itu? Marilah kita ikuti perjalanan Dewi Purbosari yang diiringi dua belas pelayan perempuan yang cantik-cantik!

“Sembah hormat untuk Ibunda Dewi!” Ki Lurah Martosulaya berteriak. Semua yang ada di ruangan dalam menyembah  sambil  membungkuk  sampai kepala menyentuh tanah dan kedua tangan dilonjorkan ke depan. Dewi Purbosari tetap berada di dalam joli yang tertutup oleh sutera hitam tipis. Duduk di tengah, menghadapi para pemeluknya yang menyembahnya.

“Kuterima sembah sujudmu, kawulaku!”

Semua orang yang berada di situ lalu meng angkat muka, tetapi mereka semua tetap duduk diam menanti apa yang akan dikatakan oleh junjungannya! Keadaan   menjadi hening sekali. Dengan berjalan jongkok Ki Lurah maju mendekati joli. Pada waktu itu seorang pemuda memasuki ruangan dengan gagahnya, ketika sampai di depan pintu kamar menyembah.   “hamba   menghaturkan   sembah, Ibunda Dewi.” “Mendekatlah ke mari Wirangrong! Aku ingin mendengar laporanmu, apakah yang kuminta telah kausiapkan!”

“Baik, Ibunda Dewi.” Raden Wirangrong maju ke depan dan duduk di depan joli. “Pesanan Ibunda Dewi telah tersedia di kamar!”

“Ihh-ih-ih-ih….! Kau anak bagus, bocah bagus tunggu hadiahku nanti! Hik-hi-hi-hik….!”

Tirai joli disingkap dari dalam, sebuah tangan yang putih kemilauan tersembul keluar. Tak berapa lama kemudian tirai telah tersingkap semua. Semua orang memandang dengan takjub! Dewi Purbosari bersila di tengah tumpukan bantal, wajahnya yang putih nampak bercahaya! Semua tubuhnya kelihatan mengeluarkan sinar   yang   membuat silau orang-orang yang berada di ruangan. Semua orang kembali sujud melihat ini. Mereka percaya bahwa Dewi Purbosari adalah seorang bidadari yang turun ke bumi, menjadi sesembahan dan akan   menuntun mereka menuju ke kesampurnaan!

Memang! Pada waktu penduduk desa Manyaran sedang dilanda penyakit, datanglah Dewi Purbosari ke tempat itu. Hanya dengan melambaikan tangannya saja sang   dewi telah menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Maka jadilah dia menjadi dewi sesembahan penduduk desa itu. Apa lagi melihat cahaya yang memancar dari tubuhnya! Mereka semakin menjadi percaya seratus prosen. Dewi Purbosari ini pastilah seorang bidadari yang turun ke dunia!

“Aku ingin bersamadhi di kamar yang telah disediakan. Mari Wirangrong!” Tangannya melambai, dan Wirangrong pun bangkit mengikuti di belakang. Semua lalu bubaran, kembali menyiapkan keperluan   pesta   pernikahan keponakan lurah itu. Bagus Danang! “Hi-hi-hik, kau sungguh pandai memilih!” katanya lirih, sambil tangannya mengelus wajah Wirangrong. Begitu dielus, Wirangrong bagaikan orang tidur dengan mata terbuka dan bibirnya tersenyum. Entah apa yang dilihatnya?

Sekali berkelebat Dewi Purbosari telah melayang ke arah pembaringan. Di mana nampak tergolek lima anak yang sehat berusia delapan sampai sepuluh tahunan! Sepasang matanya mengawasi tajam dan begitu tangan kirinya bergerak, padamlah lampu penerangan di kamar. Di atas pembaringan nampak sesuatu yang mengkilap bergerak- gerak. Tidak berapa lama kemudian terdengar ketawa kepuasan.

“Hi-hi-hi-hik…..! Aku akan bertambah muda kembali serta badanku akan semakin bercahaya.   Hi-hi-hik….!” Dewi Purbosari mendekap tubuh Raden Wirangrong serta melepas semua pakaiannya. Raden Wirangrong dibawa berputaran cepat. Makin lama semakin cepat dan…… lenguhan panjang terdengar berkali-kali mendirikan bulu kuduk! Menggugah berahi!

“Buanglah keranjang itu, bocah bagus!”

“Sendika dawuh, Ibunda Dewi.”   Wirangrong menyembah lalu mundur membawa keranjang. Pada waktu tengah malam itulah dia memerintahkan seorang pelayannya untuk membuang keranjang. “Aku akan melanjutkan perjalananku! Masih banyak kawulaku yang lain sedang menanti kedatanganku!”

Ki Lurah Martosulaya dan Wirangrong mengantar kepergian rombongan ini, anehnya mereka pergi melalui belakang rumah. Begitu keluar dari pagar, rombongan itu seakan-akan tertutup halimun keputihan tahu-tahu telah lenyap! Ki Lurah dan Wirangrong yang melihat kejadian ini terbelalak, lalu duduk menyembah ke arah perginya Dewi Purbosari dan rombongannya! Sampai wayang kulit bubaran ternyata kelima anak kecil itu tidak dapat diketemukan. Orang tuanya telah mencari   anak-anak sampai pulang ke rumah dan dicari di rumah teman- temannya. Akan tetapi aneh, anak-anak itu lenyap begitu saja! Seakan ditelan bumi. Orang tua mereka menjadi kelabakan. Mereka merasa yakin bahwa tidak mungkin kalau anak-anak yang masih kecil itu berani pulang ke rumah sendiri di tengah malam!

Siang itu seluruh penduduk desa Manyaran menjadi geger dengan hilangnya kelima kanak-kanak itu. Mereka berusaha mencari ke sana ke mari. Akan tetapi hasilnya nihil!

Dua orang berjalan keluar dari desa. Mereka teringat akan keranjang berisi bubuk keputihan tadi malam. Gombloh orangnya gemuk, wajahnya selalu tertawa dengan adanya mulut yang terlalu lebar. Sedangkan temannya yang bernama Sukirna bertubuh tegap. Kembali mereka terlibat dalam pembicaraan yang sengit.

“Pasti! Bubuk putih itu tentulah tulang manusia.” Katanya dengan tangan   bergerak-gerak   membentuk kepalan. “Keparat jahanam! Akan kulumatkan iblis itu kalau bertemu denganku. Seeetaaaannnnnn!”

“Sudahlah, Bloh. Tenang, kita perlu ketenangan dalam menghadapi siluman itu. Ingat apa kata bapa pendeta! Jangan terburu nafsu menghadapi suatu persoalan!” Kirna berkata. Memandang wajah Gombloh yang mendongkol di sampingnya. “Kau selalu saja ingin cepat-cepat selesai! Sebetulnya apa yang mengganggu pikiranmu, tho, Bloh?”

“Alhaaaa, seperti tak tahu saja kau Kir!” Gombloh jengkel mendengar pertanyaan Sukirna itu. “Itu, tu…. si bahenol Narti. Dia menuntut untuk cepat-cepat kawin!” “Ha-ha- ha……!”

“Hissshhh. Malah ketawa, tidak lucu Kir!”

“Kan enak. Dapat gadis cantik, kaya lagi! Apa yang kautunggu!”

“Enak dengkulmu! Kalau Narti sih aku mau aja! Akan tetapi, ibunya si janda kembang itu lho!” Gombloh mengeluh. Sukirna tertawa mendengar keluhan temannya. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan kembali sambil berbicara asyik. Seorang pemuda tampan berpakaian putih berjongkok di dekat keranjang. Tangan kanannya masuk ke dalam keranjang, ketika keluar lagi membawa sebuah potongan tulang kecil!

“Hei, apa yang kauperbuat di situ!”

Pemuda tampan itu berdiri tenang, menanti kedua orang yang mendatanginya. Ketika dekat, Gombloh langsung saja membentak. “Apa yang kau cari di keranjang ini, he?”

“Apakah keranjang ini kepunyaanmu?” “Kalau ya bagaimana?”

“Ah, tidak, aku hanya ingin tahu saja!”

“Pergi kau dari keranjang itu!” Sukirna membentak.

“Kalau aku tidak mau pergi? Apa yang akan kaulakukan?” Suryo tersenyum manis sekali. Akan tetapi kedua orang itu merasa seperti diejek. Gombloh yang sedang kesal, tidak dapat menahan amarahnya lagi lalu mengayun tangannya mematuk ke arah pelipis!

“Uahhh,  ganasnya! Sayang   luput,   he-he-he…..!” Dengan menarik kaki ke belakang, Suryo mengelak dari serangan. Melihat serangannya dapat dipunahkan dengan mudah Gombloh bertambah marah. “Mampus kau!” Serangan kedua datang menyusul. Kedua tangannya mematuk-matuk tubuh Suryo dengan cepatnya semua ini masih disusul dengan tendangan- tendangan yang mengandung tenaga yang kuat sekali! Suryo yang mendapat serangan hanya berputar-putaran menghindar dari serangan yang datang menggebu.

“Sayang, gerakanmu kurang cepat! Ahh, kembali luput lagi!”

Sukirna yang melihat ini, menjadi tidak sabar dan maju mengeroyok. Suryo masih menghadapi keduanya dengan tenang, dia mengenal gerakan ilmu silat yang dimainkan keduanya. Tidak salah lagi ilmu silat burung bangau! Sebuah perkumpulan silat di Semarang yang cukup ternama. Perguruan silat ini dipimpin oleh Ki Mardi Angunbaya yang sangat terkenal di kalangan para pendekar, banyak murid-muridnya yang menjadi pendekar penegak kebenaran dan pembasmi kejahatan.

“Sabar kisanak, aku tidak bermaksud buruk!” Sambil menangkis tendangan kaki Sukirna yang mengarah lambung. Begitu tangannya diangkat tak ampun lagi tubuh tegap Sukirna terlempar ke belakang.

“Haiittt!” Sukirna membuat putaran di udara, kedua kakinya dapat mendarat dengan tepat!

“Kena!” Dan tubuh Gombloh telah berdiri dengan kaku. Posisinya membuat Suryo tidak dapat menahan tawanya melihat keadaan Gombloh. Keadaan kaki kiri diangkat, menendang baru setengah jalan dan tangan memeluk dengan kedua tangan membentuk paruh! Agaknya sedang mematuk kedua pelipis si pemuda dan menendang ke arah perut!

“Ha-ha-ha……, maafkan aku kisanak!” Sambil tertawa tangan Suryo berkelebat dan Gombloh kembali dapat bergerak! Kedua orang itu lalu maju ke depan memberi salam dan bertanya.

“Sebetulnya siapakah kisanak ini? Mengapakah berada di dekat keranjang ini?” Sukirna bertanya dengan halus. Dia menyadari bahwa pemuda ini adalah seorang sakti, terbukti bahwa sejak tadi agaknya hanya seperti orang main-main saja.

“Ketika sampai di sini tadi pagi, aku merasa heran sekali melihat seorang yang pingsan di pinggir jalan. Begitu kusadarkan, orang itu malahan melarikan diri. Membuat aku bertambah curiga!” Suryo menjawab, belum memperkenalkan namanya.

“Begini, kisanak. Aku bernama Gombloh dan ini saudaraku seperguruan bernama Sukirna. Kami berdua sedang melacak seorang siluman yang suka memakan anak- anak kecil, kami melakukan pengejaran sejak dari Kali Gawe.” Gombloh lebih dulu memperkenalkan diri mereka serta memberitahu tentang maksudnya sehingga dia dapat sampai di tempat ini.

“Maafkan aku, saudara Gombloh dan saudara Sukirna. Aku tidak tahu kalau andika sedang melakukan pengejaran,” jawabnya. “Namaku  Suryo,   seorang pengelana dari Mataram!”

“Suryo…..? Suryo….. apakah bukan Suryo Lelono?” Gombloh terbelalak mendengar nama Suryo. Dengan tajam dia mengamati pemuda berpakaian putih di depannya dan ke arah tongkat hitam berbau cendana, lalu sambil menepuk pahanya sendiri berkata.

“Benar! Andika tentulah Suryo Lelono. Seorang pendekar muda yang baru-baru ini membasmi Iblis Ular Hijau di lereng Merapi!” “Maafkan kecerobohan kami berdua, kisanak!” Sukirna meminta maaf. Gombloh tidak melewatkan kesempatan baik mengetahui bahwa pemuda di depannya ini adalah Suryo Lelono. Seorang pendekar muda yang namanya menggegerkan dunia kependekaran di Nusa Jawa!

Gombloh bersinar-sinar wajahnya. “Wahh, kebetulan kalau begitu. Begini, saudara Suryo, kami berdua mohon pertolonganmu untuk melacak siluman yang suka menculik anak-anak kecil ini.”

“Benar, saudara Suryo. Tolonglah kami menghancurkan siluman itu.” Sukirna mendukung usul Gombloh. Suryo memandang keduanya, mulutnya tersenyum manis. Akan tetapi sebelum dia menjawab telah didahului oleh Gombloh kembali.

“Kita bertiga dapat mengejar siluman itu bersama. Nanti kalau saya dan Kirna kalah, barulah saudara Suryo membantu! Saya ingin mencekik leher siluman itu untuk membalaskan kematian keponakan……” Belum sampai habis bicaranya, Sukirna telah menyaut. “Keponakan calon isterinya, Narti! He-he-he……!” Suryo pun tersenyum. Gombloh mendelik memandang temannya, akan tetapi kemudian mengangguk-angguk membenarkan. Mereka bertiga lalu memeriksa bubuk putih yang ternyata adalah bekas tulang anak-anak. Lalu menguburnya di pinggir jalan, dan mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari siluman yang dikatakan oleh Gombloh dan Sukirna. Tidak berapa lama kemudian ketiganya telah hilang di balik rumpun bambu di tepian desa. Melanjutkan pencarian mereka!

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 3

SEMINGGU telah berlalu, tetapi kedua orang itu tetap berputaran di dalam hutan yang itu-itu saja! Tidak dapat keluar dari hutan yang lebat dengan pohon-pohon besar dan tinggi bagaikan raksasa, berulang kali keduanya ke tempat yang itu-itu juga. Ini diketahuinya setelah melihat benda yang terjatuh di tanah, yaitu sebuah tempat tembakau yang terbuat dari daun mendong!

“Ini dia, tempat tembakaumu yang hilang, kang Kromo.” Sambil menuding sebuah benda yang tergeletak di dekat akar pohon.

Kromoleo mengamati dengan teliti, lalu mengambilnya. Benar! Ini adalah tempat tembakaunya yang hilang entah di mana. Seminggu yang lalu seingatnya dia berteduh di tempat ini. “Benar katamu, Jod. Kalau begitu kita telah berputaran di dalam hutan ini. Edaaann”

“Bagaimana baiknya, kang.”

“Kita nekat saja! Biarpun malam, kita cari sebuah dusun. Jodi, kau nanti ke pohon yang tinggi untuk melihat kalau- kalau di dekat sini ada perkampungan!”

“Baik, marilah kita lanjutkan sekarang saja.” Keduanya lalu berjalan ke arah utara, melalui jalan setapak di daiam hutan itu. Ketika hari telah sore, Jodi memanjat sebatang pohon yang tinggi.

“Betul juga katamu, kang! Itu…..itu….. di sebelah kanan ada dusun!” Iapun berteriak keras kepada temannya si Kromoleo yang menanti di bawah.

“Ayoh cepat turun, kita lanjutkan! Nanti keburu gelap!” teriak Kromoleo. Jodi bergegas menuruni pohon, meloncat ke dekat temannya. Keduanya berganti arah menuju ke sebelah kanan, lama sekali mereka berjalan menembus hutan dan kegeiapanpun telah merambah hutan itu! Malam telah mendatang! Sambil berjalan menuju ke gerbang dusun, Kromoleo yang wajahnya agak bersinar gembira melihat dusun di depannya berkata. “Adi Jodi, malam ini aku ingin menebus tidurku. Beberapa malam dikeroyok nyamuk sungguh menjengkelkan!”

“Akupun juga demikian, kang. Semoga saja di tempat ini ada   penginapan   yang   menyediakan   guling! Uahhh….. lumayan untuk mengobati lelah. Seminggu berputaran di dalam hutan!” Jodi menyatakan keinginannya. Memang mereka berdua sangat kompak dalam hal satu itu!

“Ahh, aku merasa malas. Lebih enak makan ayam panggang dan mengaso, memulihkan tenaga yang hilang percuma!”

“Ayaaaa, sok alim!” Mereka berdua memasuki dusun. Keduanya mencari tempat untuk menginap, kebetulan di tengah dusun itu terdapat sebuah penginapan yang agak lumayan. Mereka memasuki rumah penginapan dan meminta kamar. Ketika berada di ruang dalam, pengurus rumah penginapan sedang duduk membaca buku tebal di belakang meja.

“Maafkan kami kalau mengganggu, paman.   Kami berdua minta dua kamar kosong!” Begitu sampai di depan si pemilik kamar, Kromoleo langsung saja memberitahukan maksudnya.

Pemilik rumah penginapan tanpa menunda bacaannya, menyerahkan dua kunci. Tangan kiri masih memegang buku, tanpa bertanya siapa nama orang yang datang menginap langsung menyodorkan kunci di meja di depannya. Kromoleo mau bertanya lagi akan tetapi tidak jadi. Melihat kunci itu telah ada nomornya. Mengambilnya lalu berdua mencari kamar itu sendiri.

Aneh memang. Kenapa pemilik penginapan itu tidak mau menunda bacaannya, malahan tidak bertanya sepatah katapun! Juga tidak menanyakan siapa nama orang yang menyewa kamar langsung menyerahkan kunci kamar! Diruangan itu terdapat tempat duduk yang lumayan banyaknya. Setiap empat kursi, di tengahnya terdapat meja bundar. Semua ada kalau hanya sepuluh meja. Ketika malam telah datang, lampu-lampu pun dinyalakan untuk menerangi semua tempat dan tidak berapa lama kemudian nampaklah banyak orang berlalu lalang di jalan depan rumah penginapan itu.

Semua rumah di dusun itu telah menyalakan lampu di tepi jalan. Para pedagangpun berdatangan menjajakan semua dagangannya. Sedangkan para penduduk berjalan hilir mudik, malah banyak yang memasuki rumah makan dan berbincang dengan rekannya dengan asyiknya di kursi rumah makan itu. Rumah penginapan yang mempunyai pungsi ganda dengan membuka rumah makan itu telah penuh dengan pengunjung. Tiada lagi tempat yang kosong!

Jodi keluar dari kamarnya untuk mencari teman tidur. Begitu membuka pintu, dia melongo! Entah sejak kapan di tengah ruangan itu ada lima orang penari yang sedang beraksi, menghibur pengunjung! Wajahnya cantik-cantik dengan kulitnya kuning keputihan di bawah sinar penerangan di ruangan. Jodi mendekat sambil bertepuk tangan mengikuti irama gending pengiring sambil sepasang matanya tiada lepasnya mengawasi seorang penari yang berselendang kuning. Tersenyum menarik, ketika sepasang mata penari itu bentrok dengan pandang matanya! Penari itupun tersenyum membalas senyumannya dan menggerakkan tangan seolah   menggapainya.   “Bolehkah aku ikut menari?” tanyanya.

Si penari tersenyum manis, mengangguk. Keempat temannya mundur lalu duduk di dekat penabuh gamelan. Jodi semakin senang, lalu diapun menggerakkan kaki tangannya mengikuti irama tabuhan yang dialunkan dan mukanya tersenyum-senyum menarik hati!

Kromoleo terbangun dari tidurnya. Keluar kamar dan melihat temannya sedang asyik menari dengan seorang perempuan cantik. “Keeluuuukukkk……!” perutnya minta isi. Dia menoleh ke kanan kiri, mukanya kemerahan menahan malu. Perutnya sungguh tidak tahu aturan! Orang-orang sampai menengok mendengar keruyuk dari perut yang minta diisi! Seorang pelayan lewat, dia lalu memesan makanan serta meminta   pelayan   untuk mengantar pesanannya ke dalam kamar.

“Paman, minta ayam gorengnya satu dan nasi putih satu porsi!”

Si pelayan mengangguk hormat. “Tolong antarkan ke dalam kamar, paman.” Sambungnya cepat. Dia merasa malu untuk duduk di ruangan itu. Ketika si pelayan berlalu diapun lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, membiarkan daun pintu tetap terbuka!

Tanpa mengetuk pintu lagi si pelayan masuk dan menaruh pesanan di meja. Bau ayam goreng menusuk hidung, menimbulkan selera! Apalagi nasi putih itu masih mengepulkan uap menandakan bahwa nasi itu baru saja diangkat dari periuknya. Begitu pelayan membungkuk lalu meninggalkan kamar, Kromoleo mendekati meja untuk menyantap ayam goreng serta nasi putih yang panas menimbulkan selera makan dan menggugah cacing dalam perutnya. Ketika Kromoleo membawa ayam goreng untuk dimakan, di depan mulutnya terdengar tawa mengikik secara tiba-tiba “hik-hik-hik-hik……!”. Dia memandang ayam itu.,

“Seeee……. taaaannnn…..!” kedua tangannya bergerak melempar ayam goreng!

“Dukk! Dukk!” ayam goreng yang terlempar menyentuh lantai, mental dua kali.

“Ihh-hik-hik-hik….. kikikikik…..!” Tiba-tiba ayam itu berubah menjadi kepala manusia dan tertawa mengikik menyeramkan. Tanpa ampun lagi Kromoleo   tersurut mundur dua langkah ke belakang dan tubuhnya meng-gigil, sepasang matanya terbelalak tidak percaya akan apa yang dilihatnya barusan! Akan tetapi kikik tawa kepala itu dengan sepasang matanya yang   mengawasinya, membuatnya ketakutan setengah mati dan…. diapun lalu rnengambil langkah seribu!

“Bressssss! Dukkk!” Ketika baru saja tiba di depan pintu kamar tubuhnya telah tertabrak   sesuatu.   Keduanya terpental kembali! Ternyata ketika Kromoleo lari karena ketakutan, dari luar juga datang Jodi yang berlari menuju ke kamarnya. Tanpa ampun lagi keduanya saling tabrak dan tubuh mereka terlempar ke belakang, saking kerasnya tubrukan itu!

“Seeeeee……. taaaannnnnn…….!!”

Hampir berbareng keduanya berteriak serta berusaha untuk bangun. Berlari kembali dan “duukkk!” kembali terjadi tabrakan! Saking gugup dan takutnya, keduanya tidak dapat mengontrol diri mereka. Tabrakan yang kedua kalinya ini menyadarkan keduanya. Lalu bersi-cepat mereka lari keluar dari rumah penginapan ! “Hi-hik-hi-hik-hi-hik-hi-hi……..!” Terdengar suara tawa kekeh banyak sekali keluar dari mulut banyak orang. Membuat Kromoleo dan Jodi menengok ke belakang dan….. merekapun berlari sipat kuping ke depan!

“Brakkk! Gedebukkk!” Tubuh mereka telah melanggar pagar dan terbanting di jalan, bergulingan beberapa kali. Bangun dan berlari pergi. Menabrak beberapa orang serta dagangan para pedagang di pinggir jalan. Akan tetapi anehnya semua yang tertabrak tidak terjatuh! Mereka berdua seakan-akan menabrak bayangan saja. Membuat keduanya makin ketakutan dan berlari sipat kuping! Berulang kali saling tabrak ketika ada di persimpangan jalan, agak nya salah pengertian!

Ketika Kromoleo lari ke kiri, Jodi malah membelok ke kanan. Mengetahui salah arah, keduanya membalik lagi untuk bergabung! Dan tanpa ampun lagi keduanya bertabrakan. Terpental ke belakang, lalu berusaha bangkit untuk berlari kembali akan tetapi, saking takutnya kembali mereka berdua saling bertabrakan kembali!

“Ke….. ke…… an sa…. san…. ka-ka-kang!” Jodi berusaha untuk bicara. Memberi tahu arah keluar dari dusun! Kromoleo juga memandang keluar dusun. Lalu hampir berbareng berdiri dan berlari menuju pintu gerbang desa!

“Brakkk! Brusss…..! Blekkkk!” Kembali mereka berdua menabrak dinding kayu yang tebal. Ternyata yang disangka gerbang desa adalah dinding sebuah rumah yapg kokoh! Pandang mata Kromoleo dan Jodi telah berubah. Bagaimana bisa terjadi demikian? Keduanya juga tidak bisa mengerti sebabnya! Suara tawa terkekeh itu masih terdengar jelas di telinga mereka membuat mereka semakin bingung.

“Tooooobatttt…… Duh Gusti…… tolonggg!” Akhirnya tanpa sadar Kromoleo menyebut nama kebesaran Asma Penguasa Alam Semeta! Terjadilah keanehan! Tiba-tiba saja Kromoleo dan Jodi dapat melihat jelas jalan untuk keluar dusun. Sebetulnya mereka berdua sudah berada dekat dengan pintu gerbang.   Entah bagaimana keduanya malah menabrak dinding rumah orang?

Tanpa ayal lagi keduanya lalu berlari keluar dari dusun itu akan tetapi kembali. jatuh bangun berulang kali. Akhirnya mereka berdua dapat memasuki hutan.

“Aduuhhhhh……!!”

Jodi terlempar ke depan dan jatuh tengkurap di tanah. Kepalanya merasa seakan-akan pecah terkena batu yang menonjol dari tanah. Napas nya ngos-ngosan bagaikan sebuah lokomotif yang menyeret gerbang kereta terlalu banyak! Sebuah tangan memegang pundaknya!

“Seee…… taannnn……! Tooooloooonggggg!!” Jodi berteriak sekuatnya, mencoba berdiri lalu kembali dia berlari sekuatnya ke depan dan….. “Dukkkkk!!” tubuhnya kembali terlempar ke belakang! Diam tak bergerak lagi, pingsan! Kromoleo yang memegang pundak Jodi juga terkejut, ikut lari ke depan. Kromoleo sadar setelah menyebut Asma Allah. Maka ketika dia melihat Jodi kembali menabrak pohon serta terpental ke belakang, dia segera maju memburu. Melihat temannya pingsan, Kromoleo bertambah panik. Lalu berusaha untuk menyadarkan Jodi. Ketika mendengar suara ranting patah, Kromoleo menoleh terlihat tiga sosok bayangan kehitaman mendekatinya!

“Tooooo…… loooooo…… to o longggg!”

Kromoleo menjerit keras sekali. Nyalinya telah melayang pergi meninggalkan tubuhnya melihat sosok bayangan putih melayang mendekati dirinya, diikuti oleh dua sosok bayangan hitam! Habis berteriak Kromoleo terjengkang ke belakang dan…. diam tak bergerak lagi! Ternyata Kromoleo menyusul temannya, pingsan!

Suryo, Gombloh, serta Sukirno mengelilingi kedua tubuh yang tergolek di tanah. Suryo berjongkok memeriksa keduanya. Menarik napas lega ketika mengetahui kedua orang itu hanya pingsan saja. Lalu mengambil air untuk kedua orang itu. Tak berapa lama kemudian kedua orang itu sadar. Jodi yang pertama kali membuka mata. Begitu kelopak mata terbuka dia melihat bayangan putih yang samar-samar. “Seeee……seeetaannnn……. tolonggggg!” teriaknya keras, berusaha untuk bangun kembali. Lalu melarikan diri dari bayangan putih yang telah berdiri di dekatnya. Jodi agaknya belum sepenuhnya tersadar dari keadaannya yang tercekam oleh ketakutan tadi! “Blueeekkkk!!” Tubuhnya menabrak sesosok tubuh di depannya.

“Tenang! Tenang saudara, sabar dulu. Kami akan berusaha untuk menolongmu!” Sukirna memegang kedua pundak Jodi yang tadi menabraknya ketika hendak mencoba melarikan diri!

“Dia…… diiii…… diaaaaa…..!!” Sambil menunjuk ke arah Suryo Lelono yang berpakaian putih yang berdiri tenang di belakangnya. Jodi tidak berani menoleh, hanya ujung jarinya saja yang menunjuk-nunjuk melalui atas pundak! Ketika itulah Kromoleo juga membuka sepasang matanya. Mengucek-uceknya sebentar dan memandang terbelalak tubuh putih. Samar-samar terlihatlah   wajah Suryo di balik kabut yang membubung di pagi hari!

“Aaduuuhhhhh!”   Kedua   tangannya    menggosok belakang kepala. Ternyata kepalanya tadi terkena batu tatkala terpental ke belakang di dalam desa itu. Akan tetapi karena keduanya baru mengalami kejadian yang merontokkan nyali mereka, rasa sakit di tubuh tidak terasa lagi. Akan tetapi ketika mereka telah lolos dan sadar kembali serta tidak dicekam ketakutan. Kesakitan akibat tabrakan serta jatuh bergulingan itu sekarang baru terasa!

Jodi juga mengeluh kesakitan. Setelah tenang kembali, dengan tubuh yang terasa sakit semua Jodi bersama Kromoleo lalu bercerita. Mereka berdua saling isi mengisi dalam bercerita mengenai apa yang dialami keduanya semenjak mereka berdua tersesat di dalam hutan dan desa hantu! Suryo, Gombloh dan Sukirna mendengarkan cerita Jodi dan Kromoleo penuh perhatian. Mereka bertiga tidak ada yang memotong cerita kedua orang itu. Suryo mengangguk-anggukkan kepalanya.

”Ck-ck-ck….. sungguh pengalaman yang menakutkan.” tanpa terasa Gombloh menggeser duduknya mendekati Suryo. Kalau ada apa-apa yang datang, yaitu hantu yang diceritakan oleh Kromoleo dan Jodi, dia dapat sembunyi di belakang jago kita dengan cepat! “Menyeramkan sekali! Hiiiiii, berdiri bulu romaku!” Tangannya memegang leher di bagian belakang. Ternyata Sukirna juga terbawa hanyut oleh cerita dan pengalaman Kromoleo dan Jodi yang menyeramkan itu!

“Hemmm, sungguh menarik cerita ini. Memang kita semua harus selalu ingat kepadaNya.   Mohon dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk serta dijauhkan dari segala cobaan!” Suryo lalu menerangkan semua petuah-petuah yang didapatnya dari ayahnya maupun yang diterimanya dari gurunya Pengemis Alis Putih. Kita harus selalu Eling dan Ingat akan segala larangan yang telah ditunjukkan serta menjauhi nya. Hati kita harus selalu tertuju kepada Dia, mohon untuk dibimbing di jalan yang benar. Jalan yang menjadi kehendakNya! Waspada selalu akan jalan kehidupan yang kita tempuh agar jangan sampai kita terpeleset jatuh di lembah dosa yang ditawarkan oleh setan yang terkutuk. Tawaran setan melalui segala kesenangan dan kenikmatan di dunia ini! Empat orang itu mendengarkan dengan penuh kesungguhan. Mereka takjub melihat betapa anak muda itu telah dapat memberi penerangan yang setaraf dengan guru-guru mereka! Malah lebih mendalam lagi!

Ketika matahari telah bersinar, Suryo mengajak mereka untuk meneliti keadaan dusun itu! Kromoleo dan Jodi dengan takut-takut mengantar mereka menuju ke dusun. Begitu hampir sampai di pintu gerbang, Kromoleo dan Jodi mendekati pemuda lalu berjalan mepet di tubuh si pemuda.

Suryo menenangkan keduanya. “Jangan takut, kalau matahari sudah terbit serta dalam keadaan terang, kukira semua penghuni dusun yang telah menjadi roh halus itu telah pergi!”

“Tapi……! Tapi……!” Keduanya menjawab hampir berbareng.

Masih dalam keadaan ketakutan. Gombloh yang agak ugal-ugalan sepertinya ingin menggoda!

“Itu dia! Lihat!!” dia berteriak keras di belakang kedua orang itu!

“Tolongggg!” Kedua orang itu menubruk Suryo, merangkulnya. Meminta pertolongan sipemuda!

Suryo menoleh. Memandang Gombloh dan   Sukirna yang tertawa geli melihat ulah kedua orang itu. Mengetahui ini, keduanya menjadi malu lalu melepaskan kedua tangan mereka. Kromoleo Iain berkata. “Tolong ya mas. Jangan membuat jantung ini copot! Kalau copot ke mana lagi aku mencari gantinya?” “Yaaa ke pasar loakan th o kang!” “Ha-ha-ha !”

Suryo Lelono tersenyum mendengar kelakar Gombloh. Sukirna juga memegangi perutnya karena sakit menahan geli hati! “Jangan menggoda lagi. Kita sekarang ini menjadi kawan senasib sependeritaan. Harus saling bantu dan saling membesarkan hati!” Suryo berkata sambil memandang Gombloh. Gombloh lalu   meminta   maaf kepada kedua orang itu. Merekapun lalu meneruskan perjalanan memasuki desa yang ternyata kosong tanpa penghuni.

Rombongan ini memasuki rumah penginapan yang ditunjukkan oleh Kromoleo dan Jodi. Begitu mereka memasuki rumah makan. Kromoleo dan Jodi hampir saja berlari kembali keluar! Untung pundak mereka dirangkul oleh Gombloh dan Sukirna.

Ternyata di tempat itu penuh dengan tengkorak yang malang melintang memenuhi ruangan. Ketika mereka memeriksa seluruh rumah di dusun, ternyata keadaannya hampir sama semua! Di mana-mana terdapat tengkorak manusia yang sudah tinggal tulangnya saja. Keadaan rumahpun telah tidak karuan, penuh dengan sarang laba- laba dan debu! Suryo mengajak teman-temannya untuk mengubur tulang-tulang tengkorak itu. Mereka membuat lubang lalu mengubur kerangka itu di luar desa. Setelah berdoa mereka lalu melanjutkan perjalanan !

Suryo menyatakan keheranannya. Bagaimana seluruh penduduk dusun dapat mati semua di rumah masing- masing dan semua itu disebabkan oleh apa? Semua pertanyaan ini tak dapat dijawabnya! Empat orang kawan seperjalanannya itupun juga terheran-heran melihat kenyataan yang mereka saksikan di dusun itu. Mereka bertekad untuk mencari jawab dari misteri ini!

Merekapun segera melanjutkan perjalanan mereka. Kromoleo juga menceritakan sebabnya mereka berdua sampai di tempat yang mengerikan itu. Begitu mendengar cerita Kromoleo, Gombloh dan Sukirna saling pandang. Lalu keduanya juga bercerita mengenai maksud perjalanan ini! Mereka segera terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan sambil berjalan menembus hutan!

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 4

MENGAPA sebuah desa sampai seluruh penduduknya terbasmi habis? Pertanyaan yang memenuhi benak Suryo dan kawannya ini, juga ikut menyeret kita untuk mengetahui jawabnya!

Baiklah kita mundur sejenak untuk mengetahui latar belakang pembunuhan yang terjadi pada sebuah desa itu! Pada suatu hari, seorang pemuda remaja yang ganteng dengan  mengenakan pakaian mewah, memasuki sebuah desa yang bernama Jatilaya! Langkahnya mantap penuh gaya, pandang matanya sinis. Bibir yang tipis itu membentuk senyum seakan mengejek pada apa yang dilihatnya, pembawaannya yang angkuh itu   oleh karena dia merasa lebih tinggi dari orang-orang lain. Pemuda ini bukan lain adalah Raden Wirangrong, anak Ki Lurah Martosulaya kepala desa Manyaran!

Rumah yang paling besar di desa itu, menjadi tempat tinggal  dari  adik ayahnya yaitu  paman dari Raden Wirangrong. Adalah rumah milik Ki Lurah Suratimantra kepala desa Jatilaya yang terkenal berwatak keras dan tegas! Pemuda tampan ini melangkah menuju ke rumah paling besar. Ketika  bertemu  dengan para penduduk  yang berpapasan dengannya serta  memberi  salam, Raden Wirangrong hanya tersenyum kecil saja.

“Angin apa yang membawamu datang, Rangrong.” tegurnya.

“Angin baik, Paman Suratimantra. Saya sudah kangen dengan keluarga di sini.” jawab Wirangrong cepat.

Akan tetapi pandang mata pemuda itu jelalatan ke sana ke mari. “Di manakah Adi Danang serta Diajeng Dwiyanti, kenapa tidak tampak sedari tadi, paman.” “Ha-ha- ha, adimu Danang sedang berguru ke Semarang.” Ki Lurah Suratimantra memberi tahu ke mana anaknya telah pergi. Lalu melanjutkan, “sedangkan adikmu si Dwiyanti. Itu, di dalam taman sedang membuang daun- daun bunga yang kering!”

Raden Wirangrong menoleh ke kanan. Tampak seorang gadis jelita berkulit kekuningan memakai pakaian ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang aduuhaaaiiii! Sepasang mata Wirangrong bagaikan terkena besi sembrani, tidak mau melepaskan keindahan yang ter-pampang di depan matanya! “Bagaimana kabar keluargamu. Semua dalam keadaan baik-baik saja bukan?” Raden Wirangrong tetap melihat adik keponakannya, tidak mendengar pertanyaan pamannya itu. Seluruh perhatiannya hanya tercurah ke arah gadis yang sedang memetik daun-daun kering di taman, serta pikirannya melayang jauh menembus ke awang-awang menuju ke sorga ketujuh! Setelah dua kali pamannya bertanya, barulah dia sadar akan keadaannya ini.

“Ya, paman. Anu….. anu, semua baik, paman.”

“Ha-ha-ha-ha, sebaiknya kau cepat-cepat mencari jodoh!

Agar ada yang mengurusimu, Rangrong!”

“Ahh, paman ini ada-ada saja!” jawabnya. “Aku kan masih kanak-kanak, mengapa terburu-buru untuk berumah tangga.”

“Sana kau temuilah adikmu itu! Aku mau keliling dusun untuk memeriksa keadaan.” Ki Lurah Suratimantra berdiri dan melangkah pergi menuju keluar. Tidak lama kemudian dia telah lenyap ketutup oleh bangunan rumah di seberang! Wirangrong dengan cepat meloncat dari tempat duduknya dan langsung menuju ke taman. Begitu melihat dari dekat, hatinya semakin tergoda oleh adik keponakannya si Dwiyanti yang memang cantik jeiita serta menimbulkan gairahnya. Dengan berindap-indap dari belakang tubuh Dwiyanti, dia mendekati adiknya itu. Kedua tangannya bergerak cepat!

“Aih, siapa ini?” jerit Dwiyanti kaget, ketika tahu-tahu kedua matanya telah tertutup oleh sepasang telapak tangan.

”Ha-ha-ha…… hayo siapa aku? Tebaklah Dwiyanti!”

Dwiyanti seakan mengenal suara ini. Benar, tidak salah lagi. Ini adalah suara kakak sepupunya. Wirangrong! Anak uwanya Martosulaya di desa Manyaran. “Ahh, aku tahu. Ini pasti Kakang mas Wirangrong dari Manyaran! Benar tho tebakanku ini?”

“Ha-ha-ha……” Wirangrong melepaskan tangan dari wajah itu. Seperti tanpa sengaja salah sebuah tangannya bergerak ke bawah.

”Aihh…….” Dwiyanti menjerit kaget. Bukitnya teraba, walaupun tidak sengaja. Tangannya bergerak cepat menutupi dadanya lalu mundur ke samping dua langkah. Sepasang matanya mengawasi Wirangrong.

“Ada apa, Yanti?”

Dwiyanti merasa malu untuk menjawab.   Hanya mukanya menjadi kemerahan karena darah naik ke wajahnya. Melihat ini Wirangrong semakin terpesona, sungguh adik keponakannya ini telah menjadi seorang gadis yang hebat! Tanpa terasa lagi darahnya cepat sekali karena pikirannya membayangkan kenikmatan yang akan diperolehnya dari dara jelita yang ada di depannya. Melihat bentuk tubuh itu, terang adiknya ini mempunyai darah yang panas! Pikiran ini membuat nya mata gelap! Dwiyanti semakin ketakutan melihat pandang mata kakaknya Wirangrong. Seakan dari pandang mata kakaknya dapat menembus kain yang membungkus tubuhnya. Maka dia cepat berkata untuk membuyarkan suasana ini. “Ahh, Kakangmas Wirangrong. Ada keperluan apakah sehingga membuat kangmas sepagi ini telah berada di sini?”

Wirangrong yang tidak dapat menahan diri lalu menggunakan aji pameletan pengasihannya! Begitu tangannya merangkul pundak Dwiyanti yang berada di dekatnya, berkatalah dia. “Anu diajeng, beginii Aku cinta padamu, diajeng Dwiyanti. Sudah lama sekali   aku menahan rinduku kepadamu!”

Dwiyanti dalam batin   tidak membenarkan pernyataan ini, akan tetapi entah mengapa, dia sendiripun menjadi keheranan ketika menjawab pula. Seperti ada orang lain yang meminjam dirinya untuk menjawab. “Benarkah itu, kangmas. Akupun juga rindu padamu!”

Mendengar jawaban ini, Wirangrong girang sekali. Ilmu pameletan telah bekerja membuat Dwiyanti tidak kuasa untuk menolak permintaannya. Malah membalas tak kalah hebatnya! Tangannya lalu bergerak nakal, meraba ke sana ke mari.

Di pagi hari itu terjadilah sesuatu yang membuat pohon- pohon bergoyang ke kanan kiri tanpa ada angin yang menerpa. Entah berapa lama keadaan ini terjadi? “Iblis keparat! Kubunuh kau, anak laknat!”

Bentakan menggeledek ini mengagetkan kedua orang yang sedang asyik masyuk itu! Ternyata Ki Lurah Suratimantra telah berdiri di dalam taman dengan senjata terhunus di tangan kanan. Keris itu bergetar-getar, seolah pemegangnya menahan tenaga yang mau meledak melihat pemandangan di depannya! Bersicepat Wirangrong mengenakan pakaiannya. Belum sampai dia mengenakan baju, keris telanjang telah berkelebat mengarah dadanya. Dengan kaget Wirangrong meloncat mundur untuk mengelak dari tusukan itu. Melihat tusukan kerisnya dielakkan dengan mudah, Suratimantra bertambah marah. Keris pusakanya bergerak bertubi-tubi mengarah nyawa Wirangrong. Tidak peduli anak muda itu keponakannya sendiri yang baru saja datang ke desa itu. Karena perbuatan Wirangrong yang tidak bermoral terhadap anaknya perempuan satu-satunya, Dwiyanti!

Wirangrong berusaha untuk mengelak, akan tetapi melihat kemarahan pamannya yang pasti tidak akan reda kalau belum dapat menancapkan keris itu di dadanya. Diapun lalu membalas dengan tak kalah sengitnya!

“Plakkk! Dukkk!”

Tangan Suratimantra yang memegang keris tertangkis serta sebuah tendangan kaki mengenai perutnya. Tanpa ampun lagi tubuh Suratimantra terlempar ke belakang! Wirangrong lalu menyambar bajunya lalu meloncat cepat melarikan diri. Keluar dari desa menuju ke tengah hutan. Lenyap di dalam kelebatan hutan yang gelap!

Dwiyanti bagaikan disambar geledek ketika tersadar dari keadaan yang mempengaruhinya! Bentakan ayahnya tadi telah membuyarkan pengaruh aji pameletan yang dilepas Wirangrong. Melihat dirinya dalam keadaan telanjang dan kedua pahanya berdarah, mukanya menjadi pucat seperti kertas. Terbayang kembali apa baru saja terjadi serta menimpa dirinya, tanpa terasa air matanya membanjir keluar di kedua pipinya. Tangannya menyambar kainnya untuk menutupi tubuhnya sekenanya. Lalu berlari   ke dalam. Terdengar jerit melengking nyaring dari dalam rumah! Ki Lurah Suratimantra tidak jadi mengejar Wirangrong yang melarikan diri keluar desa. Kembali lagi ke dalam rumah  untuk melihat apa yang telah terjadi karena jeritan isterinya itu. Ketika memasuki ruang dalam, kedua matanya terbelalak! Dia terpaku di tanah bagaikan arca melihat pemandangan yang terpampang di depannya. Ternyata anak perempuan satu-satunya, Dwiyanti telah membunuh diri dengan sebilah keris yang tertancap di dadanya! Isterinya menggeletak pingsan di samping tubuh anaknya yang bergelimangan darah yang keluar dari luka! Tanpa terasa lagi kerisnya terlepas dari tangannya, maju menubruk ke depan. Bergantian dia memeluk tubuh anak dan isterinya sambil memanggil-manggil nama keduanya!

Para penduduk desa berdatangan mendengar jerit isteri lurah mereka. Begitu memasuki rumah mereka terbelalak! Dengan cepat berusaha menolong serta mengangkat tubuh ketiga orang itu dan berusaha menyadarkan isteri lurah serta lurah mereka. Sebagian mengurus jenazah Dwiyanti untuk dirawat sebagaimana mestinya! Salah seorang warga lalu memukul kentungan bertubi-tubi. Memberitahu   ada raja pati di desanya! Gegerlah seluruh penduduk desa Jatilaya ketika mendengar pembunuhan yang telah terjadi di rumah kepala desa mereka di pagi hari itu!

Ki Suratimantra tersadar dari pingsannya serta melihat banyak orang telah memenuhi rumahnya. Cepat dia memberi perintah untuk mengejar keponakannya.

“Seluruh laki-laki desa ini cepat cari keponakanku yang melarikan diri! Sedangkan para wanita mengurus anak dan isteriku!” Dia memberi perintah kepada warga desa. Begitu mendengar perintah ini, seluruh warga kembali pulang untuk mengambil senjata dan kembali lagi berkumpul di depan rumah Ki Lurah.

“Ikuti aku! Bunuh jahanam itu kalau bertemu dengan kalian!” Dia memberi perintah untuk membagi-bagi penduduk menjadi tiga rombongan untuk mengejar si Wirangrong yang melarikan diri. Lalu mengejar keluar desa. Ketika malam telah mendatang berdatanglah para pencari Wirangrong. Dengan muka kuyu, karena tidak dapat menemukan pemuda itu. Seluruh hutan telah diobrak-abrik. Semua jalan menuju desa Manyaran telah dicegat, akan tetapi tidak nampak seorangpun bayangan pemuda yang lewat. Kembalilah mereka ke dusun, mungkin rombongan lain dapat mencegat pemuda itu. Akan tetapi ketika mereka telah berkumpul semua ternyata tidak ada yang dapat bertemu dengan si Wirangrong yang telah membuat aib di desa Jatilaya.

“Besok pagi setelah mengubur jenazah Dwiyanti, kita bersiap-siap untuk menyerang ke desa Manyaran. Si jahanam Wirangrong harus menebus aib ini dengan nyawanya! Kalau dibela ayahnya kita gempur seluruh desa. Kita balas penghinaan keparat tak bermoral itu!” 

“Kami siap membela kehormatan desa!” ujar seorang tua. Kiranya dia adalah penasehat. desa Jatilaya. “Akan tetapi, anak lurah kuminta bersabar dahulu. Kukira anak kurang ajar itu belum tentu berani pulang. Kita tunggu dulu barang sepekan. Barulah kita datang bersama ke desa Manyaran!”

Ki Lurah Sumantrimantra mengangguk men dengar pengarahan ini. “Ya, kita tunggu setelah seminggu lagi!”

Seluruh warga desa Jatilaya berkabung! Keesokan harinya mengubur jenazah Dwiyanti dengan diiringi tangis semua wanita yang merasa terharu!

Sedangkan Raden Wirangrong yang melarikan diri setelah perbuatannya ketangkap basah, tidak berani pulang! Dia lalu menuju ke Bukit Kelabang. Di mana Dewi Purbosari bermukim di sebuah istana yang mewah dan indah! Selama sehari semalam dia terus berlari, begitu sampai di istana Dewi Purbosari, dia menyelo-nong masuk. Meratap dan menangis memohon perlindungan dan pertolongan sang dewi. “Hi-hi-hi-hik……! Kalau hanya untuk urusan yang seperti itu mudah! Serahkan saja semua kepadaku. Tinggal kau sediakan saja apa yang menjadi kesenanganku! Ih- hik….. hi-hi-hik…..!”

“Sendika dawuh, Ibunda Dewi!” Wirangrong bangkit dari sujudnya.

“Mari masuk ke kamarku. Aku akan memberi cara untuk kaupakai guna menghadapi pamanmu!” Dewi Purbosari menggapai Wirangrong. Lalu berjalan menuju ke kamar samping. Wirangrong mengikuti dengan patuh   dan sepasang matanya bersinar melihat tubuh belakang junjungannya! Tidak lama kemudian dari dalam kamar itu terdengar pekik kemenangan dari seorang perempuan yang berlomba memacu kudanya! Disusul dengan lenguhan panjang, lalu ketawa kekeh kepuasan yang panjang! Tiada lama kemudian keduanya telah keluar dari kamar itu. Dewi Purbosari duduk di kursi kencana di tengah ruangan. Wirangrong duduk bersila di lantai depan sang ratu!

“Plokk-plookkk!” Dua kali Dewi Purbosari bertepuk tangan. Dari luar masuklah Rati dan Sundari, dua orang dara yang cantik jelita dengan kulit tubuh yang putih kekuningan dibungkus kain ketat yang menonjolkan lekukan tubuhnya.

“Hamba  berdua menanti perintah, Ibunda Dewi.”

Hampir berbareng kedua dara itu berkata setelah menyembah memberi hormat. Keduanya tahu bahwa ada tugas penting yang mesti dilakukan. Tepukan tangan itu menjadi tanda untuk suatu tugas khusus buat mereka.

“Kalian berdua ikuti ke mana Wirangrong membawamu!” “Sendika dawuh, Ibunda Dewi.”   Wirangrong menyembah mohon diri. Mereka bertiga lalu keluar dari istana dengan menggunakan ilmu berlari cepat dalam waktu sehari saja ketiganya telah tiba di tempat yang dituju. Memang kedua dara, Rati dan Sundari mempunyai ilmu kesaktian yang tinggi sekali. Tangan Wirangrong ditarik oleh keduanya dari kanan kiri. Bagaikan dibawa terbang saja tubuh Wirangrong terangkat serta dibawa berlari. Dalam waktu singkat tatkala matahari terbenam mereka telah sampai di luar desa Jatilaya.

“Raden harap menanti di sini! Kami berdua akan menjalankan perintah Ibunda Dewi. melepaskan raden dari kesukaran yang akan menimpa diri raden!” Rati menyuruh Raden Wirangrong untuk menanti di dekat pohon.

“Harap kalian berdua berhati-hati! Kukira seluruh penduduk dusun dalam keadaan siaga!”

“Hi-hi-hik….! Raden tidak perlu khawatir!” Rati lalu mengajak temannya. “Sundari, ayo pergi!” begitu lenyap gemanya, tubuh Rati telah melayang ke atas cepat sekali. Sundari menyusul, kakinya menjejak tanah dan tubuhnya bagai dilontarkan telah terbang menyusul Rati. Keduanya dalam sekejab telah hilang ditelan kegelapan hutan! Wirangrong menanti tidak terlalu lama. Tiba-tiba berkelebat dua bayangan di depannya ternyata Rati serta Sundari telah berdiri di depannya dengan tersenyum manis. “Kita menanti sampai besok pagi, raden. Mari kita mencari tempat untuk melewatkan malam!”

“Daarrrrr!” Suara geledek memekakkan telinga, menggelegar keras sekali disusul jatuhnya hujan yang bagaikan dicurahkan dari langit! Ketiganya lalu berlarian menuju ke tempat teduh! Karena derasnya air hujan membuat ketiganya basah kuyub! “Kita menuju ke goa di depan. Aku tahu jalannya, mari!!” Wirangrong berlari di depan. Dalam curahan hujan mereka nekad mencari goa yang dikenalnya. Dia mengenal keadaan di hutan ini karena ketika masih kecil dia suka bermain petak umpet dengan Danang dan Dwiyanti!

“Hemmm…… dinginnn!!” rintih Rati. Wirangrong menuju ke dalam goa. Ternyata dia mengambil kayu kering lalu menumpuknya. Tidak berapa lama kemudian api yang besar telah menyala menghangatkan isi goa. Wirangrong membuka bajunya untuk diperas dan didekatkan ke api. Melihat ini, Rati lalu membuka pakaiannya sendiri ikut pula mendekati api, tubuhnya bagaikan bersinar terkena cahaya api unggun. Wirangrong yang melihat ini menjadi buas!

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia lalu menubruk maju. Rati terpekik kecil, akan tetapi diapun membalas sergapan Wirangrong dengan sama binalnya, terjadilah pergulatan yang sengit dalam cahaya api unggun depan goa itu.

Sundari juga memeras kainnya sambil mengawasi kedua orang yang sedang beradu jurus kemesraan itu. Suara pekik kecil berulang kali terdengar. Membuat darahnya menggelegak seakan membakar tubuhnya. Maka tanpa ragu diapun maju menyerang ke arah dua orang yang sedang bertanding, menyerang Wirangrong dengan jurus-jurus pilihan!

Rati mengundurkan diri melihat rekannya maju menggantikannya. Sepasang matanya bercahaya melihat jurus-jurus yang dikeluarkan Sundari! Tanpa terasa lagi tangannya bergerak-gerak liar. Ketika mendengar keluhan Sundari, diapun mengeluh panjang pendek disertai dengan gerakan tangan semakin liar! Seakan teringat sesuatu, Ratipun berdiri dan mengambil segengam tablet kekuningan dari sebuah bungkusan. Lalu mendekati Wirangrong serta memasukkan tablet itu ke mulut. Tiada lama kemudian seluruh bulu-bulu di tubuh berdiri tegar sekali! Wirangrong menjadi perkasa laksana sebuah tonggak terbuat dari baja! Melawan gempuran yang silih berganti dari Rati dan Sundari yang datang menggebu menerjangnya! Sudah berapa kali mereka mengadu kekuatan, akhirnya hujan pun reda. Ketiganya pulas di dalam goa! Matahari telah naik tinggi. Tercium bau daging yang dipanggang menggugah selera, membuat Raden Wirangrong terbangun. Mengeluh karena tulang-tulangnya telah lolos dari tubuh! Dua ekor ayam panggang telah memasuki perutnya untuk sarapan pagi. Kedua dara itu memandangnya penuh arti!

“Mari kita menuju ke tempat itu, melihat keadaan desa Jatilaya!” Rati mengajak Raden Wirangrong untuk memeriksa desa Jatilaya!

“Aaa…. adduuuu….. uuuhhhh….!” Sambil berusaha bangkit Wirangrong merintih. Melihat keadaan pemuda itu, Rati dan Sundari saling pandang! Tersenyum lalu menggandeng dengan merangkul Wirangrong!

“Ck-ck-ck….!” Wirangrong berdecak kagum melihat hasil kerja Rati dan Sundari di desa Jatilaya.

”Sekarang tidak akan ada yang mengganggu raden!” “Benar. Raden bebas dari kurcaci-kurcaci ini!” Sundari

menimpali temannya.

Raden Wirangrong bergidik. Diantara senang terbebas dari kemarahan pamannya, dia juga ngeri melihat pembunuhan yang dilakukan oleh kedua pelayan Dewi Purbosari ini.

“Bagaimana mereka dapat tewas secara berbareng?” tanyanya. “Hi-hi-hik…..! Mudah saja, raden!”

“Kami berdua tinggal menyebar bubuk pemberian Ibunda Dewi. Semua gentong serta makanan yang berada di desa ini tercemar oleh bubuk beracun kami. Siapa memakan makanan maupun minum air di tempat ini, pasti binasa. Hi-hi-hik:…..!”

Raden Wirangrong lalu mengajak keduanya untuk segera meninggalkan desa. Sambil tersenyum manis Rati dan Sundari memapahnya. Lalu membawanya melayang cepat pergi dari tempat itu! Hanya anak laki-laki tunggal dari Ki Lurah Suratimantra yang lolos dari maut! Danang sedang mencari ilmu kepandaian di Semarang akan tetapi ketika pemuda ini pulang ke desa. Yang ditemuinya hanyalah tulang-tulang yang berserakan di seluruh rumah di desa Jatilaya! Dengan penuh dendam dia bercerita tentang pengalamannya kepada gurunya. Memohon   bantuan gurunya untuk menyelidiki siapa yang begitu kejam telah membunuh seluruh penduduk desa itu!   Itulah yang terjadi di desa Jatilaya. Di mana-mana tulang-tulang tengkorak memenuhi rumah-rumah penduduk di seluruh desa! Yang dalam semalam telah terbasmi oleh anak buah Dewi Purbosari!

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 5

“HA-HA-HA-HA——–  mau lari ke mana  kau? Menyerahlah  saja kau Danang!  Aku  tidak akan membunuhmu!” Teriaknya lantang. Danang dan isterinya semakin mempercepat lari kudanya, cambuk di tangan dilecutkan berulang-ulang.  Sambil  berteriak-teriak menghardik kudanya.

“Hiyaaakkkkkk…… hiyaakkkk!” Kuda yang dinaiki Raden Wirangrong semakin dekat! Suara kaki kuda yang berlari datang telah terdengar nyata di telinga keduanya. Ketika Danang menengok dia semakin terkejut! Ternyata kuda berbulu coklat itu berlari kencang sekali seakan keempat kakinya tidak menginjak tanah, melayang ke depan, menimbulkan debu yang mengepul tebal di belakang!

“Kau larilah dulu, diajeng. Aku akan  berusaha mencegahnya!”   Danang   menyuruh   isterinya Sawaliyah untuk melarikan diri terlebih dahulu! Akan tetapi isterinya membantah.

“Tidak! Mati hidup kita tetap bersama! Kakang, aku tidak mau berpisah darimu!”

“Jangan diajeng. Kau dapat membalaskan dendamku. Kalau diajeng lolos dari penjahat terkutuk itu serta melaporkan semua ini kepada guru!”

“Tidak! Lebih baik kakangmas saja yang cepat pergi melapor guru. Aku akan mengadu jiwa kepada keparat itu! Membalaskan sakit hati seluruh penduduk desa kakang dan ayah bunda kakang Danang yang terbasmi oleh kejahatan ibiis keparat itu!” Sawaliyah nekat mempertahankan pendiriannya. Sehingga Danang semakin bingung! “Diajeng   Sawaliyah……!   Ini,   kakangmasmu datang!

Ha-ha-ha…… tungguuuu…… diajeng!”

“Keparat!” Sawaliyah lalu memutar kudanya kembali menyongsong kedatangan Raden Wirangrong dengan pedang di tangan! Melihat kenekatan isterinya, Danang lalu menyendal kendali kuda dengan mendadak dan sambil mengeluarkan ringkikan keras, kudanya mengangkat kaki depannya ke atas!

“Hiyeeeehh hh…..!” Danang juga mencabut pedang dan menge-jar isterinya yang telah berdiri di atas tanah, menanti dengan gagahnya. Meloncat turun di samping isterinya, berdiri berendeng siap menanti musuhnya!

Raden Wirangrong melihat mereka menghadang di tengah jalan tertawa. “Ha-ha-ha…..!

Apa yang kauandalkan?” Tangan kanannya mencabut kerisnya dan tangan kiri menarik-narik kendali kudanya! Kuda coklat melaju kencang menabrak penghalang di depan dan tangan kanan terayun! “Tranggg!” Bunga api berpijar ketika kedua senjata beradu di tengah udara. Pedang yang dipegang di tangan kanan Danang terpental ke belakang bersama dengan tubuhnya yang terdo-rong ke belakang. Sedangkan Raden Wirangrong terlempar dari kudanya. Sawaliyah melon-cat tinggi menghindar dari terjangan kuda.

“Haiiiitttt!” Sawaliyah berputar di udara dua kali, dan ketika itu juga dari atas pedangnya menyambar kepala Raden Wirangrong yang sedang terlempar ke belakang itu.

“Plakk!” Walaupun dengan agak kesukaran, tangan kiri Raden Wirangrong dapat juga menampar pedang dari samping di badan pedang sehingga mata pedang menyeleweng di atas kepala. Meninggalkan angin dingin yang terasa mengiris kepala! “Hiaaattt!” Dengan teriakan nyaring dia menyerang kedua lawan yang telah berdiri di tanah, kakinya melayang mengarah kepala Sawaliyah dengan kecepatan yang tidak terduga, sedangkan tangan kanannya menusukkan keris ke dada Dadang!

“Tranggg!” Kembali keris dapat tertangkis pedang di tangan Danang. Sedangkan kaki yang menendang dipapaki pedang di tangan Sawaliyah! Cepat dia menarik kaki dan menendang kembali ke arah perut lawan, sedangkan kerisnya membarengi menusuk ke leher Sawaliyah!

“Haiiitttt!” Dengan loncatan ke belakang, barulah serangan itu dapat dihindarkan dan melihat ini Danang maju membabatkan pedang. Ditangkis oleh keris dan kembali mereka bertiga terlibat dalam serang menyerang yang seru serta saling elak dengan cepatnya! Pertempuran terjadi dengan hebatnya, debu di jalan mengepul naik oleh geseran-geseran kaki yang mengandung tenaga dahsyat! Suatu ketika Raden Wirangrong dapat menampar pundak Danang, membuat lawannya terlempar ke belakang. Sawaliyah yang melihat suaminya terlempar menjerit dan dia maju menubruk tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri!

“Haiiit! Hiaaatttt…..!” Pedangnya ditusukkan dengan cepat menuju ke perut Raden Wirangrong dan tangan kiri bergerak memukul ke arah wajah. Melihat serangan nekat ini, Raden Wirangrong mengeluarkan dengusan mengejek.

“Hemmm!” Sambil merendahkan tubuh dan tangan kanannya menangkis pedang yang me-luncur datang! “Kena!” tangan kirinya bergerak menotok dada Sawaliyah. Tanpa dapat dicegah lagi tubuh Sawaliyah tertotok lemas! Ternyata tangkisan keris Raden Wirangrong membuat pedang di tangan Sawaliyah terpental dan tangan kirinya yang luput menyerang ke arah wajah itu tidak keburu ditarik lagi,membuat dadanya terbuka dan lawannya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini. Sebelum tubuh itu roboh ke tanah, tangan kiri itu telah berhasil memanggulnya!

Danang yang melihat ini menjadi terkejut bukan main! Isterinya telah tertawan oleh lawan, membuatnya tidak berani bergerak sembarangan dalam menyerang lawan. Raden Wirangrong memasukkan kerisnya di warangkanya, setelah itu masuk ke kantong di pinggang lalu berkelebat cepat ke arah Danang yang sedang berdiri.

“Tring-tring-cring-cring!” Dengan putaran pedangnya di depan tubuh Danang berusaha untuk memunahkan sinar hitam yang meluncur ke arah dirinya. Akan tetapi tetap saja ada dua senjata hitam yang mengenainya di pahanya, dengan menggulingkan dirinya dia berusaha lepas dari hujan senjata beracun milik Raden Wirangrong. Ketika dengan susah payah ia dapat berdiri, ternyata lawannya telah hilang bersama dengan isterinya, Sawaliyah!

Kaki yang terkena senjata itu tidak dapat digerakkan lagi. Membengkak besar dan terasa sakit sekali, dan ketika dia merobek celananya sehingga nampak pahanya yang putih telah berubah menjadi kehitaman! Danang menjadi putus asa, hanya berserah diri pada Yang Maha Kuasa apa yang akan terjadi selanjutnya! Rasa sakit yang luar biasa serta ditambah lagi kekhawatiran akan nasib isterinya membuatnya tak sadarkan diri lagi! Menanti apa yang terjadi selanjutnya!

“Cepat kejar laki-laki yang memondong tubuh seorang wanita itu!” Gombloh berkata dan mendahului kawan- kawannya mengejar ke arah seorang yang memondong tubuh berlari pergi. Kromoleo, Jodi dan Sukirna mengikuti di belakangnya! Suryo Lelono mengawasi sejenak ke arah mereka lari, lalu berkelebat cepat ke arah sosok tubuh yang menggeletak di tengah jalan! Bagaikan asap putih terbawa angin cepatnya tubuhnya dalam sekejap mata telah berdiri di dekat Danang yang menggeletak pingsan!

“Ck-ck-ck! Kembali racun kelabang merajalela mencari korban!” ujarnya dan tangannya lalu bergerak mengambil senjata yang menancap  di paha. Tangan berwarna kemerahan ketika dia memegang    senjata beracun itu “cesss.. ….!” batang senjata kelabang itu tertarik keluar dari daging. Untung sekali kaki-kaki kelabang tidak ada yang patah ketika tertarik!

Suryo Lelono lalu menyalurkan tenaga merah putihnya ke arah paha yang terkena racun kelabang itu. Nampak uap kehitaman mengepul naik membawa bau yang busuk dan sebentar saja paha yang terluka itu telah terbebas dari racun kelabang! Tangannya bergerak memijit sana sini, setelah itu dia berkelebat pergi ke arah teman-temannya tadi mengejar seseorang yang memondong tubuh wanita!

“Cegat di sana!” “Kepung….!”

“Heh-heh-heh…. mau lari ke mana bangsat!”

Bukan main kagetnya Raden Wirangrong ketika mengetahui dirinya telah terkepung. Dia berada di lereng yang terjal di sebelah belakangnya ada sebuah jurang! Jalan untuk meloloskan diri hanya menerjang lawan!

“Menyerahlah! Aku akan memberi kau jalan hidup!”

“Keparat….! Hayo mundur kalau tidak ingin menjadi bangkai!” Raden Wirangrong menggertak lawan.   Tapi mana keempat orang itu mau mendengar kata-katanya.

Gombloh mengejek. “He-he-he….. serahkan saja perempuan dalam pondonganmu itu! Lihat kau telah terkepung! Apa kau mampu  melawan kami berempat? Cepat menyerah! He-he-he…. sial awakmu sekali ini!”

Raden Wirangrong tidak mengacuhkan ejekan ini. Sepasang matanya mengawasi lawan dan otaknya membuat perhitungan untuk meloloskan diri. Begitu dirasa tepat tangan kanannya bergerak dan “set-set-set-set!” delapan buah senjata kehitaman melayang ke arah lawan! Melihat senjata berwarna hitam meluncur datang, keempat orang itu berusaha mengelak ke samping. Kembali datang, bagai hujan mengarah mereka membuat mereka bersicepat mencabut senjata dan menangkis sinar hitam yang meluruk datang.

“Edannn! Sungguh gila orang ini!” Gombloh memutar pedangnya cepat di depan tubuh.

“Tang-ting-tang-ting!” suara senjata yang tertangkis pergi. Banyak sekali senjata berwarna hitam berserakan di tanah depan tubuh mereka, berkilat kehijauan   tertimpa sinar matahari. Menandakan bahwa senjata itu beracun yang ganas sekali. Ketika mereka berempat memandang lawannya, ternyata pemuda itu telah tiada lagi di depan mereka. Nampak di kejauhan, sedang terbang pergi cepat sekali! Merekapun lalu melakukan pengejaran kembali!

“Tunggu sebentar kisanak!” Terdengar suara lirih di telinga Raden Wirangrong dan tahu-tahu pundaknya terasa ringan. Ternyata tubuh Sawaliyah telah tidak ada di pundaknya lagi. Ketika dia menengok ke belakang, melihat seorang pemuda berbaju putih sedang merebahkan Sawaliyah di tempat yang teduh. Tanpa bertanya lagi dia menyerang dengan kerisnya tatkala si pemuda itu masih membungkuk untuk merebahkan Sawaliyah.

“Mampus kau keparat!” bentaknya. Suryo tanpa menoleh lagi menggerakkan kakinya ke belakang menendang dan tanpa ampun lagi Raden Wirangrong telah tertendang pergi ke belakang dengan cepatnya! Raden Wirangrong menjadi ketakutan melihat hasil serangan ini! Bukan dapat membinasakan lawan tetapi malah perutnya tertendang dan tubuhnya melayang ke belakang dengan perut yang terasa pedih sekali! Maka tanpa malu lagi dia menggunakan jurus langkah seribu, melarikan diri!

“Sadarlah bahaya telah lewat!” terdengar suara halus memasuki telinga. Ternyata Sawaliyah tadi masih pura- pura pingsan atau lemas akibat totokan Raden Wirangrong. Dia ingin mencari kelengahan Raden Wirangrong untuk membunuh pemuda keparat itu!

“Kakangmas Danang…..!” Sawaliyah menangis teringat akan nasib suaminya yang terkena senjata beracun itu.

Suryo Lelono tahu apa yang dikhawatirkan oleh perempuan muda ini, maka ia lalu berkata, ”Saudaramu telah selamat! Dia masih pingsan di sana!”

Mendengar suaminya selamat, Sawaliyah lalu berlari menuju ke tempat tadi di mana dia tertawan oleh Raden Wirangrong. Lupa untuk mengucapkan terima kasih dan bertanya siapa yang telah menolong suaminya! Yang teringat hanya Danang suaminya tercinta. Suryo hanya mengikuti dari belakang, menjaga kalau penculik itu kembali dan ketika hampir sampai di kelokan jalan keempat temannya datang dari depan.

“Tobil-tobillll! Tahu begini, ogah aku mengejar lagi!” Gombloh menggerutu. “Kalau dapat mengejar mbok ya bilang-bilang dulu….. ini napas hampir habis eh, tahu- tahu…. ahhh nasib!”

“Ayaaaa, mesti lho kang Gombloh ini begitu?” “Begitu bagaimana? Kan kalau dia bilang. Kita kan dapat mengaso di tempat teduh, tidak usah khawatir lagi!” Gombloh malah menggerutu.

“Sudah, sudah, ayo kau ikut tidak!” Kromoleo menimpali cepat untuk mencegah Gombloh   bertambah tidak karuan omongannya.

Suryo Lelono hanya tersenyum saja mendengar ini, sedikit banyak dia sudah mengenal watak mereka. Berjalan mengejar lari Sawaliyah. Keempat temannya   juga mengikuti di belakangnya!

“Kakangmas Danang….!” “Diajeng Sawaliyah…..!”

Sawaliyah menubruk Danang yang belum dapat bangun,

kakinya masih terasa sakit bekas senjata beracun itu menancap walaupun racunnya telah terusir pergi. Menangis dengan mengguguk di dada suaminya.

“Ehemmmm, huek-eh!” Gombloh berdehem, mengagetkan keduanya.

Begitu keduanya mengangkat muka ternyata di dekatnya telah berdiri lima orang mengawasi mereka. Danang dan Sawaliyah mengawasi mereka satu persatu dan Sawaliyah pun segera mengenal si pemuda berpakaian putih yang telah menyelamatkan dirinya dari tangan Raden Wirangrong. ”Dialah penolong kita kakangmas,” katanya.

“Kami berdua mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan ini, semoga Yang Maha Kuasa membalas segala kebaikan saudara terhadap kami sepasang suami isteri.” Danang mengucapkan terima kasih. Suryo Lelono lalu mendekat dan memeriksa bekas luka Danang kembali. Dia tadi tergesa-gesa untuk mengejar teman-temannya yang mengejar penculik wanita, yang ternyata adalah isteri dari pemuda yang terluka pahanya ini.

“Ah, tidak terlalu parah. Besok akan kering kembali.” sambil menyerahkan daun untuk menutup luka itu.

“Sebetulnya siapakah kalian, dan mengapa binimu diculik pemuda tadi?” Kromoleo bertanya kaku.

“Saya bernama Danang dan ini Sawaliyah isteriku! Kami berdua melarikan diri dari desa Manyaran tempatnya uwaku Ki Lurah Martosulaya!”

“Ki Lurah Martosulaya?” Gombloh bertanya.

“Benar. Kami dinikahkan di sana!” jawab Sawaliyah sambil memandang heran. Suryo Lelono dan Gombloh serta Sukirna saling pandang.

“Jadi resepsi itu kau, tho yang menjadi mempelainya?” Danang dan Sawaliyah mengangguk. “Aku bernama

Gombloh dan dia itu adalah adik seperguruanku Sukirna.” Gombloh memperkenalkan diri. “Kami berdua dari perguruan silat Bangau Putih di Semarang.”

“Aku bernama Kromoleo dan dia Jodi, murid Pendekar Bulu Kuning, bernama Ki Kulik pria!” Kromoleopun memperkenalkan diri serta memperkenalkan temannya.

“Ki Kulikpria?”

“Ya, mengapa? Apa kalian berdua mengenalnya?”

“Mengenalnya? Kami berdua juga menjadi muridnya!” Danang menerangkan.

“Kalau begitu kita masih bersaudara! Tunggal guru!”

Hampir berbareng Kromoleo dan Jodi berkata. Danang mengangguk Sawaliyah tersenyum pula sambil berkata. ”Benar! Kita masih bersaudara.”

“Wah, kalian berempat beruntung dapat bertemu dengan saudara tunggal guru!” Gombloh ikut menyela. ”Mengapa kalian sampai bentrok dengan pemuda itu? Siapa dia sebetulnya, apakah kalian kenal?” Suryo memotong pembicaraan itu. Dia ingin mengetahui siapa pemuda yang telah melukai Danang, dan melarikan isterinya itu.

“Ya, benar! Siapa anak muda itu?” Gombloh tidak mau ketinggalan. Dia selalu ingin mengikuti jejak Suryo Lelono.

Danang dan Sawaliyah saling pandang, sejenak kemudian mereka saling angguk. Danang pun lalu bercerita siapa adanya pemuda itu.

”Sebetulnya, dia masih terhitung kakak sepupuku Namanya adalah Wirangrong, entah mengapa? Sekarang menjadi Raden Wirangrong dan merasa seakan-akan seorang yang berdarah keraton lagaknya.”

“Lalu bagaimana, sehingga kalian bentrok di sini?”

“Ah, panjang ceritanya! Sebetulnya kami berdua sedang pulang untuk menjenguk orang tuaku!” Danang berhenti, menghela napas panjang. Lalu melanjutkan. “Akan tetapj ternyata dusun kami telah terbasmi, entah siapa yang begitu keji telah membunuh seluruh penduduk desa Jatilaya?”

“Apa kau tidak pernah menjenguk keadaan orang tuamu?” tanya Gombloh lagi.

“Iya, lha pergi ke mana saja kau?” Kromoleo berkata menegur Danang.

“Aku mengikuti guru, berkelana dan menimba ilmu di Gunung Merbabu! Terkadang hanya kami berdua saja yang ada di puncak, guru senang sekali merantau.” Danang menjelaskan. Lalu Danang mulai menceritakan pengalamannya ketika sedang berada di desa Manyaran di rumah Ki Lurah Martosulaya, uwanya!

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 6

DANANG menceritakan mengapa dia dan Sawaliyah sampai terjadi bentrok dengan saudaranya, Wirangrong. Setelah sepasar (lima hari) resepsi pernikahan Danang dengan Sawaliyah. Danang masih tetap tinggal di rumah Ki Lurah, menjadi satu dengan keluarga itu. Ki Lurah Martosulaya hanya mempunyai seorang putera yakni Wirangrong. Pemuda ini terlalu dimanja karena dia adalah anak tunggal, dan semua kehendaknya selalu dikabulkan orang tuanya. Wirangrong untuk mengangkat diri sendiri lalu menggunakan gelar bangsawan Raden, oleh karena dia merasa dekat dengan Dewi Purbosari yang mempunyai istana di Bukit Kelabang!

Pada malam itu, Wirangrong dan orang tuanya sedang mabuk-mabukan di ruangan tengah. Danang sedang pergi ke desa tetangga untuk mengantar surat yang oleh pamannya hanya dipercayakan kepadanya saja.

“Ayah, isteri si Danang itu sungguh cantik, ya?”

Ki Lurah Martosulaya memandang   wajah   anaknya, ingin mengetahui apa maksud kata-kata anaknya   itu. Tetapi karena mabok dia malah terkekeh. “Heh-heh- heh….. bocah itu sungguh pandai mencari pasangan!”

Wirangrong mengawasi ayahnya. Menunggu kalau ayahnya akan melanjutkan bicara. Tetapi Ki Lurah hanya menuangkan tuak ke dalam mulutnya, sehingga terdengar menggelogok yang keras, Wirangrong pun lalu minum langsung dari tempat tuak.

“Bagaimana kalau perempuan itu jadi…. selirku? Daripada menjadi isteri si Danang yang tidak punya apa- apa. Kan lebih enak jadi mantumu, ya! Ha-ha-ha…..!”

“Husss! Jangan gila kau!” “Hanya kelakar kok, yah. Kalau benar, mau aku mengambilnya…….ha-ha!”

Ki Lurah diam saja, sepasang matanya berkedip-kedip. Berusaha untuk melihat jelas wajah anaknya. Wirangrong pun berdiri, sempoyongan mendekati ayahnya. Berbisik- bisik di telinga ayahnya, lalu minum lagi. Menaruh tempat tuak di meja dan meninggalkan ayahnya yang menggeleng kepala ketika melihatnya dia pergi dengan sempoyongan.

“Dukk!” Tubuhnya menabrak meja, berpegangan dan sempoyongan kembali. “Tok-tok-tok!” dia mengetuk daun pintu kamar di mana Danang dan Sawaliyah tidur.

“Sebentar, aku masih membereskan tempat tidur.” “Tok! tok! tok!”

“Keriiiittt!” Daun pintu terbuka dari dalam. belum terbuka penuh, Wirangrong telah melangkah maju memasuki kamar. Sawaliyah kaget sekali melihat ini, dia lalu mencoba untuk menahan dan memperingatkan!

“Aku cinta padamu Liyah, lebih baik aku tidur di sini!” Sambil sempoyongan menuju ke tempat tidur. Akan tetapi Sawaliyah yang melihat gelagat tidak baik lalu berusaha untuk menahan tangan Wirangrong. Menariknya keluar kamar. Muka Sawaliyah merah padam menahan marah, sikap tuan rumah ini sungguh tidak tahu aturan, pikirnya.

“Kakang Wirangrong, sadarlah. Ini aku adikmu sendiri.”

“Ha-ha-ha, kau cantik sekali. Kulitmu halus seperti lilin!” Sambil tangannya mengelus tangan Sawaliyah yang masih memegang tangannya untuk diajak keluar.

“Ihhh!” Sawaliyah menarik tangannya lepas   dan mundur. Wirangrong yang sedang mabok itu tidak perduli lagi, dia maju menubruk untuk mengajak Sawaliyah memadu kasih. Dia berusaha untuk mengejar kemanapun Sawaliyah lari. Ketika perempuan itu terjebak di sudut ruangan dia menubruk maju dengan buasnya!

“Plakk! Dukk!”

Wirangrong terlempar ke belakang, kepalanya terkena tamparan dan dadanya terpukul tangan kecil halus akan tetapi mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya. Membuatnya setengah sadar! Akan tetapi hasratnya ingin penyaluran maka diapun nekat. Sawaliyah berusaha untuk mempertahankan kehormatannya. Dalam keadaan yang sangat  tidak menguntungkan kehormatannya.  Dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan itu, kebetulan suaminya memasuki kamar tengah itu.

”Kakang Wirangrong! Apa yang kaulakukan ini?”

“Ha-ha-ha….. Danang. Serahkan isterimu kepadaku!” “Keparat! Kakang sadarlah!”

“Bodoh! Kau ingin kubasmi ya, hayo serahkan! Apa kau

ingin menyusul keluargamu? Ha-ha-ha……”   Dalam keadaan mabok itu Wirangrong sudah kacau. Ketika melihat Danang datang untuk mencegahnya, dia seperti melihat pamannya yang mencegahnya dan hendak mem- bunuhnya itu. “Apa kau ingin seperti seluruh nasib penduduk desamu? Mati kubasmi!”

Wajah pemuda di depannya merah padam. Sepang mata Danang mencorong tajam mengawasi wajah Wirangrong dengan penuh kemarahan! Inilah agaknya biang pembasmian seluruh penduduk desanya? Entah bagaimana caranya? Kalau seorang diri terang tidak mungkin!

“Keparat, mampus kau!” Wirangrong setengah sadar melihat kepalan tangan yang meluncur ke arah dada. Dia miringkan tubuh dan menampar kepala Danang.Dielakkan, dibalas tendangan ke atas mengarah kepala.

“Dukkk! Plakkkk!”

“Keparat tak tahu diuntung! Sudah dinikahkan masih memberon…..” belum habis katanya- dia meloncat ke belakang. Ketika mundur Wirangrong menabrak meja dan ayahnya Ki Lurah Martosulaya terguling dari kursinya. Ternyata lurah ini tadi tertidur di meja berbantal tangan saking maboknya. “Heh-heh-heh.o… ayo panggil tukang pijit!” kata – kata yang keluar dari mulut ki lurah tidak karuan.

Melihat lawan lari Danang bertambah panas. Mencabut keris dan menubruk maju, ketika itu Ki Lurah Martosulaya bangkit dan sempoyongan. Tanpa ampun lagi kerisnya menusuk dada Ki Lurah yang menghadang di depannya.

“Aduuhhhh! Apa ini…… heh-heh!” kedua tangan mendekap dada dan robohlah Ki Lurah Martosulaya. Melihat kejadian ini Danang dan Sawaliyah panik. Sebelum Wirangrong sadar apa yang terjadi sesungguhnya, Danang menggandeng tangan Sawaliyah dan keluar dari ruangan. Menuju ke istal lalu mengeluarkan dua ekor kuda untuk dipakai buron.

“Ha-ha-ha…… ayo manis. Aku….. cinta….. padamu….. ha-ha-ha…..!” Wirangrong semakin mabok. Tidak tahu kalau ayahnya telah menjadi mayat. Dia berkata-kata sendiri, menyumpah-nyumpah dan merayu! Akhirnya dia tertidur di lantai kamar tengah.

Keesokan paginya barulah Wirangrong sadar apa yang telah terjadi tatkala dia pingsan. Ternyata ayahnya telah tiada dan Danang suami isteri telah tiada di rumah itu. Samar-samar dia teringat apa yang dilakukannya terhadap isteri adiknya dan membuka rahasia! Mukanya menjadi pucat. Dia lalu berlari keluar untuk menaiki kudanya berusaha mengejar kedua orang itu. “Akhirnya di hutan ini kami terkejar! Untung dapat ditolong oleh kalian.” Danang sudah menjadi akrab dengan mereka.

”Jadi dialah yang menjadi biang keladi bunuhan di desamu itu?”

“Benar!” Danang mengangguk dan termenung setelah menjawab. Teringat dia akan seluruh keluarganya! “Bagaimana dengan senjata rahasia berbentuk kelabang itu?”

“Menurut pengakuannya, dia murid terkasih Dewi Purbosari di Bukit Kelabang!”

Gombloh yang mendengarkan cerita itu menjadi marah sekali. “Setan, iblis laknat! Babu-babu ini……!”

“Plakkkk!” Kepala Gombloh terkena tepukan Kromoleo. “Gila! Mengapa babu-babu. Apa mau cuci pakaian atau disuruh belanja? Babu-babu segala!”

“Hah! Apa? Mana babu-babu?” tanyanya.

“Sudah, sudah! Lebih baik kita lekas mencari tempat untuk melewatkan malam!”

“Betul! Setuju banget. Aku telah lapar lho!” Jodi mengelus-elus perutnya.

“Makan, makan melulu!” Suryo menjadi habis sabar. Keempat kawan seperjalanannya ini sungguh konyol! Semakin dituruti semakin tidak karuan, maka diapun lalu berdiri dan melangkah pergi. Danang dengan dipapah isterinya mengikuti di belakangnya. Setelah agak jauh pemuda ini menoleh. Akan tetapi  ternyata keempat orang itu masih duduk di sana serta bersilang lidah! Suryo Lelono menjadi tidak sabar lagi, tangannya mengambil sebuah batu sekepalan besarnya dan menyambit ke dahan besar dengan tenaga terarah. Lalu mengirim suara yang mengandung tenaga dalam tinggi!

“Kroooosyyaaakkkkkk! Ihh…… iiihhh……iihhh!!”

Daun-daun berguguran dari dahan yang   terkena sambitan batu. Jatuh ke bawah bagaikan hujan disusul suara ketawa yang memenuhi pohon dan di kanan kiri serta atas mereka!

“Seeee…… seeee….. taannnn!” Kromoleo dan Jodi hampir berbareng berteriak!

“Seetaaannnn!” Gombloh juga berteriak dan meloncat bangun lalu lari. Akan tetapi keempat orang itu malah saling tabrak sendiri.

”Ha-ha-ha….. hahaha…..!” Tanpa terasa lagi Suryo Lelono, Danang serta Sawaliyah tertawa melihat kejadian itu. Dan keempat orang itupun lari lintang pukang ketika mereka melihat Suryo serta sepasang suami isteri itu ternyata telah jauh meninggalkan mereka! 

-oo0o^dwkz^o0oo-

Dua bayangan hitam berkelebat cepat sekali. Sesekali berhenti di belakang pohon, mengawasi ke depan. Lalu melanjutkan larinya. Menguntit tiga belas orang yang berlarian di depan. Gerakan dua orang ini gesit sekali serta tidak menimbulkan suara sama sekali ketika mereka menguntit rombongan yang berlari jauh di depan. Jauh di depan seorang pemuda agaknya menjadi kepala dari rombongan ini. Ternyata dua belas orang lainnya terdiri dari para wanita yang masih muda-muda dan cantik-cantik dengan pakaian mereka yang ketat serta menonjolkan kewanitaannya itu. Mereka bukan lain adalah Raden Wirangrong serta dua belas pengiring Dewi Purbosari! Raden Wirangrong ketika melarikan diri ternyata menuju ke tempat Dewi Purbosari, sesembahannya. Di istana di Bukit Kelabang! Raden Wirangrong   menceritakan semuanya kepada sesembahannya, Dewi Purbosari., “Duh Ibunda Dewi, katiwasan! Ayah telah terbunuh oleh si keparat Danang anak Ki Lurah Suratimantra.   Agaknya anak itu telah mengetahui segalanya.”

“Hi-hi-hik…. mengapa? Kau takut? Aku akan selalu melindungimu bocah bagus!”

“Tetapi, tetapi mereka banyak, Ibunda Dewi.” “Apa kau tidak percaya lagi kepadaku?” “Bukan begitu, Ibunda. Tapi, tapi….”

“Sudahlah! Kau sekarang tinggal di sini!” Dewi Purbosari memotong.

Raden Wirangrong diam tak berani bersuara lagi. Lalu menyembah serta duduk menanti. Tak terlalu lama dia menanti, tahu-tahu terdengar tetabuhan merdu dan dua belas penari dengan membawa terbang di tangan melayang datang ke tengah ruangan. Raden Wirangrong memutar tubuh untuk dapat menikmati suguhan ini!

“Duduklam diam, Rangrong!” terdengar suara di belakang. Entah mengapa Raden Wirangrong tidak dapat bergerak sama sekali. Duduk seperti patung batu di depan Dewi Purbosari.

Para penari yang terdiri dari dua belas wanita cantik, menggerakkan selendangnya   diputar-putar.   Bagaikan pelangi yang beraneka warna selendang itu berlenggang- lenggok di angkasa. Saling kejar amat indahnya! Enam penari memisahkan diri dengan membawa terbang kawannya. Keenam penari lain lalu   menunjukkan kebolehan mereka dan menari dengan indahnya di atas jari- jari kakinya. Ketika terbang dipukul semakin keras dengan irama cepat, keenam penaripun mulai melenggok-lenggok bak tidak bertulang lagi tubuhnya. Begitu lemas gemulai, gerak tubuhnya yang terbungkus selendang yang diputar cepat menutupi tubuh. Akan tetapi ketika   putaran selendang itu bertambah pelan, samar-samar tubuh para penari itu yang hanya memakai pakaian yang minim sekali serta dapat membuat mata yang melihatnya meloncat maju untuk dapat menikmati lebih jelas!

Sepasang mata Raden Wirangrong tak berkedip melihat tarian ini. Untung dia telah menjadi patung batu oleh perintah Dewi Purbosari. Kalau tidak? Entah apa yang akan dilakukannya?

“Kita menuju ke mana? Sedari tadi kulihat kau jalan tak menentu!” Rati menegur Raden Wirangrong. Melihat jalan pemuda itu, Rati tahu bahwa pemuda ini pasti membayangkan penglihatan semalam! “Kita cegat mereka di balik bukit itu! Pasti mereka akan lewat sana!” katanya. “Sebaiknya rombongan ini dibagi dua! Untuk mencegah mereka melarikan diri!”

Rati lalu melakukan saran Raden Wirangrong. “Sundari bawa lima kawanmu untuk mencegat di belakang! Jangan biarkan seorangpun lolos! Bunuh semua!” perintahnya kepada Sundari yang berdiri di sampingnya. Sundari lalu menunjuk lima orang temannya. “Kalian ikut aku!” Lalu ia meloncat cepat ke kanan. Lima orang temannya mengikuti di belakang tanpa banyak tanya!

Melihat rombongan ini menjadi dua, kedua bayangan yang mengikuti sejak tadi menjadi bingung. “Kita apa juga berpisah untuk mengikutinya?” “Adi Kulikpria, kurasa tidak perlu!”

“Lalu bagaimana? Apa yang kita perbuat?”

“Kita ikuti rombongan yang ada prianya itu!” kata Ki Mardi Angunbaya. “Kukira dia adalah pemimpinnya.” Keduanya lalu mengikuti terus rombongan Raden Wirangrong yang bergerak cepat menembus malam gelap!

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 7

MALAM itu bulan tidak nampak. Tertutup oleh awan hitam tebal, bintang-bintang pun menyembunyikan dirinya di balik awan. Sesekali nampak cahaya kilat yang menyilaukan di angkasa, tak lama kemudian terdengar suara gelegar yang memekakkan daun telinga. Hawa udara menjadi semakin panas terasa ditubuh. Akan tetapi di sebuah goa yang terletak di lereng bukit, keenam orang yang duduk di belakang api unggun menyala. Tidak merasakan hawa yang panas akan tetapi mereka merasa dingin sekali. Bukan keadaan hawa di luar yang mempengaruhi mereka, akan tetapi kepergian   Suryo Lelono. Pemuda yang mempunyai kepandaian yang luar biasa itu! Ketika sore tadi mereka menemukan goa dan memilihnya untuk tempat melewatkan malam, Suryo Lelono memberi tahu maksudnya untuk menyelidiki Istana Bukit Kelabang seorang diri. “Menurut pendapatku yang muda,lebih baik aku menyelidiki keadaan di sana terlebih dahuiu. Untuk mengetahui keadaan dan menyelidiki kekuatan mereka!”

“Ayaaa, jangan pergi sendiri!” Gombloh memotong cepat. “Kau tidak tahu di mana tempat itu dengan jelas. Lebih baik kita bersama-sama dan menyerbu tempat itu berbareng.”

Kromoleo juga menyetujui usul si Gombloh itu. Sedangkan Jodi dan Sukirna hanya mengangguk, akan tetapi tidak menyatakan sesuatu apa. Akan tetapi Danang dan Sawaliyah ternyata mempunyai pendapat yang berbeda dengan mereka.

“Apa yang dikatakan Adimas Suryo tadi benar.” Danang berhenti sejenak, mengawasi mereka satu persatu. “Kalau kita mengetahui keadaan lawan dengan sendirinya dapat berbuat yang terbaik untuk menanggulanginya. Kita dapat menyusul belakangan serta kita yang berjumlah enam orang ini kalau menyelidiki bersama tentu mudah diketahui. Lawan dapat menjebak kita di daerah mereka!” Dia menyatakan pandangannya ini kepada teman-teman yang lain.

“Ehhh, benar juga wawasanmu itu. Akupun mathuk (cocok) sekali dengan pendapat Danang ini, kita berenam tidak takut untuk menuju ke Bukit Kelabang, kan?”

Teman-temannya menyatakan tidak takut sama sekali. Mereka lalu mengikuti saran Danang serta menyetujui kepergian Suryo Lelono untuk menyatroni ke Bukit Kelabang. Danang sebagai penduduk di situ lalu menerangkan di mana letak tempat itu. Juga meminta Suryo untuk berlaku hati-hati.

“Sekarang dengan adanya istana Dewi Purbosari, bukit itu tentu menjadi sangat berbahaya. Kuminta andika menjaga diri baik-baik.” katanya menutup penuturannya mengenai keadaan Bukit Kelabang. Danang dan Gombloh, Kromoleo serta Jodi dan Sukirna, memandang kepergian Suryo Lelono. Sawaliyah pun tidak dapat menahan dirinya. Ketika Suryo berpamit, tanpa terasa lagi sepasang matanya menjadi basah oleh rasa haru dan terima kasih. Dia telah diselamatkan dari kekejian Raden Wirangrong. ”Harap hati-hati!” katanya singkat.

Suryo Lelono mengangguk. Lalu tersenyum manis, sekali berkelebat tubuhnya telah berada jauh sekali di lereng bukit. Dalam sekejab telah hilang dari pandangan mata keenam orang itu. Semua merasa takjub melihat betapa ilmu kepandaian dapat diasah sampai mencapai tarap yang setinggi itu! Siapakah guru si pemuda baju putih itu? Ketika malam mendatang, mereka lalu membuat api unggun untuk mengusir nyamuk serta hawa dingin yang terasa menusuk sampai ke tulang. Akan tetapi ketika tidak lama kemudian langit yang tadinya cerah tertutup oleh awan hitam yang bergumpal datang. Menutup bintang- bintang dan rembulan yang belum mulai nampak di malam itu. Merekapun lalu menduga bahwa sebentar lagi hujan akan turun!

“Agaknya hujan akan segera turun!” Sukirna yang melihat ke angkasa berkata.

“Kurasa demikian, lebih baik kita masuk ke dalam!” Jodi mengusulkan. “Di dalam akan lebih aman dari terpaan angin dan air hujan!”

“Mari!” Sawaliyah mendahului mereka. Mereka lalu berpindah ke dalam.

Tujuh sosok bayangan mendekati goa. Berindap-indap di balik pepohonan dengan cepat mengurung mulut goa dari segala jurusan. Tatkala halilintar menyambar di angkasa dan Dewa Guntur berteriak keras, nampaklah mereka. Ternyata mereka itu  bukan lain adalah Raden Wirangrong serta Rati, bersama dengan lima anak buah Dewi Purbosari. Datang berindap mendekati mulut goa! Sesosok bayangan berjalan ke mulut goa untuk melihat keadaan langit.

Tiba-tiba….. “ser-ser-serrr…..!” enam benda berwarna kehitaman meluncur cepat dari berbagai arah. Tanpa ampun lagi tubuh itu terkena senjata berwarna hitam! Dengan mengeluarkan jeritan panjang mengagetkan teman- temannya yang berada di dalam goa, tubuhnya terjengkang ke belakang.

“Auuuugggghhhhh……!” Semua temannya menengok! Cepat memburu ke mulut goa sambil mencabut senjata masing-masing serta memutarnya di depan tubuh, melindungi dari serangan susulan yang datang! Terdengar suara tang-ting-tang-ting berulang kali ketika pedang mereka menangkisi hujan senjata rahasia yang meluruk datang!

“Jod….. Jodi! Keparat! Mereka telah membunuh Jodi!” Kromoleo berteriak keras. Teriakan yang penuh kemarahan melihat temannya tewas dengan tubuh berubah menghitam!

“Mereka anak buah kelabang siluman!”

“Ha-ha-ha…… lekas menyerah sebelum kalian mampus di dalam goa! Kalian telah terkepung!” Terdengar suara menyuruh mereka untuk menyerah.

“Itu suara Wirangrong!” Danang berbisik pelan. “Mari kita terjang saja keluar goa! Lebih baik mati daripada menyerah!” Ternyata hujan senjata   beracun   berwarna hitam tahu-tahu terhenti. Lapat-lapat terdengar suara denting senjata yang beradu. Tanpa menunggu lagi mereka lalu menyerbu keluar goa! Ternyata di luar goa telah terjadi pertempuran yang sengit antara dua lelaki tua yang dikeroyok oleh tujuh orang. Tubuh kedua orang itu bergerak cepat dalam mengelak maupun balas menyerang dengan dahsyat. Tujuh orang pengeroyoknya agaknya tidak berdaya menghadapi lawan yang hanya dua orang itu!

Ketika kelima orang itu mau maju membantu, tiba-tiba saja datang enam orang perempuan memegang senjata menghadang mereka. Tanpa banyak kata lagi kelima orang itu lalu mengelebatkan senjata di tangan mereka untuk menerjang musuh!

“Trang-trang-cring-tring!” Suara senjata beradu berulang kali disusul dengan memerciknya bunga api yang menyilaukan mata! Pertarungan itu menjadi dua kelompok yang berbeda keadaannya. Apabila tujuh orang yang sedang mengeroyok dua orang tua itu kelihatan terdesak, sebaliknya enam orang wanita itu malahan dapat mendesak lawannya! Ketika sedang ramai-ramainya adu nyawa itu, dari jauh terlihat sinar yang meluncur cepat sekali mendekati tempat itu.

“Tahan senjata!!” Entah pengaruh apa yang berada di dalam. suara bentakan itu? Kedua kelompok yang sedang bertempur tahu-tahu menghentikan gerakan mereka, memandang ke arah suara itu datang! Seorang wanita yang cantik sekali dengan mengenakan pakaian tembus pandang sehingga nampak kulit tubuhnya yang putih kekuningan mengeluarkan cahaya menyilaukan mata. Berdiri dengan anggunnya. Sepasang matanya menyorot tajam. “Sembah sujud kami, Ibunda Dewi!”

Melihat siapa yang datang, Raden Wirangrong serta dua belas orang wanita itu menekuk lutut dan menyembah! Dua orang tua berjalan mendekati kelima orang anak muda, siap menghadapi segala kemungkinan! “Bangkitlah!” kata Dewi Purbosari perlahan. Ketiga belas orang itu bangkit. Lalu berjalan ke belakang Dewi Purbosari. Membentuk kipas!

Ketujuh orang itu mengawasi dengan takjub ke arah Dewi Purbosari! Cahaya yang terpancar keluar dari seluruh tubuh sang dewi seakan-akan menerangi kegelapan malam. Akan tetapi mereka bergidik ngeri ketika pandang mata mereka beradu dengan sepasang mata yang bercahaya ganjil milik sang dewi! “Siapa kalian? Mengapa kalian membuat kacau di sini?”

Ki Mardi Angunbaya yang merasa paling tua di antara mereka segera menjawab. “Kami bertujuh hendak mencari siluman kelabang yang akhir-akhir ini mengganas.” “Ihhh…. ihh-ih-ihh-ihh…..! Kalian? Kalian mencari siluman kelabang? Ihh-ih-ihhh….. hi-hik-hikkkk!!” Dewi Purbosari mengikik tawa. Suara tawanya mendirikan bulu roma yang mendengarnya serta membuat jantung bagai disendal naik! Seakan-akan jantung mereka mau  keluar ketika mendengar suara tawa sang dewi.

Tanpa terasa lagi mereka telah melangkah mundur tiga tindak, terbelalak memandang ke arah Dewi Purbosari. Wajah ketujuh orang itu menjadi pucat bagaikan kertas serta matanya terbeliak seakan tak percaya akan apa yang dilihat! Apa sebetulnya yang dilihat oleh ketujuh orang itu? Ternyata di depan Dewi Purbosari yang berdiri, nampaklah bayangan sebuah kelabang raksasa yang mengerikan sekali!

Sukirna tidak dapat menahan diri lagi. Menggerakkan pedangnya sambil menubruk maju.

“Kirna, jangan!!”

Tetapi terlambat! Tubuh Sukirna yang melayang sambil mengelebatkan pedang telah menerjang ke arah kelabang raksasa! Lenyap! Lalu terdengar lengking mengerikan memecah malam. Membuat teman-temannya tersurut mundur ke belakang!

“Aurrrggghhh……!”

Lengking keras yang bernada ketakutan dan putus asa! Tetapi hanya sekejab saja. Tahu-tahu sesosok tubuh terlempar ke depan. Ternyata Sukirna telah tewas secara mengerikan sekali! Tubuhnya telah berubah menjadi hitam. Sehitam arang! Melihat ini, kemarahan menguasai hati mereka. Tanpa mengenal lagi artinya takut mereka semua menerjang ke depan. Menuntut bela atas kematian dua orang teman dan murid. Akan tetapi apa yang terjadi? Belum sampai tubuh mereka dapat mencapai Dewi Purbosari, baru mengenai cahaya yang memancar keluar dari tubuh Sang Dewi Purbosari, tahu-tahu mereka terlempar ke belakang kembali dengan kuatnya!

“Tangkap mereka! Bawa ke istana!” Keenam orang itu terbelalak heran. Bagaimana tidak? Begitu pedang mereka melanda cahaya yang menyelimuti tubuh Dewi Purbosari, tahu-tahu tubuh mereka menjadi lemas sekali.   Tak   kuasa lagi untuk mengerahkan   tenaga. Seakan-akan seluruh tenaga mereka telah tersedot oleh sinar yang melindungi tubuh itu. Maka ketika dua belas orang itu maju untuk meringkus, dengan mudah mereka itu dapat melaksanakan perintah junjungannya. Karena tiada perlawanan sama sekali! Dewi Purbosari melangkah di depan dengan anggunnya! Di belakangnya berjalan Raden Wirangrong, Rati dan Sundari. Lalu diikuti oleh anak buah mereka yang memanggul tawanan. Dalam sekejab rombongan itu telah berada di tempat yang jauh sekali! Entah ilmu apa yang dipunyai oleh sang dewi? Mengapa dia dapat membawa rombongan itu seakan-akan dapat terbang melayang di udara atau memendekkan jarak yang ditempuhnya! Para tawanan juga semakin keheranan. Sungguh sukar dapat dipercaya dan diterima oleh nalar (akal)! Bagaimana orang dapat menguasai ilmu yang sedemikian tingginya sehingga dapat membawa rombongan itu menembus lebatnya hutan dan pepohonan! Dalam waktu yang relatif singkat mereka telah berada di Istana Dewi Purbosari!

“Masukkan mereka dalam kamar tahanan!” perintahnya. “Sendika dawuh, Ibunda Dewi.”

“Jaga tempat ini dengan baik! Aku hendak mengaso!”

Lalu tangannya menarik tubuh Raden Wirangrong, menuju ke sebuah kamar yang daun pintunya bergambar dua ekor kelabang yang sedang saling gulat!

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 8

SURYO LELONO tersesat di dalam sebuah hutan yang penuh dengan pepohonan besar dan tinggi menjulang ke langit. Batang pohon-pohon besarnya sampai lebih dari empat lima rangkulan tangan! Ketika hari telah gelap jalan di hutan itu telah tiada terlihat lagi. Suryo lalu mencari sebuah pohon yang tinggi. Meloncat naik, lalu mencari dahan untuk menjadi tempat melewatkan malam, dia memang sengaja memilih tempat di pohon karena tidak ingin membuat api yang pasti akan menimbulkan kecurigaan para penghuni Bukit Kelabang!

Ketika awan hitam memenuhi angkasa, dia beringsut untuk mencari tempat yang lebih aman. Terhindar dari air hujan apabila nanti datang mengguyur. Sedang enak- enaknya dia duduk mepet di sudut dahan yang besar sekali itu tiba-tiba terlihatlah sebuah sinar kekuningan besar sekali melayang menembus lebatnya pepohonan. Bergerak ke arah utara!

“Ahh, aneh sekali? Benda apakah itu? Meluncur dengan kecepatan yang luar biasa dan mengapa berbentuk panjang seperti kereta?” pikirnya. Dengan pandang heran ia mengawasi ke arah mana sinar itu pergi. “Aku harus mengejarnya!”

Dia lalu menggunakan ilmu kepandaiannya. Berloncatan dari dahan ke dahan cepat sekali bagaikan burung yang sedang terbang saja. Sebentar saja dia dapat melihat dengan jelas sekali ketika benda bersinar itu menuju ke sebuah istana tua. Mungkinkah ini istana di Bukit Kelabang? Pikirnya. “Ah, masa bodoh. Aku harus tahu apa sebetulnya benda bersinar itu?” Cepat dia meloncat turun mendekati tembok luar, berhenti sejenak untuk mendeteksi keadaan di balik tembok. Ketika merasa aman karena tiada terdengar suara atau napas di balik tembok, Suryo lalu menjejak tanah. Laksana asap saja tubuhnya telah meluncur naik ke atas genteng istana. Suryo Lelono mengawasi keadaan di dalam ruangan istana. Dia meneliti dari kamar satu ke kamar lainnya. Akan tetapi ketika di ruang tengah tiba-tiba dia melihat seseorang baru keluar dari sebuah pintu yang bergambar kelabang sedang bergelut! Mukanya menjadi kemerahan karena malu! Sungguh gila pemuda bernama Raden Wirangrong itu, pikirnya!

“Mbakyu Rati, agaknya Ibunda Dewi telah memberi keputusan? Lihat dia sekarang keluar dengan senjatanya berdiri kaku! Mari kawan, kita buat senjata rahasia!” Sundari memandang kedatangan Raden Wirangrong, wajah pemuda itu bersinar-sinar dan sepasang matanya memandang kosong. Rati maju, lalu menyeret Raden Wirangrong ke sudut. Disedotnya darah   Raden Wirangrong. Terdengar lenguhan puas. Sundari lalu maju ke depan untuk menggantikan Rati yang telah selesai berpiknik itu. Anehnya Raden Wirangrong   hanya mengikuti saja apa kemauan para wanita itu terhadap dirinya. Dan yang lebih aneh lagi senjatanya masih tetap tegar!

Kedua belas orang itu telah selesai dengan tugasnya. Raden Wirangrong yang telentang sekarang hanya tinggal kulit pembungkus tulang! Hisapan darah itu ternyata telah menghabiskan daging dan air hidupnya, darahnya, yang tinggal hanyalah kulit membungkus tulang belulangnya saja! Dua belas wanita muda yang cantik itu lalu menempati suatu tempat di sudut ruangan. Mendesis-desis sambil menggeliat-geliat tidak karuan. Tiba-tiba dari bawah perutnya keluarlah sebuah bola sebesar kepala bayi! Menggelinding pelan, tak lama kemudian pecah. Dari pecahan itu keluarlah kelabang-kelabang kecil! Begitu terkena uda ra malam, tiba-tiba kelabang-kelabang kecil yang berwarna hitam menjadi kaku! Seperti lempengan baja saja. Ternyata itulah senjata rahasia hitam yang mengandung racun kelabang dari para wanita pengiring Dewi Purbosari! Mengapa ada cara pembuatan senjata rahasia beracun yang seperti ini? Entah bagaimana Dewi Purbosari dapat membuat Raden Wirangrong tegar senjatanya. Lalu dihisap habis darahnya oleh para pengiringnya. Ilmu siluman apakah yang membuat dia dapat melakukan hal seperti itu? Semua ini memenuhi benak Suryo, menuntut jawaban. “Iblis mana yang muncul di sini? Kalau bukan siluman? Mana ada hal seperti ini!”

Suryo lalu meloncat turun untuk meneliti ruang lain yang berada di samping bangunan istana. Ketika melihat pintu terkunci dengan kuatnya, dia lalu meloncat naik ke atas genteng. Lalu membuka genteng, melongok ke dalam! Mukanya berubah pucat melihat pemandangan dalam ruangan. Di ruangan itu ternyata penuh dengan tulang- tulang manusia, baik tulang anak kecil maupun  tulang- tulang orang tua dan remaja. Tampak dari besar kecilnya kepala tengkorak!

“Sungguh biadab! Keji dan tak berprikemanusiaan!” bisiknya.

Dia lalu berpindah ke ruangan lain, membuka genteng dan melongok ke dalam kamar. Dan apa yang dilihatnya hampir sama dengan yang dilihat di kamar pertama tadi! Tiba-tiba telinganya yang berpendengaran tajam mendengar suara helaan napas berat! Tanpa ayal lagi dia melayang ke tempat itu. Lalu meloncat keatas genteng   dan membukanya, melongok ke dalam. Dan apa yang dilihat membuatnya sangat terkejut sekali!

“Tungguu….! Aku akan berusaha untuk menolong!” Ujarnya singkat. ”Krakkkkkk…      brrooolllll!!”

Ternyata kayu-kayu di atas telah patah selebar satu meteran persegi. Ki Mardi Angun baya, Ki Kulikpria, serta Danang dan Sawaliyah isterinya, memandang ke atas. Gombloh dan Kromoleo pun tidak ketinggalan melihat ke atas. Ketika melihat siapa yang datang, tanpa dapat dicegah lagi Gombloh telah berteriak.

“Hooreeee….. kita tertolong! Dia   adalah Suryo Lelono!”

“Husshhhh! Diamm!” bentak Ki Mardi Angunbaya gurunya.

Gombloh mendekap mulutnya dengan kedua tangan, menunduk diam. Kaget mendengar bentakan gurunya dan sadar bahwa mereka masih berada di sarang lawan!

“Cepat meloncat naik! Aku akan menjaga di atas!”

Ki Mardi Angunbaya memegang tangan   muridnya, sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya telah meluncur ke arah lubang di atas. Begitu tiba di atas, dari bawah telah menyusul bayangan Ki Kulikpria dengan menggandeng Kromoleo. Lalu berdiri di tepi mengawasi keadaan sekeliling! Suryo meluncur turun. Dengan kedua tangan menggandeng tangan Danang dan Sawaliyah di kanan kiri, Suryo melayang keluar dari lubang itu dengan ringan nya. Kedua orang jago tua itu tertegun melihat ilmu kesaktian yang diperlihatkan Suryo Lelono!

“Kita harus cepat meninggalkan tempat ini!”

“Setujuuuu…..!   Lebih   cepat   lebih   baik!   Hiiii        !”

Gombloh kembali   membuat   ulah.   Dia agaknya tidak dapat menahan rasa ngerinya ketika menghadapi Dewi Purbosari. Ketika mereka akan meloncat turun, bermaksud keluar dari istana. Tiba-tiba saja mereka berdiri terpaku di tempat! Ternyata teriakan Gombloh tadi telah membuat para penghuni istana terbangun. Lalu memasang obor di bawah. Tanpa dapat dihindarkan lagi mereka telah terkurung dua belas dayang anak buah Dewi Purbosari!

“Menyerahlah kalian!”

“Kalau kalian menyerah! Kami akan memberi kalian jalan hidup!” Sundari memberikan janjinya. Entah janji kosong atau beneran! Tak seorangpun diantara rombongan yang menjawab!

“Cepat menyerah! Turun dan jangan melawan atau berusaha untuk melarikan diri dari sini, percuma!”

“Lebih baik mati daripada menyerah!” Kromoleo membentak marah.

“Jangan takut!” bisik Suryo Lelono pelan. “Kalian harap hati-hati melawan senjata rahasia mereka!”

Mereka menggangguk, lalu mencabut pedang, melayang turun menerjang lawan. Menggerakkan pedang   dengan cepat tanpa memberi ketika untuk lawan mempergunakan senjata rahasia beracun kelabang! Suryo tidak mau ketinggalan, begitu tongkatnya bergerak langsung memainkan Ilmu Tongkat Pengemis Gila! Ilmu tongkat yang aneh dan sukar diduga arah mana yang akan diserang. Geraknya yang tidak karuan sukar untuk ditebak!

“Tak-tak-bukkk!”

“Wesss….. wirrr….. tranggg-traanggg!”

Senjata berkelebatan mencari nyawa untuk dikirim pulang itu acap kali bertemu dan ber-benturan. Mengeluarkan bunga api yang meloncat-loncat ke angkasa. Semua serangan pedang anak buah Dewi Purbosari dimentahkan dengan mudah oleh lawannya. Sedangkan serangan balasan dari Suryo beserta kawan-kawannya, dengan susah payah ditangkis atau dielakkan mereka. Ini semua dapat terjadi karena adanya Suryo Lelono yang menahan hampir semua serangan lawannya. Maka ketika datang serangan balik dari lawan membuat para wanita itu kewalahan! Sedangkan pada waktu mereka mengeroyok di goa, masih ada Raden Wirangrong yang membantu, sehingga keadaan mereka baru dapat dikatakan berimbang!

Rati dan Sundari mengeluarkan teriakan melengking nyaring. Agaknya lengkingan ini menjadi tanda untuk menyerang dengan senjata rahasia beracun. Senjata yang menjadi andalan mereka. Begitu mendengar lengking, para perempuan itu melompat mundur dan melayangkan tangan kiri ke arah lawan.

“Wirrr….. siut-siut….. wirrr……!”

Puluhan senjata berwarna hitam meluruk datang bagaikan sebuah jala mengurung jalan keluar ikan! Akan tetapi serangan inipun percuma saja. Suryo Lelono agaknya dapat membaca jalan pikiran lawan. Begitu mereka melompat mundur, dia lalu berdiri di depan rombongan sambil memutar tongkat, menghalau semua senjata yang datang! Angin yang ditimbulkan putaran tongkatnya sudah mampu untuk meruntuhkan senjata-senjata yang meluruk datang!

Terdengar suara tang-ting-tang-ting-tang -ting berulang kali dan semua senjata yang meluruk datang pun habis tersapu. Lenyap entah ke mana!

“Kena!” Suryo meluncur ke depan, tongkatnya mengemplang kepala. Empat orang terkena kemplangan tongkat, tanpa mengeluarkan suara lagi telah tewas dengan kepala pecah!

Ketika tubuh yang malang itu menimpa tanah, asap keputihan mengepul, membumbung naik. Lalu   tubuh itupun lenyap! Tampak di tanah empat ekor kelabang merayap pergi dengan cepatnya! Melihat ini Suryo lalu mengulurkan tangan kirinya. Dari telapak tangannya keluar sinar putih memukul empat kelabang!

“Busss…. busss…. dupp….. dupppp…..!”

Empat kelabang hancur terkena pukulan Suryo Lelono yang ampuhnya menggila! Sisa anak buah Dewi Purbosari menjadi ketakutan, mundur-mundur ke arah   ruangan tengah istana. Suryo tidak mau tangung-tanggung lagi! Ia lalu menggerakkan kedua tangannya. Sinar merah dan putih meluncur menerjang para pengikut Dewi Purbosari!

“Aaauuuuhhhhhh…….!”

Hampir berbareng terdengar lengking kematian dari delapan orang yang terkena sinar pukulan Suryo Lelono. Empat orang yang terkena sinar merah menjadi hangus tubuhnya dan empat orang teman yang lain, menjadi kaku bagaikan pohon kering kekurangan air! Akan tetapi kembali terjadi keanehan! Ketika tubuh-tubuh itu menimpa tanah, kembali ada asap mengepul. Kembali mereka menjadi kelabang sebesar anak kecil! Ada yang hangus tubuhnya dan menjadi abu keputihan. Ada pula yang retak-retak tubuhnya terkena sinar putih tadi!

“Ck-ck-ck! Heboaaatttt…..!!” Gombloh pun tak dapat menahan mulutnya lagi!

“Luar biasa! Entah siapa adanya anak muda itu?” Ki Mardi Angunbaya menggumam, penuh pertanyaan. Suryo membalik, mendekati teman-temannya, lalu mengajak mereka untuk segera me-ninggalkan tempat itu. Istana yang penuh dengan siluman kelabang! Akan tetapi baru be- berapa langkah mereka berjalan. Tanah yang diinjak bergetar hebat, seakan-akan ada gempa titonik datang!

“Tolonggg…..!” Gombloh berteriak keras sambil berlarian ke sana-sini. Tidak kuasa menahan kakinya di tanah yang bergoyang! Keadaan Kromoleo, Danang dan isterinya Sawaliyah pun senasib dengan Gombloh. Pontang panting tidak karuan! Hanya Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria saja yang agaknya dapat menguasai dirinya dengan kaki membentuk kuda-kuda. Tubuh mereka bagaikan tongkat kayu jati yang kokoh kuat. Suryo sama sekali tidak mengalami kesukaran. Dengan hanya berdiri di satu kakinya dia dapat menahan goncangan yang datang melanda! Sungguh hebat sekali anak muda ini!

“Ihhh…… ihihih….. hi-hi-hikkk…..! Orang-orang lancang! Lihatlah ke sini, keparat!” Terdengar suara di belakang mereka. Ketika mereka menoleh, ternyata di tengah ruangan nampak seorang wanita cantik sekali, mengenakan pakaian tembus pandang. Berdiri dengan anggunnya! Dari badannya terpancar cahaya kekuningan menyilaukan mata yang memandang.

-oo0o^dwkz^o0oo- Bab 9 (Tamat)

SURYO LELONO tersurut mundur dua langkah. Heran dia melihat apa yang. terjadi di belakangnya ketika dia menengok! Ternyata teman-temannya memandang dengan wajah pucat bagaikan mayat yang pucat pasi! Seakan semua darah telah lenyap dari tubuh mereka.

“Siapa perempuan itu?” tanyanya.

“Dii… aaaa…… dia…… dia….” Kromoleo berusaha untuk menerangkan, tapi karena gugupnya dia hanya berkata dia-dia!

Gombloh berdiri dengan kaki gemetaran. Tanpa sadar lagi celana Gombloh telah basah kuyub. Karena tidak dapat menahan rasa takut yang telah menghancurkan segala nyalinya!

Danang dan isterinya saling dekap dengan bibir berubah biru. Pandang mata mereka seakan terpaku ke arah wanita yang berdiri dengan anggunnya di tengah ruangan.

Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria yang agak tenang, memandang sang dewi sambil mulutnya berkemak- kemik membaca mantera penolak bala dan jin setan!

“Hi-hi-hik…..! Heee kawulaku hayo berlutut!” perintahnya.

Suryo merasa ada tenaga yang tidak nampak menekan dirinya untuk berlutut, dia berusaha melawan dengan menyatukan seluruh indranya untuk menolak! Ketika dia menengok ke belakang, ternyata teman-temannya telah berlutut dengan menyembah. Tidak kuasa melawan pengaruh gaib yang datang melanda!

“Aku tidak sudi untuk menyembahmu! Kau bukan sesembahanku!” Suryo berteriak lantang dengan pengerahan tenaga sakti yang ada pada dirinya. Begitu ia berteriak, terasa ada hawa hangat muncul pelan-pelan. Sekarang tubuhnya terasa nyaman!

“Hi-hi-hik…… bocah kurang ajar! Terimalah ini!”

Dari tubuh sang dewi meluncur sinar ku-ning kehijauan menerjang Suryo dengan kecepatan kilat. Suryo memutar tongkat kayu cendana dengan tenaga dalam sekuatnya.

“Tarr….! Tarr…..! Tarrr….!” Ledakan dahsyat terdengar memecah keheningan malam di Bukit Kelabang. Sinar kuning itu ketika tertangkis mental kembali dan beradu dengan sinar yang menyusul datang. Bertemunya sinar- sinar itupun menimbulkan ledakan dahsyat!

“Keparat! Ternyata kau cukup piawai anak muda!” Dewi Purbosari lalu mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu diturunkan. Lalu kedua tangannya digosok-gosokkan, dari gosokan te-lapak tangan itu keluarlah api yang menyala sebesar anak lembu. Begitu kedua tangannya digerakkan ke depan, api itu meluncur datang. Membakar tubuh Suryo yang berdiri tegak!

Suryo pun tidak mau ketinggalan melihat gerakan lawan. Dia menyatukan segala ilmu yang dipunyainya, meramkan mata dan menyerahkan dirinya kepada Sang Pencipta. Ketika dia membuka matanya kembali, sepasang mata itu seakan-akan mengeluarkan cahaya   menyi-laukan.   Ketika api datang mendekat, dia hanya menggerakkan tangan kanannya menolak.

“Kembalilah pada tuanmu!” Aneh sekali! Api itu seakan menuruti perintah Suryo, kembali meluncur ke arah tuannya. Dewi Purbosari mengibas ke samping dan api yang meluncur, membelok ke arah rumah di sudut istana!

“Duuaaarrrrr!!!” Ruma h meledak hancur, laksana tertimpa rudal. Rata dengan tanah serta kayu-kayunya terbakar hangus semua! Suryo leletkan lidahnya, sungguh hebat akibat api itu!

Dewi Purbosari melihat ini menjadi memuncak kemarahannya. Lalu iapun berkemak-kemik   dan membentak. “Bocah sambutlah ini!”

“Baik! Akan kulayani semua ilmu iblismu!” Suryo pun tidak mau kalah gertak.

Dari mulut Dewi Purbosari keluarlah angin yang mendorong kuat sekali ke arah depan.

Tubuh keenam orang yang menyembah terlempar ke belakang, begitu mengenai tembok, tembok itupun jebol mengeluarkan suara ge-muruh! Pohon-pohon di depan istana ikut tersapu pergi melayang dengan membawa suara berkerosakan! Batu-batu dan debu berhamburan ke belakang melanggar tembok. Sekarang tembokpun   telah rata dengan tanah!

“Tolongggg……!!!” Hampir berbareng Kromoleo dan Gombloh berteriak ketika tubuhnya terbawa terbang pergi ke belakang dengan cepatnya!

Tiba-tiba tubuh keduanya terhenti di tengah udara! Kedua orang itu berteriak-teriak semakin keras! Guru-guru mereka menjadi malu melihat kelakuan murid mereka itu. Ternyata Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria serta Danang dan isterinya telah berdiri tegak. Berdiri di tanah di samping seorang pengemis yang beralis putih dan berambut hitam. Biarpun usianya telah sangat tua, namun pengemis itu berdiri dengan gagahnya. Di depan pengemis ini nampak sebatang tongkat bambu tertancap di tanah.

“Diam goblok!!” “Sudahlah, tidak perlu kalian memarahi muridmu ini!” kata pengemis ini halus. Lalu pengemis itu menurunkan tangannya, seakan-akan kedua tubuh itu dibawa turun dengan pelannya sehingga menyentuh tanah!

“Hiiiiii……. sungguh mengerikan!!”

“Aammmpuuuuunnnnnnn ttooooobbbacaattttt!!”

Gombloh meratap dan menyembah-nyembah ke   arah istana. Sebuah tangan yang halus lunak menyentuh pundaknya. Gombloh meloncat bangun mau melarikan diri lagi. Baru beberapa langkah dia menengok. Ternyata di belakangnya, guru dan teman-temannya telah berdiri dengan mulut tersenyum melihat ulahnya itu!

“Tenang anak muda. Tak usah takut! Mari ikutlah aku di belakang!” Pengemis Alis Putih berkata halus, menenangkan Gombloh yang memandang ketakutan.

Dengan melangkah tenang Pengemis Alis Putih mendahului menuju ke arah istana. Merekapun lalu menuju ke istana, mengikuti di belakang pengemis tua tanpa suara. Begitu mereka memasuki halaman istana melalui tembok pagar yang telah jebol, mereka melihat pemandangan yang mentakjubkan di depan mata! Dewi Purbosari melayang- layang memainkan sehelai selendang berwarna kuning. Melecut-lecut ke arah Suryo Lelono yang berloncatan seperti seekor burung bangau. Gesit dan lincah pemuda ini bergerak, sesekali pemuda itu menggerakkan tongkat untuk menangkis selendang yang datang melecut! Bunga api ber- pijaran ketika ujung selendang bertemu dengan tongkat, disusul dengan bunyi yang memekak-kan telinga! Adu kesaktian yang pilih tanding ini membuat kagum mereka yang menonton di situ.Saling serang dan saling elak, berkelebatan memenuhi ruangan istana, dua orang itu bagaikan telah berubah banyak memenuhi ruangan. Beberapa kali selendang yang luput mengenai sasaran, melanggar perabot istana. Dengan mengeluarkan suara keras, hancurlah perabot yang terlanggar selendang! Ketika Suryo melihat kedatangan Pengemis Alis Putih yang diikuti teman-temannya yang tidak kurang suatu apapun, hatinya bertambah mantap. Dia lalu membarengi tongkat yang dimainkan dengan Ilmu Tongkat Pengemis Gila dengan sambaran tangan kirinya!

“Wussss…… duarrrr!”

Ternyata sekarang Dewi Purbosari pun tidak hanya mengandalkan selendangnya saja. Dia juga menggerakkan tangan kiri memukul dengan aji kesaktiannya. Dua tenaga dahsyat bertemu di tengah udara, membuat ruangan istana bagaikan digoncang hebat! Lima orang tersurut mundur saking hebatnya pertemuan hawa sakti itu. Gombloh yang berdiri tepat di belakang Pengemis Alis Putih tetap berdiri tegak tak bergoyang sedikitpun.

“Mampus kau!” Selendang berputar cepat membuat lingkaran-lingkaran menyerang tubuh Suryo!   Tangan kirinya menyusul dengan pukulan bertubi-tubi ke depan. Bola-bola api sebesar kepalan meluncur cepat bagaikan peluru-peluru senapan otomatis!

“Hiaaaattttt!!” Suryo Lelono memutar tongkat sambil meluncur ke depan. Menyongsong luncuran bola api!

“Duarr, daaarrr…… breetttt!!”

Kembali terdengar ledakan keras disusul oleh suara memberebet dari kain selendang yang terobek tongkat. Ternyata tongkat di tangan Suryo telah berubah kemerahan karena saluran tenaga sakti yang dimiliki pemuda ini.

“Aaiiihhhh…..! Celaka!!” Dewi Purbosari menjerit. Tubuhnya meloncat ke belakang menjauhi lawannya. Dengan hati tidak karuan, penuh penasaran, kesal, dan marah berkumpul menjadi satu.

“Huuuaaaahhhhhh!!”

Begitu Dewi Purbosari membentak, genteng-genteng istana rontok meluruk ke bawah. Mengeluarkan suara bising. Hanya dua orang yang masih tetap berdiri di ruang istana, yaitu Suryo dan Pengemis Alis Putih. Sedangkan Ki Mardi Angunbaya beserta rombongannya telah terlempar keluar oleh tenaga bentakan itu. Mereka bergulingan, ketika berhenti mereka itu tetap diam tak bergerak, pingsan. Karena jantungnya seperti diremas tangan raksasa!

“Hi-hi-hik….. kaukira dapat mengalahkan aku? Lihat siapa aku sesungguhnya?” Dewi Purbosari duduk di dampar kencana. Kedua tangan bersedakap, bersamaan dengan habisnya ucapannya, dampar berikut tubuh sang dewi tertutup gumpalan asap tipis keputihan. Dampar itupun melayang ke atas, berhenti di tengah udara. Lalu nampak cahaya berwarna putih kekuningan menyelimuti dampar serta orang yang duduk di atasnya.

“Hai, manusia! Lihatlah siapa diriku ini?” Dewi Purbosari berkata halus mengelus hati. “Hayo kalian berlutut untuk menyembahku!”

Orang-orang yang tersadar dari pingsannya, memandang Dewi Purbosari Suryo serta Pengemis Alis Putih mengawasi tajam. Semuanya memandang Dewi Purbosari, bagaikan melihat  seorang bidadari yang  turun ke marcapada! Wajah Dewi Purbosari bersinar penuh welas asih, sepasang bibirnya membentuk senyum yang manis sekali, meruntuhkan hati yang memandangnya. Tanpa terasa lagi  Ki Mardi Angunbaya, Ki Kulikpria, Kromoleo, Gombloh, segera menjatuhkan dirinya berlutut. Demikian pula sepasang suami isteri, Danang dan Sawaliyah mereka berlutut dengan berendeng di belakang.

Suryo Lelono pun tertegun melihat perwujudan Dewi Purbosari yang berubah menjadi demikian lembut serta menyinarkan kasih sayang. Ketika dia menekuk kakinya untuk berlutut, tiba-tiba telinganya mendengar   bisikan halus.

“Jangan tertipu oleh iblis itu! Kerahkan seluruh batinmu kepada Sang Hyang Widi mohon kekuatan!” Lalu Pengemis Alis   Putih   mengeluarkan   suara   tawa melengking tinggi. “Ha-ha-ha……! Kaukira dapat menipu aku? Kembali lah kau pada asalmu sesungguhnya!” Kedua tangan mendorong ke arah dampar.

Ketika mendengar suara tawa ini, Ki Mardi Angunbaya beserta kawan-kawannya tersadar dari keadaannya. Meloncat berdiri! Memandang ke arah dampar penuh kagum dan ngeri!

Dari kedua tangan Pengemis Alis Putih keluar sinar putih meluncur menghantam dampar yang diduduki oleh Dewi Purbosari.

“Duuaaaarrrrrr…….!!”

Begitu terkena sinar yang keluar dari tangan si Pengemis Alis Putih, dampar meledak dan hancur berkeping-keping! Debupun ber-hamburan ke mana-mana, menggedipkan mata! Ternyata dampar kencana itu hanyalah dampar yang terbuat dari batu dan dicat keemasan.

Begitu debu hilang tersapu angin. Dewi Purbosari telah lenyap dari pandangan mata mereka semua! Hanya terdengar suara mengekeh yang mendirikan bulu roma bagi yang mendengarnya! “Hi-hi-hi-hik…..! Kaukira dapat membunuhku dengan mudah? Hi-hi-hi-hik….. sekarang terimalah kematianmu!”

Tanah yang dipijak mereka menjadi bergoyang. Makin lama semakin hebat, lalu disusul oleh gundukan tanah yang meluncur maju ke arah mereka berdiri! Suryo menyambar tubuh Danang dan isterinya, sedangkan Pengemis Alis Putih menyambar tubuh Kromoleo dan Gombloh, dibawa meloncat tinggi menghindar dari serudukan tanah. Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria terlempar ke atas terlanda gundukan itu! Ketika jatuh di tanah, keduanya telah menjadi pingsan dengan tubuh membiru!

“Hiiiiiii……! Hayo cepat lari!” Gombloh begitu diturunkan ke atas tanah. Bergidik ngeri, lalu mengajak temannya untuk melarikan diri. Mental Gombloh benar- benar telah hancur karena kejadian-kejadian yang dialaminya ini!

Tiba-tiba nampak awan hitam bergumpal-gumpal mendatangi dengan cepat dan dari gumpalan awan keluarlah petir menyambar-nyambar ke arah tubuh Pengemis Alis Putih dan Suryo Lelono!

“Daarrr! Tarrr-tarrr!!” Suryo memutar tongkat menangkis. Sedangkan pengemis tua hanya diam bersedakap saja, akan tetapi tidak ada satupun kilat yang keluar dari gumpalan awan itu dapat mengenai tubuhnya! Aneh memang! Tubuh Pengemis Alis Putih ini seakan – akan telah dilindungi oleh udara atau sinar yang tak nampak mata. Malahan orang-orang yang berada di belakang si pengemis tua ini terlindung semua dari amukan kilat!

Mulut Pengemis Alis Putih kelihatan komat kamit tanpa suara yang keluar dari mulut. Kedua tangan ditengadahkan ke atas lalu diturunkan dan dirangkapkan depan dada.Lalu mendorong ke arah awan gelap.Suryo juga mengikuti gerakan gurunya. Diapun lalu mendorongkan kedua tangannya setelah menancapkan tongkat kayu cendana di tanah depan mukanya!

“Weessss, weeessss……! Daaarrrrr!!” Tidak nampak cahaya dari tangan, hanya angin lembut keluar mendorong gumpalan asap hitam di depan. Akan tetapi akibatnya sangat hebat sekali. Begitu awan hitam terlanda angin halus dari dua pasang tangan yang didorongkan.   Meledak dahsyat lalu buyar entah ke mana? Tampaklah seekor kelabang sebesar gelugu menggeliat di atas tanah dengan sepasang mata mencorong kehijauan mengawasi ke arah Pengemis Alis Putih dan Suryo bergantian.

Tiba-tiba mulut kelabang terbuka lebar menyemburkan api yang menyala-nyala membakar apa saja yang terlanda. Kembali Suryo Lelono dan Pengemis Alis Putih mendorongkan kedua tangannya ke depan.   Serangkum hawa dingin menerpa api yang keluar dari mulut kelabang!

“Ceeessssss………!” Apipun menjadi padam! Dari mulut kelabang keluarlah asap hitam menyembur bergulung- gulung naik.

Mereka sekarang baru menyadari bahwa Dewi Purbosari yang dapat menjadi orang berbudi dan mempunyai wajah yang welas asih sebetulnya adalah seekor siluman kelabang! Mempunyai kesaktian luar biasa untuk mencari pengikut untuk menyembahnya. Lalu membawa mereka menuju kehancuran! Anak-anak mereka dihisap darahnya dan dimakan dagingnya. Sedangkan para orang tua dijadikan pemuas nafsu kelabang. Lalu disedot darahnya untuk membuat senjata pemusnah bagi manusia itu sendiri! Sebetulnya dialah penyebar penyakit dan yang meracuni dusun Manyaran. Lalu datang menyembuhkan mereka dengan kesaktiannya. Menipu penduduk yang masih percaya akan tah yul. Menyamar menjadi seorang suci, serta menolong untuk kemudian menjatuhkan manusia. Menjauhkan manusia dari Sang Pencipta yang seharusnya menjadi sesembahan mereka! Danang dapat melihat kenyataan ini dengan jelas. Karena seluruh penduduk desanya dari yang masih orok sampai kakek-kakek, tidak ketinggalan hewan ternak mereka, telah dibasmi binasa tanpa ampun sama sekali! Semua penduduk dan hewan ternak diracun oleh anak buah Dewi Purbosari yang sekarang ternyata hanyalah seekor kelabang siluman!

Tongkat bambu Pengemis Alis Putih serta tongkat kayu cendana milik Suryo Lelono meluncur cepat mengenai sepasang mata siluman kelabang.

”Aaauuuuurrrrrggggghhhhh !!!”

Teriakan mengerikan keluar dari mulut kelabang. Lalu tubuhnya menggeliat menerjang ke kanan kiri. Menabrak apa saja, mengamuk dengan buas dan liar, sambil mengeluarkan lengkingan memekakkan telinga. Istananya menjadi hancur akibat amukannya. Debupun berhamburan menggelapan pandangan mata! Mereka semua mundur untuk menyelamatkan diri dari amukan kelabang buta. Hanya Suryo dan Pengemis Alis Putih yang masih tetap mengawasi si kelabang! “Suryo, kita gabung aji pamungkas kita!”

“Baik, guru!” Dua pasang sinar putih serta merah meluncur ke arah tubuh kelabang yang sedang mengamuk! Ledakan dahsyat memekakkan telinga terjadi. Tubuh kelabang siluman terkena pukulan sinar putih dan merah. Setelah api ledakan dan asap kehitaman hilang dari pandang mata, nampaklah onggokan abu putih di tempat itu. Abu bekas siluman kelabang atau jelmaan Dewi Purbosari! Dua tongkat yang melayang ke udara disambar Suryo Lelono dan Pengemis Alis Putih. Begitu tangan menyentuh tongkat, keduanya membuat putaran di udara melayang pergi dengan kecepatan kilat. Dalam sekejab saja hanya nampak bayangan kecil menembus kabut pagi yang telah memenuhi hutan di lereng Bukit Kelabang di pagi hari. Lenyap! Meneruskan perjalanannya!

Ki Mardi Angunbaya serta Ki Kulikpria membawa murid-murid masing-masing kembali ke tempat mereka sendiri. Hanya Gombloh yang sesekali masih menoleh ke belakang. Lalu mengangkat pundaknya sambil menggeleng kepala, bergidik ngeri!

Bagaimana Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria tahu- tahu mengajak para murid-muridnya? Ternyata dengan kematian Dewi Purbosari. Racun kebiruan yang menguasai keduanya dengan sendirinya punah! Dua orang tua itu ketika sadar kembali, sudah terbebas dari racun yang menguasainya!

Sampai di sini cerita ini berakhir. Rahasia yang menyelimuti Dewi Purbosari telah terungkap. Ternyata siluman kelabang telah menipu manusia agar menjadi penyembahnya. Menjadi pengalaman kita agar kita tidak mudah percaya begitu saja! Hanya Tuhan Yang Maha Esalah yang harus disembah dan disujudi seluruh manusia di muka bumi ini, manusia yang beriman! Tidak menyembah segala berhala-berhala!

Sampai jumpa di lain cerita!

T A M A T