-->

Pusaka Tongkat Sakti Jilid 7

Jilid 07

Seketika jarang sekali ia menemukan tandingan yang dapat menahan pukulan kepalannya ini sehingga karenanya, pukulan yang berdasarkan tenaga gwkang ini selalu menjadi kebanggaan serta sangat dibuat andalannya! Hanya sayang sekali Ho Bunki mempunyai adat berangasan dan sikap kasar, sehingga bagi orang lain yang tidak mengetahui watak serta pembawaannya, ia akan dianggap seorang pemuda sombong. Dan Hayhauw pun menganggapnya demikian!

Akan tetapi Hayhauw adalah seorang anak muda yang selalu dapat mengimbangi sikap seorang, sehingga karenanya kini Ho Bunki seperti menemukan batunya! Biasanya, pukulan kepalan Ho Bunki apabila mengenakan sasarannya apalagi secara tepat, pasti orang yang dijotosnya itu akan terguling roboh dan tak dapat bangun lagi karena menderita patah tulang, akan tetapi ketika kepalanya itu menumbuk dada Hayhauw yang tampaknya tinggal mandah saja, bukan saja tidak membuat pemuda baru itu roboh, malah goyahpun tidak, dan sebaliknya, Ho Bunki yang berteriak kesakitan sendiri karena kepalannya itu seakan-akan menumbuk benteng baja yang sangat kuat, ia segera menarik kepalannya dengan wajah menangis menahan sakit. Sepasang matanya membelalak memandang Hayhauw yang nampaknya tinggal tenang-tenang saja. Bukan main heran terkejut dan penasaran hati sikepalan baja dari Hokkian ini.

Untuk menyembunyikan rasa malu yang ditanggung kawannya, Lim Hongpin segera mengetahuhinya sambil berkata.

"Hote atau adik Ho, sudahlah. Kini bukan waktunya bagimu untuk menguji kawan kita yang baru ini. Niocu telah mengeluarkan perintah bahwa pada waktu itu juga kita harus berangkat ke Taygoan. Kalau perlu kita mengadakan perang mati-matian dengan pihak musuh untuk menolong paycu kita”. Ucapan Lim Hongpin ini segera disambut oleh suara teriakan bersemangat tanda setuju dari para anggota Tiong gi pay yang hadir. Segera semua para anggota dari pasukan yang gagah berani ini berkumpul untuk mendengar perintah dan siasat-siasat yang diatur oleh Lim Hongpin dan Kang Culay. Seorang utusan lalu disuruh menyampaikan berita kepada To Gun Hosiang dikuil Lianhoksi. Dan sejak saat itulah Han Hayhauw menjadi seorang pejuang dalam kesatuan Tiong gi pay. Hayhauw maklum bahwa setelah menjatuhkan dirinya kedalam Tiong gi pay ini, tugas-tugas yang dihadapinya sangat berat. Apalagi tugas yang pertama kali ia harus lakukan ialah ambil mayat Tan Kimpo dari tiang gantungan! Betapa berat dan besar resiko pekerjaan ini ia sudah dapat dibayangkan, sangat mungkin nyawa sendiri akan melayang! Tapi sebagai seorang pejuang Hayhauw paham bahwa ia tidak boleh memperhitungkan untung ruginya perjuangan yang dihadapinya asal dengan keyakinan bahwa yang diperjuangkannya itu adalah demi membela kebenaran dan keadilan. Apalagi perjuangannya dibawah naungan kesatuan membela kebebasan bangsa dan kemerdekaan negara, maka kewajibannya harus berjuang mati-matian tanpa pamrih. Memang harus demikianlah tekad orang pejuang sejati. Perhitungan para pejuang yang membela tanah air dan bangsa tanpa pamrih hanya ada dua macam. Pertama mengakhiri perjuangan dengan kemenangan mutlak dan kedua gugur dimedan perang sebagai kesuma bangsa yang dihormati dan dibanggakan.

Akan tetapi sayang sekali Hayhauw tidak segera menyadari bahwa dalam tekadnya sebagai pejuang sebulat itu, setelah menyatukan diri kedalam pasukan Tiong gi pay ada seorang Tiong gi pay yang diam diam menaruh rasa tidak suka terhadapnya. Orang ini bukan lain ialah Ho Bunki, perasaan tidak suka yang disimpan didalam hatinya terhadap Hayhauw, disebabkan selain ia masih penasaran ketika mengujinya tadi ia merasa dibikin malu, bahkan yang utama sekali ialah ia merasa iri dan cemburu karena nona Tan Lian Giok ketika menyambut dan menerima Hayhauw tadi menurut pendapatnya, tidak semestinya seperti itu.

ooooooOdwOoooooo

Berbagai siksaan dan kompesan telah diderita oleh Tan Kimpo semenjak saat pemimpin Tiong gi pay itu disergap dan ditawan. Yang paling getol menyiksa adalah Ceng Kunhi sesuatu pula dengan jabatannya selaku panglima muda dan algojo. Lebih-lebih lagi ketika setelah kembali dari Lianhoksi dimana ia bersama Kulangcha dibikin malu oleh To Gun Hosiang. Kemendongkolan hatinya lalu ditimpakan terhadap tawanan itu. Padahal itu untuk kesekian kalinya tubuh Tan Kimpo yang memang semulanya sedang menderita sakit, dan ditambah lagi gara-gara siksaan sehingga keadaannya demikian lemah dan menyedihkan, digusur keluar dari kamar kurungan dan dengan siksaan oleh beberapa orang, perwira pasukan garuda, tubuh Tan Kimpo yang agak kurus itu dicambuki oleh Ceng Kunhi, dan seperti biasanya, setiap kepala yang dipancungkan terlepas dari tubuh tawanan atau setiap tubuh sitawanan menggelepar kesakitan dicambuknya selalu diiringi suara ketawa dari Ceng Kunhi dan oleh karena sifatnya yang luar biasa inilah maka Ceng Kunhi mendapat nama julukan Ciauw giam lo atau Malaikat Elmaut ketawa.

"Tar tar tar tar . . ." suara cambuk yang melecut memaksakan anak telinga diiringi bergelaknya bagaikan suara tertawa iblis dan tubuh yang disiksanya bergulingan dilantai, menggeliat menggelepar seakan-akan bergulat dengan sekan merenggut nyawa.

Baju Tan Kimpo robek-robek dan kulit tubuhnya pecah dan berdarah atau matang biru. Siksaan dari musuh ini ia terima dengan hati tabah, betapapun hebatnya siksaan ini ia derita, namun dari mulutnya, pihak penjajah tak berhasil memperoleh keterangan sekelumitpun. "Gembong pemberontakan hina! Mengakulah dimana kau menyembunyikan anak buahmu?!" Kalimat pertanyaan ini entah untuk keberapa kalinya dilontarkan oleh Ceng Kunhi. Akan tetapi yang ditanya dan disiksa itu selalu tidak mau menjawab, mulutnya tak lain hanya mengeluarkan rintihan menahan rasa sakit yang menyayat tubuhnya.

Kembali cambuk ditangan Ceng Kunhi terayun dan menyabet tubuh yang sudah lemah dan payah itu sambil mengeluarkan suara seperti halilintar, Kembali tubuh Tan Kimpo menggeliat kedua tangannya dikepalkan seluruh otot- ototnya merenggang, dan ia merintih, minta perlindungan kepada Tuhan!

"Gembong pemberontak! Aku masih memberi kesempatan supaya kau mengatakan keterangan yang kami butuhkan! Dan kesempatan ini adalah yang terakhir yang mungkin akan membatalkan maksud hati untuk menggantungmu!" Ceng Kunhi menghardik pula dan kini ia mencoba mengambil siasat memancing.

Pada detik berikutnya hati panglima muda yang kejam ini agak gembira ketika dilihat Tan Kimpo dengan susah payah berusaha bangun dan duduk dilantai. Dikiranya ia akan memberi seperti yang diharapkan. Akan tetapi sesudah ditunggu sampai sesaat lamanya Tan Kimpo masih tetap membungkam, hanya sepasang matanya yang bersinar tajam dibalik pelupuk mata yang bengkak karena aniayaan itu ditatapkan terhadap panglima bermata juling yang menyiksanya. Bibirnya tertutup rapat, hanya dari sebelah dalam bibir itulah terdengar jelas bunyi gemertakan!

"Katakanlah! Mungkin putusan kami berubah . . .!" Ceng Kunhi mendesak.

Akhirnya, perlahan-lahan sekali bibir Tan Kimpo bergerak dan nampak membuka dan benar saja kini ia berkata. Akan tetapi perkataan yang diucapkannya sungguh diluar dugaan Ceng Kunhi. "Manusia keji pengkhianat bangsa dan negara! Mau bunuh aku segera bunuhlah! Tak perlu coba membujukku! Sampai ajalku tibapun jangan harap kau bisa memperoleh sesuatu keterangan dariku . . . !" Demikian perkataan yang diucapkan Tan Kimpo dengan nada marah sungguhpun suaranya sangat lemah. Perkataan dari seorang sejati selaku pemimpin Tiong gi pay yang mempunyai rasa tanggung jawab penuh tentu saja merasa lebih rela mati sebagai orang gagah dari pada membocorkan rahasia kesatuannya.

Bukan main marahnya hati Ceng Kunhi setelah mendengar ucapan Tan Kimpo, apalagi dirinya dimaki pula maka segera saja cambuknya dikerjakan pula secara bertubi-tubi sehingga, kembali tubuh ketua Tiong gi pay itu bergulingan dan menggelepar-gelepar bagaikan cacing gelisah diatas abu panas. Pakaian makin robek dan koyak serta dibasahi pula oleh peluh dan darah yang mengalir dari luka-lukanya. Ketika tubuhnya yang didera cambuk bergulingan kedekat kaki salah seorang perwira, maka perwira yang bukan lain adalah Ong Samkui, yaitu perwira tingkat tiga yang bersenjatakan sepasang kampak besar yang tentu pembaca masih ingat bahwa tertangkapnya Tan Kimpo yang sedang menderita sakit itu adalah oleh sepasukan tentera dibawah pimpinan perwira she Ong ini, segera mengayunkan kakinya dan menendang tubuh Tan Kimpo terpental dan bergulingan dan seorang perwira yang lainnya lagi meniru perbuatan Ong Samkui. Demikianlah, lebih dari lima kali tubuh ketua Tiong gi pay yang malang itu dijadikan bola sepak oleh para perwira yang hadir disitu disamping cambuk Ceng Kunhi yang terus melecut-lecut disertai ngakak tertawa iblisnya!

Kalau saja Tan Kimpo disergap bukan waktu ia sedang menderita sakit, tentu ia takkan sampai mengalami hal seperti ini dan andai kata ia sampai tertawan namun justru tidak sedang sakit, maka dalam penganiayaan ini sedikitnya tentu ia akan memperlihatkan kegagahannya! Setidak-tidaknya ia akan menjatuhkan dua atau tiga perwira musuh dahulu sebelum ajal merenggut nyawanya!

Setelah dijadikan bola tendang tadi, akhirnya Tan Kimpo terkapar dan tubuhnva sedikitpun tak bergerak! Bajunya yang sudah menjadi compang-camping itu basah kuyup dan merah. Bahkan darahnya itu banyak menodai pula lantai dimana ia ditendang pulang pergi serta dicambuki barusan.

"Ha ha ha ha . . . Rupanya dia semaput pula. Guyur air!" kata Ceng Kunhi setelah menghentikan ketawa iblisnya. Seorang perwira bawahan lalu mengambil seember air dan wajah serta tubuh Tan Kimpo yang sudah tidak karuan rupanya itu, disiraminya.

Sejak ditawan, Tan Kimpo sudah lima kali pingsan akibat siksaan dan biasanya setelah diguyur air, segera sadar pula untuk kemudian ia dikompes lagi. Tetapi kali ini, meskipun sudah di "mandikan" seember air dan ditunggu hingga beberapa saat lamanya, Tan Kimpo tak nampak gejala-gejala akan sadar. Kemudian para perwira boneka penjajah itu baru tahu setelah salah seorang memeriksanya, bahwa nafas dan denyut jantung orang yang mereka namakan kepala pemberontak yang berkepala batu itu sudah berhenti sama sekali. Tan Kimpo mati. Dan matinya ini benar-benar dapat dinamakan sebagai pahlawan bangsa dan kusuma negara.

Tubuh yang sudah menjadi mayat itu harus mengalami siksaan lebih lanjut lagi yaitu digantung dimuka pintu gerbang tembok benteng gubernuran yang dilakukan pada sore harinya, sesuai dengan putusan yang telah diumumkan pada pagi hari tadi yang sebagaimana sudah diterangkan dalam bagian permulaan dari ceritera ini.

Pasukan Tiong gi pay yang dibantu oleh keenam orang hwesio dari kuil Lianhoksi melakukan penyerbuan besar- besaran kekota Taygoan. Peristiwa ini terjadi pula pada sore hari itu juga, dikala senja hampir berganti malam. Siasat peyerbuan diatur sedemikian rupa, yaitu sebagian para anggota Tiong gi pay yang hampir mencapai seratus orang lebih banyaknya itu melakukan pengacauan dipinggir kota. Banyak rumah-rumah para hartawan yang menjadi antek-antek atau pembantu pihak penjajah yang sudah tercatat dalam daftar hitam Tiong gi pay dibakar! Siasat sebagai pancingan untuk menarik perhatian pasukan penjajah ini ternyata sangat berhasil, oleh karena hampir seluruh serdadu dari pasukan garuda dikerahkan tempat itu, sehingga terjadi pertempuran yang sangat dahsyat!

Sementara para pemimpin Tiong gi pay dan dibantu keenam orang hwesio yang sudah disebutkan tadi yang kesemuanya menyamar sebagai petani dan kepala mereka yang gundul itu ditutupi topi caping yang berdaun lebar, berhasil menyelundup dan dengan mempergunakan kepandaian mereka, dapat melampaui beberapa pos penjagaan sehingga akhirnya mereka telah mendekati pintu gerbang gubernuran. Keadaan disitu sunyi sekali, seakan-akan tak dijaga.

Cuaca sudah mulai gelap akan tetapi sinar api yang membakar rumah-rumah jauh dibelakang mereka memberikan penarangan yang remang-remang sehingga apa yang nampak dipintu gerbang benteng gubernuran itu terlihat cukup jelas, sehingga karenanya Lian giok mengeluarkan jeritan tertahan:

"Ayah!" Dan nona perkasa ini hendak lompat dan lari menghampiri tubuh yang tergantung dibawah tiang gantungan terpancang dimuka pintu gerbang itu akan tetapi Lim Hongpin cepat memegang dan menarik lengannya.

"Niocu, sabar dan jangan ceroboh. Kuatkan imanmu!" bisik Lim Hongpin dengan suara perlahan dan menggetar. Hatinya amat tertusuk menyaksikan pemandangan yang amat menyedihkan jelas terlihat bahwa tubuh Tan Kimpo tergantung lehernya dibawah tiang gantungan dimuka pintu gerbang itu, tak salah lagi bahwa Tan Kimpo yang digantung itu. Pakaiannya, masih seperti ketika ia disergap kemarin malam. Yakni baju hitam dan celana putih, yang kini sudah compang-camping dan cabikannya nampak menggelepar- gelepar ditiup angin.

"Lim pepeh, biarkan aku mengambil jenazahnya. Tak kuat hatiku melihat dia tergantung seperti itu." Tan Lian giok meronta-ronta dalam pegangan Lim Hongpin.

"Sabar niocu kita harus bertindak menurut rencana, jangan sampai mengorbankan nyawa sia-sia" kata Lim Hongpin menyabarkan dan pendekar dari Kansu ini berkata pula mengutarakan pendapatnya, "Kita tak boleh berlaku gegabah, tempat ini terlalu sunyi dan keadaan yang tidak semestinya ini aku merasa yakin bahwa ditempat tersembunyi pasti terdapat musuh berjaga-jaga yang siap akan menyergap kita. Oleh karenanya, kita harus berpencar. Kita harus dipencar menjadi tiga kelompok dan kita coba mendekati, gantungan itu dari tiga jurusan. Nah segera laksanakan siasatku ini sementara niocu Bunki Culay ialah biarlah bersamaku".

Mereka segera menyebar dan mereka ini bukan lain terdiri dari To Gun Hosiang dan To Li Hosiang merupakan kelompok kedua yang mencar kesebelah selatan. Sedangkan To Bi Hosiang To Gi Hosiang dan Hayhauw merupakan kelompok ketiga dan menyelinap kesebelah utara. Begitulah dalam keadaan sepi yang menjadi teka teki serta mencurigakan itu mereka berusaha mendekati tiang penggantungan dari tiga jurusan. Mereka menggunakan taktik gerilya, tindakan kaki mereka beridap-idap hati berdebar tegang, kewaspadaan mata dan telinga diperlipat gandakan dan senjata masing-masing sudah siap ditangan.

Lim Hongpin terus memegangi lengan Lian giok yang kini sudah tak kuat lagi membendung kesedihannya. Ketika mereka sudah berada dekat sekali dengan tiang gantungan.

"Niocu, atasilah rasa sedih dihatimu. Hendaknya kita ingat bahwa ayahmu telah tewas sebagai pahlawan besar!" Terdengar Kang Culay berbisik sambil berjalan mengindap- indap dan sepuluh batang anak panah sudah dipersiapkan pada gendewanya.

Tan Lian giok menahan isak tangisnya dan setelah melihat keadaan tetap sunyi, maka tiba-tiba saja dara ini melompat kedepan dan dengan tiga kali lompatan saja ia sudah tiba dibawah penggantungan ayahnya. Ternyata Tan Lian giok tidak dapat menahan hatinya lagi. Melihat betapa ayahnya telah tergantung disitu dalam keadaan tak bernyawa lagi serta berbau amis karena darah-darah yang membeku, ia lalu mengerahkan ginkangnya sehingga dengan sekali enjot saja tubuhnya mumbul keatas dan tangan kirinya lalu menjaga besi gantungan diatasnya yang membuat tubuhnya menggelantung disisi jenazah ayahnya. Dan tangan kanannya lalu mengayunkan pedangnya untuk memutuskan tali yang menjerat leher ayahnya. Akan tetapi sebelum maksudnya ini tercapai tiba-tiba pedangnya terbentur oleh sebuah benda secara tepat sekali. Tenaga benturan itu kuat sekali sehingga pedangnya terpental serta lepas dari pegangannya. Ternyata benda yang terbentur itu datang dari atas benteng dan yang disusul lagi banyak sinar hitam menyambar kearahnya.

"Niocu, awas. Cepat lompat turun!" teriak Lim Hongpin dengan hati terkejut karena mendapat kenyataan bahwa mereka terjebak sungguhpun hal ini sudah diduganya dari semula.

Sebelum diberi peringatan, biarpun hatinya bukan main sedih dan bingung sebenarnya Tan Lian giok sudah cukup waspada, maka sebelum senjata-senjata rahasia itu sampai menyerang dirinya, ia sudah segera melompat turun dan lalu berguling dan dengan selamat ia berhasil memepetkan dirinya dibawah tembok benteng.

Setelah itu, pintu gerbang yang tadinya tertutup rapat- rapat itu tiba-tiba membuka dan secara cepat sekali dari mana berlompatan tujuh sosok tubuh keluar dan menerjang mereka dan mereka ini memperdengarkan suara ketawa yang mencerminkan cemoohannya! Ternyata mereka ini adalah ketujuh perwira dari Pasukan Garuda dan barangkali pembaca yang budiman sudah lupa lagi nama-nama mereka maka baiklah pengarang disini bantu mengingatkannya bahwa mereka adalah: sipanglima berbentuk bulat tinggi berbangsa Mongol dengan senjata istimewa yang berbentuk bulan bintang, Ceng kunhi sipanglima muda yang bermata juling itu, Ma Inliang perwira tinggi perwira tingkat satu yang lebih dikenal dengan nama julukannya sitongkat kepala naga atau Long thauw tung, Tohula alias si tongkat panjang perwira tingkat dua, Ong Samkui perwira tingkat tiga yang senjatanya berupa kampak kembar, So Banpek siperwira tingkat empat dengan sebilah golok bengkung dan panjang sebagai senjatanya, perwira tingkat lima Ho Likiat, bersenjata sepasang tombak berjagak (siangkek).

Para pemimpin Pasukan Garuda ini ternyata telah membuat siasat yang sangat tepat sekali untuk menyambut penyerbuan dari Tiong gi pay, mereka sudah memperhitungkan bahwa dengan jalan digantungnya mayat "Gembong pemberontak" dari Tiong gi pay itu para anak buahnya pasti akan datang menyerbu atau setidak-tidaknya akan mengambil mayat pemimpin mereka. Siasat ini ternyata sangat berhasil, maka ketika mengetahui bahwa para anak buan Tiong gi pay mulai mengadakan pembakaran rumah-rumah dipinggir kota, Kulangcha lalu mengerahkan para serdadunya untuk menghadapi dan memberi perintah pula terhadap para perajurit penjaga bahwa apabila melihat para pemimpin Tiong gi pay menyelundup memasuki kota dan mandatangi kearah pintu gerbang hendaknya dibiarkan karena hendak diganyang oleh para perwira yang diam-diam mengadakan bayhok dan pengintaian dibalik pintu gerbang. Maka ketika dari lubang pengintaian mereka melihat bahwa pancingan mereka disanggut sang ikan, yaitu ketika para pemimpin Tiong gi pay menghampiri tiang penggantungan Lian giok melompat hendak mengambil jenazah ayahnya maka sesuai dengan rencana para serdadu yang bersembunyi diatas benteng lalu melepaskan senjata senjata rahasia serta anak panah diiringi para perwira pasukan garuda yang dipimpin oleh Kulangcha sendiri lantas keluar dari pintu benteng dan menerjang serta akan membasmi gembong-gembong pemberontak yang sudah memasuki perangkap itu.

"Anjing-anjing pemberontak! Bagus kalian datang sendiri mengantar nyawa" Bentak Kulangcha yang muncul paling depan sambil senjata bulan bintangnya sudah diputar dikedua tangannya.

"Ha ha ha . . . ! Tikus-tikus busuk ini hendak mencoba mengambil bangkai biang keladinya? Jangan harap! Malah batang leher kalianlah yang kami akan gantung bersama dedengkotnya! Ha ha ha . . . " Kata-kata ejekan-ejekan, yang dimulai dan diakhiri oleh suara ketawa yang menyeramkan ini adalah yang diucapkan oleh Ceng Kunhi alias si Malaikat Elmaut ketawa sambil menerjang dan pedangnya berkelebat mengirim serangan yang mematikan. Dan dibelakang kedua panglima ini menyerbu pula kelima orang perwira sambil bersorak-sorak.

Bukan main kaget hati Lim Hongpin setelah menyadari bahwa mereka telah masuk perangkap dan sungguhpun demikian, akan tetapi pendekar ahli golok dari Kansu ini tidak menjadi gugup. Dengan sigap dan tangkas, ia segera memutarkan goloknya menyambut serangan Kulangcha dan Ceng Kunhi yang langsung menerjangnya secara berbareng. Dan bersamaan dengan itu pula, tiba-tiba salah seorang perwira yang bersenjatakan sebilah golok bengkung dan panjang yang bukan lain ialah So Banpek perwira tingkat empat, memperdengarkan suara jerit yang mengerikan dan otomatis tubuhnya yang pendek buntek itu roboh dan berkelojotan. Ternyata perwira itu telah menjadi sasaran yang sangat jitu kesepuluh batang anak panah yang dilepaskan oleh Kang Culay yang sejak tadi telah mempersiapkan panah saktinya.

Melihat betapa seorang kawan roboh dan tubuhnya ditembus sepuluh batang anak panah sekaligus perwira lainnya karuan saja tambah marah. Demikian pula Kulangcha dan Ceng Kunhi yang sempat melihat pula seorang anak buah mereka belum apa-apa sudah menjadi korban, bukan main murkanya kedua panglima ini sehingga karenanya, secara gencar dan bagaikan gelombang samudra mengamuk, mereka menyerang dan mengurung para lokoh Tiong gi pay yang untuk sementara mereka lihat hanya empat orang itu.

Kang Culay yang tidak sempat lagi melepaskan anak panahnya disebabkan musuh sudah terlalu dekat dan mendesak, lalu memainkan gendewanya secara hebat sekali sehingga menerbitkan suara mengaung nyaring. Demikian pula Ho Bunki telah memainkan sepasang kepalan yang menjadi kebanggaannya dan memang pendekar muda ahli gwakang dari Hokkian ini dipuja kegagahannya. Ia sanggup menghadapi dua orang perwira yang bersenjata hanya dengan kedua kepalannya itu.

Sementara Lian giok, setelah melihat betapa para musuh itu mengeroyok kawannya dan sendiri seakan-akan tidak terlihat mereka. Maka gadis ini cepat melompat kebawah tiang penggantungan serta menyambar pedangnya yang terlepas dari pegangannya tadi. Lalu mengerahkan gwakangnya meloncat sambil menyabetkan pedangnya kearah tali penggantung leher mayat ayahnya.

"Bret, tali tersebut putus dan mayat Tan Kimpo terjatuh ketanah, lalu ditubruk oleh Lian giok yang tak dapat menahan kesedihan lagi.

"Ayah . . . !" keluhnya dengan ratap tangis ketika merasa betapa tubuh ayahnya itu dingin dan kaku. Akan tetapi dara ini benar-benar mememiliki kekuatan fisik dan mental yang harus dibuat kagum, ia hanya beberapa detik saja, dipengaruhi oleh penasaran hati remuk dan pikiran bingung oleh karena pada detik berikutnya ia telah mengamukkan pedang ditangan, membantu kawan-kawannya yang dikeroyok para perwira penjajah itu, hingga terjadilah pertempuran yang sangat seru.

Kang Culay dengan gendewanya menghadapi Ma Inliang siperwira tingkat satu yang bersenjata tongkat kepala naga itu. Lian giok bertempur dengan Tahula, Ho Bunki dengan Ho Likiat, Lim Hongpin mendapat lawan Ong Samkui sikampak kembar, dan yang paling repot adalah Kang Culay yang harus melawan dua orang musuh yang paling berat, yaitu Kulancha dan Ceng Kunhi.

Untuk sementara mereka yang saling tempur ini berkeadaan seimbang, akan tetapi sebentar kemudian pihak para perwira itulah yang merasa kewalahan yakni setelah To Gun Hosiang dan kawan-kawannya terpencar tadi bermunculan dari sebelah selatan dan utara. Dengan cepat para perwira pasukan garuda itu terdesak hebat, terutama sekali ketika mereka melihat betapa seorang anak muda yang mengamuk dengan senjata tongkatnya, yang kemudian mereka kenal bahwa anak muda bersenjata tongkat bukan lain adalah sipengemis muda yang datang serta mempermainkan mereka siang tadi yaitu Han Hayhauw.

Para perwira itu terpaksa bertempur sambil mundur dan agaknya mereka hendak masuk kedalam pintu gerbang, kalau saja ketika tidak secara kebetulan sekali dari dalam pintu benteng tersebut muncul dua orang pengemis yang segera membantu mereka.

Dua orang pengemis ini ternyata adalah, kakak beradik yang berjuluk Angbin Sinkay dan Huwbin Sinkay, sebagaimana pernah diceriterakan oleh To Gun Hosiang kepada Hayhauw, bahwa sepasang pergenis kakak beradik ini adalah merupakan pengawal pribadi gubernur boneka Lo Binkong. Dua orang pengemis ini membawa sifat kodrat yang sangat aneh mengenai warna kulit wajahnya mereka yakni warna merah dan hitam. Merahnya seperti batok kepiting direbus dan hitamnya benar-benar bagaikan pantat kuali. Bentuk badan mereka sama jangkung dan kurus serta pakaian mereka sama tembelan hingga kalau tidak memiliki ciri khas dtiwajah mereka, rasanya sulitlah untuk segera mengenal mana kakak mana adik. Nama-nama asli mereka tidak seorangpun yang tahu demikian pula asal cabang persilatan yang mereka miliki sama sekali mereka tidak mau menceriterakannya kepada siapapun. Demikianlah mereka hanya dikenal nama julukannya saja, Angbin dan Ouwbin, yaitu diserasikan dengan warna wajah mereka!

Sepasang pengemis aneh yang menghambakan diri mereka sebagai penjilat pantat dan menjadi anjing gubernur boneka she Lo ini benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa tinggi. Buktinya, setelah mereka muncul dan membantu para perwira yang terdesak oleh kawanan Tiong gi pay itu, biarpun ditangan mereka tanpa senjata dan hanya mempergunakan tangan-tangan mereka saja dengan gaya silatnya seperti ilmu Houw jiawkang (ilmu cakar harimau) itu disertai suara ketawa mereka yang haha hehe, sekali bergerak saja tangan mereka telah berhasil merampas senjata To Lek Hosiang dan To Li Hosiang dan ketika pengemis luar biasa ini melakukan gerakan yang kedua dalam waktu yang hampir bersamaan, terdengarlah suara jeritan yang mengerikan dari kedua hwesio tersebut seiring tubuh keduanya terguling roboh ternyata kulit perut mereka telah menjadi ambrol sedemikian rupa dengan usus berkeleleran keluar akibat cengkeraman tangan Angbin Sinkay dan adiknya.

Mengetahui bahwa dua orang kawannya tewas dalam keadaan demikian menyedihkan, bukan main terkejut, sedih dan marahnya To Gun Hosiang.

"Anjing-anjing penjajah keparat! Dua saudaraku ini harus ditebus oleh delapan nyawa kalian!" serunya menggeledek dan pedang Imyangkiam yang sengaja dibawanya kedalam perjuangan ini lalu diputarkan sedemikian dahsyat sehingga Kulangcha yang ketika itu kebetulan berada didekatnya pasti akan dibabatnya kalau tidak keburu Tohula menolorg dengan mempergunakan tongkat panjangnya menangkis. Pedang dan toya panjang itu beradu sambil mengeluarkan suara nyaring, ternyata toya panjang itu dibabat putus oleh pedang Imyangkiam, malah To Gun Hosiang merasakan tangannya bergetar hebat, ia cepat merobah gerakan pedangnya serangannya kini ditujukan kearah dada Tohula, Perwira tingkat dua dari pasukan garuda inipun tidak mau memperlihatkan kelemahannya, lalu memainkan toyanya kembali menangkis dan sementara itu Kulangcha sudah membantunya sehingga To Gun Hosiang menghadapi lawan yang tak dapat dirobohkannya dengan segera.

Adapun Ceng Kunhi setelah mendapat bantuan kedua kakek pengemis luar biasa tadi, lalu memilih lawan yang paling menarik hatinya yaitu nona Tan Lian Giok. Sambil ketawa ceriwis, sipanglima bermata juling ini mencoba hendak menangkap dara putri dari pemimpin Tiong gi pay yang sangat menyilaukan simata keranjang. Akan tetapi Lian Giok sudah berbuat nekat, ia melawan dengan gigihnya sehingga hampir saja pada satu saat panglima muda yang ceriwis itu kena disambar pedang kalau saja tak dapat mengelak. Demikianlah pertempuran itu berjalan makin hebat dan lanbat laun setelah sepasang pengemis itu muncul dan membantu para perwira maka pihak Tiong gi pay terdesak hebat. Hayhuw yang sejak melibatkan diri dalam petempuran itu sama sekali tak sempat untuk mencari musuh besarnya Ceng Kunhi, oleh karena selain ia sudah sangat kewalahan mengatasi amukan kedua pengemis sakti tadi untuk menahan supaya dipihak kawannya jangan sampai jatuh korban lebih banyak lagi, dan kini setelah maklum bahwa bagi pihaknyalah yang sangat terdesak dan agaknya tak ada jalan untuk lolos, disebabkan para musuhnya mengeroyok dan mengepungnya rapat, tiba-tiba muncullah akal yang timbul dari otaknya yang cerdik maka cepat ia berseru nyaring.

"Kawan-kawan kalian mundurlah kini biarlah kuhadapi sendiri!" Hayhauw kini benar-benar seperti naga sakti mengamuk tongkatnya menyambar kian kemari, dan usahanya berhasil karena ternyata setelah anak muda ini mengamuk maka beberapa orang perwira tak kuasa menghadapinya sehingga terbukalah sebuah lowongan bagi pihak Tiong gi pay beberapa jalan untuk meloloskan diri dari kepungan.

Kini terbukalah mata para tokoh Tiong gi pay setelah menyaksikan betapa hebatnya Hayhauw mengamuk, para pengeroyok dan pengepung menjadi kacau balau. Kang Culay, Lim Hongpin, Lian giok, dan To gun Hosiang dan lain-lainnya lagi sempat melihat betapa sinar tongkat yang dipegang oleh anak muda itu berkelebatan kesana kemari dan saking cepat dan lincahnya Hayhauw bergerak, tubuhnya hampir tak terlihat karena terbungkus oleh sinar tongkat yang bergulung- gulung. Para tokoh Tiong gi pay itu rata-rata berkepandaian tinggi dan mempunyai pengalaman yang cukup banyak, kini melihat Hayhauw yang sedang diuji dalam praktek perjuangan yang sesungguhnya ini benar-benar hampir tidak percaya kalau anak muda yang merupakan anggota baru dalam pasukan mereka ternyata memiliki ilmu kepandaian yang sangat hebat!

Lim Hongpin dan kawannya maklum bahwa anak muda itu berbuat demikian adalah dengan maksud memberi kesempatan bagi mereka untuk lolos dari kepungan itu, akan tetapi ternyata mereka tidak demikian pengecut, apalagi setelah melihat betapa Hayhauw benar-benar membela dan terbukti kegagahannya, maka daripada lari meloloskan diri malah semangat tempur mereka mendadak timbul kembali terdengar To gun Hosiang menyaut. "Anak muda! Enak saja kau bicara! Apa kau kira kami semua ini takut menghadapi maut, kau harus ingat kita pantang mundur sebelum maksud kita kemari tercapai" pendeta yang gagah perkasa ini terus mengobat-abitkan pedang pusakanya. Demikian pula yang lain-lainnya mempunyai tekad yang sama seperti To Gun Hosiang agaknya mereka sudah sama berpendirian bahwa lebih baik mereka mati semua dimedan juang itu dari pada mengudurkan diri sebelum jenazah ketua mereka dapat diamankan. Biarpun sudah merasa pihaknya bakal menjadi korban oleh pihak musuh terutama yang amat menggetarkan hati mereka adalah Angbin Sinkay dan Ouwbin Sinkay yang amat ganas serta berkepandaian jauh lebih tinggi dari tingkat kepandaian mereka, namun para tokoh Tiong gi pay ini terus melakukan perlawanan dengan gigihnya dan secara nekat sekali.

Melihat kebandelan para tokoh Tiong gi pay itu Hayhauw merasa mendongkol sekali, mengapa mereka tidak mau lari dalam kesempatan yang diperbuatnya? Setelah mendengar ucapan dari To Gun Hosiang yang memang ditujukan terhadapnya.

"Hauw te! Sudah lupakah kau apa kewajibanmu datang kemari? Laksanakanlah segera apa yang niocu tugaskan!" Seolah-olah baru teringatlah Hayhauw demi mendengar seruan dari Lim Hongpin yang merupakan sebuah perintah itu. Maka dengan mempergunakan ketangkasan dan kelincahannya ia berusaha keluar dari kepungan dan hendak mengambil jenazah Tan Kimpo yang menggeletak kaku dibawah tiang penggantungan itu. Agaknya kedua orang perwira mengetahui maksudnya sehingga ia terus di alang- alangi secara rapat sambil dihujani serangan gencar. Salah seorang perwira, Ma Inliang telah melihat dengan jelas dan mengenalnya bahwa anak muda yang bersenjatakan sebatang tongkat itu adalah pengemis muda yang datang mengacau serta pernah mempermainkannya siang tadi, sehingga kemarahannya jadi memuncak dan membentak. "Kelinci muda! Bagus kau datang sendiri mengantar nyawa! Rasakanlah pembalasanku atas penghinaanmu siang tadi" Ma Inliang menggerakkan tongkat kepala naganya sangat hebat, dibantu oleh Likiat siperwira tingkat lima yang menerjang dengan sepasang siangkeknya.

Sungguhpun hadangan kedua orang musuh ini untuk sementara benar-benar menghalangi maksud Hayhauw akan tetapi anak muda ini sudah maklum bahwa kedua lawannya tak perlu dibuat gentar karena siang tadi ia sudah menjajal betapa kepandaian mereka. Maka sambil ketawa mengejek Hayhauw balas memaki.

"Anjing penjajah, memang kedatanganku untuk memuaskan perasaan hatimu yang penasaran. Kalau siang tadi aku hanya membuat tongkat kepala nagamu terlepas dari peganganmu, maka sekarang aku hendak membuat nyawamu terlepas dari ragamu yang kurus kering seperti pemadatan itu!!"

Karuan saja kemarahan Ma Inliang makin memuncak mendengar makian balasan itu, sehingga terjangannya benar- benar tak boleh dipandang ringan, sekarang perwira tingkat satu ini benar-benar mengeluarkan kepandaiannya yang paling diandalkan, setelah membuat dua kali gerak tipu untuk memecahkan perhatian lawan, tiba-tiba tongkat kepala naganya meluncur lurus dan cepat sekali menotok jalan darah dibagian ulu hati Hayhauw. Bersamaan dengan itu sebatang tombak cagak yang dipegang dalam tangan kanan Ho Likiat mengirim serangan kearah lambungnya.

Hayhauw memang tidak mau membuang waktu dan sekaligus ia melakukan tiga macam serangan untuk menyambut dan mematahkan serangan kedua lawannya itu. Ternyata hebat sekali akibat dari tiga macam serangan ini. Dengan kecepatan luar biasa sehingga sama sekali tak terduga oleh kedua lawannya, tongkat ditangannya telah membuat gerakan kilat dan membentur tongkat kepala naganya sambil menerbitkan suara keras dan untuk kedua kalinya, seperti siang tadi tongkat kepala naganya terlepas dari pegangan Ma Inliang padahal perwira tua ini sudah berusaha agar hal ini tidak sampai terjadi. Berbareng tangan kiri Hayhauw dengan telapak terbuka melakukan dorongan kearah dada perwira she Ma itu bersamaan dengan itu pula, kaki kanan Hayhauw menendang untuk memapaki tombak cagak dari Ho Likiat yang mengancam lambungnya, Ma Inliang yang jangkung kurus itu roboh tak berkutik lagi setelah terpental beberapa kaki jauhnya akibat pukulan Pha ciok seng hunchang yang dilancarkan tangan kiri Hayhauw, sedang tendangannya telah membuat tombak cagak Ho Likiat mental dan oleh karena kepandaian perwira tingkat lima ini memang paling rendah sehingga biarpun ia berhasil memegang erat- erat senjatanya tidak sampai terlepas akibat tendangan tadi, akantetapi justru disebabkan senjata itiu tidak terlepas dari pegangannya maka jadi membalik dan memukul keningnya sendiri. Pening dan limbunglah Ho Likiat akibat senjatanya makan tuan itu, akan tetapi rasa sakit di kening dan kepeningannya itu hanya sebentar saja dideritanya oleh karena tiba-tiba terdengar suara "pletakk . . . !" Tubuhnya terjungkal seiring nyawanya melayang karena Hayhauw telah melakukan serangan susulan, yaitu sebuah pukulan dengan tongkatnya yang menyebabkan batok kepala Ho Likiat menjadi pecah.

Kini Hayhauw tidak mempunyai lawan lagi, sebab para musuhnya baru mencoba hendak menumpas kawan- kawannya. Angbin Sinkay dan Ouwbin Sinkay sedang mendesak Kang Culay dan To Gun Hosiang. Meskipun pendekar ahli panah dari Santung dan ketua pendeta Lianhoksi sudah terdesak hebat dan sama sekali tak mampu membalas menyerang, namun berkat ginkang yang dimiliki cukup tinggi sehingga gerakan mereka masih cukup lincah dan gesit untuk menghindarkan diri dari cengkeraman dua kakek pengemis luar biasa yang benar-benar ganas serta mengerikan itu. Kalau diperhatikan memang sangat lucu, mereka bertempur seperti anak-anak main kucing-kucingan. Kang culay dan To Gun Hosiang masing-masing dikejar oleh Angbin Sinkay, mereka berlari-larian kian kemari bagaikan dua ekor tikus yang dikejar-kejar oleh dua ekor kucing galak.

Dalam pertempuran yang berkecamuk itu akhirnya Ho Bunki mendapat lawan Ong Samkuy siperwira tingkat tiga dan agaknya tingkat kepandaian mereka seimbang karena biarpun Ho Bunki yang hanya mengandalkan sepasang kepalannya saja sanggup menandingi Ong Samkuy yang bersenjatakan sepasang kampak besar dan mereka bertempur seru sekali serta belum dapat diketahui pihak siapa yang bakal menang atau kalah. Kulangcha sedang mengamukkan senjata bulan dan bintangnya, ia menggempur To Bi Hosiang dan ternyata kedua orang pendeta ini yang masing-masing mempergunakan pedang sebagai senjata dapat menjalani serangan sipanglima tua bangsa Mongol itu secara baik, sungguhpun beberapa kali kedua orang hwesio ini nyaris mendapat celaka karena senjata aneh yang berbentuk bulan bintang serta menimbulkan suara kerincingan yang membisingkan telinga itu digerak-gerakkan oleh Kulangcha secara luar biasa sekali sehingga segala gerak tipu dan perkembangannya benar-benar diluar dugaan mereka. Akan tetapi berkat kewaspadaan mereka, maka mereka selalu dapat berkelit atau mengelakkan diri dari serangan senjata aneh itu dan selanjutnya mereka balas menyerang sambil mempergunakan ilmu pedang Siauwlim Kiamhoat yang terkenal mempunyai gerak tipu yang lihay.

To Ci Hosiang mendapat lawan Tohula, juga perlawanan kedua lawan ini berjalan setanding. To Ci Hosiang sipendeta tukang masak ini bersenjatakan sepasang golok yang lucu sekali, yakni sepasang golok yang biasa dipergunakan untuk mencincang sayur mayur di'dapur kuil Lianhoksi. Sepasang golok dapur yang pendek lebar ini selain biasa ia pergunakan untuk keperluan dapur juga mahir sekali dipergunakan untuk bertempur karena memang hwesio tukang masak ini sudah sengaja berlatih menggunakan golok dapur itu untuk menghadapi lawan. Tohula dengan laku yang sengit sekali hendak, memukul dan mengemplang lawannya ini dengan tongkat panjangnya. Seandainya kalau menang dan merobohkan Tohula hendak menumbuk sampai lumat tubuh lawannya dengan tongkat panjangnya yang berupa sebatang alu itu. Sebaliknya To Ci Hosiangpun demikian, agaknya ia hendak mencincang tubuh perwira tingkat dua bangsa Tartar itu seperti ia mencacah sayur diatas kayu telenan. Tetapi akhirnya Tohula menjadi pihak yang terus terdesak setelah Lim Hongpin yang agaknya tidak kebagian lawan datang membantu To Ci Hosiang. Sambil terdesak dan terus mundur Tohula tetap mengadakan perlawanan mati-matian dan ilmu tongkat panjang dimainkan oleh Tohula benar-benar mempunyai daya tahan yang amat kuat, tubuhnya dikurung rapat oleh gulungan sinar tongkat yang diputarkannya yang merupakan benteng kokoh melindungi dirinya sehingga tak dapat ditembus oleh golok Lim Hongpin apalagi oleh sepasang golok To Ci Hosiang yang berukuran terlalu pendek itu.

Kini kedudukan pihak Tiong Gi pay dalam perang tanding ini dapat tidak perlu untuk dibuat khawatir dan agaknya demikianlah maksud Kang Culay dan To Gun Hosiang yang "kucing-kucingan" dengan Angbin Sinkay dan Ouwbin Sinkay karena dengan membuat kedua kakek pengetnis yang lihay itu mengejar-ngejar mereka jadi tidak memperhatikan kepada orang lainnya sehingga dengan demikian, pihak Tiong gi pay dapat bertempur tanpa terlalu repot bahkan mempunyai kesempatan untuk mendesak musuh.

Kesemuannya itu dapat dilihat oleh Hayhauw dalam waktu sekelebatan dan ia merasa puas. Akan tetapi ketika dilihatnya Lian Giok yang bertempur dengan Ceng Kunhi terdesak hebat anak muda ini segera maju dengan beberapa lompatan untuk menolong kekasihnya itu. Ia merasa lebih penting untuk menolong Lian Giok dari pada mengambil tubuh Tan Kimpo yang sudah menjadi mayat itu.

Memang Lian Giok bukan tandingan Ceng Kunhi, sungguhpun dara itu sudah mengerahkan seluruh kepandaian warisan ayahnya untuk menghadapi panglima muda yang ceriwis itu. Ceng Kunhi memang mempunyai maksud buruk untuk menawan gadis putri Tan Kimpo itu hidup-hidup. Watak mata keranjangnya tak rela membunuh dara cantik itu sebelum dipermainkan untuk melepaskan nafsu jalangnya, maka ia sengaja mendesak nona itu seakan-akan digiring mendekati pintu gerbang sambil mendengarkan suara ketawa iblisnya. Lian Giok maklum akan maksud simata juling ini, biarpun sudah sangat payah ia masih terus melakukan perlawanan mati-matian dan berusaha supaya ia tidak sampai didesak mendekati pintu gerbang.

"Ha ha ha ha ha . . . ! Nona manis, kau dulu menolak lamaranku dan kemudian kau ikut ayahmu mabur, ayahmu menjadi gembong pemberontak yang sekarang sudah menjalankan hukumannya! Mengapa kau masih berkepala batu? Sebaiknya kau menyerah saja dan masuklah kepintu gerbang supaya kau aman. Aku berjanji kau akan kubebaskan dari segala tuntutan . . . !" Demikian sambil terus mendesak dengan pedangnya, Ceng Kunhi mengutarakan maksud kejinya.

"Setan bopeng penghianat! Siapa mau dengar omonganmu? Aku lebih suka mati bersama ayahku" balas Lian Giok memaksa sambil mengerahkan tenaga yang masih ada padanya mempertahankan diri.

Bukan main marahnya Ceng Kunhi mendengar dirinya dimaki setan bopeng oleh gadis yang "dikasihaninya" itu, maka sambil menghardik:

"Anjing betina pemberontak! Kalau memang kau mau mampus, nah mampuslah . . . hahaha . . . !" Pedangnya berkelebat mengirim sabetan yang mematikan. Lian giok coba menangkis dengan pedangnya, namun ia tak kuat menahan benturan ketika kedua pedang itu beradu yang menimbulkan suara nyaring disertai bunga-bunga api berpijar!

"Celaka . . ." pekiknya ketika pedang itu terlepas dari cekalannya, akan tetapi ia masih sempat menggulingkan tubuhnya sehingga pedang Ceng Kunhi yang merupakan jangkauan maut dalam serangan susulan, dapat di hindarkan.

Ceng Kunhi ketawa penuh kemenangan sambil cepat menubruk. Tetapi ia tidak mempergunakan pedangnya untuk membunuh, melainkan ia hendak membuat nona itu tidak berdaya dengan sebuah totokan yang dilakukan oleh jari tangan kirinya, oleh karena betapapun juga tetap merasa sayang kalau gadis itu dibunuh begitu saja.

Tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat mendatangi dengan kecepatan luar biasa dan "prak . . ." Tubuh Ceng Kunhi meloso dengan kepala pecah. Itulah tongkat Hayhauw yang menghantam kepala sipanglima muda musuh besarnya itu, anak muda ini menolong dalam waktu yang sangat tepat sebelum tubuh kekasihnya sempat dijamah oleh tangan si jahannam.

"Giok Moay! cepat kau lari! Aku hendak membawa jenazah ayahmu!" ujar Hayhauw yang tanpa disadarinya ia telah menyebut "adik Giok" terhadap si dara yang seharusnya ia mesti menyebut niocu itu.

Alangkah merdunya bagi telinga Lian Giok mendengar sipemuda menyebutnya dengan istilah demikian terhadap dirinya demikian merdu, dan romantis rasanya sehingga kalau saja keadaan justru tidak gawat dalam perang campuh ini agaknya niscaya ia akan terkena oleh hikmah yang mempengaruhi! Ia cepat bangkit dan memungut pedangnya lalu melompat keluar kalangan pertempuran. Akan tetapi dara ini tak terus lari sebagaimana yang diminta oleh Hayhauw melainkan ia berdiri saja untuk sejenak oleh karena alasan pertama selaku niocu ia merasa malu sekali kalau ia melarikan diri terlebih dulu dan alasan kedua ialah ingin ia melihat apabila benar-benar jenazah ayahnya telah dibawa oleh pemuda itu. baru ia akan memberi isyarat bagi kawan- kawannya untuk mundur teratur.

Sementara itu Hayhauw sudah mendekati ketempat dimana mayat Tan Kimpo menggeletak dan akan segera dipanggulnya, akan tetapi tiba-tiba ia merasakan hawa pukulan yang menyerang dari arah belakangnya sehingga baru berkelit dan melihat kepada pembokong itu. Ternyata orang yang menyerang Hayhauw adalah Angbin Sinkay yang ketika mana sedang mengejar-ngejar Kang Culay kebetulan lewat ditempat itu, ketika melihat betapa mayat Tan Kimpo akan diambil oleh pihak lawan, tentu saja sipengemis muka merah tak mau membiarkannya, apalagi ia sudah merasa gemas sekali terhadap Kang Culay yang sangat lincah itu maka ketika melihat Hayhauw hendak mengambil mayat Tan Kimpo. Ia segera mengalihkan kegemasan hatinya terhadap anak muda itu dengan melancarkan sebuah pukulan yang mengandung hawa maut.

Akan tetapi ketika Hayhauw berhasil mengelaknya, Angbin Sinkay jadi bertambah gemas dan marah, maka segera ia maju menubruknya dengan macan lapar menerkam kambing.

Hayhauw maklum bahwa menghadapi seorang lawan yang berat, maka tubrukan sipengemis muka merah itu ia sambut dengan ilmu pukulan Pha ciok seng hun ciang dan secara jitu sekali menghantam dada pengemis itu. Pukulan ampuh dari Hayhauw ini memang hebat sekali selain dapat menghancurkan batu sesuai dengan namanya bahkan baru angin pukulannya saja sudah cukup untuk merenggut nyawa lawan. Akan tetapi Angbin Sinkay bukanlah orang lemah. Ilmu silatnya sudah termasuk tingkat tinggi. Ia sengaja menyambut pukulan itu didadanya. Kalau saja ia tak memiliki tenaga dalam yang sangat kuat, niscaya ia akan terpental dan tak bernyawa lagi. Namun kenyataannya, Angbin Sinkay hanya mundur terhuyung beberapa tindak kebelakang! Sungguhpun kakek pengemis ini mempunyai daya tahan yang luar biasa kuatnya sehingga pukulan ampuh dari Hayhauw seakan- akan tak begitu berarti baginya, namun untuk beberapa detik ia hanya berdiri seperti patung dalam keadaan setengah membungkuk oleh karena betapapun juga daya tahannya cukup kuat, namun pukulan anak itu telah mengakibatkan seluruh isi dadanya tergetar sehingga ia mesti cepat menyalurkan sinkang kedadanya, akan tetapi disebabkan nafasnya sudah empas-empis sehabis mengejar-ngejar Kang Culay tadi sedangkan menyalurkan hawa sinkang justru memerlukan kekuatan nafas sehingga karenanva ia tak dapat mengatasi getaran seisi dadanya dengan segera dan itulah sebabnya pula yang membuatnya untuk beberapa detik hanya tinggal berdiri saja seperti patung.

Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Hayhauw dari maksud semula, jenazah Tan Kimpo segera dipanggul dan anak muda ini terus berlari secepat lari kijang. Adapun Angbin Sinkay ketika itu telah berhasil menormalkan kembali keadaannya kakek ini cepat berlari mengejar Hayhauw. Akan tetapi baru saja ia berlari tiga kali lompatan, tiba-tiba ia mengeluarkan suara jeritan yang mengerikan dan tubuhnya sempoyongan seperti orang-orang mabuk arak, lalu roboh sambil kelojotan.

Ternyata kakek pengemis yang memiliki ilmu silat tingkat tinggi ini telah mati konyol dengan punggung ditembus tak kurang dari lima batang anak panah yang dilepaskan oleh Kang Culay. Bertepatan dengan itu, segera terdengar suatu bunyi panjang dan melengking nyaring, itulah suatu isyarat yang diberikan oleh Lian Giok yang menggunakan sempritan yang biasa digunakan oleh almarhum ayahnya sebagai pertanda supaya kawannya segera mundur, maka seiring dengan mana, para tokoh dari kesatuan Tiong gi pay itu segera lenyap dikegelapan malam. Dan Kulangcha, dengan kemarahan yang meluap-luap karena bukan saja pihak lawan sudah lolos dari perangkap sekalian berhasil membawa pula mayat Tan Kimpo yang semula ia pergunakan sebagai pancingan, bahkan dipihaknya sendiri justru jatuh korban lima orang itu, segera mengejar dan diikuti oleh pembantunya yang hanya tinggal dua orang lagi, yaitu Ong Sankuy sikampak kembar perwira tingkat tiga bersama Tohula.

"Jangan mengejar . . . Banyak bahaya . . ." Ouwbin Sinkay berseru nyaring mencegah kenekatan kawan-kawannya.

Mendengar seruan sipengemis sakti muka merah hitam ini, Ong Sankuy dan Tohula segera kembali. Hanya Kulangcha yang terus melakukan pengejaran. Ouwbin Sinkay lalu memperdengarkan bunyi isyarat berupa suitan panjang dan sesaat kemudian seregu serdadu keluar dari pintu benteng dan mengangkat tubuh Ceng Kunhi, Ma Inliang, So Bonpek, Ho Likiat yang kesemuanya ternyata sudah menjadi mayat! Sedangkan mayat Angbin Sinkay, yang dipunggungnya masih menancap lima anak panah yang menembus jantung serta bagian paru-paru sehingga pengemis berkepandaian tinggi ini menenemui ajalnya secara konyol, dipanggul dan dibawa masuk kedalam benteng oleh saudaranya Ouwbin Sinkay. Adapun yang tinggal digelanggang bekas pertempuran itu ialah dua mayat To Lek Hosiang dan To Li Hosiang, yang tak sempat dibawa oleh saudara saudaranya.

Dan tatkala menjelang subuh. Goatseng Taysu Kulangcha baru kembali sambil uring-uringan. Panglima perang ini sebelum memasuki pintu benteng dan ketika melihat dua mayat dari pihak musuh masih menggeletak disitu, setelah diselidikinya kedua mayat itu, lalu diseretnya dan kemudian digantungkan ditiang penggantungan bekas Tan Kimpo. Seakan-akan untuk melampiaskan kemarahan hatinya. Kulancha menggantungkan kedua mayat hwesio itu dengan bagian kaki diatas dan kepala dibawah. Dan akhirnya ketika ia berjalan hendak memasuki pintu benteng yang sudah dibukakan oleh prajurit penjaga yang menyambutnya terdengar ia menggerutu. "Kawanan kepala keledai penghuni kuil Lianhoksi memang sudah lama kucurigai, dan sekarang dua bangkai kepala gundul ini sebagai bukti nyata bahwa mereka adalah kawanan pemberontak. Hmmmm! Akan kubasmi pendeta durjana itu berikut dengan gerombolan Tiong gi pay sekalian.”

ooooooooOdwOoooooooo

Pada keesokan harinya jenazah Tan Kimpo dikubur ditengah hutan yang menjadi tempat persembunyian dari kesatuan Tiong gi pay dan untuk tiga hari lamanya kesatuan aksi yang gagah perkasa ini berada dalam suasana berkabung. Tiga hari lamanya kesatuan ini tak keluar hutan, hal ini terutama sekali disebabkan pimpinan mereka nona Tan Lian giok, sejak malam peristiiwa jenazah Tan Kimpo diselamatkan, waktu selama tiga hari itu habis dilewatkan mengeram diri didalam gubuknya menangisi kematian ayahnya dan menyedihkan pula nasib dirinya yang sudah yatim piatu, tanpa anak saudara . . .

Sungguhpun Lian Giok seakan-akan melupakan akan kewajiban selaku seorang pimpinan dari sebuah kesatuan aksi yang mempunyai kurang lebih seratus orang anggota, namun hal ini sama sekali tidak mempengaruhi akan persatuan dan kerukunan perkumpulan tersebut, sehingga para anggota yang sekian banyakya itu tetap menjalankan kewajiban masing-masing seperti biasa dan benar-benar harus dipuji tentang keteguhan disiplin yang dipegang oleh para anggota Tiong gi pay ini!

Pada senja itu Han Hayhauw duduk memencilkan diri ditepi sebatang sungai kecil yang memang terdapat didalam hutan itu. Ia duduk diatas sebuah batu dan tangannya asyik menjahit pakaiannya yang robek. Baju pemberian dari suhunya ini memang sudah tua. Sehingga kainnya sudah amob, maka tak heran ketika ia bertempur menyelamatkan jenazah Tan Kimpo yang kemudian dipanggulnya dari kota Thaygoan sampai kehutan itu sambil berlari cepat, bajunya itu selalu terdengar brut bret dan kemudian kenyataan bahwa baju itu robek disana sini. Sehabis bertempur pada malam tempo hari itu yang baginya merupakan ujian "praktek" selaku anggota baru dari kesatuan yang kini dimasukinya, pemuda ini merasakan tubuhnya ini sangat lelah bukan main, tambahan hatinya turut pilu dan sedih melihat Lian giok yang selalu menangisi kematian ayah dan ibunya.

Selama Lian giok mengeram diri, selama itu pula anak muda ini hanya termenung-menung seperti orang linglung dan ia sendiri merasa tidak mengerti mengapa kedukaan serta kesedihan hati Lian giok sangat mempengaruhi hati dan pikirannya. Mengapa kematian Tan Kimpo menimbulkan rasa duka cita sedemikian mendalam, mengapa kematian kedua hwesio yang ia sudah terima kebaikan budinya tidak meninggalkan kesedihan yang sedemikian mendalam seperti kematian ayah Lian giok! Berkat kekuatan batinnya akhirnya Hayhauw sadar sendiri bahwa tidak seharusnya ia berperasaan seperti demikian, tidak seharusnya ia terlalu terpengaruh oleh keadaan Lian giok! Dan bersamaan datangnya ini diam-diam dihatinya timbul kepuasan yang sangat besar oleh karena bukan saja "ujian prakteknya" ia sudah laksanakan dengan hasil yang tak mengecewakan, dan sekaligus pula dalam "ujian praktek" itu ia sudah berhasil melakukan maksud hatinya yang semula yaitu membunuh Ceng Kunhi, sehingga dendam kesumat yang selama kurang lebih delapan tahun ia kandung didalam dadanya, kini punah. Dan baru sore itulah Han Hayhauw teringat pada bajunya yang robek, maka ia lalu meminjam jarum dan benang kepada salah seorang kawan kesatuan yang kebetulan memilikinya, dan lalu dijahitnya baju dibagian yang robek-robek itu sambil memencilkan diri, duduk diatas sebuah batu dipinggir sebatang sungai kecil yang airnya mengalir deras.

Bagi yang belum biasa soal menjahit atau menjerumati pakaian adalah semacam pekerjaan tak mudah dan mengerjakan jarum dan benang maka tak heran kalau anak muda ini selama menjahit pakaian yang robek-robek itu berulang kali terdengar mengeluh, karena bukan saja jahitannya jarang-jarang dan kasar, bahkan dimana bagian yang dijahit itu menjadi keripat-keriput tidak karuan bisa membuat orang yang melihatnya akan menertawai! Amat menyemukan dan mendatangkan rasa kesal pekerjaan ini, sehingga kalau tak ingat akan kekuatiran kekurangan pakaian, pasti baju usang dan amoh pemberian gurunya ini sudah dibuangnya. Akan tetapi, karena mengingat pakaiannya hanya tiga perangkat berikut yang kini melekat ditubuhnya, itupun sudah usang semuanya maka secara memaksakan diri ia terus menguji ketekunannya. Bagian-bagian yang cabik dari bajunya itu terus dijahitnya sebisa-bisanya sungguhpun kalau melihat hasil jahitannya yang tidak karuan itu menimbulkan rasa geli dihatinya.

Selagi asik-asiknya Hayhauw "menyulam" tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara yang mendatangi dari arah belakangnya, cepat ia menoleh dan setelah ia mengetahui siapa yang datang itu, secepat itu pula ia menyembunyikan pakaian yang sedang dijerumatinya itu kebalik sepasang tekukan dengkul kakinya. Sementara mulutnya menyapa.

"Niocu. mungkinkah ada perintah bagiku, sehingga niocu berkenan datang kemari? Aku siap mengerjakannya".

"Tidak! Aku datang kemari dan berjumpa denganmu disini hanya kebetulan" sahut orang itu yang bukan lain adalah Tan Lian giok yang baru kelihatan muncul selelah selama tiga hari mengeram diri didalam pondoknya. Wajah dara ini masih bermuram durja, sepasang pelupuk matanya masih cindul akibat seringnya ia menangis.

Ketika melihat dara pemimpin dari Tiong gi pay ini berjalan makin mendekati, dan seakan-akan hendak mencari tempat duduk, maka Hayhauw cepat bangkit dan karena ini, pakaian yang tadi diumpatkan dibalik tekukan dengkulnya jadi tertinggal diatas rumput. Dengan wajah merah karena jengah ia cepat memungutnya. Entah mengapa Hayhauw sendiri tidak mengerti mengapa ia merasa jengah kalau menjerumati pakaian dipergoki gadis itu.

"Hauw ko atau kakak Hauw, sejak tadi kulihat kau sedang menjahit pakaian, dan kulihat kau sukar sekali mengerjakannya. Bolehkah aku tolong menjahitkannya?"

Makin merahlah wajah Hayhauw mendengar perkataan gadis ini. Celaka pikirnya, kiranya aku diam-diam sudah ditontonnya sejak tadi. Dan setelah seperti kebingungan sesaat, ia baru menyahut gagap. "Biarlah . . . ! Tak usah! Dan lagi . . . mana aku berani merepotkan niocu?"

“Hauwko pakaianmu robek disebabkan digunakan bertempur serta membawa jenazah ayahku, maka sudah seharusnya aku yang menjahitkannya. Apalagi kau sendiri tidak bisa menjahitnya. Nah, mari serahkan padaku . . ."

"Jangan, niocu . . . !"

"Mengapa . . . ?" Dara itu mengerutkan keningnya, bibirnya yang indah mungil itu membentuk sedemikian rupa mencerminkan hatinya tidak senang.

"Karena . . . , . . . karena . . . selain sudah kujahit sehingga tak perlu dijahit ulang lagi, juga pakaian itu belum kucuci. Masih bau, dan aku kuatir niocu akan sebal dan muntah karenanya"

Diantara wajahnya yang masih diliputi kemurungan tiba- tiba berseri ketika mendengar alasan anak muda itu

"Tetap juga alasanmu yang belakangan itu, Hauw ko. Biarlah karena kau sendiri bisa mencucinya maka cucilah dulu. Baru nanti kau serahkan padaku akan kuperbaiki jahitannya, bagaimana? kau setuju?" "Ya, deh!" Hayhauw mengiakan setengah berseru dan diam-diam ia tidak mengerti mengapa nona Lian giok sampai demikian mendesak hendak menjahitkan pakaiannya. Suatu hal yang tidak seharusnya, pikirnya. Namun, betapapun juga hal ini justru membuat hati mudanya berdebar-debar girang.

Ketika itu Lian giok sudah duduk diatas batu bekas Hayhauw tadi dan pemuda ini setelah dengan sebap menyimpan pakaian butut yang dipersoalkan barusan kedalam buntalannya, lalu mengambil tempat duduk ditonjolan akar pohon tak jauh dan bahkan hampir beredengan dengan Lian giok.

-o0odwookzo0o-