Pusaka Tongkat Sakti Jilid 5

Jilid 05

Melihat gejala yang dapat membuat situasi menjadi buruk ini hwesio yang paling tua cepat maju dan berkata kepada Hayhauw sambil memberi hormat.

"Maaf sicu (tuan yang gagah) atas kekasaran suteku ini. Kami sebenarnya sangat tertarik sekali dengan pedang yang kau bawa itu. Dan kalau boleh kami ingin melihat keadaan pedang itu."

Han Hayhauw balas menghormat dan rasa kurang senang dihatinya segera lenyap setelah mendapatkan sikap merendah dan ramah dari hwesiotua itu.

"Losuhu tentu saja aku takkan merasa keberatan sedikitpun kalau saja hanya untuk mem perlihatkan pedang ini terhadap kalian, asal saja aku mendapat keterangan terlebih dahulu, ada hubungan apakah antara kalian dengan pedang ini?"

"Omitohud . . . ! Sicu sungguh murah hati," ujar hwesiotua itu. "Baiklah kami memperkenalkan, kami bertiga lebih dahulu bahwa pinceng ini orang menyebutku To Bi Hosiang, suteku ini To Gi Hosiang dan suteku yang paling muda ini To Li Hosiang. Kami bertiga merupakan penghuni kuil Lianhoksi dan kami mendapat tugas dari sesepuh kami ketua Siauwlimpay untuk mencari seorang rekan kami yang menyeleweng dan membawa kabur pedang pusaka. Dan sekarang pinceng lihat pedang itu dibawa olehmu, maka itulah sebabnya pinceng minta untuk melihat dan memeriksa pedang itu supaya kami mendapat ketegasan bahwa benarkah pedang itu adalah Im- yang-kiam pokiam yang kami cari ataukah bukan?" Terpikat juga hati Hayhauw mendengar disebutnya nama pedang itu ia menjawab dengan sejujurnya.

"Memang pedang ini adalah Imyangkian. Akan tetapi dapatlah losuhu menerangkan siapakah namanya rekan losuhu yang dikatakan nyeleweng itu?"

Pengakuan pemuda itu membuat ketiga orang hwesio mengeluarkan seruan tertahan saking girangnya hati mereka dan kemudian To Bi Hosiang cepat memberi jawaban.

"Rekan kami yang sudah dikeluarkan dari keanggautaan partai kami dan selama ini menjadi buronan kami itu ialah To Tek Hosiang. Kalau boleh pinceng bertanya, mempunyai hubungan apakah antara sicu dan To Tek Hosiang sehingga pedang pusaka Im-yang-kiam itu kini berada pada sicu?"

Hayhauw kini maklum bahwa ketiga hwesio itu tidak mengandung maksud jahat, maka dengan singkat segera menuturkan pertemuannya dengan To Tek Hosiang, betapa ia bertempur dan terpaksa menjatuhkan tangan maut terhadap hwesio itu demi membela perjuangan rakyat jelata sehingga ia membawa pedang itu.

"Omitohud . . . ", sekali lagi To Bi Hosiang memuji kebeseran nama Budha. "Pinceng atas nama sesepuh Siauwlimpay dan sekalian atas nama seluruh para anggotanya, pinceng mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan sicu yang telah memberi hukuman terhadap manusia sesat yang menodai nama partai kami. Lebih-lebih kami bersyukur setelah mendapat kenyataan bahwa pedang pusaka itu berada pada sicu maka pinceng minta dengan segala hormat supava sicu sudi menyerahkannya dan akan kami kembalikan lagi kepada sesepuh kami yang tentu akan sangat berterimakasih terhadap sicu."

Biarpun Hayhauw sudah yakin bahwa pedang itu menjadi hak mutlak mereka dan ia sendiri wajib mengembalikannya, akan tetapi masih merasa ragu akan kejujuran tiga hwesio yang kini berada didepannya itu. Ia sangsikan akan pendirian dan mentalitas ketiga hwesio itu, apakah mereka golongan pro atau anti perjuangan seperti To Tek Hosiang. Maka untuk memberi keyakinan yang lebih jelas, berkat kecerdikannya ia tidak segera menyerahkannya pedang yang mereka minta itu, melainkan ia bertanya.

"Losuhu, kenalkah losuhu dengan Ceng Kunhi . . . ?"

To Bi Hosiang nampak heran mendengar pertanyaan sipemuda yang tiba-tiba menyimpang dari persoalan semula itu. Tapi ia menjawab. "Pinceng kenal sih tidak, hanya pinceng tahu bahwa Ceng Kunhi adalah panglima muda dalam pasukan garuda yang menjaga kota Taygoan."

"Benarkah Ceng Kunhi adalah murid dari To Tek Hosiang . .

. ?".

Hal itu pinceng pernah dengar juga tapi baik To Tek Hosiang yang sudah dipecat dan tidak diakui sebagai anggota Siauwlimpay maupun Ceng Kunhi yang kami tidak tahu menahu sebagai murid dari siapa, kesemuanya tiada sangkut pautnya dengan kami.

Hayhauw bertanya lagi lebih mendesak. Losuhu sebagai bangsa Han, bagaimanakah pendapat losuhu mengenai sikap Ceng Kunhi yang menghambakan dirinya kepada penjajah asing, dan perjuangan rakyat jelata yang kini sudah berkobar dimana-mana untuk mengusir penjajah losuhu membenarkan pihak yang manakah?"

To Bi Hosiang saling pandang dengan kedua sutenya. Sesaat kemudian hwesio tua itu lalu memberi jawaban kepada Hayhauw. Maaf sicu, hal ini adalah masalah politik negara, kami tak dapat menyatakan betapa pendapat kami pada tempat yang tidak semestinya ini. "Untuk mendapat penjelasan, sicu kami undang kekuil kami dan disana ketua kami tentu akan memberi keterangan yang sejelasnya." Cerdik dan waspada juga hwesiotua ini, dikira Hayhauw. Dan betapapun juga dari hasil wawancara ini dapatlah Hayhauw menarik kesimpulan bahwa ketiga hwesio itu adalah golongan pro-perjuaagan. Buktinya, mereka sama sekali tidak kelihatan marah ketika ia tadi menuturkan tentang dibunuhnya To Tek Hosiang dalam membantu perjuangan rakyat jelata. Kalau mereka terdiri dari golongan kontra-perjuangan, tentu sedikitnya mereka akan memperlihatkan reaksi. Sungguhpun demikian namun Hayhauw masih belum merasa cukup puas, ia ingin mengetahui secara lebih mendalam pula bahwa benarkah tiga hwesio itu adalah dari Siauwlimpay ataukah hanya pura-pura saja dengan maksud hendak merebut pedang Im-yang-kiam? Dan untuk mengetahui mereka itu benar dari Siauwlimpay atau bukan, jalan satu-satunya harus menyaksikan permainan pedang mereka, maka ia lalu menyatakan gagasan hatinya ini.

"Losuhu, pedang Im-yang-kiam ini kalau benar menjadi barang pusaka dari Siauwlimpay maka, sewajibnya aku mengembalikannya kepada yang berhak.

Tetapi sebelum pedang ini kuserahkan kepadamu, losuhu harus dapat memenuhi dua macam syarat yang kukemukakan, bersediakah . . . ?"

"Demi untuk membela pedang Im-yang-kiam, syarat apapun yang sicu ajukan tentu akan pinceng penuhi, asal syarat itu tidak melanggar kebajikan serta, perikemanusiaan. Katakanlah."

"Syarat pertama, losuhu dan kawan-kawanmu harus berjanji bahwa lepas dari soal politik negara, kalian mesti membantu menangkap Ceng Kunhi, kalau saja aku sendiri tak berhasil membekuk batang leher manusia keparat itu.

Kembali To Bi Hosiang saling pandang dengan kedua sutenya. Betapapun juga bagi para hwesio ini, syarat pertama yang diajukan oleh anak muda itu merupakan pekerjaan berat. Betapa tidak, mereka maklum bahwa Ceng Kunhi adalah panglima muda yang mempunyai bala tentara bukan sedikit. Akan tetapi, meskipun secara rahasia hwesio Siawlimpay yang berdiam dikuil Lianhoksi itu sebenarnya justru adalah pendeta- pendeta berjiwa patriot dan secara diam-diam mereka memberi bantuan yang tak kecil artinya terhadap kesatuan rakyat Tionggipay, maka sungguhpun To Bi Hosiang tidak berani terus terang menyatakan kesediaannya menerima syarat pertama dari anak muda itu namun secara cerdik ia memberikan penyautan.

Kami berjanji akan membantu sedapat mungkin sicu. Asal saja dalam hal ini kami diberi perkenaan oleh ketua kami dikuil Lianhoksi To Gun Hosiang."

"Bagus atas kesediaanmu, sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih. Mudah-mudahan To Gun losuhu dapat diminta pengertiannya dalam hal ini ujar Hayhauw dengan hati puas. Oleh karena mendengar ucapan To Bi Hosiang itu saja dapatlah segera ia menduga bahwa hwesio itu sedikitnya menyimpan rasa benci terhadap Ceng Kunhi, musuh besarnya.

"Sekarang syarat kedua, Losuhu tentu maklum bahwa sehingga pedang Im-yang-kiam berada padaku ini adalah nyawa menjadi taruhanku ketika aku bertempur dengan To Tek Hosiang. Jelaslah, kubuatkan pedang ini secara susah payah, maka sebagai imbalannya losuhu harus susah payah pula mendapat pedang ini dariku."

"Jadi . . . kau menghendaki pedang itu kurebut darimu melalui pertempuran?" tanya To Bi Hosiang sambil dikerutkan.

"Begitulah, losuhu!" Hayhauw mengiakkan pertempuran kumaksudkan bukanlah pertempuran mati-matian secara musuh. Melainkan adalah pertempuran pibu sebagai pembuka persahabatan. Bukankah orang-orang gagah sering mengatakan bahwa melalui pibu dapatlah orang saling mengenal golongan masing-masing?" Dan taruhannya adalah pedang Imyangkian ini". "Kau sungguh berwatak gagah sicu, akan tetapi cara bagaimanakah pibu yang kau kehendaki?"

"Maaf losuhu bukan sekali-kali aku menyombong diri akan pibu yang kuminta ini. Aku tak lebih hanya mohon sedikit pelajaran dari samwi sekalian."

Jawaban yang merendah dari pemuda itu, dapat dimaklumi oleh To Bi Hosiang bahwa dia bertiga ditantang secara sekaligus oleh anak muda itu sehingga dengan diam-diam, hwesio menganggap anak muda itu sangat sombong. Namun sebagai seorang pendeta yang mengutamakan kesabaran hati To Bi Hosiang tak mengutarakan perasaan menghadapimu seorang?

"Benar, losuhu. Dan ketentuannya, apabila aku kalah sudah logis pedang Im-yang-kiam ini kuserahkan kepada kalian.

"Akan tetapi jika pihak kami yang kalah?" To Bi Hosiang coba memancing.

"Tetap kuserahkan juga pedang ini kepada kalian dan betapapun juga mana ada harapan aku dapat menangkan kalian bertiga?"

To Bi Hosiang menghela napas. "Baiklah sicu. Biarpun sesungguhnya kami merasa kurang pantas maju bertiga namun karena hal ini menjadi syarat yang kau ajukan dan demi membela Im-yang-kiam, baiklah kami maju bertiga memperlihatkan kebodohan kami, hitung-hitung kami merebut pedang itu dari To Tek Hosiang, sendiri. Tapi ingatlah sicu bahwa hal ini bukan sekali-kali sebagai bibit permusuhan.

Han Hayhauw tersenyum dan menggarami "Losuhu bukankah tadi sudah kukatakan bahwa pibu adalah sebagai pembuka persahabatan? Nah, kupersilahkan samwi mulai maju.”

Betapapun juga To Bi Hosiang menjadi penasaran. "Jangankan kami maju bertiga, sedang aku seorang saja menghadapimu belum tentu kau menang anak muda sombong". Demikian hwesio tua ini berkata didalam hatinya, dan setelah ia memberi isyarat kepada kedua sutenya, ia berkata pula terhadap pemuda penantangnya itu: “sicu, pinceng tentukan bahwa batas pibu ini, selama seratus jurus dan kami bertiga akan berusaha mengambil pedang Im-yang- kiam dari pinggangmu. Jikalau pedang itu selama seratus jurus ternyata tak dapat kami ambil maka kami kalah menerima kalah. Akan tetapi bagaimana seandainya kami sampai salah tangan dan pedang kami secara tak sengaja melukai dirimu?"

Han Hayhauw tersenyum "aku terima batasan yang losuhu tentukan dan terima kasih atas kekhawatiran nyasarnya pedang yang memang tak bermata itu. Tetapi percayalah bahwa selama seratus jurus aku akan menjaga pedang Im- yang-kiam dan diriku baik-baik."

"Bagus!" seru To Bi Hosiang dan ketika mana ketiga hwesio itu telah menghunus pedang mereka dan membuat gerakan mengurung. Adapun Hayhauw juga sudah siap siaga tangan kiri menyekal erat-erat gagang pedang Im-yang-kiam yang tergantung di pingganya dan tongkat ditangan kanannya sudah disilangkan didepan dada, menanti datangnya serangan.

To Bi Hosiang maklum bahwa anak muda itu tak mau menyerang lebih dulu, sambil berseru ”sicu kami mulai menyerang. Awaslah pedang!” hwesio tua ini lalu menyabetkan pedangnya kearah leher Hayhauw sebagai pembuka serangan.

Melihat datangnya sambaran pedang yang amat cepat dan kuat ini, diam-diam Hayhauw harus mengakui bahwa lawan- lawannya benar-benar memiliki kepandaian tinggi dan ia harus berlaku hati-hati untuk menghadapinya. Maka tanpa berlaku segan-segan lagi ia gerakkan tongkatnya, dan menangkis dengan gerakan tongkat menentang. To Bi Hosiang ketika merasa betapa pedangnya terbentur oleh tongkat sianak muda itu, dan seakan-akan tertendang kembali, merasa kaget dan maklum bahwa anak muda itu memiliki tenaga Iweekang yang amat kuat, maka ia lalu menggerakkan pula pedangnya dengan cepat melancarkan serangan susulan, ditiru oleh kedua sutenya sehingga tak lama kemudian Hayhauw di keroyok oleh tiga batang pedang yang digerakkan, secara hebat.

Kalau mau dibandingkan kepandaian To Bi Hosiang dengan To Tek Hosiang, maka To Bi Hosiang adalah lebih bawah dua tingkat. Akan tetapi oleh karena To bi Hosiang kini maju bertiga, maka betapapun juga mereka merupakan lawan berat bagi Hayhauw. Mereka mengurung dan mengeroyok anak muda itu dari tiga jurusan. Kalau yang seorang memancing dari depan maka yang seorang lagi berusaha untuk merampas pedang Im-yang-kiam dari pinggang Hayhauw. Baiknya Hayhauw berginkang tinggi sehingga ia dapat berlaku gesit selain ia dapat mematahkan serangan-serangan pedang lawan dengan tongkatnya yang digerakkan secara luar biasa, juga ia dapat pula mengirim serangan balasan tak kurang hebatnya.

Demikianlah, dalam waktu sebentar saja, pertarungan satu lawan tiga itu sudah mencapai kebabak lima puluh jurus dan selama mana puaslah hati Hayhauw karena kini ia sudah dapat menyaksikan pergerakan dan perkembangan ilmu pedang dari ketiga lawannya. Sekarang jelaslah baginya bahwa ketiga hwesio itu adalah benar-benar dari Cabang Siauwlimpay, karena ilmu pedang yang dimainkan sedikitpun tak beda dengan ilmu pedang yang dimainkan oleh To Tek Hosiang yang pernah dihadapi pada tiga hari yang lalu, sehingga sesudah mendapatkan keyakinan ia merasa rela untuk menyerahkan pedang Im-yang-kiam kepada mereka. Sebaliknya ketiga hwesio itu terutama To Bi Hosiang merasa penasaran sekali karena sesudah lima puluh jurus, belum juga usaha mereka berhasil. Jangankan, untuk merenggut pedang Im-yang-kiam dari pinggang anak muda itu, sedangkan untuk mendekati saja teramat sulit disebabkan pertahanan tongkat yang dipermainkan oleh anak muda itu sangat kuat, bagaikan benteng baja yang kokoh. Oleh karena itu To Bi Hosiang segera memberi isyarat kepada sutenya, maka ketiganya segera mengeluarkan tipu-tipu pedang Siauwlim kiamhoat yang amat lihay dan mengepung lebih rapat serta merangsak anak muda itu dengan serangan-serangan pedang mereka lebih gencar. To Bi Hosiang, yang sudah sesumbar tadi bahwa ia bersama dua sutenya akan merebut pedang Im-yang-kiam dalam seratus jurus, akan memalukan sekali kalau omongannya ini tidak sampai terlaksana, maka itulah sebabnva ketiga hwesio ini sama mengambil keputusan bahwa dalam sisa waktu yang lima puluh jurus lagi ini mereka hendak benar-benar membuktikan perkataan To Bi Hosiang tadi.

Melihat perubahan serangan dari ketiga lawannya Hayhauw maklum bahwa kini ia tidak boleh bersikap bertahan saja. Disamping mempertahankan nama dan Im-yang-kiam yang mereka akan rebut dalam lima puluh jurus yang mendatang ini, juga ingin memperlihatkan kelihaiyannya terhadap mereka terutama terhadap To Bi Hosiang yang tadi pernah sesumbar. Maka bagi anggapan Hayhauw hwesio tua terlalu memandang rendah terhadap dirinya. Tiba-tiba pemuda ini berseru keras dan tubuhnya yang dikurung rapat oleh ketiga lawannya lalu meloncat keatas dan menerjang dari atas dengan tongkatnya kearah kepala To Bi Hosiang yang gundul kelimis itu. Dalam sekejap mata saja anak muda ini sudah dapat mengimbangi perubahan serangan para lawannya. Kalau tadi ia memang sengaja hanya bertahan saja dengan memainkan ilmu tongkatnya bagian yang lambat untuk menghemat tenaga dan napas, adalah sekarang telah mengeluarkan ilmu tongkatnya yang bersifat menyerang disertai gerakan-gerakan yang gesit dan ginkangnya yang hebat, sehingga kini dialah yang menyerang karena sambil tubuhnya berkelebat kian kemari, ia dapat memecahkan kepungan ketiga lawannya, dan menyerang mereka berganti-ganti! Akan tetapi ketiga hwesio Siauwlimpay dari kuil Lionhoksi itu bukanlah orang-orang lemah, selain memiliki ilmu kepandaian tinggi dan keuletan yang luar biasa, mereka juga mempunyai pengalaman tempur yang luas, hingga tidak mudah dibuat kecil begitu saja oleh perubahan gerakan Hayhauw. Biarpun sudah berpencar dan kedudukan mereka tidak bersifat mengurung lagi, namun karena Hayhauw harus menyerang ketiga tiganya secara bergantian, maka datangnya serangan itu berkurang cepatnya sehingga mereka tidak terlalu terdesak dan masih dapat menangkis dengan baik, hanya saja mereka kini agak sulit untuk balas menyerang disebabkan gerakan anak muda itu benar-benar melebihi kecepatan mereka.

Pertempuran hanya tinggal tiga puluh Iur jurus lagi dari pada batas yang sudah ditentukan oleh To Bi Hosiang tadi dan Hayhauw merasakan bahwa ketiga hwesio itu luarbusa uletnya. Biarpun sekarang ia menjadi pihak penyerang, namun serangan-serangannya selalu dapat dipatahkan lawan dan kalau terus-terusan begini, maka dia sendirilah yang akan jadi payah kehabisan tenaga karena ia harus mengeluarkan tenaga tiga kali lipat dari pada tenaga yang dikeluarkan oleh masing- masing lawannya. Maka ia lalu mencari akal dan berkat kecerdikannya ia segera mendapatkan siasat, tiba-tiba ia berubah lagi gerakan serangannya.

Kini ia tidak lagi, menyerang secara bergantian kepada tiga orang lawannya, melainkan mendesak To Li Hosiang, hwesio paling muda yang sudah diketahuinya paling lemah diantara ketiga hwesio itu. Ia merangsak terus serta mengirim serangan langsung bertubi-tubi, kepada To Li Hosiang. Hwesio muda ini yang tidak menyangka akan mendapat serangan bertubi-tubi, karena tadinya anak muda itu hanya memberi bagi sesekali atau sejurus serangan lalu berpindah menyerang yang lain, menjadi sibuk sekali. Setelah dapat dan berhasil menangkis tiga kali, serangan berturut-turut, serangan keempat, yang dilakukan luar biasa dan cepat seskali, tak dapat ia tangkis sehingga pundak kanannya kena ditotok oleh ujung tongkat sianak muda yang hebat itu.

To Li Hosiang terhuyung kebelakang dan pedangnya terlepas dari pegangan tangannya yang menjadi lumpuh. Dengan meringis kesakitan hwesio muda ini lalu melompat keluar dari kalangan pertempuran karena tangan kanannya terkulai lumpuh tak dapat digerakkan lagi.

To Bi Hosiang dan To Gi Hosiang melihat To Li Hosiang diluar kalangan sambil meringis, tanda bahwa dia mengaku kalah, menjadi tercengang dan mereka sangat menyesal sekali tak dapat membela sute mereka disebapkan serangan sianak muda yang berubah secara tiba-tiba itu tak mereka sangka sehingga To Li Hosiang kena ditotok. Disamping merasa kagum akan kelihayan pemuda itu pun sangat merasa penasaran sehingga mereka mengirim serangan-serangan yang sangat nekat seakan-akan mereka lupa bahwa pertempuran itu hanya berupa pibu. Akan tetapi, dengan mengeroyok bertiga saja mereka tak mampu mendesak Hayhauw, jangankan untuk merenggut pedang Im-yang-kiam dari pegangan sianak muda sedangkan pedang mereka satu kalipun belum sempat menyentuh pakaian lawan yang masih sangat muda namun demikian lihay, maka apalagi kini mereka maju hanya berdua dan biarpun serangan-serangan mereka dapat dikata setengah kaIap, namun mereka harus mengaku bahwa sianak muda itu benar-benar sangat tangguh.

Dalam jurus yang kedelapan puluh lima, To Gi Hosiang berhasil mengeluarkan tangannya dan hendak merenggut pedang Im-yang-kiam. Ia melakukan hal ini dari belakang sianak muda, yang tengah meladeni rangsakan To Bi Hosiang, sehingga anak muda itu tampak lengah. Ketika tangan kirinya sudah hampir menangkap sarung pedang Im-yang-kiam yang segera akan ditariknya supaya talinya yang membelit dipinggang Hayhauw menjadi putus, sedangkan pedang yang ditangan kanannya mengambil posisi mengancam, akan tetapi sungguh diluar sangkaannya sama sekali bahwa ketika itu tongkat sianak muda setelah dipergunakan menangkis pedang To Bi Hosiang yang ada didepannya, telah diputarkan secara langsung kearah belakang dan membentur pedang bersamaan tangan kirinya yang dimiringkan menyabet kesamping. Benar- benar Hayhauw seperti mempunyai mata dibelakang tubuhnya, ia dapat melakukan gerakan yang tepat untuk mematahkan serangan lawan dari belakang, sehingga To Gi Hosiang sangat terkejut ketika pedangnya dibentur oleh tongkat, tangan kirinya cepat ia tarik kembali karena kalau tidak, besar kemungkinan tulang lengannya akan menjadi patah disabet pukulan sianak muda yang sudah diketahuinya memiliki tenaga Iwekang luar biasa kuatnya itu.

To Gi Hosiang cepat melompat mundur karena kuatir bahwa lawan muda itu akan menyusul dengan serangan yang tak terduga dan benar saja ketika itu Hayhauw telah memutar tubuh cepat sekali dan tongkatnya tahu-tahu menyambar mengarah lambung. Meskipun To Gi Hosiang sudah menduga namun tak urung menjadi gugup juga, ia cepat menangkis dengan pedangnya akan tetapi pedang itu hanya menangkis tempat kosong karena tahu-tahu tongkat pemuda itu sudah pindah arah dan kini dengan gerakan mencongkel mengancam selangkangnya. Ia cepat meloncat untuk menghindarkan selangkangannya dari serangan yang berbahaya itu, akan tetapi justru karena ia meloncat, maka ujung togkat Hayhauw jadi menyentuh tulang dengkul kaki kirinya. Sambil mengaduh kesakitan To Gi Hosiang jatuh dalam keadaan duduk dan ternyata dengkul kirinya terkilir mendatangkan rasa sakit bukan main.

Setelah berhasil membuat To Gi Hosiang tak berdaya, Hayhauw cepat menghadapi To Bi Hosiang pula yang memang memiliki kepandaian paling tinggi, sehingga sampai jurus yang kesembilan puluh lima, hwesio itu masih dapat bertahan. Sesungguhnya ketika itu To Bi Hosiang suda merasa payah karena setelah kedua kawannya kalap dan ia sendiri terus didesak secara hebat, betapa mungkin ia dapat membuktikan omongan takaburnya tadi dalam waktu yang hanya tinggal lima jurus lagi saja itu. Oleh karena itu tanpa mempedulikan perasaan malunya, hwesio tua ini cepat melompat menjauhi serangan Hayhauw sambil berkata nyaring.

"Sicu, tahan tongkatmu! Pinceng mengaku kalah”.

Han Hayhauw menghentikan permainan tongkatnya dan memandang kepada To Bi Hosiang yang sudah berdiri agak jauh didepannya.

"Losuhu aku yang muda merasa berterima kasih sekali karena ternyata samwi sangat murah hati dan banyak mengalah".

To Bi hosiang menghela napas. Setelah menyarungkan pedangnya kembali dan setelah menyusut keringat yang membasahi wajah dan kepala gundulnya, sambil tubuh agak dibungkukkan berkata: "Sicu, ilmu tongkatmu benar-benar sangat hebat dan dilihat dari perkembangannya sungguh sama dengan ilmu tongkat Tiong Sin Tojin! Mungkinkah kau adalah murid tunggalnya sebagaimana kata orang tua itu ketika beberapa hari yang lalu dia mampir kekuil kami?".

Pertanyaan dan pernyataan hwesio tua itu pada Hayhauw berdebar girang, "Jadi, losuhu kenal dengan Tiong Sin Tojin . .

. ?" tanyanya segera dengan wajah berseri.

"Pinceng bukan saja kenal, bahkan orang tua gagah itu adalah seorang kawan seperjuangan kami!"

Gembira hati Hayhauw tak terkatakan maka serta merta ia bertindak kedepan dan sambil mengayunkan pedang Im-yang- kiam kepada hwesio itu yang sudah jelas baginya adalah merupakan orang segolongan atau sehaluan, sehingga ia tak perlu mesti bersangsi lagi seperti semula. "Losuhu, terimalah pedang pusaka ini yang menjadi hak Siauwlim ini. Maafkanlah atas kelancangan dan kekurangajaranku barusan."

Dengan sikap yang penuh hormat To Bi Hosiang menerima pedang dengan kedua tangannya dan ketika itu To Gi Hosiang yang pundak dan tangan mereka sudah sembuh pengaruh totokan tongkat Hayhauw tadi sudah berdiri dikedua sisi suheng mereka, dan mereka sama-sama bersikap hormat tatkala pedang Im-yang-kiam diterima oleh To Bi Hosiang.

"Sicu, pinceng atas nama cabang persilatan Siuawlim mengucapkan beribu-ribu terimakasih atas kemulyaan hatimu", ujar To Bi Hosiang sambil kedua tangannya menggenggam erat-erat pedang Im-yang-kiam yang di palangkan didadanya, seakan-akan takut direbut orang lagi. "Dan kalau pineng boleh mengetahui benarkah bahwa sicu ini murid tunggal Tiong Sin Tojin sitongkat sakti dari Ngotaysan .

. . ?"

"Tak salah, Losuhu, dan namaku yang rendah adalah Han Hayhauw, sehingga losuhu tak perlu menyebutku dengan sebutan sicu-sicuan segala! Maaflah karena baru sekarang aku memperkenalkan nama yang tiada artinya ini!".

To Bi Hosiang tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Hebat-hebat! sitongkat sakti telah mempunyai seorang murid yang begini gagah perkasa dan gagah berani, benar-benar kami merasa bangga dan berarti pihak kita telah ditambah satu tenaga yang kuat bagi perjuangan yang kita sedang hadapi!”

Akhirnya, atas ajakan To Bi Hosiang, Hayhauw mengikuti ketiga hwesio yang berjalan menuju kekuil Lianhoksi. Disepanjang perjalanan Han Hayhauw banyak mendengar cerita To Bi Hosiang tentang letak kuil Lianhoksi diluar kota Thaygoan tentang pergerakan Tiong Gi pay dan tentang Ceng Kunhi yang selain bertindak selaku panglima muda dalam "Pasukan Garuda", juga merangkap sebagai algojo yang amat kejam sehingga panglima muda she Ceng itu mendapat julukan Cioliamlo atau Simalaikat Elmaut tertawa!

Segala yang dituturkan oleh To Bi Hosiang tentu saja merupakan tambahan pengertian baru bagi Hayhauw yang masih belum berpengalaman, dan ketika anak muda ini mendengar betapa watak Ceng Kunhi yang menjadi musuh besarnya, membuat ingin cepat-cepat sampai dikota Thaygoan! Ia merasa tak sabaran berjalan-jalan dengan ketiga hwesio yang melangkahkan kaki mereka secara lenggang kangkung itu, maka ia lalu mengajak mereka berjalan sambil berlari. Dan begitulah empat orang itu berlari seperti membalap, dan kenyataannya ketiga hwesio itu jadi kepayahan dan tertinggal jauh oleh anak muda itu, sungguhpun mereka sebenarnya sudah mengerahkan segenap ilmua lari cepat yang mereka miliki.

Demikianlah, dua hari kemudian keempat orang itu sudah sampai dikuil Lianhoksi. Kuil ini bangunannya tidak seberapa besar dan letaknyapun amat terpencil dari kelompok perumahan penduduk. Disebelah kanannya terdapat sebuah hutan kecil yang banyak ditumbuhi pohon cemara, dibelakangnya merupakan tanah lembah dan disebelah kirinya terbentang luas tanah sawah gersang dibakar musim kemarau. Adapun didepan kuil Lianhoksi itu terdapat sebuah jalan yang kalau orang terus mengikuti jalan ini kearah timur, maka akan sampai dikota Thaygoan. Jalan ini sebenarnya merupakan jalan raya yang amat hidup karena sering dilalui para penduduk dusun sekitarnya yang membawa hasil pertanian mereka untuk dijual dikota Thaygoan. Akan tetapi Hayhauw bersama tiga hwesio tiba disitu, keadaan jalan raya ini amat sunyi, tidak kelihatan orang berlalu lalang disebabkan gentingnya suasana dalam pergolakan. Penduduk dusun sekitarnya sudah pergi mengungsi kedaerah pedalaman, hanya para hwesio penghuni kuil Lianhoksi itu saja yang masih tetap tinggal disitu, bahkan para hwesio ini masih dapat bebas berlalu lalang kian kemari, malah kedalam kota Thaygoan, dimana penduduk umumnya selalu dicurigai oleh pihak "Pasukan Garuda", para hwesio dari kuil Lianhoksi ini dapat keluar masuk kota tanpa mendapat gangguan.

Selaku ketua Lianhoksi adalah seorang hwesio yang sudah tua bernama To Gun Hosiang. Adapun pendeta-pendeta bawahannya adalah To Lek Hosiang situkang sesapu. To Gi Hosiang situkang masak dan ketiga hwesio lainnya yang pembaca sudah mengenalnya, yaitu To Bi, To Li, dan To Gi Hosiang, yang mempunyai tugas bergerak diluaran. Tiga hwesio yang belakang ini sering mendatangi para hartawan dikota Thaygoan untuk minta derma dengan alasan yang mereka kemukakan untuk membiayai kuil Lianhoksi. Oleh karena sikap mereka tampak netral, maka sampai begitu lama mereka belum dicurigai oleh pihak pembesar penjajah setempat, bahkan para balatentara Mongol sangat menghormat terhadap biarawan-biarawan dari Lianhoksi ini, padahal pada lahirnya saja mereka bersikap seperti netral, seperti tidak turut campur dengan segala urusan dunia, sedangkan keadaan sebenarnya, hwesio-hwesio dari cabang Siauwlimpai ini rata-rata memiliki jiwa patriot yang gagah dan tentu saja dalam perjuangan yang sedang berkecamuk itu mereka memihak perjuangan rakyat jelata. Mereka merupakan tokoh-tokoh pendukung dan pembantu yang aktif sekali bagi kesatuan Tiong-gi-pay, yang hasil derma sebagian besar mereka sumbangkan kepada perkumpulan pejuang itu. Hanya keaktifan mereka dilakukan sedemikian aktif dan rapi, sehingga itulah sebabnya mereka selama ini belum dicurigai oleh pihak pemerintah penjajah. Hanya waktu paling belakang saja, selelah kesatuan Tiong gi pay nampak makin kuat dan sudah beberapa kali menyerbu dan mengancam kota Taygoan sehingga mengakibatkan kerugian tak sedikit bagi pihak "Pasukan Garuda", maka pemerintah penjajah setempat secara diam-diam mulai mengadakan pengawasan terhadap gerak-gerik para hwesio penghuni kuil Lianhoksi itu. Pintu depan kuil Lianhoksi tertutup rapat ketika Hayhauw yang dibawa oleh To Bi Hosiang tiba disitu. To Bi Hosiang mengajak anak muda itu masuk dari pintu belakang dan ketika mereka melalui samping kuil tersebut, Hayhauw mendengar dari dalam kuil suara orang membaca liamkeng (doa).

"Toasuhu dan kawan kawan sedang sembahyang, silahkan kau duduk disini sebentar" kata To Bi Hosiang yang mempersilahkan Hayhauw menunggu diruang dapur. Dan pada saat selanjutnya Hayhauw duduk diruangan dapur itu seorang diri, karena ketiga hwesio yang datang bersamanya tadi telah memasuki kuil dan agaknya mereka turut sembahyang.

Hayhauw merasa terlalu lama duduk menunggu disitu, sedangkan hatinva ingin cepat-cepat mencari Ceng Kunhi musuh besarnya.

"Daripada aku berdiam diri lama-lama sehingga membuang waktu percuma, lebih baik aku pergi jalan-jalan dulu kekota Thaygoan, barangkali saja aku bisa menemukan sisetan bermata juling!" demikian anak muda itu berkata didalam hatinya sendiri, tetapi untuk sesaat ia merasa ragu oleh karena sudah dapat menduga, bahwa memasuki kota Thaygoan bukanlah suatu hal yang mudah, tentu ia akan banyak menemukan kerewelan-kerewelan dari bala tentara yang menjaga ketat kota tersebut, merupakan seorang yang masih sangat asing, sehingga dirinya sudah tentu takkan lepas lari pada kecurigaan! Bagaimana akal . . . ? Berkat kecerdikan yang dimilikinya sejak kecil segera ia mempunyai akal. Demikianlah, sebelum ia pergi meninggalkan ruangan dapur kuil Lianhoksi itu, terlebih dulu ia pakai baju penuh tambalan yang dibekalnya dari Ngotaysan. Buntalan pakaiannya ia tinggalkan diatas bangku bekas tempat duduknya sebagai tanda bagi para hwesio bahwa ia akan kembali lagi kesitu kalau para hwesio itu mencarinya. Dari kuil Lianhoksi ia berjalan menelusuri jalanan yang mengarah ketimur. Sebelum ia memasuki kota Thaygoan, wajah dan rambutnya dikotori debu dan ikatan rambutnya sengaja dilepaskan sehingga rambut yang kotor itu riap-riapan menutupi wajahnya yang kotor pula. Benar-benar ia sangat mirip jembel yang jorok!

Benar saja siasat ini berhasil seperti apa yang ia kehendaki. Dengan pura-pura gila dan ngacobelo sambil memukul mukul batu-batu koral dengan ujung tongkatnya, anak muda yang cerdik dan memiliki keberanian luar biasa ini dapat berjalan memasuki kota dengan seenaknya dan para prajurit yang menjaga sama sekali tidak mengacuhkannya! Sambil ketawa ia hahehe mulut "gilanya" memaki maki ”sikeparat! juling" dan kemudian la menukil sebuah arca singa-singaan hingga hancur. Yang membuat arca batu singa-singaan, bukan oleh pukulan tongkatnya. melainkan oleh pukulan Pha Cok seng! hun ciang yang dilancarkan oleh tangan kirinya secara diam diam dan inilah kemudian yang menarik perhatian seorang komandan penjaga yang menaruh curiga serta menganggap satu penghinaan bagi panglima mudanya. Dari komandan inilah Hayhauw jadi dapat memancing dimana adanya musuh besarnya dan bagaimana kejadian yang dialaminnya oleh Han Hayhauw selanjutnya, betapa ia dikeroyok oleh para perwira "pasukan! Garuda" dan berhadapan dengan Kulangcha si panglima tua yang bersenjatakan bulan bintang yang berhasil dipermainkannya itu dan akhirnya disebabkan ia tidak dapat menjumpai musuh besar yang dicarinya betapa kemudian ia "melarikan diri", dikejar oleh Kulangcha dan disusuli oleh Ceng Kunhi yang menunggang kuda sebagaimana pertama dalam cerita ini. Pembaca tentu belum lupa, bukan?

oooooocoOdwOoooocooo

Ceng Kunhi terus membalapkan kudanya mengejar dan hatinya terus bertanya-tanya "Siapakah jembel muda lihay yang tak mau memberitahukan namanya itu ? Dan mengapa secara sangat kurangajar berani menghina dan mencari nya

....... ? "

Kemudian Kulangcha yang berlari duluan dapat disusulnya dan napas panglima tua bangsa Mongol itu sudah terengah- engah sehingga kemudian panglimatua ini lalu di "bonceng" oleh Ceng Kunhi dan benar benar kuda tungganngan itu kuat luarbiasa, biarpun ditunggangi oleh dua orang, ia masih kuat berlari cepat seperti terbang, sungguhpun dari mulut dan lobang hidung nya sudah mengeluarkan busa putih.

Ketika itu Hayhauw sucah tiba pula dikuil Lianhoksi dan ia mendapat kenyataan bahwa para hwesio masih belum ada yang keluar. Dari dalam kuil masih terdengar suara liankeng yang penuh khidmat. Hayhauw tidak berani membuat berisik dan oleh karena ia merasakan badannya amat gerah, maka setelah mengambil buntalan pakaiannya ia lalu mencari tempat mandi untuk membersihkan tubuhnya yang bau keringat serta wajah dan rambutnya yang sengaja dikotori debu tadi. Akan tetapi disekitar kuil itu ternyata ia tidak menemukan kamar mandi, dan kemudian ia melihat bahwa dari belakang kuil tersebut terdapat sebuah jalan kecil menurun kearah lembah. Seperti ada yang menunjukkan, maka Han Hayhauw lalu mengikuti jalan itu dan setelah berjalan jauh menuruni lembah, kemudian ternyata didasar lembah yang dalam itu ia dapatkan sebuah gubuk keci1 tempat pemandian yang airnya bersumber dari sebuah lubang didinding tebing jurang itu. Airnya begitu jernih dan sejuk sehingga Hayhauw setelah mandi disitu merasakan tubuhnya sangat segar. Ia sekalian pula mencuci pakaian yang sudah kotor. Ya, sejak ia turun gunung, baru kali inilah ia mencuci pakaian. Sambil menunggu cuciannya kering dibawah jemuran matahari, ia duduk dibawah sebatang pohon sambil merasakan kemendongkolan hatinya oleh karena tadi ia tidak sempat bertemu dengan musuh besarnya. Pikirannya bekerja keras untuk mencari akal bagaimana ia bisa mencari Ceng Kunhi sampai bertemu tanpa menjumpai banyak rintangan dari "batu-batu koral" yang tak berguna itu. Akan tetapi sebelum akal yang dicarinya itu diperoleh, tiba-tiba jalan pikirannya membelok kelain arah jadi menyeleweng melamunkan dara jelita yang selama ini sudah membuat hatinya selalu gandrung sampai tersengsam. Lagi-lagi wajah dara itu terbayang didepan matanya, tersenyum manis kepadanya membuat hatinya seperti dikitik-kitik. Anteng dan asyik ia melamunkan dara yang sudah merenggut hatinya itu, dan memanglah lagi seorang pemuda yang baru mengangkat dewasa seperti Hayhauw tak ada kenikmatan sehingga anteng dan asyik seperti terpukau dari pada melamunkan dara yang dicintainya, sungguhpun cintanya itu hanya baru berupa cinta sepihak belaka.

Angin d lembah itu bersilir-silir perlahan dan seperti biasa, apabila seorang habis mandi diwaktu tengah hari dimusim panas, mula-setelah baru rnandi memang ia rasakan segar, tetapi kemudian rasa segar itu lalu berubah menjadi lesu, ditambah lagi tiupan angin yang bersilir-silir, maka agaknya sudah menjadi sifat alam kalau orang itu didatangi perasaan mengantuk. Demikianlah apa yang dialami oleh Hayhauw ketika itu, lamunan yang tengah ia nikmati itu sudah beberapa kali diganggu oleh kuapan matanya perlahan-lahan mulai menyipit seakan akan kelupak matanya merasa berat diganduli perasaan mengantuk yang merangsangnya. Ditambah lagi sejak turun gunung memang Hayhauw boleh dibilang sangat kurang tidur, maka tanpa dapat dikuasai pula akhirnya ia tenggelam dalam kepulasan, tidur nyenyak sambil punggung dan kepalanya disandarkan sebatang pohon. Entah berapa saat lamanya ia tertidur, suasara yang sepi jempling sedikitpun tak terusik suara gaduh dan ribut yang terjadi diatas lembah curam itu, yaitu kegaduhan dan keributan yang terjadi didalam kuil Lianhoksi selama Hayhauw tidur lelap.

Kulangcha vang dibonceng oleh Ceng Kunhi menunggang kuda yang melakukan pengejaran terhadap Hayhauw tadi, akhirnya sampailah didepan kuil Lianhoksi. Mereka tidak berani melakukan pengejaran terus karena maklum bahwa apabia mereka terus mengejar sampai jauh kedalam pedesaan, bahaya sekali. Maka Ceng Kunhi menghentikan kuda tunggangannya persis didepan kuil itu. Mereka meragukan bahwa pemuda lihay tadi berlari terus menuju kepedesaan sangat mungkin ia mampir dan sembunyi didalam kuil ini, demikian pikir kedua panglima itu menduga-duga. Apalagi para hwesio penghuni kuil Lianhoksi itu pada waktu paling akhir sudah berada dibawah pengawasan mereka, sudah diincar bahwa para pendeta yang selama ini kelihatan bersikap netral dan "non aktip" itu, harus dicurigai. Berdasarkan kecurigaan inilah, mereka merasa berhak untuk menggeledah seisi kuil itu, dengan alasan yang utama mencari si-pengemis muda lihay yang telah membuat kekacauan tadi.

Ceng Kunhi dan Kulangcha turun dari kuda dan keduanya segera mengetuk daun pintu itu. Berkali kali mereka mengetuk, tetapi sampai beberapa saat lamanya mereka menanti dan pintu itu belum juga dibukakan, hilanglah sabar mereka sehingga akhirnya mereka menggedor pintu itu dengan menggunakan kaki-kaki mereka yang bersepatu. Namun belum juga pintu itu dibukakan orang dari dalamnya. Ketika itu para serdadu yang tadi mengikuti Kulangcha mengejar, telah tiba disitu. Mereka yang tiba hanya sebagian saja, karena yang sebagian lagi mogok ditengah jalan, tak kuat berlari dari kota Thaygoan kekuil Lianhoksi yang jauhnya kurang lebih duapuluh li itu. Sedangkan yang mampu berlari sehingga sampai dikuil tersebut, mereka sudah payah keadaannya, nafasnya hampir habis.

Kulangcha marah sekali karena pintu kuil itu belum juga dibuka, dan ketika ia melihat bahwa para serdadu anak buahnya sudah datang, segera ia mengeluarkan perintah untuk mengurung kuil tersebut sehingga dalam sekejap saja seputar kuil Lianhoksi sudah dikurung oleh para serdadu. Ceng Kunhi dan Kulangcha menendang-nendang lagi daun pintu kuil sambil mulut mereka berteriak-teriak: "Buka pintu! Buka! Kami panglima dari Pasukan Garuda datang . . . !"

Dan, akhirnya pintu itu terbuka juga bersamaan munculnya To Lek Hosiang. Hwesio situkang sapu yang berbadan tinggi kurus dan sepasang matanya yang sipit itu nampak lemah lembut akan tetapi beisinar tajam sekali. Begitu tajam dilihatnya bahwa yang berdiri dihadapannya adalah dua orang panglima dari "Pasukan Garuda", To Lek Hosiang sambil berseri lalu membungkukkan tubuh sedikit dan tangannya terangkat kedada sebagai penghormatan untuk menyambut kedatangan kedua tamu yang nampak marah-marah itu.

"Oh, kiranva yang datang adalah jiwi ciang kun. Maaf- maaflah atas kelambatan pinceng membukakan pintu sehingga membuat jiwi ciangkun lama menantinya"

"Memang kami sudah lama menanti, hampir saja hilang sabar dan akan kami dobrak pintu ini!" Ujar Ceng Kunhi, yang bukan saja tidak membalas penghormatan hwesio itu, malah perkataan yang diucapkannya sangat kasar dan bernada dingin.

Maklum bahwa panglima muda itu adalah seorang yang berwenang dan sering melakukan wewenangnya secara sewenangnya. To Lek Hosiang makin membungkukkan tubuhnya sambil bersoja-soja dan irama katanyapun halus sekali tatkala ia mengucapkan.

"Maaf, maaf. Pinceng yang sudah tua dan pikun ini mengaku telah membuat kepala yang sangat besar. Akan tetapi bolehkah pinceng mengetahui maksud kunjungan jiwi yang terhormat ini!"

Kulangcha menjawab tegas. "Losuhu, kami akan memeriksa kuil ini!" To Lek Hosiang nampak kaget. "Akan jiwi periksa kuil kami ini? Pinceng takkan merasa keberatan, asal saja terlebih dahulu pinceng ketahui alasan yang menjadi dasarnya."

"Kami sedang mengejar seorang pemuda buronan yang telah membuat kekacauan dikota, dan pada sangkaan kami dia bersembunyi didalam kuil ini!" Kulangcha menerangkan.

To Lek Hosiang mengerutkan kening ketika memberi keterangan yang sesungguhnya.

"Harap jiwi percaya bahwa didalam kuil ini tidak ada seseorang dari luar kecuali para pendeta tetap penghuni kuil ini yang tentu jiwi sudah mengenalnya. Sesungguhnya orang yang jiwi cari itu sama sekali tidak pinceng lihat."

Memang To Lek Hosiang benar-benar tidak pernah melihat orang luar yang memasuki kuil itu, karena ketika Hayhauw yang datang bersana tiga kawannya tadi ia sedang sembahyang bersama ketua kuil dan seorang kawannya lagi pendeta si juru dapur didalam kamar khusus tempat sembahyang. Sedangkan To Bi Hosiang bertiga masuk tadi belum sempat menceritakan apa-apa karena mereka terus turut sembahyang. Inilah sebabnya maka apa yang dikatakan hwesio itu terhadap Kulangcha dan Ceng Kunhi adalah keterangan yang sebenarnya.

"Betapapun juga, kami akan memeriksa kuil ini!" kata Ceng Kunhi keras dan panglima muda ini tanpa mengacuhkan To Lek Hosiang yang masih berdiri diambang pintu seakan-akan menghedakinya, lalu bertindak memasuki kuil dan agaknya ia sengaja akan menendang. Hwesio itu cepat melangkah mundur dan kemudian ia berdiri lagi dimulut pintu yang menuju ruangan tengah, yaitu ruangan khusus tempat sembahyang.

Dan ketika Ceng Kunhi yang dibuntut oleh Kulangcha hendak masuk keruangan sembahyang itu secara paksa, hwesio itu melintangkan tangannya kekanan kiri sambil berkata dengan nada tetap halus.

"Maaf ciangkun, untuk sementara pinceng tak mengijinkan jiwi memasuki ruangan sembahyang ini! Ketua kuil bersama- sema kawan pinceng sedang bersembahyang dan tak boleh diganggu. Kalau dapat, pinceng minta dengan hormat, harap jiwi sabar menanti sebentar, sampai selesai mereka sembahyang".

Karuan saja cegahan hwesio ini membuat kedua perwira tinggi makin curiga dan memperkuat sangkaan mereka bahwa didalam ruangan itu pasti bersembunyi pemuda yang mereka kejar. Melihat pintu yang menjurus ruangan sembahyang itu tidak tertutup dan hanya dialingi kain muili (tirai), Ceng Kunhi sama sekali tak mau mengindahkan perintah To Lek Hosiang. Secara kasar sekali ia menampar tangan kanan To Lek Hosiang yg dihalangkan itu dan dengan cepat ia melompat masuk. Akan tetapi gerakan To Lek Hosiang lebih cepat lagi, tangan kanannya yang ditampar tadi segera diputarkan kebawah dan menangkap lengan kiri panglima muda itu yang lalu digentakkannya kedepan sehingga tubuh Ceng Kunhi jadi tertarik mundur kembali dalam keadaan setengah terhuyung. Bersama dengan itu Kulangcha juga tidak tinggal diam, panglima tua ini telah menggerakkan tubuhnya, mencoba masuk pula melalui jalan disebelah kiri tubuh To Lek Hosiang, bahkan sambil menyerobot masuk tangan kirinya mengirim serangan berupa totokan kearah lambung pendeta itu. Akan tetapi To Lek Hosiang cukup waspada, maklum, bahwa panglima bangsa Mongol itu hendak memaksa masuk sambil mengirim serangan keji. Ia segera menggerakkan tangan kirinya, dengan telapak tangan miring disabetkannya kebawah dan tepat sekali pergelangan tangan Kulangcha yang mengirim totokan itu dapat dihantamnya bersamaan tangan kanan To Lek Hosiang dengan menggunakan ibu jarinya yang menjadi kaku keras seperti baja menotok jalan darah Ceng pekhiat dipinggang panglima itu sehingga pada detik itu juga Kulangcha menjerit kesakitan dan tubuh jatuh meloso kelantai. Ternyata sambungan tulang dipergelangan tangannya telah menjadi teklok dan tubuhnya lemas tak berdaya, karena Ceng pekhiat yang ditotok oleh ibu jari To Lek Hosiang itu adalah jalan darah yang melumpuhkan seluruh tubuhnya. Kulangcha meringkuk dilantai tak berdaya, sambil matanya mendelik marah panglima yang mempunyai nama julukan Goatsong Taysu ini tengah mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan kelumpuhan yang memasuki tubuhnya. Hal ini bukan disebabkan bahwa ilmu kepandaian Kulangcha kalah oleh hwesio itu, melainkan ia terlalu memandang rendah terhadap pendeta situkang sesapu, itu sehingga ia kurang waspada serta samasekali tak menyangka bahwa To Lek Hosiang akan dapat balas menyerang dengan totokan yang secepat itu, sehingga dengan malu dan marah ia mesti menerima akibat dari kecerobohan sendiri.

"Maaf, jiwi ciangkun, atas kekerasan yang terpaksa pinceng lakukan ini "ujar To Lek Hosiang dan nada katanya tetap sehalus tadi.

Akan tetapi ketika itu Ceng Kunhi sudah marah sekali. Tadi ketika tangannya dihentakkan oleh To Lek Hosiang ia sudah maklum bahwa tenaga kepala gundul itu besar sekali sehingga tubuhnya setengah terhuyung dan kalau tak cepat ia menguasai keseimbangan tubuhnya, nyaris jatuh terjengkang. Adapun kini setelah dilihatnya betapa Kulangcha meringkuk lemas akibat totokan dan mendengar perkataan To Lek Hosiang yang bagi telinganya terasa menyindir, maka panglima muda yang sejak dulunya tak pernah menerima perlakuan kasar dari orang lain ini menjadi murka sekali dan tahu-tahu ia sudah mencabut pedang yang gagangnya dilapisi emas murni itu.

"Hwesio kurang ajar! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa?!" Ceng Kunhi menghardik sambil menodongkan pedangnya kepada hwesio itu dan sepasang matanya melotot sehingga manik mata yang tak normal itu makin menjuling.

"Pinceng tahu bahwa pinceng sedang berhadapan dengan para perwira tinggi yang penuh wewenang, tapi sayang sekali mempunyai langkah yang kasar dan tidak sopan!" sahut hwesio itu, dan betapa besar kesabaran yang dimilikinya, hwesio ini tak urung menjadi panas juga hatinya.

"Kau sudah tahu bahwa kami mempunyai penuh wewenang, tetapi mengapa kau berani melarang maksud kami? Ketahuilah, segala sesuatu yang berada diwilayah Thaygoan adalah menjadi kekuasaan kami dan kami berwenang untuk mengawasi dan memeriksanya, termasuk kuil ini! Tahukah engkau, hukuman apa terhadap siapa yang berani menentangnya?" Dengan menonjolkan pengaruh kedudukannya Ceng Kunhi mengancam.

"Hukuman apa pinceng tidak tahu! hanya yang pinceng tahu ialah jangankan para panglima dari sebuah pasukan, biar kaisar sekalian yang wewenangnya paling besar, tak berhak untuk mengganggu para ulama yang sedang sembahyang."

Jawaban To Lek Hosiang ini memang sangat mengenai, sehingga hati Ceng Kunhi merasa tersinggung karena merasa dihina, maka karuan saja kemarahannya jadi meluap.

"Keledai gundul, kalau kau katakan kaisar tak berhak mengganggu, maka pedangku yang tidak bermata inilah mempunyai hak penuh!" teriaknya menggeledek sambil pedangnya digerakkan mengirim serangan kilat.

Melihat dirinya diserang hwesio ini mengebutkan lengan bajunya yang lebar dan panjang menangkis dan ia masih sempat berkata.

"Omitohut . . . ! Beginilah kalau seorang yang dirinya merasa penuh wewenang, sehingga berbuat hanya menurutkan suara hati yang dipenuhi hawa nafsu dan mengandalkan pengaruh kedudukan dan sedikit kepandaiannya, tanpa mempertimbangkan dari otak yang sehat!"

Ceng Kunhi makin marah dan terus menerjang tambah sengit. Ilmu pedang Siauwlim-kiam-hoat warisan To Tek Hosiang yang dimainkan memang cukup hebat. Ditambah lagi mempunyai hati kejam selaku algojo sehingga ia mendapat julukan si Malaikat Elmaut tertawa, maka sedikitpun ia tak merasa segan untuk membunuh hwesio itu didalam kuil Lianhoksi yang oleh umum dipandang suci. Sebaliknya biar To Lek Hosiang adalah tukang sesapu, akan tetapi kepandaiannya justru tak boleh dipandang rendah. Apalagi kalau ia memegang senjata istimewanya, yaitu seikat sapu lidi yang biasa dipergunakan untuk menyapu halaman, ia dapat menandingi lawan yang bersenjatakan apapun oleh karena sesungguhnya ilmu kepandaian yang dimiliki oleh To Lek Hosiang hanya berbeda setingkat lebih bawah dari ilmu kepandaian To Gun Hosiang ketua kuil Lianhoksi. Maka biarpun kini senjata istimewanya tak berada ditangannya, hwesio ini dapat melayani Ceng Kunhi yang menggerakkan pedangnya secara sengit itu. Ia hanya mengandalkan sepasang lengan jubahnya untuk menangkis atau balas menyerang dan yang mengagumkan sekali ialah, biarpun tubuhnya bergerak kian kemari untuk menghindarkan diri dari serangan pedang lawan, namun sepasang kakinya tak pernah ingkar dari tempat dimana dia berinjak, sehingga dengan demikian mencerminkan bahwa ia tetap menjaga pintu ruangan sembahyang itu dengan penuh rasa tanggung jawab.

Ceng Kunhi merasa penasaran sekali karena berkali-kali ia melakukan serangan dan tujuan serangannya justru mau membunuh hwesio itu, namun kenyataannya setiap kali pedangnya kena sampokan lengan jubah yang hanya terbuat dari pada kain kasar itu, bukannya lengan jubah itu terbabat, bahkan justru membuat pedangnya membalik terpental dan ia rasakan tenaga sampokan itu kuat sekali. Selanjutnya makin sengit dan hebatlah ia mengamuk. Serangan bertubi-tubi dilancarkan oleh Ceng Kunhi dengan pedangnya, hanya diganda ketawa saja oleh hwesio itu. Biarpun hwesio itu tidak berpindah dari tempat berdirinya, akan tetapi justru merupakan sebuah patung yang sukar diserang, sehingga membuat panglima itu makin gemas dan penasaran. Setelah panglima muda itu menyerang lebih empat puluh jurus dan selama mana tanpa hasil, tiba-tiba hwesio itu berseru keras, ketika itu lengan jubah tangan kirinya telah membelit pedang bersamaan tangan kanannya mendorong tubuh Ceng Kunhi yang tanpa ampun lagi jadi terpelanting dan roboh mencium lantai sedangkan pedang itu telah pindah tangan.

"Bagus Lekte (adik Lek)! Serahkan pedang itu kepadaku!" tiba-tiba terdengar suara yang berpengaruh sekali dari belakang To Lek Hosiang. Hwesio ini Cepat membalik dan ternyata bahwa To Gun Hosiang, ketua kuil Lianhoksi telah berdiri diambang pintu yang dijaganya dengan perasaan penuh tanggung jawab tadi.

Sambil menjura dengan penuh hormat, To Lek Hosiang lalu serahkan pedang rampasannya itu kepada To Gun Hosiang yang menerimanya, sambil memandang tajam kepada gagang pedang yang dilapisi emas murni itu. Kemudian setelah melihat tubuh Kulangcha masih meringkuk dan belum dapat memulihkan keadaan tubuhnya yang diserang lumpuh akibat totokan To Lek Hosiang tadi, To Gun Hosiang berkata: "Lekte, tolonglah keadaan panglima tinggi yang kita hormati itu!"

To Lek Hosiang menurut dan setelah menepuk satu kali dipunggung Kulangcha, maka panglima tua ini serta merta dapat bangkit sendiri dan sungguhpun kelumpuhannya sudah lenyap, tapi ia masih meringis menahan rasa sakit dipergelangan tangannya yang sudah mulai membengkak itu, sehingga ia tidak berani berbuat sesuatu, hanya dari sepasang matanya saja seakan-akan menyorotkan sinar api karena kemarahan yang ditahannya. Tatkala mana To Gun Hosiang berkata pula. "Tadi pinceng dengar bahwa jiwi ciangkun hendak memeriksa kuil ini, sekarang pinceng sudah selesai sembahyang maka pinceng persilahkan . . ."

Sambil menyusut darah yang mengucur dari lubang hidungnya akibat mencium lantai tadi Ceng Kunhi memandang kepada Kulangcha yang masih meringis-ringis. Untuk sejenak mereka saling pandang seakan-akan merasa ragu. Kemudian Kulangcha yang lebih cerdik dan waspada segera mengeluarkan perintah kepada beberapa orang serdadunya yang sejak tadi menjaga dan mengurung diluar kuil dan begitulah, lima orang prajurit dengan senjata siap ditangan, mulai melakukan penggeledahan. Setiap pelosok diperiksa, setiap apa yang menghalangi dan dicurigai diungkap-ungkap, sungguhpun serdadu penggeledah itu bersikap garang, akan tetapi mereka tak berani berlaku kurang ajar oleh karena melihat sikap para hwesio penghuni kuil Lianhoksi yang berjumlah enam orang itu, yang selalu mengawasi mereka selama mereka melakukan penggeledahan, membuat bulu tengkuk mereka berdiri karena maklum bahwa para hwesio itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

Penggeledahan selesai dan Kulangcha menerima laporan dari seorang serdadu bahwa anak muda yang dicarinya benar benar tiada. Kembali Kulangcha dan Ceng Kunhi saling pandang dan wajah mereka berubah merah karena kecewa dan malu, sehingga mau tak mau akhirnya mereka terpaksa menjura terhadap To Gun Hosiang sambil mengucapkan maaf.

Sambil tersenyum manis To Gun Hosiang berkata "jiwi ciangkun, pinceng puji akan ketelitian kalian ini, membuktikan bahwa kalian sangat waspada sehingga pihak kamipun tak luput dari kecurigaan kalian. Hanya sangat pinceng sesalkan bahwa kalian telah berlaku terlalu kasar dan tidak mengindahkan tata tertib yang berlaku didalam kuil ini sehingga kalian tidak memiliki disiplin kemiliteran, maka kalau hal ini sampai terdengar oleh kaisar, bukanlah jiwi sebagai perwira tinggi akan mendapat kecaman yg tidak enak sekali? Cengciamkun, terimalah kembali senjatamu ini dan setelah ternyata kecurigaan kalian yang ditimpakan kepada kami tidak terbukti, maka pinceng harap lain kali jiwi jangan mengganggu ketentraman kuil kami lagi"

Sambil berkala demikian, To Gun Hosiang menyerahkan kembali pedang yang bergagang emas itu kepada pemiliknya dan ketika itu ia mengasurkan senjata itu ia sodorkan gagangnya kepada Ceng Kunhi sementara ia sendiri memegang ujung pedang yang runcing dan tajam itu. Dengan kepala tunduk Ceng Kunhi menerima pedangnya dan segera dimasukkan kedalaam sarungnya dan akhirnya, tanpa mengatakan minta diri baik Ceng Kunhi maupun Kulangcha, segera berjalan keluar kuil dan menyengklak kuda yang mereka berdua tunggangi tadi yang lalu, dikeprakkan sehingga kuda itu lantas berlari membawa mereka kekota Taygoan. Betapa mendongkol dan malu rasa hati kedua panglima ini, karena perkataan dari To Gun Hosiang yang terakhir benar-benar sangat menusuk telinga dan hati kecil mereka.

Kalau Ceng Kunhi dan Kulangcha meninggalkan kuil Lianhoksi dengan cepat, adalah para serdadu berjalan-jalan mungkin disebabkan mereka ini masih merasa letih sehabis berlari sekuat tenaga ketika mereka tadi. Bahkan kurang lebih sepuluh orang diantara mereka, masih tinggal berdiri merubung dikuil itu sambil berbicara berbisik-bisik. To Lek Hosiang yang ada diambang pintu merasa curiga melihat mereka, dan lalu menegurnya "pemimpin kalian sudah pergi, tetapi kalian masih berdiam merubung disini, mau tunggu apa lagi?"

Mendengar teguran ini para serdadu itu jadi kurang senang dan memang dihati mereka sedikitnya menyimpan dendam terhadap To Lek Hosiang setelah menyaksikan betapa kedua pe-mimpin mereka tadi dibikin tidak berdaya oleh hwesio ini. Sebentar mereka saling pandang antara kawan sendiri dan telah berunding tiba-tiba mereka sama memungut batu lalu disambitkan, kepada hwesio itu. Karuan saja To Lek Hosiang menjadi marah cepat ia menyambar seikat sapu lidi yang biasa dipakainya membersihkan halaman, yang disimpannya dipinggir pintu kuil. Seakan-akan ia tidak menghiraukan batu- batu yang menghujani tubuhnya, ia lalu menggerak-gerakan sapulidi dipekarangan dimana memang terdapat juga batu- batu koral sehingga nampaknya ia sedang menyapu pekarangan itu, sambil mulutnya mengomel.

"Bedebah! Anjing-anjing buruk ini sungguh tak tahu diri . . .

!" Dan hebat sekali, sapu lidi yang digerak-gerakkannya seperti biasa ia sedang menyapu pekarangan itu, membuat batu-batu koral yang tersentuh oleh ujung sapulidi itu jadi beterbangan dan balas menghujani para serdadu itu. Inilah salah satu keistimewaan To Lek Hosiang dalam permainan sapulidinya, batang -batang sapu lidi itu dapat menjadi kaku dan keras seperti kawat baja sehingga batu-batu koral yang "disapunya" jadi berterbangan seperti disambitkan oleh tenaga yang kuat, maka para serdadu itu segera ribut berkaok-kaok kesakitan karena tubuh dan kepala mereka, dibentur oleh batu-batu yang disambitkan secara luar biasa itu. Mereka tak kuasa melindungi diri maka segera mereka lari tunggang langgang sambil mengaduh-aduh karena tubuh dan kepala mereka yang benjol mereka rasakan sakit bukan main. Mereka lari kabur diiringi oleh suara ketawa To Lek Hosiang yang terkekeh-kekeh.

Adapun Ceng Kunhi ketika sampai dimarkas dan memeriksa pedangnya, barulah dengan terkejut sekali ia melihat bahwa ujung pedangnya hilang sebagian seperti dipatahkan. Ia teringat bahwa tadi ketika memberikan pedang ini, pendeta ketua Lianhoksi yang kelihatannya alim dan lemah lembut itu memegang ujung pedang, maka teringat betapa hebatnya tenaga hwesio tua yang baru memegang saja sudah dapat mematahkan ujung pedang yang terbuat dari baja tulen itu, dapatlah diukur betapa tingginya ilmu kepandaian hwesio tua itu. Menghadapi To Lek Hosiang saja ia sudah tidak berdaya, apalagi kalau hwesio tua ketua kuil itu turun tangan, sehingga insaflah ia sekarang bahwa tadi memang ia telah berbuat terlalu kasar. Dan diam-diam Ceng Kunbi merasa bersyukur bahwa hwesio-hwesio itu tidak bermaksud mencelakakannya, maka ia mengambil keputusan untuk tutup mulut dan tidak menceritakan peristiwa yang amat memalukan ini kepada orang lain.

Setelah mengantar dengan pandangan matanya betapa kawanan serdacu tadi lari pergi berserabutan, To lek Hosiang lalu masuk kedalam kuil dan menutup kembali pintunya. Ia menuju keruang sembahyang, dimana ia lihat bahwa kawan- kawannya sedang duduk merubung menghadapi ketua mereka yang ketika itu sedang memeriksa Im-yang-kiam yang baru saja diterimanya dari To Bi Hosiang yang lalu duduk disisi kawannya dan suasana diruangan itu begitu tenang dan tenteram, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa padahal barusan disitu sudah tejadi suatu peristiwa yang cukup menegangkan hati.

"Kita benar-benar harus berterimakasih kepada anak muda murid Tiong Sin Tojin yang sudah "mengembalikan" pedang pusaka ini, sehingga pedang Im-yang-kiam tidak dibawa nyeleweng berlarut-larut oleh bekas kawan kita yang sesat itu". Demikian keheningan yang menentramkan diruangan itu kemudian terpecah oleh To Gun Hosiang yang seakan-akan berkata pada diri sendiri. Setelah diperiksanya dengan seksama dan setelah mendapat kenyataan bahwa pedang itu adalah Im-yang-kiam maka senjata pusaka itu lalu dimasukkan kedalam sarungnya kembali diletakkan pangkuannya, lalu bertanya kepada To Bi Hosiang. "Bite (adik Bi), dimanakah sekarang anak muda yang kau ceritakan tadi?" "Entah. Tadi, siauwte persilahkan dia duduk didapur, tapi barusan siauwte lihat tak ada", sahut To Bi Hosiang.

To Gun Hosiang menghela napas. "Sungguh sangat disayangkan kalau dia sudah pergi lagi sebelum aku bertemu dengannya" ujarnya dengan nada menyesal. Dan ia menundukkan kepalanya, matanya kembali ditatapkan kearah pedang Im-yang-kiam yang berada diatas pangkuannya. Kembali suasana diruangan itu dipenuhi kelenggangan yang menentramkan.

Tadi sudah diceritakan bahwa Han Hayhauw dibawa oleh To Bi Hosiang kesitu, dan kemudian pemuda itu pergi kekota Thaygoan sampai akhirnya kembali lagi dan terus pergi mandi dilembah sekalian mencuci pakaian dan tertidur, bahkan ketika Ceng Kunhi dan Kulangcha yang mengejar dan sampai dikuil Lianhoksi, para hwesio itu masih bersembahyang. Memang mereka sedang bersembahyang, akan tetapi disamping upacara sembahyang itu bersamaan mereka mengadakan rapat rahasia pula untuk berunding dan merencakan betapa tindakkan yang mereka harus lakukan sehubungan dengan peristiwa tertangkapnya Tan Kimpo, ketua Tiong gi pay, yang sebagaimana sudah diceritakan dibagian depan, bahwa pemimpin kesatuan rakyat yang gagah perkasa itu menurut pengumuman yang disiarkan dari gubernuran akan dihukum gantung di muka pintu gerbang dari tembok benteng gubernuran pada sore nanti!

Sebagai para pendeta yang berjiwa patriot dan berhati satria, yang mempunyai rasa cinta terhadap bangsa dan negara, dan merupakan badan rahasia yang mendukung perjuangan Tiong gi pay, tentu saja para hwesio penghuni Lianhoksi yang sebenarnya merupakan pendekar-pendekar dari siauwlimpay ini tak dapat tinggal diam menghadapi peristiwa serius dalam masa perjuangan itu! Betapapun juga, mereka harus berusaha membantu perjuangan Tiong gi pay. Mereka bertekad akan merebut kembali Tan Kimpo dari tangan penjajah laknat, meskipun dalam keadaan bagaimanapun, baik pemimpin rakyat itu masih hidup, maupun sudah menjadi mayat! Hanya saja rapat rahasia itu dilakukan secara tertib dan rapi, bahkan diutarakan To Gun Hosiang dengan kata kata sandi dan dinyatakannya melalui irama liankeng sehingga tak mungkin ada orang luar yang mengertinya, kecuali para hwesio itu sendiri. Itulah sebabnya, terdengar dari luar kuil oleh Han Hayhauw tadi, hanya suara liamkeng yang nyaring yang "baca" kan oleh To Gun Hosiang!

Sementara itu, jauh dibawah lembah, dibelakang kuil Lianhoksi, Han Hayhauw sudah terbangun dari tidurnya yang entah berapa lamanya itu. Tahu-tahu pakaian yang dicucinya sudah kering, tanda bahwa ia tidur disitu cukup lama. Dengan ingatan bahwa para hwesio di Lianhoksi kini mungkin sudah selesai sembahyang, maka ia lalu membereskan baju jemuran dan dibuntalnya kembali, kemudian meninggalkan lembah tempat mandi itu dan berjalan mendaki menuju kuil tersebut. Ketika ia memasuki pintu dapur kuil itu, keadaan masih sepi, tak seorangpun hwesio yang kelihatan olehnya hingga timbullah anggapannya bahwa mereka itu masih sedang bersembahyang. Ia lalu duduk dibangku yang diduduki tadi dengan gerakan perlahan karena ia kuatir akan membuat berisik yang dapat mengganggu para hwesio didalam kuil. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar dari dalam kuil suara yang memanggilnya.

"Han Hayhauw hiante, masuklah! Kami sudah lama menantimu."

Hayhauw mengenal bahwa orang yang memanggilnya itu alalah To Bi Hosiang. Ia merasa heraa akan ketajaman pendengaran hwesio itu, yang dapat mengetahui bahwa ia telah datang, padahal ia sudah melakukan gerakan perlahan dan hati-hati. Ketika ia bangkit dari tempat duduknya, pintu kuil dari arah dapur itu terbuka dan ternyata yang membukakannya adalah To Bi Hosiang sendiri, yang lalu mengajaknya memasuki kuil dan terus menuju keruangan sembahyang.

Diruangan itu, Hayhauw melihat para hwesio berdiri menyambutnya. Seorang diantaranya yang paling tua berdiri paling depan, sinar matanya amat tajam ditatapkan terhadapnya. Hayhauw maklum bahwa hwesio yang paling tua ini adalah sesepuh kuil, maka lantas ia memberi hormat sambil berkata.

"Losuhu, maafkanlah atas kedatangan siauwte ini kalau- kalau mengganggu."

To Gun Hosiang merasa tertarik hatinya melihat anak muda yang tampaa dan gagah serta bersikap sopan halus tutur sapanya ini. "Anak muda yang gagah, kaukah yang mengembalikan pedang Im-yang-kiam kepada kami sebagaimana yang dituturkan oleh To Bi Hosiang tadi?"

-o0odwookzo0o-