Pusaka Tongkat Sakti Jilid 1

Jilid 01

PERANG! Istilah yang terdiri dua sukukata ini, adalah suatu hal yang paling mengerikan bagi segenap bangsa- bangsa dimuka bumi ini, terutama bangsa yang cinta damai. Baik besar maupun, perang tetap menimbulkan kerusakan dan kematian, tidak saja membawa kematian bagi dua pihak yang berperang, bahkan rakyat jelatapun yang tidak turut campur dalam peristiwa terkutuk selalu banyak yang menjadi korban secara konyol! Oleh karena itulah, maka apabila terjadi perang rakyat lebih suka menyingkir guna menjauhkan diri dari tempat peperangan itu. Rumah gedung mewah mereka tinggalkan yang terlalu berabe untuk dibawa, yang penting mereka bawa adalah anak-istri mereka dan mereka ini termasuk golongan manusia yang lebih mementingkan keselamatan jiwa daripada harta-benda.

Mereka pergi mengungsi kedaerah pedesaan yang yang letaknya sejauh mungkin dari tempat yang menjadi kancah peperangan. Dan apabila situasi sudah aman kembali, baru mereka kembali ketempat asalnya, akan tetapi tidak jarang mereka dapatkan bahwa rumah mereka sudah hancur menjadi puing dan kalaupun ada juga rumah yang masih utuh, sudah dapat dipastikan dari sebelumnya bahwa isi rumah mereka sudah kosong melompong! Kecuali orang-orang hartawan yang merasa berat meninggalkan rumah dan mereka lebih merasa puas mati-hidup berdiam dirumah sendiri, dan mereka ini termasuk golongan manusia yang lebih menyayangi harta- benda daripada nyawa! Padahal dimanakah perang yang tidak manimbulkan korban? Umumnya pihak rakyatlah lebih banyak menjadi korban daripada pasukan-pasukan yang berperang!

Kota Thaygoan yang besar dan padat perumahannya pada waktu cerita ini terjadi, dapat dikatakan hampir setengah bagian sudah menjadi hancur, dirusak dan dibumihanguskan oleh kaum pemberontak dari kesatuan Tiong-gi-pay. Rumah- rumah yang porak-poranda dan menjadi tumpukan puing itu sebagian besar milik okpa atau hartawan jahat yang sangat dibenci dan menjadi musuh rakyat jelata, disebabkan mentalitas mereka melebihi kebrutalan kaum penjajah dan kebanyakan dari mereka inilah yang menjadi antek pihak imperialis!

Sudah berkali-kali kota Thaygoan ini diranjang oleh kesatuan Tiong-gi-pay, mula-mula kesatuan melakukan penyerbuan pada waktu malam, akan tetapi makin lama ternyata makin berani sehingga waktu siang haripun tak jarang pertempuran-pertempuran terjadi didalam kota! Hanya saja usaha dari kesatuan Tiong-gi-pay ini hendak merebut kota Thaygoan dari kekuasaan penjajah sampai begitu jauh masih belum berhasil karena kenyataannya bala tentara Mongol yang menduduki kota tersebut dan sekaligus melindungi Congtok atau Gubernur yang menjadi kepala kota memang sangat kuat. Apalagi gedung kediaman gubernur sekitarnya dilindungi oleh tembok benteng yang tinggi serta tebal dan dijaga kuat oleh pasukan kerajaan sehingga karenanya sukarlah bagi kesatuan Tiong-gi-pay untuk mendekatinya, apalagi untuk merebut!

Gubernur kota Thaygoan bernama Lo Binkong atau Lazimnya disebut Lo Congtok Tayjin (Tuan besar Gubernur Lo). Dilihat dari namanya mudah diketahui bahwa gubernur ini adalah bangsa Han (Tionghoa), memanglah dia adalah bangsa Han munafik! Lo Congtok baru dua tahun lebih menjabat dikota Thay-goan akan tetapi sebelum ia merasa puas dengan kekuasaannya selaku gubernur yang sewenang-wenang, yaitu menindas memeras rakyat yang hasilnya sebagian diserahkan kepada pemerintah penjajah yang dipertuannya, dan sebagian lagi dikorupsi untuk menambah kekayaan pribadi, maka meletuslah pemberontakan dimana-mana sebagai aksi revolusi rakyat jelata dan bangsa Han sejati, sehingga oleh karena itu, secara langsung kedudukan dan jiwa Lo Congtok jadi terancam! Ternyata Gubernur she Lo ini adalah seorang yang tidak mau menyadari gejala bahwa pemerintah penjajah yang dipertuannya sudah mendekati keambrukannya, bahkan dia menjadi marah sekali terhadap pergerakan rakyat yang dianggapnya sebagai gerombolan pengacau itu maka sesuai dengan instruksi kaisar, gubernur ini menginstruksikan pula perwira pelindungnya supaya mengerahkan seluruh bala tentaranya guna menumpas aksi pergerakan rakyat yang makin hari makin berkobar itu! Itulah sebabnya mengapa kesatuan Tiong-gi-pay sampai sebegitu jauh masih belum berhasil merebut kota Thaygoan, mereka selalu dipukul mundur oleh pasukan kerajaan yang dipimpin oleh perwira- perwira berkepandaian tinggi meninggalkan banyak kawan mereka yang terluka atau tewas. Akan tetapi sebaliknya karena ternyata bahwa kesatuan Tiong-gi-pay itu dipimpin oleh orang-orang lihay, maka korban yang jatuh dipihak pasukan penjajah banyak juga.

Sarang yang menjadi pusat Tiong-gi-pay sungguh sukar diketemukan walaupun pasukan penjajah berkali-kali sudah melakukan pengejaran dan beroperasi kedesa-desa atau kehutan-hutan, maka sebagai pelampias kemarahannya, pasukan penjajah lalu main hantam kromo, dibakarnya rumah- rumah penduduk sesudah isi rumah-rumah tersebut mereka mutasi, setiap penduduk yang menurut pandangan mereka mencurigai ditangkap, dibunuh atau dihukum gantung tanpa diperiksa terlebih dahulu apalagi diadili! Hal ini tentu saja menimbulkan rasa penasaran dan marah bagi pihak rakyat, terutama bagi Tiong-gi-pay.

Hari itu kota Thaygoan yang hampir separuhnya sudah hancur dan biasanya sepi sejak timbulnya kegentinya, suasananya tampak lebih sepi dari hari-hari sebelumnya. Para penduduk yang sebagian besar memang sudah pergi mengungsi sedang yang masih ada juga merasa enggan keluar rumah sehingga keadaan kota benar-benar seperti sudah kosong tanpa penghuni. Hanya saja menunjukkan kota itu belum mati, sama sekali ialah rombongan-rombongan pasukan Mongol yang hilir mudik melakukan patroli dan penjagaan. Adapun yang menjadi sebab keengganan sisa para penduduk untuk keluar rumah pada hari itu bukan dikarenakan oleh teriknya sinar matahari dimusim yang seakan membakar segala sesuatu yang terdapat dipermukaan bumi melainkan justru ada suatu peristiwa hebat yang membuat mereka merasa lebih selamat tidak keluar rumah, dari pada mereka dijadikan sasaran tak karuan oleh pihak pasukan Mongol yang sok bertindak membabi buta!

Persoalannya adalah peristiwa yang terjadi waktu semalam, bahwa berkat kegiatan mata-mata telah berhasil menemukan tempat persembunyian kepala kesatuan Tiong-gi-pay didusun In-lu-chun yang terletak jauh disebelah utara kota Thaygoan. Pay Cu (ketua kesatuan) dari Tiong-gi-pay itu bernama Tan Kimpo, berusia empat puluh lima tahun dan ia adalah seorang bekas kauwsu (guru silat) yang namanya cukup terkenal dikota Thaygoan karena ilmu silatnya tinggi dan banyak anak muridnya.

Tan Kimpo adalah seorang penduduk asli kota Thaygoan, ia pernah mengecap hidup bahagia bersama istri dan seorang putrinya yang sudah meningkat dewasa dan berwajah cantik. Ia membuka bukan atau pergi urusan silat sehingga banyak pemuda dikota Thay-goan yang berguru padanya. Tentu saja dengan mudah dapat dimengerti bahwa banyak para pemuda yang berguru kepada guru silat she Tan ini bukan saja disebabkan Tan Kimpo memiliki ilmu silat bukan dari tingkat rendah, melainkan yang menjadi sebab utama bagi para pemuda yang menjadi anak muridnya itu adalah mereka tertarik oleh anak daranya yan cantik dan juga pandai bersilat itu.

Belakangan Tan Kimpo merasakan hidupnya dikota Thay- goan kurang aman, karena selain ia selalu diawasi oleh pihak penjajah, juga secara terang-terangan ia pernah didatangi beberapa orang dari bala tentara Mongol yang melamar putrinya. Tentu saja bagi seorang yang tidak berjiwa bunglon seperti Tan Kimpo hal tersebut sangat tidak menyenangkan, maka dengan diam-diam tanpa memberitahukan kepada anak muridnya lalu bersama istri dan putri meninggalkan kota Thaygoan dan kemudian menetap disebuah dusun kecil yang jauh letaknya dari kota, yaitu dusun In-lu-chun dimana ini menurut penghidupan sebagai petani. Kemudian meletuskan revolusi dan berkorban dimana-mana, maka sebagai seorang yang berjiwa patriot Tan Kimpo lalu membentuk kesatuan Tiong-gi-pay yang banyak mendapat dukungan dari kalangan rakyat jelata terutama petani dan oleh para pendukungnya ia diangkat sebagai ketua dari kesatuan itu. Kedudukan Tiong-gi- pay makin menjadi bertambah kuat karena ada berapa orang pendekar perantau bermunculan dan mengintegrasikan diri kedalam pergerakan yang revolusioner ini serta ditambah lagi oleh sebagian bekas para anak murid Tan Kimpo yang datang mengungsi kedusun tersebut sehingga dengan demikian kesatuan ini sudah berkali-kali melakukan penyerbuan secara gagah berani yang membuat pasukan penjajah dikota Thaygoan benar-benar repot!

Malam itu kebetulan sekali Tan Kimpo merasakan kurang sehat badan dan ia bermalam dirumahnya dengan dijaga oleh isterinya Tan Lian-Giok, putrinya itu. Sedangkan biasanya jarang sekali Tan Kimpo menginap dirumahnya ia selalu bersembunyi bersama teman-temannya disebuah tempat yang dirahasiakan dimana dibuat perkemahan sementara, yaitu dalam sebuah hutan yang cukup angker terletak disebelah timur dari dusun In-lu-chun. Hal ini untuk menghindari penyelidikan dari pihak pasukan penjajah dan itulah sebabnya mengapa pihak penjajah sampai begitu jauh tidak berhasil menemukan markas Tiong-gi-pay. Agaknya malam itu merupakan malam naas bagi Tan Kimpo, karena secara diluar perhitungannya yang biasa cermat, pada waktu dinihari hampir menjelang subuh tiba-tiba rumahnya digerebek oleh sepasukan tentara Mongol yang dikepalai seorang perwira.

Perwira itu memang sudah mengenal Tan Kimpo sewaktu guru silat ini tinggal di Thay-goan dan ia pernah mendengar bahwa yang menjadi kepala gerombolan Tiong-gi-pay adalah bekas guru silat itu sehingga ia tidak salah tangkap. Dalam penyergapan kilat itu, Tan Kimpo berhasil ditawan hidup-hidup dalam keadaan tak berdaya karena ia sedang sakit, istrinya mati seketika dibawah bacokan golok seorang prajurit Mongol, sedangkan Tian-giok berhasil melarikan diri dan menghilang digelapan malam setelah dara itu berhasil membobolkan kepungan pasukan Mongol dengan ilmu pedangnya yang hebat sehingga tujuh orang prajurit roboh mandi darah dibuatnya. Kedua tangan Tan Kimpo dibelenggu kebelakang dan mulutnya disumbat lalu dibawa pergi oleh pasukan itu dengan jalan setengah diseret disertai pukulan dan tendangan dari belakangnya.

Ternyata pasukan tersebut setelah operasinya berhasil, mereka pergi dengan segera karena betapapun juga mereka merasa merasa khawatir kalau-kalau gerombolan Tiong-gi-pay melakukan pengejaran. Digubernuran atau dapat juga disebut markas pasukan Mongol dikota Thaygoan malam itu juga Tan Kimpo dikompres, disiksa dengan aneka macam kekejaman, akan tetapi Tan Kimpo bukanlah seorang pengecut, ia lebih rela mati dari pada mesti membocorkan rahasia kesatuannya. Oleh karena itu, pihak penjajah segera mengambil keputusan untuk menghukum gantung pemimpin Tiong-gi-pay itu.

Begitulah, putusan itu segera diumumkan keseluruh penduduk kota melalui teriak-teriakan mulut para prajurit, bahwa pemimpin gerombolan Tiong-gi-pay telah ditangkap dan akan dihukum gantung dimuka pintu gerbang gubernuran nanti sore. Para penduduk yang sedikitnya mengetahui bahwa mereka adalah bangsa Han menjadi terharu dan berduka mendengar pengumuman ini. Mereka maklum bahwa Tan Kimpo adalah seorang pemimpin barisan rakyat yang gagah perkasa dan dalam masa berkecamuknya revolusi Tan Kimpo dapat disebut seorang tokoh pembela tanah air dan bangsa yang patut dipuji dan dihormati.

Akan tetapi sekarang ia terjatuh kedalam tangan penjajah berkuasa, apakah daya orang-orang lain? Akan tetapi semua orang maklum bahwa tertangkapnya pemimpin barisan rakyat she Tan itu tak kan berakhir begitu saja. Para orang gagah yang menjadi kawan Tan Kimpo tentu takkan tinggal berpeluk tangan. Pasti akan terjadi hal-hal yang hebat, pikir mereka, maka oleh karena itu mereka merasa lebih aman pada hari itu tidak keluar rumah sambil menanti datangnya saat hukuman itu dengan hati berdebar. Itulah sebabnya seperti yang diterangkan tadi, pada hari itu kota Thaygoan menjadi sunyi bagaikan kosong tanpa penghuni.

Akan tetapi ketika menjelang tengah hari dan para prajurit yang sedang bertugas menjadi keamanan sedang berteduh diemper-emper rumah untuk berlindung dari terik sinar matahari yang terasa benar-benar membakar tubuh mereka, tiba-tiba dari arah barat jalan raya kelihatan seorang pengemis muda berjalan mendatangi sambil tongkat besi yang dipegangnya sebentar-sebentar dipukul-pukulkan kesetiap butiran batu-batu koral yang terdapat diatas jalan yang dilaluinya.

Kedatangan pengemis muda ini sangat menarik perhatian para prajurit petugas tadi, karena dikala para penduduk tiada kelihatan keluar rumah, sedangkan pengemis muda itu berjalan seenaknya memasuki kota dan agaknya hendak terus berjalan memasuki pintu gerbang benteng kegubernuran, seakan-akan tidak menyadari kepentingan suasana pada hari itu, sehingga tentu saja para prajurit petugas segera menaruh curiga terhadapnya. Apalagi ketika pengemis muda itu melewati sekelompok prajurit yang sedang berteduh didepan sebuah rumah gedung besar, bukan saja seakan-akan ia tidak melihat para prajurit yang biasanya dihormati dan ditakuti penduduk, bahkan sambil tongkatnya dipukul-pukulkan terus kepada batu koral seperti tadi, terdengarlah ia memaki-maki seorang diri dengan suaranya yang nyaring dan lantang.

“Huh! Bedebah! Banyak benar batu-batu tak berguna ini menghalangi langkah kakiku, maka sudah sepatutnya kuganyang dengan tongkatku ini! He-he-he-he ”

selanjutnya ia ketawa terkekeh-kekeh seolah-olah apa yang dilakukannya itu amat menggelikan hatinya.

“Ah! Kiranya gembel sinting!” .... terdengar salah seorang prajurit mengomel seorang diri, lalu mulutnya dibuka lebar- lebar untuk melepaskan kuap sambil punggungnya disenderkan kedinding gedung. Baginya pengemis itu tak perlu diperhatikan karena memang itu tak perlu diperhatikan karena memang pada masa itu bukan sedikit pengemis-pengemis bergelandangan sambil mengorek-ngorek tempat sampah mencari kalau-kalau masih terdapat makanan guna mengisi perut mereka sehingga sudah menjadi pemandangan umum dan tak perlu diambil perhatian apalagi pengemis gila semacam gila pemuda pemukul batu itu, apanyakah yang harus diperhatikan?

Sementara para prajurit yang lainnya dalam kelompok itu agaknya sependapat dengan anggapan prajurit yang mengomel tadi, bahwa sipengemis gila itu tiada tugas sangkut pautnya dengan kewaspadaan yang menjadi tugas mereka. Hanya saja pandangan mereka mau tak mau terus mengikuti setiap gerak gerik sipengemis yang mereka anggap lucu itu dan apabila pengemis itu ketawa terkekeh-kekeh seperti ada yang menggelikan hatinya, maka secara otomatis para prajurit itu jadi turut ketawa juga. Memanglah ketawa itu adalah suatu hal yang mudah menular, kalau seorang maka melihat orang lain ketawa dengan penuh kegelian, maka mau tak mau dengan sendirinya pasti ia akan turut ketawa juga, sungguhpun ia sama sekali tidak mengetahui bahwa apa yang ditertawakan orang itu.

Sementara itu sipengemis masih tetap dengan tawanya yang haha-hehe kemudian ketawanya berhenti dan kini mulutnya bersungut-sungut dan sedetik kemudian lalu terdengar ia mengacobelo pula dengan suaranya yang lebih nyaring serta lantang sehingga jelas terdengar bagi telinga para prajurit yang masih menertawainya.

“Huh! Sialan benar! Dasar sifat alam memang aneh! Apa yang diharapkan tak mudah berwujud, yang maksud dicari, sulit dijumpai! Seperti halnya batu-batu koral yang tak berguna ini, tak kucari, tapi selalu kujumpai sepanjang jalan. Padahal yang kucari yah, sudah lama kucari, yang sampai kini belum juga kujumpai, ialah ... sibatu juling hijau! Yah, sudah lama kucari, yang sampai kini belum juga kujumpai, ialah ... sibatu juling hijau! Yah, sibatu juling hijau, musuh besarku yang akan kuhajar dengan tongkatku ini! ”

Sambil mengucapkan kata-katanya yang terakhir itu, tongkat diacungkan kedepan dan sambil berjalan langkah kedua kakinya dibanting-banting seakan-akan meniru langkah kaki para prajurit yang sedang berbaris itu.

Para prajurit yang melihat lagaknya makin terpingkal- pingkal tertawa. Betapa tidak! Bukankah lagak pengemis sinting itu sangat mirip dengan gaya seorang kepala barisan tengah memberi hormat terhadap jendral yang memeriksanya? setelah melangkah tegap kira kira lima tindak, tiba-tiba pengemis itu berhenti dan cara menghentikan langkahnya pun persis seperti gaya seorang prajurit yang mendapat komando. Tongkatnyapun ditundukkan kebawah sambil ia bercelingukan kekanan kiri dan tiba-tiba mulutnya bersungut pula serta kedua matanya mendelik ketika dilihatnya sebuah patung singa-singaan yang biasa dijadikan pajangan muka rumah-rumah di Tiongkok, patung berbentuk singa itu cukup besar dan terbikin dari bat hidup berwarna hitam.

Untuk sejenak ia memandang patung singa itu dengan matanya dipicingkan lalu dihampirinya dekat-dekat seraya terus dipandangnya, kepalanya dimiringkannya kekanan dan kekiri seakan-akan layak seorang ahli sedang menilai mutu pahatan patung tersebut. Kemudian mulutnya yang tadi bersungut-sungut lalu menyeringai, menyamai menyeringainya mulutnya singaan itu yang justru seperti sedang menyeringai terhadapnya!

Adapun para prajurit yang melihatnya dari kejauhan, juga ketularan menyeringai. Kemudian mimik pengemis gila itu tiba-tiba berubah. Wajahnya membayangkan kemarahan hebat serta seiring dengan mana, tongkat ditangan kanannya tampak bergerak cepat sekali. Tahu-tahu patung singaan itu telah jadi pecah berantakan bagaikan dihantam oleh sebuah martil raksasa!

”Haha! Hahaha! ...” sipengemis ketawa bergelagak dan lalu dilanjutkan dengan ocehan ... , ”Singaan besar dan terbuat dari batu sekeras ini pun tak kuasa menahan keampuhan tongkat jimatku! Sangat ingin kucoba kekerasan kepala sijuling Batu-hijau dapat kah ia menahan kehebatan tongkatku ini?! Ah ... pasti kepala sijuling Batu-hijau itu sangat empuk melebihi tahu busuk! ...”

Selanjutnya ia ketawa pula. Ketawa menantang. Baru kinilah para prajurit memusatkan perhatian sepenuhnya terhadap sigila itu bersamaan datangnya perasaan terkejut, heran dan kagum dihati mereka. Betapa tidak, hanya dengan sekali pukulan saja, dan cara pukulan tongkat itu luar biasa sekali sehingga diluar dugaan mereka, sigila dapat menghancurkan patung singaan itu. Mereka mengakui bahwa mereka sendiri tak mungkin mampu membuat singa-singaan itu hancur sedemikian rupa walaupun menggunakan martil besar dengan sepuluh kali pukulan, apalagi hanya mempergunakan sebatang tongkat dengan sekali pukul!

Dilihat dari fakta ini segera mereka menarik kesimpulan bahwa pengemis yang tadi mereka kurang acuhkan itu ternyata bukan sembarang pengemis dan sekaligus mereka beranggapan bahwa sipengemis itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan kedatangannya sudah dapat dipastikan bukan tidak membawa maksud tertentu maka jelaslah sudah pengemis itu menjadi tugas mereka untuk diperiksa dan jika perlu mesti diambil tindakan sesuai dengan peraturan keadaan bahaya!

Maka serempak mereka beranjak dari tempat masing- masing sambil mempersiapkan senjata mereka, akan tetapi sebelum mereka ini mereka dapat bertindak lebih lanjut, telah didahului oleh berkelabatnya sesosok tubuh seseorang yang menghampiri sipengemis yang masih ketawa bergelak-gelak itu. Mereka segera maklum bahwa orang yang memiliki gerakan gesit itu adalah komandan mereka yaitu seorang perwira berumur hampir empat puluh tahun bernama Ho Likiat, seorang komandan yang sangat ditakuti oleh para prajurit karena selain tinggi ilmu silatnya, juga amat galak!

Adapun sigila itu masih terus ketawa seakan ia tidak sadar bahwa kini didekatnya telah berdiri seorang keamanan yang bertolak pinggang dengan sikapnya yang amat garang. Akhirnya ia jadi tersentak kaget dan ketawanya dihentikan ketika mendengar komandan itu membentak dengan suara menggeledek.

“Hei! Jempel cilik! Siapa yang kau maksudkan sijuling Batu- hijau tadi! Dan apa maksudmu datang kemari!?”

Ternyata yang menarik perhatian Ho Likiat bukanlah ilmu pukulan tongkat sipengemis yang hebat tadi, melainkan adalah karena ia mendengar kata-kata dari sipengemis tentang “sijuling batu hijau empuk melebihi tahu busuk,” yang membuatnya marah sekali. Dengan kepala dimiringkan kesebelah kanan dan sepasang matanya dikedip-kedipkan beberapa kali pengemis itu menatapi Ho Likiat sampai seketika lamanya, mula-mula ditatapnya topi perwira itu yang berkucungan seutas bulu dari sayap burung garuda berwarna putih, lalu wajahnya yang bermata besar melotot dan berkumis baplang sehingga wajah itu kelihatan menakutkan.

Pendeknya ia meneliti segala sesuatu yang terdapat ditubuh perwira itu yaitu dari topi wajah, pakaian perang sama sepatu yang dikenakan oleh Ho Likiat. Bahkan senjata perwira ini, berupa tombak pendek yang ujungnya bercagak yang bergantung dikanan kiri pinggangnya, tak luput dari mata penilaiannya sementara itu Ho Likiat sendiripun diam-diam mengawasi keadaan sipengemis, yang rambutnya gondrong dan riap-riapan dibelakang tenguknya, wajahnya dekil dilapisi daki sedikit, pakaian penuh tambalan tambalan yang menutupi tubuhnya, sedangkan sepatunya terbuat dari anyaman rumput.

Adapun yang sangat menarik perhatian perwira ini, ialah sepasang mata sipengemis muda yang menurut taksirannya berumur kurang lebih delapan belas tahun itu. Begitu tajam seakan akan dapat menembus segala sesuatu yang dipandangnya. Berbeda sekali dengan umumnya mata orang- orang gila yang biasanya bergerak liar dan beringas, mata pengemis sedikitpun tidak menunjukkan bahwa ia gila!

’Hm tentu ia pura-pura gila’, pikirnya. Dan Ho Likiat melangkah maju dua tindak mendekat sipengemis sikapnya penuh ancaman karena sesungguhnya ia sudah merasa tak sabar lagi melihat sikap pengemis itu yang seakan-akan menilai dirinya sedangkan pertanyaan yang diajukan tadi, masih belum dijawab.

Melihat perwira itu mendekati dua langkah maka sipengemis membuat imbalan iapun mundur dua langkah kebelakang sambil ketawa haha hehe. ”Setan alas! Kau tidak mau, segera menjawab pertanyaanku?”, Ho Likiat sambil tangan meraba gagang senjatanya.

”Aduh, galaknya ... !” kata pengemis itu sambil tersenyum sindir. Lalu sikapnya jadi bersungguh tatkala ia meneruskan ucapannya.

”Baiklah aku segera menjawab! Tadi kau mengajukan dua pertanyaan sekaligus maka akan kujawab sekaligus pula dua pertanyaanmu itu: Nah, dengarlah! Aku datang kemari sengaja bermaksud mencari sijuling Batu hijau atau tegasnya seorang she Tjeng (hijau) dan namanya, kalau kini tidak diganti, ialah… Kunhi…!”

Tiba-tiba Likiat menyalak dengan bentaknya: “Apakah hubunganmu dengan Tjeng Kunhi?”

Melihat sikap marah dari perwira itu sipengemis jadi berseri

“Manusia keparat she Tjeng itu mempunyai hubungan rapat dengan tongkatku ini yang akan menggemplang kepalanya!”

“Bagus! Nyata kau adalah musuh Tjeng Hunciangkun (panglima muda Tjeng)! Maka, sebagai musuh beliau dan kekurangajaranmu berani menghinanya, kau harus ditangkap!” kata-kata ini dibarengi tangan kanannya bergerak cepat hendak mencengkram pundak pengemis itu.

Dugaan Ho Likiat memang tidak salah, bahwa pengemis muda itu sama sekali tidak gila, melainkan ia pura-pura gila sebagai siasat dari maksud yang dikandungnya, yaitu mencari Tjeng Kunhi. Pengemis itu sebagai pengemis tetiron, adalah seorang pendekar muda bernama Han Hayhauw.

Ketika melihat betapa perwira itu tiba-tiba mengirim serangan dengan suatu cengkraman yang mengarah pundaknya, maka Han Hayhauw menyambutnya dengan sikap amat tenang. Memang penyerangan dari Ho Likiat itu cepat sekali datangnya, namun Han Hayhauw tidak kalah cepat, sehingga nyelonong melalui sampingnya dan jatuh dalam keadaan tubuh tersungkur. Demikian hebat dan cepat luar biasa gerakan yang dilakukan Han Hayhauw sehingga tak dapat diikuti oleh mata para prajurit yang melihatnya.

Sebenarnya pemuda itu hanya melakukan gerakan sederhana saja, yaitu tangan kirinya dengan jari-jari tangan terbuka menyambut datangnya lengan Ho Likiat dan pergelangan tangan perwira ini ditangkapnya yang lalu digentakkan kebelakang sambil kaki kirinya dihadangkan kekaki lawannya, maka tak ampun lagi tubuh Ho Likiat jadi terpelanting dan hampir saja hidungnya mencium pecahan batu dari singa-singaan tadi kalau tidak ia cepat-cepat membuat gerakan membalik sehingga hanya pundaknya saja yang menimpa batu sehingga mendapat luka dan berdarah.

Para prajurit yang menjadi anak buah Ho Likiat terkejut dan marah ketika melihat komandan mereka yang mereka kenal akan kehebatan ilmu silatnya telah disungkurkan oleh pengemis itu secara begitu mudah. Serentak mereka maju hendak mengeroyok akan tetapi mereka tidak berani bertindak sembarangan dan hanya mengambil posisi mengepung saja ketika mereka melihat bahwa sikomandan itu sudah berdiri pula dan kembali menyerang dengan menggunakan tombak bercagaknya.

Ho Likiat sebenarnya memiliki ilmu silat yang cukup lumayan, terutama permainan siangkeknya (sepasang tombak bercagak) yang menjadi andalannya. Memang harus dipuji, sebelum ia menghambakan dirinya kedalam pasukan penjajah, pernah menjabat kedudukan selaku kepala rampok dan ilmu siang-keknya cukup terkenal dikalangan lioklim (rimba hijau) sehingga banyak korban yang menjadi mangsanya. Dan dalam ketentaraan penjajah, setelah diuji ternyata Ho Likiat hanya diberi pangkat seutas buku garuda putih ditopinya, yaitu sebagai perwira tingkat lima alias perwira rendahan yang mendapat kepercayaan menjadi komandan dari dua puluh lima orang prajurit. Komandan yang berwatak galak ini terlampau memandang rendah terhadap Han Hayhauw, kalau tidak, belum tentu ia dapat disungkurkan semudah itu.

Peristiwa yang terjadi hanya dalam beberapa detik itu sungguh membuatnya marah dan malu, apalagi justru terjadi didepan anak buahnya. Maka pada detik berikutnya, dengan muka merah karena marah dan malu serta meringis menahan rasa sakit dipundaknya yang menghantam batu tadi, juga kini maklum bahwa pengemis yang semula dipandang remahitu ternyata mempunyai kepandaian yang tak boleh dibuat gegabah.

Ho Likiat segera bangun dan dalam sekali saja sepasang senjatanya sudah berada di kedua tangannya, sambil loncat menubruk ia langsung mengirim serangan dengan gerak tipu Ci-thian-wa-tee atau menusuk langit menggores bumi. Tombak cagak ditangan kirinya kearah tenggorokan dan senjata sejenis ditangan kanan disodokkan kearah lambung pemuda itu. Biasanya, setiap lawan yang menghadapi serangan semacam itu, tentu akan berkelit kesamping atau loncat kebelakang dan biasanya Ho Likiat memburu sambil melancarkan serangan yang mematikan. Dengan menggunakan gerak tipu semacam inilah Ho Likiat hampir selalu berhasil menjatuhkan lawannya dalam segebrakan.

Akan tetapi kini perwira bekas kepala perampok itu ternyata ketemu batunya. Bukan saja Han Hayhauw tidak berkelit maupun meloncat untuk menghindarkan diri dari serangan itu bahkan dengan tenang-tenang saja ia berdiam diri seakan-akan membiarkan dirinya dipanggang oleh sepasang senjata berujung runcing itu.

Hal ini sangat menggirangkan hati Ho Likiat oleh karena setelah tadi ia gulingkan hanya dalam segebrakan, kini ia merasa pasti akan memampuskan pengemis itu dalam segebrakan pula. “Mampuslah engkau .... !” serunya sambil meneruskan serangannya dengan penuh tenaga. Akan tetapi seruannya disusul oleh suara teriakan kaget ketika tiba-tiba dan secara luar biasa sekali pemuda itu menggerakkan tongkatnya yang sekaligus menangkis sepasang siangkeknya. Ho Likiat merasakan tongkat sipengemis yang membentur sepasang senjatanya mengandung tenaga yang kuat luar biasa tanda bahwa benturan itu disertai tenaga dalam atau iwekang yang sangat tinggi sehingga membuat kedua telapaknya yang mencengkal gagang siangkek terasa amat sakit dan pedas serta otomatis menyebabkan sepasang lengannya seakan- akan menjadi lumpuh secara mendadak sehingga tanpa disadarinya sepasang siangkeknya seketika itu juga telah terlepas dari pegangannya dan diterbangkan oleh tongkat Han Hayhauw yang digerakkan dari bawah menyabet keatas!

Cepat-cepat Ho Likiat membuat gerakan Yancu sia hui (Burung walet terbang menyamping) yaitu tubuhnya berjungkir balik tiga kali kesamping. Ia melakukan gerakan ini karena ia kuatir kalau pengemis lawannya itu akan mengirim serangan susulan, maka lebih baik menyelamatkan diri sebelum serangan datang, pikirnya. Akan tetapi, ketika ia berdiri pula ditempat sejauh lima tombak dari tempatnya semula dan memandang kepada lawannya, ternyata pemuda itu sama sekali tidak mengejarnya, melainkan hanya berdiri saja tanpa memindahkan kakinya setapakpun, sambil ketawa terkekeh-kekeh mengojeknya.

Kejadian ini benar-benar membuat hati Ho Likiat mendongkol dan panas seakan-akan dibakar ia merasa dipermainkan dan diejek. Sepanjang jalan pengalaman yang pernah ia lakoni belum pernah jadi permainan dan diejek sedemikian rupa yang berarti suatu penghinaan baginya. Kini ia menerima penghinaan dari seorang pemuda jembel, dan disaksikan oleh semua para anak buahnya yang menonton disekitarnya, dapat dibayangkan betapa malu dan marahnya! Namun kini ia tak dapat berbuat sesuatu karena sadar bahwa pengemis itu bukan merupakan lawannya, hanya berdiri saja sambil meringis menahan rasa ngilu yang melumpuhkan kedua lengan tangannya!

Ketika itu tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan Ho Likiat menunjukkan wajah girang oleh karena ternyata kawan- kawannya berdatangan. Jumlah prajurit yang mengitarinya bertambah banyak dan kini tahu-tahu Han Hayhauw sudah dihadapi oleh empat orang perwira dan pada topi mereka masing-masing tampak seutas bulu garuda yang berwarna hijau, biru, merah, dan kuning. Han Hayhauw berlaku waspada dan ketika melihat kini ia berhadapan dengan empat perwira yang berdatangan dalam waktu lama, maklum bahwa tentu ia akan keroyok.

Ternyata bahwa yang datang adalah perwira-perwira tingkat empat, tiga, dua, dan satu. Sikap mereka sangat gagah dan garang, dilaiha dari gerak-geriknya mencerminkan bahwa mereka rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi!

Benar-benar kini Han Hayhauw menghadapi lawan-lawan tangguh dan sekitarnya dikurung oleh benteng prajurit, sehingga sulitlah baginya untuk meloloskan diri. Akan tetapi pemuda ini sungguh memiliki ketabahan hati yang luar biasa, tenang-tenang saja ia berdiri sambil sepasang matanya yang tajam menghadapi wajah-wajah para perwira yang bersikap mengancam itu, agaknya ia sedang mencari orang yang dicarinya, yaitu Ceng Kunhi, kalau-kalau terdapat diantara mereka. Tapi yang dicarinya itu ternyata tidak kelihatan, sehingga hati pemuda in merasa agak kecewa. Hanya saja kekecewaan hatinya tidak diperhatikan, bahkan dihatinya menyunggingkan senyuman ramah.

“Cuwi Lauwko atau saudara tua sekalian! Jembel ini memancing keributan. Ia menghina ceng Huciangkun!” demikian Ho Likiat memberi laporan kepada empat perwira itu sambil memungut siangkeknya yang menggeletak ditanah. Perwira tingkat satu, yaitu yang mengenakan tanda bulu garuda berwarna kuning pada topinya, adalah seorang kakek yang sudah lanjut usianya. Tubuhnya kurus kering dan punggungnya yang sedikit bungkuk membuat ia kelihatan seperti seorang kakek yang sudah loyo, ternyata yang dipegangnya adalah sebatang tongkat hitam yang salah satu ujungnya berbentuk kepala naga. Tongkat tersebut ditekan lurus ketanah seakan-akan menunjang tubuh yang kelihatan seperti hendak roboh kedepan. Kalau saja ia tidak mengenakan pakaian seragam perwira tentu orang akan menyangka bahwa ia hanya seorang kakek lemah yang hampir mampus. Kulit mukanya kerut merut tapi sepasang matanya yang sipit bersinar sangat tajam dan ditatapkan kepada Han Hayhauw dengan pandangan penuh selidik. Dan mulutnya yang ompong terdengar mengeluarkan suara ketika ia bertanya

“Enghiong ini siapakah dan dari golongan mana? Harap sudi memperkenalkan diri agar tidak sampai timbul salah paham diantara orang-orang segolongan”.

Sikap perwira tingkat satu ini berbeda amat jauh dengan sikap perwira tingkat lima tadi yang kasar. Memanglah sudah menjadi kebiasaan umum bahwa orang yang berpangkat tinggi bersikap sopan dan merendah dan sedangkan orang yang berpangkat rendah rendah sama sekali memperlihatkan kesombongannya dan bersikap galak.

Melihat sikap kakek itu yang wajar dan mendengar kata katanya yang sopan, Han Hayhauw tidak berani kurang ajar bagaimana sikap yang ia tunjukkan terhadap Ho Likiat tadi ia cepat memberi hormat dan menjawab dengan suara rendah,

”Locianpwe ada orang tua yang gagah, mohon siauwte diberi maaf sebanyaknya. Sesungguhnya siauwte tidak mencari keributan, apalagi ribut dengan alat negara yang berkuasa seperti kawan Locianpwe tadi, benar-benar siauwte tidak berani lakukan. Siauwte hanya seorang pelancong biasa saja dan bukan anggota dari golongan mana. Siauwte sedang mencari seorang bernama Ceng Kunhi dengan siapa siauwte mempunyai urusan pribadi yang hendak dibereskan tetapi kawan Locianpwe tadi menyerangku, maka tiada jalan lain bagi siauwte kecuali membela diri. Harap Locianpwe maklum serta maafkanlah siauwte dan siauwte yang rendah ini akan sangat berterimakasih apabila Locianpwe sudi memberi keterangan dimana adanya Ceng Kunhi yang siauwte cari itu, terang saja kalau Locianpwe tahu dan mengenalnya”.

Mendengar pemuda berpakaian pengemis itu tidak mau menyebutkan nama, malah bicara panjang lebar dan mengutarakan maksudnya sedang hal ini tidak ditanyakannya, maka perwira tua tingkat satu itu memperlihatkan air muka tidak senang.

“Hm, apakah engkau orang muda merasa terlalu tinggi untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu? Kalau demikian, biarlah aku memperkenalkan diriku. Ketahuilah, aku ini adalah Ma Inliang atau kalangan kangouw lebih terkenal dengan gelar Liong-thauw-tung (si Tongkat kepala naga), perwira tinggi dalam pasukan Garuda penjaga kota Thay goan. Nah, sepantasnyalah kalau sekarang kau memberitahukan namamu.”

Akan tetapi hati kakek ini jadi sangat mendongkol dan marah ketika mendengar jawaban dari pemuda itu.

“Terhadap Locianpwe, sudah selayaknya siauwte yang rendah menaruh hormat akan kedudukan Locianpwe selaku perwira tinggi dalam pasukan Garuda! Akan tetapi, siauwte merasa kurang perlu memperkenalkan nama mengingat keuntungan apakah bagi Locianpwe sekalipun mengetahui nama dari seorang jembel hina seperti siauwte ini? Terkecuali kalau dengan Ceng Kunhi, barangkali nama siawte ini merupakan hal yang penting.”

“Hm! Orang muda sombong, kau demikian memandang rendah terhadapku. Apakah namamu terlalu agung sehingga hanya berlaku bagi Ceng Huciangkun saja?! Akhirnya si Tongkat kepala naga membentak saking tak kuasa menguasai rasa mendongkol dan kemarahannya yang menyesaki dadanya. Tongkat kepala naganya ditodongkan kepada Han Hayhauw dan ditatapnya pemuda itu dengan sinar mata berapi-api. Sementara Han Hayhauw juga sudah siap siaga. Tongkatnya dilintangkan didepan dada, sikapnya sungguh gagah.

“Sungguhpun siauwte tidak mencari keributan dan tidak mau menjadi musuh Locianpwe serta anak buahnya, tapi apabila siauwte diserang tentu siauwte tidak tinggal diam!”

Ucapan ini dirasakan suatu tantangan oleh Ma Inliang sehingga kakek ini segera memperdengarkan pekik seperti suara burung garuda marah dan ia menerkam maju sambil tongkat kepala naganya disambarkan kearah kepala pemuda itu. Hebat sekali ilmu silat tongkat dari Ma Inliang ini, dalam gerakan pertama yang berupa sabetan itu saja sudah membuktikan kelihaiannya.

Memang Ma Inliang adalah seorang tokoh silat yang namanya telah mencapai ketenaran didunia kangouw karena kehebatan ilmu silat tongkatnya jarang yang menandingi, sehingga ia sangat disegani kawan dan ditakuti lawan.

Para tokoh kangouw menaruh hormat terhadap sitongkat kepala naga ini karena selain ia sebagai pendekar pembela kaum lemah tertindas dan pembasmi sikuat yang berlaku sewenang-wenang juga ia merupakan seorang tosu (pendeta pemeluk agama To) dari cabang persilatan Ho-San-pay yang sangat terkenal pada masa itu. Tetapi sayang sekali tosu ini kemudian gugur imannya ketika ia kena dibujuk oleh seorang pembesar Mongol yang menghadiahkan kepadanya banyak uang, emas, dan permata sehingga akhirnya ia menjadi bala tentara penjajah dan mendapat kedudukan tinggi selaku perwira tingkat satu dalam pasukan Garuda dikota Thay-goan.

Han Hayhauw yang melihat betapa tongkat kakek itu menyambar sedemikian hebat seakan-akan seekor naga menyabetkan ekornya dan mendatangkan hawa pukulan sangat kuat, segera maklum akan ketangguhan kakek perwira itu. Maka cepat ia mengangkat tongkat besinya keatas untuk memapaki datangnya senjata lawan dengan sebuah tangkisan, dan terdengarlah kedua senjata itu berbenturan sambil mengeluarkan suara keras! Han Hayhauw sengaja menangkis dan membenturkan tongkatnyua dengan senjata lawan untuk menjajal tenaga kakek itu dan segera ia mendapat kenyataan bahwa tenaga tongkat kepala naga itu sungguhpun sangat kuat tanda bahwa kakek itu mempunyai Iwekang tinggi, kan tetapi tidak sampai membuat ia khawatir. Sebaliknya ketika senjata ditangkis sehingga terpental kembali, malah hampir saja terlepas dari pegangannya.

Ma Inliang mengeluarkan seruan kaget. Betapa tidak, karena ketika ia menyerang tadi ia telah menggunakan tiga perempat bagian dari seluruh tenaganya, akan tetapi dapat ditangkis demikian mudah oleh anak muda itu dan tangkisannya mengandung tenaga buakan main kuatnya sehingga tangannya jadi tergetar yang membuat senjatanya nyaris terlepas dari pegangannya. Maka maklumlah Ma Inliang kini, bahwa lawannya yang masih muda belia itu ternyata memiliki tenaga dalam yang tidak berada dibawahnya.

Karuan saja kakek perwira ini dangat penasaran dan sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman dan tersohor dikalangan kangouw juga selaku perwira tingkat satu dalam pasukan Garuda, tentu ia tak mau memperlihatkan kelemahannya. Oleh karena itu, kakek ini lantas mengirim serangan pula sambil mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan segenap tenaganya.

Tongkat kepala naga yang dimainkannya benar-benar hebat, setiap serangannya cepat seakan-akan melebih kecepatan kilat dan bertenaga sehingga menimbulkan angin santer serta suara menggaung nyaring. Tongkat kepala naga itu menotok, menyodok, memukul dan menyabet bertubi-tubi dan selalu kearah sasaran yang mematikan. Karena gerakan senjata ini cepat luar biasa sehingga sukar diikuti oleh penglihatan mata, maka yang tampak hanya berupa segulungan sinar hitam menerjang-nerjang dahsayat seakan- akan gerakan seekor naga hitam sedang mengamuk.

Keempat perwira bawahan Ma Inliang sejak kakek atasan mereka mulai melancarkan serangan, sudah sam amelompat mundur karena mereka khawatir menjadi korban dari senjata nyasar, sehingga tempat itu jadi merupakan gelanggang luas untuk bertempur.

Keempat perwira itu menyaksikan batapa dahsyat dan gansnya pemimpin mereka menerjang pemuda itu. Mereka yakin bahwa nyawa pemuda itu tak lama lagi akan melayang sedangkan para prajurit yang merubung sekitar gelanggang itu terdengar besorak-sorak menyemangati pemimpin mereka, sehingga suasana ditempat itu sangat gemuruh dan gegap gempita.

Akan tetapi Han Hayhauw ternyata dalah seorang pemuda yang memiliki kertabahan serta keberanian hati yang luar biasa. Kalau saja seorang yang tidak memiliki ketabahan serta keberanian sebagaimana yang dimiliki pemuda ini, ia akan pasti akan menjadi jerih dan panik oleh karena apabila ia berhasil merobohkan kakek kosen itu, tak urung ia sendiri akan menjadi bojok dikeroyok oleh sekian banyak lawan. Sebaliknya jika ia kalah dan tak sampai tewas oleh kakek itu betapapun juga akhirnya tubuhnya dicincang oleh senjata para pengepung yang sekian banyaknya itu karena mungkin mendapatkan jalan untuk meloloskan diri! Namun Han Hayhauw sudah mempunyai perhitungan masak dan mengetahui untung ruginya dalam peristiwa ini. Oleh karena itu, maka sesuai dengan wataknya yang sabar sikapnya tinggal tetap tenang sungguhpun dengan tenang atau diam- diam ia mempertinggi kewaspadaannya. Ketika menghadapi serangan-serangan hebat dari Ma Inliang pemuda ini tidak merasa gentar bahkan mainkan tongkat besinya dengan gerakan lambat lambat seakan-akan ia tidak dapat menggerakkan tongkatnya itu secara hebat. Hal ini tentu saja amat menggirangkan Ma Inliang, sehingga kakek ini meneruskan serangannya terlebih dahsyat dan ia merasa pasti bahwa anak muda itu akan sudah dirobohkan dalam waktu tidak lebih sepuluh jurus! Namun betapa kecewa hati Ma Inliang karena perhitungan ternyata meleset sungguhpun ia sudah melancarkan serangan sampai jurus kedua puluh jangankan ia mampu merobohkan lawan mudanya itu bahkan ia sendiri harus berlaku hati-hati lantaran serangan-serangan balasan dari anak muda itu sungguh berbahaya!

Bukan saja keempat perwira yang menyaksikan pertempuran itu merasa heran, malah Ma Inliang sendiri sangat gegutan menghadapi lawan mudanya yang mainkan tongkatnya secara istimewa itu, karena nampaknya pemuda itu hanya mengerak-gerakkan tongkatnya dengan perlahan dan lambat sekali, akan tetapi setiap gerakan dapat menangkis dan membentur kembali senjata lawannya, benturannya demikian mantap dan kuat. Tidak demikian saja, bahkan dengan tongkat besinya itu, Han Hayhauw dapat membalas dengan serangan-serangan dahsyat. Hal ini tentu saja membuat Ma Inliang terkejut sekali. Ia tidak melihat bagaimana pemuda itu menggerakkan tongkatnya, akan tetapi kemana saja tongkat kepala naga ditangannya menyerang, selalu bertemu dengan tongkat lawan yang menangkisnya! Maka sambil mendenguskan nafas karena marah, si Tongkat kepalanaga ini menyerang makin ganas dan mengeluarkan kepandaian yang paling dijadikan andalannya untuk menjatuhkan anak muda yang luar biasa itu! Yang membuat Ma Inliang sangat marah sehingga perutnya terasa panas, ialah anak muda itu menghadapinya bertempur sambil bersenyum-senyum.

Pertempuran sudah berlangsung selama limapuluh jurus.

Tiba-tiba terdengar Ma Inliang membentak. “Pengemis kecil, kau robohlah”

Ternyata pada suatu saat, Ma Inliang mendapatkan kesempatan yang amat baik. Tongkat kepala naganya mengirim suatu totokan kearah jalan darah Giok liong hiat yang terletak dibagian bawah tiga disebelah kiri anak muda itu. Totokan ini demikian cepat ia lakukan, ia merasa pasti bahwa anak muda itu takkan dapat membela diri karena bagian yang dijadikan sasarannya itu sama sekali tidak terlindung.

Memanglah, disaat itu kedudukan Han Hayhauw sangat berbahaya, karena tongkatnya sedang berada jauh dari tempat yang diarah oleh lawannya sehingga bagian itu merupakan tempat berbahaya yang terbuka, dan ketika melihat betapa tongkat lawannya meluncur akan menotok jalan darah tersebut yang apabila kena bisa mendatangkan kematian, marahlah anak muda ini karena kini ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu benar-benar hendak membunuhnya. Maka ia segera membentak.

“Perwira kolot! Lepaskan senjata!!” sungguh hebat pemuda ini, biarpun tongktnya memang tak keburu untuk menangkis karena datangnya senjata lawan terlebih cepat akan tangan kirinya bergerak demikian cepat dan dengan jari-jari tangan terbuka ditangkapnya senjata lawan yang lalu diputarkannya sedemikian rupa disertai pengerahan tenaga iwekang, kemudian tongkatnya menyusul dengan suatu serangan kilat disabetkan kepada kaki lawan. Segera terdengarlah seruan kaget dari Ma Inliang. Senjata tongkat kepala naganya telah dirampas pemuda itu dan ia segera loncat kebelakang sejauh tiga kali lompatan untuk menghindarkan kakinya dari bahaya patah tulang! Kemudian kakek ini memandang bengong kepada pemuda itu ternyata tidak mengejarnya dan diam- diam hatinya mengakui bahwa ia sudah merasa tak ungkulan meneruskan pertempuran dengan anak muda yang benar- benar tangguh itu, sedangkan ia sendiri sudah demikian lelah kehabisan tenaga dan nafas.

“Antara kalian dan aku tidak ada permusuhan, biarlah peristiwa kecil ini diakhiri sampai disini saja dan kuanggap sebagai pelajaran bagiku. Kuminta kalian memberikan jalan bagiku untuk pergi dari sini. Dan tongkat kepala naganya ini kukembalikan kepada pemiliknya. Nah terimalah Locianpwe!”

Sambil mengucapkan perkataannya yang terakhir Hayhauw melemparkan tongkat kepala naga itu kearah Ma Inliang yang segera menyambutnya.

Han Hayhauw mengira bahwa perwira itu akan mengucapkan terimakasih atas kebaikan hatinya dan ia menanti para prajurit yang mengurungnya segera memberi jalan seperti apa yang dimintanya tadi. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, karena Ma Inliang setelah senjatanya kembali berada ditangannya, segera ketawa terbahak-bahak dan berkata:

“Ha-ha-ha! Anak muda, setelah kau membuat kekacauan disini, tak mungkin kau pergi begitu saja! Kuperintahkan supaya kau menyerah saja, inilah satu-satunya jalan yang paling baik bagimu supaya kau dapat kami bawa menghadap kepada Ceng Huciangkun dalam keadaan selamat! Serahkan segera senjatamu kepada kami!”

Marahlah hati Han Hayhauw mendengar ucapan perwira tua yang dianggapnya tidak mengenal budi. Ia diperintah menyerahkan senjata dan akan diperlakukan seperti tawanan? Mana bisa! Biarpun ia memang hendak mencari Ceng Kunhi dan dengan jalan seperti ditawan itu akan dapat dijumpainya secara mudah, akan tetapi pemuda yang berhati keras dan gagah perkasa ini mana mau menempuh jalan ini? Betapapun juga, ia akan menemui Ceng Kunhi dengan secara jantan dan penuh rasa tanggung jawab, bukan secara pengecut penuh kerendahan! Saking marah dan penasarannya, hati mudanya yang cepat panas membuat Han Hayhauw mengucapkan perkataan tantangan:

“Apa?! Aku harus menyerahkan tongkatku ini?! Tidak mungkin, kawan! Ketahuilah, tongkatku ini mungkin baru terlepas dari tanganku apabila aku telah tidak benyawa lagi. Dan biarpun kalian tidak memberi jalan, aku sendiri bisa membuat jalan dengan mempergunakan tongkatku ini. Aku bisa pergi dengan mudah semudah ketika aku datang kemari, juga pada suatu waktu nanti aku sendiri bisa menjumpai Ceng Kunhi dengan mudah, lebih mudah dari pada aku merampas tongkatmu tadi ”

“Anjing kecil, kuhentikan gonggonganmu .... !” Teriak Ma Inliang marah dan dengan suatu gerakan kepala ia memberi isyarat kepada perwira bawahannya sehingga keempat perwira itu yang memang saja tadi menunggu perintah, terutama Ho Likiat yang menyimpan dendam terhadap pemuda itu, serempak bergerak mengeroyok Han hayhauw. Bahkan Ma Inliang sendiri memegang pimpinan dalam pengeroyokan itu! Sedangkan para prajurit yang mengitari tempat itu bersorak-sorak makin riuh, senjata mereka diacung-acungkan, laku mereka tak ubah bagaikan sekawanan anjing yang takut kehabisan tulang dari mangsa yang tengah diperebutkan majikan mereka!

Perlu dijelaskan bahwa para pengeroyok Han Hayhauw, selain Ma Inliang si Tongkat Kepala Naga yang paling tinggi ilmu silatnya diantara mereka, dan Ho Likiat siperwira tingkat lima yang bersenjatakan sepasang tombak bercagak, maka yang belum diperkenalkan kepada pembaca adalah perwira- perwira tingkat dua adalah seorang bertubuh tinggi besar mengenakan topi yang terbuat dari bulu domba dimana terpancang seutas bulu garuda warna hijau, senjata yang dipegangnya sebatang tombak panjang dan ia bernama Tohula, seorang suku bangsa Mongol. Sedangkan perwira tingkat tiga, yaitu yang mengenakan bulu garuda warna biru pada topinya bernama Ong Sankui, orang ini berusia setengah tua dan senjata yang dipegang oleh tangan kanan-kirinya berupa sepasang kapak berbentuk besar dan lebar serta gagangnya panjang. Ong Sankui atau si Kapak Kembar inilah yang memimpin penggerebekan dan menangkap Tan Kimpo ketua Tiong-gi-pay waktu semalam tadi. Adapun orang yang bertubuh pendek buntek, bercambang bauk yan topinya berciri bulu garuda warna merah sebagai tanda perwira tingkat empat itu, ialah bernama So Banpek, dan senjatanya sungguh mengerikan yakni sebilah golok panjang besar serta dan berbentuk lengkung sehingga menyerupai parang berkilau-kilau ditimpa sinar matahari tanda bahwa senjata ini tajam luar biasa! Demikianlah pada ketika itu Han Hayhauw sudah dikeroyok secara serempak. Kelima perwira yang mengenakan lima macam senjata itu melancarkan serangan dari lima jurusan sehingga Han Hayhauw benar-benar terkurung rapat.

Akan tetapi Han Hayhauw benar-benar adalah seorang pemuda yang matang dalam gemblengan, sedikitpun ia tidak memperlihatkan sikap yang gentar. Malah ia bergela-gelak ketawa sinis dan ketika kelima macam senjata dari para pengeroyoknya yang menghujani tubuhnya dari kelima jurusan itu, maka tongkatnya digerakkan sedemikian rupa sambil ia memperdengarkan suara suatu bentakan yang nyaring dan panjang. Hebat sekali akibatnya, membuat kelima orang pengeroyoknya melompat mundur sambil masing- masing berseru kaget. Ternyata, hanya sekali putar saja tongkat pemuda itu sudah berhasil menangkis dan membentur senjata Ma Inliang, Tohula, dan So Banpek. Benturan tongkat pemuda itu kuat luar biasa membuat senjata mereka terpental, bahkan Ma Inliang merasakan benturan kali ini jauh lebih dahsyat daripada benturan yang pertama kali ia rasai tadi. Tidak demikian saja, malah tongkat pemuda itu setelah menangkis dan membentur sekaligus dari ketiga lawannya itu, secara sekaligus mengirim serangan terhadap dua orang lainnya, yaitu Ho Likiat dan Ong Sankui. Kelima perwira itu mendapat kekagetan masing-masing, sungguhpun kekagetan itu datangnya dari akibat yang sama, itulah sebabnya maka mereka berseru kagetdan pada waktu yang hampir bersamaan mereka melompat mundur.

Han Hayhauw tidak menghentikan serangannya karena tekadnya hendak membuka jalan untuk keluar dari kepungan itu. Ia mengejar dua lawan yang menurut penglihatannya paling lemah dan hendak dijatuhkan dulu dua lawan itu agar maksudnya terlaksana, ketiga lawannya yang telah jadi nekat menubruk dan menerjang dari arah kanan kiri dan belakang sehingga Han Hayhauw terpaksa menarik kembali senjatanya yang lalu diputarkan untuk menjaga dirinya.

Ketika itu mendadak terdengar bentakan nyaring bagaikan geledek.

”Mundur semua    !”

Dan aneh, kelima perwira itu ketika mendengar bentakan ini, tiba-tiba menahan senjata masing-masing dan cepat melompat mundur. Begitu pula suara hiru pikuk sorak-sorakan para prajurit tiba-tiba menjadi sepi bagaikan binatang belalang terinjak. Mereka kini berdiri dengan sikap penuh hormat, Han Hayhauw yang mendengar bentakan tadi dan melihat perubahan keadaan ini berdiri menanti segala kemungkinan dengan penuh waspada karena ia maklum bahwa orang yang terdengar bentakannya tadi adalah bukan orang sembarangan, terbukti dari suara bentakannya saja demikian nyaring dan berpengaruh, tanda bahwa orang itu berkhikang tinggi.

Pada berikutnya ia merasakan sambaran angin dibelakangnya dan ia cepat membalikkan tubuh, maka tahu- tahu kini ia telah berhadapan dengan seorang bertubuh tinggi besar dan sekali pandang saja maklumlah bahwa orang itu mempunyai kedudukan tinggi dalam ketentaraan. Pakaian seragamnya berwarna hijau tua dan bersisik-sisik warna emas, topinya yang tinggi dihias dengan bintang emas dan biarpun orang itu berumur kurang lebih lima puluh lima tahun akan tetapi pada wajahnya yang keren tak tampak kumis maupun jenggot sehingga biarpun sudah tua kelihatannya masih tampan, tanda bahwa ia sewaktu mudanya memiliki wajah yang cakap.

Orang tinggi besar ini memiliki sepasang mata sipit akan tetapi biji matanya bersinar amat tajam bagaikan mata burung rajawali. Adapun yang menarik perhatian Han Hayhauw ialah diikat pinggang orang itu tampak bergantungan dua keping benda aneh, sekeping berbentuk bundar seperti piring dan sekepin lainnya berbentuk bintang segilima, kedua-duanya rupanya terbuat dari baja tulen, begitu mengkilap, dan karena waktu itu dua keping benda tersebut kebetulan tertimpa sinar matahari, sehingga mata Han Hayhauw yang melihanya merasa kesilauan. Dan keping logam yang berbentuk bulan dan bintang itu bergoyang-goyang didepan paha orang itu, sehingga beberapa buah kerincingan kuningan yang terpasang disepanjang rangkaian rantai besi yang menjadi tali penggantungnya, mengeluarkan suara gemerincing yang nyaring dan ramai.

Nada suara ucapan orang tua ganteng itu terdengar besar dan parau dikala berkata terhadap Han Hayhauw yang masih bengong untuk seketika karena mengagumi kegagahannya dan kegantengannya.

“Enghiong muda, kegagahanmu sudah sejak tadi kusaksikan dan benar-benar kau hebat! Maka sebagai tanda pujianku yang sejujurnya, terimalah hormatku!” setelah berkata demikian, menjura dengan merangkapkan kedua tangannya didada sambil membungkukkan tubuhnya.

Dimanapun didunia ini kalau seorang tua memberi hormat terlebih mula terhadap yang muda, adalah kurang pantas dan boleh dikata merupakan hal ganjil demikian pula keganjilan ini dirasakan oleh Han Hayhauw. Akan tetapi pemuda ini segera paham akan maksud dari pada keganjilan itu oleh karena ia lantas dapat menduga bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan orang tua itu adalah semacam pukulan gelap yang mempergunakan tenaga Iwekang yang tinggi. Benar saja dugaannya ketika ia merasa ada angin menyambar dari kedua kepalan tangan orang tua itu kearah dadanya, sungguhpun jarak antara orang tua itu dan ia sejauh kira-kira enam kaki. Baiknya sejak tadi ia sudah memahami maksud orang tua itu maka kini ia cepat mengangkat tangan kiri dengan telapak tangan dikembangkan kedepan dada mendorong. Setelah melakukan gerakan ini, seraya mengerahkan Iwekangnya pula, setelah melakukan gerakan ini ia baru menyaut “Maaf siauwte yang muda tak berani menerima penghormatan dari Locianpwe.”

Bukan main terkejutnya orang tua itu ketika merasakan akibat beradunya hawa pukulan mereka. Benturan tenaga Iwekang dari anak muda itu demikian kuat sehingga tubuhnya yang besar itu jadi terhuyung kebelakang sampai tiga langkah, sedangkan pemuda itu ia lihat sendiri hanya mundur dua tindak dan sama sekali tidak terhuyung! Hal ini sudah membuat orang tua itu segera maklum bahwa anak muda itu benar-benar “berisi” serta mengakui pula bahwa Iwekang anak muda itu lebih tinggi setingkat dari pada tenaga dalam yang dimilikinya. Buktinya, ia mengerahkan Iwekang melalui kedua tangannya sedangkan anak muda itu hanya menggunakan sebelah tangan saja untuk menyambutnya tapi akibatnya ia sendiri yang kena gempur sehingga hatinya sangat penasaran! Akan tetapi orang tua itu sudah kenyang pengalaman, ia dapat mengusai perasaan hatinya dan berlaku hati-hati. Lalu bertanya pula.

“Orang muda yang gagah mengakulah terus terang bahwa kau adalah seorang anggota Tiong-gi-pay dan kedatanganmu kemari hendak menuntut pembebasan pemimpinmu yang kami tawan bukan?” Han Hayhauw menggelangkan kepala sambil menjawab: “Locianpwe sungguh aneh, bagaimana siauwte harus

mengaku tentang persoalan yang siauwte sama sekali tak tahu ujung pangakalnya. Ketahuilah Locianpwe, bahwa siauwte bukan anggota Tiong-gi-pay dan ketahuilah kedatangan kemaripun tidak ada sangkut pautnya dengan perserikatan tersebut ”

“Habis siapa dan dari manakah kau? Serta maksud apakah yang membawamu datang kemari?” tanya orang tua itu.

“Siauwte hanya seorang perantau biasa saja yang hendak mencari seseorang. Kebetulan sekali siauwte mendengar bahwa orang yang siawte cari itu berada dikota ini dan mungkin kinipun berada diantara kalian. Akan tetapi oleh karena ternyata dia tidak mau menampakkan diri, maka biarlah siauwte mohon diri saja dengan harapan bertemu dengannya”.

Setelah berkata demikian Han Hayhauw lalu membalikkan tubuh dan melangkah hendak pergi seakan-akan ia tidak sadar bahwa ia berada ditengah-tengah kurungan para perwira dan bendungan sekian banyak serdadu.

Mendengar jawaban pemuda itu yang tidak mau memperkenalkan diri dan hendak pergi begitu saja, hal ini tentu dianggap  oleh orang tua itu suatu sikap yang tidak menyenangkan.

“Orang muda terhadap keluarga Kulangca atau Goat seng Thaysu yang bertindak selaku panglima tinggi dalam pasukan garuda ini kau tak boleh berlaku demikian sombong. Akan tetapi karena mengingat bahwa kau adalah seorang perantau dan belum tahu siapa adanya aku ini, kesombonganmu dapat kumaafkan. Hanya saja sebelum kau mau mengaku siapa adanya dirimu dan maksud apa yang kau bawa bagi orang yang kau cari itu, maka terpaksa takkan kuijinkan kau pergi dari sini”!! Orang itu memang adalah panglima tinggi pasukan garuda. Dari namanya saja mudah diduga bahwa ia adalah seorang bangsa Mongol. Ia lebih terkenal dengan nama julukannya, Goat seng Thaysu (Guru besar yang bersenjatakan bulan bintang) sesuai dengan senjata yang menjadi gegemannya, yaitu dua keping logam berbentuk bulan dn bintang yang seperti sudah diterangkan tadi. Senjata berbentuk aneh ini benar-benar mempunyai kehebatan luar biasa apabila dimainkan oleh sepasang tangan dari panglima tinggi yang gagah perkasa ini. Dikota Thay goan Kulangcha diperbantukan kepada gubernur Lo Binkong, namanya saja diperbantukan padahal hakikatnya ia mempunyai tugas mengawasi tindak tanduk gubernur tersebut. Demikianlah pemerintahan Mongol menempatkan pejabat-pejabatnya. Bangsa Han, yaitu bangsa yang dijajahnya ditempatkan dalam kedudukan lebih tinggi setingkat dari pada bangsa Mongol sendiri. Cara ini berlaku dalam segala bidang pemerintahan kecuali kedudukan kaisar. Hal in adalah untuk membeli hati bangsa Han, bahwa bangsa Han dapat penghormatan dan diberi hak mengatur pemerintahan. Padahal bangsa-bangsa Han yang diberi kedudukan dan pangkat semacam itu tidak lebih hanya sebuah boneka hidup, oleh karena segala aturan dan wewenang berada ditangan bangsa Mongol yang justru merupakan orang bawahannya.

Dikota Thaygoan tentu saja Kulangcha sebagai seorang kedua dari gubernur she Lo, baik rakyat apalagi pasukan anak buahnya, sangat dihormati dan ditakuti. Bahkan gubernur Lo sendiripun tak berani kurang ajar terhadap panglima tinggi pelindungnya ini. Pendeknya Kulangcha mempunyai wewenang penuh di kota Thay-goan dan berwenang pula untuk membekuk leher Lo Congtok kalau gubernur boneka ini sewaktu-waktu menyeleweng.

Sejak masih muda Kulangcha selalu dihormati orang, oleh karena ditanah Mongol ia merupakan keturunan dari keluarga yang terpandang. Apalagi setelah ia menjadi panglima tinggi, tiada orang yang tidak menghormatinya, sungguhpun penghormatan itu sebagian besar bersifat menjilat pantat. Dan sekarang ia menjumpai seorang anak muda berpakaian pengemis yang bukan saja tidak menghormatinya, bahkan anak muda itu agaknya sangat memandang rendah terhadapnya sehingga hal in karuan saja membuat hatinya jadi hilang sabar.

Melihat betapa pemuda itu hendak berlalu begiu saja dan seakan-akan tidak mengacuhkan kata-katanya yang bersifat perintah tadi.

“Anak muda sombong! Berhenti!”

Akan tetapi ketika itu Han Hayhauw terus saja melangkah maju, menolehpun tidak. Bahkan ia seolah-olah tak melihat bahwa dihadapannya telah menghadang tiga orang perwira sambil menodongkan senjata mereka. Dan pemuda luar biasa ini terus melangkah makin mendekati ketiga perwira itu penghadangnya itu, sikapnya tetap tenang dan bibirnya membentuk senyum aneh.

“Hm! Benar-benar anjing muda ini mencari mampus!” Kulangcha menggumam geram dan lalu ia mengeluarkan perintah kepada para anak buahnya.

“Tangkap sijembel kurangajar itu! Kita gantung bersama Tan Kimpo sigembong gerombolan Tiong-gi-pay”!

Mendengar perintah dari panglima tinggi ini serempak ketiga orang perwira yang menghadang anak muda itu menubruk sambil sambil senjata mereka melancarkan serangan, sedangkan perwira yang dua orang lagi menerjang dari belakang anak muda itu.

Akan tetapi, sekali saja Han Hayhauw menggerakkan tongkatnya dan kini ditambah lagi dengan tangan kirinya serta sepasang kakinya melakukan tendangan berantai, sehingga sungguh sukar diceritakan bagaimana anak muda ini melakukan pergerakan oleh karena dalam sekejap saja tiba- tiba kelima pengeroyoknya dibikin berantakan dan akibatnya lebih hebat dari pada yang pernah terjadi satu kali tadi. Bukan saja senjata mereka terpental, bahkan mereka ada yang terjungkal atau terjengkang sambil mengaduh-aduh.

Kulangcha sendiri tak dapat melihat bagaimana anak muda itu melakukan pergerakan karena saking cepatnya, dan setelah melihat betapa kelima perwira anak buahnya menjadi sungsang sampai sedemikian rupa, panglima tinggi ini menggeram seperti harimau dan dengan sekali melompat ia menubruk sambil menggunakan kedua tangannya untuk mencengkram. Kedua jari-jari tangannya membentuk seperti cakar garuda, yang kiri hendak mencengkram pundak dan yang sebelah kanan bersiap untuk menangkap tongkat pemuda itu kalau-kalau lawannnya menggerakkan tongkat terhadapnya. Ketika itu Han Hayhauw masih berdiri dalam keadaan membelakangi pemuda itu, sehingga Kulangcha yang mengirim serangan dari belakangnya dan melihat anak muda itu tidak sempat membalikkan tubuh maupun mengelak, menjadi girang. Dan benar saja seperti yang diduganya, tiba- tiba anak muda itu menyabetkan tongkatnya kebelakang tanpa menoleh, maka secara cepat dan tepat Kulangcha dapat menangkap tongkat itu dengan cengkraman tangan kanan yang sejak tadi bersedia untuk melakukan hal ini, sementara itu tangan kirinya langsung mencengkram pundak kiri pemuda itu. Segera terdengat suara pekik kesakitan.

Ketika itu kelima perwira yang terjengkang dan terjungkal tadi sudah bangun pula sungguhpun wajah mereka pating peringis menahan sakit dan terpincang-pincang, melihat pemimpin mereka menerjang anak muda yang sudah mereka rasai kelihaiannya itu dan mendengar suara pekikan, mereka menjadi girang.

Betapa lihainya anak muda itu kini dapat dibekuk batang lehernya oleh Kulangcha, pikir mereka. Akan tetapi demi suara pekikan tadi lenyap dari pendengaran, kelima perwira ini bukan main terkejutnya dan heran sehingga ketika itu mereka sama bengong terlongong-longong. Betapa tidak, karena ternyata anak muda itu masih tidak kurang suatu apa. Dia masih tetap berdiri dan kini tahu-tahu sudah menghadapi Kulangcha sedangkan tongkat yang tadi sudah jelas ditangkap oleh panglima itu, namun kini sudah berada ditangan anak muda pula. Bahkan anak muda itu ketawa mengejek sambil melihat Kulangcha yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengatasi rasa sakit dan ngilu yang diderita sepasang lengannya yang seakan-akan diserang penyakit lumpuh mendadak.

Kalau dibicarakan memang agaknya tak masuk diakal, karena Kulangcha yang melakukan serangan selagi anak muda itu membelakangi sehingga disebut ia curang karena membokong, akan tetapi justru ia sendiri yang menerima akibatnya. Akan tetapi tetapi harus diketahui bahwa Han Hayhauw adalah pemuda yang memiliki kewaspadaan luar biasa sehingga tak mudah untuk diselomoti begitu saja. Meskipun serangan datang dari belakang dan ia tak menoleh untuk melihatnya, akan tetapi panca indranya sudah terlatih sempurna sehingga sudah maklum bagaimana sipembokong mengiri serangan, arah mana yang diserang dan ia tahu bagaimana cara menerimanya. Oleh karena Kulangcha memiliki tenaga Iwekang yang cukup sempurna, maka ketika sepasang tangannya mengirim serangan dan sebelum serangan ini mencapai sasarannya, hawa serangan yang keluar dari sepasang telapak tangannya sudah mendahului menyambar dan gejala inilah yang segera dapat ditangkap oleh ketajaman panca indra Han Hayhauw.

Sesungguhnya serangan yang dilakukan Kulangcha bukan sembarang serangan, biarpun hanya merupakan dua cengkraman dan tampaknya sangat sederhana namun sebenarnya mengandung macam-macam tipu serangan. Sepasang telapak tangan yang kelihatannya hendak mencengkram itu dapat segera dirubah jotosan tamparan totokan, atau dorongan, tergantung menurut perkembangan dari perlawanan … perubahan orang yang diserangnya. Akan tetapi oleh karena Kulangcha melihat anak muda itu sama sekali tidak mengelak dan hanya mengayunkan tongkatnya saja kebelakang, maka seperti apa yang dimaksudkan semula tangan kirinya langsung mencengkram pundak kiri anak muda itu dan seperti sudah dijelaskan tadi tangan kanannya menangkap tongkat! Namun ketabahan, keberanian dan kecerdikan luar biasa.

-o0odwo0o-