PPKE Bab 10 : Ombak bergulung seribu li

 
Bab 10 : Ombak bergulung seribu li

Ho Koan-beng menekan wajahnya, lalu berkata dingin:

"Kalian bertiga ingin menghadang aku, hemm hemm, sungguh tidak tahu diri!"

Di dalam pikiran Ho Loan-beng, selain Sin-hiong lawan beratnya, ketiga ketua perguruan besar yang ada dihadapannya, sama sekali tidak dipandang oleh dia!

Kata-kata yang terdengar, malah jadi membuat marah ketiga ketua perguruan besar yang ada di hadapannya.

Ternyata di mata ketiga ketua perguruan besar, mereka pun memandang Sin-hiong sebagai lawan beratnya, mengenai Ho Koan- beng? Walaupun mereka tahu jurus pedangnya hebat, tapi mereka bertiga masih tidak memandangnya.

Siu-goan Suthai dengan marah berkata:

"Kau punya kepandaian apa?"

Saat ini puluhan murid Go-bi yang berdiri di pinggir, walau ada setengah dari mereka pedangnya di hantam terlepas oleh Sin-hiong, tapi setengah lainnya melotot marah menatap Ho Koan-beng.

Cing-cen Totiang menggoyangkan tangannya, lima enam tosu langsung maju mengurung Ho Koan-lu-ng.

Sin-hiong melihat sambil mendengus, katanya: "Ho Koan-beng, apa kau masih belum mau pergi? A pa kau ingin terlibat juga!"

Ho Koan-beng tertawa tidak berdaya, di dalam harinya berpikir:

'Bukan aku tidak mau pergi! Tapi mereka selalu menghadangku?'

Di dalam hati dia masih mempunyai rencana, dia belum mau bertarung dengan Sin-hiong, ketika lima enam tosu itu datang mengurung, dia menggetar-kan pedangnya dan membentak:

"Minggir!"

Begitu menusukan pedang panjangnya, sebuah hawa dingin pedang sudah didorong ke depan.

Lima enam tosu bergerak mundur, tapi jurus pedang Ho Koan- beng tidak berhenti, ujung pedang-nya balik menyendal, terdengar suara "Ssst!" seorang tosu jatuh tergeletak!

Cing-cen Totiang tergetar, baru saja mau berteriak menyuruh berhenti, lima enam tosu lainnya sudah menyerang dengan tangan kosong, angin pukulan dari telapak tangan bersuara keras, kembali menghadang Ho Koan-beng!

Ho Koan-beng menjadi sangat marah, dia menggetarkan pedangnya menyerang, tapi sekarang puluhan tosu itu sudah pintar, mereka bergerak secara teratur, jika yang satu maju yang lainnya mundur, begitu sebaliknya walaupun jurus pedang Ho Koan-beng hebat, tapi dalam waktu sesaat tidak bisa berbuat banyak?

Cing-cen Totiang membalikkan tubuh, berkata: "Bagus, sekarang giliran kita!"

Sin-hiong tertawa dan berkata:

"Kalian bertiga sudah siap?"

Tiga ketua perguruan besar itu segera bergerak, membentuk barisan segi tiga, mengambil posisi yang menguntungkan, sepasang mata Sin-hiong menyapu lalu berteriak:

"Awas jurus pertama datang!" Sin-hiong menggetarkan Kim-kau-po-kiamnya, menyerang Lang Tiong-sun.

Lang Tiong-sun memutar tubuh, tapi Sin-hiong tidak menunggu dia membalas, ujung pedangnya disabetkan ke belakang, membentuk dua kuntum bunga perak, masing-masing menusuk ke arah Cing-cen Totiang dan Siu-goan Suthai!

Kedua orang itu berteriak, dua buah senjata bersama-sama menyerang, sekarang Sin-hiong menggunakan cara bertarung cepat, dia menyerang cepat, tapi dua serangan tadi adalah serangan pancingan, sebelum serangan Cing-cen Totiang dan Siu-goan Suthai tiba, dia sudah berputar mengikuti gerakannya Lang Tiong-sun "Ssst ssst!" dua tusukan pedang dilancarkan, dalam sekejap dia mendesak ketua dari Tiang-pek-pai ke samping!

Lang Tiong-sun terkejut, Cing-cen Totiang dan Siu-goan Suthai juga tergetar, ketiga orang itu hampir bersamaan waktu berteriak marah, Cing-cen Totiang berdua sebisanya maju menyerang, Lang Tiong-sun pun memutar tangannya "Ssst ssst!" menusuk dua kali!

Siapa sangka saat dia menusuk, Sin-hiong sudah berputar kembali ke belakang tubuhnya.

Ternyata ketika Cing-cen Totiang menyuruh murid-muridnya menghadapi Ho Koan-beng, saat itu Sin-hiong telah memikirkan cara untuk mengalahkan lawannya:

'Jika membiarkan mereka bersatu, berapa banyak tenaga dan waktu yang harus aku habiskan, saat menemukan Ong Leng, entah nona Sun sudah berubah jadi bagaimana?'

Setelah memutar otaknya, dia sudah memutuskan untuk melumpuhkan lawannya satu persatu, maka setelah menghindar dari jurus Lang Tiong-sun, dia lalu menghindar dari serangan Cing- cen Totiang dan Siu-goan Suthai, dia menghindar kesana-kemari, tapi jurus-nya segera dia lancarkan untuk menyerang pada Lang Tiong-sun seorang.

Sin-hiong berturut turut menyerang tiga jurus pada ketua perguruan besar Tiang-pek, setiap jurusnya ditujukan pada tempat penting di tubuh musuhnya, Lang Tiong-sun terpaksa berputar- putar menghindar, tapi tetap tidak bisa melepaskan diri.

Lama-lama Lang Tiong-sun menjadi kesal, teriaknya: "Biar aku mati bersamamu!"

Dia menusukan pedangnya, tidak mempedulikan lagi arah pedang Sin-hiong menyerang, dia menusuk Beng-bun-hiatnya Sin- hiong.

Sin-hiong tertawa dingin:

"Berbuat seperti inipun tidak ada gunanya?"

Sin-hiong lalu menyabetkan pedangnya, terdengar suara "Traang!", dengan menggunakan siasat empat liang menghadapi ribuan kati, dia memelintir dan menerbangkan pedang Lang Tiong- sun hingga terlepas dari tangannya!

Lang Tiong-sun terkejut ketakutan, keluhnya "Habislah! Habislah!"

Dia lalu melambaikan tangannya, secepatnya pergi bersama dengan murid-muridnya.

Saat ini pedang panjang ketua Go-bi-pai Cing-cen Totiang dengan cepat datang menyerang, Sin-hiong memutar tubuhnya dan melayang menghindar dua kaki lebih dan berkata:

"Kali ini giliran Totiang!"

Sinar pedang berkelebat, ujung pedangnya menusuk ke bahu kiri Cing-cen Totiang.

Melihat Lang Tiong-sun sudah kalah dan meninggalkan tempat ini, hati Siu-goan Suthay dan ketua Go-bi menjadi kecut, Cing-cen Totiang segera menyerang dengan pedangnya, kebutan Siu-goan- Suthay juga cepat-cepat menyerang, supaya Sin-hiong tidak bisa mengalahkan mereka satu persatu. Sin-hiong berputar-putar laksana angin, saat berkelebat, langsung menyerang Cing-cen Totiang!

Sifat dia memang begitu, orang lain tidak ingin dia begini, dia justru sengaja mau begini!

Cing-cen dan Siu-goan berdua sadar maksudnya, kedua orang itu lebih-lebih tidak berani berpisah, Siu-goan berteriak:

"Totiang silahkan mendekat kemari!" Setelah berkata, kebutannya menggulung ke arah sisi punggung Sin-hiong, untuk mengurangi tekanan pada Cing-cen Totiang, dia sendiri malah melangkah tiga langkah mendekati Cing-cen Totiang.

Setelah Sin-hiong menyerang satu jurus, jurus kedua langsung menyerang menusuk, begitu pedang-nya bergerak, tubuhnya ikut bergerak, hingga Cing-cen Totiang tidak bisa mengambil nafas.

Setiap kali Cing-cen Totiang menangkis, tapi selalu di dului oleh Sin-hiong, akhirnya dia berteriak, tanpa mempedulikan keselamatan dirinya, pedangnya menyerang lima enam jurus!

Sin-hiong jadi tidak berani terlalu dekat!

Tapi dua orang di lapangan ini adalah pesilat tinggi di dunia persilatan, sedikit Sin-hiong melambat, kedua orang itu sudah bersatu kembali, bersama-sama menyerang dia!

Di tempat lain, puluhan murid Go-bi-pai sedang kewalahan menangkis serangan Ho Koan-beng, sudah ada beberapa orang lagi yang terluka dan mundur ke pinggir.

Cing-cen Totiang sendiri sedang seru-serunya bertarung, jadi tidak ada waktu memperhatikan hal lainnya, sedangkan Ho Koan- beng sengaja mengganggunya, setiap dia menusuk menjatuhkan satu orang dia langsung berteriak:

"Satu lagi!"

Hati Cing-cen Totiang sakit seperti disayat pisau, dia tidak menduga nama besarnya hari ini jatuh di tangan dua orang bocah ini, sedikit lengah, kembali dia didesak lagi oleh Sin-hiong. Siu-goan Suthai terkejut sekali dan berteriak:

"Pusatkan pikiran!"

Memang, jika Cing-ceng Totiang sampai terluka, berarti tinggal dia seorang diri, dia pasti bukan lawan Sin-hiong, teriakannya, ada perasaan seperti bibir hilang gigi pun dingin.

Cing-cen Totiang sedikit menaikan semangat-nya, kembali terdengar Ho Koan-beng berteriak:

"Sudah dua, he he he, murid-murid Go-bi-pai kemampuannya hanya segini!"

Cing-cen Totiang merasa hatinya jadi tegang, sehingga gerakannya jadi sedikit lamban, akibatnya pedang panjangnya sudah dihantam Sin-hiong hingga terlepas dari tangannya.

Melihat ini, hati Siu-goan Suthai jadi merasa berat, kebutannya segera menyerang tiga jurus, berkata:

"Hari ini kita kalah, di kemudian hari kita akan kembali lagi!" Ho Koan-beng berteriak:

"Bagaimana Sen Sin-hiong? Aku telah membantumu, masa kata terima kasih pun tidak mau kau ucapkan?"

"Hemm!" Sin-hiong berkata, "lebih baik kau jangan sampai bertemu aku lagi, ingat, lain kali tidak ada pengecualian!"

Selesai bicara dia memalingkan kepala:

"Sayang Siauw-lim-pai sudah kalah, Bu-tong-pai kacau balau, hari ini aku hanya bisa bertemu dengan kalian tiga ketua perguruan, di lain hari, aku berharap bisa menghadapi sembilan ketua perguruan sekaligus!"

Nada kata-kata ini terlalu sombong, sampai wajah Ho Koan-beng pun berubah mendengarnya!

Siu-goan Suthai marah berkata:

"Sombong sekali, ingat, kami sembilan orang pada suatu hari pasti akan menghadapimu!"

Setelah berkata, dia memanggil kedua murid-nya lari menuju utara.

Di antara tiga ketua perguruan, keadaan Go-bi-pai yang paling parah, Cing-cen Totiang sendiri kalah, dan muridnya ada lima enam orang yang terluka, tidak tahan dia mengeluh:

"Baik baik baik, di kemudian hari kami pasti akan mencoba lagi ilmu silat anda!"

Beberapa murid yang terluka dibopong oleh murid yang tidak terluka, sambil tertatih-tatih pergi menuju Go-bi-san.

Sin-hiong hanya melihat tiga ketua perguruan besar pergi, dia tidak mau memperdulikan lagi Ho Koan-beng, diapun langsung melesat pergi.

Tadinya dia ingin buru-buru menolong orang, tapi terganggu oleh kejadian ini, sekarang waktu sudah hampir tengah hari.

Sepanjang jalan Sin-hiong berlari terus, setelah lima hari, dia tiba di bawah pohon di depan rumah Ong Leng. Tapi ketika dia melihat ke dalam rumah, dia menjadi sangat terkejut.

Dua bulan lebih, dia meninggalkan tempat ini, siapa sangka, hari ini melihatnya, keadaan di dalam rumah masih hampir sama dengan dua bulan yang lalu?

Belum masuk ke dalam pintu, sudah tercium bau busuk bangkai, hampir saja membuat dia muntah, di dalam hati berkata:

'Apa yang terjadi, apakah Ong Leng masih belum menguburkan tiga mayat itu?'

Berpikir sampai disini, tidak tahan dia jadi merinding, jika benar demikian, Ong Leng mungkin sudah tidak normal lagi.

Pelan-pelan dia masuk ke dalam, setelah berteriak beberapa kali, tapi di dalam tidak ada seorang pun yang menyahutnya.

Sin-hiong mengawasi lagi dengan teliti, tampak ini bukan rumah kosong, tidak tahan dia jadi merasa heran, maka dia masuk ke pekarangan ketiga, meloncat naik ke atap rumah.

Dulu dia pernah bertemu dengan Sin-tung-thian-mo (Dewa tongkat setan langit) disini, keadaan sekarang sama dengan waktu itu, tapi sekarang di pekarangan sebesar ini malah tidak ada satu orang pun, dia kembali berteriak, tetap saja tidak ada orang yang menyahut.

Tujuan Sin-hiong datang kesini adalah untuk meinta tolong, maka tidak banyak pikir lagi dia langsung meloncat ke bawah.

Tapi setelah berputar dua kali, di dalam rumah, benar-benar tidak ada orang!

Sin-hiong tertegun dan berteriak:

"Ong Lo-cianpwee! Ong Lo-cianpwee    "

Suaranya hanya menggema di pekarangan, sampai jendela rumah berbunyi keras dan bergetar, tapi tetap tidak ada orang yang menjawab.

Tiba-tiba Sin-hiong teringat rumah makan itu, di dalam hatinya berpikir

'Ong Leng sering kesana, lebih baik aku kesana menanyakan, siapa tahu dia sedang minum arak disana.

Setelah memutuskan, dia langsung berlari ke nimahmakan itu. Saat ini walaupun siang hari, tapi karena dia sedang tergesa-

gesa, gerakannya laksana segumpal asap melesat ke dalam kota.

Sampai di rumah makan itu, pelayan samar-samar masih mengenal dia sambil tersenyum berkata:

"Siauya mau menginap?"

Sin-hiong menggelengkan kepala dan berkata: "Apakah kau lihat Tuan Ong?"

Wajah pelayan jadi berubah, dia mengeluh: "Jangan sebut dia lagi! Jangan sebut dia lagi! Dia dulu dewa, sekarang disebut setan juga tidak pantas?"

"Kenapa?" tanya Sih-hiong tertegun.

Pelayan menarik Sin-hiong ke pinggir, bisiknya:

"Apakah Siauya tahu di rumahnya ada yang mati tiga orang?" Sin-hiong menganggukan kepala, pelayan itu berkata lagi:

"Itulah, dirumahnya ada yang mati tiga orang, tapi sudah dua bulan lebih tidak dikuburkan, baunya sampai menyebar kemana- mana, kudengar disana kalau malam hari sering ada setan muncul, beliau seperti orang gila tinggal di dalam rumah, kadang menangis kadang tertawa, kadang keluar rumah, tapi begitu orang-orang melihat dia, langsung menghindar, coba Siauya pikir, bukankah dia jadi setan juga tidak pantas?"

Setelah selesai bicara, pelayan itu kembali berbisik pada Sin- hiong:

"Sekarang hari sudah hampir gelap, Siauya jangan pergi kesana lagi, memikirkan saja hatiku sudah merinding."

Sin-hiong tidak bicara, di dalam hatinya berpikir, saat dia meninggalkan tempat itu, Ong Leng masih baik-baik saja, kenapa hanya dalam waktu dua bulan, dia sudah berubah seperti ini?

Dia tidak mengerti, tapi berpikir pasti ada yang tidak beres, beberapa hari ini, dia terus berjalan mengejar waktu, di sepanjang jalan juga kurang makan, dalam hatinya berpikir:

'Kenapa aku tidak tunggu sampai malam, baru kesana melihatnya.'

Setelah memutuskan, maka dia memesan makanan pada pelayan, makan pelan-pelan sendiri.

Ketika sore hari, Sin-hiong keluar dari rumah makan, melihat ke atas terlihat langit sudah gelap, sebuah bintang pun tidak ada, tidak tahan dia mengerutkan alisnya, diam-diam menghibur dirinya: 'Inilah cuaca terbaik untuk para setan keluar, tidak diduga setelah aku lari beberapa hari, malam ini malah harus menunjukkan cara menangkap setan.'

Dia berjalan pelan-pelan, malam gelap sekali, sedikit angin pun tidak ada, karena merasa sedikit gerah, maka dia melonggarkan bajunya, berjalan kira-kira dua |am baru dia sampai di tempat itu.

Walaupun waktu belum terlalu malam, di jalanan selain dia seorang, benar saja satu bayangan orang pun tidak ada?

Dia sudah bertekad menyelidiki hal ini, terpaksa sebelum larut malam dia sudah kesini untuk bersembunyi, dia langsung meloncat ke atas benteng, tapi begitu dia melihat sekelilingnya, tidak tahan hatinya jadi merasa ngeri!

Di ruangan pertama yang gelap itu, terlihat ada sesosok bayangan hitam sedang menyembah tiga peti mati itu, rambutnya panjang berurai ke bahu, sepintas melihatnya, orang jadi punya perasaan 'apa dia ini setan"?

Bayangan hitam itu tanpa bersuara menyem-bah dan menyembah lagi, Sin-hiong lama melihatnya, tapi dia masih terus menyembah tidak berhenti.

Sin-hiong memperhatikan dan merasa bayang-an hitam ini adalah Ong Leng, saat itu dia batuk sekali dan berteriak:

"Ong Lo-cianpwee!"

Bayangan hitam itu tidak memperdulikannya, terus saja menyembah tiga peti mati itu.

Diam-diam Sin-hiong menarik nafas, tadinya dia ingin meloncat ke bawah, tapi dia tidak tahan dengan bau busuk mayat, setelah ragu-ragu sejenak, mendadak dia berteriak:

"Ong Lo-cianpwee, kau mau apa?"

Teriakannya menggunakan tenaga dalam, suaranya menusuk telinga, jangan kata manusia, walau setan pun jika mendengarnya pasti akan terkejut ketakutan. Benar saja, bayangan Hitam itu terkejut, melihat dia berdiri diatas benteng, tanpa bicara apa-apa, dia langsung lari ke dalam.

Sin-hiong bisa mendengar saat dia berlari, derap kakinya mengeluarkan suara "Duuk duuk!", sepertinya sedikit pun tidak bisa ilmu silat, tidak tahan dia jadi bingung, di dalam hati berkata:

"Apakah Ong Leng atau bukan? Seharusnya dia bisa ilmu silat!"

Setelah dipikir-pikir, dia tidak perduli siapa orang itu, yang pasti dia seorang manusia saja.

Saat dia masih kecil, dia sering mendengar orang tua berkata, jika setan berjalan tidak menge-luarkan suara, orang ini langkahnya begitu berat, pasti bukan setan tapi seorang manusia.

Ilmu silat Sin-hiong sangat tinggi, menurut logika dia tidak akan terpengaruh oleh cerita mistik ini, tapi ingatan di masa kecilnya sangat menempel, maka saat tadi di atas benteng, dia jadi ragu- ragu, tidak berani meloncat ke bawah.

Suara kaki berjalan itu sudah hampir sampai di pekarangan kedua, baru Sin-hiong mengikuti masuk ke dalam!

Dia melayang meloncat ke tanah, di dalam keadaan gelap gulita, karena dia tadi telat sejenak, maka mj;in segera menemukan bayangan hitam itu, dia ada kesulitan sedikit.

Mendadak, di atas gunung buatan terdengar suara lluut!", pendengaran Sin-hiong tajam sekali, dia membalikan tubuh, terlihat satu bayangan orang melesat dalang.

Gerakan orang ini sangat cepat, tadinya Sin-hiong mau bersembunyi, sebab dengan cara ini baru bisa menyelidiki, tapi waktunya sudah tidak sempat, terdengar orang itu berteriak dingin:

"Siapa yang berdiri disana?" Tanpa sadar Sin-hiong berkata:

"Aku Sen Sin-hiong!"

Orang itu menghentikan langkahnya berkata lagi: "Ada keperluan apa kau datang kesini?" Saat dia bicara suaranya dingin sekali, sepertinya tidak begitu memandang Sen Sin-hiong, maka dia terus mendesak Sin-hiong menanyakan tujuannya datang kesini.

Sin-hiong menggerakan tubuhnya sedikit dan berkata:

"Aku ada perlu mencari tabib Ong, apakah dia ada di rumah?"

Setelah berkata, kejadian dulu seperti terulang lagi, ketika dia pertama kali datang kesini, dia bertemu dengan Sin-tung-thian-mo, kali ini, tidak tahu bertemu dengan siapa lagi?

Orang itu tertawa, dengan dingin mengucap-kan dua kata: "Sudah mati!"

Sin-hiong sedikit tergetar, tapi dia pikir orang tadi pasti seorang manusia, kecuali wajahnya tidak terlihat jelas, perawakan orang itu mirip sekali dengan Ong Leng, saat itu berkata lagi:

"Biar aku mencari dia, tadi disini ada satu orang!"

Bayangan hitam itu maju dua langkah, tapi jaraknya masih ada lima tombak, karena langit hitam, di dalam ruangan juga gelap, maka Sin-hiong masih tidak bisa melihat jelas wajah orang ini.

Orang itu seperti sengaja menjaga jarak dengan Sin-hiong, setelah Sin-hiong berkata, melihat orang itu diam, Sin-hiong jadi merasa heran, tanpa mempeduli-kannya lagi, langsung berjalan ke dalam.

Tapi baru saja melangkah dua langkah, mendadak orang itu dengan dingin berteriak: "Berhenti!"

Sin-hiong menghentikan langkah, menekan wajah dengan dingin berkata: "Kenapa?"

Ternyata dia telah mendengar nada bicara orang itu penuh dengan permusuhan, maka dia pun membalas dengan jawaban dingin, malah lebih dingin dari pada orang itu!

Orang itu tertawa dan berkata: "Tidak percuma disebut Kim-kau-kiam-khek!" Sin-hiong tergetar, di dalam hatinya berpikir:

'Orang inipun tahu julukanku, seharusnya bukan orang yang tidak punya nama’, saat itu berkata:

"Bagaimana? Apakah anda pun bisa menyebutkan nama anda?" Dengan aneh orang itu berputar dua kali dan berkata:

"Sudah bagus aku tidak mencari kau, untuk apa kau datang kesini!"

Sin-hiong maju lagi dua langkah dan berkata: "Siapa kau?" Setelah berkata, lima jarinya sudah menyentuh senar gitarnya,

berjaga-jaga jika orang itu mendadak menyerang!

Orang itu dengan dingin berkata: "Sin-tung-thian-mo apa kau kenal dia?"

Sin-hiong menganggukan kepala, tapi berteriak: "Ong Lo- cianpwee!"

Orang itu tertawa dingin dan berkata:

"Bagus jika kau kenal, Ong Leng sudah mati!"

Tubuhnya mendadak menerjang ke depan, dan menghantam dengan telapak tangannya!

Sin-hiong melihat ke atas, baru melihat orang ini hanya memiliki sebelah tangan kanan. "Ssst!" dia mencabut Kim-kau-po-kiam, kilatan sinar pedangnya, membuat seluruh pekarangan jadi sedikit terang, dengan mendengus dia berkata:

"Orang yang tidak punya tangan dan tidak punya kaki juga berani menyombongkan diri?"

Serangan pedang ini ditujukan pada tangan kirinya, orang itu mendengus dingin:

"Bagus!" Talapaknya dibalik lalu ditegakan seperti golok, timbul gulungan angin yang amat dahsyat, menghantam ke arah Sin-hiong!

Sin-hiong menggetarkan ujung pedangnya:

"Namamu juga tidak berani disebutkan, orang macam apa kau ini!"

Telapak tangan orang itu belum sampai, jurus pedang Sin-hiong sudah tiba lebih dulu, tepat di saat ini, terlihat ada satu orang dengan sempoyongan datang mendekat, tubuhnya hampir saja jatuh ke dalam gulungan pedang.

Kedua orang bertarung jadi ragu ragu sejenak, Sin-hiong berteriak:

"Ong Lo-cianpwee!"

Bayangan hitam itu belum sempat menjawab, angin pukulan orang itu sudah datang menekan!

Sin-hiong menjadi marah, dia menggerakan pedangnya, terdengar "Huut huut!" pedangnya membelah angin, orang itu tidak berani melukai bayangan hitam itu, dia membalikkan tubuh, jarinya mencengkram pedang Sin-hiong!

Bayangan hitam yang datang ini memang benar Ong Leng, dia bukan saja datang menubruk, malah menyusup lagi ke dalam angin pukulan orang itu!

Sin-hiong terkejut:

"Ong Lo-cianpwee, kenapa kau ini?"

Sin-hiong mengira dia mau bunuh diri, saat pedangnya menyerang tubuhnya melesat maju menangkap dan menarik kembali Ong Leng!

Ong Leng bukan saja tidak berterima kasih, malah melototkan matanya dan bertanya:

"Siapa kau?" "Sen Sin-hiong!" jawab Sin-hiong. Sambil bicara, dia menghadapi serangan telapak tangan orang itu, dalam sekejap mata, dia sudah merubah tiga jurus pedang, baru bisa meng-hindar serangan dahsyat orang itu!

Sin-hiong menghela nafas panjang dan berkata: "Ong Lo- cianpwee, masih ingat aku Sen Sin-hiong?"

Ong Leng memutar matanya dua kali, bengong berkata: "Sen Sin-hiong? Sen Sin-hiong itu permainan apa?"

Sin-hiong jadi merasa kecewa sekali, di dalam hatinya berpikir, orang ini sudah lupa ingatan, apakah sudah dikerjain orang?

Kejadian ini hanya dalam sekejap mata, setelah dia berpikir, lalu menotok Goan-ma-hiat orang itu dan berkata:

"Kau menggunakan cara sesat apa, membuat dia jadi begini?"

Pedangnya berturut-turut menyerang, setiap serangannya adalah serangan membunuh, terlihat hawa pedang seperti pelangi, dalam sekejap sudah menyerang tujuh delapan jurus!

"Jurus pedang bagus!" Orang itu berteriak, tubuhnya berputar, telapak tangannya mengeluarkan angin pukulan seberat gunung, setiap sabetan pedang Sin-hiong, selalu ditangkis ke samping oleh dia, tidak tahan hati Sin-hiong jadi tertekan, maka menyerang lagi sepuluh jurus lebih.

Diam-diam Sin-hiong terkejut, di dalam hati berkata:

"Ilmu silat orang ini sangat tinggi, tampaknya di atas para ketua sembilan perguruan silat, entah dari mana dia datangnya?"

Di dalam hati orang itupun diam-diam terkejut, di dalam hatinya berpikir, kata-kata Sin-tung-thian-mo sedikit pun tidak membesar- besarkan, Ong Leng ada dalam perlindungan seperti dia, tidak heran kalau harus lari karena tidak bisa melawannya.

Kedua orang ini masing-masing punya pikiran sendiri-sendiri, dan masing-masing telah menyerang tujuh delapan jurus! Di dalam pekarangan ini tadinya ditutupi oleh hawa dingin menyeramkan, tapi sekarang keadaannya jadi lain, sinar pedang beradu dengan telapak angin, hawa membunuh menyembur ke langit, menggetarkan jendela-jendela sampai berbunyi keras.

Setelah bertarung beberapa saat, gerakan orang itu sedikit melamban, tapi Sin-hiong semakin bertarung semakin semangat.

Setelah bertarung dua puluh jurus lebih, Sin-hiong membentak, sinar pedangnya berkelebat, terdengar suara "Bret!" lengan baju orang itu sudah dipotong oleh Sin-hiong.

Wajah orang itu berubah, sekuat tenaga dia menyerang dua jurus, lalu meloncat keluar dari pertarungan!

Mana Sin-hiong mau melepaskan dia, dia bersama pedang menjelma jadi satu sinar pelangi, kembali menerjang dia.

Orang itu mengayunkan telapak anginnya dan berteriak: "Kau kira aku takut padamu?"

Sin-hiong menyerang dari atas, di udara membentuk dua bunga pedang, dengan hawa yang amat dingin memotong ke arah lengan kirinya!

Menyerang dari udara, adalah kehebatan jurus Kim-kau-kiam, orang itu berkelebat mencoba menghindar, tapi dua jurus Sin-hiong ini sulit di tebak arahnya, sinar pedang berkelebat, rambut di kepalanya sudah di potong sebagian.

Setelah berhasil, Sin-hiong tidak memberi ampun pada lawannya, mengambil kesempatan tubuhnya turun ke bawah, jurus pedangnya kembali menerkam.

Berturut-turut dia menyerang lagi beberapa jurus, satu jurusnya lebih cepat dari jurus sebelumnya, pada saat Ini mendadak Ong Leng yang ada di tanah berteriak:

"Sesak sekali!"

Sin-hiong yang   sedang   menyerang,   jadi   terganggu   oleh berteriakannya, sehingga sedikit lambat, kesempatan ini di ambil orang itu untuk meloncat keluar dari pertarungan dan kabur.

Ong Leng berguling bangkit berdiri, sambil membereskan rambutnya yang kacau lalu berdiri bengong menatap Sin-hiong.

"Ong Lo-cianpwee, kau sudah sadar?" "Kau apakah Sen-tayhiap?"

Sin-hiong mengiyakan, mendengar itu Ong Leng kembali mengeluh panjang:

"Sen-tayhiap, untuk kedua kalinya kau menyelamatkan nyawaku, budi sebesar ini entah harus bagaimana aku membalasnya?"

Sin-hiong tidak mengerti, di dalam hatinya berpikir, waktu pertama kali dia menolong dia masih bisa mengerti, kali itu tidak bisa dihitung menolong, tadi dia seperti orang gila, saat ini mendadak sadar, tapi bicaranya malah lebih membingungkan lagi.

Ong Leng melihat Sin-hiong sekali dan berkata:

"Kalau aku tidak menceritakannya, Sen-tayhiap tentu tidak akan mengerti, tapi walaupun aku telah ditolong oleh Sen-tayhiap, tapi mungkin nyawa aku juga tidak akan lewat tiga hari, hay..?..."

Keluhannya membelah langit malam yang hening, Sin-hiong semakin tidak mengerti dan berkata:

"Ong Lo-cianpwee, malah membuatku tambah bingung." Ong Leng menyela:

"Tentu saja, tapi, aku akan katakan satu orang mungkin Sen- tayhiap bisa ingat."

"Apakah Sin-tung-thian-mo itu?" Ong Leng menganggukan kepala:

"Betul. Sejak dia dikalahkan oleh Sen-tayhiap, orang ini tidak mau terima. Entah bagaimana dia membawa keluar Im-san-koay- mo (Manusia aneh dari gunung dingin) Cu-couw, mereka berdua yang satu kakinya buntung, yang satu tangannya buntung, tapi nyawa kedua orang itu telah diselamatkan dari kematian olehku.'?

Sin-hiong teringat perihal Sin-tung-thian-mo itu, tahu dia tidak bohong, tapi mendengar orang itu adalah Im-san-koay-mo Cu- couw, hatinya diam diam terkejut lagi.

Ong Leng mengeluh dan berkata:

"Cu-couw pun datang padaku meminta Pit-to itu? Bagaimana aku bisa tahu dimana keberadaan peta rahasia itu?"

"Aku tahu dimana peta rahasia itu berada." Ong Leng menggoyang-goyang tangannya:

"Tidak usah katakan, mereka hanya mencari-cari alasan saja, sebenarnya, tujuan mereka hanya ingin membunuhku saja, tapi karena takut menimbulkan amarah dunia persilatan, makanya mencari satu alasan yang dibuat-buat."

Sin-hiong berpikir benar juga, bagaimana pun Ong Lo-cianpwee pernah menyelamatkan nyawa mereka, jika kedua orang itu tidak mencari satu alasan, kedua aliran hitam dan putih mungkin tidak akan mengampuni mereka.

Ong Leng melanjutkan:

"Begitu Cu-couw datang langsung menotok Pek-bwie-hiat ku, jalan darah ini adalah tempat berkumpulnya ratusan saluran darah, cara menotok-nya tergantung, bisa menentukan mati atau hidupnya seseorang, totokan Im-san-koay-mo khusus sekali, begitu menotok membuat aku semakin hari semakin sakit, akhirnya aku tidak bisa tahan lagi, pikiranku jadi kacau, jadi lupa ingatan."

"Orang ini sungguh keji." Keluh Sin-hiong.

Ong Leng batuk sekali sambil tertawa pahit berkata:

"Ingin mati tidak bisa mati, ingin hidup tidak bisa hidup, malah lebih baik jadi orang gila, dalam keadaan tidak sadar aku minum lagi obat penghilang ingatan buatan sendiri, maka ingatan aku jadi semakin kacau."

Sin-hiong mengeluh, ‘Im-san-koay-mo dan Sin-tung-thian-mo ini terlalu keji, lain kali jika bertemu lagi dengan aku, akan aku cincang mereka.’

Setelah berkata sejenak, saat ini nafas Ong Leng sedikit sesak, tiba-tiba Sin-hiong teringat nyawa-nya hanya tinggal tiga hari, tidak tahan dia jadi terkejut dan berkata:

"Ong Lo-cianpwee, apakah luka di Pek-hwie-hiat itu kambuh lagi?"

Ong Leng menganggukan kepala, nafasnya juga semakin berat. Buru-buru Sin-hiong menghampirinya:

"Cepat duduk, biar aku melihat bagaimana lukanya?"

Sebenarnya, terhadap pengobatan dia sama sekali tidak mengerti, tapi mengenai luka terpukul, semua pesilat biasanya tahu, Sin-hiong mau melihatnya, itupun karena ingin menggunakan tenaga dalam mencoba mengobatinya?

Ong Leng tersenyum tanda terima kasih dan berkata:

"Terima kasih Sen-tayhiap, jalan darah utama-ku sudah putus, nyawaku sudah tidak tertolong lagi."

Hati Sin-hiong jadi merasa berat, tepat di saat ini, mendadak ada orang dengan dingin berkata:

"Betul! Kau segera saja melapor ke pintu neraka?"

Sin-hiong membalikkan tubuh, terlihat di pintu berdiri dua orang, walau hari sangat gelap, tapi Sin-hiong masih bisa melihat dua bayangan hitam ini adalah Im-san-koay-mo dan Sin-tung-thian-mo.

Amarah Sin-hiong tidak tahu harus disalurkan kemana, begitu melihatnya amarahnya seperti mau meledak saja, maka dia berkata:

"Kalian datang pada waktu yang tepat!" Sin-tung-thian-mo tertawa dingin: "Bocah, jangan terlalu sombong"

Setelah berkata, kedua bayangan orang itu sudah berkelebat masuk ke dalam.

Im-san-koay-mo berkata dingin:

"Adik, bagus sekali, hanya satu orang yang tahu masalah ini, kita tutup mulutnya, jangan biarkan dia hidup lagi?"

Dua orang ini adalah pecundangnya Sin-hiong, tapi jika mereka berdua bersama-sama mengeroyok keadaannya akan berbeda, walaupun lukanya kambuh, Ong Leng tetap merasa khawatir:

"Sen-tayhiap, kau cepat pergi!"

Sin-hiong tertawa dingin, lalu berkata:

"Ong Lo-cianpwee, ada aku di sini, siapa yang berani mengganggumu, akan kukuliti orang itu!"

Bicaranya tegas, Ong Leng yang mendengar, sampai mencucurkan air mata terima kasih.

Sin-tung-thian-mo pun mendengar dengan dingin berkata: "Toako, kau dengar tidak? Ada orang mau menguliti kulit kita dua

bersaudara"

Setelah berkata dia mendengus dingin lalu membentak: "Bocah, jangan sombong, Lihat seranganku!"

Tongkatnya bergulung-gulung menyerang, di-bawah tongkat timbul angin keras sampai pasir batu berterbangan, kekuatannya bisa dibayangkan.

Sin-hiong mundur sedikit, lalu mengayunkan pedangnya, terdengar "Traang!" meminjam tenaga bentrokan itu dia meloncat ke atas, saat dia turun pedangnya menusuk pada Im-san-koay-mo!

Sekali dia bergerak, tidak saja meloncat melewati Sin-tung-thian- mo juga menusukan pedang pada Im-san-koay-mo, gerakannya tampak indah sekali, walaupun Ong Leng terluka parah, tapi menyaksikan itu tanpa terasa berteriak: "Gerakan indah!"

Im-san-koay-mo mendengus, dia tidak segera membalas serangan, matanya sekali mengerling, Sin-tung-thian-mo yang ada dibelakang langsung mengerti maksudnya, Im-san-koay-mo mundur ke belakang, Sin-tung-thian-mo maju ke depan.

Serangan Sin-hiong tidak menemui sasaran, tubuhnya turun ke bawah, tapi Sin-tung-thian-mo tidak membiarkan Sin-hiong menginjakan kakinya ke tanah, tongkatnya dengan dahsyat disapukan ke kaki Sin-hiong!

Jurus ini sungguh sadis sekali, jika Sin-hiong balas menyerang, Im-san-koay-mo saat ini berdiri di sisi di tempat yang menguntungkan, tidak perduli serangan Sin-hiong bagaimana, dia bisa mengambil kesempatan mencuri serangan!

Ong Leng berteriak, dia tidak menyangka kedua setan tua ini bisa bekerja sama begitu sempurna, dalam keadaan mengkhawatirkan Sin-hiong, "Waa!" dia memuntahkan darah segar, dan orangnya jatuh pingsan.

Saat ini Sin-hiong sedang turun ke bawah, melihat Sin-tung- thian-mo menyerang dirinya, dengan tenang ujung pedangnya menyentil, saat ini Im-san-koay-mo pun menghantam dengan telapak tangannya, tapi tidak di sangka, tubuh Sin-hiong bisa naik lagi sedikit ke atas, sehingga jurus kedua orang itu jadi gagal, tidak mengenai sasaran.

Dalam sekejap, Sin-hiong menggetarkan pegangan pedangnya, dua gulungan angin menyem-bur keluar, secepat kilat menusuk pada kedua orang itu!

Im-san-koay-mo terkejut, dia memutar tubuh-nya dan berteriak: "Adik, kau serang sisi punggungnya!"

Sin-tung-thian-mo segera memutar tubuhnya, menghindar berhadapan dengan Sin-hiong, tongkat-nya menyapu ke pinggang Sin-hiong!

Im-san-koay-mo pun tidak membuang waktu, dia I-ei putar ke belakang Sin-hiong dan telapak tangannya menyerang!

Sin-hiong belum menginjakan kakinya, jadi sehebat apa pun kemampuannya, dia tidak bisa menggerakannya jurusnya dengan leluasa, sedangkan dua orang musuhnya berturut-turut menyerang, tidak memberi kesempatan pada dia untuk bisa membalas serangan.

Diam-diam hati Sin-hiong tergetar, saat ini sebuah telapak dan sebatang tongkat secara bersamaan menyerang dia, melihat situasinya dia hanya bisa menghadapi sebelah sisi, ketika matanya menyapu, dia menemukan titik kelemahan di lengan kiri Im-san- koay-mo, sedangkan serangan tongkat Sin-tung-thian-mo tinggal satu kaki saja, dalam sekejap mata ini, dia tidak banyak pikir lagi, dia menyabetkan pedang pusakanya ke tempat yang lemah itu.

Walaupun disebut titik lemah, tapi masih dalam lingkup kekuatan jurus kedua orang itu, dengan kehebatan sabetannya, kedua orang ini pernah dikalahkan dia, jadi siapa pun tidak berani terlalu mendesak, sedikit saja kedua orang itu ragu-ragu, tubuh Sin-hiong sudah berdiri mantap di atas tanah.

Kedua orang itu sadar telah tertipu, lalu masing-masing berteriak sekali, mendadak mereka saling bertukar tempat, kekosongan tadi sekarang berubah menjadi titik mematikan, kekuatan pukulan telapak dan tongkatnya juga bertambah berlipat ganda dari pada yang tadi.

Tapi, Sin-hiong sudah menginjakan kakinya di tanah, tentu saja dia jadi jauh lebih lincah dari pada di udara "Ssst ssst!" dia menusukan pedang dan tubuh nya langsung meloncat ke belakang!

Wajah Sin-hiong tampak keheranan, dia tidak menduga setelah kedua orang ini bersatu menyerang, kekuatannya bisa sedahsyat ini, Sian-souw-ngo-goat, perguruan Siauw-lim, dan para pesilat tinggi Kun-lun, Go-bi dia pernah menghadapinya, tidak perduli keroyokan atau satu persatu, tampaknya tidak sehebat kedua orang ini! Diam-diam dia menarik nafas, di dalam hati berkata:

'Untung aku sudah makan Ho-siu-oh ribuan tahun, jika tidak, hari ini aku pasti sudah kalah?'

Begitu Im-san-koay-mo dan Sin-tung-thian-mo melihat Sin-hiong mundur, semangat kedua orang itu jadi meninggi, Sin-tung-thian- mo terawa dan berkata:

"Hehehe, mau lari?"

Im-san-koay-mo melanjutkan:

"Ingin lari juga tidak akan bisa."

Kedua orang itu sambil bicara, sambil bersama sama maju ke depan mendesak Sin-hiong.

Sin-hiong tidak bicara, tapi di wajahnya sudah penuh dengan hawa membunuh, dia memegang erat-erat pedang pusakanya, sekarang jarak kedua orang tidak sampai satu tombak, begitu mendengus dingin Sin-hiong berkata:

"Sebenarnya siapa yang tidak bisa melarikan diri?" Mendadak pedangnya menyerang pada dua orang itu!

Im-san-koay-mo tertawa dingin, ke lima jari tangannya mencengkram dan berteriak: "Sapu bawahnya!"

Serangan cakarnya sangat cepat, Sin-tung-thian-mo juga benar- benar menyapukan tongkatnya ke arah kaki Sin-hiong.

Dalam hati Sin-hiong berpikir:

'Kalian sambil bertarung sambil mengatakan jurusnya, siasat apa ini?'

Otaknya memutar, pedangnya di tarik sedikit, dengan cepat memotong lima jari Im-san-koay-mo, tidak menunggu jurusnya habis, pedang panjangnya memotong melintang, kembali menusuk ke arah Thian-keng-hiat Sin-tung-thian-mo!

Jurus ini adalah dengan menyerang menahan serangan, Sin- tung-thian-mo hanya punya satu kaki, tentu saja gerakannya tidak selincah Sin-hiong, walau-pun dia bergerak lebih dulu, tapi Sin-hiong yang bergerak belakangan sampai lebih duluan!

Tapi teriakan Im-san-koay-mo tadi, sebenarnya mengandung siasat busuk, jika pedang Sin-hiong menusuk ke bawah, maka tongkat Sin-tung-thian-mo dengan sendirinya akan mendongkel ke atas, maka tangan kanan Im-san-koay-mo dirubah jadi memukul, dan posisi Sin-hiong yang terbuka, menunggu dia sadar, maka Sin- tung-thian-mo benar-benar menyapu-kan tongkatnya ke bagian bawah Sin-hiong.

Dua orang bekerja sama, ,yang satu menyerang yang saru bertahan, kerja samanya sangat sempurna, jika pedang Sin-hiong tidak menyabet melintang, walaupun tidak terluka parah, juga akan kehilangan kesempatan menyerang.

Sin-tung-thian-mo sedikit tergetar berteriak:

"Bagus!"

Im-san-koay-mo kembali telapak tangannya menyerang dan berteriak:

"Pukulan tanganku inipun cukup bagus!"

Yang satu mundur yang satu maju, mendadak tongkat berubah jadi telapak tangan, Sin-hiong jadi naik pitam, dia melintangkan tubuhnya, kembali menggunakan cara yang beberapa hari lalu, saat menghadapi ketua perguruan Go-bi, Kun-lun dan Tiang-pek, memaksa mendesak ke arah Sin-tung-thian-mo.

Dengan demikian, pukulan telapak tangan Im-san-koay-mo jadi memukul angin, tapi tekanan pada Sin-tung-thian-mo juga tidak berkurang.

Im-san-koay-mo jadi terkejut, berturut-turut dia menyerang tiga jurus telapak tangan, mulutnya juga berteriak-teriak agar Sin-tung- thian-mo merubah jurusnya, tapi sayang gerakan Sin-hiong jauh lebih cepat dari pada dia, Sin-tung-thian-mo tetap saja tidak mampu melepaskan diri dari tekanan Sin-hiong, tidak saja begitu, setelah tiga jurus bertarung, Sin-tung-thian-mo menjadi gelisah sekali, sampai bercucuran keringat.

Sin-hiong dingin berkata: "Bagaimana? Apa kau bisa melarikan diri?" Setelah berkata, dia menambah serangannya, baju dipunggung Sin-tung-thian-mo sudah dirobek pedangnya!

Im-san-koay-mo pun terus berteriak-teriak, meningkatkan serangan telapak tangannya, laksana gelombang lautan bergulung- gulung menerjang Sin-hiong!

Sin-hiong hanya bergerak mengikuti Sin-tung-thian-mo, hawa membunuh di wajahnya belum hilang dan sekali berteriak:

"Kau tidak boleh dibiarkan hidup!" Sinar pedang berkelebat, terdengar suara keras "Kraas!" lengan kiri Sin-tung-thian-mo sudah dipotong Sin-hiong, saking sakitnya dia sampai menjerit kesakitan, tubuh Sin-tung-thian-mo yang besar ter-pental sejauh dua tombak lebih!

Darah segar mengalir deras, dengan tabah Sin-tung-thian-mo segera membalikan tangan menotok jalan darahnya, menghentikan darah yang mengalir, wajahnya jadi semakin menakutkan orang.

Im-san-koay-mo tergetar, dia bergerak mundur ke belakang, tapi Sin-hiong sudah membalikan tubuh-nya. Sin-hiong dengan dingin berkata: "Aku hanya meninggalkan dia satu tangan satu kaki, kau juga tidak terkecuali!"

Hati Im-san-koay-mo menjadi dingin, tanpa sadar mundur lagi ke belakang dua langkah.

Sin-hiong melihat sekali pada Ong Leng yang tergeletak ditanah, terpikir keperluan dia datang kesini waktunya tinggal sedikit, setelah mendengus, langsung maju menyerang lagi.

Ilmu silat Im-san-koay-mo tidak lemah, sebenarnya mampu menahan Sin-hiong beberapa saat, tapi setelah melihat Sin-tung- thian-mo terluka, hatinya jadi resah, ketika Sin-hiong datang menyerang, dia kembali melesat menghindar. "Kau masih mau melarikan diri?" kata Sin-hiong, "Ssst!" pedangnya menyerang ke atas kepala dia!

Telapak tangan Im-san-koay-mo diangkat meng hantam pedang pusakanya Sin-hiong!

Sin-hiong tertawa keras:

"Jurus ini cukup bagus!"

Ternyata kata-kata ini adalah yang dikatakan Im-san-koay-mo tadi, saat ini digunakan oleh Sin-hiong dengan tepat sekali, setelah berkata, bayangan pedang ikut berkelebat, laksana kilat menusuk bawah tubuh-nya Im-san-koay-mo!

Im-san-koay-mo terkejut, tapi dia adalah seorang penguasa setempat, saat hatinya tergetar, tapi jurusnya tidak terlihat kacau "Huut!" telapak tangan-nya menghantam dan berkata:

"Hemm hemm tidak berhasil!"

Pukulan telapak tangannya telah mengguna-kan seluruh tenaga dalamnya, tenaganya amat dahsyat, tusukan pedang Sin-hiong itu hampir saja dipukul ke Ramping!

Sin-hiong marah sekali, dia menggetarkan pergelangan tangannya "Ssst!" kembali pedangnya menyerang, arah pedangnya tetap mengarah kaki kiri Im-san-koay-mo!

Di luar dia tampak lembut, tapi didalam hati dia umat keras, serangan pedang kali ini, jauh lebih cepat dari pada yang tadi, juga lebih keji.

Im-san-koay-mo sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, tapi tetap tidak bisa menahan serangan Sin-hiong, tubuhnya dipaksa berputar-putar, tapi hawa dingin pedang lawannya masih saja berputar putar di atas kakinya.

Keadaan hatinya persis sama dengan Sin-tung-thian-mo tadi, seluruh tubuhnya bercucuran keringat dingin, saat ini Ong Leng yang ada diatas tanah sudah siuman, melihat ini tidak tahan berteriak memuji dan berkata: "Sen-tayhiap, bagus sekali!"

Ketika matanya melihat ke tempat lain, mendadak melihat Sin- tung-thian-mo jatuh terduduk tidak jauh darinya, sebelah lengannya sudah buntung, dia tahu Sin-hiong telah membalaskan dendamnya, dia jadi terkejut dan senang sekali, sehingga tidak bisa bicara lagi.

Saat ini Sin-hiong sedang mendesak Cu-couw, ketika mendengar suara Ong Leng, dia juga berteriak keras:

"Ong Lo-cianpwee, aku akan membuat mereka tinggal satu tangan dan satu kaki, supaya mereka serasi menyebut persaudaraannya."

"Bagus, bagus!" teriak Ong Leng.

Baru saja dia selesai berkata, satu bayangan hitam menerjang dari atas ke bawah sambil berkata marah:

"Biar aku bunuh kau dulu, supaya balik modal!"

Ternyata orang ini adalah Sin-tung-thian-mo, walaupun dia sudah terluka, tapi dibandingkan dengan Ong Leng, tentu saja lebih kuat beberapa kali, Ong Leng sedang merasa senang, tidak mengira akan terjadi hal ini, menghindar pun sudah tidak keburu, akhirnya bahu kirinya terkena pukulan telapak tangan

Dalam sekejap, terdengar dua jeritan mengerikan, dua bayangan orang berguling-guling di tanah.

Satu bayangan itu adalah Im-san-koay-mo, dan yang satunya lagi adalah Ong Leng!

Ternyata saat Sin-tung-thian-mo memukul Ong Leng, kaki kiri Im-san-koay-mo juga dipotong oleh pedang Sin-hiong!

Walaupun Sin-tung-thian-mo telah memukul Ong Leng sampai jatuh berguling-guling, tapi tenaga-nya sudah berkurang banyak, walaupun demikian, Ong Leng yang sudah terluka tetap tidak mampu menahannya, dia kembali jatuh pingsan.

Sin-tung-thian-mo pun bergoyang-goyang, tapi wajahnya tampak tawa bengis.

Sin-hiong marah sekali, selangkah demi selangkah maju mendesak.

Sin-tung-thian-mo sedikit pun tidak merasa takut dengan dingin berkata:

"Akhirnya aku berhasil mengembalikan sedikit modal!"

Perkataannya belum selesai, Sin-hiong sudah menyabetkan pedangnya "Beek buuk!" sinar merah menyembur, tanpa bersuara sedikitpun tubuh Sin-tung-thian-mo yang besar itu sudah roboh di atas genangan darah.

Saking marahnya wajah Sin-hiong sampai menjadi merah, dia membalikan tubuh, terlihat Im-san-koay-mo masih sedang meronta- ronta disana.

Sin-hiong dengan dingin berkata:

"Kalian juga tidak akan kuampumi hari ini?"

Sekuat tenaga Im-san-koay-mo merayap dua langkah, tapi karena kaki kirinya sudah dipotong, luka-nya lebih parah dari pada Sin-tung-thian-mo, setelah merayap beberapa langkah, dia kembali tergeletak disana tidak bisa bergerak.

Pedang pusaka Sin-hiong bergetar, sejak dia turun gunung, baru hari ini dia membunuh orang!

Malam sudah larut, Sin-hiong tidak mau membuang waktu lagi, dia sudah maju menerjang dan berteriak:

"Kau juga tidak bisa ditinggalkan hidup!"

Dia menusukan pedangnya ke bawah, walau-pun Im-san-koay- mo sudah terluka parah, tapi ilmu silatnya belum hilang semua, dia berguling ditanah, siapa sangka, gerakan pedang Sin-hiong sangat cepat "Kraat!" satu lagi lengan Im-san-koay-mo terpotong.

Melihat dia tidak bakal bisa hidup lagi, Sin-hiong buru-buru berlari ke sisi Ong Leng, mencoba meraba dengan tangannya, terasa dadanya masih ada sedikit hangat, pelan-pelan menepuk punggungnya, akhirnya Ong Leng siuman kembali.

Sin-hiong berteriak:

"Ong Lo-cianpwee, mereka berdua sudah kubunuh." Wajah Ong Leng tampak berseri, katanya:

"Sen-tayhiap, terima kasih!"

Perkataannya sangat pelan, setelah berkata, dadanya naik turun cepat sekali, Sin-hiong jadi terkejut, buru-buru berkata:

"Lo-cianpwee jangan bicara, istirahatlah sebentar."

Ong Leng dengan pelan menggelengkan kepala sambil tertawa pahit berkata:

"Sen-tayhiap, cepat bawa aku ke dalam kamar, ada yang mau kubicarakan padamu."

Sin-hiong menggotong dia masuk ke dalam kamar, di dalam kamar gelap sekali, untungnya dia sudah bering berdiam di tempat gelap, jadi matanya sudah terbiasa, saat itu dia membaringkan Ong Leng di atas ranjang yang penuh debu dan bertanya:

"Kau tunggu sebentar, biar aku mengambil air dulu."

Ong Leng mengulurkan tangan menarik dia dengan susah payah berkata:

"Apa kau punya pemetik api?"

Sin-hiong mengeluarkan pemetik apinya dari dalam kantong lalu menyalakan lampu, Ong Leng menunjuk dengan jari, dengan lemahnya berkata:

"Cepat! Cepat be... berikan botol itu padaku!"

Sin-hiong menurut, mengambil dan memberi-kan pada dia, Ong Leng mengambil dua butir obat dan memakannya, keningnya keluar keringat panas, wajahnya sedikit memerah dan berkata:

"Sen-tayhiap datang kesini, pasti ada keperluan?" Saat dia bicara, suaranya sudah lebih enak terdengar, Sin-hiong tidak segan-segan, langsung menceritakan Cui-giok yang telah terkena racun, Ong Leng mendengar dan terdiam.

Sin-hiong jadi gelisah dan berkata:

"Lo-cianpwee, apakah dia masih bisa ter-tolong?"

Teringat dirinya sudah berlari selama lima enam hari walaupun ada Giok-siau-long-kun disisi Cui-giok, tapi tidak tahu racunnya sudah jadi separah apa, kegelisahannya tampak jelas di wajahnya.

Ong Leng tetap tidak memperdulikan, wajah-nya nampak sedang berpikir keras.

Sin-hiong tidak berani mengganggunya, diam duduk di samping, tapi hatinya sangat risau.

Setelah beberapa saat, baru mendengar Ong Leng berkata: "Racunnya Ngo-ki-thian-cun sangat ternama didunia, menurut

aturan, sebelum aku melihat dengan mata kepala aku sendiri nona

itu, aku tidak seharusnya sembarangan mengobatinya, tapi keadaan Sen-tayhiap berbeda."

Sin-hiong dengan perasaan terima kasih menghela nafas, Ong Leng kembali berkata:

"Sen-tayhiap bisa mengambil selembar kertas di dalam laciku, aku bacakan beberapa macam obat, silahkan Sen-tayhiap mencatatnya, cepat pergi ke kota membeli obatnya, jika ada yang kurang satu dua macam obat, maka aku bisa memikirkan cara lainnya!"

Setelah berkata, dia sendiri mengambil lagi dua butir obat dan memakannya, Sin-hiong mengambil kertas putih, mencatat obat yang dibacakan Ong Leng.

"Sen-tayhiap cepat pergi dan cepat kembali lagi, aku punya cukup waktu menunggu kau kembali!"

Sin-hiong tanpa sungkan dan berkata: "Jaga diri anda." Sin-hiong segera pergi.

Jarak ke kota tidak jauh, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh dalam sekejap dia sudah tiba!

Masuk ke dalam kota, dia mendapatkan satu toko obat, menunggu cukup lama baru toko itu membuka pintu, Sin-hiong memberikan resepnya, begitu pemilik toko obat melihat, lalu menggelengkan kepala dan berkata:

"Dari lima macam obat ini, kami hanya punya dua macam!" Sin-hiong jadi gelisah dan bertanya: "Apa ada di toko lain?"

"Aku tidak tahu." Kata pemilik toko sambil mengerutkan alisnya.

Sin-hiong tidak bisa berbuat apa apa, terpaksa kembali lagi ke jalan, setelah lama mencari, baru mendapatkan satu toko lagi, toko ini kelihatannya jauh lebih besar dari pada yang tadi, Sin-hiong mengetuk-ngetuk pintu, tapi di dalam tidak ada yang menyahut.

Dia jadi sedikit gelisah, sambil mengetuk pintu vimbil berteriak keras, setelah beberapa saat baru mendengar di dalam ada orang bertanya:

"Siapa?"

Sin-hiong buru-buru berkata:

"Tolong buka pintunya, aku mau membeli obat, nanti kubayar lebih banyak."

Orang itu pelan-pelan menyalakan lampu, walaupun Sin-hiong terburu-buru, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Cukup lama menunggu dia menyiapkan obatnya, ''in-hiong memberikan resep obatnya pada dia, begitu orang itu melihat, dengan keheranan bertanya:

"Tabib Ong sudah sembuh?"

Sin-hiong terpaksa menyahut tapi tidak mau bercerita panjang lebar. Orang itu mencari-cari, hampir menghabiskan waktu satu jam, baru mendapatkan empat macam obat dan berkata:

"Masih ada satu macam lagi, Cian-cu-ting tapi di tokoku sudah habis..."

Sin-hiong berpikir kurang satu macam tidak apalah, maka dia menyuruhnya segera meramu, setelah beberapa saat, orang itu baru selesai meramu-nya, Sin-hiong memberi dia satu tail perak, langsung keluar dan secepatnya berlari kembali ke rumah Ong Leng.

Pulang pergi, dia hampir menghabiskan waktu tiga jam lebih, sungguh dia menjadi gelisah sekali, saat dia tiba di kamarnya Ong Leng, di sebelah timur sudah tampak keputihan.

Sin-hiong melangkah masuk ke pekarangan ke tiga, mendadak melihat di dalam kamar Ong Leng lampunya sudah padam, tidak tahan dia jadi terkejut, maka buru-buru masuk ke dalam!

Tapi, baru saja tubuhnya masuk setengah, serangkum angin dingin datang menerpa wajahnya!

Sin-hiong tergetar, lima jarinya langsung mencengkram dan berteriak:

"Siapa kau?"

Walaupun di serang mendadak tapi reaksinya sangat cepat, cengkraman dia sangat cepat, siapa sangka, di depan mata kembali terjadi keanehan.

Angin dingin yang tadi menyerang wajahnya, saat Sin-hiong mencengkramnya, mendadak berubah ke arah ketiaknya, ternyata orang yang menyerang ini sudah menotok ke arah Hwan-pi-hiatnya.

Kecepatan orang ini merubah jurus sungguh sulit digambarkan, jika diganti oleh orang lain, pasti sudah terkena totokannya.

Tapi bagaimana pun Sin-hiong bukan orang biasa, lima jarinya segera disatukan, mendadak dari cengkraman berubah jadi pukulan telapak tangan, satu angin keras menghantam, tapi tubuhnya tetap tergetar mundur kebelakang. Wajah Sin-hiong jadi berubah tidak enak di pandang.

Entah sudah berapa banyak dia mengalami pertempuran besar dan kecil, jika mengatakan hanya dalam dua jurus dia sudah terdesak mundur, itu tidak pernah terjadi, tapi orang yang di depan mata ini malah bisa melakukannya, bagaimana tidak membuat orang tergetar?

Diam-diam Sin-hiong menarik nafas, dengan nada dalam berkata: "Siapa anda, jika tidak menyebutkan nama, aku akan

memakimu!"

Sejak dia turun gunung, mungkin hanya kali ini ia berbicara sekasar ini, tapi setelah dia mengata-kan, di dalam kamar masih tetap hening tidak ada suara.

Walaupun Sin-hiong sudah mengatakan akan memaki, tapi akhirnya dia tidak jadi memaki.

Setelah beberapa saat, terdengar satu suara keras “Paak!" lalu seseorang berteriak:

"Tua bangka Ong, kau katakan tidak!" Terdengar Ong Leng melawannya:

"Tidak, tidak!"

Lalu terdengar kembali suara "Paak!" ternyata Ong Leng sudah mendapat dua kali tamparan, terdengar Ong Leng berteriak:

"Sen-tayhiap, sudah mendapatkan obatnya?"

"Masih kurang satu macam obat, siapa orang itu?" jawab Sin- hiong.

Di dalam kamar kembali hening, ternyata Ong Leng ditotok lagi jalan darahnya!

Sin-hiong merasa gelisah dan marah, tapi sedikit pun tidak punya akal.

Hari sudah terang, pekarangan ini ke tiga sisinya adalah benteng yang tinggi, di belakangnya ada satu gunung buatan yang menutupi cahaya, sehingga di dalam pekarang tetap dingin menyeram-kan.

Sin-hiong berputar saru putaran, mendadak orang di dalam kamar itu berkata:

"Sen Sin-hiong, berikan obatnya padaku?"

Mendengar suara ini Sin-hiong merasa hafal sekali, lalu teringat lagi dua jurus aneh tadi, dengan kesalnya berkata:

"Kau, Sang-toh?"

"Bagus jika kau sudah tahu, cepat berikan obat itu padaku!"

Sin-hiong menghela nafas, di dalam hatinya berpikir kenapa dia bisa datang kemari, apakah racun di tubuh Cui-giok sudah berubah lagi? Tidak tahan dengan penuh perhatian dia bertanya:

"Bagaimana keadaan nona Sun?" "Bukan urusanmu!"

Sin-hiong jadi naik pitam, tapi dia ingin segera menanyakan pada Ong Leng, bagaimana dengan kekurangan satu macam obat itu, dengan perlakuan Sang-toh seperti ini, membuat dia maju salah mundur juga salah.

Dia jadi menahan dirinya dan berkata lagi: "Sang-toh, kau seorang diri datang kemari, bagaimana dengan nona Sun?"

Sang-toh tertawa dingin:

"Aku sudah bilang bukan urusanmu, kenapa kau justru menanyakannya?"

Wajah tampan dia muncul di jendela, tampak bangga dan iri, otak Sin-hiong berputar-putar, tapi tidak tahu apakah nona Sun juga ada di dalam kamar atau tidak.

Tadinya Sin-hiong mau memberikan obat itu pada ilia, tapi dia khawatir Sang-toh berhati busuk, Sejak kemarin malam setelah dia membunuh Im-san-koay-mo dan Sin-tung-thian-mo, dia merasa dirinya harus sedikit keras.

Sang-toh menggerakan tangannya, terdengar Ong Leng mendengus, lalu berkata:

"Walau kau bunuh sekalipun, aku tidak akan mengatakannya!" "Lalu kenapa kau mengatakannya pada Sin-hiong?"

"Sen-tayhiap adalah laki-laki sejati, tidak bisa dibandingkan dengan kalian para manusia licik dunia persilatan!"

Hati Sang-toh sedikit tergetar, dalam hati seperti terharu, tapi hanya terjadi sekejap mata, setelah pikiran ini lewat, di kepala dia kembali timbul rasa iri, di dalam hatinya berpikir, kenapa setiap orang begitu baik pada Sin-lnong?

Sin-hiong berteriak:

"Ong Lo-cianpwee, masih kurang satu macam Cian-cu-ting bagaimana?"

Mendengar ini, baru saja Ong Leng mau menjawab, dia sudah ditotok kembali jalan darahnya oleh Sang-toh!

Tadi keadaan Ong Leng hanya mengandalkan beberapa butir obat itu untuk bertahan hidup, sekarang setelah bolak-balik ditotok jalan darahnya oleh Sang-toh, bagaimana bisa bertahan, saat telapak tangan Sang-toh menotoknya, terdengar "Waa!" dia memuntahkan darah, dan orangnya jatuh pingsan.

Sin-hiong marah sekali:

"Sang-toh, apakah kau tahu Ong Lo-cianpwee sebelumnya sudah terluka parah?"

"Siapa suruh dia tidak mau memberitahukan padaku resep obat itu, walau dia mati pun tidak apa-apa?"

Mendengar ini, Sin-hiong tidak bisa menahan diri lagi, dia meloncat langsung menerjang masuk ke dalam kamar!

Sang-toh tertawa   dingin,   dia   membalikkan   tangan,   tidak menunggu Sin-hiong datang, seruling gioknya sudah maju menyerang.

Sin-hiong mecengkram dengan jarinya dan berteriak: "Kau masih belum mampu!"

Sekarang dia sudah tahu musuh yang dihadapi nya adalah Sang- toh, jurus-jurus aneh dari Sang-toh itu dia pernah menyaksikannya, maka saat dia men-cengkram, dia sudah mempersiapkan gerakan selanjut-nya.

Benar saja, tidak salah perkiraan Siru-hiong, setelah Sang-toh menotok, lalu memutar ujung seruling gioknya, dengan cepat menotok ke arah Meh-ken-hiat Sin-hiong!

Sin-hiong tertawa dingin, dia menyentilkan lima jarinya, saat dia merubah jurus, malah mendahului lawannya, Giok-siau-long-kun Sang-toh tidak mengira ini, baru saja akan menyerang kembali, Sin- hiong sudah memaksa masuk ke dalam.

Saat ini matahari sudah tinggi, di dalam kamar walaupun masih gelap, tapi Sin-hiong bisa melihatnya dengan jelas.

Matanya menyapu, terlihat di atas ranjang terbaring dua orang, yang satu Ong Leng yang hampir mati, yang satunya lagi adalah Sun Cui-giok yang wajahnya pucat!

Tapi, saat ini Cui-giok masih dalarn keadaan tidak sadar, setelah Sin-hiong menerobos masuk ke dalam, dua orang di ranjang itu sedikit pun tidak tahu.

Tiba-tiba Sin-hiong jadi tertegun., dia melihat wajah Cui-giok, warnanya sudah jauh lebih baik.

Keadaan yang dilihat olehnya, membuat dia teringat luka Cui-giok yang sangat parah, sekarang warna kulitnya sudah kembali normal, pasti Sang-toh sudah menghabiskan banyak tenaga, saat dia nneng- hentikan langkahnya dan berkata:

"Kau ambil ini!" Saat sin-hiong mengeluarkan obat itu dan dilemparkan padanya, Sang-toh tidak menduga secepat ini Sin-hiong berubah, dia tertegun sejenak dan Menerimanya, lalu bertanya : Kenapa kau mau memberikan padaku!  "

"Semua masalah ini demi mengobati penyakit-nya nona Sun, jika dari tadi aku tahu dia ada disini, aku tidak akan banyak cincong denganmu."

Setelah berkata begitu, pelan-pelan melangkah ke sisi Ong Leng, membuka totokannya, terlihat nafas dia sudah lemah sekali, buru- buru dia menyuapkan dua butir obat, setelah beberapa saat, Ong Leng siuman kembali dan berkata:

"Sen-tayhiap, bisakah aku memohon satu hal padamu?" Sin-hiong berkata serius:

"Katakan saja Lo-cianpwee, jangan kata satu hal, walaupun sepuluh hal asalkan aku bisa melaku-kannya, menempuh bahaya mati juga akan kulakukan."

Ong Leng tersenyum tanda terima kasih:

"Setelah aku mati, harap Sen-tayhiap menaruh mayatku di pekarangan depan, lalu bakar rumah ini."

Sin-hiong merasa sedih dan berkata:

"Lo-cianpwee kenapa berkata begini, asalkan kau baik-baik istirahat pasti akan sembuh."

Ong Leng menggelengkan kepala, mendadak nafasnya melemah, sambil tersendat-sendatberkata:

"Kau......menyanggupi. nya?"

Sin-hiong terkejut, waktu sekejap mata ini, dia hampir tidak bisa memilih, terpaksa merijawabnya:

"Pasti akan kulakukan!"

Wajah Ong Leng tampak tersenyum, menunjuk dengan tangannya ke belakang meja, Sin-hiong melihat, kiranya dia masih punya sesuatu yang mau menyuruh dia mengambilnya, pada saat ini, sesosok bayangan berkelebat, Sang-toh sudah datang menerjang!

Sin-hiong menjadi marah, tanpa berpikir lagi tangannya langsung menghantam dan membentak:

"Mau apa kau?"

Seruling giok Sang-toh balik menotok sambil tertawa dingin, berkata:

"Aku membantu dia juga tidak boleh?"

Sin-hiong jadi sadar, ternyata benda yang disuruh dia ambil adalah buku catatan pengobatan hasil karya seumur hidupnya Ong Leng, matanya melirik, ternyata Ong Leng sudah menghembuskan nafas yang terakhir.

Tidak tahan dia jadi marah besar, lima jarinya melayang dengan cepat mencengkram serulingnya Giok-siau-long-kun.

Ruangan di dalam kamar sangat sempit, kedua orang ini begitu bertarung hanya bisa berbuat keras melawan keras, sedikit pun tidak bisa berpura-pura.

Seruling giok di tangan Sang-toh menotok, memukul, mendongkel, menangkis, jurusnya sangat dahsyat.

Walaupun Sin-hiong bertangan kosong, tapi dia tahu masalah ini sangat penting, sedikit pun dia tidak mau mengalah, kedua orang dalam sekejap sudah bertarung lima enam jurus.

Memang Sang-toh ingin sekali bertarung dengan Sin-hiong, karena Cui-giok terluka, dia jadi tidak ada kesempatan bertarung, saat ini karena kedua orang ini terdesak oleh keadaan, begitu bertarung, siapa pun tidak dapat mengalahkan lawannya.

Dalam hati Sang-toh berkata:

'Aku bertarung dengan senjata di tangan, dia menggunakan tangan kosong, jika sampai tidak bisa mendesak mundur, bagaimana aku bisa menguasai dunia persilatan?"

Setelah berpikir, dia segera menggunakan seluruh kemanpuannya menyerang, malah banyak melancarkan jurus-jurus tipuan, Sin-hiong mendapat kerugian karena tidak memakai senjata, di bawah serangan dahsyat Sang-toh, dia malah terdesak sampai mundur setengah langkah.

Begitu Sin-hiong mundur, Sang-toh maju mendesak lagi!

Tapi Sin-hiong tidak mau mengalah "Sreett!" dia sudah mencabut pedangnya keluar, langsung menusuk ke arah Leng-tai-hiat Sang- toh!

Terpaksa Sang-toh menarik tangannya menang kis, dia sedikit terdorong, jurus pedang Sin-hiong sangat cepat, belum sampai dua juras, dia sudah berada diatas angin lagi.

Sang-toh terkejut, dia mengongkelkan seruling gioknya dan berteriak:

"Coba tahan ini!"

Terlihat sebuah bayangan hijau berkelebat dan sebuah bayangan hitam menyerang wajah Sin-hiong!

Sin-hiong melihat, ternyata benda itu adalah pot bunga yang berada di atas meja dilontarkan oleh Sang-toh, segera tangan kirinya menyapu, tangan kanan tetap dengan dahsyat menyerang!

"Paak!" pot bunga itu sudah disapu oleh telapak tangan Sin- hiong, menabrak cermin di atas meja dan menghancurkan cermin itu.

Cermin ini tepat di taruh di belakang meja, setelah cerminnya pecah berantakan, gerakan kedua orang itu jadi melambat, tapi begitu dilihat ternyata di dalam cermin itu terselip sebuah buku.

Di sampul buku itu tertulis Kim-ciam-tok-su (Jarum emas menyebrang dunia) begitu kedua orang ini melihat, hatinya jadi tergerak. Dalam hati Sin-hiong berkata:

"Jika bukan karena tidak sengaja terpukul oleh ku, walau mencari ke atas langitpun tidak akan bLu menemukannya, ini kesempatan yang baik sekali!"

Dengan miring pedangnya segera menusuk dua kali dan berteriak:

"Sebenarnya aku tidak menginginkan buku ini, hanya karena pemiliknya sudah berpesan diberikan kepadaku, maka aku harus memberikan buku ini pada orang yang berhati baik, tapi justru bukan kau?"

Kata-kata dia ini adalah kata jujur, tapi setelah didengar oleh Sang-toh, dia segera menyerang dua jurus sambil marah berkata:

"Hatiku tidak baik, apakah kau yang berhati baik?"

Kedua orang itu saling tidak mau mengalah, dalam sekejap lima enam jurus sudah lewat lagi, tapi siapa pun tidak bisa mendekati buku itu!

Diam-diam Sang-toh merasa gelisah, di dalam hatinya berpikir, kamar ini terlalu sempit, tidak leluasa bergerak, aku rugi dibidang senjata, kalau diteruskan, akhirnya pasti kalah, otaknya terus berputar "Huut huut huut!" dia menotok tiga jurus, jurusnya kadang di sebelah kiri kadang di sebelah kanan, sangat bervariasi, saat Sin- hiong menangkisnya, kembali terdengar "Huut!" sekali, mendadak Sang-toh meloncat keluar.

Gerakannya di luar dugaan Sin-hiong, tanpa banyak berpikir, dengan reflek Sin-hiong mendongkel buku itu memakai pedang ke tangannya, tapi pada saat ini, Sang-toh sudah mengempit Cui-giok berlari keluar.

Sin-hiong marah sekali, secepat kilat dia mengejar, baru saja Sang-toh meloncat ke benteng, melihat Sin-hiong mengejarnya lalu berteriak:

"Lihat ini!" Sebuah benda dengan mengeluarkan suitan membelah angin melesat ke arah Sin-hiong, dengan telapak tangan Sin-hiong memukul jatuh benda itu lalu ikut melesat keluar.

Dia meloncat ke benteng, melihat Sang-toh sedang berlari di depan, sekali mengerahkan tenaga dalam Sin-hiong sudah melesat memperpendek jarak dua tombak.

Tidak jauh di depan ada sebuah hutan, asalkan Sang-toh bisa masuk ke dalam hutan itu, maka pengejarannya akan mendapat kesulitan, dalam keadaan resah, Sin-hiong sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh sampai puncaknya, tapi ketika dia sampai di pinggir hutan, Sang-toh sudah masuk ke dalam hutan itu.

Sin-hiong tertegun sejenak, dia tahu ilmu silat Sang-toh sekarang sudah tidak berbeda jauh dengan dirinya, jika dia sembarangan masuk ke dalam hutan, sulit menghindar serangan gelapnya.

Dia melihat panjang hutan ini sekitar dua tiga li, tapi hutannya sangat rimbun, sulit jika mencari orang. Dia meloncat ke atas pohon di dekat itu, lalu berteriak:

"Jika kau tidak keluar, maka aku akan menjaga disini tiga hari tiga malam, kau tidak akan bisa lari kemana-mana?"

Walaupun berkata begitu, dia menggunakan ilmu meringankan tubuh yang tiada duanya memutari hutan itu di atas puncak pohon.

Di dalam hutan masih hening tidak ada suara, dari atas mengawasi ke bawah, dia tahu Sang-toh masih berada di dalam hutan, saat ini dari kejauhan ada seseorang yang mirip petani berjalan mendatangi, Sin-hiong segera berputar lalu melayang turun ke bawah.

Menunggu petani itu sudah dekat, Sin-hiong segera berkata padanya, mula-mula petani itu sedikit kesulitan, setelah Sin-hiong memberikan uang perak sepuluh liang, akhirnya petani itu menyanggupinya, seperti pepatah mengatakan, kekuasaan uang sampai bisa menyuruh setan mendorong gilingan.

Menunggu petani itu sudah jauh, dia pura-pura berteriak: "Sang-toh, kali ini aku melepaskanmu, tapi kau harus menyembuhkan racunnya nona Sun, aku tidak ada waktu menunggu kau disini, aku harus kembali mengurus jenasahnya Ong Lo-cianpwee."

Setelah berkata, dia benar-benar berjalan kembali ke rumahnya Ong Leng, tapi setelah berjalan sampai di satu tikungan, dia segera membalikkan tubuh, melototkan sepasang matanya mengawasi hutan.

Di dalam hutan masih tidak ada gerakan, tidak lama kemudian, terlihat api di rumah Ong Leng membumbung ke langit, suaranya dari jauh bisa mendengarnya, pada saat ini benar saja dia melihat Sang-toh mengempit Cui-giok berlari menuju ke selatan!

Diam-diam Sin-hiong merasa senang, di dalam hatinya berpikir, akhirnya kau terjebak oleh siasatku.

Ketika berlari Sang-toh terus-menerus memper hatikan kobaran api itu, sedangkan Sin-hiong diam diam mengikutinya dari belakang, menunggu Sang-toh sudah tidak ada kemungkinan bisa masuk lagi ke dalam hutan, maka dia mengerahkan ilmu meringan-kan tubuh mengejarnya.

Jangan dikataan, saat ini di tangan Sang-toh mengempit orang, walaupun dia tidak membawa orang juga dalam jarak lima enam li, Sin-hiong sudah bisa mengejarnya.

Ketika Sang-toh berlari di depan, mendadak merasa di belakang seperti ada sesuatu, begitu melihat ke belakang ternyata Sin-hiong sedang mengejarnya, wajahnya segera berubah.

Sin-hiong berteriak:

"Sang-toh, berhenti!"

Sang-toh berlari lagi sejenak, tapi sadar tidak bisa meloloskan diri lagi, terpaksa dia menghentikan langkahnya dan berkata dingin: '

"Mau apa kau?"

"Lepaskan orangnya!" kata Sin-hiong tertawa. Setelah di tangan Sin-hiong sudah ada buku pengobatan Kim-ciam-tok-su, resep di tangan Sang-toh sudah tidak ada gunanya lagi, Sang-toh melepaskan Cui-giok ke tanah dan berkata:

"Kita bertarung tiga ratus jurus dulu!"

Setelah berkata, selangkah demi selangkah dia mendesak ke arah Sin-hiong.

Sin-hiong melihat wajah Cui-giok masih normal, hatinya jadi mefasa tenang:

"Tidak perlu tiga ratus jurus, dua puluh jurus sudah cukup?" Sang-toh tidak takut, tapi Sin-hiong pun tidak memandang dia,

dua orang ini saling berhadapan, jaraknya tidak sampai dua tombak,

Sang-toh berteriak serulingnya menotok.

Sin-hiong menghindar, tubuhnya berkelebat, jurus kedua Sang- toh sudah datang menyerang!

Ilmu silat Sang-toh sekarang sudah maju berlipat ganda dibandingkan dulu, setiap serangan jurusnya, selalu mengeluarkan suara menderu yang memekakkan telinga, setelah dua jurus, terlihat langit ditutupi oleh bayangan seruling, laksana turun dari langit menutup ke bawah.

Tentu saja Sin-hiong tidak berani lengah, pedang pusakanya bergerak menyerang, jurus Sang-toh sangat cepat, dalam sekejap sudah menotok pergelangannya.

Sin-hiong sedikit tergetar, dia cepat merubah jurus pedangnya, sadar jurus Sang-toh inipun jurus tipuan, bayangan hijau berkelebat, menusuk ke arah Hong-ho-hiat Sang-toh!

Dia baru saja dia menyerang satu jurus, Sang-toh sudah menyerang tiga empat jurus, tampaknya tiga empat jurus, tapi seperti satu jurus!

Sin-hiong kembali berkelebat, tiba-tiba dia menyabetkan Kim- kau-po-kiam, kilatan dingin secepat kilat menyerang bayangan seruling. Sang-toh mendengus dan berkata:

"Jurus ini tidak ada kelebihannya?"

Sedikit membalikkan pergelangan tangan, secepat kilat menotok ke Cu-tong-hiat Sin-hiong!

Mereka memang ingin bertarung, kebetulan di tempat ini tidak ada satu orang pun, tempat yang bagus untuk bertarung, serangannya adalah jurus-jurus hebat yang sulit dilihat di dunia persilatan!

Sin-hiong yang selalu didahului oleh lawan-nya, amarahnya jadi meledak, dia segera menggetar-kan pedang pusakanya, tidak membiarkan Sang-toh mengeluarkan jurus berikutnya "Ssst ssst!" dia menyerang dua jurus.

Dua jurus pedang ini adalah jurus terhebat dari jurus Kim-kau- kiam, sinar pedang bergulung-gulung, laksana dua ekor naga meliuk-liuk menyerang Sang-toh.

Shang tao tertawa dingin, dia menangkis dengan seruling gioknya, lalu balik menyerang dengan jurus dahsyat, menotok ke Thian-keng-hiat Sin-hiong!

Dia sedikit pun tidak mau mengalah, jurus ini disebut Beng-teng- kui-lu (Nama dicatat setan terdaftar) yang ada di dalam Hu-houw- pit-to/jika terkena oleh totokannya, walau ilmu silatnya lebih" tinggi pun tidak akan bernyawa lagi!

Semangat Sin-hiong jadi terangsang, berteriak: "Jurus bagus!"

Setelah berteriak, cahaya perak di tangannya, tiba-tiba mengembang besar, dengan ganas menyabet ke arah bahu kanan Sang-toh.

Sang-toh pun sedikit terkejut, tidak menduga kekuatan pedang Sin-hiong bisa lebih kuat dari jurus-nya tadi, otaknya berputar, tapi tangannya sedikit pun tidak lambat, begitu menggerakan seruling giok, bayangan seruling mengeluarkan sinar tidak ber-aturan,  tampaknya seperti menuju jalan darah di depan tubuh Sin-hiong, tapi di dalam kurungan sinarnya, samar-samar seluruh tubuh Sin- hiong berada dalam sasaran-nya.

Hati Sin-hiong jadi tegang dan di dalam hati berkata:

'Ilmu silat Sang-toh masih diatas Ho Koan-beng, aku tadi salah memperhitungkan dia."

Tubuhnya sedikit bergerak, pedangnya digerakan sepenuh tenaga, sekali menangkis sekali menyerang, dua jurus yang sangat hebat sudah dikerahkannya!

Kedua orang ini dalam waktu tidak lama sudah saling menyerang ilmu enam belas jurus, bukan saja tidak ada gejala akan kalah, malah semakin bertarung Sang-toh makin perkasa, jurus hebat dari Hu-houw-pit-to tidak henti-hentinya dikeluarkan, dalam waktu singkat tidak gampang bagi Sin-hiong untuk meraih kemenangan.

Matahari sudah terbit, dua orang di lapangan itu sudah bertarung tiga puluh jurus!

Disaat ini, dari kejauhan datang satu orang. Sambil berjalan orang itu sambil melihat pertarungan, wajahnya penuh sinar keheranan.

Setelah dekat, baru terlihat di bahunya masih menggendong seseorang, dan yang digendongnya pun seorang wanita, rambut panjangnya mengurai sampai di depan dadanya.

Saat ini pertarungan Sin-hiong dengan Sang-toh sedang sengit, siapa pun tidak sempat memper-hatikan orang yang datang itu, tapi orang itu malah tidak bisa menahan diri, dia berteriak-teriak memberi semangat.

Setelah melihat keadaan, orang itu lalu meletakan wanita yang digendongnya di sisi Cui-giok dan berteriak:

"Hei, bocah yang menggunakan seruling, tadi jurusmu salah!"

Kedua orang yang bertarung itu jadi tergerak, begitu mencuri pandang, terlihat orang yang datang ini berambut acak-acakan, di tangannya memegang sebuah pancingan yang panjang, hati Sin- hiong jadi tergetar dan berteriak:

"Hei! Kau ini Thian-ho-tiauw-souw?" Orang itu menganggukan kepala:

"Betul, bukankah kau yang dijuluki Kim-kau-kiam-khek?"

Ternyata orang ini bukan lain adalah Thian-ho-tiauw-souw yang sangat ternama di dunia persilatan, dan wanita di tangannya pasti Hui-lan, tidak diragukan lagi.

Ternyata setelah dia menangkap Hui-lan di pinggir sungai, sepanjang jalan diam-diam dia mencari jejak ketua pulau Teratai dan Sin-hiong, ketua pulau Teratai sulit ditemukan, tapi juga sedang mencari dia kemana-mana, karena kedua orang ini sangat jarang muncul di dunia persilatan, makanya keduanya tidak bisa bertemu.

Sifat Thian-ho-tiauw-souw sangat aneh, setelah dia mencari kemana-mana tapi tidak berhasil, dengan sendirinya jadi merasa putus asa, begitu hatinya tergerak, maka dia membawa Hui-lan pulang ke gunung Thian-san, dia merasa nanti pasti ketua pulau Teratai akan mengunjunginya.

Dia berjalan tenis, di sepanjang pun menyebarkan berita, malah sampai arah jalannya juga dijelaskan, tidak diduga disini dia bisa bertemu lagi dengan Sin-hiong, begitu melihat Sin-hiong bertarung dia sudah bisa mengenalinya, hingga dia memberitahukan kesalahan Sang-toh, dia ingin supaya Sang-toh bisa mengalahkan Sin-hiong!

Begitu Sang-toh diberi petunjuk oleh Thian-ho-tiauw-souw, hatinya jadi terkejut, mendengar Sin-hiong menyebutkan nama besarnya, dia jadi tidak merasa aneh, Sang-toh segera menyerang dua juras!

Melihat Thian-ho-tiauw-souw datang tiba-tiba, dengan sendirinya konsentrasi Sin-hiong jadi terpecah, dua jurus ini hampir saja mengenainya. Buru-buru dia memusatkan kembali pikiran-nya, menyerang dengan menggunakan jurus terhebat Kim-kau-kiam, dalam sekejap mendesak mundur Sang-toh satu langkah ke belakang!

Sang-toh terkejut, tapi dalam keadaan sangat berbahaya ini, Thian-ho-tiauw-souw kembali memberi petunjuk, Sang-toh mengikuti petunjuknya, segera merebut kembali posisinya jadi seimbang. Sin-hiong jadi tergetar sekali!

Dia belum pernah bertarung dengan Thian-ho-tiauw-souw, tapi melihat dia dengan tenang bisa memberi petunjuk beberapa jurus kepada Sang-toh, mungkin dia bukan lawannya?

Tapi dia adalah orang tabah, walaupun tahu keadaannya berbahaya, tapi sedikit pun tidak merasa takut dan berteriak:

"Coba terima satu jurusku ini!"

Dia menggetarkan pedang pusakanya, ujung pedangnya menyabet miring sedikit ke kanan, jurus ini dia telah mengerahkan seluruh tenaganya, bagaimana kedahsyatannya, mungkin dia sendiri pun tidak tahu.

Begitu Sang-toh menangkis, Thian-ho-tiauw-souw berteriak: "Hei, apa kau tidak bisa menotok di sebelah kirinya?"

Kata-katanyaa kelihatan seperti main-main, saat ini Sin-hiong lebih dulu menyerang, malah menyerang bagian kanan Sang-toh, jika Sang-toh menotok ke kiri, akibatnya bagaimana, siapa pun tidak bisa menyangkal nya.

Siang-toh ragu-ragu sejenak, Thian-ho-tiauw-souw berteriak: "Turuti aku!"

Sang-toh tidak ragu-ragu lagi, membalikkan pergelangan tangan memaksa menotok ke kiri Sin-hiong.

Siapa sangka, jurus ini kembali menghasilkan hasil yang di luar dugaan, ketika Sin-hiong menusukan pedangnya ke kanan, tadinya mengira Sang-toh akan menangkis ke kiri. Begitu Sang-toh merubah jurusnya, malah jadi mendahuluinya.

Sin-hiong tergetar, walaupun jurus pedangnya keluar belakangan, tapi tibanya lebih dulu!

Thian-ho-tiauw-souw berteriak:

"Putar ke kanan, totok pergelangan tangan-nya!"

Teriakan ini kembali terlihat kehebatannya, Sin-hiong tergetar lagi, ternyata beberapa petunjuk dari Thian-ho-tiauw-souw ini, setiap petunjuknya mengarah pada titik kelemahannya, sejak Sin- hiong turun gunung, baru pertama kali dia bertemu dengan pesilat tinggi seperti ini?

Dia terkejut dan berkata dingin:

"Jika kau berani, ayo maju sekalian?"

Thian-ho-tiauw-souw hanya menggelengkan kepala tidak bicara, hal ini membuat kemarahan Sin-hiong hampir meledak!

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dingin: "Teruskan pertarungannya, masih ada aku!"

Suara orang ini dingin sekali, tapi terhadap Sin-hiong malah terasa begitu akrab!

Sin-hiong tidak bisa menahan diri dan berteriak: "Ho-hoa (bunga teratai) Cianpwee!"

Thian-ho-tiauw-souw meloncat ke atas sambil tertawa keras berkata:

"Memukul yang muda, akhirnya yang tua muncul!"

Setelah berkata, dari kejauhan benar saja ada seseorang berjalan pelan-pelan mendekat!

Walaupun disebut "berjalan", tapi langkahnya besar sekali, dalam sekejap sudah dekat.

Orang ini memang ketua pulau Teratai yang namanya menggemparkan dunia persilatan, bajunya melayang-layang ditiup angin, tingkahnya sangat tenang sekali dan berkata:

"Tua bangka Thian-ho, keterlaluan!" Thian-ho-tiauw-souw tertawa:

"Kau ini pemalasan, malas pergi ke Thian-san?" Ketua pulau Teratai tersenyum:

"Keujung dunia pun aku tidak takut, tapi kau menyandera putriku, dimana aturannya?"

Saat ini Sin-hiong dan Sang-toh sudah berhenti bertarung, nafas Sang-toh sedikit terngengah-ngengah, jikalidak ada Thian-ho-tiauw- souw, mungkin dari tadi dia sudah kalah.

Thian-ho-tiauw-souw tertawa:

"Yang tua sudah datang, tentu saja aku harus melepaskan yang muda!"

Dia memutar pancingan panjangnya, serangkum angin dingin berhembus, Hui-lan yang berada di atas tanah berteriak, langsung bangkit berdiri dan menjerit: "Bangsat tua Thian-ho, aku bunuh kau!"

Ketua pulau Teratai sambil tertawa berkata: "Anak Lan, kali ini kau sudah cukup mendapat penderitaan bukan?"

Hui-lan terkejut mendengar suara ini, begitu melihat, bukan saja ayahnya sudah berdiri tidak jauh darinya, Sin-hiong yang dicintainya pun sedang tersenyum penuh perhatian menatapnya.

Mata besar Hui-lan berputar dan berkata:

"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?"

Baru saja selesai berkata, terlihat Cui-giok sedang tergeletak di sisinya, dia jadi lebih tidak mengerti, wajahnya penuh rasa kebingungan, bengong melihat pada orang-orang di depan matanya. "Anak Hui, berdiri di pinggir!" Kata ayahnya.

Menghadapi musuh besarnya, tentu saja harus waspada, kejadian kelakar ayah dan anak yang dulu Sin-hiong saksikan, saat ini sulit terlihat di wajah ketua pulau Teratai.

Thian-ho-tiauw-souw berkata: "Lo-lim, kau duluan atau aku duluan?"

Ketua pulau Teratai sambil tertawa: "Tidak bisakah kita bersamaan bergerak?"

Thian-ho-tiauw-souw menganggukan kepala: "Boleh, boleh!"

Setelah berkata, wajahnya sudah jadi serius, jelas dia juga tidak berani memandang enteng.

Kedua orang bersama-sama maju satu langkah, saling berhadapan, tapi hanya memutar lapangan satu putaran.

Pelan-pelan Hui-lan berjalan ke sisi Sin-hiong, wajahnya sangat senang, tapi setelah melihat wajah ayahnya yang sangat serius, tidak tahan dengan penuh perhatian berkata:

"Ko.   Hiong, coba lihat ayahku bisa menang tidak?"

Dia sudah lama sekali tidak melihat Sin-hiong, di hadapan banyak orang ini, akhirnya dengan wajah yang menjadi merah memanggil Sin-hiong Koko.

Sin-hiong dengan pelan berkata:

"Aku pikir beliau akan menang!"

Walaupun berkata demikian, tapi hatinya masih khawatir.

Disaat kedua orang itu berbincang, di lapangan mendadak terdengar suara keras "Buum!"

Sin-hiong dan Hui-lan menengok, terlihat ketua pulau Teratai dan Thian-ho-tiauw-souw ter-pental, kedua orang itu kembali pelan- pelan berputar di lapangan.

-oo0dw0oo-