Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 17 (Tamat)

Jilid 17 (Tamat)

Seperti sudah diketahui, dengan padamnya semua api lilin, lembah itu menjadi gelap sekali. Benar di atas ada banyak obor, tetapi cahaya obor itu tidak sampai ke dasar lembah. Pian Siu Hoo telah perintahkan orang- orangnya melepas batu-batu besar, meski begitu ia toh menjaga kalau-kalau ada orang menerjang naik, lantaran ia ketahui di dalam lembah ada musuh-musuh yang liehay. Maka itu, kecuali batu, belakangan ia suruh duapuluh lebih orangnya akan lempar-lemparkan juga obor mereka, maka, dengan adanya api obor itu, seluruh lembah jadi terlihat nyata. Antaranya pun ada obor yang seperti mandek di tengah-tengah lamping bukit.

Hoa Ban Hie manjat sendirian, saking cepatnya, ia berangkat tidak kelihatan, apa mau, selainnya dia, ada ikut Ang Tiu dan Tan Ceng Po, maka tidak heran kalau Pian Siu Hoo lantas lihat mereka bertiga, tidak peduli gerakan mereka ini sangat cepat. Dengan penunjukannya, api lantas dilempar ke jurusan si Raja Pengemis itu.

"Lekas, batu, batu!" berseru si Naga Besi berulang- ulang, ketika ia sudah loncat ke jurusan barat selatan itu, akan perintahkan orang-orangnya lepas api dengan terlebih gencar, guna rintangi ketua dari Bancie sanchung.

Sekarang ini batu tidak lagi dilepas turun secara sembarangan. Delapan orang, dengan bekerja sama- sama, saban-saban lepaskan batu ke jurusannya tiga orang tua yang gagah itu. Hingga tidak heran kalau mereka ini jadi repot sekali, akan menyingkir dari sesuatu batu.

Pian Siu Hoo kertak gigi, karena ia lihat tiga orang itu tidak bisa dihajar dengan batu, maka diam-diam ia jumput satu batu besar, ia siap sambil awaskan Hoa Ban Hie, orang yang ia hendak hajar paling dulu.

Kiongsin telah maju dengan pesat, tangannya sedang pegang oyot, kalau ia enjot tenaga tangan dan kakinya, ia segera akan bisa sampai di atas bukit, dan satu kali ia berada di atas, ia bakal merupakan seekor harimau yang lolos dari jaring.

Dan di saat genting itu, Pian Siu Hoo berseru, "Hoa chungcu akan bikin tamat lelakon hidupmu!" seraya ia lemparkan batu besarnya.

Hoa Ban Hie memang senantiasa melihat ke atas, maka itu, ia bisa lihat datangnya sesuatu batu, sekarang serangannya si Naga Besi diberikuti teriakan, ia jadi bisa melihat dan mendengar, hanya sekali ini, serangan ada hebat, karena batu dilemparkan oleh orang yang tenaganya besar. Tapi ia tidak putus asa, ia tunggu sampai batu bendak hajar kepalanya, segera ia menjambret ke kanan seraya terus pindahkan tubuhnya ke kanan juga, hingga batu kematian itu lewati tempat kosong!

Suara keras terdengar waktu batu itu jatuh ke dasar lembah!

Hoa Ban Hie tidak berhenti karena ia sudah terlepas dari bahaya itu, ia terus unjuk kesebatannya, karena ia tahu Tiathong-liong pasti tidak mau mengerti dan akan mengulangi serangan berbahayanya semacam itu. Ia manjat terus, selagi tangan kirinya menggantikan tangan kanan, akan menjambret oyot, tangan kanannya, yang genggam kimchie-piauw, menimpuk ke atas.

Tatkala itu si pengemis tua Ang Tiu dan si nelayan dari Tonglouw Tan Ceng Po, juga telah manjat terus, karena mereka telah berhasil menyingkirkan diri dari sesuatu batu yang menyambar mereka. Malah karena Kiongsin terhalang oleh serangan liehay dari Tiathong-liong, mereka bisa menyusul, hingga bertiga mereka jadi berimbang tingginya.

Pian Siu Hoo gusar berbareng kuatir kapan ia lihat serangannya tidak mengasih hasil dan musuh-musuhnya telah naik terus. Ia mengerti, seandainya Hoa Ban Hie bisa ada di atas, ludaslah pengharapannya, musnahlah ikhtiarnya. Maka sekarang, di saat terakhir, ia lantas siapkan jarum bweehoa-ciam-nya.

Selagi tiga musuh naik terus, Pian Siu Hoo sengaja mundur sedikit. Ini ada satu siasat dari ia, akan bikin musuh dapat hati dan nanti terus saja loncat naik ke atas, karena dengan melihatnya tanah datar, tiga orang itu niscaya jadi bernapsu dan akan hilang, atau kurangan, perhatiannya, la mau sambut tiga-tiga musuh dengan jarumnya yang liehay itu.

Di lain pihak, empat atau lima anggota, yang berada paling dekat, masih saja melemparkan batu, cuma serangan mereka tidak digubris oleh tiga orang berilmu itu.

Jikalau mereka tidak berkelit, tentu batu itu ditanggapi dengan tangan yang dilonjorkan, dan dibikin terus melewati lengan dan jatuh.

Pian Siu Hoo siap terus, matanya dipasang dengan celi. Ia sangat bernapsu dan ingin dengan sekali timpuk, tiga-tiga musuhnya roboh.

Cepat sekali sang waktu yang ditunggu-tunggu telah datang. Tiga kepala telah muncul, tinggal satu gerakan lagi, mereka akan sudah berada di atas tanah datar.

Maka juga, pada saat itu si Naga Besi sudah lantas gerakkan tangannya.

Di saat berbahaya ini, mendadak dari sebelah kirinya Tiathong-liong terdengar seruan, "Awas!" yang dibarengi dengan menyambarnya dua buah peluru yang mengenai lengannya yang kanan. Akan tetapi, ketika si Naga Besi kesakitan, berbareng jarumnya pun dilepaskan dan tiga batang jarum telah melesat ke jurusan Hoa Ban Hie, Ang Tiu dan Tan Ceng Po bertiga!

Karena ia dibokong, meskipun tangannya sakit, Tiathong-liong sudah lantas putar tubuhnya akan berpaling ke jurusan dari mana serangan gelap datang. Ia lihat di puncak, dua tombak lebih tingginya dari tempat ia berdiri, ada satu orang yang sedang menyerang dengan pelurunya, tetapi bukan terhadap ia, hanya kepada anggota-anggotanya dan ia lihat nyata beberapa orangnya terluka, hingga mereka itu mesti berhentikan penyerangannya dengan batu pada musuh- musuh yang masih berada di dalam lembah. Dengan demikian, serangan jadi tak gencar lagi dan akhirnya berhenti sama sekali setelah semua orang kena dihajar atau merat karena ketakutan sebab melihat kawan- kawan di sebelahnya menjerit atau roboh dan pegangi lengannya yang sakit.

Dalam kemurkaannya Pian Siu Hoo segera kenali orang yang bokong padanya, ialah Hengyang Hie-in Sian le, lawan yang ia telah hadapkan di Giokliong-giam Hiecun! Dalam gusarnya, ia hadapi musuh gelap itu dan menyerang dengan jarumnya.

Pada saat itu, Hoa Ban Hie telah muncul, diturut oleh Tan Ceng Po dan Ang Tiu. Mereka terlolos dari bahaya, karena semua jarumnya Pian Siu Hoo menjurus ke tempat kosong, karena serangan itu hilang tujuannya disebabkan lengannya terkena pelurunya Sian Ie, orang yang muncul secara tiba-tiba!

Hengyang Hie-in tidak terluka karena melesatnya jarum musuh, karena serangan ini ia sudah duga dan ia telah pasang mata serta berlaku gesit, ialah ketika tangannya si Naga Besi bergerak, ia barengi lompat ke sebelah kanan di mana ada puncak lainnya yang terpisah di dekatnya. Dan serangan jarum ini ia sambut dengan tertawa berkakakan!

"Orang she Pian!" berseru Sian Ie kemudian, "bagus benar perbuatanmu! Apa sekarang kau masih memikir untuk angkat kaki dari sini? Kejadian ini adalah buatanmu sendiri dan bukan karena Thian!"

Segera, secara sangat berani, dengan satu gerakan tubuh Sian Ie lompat dari tempat berdirinya ke tempatnya Pian Siu Hoo untuk samperi si Naga Besi yang ia hendak serang.

Bukan main mendongkolnya Tiathong-liong, memancing musuh masuk ke dalam lembah yang berupa sebagai jambangan ini ada dayanya yang terakhir, karena ia dapat kenyataan, di tempat terbuka ia tidak berdaya terhadap musuh-musuhnya yang tangguh. Ia sengaja berpura-pura menyerah kalah dan berlaku manis, melulu guna bikin sekalian musuhnya kena tertipu. Maka betapa mencelos hatinya, ketika dapatkan Hoa Ban Hie bisa loloskan diri dan di atas dengan tiba- tiba muncul si Nelayan dari Hengyang. Ia lantas ketahui dengan baik, bahwa menurut gelagat ada sukar untuk ia hidup lebih lama. Maka secara nekat ia menyerang hebat dengan jarumnya yang liehay. Tetapi, menghadapi musuh-musuh liehay, jarumnya tak memberi hasil. Dari itu, tidak ada lain jalan, ia harus angkat kaki dari Haytong-kok.

Sekarang ini Pian Siu Hoo tidak pikirkan lagi kawan- kawannya dari Kangsan-pang. Ia mohon semua tamunya segera angkat kaki, kecuali Itcie Sinkang In Yu Liang yang masih mempunyai urusan dengan pihak Bancie sanchung. Pada mereka itu ia berkata, "Sekarang aku si orang she Pian tidak bisa tancap kaki lagi di kalangan kangouw. Aku malu bahwa aku telah bikin kau orang, saudara-saudara, turut mendapat malu. Sekarang ada saat terakhir bagiku, dari itu aku minta semua sahabat dan saudara suka lekas berlalu dari Haytong-kok ini, tentang diriku, kamu tidak usah pedulikan lagi. Jika aku akhirnya bisa terlolos dari sini, nanti aku kunjungi saudara-saudara sekalian untuk menghaturkan terima kasihku. Harap saudara-saudara jangan berayal lagi, karena kalau sampai bahaya keburu datang, aku sangat menyesal. "

Ucapan ini telah membuka rahasia sendiri, maka itu, di antara orang-orang yang tidak puas, ada juga yang merasa kasihan pada Tiathong-liong yang sedang menghadapi jalan buntu. Romannya si Naga Besi juga ada sangat menyedihkan. Nyata, saking terpaksa, Pian Siu Hoo sudah menjusta ketika ia perintah orangnya melaporkan kedatangan Kee Thian Liong dari Tiatcit- kang. Itu melulu ada akalnya supaya semua orang pihak Haytong-kok bisa keluar dari lubang jebakan.

"Kalau demikian, Pian pangcu," berkata Cee Siu Sin dan Siauw Cee Coan semua, "baiklah, sampai di sini saja, sampai kita orang bertemu pula!"

Segera mereka itu saling memberi hormat dan berlalu.

Sesudah itu Pian Siu Hoo dan In Yu Liang lantas saja bekerja, ialah mereka pimpin orang-orangnya akan kurung lembah jambangan dari sebelah atas dan menyerang dengan batu begitu lekas sudah ternyata Hoa Ban Hie dan kawannya masih tidak mau menyerah kalah.

Pian Siu Hoo tidak pernah pikir bahwa ketua dari Bancie sanchung, pada saat ia masuk ke dalam lembah, sudah lantas perhatikan letaknya tempat dan Kiongsin telah memikir, meskipun lubang terowongan ditutup, tidak nanti ia bisa dirintangi akan molos keluar dari situ. Si Ma-laekat Kemelaratan percaya, begitu lekas ia sudah bisa naik, ia akan sanggup menolong kawan-kawannya. Nyata pengemis tua ini telah memikir dengan sempurna dan siasatnya Pian Siu Hoo tidak tepat.

Di samping itu, Hoa Ban Hie juga telah menaruh kepercayaan besar terhadap Hengyang Hie-in Sian Ie, yang sendirian telah masuk ke dalam Haytong-kok dengan ambil jalan lain. Berdua mereka memang sudah bersepakat. Nelayan dari Hengyang itu memang bertugas mengamati segala gerak-geriknya si Naga Besi dan ia pun telah berhasil mencegah sepak terjangnya lebih jauh dari ketua Kangsan-pang, hingga orang she Pian ini akhirnya menjadi putus pengharapan.

Ketika Pian Siu Hoo disamperi oleh Sian Ie, In Yu Liang masih berada di sebelah utara sedang memimpin anggota-anggota Haytong-kok melanjutkan penyerangan mereka dengan batu, tetapi karena ia terancam bahaya, Tiathong-liong tidak perhatikan kawan itu. Untuk menyingkir dari musuhnya, ia gerakkan tubuhnya akan lompat ke samping, dua atau tiga tombak jauhnya.

"Orang she Pian, kau masih memikir untuk lari?" berseru Sian Ie, yang telah tubruk tempat kosong. "Susah, sahabat, susah, itu ada terlebih sukar daripada pergi naik ke sorga! "

Seruannya Sian Ie disusul dengan gerakan tubuhnya, akan lompat menyusul, sedang sebelah tangannya turut melayang. Ia cekal sebatang Buhong-piauw dan piauw itu ia lepaskan berbareng dengan lompatannya.

Pian Siu Hoo sudah nekat. Ia tidak dapat berpikir banyak-banyak Ia balik tubuhnya, tangannya bergerak, maka piauw-nya pun lantas melesat ke jurusan lawannya. Maka segera terdengar suara nyaring, karena kedua piauw kebentrok satu dengan lain dan sama-sama jatuh ke tanah!

Tapi Pian Siu Hoo telah lepaskan piauw dengan beruntun, karena ternyata piauw yang kedua sudah lantas menyusul, malah tahu-tahu senjata yang liehay itu telah menyambar dadanya Sian Ie.

Hengyang Hie-in berlaku awas dan gesit, hatinya tabah bukan main. Ia egosi tubuhnya ke kanan, tangannya ia angkat, ketika piauw lewat, ia jemput itu hingga piauw musuh sekarang berada di tangannya.

"Awas!" ia segera berseru, berbareng dengan itu ia menyerang dengan piauw musuh.

Pian Siu Hoo telah lompat akan menyingkir begitu lekas ia lihat piauw-nya kena ditangkap, tetapi gerakan Sian Ie ada cepat, ketika ia mencelat, piauw sudah menjurus kepadanya, ke arah bebokongnya. Dalam gerakan berbareng itu, sukar untuk ia berdaya, meskipun ia coba egos diri, tidak urung piauw itu sudah makan tuannya, mengenai pundak kirinya, hingga bajunya tembus sampai pada kulit dan dagingnya, hingga darahnya lantas mengucur. Meski demikian, ia tidak merandek, dengan membawa lukanya, ia lari terus.

Serangan-serangan dari Sian Ie telah melambatkan gerak-geriknya Pian Siu Hoo, dari itu tidak heran kalau Hoa Ban Hie bersama-sama Tan Ceng Po dan Ang Tiu, yang telah lolos dari ancaman jarum, sudah keburu datang memburu.

Itu waktu, Hoa Ban Hie sudah lantas dapat lihat In Yu Liang. "Tua bangka she Sian!" berseru si Malaikat Kemelaratan pada sahabatnya dari Hengyang itu, "lihat di seberang sana, itu kunyuk In Yu Liang masih saja banyak tingkah! Dia tidak boleh dikasih hati! Serahkan Pian Siu Hoo padaku! Kalau dia sampai bisa lolos dari Haytong-kok ini, oh, benar-benar jatuhlah pamorku!

Maka, sahabat, aku serahkan pada kau itu kunyuk dan orang-orangnya!"

Hoa Ban Hie tutup perkataannya dengan mencelatnya tubuhnya, ke jurusan tempat menyingkirnya Pian Siu Hoo, guna susul si Naga Besi itu.

Sian Ie dan Tan Ceng Po telah sahuti perkataannya si Malaikat Kemelaratan, sedang si pengemis tua Ang Tiu sudah lantas lari ke jurusannya In Yu Liang, seraya ia teriaki, "Si orang she In memang masih punya urusan yang belum diperhitungkan dengan kita, serahkanlah dia kepadaku!"

Dan ucapan ini disusul dengan lompatan pesat dan jauh, disusul lebih jauh dengan cara lari mengen-tengi tubuh, karena ia pandai menggunai Kengsin-sut.

Di pihak ln Yu Liang, orang masih belum tahu yang Pian Siu Hoo sudah kabur, mereka masih terus dengan penyerangan mereka dengan batu-batu besar serta anak panah juga.

Si pengemis tua tidak pedulikan jumlah orang yang banyak, ia menuju langsung kepada Itcie Sinkang In Yu Liang.

Di lain pihak, Hoa Ban Hie telah lakukan pengejaran terhadap Tiathong-liong, yang ia susul dengan cepat. Ia sekarang telah cekal Susat-pang-nya, karena ia tidak mau kasih lolos lagi pada ketua yang licin dan busuk dari Kangsan-pang itu. Ia telah gunai ilmu lari Cauwsiang-hui atau "Terbang di atas rumput," supaya dengan begitu ia bisa susul musuhnya.

Selama itu, Pian Siu Hoo sudah kabur jauhnya belasan tombak dari tempat di mana tadi ia berdiri di atasan lembah jambangan, di situ sebenarnya tidak ada jalanan, yang dipanggil jalan hanya tumpukan-tumpukan puncak kecil atau gem-bolan-gembolan pepohonan dan oyot, atau juga pohon-pohon kayu yang cukup besar, kendati demikian, itu semua tak menjadi rintangan bagi si Naga Besi, malah ia lebih sukai jalanan yang sukar dan lebat, agar ia bisa menyingkir ke dalam bukit. Yang paling penting untuk dia adalah tolong jiwanya sendiri!

Dengan gunai kepandaiannya lari cepat dan lompat jauh, Pian Siu Hoo saban-saban lompat mencelat, dari satu puncak ke lain puncak, tujuannya adajurusan timur, la sekarang tidak lagi punyakan jarumnya yang liehay dan piauw-nya yang berbahaya, ia telah obral itu hingga ia keputusan. Ini pun ada salah satu sebab kenapa ia jadi semangkinan ingin lekas-lekas lolos saja. Ia pun tahu, siapa yang sekarang terus kuntit ia — ialah si Raja Pengemis yang ia malui!

Sebenarnya cuaca malam itu ada gelap, tetapi bagi Kiongsin, cuaca itu tidak menjadi rintangan, saking liehaynya matanya, apapula ilmu larinya yang cepat membikin ia tidak ketinggalan jauh dari si Naga Besi, ilmu lari siapa sebenarnya harus dikagumi. Coba Tiathong-liong ada lain orang, ia barangkali sudah ke- candak. Sia-sia saja Pian Siu Hoo memikir akan umpetkan diri di antara gegombolan atau tempat gelap matanya si Malaikat Kemelaratan belum pernah kehilangan ia, maka mau atau tidak, ia mesti lari terus lari sekuat-kuatnya ia bisa. Ia tidak lagi memikir akan tempur secara nekat pada itu kepala pengemis dari Bancie sanchung.

"Thian rupanya mestikan aku binasa " pikir

Tiathong-liong sembari lari. Ia bingung kapan ia menoleh dan lihat Hoa Ban Hie terus intili padanya.

Tujuan menyingkir tetap ada jurusan timur.

Di depannya Tiathong-liong sekarang ada melintang satu solokan yang lebarnya empat atau lima tombak, di seberang sana adalah tempat pegunungan seperti di seberang sini. Solokan itu ada gelap, entah berapa dalamnya, karena di situ orang tak bisa lihat apa-apa kecuali sang gelap gulita.

Meski ia tahu watasnya Kengsin-sut-nya, Pian Siu Hoo masih tidak berani coba loncati solokan itu, maka itu, ia jadi ibuk bukan main.

Di belakang ia, Hoa Ban Hie terdengar tertawa terbahak-bahak.

"Kunyuk, kau hendak lari ke mana?" demikian si Malaikat Kemelaratan. "Binatang, hayolah kau serahkan jiwamu!"

Suara itu masuk nyata sekali ke kupingnya si Naga Besi. Di sebelah barat utara ada sekumpulan pohon besar, Pian Siu Hoo putar tubuhnya dan lari ke jurusan gombolan itu, dengan niatan umpetkan diri di situ, agar ia bisa molos dari kepungan. Tetapi, di luar tahunya dengan ambil jalan itu, ia sebenarnya bakal kembali ke mulut lembah dari Haytong-kok.

Sembari mengubar terus, Hoa Ban Hie kasih dengar suaranya berulang-ulang.

"Binatang, apa kau ingin leluhurmu antar kau pulang? Apa kau masih hendak cari tempat yang terlebih bagus untuk lubang kuburmu, meskipun kematian sudah datang dekat padamu? Baiklah!"

Kedua pihak masih saja terpisah satu dari lain. Bicara hal Kengsin-sut, sebenarnya Hoa Ban Hie jauh terlebih liehay, coba mereka ada di tanah datar, Pian Siu Hoo mestinya sudah dapat dicandak, tetapi kalau sekarang Tiathong-liong masih tetap merdeka, itu disebabkan, kalau si Naga Besi kabur mati-matian, dengan tidak ingat lagi bahaya dari sukarnya jalanan, tetapi Hoa Ban Hie masih memikir-mikir. Si Malaikat Kemelaratan hanya ingin supaya ia tidak terpisah jauh dari itu musuh, agar dia itu tidak sampai lolos.

Selagi di sini Hoa Ban Hie dan Pian Siu Hoo seperti main petak, di atas lembah, Hengyang Hie-in Sian Ie dan Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po sudah selesaikan tugas mereka akan bikin tidak berdaya anggota-anggota dari Kangsanpang. Tapi dua jago ini tidak mau kurbankan jiwanya banyak orang, terutama karena mereka tahu, rombongan anggota Haytong-kok itu bukannya orang- orang yang bertanggung jawab. Hati mereka berdua ada murah, pertimbangan mereka ada adil.

"Lekas menyerah?" demikian mereka serukan. "Siapa mau hidup, lekas letaki senjata, lekas mundur akan tunggu putusan! Kita orang tak akan bunuh orang yang tidak bersalah, kita tidak akan musnahkan perusahaan penangkapan ikan dari Kangsan-pang, tetapi, jangan melawan!"

Seruan itu mengasih hasil, semua anggota Haytong- kok jadi ketakutan, bukan saja mereka berhenti menyerang, malah mereka pada lari turun bukit.

In Yu Liang lihat orang berhenti menyerang dan obor- obor pada padam, ia tidak lihat pada Pian Siu Hoo, lantas saja ia menduga pada keruntuhan pihaknya, ia bisa menduga bahwa si Naga Besi sudah kabur atau bercelaka di tangan musuh.

"Aku pun mesti menyingkir," ia pikir akhirnya. Hanya sayang, Itcie Sinkang berpikir sesudah kasep,

sebab segera juga ia lihat datangnya satu pengemis tua, ialah Ang Tiu.

"Eh, orang she ln, perhitungan kita mesti dibereskan!" kata pengemis itu. "Apa benar kau hendak anglap utangmu dan kabur?"

Sebagai juga seekor walet, dengan habisnya jengekan itu, Ang Tiu sudah lompat menghampirkan In Yu Liang, begitu ia injak tanah dengan tombak pendeknya Lian- hoan Coakut-chio, ia sudah lantas menyerang.

In Yu Liang gusar, di mana ia tahu ia sukar lari, ia hunus pedangnya dengan apa ia tangkis tusukan musuh, maka di situ, berdua mereka jadi bertempur.

Ang Tiu merangsek, serangannya gencar, agaknya benar-benar ia tidak mau loloskan musuh ini.

Justru itu, orang-orang Kangsan-pang atau Haytong- kok telah kabur semua, obor mereka dilemparkan sembarangan, maka di antara sampokan angin, obor- obor itu ada yang berkobar-kobar.

Tatkala itu, di pihak lain Pian Siu Hoo sudah lari balik ke mulut lembah. Di sini ia mesti saksikan bagaimana orang-orangnya sudah kabur semua. Dalam kekuatirannya, ia segera melihat Tan Ceng Po dan Sian Ie lari menghampirkan untuk rintangi padanya. Dua orang itu masing-masing datang dari jurusan timur dan barat.

Tiathong-liong mesti kertak gigi, karena ia nampak, maju sukar, mundur tidak bisa. Maka ia cekal keras cambuk Kulouw-pian-nya, dengan satu gerakan ia loncat ke depan, bila kakinya menginjak tanah, ia sengaja mendek sedikit dan sempoyongan dua tindak.

Di saat itu, Kiongsin telah dapat menyusul, sambil berlompat ia kerjakan ruyung Susat-pang-nya untuk hajar bebokongnya ketua Kangsan-pang dan menotok dengan gunakan ujung ruyung.

Dalam saat genting yang berbahaya itu, Pian Siu Hoo tidak lupakan kelicinannya, ia masih mau gunakan akal atau tipu daya. Dengan geser rubuh sambil memutar sedikit, ia telah kasih ruyung lewat di samping tubuhnya, sambil berbuat demikian, dengan cambuknya ia terus menyabet pinggang musuh, gerakannya sangat cepat.

Hoa Ban Hie terperanjat, dalam kagetnya ia lompat menyingkir ke kiri, ruyungnya digerakkan akan merintangi cambuk. Tapi cambuk itu sudah mengenai batu kecil, hingga batu itu mencelat berhamburan.

Pian Siu Hoo tidak berhenti sampai di situ. Ia gunakan ketika akan putar tubuhnya dengan gerakan Lianhoan jiauwpou atau "Tindakan beruntun-runtun" dan sambil berbuat demikian, ia hajar pula batu kecil berulang- ulang, hingga batu itu meletik ke sekitarnya. Batu-batu itu bisa jadi perintang bagi musuh-musuhnya, terutama Hoa Ban Hie. Kemudian, sesudah dua putaran, cambuknya dipakai terus menyabet paha kanannya Kiongsin.

Selama batu berhamburan, Hoa Ban Hie tidak bisa merangsek lebih jauh, ia terpaksa merandek dengan lindungi saja dirinya, maka waktu ia diserang secara mendadak, terpaksa ia mesti berkelit sambil lompat tinggi.

Ini adalah ketika yang dikehendaki oleh Tiathong- liong. la lihat musuh lompat mundur, bukannya ia lompat akan menyusul dan menyerang lebih jauh, justru ia lompat ke jurusan timur utara, ke satu tanah munjul untuk angkat kaki. la tahu letaknya tempat, maka ia pun ketahui, bila ia bisa lewatkan puncak itu, ia akan tiba di luar mulut lembah, di situ ada tempat yang sukar, jalanan yang berbahaya dan ia kenal baik. la ingin ambil jalanan berbahaya itu untuk menyingkir dari ancaman

ke-bencanaan.

Waktu itu, penyerangan di dalam lembah pun sudah berhenti, maka juga Lim Siauw Chong dan Cukat Pok bersama Yan Toa Nio dan Yan Leng In sudah lantas maju ke jurusan barat selatan, tempat yang agak rendah untuk nerobos naik. Tempat itu sebenarnya berbahaya, tapi dengan tak ada serangan pula, bahaya itu telah lewat untuk mereka berempat. Mereka loncat naik dengan pegangi oyot-oyot pohon untuk merayap ke atas. Tiauw Sam Ek dan yang lain-lain, semua orang Kiongkee-pang, tidak turut teladan dari Cukat Pok dan kawan-kawannya, sebaliknya mereka maju ke mulut terowongan, di sini mereka semua bekerja akan membuka jalan.

Ketika Lim Siauw Chong dan kawan-kawannya manjat ke atas, waktu itu justru Pian Siu Hoo sedang mengambil jalan yang berbahaya akan meloloskan diri, maka juga Yan Toa Nio dan gadisnya, lihat si Naga Besi hendak melarikan diri.

Yan Leng In ada sangat gusar ketika melihat musuh besarnya itu hendak kabur.

"Hoa loosu, jangan ijinkan manusia jahat itu lari!" berseru nona Yan. "Kita hendak membalas sakit hati kepadanya!" Hoa Ban Hie dengar seruan itu.

"Ya, kunyuk itu hendak melarikan diri!" ia sahuti. "Ia hanya bisa kabur jika aku si pengemis tua sudah gantikan ia mampus!"

Sementara itu, Pian Siu Hoo sudah sampai di atas. Ia ada sebat dan ulat. Di situ ia berhenti akan pungut beberapa batu besar, dengan itu ia menyerang ke bawah, pada musuh-musuhnya. Ia harap musuhnya binasa tertimpa batu atau sedikitnya mereka terhalang untuk naik ke atas.

Hoa Ban Hie mesti gunakan senjatanya akan pukul batu-batu yang menyerang padanya. Ia jadi sangat gusar karena serangan itu.

"Pian Siu Hoo!" ia berteriak. "Kalau bapak moyangmu bisa ijinkan kau menyingkir dari sini, aku akan jadi turunanmu!" Hoa Ban Hie pun tidak sudi, di depan banyak orang, bikin musuh itu terlolos. Ia anggap itu berarti jatuh merknya. Maka, dengan siapkan Susat-pang ia lantas loncat naik ke atas akan maju dan kejar musuh licik itu. Ia gunakan Kengsin-sut dan awasi batu musuh.

Dengan loncatan Cianliong sengthian atau "Naga naik ke langit", sekejap saja ia sudah sampai di tempat yang tingginya tiga tombak lebih, di sini ia bisa dapatkan tempat untuk menaruh kakinya. Pada saat itu, beruntun tiga buah batu menyambar padanya, itu adalah penyerangan yang sekian kalinya dari Pian Siu Hoo dengan timpukannya beruntun-runtun.

Dengan gagah Hoa Ban Hie singkirkan semua bahaya itu. Ia sekarang terpisah hanya dua tombak lagi dari ketua Kangsan-pang, maka ia jadi bertambah sengit dan bernap-su. Dengan menerjang bahaya, lagi sekali ia enjot tubuhnya akan lompat naik. Ia gunakan ilmu lompat Ouw-liong coantah atau "Naga hitam tembuskan menara".

Tentu saja ia tidak mau maju dari depan, hanya ia naik di sebelah belakangnya Pian Siu Hoo yang sedang menyerang ke bawah dengan seru sekali, hingga ia tidak sempat awasi musuhnya. Maka tahu-tahu si Ma-laekat Kemelaratan sudah berada di dekatnya.

Bukan main kagetnya Tiathongliong. Ini ada saat mati atau hidup. Tempat pun sempit. Justru tempat yang sempit ini ia mau gunakan untuk keuntungan dirinya. Ia balik tubuh dengan sangat cepat dan sama hebatnya ia kerjakan cambuk Ku-louw-pian-nya.

Tetapi Kiongsin pun telah berlaku sebat luar biasa. Ia datang dekat dan terus menyerang dengan ruyungnya pada iga kanan orang. Pian Siu Hoo menjadi nekat, dengan tidak gubris Susat-pang ia turunkan Kulouw-pian- nya dari atas ke bawah, akan hajar batok kepala orang agar menjadi hancur, la ingin supaya mereka binasa sama-sama.

Akan tetapi Hoa Ban Hie tidak mau serahkan jiwa secara demikian, melihat serangan yang nekat itu, ia batalkan serangannya sendiri dan lompat ke kiri akan berkelit, ia angkat ruyungnya akan menangkis. Sekarang ia hendak uji tenaga orang.

Kedua senjata telah bentrok dengan keras, hingga menerbitkan suara berisik, setelah itu, ujung cambuk melibat ruyung. Hoa Ban Hie lekas-lekas pasang kuda- kudanya, dengan kumpul tenaga di tangan kanan, ia gerakkan ruyungnya itu, supaya terlepas dari libatan dengan berbareng ia bisa tarik senjata musuh.

"Kunyuk, kau turunlah!" ia membentak, berbareng dengan kerahkan tenaganya.

Susat-pang bergerak ke kanan dengan luar biasa kerasnya, tetapi di lain pihak, tangan kirinya si Malaekat Kemelaratan dikeluarkan, ditujukan pada perut orang. Itu adalah tipu silat Kimliong hianjiauw atau "Naga emas mengulur kuku".

Pian Siu Hoo mesti hadapkan bahaya besar. Karena ujung cambuknya melibat ruyung, ada sukar untuk ia dengan cepat-cepat loloskan libatan itu. Tentu saja, ia tidak mau lepaskan cambuknya, meski dengan demikian ia akan terhindar dari bahaya terbetot oleh ruyung itu, karena ia tahu, dengan tak bersenjata, semakin sukar untuk ia layani pengemis tua yang liehay itu. Maka ia coba tancap kakinya akan perte-guhkan kuda-kudanya, sedang tenaga di tangan pun ia kerahkan.

Hoa Ban Hie telah keluarkan tenaganya, ia bisa bikin tubuhnya Pian Siu Hoo doyong ke kanan, menuruti betotannya ruyung. Dengan demikian, tubuh musuh datang semakin dekat padanya, hingga tangan kirinya semakin berbahaya.

Adalah di waktu itu, berkat pertahanannya yang mati- matian, tiba-tiba Tiathong-liong bisa bikin cambuknya terlepas dari libatannya, karena ia hendak menyingkir dari serangan pada perutnya, ia pun barengi angkat kedua kakinya, akan berkelit sambil lompat. Apamau, ia lompat dengan tak tujuan, maka ia telah lompat ke kiri, ke pinggiran, hingga lantas saja rubuhnya menjadi miring. Kaki kirinya telah kena injak pinggiran dan kaki kanannya belum sempat injak tanah, hingga ia tidak mampu bikin tubuhnya berat sebelah! Maka kalau ia jatuh ia bakal jatuh kecemplung ke dalam jurang yang dalam.

Ketua dari Bancie sanchung tidak pedulikan bagaimana rupanya keadaan musuh, ia maju pula.

Pian Siu Hoo sedang kaget sekali waktu kupingnya dengar seruan, "Manusia jahat, ke mana kau hendak lari?" menyusul mana, dari sebelah kanan ia, ada angin yang menyambar dengan keras. Ia tidak sempat lihat orang yang buka suara itu, tetapi ia kenalkan suara itu — ialah suaranya Yan Toa Nio, musuh besarnya.

Percuma saja ketua Kangsan-pang mau berdaya, kakinya tak bertenaga di pinggiran jurang itu, kendati begitu, ia masih coba akan berkelit! Serangan dari Yan Toa Nio ditujukan kepada pundak kanan, tetapi si nyonya telah bisa menduga bahwa musuh toh bakal berkelit, maka juga dengan tangan yang lain, ia barengi menyerang juga pundak kiri musuh.

Itu ada serangan dari ilmu pukulan, yang Yan Toa Nio dan gadisnya telah yakinkan sejak mereka umpetkan diri.

Sia-sia saja Pian Siu Hoo berkelit, pundak kirinya tidak bisa lolos dari serangan musuh, maka itu, dengan tubuh sempoyongan, ia rasai sakit yang bukan main hebatnya. Rasa sakit itu, dari pundak, turun ke lengan, ke peparu juga. Ia sempoyongan, ia tidak mampu lantas pertahankan tubuh.

Tetapi, serangan masih belum berhenti.

Tiba-tiba terdengar jeritan yang menyeramkan, yang memilukan, "Ayah yang bercelaka, aku balaskan sakit hatimu!"

Jeritan itu disusul dengan berkelebatnya sinar pedang ke jurusan mukanya Pian Siu Hoo, hingga dia ini jadi kaget, hingga tidak lagi pertahankan tubuh, ia justru buang tubuhnya jatuh, maksudnya agar ia bisa menyingkir dari pedang yang tajam dan menakuti itu.

Tapi, percuma saja ia berdaya, akan tolong diri, gerakannya sudah jadi lambat, maka ujung pedang telah nancap di dadanya, hingga dengan tak menjerit lagi, tubuhnya rubuh celentang.

Di depan ia sekarang muncul Yan Leng In serta Yan Toa Nio, anak dan ibu ini telah selesaikan kewajiban mereka, membalas sakit hatinya ayah dan suami mereka.

Hoa Ban Hie telah menghampirkan disusul oleh Souwposu Cukat Pok, malah orang she Cukat ini dengan membawa sebuah obor di tangannya, hingga dengan begitu, tempat di mana mereka berkumpul menjadi bercahaya terang.

Kemudian juga muncul Hengyang Hie-in Sian Ie serta si pengemis tua Ang Tiu, hingga di situ, puncak Siauwthian-hong, ada berkumpul cukup banyak orang, yang hadapkan mayatnya Pian Siu Hoo dengan tubuh berlumuran darah dan muka berjengit.

"Apakah semua musuh sudah disapu bersih?" Hoa Ban Hie tanya Cukat Pok.

Souwposu belum menjawab, atau Ang Tiu telah mendahului, katanya, "Chungcu, si orang she In bisa lolos, tetapi dengan tubuh tapadakpa! Pedangnya terjatuh ke dalam tanganku, jalan darahnya Koan-goan- hiat telah kena aku totok! Ia mempunyai Iweekang yang liehay dan tubuh yang kuat, tetapi biarnya itu peryakinan dari beberapa puluh tahun, totokanku bakal bikin ia bercelaka sedikitnya dua atau tiga tahun, hingga ia tidak usah harap bahwa dia nanti bisa muncul pula di dunia kangouw untuk menjagoi lagi! Biarlah kita gunai saja pedang ini untuk minta ampun pada su-couw kita "

Hoa Ban Hie tidak lantas bicara, hanya dari tubuhnya Pian Siu Hoo yang jengkang, ia memandang kepada pedangnya In Yu Liang yang tercekal dalam genggamannya Ang Tiu. Ia telah unjuk roman yang keren sekali. Adalah sesaat kemudian, baru ia mengelah napas.

"Aku tidak sangka bahwa begini macam ada kesudahannya pertemuan di Haytong-kok ini," kata ia dengan sabar. "Tadinya aku mengharap, dengan kegagahanku, dengan kesabaranku, aku bisa bikin permusuhan jadi kecil dan lenyap. Sebenarnya Pian Siu Hoo, karena kelicinannya, karena kejahatannya, pantas dapat hukuman ini meskipun tidak ada urusannya dengan keluarga Yan, maka adanya urusan itu telah menambah kedosaannya. Orang semacam dia mana bisa tak menerima pembalasan yang hebat? Sayang adalah In Yu Liang, yang gagah dan setia pada sahabat hingga gunai membelai Pian Siu Hoo, ia berani satroni Bancie sanchung dan permainkan pelita kecil kita. Mana ia tahu bahwa kesembronoannya itu telah memberi akibat ini untuk dirinya sendiri, karena ia telah bangkitkan kegusaran dari kaum Kiongkee-pang. Aku orang yang benci kejahatan, untuk itu aku biasa berlaku kejam, tetapi akan turun tangan terhadap In Yu Liang, aku masih sangsi-sangsi. Ia ada gagah dan setia, orang semacam dia harus dihargai, apapula ia telah menjadi satu ahli silat yang kenamaan. Sekarang ia mesti hidup bercacat "

Baru saja Hoa Ban Hie berkata sampai di situ, kelihatan Tan Ceng Po datang bersama-sama Lim Siauw Chong. Mereka ini muncul untuk mengundang Hoa Ban Hie pergi ke mulut lembah.

"Hee In Hong sekalian telah bisa pegat mulut lembah dan semua orang Kangsan-pang keburu dicegah kaburnya," Tan Ceng Po kasih tahu. "Sekarang mari kita tengok mereka itu."

Hoa Ban Hie menurut. "Marilah," ia kata.

Dalam satu rombongan, dengan tinggalkan mayatnya Pian Siu Hoo, mereka berlalu dari puncak itu akan pergi ke mulut lembah. Dengan sebenarnya Hee In Hong, bersama semua kawannya, sudah bisa pegat mulut lembah, hingga semua orang Kangsan-pang tidak berani nerobos lari. Di bawah ancaman senjata, mereka tidak berani bikin perlawanan begitu lekas mereka diberitahukan bahwa Pian Siu Hoo sudah terima ajalnya. Mereka tidak jadi nekat, sedang di antaranya memang ada beberapa yang tak setujui sikapnya Tiathong-liong, dan mereka menurut pun saking terpaksa.

Tidak lama, Hoa Ban Hie telah sampai, ini raja pengemis lantas angkat bicara pada orang-orang pihak musuh itu.

"Kau orang jangan takut," ia bilang, "kita datang justru untuk mencari perdamaian."

Lantas ketua dari Bancie sanchung beber kejahatannya Pian Siu Hoo, yang bermusuhan dengan keluarga Yan dan pihak Kiushe Hiekee, bagaimana si Naga Besi mau ganggu daerah Bancie sanchung, bagaimana perdamaian tidak bisa didapat, hingga mereka kedua pihak mesti lakukan pertempuran mati- matian.

"Tapi kita sekarang tidak mau ganggu kau orang, asal kau orang mau mengerti dan selanjutnya mau hidup damai," kata Kiongsin lebih jauh. Ia lalu kemukakan syarat, untuk Kangsan-pang hidup damai dengan pihak Kiushe Hiekee dan keluarga Yan, ialah dengan bagi daerah perairan, supaya kedua pihak hidup akur, agar keluarga Yan ditun-jang. "Kalau kau orang mupakat, silakan angkat pemimpin baru, guna kita orang tetapkan perjanjian ini."  Pihak Kangsan-pang itu setuju, mereka lantas pilih ketua yang baru, ialah Sincit Ie Thian Siu, seorang yang pandai main di air dan salah satu orang yang tidak setujui sepak terjangnya Pian Siu Hoo.

Sampai di situ, perjanjian lantas dibikin.

Tapi Yan Toa Nio dan anaknya tidak mau ditanggung kehidupannya oleh pihak Kangsan-pang, mereka nyatakan mau kembali ke Giokliong-giam Hiecun, tempat yang mereka setujui, untuk tinggal tetap di sana. Dengan begini, dengan sendirinya, pihak Kangsan-pang jadi terlepas dari salah satu tanggungan. Begitu lekas perjanjian sudah di bikin, kedua pihak lantas berpisahan.

Hoa Ban Hie pulang ke Bancie sanchung, dan lakukan upacara memperbaiki kedudukan pelita suci, Tan Ceng Po sekalian turut menyaksikan.

Kemudian lagi, Yan Toa Nio dan anaknya telah pergi urus jenazah suami dan ayah mereka—Yan Bun Kiam — untuk dikubur pula dengan upacara di Samcee-kauw, di daerah Hucun-kang, di satu tempat yang terpilih baik.

Pihak Kiushe Hiekee juga sudah lantas perbaiki kedudukan mereka di Hucun-kang, hingga kaum nelayan ini bisa tuntut penghidupan seperti biasa.

Adalah banyak waktu kemudian, Yan Leng In terpuja oleh sekalian nelayan, tukang-tukang perahu dan orang- orang pelayaran, karena ia jadi pembela mereka terhadap gangguan bajak-bajak di daerah sekitar Giokliong-giam Hiecun, di mana sering orang lihat ia seorang diri mengendarai perahu di muka perairan daerah perikanan yang makmur itu....

TAMAT