Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 14

Jilid 14

"Dengan piebu persahabatan ini, kita orang akan peroleh kemajuan, halangannya tidak ada," Tan Ceng Po bilang. "Mari, loosu, kita main-main pula beberapa gebrak!"

"Kau benar, Tan loosu," sahut Siauw Cee Coan.

Biar bagaimana, Tin-sankang ada penasaran, maka kebetulan sekali, musuh tantang ia menggunai senjata, ia hendak mencoba sekali ini, akan rebut pulang muka terangnya.

Dengan tidak tunggu sampai diminta, orang dari kedua pihak sudah lantas angsurkan senjata-senjata dari masing-masing jagonya.

Siauw Cee Coan bersenjata sebatang golok Liongtauw Kauw-liam-too. Tapi Tan Ceng Po menyekal sepotong pedang pendek, cuma satu kaki delapan dim, dan gagangnya tidak lebih daripada dua kaki dua dim.

Tubuhnya pedang ada bergurat-gurat, tanda dari besi dan waja tulen. Di lain pihak goloknya Tin-sankang ada berat, panjangnya tiga kaki delapan dim, lebarnya empat dim, tebal belakanganya empat hun. Ujung golok merupakan kepala naga, tubuhnya merupakan sisik naga, dan di belakang ujung golok ada ditambahkan dua pisau pendek dari satu dim setengah, yang beroman bulan, hingga senjata tambahan ini mirip dengan dua potong tanduk naga. Maka dapat dimengerti, yang golok itu tidak termasuk dalam kitab hal macam-macam alat senjata.

Tan Ceng Po sudah dengar perihal golok istimewa ini, yang tajamnya pun luar biasa, karena itu, ia hendak uji itu senjata Ini ada ketikanya yang paling baik. Kedua pihak sudah lantas bersiap, maka setelah masing-masing mengucapkan "Persilakan!" mereka sudah lantas pada bergerak.

Dengan lintangkan goloknya di sebelah kiri, Siauw Cee Coan bertindak ke kanan, akan mengitar. Karena ini, Tan Ceng Po lantas bertindak ke kiri, pedangnya ditekuk ke atas, ke belakang, dan tangan kirinya terangkat ke jidat. Sikapnya ini ada yang dinamai Kwahouw tengsan, atau "Manjat bukit sambil menunggang macan."

Lagi sekali kedua pihak bergerak, lantas mereka berdiri berhadapan.

Goloknya Siauw Cee Coan sekarang sudah pindah, kepada tangan kanan, dan tangan kirinya menindih belakangnya golok itu. Ia maju pula setindak, senjatanya diayun. Ia bukannya membacok, hanya menusuk, ke jurusan muka.

Tan Ceng Po berkelit ke kiri, tangannya dibarengi menusuk, ke katek kanan dari lawan. Atas ini, Tin- sankang mesti lekas menggesar ke kanan, tetapi supaya bisa kembali menyerang, goloknya disabetkan sekalian ke bawah, pada paha kanan.

Dengan angkat kaki kanan ke kiri, Tan Ceng Po putar tubuhnya, menyingkir dari sabetan itu, tetapi waktu kaki kanannya injak tanah — kaki kirinya hanya tetap, melainkan terputar— ia jadi berada di samping lawan.

Dari sini terus saja ia membacok, ke bebokong musuh, tubuh siapa telah terputar mengikuti sabetan goloknya tadi. Dengan loncat sedikit, Siauw Cee Coan selamatkan dirinya dari pedang, dengan kesebatannya, goloknya dipakai membabat pedang musuh.

Tan Ceng Po tidak mau adu senjata, apapula akan kasihkan pedangnya dibabat, selagi golok menyambar, ia tarik pedangnya itu, tetapi justru golok lewat, ia barengi menusuk pula. Ia berlaku gesit luar biasa Lagi-lagi Siauw Cee Coan mencelat, dua tindak jauhnya. Ia putar tubuh begitu lekas kedua kakinya telah mengenai tanah. Ia merangsek pula, goloknya dikasih bekerja. Dengan pegang senjata yang lebih besar dan panjang, ia jadi terlebih berani. Ia tidak kuatir andaikata kedua senjata beradu.

Tan Ceng Po, sebaliknya, tidak mau adu senjata Ia unjuk kegesitan tubuhnya, kesehatan tangan. Ia senantiasa menyingkir dari golok musuh yang besar dan berat. Sesudah berkelit, ia balas menikam iga kiri lawan itu. Karena ini, Tin-sankang juga mesti unjuk kegesitannya

Segera juga Siauw Cee Coan perlihatkan ilmu golok Ngohouw toanbun-too atau "Lima harimau memegat pintu." Goloknya menyambar berkeredepan, anginnya menderu-deru.

Menghadapi ilmu itu, Tan Ceng Po keluarkan Patsian- kiam, yang buat empatpuluh tahun lebih ia telah pahamkan dan latih dengan sungguh-sungguh, dengan begitu kendati pedangnya ada terlebih pendek dan terlebih enteng, itu tidak menjadikan rintangan bagi ia akan tcnipm mi guru silat yang kesohor. Pedangnya pun berkilau-kilauan. Berdua mereka menyerang, menangkis atau berkelit, dengan bergantian, dengan sama gesit dan uletnya. Tan Ceng Po mau pertahankan kemenangannya, Siauw Cee Coan ingin lenyapkan penasarannya Mereka maju dan mundur bergantian.

Penonton dari kedua pihak kembali kena dibikin kagum, semua menonton dengan semangat tercengkeram. Diam-diam mereka mesti merasa kagum.

Sudah duapuluh jurus dikasih lewat, kedua-duanya tetap bisa pertahankan diri.

Siauw Cee Coan bukan hanya menyerang dengan arti menyerang biasa, dua tanduk di ujung goloknya pun bekerja, saban-saban mencoba akan gaet dan rampas pedang musuh, maka Tan Ceng Po berbareng mesti menjaga supaya pedangnya tidak sampai kena digaet dan dirampas. Ia mesti cekal keras dan hati-hati pedangnya itu. Dengan begini, ia tidak kasih dirinya kena dipengaruhi oleh sepak terjangnya golok lawan.

Kemudian datang saatnya Siauw Cee Coan menyerang muka dengan tipu silat Thaykong tiauwhie atau "Kiang Thay Kong pancing ikan." Tan Ceng Po berkelit sambil berbareng menusuk lengan orang, Tin-sankang lihat gerakan itu, ia sengaja bikin gerakan tangannya ayal sedikit, kemudian tiba-tiba ia menarik dengan cepat, untuk gaet pedang musuh.

Tan Ceng Po terperanjat. Ia tahu, kalau maksud musuh berhasil, ia bakal kalah. Ia tarik tangannya dengan cepat, apa mau, ia kena didahulukan, pedangnya benar-benar kena bangkolannya golok Liongtauw Kauw- liam-too. Tidak heran, kalau ia menjadi kaget. Tidak ada jalan lain, ia kumpul tenaganya di tangan, pedang itu, untuk dipertahankan dari aksi lebih jauh dari golok musuh. Ia tidak mau gampang-gampang menyerah kalah, di saat terakhir, ia masih berdaya. Ia telah kumpul ambekannya.

Siauw Cee Coan girang yang ia akhir-akhirnya berhasil membangkol pedang musuh tapi karena sekarang ia tidak bisa gunakan lebih jauh goloknya itu, mendadakan ia ulur tangan kirinya, buat sodok iga orang itu.

Selama pertahankan pedangnya, Tan Ceng Po kumpulkan tenaga di lengan kanan. Ia pun berdaya, akan loloskan bangkolan itu. Maka justru ia lihat gerakan tangan kiri dari musuh, yang ia tahu apa maksudnya, selagi musuh menyerang, hingga kekuatan tangan kanannya ada terbagi, ia lekas ke kanan sambil berbareng berlalu. Satu gentakan membikin kaki kanannya sedikit ke depan, tangan kirinya dipakai menangkis tangan kiri musuh.

Siauw Cee Coan terperanjat, la tahu goloknya bisa terbetot dan terlepas, jikalau ia tetap pertahankan bangkolan itu. Tangan kirinya sudah tak berdaya. Kuda- kudanya pun telah kedesak dengan majunya kaki pihak lawan. Maka terpaksa ia mendak sedikit sambil berbareng menarik pulang tangan kanannya, hingga di waktu terlepas satu dari lain, golok dan pedang menerbitkan suara nyaring.

Dengan sikap Ouwliong poan-cu atau "Naga hitam melilit tiang", Tan Ceng Po tarik pedangnya dengan tubuhnya ikut mutar. Di lain pihak, Siauw Cee Coan bergerak dengan Uyliong coansin atau "Naga kuning memutar tubuh." Maka itu, mereka sama-sama menyingkir, satu ke kiri, satu ke kanan. Tapi juga dua- dua tidak berniat mundur, hanya mereka merangsek pula.

Satu bacokan golok menuju pada pundaknya Tonglouw Hiejin, pedang siapa justru mencari iga kiri, maka mereka sama-sama menyerang dengan berbareng.

Tan Ceng Po mengerti bahaya, untuk selamatkan diri, ia mesti berkelit, tapi buat menyingkir dengan begitu saja, ia tak sudi, maka sambil egos tubuh, pedangnya ia tarik mundur, buat diteruskan kepada nadi.

Juga Siauw Cee Coan tidak inginkan kecelakaan. Lekas-lekas ia robah gerakan goloknya, guna dipakai membabat pedang lawan. Dari bawah, golok menyambar ke atas, kepada pedang yang lagi arah nadi.

Ketua dari Kiushe Hiekee masih tidak mau berhenti, di satu pihak ia tarik pulang pedangnya, di lain pihak tangan kirinya dengan jari, mencari jalan darah di tubuh musuh, guna ditotok.

Atas ini, Siauw Cee Coan loncat ke belakang, maka kecuali terpisah, mereka jadi menyingkir dari bahaya yang mengancam masing-masing. Tapi setelah itu, Tin- sankang mendahului, akan menyerang pula, dengan babatan golok kepada kaki.

Tan Ceng Po loncat naik dengan apungi tubuh sampai dua tombak lebih, di waktu tubuhnya turun, ia terpisah dari lawan jauh satu tombak lebih.

Dengan majukan kaki kanan sambil nyerosot, ialah gerakan liu-ma, Tin-sankang maju pula, akan rangsek musuh, karena ia ada bernapsu, dan goloknya lagi-lagi dikasih bekerja, la berani berbuat begini, karena itu waktu Tan Ceng Po membaliki belakang. Dirangsek secara demikian, Tan Ceng Po lekas-lekas menyingkir ke kiri. la telah merasai sambaran angin di belakangnya, hingga ia ketahui adanya serangan sebelum ia sempat balik tubuh, la berlaku cepat luar biasa. Waktu ia balik tubuhnya, musuh sudah datang dekat, maka terus saja ia memapaki, menusuk lengan kanannya musuh.

Karena ia sedang merangsek Tin-sankang tidak keburu tahan lajunya tubuh, ia sudah coba, sia-sia saja. la pun ayal dalam gertakannya akan singkirkan goloknya yang lagi menusuk ke depan. Maka tidak tempo lagi, ujung pedang yang memapaki telah mengenai lengan kanannya bagian atas. Dasar ia liehay, dalam keadaan seperti itu, ia bisa mendek, tangannya diputar, goloknya terus menyambar muka dari penyerangnya!

Lagi-lagi Tan Ceng Po berkelit dengan berlompat, sesudah injak tanah, lagi-lagi ia maju merangsek akan tusuk lengan kanan orang. Kegesitannya bikin ia bisa bergerak dengan leluasa.

Siauw Cee Coan mundur dengan kaki kiri pindah ke belakang kaki kanan, goloknya dibawa ke depan dada. Secara begini, ia jadi telah lindungi diri sambil bersikap menangkis ujung pedang. Kedua senjata tidak usah beradu, sebab Tan Ceng Po sudah lekas tarik pedangnya itu. Maka Tin-sankang lantas membalas dengan maju membacok.

Datangnya Liongtauw Kauwtoo ada hebat sekali, bacokan dilakukan dengan kaki maju satu tindak untuk merangsek. Ujung golok mengancam iga kiri bagian belakang. Tan Ceng Po insyaf bahaya itu, maka ia berpikir, ia mesti berlaku sama kerasnya seperti pihak lawan, yang telah menjadi sengit.

Demikian, bukannya ia mundur atau minggir ke samping, ia justru maju satu tindak, akan hadapkan musuh. Yang maju dengan kaki kanannya, meski seharusnya kaki kiri.

Melihat demikian, Siauw Cee Coan tahu bahwa bengis dilawan bengis. Ia menduga Tonglouw Hiejin bakal lawan ia dengan tipu Ciauwhu bunlouw atau "Tukang kayu menanyakan jalanan". Tapi dugaannya meleset.

Dengan mendadak Tan Ceng Po geser kaki yang kanan ke kanan, kaki kirinya ikut, hingga, bukannya maju, iajadi nyamping. Adalah dari samping ini, mendadak ia menyerang dengan pedangnya yang lebih dahulu daripada itu, ia sudah bawa ke depan dadanya. Ia telah menikam pada arah dada.

Dilihat sekelebatan, itu ada penyerangan biasa saja, tak ada yang aneh.

Siauw Cee Coan gerakkan goloknya, juga sebagaimana biasanya, akan tangkis pedangnya Tonglouw Hiejin. Ia menggunakan belakang golok.

Nyata Tan Ceng Po sudah menggunakan tipu.

Penyerangannya yang biasa itu, ada umpan pancing saja Ketika ia ditangkis, mendadak ia loncat mencelat, pedangnya ditarik pulang dengan cepat, bukan untuk disimpan, hanya buat diayun akan dipakai menyerang pula, sekarang menjuju perutnya pihak lawan.

Tin-sankang terperanjat buat gerakan orang itu, dengan tersipu-sipu ia geser kaki kanannya ke kanan, tubuhnya ikut berkelit. Secara begini ia terlolos dari serangan yang dimulai dengan berjingkrak itu.

Tetapi Tan Ceng Po tidak berhenti dengan satu serangan itu saja, yang sudah tidak mengenai sasaran, karena ia tidak ulur habis tangannya, secara cepat ia bisa menggeser ke samping untuk sekali lagi menyerang, menyabet ke kiri ketika musuh berada di sebelah kiri, dan terus ke kanan ketika musuh berkelit ke kanan.

Tegasnya, itu ada serangan be-runtun-runtun.

Akhirnya Siauw Cee Coan berkelit ke kiri.

Cepat sebagaimana biasa, Tan Ceng Po menyerang terus. Ia tidak pernah berhentikan serie penyerangan yang berbahaya itu, yang meminta kegesitan istimewa. Ini kali ia berhasil. Tidak ada jalan buat Tin-sankang menyingkir lagi, ia sudah terdesak betul. Tapi di saat yang hebat itu, Tonglouw Hiejin ingat bahwa Siauw Cee Coan adalah guru silat kenamaan yang namanya didapat bukan dengan tak bersusah payah, maka kenapa ia mesti celakai orang dengan siapa ia tidak punya sangkutan sedikit juga? Ia merasa sayang sekali kalau pamornya lawan itu roboh dalam piebu yang istimewa ini. Maka itu, ia tidak teruskan pedangnya, melainkan gurat baju orang, lantas ia mencelat jauh keluar kalangan!

Siauw Cee Coan kaget sampai ia keluarkan keringat dingin, ia pun loncat, tetapi berbareng buat dapat kenyataan, bajunya sudah jadi korban ujung pedang, baju itu melowak tiga dim. Maka juga darahnya jadi bergolak, naik ke muka dan kupingnya, yang menjadi merah dengan tiba-tiba! Ia merasa telah habislah nama besarnya. Sekonyong-konyong ia menjadi gusar dan nekat! Tan Ceng Po hadapkan lawan ini untuk bicara, guna merendahkan diri dan kagumi lawan itu. Ia tidak menyangka bahwa orang ada malu dan murka, dengan mulutnya segera berseru, "Terimalah ini!" Dan seruan ini ditutup dengan serangan mendadak. Ia terperanjat, inilah ia tidak sangka, terutama dari satu ahli silat ternama seperti orang she Siauw itu. Tapi ia mesti lindungi diri, maka ia loncat ke samping kiri akan jauhkan diri dari ujung golok.

Ketika kedua pihak masih renggang, tiba-tiba tertampak datangnya satu bayangan yang melayang sebagai burung terbang atau menyambar turun, berdiri di antara mereka berdua. Dengan demikian, kedua pihak batal untuk maju dan saling menyerang.

Orang ketiga ini ada Hay-pacu To Seng. Ia adalah sahabat karibnya Siauw Cee Coan. Ia telah lihat bagaimana sahabatnya sudah kalah terhadap Tan Ceng Po bahwa ketua dari Kiushe Hiekee tidak berniat celakai pecundangnya, bahwa adalah Tin-sankang sendiri yang tak mau mengerti, malah sudah berlaku tak kenal adat istiadat. Karena ini, ia datang menyelak di antara mereka. Buat ini, ia tidak lagi kata apa apa pada Pian Siu Hoo.

"Siauw loosu, sudah cukup!" ia lantas berkata. "Bukankah kita orang telah bikin perjanjian? Maka kau kasihlah ketika buat aku yang coba menerima pelajaran dari orang kenamaan dari Kiushe Hiekee!"

Tin-sankang bisa memikir, maka setelah ada jalan ini untuk mundur, ia tidak mau berlaku membelar.

"To suhu mau terima pelajaran dari Tan loosu, baiklah," ia menyahut "To suhu, harap kau berhasil! Tan suhu, maafkan aku, aku tidak bisa menemani terlebih lama pula!"

Ia angkat kedua tangannya, lantas ia undurkan diri dan bertindak dengan cepat. Dengan gerakan tangannya ia coba umpeti bajunya yang melowek. Benar waktu itu ada malam, akan tetapi api obor ada dipasang terang- terang. Ia dekati Pian Siu Hoo, pada siapa ia unjuk hormatnya

"Pian pangcu, maafkan aku," ia berkata. "Aku tak mempunyai kepandaian, di selat ini aku tidak mampu bantu kau, aku malu, maka kebetulan aku ada urusan yang aku mesti selesaikan sendiri, sukalah kau perkenankan aku berlalu sekarang! Pangcu, sampai nanti kita orang bertemu pula!"

Sehabisnya kata begitu, dengan bawa goloknya, Siauw Cee Coan lantas bertindak keluar akan berlalu dari Haytong-kok.

"Maaf, aku tidak bisa mengantarkan loosu," berkata Pian Siu Hoo, yang ketahui kekalahan orang, karena mana ia tak mau cegah sahabat itu.

To Seng sudah unjuk hormatnya pada Tan Ceng Po, ia mau bicara, waktu Lim Siauw Chong dengan satu lompatan jauh telah datang di antara mereka.

"Tan loosu, kau baik sekali?" berkata kawan ini sambil bersenyum dingin. "Tin-sankang Siauw Cee Coan hanya namanya besar, sayang ia tidak kenal aturan, orang telah berlaku murah, ia anggap sebaliknya. Dan kau, To loosu, kau pun baik sekali, kau sudah tolong Tin-sankang, jikalau tidak, tak nanti ia mampu keluar dari sini! Suheng, pergi kau beristirahat, biar aku yang temani To loosu untuk aku menangkis beberapa jurus "

To Seng tertawa apabila ia dengar Lim Siauw Chong beber rahasia hatinya.

"Lim loosu, sungguh kau cerdik!" ia bilang. "Kita orang tak mempunyai permusuhan, maka kecewa sekali jikalau Siauw loosu mesti roboh di sini, apabila itu sampai terjadi, itulah keterlaluan! Tapi Lim loosu sudi memberi pengajaran padaku, silakan kau berikan itu, aku bersedia akan menerima pelajaran "

To Seng adalah cabang atas di darat dan di air, di bebokongnya ia tancapkan sepasang Cancoan Thie-koay atau semacam tongkat seperti linggis peranti mendoboli perahu, senjata mana ia sudah lantas cabut, pegang di antara kedua tangannya. Dengan gegaman itu ia hadapkan ketua muda dan Kiushe Hiekee.

Melihat sikap orang, Lim Siauw Chong tahu pihak lawan hendak menggunakan senjata, maka ia mundur tiga tindak, dari dalam tangan bajunya ia keluarkan ruyung Kiu-hap Kimsie-pang-nya, yang ia pegang dengan tangan kanan dan tangan kirinya dipakai mengimbangi. 

"To loosu, silakan!" ia lantas mengundang. "Persilakan, Lim loosu!" berkata juga Hay-pacu To

Seng, yang memang sudah siap terlebih dahulu. Maka

tempo ia tampak Lim Siauw Chong bergerak ke kiri ia pun turut, tongkatnya berada di kiri dan kanannya.

Setelah memutar beberapa putaran, dengan sendirinya kedua pihak lantas datang dekat satu dengan lain, maka sebentar kemudian, mereka sudah mulai bergebrak. Adalah To Seng yang terlebih dahulu mencoba menusuk mukanya lawan dengan tipunya Ciauwhu bunlouw atau "Si tukang kayu menanyakan jalanan".

Lim Siauw Chong tidak mau menyerang lebih dahulu tetapi setelah serangan datang, ia menangkis dengan sebat, akan bikin senjata musuh terpental, setelah mana ia teruskan, bikin senjatanya dari atas turun ke arah kepala.

To Seng lekas-lekas berkelit ke kiri, tangan kirinya diangkat, guna bantu menghalangi ruyung yang lagi turun, di lain pihak, dengan tongkat kanan, ia hendak gempur ruyung lawannya. Maka dua-dua senjatanya jadi bergerak dengan berbareng.

Senjata kedua pihak sudah lantas kebentrok. Di ujung ruyungnya Lim Siauw Chong dipasangi gaetan Jie-ie- kauw, maka itu, dengan gaetan ini Liongyu Hiejin niat bangkol tongkat orang guna ditarik dan dibikin terlepas dari cekalan.

Kepandaian To Seng bukannya lemah, malah ia hendak memberi umpan. Ia tidak lekas tarik pulang senjatanya, sebaliknya, ia kumpul tenaganya di tangan, akan pertahankan tongkatnya, senjata mana — dua- duanya — dengan tiba-tiba ia gerakkan lebih jauh, mengarah perut. Ia telah gunakan tipu Giehu sanbong atau "Nelayan menyebar jala". Perubahan gerakan tangannya ada cepat luar biasa.

Lim Siauw Chong tidak menyangka atau ia pandang enteng pada gerakan pertama dari musuh, maka barulah ia terperanjat ketika sepasang tongkat menghampirkan perutnya, karena nyata ia sedang hadapi bahaya maut. Karena tidak dapat jalan lain, ia cepat-cepat sedot napas akan bikin perutnya kempes, sambil tubuhnya dibikin mengisar sedikit ke belakang. Dari itu, hanya setengah dim lagi, ujung tongkat pasti sudah mengenai mangsanya.

Guna membikin pembalasan, Lim Siauw Chong gerakkan ruyungnya menyambar ke kiri, guna serang lawan sambil berbareng melepaskan diri dari ancaman bahaya.

To Seng mengerti bahaya sesudah ia dapatkan serangannya yang istimewa itu tidak mendapat korban, ia berkelit ke kiri. Tapi karena ia tidak mau mengerti, sebelah tongkatnya terus bekerja, akan sampok kaki orang.

Dengan satu enjotan tubuh, Liongyu Hiejin lompat ke samping jauhnya lima atau enam kaki, tetapi kendati demikian, senjata mereka tak dapat dicegah beradunya. Ruyung telah terpental ke tanah, membentur batu dengan menerbitkan suara nyaring.

Kalau tadi ia menyerang dengan tangan kiri, sekarang To Seng menyusul dengan.tangan kanan, ia arah iga kanan lawannya. Ia berlaku sebat luar biasa.

Dengan kedua tangannya Lim Siauw Chong menangkis serangan yang datang itu, dan ia berhasil membikin tongkat tersampok hingga terpental. Tetapi Hay-pacu tidak jadi terhalang karena serangan kanannya itu tertangkis, dan sambil memutar tubuhnya, dengan tangan kiri ia menyerang ke selangkangan, sementara tangan kanannya yang ia tarik pulang dengan cepat, menghajar kepala lawan. Setiap gerakannya ada sangat cepat. Dengan enjot dan berbareng putar tubuhnya, Lim Siauw Chong loncat ke belakang untuk ancaman bahaya itu.

Hay-pacu gusar bukan main karena semua rangsekannya selalu luput, maka dengan satu loncatan ia maju akan menyerang pula, guna mendesak lawannya.

Ia angkat kedua tongkatnya akan kemplang bebokong lawan dan telah gunakan tenaga yang luar biasa besar, karena ia telah umbar hawa amarahnya.

Lim Siauw Chong ada berlaku sabar dan tenang, kendati berulang-ulang ia kena didesak. Pun sekali ini, bukannya ia berbalik, akan tangkis serangan musuh, hanya ia loncat lebih jauh nyamping ke kiri, hingga lawannya itu lagi-lagi luput dengan serangannya itu.

Saking bemapsu To Seng tidak bisa cegah yang tubuhnya maju cenderung ke depan. Serangan semacam itu ada berbahaya, karena imbangan tubuh jadi lenyap sendirinya dan tubuh jadi sukar terkendali.

Dari kiri, Liongyu Hiejin telah putar tubuhnya dengan cepat luar biasa, sebab ia bikin gerakan tak kesusu, imbangan tubuhnya tidak nampak rintangan. Dengan geraki ruyungnya, dengan melintang, ia babat pinggang orang. Ia telah bisa bergerak dengan leluasa, karena kedudukannya yang bagus.

Dengan tubuh cenderung ke depan, sampai ia seperti bongkok, sedang kedua tangannya berada di depan juga, dan dua-dua kakinya seperti "mati": satu di depan dipakai mencegah ia kenyuknyuk, dan satu di belakang terangkat sebelah, To Seng telah mati daya, ia mau berkelit juga tidak bisa, sedang buat buang tubuh ke depan, berarti ia mesti jatuh ngusruk. Buat menangkis, ketikanya sudah tidak ada. Maka itu, ia telah hadapi bahaya besar.

Tetapi ketua dari Kiushe Hiekee bukannya seorang kejam, ia piebu untuk "main-main," ia tak pernah pikir buat celakai orang, maka juga, kendati ia dapat ketika yang sangat bagus, buat bikin musuh binasa atau ringsek, ketika itu ia sudah tidak gunai. Ketika senjatanya mengenai pinggang lawannya. Ia bukannya menekan atau mendorong saja. Tapi justru ini, Hay-pacu si Macan Tutul Laut jadi terpaksa mesti kenyuknyuk ke depan, tiga empat tindak jauhnya, sesudah itu, baru ia bisa pertahankan diri dan lekas-lekas putar tubuhnya.

Selagi To Seng memutar tubuh, Lim Siauw Chong sudah tarik pulang senjatanya, dan justru orang hadapi dia, ia lantas saja angkat tangannya, akan mengunjukkan hormatnya, seraya berkata, "To loosu, aku Lim Siauw Chong suka mengalah!"

Mukanya Hay-pacu menjadi merah, tetapi ia segera berkata, "Lim loosu, kepandaianmu benar tinggi, adalah aku To Seng yang sudah tidak kenal diri sendiri! Di belakang hari, andaikata ada ketikanya akan kita orang bertemu pula, umpama aku masih ada umur, pasti aku akan minta pengajaran pula dari loosu."

Lim Siauw Chong tidak kata apa-apa, cuma terdengar suara dari hidungnya, sebab dari omongan itu, terang si Macan Tutul Laut tidak puas dengan kekalahannya itu, sedang tadinya adalah dia itu yang kelihatannya menang di atas angin.

Hay-pacu lantas undurkan diri dengan masih merasa malu sendirinya. Sebagai gantinya, dari pihak Haytong-kok lantas muncul satu orang lain, ialah Lioktee Sinmo Khu Liong Gan si Iblis Bumi, ia memberi hormat pada Lim Siauw Chong seraya terus berkata, "Lim loosu, Kiuhap Kimsie- pang-mu benar-benar ada liehay, maka itu aku ingin sekali kau berikan pelajaran beberapa jurus padaku guna aku tambah pengetahuan."

Itu artinya tantangan.

Lim Siauw Chong membalas hormat sambil unjuk senyuman

"Khu loosu, di sini kita orang sedang ikat persahabatan, maka tidak ada apa-apa yang tak boleh diberikan," ia kata. "Aku pun memang sudah lama dengar loosu punya kepandaian yang istimewa, yang di kalangan selatan dan utara tak ada bandingannya, maka kalau ini malam di dalam selat Haytong-kok ini loosu hendak berikan pengajaran kepadaku, itu adalah hal yang memberuntungi sekali bagi aku, sebab dalam keadaan biasa, untuk mohon itu pun pasti tidak akan ada ketikanya! Khu loosu, silakan kau siap dengan senjatamu, aku ingin sekali terima pelajaran untuk beberapa jurus."

Lim Siauw Chong tahu bahwa musuh ada sangat liehay, bahwa bisa jadi ia bukan ada tandingan yang setimpal, akan tetapi karena orang telah maju dan menantang, ia malu akan menampik. Ia telah pikir untuk melayani beberapa jurus, kalau ia berlaku hati-hati, barangkali ia bisa dapatkan lowongan.

Mendengar jawaban orang Lioktee Sinmo pun bersenyum. "Lim loosu," berkata ia, "sejak aku masuk dalam kalangan Sungai Telaga, belum pernah aku mengerti caranya buat menggunai golok atau tongkat, sebab hatiku adalah yang paling kecil, hingga pekerjaan membunuh orang atau menumpahkan darah adalah pekerjaan yang aku si tua bangka paling tak berani lakukan! Lim loosu, aku nanti temani kau main-main beberapa jurus dengan tanganku yang berdaging ini, aku ingin sekali menerima pengajaranmu."

Tapi, mendengar ini, Liongyu Hiejin menjadi mendongkol, karena terang bahwa ia telah dihinakan, tak peduli orang telah bicara secara demikian merendah. Ia merasa terlalu hina yang sebagai ketua dari Kiuhap Kimsie-pang, ia mesti layani musuh yang bertangan kosong. Jangan kata ia kalah, sekalipun ia menang, ia masih merasa terhina juga! Tapi, selagi ia hendak jawab penantang itu, ia lihat Kiongsin Hoa Ban Hie berbangkit dan bertindak menghampirkan mereka, dengan tindakan bunlie-bunliean.

"Eh, Lim loosu!" lantas saja si Malaikat Kemelaratan ini tegur sahabatnya, "di sini ada Haytong-kok dan urusan di sini bukannya sudah diborong sendiri oleh kau berdua saudaramu! Kau harus ketahui, aku si tua bangkotan juga turut mempunyai sedikit hak di sini! Maka Lim loosu, silakan kau beristirahat dahulu! Kau tahu, dengan Khu loosu ini, aku ada punya jodoh untuk bertemu muka, maka itu sesudah sekarang kita orang bisa saling bertemu di sini, ketika yang baik itu tak boleh dikasih lewat dengan sia-sia saja "

Diam-diam, Lim Siauw Chong bergirang. Ini barulah tandingan yang setimpal, sebab dua-dua orang itu adalah orang-orang aneh dari dunia kangouw dan dengan mereka berdua diantapkan "main-main," semua orang jadi bisa menyaksikan suatu pertempuran yang bakal menambah luasnya pengetahuan. Pasti sekali, sekali beradu tangan, mereka berdua bakal perlihatkan kepandaian simpanan dari mereka. Maka ia lekas-lekas unjuk hormat pada si raja pengemis itu.

"Jikalau Hoa loosu ingin main-main sama Khu loosu, pasti sekali aku Lim Siauw Chong mesti mengalah dan mundur sembilanpuluh Iie "

Dan benar-benar, Liongyu Hiejin lantas balik ke tempatnya.

Hoa Ban Hie tidak unjuk hormat lagi pada si Iblis Bumi, hanya ia menggape.

"Sahabat karib, sejak perpisahan kita, apa kau ada banyak baik?" ia menegur. "Di malam ini di selat Haytong-kok yang bergemilang karena kunjunganmu, aku harap kau nanti perlihatkan kepandaianmu yang istimewa supaya semua saudara dari Rimba Persilatan bisa membuka mata mereka! Aku si tua bangka ini bersediaakan korbankan jiwaku, supaya aku bisa layani kau beberapa jurus untuk menerima pengajaran! "

Khu Liong Gan memperdengarkan suara di hidung. "Hoa loosu, jangan kau mengucap demikian akan

angkat-angkat aku!" ia berkata. "Malam ini kita orang beruntung telah bertemu di sini, sudah pasti sekali kita orang mesti pertontonkan apa yang kita orang bisa, supaya sahabat-sahabat dari Rimba Persilatan bisa turut menyaksikan! Ini adalah ketika baik yang sukar didapatinya! Hoa loosu, kau ada ternama di Bancie sanchung, kau ada ketua dari Kiongkee-pang, maka di dalam kalangan Sungai Telaga, ada siapa yang tak kenal nama besarmu? Kau tersohor buat kepandaian nui-kang dan nge-kang begitupun toya pusakamu, Susat Sinliong- pang! Hoa loosu, sudah cukup, maka kalau kau benar ada memandang mata padaku Khu Liong Gan, silakan kau keluarkan beberapa jurus, aku bersedia akan coba menyambut kau "

Hoa Ban Hie bersenyum pula. "Kau baik sekali, sahabat karib, itu tandanya kau ada memandang mata padaku si pengemis tua," ia menyahut, "maka itu, mustahil aku akan menjadi si orang yang tidak tahu diri akan sia-siakan kebaikanmu ini? Tadi beberapa tuan-tuan sudah menggunakan senjata, jikalau kita pun gunakan itu, kelihatannya adalah terlalu lumrah, maka Khu loosu, kepandaian apa kau ada punyai, silakan kau perlihatkan, satu atau dua rupa, supaya semua sahabat di sini bisa buka mata mereka!" Lioktee Sinmo tertawa berkakakan.

"Hoa loosu, janganlah kau dengan sengaja hendak bikin aku susah!" ia berkata. "Aku datang ke Haytong-kok ini melulu disebabkan persahabatanku dengan tuan rumah — ia tunjuk Pian Siu Hoo — dan sekalian untuk belajar kenal dengan beberapa sahabat yang baru, jadi bukan maksudku yang utama akan mengganggu siapa pun. Juga aku sama sekali tidak berani unjukkan kepandaian dengan tak keruan juntrungannya di hadapannya banyak sahabat ini. Maka mari kita memperlihatkan saja beberapa rupa kepandaian tangan kosong, supaya tidak percuma yang kita orang telah datang kemari "

"Sahabat karib, janganlah kau bersikap, demikian!" Hoa Ban Hie tertawa. "Sikapmu demikian rupa adalah seperti juga kau tidak memandang mata padaku, si pengemis tua! Sahabat karib, pertemuan kita malam ini bisalah dikatakan sebagai si penjual emas bertemu dengan si pembelinya! Sahabat, aku ingin main-main dengan kau dalam kalangan ilmu nuikang, maka silakan kau mulai guna memastikan kemenangan atau kekalahan. Harap sahabatku, kau tidak banyak bicara lagi, silakan kau berikan, pengajaranmu kepadaku!"

"Sahabat karib, kau keliru artikan aku!" Khu Liong Gan bilang sambil bersenyum. "Sahabat, aku ketahui maksudmu yang sebenarnya! Kau sebenarnya hendak coba Susat Sinliong-pang-mu yang disebut juga Susat Hokmo-pang, untuk menghadapi aku, sedang baru saja aku telah tegaskan, aku ingin tak menggunakan gegaman! Sahabat, jangan kau anggap aku tidak berani melayani padamu! Guruku benar tidak ajarkan aku menggunakan alat senjata, akan tetapi aku sendiri telah yakinkan juga satu rupa, hanya biasanya, selama aku mengembara di selatan dan utara, belum pernah aku mencoba menggunakan itu! Jangan kau gusar, sahabat baik, tetapi aku hendak terangkan, jikalau aku gunakan senjataku itu, selamanya belum pernah orang yang hadapi aku bisa mendapat kesudahan yang baik, selamanya semua menjadi apes! Kita orang di sini semua ada bersahabat baik, maka itu kenapa kita orang mesti ciptakan permusuhan hingga selanjutnya, kita orang bisa tidak hidup sama-sama di kolong langit?"

Setelah berkata demikian, Khu Liong Gan simpan kantong tembakaunya.

Sudah biasanya bagi Kiongsin Hoa Ban Hie, ia belum pernah niat mengalah bicara, tidak peduli dengan orang macam bagaimanapun, dan sudah biasa juga orang yang kenal padanya, tidak mau adu mulut, maka itu ia menjadi sangat tidak senang yang sekarang Lioktee Sin-mo berani banyak bicara terhadap ia, tetapi meski demikian, ia ternyata bisa kendalikan diri. Malah sambil angkat kedua tangannya sembari bersenyum, ia berkata, "Khu loo-suhu, kau benar ada orang istimewa! Di dalam Rimba Persilatan, ada siapa yang bisa melebihi kau? Kau ada baik sekali dan tidak niat bikin aku jatuh merk, aku berterima kasih padamu! Nah, sahabat karib, kita baik jangan abaikan ketika, silakan kau perlihatkan ilmu kepandaian rahasiamu ialah Shacaplak-louw Pekwan cianghoat, supaya aku si pengemis tua bisa buka mata, agar semua hadirin di sini bisa tambah pengetahuannya dengan kepandaian istimewamu itu!"

Lioktee Sinmo sebenarnya kaget yang ilmu kepandaiannya telah dibeber oleh si pengemis tua, tetapi dengan seruan, "Baiklah!" dan tertawa, ia bisa umpeti perasaannya itu, sedang juga ia lantas mulai bersiap.

Berdiri masing-masing di timur dan barat, kedua lawan itu perlihatkan roman yang luar biasa: yang satu pengemis, yang lain sebagai guru sekolah yang melarat.

Dengan masing-masing angkat kedua tangan, dua orang itu berseru, "Persilakan!" setelah mana mereka maju mendekati satu dengan lain. Benar saja, Khu Liong Gan sudah lantas memperlihatkan gerakan dari Pekwan- ciang, Tangan Lutung Putih!

Orang telah menduga bahwa Hoa Ban Hie akan mainkan Kimna-hoat, ilmu "Menangkap"untuk hadapkan si Iblis Bumi, tetapi di luar dugaan orang banyak, ia justru keluarkan Thaykek-touw, hingga menampak demikian, Lioktee Sinmo sendiri menjadi terperanjat, maka lekas-lekas ia robah gerakannya dan gunakan Patkwa-mui bagian Biansie Liuyap Mosin-ciang atau "Kepelan lemas". Cepat luar biasa, tubuhnya Hoa Ban Hie telah merangsek dekat pihak lawan, tangannya bergerak, akan tetapi di saat kepelannya belum sampaikan tubuh musuh, tubuhnya sudah bergerak pula, berkelit sendiri dengan memutar, akan tahu-tahu ia sudah berada di sebelah belakangnya Khu Liong Gan. Itu adalah gerakan laksana kilat cepatnya!

Si Iblis Bumi tahu artinya gerakan musuh, ia bisa membade dengan pasti, tetapi gerakan kilat itu ada menerbitkan kesukaran bagi ia, karena ia mesti turut- turutan berlaku sebat juga, berbalik atau memutar tubuh ke jurusan mana si musuh berbalik atau memutar, karena ia mesti pasang mata untuk kaki tangan musuh, yang bisa tendang atau toyor ia sembarang waktu.

Hanya, yang sudah terbukti, ia cuma diancam saja, serangan belum ada sama sekali.

Benar-benar, gerakannya Malaikat Kemelaratan ada laksana orang main petak atau bersendagurau, karena ia terus terputar-putar, putar sana dan putar sini, tangannya kiri dan kanan menyerang, kakinya mendupak atau menendang, tetapi semua itu tidak sampai mengenai sasaran atau ia telah tarik pulang, sedang pihak lawannya, sambil terputar-putar sebagai dia, mesti juga geraki kaki tangan, guna menangkis atau berkelit.

Toh semua serangan tak meminta hasil. Tetapi, kendati begitu, Lioktee Sinmo mesti beraksi, karena ia kuatir, selagi ia tak bersiap, ia nanti betul-betul dicepol atau didupak terguling.

Gerakannya Hoa Ban Hie mirip benar dengan sifatnya thaykek, yang merupakan lingkaran, dengan lingkaran mana, Khu Liong Gan seperti terkurung. Sesudah babakan yang pertama, orang lihat tubuhnya ketua Kiongkee-pang bergerak-gerak jauh terlebih cepat pula: satu waktu ia berputar-putar, satu waktu ia berbalik, atau lain waktu ia loncat mumbul, akan saban- saban, sebagai akibatnya, ia datang pula merapatkan diri. Sama sekali ia tidak mengasih ketika akan pihak lawan dapat mengaso, ia tak ijinkan pihak lawan itu kasih pembalasan.

Baru sekarang Lioktee Sinmo Khu Liong Gan ketahui benar liehaynya si pengemis tua ini, yang orang sohorkan dan malui, sebab benar-benar orang tidak boleh main gila terhadap padanya. Kegesitan tubuh seperti itu, mana sembarang orang bisa layani....

Ada orang-orang yang sangka, Hoa Ban Hie menjagoi karena terlalu banyak pengikutnya, yang tersebar di sungai besar selatan dan utara. Anggapan ini pun ada anggapan dari si Iblis Bumi sendiri, siapa nyana, anggapan itu tidak berdasar. Nyata, kecuali banyak pengikutnya, si Malaikat Kemelaratan memang benar ada sangat liehay.

Pekwan-ciang dari Khu Liong Gan ada suatu ilmu pukulan yang liehay, yang gerakannya sebat luar biasa, karenanya, ia ada sangat dimalui, tetapi sekarang menghadapi si pengemis tua, ia menjadi repot. Coba ia tidak perkuatkan pembelaannya, mestinya sedari siang- siang ia sudah kena dipecundangi. Sekarang, dengan terpaksa, ia kuatkan hati, ia perlihatkan kegesitannya, buat melayani terus...

Karena cepatnya gerakan, cepat juga lewatnya jurus- jurus, sebentar saja, sudah lebih daripada sepuluh jurus. Tapi justru karena ini, Khu Liong Gan lantas ketahui, musuh mempunyai nuikang atau lweekang yang liehay.

Saking terpaksa, Khu Liong Gan lantas perlihatkan semua gerakan dari Shacaplak-louw Pekwan cianghoat. Ia tidak mau sembarangan menyerah kalah, ia melawan terus sebisa-bisanya.

Lioktee Sinmo telah gunai Cie-yang Taykiu-chiu, guna kumpul tenaga di lengannya, tetapi Hoa Ban Hie mencoba punahkan itu dengan Yancu Sippat Siamhoan, terbang jumpalitannya burung walet.

Semua penonton jadi sangat ketarik, yang tadinya duduk, lantas bangun berdiri. Semua mereka menjadi kagum luar biasa, baru sekarang mereka lihat pertandingan yang berarti. Itulah tidak heran jika diingat, masing-masing dari kedua tandingan itu telah punyakan latihan hampir setengah abad.

Menurut jalannya pertandingan, adalah Hoa Ban Hie yang saban-saban menyerang Khu Liong Gan, tetapi menurut apa yang tertampak, sebaliknya adalah Khu Liong Gan yang seperti ubar-ubar Kiongsin.

Demikian kita lihat, Lioktee Sinmo susul si Malaikat Kemelaratan, yang mutar balik dari jurusan timur utara.

Si pengemis tua ini sudah lantas gunai ilmu entengi tubuh Polong tengpengleng coanpou, yang ada lebih liehay daripada ilmu Cosiang-hui atau "Jalan di atas rumput laksana terbang." limu lari ini bisa keliru dianggap sebagai ilmu siluman, saking cepatnya. Sekali ini, Khu Liong Gan menjadi ibuk sekali. Waktu ia dikurung, ditendang dan dicepol, ia bisa berkelit dan menangkis, meski juga tangan dan kaki mereka tidak sampai beradu, tapi sekarang, guna balas menyerang, ia kewalahan akan kejar tandingan yang bisa lari seumpama terbang itu. Bagaimana ia bisa menyandak? Kalau ia tidak sanggup menyandak, bagaimana ia bisa menyerang, baik dengan tangan maupun dengan kaki? Bagaimana ia bisa mendekati tubuh musuh kalau ia kalah lari? Jika tidak mengubar terus, itulah tidak bisa jadi, sebab Kiongsin bukannya kalah! Mereka pun lagi adu kepandaian: kepandaian rupa-rupa!

"Celaka, malam ini aku bisa jatuh pamor. " pikir si

Iblis Bumi.

Hoa Ban Hie tapinya tidak lari terus-terusan, ia kendorkan kakinya, ia putar tubuhnya, dengan begitu, ia kecandak, tetapi begitu rapat pula, lagi-lagi dia yang mendahului menerjang, beruntun-runtun. Maka itu, sudah tiga kali mereka berkelahi "rapat," sedang mereka main udak-udakan, sudah dua kali.

Khu Liong Gan jadi sengit, ia bergerak dengan hebat.

Ia ingin peroleh keputusan: ia menang atau kalah! Ia tidak layani lawan seperti biasa, dengan berani ia ambil aksi memegat, akan kacaukan berkelahi orang yang luar biasa itu. Ia tidak lagi ada di sebelah belakang, dengan tiba-tiba ia memegat dari kiri, tubuhnya berloncat, tangan kirinya bergerak, disusul oleh tangan kanannya. Sasarannya iga kiri dan Kiongsin. Ia pun telah kumpulkan tenaganya.

Dipegat secara demikian, Hoo Ban Hie masih bisa berhentikan tindakannya. Kaki depannya berhenti, tubuhnya mutar, berbalik ke belakang, kapan pundak kanannya di angkat, tangan kirinya ditekankan ke bawah, bukan untuk cegah atau tangkis tangan musuh, hanya untuk "potong" lengan musuh itu. "Babatan" ini membahayakan.

Khu Liong Gan, sebagai satu ahli sudah siap. Dari menyerang, ia berbalik jadi diserang. Ia batalkan serangannya dan ia bawa tangannya ke bawah, terus ditarik pulang ke depan dadanya. Mula-mula akan tolong tangan kirinya, yang sudah maju lebih dahulu, tangan kanannya, yang maju belakangan, ia bisa kembalikan dengan sebat. Dan dengan tangan kanan, ia menyambar mukanya si pengemis, kaki kanannya berbareng juga turut maju bekerja.

Sebagai pihak penyerang, Hoa Ban Hie sudah siap.

Dengan gampang ia bisa loloskan diri dari ancaman musuh. Ia tidak mau menyerah dengan begitu saja. Musuh gunai akal, ia pun bisa jika ia mau. Men-dadakan ia majukan kaki kirinya, tubuhnya ikut mendak sedikit, tangannya bergerak, pada jalan darah dari musuh.

Tangan ini tahu-tahu telah mengenai baju.

Khu Liong Gan terperanjat, pundaknya diegosi, ke kiri, lantas kaki kirinya, yang sudah bergerak, dipakai menyapu, guna barengi musuh, la arah kaki kanan musuh.

Jikalau serangan kaki ini berhasil, akibatnya hebat bukan main bagi Hoa Ban Hie. Kakinya si Iblis Bumi, yang telah terlatih, keras laksana besi, siapa terkena itu, pasti tulangnya patah, uratnya putus.

Tapi Hoa Ban Hie tidak kelabakan, akan menyingkir dari serangan itu. Ia geser kaki kanannya ke belakang, kaki kirinya diangkat sedikit, kedua tangannya disiapkan. Secara begini, dengan gampang ia bisa lolos dari ancaman bahaya itu. Nampaknya, karena gerakannya itu, tubuhnya seperti hendak jatuh celentang, tetapi tahu- tahu ia telah mengisar ke kanan, tangan kanannya menyerang dengan satu totokan ke otak.

Ini adalah salah satu totokan berbahaya dari Susat- chiu. Khu Liong Gan egos diri ke kiri. Totokan itu tidak bisa diluputkan, kalau sasaran tidak dapat dikenakan, mesti ada lain-lain bagian yang menjadi korbannya, umpama tempilingan. Tapi Lioktee Sinmo masih punyakan daya lain: sembari egos tubuh, ia mengebut dengan tangan kanan, atau lebih benar ujung baju dari tangan kanan itu, menuju nadi orang itu. Itu adalah kebutan ujung baju, tetapi ujung baju dari satu ahli nuikang ada tak kurang liehaynya dari pukulan biasa. Ini pun ada serangan yang dinamai Po-in kianjit atau "membuka awan akan melihat matahari."

Hoa Ban Hie tahu keliehayan lawan, ia tarik pulang tangannya dan tubuhnya pun dimencelatkan maju.

Sambil berbuat begitu, ia tertawa berkakakan!

"Iblis tua, tidak salah apa yang kau bilang!" ia kata. "Aku si pengemis tua benar bukan tandinganmu! Terang, kau ingin betot aku hingga kecebur ke air! Oh, sahabat karib, dalam pertempuran ini aku harus menyerah kalah! "

"Hm, sahabatku!" Khu Liong Gan pun kata. "Bukankah Susat-chiu masih ada lain-lain bagiannya yang berbahaya?"

"Dengan begitu kau puji-puji aku! Aku tidak berani 6embarangan, sahabat!" Hoa Ban Hie kata. "Dengan kantong tembakaumu, kau bisa mainkan pukulanmu yang berbahaya pada tigapuluh enam jalan darah atau urat, itu adalah kepandaian yang istimewa dan tersembunyi sekalipun di kalangan Rimba Persilatan. Apa kau sangka aku si pengemis tua tidak ketahui tentang kepandaian simpanan dari kau ini? Silakan kau keluarkan kepandaianmu itu, aku si pengemis tua akan tak sayang lagi jiwa bangkotanku. Aku nanti temani kau main-main untuk beberapa jurus! Iblis tua, hayolah, dengan secara terbuka, kau pertunjuki kepandaian kau itu, supaya khalayak ramai bisa buka matanya!"

Dikocok begitu rupa, Khu Liong Gan manggut- manggut.

"Hoa Ban Hie, aku mesti tunduk pada kau," ia kata. "Silakan dengan bebas, kau perlihatkan kepandaian simpananmu. Biar bagaimana juga aku tak berguna aku nanti layani pada kau! Nah, sahabat, silakan mulai!"

"Iblis tua, baiklah, begini saja perjanjian kita!" kata Hoa Ban Hie.

Demikian berdua mereka saling ejek.

Ketika itu Chong Kim Ciu, salah satu murid dari Kiongkee-pang, yang sedang berduduk saja, lantas berbangkit dan bertindak menghampirkan, akan serahkan senjata pusaka turunannya Hoa Ban Hie dari leluhur Kiongkee-pang, ialah toya Susat-pang. Ketika ia sampai di depan pemimpinnya, ia tekuk sebelah kakinya.

Hoa Ban Hie sambuti itu senjata, yang diberikannya secara demikian hormat.

Chong Kim Ciu tunggu sampai senjata pusaka itu sudah diterima dengan baik, baru ia undurkan diri, menurut caranya sendiri, yang istimewa Ia berbangkit, ia tidak putar dahulu tubuhnya, buat bertindak ke tempatnya tadi, hanya begitu berbangkit, tubuh itu segera mencelat lompat ke tempatnya tadi, dengan satu jumpalitan Yauwcu tohoansin atau "Burung jungkir balik" Ia bergerak laksana terbangnya burung, hingga siapa yang menyaksikan, jadii kagum sekali.

Lioktee Sinmo, di pihaknya, sudah singkap bajunya yang panjang, akan keluarkan huncwee dengan kantong tembakaunya, setelah nu na, ia mundur, seperti juga si pengemis tua, hingga mereka berdiri berhadapan cukup jauh satu dari lain.

Semua penonton buka lebar-lebar mata mereka, kesatu mereka hendak saksikan pertempuran dari dua jago kenamaan, dan kedua mereka hendak saksikan juga senjata-senjata yang istimewa itu, bagaimana digunakannya senjata itu dan bagaimana kefaedahannya

Kedua pihak sudah lantas siap tetapi lebih dahulu daripada itu, Hoa Ban Hie telah menjura ke jurusan barat utara asli, kemudian dengan mendak sedikit, toyanya ia lintangi di depan dadanya.

--ooo0dw0ooo--