Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 13

Jilid 13

Napsu amarahnya Itcie Sinkang jadi berkobar-kobar. "Pengemis tua bangka, kau berani mencaci aku?" ia

berseru. "Kau mesti ketahui, si orang she In tak boleh

dibuat permainan! Lekaslah kau perkenalkan dirimu, supaya aku bisa ajar adat padamu!"

Pengemis tua itu menjawab dengan tertawa dingin. "Kau tanya she dan namanya leluhur tuamu?" ia baliki.

"Aku sebenarnya ada saru kepala kecil di dalam rombongan pengemis, tetapi sebagai leluhur tuamu, aku bernama Ang Tiu!"

In Yu Liang tidak sanggup kendalikan diri lagi, karena ia merasa terlalu dihinakan. Dengan gerakan Goyang poksit atau "Kambing kelaparan menubruk makanan" ia lompat menerjang dengan kedua tangannya yang terbuka ke arah dadanya si pengemis tua.

Ang Tiu mendek sambil berkelit ke kiri, di sini ia berdiri serta gerakkan kedua tangannya dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, guna "bacok" lengan kanannya In Yu Liang.

Lekas-lekas In Yu Liang tarik pulang kedua tangannya yang sudah tidak mengenai sasarannya, sambil bergerak demikian, rubuhnya sendiri ia egosi ke kiri, tetapi untuk meny e-rang pula, dengan luar biasa cepat, tangan kanannya dipakai "memotong" tangan lawan sebatas lengan atas. AngTiu tarik pulang tangannya dengan cepat, tubuhnya terus berputar, dengan kaki kiri mendek sedikit, kaki kanannya segera menyapu tangan musuh yang sedang menyerang padanya. Gerakannya cepat luar biasa.

In Yu Liang lihat serangan yang berbahaya itu, ia selamatkan dirinya dengan meloncat sampai satu tombak lebih tingginya. Demikian mereka bertempur dengan cepat dan seru, masing-masing menggunakan serangan atau terjangannya yang liehay.

In Yu Liang lihat lawannya tangguh, maka ia memikir akan gunakan antero kepandaiannya untuk merobohkan dan merebut kemenangan, kalau tidak, ia harus mandah kena dijatuhkan.

Serangan Ang Tiu tadi adalah dengan tangan kiri, dan In Yu Liang dengan tangan kanan. In Yu Liang tarik pulang tangannya untuk lekas dibaliki, buat diteruskan menotok pundak kiri orang. Tangannya bergerak dari bawah ke samping, dari samping naik ke atas, lantas turun pula ke bawah. Kembali ia gunakan dua jarinya. Itu adalah jari yang telah dilatih tiga atau empat puluh tahun, yang bisa punahkan ilmu kedot Tiat-pouwsan atau "Baju kain besi". Ini kali, karena gesitnya gerakan, pundaknya Ang Tiu telah kena ditotok, meski juga si pengemis tua itu telah lekas-lekas mendek sedikit.

Di luar dugaannya Itcie Sinkang In Yu Liang, totokan itu yang bisa putuskan urat atau bikin mandek jalannya darah, telah mengenai pundak yang empuk laksana kapas. Pundak itu, dagingnya seperti juga tak mempunyai sifat keras atau perlawanan. Bahna kaget, ia berniat lekas-lekas tarik pulang tangannya itu. Nyatalah Ang Tiu sudah gunakan Sia-kut-hoat, ilmu membikin tulang "terlepas". Ilmu ini lemas seperti kapas dan keras laksana baja. In Yu Liang dilayani justru dengan kelemasan yang segera disusul dengan kekerasan. Dan si pengemis tua sengaja gunakan tipu atau ilmu ini akan jebak lawan yang tangguh itu.

Agar dapat terlolos dari bahaya, In Yu Liang segera tarik pulang tangannya, yang telah digunakan dengan tenaga sepenuhnya, hingga kaki depannya turut maju dan kaki belakangnya turut cenderung ke depan. Di lain pihak, ia telah hadapkan Ang Tiu, yang telah tukar kelemasan dengan kekerasan dan unjuk kecepatan istimewa

Ketika pundak kirinya telah menjadi keras laksana baja, dengan tangan kanannya, Ang Tiu barengi menyerang tangan kanan musuh yang telah menotok padanya Ia pun telah gunakan tenaga penuh, karena ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan musuh liehay.

Hanya kalah cepat sedikit atau tangan kanannya Itcie Sinkang kena tersampok begitu keras, sampai rubuhnya turut tergerak terpelanting, hingga untuk cegah ia roboh terguling, In Yu Liang harus mundur dua tiga tindak dengan sempoyongan. Dasar liehay ia bisa cegah tubuhnya jatuh atau tangannya terluka Tapi dari sini sudah lantas ternyata bahwa ia telah nampak kekalahan.

Dalam keadaan biasa, In Yu Liang bisa berlaku sebagai seorang terhormat, yang mukanya tipis, bersedia akan akui kekalahannya ini, tetapi ini kali keadaan ada lain. Sejak adu bicara baru-baru ini, ia sudah ambil putusan akan melakukan pertandingan untuk kemenangan atau binasa di selat Haytong-kok. Karena Kiongsin Hoa Ban Hie tidak inginkan lain, ialah ia harus menyerah atau perbaiki kedudukan pelita suci orang. Dan untuk berbuat begini, ia merasa malu. Maka itu, ia lalu tebalkan mukanya

Dengan muka merah, yang ia tidak bisa cegah, ln Yu Liang hadapkan Ang Tiu dengan kedua tangan terangkat naik, selaku tanda mengunjuk hormat.

"Sahabat baik, kau benar-benar liehay," ia kata. "Dari sini jadi terbukti bahwa benar-benar murid-murid dari Hoa chungcu bukan murid-murid yang orang melulu sohorkan, tetapi benar berisi. Meski begitu, sahabat, aku hendak majukan satu usul, dan apakah kau bersedia akan mengiringi?"

Ang Tiu senantiasa bersiap, ia kuatir musuh berlaku curang. Sekarang ia dapat kenyataan, lawan itu bukan main curang hanya hendak unjuk kenekatan. Atau lebih tegas, musuh ini mau adu jiwa. Maka itu, ia lantas kasih dengar suara di hidung.

"Sahabat baik, ada usul apa pun, kau boleh kemukakan, aku selalu sedia akan menerima baik, malah kau boleh anggap aku sudah setujui!" ia berkata, dengan sikap mengejek. "Aku memang sudah ketahui, kalau secara begini saja pertandingan dihabiskan, kau niscaya tak merasa puas dan tak tahu bagaimana harus mengundurkan diri! Menghormati orang mesti menghormati sampai di akhirnya, apapula kita kaum Kiongkee-pang terhadap kau, satu busu yang kenamaan di kalangan kangouw! Nah, sahabat baik, persilakan!"

"Orang she Ang, tutup mulut kau!" mendadakan In Yu Liang membentak, la gusar bukan main atas penghinaan itu, hingga ia tak mampu kendalikan diri lagi. "Kau harus ketahui, kita orang di kalangan kangouw, batang lehernya boleh putus, kehormatannya tak boleh diperhina! Jangan kau omong lebih banyak lagi, karena aku si orang she In juga mempunyai mulut! Di dalam pertandingan, kekalahan atau kemenangan tidak berarti banyak, dari itu jangan kau anggap bahwa kepandaian kau boleh dibuat menjagoi! Aku telah lama dengar yang kau orang kaum Kiongkee-pang mempunyai pusaka kepandaian leluhurmu yang dinamai toya Susat Coatsu- pang, yang dalam Rimba Persilatan ada istimewa, maka itu, sebagai orang Kiongkee-pang, apa kau suka pertunjuki itu di depannya si orang she In ini, agar aku bisa mendapat pelajaran, supaya di akhirnya aku bisa merasa puas dan ikhlas?"

Ang Tiu tertawa terbahak-bahak.

"In Yu Liang, tak kecewa yang kau menjadi orang kenamaan dari Rimba Persilatan!" ia kata dengan nyaring. "Pengetahuan kau ada banyak sekali! Hanya ini kali, dalam halnya kepandaian pusaka itu, kau ada sedikit keliru. Pusaka kepandaian itu cuma dipunyai oleh orang yang menjadi loo-couwcong kita, ialah ketua pusat kita, dan aku si orang she Ang, tak berhak akan gunai itu!

Sahabat, kalau kau memangnya berniat gunakan senjata, aku sudah siapkan itu, maka silakan kau siapkan senjatamu, supaya kita orang boleh main-main! Aku harap supaya ini kali kau insyaf dan tak penasaran lagi!"

Si pengemis tua ini ucapannya selamanya tajam dan menusuk. "Aku si orang she In bolehlah dibilang bernasib malang, karena apa-mau, di sini aku telah berhadapan sama seorang seperti kau dan gurumu!" ia bilang. "Aku tidak ingin damprat kau, sahabat baik, karena dampratan berarti mencemarkan kehormatanku! Sekarang aku hanya hendak terangkan, ini hari kita orang mesti ambil putusan di antara mati dan hidup! Nah, sahabat, siapkanlah senjatamu!"

Sehabisnya kata begitu, In Yu Liang bikin gerakan memutar tubuh dan berloncat ke belakang, sampai lima atau enam kaki jauhnya, kemudian sambil menggape terhadap Pian Siu Hoo, ia teruskan berkata, "Tuan, tolong kau ambilkan pedangku!"

Dengan hanya menoleh, Pian Siu Hoo telah bikin satu chungteng muncul dengan sebatang pedang, yang terus diantarkan dan diserahkan pada In Yu Liang, siapa sudah lantas hunus itu, akan terus hampirkan Ang Tiu.

"Orang she Ang, kau hendak tunggu apa lagi?" ia menegur, dengan takabur.

Si pengemis tua sudah lantas mundur, empat atau lima kaki jauhnya.

"Sahabat baik, silakan kau gunakan pedangmu!" ia menantang. Sambil berbuat demikian, ia geraki kedua tangannya ke jurusan pinggangnya, maka sebentar saja, ia telah tarik keluar serupa senjata, senjata mana dengan tangan kanan ia majukan ke depan dan tangan kirinya menindih tangan kanan itu. Ini ada suatu cara atau sikap penghormatan.

Diam-diam In Yu Liang kaget apabila ia sudah lihat nyata senjatanya pihak lawan itu, karena ia segera merasa bahwa jangan-jangan ia sukar bisa menyingkir hidup-hidup dari ujungnya senjata lawan itu. Sebab senjata itu ada tombak pendek Lianhoan Coa-kut-chio, tombak si "Tulang Ular". Itu ada semacam alat yang paling sukar untuk dilayani, yang ada sebangsa ruyung Ku-louw-pian dan tombak Liancu-chio. Ia, mesti tunjuk kenekatan kalau ia ingin menyingkir dari bahaya....

Lantas In Yu Liang pasang kuda-kudanya, ia tidak mau banyak omong lagi, karena ia sudah merasai bagaimana lidahnya si pengemis tua ada sangat berbisa, sesuatu ucapannya melulu membangkitkan kemen-dongkolan atau hawa amarahnya, sedang ia tahu, dengan berhati panas, ia tak akan bisa berkelahi dengan betul. Ia telah kasih lihat sifat atau wujud dari Patkwa Kie-bun-kiam. Ia lompat maju dengan satu tusukan pada mukanya si pengemis tua, tipu silat yang ia gunakan ada "Dewi menenun."

"Sungguh liehay!" Ang Tiu berseru apabila ia lihat serangan itu. Di lain pihak, dengan tombaknya datang dari bawah, dengan kaki kanannya maju ke samping kanan, dengan tipu Gioktay wieyauw atau "Angkin kumala melibat pinggang", ia balas serang iga kanan orang.

Melihat serangannya gagal dan senjata musuh menyambar, In Yu Liang putar tubuhnya ke kiri, sebab ia terputar terus waktu ia berbalik pula menghadapi lawan, pedangnya diteruskan dipakai membabat tombak pendek yang mengarah iganya.

Begitu lekas dapat kenyataan serangannya tak membawa hasil, begitu lekas juga Ang Tiu telah tarik pulang tombaknya, saking kagetnya tarikannya, gelang kuningan yang mengalungi tombak itu, telah menerbitkan suara nyaring.

In Yu Liang tidak mau mengerti, ia maju lagi, menusuk muka orang. Ia merangsek dengan luar biasa senatnya. Sekarang Ang Tiu pegang tombaknya dengan dua-dua tangannya dengan geser kaki kiri, ia mundur sedikit, akan bikin ujung senjata musuh tidak mengenai mukanya, tetapi berbareng dengan itu, ia gunai tombaknya, akan bentur pedang orang.

Satu bentrokan tak dapat dicegah lagi, suara nyaring segera terdengar, lelatu api muncrat ke empat penjuru, ke atas dan ke bawah.

Setelah itu, kedua pihak lantas periksa masing-masing senjatanya, akan lihat rusak, atau tidak. Tetapi si pengemis tua berlaku cepat luar biasa, begitu dapatkan tombaknya selamat, senjata itu dipakai kemplang kepala orang.

Itcie Sinkang mesti berlaku awas dan gesit. Lagi sekali ia menangkis, akan tolong dirinya, hingga lagi sekali, kedua senjata beradu dan meletik lelatu api seperti yanhwee di antara suaranya yang keras dan nyaring. Dan sekarang In Yu Liang, yang perlihatkan kepandaiannya, karena dengan satu rangsekan, ia terus menikam iga kanan orang.

"Bagus!" berseru Ang Tiu, yang iganya dicari ujung pedang. Ia loncat ke kiri, agar iganya terlolos dari bahaya, sembari loncat, tombaknya dari atas dibarengi turun ke bawah akan hajar lengan kanan orang yang memegang pedang itu. Karena ia tidak loncat, mereka tetap ada berdekatan satu pada lain.

Lekas luar biasa, In Yu Liang berkelit seraya tarik pulang pedangnya, tetapi karena tombaknya Ang Tiu pun tidak kurang gesitnya, sekarang adalah ujung pedang yang kena kebentrok ujung tombak. Si Jeriji Liehay benar lihay agar ujung pedangnya tidak terganggu. Ia lekas-lekas bertindak ke kanan seraya tarik nyimpang pedangnya, hingga sekarang, dengan mendek sedikit, ia bisa geraki tangannya, terus membabat ke bawah, pada kedua kaki musuh. Ia telah gunakan tipu "Angin taufan meniup daun rontok."

Bahaya itu ada hebat, untuk selamatkan diri, Ang Tiu menjejak tanah, loncat mencelat sampai tingginya setombak lebih, lalu sembari turun, ia gunakan tombaknya akan balas menyerang musuh. Ia mempunyai ketika yang bagus untuk serangannya ini, dan telah gunakan tipu pukulan Tianghong koanjit atau "Bianglala melintangkan langit."

Sekarang ini adalah In Yu Liang yang terancam bahaya, bukan saja karena mereka berada dekat satu pada lain, ia pun lagi mendek dan pedangnya baru saja menyambar tempat kosong. Terpaksa ia kelit seraya menangkis senjata musuh.

Buat kesekian kalinya, kedua senjata telah beradu. Coa-kut-chio telah kena terbacok tengah-tengahnya, tetapi waktu dipakai menindih terus, senjata ini merosot turun ke jurusan gagang pedang, menyambar pada runce pedang, hingga runce itu melibat.

"Lepaskan tanganmu!" berseru si pengemis tua, yang tarik tombaknya dengan keras seraya ia bertindak ke kanan, guna kumpul tenaganya.

In Yu Liang terperanjat, untuk bisa loloskan libatan itu, ia lonjorkan tangannya, dengan begitu tarikan musuh jadi tidak terlalu keras. Tetapi Ang Tiu pun liehay, ia bisa menduga siasat musuh, maka ia pun tidak mau dipedayakan. Ia menggeser ke kanan, ia mendahului melepaskan kedua senjata, dengan begitu, ia bisa mendahului akan menerjang lagi, ke jurusan batang leher.

Lekas-lekas In Yu Liang mendek, hingga ujung tombak tidak mengenai sasarannya. Sesudah ini, ia mundur setindak, ke samping kanan, lebih banyak ke belakang, kemudian sambil angkat tubuhnya, ia menyambar pula kaki kanan orang, untuk bikin musuh berkaki sebelah!

Melihat itu serangan, Ang Tiu lekas-lekas angkat kaki kanannya, yang ia bawa mutar ke kiri, dari sini, tangannya turut mutar juga, dan bersama tangan, tombak istimewanya, yang menjuju kepala lawan. Dan kapan In Yu Liang bisa menyingkir dari tombak itu dengan berkelit, si pengemis tua tarik pulang tombaknya sekalian dipakai menyambar pinggang.

Melulu dengan loncat ke kanan, enam atau tuju kaki jauhnya, In Yu Liang bisa menyingkir dari serangan itu beruntun dua kali, kempolannya kebentur sedikit tetapi tidak sampai terluka. Tetapi Ang Tiu tidak mau berhenti dengan begitu saja, dengan kegesitannya, ia lagi-lagi mendahului menyerang terus. Ini ada runtunan yang ketiga.

Bukan main repotnya Itcie Sin-kang, ia ibuk dan mendongkol dengan berbareng. Ia mau berlaku nekat, siapa tahu, ia kalah desak. Ia pun bingung, karena ia tahu, sekarang ia tak punya kesempatan akan berkelit. Tapi untuk tolong diri, ia paksa tancapkan pedangnya ke tanah, dengan kedua kakinya ia angkat, akan lompat ke kiri. Hanya, karena ia bikin tangkisan atau jagaan secara demikian, ia tidak bisa cegah yang tombak musuh kembali mengenai pedangnya, yang kena ke-bangkol. Mau atau tidak, In Yu Liang terpaksa putar tubuhnya akan hadapi lawannya

"Pengemis tua, Coa-kut-chio-mu benar-benar liehay," ia akui, "aku ln Yu Liang menyerah kalah, hanya urusan dari Bancie sanchung "

Ia belum mengucap habis, ketika Pian Siu Hoo dengan mencelatkan diri telah loncat, akan cabut pedang yang masih menancap di tanah, seraya berkata, "In loosu, menang atau kalah dalam pertempuran, ada perkara biasa! Sekarang jangan kau banyak bicara dahulu! 

Pertempuran di Haytong-kok ini belum sampai di akhirnya, semua-semua ada jadi tanggung jawab dari aku, si orang she Pian! Loosu, silakan kau beristirahat dulu! "

Tindakannya Pian Siu Hoo ini ada satu pertolongan bagi In Yu Liang. Ia sebenarnya mau mengaku kalah dan bersedia akan berpura-pura pergi ke kampung si pengemis, akan betuli pelita pusaka, di sana secara nekat, ia hendak menyerang pula secara mati-matian.

Tapi pikiran itu ia batalkan.

"Kalau begitu, Pian pangcu, baiklah, aku akan turut perkataan kau," ia kata. Ia sambuti pedangnya dan lantas undurkan diri.

Ang Tiu jadi mendongkol yang Pian Siu Hoo rintangi pertempurannya secara demikian macam, ia merasa sangat tidak puas.

"Pian pangcu, kau ada terlalu takabur!" ia kata pada ketua dari Kangsan-pang. "Kau cuma ada kepala dari salah satu rombongan nelayan di Hucun-kang, bagaimana di sini kau berani tanggung segala apa? Apa kau anggap satu jiwamu ada cukup menjadi tanggungan? Bukannya aku si orang she Ang tidak memandang mata padamu, tetapi aku anggap, kau tidak pantas buat jadi si penanggung jawab. Kalau kau anggap urusannya si orang she In ada dalam tanggung jawab kau, aku minta kau jangan tunggu beresnya urusan di Haytong-kok ini, mari kau ajak si orang she In itu ke dalam kampungku, guna ia perbaiki kekeliruannya!

Tentang urusan di sini, kau jangan kuatir, semua loo- suhu tentulah akan memikul pertanggungan, sedang yang pergi cuma kita semua pengemis Kau percaya

aku, asal In Yu Liang perbaiki kesalahannya, segala apa bisa dibereskan dengan damai."

Pian Siu Hoo gusar mendengar ucapan keras itu. "Pengemis tua, kau terlalu menghina!" ia menegur

dengan nyaring. "Apakah Bancie sanchung ada laksana kedung naga dan gua harimau maka aku si orang she Pian takut pergi ke sana? Sekarang juga aku bisa iringi kau!"

Ang Tiu geser tombaknya pada tangan kiri. "Baik, Pian pangcu, mari kita pergi!" ia kata.

In Yu Liang tidak bisa saksikan itu kejadian di hadapan matanya dengan berdiam saja, meskipun ia ada satu pecundang, la malu yang Pian Siu Hoo mesti menanggung jawab seluruhnya. Maka ia maju sambil lompat jauh seraya terus tuding si pengemis tua.

"Orang she Ang, kau tidak kenal artinya pergaulan kita kaum kangouw!" ia menegur. "In Yu Liang telah kalah di tanganmu, itu sudah berarti muka terang sekali bagi kau, kenapa sekarang kau bertindak begini mendesak? Bukankah aku belum angkat kaki dari selat ini? Urusan di Bancie sanchung itu, aku akan bertanggung jawab, maka kenapa kau berlaku begini tidak pakai aturan sopan santun? Ang Tiu, jangan kau gertak aku dengan namanya Kiongkee-pang! Kau ada orang Kiongkee-pang, kau pandang aturan kau keras sekali, agung sebagai gunung Taysan, tetapi aku orang luar, aku tak menghargai sedikit juga, aku pandang itu enteng seperti bulu kerbau! Jangan kata baru aku geser pelita pusaka, meski aku bikin ludas Bancie sanchung, aku bersedia buat menanggung jawab, paling juga kau bisa bakar tubuhku sampai jadi abu! Tapi, halnya Pian pangcu ada lain. la ada ketua di sini, sudah seharusnya kalau ia hendak lindungi kawan-kawannya! Sekarang begini, pengemis tua, meski Bancie sanchung ada sebagai kantor neraka, aku nanti pergi ke sana!"

Ang Tiu tertawa menghina.

"Bagus, orang she In! Kau mau tanggung jawab, dengan begitu kau tidak usah rembet-rembet si orang she Pian. Sekarang hayo kita orang pergi ke kampungku!"

Tapi Tiathong-liong Pian Siu Hoo, si Naga Besi, tidak mau mengerti.

"Ang Tiu, kau benar ada terlalu jumawa!" ia berseru. "Di dalam Haytong-kok ini, kau tidak diijinkan terlalu banyak tingkah! Apa si lic-haynya Lianhoan Coa-kut-chio? Apa kau sangka aku si orang she Pian tak sanggup layani senjata kau itu? Mari, pengemis tua, mari, aku ingin belajar kenal sama senjatamu itu! " Itu waktu dari deretan barat ada berbangkit satu orang, yang terus loncat di antara mereka yang sedang adu bicara.

"Pian pangcu, benar-benar lucu!" kata ia, ialah Tin- sankang Siauw Cee Coan. "Di sini ada Haytong-kok, kita ada punya urusan kita sendiri, maka sudah seharusnya, segala urusan perseorangan dari pihak mana saja, mesti ditaruh di samping. Tapi sekarang, kenapa justru itu yang diributkan? Kita orang mau bikin piebu, di sini telah berkumpul banyak ahli silat ternama, ketika ini sebenarnya sukar untuk dicari, maka ketika ini, jangan kita sia-siakan. Ini Ang suhu mau bereskan urusan Bancie sanchung, ia seperti mau rusaki atau batalkan urusan kita, aku anggap ia ada terlalu tak memandang persahabatan. "Maka, Ang suhu," ia teruskan pada si pengemis tua sendiri, "aku Siauw Cee Coan jadi ingin campur urusan ini. suhu, aku minta urusan kau sama In loosu, atau lebih benar urusan Bancie sanchung, dikesampingkan dulu, itu boleh diurus belakangan, sesudah piebu selesai. Aku anggap, siapa yang menggerecok, itu tandanya bahwa ia mau menjagoi sendiri dan hendak menindih pada kita orang, dari itu, kita jadi ingin ketahui, sampai di mana adanya kepandaian dari si tukang menggerecok itu!"

Ang Tiu bersenyum ewah. "Aku tidak sangka, Siauw loosu, kau telah pandang demikian tinggi pada aku si pengemis tua, dan kau telah namakan aku si tukang menggerecok. Itulali aku tidak sanggup terima! Siauw loosu, nampaknya kau anggap aku ada keterlaluan, dengan begini, kau juga jadinya ada memandang enteng pada aturan kita dari Kiongkee-pang! Dengan anggapan berbedaan, kita orang sukar cari kecocokan. Apa Siauw loosu juga hendak bertanggung jawab bagi si orang she In itu? Bagaimana kau anggap perbuatannya si orang she Pian, yang hendak menjagoi? Siauw loosu, mari kita orang omong secara terus terang! Andaikata benar kau pun hendak bertanggung jawab, baiklah, aku bersedia akan iringi segala kehendak kau!"

Pengemis ini menantang, karena ia tak setujui sikapnya guru silat itu.

Tonglouw HiejinTan Ceng Po merasa tidak puas.

Kelihatan orang bertindak semakin jauh pada pangkal pemberesan. Ia pun tahu Tin-sankang Siauw Cee Coan ada liehay dan belum tentu Ang Tiu bisa menangkan padanya. Umpama si pengemis tua kena dikalahkan, maka orang she Siauw ini dengan sendirinya harus bertanggung jawab juga buat urusannya In Yu Liang. Karena itu, ia lantas lompat, akan hampirkan mereka itu.

"Pian pangcu," ia kata pada tuan rumah pada siapa ia unjuk hormat, "kau ada jadi tuan rumah di Haytong-kok ini, tolong kau mundur dahulu sebentar, karena itu urusan tak bisa beres dengan kau turut campur tahu." Kemudian ia menoleh pada Ang Tiu, akan berkata terus, "Ang suhu, urusan Bancie sanchung tidak bisa dibereskan berbareng, itu mesti diurus belakangan, sesudah selesai urusan Haytong-kok ini. Aku Tan Ceng Po sudah sejak lama mendengar nama besar dari Tin-sankang Siauw loo- suhu, dari itu, sesudah kita orang berkumpul di selat ini, aku tidak boleh lewatkan ketika ini akan kita orang belajar kenal, dengan main-main untuk beberapa jurus "

"Jikalau kau hendak bereskan satu-satu urusan, Tan loosu, aku bersedia akan dengar perkataan kau," kata Ang Tiu, yang bisa diajak bicara, "cuma aku hendak kasih tahu —bukannya kita berkepala besar — sesudah urusan Haytong-kok beres, lantas datang giliran urusan kita!

Andaikata urusan kita tak dapat diselesaikan, aku pasti tak mau mengerti!"

"Ang suhu, aku mengerti," kata Siauw Cee Coan. "Nah, mari kita bereskan urusan satu demi satu!"

"Baik, Siauw loosu," sahut Ang Tiu. "Sampai datang giliran kita!"

Ang Tiu lantas undurkan diri, maka In Yu Liang pun lantas ikut Pian Siu Hoo balik ke tempat mereka.

Semua orang lantas pandang Siauw Cee Coan dan Tan Ceng Po, yang dua-duanya ada orang-orang kenamaan dalam kalangan Sungai Telaga. Cuma, dilihat dari dandanannya, Tan Ceng Po kalah pamor, karena ia mirip dengan satu nelayan aki-aki, sedang di lain pihak, dandanan dari kaum Kiongkee-pang ada lebih tak menarik hati lagi. Di sebelah Tonglouw Hiejin yang

sederhana, ada Siauw Cee Coan yang pakai baju sutera, yang tubuhnya besar dan kekar, sedang mukanya ada merah dan keren.

"Tan loosu, sudah lama aku dengar kau dan saudaramu berdua ada merupakan satu kaum tersendiri," Siauw Cee Coan kata, "bahwa kau orang telah yakinkan seratus duapuluh jurus Kiauwta Sinna, maka itu di Haytong-kok sini, aku minta kau sudi pertunjuki itu, supaya aku Siauw Cee Coan bisa dapat tambah pengalaman "

Tan Ceng Po bersenyum seraya angkat kedua tangannya. "Siauw loosu, aku harap siapa pun tidak usah puji siapa," ia berkata dengan sabar sekali. "Benar aku jadi ketua dari Kiushe Hiekee tetapi tentang ilmu silat, pengetahuanku tidak berarti. Sekarang silakan loosu mulai. Kita orang tidak bermusuhan, aku rasa kau mupakat kalau kita berjanji pertempuran sudah cukup andaikata salah satu ada yang ketowel lebih dahulu "

"Tan suhu!" sahut Siauw Cee Coan, yang lantas bersiap.

Tan Ceng Po ada berpakaian dari cita kasar semua, kakinya tidak pakai kaus, cuma ketutup sama sepatu rumput, ia bisa dibilang bertubuh kurus akan tetapi kedua lengannya berurat kasar. Ia mundur dua tindak, akan bersiap.

Benar seperti katanya Siauw Cee Coan, Tonglouw Hiejin sudah gunai tipu-tipu silat Kiauwta Sinna yang terdiri dari seratus duapuluh delapan jurus, yang ia ciptakan dari dua rupa ilmu Kimna dari dua golongan Siauwlim dan Butong, sedang lawannya gunai Loohan- kun.

Cepat sekali, kedua pihak sudah sama-sama perlihatkan kegesitan tubuh mereka, karena kalau tidak, siapa ayal, ia mesti menyerah lebih dahulu. Tan Ceng Po bisa bergerak cepat laksana angin atau kilat, kecuali serang-serangan biasa, ia pun gunai totokan jari.

Siauw Cee Coan punya Loohan-kun ada warisan tulen dari Siauw-lim-pay dan ia telah yakinkan itu buat beberapa puluh tahun, tidak heran kalau dengan itu, ia bisa layani ketua dari Kiushe Hiekee. Ini adalah salah satu warisan tipu silat pihak Siauwlim yang biasa diandalkan guna lindungi pamornya golongan. Selama duapuluh jurus, yang berlangsung dengan cepat, tetapi penuh dengan bahaya buat kedua pihak masing-masing, tandingan itu merupakan tandingan yang berimbang, baik untuk liehaynya sesuatu serangan, maupun buat sehatnya sesuatu kelitan.

Tan Ceng Po menjadi kagum akan saksikan kepandaian orang, tadinya ia cuma dengar nama besar Tin-sankang, sekarang ia telah buktikan sendiri. Karena ini, ia berlaku semakin hati-hati.

Juga Siauw Cee Coan mesti kagumi itu lawan, yang namanya, pantas ada kesohor, jadi tidak percuma orang malui ketua dari Kiushe Hiekee itu.

Lekas juga, tigapuluh jurus sudah lewat. Penonton dari kedua pihak juga menjadi kagum,

mereka ketarik bukan main, hingga semua menonton

dengan diam, mata mereka seperti tak berkesip.

Segera juga kelihatan Tan Ceng Po gunai tipu Jiauwpouw Poan-soan, atau "Tindakan mengitar, terputar-putar," untuk kelit satu serangan dari Siauw Cee Coan, ia sampai lompat jumpalitan. Karena ini, waktu kakinya menginjak tanah, ia berada di belakang lawan. 

Lantas dengan dua jari, dengan tangan yang diulur, ia menotok bebokongnya lawan itu.

Siauw Cee Coan telah duga ke mana musuh bakal turun, ia pun telah dengar sambaran angin, maka lekas- lekas ia majukan kaki kirinya ke samping, akan berbareng putar tubuh, akan hadapkan musuh, sedang tangannya yang kanan, dari bawah diangkat ke atas, dipakai mengganjal lengan kanan orang, yang menotok ia. Tan Ceng Po angkat tinggi tangannya itu, tangan kanan, buat terus ditarik pulang. Dengan diangkat tinggi, tangan itu luput dari serangan lawan. Di lain pihak, sama cepatnya, tangan kirinya bergerak, menuju ke iga musuh yang jadi kosong.

Untuk kelit tubuh, Cee Coan geser kaki kirinya ke kanan, dari sini dengan mendadakan ia geraki kedua tangannya, akan ganjal dengan jepitan pada iga kanan dari lawannya, la telah gunai tipu Layliong sin-yauw atau "Naga mas mengulet." Ia telah gunai tenaga yang besar.

Buru-buru Tan Ceng Po pindahkan kaki kanannya ke belakang, terus ke kanan, tubuhnya ikut nyam-ping. Di sini ia bikin gerakan loncat ke depan, ke samping musuh. Itu ada tipu Koaybong hoansin atau "Siluman ular naga jumpalitan." Setelah itu, dengan Kimliong tamjiauw, atau "Naga mas mengulur cang-kreman," ia cari iga kanan orang.

Siauw Cee Coan menghadapi bencana, karena kedua tangannya justru lagi dikeluarkan, maka lekas-lekas ia geser kaki kirinya ke depan terus nyamping ke kiri, kaki kanannya ikut dengan menjejak, dengan demikian, dengan satu loncatan sedikit, ia bisa hindarkan diri dari ancaman. Dan kapan tubuhnya telah terputar, ia kembali sudah hadapkan lawan, akan terus potong tangan kiri orang.

Sekarang adalah Tan Ceng Po, yang hadapkan bahaya. Tapi ia tidak mau kalah sebat. la tidak tarik pulang tangannya itu, hanya sebaliknya, ia teruskan, akan tusuk dada orang. Maka Siauw Cee Coan menjadi kaget, sebab percuma ia hajar tangan lawan kalau tangan itu nanti mengenai dadanya. Dari itu, sambil tarik tubuhnya mundur sedikit, ia tolak tangan musuh itu, hingga nyimpang dari sasarannya.

Demikian kedua pihak bertempur terus, sama-sama liehay dan gesit, sama-sama hebat sesuatu penyerangannya, siapa ayal dan kalah sebat, dialah yang bakal jatuh merk. Maka juga, dua-duanya sama-sama berlaku waspada, celi dan gesit, pikirannya bekerja.

Segera juga datang satu serangan pada perut dari Siauw Cee Coan, serangan dari dua tangan berbareng. Tin-sankang mundur sambil ciutkan perutnya itu, kaki kanannya pindah ke kanan, kaki kirinya terangkat, dan kapan kaki kiri itu diturunkan, tangan kirinya menyambar iga musuh.

Dengan segera mendek, Tan Ceng Po tolong dirinya Kembali mereka saling serang, masih saja sama

hebatnya

Sesudah pertandingan berjalan begitu jauh, Tan Ceng Po lantas tukar siasat. Ia mau mencoba. Dengan tiba- tiba, ia menyapu dengan kakinya, pada kedua kaki pihak lawan. Siauw Cee Coan terperanjat, ia lompat mundur, lima atau enam kaki jauhnya. Di luar sangkaan, Tonglouw Hiejin merangsek, akan menyerang bebokong selagi lawan itu belum sempat putar tubuh.

Untuk selamatkan dirinya, Cee Coan berkelit dengan bongkoki tubuh, cenderung ke depan, lalu dengan kaki kiri pindah ke kiri, ia putar tubuhnya, tangan kirinya terus saja melakukan pembalasan. Ia mau potong tangan orang, yang arah bebokongnya. Kalau ia berhasil, tangan musuh mesti patah atau kehabisan tenaga. Tan Ceng Po tidak tarik pulang tangannya itu, tidak peduli bahaya ada mengancam hebat. Ia cuma menggeser sedikit, lantas dengan tangan itu juga, ia balas menyerang, pada tangan musuh yang baru saja dipakai menyerang tangannya itu! Tujuannya adalah nadi!

Di sebelah itu, dengan kaki dimajukan, tangan yang kanan dipakai membarengi menyerang iga musuh, hingga serangan maju dalam satu saat.

Siauw Cee Coan menghadapi bahaya di dua jurusan, maka itu ia mesti berlaku nekat. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak mau loncat mundur. Ia justru mau uji kekuatan tangan kirinya atau tangannya, musuh! Dengan kumpul tenaga di lengan kiri, ia mau bentur tangan musuh, sedang tangan kanan, dipakai menangkis serangan pada iga.

Serangan Tan Ceng Po ada serangan ujian, ia memancing aksi musuh, maka setelah lihat sikap musuh, mendadakan ia tarik pulang kedua tangannya, buat terus di dekatkan satu sama lain buat dipakai menyerang pula, ke jurusan tubuh bagian atas.

Siauw Cee Coan bisa duga sepak terjang lawan itu, ia mengerti yang ia bisajatuh, tetapi ia pun penasaran, maka sekali ini, ia hendak lawan keras dengan keras, akan ketahui tenaga siapa ada terlebih besar, atau tangan siapa terlebih tangguh.

Dalam sekejap saja, empat tangan telah kebentrok satu pada lain, begitu hebat, sampai dua-dua pihak mundur sendirinya, karena damparannya terlalu keras. Tan Ceng Po mundur dengan kaki kiri, kapan kaki ini menginjak tanah, tubuhnya lantas berdiri dengan tetap, sebab kaki kanannya telah bantu menahan.

Siauw Cee Coan mesti mundur sampai dua tindak, baru ia bisa berdiri tetap.

Dari sini segera ketahuan kekuatan dari kedua pihak, ialah Tin-san-kang telah kalah satu "urat". Maka juga, air mukanya lantas berubah menjadi merah sendirinya.

Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po rangkap kedua tangannya.

"Siauw loosu, kepandaianmu benar bukan kepandaian dalam cerita saja," ia kata, "aku Tan Ceng Po menyerah terhadap kau Loosu, apa sesudah ini kau sudi beri

pengajaran terlebih jauh padaku, dengan gunakan senjata?"

Sementara itu, Siauw Cee Coan telah kagumi lawan itu, kepandaian siapa ada beda daripada kebisaannya si pengemis tua dari Bancie sanchung, yang tadi ia tantang. Ia pun mengerti bahwa orang telah berlaku manis terhadap ia, karena kalau selagi ia mundur ia diserang terus, entah bagaimana jadinya.

"Tan loosu, aku berterima kasih untuk kebaikan kau," ia kata "Loosu hendak ajarkan aku ilmu menggunai senjata, terima kasih, loosu, aku bersyukur sekali pada kau."

--ooo0dw0ooo—