-->

Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 11

Jilid 11

Baru sekarang Cukat Pok mendapat tahu bahwa Kiongsin Hoa Ban Hie adalah ketua dari Ciongkee-pang dari Kanglam. Golongan kaum pengemis miskin ini ada punya derajat yang rendah, tetapi di antara mereka ada aturan yang keras tetapi rapi, dan di antara anggota- anggotanya ada orang-orang dengan kepandaian luar biasa. Beberapa koay-hiap, atau pengemis yang gagah mulia, ada termasuk dalam golongan ini. Di waktu-waktu biasa, orang tidak tampak apa-apa yang luar biasa pada golongan ini, hanya satu kali mereka ada terima penghinaan tak semestinya, lantas mereka kelihatan bangun. Apabila pihak pengganggu ada orang biasa saja, ia melainkan dikasih rasa sedikit pahit getir, sebaliknya, bila pengganggu itu ada satu golongan atau partai, atau orang ternama, segera muncullah gelombang hebat.

Kawanan pengemis itu paling taat pada pemimpin mereka, kematian dipandang sebagai barang permainan, kalau yang di depan rubuh, yang di belakang merangsek, terus tidak ada putusnya, sampai mereka telah dapat kepuasan, atau sampai mereka ludes. Umpama terjadi ada pengemis dari golongan ini yang calang, yang jahat, ialah suka ganggu orang, pengemis itu tidak boleh diganggu, hanya adukan padanya pada Keebio-nya atau rumah abu leluhur. Caranya mengadukan ialah tuturkan atas sepotong kertas tentang kejahatan si pengemis, kirim pengaduan itu ke Keebio. Biasanya bio itu tidak ada yang jaga, surat boleh dimasuki dengan begitu saja. Tapi hasilnya pengaduan ini bisa diharap dalam tempo tak sepuluh hari, nanti si pendakwa akan dapat surat balasan di mana ia diberitahu akan pergi ke suatu tempat, akan saksikan hasilnya itu. Umpama si pengemis punya kejahatan tidak hebat, ia bakal kehilangan satu jari tangannya, atau ia telah dihajar sampai mandi darah.

Tetapi siapa yang dipandang jahat luar biasa, ia akan kedapatan sebagai mayat. Dalam hal ini, si pendakwa tidak boleh bikin banyak berisik, cukup ia sediakan selembar tikar, sepotong batu dan sebungkus kertas, letaki itu di samping mayat, lantas ia boleh tinggal pergi, kalau di hari kedua ia datang tengok pula, mayat itu lantas sudah ada yang urus dan kubur. Sejak itu, pada rumah si pendakwa, tidak akan datang lagi pengemis yang minta-minta. Maka juga, orang atau saudagar yang ketahui hal ini, tidak ada yang mau bikin banyak rewel sama bangsa pengemis itu, supaya tidak usah ngalami bentrokan.

Mendengar pengutaraannya si Malaikat Kemelaratan, Hengyang Hie-in Sian Ie berkata, "Hoa loosu, sebagaimana yang aku ketahui, Itcie Sinkang In Yu Liang ada seorang yang ternama dalam Rimba Persilatan, benar kelakuannya ada rada jumawa, ia tapinya tidak pernah terdengar ada lakukan apa-apa yang jahat. Maka aku pikir, kalau bisa, baiklah urusan tak diperbesar. Siapa tahu jika ia tak ketahui aturan di sini? Orang yang tidak tahu, tidak dianggap berdosa "

Hoa Ban Hie tertawa. "Kau benar ada seorang tua dengan hati mulia, di mana saja kau sampai, kau ingin lakukan kebaikan!" ia kata. "Tapi, sahabatku, satu kali ini, kau salah pakai kemurahan hatimu itu. Kau mesti mengerti, dengan pertemuan di Haytong-kok ini, Pian Siu Hoo terang telah kandung putusan, salah satu mesti hidup atau binasa! Apa soal begini besar bisa dengan gampang-gampang diselesaikan secara damai? Siapa yang nyebur di dalam ini air butek, lantas jiwanya ada terancam bahaya! Maka aku lihat, dengan usiamu yang tinggi, Sian loosu, kau baiklah tidak campur urusan ini".

Roman mukanya Sian Ie menjadi berubah. "Pengemis bangkotan ini benar-benar ada satu

makhluk aneh!" ia pikir. "Dengan maksud baik aku

mengasih nasehat, siapa tahu ia lantas saja sindirkan aku. Aku ingin jangan sampai ada orang yang kenamaan menjadi rusak namanya atau mendapat kecelakaan, ia sebaliknya anggap aku pengecut!"

Lalu ia pandang Raja Pengemis itu.

"Hoa chungcu, dengan kau, aku ada terlebih tua beberapa tahun, kendati demikian, semangatku masih hidup!" ia kata. "Benar-benar, di mana perlu, aku tidak sayang jiwaku! Lihatlah, apa yang aku telah lakukan di Giokliong-giam Hiecun! Dalam urusannya Yan toanio dan anak dan Kiushe Hiekee terhadap Pian Siu Hoo, aku mesti selalu turut serta, apapula setelah sekarang Pian Siu Hoo telah menantang di Haytong-kok. Kau jangan dapat pandangan keliru tentang diriku, chungcu. Aku mesti pergi ke Haytong-kok, akan buka mataku, akan luaskan pemandangan!"

Kiongsin Hoa Ban Hie tertawa berkakakan sambil tepuk-tepuk tangan.

"Bagus, bagus!" ia berseru berulang-ulang. "Aku girang bahwa aku si miskin melarat ada punya sahabat sebagai kau! Aku girang yang Bancie sanchung bisa dapat bantuan kau! Sahabat baik, aku memang tidak ingin ayal-ayalan, aku ingin sekali lekas-lekas tengok Haytong-kok, akan belajar kenal sama segala persiapannya Pian Siu Hoo! "

Kapan si Malaikat Kemelaratan telah tutup mulutnya, lantas Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong beritahukan bahwa mereka sudah pergi ke Haytong-kok, bahwa Pian Siu Hoo, si Naga Besi, telah ketahui yang si Malaikat Kemelaratan hendak satrukan padanya, karena mana, orang she Pian itu tentu, paling lambat besok bakal kirim utusan akan menyampaikan undangan.

"Maka bagaimana sekarang," mereka tanya, "kita baik tunggu sampai datangnya undangan itu atau kita mendahului pergi ke Haytong-kok?"

"Menurut aku, kita tidak boleh menunggu lagi," Hoa Ban Hie bilang. "Lebih baik kita orang mendahului pergi, ini hari juga! Perhitungan dengan Pian Siu Hoo mesti lekas-lekas dibereskan! Kalau ciongwie setuju, kita boleh lantas sediakan karcis nama kita." Yan Toa Nio dan Yan Leng In ada bemapsu buat pergi ke Haytong-kok, mereka paling dahulu nyatakan setuju sama usulnya tuan rumah, hingga yang lain-lain lantas menurut saja. Maka lantas ditetapkan mereka akan berangkat selewatnya tengah hari, maka mereka lantas siapkan karcis nama mereka, yang didahulukan dengan namanya Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong, baru nama Yan Toa Nio dan gadisnya, disusul oleh nama Hoa Ban Hie. Kemudian menyusul namanya Sian Ie, Hee Kiu Hong dan Cukat Pok.

Kemudian Hoa Ban Hie himpunkan rakyatnya di depan kongso, guna terangkan pada mereka itu hal timbulnya pertentangan sama Tiat-hong-liong Pian Siu Hoo si Naga Besi, sebab Pian Siu Hoo telah dirikan pusat di lembah Haytong-kok dan pihaknya sudah langgar kesucian aturan kaum mereka la kasih tahu bahwa Bancie sanchung mesti pergi ke Haytong-kok, guna minta keadilan, untuk bikin perhitungan.

"Pian Siu Hoo berani menantang di Haytong-kok, tentu ia ada punya kekuatan cukup," Hoa Ban Hie terangkan lebih jauh, "dari itu, dengan kepergian ini, barangkali aku bakal kubur tulang-tulangku yang rudin di lembah itu.

Maka di mana Bancie sanchung tak boleh satu hari tak ada ketuanya, kau orang harus lekas kirim orang pergi ke Keebio kita di belakang gereja Leng-in-sie di See-ouw untuk mengasih laporan pada couwsu supaya couwsu kirim utusan kemari, akan gantikan aku atau urus pengangkatan satu pengganti. Tentang ini kau orang tidak boleh ayal-ayalan!"

Baru saja Hoa Ban Hie tutup mulutnya, lantas maju bicara dua pengemis yang telah berusia tinggi. Mereka ini masing-masing mempunyai sepasang mata yang tajam. 'Chungcu, kita di Bancie sanchung selamanya ada jaga diri baik-baik dan kita juga tidak suka ganggu lain orang, kalau sekarang Pian Siu Hoo mengancam kita, perbuatan ada keterlaluannya, tidak bisa dibiarkan saja! Chungcu, jikalau kita orang tidak turun tangan, akan berikan pengajaran pada Pian Siu Hoo, lain kali nanti segala orang hijau datang mengganggu kita dan golongan kita jadi tidak ada artinya! Di mana segala apa belum ada kepastian, aku minta chungcu jangan omong sedemikian getas. Kita dari pihak Ciong-kee-pang ada tidak punya guna, tapi kita orang suka pergi ke Haytong-kok, akan labrak musuh kita itu!"

Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong lihat dua orang itu ada punya sikap yang sungguh-sungguh, maka mereka mengerti, pihak Bancie sanchung nyata ada tidak puas.

"Lauwko berdua tidak usah gusar," Hoa Ban Hie kata sambil tertawa. "Kau orang lihat sekalian sahabatku ini, dengan adanya mereka di dampingku, apa bisa jadi Pian Siu Hoo gampang-gampang bisa musnahkan aku? Apa yang aku harap, seperginya aku nanti, biarlah kau orang jaga kampung kita ini dengan hati-hati, agar tidak sampai kurang suatu apa. Sekarang, untuk sampaikan surat kita ke Haytong-kok, kita belum punya dua wakil. Kita orang benar dipanggil pengemis, tetapi Bancie sanchung mesti juga bisa pegang derajatnya, supaya kalau kita kirim orang, jangan nanti orang pandang wakil kita sebagai tukang minta-minta. Saudara-saudara, siapa di antara kau orang yang sudi terima tugas itu?"

Sambil kata begitu, Hoa Ban Hie pandang kawan- kawannya. Sama sekali ada berkumpul lebih dari empatpuluh orang, tua dan muda, tinggi dan kate, dengan roman mereka yang berlainan satu sama lain. Mereka semua dandan tidak keruan, karena pakaian mereka rerom- bengan atau tambelan. Satu hal yang nyata sendiri adalah bahwa pakaian itu semua ada tercuci bersih.

Dari dalam rombongan lantas keluar dua orang, satu muda dan satu setengah tua. Si anak muda berusia duapuluh lebih, tingginya tidak ada lima kaki, tubuhnya kurus, sepasang alisnya kecil dan panjang, di bawah itu ada ditawungi dua mata yang celi. Melulu ini sepasang mata, yang bikin ia kelihatannya lain. Bajunya biru, karena tua, telah berubah menjadi dua macam warnanya. Ia ada pakai sepatu rumput, di pinggangnya ada tergantung satu kantong, tangannya ada menyekal toya pendek. Si orang tua, dari usia lima-puluh lebih, ada bertubuh kekar dan romannya gagah, coba tidak pakaiannya, orang sangsi bahwa ia ada satu pengemis.

Iapunya baju ada seperti jubah hweeshio, celananya biru dan digulung tinggi sebatas betis. Ia tidak pakai sepatu. Di pinggangnya ada satu kantong, yang dicanteli satu gendul arak. la pegang tongkat atau ruyung tiga kaki panjangnya. Dan mereka ini majukan diri untuk dijadikan pembawa surat.

Hoa Ban Hie awasi itu orang tua, ia bersenyum dingin. "Kie Kiam, kau berani terima ini tugas?" ia kata. "Aku

kuatir, kau bukannya bakal dapat arak pemberian

selamat sebaliknya kau bakal bikin turun pamornya Bancie sanchung! Sudah begitu, kau dibantu oleh Tiauw Sam Ek, bantuan itu menambah besarnya kegagalan!

Kau orang mau pergi ke Haytong-kok, kalau pihak Kangsan-pang hinakan kau orang, apa kau orang bisa bikin? Apakah kau orang bisa pergi dan pulang dengan tidak merusak Bancie sanchung punya kehormatan?"

Si orang tua bersenyum tawar. "Chungcu baik jangan kuatir," ia kata. "Ketua dari Kangsan-pang, Tiathong- Iiong Pian Siu Hoo kita pandang sebagai satu dermawan besar, maka kalau kita pergi ketemukan padanya dan kembali dengan tidak peroleh hasil, kita benar ada sampah belaka!"

Nyata Hoa Ban Hie suka berikan tugas pada itu dua orang, maka Kie Kiam bisa terima surat dari tangan pemimpinnya, setelah simpan rapi surat itu di dalam sakunya, ia mengasih hormat, dengan ajak si anak muda, ia berlalu dari cun-kongso.

Yan Toa Nio dan puterinya percaya bahwa kedua utusan itu ada orang-orang yang tidak boleh dipandang enteng, karena di depannya Kiongsin, tidak nanti majukan diri sembarang orang, sedang Hoa Ban Hie sendiri tidak nanti berlaku sembrono.

Dugaan dari itu ibu dan anak ada tidak keliru, karena Kie Kiam dan Tiauw Sam Ek adalah orang-orang yang sedang melatih diri, malah Kie Kiam itu, dengan Hoa Ban Hie, ia ada pernah suheng dan sutee. Berdua mereka ada mempunyai masing-masing kepandaiannya. Mereka sama-sama mempunyai keentengan tubuh, kegesitan gerakan, sebab mereka mengerti Cosianghui, ilmu entengi tubuh seperti terbang di atas rumput. Mereka juga bisa bikin ciut tubuh mereka. Kie Kiam punya ilmu lompat jumpalitan Sippat sianhoan tidak ada tandingannya buat di selatan dan utara Sungai Besar.

Tiauw Sam Ek ada muridnya Kie Kiam pun beradat aneh, tidak beda jauh daripada Hoa Ban Hie, maka tidak heran, baru saja bicara, ia dan ketuanya sudah seperti saling sindir. Di kalangan Ciongkee-pang ia disebut sebagai "Koay Kiat," si Orang Aneh.

Demikian, sekeluarnya dari cun-kongso, dua orang ini lantas gunakan ilmu mereka jalan cepat akan menuju ke Haytong-kok, hingga tidak heran belum selang lama mereka sudah sampai di mulut jalanan bukit.

Setelah itu, berdua mereka mulai bertindak masuk ke mulut jalanan. Di luar dugaan, mereka tidak nampak rintangan. Tempat itu ada sunyi dari manusia. Burung- burung pada berterbangan, bunga-bunga pada mekarkan diri.

Sesudah jalan jauhnya kira-kira selepasan gandewa, wakil tua dan muda ini telah hadapkan satu tanjakan yang tinggi. Di atas itu nampaknya ada tanah datar. Tapi itu bukannya jalan besar, di situ ada beberapa jalanan kecil, jalanan yang bisa dilalui untuk melintaskan bukit.

Sekarang ini Tiauw Sam Ek jalan di depan, gurunya di belakang ia. Mereka berada dekat satu pada lain. Selagi mereka mendekati hampir setombak jauhnya dari tanah datar, dari belakangnya sebarisan pohon, ada keluar satu orang yang terus saja menegur sambil membentak, "Siapa? Jangan maju terus! Di sini tidak ada jalanan umum! Ke mana kau orang mau pergi? Lekas kasih keterangan! Di sini, di mana-mana, ada dipasang panah jepretan, siapa kena langgar itu, itu artinya bencana!"

Orang yang barii muncul itu, yang lalu berdiri di depan pohon, berumur kurang lebih tigapuluh tahun, tubuhnya besar dan kekar, kulit mukanya hitam, maka dengan mata besar dan alis gompiok, dengan hidung singa dan mulut gede, sedang juga di kedua mulutnya ada gigi sebagai caling, ia kelihatan bengis sekali.

Tiauw Sam Ek awaskan itu orang, lalu ia menjawab, "Sahabat, kau pasang panah jepretan untuk tangkap burung, ada apa itu sangkutannya sama kita yang sedang berjalan? Aku lihat, sahabat, kau ada seperti tidak mengerti urusan! Kau tahu, setiap tahun, kita lewat di sini buat sepuluh atau duapuluh kali, maka justru ini kali kebetulan kita ketemu sama kau, kenapa bisa terjadi ini perubahan? Kenapa kita tidak boleh lewat di sini? Aku lihat kau ada kandung maksud kurang baik!"

Sambil ucapkan perkataannya yang terakhir, Sam Ek loncat maju.

Melihat yang cegahannya tidak digubris, orang di sebelah atas itu menjadi tidak senang, maka juga ia segera membentak, "Makhluk tak tahu diri! Kenapa kau tak mau dengar nasehat? Turunlah kau!" Titah itu disusul sama satu gerakan tangan, yang melemparkan sepotong batu.

Tiauw Sam Ek lihat gerakan orang ia loncat ke samping, tangannya ia ulur, maka batu itu ia lantas saja kena sambuti. la tertawa ber-kakakan.

"Rupanya di sini ada satu aturan, ialah menyambut tetamu dengan timpukan batu," ia berkata "Sayang aku si pembesar adil tidak sudi makan sogokan, maka itu, buat kau ini aku bayar kembali! Tulung kau sambuti!"

Dengan satu gerakan tangan, batu itu dilempar kembali. Timpukan dari Tiauw Sam Ek ada dengan memakai tenaga besar, batu itu melesat cepat luar biasa Orang di depan berkelit dengan tunduki kepala, maka batu itu lewatkan ia, terus menyambar satu pohon di belakangnya, hingga menerbitkan suara keras, hingga batu itu terpental balik, jauhnya sampai dua atau tiga tombak, lantas jatuh ke tanah, mengggelin-ding jatuh ke bawah bukit!

Sementara itu, Sam Ek pun sudah loncat terus, akan naik ke atas, hingga sekarang ia telah mulai mendatangi dekat pada orang yang menjadi penghalangnya.

Juga si penghalang lantas loncat maju, akan merintangkan.

"Bocah, kau benar ada seekor anjing buta!" ia berteriak. "Cara bagaimana kau berani datang ke Haytong-kok akan jual lagak?"

Teguran ini ditutup sama serangan dengan kedua tangan terhadap dada.

Terhadap itu serangan yang berbahaya, Tiauw Sam Ek tidak menyingkir dengan lompat mundur atau ke samping, ia hanya egos tubuhnya ke kiri dengan majukan kaki kirinya, lalu kaki kanannya dimajukan terus ke depan, kapan ia telah putar tubuhnya, ia jadi berada di belakang musuh. Gerakannya ada sangat gesit hingga musuh tidak pernah menduga itu. Di sini, dengan ulur tangannya, ia samber orang punya bebokong untuk dijambak.

Melihat tindakan orang itu, si penghalang lantas duga apa yang bakal kejadian, tidak tunggu sampai tangan musuh mengenai tubuhnya, ia majukan kakinya setindak ke depan, setelah mana ia balik tubuhnya. Tapi ia tidak berayal, la loncat maju dengan kaki kirinya, akan dekati musuh, akan dengan tangan kanan ia membarengi orang punya pundak dari tangan yang tadi diulur untuk menjambak ia.

Tiauw Sam Ek segera gunai tipu Sauwliok-ciauw atau "Enam kali menggape." Ia mendek dengan pundaknya yang terancam bahaya itu, berbareng ia majukan tangan kanannya, yang dari sebelah bawah tangan musuh menyamber iga, yang ia hendak tusuk dan robek. Guna kuatkan serangannya yang berbahaya ini, kaki kanannya pun ia kasih maju, akan mendesak, dengan samberan- nya, sedang tangan kirinya dipakai mendorong ke depan dengan keras, pada tubuh musuh.

Gerakan tangan dan kaki dari muridnya Kie Kiam ada terlalu sebat bagi musuhnya, yang telah berlaku ayal atau alpa, ia baru kaget ketika kakinya kena kebentur kaki musuh, tetapi sekarang sudah kasep; untuk tolong iganya, ia mesti egos tubuh, tapi justru karena ini, tidak usah Sam Ek gunai banyak tenaga pada tangan kirinya, musuh sudah rubuh terguling, ke bawah bukit!

Tiauw Sam Ek tertawa berkakakan.

"Bagaimana, suhu?" ia kata dengan nyaring. "Kau lihat, aku tidak sembrono!"

"Jangan jumawa, bocah!" Kie Kiam peringatkan. "Kau baru pukul satu anak kecil, nanti datang si orang besar, akan menyambut kau! Tunggu, di belakang masih ada lain lelakon yang terlebih ramai!"

Berdua mereka maju, menghampirkan segerombolan pohon kecil dan lewatkan itu. Mereka sekarang berada di satu jalanan kecil, yang menuju semakin dalam di daerah pegunungan itu. Sam Ek berlaku gesit dan cepat, ia cegah kakinya terpleset di tempat yang licin.

Segera mereka berada di jalanan, yang kedua sampingnya ada pepohonan melulu — pohon-pohon yang tinggi dan rendah tak ketentuan. Di tempat begini, mereka bisa umpatkan diri.

Tidak antara lama, mereka telah sampai lagi di jalanan bukit yang besar.

Kie Kiam selalu mengekor di belakangnya Tiauw Sam Ek, siapa maju dengan berani, sedikit juga tidak merasa jeri.

Kira-kira satu lie jauhnya, Sam Ek sampai di jalanan di tepi mana ada sebuah pohon besar, dari atas pohon itu mendadakan loncat turun satu orang, dengan gerakan seperti melayang.

Cepat sekali, kedua pihak telah berdiri berhadapan. "Sahabat baik, kau baru sampai?" demikian

sambutannya orang itu, yang lantas angkat kedua

tangannya dengan dirangkap, kelihatannya ia mau unjuk hormatnya, tidak tahunya, kedua tangan yang tertangkup lantas dipentang, dipakai menyerang dada!

"Bagus!" berseru Tiauw Sam Ek, yang mengerti orang bukan sambut ia hanya serang padanya, dari itu dengan berbareng sama seruannya, ia loncat ke samping kiri jauhnya dua tindak, dari sini ia mencelat pula ke kanan, hingga ia hampir bentur tubuh musuh.

Penyambut itu agaknya terperanjat, rupanya karena ia lihat orang punya kegesitan tubuh atau kepandaian, tetapi kendati terperanjat, ia penasaran, maka untuk kedua kalinya, ia maju menerjang pula.

Adalah di itu saat, Kie Kiam telah menyusul datang, hingga ia bisa saksikan orang punya sikap galak. Ia segera kasih dengar seruan dari tegurannya, "Sahabat baik, beginilah caranya orang menyambut tetamu?

Jikalau tuan rumah terlebih dahulu berlaku tidak hormat, jangan sesalkan kalau si tetamu berlaku tak mengenal kasihan!"

Dengan gerakannya terlebih jauh, Kie Kiam bikin ia berada dekat sama pihak musuh. Ia tidak berayal akan majukan kaki kiri seraya dengan tangan kanan menyamber ke jurusan pinggang.

Sam Ek, di lain pihak, dari sebelah kanan, maju menyerang, hingga orang tidak dikenal itu jadi kena dikepung, dari kiri dan kanan.

Dengan tipu silat Sianjin toat-ie atau "Dewa meloloskan baju," tuan rumah itu, atau si penjaga jalanan, loloskan diri dari dua serangan yang berbareng itu, ia enjot tubuhnya hingga ia naik ke tanjakan, tubuhnya enteng sekali.

"Lihat, bocah!" Kie Kiam serukan kawannya. "Orang barulah telah tunjuk kementerengannya terhadap kita! Jikalau kita tidak mampu susul padanya, bagaimana kita masih akan hidup terlebih lama lagi?"

"Itulah tak akan terjadi!" Sam Ek berseru. "Jikalau kita tidak mampu panjat bukit ini, apa perlunya kita orang datang kemari? Lihatlah aku si bocah!"

Sam Ek benar-benar sudah lantas enjot tubuhnya, loncat mencelat naik ke atas tanjakan, ia telah geraki tipu silat Itho chiongthian atau "Seekor burung ho menerjang langit." Benar-benar, tubuhnya tertampak seperti melayang, sebagai burung saja.

Pihak tuan rumah juga bukannya bangsa lemah, la sudah mundur, jauhnya satu tombak lebih, setelah itu ia maju pula, rupanya ia sudah siap akan lakukan penyerangan balik.

Tiauw Sam Ek loncat naik, akan taruh kaki di satu undakan. Ketelakan di situ ada naik seperti tangga. Dan pihak musuh berada jauhnya dari ia empat undak.

Karena ini, ia maju terlebih jauh. Dengan satu loncatan istimewa, ia lewatkan kepala musuh, hingga ia sekarang berada di mulut jalanan yang berundak-undak itu, yang ada tanah datar.

Kie Kiam lihat sepak terjangnya Tiauw Sam Ek yang tidak kenal takut, ia lalu menulad. la telah loncat maju dengan gunakan Liongheng coanchiu-ciang, atau "Gerakan tangan yang beroman naga."

Di luar dugaan, pihak penjaga jalanan, bukannya ia cegah Tiauw Sam Ek, ia justru pegat si orang tua ini. Belum sampai Kie Kiam tancap kakinya, ia sudah diserang dengan satu serangan sebagai terkamannya harimau. Orang itu punya gerakan kaki ada enteng dan cepat, dan tangannya sebat sekali tetapi berat, satu tanda dari digunakannya tenaga yang besar sekali.

Kie Kiam tidak mau berkelit atau menangkis serangan pihak lawan, sebaliknya, ia mau barengi menyerang, akan dahulukan musuh, maka juga, selagi musuh hendak bikin ia celaka, sambil miringkan tubuh sedikit ke kiri, tangan kirinya ia ulur, telunjuk dan jari tengahnya, yang ia lempangkan dengan keras, ia pakai menusuk musuh itu, guna menotok jalan darah.

Serangan ini ada sama berbahayanya dengan tipu Siokkut hun-kin-chiu atau "Memecah urat sambil ciutkan tulang." Siapa terkena serangan semacam ini, ia bakal celaka.

Penjaga jalanan itu tidak menyangka bakal dapat sambutan demikian rupa, ia jadi bingung sekali, karena ia seperti mati daya. Lebih celaka, karena kaget, iapunya gerakan jadi lambat sendirinya.

Di saat yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba dari sebelah atas bukit ada loncat turun satu orang, gerakan siapa mirip dengan melayang turunnya segumpal mega merah, karena tangannya ada memegang bendera yang serupa warna. Dengan batangnya bendera merah itu, ia ketok lengan kanan dari Kie Kiam.

Juga Kie Kiam tidak menyangka bakal datang serangan semacam itu terhadap dia, tetapi ia tidak menjadi gugup, hanya untuk menyingkir dari bencana, ia lekas-lekas tarik pulang tangannya, dengan berkelit ke samping kiri, ia ciut tubuhnya. Tapi ia tidak mau menyerah dengan begitu saja, iapun penasaran, sambil bikin gerakan menolong diri secara demikian, berbareng tangan kanannya bekerja sambil berseru, "Sahabat baik, terimalah ini!"

Dengan gerakan Tokee kimliang atau "Penglari mas rubuh" ia hajar orang yang pegang bendera merah itu, yang membokong ia.

Orang yang diserang itu gerakannya sebat sekali. Ia kibaskan tangannya — tangan kanan — ke kanan, tubuhnya ikut bergerak, mundur, sampai lima atau enam tindak.

Sampai di situ, orang yang pertama, ialah si penjaga jalanan, telah insyaf bahwa Kie Kiam ada liehay, maka untuk membantu kawannya, kalau dari tadi ia nonton saja, sekarang ia lompat maju.

Adalah selagi keadaan genting itu, orang yang pegang bendera merah u lapkan tangan pada kawannya sambil di lain pihak ia tegur Kie Kiam, "Sahabat baik, kau orang datang untuk berkunjung, kenapa kau orang berlaku begini tidak tahu aturan? Aku datang kemari untuk menyambut tetamu, sebagaimana aku telah dititahkan oleh pangcu kita!"

Ditegur begitu, Kie Kiam tertawa terbahak-bahak. "Kau orang bertindak dengan melawan kehendak

Thian, sahabat baik!" ia kata dengan tak mau mengalah. "Lihat saja, dalam urusan begini kecil kau orang masih tidak mau pegang pri-kepantasan! Sebenarnya dari siang-siang kau orang mesti sambut kita secara tahu aturan begini! Tetapi kau orang anggap kau orang berkepandaian tinggi, lantas kau orang tidak lihat mata pada kita, orang-orang yang tak ternama hingga kau orang terlalu menghina!"

Orang itu telah menjadi gusar, tetapi napsu amarahnya ia tahan. Ia berkata pula, "Sahabat jangan kau terlalu menghina pada kita orang! Jikalau kau orang tetap tidak mau mengerti, baik kita orang bertempur dahulu dan kemudian baru bicara! Sahabat, mari ikut kita!" Dengan geraki bendera merahnya, orang itu putar tubuhnya, dengan tidak tunggu jawaban lagi dari pihak musuh, atau kedua tetamunya, ia bertindak pergi.

Tiauw Sam Ek telah berdiri menonton dari bawah pohon, karena pertempuran telah berhenti, ia awasi saja gurunya, yang bicara sama musuh. Ia saksikan orang — dua-duanya — sudah lantas pergi, dan gurunya loncat naik ke tempat tinggi, akan awasi perginya musuh mereka, la niat susul guru itu, tetapi Kie Kiam mendahulukan memanggil ia.

"He, anak, kedatangan kita kemari sungguh tak sia- sia! Si orang she Pian benar telah tunggu kita! Hayo, bocah, mari ikut aku, akan pentang matamu lebar-lebar!"

Setelah kata begitu, Kie Kiam lantas geraki tubuhnya, akan loncat maju, menyusul kedua orang bekas lawan mereka.

Dengan segera, Tiauw Sam Ek lari, akan susul gurunya itu. Ia gembira sekali.

Orang yang bawa bendera itu berlari-lari umpama kata seperti terbang cepatnya, dari itu terang, ia hendak uji ilmu lari cepat dari dua musuhnya.

Kie Kiam dan Tiauw Sam Ek tidak mau mengalah, mereka coba mengikuti, dari itu dua-dua pihak telah berjalan seperti terbang saja.

Orang yang pertama tidak ikut, ia rupanya mesti jalankan pula tugasnya, menjaga mulut jalanan ke lembah.

Utusan tuan rumah telah lintaskan dua jalanan kecil, yang sukar sekali untuk dijalani, sesudah itu dari jauh- jauh sudah kelihatan pepohonan haytong yang lebat, yang berupa sebagai rimba saja. Bunga-bunga sudah rontok tetapi cuaca di situ ada teduh, langit seperti kealingan mega. Di situ ada terdapat angin.

Di lembah itu kedapatan banyak sekali pohon haytong di antaranya ada menyelip rumah-rumah yang teratur rapi. Di depan rimba haytong ada satu jalanan, di muka jalanan itu berdiri dua orang dengan pakaian ringkas, masing-masing bersenjata hie-cee atau tempulung dan busur serta gandewanya. Mereka itu berusia kira-kira tigapuluh tahun, kelihatannya gagah.

Cepat sekali, kedua tetamu sudah lantas susul wakil tuan rumah, yang berjalan turun dengan cepat. Ketika mereka lewat di antara dua penjaga muda itu, Kie Kiam dan Sam Ek jalan terus dengan tidak menoleh lagi pada mereka, malah mereka ce-patkan tindakannya akan bisa dampingi pembawa bendera merah itu.

Sesudah melalui duapuluh tombak lebih, mereka sampai di mulut kampung, tetapi mereka tetap jalan terus, akan masuk ke dalam kampung itu.

Segera juga mereka sampai di depan sebuah rumah batu, yang berada di tengah-tengah. Si pembawa bendera berhenti bertindak, ia balikkan tubuhnya.

"Kasihlah suratmu padaku!" ia minta. Ia hadapkan Kie Kiam.

Dengan cepat Kie Kiam awasi wakil tuan rumah itu, ia bersenyum tawar.

"Surat?" ia tegaskan. "Kau bicara gampang saja, sahabat baik! Dari tempat ribuan lie aku membawa surat, pesanan untuk aku adalah aku mesti ketemu sendiri sama orang yang berhak akan terima suratku ini. Surat dari Bancie sanchung cuma boleh disambuti sendiri oleh Pian pangcu dari Kangsan-pang!"

Pembawa bendera merah itu deliki matanya, agaknya ia gusar.

"Kau hanya seorang suruhan, kenapa kau bersikap begini jumawa?" ia menegur dengan suaranya yang keras. "Sahabat baik, kau seperti tidak lihat orang dengan matamu! Kau mesti ketahui, dengan sudi me- nyambuti surat dari kau, aku bukannya pandang enteng pada kau! Jikalau kau begini angkuh, sahabat baik, kau baiklah tidak usah membawa surat datang kemari, baiklah kau perintah Kiongsin Hoa Ban Hie datang sendiri!"

Baru saja si pembawa bendera tutup mulutnya, atau dari dalam menerjang keluar satu orang yang segera hampiri mereka sambil terus berkata, "Jadinya kau orang anggap orang yang hendak sambuti surat ada jumawa dan tidak tahu aturan? Baik! Tapi kau orang mesti ketahui, kalau kau orang tetap ingin pangcu yang keluar sendiri, jangan nanti kau orang menyesal! "

Kie Kiam sambut ucapan itu dengan tertawanya berkakakan. Ia rogoh sakunya dan keluarkan satu kantong tipis warna biru, yang mana ia ulapkan di depan orang itu.

"Inilah dia surat yang aku bawa!" ia kata. "Aku sudah bilang aku mau ketemu pada orang yang dialamatkan sendiri! Aku lihat kau orang tidak pantas menerima surat ini!" Lagi sekali, Kie Kiam ulapkan suratnya itu yang terbungkus rapi.

Orang yang baru keluar itu berumur kurang lebih empatpuluh tahun, mukanya bersorot kuning pucat, di bawah sepasang matanya yang seperti mata tikus, ada hidungnya yang lancip. Mulurnya diapit dengan bibir yang tipis. Mukanya terang ada muka dari si licin cerdik. Dengan tiba-tiba ia ulur sebelah tangannya, untuk menyambar surat di tangannya Kie Kiam.

"Kau tidak pantas menerima ini!" berseru Kie Kiam, yang gerakkan tangannya keluar, akan sampok tangan orang, atas mana orang itu berseru sambil tubuhnya bergerak mundur, hampir-hampir ia kena tabrak si pembawa bendera merah.

Adalah di saat genting itu, di muka pintu terdengar satu suara, "Pangcu titahkan membawa utusan Bancie sanchung masuk."

Inilah suara yang membikin suasana tak menjadi hebat.

Orang yang tangannya kena di-sampok itu, mukanya telah menjadi merah, karena sudah terang, ia telah rubuh di tangannya Kie Kiam. Berhubung dengan adanya perintah, ia lantas pergi ke samping.

Lantas pintu dipentang, oleh orang yang baru datang. Kie Kiam dan Tiauw Sam Ek tidak takut barang sedikit,

mereka lantas bertindak masuk di pintu itu. Sesampainya di dalam, mereka lihat satu ruangan yang luas sekali dengan perabotan mentereng semua, tak ada tanda- tandanya bahwa rumah besar itu diisi oleh orang tani atau orang dusun. Di ujung sebelah timur ada sebuah meja patsianto, di situ ada berkumpul beberapa orang. Yang duduk di sebelah kanan ada Tiat-hong-liong Pian Siu Hoo sendiri, ketua dari Kangsan-pang. Di sebelah kiri ada Itcie Sinkang ln Yu Liang, itu orang yang pernah datangi Bancie sanchung yang ia coba bikin kalut. Yang lain-lain adalah pelayan.

Kie Kiam dan Tiauw Sam Ek maju mendekati Tiathong- liong si Naga Besi, mereka angkat tangan mereka

masing-masing untuk memberi hormat, setelah itu, yang pertama lantas berkata, "Kita orang datang kemari atas titahnya chungcu Hoa Ban Hie dari Bancie sanchung, untuk haturkan suratnya. Chungcu pun pesan kita untuk menanyakan Pian pangcu punya kewarasan!"

Pian Siu Hoo pandang dengan tajam pada dua utusan itu.

"Kau orang berdua banyak cape," ia kata. "Mana surat yang kau orang bawa?"

Kie Kiam angkat suratnya tetapi ia tidak jawab pertanyaan tuan rumah itu.

Itcie Sinkang ln Yu Liang berbangkit, akan hampirkan Kie Kiam, tangan kanannya ia ulur, dengan gunai jempol dan jeriji manis dan jeriji tengah, ia jepit itu surat, yang ia tarik dengan dikageti seraya ia terus berkata dengan cepat, "Kau orang banyak cape!"

Selagi In Yu Liang betot surat itu, tubuhnya Kie Kiam bergoyang dua kali, sedang kakinya Itcie Sinkang telah bergerak setengah tindak ke samping. Surat itu telah terlepas dari tangannya Kie Kiam. "Loosu, tenagamu benar-benar besar!" kata Kie Kiam sambil tertawa.

In Yu Liang tidak menjawab, ia hanya bersenyum ewah, dengan putar tubuhnya, ia hampiri Pian Siu Hoo, siapa sudah ulur tangannya, akan sambuti itu surat dari Bancie sanchung, yang ia terus buka. Itu ada sepotong surat merah.

Apabila ia telah membaca, Pian Siu Hoo kata pada Kie Kiam, "Oleh karena sangat terpaksa dan kesusu, ketika aku dirikan pusatku di Haytong-kok ini, aku telah tidak terlebih dahulu pergi mengunjungi Hoa chungcu di Bancie sanchung. Tentang kealpaanku ini — satu perbuatan kurang hormat — aku ketahui dengan baik.

Hoa chungcu ada baik sekali, sebelum aku ketemui dia, dia sudah mendahului kirim suratnya ini, untuk memberikan pelajaran padaku, untuk itu aku merasa sangat beruntung! Adalah terlebih baik lagi kalau Hoa chungcu niat berkunjung kemari siang-siang, pasti aku akan menyambut dengan cara hormat "

Lantas Pian Siu Hoo angkat pit dan tulis surat balasannya atas selembar kertas merah juga, surat mana ia masuki ke dalam amplop, setelah mana satu pengawalnya, yang berdiri di dekat jendela, ia perintah serahkan suratnya itu pada Kie Kiam.

Setelah terima surat itu, Kie Kiam berkata, "Kita berterima kasih yang pangcu ada baik hati sudi membalas suratnya chungcu kita! Sekarang kita orang mau lekas-lekas pulang, akan sampaikan surat balasan ini untuk selesaikan tugas kita!"

"Maaf, aku tidak antar pada kau orang sampai jauh," Pian Siu Hoo bilang. "Terima kasih, pangcu," jawab Kie Kiam.

Apabila ia telah terima tanda pada Sam Ek yang berdiri di sampingnya, Kie Kiam putar tubuhnya akan bertindak keluar dan muridnya itu sudah lantas turut padanya.

Ketika itu di kamar samping duduk satu orang, ia ini sudah lantas berbangkit dan bertindak keluar, seraya berkata, "Di Bancie sanchung, di bawah pimpinan dari chungcu Hoa Ban Hie, semua orang-orang ada berkepandaian luar biasa, maka juga sahabat ini seharusnya ada satu enghiong yang pasti lagi sucikan diri, dari itu aku Cee loosu bersedia akan wakilkan tuan rumah pergi mengantarkan padanya!"

"Ya, Cee loosu, tolong kau wakilkan aku!" berkata Pian Siu

Hoo yang setujui tindakannya orang she Cee ini, maksud siapa yang sebenarnya ia bisa duga.

Cee loosu ini ada Kimtoo Cee Siu Sin si Golok Emas, guru silat yang terkenal dari golongan Pakpay atau Utara, ia tinggal di Kanglam dan telah angkat namanya di dua propinsi Kangsouw dan Ciatkang, tempat kedudukannya ada Ciantong di mana ia membuka rumah perguruan silat dan mempunyai banyak murid, antaranya ada yang telah lulus ujian dan mendapat nama baik. Ia ada bersahabat dengan Pian Siu Hoo — sahabat setelah satu pertempuran — maka itu, Tiathong-liong telah undang ia datang ke Haytong-kok, guna membantu padanya menghadapi pihak Kiushe Hiekee. Ia telah majukan diri untuk mengantarkan Kie Kiam berdua, karena ia hendak pertontonkan kepandaiannya. Ia tidak puas terhadap Itcie Sinkang In Yu Liang, siapa sudah satroni Bancie sanchung dan kembali dengan unjuk roman sombong, sementara barusan ketika In Yu Liang hendak mengunjuk kejumawaan terlebih jauh dengan uji Kie Kiam — dengan jalan menjemput surat dengan jeriji tangan—hampir-hampir jago jeriji tangan yang liehay ini mendapat malu, karena tubuhnya telah kena dibikin bergerak oleh utusan dari Bancie sanchung. Dari sini Cee Siu Sin mendapat tahu bahwa utusan pihak lawan mesti ada orang liehay yang lagi umpetkan diri, maka itu ia ingin mencoba, kesatu untuk uji diri sendiri, kedua supaya berbareng ia bisa bikin malu pada In Yu Liang yang beradat tinggi. Ia girang, ketika ia mau unjuk kepandaiannya, Pian Siu Hoo pun setujui tindakannya itu. Begitulah ia bertindak untuk mengantarkan.

Tiauw Sam Ek telah keluar dari pintu, Kie Kiam ada bersama ia. Ketika Kie Kiam baru turun di undakan tangga, Cee Siu Sin telah dapat menyusul padanya, maka berdua mereka jadi berada berdekatan.

Ketika orang mendekati, mendadak Kie Kiam putar tubuhnya dengan kedua tangannya, ia rangkap bundar di hadapan dadanya, dengan kaki kanannya diangkat naik, menginjak undakan tangga sebelah atas.

"Aku tidak berani terima budi loosu, yang hendak antar kita! "Silakan loosu kembali!" ia berkata sambil rangkap kedua tangannya yang merupakan orang hendak memberi hormat, tetapi agaknya hendak membentur tubuh orang yang sedang mendatangi itu!

"Kau terlalu seejie, sahabatku!" menjawab Cee Siu Sin, yang juga lantas gerakkan kedua tangannya. Dari sebelah atas, kedua tangan ini turun, akan menekan kedua tangannya pihak tamu yang berada di sebelah bawah.

Dua-dua pihak dengan diam-diam telah kumpul dan gunakan tenaga mereka, maka itu bisalah diduga apa artinya kebenturnya tangan mereka satu dengan lain. Cee Siu Sin tertawa besar ketika ia bikin gerakan tangannya, sedang Kie Kiam telah tarik pulang tangannya sambil enjot tubuhnya akan mencelat turun ke undakan bawah dari tangga. Cepat luar biasa si Golok Emas telah lompat menyusul.

Tiauw Sam Ek yang menoleh, melihat bahwa orang telah menyusul, ia lantas menduga bahwa orang pasti ada kandung maksud jelek, karena itu ia telah cepatkan tindakannya, malah ia lantas loncat ke tanjakan pertama.

Jika tadi mereka turun, sekarang mereka harus nanjak pula.

Kie Kiam turut loncat, tetapi ketika kakinya injak tanah, ia telah siap dengan tenaganya, matanya dipasang tajam ke jurusannya Cee Siu Sin.

Guru silat dari Pakpay ini telah loncat menyusul, ketika kakinya menginjak tanah, ia terpisah kira-kira tiga atau empat kaki di sebelah kanan dari orang yang ia susul.

Dengan satu gerakan kaki ke kanan, diturut dengan gerakan kedua tangannya ke jurusan yang sama, Kie Kiam menyingkir kira-kira tiga kaki terlebih jauh, tetapi di sini, setelah ujung kaki kanannya menginjak tanah, lebih jauh ia menggeser ke kiri tiga atau empat kaki jauhnya. "Cee loosu, kita tidak berani terima kehormatan dengan kau mengantarkan kita terlebih jauh!" demikian tampiknya. Ketika Kie Kiam mengucap demikian, Cee Siu Sin sudah loncat menyusul, maka lagi sekali, ia loncat mendahulukan, maksudnya akan mencegah orang mengantar, tetapi sebenarnya untuk menghalangi.

Cee Siu Sin berada dalam bahaya, tempat di mana mereka berada kebetulan ada sempit dan ia berada di pinggiran, maka untuk tolong dirinya, lekas-lekas ia rangkap dua tangannya, dalam sikap Tongcu payhud atau "Kacung menghormat Budha." Jadi tangannya menjurus pada lengan. Ia pun bersikap hendak membalas hormat, tetapi sebenarnya itu ada untuk pecahkan gangguan musuh. Ia hendak totok jalan darahnya Kie Kiam yang dipanggil Kiok-tie-hiat.

Kie Kiam tahu liehaynya ilmu totokan itu, kalau ia kena diserang, kedua lengannya bakal tak mampu digunai lagi, ia tunggu sampai tangan musuh hampir mengenai ia, ia buka kedua tangannya, dari dalam dipentang ke kiri dan kanan, lantas dari kiri dan kanan, ia rangkap pula ke dalam, untuk dipakai menggempur dada musuh. Ia bisa lakukan ini, karena serangan musuh sudah dilakukan, artinya tenaga sudah dipakai, hingga tidak bisa dipakai lagi, akan menyerang balik. Hingga, serangan jari yang liehay itu jadi seperti pecah sendirinya.

Cee Siu Sin terperanjat buat caranya pihak tetamu layani ia. Ia tahu, kalau ia tidak lekas berhenti, ia bisa celaka, atau kalau ia nekat, dua-duanya bisa sama-sama celaka, karena mereka akan sama-sama menyerang dengan hebat, sedang keletakan tempat ada tidak mengijinkan mereka bergerak atau menyingkir dengan leluasa. Maka terpaksa ia lekas tarik pulang kedua tangannya, ia rangkap itu, untuk dipakai menekan ke bawah, guna hindarkan serangan musuh ke dada. Selagi berbuat demikian dengan tangannya, kaki kanannya ia geser mundur ke kiri, hingga tubuhnya jadi menyingkir cukup jauh dari tangan musuh itu, kemudian lekas-lekas ia ber- kiongchiu sambil berkata, "Silakan sahabatku!"

Kie Kiam sudah lolos dari bahaya, ia pun mundur, kedua tangannya ia angkat.

"Loosu, nanti kita orang ketemu pula!" berkata ia, yang terus loncat naik, akan jauhkan diri dari guru silat dari Ciantong itu.

Selagi Cee Siu Sin mengawasi, guru dan murid itu dengan lekas mereka lakukan perjalanan pulang, keduanya ada berlega hati, karena mereka sudah lakukan kewajiban mereka dengan tidak sampai rubuh di tangan musuh-musuh yang liehay. Dengan tiada ada rintangan mereka keluar dari Haytong-kok. Kapan akhirnya mereka sampai di mulut sanchung, di sana dengan satu tanda, mereka dikasih lewat oleh penjaga- penjaga Bancie sanchung. Tapi segera juga mereka dapat kenyataan, dalam tempo mereka berpergian, kampung mereka sudah seperti salin rupa, karena diperkerasnya daya-daya pertahanan: dari mulut kampung terus sampai ke dalam.

Di dalam cun-kongso, Hoa Ban Hie dan semua kawannya asyik menantikan, ketika Kie Kiam dan Tiauw Sam Ek muncul, untuk segera berikan laporan mereka. Kie Kiam yang bicara bagaimana ia ketemui Tiathong- liong dan dapatkan jawaban dari tetua dari Kangsan- pang itu, yang bersedia akan menyambut kedatangan sekalian tetamunya.

Selama orang bicara, Hoa Ban Hie terus awaskan dengan tajam pada itu kedua utusan, guru dan murid, kemudian, sesudah orang bicara, ia tertawa.

"Apakah kau orang berdua, guru dan murid, selama di Haytong-kok, tidak membikin aku jadi malu?" demikian ia tanya. "Kie Kiam, kau mesti pikir biar baik, terhadap aku Hoa Ban Hie, apabila kau sembunyikan apa-apa, itu melulu akan bikin kau mencari susah sendiri! Bagaimana jalannya maka kau orang rubuh di Haytong-kok?

Bagaimana caranya, untuk kita perbaiki itu? Sebenarnya, musuh tangguh siapa yang kau telah hadapkan? Aku ingin kau bicara sejujur-jujurnya!"

Kie Kiam ada seorang ulung dari kalangan Sungai Telaga di mana ia telah nyebur lebih daripada tigapuluh tahun, tetapi mendengar pertanyaannya Hoa Ban Hie, ia tidak sanggup berikan jawabannya, melainkan mukanya yang menjadi merah.

Melihat demikian, Tiauw Sam Ek lantas berkata, "Suhu, di dalam ini hal, kau tidak sebagai muridmu! Buat aku, si murid, jikalau aku kalah, itulah tidak seberapa artinya. Tapi baiklah aku berikan keterangan pada cuncu!" dan lantas ia menoleh pada Hoa Ban Hie, dengan teruskan berkata, "Cuncu, jangan kau kuatir! Sejak kita orang masuk di mulut lembah, belum pernah kita suka mengalah! Umpama kata benar kita guru dan murid telah menjadi pecundang, tidak nanti gampang-gampang kita orang mau kembali kemari! Mana kita ada punya kulit muka yang demikian tebal? Duduknya kejadian adalah begini: Di sana ada Itcie Sinkang In Yu Liang. Ketika suhu angsurkan surat, ia telah jual lagak dengan kepandaian jari-jari tangannya. Ia telah gunakan Poatteng-hoat yaitu ilmu 'Menyabut paku' dari Siauwlim- pay guna rampas surat dari tangan suhu. Ia ada seorang kenamaan, tetapi tidak demikian gampang sebagai ia pikir, akan lantas dapatkan surat itu! Guna hadapkan ilmu musuh itu, suhu telah gunai Pauwciang-hoat atau ilmu 'Memelukalu.' Kesudahannya ternyata, tenaga kedua pihak ada sama, seperti delapan tail adalah setengah kati. Surat suhu benar bisa kena dicabut, di lain pihak, kakinya si orang she In pun telah bergerak! Cuncu, sama sekali kita tidak kasih ketika akan musuh banyak tingkah!"

Hoa Ban Hie tertawa apabila ia telah dengar keterangan itu.

"Tiauw Sam Ek, aku percaya keterangan kau!" kata ia dengan nyaring. Lantas ia pandang Kie Kiam seraya terus berkata, "Kau ada seorang kangouw ulung, kenapa kulit muka kau ada tipis sekali? In Yu Liang muncul di Haytong-kok, terang sekali ia hendak angkat lebih jauh nama besarnya, begitulah kemarin ia telah datang kemari, akan pertontonkan kepandaiannya Aku tidak nyana, pikirannya ada cupat sekali! Kenapa ia coba bikin aku malu, dengan ganggu pada kau orang berdua, guru dan murid? Tapi ia benar bernyali besar! Kenapa ia lupa jalannya alam, ialah siapa bunuh orang, ia mesti mengganti dengan jiwa, siapa utang uang, ia mesti bayar dengan uang juga, dan siapa punya utang, ia mesti datang sendiri untuk membayarnya? Maka kalau aku si melarat nanti pergi ke medan pertemuan, aku akan bikin perhitungan sampai semuanya terbayar impas! Sekarang kau orang berdua pergilah mengasoh! Tugas kau orang adalah menjaga daerah pengempang bambu Siauwtiok- tongdi Lamcun-kauw, itu mulut jalanan bagian selatan dari desa kita ini!"

Kie Kiam menyahuti, "Ya," dan lantas ajak muridnya undurkan diri.

"Sekarang terang Pian Siu Hoo hendak bikin pertemuan sama kita," kata Yan Toa Nio pada tuan rumah, "karena itu, kita perlu siang-siang pergi padanya, guna cari pemutusan, supaya urusan tidak jadi tertunda dan tertunda lagi."

"Toanio, jangan kesusu," Tan Ceng Po berkata. "Kita orang memang mesti pergi ke Haytong-kok tetapi buat itu kita perlu berdamai terlebih dahulu, terutama buat pastikan, di waktu bagaimana kita mesti pergi."

"Menurut aku, lebih baik kita pergi di waktu malam," Lim Siauw Chong nyatakan pikirannya. "Dengan jalan ini kesatu kita jadi bisa bertindak lebih leluasa, kedua kita boleh balas budinya Itcie Sinkang, yang telah datangi kita malam-malam dan telah mengaduk di sini. Dengan cara ini kita jadi pakai kebiasaan di kalangan Sungai Telaga."

Hoa Ban Hie manggut-manggut.

"Ya, kita orang mesti berlaku secara laki-laki," ia bilang, "pergi dengan terang, pulang dengan terang juga! Cuma kita harus ingat, dengan sepak terjangnya ini, nyata sekali Tiathong-liong Pian Siu Hoo hendak ambil tindakan getas, supaya dengan sekaligus ia bisa dapatkan keputusan. Sekali ini ia hendak pastikan, Kangsan-pang musnah atau hidup bangun dan termasyhur! la ada seorang licik, ia tentu ada kandung maksud buruk, dari itu kita orang tak boleh tidak, mesti berlaku hati-hati. Umpama kita muncul di Haytong-kok dalam satu rombongan besar, kita terang ada seperti memasuki diri ke dalam jaring. Aku pikir, baik kita mengatur bala bantuan, yang mesti masuk ke Haytong- kok secara diam-diam. Tidakkah kau orang berdua saudara mupakat?"

Atas pikiran itu, Hengyang Hie-in Sian Ie lantas nyatakan ia suka masuk dengan diam-diam ke Haytong- kok, supaya ia tidak usah siang-siang ketemui Pian Siu Hoo.

"Aku juga ingin cari tahu, sampai di mana Pian Siu Hoo sudah siap, ia ada atur maksud jahat atau tidak," Sian Ie nyatakan lebih jauh.

"Aku setuju!" Hoa Ban Hie berkata.

Lantas mereka ambil putusan akan bekerja mulai sebentar malam.

Setelah itu, Hoa Ban Hie lantas bekerja lebih jauh, akan atur pertahanan di sarangnya itu, yang ia bikin menjadi kuat sekali. Ia pun pesan, akan atur persiapan, karena di waktu magrib mereka sudah dahar dan terus dandan.

Hengyang Hie-in Sian Ie, seperti sudah diputuskan, berangkat lebih dahulu seorang diri, kemudian barulah menyusul rombongan dari Bancie sanchung ialah Kiongsin Hoa Ban Hie sendiri bersama-sama Cukat Pok, Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong begitupun Yan Toa Nio dan Yan Leng In. Hoa Ban Hie bawa duabelas pengikut, yang hampir semua ada murid-muridnya yang masih berusia muda, rata-rata umurnya kira-kira baru duapuluh lima. Mereka semua dandan sebagai pengemis, cuma pakaian mereka ada bersih. Mereka tidak bawa senjata, hanya satu kantong kain warna biru, yang mereka kempit di iga kiri, sedang tangan kanan mereka, seorang satu, ada bawa lentera dengan masing-masing tertulis empat huruf merah:

"Ban Cie San Chung. "

Dan mereka ini diperintah jalan di muka.

--ooo0dw0ooo--