Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 09

Jilid 09

Cukat Pok sudah loncat naik ke atas sebuah pohon, tetapi ia menjadi kaget bukan main, karena ia dengar nyata jeritan itu bahkan kenalkan juga suara itu, ialah suara dari Kiongsin Hoa Ban Hie, si Malaikat Kemelaratan!

"Apakah benar si pengemis tua mesti binasa di tangan musuh?" pikir ia, dan keadaannya ibuk bukan main. Ia pun dengar jeritan susulan ketika tubuh itu jatuh ke bawah. Sampai di situ, Souwposu tidak bisa bersabar lagi. Ia loncat turun dari atas pohon akan mendekati musuh, untuk berikan hajaran kepadanya.

Pada saat itu, musuh telah loncat turun. Maka waktu Cukat Pok tiba di tempat pertempuran, musuh telah menghilang.

"Apakah bisa jadi Hoa Ban Hie yang demikian liehay, mesti binasa di tangan musuh?" ia berpikir pula dalam kesangsiannya. "Ketika musuh menghilang, baik aku umpatkan pula diriku "

Segera Souwposu pergi ke pinggiran akan melongok ke bawah jurang yang keadaannya begitu dalam dan gelap, maka itu ia tidak mampu melihat suatu apa pun. Ia masih bersangsi serta ibuk sendirinya. Ia berniat turun akan tengok si raja pengemis untuk mendapat kepastian. Ketika ia hendak ambil putusan, mendadak ia rasakan ada orang tepuk pundaknya, hingga ia jadi kaget dan segera loncat ke kanan. Justru itu hampir-hampir ia celaka, karena ia telah loncat terlalu jauh ke pinggir sekali, hampir ia terpeleset jatuh! Jika jatuh, ia tentu akan jadi korbannya jurang....

Di saat yang berbahaya itu, Cukat Pok bisa imbangi diri, dan begitu sebelah kakinya menginjak tanah, ia enjot pula tubuhnya akan loncat ke lain jurusan. Di sini, setelah berdiri tetap, ia mengawasi ke tempat di mana tadi orang tepuk padanya, la segera lihat satu orang yang turun berloncat sebagai ia, sampai di tempat jauhnya tiga atau empat kaki dari dirinya, di mana orang itu berdiri tegak.

Apabila Cukat Pok telah menampak orang itu, mukanya menjadi merah sendirinya, bahkan malu atau likat. Karena ternyata, Hoa Ban Hie tidak saja mempermainkan musuh, pun terhadap dirinya sendiri. Karena orang itu adalah Kiongsin, si Raja Pengemis dari Bancie sanchung!

"Kawanan anak ajag itu telah memikir yang bukan- bukan hendak membikin putus jalanan dari Haytong- kok," berkata si Raja Pengemis dengan pelarian, "maka kita harus coba cari tahu, Tiathong-liong Pian Siu Hoo ada mempunyai kepandaian berapa besar dan bagaimana liehay ia telah atur barisannya."

Cukat Pok menghampirkan sampai dekat.

"Hoa loo-suhu, orang dengan kepandaian tinggi seperti kau di kalangan Rimba Persilatan benar-benar tidak ada keduanya," ia berkata dengan pujiannya yang sungguh-sungguh. "Aku telah merantau belasan tahun tetapi belum pernah menampak kepandaian seperti baru ini aku saksikan. Menurut pendengaran suara, terang kau telah jatuh ke dalam jurang, maka aneh sekali, Hoa loo- suhu, dengan cepat kau telah dapat naik pula! Nyatalah ilmu mengentengi tubuhmu Tee-ciong-sut sudah sampai di batas dari kesempurnaannya."

Hoa Ban Hie bersenyum. "Cukat loosu, kau memuji aku terlalu tinggi," ia berkata. "Bilakah aku telah terjatuh ke dasarnya jurang? Adalah sang batu yang telah wakilkan aku jatuh! Aku sendiri hanya mampir sebentar di tengah-tengah jurang! Adalah si anak anjing hutan yang matanya picek, maka ia tidak ketahui duduknya hal. Toh orang itu mempunyai kepandaian sembarangan, sekarang mungkin ia telah sampai di atas, atau ia telah masuk ke pedalaman Haytong-kok guna membikin penyelidikan " Mendadak Hoa Ban Hie loncat naik ke atas, di tepi jurang, dari tempat itu ia memandang sebentar ke sekitarnya, lalu ia mendorong sepotong batu besar yang beratnya seratus kati atau lebih, dijatuhkan ke dalam jurang, apabila batu itu sampai di dasar jurang, telah menerbitkan suara sangat keras yang kumandangnya juga tidak kalah hebatnya. Di lain saat, ia pun terus loncat naik ke atas.

Cukat Pok tidak berkata apa-apa, ia turut loncat akan mengikuti si Raja Pengemis, tetapi ia kalah gesit, ketika tiba di atas, ia kehilangan ketua dari dusun pengemis, hingga ia menjadi kagum berbareng mendongkol, karena ia lagi-lagi telah ditinggal sendirian.

"Tua bangka itu benar-benar ugal-ugalan " pikirnya.

"Tapi kepandaiannya benar-benar tidak ada tandingannya "

Cukat Pok segera mengawasi ke tempat di mana tadi Hoa Ban Hie menghilang, ia tidak melihat apa-apa, hanya di sebelah bawah, jauhnya kira-kira dua lepasan anak panah ada cahaya terang yang samar-samar.

Di lain pihak, Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po terus tidak muncul.

"Entah ke mana ia telah pergi " berpikir Souwposu

yang terpaksa harus maju seorang diri, saban-saban ia sembunyi di tempat yang gelap.

Kemudian, dari atas Cukat Pok loncat turun ke bawah pula. Setelah perhatikan sekian lama, Cukat Pok harus puji Pian Siu Hoo untuk kecerdikannya telah memilih Haytong-kok sebagai pusat. Lembah ini benar-benar bagus kedudukannya. Di mana saja, di antara lebatnya pohon-pohon orang bisa taruh jaga-jaga yang tersembunyi.

Cukat Pok sekarang berada di sebelah selatan dari mulutnya lembah. Ia ada terlindung oleh pohon haytong yang banyak dan lebat. Ia menduga adanya penjagaan musuh, maka ia berlaku hati-hati dan juga ingin mencari tahu kalau-kalau musuh ada pasang orang-orang dengan kepandaian tinggi. Ia berpendapat, jika di mulut lembah ada ditaruh empat atau lima orang saja, ada sukar akan orang dapat melintas di situ. Kemudian dengan sepotong batu besar ia menimpuk ke pohon haytong di mulut lembah, ketika batu itu jatuh, terdengar suara berisik dan daun-daun yang rontok. Kecuali suara itu, tidak terdengar suara lain-lainnya. Maka dengan beranikan diri ia loncat ke mulut jalan atau lembah itu.

Baru saja ia taruh kakinya di mulut lembah atau dari sebelah kiri, di belakangnya pohon haytong, ia mendengar suara tertawa dingin yang disusul dengan teguran, "Sahabat, kau baru sampai?"

Dan suara ini dibarengi dengan melesatnya dua batang panah tangan yang saling menyusul. Panah tersebut melesat dengan cepat dan sasarannya tepat.

Dengan angkat kaki kanannya dan kaki kiri mengenjot, Cukat Pok lompat melesat ke kanan akan menolong diri daripada ancaman bahaya itu. Adalah pada waktu itu, di atas pohon terdengar suara cabang bergerak-gerak dan daun-daun yang rontok jatuh, tertampak dua bayang yang bergerak berulangulang, tanda dari suatu pertempuran.

Dengan tak berayal pula, Cukat Pok empos semangatnya akan enjot naik tubuhnya dengan tipu Yancu coan-in atau "Burung walet tembuskan awan". Ia tidak merangsek ke mulut lembah, hanya loncat naik ke atas, ke sebelah kanan di mana ada puncak bukit.

Dengan jalan ini ia dapat molos masuk ke dalam lembah. Meski dengan samar-samar, ia bisa dapatkan pemandangan luas atas Haytong-kok.

Lembah sama sekali bukan terdiri dari tanah datar, di dalamnya kecuali tanah yang rendah, juga ada tumpukan-tumpukan tanjakan yang berupa sebagai puncak bukit atau gunung-gunungan kecil. Di berbagai tempat, beberapa tombak panjangnya, ada batu-batu besar yang terletak kalang kabutan yang me-nyukarkan orang lewat atau berjalan di situ.

Tadi dari sebelah selatan tertampak cahaya api, tetapi sekarang dari dalam sinar itu tidak tertampak sama sekali.

Maju di antara pohon, selepasan panah jauhnya, Cukat Pok melihat ada dua buah gubuk bertiang kayu, di dalam gubuk itu tidak ada cahaya api, rupanya gubuk- gubuk itu kosong.

Dengan jalan memutar kedua gubuk, Souwposu si Pembalasan Cepat maju lebih jauh, hingga ia hadapkan tanjakan tinggi yang memutuskan jalanan. Tapi halangan itu tidak menjadikan rintangan baginya. Ia maju terus untuk peroleh penjelasan dan percaya yang kedua kawannya telah mendahului ia masuk ke dalam.

Setelah tiba di tanjakan, untuk naik ke atas ia enjot tubuhnya. Baru saja ia taruh kedua kakinya di atas tanjakan itu, atau dari sampingnya ada menyambar angin yang berhawa dingin. Cepat sekali ia mengegos ke samping dan terus putar tubuhnya akan mengawasi tempat dari mana serangan datang, kedua tangannya berada di depan dadanya, siap untuk menangkis serangan-serangan terlebih jauh.

Adalah pada waktu itu kupingnya mendengar suara, "Cukat loosu di situ?"

Hatinya Cukat Pok menjadi lega, karena ia kenalkan suaranya Tan Ceng Po.

Demikian keduanya segera datang dekat satu dengan lain.

"Tan loosu," Souwposu menanya, "apakah ini pusatnya Tiathong-liong Pian Siu Hoo si Naga Besi? Tempat ini ada belukar dan sunyi, tidak ada bekas- bekasnya orang "

"Kawanan anak kunyuk itu sedang mempertontonkan sunglap mereka," sahut Tan Ceng Po dengan perlahan. "Mulut selat dijaga kuat sekali tetapi di sini tidak ada barang satu orang! Bisakah itu terjadi? Maka aku percaya, sarangnya pusat mereka mestinya sudah tidak jauh lagi dari sini! Apakah loosu dapat melihat Kiongsin?"

"Barangkali ia telah masuk dengan mendahului kita," sahut Cukat Pok. "Apakah tadi yang membantu aku di mulut lembah ada Tan loosu sendiri?"

"Benar aku," jawab Tonglouw Hiejin. "Pian Siu Hoo benar bukannya seorang lemah, di setiap tempat ia telah pasang orang, dan mereka semuanya liehay, maka beruntunglah kita tidak sampai kena dirintangi. Mari kita turun ke bawah tanjakan ini, akan dari timur utara sana jalan memutar. Di sebelah depan sana ada rimba lebat yang bisa menjadi halangan, tetapi karena ada sukar untuk melihat jelas, kita boleh jalan di belakang rimba itu. Aku percaya di sana kita akan dapat melihat antero pemandangan dari Haytong-kok. Menurut dugaanku, Haytong-kok ada luas dan kosong, kecuali di daerah Huliong-giam di mana ada penduduk gunung dan pemburu binatang yang tinggal bersama-sama. Aku pun percaya, Pian Siu Hoo telah gunakan serombongan penduduk itu punya rumah-rumah untuk dijadikan sarangnya. Marilah kita orang lihat!"

Cukat Pok setujui nelayan tua dari Tonglouw itu, maka dengan bersama-sama ia maju. Mereka berjalan dengan gunakan ilmu Tee-ciong-sut, mereka bisa jalan dan loncat-loncatan dengan cepat sekali. Setelah tiba di rimba yang disebut tadi, Tan Ceng Po yang jalan di depan, mutar terus sampai di jurusan barat utara. Dari sini barulah ia menerobos lebih jauh ke dalam rimba itu. Setibanya di lain tepi, setelah memandang sekian lama, jago tua ini barulah mengerti.

Inilah daerah yang dinamakan Haytong-kok, atau Lembah dari Bunga Haytong. Lembah ini tidak bisa tertampak jelas, jika orang ambil jalan dari depan rimba tadi, karena orang bisa kesasar. Di sebelah depan, letaknya tanah ada terlebih rendah, di tempat belasan tombak ada tanah rendah merupakan kwali yang seputarnya ada lamping atau tembok-tembok bukit. Di sekitarnya ada pohon-pohon haytong yang lebat. Di jurusan utara sekali, di bawah jurang, nampak sebuah kampung yang terdiri dari beberapa puluh rumah gubuk, letaknya terpencar satu dengan lain. Dari belasan rumah di antara gubuk-gubuk itu ada tertampak cahaya api.

"Rupanya itu ada sarangnya Pian Siu Hoo," Tan Ceng Po berkata pada kawannya. "Kita orang mesti hati-hati, tak mungkin bahwa penjagaan di sini tidak diperkuat, maka kita mesti jaga agar tidak sampai kena teperdaya."

Cukat Pok membenarkan sahabat itu.

Lalu keduanya dengan ambil jalan timur utara, di antara pohon-pohon haytong, maju menuju ke puluhan rumah gubuk itu, yang segera juga tertampak semakin nyata, hingga dapat diduga semuanya terdiri hanya dari tiga sampai empatpuluh rumah, pembuatannya kasar tetapi tegar, karena setiap rumah ada dikurung dengan tembok batu.

Untuk rumah-rumah di pegunungan atau hutan, kurungan tembok itu ada berfaedah untuk menjaga diri dari gangguannya binatang-binatang liar.

Dengan tetap berada di depan, Tan Ceng Po loncat ke sebelah timur dari kampung itu di mana ada berdiri dua rumah yang letaknya paling pinggir. Salah sebuah rumah itu terdiri dari tiga ruangan, temboknya rendah. Rumah itu menyender dengan lamping bukit. Ada dua rumah lagi yang temboknya lebih tinggi, di sebelah belakangnya ada sinar api yang mencorot keluar.

Tan Ceng Po menunjuk dengan tangannya, sebagai tanda, dan Cukat Pok mengerti. Di tempat seperti itu, sedapahrya mereka tidak ingin banyak bicara. Segera mereka berpencaran, satu ke utara, yang lainnya ke timur.

Cukat Pok yang ke sebelah timur sudah lantas sampai di tembok pekarangan dari rumah pertama. Sekarang ia bisa melihat nyata, tembok itu hanya satu tombak tinggi dan di atasnya tidak ada rintangan, maka dengan sekali enjot, tubuhnya, ia bisa lompat naik ke atas tembok. Ia segera memandang ke sebelah dalam. Nyata ia berada di ujung timur dari belakang rumah. Dengan tidak ragu- ragu ia loncat turun ke sebelah dalam.

Dari jendela yang kasar buatannya ada keluar cahaya api yang terang sekali dan di sebelah dalam ada bayangan orang yang mundar-mandir.

Supaya bisa mendengar atau melihat lebih tegas, Cukat Pok dengan hati-hati menghampirkan ke bawah jendela. Segera tertampak bergeraknya satu bayangan sebagai orang menuju ke pintu. Dengan satu jarinya, Cukat Pok lantas tusuk kertas jendela, hingga dari lubang kecil itu ia bisa mengintip ke dalam. Kebetulan sekali, bayangan itu memutar tubuh hingga tertampak nyata

Berusia lebih kurang tigapuluh tahun, orang itu mempunyai muka yang merah tercampur hitam, sepasang alisnya kaku seperti sesapu, matanya mata macan tutul, hidungnya hidung singa, mulutnya lebar, kulit mukanya kasar, tubuhnya yang tinggi dan besar, tanda dari tenaga kuat. Terang orang itu ada dari kalangan Sungai Telaga. Ia pakai baju dan celana biru dari kain kasar, dengan menggendong tangan, alisnya mengkerut, tanda dari hati yang terganggu.

Ruangan di bagian baratnya ada agak guram. Orang itu dari sebelah barat menuju ke sebelah timur, setelah sampai di tembok dengan mendadak ia putar tubuhnya menghadap ke barat.

"Apakah sekarang belum sampai waktunya?" tiba-tiba ia berkata. "Sekali ini ia keliru! Janganlah ia harap bahwa aku Han Loo See sudi mendengar pula perkataannya! " "Beginilah tabiatmu!" sahut satu suara dari sebelah barat. "Tocu belum pernah omong kosong. Ia sudah hitung pasti bakal ada orang datang dan ia tidak menduga salah! Melainkan sahabat atau sahabat-sahabat itu adalah orang-orang yang sopan santun, maka dalam hal ini, tocu ada sedikit keliru. Orang datang dari tempat jauh, mustahil tocu tidak akan menyambut sebagaimana layaknya sebagai tuan rumah? Menurut aku, tocu seharusnya keluar dan menyambut sendiri, maklum tamu dari tempat jauh Kita orang tidak boleh berlaku kurang

hormat "

Sebagai orang cerdik, Cukat Pok ketahui dari ucapannya dua orang itu bahwa Pian Siu Hoo telah menduga pasti ada orang-orang yang akan datang ke sarangnya dan karena itu, si Naga Besi telah bersiap untuk membikin penyambutan, la lalu berpikir, baik ajak Tan Ceng Po pergi mencari Hoa Ban Hie, guna mereka berkumpul menjadi satu.

Baru saja ia menyingkir dari jendela atau ia mendengar suara tertawa haha-haha di dalam rumah yang dibarengi dengan terpentangnya daun pintu dan lompat keluar orang yang tertawa itu. Syukur baginya, ia pun ada gesit luar biasa, dengan satu gerakan lompat memutar tubuh yang cepat sekali, ia telah mendahului menghilang ke bawah tembok.

Orang yang lompat keluar itu telah mengucapkan kata-kata, tetapi baru saja ia bilang, "Sahabat baik "

atau sepotong benda kecil yang disambitkan, jatuh di tanah di dekatnya dengan menerbitkan suara, hingga ia agaknya terperanjat dan terus saja loncat naik ke atas rumah, dari mana ia loncat lebih jauh ke tembok pekarangan. Di sini ia lalu berkata pula, katanya, "Sahabat-sahabat, kau orang telah datang, jangan ambil jalan yang salah!"

Cukat Pok lantas menduga bahwa Tan Ceng Po atau Hoa Ban Hie sudah turun tangan, tetapi karena ia sendiri belum tertampak oleh orang itu, maka ia tidak mau sembarangan muncul dan tetap memasang mata. Ia melihat ketika orang itu baru saja tancap kakinya di atas tembok segera memperdengarkan satu suara dan tubuhnya lantas terpelanting jatuh.

Di sekitarnya tidak tertampak lain orang, pun tidak diketahui siapa yang telah menyerang orang ini. Ia bertubuh besar dan kasar tetapi gesit luar biasa, ia terpelanting bukan untuk jatuh terus ke tanah, itu hanya ada gerakan Inlie tohoan-sin atau "Lompat jumpalitan di dalam mega", kakinya menginjak tanah dengan tidak menerbitkan suara apa pun.

Justru itu dari atas wuwungan terdengar suara menyesali.

"Cee loosu, kenapa kau perlakukan tamu dengan kurang hormat? Bukankah kau menghunjuk yang dirimu tidak mengerti adat istiadat? Boleh jadi chungcu dari Bancie sanchung sudah sampai! Hayolah lekas menyambut! "

Setelah berkata demikian, orang yang baru muncul itu segera loncat ke belakang, ke jurusan utara, kakinya ditancap di atas tembok di sebelah bawah mana Cukat Pok yang sedang memasang mata. Souwposu terperanjat apabila ia melihat orang punya kepandaian mengentengi tubuh atau kegesitan. "Siapa nyana di dalam Haytong-kok ada sembunyi banyak orang pandai?" pikirnya dan terus memasang mata.

Orang itu menaruh kaki kiri di atas tembok dan kaki kanannya diturunkan dan tergantung ke bawah, tubuhnya turut condong, hingga ia mirip dengan orang yang sedang terpeleset jatuh. Toh tubuhnya ada tetap bergeming, kedua tangannya bersidakap di depan dadanya, senantiasa siap sedia.

Sebagai ahli silat, Cukat Pok mengerti bahwa ilmu kepandaian orang itu adalah ilmu kepandaian pihak Selatan atau Lampay, namanya Huiho koankie atau "Rase terbang tergantung di cabang". Jarang ada orang dengan ini macam kepandaian.

"Baiklah aku coba-coba padanya," berpikir Cukat Pok. Ia pasang kakinya, siap akan enjot tubuhnya guna lantas loncat naik, kedua tangannya dimajukan untuk terus menyerang begitu lekas kakinya sudah menginjak tembok, la hanya ingin pecahkan Huiho koankie untuk bikin bergetar tubuh orang itu dan jatuh ke bawah.

Di luar dugaan dari Souwposu si Pembalasan Cepat, lain orang telah dahului ia. Ketika ia baru hendak enjot tubuhnya, atau ia melihat orang itu sudah terlepas kakinya yang berada di atas tembok dan tubuhnya jatuh ke bawah, maka agar tidak tertimpa, ia terus lompat ke sebelah kiri, kira-kira dua tombak jauhnya, hingga ia jadi berada di tembok sebelah timur.

Orang itu jatuh bukan untuk terus rebah di tanah, benar bersamaan waktu jatuhnya ada suatu benda hitam yang menyambar padanya, tetapi ia cepat mengegosi tubuhnya begitu lekas kakinya menginjak tanah dan sebelah tangannya digerakkan untuk hajar benda hitam itu.

Cukat Pok hampir tertawa ketika berbareng dengan serangan itu ada terdengar suara ayam jago berkeok, karena benda hitam yang dihajar itu adalah seekor ayam jantan, yang mati seketika karena hebatnya serangan.

Tidak heran kalau orang itu menjadi sangat gusar hingga terdengar suaranya yang nyaring, "Kurang ajar! Kau berani permainkan padaku si orang tua!"

Lalu dengan satu gerakan, orang itu mencelat ke atas tembok timur, la telah menggunakan ilmu Ceng-teng sam-ciauwsui atau "Cecapung tiga kali menyambar air".

Berbareng dengan itu, di tembok barat ada satu bayangan yang bergerak.

Cukat Pok dari tempat sembunyinya melihat itu semua, tetapi ia tidak berani sembrono dan tidak mau bergerak sembarangan, karena ia belum dapat pastikan, yang mana musuh dan yang mana kawan, la terus pasang mata.

Tempat itu dekat dengan tembok gunung, di situ ada belasan pohon haytong, maka keadaan di sekitarnya gelap. Beberapa bayangan tertampak asik bergerak- gerak. Untuk mencari tahu, ia keluar dari tempat sembunyinya dan loncati tembok akan jalan memutar. Ia berdaya sedapat mungkin, agar tidak ada orang yang melihat padanya. Ketika ia tiba di bawah sebuah pohon, atau dari atas pohon yang kelima, ia mendengar suara anjing menggonggong dibarengi dengan suara patahnya beberapa cabang pohon, suara berisik mana lalu disusul dengan satu suara orang yang tajam, "Haytong-kok ini lebih baik dipanggil Ya-kauw-cun!" Dengan "Ya-kauw-cun" dimaksudkan "Desa Anjing Gunung". Tapi suara berisik tidak sampai di sini. Lagi sekali terdengar suara anjing, suara anjing berkuing, jauhnya belasan tombak dari pohon gouwtong kelima itu. Itu ada suara dari anjing yang terbanting mati, karena suaranya sirap dengan segera.

Lantas tertampak dua bayangan berkelebat, dua bayangan yang keluar dari rumah. Atas itu, sekarang terdengar berisiknya patahnya cabang-cabang pohon, yang jatuh berbareng dengan meluruknya daun-daun rontok.

Sesaat kemudian, suara berisik agak sirap. Lalu di belakang bukit ada terdengar suara yang menyindir yang disusul dengan suara tertawa nyaring, "Sungguh satu tuan rumah yang liehay! Beginilah cara menyambut tetamunya! Aku mesti ketemui tuan rumah, akan tanya ia sebenarnya kandung maksud apa "

Suara ini dibarengi dengan melesatnya satu bayangan, yang lalu mendapat teguran, "Apa di sana chungcu dari Bancie sanchung?"

Pertanyaan itu tidak peroleh jawaban.

Sekarang Cukat Pok dapat lihat tegas pada orang yang majukan pertanyaan itu, tubuh siapa ada tinggi luar biasa dan kurus, gerakannya se-bat melebihkan kesehatannya sendiri. Ketika dia itu sampai, suaranya segera terdengar, katanya, "Cee loosu, mari kita antar tetamu pergi!"

Sehabisnya kata begitu, orang itu lantas berangkat, bukannya ia loncat turun ke tanah tapi ke atas rumah. Kemudian ia disusul oleh satu bayangan lain, yang muncul dari sebelah kiri. Cukat Pok mengerti bahwa si Raja Pengemis sedang tunjukkan kepandaiannya, bahwa satu pergulatan bakal terjadi, hanya ia heran, sampai sebegitu jauh, ia tetap belum lihat Tan Ceng Po. Terpaksa ia pergi seorang diri, ke belakang. Ia terus umpatkan dirinya.

Belum Cukat Pok berlalu jauh atau ia dengar suara suitan riuh di sekitar Haytong-kok, suara mana lantas disusul dengan cahaya api di sana-sini, kelihatannya teratur rapi.

"Terang Pian Siu Hoo hendak unjuk pengaruhnya," pikir Souwposu, "nyata ia hendak paksa usir kita keluar dari Haytong-kok "

Dengan cepat api obor tertampak semakin banyak, saban jarak tiga sampai lima tindak, tentu ada satu obor, orang yang pegang itu, yang tertampak nyata, tidak bawa golok atau panah. Meski terang di sana-sini tetapi di jurusan lembah sekali, segala apa tetap gelap dan sunyi.

Cahaya api tidak sampai mencorot ke dalam lembah itu.

Dengan tidak pedulikan orang punya barisan, Cukat Pok lanjuti perjalanannya menuju ke desa kecil. Ia tidak tampak lain bayangan lagi, kecuali bayangan dari orang yang dipanggil Cee loosu dan kawannya, yang tadi ia lihat nyata.

Selagi mendekati dua baris rumah paling depan di dusun kecil itu, Cukat Pok dapat dengar suara berisik di sebelah dalam itu, ada juga suara ayam dan anjing, yang menambah memberisikkan, begitupun suarajatuhnya barang berat dari atas rumah ke tanah. Lekas-lekas Cukat Pok pergi naik ke atas rumah yang sebelah utara, dari atas wuwungan, ia ingin dapat memandang sekitarnya dusun kecil itu, juga akan lihat dari situ ada musuh yang keluar atau tidak. Ia sudah pikir, kalau musuh muncul, ia akan coba tempur mereka. Ketika ia baru sampai di tembok yang agak tinggi dari satu rumah di tepi jalanan, ia lihat melesatnya satu tubuh manusia dari pojok barat utara, gerakannya gesit, dan tujuannya adalah ia sendiri!

Melihat datangnya orang, yang tidak dikenal siapa, Cukat Pok lekas-lekas lompat menyingkir ke samping kiri, sambil berbuat demikian, ia pasang matanya, guna lihat itu orang ada bersenjata atau tidak. Adalah sedangnya ia loncat, dari jurusan selatan ada orang menegur dengan nyaring, katanya, "Sahabat baik, kau terimalah!" Dan dengan tiba-tiba, sebatang bambu panjang telah menyambar tubuhnya orang itu, siapa berkelit ke pinggir dengan kepalanya ditundukkan, tubuhnya meloncat.

Dengan terbitkan suara berisik, galah itu menimpa tembok dan jatuh.

Diserang secara mendadak demikian macam, orang itu murka hingga ia memperdengarkan suara menghina, tetapi sebagai jawaban, ketika ia putar tubuhnya, ia dengar teguran yang kedua, "Masih ada, hei, sahabat!" Dan serupa benda hitam telah menyambar ke arahnya.

Dengan luar biasa gesitnya orang ini berkelit, ia telah lompat ke rumah sebelah selatan. Tapi di sini, muncul satu suara keras dan berisik, sepotong genteng atau bata telah menyambar padanya, ketika ia berkelit, benda itu jatuh menimpa genteng, hingga lagi-lagi terdengar suara berisik sekali. Segera tertampak satu bayangan melompat ke jurusan Cukat Pok, ketika Souwposu hendak berkelit, ia dengar orang punya suara, "Mundur ke utara!"

Cukat Pok kenalkan suaranya Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po, bayangan siapa menyambar terus ke tembok belakang.

"Tan loo-suhu," ia menanya. ”Kiongsin masih belum mundur, apakah kita harus tinggalkan ia?"

"Sekarang sudah mulai siang, sudah waktunya untuk kembali," Tan Ceng Po menjawab. "Baru ini di dalam lembah, Kiongsin telah bikin ayam dan anjing tidak aman, orang dan kuda saling terbalik, hingga Tiathong- liong Pian Siu Hoo telah roboh pamornya. Kalau kita tiba di luar, Kiongsin barangkali akan dapat menyusul kita.

Hanya kita harus awas, karena Pian Siu Hoo sendiri tetap tidak pernah muncul." Kemudian, dongak ke atas, tetua dari Kiushe Hiekee berkata pada musuh, "Hei, orang- orang dari Kangsan-pang, kamu punya permainan obor ada menyebalkan! Lihat, aku mempunyai barang yang tersedia untuk padamkan semua obormu!"

Setelah berkata demikian, Tan Ceng Po raup batu dengan dua tangannya.

"Benar-benar barang tersedia," pikir Cukat Pok. "Memang barang-barang begini dapat digunakan dengan tak ada habisnya "

Dan ia segera telad Tonglouw Hiejin akan lompat maju.

Timpukannya Tan Ceng Po ada liehay, begitu lekas batu menyambar, api obor segera padam, sebentar saja empat atau lima obor telah tidak menyala lagi, waktu kena ditimpuk, lelatunya terbang berpencaran.

Dengan keluarkan jeritan, orang-orang yang pegang obor dan kena lelatu api, segera lari mundur karena mereka pun kaget dan ketakutan.

Cukat Pok juga turut menimpuk dengan tidak kalah jitunya.

Tetapi pihak musuh mempunyai barisan panah yang umpatkan diri, mereka lantas bekerja, menyerang ke arah dua bayangan yang tertampak berkelebat.

Disebabkan serangan mendadak itu, hampir-hampir Tan Ceng Po dan Cukat Pok menjadi korban. Mereka menjadi gusar.

"Kawanan anjing, kau berani lukakan aku si orang tua?" ia berteriak serta rogoh sakunya akan mengeluarkan dua batang panah tangan yang terus digunakan untuk menyerang ke jurusan dari mana datangnya panah.

Jeritan terdengar, satu tubuh tertampak jatuh terguling.

Tan Ceng Po loncat naik ke tempat tukang panah itu yang telah kosong.

"Cukat loosu, mari kita ambil jalan ini akan pergi ke mulut lembah, agar bertemu dengan Kiongsin," ia berkata pada Souwposu.

"Mari, loo-suhu," Cukat Pok menyambut.

Keduanya segera membuka jalan, lari ke arah mulut lembah. Samar-samar di dalam lembah masih terdengar suara berisik, tetapi dengan tak pedulikan itu, Tan Ceng Po dan Cukat Pok terus menuju ke mulut lembah. Ketika mereka mendekati mulut lembah itu, mendadak dari satu tanjakan, di belakang alingan batu besar terdengar suara tertawa nyaring yang mengejek dan disusul dengan ucapan, "Aku sangka siapa, tidak tahunya ketua dari Kiushe Hiekee! Di sini si orang she In telah menantikan lama!"

Berbareng dengan suaranya orang itu telah loncat keluar dari tempat sembunyinya dan lompat ke arah Tan Ceng Po.

Tonglouw Hiejin loncat ke atas satu batu besar sambil menjawab, "Kau siapa sahabat, kau berani pegat aku?

Melainkan si orang she Pian yang boleh berhadapan padaku, yang lainnya maaf, aku tidak sudi melayani!"

Tapi orang itu, yang sekarang telah berada di sebelah bawah, tertawa pula, suaranya penuh penghinaan. Ia berkata, "Mau tidak mau, Samsiang In Yu Liang ingin belajar kenal dengan tetua dari Kiushe Hiekee!"

Tapi Cukat Pok telah mendahului loncat turun dengan tipunya Kie-eng pok-touw atau "Garuda kelaparan menyangkrem kelinci," sembari ia berseru, "Aku justru ingin berkenalan dengan jago dari Samsiang!"

Sekarang ternyata, In Yu Liang itu adalah orang kurus jangkung tadi yang muncul dari dalam rumah, yang gerak-gerakannya gesit sekali.

Begitu lekas ia sudah sampai, selain kakinya mencari injakan, kedua tangannya Cukat Pok sudah lantas bekerja, tangan kanan siapa di depan dada, tangan kiri menyambar dadanya pihak lawan.

In Yu Liang geser tubuhnya ke kiri, akan menyingkir dari serangan itu, tetapi berbareng tangan kanannya dari kiri menyambar ke kanan, jari-jarinya mencari orang punya nadi, untuk ditotok. Ia punya gerakan itu, yang kelihatannya sederhana, ada cepat sekali.

Cukat Pok mengerti berbahayanya totokan kepada nadi itu. Ilmu itu ada melebihkan berbahayanya ilmu

Tiat-piepee. Ia memang sudah dengar, jago Samsiang itu ada tersohor untuk ilmu menotoknya dengan jari, yang disebut Itcie sinkang atau "Ilmu totokan satu jari". Maka ia lekas-lekas mendek, selagi pundak kiri turun ke bawah, tubuhnya kelit ke kanan, kemudian dengan kaki kanan nancap, kaki kirinya menyambar, menyapu kaki musuh. Ia gunai tipu Lokyap ciuhang-koay atau "Angin musim Ciu meniup rontok daun."

Dengan satu enjotan tubuh, In Yu Liang melesat tinggi dan mundur sampai tiga tombak jauhnya. Terus saja ia berseru dengan pertanyaannya, "Sahabatku, apa kau ada Souwposu Cukat Pok? Inilah kebetulan, aku memang ingin coba-coba untuk menerima pelajaranmu!"

Lantas, dengan tidak tunggu jawaban ia maju pula dengan penyerangannya.

Cukat Pok hendak layani musuh itu, di saat ia mau geraki tubuh, mendadak ia rasai angin menyambar di belakang ia, maka ia terus lompat minggir, dan satu bayangan hitam telah melesat ke depannya jago Samsiang. "Sahabat, kau sedang kasih pertunjukkan apa ini?" tanya bayangan itu. "Kiongsin tidak sanggup terima kau punya budi ini!"

In Yu Liang mundur satu tindak, ia tertawa berbahak- bahak.

"Aku memang sudah duga, bahwa adalah kau, si makhluk aneh bangkotan, yang datang mengganggu Haytong-kok!" kata ia dengan nyaring. "Pepatah ada bilang, adat istiadat memastikan, ada pergi, ada kembali, maka itu satu kali aku pun mesti berkunjung ke Bancie sanchung!"

Ketika orang berkata-kata, Hoa Ban Hie telah enjot tubuhnya loncat naik ke tempat paling tinggi di samping mulut lembah itu, dari situ sambil tepuk-tepuk tangan, ia berkata-kata dengan nyaring, "Bagus sekali! Aku Hoa Ban Hie akan menunggui dengan segala kehormatan atas kunjunganmu! Sahabat, andaikata kau tidak memberikan muka padaku, pasti kau akan bikin aku si Malaikat Kemelaratan mesti keluarkan tenaga akan pergi mengundang padamu!..."

Di saat itu, Tan Ceng Po pun muncul dari alingan batu, sambil berloncat turun, ia kata pada Itcie Sinkang In Yu Liang, "Kiranya di dalam Haytong-kok ini ada berdiam orang pandai dari Rimba Persilatan! Kiranya, In loosu, kau ada bersahabat dengan ketua dari Kangsan-pang!

Sungguh aku tidak sangka! Mudah-mudahan kau bisa berkunjung ke Bancie sanchung, untuk menyambut pada kau! Sekarang, In loosu, maafkanlah kita, kita tidak bisa temani kau lama-lama!"

Setelah kata begitu, Tan Ceng Po putar tubuhnya, akan berlalu. Perbuatannya ditelad oleh Cukat Pok, sedang Kiongsin Hoa Ban Hie sudah mendahului ambil jalannya sendiri. Dan mereka tidak lagi mendapat rintangan, di setiap jagaan, tidak ada orang yang keluar atau memegat, mereka sampai di rumah dengan tidak kurang suatu apa, hanya mereka lantas bertemu dengan Lim Siauw Chong, yang sudah kembali dari ranggon.

Liongyu Hiejin Lim Siauw Chong berduka apabila ia dengar perihal hasil penyelidikannya tiga orang itu, sebab sekarang ternyata, Pian Siu Hoo benar-benar hendak lakukan pertempuran yang memutuskan, hingga tidak lagi ada harapan bagi perdamaian. Ia tidak nyana bahwa Pian Siu Hoo bisa undang orang yang liehay, sedang belum ketahuan, orang pandai siapa lagi yang berada di dalam lembah Haytong-kok itu.

"Bagaimana sekarang kita orang harus bertindak?" akhirnya Lim Siauw Chong tanya tuan rumah. "Menurut aku, lebih lekas kita bertindak, lebih baik. Kita tidak boleh memberi ketika untuk Pian Siu Hoo mengundang terlebih banyak orang lagi. Ia ada cerdik dan licin, ia bisa pincuk lebih banyak orang lagi, seperti sekarang ia dapat mengundang Itcie Sinkang In Yu Liang. Orang yang dipanggil Cee loosu itu mestinya adalah Kimtoo Cee Siu Sin, ahli silat ternama dari pihak utara."

Tapi, memandang Lim Siauw Chong, Hoa Ban Hie bersenyum sindir.

"Sahabat karib, bukannya aku si Kiongsin mengejek padamu," ia berkata, "sebabnya kenapa kau dari pihak Kiushe Hiekee tidak bisa angkat kepala ialah kau orang ada terlalu tutup diri, terlalu hati-hati, hingga satu coanpang yang besar dan berpengaruh, di bawah penilikan sangat keras dari kau, telah berubah menjadi lemah dan tidak bersemangat. Dalam urusan sekarang ini, aku sebenarnya ada sedikit usilan, seperti juga aku dekati api akan membakar diri sendiri. Dengan Tiathong- liong Pian Siu Hoo aku tidak bermusuhan atau berselisihan, aku juga tidak hidup di atas air, hanya karena perbuatannya di dekat daerahku ini ada terlalu menyolok mataku, hingga ia telah melanggar adatku dan aku tidak bisa mengawasi saja kepadanya. Begitulah aku sudi ketemukan padanya dan tengok macam persiapannya. Pian Siu Hoo telah melanggar kebiasaan dalam kalangan coanpang, ia telah terlalu andalkan dirinya dan sekarang ia hendak menjagoi di Haytong-kok ini, perbuatannya tidak boleh diantapi saja. Jika ia mau balik kembali ke Gocu-mui, aku pasti tidak akan campur tahu urusannya itu! Sekarang aku hendak menggunakan kesempatan ini akan belajar kenal dengan orang-orang gagah dari utara, supaya aku pun dapat mengetahui, hingga di mana adanya kebisaanku sendiri!"

Lim Siauw Chong ketahui adat orang, ia ingin menyingkir dari itu, karena bagi mereka adalah sudah cukup jika si Raja Pengemis ini sudah mau ambil pihaknya. Maka ia lantas menyimpang. Setelah menghaturkan terima kasihnya, untuk mana pun diturut oleh Yan Toa Nio dan gadisnya, ia tanya bagaimana kesudahannya penyelidikan baru-baru ini.

Tan Ceng Po telah wakilkan dua kawannya untuk memberikan penuturan.

Mendengar itu, Yan Toa Nio kerutkan alisnya, karena ia ketahui, perkara telah menjadi besar serta hebat dan berbahaya sekali. Maka ia lantas utarakan pikirannya pada Hoa Ban Hie dan kawan-kawannya, bahwa ia ingin lekas-lekas ketemukan Pian Siu Hoo, baik untuk membunuh musuh itu atau ia berdua anaknya menerima binasa di tangan musuh itu.

"Pian Siu Hoo benar-benar ada sangat licin, berbahaya dan busuk," ia nyatakan lebih jauh. "Urusan dengan kita ia campur dengan urusan coanpang. Nyatalah ia ingin memperoleh kemenangan di dua-dua pihak, supaya kalau berhasil ia dapat terus menjagoi sendirian. Aku menyesal telah membikin loo-cianpwee sekalian turut menjadi pusing."

Tapi atas pernyataan ini, Hoa Ban Hie tertawa. "Yan toanio, kau harus bersabar!" ia berkata. "Aku

hargakan keberanianmu, tetapi kau harus mengerti,

sekarang tidak lagi kau hadapi Pian Siu Hoo sendirian! Nyatalah kini kau bukannya tandingan dari Tiathong- liong! Tunggu saja! Jangan-jangan sebentar malam akan datang tamu-tamu ke dusunku ini, jika dugaanku benar, kau dapat kemerdekaan untuk coba-coba ilmu pukulanmu Engtiauw hoankie-ciang atau 'Burung garuda menyerang berbalik'. Jika sebentar malam kau memperoleh kemenangan, soal membalas sakit hatimu bukannya soal sukar lagi, jika sebaliknya, kau pasti tidak akan mempunyai harapan lagi!"

Toa Nio tidak mengerti betul maksudnya tuan rumah. "Loo-cianpwee, apakah artinya ini?" ia tegaskan. "Apa

sebentar malam Pian Siu Hoo akan datang sendiri

kemari?"

"Tidak bisa diharap yang Pian Siu Hoo sendiri mau lancang datang kemari," sahut Hoa Ban Hie. "Tetapi di antara kawan-kawannya yang ia dapat undang, ada seorang yang liehay sekali, ialah Itcie Sin-kang In Yu Liang dari pihak selatan. Dalam hal bugee seumumnya, ia boleh tidak usah terlalu dimalui, hanya yang berbahaya adalah ilmu menotok dengan jari tangannya. Kau orang berdua, ibu dan anak, justru harus coba Engtiauw hoankie-ciang untuk menangkan ilmu menotoknya itu. Jika kepandaianmu telah diyakinkan sampai di batasnya kesempurnaan, hingga kau orang dapat membikin In Yu Liang tidak berdaya, pastilah pembalasan sakit hatimu dapat diwujudkan dengan berhasil."

"Namanya orang itu aku pernah mendengar banyak kali," menyahut Yan Toa Nio, "hanya tentang kepandaiannya itu aku tidak mengetahui sama sekali. Aku dengar bahwa ilmu menotok dengan jari itu ada salah satu yang paling liehay dari Siauw-lim-sie punya tujuhpuluh dua pelajaran istimewa, jauh terlebih liehay daripada Piepee-chiu dan Kimsee-ciang, maka aku kuatir Engtiauw hoankie-ciang tidak akan dapat punahkan ilmu itu. Aku pikir terlebih baik aku pergi memapaki Pian Siu Hoo di dalam sarangnya akan membalas sakit hatiku, baik dengan jalan terang maupun gelap. Bagi kita, asal sudah mencoba, kendati binasa kita akan merasa puas."

Tetapi Tan Ceng Po goyangkan kepalanya.

"Di mana juga pihak Kiushe Hiekee telah tersangkut, toanio harus bersabar," orang tua ini berkata. "Kita malahan harus bertindak terlebih dahulu, karena urusan di antara kita telah diperhebat dengan kejadian di Giokliong-giam Hiecun. Pertama-tama kita orang harus bereskan keruwetan urusan coanpangdi Hucun-kang, kedua barulah kita membantu pada kamu berdua ibu dan anak, itu artinya kita orang harus bekerja sama-sama.

Mana bisa untuk toanio pergi sendiri? Baiklah ditetapkan satu tanggal untuk pertempuran yang memutuskan, mati atau hidup tidak menjadi soal pula."

Lim Siauw Chong pun turut bicara, katanya, "Sebagaimana kau telah nyatakan, kau orang ibu dan anak janganlah terlalu banyak berpikir. Kau orang sudah lama menyingkirkan diri, tetapi kau orang tetap ketahui jalannya urusan di kalangan coanpang, maka aku percaya kau dapat mengerti tentang urusan kita ini, Pian Siu Hoo tidak diijinkan berdiri, atau ia akan mencelakai banyak orang, karena kecuali membalas sakit hati pada kau orang, ibu dan anak, ia pun hendak menjagoi. Ia akan berhasil apabila mampu robohkan kita dua pihak.

Apa yang luar biasa pada Pian Siu Hoo adalah ia telah pindahkan pusatnya, malahan dari air ia pindah ke darat. Menurut aturan coanpang, jika terdapat perselisihan, urusan tidak boleh dibereskan di lain tempat, tetapi sekarang Pian Siu Hoo melanggar kebiasaan itu, nyatalah ia ada kandung maksud lain, karena ia bukan seorang bodoh. Maka kita pun harus berhati-hati."

Yan Toa Nio manggut. "Terima kasih, loo-cianpwee," ia berkata "Aku mengerti bahwa urusan kita sekarang sukar dipisahkan, aku hanya merasa kurang enak bila kita bersama-sama merembet-rembet Bancie sanchung "

Toa Nio belum tutup mulutnya, atau Hoa Ban Hie telah tertawa besar.

"Toanio, kau pandai bicara!" ia menegur. "Sebenarnya, sekarang ini Pian Siu Hoo juga mempunyai urusan dengan diriku. Dengan mendirikan pusat di Haytong-kok, ia telah tidak pandang aku, tetapi aku percaya, di lain pihak ia diam-diam hendak pengaruhkan juga pihakku. Aku berdiam di sini bukan baru satu atau setengah tahun, benar aku bukan seorang ternama, tetapi aku tidak mau ijinkan orang tidak pandang mata padaku. Hak apa Pian Siu Hoo ada punyakan untuk berpusat di Haytong-kok? Coba ia datang terlebih dahulu dan bicara dengan baik padaku, barangkali aku dapat mengambil sikap lain, tetapi sekarang tidak. Toanio, kau bersabar dan tunggulah kejadian yang akan datang! Kita akan bekerja sama-sama!"

Yan Toa Nio haturkan terima kasih pada raja pengemis itu.

"Aku mengerti, loo-cianpwee, terima kasih," ia berkata.

"Sekarang pembicaraan telah selesai, kita harus pikirkan soal menghadapi Pian Siu Hoo," Tan Ceng Po berkata. "Bilakah kita akan bertindak? Atau kita hendak tunggu dahulu sepak terjang musuh? Aku hanya anggap tidak boleh pandang enteng pada musuh kita itu."

Cukat Pok yang sejak tadi diam saja, kini turut bicara. "Tan loo-suhu," ia berkata, "bahwa sudah terang Pian Siu Hoo mempunyai banyak kawan yang pandai dan kita telah satroni sarangnya, maka sekarang kita harus menjaga dengan hati-hati tempat kita. Karena telah dibikin malu, mereka tentu hendak membalas itu! Aku percaya, satu kali mereka akan datang kemari, maka kita orang tidak boleh alpa dan perlu setiap waktu siap sedia. Kita harus ingat bahwa pihak sana pun ada orang-orang yang pandai dan berani "

Mendengar demikian, Tan Ceng Po melirik pada Kiongsin, tetapi muka dan sikapnya tuan rumah tetap tenang, maka ia lekas manggut. "Tentang itu, Cukat loosu, kita tidak usah kuatir," ia menyahut. "Ketika kita hendak berlalu dari Haytong-kok, musuh yang kita ketemukan adalah In Yu Liang. Ia terkenal gagah, tetapi berpikiran cupat, maka setelah nampak kegagalan, ia tentu akan datang kemari. Tapi di sini, Hoa chungcu telah siap sedia, aku percaya, meski In Yu Liang liehay, tidak mudah ia dapat masuk. Sikap kita sekarang adalah, siapa datang, dia kita layani."

Cukat Pok berdiam, tetapi ia tidak puas. "Beginilah memang sikap biasa dari orang-orang

sebagai mereka," ia berpikir, "ialah serupa penyakit kepala besar. Sifat begini bagiku adalah alamat dari kegagalan. Tapi aku telah berada di sini, baiklah, kita lihat saja nanti, jika mesti roboh, apa boleh buat "

Hoa Ban Hie perhatikan sikapnya semua orang. Ia lantas bersenyum tawar.

"Tan Ceng Po, ada permusuhan apakah di antara kita berdua, maka kau mengucap demikian rupa?" ia tanya Tonglouw Hiejin. "Kita orang ada sahabat-sahabat dari banyak tahun, mustahil begini saja sikapmu? Apakah benar kau tidak niat membantu melindungi Bancie sanchung? Pendeknya aku bilang, asal musuh bisa malang melintang di dalam kampungku ini, itu berarti bahwa pamorku telah roboh! Sekarang, sahabatku, aku serahkan Bancie sanchung padamu, kau boleh berbuat apa kau suka, keributan apa juga akan terjadi sebagai akibatnya, aku akan bertanggung jawab, tidak nanti aku tarik-tarik padamu!"

--ooo0dw0ooo—