Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 08

Jilid 08

Setelah berjalan jauhnya kira-kira setengah lie, barulah di sebelah depan tampak sedikit cahaya terang. Cahaya itu disebabkan kurangnya pohon-pohon. Sebagai gantinya, lalu tampak beberapa rumah yang kebanyakan seperti menempel dengan lamping bukit atau batu gunung. Rumah-rumah itu tidak sama besarnya, ada yang dua, ada yang sampai empat dan lima ruangan.

Hanya, apa yang luar biasa, yang Leng In dapat melihat dengan kebetulan saja selagi ia mendongak, di atas pohon-pohon yang paling tinggi ada berdiri rumah-rumah gubuk, yang dibikin kuat dengan palangan malang melintang di antara cabang-cabang, sedang di bawahnya tidak tertampak tangga bambu atau tangga tali yang berupa sebagai ayunan. Rupanya rumah itu adalah tempat untuk melihat jauh.

Leng In tidak ketahui di atas rumah-rumah itu ada orang atau tidak, karena segala apa ada sunyi seperti itu rimba sendiri.

Setelah sampai di luar rimba, baru Hoa Ban Hie berpaling pada sekalian tetamunya.

"Beginilah cara hidup sehari-hari dari aku si miskin melarat," demikian ia kata. "Kita ada seperti orang-orang hutan, yang tidak kenal adat sopan santun. Cukat loosu, Yan toanio, harap suka maafkan aku. Aku tinggal di tempat di mana jarang lain orang datang, bagaimana kau pikir tempat ini, apa boleh juga?"

"Loosu, kau bolehlah dipandang sebagai loo-cianpwee yang telah sucikan diri," kata Cukat Pok dengan kekaguman. "Sebenarnya ada sukar akan dapatkan tempat yang begini tenang dan indah. Siapa tinggal di sini, ia benar bisa lupakan penghidupan manusia yang berisik dan banyak aneka warnanya, ia bisa lupai harta dunia yang begitu diperebutkan. Loosu, bagaimana kau bisa sebut-sebut halnya si orang hutan?"

Hoa Ban Hie tertawa bergelak-gelak.

"Cukat loosu, jangan kau puji-puji aku," ia kata pula. "Aku adalah seorang yang tidak punya jodoh dengan jasa, nama besar dan harta dunia, di mana orang hendak suruh aku berdiam?"

Souwposu tidak menjawab, ia melainkan bersenyum. Hoa Ban Hie lantas ajak sekalian tetamunya menghampirkan satu rumah yang paling besar di Hokliong-gam. Pekarangan tidak dikurung dengan tembok hanya dengan pagar bambu yang rata tingginya empat atau lima kaki, yang ujungnya semua dibikin lancip.

Ketika orang sampai di muka pintu pekarangan, dua pemuda kelihatan keluar menyambut, pakaian mereka juga ada pakaiannya kawanan jembel.

"Chungcu baru pulang!" mereka itu menyambut. "Barang makanan dan arak yang chungcu pesan sudah disajikan rapi."

Hoa Ban Hie geraki tangannya, lantas dua pemuda itu berdiri di pinggiran, buat kasih orang lewat, maka itu, sekalian tetamu lalu dipimpin masuk.

Yan Toa Nio lihat pekarangan ada lebar, tanahnya ditutup sama rumput hijau, di sana-sini ada tetanaman pohon-pohon bunga dengan rapi. Rumah itu terdiri dari tiga ruangan besar dengan dua lagi yang kecil di kedua samping.

Selagi masuk di pertengahan, di mana ada pintu angin, entah dari manajalannya, di situ tahu-tahu ada menyambut lagi dua pemuda yang tadi memapak di pintu pekarangan.

Baru sekarang Kiongsin angkat kedua tangannya, akan unjuk hormat pada empat tetamunya, hingga mereka ini repot membalasnya!

Melihat dandanan tuan rumah dan memandang perabotan atau perlengkapan dalam rumahnya, Yan Toa Nio dan gadisnya menjadi heran dan kagum. Kursi dan meja, semua terbikin dari bambu hijau. Segala apa ada teratur rapi dan menarik nampaknya, semua-semua ada bersih. Di tembok bilik ada digantung pedang dan yauwkim, satu tanda bahwa selain pintar senjata tuan rumah pun gemar main tetabuhan. Di meja kecil depan jendela, yang rupanya dijadikan meja thee, ada papan catur dengan biji-bijinya, yang masih teratur, sebagai tanda bahwa orang bermain belum selesai. Sedang di bilik sebelah timur ada tertempel beberapa gambar tekenan dan tulisan-tulisan huruf yang bagus.

Siapa sangka bahwa ini ada rumahnya satu pengemis?

Apabila tuan rumah dan tetamu sudah ambil tempat duduk, dua pemuda tadi datang dengan air thee, yang diisi dalam cangkir-cangkir yang indah.

Yan Toa Nio menduga bahwa, kecuali Hoa Ban Hie sendiri, di desa pengemis istimewa ini mesti ada lain-lain orang berilmu sebagai si pengemis tua itu.

"Sahabat karibku, kau telah datang kemari, karena itu, aku perlu mengodol saku akan layani pada kau," berkata tuan rumah sambil bersenyum. "Lihat di sana, meja perjamuan sudah tersedia! Tidakkah aku, si pengemis, dalam hal melayani tetamu, ada jauh terlebih baik daripada kau? Beda dengan kau, kalau aku datang padamu, kau senantiasa tanya ini dan itu, yang bikin kepala pusing saja! Itulah sebabnya kenapa aku tidak sudi sering-sering datang padamu, sebab aku tidak hendak ganggu pada orang muris sebagai kau " 

Digoda begitu, Tan Ceng Po tertawa besar. "Lihat bagaimana hebat kau kemplang aku!" ia kata. "Sudah, sahabatku, sudah, kau jangan omong saja, tetapi mari kita lihat, siapa terlebih pandai dahar! "

Hoa Ban Hie juga tertawa.

"Baik, baiklah," ia menyahut. "Lihat saja!"

Cukat Pok turut tertawa, tetapi ia tidak campur bicara, sedang nyonya Yan dan gadisnya hanya bersenyum.

Ketika itu Hoa Ban Hie berbangkit, akan hadapi Cukat Pok dan Toa Nio berdua.

"Aku ada satu pengemis tua, tetapi aku sekarang hendak menjamu tetamu, sungguh aku tidak tahu malu," ia kata. "Bancie sanchung tidak punya perhubungan dengan kota, maka apa yang aku bisa suguhkan, semua ada barang-barang yang bisa didapat di satu desa, hingga bisalah dimengerti bahwa untuk itu aku tidak usah ngodol saku dalam-dalam. Toh aku masih ingin kau rasai bagaimana masakan si orang pegunungan. Hanya, karena ini bukan ada makanan sisa, yang boleh dapat men-jembel, aku percaya tidaklah aku sampai merendahkan kepada tetamu-tetamuku sekalian. Harap dengan minuman itu aku bisa kasih selamat datang pada sekalian tetamuku!"

Meja perjamuan ada di sebelah, di situ orang lantas duduk, dan tuan rumah sudah lantas isikan orang punya cawan dengan arak bikinannya sendiri, yang belum- belum sudah menyiarkan bau harum, sedang kemudian ternyata, masakan rebung segar dan ayam rasanya beda daripada masakan orang-orang lain.

Bukan cuma Yan Toa Nio dan gadisnya serta Cukat Pok, juga Tan Ceng Po sendiri sampai berikan pujiannya buat itu barang makanan dan arak wangi. Kekagumannya Toa Nio telah jadi bertambah.

Orang bersantap dengan tidak banyak omong, kira- kira jam dua, semuanya sudah merasa cukup.

Sementara itu Yan Toa Nio dan anaknya heran sampai sebegitu jauh mereka tidak lihat orang perempuan atau anak-anak di desa itu, si nyonya merasa likat sendirinya, karena ternyata mereka berdua ada orang-orang perempuan semengga-mengganya di situ. Cara bagaimana mereka bisa berdiam lama-lama di itu rumah?

"Loo-cianpwee, aku ibu dan anak pikir niat balik ke perahu kami," kemudian Toa Nio kata dengan diam-diam pada Tan Ceng Po. "Kami bersyukur padamu yang telah mengundang kami datang kemari dan hendak membantu kami, tetapi di sini tidak ada orang perempuan, ada kurang bagus kalau kita tetap berdiam sama-sama di sini. Kalau sudah sampai saatnya, kami datang pada loo- cianpwee untuk menerima bantuanmu yang kami sangat hargakan."

Tan Ceng Po mengawasi nyonya itu.

"Baiknya kau bicara dengan aku, toanio, kalau kau terus bicara dengan si Malaikat Kemelaratan, ia bisa jadi tidak senang," ia kata. "Kau jangan sibuk, di sini bukannya tidak ada orang perempuan. Kau lihat cara- caranya, maka kau bisa mengerti, aturan di sini mestinya ada luar biasa juga. Sabar saja, sebentar kita nanti lihat, dengan cara bagaimana ia akan mengatur kau berdua."

Mendengar itu keterangan, Yan Toa Nio tidak mau banyak omong lagi. Sementara itu Hoa Ban Hie, yang undurkan diri sebentar, telah kembali bersama satu pengemis umur enampuluh lebih.

"Kau ibu dan anak," ia kata, "setelah kau berada di sini, kau boleh tinggal dengan hati tenteram dan tenang. Masih belum terlalu kelambatan apabila kau pergi nanti, sesudahnya urusan sama Kangsan-pang dapat dibikin selesai. Bancie san-chung bukannya bertembok besi atau tembaga, tetapi untuk melayani Pian Siu Hoo dan sahabat-sahabat sebangsanya, rasanya aku masih sanggup. Sekarang kau silakan ikut ini si Han yang tua pergi ke belakang, di loteng Cheetiok-lauw, untuk kau tempati selama kediaman kau di sini." 

"Terima kasih, loo-cianpwee," Yan Toa Nio kata sambil unjuk hormatnya. "Kita belum pernah kenal satu dengan lain, sekarang, pada pertemuan yang pertama, loo- cianpwee begini perhatikan kami, kami sungguh ada sangat bersyukur."

Tuan rumah itu manggut. "Apa yang toanio bilang ada hal yang benar," ia kata, "meski demikian, aku harap selanjutnya toanio jangan ucapkan pula itu. Kita ada orang-orang dari kalangan Sungai Telaga—apakah kerjaan dan kewajiban kita? Bukankah saling menolong ada keharusan kita? Nah, silakan kau beristirahat dahulu!"

Yan Toa Nio menjadi tidak enak sendirinya, ia tidak nyana, selagi ia hendak unjuk bahwa ia kenal adat istiadat dan mengenal budi, ia telah ketemu paku! Tetapi ia tidak menjadi kecil hati, karena ia mengerti orang punya adat aneh. Sesudah manggut pada Tan Ceng Po dan Cukat Pok, Toa Nio ajak anaknya ikut Loo Han, si Han tua itu, pergi ke luar, akan menuju ke sebelah timur. Di luar sudah siap lentera, buat dipakai di perjalanan, karena mereka mesti lintasi satu jalanan kecil yang seperti di dalam rimba.

Kira-kira sejarak setengah panahan, Toa Nio bertiga sampai di satu rumah yang dikitari dengan pekarangan yang berpohon yangliu, yang ditutup rapat dengan pagar bambu. Rumah itu berada di sebelah kiri, menghadapi loteng atau rang-gon kecil, yang seperti terkurung pohon-pohon. Dari jendela ranggon kelihatan sinar api.

Loo Han buka pintu pagar dan ajak ibu dan anak itu masuk.

"Di sana ada tangga untuk naik ke ranggon," ia berkata seraya menunjuk ke jurusan timur selatan. "Aturan chungcu kita ada sangat keras, karena ini ada tempat untuk tetamu-tetamu terhormat, sampai di sini, aku tidak berani maju lebih jauh. Kita ada terlarang kendatipun mesti maju satu tindak lagi saja. Ini rumah kecil ada tempat aku berdiam dan menjaga, kalau perlu apa-apa, toanio boleh teriaki saja padaku."

"Terima kasih," berkata Toa Nio, yang tidak berani berlaku sembarangan, sekalipun terhadap orang-orang suruhannya Hoa Ban Hie. "Aku melulu bikin cape pada kau."

Lantas dengan ajak gadisnya Yan Toa Nio naik di tangga, yang pun terbikin dari bambu, sebagaimana loteng itu sedikit pun tidak memakai batu atau bata, maka tidak heran kalau selagi manjat, tangga itu ada kasih dengar suara kerekekan. Pintu loteng ada ditutup tetapi ibu dan anak ini tolak itu, akan masuk ke dalam.

"Anakku," berkata Yan Toa Nio, "kita sebenarnya sudah banyak mengembara, sampai ke beberapa propinsi dan kita telah ketemui banyak macam orang — orang- orang berilmu juga, tetapi sampai sebegitu jauh, belum pernah kita ketemui orang aneh sebagai ini orang tua she Hoa. Lihatlah ini loteng kecil, bagaimana luar biasa cara pembikinannya, kuat dan menarik hati. Terang di sini ada berdiam orang-orang luar biasa. Kenapa mereka berdandan rerombengan, berkelakuan sebagai serombongan jembel? Apabila pakaian mereka tidak bersih Hoa Ban Hie ada seorang yang penting sekali di

dalam ini Bancie sanchung. Kita terum-bang-ambing dalam lautan penghidupan, maksudnya tidak lain, melulu untuk balas sakit hati ayahmu, maka bolehlah dikatakan beruntung, di mana-mana kita ketemui orang-orang dengan hati mulia. Lihatlah Tan cuncu di Giokliong-giam Hiecun serta semua kenalan mereka! Dan sekarang, lihatlah Tan loo-cianpwee dan orang tua she Hoa ini, yang semua bersedia akan membantu kita! Kita mesti bersyukur kepada Tan loo-cianpwee, yang ajar kita kenal sama Hoa loosu! Sungguh, harapanku ada besar, yang kita bakal bisa bikin perhitungan sama Pian Siu Hoo!

Rupanya roh ayahmu telah lindungi kita maka kita telah peroleh tunjangan di mana saja kita sampai."

Leng In mesti benarkan ibunya itu, sebab memang perjalanan mereka selalu berkesudahan dengan menyenangkan. Mereka telah tempuh bahaya dengan tidak sia-sia belaka....

Kemudian ibu dan anak ini kagumkan kursi meja dan lain-lain perabotan di dalam itu kamar loteng, semua dari bambu dan toh semuanya bagus dan menyenangkan di pemandangan mata.

"Kalau kita hanya dengar orang omong ini semua, siapa mau percaya?" kata Yan Toa Nio. "Maka kau harus ingat, jangan sekali kita bertingkah dan jumawa, di dalam dunia ada banyak sekali orang-orang pandai dan gagah "

Baru saja Yan Toa Nio berkata sampai di situ, tiba-tiba ia dengar suara suitan di jurusan barat selatan, suaranya dari jauh dan datang mendekati. Ia hampirkan pintu dan tolak daunnya, akan melongok ke luar, atau ia lekas rapati pula daun pintu itu dan kembali ke dalam. Ia tidak lihat apa-apa, ia tidak bisa melihat jauh ke luar. Loteng itu terkurung dengan pohon-pohon, dari loteng orang tidak bisa melihat ke luar, dan dari luar orang tidak mampu lihat loteng itu.

"Suara suitan itu mesti ada suara pertandaan di dalam ini dusun," Toa Nio kata pada anaknya. "Dengan berdiam di sini, kita tidak bisa ketahui apa juga terjadi di sebelah luar. Ini tempat benar-benar ada tempat sunyi "

Sebelum Leng In sahuti ibunya, ia dengar tindakan kaki di luar, di bawah loteng, maka sekarang ia gantikan ibunya akan pergi ke pintu dan melongok ke luar. Ia lihat dua lentera di luar pagar dan seorang sedang diiringi.

"Ibu, mari!" nona Yan panggil ibunya. "Lihat, ada orang datang!"

Yan Toa Nio hampirkan anaknya dan turut melongok ke luar. Dua orang ada membawa lentera, mereka berhenti di pintu di luar pagar, orang yang mereka antarkan sudah masuk ke dalam pekarangan, tetapi dari dalam rumah kecil, si orang tua she Han telah ke luar menyambut, entah apa yang ia kata, orang itu menghampirkan ke Cheetiok-lauw, ketika ia enjot tubuhnya, tubuh itu telah mencelat naik ke atas loteng, maka sekejap kemudian, ia sudah berada di dalam lankan.

"Kiranya Lim loo-suhu!" berseru Yan Toa Nio yang kaget berbareng heran. Dan lekas-lekas bersama Leng In, ia sambut salah satu ketua dari Kiushe Hiekee itu.

Lim Siauw Chong angkat kedua tangannya, akan membalas hormat.

"Sungguh beruntung yang kau ibu dan anak bisa dapatkan ini pertemuan luar biasa!" berkata ia dengan suara yang menyatakan kegirangan. "Dasar Thian ada maha adil dan orang-orang baik dikaruniakan, hingga kau tidak sampai terjatuh ke dalam tangannya orang- orang jahat!"

"Lim loo-suhu, silakan masuk," Toa Nio mengundang. Mereka masuk ke dalam dan ambil tempat duduk, dan Leng In segera menyuguhkan thee, yang memang telah disediakan di loteng itu.

"Apakah loo-suhu datang sendiri?" Toa Nio tanya. "Kau ada punya urusan tetapi kau bisa datang begini cepat! Pian Siu Hoo telah pindahkan pusatnya di Gocu- mui, loo-suhu pasti ketahui itu maka kau datang menyusul kemari!"

Lim Siauw Chong tertawa. "Kau memuji, toanio!" ia berkata. "Kita terlahir di Hucun-kang, biar bagaimana, kita tetap ada punya hubungan sama orang-orang dari kalangan coanpang, maka segala sepak terjangnya Pian Siu Hoo mana bisa lewat dari mata kita? Yang aneh adalah Kiongsin Hoa Ban Hie! Cara bagaimana ia boleh suka membantu padamu ibu dan anak? Maka menurut aku, rupanya bagi Pian Siu Hoo, hari-hari terakhirnya sudah mendekat, pembalasan bakal menimpa dirinya! Ini Bancie san-chung, sejak didirikannya oleh Kiongsin Hoa Ban Hie, kecuali oleh pihaknya sendiri, belum pernah dilintasi atau didatangi oleh orang lain, malah lain-lain orang dari kalangan Rimba Persilatan pun sukar datang kemari, sama sukarnya umpama orang mendekati langit! Tapi kau ibu dan anak, sekarang kau bisa berada di sini, sungguh luar biasa, sungguh bagus peruntunganmu!

Tiathong-Iiong Pian Siu Hoo boleh undang orang yang paling pandai, mereka itu bakal tidak ada di matanya Hoa loosu! Apakah kau pernah pergi ke Haytong-kok?"

"Dengan banyak susah kita telah cari Haytong-kok tetapi sampai sekarang kita belum pernah masuki," Yan Toa Nio jawab. Ia tuturkan bagaimana ia batal masuk karena ce-gahannya Tan Ceng Po. "Pian Siu Hoo sudah atur sempurna pusatnya itu, untuk masuk ke sana, kita terpaksa mesti menerjang dengan andalkan kepandaian kita"

Lim Siauw Chong, yang ada sabar luar biasa, bersenyum.

"Pian Siu Hoo anggap dengan caranya itu ia bisa unjuk keangkerannya Kangsan-pang," ia kata, "ia tidak tahu, itu sebaliknya yang bakal melekaskan kemusnahannya.

Inilah yang dikatakan orang menggunai ilmu akan cari mampus sendiri! Semakin ia unjuk kegarangan dan kekuatannya, semakin orang-orang dan kalangan Rimba Persilatan tidak mau mengasih hati padanya! Di dalam kalangan Sungai Telaga, orang mesti andalkan tenaga sendiri, siapa yang mengharapkan bantuan sobat handai, ia tidak bisa diandalkan. Sekarang sikapnya ini telah menerbitkan perasaan tidak senang dari banyak orang- orang tertua dari Hucun-kang, ia itu justru ingin sekali kau ibu dan anak, jangan kuatirkan apa-apa. Pian Siu Hoo telah bikin lenyap orang punya rasa suka kepadanya, ia justru dirikan pusat di tempat yang mencil, itu adalah jalan kemusnahan yang dibikinnya sendiri."

"Tapi, Lim loosu, Pian Siu Hoo ada cerdik, kenapa ia jadi keliru? Mustahil ia tidak ketahui cacatnya ini? Jikalau ia benar-benar tidak insyaf, ia menjadi si orang kuat yang tidak berbudi akal!"

Masih saja Lim Siauw Chong bersenyum-senyum. "Pian Siu Hoo boleh jadi orang yang berbahaya, tetapi

sudah terang di dalam Hiecun ia telah mati daya,

sekarang ia kabur ke sarangnya di Hucun-kang, tidak heran kalau ia dendam hebat dan niat bikin pembalasan, hingga ia pindahkan pusatnya kemari. Aku tahu ia telah sebar surat undangan, akan minta bantuannya orang pandai, karena kecuali ia hendak lampiaskan dendamnya, ia pun kandung suatu niatan besar, yang dibangunkan oleh ketemahaannya. Ia mau uji kepandaian sama semua orang gagah dari daerah Ciatkang dan Kangsouw, agar, kapan ia peroleh kemenangan, ia bisa terus menjagoinya. Bisa dibilang tindakannya ada tindakan gelo tetapi tindakan itu ada berbahaya. Oleh karena ini, Toa Nio, usaha kau sebenarnya ada menghadapi rintangan hebat."

"Aku mengerti, loo-suhu," Yan Toa Nio kata. Ia manggut-manggut.

Sampai di situ, Lim Siauw Chong berbangkit. "Aku mau pergi ke depan, akan lihat mereka sudah kembali atau belum," ia kata.

"Siapa mereka itu, loo-suhu?" tanya Yan Toa Nio dengan heran.

"Chungcu dari Bancie san-chung serta suheng-ku Cukat loosu," jawab Siauw Chong. "Mereka semua telah pergi, ketika aku sampai, aku tidak dapat ketemukan mereka, maka itu, oleh hu-chungcu aku telah diantar kemari akan ketemukan kau orang."

Yan Toa Nio terperanjat, tapi lantas ia mengelah napas.

"Untuk urusan kita, orang telah sampai begitu kesusu pergi ke Haytong-kok untuk membikin penyelidikan," ia berkata, "dengan demikian, kita berbalik seperti menjadi tuan rumah saja! Kenapa kita mesti berdiam seperti manusia yang dipuja-puja dan urusan kita mesti diserahkan kepada lain orang? Inilah tidak pantas!"

Lim Siauw Chong golengkan kepala.

"Aku minta toanio jangan mengucap demikian," ia berkata. "Chungcu dari Bancie sanchung ada seorang yang jiatsim, jika ia sudah mau membantu dan mau bekerja, siapa pun tidak bisa cegah padanya. Sekarang pun ia pergi bukan untuk menerjang bahaya, ia hanya hendak bikin penyelidikan, jika ia sudah ketahui segala apa dengan terang, baru ia mau bertindak akan hadapkan Pian Siu Hoo. Toanio harus ketahui, urusan sekarang telah mengenai juga banyak orang ternama dari kalangan Sungai Telaga, oleh karena itu, sekalipun Hoa loo-cianpwee, ia mesti pikir-pikir dahulu sebelumnya bertindak. Ia mengerti, jika ia alpa, tempatnya ini juga bisa celaka. Ia juga pikirkan soalmu dan ia tidak mau sembarang-an. Maka sekarang toanio berdua baik bersabar dan menunggu kesudahan penyelidikannya Hoa loo-cianpwee."

Yan Toa Nio manggut, ia tidak kata apa-apa pula, bersama gadisnya ia antar tetua dari Kiushe Hiekee ke luar, tetapi setelah ia balik ke dalam, ia insyaf hebatnya perkara. Ia tidak duga urusan dengan cepat telah berubah menjadi perkara begini besar. Karena ini, meski ia bisa tinggal dengan tanpa kuatir di Cheetiok-lauw, ia toh tidak dapat pulas dengan mudah.

Berapa lama ia telah rebahkan diri, Yan Toa Nio tidak ketahui, hanya di waktu fajar, selagi ayam-ayam jago berkeruyukan, kupingnya mendengar seruntunan suara suitan.

Yan Leng In juga tidak bisa tidur, ia rebah dengan pikiran bekerja seperti ibunya. Bila ia dengar suara suitan itu, ia berbangkit dan hampirkan pintu yang ia buka untuk melongok ke luar.

Kecuali suara suitan tadi, tidak tertampak gerakan apa juga, kesunyian balik kembali seperti sediakala. Tapi, baru saja ia putar tubuhnya akan menutup pintu, dari bawah lauwteng ia dengar pertanyaan, "Apakah Yan toanio sudah tidur?"

Ia lekas buka pula pintu dan menanya, "Siapa itu di bawah?"

Yan Toa Nio juga sudah lantas bergerak dari pembaringannya, baru saja ia berduduk atau orang di bawah telah meloncat lewati pagar. Justru itu, tahu-tahu si-empe Han telah menerobos dan menghampirkan orang baru itu, lantas ia bicara berbisik, setahu apa yang dibicarakan.

Yan Leng In sudah lantas kenalkan Souwposu Cukat Pok.

"Cukat loosu, silakan naik," ia memanggil.

Si Pembalasan Cepat tidak menyahut, tetapi ketika ia sudah loncat masuk ke lankan, Yan Toa Nio justru telah sampai di luar akan sambut ia, untuk terus undang ia masuk ke dalam.

"Banyak capek, loo-suhu!" berkata nyonya Yan yang ketahui orang baru kembali.

"Kita ada orang-orang dari satu golongan, lain kali aku minta toanio jangan berlaku seejie," Cukat Pok berkata. "Aku baru saja turut Bancie sanchung chungcu pergi ke Haytong-kok. Sebenarnya kita boleh bersyukur bahwa kita telah ketemu dan mendapat bantuannya ini orang berilmu. Perkara sekarang — telah berubah sifatnya dan menjadi hebat, tetapi dengan demikian, berbareng urusan sakit hatimu dapat diselesaikan, toanio. Pian Siu Hoo — ada kandung maksud besar dan jahat, ia tidak lagi boleh dipandang enteng, kecuali ia telah atur Haytong-kok menjadi pusat, yang tangguh, iapun telah berhasil mengundang beberapa orang yang kita tidak pernah sangka akan dapat diundang olehnya! Kecuali ingin lampiaskan dendaman, Pian Siu Hoo pun ingin menjagoi di Hucun-kang, supaya ia hidup sendiri dengan tak ada saingan atau rintangan. Orang-orang yang ia undang saja telah membuktikan maksud besarnya." Yan Toa Nio dan puterinya awasi Souwposu, mereka ketarik dengan keterangan orang dan ingin sekali ketahui, siapakah orang-orang undangannya Pian Siu Hoo itu.

Cukat Pok tahu bahwa mereka sangat ingin memperoleh keterangan, maka ia lantas tuturkan perjalanannya ke "Lembah dari bunga Hay-tong".

Setelah Yan Toa Nio dan anaknya pergi ke Cheetiok- lauw, Hoa Ban Hie, Tan Ceng Po dan Cukat Pok tidak lantas bubaran, hanya tuan rumah itu segera berkata pada

Tonglouw Hiejin, "Sahabatku, coba katakan, terhadap Pian Siu Hoo kau hendak ambil tindakan bagaimana? Aku si setan melarat ingin mendengar pikiranmu yang sempurna, agar aku bisa peroleh pengalaman."

"Sudah, Malaikat Kemelaratan, sudah, jangan kau goda aku," Tan Ceng Po menjawab. Ia keluarkan suara dari hidung. "Mengenai pertanyaanmu, baiklah kau yang jawab sendiri! Pian Siu Hoo telah pindahkan pusat, itu saja sudah merupakan suatu keterangan jelas bagi sikapnya. Ia niat bertempur benar-benar dengan pihak kita, agar didapat keputusan siapa yang menang dan kalah. Bancie sanchung bukan didirikan baru satu atau setengah tahun, jika kau tidak bersiap sungguh-sungguh, kau nanti lihat macamnya gangguan musuh! Aku ada beda daripadamu. Kecuali satu gubuk dan sebuah perahu rosokan yang menjadi milikku semengga-mengganya, aku hanya mempunyai selembar jiwa yang sudah tua, jikalau aku harus roboh di tangannya Pian Siu Hoo, aku roboh sendirian dan tidak seret-seret lain orang.

Umpama kata aku kalah, aku percaya Kiushe Hiekee tidak akan ludas semua. Begitulah, maka aku tidak usah pikirkan tindakan. Kalau toh aku mesti berpikir, aku hanya berpikir untuk pihakmu!"

Kedua biji matanya Hoa Ban Hie terputar. "Sahabatku, kau benar-benar main gila padaku!" ia

berkata dengan nyaring. "Tapi kau harus mengerti, aku bukannya satu anak muda yang berdarah panas, yang tidak mengerti selatan, yang tidak kenal bahaya dan bertindak sembrono! Kenapa kau bangkitkan hawa amarahku? Jikalau Pian Siu Hoo ciptakan angin dan gelombang di Gocu-mui, aku tidak perlu usil padanya, tetapi siapa suruh ia datang ke Haytong-kok dan main gila di sini, tepat di depan mataku? Jikalau aku tidak kasih mengerti padanya, aku mesti bakar musnah Bancie sanchung dan pindah jauh-jauh dari sini, tetapi karena aku telah mengambil kepastian akan hadapkan padanya, maka telah kupikir sejak siang-siang. Di saat aku mulai turun tangan, Pian Siu Hoo jangan harap yang Kangsan- pang bisa kerek pula benderanya di Hucun-kang, apabila aku tidak mampu bikin ia musnah hingga ke akar- akarnya, cukup di sini saja tamat lelakonnya Kiongsin Hoa Ban Hie, namaku boleh dicoret dari kalangan Sungai Telaga!"

"Malaikat Kemelaratan, jikalau kau sudah berpikir, itulah lain," Tan Ceng Po berkata kemudian. "Dengan gunakan alasan dari halnya Yan Toa Nio dan Giokliong- giam Hiecun dari Kiushe Hiekee, kau justru bisa turun tangan, dengan begitu, layarnya Pian Siu Hoo di Haytong-kok kita boleh gulung. Sekarang sudah tidak ada soal lagi! Bilakah kau hendak mulai?" "Sahabatku, ini bukannya urusan untuk mana kita boleh bertengkaran! Kita telah mengambil putusan akan hadapkan Pian Siu Hoo, untuk mati atau hidup, kita harus bekerja dengan memakai anggaran. Kini kita harus tengok Haytong-kok akan melihat keadaan dalamnya dengan jelas, untuk mendapat ketahui cara bagaimana mereka telah bersiap. Aku hendak pergi sekarang, apa kau suka turut?"

Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po manggut.

"Aku setujui pikiranmu!" ia menjawab. "Kita tidak boleh berayal lagi. Bancie sanchung terletak dekat dengan Haytong-kok, sekarang nyonya Yan dan gadisnya berada di sini dengan kau, andaikata pihak Pian Siu Hoo mendapat tahu, ia tentu bakal utus orangnya datang kemari, sedikitnya untuk menerbitkan kacau balau.

Gangguan itu saja, apabila sampai terjadi, akan bikin pamormu turun, maka kita sekarang tidak boleh ketinggalaan!"

"Jiewie loo-suhu, aku akur dengan kau orang," Cukat Pok turut bicara. "Di mana Pian Siu Hoo telah tancap kakinya di Haytong-kok, kita memang tidak boleh terlambat lagi. Mari sekarang kita pergi menyelidiki, supaya kita dapat mengatur tenaga akan hadapkan mereka."

Hoa Ban Hie lantas saja berbangkit dan bertindak ke luar akan memanggil hu-chungcu, wakilnya, yang ia bisiki, setelah mana, wakil itu pergi pulang.

"Sekarang mari kita berangkat," berkata Kiongsin serta hampirkan Tan Ceng Po dan Cukat Pok. "Di sarangnya Kangsan-pang kita orang boleh cari pengalaman akan mendapat ketahui sampai di mana kepandaiannya ketua dari Kangsan-pang."

Tan Ceng Po dan Cukat Pok manggut. Bertiga mereka lantas ke luar.

Masih saja Souwposu tutup mulut, la sebenarnya pandai bicara, tetapi sejak berhadapan dengan si Malaikat Kemelaratan, ia bisa kendalikan diri dan rem lidahnya. Ini bukan berarti ia jeri, hanya tidak ingin pertontonkan diri, sebaliknya ia ingin menyaksikan sampai di mana lagak lagu dan kepandaiannya raja pengemis ini.

Bertiga mereka keluar dari Bancie sanchung, melewati pohon-pohon yang lebat. Hampir di jarak-jarak yang tertentu, Cukat Pok bisa saksikan mata-mata atau penjaga-penjaga dari dusun pengemis istimewa ini; mereka itu berada di atas pohon atau sembunyi di antara bongkot-bongkot besar. Sesampainya di luar kalangan, barulah hu-chungcu muncul bersama beberapa kawannya untuk mengantar jalan pada ketuanya.

Kiongsin Hoa Ban Hie melainkan ulapkan tangannya, atau semua orangnya itu mengundurkan diri dan menghilang pula antara pohon-pohon yang gelap.

Setelah melewati tanjakan yang berbatas dengan rimba cemara, barulah tidak ada lagi penjagaan. Maju lagi sedikit, lantas kelihatan tanah yang luas, hanya di sebelah kiri ada tepi bukit yang tinggi.

Mereka menuju ke arah timur selatan, semuanya tutup mulut, sedang tindakan kaki mereka telah berubah menjadi cepat. Itu bukannya ilmu jalan yang dipanggil Lokhok hoo-heng atau "Menjangan mendekam dan burung Hoo menindak", mereka jalan seperti biasa, bedanya melainkan tubuh mereka tidak bergerak tetapi kedua kaki menindak, semakin lama semakin cepat.

Souwposu Cukat Pok ada seorang kenamaan dalam Rimba Persilatan, ia pandai nge-kang dan nui-kang dengan berbareng, tetapi sekarang, melayani jalan cepat dari Kiongsin Hoa Ban Hie, ia merasa bahwa ia harus mengeluarkan tenaga istimewa. Tentu sekali ia menjadi sangat kagum. Ia pernah dengar perihal ilmu lari cepat Kun-goan Itkie Lengpo-pou, baru sekarang ia buktikan itu. Ilmu ini menang seratus kali daripada ilmu Tengpeng touwcui atau "Menginjak kapuk menyeberangi sungai" dan Yancu samciauwsui atau "Burung walet tiga kali menyambar air". Jika orang biasa yang saksikan cara jalan cepat itu, tentulah disangka si raja pengemis telah gunakan ilmu sakti. Ilmu lari ini hanya beda sedikit daripada Lioktee huiheng-sut atau "Ilmu lari terbang di darat".

Tanda yang nyata dari kesempurnaannya ilmu lari ini adalah pundak tidak bergerak. Tan Ceng Po bisa menyusul, tetapi pundaknya bergerak juga sedikit. Cukat Pok telah ketinggalan kira-kira satu tombak di belakang.

Setelah melewati mulut jalan Haytong-kok kira-kira satu atau dua lepasan panah jauhnya, Kiongsin Hoa Ban Hie berhentikan tindakannya, dengan demikian Tan Ceng Po dan Cukat Pok segera mendekati padanya.

"Di mulut jalan dan sekitarnya ada terdapat penjagaan rahasia, mereka dapat melihat kita, sebaliknya kita tidak dapat melihat mereka," berkata orang she Hoa ini, "dari itu kita orang tidak boleh maju dari mulut jalan, hanya harus mengambil lain jurusan. Demikianlah kita dapat singkirkan gangguan."

Tan Ceng Po dan Cukat Pok manggut, tanda dari setujunya. Mereka lantas perhatikan daerah di depan mereka itu. Kemudian, dengan Hoa Ban Hie jalan di sebelah depan, mereka menyingkir ke samping. Begitu mulai manjat, mereka berpisahan. Si raja pengemis naik di mulut utara dan Tan Ceng Po berdua Cukat Pok di mulut selatan. Mereka harus gunakan ilmu entengi tubuh, karena jalanan ada di lamping bukit.

Hoa Ban Hie telah bisa naik dengan cepat sampai di atas bukit, berkat kepandaiannya yang tinggi. Di atas ada banyak pohon yang menjadi baik baginya, karena ia bisa saban-saban umpatkan diri.

Tan Ceng Po diikuti oleh Cukat Pok tiba di atas bukit belakangan, dengan demikian mereka dapat menguntit si raja pengemis untuk sekalian perhatikan orang punya gerakan-gerakan atau sepak terjang.

Tidak jauh dari mulut jalan, di atas bukit, Hoa Ban Hie dua kali gunakan batu menimpuk ke dalam lembah.

"Itu benar," pikir Cukat Pok. "Sebagai orang-orang terang, kita tidak boleh berlaku secara menggelap "

Begitu lekas, batu jatuh, lantas dari dalam lembah terdengar melesatnya panah tangan dan piauw batu, tetapi orang-orang yang melepaskannya tidak tertampak.

Setelah itu dengan sikap tidak bersangsi, Hoa Ban Hie maju pula. Tan Ceng Po dan Cukat Pok dengan pisahkan diri maju mengikuti. Cukat Pok harus gunakan kepandaiannya, tiap-tiap kali ia umpatkan diri di tempat gelap atau di belakang pohon-pohon. Mereka telah maju lebih dari satu lie, selama itu tidak pernah tampak rintangan. Di depan mereka ada tikungan, di bagian utara tanahnya rendah. Di bawahnya satu pohon besar, Hoa Ban Hie merandek. Baru saja ia berhenti, atau dari sebelah atas, antara rumput tebal, ada sebatang panah tangan menyambar dirinya. Ia mendek, panah lewat dan mengenai pohon kayu.

Berbareng dengan itu, dengan satu lompatan ia menerjang ke tempat lebat dari mana panah tangan datang.

Itu adalah satu tindakan yang berbahaya sekali. Baru kakinya menginjak tanah atau sebatang panah tangan lain kembali telah samber padanya. Tetapi ia benar liehay, dengan tangan kiri ia tanggapi panah tangan itu serta dari mulutnya keluar teguran, "Kau berani bokong Kiongsin? Lihat, ke mana kau hendak lari?"

Teguran itu dibarengi dengan gerakan tubuh yang menerjang ke gembolan, tetapi di lain pihak, satu tubuh telah mencelat mundur, gerakannya sebat luar biasa, mundurnya sampai satu tombak lebih. Hoa Ban Hie gunakan panah musuh akan balas memanah, tetapi musuh yang tidak kurang liehaynya telah mendahului lompat minggir ke belakang pohon, hingga ia dapat loloskan diri dari marabahaya.

Setelah itu Hoa Ban Hie memperdengarkan suaranya yang angker,

"Kawanan monyet, pergi kau sampaikan kabar pada ketua dari Kangsan-pang, beritahu bahwa chungcu dari Bancie sanchung akan datang berkunjung besok malam, karena perbuatannya yang tidak tahu aturan!

Beritahukan pula, bahwa ia harus berbaris akan menyambut aku, yang pasti akan datang untuk memberikan pelajaran! Sekarang ini aku tidak mempunyai banyak waktu akan layani kau orang bangsa monyet!"

Setelah berkata demikian, dengan satu gerakan mencelat, Hoa Ban Hie lenyapkan diri ke tempat yang gelap, nampaknya seperti juga ia hendak mundur kembali.

Cukat Pok dari belakang terus awaskan gerakannya si raja pengemis, maka itu ia dapat melihat bahwa orang nampaknya mundur tetapi sebenarnya mau maju, sedang pembicaraannya hanya untuk "jual" dan kelabui pada orang-orang yang umpatkan diri itu. Hanya, setelah Hoa Ban Hie berada di tempat gelap, sukar akan ia mengawasi terlebih jauh. Ia segera mengikuti dengan menduga-duga saja jurusannya kawan itu.

Dalam perjalanan maju hingga kira-kira dua lie, Cukat Pok menghadapi jalan yang sukar, terutama karena banyaknya rintangan batu, hanya apa yang aneh, sampai sebegitu jauh belum pemah bertemu rintangan atau pergoki penjaga-penjaga yang sedang pasang mata.

Maka ia heran, mustahil Pian Siu Hoo berlaku demikian alpa. Dari itu ia maju terus dengan tetap berlaku waspada.

Jalanan memutar ke utara, menjurus pada bukit yang tinggi.

Maju lebih jauh kira-kira selepasan panah, Cukat Pok umpatkan diri di belakang batu munjul, dari situ ia dapat memandang ke sebelah bawah di mana ada banyak pohon-pohon, kebanyakan pohon haytong. Di dalam gelap ada sukar melihat tegas ke tempat jauh, tetapi beberapa rumah tertampak di antara pohon-pohon, kelihatan mencoretnya sinar api.

"Ini tentu adalah lembah Haytong-kok," pikir Souwposu.

Sekarang Cukat Pok tidak melihat Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po.

Percaya benar bahwa ia sedang menghadapi sarangnya Pian Siu Hoo, Cukat Pok berniat untuk menghampiri, tetapi, untuk turun ke bawah, jalanan benar-benar sukar, karena di situ tidak tertampak bekas- bekas tapak kaki manusia. Tanah pun ada sangat mudun sekali. Maka untuk paksa turun ia harus gunakan gerakan membikin tubuhnya enteng.

Setelah turun duapuluh tombak lebih, Cukat Pok dapatkan tempat di mana ada banyak pohon-pohon, tetapi tidak lebat, hingga ia tidak terlalu leluasa akan saban-saban umpatkan diri di situ. Maka itu, ia tidak diam lama-lama di situ dan segera loncat turun ke bawah, di mana ada tanah yang nampaknya rata.

Tiba-tiba dari tempat yang jauhnya tiga atau empat tombak, di mana tertampak batu kalang kabutan, Souwposu mendengar suara yang didahulukan dengan tertawa dingin, "Sahabat, silakan kembali! Maaf, kita di sini tidak terima tamu!"

Mendengar itu, dengan berani Cukat Pok enjot tubuhnya akan mencelat maju ke tempat dari mana suara itu datang. Ia tahu ada jaga-jaga musuh tetapi ia tidak takut, malahan ia hendak menghampiri.

Hampir berbareng dengan itu, dari tempat di mana suara itu terdengar, mencelat satu tubuh manusia yang gerakannya tidak kurang gesitnya, akan pergi ke samping. Tubuh itu kecil dan kate. Dengan begitu, mereka berada satu dengan lain empat atau lima tombak jauhnya.

Tempat itu sebenarnya tidak lebar di mana orang dapat mengadu kepandaian, tetapi Cukat Pok dengan cepat telah mengeluarkan souwcu-chio-nya, setelah mana ia lompat pada musuh yang tidak kelihatan nyata serta gunakan tombak istimewanya itu.

Orang yang diserang sebenarnya baru saja taruh kakinya, dari itu, datangnya serangan ada terlalu hebat, tetapi ia ada gesit sekali, waktu kakinya baru menginjak tanah, tubuhnya telah dienjot, dengan begitu, tubuh itu mencelat tinggi, lolos dari serangan. Berbareng dengan itu, selagi tubuhnya belum turun, sebelah tangannya telah bergerak, menimpuk dengan suatu barang yang berkredepan, menjuju pundak kanannya Souwposu, justru tubuhnya pun baru sampai.

Cukat Pok terancam bahaya, kesatu ada sukar untuk ia menangkis, kedua ada berbahaya untuk ia lompat berkelit, karena ke mana saja ia loncat, ia menghadapi bahaya bisa kecemplung atau jatuh kejeblos. Untuk maju tidak bisa, karena itu ada pojokan atau lamping bukit.

Musuh sendiri dapat mencelat tinggi, hanya luar biasa karena tubuhnya seperti menempel di lamping.

Dalam saat yang mengancam jiwanya, tiba-tiba dari atas bukit terdengar seruan "Awas!" dan serupa barang datang menyambar selagi senjata musuh belum mengenai sasarannya, ialah pundaknya Cukat Pok.

Senjata dari atas itu menyerang jitu, hingga Souwposu terlepas dari bahaya. Ternyata senjata musuh adalah sebatang ginpiauw.

Karena dapat pertolongan, Cukat Pok dapat menyelamatkan diri, tetapi ia jadi mendongkol, maka ia enjot tubuhnya akan loncat naik akan kejar musuh, yang ternyata telah mendapat tempat injakan kaki di mana ia bisa siapkan diri. Begitu sampai di atas, lagi-lagi si Pembalasan Cepat menggunakan tombaknya yang istimewa.

Musuh ada liehay, tubuhnya gesit luar biasa, piauw- nya ada gapah. Seketika ia disusul, sebelum senjata musuh mengenai tubuhnya, ia telah mendahului loncat ke sebelah kanan, di mana ada tempat untuk taruh diri. Tempat ini ada di bagian terlebih tinggi, hingga dengan sendirinya ia telah naik ke pinggang bukit.

Selagi lakukan gerakannya, Cukat Pok telah perhatikan orang yang bantu padanya, yang dengan sepotong batu telah pukul jatuh gin-piauw musuh. Penolong itu ia duga adalah Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po, tetapi orangnya ia tidak dapat lihat nyata.

Mengingat bahwa sekarang ia sedang bikin penyelidikan, dan guna hindarkan diri dari gangguan yang bisa merusak tujuan mereka, Cukat Pok tidak ingin turuti adat, akan kejar terus pada musuh yang tidak dikenal itu. Ia mengerti, jika ia kena dipancing sampai datang saatnya Pian Siu Hoo meluruk bersama konco- konconya, ia bisa dapat celaka. Karena pikirannya itu, ia tidak mengejar terus, malahan ia merubah tujuannya, ialah loncat ke kanan.

Benar-benar musuh tidak mau mengerti dan lantas memburu. "Terang ia ada orangnya pihak Haytong-kok," berpikir Cukat Pok akhirnya. "Ilmu mengentengi tubuhnya ada liehay tetapi apa aku harus menyerah kalah?"

Setelah berpikir demikian, Souwposu merubah tujuannya ke selatan, ia ingin mundur belasan tombak, kemudian ia mau layani sungguh-sungguh pada musuh, kalau bisa, untuk bikin beres padanya....

Baru saja Cukat Pok putar tubuhnya atau mendadak dari sebelah kiri di mana ada segerombolan pohon kecil, ada melesat satu bayangan, tingginya dua tombak dan jurusannya adalah musuh itu, dan sambil berloncat ia telah lakukan serangan yang dinamakan Paysan-ciang atau "Pukulan mengatur bukit". Kalau serangan ini mengenai dengan jitu, musuh mesti terguling ke jurang dan tubuhnya hancur remuk....

Tetapi musuh ada liehay, melihat ada orang membokong, ia lekas berkelit ke kanan, tubuhnya direbahkan, berbareng dengan itu, kaki kirinya bisa terus diangkat akan mendupak. Itu ada tipu pukulan Tiatgu kengtee atau "Kerbau besi meluku tanah".

Serangan kaki ini bisa pecahkan ancaman bahaya dari musuh, dan kalau mengenai sasarannya, musuh yang sebaliknya bakal dapat celaka. Tapi si penyerang ada gesit dan bisa tahan lajunya tubuhnya, ia paksa tidak sampaikan musuh, kapan ia telah injak tanah, ia enjot tubuhnya akan loncat mundur empat atau lima kaki jauhnya. Ia telah gunakan tipu Yancu hoansin atau "Burung walet jumpalitan". Dengan demikian ia dapat menolong dirinya.

Setelah tendangannya gagal, musuh itu lekas-lekas berbangkit, kelihatannya ia hendak menyusul pula, tetapi sebelum ia sempat bergerak, orang telah rangsek padanya, tubuhnya diserang dengan dua tangan yang ditekuk naik. Lagi sekali ia unjuk kegesitan tubuhnya. Dengan menggeser kaki kanan ke kanan, tubuhnya ikuti gerakan kaki itu, secara begini, ia bikin penyerangnya pukul tempat kosong. Tapi, bersamaan dengan, kecepatan istimewa, tangan kanannya menyambar ketika tubuhnya bangun, dan ia dapat menjambak dengan jitu, maka sambil melemparkan tubuh orang ke samping, ia berseru, "Pergilah kau turun!"

Si penyerang telah keluarkan jeritan hebat, "Celaka aku!"kepalanya menuju ke bawah, kakinya terangkat naik, karena ia telah dilemparkan dengan tubuh jumpalitan atau poksay.

--ooo0dw0ooo--