Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 07

Jilid 07

Di muka kampung kelihatan dua orang tani, yang mau pergi ke sawah, mereka ini telah dapat lihat itu ibu dan anak, mereka mandek sebentar, akan menoleh ke sekitarnya, lantas mereka jalan terus.

Yan Toa Nio cepatkan tindakannya

"Jiewie lauwko, tunggu sebentar!" nyonya kita memanggil. "Tunggu, aku hendak minta sedikit keterangan."

Selagi dua orang tani itu berhenti bertindak, si nyonya hampirkan mereka.

"Aku numpang tanya apa di dekat-dekat sini ada selat Haytong-kok?" ia tanya. Orang yang ditanya agaknya melengak, ia menoleh pada kawannya, yang pun kelihatannya tercengang, tetapi lekas juga ia berpaling pada nyonya kita.

"Kami tidak tahu di mana letaknya Haytong-kok," ia menyahut. "Ada apa nyonya cari selat itu?"

"Kami berdua mau sambangi sanak kami," jawab Yan Toa Nio. "Sanak kami itu tinggal di Haytong-kok, sudah lama kami tidak pernah datang, dari itu kami lupa di mana adanya Haytong-kok itu. Jalanan mana kami mesti ambil?"

Mendadak orang tani itu tertawa.

"Mestinya kau salah ingat, nyonya!" berkata ia kemudian. "Tentang namanya Haytong-kok, kau tidak menyebut keliru, yang salah adalah sangkaanmu. Di dalam itu selat tidak bisa ada orang yang tinggal! Lebih baik nyonya jangan lelahkan diri lagi, selat itu kau tidak nanti dapat cari!"

Yan Toa Nio lantas menduga jelek, karena perkataannya itu orang ada putar balik.

"Orang tidak ketahui jelas, buat apa tanya melit- melit," kata Leng In, yang tidak sabaran. Ia tahu pasti yang orang-orang tani itu tidak sudi bicara. "Bisa jadi kita yang keliru, mari kita cari ke lain jurusan...." Yan Toa Nio mengerti maksud puterinya.

"Terima kasih, jiewie," ia kata seraya manggut pada dua orang itu.

Orang tani itu putar tubuhnya, akan lanjutkan perjalanan mereka ke sawah, tetapi baru sepuluh tindak lebih, mereka sudah menoleh pula ke belakang, terus sampai dua kali.

Yan Toa Nio dan Leng In lihat sikap orang, mereka tidak mengambil peduli, malah sambil tunduk, mereka jalan terus, menuju ke kampung.

"Ibu, terang dua orang itu tahu Haytong-kok tetapi mereka tidak mau kasih tahu," kata Leng In, setelah mereka jalan jauh, tapi ia bicara dengan pelahan. "Bisa jadi mereka ada sangkutannya dengan Kangsan-pang. Aku percaya sekalipun di dalam kampung, kita bakal tidak peroleh apa-apa. Mestinya itu selat berada di dekat sini."

Yan Toa Nio manggut, ia setujui dugaan anak itu. Mereka sudah mendekati kampung. Melihat rumah-

rumah, terang di situ kebanyakan ada tinggal orang-

orang miskin. Dari mencilnya rumah-rumah, terang kampung itu bukan dari suatu pamili. Rumah-rumah ada beberapa puluh, kebanyakan tidak dengan pekarangan depan atau ceracapan.

Dari sebuah rumah, yang dikurung dengan pagar, kelihatan muncul seorang perempuan tua bersama satu bocah perempuan, pakaian mereka sudah tua. Bocah itu, dengan sebatang kayu, ada menggebah tiga ekor kambing. Si orang tua mengawasi sambil berhenti berdiri di muka pintu.

"A Lan, hati-hati!" kata nyonya tua itu. "Jaga supaya kambing kita tidak melintas ke sawah dan kebunan, nanti orang usil mengatakan kita "

Yan Toa Nio hampirkan orang tua itu. "Selamat pagi, encie!" ia berkata. "Aku numpang tanya, apa di sini ada tempat atau selat yang dipanggil Haytong-kok?"

Nyonya itu mengawasi kedua tetamunya dengan bergantian, ia unjuk roman kaget atau curiga.

"Nama tempat itu asing sekali bagi aku," ia menyahut kemudian, dengan suara tidak lampias, "boleh jadi itu bukan terletak di sini... aku belum pernah dengar. "

"Pada kira-kira lima atau enam tahun berselang, kami pernah datang kemari," terangkan Yan Toa Nio, "kami tahu letaknya Haytong-kok ada di sini tetapi kami sudah lupa di sebelah mana Encie tinggal di sini, mengapa

encie tidak tahu? "

Mukanya si nyonya tua menunjukkan roman likat. "Harap nyonya tidak tertawakan aku " kata ia

kemudian. "Kami ada orang-orang desa, benar kami terlahir di sini, tetapi kami tidak pernah mengisar jauh dari sawah dan kebun kami, jangan kata tempat yang jauh, tempat di sekitar bukit ini saja aku belum pernah pergikan Boleh jadi ayahnya si A Lan tahu, sayang ia

tidak ada di rumah.... Coba nyonya tanya orang lain....

Kalau nyonya tidak katakan aku seorang tua yang doyan omong, andaikata tidak ada urusan sangat penting, baiklah nyonya jangan capaikan hati terlebih jauh.

Daerah sekitar kami ini ada sangat tidak aman, sampai kita sendiri, untuk cari kayu, tidak berani pergi ke bukit "

"Ada ancaman bahaya apakah di sini?" Yan Toa Nio tegasi. "Paling juga ada gangguan dari serigala " "Aku sudah bicara, nyonya. Aku sudah tua, kalau aku mau bicara sama kau, tentu dengan maksud baik."

Leng In kutik ibunya.

"Terima kasih, uwa," ia kata. "Baiklah kami nanti pergi ke lain tempat saja."

Nyonya tua itu tidak menjawab, hanya ia ngoceh sendirian, "Satu nona yang elok di kampung kita tidak ada yang bisa tandingi "

Yan Toa Nio haturkan terima kasih pada si nyonya, ia ajak anaknya berlalu, baru saja mereka jalan belasan tindak, atau mereka dengar si orang tua kata pada mereka.

"Kau orang berdua baiklah percaya aku. Di daerah ini tidak ada Haytong-kok. Jangan kau orang jalan asruk- asrukan ke sekitar bukit ini. Aku bicara dengan sejujurnya, dengan maksud baik "

Lantas terdengar ia menghela napas.

Yan Toa Nio pandang puterinya, lantas berdua mereka bersenyum. Mereka berpura-pura tidak mendengar, mereka jalan terus. Sebentar kemudian, mereka sudah berada jauh juga dari kampung itu.

"Kau lihat ibu!" kata Leng In. "Terang Haytong-kok berada di bilangan ini. Penduduk sini ada orang-orang miskin, mereka tentu berada di bawah ancaman atau pengaruh, maka mereka tidak berani banyak omong. Mereka ini adalah bangsa lemah, sebaliknya pihak Kangsan-pang ada bangsa galak, bisa dimengerti yang mereka ini takut "

Yan Toa Nio manggut, ia benarkan anaknya itu. Mereka sekarang menuju ke mulut bukit. Mereka terbenam dalam kesunyian. Begitu lekas mereka bertindak masuk di mulut jalanan, mereka tidak lihat lagi rumah orang. Malah sebaliknya, jalanan ada sukar.

Kereta pasti tidak bisa lewat di situ. Di kiri dan kanan ada banyak pepohonan, penuh dengan rumput tebal dan oyot.

Setelah melalui kira-kira setengah lie, Toa Nio dan Leng In lihat di depan mereka, di tepi jalanan, ada berdiri dua orang lelaki, semua dengan pakaian ringkas, tapi tangan mereka tidak menyekal senjata, usia mereka kira- kira tigapuluh tahun.

Mereka ini terus mengawasi

Toa Nio dan anaknya jalan terus, sampai mereka telah datang dekat.

"Kau orang mau pergi ke mana?" tiba-tiba salah seorang menegur. "Jangan maju lebih jauh!"

Yan Toa Nio hentikan tindakannya, ia awasi itu dua orang.

"Kenapa kita dilarang maju?" ia tanya.

"Jangan keliru mengerti, nyonya," kata orang yang satunya "Kita cegah kau orang dengan maksud baik. Mustahil kau orang hendak antarkan diri ke mulut harimau?"

"Tolong kau kasih keterangan lebih jelas, aku tidak mengerti," kata Yan Toa Nio.

"Bukit ini tidak aman," menyahut orang yang kedua itu. "Entah dari mana datangnya, di sini ada mengeram banyak binatang liar, malah di waktu siang, mereka berani muncul akan ganggu orang. Kita semua ada pemburu, di sebelah depan sana kita telah gali lubang- lubang jebakan, yang diperlengkapi dengan kawat-kawat. Kita ingin tangkap semua binatang liar di sini, supaya selanjutnya tidak ada lagi gangguan bagi orang-orang yang berlalu lintas. Kau orang ada orang perempuan, cara bagaimana kau orang bisa jalan di sini? Silakan kau orang kembali!"

"Terima kasih, tuan-tuan," berkata Yan Toa Nio, yang tadinya membelar. "Kalau kita tidak ambil ini jalan artinya kita mesti mutardan buang-buang banyak sekali tempo, mungkin berhari-hari, itu ada terlebih hebat bagi kita.

Harap kau orang tak usah pedulikan lagi pada kita, kita ada punya kebisaan, barangkali kita tidak sampai kena diganggu binatang liar!"

Setelah kata begitu, Yan Toa Nio sengaja lantas bertindak.

"Kau benar aneh, nyonya!" kata pemburu itu. "Kita benar-benar bermaksud baik, kenapa kau tidak sudi dengar kita? Kita orang ada terdiri dari belasan saudara, untuk atur perangkap, kita sudah korbankan modal dan tenaga, kalau sekarang kau orang ambil ini jalanan, apa kau orang tidak jadi rugikan kita? Bagaimana kau sanggup ganti kerugian itu? Baik kau mundur, nyonya. Kau harus ketahui, kecuali lubang jebakan, kita pun ada atur jepretan panah, maka apabila kau tidak sayang diri, pergi kau maju terus, nantinya jangan kau sesalkan kita! "

Yan Toa Nio tersenyum.

"Kau orang tidak pakai aturan, tuan-tuan," ia kata. "Melulu untuk kau orang tangkap binatang alas, lantas ini jalanan kau tutup untuk umum! Aku tidak percaya pada gangguan binatang liar itu, kita mau maju juga!"

Kedua pemburu itu mundur, mereka bersenyum sindir. "Benar-benar kau aneh, nyonya! Belum pernah kita

kenal perempuan kepala batu seperti kau! Kita sudah kasih nasehat, kau orang mau memaksa antarkan jiwa, karena kau orang sudah bosan hidup, jangan kau nanti sesalkan orang! "

Lantas saja berdua mereka lompat mundur, naik ke tempat yang tinggi.

Yan Toa Nio dan puterinya sudah siap akan buka tindakan mereka tatkala dari sebelah depan, muncul dari tikungan seorang yang lari-lari sambil berseru, "Nyonya, jangan bikin orang mendongkol! Mereka ini bermaksud baik! Jiewie, silakan mundur! Mari kita orang bicara dengan cara baik! Menolong satu jiwa ada lebih menang daripada mendirikan menara tujuh tingkat, tapi kalau kita celakakan orang, ia pun setan tidak mau pergi! "

Suara itu ada luar biasa. Si kedua pemburu, yang niat undurkan diri ke dalam rimba, jadi berdiri diam. Dan nyonya kita, yang mau bertindak, jadi tunda dahulu niatannya, sebaliknya, bersama puterinya, ia mengawasi.

Orang yang lagi mendatangi itu telah berusia tujuhpuluh lebih, tubuhnya kecil tetapi jangkung, mukanya kurus, alisnya panjang melewati ujung mata, sedang kumis dan jenggotnya, yang panjang setengah kaki lebih, sudah putih semua. Ia pakai baju biru dengan celana kutung, kakinya hanya memakai sepatu rumput, betisnya dibiasakan telanjang. Ia terus berlari-lari hingga, ketika ia sampai, napasnya ada tersengal-sengal. Yan Toa Nio dan gadisnya diam mengawasi, kedua pemburu itu agaknya heran.

"Jiewie lauwko, mari turun," kata si orang tua, yang dandan sebagai satu nelayan. "Aku si tua bangka ini ada seorang yang usil, yang suka campur tahu urusan lain orang "

Dua pemburu itu menurut, mereka loncat turun dan menghampirkan.

Yan Toa Nio lihat gerakannya dari pemburu itu, yang terang ada punya kepandaian, maka mereka mestinya bukan pemburu-pemburu biasa saja. Ia menduga orang- orang itu dari Kangsan-pang.

Dua orang itu lantas awasi si orang tua, dari atas ke bawah.

"Orang tua, kau bikin apa?" lantas satu di antaranya menanya. "Kenapa kau justru datang dari atas bukit?"

"Jiewie menjaga di mulut jalanan, kenapa jiewie tidak lihat aku lewat?" orang tua itu balik tanya. "Baru saja satu jam kira-kira yang aku bulak-balik di sini, aku kembali karena aku ketemu batunya! Barusan aku baru sampai di mulut tikungan ketika aku dengar pertengkaran kau orang, maka aku datang untuk mendamaikan "

Lantas ia menoleh pada Yan Toa Nio, sambil manggut, ia kata terus, "Nyonya aku harap kau suka dengar orang punya omongan. Jalanan ini benar-benar tidak bisa dilalui, di sebelah dalam, semua ada lubang-lubang jebakan, siapa kejeblos jatuh karena tidak berhati-hati, untungnya luka, celakanya binasa. Dua saudara ini telah menjadi satru-satrunya binatang-binatang alas, asal saja mereka saling dapat lihat, kendati baru bayangannya, mereka lantas tidak saling mengasih hati! Begitulah aku si tua bangka, barusan hampir-hampir aku antarkan jiwaku, maka itu, aku tidak kesudian menghadapi bahaya lagi! Maka, nyonya, baik kau ambil lain jalanan, jangan kau jalan di sini. "

Kembali ia menoleh pada dua pemburu itu.

"Jiewie lauwko, ucapanku benar atau tidak?" ia tanya. "Di dalam ini bukit ada sembunyi sama sekali makhluk- makhluk yang berbulu yang hatinya malang melintang, maka juga, seorang baik-baik, siapa kesudian bersatru sama segala binatang liar? Jiewie lauwko, kau orang lelah, terima kasih! Kita orang memang tidak mau permainkan jiwa kita Nyonya, apa kau tidak mau

lekas-lekas berlalu dari sini?"

Sembari kata begitu, orang tua ini bertindak pergi, selagi ia lewatkan si nyonya, ia kedipkan matanya, kemudian, dengan tidak menoleh lagi, ia berjalan terus.

Kedua pemburu merasa heran dan curiga menampak kelakuan sebagai orang edan atau tolol dari si orang tua itu, tetapi karena orang itu sudah lantas berlalu, mereka tidak ambil tindakan apa-apa.

Yan Toa Nio sementara itu bisa menduga maksudnya si orang tua, ia tidak mau kukuhkan sikapnya barusan, sambil berpaling pada anaknya, ia kata, "Mari, nona! Si orang tua barusan telah ketemu batunya, kita juga baik jangan cari penyakit. Masa jalanan cuma di sini? Mari kita kembali!"

Dengan tidak tunggu jawaban, nyonya kita lantas putar tubuhnya dan pergi. Di saat ibu dan anak itu memutar tubuh, kedua pemburu kasih dengar mereka punya tertawa menyindir, tetapi Yan Toa Nio dan anaknya tidak ambil mumet, mereka terus berjalan pergi, akan susul dan cari si orang tua. Untuk keheranan mereka, melihat tidak ada orang di sekitar situ, sedang di situ tidak ada pohon-pohon atau gombolan rumput yang lebat di mana orang bisa umpatkan diri.

"Apakah benar ia bisa jalan cepat luar biasa?" pikir nyonya kita. "Leng In, mari!"

Mereka telah jalan terus sampai di tepi sungai di mana ada tertambat perahu mereka.

"Orang tua tadi ada aneh," kata Toa Nio pada anaknya. "Selagi ia lewat di sampingku, terang ia ada kedipkan mata. la seperti telah ketahui maksud kita. Ke mana ia pergi sekarang? Kita mesti cari padanya! "

Mereka berdua di pantai, mata mereka celingukan.

Tiba-tiba, beberapa tombak jauhnya, di antara gombolan telaga, mereka dengar suara air yang tergayuh.

"Ia rupanya naik perahu!" kata Leng In.

Yan Toa Nio memandang ke jurusan dari mana suara itu datang, ia lantas tampak munculnya sebuah perahu kecil, yang laju ke jurusan udik, tetapi penumpangnya, satu orang, sukar buat dikenali, karena satu tudung yang lebar ada menutupi kepalanya, hanya, samar-samar, dia itu seperti si orang tua tadi.

"Mari kita susul padanya!" kata Yan Toa Nio kemudian. Maka, berdua, ibu dan anak ini, lantas kasih kerja penggayuh mereka. Perahu mereka laju pesat, tetapi perahu di depan sukar untuk dicandak. Dengan lekas mereka sudah lalui dua atau tiga lie, tetapi jarak mereka satu pada lain tetap ada empat atau lima tombak jauhnya.

"Mustahil kita berada di sebelah dianya?" kata Yan Leng In, yang penasaran. "Mari kita susul dan lewatkan padanya, akan lihat dia sebenarnya ada orang macam apa!"

Yan Toa Nio tidak menjawab, hanya penggayuhnya, yang bekerja terlebih cepat.

Perahu di depan mengkol di satu tikungan, dari situ tujuan ada sebuah pesisir di mana ada tumbuh banyak pohon yangliu. Kelihatan darat di situ ada sebuah kampung kecil.

Selagi Yan Toa Nio berkutet sama penggayuhnya, perahu di depan sudah berlabuh dan penumpangnya telah naik di gili-gili, tapi, sekarang nyonya kita sudah bisa lihat dengan pasti, itu orang adalah si orang tua tadi!

Sebenarnya Yan Toa Nio hendak teriaki itu, tatkala si orang tua menoleh ke belakang, kepalanya digoyang- goyang, tangannya menunjuk ke depan di mana ada rumah orang. Karena ini, nyonya itu batalkan niatannya. Ia bisa menduga bahwa ia telah disuruh menyusul ke darat.

"Ibu, ia kelihatannya aneh sekali," kata Leng In. "Ia kasih tanda supaya kita susul ia, apa kita boleh turut tanda-tandanya itu?" Yan Toa Nio manggut.

"Sikapnya ada luar biasa tetapi romannya ada baik, ia mestinya bukan anggota lawan kita," kata si ibu. "Entah ia ada kandung maksud apa Mari kita ikuti padanya,

tidak usah kita takut "

Yan Leng In turut ibunya, sesudah tambat perahu mereka, mereka lompat ke darat, bertindak mengikuti jurusannya si orang tua. Kampung di situ terdiri dari kira- kira empatpuluh buah rumah dan mereka kebanyakan ada dari pamili nelayan, sebagaimana hampir di setiap depan atau samping rumah ada, dijemur jala atau jaring atau lain-lain pesawat buat menangkap ikan. Keadaan sunyi, dan ada sedikit orang tampak mundar-mandir di luar rumah.

Seorang tua kelihatan bertindak ke pintu pagar dari suatu rumah dan di muka pintu ia berdiri, lantas Yan Toa Nio dan anaknya maju meng-hampirkan orang itu, siapa mendahului manggut seraya terus mengundang.

"Jikalau kau orang berdua, ibu dan anak tidak curigai aku, silakan masuk," kata ia dengan manis.

Yan Toa Nio unjuk hormatnya.

"Kita orang belum lagi kenal, aku malu akan ganggu kau, loo-jin-kee," ia kata. "Apa loo-jinkee sudi perkenalkan dirimu dan menerangkan apa sebabnya maka kau telah ajak kita berdua datang kemari?"

Orang tua itu bersenyum.

"Toanio, janganlah dahulu tanya aku punya she dan nama," ia menyahut. "Dengan sebenarnya, aku tidak kenal kau orang ibu dan anak, tetapi satu orang telah terangkan hal kau orang kepadaku dan ia pesan aku agar aku setiap waktu bisa bantu kau di mana yang perlu.

Orang itu inginkan aku mencegah kau orang terjatuh ke dalam akal muslihatnya itu orang-orang yang serong hatinya."

"Aku mohon janganlah loo-jinkee bersangsi buat segera omong terus terang kepadaku," Yan Toa Nio berkata pula "Siapa itu orang, yang pesan agar loojinkee bisa membantu kita ibu dan anak?"

Orang tua itu tolak pintu pagar.

"Apakah toanio kenal Lim Siauw Chong dari Kiushe Hiekee?" ia tanya dengan perlahan.

Melihat orang bicara begitu perlahan, Yan Toa Nio hanya manggut.

"Aku ada Tan Ceng Po," kemudian si orang tua perkenalkan diri. "Kau tentu percaya bahwa terhadap kau orang berdua, aku tidak ada kandung maksud jelek "

Mendengar nama itu, Toa Nio dan gadisnya terperanjat, malah si nyonya segera unjuk hormatnya.

"Oh, kiranya Tan loo-cian-pwee!" ia kata. "Loo- cianpwee, maafkanlah kita berdua, ibu dan anak, yang seperti tidak punya mata "

Si orang tua tidak kata apa-apa, ia hanya bertindak masuk, maka ibu dan anak itu lantas mengikuti. Mereka hampirkan rumah, yang terdiri dari tiga ruangan, yang di samping ada kecil. Di paseban, semua ada bersih dan terawat baik.

Sesampainya di muka pintu, terdengar Tan Ceng Po berkata, "Cukat loosu, kau lihat, perjalananku ternyata tidak sia-sia belaka! Kau lihat, aku berhasil mencari mereka ibu dan anak!"

Dari dalam rumah sudah lantas terdengar suara orang menyahut yang diikuti dengan tindakan kaki yang berjalan keluar, tetapi sebelum orang itu muncul, Yan Toa Nio punya hati telah terbuka, karena ia telah menduga, orang di dalam rumah itu mestinya ada Souwposu Cukat Pok, salah satu orang gagah yang ia telah ketemui di dalam Giokliong-giam Hiecun.

Lekas juga Cukat Pok muncul dari ruangan sebelah timur, karena Yan Toa Nio pun terus bertindak masuk, mereka telah bertemu di thia.

"Cepat sekali kau orang datang!" kata Cukat Pok. "Toanio, aku kagum sekali untuk kesehatan kau orang! Karena kau bisa datang begitu cepat, kau tentunya telah ketahui juga halnya Kangsan-pang telah pindahkan pusat mereka di Gocu-mui."

"Cukat loosu, kau benar ada satu kuncu!" Yan Toa Nio pun memuji. "Kita ibu dan anak ada sangat berterima kasih pada kau, yang telah bikin perjalanan begitu jauh datang kemari untuk membantu kita!"

"Jangan sungkan, toanio," Tan Ceng Po campur bicara. "Cukat jietee-ku ini memang ada orang yang paling boleh dipercaya di dalam kalangan Rimba Persilatan kita! Jangan kata orang-orang yang menjadi sahabatnya Lim sutee-ku, sekalipun lain orang, di mana yang perlu, ia tentu akan angsurkan tangannya! Silakan toanio berdua duduk, mari kita orang bicara!"

Toa Nio merasa ketarik sama caranya thia itu diperlengkapi, semua dengan sederhana, kursi meja ada lengkap dan bersih. Ia dan anaknya menghaturkan terima kasih, baru ia ambil tempat duduk.

"Tadi malam aku pergi ke Han-kee-cee akan coba bikin penyelidikan," kata tuan rumah kemudian, "kebetulan sekali aku dapatkan toanio sedang menguntit perahunya anggota Kangsan-pang. Sebenarnya di sha- cee-kauw, pihak Kangsan-pang sudah siap untuk turun tangan, hanya tidak secara berterang, mereka mau suruh saudara-saudara mereka yang pandai berenang dan selulup bekerja dari dalam air, agar kau orang ibu dan anak bisa merasai pahit getir, agar dengan begitu, mereka bisa perlihatkan pengaruh mereka. Tapi aku telah rintangkan mereka itu. Mulut jalanan gunung, yang toanio hendak masuki, memang ada jalanan buat pergi ke selat Haytong-kok, hanya, buat sampai ke lembah, perjalanan masih ada belasan lie. Ketika Pian Siu Hoo berhasil menduduki itu lembah, beberapa penduduk situ ia telah usir, dengan begitu di sepanjang jalan ia merdeka mengatur penjagaan-penjagaan. Sementara ini, Pian Siu Hoo masih belum niat ketemui toanio berdua. Ia sudah pikir, pertemuan ini kali ada pertemuan untuk penghabisan kali: ia lebih suka batu dan kumala terbakar habis sama-sama! Ini juga sebabnya kenapa pusatnya dipindahkan ke dalam Haytong-kok. Untuk membantu ia, ia sudah undang beberapa orang ternama dari kalangan Sungai Telaga. Karena itu, toanio, pasti ia tidak mau sembarangan ijinkan kau lancang masuk ke dalam lembahnya. Inilah sebabnya juga, kenapa aku cegah kau orang punya niatan melanggar bahaya. Cukat jietee datang kemari atas kehendaknya Lim sutee-ku, agar aku diberitahukan duduknya perkara, supaya aku bisa sekalian bantu kau. Tidak melainkan kau orang ibu dan anak yang bermusuhan sama Pian Siu Hoo, juga kita dari pihak Kiushe Hiekee, sebab ini ada soal mati hidup dari pihak kita. Urusan Giokliong-giam Hiecun jadi bisa dipakai alasan untuk sekalian bereskan urusan Hucu- kang. Selama pihak Kangsan-pang masih hidup, sukar pihak Kiushe Hiekee berdiri dengan tenteram. Maka, toanio, aku undang kau datang kemari, untuk kautunda dahulu tindakanmu. Sekarang aku sudah undang berkumpul beberapa orang yang bisa diandalkan dari pihak Kiushe Hiekee, kalau nanti mereka sudah kumpul semua, aku hendak tantang Kangsan-pang akan tetapkan suatu tanggal guna kita orang lakukan suatu pertarungan yang memutuskan, untuk mati atau hidup kita! Perkara tempat, Kangsan-pang boleh pilih iapunya lembah Haytong-kok. Pian Siu Hoo seorang tidak usah dibuat kuatir, bukannya aku Tan Ceng Po takabur, aku tidak pandang mata padanya, hanya "apa yang mesti dipikirkan adalah beberapa orang kawannya, yang berdiri di belakangnya. Jikalau mereka semua dapat diundang kumpul di Haytong-kok, benar-benar kita orang mesti berlaku luar biasa hati-hati. Dengan kumpulnya mereka, tidak saja urusan kau sendiri bisa gagal, toanio, juga urusan kita. Dari itu sekarang, sebelumnya kita turun tangan, aku ingin cari tahu dahulu kekuatan pihak Kangsan-pang, kemudian baru kita bisa pikirkan daya upaya akan hadapi mereka."

"Terimah kasih, loo-cianpwee," kata Yan Toa Nio, yang tidak sangka bahwa urusan telah berubah menjadi hebat demikian rupa. "Kalau dalam urusan membalas sakit hati kita tidak punya harapan, kita ibu dan anak malu akan hidup lebih lama, maka kita pikir, biarlah Haytong-kok merupakan tempat di mana kita dapat kepastian, mati atau hidup! Hanya di sini aku hendak tegaskan, baiknya kita bekerja sama-sama, janganlah urusan kita kedua pihak digabung menjadi satu, aku ingin cari sendiri pada Pian Siu Hoo, untuk bereskan perhitungan kita sendiri!"

Tan Ceng Po goleng kepala.

"Dalam hal ini, jangan Toa Nia terlalu berkukuh," ia kata. "Kau harus mengerti, kau orang tetap ada turunan dari Kiushe Hiekee, maka urusan adalah urusan kita sama-sama. Kau mau membalas sakit hati, kita mau membela diri, perbedaan sebenarnya tidak ada, sebab yang kita bakal hadapi ada Pian Siu Hoo satu orang.

Adalah sudah selayaknya kita satrukan Pian Siu Hoo, kesatu ia sudah tidak pegang aturan, kedua ia telah minta bantuan pihak luar untuk celakakan kita "

Tan Ceng Po masih hendak bicara terus, ketika dari luar ia dengar teguran, "Tan loo-suhu! Kita telah datang, kenapa kau kunci pintu dan tidak mau sambut kita? Kau benar berlaku tidak pantas! "

Mendengar itu, Tan Ceng Po unjuk roman kaget berbareng girang.

"Kebetulan sekali kau orang datang!" kata ia pada Toa Nio dan puterinya. "Sekarang aku hendak pertemukan kau pada seorang yang kau orang niscaya tidak sangka bisa bertemu! Ia ada seorang yang juma-wa luar biasa, kita orang mesti papak padanya "

Yan Toa Nio dan anaknya berbangkit, ia percaya ucapannya ketua dari Kiushe Hiekee itu meskipun ia belum tahu siapa adanya si tetamu yang katanya jumawa itu. Malah Cukat Pok juga turut berbangkit, akan bikin penyambutan.

Biar ia merasa heran buat sikapnya tuan rumah dan tetamu, Yan Toa Nio mengerti bahwa memang di kalangan Sungai Telaga ada banyak orang-orang pandai luar biasa, baik karena kepandaiannya, maupun karena sifat atau adat tabiatnya. Orang-orang pandai itu biasa umpatkan diri dan tidak pernah muncul kalau tidak pada saatnya.

Di luar, malah di luar pagar, ada berdiri satu pengemis tua, pakaiannya banyak tambelannya, banyak lubangnya, dan kedua kakinya ada telanjang. Kelihatannya ia sudah berusia enampuluh lebih. Sebagai pengemis, tidak heran kalau ia bertubuh kurus kering. Hanya sepasang alisnya ada panjang dan dua biji matanya yang bundar, ada bersorot tajam. Pada kedua lengan dan kakinya, kelihatan nyata urat-urat yang kasar. Ia ada cantel sebuah kantong di pinggangnya, dua kantong lain tergantung di pundak kiri dan kanan, dan tangannya menyekal sebatang toya pendek- Apa yang menarik perhatian adalah ia tidak bertubuh lemah atau reyot, dan pakaiannya meski compang-camping tapi bersih.

Begitu sampai di luar, Tan Ceng Po lantas lari menghampirkan pengemis itu, kelihatannya ia menyambut dengan luar biasa girang, dengan cara yang menghormat sekali.

"Hoa loosu!" Ia berseru. "Bagaimana kau senggang hingga kau telah datang pada tempatku yang cupat ini? Aku heran, kenapa aku sama sekali tidak mendapat ketahui tentang kedatanganmu ini!"

Pengemis itu pentang matanya lebar-lebar. "Jangan kau main-main sama aku, eh.'" ia menegur. "Kau si nelayan tua, setiap hari kau bermain di air, membunuh pada sesama makhluk berjiwa, orang sebagai kau mana mau pandang mata padaku si pengemis miskin melarat? Tapi, aku adalah si orang yang senantiasa turuti kehendak hati sendiri! Umpama hari ini aku ada mempunyai kegembiraan mencari kau, itu tandanya aku hendak dahar segala apa kepunyaanmu, maka kau harus layani aku dengan baik-baik! Jikalau kau turuti kehendakku, segala apa menjadi beres sendirinya, kalau sebaliknya, awas, kau yang hidup di muka air, aku nanti congtie padamu, aku nanti bikin kau tidak akan peroleh kendati seekor ikan, aku akan bikin tidak ada ikan yang mau dekati jaringmu, hingga akhirnya kau si nelayan tua, akan mati karena jengkel! "

Ucapan itu ada hebat tetapi Tan Ceng Po tertawa berkakakan.

"Sahabat karibku, kau terlalu pandai bicara!" ia berkata. "Sahabatku di sini ada sahabat-sahabat lain, mari aku ajar kenal mereka kepadamu!"

"Nelayan tua, jangan kau sudi gawe! Aku si pengemis melarat, siapa yang mau hargakan? Aku hanya kenal kau satu tua bangka, kau jangan bikin aku jadi banyak cape hati! "

Cukat Pok, yang muncul di belakangnya Tan Ceng Po, lantas tertawa terbahak-bahak.

"Loo-cianpwee, kau benar-benar tidak memandang orang!" berkata ia dengan nyaring. "Apakah kau sangka tidak ada orang yang ketahui baik asal-usulmu? Loo- cianpwee, aku Cukat Pok, mataku tidak lamur! Loo- cianpwee, kenapa sih kau main-main terhadap kita?" Pengemis itu memandang pada Souwposu, ia lalu bersenyum.

"Oh, kiranya tuan yang mulia juga ada di sini!" ia berkata. "Maaf tuan, maaf, aku telah berlaku kurang hormat! "

Tan Ceng Po menyelak dengan berkata sambil tertawa, "Di kalangan Sungai Telaga orang juluki sahabatku ini si Pembalasan Cepat, maka sahabat karibku, sekarang kau telah terima pembalasanmu!"

"Nelayan tua, kau keliru!" sahut si pengemis tua. "Pembalasan datangnya dari Thian, tidak dari segala orang-orang kosen yang namanya tersohor dan termasyhur! Bangsa mereka itu tidak bisa urus segala sepak terjangku sendiri! Aku telah lepas kata-kata, selama aku hidup, aku tidak mau membikin hutang untuk di lain penjelmaan! Tapi sejak aku sadar sebagai manusia, aku tidak pernah mempunyai uang kendati juga satu bun! Sekarang, setelah makan umur enampuluh lebih, tetap langit dan bumi ada gubukku, empat lautan ada rumahku!"

Sampai di situ, Yan Toa Nio menghampirkan untuk unjuk hormatnya.

"Loo-cianpwee!" ia berkata.

Si pengemis mengawasi nyonya kita dan gadisnya dari atas sampai ke bawah.

"Nyonya, apakah kau hendak mengamal kepadaku karena kau melihat kemelaratanku?" ia tanya. "Tetapi sejak hidupku, aku ada punya semacam penyakit! Ialah aku tidak terima amalnya orang perempuan Sedang

kau pun niscaya tidak akan sanggup memberi cukup amal kepadaku! Aku si pengemis bangkotan tidak inginkan air thee restan dan nasi yang kelebihan! Aku

tidak inginkan uang, satu atau setengah bun! Maka baiklah kita orang ambil saja jalan kita masing- masing! "

Yan Toa Nio tidak berani kata apa-apa atas jawaban yang aneh itu. Sekarang Leng In yang maju akan unjuk hormatnya. Tapi si pengemis tidak mau membalas hormat, ia melainkan tertawa hihihihi!

Diam-diam Tan Ceng Po golengkan kepala pada ibu dan anak itu, agar mereka tidak menjadi kecele.

"Hoa loosu, silakan masuk!" ia mengundang.

Dengan tak menghaturkan terima kasih, dengan tindakan lebar pengemis itu berjalan masuk.

Yan Toa Nio merasa aneh bukan main, apabila tidak tetua dari Kiushe Hiekee mendahului memberi tanda padanya, ia niscaya sudah menjadi tidak senang hati.

"Siapa sebenarnya orang ini?" ia berbisik pada Cukat Pok. "Kenapa ia begini aneh?"

"Kau orang ibu dan anak harus bisa tahan sabar," Souwposu pun berbisik, "jagalah baik-baik agar kau orang tidak menyebabkan dia menjadi tidak senang atau gusar. Dalam urusan kita, jikalau kita orang bisa dapatkan bantuannya, dengan cepat kita orang akan mendapat kepuasan. Dia adalah orang yang di daerah Kanglam biasa dipanggil Kiongsin Hoa Ban Hie, si Malaikat Kemelaratan."

Yan Toa Nio berdiam atas keterangan itu. Sebagai orang kelahiran Kanglam, ia juga pernah dengar namanya si Malaikat Kemelaratan itu, cuma orangnya ia belum pernah lihat, sedang umurnya ia rasa ada kurang cocok dengan orangnya sendiri. Tempo ia masih muda, ia sudah dengar halnya orang berilmu ini, yang selalu bekerja dengan umpatkan diri dan segala perbuatannya selalu ada menggemparkan. Di sepanjang Tiangkang, di darat atau di air, kalau mendengar namanya Kiongsin, bangsa Rimba Hijau selamanya nenjadi sakit kepala tidak keruan, hingga kalau di antara mereka terjadi pertentangan, sampai namanya si Malaikat Kemelaratan dijadikan dato sumpah — ialah siapa yang bersalah, ia akan celaka di tangannya Hoa Ban Hie! Tapi waktu itu ia dengar Kiongsin sudah berusia setengah abad, maka sekarang, usianya si pengemis mestinya sudah delapan atau sembilanpuluh tahun, maka adalah aneh, menampak romannya, dia sekarang baru berumur kira- kira enampuluh tahun.

"Apakah ini tidak aneh?" demikian ia pikir.

Yan Leng In juga heran jika ia ketahui siapa adanya si pengemis ini, tapi seperti ibunya, ia juga tutup mulut serta masuk dengan tidak kata apa-apa.

Sesampainya di dalam, Hoa Ban Hie sudah lantas duduk menghadapi meja Patsiantoh, tongkatnya ia letaki di atas meja, dua kantongnya ia gabruki di atas kursi.

Tan Ceng Po sudah lantas datang dengan secawan thee, agar bisa letakkan cawan itu di mukanya si pengemis, dengan tangan kiri ia raba orang punya tongkat yang ia hendak geser. Tapi si pengemis segera tahan tangannya.

"Eh, nelayan bangkotan, kau hendak bikin apa?" ia menegur. "Apa boleh jadi kau berniat merampas bendaku dan mencelakakan jiwaku? Kau harus ketahui, tongkat untuk menggebuk anjing ini adalah benda semengga-mengganya dari aku si pengemis tua!"

Tan Ceng Po tarik pulang tangannya dengan cepat dan tertawa.

"Aku tidak kesudian kau punya benda ini!" ia berkata sambil bersenyum. "Aku hidup dari penangkapan ikan, aku bisa hidup terlebih mewah daripada kau! Kalau kau anggap benda ini sebagai mustika, aku tentu tidak berani langgar! "

"Sahabat, jangan kau pandang tongkatku ini sebagai barang permainan!" si pengemis pun tertawa. "Tongkatku ini, jika ia dapat dilihat oleh anjing gelandangan dari Kang-lam, anjing itu niscaya runtuh semangatnya! Sudah banyak kali aku taklukkan makhluk- makhluk jahat dan kejam, semua itu aku mengandal pada bendaku ini! Nelayan bangkotan, aku melihat yang sifatmu juga telah berubah, belum pernah aku melihat kau melayani tamu sebagai hari ini! Hari ini hari apa? Apa hari ini ada hari ulang tahunmu? Aku hanya dapat tenggak kau punya arak kegirangan tetapi aku tidak bisa mengantar bingkisan!"

Tan Ceng Po kembali tertawa.

"Tidak heran jika orang di kalangan Sungai Telaga bersakit kepala apabila mereka mendengar namamu!" ia berkata "Aku sendiri benar-benar takut padamu! Tapi, mari kita orang bicara terus terang! Ada urusan apa maka kau datang padaku di sini? Jikalau tidak ada sebabnya, tidak nanti kau kesudian berikan aku kehormatan dengan munculnya kau di sini!" Pengemis itu tertawa terbahak-bahak.

"Nelayan bangkotan, kau benar ketahui apa yang akan terjadi!" ia berkata. "Kau ternyata telah dapat tahu terlebih dahulu yang aku datang kemari untuk menegur padamu! Aku datang untuk tanya kau! Datangnya orang- orang ke Haytong-kok itu adalah atas panggilan-mu!

Kenapa mereka dirikan pusat mereka di sini? Kau tinggal di sini, tentunya kau telah berikan ijinmu! Maka itu, aku sengaja datang cari kau, karena tidak ada perlunya akan aku pergi cari sendiri pada mereka itu!"

Sambil jatuhkan dirinya di kursi, Tan Ceng Po menjawab teguran itu.

"Kalau benar untuk urusan ini kau datang padaku, terang kau terlalu menghina padaku si tua bangkai" ia berkata. "Haytong-kok bukannya lembah milikku sendiri! Aku tinggal dengan umpatkan diri di Ceng-coh-wa ini, aku masih belum tahu dari siapa aku dapat menyewanya, maka itu, cara bagaimana aku boleh usil akan campur tahu urusan lain orang!"

"Kau tidak bisa bicara secara demikian!" Hoa Ban Hie berkata dengan tawar. "Haytong-kok ada jalanan untuk aku mundar-mandir dan mereka justru dirikan pusat mereka di lembah itu! Lembah dan pusat itu berada dekat di depan kau, cara bagaimana kau boleh biarkan saja mereka malang melintang? Kenapa kau sedikit pun tidak mau campur tangan? Aku juga dengar, mereka sebenarnya ada dari rombongan perahu-perahu di dalam sungai, kenapa sekarang mereka justru lari ke gunung, akan mendirikan pusat mereka di darat? Di tanah datar orang kendarakan perahu, sampai umur begini punya tinggi, aku si pengemis tua belum pernah dengar atau lihat! Mereka seperti menjaga kau punya pintu, kenapa kau antap-kan saja?"

"Jadinya kau datang padaku untuk urusan ini?" Tan Ceng Po menanya. "Apa benar-benar kau tidak ketahui siapa yang kepalai pusat di Haytong-kok itu atau kau datang padaku melulu akan gertak-gertak aku?"

"Kau tahu sendiri, belum lama aku kembali dan aku tidak punya mata-mata atau juru kabar, dari itu, mana aku dapat ketahui urusan itu? Mereka seperti menjaga di muka pintumu, aku anggap adalah tidak bisa menjadi jikalau kau tidak mendapat tahu atau tidak diketahui siapa mereka itu! Toh ada gampang sekali bagimu untuk tanyakan keterangan pada mereka? Oleh karena itu, aku sekarang datang padamu "

"Kau benar juga, ya, kau tidak keliru," Tan Ceng Po kemudian berkata pula. "Mencari aku adalah terlebih gampang daripada mencari mereka itu! Mereka pindahkan pusatnya kemari belum ada sepuluh hari, tetapi sepak terjangnya ada dalam rahasia. Sejak setengah bulan yang lalu, mereka telah mundar-mandir kemari untuk atur persiapan. Aku pun merasa heran begitu lekas mendapat dengar perihal gerak-gerik mereka itu. Memang, di dalam kalangan Sungai Telaga ada banyak hal-hal yang aneh. Pada mulanya aku tidak ketahui mereka ada rombongan siapa dan dari mana mereka datang, karena itu, aku lantas cari keterangan. Mereka sebenarnya ada rombongan Tiathong-liong Pian Siu Hoo si Naga Besi yang tersohor dari Hucun-kang, ia telah pindahkan pusatnya di Gocu-mui. Ini benar-benar yang dibilang, tahun dan bulan bisa berganti macam!

Tidakkah itu ada aneh? Maka aku anggap, sepak terjang mereka itu mesti ada kandung maksud yang membahayakan."

"Toh kau bukannya tidak mampu mencari keterangan!" Hoa Ban Hie memotong. "Kenapa mereka pindah kemari? Apakah maksud mereka itu?"

"Aku sudah bikin penyelidikan, sampai sekarang aku masih belum bisa cari tahu maksud sebenarnya dari mereka itu," Tan Ceng Po jawab. "Di samping itu, rombongan itu tidak boleh dibuat permainan! Kenapa aku mesti usil? Kenapa aku mesti rintangi mereka pindahkan pusatnya kemari? Ada apa sangkutannya di antara mereka dan aku? Kenapa aku mesti campur urusan

iseng-iseng begitu macam?"

Kelihatannya Hoa Ban Hie jadi tidak sabar.

"Kau jangan bicara yang tidak ada kepentingannya dengan aku!" ia berkata. "Biarpun kau tidak ingin campur, kau harus campur juga! Biarpun kau tidak ingin menanya, kau toh harus menanya! Jikalau kau tidak gebrak pada mereka supaya mereka angkat kaki dari daerah ini, pasti di antara kita bakal ada perhitungan yang tidak dapat dibikin beres!"

"Dengan Tiathong-liong Pian Siu Hoo aku tidak bermusuhan atau berdendaman, kenapa aku harus adu jiwa dengan ia?" Tan Ceng Po tegaskan. "Kau ketahui sendiri, ia ada satu manusia yang sangat berbahaya! Di Hucun-kang ada berapa orang yang berani bentur padanya?"

Hoa Ban Hie mendelikkan matanya.

"Aku tidak pedulikan soal ada punya permusuhan atau tidak!" ia berseru. "Kangsan-pang berlaku begini tidak tahu aturan, kelakuan itu aku tidak sudi lihat! Ia harus diperintah lekas pindahkan pula pusatnya, kalau ia pindah, urusan dapat dibikin beres, kalau tidak, aku ingin lihat, cara bagaimana ia bisa tinggal berdiam dengan tenteram di Haytong-kok! "

Melihat orang mendongkol, Tongkouw Hiejin Tan Ceng Po tertawa dingin.

"Sahabat karibku, baiklah kau tahan dulu hawa amarahmu!" ia nase-hatkan. "Kau bilang, kau tidak ketahui kenapa Pian Siu Hoo telah pindahkan pusatnya kemari, tetapi sekarang kau bisa ketahui itu! Sebab dari itu ada sangkutannya dengan nyonya dan puterinya ini. "

Sambil berkata begitu, Tan Ceng P o menunjuk pada Yan Toa Nio dan Leng In.

Hoa Ban Hie awasi tuan rumah dan kemudian kedua tamunya yang perempuan itu, kemudian ia menoleh pula pada tuan rumah. "Apa kau bilang?" ia menanya. "Kenapa Pian Siu Hoo, karena ibu dan anak ini sampai mesti pindahkan pusatnya yang sudah turun menurun itu? Sahabat baik, kau perlu berikan keteranganmu padaku!"

"Kalau kau inginkan itu, Hoa loosu, aku bersedia akan berikan penjelasan," sahut Tan Ceng Po yang diam-diam menjadi girang sekali karena ia telah menangkan si pengemis tua yang masih bisa di-ogok-ogok. Dan ia tuturkan hal-ikhwalnya ibu dan anak itu yang mempunyai sangkutan hebat dengan Pian Siu Hoo. Hoa Ban Hie geprak meja apabila ia telah mendengar semua, sehingga tongkatnya terpental tinggi dan jatuh pula ke atas meja dengan menerbitkan suara keras.

Adalah karena bantingan itu, Yan Toa Nio dan gadisnya sekarang mendapat tahu yang tongkat itu ada terbikin dari bahan logam, sedang tadinya mereka tidak menyangka, karena romannya tidak mengutarakan itu.

"Pian Siu Hoo dari Kangsan-pang ada satu laki-laki dari Hucun-kang, kenapa sekarang ia menjadi begitu pengecut?" ia berkata dengan sengit. "Kenapa melulu karena desakannya orang perempuan ia harus pindahkan pusatnya dari air ke darat? Ia sungguh membikin suram mukanya jago-jago sungai!"

Yan Toa Nio dan Yan Leng In terperanjat di dalam hati apabila mereka dengar suaranya pengemis tua itu.

Bukankah dengan ucapan itu, Hoa Ban Hie utarakan tidak puas bagi sikapnya Pian Siu Hoo? Apakah ia mempunyai hubungan dengan si Naga Besi?

Syukur bagi ibu dan anak itu, mereka sudah lantas mendengar terlebih jauh orang punya ucapan lanjutan.

"Kalau begitu, Pian Siu Hoo pindahkan pusatnya tentu dengan kandung maksud," demikian katanya.

Tan Ceng Po tonjolkan jempolnya di mukanya si Malaikat Kemelaratan.

"Sahabat karibku, dugaanmu cocok!" ia berkata separuh mengejek dan separuh memuji. "Setelah pindah, Pian Siu Hoo sudah lantas atur penjagaan di Haytong- kok, hingga sekarang Seantero jalanan gunung yang kita kenal itu seperti juga telah diduduki olehnya. Sekarang ia telah kirim surat undangan pada semua sahabatnya di sepanjang sungai Tiangkang dan sahabat-sahabat lainnya, dengan siapa saja yang ia semulanya telah berkenalan. Di lembah Haytong-kok ia sedang menantikan Toa Nio dan puterinya ini supaya ibu dan anak lemparkan diri ke dalam jaring jebakan. Celakanya, ia juga rembet-rembet kaumku dari Kiushe Hiekee!

Tindakannya ini ada liehay sekali! Terang Pian Siu Hoo hendak menjadi di atas sungai, atau kalau ia gagal, ia akan tetap tancap kaki di darat, karena ia telah punyakan Haytong-kok ini. Gagah berani adalah ibu dan anak ini, sayang mereka masih kurang pengalaman, karena mereka berani lancang datang ke Haytong-kok tanpa persiapan, maka itu tadi aku telah cegat mereka dan lantas ajak pulang kemari. Lihatlah, sahabatku, apa kau boleh pandang enteng pada sepak terjangnya Pian Siu Hoo sekarang ini? Sekarang tidak bisa lain, aku harus bersiap untuk maklumkan perang kepadanya!"

Berulang-ulang Hoa Ban Hie memperdengarkan suara di hidungnya. "Dengan sikapmu ini, nelayan bangkotan, kau mengunjukkan dirimu tidak seharusnya menjadi satu sahabat!" ia berkata. "Kau nyata sudah gunai alat muslihat terhadap aku! Kau ternyata mempunyai sangkutan dengan urusannya Toa Nio ini! Perbuatannya Pian Siu Hoo ada melintasi garis dari kaum Sungai Telaga, maka selama aku si pengemis tua masih hidup dalam dunia, aku tidak akan perkenankan orang semacam dia berpencak silat di hadapan mataku! Ia hendak kendalikan semua coanpang di atas dan bawahan Tiangkang? Sungguh besar cita-citanya, sungguh besar nyalinya! Sekalipun aku si pengemis tua yang sudah beberapa puluh tahun malang melintang, masih belum berani mengharap seperti apa yang ia idam-idamkan! Sudah lama aku tidak main-main, maka sekarang aku ingin pentang lagi mataku, aku ingin tengok macamnya orang-orang Kangsan-pang atau kawan-kawan mereka yang berkumpul di Haytong-kok! Eh, nelayan bangkotan, apa yang kau hendak berbuat sekarang?"

"Aku hendak pentang lahar di hadapan Pian Siu Hoo," sahut Tan Ceng Po dengan adem. "Aku ingin hadapi ia secara terus terang! Tidakkah ini ada menarik hati?"

"Tetapi aku tidak pikir demikian, sedikitnya untuk permulaan," Hoa Ban Hie berkata. "Lebih dahulu aku hendak permainkan pada mereka, supaya sebagai anjing atau ayam, mereka nanti merasakan tidak tenteram di hati, supaya mereka bisa buka matanya dan melihat!

Sesudah itu barulah kita orang nanti hadapi ia depan berdepan, guna mendapatkan, kepastian siapa menang dan siapa kalah! Nelayan tua, bagaimana pikiranmu?"

"Sahabat karib, kalau kau anggap itu cocok, aku bersedia akan iringi kau!" sahut Tonglouw Hiejin, yang girang bukan main karena ia telah berhasil tarik si pengemis tua ini pada pihaknya. Hoa Ban Hie manggut.

"Baiklah!" ia berkata. "Sekarang, setelah kau berikan persetujuanmu, aku hendak nyatakan pikiranku. Kau punya tempat ini ada terlalu kecil, jika dengan tempat ini kau hendak hadapi Kangsan-pang, kau keliru. Tempat ini tidak sekuat sebagaimana yang kau sangka! Kau telah bawa Yan Toa Nio ibu dan anak kemari, kau harus berdaya akan berikan mereka tempat yang aman, untuk lindungkan mereka. Tempatmu ini gampang diserang, sukar untuk dilindungi. Apa kau hendak bikin aku si melarat mesti turut-turutan berabe dan mendapat malu?" Tan Ceng Po bersenyum di hadapannya si pengemis tua itu.

"Hoa loosu, kau ternyata pandang terlalu tidak berharga padaku si nelayan tua!" ia berkata. "Kau jangan tidak melihat mata pada gubukku ini! Aku tidak percaya yang kawanan tikus itu akan mampu bikin tak bergeming sepotong kayu bakar di sini!"

Si Malaikat Kemelaratan tertawa berkakakan sambil melenggak-lenggak.

"Aku lihat sedikit api saja akan bakar musnah padamu!" ia berkata. "Apa kau kira sarangmu ini cukup tangguh? Bagaimana kalau mereka gunai api?"

"Itulah lain! Memang gubukku ini tidak boleh terlalu diandalkan, tetapi aku telah undang ibu dan anak ini datang kemari, maka adalah menjadi kewajibanku untuk menanggung keselamatannya. Mereka ada seperti yatim piatu dan musuhnya ada tangguh sekali, dari itu aku perlu berkorban untuk menjamin pri-keadilan di kalangan Sungai Telaga! Aku tahu betul, kecuali kau si nelayan tua, tidak ada lain orang lagi yang tidak takut perkara, yang tidak takut bencana!"

"Sahabat karibku, jangan kau terlalu andalkan diri!" berkata Hoa Ban Hie, yang berulang-ulang memperdengarkan suara menghina dari hidungnya. "Di dalam kalangan Sungai Telaga, masih banyak lain orang yang memiliki semangat laki-laki! Apa tidak lucu kalau kau agulkan dirimu sendiri? Jangan kau tidak melihat mata padaku si pengemis! Kau tahu, tempat kediamanku ada jauh terlebih tangguh daripada gubukmu ini! Yan Toa Nio dan kau nona, jikalau kau tidak memandang hina padaku si pengemis tua bangkotan, aku undang kamu berdua untuk mengunjungi rumahku, sekalipun untuk sedikit hari, kemudian kita orang nanti pikir dengan cara bagaimana kita akan hadapi Pian Siu Hoo dan kawan- kawannya!"

Biar bagaimana juga, Toa Nio dan gadisnya bersangsi. Mereka baru kenal si pengemis tua, kini melihat sikapnya yang luar biasa, ada sukar untuk mereka merasa tenteram. Benar dari sikapnya Tan Ceng Po ia dapat duga bahwa bantuannya orang tua ini ada sangat diharap, meski demikian mereka tidak bisa segera lenyapkan kesangsiannya. Ia sebenarnya hendak menghaturkan terima kasih dan menampik, tetapi Cukat Pok dengan samar-samar golengkan kepalanya memberi tanda untuk mereka jangan menolak.

Tan Ceng Po bisa mengerti kesangsiannya mereka berdua, maka ia lalu ambil putusan sendiri.

"Toanio, kamu berdua ibu dan anak benar-benar ada mendatangkan kekaguman orang!" berkata Tong-louw Hiejin. "Tempat kediamannya Hoa loosu tidak sembarang orang dapat datangi, malahan orang sembarangan juga tidak nanti diundang datang ke sana, maka kau orang yang baru dikenal, telah mendapat undangan, ini adalah kejadian yang jarang sekali!"

"Kalau begitu, kita ibu dan anak ada sangat bersyukur," berkata Yan Toa Nio kemudian. Dan ia haturkan terima kasihnya pada si pengemis itu. "Kita bersedia akan penuhkan kehendak loo-cianpwee."

Baru sekarang kelihatan si pengemis bersenyum gembira secara sungguh-sungguh. "Kalau kamu berdua tidak cela padaku si pengemis tua yang miskin melarat, marilah ikut aku," ia berkata. "Aku ada seorang yang beradat terburu napsu, kalau satu urusan belum beres, aku ingin segera selesaikan itu. Mari kita berangkat sekarang!"

Dan ia pungut "tongkat untuk kemplang anjing"-nya.

"Tunggu dulu, sahabatku!" Tan Ceng Po mencegah. "Kenapa begitu kesusu? Lihatlah sang waktu! Mereka ibu dan anak baru sampai, di sini pun ada Cukat loosu, mustahil aku tidak usah jamu lagi mereka dengan thee dan makanan yang sembarangan?"

Hoa Ban Hie benar-benar mendesak.

"Nelayan tua, tinggalkan makananmu itu untuk kau dahar sendiri nanti!" ia berkata. "Aku si pengemis tua tidak biasa makan kau punya sisa air teh dan nasi!

Malahan kau sendiri, hayo turut aku. Kau tahu, cucu muridku tukang minta-minta telah sediakan aku beberapa botol arak yang bagus, aku undang kau untuk minum sampai puas!"

"Baik, baik," Tan Ceng Po menjawab sambil bersenyum. "Satu hweeshio pengembaraan dahar di delapanbelas penjuru dan aku si nelayan tua akan makan di sembilan-belas daerah! "

"Cukup, Tan Ceng Po, cukup!" berkata Hoa Ban Hie. "Kita orang akan hadapi Kangsan-pang, ingin melihat kepandaian simpanannya boleh diandalkan atau tidak! Sudah, jangan banyak bicara lagi, mari kita pergi!"

Yan Toa Nio dan gadisnya merasa heran melihat tingkah lakunya orang-orang pandai ini, hingga mereka bengong saja, mengawasi dan mendengarkan. Tan Ceng Po bersenyum, ia tetap tenang saja.

"Hoa loosu ada begini baik budi, kebaikannya itu tidak boleh disia-siakan," ia berkata pada Yan Toa Nio berdua dan Cukat Pok. "Hayo kita berangkat!"

Kiongsin Hoa Ban Hie, yang telah gendong kantongnya, segera mendahului bertindak keluar dengan tuan rumah, Yan Toa Nio dan gadisnya mengikuti. Tuan rumah masih manggut-manggut pada Cukat Pok, setelah itu barulah ia keluar dengan tidak mengunci lagi pintunya, hanya pintu pagar yang ia rapatkan. Dari luar pagar, sambil menoleh ke rumahnya, ia berkata dengan nyaring, "ACit naynay, lihat pintu! Aku mau pergi ke Hokliong-gay untuk satu atau dua hari, kalau ada orang datang cari aku, silakan supaya ia susul aku! Andaikata kucing dan anjing itu berniat masuk ke dalam kampung kita, jagalah supaya mereka tidak bisa lari kabur lagi, kurunglah mereka di dalam kurungan, agar kulitnya kita bisa keset dan dagingnya boleh dipanggang! "

Belum sampai Tan Ceng Po tutup rapat mulutnya, atau dari kamar sebelah kelihatan keluar satu pemuda dengan baju pendek dan celana yang digulung tinggi, kulitnya hitam, gerakannya gesit. Ia menghampirkan tuan rumah akan unjuk hormatnya.

"Aku tahu, silakan loosu berangkat!" ia berkata dengan hormat. Terus saja ia berdiri di pinggiran.

Yan Toa Nio bisa lihat, meski orang beroman sebagai pemuda dusun, tetapi matanya pemuda itu bersinar dan tubuhnya kekar. Maka ia duga pemuda ini tentu ada murid yang diandalkan oleh Tan Ceng Po, siapa mesti ada satu penduduk yang dimalukan di tempat kediamannya itu. Hoa Ban Hie sebaliknya tidak pedulikan apa-apa, ia jalan terus dengan cepat, melewati beberapa rumah, sampai di jalanan gili-gili sawah menuju ke selatan barat, mengkol di satu tikungan.

Kelihatannya Kiongsin Hoa Ban Hie jalan seperti biasa, tetapi sebagai satu ahli, Yan Toa Nio bisa bedakan orang punya tindakan kaki yang seperti juga tidak menginjak tanah. Itu adalah kesempurnaan ilmu jalan yang dinamai Kun-goan Itkhie Lengpo-pou atau Jalan seperti melayang-layang. Kepandaian seperti ini ia hanya pernah dengar tetapi belum tahu siapa yang memiliki dan belum

pernah saksikan juga, maka ini adalah untuk pertama kali ia melihat dengan mata sendiri.

Tidak heran apabila Yan Toa Nio dan gadisnya merasa harus menggunakan tenaga untuk menyusul Hoa Ban Hie, karena Tan Ceng Po dan Cukat Pok pun harus memperlihatkan kepandaiannya agar dapat mengikuti si Malaikat Kemelaratan.

Setelah melalui dua tiga lie dan lewatkan beberapa tikungan barulah Hoa Ban Hie kendorkan tindakannya, dengan begitu Tan Ceng Po, Cukat Pok, Yan Toa Nio dan Leng In beruntun bisa datang dekat kepadanya.

Mereka sekarang melalui satu jalanan pegunungan yang sempit, sedang tadinya dari sawah dan tegalan, mereka berada di kaki bukit. Setelah menjurus ke barat selatan kira-kira setengah lie, mereka segera melihat beberapa rumah yang mencil sana-sini. Dan bila jalan ini telah dilalui, tibalah mereka di suatu tempat terbuka.

Jalanan masih jalan pegunungan, tetapi luasnya ada tiga empat tombak dan di kiri kanan ada berbaris pohon yangliu dengan daun-daunnya yang hijau, hingga jalanan di situ menjadi teduh. Kecuali yangliu, di situ pun ada pohon-pohon bunga hutan dan rumput.

Lagi kira-kira selepasan panah jauhnya, setelah nikung, lantas tertampak tempat di mana ada banyak pohon siong dan pek yang lebat, yang berada di tanah datar. Tanah ini letaknya tinggi. Dari antara pohon-pohon itu lantas tertampak rumah-rumah bambu tertutup atap. Di sebelah timur ada mengalir sebuah sungai yang seperti memutari bukit, sumbernya dari selat-selat di atas bukit. Karena airnya cetek dan banyak batu-batu yang besar, maka air yang mengalir kadang-kadang menerbitkan suara berisik dan muncrat tinggi seperti air mancur.

Pemandangan alam itu bisa melegakan hati yang pepat.

"Ini rupanya yang dipanggil desa Bancie sanchung dari Hokliong-gam," Yan Toa Nio berkata pada Tan Ceng Po, suaranya perlahan.

Tonglouw Hiejin manggut.

Hoa Ban Hie masih jalan terus di sebelah depan, sekarang ia mulai nanjak, karena letak kampungnya ada di tanah datar di atas tanjakan. Jalanan sekarang ada kecil.

Tiba-tiba dari jurusan pohon-pohon kelihatan seorang muda lari mendatangi.

Melihat orang itu, hampir-hampir Yan Leng In tidak tahan akan tidak tertawa geli. Karena benar perkataan, bahwa makhluk mencari bangsanya. Sebab orang yang mendatangi itu pun ada berpakaian rombeng dan penuh dengan tambalan, hanya yang beda adalah kebersihannya.

Sesampainya di dekat Hoa Ban Hie, orang itu segera berdiri di pinggiran dan segera memberi hormat.

"Loo-couwsu baru pulang," ia berkata.

Pengemis tua itu tidak membalas hormat, ia tidak manggut atau menjawab, hanya angsurkan tongkatnya yang disambuti oleh orang muda itu, segera dipanggul dan dibawa pergi sambil berlari-lari pula.

Hoa Ban Hie jalan terus, ketika mendekati tempat di mana ada pohon-pohon, di situ muncul dua orang tua, masing-masing dari usia lima atau enampuluh tahun dan kedua-duanya beroman sebagai tukang minta-minta, melainkan tampang mukanya bukan seperti pengemis yang kotor dan dekil. Malah yang di kiri ada kate gesit seperti Cukat Pok dan yang di kanan bertubuh tinggi besar, alisnya gompiok, matanya besar, brewokan dan mukanya merah. Ia ini pakai baju dan celana pendek, celananya sebatas dengkul, kakinya yang telanjang ditutup dengan sepatu rumput. Kedua betisnya penuh bulu hitam. Kedua lengannya penuh urat kasar. Maka itu, meskipun, ia berpakaian rombeng sebagai pengemis, orang tidak akan percaya ia ada tukang minta-minta.

Umpama kata ia bercampur dengan kawanan jembel, orang masih akan sangsikan ia.

Melihat Kiongsin, kedua orang itu mengunjuk hormat tanpa berkata apa-apa, sedang si pengemis tua, seperti tadi, juga tidak ambil peduli pada kedua orang tua ini. Ia hanya jalan terus, masuk ke tempat yang banyak pohon- pohon dan sama sekali tidak pernah menoleh pada tamu- tamunya, la tidak berlaku manis sebagaimana selayaknya satu tuan rumah, hingga kalau di muka umum, ia dapat dianggap tidak tahu aturan.

Tan Ceng Po dan kawan-kawannya tidak gubris sikapnya tuan rumah yang aneh ini, mereka terus membuntuti dengan tidak berkata apa-apa. Mereka sekarang berjalan di antara pohon-pohon kayu yang seperti berbaris, daun-daun yang tebal bikin tempat itu sebagai rimba yang gelap. Setiap melewati lima atau enam pohon, pasti di belakang itu ada orang yang berkelebat, yang unjuk hormatnya pada si Malaikat Kemelaratan.

Yan Toa Nio dan gadisnya tidak menjadi heran dengan apa yang mereka tampak itu. Nyata bahwa Bancie sanchung bukannya tempat sembarangan, kampung ini tetap terjaga pada waktu siang, begitu juga di waktu malam.

--ooo0dw0ooo--