Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 06

Jilid 06

Tatkala dua orang ini sampai di tempat pertemuan, mereka dapatkan Yan Toa Nio sudah kembali terlebih dulu dan nyonya itu, dengan cepat luar biasa, telah beritahukan Sian le, Hee In Hong dan Tan Tay Yong, tentang bahaya yang mengancam, dan kemudian ia minta Hee In Hong bersama Leng In dengan bawa belasan orang segera pergi ke atas Giokliong-giam, guna pegat dan rintangi musuh yang bakal nerobos dari atas bukit, sebab dikuatirkan lambatnya cegahan, akan bikin segala apa sudah kasep. Tan Tay Yong pun telah diminta lekas pulang ke Hiecun, guna kumpulkan semua orang di mulut muara.

Melihat caranya Yan Toa Nio mengatur, dan menampak nyonya ini tetap tenang, kendati suasana ada demikian genting, Siauw Chong dan Cukat Pok menjadi kagum. Tapi Siauw Chong lantas perintah dua orang pergi susul Tan Tay Yong, guna perintahkan cuncu itu segera kumpulkan juga semua orang perempuan, anak- anak dan orang-orang tua, agar mereka lantas menyingkir dari rumah mereka, akan mundur jauh dari Hiecun. Semua penduduk itu dipesan untuk jangan pikirkan lagi harta dan benda mereka. Kemudian, dengan perahu, mereka mesti diangkut ke pedalaman Giokliong- giam, guna singkirkan dan umpatkan diri di tempat yang airnya dalam dan sunyi. Tan Giok Kouw diharuskan tanggung jawab untuk pengungsian itu. Semua orang dikasih tahu supaya jangan kaget atau bingung, mereka dilarang menangis atau bikin berisik, agar musuh tidak ketahui mereka menyingkir ke mana. Siapa yang bandel, diancam akan diceburkan ke air.

"Lim loosu, aku tidak mengerti betul maksudnya Pian Siu Hoo," berkata Hengyang Hie-in pada Lim Siauw Chong. "Ia tidak dapat mundur lagi, ia mengerti bahaya, ia rupanya telah ambil putusan akan mati bersama-sama Giokliong-giam. Ia sudah atur pembokongan dari belakang, ia pun mau menyerang dari depan, guna jepit kita dari dua jurusan. Andalan apa ia punyakan maka ia merasa pasti bakal menang? Apakah ia telah tidak sediakan daya lain lagi, yang terlebih busuk?"

Ketua dari Kiushe Hiekee manggut-manggut.

"Ya, sikapnya memang luar biasa," ia kata. "Apa yang aku tahu pasti, ia bakal menyerang di depan dengan gunakan api." Sian le keluarkan suara dari hidungnya. Ia pandang Siauw Chong dan Souwposu. Akhirnya ia tertawa dingin seorang diri.

"Jikalau sampai perahu mereka dapat menerjang masuk, sebuah saja, lantas Pian Siu Hoo akan anggap kita sebagai gentong arak dan bakul nasi!" ia kata dengan sengit. "Malam ini kita mesti keluarkan masing- masing kepandaian kita, siapa terlebih liehay, dialah yang akan binasakan lawannya! Aku pikir, tidak peduli apa dayanya Pian Siu Hoo, baik kita siap di atas. Lim loosu, silakan kau perintahkan duapuluh orang naik kedua atas jurang, di sana mereka mesti tumpuk batu yang beratnya lima atau enampuluh kati, guna kasih rasa pada musuh beratnya balok-balok batu itu. Lim loosu, pekerjaan ini mari kita berdua yang tanggung! Dan kau, Yan toanio, bersama dengan Cukat loosu, minta kau sukalah usir balik orang-orang mereka yang berani nerobos di atas kedua jurang. Pian Siu Hoo tentu tidak mau ketinggalan, biarkan ia masuk, sesampainya di dalam, mari kita sama- sama bikin beres padanya!"

"Satu hal aku hendak minta," berkata Yan Toa Nio. "Umpama benar Pian Siu Hoo bisa dipancing masuk kemari, sesudah ia berada di dalam, baiklah cuwie loosu serahkan ia padaku, guna aku yang layani sendiri! Cuwie loosu harus mengerti, sesudah menderita duapuluh tahun, yang kita ibu dan anak harapi adalah satu hari seperti ini! Kalau nanti sudah ternyata kita ibu dan anak tidak berdaya, waktu itu baharulah aku minta cuwie loosu bantu kita! "

Hengyang Hie-in setuju dengan usul itu. "Itu adalah permintaan yang pantas sekali," ia bilang. "Untuk lindungi Giokliong-giam, setelah jalan menjadi buntu begini, kita memang tidak bisa tidak turunkan tangan jahat seperti mereka itu! Baiklah, toanio, kita akan berdaya supaya kau dapat wujutkan pengharapanmu!"

Setelah itu, lantas Hengyang Hie-in minta Lim Siauw Chong lantas bekerja menitahkan mengumpul batu, yang mesti ditumpuk sampai tiga kaki, agar orang dapat bekerja dengan merdeka. Juga dikumpulkan batu yang bisa dipakai menimpuk.

Hee In Hong bersama Yan Leng In telah bekerja di belakang Giokliong-giam, mereka atur bayhok, sesudah itu Yan Leng In pergi cari Tan Giok Kouw, guna bantu nona Tan atur pengungsian. Tapi ia tidak membantu terus-terusan, ia balik pula ke depan, karena seperti ibunya, ia berkeinginan keras mencari balas. Ibu dan anak ini mengerti, ini ada ketika mereka yang paling baik, kalau sampai Pian Siu Hoo dapat balik ke Hucun- kang, tenaganya Kangsan-pang bakal jadi terlebih besar lagi, di sana Pian Siu Hoo ada merdeka, kalangannya lebih luas, sobatnya ada banyak.

Pihak Hiecun telah bekerja dengan cepat dan rapi, seluruh dusun ada gelap dan sunyi.

Sesudah mengatur dan menilik, Tan Tay Yong pergi cari Hee In Hong, akan bantui Kimpwee Kam-san-too. Di mulut muara, di atas jurang, Cukat Pok umpati diri bersama-sama Yan Toa Nio. Hengyang Hie-in dan Lim Siauw Chong, yang jaga mulut muara, juga mengawasi bagaimana musuh akan turun tangan. Orang tidak usah menunggu terlalu lama atau di muka air sudah mulai ada gerakan, yang dimulai dengan suara suitan berulang-ulang ke mulut muara.

Segera dua barisan perahu-perahu kecil mulai menerjang dengan perlahan-lahan.

Kapan rombongan penjaga ketahui datangnya musuh, mereka lantas perdengarkan tanda dari suitan bambu, guna kasih tahu agar orang jangan maju terus. Tetapi tanda cegahan ini tidak digubris, dua baris perahu maju terus. Panah lantas dilepas, guna mencegah. Mendadak di perahu-perahu kecil api menyala, yang cepat sekali berkobar menjadi besar. Sekarang terlihat nyata, semua perahu kecil itu tidak ada orangnya, semua perahu terisi umpan api. Hingga menjadi terang, dua barisan itu bisa maju karena anak buahnya mendorong dari dalam air!

Perahu-perahu penjaga mulut muara jadi berlaku lambat, begitu lekas mereka kena diterjang, api lantas pindah merembet, hingga perahu-perahu itu jadi turut terbakar. Inilah hebat! Dengan terbakarnya perahu- perahu itu, anak buahnya mesti menyingkir. Dan kesudahannya? Mulut muara dobol penjagaannya!

Menampak cara penyerangannya musuh, Lim Siauw Chong mendongkol bukan main.

"Lekas perintahkan mundur!" ia menitah mengasih tanda. "Yang sudah terbakar, antap terbakar terus, anak buahnya mesti menyingkir!"

Perintah itu tentu saja diturut, karena lebih dulu dari itu, sudah ada anak-anak buah yang tinggalkan perahunya, yang jadi lautan api. Dengan berenang, mereka masuk ke sebelah dalam. Yan Toa Nio dan Cukat Pok telah perhatikan cara penyerangan musuh, mereka kagumi dan benci Pian Siu Hoo dengan berbareng, oleh karena penyerangan itu benar liehay tetapi terang kejam.

"Maju! Gunai batu!" mereka berikan titah.

Penyerangan itu tidak memberikan hasil sebagaimana diharap. Perahu-perahu yang ketimpa batu bisa terbalik dan karem, akan tetapi api terus menyala dan malah melulahan, sebab bahan api tetap mengambang bersama apinya yang berkobar-kobar. Yang lebih celaka lagi, air sedang pasang, maka air jadi mengalir ke dalam Giokliong-giam! Di muka air, enam atau tujuh tombak lebarnya, hanya api yang merajalela.

Selagi api bekerja, di sebelah luar sekarang terdengar suitan berulang-ulang. Suitan itu datangnya dari delapan buah perahu besar musuh, yang disiapkan untuk menerjang belakangan, yang dipimpin oleh Han Kak dari Hangciu-pang. Di kiri dan kanan barisan penyerang ini ada Ie Tong dan Sun Po Sin, yang maju dengan panah api, menyerang ke atas jurang.

Dengan gunai panah dan batu, pihak Giokliong-giam sudah tangkis penyerangan itu, beberapa musuh rubuh terguling, tetapi diantar oleh panah api, toh enam atau tujuh orang bisa memaksa manjat naik.

Melihat demikian, Yan Toa Nio terpaksa maju sendiri, akan pukul rubuh beberapa anak buah musuh yang dapat naik itu.

Adalah di waktu itu, Ie Tong dari Lankie-pang telah loncat naik. Mendapatkan pemimpin musuh, Yan Toa Nio lantas menyambut.

"Hei, orang yang bantu Hee Kiat berbuat jahat, kau berani pandang hina pada kami si orang perempuan!" ia menegur seraya terus menyerang.

Ie Tong bersenjata pedang, menampak serangan pada mukanya, ia kelit ke samping dengan geser kakinya yang kanan, tangannya menyabet ke atas, guna tabas tangannya di betulan nadi. Tapi Yan Toa Nio hanya mengancam, akan pancing tangkisan musuh. Selama itu, mereka telah datang semakin rapat, justru musuh mau tabas ia, Yan Toa Nio barengi dengan penyerangan.

Dengan lompatan Yauwcu hoansin, ia bikin tubuhnya berada di samping musuh, lalu dengan tipu silat Yan- hoan kaychiu-ciang atau "Perobahan tangan seperti walet jumpalitan," tangannya menyerang.

Ie Tong kaget, ia lekas putar tubuh, akan hadapi musuh. Tapi ia terlambat, kendati ia sudah bergerak sebat sekali, malah pedangnya, ia tidak keburu kasih bekerja. Tangannya si nyonya mengenai dada kirinya, tidak tempo lagi, berbareng dengan suara tangan mengenai dada, ia menjerit dan jatuh kembali ke bawah.

Tapi selagi si nyonya layani ketua dari Lankie-pang, orang-orangnya kembali sudah ada yang bisa manjat naik, karena mereka tidak pedulikan rintangan dari beberapa orang dari pihak Giokliong-giam. Maka Yan Toa Nio terpaksa maju lagi, akan hajar mereka itu. 

Dua orang telah dapat kesempatan memanah Yan Toa Nio dengan panah api. Itulah hebat! Untuk selamatkan diri, nyonya itu terpaksa enjot tubuhnya akan loncat tinggi sampai dua tombak lebih, maka ketika ia turun injak tanah, ia terpisah dari musuh tiga tombak jauhnya. Ia telah loncat dengan tipu silat Ithoo chiongthian, atau "Seekor burung hoo menerjang langit."

Nyonya Yan jadi sangat gusar, dengan lekas loncat balik. Maka sebagai kesudahan, empat musuh lagi dapat dibikin terlempar jatuh ke bawah.

Di pihak lain, dengan gunai panah api, Sun Po Sin dari Liongyu-pang dapat naik ke atas, ia bersenjata golok, dengan itu ia telah lukai enam atau tujuh nelayan. Ia masih merangsek terus.

Cukat Pok, yang sangat gusar seperti Yan Toa Nio, telah rintangi musuh yang menyerbu ke jurusannya. Ia mengerti Pian Siu Hoo rupanya hendak musnahkan Giokliong-giam, baik, dengan jalan dirampas, baik dibakar dengan api, supaya musnah tanpa sebab, karena itu, ia juga jadi tidak main kasihan-kasihan lagi. Maka yang harus dikasihani adalah orang-orang coan-pang, yang membantui Na Thian Hong, yang mesti binasa atau terluka untuk orang lain.

Han Kak telah maju terus dengan delapan buah perahu yang besar, ia tidak pedulikan api yang melulahan, di muka air, yang ia perintah orangnya menyingkir. Ia pun tidak takuti serangan batu besar dari atas, meski juga dua perahu telah karam dengan cepat. Enam perahu lainnya telah nerobos di mulut muara.

Penjaga di sebelah dalam ada Lim Siong Siu dan Ho Jin, mereka insyaf pada bahaya. Paling dulu mereka titahkan bunyikan tanda, untuk minta bantuan. Jumlah orang mereka telah kurang separuh sebab sebagian sudah ditarik ke belakang. Tetapi mereka ini berani, sambil menunggu bantuan, mereka rangsek musuh, guna cegah masuknya. Maka perkelahian jadi hebat luar biasa. Hingga di dua-dua pihak, meminta banyak korban jiwa dan luka. Karena ini, majunya enam perahu besar jadi terhambat.

Pian Siu Hoo berada dalam rombongan dari pasukannya Han Kak, ia naik atas sebuah perahu dengan bersendirian—perahu yang laju pesat. Tapi ia tidak berada di kepala perahu, hanya, di luar tahu orangnya sendiri, ia telah nyangtel di atas tiang layar. Sambil maju ia telah pesan orang-orangnya, katanya, "Kau harus paksa perahu noblos ke sebelah dalam. Jangan pedulikan perahu ketimpa batu atau kebakar, gunai saja panah api, aku rintangi tangkis musuh. Kalau nanti perahu sudah masuk, kau boleh terjun ke air, akan menyingkir dari serangan musuh terlebih jauh. Baik kau selulup masuk ke sebelah dalam, akan persatukan diri dengan rombongan Hangciu-pang. Jangan kau pikirkan aku, aku bisa nerobos sendiri!"

Tiathong-liong telah buktikan ucapannya itu. Begitu lekas perahunya sudah maju dan orang-orangnya pada terjun ke air, ia juga tinggalkan perahunya itu. Dengan loncatan istimewa, ia pergi ke tiang layar dari perahunya Hangciu-pang yang berada di paling belakang.

Kedatangannya ini dapat menolong pada Han Kak, yang tadinya tidak sempat menyerang maju, hanya ia repot kepalai dan anjurkan orang-orangnya sendiri, agar mereka itu tidak kalah hati.

Pian Siu Hoo maju terus, korbannya yang pertama adalah Lim Siong Siu, yang ia hajar hingga terjungkal ke dalam air, kemudian menyusul enam atau tujuh korban lain. Karena ini, Han Kak dapat kemajuan, dua perahunya telah berhasil menoblos.

Adalah waktu itu, Sun Po Sin dari Liongyu-pang juga turut merangsek.

Cukat Pok lihat perahu musuh bisa tobloskan mulut muara, ia mengerti bahaya mengancam hebat. Tetapi ia tidak lihat Pian Siu Hoo, ia hanya tampak Sun Po Sin.

Orang she Sun itu sudah loncat naik ke sebuah perahu Hangciu-pang. Maka ia lantas menyusul ketua dari Liongyu-pang itu. Dengan gerakan Yancu coanlian atau "Walet tembuskan layar," ia mencelat ke perahu di mana Sun Po Sin berada.

"Kawanan tikus!" ia membentak. "Malam ini Giokliong- giam Hiecun akan jadi tempat buronmu. Lihat, ke mana kau hendak menyingkir!"

Dengan ucapan itu, dengan gunai Souwcu-chie, Souwposu serang musuhnya.

Sun Po Sin dengar suara orang, ia lihat senjata datang, sambil lompat berkelit, ia membabat dengan goloknya, pada senjata musuh.

Dengan putar tangannya, atau lebih benar senjatanya, seraya geraki kaki kanannya, Cukat Pok maju menyerang untuk kedua kalinya. Gerakannya luar biasa cepat, sedang senjatanya ada senjata istimewa, ialah tombak yang lemas. Ia dapat bergerak dengan leluasa, kendati di atas perahu yang kurang lega.

Untuk loloskan diri, Sun Po Sin lompat naik ke atas gubuk perahu, dengan begitu, serangannya Souwposu mengenai tempat kosong. Selagi Sun Po Sin loncat naik, dari lain perahu, ada satu orang justru loncat turun ke gubuk perahunya itu. Dia ini ada Hengyang Hie-in Sian Ie, yang baru saja muncul dan lantas dapat lihat pertempuran di atas perahu itu. Ia kenali ketua dari Liongyu-pang. Ia pun sependapat dengan Cukat Pok, ialah dalam keadaan seperti itu, orang tidak dapat main pandang-pandang lagi. Maka justru ia bersomplokan dengan Sun Po Sin, ia memapaki dengan sikap Benghouw hokciang atau "Harimau galak mendekam di pelatok." Sambil mendek, ia angkat kedua tangannya di depan dadanya, sesudah itu, cepat luar basa, ia menyerang dengan Paysan unciang, atau "Tangan yang mengatur gunung."

Sun Po Sin kaget bukan main, oleh karena tidak ada jalan lain, terpaksa ia egos tubuhnya ke samping. Ia tahu kalau ia lompat mundur, Cukat Pok akan terjang ia dari belakang, karena itu musuh juga sudah geraki tubuh, akan susul ia.

Hengyang Hie-in menyerang dengan tidak ada hasilnya, karena serangannya ini, iajadi datang terlebih dekat kepada musuh, karena itu, Sun Po Sin segera gunai ketika, untuk balas menyerang. Ia membacok dengan tipu Twiechong bonggoat, atau "Menolak jendela untuk memandang rembulan." Bacokan ini mengarah tubuhnya antara lain pundak dan lengan atas.

Sian Ie dapat lihat gerakan musuh, untuk loloskan diri dari bahaya, ia geser kaki kiri ke kiri dan tubuhnya ikut bergerak ke jurusan itu. Tapi ia berlaku sebat hampir berbareng dengan kelitannya itu, yang bikin golok nyasar, ia serang iga kanan orang dengan pukulan Henghoan pahouw, atau "Memukul harimau sambil nyamping." Sun Po Sin jadi sangat terdesak. Untuk menangkis sudah tidak keburu begitupun untuk egos tubuh. Tidak ada jalan lain, dengan kagok ia jejak kakinya dan terus loncat ke perahu besar, ke bagian belakang dari perahu itu.

Cukat Pok, yang hendak susul musuh, sudah terhalang oleh datangnya dua anak buah perahu musuh hingga mereka ini jadi menggantikan ketua dari Liongyu-pang itu. Mereka ada bangsa tidak punya guna, menghadapi Cukat Pok, lekas sekali yang satu kena dibikin rebah di lantai perahu, yang lain tersampok terlempar ke air.

Meski begini, Souwposu tidak sia-siakan banyak tempo, justru Sun Po Sin loncat ke perahu lain, dan ia sudah siap.

"Ke mana kau hendak lari?" demikian ia bentak ketua dari Liongyu-pang sembari ia pun loncat ke depan, akan memburu, sementara souwcu-chio dibarengi dikasih bekerja. Oleh karena ini, orang dan senjata telah sampai dengan berbareng.

Baru saja Sun Po Sin injak perahu ke mana ia menyingkir atau ujung tombak lemas telah menyambar bebokongnya, hingga tubuhnya jadi limbung, hingga tidak tempo lagi, ia mesti terpelanting jatuh ke air!

Sementara itu, di sebelah depan, pertempuran lain sudah terjadi.

Yan Toa Nio dapat kenyataan yang mulut muara sudah tidak dapat dilindungi lagi, ia terpaksa loncat turun ke perahu, untuk berikan bantuannya pada kawan- kawannya yang sudah terjun lebih dulu dalam pertempuran. Ia lihat bagaimana perahu-perahu musuh telah mendesak, hingga serangan dengan batu dari atas jurang tidak memberikan hasil, hingga pihak GiokJiong- giam mesti mundur. Ia tidak ketahui bahwa antara pemimpin musuh, yang kepalai penyerangan, ada musuh besarnya.

Pian Siu Hoo telah maju dengan loncat dari satu perahu ke lain perahu, begitulah ia lihat Han Kak, ketua dari Hangciu-pang, sedang dirintangi oleh Lim Siauw Chong. Ia tidak mau berlaku secara laki-laki di sini, karena ia tidak mampu kendalikan lagi hawa amarahnya dan pikirannya yang sesat. Maka ketika ia sudah datang dekat, dengan Ko-lauw-pian atau "Ruyung Tengkoraknya," ia membokong dari belakang!

Adalah di saat itu, Yan Toa Nio juga sampai di perahu besar itu, bukan saja ia lihat pertempuran antara Lim Siauw Chong dan Han Kak, ia pun tampak berkelebatnya Tiat-hong-liong. Menghadapi musuh besar, hawa amarahnya segera meluap, sekarang ia lihat musuh ini berlaku curang, dapatlah dimengerti bahwa ia jadi gusar bukan kepalang.

"Pian Siu Hoo!" ia segera membentak. "Beginilah kelakuannya satu sobat yang terhormat! Cara bagaimana kau berani bokong Giokliong-giam, dengan menyalahi janji? Mari sekarang kita tetapkan mati atau hidup di antara kita!"

Karena Pian Siu Hoo sudah serang Lim Siauw Chong dan ia sendiri berada di sebelah belakang orang she Pian ini, Yan Toa Nio tidak bisa cegah serangan itu dengan tangkisan, terpaksa ia ambil jalan satu-satunya, yaitu ia pun segera menyerang dari belakang. Dengan Ouwliong tamjiauw, atau "Naga hitam menyengkeram," ia serang bebokongnya lawan dengan tangannya yang liehay. Pian Siu Hoo dengar datangnya musuh meski ruyungnya sudah hampir mengenakan Lim Siauw Chong, ia toh mesti tarik pulang itu, untuk tolong diri sendiri. Ia egos diri ke kiri, sambil putar tubuhnya, dengan Kolauw- pian ia menyerang dari kiri.

Yan Toa Nio lihat serangannya tidak berhasil dan senjata musuh menyambar ke jurusan kepalanya, untuk kelit, ia mendek sambil kaki kanannya ia tekuk. Kendati begitu, karena kedua tangannya merdeka, ia barengi menyerang dengan tangan kanan. Ia menyerang dengan tipu pukulan Kimtiauw thiancie atau "Garuda mas pentang sayap." Ia pun menyerang dengan luar biasa serunya.

Tiathong-liong lihat serangannya tidak mengenai sasaran dan sebaliknya tangan musuh mengancam ia, untuk selamatkan diri, ia enjot tubuhnya, loncat ke perahu besar di sebelah kiri di mana ia jatuhkan diri di atas gubuk perahu.

"Ke mana kau hendak lari?" Yan Toa Nio membentak pula. la jejak kaki kirinya dan lompat mencelat ke perahu besar itu, akan menyusul. Ia terus bertangan kosong, dengan tidak pedulikan musuh ada bergenggaman.

Baru saja kakinya Pian Siu Hoo menginjak wuwungan gubuk atau ia telah balik tubuhnya dan tangannya melayang dengan cepat sekali.

"Awas!" ia berseru.

Dua barang berkeredepan, seperti bintang, menyambar ke jurusan dadanya si nyonya.

Yan Toa Nio sedang lompat maju, ia tidak dapat tahan tubuhnya atau kelit ke samping, keadaannya sangat berbahaya sekali. Tapi sebelum ia sempat geraki tangannya, akan coba ketok jatuh dua Wan-yoh-piauw, dari sebuah perahu Giok-liong-giam ada seruan, "Awas!" yang dibarengi dengan menyambarnya sebatang Samleng Socu-piauw.

Di antara suara nyaring dari beradunya dua senjata, Wan-yoh-piauw kelihatan jatuh bersama-sama Samleng Socu-piauw. Itu ada piauw yang satu, yang sebelah kanan, dan piauw yang satunya lagi, yang sebelah kiri, tidak dapat cegahan suatu apa. Dan piauw ini yang merdeka, sudah terus sambar nyonya Yan. Percuma saja nyonya ini hendak tolong diri, piauw telah tembusi bajunya di sebawahan katek dan kulit, berikut dagingnya, kena dibikin luka. Meski begitu, loncatannya tidak terintang anteronya, ia masih dapat mengubar terus.

Berbareng dengan itu, dari perahu sebelah, mencelat satu bayangan orang, yang, apabila sudah sampai, ternyata ada Yan Leng In. Dan si nona ini, dengan pedangnya, segera menusuk pada Pian Siu Hoo. Tusukan ini ada tusukan dari kematian, oleh karena, selainnya benci, si nona juga gusar karena dilepaskannya dua piauw barusan dari ketua dari Kangsan-pang itu.

Tetapi Tiathong-liong bukannya seorang yang lemah. Tusukan pedang tidak mampu mengenai tubuhnya yang dengan cepat ia kelit ke kiri, dari mana, dengan membarengi, ia balas menghajar dengan Kolauw-pian, untuk bikin terlepas pedang dari tangannya si nona itu.

Yan Leng In ketahui dengan baik, serangannya yang tidak mengenai sasaran mesti akan hadapi bahaya, dengan tidak tunggu sampai pedangnya kena dikemplang, ia mendahului tarik pulang itu. Tapi ia tidak menarik pulang untuk berdiam, tidak, sebaliknya, dengannya ia putar terus, hingga sekarang ujung pedang menikam pula pada mukanya orang itu.

Pian Siu Hoo lihat serangannya gagal dan pedang datang untuk kedua kalinya, tetapi, sebelum ia sempat berdaya, Yan Toa dari samping sudah lompat menerjang ia dengan Houwpok atau "Tubrukan harimau" dan yang jadi sasaran ada bawahan pundak kirinya. Itulah hebat, karena ia diserang dari dua jurusan. Tapi ia tidak menjadi gugup. Dengan egos kepalanya, ia bikin pedang lewat di samping kuping kiri. Karena kakinya ikut bergerak ke kiri, tubuhnya pun ikut minggir. Ia berada di pinggiran, ia dapat kejeblos ke air. Tapi ia ada satu ahli silat. Dengan kakinya sebelah, ia dapat pertahankan diri. Dan selagi serangannya si nyonya lewat, ia barengi menyerang iga kirinya nyonya itu!

Yan Leng In telah datang menyerang pula selagi ibunya terancam bahaya. Ia pegang pedang di tangan kiri dan kanan, tetapi, dengan imbangi tubuh, ia sekarang menusuk dengan pedang kanan, pedang kiri dipakai sebagai imbangan. Itu ada gerakan Ouwliong kianbwee atau "Naga hitam melindungi ekor."

Kolauw-kiam dan pedang bergerak dengan berbareng: ruyung menyerang Yan Toa Nio, dan pedang menerjang si pemegang ruyung!

Yan Toa Nio tidak mau kasih dirinya dirubuhkan secara mentah-mentah, ia tidak mau lompat jauh kendati ruyung mengancam hebat, ia hanya kelit ke kanan.

Dengan ini ruyungnya jadi lewatkan tubuhnya.

Pian Siu Hoo juga dapat singkirkan ujung pedang. Ia tahu ia diserang, maka sambil geraki terus ruyungnya terhadap si nyonya, ia turut maju ke depan. Ia bergerak dengan kaki kiri, tubuhnya hampir terputar.

Yan Toa Nio tidak mau mengerti. Justru ia lihat pedang gadisnya tidak mengenai sasaran, ia lalu balas menyerang. Ia sekarang gunai tangan kanannya. Lebih dulu daripada itu, tubuhnya yang miring ia telah perbaiki.

Pian Siu Hoo berniat putar tubuh dengan Uyliong coansin atau "Naga kuning berbalik," guna balas serang Yan Leng In, tetapi kapan ia lihat datangnya Yan Toa Nio, ia mesti batalkan niatnya itu. Serangannya si nyonya cepat luar biasa. Lima jari kanan dari si nyonya sudah tertekuk rapi dan menjurus pada bebokong. Siapa terkena serangan itu, jangan harap dirinya dapat selamat. Si nyonya menyerang dengan tidak kenal kasihan lagi.

Mengerti betul yang ia lagi hadapi bahaya, sedang untuk berkelit sudah tidak ada ketikanya, tidak ada tempat, sementara untuk terjun ke air ia sungkan — karena ia pun penasaran dan tidak mau menyerah kalah

— Pian Siu Hoo ambil jalan yang terakhir. Ia empos semangatnya, ia angkat tubuhnya, ia bersiap, tangannya si nyonya sudah sampai. Ia segera barengi mengeluarkan seruan.

Meskipun terkaman ada hebat, tenaga jari Yan Toa Nio toh menjadi buyar, karena musuh tangkis ia dengan tenaga di dalam tubuh.

Pian Siu Hoo telah mesti geraki tenaga luar biasa, tidak heran kalau kakinya sudah menjejak papan perahu sampai papan itu menerbitkan suara dan pecah, hingga ia jadi sangat kaget, la mengerti, satu kali ia terbebas di dalam lantai perahu, ia tidak akan mampu bergerak lagi dengan leluasa, umpama kata si nyonya dan si nona serang ia dengan berbareng, ia mesti hadapi bahaya maut. Oleh karena itu, terpaksa ia enjot tubuhnya, akan menyingkir dari bahaya itu. Ia berhasil enjot naik tubuhnya, ia telah lakukan itu dengan tidak pilih tempat lagi, maka kesudahannya ia telah nyemplung ke air di mana tubuhnya tenggelam lenyap berbareng busa air muncrat ke sekitarnya!

"In-jie, lekas!" berseru Yan Toa Nio pada anaknya. "Lekas kejar ia, jangan kasih ia lolos!"

Yan Leng In lihat yang serangan ibunya tidak mengenai pada musuh ia pun mengerti yang musuh tidak boleh dikasih lolos. Ia sebenarnya tidak pakai pakaian mandi, maka itu untuk lompat ia mesti singsetkan dulu pakaiannya, sesudah itu, dengan Yancu liangpo, atau "Walet menyambar air," ia terjun. Sekejap saja, ia sudah menghilang dari muka air. Yan Toa Nio tidak berdiri diam akan tunggui gadisnya itu. Ia tahu Pian Siu Hoo mesti berniat kabur dan jalanan kabur hanya dari mulut muara, maka dengan berlari-lari, dengan loncati sebuah perahu, ia segera menuju ke depan.

Nyonya Yan ini, kendati ia hidup di muka air bersama gadisnya, ia tidak pandai berenang dan selulup. Jika ia berani main di air, salah satu sebabnya ia andalkan kepandaian bikin enteng tubuhnya. Asal ada tempat injak kaki, ia berani main di sungai seperti di darat, kalau tidak, tentulah dia sendiri yang sudah kejar musuhnya itu. Begitulah, ia mesti berlari-lari ke depan.

Sementara Yan Toa Nio dan Yan Leng In kepung Pian Siu Hoo, penyerangan musuh tidak menjadi kurangan.

Itulah disebabkan delapan perahu telah dapat nerobos masuk, walaupun dua antaranya sudah karam. Enam perahu pertama ini, dalam kekalutan, sudah disusul oleh belasan kawannya, yang disiapkan untuk bantu menoblos penjagaan. Setelah ternyata Pian Siu Hoo kecebur di air, perobahan segera terjadi. Karena, seperti umumnya, ular tanpa kepala, tidak dapat jalan!

Dua-dua Sun Po Sin dan Ie Tong juga sudah nyemplung di air.

Anak buah dari rombongan Eng-lok-pang ada tukang- tukang berenang yang pandai, tetapi kepandaian silat mereka tidak punyakan, ini ada suatu kelemahan bagi mereka, maka dengan tidak ada lagi yang pimpin, mereka jadi ambruk semangat sendirinya, tatkala Giokliong-giam serang mereka secara hebat, mereka jadi kalut sendirinya dan mundur, masing-masing pada berdaya akan tolong diri sendiri.

Rombongan perahu dari Englok-pang dan Hangciu- pang, sekalian perahu itu tidak dapat dikasih mundur dengan cepat, sudah begitu, sesampainya di mulut muara, mereka tidak dapat mundur terlebih jauh, karena mulut muara ada sempit dan perahu-perahu mengambang kalang kabutan. Untuk tolong diri, anak buahnya semua lantas tinggalkan perahu mereka, mereka sendiri pada terjun ke air, akan kabur sambil selulup dan berenang.

Dalam keadaan seperti itu, Hengyang Hie-in dan Lim Siauw Chong masih dapat dengan lekas atur pula penjagaan di mulut muara dan perahu yang malang melintang diperintah dibereskan, ditarik mundur dan ke pinggir. Kemudian Tan Tay Yong juga datang dengan serombongan perahu yang merupakan bala bantuan. Dengan datangnya itu, Tan Tay Yong juga membawa kabar bahwa penyerangan.musuh dari belakang, ada hebat, dan Hiecun telah terbakar musnah separahnya. Syukur, barisan penyerang belakang itu tidak dapat bala bantuan, maka pihak Giokliong-giam, yang rata-rata membela mati-matian dapat bikin perlawanan nekat sampai musuh dapat dipukul mundur. Lebih dari duapuluh musuh kena ditangkap, yang lain-lain, pada terjun ke air dari mana mereka itu pada melarikan diri. Terang mereka itu noblos dari atas, mereka telah membokong.

"Berhubung di sana ada Hee In Hong loo-suhu, yang dapat atur perlawanan dengan sempurna," Tay Yong terangkan lebih jauh. "Musuh dipimpin oleh guru silat dari Ouw-lam yang terkenal, yaitu busu Cui Cu Ie, serta ketua dari Tong-louw-pang Auwyang Cu Him, tetapi dua- dua mereka dapat dibikin mundur. Sebab lain dari hasil kita itu adalah pihak kita ketahui baik keadaan tempat, hingga musuh dapat diserang dan sana-sini, hingga mereka jadi bingung dan kewalahan."

Selagi Tan Tay Yong berikan laporannya itu, anak buahnya Hie-cun, yang pada terjun ke air, untuk kejar musuh, pada timbul di muka air dan naik ke perahu, akan beritahukan yang musuh telah kabur semuanya dan perahu-perahu mereka pun tidak ada lagi yang berada di mulut muara.

Cuma, di pihak mereka, Yan Toa Nio dan gadisnya yang tidak tertampak di antara mereka, karena mereka ini, yang kejar Pian Siu Hoo, masih belum kembali.

Lim Siauw Chong tidak merasa puas, ia minta sebuah perahu kecil, dengan itu ia pergi ke luar mulut muara, akan menyusul, dan mencari. Tapi ia belum pergi jauh ketika dari sebelah kiri, dari atas jurang, ada suara teguran, "Apakah itu Lim loo-suhu? Ke mana loo-suhu hendak pergi?"

Lim Siauw Chong kenali suaranya Yan Toa Nio. "Tahan!" ia perintah anak buahnya. Kemudian, sambil

dongak ke atas, ia tanya, "Apa di sana Yan toa-nio?"

"Benar!" demikian jawaban dari atas.

"Musuh telah mundur semua, Toa Nio dan gadismu kita tidak lihat, dari itu, aku hendak menyusul," Lim Siauw Chong beritahukan. "Apakah kau berhasil mengepung Pian Siu Hoo?"

"la ada sangat licin, kendati ia dikejar oleh anakku, ia dapat lolos," Yan Toa Nio beritahukan. "Selagi ia lolos, Pian Siu Hoo sudah tantang anakku untuk bertempur terus sampai di akhirnya. Ia kata ia tidak mau berhenti sebelum habis orang terakhir dari Kangsan-pang. Ia bilang ia mau pulang ke Hucun-kang, dan di sana tunggui kita ibu dan anak, guna pertempuran yang memutuskan. Ia tegaskan, apabila dalam waktu seratus hari kita tidak susul padanya, ia hendak serahkan Kangsan-pang pada orang lain dan ia sendiri mau kabur, setahu ke mana, karena ia tidak mau lagi hidup di muka air. Ia bilang, apabila terjadi demikian, ia tidak boleh dipandang takuti kita dan kabur. Tantangan itu kita telah terima baik. Dengan dilindungi oleh orang-orangnya, yang masih berjumlah besar, ia telah angkat kaki.

Anakku sudah pulang lebih dahulu, untuk salin pakaian. Lim loo-suhu, silakan kau kembali!" Mendengar itu, hatinya Lim Siauw Chong menjadi lega, karena ia tahu, untuk sementara itu, ancaman bahaya bagi Giokliong-giam sudah lewat.

"Hanya sekarang Yan Toa Nio dan anaknya menghadapi bahaya," pikir ketua dari Kiushe Hiekee. "Sayang Pian Siu Hoo tidak dapat dibikin binasa, hingga ia sekarang merupakan ancaman bencana. Sebenarnya ia jauh terlebih berbahaya daripada bugee-nya yang liehay, ia juga punyai pergaulan luas, banyak sobat dan kenalannya. Di mana di Hucun-kang ia menjagoi, untuk ia gampang akan kumpul tenaga-tenaga baru. Ia sudah kabur sambil mengancam, pasti ia akan siapkan kekuatan yang luar biasa. Maka juga ini, kecuali bagi Yan Toa Nio dan anak, pun ada berbahaya bagi Giokliong-giam.

Umpama kata Yan Toa Nio gagal, ke mana parannya jikalau ia tidak satroni lagi pada Hiecun?"

Dengan pikiran ngubek di otaknya Lim Siauw Chong perintah perahunya ditujukan pulang.

Yan Toa Nio sendiri sudah terus pulang ke gubuknya, akan susul anaknya.

Dengan pakaian kuyup, sedang itu bukannya pakaian mandi Yan Leng In tidak mau ketemu orang. Ia pulang langsung, ibunya sebaliknya, kuatir ia terluka, maka ibu ini pun terus susul ia.

Lim Siauw Chong balik dan lagi sekali tilik penjagaan.

Ia masih perintah sejumlah orang pergi ke segala tempat, akan cari musuh, kuatir ada yang masih umpati diri. la juga perintahkan Tan Tay Yong cari tahu kerugian, orang, perahu dan rumah-rumah. Sebab benar mereka ketolongan, tapi kerugian ada hebat, karena musuh menyerang dengan selalu gunai api. Sampai pagi, barulah orang selesai dengan pemeriksaan.

Setelah cuaca menjadi terang, Hiecun telah berikan pemandangan yang menyedihkan, sebagai korban api.

Di antara empat tauwbak, Lim Siong Siu dan Yo A Tiong terluka hingga mereka tidak dapat jalan. Sama sekali telah binasa tujuh pemuda, dan yang luka ada tigapuluh lebih. Rumah musnah sebagian, malah cun- kongso sendiri kebakar separahnya.

Tan Giok Kouw adalah orang yang kembali paling belakang, bersama orang-orang perempuan, anak-anak dan orang-orang tua. Mereka ini tidak kurang suatu apa. Mereka semua lantas pulang ke masing-masing rumahnya, siapa yang tidak punya rumah, menumpang pada mereka yang rumahnya lebih besar.

Semua korban jiwa telah dirawat dan dikubur dengan baik.

Orang-orang tawanan tidak diganggu, dengan perahu mereka dibawa keluar dari Hiecun dan dilepaskan, hingga mereka dapat berlalu dengan selamat.

Tan Tay Yong telah keluarkan uang, untuk riangkan korban-korban. Sebab mereka, yang rumahnya ludas, selain mesti dirikan rumah baru, juga mesti beli pakaian dan rupa-rupa perabotan, terutama perabotan dapur.

Syukur meski adanya semua kehebatan, usaha menangkap ikan dapat dilanjuti dan tidak tertunda. Kerugian perahu-perahu pun terganti oleh perahu-perahu rampasan. Paling akhir, atas titahnya Lim Siauw Chong, Tan Tay Yong kumpulkan semua anggota Hiecun. Ketua ini peringatkan kendati bahaya sudah lewat, mereka toh tidak boleh alpa, sebab musuh setiap waktu dapat datang kembali. Mereka dianjurkan bersatu terus. Mereka dipesan, kalau ada rombongan lain Kiushe Hiekee yang datang, rombongan itu harus diterima, untuk perkuatkan diri. Giokliong-giam Hiecun harus dipertahankan untuk selama-lamanya. Kemudian ketua ini unjuk penghargaannya untuk bantuan sobat-sobatnya dan Yan Toa Nio serta anak, karena dengan tidak ada mereka, Hiecun pasti akan ludas.

Mendengar itu, semua orang Hiecun pada haturkan terima kasih mereka pada Sian Ie sekalian, hingga suara mereka bergemuruh.

Walaupun bagaimana juga, kemenangan terakhir ada pada Hiecun, maka itu, dalam kedukaan Lim Siauw Chong perintah adakan pesta besar, untuk satu hari saja, untuk gembirakan mereka yang masih hidup, yang sudah berkelahi mati-matian.

Sehabisnya pesta, Yan Toa Nio dan gadisnya mohon pamitan, katanya untuk berangkat memenuhi janji terhadap Pian Siu Hoo. Ia haturkan terima kasih yang mereka telah diterima di Hiecun, dan mereka telah dapat bantuan. Mereka harap, kalau mereka selamat, supaya di lain hari mereka dapat bertemu pula.

"Kita ada terhitung pihak Kiushe Hiekee, barangkali kita akan kembali ke sini, dan tinggal tetap di sini," kata nyonya Yan akhirnya.

"Aku lihat toanio berdua baik jangan terlalu terburu- buru," Lim Siauw Chong kata. "Pian Siu Hoo baru kabur, ia pasti belum siapkan diri, umpama toanio cari ia, ia tentu tidak akan mau lantas menemui. Toanio telah bantu kita, maka itu, aku anggap, kita juga tidak boleh an-tap kamu bekerja sendiri. Aku suka pergi ke Hucun- kang, untuk membantu sedapat-dapatku. Syukur kalau kita dapat bereskan Pian Siu Hoo, jikalau sebaliknya, aku pun akan merasa puas. Karena gempuran Englok-pang pada Hiecun, kita dari pihak Hiecun juga ingin bikin pembalasan. Maka, toanio, sekarang urusan tidak mengenai kau sendiri, hanya mengenai juga kita, adalah selayaknya bila kita bekerja sama-sama. Benar, toanio, aku tidak puas andaikata aku antap Pian Siu Hoo dapat angkat kepala lagi di Hu-cun-kang!"

Cukat Pok bersenyum tawar kapan ia dengar ucapan yang paling belakang ini.

"Lim loosu, bukannya aku hendak bakar kau, tetapi kau keliru jikalau kau pandang demikian enteng pada Pian Siu Hoo," berkata Souw-posu. "Pian Siu Hoo kabur karena kekalahan hebat dan ia telah menantang Toa Nio, aku percaya pasti, ia bersiap dengan tidak bekerja sendiri, ia mesti undang orang pandai guna bantu ia. Ia sudah menjagoi dua atau tigapuluh tahun di Hucun-kang, apa mungkin benar-benar ia sudi tinggalkan daerah pengaruhnya itu? Aku juga lihat Yan Toa Nio memandang terlalu enteng! Menurut aku, baiklah kita memahamkan urusan dengan teliti."

"Apa yang Cukat loosu bilang ada hal yang benar," kata Yan Toa Nio, "cuma dalam hal ini kami ibu dan anak tidak dapat memikir jauh. Keinginan kita hanya pembalasan sakit hati, lain tidak! Musuh memang liehay, umpama kata kita celaka di tangannya, kita tidak penasaran, kita mau anggap saja itu sebagai takdir. Begitulah maka kami berdua tidak takut walaupun Pian Siu Hoo minta bantuannya orang-orang gagah."

"Yan toanio, aku dapat mengerti kau," Hengyang Hee- in turut bicara. "Sakit hati kau ada hebat, keinginanmu adalah balas musuh dengan tangan sendiri, karena ini, kau tidak ingin bikin lain-lain kerembet-rembet. Ini ada maksud yang baik. Di sebelah itu, toanio sudah lupai persobatan di kalangan Sungai Telaga dan Rimba Persilatan. Bukankah menjadi tujuan utama kita, untuk tolong si lemah, bantu hamba-hamba setia dan anak- anak berbakti, isteri-isteri yang bijaksana dan suci murni? Bukankah harus kita bantu kau, toanio? Urusanmu kita sudah dengar lama, sekarang kita dapat berkenalan langsung dengan kau, apa kita boleh diam saja melihat kau bekerja sendirian? Tidak! Apapula kita ketahui baik, kau sekarang lagi hadapi bahaya! Kamu berdua saja, mereka ada sejumlah besar, apa itu pantas diantapkan? Mereka pun hendak membalas sakit hati, mereka hendak angkat naik pula pamor mereka, malah mereka ada kandung maksud jelek terhadap Hiecun ini lebih mengharuskan kita untuk berada di damping kamu berdua. Toanio, mari kita bekerja sama-sama! Urusan ini baik kita damaikan dengan pikiran tenang."

Sampai di situ, Hee In Hong turut bicara

"Sian loosu, apa yang kau bilang, semua itu benar," ia kata. "Meski begitu, aku lihat kita baik jangan terlalu berkuatir. Pian Siu Hoo lari pulang, di Hucun-kang ia tentu akan kumpul tenaga, maka sekarang, sebelum kita bertindak, baik kita lebih dahulu selidiki padanya, sesudah kita ketahui jelas, baru kita berdamai bagaimana kita harus hadapi padanya." Sebelum Yan Toa Nio kata apa-apa, Lim Siauw Chong, yang manggut-manggut, sudah mendahului.

"Sekarang baik diatur begini saja," ia bilang. "Yan Toa Nio berdua boleh berangkat lebih dulu, tapi jagalah supaya orang tidak curigai kau, kemudian kita akan susul kau. Satu hal yang pasti, kita tidak boleh bikin Pian Siu Hoo kembali dapat lolos, itulah berbahaya dan berabe."

Yan Leng In lantas berbangkit. "Cuwie loo-cianpwee, terima kasih untuk perhatianmu terhadap kami," ia berkata. "Adalah tidak pantas bagi kami apabila kami tampik kebaikan hati loo-cianpwee- Cuma satu hal aku hendak minta, ialah andaikata loo-cianpwee sekalian sampai di Hucun-kang, sebelumnya kita sendiri tempur Pian Siu Hoo, jangan loo-cianpwee turun tangan. Urusan Giokliong-giam baik dikesampingkan dulu! Kami akan binasa dengan mata tak meram jikalau kami tidak dapat bunuh sendiri pada musuh kita itu!"

Lim Siauw Chong bersenyum terhadap nona itu. "Mengenai ini, nona, kau dan ibumu baik jangan

kuatir," ia berikan perkataannya. "Jikalau kita sampai di

Hucun-kang, itu tidak akan bikin kamu berdua menjadi penasaran, kita akan biarkan kamu berdua turun tangan sendiri!"

Sampai di situ, pembicaraan sudah berakhir. Hengyang Hie-in Sian Ie ada punya urusan di Kang-im,

ia akan berangkat sendiri. Souwposu Cukat Pok juga tidak berkawan, karena sudah biasanya ia lebih suka jalan sendiri. Lim Siauw Chong mempunyai perjanjian dengan suheng-nya Tan Ceng Po, di Ciantong-kang, sesudah itu ia baru mau pergi ke Hucun-kang, maka ia jalan sama-sama Hee In Hong dan akan berpisahan di tengah jalan.

Di hari kedua, dengan tetap gunai perahu kecilnya, Yan Toa Nio berangkat bersama anaknya Mereka dandan sebagai nelayan. Tan Giok Kouw merasa berat ditinggal pergi, maka dengan sebuah perahu, ia mengantar sampai di mulut muara. Ia pesan dengan wanti-wanti agar ibu dan anak itu kembali ke Giokliong-giam apabila mereka sudah selesai mencari balas.

Leng In duduk di tengah dengan penggayuhnya, ibunya pegang kemudi. Ia dapat menggayuh dengan baik, maka perahunya telah laju dengan pesat.

Hengyang Hie-in dan yang lain-lain berangkat tidak lama dari berangkatnya Yan Toa Nio dan anak. Lim Siauw Chong berangkat paling belakang, karena lagi sekali ia kumpulkan semua penduduk Hiecun, untuk kasih mengerti pada mereka agar mereka bersatu dan beragam membelai Hiecun, sebab musuh masih dapat datang pula. la pun janji, satu waktu ia akan ajak Tan Ceng Po datang, akan longok mereka. Katanya, ia harap Kiushe Hiekee dapat pindah semua dari Hucun-kang ke Giokliong-giam, sebab di Hucun-kang, suasana telah jadi buruk dan mereka tidak boleh ikut-ikutan jadi tukang berkelahi dan jahat.

Demikian, seperginya semua orang itu, Hiecun kembali jadi seperti biasa, hingga Tan Tay Yong jadi berdebar- debar hatinya, karena sekarang ia mesti tanggung jawab sendiri. Maka ia pun minta semua orang bersatu dan berhati-hati, akan jaga diri.

Kita sekarang turuti Yan Toa Nio dan anaknya. Mereka dapat menggayuh dengan cepat akan tetapi perjalanan toh tidak dapat dibikin lekas sebagaimana yang mereka harap. Selama masih berada di daerah Englok-kang, saban-saban mereka berdaya akan menyingkir dari orang-orang yang dicurigai, bukan karena takut, hanya sebab mereka tidak mau hadapi rintangan dengan tak ada perlunya. Baru setelah lewat tiga hari, mereka dapat keluar dari daerah Englok-kang. Selama di perjalanan ini, roman perahu mereka, mereka robah, hingga tidak sembarang orang dapat mengenali perahunya kendati tadinya orang pernah lihat. Mereka sendiri sengaja pakai pakaian yang banyak tambalannya, rambutnya tidak pernah disisir, muka tidak pernah disusut, hingga mereka mirip dengan dua pengemis perempuan.

Di hari kesembilan, ibu dan anak ini telah mulai masuk daerah Hucun-kang. Dari Tonglouw mereka menuju ke Kiantek, mereka menyingkir dari pusatnya Lankie-pang. Karena perjalanan masih ada empat atau lima lie dari pusat Kangsan-pang, mereka lantas singgah di satu dusun nelayan kecil di dalam teluk. Syukur bagi mereka, penduduk situ tidak terlalu perhatikan mereka. Leng ln bicara dengan lidah Bin-at tetapi ibunya tidak dapat robah lagu suara asalnya.

"Di sini kita mesti hati-hati," Yan Toa Nio pesan anaknya. "Penduduk sini ada nelayan semua, karena mereka hidup di atas Hucun-kang, harus disangsikan yang mereka tidak punya hubungan dengan musuh kita. Kita mesti jaga agar rahasia kita jangan terbuka. Kita mesti berlaku hati-hati untuk mencari sarangnya Pian Siu Hoo."

Leng In perhatikan pesanan ibunya itu. Dua hari lamanya Yan Toa Nio bergaul dengan penduduk pesisir itu. Ia tidak mau lantas pergi ke udik. Satu nelayan tua, Pok AKui namanya, diajak bicara- bicara. Nelayan itu telah berusia enampuluh lebih, romannya polos.

"Mendengar suaramu, nyonya, kau mesti ada asal Hucun-kang juga," kata orang she Pok itu. "Kangsan- pang berada di sini sudah beberapa turunan dan belum pernah pindah, siapa saja hidup di muka air sini, ia tentu ketahui di mana letak pusatnya, maka heran, sebagai nelayan, kau tidak mendapat tahu "

"Kau rupanya tidak dapat bedakan aku, loojinkee!" Toa Nio kata sambil tertawa. "Benar aku asal Hucun-kang tetapi sudah duapuluh tahun lebih aku berlalu dari sini, hingga sekarang aku menjadi seperti seorang asing. Aku ingat, sebelumnya aku pindah, aku mempunyai satu keponakan yang bekerja di dalam Kangsan-pang, sekarang aku tidak tahu, ia masih hidup atau sudah mati, atau kalau masih hidup apa ia tetap masih bekerja pada pusat. Andaikata aku bisa bertemu ia, aku percaya aku tidak usah mengalami hidup sengsara terlebih jauh seperti ini Kami berdua, ibu dan anak, hidup di muka

air, tapi lacur, kami tidak punya kepandaian, hingga kami tidak dapat hidup sebagai nelayan. Aku pikir akan hidup di darat saja "

Nelayan tua itu manggut. Ia berniat buka mulut ketika satu nelayan muda, yang sedang masak nasi di bagian belakang, dului ia.

"Ayah, kau jangan kasih keterangan sembarangan," demikian katanya. "Kau hendak suruh orang pergi ke pusat, siapakah yang mau dicari? Ayah tidak tahu, pusat sekarang sudah pindah "

"Kau ngaco!" orang tua itu membentak, sambil menoleh ke belakang. "Mustahil pusat bisa pindah? Kau masaklah nasimu! Aku tidak dapat salah!"

"Kau tidak percaya, ayah?" anak muda itu masih berkata. "Memang adalah aneh, aku juga tidak percaya kalau yang bicara dengan aku bukannya orang yang aku percaya betul! Ia adalah Ciu Siu-jie, sobat kekalku. Baru kemarin ia pulang dan lewat di sini. Ia juga anggap aneh yang Kangsan-pang mesti pindahkan pusat! Sekarang ini di pusat yang lama cuma ketinggalan berapa pengurus, yang lainnya sudah pergi semua."

Si nelayan tua benar-benar heran, sampai ia berseru tertahan.

"Benar-benar aneh!" ia kata. "Kejadian ini tidak saja aku belum pernah saksikan, dengar pun tidak. Kangsan- pang belum pernah pindah, sejak dahulu! Rupanya ada terjadi suatu apa yang hebat "

"Itulah aku tidak tahu," sahut si anak muda. "Sebenarnya ketua Kangsan-pang ada ternama melainkan adatnya ada sedikit keras. Kalau ia sampai diusir entah berapa liehay-nya sang lawan itu "

Yan Toa Nio unjuk roman tenang, meski ia juga sebenarnya sedikit heran.

"Pian Siu Hoo pindah sarang, benar-benar ia ada kandung suatu maksud," ia pikir. Ia menduga musuh pasti sedang kumpulkan tenaga. Lantas dengan diam-diam Yan Toa Nio berdamai dengan anaknya.

"Ia sudah pindah, entah ke mana," ia kata. "Untuk mencari tahu, mari kita dekati pusatnya. Kita jadi tambah pekerjaan "

Leng In setuju. Ia anggap, keterangan dapat didapatkan hanya dari orang dalam.

Pada malam itu, jam dua antara gelap petang, dengan hati-hati Yan Toa Nio lepaskan perahunya dari tambatan, dan menggeleser di muka air, kemudian barulah penggayuh dikasih kerja keras, hingga dengan laju kendaraan itu menuju ke Go-cu-mui ialah pusat atau sarangnya Kangsan-pang.

Oleh karena pesatnya perahu laju, pada kira-kira jam tiga, perahu ini sudah sampai di dekat Gocui-mui. Mereka tidak berani segera hampirkan sarangnya Kangsan-pang, di satu pengkolan, tempat yang tersembunyi, mereka tahan perahu mereka. Mereka mendarat, dengan turuti gili-gili, mereka dekati mulut Gocui-mui, yang merupakan suatu muara persegi tiga. Di situ berlabuh tiga perahu besar dan dua perahu kecil. Penerangan di dalam perahu kebanyakan sudah padam. Di perahu kiri ada cahaya api dan sunyi nampaknya

Yan Toa Nio hampirkan perahu ini, dengan berani ia loncat naik ke atasnya.

Yan Leng In, yang jalan belakangan, susul ibunya.

Di dalam perahu terdengar suara orang menggeros.

Yan Toa Nio pergi ke mulut gubuk perahu, Leng In hampiri jendela. Di dalam tertampak dua orang, yang satu rebah di pembaringan, yang satunya di lantai perahu. Mereka inilah yang kasih dengar suara mengorok.

Tentu sekali, dengan mengawasi saja, keterangan tak didapatkan.

Selagi Yan Toa Nio berpikir, Yan Leng In telah hampiri ia, ketika ia menoleh, anak itu menunjuk ke atas. Lantas saja ia mengerti, maka lantas juga ia loncat naik ke gubuk perahu, terus ke atas tiang layar. Leng In sebaliknya ambil galah kejen, yang dengan keras ia timpukkan ke air, hingga dalam kesunyian, galah itu menerbitkan suara berisik. Berbareng dengan itu, si nona lari sembunyi ke belakang.

Lekas sekali, satu orang lari ke luar. Dan ia lantas dapat lihat galah mengambang.

"A Su, mari, lekas!" ia memanggil. Ia mengulangi sampai dua kali, barulah kawannya muncul, dengan lungu-lungu.

"Ho suhu, ada apa?" ia tanya, matanya kesap-kesip, tindakannya limbung. "Ada apa suhu, kau kelihatannya kaget "

"A Su, hayo sadarkan diri'." orang itu menegur. "Apa barusan kau tidak dengar suara apa-apa, begitu nyaring? Tidak keruan-keruan galah kejen itu ceburkan diri ke air! Aku kuatir di sini ada orang tidak diingini! "

"Tidak bisa jadi!" jawab si A Su itu. "Kalau ada orang, mustahil! Kita tidak dapat lihat! Tentu tadi galah tidak ditaruh rapi, barusan karena tersampok angin ia rubuh sendirinya! Kita jangan ibuk tidak keruan! Ketua kita sudah pindah dari sini, biar ada urusan bagaimana besar, tidak nanti orang cari kita. Kenapa suruh aku lihat sebatang bambu? Kita tidak usah ambil peduli!"

"A Su, bukannya begitu!" kata kawannya, yang rupanya mendongkol. "Bukankah di waktu mau pergi ketua sudah bentahukan kita bahwa ia mempunyai musuh, yang hendak satrukan padanya? Juga Gocu-mui ada terlalu sempit, sedang urusan bukan urusan coanpang, maka ia anggap tidak bagus akan bikin onar di sini? Ketua toh sudah pesan, kalau ada orang cari dia, kita mesti berikan keterangan menurut pesanannya, sedikit juga jangan salah. Kau ketahui sendiri, ketua kita tidak boleh dibuat permainan, kalau kita bikin salah, kesudahannya ada hebat bagi kita. Mari kita periksa!"

Ditegur begitu, A Su tidak berani banyak omong lagi, ia masuk ke dalam, untuk ambil lentera, tangan kirinya menyekal golok. Dari depan ia pergi ke belakang, dari sini ia loncat ke perahu sebelah, begitupun perahu ketiga, ia periksa dengan teliti. Ia terus ditemani oleh kawannya yang dipanggil Ho suhu. Mereka balik ke perahunya dengan tidak dapati apa-apa, sesudah mutar lagi di perahu ini, mereka masuk ke dalam.

Yan Toa Nio lantas loncat turun, dan Leng In juga keluar dari tempat sembunyinya di bawahan kemudi, tetapi ia terus naik ke gubuk perahu di mana ibunya berada, maksudnya akan bicara satu pada lain.

Yan Toa Nio baru mau buka mulutnya kapan matanya lihat suatu apa di tengah sungai.

"Mundur!" ia berbisik seraya tolak tubuh anaknya, dengan ia kembali loncat naik ke atas tiang layar. Leng In menurut, ia loncat turun, akan kembali ke tempat sembunyinya tadi.

Apa yang nyonya Yan lihat adalah sebuah perahu kecil yang mendatangi dengan lekas ke jurusan perahu besar. Di atas perahu kecil itu segera muncul satu lentera merah, yang digoyang beberapa kali.

Orang di perahu rupanya telah dengar suara perahu itu, dua-duanya keluar dan menunggu di muka perahu.

Kapan perahu kecil itu sudah datang dekat, lentera merah lantas disingkirkan.

"Saudara siapa di sana?" begitu menegur si orang she Ho dari perahu besar. "Kenapa begini hari masih datang kemari? Apa kau antarkan barang?"

"Ya, satu nota, yang ini malam juga mesti disampaikan kemari. Katanya barang yang dimaksudkan sudah sampai cuma belum tahu, di mana ditundanya. Dan kau, Ho su- hu, mulai malam ini, kau diminta menaruh perhatian.

Biar bagaimana juga, jual beli sekali ini tak bisa dibatalkan lagi. Lauw Phoa sudah siap, akan sambut tetamu kita itu, yang hendak dipapak secara baik-baik. Cuma, andaikata ia sampai jauh terlebih siang, Lauw Phoa kuatir ia tidak keburu sedia lengkap, kalau perdagangan ini gagal, ia kuatir nama baik dari Kangsan- pang nanti termusnah anteronya! Ho suhu, kau di sini sudah terima kabar atau belum?"

"Di sini tidak ada kabar sedikit juga," sahut si orang she Ho. "Perahu-perahu berlayar tidak putusnya tetapi kita belum pernah lihat perahu barang."

"Baiklah," kata orang dari perahu kecil itu. "Sekarang Ho suhu sudah dapat ketahui, kita hendak kembali." Perahu kecil itu lantas digayuh balik dan terus pergi pula, dan Ho suhu serta kawannya pun masuk pula ke dalam.

Yan Leng In muncul pula setelah orang sudah menghilang di dalam gubuk dan Yan Toa Nio dengan hati-hati loncat turun dari tiang layar. Anak dan ibu berkumpul menjadi satu. Dengan satu tanda gerakan tangan, Yan Toa Nio ajak anaknya loncat turun ke muka perahu di mana mereka umpatkan diri di pinggir pintu, akan pasang kuping.

"Kau telah dengar sekarang," terdengar satu suara. "Urusan sekarang tidak boleh dipandang lagi seperti permainan anak-anak, selama dua hari ini, kita mesti berlaku hati-hati. Ketua kita toh sudah terangkan pada kita dalam dua hari ini bakal terjadi apa-apa, bahwa di Haytong-kok sembarang waktu dapat kedatangan orang. Kita sekarang mesti menunggu dan menjaga, kalau terjadi kegagalan di pihak kita, sungguh malu. Apa kita mesti bilang pada ketua kita? Kita harus mengaso dengan bergiliran, kalau nanti sudah terang tanah dan datang wakil kita, baru kita lepas tangan, kita boleh tidur Seantero hari, tidak nanti ada yang larang!"

Leng ln lantas kasih tanda pada ibunya, ia terus ke kepala perahu, akan terus loncat lebih jauh ke darat, ibunya susul ia.

"Benar-benar Kangsan-pang telah pindah," kata si nona, setelah mereka kumpul di darat, jauh dari perahu musuh. "Di sini tidak ada orang yang penting. Perahu kecil barusan mesti ada orang suruhannya Pian Siu Hoo, yang datang dari sarang mereka yang baru itu. Mereka sebut Haytong-kok, tempat itu, satu selat yang asing sekali bagi kita. Pian Siu Hoo ambil tempat begitu asing, itu menunjukkan terang daya upayanya atau rencananya yang ditujukan terhadap kita. Ia ingin supaya kita tidak lekas-lekas ketahui pernahnya pusatnya itu. Apa tidak baik kalau sekarang kita susul dan kuntit perahu tadi?

Jikalau kita berhasil, kita tentu akan segera ketahui sarangnya musuh kita itu!"

Yan Toa Nio manggut.

"Aku juga pikir demikian," ia kata. "Perahu musuh ada kecil dan enteng, sekarang ia tentu sudah pergi jauh, tetapi karena sekarang ada di waktu malam, tidak ada halangannya untuk kita coba kejar padanya."

Ibu dan anak telah dapat kecocokan, lantas lekas- lekas mereka balik ke perahu mereka, yang mereka segera bawa keluar dari tempat sembunyi, kemudian dengan gunai tenaga, yang lebih besar daripada biasanya, mereka bikin perahu itu bergerak cepat di muka air. Mereka ambil tujuan menuju ke perahu kecil tadi, ialah ke barat.

Begitu lekas sudah sampai di tengah sungai, perahu bisa bergerak dengan leluasa, kendati jagat ada gelap. Dari sini, perahu menuju lebih jauh ke jurusan barat selatan. Mereka rasanya sudah laju jauh tetapi perahu kecil tadi belum kecandak.

"Kita baik jangan berbuat begini bodoh," akhirnya Yan Toa Nio kata. "Kita tidak ketahui jurusan yang musuh ambil, kita juga tidak tahu di mana letaknya Haytong- kok, ke mana kita mesti menuju sebenarnya? Aku pikir baik kita menunda, akan besok dengar-dengar keterangan lebih dahulu." Yan Leng In bisa setujui ibunya, maka itu, perahu mereka tidak lagi laju pesat laksana melesatnya anak panah, dan tujuan pun ke pinggir.

Selagi mereka hendak mengkol:

"Lihat di sana, di sebelah timur!" tiba-tiba Yan Toa Nio berkata "Apa itu bukannya cahaya lentera merah?"

Leng In berpaling dengan cepat. Benar, seperantaraan lepasan anak panah, ia tampak cahaya merah yang kecil, yang bergerak-gerak. Tapi, selagi mengawasi, cahaya itu lantas Ienyap.

"Ibu, mari kita susul cahaya itu," kata si nona. "Itu ada cahaya yang sama dengan yang tadi di Gocu-mui.

Jangan-jangan di sana ada pelabuhan mereka   "

Yan Toa Nio putar tujuan perahunya selagi si anak belum tutup mulutnya, maka Leng In bisa lantas menggayuh. Mereka berlaku hati-hati, supaya penggayuh tidak menerbitkan suara air berisik.

Tidak antara lama, mereka sudah sampai di tempat di mana mereka tadi lihat cahaya api menghilang. Itu adalah muka air yang menjadi tempat bertemunya tiga aliran sungai. Tiga atau empat perahu mayang tertambat di pinggiran, tetapi perahu kecil tadi tidak tertampak.

Yan Leng In memandang ke depan dengan tidak peroleh hasil.

"Ibu!" kata ia seraya tangannya menunjuk ke selatan.

Yan Toa Nio gayuh perahunya masuk ke dalam perapatan, atau sha-cee-kauw, tapi sebelum ia masuk jauh, di sebelah belakangnya, ia dengar suara penggayuh, apabila ia menoleh, ia lihat sebuah perahu kecil lagi mendatangi. Karena ia menduga pada musuh, yang berbalik menguntitnya, ia gunakan tenaganya, akan bikin perahunya laju pesat. Ia sering-sering menoleh, ia lihat ia sedang dibuntuti dari kejauhan.

"Perlahan sedikit, biar ia dapat susul kita," katanya pada anaknya. Sudah terlanjur, ia tidak bisa sembunyi lagi.

Leng In memperlambat gerakan tangannya, dan kepala perahu ia tujukan ke pinggir.

Apamau, perahu di belakang pun jadi perlahan lajunya, maka itu sekarang telah jadi terang, perahu itu sedang menguntit.

"Coba berhenti, lihat, cara bagaimana ia ikuti kita," Leng In kata pada ibunya.

Yan Toa Nio menurut. Perahu mereka segera dikasih minggir.

Dengan perlahan, perahu kecil di belakang itu berlayar dan lewat. Penumpangnya ada tiga orang, satu kemudi, dua menggayuh.

"Ibu jangan kasih diri kita dipincuk," kata Leng In. "Terang perahu itu ada perahu Kangsan-pang, ia lagi berdaya supaya kita tidak bisa susul perahu kecil di depan tadi. Mari kita maju!"

"Sabar," Toa Nio jawab anaknya. "Kasih ketika untuk aku mengingat-ingat. Dulu aku pernah lewat di perapatan itu. Jurusan barat utara ada jalanan langsung dua, yang lain ada untuk ke Iehang dan ke suatu tempat sunyi, kalau tidak salah, Tohhoa-thong namanya. Dalam satu tahun, melainkan di bulan dua dan tiga ada banyak perahu pesiar. Di sana, sepanjang sepuluh lie, semua ada pohon-pohon tohhoa yang indah. Kecuali dalam dua bulan itu, tidak ada perahu pergi ke sana. Mari kita coba menyelidikinya "

Baru saja nyonya Yan berhenti berkata atau dari jurusan barat utara ada muncul sebuah perahu kecil, keluarnya dari tempat penuh gelaga, lajunya pesat sekali.

"Lihat itu perahu kecil, ibu!" kata Leng In. "Terang ia telah sembunyi di sini! Mari kita susul padanya!"

Toa Nio juga merasa aneh, sambil menjawab, "Baiklah!" ia geraki penggayuhnya.

Mencurigai ada perahu kecil di depan itu. jalannya sebentar cepat, sebentar perlahan, dan nyonya Yan tidak mampu menyandak, malah satu kali, ia seperti lenyap tetapi lekas muncul pula! Adalah setelah menghilang buat kedua kalinya, ia lenyap betul-betul.

Yan Toa Nio sudah mengejar jauhnya tujuh atau delapan lie, tempat ada istimewa sunyi, malah kadang- kadang perairan pun sempit, lebarnya hanya beberapa kaki, di kedua tepi penuh dengan gelagah dan pepohonan air lainnya. Nyata sekali, itu cocok untuk tempat banyak.

Setelah melalui belasan lie, Yan Toa Nio dan anaknya sampai di tempat, di mana mereka lihat dua tempat pemberhentian perahu. Ketika itu, sudah waktunya fajar.

"Kita tidak boleh sembarangan maju lebih jauh," kata Yan Toa Nio "Perahu kecil telah lenyap, kita berada dalam bahaya. Kalau ia benar ada dari pihak Kangsan- pang, pasti ia sedang permainkan atau sedikitnya mereka akan tertawakan kita, dan katakan tolol..."

Cuaca sudah mulai terang, keadaan di sekitarnya sudah mulai dapat dilihat nyata.

"Ibu, apa itu yang nampaknya hitam di pinggiran," Leng In tanya, tangannya menunjuk itu. "Di sini memang ada beberapa kampung Mari kita mampir, akan tanya keterangan hal Haytong-kok. Asal benar itu adalah selatnya, mesti ada orang yang ketahui."

Mereka berlaku hati-hati tetapi mereka tidak takut.

--ooo0dw0ooo--