Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 05

Jilid 05

Mendengar demikian, pihak Englok-pang diam saja, mengawasi Mereka percaya, kendati omongannya merendah dan halus, tetapi karena melitnya Sian le mestinya bakal majukan usul yang sukar.

Akhirnya, Han Kak dari Hangciu-pang majukan diri. "Sian loosu," berkata ia. "Kau ada jago tua yang

ternama sekali di kalangan Sungai Telaga dan sebagai

pemimpin di kalangan Hiapgie Too-bun, maka kita merasa beruntung sekali yang malam ini kau sudi datang kemari untuk berikan pelajaran pada kita. Kita memang ketahui loosu ada punya kepandaian yang tinggi, sekarang silakan loosu jelaskan usulmu itu. Baik diterangkan terlebih dulu, kita akan melayani sebegitu lama kita sanggup. Umpama kita semua roboh di tangan loosu, kita orang akan roboh dengan merasa puas, karena pantas kita menyerah pada loosu."

Sian le pandang orang yang bicara itu, yang ia kenalkan, ia tertawa.

"Han loosu, jangan kau angkat aku terlalu tinggi," ia bilang. "Semakin tinggi aku diangkat, semakin parah akhirnya apabila aku kena dibikin roboh. Siapa sudah datang kemari, apakah ia mau pulang dengan tangan kosong? Siapa sudah datang kemari, perlu baginya untuk mempertunjukkan kepandaiannya. Ketika aku ada di atas Hengsan, untuk ajarkan murid ilmu entengi tubuh, aku biasa gunakan golok bambu sebagai gantinya tangan kosong. Ini ada pelajaran yang berfaedah, yang bahayanya tidak ada. Dengan ini juga, kemajuan jadi gampang didapat. Cuwie loosu ada orang-orang ternama, semua ada berkepandaian tinggi, permainan macam ini pasti tidak berharga di mata loosu sekalian.

Tapi bagiku si tua bangka ini ada penting, karena aku sudah tua, tenagaku sudah habis. Untuk kebaikanku, aku sengaja pikirkan ini macam permainan, yang aku sering latih sendiri, maka sekarang aku undang cuwie loosu, atau siapa saja, satu di antaranya, sudi main-main dengan aku untuk beberapaju-rus saja. Bukankah ini ada bagus?"

Sehabisnya kata begitu, dengan tidak tunggu jawaban dari pihak kawan, Sian le menoleh pada Tan Tay Yong, yang sedari tadi terus diam saja. "Tan cuncu, tempatmu ini bukannya tempat yang terlalu makmur, dari itu aku tidak ingin minta barang aneka warna kepada kau," ia berkata. "Aku tidak ingin bikin berabe padamu! Bukankah setiap rumah mempunyai sebatang golok? Sekarang aku minta kau sediakan tigapuluh enam batang golok semacam itu. Karena di sini ada banyak orang, aku mau minta kau tolong perintahkan supaya semua golok itu digalikan lubang dan dipendam, sedikitnya setengah kaki dalamnya. Aku minta golok dipendam dengan hati-hati, kalau tidak kuat dan kakiku yang tua berlaku ayal atau alpa sedikit saja, jiwa bangkotan dari aku tentu tidak bakal tertolong lagi dan kau bakal mengganti kerugian! Sekarang, cuncu, silakan kau perintahkan orangmu bekerja dengan lekas, agar tamu kita bisa menggunakan dengan tidak usah jadi tidak sabaran!"

Sian le bicara dengan sabar dan secara main-main tetapi permintaannya itu, atau pun titahnya itu telah bikin Tan Tay Yong menjadi kaget.

Cuncu ini ketahui Kengsin-sut atau ilmu membikin enteng tubuh, tetapi ia belum pernah dengar ada Bweehoa-ciang yang pelatoknya terdiri dari ujung golok yang tajam. Meski begitu, ia lantas saja bekerja, karena ia bisa menduga maksud orang.

Dengan tidak pedulikan bagaimana anggapan musuh dan dengan tidak ambil tahu pihak lawan atau kawan tercengang, Sian Ie sendiri sudah lantas berikan tanda- tanda di mana setiap golok harus dipendam. Empat nelayan muda dengan tombak telah gali lubang. Maka kapan golok telah dibawa datang, golok itu bisa segera dipendam. Begitu lekas semua pelatok sudah dipasang rapi, Hengyang Hie-in lantas hadapi pula Tiathong-Iiong Pian Siu Hoo sembari kiongchiu, ia bertanya, "Aku Sian Ie telah majukan usul ini, entah bagaimana dengan Pian loosu, kau sudi mengiringi aku atau tidak?"

Semua orang mengawasi ketua dari Kangsan-pang. Mereka yang mengerti Bweehoa-ciang telah mengerti dengan baik bahwa Bweehoa-ciang istimewa ini—yang sebenarnya dipanggil Kimtoo-tin atau "Barisan golok emas", ada jauh terlebih berbahaya, sebab siapa injakannya berat sedikit, sepatunya bakal tertusuk tembus dan kakinya celaka! Dan siapa yang Kengsin-sut- nya tidak liehay, ia pasti tidak akan berani bersilat di atas pelatok-pelatok golok itu.

Tapi ketua dari Kangsan-pang sambil balas menghormat, menjawab, "Aku yang rendah suka sekali menerima pengajaran dari Sian tay-hiap "

"Pian loosu sudah sudi memberikan pengajaran kepadaku, itu saja sudah satu kehormatan besar," berkata pula Sian Ie. "Pian loosu, persilakan!"

Berbareng dengan ucapan "persilakan" itu, tubuhnya Sian Ie telah mencelat ke atas Kimtoo-tin, berdiri atas satu pelatok.

Perbuatan ini telah lantas diturut oleh Pian Siu Hoo, siapa loncat naik dan berdiri atas satu pelatok dengan kaki kiri dan kaki kanan terangkat, hingga ia merupakan Kim-kee toklip atau "Ayam emas berdiri atas satu kaki".

Sampai di situ, kedua pihak tidak bisa bicara lagi, karena masing-masing mesti kendalikan semangat dan tubuh mereka, siapa bicara, ilmu Kengsin-sut-nya lantas jadi gugur sendirinya.

Pian Siu Hoo sekarang geser kaki kanan ke kanan, ke pelatok lain, tubuhnya mengikut pindah. Karena ini, Sian Ie lalu geser tubuhnya ke depan akan maju, sembari maju ia mendek sedikit, tangan kiri di depan, tangan kanan seperti menyusun di sebelah belakang. Ia bergerak, dari selatan, ke barat utara.

Dua-dua jago ini ada bertubuh tinggi dan besar, tetapi untuk dapat lihat mereka terlebih nyata, penonton dari kedua pihak lantas maju sedikit, hingga lapangan jadi terkurung. Semua mata ditujukan kepada mereka berdua.

Kedua pihak sudah lantas jalan setelah memutari semua pelatok, dengan itu, mereka masing-masing cari tahu kekuatannya pelatok itu, supaya jangan ada yang pendeman-nya kurang sempurna. Dari sini pun orang bisa lihat, mereka benar-benar mengerti baik Kengsin- sut.

Sesudah yang satu pergi ke barat utara dan yang lain ke timur selatan, lantas mereka berkumpul di tengah, akan segera mulai dengan pertempuran mereka. Pian Siu Hoo berlaku gesit, sekali loncat, ia telah lewati tiga pelatok. Tapi Sian le pun berlaku cepat, akan papaki lawan itu hingga sekarang mereka berpisah hanya antara satu pelatok.

Dengan tiba-tiba Pian Siu Hoo loncat ke pelatok sebelah kiri, kedua tangannya dibuka dalam sikap Tay- peng thiancie atau "Garuda pentang sayap". Dengan tangan kanan, ia serang iga kirinya Sian le. Hengyang Hie-in tidak loncat menyingkir, ia hanya egos sedikit tubuhnya ke belakang, kapan bencana sudah lewat, dengan tangan kanan ia coba sontek naik tangan musuh, dengan tangan kiri ia totok nadi musuh itu.

Lekas-lekas Pian Siu Hoo tarik pulang tangannya.

Dengan menukar kaki kanan ke kiri, ia maju, akan kaki kirinya dimajui terlebih jauh. Saking cepatnya, ia jadi berada di samping lawan, akan terus hajar pada belakangnya. Kalau pukulan ini mengenai sasarannya, pihak lawan pasti bakal jatuh ngusruk.

Tapi dengan tidak kalah gesitnya, Sian le putar tubuhnya selagi serangan musuh jatuh di tempat kosong, ia sendiri sudah lantas hadapi musuh itu depan berdepan. Dengan tidak sia-siakan ketika lagi, dengan dua-dua tangannya ia serang bagian dada.

Pian Siu Hoo tidak takuti itu macam serangan, dengan dua tangannya juga yang ia angkat ke depan dadanya, ia buka serangan itu. Ia bersedia akan tangkis kekerasan dengan kekerasan. Tapi Sian le tidak mau adu tenaga, di saat berbahaya itu, yang bisa memberi putusan, dengan tiba-tiba ia tarik pulang kedua tangannya. Ia tidak menarik habis, ia buka kepelannya untuk masing-masing dengan dua jari menotok nadi musuh.

Untuk tolong dirinya, Pian Siu Hoo lekas-lekas loncat ke kanan, melewati tiga pelatok.

Setelah kedua pihak terpisah cukup jauh, mereka sekarang mulai jalan mutar, sama-sama pasang mata, sama-sama mencari lowongan untuk mulai dengan penyerangan baru. Dengan satu dari barat, yang lain dari timur, mereka mulai merangsek pula, untuk datang dekat satu dengan lain. Sampai di situ, Tiathong-liong Pian Siu Hoo telah dapat kenyataan yang Kengsin-sut Hengyang Hie-in itu telah sampai di batas kesempurnaan, dan bugee-nya benar lie-hay, maka ia mengerti, jika ia tidak adu jiwa, sangat sukar untuk ia merebut kemenangan. Karena ini, ia telah maju mendekati dengan hati telah memikir tetap. Dengan Kim-liong tamjiauw atau "Naga emas menyodorkan cengkeraman", ialah dengan lima jari yang menyengkeram, ia menyerang ke jurusan dada yang dinamai hoahay-hiat.

Begitu melihat serangan yang ia kenalkan dengan baik, Sian Ie lantas mengerti yang pihak lawan hendak rebut kemenangan. Siapa terkena cengkereman ini, akan tak terluput dari bahaya sekalipun ia mengerti ilmu kuatkan tubuh yang dipanggil CapshaThaypoHenglian Kanghu. Daya untuk tolong dirinya adalah mendahului serang musuh agar musuh batalkan serangannya itu, atau serangan itu berlanjut tetapi bahayanya telah menjadi kurang. Dan daya ini telah diambil oleh Hengyang Hie-in.

Sian Ie angkat naik kaki kirinya, kaki kanan tetap di pelatok, hingga tubuhnya jadi seperti terangkat, berbareng dengan mana, dengan pundak terangkat, tangan kanannya dipakai menekan ke bawah, tangan kirinya ikut menyusul.

Kedua pihak telah bergerak dengan gesit sekali.

Tangannya Pian Siu Hoo tidak lagi bisa menuju pada hoakay-hiat hanya ke lain anggota, ialah pahanya Sian le, tangannya telah menempel kepada lawan ketika ia terperanjat oleh karena tangan lawan juga sudah mengancam kedua lengannya. Dua lengan itu akan celaka jikalau tidak lekas ditarik pulang, sedang serangannya pasti jadi tidak hebat lagi. Maka itu, untuk lindungi lengan sendiri, terpaksa ia segera batalkan penyerangannya sambil loncat mundur sampai tiga pelatok jauhnya. Di lain pihak, Hengyang Hie-in juga, karena gerakannya itu, untuk bikin tetap tubuhnya segera loncat mundur juga, tetapi ia hanya pindah satu pelatok.

Gerakannya Pian Siu Hoo ada terpaksa, imbangan tubuhnya kena terganggu, tubuhnya menjadi berat sendirinya. Inilah ada berbahaya untuk kakinya yang injak pelatok golok. Dari itu, sambil gunai ilmu melesat Yahok chiongthian atau "Burung ho hutan menerjang langit" ia terus loncat turun ke tanah.

Sian le tidak menghadapi bahaya, akan tetapi melihat lawannya turun dengan terpaksa, ia juga segera turut bikin gerakan akan loncat ke tanah, tetapi karena ia terus menghadapi ketua dari Kangsan-pang, ia bisa lantas angkat kedua tangannya dan memberi hormat, la terus berkata, "Pian loosu, tanganmu benar-benar liehay, aku si orang she Sian menyerah."

Mukanya Pian Siu Hoo menjadi merah, karena jengah sendirinya, la merasa malu yang ia telah dikalahkan dengan cara demikian. Ia terkenal di kalangan Sungai Telaga, bu-gee-nya liehay, maka itu di Hu-cun-kang, orang angkat ia menjadi bengcu atau ketua dari kalangan coanpang. Malahan lain golongan coanpang juga malui padanya. Ia turut datang ke Giokliong-giam atas undangannya Na Thian Hong, karena ia malu hati terhadap Auwyang Cu Him dari Tonglouw-pang. la datang untuk membantu, siapa tahu sekarang, kesudahannya, ia sebaliknya jadi mendatangkan malu bagi pihak yang akan dibantu itu, melulu gara-gara kekalahannya ini. Karena itu, dalam sekejap saja pikirannya menjadi tersesat.

"Baiklah aku adu jiwaku, biar namaku ludas di Giokliong-giam ini!" demikian ia dapat pikiran. "Aku tidak bisa berlalu dari sini dengan membawa malu besar! "

Begitulah ia segera membalas hormatnya Sian le dan berkata, "Sian tayhiap, kepandaianmu sungguh mengagumkan! Malam ini aku Pian Siu Hoo baru mengalami dan berkenalan dengan kepandaian yang tinggi luar biasa. Kau begitu baik hati, tidak mau kasih aku menderita malu terlebih hebat, untuk itu aku bersyukur sekali. Tapi sekarang adalah ketika baik yang sukar dicari, maka aku pikir baiklah ketika ini aku dapat mengakhiri cara hidupku di kalangan Sungai Telaga. Sian tayhiap, aku sekarang hendak minta pengajaran terlebih jauh. Aku tidak punya lain kepandaian lagi kecuali dua rupa senjata rahasia, mengenai itu sekarang, di hadapan sekalian ahli silat, aku mau minta pengajaran dari kau.

Aku dengar tayhiap pandai menggunakan senjata rahasia dibarengi dengan kepandaian entengi tubuh, katanya tayhiap pandai segala macam senjata, maka itu di hadapan kau, aku hanya main-main. Aku percaya tayhiap akan sudi penuhkan pengharapanku, dengan begitu tidakkah sia-sia yang aku telah datang ke Giokliong-giam ini. "

Mendengar demikian, Souwpo-su Cukat Pok dan ketua Kiushe Hiekee Lim Siauw Chong menjadi kaget berbareng mendongkol. Dengan segera mereka bisa membade maksud buruk dari ketua Kangsan-pang itu, yang rupanya niat adu jiwa secara tidak jujur. Mereka tahu Tiathong-liong si Naga Besi ini ada mempunyai dua senjata rahasia, yaitu Wan-yoh-piauw dan jarum beracun Bweehoa Touwkut-ciam, dan yang belakangan adalah yang paling liehay. Jarum ini panjangnya dua dim setengah, sukar ditangkis atau dikelit, kalau mengenai sasaran, racunnya segera bekerja secara hebat, untung kalau orang tidak terkena hebat, namun lukanya tetap parah, sedang ketika untuk binasa ada besar sekali.

Kalau Sian le ketahui itu, masih mending, Nelayan Tersembunyi dari Hengyang ini bisa berlaku waspada, jikalau tidak, ia boleh dikata harus serahkan jiwanya.

Sian le tertawa mendengar tantangan lawan itu. "Pian loo-suhu," ia berkata. "Kepandaianmu

mengentengi tubuh aku telah saksikan, aku merasa kagum karena kau berbeda dengan yang lain-lain! Karena kita ternyata ada berimbang, aku pikir, baiklah pertandingan kita dibikin habis saja. Kenapa kita mesti adu kepandaian lagi dengan menggunakan alat-alat senjata yang dapat merampas jiwa orang? "

Belum habis Hengyang Hie-in tutup omongannya, atau Lim Siauw Chong telah putuskan pembicaraan itu. Tetua dari Kiushe Hiekee majukan diri serta berkata, "Sian loosu, janganlah kau menolak! Pian loo-suhu punya jarum rahasia Bwee-hoa Touwkut-ciam telah tersohor lama dalam kalangan Rimba Persilatan, sekarang ia hendak gunai ketika ini akan pertunjukkan itu di Giokliong-giam, inilah bagus, karena kita orang jadi dapat turut menyaksikan. Jiewie, hayolah, jangan kamu menunda lama-lama, biarkanlah kita orang yang menjadi penggemar-penggemar dapat menambah pemandangan!" Kapan Pian Siu Hoo mendengar ucapan itu, ia menoleh pada Lim Siauw Chong dengan sorot mata penuh kegusaran, sementara orang yang diawasi, berpura-pura memandang pada Sian le. Ia ketahui dengan baik, dengan ucapannya itu ketua dari Kiushe Hiekee telah peringatkan Hengyang Hie-in untuk jarum rahasianya yang liehay, justru dengan jarum ini ia hendak bikin lawannya terluka atau binasa. Oleh karena kegusaran ini, ia jadi terlebih keras maksudnya ingin rampas jiwa orang she Sian itu. Lantas ia berkata, "Loo- tayhiap, kita orang baik jangan bertanding di daratan sini. Dengan menggunakan senjata rahasia di darat, kita orang kurang leluasa bergerak. Aku tahu bahwa aku tidak mampu melukai kau, tetapi karena senjata rahasia tidak ada matanya, aku kuatir akan ada orang-orang dari kedua pihak yang kena senjata nya-sar. Aku malu terhadap Tan cuncu andaikata ada saudara-saudara dari pihak Giokliong-giam yang mendapat bencana.

Lootayhiap, di sana, di muka sungai ada banyak perahu, maka marilah kita orang main-main di atas tiang-tiang layar! Semua anak-anak perahu boleh diperintah mendarat, agar mereka tidak menjadi rintangan bagi kita orang, hingga kita orang dapat bergerak dengan merdeka. Bagaimana, lootayhiap?"

Sian le manggut.

"Pikiranmu cocok dengan kemauanku, loo-suhu, baiklah diatur demikian!" ia jawab.

Lantas Hengyang Hie-in balik ke kursinya akan buka bajunya yang panjang dan letaki itu di situ, sedang kantong piauw-nya ia cantel di pundaknya. Di lain pihak, Pian Siu Hoo juga sudah lantas bersiap.

Kemudian Sian le minta Tan Tay Yong beritahukan semua anak buah perahu, agar mereka mendarat, tidak kecuali anak buah dari tiga perahu tamu. Mereka semua mendarat dengan cepat dan berdiri di pinggiran, sedang yang lain-lain juga pergi ke gili-gili untuk menyaksikan.

Pian Siu Hoo dan Sian le pergi ke tepi sungai dengan sama-sama unjuk senyuman, yang satu puas karena tantangannya diterima, yang lain karena ketahui pihak lawan mengandung maksud buruk. Mereka tidak ingat lagi yang orang-orang dari pihaknya masing-masing ber- kuatir bagi keselamatan mereka berdua, karena orang- orang itu insyaf bahwa pertempuran mesti membawa kesudahan hebat.

"Pian loosu," Sian le berkata sembari berjalan, "aku harap sangat jarum Bweehoa Touwkut-ciam-mu bisa ingat sedikit pada persahabatan di kalangan Sungai Telaga, agar ia tidak benar-benar menginginkan jiwa bangkotanku ini, supaya dengan begitu kita pun tidak sampai orang tertawakan "

"Loo-hiapkek, perkataanmu ini aku si orang she Pian tidak sanggup jawab," sahut Pian Siu Hoo dengan tawar. "Bweehoa Touwkut-ciam benar liehay akan tetapi harus dilihat terhadap siapa ia dipersembahkannya. Bagi orang dengan kepandaian sebagai loo-hiapkek, apakah artinya jarum itu? Andaikata loo-hiapkek terus dengan kata- katamu hendak mendesak aku, baiklah kita batalkan saja pertandingan ini!"

Sian le tertawa.

"Pian loosu," ia berkata, "aku omong main-main, kenapa kau anggap dengan sesungguhnya? Kami akan andalkan kepandaian masing-masing, hidup atau mati, ia harus sesalkan kepada nasibnya sendiri! Nah, Pian loosu, silakanlah!"

Dengan ucapan "silakanlah" dari mulutnya, Hengyang Hie-in segera enjot tubuhnya lompat naik ke perahu besar dari Englok-pang. Perbuatannya sudah lantas diturut oleh ketua Kangsan-pang yang lompat naik ke perahu kedua Tapi ia bergerak terus dengan pentang dua tangannya, dengan gerakan Ithoo chiongthian atau "Seekor burung hoo terbang ke langit" ia mencelat ke atas tiang layar yang tingginya kira-kira enam tombak, di atas itu ia berdiri diam dengan gerakan Tay-peng thiancie atau "Burung garuda pentang sayap".

Pian Siu Hoo turut dengan lompatan tinggi Yauwcu coanthian atau "Burung alap-alap tembusi langit", dan kapan ia telah sampai di atas tiang layar, sikapnya berobah menjadi sikap dari Kimkee toklip atau "Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki", kemudian dengan gerakan Wie To pangcu atau "Malae-kat Wie To angkat toya" ia berbalik pada lawan akan unjuk hormatnya.

Sian le membalas hormat, setelah mana ia terus lompat ke perahu ketiga.

Setiap tiang layarnya perahu ada sebuah lentera merah. Lentera itu tidak dipancar di ujung tiang layar, hanya di sebelah, kira-kira satu kaki lebih. Cahayanya lentera ada guram

Karena tiap-tiap perahu tidak teratur rapi, bisa dimengerti yang letaknya satu dengan lain tidak ketentuan, ada yang dekat, ada yang jauh, ada yang tinggi, ada yang pendek, hingga jangka itu dapat menyukar-kan kedua orang yang sedang mengadu kepandaian. Untuk lompat pindah dari satu perahu ke yang lain, mereka harus tahu benar imbangan tenaga masing-masing, siapa alpa, ia pasti akan tampak kegagalan.

Sian le lompat terus sampai lima atau enam tiang layar, dan Pian Siu Hoo selalu turuti ia, karena masing- masing ingin berlatih dulu sebentaran dan menunggu ketika. Kapan Pian Siu Hoo telah lompat dari perahu keempat di sebelah utara, ia bisa datang dekat pada Hengyang Hie-in, hanya dua tombak lebih jauhnya.

Nelayan itu kebetulan lagi berada di sebuah perahu kecil. Gesit sekali, ia lepas sebatang piauw menjuju dengkul kanannya pihak lawan. Dengan ini ia mau paksa lawan berkelit, agar selagi orang berkelit atau lompat ia hendak memberondong dengan piauw-nya.

Sian le benar-benar berkelit dengan melompat ke atas kiri di mana ada sebuah perahu besar dari pihak Giokliong-giam, dan benar-benar ia segera diserang lagi berulang-ulang, tetapi setiap serangan ia dapat punahkan dengan egosi diri atau ketok itu.

Setelah berikan ketika untuk sang lawan menyerang ia dengan empat batang piauw, Hengyang Hie-in lantas bikin pembalasan. Tangan kirinya terayun dan dua butir peluru Lankin-wan sudah lantas menyambar ke jurusan kedua pundaknya Pian Siu Hoo.

Ketua Kangsan-pang melihat datangnya dua peluru itu, ia lekas mendek, hingga serangan melewati kupingnya. Ia telah siap dan menunggu ketika untuk kirim serangannya terlebih jauh. Ia menduga, sesudahnya menyerang, lawan itu akan menyingkir ke lain tiang layar guna menghindarkan serangan pembalasan. Dugaannya hampir jitu. Benar saja Sian Ie gerakkan kaki kirinya, siapa tahu, kaki kanannya tetap nyantel di tiang layar, dan berbareng dengan itu, tangan kirinya terayun, atas mana bukan dua hanya tiga butir peluru yang melesat menyambar, mengarah dada kiri- kanan dan perut!

Tipu daya dari Hengyang Hie-in ada di luar dugaannya Tiathong-liong, tidak heran ia menjadi kelabakan tatkala tahu-tahu senjata rahasia datang selagi ia sendiri, yang berniat, belum sempat membalas menyerang. Karena sudah terdesak, terpaksa ia buang dirinya ke belakang, cantelan kakinya terlepas, hingga ia turun ke wuwungan perahu. Ia tidak bisa tancep kaki dengan sempurna di atas perahu, maka kapan kedua kakinya menapak, perahu lantas jadi bergoyang keras, sampai tenteranya turut bergoyang-goyang!

Ketika jago dari Hucun-kang ini memandang pada pihak lawan, ia lihat Sian Ie sedang lompat ke tiang layar dari perahu sebelah kiri, tubuhnya seperti terputar, disebabkan bergeraknya kedua kaki yang tadi dilepaskan sebelah dan dicantelkan sebelah. Tiba-tiba ia dapat pikiran jahat, terutama karena ia malu yang ia telah bikin keok dengan tipu yang sederhana sekali. Cepat sekali ia lompat naik, ke tiang layar dari perahu besar ketiga dari pihak Englok-pang dengan gerakan Yancu coan-in atau "Walet tembusi mega".

Selama itu Sian Ie yang tidak berdiam saja, dari perahunya pihak Giokliong-giam sudah loncat ke perahu kesatu dari Englok-pang, selagi kakinya mencari tiang layar, mendadak Pian Siu Hoo serang padanya dengan melepaskan sepasang wan-yoh-piauw sambil berseru, "Awas!" Itu ada piauw semengga-mengganya. Sasaran ada kedua dengkul jago tua dari Hengyang.

Kendati juga ia telah dibokong, Sian Ie toh tidak mau berkelit dari serangan sang lawan itu. Karena kakinya sudah mengenai tiang layar, ia bisa gunakan kedua tangannya, akan lagi-lagi tepak kedua piauw jatuh ke kiri dan kanan.

Di lain pihak, cepat luar biasa. Tiathong-liong telah siap dengan jarum rahasianya yang berada di genggaman tangan kanan, kapan ia lihat tubuh lawan bergeming, dengan telengaskan hati, tangan kirinya bekerja akan memutar pesawat dari bungbung jarum beracun itu. Pada saat itu dari sampingnya ia mendengar seruan yang bikin ia heran, "Awas!" Dan seruan ini dibarengi dengan menyambarnya dua peluru Tiattan- wan, yang sebutir menjurus ke belakang tangan kanannya, yang sebutir lagi mengarah tempilingannya!

Karena datangnya kedua peluru itu secara tak terduga dan cepat luar biasa, Pian Siu Hoo dalam kagetnya harus membatalkan penyerangannya sambil berbareng menyingkirkan diri dari bahaya. Ia mendekam dengan kepala berikut tubuhnya, maka kedua peluru lewat dengan ia sendiri tidak kurang suatu apa. la segera dapat tahu bahwa orang yang melepas peluru itu mestinya liehay melulu dengan lihat caranya peluru itu menyambar.

Di sebelah timur, dari tiang layar tertampak dua bayangan berkelebat. Cepat sekali kedua bayangan itu telah sampai dan turun di antara Hengyang Hie-in dan Tiathong-liong, di sebuah perahu yang memisahkan kedua lawan itu satu dengan lain. Dalam kaget dan herannya, Pian Siu Hoo pandang dua bayangan itu, jarumnya ia masih genggam. Ia sangat mendongkol karena orang telah rintangi niatannya untuk bikin celaka Sian Ie.

Hengyang Hie-in sendiri tidak kurang heran dan terperanjatnya, begitupun semua orang di darat, karena datangnya dua bayangan itu ada di luar sangkaan siapa juga. Sebelumnya itu, orang tidak ketahui bahwa di antara kedua pihak ada sembunyi pihak ketiga

Apabila kedua bayangan telah berdiam tetap di tiang layar dari perahu di tengah-tengah itu, mereka sekarang bisa tertampak dengan nyata. Mereka ada satu nyonya setengah tua dan satu nona, rupanya ibu dan anak gadisnya. Si nyonya pakai pakaian hijau dengan kepala dibungkus pelangi hijau juga, dan si nona berpakaian serba biru. Di belakang mereka ada tergondol pedang.

"Siapa kau?" Pian Siu Hoo segera menegur. "Kenapa kamu berani berlaku begini kurang ajar?"

Atas itu, si nyonya berikan jawabannya, katanya, "Pian Siu Hoo, apakah kau telah lupakan kita ibu dan anak? Di Ouwlam Selatan kita telah menerima budimu yang sangat besar, maka sekarang kita, ibu janda dan anak piatu dari keluarga Yan datang untuk membikin beres perhitungan lama!"

Tiathong-liong kaget sampai air mukanya berobah. Ia enjot kakinya, akan lompat mundur ke satu perahu lain. Begitu ia telah tancap kaki kirinya, ia buka suaranya.

"Ya, ini adalah ketika baik yang sukar dicari! Memang selama yang belakangan ini aku Pian Siu Hoo tidak bisa lupakan kau ibu dan anak, dengan segala daya aku telah selidiki tentang kamu berdua, tetapi aku tidak berhasil! Maka adalah bagus yang sekarang kamu berdua berada di sini! Aku tidak memikir untuk hutang seumur hidupku, baiklah di Giokliong-giam Hiecun ini kita orang membikin perhitungan!"

Pihak Giokliong-giam telah menjadi semakin heran kapan mereka — terutama Tan Tay Yong dan Lim Siauw Chong — ketahui bahwa dua bayangan itu adalah ibu dan anak dara dari keluarga Yan, yang tadinya mereka sangat curigakan.

Sementara itu ketua Englok-pang, Na Thian Hong, sudah lantas menegur dengan tajam, "Oh, orang-orang yang tidak pegang kepercayaan!" demikian suaranya. "Selagi kedua loo-enghiong bertempur, kenapa kamu sembunyikan kawan-kawan yang pandai? Kenapa Pian loo-suhu hendak dicurangi? Apakah ini artinya pertempuran secara persahabatan? Hei, orang-orang yang baru datang, silakan kamu turun, aku si orang she Na ingin belajar kenal untuk ketahui siapa adanya kamu berdua! "

"Na Thian Hong, jangan kau banyak tingkah!" begitu terdengar suaranya si ibu dan anak hampir berbareng. "Kita orang ada punya perhitungan lama, itu tidak ada sangkutannya dengan kau. Tidak ada halangannya untuk kita orang bicara di bawah!"

Ibu dan anak itu bikin gerakan yang mengagumkan, ialah dari tiang layar mereka lompat turun ke darat, ke gili-gili di mana orang banyak sedang berkumpul.

Sampai di situ, Pian Siu Hoo simpan jarumnya dan terus lompat turun. Sian le juga lantas turut lompat turun, karena ia tahu, pertandingan mesti ditunda. Ia menduga pasti ada dendaman di antara kedua pihak itu.

Nyonya Yan dan anaknya terus hampirkan Lim Siauw Chong dan Tan Tay Yong akan unjuk hormat pada mereka.

"Tan cuncu, Lim loo-suhu, kita harap kamu sudi maafkan kita ibu dan anak," berkata si nyonya. "Kita mempunyai sebab-sebab kenapa kita telah menumpang tinggal di daerah Hiecun ini secara luar biasa Kita sebenarnya lagi mencari musuh besar kami. Di luar dugaan kita, iblis telah kirim rombongan Englok-pang datang kemari! Permusuhan kita sudah ditanam duapuluh tahun lamanya, maka itu kendati kita ketahui bahwa kita tidak berhak akan campur tahu urusan di antara Hiecun dan Englok-pang. Dengan sebenarnya kami tidak boleh datang menggerecok, tetapi kita terpaksa menyelak juga dan mengadu biru. Sebab dari kelakuan kita ini—yang sangat terpaksa — karena kita tidak ingin kasih ketika untuk musuh kita angkat kaki dari sini! Jikalau musuh itu sampai bisa kabur dan sembunyi, sia-sialah yang kita bertahun-tahun lamanya telah menderita untuk mencari padanya. Maka, Tan cuncu, Lim loo-suhu, sudilah kau orang mengerti kesukaran kita dan memberi maaf "

Lim Siauw Chong balas hormatnya dua orang itu. la bersenyum.

"Kiranya jiwie berdua berdiam di Hiecun ini karena ada urusan hebat itu," ia berkata. "Urusan di antara kita kaum Sungai Telaga, memang sudah seharusnya dibikin beres di hadapan kita orang juga, di muka umum akan dapat diketahui siapa benar dan siapa salah. Aku percaya Na loo-suhu dari Englok-pang pasti tidak berkeberatan jika kau tuturkan peristiwa dendaman itu "

Justru itu Pian Siu Hoo telah bertindak mendekati mereka, maka Lim Siauw Chong segera memberi hormat pada ketua dari Englok-pang serta terus berkata, "Na loo-suhu, silakan duduk! Mari kita orang omong dengan sabar. Kita ada sobat-obat di kalangan Sungai Telaga, dari itu dalam segala, hal mengenai kita, kita semua berhak untuk minta sobat-sobat maju di tengah, supaya dengan jalan yang adil dan pantas, urusan bisa dibikin beres. Ganjalan apa yang tersimpan di antara kedua pihak aku masih belum mendapat tahu, maka silakan Na loo-suhu duduk. Aku percaya, urusan bagaimana besar juga, akan dapat diselesaikan "

Pian Siu Hoo harus kendalikan diri, akan tahan hawa kemendongkolannya Sebisa-bisa ia coba unjuk senyuman, seperti juga ia menganggap urusan ada kecil.

Atas undangannya Lim Siauw Chong, orang semua kembali ke tempat duduk yang tadi. Dua buah kursi segera ditambah untuk si nyonya dan anak daranya.

"Tan cuncu, Lim loo-suhu," berkata nyonya Yan setelah mereka sudah duduk rapi, "kita ibu dan anak merasa sangat bersyukur yang kita orang telah dapat menumpang tinggal di daerah Hiecun, karena kita tidak diusir, kendati kita telah datang menumpang dengan tidak minta perkenan lagi ataupun hanya memberi tahu saja. Jiewie, kita berbuat lancang demikian adalah karena sangat terpaksa. Di antara pihak Kiushe Hiekee dan keluargaku sebenarnya ada hubungannya. Keluarga dari pihak ibuku ada Wan dan di Hucun-kang pernah kepalai juga serombongan nelayan, dan di daerah Liongyu rombongan ini pernah berdiam untuk banyak tahun. Barulah belakangan, rombongan itu pindah ke dekat Hangciu. Suamiku hidup di kalangan air akan tetapi ia bukannya nelayan, ia hanya mengurus pengangkutan, di daerah Hangciu ia pun ada terkenal. Ia bernama Yan Bun Kiam, di Hangciu ia menjadi pemimpin pusat pengangkutan, daerah pekerjaannya adalah daerah Ciatkang dan Kangsouw. Di luar dugaan, dalam pekerjaan itu suamiku telah kebentrok dengan Pian loo- suhu, yang ketika itu menjadi ketua Kangsan-pang. Dan Pian loo-suhu telah berlaku begitu kejam, dengan tidak ingat persahabatan di kalangan Sungai Telaga, ia telah turun tangan membinasakan suamiku. Ia pun telah bubarkan coanpang orang yang terdiri lebih daripada duapuluh buah perahu besar, yang separahnya ia telah bakar musnah dan separoh lagi ia rampas. Sejak itu di teluk Hangciu tidak ada lagi lain orang yang berani kepalai pengangkutan, semuanya ia yang kangkangi, apabila ada orang yang berani menerima pengangkutan, ia lalu mengganggu tengah jalan. Tatkala itu kita berdua ibu dan anak kabur dengan sebuah perahu kecil dan telah ditolong oleh satu nelayan yang tidak masuk rombongan siapa juga, hingga kita bisa lari ke darat dan luput dari bahaya kematian. Kita tidak punya tempat ke mana kita bisa pergi akan tumpangi diri. Tidak ada saudagar yang berani menerima kedatangan kita. Orang hendak menolong tetapi keberanian tidak ada. Akhirnya kita menyingkir ke rumah ayahku yang pengaruhnya kecil, sedang sebagai anggota dari Kiushe Hiekee, ia berkeberatan, karena di kalangan itu, satu kali anak perempuannya menikah, ia lantas lepas tangan. Aku ada anak satu-satunya, dapat dimengerti yang ayah sayang padaku, kendati demikian, nyata aku berada dalam kesukaran, ayah membikin pembalasan. Maka itu ayah hanya dapat bekerja sendirian secara diam-diam. Ayah juga mengerti bugee, ia telah cari ketua Kangsan-pang yang tersohor itu. Apa mau, laksana seekor kambing yang menghampirkan seekor harimau, pada suatu malam ayah kena dilukai, sehingga hampir ia binasa di dalam kalangan, baiknya ia telah dapat ditolong dan dibawa pulang, kendati begitu, obat tidak sanggup melindungi jiwanya. Sebelum tarik napasnya yang penghabisan, ayah pesan kita ibu dan anak agar kita jangan siarkan hal perbuatan ayah, karena ia telah menolong kami dengan tentangi aturan dari Kiushe Hiekee. Untuk pembalasan sakit hati, ayah perintah kita lekas menyingkir dari

Hucun-kang dan pergi ke Go-houw-san di Kangsay, dan di sana cari satu niekouw yang berdiam di Cietiok-am di bukit Thongthian-nia. Niekouw itu ada satu ahli silat, hanya sedikit orang ketahui hal ikhwalnya. Ayah bilang, asal kita bisa diterima menjadi murid, dalam tempo tiga sampai lima tahun, pelajaran kita sudah cukup untuk mencari balas. Begitu lekas telah ucapkan pesanannya itu, ayah menutup mata untuk selama-lamanya. Kami berdua harus urus jenazah orang tua itu secara lekas dan sederhana sekali. Setelah upacara penguburan, kita segera berangkat ke Kangsay. Kami berhasil tiba di Thongthian-nia dan telah berjumpa dengan niekouw itu, ialah Hui Sian Taysu. Apa celaka, Hui Sian Taysu menyangkal bahwa ia mengerti bugee dan ia menolak akan terima kita menjadi muridnya untuk belajar silat. Ia hanya perkenankan kita tinggal untuk bersujut pada agama. Terpaksa kita tinggal di samping kelenteng, dalam sebuah gubuk yang kami berdirikan sendiri. Kami tidak berniat meninggalkan lagi Thongthian-nia. Dapatlah dimengerti bagaimana sengsaranya hidup waktu itu untuk lewatkan hari, bulan dan tahun. Lama-lama pikirannya Hui Sian Taysu rupanya telah berobah juga. Ia rupanya telah cari tahu hal kita. Kami sangat bergembira karena pada suatu hari ia pang-gil kita berdua dan beritahukan bahwa ia hendak ajarkan kami ilmu silat.

Lima tahun lamanya kami ikuti Hui Sian Taysu dan pada tahun keenam ia diserang penyakit sampai tidak dapat bangun pula, hingga ia menyesal yang ia belum keburu wariskan semua kepandaiannya, tapi ia masih tinggalkan pengajaran yang berupa peta dan catatan, untuk kita yakinkan sendiri. Suhu menutup mata dengan tinggalkan satu murid yang tidak mengerti ilmu silat, meski murid ini telah ikut ia belasan tahun lamanya. Murid ini hanya mengerti urusan agama. Sejak itu, kita berdua tidak dapat terdiam lebih lama pula di Cietiok-am, kita beli sebuah perahu kecil dan terus hidup berduaan di muka air. Kita pergi ke mana kita suka, kita mendarat jika kita dapati tempat yang kita setujui untuk tinggal di darat sekian lama, guna fahamkan pelajaran pesanan dari suhu almarhum. Peryakinan ini meminta tempo lama. Telah lima tahun kami berdua hidup tidak ketentuan, paling akhir kita sampai di Giokliong-giam ini di mana kita menumpang tinggal dengan tak minta ijin dari ketua kampung. Dengan gampang kita dapat cari tahu asal- usulnya rombongan Giokliong-giam Hiecun yang kita pandang sebagai sesama sendiri, karena kita berdua sama-sama berasal dari Hucun-kang. Di sini kami berdiam dengan tidak ingin sembarangan perlihatkan diri, kesatu karena latihan kita belum sempurna, kedua karena musuh ada liehay dan kita kuatir nanti disatroni selagi kita belum bersiap. Dulu saja musuh sudah liehay, apapula sekarang! Kita sebenarnya berniat tinggal dulu sampai lama di sini, siapa nyana, keinginan kita itu dapat tentangan, karena apamau Hiecun dapat perkara dan telah disatroni. Tadinya kita kandung maksud untuk lantas perkenalkan diri dan memberikan bantuan, tapi maksud ini kita tunda kapan kita kemudian dapat tahu, pihak Englok-pang tidak datang sendiri hanya datang bersama-sama banyak kawan, di antaranya ada musuh kita. Musuh itu adalah Pian Siu Hoo dari Kangsan-pang.

Akhirnya kita ambil putusan untuk terlebih dulu bekerja dengan diam-diam, di saat terakhir baru kita berdua memperlihatkan diri. Tidak kecewa kita hidup sengsara belasan tahun, sekarang kita dapat berbuat apa-apa untuk Giokliong-giam Hiecun."

Semua orang agaknya heran akan dengar lelakon permusuhan itu, tetapi Pian Siu Hoo unjuk sikap biasa saja, agaknya ia dapat kuatkan hati dan kendalikan diri.

Adalah Na Thian Hong dari Englok-pang yang tidak dapat menahan sabar, ia berbangkit dan hadapi Yan Toa Nio dan gadisnya.

"Yan toanio, kau ada asal coanpang, seharusnya kau mengerti aturan di kalangan kita!" ia menegur. "Sekarang kedua pihak Englok-pang dan Giokliong-giam Hiecun lagi kebentrok, kita sedang hadapi saat mati atau hidup, karena urusan ini ada menyangkut dengan mang- kok nasinya beberapa ratus keluarga nelayan dari

Englok-kang, adalah tidak pantas untuk lain orang nyelak dan bikin kacau urusan kita ini. Kau mempunyai sakit hati dan hendak membalas, itu ada hakmu, kau boleh lakukan itu, tetapi tidak sekarang, pada malam ini. Kau harus mengerti, Giokliong-giam bukannya tempat di mana kau dapat mencari balas! Kau pun harus mengerti, si orang she Pian adalah orang undanganku, ia akan pertaruhkan jiwanya untuk urusanku, maka andaikata ia jual jiwanya untuk kita, tidak akan kita lupakan kebaikannya itu. Yan toanio, aku si orang she Na tidak dapat ijinkan kau mencari balas di sini!"

Mendengar ucapan itu, Yan Leng In berbangkit. "Na pangcu, kita mengerti maksudmu," ia berkata,

"tetapi kendati demikian aku harap kau juga suka mengerti maksud kita. Sudah sepuluh tahun kami berdua terumbang-ambing, baru hari ini kita bertemu dengan musuh, maka kenapa ketika yang baik ini harus dikasih lewat? Dengan sebenarnya, Na pangcu, kami berdua tidak dapat menanti terlebih lama pula! Kau hendak cegah kita, kau melarang, apa kau berani menanggung jawab?"

"Jikalau di luar Englok-kang, aku si orang she Na tidak akan campur-campur, tetapi di sini ada tanggunganku!" sahut Na Thian Hong dengan jumawa.

"Na Thian Hong, hak apa kau mempunyai akan rintangi kita?" ia tegaskan. "Aku pikir baiklah kau jangan campur tahu urusan kita ini!"

Tapi Na Thian Hong tertawa dingin.

"Nelayan perempuan!" ia membentak, "Na pangcu bicara dengan baik padamu, itu disebabkan aku masih pandang memandang, maka kenapa kau begini tidak tahu diri? Aku melarang padamu untuk berkelahi di sini, apa yang kau hendak bikin?"

Ketua dari Englok-pang benar-benar unjuk sikap menantang. Yan Toa Nio sangat gusar, tetapi ia masih bisa tertawa dengan tawar.

"Na Thian Hong, aku kuatir kau tidak sanggup urus urusan kita ini!” ia bilang. "Kalau tetap kau hendak merintangi kita dan mau menanggung jawab, tidak dapat lain, kita harus hadapi kau sendiri untuk membikin beres perhitungan kita yang sudah lama!"

Na Thian Hong maju dua tindak, jarinya diangkat pada hidungnya akan memperdengarkan suara menghina.

"Jikalau kau mampu menangkan si orang she Na, kau merdeka untuk cari Pian pangcu untuk bikin perhitungan!" ia kata secara jumawa. "Jikalau kau tidak mampu singkirkan si orang she Na dari sini, maka kamu berdua ibu dan anak baiklah lekas-lekas angkat kaki dari sini!"

Yan Leng In menjadi murka hingga ia loncat sampai di sampingnya Thian Hong.

"Na Thian Hong, kau ada tua bangka yang andali kebangkotanmu!" ia berteriak. "Kau mempunyai kepandaian apa maka kau menjadi begini congkak? Nonamu ingin sekali belajar kenal dengan kau!"

Pian Siu Hoo berbangkit untuk mencegah Na Thian Hong, tetapi ketua Englok-pang tidak dapat dibujuk. Ia malu bahwa orang ganggu tamunya dan ia ingin membela tamu itu sambil membela juga kehormatannya sendiri.

"Budak perempuan, hayolah kau maju!" ia menantang nona Yan. "Na pangcu nanti berikan ajaran padamu!" Yan Leng In tidak mampu kendalikan diri lagi, ia lompat lagi sekali sambil kirim serangannya ke arah dada orang.

Na Thian Hong kelit ke samping, tangan kanannya ia angkat akan menangkis sambil ketok nadinya nona Yan.

Nona Yan lekas tarik pulang tangannya itu, tetapi kapan sebelah kakinya menggeser ke samping, sebelah tangannya lagi-lagi maju akan gempur iga orang.

Dengan cepat Na Thian Hong putar tubuhnya untuk kelit serangan itu, tetapi ia berputar terus hingga kembali ia hadapi si nona. Tangan kirinya dengan berbareng memukul pundak kanan.

Dengan mendeki tubuhnya, Yan Leng In bikin kepalan musuh pukul tempat kosong, dan ia majukan kakinya sampai di sebelah kiri dari musuh itu, lantas dengan Hekhouw toh-sim atau "Macan hitam menyambar hati", ia serang ulu hatinya Na Thian Hong. Atas ini Na Thian Hong terpaksa loncat mundur.

Dari situ, apabila keduanya telah maju pula satu dengan lain, pertempuran sudah lantas dimulai pula.

Na Thian Hong mempunyai tenaga yang besar sekali, ia memangnya kejam, dalam kemurkaan yang ia hendak bikin luber, ia menyerang dengan tidak sungkan-sungkan lagi.

Ia tidak kenal kasihan, ia mendesak, maksudnya adalah untuk ambil jiwanya anak dara itu.

Meskipun musuh ganas, Yan Leng In tidak takut dan ia tidak mau kasih dirinya didesak. Ia juga sangat gusar dan umbar kegusarannya, maka dengan sama nekatnya, ia layani ketua dari Englok-pang.

Yan Toa Nio telah pasang mata, sebagai satu ahli silat ia dapat membedakan caranya orang berkelahi, dari itu tidak heran kalau ia pun menjadi gusar dan sengit apabila ia saksikan ketelengasan musuh itu, hingga ia memikir untuk tidak tinggal diam saja. Ia pun kuatir, karena terus menerus didesak, anaknya nanti salah tangan. Ia tidak menunggu lama, segera ia lompat ke tengah lapangan.

"Manusia tidak kenal aturan, kau terlalu menghina aku!" ia berteriak. Kemudian ia terus bentak anaknya, "Budak perempuan, lekas mundur!"

Yan Leng In turut perkataan ibunya, mukanya telah menjadi merah, karena desakan musuh ada terlalu hebat dan ia telah mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk menangkis dan balas menyerang musuh. Dalam imbangan, ia kalah tanding.

Na Thian Hong kasih lihat senyuman ewah apabila ia lihat orang telah saling bertukaran, tetapi karena Yan Toan Nio sudah maju, ia tidak mau banyak bicara, ia sambut serangan musuh ini.

Sekarang barulah tertampak tandingan yang setimpal, karena kendati si nyonya ada seorang perempuan, tenaga dan gerakannya tidak kalah hebatnya daripada ketua Englok-pang. Malahan Na Thian Hong lantas didesak.

Yan Toa Nio merangsek untuk bikin repot pada musuhnya. Na Thian Hong tangkis tujuh sampai delapan serangan, setelah itu ia ambil kesempatan akan balas menyerang, dengan dua-dua tangannya bergerak berbareng.

Nyonya Yan bisa lihat datangnya dua tangan musuh, mendadak ia angkat kedua tangannya dan buka dengan gentakan, dengan itu ia bikin kedua tangan musuh kena ditangkis dan disampok terbuka. Tapi berbareng dengan ini, tangannya sendiri pun turut terpentang.

Menghadapi keadaan lawan begitu rupa, Na Thian Hong pikir ia dapat merebut kemenangan selagi musuh anggap pihaknya menang di atas angin. Ia tarik pulang kedua tangannya secara cepat sekali, lalu tangan kirinya dipakai menyambar dari bawah ke atas, pada tangan kirinya si nyonya. Kaki kanannya maju berbareng dengan gerakan tangan kiri itu, disusul dengan tangan kanan dengan tidak kurang cepatnya. Tangan kanan ini dengan Yap-tee tamhoa atau "Di kolong daun memungut bunga" menyerang ke arah dada.

Nyonya Yan bisa lihat gerakan musuh dan ia mengerti juga kehendak musuh itu ia merasa puas. Dengan sabar tetapi gesit, ia pun bikin gerakan. Dengan ancaman ia geraki kedua tangannya, satu untuk menyingkir dari musuh, yang lainnya untuk menangkis. Tapi karena itu ada ancaman belaka, tubuhnya terus ikut berputar.

Dengan begini dua-dua serangan musuh menjadi punah. Tapi ia tidak berhenti karena gagalnya serangan musuh. Ia segera membarengi dan mendek sedikit, tangannya yang kiri melayang ke depan, seperti hendak menyerang, justru musuh bergerak untuk menangkis, tangannya yang kanan maju menyusul, menjurus ke arah dada. Ia telah gunakan tipu silat Sweepa-chiu atau "Tangan melempar ciopay", ialah ilmu pukulan dari Cietiok-am.

Na Thian Hong tidak berdaya terhadap serangan yang luar biasa cepat. Berbareng dengan satu suara keras pada dadanya, ia keluarkan jeritan tertahan yang disusul dengan terlempar mundur tubuhnya sampai empat kaki jauhnya di mana ia roboh celentang dan terbanting, kedua matanya tertutup rapat, mulutnya terpentang dan dari situ menyemburkan darah!

Semua orang menjadi kaget apa-pula, mereka yang termasuk pemimpin, lebih-lebih pihak Englok-kang; mereka segera lari memburu akan menghampirkan dan mereka tercengang menampak ketua itu rebah dengan tidak bergerak.

Pian Siu Hoo segera berjongkok dan buka kancing bajunya Na Thian Hong untuk raba dadanya. Hatinya menjadi sedikit lega kapan ia rasai memukulnya jantung, suatu tanda bahwa jiwanya Thian Hong masih belum putus. Ia menoleh pada kawan-kawannya dan beritahukan itu, bahwa meskipun demikian, bahaya masih belum lewat.

Rombongan dari Englok-pang segera terpencar menjadi dua, masing-masing sudah lantas raba senjatanya.

Ketua dari Tonglouw-pay, Auwyang Cu Him segera hadapi Yan Toa Nio.

"Perempuan nelayan, kenapa kau berani turunkan tangan jahat?" ia menegur. "Kenapa kau lakukan ini macam penyerangan untuk bikin hilang jiwanya Na pangcu? Oh, kau terlalu kejam! Baiklah, aku ingin belajar kenal dengan tangan jahatmu itu!"

Yan Leng In telah hunus pedangnya apabila ia tampak sikap mengancam dari banyak orang itu, akan tetapi Yan Toa Nio berkata pada anaknya, "Simpan senjatamu!"

Kemudian nyonya ini bersenyum dingin apabila ia dengar suaranya Auwyang Cu Him.

"Ciongwie suhu, jikalau kami sekalian ingin turun tangan, aku persilakan!" ia berkata dengan sabar tetapi secara menantang. "Kita ibu dan anak telah datang kemari, itu adalah tanda bahwa kita orang tidak takut! Tetapi di kalangan Sungai Telaga orang harus memakai aturan dan pri-keadilan, andaikata kamu melulu hendak andalkan tenaga kepandaian untuk menghina, baik, segala apa juga tidak usah dibicarakan lagi. Tetapi satu kali aku hendak tegaskan: Dengan si orang she Na ini, aku ibu dan anak tidak mempunyai sangkutan apa juga, kami berdua datang kemari hanya untuk cari Pian Siu Hoo, ketua dari Kangsan-pang, tapi si orang she Na telah berlaku kurang ajar terhadap kita, ia telah desak dan paksa kita menggerakkan tangan, hingga terpaksa kita menyambut tantangannya. Begitulah ia telah terima bahagiannya! Sekarang tidak bisa lain, siapa bunuh orang, ia harus membayar dengan jiwa, siapa punya hutang, ia harus membayar dengan uang! Cukup sampai di sini, apa juga, tidak usah ditimbulkan lagi!"

Auwyang Cu Him menjadi terlebih gusar, hingga ia membentak, "Nelayan perempuan, kau ada mempunyai kepandaian bagaimana liehay sehingga kau berani bicara takabur seperti ini? Apakah kau sangka di antara kita orang tidak ada yang berani tempur padamu?" Setelah kata begitu, ia lantas menyerang.

Tetua dari Kiushe Hiekee, Lim Siauw Chong, ada salah satu orang dari pihak tuan rumah yang telah hampirkan Na Thian Hong, ia lihat mukanya dan periksa nadinya, selama itu ia telah dengar perbantahan mulut itu, akan tetapi kapan ia saksikan ketua dari Tonglouw-pay naik darah begitu hebat hingga tidak mampu lagi kendalikan diri, ia lekas-lekas berbangkit dan menyelak sama tengah.

"Auwyang loosu, harap sabar," ia berkata. "Kalau sampai pertarungan dilakukan ada sukar untuk mencegah bahaya terlebih jauh. Na pangcu terluka hebat, menurut aku adalah paling benar akan terlebih dulu tolong padanya. Perkara gampang diurus, tidak peduli perkara besar atau kecil, itu masih dapat ditunda setengah sampai satu jam dengan tidak ada halangannya. Aku ada sedia obat luka, baiklah Na pangcu segera diobatkan, kemudian kita orang nanti bicara pula."

Mendengar pembicaraan itu, Pian Siu Hoo majukan diri. "Tidak usah Lim loosu capekan diri," ia berkata, yang menolak bantuan orang, "kita orang juga masih mampu obati pada Na pangcu. Sekarang aku hendak bicara dulu dengan orang she Yan ini, dua patah saja!"

Dengan tidak berayal lagi, Yan Toa Nio maju mendekati.

"Pian pangcu, ada urusan apa?" ia tanya. "Silakan kau bicara!"

"Perhitungan kita yang lama belum diselesaikan atau sekarang harus ditambah dengan yang baru," berkata orang she Pian itu. "Meski demikian, aku hendak minta pada kau agar perhitungan yang akan dibereskan malam ini ditunda dahulu untuk sementara waktu, karena terlebih dahulu aku harus melakukan kewajibanku sebagai satu sahabat, untuk mengatur keselamatannya Na pangcu. Urusan di antara Englok-pang dan Giokliong- giam juga urusanku si orang she Pian dengan kau ibu dan anak, dalam tempo tiga hari aku yang akan urus dan tanggung sendiri! Kau boleh percaya bahwa aku adalah sahabat di kalangan Sungai Telaga, dengan segera kita akan undurkan diri dari dalam muara ini! Tetapi, umpama kata kau anggap bahwa urusan tidak dapat ditunda hingga lain waktu, hanya mesti dibereskan pada saat ini juga, baiklah, kau boleh hunus senjatamu, aku si orang she Pian bersedia akan mengiringkan!"

Atas ucapan congkak itu, Yan Toa Nio tertawa ewah. "Orang she Pian, aku percaya kau ada satu laki-laki

sejati, pembicaraanmu pasti bukan obrolan belaka!" ia jawab. "Baiklah, dalam tempo tiga hari, aku ibu dan anak akan tunggu padamu!"

Lim Siauw Chong lihat tidak ada lain jalan, ia turut bicara. "Pian loosu, kita ada sama-sama orang terhormat, pembicaraan rasanya sudah cukup," ia berkata. "Pian loosu, persilakan!"

Pian Siu Hoo manggut, segera bersama-sama Auwyang Cu Him ia hadapi kawan-kawannya dan berkata pada mereka itu, "Ciongwie loo-suhu, mari kita orang undurkan diri! Biar bagaimana besar duduknya perkara dengan Giokliong-giam, dalam tempo tiga hari, aku yang nanti tanggung! Mari kita orang berangkat!" Setelah berkata begitu, Pian Siu Hoo minta beberapa orang pondong Na Thian Hong untuk dibawa ke perahu mereka, ia sendiri memberi hormat pada pihak tuan rumah untuk pamitan. Tapi Tan Tay Yong telah antar sekalian tamunya sampai mereka itu telah keluar dari mulut muara, setelah mana mulut muara itu oleh Lim Siauw Chong diperintah untuk ditutup serta titah-titah atau pesanan telah diberikan untuk jaga itu baik-baik.

Sementara itu Tan Giok Kouw sudah lantas samperkan Yan Toa Nio dan gadis untuk undang mereka ini pulang, bukan lagi ke gubuk mereka, hanya ke rumahnya.

Karena sekarang telah ternyata, ibu dan anak itu adalah kawan mereka.

Lim Siauw Chong di lain pihak ajak semua kawannya berkumpul di Cun kongso ialah kantor ketua Giokliong- giam untuk bicarakan dan menduga-duga apa yang pihak

Englok-pang akan lakukan lagi tiga hari. Yan Toa Nio dan gadisnya turut hadir.

"Tidak peduli apa yang Pian Siu Hoo atur, jikalau di hari kedua Seantero hari ia tidak muncul, aku dan anakku akan pergi cari padanya," berkata nyonya Yan.

Setelah itu, ibu dan anak pamitan untuk pulang ke gubuknya, tapi Giok Kouw mencegah mereka pulang, hanya mereka diajak masuk ke pendalaman. Kecuali kawan, mereka masih termasuk pada golongan Kiushe Hiekee.

Atas ajakan itu, Yan Toa Nio dan anaknya tidak menampik.

Hengyang Hie-in dan kawannya semua berdiam di kongso. Setelah pembicaraan, Tan Tay Yong pergi keluar untuk bikin penilikan pada orang-orangnya, dan sekalian lakukan pengawasan terhadap musuh, sampai terang tanah baru ia kembali akan memberi laporan kepada Lim Siauw Chong. Menurut ia, pada pihak Englok-pang di waktu malam tidak tertampak gerakan apa juga, hanya setelah terang tanah, semua perahu yang tadinya dipersatukan, lalu terpecah menjadi duabelas rombongan, tetapi setelah itu mereka diam sirap.

Sampai tengah hari lalu menyusul laporan kedua, tapi juga kali ini laporan itu memberitahu bahwa perahu- perahu musuh tetap diam anteng, kelihatannya mereka tidak berniat angkat kaki.

Sampai sebegitu jauh pengawasan dilakukan dari jauh-jauh saja. Ketika sudah sore, Tan Tay Yong datang dengan laporan yang tidak berbeda.

Hengyang Hie-in Sian le, Souw-posu Cukat Pok, Kimpwee Kam-san-too Hee In Hong dan tetua dari Kiushe Hiekee Lim Siauw Chong tetap berkumpul bersama-sama. Ketiga tamu itu tidak ingin pamitan, karena urusan masih belum ada keputusannya. Sore itu mereka berkumpul dengan Yan Toa Nio dan gadisnya pun turut hadir. Mereka juga setiap waktu terima laporan dengan perantaraan Tan Giok Kouw.

"Na Thian Hong telah terluka, umpama kata jiwanya tertolong, ia tidak akan lekas-lekas dapat pulang kesehatannya," kata nyonya Yan, "atau ada kemungkinan kesehatannya tidak akan kembali seperti sediakala. Ia ada menjadi kepala, ia terluka, tetapi sekarang ia masih tidak mau berlalu dari daerah Giokliong-giam, sudah terang benar-benar Pian Siu Hoo tidak memberi kabar apa-apa pada kita, aku percaya ia sedang mengatur daya upaya untuk hadapi kita. Pihak Englok-pang aku tidak takuti, hanya aku berkuatir untuk kawan-kawan undangannya. Aku merasa bahwa mereka juga tidak ingin secara mentah-mentah berlalu dari sini! Maka itu, tidak dapat aku berdiam saja, menantikan hingga mereka datang mencari aku, untuk membalas sakit hatinya Na Thian Hong! Perselisihan kedua pihak sebenarnya dapat diselesaikan pada malam itu, apamau aku telah datang sama tengah dan mendatangkan kekeruhan, hingga urusan jadi terlambat. Aku merasa, apabila kita diam saja, kita bakal kena terpedaya dan keadaan kita ada terancam. Dari itu kita berdua sudah ambil putusan, sebentar malam kita niat pergi bikin penyelidikan, guna sekalian cari Pian Siu Hoo supaya urusan kita, dapat segera dibikin beres!"

"Yan toanio, aku minta jangan kau ambil tindakan demikian," Hengyang Hie-in mencegah. "Benar seperti kata-katamu barusan, urusan Giokliong-giam dan Englok- pang dapat dibikin pada malam itu, meski demikian, keputusan masih harus disangsikan. Kau lihat sendiri, aku Sian le hampir-hampir roboh di tangan musuh. Maka aku pikir, kedatangan kamu berdua ibu dan anak bukannya berarti menggerecok hanya merupakan suatu bantuan besar bagi kita. Memang benar pihak Englok- pang dan kawan-kawannya tidak puas, mereka pun berlalu dari sini karena terpaksa. Aku pikir baik kita lihat malam ini, tindakan apa mereka akan ambil. Umpama kata sampai besok mereka tetap belum datang atau memberi kabar, sambil di satu pihak kita harus terus tutup dan jaga mulut muara, di lain pihak kita orang harus ambil tindakan dengan tidak usah sungkan- sungkan lagi. Tegasnya, kita orang harus ambil putusan di muka air untuk mencegah bencana di belakang hari!"

"Menurut dugaanku, mungkin malam ini akan terjadi perobahan," Cukat Pok utarakan perasaan hatinya. "Siapa tahu? Maka aku pikir, baiklah malam ini penjagaan diperhebat. Cuwie loosu ketahui sendiri, di mulut mereka bicara perihal kehormatan atau persahabatan di kalangan Sungai Telaga, di dalam hati mereka tentu pikir lain. Aku percaya, segala macam kejahatan mereka berani lakukan!"

Lim Siauw Chong manggut.

"Apa yang kau bilang, Cukat Pok, ada hal yang benar," ia membenarkan. "Kemarin ini saja Auwyang Cu Him, ketua dari Tonglouw-pang, sudah hendak mengambil tindakan di luar garis. Aku pikir baik segera dibikin penilikan dan perobahan pada penjagaan kita, dengan tak ada persiapan, kita orang tidak nanti bisa tidur dengan nyenyak. Mari kita pergi berpisahan untuk lakukan penilikan, kemudian baru kita orang pikir terlebih jauh."

Pernyataan ini dapat persetujuan, maka Lim Siauw Chong segera perintah Tan Tay Yong pergi kumpulkan semua tauwbak di muka kampung, supaya mereka diberikan pengertian dan diperintahkan melakukan penjagaan dengan sangat hati-hati, kemudian ia sendiri bersama kawan-kawannya pergi ke air akan naik ke perahu masing-masing dan melakukan penilikan sendiri.

Kecuali di mulut muara, di mana ada empat buah perahu dengan masing-masing lentera yang terpasang terang-terang, di lain-lain bagian semua gelap gulita, melainkan pihak Giokliong-giam sendiri yang ketahui di mana adanya penjagaan.

Lim Siauw Chong bersama-sama Yan Toa Nio dan Leng In pergi ke sebelah kiri, mereka naik ke tempat tinggi yang merupakan seperti puncak di mulut muara, dari situ mereka dapat memandang jauh ke udik Englok- kang.

Rombongan Hengyang Hie-in Sian Ie bersama-sama Souwposu Cukat Pok, Hee In Hong dan cuncu Tan Tay Yong mendarat di sebelah kanan mulut muara, akan mengawasi dari tempat tinggi.

Semua perahu-perahu dari pihak Englok-kang berbaris dengan rapi di luar mulut muara. Mereka juga terbenam dalam kesunyian. Hanya dari lima perahu besar, yang terpisah dua atau tigapuluh tombak jauhnya satu dengan lain, ada terdapat cahaya api, dan di situ orang mundar- mandir tak ada putusnya.

”Melihat demikian, nyata mereka tidak pikir untuk undurkan diri," berkata Lim Siauw Chong pada Yan Toa Nio. "'Aku merasa pasti yang mereka akan lakukan suatu tindakan terhadap kita. Tentang Na Thian Hong belum diketahui hidup atau mati, aku ingin sekali pergi mencari tahu dan sekalian menyelidiki maksud mereka "

"Lihat di sana, loo-cianpwee," berkata Yan Leng In, serta tangannya menunjuk. "Di depannya lima perahu besar ada lagi belasan perahu kecil, dua antaranya sedang bergerak. Apakah maksud mereka? Baiklah kita berdamai dulu dengan Sian loo-cianpwee, kemudian baru mengatur orang akan bikin penyelidikan." Selagi mereka bicara, dua perahu kecil yang diunjuk sudah pisahkan diri dari lima perahu besar, lajunya pesat sekali, menuju ke tengah sungai, kemudian semua perahu tertampak bergerak, merupakan suatu pusat.

Semua api segera dipadamkan, kecuali di sebuah perahu besar.

"Kita harus lihat, muslihat apa Pian Siu Hoo akan mainkan!" berkata Yan Toa Nio.

Justru itu Cukat Pok datang dan senggol Lim Siauw Chong.

Tetua Kiushe Hiekee mengerti tanda itu.

"Toa Nio berdua baik jangan sembarangan bergerak," Siauw Chong lantas berkata. "Tempat ini ada penting, aku harap kamu berdua sudi menggantikan aku mengawasi musuh "

"Kita cari Pian Siu Hoo, ia diketemukan di sini, kita pasti tidak akan tinggalkan padanya dan tidak ijinkan ia kabur juga," sahut si nyonya.

"Baiklah," berkata Siauw Chong. "Kita tidak sedia pakaian mandi tapi jika perlu kita akan nyebur juga. Karena perahu-perahu kita tidak dapat dimajukan secara terang-terangan, terpaksa kita harus maju dari darat, sampai di tempat yang dekat sekali dengan perahu- perahu mereka. Ada terlebih baik jika kita maju secara menggelap."

"Baik," menjawab Yan Toa Nio. "Kita bekerja dengan terpisah, supaya masing-masing bisa bergerak dengan leluasa." "Tetapi ingat," Cukat Pok turut bicara, "kita orang pergi untuk lakukan penyelidikan belaka, sekali-kali kita tidak boleh sembarangan layani musuh bertempur.

Dengan tempur musuh, kita juga jadi sudah melanggar aturan kaum Sungai Telaga."

Karena mereka sudah bermufakatan, lantas mereka berpisahan. Mereka tidak turun ke air, hanya naik terus ke tempat yang tingginya dua atau tigapuluh tombak. Mereka telah datang semakin dekat pada musuh tapi dirinya masing-masing semakin tersembunyi. Mereka percaya bahwa musuh tidak akan mencurigai.

Lim Siauw Chong menuju ke utara, ia mutar hingga sepuluh tombak lebih, di satu tikungan ia umpati diri di lamping bukit. Di depan ia lihat enambelas perahu besar serta tujuh atau delapan perahu kecil yang memutari perahu-perahu besar itu. Ia berasal dari Hucun-kang, ia bisa kenalkan perahu-perahu dari sesuatu rombongan. Yang tertampak di depannya ini ada dari Liongyu-pang. Apa yang aneh, bukan saja tidak terlihat cahaya api di dalam perahu, bahkan seorang anak buahnya pun tidak tertampak. Maka tidak bisa jadi jika semua pengisi perahu kabur dengan jalan berenang dan selulup. Untuk kabur pun tidak ada alasan.

Siauw Chong jumput sepotong batu kecil, dengan itu ia menyambit bagian belakang dari sebuah perahu kecil itu. Suaranya batu kecemplung di air terdengar dengan nyata, tetapi di perahu tetap tenang.

"Pasti sekali di dalam perahu tidak ada orangnya," pikir Lim Siauw Chong. Maka dengan berani ia maju mendekati perahu kecil itu, dengan satu enjotan ia bikin tubuhnya berada di atas perahu. Ia sengaja bikin tubuhnya berat, hingga perahu jadi bergerak. Jika ada orang, meskipun sedang tidur, gerakan perahu akan bikin orang itu mendusin. Tetapi perahu itu tetap sunyi, maka nyatalah bahwa perahu itu kosong. Maka itu, Siauw Chong loncat terus ke sebuah perahu besar yang letaknya paling dekat. Dari buntut perahu ia menghampirkan gubuk akan pasang kuping.

Juga perahu besar ini ada sebuah perahu kosong. "Heran!" pikir tetua Kiushe Hiekee, setelah ia periksa

empat perahu dan semua tidak ada anak buahnya.

"Semua anak buah perahu ada tukang-tukang berenang, mereka pasti telah berlalu ke lain tempat. Ke mana?"

Segera Siauw Chong samperkan dua perahu lain, yang satu kosong, tetapi di perahu yang kedua, di mana dengan bergerak sembarangan, hingga perahu jadi bergerak, ia segera dengar suara orang menanya.

"Han A Su, coba dengar!" demikian suara itu. "Di atas gubuk perahu ada suara apakah itu? Mari kita periksa! "

Siauw Chong terperanjat, lekas-lekas ia lompat menyingkir ke belakang perahu akan umpeti diri.

Segera terdengar tindakan kaki dan kelihatan dua orang keluar dari gubuk perahu. Mereka adalah anak buah perahu yang hendak memeriksa seputar perahunya, tetapi karena tidak terdapat apa-apa, mereka telah lantas balik kembali ke dalam perahu.

Dengan hati-hati Siauw Chong keluar dari tempat sembunyinya, ia hampirkan pula gubuk perahu itu, di jendela sebelah kiri ia pasang kuping dan kebetulan ia dapat dengar orang bicara. "Lauw Yo, kau memang biasa main gila," begitu terdengar suara, mungkin dari seorang muda. "Tidak ada apa-apa, kau bilang ada suara di atas gubuk perahu! Aku sendiri tidak dengar apa juga! Hati-hati kau, kalau dipersalahkan oleh ketua kita, sungguh penasaran! Mari kita tidur! Kita tidak diberikan pekerjaan, malahan disuruh menjaga tangsi, nyata kita diperlakukan sebagai soldadu bangkotan, maka kalau sampai terjadi apa-apa, itu semua tidak ada sangkutannya dengan kita! Kita jangan bodoh! Kita tinggal di sini, dilarang pasang api, dilarang keluar, dilarang bicara, tapi kita diharuskan menjaga perahu di antara sekitar bukit! Jangan tolol, mari kita tidur, kecuali perahu-perahu terbakar habis, kita jangan menyingkir! Sayang ketua kita, Sun sionia, di Liongyu ia ada sangat terkenal dan dimalui, apamau ia dapat diundang datang kemari! Urusan di sini bukannya urusan kita tetapi kita harus berkelahi! Kemarin ini di Giokliong-giam telah terjadi pertempuran, benar itu tidak memutuskan, tetapi dengan itu nyata kita sudah jatuh pamor! Kepala bencana ada Na pangcu, ia mati tidak, hidup pun tidak, tetapi ia masih belum ingin berhenti dan masih mengharap bantuannya orang. Ia masih berikan titah-titah hingga ketua kita jadi mirip dengan satu soldadu saja! Kenapa ketua kita kesudian diperintah- perintah oleh pihak Kangsan-pang? Inilah aku tidak mengerti! Bukankah bagi kita lebih baik pulang, makan dan tidur saja di tempat kita? Kalau malam ini kembali kita kalah, apa ketua kita masih ada muka akan hidup terlebih lama dalam dunia ini? Hayo, Lauw Yo, kita tidur, jangan pedulikan apa-apa lagi! "

"Han A Su, kau salah," berkata suara yang kedua, rupanya dari orang she Yo, yang dipanggil Lauw Yo itu. "Dalam segala hal, kita orang harus utamakan persahabatan, apa-pula dalam kalangan coanpang. Bukankah ketua kita telah perlakukan baik sekali pada kita? Kita telah sampai di sini, kita harus lakukan apa-apa untuk sahabat kita. Ketua dari Kangsan-pang ada sangat liehay, kau jangan pandang enteng padanya. Lihatlah caranya ia mengatur pada malam ini, dirinya sendiri ia majukan di muka. Maka mau atau tidak, kita harus adu jiwa dengan pihak Giokliong-giam! Menurut dugaan, barangkali malam ini kita orang dapat merampas tempat musuh! Maka kita harus jaga baik-baik perahu-perahu kita Saudara-saudara yang malam ini keluar, semuanya seperti sudah jual jiwanya, jika mereka berhasil, kita semua akan angkat kepala, tapi andaikata mereka gagal, terpaksa kita orang harus tunduki kepala kita Pihak

Kangsan-pang telah menyatakan, mereka tidak suka ada perahunya yang ketinggalan, supaya kita semua bisa lihat, apakah mereka ada sahabat sejati atau bukan!

Sahabatku, mari kita jaga perahu-perahu, kalau terpaksa harus mundur, kita harus bisa mundur dengan utuh, supaya tenaga pihak kita Liongyu-pang dapat dilindungi. Benar begitu, bukan?"

Tapi orang yang dipanggil Han A Su itu menjawab, "Menurut aku, malam ini ada lebih banyak bahayanya daripada kebaikannya, maka kalau nanti semua sudah celaka, barulah belakangan datang penyesalan "

Sampai di situ, pembicaraan sirap. Tapi pembicaraan itu sudah cukup bagai Lim Siauw Chong. Ia telah dapat kabar penting. Ia melihat ke sekitarnya, ia lihat Yan Toa Nio dan Cukat Pok ada di dua perahu lain, dengan ulap- ulapkan tangan, ia memberi tanda pada mereka itu. Ia girang, yang mereka berdua pun telah sampai di situ. Lantas juga Lim Siauw Chong gunai kepandaiannya lari di muka air, menuju ke perahu pertama dari lima perahu paling besar. Ketika ia sampai, ia lihat di perahu besar ketiga ada orang lain. Ia berlaku hati-hati. Ia lihat satu anak buah keluar dari gubuk dan pergi ke belakang, sesudahnya meniliki, dia itu balik kembali ke dalam.

Di perahu ketiga itu adalah Yan Toa Nio, yang dari tiang layar loncat turun ke atas gubuk.

Siauw Chong pergi ke perahu yang ketiga, dengan entengi tubuh ia samperi pintu gubuk perahu, ke mana tadi si anak buah menghilang. Ia lantas pasang kuping dan dengar dua orang sedang bicara dengan perlahan. Untuk melihat mereka itu, ia maju lebih dekat ke jendela.

Di pintu perahu ada dipasangkan layar. Di kepala perahu ada satu lentera merah. Perahu itu ada besar, dari kepala sampai ke pintu gubuk, enam atau tujuh kaki jauhnya. Siauw Chong berada di sampingnya dan bisa mengintip dengan leluasa

Dua orang di dalam perahu sedang berpakaian untuk bersiap. Mereka adalah le Tong, ketua dari Lankie-pang, bersama Sun Po Sin, ketua dari Liongyu-pang. Mereka berdua berpakaian ringkas dengan sedia senjata dan senjata rahasia.

"Aku rasa malam ini kita bakal berhasil," kata le Tong pada kawannya. "Kita orang menyerang dengan mendadak, walaupun pihak Giokliong-giam menjaga keras, tidak nanti mereka dapat menduga bahwa kita pun berbareng menyerang dari atas dan belakang mereka! Di belakang, jika satu orang saja bisa terlolos dan bunyikan ledakan sebagai pertandaan, pihak Hiecun akan kalut sendirinya dengan tidak bertempur lagi. Apa mereka dapat lakukan jika mereka diserang dari depan, belakang dan tengah-tengah? Di sana ada banyak orang pandai, tetapi mereka tentu tidak mampu lindungkan semua orang dari pihaknya. Kita pun harus gempur dulu pasukan perahunya, supaya mereka kalut dan bubar, setelah itu tentu mereka akan lari keluar ke mulut muara Dengan jalan ini kita orang bisa bikin terang mukanya Englok-pang. Melihat pengaturannya Pian pangcu, kita sebenarnya harus mengaku kalah. Sekarang sudah tidak siang lagi, hayo kita pergi pada Pian pangcu, ia tentu sedang tunggui kita untuk berangkat bersama-sama.

Pasukan untuk rebut mulut muara telah disiapkan, kita orang tidak boleh alpa dan terlambat, begitu pertandaan berbunyi, kita harus adu jiwa! Pendeknya, malam ini kita harus dapat rampas Giokliong-giam untuk cuci malu!"

Setelah itu, mereka berdua keluar dari dalam gubuk perahu. Sun Po Sin jalan belakangan. Siauw Chong menyingkir untuk umpetkan diri. Syukur baginya, musuh tidak dapat lihat padanya Mereka pergi ke perahu-perahu kedua, terus ke perahu ketiga

Lima perahu besar kumpul menjadi satu, tetapi tidak rapat satu dengan lain, hanya masing-masing terpisah satu tombak lebih.

Setelah mereka lewat, Siauw Chong muncul pula Ia terperanjat bila ia tampak bayangan berkelebat di atasannya, ia menduga pada musuh, maka ia putar tubuhnya untuk siap untuk sesuatu penyerangan. Tapi yang datang adalah Cukat Pok, sebagaimana ia segera kenalkan Souwposu, si Pembalasan Cepat.

Mereka tidak berani bicara sebelum berdekatan satu dengan lain, hingga mereka bisa berbisik. "Lim suheng, sungguh berbahaya!" demikian Cukat Pok. "Kita harus lekas kembali."

Siauw Chong manggut.

"Aku pun telah dengar semua," ia pun berbisik. "Mereka ada jahat dan hendak bokong kita secara hebat. Jikalau aku biarkan si tua bangka Pian Siu Hoo berhasil, dapat dikatakan sia-sia saja aku hidup dalam dunia! Di mana Yan toanio?"

"Ia sedang selidiki perahu keempat," Cukat Pok beritahukan. "Pasukan perahu mereka yang akan serang mulut muara adalah rombongan Hangciu-pang dari Han Kak."

Lim Siauw Chong manggut.

"Marilah!" katanya, yang tidak ingin ayal-ayalan pula.

Ia tetap berlaku hati-hati, supaya kedatangan mereka tidak dapat diketahui oleh musuh.

Mereka hampirkan perahu besar yang berada di tengah. Cukat Pok pernahkan diri di samping. Lim Siauw Chong langsung pergi ke jendela kiri sambil sembunyikan diri, agar orang sukar lihat ia. Ia mengintip ke dalam jendela yang teraling dengan gordijn tetapi orang toh dapat melihat ke dalam.

Pian Siu Hoo kelihatan berdiri di tengah-tengah, di kiri dan kanan berduduk pemimpin-pemimpin coanpang, yang sedang terima perintah-perintah.

Sun Po Sin dari Liongyu-pang dan le Tong dari Lankie- pang, bersama-sama dengan enambelas anak buah pilihan, diperintah siap untuk merampas mulut muara, begitu lekas mereka sudah dengar pertandaan. Mereka ini masing-masing kepalai delapan orang. Untuk membuka jalan, senjata yang dipakai adalah panah api. Mereka akan menyerang dari atas dari kiri dan kanan. Api akan lantas digunai, untuk menangkan pengaruh, kemudian enambelas anak buah itu diperintah serang perahu-perahu Giokliong-giam, agar setiap perahu segera terbakar. Dua ketua coanpang itu dipesan wanti- wanti agar bergerak jangan kecepatan dan jangan ke belakang, supaya tepat, guna bikin musuh bingung hingga mereka tidak tahu bagaimana harus bikin perlawanan.

Setelah terima perintah, dua ketua itu lantas berlalu.

Cia Kiu Jie diminta bawa sepasukan perahu, untuk menerjang masuk begitu lekas mulut muara sudah dapat dipecahkan dan dirampas.

Di dalam perahu itu tidak tertampak Auwyang Cu Him dan Cui Cu le, tetapi sebagai gantinya, ada empat orang lain, yang romannya gagah, yang kemarin ini tidak turut hadir di Giokliong-giam.

"Pui loosu, Tan loosu," terdengar Pian Siu Hoo berkata pula, "aku minta kamu dua saudara sudi ikuti Cia loosu, masing-masing boleh bawa empat perahu kecil. Kamu mesti nyerbu terus, dengan tidak usah pedulikan pertempuran di kedua pinggiran. Karena perahu-perahu ada enteng dan laju, kamu mesti bisa serbu bagian dalam dari Giokliong-giam Hiecun. Untuk membakar Hiecun di empat penjuru, aku sudah sediakan orang- orangnya, supaya Hiecun habis musnah. Untuk layani pemimpin-pemimpin musuh, serahkan itu pada aku bersama-sama Auwyang loosu, Cui loosu, Thian loosu dan In loosu. Begitu lekas api sudah berkobar-kobar, pihak kita mesti berteriak-teriak. Mulut muara tidak boleh ditutup terlalu keras, mereka semua pandai selulup dan berenang, asal mereka tidak berkelahi nekat, biarkan mereka mencoba molos dan kabur. Asal kita dapat rampas Giokliong-giam, itu sudah berarti pembalasan sakit hati bagi Englok-pang."

Tiga orang itu berlalu dengan lantas.

Lim Siauw Chong dan Cukat Pok lekas-lekas menyingkir ke belakang perahu, dari situ mereka menyingkir terlebih jauh, dan terus kembali ke darat, ke atas bukit. Maksud mereka untuk segera balik ke Giokliong-giam, karena umpama ancaman kebakaran, api sudah mulai disulut.

--ooo0dw0ooo--