Perintah Maut Jilid 22

 
Jilid 22

“TUGAS PERTAMA, Toa sucie mengharuskan kita menangkap Lie Kong Tie, sedangkan Lie Kong Tie sudah tidak berada ditempat ini, mungkinkah kita masih bercokol disini terus?"

“Tentang tugas kedua ?"

“Tugas kedua untuk menangkap Kang Han Cing. Sayang sekali Jie sucie tidak menyaksikan bagaimana orang2 kita terjungkel dibawah racun Cu Liong Cu, kalau tidak ada Kang Jie kongcu yang memberi obat penawar racun, mungkinkah kita bisa meneruskan usaha. Untuk sementara, urusannya harus dirembuk kembali ber-sama2 Toa sucie, lain kali saja kita meminta ilmu kepandaian itu.”

Topeng Perak Jie Kiongcu menoleh ke arah Hui- keng dan bertanya : “Betulkan ada kejadian yang seperti itu? Kalian tidak bisa mengelakkan racun2 Cu Liong Cu?”

“Diluar dugaan semua orang,” Hui-keng menganggukkan kepala. “Hanya Sam Kiongcu seorang yang kebal racun, maka tidak menderita keracunan.”

“Bukan kebal racun,” berkata Sam kiongcu. “Walau aku berhasil menotoknya dengan jarum Bu-siang Sin-ciam, siapakah yang berani menyentuh tubuh penuh racun2 itu ?”

Pantas saja Cu Liong Cu tidak takut, ternyata si gadis berkerudung hitam memiliki banyak permainan beracun. “Ya,” jawab Jie kiongcu. “Hal ini bisa kubayangkan. Siapakah yang berani mendekati manusia2 beracun ?”

“Nah, tunggu apa lagi? Mengapa Jie sucie tidak turut kita kembali ?”

“Tunggu dulu,” berkata si Topeng Perak. “Sam sumoay sudah membuat pernyataan penundaan perang. Itu urusanmu, tapi aku masih mempunyai urusan dengan Kang Jie kongcu.”

“Baiklah,” berkata Sam kiongcu. “Kita berangkat pulang terlebih dahulu.”

Memandang kearah Kwee In Su, memberi perintah agar komando penarik pulangan itu diteruskan.

Kwee In Su berteriak keras : “Atas perintah Sam Kiongcu, semua naik keatas kapal !”

Dan puluhan orang2 berbaju seragam naik keatas perahu Ngo-hong-bun. Hanya Hui-keng, Hian keng dan beberapa orang saja yang ragu2 atas komando itu.

Sam Kiongcu memandang A Wan dan Bu Lan, ia memberi komando lain : “Semua pasukan harus ditarik pulang. Siapa yang berani membangkang, gunakanlah Hak Ketiga, bunuh orang2 kita yang berani membangkang perintah."

Kemudian memandang Co Hui Hee, Sun Hui Eng berkata : “Sumoay, mari pulang."

Co Hui Hee, Hui-keng, Hian-keng dan lain2nya kembali ke perahu masing2. Hanya Tiga Lengcu Berwarna yang belakangan datang ber-sama2 Jie Kiongcu yang masih berada di belakang si topeng perak itu.

“Samwie Lengcu." teriak A Wan dan Bu Lan. "Apa kalian tidak taat kepada Perintah Ketiga?”

Lengcu Panji Putih, Lengcu Panji Merah dan Lengcu Panji Hijau memandang kearah si topeng perak.

“Pergilah." Berkata Jie Kiongcu. “Agar jangan sampai Sam susiok kalian marah dan uring2an."

Ketiga lengcu ini memberi hormat dan meninggalkan Jie Kiongcu.

Perahu2 besar Ngo-hong-bun mulai berangkat, inilah cara2 Sam kiongcu yang tidak ingin mengeroyok Kang Han Cing bertiga. Sebelum berangkat, ia masih sempat memberi kisikan penting :

“Ber-hati2lah menghadapi jurus ketiga dari Tiga Jurus Pukulan Burung Mautnya.”

Jurus ketiga dari Tiga Pukulan Burung Maut diberi nama 'Mengaduk dan Menghancurkan Jagat', Kang Han Cing pernah turut mempelajari ilmu ini, walau memang bukan ilmu yang bisa digolongkan kelas biasa, tokh ilmu yang sudah berada didalam kantong bajunya, mengapa harus takut ?

Si topeng perak menghadapi ketiga jago tanpa bantuan, se-olah2 mempunyai pegangan penuh untuk mengalahkan lawan2nya. Kang Han Cing pernah bercerita, kalau ilmu kepandaian topeng perak ini berat dihadapi, suatu hal yang membuat Lie Wie Neng penasaran, sebagai murid Pendekar Kipas Wasiat yang ternama, belum pernah ia tunduk kepada orang, dengan adanya kesempatan baik ini, segera ia tampil kedepan, dihadapi Jie Kiongcu sambil membentak: “Hayo, hadapi dahulu 'buntut cecak’ yang pertama !”

“Oooow, mau bertanding ? Jangan khawatir, satu persatu mendapat giliran." Berkata Jie Kiongcu.

“Saudara Lie…..” Kang Han Cing hendak mencegah.

“Saudara Kang, serahkan pertandingan pertama kepadaku." Berkata Lie Wie Neng.

“Ya, hendak kujajal bagaimana ilmu kepandaian anak murid Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu yang ternama itu."

Sret….. Jie kiongcu mengeluarkan pedang, disabetkan ke kanan dan kiri, sreet, sret….. Ia sudah menyerang Lie Wie Neng ber-turut2 sampai dua kali.

Tersipu-sipu Lie Wie Neng mengeluarkan kipasnya, kalau menghadapi orang biasa, mungkin Lie Wie Neng tidak gugup seperti kali itu, yang membuatnya agak repot adalah arah pedang Jie Kiongcu yang terlalu cepat, untuk membuat posisi bagus terpaksa ia mundur dua tiga langkah. Jie Kiongcu tidak meneruskan serangannya, menahan ujung pedang ditengah jalan, ia bercemooh : “Hanya seperti inikah ilmu kepandaianmu? Sungguh memalukan Datuk Utara. Memalukan Pendekar Kipas Wasiat."

Lie Wie Neng sudah membuktikan ilmu pedang si topeng perak, ia tidak banyak adu mulut lagi, kipasnya dilipat dan menotok lima tempat jalan darah lawan. Serangannya terbuka dan merangsek hebat, dengan mengambil inisiatip penyerangan.

Jie Kiongcu menahan setiap datangnya serangan, setapakpun ia tidak mau mengalah, kalau perlu, ia tidak segan mengadu tenaga dalam, maka pertempuran itu hebat dan seru.

Satu saat Lie Wie Neng merasakan tubuhnya tersedot, dan mencong pulalah serangan kipasnya, traaang…..Kipas itu diterbangkan pergi.

Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Lie Wie Neng. Ia lompat mundur jauh ke belakang.

Lagi2 si topeng perak menghentikan pengejaran, ia menyindir :

“Seperti ini sajakah ilmu kepandaian kipas wasiat? Huh ! kau belum cukup umur untuk menandingi diriku. Panggil saja gurumu, mungkin ia bisa mengadakan perlawanan yang lumayan.”

“Tidak perlu dipanggil. Aku sudah berada disini,” sambung satu suara, disana bertambah seorang kakek berbaju putih, itulah Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu. “Suhu,” Lie Wie Neng memberi hormat kepada orang tua itu, airmatanya meleleh turun, ia bersedih atas kekalahannya dan sesuatu yang membuat sang guru turut malu.

“Bangunlah,” berkata Pendekar Kipas Wasiat. “Aku tidak menyalahkan dirimu yang kalah oleh murid Nenek Goa Naga Siluman. Belum pernah terbayang olehmu, betapa hebat kepandaian Nenek Goa Naga Siluman, kecuali Sepasang Dewa dari Tong hay, siapakah yang pernah ditakuti olehnya? Jangan kata dirimu, sampai kipasku pun turut tidak dipandang mata.”

Hati Jie kiongcu sedang me-nimbang2, inikah orangnya yang mendapat julukan Pendekar Kipas Wasiat ?

“Hei, kau yang bernama Sin Soan Cu ?” ia mengajukan pertanyaan.

“Ha, ha…..nama itu belum lama kau sebut2, bukan ?” tertawa Sin Soan Cu.

“Dan juga mau turun tangan ?” tanya lagi si topeng perak.

“Lebih baik tidak turun tangan, kalau tidak sampai sangat terpaksa sekali.”

“Syukur sajalah.” Berkata Jie kiongcu. “Bawa saja muridmu itu, dan meninggalkan tempat ini.”

Si topeng perak hendak mengelakkan pertempuran melawan Sin Soan Cu.

Pendekar Kipas Wasiat tertawa berkakakan. “Belum lama kudengar ada orang yang menantang perang, siapakah orang itu? Kalau pendengaranku tidak salah, kau menyuruh muridku memanggilku, bukan?” jago tua ini tidak mau mengalah begitu saja.

Jie kiongcu mempersilahkan Sin Soan Cu mengajak Lie Wie Neng meninggalkan tempat itu, bukannya berarti ia takut kepada si Pendekar Kipas Wasiat, sebagai murid Nenek Goa Naga Siluman, belum pernah ia takut kepada siapapun juga, kecuali keturunan Liu Ang Ciauw dari Tong hay.

Maksud dari mengelakkan pertempuran adalah mengurangi jumlah musuh, kalau Sin Soan Cu tidak berada di tempat itu, mungkin lebih mudah menghadapi Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat.

Kini Sin Soan Cu menantang, si topeng perak mengeluarkan dengusan dingin, katanya bertolak pinggang : “Sin Soan Cu, jangan kira semua orang takut kepadamu. Mungkin saja kalau nama Pendekar Kipas Wasiat bisa menakutkan orang lain. Tapi aku tidak. Baiklah, mari, mari kita menjajal ilmu kekuatan.”

Sret….Sin Soan Cu mengeluarkan kipasnya, lebih besar sedikit dari ukuran yang digunakan oleh Lie Wie Neng, inilah kipas yang pernah menggemparkan rimba persilatan, kipas istimewa tiada tandingan, kipas yang bisa mengeluarkan suara guntur, senjata yang bisa menciutkan nyali lawannya.

“Bedebah ! Mentang2 memiliki ilmu simpanan dari si Nenek Goa Naga Siluman, lantas menjadi sombong dan congkak ? Kalau tidak kuberi sedikit pelajaran, kau bisa memandang rendah semua jago rimba persilatan. Hayo, ber-siap2lah untuk menerima pelajaranku."

“Jangan banyak putar lidah, perlihatkanlah kemampuanmu.” Berkata Jie kiongcu penuh tantangan.

“Ya. Kukira tidak ada orang yang mengatakan aku menghina anak muda, mengingat kedudukanmu sebagai murid Nenek Goa Naga Siluman yang ternama.”

Membarengi dan seiring dengan kata2 Sin Soan Cu yang terakhir, terdengar satu suara…blegur……inilah suatu pertanda dari mulainya gerakan tipu silat kipas wasiat. Arah kipas ditujukan ke arah batok kepala si Topeng Perak.

Traaangg….Jie kiongcu meletakkan pedang diatas kepala menangkis datangnya serangan itu, terdengarlah suara berdengung dari beradunya dua senjata.

Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu menelungkupkan senjatanya, berganti dan mengikuti arah gerakannya, mengancam tenggorokan. Satu kecepatan yang tiada tara.

Traaaanngg…..

Lagi2 Jie kiongcu menangkis datangnya ancaman itu.

Seperti apa yang sudah dikatakan, kalau suara guntur gemuruh yang bisa membisingkan telinga itu sangat mengganggu konsentrasinya lawan kipas wasiat. Jie kiongcu berhasil menekan gangguan fisik tersebut, sebagai murid Nenek Goa Naga Siluman yang ternama, ia tidak kehilangan pamor.

Kipas dan pedang saling gempur !

Kang Han Cing turut mengikuti jalannya pertempuran, hatinya bergumam :

“Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu memang luar biasa, kekuatan Jie kiongcu tidak mungkin bisa memenangkan si jago tua.”

Bukan Kang Han Cing saja yang memaklumi akan adanya perbedaan kekuatan tenaga dalam. Sin Soan Cu juga sudah memperhitungkan untung ruginya dari jalan pertandingan tadi, ia akan mengalahkan si topeng perak dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang ber-lebih2an. Serangannya tidak pernah mereda.

Kilatan gerak kipas dan suara gemuruh menguasai suasana, seketika angkasa menjadi gelap.

Walau begitu, Jie kiongcu masih bisa bertahan, ilmu pedangnya memang luar biasa, dibidang perubahan2 silat inilah ia menanam keunggulannya, pedangnya yang lincah memberi perlawanan yang gigih.

Triiiinngg…..triiiing…..traaaang….traaanngg…..

Tiba2 suara menjadi sunyi, dua bayangan itu terpisah.

Lie Wie Neng, Kang Han Cing dkk terkejut, mementangkan mata mereka lebar2. Tampak Jie kiongcu mundur tiga sampai empat langkah, pedangnya dilintang menjaga dada, deburan napasnya seperti uap lokomotif, sengal2 keras.

Di pihak lain, walau keadaan Sin Soan Cu agak baikan, juga mengalami cedera, sebagian lengan bajunya pecah panjang, itulah bekas goresan luka pedang lawan. Pendekar tua ini mengatupkan kedua matanya, juga sedang mengheningkan cipta.

Tiba2 terdengar suara dengusan dingin yang dicetuskan oleh Jie kiongcu, kaki manusia bertopeng perak ini melejit, maka badan pun lurus segaris dengan pedang, meluncur ke arah Pendekar Kipas Wasiat.

Sin Soan Cu sudah selesai membenarkan peredaran2 jalan darah yang menyimpang ke beberapa jaluran salah, memperhitungkan dan menerima bisingan suara ancaman bahaya itu, ia tertawa berkoar : “Ciiiiaaattt…..!”

Dan terdengarlah suara gelugurnya kipas memapaki datangnya serangan Jie kiongcu.

Kang Han Cing memeras keringat dingin, bisakah Sin Soan Cu menahan datangnya serangan ‘Kehadirannya Burung Tanpa Sayap’ ? salah satu dari Tiga Pukulan Burung Maut, intisari tipu silat golongan Ngo hong bun itu ?

Sin Soan Cu mengipas dan mengipas lagi, bukan kipasan biasa, itulah kipasan yang disertai oleh tenaga dalam, dibina bersama kipas wasiatnya. Mengingat keadaan tenaga dalam Jie kiongcu yang jauh berada dibawah Sin Soan Cu, seharusnya manusia berselubung topeng perak itu harus bisa diterbangkan dari tempat kedudukannya.

Gambar yang sudah digambarkan itu betul2 terjadi, tapi perkembangan berikutnya memang aneh, tubuh Jie kiongcu yang terapung itu menukik, terjadilah posisi kedua dari jurus Tiga Pukulan Burung Maut, gerak tipu yang diberi nama ‘Gagah Perkasa Membentangkan Sayap’, bagaikan seekor kelelawar, ia balik terbang kembali, tetap menyerang Sin Soan Cu.

Pendekar Kipas Wasiat salah membuat perhitungan, mana disangka kalau ada seseorang yang bisa terbang seperti itu ? baru saja ia siap sedia dengan posisi baru, serangan Jie kiongcu sudah datang, apa boleh buat, ia menggebrik kipas cepat.

Terjadilah pergumulan jarak dekat, gedubrak….gedubrak….salah satu dari dua bayangan yang saling gumul itu mental jauh.

Perubahan2 tadi terlalu cepat, tidak bisa diikuti oleh bayangan mata, hati Lie Wie Neng ber-debar2, siapakah yang dikalahkan? Sang guru atau Jie kiongcu?

Disaat ini terdengar suara Sin Soan Cu yang lantang : “Nah, lain kali jangan suka menantang orang yang belum hadir ditempatnya.”

Sudah tentu yang kalah bukan si Pendekar Kipas Wasiat itu.

Panorama ditempat itu baru terpeta, tampak sebagian rambut Sin Soan Cu terpapas botak. Keadaan Sin Soan Cu memang agak mengenaskan, mengingat sobek baju dan rambut yang berserakan, pindah dari tempatnya semula. Lebih mengenaskan lagi adalah keadaan Jie Kiongcu, topengnya meleng kesamping, hampir copot, ia duduk numprah di tanah, darah berceceran di beberapa tempat, tangannya masih memegang pedang, tapi hanya pedang sepotong, bagian tajamnya sudah hilang, ternyata pedang itu sudah patah menjadi dua bagian, ia hanya memegang yang bagian gagang, dan sebagian lagi tertancap pada pundak sendiri, ia dikalahkan Sin Soan Cu.

“Sin Soan Cu,” berkata Jie kiongcu dengan suara lemah. “Catat perhitungan di hari ini, tunggulah pembalasan Ngo-hong-bun dikemudian hari.”

Sesudah itu tubuhnya melejit, meninggalkan lapangan.

Kang Han Cing, Lie Wie Nenga dan Goan Tian Hoat menghampiri Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu.

“Suhu, bagaimana keadaanmu ?” bertanya Lie Wie Neng.

“Ilmu silat Hu hong kiam hoat dari Nenek Goa Naga Siluman memang tiada tara.” Sin Soan Cu menghela napas. “Hampir saja aku dikalahkan olehnya.”

“Yang digunakan tadi adalah ilmu Tiga Pukulan Burung Maut,” berkata Kang Han Cing. “Inti sari dari ilmu Hui hong kiam hoat.” Sin Soan Cu menoleh, memandang putra Datuk Selatan tersebut, ia agak heran, karena jago muda itu bisa menyebutkan nama dari ilmu golongan sesat. “Bagaimana kau tahu ?” Ia mengajukan pertanyaan. “Gurumu jua pandai menggunakan ilmu Hui hong kiam hoat ?”

“Bukan.” Berkata Kang Han Cing. “Hanya suatu kebetulan boanpwe bisa turut mempelajari ilmu Tiga Pukulan Burung Maut itu.”

Diceritakan juga bagaimana cara ia mendapat pelajaran ilmu Tiga Pukulan Burung Maut.

“Ouw…..” Sin Soan Cu bisa menerima kenyataan. “Kalau begitu, murid Nenek Goa Naga Siluman itu hanya menggunakan dua jurus saja? Jurus ketiga yang diberi nama ‘Mengamuk dan Menghancurkan Jagat’ itu belum dikeluarkan? Tentunya lebih hebat dari 2 jurus yang terdahulu.”

“boanpwe belum bisa menyelami perobahan2nya.” Berkata Kang Han Cing. “Menurut catatan yang ada, tipu ke 3 adalah tipu terhebat di ini masa.”

“Oh, begitu ?” berkata Sin Soan Cu. “Tadi seharusnya kuberi kesempatan ia menggunakan tipu itu, hendak kusaksikan betapa hebatnya tipu tersebut.”

Bicara sampai disini, teringat bagaimana ia pun hampir mendapat cedera, kalau kurang lihay saja, batok kepalanya tergelincir jatuh. Kalau tidak bantuan rambut diatasnya, dan kini ia menjadi botak, lengan bajunyapun terluka, ia tertawa sendiri. “Mungkin,” katanya secara jujur. “Kalau murid Nenek Goa Naga Siluman tadi sempat menggunakan tipu Mengamuk dan Menghancurkan Jagat, yang menjadi pecundang adalah diriku sendiri.”

“Suhu,” berkata Lie Wie Neng. “Begitu hebatkah ilmu Nenek Goa Naga Siluman ?”

Sin Soan Cu menganggukkan kepala, menunjuk Kang Han Cing dan berkata :

“Gurunya juga turun gunung, hanya karena Nenek Goa Naga Siluman ini. Kalau kita tidak bisa bekerja sama untuk menghadapinya, tidak ada orang yang bisa mengalahkan nenek tersebut.”

“Ilmu tidak ada tandingan ?” bertanya Lie Wie Neng.

“Kecuali Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay.” Berkata Sin Soan Cu. “Hanya cucu keturunan Liu Ang Ciauw itulah yang pernah mengalahkan Nenek Goa Naga Siluman.”

Kehadiran Sin Soan Cu bukan suatu kebetulan, ia datang dengan berita yang menyatakan kehilangannya Cu Liong Cu. Tentunya sudah jatuh kedalam tangan partay Ngo-hong bun. Untuk menyelidiki dengan pasti, mereka berpencaran.

***

Bab 75

MENGIKUTI PERJALANAN Kang Han Cing,

karena jumlah mereka terbatas, seorang satu jurusan dan Kang Han Cing membuat penyelidikan seorang diri.

Ia meninggalkan perjalanan air, menyusup dan menyamar sebagai seorang sastrawan.

Tidak ada kampung dan tidak ada perumahan, hanya pohon2 liar yang tumbuh, itulah daerah Tay ga-hun-san. Kini Kang Han Cing sedang menerobosi daerah ini, daerah yang pasti diliwati Hang-ciu dan Kim-hoa.

Disini terletak sebuah kedai minuman, namanya saja kedai minuman, dia juga merangkap sebagai pondokan bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh disini, kadang kala bermalam juga di tempat itu.

Kedai Tay-ga-bun-san sangat kecil dan jorok, tokh tidak ada orang yang mengomel oleh karenanya. Kecuali kedai itu, tidak ada tempat istirahat kedua.

Pemilik kedai bernama Thio Lo Sit, kini sedang ada dua orang tamu ditempatnya, kedua tamu itu adalah pedagang2 cita. Mereka sedang memandang keluar, tampak hujan mulai turun.

“Hei, tambah arak lagi !” berkata seorang pedagang cita yang di sebelah kiri, badannya lebih besar dari kawannya.

“Dan untukku tambah daging,” berkata sang kawan, agak kurus dan bermata sipit.

Thio Lo Sit tidak menggunakan pembantu, ia melayani sendiri segala kebutuhan dari tamu2nya. Membawakan barang-barang yang diminta. Kedua pedagang cita itu menenggak arak dan memakan daging, hujan masih belum mau berhenti, turun rintik2.

“Lo Teng,” berkata pedagang cita yang agak gemukan. “Didalam keadaan yang seperti ini, siapakah yang mau melakukan perjalanan?”

“Jalan hanya satu,” berkata orang yang dipanggil Lo Teng. “Kalau tidak menggunakan jalan ini, kemanakah ia melangkah?”

Baru selesai ucapnya, disaat itulah Kang Han Cing tiba. Memasuki kedai minuman Thio Lo Sit. Kedai itu sangat strategis, tidak ada jalan kedua untuk menyimpang dari apa yang sudah ditentukan.

“Minum the cap botol, tuan,” berkata Thio Lo Sit menjamukan jajanannya.

Kang Han Cing menganggukkan kepala sambil menyeret bangku duduk, ia mengiyakan tawaran itu.

Tidak lama Thio Lo Sit membawakan minuman khasnya.

“Tuan mau makan apa?” tanya pemilik kedai ini. “Bawakan saja barang yang ada,” berkata Kang

Han Cing.

Thio Lo Sit membawakan makanan2 kecil. Disaat ia hendak mengundurkan diri, tiba2 Kang Han Cing memanggil : “Lo-tong-kee.”

“Tuan hendak menambah sesuatu?” tanya Thio Lo Sit. “Bukan,” Kang Han Cing menatapnya dalam. “Aku hendak menanyakan sesuatu.”

“Apakah yang tuan hendak tanyakan itu ?” “Aku hendak menanyakan seseorang.”

“Bagaimanakah orang itu? Tua? Muda? Atau mempunyai ciri2 lainnya?”

“Dia adalah adikku, seorang gadis berpakaian warna hitam.”

Thio Lo Sit berpikir beberapa waktu, akhirnya ia berkata : “Kukira tidak ada gadis yang tuan sebutkan itu melewati kedai kami.”

Dua pedagang cita Lo Teng dan Bah Cing sedang uplek memperbincangkan urusan mereka, kini mulai tertarik dengan pertanyaan Kang Han Cing, mereka mengalihkan pandangan, memandang jago muda kita.

“Heran,” berkata Kang Han Cing. “Jalan hanya satu, bagaimana ia tidak melewati tempat ini?”

“Ada urusan apa yang menyebabkan tuan sibuk?” bertanya Thio Lo Sit.

“Adikku sedang ngambek, melarikan diri.” Berkata Kang Han Cing.

“Mungkin salah jalan,” berkata Thio Lo Sit. “Wah, bagaimana baiknya, ya.” Kang Han Cing

melamun.

“Tuan,” berkata Thio Lo Sit. “Kedua tamu itu adalah pedagang2 cita yang sering mundar-mandir disekitar daerah ini, mungkin tahu kalau2 ada seorang gadis seperti tuan sebutkan itu.”

Thio Lo Sit menghampiri Lo Teng dan Bah Cing, kepada mereka ia mengajukan pertanyaan :

“Tuan2 mungkin bisa membantu, kalau2 bertemu dengan adik perempuannya yang sesat di jalan, entah dimana kini berada.”

“Dimanakah sesatnya gadis itu?” bertanya Bah Cing.

Thio Lo Sit menoleh dan memandang Kang Han Cing, artinya agar orang yang bersangkutan langsung bisa memberi penjelasan.

Kang Han Cing berkata : “Adikku itu meninggalkan Tay-si khung, entah dimana kini ia berada.”

Lo Teng memandang Bah Cing dan berkata : “Bah Cing, kau belum lama berkeliaran disekitar daerah itu, mungkinkah melihat adik saudara yang digambarkan?”

“berapakah umur adik saudara?” bertanya Bah Cing.

“19 tahun,” jawab Kang Han Cing.

“Pakaian warna apa yang dikenakan olehnya?” “Ia mengenakan pakaian warna hitam.”

“Juga mengenakan kerudung tipis yang berwarna hitam?”

“Aaaa…..” berteriak Kang Han Cing. Itulah Cu Liong Cu. Kalau tidak, bagaimana seorang pedagang cita bisa memberi gambaran yang begitu tepat? “Betul….betul….” katanya cepat. “Dimana saudara melihat adik kami ?”

“Disaat aku meliwati kelenteng To liong tan, seorang gadis yang agak mirip dengan adik saudara itu memasuki kelenteng, mungkin juga masih disana.”

“Terima kasih…..terima kasih……” berkata Kang Han Cing memberi hormat. Sesudah mendapat gambaran tentang letak tempat yang bernama kelenteng To liong tian dan membereskan rekening makanannya, jago kita segera meninggalkan kedai Tay-go hun-san.

Itu waktu, hujan sudah berhenti, tapi waktu sudah menjelang sore hari, redup dan gelap-gelap.

Kelenteng To liong tian adalah sebuah kelenteng bobrok yang sudah tiada penghuninya, sebentar kemudian Kang Han Cing sudah berada di tempat itu.

Disudut ruang pendopo sedang meringkuk seseorang, itulah Cu Liong Cu yang mengenakan kerudung sutra tipis, walau membelakangi dirinya, Kang Han Cing masih tidak melupakan bentuk potongan gadis tersebut.

Hadirnya Kang Han Cing tidak menarik perhatian Cu Liong Cu. Mungkinkah masih mengambek? Kang Han Cing tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh Cu Liong Cu didalam kelenteng ini?

“Nona Cu…..” panggil Kang Han Cing. Cu Liong Cu menoleh di dalam keadaan gelap, tidak tampak perubahan wajah gadis itu, juga tidak membuka suara.

Sangka Kang Han Cing, tentunya Cu Liong Cu masih ngambek, karena ia membela Sam kiongcu. Karena itulah ia datang menghampiri.

Disini letak kesalahan Kang Han Cing, tiba2 orang yang dianggap Cu Liong Cu itu meletik, gesit sekali, terlalu cepat dilukiskan, maka pinggang Kang Han Cing menjadi kesemutan.

“Kang Han Cing,” teriak gadis berkerudung itu. Kini ia sudah membuka tutup kerudungnya. “Lihatlah biar jelas, siapa diriku.”

“Kau Go kiongcu?” Kang Han Cing membekap pinggangnya yang sakit, ia sudah dibokong orang.

“Ya,” berkata Go kiongcu Co Hui Hee. “Akhirnya kau jatuh juga ke dalam tanganku. Kau sudah kuberi jarum Ular.”

“Jarum Ular?” Kang Han Cing berkerut alis, kini mulai dirasakan bisa racun yang menyusuri peredaran2 jalan darahnya, cepat2 ia menahan menjalarnya racun2 tersebut dengan jalan bersemadi. Tapi tidak tahan, racun Co Hui Hee memang racun pilihan, butiran2 keringat berhujanan dari sendi2 pembuluhnya.

“Ya,” berkata Co Hui Hee. “Jarum Ular tidak ada obatnya. Di dalam waktu dua puluh empat jam seluruh kulit dan isi dagingmu segera mencair.”

Co Hui Hee menuntut kematian Kang Han Cing, mengingat pemuda itu pernah melakukan perbuatan kurang ajar, menyobek bajunya bagian depan, disaat si gadis menyamar sebagai Kong Kun Bu didalam gedung keluarga Wie.

Bisakah Kang Han Cing mati keracunan oleh Jarum Ular Beracun yang sudah ditancapkan pada punggungnya?

Mari kita saksikan pada bab berikutnya dari cerita ini.

***

Bab 76

KANG HAN CING sedang melawan virus2 bisa racun yang menyusuri peredaran darahnya, matanya berkerut terus menerus, menahan semua penderitaan.

Co Hui Hee membokong dengan jarum beracunnya, karena sakit hati kepada Kang Han Cing, disamping itu ia pun mulai tertarik kepada pemuda itu, dibalik kebencian adalah benih cinta, hanya kedua unsur inilah yang bisa menciptakan sejarah dunia kita.

Menyaksikan keadaan Kang Han Cing yang tersiksa, hati Co Hui Hee menjadi tidak tega. Timbul rasa penyesalannya. Dendam permusuhan itu belum melampaui batas kematian si pemuda. Tokh hanya menyobek bajunya saja? Apa lagi mengingat ketidak-sengajaan Kang Han Cing. Co Hui Hee menganggap sudah melakukan sesuatu yang keliwatan. “Jie kongcu…..” panggilnya perlahan.

Kang Han Cing membuka matanya yang dikatupkan, sepatah katapun tidak keluar dari mulut itu.

“Jie kongcu,” panggil lagi Co Hui Hee. “Hanya karena kesembronoanmu yang menyobek bajuku, apa lagi di depan beberapa orang, rasa benciku susah dipadamkan, sesudahnya kejadian ini, aku….aku….meminta Jarum Ular berbisa……”

“Itu waktu,” berkata Kang Han Cing. “tidak kusangka, kalau orang yang menyamar sebagai Kong Kun Bun adalah seorang wanita. Bukan maksudku membuat kau menjadi malu. Aku menyesal karena tidak memperhatikan terlebih dahulu, maka kematianku dibawah tanganmu sudah kuanggap sebagai satu hukum karma, timbal balik….”

Dengan sibuk Co Hui Hee berkata : “Walau hatiku penuh kebencian, bersumpah membunuh, tapi…..sesudah jarum ular itu tertancap di dalam dagingmu, timbul rasa penyesalanku. Betul-betul aku menyesal.”

Kang Han Cing tertawa tawar. “Yang jelas,” katanya. “Jarum jahat itu sudah bersarang di dalam tubuhku.”

“Mengapa kau tidak berusaha mengeluarkan bisa racun itu ?” bertanya Co Hui Hee.

Kang Han Cing mendelikkan mata. “Bagaimana aku bisa tenang kalau digeriyengi terus menerus?” berkata si pemuda dingin. “Aku……aku…….” Co Hui Hee tidak bisa meneruskan pembicaraannya.

“Lekas pergi !” bentak Kang Han Cing. “Aku tidak membutuhkan belas kasihanmu.”

Wajah Co Hui Hee berubah, tiba-tiba tangannya terayun……plak…..ia menempiling pipi si pemuda.

Gedubrak…..tubuh Kang Han Cing segera terbanting jatuh, didalam keadaan yang seperti itu, semua kepandaian si pemuda sudah tidak dapat digunakan lagi.

“Ohh……” Co Hui Hee mengeluarkan jeritan tertahan. Cepat dipondong tubuh si pemuda. Ia meratap. “Oh……aku tidak sengaja…….”

Dua butir airmata yang bening menetesi wajah Kang Han Cing. Sebagai pemimpin kelima dari partay Ngo hong bun, Co Hui Hee belum pernah mengucurkan airmata, kini didepannya seorang yang belum lama mau dibunuh, ia tidak bisa membendung bahan kesedihannya itu.

Urat2 Kang Han Cing mulai mengejang, inilah tanda2 dari keracunan. Jatuhnya airmata Co Hui Hee membuat si pemuda sadarkan diri lagi, memandang si gadis sebentar, dengan suara lemah, ia berkata : “Nona, kukira tidak guna ditangisi, jiwaku tidak bisa ditolong. Racun jarum itu terlalu cepat bekerja. Lebih baik nona bisa segera meninggalkan tempat ini.”

“Tidakkk…….” Co Hui Hee berteriak histeris. “Tidak akan kubiarkan kau mati seperti ini.” Tiba2 Co Hui Hee menggendong tubuh Kang Han Cing, secepat itu meninggalkan kelenteng To liong tian. Dengan maksud memberi pertolongan kepada si pemuda.

Kemanakah Co Hui Hee hendak membawa Kang Han Cing?

Jarum ular didapat dari Nenek Siluman Ular, dan kini Co Hui Hee hendak membawa korban keracunan itu kepada akhli yang bersangkutan. Ia menuju kearah Lembah Ular.

Berapa lama Kang Han Cing berada didalam gendongan si gadis, jago kita tidak tahu, disaat ia sadarkan diri, segera mengajukan pertanyaan : “Kemana nona mau membawa diriku ?”

“Lembah Ular,” jawab Co Hui Hee singkat, ia tidak menghentikan larinya. “Akan kumintakan obat kepada Nenek Ular. Hanya dia seorang yang bisa menyembuhkan racun ciptaannya.”

“Lebih baik nona tidak terlalu menyusahkan diri.” Berkata Kang Han Cing.

“Mengapa ?”

“Sebelum kita tiba disana, aku sudah kehilangan napasku.” Jawab Kang Han Cing.

“Tidak,” jerit Co Hui Hee. “Latihanmu cukup kuat. Kalau saja bisa mempertahankan agar racun2 itu tidak menyerang jantung, didalam waktu 24 jam pasti Nenek Ular bisa menyembuhkannya.”

Seorang diri Co Hui Hee membawa Kang Han Cing, tanpa istirahat, tentu saja merupakan pekerjaan berat, keringatnya mulai bertetesan, bersatu padu dengan keringat Kang Han Cing yang menahan rasa penderitaan bisa racun. Ia masih melarikan diri.

Didalam gendongan Co Hui Hee, Kang Han Cing merasakan kehangatannya seorang gadis, hanya terpisah oleh selapis baju, wajah si pemuda tepat berada di depan payudara tokoh Ngo hong bun kelima itu.

Inipun termasuk salah satu penderitaan.

Co Hui Hee sedang berpacu dengan waktu, kalau nasib bagus, mungkin ia bisa membawa Kang Han Cing ke tempat tujuan, sebelum pemuda itu menghembuskan napasnya yang penghabisan. Tapi kalau nasib buruk, terlambat tiba, tentu tidak bisa menolongnya lagi. Apa mau dikata, karena itulah, sedapat mungkin ia berlaku cepat. Napasnya tersengal-sengal.

“Nona, istirahatlah.” Berkata Kang Han Cing. Ia dapat mengikuti irama sengalan napas gadis tersebut.

Co Hui Hee meletakkan tubuh si pemuda, gerakannya sangat berhati2 sekali. “Dimana dirasakan sakit ?” ia bertanya penuh perhatian.

Kang Han Cing menghendaki suatu istirahat untuk kepentingan pribadi nona itu sendiri, bagaimanapun Co Hui Hee bisa mati konyol kalau dipaksakan mengerjakan sesuatu beban berat terus menerus seperti itu. Co Hui Hee salah terima, sangkanya istirahat untuk si pemuda. Begitu penuh pusat konsentrasinya yang dijatuhkan kepada Kang Han Cing, sampai ia melupakan kelelahan diri sendiri.

“Maksudku, nonalah yang istirahat.” Berkata Kang Han Cing lemah.

“Lembah Ular sudah tidak jauh.” Berkata Co Hui Hee. “Kita harus sudah berada di tempat itu sebelum virus bisa racun menyerang ulu hatimu.”

Tanpa memperdulikan keadaan dirinya yang sudah hampir kehabisan tenaga, lagi2 Co Hui Hee membopong Kang Han Cing, tetap ditujukan kearah Lembah Ular.

“Nona begitu baik kepadaku, bagaimana aku harus membalas budi ini ?” berkata Kang Han Cing.

“Gara2 aku juga.” Berkata Co Hui Hee. “Kalau aku tidak menusuk dengan Jarum Ular, tentu tidak sampai terjadi kejadian ini. Sudah menjadi kewajibanku untuk menyembuhkanmu.”

“Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih.” Berkata Kang Han Cing.

“Jangan berkata seperti itu,” berkata Co Hui Hee penuh perhatian, se-olah2 merawat calon suaminya sendiri.

Singkatnya cerita, mereka sudah berada di mulut Lembah Ular. Disana terpasang pengumuman yang berbunyi seperti ini :

DAERAH BERBAHAYA !!! BANYAK ULAR BERBISA !!

SEMUA ORANG DILARANG MASUK !

Nama Lembah Ular selalu di-hubung2kan dengan Nenek Siluman Ular, setiap jengkal dari tempat itu memang tersembunyi bahaya ular, maka diberi nama seperti diatas.

Ada yang mengatakan nama Lembah Ular didapat karena adanya Nenek Siluman Ular. Ada juga yang mengatakan nama Lembah Ular didapat karena daerah itu memang banyak bersemayam 1001 macam ular. Bagaimana kebenaran dua pendapat ini? Tidak seorangpun yang bisa memberi keputusan.

Yang jelas ialah : didalam Lembah Ular terdapat seorang nenek yang bernama Nenek Siluman Ular, juga didiami oleh ribuan ular berbisa atau ular tidak berbisa.

Nenek Siluman Ular bukan penghuni baru, dia sudah menempati daerah itu puluhan tahun. Terkenal dengan jamu2 anti bisa, hanya Nenek Siluman Ular yang bisa menjual aneka macam ular dan hasil2 yang didapat dari ular2.

Siapa saja yang kena keracunan, sesudah makan obat anti bisa si nenek, pasti sembuh segera. Begitu juga kena gigitan serangga beracun atau gigitan ular beracun, sesudah ditaburi atau diolesi obat si nenek, pasti sembuh segera. Karena itulah banyak toko2 obat memesan obat anti bisa Nenek Siluman Ular. Tentu saja dengan harga yang luar biasa pula. Harga obat2an si nenek diperhitungkan dengan harga emas, tidak lagi dengan jumlah uang biasa.

Setiap tahun Nenek Siluman Ular biasa mengutus muridnya memperdagangkan obat2 istimewa itu, dan pasti laris terjual, tidak pernah ada sisa.

Ketenaran Nenek Siluman Ular tidak lepas dari hasil2 ularnya itu.

Hanya satu pantangan, yaitu ia melarang orang memasuki Lembah Ular, baik yang dikenal atau yang tidak dikenal. Walau orang itu berkepentingan hendak membeli sesuatu darinya, kalau saja berani melanggar pantangan Lembah Ular itu, kematian adalah jalan satu2nya. Karena itu daerah Lembah Ular masih berupa daerah yang misterius.

Lain orang lain, lain lagi Co Hui Hee, hubungannya dengan si nenek bukan hubungan biasa, kini gadis itu langsung memasuki Lembah Ular.

Tidak lama Co Hui Hee sudah berada di depan sebuah bangunan, ciri dari bangunan ini adalah di’tumbuhi’ oleh aneka macam ular, binatang2 tanpa kaki itu menjadi penjaga rumah majikannya.

“Bibi…..bibi ular…….” Panggil Co Hui Hee di depan rumah ular tersebut.

“Oh, nona kelima, kau baru kembali.” Terdengar satu suara menyahuti panggilan Co Hui Hee, itulah suara si Nenek Siluman Ular. Seiring dengan suara Nenek Siluman Ular, pintu rumah ularpun terbuka. Disana tampak seorang nenek dengan rambut awut2an, bukan rambut yang awut2an itu, disana ber-iap2an binatang kesayangannya, itulah ular2 kecil yang selalu dibawa ke-mana2. Mungkin nama Nenek Siluman Ular didapat dari sebab ini.

“Eh, siapa yang kau bawa itu?” tegur si nenek, manakala ia melihat di dalam pondongan Co Hui Hee terdapat seorang laki2 asing.

“Seorang kawan.” Jawaban Co Hui Hee tidak terlalu panjang.

“Mengapa dia ?”

“Tolonglah….bibi…..tolonglah keluarkan bisa racun dari dalam tubuhnya.”

“Ouw, keracunan? Mudah saja, serahkan kepadaku, pasti beres. Eh ? bukankah kau juga ada membawa obat anti racun? Mengapa tidak diberikan kepadanya? Ular macam apakah yang menyerang dirinya?”

Co Hui Hee meletakkan Kang Han Cing pada bale2 di pojok ruangan ular itu, sangat ber-hati2 sekali, selesai melakukan pekerjaan tadi, baru ia menjawab pertanyaan Nenek Siluman Ular : “Bibi, dia keracunan Jarum Ular. Tolonglah……”

Sedari tadi wajah Nenek Ular tertawa cengar- cengir, segala macam racun dianggap remeh olehnya, mendengar nama Jarum Ular, wajahnya berubah seketika. “Terkena racun Jarum Ular?” ulang kata2 Co Hui Hee tadi, ia meminta kepastian.

“Aku yang tidak ber-hati2.” Berkata Co Hui Hee. “Tidak disengaja bisa mengenai kulitnya.”

Nenek Ular menghampiri bale2 reyot itu, diperhatikan keadaan Kang Han Cing beberapa waktu, kemudian ia terpekur.

“Bibi…..bisakah dia ditolong ?” bertanya Co Hui Hee. “Bibi…..tolonglah.”

“Nona Kelima,” berkata Nenek Ular berpaling dan menatap wajah Co Hui Hee dalam-dalam. “Bukankah sudah kuberitahu kalau racun Jarum Ular adalah racun luar biasa yang tiada tara? Hasil dari ramuan racun dari ratusan ular berbisa? Setiap macam ular memiliki bisa2 racun yang tersendiri, sifat2nya tidak ada yang sama. Karena itulah, campuran racun2 itu mengebalkan diri kepada segala macam obat anti racun. Tidak ada obat yang bisa mengeluarkan bisa racun Jarum Ular…..”

Hati Co Hui Hee hampir mencelos keluar dari tempatnya, memandang Kang Han Cing beberapa saat, dengan penuh kekosongan jiwa, dengan suara sayu berkata : “Betul2 dia tidak bisa ditolong lagi ?”

Si Nenek Ular bisa melihat perubahan Co Hui Hee itu, hatinya bergumam : “Si Lima benar2 sudah terkena api asmara. Tidak pernah ia tertarik kepada laki2, pikiran apa yang membuatnya berubah seperti ini ?” “Nona Kelima,” katanya. “Bagaimana hubunganmu dengan orang ini? Mengapa bisa kena Jarum Ular? Raja dari segalam macam perpaduan ular yang tidak mempan serum ular……”

Tiba2 Co Hui Hee menangis meng-gerung2. “Kang Han Cing,” sesambatnya. “Akulah yang menyebabkan kematianmu, biar kutebus dengan kematian juga.”

Tiba2 ia mengeluarkan Jarum Ular, ditusukkannya ke arah ulu hati, maksudnya mau bunuh diri!

Nenek Ular tidak pernah lengah, melihat gelagat yang kurang baik, secepat itu ia menjulurkan tangan, menotok jalan darah Co Hui Hee, kemudian direbutnya Jarum jahat itu.

“Nona Kelima,” katanya. “Apa artinya perbuatanmu yang seperti ini?” ia menyimpan Jarum Ular dan membebaskan totokan.

“Bibi……biarkan aku mati……biarkan aku mati… ”

“Sabar…..sabar……..” berkata Nenek Ular. “Beritahu dahulu kepadaku, siapa anak muda ini.”

“Hanya seorang kawan biasa.”

“Ya. Tentunya dari kawan biasa.” Berkata Nenek Ular. “Kemudian?”

“Oh….dia segera mati……oh…..” Co Hui Hee menangis semakin sedih. “Eh, mengapa kau mengobral airmata? Tidak bisakah bersabar lagi?”

“Kau…….kau katakan tidak bisa ditolong ?” “Oooo……itukah yang kau sedihkan? Bilakah

aku mengatakan tidak bisa ditolong sama sekali?”

“Maksud bibi…….? Co Hui Hee memandang Nenek Ular dengan penuh harapan.

“Untuk pengobatan dirinya, kau boleh serahkan kepadaku. Sebelum itu, kau harus memberitahu, siapa anak muda ini ?”

“Dia….dia hanya kawan biasa.”

“Mengapa harus takut2 ? apa kau kira aku tidak tahu ?”

“Tahu apa? Secara tidak sengaja kutusukkan Jarum Ular itu, maka……”

“Maka kau sendirilah yang menjadi panik dan bingung.” Sambung Nenek Ular. “Ya. Begitulah kaum muda. Tidak salah lagi, tentunya kalian bertengkar, didalam keadaan khilaf, kau tusukkan Jarum Ular itu. Jangan coba menyangkal. Akupun pernah mengalami jaman muda, dahulu, diwaktu si kakek belum masuk kubur, saking sengit kepada kebandelannya, aku juga seperti keadaanmu sekarang, kusuruh si Putih menggigit, hampir2 saja merenggut jiwanya….”

“Mau tidak bibi menyembuhkannya?” potong Co Hui Hee. “Tentu saja mau. Tapi harus sabar. Kau tahu, berapa lama baru bisa mencabut virus racun Jarum Ularnya?”

“Berapa lama waktu yang diperlukan?” “Tujuh hari tujuh malam !”

“Aaaa……” Co Hui Hee melompongkan mulut. “Begitu lama?”

“Tidak lama, neng. Bayangkan, waktu 7 hari baru cukup memberi kepanasan untuk memeras keluar bisa2 racun dari dalam tubuhnya. Hanya satu jalan ini, aku harus menyiapkan kukusan besar, kwali besar dan…..”

“Kukusan besar? Kwali besar? Apa pula guna benda2 itu?”

“Mengukus dirinya.”

“Aaaa…..mungkinkah dia tidak mati kepanasan?”

“Tentu saja tidak. Dia tidak direbus langsung. Tapi dioven diatas perlengkapan yang sudah kusebutkan tadi. Memang tidak enak, tapi kecuali ini, tidak ada cara pengobatan lainnya.”

“Baiklah. Lekas bibi bikin persiapan.” Berkata Co Hui Hee.

Disaat ini, terdengar suara mendesisnya ular, disana muncul seekor binatang tiada kaki, bentuknya kecil, dengan lidah yang diyulurkan, se- olah2 memberi laporan sesuatu.

“Eh, si Kuning mau memberi laporan?” berkata Nenek Ular. “Apa yang terjadi diluar lembah?” Ular kecil yang dipanggil si Kuning itu tidak sempat meneruskan laporannya, tubuhnya meng- geliat2, kemudian terbalik celentang, dengan perut menghadap keatas, binatang itu sudah koit.

Nenek Ular masih kurang yakin, kalau si Kuning yang diandalkan kuat dan tangkas itu bisa dibunuh orang, ia memeriksa beberapa saat dan memang tidak bisa ditolong lagi. Wajahnya berubah, dengan heran berjengkit :

“Siapa yang sudah melukai si Kuningku?” suara itu belum habis diucapkan, tiba2 pintu rumah didobrak orang, braakk… disana sudah bertambah seorang kakek berbaju hitam, itulah Kakek Beracun Cu Hoay Uh !

“Kau yang membunuh si Kuning ?” “Kau yang menangkap putriku ?”

Kedua suara itu hampir berbarengan, di atas adalah pertanyaan Nenek Ular dan yang tercatat dibawahnya adalah pertanyaan Cu Hoay Uh !

“Apa ?” Nenek Ular berkerut alis, “Dengan alasan apa kau melukai si Kuning ? Kau sudah membunuh ularku !"

“Betul, Ular beracun yang mengganggu disepanjang jalan sudah bersih kuhancurkan. Semua sudah kubunuh mati."

“Sudah kau bunuh semua ? Berapa banyak ular2 yang kau bunuh ?"

“Mana kutahu. Yang jelas ular2 brengsek yang mengganggu disepanjang jalan itu sudah bersih." Kemarahan Nenek Ular me-luap2, betapa tidak, ia hidup bersama rombongan ular itu sampai puluhan tahun, sudah timbul rasa persaudaraan yang kental, teristimewa 8 ekor yang diberi nama 8 Jendral licin, khusus ditugaskan menjaga jalan Lembah Ular, kini sudah tidak bersisa, tentunya turut menjadi korban si kakek berbaju hitam.

Nenek Ular berusaha menahan kemarahannya, ia berkata : “Memang hebat ! Nama Manusia Beracun bukan nama yang kosong.”

“Syukurlah, kalau kau kenal kepadaku. Apa anak gadisku ditawan olehmu ?" Bertanya Cu Hoay Uh.

“Kau kira, aku yang menangkap anak gadismu

?” Balik tanya Nenek Ular.

“Kedatanganku untuk bertanya kepadamu," berkata Cu Hoay Uh. “Lebih baik kau jawab pertanyaan itu.”

“Seharusnya memang demikian," berkata Nenek Ular. “Lenyapnya anak gadismu itu tidak mempunyai sangkut paut dengan diriku. Boleh saja kuberitahu dimana dia berada. Kalau kau belum menghancurkan barisan penjaga ularku. Kini.......Hm...Hem..."

“Kini bagaimana ?” Tanya Cu Hoay Uh menantang.

“Biarpun aku mengampuni dosamu. Anak-anak buahku yang berada didalam lembah ini tidak bisa.” Yang diartikan anak buah oleh si Nenek Ular adalah rombongan binatang tidak berkaki itu.

“Ha, ha….” Kakek Beracun tertawa. “Hendak menggunakan ular beracun menghadapi Manusia Beracun? Kukira kau akan kehilangan set yang tepat.”

Nenek Ular berkata : “Walau kau juga bergelar racun, tapi racun manusia tidak bisa disamakan dengan racunnya binatang piaraanku. Mari ! Mari kita bertanding !”

Sesudah itu ia menoleh kearah Co Hui Hee dan berkata :

“Nona Kelima, coba kau bawa dirinya dan pindah ke ruang belakang.”

Co Hui Hee bisa menyelami sifat2 si Nenek Ular yang mengulur waktu, sengaja mengobrol ke barat dan ke timur, dengan maksud membuat persiapan. Tentunya persiapan itu sudah selesai, kini pertandingan segera akan dimulai, maka menyuruhnya pergi meninggalkan tempat itu.

Co Hui Hee menghampiri bale2, dipondongnya Kang Han Cing, siap meninggalkan ruangan tersebut.

Tiba2 terdengar bentakan Cu Hoay Uh : “Tunggu dulu ! Siapa yang hendak kau bawa itu ? Kang Jie kongcu ?”

“Mau apa ?” balik tanya Co Hui Hee.

“Kularang kau membawanya.” Berkata Cu Hoay Uh. “Kalau hendak kubawa, bagaimana?” tantang Co Hui Hee. “Mentang2 bergelar Manusia Beracun, kau hendak berbuat galak?”

Dilain saat, terdengar lain suara turut memasuki ruangan itu : “Go sumoay, lebih baik kau tinggalkan orang yang dikehendaki Cu cianpwe.”

Disana bertambah seorang bertopeng perak, inilah pemimpin Ngo-hong-bun kedua, jie kiongcu yang belum lama kalah melawan Pendekar Kipas Wasiat.

Tubuh Co Hui Hee gemetaran dan lemas, kehadirannya sang Jie sucie di tempat itu membawa ekor panjang baginya.

Memandang si Topeng Perak, Cu Hoay Uh membentak : “Eh, siapa lagi ?”

Jie kiongcu memberi hormat berkata : “Cu cianpwe tidak kenal kepadaku, karena kita baru pertama kali bertemu.”

Mendengar dirinya disebut cianpwe, Cu Hoay Uh menyangka kepada salah satu anak murid kenalannya, maka ia bertanya : “Siapakah yang menjadi gurumu ?”

“Ha, ha……” Nenek Ular tertawa. “Cu Hoay Uh, mungkinkan kau tidak mengenali ciri2 khas Jie kiongcu dari ngo-hong-bun? Siapakah yang menjadi guru dari kelima pemimpin partay Ngo- hong-bun? Tidak perlu kuterangkan lagi, bukan ?”

Cu Hoay Uh tercekat, kini ia sedang berhadapan dengan murid kedua dari nenek Goa Naga Siluman, tokoh silat yang belum pernah terkalahkan.

“Jie kiongcu ?” ia berseru.

“Ya. Boanpwe Sin Hui Siang.” Jie kiongcu memperkenalkan diri.

“He…..he…..” Cu Hoay Uh tertawa. “Sungguh kebetulan, bisakah kau memberi jawaban yang jujur ?”

“Silahkan cianpwe ajukan pertanyaan itu,” berkata Jie kiongcu Sin Hui Siang.

“Kang Jie kongcu berada disini. Tidak salah lagi, tentunya Cu Liong Cu juga berada di tangan kalian, bukan?” bertanya Cu Hoay Uh.

“Tidak salah,” Jie kiongcu menganggukkan topeng peraknya. “Dia sedang menjadi tamu partay kami.”

Menjadi tamu partay Ngo-hong-bun adalah istilah bahasa untuk kata ganti menjadi orang tawanan mereka.

“Huh !” Cu Hoay Uh berdengus. “Dengan maksud apa kalian menculik anak gadisku ?”

“Jangan Cu cianpwe salah terima,” berkata Sin Hui Siang. “Kami semua mengagumi nama cianpwe, karena itu hendak mengikat tali persahabatan. Putri cianpwe adalah tamu Ngo- hong-bun yang terhormat, bagaimana dikatakan sebagai penculikan?” “Huh ! mau menjadikannya sebagai barang sandera? Hendak memaksa aku takluk kepada kalian ?”

“Kalau cianpwe mengartikan dan menganggap seperti itu, apa mau dikata lagi? Terserah bagaimana penilaian cianpwe.”

“Apa kalian sudah mendapat instruksi dari guru kalian?”

“Sudah lama suhu memisahkan diri dari kancah rimba persilatan. Semua instruksi langsung berada ditangan toa sucie.”

“Apa lagi yang dimaui olehnya?”

“Toa sucie senang kalau bisa bertemu muka bersama cianpwe.”

“Dimana kini Cu Liong Cu berada?”

“Putri cianpwe sudah diantarkan kepada Toa sucie. Bersediakah cianpwe mengadakan perundingan langsung?”

“Ha, ha, ha…..” Cu Hoay Uh tertawa. “Kau kira aku takut memasuki sarang Ngo-hong-bun? Itulah suatu penilaian yang salah. Katakan, aku bersedia.”

“Lagi2 cianpwe salah paham. Walau Ngo-hong- bun sudah menjadi pemimpin dunia, belum pernah kami berlaku kurang hormat kepada Cu cianpwe.”

“Dimana kini Toa suciemu itu berada?” “Cianpwe hendak berunding sekarang?” “Ya. Hendak kulihat, apa yang kalian bisa lakukan kepada Kakek dan Putri beracun.”

“Silahkan,” berkata Sin Hui Siang memberi hormat. “Didepan sudah tersedia kereta, kereta itu akan membawa cianpwe ke tempat Toa sucie berada.”

Kemudian Sin Hui Siang menoleh ke arah Co Hui Hee. “Sumoay,” panggilnya. “Mari berangkat pulang.”

Co Hui Hee semakin gemetaran, dengan memberanikan diri, ia berkata : “Lebih baik Jie sucie mengawani Cu cianpwe saja. Aku masih ada urusan, segera menyusul belakangan."

“Go sumoay takut kalau jasa pribadimu direbut orang ? Kau yang berhasil menangkap Kang Han Cing, semua orang sudah tahu. Tidak mungkin kuambil alih orang itu !”

“Dia...Dia terkena Jarum Ular.” Co Hui Hee memberi keterangan.

“Tidak apa. Pesan Toa sucie adalah Membawanya didalam keadaan mati atau hidup !”

“Tapi...Tapi Kang Han Cing jatuh kedalam tanganku. Kukira aku berhak menentukan sesuatu untuknya."

“Go sumoay hendak menentang perintah?" “Sudah kukatakan, sesudah mengobati dan

menghilangkan   racunnya,   segera   kubawa   ke

markas. Mungkinkah Jie sucie tidak percaya ?” “Duduk persoalannya bukan percaya atau tidak percaya. Inilah perintah Toa sucie, mati atau hidup, kita diharuskan membawa Kang Han Cing !"

Perdebatan masih berjalan terus. Kalau si Topeng Perak Sin Hui Siang mempertahankan, Go kiongcu Co Hui Hee juga tidak mau merobah kemauan semula.

Cu Hoay Uh berdiri didepan pintu, ia tidak keberatan bersatu kereta dengan Kang Han Cing, sebagai seorang akhli racun2an ia tidak percaya tidak bisa membantunya.

Disaat ini, tiba2 satu suara halus memasuki telinga Co Hui Hee : “Kalau kau ada niatan menolong Kang Han Cing, lebih baik turut dahulu kemauan suciemu. Bawalah Kang Han Cing keluar rumah, aku bisa memberi bantuan."

Itulah suara yang disalurkan dengan gelombang tekanan tinggi, hanya orang tertentu yang bisa menerimanya. Arah datangnya dari luar rumah ular.

Co Hui Hee menduga kepada si Kakek Beracun, ia menoleh kesana, tampak kakek berbaju hitam itu sedang berpaling ke lain arah.

“Go sumoay," tiba2 Jie Kiongcu memperkeras suara. “Kau berani menentang perintah Ngo-hong- bun ?"

“Baiklah," Co Hui Hee mengalah, ia membawa Kang Han Cing meninggalkan ruangan rumah ular.

Didepan pintu sudah menanti sebuah kereta, Co Hui Hee ter-mangu2 memandang ke arah kereta yang akan membawanya, juga membawa Kang Han Cing ber-sama2 si Kakek Beracun.

Lagi2 berdengung bisikan suara halus : “Lekas lari !”

Tanpa menunggu instruksi kedua, Co Hui Hee melarikan diri, tentu saja dengan membawa tubuh Kang Han Cing.

Dibelakangnya terdengar suara bentakan Sin Hui Siang : “Go sumoay kembali !"

Bukannya Co Hui Hee balik kembali, tapi ia mempercepat ayunan kakinya, meninggalkan rumah ular, menuju ke arah rimba.

Tubuh Sin Hui Siang melejit dengan maksud membuat pengejaran.

Disaat ini bergerak satu bayangan putih, melintang di tengah jalan menghadang Sin Hui Siang.

“Kau ?!!" Sin Hui Siang tertegun, lagi2 ia berhadapan dengan lawan lama, pemuda berbaju putih yang pernah membantu Kang Han Cing melarikan diri dirumah gubuk dekat gedung keluarga Wie, itulah Tong Jie Peng !

“Ya ! Aku." berkata Tong Jie Peng. “Jie kiongcu tidak mungkin bisa melupakanku, bukan?”

“Apa lagi maksudmu menghadang perjalanan orang ?” Bentak Sin Hui Siang.

“Apa maksud Jie Kiongcu mengejar orang ?" “Inilah soal pribadi. Persoalan partay Ngo-hong

bun.” Berkata Sin Hui Siang. “Urusan Jie Kiongcu dan Go Kiongcu memang soal pribadi kalian, soal partay kalian, tapi siapakah pemuda yang berada didalam gendongan sumoaymu itu ?"

Sin Hui Siang sudah mengeluarkan pedang, dengan geram membentak : “Jangan kira aku takut kepadamu. Inilah kau yang memaksa.”

“Mau adu silat ?" Tong Jie Peng tertawa mengejek. “Boleh saja. Tapi bukan sekarang. Kini aku tidak mempunyai waktu. Perhatikanlah baik2 tanda ini."

Dengan berdiri tegak, Tong Jie Peng memperlihatkan suatu gerak tipu silat, tangan kirinya diacungkan keatas, dan tangan kanan berada dibelakang kepala. Ini ciri2 khas dari aliran ilmu silatnya !

Menyaksikan gerakan tadi, badan Jie Kiongcu gemetaran. “Kau…..Kau……" Suaranya tidak segalak tadi. “Kau datang darimana ?"

“Tolong beritahu kepada gurumu." berkata Tong Jie Peng. “Berbuatlah kebaikan2, tapi bukan kejahatan."

Sesudah itu, tubuhnya melejit, menyusul ke arah lenyapnya Co Hui Hee.

*** Bab 77

MENYUSUL PERJALANAN Co Hui Hee yang melarikan Kang Han Cing, sebentar kemudian ia sudah meninggalkan daerah Lembah Ular. Mengetahui kalau ia sudah bebas dari pengejar2nya, mengingat keadaannya yang betul2 sudah menjadi lemah, ia meletakkan Kang Han Cing.

Ia sudah tidak kuat melangkah, terlalu berat beban yang dibawa, terlalu letih melakukan perjalanan yang seperti itu. Dan kini ia bersandar pada pohon yang tidak jauh dari tempat Kang Han Cing terbaring.

Betapa letihpun keadaannya, ia masih memperbaiki kedudukan si pemuda, dipindahkannya ke tempat tumpukan rumput tebal, dengan maksud meringankan rasa sakit Kang Han Cing.

Ia menyusut keringat dan memandang ke atas, matahari pagi sudah bergeser di tengah, tidak lama batas waktu 24 jam itu segera habis.

Terasa dirinya diombang-ambingkan nasib buruk, ia berhasil melarikan diri dari tangan maut Jie sucienya tapi bisakah menolong Kang Han Cing

?

Jarum Ular adalah senjata kebanggaan Nenek Ular, bekerjanya hanya 24 jam, khusus untuk melenyapkan jiwa musuh. Mana disangka, kalau yang menjadi korban itu adalah pemuda yang dikasihi ! Keadaan Kang Han Cing semakin lemah, kalau saja tidak diperhatikan dengan betul, tentu menduga kepada orang mati.

Kesedihan Co Hui Hee memuncak, tiba2 saja ia menjatuhkan diri dan merangkul tubuh Kang Han Cing. “Apa yang harus kulakukan ?" Ratapnya sangat sedih.

Air matanya tidak bisa dibendung lagi, menetes dengan deras. Dia sudah kehilangan pegangan, karena memisahkan diri dari golongan ia putus harapan, karena jiwa si pemuda sulit ditolong.

Memeriksa denyut nadi Kang Han Cing, terasa badan si pemuda yang sudah mulai menjadi dingin. Tidak terasa Co Hui Hee menempelkan kedua pipinya ke wajah pemuda itu, dengan sedih berkata : “Kalau kau mati, akupun bunuh diri. Biar kita mati bersama saja.”

Co Hui Hee bukan termasuk golongan wanita lemah, karena itu ia bisa menduduki kursi kelima dari pimpinan Ngo-hong-bun. Beberapa saat kemudian ia bisa mengambil putusan. Dengan tekad bulat berkata :

“Tidak mungkin. Tak akan kubiarkan kau mati. Segera kutemukan Nenek Ular untuk menyembuhkan dirimu."

Dan digendongnya lagi tubuh yang sudah hampir dingin itu, berbalik dan hendak kembali ke arah Lembah Ular.

Seorang berbaju putih sudah menghadang jalan balik, itulah Tong Jie Peng. “Mau kemana ?” Tanya Tong Jie Peng.

“Kau siapa ?" Co Hui Hee tidak kenal kepada orang yang pernah memberikan bantuannya ini.

“Aku Tong Jie Peng. Engkoh angkatnya," jawab Tong Jie Peng sambil menunjuk ke arah Kang Han Cing yang masih berada didalam gendongan si gadis. “Dan kau pernah apa dengannya ?” ia balik bertanya.

“Dia adalah engkoku,” Berkata Co Hui Hee. “Ouw ! Lukanya sangat parah. Coba kau

turunkan, biar kuperiksa sebentar."

“Kau bisa apa ?" Balik tanya Co Hui Hee. Ia kurang percaya.

“Nenek Ular bisa apa ?" Balik tanya Tong Jie Peng.

“Dia bisa menyembuhkan bisa racun Jarum Ular, karena dialah yang menciptakannya !"

“Jarum Ular ?" “Ya.”

“Tapi kau tidak bisa menemukan nenek itu." Berkata Tong Jie Peng.

“Mengapa ?"

“Karena Toa suciemu sudah mengeluarkan perintah Ngo-hong-bun. Membawa Kang Han Cing, tidak perduli didalam keadaan hidup atau keadaan mati. Dengan adanya perintah tersebut, mungkinkah si Nerek Ular berani memberikan pengobatannya ?" “Oh.

“Coba kau serahkan kepadaku.”

“Kecuali Nenek Ular, tidak ada orang kedua yang bisa menolong dirinya !"

“Belum tentu. Mari kita mencari sebuah tempat yang agak bersih. Kita coba menolongnya."

“Sudah tidak ada waktu lagi. Hanya tinggal beberapa jam terakhir."

“Beberapa jam terakhir ?"

“Ya. Waktu hidup seseorang yang terkena Jarum Ular hanya 24 jam saja. Dan kini. "

Tokh diletakkan juga tubuh Kang Han Cing. Tong Jie Peng membikin pemeriksaan, ia berkerut alis.

“Racun luar biasa," katanya. “Kalau dia tidak memiliki latihan tenaga murni, sudah lama racun itu menyerang jantung. Tidak dapat ditolong lagi.”

“Sekarang keadaannya bagaimana?"

“Tenaga murni Kang Han Cing menjaga keutuhan jiwanya. Walau diserang dari delapan penjuru, racun itu masih belum sempat memasuki jantung. Inilah suatu harapan bagi kita."

“Masih bisa ditolong ?”

“Jarak Tong-hay dari sini terlalu jauh, bisakah memburu waktu ? Eh...Apa yang dikatakan si Nenek Ular untuk menghilangkan racunnya ?” “Dikatakan harus memakan waktu 7 hari 7 malam, dengan cara mandi uap, dikukus pada sebuah kwali besar, racun itu bisa didesak keluar.”

“Syukurlah. Mari kita gunakan cara itu.”

“Itu hanya caranya." berkata Co Hui Hee. “Tentu disertai dengan syarat2 lain. Seperti pengurutan dan pengobatan. Obat apa pula yang harus diberikan kepadanya?"

Tong Jie Peng juga mengalami jalan buntu. “Baiklah,” akhirnya ia mengambil putusan. “Mari kita temukan lagi si Nenek Ular."

“Mana mungkin !" Teriak Co Hui Hee. “Berani dia menyembuhkan orang yang dikehendaki oleh Toa sucie ?”

“Aku mempunyai cara untuk memaksanya memberi pertolongan." Berkata Tong Jie Peng.

“Baiklah, mari kita berangkat." Berkata Co Hui Hee. Digendongnya lagi Kang Han Cing. Siap balik ke arah Lembah Ular.

“Tunggu dulu !" Berkata Tong Jie Peng. Ia mengecilkan mulut, dan mengeluarkan suara pekikan panjang.

Tidak lama sebuah bayangan putih meluncur datang, itulah seekor burung bangau raksasa. Turun dan berhenti di sebelah sisi Tong Jie Peng.

“Waktu terlalu sempit." berkata Tong Jie Peng. “Kalian naiklah diatas punggung si Putih, dia akan segera membawa kalian ke Lembah Ular." Nama bangau raksasa ini juga si Putih, tapi bukan si Putih Nenek Siluman Ular yang berarti ular berbisa. Sama si Putihnya, tidak sama binatangnya.

“Kau ? Bagaimana ?” Tanya Co Hui Hee.

“Kalian berangkat lebih dahulu. Aku menyusul kemudian.” berkata Tong Jie peng.

(bersambung 23)