-->

Perintah Maut Jilid 20

 
Jilid 20

TENTU SAJA Tan Siauw Tian menjadi bingung, sangkanya kurang kuat, ditambah lagi jalur hangat tadi, mencoba menjebol jalan2 darah Kang Han Cing yang tersumbat.

Tentu saja bukan jalan darah Kang Han Cing disumbat orang, tapi inspirasi si pemuda sendiri yang menutup sendiri.

Cara Tan Siauw Tian menambah kekuatannya dilakukan ber-angsur2, tidak berani membenturnya secara paksa. Harus diketahui, jalan darah Pek-hwee-hiat adalah jalan darah penting yang langsung berhubungan dengan otak, kalau sampai mengalami gegar pikiran, kalau ditekan terlalu keras, resikonya memang sangat berbahaya.

Tidak lama beberapa orang lagi datang ke ruangan itu, mereka dikepalai oleh Kong Kun Bu beserta Tian-hung Totiang. “Oh, Jie-kongcu atau Toa kongcu ini?” Sesudah memeriksa sebentar, ia mengajukan pertanyaan itu.

Tan Siauw Tian berkata :

“Begitu totiang tiba digedung keluarga Wie, langsung totiang mengajak Cu Hoay Uh cianpwe memeriksa penyakit Lie Kong Tie, maka belum sempat menceritakan hal ini. Dia adalah Kang Jie kongcu Kang Han Cing yang menyamar sebagai Kang Toa kongcu."

“Ooo…." Tian-hung totiang kira2 sudah mengerti. “Ia menderita luka2 bekas tusukan pedang?"

“Hanya lukanya dipundak yang agak parah." Berkata Tan Siauw Tian. “Hampir meremukan tulang. Beruntung ia mempunyai latihan kuat. Dan luka2 lainnya itu hanya luka biasa saja, mungkin terlalu banyak mengeluarkan darah didalam pertempuran itu."

“Ia belum sadarkan diri?" Bertanya Tian hung totiang.

“Kita tidak mengenal ilmu ketabiban, maka tidak tahu bagaimana keadaan luka dalamnya," berkata Tan Siauw Tian. “Sudah kucoba mengempos peredaran jalan darahnya. Yang aneh, entah bagaimana, jalan darah Pek-hwee-hiat bisa buntu. Sudah diusahakan ditembus beberapa kali, tidak berhasil. Untung saja totiang sudah berada di tempat ini. Tolonglah." “Ada kejadian yang seperti itu ?" Berkata Tian hung totiang. “Betul2 aneh, biar kuperiksa sebentar."

Tian-hung totiang mengadakan pemeriksaan, ia meletakkan tiga jarinya diurat nadi Kang Han Cing, memasang telinganya betul-betul, mengikuti peredaran jalan darah si pemuda.

Kang Han Cing boleh memainkan orang semau hatinya, boleh mengelabui Tan Siauw Tian. Tapi ia tidak bisa mengelabui Tian hung totiang yang lihay. Karena itu, kecuali jalan darah Pek hwee hiat yang dibuntukan sementara waktu, dibiarkan saja semua peredaran jalan darah mengalir secara lancar.

Tian-hung totiang memejamkan mata beberapa waktu, keningnya berkerut terus menerus, satu tanda kalau ia menemukan kesulitan didalam pemeriksaan itu, kemudian ia membuka mata, tidak henti2nya mengoceh : “Ajaib ! Ajaib ! Luar biasa. Luar biasa."

“Bagaimana keadaan lukanya ?" Bertanya Tan Siauw Tian.

Kehadiran akhli tabib Tian hung totiang ditempat itu berada diluar perhitungan Kang Han Cing, kalau saja tabib Pek-yun-koan ini memberitahu gambaran yang sebenarnya, sulitlah menangkap Burung Kelima, karena itu, dengan menggunakan tekanan suara tinggi, ia mengisiki Tian-hung totiang : “Totiang, diantara orang2 yang berada di tempat ini terdapat mata2 Ngo hong-bun. Harus berhati2.” “Aaaaa…..” Tian-hung totiang sadar akan adanya bahaya itu, ia mengurut jenggot dan tidak segera menjawab pertanyaan Tan Siauw Tian.

“Apa yang Jie kongcu ketahui tentang mata2 Ngo-hong bun itu ?” Bertanya Tian hung totiang, juga menggunakan suara gelombang tinggi. Percakapan yang tidak bisa diikuti oleh orang ketiga.

“Usahakanlah agar semua orang meninggalkan tempat ini. Nanti kita beritahu." Berkata Kang Han Cing, tetap menggunakan gelombang tekanan tinggi.

Tan Siauw Tian memperhatikan gerakan Tian- hung totiang yang terus menerus mengurut jenggot, sangkanya tabib pandai itu sedang menemukan kesulitan. Ia tidak mendesak terus.

Mana diketahui kalau Tian-hung totiang sedang mengadakan pembicaraan rahasia bersama Kang Han Cing.

Akhirnya Tian-hung totiang melepaskan urutan jenggotnya, maka terjeblaklah seluruh bibir dan mulutnya, ia tidak perlu berkemak-kemik lagi, menoleh dan memandang Tan Siauw Tian, ia mengajukan pertanyaan : “Bagaimanakah Tan tongcu menemukan Jie kongcu ?”

“Belum lama menerima laporan Co Su, dikatakan ia jatuh dari atas tembok bangunan dan tidak sadarkan diri.”

“Apa Tan tongcu tahu kemana kepergian Jie kongcu sebelumnya ?" “Tidak tahu.”

“Mungkin dia temukan mata2 musuh didalam gedung ini. Maka ia membikin pengejaran, diluar ia dikeroyok orang, sesudah melakukan pertempuran mati2an, ia berhasil meloloskan diri, sebelum musuh bisa berbuat sesuatu apa, kalian sudah berhasil menemukannya. Ia hampir mengalami copot sukma, karena terlalu banyak mengeluarkan darah dan banyak mengeluarkan tenaga."

“Aaaa…..Bagaimana harus memulihkan keadaannya ?"

“Jie kongcu membutuhkan ketenangan. Tinggalkanlah saja. Biar pinto usahakan." Berkata Tian hung totiang.

“Apa yang totiang kemukakan memang betul juga," berkata Tan Siauw Tian. “Hayo, semua keluar dari ruangan ini ! Kecuali Kong hutongcu."

Tan Siauw Tian hendak menjaga sesuatu ber- sama2 Kong Kun Bu.

“Lebih baik Tan tongcu dan Kong hutongcu juga tidak mengganggu ketenangannya.” Berkata Tian hung totiang.

Baru saja suara Tian-hung totiang berhenti, dari luar datang orang yang memberi laporan : “Hamba Thio Tek Lok memberi laporan.”

Orang itu bernama Thio Tek Lok, orang Lembah Baru yang mendapat tugas untuk mengawasi gerak-gerik Kwee In Su.

“Ada apa ?" Bertanya Tan Siauw Tian. “Ada sesuatu yang menimpa Kwee In Su." Lapor Thio Tek Lok.

“Apa yang menimpa dirinya ?”

“Kwee In Su terbaring dengan mata melotot, mulutnya terbuka, tapi tidak bisa bicara. "

“Apa dia sudah mati ?"

“Belum. Napasnya sengal2. Seperti orang yang kemasukan angin jahat."

“Mari kita periksa." Menganyak Tan Siauw Tian. Mengajak Kong Kun Bu dan Thio Tek Lok, mereka meninggalkan ruangan itu.

Disana tinggal Kang Han Cing dan Tian hung totiang.

Kang Han Cing membuka matanya yang sudah lama dikatupkan itu, dengan maksud bangun berdiri.

Cepat2 Tian-hung totiang mencegah maksud pemuda itu, dengan perlahan berkata:

“Betul2 banyak mata-mata didalam gedung keluarga Wie. Kwee In Su juga sudah dibokong orang. Bukan mustahil kalau kita masih berada dibawah pengawasan mereka, atau ada seseorang yang mengikuti pembicaraan dari balik dinding, lebih baik Jie kongcu membaringkan diri saja. Biar kuobati dahulu luka2 bekas tusukan pedang itu."

Tian-hung totiang memang seorang tabib pandai, hanya luka2 luar tidak mungkin menyulitkan dirinya. Didalam sekejap mata ia sudah mengobati dan membalut luka-luka Kang Han Cing itu.

“Apa yang Jie kongcu temukan didalam gedung ini ?" bertanya Tian hung totiang perlahan.

“Totiang, sebelumnya ada sesuatu yang masih membingungkan diriku...Bisakah totiang memberi sedikit keterangan ?”

“Tentang apa ?"

“Tan Siauw Tian menyebut dirinya sebagai tongcu Lembah Baru. Aliran dari mamakah golongan ini ? Siapa yang menjadi kokcu Lembah Baru ?"

“Percayalah," berkata Tian-hung totiang. “Lembah Baru adalah aliran yang menentang Ngo- hong-bun. Kokcu Lembah baru adalah orang yang tidak asing. Mengingat keganasan Ngo-hong-bun, belum waktunya kokcu Lembah Baru menampilkan diri. Agar kau bisa lebih tenang dan percaya, Lembah Baru memiliki 8 Penasehat, diantaranya aku adalah salah satu dari 8 Penasehat Lembah Baru.”

“Totiang…..”

“Ya. Dan untuk memperkuat ketabahanmu, boleh juga kau ketahui salah satu lagi penasehat Lembah Baru, dia adalah Ciok-kiam Sianseng, gurumu itupun menjadi salah satu dari 8 penasehat Lembah Baru."

“Aaaaa……” “Nah ! Giliranmu yang bercerita, bagaimana kau bisa menemukan mata2 Ngo-hong-bun didalam gedung ini ?"

Kang Han Cing menyeritakan jalannya cerita, bagaimana ia terpancing oleh si Burung Kelima dan pecah penyamaran didalam bangunan rimba bambu itu.

Tentu saja Kang Han Cing menutupi cerita Sam Kiongcu yang membantunya melarikan diri. Didalam hal ini menyangkut soal muda mudi.

Dan juga Kang Han Cing tidak bisa menceritakan Tong Jie Peng menjegal Topeng Perak Jie Kiongcu dkk itu, karena memang tidak tahu.

“Menurut perkiraan Jie kongcu, siapakah orang yang membungkukkan badan dan membawa lampu itu ?"

“Orang itu hanya membuka mulut sesudah berada didepan bangunan rimba bambu, perintahnya 'masuk’ dan sesudah itu tidak mengucapkan kata2 lainnya. Suaranya seperti tidak asing, tapi didalam keadaan yang seperti itu sengaja memparaukan logat aslinya. Sulit menentukannya."

“Semakin pasti kalau orang ini adalah orang yang dekat. Kalau tidak, mengapa mem- bungkuk2kan badan ? Merobah logat suara ? Dengan cara inilah Jie kongcu tidak bisa menduga dan mengenalinya.”

“Ngo-hong-bun memang lawan berat." “Langkah2 apa sesudah Jie kongcu pura-pura kelengar ?"

Kang Han Cing memberi penjelasan :

“Sesudah mencuri pelajaran Tiga Jurus Pukulan Burung Maut, mereka tidak mau melepaskan diriku. Sengaja ber-pura2 pingsan, memberi kesempatan agar mereka bisa turun tangan, maka siapakah orang yang mau mencelakakan diriku, itulah mata-mata Ngo-hong bun ditempat ini.”

“Rencana baik. Untuk memancing mereka, lebih baik lagi kalau membiarkan aku mengobati dirimu. Sesudah mengetahui kalau keadaanmu ber- angsur2 sudah pulih, tentu membuat si Burung Kelima bertambah gelisah. Nah. Itu waktu kita bisa membedakan siapa yang hendak membunuh dirimu."

“Setuju. Tapi rencana ini jangan diberitahu kepada Tan Siauw Tian."

“Mengapa ?"

“Bukan curiga kepada Tan Siauw Tian. Mengingat pentingnya keadaan, lebih sedikit orang yang tahu, lebih mudah pula mengerjakannya."

Tian-hung totiang setuju. Sesudah selesai memberi pengobatan, ia berjalan keluar.

Diluar sudah menunggu Tan Siauw Tian, menyongsong Tian-hung totiang dan bertanya : “Bagaimana keadaan Jie kongcu ?”

“Ia masih membutuhkan istirahat. Jagalah ketenangannya. Jangan ada seorang pun yang mengganggu." “Tidak membahayakan ?” “Waktu bahayanya sudah lalu."

“Syukurlah. Oh...Kwee In Su juga dibokong orang. Tolong totiang periksa keadaannya,” berkata Tan Siauw Tian.

“Baiklah. Ajaklah ke tempatnya." Tian hung totiang merendengi Tan Siauw Tian, mereka sama2 menuju ke tempat Kwee In Su. Memandang beberapa penjaga, Tian-hung totiang bertanya : “Mereka orang2 dari Lembah Baru ?”

“Ya,” Jawab Tan Siauw Tian. “Turut serta adalah

8 pengawal Lembah Baru. Kecuali pelayan2 perempuan, didalam gedung keluarga Wie ini hanya terdapat seorang pengurus rumah tangga yang laki2."

“Kong Kun Bu hutongcu itu seperti orang baru." Tian-hung totiang berkata.

“Kong Kun Bu adalah keponakan-murid Tay siok taysu dari Siauw lim-pay. Kokcu meminta bantuan Siauw lim pay untuk menumpas Ngo hong-bun, karena itu Kong Kun Bu diperbantukan kepada kita. Dengan kedudukan hutongcu."

Kecurigaan Tian-hung totiang segera bebas sama sekali, mengingat kalau Kong Kun Bu itu adalah wakil Siauw-lim-pay yang membantu usaha Lembah Baru.

Mereka sudah tiba di kamar Kwee In Su, sedari Kwee In Su meninggalkan Ngo hong bun dan membawa ‘Kang Puh Cing' ke gedung keluarga Wie, ia mendiami tempat ini. Kong Kun Bu berada dikamar Kwee In Su, agaknya ia kurang yakin kepada Thio Tek Lok seorang diri. Melihat kedatangan Tian-hung totiang, cepat2 menyilahkan masuk.

Sesudah Tian hung totiang mengadakan pemeriksaan, ketua kelenteng Pek-yun-koan ini berkerut alis, betul2 banyak mata2 didalam gedung keluarga Wie. Kwee In Su ditotok orang pada jalan darah Geger Otak. Dikemukakannya hasil laporan pemeriksaan kepada semua orang. Dan diberitahu juga, bagaimana harus menyembuhkannya, karena dekatnya jalan darah itu dengan bagian otak, maka membutuhkan waktu pengobatan lama, setiap hari hanya bisa ditotok seperlahan mungkin, dan sesudah beberapa kali, baru bisa disembuhkan. Mereka tidak berdaya.

***

Bab 71

SATU HARI DILEWATKAN…..

Keadaan gedung keluarga Wie seperti biasa, tenang2 dan adem saja.

Kehadirannya Tian-hung totiang beserta Kakek Beracun Cu Hoay Uh berhasil menyembuhkan penyakit keracunan Lie Kong Tie. Per-lahan2 keadaan Datuk Utara itu mulai berangsur baik.

Malam itu Tian-hung totiang membikin perondaan, memperhatikan kamar pertama yang ditempati Kang Han Cing dan juga memperhatikan kamar ketiga yang dihuni oleh Kwee In Su.

Tiba2 tampak sebuah bayangan yang berkelebat cepat, gerakannya gesit sekali, kalau bukan Tian- hung totiang, mungkin tidak bisa melihat kehadirannya.

Tian hung totiang melejitkan kaki, mengejar kearah lenyapnya bayangan dimalam gelap itu. Walau ketua kelenteng Pek-yun-koan memiliki ilmu kecepatan tinggi, tidak urung kalah juga, ia tiba disana dan hanya bisa menubruk tempat kosong.

Dibawah bulu matanya, Tian-hung totiang bisa kehilangan orang, hal ini membuat ia penasaran. Keadaan seluruh isi gedung sudah sunyi senyap, kemana pula larinya orang itu ?

Tian hung totiang memeriksa lagi.

Tiba2 punggungnya terasa ditekan senjata tajam. “Jangan bergerak kalau kau masih sayang kepada jiwamu.” Terdengar suara ancaman.

Hati Tian hung totiang tercekat. Gerakan bayangan yang dikejar terlalu gesit, hanya didalam satu kedipan mata, orang ini sudah berada dibelakangnya dan memberi ancaman pedang. Hanya ancaman sebatang pedang tidak akan menggentarkan si ketua kelenteng Pek-yun-koan, untuk seketika memang ia tidak berani bergerak. “Mengapa harus menggunakan cara seperti ini ?" Ia berkata sambil menggeser badan, tiba2 saja mengebutkan tangan bajunya, menyampok dan menyingkirkan ancaman ujung pedang itu. Gerakan Tian-hung totiang tadi cepat sekali, dan iapun mengerahkan tenaga dalam yang dikerahkan kalangan bajunya itu, dimisalkan tidak berhasil menerbangkan pergi senjata lawan, se- tidak2nya bisa membebaskan diri dari ancaman.

Mana disangka, gerakan badan Tian-hung totiang masih kalah cepat, breetttt...bajunya tersobek, ujung pedang itu tetap mengancam ke arah daging.

Cepat2 Tian-hung totiang membatalkan niatannya yang hendak menghadapi orang itu, dengan meletikkan diri ia lari mundur kebelakang.

Didalam satu gebrakan, masing2 memuji kecepatan lawan.

Untung orang itu tidak mengejar lagi. Kini mereka bisa ber-hadap2an, didepan Tian-hung totiang berdiri seorang pemuda berbaju hijau, umurnya belum cukup 20 tahun, sangat tampan menarik.

Hanya seorang pemuda yang baru lagi ingusan ini yang mementalkan serangan kebutan tangan bajunya ? Betul2 Tian-hung totiang tercekat.

Pemuda berbaju hijau memancarkan sepasang sinar matanya yang bercahaya terang menghadapi Tian-hung totiang dan berkata : “Totiang tentunya ketua kelenteng Pek-yun koan yang ternama itu, bukan ?"

Hanya satu kali gebrakan, pemuda itu sudah bisa menduga asal usul, Tian hung totiang betul2 tidak mengerti, menatapnya dan berkata : “Tidak salah. Bagaimana nama sebutan sicu yang mulia ?"

“Aku Lie Siauw San." Berkata pemuda itu.

Tentu saja di depan Tian hung totiang yang tidak tahu siapa si pemuda yang bernama Lie Siauw San, ia boleh sembarang jual kecap. Betulkah Tian-hung totiang sedang berhadapan dengan Lie Siauw San ?

Tentu saja bukan ! Pemuda berbaju hijau adalah samaran Sam Kiongcu Sun Hui Eng. Sengaja menggunakan nama Lie Siauw San untuk menarik perhatian orang.

“Apa maksud Lie siecu datang ke tempat ini ?” Bertanya Tian-hung totiang.

“Kedatanganku untuk menemui seseorang," jawab pemuda itu.

“Siapakah yang siecu hendak temukan ?" “Kang Jie kongcu. Kang Han Cing."

“Ada urusan apa mau menemui Kang Han Cing

?" Bertanya Tian-hung totiang.

“Tentu saja ada urusan. Apa totiang tidak menganggap pertanyaan totiang yang agak ber- lebih2an ?"

“Kang Jie kongcu menderita luka." Berkata Tian- hung totiang.

“Beratkah lukanya ?” Orang itu memperlihatkan perhatiannya.

“Sangat berat. Hampir kehabisan darah." “Betul2 hampir kehabisan darah." Berkata pemuda ini. “Dimanakah kini ia berada? Bisa totiang tolong antar aku kesana ?”

Tian-hung totiang tersenyum, katanya : “Keadaan Jie kongcu belum lepas dari krisisnya. Dan diapun sedang tidur nyenyak. Semua orang dilarang mengganggu."

“Aku hendak melihat sebentar saja." “Jangankan orang luar yang belum dikenal,

dimisalkan    Tan    Siauw    Tian    tongcu    yang

mengajukan permohonan ini tetap tidak bisa kuterima."

“Bagaimana agar totiang bisa percaya kepada diriku ?"

“Soalnya bukan percaya atau tidak. Yang penting, Kang Jie kongcu harus mendapat istirahat yang cukup. Selama tiga hari ini ia tidak boleh bicara dengan orang."

Pemuda itu terpekur beberapa waktu, akhirnya ia bisa diberi mengerti. “Baiklah." katanya. “Tiga hari lagi aku akan menjenguk dirinya."

Dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan bungkusan, dibuka bungkusan itu, dari sana mengeluarkan obat seperti biji kenari, diserahkan kepada Tian-hung totiang dan berkata :

“Obat ini mempunyai khasiat luar biasa, teristimewa untuk menambah darah, menjernihkan pikiran, menambah kekuatan, sesudah totiang kembali, boleh beri makan kepadanya. Didalam waktu yang singkat, ia segera sembuh seperti sediakala."

“Apakah nama obat ini?" Bertanya Tian-hung totiang.

“Lihatlah sendiri.”

Tian-hung totiang memperhatikan obat itu, yang terdapat tulisan kecil berbunyi : Thian kie-in-keng- tan !

Kepalanya mengangguk dan mulut bergumam : “Betul2 obat Thian-kie-tan dari si nenek Goa Siluman.”

Diterimanya pemberian obat itu dan berkata : “Akan pinto sampaikan kepadanya, terima kasih."

“Tolong sampaikan salamku. Tiga hari kemudian, aku kembali lagi." Sesudah itu, tubuhnya melejit dan lenyap dari depan Tian-hung totiang.

Tian-hung totiang menyimpan obat Thian kie- tan, ia sangat penasaran, mengikuti arah lenyapnya pemuda baju hijau tadi, ia lari mengejar.

Dari jauh tampak pemuda baju hijau dihadang oleh seseorang, itulah seorang pemuda berbaju putih. Tian-hung totiang menyembunyikan diri dan memperhatikan kedua anak muda itu.

“Kau orang Lembah Baru ?" Bertanya pemuda berbaju hijau kepada orang yang menghadang ditengah jalan.

Si-baju putih menggelengkan kepala. “Bukan," ia berkata. Tetap tidak mau pergi dari tengah jalan. “Orang dari gedung keluarga Wie ?" Tanya si baju hijau lagi.

“Juga bukan," jawab si baju putih.

“Mengapa kau menghadang kepergianku?” Tanya si baju hijau.

“Kita bisa bercakap2, bukan ?" Berkata si baju putih.

“Kita belum pernah berkenalan, apa pula yang hendak dipercakapkan ?” Si baju hijau tidak mengerti.

“Sesudah pertemuan, kita bisa berkenalan, bukan ?" Berkata si baju putih.

“Aku tidak sudi berkenalan denganmu.” Berkata si baju hijau.

“Tapi aku ingin sekali,” berkata si baju putih. “Kalau aku tidak mau ?"

“Kalau aku mau ?"

“Apa kau kira bisa menghadang perjalananku ?” “Boleh coba." Berkata si baju putih menantang.

Tian-hung totiang yang mengintip pertikaian itu tertarik, ia sudah melihat dan menyaksikan kegesitannya si baju hijau yang mengaku bernama Lie Siauw San, hendak disaksikan bagaimana pula ilmu silat si baju putih.

Tubuh si baju hijau bergerak, melejit ke kiri dengan maksud melewati hadangan si baju putih. Secepat itu pula si baju putih turut bergerak, tetap menghadang perjalanan si baju hijau.

“Sudah kuduga," katanya tertawa. “Pasti kau mengambil jalan ini. Maaf, jalan tertutup.”

Lagi2 si hijau terhadang !

Ia masih penasaran, berkelit lagi dan berusaha menerjang dilain tempat.

Seperti keadaan semula, kemana si baju hijau bergerak, kesitu pula si baju putih turut membayangi. Tetap menghadang didepan jalan. Demikian terjadi sehingga beberapa kali.

Mengikuti permainan yang seperti anak kecil berpetak itu, Tian-hung totiang menggelengkan kepalanya. Ia sudah menganggap ilmu silat tinggi, tidak tahunya masih ada yang lebih tinggi darinya. Si baju hijau adalah akhli silat nenek Goa Naga Siluman, sudah pasti memiliki ilmu silat tinggi yang berada diatas dirinya. Tapi si baju putih lebih hebat lagi. Dan menurut apa yang ia tahu, hanya ilmu silat aliran Sepasang Dewa Tong hay yang bisa menandingi dan mengalahkan gerakan nenek Naga Siluman.

Si baju hijau tidak berhasil melepaskan diri, ia mengeluarkan pedang, ceeep…. ditusukkan ke arah sipenghadang.

Si baju putih menjulurkan tangan, slep ... menjepit datangnya pedang itu.

Si baju hijau berkutet hendak menarik kembali pedangnya yang terjepit jari kuat itu. Tidak berhasil. Ia mandi keringat. Saking marahnya, dengan menggunakan lain tangan, ia menghajar pedang sendiri. Pletakk…. Pedang itu patah menjadi dua bagian, dan gagang pedangpun dilempar begitu saja.

“Oh….." Berkata si baju putih. “Mengapa dipatahkan ?”

Biar bagaimana, si baju putih lebih kuat dari si baju hijau.

“Sebutkan namamu !" Bentak Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

“Aku tidak pernah ganti nama.” Berkata si baju putih. “Aku adalah Lie Siauw San yang ternama.”

“Ohh...kau lagi ?" Sam Kiongcu segera bisa menduga kepada penghadangnya.

Siapakah yang menghadang perjalanan pulang Sam Kiongcu Sun Hui Eng ?

Inilah keturunan Liu Ang Ciauw yang bernama Tong Jie Peng.

“Tentu saja aku." Berkata Tong Jie Peng.

“Kau bukan Lie Siauw San." Berteriak Sam Kiongcu yang segera mengenali orang itu. Orang ini pernah menempur Jie Kiongcu diwaktu membebaskan Kang Han Cing dari pengejarannya.

“Kau juga bukan Lie Siauw San." Berkata Tong Jie Peng. Ternyata jago muda ini turut mengikuti pembicaraan Sam Kiongcu bersama Tian-hung totiang, dimana Sam Kiongcu mengaku bernama Lie Siauw San.

“Alasanmu ?" Bentak Sam Kiongcu. “Apa kau kira hanya kau seorang yang kenal Lie Siauw San ?" Berkata Tong Jie Peng tertawa. “Kau kenal Lie Siauw San dan aku juga kenal Lie Siauw San."

“Ya. Kau memang kenal Lie Siauw San." Berkata Sam Kiongcu.

“Dan aku juga kenal dirimu." Sambung Tong Jie Peng.

“Kau kenal kepadaku ?" Bertanya Sam Kiongcu heran.

“Kalau dugaanku tidak salah," berkata Tong Jie Peng. “Kau adalah inti kekuatan Ngo-hong-bun Sam Kiongcu."

“Aaaa….." Baru sekarang Tian-hung totiang sadar. “Orang yang menyerahkan obat Thian-kie- tan adalah Sam Kiongcu dari partay Ngo-hong-bun. Ternyata partay Ngo-hong-bun didirikan oleh nenek Goa Siluman.”

Sam Kiongcu menjadi panas kuping, dari saku bajunya ia mengeluarkan segumpalan jarum, ditaburkannya kearah Tong Jie Peng, sesudah itu tanpa menunggu reaksinya, ia ngacrit pergi.

Tong Jie Peng tertawa, dengan membalikkan tangan, ia menerima semua tebaran senjata rahasia itu. Dibiarkan Sam Kiongcu pergi. “Selamat jalan, Sam Kiongcu." Katanya riang.

Sesudah itu Tong Jie Peng menoleh ke arah tempat persembunyian Tian-hung totiang dan berkata : “Tolong totiang sampaikan salamku kepada Kang hiantee, agar ia bisa lebih berhati- hati.”

Sesudah itu diapun bergoyang badan, lenyap dari tempat itu.

Tian-hung totiang menghela napas, ternyata sudah diketahui orang, kalau ia bersembunyi di tempat itu. Betul2 ia bertemu jago-jago muda yang lebih hebat dari dirinya.

Tian-hung totiang berjalan balik dengan langkah lesu. Mana diketahui, ini waktu sudah terjadi perubahan besar atas diri Kang Han Cing.

***

Bab 72

KENTONGAN terdengar dipalu dua kali, suatu tanda kalau waktu sudah menjelang jam dua pagi.

Lampu2 sudah lama padam, karena para penghuni gedung keluarga Wie sudah tidur lelap.

Hanya Kang Han Cing seorang yang menunggu kehadirannya si Burung Kelima. Ia yakin dan percaya, mata2 Ngo hong-bun itu akan mengadakan pembunuhan atas dirinya.

Ia menunggu dengan sabar, pembaringannya diatur sedemikian rupa, se-olah2 ada orang yang tidur nyenyak, sedangkan ia sendiri berdiri jauh dari situ, memperhatikan perkembangan situasi.

Betul saja. Tampak daun jendela dikorek orang, sesuatu bayangan menyelinap masuk, bayangan ini berbentuk tubuh kecil, mengenakan tutup kerudung muka. Secara ber-indap2 orang ini mendekati tempat tidur, tanpa suara dan tanpa geseran angin, suatu tanda kalau ia memiliki ilmu kepandaian silat dan ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Kang Han Cing memperhatikan bentuk tubuh orang ini, dibandingkan dengan orang2 yang berada didalam gedung keluarga Wie, karena tutup kerudung mukanya itulah ia masih sulit menerka.

Siapakah orang ini ? Siapa lagi kalau bukan Burung Kelima dari Ngo-hong-bun.

Si Burung Kelima bergerak, Kang Han Cing juga tidak tinggal diam, tapak demi tapak diikutinya orang ini. Dengan maksud satu kali sergap menangkap basah.

Orang berkerudung itu seperti sadar kalau dirinya berada di bawah intaian orang, tiba2 ia menghentikan langkahnya dan balik badan, gerakannya sangat mendadak !

Maka kedua jago ber-hadap2an.

Tanpa bicara orang itu menggerakkan kedua tangan, disilangkan dan dihantamkan kearah Kang Han Cing.

Kang Han Cing menggeser kaki ke sebelah kiri, tangannya diluruskan, mengirim satu serangan totokan.

Waktu itu hampir bersamaan, ternyata orang berkerudung tidak berani menerima jalur totokan Kang Han Cing. Posisinya dirobah mundur kebelakang.

Kang Han Cing mendapat angin, ia mendesak cepat.

Kali ini orang berkerudung itu memperlihatkan kelincahan geraknya, ber-goyang2, maka bayangannyapun berubah, tiba2 terdapat 5 orang berkerudung ditempat itu, masing-masing menyerang Kang Han Cing.

Kang Han Cing tidak kenal akan ilmu kepandaian Bayangan Naga Siluman. Hatinya tercekat, hanya satu dari bayangan2 itu yang asli dan ia bisa sudah membedakannya. Lengah sedikit berarti kematian. Karena itu, dengan sebelah tangan kirinya, ia menerima serangan2 tadi, tangan kanannya siap menangkis bayangan asli.

Mereka bertempur di dalam kamar Kang Han Cing tanpa penerangan, masing2 tidak mau mengganggu ketenangan gedung, dengan maksud satu kali sergap bisa menundukkan lawannya.

Mana mungkin hal itu terjadi ? Bahaya tetap membayangi mereka. Didalam sekejap mata, mereka bergebrak lebih dari tujuh belas jurus.

Orang berkerudung itu mempunyai ilmu kepandaian lihay, hal ini membuat Kang Han Cing mengganti rencana, kalau ia tidak mengeluarkan ilmu simpanan, mungkin sulit menundukkannya. Karena itu pemuda kita menjadi nekat, dua kali gerakan, ia maju kedepan, menerjaog bayangan2 lawannya. Hasilnya lumayan, buk…. pundak orang itu kena pukulan, gedubrak jatuh terjengkang. Kang Han Cing hendak meneruskan gempurannya, tidak berhasil, satu kali jumpalitan orang berkerudung hendak meletik bangun, hendak melarikan diri.

Hal ini sudah berada didalam perhitungan Kang Han Cing, pasti orang ini hendak melarikan diri kearah jendela, karena itulah gerakan Kang Han Cing yang cepat sudah berada ditempat itu. Mungkin saking gugupnya orang itu, disaat pemuda kita mengirim totokan2, ia tidak bisa mengelakkan, gedubrak, betul2 ia jatuh, menderita totokan di empat tempat jalan darah.

Kang Han Cing mendapat kemenangan, dihadapinya lawan yang sudah menggeletak itu, dugaannya jatuh kepada si Burung Ke-5.

Siapakah Burung Kelima dari Ngo-hong bun ? Kang Han Cing berjalan menghampiri, sret. ia

menyingkap tutup kerudung orang.

“Aaaaa…..” Hampir Kang Han Cing kurang percaya. Karena orang itu adalah wakil tongcu Lembah Baru Kong Kun Bu !

Suara pertempuran didalam kamar menimbulkan kegaduhan, pelayan2 gedung keluarga Wie yang dikhususkan untuk melayani segala kebutuhan Kang Han Cing, pelayan yang bernama Hiang Lan membuka pintu. Menyaksikan keadaan itu, Hiang Lan terkejut.

“Jie kongcu, kau sudah sembuh ? Mengapa meninggalkan tempat tidur ? Eh….Kong Kun Bu hutongcu, bagaimana kau berada ditempat ini ?" “Hiang Lan," berkata Kang Han Cing. “Kedatanganmu tepat pada waktunya. Lekas undang Tan tongcu."

“Betul," berkata Kong Kun Bu yang sudah tidak mengenakan tutup kerudung muka lagi. “Hiang Lan, lekas panggil Tan Siauw Tian tongcu.”

Hiang Lan memandang kearah kedua orang itu, tentu saja ia tidak mengerti. “Apa artinya ini?” Ia bertanya.

“Jangan banyak tanya !" Hardik Kang Han Cing. “Lekas undang Tan tongcu."

Hiang Lan meninggalkan kamar itu.

Memandang Kong Kun Bu, Kang Han Cing tertawa dingin, ia berkata : “Kong Kun Bu, kau tenang sekali, he ?"

“Apa Jie kongcu tidak gelisah ?” Balik tanya Kong Kun Bu.

“Tidak kusangka, hutongcu dari Lembah Baru adalah Burung Kelima dari Ngo-hong bun.”

“Masih terlalu banyak yang berada diluar persangkaanmu."

“Apa lagi ?"

“Tunggu saja sampai Tan tongcu datang, aku bisa memberi keterangan kepadanya.”

Tidak lama, dengan setengah lari si Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian muncul dipintu. “Apa artinya ini ?" Ia bertanya. Hiang Lan hendak turut masuk, tapi keburu digebah oleh Tan Siauw Tian. “Lekas kau jaga pintu, tanpa seizinku, jangan ada orang yang dikasih masuk." Ia memberi perintah.

Hiang Lan mengundurkan diri.

Memandang Kang Han Cing, si Jaksa Bermata Satu berkata : “Eh, Jie kongcu, kau sudah bisa jalan?"

“Lukaku memang tidak berat.” Berkata Kang Han Cing.

“Kemarin ..."

Kong Kun Bu memotong pembicaraan itu, katanya : “Kemarin dia sudah mengelabui kita semua yang berada ditempat ini."

“Mengapa Jie kongcu harus mengelabui orang ?" Bertanya Tan Siauw Tian.

“Karena dia adalah mata2 Ngo-hong-bun.” Berkata Kong Kun Bu. Inilah namanya tipu lihay yang bernama 'Maling teriak Maling’.

Kang Han Cing memuji kecerdikan Kong Kun Bu, jatuhnya Kong Kun Bu berada didalam kamarnya, apa pula yang bisa disangkal, karena itu iapun bicara :

“Hebat ! Lidah diplomatik ulung. Dengan alasan apa tengah malam buta kau memasuki kamar orang ?”

“Dengan alasan apa kau berpura2 tidak bisa bangun ?" Balas Kong Kun Bu. “Sudahlah," menengahi Tan Siauw Tian. “Kong Kun Bu hutongcu, kau boleh bangun."

Kong Kun Bu sudah tertotok Kang Han Cing, sedari tadi ia ngeduprak di lantai, maka Tan Siauw Tian berkata sepetii itu.

“Mungkinkah Tan tongcu tidak bisa melihat kalau siauwtee ditotok olehnya." Berkata Kong Kun Bu. “Bagaimana siauwtee bisa bangun berdiri seperti orang biasa ?"

“Ooo……” Tan Siauw Tian menghampiri orang itu dengan maksud memberi kebebasan kepada jalan darahnya yang tertotok.

“Tunggu dulu." Kang Han Cing berteriak. Ia harus mencegah terjadinya hal yang seperti itu. “Dia adalah Burung Kelima dari partay Ngo hong- bun.”

“Burung Kelima dari Ngo-hong-bun ?” Tan Siauw Tian berkerut alis.

“Tan tongcu percaya kepada obrolannya ?” Berdengus Kong Kun Bu. “Lekas tangkap Lengcu Panji Hitam itu !”

“Lengcu Panji Hitam yang mana ?" Bertanya Tan Siauw Tian.

“Dia adalah Lengcu Panji Hitam dari Ngo hong- bun,” berkata Kong Kun Bu. “Jangan percaya kepada kata2 manisnya. Ia adalah mata2 musuh yang diselundupkan kepada kita. Segera bisa kubuktikan hal ini." “Dia adalah Burung Kelima,” Berkata Kang Han Cing. “Orang inilah yang membuat diriku hampir diringkus mereka.”

Masing2 ngotot mempertahankan kebersihan diri sendiri !

“Tunggu dulu." berkata Tan Siauw Tian. “Kalian masing2 mempertahankan kepercayaan diri sendiri, adakah buktinya ?”

“Dia memasuki kamar orang tanpa izin. Dia hendak mengadakan pembunuhan." Berkata Kang Han Cing.

“Huh ! Sudah kuduga sakit2mu itu hanya alibi kosong belaka," berkata Kong Kun Bu. “Sebagai hutongcu, aku wajib menyelidiki dirimu."

“Kau adalah Burung Kelima. Orang bungkuk yang membawa diriku ke bangunan rimba bambu.” Berkata Kang Han Cing.

Tan Siauw Tian semakin bingung, ia belum mengetahui akan kejadian2 yang menimpa diri Kang Han Cing, karena itu memandang si pemuda dan bertanya : “Jie kongcu…”

“Tan tongcu, lihatlah ini." Berkata Kang Han Cing. Ia mengeluarkan surat tugas Ngo hong-bun dengan tanda tangan Burung Kelima itu.

Menerima dan membacanya sebentar, Tan Siauw Tian bertanya : “Apa pula ini ?”

“Apa sebelumnya dia tidak pernah bercerita tentang penerimaan surat2 ini ?" Bertanya Kang Han Cing. Tan Siauw Tian menoleh ke arah Kong Kun Bu meminta keterangan orang itu. Ternyata Kong Kun Bu tidak memberitahu akan adanya surat perintah Ngo hong bun itu !

Untuk menerangkan kejadian yang lebih jelas, Kang Han Cing menceritakan pengalamannya sehingga ia mendapat panggilan tadi.

“Mengapa hutongcu tidak memberitahu ?” Tegur Tan Siauw Tian.

“Bohong !” teriak Kong Kun Bu. “Obrolan kosong

! Bohong semua ! Ia tidak pernah memperlihatkan surat itu kepadaku.”

Tan Siauw Tian menjadi bingung. “Eh, Jie kongcu, mengapa kau ber-pura2 sakit ?”

“Datangnya surat pertama sudah hendak kuberitahu, tapi dibekuk olehnya." Berkata Kang Han Cing. “Datangnya surat kedua begitu mendadak dan mendesak. Dengan maksud mencari tahu si Burung Kelima, kukunjungi tempat itu. Nyatanya mereka lebih lihay dan mengetahui penyamaranku. Hampir aku tertawan ditempat itu. Dan kini betul2 kuingat, suara orang yang terbungkuk-bungkuk itu adalah suaranya, walau ia merobah logat dan menyerakkan suara. Tidak salah lagi, itulah lagu suaranya.”

“Kalau saja Jie kongcu memberitahu hal itu sebelumnya, mungkin….”

“Walau aku sudah menaruh curiga, tapi belum ada bukti dan fakta. Bagaimana boleh sembarang menuduh orang ? Apa lagi mengingat kedudukannya sebagai wakil tongcu, kalau kuberitahu kepada tongcu, dan tongcu memberitahu lagi kepadanya, bukankah tidak bisa menangkap basah seperti saat ini ?”

“Ha, ha...” Kong Kun Bu tertawa. “Kalau ceritamu itu dilisankan pada sebelumnya, mungkin Tan tongcu bisa percaya. Sekarang, sesudah penyamaranmu sebagai Lengcu Panji Hitam terbongkar siapa yang mempercaya lagi ?"

Disaat ini, tiba2 Tan Siauw Tian memandang kearah jendela, serta merta ia membentak : “Siapa

?”

“Aku." Dari sana muncul Tian-hung totiang. Ketua kelenteng pek-yun koan ini datang terlambat karena adanya gangguan Sam Kiongcu dan Tong Jie Peng.

Tiba ditempat itu, langsung Tian-hung totiang memandang kearah Kang Han Cing dan bertanya : “Jie kongcu tidak menemukan kesulitan? Apa tidak ada musuh yang datang ?"

“Dia sudah berada disini !” Jawab Kang Han Cing singkat.

“Aaa….." Tian hung totiang tidak menyangka sama sekali, kehadiran Kong Kun Bu ditempat itu memang aneh, mengapa duduk numprah ? Adanya jawaban Kang Han Cing tadi rnembuatnya menoleh ke arah wakil tongcu Lembah Baru itu.

Kang Han Cing berkata : “Totiang, tolong beri kesaksian tentang asal mulanya kejadian ini." Diceritakan juga bagaimana Kong Kun Bu menolak dan menyangkal semua tuduhan2 itu, mengingat kedudukan Kong Kun Bu yang tidak rendah, urusan memang sulit diselesaikan.

Tian-hung totiang mendengar cerita dengan penuh perhatian, sesudah selesai, baru ia buka suara : “Apa Jie kongcu sudah ceritakan asal mula kejadian, dan cara2 bagaimana Jie-kongcu dikeroyok orang didalam rimba bambu itu ?"

Sekali lagi Kang Han Cing bercerita, lebih jelas dan lebih terperinci. Dari dan bagaimana ia ber- pura2 sakit untuk memancing kehadirannya Burung Kelima, bagaimana ia mendapat dukungan Tian-hung totiang, sehingga tertangkapnya Kong Kun Bu.

“Apa tongcu percaya obrolan2 itu ?” Berkata Kong Kun Bu dingin.

“Hutongcu akan mendapat giliran sendiri,” Berkata Tan Siauw Tian. “Untuk sementara jangan banyak bicara.”

Tan Siauw Tian lebih percaya kepada Kang Han Cing, tidak perduli Kong Kun Bu mewakili Siauw- lim-pay, kalau ia bersalah, hukuman tetap akan dilakukan.

“Tan tongcu,” berkata Tian-hung totiang, “Bagaimana asal usul Kong Kun Bu ?"

“Untuk membantu usaha Lembah Baru, Siauw- lim-pay hanya mengutus jagonya yang satu ini." Berkata Tan Siauw Tian. “Nah, mengapa Siauw-lim-pay tidak memilih lain orang ? Karena Kong Kun Bu asli adalah keponakan murid Tay-ciok taysu. Kong Kun Bu asli yang pinto maksudkan…..”

Wajah Tan Siauw Tian berubah, kalau Kong Kun Bu dipalsu orang ? Tentu jago itu sudah mengalami sesuatu.

Kong Kun Bu itu masih bersikap tenang, se- olah2 dia Kong Kun Bu asli, karena itu berani memprotes : “Totiang ini belum tidur siang. Mungkin mengimpikan yang bukan2. Aku adalah manusia asli, bukan tiruan, hal ini tidak perlu disangsikan lagi."

Tian-hung totiang tidak menggubris cemoohan Kong Kun Bu itu, memandang Kang Han Cing dan bertanya : “Jie kongcu, disaat kau bergebrak dengannya, ilmu apa yang digunakan olehnya ?”

“Hanya sebagian saja ia menggunakan ilmu Siauw lim sie, banyak tidak diketahui indentitasnya,” Jawab Kang Han Cing.

Tidak perduli Tan Siauw Tian ragu2, karena memang ia tidak bisa memberi kepastian hal itu, tokh kecurigaannya belum bisa dilenyapkan.

Dan perkembangan2 kejadian tadi, Kang Han Cing bisa menilai kepribadian Kong Kun Bu sebagai seorang yang paling berani menyangkal, berani omong besar dan berani didalam segala2nya. Sudah bukan mustahil lagi kalau hal yang disangkal itu benar2 terjadi. Tentunya manusia imitasi, se-tidak2nya manusia tiruan, atau memang Kong Kun Bu sudah ganti haluan politik Siauw-lim-pay yang wajib dianut oleh para anggotanya.

Tian-hung totiang memandang Kong Kun Bu dan berkata : “Sudahlah. Penyamaranmu sudah terbuka, copot saja kedok penyamaranmu itu !”

“Kedok penyamaran yang mana ?" Balik tanya Kong Kun Bu. Ia tetap menyangkal.

“Kau memang pandai menggunakan samaran, kau bisa mengelabui seluruh isi rumah keluarga Wie, kau bisa mengelabui orang2 Lembah Baru. Tapi tidak mungkin kau bisa mengelabui diriku. Memang, penyamaranmu hebat dan sempurna, sepuluh kali memeriksa wajahmu, sepuluh kali pula orang mengalami kegagalan."

Tan Siauw Tian meng-amat2i wajah Kong Kun Bu, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh, tidak ada kecurigaannya, karena itu ia berkata : “Kulihat dia tidak mengenakan kedok penyamaran."

“Tentu saja tidak mudah dilihat,” Berkata Tian hung totiang. “Karena kedok penyamarannya itu bersambung ke seluruh badan. Itulah cara partay Raja Gunung dahulu, mengadakan pembesetan kulit manusia, dikeringkan dan diselubungkan."

Untuk cerita itu, para pembaca bisa mengikuti PEMBUNUH GELAP.

Kang Han Cing melompat maju, ia berkata keras

: “Serahkan kepadaku.”

“Tiba2 saja ia menjulurkan tangannya, breet…..

Menyobek baju depan Kong Kun Bu. “Aaaaa.....” Terdengar jerit lengkingan seorang gadis muda, keluarnya dari mulut Kong Kun Bu itu.

Sesudah baju depan Kong Kun Bu dibeset, terjadi perubahan yang melompongkan mulut semua orang. Dari dalam baju ketat Kong Kun Bu menonjol dua buah daging putih, sepasang payudara yang hanya dimiliki oleh wanita remaja. Kong Kun Bu adalah seorang wanita ?

Bukan. Jelasnya orang yang menyamar sebagai Kong Kun Bu itu adalah seorang wanita remaja.

Sebagai laki2 sejati, Kang Han Cing, Tan Siauw Tian dan Tian-hung totiang mengalihkan pandangan ke arah lain.

Didepan mereka sedang terpasang pemandangan porno !

Bagaimana tidak ? Keadaan si penyamar Kong Kun Bu sangat canggung, mengingat jalan darah geraknya sudah ditotok Kang Han Cing, ia tidak bisa mengelakkan sobekan baju, juga tidak bisa menutupi kedua payudaranya yang terbuka itu.

“Kang Han Cing pemuda gila basa." jeritnya melengking. “Kalau kau tidak segera membunuh diriku, awas pembalasanku yang tidak berprikemanusiaan !”

Ia mengucurkan air mata. Ternyata si Burung Kelima dari partay Ngo hong-bun berada didalam tubuh Kong Kun Bu !

Kang Han Cing mundur kebelakang, memberi hormat dengan muka dipalingkan, ia berkata : “Maaf. Bukan maksudku untuk mencemarkan nama nona. Betul-betul aku tidak tahu.”

Tan Siauw Tian sudah berteriak keluar kamar : “Hiang Lan, cepat kau masuk !”

Pelayan gedung keluarga Wie yang bernama Hiang Lan berlari masuk, memberi hormat kepada Tan Siauw Tian dan berkata : “Tan tongcu ada perintah untuk hamba?"

“Lekas ambil baju dan kenakan kepada nona itu." Perintah Tan Siauw Tian.

Hiang Lan menoleh orang yang ditunjuk, ia terbelalak, katanya heran : “Kong Kun Bu hutongcu adalah seorang wanita ?"

“Jangan banyak mulut. Lekas selesaikan tugas yang kuberikan tadi." Bentak Tan Siauw Tian.

“Baik," Hiang Lan mengundurkan diri.

“Tunggu dulu !” Teriak Tan Siauw Tian secara tiba2, ia memanggil pelayan itu.

Hiang Lan menghentikan langkah, memandang sang tongcu Lembah Baru dengan penuh tanda tanya, perintah apa lagi yang harus dilakukan olehnya ?

Tan Siauw Tian berkata : “Jangan uwarkan cerita ini kepada orang lain, tahu ?"

“Hamba tahu."

“Baiklah. Lekas kau ambil pakaian."

Hiang Lan mengundurkan diri, tidak lama ia kembali dengan seperangkat pakaian wanita, diselubungkannya ke tubuh Kong Kun Bu palsu itu dan berkata : “Mari bangun."

Ia memayang bangun.

Tan Siauw Tian memberi perintah lagi : “Coba kau copot kedok penyamarannya.”

Baru sekarang Kang Han Cing berani menoleh balik, begitupun Tian-hung totiang dan Tan Siauw Tian. Mereka bisa menyaksikan bagaimana Hiang Lan mengeleteki kulit tipis yang berupa kedok, kulit ini hanya sampai dileher saja. Tapi cukup untuk mengelabui semua orang. Tidak mudah dilihat kalau tidak membuka bajunya. Dan kalau membuka pakaiannya, itu berarti cara2 yang menjerumus kearah kekotoran. Porno !

“Tan tongcu, betul2 ia mengenakan kedok penyamaran," berkata Hiang Lan. “Oh, cantiknya. Belum pernah aku melihat gadis secantik ini."

Dibalik wajah Kong Kun Bu tampak sekilas wajah seorang gadis muda, berbentuk bulat telur, alis lentik, mulutnya seperti delima merekah, cantik dan menarik, seperti apa yang Hiang Lan katakan, gadis muda ini memang memiliki kecerdikan yang luar biasa. Ternyata Burung Kelima dari Ngo-hong bun adalah seorang gadis jelita !

“Coba periksa kantong2 baju dan tubuhnya,” Perintah Tan Siauw Tian kepada Hiang Lan. Hiang Lan menjalankan perintah, apapun tidak ditemukan, segera ia melapor : “Tan tongcu, dia tidak membawa apa2.”

“Geledah sekali lagi," Ulang perintah Tan Siauw Tian. “Yang teliti !"

Hiang Lan menggerayangi seluruh tubuh gadis itu, memang tidak kedapatan sesuatu, menoleh kearah Tan Siauw Tian, mengatakan kalau penyelidikannya tidak berhasil.

Tan Siauw Tian memandang gadis tersebut seraya membentak : “Siapa namamu ?”

“Seperti apa yang kalian telah ketahui, aku adalah Burung Kelima, mengapa harus banyak tanya lagi ?" Gadis itu memang galak.

“Bagaimana keadaan Kong Kun Bu? Apa sudah mati dibawah tangan kalian ?"

“Belum." Jawaban Burung Kelima singkat. “Dimana orangnya ?" Bertanya lagi Tan Siauw

Tian.

“Tentu saja dimarkas Ngo-hong bun." Jawab si Burung Kelima.

“Apa maksudmu menyamar sebagai Kong Kun Bu ?”

“Pertanyaan aneh. Tentu saja mencari tahu keadaan dan gerakan2 kalian.”

“Tapi kini kau sudah jatuh ke tangan kami." “Jangan lupa, Kong Kun Bu juga masih berada

didalam Ngo hong bun." “Bagaimana kalau kita membuat satu kompromi

?"

“Maksud Tan tongcu ?"

“Kubebaskan dirimu dan kalian membebaskan

Kong Kun Bu," berkata Tan Siauw Tian. Hal ini memang layak, mengingat kedudukan Kong Kun Bu didalam Siauw-lim Pay yang memegang peranan penting, kalau saja tokoh silat itu mengalami sesuatu apa karena membela Lembah Baru, tanggung jawab Tan Siauw Tian tidak kecil.

“Begitu ?” Berkata Burung Kelima. “Apa tidak kemahalan harga diriku ? Ketahuilah. Didalam Ngo-hong-bun aku hanya sebagai Burung Kelima, sedangkan betapa pentingnya Kong Kun Bu ? Masakan ditukar begitu saja ? Kukira pimpinan Ngo-hong-bun tidak mau menerima.”

“Yang penting kau sudah bersedia, bukan?" Bertanya Tan Siauw Tian.

“Aku juga tidak bersedia." “Mengapa ?”

“Tidak apa2."

“Apa kau tidak menginginkan kebebasan?" Bertanya Tan Siauw Tian.

“Semua orang ingin bebas. Akupun tidak terkecuali. Kalau kau hendak membebaskan diriku, tentu saja aku berterima kasih."

“Kita bersedia membebaskan dirimu," berkata Tan Siauw Tian. “Asalkan saja kalian membebaskan Kong Kun Bu." “Kukira tidak begitu mudah." Berkata si Burung Kelima.

“Atau kau menghendaki sesuatu ?”

“Aku menghendaki Kang Han Cing." Berkata si Burung Kelima, ia melirik ke arah jago muda kita. “Dia turut kesana.”

Kang Han Cing tersenyum kecil.

Tan Siauw Tian berkerut alis. “Apa maksudnya

?” Ia bertanya heran.

“Maksudku, dia boleh turut denganku dan ia akan membawa Kong Kun Bu kembali lagi."

“Oh, begitu ?" Berkata Kang Han Cing. “Boleh saja. Aku gembira bisa mengiringi pengembalian nona."

“Jie kongcu…..” Berkata Tan Siauw Tian. “Jangan khawatir,” berkata Kang Han Cing.

“Aku tidak takut kepada tipu muslihatnya."

“Tentu saja kau tidak takut," berkata si Burung Kelima. “Aku benci kepadamu."

Tian hung totiang meng-urut2 jenggot, melalui suara gelombang tekanan tinggi ia membicarakan sesuatu kepada Tan Siauw Tian. Agaknya tongcu Lembah Baru ini tidak setuju kalau Kang Han Cing menyertai Burung Kelima ke markas Ngo-hong- bun. Belum tentu Kong Kun Bu dilepaskan, sedangkan bahaya Kang Han Cing akan bertambah karenanya. Karena itu ia hendak mencegah. Demikianlah Tian-hung totiang memberikan usul2nya, agar Tan Siauw Tian membiarkan persoalan kepada kemauan Kang Han Cing.

“Baiklah." Akhirnya Tan Siauw Tian berkata. “Aku minta waktu satu hari untuk merundingkannya."

“Apa lagi yang harus ditunggu." Berkata Kang Han Cing yang belum memahami maksud Tian- hung totiang dan Tan Siauw Tian.

Tan Siauw Tian tidak banyak bicara, menggunakan jarinya, memilih tempat jalan darah tidur si Burung Kelima, ia menotoknya. Gadis penyelundup itu jatuh pingsan.

Tan Siauw Tian memandang ke arah Hiang Lan. “Hendak kuberi tugas penting kepadamu. Ber- hati2lah kau melaksanakannya."

“Hamba selalu siap sedia," berkata Hiang Lan. “Tugas apakah yang harus hamba lakukan ?"

“Potongan badanmu agak mirip dengannya,” berkata Tan Siauw Tian. “Kau boleh menyamar menjadi Kong Kun Bu. Kedok penyamaran sudah tersedia. Kita menghendaki kepastian, bagaimana pendirian Kwee In Su itu.”

Membukakan kedok yang dipakai oleh Burung Kelima, Hiang Lan berubah diri, tampak pula hidup lain Kong Kun Bu.

Menerima tugas yang diberikan kepadanya, hanya seorang diri, Hiang Lan menuju ke arah kamar Kwee In Su. Gambarnya, seorang Kong Kun Bu mendatangi kamar Kwee In Su. Dia adalah samaran pelayan Hiang Lan.

Sesudah Kwee In Su dibokong orang, ditugaskan Thio Tek Lok menjaga keamanan orang penyeberangan Ngo-hong-bun itu. Melihat kedatangan 'Kong Kun Bu', cepat2 Thio Tek Lok memberi hormat. “Kong hu tongcu.” Ia memanggil perlahan.

“Kau boleh istirahat." Berkata Hiang Lan melagukan suara Kong Kun Bu.

“Baik.” Thio Tek Lok mengundurkan diri.

Hiang Lan memasuki kamar, tampak Kwee In Su terbaring ditempat tidurnya. Menurut keterangan Tian-hung totiang, Hiang Lan menotok jalan darah geger otak Kwee In Su. Tidak lama kemudian, Kwee In Su sudah sadarkan diri, per- lahan2 membuka mata dan bangkit dari tempat tidurnya.

Hiang Lan tertawa geli, seperti apa yang Tian hung totiang beritahu, kalau mendapat totokannya itu, belum Kwee In Su sadarkan diri, betul2 ia ditotok orang. Kalau Kwee In Su sadarkan diri, dia adalah Ngo-hong-bun asli !

Kwee In Su segera memberi hormat kepada si Kong Kun Bu tiruan.

“Kong hutongcu, terima kasih atas perhatianmu."

Hiang Lan berdengus didalam hati, dari cara2 panggilan Kwee In Su yang menggunakan bahasa panggilan seperti itu adalah suatu bukti kalau bekas huhuat kelas satu Ngo hong-bun ini bukan orang biasa. Walau hanya berdua, tetap menggunakan istilah Kong hutongcu. Dengan bersungguh-sungguh, ia berkata :

“Kwee huhuat, apa kau tidak sadar kalau kita berada didalam situasi bahaya ?"

“Aaaaa….."

“Mereka menaruh curiga besar kepadamu." “Kalau begitu….."

“Lekas lari ! Pulang ke markas dan beritahu kepada mereka. Keadaan bahaya !”

“Baik." Kwee In Su siap meninggalkan gedung keluarga Wie.

Nah ! Terbuktilah sudah, hati dan kesetiaan Kwee In Su masih berada didalam partay Ngo- hong-bun.

“Kwee huhuat.” Panggil Hiang Lan. Kini tidak perlu disangsikan lagi, menyerahnya Kwee In Su kepada Lembah Baru adalah sandiwara belaka. Nyatanya huhuat kelas satu itu masih setia kepada Ngo-hong bun. Sangkanya Hiang Lan adalah si Burung Kelima, maka ia mendengar perintah. Sudah waktunya membuka kartu, sebelum Kwee In Su meninggalkan tempat, mereka harus menangkapnya. Maka Hiang Lan memanggil dengan suara asli.

Kwee In Su kaget, memandang ke arah Hiang Lan dan membentak : “Kau...kau bukan Burung Kelima ?” “Ya. Aku memang bukan Burung Kelima," berkata Hiang Lan tertawa.

Tangan Kwee In Su terayun memukul ke arah Hiang Lan.

Tapi lain tangan lebih cepat, itulah tangan Kang Han Cing yang sudah siap sedia, hanya satu kali tangkap, ia berhasil membuat Kwee In Su tidak berdaya.

Tentu saja, bagaimanapun Kwee In Su tidak bisa menduga kalau dirinya sudah diketahui dan diincar oleh mereka. Didalam kurang kesiap- siagaan, ditambah ilmu kepandaian Kang Han Cing yang memang hebat, ia tercekuk basah.

Kwee In Su digusur dan dibawa ke tempat si Burung Kelima, maka sadarlah huhuat kelas satu ini, mengapa kedudukannya didalam gedung keluarga Wie tidak bisa dipertahankan.

“Nah !” Berkata Tan Siauw Tian. “Kau boleh pulang dan beritahu kepada pimpinan kalian, kalau Burung Kelima sudah jatuh kedalam tangan kami. Segera bebaskan Kong Kun Bu, maka kitapun membebaskan si Burung Kelima ini."

Kwee In Su dibebaskan, sebagai jaminan, kalau mereka menghendaki kebebasan Kong Kun Bu yang jatuh kedalam tangan Ngo hong bun, dengan jaminan membebaskan Burung Kelima.

Kwee In Su meninggalkan gedung keluarga Wie dengan badan lesu. Ia membawa misi berat, kalau pihak sana tidak mau membebaskan Kong Kun Bu, tentunya pihak Lembah Baru menahan Burung Kelima.

***

Bab 73

MENINGGALKAN cerita Kwee In Su yang kembali ke markas Ngo-hong-bun untuk daerah itu.

Menceritakan Tian-hung totiang menyerahkan obat Thian-kie-tan, obat pemberian Sam Kiongcu, obat pusaka dari nenek Goa Naga Siluman yang istimewa. Diceritakan juga bagaimana cara2 ia mendapat pemberian obat itu. Tidak lupa digambarkan juga keadaan Tong Jie Peng.

“Aaa….” Teriak Kang Han Cing. “Tong toako !” “Sudah pinto duga, tentu kenalan lama Jie

kongcu.” berkata Tian-hung totiang. “Bagaimanakah asal usulnya si Tong toako ?"

“Penyakit keracunanku juga disembuhkan oleh Tong toako," berkata Kang Han Cing. “Asal usulnya belum diberitahukan."

“Dan Sam Kiongcu Ngo hong bun itu ?" Tanya lagi Tian-hung totiang.

Wajah Kang Han Cing menjadi merah. Diceritakannya secara singkat perkenalannya dengan Sam Kiongcu Sun Hui Eng. Hanya karena perkenalan kecil itu ia mendapatkan obat Thian-kie tan yang berharga. Tian-hung totiang memandang Tan Siauw Tian dan berkata :

“Tidak bisa disangsikan lagi. Ngo hong-bun mempunyai hubungan erat dengan nenek Goa Naga Siluman. Inilah yang kokcu kuatirkan. Ternyata Jie kongcu berhasil mendapatkan ilmu Tiga Jurus Pukulan Burung Maut, mungkin mempunyai arti besar bagi kita, kalau saja bisa mengajak Jie kongcu ke Lembah Baru, memperlihatkan jurus2 itu, lebih mudah menghadapi Ngo-hong-bun dikemudian hari."

Sampai disaat ini, Kang Han Cing belum tahu siapa yang menjadi biang pimpinan Lembah Baru. Mengapa kokcu Lembah Baru menyembunyikan diri dan menyembunyikan namanya ? Kang Han Cing menjadi sangat tertarik. Terbayang kembali bagaimana ia didalam keadaan tertawan oleh golongan Perintah Maut, Tan Siauw Tian dkk yang menolong dirinya dengan maksud tujuan hendak dibawa ke Lembah Baru. Sampai sekarang ia belum tahu dimana letaknya Lembah Baru dan bagaimana keadaan Lembah baru. Karena itu ia ragu2.

Teringat Kang Puh Cing yang masih tertawan didalam kuburan tua, hati Kang Han Cing semakin goyah.

Kang Han Cing bersedia tinggal didalam gedung keluarga Wie karena hendak membongkar penyelundupan orang2 Ngo hong-bun yang disalurkan kedalam gerakan Lembah Baru. Kini usahanya sudah berhasil, Burung Kelima dan Kwee In Su sudah berhasil disingkirkan, sudah waktunya pulang ke Kim leng.

Walau daya tarik kemisteriusan Lembah Baru sangat memikat, kepentingan dan keselamatan saudara harus lebih diutamakan, karena itu ia menolak tawaran ke Lembah Baru. “Terima kasih,” katanya. “Lain kali sajalah. Kalau sudah berhasil menolong toako, pasti bersedia.”

“Jie kongcu," Tan Siauw Tian turut bicara. “Kita bisa memahami keadaanmu, walau kau segera menuju ke Kim leng, mengingat peyamaranmu sebagai Lengcu Panji Hitam sudah diketahui orang, hanya melepas seekor burung merpati, agen mereka di tempat itu segera membuat persiapan2, tentu perangkap sudah dipasang, pergi ke tempat itu sekarang berarti mengantarkan jiwa secara percuma. Per-lahan2lah, aku berjanji seluruh warga Lembah Baru berdiri dibelakangmu. Tidak mungkin kita berpeluk tangan, sudah kuberitahu kepada anak buah kita di Kim leng untuk mengusahakan penolongan Kang Toa kongcu."

“Jie kongcu," turut bujuk Tian-hung totiang. “Percayalah, di Lembah Baru kau segera bertemu Ciok-kiam Sianseng, gurumu bisa memberi penjelasan yang memuaskan.”

“.    " Kang Han Cing bungkam.

“Jie kongcu," berkata Tan Siauw Tian. “Waktu sudah hampir pagi. Istirahatlah dahulu, biar esok kita rundingan lagi."

Perundingan itu ditutup sampai di situ. ***

KANG HAN CING kembali ke kamarnya. Ia agak bingung memikirkan kemisteriusan Lembah Baru. Tidak perlu disangsikan lagi, Lembah Baru adalah kekuatan pembela keadilan dan kebenaran, maka sang guru bisa memasuki dan menduduki penasehat hukumnya.

Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng pernah mengatakan kepada muridnya, ia tidak akan turut campur didalam persoalan rimba persilatan lagi. Mengapa menyimpang dari tujuan hidupnya ? Betul2 Kang Han Cing tidak bisa menyelami keadaan guru itu.

Ia duduk bersila dan mengatur jalan peredaran darahnya.

Delapan kali putaran kemudian, Kang Han Cing dikejutkan oleh suara ketukan pintu. “Siapa?" Ia bangkit dan bertanya.

“Hamba," terdengar suara Hiang Lan. “Tan tongcu menyuruh hamba memanggil Jie kongcu, maafkan hamba kalau mengganggu ketenangan Jie kongcu."

Kang Han Cing bisa mengerti, tentunya ada sesuatu yang amat penting, segera ia membuka pintu, mengikuti dibelekang Hiang Lan menuju ke tempat menunggunya Tan Siauw Tian.

Mereka pergi ke arah ruang tamu, disana bertambah dua orang, itulah putra Datuk Utara, Lie Wie Neng dan seorang lagi si Pendekar Cerdik Pandai Goan Tian Hoat ! Kang Han Cing berlompat girang melihat kehadirannya sang pengurus keluarga itu.

Tan Siauw Tian memberi perkenalan : “Jie kongcu, mari kuperkenalkan, inilah Lie Wie Neng kongcu."

Menunjuk kearah Kang Han Cing, berkata : “Inilah Kang Han Cing kongcu."

Dua orang putra dari dua Datuk Persilatan memberi hormat.

Ternyata kedatangan Lie Wie Neng atas berita Lembah Baru yang mengatakan kalau Lie Kong Tie sedang berada didalam pengobatan mereka, tempat yang digunakan adalah gedung keluarga Wie. Karena itu, ber-sama2 Goan Tian Hoat, mereka tiba ditempat itu.

Goan Tian Hoat membawa berita yang lebih menggirangkan. Ternyata mereka sudah berhasil meredakan gap yang memisahkan hubungan2 4 Datuk Persilatan, sudah terjadi persepakatan untuk membuat perserikatan datuk2 persilatan. Datuk Utara, Datuk Barat, Datuk Timur dan Datuk Selatan bersedia bekerja sama untuk menghadapi partay Ngo hong-bun.

Dijelaskan juga, partay Ngo hong-bun berada dibawah pimpinan nenek Goa Naga Siluman beserta kelima murid perempuannya. Nenek tua itu hendak menjadi raja persilatan dan berhasrat besar untuk menaklukkan semua tokoh2 silat di masa itu.

Inilah penjajahan ! Maka, sesudah Yen Yu San bujuk sana bujuk sini, putar lidah kian kemari, terjadi juga Perserikatan 4 Datuk Persilatan.

Goan Tian Hoat bercerita secara terperinci. Sebelum terjadinya Perserikatan 4 Datuk Persilatan, dengan mendapat dukungan penuh dari Benteng Penganungan Jaya dan warga Datuk Utara, mereka berhasil menumpas seluruh anak buah Panji Hitam didaerah Kim-leng. Mereka masih menggunakan kuburan tua itu sebagai markas, dimana mereka berhasil menolong Kang Puh Cing.

Kang Puh Cing sudah bebas dari cengkraman partay Ngo-hong-bun !

Maka, sebagai wakil Datuk Selatan, Kang Puh Cing menandatangani perjanjian Perserikatan 4 Datuk Persilatan.

Mewakili Datuk Utara, Lie Wie Neng juga menandatangani Persetujuan 4 Datuk Persilatan.

Datuk Barat, diwakili oleh Yen Yu San dan Datuk Timur diwakili oleh Kho See Ouw, masing2 sudah menandatangani Persekutuan 4 Datuk Persilatan.

Semua kekuatan disiapkan untuk menghadapi partay Ngo-hong-bun.

(Bersambung 21)