-->

Perintah Maut Jilid 19

 
Jilid 19

PHOA AN SIU berempat menghentikan gerakan mereka.

Sam Kiongcu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh keempat keponakan muridnya dan berkata kepada mereka :

“Kalian belum bisa menangkap makna sari dari Tiga Jurus Pukulan Burung Maut. Kecamkanlah baik2. Tiga Jurus Pukulan Burung Maut adalah sari dari 152 jurus ilmu silat Ngo-hong-bun, setiap jurus disertai perubahan2 yang bisa berdiri sendiri. Seperti jurus pertama, Kehadirannya Burung Tanpa Sayap memiliki 5 macam perubahan, jurus kedua Gagah Perkasa Membentangkan Sayap mempunyai 7 macam perubahan dan jurus ketiga Mengamuk dan Menghancurkan Jagat mempunyai

9 macam perubahan, dari perubahan2 tadi kita masih bisa mengubah dengan aneka macam perubahan biasa, kesemuanya berjumlah 152 jurus, itulah terjadi ilmu silat aliran Ngo-hong-bun. Hari ini, cukup kalian mempelajari Kehadirannya Burung Tanpa Sayap, dengan inti sari pelajaran keringanan tubuh yang sempurna, kalau burung bisa mengembangkan sayapnya yang terbang diawang bebas, dengan keseimbangan ilmu meringankan badan, kitapun bisa melayang bebas, disertai dengan tusukan2 tajam. Nah, kalau saja kalian sudah bisa memahirkan ilmu ini, kukira tiada tandingan lagi."

Kang Han Cing tidak puas dengan ilmiah yang seperti itu, mungkinkah hanya menggunakan Tiga Jurus Pukulan Burung Maut bisa mengalahkan rimba persilatan ? Begitu mudah merajai orang ?

Singkatnya cerita, Sam Kiongcu menurunkan

152 jurus permainan silat Ngo-hong bun yang bernama Tiga Jurus Pukulan Burung Maut itu.

Kang Han Cing terus mempelajari ilmu silat Ngo hong-bun.

Untuk mempelajari sari2 ilmu silat Ngo hong- bun, mereka membutuhkan waktu tiga hari. Hari pertama mereka melatih jurus pertama yang diberi nama Kehadirannya Burung Tanpa Sayap. Hari kedua mempelajari jurus Gagah Perkasa Membentangkan Sayap. Dan hari ketiga mempelajari Mengamuk dan Menghancurkan Jagat.

***

Bab 67

HARI YANG KEEMPAT……

Keempat Lengcu Berwarna mendapat panggilan, disaat mereka tiba, dua pelayan Sam Kiongcu yang bernama A Wan dan Bu Lan mengantarkan ke suatu tempat rahasia, disana sudah menanti seorang bermuka merah, inilah Can Tancu, ayah angkat Suto Lan, ex bekas pimpinan golongan Perintah Maut lama.

Can Tancu duduk disamping sisi Sam Kiongcu.

Kehadiran Can Tancu ditempat itu membuat hati Kang Han Cing berdebar, bagaimana kalau penyamarannya terbuka ?

“Lauw Keng Sin 1" Tiba2 Sam Kiongcu mengeluarkan suara langsung.

Kang Han Cing tampil kedepan, walau dengan kewaspadaan yang spanning tinggi, ia tidak bisa segera membangkang perintah itu. “Lauw Keng Sin," berkata lagi Sam kiongcu. “Kau mendapat tugas baru dan pergilah ber-sama2 Can Tancu."

“Baik,” Kang Han Cing menerima perintah, apa pula yang harus dilakukan oleh Panji Hitam ? Dari balik topeng perunggunya, Sam Kiongcu tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan, pimpinan Ngo-hong bun itu belum mengetahui kalau Lengcu Panji Hitam sebagai panji palsu atau ber-pura2 tidak tahu ?

Can Tancu memandang Lengcu Panji Hitam dan berkata : “Lauw Keng Sin lengcu, mari ikut lohu."

Ketiga lengcu lainnya memandang kepergian rekan mereka, tidak seorangpun yang bisa menduga apa bakal terjadi.

Lengcu Panji Hijau Suto Lan hampir mengucurkan air mata, hatinya seperti di-iris2, sangkanya penyamaran Kang Han Cing sudah diketahui orang.

Mungkinkah kedok penyamaran Kang Han Cing sudah tercium oleh Ngo-hong-bun ? Belum !

Melalui satu lorong panjang, Can Tancu mengajak Kang Han Cing meninggalkan kelenteng Sin ko-sie. Lorong itu sangat gelap, langsung menuju ke tempat lain.

“Kita menuju ke arah Goa Sarang Tawon." Can Tancu memberi keterangan. “Tempat sementara dari tawanan kita."

“Maksud Tancu….” “Perintah Toa Kiongcu sebagai berikut,” berkata Can Tancu. “Keempat Datuk persilatan telah mengadakan persatuan, kekuatan kita menjadi agak lemah, untuk mengimbangi situasi, kita harus mengurangi kekuatan musuh, kita harus merusak inti mereka, untuk ini tenagamu dibutuhkan, kau adalah putra Datuk Selatan Kang Puh Cing, kalau mereka bisa melihat dirimu di dalam rombongan orang tawanan, tentu saja membawamu turut serta."

“Membawa turut serta ?” Kang Han Cing tidak mengerti.

“Ya. Kita sedang mengatur satu penculikan tawanan. Sengaja membiarkan dirimu dan Lie Kong Tie diculik mereka, dan dengan adanya kau disana, banyak berita yang bisa kita dapatkan.”

“Baiklah."

“Terpaksa lohu harus menotok dirimu.” “Silahkan."

Can Tancu menggerakkan jari2nya, menotok jalan darah Kang Han Cing.

Kang Han Cing tidak sadarkan diri.

***

GOA SARANG TAWON adalah nama tempat rahasia dari Ngo hong bun, terletak digunung Hong hong-san, melalui jalan rahasia bisa menembus ke kelenteng Sin-ko-sie.

Di salah satu ruangan Goa Sarang Tawon, Kang Han Cing terbaring sebagai salah seorang tawanan Ngo-hong-bun. Bagaimana ia bisa berada ditempat ini dan bagaimana Can Tancu membawanya, Kang Han Cing tidak tahu sama sekali.

Memperhatikan kamar tahanannya, Kang Han Cing bisa melihat secara samar2, banyak sekali goa2 gelap, tentunya kamar2 tahanan lainnya.

Sore itu seorang laki2 berbaju hitam mengantar makanan. Tanpa bicara, sesudah selesai meletakkan santapan, orang itu pergi lagi.

Dua hari Kang Han Cing melewatkan waktu dengan terpekur, kedudukannya sebagai orang tawanan, menggunakan wajah palsu Kang Puh Cing.

Saat yang di-nanti2kanpun tiba, hari itu, sesudah mengantar makanan, seorang berbaju hitam menyelinap masuk. Orang ini berkomplot dengan pengantar rangsum dan ber-indap2 mendekati Kang Han Cing.

“Kang toa kongcu?” Panggil orang itu perlahan.

“Hmm….” Kang Han Cing membalikkan badan. “Kang Toa kongcukah disitu ?” Menegasi orang

itu lagi.

“Ya ! Ada apa ?"

“Betul2 Kang Toa kongcu, hamba datang untuk memberi pertolongan."

Kang Han Cing memperhatikan laki2 itu, tidak dikenal, ber-pura2 tidak mengerti dan berkata : “Aku tidak kenal saudara.” “Percayalah." Berkata laki2 itu. “Aku dipercayakan untuk menolong Toa kongcu."

“Maksud saudara ?"

“Lekas kita meninggalkan tempat ini. Atas perintah Golongan Lembah Baru, Toa kongcu segera bisa ditolong."

“Dimanakah markas Golongan Lembah Baru itu

?”

“Maaf." Berkata laki2 itu. “Terpaksa harus

kutotok."

Betul2 ia menggunakan jarinya menotok jalan darah Kang Han Cing. Sangkanya orang ini adalah Kang Puh Cing.

Seperti apa yang sudah direncanakan, Kang Han Cing yang menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam harus menyamar sebagai Kang Puh Cing, dibuat sebegitu macam rupa sehingga memberi kesempatan orang2 Lembah Baru menolongnya. Dari sana ia harus melapor seluk beluk keadaan Lembah Baru itu.

Sengaja dibiarkan saja orang itu menotok dirinya. Demikianlah Kang Han Cing dibawa pergi dari Goa Sarang Tawon.

Melewati beberapa tikungan, komplotan orang itu mengadakan penyambutan, mendekati kawannya dan bertanya : “Sudah berhasil ?"

“Sudah. Dimana Kwee hu-huat ?” “Didalam." Kang Han Cing dibawa masuk, duduk disebuah kursi adalah Kwee hu-huat dari Ngo-hong-bun.

Ternyata otak komplotan penculikan orang tawanan itu dipimpin oleh Kwee hu-huat !

Kang Han Cing masih berpikir, permainan apa pula yang dibawakan oleh Kwee hu-huat.

“Lapor kepada hu-huat," berkata laki2 berbaju hitam yang membawa Kang Han Cing. “Kang Toa kongcu sudah dibawa tiba.”

“Dimana Lie Kong Tie ?” Bertanya Kwee hu-huat kepada laki2 itu.

“Sudah didepan. Keadaannya terlalu parah, ia sudah tidak bisa sadarkan diri lagi."

“Bagus. Lekas kita bawa mereka ke tepi sungai Hong-hong-san,” berkata Kwee hu-huat. Mendahului laki2 berbaju hitam itu, Kwee hu-huat meninggalkan kamar gelap.

Dua laki2 berbaju hitam mengikuti dibelakang Kwee hu-huat, masing2 menggendong seorang, tentu saja Kang Han Cing dan Lie Kong Tie yang dibawa, dua orang tawanan Ngo-hong bun yang dikaburkan.

Mereka tiba ditepi sungai Hong-hong-san, menyalakan obor, di-goyang2kannya sampai tiga kali.

Dari seberang sungai tampak belasan code yang sama, seseorang menyalakan obor juga di- goyang2kan tiga kali. Kwee hu-huat memadamkan obor tadi. Dan pihak disanapun memadamkan obor api.

Tidak lama kemudian, sebuah perahu meluncur datang, langsung berada ditempat rombongan Kwee hu-huat menunggu.

Dua laki2 berbaju hitam meletakkan 2 gendongannya, itulah Lie Kong Tie dan Kang Puh Cing. Sesudah meletakkan ke 2 orang culikannya itu, kedua orang berbaju hitam itu memberi hormat kepada Kwee hu-huat, kemudian pamit pergi meninggalkan perahu.

Kwee hu-huat menyerahkan kedua orang bawaannya kepada pemimpin yang berada di perahu, ia berkata : “Saudara Kong Kun Bu, mereka sudah berhasil kubawa datang.”

Kong Kun Bu? Kong Kun Bu dari Lembah Baru

? Bagaimana Lembah Baru bisa bersekongkol dengan Ngo hong-bun ? Atau Ngo hong-bun bersekongkol dengan Lembah Baru ?

Kong Kun Bu memandang ke arah Kwee hu- huat, ia bertanya : “Kwee hu-huat tidak kembali ke Goa Sarang Tawon lagi ?”

“Sesudah mereka kehilangan Kang Puh Cing dan Lie Kong Tie, mungkinkah aku bisa lari dari tanggung jawab ?" Berkata Kwee hu-huat. “Aku siap menyeberang ke pihak kalian, betul2 tidak ada jalan, kecuali ke Lembah Baru."

“Baiklah,” berkata Kong Kun Bu. “Berangkat !" Kata2 terakhir ditujukan kepada anak buahnya. Perahu Lembah Baru segera diberangkatkan membawa dua orang culikan mereka, Lie Kong Tie dan Kang Puh Cing.

Juga turut serta manusia parasit Kwee hu-huat, dimana ada untung disitulah dia menempatkan posisinya. Kwee hu-huat sudah berkhianat kepada Ngo hong-bun dan menyeberang ke arah Lembah Baru, dengan hadiah persembahan 2 orang tawanan.

Didalam malam gelap, perahu itu meninggalkan daerah Hong-hong-san. Permainan luar biasa dari partay Ngo-hong-bun !

Kang Han Cing menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin. Can Tancu tidak mengenali rekan sendiri, anggapnya Lengcu Panji Hitam yang sudah lama memegang peranan Kang Puh Cing. Maka disuruhnya orang ini menyamar sebagai Kang Puh Cing, permainan lama yang dianggap berhasil.

Demikianlah komplotan Kwee hu-huat menyolong orang. Dan betul2 Kang Han Cing terbawa ! Demikianlah kisah yang masih berlangsung.

***

Bab 68

AYUNAN PERAHU membuat Kang Han Cing tertidur, kini peranan yang dipegang adalah Kang Puh Cing, engkohnya sendiri. Ia sedang berada didalam perjalanan ke arah markas Lembah Baru. Mengingat Lembah Baru yang bermusuhan dengan Ngo-hong bun, tentu tidak bermaksud jahat, karena itulah hati pemuda kita menjadi tenang.

Kang Han Cing ditotok bangun, sesudah ia berada disebuah gedung yang merah. Disana terdapat Kong Kun Bu dan Kwee hu-huat, dua gadis berbaju hijau melayani mereka.

Kang Han Cing memperhatikan keadaan itu, ia tidak melihat adanya Lie Kong Tie yang turut serta, karena itu ia bertanya : “Tempat apakah ¡ni ? Dimana Lie Kong Tie tayhiap ?"

“Toa kongcu,” berkata Kong Kun Bu. “Kau sudah berada ditempat aman. Inilah gedung keluarga Wie. Markas sementara Lembah Baru."

“Dimana Lie Kong Tie tayhiap ?” Tanya Kang Han Cing lagi.

“Lie Kong Tie menderita keracunan yang hebat," berkata Kong Kun Bu. “Penyakit yang diderita terlalu lama, keadaannya sangat mengkhawatirkan, ia sudah berada di lain ruangan. Sedang kita usahakan untuk meringankan penderitaan.”

Dan menoleh ke arah Kwee hu-huat, Kong Kun Bu berkata : “Mari kuperkenalkan, inilah Pendekar Badan Besi Kwee In Su, didalam Ngo-hong-bun menduduki hu-huat kelas tiga, beruntung ada Kwee tayhiap yang mau membantu, berkat jasa2nyalah kalian bisa ditolong keluar dari Goa Sarang Tawon.” “Kwee tayhiap," berkata Kang Han Cing memberi hormat. “Terimalah ucapan terima kasihku."

Kwee In Su membalas hormat itu.

Tidak lupa Kang Han Cing juga mengucapkan terima kasih kepada Kong Kun Bu.

Kong Kun Bu membalas hormat itu. “Kang Toa kongcu,” katanya. “Dikota Kim-leng aku pernah menjumpai ayahmu, kita adalah orang sendiri. Tidak perlu banyak peradatan.”

Kang Han Cing sedang mengilmiah perkembangan situasi yang sedang dialami dan yang akan dialami olehnya. Kwee In Su menduduki hu-huat kelas tiga dari partay Ngo hong-bun, satu kedudukan yang tidak rendah, mungkinkah ia mau meninggalkan kedudukan empuk itu ? Atau seperti keadaan dirinya juga, menyeberang atas instruksi atasan ? Dugaan terakhir ini lebih dekat dengan kenyataan. Mengingat mereka hendak menghancurkan golongan Lembah Baru.

Boleh dibayangkan, dengan susunan partay Ngo hong-bun, mana mungkin Kwee hu-huat melarikan orang2 tawanan tanpa resiko?

Kang Han Cing sedang mencari jalan, bagaimana ia harus menghadapi Pendekar Badan Besi Kwee In Su yang licik itu ?

Disaat ini, terdengar suara Kong Kun Bu berkata : “Kwee tayhiap, dengan kedudukanmu sebagai hu-huat Ngo-hong-bun, mungkinkah bisa mengetahui racun apa yang diberikan kepada Lie Kong Tie tayhiap ?" “Soal racun2 mereka tidak memberitahukan kepada orang, karena itulah akupun tidak tahu."

Kang Han Cing masih mencari jalan keluar, maksudnya memalsukan Lengcu Panji Hitam adalah mencari jejak engkohnya yang belum ditemukan, kini sudah diketahui kalau Kang Puh Cing masih berada di dalam kuburan tua, disana hanya dijaga oleh Hu Cun Cay seorang, ia harus segera cepat2 memberi pertolongan.

Masa bodoh dengan tugas yang diberikan oleh Can Tancu, masakan dia disuruh memberi laporan yang menguntungkan Ngo hong bun ?

Disaat itu seorang pelayan berpakaian hijau berjalan masuk memberi hormat kepada Kong Kun Bu dan berkata : “Tuan Kong Kun Bu, Tan Siauw Tian tancu hendak bertemu dengan Kang Toa kongcu."

Kong Kun Bu memandang Kang Han Cing dan berkata : “Toa kongcu, Tan Siauw Tian tancu hendak membicarakan sesuatu denganmu."

Kang Han Cing meminta diri, mengikuti dibelakang pelayan itu. Mereka melewati lorong2 panjang, itulah gedung keluarga Wie yang ternama. Gedung keluarga Wie dijadikan markas Lembah Baru, karena nenek Wie Tay Kun telah menyerahkannya.

Di belakang pelayan nenek Wie Tay Kun itu, tidak henti2nya Kang Han Cing berpikir, bagaimana ia harus memberitahu tentang maksudnya. Pelayan iua mempunyai gerakan yang lincah, sebentar kemudian ia sudah tiba disebuah pintu.

“Toa kongcu, silahkan masuk. Didalam Tan Siauw Tian menunggu."

Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian adalah salah satu pimpinan golongan Lembah Baru. Tentu saja mempunyai gengsi tersendiri, Kang Han Cing tidak merasa sakit hati atas kecongkakannya tokoh Lembah Baru itu. Ia mendorong pintu dan memasuki ruangan.

“Toa kongcu, silahkan duduk." Sambut Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian. Sangkanya ia masih berhadapan dengan Kang Puh Cing.

Kang Han Cing membalas hormat itu, ia duduk ditempat yang sudah disediakan, celangak- celunguk ditempat itu, kecuali Tan Siauw Tian, tidak ada orang kedua.

“Tidak perlu khawatir," berkata Tan Siauw Tian. “Didalam gedung keluarga Wie, semua adalah orang kita.”

Mendapat keterangan itu, secara singkat Kang Han Cing menceritakan pengalaman, dia membuat pernyataan, kalau dia bukanlah Kang Puh Cing. Ia menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin, menyelusup masuk kedalam golongan Ngo- hong-bun, disana masih tertawan saudaranya. Dan musuh tidak tahu penyamaran itu, diberinya tugas baru, disuruh menyamar sebagai Kang Puh Cing, menyelusup masuk kedalam Lembah Baru. Tan Siauw Tian mendengar cerita dengan mata terbelalak. “Kalau begitu," katanya. “Mungkinkah si Pendekar Badan Besi Kwee In Su juga diselundupkan ke pihak kita ? Mengaku setia dengan maksud tujuan tertentu ?”

Kemungkinan itu memang ada !

Tan Siauw Tian sudah mendapat tahu sedikit keadaan Goa Sarang Tawon dan kelenteng Sin-Ko- sie, yang pertama adalah tempat menyimpan orang2 tawanan Ngo-hong-bun. Hal ini diketahui dari keterangan Kwee In Su.

Kini ia bertemu dengan Kang Han Cing, diminta lagi keterangan2 tadi.

Kang Han Cing menceritakan apa yang diketahui olehnya.

“Saudara Kang Puh Cing masih berada ditangan mereka ?" bertanya Tan Siauw Tian.

“Mungkin masih berada di dalam kuburan tua itu," berkata Kang Han Cing. “Maka, sampai disini saja aku meminta diri, aku harus segera menolongnya."

“Tunggu sebentar,” berkata Tan Siauw Tian. “Akan kuberitahu hal ini kepada nenek Wie Tay Kun."

“Siapa itu nenek Wie Tay Kun ?” Bertanya Kang Han Cing.

“Nenek Wie Tay Kun adalah penghuni rumah ini,” Tan Siauw Tian memberi keterangan. “Suaminya almarhum pernah menjadi penasehat bersama 9 partay besar lama. Sesudah beliau meninggal, sembilan partay besar tidak melupakan jasa2 itu, dijunjung tinggi. Nenek Wie Tay Kun adalah simpatisan kita, menyediakan tempatnya sebagai markas sementara Lembah Baru…."

“Tunggu dulu," potong Kang Han Cing. “Siapakah yang duduk didalam pimpinan Lembah Baru ? Bagaimana garis besar politiknya ?"

“Tentang pemimpin utama Lembah Baru akan segera mengetahui dikemudian hari.” Berkata Tan Siauw Tian tersenyum. “Yang penting Lembah Baru didirikan untuk menentang Ngo-hong-bun. Sebelum kekuatan kita betul2 bisa memadai Ngo- hong-bun, kokcu tidak akan menampilkan diri."

Kokcu berarti ketua Lembah. Disini diartikan sebagai pucuk pimpinan tertinggi dari golongan Lembah Baru.

“Tunggu sebentar," berkata lagi Tan Siauw Tian. “Kuberi laporan dahulu kepada nenek Wie Tay Kun."

Tan Siauw Tian meninggalkan Kang Han Cing, tidak lama kemudian ia balik kembali, katanya ber- seri2 : “Jie kongcu, nenek Wie Tay Kun hendak bertemu denganmu."

Sedikit keterangan tentang nenek Wie Tay Kun, umurnya sudah 91 tahun, suaminya bernama Wie Bu Wie, pernah menjabat penasehat 9 ketua partay besar. Putranya bernama Wie Tay Lian juga menjabat penasehat ketua2 partay, mempunyai ilmu silat tinggi, disegani dan dihormati. Kali ini, sebagai salah seorang simpatisan Lembah Baru, ia menyediakan gedungnya sebagai markas. Suatu pengorbanan baginya.

Tan Siauw Tian sudah mengajak Kang Han Cing ke tempat nenek Wie Tay Kun, disana terjaga oleh dua gadis pelayan berbaju hijau, mereka menyilahkan 2 orang ini masuk. Didalam kamar itu, seorang nenek tua terduduk, tongkat berukiran naga tidak jauh darinya, inilah Wie Tay Kun yang ternama.

Tan Siauw Tian dan Kang Han Cing memberi hormat.

“Jie kongcu, silahkan duduk." Berkata nenek Wie Tay Kun.

Kang Han Cing mengambil tempat duduk, dua gadis pelayan membawakan teh.

Tan Siauw Tian juga sudah duduk, ia berkata : “Begitu boanpwe tiba, langsung mengganggu

ketenangan   gedung   keluarga   Wie,   untuk   ini

boanpwe betul2 tidak enak hati, sebelumnya atas nama semua anggota Lembah Baru, boanpwe mengucapkan banyak terima kasih."

“Jangan bicara seperti itu." berkata nenek Wie Tay Kun. “Kita sama2 orang sendiri, mengapa harus di-pisah2 ? Tempat masih banyak yang kosong. Gunakan saja sebagai rumah kalian sendiri. Eh, bagaimana keadaan Wie Ceng disana

?"

Wie Ceng adalah cucu perempuan tunggal nenek Wie Tay Kun. Sesudah kedua orang tua Wie Ceng meninggal dunia, Wie Ceng langsung berada dibawah asuhannya sang nenek. Adanya Lembah Baru menarik perhatian gadis kecil itu, atas persetujuan nenek Wie Tay Kun, untuk menambah pengalaman Kang-ouwnya, Wie Ceng diperbantukan untuk gerakan Lembah Baru menentang Ngo hong-bun. Kini nenek Wie Tay Kun menanyakan cucu tunggal itu.

“Nona Wie Ceng baik2 saja." Berkata Tan Siauw Tian. “Kecerdasannya sangat menarik kokcu."

“Syukurlah," berkata nenek Wie Tay Kun. “Sedari kecil terlalu kumanjakan, mungkin agak binal. Tolong saja beritahu kepada kokcu kalian, kalau ada sesuatu yang dilanggar oleh Wie Ceng, aku sudah memberi izin untuk menghukumnya."

“Akan boanpwe sampaikan pesan ini." Berkata Tan Siauw Tian hormat.

Kedudukan Tan Siauw Tian sangat tinggi, tapi didepan nenek Wie Tay Kun, ia tidak berani banyak jual lagak.

Nenek Wie Tay Kun menoleh dan memperhatikan Kang Han Cing, agaknya ia tertarik, tersenyum sedikit dan berkata :

“Tan Siauw Tian sudah memberitahu tentang keadaanmu. Memang luar biasa, kau gagah berani, cerdik dan pandai. Tidak percuma menjadi putra Datuk Selatan. Eh, sudah berapakah umurmu kini

?"

“Boanpwe berumur 18 tahun." Jawab Kang Han Cing. Nenek Wie Tay Kun meng-angguk2kan kepalanya, kemudian mendongak keatas sebentar, per-lahan2 berkata :

“Ya....Ya….Kau memang seumur dengan Wie Ceng. Dia juga sudah 18 tahun. Memang, nenekmu pernah menceritakan keadaanmu semasa kecilnya, penyakitan melulu. Pernah diusulkan mau kwepang kepada Wie Tay Lan, dengan harapan membuang sial sakit2 itu. Sungguh sayang sekali, tahun itu juga Wie Tay Lian menutup mata...demikianlah sampai hari ini…."

Wie Tay Lian adalah anaknya, menyebut nama itu, mata nenek Wie Tay Kun menjadi basah, bagaimana tidak, mengingat dia yang sudah berumur tua masih bisa mempertahankan hidup, sedangkan Wie Tay Lian sudah menutup mata lebih dahulu, mendahuluinya ? Yah, pedih juga rasa hati seseorang yang didahului ditinggal mati oleh keturunannya.

Ternyata nenek Wie Tay Kun kenal baik kepada nenek Kang Han Cing. Untuk menghilangkan sedikit kesedihannya, Kang Han Cing berkata : “Cianpwe kenal kepada nenek boanpwe?"

Nenek Wie Tay Kun tertawa. “Lebih dari pada kenal. Kami adalah sahabat baik." Katanya. “Semasa kecilmu sering diajak bermain2. Dia adalah pengunjung tetap gedung keluarga Wie. Itu waktu, kalau tidak salah, umur Wie Ceng baru meningkat 3 tahun. Kau juga berumur 3 tahun."

“Ohh.

Nenek Wie Tay Kun berkata lagi : “Sebelum kau berguru kepada Ciok-kiam Sianseng, nenekmu pernah menanyakan pendapatku. Ciok-kiam Sianseng adalah kenalan- kenalanku dan nenekmu, maka ia mau memberikan ilmu kesayangannya."

Ciok-kiam Sianseng adalah nama guru Kang Han Cing, dengan gelarnya Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng, pernah mendapat tenar didalam rimba persilatan jaman silam.

“Suhu…." Berteriak Kang Han Cing.

“Suhumu itu juga sudah mendatangi tempat ini," berkata nenek Wie Tay Kun, “Baru saja ia meninggalkan gedung dua hari yang lalu."

“Aaa...Kemanakah kini suhu pergi?" Bertanya Kang Han Cing.

“Kukira dia pergi ke Lembah Baru." Berkata nenek Wie Tay Kun. “Tenaganya memang sangat dibutuhkan."

Lagi Lembah Baru !

Ini waktu, masuk Kong Kun Bu, memandang nenek Wie Tay Kun dan memandang juga Tan Siauw Tian.

“Ada apa ?" bertanya nenek Wie Tay Kun. “Katakan saja, disini tidak ada orang luar."

"Menurut laporan, ada beberapa orang yang mencurigakan mundar-mandir disekitar tempat ini. Mungkin mata2 musuh yang mengintil dibelakang kita.”

“Gerakan dari kelenteng Sin-ko-sie ?" “Belum bisa dipastikan. Yang tegas ialah dari pihak Ngo hong-bun. Keadaan Lie Kong Tie masih belum ada perubahan, apa tidak baik kalau mengantar Lie Kong Tie ke Lembah Baru ?”

Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian tertawa dan berkata :

“Kokcu sudah mengirim berita, untuk menghilangkan keracunan Lie Kong Tie, Tian-hung Totiang dari Pek-yun-koan akan menyertai Manusia Beracun Cu Hoay Uh, tidak lama lagi, diharapkan kedatangan mereka disini. Sengaja kita menyembunyikan Lembah Baru, agar membingungkan pihak Ngo-hong-bun."

“Mungkin keadaan gedung keluarga Wie bisa berbahaya." Berkata Kong Kun Bu.

“Ha, ha, ha, ha...” Nenek Wie Tay Kun tertawa. “Hendak kulihat, siapa yang berani membentur gedung keluarga Wie?"

“Betul,” Turut menyambung Tan Siauw Tian. “Betapa besarpun nyali Ngo-hong-bun, walau sudah mengetahui kalau kita meminjam tempat gedung keluarga Wie, belum tentu mereka berani mengambil resiko.”

Tentu saja, keluarga Wie dilindungi oleh semua partay2 rimba persilatan, mengganggu keluarga Wie berarti mengganggu rimba persilatan, siapakah yang berani mengambil resiko besar?

Nenek Wie Tay Kun adalah kawan baik nenek Kang Han Cing sejak lama sudah ada maksud mempererat hubungan itu, yang terakhir memang ada rencana untuk menjodohkan Kang Han Cing bersama Wie Ceng.

Untuk pertemuan itu, nenek Wie Tay Kun memberi hadiah pedang pinggang yang lemas, pedang yang bernama Pian-liong-kiam.

Dengan pertemuan, agar Kang Han Cing bisa tolong menjagakan cucu perempuan tunggalnya itu.

Kang Han Cing memberikan janjinya.

Ber-sama2 Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu, mereka mengundurkan diri.

Ditengah perjalanan, Kang Han Cing memberitahu tentang keadaan dirinya dan meminta Kong Kun Bu bantu mengawasi Kwee In Su. Orang ini patut mendapat kecurigaan terbesar.

Sesudah itu mereka berpisah, masing2 kembali ke kamar yang sudah tersedia.

Kang Han Cing mengeluarkan pedang Pian- liong-kiam, pedang hadiah pemberian nenek Wie Tay Kun, pedang itu bisa digulung seperti angkin, biasanya terikat pada pinggang, kini begitu keluar dari sarungnya, bercahaya terang, menyilaukan mata, menyinari seluruh isi ruangan. Sungguh pedang istimewa dan bagus !

Kang Han Cing menyimpan kembali pedang Pian-liong-kiam, disaat ia mendekati meja, matanya terbelalak, disitu terdapat secarik kertas, demikian bunyinya :

“Gedung keluarga Wie bukan tempat sembarangan, harus hati2, jangan terlalu cepat menghubungi pusat, markas sudah mengirim Burung Kelima sebagai wakil tetap, kau berada dibawah pimpinannya !”

Inilah perintah Ngo-hong-bun !

Rasa kagetnya Kang Han Cing tidak kepalang, di dalam gedung keluarga Wie terdapat banyak sekali mata2 Ngo-hong-bun. Kecuali dirinya, ternyata masih ada seorang Burung Kelima. Siapakah si Burung Kelima ?

Dugaannya segera jatuh kepada Kwee In Su, tapi agaknya tidak mungkin. Tan Siauw Tian sudah memberi perintah kepada Kong Kun Bu untuk membikin pengawasan ketat, bagaimana Kwee In Su bisa bergerak ?

Dicomotnya perintah gelap itu, dengan maksud memberitahu kepada Tan Siauw Tian. Baru Kang Han Cing membuka pintu, disana sudah berdiri seorang pelayan berbaju hijau, pelayan ini khusus untuk melayani dirinya. “Eh, kongcu, kemana mau pergi ?” Ia bertanya. “Hamba ditugaskan untuk melayani semua kebutuhan kongcu, nama hamba Hiang Lan. Ada sesuatukah yang membutuhkan tenaga hamba ?”

Kang Han Cing memperhatikan pelayan itu, berpikir sebentar dan bertanya : “Apa ada orang yang memasuki kamar ini ?”

“Tidak,” Jawab Hiang Lan. “Pesan Tan Siauw Tian tancu tidak boleh dilanggar. Kecuali kongcu berada didalam kamar, siapapun dilarang masuk."

“Heran." “Ada apa ? Kongcu kehilangan sesuatu?"

“Oh…Tolong beritahu kepada Tan Siauw Tian tancu, katakan aku hendak bertemu. Ada sesuatu yang mau kurundingkan."

“Baik." Pelayan yang bernama Hiang Lan itu berjalan pergi.

Tidak lama ia balik kembali, disertai Kong Kun Bu. Sebagai wakil Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu memang mempunyai itu hak untuk turut campur.

“Kongcu, kebetulan Kong hutancu datang," berkata Hiang Lan. “Maka sudah kuberitahu." Sesudah itu, pelayan ini berjalan pergi.

Ber-sama2 Kang Han Cing, Kong Kun Bu memasuki kamar, memandang dengan serius dan bertanya : “Jie kongcu, ada apa ?"

“Saudara Kong Kun Bu, coba lihat !"

Kang Han Cing memperlihatkan surat Ngo hong- bun.

Menerima dan membaca surat itu, wajah Kong Kun Bu berubah. “Begitu cepat ?” Tanyanya.

“Ya, mereka bisa bekerja cepat,” Berkata Kang Han Cing. “Kekuatan Ngo hong-bun memang tidak bisa diremehkan."

“Bila dan bagaimana Jie kongcu mendapat surat perintah rahasia ini ?" Bertanya Kong Kun Bu.

Diceritakan apa yang terjadi, dan bagaimana surat tersebut bisa berada diatas meja kamarnya. “Bagaimana hal ini bisa terjadi ?” Berkata Kong Kun Bu. “Sudah kuperintahkan kepada Hiang Lan, kecuali ada izin kami, orang lain dilarang memasuki kamar Jie kongcu."

“Bagaimana keadaan Kwee In Su ?”

“Dia sudah berada didalam pengawasan orang kita."

Mereka tidak berhasil menemukan sesuatu yang baru, yang jelas, didalam gedung keluarga Wie itu, kecuali Kang Han Cing yang sudah diselundupkan oleh Ngo-hong bun, masih ada lain orang. Dan orang-orang inilah yang belum diketahui.

Bahaya tetap melanda gedung keluarga Wie yang ternama.

***

Bab 69

SESUDAH mengantarkan Kong Kun Bu meninggalkan kamarnya, Kang Han Cing terbaring ditempat tidur. Bagaimana peran berikutnya ? Haruskah ia menyamar terus menerus ? Kalau tidak ada kejadian surat perintah tadi, mungkin ia sudah siap menyelesaikan peranannya sebagai Lengcu Panji Hitam. Lain lagi halnya sesudah dimata-matai, ia harus membongkar penyelundupan itu, siapa pula yang diselundupkan masuk ? Hal ini harus diberitahu kepada Lembah Baru. Sore harinya, sesudah Kang Han Cing tidur siang, terdengar suara Hiang Lan di pintu memanggil : “Kongcu sudah bangun ?"

“Masuk,” Berkata Kang Han Cing.

Hiang Lan masuk dengan membawa satu baskom untuk air cuci muka, diletakkannya dimeja dan berkata : “Sesudah kongcu membersihkan diri, dipersilahkan kongcu makan malam.”

“Terima kasih," berkata Kang Han Cing. Ia bercuci muka, kemudian mengikuti Hiang Lan pergi makan malam.

Selesai makan, Kang Han Cing pulang ke dalam kamarnya. Disini ia menemukan perubahan. Lagi2 kamarnya sudah didatangi orang. Terbukti karena tempat pembaringannya terdapat sepucuk surat, lagi2 surat perintah Ngo-hong-bun.

Bunyi surat sangat singkat :

“Ditujukan kepada Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin sebentar jam tiga pagi memberi laporan disebelah Barat gedung ini, disana terdapat pohon2 bambu, ikutilah petunjuk seseorang yang membawa lampu merah !"

Tertanda Burung Kelima.

Lagi2 instruksi rahasia Ngo-hong-bun yang luar biasa !

Hati Kang Han Cing semakin tertarik, siapakah Burung Kelima yang turut nyelusup masuk kedalam gedung keluarga Wie, Kwee In Su ? Atau mungkin sudah ada seseorang yang diselundupkan terlebih dahulu dari dirinya ? Saking menarik dan memikat hatinya Kang Han Cing bersedia masuk kembali ke pos Ngo hong- bun, melihat dengan mata sendiri, siapa mata2 itu, agar bisa memberitahu kepada Tan Siauw Tian cs.

Malampun tiba. Sesudah kentongan dipukul tiga kali, dengan menggunakan pakaian ringkas, Kang Han Cing meninggalkan kamarnya menuju kearah bagian Barat, disinilah tempat yang ditunjuk untuk panggilan menghadap.

Pohon bambu yang rimbun menutupi pemandangan ditempat itu. Kang Han Cing tidak menunggu lama, seperti instruksi yang didapat, tidak lama kemudian tampak seseorang yang menenteng lampu kertas berwarna merah, tegas menitahkan dirinya mengikuti orang ini. Tanpa segan2 lagi, Kang Han Cing menghampiri datangnya lampu kertas merah itu. Disana tampak seorang bungkuk, mengenakan kain kerudung yang hampir menutupi seluruh bagian mukanya, tidak mudah dikenali.

“Saudara yang diberi tugas untuk penunjuk jalan ?” Bertanya Kang Han Cing, ia men-coba2 memancing suara orang, hendak diingat baik2 bagaimana suara dan siapa orang ini ?

Tapi si bungkuk tidak membuka mulut, entah memang bungkuk, atau sengaja dibuat bungkuk, orang itu berjalan pergi.

Kang Han Cing membuntuti orang itu, berjalan dibelakangnya. Berjalan beberapa saat, orang bungkuk itu berhenti, mereka sudah berada disebuah bangunan. “Masuk !” Perintahnya dengan suara yang bernada rendah.

Kang Han Cing mencoba meng-ingat2 suara orang ini, maksudnya dibandingkan dengan suara orang2 yang ada didalam gedung keluarga Wie. Ia tidak berhasil, suara itu terlalu parau dan sulit didengar.

Kini Kang Han Cing memasuki bangunan itu. Sangat gelap, tidak ada api penerangan, dan si bungkuk pun sudah melenyapkan diri.

Disaat ini, terdengar satu suara membentak : “Lauw Keng Sin, mengapa kau tidak memberi hormat ?"

Kang Han Cing memandang kearah datangnya suara itu, tidak berhasil, keadaan terlalu gelap, suara itu juga tidak dikenal, itulah suara seorang wanita muda.

“Aku datang untuk memberi laporan kepada Burung Kelima,” berkata Kang Han Cing.

“Tepat. Aku adalah Burung Kelima." berkata suara wanita itu.

“Lauw Keng Sin memberi hormat kepada Burung Kelima,” Berkata Kang Han Cing.

“Coba laporkan kejadian2 yang kau alami,” Berkata suara ditempat gelap yang mengaku bernama Burung Kelima itu.

“Hamba mendapat tugas sebagai Kang Puh Cing yang ditawan didalam Goa Sarang Tawon seperti apa yang diduga olah Can tancu, mereka mengadakan penculikan. Ternyata Kwee hu-huat adalah mata2 mereka, atas bantuan Kwee hu-huat dan beberapa orangnya, hamba dan Lie Kong Tie diserahkan kepada orang Lembah Baru yang bernama Kong Kun Bu. Dibawa dengan perahu dan tiba digedung keluarga Wie. Mereka menggunakan gedung keluarga Wie sebagai pos Lembah Baru.”

“Semua itu sudah kuketahui.” berkata Burung Kelima, “Yang belum kau laporkan ialah, bagaimana kau didalam gedung keluarga Wie itu."

“Pimpinan tertinggi didalam gedung keluarga Wie adalah Tan Siauw Tian, tapi ia juga menjunjung nenek Wie Tay Kun. Wakil tancu Lembah Baru adalah Kong Kun Bu. "

“Kau sudah menemui nenek Wie Tay Kun ?” “Ya.”

“Apa yang ditanya olehnya ?” “Hanya pembicaraan biasa saja."

“Ia menyerahkan pedang Pian-liong-kiam?"

Kang Han Cing terkejut. Sampai hadiah itupun bisa diketahui mereka ? Siapakah mata2 lihay didalam gedung keluarga Wie itu ? Menjawab pertanyaan tadi, terpaksa ia harus menjawab “Ya.”

“Bagaimana keadaan Kwee In Su ? Apa mereka tidak mencurigainya ?”

“Sesudah sampai digedung keluarga Wie, hamba mendapat tempat yang terpisah. Bagaimana keadaan Kwee hu-huat, hamba tidak tahu."

“Dia tidak dicurigai ?” “Ya. Dicurigai."

“Siapa yang mencurigainya ?”

“Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu." “Apa kau tidak mencurigainya?”

Hati Kang Han Cing tercekat semakin keras. “Mana hamba berani ?” Ia berkata.

“Huh. Huh, aku mendapat laporan yang mengatakan kau memberi surat tugas kita kepada Kong Kun Bu. Dengan alasan apa kau perlihatkan kepadanya ?"

“Ini….Ini…."

“Apa yang ini….ini ?" Suara orang itu menjadi seram. “Nyalakan penerangan."

Kata2 yang terakhir bukan ditujukan kepada Kang Han Cing. Itulah perintah kepada orang bawahan lainnya.

Tempat yang tadinya gelap itu, tiba2 menyilaukan mata, api2 penerangan dipasang secara serentak, terang benderang.

Kang Han Cing menutup mata, disaat dibuka kembali, orang yang berada didepannya, orang yang menyebut diri sendiri sebagai Burung Kelima itu adalah seorang perempuan yang mengenakan topeng perak. Agaknya mirip dengan topeng2 yang digunakan oleh Toa Kiongcu dan Sam Kiongcu.

“Sudah kenal kepadaku ?” Bertanya si Topeng Perak. “Burung Kelima….." Kang Han Cing menutup pembicaraannya. Disaat ini dia sudah bisa merasakan sesuatu yang tidak beres, kecuali orang bertopeng perak ini, keadaannya sudah terkurung, disana hadir pula Topeng Perunggu Sam Kiongcu Sun Hui Eng, ex ketua Perintah Maut Can tancu, hu-huat Ngo-hong-bun kelas satu Hui-keng dan lain2nya jago Ngo hong-bun.

“Kang Jie kongcu,” berkata orang bertopeng Perak itu. “Masakan kau tidak bisa kenal kepada diriku ? Aku adalah Jie Kiongcu. Hampir menyamai kedudukan dirimu, bukan ? Jie kongcu dari Datuk Selatan dan Jie Kiongcu dari Ngo-hong-bun. Tidak guna mau menutupi diri lagi, penyamaranmu memang hebat. Tapi Ngo hong bun lebih hebat lagi."

Penyamaran Kang Han Cing sudah terkelotok copot !

Tentu saja, kalau Lengcu Panji Hitam ini adalah Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin asli, dia tidak akan menyebut Burung Kelima, pasti dan harus memanggil Jie susiok.

Alasan ! Yang penting adalah adanya mata-mata didalam gedung keluarga Wie, maka penyamaran Kang Han Cing terbongkar.

Penyamaran Kang Han Cing tidak terbongkar di Pian shia, tidak terbongkar di kelenteng Sin ko sie. Tapi pecah berantakan sesudah ia memasuki gedung keluarga Wie, sesudah ia menyatakan dirinya sendiri yang asli. Ini suatu bukti kalau penyamarannya pecah karena ia sudah membuat pernyataan sendiri. Dan berita itu dilever oleh mata2 selundupan gedung keluarga Wie. Maka tidak bisa dipertahankan lagi.

Siapakah mata2 Ngo hong-bun didalam gedung keluarga Wie ?

Kang Han Cing tidak mempunyai kelebihan waktu untuk memikirkan kejadian itu, yang penting keselamatan jiwanya sudah terancam, ia berada didalam kurungan orang-orang Ngo-hong- bun. Bagaimana harus meninggalkan tempat ini ?

“Bagaimana, Jie kongcu ?” Bertanya si Topeng Perak Jie Kiongcu.

“Aku sangat gembira bisa bertemu dengan Jie Kiongcu." Berkata Kang Han Cing.

“Aku juga gembira bisa berkenalan dengan Jie Kongcu. Eh, lupa kuperkenalkan, inilah sumoayku Sam Kiongcu, penasehat kelas satu Hui-keng taysu dan lain2nya.”

“Sudah kukenal," berkata Kang Han Cing. “Memang hebat, untuk menghadapi aku seorang, Ngo hong-bun harus mengeluarkan banyak jago kenamaan, kau Jie Kiongcu, Sam Kiongcu, Hui- keng taysu, Can tancu dan lain-lainnya, mungkinkah tidak terlalu dibesar-besarkan ?"

“Suatu bukti kalau kita tidak berani meremehkan putra Datuk Selatan, murid Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng yang ternama

!”

“Terima kasih sebesar-besarnya yang harus kuucapkan." “Didalam keadaan yang seperti ini, mungkinkah kau masih belum mau menyerah ?"

“Belum pernah Kang Han Cing menyerah, walau kepada siapapun juga !"

“Apa kau mempunyai pegangan kuat, bisa meloloskan diri dari kepungan sekarang yang ada

?" Bertanya Jie Kiongcu.

“Majulah kalian serentak, aku tidak gentar,” Berkata Kang Han Cing menantang.

“Kang Han Cing, jangan sombong,” Tiba2 terdengar suara Sam Kiongcu turut bicara. “Untuk menghadapi dirimu seorang, salah satu kekuatan kitapun sudah cukup, mengapa harus menurunkan martabat mengeroyok seorang yang sudah pasti bisa kita kalahkan ?"

Hati Kang Han Cing tergerak, bukankah Sam Kiongcu tahu kalau Lie Siauw San pernah menyelidiki kelenteng Sin ko sie ? Mengapa ia berpihak kepada dirinya ? Disini, lagi-lagi membuat pembelaan, mungkinkah sudah tahu kalau Lie Siauw San itu jelmaannya juga ?

Sam Kiongcu mengatakan tidak mau menurunkan martabat Ngo hong-bun secara pengepungan kepada seorang yang sudah tidak berdaya, inilah kesempatan bagi Kang Jie kongcu kita untuk mencari kebebasan dari kekosongan yang ada.

Dimanakah kedudukan Sam Kiongcu Sun Hui Eng berdiri ? Anggota Ngo hong-bun yang memihak Datuk Selatan ? Yang berada diluar dugaan, si Topeng Perak Jie Kiongcu bisa menyetujui penilaian pandangan 'bisa merusak martabat Ngo-hong-bun, kalau mengeroyok seseorang yang sudah tidak berdaya', tampak topeng peraknya dianggukkan dan berkata

:

“Betul. Apa yang Sam sumoay katakan memang masuk diakal. Walau tetap mengurungmu di- tengah2. Tapi kita tidak akan mengeluarkan perintah pengeroyokan. Kau bisa pilih salah satu dari kita, atau bergilir mengalahkan kita. Kalau kau memang seorang jago gagah berani, sesudah mengalahkan kita, akan bebas pergi. Ketahuilah, kau sudah mencuri ilmu kepandaian Ngo-hong- bun, itulah dosa tidak ampun, untuk menyerahkan kembali inti2 sari pelajaran Ngo-hong-bun yang kau pelajari, kau wajib merusak ilmu sendiri.”

Kata2 yang terakhir ditujukan kepada Kang Han Cing.

Kang Han Cing mengeluarkan pedang Pian- liong-kiam, pedang hadiah nenek Wie Tay Kun, dengan pedang inilah, ia hendak menerjang kepungan musuh2nya.

“Tunggu dulu,” Berkata Jie Kiongcu. “Kita boleh bertanding satu lawan satu. Bukan berarti memberi kebebasan luas kepada dirimu. Jangan mencoba melarikan diri sebelum mengalahkan kita semua. Lari berarti mencari penyakit, kita segera mengeroyokmu tahu ?”

“Cukup ! Lekas keluarkan pedang." Berkata Kang Han Cing menantang. Traaangggg.....

Secepat itu pula, si Topeng Perak sudah mengeluarkan pedangnya, menyerang Kang Han Cing. Gerakannya lebih hebat dan lebih gesit dari pada Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

Mengetahui kalau orang yang dihadapinya sebagai Jie Kiongcu, Kang Han Cing tidak pernah lengah. Serangan tadi sudah ditangkis cepat. Membalas serangannya, kini ia menukik dengan kecepatan yang tidak terhingga disertai tenaga dalamnya, pedang Pian-liong-kiam meluncur bagai naga, mengancam kepala Jie Kiongcu.

Terdengar kembali dentingan2 suara pedang, tanpa kalah gesit, si Topeng Perak mengelakkan serangan itu.

“Pedang bagus ! Ilmu hebat !" Ia mengeluarkan suara pujian. “Empat Lengcu Panji Berwarna memang bukan tandinganmu. Dan melepas diri didalam rimba persilatan kukira sulit menyediakan orang yang bisa menundukkan dirimu.”

Jie Kiongcu bicara tanpa mengurangi penyerangannya, didalam waktu yang singkat, ia menyerang lagi 7 kali.

Kang Han Cing mengeluarkan ilmu pedang perguruannya yang bernama ilmu Pedang Bambu Kuning, menangkis setiap serangan itu.

7 serangan lagi dilontarkan oleh si Topeng Perak Jie Kiongcu, ilmunya lebih tinggi dari Sam Kiongcu Sun Hui Eng, karena itu Kang Han Cing agak kewalahan. Yang menguntungkan Kang Han Cing ialah, ia pernah mempelajari inti sari ilmu silat Ngo-hong- bun. Tiga Jurus Pukulan Burung Maut yang disediakan untuk menghadapi musuh2 Ngo hong- bun, tidak disangka, disini untuk menghadapi orang sendiri.

Nenek Goa Siluman menurunkan Tiga Jurus Pukulan Burung Maut kepada ke 5 muridnya, Ngo hong-bun lahir atas ambisi Nenek Goa Siluman ini, ia mempunyai lima orang murid dan diantaranya Toa Kiongcu mempunyai 4 murid, itulah 4 lengcu panji berwarna.

Kalau Kang Han Cing bisa mengimbangi kekuatan Sam Kiongcu, kini ia tidak bisa mengimbangi kekuatan Jie Kiongcu. Satu kali, lengannya tergores oleh pedang Jie Kiongcu, darah muncrat dari tempat itu.

Tiga Jurus Pukulan Burung Maut hanya boleh digunakan sekali2, tapi tidak boleh terus menerus. Apalagi untuk menghadapi seorang ahli seperti Jie Kiongcu. Tentu saja Kang Han Cing salah set.

Ternyata, biar bagaimana ilmu Tiga Jurus Pukulan Burung Maut adalah ilmu Ngo hong-bun asli, kalau saja Kang Han Cing tidak menggunakan ilmu ini, mungkin ia bisa bertahan lebih lama. Untuk menandingi ilmu Ngo-hong-bun, ilmu Tiga Jurus Pukulan Burung Maut membutuhkan latihan yang sempurna, tentu saja Kang Han Cing tidak bisa memenangkan Jie Kiongcu, karena itulah ia kewalahan. Satu tusukan lagi membuat Kang Han Cing terjungkir balik.

“Menyerahlah," berkata Jie Kiongcu tertawa.

Tubuh Kang Han Cing meletik, dengan kecepatan tiada tara mengirim satu babatan ke arah kaki orang.

Kang Han Cing gesit, si Topeng Perak lebih gesit lagi, dengan satu tutulan kaki, ia mumbul keatas, mengelakkan papasan pedang tadi.

Kang Han Cing mengerahkan semua kekuatannya, dengan satu sikutan, membuat si Topeng Perak menjerit. Membentur pilar bangunan dengan napas sengal2.

Sam Kiongcu Sun Hui Eng, hu-huat kelas satu Hui-keng dan ex ketua Perintah Maut Can tancu mengurung ditiga tempat, tapi tidak ada tanda2 pergerakan, seperti apa yang si Topeng Perak janjikan, mereka dilarang mengadakan pengeroyokan kalau Kang Han Cing tidak ada niatan melarikan diri.

Betul2 Kang Han Cing lupa mencari jalan untuk meninggalkan tempat itu, ia tidak sadar kalau situasi tidak menguntungkan dirinya kalau tidak segera melarikan diri.

Si Topeng Perak Jie Kiongcu berhasil menekan luka2nya, dihadapi lagi Kang Han Cing dengan sikap yang lebih beringas.

Ciiaaaattttt……

Pedangnya terayun, ber-gulung2, menyerang Kang Han Cing diujung. Giliran Kang Han Cing yang dibuat mencium tanah, gedubrak, ia jatuh tidak jauh dari kaki Sam Kiongcu.

Kang Han Cing menjadi nekad, hampir ia mau mengadu jiwa, disaat inilah, tiba2 terdengar satu suara yang halus seperti nyamuk mengiang ditelinganya : “Lekas tinggalkan tempat ini !”

Inilah suara Sam Kiongcu Sun Hui Eng dengan gelombang tekanan tingginya.

Kang Han Cing menepuk kepala, apa artinya ia berkutat ditempat ini ? Mengingat musuh2 kuat berjumlah besar, tidak mungkin ia mencapai kemenangan. Kisikan Sam Kiongcu adalah jalan yang paling tepat, ia harus segera meninggalkan tempat ini. Semangatnya diempos sebesar mungkin, dengan satu kali teriakan geram, ia menerjang ke arah Sam Kiongcu yang menjaga pintu.

Sam Kiongcu mengeluarkan pedang, maka sesudah dengan selayaknya pedang itu diayunkan kearah atas kepala Kang Han Cing.

Dengan sedikit membungkukkan kepala putra Datuk Selatan meloloskan serangan, tubuhnya tetap meluncur keluar.

Disaat ini serangan Jie Kiongcu tiba, gerakannya lebih cepat dari gerakan Hui keng dan Can tancu, pedangnya terayun, menusuk punggung Kang Han Cing.

Entah bagaimana pedang Sam Kiongcu yang sedianya dibabatkan kearah kepala Kang Han Cing itu, karena pemuda kita sudah menundukkan diri dan lolos dari ancaman, otomatis dan dengan sendirinya pedang Sam Kiongcu menjadi memapaki datangnya pedang sang sucie.

Trranggg……

Pedang Topeng Perunggu membentur pedang Topeng Perak !

Dan secepat itu, tubuh Kang Han Cing sudah melesat, lenyap ditelan kegelapan.

Disaat Jie Kiongcu, Sam Kiongcu, Hui-keng dan Can tancu lari keluar, mereka sudah kehilangan jejaknya Kang Han Cing. Tentu saja kejadian yang membuat mereka penasaran, satu persatu lari mengejar.

Sam Kiongcu Sun Hui Eng sengaja mengendurkan langkah kakinya, menempatkan posisi dirinya di paling belakang, ia mengeluarkan napas lega, secara berani ia berhasil menolong Kang Han Cing dari kesulitan.

Beginilah akibatnya kalau seorang gadis sudah jatuh cinta.

Jie Kiongcu mengejar dipaling depan, dialah yang berkepandaian silat tertinggi, dia pulalah yang mempunyai ilmu meringankan tubuh tercepat, didalam sekejap mata ia sudah meninggalkan kawan2nya, jauh berada dimuka mereka.

Kecepatan lari Jie kiongcu memang luar biasa, daya konsentrasinya juga luar biasa, secepat itu ia lari, secepat itu pula ia menghentikan gerakannya. Kini ia sedang berhadapan dengan seorang pemuda berbaju hijau.

Ada orang yang berani menghadang Jie Kiongcu cs ? Siapakah orang ini ?

Sam Kiongcu, Hui-keng dan Can tancu turut tiba, mereka heran atas kehadirannya pemuda berbaju hijau itu, siapakah dia ? Mengapa mempunyai gerakan yang begitu cepat ?

Jie Kiongcu menoleh kearah Hui keng dan berkata :

“Hui keng taysu, tolong kau bereskan orang ini.

Aku hendak mengejar Kang Han Cing."

Tubuhnya melejit, menyimpang dari jalan yang dihadang oleh pemuda berbaju hijau. Jie Kiongcu hendak meneruskan pengejarannya.

Pemuda berbaju hijau menggerakkan tangan, secepat itu pula ia sudah mengeluarkan pedang, pedang itu dilempar, menutup jalan larinya Jie Kiongcu, nah, itulah ilmu pedang terbang !

“Mau melarikan diri ?" Cemooh pemuda berbaju hijau yang menghadang jalan orang2 Ngo-hong bun itu.

Topeng Perak Jie Kiongcu gagal meneruskan pengejarannya, kini ia menghadapi pemuda itu lagi.

“Ada apa ?” ia menanya.

“Kalian mau apa ?" Balik tanya orang itu.

“Kami ada urusan penting untuk menangkap pengkhianat.” berkata Hui-keng. “Kuminta kau menyingkir dan tidak mengganggu perjalanan kami."

“Permintaanku tidak beda dengan permintaan kalian itu," berkata pemuda itu. “Menyingkirlah dari tempat ini."

Hui-keng memiliki sifat2 yang licik, secara diam2 ia sudah berada dibelakang orang, jarinya dikeraskan, mengirim serangan bokongan.

Seerrrrrr……

Pemuda berbaju hijau tidak akan menyangka mendapat bokongan seperti itu, di saat ia sadar, jaluran angin dingin yang seperti es sudah berada beberapa dim dari badannya. Memang dia keturunan jago lihay, didalam keadaan yang seperti itu, ia tidak menjadi gugup. Tangannya dibalikkan, dan plaakkk...Memukul serangan gelap itu.

“Kurang ajar !" Bentaknya. “Roboh kau !” Diserangnya secara terang2an, kini ia memukul

Hui   keng.   Cara   pukulannya   ini   agak   aneh,

dikesampingkan sedikit, baru ditekuk kebelakang.

Hui-keng salah perhitungan, sangkanya pemuda itu bisa lengah, mengingat ia sedang berdebat dengan Jie kiongcu, maka ia berani mengirim satu pukulan gelap, lebih celaka lagi, karena datangnya serangan balasan ini sangat aneh, terlalu aneh, masakan bisa menyimpang dan menikung ? Tanpa ampun ia memuntahkan darah segar.

Can tancu berteriak keras, ia menubruk pemuda berbaju hijau itu. Tiba2 bayangan hijau berkelebat, ia sudah lenyap dari kedudukannya yang semula, satu kali dupakan, membuat Can tancu ngusruk kedepan.

Didalam sekejap mata, pemuda berbaju hijau itu sudah menjatuhkan dua jago Ngo-hong bun.

“Hebat ! Kau memang hebat !" Berkata Topeng Perak Jie Kiongcu. “Siapa namamu ?”

“Apa diwajibkan memberitahu ?” Bertanya pemuda itu angkuh.

“Terserah kepada dirimu. Kau takut diketahui orang ?"

“Pernah dengar nama Lie Siauw San ?"

“Kau yang bernama Lie Siauw San ?" Berteriak Jie Kiongcu kaget. Nama itu terlalu seram bagi Ngo hong-bun. Betapa tidak, sesudah menggagalkan usaga penggantian Yen Yu San, orang yang bernama Lie Siauw San inilah yang mengganggu perkembangan Ngo-hong-bun.

Pemuda berbaju hijau tertawa ewah !

Apa betul pemuda ini bernama Lee Siauw San ? Hanya Sam Kiongcu Sun Hui Eng yang tahu,

kalau Lie Siauw San itu adalah jelmaan Kang Han Cing, sedangkan Kang Han Cing sudah menderita luka dan melarikan diri, dari mana pula muncul seorang Lie Siauw San ?

Untuk jelasnya, kita gambarkan lebih terang, pemuda berbaju hijau adalah Tong Jie Peng, ahli waris ternama  Liu  Ang Ciauw  dari  daerah Tong hay. Anak Sepasang Dewa dari Tong-hay yang ternama itu.

Topeng Perak Jie Kiongcu sedang me-nimbang2, bisakah ia melawan seorang jago yang seperti Lie Siauw San ini ? Melihat cara2 dan bagaimana lawan menjatuhkan Hui keng dan Can tancu, ia masih belum ungkulan, karena itu ia berkata :

“Lie Siauw San, berani kau menetapkan waktu untuk bertanding ?"

“Mengapa tidak ?” Cemooh Tong Jie Peng. “Dimana saja, kapan saja, dari siapa saja yang berani menantang diriku, pasti kuterima tantangan itu. Sekarang aku tidak mempunyai banyak waktu. Selamat tinggal."

Tubuhnya melejit meninggalkan Jie Kiongcu.

***

Bab 70

MENYUSUL Kang Han Cing yang melarikan diri dari kepungan Ngo-hong-bun, ia lolos dari ujung maut berkat bantuan halus Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

Kang Han Cing menderita luka dibeberapa tempat, inilah kekalahannya untuk pertama kali, selama ia berkelana didalam rimba persilatan.

Bukan Sam Kiongcu seorang saja yang membantu Kang Han Cing, kalau tidak ada Tong Jie Peng, mana mungkin ia bisa melepaskan diri dari pengejarannya Jie Kiongcu dkk ? Hanya saja Kang Han Cing tidak tahu kejadian2 berikutnya.

Kini ia sudah tiba ditembok gedung keluarga Wie, batinnya menjadi ragu2.

Seperti apa yang kita ketahui, Kang Han Cing menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin dan menyelundup masuk ke tempat2 Ngo- hong-bun, tanpa sesuatu drama menakutkan.

Sesudah ia masuk kedalam gedung keluarga Wie, hanya didalam waktu yang sangat singkat, kepalsuannya itu sudah diketahui orang, satu bukti kalau disana sudah ada mata2 musuh. Mata2 musuh kelas tinggi tentunya, mengingat jumlah terbatas yang mengetahui penyamarannya. Siapakah mata2 itu ? Sebelum ia menemukan sang mata2, sungguh dan sangat berbahaya sekali kalau kembali.

Begitu saja ia meninggalkan gedung keluarga Wie ? Sifat petualangan Kang Han Cing tidak rela membiarkan musuh yang tetap berselimut, ia harus membereskan dan memecahkan persoalan itu.

Siapa mata2 musuh didalam gedung keluarga Wie ? Kwee In Su ? Atau manusia lainnya ?

Siapa si Burung Kelima ?

Seseorang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari Kwee In Su berada didalam gedung keluarga Wie. Dan Kang Han Cing wajib menemukan orang ini. Kecuali itu, siapa pula yang berbadan bungkuk, menenteng lampu merah, membawa dirinya kedalam bangunan rumah maut?

Memang Kang Han Cing memiliki jalan pikiran yang bercabang banyak, didalam waktu yang singkat, ia sudah menemukan cara untuk mencari dan menemukan mata2 Ngo-hong-bun yang berada didalam gedung keluarga Wie.

Kang Han Cing lompat turun dari tembok bangunan, sengaja menimbulkan suara gaduh, sesudah itu, gedubraakk ... ia terjatuh.

“Aaaa. " Terdengar suara orang berteriak.

“Siapa ?”

“Ada orang masuk."

“Oh......Kang Toa kongcu.” Inilah suara salah seorang dari gedung keluarga Wie. Ternyata kedudukan Kang Han Cing sebagai Kang Jie kongcu masih dirahasiakan, mereka masih menganggapnya sebagai Toa Kongcu yang baru ditolong keluar dari Goa Sarang Tawon. Kecuali nenek Wie Tay Kun, Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu, rahasia itu masih dipertahankan.

Tidak lama kemudian terdengar derap langkah kaki yang cepat. “Bagaimana keadaannya ?" inilah suara Tan Siauw Tian.

“Kang Toa kongcu lompat turun dari tembok. Sesudah itu ia terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi,” inilah suara salah seorang pembantu.

Ternyata Kang Han Cing menjatuhkan diri dan berpura2 pingsan. “Luka Kang Toa kongcu sangat parah." Terdengar lain laporan.

Terdengar suara bentakan Tan Siauw Tian : “Mengapa dibiarkan begitu saja ! Lekas bawa kedalam.”

Dua orang menggotong Kang Han Cing. Dikala dia menempur Topeng Perak Jie Kiongcu, ia menderita luka dibeberapa tempat, darah masih menetes terus, karena itu didalam ber-pura2 pingsan, tampaknya menderita luka yang sangat berat.

Terdengar suara Tan Siauw Tian : “Pada tubuhnya terdapat 8 tusukan pedang, tapi luka2 ini tidak membahayakan. Ia baru melakukan pertempuran ? Dimana ? Mengapa tidak meminta bantuan ? Oh….Luka dipundaknya inilah yang terberat. Luka bekas pukulan? Juga tidak ada artinya. Mungkin terlalu banyak mengeluarkan darah, tapi tidak apa, mudah ditolong. Entah bagaimana keadaan dalamnya."

Kang Han Cing masih memeramkan mata, didalam hati ia memuji kelihayan Tan Siauw Tian, hanya satu kali periksa, Jaksa Bermata Satu itu sudah bisa memberi penilaian yang tepat.

Lain pikiran Kang Han Cing, lain pula pikiran Tan Siauw Tian. Jaksa Bermata Satu ini adalah tulang punggung golongan Lembah Baru, memiliki ilmu silat yang tinggi, mempunyai kecerdikan yang luar biasa, hatinya berpikir : “Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki olehnya, siapakah yang bisa mengalahkan?" Tentu saja Kang Han Cing sudah mewarisi ilmu silat Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng, ilmu silatnya boleh dikata tiada tara, bagaimana bisa menderita luka2 itu ?

Terdengar suara si Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian memberi perintah :

“Co Su, lekas beritahu kepada Kong Kun Bu hutancu, luka Toa kongcu sangat parah. Dan minta dirinya mengundang Tian-hung Totiang."

Didepan umum Tan Siauw Tian masih menyebut Kang Toa kongcu.

Terdengar derap langkah kaki yang berjalan pergi, tentunya orang yang bernama Co Su itu menjalankan perintah.

Kang Han Cing masih belum mau membuka mata. Pikirannya bekerja : “Ternyata Tian-hung Totiang sudah berada di sini ?"

Tian-hung Totiang adalah seorang akhli tabib, didepan ketua kelenteng Pek yun-koan itu, Kang Han Cing sulit bersandiwara terus. Bagaimana baiknya ?

Kang Han Cing mengikuti kejadian2 itu dengan menggunakan pendengarannya. Tiba2 ia merasakan ada satu tangan yang menempel dijalan darah Pek hwee hiat, itulah tangan Tan Siauw Tian, dari situ menjulur sebuah aliran hangat, dengan maksud memberi bantuan tenaga, menyembuhkan luka2 dalamnya.

Cepat2 Kang Han Cing menutup jalan darah Pek-hwee-hiat itu. Tan S¡auw Tian mengerahkan kekuatan bathinnya, mempercepat peradaran darah, agar Kang Han Cing bisa sadarkan diri. Hanya seketika, kekuatan yang disalurkan masuk via jalan darah Pek-hwee-hiat itu tertahan, buntu ditengah jalan, tidak bisa masuk lagi dan juga tidak bisa diteruskan.

(Bersambung 20)